FKIP_7_Irvan Usman_M Rizki Djibran_M Rizal Pautina

advertisement
SURVEI RASA SYUKUR MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
Irvan Usman1), Moh. Rizki Djibran2), Mohamad Rizal Pautina3)
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Gorontalo
[email protected], [email protected], [email protected]
Abstract
The purpose of this research is (1) To know gratitude of student in Gorontalo State University, (2) To
know the gratitude of students male and female in Gorontalo State University. This research is a survey
with quantitative approach. Gratitude of student in Gorontalo State University is the percentage of 83%
(high). The gratitude of male students are in percentage 81% (high), while the percentage of female
students gratitude is 85% (high). Indicators of intensity of male students are at a percentage of 80% (high)
and female students are in percentage 85% (high), an indicator of frequency of male students are in
percentage 64% (medium) and female students are in percentage of 75% (medium), indicators of span of
male students are in percentage 87% (high) and female students are in percentage 87% (high), indicators of
density of male students are in percentage 84% (high) and female students are in percentage 88% (high).
Keywords: Gratitude
1. PENDAHULUAN
Dalam
menjalani
kehidupan
ini,
seseorang pernah mengalami berbagai
macam masalah. Masalah tersebut dapat
dirasakan jika kenyataan tidak sesuai dengan
keinginan dan harapan. Akibatnya mereka
menganggap kondisi tersebut sebagai
sesuatu yang sangat menyedihkan ataupun
menyakitkan. Tidak sedikit pula dalam
hidupnya manusia sering mengeluh atas
hidupnya yang dianggap ‘kurang’. Rasa
kurang
yang
dimiliki
seringkali
mengalahkan kelebihan yang dimilikinya.
Menurut Saligman (2005) bahwa di
tengah kondisi yang menyedihkan dan
menyakitkan serta merasa kurang tersebut,
manusia selalu memiliki kesempatan untuk
melihat hidup secara lebih positif. Lebih
lanjut Saligman mengungkapkan bahwa ada
solusi yang dapat ditempuh oleh manusia
untuk dapat keluar dari kondisi di atas, salah
satunya adalah kebersyukuran.
Konsep syukur telah mulai dipelajari
secara ilmiah oleh ilmu psikologi, khususnya
psikologi positif. Sudah ribuan tahun yang
lalu pentingnya syukur telah diakui oleh
para filsuf, pemikir agama, dan guru
spiritual. Ternyata syukur sangat terkait erat
dengan beberapa aspek psikologis dan
kesejahteraan fisik. Menurut beberapa
penelitian, orang bersyukur memiliki emosi
yang lebih positif, kepuasan hidup, vitalitas,
optimisme, perasaan menyenangkan, empati,
kemurahan hati, dan jarang depresi dan
stres.
Syukur atau kebersyukuran dalam ilmu
psikologi sering disebut dengan istilah
gratitude. Penelitian tentang gratitude juga
telah banyak dilakukan oleh pakar psikologi
di dunia barat. Salah satu tokoh yang banyak
meneliti mengenai gratitude adalah Robert
A.Emmons dan Michael E.McCullough
(Putra, 2014).
Konstruk gratitude yang dibangun
meliputi thankfulness, gratefulness, dan
appreciative (McCullough, Emmons, & Tsang,
2002). Sementara tujuan penelitian yang
banyak
dilakukan
adalah
mengenai
hubungan antara gratitude dengan variabel
lain, khususunya konstruk psikologi positif
lain dan perilaku prososial.
2. KAJIAN LITERATUR
2.1 Konsep Dasar Syukur
2.1.1 Pengertian Syukur
Syukur atau kebersyukuran dalam
bahasa inggris disebut gratitude. Kata
gratitude berasal dari bahasa latin yaitu
358
Seminar Nasional Universitas PGRI Yogyakarta 2016
ISBN 978-602-73690-6-1
gratia yang berarti kelembutan, kebaikan hati
atau terima kasih (Pruyser dalam Emmons &
McCullough, 2003). Turunan dari istilah
Latin ini mengarah kepada pengertian
tentang sesuatu yang harus dilakukan
dengan penuh kebaikan, kemurahan hati,
keindahan dari memberi dan menerima, atau
mendapatkan sesuatu dari yang tidak ada
apa-apa (Emmons, 2004).
Peterson
dan
Seligman
(2004)
mendefinisikan gratitude atau syukur
sebagai suatu perasaan terima kasih dan rasa
senang atas respon penerimaan hadiah,
hadiah itu memberikan manfaat bagi
seseorang atau suatu kejadian yang
memberikan kedamaian. Jika dilihat sebagai
sifat, bersyukur itu dapat diekspresikan
sebagai
sebuah
terima
kasih
yang
berkelanjutan dan mampu bertahan dalam
perjalanan waktu dan situasi.
Sebagai sebuah komponen psikologis,
kebersyukuran merupakan semacam rasa
kagum, penuh rasa terima kasih, dan
penghargaan terhadap hidup. Perasaan
tersebut dapat ditujukan kepada pihak lain,
baik terhadap sesama manusia maupun yang
bukan manusia seperti Tuhan, mahluk hidup
lain (Emmons & Shelton, 2002). Terdapat
banyak definisi dari gratitude atau
kebersyukuran ini dalam ranah psikologi.
Gratitude sering diartikan sebagai rekognisi
positif ketika menerima sesuatu yang
menguntungkan, atau nilai tambah yang
berhubungan
dengan
judgment
atau
penilaian bahwa ada pihak lain yang
bertanggung jawab akan nilai tambah
tersebut (Emmons, 2004).
Menurut Fitzgerald (Emmons, 2004)
terdapat tiga perbedaan dalam komponen
bersyukur yang meliputi proses dari
pengekspresian bersyukur itu sendiri yaitu:
a. Komponen pertama yang merupakan
proses awal yang dialami oleh seseorang
dalam
bersyukur
adalah
dengan
memberikan suatu penghargaan yang
hangat terhadap sesuatu atau seseorang.
Penghargaan yang hangat ini dihasilkan
atas apa yang telah didapatkan oleh
seseorang dari orang lain sehingga dapat
membuat orang tersebut merasa bahagia.
b. Komponen yang kedua adalah ketika
seseorang yang bersyukur memiliki
suatu
perasaan
ingin
melakukan
kebaikan
terhadap
sesuatu
atau
seseorang tersebut. Perasaan ini timbul
dari keberuntungan atau kebaikan yang
telah diberikan oleh orang lain. Perasaan
ini pada umumnya merupakan perasaan
bahagia karena telah menerima kebaikan,
sehingga menyebabkan individu tersebut
memiliki perasaaan untuk berkehendak
baik terhadap orang yang memberikan
kebaikannya tersebut.
c. Komponen ketiga adalah timbul suatu
kecenderungan untuk melakukan hal-hal
yang positif karena adanya penghargaan
dan perasaan untuk berkehendak baik
terhadap sesuatu atau seseorang tersebut.
Tindakan positif ini bisa ditujukan
kepada
orang
yang
memberikan
kebaikan atau bisa juga kepada orang
lain, sehingga orang lain dapat
merasakan penghargaan dan perasaan
yang bahagia karena telah menerima
keberuntungan atau kebaikan.
Menurut Steindl-Rast (Putra, 2014)
Gratitude dapat bersifat personal ataupun
transpersonal.
Berkaitan
dengan
ini,
gratitude kemudian dapat dibedakan bentuk
perilakunya dalam dua hal yaitu thankful
dan grateful. Meskipun sering dianggap
sama, thankful dengan grateful pada
hakikatnya berbeda. Thankful merupakan
pola perilaku berterima kasih kepada
seseorang atau pihak lain atau bersifat
personal. Sedangkan dalam gratitude yang
bersifat transpersonal, yaitu grateful, rasa
kebersyukuran yang ada lebih dalam dari
sekedar berpikir atau mengucapkan. Grateful
berarti berterima kasih atas apa yang telah
diterima, atau merupakan respon penuh
359
Seminar Nasional Universitas PGRI Yogyakarta 2016
ISBN 978-602-73690-6-1
seseorang
terhadap
kepemilikannya
sekalipun kepemilikan itu tidak tersirat.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli
di atas dapat disimpulkan bahwa syukur
atau kebersyukuran adalah suatu perasaan
terima kasih yang kita berikan kepada
seseorang-manusia ataupun Tuhan atas
pemberian sesuatu, yang dengan pemberian
tersebut kita merasa senang, bahagia dan
damai.
Syukur merupakan salah satu hal yang
diajarkan oleh semua agama, maka syukur
juga didefinisikan juga oleh masing-masing
agama tersebut. Menurut agama Hindu,
syukur adalah mampu melihat kelebihan
yang dimiliki. Sedangkan agama Budha
menganggap syukur adalah menerima dan
memanfaatkan potensi yang diberikan Tuhan
semaksimal mungkin. Menurut agama
Kristen syukur adalah menerima apapun
yang ditentukan Tuhan dan mempunyai
keyakinan bahwa Tuhan akan selalu
menolong
jika
individu
menghadapi
masalah. Sedangkan syukur menurut agama
Islam adalah respon individu berupa
keyakinan bahwa dirinya selalu merasa
terpenuhi atau tercukupi oleh kelebihan atau
kebaikan yang ditrerima dari Allah SWT
(Mutia dkk, 2010).
2.1.2 Aspek-Aspek Syukur
McCullough dkk (2002) mengungkapkan
bahwa aspek-aspek syukur terdiri dari empat
unsur, yaitu:
a. Intensity. Seseorang yang bersyukur
ketika mengalami peristiwa positif
diharapkan untuk merasa lebih intens
bersyukur.
b. Frequency. Seseorang yang memiliki
kecendrungan
bersyukur
akan
merasakan banyak perasaan bersyukur
setiap harinya dan syukur bisa
menimbulkan
dan
dan
bahkan
mendukung tindakan dan kebaikan
sederhana atau kesopanan.
c. Span. Span dimaksudkan dngan jumlah
dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang
membuat seseorang merasa bersyukur,
misalnya merasa bersyukur kepada
keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan
kehidupan itu sendiri, bersama dengan
berbagai manfaat lainnya.
d. Density. Density merujuk pada jumlah
orang-orang yang merasa bersyukur
terhadap sesuatu hal yang postif. Orang
yang bersyukur diharapkan dapat
menuliskan lebih banyak nama-nama,
orang yang dianggap telah membuatnya
bersyukur, termasuk orangtua, teman,
keluarga, dan mentor.
Dalam konsep Islam, Munajjid (2006)
mengungkapkan bahwa syukur dapat mucul
karena tiga aspek, yaitu:
a. Mengenal nikmat. Mengenal nikmat
memilik arti menghadirkan dalam hati,
menyadari, dan meyakinkan bahwa
segala sesuatu dan keajaiban yang kita
miliki dan lalui merupakan nikmat dari
Allah SWT.
b. Menerima nikmat. Menerima nikmat
memiliki arti menyebutnya dengan
memperlihatkan kefakiran kepada yang
memberi nikmat dan hajat kita
kepadaNya, karena memahami bahwa
nikmat itu bukan karena keberkahan kita
mendapatkannya akan tetapi karena itu
bentuk karunia dan kemurahan Tuhan.
c. Memuji Allah atas pemberian nikmat.
Pujian yang berkaitan dengan nikmat ada
dua macam, yang pertama bersifat
umum yaitu dengan memujinya bersifat
dermawan,
pemurah,
baik,
luas
pemberiannya
dan
sebagainya.
Sedangkan yang kedua bersifat khusus,
yaitu membicarakan nikmat yang
diterima itu dengan merinci nikmatnikmat tersebut lalu mengungkapkan
dengan lisan dan menggunakan nikmat
tersebut untuk hal-hal yang diridhaiNya.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas
dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek
syukur dalam perspektif barat meliputi
intensity, frequency, sapan, dan density serta
360
Seminar Nasional Universitas PGRI Yogyakarta 2016
ISBN 978-602-73690-6-1
2.2 Beberapa Temuan Ilmiah Tentang
Kebersyukuran
Studi yang dilakukan oleh McCullough &
Emmons (2003) tentang manfaat bersyukur
bagi manusia. Dalam penelitian ini mereka
mengumpulkan
201
partisipan
dan
memisahkan partisipan ke dalam tiga
kelompok. Kelompok pertama diajak untuk
bersyukur dengan cara menuliskan lima hal
positif yang terjadi seminggu yang lalu.
Kelompok berikutnya diajak untuk fokus
terhadap kegiatan-kegiatan yang tidak
penting dan mereka diminta untuk
menuliskan lima hal yang negatif. Kelompok
terakhir adalah kelompok netral yang
diminta untuk menuliskan lima kejadian
yang signifikan diminggu yang lalu.
Kemudian
partisipan
mengikuti
pengukuran
kesejahteraan
psikologis.
Kelompok ‘bersyukur’ lebih merasa mereka
memiliki kehidupan yang baik dan
pandangan optimis dibandingkan kelompok
kedua dan ketiga. Selain itu, kelompok
‘bersyukur’ jga melaporkan lebih sedikit
mengalami keluhan fisik dan cenderung
lebih banyak menghabiskan waktu untuk
berolahraga.
Penelitian Masingale (dalam Fluhler,
2010) juga menemukan bahwa orang yang
dapat bersyukur merasakan trauma yang
lebih ringan saat sesuatu yang buruk terjadi
pada mereka. Peneliti Emmons dan
McCullough
(dalam
Fluhler,
2010)
menemukan bahwa orang yang bersyukur
lebih jarang menderita depresi. Hal ini
dikarenakan mereka memiliki cara yang
tepat untuk berhadapan dengan keadaan
hidup yang menyulitkan dan lebih mampu
mengingat hal-hal yang positif.
Kehidupan sosial sehari-hari pun dapat
dipengaruhi secara positif oleh kebiasaan
bersyukur. Perasaan bersyukur dapat
memotivasi seseorang untuk membantu
orang lain (perilaku prososial) dan
mengurangi motivasi untuk berperilaku
perspektif Islam meliputi mengenal nikmat,
menerima nikmat dan memuji Allah atas
pemberian nikmat.
2.1.3 Komponen-Komponen Bersyukur
Fitzgerald (1998) mengidentifikasi tiga
komponen dari bersyukur, yaitu:
a. Rasa apresiasi yang hangat untuk
seseorang
atau
sesuatu,
meliputi
perasaan cinta dan kasih sayang.
b. Niat baik (goodwill) yang ditujukan
kepada seseorang atau sesuatu, meliputi
keinginan untuk membantu orang lain
yang kesusahan dan keinginan untuk
berbagi.
c. Kecenderungan untuk bertindak positif
berdasarkan rasa apresiasi dan kehendak
baik, meliputi intensi menolong orang
lain, membalas kebaikan orang lain dan
beribadah.
Komponen–komponen diatas dikatakan
oleh Fritzgerald (1998) adalah saling
berkaitan dan tidak bisa terpisahkan, karena
seseorang
tidak
mungkin
melakukan
bersyukur tanpa merasakan bersyukur
didalam hatinya. Komponen–komponen
inilah yang kemudian digunakan oleh
peneliti sebagai landasan dalam pembuatan
alat ukur bersyukur.
2.1.4 Jenis-Jenis Bersyukur
Peterson & Saligman (2004) membagi
perwujudan bersyukur menjadi dua yaitu:
a. Bersyukur secara personal. Ditujukan
kepada orang yang telah memberikan
keuntungan kepada si penerima atau
kepada diri sendiri.
b. Bersyukur
secara
transpersonal.
Maksudnya adalah bersyukur yang
ditujukan kepada Tuhan, kekuatan yang
lebih besar, atau alam semesta. Bentuk
dasarnya dapat berupa pengalaman
puncak atau peak experience, yaitu
sebuah
moment
pengalaman
kekhusyukan yang melimpah.
361
Seminar Nasional Universitas PGRI Yogyakarta 2016
ISBN 978-602-73690-6-1
3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah
Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo
sejumlah 19.170 mahasiswa.
3.4.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah data
karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Sampel dalam penelitian ini yaitu
356 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo
yang terdiri dari FIP 44, FIS 32, FSB 28, MIPA
44, FATEK 32, FAPERTA 32, FOK 56, FEKON
52, Fakultas Hukum 20, dan FPIK 16.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti mengadopsi
angket McCullough et.al (2002) kemudian
peneliti memodifikasi dengan menggunakan
angket skala likert yang diberikan kepada
responden penelitian, di mana angket
peneliti bersifat tertutup, Angket
yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
angket dengan bentuk jawaban sangat
tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat
setuju.
3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif
dengan menggunakan statistik perhitungan
persentase (%) dengan langkah-langkah:
Menghitung presentase (%) skor capaian
responden dengan formulasi sebagai berikut:
P = S/N X 100 %
Dengan :
P = Persentase
S = jumlah skor responden
N = skor ideal angket
Skor Presentase
Klasifikasi
76%-100%
Tinggi
51%-75%
Sedang
0%-50%
Rendah
merusak (Emmons dan McCullough dalam
Fluhler, 2010).
Orang yang bersyukur juga cenderung
tidak terlalu mengejar hal materialistik.
Asumsinya, karena mereka sudah bersyukur
dengan apa yang telah dimiliki, maka hasrat
untuk memiliki hal materiil menjadi lebih
sedikit. Mereka juga tidak terburu-buru
untuk mendapatkan kepuasan materiil
(McCullough dan Polak dalam Fluhler, 2010).
Menurut McCullough, Emmons, dan
Tsang (2002), orang yang bersyukur selain
lebih banyak memiliki emosi positif dan
kesejahteraan yang lebih tinggi, juga
memiliki harga diri yang tinggi dan lebih
mudah melihat dukungan sosial dari
sekitarnya. Setelah memiliki cukup rasa
syukur, orang yang sering bersyukur juga
cenderung akan mudah dalam membantu
orang lain dan tidak memiliki banyak rasa iri.
Penelitian yang dilakukan oleh Mutia
dkk (2010) tentang terapi kognitif perilaku
bersyukur (G-CBT) untuk menurunkan
depresi pada remaja menunjukkan bahwa
dengan menggunakan terapi kognitif
perilaku bersyukur (G-CBT) tersebut dapat
menurunkan tingkat depresi pada remaja.
3. METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian ini desain penelitian
survei pendekatan kuantitatif dengan desain
satu variabel yaitu syukur.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Universitas
Negeri Gorontalo selama 6 (enam) bulan,
yakni dari bulan Mei sampai dengan bulan
Oktober tahun 2016.
3.3 Variabel Penelitian
Penelitian ini terdapat satu variabel yang
dapat dijadikan fokus kajian penelitian
dengan indikator syukur yaitu: (1) Intensity,
(2) Frequency, (3) Span, (4) Density
362
Seminar Nasional Universitas PGRI Yogyakarta 2016
ISBN 978-602-73690-6-1
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Data yang telah diperoleh dari hasil
pengolahan angket tentang Rasa Syukur
Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo
selanjutnya diolah dengan menggunakan
perhitungan
persentase.
Hasil
dari
pengolahan data tersebut ditampilkan dalam
bentuk tabel berikut ini.
Tabel 4.1 Rasa Syukur Mahasiswa
Universitas Negeri Gorontalo
1
.
2
.
3
.
4
.
5
.
6
.
Butir Pernyataan
Saya bersyukur dengan
apa yang sudah saya
miliki.
Banyak
yang
saya
syukuri, sehingga tak
dapat
saya
tulis
semuanya.
Tak banyak yang dapat
saya syukuri di dunia ini.
Saya merasa bahwa saya
adalah mahluk sosial
yang
membutuhkan
orang
lain
dan
mempunyai
tanggung
jawab
untuk
saling
tolong menolong dengan
sesama.
Seiring
bertambahnya
usia, saya lebih mampu
menghargai orang lain,
dan peristiwa-peristiwa
yang
terjadi
dalam
hidup, sehingga hal itu
menjadi sejarah dalam
hidup saya.
Saya butuh waktu lama
untuk berterima kasih
kepada Tuhan yang telah
memberikan nikmatNya
dan orang lain yang telah
membantu.
Rata-Rata
Skor
Respo
nden
Skor
Ideal
1261
1424
Persentase Skor Perindikator
P
(
%
)
Persentase
N
o
sebanyak 76% (tinggi), no. item 4 sebanyak
94% (tinggi), no. item 5 sebanyak 87%
(tinggi), no. item 6 sebanyak 69% (sedang).
Rasa syukur mahasiswa berada pada
persentase 83% (tinggi), sehingga dapat
dikatakan bahwa rasa syukur mahasiswa
Universitas Negeri Gorontalo tinggi.
Grafik 4.1 Rasa Syukur Mahasiswa LakiLaki dan Perempuan Universitas Negeri
Gorontalo
8
9
1155
1424
8
1
1088
1424
7
6
1339
1424
9
4
1237
1424
8
7
987
1424
6
9
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
85
80
8787
88
84
75
64
Laki-laki
Perempuan
Indikator
Grafik 4.1 menunujukan bahwa indikator
intensity mahasiswa laki-laki Universitas
Negeri Gorontalo berada pada persentase
80% (tinggi) dan mahasiswa perempuan
Universitas Negeri Gorontalo berada pada
persentase 85% (tinggi), indikator frequency
mahasiswa laki-laki Universitas Negeri
Gorontalo berada pada persentase 64%
(sedang)
dan
mahasiswa
perempuan
Universitas Negeri Gorontalo berada pada
persentase 75% (sedang), indikator span
mahasiswa laki-laki Universitas Negeri
Gorontalo berada pada persentase 87%
(tinggi)
dan
mahasiswa
perempuan
Universitas Negeri Gorontalo berada pada
persentase 87% (tinggi), indikator density
mahasiswa laki-laki Universitas Negeri
Gorontalo berada pada persentase 84%
(tinggi)
dan
mahasiswa
perempuan
Universitas Negeri Gorontalo berada pada
persentase 88% (tinggi).
8
3
Tabel 4.1 menunjukan bahwa hasil
persentase no. item 1 sebanyak 89% (tinggi),
no. item 2 sebanyak 81% (tinggi), no. item 3
363
Seminar Nasional Universitas PGRI Yogyakarta 2016
ISBN 978-602-73690-6-1
4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis di atas,
diperoleh data yang menggambarkan rasa
syukur mahasiswa Universitas Negeri
Gorontalo, dan rasa syukur mahasiswa lakilaki dan perempuan Universitas Negeri
Gorontalo, Adapun hasil analisis tersebut:
No. item 1 sebanyak 89% (tinggi), no.
item 2 sebanyak 81% (tinggi), no. item 3
sebanyak 76% (tinggi), no. item 4 sebanyak
94% (tinggi), no. item 5 sebanyak 87%
(tinggi), no. item 6 sebanyak 69% (sedang).
Rasa syukur mahasiswa Universitas Negeri
Gorontalo berada pada persentase 83%
(tinggi), sehingga dapat dikatakan bahwa
rasa syukur mahasiswa Universitas Negeri
Gorontalo tinggi.
No. item 1 sebanyak 88% (tinggi), no.
item 2 sebanyak 81% (tinggi), no. item 3
sebanyak 72% (sedang), no. item 4 sebanyak
93% (tinggi), no. item 5 sebanyak 87%
(tinggi), no. item 6 sebanyak 64% (sedang).
Rasa syukur mahasiswa laki-laki berada
pada persentase 81% (tinggi), sehingga dapat
dikatakan bahwa rasa syukur mahasiswa
laki-laki Universitas Negeri Gorontalo tinggi.
No. item 1 sebanyak 89% (tinggi), no.
item 2 sebanyak 82% (tinggi), no. item 3
sebanyak 81% (tinggi), no. item 4 sebanyak
95% (tinggi), no. item 5 sebanyak 87%
(tinggi), no. item 6 sebanyak 75% (sedang).
Rasa syukur mahasiswa perempuan berada
pada persentase 85% (tinggi), sehingga dapat
dikatakan bahwa rasa syukur mahasiswa
perempuan Universitas Negeri Gorontalo
tinggi.
Indikator intensity mahasiswa laki-laki
Universitas Negeri Gorontalo berada pada
persentase 80% (tinggi) dan mahasiswa
perempuan Universitas Negeri Gorontalo
berada pada persentase 85% (tinggi),
indikator frequency mahasiswa laki-laki
Universitas Negeri Gorontalo berada pada
persentase 64% (sedang) dan mahasiswa
perempuan Universitas Negeri Gorontalo
berada pada persentase 75% (sedang),
indikator
span
mahasiswa
laki-laki
Universitas Negeri Gorontalo berada pada
persentase 87% (tinggi) dan mahasiswa
perempuan Universitas Negeri Gorontalo
berada pada persentase 87% (tinggi),
indikator
density
mahasiswa
laki-laki
Universitas Negeri Gorontalo berada pada
persentase 84% (tinggi) dan mahasiswa
perempuan Universitas Negeri Gorontalo
berada pada persentase 88% (tinggi).
McCullough dkk (2002) mengungkapkan
bahwa aspek-aspek syukur terdiri dari empat
unsur, yaitu:
a. Intensity. Seseorang yang bersyukur
ketika mengalami peristiwa positif
diharapkan untuk merasa lebih intens
bersyukur.
b. Frequency. Seseorang yang memiliki
kecendrungan
bersyukur
akan
merasakan banyak perasaan bersyukur
setiap harinya dan syukur bisa
menimbulkan
dan
dan
bahkan
mendukung tindakan dan kebaikan
sederhana atau kesopanan.
c. Span. Span dimaksudkan dngan jumlah
dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang
membuat seseorang merasa bersyukur,
misalnya merasa bersyukur kepada
keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan
kehidupan itu sendiri, bersama dengan
berbagai manfaat lainnya.
d. Density. Density merujuk pada jumlah
orang-orang yang merasa bersyukur
terhadap sesuatu hal yang postif. Orang
yang bersyukur diharapkan dapat
menuliskan lebih banyak nama-nama,
orang yang dianggap telah membuatnya
bersyukur, termasuk orangtua, teman,
keluarga, dan mentor.
Studi yang dilakukan oleh McCullough &
Emmons (2003) tentang manfaat bersyukur
bagi manusia. Dalam penelitian ini mereka
mengumpulkan
201
partisipan
dan
memisahkan partisipan ke dalam tiga
kelompok. Kelompok pertama diajak untuk
bersyukur dengan cara menuliskan lima hal
364
Seminar Nasional Universitas PGRI Yogyakarta 2016
ISBN 978-602-73690-6-1
positif yang terjadi seminggu yang lalu.
Kelompok berikutnya diajak untuk fokus
terhadap kegiatan-kegiatan yang tidak
penting dan mereka diminta untuk
menuliskan lima hal yang negatif. Kelompok
terakhir adalah kelompok netral yang
diminta untuk menuliskan lima kejadian
yang signifikan diminggu yang lalu.
Kemudian
partisipan
mengikuti
pengukuran
kesejahteraan
psikologis.
Kelompok ‘bersyukur’ lebih merasa mereka
memiliki kehidupan yang baik dan
pandangan optimis dibandingkan kelompok
kedua dan ketiga. Selain itu, kelompok
‘bersyukur’ jga melaporkan lebih sedikit
mengalami keluhan fisik dan cenderung
lebih banyak menghabiskan waktu untuk
berolahraga.
Penelitian Masingale (dalam Fluhler,
2010) juga menemukan bahwa orang yang
dapat bersyukur merasakan trauma yang
lebih ringan saat sesuatu yang buruk terjadi
pada mereka. Peneliti Emmons dan
McCullough
(dalam
Fluhler,
2010)
menemukan bahwa orang yang bersyukur
lebih jarang menderita depresi. Hal ini
dikarenakan mereka memiliki cara yang
tepat untuk berhadapan dengan keadaan
hidup yang menyulitkan dan lebih mampu
mengingat hal-hal yang positif.
Kehidupan sosial sehari-hari pun dapat
dipengaruhi secara positif oleh kebiasaan
bersyukur. Perasaan bersyukur dapat
memotivasi seseorang untuk membantu
orang lain (perilaku prososial) dan
mengurangi motivasi untuk berperilaku
merusak (Emmons dan McCullough dalam
Fluhler, 2010).
Orang yang bersyukur juga cenderung
tidak terlalu mengejar hal materialistik.
Asumsinya, karena mereka sudah bersyukur
dengan apa yang telah dimiliki, maka hasrat
untuk memiliki hal materiil menjadi lebih
sedikit. Mereka juga tidak terburu-buru
untuk mendapatkan kepuasan materiil
(McCullough dan Polak dalam Fluhler, 2010).
Menurut McCullough, Emmons, dan
Tsang (2002), orang yang bersyukur selain
lebih banyak memiliki emosi positif dan
kesejahteraan yang lebih tinggi, juga
memiliki harga diri yang tinggi dan lebih
mudah melihat dukungan sosial dari
sekitarnya. Setelah memiliki cukup rasa
syukur, orang yang sering bersyukur juga
cenderung akan mudah dalam membantu
orang lain dan tidak memiliki banyak rasa iri.
Penelitian yang dilakukan oleh Mutia
dkk (2010) tentang terapi kognitif perilaku
bersyukur (G-CBT) untuk menurunkan
depresi pada remaja menunjukkan bahwa
dengan menggunakan terapi kognitif
perilaku bersyukur (G-CBT) tersebut dapat
menurunkan tingkat depresi pada remaja.
KESIMPULAN
a. Rasa syukur mahasiswa Universitas
Negeri Gorontalo berada pada persentase
83% (tinggi), sehingga dapat dikatakan
bahwa
rasa
syukur
mahasiswa
Universitas Negeri Gorontalo tinggi.
b. Rasa syukur mahasiswa laki-laki berada
pada persentase 81% (tinggi), sehingga
dapat dikatakan bahwa rasa syukur
mahasiswa laki-laki Universitas Negeri
Gorontalo tinggi. Sedangkan rasa syukur
mahasiswa perempuan berada pada
persentase 85% (tinggi), sehingga dapat
dikatakan bahwa rasa syukur mahasiswa
perempuan Universitas Negeri Gorontalo
tinggi.
c. Indikator intensity mahasiswa laki-laki
Universitas Negeri Gorontalo berada
pada persentase 80% (tinggi) dan
mahasiswa
perempuan
Universitas
Negeri Gorontalo berada pada persentase
85%
(tinggi),
indikator
frequency
mahasiswa laki-laki Universitas Negeri
Gorontalo berada pada persentase 64%
(sedang) dan mahasiswa perempuan
Universitas Negeri Gorontalo berada
pada persentase 75% (sedang), indikator
span mahasiswa laki-laki Universitas
365
Seminar Nasional Universitas PGRI Yogyakarta 2016
ISBN 978-602-73690-6-1
Negeri Gorontalo berada pada persentase
87% (tinggi) dan mahasiswa perempuan
Universitas Negeri Gorontalo berada
pada persentase 87% (tinggi), indikator
density mahasiswa laki-laki Universitas
Negeri Gorontalo berada pada persentase
84% (tinggi) dan mahasiswa perempuan
Universitas Negeri Gorontalo berada
pada persentase 88% (tinggi).
Fitzgerald, P. 1998. Gratitude and Justice.
Ethic, 109 (1), 119-153.
Fluhler, D.B. 2010. Gratitude Theory: A
literature review. Diakses pada 1 Agustus
2015 dari media.wix.com
McCullough, M.E., Emmons, R.A., & Tsang,
Jo-Ann. 2002. The Grateful disposition: A
conceptual and empirical topography.
Journal of Personality and Social Psychology,
82 (1), 112-127.
McCullough, M.E & Emmons, R. A. 2003.
Counting
Blessings
Versus
Burdens: An Experimental Investigation
of Gratitude and Subjective Well-Being in
Daily Life. Journal of Personality and Social
Psychology. Vol 84 (2), pp 377-389.
Mutia, E., Subandi., & Mulyati, R. 2010.
Terapi Kognitif Perilaku Bersyukur untuk
Menurunkan Depresi pada Remaja. Jurnal
Intervensi Psikologi, Vol. 2, No. 1, 53-68
Peterson, C & Seligman, M. E. P. 2004.
Character, Strenght, and Virtues: A Handbook
& Classification. New York: Oxford
University press.
Putra, J.S. 2014. Syukur: Sebuah Konsep
Psikologi Indigenous Islami. Jurnal Soul,
Vol. 7. No. 2, 35-41.
Seligman, M.E.P. 2005. Authentic Happines:
Menciptakan Kebahagiaan dengan Psikologi
Positif.
Bandung:
Mizan
Pustaka
REFERENSI
Al-Munajjid, M.B.S. 2006. Silsilah Amalan
Hati. Ikhlas Tawakkal, Optimis, Takut,
Bersyukur, Ridha, Sabar, Introspeksi Diri,
Tafakkur,
Mahabbah,
Takwa,
Wara.
Bandung: Irsyad Baitus Salam.
Emmons, R., Cullough, M. 2003. Counting
Blessings
Versus
Burdens:
An
Experimental Investigation of Gratitude
and Subjective Well-Being in Daily Life.
Jounal of Personality and Social Psychology,
2, 84, 377-389.
Emmons, R.A. 2004. The Psychology of
gratitude : An introduction. Dalam
Emmons, R.A. & McCullough, M.E. The
psychology of gratitude. NY: Oxford
University Press.
Emmons, R.A. & Shelton, C.M. 2002.
Gratitude and the science of positive
psychology. In Snyder, C.R., Lopez,
Shane, J. Handbook of positive psychology.
NY: Oxford University Press.
366
Download