Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan

advertisement
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA BANGUN RUANG KUBUS DAN
BALOK DI KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Rita Novita1, Niawati2
Abstrak
Penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika dapat membantu dalam proses
belajar mengajar dimana pendekatan kontekstual tersebut adalah pembelajaran yang merupakan suatu
konsep belajar dengan guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keefektifan
penerapan kontekstual pada bangun ruang kubus dan balok di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama.
Sebanyak 29 orang siswa kelas VIII SMP Negeri 16 Banda Aceh dan penelitian ini diobservasi oleh
dua orang observer terhadap tes kerja guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan
pendekatan kontekstual berdampak positif terhadap hasil belajar siswa pada bangun ruang kubus dan
balok.
Kata kunci : Bangun Ruang Kubus Dan Balok, Pendekatan Kontekstual
1
Rita Novita, Dosen Prodi Pendidikan Matematika STKIP Bina Bangsa Getsempena, Email:
[email protected]
2
Niawati, Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika STKIP Bina Bangsa Getsempena
ISSN 2355-0074
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 36
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
permukaan dan volume kubus dan balok yaitu
PENDAHULUAN
Matematika merupakan dasar terhadap
perkembangan
ilmu
pengetahuan
dan
:
1.
Siswa sulit memahami konsep atau
teknologi (IPTEK), yang berpengaruh bagi
siswa
tidak
kehidupan manusia dan berperan sebagai alat
diberikan
bantu sekaligus sebagai pelayanan ilmu-ilmu
diketahui dan ditanya.
pengetahuan yang lain. Seperti
2.
Aisyah
memahami
seperti
masalah
menuliskan
apa
yang
yang
Siswa tidak dapat atau masih bingung
(2007:13) mengartikan bahwa “matematika
untuk
merupakan ilmu universal yang mendasari
misalnya tidak tahu harus memulai pekerjaan
perkembangan teknologi modern, mempunyai
darimana dan tidak tahu mengaitkan antara
peranan
yang diketahui dan ditanya dari soal.
dalam
berbagai
disiplin
dan
menunjukkan
hubungan-hubungan
memajemukkan daya pikir manusia”. Hal ini
3.
menunjukkan betapa pentingnya pendidikan
penggunaan konsep matematika yang akan
matematika
digunakan
dalam
kehidupan
manusia,
Siswa mengalami kesulitan dalam
dalam
menyelesaikan
suatu
sehingga memberikan tantangan bagi setiap
masalah luas permukaan dan volume kubus
pendidik untuk meningkatkan kualitas hasil
dan balok.
belajar
4.
matematika
pada
setiap
jenjang
pendidikan.
Siswa kurang teliti sehingga salah
dalam melakukan perhitungan.
Berbagai macam kesulitan belajar
Penyampaian
materi
oleh
guru
pada siswa dapat dilihat dari beberapa
menjadi peran penting dalam mempelajari
pandangan.
matematika karena menurut Bruner dalam
Hasil
pekerjaan
siswa,
dan
interaksi pada saat kegiatan belajar mengajar
Hidayat
dapat
dalam
pengetahuan perlu dipelajari dalam tahap-
mengetahui kesulitan belajar yang dialami
tahap tertentu agar pengetahuan tersebut dapat
siswa pada mata pelajaran tertentu. Tidak
diinternalisasi dalam pikiran manusia yang
dipungkiri juga bahwa tingkat pemahaman
mempelajarinya yang dimana tahapan tersebut
antara siswa satu dengan lainnya berbeda.
meliput enaktif, ikonik, dan simbolik. Tahapan
Oleh
dalam
tersebut juga menjadi salah satu cara dalam
memberikan pengajaran yang dapat diterima
mengatasi kesulitan belajar siswa terkhusus
dengan jelas oleh siswa sangatlah penting. Hal
dalam mengkonstruksi pengetahuan agar dapat
tersebut sering dijumpai dalam pelajaran
diterima
matematika
matematika
Perkembangan teknologi dan komunikasi saat
seringkali dipandang sebagai momok bagi
ini turut memberikan dampak positif juga
sebagian orang.
dalam bidang kependidikan. Sekarang ini
menjadi
karena
salah
itu,
yang
satu
peran
dimana
cara
guru
(2004:
dengan
8)
menegaskan
baik
oleh
bahwa
siswa.
Ada beberapa masalah yang dialami
banyak pula sekolah memanfaatkan teknologi,
oleh siswa dalam menyelesaikan soal luas
seperti komputer maupun internet untuk
ISSN 2355-0074
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 37
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
mendukung kegiatan belajar mengajar. Hal ini
fasilitator. Bila meninjau cara pembelajaran
dimaksudkan agar dapat menciptakan metode-
yang
metode pembelajaran dengan media yang
pendekatan pembelajaran yang memiliki sifat
inovatif dan kreatif atau dengan kata lain
dan karakter tersebut adalah pembelajaran
metode pembelajaran mulai beralih dari
kontekstual.
metode pembelajaran lama (konvensional).
diharapkan
itu,
maka
salah
satu
Berdasarkan situasi di atas, perlu
Melihat kesulitan-kesulitan tersebut,
dicari suatu alternatif pembelajaran yang
maka perlu dipikirkan cara-cara mengatasinya.
sesuai dengan perkembangan kognitif siswa
Upaya yang dilakukan dapat dari segi materi,
SMP yang berada pada tahap konkret, menarik
proses pembelajaran, perbaikan dan dukungan
minat
sarana dan prasarana, peningkatan kemampuan
mengaitkan dengan pengetahuan awal anak.
guru dalam mengajar melalui penataran atau
Sebagai seorang guru hendaknya berusaha
pelatihan, pengurangan atau pembagian materi
mengetahui dan memanfaatkan pengetahuan
menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana
awal anak yang telah ada dalam pikiran siswa
atau peningkatan mutu input (siswa) di
sebelum mereka mempelajari suatu materi atau
sekolah. Pendekatan untuk mengatasi masalah
pengalaman baru. Salah satu pembelajaran
tersebut, peneliti lebih menekankan pada
yang dapat memberikan kesempatan kepada
proses
siswa
pembelajarannya,
karena
proses
siswa,
memotivasi
untuk
siswa,
membangun
secara
dan
sendiri
tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab
pengetahuannya
aktif
professional
guru
sehari-hari
dan
akan
memperhatikan pengetahuan awal anak yaitu
berdampak
pada
tugas-tugas
di
kelas
melalui model pembelajaran kontekstual.
berikutnya. Bila mengacu pada identifikasi
Pembelajaran dengan pendekatan
penyebab kesulitan tersebut, maka dalam
kontekstual
dan
proses pembelajaran diperlukan cara, antara
Pembelajaran kontekstual (Contextual
lain: (1) Mendorong siswa menemukan sendiri
Teaching and Learning/CTL) adalah konsep
konsep
yang
belajar yang membantu guru mengaitkan
bermakna bagi siswa. (2) Melibatkan siswa
antara materi yang diajarkannya dengan situasi
secara aktif dalam menemukan konsep atau
dunia nyata siswa dan mendorong siswa
rumus-rumus.
membuat hubungan antara pengetahuan yang
atau
rumus,
(3)
dengan
cara
Menggunakan
masalah
sehari-hari (soal cerita) sebagai titik awal
dimilikinya
dengan
penerapannya
dalam
pembelajaran
(4)
kehidupan
mereka
sehari-hari,
dengan
Memperhatikan tingkat pemahaman siswa
melibatkan
tujuh
komponen
utama
dengan memberikan contoh atau suatu cara
pembelajaran
dari hal yang konkrit menuju yang lebih
kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat
abstrak. (5) Mendorong pembelajaran yang
belajar, pemodelan dan penilaian autentik
berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai
(Trianto,2008:20).
ISSN 2355-0074
materi-materi
tertentu.
kontekstual,
yakni:
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 38
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
Pembelajaran kontekstual merupakan
suatu
konsep
dimana
alasan
mengapa
kontekstual
menghadirkan situasi dunia nyata kedalam
sekarang
Sejumlah
kelas
dikemukakan oleh Nurhadi (2003:4) sebagai
mendorong
hubungan
antara
dimilikinya
siswa
guru
sejumlah
pembelajaran
dan
belajar
Ada
membuat
pengetahuan
yang
penerapan
dalam
dengan
ini.
dikembangkan
alasan
tersebut
berikut:
(1)
Penerapan konteks
budaya
dalam
kehidupan mereka sebagai anggota kelurga
pengembangan
silabus, penyusunan
buku
dan masyarakat (Nurhadi,2003:4).
pedoman guru, dan buku tes akan mendorong
Lebih tegas Blanchard dalam Trianto
sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan
(2008:10), mengatakan bahwa: Contextual
terlibat dalam kegiatan pendidikan, dapat
Teaching and Learning (CTL) merupakan
meningkatkan
suatu
guru
memungkinkan banyak anggota masyarakat
menghubungkan konten materi ajar dengan
untuk mendiskusikan berbagai isu yang dapat
situasi-situasi dunia nyata dan memotivasi
berpengaruh
siswa
masyarakat. (2) Penerapan konteks personal,
konsepsi
untuk
yang
membuat
membantu
hubungan
antara
kekuatan
terhadap
konteks
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga,
meningkatkan
warga negara, dan tenaga kerja. Dengan kata
kesejahteraan sosial, dan pemahaman siswa
lain, CTL adalah pembelajaran yang terjadi
tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh
dalam hubungan erat dengan pengalaman
terhadap masyarakat, akan membantu lebih
sebenarnya.
banyak manusia dalam kegiatan pendidikan
kontekstual
berbeda
dengan
memiliki
dengan
pendekatan
karakteristik
keterampilan
politik
dapat
komunikasi,
dan masyarakat.
Pembelajaran
kontekstual
sebagai
yang
suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7
Dalam
(tujuh) asas/komponen. Asas-asas ini yang
pembelajaran kontekstual ada kerja sama antar
melandasi pelaksanaan proses pembelajaran
siswa, antara siswa dengan guru sebagai
dengan menggunakan pendekatan CTL. Ke
fasilitator dan motivator. Karakteristik yang
tujuh asas pembelajaran kontekstual tersebut,
kedua yaitu saling menunjang dalam kegiatan
yaitu sebagai berikut:
pembelajaran,
1. Konstruktivisme (Constructivism)
menggunakan
pembelajaran
yang
konteks
perkembangan
pengetahuannya dan penerapannya ke dalam
Pembelajaran
ekonomi,
masyarakat
pendekatan
menyenangkan
lain.
dan
tidak
membosankan sehingga siswa lebih bergairah
dalam
belajar.
Kelas
kontekstual
Kontruktivisme merupakan landasan
juga
berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual,
merupakan kelas yang terintegrasi, materi
yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh
pembelajaran menggunakan berbagai sumber
manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya
bukan satu sumber saja.
diperluas melalui konteks yang terbatas dan
tidak sekonyong-konyong (Trianto,2008:26).
ISSN 2355-0074
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 39
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
Dalam
pandangan
konstruktivis,
strategi
pembelajaran
yang
produktif,
kegiatan
memperoleh lebih diutamakan dibandingkan
bertanya berguna untuk:
seberapa banyak siswa memperoleh dan
a.
mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru
maupun akademis.
adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
b.
Mengecek pemahaman siswa.
a. Menjadikan pengetahuan bermakna dan
c.
Membangkitkan respon kepada siswa.
relevan bagi siswa.
d.
Mengetahui
b. Memberi kesempatan siswa menemukan
keingintahuan siswa.
dan menerapkan idenya sendiri.
e.
c. Menyadarkan siswa agar menerapkan
diketahui siswa.
strategi mereka sendiri dalam belajar.
f.
2. Inkuiri (Inquiry)
sesuatu yang dikehendaki guru.
Inkuiri merupakan bagian inti dari
g.
Menggali informasi, baik administrasi
sejauh
Mengetahui
hal-hal
yang
sudah
Memfokuskan perhatian siswa pada
Membangkitkan lebih banyak lagi
kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.
pertanyaan dari siswa.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
h.
siswa diharapkan bukan hasil menyimak
siswa.
seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari
4.
menemukan sendiri. Adapun langkah-langkah
Community)
kegiatan inkuiri menurut Trianto (2008:30)
mana
Menyegarkan kembali pengetahuan
Masyarakat
Belajar
(Learning
Dalam kelas CTL, guru disarankan
adalah sebagai berikut:
selalu
a. Merumuskan masalah.
kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi
b. Mengamati atau melakukan observasi.
dalam kelompok-kelompok yang anggotanya
c. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam
heterogen. Yang pandai mengajari yang
tulisan, gambar, laporan, bagan, table, dan
lemah-lemah, yang tahu memberi tahu yang
karya lainnya.
belum
d. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil
mendorong temannya yang lambat, yang
karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau
mempunyai gagasan segera member usul, dan
audien yang lain.
seterusnya.
3. Bertanya (Questioning)
5. Pemodelan (Modeling)
Belajar
pada
hakikatnya
adalah
melaksanakan
tahu,
Dalam
pembelajaran
yang
cepat
sebuah
dalam
menangkap
pembejaran
bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya
keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada
dapat
dari
model yang bisa ditiru oleh siswanya. Dalam
sedangkan
pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-
menjawab pertanyaan adalah mencerminkan
satunya model. Pemodelan dapat dirancang
kemampuan
dengan melibatkan siswa, orang luar yang ahli
dipandang
keingintahuan
setiap
refleksi
individu,
seseorang
(Sanjaya,2006:266).
ISSN 2355-0074
sebagai
dalam
Dalam
berpikir
sebuah
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 40
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
dalam bidang tertentu, serta dapat juga berupa
mereka harus dapat menceritakan pengalaman
alat peraga.
atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
6. Refleksi (Reflection)
f.
Refleksi adalah cara berpikir tentang
apa
yang
baru
dipelajari
atau
berpikir
Penilaian
harus
menekankan
kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa,
bukan keluasannya (kuantitas).
kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita
Adapun
karakteristik
dalam
lakukan dimasa yang lalu. Refleksi merupakan
pembelajaran konstekstual yang dikemukakan
respon terhadap kejadian, aktivitas, atau
oleh Sanjaya (2006:256), yaitu:
pengetahuan yang baru diterima Trianto
a.
(2008:35). Pada akhir pembelajaran, guru
proses pengaktifan pengetahuan yang sudah
menyisakan
ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak
waktu
sejenak
agar
siswa
Dalam CTL, pembelajaran merupakan
melakukan refleksi. Realisasinya berupa:
terlepas
a.
dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang
Penyataan langsung tentang apa-apa
dari
pengetahuan
yang
sudah
yang diperolehnya hari itu.
akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang
b.
utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
Kesan atau saran siswa mengenai
pembelajaran hari itu.
b.
c.
Diskusi.
belajar
d.
Hasil karya.
menambah
7. Penilaian Autentik (Authentic Assesment)
Penilaian autentik adalah prosedur
Pembelajaran
dalam
kontekstual
rangka
pengetahuan
adalah
memperoleh
baru
dan
(acquiring
knowledge).
c.
Pemahaman
pengetahuan
penilaian pada pembelajaran kontekstual pula,
(undersanding
yaitu proses pengumpulan berbagai data yang
pengetahuan yang diperoleh bukan untuk
bisa memberikan gambaran perkembangan
dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini.
belajar siswa. Karakteristik penilaian autentik
d.
menurut Kunandar (2008:315) adalah:
pengalaman tersebut (applying knowledge),
a.
Harus
mengukur
semua
aspek
knowledge),
Mempraktekkan
artinya
pengetahuan
dan
artinya pengetahuan dan pengalaman yang
pembelajaran: proses, kinerja, dan produk.
diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam
b.
kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan
Dilaksanakan selama dan sesudah
proses pembelajaran berlangsung.
c.
Menggunakan
berbagai
perilaku siswa.
cara
dan
sumber.
d.
Melakukan
refleksi
(reflecting
knowledge) terhadap strategi pengembangan
Tes hanya salah satu alat pengumpul
data penilaian.
e.
e.
pengetahuan.
Menurut Kunandar (2007:229), Ciri-
Tugas-tugas yang diberikan kepada
ciri pembelajaran kontekstual antara lain: 1)
siswa harus mencerminkan bagian-bagian
Kerja sama; 2) Menekankan pentingnya
kehidupan siswa yang nyata setiap hari,
pemecahan
ISSN 2355-0074
masalah;
3)
Bermuara
pada
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 41
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
keragaman konteks kehidupan siswa yang
pembelajaran, yaitu 1 (satu) kali pertemuan
berbeda-beda;
untuk tiap siklus.
4)
menunjang;
5)
membosankan;
6)
Adapun langkah-langkah pelaksanaan
Belajar dengan bergirah; 7) Menggunakan
tindakan sebagai acuan penyusunan skenario
berbagai sumber; 9) Siswa aktif; 10) Sharing
pembelajaran adalah sebagai berikut:
dengan teman;
i.
Kegiatan awal
a)
Guru membuka pelajaran.
b)
Guru mengkondisikan kelas dan siswa
Menyenangkan,
Saling
tidak
METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk dalam jenis
pada situasi belajar yang kondusif.
Penelitian Tindakan Kelas. Ciri utama dalam
c)
penelitian
penggalian pengetahuan awal siswa terhadap
tindakan
kelas
yaitu
adannya
Guru mengadakan apersepsi, sebagai
tindakan-tindakan (aksi) tertentu serta adanya
materi yang akan diajarkan.
siklus untuk memperbaiki proses pembelajaran
d)
di kelas.
kepada siswa “Masih ingatkah kalian pada
Penelitian
ini
adalah
penelitian
Dengan
pertanyaan
bentuk kubus dan balok?”
tindakan kelas dan pada pelaksanaannya
e)
direncanakan akan dilaksanakan
pembelajaran.
sebanyak
mengajukan
Guru
menyampaikan
tujuan
beberapa siklus yang didasarkan pada silabus
f)
pengajaran guru matematika kelas VIII.3 SMP
kelompok, masing-masing kelompok terdiri
Negeri 16 Banda Aceh. Sebanyak 24 siswa
dari 6 orang.
dan seorang guru kelas dilibatkan dalam
g)
penelitian ini.
balok ( berdasarkan sisi dan rusuknya) dan
Setiap siklus dalam penelitian ini
terdiri dari tahapan kegiatan, yaitu:
1)
Guru membagikan model kubus dan
LKS pada setiap kelompok.
ii.
Perencanaan
Guru membagi siswa menjadi 5
a)
Kegiatan inti
Tahap Kontruktivisme, Inkuiri, dan
Kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini
Pemodelan
adalah:

Menugaskan siswa berdiskusi
- Membuat skenario pembelajaran.

kelompok
- Membuat lembar observasi.
memanipulasi model kubus, serta menentukan
- Membuat alat bantu pembelajaran.
unsur-unsur kubus dan balok
- Membuat alat evaluasi.
b)
Tahap Bertanya
- Menyiapkan jurnal untuk refleksi diri.

Menjawab pertanyaan siswa tentang
2)
Pelaksanaan tindakan
unsur-unsur kubus dan balok
Kegiatan yang dilaksanakan pada
c)
Tahap Masyarakat Belajar

Menugaskan
tahap ini
adalah
melaksanakan
skenario
untuk
mengamati
perwakilan
dan
kelompok
untuk melaporkan hasil diskusi kelompoknya
ISSN 2355-0074
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 42
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
mengenai unsur-unsur kubus dan balok di
siklus sebelumnya untuk diperbaiki pada
depan kelas
siklus berikutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Menugaskan kelompok yang tidak
sedang melaporkan untuk menanggapi dengan
Setelah semua persiapan penelitian
bertanya dan memberi komentar.
disiapkan,
d)
Tahap pemodelan
melaksanakan tindakan di kelas yang diamati

Memberi peragaan cara yang benar
oleh dua orang pengamat dengan subjek
membuat model kubus dan balok berdasarkan
penelitian kelas VIII.3 SMP Negeri 16 Banda
sisi dan rusuknya.
Aceh. Pada siklus pertama ini, peneliti

melaksanakan pembelajaran dengan tindakan
Menjelaskan unsur-unsur kubus dan
balok
peneliti
(sebagai
guru)
yang telah dipersiapkan dengan konsep unsur-
e)
Tahap Refleksi
unsur kubus dan balok dan luas permukaan

Merefleksi dengan menugaskan siswa
serta volume kubus dan balok. Sesuai dengan
untuk
mengaitkan
kedalam
permasalahan yang telah dirumuskan dalam
cara
penelitian ini, maka guru telah menetapkan
menyebutkan benda-benda yang termasuk
rencana tindakan yang akan diaplikasikan
bangun ruang kubus dan balok yang ada di
untuk
kelas maupun di luar kelas.
dirumuskan. Rencana tindakan itu diterapkan
iii.
melalui langkah-langkah sebagai berikut:
kehidupan
pembelajaran
sehari-hari
dengan
Kegiatan penutup
mengatasi
- Guru bersama siswa merangkum materi yang
Siklus 1
telah dipelajari.
1. Perencanaan
- Guru dan siswa melakukan refleksi.
Pada
masalah
setiap
tatap
yang
muka
guru
- Guru memberi evaluasi atau tugas lain untuk
mempersiapkan
dikerjakan dirumah.
pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa
3)
(LKS). Persiapan ini semuanya disesuaikan
Observasi dan evaluasi
Observasi
pelaksanaan
dilakukan
pada
tindakan.Setelah
saat
observasi
rencana
telah
dengan permasalahan dan materi yang akan
disajikan.
Langkah-langkah
dilakukan, peneliti bersama dengan guru
perencanaan yaitu:
mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan
1.
tindakan.
lembar observasi guru dan siswa
4)
2.
Refleksi
Berdasarkan
Membuat
daftar
nama
observasi
dan
bersama
dengan
guru
3.
Menyiapkan alat peraga.
mengadakan refleksi yaitu melihat kelemahan-
4.
Menyiapkan soal latihan.
kelemahan pada saat pelaksanaan tindakan
2. Tindakan
peneliti
ISSN 2355-0074
dalam
Menyiapkan rencana pembelajaran,
hasil
evaluasi
pelaksanaan
kelompok
belajar.
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 43
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
Berdasarkan rencana tindakan dan
dan pada kegiatan 5 ( bertanya/menyampaikan
rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan,
pendapat kepada guru atau teman ) berkurang
maka guru melaksanakan langkah-langkah
yaitu dari 20% menjadi 16,25% .
pembelajaran
c.
sesuai
dengan
rencana
Peningkatan pemahaman siswa pada
pembelajaran dalam alokasi waktu yang telah
pokok bahasan unsur-unsur kubus dan balok
ditetapkan.
serta luas dan volume kubus dan balok
Dalam siklus pertama terdapat 2
menggunakan pendekatan kontekstual.
pertemuan dan dalam pertemuan baik guru
Ketuntasan pemahaman siswa pada pokok
maupun siswa diobservasi oleh observer.
bahasan unsur-unsur kubus dan balok dan luas
a.
RPP 1
permukaan serta volume kubus dan balok
Pada RPP pertama hasil pengamatan
dengan pendekatan kontekstual secara klasikal
keterampilan
guru
pembelajaran
menggunakan
kontekstual
yang
dalam
mengelola
sebesar 81% dengan 5 soal tes, hanya 2 soal
pendekatan
tes yang tuntas dan 3 soal yang belum tuntas,
menunjukkan
bahwa
secara individual 5 orang siswa yang belum
kemampuan guru mengelola pembelajaran
tuntas dari 29 orang siswa.
pada pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup
3. Pengamatan
cukup baik.. Sedangkan kegiatan siswa pada
RPP
1
siswa
1
rencana tindakan selama 2 kali tatap muka
(mendengarkan penjelasan guru atau teman)
pada siklus 1 hasil pengamatan diperoleh hasil
yaitu 16,25% , pada kegiatan 2 ( menemukan
sebagai berikut:
cara penyelesaian masalah ) yaitu 17,5 dan
1.
pada kegiatan 5( bertanya/menyampaikan
pembelajaran guru dan siswa pada siklus 1
pendapat kepada guru atau teman ) yaitu 20%.

b.
RPP 2
masih kurang aktif dalam proses belajar
Pada RPP kedua hasil pengamatan
kelompok berlangsung hampir sebagian siswa
keterampilan
pembelajaran
aktif
guru
di
dalam
menggunkan
kegiatan
Setelah guru melaksanakan semua
Kelemahan-kelemahan
Pembelajaran pada siklus 1, siswa
mengelola
tidak memberikan ide dalam kelompoknya,
pendekatan
karena siswa belum terbiasa dengan model
kontekstual menunjukkan bahwa kemampuan
yang diterapkan.
guru

mengelola
pada
pembelajaran
pada
Dalam menyelesaikan masalah atau
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir
menemukan cara penyelesaian masalah siswa
termasuk dalam kategori baik. Sedangkan
juga
kegiatan siswa pada RPP kedua siswa masih
pembelajaran kontekstual.
aktif di kegiatan 1 ( mendengarkan penjelasan

guru atau teman ) yaitu 16,25% , pada kegiatan
jawaban dalam penyelesaian soal
2 ( menemukan cara penyelesaian masalah )

bertambah yaitu dari 17,5% menjadi 18,75%
dalam pembelajaran kontekstual
ISSN 2355-0074
masih
kurang
memahami
dalam
Siswa belum bisa membandingkan
Guru masih kurang memotivasi siswa
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 44
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...

Dalam kegiatan
guru masih
telah terlihat ada pengaruh tindakan guru
kurang dalam melatih siswa untuk menerapkan
selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
pendekatan kontekstual. Dalam hal ini perlu
Pengaruh dari tindakan yang diberikan guru
perhatian guru untuk mengatasi kendala
dapat ditinjau dari kelemahan baik dari segi
tersebut
guru maupun siswa, antara lain sebagai
pada
inti
pertemuan
atau
siklus
berikutnya.
2.
berikut:
Kelebihan-kelebihan
pada
pembelajaran guru dan siswa

sudah
Pembelajaran pada siklus 1, siswa
masih kurang aktif dalam proses belajar
batas
kelompok berlangsung hampir sebagian siswa
toleransinya dalam mendengarkan penjelasan
tidak memberikan ide dalam kelompoknya,
guru atau teman.
karena siswa belum terbiasa dengan model

Siswa

Dalam
memenuhi
aspek
bertanya
atau
yang diterapkan.
menyampaikan pendapat kepada teman atau

guru aktifitas siswa sudah mencapai waktu
menemukan cara penyelesaian masalah siswa
ideal yang sudah ditentukan.
juga

pembelajaran kontekstual.
Berdasarkan hasil observasi dengan
Dalam menyelesaikan masalah atau
masih
kurang
memahami
guru matematika SMPN 16 banda aceh bahwa

dalam kegiatan akhir guru peneliti sudah
jawaban dalam penyelesaian soal
mampu dalam menarik kesimpulan dalam

materi unsur-unsur kubus dan balok dan luas
dalam pembelajarn kontekstual
permukaan serta volume kubus dan balok.

dalam
Siswa belum bisa membandingkan
Guru masih kurang memotivasi siswa
Dalam kegiatan
inti
guru masih
Menurut pengamat yang memantau
kurang dalam melatih siswa untuk menerapkan
kegiatan proses belajar mengajar pada siklus
pendekatan kontekstual. Dalam hal ini perlu
pertama, hal-hal tersebut di atas wajar saja
perhatian guru untuk mengatasi kendala
terjadi, karena siswa belum terbiasa dengan
tersebut
pendekatan
berikutnya.
kontekstual
yang
diterapkan,
namun upaya guru telah menunjukkan hasil
pada
pertemuan
Meninjaklanjuti
atau
kelemahan
siklus
yang
yang sangat berarti dan memadai pada siklus
ditemukan yang telah diuraikan di atas, guru
1, hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian
peneliti bersama pengamat sepakat untuk
pengelolaan pembelajaran yang dikategorikan
melanjutkan pelaksanaan tindakan kelas pada
hampir baik dan diharapkan dapat lebih
siklus ke-2. Upaya-upaya yang akan dilakukan
berhasil di siklus berikutnya.
di antaranya adalah dengan cara
4 Refleksi dan Tindak Lanjut
a.
Berdasarkan hasil pengamatan dan
Mengoptimalkan
langkah-langkah
pembelajaran dengan maksimal
analisis data yang telah diperoleh guru dan
pengamat selama tatap muka pada siklus 1,
ISSN 2355-0074
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 45
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
(2)
Menekankan
dalam
kembali
menemukan
atau
pada
siswa
menyelesaikan
4.
dalam
Memberi bimbingan kepada siswa
membandingkan
masalah
penyelesaian soal.
(3)
5.
Memberi bimbingan kepada siswa
dalam
membandingkan
jawaban
dalam
jawaban
dalam
Meningkatkan bimbingan guru dalam
memotivasi siswa agar lebih aktif dalam
penyelesaian soal.
kegiatan belajar mengajar pada siklus 2
(4)
6.
Meningkatkan bimbingan guru dalam
Membimbing siswa dalam belajar
memotivasi siswa agar lebih aktif dalam
kelompok
kegiatan belajar mengajar pada siklus 2
kelompok.
(5)
2. Tindakan
Membimbing siswa dalam belajar
kelompok
dengan
mengelilingi
setiap
dengan
mengelilingi
setiap
Berdasarkan rencana tindakan dan
kelompok..
rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan,
Siklus ke Dua
guru
Berdasarkan refleksi yang ada pada
melaksanakan
pembelajaran
sesuai
langkah-langkah
dengan
rencana
siklus 1, maka guru bersama pengamat
pembelajaran dan alokasi waktu yang telah
menetapkan bahwa tindakan yang dilaksanakn
ditetapkan.
pada siklus 1 perlu perbaikan pada siklus 2
a.
agar pembelajaran berlangsung secara optimal.
pembelajaran dengan penerapan pendekatan
1. Perencanaan
kontekstual
Pada siklus 2 akan dilakukan beberapa
Keterampilan guru dalam mengelola
Hasil analisis menunjukkan bahwa
perbaikan atas kelemahan-kelemahan yang
kemampuan
didapati
dengan
pembelajaran dengan penerapan pendekatan
melakukan peningkatan keterampilan dalam
kontekstual pada pendahuluan memperoleh
memotivasi siswa dalam berkelompok. Untuk
nilai rat-rata 5 termasuk kategori sangat baik,
itu dilakukan persiapan –persiapan berupa:
pada kegiatan inti/pelaksanaan memperoleh
1.
nilai rata-rata 4,42 termasuk kategori baik dan
pada
Guru
pembelajaran
siklus
2,
yaitu
mempersiapkan
yaitu rencana
perangkat
pembelajaran
(RPP) yang sudah dimodifikasi berdasarkan
guru
pada bagian penutup
dalam
mengelola
memperoleh nilai rata-
rata 5 termasuk kategori sangat baik.
solusi yang sudah disampaikan sebelumnya
2.
Mengoptimalkan
langkah-langkah
b.
pembelajaran dengan maksimal
3.
Menekankan
dalam
menemukan
masalah
kembali
atau
Aktivitas Siswa
Berdasarkan hasil aktivitas siswa di
pada
siswa
pertemuan ke 3 dan di siklus II pada pokok
menyelesaikan
bahasan mengenai unsur-unsur kubus dan
balok
dengan
penerapan
pendekatan
kontekstual, dengan ketentuan siswa dari
seluruh siswa 31, hanya 5 siswa yang diamati
ISSN 2355-0074
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 46
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
yang termasuk kedalam tiga golongan yaitu,
pengamat,
golongan atas, tengah dan bawah. Maka dapat
diperoleh hasil sebagai berikut:
disimpulkan hasil dari pengamatan pada RPP 3
-
serta pertemuan 3 (siklus II) adalah sebagai
pembelajaran oleh guru pada siklus 2, telah
berikut:
lebih baik dibandingkan pada siklus I serta
1.
Mendengarkan/
memperhatikan
dan
tes
hasil
Penerapan
belajar
siswa,
langkah-langkah
sesuai dengan RPP-3.
penjelasan guru/ teman (16,25%)
-
2.
pembelajaran secara teratur sesuai dengan
Membaca/ memahami masalah di LKS
(20%)
3.
Guru melaksanakan langkah-langkah
rencana
Menyelesaikan
masalah/menemukan
pembelajaran.
pengelolaan
Hasil
analisis
pembelajaran
cara penyelesaian masalah LKS(18,75%)
dikelompokkan
4.
dalam
dikarenakan pembelajaran telah berpusat pada
dalam diskusi kelompok atau diskusi kelas
siswa, guru dan siswa sangat aktif dalam
(15%)
mengikuti proses belajar mengajar.
5.
Membandingkan
jawaban
Bertanya/ menyampaikan pendapatb
dalam
kriteria
dapat
baik.
Ini
Berdasarkan analisis data pada siklus II
atau ide kepada guru atau teman (16,25%)
dengan penerapan pendekatan kontekstual
6.
telah
Menarik kesimpulan suatu konsaep
atau prosedur (13,75%)
7.
Prilaku
siswa
sesuai
dengan
langkah-langkah
pembelajaran. Guru kembali menagih dan
yangtidak
relevan
mengulang
keterapilan-keterampilan
yang
dengan KBM (0%)
telah diajarkan pada siklus I. Siswa semakin
c.
Peningkatan ketuntasan hasil belajar
aktif dalam proses belajar mengajar, hal ini
siswa pada pokok bahasan unsur-unsur kubus
disebabkan mereka telah mengerti bagaimana
dan balok dengan pendekatan kontestual
menggunakan
Ketuntasan hasil belajar siswa pada
penerapan
pendekatan
kontekstual.
pokok bahasan unsur-unsur kubus dan balok
4 Refleksi
yang mengenai perbedaan kubus dengan balok
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis
serta bagian-bagian dari kubus dan balok
data yang diperoleh guru dan pengamat selama
dengan jumlah soal 2 buah serta banyaknya
tatap muka pada siklus II terlihat adanya
siswa yang mengikuti tes pada pertemuan II
keberhasilan baik dari pihak guru maupun
tersebut 29 orang siswa. Hasil yang mereka
siswa, antara lain:
peroleh dari tes siklus adalah sebanyak 29

siswa yang tuntas dengan hasil klasikal 85%
sudah aktif dalam proses belajar kelompok
3. Pengamatan
berlangsung siswa aktif memberikan ide dalam
Setelah guru melaksanakan semua rencana
kelompoknya, karena siswa sudah terbiasa
tindakan selama di siklus 2 dikelas VIII.3 SMP
dengan model yang diterapkan.
Pembelajaran pada siklus II, siswa
Negeri 16 Banda Aceh, hasil pengamatan
ISSN 2355-0074
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 47
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...

Dalam
terlatih
dalam
kegiatan
inti
melatih
guru
siswa
sudah
benda bangun ruang, karena berdasarkan hasil
untuk
penelitian siswa masih mengalami kesulitan
menerapkan pendekatan kontekstual.
dalam membayangkan sebuah bangun ruang
terlebih jika
bentuk dan
penampilannya
diubah.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka
peneliti
dapat
menyimpulkan
bahwa
pembelajaran pada bangun ruang kubus dan
balok matematika di kelas VIII SMPN 16
Banda Aceh dengan ketuntasan hasil belajar
siswa adalah 100% dan aktivitas guru dan
siswa dalam kegiatan pembelajaran berada
pada waktu ideal yang telah ditentukan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa
penerapan pendekatan kontekstual di SMPN
16 Banda Aceh dapat mengatasi kesulitan
siswa dalam memahami bangun ruang kubus
dan balok.
Terakhir, saran yang dapat peneliti
berikan, berdasarkan hasil penelitian yang
telah dijelaskan di atas, agar kiranya penelitian
ini dapat dilanjutkan dengan melihat dan
menganalisis konsep keruangan siswa atau
kemampuan spasial siswa terhadap benda-
ISSN 2355-0074
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 48
Rita Novita, Niawati, Penerapan Pendekatan Kontekstual...
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman. (2003). Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Aisyah, N, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Asikin. 2003. Pembelajaran Matematika Berdasar Pendekatan Kontruktivisme dan CTL, Makalah
dalam Rangka Seminar TOT Guru se Jawa Tengah. Semarang
Darsono, M. 2000. Belajar Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press
Hudojo, Herman. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Depdikbud : Jakarta.
Johnson, A. 2006. Contextual Teaching and Learning.(Terjemahan). Jakarta: MLC.
...........Kemajuan atau Jalan di Tempat. http: // www.google/ dikdasmen/com: Diakses 21 April
2008. Pukul 19.30.
Masnur Muslich. (2007). KTSP pembelajaran berbasis kompetensi dan komtekstual panduan bagi
guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Nurhadi. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapan dalam KBK. Malang: Universitas Negeri
Malang Press.
Nurhadi. 2002. Contextual Teaching and Learning (CTL). Jakarta: Depdiknas
Nasution, S. 1986. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Bandung. Jemmars.
Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta. Depdiknas.
Sudrajat.
2007.
ISSN 2355-0074
Gerakan
Pendekatan
Kontekstual
dalam
Matematika
Sebuah
Volume III. Nomor 1. April 2016 | 49
Download