Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui model

advertisement
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Pendekatan Pembelajaran Kooperatif
Secara sederhana kata kooperatif yang artinya mengerjakan sesuatu secara
bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok
atau satu tim (Isjoni, 2010:8). Sedangkan Sanjaya (2011:242) menjelaskan bahwa
pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan
sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara 4-6 orang yang mempunyai latar
belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda
(heterogen).
Rusman (2011:202) berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif merupakan
bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompokkelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai
enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pada
pembelajaran siswa berinteraksi aktif dan positif dalam kelompok.
Siswa yang bekerja dalam pembelajaran kooperatif didorong untuk
bekerjasama pada suatu tugas bersama mereka harus mengoordinasikan usahanya
untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam pembelajaran dua atu lebih individu saling
tergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama. Pelaksanaan prosedur
pembelajaran dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas
dengan lebih efektif.
Hal penting dalam pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa dapat
belajar dengan cara bekerjasama dengan teman. Bahwa teman yang lebih mampu
dapat menolong teman yang lemah. Setiap anggota kelompok memberi
sumbangan pada prestasi kelompok (Uno dan Nurdin, 2012: 120).
Dari beberapa pengertian tentang pembelajaran kooperatif yang telah
disampaikan diatas bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang
dilakukan secara berkelompok setiap kelompok terdiri dari 4-6 orang, dalam
kelompok siswa berasal dari
berbagai tingkat kognitif yang berbeda, jenis
kelamin, suku, dan latar belakang sosial yang berbeda. Dalam menyelesaikan
6
7
tugas siswa dalam kelompok saling bekerja sama satu dengan yang lain dan
membantu memahamai materi pelajaran dan persoalan yang diberikan. Sehingga
setiap siswa memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompok
dalam memecahkan masalah atau persoalan dan diperlukan kerjasama yang baik
antar anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
2.1.1.1 Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim (2000:6) pembelajaran kooperatif mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan
materi belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,
sedang, dan rendah.
3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku,
jenis kelamin yang berbeda.
4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Dari beberapa ciri-ciri pembelajaran yang telah disampaikan diatas bahwa
pembelajaran kooperatif tidak sama dengan belajar dalam kelompok biasa.
Adapun ciri-ciri pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran
kelompok
lainnya.
Pembelajaran
ini
kelompok
dibentuk
dari
siswa
berkemampuan berbeda-beda. Setiap kelompok terdiri dari ras, budaya, suku,
jenis kelamin berbeda-beda, penghargaan berorientasi pada kelompok. Dalam
pembelajaran kooperatif anggota kelompok saling ketergantungan positif, tatap
muka, tanggung jawab perseorangan, komunikasi antar anggota, evaluasi proses
kelompok. Pengembangan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah
bahwa sinergi yang muncul melalui kerjasama akan meningkatkan motivasi yang
jauh lebih besar daripada melalui lingkungan kompetitif individual. Kelompokkelompok social integrative memiliki pengaruh yang lebih besar daripada
kelompok yang dibentuk secara berpasangan. Siswa merasa senang karena dalam
pembelajaran kooperatif ini mereka bekerja sama mencerminkan aspek saling
ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama, untuk mencapai tujuan bersama
dalam kelompok diperlukan keterampilan sosial
melalui komunikasi antar
anggota secara bertatap muka satu dengan yang lainnya dan berinteraksi secara
8
langsung, namun walaupun bekerja secara berkelompok setuap anggota kelompok
bertanggung jawab terhadap hasil anggota kelompok. Selanjutnya proses evaluasi
kelompok dilakukan untuk mengevaluasi kerja kelompok dari hasil kerjasama
mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan baik. Oleh karena itu guru
harus merancang rencana pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif harus
memahami ciri-ciri yang membedakan pembelajaran kooperatif dengan yang
lainnya.
Berdasarkan uraian tentang ciri-ciri pembelajaran kooperatif dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif yaitu pembelajaran yang lebih
berorientasi pada kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 4-6 orang. Tiap kelompok
terdiri dari siswa yang kemampuan, ras, budaya, suku, dan jenis kelamin berbedabeda. Didalam kelompok, siswa bekerjasama dan saling ketergantungan positif
untuk menuntaskan materi atau memecahkan persoalan yang diberikan oleh guru.
Penghargaan yang diberikan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.
Keberhasilan dalam kelompok tergantung pada individu dan kerjasama yang baik
dalam kelompok demi tercapainya tujuan bersama.
2.1.1.2 Sintak Pembelajaran Kooperatif
Menurut Arends (2008:6) terdapat enam fase atau langkah utama yang
terdapat dalam pelajaran yang menggunakan model cooperative learning adalah:
Tabel 2.1
Sintak Pembelajaran Kooperatif
Fase
Tingkah Laku
Fase-1
Mengklarifikasi tujuan dan membangkitkan motivasi belajar.
Fase-2
Mempresentasikan Informasi.
Fase-3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil.
Fase-4
Membentuk kerja tim dalam belajar.
Fase-5
Mempresentasikan hasil diskusi dan mengujikan yang dipelajari.
Fase-6
Memberi pengakuan.
9
Berdasarkan uraian tentang langkah-langkah pembelajaran kooperatif dapat
ditarik kesimpulan bahwa kegiatan pembelajaran kooperatif dimulai dengan
menyampaikan tujuan pembelajaran dan motivasi untuk belajar. Selanjutnya
siswa dikelompokkan kedalam kelompok-kelompok kecil dan diikuti bimbingan
guru kepada siswa untuk bekerjasama menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
guru. Tahap terakhir meliputi presentasi hasil diskusi kelompok atau evaluasi dan
memberi penghargaan terhadap usaha kelompok.
2.1.2 Matematika
Ruseffendi berpendapat dalam Heruman (2012:1) bahwa Matematika adalah
bahasa symbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif,
ilmu tentang pola keteraturan, dan stuktur yang terorganisasi, mulai dari unsur
yang tidak didefinisikan, ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat,
dan akhirnya ke dalil.
Puskur-Dit PTKSD (2003:2) menjelaskan bahwa Matematika merupakan
suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui proses
penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis
dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterlibatan antar konsep
dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.
Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang terdapat pada kurikulum
pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, Matematika perlu diajarkan sedini
mungkin kepada anak didik. Istilah Matematika berasal dari bahasa Yunani
“mathein” atau “manthenein”, yang artinya mempelajari. Sedangkan dalam
Bahasa Sansekerta berasal dari kata “medha” atau “widya” yang artinya
kepandaian, ketahuan, inteligensi (Moch. Masykur 2007:42).
Berdasarkan pengertian yang disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa
Matematika adalah ilmu yang berupa ide obyek kajian yang abstrak yang
memerlukan pembuktian yang logis, karena itu matematika hanya dapat diperoleh
dengan mengorganisasikan pola pikir dan penalaran.
10
2.1.2.1 Tujuan Pembelajaran Matematika
Dalam KTSP Standar Isi Tahun 2006, mata pelajaran Matematika bertujuan
agar peserta didik mempunyai kemampuan sebagai berikut:
1. Memahami konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep
dan mengaplikasikan konsep atau alogaritma secara luwes, akurat,
efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah,
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
Matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau
menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika,
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan
solusi yang diperoleh,
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media
lain untuk memperjelas keadaan atau masalah,
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan,
yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari
Matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan
masalah.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran
Matematika adalah dapat memahami dan menjelaskan keterkaitan antar
konsep Matematika dan menjelaskan gagasan dan pernyataan Matematika
serta menggunakan pealaran pada pola dan sifat, mengomunikasikan gagasan
dengan tabel, simbol, dan diagram untuk memperjelas keadaan atau masalah
serta menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan.
2.1.3 Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)
Pencapaian tujuan Matematika yang telah ditetapkan oleh Badan Standar
Nasional (BSNP) tersebut harus dimiliki oleh kemampuan siswa yang berstandar
nasional dinamakan dengan Standar Kompetensi (SK) dan dirinci Kompetensi
Dasar (KD). Standar Kompentensi merupakan ketentuan pokok untuk dijabarkan
lebih lanjut dalam serangkaian kemampuan untuk melaksanakan tugas atau
pekerjaan secara efektif. Penjabaran lebih lanjut ke dalam kompetensi dasar.
Kompetensi Dasar adalah kemampuan minimal yang diperlukan untuk
melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan efektif.
Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan siswa untuk
membangun kemampuan, bekerja ilmiah dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi
11
guru.Oleh karena itu, dalam pembelajaran di satuan pendidikan harus mengacu
pada SK dan KD yang diterbitkan oleh BSNP. Secara rinci SK dan KD untuk
mata pelajaran Matematika pada penelitian ini yang ditujukan bagi siswa kelas V
SD Negeri Sidorejo Lor 04 yang disajikan melalui tabel 2.2
Tabel 2.2
Standar Kompetensi dan Kompetesi Dasar Matematika kelas V Semester II
SD Negeri Sidorejo Lor 04 Salatiga
Standar Kompetensi (SK)
5. Menggunakan Pecahan Dalam
Pemecahan Masalah
2.1.4
Kompetensi Dasar (KD)
2.2 Mengalikan dan Membagi
Berbagai Bentuk Pecahan.
2.3 Menggunakan Pecahan Dalam
Masalah Perbandingan dan
Skala
Teori Belajar
Menurut Gagne dalam Suprijono (2009:2) “Belajar adalah perubahan
disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan
disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang
secara ilmiah”. Sedangkan Ahmadi dan Widodo (2008:18) berpendapat bahwa
belajar merupakan proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh
perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil dari proses belajar yang
telah dilakukan individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Peristiwa belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak dapat
dipisahkan dalam kehidupan manusia. Kegiatan belajar yang disertai dengan
proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar yang
hanya semata-mata dengan pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat.
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2).
Sejalan dengan pendapat Slameto, Suprijono mengungkapkan prinsipprinsip belajar ada tiga yaitu: perubahan perilaku sebagai hasil belajar, belajar
12
merupakan proses, belajar merupakan bentuk pengalaman yang pada dasarnya
adalah hasil interaksi antara siswa dengan lingkungannya.
Berdasarkan penjelasan disimpulkan bahwa belajar adalah proses usaha
yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil
pengalaman individu berinteraksi dengan lingkungannya, yang mempengaruhi
kegiatan belajar dapat dikaji bahwa belajar itu merupakan proses yang cukup
kompleks. Aktivitas belajar siswa memang tidak selamanya menguntungkan.
Kadang-kadang juga lancar, kadang mudah menangkap apa yang dipelajari,
kadang sulit menangkap mata pelajaran yang sedang dipelajari. Dalam keadaan
dimana siswa dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut belajar.
2.1.5 Teori Hasil Belajar
Sudjana (2011:22) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Bahwa hasil belajar itu bersifat menyeluruh artinya bukan sekedar penguasaan
pengetahuan dalam materi tetapi juga nampak pada perubahan sikap dan tingkah
laku secara terpadu. Lain halnya dengan Mulyono Abdurrahman (2003:37) Ia
berpendapat jika hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah
melalui kegiatan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran tujuan yang ingin dicapai
ditentukan sebelumnya. Anak yang dikatakan berhasil adalah mereka yang dapat
mencapai tujuan-tujuan pelajaran yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam sistem Pendidikan Nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan
kurikuler maupun tujuan intruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar dari
Bloom dalam Sudjana (2011:22) berpendapat bahwa bahwa hasil belajar
mencakup 3 hal, meliputi kemampuan kognitif yang berkenaan dengan hasil
belajar intelektual, kemampuan afektif yang berkenaan dengan sikap, dan
kemapuan psikomotorik yang berkenaan dengan hasil belajar keterampilan.
Menurut Slameto (2010:54), adapun faktor yang mempengaruhi hasil belajar
dapat dibedakan menjadi 2 golongan, yang meliputi:
1) Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang disebut faktor individu
(intern), yang meliputi:
13
a. Faktor Jasmaniah
b. Faktor Psikologis
c. Faktor Kelelahan
2) Faktor yang ada pada luar individu yang di sebut faktor ekstern yang
berpengaruh terhadap belajar dibedakan menjadi 3, yaitu: faktor keluarga,
faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
a. Faktor Keluarga
b. Faktor Sekolah
c. Faktor Masyarakat
Dari beberapa penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa hasil belajar
merujuk pada kemampuan yang diperoleh individu dari beberapa aspek yaitu
aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hasil belajar dapat diartikan sebagai
perubahan kemampuan yang dimiliki seseorang baik kemampuan kognitif, afektif,
maupun psikomotor. Kemampuan kognitif berhubungan dengan pengetahuan
ingatan, kemampuan afektif berhubungan dengan sikap dan kemampuan
psikomotorik berhubungan dengan keterampilan. Perubahan kemampuankemampuan dalam hasil belajar dalam hal ini adalah perubahan ke arah yang lebih
baik (perubahan progresif) bukan ke arah kurang baik (regresif). Hasil belajar
dalam kemampuan kognitif, afektif, psikomotorik merupakan perubahan peserta
didik setelah mengikuti proses kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Untuk
mengukur hasil belajar maka guru melaksanakan tes. Teknik tes meliputi tes
tertulis dan tes tidak tertulis. Teknik tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda
atau objektif, uraian, dan isian singkat. Sedangkan teknik non tes meliputi
pengamatan atau observasi, angket, jurnal, portofolio dan wawancara. Guru dapat
mengetahui hasil belajar siswa dalam bentuk nilai melaui tes yang dilakukan.
Pada umumnya hasil belajar dinilai melalui tes, baik tes uraian maupun tes
objektif. Pelaksanaan penilaian bisa secara lisan, tulisan, tindakan atau perbuatan.
Tes uraian mempunyai keunggulan dari tes objektif karena dapat mengungkap
aspek atau kemampuan mental yang lebih tinggi yang tercermin dalam logika
berpikir dan kemampuan berbahasa tulisan. Sedangkan tes objektif lebih unggul
14
dalam hal materi yang diujikan dapat lebih banyak dan mudah (praktis) dalam
memeriksa dan mengolah hasilnya.
2.1.6 Model Pembelajaran Number Heads Together (NHT)
Number Heads Together merupakan jenis pembelajaran koopereatif yang
kemudian disingkat menjadi NHT yang dikembangkan oleh Spencer Kagan pada
1993(Arends, 2008:15). NHT pada dasarnya merupakan varian diskusi kelompok,
ciri khasnya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberi
tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya. Cara ini menjamin
keterlibatan total semua siswa, cara ini merupakan upaya yang sangat baik untuk
meningktakan tanggung jawab individual dalam dikusi kelompok (Nur, 2005:78).
NHT melibatkan lebih banyak siswa bekerja dalam sebuah kelompok dalam
menelaah berbagai materi melalui pemecahan persoalan yang diberikan, yang
dibahas dalam sebuah mata pelajaran tertentu dan untuk memeriksa pemahaman
mereka tentang isi dari pelajaran itu. Pembelajaran NHT juga memberikan
kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dalam kelompok dan
mempertimbangkan jawaban yang paling tepat pada sebuah pertanyaan atau
pemecahan masalah dalam kelompok.
2.1.6.1 Penerapan NHT
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran
kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan
penguasaan akademik. Adapun tahapan dalam pembelajaran Numbered Heads
Together (NHT) menurut Kagan dalam Nurhadi (2004:66) langkah-langkah
metode pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) adalah:
1) Penomoran (Numbering)
2) Pengajuan Pertanyaan (Questioning)
3) Berpikir Bersama (Head Together)
4) Pemberian Jawaban (Answering)
Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru
membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan tiga
15
sampai lima orang dan memberi siswa nomor sehingga setiap siswa dalam tim
mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam
kelompok. Langkah selanjutnya adalah pengajuan pertanyaan, guru mengajukan
pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil dari materi
pelajaran tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat pertanyaan
usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan
tingkat kesulitan yang bervariasi pula. Setelah mendapatkan pertanyaanpertanyaan dari guru, siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan
menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya sehingga semua anggota
mengetahui jawaban dari masing-masing pertanyaan. Langkah terakhir yaitu guru
menyebut salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor
sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas,
kemudian guru secara acak memilih kelompok yang harus menjawab pertanyaan
tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut
mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang
bernomor sama menanggapi jawaban tersebut. Tipe pembelajaran kooperatif ini
memiliki langkah-langkah sebagai berikut membagi siswa menjadi beberapa
kelompok dan setiap anggota kelompok diberi nomor kepala. Selanjutnya tiap
kelompok melakukan diskusi untuk menjawab permasalahan atau untuk
melakukan suatu kegiatan. Kemudian guru mengundi atau mengambil salah satu
nomor dan nomor yang dimiliki anggota dari kelompok tersebut harus maju ke
depan kelas untuk menjawab atau mempresentasikan hasil diskusi dari kelompok
mereka.
2.1.6.2 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran NHT
Model pembelajaran kooperatif tipe Number Heads Together memiliki
kelebihan dan kekurangan. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe
Number Heads Together (NHT) diantaranya adalah:
a. Terjadinya interaksi antara siswa melalui diskusi secara bersama-sama dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi.
16
b. Siswa pandai maupun siswa lemah sama-sama memperoleh manfaat melalui
aktiitas belajar kooperatif.
c. Dengan bekerja secara kooperatif ini, kemungkinan konstruksi pengetahuan
akan menjadi lebih besar untuk siswa dapat mencapai pada kesimpulan yang
diharapkan.
d. Dapat memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk menggunakan
keterampilan yang dimilikinya, keterampilan bertanya, keterampian menjawab,
dan kepemimpinanya
Kekurangan model Number Heads Together (NHT) adalah:
a. Siswa yang pandai akan cenderung mendominasi sehingga akan menimbulkan
sikap minder dan pasi dari siswa yang lemah.
b. Proses diskusi dapat berjalan lancar jika ada siswa yang menyalin pekerjaan
teman yang pandai
c. Pengelompokan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbedabeda sehingga memerlukan waktu khusus
d. Kemungkinan nomor yang dipanggil akan dipanggil lagi oleh guru dan tidak
semua anggota kelompok dipanggil oleh guru (Suwarno, 2010).
2.2 Kajian Teori yang Relevan
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muntasip, Institut Agam Islam Negeri
Walisongo dengan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika materi
Perkalian dan pembagian Bilangan Bulat Melalui Model Kooperatif tipe Number
Head Together (NHT) di Kelas IV MI Negeri Karangpoh Pulosari pemalang”
hasil penelitian menunjukkan bahwa menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Numbered Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar
Matematika kelas IV MI Negeri Karangpoh Pulosari Pemalang pada materi
perkalian dan pembagian bilangan bulat. Peningkatan hasil belajar ditunjukkan
dengan adanya peningkatan siklus I 70% dari pra siklus, dan 90% pada siklus II.
Penelitian yang dilakukan oleh M. Nafik, Universitas Negeri Malang
dengan judul “Penerapan Model pembelajaran Kooperatif tipe Number Heads
Together (NHT) untuk meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa kelas IV
17
SDN Ksatrian 2 Malang”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Number Heads Together (NHT) dapat
meningkatkan hasil belajar Matematika kelas IV SDN Ksatrian 2 Malang pada
materi pecahan. Peningkatan hasil belajar ditunjukkan dengan adanya peningkatan
yang cukup signifikan dari rata-rata siklus I 65,78 dan meningkat menjadi 92,67
pada siklus II.
Penelitian yang dilakukan oleh Ananta, Wahyu Nugroho Sandi, Universitas
Kristen Satya Wacana dengan judul “Penerapan Model Number Heads Together
(NHT) Dalam Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Penjumlahan dan
Pengurangan Pecahan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD
Negeri Pitosari, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung” hasil penelitian
menunjukan menggunakan model Number Heads Together (NHT) dapat
meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas IV SD Negeri Pitrosari. Pada
kondisi awal atau pra siklus siswa yang nilainya diatas KKM terdapat 8 siswa
(33%) dan yang belum tuntas dibawah KKM terdapat 16 (67%). Siklus 1
menerapkan model NHT terjadi peningkatan signifikan yaitu terdapat 18 siswa
yang diatas KKM (75%) dan 6 siswa (25%) yng belum memenuhi KKM yang
ditetapkan. Kemudian siklus 2 terjadi peningkatan yaitu 21 (87%) siswa yang
sudah memenuhi KKM dan 3 (13%) yang belum memenuhi KKM.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan sintaks pembelajaran Number
Heads Together milik Spancer Kagan, yaitu dengan tahapan numbering,
questioning, heads together, dan answering. Namun, peneliti menambahkan atau
memodifikasi dari sintaks yang sudah ada yakni berupa pemberian penghargaan
atau reward untuk kelompok yang memberikan jawaban dengan benar melalui
kompetisi antar kelompok. Pemberian penghargaan ini digunakan sebagai alat
agar siswa lebih bersemangat dan menumbuhkan minat dalam mengikuti
pelajaran untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu.
2.3 Kerangka Pikir
Model pembelajaran Number Heads Together (NHT) adalah pembelajaran
kooperatif yang memacu rasa keingintahuan siswa dan menuntut tanggung jawab
18
indvidu walaupun bekerjasama dalam kelompok, sehingga dengan sendirinya
siswa termotivasi untuk menyelesaikan permasalahan/soal yang diberikan oleh
guru. Dalam pembelajaran ini diharapkan pembelajaran yang berlangsung di
dalam kelas yang masih monoton yang hanya berpusat pada guru sehingga siswa
kurang aktif akan membantu siswa dalam satu kelas untuk ikut terlibat secara aktif
dalam penguasaan materi pembelajaran dengan menyampaikan ide-ide dan
pengetahuan yang telah dimiliki siswa .
Dalam kegiatan berkelompok siswa dihadapkan pada permasalahan yang
harus diselesaikan, dengan model Number Heads Together (NHT) siswa akan
menjadi aktif, kegiatan pembelajaran akan menjadi menyenangkan, dan siswa
yang berkemampuan kurang, dalam diskusi kelompok dapat terbantu oleh
temannya, selain itu akan menemukan banyak ide dan tanggapan yang berbeda
dari permasalahan yang diberikan oleh guru. Kelompok akhirnya menemukan
jawaban yang sesuai dari hasil diskusi kelompok yang telah disepakati, kemudian
hasil dari kerja kelompok dipresentasikan ke depan kelas dengan cara guru
mengambil nomor secara acak agar tiap anggota kelompok siap untuk
menyampaikan hasil diskusinya.
Melalui cara ini akan menjamin keterlibatan aktif seluruh siswa dalam
pembelajaran yang membantu proses belajar siswa lebih maksimal sehingga dapat
memacu keaktifan dan tanggung jawab individu yang akan membantu perbaikan
hasil belajar siswa.
2.4 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori dan kerangka pikir maka dapat dirumuskan
hipotesis penelitian tindakan kelas sebagai berikut melalui penggunaan model
pembelajaran koperatif tipe Number Heads Together (NHT) dapat meningkatkan
hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika di kelas V SD Negeri Sidorejo
Lor 04 Kecamatan Sidorejo kota Salatiga Tahun Pelajaran 2013/2014.
Download