legal opinion calon independen pemilukada

advertisement
LEGAL OPINION CALON INDEPENDEN PEMILUKADA
BAB I
PENDAHULUAN
Pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah, atau seringkali
disebut Pilkada, adalah pemilihan umum untuk memilih kepala daerah dan wakil
kepala daerah secara langsung di Indonesia oleh penduduk daerah setempat yang
memenuhi syarat. Sebelumnya, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih
oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Langsung atau sering
disebut Pilkada Langsung merupakan mekanisme demokratis dalam rangka
rekrutmen pemimpin di daerah, dimana rakyat secara menyeluruh memiliki hak
dan kebebasan untuk memilih calon – calon yang didukungnya. Indonesia sendiri
baru memberlakuan pilkada secara langsung ketika dikeluarkannya Undang –
Undang No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah No.
6/2005 mengenai Tata cara Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan, dan
Pemberhentian Kepala Daerah, merupakan tonggak baru penegakan kedaulatan
rakyat daerah di Indonesia.
Undang - Undang No. 32 tahun 2004 ditetapkan pada Oktober 2004
memberikan perubahan yang sangat sigifikan dalam tata pemerintahan dan bahkan
adanya pemilihan kepala daerah secara langsung. Ini berarti semangat untuk
memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat daerah untuk berbenah
sesuai dengan keinginannya. Dan pada akhirnya setiap kepala daerah akan terasa
lebih dekat dengan rakyat. Artinya semua kebijakan yang akan diambil kepala
daerah benar - benar berdasarkan kebutuhan rakyat yang sesungguhnya.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, peserta Pilkada
adalah pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai
politik. Ketentuan ini diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
yang menyatakan bahwa peserta pilkada juga dapat berasal dari pasangan calon
perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang. Undang-undang ini
menindaklanjuti keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan beberapa
pasal menyangkut peserta Pilkada dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.
1
Undang - Undang Nomor 12 Tahun 2008 perubahan kedua atas Undang - Undang
Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dalam Pasal 59 (1) Peserta
pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang
diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik dan pasangan calon
perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang.
Perjalanan sistem politik di Indonesia memasuki babak baru setelah
Mahkamah Konstitusi (MK) pada hari Senin (23/07/07). Tepat pada waktu ini
Mahkamah Konstitusi mengeluarkan Putusan Nomor 5/PUU-V/2007 tentang
putusan perkara permohonan Pengajuan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004
yang pada dasarnya merupakan putusan untuk melegitimasi secara tegas posisi
calon perseorangan untuk dapat maju dalam sebuah pemilihan kepala daerah
(gubernur, walikota, dan bupati) tanpa partai politik. Putusan MK tersebut
merupakan langkah maju dari pelembagaan demokratisasi baik secara nasional
maupun lokal.
Secara sederhana pengertian calon independen yang dimaksud di dalam
keputusan Mahkamah Konstitusi adalah calon perseorangan yang dapat
berkompetisi dalam rekrutmen pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah
melalui mekanisme pilkada tanpa mempergunakan partai politik sebagai media
perjuangannya.
Sistem baru calon independen ini akan membuka ruang demokrasi arus
lokal yang melahirkan persaingan sehat sebagai upaya mencari figur pemimpin
berkualitas, guna menjawab tantangan daerah di tengah arus global. Persaingan
melalui calon independen berimplikasi positif sebagai solusi atas pembangunan
lokal di saat dukungan sumber daya alam kita yang saat ini semakin terbatas.
Perbedaan yang kontras antara calon independen dengan calon dari partai
politik adalah masalah pengorganisasian infrastruktur dengan suprastruktur
politiknya. Calon independen tidak memiliki infrastruktur politik yang jelas.
Sehingga, apa yang menjaga hubungan konstituen (infrastruktur) dengan lembaga
eksekutif (suprastruktur) tidak ada. Justru posisi eksekutif yang diisi oleh calon
independen tidak akan memperoleh legitimasi politik yang kuat dari DPRD
Propinsi dan Kabupaten/Kota karena representasi dari kekuatan berbagai parpol.
2
BAB II
KERANGKA TEORI
A. Pengertian Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Ruang lingkupnya
Pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah, atau seringkali
disebut Pilkada, adalah pemilihan umum untuk memilih kepala daerah dan wakil
kepala daerah secara langsung di Indonesia oleh penduduk daerah setempat yang
memenuhi syarat. Sebelumnya, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih
oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilihan umum kepala daerah
(pilkada) juga merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat di wilayah
provinsi dan/atau kabupaten/kota berdasarkan Pancasila dan Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk memilih Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah.1
Kemudian dalam perkembangannya muncul wacana agar kepala daerah
dapat maju tidak hanya melalui kendaraan politik (parpol), namun juga melalui
jalur independen yang tidak berafiliasi dengan parpol manapun. Perdebatan
mengenai partisipasi calon independen dalam pemilihan kepala daerah sudah
lama, sejak disahkannya UU No 32/2004. Perdebatan muncul karena UU tersebut
dianggap diskriminatif dan berlawanan dengan konstitusi, UUD 1945.
Diskriminatif karena UU tersebut hanya mengijinkan partai-partai politik atau
gabungan partai politik yang mendapatkan 15% kursi atau suara di daerah yang
bersangkutan. Berlawanan dengan UUD 1945 karena konstitusi menjamin hak
politik individu masyarakat untuk memilih dan dipilih. Tetapi terlepas dari
perdebatan itu, tetapan tersebut tetap diberlakukan untuk semakin menjunjung
demokrasi di Indonesia.
Akhirnya, UU No. 32 Tahun 2004 khususnya pada Pasal 59 (1)—Peserta
pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang
diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik dan pasangan calon
perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang— mengalami revisi sebanyak
dua kali yang melahirkan UU No. 12 Tahun 2008 dan dengan dukungan
1
Pasal 1 ayat (1) PP No. 6/2005 tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan, dan
Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
3
Keputusan MK tahun 2007, ditetapkanlah bahwa calon independen diterima untuk
mencalonkan diri di pilkada.
B. Modal Sosial
Selama satu dekade terakhir, modal sosial menjadi perhatian serius dalam
sosiologi, ekonomi, ilmu politik, kesehatan dan bahkan dikembangkan oleh kerjakerja agen pembangunan internasional. Perhatian serius pada modal sosial
tampaknya paralel dengan perhatian pada good governance, desentralisasi,
demokrasi lokal, pemberdayaan, civil society dan seterusnya. Secara akademik,
apa sebenarnya yang dimaksud dengan “modal sosial”? Istilah “modal sosial”
sebenarnya sudah lama dikenalkan oleh sosiolog kenamaan Emile Durkheim pada
abad ke-19. Durkheim menyebut istilah “modal sosial” untuk menyatakan ikatan
sosial antarmanusia di dalam sebuah masyarakat sangat penting untuk membentuk
kohesivitas sosial dalam mencapai tujuan bermasyarakat.2 Ia merupakan sebuah
kekuatan untuk mencapai tujuan hidup bersama yang tidak mungkin dicapai
secara personal. Sebagai contoh, misalnya, kegiatan pendidikan. Pendidikan
merupakan aktivitas kolektif antara pendidik, siswa, masyarakat, dan pemerintah.
Sebagai sebuah aktivitas kolektif, pendidikan memerlukan kerjasama banyak
pihak, mulai dari pemimpin sekolah, para guru, tenaga administrasi, murid,
orangtua siswa, komite sekolah, dan tentu pemerintah. Jika semuanya fungsional
sesuai tugas dan peran masing-masing, maka pendidikan akan berjalan baik
dengan hasil yang baik pula
Dalam hubungannya dengan konteks politik, kami melihat bahwa modal
sosial merupakan salah satu penggerak masyarkat, mengapa mereka mau bersatu
dan apa yang menjadi pengikat mereka. Dengan menelaah modal sosial, kami
berusaha melihat apakah modal sosial ini berhasil dieksploitasi oleh calon
independen untuk bisa memenangkan pilkada.
Dalam makalah ini, kami akan mengangkat konsep model sosial yang
diutarakan oleh Robet Putnam dalam tulisannya, Making Democracy Work,
dikemukakan bahwa terdapat tiga unsur penting yang dapat menjamin keterikatan
2
Diakses dari http://mudjiarahardjo.com/artikel/204-mengenal-modal-sosial.html pada tanggal 15
Desember 2012
4
sosial masyarakat; yaitu keberadaan norma, nilai sosial dan kepercayaan (trust)
serta jaringan sosial (social networks).3
Putnam menjelaskan bahwa modal sosial adalah sebuah sumber daya yang
individu atau kelompok orang memiliki atau gagal untuk memiliki4, selanjutnya Ia
menjelaskan bahwa modal sosial mengacu pada norma dan jaringan kerja
masyarakat sipil yang melicinkan tindakan kerjasama diantara warga negara dan
institusi mereka. Maka dalam kaitannya dengan individu dalam politik, sering kali
modal sosial ini diasosiasikan dengan apa yang melekat dan dimiliki oleh individu
yang dapat mempengaruhi orang lain dan terlihat berbeda dari individu lainnya
secara kualitas. Modal sosial tersebut dapat berupa kekayaan, popularitas,
jaringan, organisasi, rekam jejak pengalaman, hubungan masyarakat, dan lainlain.5
James Coleman (1988) adalah sosiolog pertama yang mengusung modal
sosial ke dalam mainstream ilmu sosial Amerika6, yang kemudian menurut Sutoro
Eko semakin dipopulerkan oleh studi Robert Putnam (1993, 1995, 2000). Secara
akademik studi tentang “modal sosial, desentralisasi dan demokrasi lokal” berada
dalam haluan pendekatan berpusat pada masyarakat, sebagai sebuah studi
alternatif atas studi tentang otonomi daerah yang selama ini sibuk membicarakan
masalah kerangka regulasi dan kebijakan, pemilihan kepala daerah, kinerja
DPRD, investasi daerah, pendapatan asli daerah, dan sebagainya. Membuat
desentralisasi dan demokrasi bekerja lebih baik tidak cukup hanya disandarkan
pada kebijakan yang demokratis (akuntabel, responsif dan partisipatif), komitmen
elite lokal, atau capacity building bagi pemerintah daerah, melainkan juga harus
digerakkan oleh modal sosial dalam sektor masyarakat sipil.
Martti Siisiäinen , “Two Concepts of Social Capital: Bourdieu vs. Putnam” Department of Social
Sciences and Philosophy University of Jyväskyla.
4
Sutoro Eko, Modal Sosial, Desentralisasi dan Demokrasi Lokal, draft makalah disajikan dalam
Seminar Internasional IV “Dinamika Politik Lokal di Indonesia: Demokrasi dan Partisipasi”, yang
digelar oleh Yayasan Percik dan The Ford Foundation, Salatiga, 15-18 Juli 2003.
5
Diadaptasi dan dimodifikasi oleh Sutoro Eko dari Coleman (1988, 1990), Putnam (1993, 2000),
North (1990), Bain dan Hicks (1998), Uphoff (2000), Colleta dan Cullen (2001) dalam Modal
Sosial, Desentralisasi dan Demokrasi Lokal.
6
James Coleman, Social Capital in the Creation of Human Capital, dalam American Journal of
Sociology I (1988) 94 (supplement), p. 95-120.
3
5
BAB III
PEMBAHASAN
A. Permasalahan Hukum
Dipecat dari pimpinan Partai Golkar, karena tersangkut kasus Bank
Perkreditan Rakyat Tripanca Setiadana, tidak membuat Satono (kandidat calon
bupati independent tahun 2011) kehilangan akal untuk mempertahankan jabatan
dan ikut pemilihan bupati Lampung Timur tahun 2010. Satono bakal maju sebagai
kandidat independen.
Satono telah telah menyerahkan daftar dukungan sebanyak 262 ribu orang,
atau hampir 35 persen dari total jumlah mata pilih, di Kabupaten Lampung Timur
ke Komisi Pemilihan Umum Daerah sebagai syarat pencalonan.
Jumlah dukungan ini jauh lebih besar dari persyaratan untuk maju. "Syarat
minimalnya cuma empat persen dari jumlah penduduk Lampung Timur atau
sekitar 38-an ribu saja," .
Satono memilih maju melalui jalur independen setelah Partai Golkar
memecat dirinya dari kursi ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Golkar Lampung
Timur. "Ini dukungan ril yang telah dikumpulkan tim kami," ujarnya.
Ratusan ribu dukungan itu menyertakan foto kopi kartu tanda penduduk
dan tanda tangan pendukung. Pada Pilkada Lampung Timur Satono nanti
menggandeng Erwin, mantan ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah Lampung
Timur. Pasangan itu menyebut dirinya dengan SAE atau Satono dan Erwin.
Selanjutnya KPUD Lampung Timur akan memverifikasi faktual dukungan
tersebut setelah jadwal penyerahan dukungan ditutup pekan depan.7
B. Analisis
Dalam konsep mengenai Negara Hukum Modern yang berfungsi sebagai
welfare state, berdasarkan konferensi di Bangkok tahun 1965, salah satu syarat
dasar yang penting untuk mewujudkan apa yang dinamakan Rule of Law adalah
pemilihan umum yang bebas. Dengan kata lain, penyelanggaraan pemilihan
7
http://www.tempo.co/read/news/2010/01/06/058217451/Dipecat-Golkar-Bupati-LampungTimur-Maju-Sebagai-Calon-Independen di akses pada tanggal 18 Desember 2012
6
umum yang bebas adalah sebagai salah satu tolak ukur untuk menentukan
keberhasilan demokrasi di suatu negara hukum.8
Pemilihan umum yang berkualitas pada dasarnya dapat dilihat dari dua
sisi, yaitu sisi proses dan hasilnya. Pemilu dapat dikatakan berkualitas dari sisi
psosesnya, apabila Pemilu itu berlangsung secara demokratis, aman, tertib, dan
lancar, serta jujur dan adil. Sedangkan apabila dilihat dari sisi hasilnya, Pemilu itu
harus dapat menghasilkan wakil – wakil rakyat dan pemimpin negara yang
mampu mensejahterakan rakyat, di samping pula mengangkat harkat dan martabat
bangsa di mata dunia Internasional. Begitu pentingnya kedudukan dan fungsi
wakil rakyat dalam siklus ketatanegaraan dan agar wakil – wakil rakyat benar –
benar bertindak atas nama rakyat, maka wakil rakyat itu harus ditentukan sendiri
oleh rakyat, yaitu melalui Pemilihan Umum (general election) .
Di negara demokratis, pemilu adalah sumber utama untuk rekruitmen
politisi dengan partai politik sebagai sarana utama dalam penominasian kandidat.
Kegiatan seseorang dalam partai politik merupakan suatu bentuk partisipasi
politik yang mencakup semua kegiatan sukarela melalui mana seseorang turut
serta dalam proses pemilihan pemimpin – pemimpin politik dan turut serta secara
langsung atau tak langsung dalam pembentukan kebijaksanaan umum. Oleh
karena itu, keberadaan partai politik merupakan instrumen yang paling esensial
dalam pelaksanaan pemilu, terlepas dari adanya faktor – faktor lain yang
menentukan seperti yang saat ini sedang hangatnya, yaitu adanya kesempatan
untuk mengikuti pemilu secara independen atau perseorangan.9
Kehadiran calon perseorangan dalam pemilihan kepala daerah penting
artinya dalam rangka mendobrak kejumudan demokrasi procedural pemilihan
kepala daerah menuju demokrasi lokal yang berkeadilan. Mengingat begitu
vitalnya pemilihan seorang kepala daerah, agar kesempatan setiap orang untuk
maju dalam pemilihan sesuai dengan hak baik memilih maupun dipilih, maka
pemilihan melalui jalur independen juga harus diperhitungkan sebagai jaminan
hak konstitusional.
Budiardjo, Miriam, 2007. Dasar – Dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, h.
23
9
Abdullah, Rozali. 2009. Mewujudkan Pemilu Yang Lebih Berkualitas (Pemilu Legislatif).
Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, h. 11
8
7
Penyuguhan pandangan atau pendapat hukum (legal opinion) yang dibuat
oleh para kritikus hukum yang terdiri dari intelektual akademisi, praktisi hukum,
maupun pengamat masalah sosial politik dan hukum umumnya berisikan masukan
(input) dalam sudut pandang fungsi penerapan hukum dan manfaatnya dalam
masyarakat, dan bagaimana cara kerja hukum itu agar tidak meresahkan
masyarakat
apabila
disosialisasikan
sebagai
produk
perangkat
hukum.
Berdasarkan hal tersebut, guna dapat memberikan masukan yang kedepannya
bermanfaat bagi recht vinding, maka dibuatlah sebuah Legal Opinion yang
berjudul “Calon Independen Pemilukada Untuk Mewujudkan Terobosan
Demokrasi yang Baik”
a. Analisis pencalonan independen pemilukada dalam perspektif yuridis
normative
Apabila melihat secara yuridis normatif maka haruslah dilihat dari hirearki
peraturan perundangan mulai dari yang tertinggi sebagai grundnorm hingga
peraturan – peraturan organis yang ada dibawahnya. Dalam hal ini terdapat 2
peraturan yang dijadikan rujukan dalam hal pencalonan indpenden dalam
pemilukada, yaitu Pasal 18 (4) UUD 1945 melawan UU No. 12 tahun 2008
tentang Pemerintah daerah.
Pasal 18 (4) UUD 1945 ”Gubernur, Bupati, dan Walikota masing – masing
sebagai kepala pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara
demokratis.”
Pasal 56 (1) UU No. 32 Tahun 2004 ”Pasangan Calon sebagaimana dimaksud
pada ayat 1 diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik atau
perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang yang memenuhi persyaratan
sebagaimana ketentuan dalam Undang-Undang ini.”
Menurut Legal Argument dari penulis, Ketentuan dari pasal 18 (4) UUD
1945 secara implisit sebenarnya memberikan kesempatan yang lebih terbuka
kepada calon kepala daerah, dalam artian tidak mengharuskan calon kepala daerah
berasal dari kalangan partai politik. UUD 1945 memang tidak mengatur secara
jelas perihal pilkada, akan tetapi berdasarkan perumusan pasal 18 UUD 1945
dapat disimpulkan bahwa pemerintah daerah yang dikehendaki adalah otonomi
8
daerah termasuk dalam penentuan kepala daerah, entah melalui partai maupun
perseorangan.
Hal ini bertentangan bahwasanya ternyata UU No. 32 tahun 2004
memberikan suatu garis demakarsi atau pembatas dimana hanya calon yang
melalui partai politik ataupun gabungan partai politik sajalah yang dapat
mengikuti pemilukada secara langsung. Tetapi kemudian UU No. 32 tahun 2004
ini dirubah UU No. 12 Tahun 2008 bahwasannya dalam pasal 59 ayat (1) Peserta
pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. pasangan calon yang
diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. (b) pasangan calon
perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang.
Selanjutnya, menurut legal opinion dari penulis, secara normative
ketentuan dalam UUD 1945 melalui pasal 18 (4) dan UU No. 12 Tahun 2008
pasal 59 (1) memberikan jalan bagi jalur independen dan tidak memberi
pembatasan jalur pencalonan hanya melalui partai politik, jadi tidak menutup hak
konstitusional warga negara dalam hal mengenai hak untuk dipilih.
b. Analisis pencalonan independen pemilukada dalam perspektif sosiologis.
Dalam hal menilai urgensi pencalonan independen pemilukada secara
sosiologis, maka terdapat tiga hal yang dijadikan legal reasoning sebagai tolak
ukurnya yaitu:
1) Praktek Politik Uang dalam Pemilukada
Praktek money politik dalam pemilukada tidak dapat dipungkiri
keberadaannya bahkan cenderung meningkat. Politik uang dalam pemilukada
telah memasuki setiap elemen, mulai dari keterlibatan calon kepala daerah,
DPRD, dan parpol pengusung hingga konstituennya. Menurut legal argumen dari
penulis, bahwasanya fungsi rekrutmen parpol menjadikan lahan terbesar praktek
money politik yang cenderung ke arah korupsi, dimana pergerakan uang yang
dimulai sejak proses pendaftaran seseorang ketika menjadi calon kepala daerah
dari parpol tertentu terutama dari pihak incumbent (berdasarkan riset
Transparancy International Indonesia).10
10
Ibid, h. 15
9
Menurut Legal Opinion dari Penulis, kehadiran calon perseorangan dalam
pemilukada akan dapat meminimalisir praktek politik uang dikarenakan tidak
perlunya ”membayar mahal” untuk berkompetisi melalui jalur.
2) Degradasi peranan Partai Politik dalam Pemilihan Umum
Urgensi kebutuhan pencalonan secara independen diperlukan mengingat
hal yang dinamakan oleh penulis sebagai ”Degradasi Peranan Parpol”. Kondisi
parpol yang selalu fluktuatif tergantung dengan arah percaturan politik,
menjadikan sering parpol terlihat tidak sehat dan melupakan fungsi intinya, yang
akhirnya menjadikan kinerja dari parpol itu sangat diluar harapan, terlepas dari
kualitas dari kader – kadernya ataukan mesin parpol itu sendiri.11
Bahwasanya kehadiran calon perseorangan dalam pilkada langsung dalam
jangka panjang diprediksi akan menyederhanakan jumlah partai secara natural
sekaligus membuka mata parpol untuk menjalankan fungsinya dengan sebaik –
baiknya.
3) Penurunan partisipasi masyarakat dalam Pemilukada.
Mengutip dari pendapat Kacung Marijan, munculnya fenomena golput
dalam pemilukada secara lamgsung pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan
perilaku memilih yang terjadi pada pemilu tingkat nasional, yakni munculnya
pemilih yang kritis dan apatis.
Menurut Legal argument dari penulis sejalan dengan pendapat di atas, sifat
kirit dan apatis yang ditunjukan oleh pemilih adalah didasarkan dengan adanya
ketidakpercayaan terhadap partai politik ditambah tidak terakomodirnya
kepentingan mereka.
Maka dengan adanya calon independen dalam pemilukada, maka dapat
meningkatkan partisipasi pemilih dengan penafsiran bahwa calon individu ini
dapat menjadi pilihan alternatif bagi pemilih yang mengalami penurunan
kepercayaan politik.
11
Pamungkas, Sigit. 2009. Perihal Pemilu. Yogyakarta : Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan
Fisipol Universitas Gajah Mada, h. 32
10
c. Analisis pencalonan independen pemilukada dalam perspektif HAM dan
Demokrasi
Dari perspektf Hak asasi Manusia, pencalonan sebagai kepala daerah
secara independen merupakan bentuk dari pengaplikasian perlindungan HAM
dalam bidang sipil dan politik.
Dalam konvenan sipil dan politik pasal 25 (b), disebutkan bahwa :
Pasal 25 b “Setiap warga negara harus mempunyai hak dan kesempatan, tanpa
pembedaan apapun sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 dan tanpa
pembatasan yang tidak layak, untuk Memilih dan dipilih pada pemilihan umum
berkala yang murni, dan dengan hak pilih yang universal dan sama, serta
dilakukan melalui pemungutan suara secara rahasia untuk menjamin kebebasan
menyatakan keinginan dari para pemilih”
Sementara dalam ketentuan Pasal 28 D ayat 3 UUD 1945 dinyatakan pula bahwa:
Pasal 28D (3) “Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan sama dalam
pemerintahan” Dengan kata lain, hak untuk memilih dan dipilih tidak
menentukan batasan apakah seseorang dapat dipilih dalam pemilihan melalui
calon independen maupun partai politik, karena esensinya adalah sama yaitu hak
untuk dipilih.
Salah satu cara untuk menilai apakah pemilu atau pemilukada yang
demokratis adalah diakomodasinya oleh substansi peraturan perundangan –
undangan yang memberikan peluang kepada semua warga negara untuk dipilih
dan memilih secara adil. Dengan dapatnya pengajuan secara independen, maka
setidak – tidaknya menjadi salah satu bukti terwujudnya demokrasi yang baik.12
Menurut Sirajuddin, pencalonan independen
dalam pemilukada
tidakah
bertentangan denan nilai HAM dan demokrasi, namun justru mengakomodir
HAM dan demokrasi itu sendiri. Pembatasan pengajuan calon hanya melalui
partai politik atau gabungan partai politik justru memasung HAM dan nilai – nilai
demokrasi yang terkandung filsafat bangsa.13
Sirajuddin. 2008. Jurnal Transisi (Media Penguatan Demokrasi Lokal). Malang : In – Trans, h.
22
13
Ibid, h. 25
12
11
BAB IV
KESIMPULAN
Melihat dari berbagai faktor yang ada dapat dilihat bahwasanya
pemilukada dengan menggunakan calon independen adalah sah secara yuridis
normatif dalam rangka penciptaan demokrasi, penegakkan HAM, dan perwujudan
pemilukada yang lebih bersih, berkualitas, dan berlegitimasi. Serta, pembatasan
untuk maju secara independen dalam pemilukada adalah inkonstitusional.
Namun perlu diingat, bahwasanya walaupun misalnya dikemudian hari
diperkenankan pencalonan secara independen, haruslah pencalonan itu secara
tidak tak terbatas. Dalam artian, calon independen tersebut harus memiliki
verifikasi dan standarisasi layaknya partai politik agar dapat menjadi calon kepala
daerah.
12
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Rozali. 2009. Mewujudkan Pemilu Yang Lebih Berkualitas (Pemilu
Legislatif). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Amos, Abraham, 2004. Legal Opinion (Aktualisasi Teoritis & Empirisme –
Dengan Eksra Suplemen Legal Audit & Legal Reasoning). Jakarta : PT.
RajaGrafindo Persada.
Budiardjo, Miriam, 2007. Dasar – Dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Pamungkas, Sigit. 2009. Perihal Pemilu. Yogyakarta : Laboratorium Jurusan Ilmu
Pemerintahan Fisipol Universitas Gajah Mada.
Sirajuddin. 2008. Jurnal Transisi (Media Penguatan Demokrasi Lokal). Malang :
In – Trans.
Tricahyo, Ibnu, 2009. Reformasi Pemilu (Menuju Pemisahan Pemilu Nasional dan
Lokal). Malang : In – Trans.
13
Download