BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemanenan air dengan mulsa

advertisement
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pemanenan air dengan mulsa vertikal
Pemanenan air (water harvesting) adalah tindakan menampung air hujan
dan aliran permukaan untuk disalurkan ke tempat penampungan sementara dan
atau tetap (permanen) yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk mengairi
tanaman yang diusahakan pada saat diperlukan (Subagyono et al., 2004). Menurut
BPTPI (2010), panen air (water harvesting) merupakan teknologi pemanfaatan air
secara efisien melalui sistem irigasi tetes di tingkat desa dengan membangun
jaringan tingkat desa dan di tingkat usaha tani dengan membangun jaringan irigasi
tingkat usahatani, teknologi prediksi iklim dan teknologi penentuan masa dan
pola tanam. Selanjutnya menurut Sudirja (2008), teknologi pemanenan air hujan
adalah cara menampung dan memanfaatkan air hujan secara optimal serta
meminimalisasi kehilangan air. Penerapan teknik ini pada musim hujan dapat
mengurangi derasnya aliran permukaan dan sekaligus mengurangi erosi. Untuk
daerah yang tidak memiliki jaringan irigasi atau sumber air tanah maka
teknik ini sangat membantu mengatasi kekurangan air.
Teknologi panen air berfungsi menyediakan sumber air irigasi pada musim
kemarau dapat pula berfungsi mengurangi banjir pada musim hujan. Panen air
hujan dan aliran permukaan ditujukan untuk (1) menurunkan volume aliran
permukaan dan meningkatkan cadangan air tanah; (2) meningkatkan ketersediaan
air tanaman terutama pada musim kemarau; dan (3) mengurangi kecepatan aliran
permukaan sehingga daya kikis dan daya angkutnya menurun (Agus et al., 2002
dalam Subagyono et al., 2004). Teknologi pemanenan air sangat diperlukan pada
kawasan dengan karakteristik sebagai berikut: (a) kawasan beriklim kering (>4
bulan kering berturut-turut sepanjang tahun) atau 3-4 bulan tanpa hujan sama
sekali; (b) kawasan dimana produksi tanaman pangan terbatas karena rendahnya
ketersediaan air di dalam tanah; (c) semua lahan berlereng (bergelombang sampai
berbukit) dengan kondisi fisik tanah yang buruk, sehingga tidak dapat menyimpan
air dalam waktu yang lama; dan (d) daerah beriklim basah yang mempunyai
periode kritis air (Subagyono et al., 2004).
Teknologi pemanenan air yang dimaksud ialah menggunakan mulsa
vertikal. Mulsa adalah penutup tanah yang berasal dari pangkasan rumput, sisa
6
panen atau bahan-bahan lain yang penggunaannya disebarkan di permukaan tanah
sepanjang barisan tanaman atau melingkari batang pohon (Santoso et al., 2004).
Menurut Noeralam
et al., (2003), Mulsa
vertikal
merupakan
teknik
penggunaan mulsa dengan cara memasukkan sisa tanaman ke dalam rorak atau
alur yang dibuat mengikuti kontur. Rorak yang diberi mulsa dapat berfungsi
menampung aliran permukaan, dan mulsa menahan partikel tanah pada dinding
rorak. Jenis mulsa yang digunakan dapat berasal dari sisa-sisa tanaman seperti
limbah yang berasal dari pertanian dan limbah hutan, dapat juga ditambahkan
dengan mikro dan makrofauna serta pupuk organik kedalam rorak. Selanjutnya
Subagyono et al., (2004), mulsa vertikal atau disebut juga jebakan mulsa adalah
bangunan menyerupai rorak yang dibuat memotong lereng dengan ukuran yang
lebih panjang bila dibandingkan dengan rorak. Ukuran jebakan mulsa harus
disesuaikan dengan keadaan lahan dengan lebar 0,40-0,60 m dan dalam 0,30-0,50
m. Jarak antar barisan jebakan mulsa ditentukan oleh kemiringan lahan atau
berkisar antara 3-5 m. Jebakan mulsa ini merupakan tempat meletakkan sisa hasil
panen atau rumput hasil penyiangan dan sekaligus berfungsi untuk menampung
air aliran permukaan serta sedimen. Setelah beberapa kali hujan, jebakan mulsa ini
biasanya terisi oleh sedimen. Pada musim tanam berikutnya, bersamaan dengan
persiapan dan pengolahan tanah, jebakan mulsa tersebut diperbaiki/dibuat
kembali. Hasil pelapukan sisa tanaman dan sedimen dari jebakan mulsa
dikembalikan ke bidang olah. Sedangkan Pratiwi (2004) dan Pratiwi (2006),
teknik mulsa vertikal adalah pemanfaatan limbah hutan yang berasal dari bagian
tumbuhan atau pohon seperti serasah, gulma, cabang, ranting, batang maupun
daun-daun bekas tebangan dengan cara memasukkannya ke dalam saluran atau
alur yang dibuat menurut kontur pada bidang tanah yang diusahakan. Penerapan
mulsa vertikal pada dasarnya selalu dikombinasikan dengan pembuatan guludan.
Brata (1995) menambahkan Mulsa vertikal dapat dikembangkan sebagai alternatif
untuk memudahkan pemanfaatan sisa tanaman di lahan pertanian. Sistem mulsa
vertikal juga dapat dilakukan pengomposan sisa tanaman, seresah gulma dan lain
sebagainya secara insitu.
7
Sumber: Eerrasyarif.multiply.com journal mulsa organik, 2011
Gambar 1. Perbedaan rorak tanpa mulsa (kiri) dan rorak yang diberi mulsa
vertikal (kanan)
Mulsa umumnya disebarkan secara merata di permukaan tanah, akan tetapi
teknik mulsa vertikal dilakukan dengan memasukkan sisa tanaman kedalam
saluran atau alur yang dibuat menurut kontur pada bidang olah untuk mengurangi
kekuatan aliran permukaan dan menampung sedimen terangkut di sepanjang
saluran bidang olah. Dalam aplikasi mulsa vertikal harus memperhatikan hal-hal
berikut: kemiringan lereng, panjang lereng, jarak antara saluran, lebar saluran, dan
kedalaman saluran. Semakin besar kemiringan lereng, jarak antara saluran akan
semakin dekat, sementara ukuran dan kedalaman saluran akan menentukan
banyaknya bahan mulsa yang dapat di benamkan (Eerrasyarif.multiply.com,
2011).
Sumber: Pratiwi, 2006
Gambar 2. Penempatan mulsa vertikal di lahan yang baru dibuka
Hasil penelitian Lumbanraja (1995) menunjukkan perlakuan mulsa
vertikal diberi cacing tanah lebih efektif menekan jumlah aliran permukaan
dan erosi sebesar 90% dan 75% dibandingkan perlakuan mulsa vertikal.
Perlakuan teras gulud diberi cacing lebih efektif menekan aliran permukaan
dan erosi sebesar 56% dan 52% dibanding perlakuan teras gulud. Besarnya
efektivitas penekanan aliran permukaan dan erosi tersebut meningkat dengan
8
pemberian mulsa. Pada kondisi lahan miring perlakuan mulsa vertikal dapat
menekan laju limpasan permukaan dan erosi yang sekaligus menekan pencucian
bahan organik dan unsur hara (Brata, 1995). Modifikasi teknik mulsa vertikal
yang diperkirakan dapat diterapkan oleh petani kita adalah pembuatan alur dengan
cangkul dan galian tanah ditumpukkan untuk membuat guludan di sebelah
hilir/bawah saluran (seperti teras gulud). Sisa tanaman dimasukkan ke dalam
saluran untuk memelihara dan meningkatkan permukaan resapan saluran. Dengan
demikian teknik mulsa vertikal tersebut diharapkan dapat memudahkan petani
membersihkan
sisa
tanaman
sebelum
pengolahan
tanah,
sekaligus
mendayagunakan saluran untuk mengomposkan sisa tanaman di lahannya (Brata,
1992).
Teknik mulsa vertikal baik diterapkan pada lahan yang memiliki topografi
berlereng/miring. Penggunaan mulsa vertikal dapat menekan erosi dan aliran
permukaan yang terjadi, akibat dari terjebaknya aliran air permukaan serta lebih
banyak terinfiltrasi ke dalam tanah.
2.2 Lahan Kering
Lahan kering didefinisikan sebagai hamparan lahan yang tidak pernah
tergenang atau digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau
sepanjang waktu (Dariah et al., 2004). Lahan kering merupakan salah satu
agroekosistem yang mempunyai potensi besar untuk usaha pertanian, baik
tanaman pangan, hortikultura (sayuran dan buah-buahan) maupun tanaman
tahunan dan peternakan. Tidak semua lahan kering sesuai untuk pertanian,
terutama karena adanya faktor pembatas tanah seperti lereng yang sangat curam
atau solum tanah dangkal dan berbatu, atau termasuk kawasan hutan
(Abdurachman et al., 2008). Berdasarkan letaknya di atas permukaan laut (dpl),
lahan kering di Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok: (1) lahan kering
dataran rendah, yaitu lahan kering yang letaknya <700 m dpl, dan (2) lahan kering
dataran tinggi, yang terletak antara 700 dan 2500 m dpl (Santoso, 2003).
Lahan kering merupakan sumberdaya lahan yang mempunyai potensi
besar untuk menunjang pembangunan pertanian indonesia (Dariah et al., 2004)
9
Upaya pemanfaatan lahan kering secara optimal merupakan peluang yang masih
cukup besar, karena lahan kering mempunyai luasan relatif lebih besar
dibandingkan dengan lahan basah (Abdurachman et al., 1999 dalam Brata, 2004).
Permasalahan dalam pengelolaan lahan kering bervariasi pada setiap
wilayah, baik aspek teknis maupun sosial ekonomis. Beberapa permasalahan
tersebut:
1. Kesuburan tanah
Pada umumnya lahan kering memiliki tingkat kesuburan tanah yang
rendah, terutama pada tanah-tanah yang tererosi, sehingga lapisan olah tanah
menjadi tipis dan kadar bahan organik rendah. Kondisi ini makin diperburuk
dengan terbatasnya penggunaan pupuk organik, terutama pada tanaman pangan
semusim. Di samping itu, secara alami kadar bahan organik tanah di daerah tropis
cepat menurun, mencapai 30−60% dalam waktu 10 tahun (Suriadikarta et al.,
2002 dalam Abdurachman et al., 2008).
2. Topografi
Di Indonesia, lahan kering sebagian besar terdapat di wilayah bergunung
(> 30%) dan berbukit (15−30%), dengan luas masing-masing 51,30 juta ha dan
36,90 juta ha (Hidayat dan Mulyani, 2002 dalam Abdurachman et al., 2008).
Lahan kering berlereng curam sangat peka terhadap erosi, terutama bila
diusahakan untuk tanaman pangan semusim dan curah hujannya tinggi. Lahan
semacam ini lebih sesuai untuk tanaman tahunan, namun kenyataannya banyak
dimanfaatkan untuk tanaman pangan, sedangkan perkebunan banyak diusahakan
pada lahan datar bergelombang dengan lereng <15% (Abdurachman et al., 2008).
3. Ketersediaan air pertanian
Keterbatasan air pada lahan kering mengakibatkan usaha tani tidak dapat
dilakukan sepanjang tahun, dengan indeks pertanaman (IP) kurang dari 1,50.
Penyebabnya antara lain adalah distribusi dan pola hujan yang fluktuatif, baik
secara spasial maupun temporal (Abdurachman et al., 2008).
10
Kebutuhan air tanaman pertanian seperti tanaman jagung harus dapat
dipenuhi dari awal penanaman sampai jagung akan dipanen. Produksi tanaman
akan meningkat bila pasokan air dan hara terpenuhi. Kebutuhan air untuk tanaman
jagung berbeda disetiap fase pertumbuhannya (Tabel 1). Pemanfaatan air
seoptimal mungkin akan mengurangi stres tanaman karena kekurangan pasokan
air.
Tabel 1. Kebutuhan air (KA) dan umur tanaman (UT) untuk setiap fase
pertumbuhan
Jenis tanaman
Jagung
KA (mm/hari)
UT (hari)
Kebutuhan air (mm) dan umur tanaman setiap fase (hari)
PembentuTunas Vegetatif Pembungaan
Pematangan
kan buah
2,8
5,6
7,7
6,3
4,1
0-20
21-50
51-65
66-105
106-120
Sumber: Dorenboos dan Kassam, 1979 dalam Agus et al., 2003
Berbagai permasalahan di lahan kering seperti diatas, dapat ditanggulangi
dengan menerapkan sistem pertanian berwawasan konservasi tanah dan air.
Penerapan mulsa vertikal pada topografi berlereng akan mampu menyediakan
kebutuhan air untuk
tanaman, meningkatkan kesuburan tanah
melalui
pengomposan limbah pertanian yang dimasukkan ke dalam rorak.
1.3 Aliran permukaan dan Erosi tanah
Menurunnya kualitas tanah karena diakibatkan oleh besarnya aliran
permukaan yang mengakibatkan terjadinya erosi tanah. Aliran permukaan dan
erosi merupakan salah satu penyebab terbentuknya lahan-lahan pertanian yang
kritis. Keadaan tersebut selanjutnya berdampak pada rendahnya produksi tanaman
pertanian.
1. Aliran permukaan
Aliran permukaan adalah air yang mengalir di atas permukaan tanah atau
bumi. Bentuk aliran inilah yang paling penting sebagai penyabab erosi (Arsyad,
2006). Aliran permukaan di atas permukaan tanah akan mempunyai kemampuan
untuk memindahkan atau mengangkut ataupun menghanyutkan partikel-partikel
11
tanah yang telah dilepaskan dari agregat-agregatnya itu kalau memang air pada
permukaan tanah mengalir, biasanya pada lahan-lahan yang memiliki kemiringan,
dari tempat jatuhnya curahan hujan itu menuruni lereng-lereng. Kemiringan lahan
ini sangat membantu memperderas aliran air permukaan (Tabel 2) dan pada
tanah-tanah yang datar di mana kecepatan runoff sangat berkurang akan terjadi
sendimentasi sementara, pengendapan yang terus menerus pada tanah yang datar
ini tentunya akan membentuk pula lahan yang agak miring ataupun yang sama
sekali miring (Kartasapoetra et al., 2005). Aliran permukaan mengakibatkan
kehilangan bahan yang terlarut (unsur hara, pupuk, dan pestisida) maupun yang
terangkut berupa bahan organik dan bahan mineral halus (liat dan debu) serta
mikroba yang dapat mencemari lingkungan yang dilewati (Brata, 2004).
Tabel 2. Pengaruh lereng terhadap aliran permukaan
Lereng
(%)
3-8
10-15
20-25
Tanah terbuka
Erosi
(ton ha-1 th-1)
0,61 b
1,11 a
1,08 a
15,55
Aliran permukaan
(cm th-1)
5,02 b
5,46 a
5,60 a
40,22
Sumber: Noeralam, et al., 2003
Keterangan: Angka pada kolom yang sarna jika diikuti oleh huruf yang sarna tidak berbeda nyata pada
DMRT 5%. Angka yang tidak diikuti oleh huruf, tidak dilakukan uji beda DMRT.
Kartasapoetra et al., (2005) menjelaskan jatuhnya aliran air permukaan
tanah itu dapat melangsungkan pengangkutan partikel-partikel tanah, akan
bergantung pada: (a) keadaan kemiringan lereng dan panjang lereng yang miring,
(b) besar dan cepatnya aliran air permukaan, (c) ukuran partikel, (d) adanya
tanaman permukaan dan batu-batuan, dan (e) tak adanya penyengkedan dan paritparit sebagai perlakuan positif manusia guna menghambat aliran air permukaan.
Mulsa vertikal mampu menekan aliran permukaan yang terjadi pada lahan
pertanian. Hasil penelitian Pratiwi (2001) menunjukkan perlakuan mulsa vertikal
yang ditempatkan dibagian hilir individu tanaman menghasilkan aliran permukaan
lebih rendah (161,58 mm), mulsa vertikal dengan jarak antara saluran 6 meter
(162,69 mm), dibandingkan dengan kontrol (438,10 mm). Sedangkan hasil
penelitian Noeralam et al., (2003) menunjukkan pemanenan air dengan teknik
12
rorak+mulsa vertikal menghasilkan aliran permukaan lebih rendah (6,45 cm th-1),
dibandingkan dengan tanah terbuka (40,22 cm th-1).
2. Erosi
Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagianbagian tanah dari suatu tempat ke tempat-tempat lain oleh media alami (Arsyad,
2006). Erosi dapat juga disebut
pengikisan atau kelongsoran sesungguhnya
merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air
dan angin, baik berlangsung secara alamiah ataupun
sebagai akibat
tindakan/perbuatan manusia (Kartasapoetra et al., 2005). Selanjutnya Wibowo et
al., (2007), mendefinisikan erosi sebagai suatu proses dimana tanah dihancurkan
dan kemudian dipindahkan ke tempat lain oleh kekuatan air, angin atau gravitasi.
Erosi yang terjadi menyebabkan menumpuknya sendimentasi disuatu
tempat. Erosi dan sendimentasi yang diakibatkan oleh air hujan atau aliran air,
terdiri dari 3 proses utama, yaitu: (1) pelepasan (detachment), (2) pemindahan
(transportation), dan (3) pengendapan (deposotion). Erosi dan sendimentasi
menjadi penyebab utama berkurangnya produktivitas lahan pertanian, dan
berkurannya kapasitas saluran atau sungai akibat pengendapan material hasil
erosi. Dengan berjalannya waktu, aliran air terkonsentarasi ke dalam suatu
lintasan-lintasan yang agak dalam, dan mengangkut partikel tanah dan diendapkan
ke daerah di bawahnya yang mungkin berupa; sungai, waduk, saluran irigasi,
ataupun area pemukiman penduduk (Hardiyatmo, 2006). Klasifikasi tingkat erosi
disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Klasifikasi tingkat erosi
Tingkat erosi
1
2
Klasifikasi
Sangat ringan
Ringan
Deskripsi
Erosi kecil; pada dasar lereng, terkumpul sedikit debris.
Erosi membentuk selokan (rills), yang kedalamannya sampai 8 cm;
beberapa debris pada dasar lereng.
3
Sedang
Parit kedalam sampai 0,3 m. Debris pada dasar lereng.
4
Berat
Parit kedalamannya kira-kira 0,3-1 m dan jurang-jurang kecil (gullies)
mulai terbentuk, lumayan debris pada dasar lereng.
5
Sangat berat
Saluran-saluran erosi dalam (deep erosion channel), terdiri atas selokan
dan jurang-jurang kecil; berkembang pipa-pipa menyebabkan tanah
bagian bawah tererosi; sangat banyak debris terkumpul pasa dasar
lereng.
Sumber: Day, 1998 dalam Hardiyatmo, 2006
13
a. Faktor – faktor yang mempengaruhi erosi
Bahaya erosi sangat jelas terlihat dalam kehidupan manusia. Erosi dengan
segala faktornya pada akhirnya akan mempengaruhi produktivitas lahan pertanian
menjadi tidak subur. Menurut Rahim (2000) menjelaskan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi erosi adalah: (1) energi, yang meliputi hujan, air limpasan,
angin, kemiringan dan panjang lereng, (2) ketahanan; erodibilitas tanah
(ditentukan oleh sifat fisik dan kimia tanah), dan (3) proteksi, penutupan tanah
baik oleh vegetasi atau lainnya serta ada atau tidaknya tindakan konservasi.
Selanjutnya Hardjowigeno (2010) dan Gunawan (2007), membagi beberapa faktor
yang mempengaruhi besarnya erosi air yang terpenting adalah: (1) curah hujan,
(2) sifat-sifat tanah, (3) lereng, (4) vegetasi, dan (5) manusia.
b. Bentuk erosi
Hardiyatmo (2006), membedakan erosi kedalam beberapa bentuk, yaitu:
erosi percikan (erosion splash), erosi lembaran (sheet erosion), erosi alur (rills
erosion), erosi parit (gully erosion), dan erosi sungai/saluran.
1. Erosi percikan (erosion splash) adalah erosi hasil dari percikan/benturan
air hujan secara langsung pada partikel tanah dalam keadaan basah.
Besarnya curah hujan, intensitas, dan distribusi hujan menentukan
kekuatan penyebaran hujan ke permukaan tanah, kecepatan aliran
permukaan serta kerusakan erosi yang ditimbulkan.
2. Erosi lembaran (sheet erosion) adalah erosi akibat terlepasnya tanah dari
lereng dengan tebal lapisan yang tipis. Erosi tidak tampak oleh mata,
karena secara umum hanya kecil saja terjadi perubahan bentuk permukaan
tanah.
3. Erosi alur (rill erosion) adalah erosi akibat pengikisan tanah oleh aliran air
yang membentuk parit atau saluran kecil, dimana pada bagian tersebut
telah terjadi konsentrasi aliran air hujan di permukaan tanah. Aliran air
menyebabkan pengikisan tanah, lama-kelamaan membentuk alur-alur
14
dangkal pada permukaan tanah yang arahnya dari atas memanjang ke
bawah.
4. Erosi parit (gully erosion) adalah kelanjutan dari erosi alur, yaitu terjadi
bila alur-alur menjadi semakin lebar dan dalam yang membentuk parit
dengan kedalaman yang dapat mencapai 1 sampai 2,5 m atau lebih. Parit
ini membawa air pada saat dan segera setelah hujan, dan tidak seperti alur,
parit tidak lenyap oleh pengolahan tanah secara normal.
5. Erosi sungai/saluran (stream/channel erosion) adalah erosi yang terjadi
akibat dari terkikisnya permukaan tanggul sungai dan gerusan sedimen
disepanjang dsar saluran. Erosi semacam ini dipengaruhi oleh variabel
hidrologi/hidrolik yang mempengaruhi sistem sungai.
Berbagai erosi yang terjadi akan menyebabkan terbentuknya tanah-tanah
yang kritis akan unsur hara. Hal demikian karena lapisan tanah olah telah terbawa
oleh aliran permukaan baik dalam skala kecil maupun besar. Erosi terjadi karena
kurangnya penerapan konservasi sehingga berdampak pada perluasan lahan-lahan
pertanian yang tidak produktiv, karena berkurangnya hara dalam tanah.
c. Pengaruh yang ditimbulkan oleh Erosi
Menurut Arsyad (2006), erosi menyebabkan hilangnya lapisan tanah yang
subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah
untuk menyerap dan menahan air. Tanah yang terangkut tersebut akan terbawa
masuk sumber air yang dinamai sedimen, akan diendapkan di tempat yang aliran
airnya melambat; di dalam sungai, waduk, danau, reservoir, saluran irigasi, di atas
tanah pertanian dan sebagainya. Dengan demikian maka kerusakan yang
ditimbulkan oleh peristiwa erosi terjadi di dua tempat, yaitu (1) pada tanah tempat
erosi terjadi dan (2) pada tempat tujuan akhir tanah yang terangkut tersebut
diendapkan.
Dampak di tempat kejadian erosi, secara langsung yaitu: (a) kehilangan
lapisan tanah yang relatif kaya unsur hara dan bahan organik, dan memiliki sifatsifat fisik yang baik bagi tempat akar tanaman berjangkar, (b) menigkatnya
15
penggunaan energi untuk berproduksi, (c) kemerosotan prosuktivitas tanah atau
bahkan menjadi tidak dapat digunakan untuk berproduksi, (d) kerusakan
bangunan konservasi dan bangunan lainnya, dan (e) pemiskinan petani penggarap
dan/atau pemilik tanah. Sedangkan dampak secara tidak langsung yaitu: (a)
berkurangnya alternatif penggunaan lahan, (b) timbulnya dorongan atau tekanan
untuk membuka lahan baru dengan membabat hutan, dan (c) timbulnya keperluan
penyadiaan dana untuk perbaikan bangunan konservasi yang rusak (Arsyad,
2006).
Dampak di luar tempat kejadian erosi, secara langsung yaitu: (a)
pelumpuran atau sedimentasi dan pendangkalan waduk, sungai, saluran irigasi,
muara sungai, pelabuhan dan badan air lainnya, (b) tertimbunnya lahan pertanian,
jalan dan rumah atau bangunan lainnya, (c) menghilangnya mata air dan
memburuknya kualitas air, (d) kerusakan ekosistem perairan (tempat bertelur ikan,
terumbu karang dan sebaginya), (e) kehilangan nyawa oleh banjir dan tertimbun
longsor, (f) meningkatnya areal banjir dan frekuensi serta lamanya waktu banjir di
musim hujan, dan meningkatnya ancaman kekeringan pada musim kemarau.
Dampak secara tidak langsung yaitu kerugian sebagai akibat memendeknya umur
guna waduk dan saluran irigasi dan tidak berfungsinya badan air lainnya (Arsyad,
2006).
Pengendalian erosi di lahan kering berlereng dapat dilakukan dengan
penerepan teknologi mulsa vertikal, sehingga menekan erosi dan mengurangi
terbentuknya luasan lahan pertanian kritis. Hasil penelitian Pratiwi (2001)
menunjukkan perlakuan mulsa vertikal yang ditempatkan dibagian hilir individu
tanaman menghasilkan erosi lebih rendah (0,09 mm), dibandingkan dengan
kontrol (1,64 mm). Sedangkan hasil penelitian Noeralam et al., (2003)
menunjukkan perlakuan teknik rorak + mulsa vertikal efektif mengurangi erosi
(0,90 ton ha-1 th-1), dibandingkan dengan tanah terbuka (15,55 ton ha-1 th-1).
Demikian juga dengan hasil penelitian Nurmi (2012) menunjukkan mulsa vertikal
P1 menghasilkan erosi yang lebih rendah (1,02 ton ha-1), dibandingkan dengan
tanpa mulsa vertikal P0 (3,47 ton ha-1).
Download