pemberian rehabilitasi terhadap terdakwa

advertisement
PEMBERIAN REHABILITASI TERHADAP TERDAKWA
YANG DIPUTUS BEBAS DAN LEPAS DARI SEGALA
TUNTUTAN HUKUM OLEH PENGADILAN
(Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta)
Penulisan Hukum
(Skripsi)
Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Syarat-syarat
Guna Memperoleh Derajat Sarjana dalam Ilmu Hukum
Pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Oleh:
JOHANS SETIAWAN
NIM.E. 0003210
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2007
i
PENGESAHAN
Penulisan Hukum (Skripsi) ini telah diterima dan disahkan Oleh
Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Pada
:
Hari
:
Tanggal :
DEWAN PENGUJI
(1)
(
)
Ketua
(2)
(
)
Sekretaris
(3)
(
)
Anggota
Mengetahui :
Dekan
Moh. Jamin, S.H., M.Hum
NIP. 131 570 154
ii
MOTO
Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali
mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri
(Q.S. Ar-Ra’d: 11)
Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan
memudahkan jalan baginya menuju Syorga.
(HR. Bukhari Muslim)
Hari bekerja bagi si pemalas adalah besok, dan hari liburnya
adalah sekarang
(John Wesley)
Kemarin adalah sebuah kenangan, hari ini adalah kenyataan dan
cobaan yang harus dihadapi, dan esok adalah doa dan harapan.
(Penulis)
iii
PERSEMBAHAN
Karya tulis ini aku persembahkan kepada:
1. Ayah dan ibu tercinta yang selalu memberi doa dan kasih sayang.
2. Adik-adik aku tersayang yang selalu memberi semangat dan banyak harapan
3. Teman-temanku yang paling aku banggakan.
4. almamaterku.
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus yang telah
melimpahkan berkat dan pertolongan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan hukum (Skripsi) yang berjudul ‘ PEMBERIAN REHABILITASI
TERHADAP TERDAKWA YANG DIPUTUS BEBAS DAN LEPAS DARI
SEGALA TUNTUTAN HUKUM OLEH PENGADILAN “ (Studi Kasus di
Pengadilan Negeri Surakarta).
Penulisan hukum ini membahas tentang bagaimana pemberian rehabilitasi
yang diterima terdakwa apabila dalam suatu persidangan dia diputus bebas atau
lepas dari segala tuntutan hukum. Dan bagaimana bila sampai terjadi kelalaian
dalam pencantuman rehabilitasi tersebut dalam amar putusan.
Pada saat ini belum banyak penelitian yang mengangkat mengenai
pemberian rehabilitasi kepada terdakwa yang diputus bebas atau lepas dari segala
tuntutan hukum oleh pengadilan. Pemberian rehabilitasi bagi mereka yang telah
diajukan dalam persidangan sangatlah penting bagi mereka yang telah diajukan
dalam persidangan. Karena banyak orang yang berpendapat bahwa orang yang
sudah masuk pemeriksaan pengadilan maka dia dicap orang yang tidak baikdan
bila mau melamar pekerjaan maka dia akan mendapat kesulitan. Dengan adanya
rehabilitasi tersebut semoga saja hak-hak terdakwea yang sudah dirampas karena
prosese pengadilan dapat dipulihkan kembali. Penulis menyadari bahwa dalam
penulisan hukum ini terdapat banyak kekurangan sehingga kritik dan saran yang
membangun diharapkan agar dapat menyempurnakan isi penulisan hukum ini.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah memberikan bantuan, saran, dan dorongan bagi penulis
dalam menyelesaikan penulisan hukum ini. Ucapan terima kasih ini penulis
sampaikan terutama kepada :
v
1. Bapak Moh. Jamin, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin dan kesempatan bagi
penulis untuk menyelesaikan penulisan hukum ini.
2. Bapak Edy Herdyanto, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembimbing Pertama pada
penulisan hukum ini, atas segala bantuannya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan hukum ini.
3. Bapak Soehartono, S.H.,M.H., selaku Dosen Pembimbing Kedua pada
penulisan hukum ini, atas segala bantuannya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan hukum ini.
4. Bapak Hernawan Hadi S.H.,M.H. selaku Pembimbing Akademik penulis
selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta yang telah memberikan nasehat kepada penulis.
5. Bapak Roba’a, S.H. selaku Ketua Pengadilan Negeri Surakarta yang telah
memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di Pengadilan
Negeri Surakarta..
6. Bapak Ganjar Susila, S.H.,M.H. selaku Hakim di Pengadilan Negeri Surakarta
yang bersedia meluangkan waktunya dan memberikan keterangan mengenai
kasus yang diteliti oleh penulis
7. Bapak Agus, Bapak Sutarto, Bapak Ari beserta seluruh staf di Pengadilan
Negeri Surakarta, terima kasih atas bantuannya selama ini.
8. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
yang telah membantu penulis dalam menempuh pendidikan di Fakultas
Hukum UNS.
9. PPH Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang berkenan
memberikan kesempatan bagi penulis untuk melakukan penelitian serta
menyelesaikan penulisan hukum ini.
10. Seluruh staf tata usaha dan karyawan di Fakultas Hukum Universitas Sebelas
Maret Surakarta yang ada di bagian transit, perpustakaan, pendidikan,
pengajaran dan bagian-bagian yang lain, terima kasih atas bantuannya.
vi
11. Ayahnda dan Ibunda yang tidak pernah melepaskan kasih sayangnya kepada
penulis serta adik-adikku tersayang (Kres & lidya) yang memberikan
semangat sehingga skipsi ini terselesaikan.
12. Dek Bintang makasih banget “Kerlip itu selalu ada padaku tuk terangi
langkahku dan temani malamku.”
13. Joko Yuluianto, S.H, makasih semuanya saran, ide, nasehat dan bantuanya
sehingga aku di FH ini bisa menyelesaikan semuanya.
14. Teman-teman seperjuangan di FH UNS, Rini, Budi, Fajar, Dedi, iwan (tanpa
kalian aku sindiri di sisni)Yunus, S.H, Antok, S.H, (yang sudah membantu
sehingga skisi ini selesai), Atreek (teman seperjuangan nunggu pak Edy)
Ichank, Ulin, Dina,Nana, Tia, Ria, Susi, Ndaru, Kiki’k, Adi, Ratna, Pandu,
Reyan, dan semuanya yang tidak bisa disebut satu persatu, terima kasih atas
semua bantuannya dan juga untuk persahabatan kita.
15. Teman-teman kost Imanunuel I Tommy, Raka (bantuin ngetik skipsi ini)
Zaynuronk, Adhe jue”, Marjoko, Demmi, Bos Him, Salakatur, Harya, Adi,
Ragil makasih banget buat semuanya.
16. Semuanya yang tidak dapat disebutkan satu persatu semoga segala bantuan
Bapak, Ibu, Saudara yang telah diberikan kepada penulis akan mendapat
balasan dari Allah SWT.
Semoga penulisan hukum ini dapat berguna bagi kita semua, terutama
untuk penulisan, kalangan akademisi, praktisi serta masyarakat umum. Tuhan
Memberkati.
Surakarta,
Juli 2007
Penulis
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL. ............................................................................................
i
HALAMAN PERSETUJUAN ..............................................................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN. ..............................................................................
iii
HALAMAN MOTTO. ..........................................................................................
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ...........................................................................
v
KATA PENGANTAR ..........................................................................................
vi
DAFTAR ISI .......................................................................................................
ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................
x
DAFTAR LAMPIRAN.. .......................................................................................
xi
ABSTRAK….. ......................................................................................................
xii
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN. ..............................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah. ................................................................
1
B. Perumusan Masalah. .......................................................................
4
C. Tujuan Penelitian.. ..........................................................................
4
D. Manfaat Penelitian..........................................................................
5
E. Metode Penelitian. ..........................................................................
6
F. Sistimatika Skripsi ..........................................................................
12
TINJAUAN PUSTAKA.. ....................................................................
14
A. Kerangka Teoritik ..........................................................................
14
1. Tinjauan Tentang Pengertian Rehabilitasi… ..........................
14
2. Tinjauan Tentang Tersangka dan Terdakwa ...........................
17
a. Pengertian Tersangka dan Terdakwa .................................
17
b. Hak Tersangka dan Terdakwa.. .........................................
18
3. Tinjauan Mengenai Putusan Pengadilan.. ...............................
20
a. Pengertian Putusan Pengadilan .........................................
20
viii
b. Macam Putusan Pengadilan.. ............................................
21
c. Bentuk Putusan Pengadilan ...............................................
21
d. Syarat dan Isi Putusan Pengadilan. ...................................
27
e. Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Berat Ringannya
BAB III
Putusan Pemidanaan..........................................................
30
B. Kerangka Pemikiran.. .....................................................................
35
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.. ................................
37
A. Pemberian rehabilitasi terhadap terdakwa yang diputus bebas
atau lepas dari segala tuntutan hukum oleh pengadilan ................
37
1. Pelaksanaan pemberian rehabilitasi terhadap terdakwa
Rukidi yang diputus bebas oleh pengadilan ...........................
68
B. Implikasi yang timbul apabila rehabilitasi tidak dicantumkan
dalam Amar Putusan
oleh Pengadilan .............................................................................
72
1. Kelalaian hakim dalam mencantumkan rehabilitasi
dalam amar putusan.................................................................
72
2. Tata Cara Pengajuan Rehabilitasi yang Tidak
Dicantumkan Dalam Amar Putusan ........................................
75
3. Yang Berhak Mengajukan Rehabilitasi Bila Tidak
Dicantumkan Dalam Amar Putusan ........................................
77
4. Tenggang Waktu Mengajukan Rehabilitasi Bila Tidak
Dicantumkan Dalam Amar Putusan ........................................
78
PENUTUP. ........................................................................................
80
A. Kesimpulan.. .................................................................................
80
B. Saran-saran ....................................................................................
81
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................
83
LAMPIRAN-LAMPIRAN....................................................................................
85
BAB IV
ix
DAFTAR GAMBAR
Bagan 1.
Model Analisis Interaktif
12
Bagan 2.
Kerangka Pemikiran
35
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I
Surat Izin Penelitian dari Fakultas Hukum Universitas Sebelas
Maret Surakarta
Lampiran II
Surat Keterangan telah melakukan Penelitian dari Pengadilan
Negeri Surakarta
Lampiran II
Daftar Pertanyaan Wawancara dengan Hakim Pengadilan Negeri
Surakarta Ganjar Susila, S.H.
Lampiran IV
Fotokopi Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surakarta atas
Terdakwa Rukidi dengan Nomor : 94/pid.B/1999/PN. Ska.
xi
ABSTRAK
JOHANS SETIAWAN, E 0003210, PEMBERIAN REHABILITASI
TERHADAP TERDAKWA YANG DIPUTUS BEBAS DAN LEPAS DARI
SEGALA TUNTUTAN HUKUM OLEH PENGADILAN Studi Kasus di
Pengadilan Negeri Surakarta). Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta. Penulisan Hukum (Skripsi). 2007.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemberian
rehabilitasi terdahap terdakwa yang atau lepas dari segala tuntutan hukum. Dan
bagaimana bila sampai terjadi kelalian dalam pencantuman rehabilitasi tersebut
dalam amar putusan. Untuk melindungi hak-hak terdakwa yang telah diambil
karena proses pengadilan yang membut namanya jadi jelek. Dengan adanya
rehabilitasi dirasa bisa memulihkan hak-hak terdakwa yang diambil.
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dan jika
dilihat dari tujuannya termasuk dalam penelitian hukum empiris. Lokasi penelitian
di Pengadilan Negeri Surakarta. Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini
adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang
dipergunakan adalah melalui wawancara, observasi (pengamatan), dan melalui
studi kepustakaan baik berupa buku-buku, peraturan perundang-undangan,
dokumen-dokumen seperti berkas perkara, dan sebagainya. Analisis data dengan
menggunakan analisis data kualitatif dan mempergunakan model analisis
interaktif.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa
Pemberiaan rehabilitasi yang diberikan terhadap RUKIDI dilakukan
berdasarkan Pasal 97 ayat (2) dengan mencantumkan sekaligus dalam putusan
pengadilan. Pencantuman itu sekaligus dipertegas dalam Pasal 14 ayat PP No.
27 Tahun 1983. Pemberian rehabilitasi didasarkan atas putusan pengadilan atau
prapengadilan, yang rumusan redaksinya telah ditentukan dalam pasal 14 PP
No. 27 Tahun 1983. Pasal ini memuat du jenis redaksi, semata-mata didasarkan
atas alasan perbedaan status pemohon serta instansi yang memeriksa permintaan
rehabilitasi yang diajukan. Penyampaian petikan dan salinan pemberian putusan
rehabilitasi diatur dalam Pasal 13 PP No. 27 Tahun 1983. Pasal ini mengatur
kewajiban panitera Pengadilan negeri untuk menyampaikan petikan dan salinan
putusan rehabilitasi kepada pemohon dan pihak instansi tertentu. Tujuanya, agar
pemberian rehabilitasi tersebut diketahui pihak yang berkepentingan,
instansipenegak hukum yang bersangkutan serta masyarakat lingkungan dimana
pemohon rehabilitasi bertempat tinggal dan bekerja.
Implikasi teoritis penelitian ini adalah adanya pemahaman kepada
masyarakat bahwa setiap putusan yang di putus bebas atau lepas dari segaala
tuntutan hukum haruslah selalu dicantumkan pemberian rehabilitasi karena sudah
diatur dalam Pasal 97 KUHAP. Dan bila terjadi rehabilitasi tidak dicantumkan
maka terdakwa bisa mengajukan karena itu merupakan hak terdakwa dan putusan
bisa diancam batal demi hukum.
xii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Indonesia adalah Negara hukum hal ini bisa dilihat dalam Undang-undang
Dasar negara Republik Indonesia. Hal ini dapat dapat dilihat dalam Pasal 1
ayat (3) UUD 1945 . Tujuan hukum menurut teori etis adalah untuk hukum
semata-mata harus ditentukan oleh kesadaran etis kita mengenai apa yang adil
dan apa yang tidak adil (CST. Kansil, 2002:16). Intinya mengatakan hukum
semata-mata menghendaki keadilan. Jika dilihat sekarang ini keadilan antara
kedua belah pihak tidak sama, contoh keadilan bagi seorang pembunuh
dengan keluarga yang dibunuh pasti keadilan yang diminta pasti akan berbeda
hal ini bisa dlihat ketika pelaku itu meminta hukuman yang seringanringannya sedangkan keluarga korban pasti meminta untuk pembunuh itu juga
dihukum mati. Hukum tersebut mempunyai tujuan yang lain yaitu untuk
membuat atau menjadi penengah antara kedua belah pihak yang bersengketa
mengenai benturan hak yang terjadi diantara keduanya. Sangatlah jelas yang
terpenting dalam hukum adalah faktor keadilan, namun yang menjadi masalah
adalah bagaiamana bisa menwujudkan keadilan yang dirasakan adil bagi
semua pihak.
Tujuan tersebut mengatakan bahwa tujuan hukum adalah untuk mencapai
atau mendekati kepada keadilan yang sesungguhnya walaupun hal itu mustahil
dicapai karena keadilan yang hakiki hanya berasal dari Tuhan Yang Maha
Esa. Di samping mengetahui tujuan hukum, maka juga harus mengetahui ciriciri negara hukum yaitu adanya perintah dan laranggan dan juga perintah atau
laranggan itu harus ditaati berarti perintah itu harus ditaat untuk mewujudkan
keadilan supaya benturan antara kedua belah pihak yang bersengeta ini dapat
terselesaikan (CST. Kansil, 2002:12).
xiii
Keadilan bagi seorang yang telah menjadi tersangka, terdakwa maupun
orang yang sudah menjadi narapidana yang sebenanya bukan dia pelakunya
mereka ini harus diberkan rehabilitasi atau yang sering dikenal dengan
pemulihan nama baik. Mereka yang telah menjadi tersangaka atau terdakwa
ini sering kali hanya dibebaskan begitu saja dan juga apakah rehabilitasi itu
hanya sebuah kertas yang menyatakan orang yang tersebut namanya didalam
surat itu dinyatakan tidak bersalah, padahal untuk mencapai putusan tak
bersalah ini mereka harus melalui berbulan-bulan proses dari proses
penyelidikan maupun penyidikan dari mulai penyusunan BAP (Berkas Acara
Pemeriksaan) sampai pada pelimpahan berkas ke Pengadilan dan menjalani
proses persidanggan sampai mereka mendengar putusan. Hal ini merupakan
proses yang sangat panjang dimana korban ini apa mendapat ganti rugi dalam
proses itu bagaimana dengan anak dan tanggungan yang lain jika mereka
sebagai kepala keluarga. Apakah cukup dengan hanya selembar kertas yang
mengatakan bahwa mereka tak bersalah dengan hal ini mereka juga bisa
dituduh dengan menelantarkan keluarganya. Lalu bagaimana jika dilihat kasus
dari sengkon dan karta yang telah menjadi narapidana dalam kasus
pembunuhan yang telah menjalani hukuman itu bertahun-tahun dengan
keluarga yang ditinggalkannya dan apakah itu hanya akan dibayar dengan
surat yang mengatakan bahwa mereka tak bersalah?
Namun yang menjadi masalah adalah apakah rehabilitasi itu tidak
penting dalam pernyataan tidak bersalahnya seseorang dimana orang itu jika
sudah ditangkap polisi hal ini menjadikan opini yang buruk dalam masyarakat.
Bagi pegawai negeri, pada kenyataannya belum ada masalah karena posisi
sebagai pegawai negeri dengan rehabilitasi, tetap dapat dipulihkan. Paling
rumit pada perusahaan swasta, karena secara murni, asas praduga tak bersalah,
tidak terlaksana dengan baik dalam masyarakat, bahkan berurusan dengan
polisi saja, telah dianggap perbuatan tercela, apalagi ditangkap atau ditahan.
Pada umumnya manusia sering dihinggapi kecenderungan berprasangka jelek.
Jika hendak mencari pekerjaan ini akan dipersulit dkarenkan mereka telah
xiv
dicap sebagai orang jahat. Oleh sebab itu orang yang telah tercemar namanya
sangatlah dirugikan sampai kasus tersebut selesai.
Jadi pada prinsipnya rehabilitasi itu penting yang manjadi masalah disini
rehabilitasi tak selalu menyelesaikan masalah yang ada dikarenakan mereka
hanya mendapatkan pernyataan tak bersalah mengenai ganti kerugian dengan
dia di tahan atau dipenjara ini tak mendapatkan ganti kerugian yang pantas.
Apakah mereka yang melakukan salah penangkapan itu mendapatkan teguran
atau hukuman? Padahal dalam kasus pidana, jika tersangka dapat bebas atau
lepas dari segala tuntuan hukum itu jaksa dan perkaranya akan dieksaminasi.
Juga apakah masyarakat mengerti bahwa mereka mempunyai hak untuk
mendapatkan rehabilitasi jika mereka dinyatakan tak bersalah. Hal ini terjadi
dikarenakan minimnya pengetahuan masyarakat mengenai hukum yang ada
juga didukung oleh masyarakat yang takut akan melangkah jika berurusan
dengan dunia hukum sehingga mereka ragu-ragu dan terkesan tak
mendapatkan haknya
Pada akhirnya pemberian rehabilitasi kepada terdakwa mempunyai arti
yang sangat penting. Rehabilitasi tersebut tersebut nantinya akan digunakan
terdakwa yang telah diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum oleh
Pengadilan, karena rehabilitasi tersebut merupakan hak yang dimiliki
terdakwa apabila mereka dirugikan. Hal inilah yang ingin diteliti oleh penulis
dalam suatu penulisan hukum dengan mengambil judul :
“PEMBERIAN REHABILITASI TERHADAP TERDAKWA
YANG DIPUTUS BEBAS DAN LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN
HUKUM OLEH PENGADILAN ( Studi Kasus PN Surakarta )”.
xv
B. PERUMUSAN MASALAH
Dalam melakukan penelitian, terlebih lagi akan digunakan dalam
penulisan hukum maka sangat diperlukan sekali suatu perumusan masalah.
Suatu masalah sebenarnya merupakan suatu proses yang mengalami halangan
di dalam mencapai tujuannya. Biasanya halangan tersebut hendak diatasi, dan
hal inilah yang antara lain menjadi tujuan penelitian. (Soerjono Soekanto,
1986: 109)
Perumusan masalah adalah segala sesuatu yang akan dijadikan sasaran
atau mengenai hal apa yang sebenarnya akan diteliti dalam suatu penelitian.
Perumusan masalah akan memudahkan bagi penulis untuk mengerjakan dan
dapat mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Perumusan masalah
dapat juga dikatakan sebagai inti dari suatu penelitian karena akan dibahas
lebih lanjut dalam pembahasan.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut,
maka permasalahan yang dikaji atau diteliti lebih lanjut dalam penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana pemberian rehabilitasi terhadap terdakwa yang diputus bebas
atau lepas dari segala tuntutan hukum oleh pengadilan?
2. Bagaimana implikasi kalau rehabilitasi tidak dicantumkan dalam putusan
pengadilan?
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan oleh penulis ini memiliki dua tujuan pokok,
yaitu tujuan obyktik dan tujuan subyektif, dengan penjelasannya adalah
sebagai berikut :
1.
Tujuan Obyektif
a) Untuk mengetahui bagaimana pemberian rehabilitasi terhadap
terdakwa yang diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum
oleh Pengadilan. Apakah pemberian rehabilitasi itu benar-benar
xvi
diberikan kepada para terdakwa yang diputus bebas atau lepas dari
segala tuntutan hukum oleh Pengadilan
b) Untuk mengetahui bagaimana kalau rehabilitasi tidak dicantumkan
dalam putusan pengadilan.
2.
Tujuan Subyektif
a) Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman penulis terutama
mengenai teori-teori yang telah diperoleh oleh penulis selama
mengikuti perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.
b) Untuk memperoleh data yang selengkap-lengkapnya sebagai bahan
dalam melakukan penyusunan penulisan hukum guna memenuhi syarat
untuk memperoleh gelar kesarjanaan di Fakultas Hukum Universitas
Sebelas Maret.
D. MANFAAT PENELITIAN
Di dalam melakukan penelitian ini, penulis mengharapkan ada manfaat
yang dapat diambil baik bagi diri penulis sendiri maupun bagi masyarakat
pada umumnya. Manfaat penelitian ini dibedakan ke dalam dua bentuk, yaitu :
1. Manfaat Teoritis
a) Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengetahui
bagaimana tata cara pemberian rehabilitasi yang mengandung unsurunsur seperti : yang berhak memperoleh rehabilitasi, siapa yang berhak
mengajukan rehabilitasi, cara pengajuan rehabilitasi, dan pelaksanaan
rehabilitasi.
b) Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan masukan bagi
ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Hukum Acara Pidana.
2. Manfaat Praktis
a) Hasil penelitian ini akan berguna dalam memberikan jawaban terhadap
masalah yang akan diteliti.
b) Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan informasi
dan gambaran kepada masyarakat pada umumnya dan semua pihak
yang berkepentingan pada khususnya dalam memahami pertimbangan
xvii
hakim dalam memutus perkara tindak pidana lalu lintas jalan mengenai
pemberian santunan kepada korban meninggal atau luka berat tindak
pidana lalu lintas sebagai alasan yang meringankan.
E. Metode Penelitian
Dalam melakukan suatu penelitian, metode merupakan suatu hal yang
sangat penting. Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan
dengan analisa dan kontruksi yang dilakukan dengan metodologis, sistematis
dan konsisten. Metodologis berarti susuai dengan metode atau cara tertentu,
sisitematis adalah berdasarkan suatu sistem, sedangkan konsisten berarti tidak
adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu. (Soerjono
Soekanto, 1986: 42)
Metode penelitian adalah suatu cara atau jalan untuk memecahkan
masalah yang ada dengan cara, mengumpulkan, menyusun, mengklarifikasi,
dan menginterpretasikan data. Sehingga dalam metode penelitian termasuk
juga di dalamnya cara mengolah data yang diperoleh
maupun tata cara
penyusunan laporannya agar penelitian dapat dilaksanakan dengan baik dan
dapat hasil yang diinginkan.
Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Penelitian hukum yang dilakukan oleh penulis ini adalah termasuk
dalam jenis penelitian hukum empiris. Hal ini disebabkan peneliti langsung
memperoleh data primer atau data yang pertama kali didapatkan di lapangan
atau dalam masyarakat. Pengertian penelitian hukum empiris sendiri adalah
penelitian hukum positif tidak tertulis mengenai perilaku anggota masyarakat
yaitu
hakim
dalam
hubungan
hidup
bermasyarakat.
Penelitian
ini
mengungkapkan hukum yang hidup dalam masyarakat melalui perbuatan
masyarakat.
.
xviii
2. Sifat Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh penulis ini mempunyai sifat
deskriptif. Pengertian penelitian deskriptif adalah suatu penelitian untuk
memberikan data yang seteliti mungkin dengan menggambarkan gejalagejala tertentu. Berdasarkan hal itu penulis akan berupaya semaksimal
mungkin untuk menyajikan data yang diperlukan dalam mungungkap
mengenai pemberian rehabilitasi terhadap terdakwa yang diputus bebas
atau lepas dari segala tuntutan hukum oleh Pengadilan.
3. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan oleh penulis untuk melakukan
penelitian hukum ini adalah dengan pendekatan penelitian secara
kualitatif. Di sini memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum
yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada dalam
kehidupan manusia, atau pola-pola yang dianalisis gejala-gejala sosial
budaya dengan menggunakan kebudayaan dari masyarakat yang
bersangkutan untuk memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang
berlaku. (Burhan Ashshofa, 2004: 20-21)
4. Lokasi Penelitian
Lokasi yang digunakan oleh peneliti untuk mengadakan penelitian
ini adalah di Pengadilan Negeri Surakarta, yang beralamat di Jl. Brigjend.
Slamet Riyadi Nomor 290 Surakarta. Di lembaga peradilan umum dengan
wilayah hukum Kota Surakarta ini, peneliti mencari data-data yang
diperlukan dalam penyelesaian penelitiannya
5. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis
adalah dengan menggunakan data primer dan data sekunder.
a) Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Data
primer ini berupa fakta atau keterangan yang diperoleh secara langsung
xix
dari sumber data untuk tujuan penelitian sehingga diharapkan nantinya
penulis dapat memperoleh hasil yang sebenarnya dari obyek yang
diteliti.
b) Data sekunder adalah data yang diperoleh dari bahan pustaka atau
dengan kata lain data tersebut sudah ada sebelumnya. Data sekunder
bisa diperoleh dari studi pustaka maupun turun langsung ke lapangan
seperti dalam dokumen-dokumen yang dimiliki oleh suatu instansi
seperti data tentang suatu kejahatan pada instansi Kepolisian Republik
Indonesia.
6. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam mengadakan penelitian ini ada
dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
c) Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara
langsung dari lapangan. Dalam hal ini data yang dipergunakan adalah
data hasil penelitian atau riset di lokasi penelitian yaitu di Pengadilan
Negeri Surakarta.
d) Sumber data sekunder adalah data yang digunakan sebagai bahan
penunjang data primer, termasuk di dalamnya pendapat para ahli,
putusan pengadilan, dokumen-dokumen, tulisan-tulisan dalam buku
ilmiah, dan literatur yang mendukung data dalam menunjang
pelaksanaan penelitian ini. Menurut Soerjono Soekanto, data sekunder
ini meliputi :
(1) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat,
dan terdiri dari :
a) Undang-Undang No. 8 tahun 1981, tentang Hukum Acara
Pidana.
b) Undang-Undang No. 4 tahun 2004, tentang Kekuasaan
Kehakiman
c) Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1983 tentang Pelaksanaan
kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
xx
(2) Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai
bahan hukum primer, seperti misalnya rancangan undang-undang,
hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum, dan
seterusnya.
(3) Bahan hukum tersier, yakni bahan yang memberikan petunjuk
maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder;
contohnya adalah kamus, ensiklopedia, indeks komulatif dan
seterusnya.(Soerjono Soekanto, 1986: 52)
7. Instrumen Pengumpul Data
Instrumen dalam pengumpulan data adalah dengan melakukan
identifikasi terhadap segala hal yang sudah diperoleh tersebut. Artinya
data-data yang telah diperoleh tadi akan diuraikan, dianalisis sehimgga
data-data yang telah terkumpul tadi dapat tersusun dengan baik dan dapat
dipahami dengan jelas tanpa berakibat pada adanya salah tafsir. Dalam
instrumen pengumpul data ini, penulis menggunakan dua teknik, yaitu :
a) Instrumen pengumpul data primer, yang merupakan penelitian secara
langsung terhadap obyek penelitian dalam rangka mengumpulkan
data primer, yaitu dengan cara :
1. Wawancara, yang merupakan teknik pengumpulan data yang
diperoleh dengan melakukan tanya jawab secara langsung
dengan pihak yang berkompeten dengan apa yang menjadi inti
dari penelititan tersebut yaitu dengan Hakim Pengadilan Negeri
Surakarta. Metode
wawancara yang digunakan oleh penulis
adalah dengan teknik wawancara bebas terpimpin yaitu pada saat
melakukan
wawancara
menggunakan
catatan-catatan
dan
kerangka pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya tentang
pokok permasalahannya, namun masih dimungkinkan adanya
variasi dan tambahan-tambahan dalam memberikan pertanyaan
berdasarkan pada situasi yang ada.
xxi
b) Instrumen
pengumpul
data
sekunder
yaitu
instrumen
yang
pengumpulannya secara studi kepustakaan atau sering disebut
dengan studi dokumen. Studi dokumen merupakan suatu alat
pengumpul data yang dilakukan melalui data tertulis dengan
mempergunakan content analysis. Content analysis mempunyai arti
sebuah teknik untuk menarik suatu kesimpulan dengan melakukan
identifikasi pasal-pasal secara obyektif dan sistematis yaitu dengan
mempelajari buku-buku ilmiah maupun peraturan perundangundangan yang memiliki hubungan dengan pokok permasalahan
yang diteliti oleh penulis.
8. Analisis Data
Data yang sudah diperoleh tersebut kemudian dianalisis. Sesuai
dengan pendekatan penelitian yang digunakan yaitu secara kualitatif maka
penulis akan menganalisis data secara kualitatif. Pengertian sistem
kualitatif adalah menguraikan data-data tersebut dalam bentuk kalimat
yang baik dan benar, sehingga mudah dibaca dan diberi arti atau dilakukan
interpretasi. Karena data-data yang kita peroleh merupakan data dalam
bentuk tulisan atau kata-kata dan bukan data dalam bentuk numerik atau
angka. Analisis data kualitatif sebagai cara penjabaran data berdasarkan
hasil temuan di lapangan dan studi kepustakaan. Data yang berupa
deskripsi kalimat yang dikumpulkan lewat observasi dan wawancara,
mencatat dokumen, dan lain-lainnya, yang kemudian sudah disusun secara
teratur, tetap merupakan susunan kata berupa kalimat yang amat besar
jumlahnya sebelum siap digunakan dalam analisis akhir. Data yang telah
diperoleh tersebut disusun dalam bentuk penyusunan data kemudian
dilakukan reduksi atau pengolahan data, menghasilkan sajian data dan
seterusnya diambil kesimpulan, yang dilakukan saling menjalin dengan
proses pengumpulan data di lapangan.
Menurut HB Sutopo analisis data dengan model seperti tersebut
diatas dinamakan dengan model analisis interaktif. Dalam bentuk ini
xxii
peneliti tetap bergerak diantara tiga komponen analisis dengan
pengumpulan data berlangsung. Sesudah pengumpulan data berakhir,
peneliti
bergerak
diantara
tiga
komponen
analisisnya
dengan
menggunakan waktu yang masih tersisa bagi penelitiannya. (HB Sutopo,
2002: 95)
Sistem model analisis interaktif dapat digambarkan sebagai berikut :
Pengumpulan Data
Reduksi Data
Penyajian Data
Penarikan Kesimpulan
Bagan 1. Model Analisis Interaktif
F. Sistematika Skripsi
Sistematika laporan yang disusun oleh penulis adalah sebagai berikut:
BAB I
: PENDAHULUAN
Pada Bab ini akan diuraikan mengenai pendahuluan dari proposal
penelitian ini yang terdiri dari Latar Belakang Masalah,
Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian,
Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan Hukum.
BAB II
: TINJAUAN PUSTAKA
xxiii
Pada Bab ini akan diuraikan mengenai tinjauan kepustakaan yang
terdiri dari Kerangka Teori dan Kerangka Pemikiran. Dalam
Kerangka Teori berisi tentang Tinjauan Mengenai Pengertian
Rehabilitasi, Tinjauan Mengenai Tersangka dan Terdakwa, dan
Tinjauan Mengenai Putusan Pengadilan. Sedang pada kerangka
pemikiran berisi mengenai pemikiran penulis tentang pemberian
rehabilitasi terhadap terdakwa yang diputus bebas atau lepas dari
segala tuntutan hukum oleh Pengadilan yang disertai dengan
bagan supaya lebih jelas.
BAB III
: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam Bab ini akan dijelaskan mengenai hasil penelitian penulis,
yang meliputi pemberian rehabilitasi terhadap terdakwa yang
diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum oleh
Pengadilandan bagaimana kalau rehabilitasi tersebut tidak
dicantumkan dalam putusan Pengadilan
BAB IV
: PENUTUP
Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai kesimpulan dari
semua permasalahan yang telah diuraikan dan juga mengenai
saran-saran terhadap adanya pemberian rehabilitasi terhadap
terdakwa yang diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan
hukum oleh Pengadilan.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xxiv
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. kerangka Teori
a. Tinjauan tentang pengertian rehabilitasi
Kamus
Besar
Bahasa
Indonesia
terbitan
Balai
Pustaka,
merumuskan arti “rehabilitasi” sebagai berikut :
1. Pemulihan kepada kedudukan (keadaan) yang dahulu (semula)
2. Perbaikan individu, pasien rumah sakit atau korban bencana
supaya menjadi manusia yang berguna dan memiliki tempat
dalam masyarakat.
Rumusan Kamus Besar Bahasa Indonesia :”pemulihan kepada
keadaan semula “, nampaknya pengertian yang tepat tetapi masih belum
lengkap karena belum secara rinci dimuat tentang apa yang dipulihkan
kepada keadaan semula.
Para pakar sependapat bahwa rehabilitasi bermakna “pemulihan”.
Sebagai pemulihan, tentu tidak persis (sama benar). Hampir sama atau
serupa dengan semula, merupakan pengertian yang rasionil.
Rehabilitasi, diatur oleh Pasal 9 UU No 4 Tahun 2004 yang
rumusanya sebagai berikut :
1. Setiap orang yang ditangkap, ditahan, dituntut atau diadili
tanpa
alasan
kekeliruan
berdasarkan
mengenai
undang-undang
orangnya
atau
atau
hukum
karena
yang
diterapkannya, berhak menuntut ganti kerugian dan rehabilitasi.
2. Pejabat
yang
dengan
sengaja
melakukan
perbuatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana.
3. Ketentuan mengenai tata cara penuntutan ganti kerugian,
rehabilitasi dan pembebanan ganti kerugian diatur dalam
Undang-undang.
xxv
Penjelasan resmi Pasal 9 tersebut dirumuskan arti rehabilitasi sebagai
berikut :
“Pengertian rehabilitasi dalam undang-undang ini adalah
pemulihan hak seseorang dalam kemampuan atau posisi semula
yang diberikan oleh Pengadilan.”
Butir 22 Pasal 1 KUHAP memuat pengertian “rehabilitasi” sebagai
berikut:
“Rehabilitasi adalah hak seorang untuk mendapatkan pemulihan
haknya dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta
martabatnya yang diberikan pada tingkat penyidikan, penuntutan
dan peradilan karena ditangkap, ditahan, dituntut ataupun diadili
tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena
kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan
menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.”
Mengamati rumusan penjelasan resmi Pasal 9 Undang-undang No
4 Tahun 2004, “diberikan oleh Pengadilan”, kurang tepat, karena
mengandung arti seolah-olah hal tersebut dimiliki Pengadilan. Seyogianya
kata tersebut mempergunakan kata “ditetapkan Pengadilan”.
Jika diamati penjelasan Pasal 9 Undang-undang No 4 Tahun 2004
dengan rumusan butir 22 pasal 1 KUHAP, maka rumusan “ posisi semula”
pada pejelasan Pasal 9 tersebut diganti pada butir 22 pasal 1 KUHAP
dengan “kedudukan dan harkat serta martabat.” Hal ini mengandung arti
bahwa posisi tersebut dimaksudkan sebagai kedudukan dan kehormatan.
Dengan demikian kata “posisi” dijabarkan oleh KUHAP secara rinci
sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan.
Sesuai dengan rumusan tersebut, memulihkan hak dalam:
1. Kemampuan;
Pengertian kemampuan seseorang yaitu dimana dengan
kemampuanya itu seorang dapat berbuat sesuatu, sehingga
seseorang dapat menjamin kehidupan keluarganya.
2. Kedudukan;
Pengertian kedudukan adalah tempat seorang di dalam suatu
sistem, misalnya ia menjabat sebagai ketua partai, sebagai pegawai
xxvi
negeri, sebagai direktur, maka apabila ia tidak bersalah, maka
kedudukanya itu harus dikembalikan kepada tempatnya semula
3. Harkat dan martabat,
Pengertian harkat dan martabat adalah kedudukanya seseorang
di dalam masyarakat, sehingga orang tersebut merupakan orang
yang terpandang di lingkunganya. Harkat dan martabat berkaitan
erat dengan nama baik seseorang, karena dengan nama baik itu
seseorang dihargai oleh masyarakat, dapat dijadikan panutan oleh
masyarakat.
Dalam hal kesalahan yang bersangkutan tindak terbukti dalam
suatu perkara, Hal tersebut mencemarkan nama baiknya, maka nama baik
yang tercemar itu harus direhabilitasi, sehingga yang bersangkutan
dihargai kembali oleh masyarakat lingkungannya.
Pada kenyataan dalam masyarakat, selalu menjadi masalah adalah
kedudukan, karena yang bersangkutan belum menjadi kasus/perkara,
kedudukan tertentu dalam suatu badan atau badan hukum atau badan usaha
atau organisasi tertentu, tak dapat dipulihkan. Meskipun ada asas praduga
tak bersalah sebagaimana dirumuskan Pasal 8 Undang-undang No 4 tahun
2004 yang menyatakan bahwa setiap orang yang disangka, ditangkap,
ditahan, dituntut atau diadili dimuka sidang peradilan, wajib dianggap tak
bersalah
sampai
adanya
putusan
pengadilan
yang
menyatakan
kesalahannya dan mempunyai kekuatan hukum tetap, namun pada
kenyataannya, kedudukan yang bersangkutan telah diduduki orang lain.
Persepsi tentang “kedudukan” menurut Undang-undang No 4
Tahun 2004, jelas dimuat kata “posisi semula “. Hal ini dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia dirumuskan “Keadaan semula”. Kedua rumusan
tersebut, baik “posisi” maupun “keadaan semula” merupaka hal yang
dimengerti oleh masyarakat umum tetapi pelaksanaannya dalam praktek,
xxvii
sering menimbulkan masalah. Bagi pegawai negeri, pada kenyataannya
belum ada masalah karena posisi sebagai pegawai negeri dengan
rehabilitasi, tetap dapat dipulihkan. Paling rumit pada perusahaan swasta,
karena secara murni, asas praduga tak bersalah, tidak terlaksana dengan
baik dalam masyarakat, bahkan berurusan dengan polisi saja, telah
dianggap perbuatan tercela, apalagi ditangkap atau ditahan. Pada
umumnya manusia sering dihinggapi kecenderungan berprasangka jelek.
b. Tinjauan tentang tersangka dan terdakwa.
1. Pengertian tersangka dan terdakwa.
Tersangka atau terdakwa adalah orang-orang yang diduga telah
melakukan tindak pidana. Hal ini dijelaskan dalam KUHAP Pasal 1
butir 14 dan butir 15, dalam Pasal 1 butir 14 KUHAP dijelaskan:
“Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau
keadaannya, berdasarkan bukti permulan patut diduga
sebagai pelaku tindak pidana”.
Sementara Pasal 1 butir 15 KUHAP, menjelaskan:
“Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa
dan diadili dalam sidang pengadilan”.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa seorang
tersangka atau terdakwa adalah orang yang diduga melakukan tindak
pidana sesuai dengan bukti permulaan yang cukup, sehinnga orang
tersebut harus dilidik, disidik, dan diperiksa oleh penyidik. Kemudian
harus dilakukan tindakan penuntutan dimuka sidang oleh penuntut
umum dan hakim dan jika perlu dapat dilakukan tindakan upaya paksa
seperti penangkapan, penggeledahan, penahanan, penyitaan sesuai cara
yang diatur dalam Undang-Undang. Pada saat ini tersangka atau
terdakwa tidak lebih dari objek pemeriksaan yang dapat diperlakukan
sekehendak hati oleh aparat penegak hukum. Hak asasi, harkat dan
martabat dari tersangka atau terdakwa tidak pernah dihargai.
xxviii
2. Hak-hak tersangka dan terdakwa.
a) Hak untuk segera mendapat pemeriksaan.
Seorang terdakwa atau tersangka mempunyai hak untuk segera
mendapatkan pemeriksaan baik dalam penyidikan atau dalam
persidangan. Seperti disebutkan dalam KUHAP Pasal 50
disebutkan bahwa seorang tersangka berhak segera mendapatkan
pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dihadapkan pada
penuntut umum. Kemudian hak tersangka untuk perkaranya segera
diajukan ke Pengadilan dan berhak segera diadili oleh Pengadilan.
b) hak untuk melakukan pembelaan.
Seorang tersangka atau terdakwa mempunyai hak untuk membela
diri baik dengan penasehat hukum atau tidak. Berbagai pembelaan
yang dapat dilakukan oleh tersangka atau terdakwa diatur dalam
KUHAP Pasal 51-57, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
(1). Berhak diberitahukan dengan jelas dan dengan bahasa yang
dimengerti
olehnya
tentang
apa
yang
disangkakan
kepadanya.
(2). Berhak memberikan keterangan secara bebas dalam berbagai
tingkat
pemeriksaan,
mulai
dari
penyidikan
sampai
pemeriksaan di Pengadilan.
(3). Berhak untuk mendapatkan juru bahasa dalam semua tingkat
pemeriksaan baik dari penyidikan sampai proses pengadilan.
(4). Berhak untuk mendapatkan bantuan hukum oleh seorang atau
beberapa
penasehat
hukum
dalam
semua
tingkat
pemeriksaan.
c) Hak untuk melakukan upaya hukum.
Berdasarkan pada Undang-Undang seorang terdakwa yang dijatuhi
hukuman dapat menerima atau menolak putusan yang dijatuhkan.
xxix
Ketidak puasan atas putusan pengadilan bisa dimanfaatkan untuk
melakukan upaya hukum yang di bagi menjadi dua, yaitu:
(1). Upaya hukum biasa.
Upaya hukum biasa dapat berupa permintaan banding kepada
Pengadilan Tinggi dan Upaya permintaan kasasi kepada
Mahkamah Agung.
(2). Upaya hukum luar biasa.
Upaya hukum luar biasa dapat berupa permintaan pemeriksaan
Peninjauan kembali terhadap putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.
d) Hak untuk mendapat ganti rugi dan rehabilitasi.
Ganti rugi atau rehabilitasi dapat dilakukan oleh tersangka atau
terdakwa apabila;
(1).
Penangkapan, penahanan, penggeledahan, atau penyitaan
yang dilakukan tanpa alasan hukum yang sah.
(2). Apabila putusan pengadilan menyatakan terdakwa bebas
karena tindak pidana yang didakwakan tidak terbukti atau
tindak pidana yang didakwakan kepadanya bukan merupakan
suatu kejahatan atau pelanggaran.
c. Tinjauan Mengenai Putusan pengadilan
1. Pengertian Putusan Pengadilan
Berdasarkan Pasal 1 butir 11 KUHAP pengertian putusan
pengadilan adalah pernyataan Hakim yang diucapkan dalam sidang
pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau
lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang
datui dalam undang-undang. Sedangkan Kejaksaan Agung Republik
Indonesia memberikan pengertian tentang putusan yaitu hasil atau
kesimpulan dari suatu yang telah dipertimbangkan dan dinilai
xxx
semasak-masaknya yang dapat berbentuk tulisan ataupun lisan.
Mengenai putusan yang diterjemahkan dari vonis adalah hasil akhir
dari pemeriksaan perkara di sidang Pengadilan. (Leden Marpaung,
1992: 406)
Dalam mengambil putusan tersebut, hakim harus melakukan
musyawarah terlebih dahulu. Musyawarah dilakukan dengan hakim
lain yang menangani perkara tersebut yang disebut dengan majelis
hakim, yang terdiri dari seorang hakim ketua dan dua orang hakim
anggota. Jika terjadi perbedaan pandangan dalam memutus perkara
maka akan diambil dengan suara terbanyak dan jika tidak diperoleh,
maka putusan yang dipilih adalah pendapat hakim yang paling
menguntungkan bagi terdakwa (Pasal 182 ayat (6) KUHAP). Putusan
tersebut haruslah diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka untuk
umum agar keputusan tersebut dapat sah dan mempunyai kekuatan
hukum. Maksud yang lain adalah supaya masyarakat mengetahui
bahwa yang diputuskan oleh hakim itu berdasarkan undang-undang
dan telah memenuhi rasa keadilan, tidak memihak salah satu pihak dan
juga tidak adanya intervensi yang dilakukan oleh pihak lain.
2. Macam Putusan Pengadilan
Ada dua macam putusan pengadilan dalam memutus suatu
perkara, yaitu putusan akhir dan putusan sela.
a) Putusan akhir adalah keputusan yang diambil dengan
memeriksa perkara secara keseluruhan atau keputusan untuk
mengakhiri proses pidana di sidang pengadilan. Dasar hukum
putusan akhir ini adalah pada Pasal 182 ayat (3) dan ayat (8)
KUHAP.
xxxi
b) Putusan sela adalah keputusan yang diambil oleh hakim selama
proses pemeriksaan perkara dan belum masuk pada pokok
perkara. Dasar hukumnya adalah terdapat dalam Pasal 156 ayat
(1) KUHAP. Keputusan sela berbentuk penetapan (Imam
Soetikno dan Robby Khrismanaha, 1996: 61).
3. Bentuk Putusan Pengadilan
Bentuk putusan yang akan dijatuhkan pengadilan pada
umumnya tergantung dari hasil musyawarah yang bertitik tolak dari
surat dakwaan dengan segala sesuatu yang terbukti dalam pemeriksaan
di sidang pengadilan (M. Yahaya Harahap, 2000: 346), berupa :
a) Putusan Bebas
Putusan bebas ini menyatakan bahwa terdakwa tidak terbukti
melakukan perbuatan seperti yang telah didakwakan oleh jaksa
penuntut umum. Terdakwa yang berada dalam status tahanan akan
dibebaskan seketika itu juga kecuali jika ada alasan lain yang sah
yang menyebabkan terdakwa perlu ditahan (Pasal 191 ayat (3)
KUHAP). Putusan bebas ini diatur dalam Pasal 191 ayat (1)
KUHAP yang bunyinya :
“Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan
sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan
kepadanya tidak terbukti Yang dimaksud dengan “perbuatan yang
didakwakan
kepadanya
tidak
terbukti
secara
sah
dan
menyakinkan,maka terdakwa diputus diputus bebas”. ]
Dimaksud dengan ‘pebuatan yang didakwakan kepadanya tidak
terbukti secara sah dan menyakinkan” adalah tidak cukup terbukti
menurut hakim atas dasar pembuktian dengan mengunkan alat
bukti dengan ketentuan hukum acara pidana.
Dalam
hal
menyimpulkan
putusan
tidak
bebas,
terdapat
xxxii
pengadilan
bukti-bukti
atau
yang
sah
hakim
dan
meyakinkan, bahwa terdakwalah yang melakukan perbuatan yang
didakwakan itu. Hal ini tercantum dalam pasal 183 KUHAP :
“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang
kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti
yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak
pidana bebar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang
bersalah melakukannya.”
Menurut pasal 185 ayat (2) KUHAP, mengenai adanya seorang
saksi saja, tanpa dikuatkan alat bukti lain bukanlah merupakan
suatu kesaksian. Dengan demikian, apabila dituduhkan apa yang
didakwakan kepada seorang terdakwa sedangkan hanya seorang
saksi saja yang memberikan keterangan yang bertentangan dengan
keterangan terdakwa, tanpa dikuatkan alat bukti lain, maka hakim
harus memutus membebaskan terdakwa dari segala tuduhan atau
vrijspraak.
b)
Putusan Lepas dari Segala Tuntutan
Pengaturan terhadap dijatuhkannya putusan ini terdapat
dalam Pasal 191 ayat (2) KUHAP, yang bunyinya :
“Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang
didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu
tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus
lepas dari segala tuntutan hukum”.
Putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum berdasar
kriteria-kruteria sebagai berikut :
a) Apa yang didakwakan kepada terdakwa memeng terbukti
secara sah dan meyakinkan, sekalipun terbukti, hakim
berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan tidak
merupakan tindak pidana.
b) Terdapat keadaan-keadaan istimewa yang menyebabkan
terdakwa tidak dapat dijatuhi suatu hukuman pidana menurut
beberapa pasal dari KUHAP atau karena adanya alasan
pemaaf.
xxxiii
Apabila pada saat penjatuhan putusan, status terdakwa dalam
tahanan, maka padas saat penjatuhan putusan harus dibarengi
dengab perintah untuk membebaskan terdakwa dari tahanan
sesuai dengan cara yang diatur dalam pasal 191 ayat (3) dan
pasal 192.
Dari hal tersebut maka terdakwa memang terbukti melakukan
suatu perbuatan. Hanya saja perbuatan tersebut bukan merupakan
tindak pidana, sehingga tidak mungkin untuk dijatuhi sanksi
pidana. Kepada terdakwa yang ada dalam status tahanan akan
dibebaskan seketika itu juga kecuali jika ada alasan lain yang sah
yang menyebabkan terdakwa perlu ditahan. (Pasal 191 ayat (3)
KUHAP)
Untuk melihat lebih jelas apa yang dimaksud dengan putusan
pelepasan dari segala tuntutan hukum, ada baiknya putusan itu
dibandingkan dengan putusan pembebasan. Perbandinggan
tersebut dapat dilihat dari beberapa segi, antara lain:
a) Ditinjau dari segi pembuktian
Pada putusan pembebasan, pembuktian tindak
pidana yang didakwakan kepada terdakwa “tidak terbukti’
secara sah dan meyakinkan. Jadi, tidak memenuhi asas
pembuktian menurut undang-undang secara negatif serta
tidak memenuhi asas batas minimum pembuktian yang
diatur dalam pasal 183 KUHAP. Lain halnya pada putusan
lepas dari segala tuntutan hukum, apa yang didakwakan
kepada terdakwa cukup terbukti secara sah baik dinilai dari
segi pembuktian menurut undang-undang maupun dari segi
batas minimum pembuktian yang diatur dalam pasal183.
akan tetapi, perbuatan yang terbukti itu “tidak merupakan
tindak pidana”. Tegasnya perbuatan yang didakwakan dan
xxxiv
yang telah terbukti itu tidak diatur dan tidak termasuk ruang
lingkup hukum pidana
b) Ditinjau dari segi penuntutan
Pada putusan pembebasan, perbuatan yang dilakukan
dan didakwakan kepada terdakwa benar-benar perbuatan
tindak pidana yang harus dituntut dan diperiksa di sidang
“pengadilan pidana”. Cuma dari segi penilaian pembuktian,
peembuktian yang ada tidak cukup mendukung keterbukaan
kesalahan terdakwa. Oleh karena itu kesalahan terdakwa
tidak terbukti, terdakwa “diputus bebas”, dan membebaskan
dirinya dari ancaman pidana yang diancamkan pada pasal
tindak pidana yang diancamkan kepadanya. Sedangkan
pada putudan lepas dari segala tuntutan hukum, pada
hakikatnya apa yang didakwakan kepadanya bukan
merupakan perbuatan tindak pidana. Barangkali hanya
berupa quasi tindak pidana, seolah-olah penyidik dan
penuntut umum melihatnya sebagai perbuatan tindak
pidana.
c) Putusan Pemidanaan
Putusan pidana yang akan dijatuhkan Hakim tidaklah
melebihi dari apa yang telah dituntut jaksa penuntut umum dalam
tuntutannya. Selain itu putusan pidana hanya dijatuhkan apabila
karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang,
mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat
bertanggug jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan
atas dirinya (Pasal 6 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman). Putusan pidana ini diatur dalam Pasal 193
ayat (1) KUHAP, yang bunyinya :
“Jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah
melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka
pengadilan menjatuhkan pidana”.
xxxv
Dari keterangan pasal diatas berarti penjatuhan putusan
pemidanaan
terhadap
terdakwa
didasarkan
pada
penilaian
pengadilan. Jika pengadilan berpendapat dan menilai terdakwa
terbukti
bersalah
melakukan
perbuatan
yang
didakwakan
kepadanya, pengadilan menjatuhkan hukuman kepada terdakwa.
Atau dengan penjelasan lain, apabila menurut pendapat dan
penilaian pengadilan terdakwa telah terbukti secara sah dan
menyakinkan
melakukan
tindak
pidana
yang
didakwakan
kepadanya sesuai dengan sistem pembuktian dan asas minimum
pembuktian yang ditentukan dalam pasal 183, kesalahan terdakwa
telah cukup terbukti dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti
yang sah yang memberi keyakinan kepada hakim, terdakwalah
pelaku tindak pidana.
Pemidanaan berarti terdakwa dijatuhi hukuman pidana
sesuai dengan ancaman yang ditentukan dalam pasal tindak pidana
yang didakwakan kepada terdakwa. Adapun yang dapat dijatuhkan
hakim adalah suatu penghukuman seperti dalam pasal 10 KUHP
yaitu ;
a) Hukuman Pokok
-
Hukuman mati
-
Hukuman penjara
-
Hukuman kurungan
-
Hukuman denda
b) Hukuman Tambahan
-
pencabutan beberapa hak tertentu
-
perampasan barang tertentu
-
pengumuman keputusan hakim
Hukuman tambahan tidak dapat dijatuhkan tersendiri tapi
hanya dapat dikenakan disamping hukum pokok. Terhadap suatu
putusan yang mengandung penghukuman terdakwa, pihak-pihak
xxxvi
yang merasa tidak puas tidak ada larangan untuk naik banding.
Oleh karena itu, baik terdakwa ataupun penuntut umum dapat
mengunakan upaya hukum apabila putusan hakim kurang
memuaskan.
Putusan yang menjatuhkan hukuman pemidanaan kepada
seorang terdakwa tidak lain daripada putusan yang berisi perintah
untuk menghukum terdakwa sesuai dengan ancaman pidana yang
disebut dalam pasal pidana yang didakwakan.Undang-undang
memberi kebebasan kepada hakim untuk menjatuhkan pidana
antara hukuman “minimum” dan “maksimum” yang diancamkan
dalam pasal pidana yang bersangkutan. sesuai dengan apa yang
diatur dalam Pasal 12 KUHP. Namun demikian, titik tolak hakim
menjatuhkan putusan pemidanaan harus didasarkan pada ancaman
yang disebutkan dalam pasal pidana yang didakwakan.
Berdasarkan pasal 193 ayat (1) KUHAP tersebut apabila
kesalahan tidak cukup terbukti seperti dalam surat dakwaan dan
perbuatan tersebut oleh hakim harus dijatuhi hukuman atau pidana
terhadap terdakwa, kecuali terdakwa saat melakukan tindak pidana
itu belum berumur 16 tahun. Maka hakim dapat mengambil
kebijakan dan memutuskan :
a) Anak itu dikembalikan kepada orang tuanya atau walinya
dengan tidak dijatuhkan hukuman.
b) Pada anak itu dinyatakan sebagai anak negara, maksudnya
tidak dijatuhi hukuman, namun diserahkan kepada rumah
pendidikan anak-anak nakal.
c) Anak itu dijatuhi hukuman sepe rti
biasa apabila
perbuatanya sudah merupakan bakat.
Untuk melihat status terdakwa yang dapat diperintahkan
pengadilan
berbarengan
dengan
saat
putusan
diucapkan,
berpedoman pada Pasal 193 ayat (2) menyatakan bahwa ada
xxxvii
berbagai status yang dapat diperintahkan pengadilan terhadap
seorang terdakwa yang dijatuhi dengan putusan pidana.
d). Syarat dan Isi Putusan Pengadilan
Dalam menjatuhkan putusannya, hakim harus memperhatikan
hal-hal yang menjadi syarat sahnya dijatuhkan putusan tersebut. Hal
ini penting agar putusan yang dijatuhkan Hakim mempunyai kekuatan
hukum dan tidak batal demi hukum. Syarat tersebut telah diatur dalam
Pasal 195 KUHAP, yang bunyinya :
“Semua putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan
hukum apabila diucapkan di sidang terbuka untuk umum”.
Pada dasarnya putusan pengadilan itu terdiri dari beberapa hal,
yaitu :
(1) Pendahuluan
Pendahuluan ini terdiri dari kepala putusan, yang berbunyi DEMI
KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA
ESA, nama pengadilan negeri yang memutus, identitas terdakwa,
keterangan terdakwa, keterangan status penahanan terdakwa,
pernyataan pengadilan negeri telah mempelajari berkas perkara,
telah mendengar keterangan saksi-saksi, memperhatikan barang
bukti dan keterangan terdakwa, telah mendengarkan tuntutan dari
penuntut umum serta telah mendengarkan pembelaan dari terdakwa
atau penasehat hukumnya.
(2) Pertimbangan
a) Pertimbangan pengadilan mengenai peristiwa dan fakta yang
telah diperoleh pada pemeriksaan di depan persidangan yang
mempunyai hubungan dengan upaya pembuktian terhadap
kesalahan terdakwa yang didakwakan, adanya keterangan saksi
serta barang bukti, pokok-pokok tuntutan dari penuntut umum
serta adanya pembelaan terdakwa atau penasehat hukumnya.
xxxviii
b) Pertimbangan hukum yaitu pertimbangan yang menjadi dasar
dari dijatuhkannya putusan yang berisi dasar-dasar hukum bagi
hakim dalam memutus perkara.
(1) Amar Putusan
Amar putusan ini sering juga disebut bunyi putusan karena berisi
terbukti atau tidaknya dakwaan yang didakwakan serta hukuman
yang dijatuhkan.
(2) Penutup
Ketentuan penutup ini memuat hari dan tanggal diadakannya
musyawarah Hakim, hari dan tanggal putusan diucapkan, namanama dan susunan Majelis Hakim, nama Panitera/Panitera
Pengganti, nama Penuntut Umum serta nama terdakwa dan
Penasehat Hukumnya. Dan kemudian akan ditandatangani oleh
Majelis Hakim dan Panitera/Panitera Pengganti.
Menurut Pasal 197 ayat (1) KUHAP suatu putusan pemidanaan
memuat :
a) Kepala
putusan
yang
berbunyi
:
DEMI
KEADIALAN
BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA.
b) Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,
kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan terdakwa.
c) Dakwaan, sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan.
d) Pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan
keadaan beserta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaaan
di sidang yang menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa.
e) Tuntutan pidana, sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan.
f) Pasal
peraturan
perundang-undangan
yang
menjadi
dasar
pemidanaan atau tindakan dan pasal peraturan perundangundangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan
yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa.
xxxix
g) Hari dan tanggal diadakannya musyawarah majelis hakim kecuali
diperiksa oleh hakim tunggal.
h) Pernyataan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhi semua
unsur dalam rumusan tindak pidana disertai dengan kualifikasi dan
pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan.
i) Ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan
menyebutkan jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai
barang bukti.
j) Keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan
dimana letaknya kepalsuan itu, jika terdapat surat otentik yang
dianggap palsu.
k) Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau
dibebaskan.
l) Hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum, nama hakim yang
memutus, dan nama panitera.
Pada Pasal 197 ayat (2) KUHAP disebutkan mengenai putusan
yang mempunyai akibat batal demi hukum yaitu jika tidak memenuhi
ketentuan pada huruf a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, dan l yang tersebut
diatas. Tetapi jikalau terjadi kekhilafan dan/atau kekeliruan dalam
penulisan atau pengetikan tidak menyebabkan batalnya putusan
tersebut, kecuali yang tersebut pada huruf a, e, f, dan h (Penjelasan
Pasal 197 ayat (2) KUHAP).
e) Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Berat Ringannya
Putusan Pemidanaan
Berdasarkan hal yang telah dikemukakan tersebut mengenai
diberinya kebebasan bagi hakim dalam menentukan berat ringannya
pidana yang akan dijatuhkan, tentunya juga harus berdasarkan alat
bukti yang sah. Ini merupakan penjabaran dari Pasal 183 Kitab
xl
Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menyatakan
secara tegas bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidan kepada
sesorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti
yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benarbenar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Di dalam penjelasan Pasal 183 KUHAP dijelaskan mengenai
tujuannya adalah untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan, dan
kepastian hukum. Pada Pasal 193 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa
pengadilan menjatuhkan pidana apabila pengadilan berpendapat bahwa
terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan
kepadanya. Hal ini sesuai dengan asas tiada pidana tanpa adanya
kesalahan (geenstraf zonder sculd) di dalam hukum pidana yang
memiliki arti bahwa pidana hanya dapat dijatuhkan apabila terdakwa
benar-benar terbukti melakukan suatu kesalahan yang dibuktikan pada
sidang pengadilan.
Maksud dari sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah
adalah adanya minimal dua alat bukti dari lima alat bukti yang sah
menurut KUHAP. Mengenai alat bukti yang sah ini dijelaskan dalam
Pasal 184 ayat (1) KUHAP, meliputi :
(1) Keterangan saksi
Saksi adalah orang yang mendengar, melihat, atau mengalami
sendiri atas suatu tindak pidana. Pada umumnya setiap orang dapat
menjadi saksi, tetapi dalam Pasal 186 KUHAP diatur mengenai
kekecualiannya, yaitu :
a) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau
ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang
bersama-sama sebagai terdakwa;
b) Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai
terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang
xli
mempunyai hubungan karena perkawinan, dan anak-anak
saudara terdakwa sampai derajat ketiga;
c) Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang
bersama-sama sebagai terdakwa.
Dalam Pasal 160 ayat (3) KUHAP dikatakan bahwa sebelum
memberi keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji
menurut
cara
agamanya
masing-masing,
bahwa
ia
akan
memberikan keterangan yang sebenarnya dan tidak lain daripada
yang sebenarnya. Bagi saksi yang tidak mau disumpah maka dalam
penjelasan Pasal 161 ayat (2) KUHAP memberikan keterangan
yaitu seorang saksi yang tidak mau disumpah maka keterangannya
tidak dianggap sebagai alat bukti, tetapi hanyalah merupakan
keterangan yang dapat menguatkan keyakinan hakim. Ini berarti
tidak merupakan kesaksian menurut undang-undang, bahkan juga
tidak merupakan petunjuk, karena hanya dapat memperkuat
keyakinan hakim. (Andi Hamzah 2002 :259)
(2) Keterangan ahli
Keterangan ahli adalah pendapat yang diberikan oleh seseorang
berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya,
tentang sesuatu apa yang dimintai pertimbangannya. (Andi
Hamzah 2002 :268)
Seorang ahli mempunyai ciri bahwa ia menguasai suatu ilmu
pengetahuan tertentu sesuai dengan yang dipelajari dan ia akan
didengar keterangannya mengenai persoalan tertentu yang menurut
pertimbangan hakim orang itu mengetahui bidang tersebut secara
khusus dan mendalam.
(3) Surat
Alat bukti surat ini diatur dalam Pasal 187 KUHAP, yaitu :
a) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh
pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya,
yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang
xlii
didengar, dilihat, atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan
alasan yang jelas dan tegas tentang keterangan itu;
b) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundangundangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal
yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung
jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal
atau sesuatu keadaan;
c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat
berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau keadaan
yang diminta secara resmi daripadanya;
d) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya
dengan isi dari alat pembuktian yang lain.
Jadi yang dikualifikasikan sebagai surat yang dapat dijadikan alat
bukti adalah surat yang sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 187
KUHAP seperti tersebut di atas.
(4) Petunjuk
Pengertian petunjuk menurut Pasal 188 ayat (1) adalah perbuatan,
kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara
yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu
sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan
siapa pelakunya. Pengertian ini dipandang tidak begitu jelas karena
tidak dijelaskan mengenai perbuatan apa, kejadian, atau keadaan
apa. Sehingga dalam prakteknya alat bukti petunjuk ini jarang
digunakan.
(5) Keterangan terdakwa
Dalam KUHAP tidak dijelaskan mengenai keterangan terdakwa
sebagai salah satu alat bukti. Keterangan terdakwa merupakan
penjelasan yang diberikan oleh terdakwa pada saat dilakukan
pemeriksaan terdakwa didepan persidangan. Sehingga keterangan
disini termasuk yang berupa pengakuan, penyangkalan, ataupun
pengakuan sebagian dari perbuatan atau keadaan.
xliii
Di dalam bukunya yang berjudul Hukum Hakim Pidana, Oemar
Seno Adji menyatakan bahwa dalam kerangka kebebasan hakim untuk
menentukan berat ringannya hukuman dimana ia dapat bergerak dalam
batas-batas maxima hukuman ataupun untuk memilih jenis hukuman,
maka dapat ditegaskan disini bahwa alasan-alasan tersebut, baik ia
dijadikan landasan untuk memberatkan hukuman ataupun untuk
meringankannya, tidak merupakan arti yang essensial lagi. Dalam
maxima dan minima tersebut, hakim pidana bebas dalam mencari
hukuman yang dijatuhkan terhadap terdakwa secara tepat. Suatu
kebebasan yang berarti kebebasan mutlak secara tidak terbatas.
Seorang hakim harus memperhitungkan sifat dan seriusnya delik yang
dilakukan,
keadaan
yang
meliputi
perbuatan-perbuatan
yang
dihadapkan kepadanya. Hakim harus melihat kepribadian dari pelaku
perbuatan, dengan umurnya, tingkatan pendidikan, apakah pria atau
wanita, lingkungannya, sifatnya sebagai bangsa dan hal-hal lain
(Oemar Seno Adji, 1984: 8).
Selain alat bukti yang sah sesuai dengan Pasal 184 ayat (1)
KUHAP, untuk menentukan berat ringannya pidana yang akan
dijatuhkan kepada terdakwa, ada faktor lain di luar faktor yuridis yang
harus diperhatikan oleh hakim. Hal tersebut antara lain melihat juga
dari faktor modus operandi dan sosiologis yaitu hal-hal yang
meringankan
dan
hal-hal
yang
memberatkan.
Faktor
yang
meringankan adalah terdakwa berlaku sopan selama persidangan,
mengakui perbuatannya dan terdakwa masih muda. Sedangkan faktor
yang memberatkan adalah keterangan yang berbelit-belit, tidak
mengakui perbuatannya, meresahkan masyarakat, merugikan negara,
dan lain-lain. (Bambang Waluyo, 2000: 89)
xliv
Dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman pada Pasal 28 ayat (2) juga mengatur mengenai
kewajiban hakim untuk mempertimbangkan berat ringannya pidana
bagi terdakwa dengan melihat sifat yang baik dan jahat dari terdakwa
tersebut. Bahkan hal tersebut ditegaskan kembali dalam penjelasannya
yaitu agar putusan yang dijatuhkan setimpal dan adil sesuai dengan
kesalahannya. Selain itu hal-hal yang meringankan dan memberatkan
diatur dalam Pasal 197 ayat (1) huruf f KUHAP yang menyatakan
bahwa surat putusan pemidanaan memuat pasal peraturan perundangundangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan
yang memberatkan dan meringankan bagi terdakwa. Hal ini bertujuan
agar tercipta keadilan bagi seluruh rakyak Indonesia, terutama dalam
hal terciptanya persamaan dan kedudukan dalam bidang hukum dan
tidak ada diskriminasi.
2.
KERANGKA PEMIKIRAN
Tindak Pidana
Tersangka /
Terdakwa
xlv
Proses
Pengadilan
Bagan 2. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran adalah pola pikir yang dimiliki oleh penulis
dalam melakukan penelitian ini. Kerangka pemikiran berisi hal-hal yang
menjadi pokok penelitian yang dilakukan oleh penulis sehingga nantinya dapat
mencapai sasaran sesuai dengan tujuan penelitian tersebut. Kerangka
pemikiran ini diwujudkan dalam suatu skema atau bagan agar lebih mudah
dipahami.
Dari bagan tersebut dapat dijelaskan bahwa adanya tindak pidana
yang dilakukan oleh seseorang. Dengan adanya tindak pidana dan adanya
proses-proses yang mencari siapa pelaku tindak pidana tersebut maka akan
ditemukan tersangka atau terdakwa yang melakukan tindak pidana tersebut.
Setelah terdakwa ditentukan maka adanya proses peradilan yang dilakukan
xlvi
oleh petugas pengadilan. Proses peradilan ini dilakukan untuk mencari
kebenaran apakah benar terdakwa itu melakukan tindak pidana yang
didakwakan. Apabila terdakwa tersebut ternyata tidak terbuktimelakukan
tindak pidana yang didakwakan kepadanya maka ia akan diputus bebas atau
lepas dari segala tuntutan hukum. Dengan adanya keputusan bebas atau lepas
dari segala tuntutan hukum oleh pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum
yang tetap. Maka terdakwa tersebut berhak mendapatkan rehabilitasi untuk
memulihkan namanya yang tercemar karena tindak pidana yang didakwakan
kepadanya.
xlvii
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pemberian rehabilitasi terhadap terdakwa yang diputus bebas atau
lepas dari segala tuntutan huukum oleh pengadilan
Untuk membahas bagaimana pemberian rehabilitasi terhadap terdakwa
yang diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum oleh pengadilan,
berikut ini disajikan satu putusan bebas dan mendapat rehabilitasi yang
dibacakan dalam Amar Putusan sebagai berikut:
a) Kasus Posisi
Nama
: Rukidi
Tempat Lahir
: Surakarta
Umur/Tanggal Lahir
: 49 Tahun, 17 Juli 1951
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Kebangsaan
: Indonesia
Alamat
: Komplek SD
Bonorejo Rt.06/Rw. XVI,
Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Surakarta.
Agama
: Islam
Pekerjaan
: PNS/
Penjaga
Sekolah
SD
Bonorejo,
Surakarta
Pendidikan
: SD
Bahwa terdakwa Rukidi di dakwa oleh Jaksa Penuntut Umum pada
hari minggu, tanggal 9 janyari 2000, sekitar pukul 20.00wib atau
setidak-tidaknya pada salah satu hari dalam bulan januari 2000, berada
dikawasan Ngempak Rejosari Rt. 02, Rw. XV, kel. Gilingan Kec.
Banjarsari,
kotamadya
Surakarta,
atau
setidak-tidaknya
masih
bertempat di daerah hukum Pengadilan Negeri Surakarta, dengan
sengaja merampas nyawa orang lain yang bernama ibu Gito alias
Mendes dengan cara: terdakwa datang kerumah ibu Gito atas
xlviii
permintaan ibu Gito alias Mendes beberapa hari sebelumnya dan
terdakwa masuk kerumah ibu Gito melalui pintu depan dan akhirnya
bercakap-cakap dengan ibu Gito di ruang tengah.dan tak lama
keduanya terjadi pertengkaran oleh karena ibu Gito alias mendes
mengungkit hutang hutang terdakwa yang belum lunas terhadap alm.
Narto Suwarno sejumlah Rp. 500.000,00 dan terdakwa mengatakan
sudah melunasinya. Karena ibu Gito bersikeras maka terdakwa
mengambil sebuah ALU dan dipukulkan ke kepala sebanyak 3 kali ,
dan terdakwa mengambil sebuah toples lalu dipukulkan kewajah
korban satu kali. Kemudian terdakwa mengambil leher toples yang
sudah pecah lalu ditusukkan keler korban dekat telinga kiri sebanyak
dua kali. Lalu terdakwa mengambil sebuah rit dan di bacokkan ke
muka korban dua kali sehingg korban meninggal.
b) Dakwaan Jaksa Penuntut Umum
Berdasarkan keterangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum
mengajukan Rukudi sebagai terdakwa di pengadilan Negeri
Surakarta dengan dakwaan sebagai berikut :
1. Primair
Bahwa terdakwa bersalah telah melanggar tindak pidana
sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338` KUHP yang
berbunyi: barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam,
karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas
tahun
2. Subsidair
Bahwa terdakwa bersalah telah melanggar tindak pidana
sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (3)
KUHP
yang berbunyi: penganiayaan yang menebabkan kematian
diancam pidana paling lama tujuh tahun.
xlix
c) Upaya Pembuktian
bahwa untuk membuktikan dakwaaan Penuntut Umum tersebut,
dipersidangan telah dihadapkan tujuh belas orang saksi masing-masing
telah memberikan keterangan di bawah sumpah yang pada pokoknya
sebagai berikut;
1. Ny. ARSAD
a) Bahwa kejadian penganiayaan ibu gito alias mendes terjadi
pada hari Senin tanggal 10 januari 2000 sekitar pukul
20.00wib
b) Bahwa kejadian tersebut terjadi di Ngemplak, rejosari Rt.
02 Rw. XV Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Surakarta
c) Bahwa saksi tahu bahwa korban bernama ibu Gito alias
mendes
d) Bahwa jarak rumah antara saksi dengan korban kira-kira 10
meter, rumahnya hanya dibelakang adu tembok
e) Bahwa saksi kenal dengan terdakwa Rukidi
f) Bahwa saksi tidak pernah mengobrol dengan terdakwa
g) Bahwa sebelum kejadian peristiwa tersebut, sekitar pukul
20.00
WIB
saksi
dirumah
mendengarkan
teriakan
menanyakan kepada tetangga sebelah, tetapi tetangga saksi
tersebut tidak mendengar suara apa-apa, lalu saksi ngobrol
sampai pukul 23. 00 WIB, karena sudah malam lalu saksi
masuk rumah untuk beristirahat.
h) Bahwa yang ada dirumah korban adalah hanya ibu Gito
sendiri
i) Bahwa pekerjaan ibu Gito adalah bergadang jualan bumbon
j) Bahwa saksi tidak tau terdakwa masuk rumah bu Gito alias
mendes
k) Bahwa saksi tahu bu Gito meninggal, setelah ada orang
yang minta tolong kepada saksi untuk membangunkan bu
Gito karena membeli arang, akan tetapi pintunya tertutup,
l
lalu saksi membukakan pintu dan setelah pintunya dibuka
ternyata bu Gito telah meninggal keluar darah, lalu saksi
teriak-teriak kemudian orang-orang disekitar datang.
l) Bahwa posisi bu Gito mujur keselatan karena banyak orang
berdatangan lalu memanggil polisi
m) Bahwa yang sering datang ketempat korban adalah
terdakwa Rukidi
n) Bahwa saksi tidak pernah melihat barang bukti
o) Bahwa pada malam kejadian tersebut ditempat sekitarnya
tidak ada orang lewat karena takut pada orang mabukmabukan dan minum-minuman
p) Bahwa jarak rumah terdakwa Rukidi dengan rumah korban,
jauh naik becak masih bayar seribu
q) Bahwa saksi tidak tahu datangnya dan keluarnya terdakwa
dari rumah korban
r) Bahwa terdakwa ditangkap oleh polisi setelah 2 hari
kejadian
s) Bahwa rumah korban bu Gito alias mendes kosong
t) Bahwa sebelum kejadian peristiwa, pukul 06. 00 sore
korban pernah ngobrol dengan saksi,
lalu saksi pulang
kerumah ngerebus air
u) Bahwa saksi tidak melihat luka-luka korban
v) Bahwa sebenarnya saksi akan menolong korban, karena
tahu darah korban banyak yang keluar lalu saksi takut
w) Bahwa saksi tidak tahu terdakwa melakukan penganiayaan
2. Ny. SETRO TARUNO
a) Bahwa saksi kenal dengan ibu Gito
b) Bahwa jarak rumah korban dengan rumah saksi kira-kira 20
meter
li
c) Bahwa saksi tidak mendengar teriakan, hanya pagi harinya
saksi mau titip beli bumbon, berhubung pintunya masih
tutup lalu saksi langsung kepasar
d) Bahwa saksi tidak pernah ngobrol dengan ibu Gito
e) Bahwa saksi tidak pernah melihat barang buktinya
f) Bahwa bu Gito meninggal saksi tidak melayat, karena tidak
dapat lelayu, karena saksi dari rumah sakit langsung
ketempat anaknya
g) Bahwa bu Gito meninggal saksi tidak tahu, tahunya bu gito
ada dipasar, lalu saksi kepasar tidak ada, kenyataanya
korban telah lama tidak jualan
h) Bahwa bu Gito meninggal saksi diberi tahu oleh teman
matinya dibunuh orang
3. Ny. GIYONO
a) Bahwa saksi mendengar teriakan minta tolong pada hari
Senin tanggal 10 januari 2000 sekitar pukul 20.00
b) Bahwa saksi mendengar teriakan teriakan tersebut satu kali
lalu saksi ketempat ibu arsad sampai pukul 21.00 WIB
tidak ada apa-apa, lalu saksi pulang kerumah kemudian
pagi harinya bu Arsad teriak bu Gito meninggal dunia saksi
tidak melihat korban karena takut matinya dibunuh
c) Bahwa jarak rumah saksi dan bu Gito kira-kira 10 meter
d) Bahwa saksi mendengar teriakan dari arah timur
e) Bahwa saksi tidak dengan terdakwa
f) Bahwa saksi tidak pernah melihat barang bukti
g) Bahwa saksi tidak pernah melihat orang di luar rumah,
karena gelap tidak kelihatan sama sekali, saksi tidak turun
dan saksi bilang paling orang mabuk-mabukan, karena
ditempat daerah itu tempat orang mabuk
4. Ny. WAGIYO
a) Bahwa saksi kenal dengan terdakwa sejak tahun 1990
lii
b) Bahwa kenalnya karena suami saksi pengajar SD dan selalu
bertemu dengan terdakwa
c) Bahwa terdakwa sering datang kerumah saksi
d) Bahwa saksi kenal dengan bu Gito, karena saksi sering
belanja kerumah korban, kebetulan terdakwa disitu
e) Bahwa saksi tidak tahu kejadian peristiwa terebut, karena
saksi waktu peristiwa itu di sragen
f) Bahwa saksi bertemu dengan terdakwa pada bulan puasa,
terdakwa mengantar surat ke SD Rejosari
g) Bahwa setelah tahu kejadian tersebut, tepatnya lebaran
kedua, lalu saksi pulang dari sragen di hari Senin pukul
09.00 WIB setelah sampai dirumah saksi mendengar bahwa
mbah gito alias mendes meninngal dibunuh orang
h) Bahwa pada waktu itu mayatnya belum dimakamkan
i) Bahwa jarak rumah saksi dengan tempat kejadian kira-kira
50 meter
j) Bahwa saksi saksi pernah ngobrol dengan terdakwa pada
bulan puasa tanggalnya lupa, saksi berkata kepada terdakwa
Pakde Rukidi diarep-arep mbah mendes, pakde rukidi kon
dolan
k) Bahwa saksi sering tahu terdakwa ditempat korban karena
sering belanja disitu 15 hari sebelum kejadian itu terjadi
l) Bahwa pelakunya ditangkap polisi selang 7 hari saksi tahu
membaca koran ditulis RKD
m) Bahwa bu Gito selagi masih hidup orangnya ramah dan
sumeh
5.
SUWARNO AL
a) bahwa saksi kenal dengan terdakwa satu kampung lain RT,
dan kenalnya sejak kecil
b) bahwa jarak rumah saksi dan terdakwa adalah 500 meter
liii
c) bahwa pekerjaan terdakwa adalah penjaga SD yang
tugasnya siang, malam dan rumahnya satu komplek dengan
SD
d) bahwa saksi diperiksa polisi tidak mengerti seperti apa
e) bahwa saksi tidak tahu kejadianya, katanya sehabis lebaran
tahun lalu
f) bahwa saksi mendengar ada pembunuhan, katanya yang
dibunuh bu Gito alias mendes
g) bahwa saksi tahu kejadian itu awal februari 2000, tahunya
dari adik saksi pulang ke desa katanya mendes dibunuh
orang
h) bahwa saksi tidak menengok korban, dan tidak tahu siapa
yang membunuh, hanya saksi mendengar berita Rukidi
dituduh membunuh ibu Gito
i) bahwa saksi mendengar berita tersebut dari adiknya
j) bahwa ibu Gito alias mendes dibunuh masalah tanah
berbentuk kebon kira-kira 200 meter atas nama MARTO
SUWARNO, pak Marto minta 200 meter perorang dan
terdakwa dituduh beli tanah 150 meter sama pak Marrto
Suwarno
k) bahwa saksi tahu hubungan masalah tanah dengan kejadian
tersebut
l) bahwa Marto Suwarno itu masih kakak sambungan dengan
terdakwa
m) bahwa saksi tahu pak Marto Suwarno masih satu rumah
dengan ibu Gito
n) bahwa saksi tidak pernah tahu terdakwa main kerumah ibu
Gito
o) bahwa dalam acara pemeriksaan polisi menjawab masalah
tanah, karena ditanya polisi masalah tanah
liv
p) bahwa hubungan terdakwa dengan Manto Suwarno adalah
anak angkat
q) bahwa saksi kenal dengan ibu Gito alias mendes waktu ada
ajab saksi itu kesitu
r) bahwa terdakwa pernah beli tanah dari mbok Marto Suwrno
150 meter dan sudah dibayar lunas
s) bahwa terdakwa anak angkat pak Marno Suwarno tetapi
terdakwa ikut ibu aslinya yang rumahnya dekat
t) bahwa saksi tidak kenal dengan barang bukti itu sama
sekali
6. SUDARMAN WIRO MARTONO
a) Bahwa saksi kenal dengan terdakwa karena tetangga
b) Bahwa ibu Gito alias mendes meninggal dunia, saksi tidak
tahu
c) Bahwa hubungan pak Manto Suwarno dengan ibu Gito
saksi tidak tahu
d) Bahwa saksi tidak kenal dengan ibu Gito alias mendes
e) Bahwa hubungan dengan kejadian tersebut saksi tidak
mengerti
f) Bahwa saksi kenal dengan pak Marto Suwarno dulu pernah
tinggal di Kp sawahan gedng dan sekarang tidak tahu
g) Bahwa KTP saksi pernah dipinjam pak Marto Suwarno 10
tahun yang lalu
h) Bahwa saksi tidak kenal sekali dengan barang bukti yang
diajukan dalam persidangan
7. KASIMAN BIN KARTODIREJO
a) Bahwa yang saksi ketahui dalam perkara ini adalah
pembunuhan dengan korban ibu Gito alias mendes
b) Bahwa ibu Gito alias mendes adalah ibu mertua saksi
c) Bahwa saksi tahu ibu Gito meninggal karena diberi tahu
tetangga bu gito pukul 07.00 pagi
lv
d) Bahwa sebelum kejadian itu terjadi, saksi siang harinya
kerumah korban
e) Bahwa permasalahan ibu Gito dibunuh saksi tidak tahu
f) Bahwa saksi tidak pernah diajak membicarakan sesuatu
dengan ibu Gito
g) Bahwa terdakwa adalah anak angkat pak Manto Suwarno,
dan saksi kenal dengan terdakwa
h) Bahwa meninggalnya ibu Gito alias mendes pada lebaran
hari kedua dirumah sendiri, dan saksi melihat korban sudah
meninggal
i) Bahwa siapa yang membunuh korban saksi tidak tahu
j) Bahwa setelah ibu Gito alias mendes dibunuh lalu korban
dibawa dirumah sakit
k) Bahwa
selanjutnya
yang
saksi
lakukan
adalah
mempersiapkan pemakaman
l) Bahwa ibu Gito dimakamkan di Pajang
m) Bahwa setelah pemakaman keluarga terdakwa datang ke
rumah sakit, istri terdakwa datang dan meminta maaf untuk
meringankan hukuman, lalu saksi katakan hukuman yang
memutuskan pengadilan
n) Bahwa istri terdakwa datang kerumah saksi satu kali
o) Bahwa pada waktu istri terdakwa datang, terdakwa sudah
ditahan polisi
p) Bahwa datangnya istri terdakwa kerumah saksi kira-kira 50
hari setelah kejadian meninggalnya ibu Gito.
q) Bahwa istri terdakwa datang kerumah saksi tidak pesan
apa-apa dan atas inisiatif sendiri
r) Bahwa barang bukti yang diajukan dipersidangan adalah
milik korban
lvi
8. RAJIYO
a) Bahwa saksi pernah dipanggil polisi sehubungan dengan
meninggalnya ibu Gito alias mendes
b) Bahwa ibu Gito itu adalah ibu saksi sendiri
c) Bahawa saksi meninggal ibu Gito meninggal dunia dari
adik saksi sekitar pukul 06.00 pagi, ibu mengalami
kecelakaan, laliu saksi kerumah ibu ke Ngemplak setelah
sampai disana
ternyata sudah
banyak
orang
yang
berkerumun, lalu saksi menanyakan kepada orang-orang
disitu ada apa, lalu dijawab ibu dibunuh orang dengan
kepala dibacok, lalu saksi menemui petugas, lalu saksi
disuruh masuk dan diberi tahu ibu Gito telah meninggal
d) Bahwa saksi tidak sampai hati melihat jenasah karena luka
bacokan dan berlumur darah
e) Bahwa barang bukti yang diperlihatkan di persidangan
adalah alu milik ibu itu sendiri, tetapi kotak tidak tahu milik
siapa
f) Bahwa saksi melihat terakhir ibu masih hidup 1 minggu
sebelum kejadiaan
g) Bahwa saksi pada waktu lebaran tidak kerumah ibu gito
karena repot
h) Bahwa setelah jenazah dari rumah sakit lalu disemayamkan
dirumah adik sanggrahan, lalu dimakamkan di pajang
i) Bahwa dengan keluarga atau istri terdakwa masih ada
hubungan keluarga, saksi bilang kok terjadi begitu to mbak
datang kerumah berdua
j) Bahwa istri terdakwa lalu bilang saya minta maaf ya dik
lalu saksi menjawab ya dan kata-kata lain dari istri
terdakwa adalah maafkanlah kakakmu.
lvii
k) Bahwa korban tidak pernah bercerita kepada saksi,
kelihatanya setelah bapaknya meninggal
sering di teror
orang, pintu rumah diketuk-ketuk dari belakang
l) Bahwa pintnya sering diketuk-ketuk orang 3 kali dan siapa
yang mengetuk saksi tidak tahu serta tidak masalahnya
karena ibu saksi tidak pernah cerita
m) Bahwa pada waktu ibu Gito alias mendes meninggal
terdakwa maupun istri terdakwa tidak melayat
9. Ny. MARTIYEM
a) Bahwa yang saksi ketahui pada waktu itu, hari minggu
tanggal 9 januari 2000, sewaktu saksi berada di rumahnya
mendapatkan telepon dari ngemplak sekitar jam 07.00 pagi
dengan pesan agar segera datang ke ngemplak ditunggu
orang
b) Bahwa setelah saksi datang ke Ngemplak, saksi dirumah
ibu saksi banyak orang, ternyata setelah masuk kerumah,
saksi menjerit-jerit karena melihat ibu Gito dibunuh orang
c) Bahwa kemudian bu Gito di bawa ke rumah sakit, setelah
dari rumah sakit disemayamkan dirumah disanggahan dan
malam itu dimakamkan di pajang
d) Bahwa saksi tidak melhat keadaan korban
e) Bahwa saksi tidak tahu yang membunuh ibu gito, baru tahu
setelah 40 hari setelah meningalnya bu Gito, saksi
membaca koran yang membunuh pak Rukidi
f) Bahwa pada hari Sabtu malam Minggu saksi menginap di
rumah bu Gito, baru sorenya saksi pulang kerumah
sanggrahan
g) Bahwa sebelumnya ibu Gito meninggal tidak ada keluhan
dan tidak mengatakan sesuatu apa-apa
h) Bahwa bu Gito dirumah sendirian
i) Bahwa keluhan bu Gito paling-paling kalau masuk angin
lviii
j) Bahwa setelah suami bu Gito meninngal sering ada yang
menggangu, pintu rumah diketuk sampai 4 kali dan yang
mengetuki pintu tersebut saksi tidak tahu
k) Bahwa yang diceritakan korban kepada tetangga, bahwa
korban diancam patinya oleh keponakanya
l) Bahwa keadaan korban dalam sepintas sudah diperbanan
berada dalam peti, bahwa setelah korban dimakamkan
beberapa hari kemudian Ny. Rukidi datang kerumah saksi
untuk memintra maaf
m) Bahwa yang dikatakan Ny. Rukidi minta maaf, lalu maaf
yang bagaimana, lalu Ny. Rukidi menjawab bahwa
suaminya diancam hukuman 4 tahun minta keringanan 3
tahun ditulis secara tertulis
n) Bahwa Ny. Rukidi datang kerumah saksi 40 hari setelah
meninggalnya ibu Gito bersama adik iparnya bernama pak
manto
o) Bahwa barang bukti yang diperlihatkan dipersidangan
adalah benar milik bu Gito
10. Ny. SRI RAHAYU
a) Bahwa korban yang meninngal adalah mertua saksi
b) Bahwa pada waktu hari lebaran suami saksi yang
menengok ke Ngemplak, saksi menunggu di rumah
c) Bahwa saksi tidak pernah kerumah korban, hanya pada
waktu 100 harinya pak Manto Suwarno, yang sebelum
meninggal serumah dengan korban
d) Bahwa saksi akan melihat jenazah yang akan dibuka, tetapi
disarankan oleh tetangga tidak usah dibuka, katanya muka
korban sudah rusak
e) Bahwa pintunya pernah diketuk orang 3 kali dan siapa yang
diketuk saksi tidak tahu
lix
f) Bahwa barang bukti yang diperlihatkan dipersidangan saksi
tidak tahu milik siapa
11. Ny. MURWANI
a) Bahwa bu Gito meninggal saksi tidak melayat
b) Bahwa saksi belum pernah kerumah bu Gito alias mendes
c) Bahwa saksi tahu pak Manto Suwarno itu bapak angkat
terdakwa, tetapi tidak serumah karena tempat tinggalnya
berdekatan
d) Bahwa saksi kerumah Sri Rahayu yang menyuruh pak
polisi yang bernama Sukarno, untuk minta maaf
e) Bahwa saksi datang kerumah Sri Rahayu bersama dengan
adiknya bernama pak Manto, setelah sampai disana yang
dibicarakan cuma maaf
f) Bahwa saksi kesana membawa pisang, saksi tidak ngomong
apa-apa, karena sudah diwakilkan sama adik iparnya yang
pokoknya minta maaf;
g) Bahwa saksi pertama minta maaf, lalu marah dan katakatanya menyakitkan hati kemudian saksi pulang sambil
menangis;
h) Bahwa saksi tidak mendengarkan apa yang adik iparnya
katakan kepada bu Martiyem;
i) Bahwa kemudian yang dibicarakan adalah surat pernyataan
yang diminta oleh saksi, adik ipar saksi juga minta hal yang
sama, tetapi kelihatannya keluarga korban enggan untuk
membuat surat pernyataan, lalu bu Martiyem mengatakan
kalau minta maaf ya sama Tuhan, padahal saksi ke rumah
korban atas anjuran polisi;
j) Bahwa saksi ke rumah saksi Martiyem sebanyak 3 (tiga)
kali dan ditolak satu kali dan yang dibicarakan sama;
lx
k) Bahwa saksi tahu bu Gito meninggal, setelah membaca
surat kabar beberapa hari kemudian setelah kejadian;
l) Bahwa pada hari minggu pada tanggal 9 Januari 2000 di
rumah saksi ada tamu dari purwodadi bernama Saino
bersama dengan anak kecil namanya Ida dan yang
menerima Rukini (terdakwa);
m) Bahwa kira-kira jam 06.00 sore tamu sudah berada di
rumah lalu ngobrol sampai jam 07.00 malam, lalu makan
bersama sekitar jam 07.30 malam, kemudian nonton TV
sampai pukul 08.30 malam lalu tidur;
n) Bahwa pada waktu itu terdakwa tidak keluar rumah, esok
harinya saksi diajak Saino ke Purwodadi, kemudian
kembali ke Solo jam 09.00 malam;
o) Bahwa Rukidi diperiksa polisi tanggal 28 Pebruari 2000
didatangi polisi, kemudian kira-kira satu jam kemudian
pulang, polisinya bernama Pak Karno;
p) Bahwa kemudian pak Rukidi dipanggil polisi kedua pada
tanggal 13 Pebruari 2000 dan sejak saat itu Rukidi tidak
pulang;
12. SUMARNO ( saksi yang meringankan)
a) Bahwa saksi sering berteman dengan terdakwa;
b) Bahwa sebelumnya saksi sama sekali tidak tahu kejadian
tersebut, saksi mulai tahu karena diberi tahu oleh ibu
mertua, dia bilang bahwa pak Rukidi dipanggil polisi;
c) Bahwa saksi tahu hal tersebut 2 hari setelah kejadian;
d) Bahwa keluarganya setelah diberitahu lalu bingung dan
ketakutan, kemudian hari berikutnya, kemudian hari
berikutnya Pak Rukidi dibesuk dan bertemu dengan bapak
polisi yang bernama pak Karno, lalu pak Karno memberi
nomor tilpun supaya kalau ada hal-hal yang diketahui tilpun
kerumah, dan kalau perlu datang kerumah pak Karno, lalu
lxi
kontak pukul 06.00 sore (18.00 WIB) keluarganya datang
kerumah;
e) Bahwa setelah itu diberi nomor handphone-nya pak Karno
di kantor Polresta Surakarta, waktu itu juga saksi menemui
pak Karno dan menanyakan dakwaan kepada Pak Rukidi;
f) Bahwa dakwaannya adalah bahwa pak Rukidi menganiaya
orang yang namanya bu Mendes;
g) Bahwa yang saksi lakukan adalah datang kerumah pak
Radiyo untuk minta penjelasan tertulis yang isinya mohon
keringanan hukuman kepada Kapolresta Surakarta;
h) Bahwa saksi datang lagi 2 hari kemudian untuk minta surat
Permyataan maaf secara tertulis, maaf dalam arti untuk
surat dakwaannya;
i) Bahwa hasilnya tidak bisa mengasih surat, dirumah
diterima oleh isterinya, dan isterinya bilang bapaknya tidak
ada dirumah;
j) Bahwa minta surat pernyataan tersebut adalah saran dari
pak Karno;
k) Bahwa pendidikan saksi adalah SD ;
l) Bahwa pekerjaan saksi adalah sopir mobil barang untuk
dalam dan luar kota ;
m) Bahwa saksi datang kerumah pak Radiyo adalah untuk
minta maaf, karena dakwaan polisi sudah masuk mass
media ;
n) Bahwa pada waktu bu Gito meninggal saksi tidak melayat,
karena waktu itu saksi bingung ;
o) Bahwa saksi tidak tahu pesan setelah 100 harinya pak
Marto Suwarno ;
p) Bahwa saksi tidak tahu bu Gito alias Mendes satu rumah
dengan pak Marto Suwarno ;
lxii
q) Bahwa saksi diberi saran oleh pak polisi supaya minta
maaf, karena saksi tidak sempat berembug dengan bu
Rukidi ;
r) Bahwa sebab minta maaf karena salah ;
s) Bahwa saksi tidak rahu sama sekali pak Rukidi menganiaya
bu Mendes, karena saksi hanya mewakili bu Rukidi minta
maaf, tidak bisa datang melayat waktu bu Gito alias
Mendes meninggal ;
t) Bahwa kedatangan saksi kerumah pak Radiyo untuk
memintakan penangguhan penahan pak Rukidi ;
13. CHOLID GALIH DWI PAP (Saksi Yang Meringankan) :
a) Bahwa saksi kenal dengan terdakwa ;
b) Bahwa saksi sering main kerumah, karena disitu ada
mesjidnya ;
c) Bahwa jarak rumah saksi dengan rumah terdakwa hanya
selang satu rumah ;
d) Bahwa saksi datang kerumah pak Rukidi tanggal 9 Januari
2000, bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, dan waktu itu
saudaranya dari Purwodadi yang bernama Saino dan
anaknya bernama Novi datang sebagai tamu pak Rukidi,
saksi bertemu dengan pak Rukidi pukul 4.30 sore, di mesjid
pukul 06.00 sore, setelah dari mesjid kembali ngobrol lagi
sampai pukul 07.00 malam, lalu kembali ke mesjid, setelah
pulang pukul 7.00 makan malam bersama pak Rukidi , dan
setelah makan malam ngobrol lagi sambil nonton TV, pak
Rukidi dengan tamunya membicarakan keberangkatan ke
Madiun ;
e) Bahwa saksi yakin melihat pak Rukidi dirumah, karena
pukul 06.00 – 07.00 malam keluarganya bersama saksi ke
masjid, selain ke masjid tidak pernah keluar, terdakwa
nonton TV bersama tamunya, waktu itu acaranya srimulat ;
lxiii
f) Bahwa ukuran rumah pak Rukidi 4 x 6 meter, tanpa disekat,
bicara di dapur sama didepan dan kalau ada orang lewat
pasti kelihatan ;
g) Bahwa saksi sudah lulusan sarjana farmasi tahun 1996 di
Jakarta ;
h) Bahwa saksi tinggal di Solo ikut famili di Bonorejo
namanya Haryanto ;
i) Bahwa saksi bermain kerumah pak Rukidi untuk ngobrol,
mondar – mandir ke dapur ambil minum sendiri ;
j) Bahwa saksi tidak tahu kejadiannya, tahu-tahu setelah
mebaca surat kabar ;
k) Bahwa pintu depan rumah pak Rukidi hanya 1 pintu ;
l) Bahwa orang tua saksi tinggal di Jakarta ;
m) Bahwa saksi pada waktu itu tidak pulang ke Jakarta ;
n) Bahwa pada lebaran pertama saksi pergi ke Boyolali,
pulang jam 06.00 sore langsung ke rumah pak Rukidi ;
o) Bahwa saksi tinggal di solo dan kenal dengan pak Rukidi
sudah 5 tahun ;
p) Bahwa pekerjaan pak Rukidi adalah sebagai penjaga SD
Bonorejo ;
q) Bahwa sehari-hari pak Rukidi kalau bepergian naik sepeda
angin, karena tidak dapat naik sepeda motor ;
r) Bahwa setelah mendengar berita kejadian tersebut saksi
sangat prihatin ;
s) Bahwa saksi tahu kejadian di Ngemplak Surakarta ;
t) Bahwa jarak rumah pak Rukidi dengan rumah korban 2
(dua) km ;
u) Bahwa saksi berada dirumah pak Rukidi dari jam 5.30 sore
sampai jam 11.30 malam ;
v) Bahwa dirumah pak Rukidi menonton TV dan ngobrol
dengan pak Rukidi ;
lxiv
w) Bahwa saksi selama disitu, pernah meninggalkan tempat,
tetapi tidak lebih dari 5 (lima) menit, paling kebelakang,
kemudian
setelah
sholat
Ishak
saksi
tidak
pernah
meninggalkan sampai jam 11.00 malam ;
x) Bahwa kegiatan saksi selama di rumah pak Rukidi ngobrol,
gojek dengan pak Rukidi dan temannya ;
y) Bahwa setelah pukul 11.30 saksi pamitan pulang tidak dari
masjid sampai subuh ;
z) Bahwa yang bepergian ke Madiun adalah pak Rukidi, pak
Saino, Novi dan adiknya pak Rukidi ;
aa) Bahwa sikap pak Rukidi akan berangkat ke Madiun biasabiasa saja ;
14. NOVA EKO MURTIONO (Saksi Yang Meringankan) :
a) Bahwa saksi kenal akrab dengan terdakwa ;
b) Bahwa saksi waktu masih di SMA sering main ke rumah
pak Rukidi, tetapi akhir-akhir ini jarang pulang karena
kuliah di Yogyakarta ;
c) Bahwa saksi bermain dirumah pak Rukidi pada hari
Minggu tanggal 9 Januari 2000, karena bertepatan dengan
Hari Raya Lebaran, disitu ngobrol dengan anaknya pak
Rukidi yang bernama Hananto ;
d) Bahwa saksi pulang pukul 11.30 malam sendirian ;
e) Bahwa waktu datang kerumah saksi bertemu dengan pak
Rukidi, ibu Rukidi dan Hananto, lalu bersalaman dan pada
waktu itu datang temannya bernama Cholid dan tamunya
pak Rukidi yang bernama Saino dan anaknya Novi ;
f) Bahwa selama disitu saksi pernah keluar, beli baju kepasar
Nusukan lalu pulang lagi ngobrol-ngobrol lagi membawa
pakaian, hanya sebentar lalu pukul 7.00 malam makan
malam dan pak Rukidi ada, saksi tidak makan tapi ada
lxv
disitu menemani, setelah itu saksi gojek di depan rumah
sampai pukul 11.30 malam ngobrol dengan Hananto ;
g) Bahwa sewaktu saksi akan pulang pamit sengan pak dan
ibu Rukidi ;
h) Bahwa setelah pulang saksi tidak tahu kegiatannya pak
Rukidi ;
i) Bahwa saksi selama disitu tidak pernah melihat pak Rukidi
keluar, karena saksi di depan, bila ada orang keluar atau
masuk saksi pasti tahu, kalau pintu belakang tidak tahu
tetapi akhirnya kedepan karena kondisinya pasti lewat pintu
depan ;
j) Bahwa jarak rumah saksi dengan rumah pak Rukidi 50
meter ;
k) Bahwa di depan rumah ada atapnya, dan tempat duduk
besar ukuran 2 x 11/2 meter ;
l) Bahwa luas ruang tamu 2 x 3 meter ;
m) Bahwa rumahnya tidak ada sekatnya, makan dan ruang
tamu menjadi satu ;
n) Bahwa luas dapur 2 x 5 meter karena ada tambahan ;
o) Bahwa besar rumah pak rukidi 6 x 8 meter ;
p) Bahwa saksi ngobrol dirumah pak Rukidi mulai pukul 6.00
sore s/d 11.30 malam bersama hananto ;
q) Bahwa saksi tidak tahu kegiatan sehari-hari pak Rukidi ;
r) Bahwa pak Rukidi mempunyai 2 kendaraan, yaitu satu
sepeda motor dan 1 sepeda onthel ;
s) Bahwa saksi tidak tahu pak Rukidi keluar, yang saksi tahu
pak Rukidi dirumah bersama tamunya ;
t) Bahwa saksi melihat bahwa pak Rukidi sedang tiduran
bersama tamunya, waktu ngobrol sambil tiduran nonton TV
u) Bahwa rumah pak Rukidi dipagar keliling dan pintu
gerbangnya 1 (satu) dan pintu belakang tidak ada ;
lxvi
v) Bahwa pagarnya terbuat dari kawat berduri dan pepohonan
;
15. TUMIJO (saksi yang memeriksa di Kepolisian) ;
a) Bahwa saksi kenal terdakwa setelah memeriksa tersangka
Rukidi ;
b) Bahwa saksi memeriksa terdakwa 2 (dua) kali ;
c) Bahwa pemeriksaan dilakukan di Polresta Surakarta ;
d) Bahwa cara memeriksanya setelah sebelum diproses verbal,
ditulis dengan tangan setelah itu diketik ;
e) Bahwa satu pertanyaan dijawab oleh tersangka dan diketik
dalam berita acara ;
f) Bahwa keterangan/pertanyaan yang diberikan tersangka
yang menyangkut perbuatannya ;
g) Bahwa saksi tidak menganiaya tersangka ;
h) Bahwa setelah selesai dibait berita acara lalu tersangka
disuruh membaca dulu, setelah itu ditanda tangani ;
i) Bahwa benar barang buktinya adalah dilihatkan di
persidangan ;
j) Bahwa pada waktu tersangka diperiksa di kepolisian
didampingi oleh Penasehat Hukum Siswoyo, SH dari
Boyolali ;
k) Bahwa rekontraksi tempatnya tidak di TKP karena untuk
menjaga hal-hal yang tidak diinginkan ;
l) Bahwa alu, lodong milik korban dan kaos milik tersangka
yang terdapat ditempat kejadian peristiwa ;
m) Bahwa kaos tersebut belum dicuci, itu milik tersangka
tinggal di TKP ;
n) Bahwa milik tersangka, karena menurut pemeriksaan
tersangka mengakui sendiri waktu pemeriksaan ;
lxvii
o) Bahwa waktu diperiksa polisi, tersangka tidak bermaksud
membunuh, setelah dipukul alu lalu dipukul linggis, lalu
mengambil arit ;
p) Bahwa saksi dalam menyusun berita acara pemeriksaan
tidak mengarang ;
q) Bahwa pemeriksaan saksi adalah Eko Budiono ;
r) Bahwa pemeriksaan pendahuluan yang diperiksa adalah
saksi-saksi dulu ;
s) Bahwa sebelum menjadi tersangka, terdakwa diperiksa
sebagai saksi lalu dikembangkan unit Operasional diserahi,
baru memeriksa tersangka ;
t) Bahwa bukti-bukti telah diperlihatkan pada waktu diperiksa
dan tersangka mengakui ;
u) Bahwa keterangan saksi-saksi adalah dari Ny. Wagiyo ;
v) Bahwa masalahnya hutang dengan pak Marto Suwarno
sudah dibayar lunas ;
w) Bahwa tersangka tidak pernah menolak, tidak ada keberatan
saat tersangka diperiksa ;
x) Bahwa pada waktu pemeriksaan tersangka sehat jasmani
dan rohani ;
y) Bahwa pemeriksaan pertama, tersangka tidak didampingi
oleh Penasehat Hukum baru pemeriksaan kedua tersangka
didampingi Penasehat Hukum ;
z) Bahwa dari keluarga bu Gito belum pernah melihat kaos
dan belum tahu dipakai oleh terdakwa ;
16. SISWOYO, SH :
a) Bahwa saksi adalah Ketua Pusat Pengkajian Pemberdayaan
Pengawasan Pengaduan Masyarakat dan Bantuan Hukum di
Boyolali ;
b) Bahwa di kantor saksi tidak pernah menerima surat dari
Polresta Surakarta untuk mendampingi tersangka Rukidi ;
lxviii
c) Bahwa saksi belum pernah dengar Rukidi ;
d) Bahwa direkturnya dikantor adalah saksi sendiri ;
e) Bahwa saksi belum pernah melihat surat dari Polresta
Surakarta untuk Bantuan Hukum mendampingi tersangka
Rukidi ;
f) Bahwa saksi tidak pernah mendampingi tersangka Rukidi
di Polresta Surakarta tertanggal 21 Pebruari 2000 ;
g) Bahwa
saksi
belum
pernah
melihat
tersangka,
mendampinginya, saksi melihat baru sekarang tanggal 17
Juli 2000 ;
17. TUR NURNININGSIH, SH :
a) Bahwa saksi tidak pernah mendampingi terdakwa dalam
pemeriksaan pendahuluan di Kepolisian ;
b) Bahwa petugas yang menangani surat-surat adalah saksi
sendiri ;
c) Bahwa saksi belum pernah menerima/mengolah surat dari
Kepala Reserse Polresta Surakarta ;
Menimbang, bahwa atas keterangan saksi-saksi dipersidangan,
terdakwa menyatakan tidak keberatan ;
Menimbang, bahwa selanjutnya terdakwa memberikan keterangan
yang pada pokoknya adalah sebagai berikut :
a) Bahwa dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang dibacakan
didepan persidangan adalah tidak benar/salah ;
b) Bahwa terdakwa memberikan keterangan di kepolisian
karena terpaksa ;
c) Bahwa terdakwa tidak kenal dengan tukang ojek ;
d) Bahwa terdakwa belum kenal dengan bu Arsad ;
e) Bahwa terdakwa disuruh oleh polisi untuk mengakui kotak
sebagai barang bukti;
f) Bahwa polisi tidak tahu siapa yang menganiaya korban,
tetapi terdakwa ditahan ;
lxix
g) Bahwa pada tanggal 16 Februari 2000 terdakwa diajak ke
tempat kejadian untuk rekonstruksi, tetapi terdakwa tidak
mau karena terdakwa tidak berbuat apa-apa ;
h) Bahwa keterangan singkatnya terdakwa tidak melakukan
penganiayaan dan tidak memukul bu Mendes ;
i) Bahwa benar pada tanggal 17 April 2000 terdakwa di
periksa dikejaksaan dengan ketawa-ketawa tanpa ada
paksaan,
tetapi
sekarang
dalam
persidangan
tidak
mengakuinya, karena terdakwa pada waktu itu berada
dalam keadaan takut sama Jaksa dan kilaf ;
j) Bahwa terdakwa setelah itu selama 2 (dua) hari 2 (dua)
malam tidak bisa tidur ;
k) Bahwa pembuatan Berita Acara Pemeriksaan setelah selesai
tidak diulangi lagi ;
l) Bahwa selama diperiksa di Kepolisian terdakwa tidak
didampingi oleh Penasehat Hukum ;
m) Bahwa benar terdakwa bertemu dengan Penuntut Umum di
Kantor Kejaksaan Negeri Surakarta dan diterima dengan
baik ;
n) Bahwa benar terdakwa ditanya oleh Penuntut Umum dan
dijawab oleh terdakwa dengan tertawa-tertawa, tetapi
sebenarnya terdakwa merasa ketakutan, sehingga kilap
dalam memberikan jawaban ;
o) Bahwa benar berita acara pendahuluan yang memuat
pertanyaan
dan
jawaban
diketik,
sekali
ketik
dan
langsung.terdakwa tanpa tanda tangani
Bahwa
dalam
menandatangani
berita
acara
pemeriksaan
pendahuluan tersebut terdakwa dipaksa oleh polisi, dan karena
takut terdakwa terpaksa harus menandatangani berita acara
tersebut.
lxx
d)
Pertimbangan-Pertimbangan
Hakim
Dalam
Pembuktian
Kasus Tersebut
Menimbang,
bahwa
dari
keterangan
saksi-saksi,
kerangan
terdakwa,Visum et Repertum serta barang bukti, apabila satu dengan
lainnya
dihubungkan
serta dilihat persesuaiannya, maka dapat
disimpulkan tentang adanya fakta-fakta sebagai berikut :
1. bahwa benar pada hari minggu tanggal 9 januari 2000 sekitar
pukul 20.00 WIB terdengar suara mengaduh yang berasal dari
rumah korban Ibu Gito alias Mendes di Kawasan Ngemplak
Rejosari Rt.02 Rw..XV, Kelurahan Gilingan, Banjasari, Kodya
Surakarta ;
2. bahwa benar pada hari Senin tanggal 10 Januari 2000 sekitar
06.00 WIB, korban Ibu Gito alias Mendes diketemukan telah
meninggal dunia didalam rumahnya ;
3. bahwa benar korban mengalami luka-luka dibeberapa bagian
serta banyak mengeluarkan darah dan matinya korban
disebabkan oleh kekerasan benda tumpul yang mengakibatkan
mengalami kerusakan jaringan otak ;
4. bahwa benar korban Ibu Gito alias Mendes telah dimakamkan
di
Pemakaman
Umum
daerah
Makamhaji,
Kartosuro,
Sukoharjo pada hari Senin, tanggal 10 Januari 2000 sekitar
pukul 24.00 WIB ;
5. bahwa benar kurang lebih 1 bulan sebelumnya korban
meningal dunia, terdakwa dipanggil supaya datang kerumah
korban melalui pesan yang disampaikan oleh Ny. R. WGIYO ;
6. bahwa benar terdakwa adalah anak angkat Marto Suwarno
almarhum, yang terakhir hidup bersama dengan Ibu Gito alias
Mendes ;
7. bahwa terdakwa sering datang kerumah korban Ibu Gito alias
Mendes, ketika pak Marto Suwarno masih hidup ;
lxxi
8. bahwa korban Ibu Gito alias Mendes tinggal dirumahnya
sendiri dan pekerjaan jualan bumbon ;
9. bahwa dibelakang rumah korban yang berupa kebon kosong
bila malam hari sering ditempati untuk mangkal anak-anak
muda untuk mabuk-mabukan ;
10. bahwa para saksi tidak ada yang melihat maupun tahu siapa
yang melakukan pembunuhan atas diri korban ;
11. bahwa barang bukti yang diajukan dipersidangan adalah milik
korban kecuali sabit ;
12. bahwa benar isteri terdakwa, yaitu saksi Muwarni, dua kali
mendatangi rumah saksi Partiyem dan Sri Rahayu anak korban
dengan keperluan meminta maaf dan meminta untuk menanda
tangani sebuah surat dan perginya saksi Muwarni tersebut
tanpa pengetahuan terdakwa Rukidi ;
Menimbang, bahwa apakah dari fakta-fakta yang terungkap
dipersidangan kesalahan terdakwa sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut
Umum terbukti, perlu dipertimbangkan lebih lanjut ;
Menimbang, bahwa terdakwa diajukan kedepan persidangan oleh Jaksa
Penuntut Umum dengan dakwaan :
1. Primair
:
2. Subsidair :
Melanggar pasal 338 KUHP ;
Melanggar pasal 351 ayat (3) KUHP ;
Menimbang, bahwa oleh karena surat dakwaan Jaksa Penuntut
Umum disusun secara subsidairitas, maka haruslah dipertimbangkan
tentang dakwaan primair terlebih dahulu ;
Menimbang, bahwa dalam dakwaan primair terdakwa didakwa
melanggar pasal 338 KUHP dimana Pasal tersebut memuat unsur-unsur
sebagai berikut :
1. Dengan sengaja ;
2. Menghilangkan nyawa orang lain ;
Menimbang, bahwa terhadap unsur-unsur pasal tersebut, majelis
hakim mempertimbangkan terlebih dahulu unsur “menghilangkan nyawa
lxxii
orang lain“,
dan untuk membuktikan unsur tersebut, maka perlu
dipertimbangan hal-hal
sebagai berikut :
Apakah korban telah meninggal dunia ;
Menimbang, bahwa dari fakta yang terungkap dipersidangan
sebagaimana keterangan saksi-saksi, ternyata bahwa korban Ibu Gito
alias Mendes telah dimakamkan pada hari Senin tanggal 10 Januari 2000
sekitar jam 24.00 WIB di daerah Makamhaji, Kecamatan Kartosuro,
Kabupaten Sukoharjo ;
Menimbang bahwa selanjutnya “Apa yang menjadi penyebab
meninggalnya korban ?” ;
Menimbang, bahwa sebagaimana dalam Visum et Repertum
No.074/II/MF/2000 tertanggal 10 Januari 2000, yang dalam
kesimpulannya menyatakan bahwa korban atas nama Ibu Gito alias
Mendes meninggal karena
kerusakan jaringan otak yang disebabkan
Counter Cop akibat kekerasan benda tumpul ;
Menimbang, bahwa sebagaimana keterangan saksi Partiyem, Sri
Rahayu, Rajiyo, Ny. Arsyad dan lain-lain, menyatakan bahwa korban pada
hari Minggu tanggal 9 Januari 2000 masih dalam keadaan sehat wal’afiat,
dan
baru pada pagi harinya tanggal 10 Januari 2000 korban
diketemukan tergeletak didalam rumah dengan berlumuran darah dan
mengalami luka-luka serta tidak
bernyawa lagi ;
Menimbang, bahwa dengan demikian jelas, bahwa kematian
korban Ibu
Gito alias Mendes disebabkan bukan karena sakit, akan
tetapi karena luka-luka sedemikian rupa, sehingga mengalami kerusakan
jaringan otak akibat kekerasan benda tumpul ;
Menimbang, bahwa selanjutnya
siapakah
yang melakukan
pembunuhan atas diri korban ?
Menimbang, bahwa dari fakta-fakta yang terungkap dipersidangan,
para
saksi seluruhnya menyatakan tidak melihat siapa yang melakukan,
bahkan para
saksi tidak tahu siapa orang yang datang kerumah korban
sebelum korban ditemukan terbujur pada pagi harinya ;
lxxiii
Menimbang, bahwa dari keterangan saksi Ny. Arsyad dan Mariaty
Giyono, yang mendengar teriakan aduh aduh yang berasal dari
rumah korban pada malam hari sekitar pukul 20.00 WIB hari Minggu
tanggal 9 Januari 2000, akan tetapi sebelumnya tidak melihat siapa yang
datang kerumah korban ;
Menimbang,
bahwa
keterangan
terdakwa
dipersidangan
menyangkal bahwa dirinya yang melakukan penganiayaan atau
pembunuhan atas diri korban ;
Menimbang, bahwa sebagaimana pasal 189 (1) KUHAP, dimana
keterangan terdakwa yang dapat dipakai sebagai bukti adalah
keterangan yang diberikan dipersidangan
Menimbang, bahwa keterangan terdakwa sebagaimana yang
termuat dalam Berita Acara Pendahuluan yang dibuat didepan Penyidik
tertanggal 18 Pebruari 2000 dan tanggal 21 Pebruari 2000 dan dikatakan
oleh verbalisan dipersidangan, bahwa keterangan tersebut diberikan oleh
tersangka tanpa ada
paksaan,
akan
mencabut semua keterangan yang
tetapi
dipersidangan
terdakwa
diberikan didepan penyidik dengan
alasan karena dipenyidik terdakwa merasa
tertekan
dan
dianiaya
sebelumnya, sehingga mengalami pingsan 2 kali ;
Menimbang, bahwa dalam rangka mendapatkan petunjuk, apakah
keterangan terdakwa yang diberikan didepan penyidik sebagaimana
termuat dalam BAP adalah benar uraian keterangan terdakwa sendiri,
Majelis memerintahkan supaya didengarkan para Penasihat Hukum yang
mendampingi terdakwa ketika diperiksa didepan penyidik, sebagaimana
termuat dalam pertanyaan dan jawaban pada butir ke 27 BAP tertanggal 18
pebruari 2000 ;
Menimbang, bahwa setelah didengar keterangan saksi SISWONO,
SH dan TUR MUNINGSIH, SH dipersidangan, ternyata kedua orang saksi
tersebut menyatakan tidak pernah mendampingi terdakwa ketika diperiksa
didepan penyidik pada Kepolisian Resort Kota Surakarta dan baru melihat
terdakwa dipersidangan ini dan isi pertanyaan dan jawaban No.27 BAP
lxxiv
tersebut adalah tidak benar ; Dengan demikian, maka keterangan terdakwa
yang diberikan di depan penyidikan meragukan untuk dapat dijadikannya
sebagai petunjuk, disamping tidak adanya persesuaian dengan keterangan
para saksi yang mengetahui bahwa
terdakwalah
sebagai
pelaku
pembunuhan ;
Menimbang, bahwa barang-barang bukti yang diajukan di
persidangan yang juga disangkal sebagai alat yang digunakan terdakwa
untuk melakukan penganiayaan atau pembunuhan, adalah tidak dapat
dipakai sebagai petunjuk untuk menambah keyakinan hakim, hal ini mana
mungkin akan sangat berbeda, apabila terhadap barang-barang bukti
tersebut dilakukan test uji sidik jari sebelum disentuh orang lain dan
setelah digunakan terdakwa, maupun dilakukan
uji darah antara darah
korban dengan darah yang menempel di baju kaos milik tersangka, namun
hal tersebut ternyata tidak dilakukan oleh penyidik ;
Menimbang, bahwa keterangan saksi Partiyem dan Ny. Sri Rahayu
yang menerangkan bahwa isteri terdakwa yaitu saksi Muwarni pernah
berkunjung kerumah saksi sebanyak 2 (dua) kali untuk meminta maaf atas
musibah yang dialami korban yang sebagai orang tua saksi Partiyem dan
mertua saksi Sri Rahayu, hal tersebut juga belum menunjukan apakah
terdakwa merupakan atau sebagai pelaku pembunuhan atas diri korban ;
Menimbang, bahwa dari uraian tersebut, maka Majelis berpendapat
bahwa tidaklah terdapat cukup bukti yang meyakinkan bahwa terdakwalah
sebagai pelaku pemunuhan atas diri korban, oleh karenanya maka unsur
menghilangkan nyawa orang antara lain sebagai salah satu unsur dalam
dakwaan primair tidak terbukti, terdakwa harus dibebas dari dakwaan
primair tersebut ;
Menimbang, bahwa atas unsur-unsur tersebut, maka Majelis akan
mempertimbangkan atas dakwaan subsidair Jaksa Penuntut Umum,
dimana terdakwa didakwa melanggar pasal 351 ayat 3 KUHP yang
memuat unsur-unsur :
lxxv
1. Dengan sengaja ;
2. Menganiaya ;
3. Mengakibatkan matinya orang lain ;
4. Menimbang, bahwa atas unsur-unsur tersebut diatas maka
Majelis akan mempertimbangkan terlebih dahulu atas unsur
menganiaya orang lain yang menjadi unsur utama dalam pasal
351 ayat (3) KUHP ;
Menimbang, bahwa sebagaimana fakta-fakta yang terungkap
dipersidangan telah ternyata bahwa korban Ibu Gito alias Mondes
telah
mengalami luka-luka sedemikian rupa sebagaimana keterangan
para saksi dan uraian hasil Vissum et Repertum No. 07 A/II/MF/2000
tertanggal 10 januari 2000 yang intinnya korban mengalami banyak lukaluka di beberapa bagian, dengan demikian terbukti bahwa korban Bu Gito
alias Mendes telah mengalami penganiayaan ;
Menimbang, bahwa selnjutnya perlu dipertimbangkan tentang
siapa yang melakukan penganiayaan tersebut?
Menimbang, bahwa sari fakta-fakta yang terungkap dipersidangan
ternyata, bahwa tidak ada seorang saksipun yang melihat siapa yang
melakukan penganiayaan atas diri korban ;
Menimbang, bahwa dipersidangan terdakwa telah menyangkal
bahwa dirinya melakukan penganiayaan atas diri korban, sedangkan
keterangan di depan penyidik adalah tidak benar, sedangkan keterangan
terdakwa yang dapat dipakai sebagai salah satu alat bukti adalah yang
diberikan di depan persidangan ;
Menimbang, bahwa keterangan terdakwa di-luar persidangan
termasuk yang diberikan di depan penyidik yang termuat dalam
BAP baru dapat dipakai sebagai petunjuk, apabila ada persesuaian dengan
keterangan para saksi, sedangkan dalam perkara ini
saksipun
yang
menerangkan
perihal
terdakwa
tidak seorang
sebagai
pelaku
penganiayaan, sehingga dari hasil pemeriksaan perkara ini tidak
diketemukannya secara kuat adanya bukti petunjuk ;
lxxvi
Menimbang, bahwa oleh karena tidak terdapatnya cukup 2 (dua)
alat bukti yang menyatakan bahwa terdakwa sebagai pelaku penganiayaan
atas diri korban, maka Majelis berpendapat bahwa unsur telah menganiaya
orang lain dalam pasal dimaksud adalah tidak terpenuhi ;
Menimbang, bahwa oleh karena salah satu unsur dalam pasal 351
ayat (3) tidak terpenuhi, maka terdakwa haruslah dibebaskan dari dakwaan
subsidair tersebut ;
Menimbang, bahwa oleh karena terdakwa tidak terbukti
bersalah sebagaimana dalam semua dakwaan Jaksa Penuntut Umum, maka
terdakwa harus dibebaskan dari semua dakwaan dan harus pula
dikembalikan harkat dan martabat serta kedudukannya ;
Menimbang, bahwa oleh karena terdakwa dibebaskan maka
terdakwa haruslah diperintahkan untuk dikeluarkan dari tahanan ;
Menimbang, bahwa oleh karena terdakwa dibebaskan, maka biaya
dalam perkara ini dibebankan kepada negara ;
Menimbang, bahwa terhadap barang bukti yang berupa alu, sebuah
arit lengkap dengan gagangnya, sebuah kaos biru, 1 (satu) buah peti kotak
berisi kertas-kertas dan satu buah pecahan toples oleh karena disita dari
saksi Ny. Arsad, maka haruslah dikembalikan kepada saksi Ny. Arsad ;
Mengingat pasal 197 KUHAP, serta pasal-pasal lain dari ketentuan
perundang-undangan yang bersangkutan ;
MENGADILI :
1. Menyatakan terdakwa RUKIDI tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindakan pidana sebagaimana
dalam dakwaan primair maupun dakwaan subsidair ;
2. Membebaskan terdakwa tersebut dari semua dakwaan Jaksa
Penuntut Umum ;
3. Memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan kedudukan dan
harkat serta martabatnya ;
lxxvii
4. Memerintahkan supaya terdakwa dikeluarkan dari dalam
tahanan ;
5. Memerintahkan supaya barang bukti yang berupa 1(satu) kaos
biru, 1(satu) batang kayu (alu) sepanjang _+60 cm, 1(satu )
bilah sabit lengkap dengan gagangnya yang sudah lepas,
1(satu) peti kotak berisi kertas, 1(satu) buah pecahan toples
dikembalikan kepada saksi Ny. Arsad ;
6. Membebankan biaya perkara ini kepada negara
Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Surakarta tersebut maka
Jaksa Penuntut Umum langsung minta Kasasi. Berdasarkan pemeriksaan
kasasi terdapat pertimbangan- pertimbangan Pengadilan Negeri telah tidak
salah menerapkan hukum dan juga ternyata pemohon kasasi tidak dapat
membuktikan bahwa putusan tersebut adalah merupakan pembebasan yang
tidak murni, karena pemohon kasasi tidak dapat mengajukan alasan-alasan
yang dapat dijadikan dasar pertimbangan mengenai dimana letak sifat
tidak murni dari putusan bebas tersebut dan hanya mengajukan alasan
semata-mata tentang penilaian hasil pembuktian yang sebenarnya bukan
merupakan alasan untuk memohon kasasi terhadap putusan bebas ;
Menimbang, bahwa di samping itu Mahkamah Agung berdasarkan
wewenang pengawasannya juga tidak melihat bahwa putusan tersebut
dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri dengan telah melampaui batas
wewenangnya, oleh karena itu permohonan kasasi Jaksa/pemohon kasasi
berdasarkan pasal 244 Undang-undang No. 8 tahun 1981 (KUHP) harus
dinyatakan tidak dapat diterima ;
Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Penuntut
Umum dinyatakan tidak diterima dan terdakwa dibebaskan, maka biaya
perkara dibebankan kepada Negara ;
Memperhatikan selain Undang-undang yang tersebut di atas, juga Undangundang No.14 tahun 1970, dan Undang-undang No. 14 tahun 1985 serta
Undang-undang lain yang bersangkutan ;
lxxviii
MENGADILI :
Menyatakan
permohonan
kasasi
dari
pemohon
kasasi
:
PENUNTUT UMUM PADA KEJAKSAAN NEGERI DI SURAKARTA
tersebut tidak diterima Membebankan biaya perkara dalam semua tingkat
peradilan ini kepada Negara ;
Pembahasan
1. Pelaksanaan pemberian rehabilitasi terhadap terdakwa RUKIDI yang
diputus bebas oleh pengadilan
Pemberiaan rehabilitasi yang diberikan terhadap Rukidi dilakukan
berdasarkan Pasal 97 ayat (2) dengan mencantumkan sekaligus dalam
putusan pengadilan. Pencantuman itu sekaligus dipertegas dalam Pasal 14
ayat (1) PP No. 27 Tahun 1983. Perumusan redaksi ini dalam peraturan,
memperlancar pelayanan pemberian rehabilitasi. Sebab dengan ditentukan
rumusan standar dalam pemberian rehabilitasi, baik pemohon maupun
pengadilan
tidak memperdebatkan rumusan redaksi. Pengadilan dan
pemohon terikat, dan harus tunduk menerima rumusan yang ditentukan
dalam Pasal 14 PP No. 27 Tahun 1983. Jika terjadi kelalaian dalam amar
putusan kasus yang telah diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan
hukum, maka putusan diancam batal demi hukum.
Seperti yang sudah pernah dikemukakan, tujuan utama pemberian
rehabilitasi sebagai upaya hukum yang sah untuk memulihkan nama baik
serta harkat dan martabat seseorang yang bersangkutan yang diperiksa di
sidang pengadilan. Arang yang sempat tercoreng di dahinya akibat
tindakan
penangkapan,
penahanan
atau
pemeriksaan
pengadilan
dibersihkan dengan jalan pengadilan. Pemberian rehabilitasi didasarkan
atas putusan pengadilan atau prapengadilan, yang rumusan redaksinya
telah ditentukan dalam Pasal 14 PP No. 27 Tahun 1983. Pasal ini memuat
dua jenis redaksi, semata-mata didasarkan atas alasan perbedaan status
lxxix
pemohon serta instansi yang memeriksa permintaan rehabilitasi yang
diajukan :
a) Yang memeriksa Pengadilan
Apabila yang berwenang memberikan adalah pengadilan atas
alasan pembebasan atau pelepasan dari segala tuntutan hukum
sesuai yang diatur dalam Pasal 97 ayat (1) KUHAP, amar putusan
pemberian rehabilitasi berbunyi : “Memulihkan hak terdakwa
dalam kemampuan, kedudukan, dan harkat martabatnya”.
b) Yang memeriksa Praperadilan
Apabila
permintaan
rehabilitasi
didasarkan
atas
alasan
penangkapan atau penahanan yang tidak sah, yang berwenang
memeriksa permintaan rehabilitasi adalah Praperadilan, berdasar
Pasal 97 ayat (3). Bunyi amar putusan Praperadilan dalam
pemberian rehabilitasi : “Memulihkan hak pemohon dalam
kemampuan, kedudukan dan harkat martabatnya”.
Penyampaian petikan dan salinan pemberian putusan rehabilitasi
diatur dalam Pasal 13 PP No. 27 Tahun 1983. Pasal ini mengatur
kewajiban panitera Pengadilan negeri untuk menyampaikan petikan dan
salinan putusan rehabilitasi kepada pemohon dan pihak instansi tertentu.
Tujuanya, agar pemberian rehabilitasi tersebut diketahui pihak yang
berkepentingan,
instansipenegak
hukum
yang
bersangkutan
serta
masyarakat lingkungan dimana pemohon rehabilitasi bertempat tinggal
dan bekerja.
Adapun pihak dan instansi yang berhak mendapat petikan dan salinan
putusan rehabilitasi:
a) Petikan penetapan disampaikan kepada pihak pemohon
Hal ini diatur dalam pasal 13 ayat (1) PP No.27 Tahun 1983.
Kepada pemohon cukup disampaikan petikan penetapan, namun
tidak mengurangi haknya untuk mendapatkan salinan penwtapan jika
ia menghendakinya. Untuk itu pemohon dapat meminta salinan
lxxx
penetapan kepada panitera pengadilan. Hak pemohon untuk
mendapatkan salinan petikan rehabilitasi bertitik tolak dari ketentuan
Pasal 226 ayat (3) KUHAP.
b) Salinan penetapan disampaikan kepada beberapa instansi
Mengenai pemberian salinan penetapan rehabilitasi diatur dalam
Pasal 13 ayat (2) dan ayat (3) PP No.27 Tahun 1983. Berdasarkan
ketentuan ini, pemberian atau pengiriman salinan penetapan
rehabilitasi :
1. Diberikan kepada penyidik
2. Diberikan kepada penuntut umum
3. Instansi tempat pemohon bekerja
4. Kepada Ketua Rukun Warga (RW) dimana pemohon tinggal
Apa yang digariskan dalam Pasal 13 PP No. 27 Tahun 1983, tidak
menentukan berapa lama jangka waktu penyampaian atau pengiriman
petikan dan salinan itu kepada pihak yang berkepentingan. Walaupun
demikian, pemberian atau pengiriman petikan dan salinan sepatutnya
segera dilaksanakan panitera, terutama kepada instansi tempat pemohon
bekerja serta kepada Ketua Rukun Warga, guna secepat mungkin
pemulihan nama baik, kedudukan, harkat, dan martabat dilingkungan
masyarakat tempat dimana ia hidup dan bekerja.
Untuk memenuhi maksud yang terkandung dalam pemberian
rehabilitasi, tidak cukup hanya dengan pemberian petikan atau salinan
penetapan saja. Agar pemulihan dan pembersihan kembali nama baik
tersangka atau terdakwa, pemberian rehabilitasi yang dituangkan dalam
putusan Pengadilan atau Praperadilan, perlu disebarluaskan supaya
masyarakat dapat mengetahui. Apalagi bila mau berguru kepada kenyataan
dan pengalaman hidup, sungguh sangat penting penyebarluasan pemberian
rehabilitasi. Kenyataan dan pengalaman hidup telah memberi pelajaran
kepada kita, betapa mudah memburukkan dan meruntuhkan nama baik
lxxxi
seseorang, yang jelek sangat mudah tersebar luas dalam waktu sekejap.
Akan tetapi alangkah sulitnya memulihkan nama baik, diperlukan jangka
waktu relatif lama. Bertitik tolak dari kenyataan hidup yang pahit itu
diperlukan cara pendekatan yang benar-benar berdaya guna dan berhasil
guna, yang benar-benar seimbang demgan tujuan pemulihan itu sendiri.
Kalau pada saat dilakukan penangkapan atau penahanan maupun pada saat
perkaranya di sidangkan di pengadilan diberitakan di beberapa surat kabar,
upaya yang seimbang untuk memulihkan nama baik tersangka atau
terdakwa, harus disebarkan dan diberitakan dalam surat kabar. Cara yang
demikian seimbang dengan tujuan pemberian rehabilitasi tersebut.
Berdasarkan Pasal 15 PP No. 27 Tahun 1983, pengumuman putusan
rehabilitasi cukup ‘ditempelkan’ pada papan pengumuman pengadilan.
Pemulihan nama baik apa yang dapat diharapkan dari papan pengumuman
tersebut? Papan pengumuman itu diam dan mati, tidak bisa bicara apa-apa.
Paling-paling hanya satu dua orang yang kebetulan membacanya.
Masyarakat luas tidak tertarik datang ke pengadilan untuk melihat dan
membaca pengumuman yang tertempel dalam papan pengumuman
Bukanlah sepantasnya pemberian rehabilitasi diumumkan dalam surat
kabar. Minimal diumumkan dalam satu surat kabar yang terbit di daerah
hukum pengadilan yang bersangkutan. Mungkin alasan pemerintah
membuat
aturan
yang seperti
itu, sehubungan dengan masalah
pembiayaan, jika pengumuman dilakukan di surat kabar. Memang
pengumuman melalui surat kabar menelan biaya yang relatif mahal. Akan
tetapi jika kita bandingkan ketentuan Pasal 15 tersebut dengan ketentuan
Pasal 243 ayat (5) KUHAP, benar-benar ketentuan Pasal 15 kurang adil
serta meremehkan nasib tersangka atau terdakwa yang telah sempat
tercemar nama baiknya. Jika seandainya ketentuan Pasal 15 sengaja
ditetapkan
demikian
atas
alasan
penghematan
biaya,
kenapa
pemberitahuan putusan banding atau kasasi terhadap terdakwa yang tidak
lxxxii
diketahui tempat tinggalnya, dipanggil atau diberitahukan dua kali
berturut-turut melalui dua buah surat kabar. Terhadap Pasal 243 ayat (5)
KUHAP tidak mempersoalkan masalah biaya, dan mengenai pengumuman
rehabilitasi hanya ditempelkan di atas papan pengumuman Pengadilan
Negeri.
Terlepas dari kepincangan tersebut, ketentuan Pasal 15 tidak menutup
kemungkinan untuk mengumumkan pemberian rehabilitasi dalam surat
kabar. Akan tetapi biaya ditanggung sendiri oleh yang berkepentingan,
tidak dibebankan kepada Negara. Jadi dapat saja diumumkan dalam
beberapa surat kabar, asalkan biayanya ditanggung sendiri oleh orang yang
bersangkutan. Memang berbau diskriminasi. Orang yang mempunyai
kemampuan keuangan, tidak merasa berat memikul biaya pengumuman di
surat kabar, tetapi bagi yang tidak mampu, tidak sanggup mengeluarkan
biaya untuk itu.
B. Apabila
rehabilitasi tidak dicantumkan dalam Amar Putusan oleh
Pengadilan
5. Kelalaian hakim dalam mencantumkan rehabilitasi dalam amar
putusan.
Seperti yang sudah disinggung, dalam praktek peradilan sering
terjadi kelalaian mencantumkan pemberian rehabilitasi dalam putusan
bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum. Padahal pemberian
rehabilitasi dalam putusan yang sedemikian:
1. Merupakan perlindungan terhadap hak asasi terdakwa. Hal ini sesuai
dengan salah satu asas yang menjadi tujuan KUHAP yakni
disamping KUHAP bertujuan melindungi kepentingan umum,
sekaligus harus melindungi hak asasi terdakwa.
2. Dengan demikian pemberian dan pencantuman amar rehabilitasi
dalam putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum
merupakan “kewajiban” bagi pengadilan dalam semua tingkat, mulai
dari tingkat pertama, banding, dan kasasi.
lxxxiii
Oleh karena pemberian rehabilitasi dalam putusan bebas atau lepas
dari segala tuntutan hukum merupakan perlindungan terhadap hak asasi
terdakwa, pencantuman dalam putusan yang demikian adalah bersifat
“imperatif”. Ketentuan Pasal 97 ayat (1) jo. Ayat (2) bersifat memaksa
bagi semua tingkat pemeriksaan untuk mencantumkan pemberian
rehabilitasi dalam putusan bebas atau lepas dari semua tuntutan hukum
sesuai dengan redaksi rehabilitasi yang diatur dalam Pasal 14 PP No.
27/1983.
Oleh karena itu, putusan yang lalai mencantumkan pemberian
rehabilitasi dalam putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum
memperkosa hak asasi terdakwa serta sekaligus pula mengandung
kesalahan penerapan hukum, selayaknya perkosaan dan kekeliruan itu
dapat diperbaiki apabila putusan yang bersangkutan sudah sempat
memperoleh kekuatan hukum tetap. Sekiranya putusan belum memperoleh
kekuatan hukum yang tetap, dan terhadap putusan diminta lagi upaya
kasasi, masih ada kemngkinan untuk memperbaiki kelalaian dalam tingkat
kasasi.
Akan tetapi yang dipermasalahkan, apabila putusan telah
memperoleh kekuatan hukum tetap. Umpamanya Pengadilan Negeri
menjatuhkan putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum tanpa
mencantumkan pemberian rehabilitasi kepada terdakwa. Jaksa tidak
mengajukan kasasi, berarti putusan memperoleh kekuatan hukum tetap.
Padahal putusan jelas mengandung perkosaan dan kesalahan penerapan
hukum karena lalai mencantumkan pemberian rehabilitasi.
Hal yang seperti ini bisa juga terjadi pada tingkat banding,
Misalnya, Pengadilan Negeri menjatuhkan hukuman pidana terhadap
terdakwa atau jaksa mengajukan banding. Pengadilan Tinggi dalam tingkat
lxxxiv
banding menjatuhkan putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum
tanpa mencantumkan pemberian rehabilitasi kepada terdakwa. Terhadap
putusan itu jaksa tidak menjatuhkan kasasi, sehingga putusan yang
mengandung perkosaan dan kekeliruan penerapan hukum itu memperoleh
penerapan hukum tetap. Demikian juga misal dalam tingkat kasasi,
kelalaian yang disebut diatas bisa saja terjadi. Umpamanya Pengadilan
Negeri atau pengasilan tinggi menjatuhkan putusan bebas atau lepas dari
segala tuntutan hukum tanpa mencantumkan pemberian rehabilitasi.
Dalam tingkat kasasi putusan dikuatkan oleh putusan Makamah Agung
tanpa memperbaiki kekeliruan dimaksud. Atau dalam Tingkat Kasasi
Makamah Agung menjatuhkan putusan bebas atau lepas dari segala
tuntutan hukum dengan jalan membatalkan putusan Pengadilan timggi
yang menjatuhkan putusan hukum pidana terhasap terdakwa. Akan tetepi,
Makamah Agung lalai dalam mencantumkan pemberian rehabilitasikepada
terdakwa.
Bertitik tolak dari ketentuan Undang-Undang dan peraturan, sama
sekali tidak ada diatur tata cara memperoleh rehabilitasi dalam kasus kasus
tersebut. Akibatnya, jika semata-mata bertitik tolak dari ketentuan
peraturan
perundang-undangan
“tertutup”
hak
terdakwa
untuk
mendapatkan rehabilitasi. Berarti atas kelelaian pengadilan menerapkan
hukum sesuai denag Pasal 97 ayat (2), hilang dan lenyapnya hak terdakwa
memperoleh rehabiitasi.
Tentu hal ini tidak patut dan tidak adil. Sebab keteledoran dan
kelalaian pengadilan dijadikan alasan untuk pembenaran perkosaan
terhadap hak asasi terdakwa. Hal ini tidak adil, dan sangat merugikan
kepentingan terdakwa. Oleh karena itu praktek hukum mesti menciptakan
upaya hukum yang praktis dan memadai demi untuk memulihkan hak dan
perlindungan kepentingan terdakwa. Praktek hukum mesti membuka jalan
yang memberi hak bagi terdakwa untuk memperbaiki kelalaian
lxxxv
pengadilan, pemberian hukum ini sangat prinsipil sebagai sarana
memperbaiki kesalahan yang dilakukan pengadilan sendiri.
6. Tata Cara Pengajuan Rehabilitasi yang Tidak Dicantumkan Dalam
Amar Putusan
Tata Cara Pengajuan rehabilitasi ditempuh dengan upaya hukum
yang praktis dan sederhana Upaya hukum atau proses apa yang dapat
ditempuh terdakwa atas kelalaian pengadilan ini. Melalui upaya
peninjauan kembali, jelas buntu, karena terbentur pada ketentuan pasal 263
ayat (1), peninjauan kembali tidak diperbolehkan terhadap putusan bebas
atau lepas dari segala tuntutan hukum. Dengan demikian upaya peninjauan
kembali tidak mungkin ditempuh oleh terdakwa. Lagi pula sekiranya pun
upaya peninjauan kembali yang akan ditempuh terdakwa, kurang praktis,
dan terlampau panjang prosesnya. Prosedurnya terlampau berliku-liku,
mulai dari pengajuan permohonan, pemeriksaan di sidang yang dihadiri
penuntut umum, pembuatan berita acara sidang, pembuatan berita acara
pendapat. Sesudah itu selesai, baru permohonan disampaikan kepada
Makhamah Agung.
Lebih logis jika ditempuh upaya hukum yang praktis dan
sederhana, dengan cara pendekatan “konsistensi” terhadap ketentuan tata
cara dan proses pemeriksaan rehabilitasi yang diatur bagi Praperadilan,
yakni tata cara permintaan rehabilitasi yang diatur dalam Pasal 97 ayat (3)
jo. Pasal 77 huruf b, jo. Pasal 82 dan jo. Pasal 83 ayat (1) KUHAP.
Dengan cara pendekatan ini, permohonan rehabilitasi berdasar
putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap yang lalai mencantumkan pemberian
rehabilitasi, dapat diajukan terdakwa denagn ketentuan permintaan
rehabilitasi yang diatur Pasal 97 ayat (3), dengan cara mengajukan:
a) Kepada Pengadilan Negeri yang semula memeriksa dan memutus
perkara itu dalam tingkat pertama.
lxxxvi
b) Permohonan diajukan kepada pengadilan yang memeriksa dan
memutus perkara pada tingkat pertama, tanpa mempersoalkan
kelalaian itu terjadi pada tingkat banding atau kasasi.
Kewenangan untuk memeriksa permohonan, memeriksa, dan
mengutus diberikan kepada pengadilan negeri yang memeriksa
dan memutus perkara itu dalam tingkat pertama. Pemberian
kewenangan yang demikian demi menyederhanakan prosedur
dan proses.
c) Proses
pemeriksaan
berpedoman
kepada
pemeriksaan
Praperadilan,
d) Tata cara pemeriksaan rehabilitasi dalam kasus ini disamakan
dengan pemeriksaan rehabilitasi yang diatur Pasal 97 ayat (3),
mengikuti acara Praperadilan yang ditentukan Pasal 82 KUHAP.
Namun tidak mutlak diterapkan cara pemeriksaan yang diatur
pasal 82, terutama yang menyangkut ketentuan Pasal 82 ayat (1)
huruf b. Jadi tidak perlu memaksa pejabat yang bersangkutan
atau hakim yang lalai menyantumkan pemberian rehabilitasi.
Pengadilan negeri cukup memeriksa putusan pengadilan yang
telah lalai mencantumkan pemberian rehabilitasi.
e) Bentuk putusan berpedoman kepada putusan Praperadilan.
Putusan yang dijatuhkan sama dengan putusan Praperadilan
yakni bentuk “penetapan” sebagaiman yang ditentukan Pasal 82
ayat (3) huruf c jo. Pasal 83 ayat (2) KUHAP.
f) Tenggang waktu mengajukan permohonan 14 hari,
g) Sekalipun kelalaian pengadilan dalam kasus ini merupakan
perkosaan dan pelanggaran hak asai terdakwa, janganlah sampai
alasan ini menghilangkan ketertiban peradilan dan kepastian
hukum. Oleh karena itu perlu dibatasi jangka waktu pengajuan.
Tenggang waktu
mengajukan
sebaiknya
berpedoman
secara
konsisten dengan ketentuan Pasal 12 PP No. 27/1983, yakni dalam
waktu 14 hari sejak putusan pengadilan yang bersangkutan memperoleh
lxxxvii
kekuatan hukum tetap, patut dan layak bagi terdakwa yang benar-benar
ingin memperoleh perlindungan hak asasi. Terdakwa yang lalai dianggap
tidak serius untuk memulihkan hak yang diberikan undang-undang
kepadanya.
7. Pihak Yang Berhak Mengajukan Rehabilitasi, Apabila Tidak
Dicantumkan Dalam Amar Putusan
Mengenai orang yang berhak mengajukan permintaan rehabilitasi
tidak begitu jelas diatur dalam Pasal 97. hanya dalam Pasal 97 ayat (3) ada
disinggung sepintas lalu orang yang berhak mengajukan permintaan.
Berdasarkan ayat (3) tersebut, hanya tersangka saja yang disebut berhak
mengajukan. Untung Pasal 12 PP No. 27 Tahun 1983, memperjelas
masalah ini. Berpedoman kepada ketentuan Pasal 97 ayat (3) KUHAP dan
Pasal 12 PP No. 27 Tahun 1983, orang yang berhak mengajukan
permintaan rehabilitasi adalah:
a) Tersangka
Memperhatikan
tentang
orang
yang
berhak
mengajukan
permintaan rehabilitasi yaitu terdakwa yang tidak termasuk ke dalam
kelompok orang yang berhak mengajukanya. Karena undang-undang
dan peraturan hanya menyebutkan tersangka saja, dan menyampingkan
terdakwa untuk mengajukan permintaan rehabilitasi. Padahal Pasal 97
ayat (1) KUHAP sudah menegaskan bahwa seseorang berhak
memperoleh rehabilitasi apabila oleh pengadilan dijatuhkan kepadanya
putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum. Jadi yang
dimaksud dalam Pasal 97 ayat (1) ialah orang yang didakwa atau
diperiksa dalam siding pengadilan, oleh pengadilan dijatuhkan bebas
atau lepas dari segala tuntutan hukum. Berarti Pasal 97 ayat (1) telah
membenarkan sendiri adanya hak terdakwa untuk memperoleh
rehabilitasi, apabila pengadilan menjatuhkan pytusan bebas atau lepas
dari segala tuntutan hukum kepadanya. Pasal 97 ayat (3) dan Pasal 12
lxxxviii
PP No. 27 Tahun 1983 tidak mencantumkan terdakwa sebagai orang
yang berhak mengajukan rehabilitasi.
Karena bagi terdakwa yang
kepadanya dijatuhkan putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan
hukum, tanpa mengajukan permintaan kepadanya meski diberikan
secara langsung dalam pembcaan amar putusan. Demikian pula
Pengadilan Tinggi dan Makamah Agung, harus memberikan dan
mencantumkan rehabilitasi jika terdakwa dijatuhkan putusan bebas
atau lepas dari segala tuntutan hukum.
b) Keluarga Tersangka
Hak mengajukan rehabilitasi yang diberikan undang-undang
kepada keluarga tersangka meerupakan hak yang sederajat dengan
yang diberikan kepada tersangka. Sejak semula keluarga tersangka
berhak mengajukan permintaan rehabilitasi, sekalipun tersangka masih
hidup atau sehat. Tidak ada hak prioritas antara tersangka tersangka
dengan keluarganya. Masing-masing mempunyai hak sederajat untuk
mengajukan permintaan rehabilitasi.
Siapa yang dimaksud dengan keluarga adalah sesuai yang diatur
dalam Pasal 168 KUHAP yaitu:
1. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus keatas atau
kebawah
2. Saudaranya
3. Suami atau istrinya.
c) Kuasa hukum tersangka
Rehabilitasi diberikan kepada kuasa hukum mengajukan
permintaan rehabilitasi. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 14 PP No.
27 Tahun 1983 yang menentukan bahwa permohonan rehabilitasi
yang diajukan keluarga atau kuasanya, untuk yang dimohonkan.
4.
Tenggang Waktu Mengajukan Rehabilitasi Bila Tidak Dicantumkan
Dalam Amar Putusan
Tenggang waktu mengajukan permintaan rehabilitasi ditentukan
dalam Pasal 12 PP No. 27 Tahun 1983 yang berbunyi:
lxxxix
Permintaan rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (3)
KUHAP diajukan oleh tersangka, keluarga atau kuasanya kepada
pengadilan yang berwenang, selambat-lambatnya dalam waktu 14
(empat belas) hari setelah putusan mengenai sah tidaknya penangkapan
atau penahanan diberitahukan kepada pemohon.
Berdasarkan bunyi ketentuan Pasal 12 PP No. 27 Tahun 1983,
tenggang waktu mengajukan permintaan rehabilitasi adalah 14 hari
terhitung sejak putusan mengenai penangkapan atau penahanan
diberitahukan. Jika pasal 12 tersebut diteliti lebih lanjut, tenggang waktu
yang diatur didalamnya hanya yang berkenaan dengan permintaan
rehabilitasi, yang disebut dalm Pasal 97 ayat (3) KUHAP, yakni
tenggang waktu mengenai rehabilitasi atas alasan penangkapan atau
penahanan yang tidak sah, yang perkaranya tidak diajukan didalam
persidangan pengadilan. Sedangkan tenggang waktu untuk alasan bebas
atau lepas dari segala tuntutan hukum sebagaimana yang disebut dalam
Pasal 97 ayat (1) KUHAP, tidak ada disinggung dalam Pasal 12 PP No.
27 Tahun 1983. alasanya, setiap putusan pengadilan yang merupakan
pembebasan atau pelepasan dari segala tuntutan hukum, harus sekaligus
memberikan dan mencantumkan rehabilitai. Itu sebabnya tidak ada
tenggang waktu untuk perberian rehabilitasi terhadap terdakwa yng
diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum
xc
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah menguraikan apa yang menjadi perumusaan masalah di dalam
penelitian hukum ini, penulis mengambil kesimpulan untuk lebih memperjelas
apa yang menjadi pokok permasalahan dan jawaban terhadap pokok
permasalahan tersebut. Kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pemberiaan rehabilitasi yang diberikan terhadap terdakwa yang diputus
bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum oleh pengadilan dilakukan
berdasarkan Pasal 97 ayat (2) dengan mencantumkan sekaligus dalam
putusan pengadilan. Pencantuman itu sekaligus dipertegas dalam Pasal
14 ayat (1) PP No. 27 Tahun 1983. Perumusan redaksi ini dalam
peraturan, memperlancar pelayanan pemberian rehabilitasi
a) Penyampaian petikan dan salinan pemberian putusan rehabilitasi
diatur dalam Pasal 13 PP No. 27 Tahun 1983. Pasal ini mengatur
kewajiban panitera Pengadilan negeri untuk menyampaikan
petikan dan salinan putusan rehabilitasi kepada pemohon dan
pihak instansi tertentu. Tujuanya, agar pemberian rehabilitasi
tersebut diketahui pihak yang berkepentingan, instansipenegak
hukum yang bersangkutan serta masyarakat lingkungan dimana
pemohon rehabilitasi bertempat tinggal dan bekerja. Pihak dan
instansi yang berhak mendapat petikan dan salinan putusan
rehabilitasi:
c) Petikan penetapan disampaikan kepada pihak pemohon
Hal ini diatur dalam Pasal 13 ayat (1) PP No.27
Tahun 1983. Kepada
pemohon
cukup
disampaikan
petikan penetapan, namun tidak mengurangi haknya untuk
mendapatkan salinan penetapan jika ia menghendakinya.
Untuk itu pemohon dapat meminta salinan penetapan
xci
kepada
panitera
pengadilan.
Hak
pemohon
untuk
mendapatkan salinan petikan rehabilitasi bertitik tolak dari
ketentuan Pasal 226 ayat (3) KUHAP.
d) Salinan penetapan disampaikan kepada beberapa instansi
Mengenai pemberian salinan penetapan rehabilitasi
diatur dalam Pasal 13 ayat (2) dan ayat (3) PP No.27
Tahun 1983. Berdasarkan
ketentuan ini, pemberian atau
pengiriman salinan penetapan rehabilitasi :
a) Diberikan kepada penyidik
b) Diberikan kepada penuntut umum
c) Instansi tempat pemohon bekerja
d) Kepada
Ketua
Rukun
Warga
(RW)
dimana
pemohon tinggi
2). Putusan yang lalai mencantumkan pemberian rehabilitasi dalam putusan
bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum memperkosa hak asasi
terdakwa serta sekaligus pula mengandung kesalahan penerapan hukum
yang sangat merugikan terdakwa. Jika terjadi kelalaian dalam amar
putusan kasus yang telah diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan
hukum, maka putusan diancam batal demi hukum. Orang yang berhak
mengajukan permintaan rehabilitasi adalah:
a) Tersangka
b) Keluarga Tersangka
c) Kuasa Hukum Tersangka
B. SARAN
1. Bahwa pengaturan rehabilitasi baik berdasarkan KUHAP maupaun
berdasarkan PP No. 27 Tahun 1983 belum padu. Pengajuan rehabilitasi
akan lebih efisien jika diajukan sendiri dengan acara praperadilan
sehingga dapat disatukan dengan tuntutan ganti rugi. Hal ini dapat
menghilangkan kerancuan, karena hak rehabilitasi itu baru ada jika
putusan telah berkekuatan hukum tetap
xcii
2. Sebaiknya penempatan penetapan atau putusan rehabilitasi tersebut
tidak hanya pada papan pengumuman pengadilan, tetapi bisa dalam
papan Pengumuman Pemerintahan daerah, misalnya Kelurahan/Kepala
Desa, Kecamatan dan Kabupaten. Jika dikaji dengan seksama maka hal
lebih tepat karena papan Pengumuman Pemerintah Daerah, lebih
bersifat memasyarakat atau lebih merakyat dari pada papan
Pengumuman Pengadilan
xciii
DAFTAR PUSTAKA
Andi Hamzah. 2002. Hukum Acara Pidana Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika.
Bambang Waluyo. 2000. Pidana dan Pemidanaan. Jakarta : Sinar Grafika.
Burhan Ashshofa. 2004. Metode Penelitian Hukum. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
C. S. T .Kansil. 1992. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta : Balai Pustaka.
Erni Widhayanti. 1988. Hak-hak Tersangka/ Terdakwa didalam KUHAP.
Yogyakarta: Liberty.
HB. Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta : UNS Press.
Imam Soetikno dan Robby Khrismanaha. 1996. Pokok-Pokok Hukum Acara
Pidana. Surakarta : UNS Press.
Leden Marpaung. 1992. Proses Penanganan Perkara Pidana. Jakarta : Sinar
Grafika.
______________. 1997. Proses Tuntutan Ganti Rugi dan rehabilitasi dalam
hukum Pidana. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
M. Yahya Harahap. 2000. Pembahasan, Permasalahan dan Penerapan KUHAP.
Jakarta : Sinar Grafika.
M. Hanafi Asmawie.1990. Ganti Rugi dan Rehabitasi menurut KUHAP. Jakarta :
Pradnya Paramita.
Mangasa Sidabutar. 1999. Hak Terdakwa, Terpidana, Penuntut umum Menempuh
Upaya Hukum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Moch. Faisal Salam. 2001. Hukum Acara Pidana Dalam Teori dan Praktek.
Bandung.: Mandar Maju.
Moeljatno. 1999. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Jakarta : PT. Bumi
Aksara.
. 2002. Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Oemar Seno Adji. 1984. Hukum Hakim Pidana. Jakarta : Erlangga.
_________. 1989. KUHAP Sekarang. Jakarta :Erlangga.
R. Wirjono Prodjodikoro. 1983. Hukum Acara Pidana di Indonesia. Bandung:
Sumur Bandung.
xciv
Soerjono Soekanto. 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta : Universitas
Indonesia.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta : Balai Pustaka.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 Tentang Pelaksanaan Kitab Undang
Undang Hukum Acara Pidana
xcv
Download