perempuan dan ajaran perenialis dalam serat wulang putri

advertisement
PEREMPUAN DAN AJARAN PERENIALIS
DALAM SERAT WULANG PUTRI
Sri Ratnawati
Departemen Sastra Indonesia Universitas Airlangga
Abstract: Serat Wulang Putri was written by Paku Buwono IV (PB IV). This work
was originally written as teaching ethics for his children. The text was to be read by
especially girls in the palace. The text has served as a guide to good conduct. In this
regard, the Javanese culture requires women to be inculcated so as to develop the
psychological fundamentals of isin (shyness for the purpose of self-control or refraining oneself from the unnecessary), eling (state of being always aware of the
Omnipresent ), sabar (toughness and resilience), and legawa (being content with
any situation one is in and abstention from lust). These four values are important not
only for women in the past but also for women in this modern epoch.
Keywords: philosophy, education, value,
Serat Wulang Putri (selanjutnya disingkat
SWP) merupakan judul dari sebuah manuskrip yang ditulis oleh Paku Buwono IV
dalam aksara dan bahasa Jawa pada 4281
saka atau 1902 M. Ia menguraikan tentang
ajaran moral atau etika yang patut dilakukan
oleh wanita khususnya wanita dari kalangan
bangsawan. Di lingkungan keraton, pendidikan etika mendapat prioritas utama di
samping unsur pendidikan lainnya. Etika
adalah ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh ber-kaitan
dengan moralitas (Bertens, 2002:15). Etika
sebagai satu ajaran moralitas yang memberi
arah bagaimana sesungguhnya hidup yang
religius sesuai dengan tuntunan agama dan
norma sosial. Mulia tidaknya hidup seorang
wanita tergantung pada moralnya.
Didasarkan alasan itulah PB IV mengonstruksi ajaran etika sesuai dengan alam
pikiran orang Jawa, yaitu menekankan keseimbangan, hidup harmoni baik bersama
alam maupun sesama manusia. Membaca
sama halnya dengan mengisi hati, pikiran
dan perasaan pembaca wanita dalam
upayanya mencari gambaran hidup yang
menyeluruh dalam membentuk frame of
reference and since of bilongingness (Kohlberg, 1984) sebagai wanita Jawa yang utama (baca wanito utomo).
SPW berbasis kosmologi Jawa menekankan pada keseimbangan lahiriah dan batiniah. Mengingat kebutuhan manusia sangat kompleks, tidak hanya dipuaskan oleh
banyaknya fasilitas kebendaan semata-mata
melainkan perlu juga fasilitas batiniah. Untuk memenuhi keduanya, dibutuhkan pendi59
60 BAHASA DAN SENI, Tahun 36, Nomor 1, Februari 2008
dikan olah rasa, dengan kata lain, mengasah
kepekaan guna mencapai keseimbangan dalam hidup. Lebih lebih zaman sekarang,
dunia materi membanjiri kehidupan kita,
kalau tidak peka dapat menggiring sikap
hidup wanita menjadi hedonis. Perilaku wanita hedonis punya kecenderungan mengabaikan nilai keagamaan, etika, dan lebih
menghamba pada nilai materialisme.
Pada masa mendatang peran wanita semakin berat karena bebannya bukan hanya
sebagai ibu, sebagai istri pendamping suami, tuntutan kualitas hidup wanita untuk
menjadi diri sendiri agaknya memunculkan
persoalan tersendiri. Apalagi, sekarang ini,
dengan munculnya gerakan feminisme Barat telah menginspirasi sebagian wanita Indonesia untuk melakukan gerakan dekonstruksi terhadap nilai tradisional yang selama ini dianggap mapan. Gerakannya berdampak pada bergesernya nilai kewanitaan
secara ekstrem, yaitu mereka beramai-ramai
menggugat peran domestik, mengabaikan
norma kewanitaan tradisional yang sebenarnya adiluhung untuk selanjutnya mengambil nilai-nilai kontemporer yang cenderung profan. Jika pikiran dan mental demikian dibiarkan, lambat laun para wanita Jawa khususnya, dan wanita Indonesia
umumnya, dimungkinkan akan tercerabut
dari norma atau etika kulturalnya yang bersumber pada warisan budaya Jawa yang istilah sekarang dikenal dengan nama warisan
nilai sejarah.
SWP ditulis sekian puluh abad yang lalu, awal mulanya, diperuntukkan bagi wanita bangsawan Jawa. Namun, seiring dengan
pudarnya kerajaan, dimungkinkan teks tersebut dibaca oleh wanita pada umumnya.
Perlu dicermati bahwa nilai-nilai ajarannya
pun ternyata bersifat universal dan masih
relevan (up to date) bagi wanita masa kini.
SWP banyak versinya namun tulisan ini
sengaja memilih dari sumber PB IV, koleksi
perpustakaan Sono Budaya, Yogyakarta No.
Kol: SK.20, tulisan tangan, beraksara dan
berbahasa Jawa, berbentuk tembang.
TEKS PENDIDIKAN
Tercatat dalam kamus Mardiwarsito
(1980) kata wulang berarti mengsebutajar
atau mendidik. Makna SWP merupakan sebuah referensi yang mengupas tentang etika
dan moral kewanitaan. Keberadaan teks tersebut pada awalnya digunakan sebagai referensi bagi para putri bangsawan yang berkepentingan dengan pengembangan kepribadian. Ketika seorang wanita mencari
tahu soal etika (moral sense), SWP dapat
dipakai sebagai acuan karena di dalamnya
kaya akan ajaran moral lengkap dengan
contoh-contohnya. Caranya, yaitu teks tersebut ditembangkan. Nembang mempunyai
peranan rangkap, yaitu sebagai moral sense
dan sebagai sense of duty, yaitu mendorong
manusia agar selalu memilih yang baik dan
menjauhi yang jahat (Newman, 1947).
Dalam konteks tersebut, nembang tidak
ubahnya semacam perjalanan religi dalam
rangka mencari seimbangan hidup menuju
kemuliaan hidup. Demikian pula, ketika
seorang putri bangsawan nembang teks
SWP, sama halnya dengan belajar untuk
meraih kemuliaan hidup. Menurut Sedyawati, (2006:223), seni nembang digolongkan dalam kesenian kelas atas (bangsawan).
Kesenian tersebut dipandu ke arah mengembangkan kaidah-kaidah, baik spiritual,
moral maupun estetis. Menanamkan nilai
moral terhadap sang putri tidak cukup hanya nasihat, contoh teladan orang tua melainkan juga memerlukan referensi berupa
buku-buku yang dapat dibaca setiap saat
dan berulang-ulang. Maka dari itu, jika seorang wanita bangsawan menginginkan hidup mulia, dianjurkan untuk belajar nembang. Belajar nembang merupakan sasaran
antara menuju pendidikan yang sebenarnya,
yaitu proses belajar mengasah pikiran, mengolah emosi (nafsu) mengolah roso dalam
bertatakrama, bersosialisasi dengan lingkungan sosial yang semuanya itu secara rinci
terdapat dalam SWP.
Ratnawati, Perempuan dan Ajaran Parenialisme 61
Adanya teks SWP sebagai bukti perhatian PB IV terhadap eksistensi wanita di
tengah-tengah masyarakat keraton. Pada
saat itu, kedudukan dan peran wanita sudah
diatur sesuai dengan nilai budaya Jawa yang
menempatkan wanita sebagai tiyang wingking (subordinat) dan kedudukan tersebut
tetap mulia berdampingan dengan laki-laki.
Pembangunan moral generasi muda tergantung pula pada moral wanita sebagai ibu
dan pendidik. Ibulah yang kali pertama
memberi sentuhan pendidikan di samping
laki-laki dan ibu pulalah yang dapat menentukan anak masuk neraka atau surga. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad saw., seorang ibu diakui lebih besar pengaruhnya daripada sang ayah. Dengan harapan, wanita
sebagai pendidik utama bagi putra-putrinya
dan wanita pulalah yang mengenalkan anak
pertama kali untuk merasa, berpikir dan
berbicara. Jadi wanita merupakan pemegang
kunci segala bentuk pendidikan terutama
pendidikan ahlak generasi penerus.
CORAK PENDIDIKAN
Di kalangan keraton, sistem pendidikan
top down lebih ditekankan. Posisi sebagai
orang tua yang memberi nasihat sangat ditonjolkan. Melalui sarana SWP, sang putri
mendidik diri terus-menerus dengan cara
belajar nembang. Hanya dengan cara begitu
para putri atau wanita bangsawan diharapkan menjadi seorang putri yang bukan
hanya pandai secara lahiriah, melainkan juga pandai secara batiniah. Oleh karena itu,
pendidikan diberikan tidak hanya bertumpu
pada pendidikan lahir saja juga dilengkapi
dengan pendidikan batiniah. Keduanya secara bersama-sama mengisi pikiran, relung
hati pembacanya dalam upaya membantu
manusia menjadi manusia dengan kepribadian yang utuh (fully functioning person).
Jika hal itu terbangun sejak dini, niscaya,
tercipta keseimbangan (balance) dalam diri
manusia dan pada akhirnya dapat menciptakan kebahagiaan dalam dirinya.
Dalam hal ini, peran orang tua tidaklah
kecil dalam memperkenalkan nilai moral
terhadap anak. Justru norma-norma dari keluargalah yang nantinya menjadi dasar berpikir dan bertindak dalam bersosialisasi.
Konstruksi pendidikan diproses melalui
suatu pranata sosial yang bernama perkawinan. Diikat oleh satuan unit masyarakat,
yakni rumah tangga yang pada perkembangan selanjutnya merupakan satuan lingkungan yang paling primer dan fundamental
dalam pembentukan kepribadian anak. Dari
situlah kali pertama anak-anak menyerap
dan mengenal norma sosial, internalisasi
pada norma etika.
Walaupun wanita Jawa dituntut untuk
sabar, legawa, dan patuh, namun juga dituntut mencitrakan kecerdasan, kewibawaan dan berahlaqulkarimah. Kecerdasan seorang wanita bangsawan salah satunya ditampakkan pada keahliannya dalam menembang. Dalam belajar nembang, seorang
putri dirangsang untuk belajar sendiri, self
directing process. Sambil nembang mereka
mengkaji nilai etika yang ada di dalamnya.
Semua itu dibutuhkan sebagai upaya membentuk pribadi yang sesuai dengan tuntutan
nilai keraton yang diharapkan menampilkan
kehalusan, kesucian, kecantikan (Mulder,
1980;Handayani dkk, 2004). Kehormatan
dan kewibawaan seorang raja dipengaruhi
pula oleh perilaku putra-putrinya.
Bagi orang Jawa, hidup bukan sekadar
menumpuk material tetapi perlu juga diikuti
dengan membenahi moril. Oleh karena itu,
ajaran-ajaran yang diberikan bersifat normatif.
CORAK AJARAN
Ajaran yang terkandung dalam SPW
sebagai berikut.
Religius
Pentingnya agama sebagai pedoman hidup dijelaskan dengan tegas agar jangan
sekali-kali melalaikannya. Agama mampu
62 BAHASA DAN SENI, Tahun 36, Nomor 1, Februari 2008
menjadikan manusia hidup mulia dan terhormat. Sehubungan dengan itu, dasardasar pendidikan agama diberikan sejak
Iya manungsa sangagung
Luwih maning dena kardi
Solah bawa narendra
Tan datan sepi pambudi
Gyannya agampil agama
Dari fragmen tersebut PB IV menganjurkan kepada putra-putrinya agar tidak melalaikan agama. Sebagai orang Jawa, pandangan hidup hendaknya berbasis agama
agar hidupnya menjadi religius. Religiusitas
orang Jawa tampak dalam aktivitas kesehariannnya, seperti kegemarannnya menyelenggarakan slametan, istighosah, dan haul
yang semuanya itu menunjukkan bahwa
hidup dan relasi antarpenduduk dalam bidang ekonomi, politik, dan kebudayaan
berkaitan erat dengan pandangan keagamaan mereka (Geertz, 1960). Mereka yang
sealiran agama mempunyai relasi ekonomis,
politis dan kebudayaan dengan kebudayaan
mereka. Tidak mengherankan jika setiap
tindakan orang jawa mempunyai konsekuensi agamis.
Menurut teks tersebut, anak seorang raja tetap dianjurkan untuk bekerja sebab bekerja menjadikan orang mulia dan terhormat
di hadapan sesamanya. Bekerja merupakan
cara dan sarana mengekspresikan kemauan
dan kemampuan diri sebagai upaya mengembangkan diri menjadi diri sendiri agar
memperoleh kemuliaan. Manu-sia tidak dapat meraih kemuliaan derajat jika tidak berbuat sesuatu untuk dirinya (bekerja). Sebenarnyalah, bekerja bukan sekadar memberi
Satuhune sira durung
Terang lir hyang murbeng Pasti
Samya sendyaning ngati
Tata titining cumandhang
Angadhang takdiring Widi
Dengan memahami isi teks tersebut, paling tidak akan mencerahkan batin sang putri bahwa perbedaan jenis kelamin menunjukkan kekuasaan Tuhan, dan hendaknya
dini, termasuk memberikan pemahaman
akan keesaan dan kekuasaan Tuhan. Perhatikan kutipan di bawah ini!
manusia menjadi mulia
bilamana punya pekerjaan
perilaku sebagai raja
tak sepi dari kebaikan
Jangan lalaikan agama
nafkah seseorang melainkan lebih dari itu.
Bekerja adalah sebuah proses pengaktualisasian diri secara optimal dalam upaya
mengangkat derajad kemanu-siannya.
Bekerja juga berlaku bagi raja dan keluarganya. Meskipun diberi kelimpahan harta, tetap diajurkan untuk bekerja. Setiap
tingkah polahnya menjadi sorotan rakyatnya. Oleh karena itu, seorang raja harus
mampu bekerja secara benar dan jujur agar
meraih kemuliaan. Untuk hidup mulia, seorang wanita haruslah pandai menjaga diri,
mengatur tata berbusana yang sopan dan
dianjurkan untuk belajar syariat. Hal demikian juga terjadi pada Serat Wulangreh
(1986) sebagai sumber tuntunan hidup.
Pemahaman agama secara benar dapat
menuntun hidup wanita lebih mulia. Termasuk memahami kodrat (eling) sebagai wanita yang secara alamiah berbeda dengan lakilaki. Jika wanita bisa menerimanya dengan
ikhlas, ketika menjalani peran sosialnya pun
akan ikhlas. Meskipun dalam kultur Jawa,
kedudukan wanita ditempatkan pada posisi
sebagai tiyang wingking ,garwo itu semua
harus dipahami sebagai peran yang saling
melengkapi di samping laki-laki. Hal itu
harus dijalani dengan legawa, sebagaimana
tercantum dalam teks berikut ini:
sesungguhnya jika engkau
belum paham akan Tuhan
hendaknya kalian berusaha
bersiap sedia untuk menyambut
dan menanti takdir Allah
diterima sebagai tanda kemahakuasaan Tuhan. Melalui SWP, PBIV menjelaskan ajaran moral yang kemudian ditembangkan
untuk menumbuhkan keyakinan religiositas
Ratnawati, Perempuan dan Ajaran Parenialisme 63
dalam benak sang putri supaya terbina dan
terciptanya suasana tata tentrem, cinta kasih
di samping laki-laki. Walau diakui budaya
Jawa memberlakukan sistem nilai patriarkal, itu artinya memberi keleluasaan gerak
dan kesempatan bagi laki-laki di bandingan
perempuan. Namun, perbedaan tersebut
hendaknya dipahami sebagai rahmatanlilalamin. Perbedaan peran sosial dijadikan sebagai pembagian peran yang disesuaikan
dengan kodrat. Bahkan, perempuan tidak
pernah lepas dari kodratnya. Jika hal itu diyakini benar akan berpengaruh terhadap keseimbangan dan harmoni kehidupan.
Tinindaken lawan patut
Pinantes pantes tiniti
Timbalan isinira
Nagara Surakarta
Tan kena gelinukuhan
Angkuhing ing tyas anglakoni
Dalam teks tersebut, disinggung mengenai beban wanita sebagai keluarga keraton yang harus tampil anggun, menawan
dan berakhlaqulrimah serta menjaga kewibawaan sang raja di mata masyarakat. Itu
semua dapat dilakukan jika seorang putri
mempunyai rasa malu (isin). Dapat dibayangkan jika manusia dan terlebih wanita
tidak memiliki rasa malu maka sangat
mungkin hidupnya menjadi nista, dan merugikan orang lain termasuk kewibawaan
sang raja.
Malu merupakan dasar kejiwaan yang
harus dimiliki setiap manusia. Mengembangkan rasa malu merupakan unsur penting dalam pengembangan kepribadian wanita khususnya. Perasaan malu (isin) dapat
muncul berkaitan dengan suasana sosial.
Menurut Suseno (1999:64), orang Jawa merasa isin apabila tidak dapat menunjukkan
sikap hormat yang tepat terhadap orang
yang pantas dihormati. Menurut Lanur
(1984), menanamkan rasa malu sama halManing sira angadhepi
Ing rama ibu ta nini
Tegese sira nucekna
Rasa Malu
PB IV mendasari kejiwaan para putri
bangsawan untuk memiliki perasaan malu.
Menanamkan rasa malu dalam diri seseorang tidak kalah pentingnya dengan menanamkan nilai-nilai moral lainnya. Malu merupakan dasar kejiwaan yang harus dimiliki
oleh manusia pada umumnya dan ditanamkan sejak kanak-kanak untuk melengkapi
daya kepekaannnya terhadap situasi sosial
(lihat Simuh, 2002) karena hal itu menyangkut kesadaran kita akan orang lain
dan apa yang mereka pikirkan tentang kita.
Perhatikan penggalan teks berikut!
dilakukan dengan yang layak
dan sepantasnya diperhatikan.
untuk mengetahui
negara Surakarta
tak boleh menggunjing
dan berlaku sombong
nya dengan mendidik seseorang untuk memahami siapa-siapa sebenarnya kita, mau
menjadi apa dan mau menjadi wanita macam apakah kita seharusnya.
Eling
Konsep eling lahir dari seorang putra
Jawa yang berusaha memberi jalan untuk
mengenali diri sendiri guna memahami
orang lain. Dalam budaya Jawa, eling merupakan satu aktivitas mengenal diri sendiri,
kekuatan pikiran yang diikuti membangkitkan kekuatan batiniah. Eling menekankan penguasaan terhadap diri sendiri dalam
merespons sesuatu yang bermakna. Penguasaan diri mempunyai kaitan logis dengan
nilai keseimbangan, orang yang sanggup
menguasai dirinya sendiri akan sanggup
menciptakan keseimbangan serta keselarasan hidup dalam masyarakat.
jika kau menghadap
ayah ibu, anaku
engkau hendaknya menyucikan
64 BAHASA DAN SENI, Tahun 36, Nomor 1, Februari 2008
Iya sariranireki
dirimu
Dene dennya nglakoni
dengan cara menjalani
Eneng eninga ing kalbu
keheningan di kalbu
Awas eling supata
hendaknya waspada dan ingat
Sirna nepsu ta nini
dengan menghilangkan napsu
Anganak ana sih kalawan amirah dengan kasih sayang.
Menjadi wanita utama dibutuhkan kecerdasan batinah (EQ) di samping kecerdasan intelektual (AQ). Keduanya saling melengkapi. Hanya wanita-wanita yang eling
yang dapat menempatkan diri. Dengan memahami konsep eling diharapkan putri raja
mempunyai kepekaan intuitif, ketajaman
emosi (to be sensitive to the realit).
Secara konseptual eling dapat disejajarkan dengan kesadaran eksistensialisme dalam filsafat Eksistensialisme atau tao dalam
ajaran Taoisme. Eling menekankan penguasaan terhadap diri dalam merespons sesuatu yang bermakna. Konsep penguasaan
diri mempunyai kaitan logis dengan nilai
keseimbangan dalam arti orang sanggup
menguasai dirinya. Oleh karena itu, manusia hendaknya selalu berusaha eling untuk
menguasai nafsunya demi menciptakan keseimbangan batin, sehingga yang tampak
dari luar adalah sikap halus, lemah lembut
sebagaimana digariskan dengan jelas dalam
SWP.
Sabar
Wanita itu ......sabar mring panca
kayaning / nganti tinampang sukur lan lila /
legaweng tyas wusing budi (terjemahan
bebasnya, sabar merupakan suatu kekayaan,
bersyukur, rela dan legawa). Ketiga unsur,
yaitu sabar, legawa, dan lila (pasrah) cukup
me-lekat pada sifat wanita. Sifat-sifat tersebut tak lain merupakan bentuk the personal
self atau ego yang selanjutnya akan melahirkan beberapa tingkat kesadaran, seperti,
sabar, pasrah, dan legawa (Gerungan,
19:2002). Sikap sabar harus dilatih dan ditumbuhkan dalam diri dan membutuhkan
proses belajar terus menerus. Sifat demikian
bukannya sikap pasif, tidak mempunyai in-
isiatif, menerima apa adanya atau menyerah, melainkan justru menunjukkan sifat
ketelitian, kehati-hatian, memasrahkan diri
pada Yang Kuasa bahwa jalan hidup seseorang sudah diatur-Nya.
Sabar, legawa, dan lila adalah sebuah
permainan emosi dalam usaha mengatasi
konflik. Penyabar bukanlah bawaan lahir
atau kodrat melainkan harus dipelajari terus
menerus sepanjang hayat. Sikap semacam
itu harus dilatih ditumbuhkan dalam diri.
Pada dasarnya, secara kodrat manusia
bukan orang yang sabar sebaliknya cenderung berkonflik. Untuk mengatasi itu, dibutuhkan ketiga unsur tersebut guna meredamnya. Butir-butir nilai yang dijelaskan di
atas tentu perlu dipelajari, diusahakan. Hal
itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan haruslah dikondisikan baik secara lahiriah maupun batiniah. Seseorang yang
mempunyai sikap sabar akan lebih mudah
menciptakan kebahagiaan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Jelas
bahwa sabar, legawa dan nrima berfungsi
sebagai orientasi tidakan.
RELEVANSINYA DENGAN
MODERNISME
Modernisme telah menjauhkan wanita
dari akar budayanya, banyak wanita sekarang ini secara sadar menanggalkan nilainilai kultural yang dianggap sebagai penghambat kemodernan. Akibatnya, terjadi distorsi nilai moral, ini dapat dilihat dari merebaknya perselingkuhan, kawin cerai, tindak
kriminal yang dilakukan kaum wanita. Maka, perlu kiranya upaya membenahi, membangkitkan, dan menyosialisasi nilai-nilai
lokal untuk membangun identitas kewanitaan.
Ratnawati, Perempuan dan Ajaran Parenialisme 65
Nilai moral seperti dijelaskan, sebenarnya tergolong universal. Wanita atau perempuan mana pun jika ingin menjadi wanita berbudi pekerti luhur (akhlaqulkarimah)
hendaknya menjalani hidup berdasarkan
nilai-nilai di atas dan itu berlaku dari dulu
hingga sekarang. Menjadikan wanita religius, eling bersikap sabar; bukanlah sikap
bawaan lahir atau bukan tumbuh dalam diri
sendiri, melainkan harus dilatih, jangan segan untuk belajar sepanjang hidup (long live
education.)
Tidak ada salahnya jika wanita masa
kini menengok kembali nilai-nilai warisan
budaya sendiri dan mempelajarinya. Mengingat situasi sekarang ini, zaman terus berkembang, segala nilai yang adanya sedikit
berubah, akibatnya banyak wanita modern
yang kehilangan orientasi hidup karena
adanya perbedaan khusus fisik dan jiwa perempuan dan laki-laki adalah satu fakta
yang tidak dapat ditolak. Mewujudkan persamaan hak tanpa memedulikan karakteristik tersebut bertentangan dengan hukum
penciptaan Tuhan dan menyimpang dari
asas keadilan.
SIMPULAN
Dalam teks tersebut, dipaparkan dengan
jelas bahwa seorang wanita ketika menjalani hidup dan kehidupan tidak hanya memiliki kecerdasan akal (AQ), melainkan juga
kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan
spiritual (SQ). Ketiga unsur nilai tersebut
idealnya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi satu kesatuan yang saling
melengkapi dalam membentuk kepribadian
wanita yang berbudi luhur atau berakhlakulkarimah.
Nilai etika yang terdapat dalam SWP
masih cukup relevan diamalkan oleh wanita
masa kini dan masa mendatang. Walaupun
teks tersebut ditulis sekian puluh abad yang
lalu, dibaca pada masa kini dengan cara
pandang sekarang masih tetap up to date.
Kiranya, teks tersebut patut dikaji ulang,
direnungkan kembali mana-mana nilai yang
sudah di makan zaman dan mana yang masih relevan dengan masa kini agar wanita
Indonesia tidak tercerabut dari nilai budaya
adilihungnya.
DAFTAR RUJUKAN
Bertens.K,. 2002 Etika, Jakarta, Gramedia.
Geertz, Clifford. 1960. The Realigion of
Java, Free Press of Glencoe,
Gerungan, 2002. Psikologi Sosial, Bandung, Penerbit Rafika.
Harsono, Handi, 2005. Tafsir Ajaran Serat
Wulangreh , Yogyakarta, Pura Pustaka.
Handayani, Christina dkk. 2004. Kuasa
Wanita Jawa. Jogyakarta,LkiS.
Kohlberg, Lawrence, 1984. The Psychology
of Moral Development, San Francisco,Harper & Row Publisher.
Lanur, Al. 1984. Rasa Malu Cenderung
Berkurang. Basis. XXXVII, Juni 1984
Mardiwarsito, 1980. Kamus Jawa KunaIndonesia, Ende Flores, Nusa Indah.
Mulder, Niels. 1980. Holy Mother, Mother
Dear .Basis, Desember.
Newman, John Henry. 1947. An Essay in
Aid of a Grammar of Assent. London,
Longmans.
Simuh,2002. Sufisme Jawa, Jogyakarta,
Bentang Budaya.
Suseno, Magnis.1999. Etika Jawa, Jakarta,
Pustaka Utama.
Sedyawati,Edi. 2006. Budaya Indonesia, Jakarta. Raja Grafindo.
Download