Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah sebagai

advertisement
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
ISSN: 2301-6523
Vol. 5, No. 1, Januari 2016
Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah
sebagai Dampak dari adanya Subsidi Pupuk di
Kabupaten Tabanan
NI LUH PRIMA KEMALA DEWI
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Univesitas Udayana
Jalan PB Sudirman Denpasar 80232
Email :[email protected]
Abstrak
Agriculture is a sector that plays an important role in the welfare of the Indonesian
population lives . As one of the pillars of the state economy , the agricultural
sector is expected to increase the income of rural residents especially are still
below the poverty line. For the various investments and policies have been taken
by the government to encourage growth in the agricultural sector , one of them in
the form of fertilizer subsidies. The research objective was to analyze the level of
paddy rice farming profits as a result of the impact of the fertilizer subsidy in
Tabanan. The results show the financial benefits of paddy farming in the dry
season and the rainy season is Rp . 5,625,704.23 per ha and Rp . 5,802,663.42 per
ha . R / C each season are 1.40 and 1.39 . Economic advantages in the dry season
and the rain is Rp . 3,052,706.47 / ha and Rp 1,234,146.40 / ha , while the
divergence of net profit was Rp . 2,572,997.76 / ha and Rp 4,568,517.01 / ha .
Keywords : subsidie, profit, season
1.
1.1
Pendahuluan
Latar Belakang
Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya hidup
dari hasil bercocok tanam atau bertani, sehingga pertanian merupakan sektor yang
memegang
peranan
Indonesia.Menurut
penting
Suparta,
memaksimalkanpemanfaatan
dalam
kesejahteraan
pembangunan
geografi
dan
kehidupan
pertanian
kekayaan
penduduk
penting
alam
dalam
Indonesia,
memadukannya dengan teknologi agar mampu memperoleh hasil sesuai dengan
yang diharapkan. Sektor pertanian berperan penting dalam menyediakan bahan
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
ISSN: 2301-6523
Vol. 5, No. 1, Januari 2016
pangan bagi seluruh penduduk maupun menyediakan bahan baku bagi industri,
dan untuk perdagangan ekspor (Suparta, 2010 : 10).
Pertanian merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam
kesejahteraan kehidupan penduduk Indonesia.Peranan sektor pertanian memiliki
7 kontribusi bagi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 15,3%
berdasarkan harga berlaku pada tahun 2009. Sebagai salah satu pilar ekonomi
negara, sektor pertanian diharapkan dapat meningkatkan pendapatan terutama dari
penduduk pedesaan yang masih di bawah garis kemiskinan. Untuk itu berbagaiinvestasi
dan
kebijakan
telah
dilakukan pemerintah
untuk
mendorong
pertumbuhan di sektor pertanian, salah satunya dalam bentuk subsidi pupuk.
Program peningkatan ketahanan pangan diarahkan untuk dapat memenuhi
kebutuhan pangan masyarakat di dalam negeri dari produksi pangan nasional.
Ketahanan pangan bagi suatu negara merupakan hal yang sangat penting, terutama
bagi negara yang mempunyai jumlah penduduk sangat banyak seperti Indonesia.
Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 220 juta jiwa pada tahun 2020
dan diproyeksikan 270 juta jiwa pada tahun 2025 (Hanafie, 2010:272).
Khusus mengenai kebijakan subsidi pupuk petani merupakan salah satu
kebijakan utama pembangunan pertanian yang telah lama dilaksanakan
pemerintah dengan cakupan dan besaran yang berubah dari waktu ke
waktu.Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS)tahun 2010,
sektor pertanian menyumbang tenaga kerja sebanyak 42 juta orang lebih dari
jumlah penduduk 15 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan kerja utama
yang hampir mencapai 110juta orang. Jika dilihat dari nilai absolutnya, maka
kontribusi sektor pertanian terhadap PDB merupakan jumlah yang besar, sehingga
seharusnya dapat dianalogikan bahwa petani seharusnya menerima pendapatan
yang memadai untuk dapat hidup sejahtera. Namun pada kenyataannya, apabila
dilihat melalui peta kemiskinan di Indonesia, kiranya dapat dipastikan bahwa
bagian terbesar penduduk yang miskin adalah yang bekerja di sektor pertanian
(Tambunan, 2003 : 23-24). Hal ini menyebabkan bidang pertanian harus dapat
memacu
diri
untuk
dapat
meningkatkan produk pertaniannya, khususnya
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
ISSN: 2301-6523
Vol. 5, No. 1, Januari 2016
produk pertanian tanaman pangan.Salah satu komoditi tanaman pangan potensial
untuk dikembangkan adalah tanaman padi.
Sebagian besar petani padi merupakanmasyarakat miskin atau berpendapatan
rendah. Rata-ratapendapatan rumah tangga petani yakni hanya sekitar 30% dari
total pendapatan keluarga. Sektor pertanian juga dihadapkan pada penurunan
produksi dan produktivitas hasil pertanian (Mardianto, 2001). Hal ini berkaitan
erat dengan sulitnya produktivitas padi di lahan-lahan sawah irigasi yang telah
bertahun-tahun diberi pupuk input
tinggi
tanpa mempertimbangkan
status
kesuburan lahan dan pemberian pupuk organik. Usaha peningkatan produksi
padi ini diikuti oleh penyediaan penunjangproduksi, salah satunya adalah
ketersediaan pupuk. Penggunaan pupuk berimbang dalam usahatani padi sangat
perlu dilakukan, namun disatu sisi harga pupuk sangat mahal. Oleh karenanya,
pemerintah melakukan kebijakan dengan memberikan subsidi pupuk kepada
petani. Hasil penelitian Kasiyati (2004) mengindiksikan bahwa kebijakan subsidi
pupuk dapat meningkatkan pendapatan petani di Jawa Tengah, ini berarti bahwa
kebijakan subsidi pupuk diduga dapat berdampak signfikan terhadap peningkatan
pendapatan petani didaerah lainnya juga, khususnya tabanan.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keuntungan
usahatani padi sawah sebagai dampak dari akibat adanya subsidi pupuk pada dua
musim tanam yang berbeda.
2.
2.1
Metodelogi Penelitian
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di seluruh kecamatan kabupaten Tabanan dengan
masing-masing subak terluasnya.Penentuan lokasi penelitian ini dilakukan secara
purposive sampling, yaitu penentuan lokasi penelitian yang dilakukan secara
sengaja.Penelitian lapangan untuk memperoleh data dan informasi tentang biaya
dan penerimaan sampai impor pada tahun 2010 dilakukan sekitar bulan Maret
2011.
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
2.2
ISSN: 2301-6523
Vol. 5, No. 1, Januari 2016
Populasi dan Sampel
Penentuan populasi dalam penelitian ini menggunakan metode purposive
random sampling, yaitu pemilihan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan
subak terluas, sehingga jumlah populasi seluruhnya adalah 4547 orang petani.
Pada penelitian ini tingkat ketelitian atau keyakinan yang dikehendaki adalah 90
% atau dengan tingkat presisi yang diharapkan 10 % atas dasar pertimbangan
bahwa untuk penelitian sosial tingkat kesalahan masih dapat ditolerir sampai
dengan 10 % sehingga besarnya sampel yang diperoleh dari populasi sebanyak
4547 orang adalah sebesar 98 orang.
2.3
Teknik Pengumpulan Data, Variabel Penelitian dan Metode Analisis
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan observasi lapangan terhadap kegiatan usahatani, wawancara responden
(petani) dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang telah disiapkan dan
dokumentasi dengan mencari dokumen-dokumen atau segala sumber terkait
dengan cara studi kepustakaan sertapengambilan gambarberupa foto-foto.
Variabel penelitian terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer yaitu
struktur input dan output fisik (tradable input, faktor domestik, dan output) serta
harga privat (tradable input, harga faktor domestik, dan harga output di tingkat
petani). Data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini perkembangan luas
area, produksi produktivitas, konsumsi, ekspor komoditas beras, perkembangan
produksi, konsumsi dan harga beras dunia, perkembangan ekspor dan impor
komoditas
beras
dunia,
Budidaya,
pengolahan
dan
pemasaran
beras,
perkembangan nilai tukar dolar US terhadap rupiah, nilai pemilahan kandungan
komponen input, faktor konversi harga pasar aktual (privat) ke harga bayangan
(sosial), Perkembangan harga dasar dan harga impor pupuk kimia. Analisis
penelitian menggunakan metode PAM (Policy Analysis Matrix).Dengan
menggunakan metode PAM tingkat keuntungan pada nilai finansial dan ekonomi
usahatani padi, kebijakan pemerintah dapat dihitung sekaligus secara menyeluruh
dan sistematis.
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
3.
3.1
ISSN: 2301-6523
Vol. 5, No. 1, Januari 2016
Hasil dan Pembahasan
Struktur Input Output Fisik
Struktur input-output fisik di tingkat petani terbagi menjadi empat bagian.
Pertama, input tradable (barang-barang input yang diperdagangkan) meliputi
benih, pupuk kimia seperti pupuk urea, SP 36, ZA, NPK Phonska, pupuk organik,
pestisida, dan herbisida. Kedua, peralatan yang digunakan. Ketiga, penggunaan
tenaga kerja, modal kerja, pajak lahan, dan sewa tanah. Keempat, produksi
(output) yang dihasilkan.
3.2
Harga Privat dan Harga Sosial
Dalam konteks ini, harga privat didasarkan pada harga aktual yang didapat
dari usahatani petani sampel selaku lokasi penelitian. Harga benih padi lebih
mahal dari gabah itu sendiri karena untuk dijadikan benih, usahatani padi sawah
harus dipersiapkan dengan perlakuan yang berbeda dengan usahatani padi sawah
untuk konsumsi. Harga sosial atau harga bayangan adalah harga dunia atau harga
internasional yang sesuai (harga GIF untuk komoditas yang diimpor dan harga
FOB untuk komoditas yang diekspor) untuk mengestimasi harga efisiensi, baik
untuk output maupun input yang tradabel.
3.3
Budget Privat dan Budget Sosial
Pada budget privat, total biaya yang dikeluarkan untuk usahatani padi pada
musim hujan lebih besar dibandingkan musim kemarau, namun dengan
produktivitas dan harga gabah yang lebih tinggi menyebabkan keuntungan bersih
yang diperoleh pada musim hujan lebih besar daripada musim kemarau.Total
biaya (tidak termasuk lahan) adalah penjumlahan biaya input tradabel dan faktor
domestik. Keuntungan bersih (termasuk lahan) adalah selisih antara total
penerimaan dengan total biaya (tidak termasuk lahan) dan Social opportunity cost
of land usahatani padi. Social opportunity cost of land usahatani padi merupakan
keuntungan sosial (tidak termasuk lahan) komoditas jagung sebagai komoditas
alternatif terbaik dari padi.
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
ISSN: 2301-6523
Vol. 5, No. 1, Januari 2016
3.4 Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah di Kabupaten Tabanan
Pada bagian ini dibahas dua aspek keuntungan, yaitu Keuntungan privat
(finansial) dan Keuntungan sosial (ekonomi).Keuntungan adalah selisih antara
penerimaan dan biaya-biaya. Dalam analisis keuntungan finansial, maka
penerimaan dan biaya (input) didasarkan pada tingkat harga pasar atau harga
aktual yang diperoleh dari usahatani maupun pengolahan hasil ( Astawa, 2006).
Keuntungan finansial diharapkan mempunyai nilai positif dan meningkat dari
waktu ke waktu.Sedangkan keuntungan ekonomi dihitung jika terjadi pada pasar
persaingan sempurna, dimana tidak ada kegagalan pasar dan campur tangan atau
kebijakan pemerintah. Pada analisis keuntungan ekonomi, penerimaan dan biaya
(input) didasarkan pada tingkat harga sosial atau harga bayangan (shadow price),
maka pajak dan subsidi dianggap sebagai suatu pembayaran aliran sehingga tidak
mempengaruhi arus biaya dan penerimaan. Suatu usahatani yang menguntungkan
secara finansial belum tentu menguntungkan secara ekonomi. Hal tersebut
dimungkinkan, misalnya karena terdapat subsidi pada input produksi sehingga
keuntungan finansial akan meningkat, namun keuntungan ekonomi tetap atau
mengalami penurunan. Apabila tidak disertai peningkatan produktivitas dan atau
harga output, maka secara ekonomi kebijakan subsidi tersebut tidak akan
meningkatkan keuntungan ekonomi.
3.5
Analisis Keuntungan Finansial
Mengetahui efisiensi suatu usahatani maka cara yang paling sederhana
adalah mengetahui nilai keuntungan. Suatu usaha akan terus dijalankan apabila
keuntungan yang diperoleh lebih besar dari nul atau telah mencapai keuntungan
normal. Indikator efisiensi yang lebih tepat adalah nilai efisiensi ekonomi (sosial)
daripada efisiensi finansial (privat). Efisiensi finansial atau keuntungan finansial
merupakan ukuran daya saing dalam harga pasar aktual. Dari Tabel 1
menunjukkan bahwa keuntungan finansial usahatani padi sawah pada musim
kemarau sebesar Rp 5.625.704,23 per hektar, sedangkan keuntungan finansial
pada musim hujan sebesar Rp 5.802.663,42 per hektar atau terjadi perbedaan
keuntungan relatif tipis yakni sebesar 3,15%.
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
ISSN: 2301-6523
Vol. 5, No. 1, Januari 2016
Tabel 1
Keuntungan Finansial Usahatani Padi Sawah Pada Musim Kemarau dan Musim Hujan di
Kabupaten Tabanan
Uraian
Total penerimaan
Musim Kemarau
(Rp)
19.863.444,52
Musim Hujan
(Rp)
20.514.205,48
14.237.740,29
14.711.542,07
5.625.704,23
5.802.663,42
1,40
1,39
Total biaya
Keuntungan finansial
PBCR
ratio)
(private
benefit-cost
Sumber : Data Primer, 2011
Sistem usahatani padi masing-masing memberikan nilai R/G atau PBCR
sebesar 1,40 untuk sistem usahatani padi sawah pada musim kemarau dan 1,39
untuk sistem usahatani padi sawah pada musim hujan. Dapat dikatakan bahwa
usahatani padi sawah di atas secara finansial layak, karena rasio R/C atau PBCR
lebih besar dari satu. Menurut Monke dan Pearson (1995) suatu aktivitas ekonomi
yang mempunyai keuntungan finansial diatas normal merupakan indikator bahwa
pengembangan aktivitas ekonomi tersebut masih dimungkinkan.
3.6
Analisis Keuntungan Ekonomi
Pendapat Grey et al. (1985), menyebutkan bahwa analisis keuntungan
ekonomi merupakan analisis yang menilai suatu aktivitas ekonomi atas manfaat
bagi masyarakat secara keseluruhan tanpa melihat siapa yang memberi dan siapa
yang menerima manfaat dari aktivitas tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka
pada analisis keuntungan ekonomi tidak dibedakan antara keuntungan ditingkat
petani dan keuntungan ditingkat pedagang. Dengan demikian analisis keuntungan
ekonomi baik output maupun input yang digunakan berdasarkan harga sosial atau
harga bayangan (shadowprice). Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa
keuntungan ekonomi (sosial) usahatani padi sawah pada musim kemarau sebesar
Rp 3.052.706,47/ha dan musim hujan sebesar Rp 1.234.146,40/ha.Usahatani padi
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
ISSN: 2301-6523
Vol. 5, No. 1, Januari 2016
sawah pada musim kemarau ternyata memberikan keuntungan ekonomi yang
lebih tinggi daripadausahatani padi sawah pada musim hujan.
Tabel 2
Keuntungan Ekonomi Usahatani Padi Sawah Pada Musim Kemarau dan Musim Hujan di
Kabupaten Tabahan
Uraian
Musim Kemarau (Rp)
Musim Hujan (Rp)
Total penerimaan
14.119.502,17
16.771.345,78
Total biaya
11.066.795,70
15.537.199,38
3.052.706,47
1.234.146,40
1,28
1,08
Keuntungan ekonomi
SBCR (social benefitcost ratio)
Sumber: Data Primer, 2011
Secara umum dapat dikatakan bahwa sistem usahatani padi sawah baik
pada musim kemarau maupun pada musim hujan layak secara ekonomi, karena
memberikan rasio R/C atau SBCR lebih besar dari 1.
3.7
Divergensi
Pada dasarnya, PAM dimaksudkan sebagai alat analisis kebijakan dan
dampak kebijakan tersebut, yang tersembunyi dalam divergensi. Setiap
divergensi, baik yang disebabkan oleh distorsi kebijakan atau kegagalan pasar,
seyogyanya dapat dijelaskan secara meyakinkan, kalau tidak ingin memunculkan
anggapan bahwa telah terjadi kesalahan data. Divergensi input yang
diperdagangkan (tractable) pada usahatani padi sawah pada musim kemarau
sebesar Rp 167.907,63 juga disebabkan oleh perbedaan harga privat yang
dikeluarkan petani dengan harga sosialnya. Hasil analisis tersebut nilai divergensi
input tradable positif artinya terdapat kebijakan yang menghasilkan harga privat
yang lebih tinggi atau petani sebagai konsumen membayar harga input secara
keseluruhan lebih mahal daripada harga sosialnya (pasar internasional). Nilai
positif pada divergensi input tradabel menunjukkan bahwa secara umum terjadi
kebijakan subsidi negatif atau pajak. Namun hasil analisis mendalam terhadap
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
ISSN: 2301-6523
Vol. 5, No. 1, Januari 2016
input tradabel disebutkan bahwa petani sebagai konsumen menerima subsidi input
tradabel berupa benih, urea dan SP-36, sedangkan untuk input tradabel lainnya
seperti pupuk ZA, NPK Phonska, pupuk organik dan pestisida petani menerima
subsidi negatif atau pajak dari pemerintah. Sebaliknya divergensi input tradabel
pada musim hujan sebesar - Rp 88.217,63 (negatif). Berarti terdapat kebijakan
yang menghasilkan harga privat yang lebih rendah atau petani sebagai konsumen
membayar harga input secara keseluruhan lebih murah daripada harga sosialnya
(pasar internasional). Nilai negatif pada divergensi input tradabel menunjukkan
adanya kebijakan subsidi. Hal ini berarti bahwa usahatani padi sawah pada musim
hujan di Kabupaten Tabanan menerima subsidi input dari pemerintah yang
diterima petani pada usahatanipadi sawah pada musim hujan adalah benih, pupuk
Urea, dan SP-36. Divergensi keuntungan bersih (net profit) usahatani padi sawah
pada musim kemarau sebesar Rp 2.572.997,76/ha, sedangkan pada musim hujan
sebesar Rp 4.568.517,01/ha.Kedua sistem usahatani padi sawah ini menunjukkan
nilai divergensi keuntungan bersih (net profit) yang positif, berarti bahwa terdapat
kebijakan insentif pada usahatani padi sawah di Kabupaten Tabanan, membuat
surplus pada produsen (petani) bertambah atau kebijakan insentif membuat
usahatani padi sawah menjadi efisien.
4
4.6
Kesimpulan dan Saran
Simpulan
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat keuntungan finansial
usahatani padi sawah pada musim kemarau di Kabupaten Tabanan sebesar Rp
5.625.704,23/ha dengan nilai PBCR = 1,40, sedangkan keuntungan finansial
usahatani padi sawah pada musim hujan sebesar Rp 5.802.663,42/ha dengan nilai
PBCR = 1,39. Keuntungan ekonomi usahatani padi sawah pada musim kemarau
sebesar Rp 3.052.706,47/ha dan musim hujan sebesar Rp 1.234.146,40/ha, dengan
nilai SBCR masing-masing 1,28 dan 1,08.Dampak kebijakan subsidi pupuk pada
usahatani padi sawah di Kabupaten Tabanan adalah terjadi kebijakan pajak
terhadap input tradable usahatani padi sawah pada musim kemarau, hal ini
ditunjukkan dengan divergensi input tradablesebesar Rp 167.907,63. Dari hasil
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
ISSN: 2301-6523
Vol. 5, No. 1, Januari 2016
analisis mendalam diketahui bahwa pajak dari pemerintah tersebut diterima petani
terhadap input tradabel seperti pupuk ZA, NPK Phonska, pupuk organik dan
pestisida. Sedangkan input tradabel lainnya berupa benih, urea dan SP-36 diterima
petani sebagai subsidi. Sebaliknya divergensi input tradabel pada musim hujan
sebesar - Rp 88.217,63 (negatif), menunjukkan adanya kebijakan subsidi. Hal ini
berarti bahwa usahatani padi sawah pada musim hujan di Kabupaten Tabanan
menerima subsidi input. Subsidi input dari pemerintah yang diterima petani pada
usahatani padi sawah pada musim hujan adalah benih, pupuk Urea, dan SP-36.
4.7
Saran
Pemerintah diharapkan dapat membuat suatu kebijakan yang dapat
menjamin ketersediaan pupuk secara berkesinambungan dengan harga yang sudah
ditetapkan serta diperlukan adanya suatu system penyaluran pupuk agar tepat
sasaran. Selain itu diperlukan perbaikan teknologi budidaya padi sawah,
penggunaan benih bermutu, dan melaksanakan prinsip pengendalian hama
terpadu.
Daftar Pustaka
Astawa, I P. 2006. Dampak Penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP)
Gabah Terhadap Daya saing Usahatani Padi Sawah di Kabupaten
Tabanan(Tests). Denpasar: Universitas Udayana.
Gray, C., P, Simanjuntak, L.K. Sabur, dan P.F.L. Maspaitella. 1985. Pengantar
Evaluasi Proyek. Jakarta : Gramedia.
Hanafie, R. 2010. Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta : ANDI
Yogyakarta.
Kasiyati, Sri. 2004. Analisis Dampak Subsidi Harga Pupuk Terhadap Output
Sektor Produksi dan Tingkat Pendapatan Rumah Tangga di Jawa Tengah
(Pendekatan Analisis I-O dan SNSE Jawa Tengah Tahun 2004).
http://eprints.undip.ac.id/l 76497.Semarang : Universitas Diponegoro.
Monke, E.A. and S.R. Pearson. 1995. The Policy Analysis Matrix for Agricultural
Development. Ithaca and London : Cornell University Press.
Mardianto, S., 2001. "Mungkinkah Konsumsi Beras Turun?" Kompas 3 Juli 2001.
Suparta, Nyoman. 2010. Memaniapkan Strategi Pengelolaan Pertanian.
Denpasar: Pustaka Nayottama.
Tambunan, Turns T.H. 2003. Perkembangan Sektor Pertanian di Indonesia,
Beberapa Isu Penting.Jakarta: Ghalia Indonesia
Download