status perikanan hiu dan aspek pengelolaannya

advertisement
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XXX, Nomor 1, 2005 : 1-8
ISSN 0216-1877
STATUS PERIKANAN HIU DAN ASPEK PENGELOLAANNYA
Oleh
Fahmi 1) dan Dharmadi 2)
ABSTRACT
SHARK FISHERY STATUS AND ITS MANAGEMENT ASPECTS. Indonesia has
the highest production of sharks and rays in the world. Unfortunately, there are no
reliable species-specific catch data available from the Indonesian fisheries and
there is no control and any regulations to manage this resource. Concerns over the
impact of fishing on shark population around the world are currently rising. These
make some developed countries apply fisheries management system in their countries. Moreover, a world conservation union (IUCN) is also preparing plan of actions for sharks and rays management and conservation status for shark species.
menangkap hiu, baik sebagai hasil tangkapan
sampingan ataupun tangkapan utama, antara
lain adalah jaring insang apung (drift gill net),
rawai permukaan (surface longline), rawai dasar
(bottom longline) dan jaring hiu (dahulu dikenal
sebagai jaring trawl).
Usaha perikanan hiu yang menjanjikan
di negara kita ini menjadikan nilai produksi hiu
di Indonesia terus meningkat dari tahun ke
tahun. Pada tahun 1987, produksi perikanan
hiu di Indonesia tercatat sebesar 36.884
ton, kemudian pada tahun 2000, produksi
hiu tersebut meningkat hingga hampir dua kali
lipat,
yaitu
sebesar
68.366
ton
(DHARMADI & FAHMI 2003). Bahkan
menurut catatan FAO, Indonesia menempati
urutan teratas sebagai negara yang paling
banyak memproduksi hiu dan pari setiap
tahunnya (STEVENS et al. 2000); (TRAFFIC
2002).
KONDISI PERIKANAN HIU DI INDONESIA
Sejak tahun 1970 usaha perikanan hiu
di Indonesia telah berlangsung sangat
pesat, ketika sumberdaya tersebut menjadi
hasil usaha sampingan dari perikanan tuna
dengan menggunakan pancing rawai (tuna
longline). Meskipun perikanan hiu di
Indonesia ini hanyalah sebagai usaha
sampingan (by catch) dari usaha perikanan
lainnya, akan tetapi produksi yang
dihasilkannya menunjukkan nilai yang
signifikan. Sejak tahun 1988 ketika harga sirip
hiu di pasaran dunia meningkat, usaha
perikanan hiu berkembang cukup pesat, bahkan
di beberapa daerah sentra nelayan di Indonesia
menjadikan komoditi hiu sebagai hasil
tangkapan utamanya (target species). Beberapa
alat tangkap yang biasa digunakan untuk
1)
2)
Bidang Sumberdaya Laut, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta
Pusat Riset Perikanan Tangkap - Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta
Oseana, Volume XXX no. 1, 2005
1
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
chimaera (sekitar 600 spesies) (CAMHI et al.
1998); (COMPAGNO 1984) dan (COMPAGNO
2002). Sedangkan di perairan Indonesia,
diperkirakan terdapat lebih dari 200 jenis hiu
yang ditangkap oleh nelayan Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
peneliti Indonesia dan Australian sejak tahun
2001, telah tercatat 140 jenis ikan hiu dan pari
yang ditangkap oleh nelayan Indonesia di Jawa,
Bali dan Nusa Tenggara. Jumlah tersebut masih
akan terus bertambah, seiring berlanjutnya
penelitian mengenai komoditi ikan tersebut.
Predikat tersebut di satu sisi dapat
membuat Indonesia bangga, akan tetapi di lain
pihak justru sebaliknya. Walaupun negara Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah
produksi hiu terbesar setiap tahunnya, akan
tetapi sampai saat ini tidak ada satu peraturan
pun yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam
hal pengaturan dan pengelolaan sumberdaya
tersebut. Kondisi seperti ini dikhawatirkan
akan berdampak terhadap kelangsungan
sumberdaya hiu di Indonesia. Dengan adanya
usaha perikanan hiu yang intensif tetapi tanpa
adanya pengawasan ataupun peraturan yang
mengatur jumlah tangkapan ataupun ukuran
yang layak tangkap, maka dapat mengakibatkan
sumberdaya hiu yang ada di perairan Indonesia di masa mendatang terancam. Kendala ini
dapat diperparah dengan tidak adanya
pengetahuan yang cukup mengenai
sumberdaya hiu, baik di kalangan nelayan
maupun pemerintah. Hingga saat ini
pengetahuan mengenai kehidupan dan jenisjenis hiu yang ada di Indonesia masih sangatlah
minim.
Di kalangan masyarakat nelayan,
pengetahuan mereka mengenai jenis-jenis hiu
secara spesifik masih sangat rendah. Umumnya
mereka hanya menggolong-golongkan hiu
berdasarkan kualitas siripnya. Sedangkan dari
kalangan pemerintah (dalam hal ini departemen
perikanan yang terkait), upaya yang dilakukan
hingga saat ini hanya mengelompokkan semua
jenis ikan hiu kedalam satu kelompok ikan saja
yaitu kelompok ikan hiu dalam data-data
produksi tahunannya. Perlakuan tersebut
berbeda dengan jenis-jenis ikan ekonomis
penting lainnya, seperti ikan-ikan pelagis kecil
ataupun tuna yang dikelompokkan berdasarkan
jenisnya dalam data statistik perikanan Indonesia.
Terkait dengan hal tersebut, pada
kenyataannya ikan hiu yang tergolong dalam
ikan bertulang rawan (Chondrichthyes), terdiri
atas lebih dari 400 jenis, bersama-sama dengan
kelompok ikan pari, hiu gergaji, hiu pari dan
Oseana, Volume XXX no. 1, 2005
ISU KONSERVASI ELASMOBRANCHII
DI DUNIA
Ikan hiu sebagai salah satu jenis ikan
bertulang rawan (Elasmobranchii), telah menjadi
salah satu isu yang sedang hangat dibicarakan
di dunia internasional. Kelompok ikan ini
merupakan makhluk hidup yang unik, karena
termasuk dalam salah satu jenis hewan purba
yang masih hidup dan juga memiliki karakteristik
yang berbeda dengan ikan-ikan bertulang sejati.
Secara umum, ikan hiu memiliki sifat-sifat seperti:
• Fekunditas yang rendah
• Pertumbuhan yang lambat
• Memerlukan waktu yang lama
untuk mencapai usia dewasa
• Umur yang panjang
• Resiko kematian yang tinggi di
semua tingkat umur (CAMHI et
al. 1998); (STEVENS et al. 2000).
Keunikan sifat kelompok ikan bertulang
rawan tersebut, menyebabkan populasinya amat
mudah dipengaruhi oleh aktifitas manusia, baik
secara langsung ataupun tidak langsung.
Beberapa jenis hiu kini terancam kepunahan
dikarenakan beberapa faktor yang menyebabkannya, antara lain sebagai berikut:
• Siklus hidup hiu yang panjang dan
kemampuan reproduksi yang rendah,
serta membutuhkan waktu lama
mengakibatkan mudah terjadi overeksploitasi pada sumberdaya hiu karena
kemampuan pulihnya yang rendah.
2
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
• Pertumbuhan perikanan yang cepat,
tetapi tidak disertai oleh peraturan dan
pengawasan yang tepat sehingga tidak
ada batasan dalam perdagangan hiu di
dunia internasional.
• Tingkat kematian hiu sangat tinggi
akibat tangkapan yang tidak disengaja
(incidental take) oleh nelayan, sehingga
tak jarang ikan-ikan yang tertangkap
tersebut dibuang kembali ke laut.
• Penurunan kualitas areal pembesaran
ikan dan daerah-daerah pantai, estuaria
maupun air tawar akibat pembangunan,
over-eksploitasi dan pencemaran
(CAMHI et al. 1998).
kesulitan yang dihadapi oleh para peneliti
ataupun para pengambil keputusan dalam usaha
mengevaluasi dan memantau populasi hiu di
alam, karena terbatasnya informasi mengenai hal
tersebut, perangkat pengelolaan dan kesadaran
dari para pengambil keputusan (political will).
Kendala yang umum dihadapi dalam penerapan
pengelolaan tersebut adalah angka kematian
akibat penangkapan tidak sepenuhnya tercatat,
karena rendahnya kemampuan untuk
mengidentifikasi ikan ataupun karena sebagai
hasil tangkapan sampingan, sehingga tidak
termasuk dalam laporan hasil tangkapan utama.
Sumber ataupun jumlah produksi hiu yang
masuk dalam perdagangan internasional
sangat sulit untuk terdeteksi. Di lain pihak,
sedikitnya publikasi mengenai identifikasi hiu
di dunia juga menyulitkan nelayan maupun para
praktisi perikanan di dunia untuk mengenali
jenis-jenis hiu yang ada di dunia, khususnya
jenis-jenis yang jarang ditemui ataupun
tergolong langka, sehingga usaha untuk
mengelola ataupun melindungi jenis-jenis
tersebut mendapatkan kendala (CAMHI et.al.
1998).
Saat ini di beberapa negara, khususnya
negara-negara yang sudah lebih maju seperti
Australia, Selandia Baru dan Jepang, perikanan
hiu sudah dikelola dengan cukup baik. Modelmodel pengelolaan terhadap sumberdaya hiu
telah mulai diterapkan dan pemahaman
mengenai sumberdaya tersebut telah
disosialisasikan di kalangan praktisi perikanan,
baik nelayan maupun pihak-pihak yang tekait
dengan usaha perikanan hiu. Sebagai contoh,
Australia melalui AFMA (The Australian Fisheries Management Authority) hanya
mengeluarkan 125 izin penangkapan dengan
menggunakan jaring insang dan 35 izin untuk
menggunakan pancing yang diberikan pada
kapal ikan yang menangkap ikan-ikan hiu dasar
yang ada di wilayah tersebut (WALKER 1999).
Sedangkan pengelolaan perikanan hiu di
Selandia Baru, diatur oleh suatu sistem
pengelolaan kuota (The Quota Management
System, QMA) (FRANCIS & SHALLARD 1999).
Bahkan di Amerika dan Meksiko, terdapat
pembatasan areal penangkapan jenis hiu pelagis.
Nelayan di negara tersebut dilarang untuk
menangkap hiu-hiu dalam jarak kurang dari 100
mil dari garis pantai (HOLTS et al. 1998).
Masalah yang masih dihadapi oleh
negara-negara yang telah menerapkan
pengelolaan tersebut, adalah masih adanya
Oseana, Volume XXX no. 1, 2005
USAHA KONSERVASI SUMBERDAYA HIU
Dalam skala internasional, telah cukup
banyak badan-badan internasional yang
menfokuskan diri pada usaha konservasi hiu
dan pari (elasmobranchii). Salah satu badan
internasional yang amat peduli terhadap
sumberdaya tersebut adalah IUCN (The World
Conservation Union) yang membentuk Shark
Specialist Group (SSG) pada tahun 1991,
sebagai bagian dari komisi penyelamatan jenis
(Species Survival Comission). Tujuan
kelompok ini dibentuk adalah sebagai mediator
bagi usaha konservasi hiu, pari dan Chimaera
(Condrichthyans). Para anggotanya berusaha
untuk menyusun laporan mengenai status ikanikan bertulang rawan dan menyiapkan rencana
aksi (Action plan) bagi kelompok ikan ini.
Penyusunan laporan mengenai status ikan-ikan
bertulang rawan di dunia dilakukan dengan
3
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
mengulas status populasi dan status perikanan
hiu, serta pemberian status konservasi baik
secara regional maupun global untuk beberapa
jenis ikan yang dipilih. Selain itu, juga
menentukan kondisi jenis ikan yang sedang
ataupun akan terancam keberadaaannya
(CAMHI et al. 1998).
Rencana aksi yang dilakukan SSG antara
lain adalah dengan mengidentifikasi langkahlangkah yang akan dilakukan untuk
kelangsungan kehidupan populasi ikan-ikan
bertulang rawan dan usaha-usaha yang perlu
dilakukan untuk memulihkan jenis-jenis yang
terancam ataupun yang menurun jumlahnya.
Laporan yang dibuat oleh SSG juga akan
memperbaharui daftar hewan yang masuk dalam
CITES (The Convention on International Trade
in Endangered Species of Wild Fauna and
Flora). Selain itu, SSG juga memberikan
laporan kepada FAO sebagai salah satu badan
dunia yang berada di bawah PBB. Melalui
badan tersebut, dibentuk sebuah komite
perikanan yang menyusun suatu panduan
(guideline) yang bersifat global maupun
regional terhadap usaha pengelolaan dan
konservasi sumberdaya hiu (PoA of Shark for
Conservation and Management). Salah satu
bentuk laporan tersebut adalah mengeluarkan
red list atau daftar status bagi beberapa jenis
ikan, berdasarkan beberapa kategori status
seperti terancam punah, hampir terancam, dan
lain sebagainya (CAMHI et al. 1998).
Beberapa jenis hiu dan pari yang terdapat di
Indonesia dan cukup sering dijumpai di
tempat-tempat pelelangan ikan di wilayah Indonesia, bahkan termasuk ke dalam daftar status yang dikeluarkan oleh IUCN seperti
tercantum dalam Tabel 1.
sumberdayanya di dunia ataupun di negaranegara tertentu yang memberikan status
tersebut. Beberapa status konservasi ikan
dalam red list tersebut, disesuaikan dengan
kategori sebagai berikut (IUCN-SSC 2001):
1. Punah (Extinct, EX)
Kategori ini diberikan kepada jenis yang
telah benar-benar tidak ada lagi di dunia.
Jenis yang dikatakan punah didasarkan pada
tidak ditemukannya jenis tersebut di
habitatnya, berdasarkan hasil penelitian
yang menyeluruh dan cukup lama pada
habitat yang diduga menjadi tempat hidup
jenis tersebut.
2. Punah di alam (Extinct in the wild, EW)
Kategori ini diberikan pada jenis yang tidak
ditemukan lagi di alam bebas, tapi masih
ditemukan di tempat penangkaran ataupun
lokasi-lokasi yang sudah dilindungi, seperti
cagar alam, suaka margasatwa dan
sebagainya.
3. Sangat terancam (Critically endangered,
CR)
Kategori ini diberikan kepada jenis yang
diyakini mendekati kepunahan di alam.
4. Terancam (Endangered, EN)
Jenis ini diyakini memiliki resiko kepunahan
di alam yang sangat tinggi.
5. Rawan (Vulnerable,VU)
Kategori ini diberikan kepada jenis ini
dikhawatirkan memiliki resiko tinggi
terhadap kepunahan di alam.
6. Hampir terancam (Near threatened, NT)
Kategori ini diberikan kepada jenis yang
diyakini akan terancam keberadaannya di
masa mendatang, apabila tidak ada usaha
pengelolaan terhadap jenis tersebut.
7. Tidak mengkhawatirkan (Least concern, LC)
Kategori ini diberikan kepada jenis-jenis
yang tidak termasuk ke dalam kriteria di
atasnya. Umumnya diberikan kepada jenisjenis yang mempunyai sebaran yang luas
dan kelimpahan yang tinggi.
KATEGORI STATUS JENIS IKAN
DALAM RED LIST
Di dalam daftar merah (red list) IUCN,
terdapat beberapa status yang diberikan
terhadap jenis-jenis ikan sesuai dengan kondisi
Oseana, Volume XXX no. 1, 2005
4
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
8. Minim informasi (Data deficient, DD)
Kriteria ini diberikan kepada jenis yang
belum mempunyai informasi dan data-data
yang cukup untuk bias dimasukkan dalam
kriteria terancam. Untuk itu, masih
memerlukan penelitian yang lebih lanjut, baik
mengenai kelimpahan maupun sebarannya.
9. Belum dievaluasi (Not evaluated, NE)
Diberikan pada jenis-jenis yang belum
dievaluasi untuk ditentukan kriterianya.
DAFTAR PUSTAKA
CAMHI, M., S. FOWLER, J. MUSICK, A.
BRAUTIGAM and S. FORDHAM
1998. Sharks and their relatives,
ecology and conservation. Occasional
Paper of the IUCN Species Survival
Commission No.20. IUCN, Gland,
Switzerland and Cambridge, UK. 39p.
COMPAGNO, L.J.V. 1984. Sharks of the world,
an annotated and illustrated catalogue
of sharks species known to date. Part
1. Hexanchiformes to Lamniformes. FAO
Fisheries Synopsis No. 125, Vol.4, Part 1.
Rome 249p.
USAHA PENGELOLAAN SUMBERDAYA
HIU DI INDONESIA
Menanggapi makin gencarnya isu
konservasi hiu di dunia, maka pemerintah Indonesia, dalam hal ini departemen-departemen
terkait seperti Departemen Kelautan dan
Perikanan (DKP) dan LIPI mulai menanggapi isu
konservasi hiu di negara ini. Langkah awal yang
telah dilakukan dalam rangka pengelolaan
sumberdaya perikanan elasmobranchii (hiu dan
pari) adalah melakukan kerjasama dengan
pemerintah Australia, yakni melalui penelitian
bersama mengenai sumberdaya hiu dan pari di
Indonesia. Diharapkan kerjasama penelitian
yang dibina tersebut dapat menghasilkan suatu
rencana aksi (Action plan) pengelolaan
sumberdaya perikanan hiu dan pari di Indonesia. Program-program lain yang juga mendukung
untuk tersusunnya rencana pengelolaan
tersebut antara lain adalah SEAFDEC (yang
dilaksanakan oleh DKP) dan Sensus Biota Laut
yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian
Oseanografi-LIPI. Selain itu, Akuarium Air
Tawar Taman Mini Indonesia Indah (ATTTMII) bersama dengan Institut Pertanian Bogor
(IPB) dan DKP juga merencanakan melakukan
penelitian dan usaha pembudidayaan jenis hiu
gergaji (Pristis microdon) yang merupakan
jenis yang dalam Red list - IUCN, termasuk
dalam kategori "sangat terancam" (CR) di
wilayah Asia Tenggara. Diharapkan langkahlangkah usaha pengelolaan ini dapat terus
berkelanjutan, sehingga terbentuk suatu sistem
pengelolaan sumberdaya perikanan di Indonesia secara baik.
Oseana, Volume XXX no. 1, 2005
COMPAGNO, L.J.V. 2002. Sharks of the world,
an annotated and illustrated catalogue
of sharks species known to date. Vol.2.
Bullhead, mackerel and carpet sharks
(Heterodontiformes, Lamniformes and
Orectolobiformes). FAO Species catalogue for Fishery purpose No.1, Vol.2.
Rome. 269p.
DHARMADI and FAHMI 2003. Fisheries
characteristic of artisanal sharks and
rays in Indonesian waters. In :
Proceeding of the Seminar on Marine
and Fisheries Jakarta, 15-16 December
2002. Agency for Marine and
Fisheries Research, MMAF. p.122129.
FRANCIS, M.P. and SHALLARD, B. 1999.
New
Zealand
shark
fishery
management. In: Case studies of the
management of elasmobranch fisheries
(R. Shotton, Ed.). FAO. Rome.p. 515551.
HOLTS, D.B., A. JULIAN, O. SOSANISHIZAKI, and N.W. BARTOO 1998.
Pelagic sharks fisheries along the west
coast of the United States and Baja California, Mexico. Fisheries Research 39:
115-125.
5
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
IUCN-SSC 2001. IUCN Red list categories
and
criteria.
IUCN-The
World
Conservation
Union.
Gland,
Switzerland and Cambridge, UK. 34p.
TRAFFIC 2002. A CITES priorities: Sharks and
the twelfth meeting of the conference
of the parties to CITES, Santiago
Chile. IUCN and TRAFFIC Briefing
document, page 2. (Online) Available at
: http ://ww w.traff ic.or g/new s /
Sharks CoP12.pdf. Accessed 6 February 2004.
STEVENS, J.D., BONFIL, R., DULVY, N.K., and
WALKER, P.A. 2000. The effects of fishing on sharks, rays and chimaeras
(chondrichthyans), and the implications
for marine ecosystem. ICES Journal of
Marine Science, 57:476-494.
Oseana, Volume XXX no. 1, 2005
WALKER, T.I. 1999. Southern Australian shark
fishery management. In : Case studies
of the management of elasmobranch fisheries (R. Shotton, Ed.). FAO. Rome.
p.480-514.
6
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Tabel 1. Beberapa jenis hiu yang termasuk dalam daftar merah (red list) IUCN
No J e n i s
HEXANCHIFORMES
HEXANCHIDAE
1 Heptranchias perlo
2 Hexanchus griseus
SQUALIFORMES
SQUALID AE
3 Cirrhigaleus barbifer
CENTROPHORIDAE
4 Centrophorus granulosus
5 Centrophorus moluccensis
Nama Umum
Nama Lokal
Kategori
Sharpnose sevengill shark
Bluntnose sixgill shark
Hiu kucing
Hiu tahu
NT
NT
Mandarin shark
Hiu taji
NT
Gulper shark
Endeavor dogfish
Hiu taji, Cucut botol
Hiu taji, Cucut botol
6
7
Centrophorus niaukang
Centrophorus squamosus
Taiwan gulper shark
Leaf scale gulper shark
Hiu taji, Cucut botol
Hiu taji, Cucut botol
VU
DD
EN in Australia
NT
VU
DD in Australia
8
RAJIFORMES
PRISTIDAE
Pristis microdon
Freshwater sawfish
Hiu gergaji
EN
CR in
Southeast Asia
Banded Wobbegong
Hiu katak
NT
Grey Bamboo Shark
Slender Bamboo Shark
Brown-banded Bamboo
Shark
Hiu tokek
Hiu tokek
Hiu tokek
NT
NT
NT
LC in Australia
GYNGLIMOSTOMATIDAE
13 Nebrius ferrugineus
Tawny Nurse Shark
Hiu gedebong
Hiu gedok
Hiu bisu
VU
LCin
Australia
STEGOSTOMATIDAE
14 Stegostoma fasciatum
Zebra Shark
Hiu karang,
VU
LC in Australia
Whale Shark
Hiu paus
VU
Crocodile Shark
Cucut botol
NT
Thresher Shark
Hiu monyet
DD
NT in
California
Shortfin Mako
Longfin Mako
Hiu tenggiri
Hiu tenggiri
NT
DD
ORECTOLOBIFORMES
ORECTOLOBIDAE
9 Orectolobus ornatus
HEMYSCILLIIDAE
10 Chiloscyllium griseum
11 Chiloscyllium indicum
12 Chiloscyllium punctatum
RHINCODONTIDAE
15 Rhincodon typus
LAMNIFORMES
PSEUDOCARCHARIIDAE
16 Pseudocarcharias kamoharai
ALOPIIDAE
17 Alopias vulpinus
LAMNIDAE
18 Isurus oxyrinchus
19 Isurus paucus
Oseana, Volume XXX no. 1, 2005
7
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Lanjutan tabel 1
CARCHARHINIFORMES
SCYLIORHINIDAE
20 Atelomycterus marmoratus
HEMIGALEIDAE
21 Hemigaleus microstoma
Coral Catshark
Hiu tokek
NT
Weasel Shark
Hiu kacang
22 Hemipristis elongatus
Fossil Shark
Hiu anjing
23 Carcharhinus
amblyrhynchoides
24 Carcharhinus
amblyrhynchos
25 Carcharhinus amboinensis
Graceful Shark
Cucut lanjaman
LC
NT in South
East Asia
VU
LC in Australia
NT
Grey Reef Shark
Hiu lonjor
NT
Pideye (Java) Shark
Merak bulu
26 Carcharhinus borneensis
27 Carcharhinus brevipinna
Borneo Shark
Spinner Shark
Merak bulu
Hiu plen
28 Carcharhinus dussumieri
Whitecheek Shark
Cucut lanjaman
29 Carcharhinus longimanus
30 Carcharhinus macloti
Oceanic Whitetip Shark
Hardnose Shark
Hiu koboy
Mungsing
31
32
33
34
35
Blacktip Reef Shark
Dusky Shark
Sandbar Shark
Blackspot Shark
Spot-tail Shark
Hiu karang,Hiu mada
Hiu merak bulu
Hiu merak bulu
Cucut lanjaman
Mungsing
Hiu merak bulu
Hiu macan
VU
38 Prionace glauca
Tiger Shark
Sharptooth Lemon
Shark
Blue Shark
DD
NT in South
West Indian
Ocean
EN
NT
VU in North
west Atlantic
NT LC in
Australia
NT
NT
LC in Australia
NT
NT
NT
NT
DD
NT in South
East Asia
NT
EN in
South East Asia
NT
39 Triaenodon obesus
Whitetip Reef Shark
SPHYRNIDAE
40 Eusphyra blochii
Winghead Shark
Hiu martil
41 Sphyrna lewini
Scalloped Hammerhead
42 Sphyrna zygaena
Smooth Hammerhead
Hiu martil,
Hiu caping
Hiu martil,
Hiu caping
Carcharhinus melanopterus
Carcharhinus obscurus
Carcharhinus plumbeus
Carcharhinus sealei
Carcharhinus sorrah
36 Galeocerdo cuvier
37 Negaprion acutidens
Sumber : Red list IUCN 2003
Oseana, Volume XXX no. 1, 2005
8
Hiu selendang,
Hiu biru
Hiu karet
Hiu karang
Hiu coklat
NT
NT
LC in Australia
NT
LC in Australia
NT
LC in Australia
and New
Zealand
Download