BAB 2 - Library Binus

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Penerjemahan
Kata penerjemahan berasal dari bahasa Arab yaitu Tarjammah yang berarti
mengubah suatu bahasa ke bahasa lain. Sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2007), terjemahan/menerjemahkan berarti menyalin/memindahkan suatu
bahasa ke bahasa lain atau mengalihbahasakan.
Sedangkan menurut Sudarno (2011) penerjemahan berarti mengubah teks
bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran dengan mempertimbangkan makna
kedua bahasa sehingga diusahakan semirip-miripnya. Selain itu penerjemahan harus
mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa sasaran.
Selain itu menurut Hoed (2006: 23), yang dimaksud dengan penerjemahan
adalah kegiatan mengalihkan secara tertulis pesan dari teks suatu bahasa (contohnya
bahasa Jepang) menjadi teks bahasa lain (contohnya bahasa Indonesia). Namun
penerjemahan bukan hanya kegiatan untuk menerjemahkan suatu teks. Penyampaian
pesan juga merupakan salah satu bagian dari penerjemahan yang tidak boleh sampai
menghilang.
Di sisi lain, Tanji Nobuharu (Mochida Kimiko, 1990: 218) juga menyebutkan
bahwa:
ほんやく
「
げんご
;翻訳 と は あ る
げんご
なか
;言語の
お
か
たんご
;言語 の
おな
;中で
いみ
;同じ<
ぶん
;単語 や
も
;意味>を ;持つ
い
べつ
;文 を 、
たんご
;別 の
ぶん
;単語や
;文に
でき
;置き ;換えることだ、と ;言うことが ;出来るであろう。」
Terjemahan: "Yang disebut dengan penerjemahan, adalah mengubah kata
atau kalimat dalam sebuah bahasa menjadi kata atau kalimat dalam bahasa lain
dengan “arti” yang mirip.”
Sedangkan Larson (1984) berpendapat bahwa penerjemahan ialah suatu
perubahan bentuk dari suatu bahasa. Perubahan yang dimaksud dapat berupa frasa,
klausa, kalimat, paragaf, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, selain membawa
pesan, kegiatan penerjemahan juga merupakan kegiatan untuk mengubah bentuk
bahasa dengan tujuan agar teks hasil terjemahan bisa dipahami dengan mudah oleh
para penikmat hasil terjemahan, atau bahkan membuat para penikmatnya tidak
merasa bahwa teks yang dimaksud merupakan sebuah teks hasil terjemahan.
7
8
Namun dalam proses penerjemahan, pesan atau makna yang terkandung di
dalam sebuah teks terjemahan tidak boleh sampai berubah dari asalnya. Sekalipun
dalam proses terjadi perubahan bentuk frasa, klausa, kalimat dan paragraf. Seperti
yang dikemukakan oleh Nida dan Taber (1974: 12) bahwa penerjemahan harus
bertujuan untuk menyampaikan pesan. Walau pesan yang bersangkutan ini akan
mengalami penyesuaian bentuk leksikal dan gramatikal.
Dalam memahami arti dari penerjemahan, Catford menekankan bahwa
penerjemahan juga harus didasari oleh faktor kesesuaian atau keselarasan. menurut
Catford (1965: 20), penerjemahan adalah kegiatan untu mengganti materi tekstual
dari suatu bahasa secara selaras menjadi bahasa lain. Selain itu, Catford juga
menyatakan bahwa terjemahan yang baik harus tidak terasa seperti sebuah teks hasil
terjemahan saat dibaca.
Dari teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa empat inti utama dalam
melakukan penerjemahan adalah:
a. Adanya perubahan bentuk frasa, klausa, kalimat, paragraf dan sebagainya
b. Penyampaian pesan yang tidak diubah/ dipertahankan
c. Kesesuaian
d. Teks terjemahan yang tidak terasa hasil penerjemahan.
2. 2 Metode Penerjemahan
Melakukan penerjemahan bukanlah hal yang semudah kedengarannya.
Bertolak belakang dengan definisi menurut KBBI, Luther dalam Simatupang (2000:
3) menyatakan bahwa bahwa “Translation is not everybody’s art”. Yang berarti
Penerjemahan bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh semua orang. Karena sama
seperti sebuah karya seni, penerjemahan membutuhkan pengetahuan, latihan, serta
pengalaman.
Sebagai tambahan pernyataan di atas, Hidayat dalam Amalia (2007) juga
mengemukakan bahwa kemahiran menerjemahkan tidak mungkin berkembang
menjadi kemahiran profesional tanpa pengetahuan tentang teknik penerjemahan,
latihan yang intensif serta pengalaman yang cukup.
Sejalan dengan apa yang dikemukakan Hidayat, Robinson dalam Amalia
(2007) juga menyatakan bahwa penerjemahan merupakan rangkaian proses belajar
yang berjalan secara terus-menerus melalui tiga tahapan, yaitu naluri, pengalaman
serta kebiasaan.
9
Saat melakukan penerjemahan, para penerjemah dihadapkan pada berbagai
perbedaan bentuk frasa, klausa, kalimat dalam bahasa sumber, serta teks bahasa
sasaran. Terlebih lagi setiap bahasa memiliki aturan masing-masing yang juga
dipengaruhi oleh budaya masing-masing. Hal terpenting saat seorang penerjemah
menerjemahkan sebuah kalimat, sang penerjemah harus menyadari bahwa akan ada
perubahan bentuk frasa, klausa dan kalimat.
Hal ini sesuai dengan pendapat Nida (2003) yang mengatakan:
“Translating consist in producing in the receptor language the closest
natural equivalent to the message of the source language, first in meaning and
secondly in style.”
Dari kutipan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep dari sebuah
penerjemahan adalah mencari dan menentukan arti dalam bahasa sumber yang paling
sesuai dengan makna dan gaya bahasa sasaran.
Lebih lanjut, menurut De Maar dalam A. Widyamartaya (1989: 15) beberapa
langkah yang dibutuhkan dalam melakukan penerjemahan ialah sebagai berikut:
a. Membaca dan mengerti karya sastra yang akan diterjemahkan
b.Menyerap serta memahami isi dari karya sastra tersebut, bahkan hingga sang
penerjemah menemukan makna terpendam di balik karya sastra tersebut
c. Mengubahnya menjadi bahasa tujuan dengan mencocokkannya dengan sistematika
bahasa tujuan namun tanpa mengubah ide atau pemikiran utama dari karya sastra
tersebut.
2.3 Ideologi
Ideologi berasal dari kata idéologie, yang merupakan gabungan dari 2 kata
yaitu, idéo yang berarti “gagasan” dalam bahasa Perancis, serta logie yang mengacu
kepada logos, yaitu kata dalam bahasa Yunani yang berarti “logika”.
Menurut Karl Max (1932), yang dimaksud dengan ideologi adalah alat untuk
mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama. Sedangkan Gunawan Setiardjo
(1993: 32) berpendapat bahwa ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan yang
melahirkan aturan dalam kehidupan bersama.
Walau dari kedua kutipan di atas bisa terlihat bahwa kata ideologi sangat
dekat dengan psikologi dan interaksi antar sesama manusia, dalam bidang kajian
bahasa, budaya dan penerjemahan, pengertian ideologi bisa diperluas di luar konteks
psikologi dan didefinisikan sebagai seperangkat ide yang mengatur kehidupan
manusia yang dapat membantu memahami hubungan dengan lingkungan kita
10
(Karoubi, 2008: 5). Dengan kata lain, ideologi dari sisi penerjemahan adalah suatu
metode atau pemikiran yang berguna untuk membantu seorang penerjemah
merealisasikan terjemahannya menjadi bahasa tujuan sehingga dapat dipahami
dengan mudah oleh para penikmat hasil terjemahan.
Karoubi (2008) juga berpendapat bahwa saat ini, sebagian besar orang dalam
komunitas penerjemahan masih menganggap ideologi hanya merupakan kata dalam
kajian psikologi. Padahal seorang penerjemah seharusnya bisa memutuskan apakah
ia akan mengambil atau mengabaikan sebuah ideologi pada saat melakukan
penerjemahan.
2.4 Ideologi Penerjemahan
Seperti yang telah disebutkan di atas, ideologi penerjemahan adalah suatu
metode atau pemikiran yang berguna untuk membantu seorang penerjemah
merealisasikan terjemahannya menjadi bahasa tujuan agar dapat dipahami dengan
mudah oleh para pembaca hasil terjemahan. Untuk menganalisis sebuah ideologi
penerjemahan, kita dapat melihatnya dari proses maupun hasil terjemahan yang
bersangkutan.
Sementara menurut Hoed (2003: 4), ideologi dalam bidang penerjemahan
berarti prinsip atau keyakinan mengenai benar-salah dalam sebuah penerjemahan.
Namun dari teori di atas muncul sebuah pertanyaan, yaitu “Apa yang menentukan
benar-salah dalam sebuah penerjemahan?” Menurut Nida dan Taber (1974: 12),
benar-salah dalam sebuah penerjemahan harus ditentukan oleh para penikmat hasil
terjemahan. Dengan kata lain, untuk melihat apakah sebuah terjemahan bisa
dipahami atau tidak, kita harus melihatnya dari sudut pandang penikmat terjemahan.
Sedangkan Hatim dan Mason (1997: 83, 148, 162), mengemukakan konsep
“Audience Design” sebagai salah satu prosedur untuk memulai suatu proses
penerjemahan. “Audience Design” adalah suatu tindakan memperkirakan siapa
calon pembaca terjemahan kita. Berbeda calon sidang pembaca kita, berbeda pula
cara kita menerjemahkan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti akan
memposisikan dirinya sebagai penonton hasil terjemahan anime awam.
Namun sebelum maju lebih lanjut, perlu dijabarkan bahwa dalam sebuah
penerjemahan, terdapat dua kutub ideologi yang saling bertentangan. (Kardimin,
2013) Ideologi pertama mengatakan bahwa penerjemahan yang baik adalah
penerjemahan yang mengacu pada bahasa sasaran. Dengan kata lain, sebuah teks
terjemahan akan dianggap baik, apabila bisa dipahami dan diterima oleh pembaca
11
bahasa sasaran. Teks tersebut harus terasa natural, dan tidak terdengar seperti sebuah
teks hasil terjemahan; seakan-akan seperti seperti karya yang berasal dari bahasa
sendiri. Ideologi ini disebut dengan ideologi penerjemahan domestifikasi, atau juga
disebut dengan lokalisasi.
Sedangkan ideologi kedua mengatakan bahwa terjemahan yang baik adalah
terjemahan yang mengacu pada bahasa sumber atau masih mempertahankan bentukbentuk bahasa sumber termasuk unsur-unsur kebudayaannya. Ideologi ini disebut
foreignisasi.
2.5 Ideologi Penerjemahan Domestifikasi
Menurut Kardimin, (2013) ideologi penerjemahan domestifikasi adalah
penerjemahan yang lebih condong mengacu pada bahasa sasaran. Ideologi ini
meyakini bahwa penerjemahan yang baik, benar, dan bisa diterima, adalah
penerjemahan yang sesuai dengan selera dan harapan para pembaca dengan cara
mengubah istilah-istilah asing ke dalam bahasa sasaran. Tujuan dari ideologi ini
adalah membuat para penikmat karya hasil terjemahan tidak merasa bahwa yang
sedang mereka baca adalah karya hasil terjemahan. Melainkan karya asli dari bahasa
sendiri. Biasanya domestifikasi digunakan dilakukan saat istilah asing dan tidak
lazim dari teks bahasa sumber akan menjadi hambatan atau kesulitan bagi pembaca
bahasa sasaran dalam memahami teks yang bersangkutan (Mazi-Leskovar, 2003: 5).
Kesulitan pemahaman pembaca bahasa sasaran bisa diakibatkan oleh perbedaan cara
pandang, perbedaan budaya, perbedaan bahasa, maupun pengalaman peristiwa sosial
tertentu.
Terkadang demi mencapai tujuan tersebut, beberapa karya terjemahan seperti
novel atau film dilakukan dengan cara mendomestifikasikan nama-nama tokoh cerita
dengan penggunaan nama dengan pengucapan yang lebih mudah diucapkan dan
diingat oleh pembaca. Seperti dalam game “Gyakuten Saiban” ( 逆 転 裁 判 ) di
Amerika yang mengalami berbagai proses domestifikasi yang tergolong sangat
mencolok. Dari perubahan judul menjadi “Phoenix Wright: Ace Attorney”, serta
perubahan nama karakter seperti Ryuichi Naruhodou menjadi Phoenix Wright,
bahkan perubahan setting dari Jepang menjadi Los Angeles, Amerika. Walau pada
awalnya tidak muncul masalah, belakangan penerjemah game tersebut sering kali
merasa kebingungan akibat budaya Jepang yang kian bertambah dalam game
tersebut.
12
Kembali menurut Kardimin (2013), ciri-ciri bahwa sebuah terjemahan
menggunakan ideologi domestifikasi ialah sebagai berikut:
1. Hasil terjemahan sesuai dengan kebudayaan pada bahasa sasaran.
2. Penerjemah sendiri yang menentukan apa yang harus dia lakukan agar
terjemahannya tidak terasa sebagai karya asing
3. Metode yang dipakai adalah penerjemahan adaptasi, penerjemahan bebas
penerjemahan idiomatik, serta penerjemahan komunikatif.
4. Kata-kata asing seperti ―さん、―くん、―さま diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia.
5. Penerjemah berusaha memperkenalkan budaya Indonesia pada dunia luar.
Di samping itu, Kardimin (2013) juga mengemukakan bahwa penggunaan
ideologi penerjemahan domestifikasi memiliki kelebihan serta kekurangan
sebagai berikut:
Kelebihan

Pembaca teks bahasa sasaran bisa memahami teks terjemahan dengan mudah.

Teks terjemahan terasa natural.

Memungkinkan terjadinya asimilasi budaya.
Kekurangan

Aspek-aspek budaya dalam bahasa sumber sering kali pudar.

Pembaca teks sasaran tidak bisa memberikan interpretasi terhadap teks,
dilakukan oleh penerjemah.

Pembaca teks bahasa sasaran tidak mendapatkan pengetahuan budaya bahasa
sumber.
Terkadang, domestifikasi bisa dilakukan untuk memenuhi kaidah sopan santun
yang berlaku pasa masyarakat bahasa sasaran. Ada ungkapan-ungkapan tertentu
yang bila diterjemahkan secara harfiah akan menimbulkan rasa tersinggung pada
penikmatnya. Bila seorang penerjemah menjumpai kasus seperti ini, dia harus
dengan pandai berusaha mencari padanan terdekat tanpa harus melanggar norma
yang dituntut dalam masyarakat bahasa sasaran.
13
2.6 Dajyare serta Teknik Penerjemahannya
Menurut Nakamura Akira, (2008: 23), yang dimaksud dengan dajyare adalah:
ひと
「
おとよこしげる
;一 つ の
ふくすう
;音横成 に
;複数 の い み を も た せ る 、
しゅうじぎほう
;修辞技法)。」
Terjemahan:
“Sebuah kalimat bermajas retoris yang memiliki pengucapan yang mirip,
namun memiliki lebih dari satu arti.”
Apabila melihat dari struktur bahasanya, dajyare merupakan sebuah frase yang
terdiri dari gabungan dari dua kata, yaitu da (駄) yang merupakan pemotongan dari
kata dame (駄目) yang berarti jelek atau buruk, dan share (洒落).
Kembali menurut Nakamura Akira, (2008:23), yang dimaksud dengan share
adalah:
おな
「
おと
;同じ
に
おと
;音や ;似た
いみ
;音で
ほうこう
して、とんでもない
でいみ
ちが
;意味の
べつご
;違う
てんかい
;方向へ
ちが
りよう
;別語を
;利用
ちょうし
;展開したり、
;調子だけそ
もぞうひん
っくり
;出意味のまったく ;違う
;模造品をつくるあげたり
する。」
Terjemahan:
“Menggunakan kata-kata yang berbeda namun memiliki bunyi yang
sama/mirip, atau menggunakan kata-kata yang memiliki nada yang mirip
namun maknanya sangat berbeda untuk menarik reaksi yang tertentu.”
Definisi ini sesuai dengan deskripsi “pun ” menurut John Pollack (2011) yang
berbunyi:
“A play on words, either on different senses of the same word or on the
similar sense or sound of different words.”
Terjemahan:
“Permainan kata-kata, dengan cara menggunakan kata yang memiliki
bentuk yang sama namun makna yang berbeda, atau bunyi yang berbeda
namun memiliki arti yang serupa.”
Dari kedua pernyataan di atas, dapat kita lihat bahwa dajyare memiliki
kesamaan dengan “pun” (pelesetan) yang merupakan salah satu bagian dari
wordplay (permainan kata-kata) dalam bahasa Inggris, yakni permainan kata-kata
yang menggunakan kata-kata yang memiliki bunyi yang sama atau mirip.
Hal ini kembali ditegaskan kembali oleh Kawahara (2009) yang menyebutkan:
14
“Dajyare is a pun which created by pairing two identical or similar words to
create a meaningful expression.”
Terjemahan:
“Dajyare adalah sebuah pelesetan yang disusun dengan cara membandingkan
dua kata yang mirip untuk menciptakan sebuah kesan khusus.”
Dari pernyataan tersebut, dapat kita ambil kesimpulan bahwa yang dimaksud
dengan dajyare adalah sejenis pelesetan yang dibuat dengan cara membandingkan
dua kata yang terdengar mirip.
Selanjutnya, Peter Farb, dalam bukunya yang berjudul Word Play (1973)
menyebutkan:
"All obscene puns have the same underlying construction in that they
consist of two elements. The first element sets the stage for the pun by
offering seemingly harmless material, such as the title of a book, The
Tiger's Revenge. But the second element either is obscene in itself or
renders the first element obscene as in the name of the author of The Tiger's
Revenge--Claude Bawls."
Terjemahan:
“Pelesetan terbentuk dari dua elemen. Elemen pertama merupakan bagian
dari pelesetan yang tidak memiliki arti yang signifikan, sebagai contoh, buku
berjudul “Tiger’s Revenge”. Namun elemen kedua memiliki arti yang
mengundang tawa, atau membuat elemen pertama menjadi pengundang tawa,
seperti nama pengarang dari buku “The Tiger's Revenge”, Claude Bawls.”
Dari deskripsi Peter Farb, dapat diambil kesimpulan bahwa sebuah pelesetan
terdiri dari dua komponen. Komponen pertama adalah “inti” dari kalimat yang tidak
berkesan apa pun. Namun, apabila dipasangkan dengan komponen kedua, maka
salah satu, atau kedua komponen yang ada akan menjadi pengundang tawa.
Otake dan Cutler dalam Takashi (2010) membagi dajyare menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Dajyare Homofon
Yaitu dajyare yang menggunakan 2 kata yang memiliki bunyi yang sama,
namun arti dan/atau cara tulis yang berbeda.
せんす
Contoh:
この
;扇子はセンスがいい。
Dalam kalimat di atas, kata sensu muncul sebanyak dua kali, kata sensu
pertama bermakna “kipas” sedangkan kata sensu kedua berasal dari kata
bahasa Inggris yaitu sense yang bermakna desain.
15
Apabila dajyare itu diterjemahkan secara literal, maka hasilnya kurang-lebih:
“Kipas ini punya desain yang menarik.”
2. Dajyare Hampir-homofon
Yaitu dajyare yang menggunakan 2 kata yang memiliki bunyi yang hampir
sama.
たいじゅう
Contoh:
ヘルシーに
へ
;体重が ;減るし.
Dalam kalimat di atas, kata herushii yang berasal dari kata bahasa Inggris
healthy yang bermakna makanan sehat dan bergizi seperti salad, dipasangkan
dengan kata herushi yang bermakna berkurang.
Kedua kata yang dipasangkan, yaitu herushii dan herushi memiliki cara
pengucapan yang hampir sama, hanya berbeda durasi huruf “i”. Apabila
dajyare di atas diterjemahkan secara literal, maka hasilnya kurang-lebih:
“Berat badanku turun karena makan makanan bergizi.”
3. Dajyare Sematan
Yaitu dajyare yang memasangkan dua kata yang berbeda, namun dalam
salah satu kata tersemat bagian yang mirip dengan kata yang dipasangkan.
さけ
Contoh:
さけ
;鮭が
;叫んだ。
Dalam kalimat di atas, kata sake yang berarti ikan salmon, dipasangkan
dengan kata sakenda yaing berasal dari kata sakebu yang berarti menjerit.
Dalam kata sakebu, terdapat kata sake yang telah diberi garis bawah. Apabila
dajyare di atas diterjemahkan secara literal, maka artinya kurang-lebih: “Ikan
salmonnya menjerit.
Sedangkan, Delabastita (1996), Gottlieb (1997), von Flotow (1997) dan
Lefevere (1992) (dalam Balci (2005: 20-21) Schutte (2007: 5) dan Ade Indarta
(2010: 3-5)) menuturkan bahwa ada beberapa metode yang dapat digunakan seorang
penerjemah dalam menerjemahkan wordplay. Teori-teori tersebut, yakni:
1. Wordplay to Wordplay
Yakni metode dengan cara menerjemahkan wordplay secara literal atau apa
adanya, namun dalam bahasa sasaran sifat wordplay sebagai permainan katakata tetap terjaga. Walaupun nantinya terjadi sedikit perubahan pada hasil
terjemahan, tidak terjadi ketaksetaraan makna pada bahasa sasaran.
16
2. Pelesapan
Dalam metode ini, penerjemah menghapus sifat wordplay yang ada. Biasanya
penerjemah tetap mempertahankan kata atau frase yang masih berhubungan
dengan situasi.
3. Kompensasi
Penerjemah menciptakan wordplay baru dalam bahasa sasaran yang berbeda
dengan wordplay dalam bahasa sumber, namun wordplay yang baru tidak
boleh berbenturan dengan situasi yang terjadi dalam teks terjemahan.
4. Peranti Retoris
Penerjemah mempertahankan efek penarik perhatian pada sebuah wordplay,
dengan cara menggunakan peranti retoris yakni kata atau frase yang menarik
perhatian seperti pengulangan, rima, ironi, konotasi, dan lain sebagainya.
5. Situasional
Penerjemah menjelaskan maksud dari sebuah wordplay dengan cara
memasukkan teks tambahan pada hasil terjemahan.
6. Editorial Technique
Penerjemah memberikan catatan kaki untuk menjelaskan maksud wordplay
pada pembaca.
7. Terjemahan Literal
Sama seperti Wordplay to Wordplay, penerjemah menerjemahkan sebuah
wordplay secara apa adanya. Namun dalam kasus ini, sifat wordplay sebagai
permainan kata-kata dalam bahasa sasaran menghilang sama sekali.
8. Peminjaman
Dalam metode ini, penerjemah tidak menerjemahkan wordplay yang ada dan
hanya mempertahankannya dalam bahasa sumber. Metode ini digunakan agar
para pembaca dapat memahami bahwa terdapat wordplay dalam bahasa
sumber. Biasanya penerjemah menggunakan metode ini apabila bahasa
sumber adalah bahasa yang dinilai mudah dipahami oleh pembaca.
Berkesinambungan dengan teori di atas, Ade Indarta (2010: 5) membagi
metode-metode tersebut sesuai dengan dua ideologi penerjemahan yang ada dan
merumuskannya dalam sebuah bagan alur aplikasi ideologi.
17
Ideologi
Foreignsasi
Domestifikasi
Terjemahan Literal
Peminjaman
Wordplay to Wordplay
Pelesapan
Kompensasi
Peranti Retoris
Situasional
Editorial Technique
Teknik
Penerjemahan
Diagram 1. Alur Aplikasi Ideologi dengan Teknik Penerjemahan
Diagram di atas menunjukkan langkah proses seorang penerjemah dalam
melakukan penerjemahan. Setelah seorang penerjemah menganut ideologi tertentu,
ia akan menentukan pilihan metode penerjemahan yang ingin diaplikasikan. Seorang
penerjemah yang menganut ideologi domestifikasi misalnya, cenderung akan
menggunakan teknik penerjemahan yang berkisar pada teknik wordplay to wordplay
translation, pelesapan, peranti retoris, kompensasi, situasional, atau editorial
technique.
Sementara
mereka
yang
menganut
ideologi
foreignsasi
akan
menggunakan teknik literal serta peminjaman (borrowing).
Oleh karena itu, menurut diagram di atas, bila seorang penerjemah
melakukan penerjemahan dengan urutan dari atas ke bawah, yakni dimulai dari
memilih ideologi, lalu menentukan teknik mana yang akan dia gunakan, dan
selanjutnya melakukan penerjemahan, maka dalam analisis untuk mencari tahu
ideologi terjemahan yang dilakukan, kita harus melihatnya dari bawah ke atas, yakni
menganalisis hasil terjemahan untuk mencari tahu teknik apakah yang penerjemah
gunakan, dan mengelompokkannya dalam ideologi terjemahan yang ada di dalam
bagan. Dengan teknik ini, dapat diambil kesimpulan ideologi manakah yang dianut
oleh penerjemah pada saat dia menerjemahkan sebuah wordplay.
18
Download