konstitutionalisme berdasarkan

advertisement
ISLAM DAN TRADISI
NEGARA KONSTITUTIONAL1
Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH2.
A. GAGASAN NEGARA HUKUM MODERN (Rechtsstaat dan The Rule of Law)
‘The founding fathers and mothers’ Negara Indonesia modern mengimpikan
cita kenegaraan (staats-idee) Indonesia sebagai satu Negara Hukum. Dalam rumusan
Undang-Undang Dasar 1945, seperti yang tercantum dalam Penjelasan Umumnya,
istilah yang digunakan untuk menyebut konsep Negara Hukum tersebut adalah
‘rechtsstaat’ yang diperlawankan dengan ‘machtsstaat’ (Negara Kekuasaan). Ketika
UUD 1945 diganti dengan Konstitusi RIS pada tahun 1949, dan juga UUDS pada
tahun 1950, ide Negara Hukum itu lebih jelas lagi dirumuskan secara tegas dalam
Pasal 1 ayat (1) kedua konstitusi terakhir itu. Artinya, gagasan Negara Hukum itu
bersifat tetap dalam pemikiran konstitutionalisme Indonesia sejak kemerdekaan.
Namun, dalam perjalanan waktu sejak kemerdekaan pada tahun 1945 sampai
dengan sekarang, perwujudan ide Negara Hukum itu terbukti tidak mudah. Selama
periode kepemimpinan Presiden Soekarno sampai tahun 1966/1967, yang dianggap
paling menentukan dalam dinamika kehidupan kenegaraan Indonesia bukanlah
hukum, tetapi politik. Sementara itu, periode selanjutnya, yaitu pada masa Orde Baru,
yang dianggap paling menentukan adalah pertimbangan-pertimbangan yang
berkenaan dengan pembangunan ekonomi. Karena itu muncul istilah politik sebagai
panglima dan ekonomi sebagai panglima untuk membandingkan corak paradigma
kepemimpinan Negara selama kurun waktu awal kemerdekaan dan masa Orde Lama
serta di masa Orde Baru.
Sekarang, bangsa kita memasuki era baru, yaitu era reformasi. Sudah tentu,
paradigma kepemimpinan nasional kita sudah seharusnya berubah dengan kembali
mengedepankan hukum sesuai dengan cita-cita Negara Hukum yang diimpikan oleh
‘the founding fathers and mothers’ Indonesia modern. Dengan perkataan lain, inilah
saat yang tepat bagi kita untuk mewujudkan cita-cita Negara Hukum yang dalam
istilah Jerman disebut dengan ‘rechtsstaat’ atau dalam istilah Inggeris disebut ‘the
rule of law’.
Ide Negara Hukum itu, selain terkait dengan konsep ‘rechtsstaat’ dan ‘the rule
of law’, juga berkaitan dengan konsep ‘nomocracy’ yang berasal dari perkataan
‘nomos’ dan ‘cratos’. Perkataan nomokrasi itu dapat dibandingkan dengan ‘demos’
dan ‘cratos’ atau ‘kratien’ dalam demokrasi. ‘Nomos’ berarti norma, sedangkan
‘cratos’ adalah kekuasaan. Yang dibayangkan sebagai factor penentu dalam
penyelenggaraan kekuasaan adalah norma atau hukum. Karena itu, istilah nomokrasi
itu berkaitan erat dengan ide kedaulatan hukum atau prinsip hukum sebagai
kekuasaan tertinggi. Dalam istilah Inggeris yang dikembangkan oleh A.V. Dicey3, hal
1
Disampaikan sebagai Keynote Speech dalam Seminar Indonesia-Maaysia yang diselenggarakan oleh
UIN/IAIN Padang, 7 Oktober 2010.
2
Pendiri dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (2003-2008), mantan Anggota Dewan
Pertimbangan Presiden Bidang Hukum dan Ketatanegaraan, guru besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia,
Penasihat KOMNASHAM, Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI), Ketua
Dewan Pembina Ikatan Sarjana Hukum Indonesia (ISHI), dan sebagainya.
3 A.V. Dicey, An Introduction to the Study of the Law of the Constitution, Macmillan, edisi tahun 1971.
1
itu dapat dikaitkan dengan prinsip “rule of law” yang berkembang di Amerika Serikat
menjadi jargon “the Rule of Law, and not of Man”. Yang sesungguhnya dianggap
sebagai pemimpin adalah hukum itu sendiri, bukan orang. Dalam buku Plato berjudul
“Nomoi” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris dengan judul “The
Laws”4, jelas tergambar bagaimana ide nomokrasi itu sesungguhnya telah sejak lama
dikembangkan dari zaman Yunani Kuno.
Di zaman modern, konsep Negara Hukum di Eropah Kontinental
dikembangkan antara lain oleh Immanuel Kant, Paul Laband, Julius Stahl, Fichte, dan
lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman, yaitu “rechtsstaat’. Sedangkan dalam
tradisi Anglo Amerika, konsep Negara hukum dikembangkan atas kepeloporan A.V.
Dicey dengan sebutan “The Rule of Law”5. Menurut Julius Stahl, konsep Negara
Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen
penting, yaitu:
1. Perlindungan hak asasi manusia.
2. Pembagian kekuasaan.
3. Pemerintahan berdasarkan undang-undang.
4. Peradilan tata usaha Negara.
Sedangkan A.V. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap
Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”, yaitu:
1. Supremacy of Law.
2. Equality before the law.
3. Due Process of Law.
Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di
atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang
dikembangkan oleh A.V. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di
zaman sekarang. Bahkan, oleh “The International Commission of Jurist”, prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak
memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang makin
dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara demokrasi. Prinsip-prinsip yang
dianggap sebagai ciri penting Negara Hukum menurut “The International
Commission of Jurists” itu adalah:
1. Negara harus tunduk pada hukum.
2. Pemerintah menghormati hak-hak individu.
3. Peradilan yang bebas dan tidak memihak.
Profesor Utrecht membedakan antara Negara hukum formil atau Negara
hukum klasik, dan negara hukum materiel atau Negara hukum modern6. Negara
hukum formil menyangkut pengertian hukum yang bersifat formil dan sempit, yaitu
dalam arti peraturan perundang-undangan tertulis. Sedangkan yang kedua, yaitu
Negara Hukum Materiel yang lebih mutakhir mencakup pula pengertian keadilan di
dalamnya. Karena itu, Wolfgang Friedman dalam bukunya ‘Law in a Changing
Society’ membedakan antara ‘rule of law’ dalam arti formil yaitu dalam arti
‘organized public power’, dan ‘rule of law’ dalam arti materiel yaitu ‘the rule of just
law’.
Pembedaan ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa dalam konsepsi negara
hukum itu, keadilan tidak serta-merta akan terwujud secara substantif, terutama
4
Lihat Plato: The Laws, Penguin Classics, edisi tahun 1986. Diterjemahkan dan diberi kata pengantar oleh Trevor
J. Saunders.
5 Untuk diskusi yang mendalam mengenai konsep ‘rule of law’ ini dapat dibaca karya Franz Neumann, The Rule
of Law: Political Theory and the Legal System of Modern Society, Leamington Spa and Heidelberg, 1986.
6 Utrecht, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Ichtiar, Jakarta, 1962, hal. 9.
2
karena pengertian orang mengenai hukum itu sendiri dapat dipengaruhi oleh aliran
pengertian hukum formil dan dapat pula dipengaruhi oleh aliran pikiran hukum
materiel. Jika hukum dipahami secara kaku dan sempit dalam arti peraturan
perundang-undangan semata, niscaya pengertian negara hukum yang dikembangkan
juga bersifat sempit dan terbatas serta belum tentu menjamin keadilan substantive.
Karena itu, di samping istilah ‘the rule of law’ oleh Friedman juga dikembangikan
istilah ‘the rule of just law’ untuk memastikan bahwa dalam pengertian kita tentang
‘the rule of law’ tercakup pengertian keadilan yang lebih esensiel daripada sekedar
memfungsikan peraturan perundang-undangan dalam arti sempit. Kalaupun istilah
yang digunakan tetap ‘the rule of law’, pengertian yang bersifat luas itulah yang
diharapkan dicakup dalam istilah ‘the rule of law’ yang digunakan untuk menyebut
konsepsi Negara hukum di zaman sekarang.
B. IDE NEGARA KONSTITUSIONAL (Constitutional State)
1. Konstitusi dan Konstitusionalisme:
Keseluruhan prinsip negara hukum tersebut di atas, haruslah dirumuskan
dalam konstitusi, baik dalam arti tertulis dalam satu naskah Undang-Undang Dasar
ataupun dalam arti tidak tertulis dalam satu naskah seperti Kerajaan Inggeris yang
meskipun tidak memiliki naskah UUD tetap disebut sebagai ‘constitutional state’,
‘constitutional monarchy’. Aliran paham konstitusional ini dalam sejarah pemikiran
hukum tata negara biasa disebut dengan konstitusionalisme yang di zaman sekarang
ini dianggap sebagai satu konsep yang niscaya bagi setiap negara modern. Seperti
dikatakan oleh C.J. Friedrich, “constitutionalism is an institutionalized system of
effective, regularized restraints upon governmental action”. Basis pokoknya adalah
kesepakatan umum atau persetujuan (consensus) di antara mayoritas rakyat mengenai
bangunan yang diidealkan berkenaan dengan Negara. Organisasi Negara itu
diperlukan oleh warga masyarakat politik agar kepentingan mereka bersama dapat
dilindungi atau dipromosikan melalui pembentukan dan penggunaan mekanisme yang
disebut Negara.7 Kata kuncinya adalah consensus atau ’general agreement’. Jika
kesepakatan umum itu runtuh, maka runtuh pula legitimasi kekuasaan Negara yang
bersangkutan, dan pada gilirannya perang saudara (civil war) atau revolusi dapat
terjadi. Hal ini, misalnya, tercermin dalam tiga peristiwa besar dalam sejarah umat
manusia revolusi penting yang terjadi di Perancis tahun 1789, di Amerika pada tahun
1776, dan di Rusia pada tahun 1917, ataupun di Indonesia pada tahun 1965 dan 1998.
Konsensus yang menjamin tegaknya konstitutionalisme di zaman modern pada
umumnya dipahami bersandar pada tiga elemen kesepakatan, yaitu8:
1. Kesepakatan tentang tujuan atau cita-cita bersama (the general goals of society or
general acceptance of the same philosophy of government).
2. Kesepakatan tentang ‘the rule of law’ sebagai landasan pemerintahan atau
penyelenggaraan Negara (the basis of government).
7
William G. Andrews, misalnya, dalam bukunya Constitutions and Constitutionalism (3 rd edition, 1968)
menyatakan: “The members of a political community have, bu definition, common interests which they seek to
promote or protect through the creation and use of the compulsory political mechanisms we call the State”, Van
Nostrand Company, New Jersey, hal. 9.
8 William G. Andrews, ibid., hal.12-13.
3
3. Kesepakatan tentang bentuk institusi-institusi dan
ketatanegaraan (the form of institutions and procedures’).
prosedur-prosedur
Kesepakatan pertama, yaitu berkenaan dengan cita-cita bersama sangat
menentukan tegaknya konstitusi dan konstitusionalisme di suatu Negara. Karena citacita bersama itulah yang pada puncak abstraksinya paling mungkin mencerminkan
kesamaan-kesamaan kepentingan di antara sesama warga masyarakat yang dalam
kenyataannya harus hidup di tengah pluralisme atau kemajemukan. Oleh karena itu, di
suatu masyarakat untuk menjamin kebersamaan dalam kerangka kehidupan
bernegara, diperlukan adalah perumusan tentang tujuan-tujuan atau cita-cita bersama
yang biasa juga disebut sebagai falsafah kenegaraan atau ‘staatsidee’ (cita negara)
yang berfungsi sebagai ‘filosofische grondslag’ dan ‘common platforms’ atau
“kalimatun sawa’” di antara sesama warga masyarakat dalam konteks kehidupan
bernegara. Di Indonesia, dasar-dasar filosofis yang dimaksudkan itulah yang biasa
disebut sebagai Pancasila yang berarti lima sila atau prinsip dasar.
Di samping itu, kesepakatan kedua, yaitu basis pemerintahan berdasarkan
aturan hukum dan konstitusi, juga sangat prinsipil. Harus ada keyakinan bersama
bahwa apapun yang hendak dilakukan dalam konteks penyelenggaraan Negara
haruslah didasarkan atas ‘rule of the game’. Istilah yang biasa digunakan untuk itu
adalah ‘the rule of law’ yang dipelopori oleh A.V. Dicey, seorang sarjana Inggeris
kenamaan. Bahkan di Amerika Serikat istilah ini dikembangkan menjadi jargon: “the
rule of law, and not of man” untuk menggambarkan pengertian bahwa hukumlah yang
sesungguhnya memerintah atau memimpin dalam suatu Negara, bukan manusia atau
orang. Istilah “The Rule of Law” jelas berbeda dari istilah “The Rule by Law”. Dalam
istilah terakhir ini, kedudukan hukum (law) digambarkan hanya sekedar bersifat
‘instrumentalis’ atau ‘alat’, sedangkan kepemimpinan tetap berada di tangan orang
atau manusia, yaitu “The Rule of Man by Law”. Kesepakatan tentang ini sangat
pentinf agar konstitusi itu sendiri dapat dijadikan pegangan tertinggi dalam
memutuskan segala sesuatu yang harus didasarkan atas hukum. Tanpa ada consensus
semacam itu, konstitusi tidak akan berguna, karena ia akan sekedar berfungsi sebagai
kertas dokumen yang ‘mati’, hanya bernilai semantic dan tidak berfungsi karena tidak
difungsikan sebagaimana mestinya.
Kesepakatan ketiga adalah berkenaan dengan bangunan organ Negara dan
prosedur-prosedur yang mengatur kekuasaannya, hubungan-hubungan antar organ
Negara itu satu sama lain, serta hubungan organ-organ Negara itu dengan warga
negara. Dengan adanya kesepakatan itu, maka isi konstitusi dapat dengan mudah
dirumuskan karena benar-benar mencerminkan keinginan bersama berkenaan dengan
institusi kenegaraan dan mekanisme ketatanegaraan yang hendak dikembangkan
dalam kerangka kehidupan bernegara yang berkonstitusi (constitutional state).
Kesepakatan-kesepakatan itulah yang pada pokoknya dirumuskan dalam dokumen
konstitusi yang diharapkan dijadikan pegangan bersama untuk kurun waktu yang
cukup lama. Para perancang dan perumus konstitusi tidak seharusnya membayangkan
bahkan naskah konstitusi itu akan sering diubah dalam waktu dekat. Konstitusi tidak
sama dengan undang-undang yang dapat lebih mudah diubah. Karena itulah
mekanisme perubahan Undang-Undang Dasar memang sudah seharusnya tidak
diubah semudah mengubah undang-undang. Sudah tentu, tidak mudahnya mekanisme
4
perubahan undang-undang dasar tidak boleh menyebabkan undang-undang dasar itu
menjadi terlalu kaku karena tidak dapat diubah. Konstitusi juga tidak boleh
disakralkan dari kemungkinan perubahan seperti yang terjadi di masa Orde Baru.
Keseluruhan kesepakatan tersebut di atas, pada intinya, menyangkut prinsip
pengaturan dan pembatasan kekuasaan. Pada pokoknya, prinsip konstitusionalisme
modern sebenarnya memang menyangkut prinsip pembatasan kekuasaan atau yang
lazim disebut sebagai prinsip ‘limited government’. Oleh karena itu, menurut William
G. Andrews, “Under constitutionalism, two types of limitations impinge on
government. ‘Power proscribe and procedures prescribed’”9. Kekuasaan melarang
dan prosedur ditentukan. Konstitutionalisme dapat dikatakan mengatur dua hubungan
yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu: Pertama, hubungan antara pemerintahan
dengan warga Negara; dan Kedua, hubungan antara lembaga pemerintahan yang satu
dengan lembaga pemerintahan yang lain. Karena itu, biasanya, isi konstitusi
dimaksudkan untuk mengatur mengenai tiga hal penting, yaitu: (a) menentukan
pembatasan kekuasaan organ-organ Negara, (b) mengatur hubungan antara lembagalembaga negara yang satu dengan yang lain, dan (c) mengatur hubungan kekuasaan
antara lembaga-lembaga negara dengan warganegara.
2. Fungsi Konstitusi sebagai Kepala Negara Simbolik:
Di samping itu, dapat pula dirumuskan beberapa fungsi konstitusi yang sangat
penting baik secara akademis maupun dalam praktek. Seperti dikatakan oleh William
G. Andrews 10:
“The constitution imposes restraints on government as a function of
constitutionalism; but it also legitimizes the power of the government. It is the
documentary instrument for the transfer of authority from the residual holders
– the people under democracy, the king under monarchy – to the organs of
State power”.
Konstitusi di satu pihak (a) menentukan pembatasan terhadap kekuasaan
sebagai satu fungsi konstitusionalisme, tetapi di pihak lain (b) memberikan legitimasi
terhadap kekuasaan pemerintahan. Konstitusi juga (c) berfungsi sebagai instrumen
documenter untuk mengalihkan kewenangan dari pemegang kekuasaan asal (baik
rakyat dalam sistem demokrasi atau Raja dalam sistem Monarki) kepada organ-organ
kekuasaan Negara. Bahkan oleh Thomas Paine dalam bukunya “Common Sense” 11,
dikatakan bahwa konstitusi juga mempunyai fungsi sebagai “a national symbol”.
Menurut Tom Paine12,
“It may serve instead of the king in that ceremonial function of exemplifying
the unity and majesty of the nation. Or it may exist alongside the monarch,
embodying capacity that Constitutions are trundled about the country in shiny
aluminium railroad trains under armed guard and exhibited to all comers”.
9
Ibid, hal. 13.
Ibid., hal. 23.
11 Political Works, Belfords, Clark and Co., Chicago, 1879, hal. 33.
12 William G. Andrews, Op.Cit., hal. 24.
10
5
Konstitusi dapat berfungsi sebagai pengganti raja dalam kaitannya dengan
fungsi-fungsi yang bersifat ‘ceremonial’ dan fungsi pemersatu bangsa seperti yang
biasanya dikaitkan dengan fungsi kepala Negara. Karena itu, selain ketiga fungsi
tersebut di atas, fungsi konstitusi dapat pula ditambah dengan fungsi-fungsi lain (d)
sebagai ‘kepala negara simbolik’ dan (e) sebagai kitab suci simbolik dari suatu
‘agama civil’ atau ‘syari’at negara’ (civil religion). Dalam fungsinya sebagai kepala
Negara simbolik, Konstitusi berfungsi sebagai: (i) sebagai simbol persatuan (symbol
of unity), (ii) lambang identitas dan keagungan nasional suatu bangsa (majesty of the
nation), dan/atau (iii) puncak atau pusat kekhidmatan upacara (center of ceremony).
Tetapi, dalam fungsinya sebagai dokumen kitab suci simbolik (symbolic civil
religion), Konstitusi berfungsi (i) sebagai dokumen pengendali (tool of political,
social, and economic control), dan (ii) sebagai dokumen perekayasaan dan bahkan
pembaruan ke arah masa depan (tool of political, social and economic engineering
and reform).
Istilah ‘kepala negara simbolik’ dipakai sejalan dengan pengertian ‘the Rule
of Law’ yang menegaskan bahwa yang sesungguhnya memimpin dalam suatu Negara,
bukanlah orang melainkan hukum itu sendiri. Dengan demikian, kepala Negara yang
sesungguhnya adalah konstitusi, bukan pribadi manusia yang kebetulan menduduki
jabatan sebagai kepala Negara. Lagi pula, pembedaan istilah kepala Negara dan
kepala pemerintahan itu sendiri sudah seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang
hanya relevan dalam lingkungan sistem pemerintahan parlementer dengan latar
belakang sejarah kerajaan (monarki). Dalam monarki konstitusional yang menganut
system parlementer, jelas dipisahkan antara Raja atau Ratu sebagai kepala negara dan
Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan. Dalam sistem republik, seperti di
Amerika Serikat, kedudukan Raja itulah yang digantikan oleh konstitusi. Karena
sistem republik, apalagi yang menganut sistem pemerintahan presidential seperti di
Indonesia, tidak perlu dikembangkan adanya pengertian mengenai kedudukan kepala
Negara, karena fungsi kepala Negara itu sendiri secara simbolik terlembagakan dalam
Undang-Undang Dasar sebagai naskah konstitusi yang bersifat tertulis.
Dalam hubungan dengan itulah maka, konstitusi sebagai kepala Negara
simbolik itu memiliki fungsi-fungsi sebagai simbol pemersatu (symbol of unity),
ungkapan identitas dan keagungan kebangsaan (identity of nation) dan pusat upacara
kenegaraan (center of ceremony). Sebagai dokumen yang mengungkapkan cita-cita
kolektif seluruh bangsa yang bersifat sangat umum, mencakup dan meliputi, maka
konstitusi sangat mungkin dijadikan pegangan bersama yang bersifat mempersatukan
seluruh bangsa. Dengan demikian, konstitusi juga dapat berfungsi sebagai ungkapan
identitas seluruh bangsa. Jika konstitusi disebut, ia menjadi sumber identitas kolektif,
sama seperti bendera kebangsaan. Terkait dengan itu, sebagai puncak atau pusat
upacara, konstitusi juga mempunyai arti yang penting dalam aneka kegiatan upacara.
Untuk menandai perubahan status seseorang ke dalam suatu jabatan kenegaraan,
maka ia diharuskan bersumpah setia kepada konstitusi. Untuk menandai suatu
wilayah tertentu masuk atau keluar dari territorial suatu Negara, juga ditandai dengan
konstitusi.
Sementara itu, dalam fungsinya sebagai dokumen ‘civil religion’13, konstitusi
dapat difungsikan sebagai sarana pengendalian atau sarana perekayasaan dan
13
Istilah ini dikembangkan dari Stevenson dalam ‘Constitutional Faith’.
6
pembaruan. Dalam praktek, memang dapat dikemukakan adanya dua aliran pemikiran
mengenai konstitusi, yaitu aliran pertama memfungsikan konstitusi hanya sebagai
dokumen yang memuat norma-norma yang hidup dalam kenyataan. Kebanyakan
konstitusi memang dimaksudkan untuk mendeskripsikan kenyataan-kenyataan
normative yang ada ketika konstitusi itu dirumuskan (to describe present reality).
Tetapi, di samping itu, banyak juga konstitusi yang bersifat ‘prospective’ dengan
mengartikulasikan cita-cita atau keinginan-keinginan ideal masyarakat yang dilayani.
Banyak konstitusi negara-negara modern yang juga merumuskan tujuan-tujuan social
dan ekonomi yang belum dapat diwujudkan atau dicapai dalam masyarakat menjadi
materi muatan konstitusi. Konstitusi di lingkungan Negara-negara yang menganut
paham sosialis atau dipengaruhi oleh aliran sosialisme, biasa memuat ketentuan
mengenai hal ini dalam rumusan konstitusi. Hal inilah yang saya sebut sebagai
‘economic constitution’ dan ‘social constitution’ dalam buku “Gagasan Kedaulatan
Rakyat dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di Indonesia”14.
Konstitusi-konstitusi jenis demikian sangat berbeda dari konstitusi yang ditulis
menurut tradisi paham demokrasi liberal atau ‘libertarian constitution’. Sebagai
contoh, konstitusi Amerika Serikat tidak memuat sama sekali ketentuan mengenai
cita-cita ekonomi ataupun ketentuan mengenai system ekonomi dan kegiatan
ekonomi. Alasannya jelas, yaitu bahwa soal-soal yang berkenaan dengan
perekonomian tidaklah menyangkut urusan kenegaraan, melainkan termasuk ke dalam
wilayah urusan pasar yang mempunyai mekanismenya tersendiri sesuai dengan
prinsip ‘free market liberalism’ yang dianggap sebagai pilar penting dalam system
kapitalisme. Karena ekonomi adalah urusan pasar, maka ketentuan mengenai hal itu
tidak seharusnya dicantumkan ke dalam naskah konstitusi. Demikian pula urusan
orang kaya dan orang miskin bukanlah termasuk persoalan Negara, dan karena itu
tidak perlu diatur dalam konstitusi. Pandangan demikian jelas sangat berbeda dari apa
yang dianut dalam system sosialisme yang mengembangkan pengertian ‘welfare
state’. Dalam ‘welfare state’ Negara bertanggungjawab untuk mengurusi orang
miskin. Karena itulah, UUD 1945 mengadopsikan perumusan Pasal 34 yang aslinya
menentukan bahwa: “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara”.
Dari uraian terakhir di atas, dapat dikatakan bahwa konstitusi dapat pula
difungsikan sebagai sarana control politik, social dan/atau economi di masa sekarang,
dan sebagai sarana perekayasaan politik, social dan/atau ekonomi menuju masa
depan. Dengan demikian, fungsi-fungsi konstitusi dapat dirinci sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
Fungsi penentu dan pembatas kekuasaan organ-organ negara.
Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antar organ-organ negara.
Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antar organ negara dengan warga negara.
Fungsi pemberi legitimasi terhadap kekuasaan negara.
Fungsi penyalur atau pengalih kewenangan dari sumber kekuasaan yang asli
kepada organ negara.
6. fungsi simbolik sebagai pemersatu (symbol of unity).
7. fungsi simbolik sebagai rujukan identitas dan keagungan kebangsaan (identity of
nation).
8. fungsi simbolik sebagai pusat upacara (center of ceremony).
14
Jimly Asshiddiqie, Gagasan Kedaulatan Rakyat dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di Indonesia, Ichtiar
Baru-van Hoeve, 1994.
7
9. fungsi sebagai sarana pengendalian masyarakat, baik dalam arti sempit hanya di
bidang politik maupun dalam arti luas mencakup bidang social dan ekonomi.
10. fungsi sebagai sarana perekayasaan dan pembaruan masyarakat, baik dalam arti
sempit maupun dalam arti luas.
11. dan, dalam sistem pemerintahan presidential, konstitusi juga berfungsi sebagai
kepala negara dalam arti simbolik.
Dari kesebelas fungsi tersebut di atas, yang perlu mendapat penekanan khusus
ialah fungsi yang terakhir, yaitu fungsi sebagai ‘kepala negara simbolik’. Sangat
boleh jadi, banyak orang tidak setuju dengan istilah ini, tetapi menurut saya, hal ini
penting untuk membuat orang mengerti bahwa dalam sistem pemerintahan Republik
Indonesia di bawah Undang-Undang Dasar 1945, tidak perlu lagi dibedakan antara
kedudukan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Kedudukan
sebagai kepala negara yang sebenarnya adalah adalah pada konstitusi atau UUD,
sedangkan Presiden hanya bertindak sebagai kepala pemerintahan saja.
3. Konstitusi dan Hukum Dasar:
Konstitusi juga merupakan hukum dasar yang harus dijadikan pegangan
bersama dalam rangka penyelenggaraan suatu negara. Konstitusi dapat berupa hukum
dasar yang tertulis yang lazim disebut Undang-Undang Dasar, dan dapat pula tidak
tertulis. Tidak semua negara memiliki konstitusi tertulis atau Undang-Undang Dasar.
Kerajaan Inggeris biasa disebut sebagai negara konstitusional, tetapi tidak memiliki
satu naskah Undang-Undang Dasar sebagai konstitusi tertulis. Oleh sebab itu, di
samping karena adanya negara yang dikenal sebagai negara konstitusional tetapi tidak
memiliki konstitusi tertulis, nilai-nilai dan norma-norma yang hidup dalam praktek
penyelenggaraan negara juga diakui sebagai hukum dasar, dan tercakup pula dalam
pengertian konstitusi dalam arti yang luas. Karena itu, Undang-Undang Dasar sebagai
konstitusi tertulis beserta nilai-nilai dan norma hukum dasar yang tidak tertulis yang
hidup sebagai konvensi ketatanegaraan dalam praktek penyelenggaraan negara seharihari, termasuk ke dalam pengertian konstitusi atau hukum dasar (droit
constitusionnel) suatu negara.
Dalam penyusunan suatu konstitusi tertulis, nilai-nilai dasar dan norma-norma
dasar yang hidup dalam masyarakat dan dalam praktek penyelenggaraan negara yang
biasa dikenal sebagai konvensi ketatanegaraan (constitutional convention) turut
mempengaruhi perumusan suatu ide normatif ke dalam naskah undang-undang dasar.
Oleh karena itu, suasana kebatinan (geistichenhentergrund) yang menjadi latar
belakang filosofis, sosiologis, politis, ekonomis, dan historis perumusan juridis suatu
ketentuan Undang-Undang Dasar perlu dipahami dengan cermat dan seksama.
Dengan demikian gagasan yang terkandung dalam rumusan pasal-pasal, ayat-ayat,
dan bagian=bagian substantif undang-undang dasar itu dapat benar-benar mengerti
dengan sebaik-baiknya ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal Undang-Undang
Dasar. Undang-Undang Dasar tidak dapat dipahami hanya melalui teksnya saja.
Untuk sungguh-sungguh mengerti, kita harus memahami konteks filosofis, sosiohistoris, sosio-politis, sosio-juridis, dan bahkan sosio-ekonomis yang mempengaruhi
perumusannya.
Di samping itu, setiap kurun waktu dalam sejarah, memberikan pula kondisikondisi kehidupan yang membentuk dan mempengaruhi kerangka pemikiran (frame
8
of reference) dan medan pengalaman (field of experience) dengan muatan kepentingan
yang berbeda, sehingga proses pemahaman terhadap suatu ketentuan UUD dapat terus
berkembang dalam praktek di kemudian hari. Karena itu, penafsiran terhadap UUD di
masa lalu, masa kini, dan di masa yang akan datang, memerlukan rujukan standar
yang dapat dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya, sehingga UUD tidak
menjadi alat kekuasaan yang ditentukan secara sepihak oleh pihak manapun juga.
Untuk itulah, menyertai penyusunan dan perumusan naskah undang-undang dasar,
diperlukan pula adanya Pokok-Pokok Pemikiran konseptual yang mendasari setiap
perumusan pasal-pasal undang-undang dasar serta keterkaitannya secara langsung
atau tidak langsung terhadap semangat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan
Pembukaan UUD 1945.
Undang-Undang Dasar Neagara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana
terakhir diubah pada tahun 1999, 2000, 2001 sampai tahun 2002 merupakan satu
kesatuan rangkaian perumusan hukum dasar Indonesia untuk memandu kehidupan
bernegara di masa depan. Isinya mencakup dasar-dasar normatif yang berfungsi
sebagai sarana pengendali (tool of social and political control) terhadap
penyimpangan dan penyelewengan dalam dinamika perkembangan zaman dan
sekaligus sarana pembaruan masyarakat (tool of social and political reform) serta
sarana perekayaan (tool of social and political engineering) ke arah cita-cita kolektif
bangsa. Belajar dari kekurangan sistem demokrasi politik di berbagai negara di dunia,
yang menjadikan UUD hanya sebagai konstitusi politik, maka UUD ini juga berisi
dasar-dasar pikiran mengenai demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Karena itu,
UUD ini dapat disebut sebagai konstitusi politik, konstitusi ekonomi dan sekaligus
konstitusi sosial yang mencerminkan cita-cita kolektif bangsa, baik di bidang politik
dan ekonomi maupun sosial-budaya, dengan tetap memelihara tingkat abstraksi
perumusannya sebagai cita hukum (rechtsidee).
Sebagai hukum dasar, perumusan isinya disusun secara sistematis mulai dari
prinsip-prinsip yang bersifat umum dan mendasar, dilanjutkan dengan perumusan
prinsip-prinsip kekuasaan dalam setiap cabangnya yang disusun secara berurutan.
Pasal-pasal dan ayatnya dirumuskan dalam tingkat abstraksi yang sesuai dengan
hakikatnya sebagai hukum dasar, dengan kesadaran bahwa pengaturan yang bersifat
rinci akan ditentukan lebih lanjut dalam UU. Makin elastis suatu aturan, makin
terbuka kemungkinannya untuk menampung dinamika perkembangan zaman,
sehingga UUD tidak lekas ketinggalan zaman (verounderd). Namun demikian,
meskipun perumusan UUD ini bersifat garis besar, haruslah disadari jangan sampai
ketentuan yang diaturnya bermakna ganda atau dapat ditafsirkan secara sewenangwenang oleh pihak yang berkuasa.
Oleh karena itu, yang terpenting adalah semangat dan kemauan politik
(political will) para penyelenggara negara. Meskipun dirumuskan dengan jelas bahwa
Undang-Undang Dasar menganut asas kedaulatan rakyat atau demokrasi, jika para
penyelenggara negara tidak berjiwa demokrasi dan tidak mempunyai tekad dan
komitmen untuk mewujudkan demokrasi itu dalam kenyataan atau hanya menjadikan
demokrasi hanya sebagai retorika semata, maka pasal yang jelas menentukan adanya
demokrasi itu tidak akan terwujud dalam praktek. Sebaliknya, meskipun perumusan
Undang-Undang Dasar tidak sempurna, tetapi semangat para penyelenggara negara
bersih dan tulus dalam menjalankan konstitusi, baik yang tertulis maupun yang tidak
tertulis, maka kekurangan dalam perumusan pasal Undang-Undang Dasar tidak akan
merintangi jalannya penyelenggaraan negara dengan sebaik-baiknya menuju
terwujudnya cita-cita bangsa berdasarkan kelima sila Pancasila yang dirumuskan
dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar.
9
C. RULE OF LAW DALAM TRADISI ISLAM
1. Kepemimpinan Personal
Ide negara hukum atau pun ‘rule of law’ seperti diuraikan di atas, pada
pokoknya sejalan dengan praktik yang berkembang dalam pengalaman sejarah Islam
berkenaan dengan tradisi kekuasaan. Dalam Islam, yang dipandang sebagai panglima
tertinggi, bukanlah orang per orang, melainkan sistem aturan berdasarkan syari’at
yang diwahyukan oleh Allah swt dan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah. Sejak
zaman nabi Muhammad saw, Rasulullah selalu digambarkan dan menampilkan diri
sebagai ‘uswatun hasanah’, sebagai contoh dan teladan dalam menjalankan segala
perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya15.
Konsepsi Islam mengenai kepemimpinan jelas tergambar dalam konsepsi
imamah. Dalam pengertian sehari-hari untuk keperluan yang bersifat praktis, kata alImam biasa diidentikkan dengan pengertian orang yang memimpin atau biasa juga
disebut pemiimpin. Dalam pengertian demikian pemimpin atau al-imam itu tidak lain
adalah orang atau persona tokoh yang menjalankan fungsi kepemimpinan dalam
organisasi. Nabi Muhammad saw juga menyatakan bahwa apabila tiga orang di antara
kamu bepergian, maka hendaklah satu di antara kamu diangkat menjadi pemimpin.
Dalam hadits nabi yang lain juga bahkan ditegaskan bahwa setiap orang adalah
pemimpin (ro‘in) yang pada waktunya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah
atas tugas kepemimpinan yang telah dilaksanakan masing-masing selama di dunia
(Kullumkum, wakullukum mas-ulun an ro’iyatihi).
Setiap orang dalam interaksi social satu sama lain diharuskan mengikatkan diri
dalam kelompok atau berorganisasi. Tidak ada manusia yang dapat hidup sendirian.
Itulah gunanya Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk berpasangan laki-laki dan
perempuan, agar kita tidak hidup bersendirian. Bahkan, terlepas dari pasangan priawanita itu, setiap orang dilahirkan memang cenderung untuk hidup bermasyarakat,
sehingga dalam interaksi social dalam masyarakat, setiap manusia pasti berkelompok
yang didalamnya diperlukan mekanisme pembagian tugas. Untuk itulah diperlukan
kesepakatan tentang diapa yang akan menjadi pimpinan kelompok. Itulah kurang
lebih yang dimaksud oleh nabi Muhammmad saw ketika menyatakan bahwa apabila
kamu bepergian, maka hendaklah seorang di antara kamu diangkat atau tanpil menjadi
pimpinan.
Konsepsi kepemimpinan yang demikian itu dipertegaskan pula oleh predikat
yang diberikan oleh Allah sendiri kepada setiap pribadi manusia yang disebut-Nya
sebagai ‘khalifatullah fil-ardh’ atau Khalifah Allah di atas muka bumi. Kata ‘khalifah’
itu sendiri berarti ‘pengganti’, sehingga perkataan ‘Khalifah Allah’ berarti pengganti
Tuhan di atas muka bumi. Artinya, setiap manusia dapat dipandang sebagai penguasa
yang menggantikan peran Tuhan dalam kehidupan di dunia ini. Manusia adalah
penguasa actual atas peri kehidupan semesta alam, di atas dan di dalam bumi, di
lautan, dan di udara atau diatas dirgantara. Manusia diciptakan oleh Allaw untuk
menjadi makhluk yang menguasai segenap potensi kehidupan.
Konsepsi ‘khalifatullah’ (Khalifah Allah) tersebut tentu harus dibedakan dari
pengertian ‘khalifaturrasul’ (Khalifah Rasul). Khalifah Rasul adalah konsepsi tentang
15
Jimly Asshiddiqie, Islam dan Tegaknya Negara Hukum Kita, Khutbah Idulfitri di Al-Azhar Jakarta,
1 Syawal 1429H.
10
kepemimpinan umat yang menggantikan posisi Rasulullah sebagai pemimpin jamaah
sesudah nabi Muhammad meninggal dunia. Dengan demikian, apa yang biasa
dipahami sebagai konsep khilafah yang biasa dinisbatkan dengan pengertian tradisi
kepemmpinan Islam bukan penjabaran dari konsepsi “khalifatullah”, melainkan
dengan konsepsi “khaliturrasul” ini. Pemimpin jamaah umat Islam dipandang sebagai
pengganti nabi yang telah wafat. Karena itulah, para sahabat generasi pertama yang
menggantikan peran kepemimpinan nabi Muhammad saw untuk memimpin kaum
Muslimin biasa disebut dengan “khalifaturrasul”.
Pada masa awal perkembangan Islam, kepemimpinan generasi pertama itulah
yang biasa disebut sebagai periode ‘khulafaurrasyidin’, yaitu di masa Khalifah
Abubakar Shiddiq, Khalifah Umar ibn Khattab, Khalifah Usman ibn Affan, dan
Khalifah Ali ibn Abi Thalib. Keempat khalifah generasi pertama inilah yang disebut
‘khulafaurrasyidin’ yang menggambarkan konsep ideal sistem kepemimpinan negara
dalam Islam. Namun, pengertian khalifah sebagai pemimpin itu tidaklah bersifat
mutlak. Orang Islam diharuskan tunduk dan taat kepada pemimpin hanya sepanjang
mereka tunduk kepada hukum syari’at dan dapat dijadikan contoh dalam ketaatan
kepada Allah dan kepada Rasulullah. Karena, kedudukan khalifah itu sendiri dalam
kepemimpinan hanya lah sebagai pengganti kepemimpinan Rasulullah Muhammad
saw. Yang pokok untuk ditaati justru adalah syari’at yang diwahyukan oleh Allah, dan
sunnah yang dicontohkan oleh nabi Muhammad di masa hidupnya. Selama para
khalifah itu tunduk dan taat kepada keduanya, maka umat Islam duwajibkan tunduk
dan taat kepadanya, tetapi dalam hal-hal yang bersifat kemaksiatan, umat Islam tidak
diperbolehkan taat kepadanya (la tho’ata li makhlukin fi ma’shiyati al-kholiq).
Hal lain yang sangat penting ialah keteladanan. Dalam Islam, setiap pemimpin
sangat ditekankan agar berperan sebagai contoh atau teladan yang baik (uswatun
hasanah) bagi sesama. Dalam bidang ubudiyah, ada beberapa persyaratan yang
diperlukan bagi seseorang untuk diangkat menjadi imam, baik syarat-syarat yang
berkaitan dengan spiritualitas dan moralitas maupun kapasitas dan profesionalitas.
Misalnya, untuk menjadi imam sholat, ukuran pertama yang dipersyaratkan adalah
kefasihan membaca al-Quran dan bacaan-bacaan sholat. Kriteria keasihan itu lebih
utama daripada syarat senioritas usia yang juga dianggap sebagai criteria untuk
dipercaya menjadi imam sholat. Namun apabila orang yang lebih fasih bacaannya
meskipun usianya lebih muda, maka yang lebih fasih itu dianggap lebih memenuhi
syarat untuk dipilih.
Adab atau etika pemilihan imam sholat itu tentu saja tidak dilakukan dengan
persaingan atau perebutan kedudukan. Dalam sholat, semua orang berhak menjadi
imam, kecuali apabila memang sudah ditentukan adanya imam yang bersifat tetap,
seperti misalnya di suatu jamaah atau di suatu masjid. Dalam keadaan biasa, semua
orang dapat menjadi imam. Akan tetapi, apabila kita tahu bahwa ada orang lain yang
lebih memenuhi syarat daripada kita, maka kita berkewajiban mendorong atau
mendahulukan yang bersangkutan untuk bertindak sebagai imam. Karena itu, dalam
tradisinya, setiap orang cenderung saling mendorong orang lain untuk menjadi imam
sholat berjamaah.
Sikap dan semangat untuk saling mendorong orang lain menjadi imam
tentulah berlaku dalam bidang ubudiyah, bukan dalam bidang mu’amalah. Namun,
moralitas di balik sikap untuk tidak saling berebutan jabatan itu memang seharusnya
tercermin juga dalam kehidupan bermasyarakatan. Dengan demikian, sikap untuk
saling berebut jabatan dan apabila dengan melakukan apa saja dan dengan segala cara
untuk menjadi menduduki sesuatu jabatan dan untuk mempertahankan jabatan itu
dengan segala cara, bukanlah sikap yang baik di mata agama.
11
Dalam bidang mu’amalat, sikap yang demikian itu tentu tidak sepenuhnya
dapat dipraktikkan secara mutlak. Namun, perlu dicatat juga bahwa dalam sholat
berjamaah, Apabila ternyata di antara jamaah dipandang tidak ada yang memenuhi
syarat, dan kita tahu bahwa kita lebih fasih bacaannya daripada yang lain, maka kita
juga berkewajiban untuk tampil menjadi imam. Tidak boleh dibiarkan ada sholat
berjamaah tanpa imam atau tanpa imam yang memenuhi syarat. Dalam kondisi yang
terakhir inilah sangat mungkin muncul adanya beberapa alternatif calon imam. Akan
tetapi, bagi calon imam yang mengerti agama dan memahami bacan-bacaan sholat
dengan benar sudah tentu tahu persis dan dapat membedakan siapa gerangan yang
kualitas bacaannya lebih baik, sehingga bagi yang berkualitas kurang, haruslah tahu
diri dengan berkewajiban untuk mendahulukan calon yang lebih memenuhi syarat.
Yang sangat mungkin terjadi ialah bahwa di antara sesama jamaah tidak ada
yang saling mengenal akan kemampuan masing-masing orang untuk menjadi imam.
Dalam hal demikian, maka dengan semangat saling mendorong dan mendahulukan
orang lain, tentu dimungkinkan adanya mekanisme “kampanye” terbatas yang bersifat
terbuka. Dalam sholat berjamaah, “kampanye” dimaksud tentu dilakukan oleh orang
lain, yaitu semacam rekomendasi agar si A atau si B yang dipilih. Namun dalam
bidang mualamat, sistem kampanye dimaksud dapat saja dikembangkan secara lebih
rumit dan serius, semata-mata untuk menjadi keterbukaan atau transparansi agar yang
dipilih menjadi pemimpin benar-benar orang yang memenuhi syarat dan sesuai
dengan diharapkan oleh rakyat atau jamaahnya.
Dengan demikian, tidak salah bagi masyarakat modern sekarang ini untuk
mengembangkan praktik pemilihan pemimpin melalui pemilihan umum yang bersifat
langsung, umum, bebas, dan rahasia seperti sekarang. Demikian pula pemilihanpemilihan pejabat publik melalui “fit-and-proper test” seperti yang dipraktikkan
dewasa ini juga dapat dibenarkan adanya. Hanya saja, roh atau semangat pemilihanpemilihan semacam itu haruslah benar-benar didasarkan atas semangat saling
mendorong dan mendahulukan orang-orang berkualitas dan yang paling memenuhi
syarat untuk menduduki jabatan yang tidak lain merupakan amanat yang berisi
tanggungjawab yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah pada waktunya.
Pendek kata, setiap jabatan adalah amanah yang berisi tanggungjawab yang harus
sudah seharusnya dipercayakan hanya kepada orang yang memenuhi persyaratan, baik
persyaratan spiritual dan moral, maupun persyaratan kapasitas dan profesionalitas
yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas dan tanggungjawab jabatan itu.
Dalam menjalankan tugas jabatannya itu, seseorang wajib bekerja dengan
sebaik-baiknya atau itqon’ untuk mencapai tujuan dibentuknya organisasi atau jabatan
itu. Di samping itu, setiap orang yang dipercaya menjadi pemimpin haruslah berperan
sebagai contoh atau teladan (uswatun hasanah), baik sebagai pribadi maupun sebagai
pejabat atau institusi yang diberi amanat dalam jabatan itu.
2. Kepemimpinan Sistem
Namun demikian, di samping pengertian yang bersifat personal dan individual
tersenut di atas, ajaran Islam juga memberikan makna yang lain atas konsepsi
pemimpin (al-imam) dan kepemimpinan (imamah) itu. Pribadi pemimpin atau alimam hanyalah contoh dan teladan saja, bukan institusi pemimpin dan kepemimpinan
yang sebenarnya. Jika pribadi tokoh pemimpin atau pun pejabat itu dapat ditiru
sebagai teladan, maka tokoh yang bersangkutan pantas disebut sebagai al-imam, Akan
tetapi, jika yang bersangkutan tidak dapat dijadikan teladan atau bahkan dalam
menjalankan tugasnya ia melakukan hal-hal yang menyebabkan dirinya tidak lagi
12
memenuhi syarat sebagai pemimpin, maka jamaah diberi kesempatan bebas untuk
memisahkan diri dari barisan pemimpin yang batal itu.
Dalam jamaah sholat prinsip yang demikian itu juga berlaku. Jika seorang
imam batal wudhu dan para jamaah tahu akan hal itu, atau sang imam diketahui salah
dalam membaca al-Quran dan bacaan-bacaan sholat lainnya, maka apabila imam
tersebut sudah diingatkan oleh jamaah akan kesalahannya itu sebagaimana mestinya
tetapi tetap melanjutkan kesalahannya, maka jamaah juga diperbolehkan dan bahkan
diharuskan membentuk barisan tersendiri. Anggota jamaah yang terdekat dan yang
terdepan dapat bertindak proaktif untuk tampil menjadi imam baru untuk meneruskan
sholat jamaah yang sedang berlangsung. Inilah yang biasa disebut sebagai ‘mufariq’
atau ‘mufaroqoh’ sebagai bentuk pemisahan diri dari imam yang batal sholatnya.
Dengan perkataan lain, keberadaan kepemimpinan personal itu sendiri diakui
adanya, tetapi kepemimpinan personal itu bukanlah penentu segala-galanya. Yang
lebih menentukan adalah sistem aturan yang berlaku mengikat untuk semua. Pada
kedudukannya yang terpuncak, sistem aturan yang dimaksud itu tidak lain adalah alQuran sebagai wahyu dan hadits-hadits nabi sebagai sunnah Rasul. Sedangkan
kepemimpinan personal hanyalah wayang yang bertindak sebagai teladan yang
mencerminkan ketataan kepada hukum-hukum yang berlaku berdasarkan al-Quran
dan al-Sunnah tersebut. Oleh karena itu, secara simbolik yang juga biasa disebut
sebagai pemimpin atau al-Imam dalam Islam, justru adalah al-Quran sebagai sumber
hokum tertinggi itu.
Hal ini dapat kita lihat misalnya dalam pelbagai do’a yang diajarkan oleh nabi
Muhammad atau yang tumbuh dan berkembang dalam perkembangan Islam di
kemudian hari bahwa al-Quran itulah yang disebut sebagai al-Imam. Setiap orang
Islam dituntut untuk meneguhkan tekad “Aku ridho bahwa Allah lah Tuhanku, Islam
lah agamaku, dan Muhammad lah yang merupakan nabi dan Rasul bagiku, serta alQuran lah imam atau pemimpin bagiku” (Radhitu billahi Rabba, wa bil-Islami diena,
wabi Muhammadin nabiyya wa rasuula, wabil-Qurani imama). Dari tekad demikian
jelas lah bahwa al-Quran itu tiada lain adalah al-imam bagi kita, sedangkan
Muhammad merupakan Nabi dan Rasulullah sebagai ‘uswatun hasanah’ atau contoh
dan teladan bagi kaum yang beriman.
Secara lebih tegas lagi, hal yang serupa juga dapat kita temukan dalam doadoa yang biasa dianjurkan kepada ummat Islam untuk dibaca pada setiap kali selesai
membaca atau mendengar al-Quran dibacakan. Doa dimaksud berbunyi, “Allahumma
arhamna bil-quran, waj’alhu lana imaman, wa nuuro, wa huda ,wa rahmah” (Ya
Allah, rahmatilah kami dengan al-Quran, dan jadikanlah al-Quran itu menjadi imam
atau pemimpin, menjadi cahaya, dan menjadi petunjuk, serta menjadi rahmat bagi
kami). Kita mohon kepada Allah agar menjadikan al-Quran itu sebagai imam, sebagai
pemimpin yang member petunjuk dan memberikan cahaya bagi kehidupan kita serta
menjadi rahmat bagi kita semua.
Dari kedua hal itu, jelas bagi kita bahwa sesungguhnya, al-Quran itu lah yang
harus dipahami sebagai pemimpin bagi umat Islam. Sedangkan nabi Muhammad saw
adalah ‘uswatun hasanah’, yang dapat dijadikan teladan bagi kita dalam menaati
ajaran-ajaran al-Quran itu. Dalam pengertian yang demikian, al-Quran itu tidak lain
merupakan perangkat sistem aturan dan simbolisasi sistem nilai yang mengatur dan
menjadi pedoman kehidupan bagi orang-orang yang beriman. Pemimpin yang
sebenarnya bagi segenap orang yang beriman tidak lain adalah system aturan itu,
bukan persona manusianya yang menyandang gelar sebagai pemimpim, sebagai
pejabat, sebagai ketua, sebagai kepala, atau pun sebagai presiden dan sebutan-sebutan
kepemimpinan lainnya.
13
Karena itu, apa pun perintah yang datang dari al-Quran wajib ditaati, terlepas
dari siapa yang menyampaikan perintah itu. Sebaliknya, apa saja yang diperintahkan
oleh atasan kita atau pun oleh para pemimpin kita, berlaku mengikat dan wajib ditaati
hanya apabila perintah-perintah itu sejalan dengan perintah Allah dalam al-Quran.
Jika perintah atasan kita justru bertentangan dengan perintah al-Quran, maka perintah
demikian tidak wajib dan bahkan tidak boleh dilaksanakan oleh bawahan. Dalam hal
ini, pihak bawahan dilindungi oleh hukum dari akibat ketidaktaatannya kepada
perintah atasan yang melanggar hukum itu. Misalnya, seorang bawahan tidak boleh
dipecat oleh atasan hanya karena dia melanggar perintah atasan, apabila ternyata
perintah atasan itu justru bertentangan dengan hukum. Ajaran Islam menegaskan tidak
ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah (la tho’ata li makhluqin fi ma’siyati alkholiq).
Pengertian demikian ini sungguh sangat mirip dengan konsepsi modern yang
tumbuh dalam tradisi ‘common law’ tentang ‘rule of law’ ataupun dalam tradisi ‘civil
law’ dengan istilah ‘rechtsstaat’ dari bahasa Jerman. Meskipun berbeda arti dan latar
belakang perkembangannya masing-masing, baik ‘rule of law’ maupun ‘rechtsstaat’
pada pokoknya sama-sama merupakan konsep mengenai pemerintahan oleh hukum.
Doktrin ‘rule of law’ ini secara kontras bahkan biasa dipertegas dengan perkataan “the
rule of law, not of man”, yaitu bahwa pemerintahan itu adalah oleh hukum, bukan
oleh orang atau manusia. Dalam tradisi ‘civil law’, istilah lain yang biasa digunakan
untuk pengertian yang serupa adalah ‘rechtsstaat’ yang berasal dari istilah bahasa
Jerman dan Belanda. Konsep modern tentang Negara, tidak lain adalah konsep
Negara Hukum (Rechtsstaat), bukan Negara Kekuasaan (Machtsstaat). Kedua doktrin
Negara Hukum dalam kedua tradisi hukum tersebut, sebenarnya berkaitan erat dengan
konsepsi klasik mengenai nomokrasi (nomocracy) yang berasal perkataan ‘nomos’
dan ‘kratien’ atau ‘cratos’.
Karena itu, banyak sarjana yang mengembangkan pengertian bahwa konsepsi
negara dalam tradisi Islam adalah nomokrasi. Tahir Azhary, misalnya, lebih melihat
konsepsi negara dalam Islam sebagai nomokrasi daripada demokrasi yang dipandang
banyak memiliki distorsi dan kelemahan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan
secara syar’i. Jika dalam demokrasi, yang dianggap berdaulat atau pemegang
kekuasaan tertinggi adalah rakyat (demos+cratos), maka dalam nomokrasi
(nomos+cratos), yang berdaulat adalah hukum, yaitu suatu perangkat sistem aturan
yang didatangkan dari luar kesadaran diri manusia itu sendiri. Dengan pandangan
demikian, banyak kalangan bahkan berpendapat bahwa Islam menentang demokrasi.
Yang berdaulat dalam ajaran Islam adalah Allah swt, bukan rakyat baik secara
individualistis seperti dalam paham liberalism-individualisme maupun secara kolektif
seperti dalam ajaran sosialisme-komunisme.
Dalam ajaran Islam, yang berdaulat atau yang memegang kekuasaan tertinggi
dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah Allah swt yang dalam
praktiknya sehari-hari tercermin dalam ketentuan-ketentuan hukum Allah dalam alQuran dan Sunnah Rasul. Dengan perkataan lain, prinsip ke-Maha-Kuasaan Tuhan
atau Kedaulatan Tuhan dijelmakan secara konkrit dalam paham Kedaulatan Hukum
atau Negara Hukum. Pandangan demikian inilah yang banyak dianut di kalangan
ulama dan kaum intelektual mazhab Syi’ah, sehingga berkembang konsep yang
dinamakan “wilayat al-faqih” yang tercermin dalam kekuasaan kaum ulama, para
ayatollah seperti dalam praktik di Republik Islam Iran. Konsep “wilayat al-faqih” ini
dapat pula dijadikan sandaran untuk menyatakan bahwa Islam lebih mengutamakan
ajaran kedaulatan hukum daripada ajaran kedaulatan rakyat.
14
Bahkan, pandangan demikian ini pulalah yang meyakinkan banyak sarjana
Muslim sendiri bahwa sesungguhnya ajaran Islam itu memang menolak gagasan
demokrasi. Bahkan ada yang menyatakan bahwa sistem demokrasi itu haram dan kafir
hukumnya. Demokrasi berasal dari filsafat barat yang jelas bertentangan dengan
pandangan Islam. Secara ekstrim, pengertian seperti ini tercermin, misalnya, dalam
pandangan para penganut paham dan penganjur ide ‘khilafah Islamiyah’ dalam
pengertian pemerintahan global yang dikaitkan dengan pengertian masa kekhalifahan
dunia Islam di masa sepeninggal nabi Muhammad saw pada abad 6-13M. Dalam
masyarakat kita dewasa ini, tidak sedikit orang yang menganut paham demikian.
Bahkan dewasa ini terdapat organisasi pergerakan yang sangat aktif mengusul ide
kekhilafahan dalam pengertiannya yang demikian ini.
D. ISLAM DAN DEMOKRASI
Pertanyaan yang biasa diajukan oleh banyak sarjana Muslim ialah apakah
Islam memang mengenal konsep mengenai negara yang bersifat khas? Apakah benar
pandangan sebagian orang yang menyatakan bahwa Islam menentang demokrasi?16
Beberapa sarjana Muslim seperti Nurcholish Madjid, Gus Dur, dan lain-lain,
misalnya, termasuk kaum intelektual yang biasa mengajukan tesis bahwa sebenarnya
Islam tidak memiliki sistem ajaran tersendiri mengenai bentuk negara yang bersifat
final. Karena itu, paham Negara Islam sebagai bentuk yang tersendiri adalah utopia
yang tidak berdasarkan doktrin maupun fakta empirik dalam sejarah peradaban Islam
sendiri. Bagi mereka ini, ajaran Islam jelas mengandung prinsip-prinsip ajaran yang
bersifat demokratis. Tetapi bagi kelompok sarjana Muslim yang lain, konsep
demokrasi itu dianggap berasal dari barat dan karena itu harus ditolak tanpa diskusi.
Menurut pendapat saya, kita harus memahami benar bahwa sebenarnya konsep
demokrasi itu sendiri harus dibedakan antara pengertiannya di zaman modern
sekarang dengan perkembangan pengertiannya yang berkembang dalam sejarah umat
manusia sejak dari zaman Yunani kuno. Pada mulanya, di zaman Plato dan
Aristoteles, istilah demokrasi itu sendiri, bukanlah sesuatu gagasan yang dianggap
ideal. Di zaman itu, istilah demokrasi itu bahkan dipandang sebagai penyimpangan
dari konsep negara yang ideal. Yang dianggap ideal di zaman Yunan kuno adalah
plutokrasi, bukan demokrasi.
Di samping itu, Plato sendiri menulis buku “Republics” dan “Nomoi” (The
Laws) yang berisi impian-impiannya tentang negara ideal itu. Dari buku “Republics”
inilah lahir kemudian doktrin mengenai “The philosophers King”, sedangkan dari
buku “Nomoi” selanjutnya berkembang doktrin mengenai nomokrasi dalam sejarah
filsafat politik dan hukum. Ketika itu, tidak ada pandangan yang mengagungkan ide
demokrasi seperti yang berkembang luas di zaman modern dewasa ini. Wacana
demokrasi malah dihindari karena dianggap sangat buruk.
Buruknya pengertian mengenai demokrasi itu menyebabkan bahwa di masasama sesudahnya, istilah demokrasi juga tidak pernah muncul dalam perbincangan
mengenai konsep-konsep negara ideal dalam sejarah. Sampai berkembangnya Islam
di Timur Tengah pada abad ke-7 M, istilah demokrasi itu juga belum dikenal dengan
konotasi sebagai konsep yang ideal. Bahkan, sampai abad ke 7 M itu, dalam sejarah
politik umat manusia belum dikenal adanya sistem pergantian kekuasaan tidak dengan
berdasarkan hubungan darah. Bahkan dalam konsep negara republik yang
16
Lihat Jimly Asshiddiqie, Islam dan Kedaulatan Rakyat, Gema Insani Pers, Jakarta, 1995.
15
digambarkan oleh Plato dalam bukunya “Republics”, yang memimpin negara ideal itu
tetap lah seorang Raja, yaitu Raja yang filosof atau Raja yang memiliki tingkat
kecerdasan yang tinggi dan kualitas pemikiran di atas rakyatnya atau di atas warga
masyarakatnya.
Di sepanjang sejarah sampai ke masa nabi Muhammad memimpin komunitas
Muslim di Madinah, tidak dikenal adanya pemimpin yang tidak diangkat berdasarkan
keturunan. Sejak usia 40 tahun, Muhammad mendapatkan wahyu dari Allah dan
mendapatkan kepercayaan warga untuk memimpin jamaah kaum yang beriman dalam
bermasyarakat dan berorganisasi. Dalam kapasitas kepemimpinannya di tengahtengah masyarakat kota Madinah setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, nabi Muhammad
tidak ubahnya berfungsi ganda, di satu pihak sebagai Nabi dan Rasul, tetapi pada saat
yang sama ia juga menjadi pemimpin ‘negara’ seperti dalam pengertian modern
dewasa ini.
Nabi Muhammad saw lahir menjadi nabi dan rasul serta menjadi pemimpin
komunitas dan organisasi masyarakatnya atau negara, bukan karena ia merupakan
keturunan nabi atau rasul sebelumnya seperti nabi Ismail, nabi Ishak, dan sebagainya.
Muhammad juga bukan merupakan keturunan Raja yang berkuasa sebelumnya. Ia
adalah orang biasa yang kemudian terpilih menjadi nabi dan rasul serta terpilih
melalui kesuksesan usaha dakwahnya sendiri menjadi pemimpin masyarakat kota
Madinah. Kemudian, kepemimpinannya terus berkembang karena jumlah jamaahnya
terus meningkat, dan jangkauan wilayah yang dikuasainya terus meluas ke kota-kota
lain di luar kota Madinah. Karena itu, dapat dikatakan, Muhammad lah yang lahir
menjadi pemimpin pertama organisasi kekuasaan “negara” yang tidak berdasarkan
keturunan darah.
Karena itu, sesudah nabi Muhammad saw wafat, timbul masalah mengenai
proses pergantian kepemimpinan pengganti beliau selanjutnya. Lagi pula, al-Quran
dan hadits-hadits yang ditinggalkan oleh nabi, sama sekali tidak memberikan
pedoman teknis untuk melakukan proses penggantian itu dengan mekanisme tertentu.
Akhirnya para sahabat nabi harus merumuskan dan menentukan sendiri mekanisme
pergantian kepemimpinan itu berdasarkan kesepakatan bersama. Pada tahap awal
perkembangan sistem politik yang dibangun secara empirik dalam praktik di masa
khulafaurrasyidin, mekanisme pergantian itupun berkembang mengikuti kebutuhan
dan kesepakatan bersama.
Pengangkatan atau pemilihan Khalifah Abubakar Siddik jelas berbeda dari
cara pemilihan atau pengangkatan Khalifah Umar ibn Khattab. Demikian pula pada
pergantian dari Khalifah Umar ke Khalifah Usman ibn Affan, dan dari Usman ibn
Affan ke Ali ibn Abi Thalib, jelas berbeda-beda satu dengan yang lain. Mekanisme
pergantian kepemimpinan pada periode khalifaurrasyidin sama sekali belum berpola
secara tetap. Namun, meski belum berpola secara tetap, yang pasti ialah pergantian
dari nabi ke Abubakar, lalu ke Umar, kemudian ke Usman, ke Ali ibn Abi Thalib, dan
terakhir ke Khalifah Mu’awiyah ibn Abi Sofyan, tidaklah didasarkan atas prinsip
keturunan. Sistem keturunan baru terjadi lagi, sesudah kepemimpinan Mu’awiyah ibn
Abi Sofyan yang diteruskan oleh puteranya.
Inilah periode ideal sistem politik baru yang diperkenalkan oleh kaum
Muslimin dalam enam pola kepemimpinan pada abad ke 6M. Di zaman Plato, konsep
republik yang diidealkannya masih tetap dipimpin oleh raja dengan keturunanketurunannya berdasarkan prinsip hubungan darah. Tetapi di masa nabi Muhammad
dan para sahabat generasi pertama, pergantian kepemimpinan tidak lagi didasarkan
atas keturunan darah. Lalu bagaimanakah proses peralihan kepemimpinan itu terjadi
dalam praktik abad ke-6 itu?
16
Nabi Muhammad sendiri diakui sebagai pemimpin oleh jamaahnya sematamata hanya didasarkan atas adanya ‘social-trust’ yang timbul dari pengalaman praktik
kepemimpinan bermasyarakat. Warga masyarakat percaya kepadanya sehingga ia
disebut sebagai “al-amin” jauh sejak Muhammad belum diangkat menjadi Rasul oleh
Allah swt. Kepercayaan itu tumbuh dan berkembang, tidak saja dari kalangan yang
beriman, tetapi juga dari kalangan yang tidak beriman. Ketika menjadi pemimpin di
kota Madinah, Muhammad tidak saja dipercaya sebagai pemimpin oleh kaum
Muslimin, tetapi juga oleh semua kalangan yang sama-sama mengikatkan diri dalam
perjanjian bersama Piagam Madinah.
Karena itu, dapat dikatakan bahwa Muhammad adalah pemimpin pertama
yang lahir dari praktik demokrasi dalam sejarah umat manusia. Sesudah itu, adalah
Abubakar Siddik yang kemudian dibai’at oleh para sahabat yang dimotori oleh Umar
ibn Khattab untuk bertindak sebagai pemimpin pengganti nabi, atau disebut “khalifatu
al-rasul” atau pengganti rasul. Sistem “bai’at” itu jika kita dalami pengertiannya,
tidak lain merupakan mekanisme pemilihan umum atau pemilihan demokratis seperti
yang kita kenal di zaman modern dewasa ini. Ketika Khalifah Abubakar Siddik wafat,
maka ia digantikan oleh Umar ibn Khattab yang dipilih secara musyawarah oleh
“ahlul halli wal ‘aqdi” yang terdiri atas beberapa orang sahabat. Para sahabat yang
duduk dalam keanggotaan “ahlul halli wal ‘aqdi” itu tidak ubahnya sebagai lembaga
perwakilan seperti yang kita kenal dewasa ini. Dari kedua pola pemilihan khalifah
rasul, yaitu Khalifah Abubakar Siddik dan Khalifah Umar ibn Khattab tersebut, kita
dapat merumuskan adanya sistem pemilihan langsung dan sistem pemilihan tidak
langsung atau perwakilan yang dipraktikkan di masa awal pertumbuhan Islam.
Selain itu, dalam praktik kepemimpinan Rasulullah, dikenal pula adanya
sistem permusyawaratan yang digunakan nabi dalam setiap proses pengambilan
keputusan mengenai urusan-urusan publik. Di luar urusan wahyu dari Allah swt, nabi
Muhammad dikenal tidak pernah mengambil keputusan apa pun juga kecuali melalui
musyawarah dengan sesama para sahabat. Bahkan, untuk urusan-urusan yang penting
dan menyangkut kepentingan orang banyak dan masyarakat yang luas, Rasulullah
selalu mengundang tokoh-tokoh sahabat yang berasal dari kabilah, suku, atau pun
kalangan-kalangan yang bersangkutan untuk diajak bermusyawarah. Itu lah sebabnya
maka dalam al-Quran terdapat 2 (dua) ayat yang sangat penting mengenai prinsip
musyawarah itu.
Dalam QS. dinyatakan, “Wasyawirhum fil-amri” (Dan bermusyawarah lah
kamu dalam urusan-urusan yang kamu hadapi). Kemudian dalam QS ditegaskan pula,
“Wa amruhum syuro bainahum” (Dan dalam urusan-urusan mereka, mereka saling
bermusyawarah satu sama lain). Pada suatu hari, ketika jumlah umat Islam sudah
bertambah banyak di kota Madinah, dan untuk menjaga agar kepentingan
perbelanjaan umat Islam dapat diatasi sendiri oleh kaum Muslimin, maka oleh nabi
diundanglah pertemuan di masjid untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan
pasar. Salah satu kesimpulan dan keputusan yang diambil oleh Rasulullah dari
pertemuan itu adalah keputusan untuk mendirikan pasar yang dikelola sendiri oleh
umat Islam. Dengan begitu, kaum Muslimin tidak akan tergantung kepada pasar yang
dikendalikan oleh orang Yahudi yang anti Islam ketika itu. Keputusan itu diambil
melalui musyawarah bersama dengan melibatkan wakil-wakil berbagai kelompok
umat Islam, yang dapat kita ibaratkan seakan-akan merupakan pembicaraan mengenai
kebijakan legislasi di lembaga perwakilan modern untuk memutuskan dibentuknya
pasar dan kebijakan ekonomi untuk kepentingan bersama.
Banyak sekali contoh-contoh yang dapat dikemukakan mengenai praktik
pengambilan keputusan dalam urusan-urusan kehidupan bersama di masa nabi
17
Muhammad, dan di masa khulafaurrasyidin yang semuanya dilakukan dengan
musyawarah. Artinya, dalam urusan duniawi dan mu’amalat, nabi Muhammad tidak
pernah membuat keputusan sendiri tanpa musyawarah. Selain itu, dalam urusanurusan duniawi itu, proses pengambilan keputusan selalu melibatkan konstituen atau
pun para pemangku kepentingan (stake-holders) yang terkait. Jika diperhatikan,
sebenarnya, mekanisme pengambilan keputusan seperti yang demikian ini jugalah
yang dipraktikkan oleh sistem demokrasi modern dalam mengambil keputusan politik
untuk kepentingan bersama.
Mengapa permusyawaratan dianggap sangat penting dalam sistem sosial
Islam? Alasan konseptualnya jelas, karena Islam sangat menekankan kedudukan
setiap manusia sebagai pribadi yang otonom, yang masing-masing orang per orang
diberi predikat sebagai ‘khalifah’ Allah di atas muka bumi. Berbeda dari pengertian
‘khalifah rasul’, ‘khalifah Allah’ adalah konsep tentang seluruh umat manusia yang
dipandang sebagai khalifah atau pengganti Tuhan untuk mengolah dan mengelola
kehidupan di atas muka bumi. Dengan status yang sama sebagai khalifah Tuhan,
maka setiap manusia bersifat otonom, berkesamaan dan bersifat egaliter. Oleh sebab
itu, dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan yang sama, semua orang
harus diperlakukan sama (equal treatment), tidak boleh ada diskriminasi atas dasar ras
dan kesukuan. Bahkan, diskriminasi juga dilarang atas dasar perbedaan jenis kelamin
maupun perbedaan keyakinan beragama.
Karena alasan demikian itulah maka musyawarah menjadi sangat penting.
Tidak ada keputusan untuk kepentingan bersama yang dapat diambil tanpa adanya
permusyawaratan. Dari permusyawaratan itulah ragam nilai kebenaran dan aneka
kepentingan serta pandangan dapat diperbincangkan bersama untuk mencapai
kesatuan pandangan tentang sesuatu yang benar, baik dan tepat untuk diputuskan.
Melalui permusyawaratan semacam itu substansi kebenaran dan keadilan akan jauh
mendapat penghargaan di atas jumlah suara yang menjadi dasar pengambilan
keputusan yang bersifat procedural. Melalui proses musyawarah itu pula demokrasi
substantive dapat dibangun dan dikembangkan di atas demokrasi yang hanya bersifat
procedural. Pendek kata, sistem permusyawaratan yang ditekankan dalam tradisi
Islam itu justru menggambarkan konsep yang ideal tentang konsep demokrasi yang
sebenarnya sebagaimana dipahami dalam sistem modern sekarang ini. Demokrasi
yang berkualitas, tidak saja bersifat procedural (procedural democracy), tetapi juga
harus bersifat substantive (substantive democracy).
Jika setiap orang diperlakukan bersifat otonom dengan kedudukan yang sama
sebagai subjek khalifah Tuhan dalam kehidupan, maka pengertian kita tentang
kekuasaan dapat dikaitkan dengan pengertian kedaulatan rakyat atau kedaulatan setiap
manusia dalam mengolah dan mengelola kehidupan bersama. “All men are created
equal”, dan semuanya atas nama Tuhan mempunyai kedudukan sebagai khalifatullah.
Karena itu, prinsip ke-Maha-Kuasaan Tuhan dalam praktiknya dapat terjelma dalam
prinsip kedaulatan manusia, atau kedaulatan rakyat. Artinya, pemahaman agama
tentang kekuasaan tertinggi yang berasal dari Allah swt tidak perlu dipertentangkan
dengan pengertian kedaulatan rakyat atau demokrasi. Tuhan Yang Maha Kuasa itu,
dalam praktik konkritnya, justru terjelma dalam paham kedaulatan rakyat. Karena itu,
muncul adagium yang menyatakan “Suara rakyat adalah suara Tuhan”. Pernyataan ini
tidak boleh ditafsirkan seolah-olah rakyat dipertuhankan atau rakyat diidentikkan
dengan Tuhan. Pernyataan itu haruslah dipahami dalam maknanya yang bersifat
simbolik bahwa suara rakyat itu merupakan penjelmaan konkrit dari suara Tuhan
Yang Maha Berkuasa atas manusia.
18
Tentu saja, apa yang dipraktikkan oleh nabi Muhammad dan para sahabat di
zamannya itu sama sekali belum atau tidak disebut dengan istilah demokrasi seperti
dewasa ini. Apalagi, sampai ke zaman nabi Muhammad, istilah demokrasi itu sendiri
pun belum berubah dan berkembang menjadi istilah yang dipandang positif dan ideal.
Istilah demokrasi dalam pengertian yang ideal baru timbul dalam sejarah modern,
sesudah adanya pengalaman praktik selama berabad-abad dalam sejarah politik Islam
sampai abad ke-13M yang menggambarkan ide-ide dan prinsip-prisnip yang
dikemudian hari kita kenal dengan istilah demokrasi dengan memanfaatkan istilah
Yunani kuno yang dulunya pernah dihindari karena dianggap negatif.
Apa yang kita pahami dewasa ini sebagai prinsip-prinsip demokrasi, sudah
dipraktikkan dalam sejarah Islam, bahkan dimulai sejak zaman nabi Muhammad
sendiri. Nabi Muhammad lah tampil menjadi pemimpin tidak berdasarkan keturunan
dan kemudian diteruskan kepemimpinannya oleh orang lain juga tidak berdasarkan
keturunan. Khalifah Abubakar Siddik lah yang dapat dipandang sebagai khalifah atau
pemimpin pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat, yaitu melalui mekanisme
bai’at yang dimotori oleh Umar ibn Khattab dan kemudian diikuti oleh semua sahabat
sepeninggal nabi Muhammad. Nabi Muhammad pula yang pertama mempraktikkan
sistem permusyawaratan berdasarkan sistem perwakilan antar suku dan kabilah serta
antar kalangan warga dalam mengambil keputusan-keputusan penting menyangkut
pelbagai kepentingan bersama.
Dari praktik-praktik empiris yang demikian, tidak dapat tidak kita harus
mengakui bahwa sebenarnya Islam lah yang justru pada awalnya mempelopori
dipraktikkannya ide-ide dan prinsip-prinsip demokrasi yang dikenal di zaman modern
dewasa ini. Orang Islam yang menolak ide demokrasi dewasa ini jelas karena mereka
memberi makna yang salah kepada istilah demokrasi itu sendiri yang secara simbolik
dianggap mewakili atau mencerminkan pandangan yang berasal dari peradaban barat.
Padahal istilah demokrasi itu sendiri bukan berasal dari mana-mana. Dalam
pengalaman praktik di barat sendiri, yaitu di Yunani kuno, perkataan demokrasi itu
justru pada mulanya tidak dianggap positif dan ideal melainkan sangat negatif dan
buruk. Konsep demokrasi baru dipandang baik dan ideal karena ditemukannya
pelbagai ide dan prinsip dalam praktik di sepanjang sejarah umat manusia sejak
zaman awal perkembangan Islam yang kemudian dianggap tepat untuk disebut
dengan istilah demokrasi.
Karena itu, bagi orang Islam. menolak ide demokrasi itu sebenarnya dapat
diibaratkan sebagai orang Arab yang menerjemahkan kata alcohol dalam kamus Arab
modern dengan tanpa menyadari bahwa asal kata ‘alcohol’ sendiri pada mulanya
justru berasal dari bahasa Arab sendiri. Tentang kata demokrasi, tentu harus diakui ia
berasal dari bahasa Yunani kuno, tetapi pemberian makna yang bersifat positif atas
kata demokrasi itu pada mulanya justru berasal dari praktik-praktik baru yang
dikembangkan oleh umat Islam sendiri sejak zaman nabi Muhammad dan periode
khulafaurrasyidin.
Lagi pula, dalam bahasa pergaulan umat manusia di zaman sekarang, tidak
banyak lagi bangsa (untuk tidak menyebutnya tidak ada lagi orang atau bangsa) yang
secara retorik tidak mengklaim menganut paham demokrasi. Demokrasi dan bahkan
hak asasi manusia praktis sudah menjadi bahasa dunia, bahasa pergaulan dalam
bernegara dan dalam pergaulan antar negara. Karena itu, daripada menolak sesuatu
yang sudah menjadi milik bersama umat manusia, jauh lebih produktif bagi siapapun
juga untuk ikut serta berlomba-lomba memberikan makna yang tepat dan benar
mengenai konsep demokrasi menurut ukuran filosofi dan keyakinan-keyakinan kita
masing-masing.
19
Dengan perkataan lain, tidak salah bagi kaum Muslimin untuk berpendirian
bahwa konsep demokrasi tidak bertentangan dan bahkan sangat sesuai dengan prinsipprinsip ajaran Islam. Malah dari uraian di atas kita juga dapat berkesimpulan bahwa
Islam lah yang justru pertama kali menumbuh-suburkan praktik ideal mengenai apa
yang di kemudian hari dinamakan orang dengan demokrasi. Karena itu, Islam itu
sangat demokratis, dan demokrasi itu sendiri dapat dianggap sangat Islamis. Dalam
praktik dewasa ini, Negara-negara besar anggota Organisasi Konferensi Islam juga
sebagian besar telah mengadopsikan ide-ide dan prinsip-prinsip demokrasi itu dalam
praktik sistem ketatanegaraan masing-masing. Negara-negara berpenduduk mayoritas
Islam seperti Indonesia, Turki, Pakistan, Mesir, dan bahkan Iran dapat dipandang
cukup berhasil dalam menerapkan sistem demokrasi itu dalam praktik. Bahkan,
dengan suksesnya sistem demokrasi yang dikembangkan di Indonesia sebagai negeri
Muslim terbesar di dunia semakin membuktikan bahwa Islam dan Demokrasi dapat
berjalan beriringan satu dengan yang lain.
E.
BENTUK KHILAFAH DAN REPUBLIK
Khusus mengenai bentuk negara, antara bentuk republik atau kerajaan, dapat
pula kita menghubungkannya dengan perdebatan yang tak kunjung tuntas mengenai
konsep Negara Islam yang biasa dinisbatkan dengan ide internasionalisme dan konsep
khilafah. Seperti sudah dijelaskan di atas, kita harus membedakan antara pengertian
‘khalifatullah’ dan ‘khalifaturrasul’. Khalifatullah adalah konsep tentang kedudukan
setiap manusia di mata Allah. Di mata Allah, manusia tidak lain adalah hamba-Nya
dan sekaligus khalifah-Nya. Sebagai objek kita adalah hamba Allah yang wajib
tunduk pasrah kepada Allah, sedangkan sebagai subjek kita adalah khalifah pengolah
dan pengelola alam semesta untuk kehidupan bersama.
Dari konsepsi kekhalifahan manusia itu kita dapat mengembangkan gagasangagasan berorganisasi yang kita nisbatkan sebagai sistem demokrasi. Sedangkan itu,
dari konsepsi mengenai kepemimpinan oleh sistem aturan atau sistem hukum, kita
dapat mengembangkan pengertian mengenai gagasan negara hukum atau nomokrasi.
Sementara itu, dari konsepsi mengenai ‘khalifatullah’ kita dapat mengembangkan
konsep-konsep dasar tentang otonomi dan kebebasan setiap manusia yang menjadi
dasar filosofis bagi dikembangkannya sistem demokrasi dalam tradisi Islam. Namun,
dari konsepsi mengenai ‘khalifaturrasul’, kita justru dapat menemukan pengertian
sistem kepemimpinan model baru yang di zaman nabi sama sekali belum ada
contohnya dalam sejarah umat manusia.
Pemimpin suatu kaum atau komunitas yang dalam pengertian modern yang
berkembang semakin kompleks dapat kita kaitkan dengan pengertian kepemimpinan
negara. Pemimpin negara itu dalam tradisi kekhalifahan dipahami sebagai pejabat
pengganti rasulullah dalam memimpin jamaah kaum Muslimin dalam berorganisasi
negara. Jika sebelum Islam, para pemimpin negara itu selalu diangkat berdasarkan
keturunan, maka sejak zaman nabi dan khulafaurrasyidin, pergantian kepemimpinan
terjadi tidak berdasarkan hubungan darah, melainkan berdasarkan pertimbanganpertimbangan yang bersifat rasional dan melalui proses pengambilan keputusan yang
bersifat demokratis melalui permusyawaratan substantif.
Karena itu, menurut pendapat saya, bentuk kekhalifahan organisasi Negara di
masa-masa awal pertumbuhan Islam, khusus yang tercermin dalam lima khalifah
pertama, tidak lain adalah bentuk negara republik. Kelima khalifah pertama itu adalah
(i) Abubakar Siddik, (ii) Umar ibn Khattab, (iii) Usman ibn Affan, dan (iv) Ali ibn
20
Abi Thalib, serta (v) Mu’awiyah ibn Abi Sofyan. Meskipun yang biasa disebut
sebagai khulafaurrasyidin hanya empat saja, yaitu tidak termasuk Mu’awiyah ibn Abi
Sofyan, tetapi setidaknya pengangkatan Mu’awiyah menjadi khalifah sesudah Ali ibn
Abi Thalib juga tidak didasarkan atas hubungan keturunan dengan Ali ibn Abi Thalib.
Mu’awiyah sendiri dapat dianggap menyalahgunakan kekuasaan yang direbutnya
dengan penuh kelicikan dan dengan kembali menghidupkan tradisi kerajaan seperti
yang dipraktikkan di zaman jahiliyah, sehingga kepemimpinannya diteruskan secara
turun temurun oleh anak dan cucunya sendiri. Mu’awiyah sendiri ditetapkan menjadi
Khalifah penerus Khalifah Ali ibn Abi Thalib melalui kudeta berdarah sebagai salah
satu contoh pola suksesi atau pergantian kekuasaan yang sering terjadi dalam semua
tradisi dan dalam semua sistem.
Kudeta itu sendiri sering terjadi dalam sejarah umat manusia dimana saja, baik
dalam sistem kerajaan maupun dalam sistem republik. Namun, sebelum zaman Islam,
kudeta hanya terjadi dalam sistem kerajaan. Raja yang satu ditumbangkan, diganti
dengan raja yang baru. Dari waktu ke waktu, dinasti demi dinasti datang dan pergi
sebagaimana digambarkan dalam buku Mukaddimah Ibnu Khaldun dan buku Le
Prince karya Nicolo Machiavelli.
Sebelum Islam, dapat dikatakan bahwa praktik pergantian kekuasaan di manamana hanya terjadi melalui cara turun temurun atau melalui perebutan kekuasaan
(kudeta). Memang benar dalam bukunya “Republics”, Plato mengidealkan negara
“res publica” atau negara yang mencerminkan kekuasaan oleh rakyat, kekuasaan oleh
public seperti yang tercermin dalam istilah ‘republik’. Namun yang memimpin negara
dimaksud tetaplah seorang raja atau ratu. Hanya saja, yang diimpikan oleh Plato untuk
menjadi pemimpin yang ideal itu adalah seorang “Philofopher’s King”, yaitu seorang
raja filosof. Karena itu, negara yang ideal itu tetap saja berbentuk kerajaan yang
dipimpin oleh raja atau ratu.
Lagi pula, impian Plato tentang “res publica” itu barulah dalam tataran
wacana filosofis. Dalam praktik sistem organisasi bernegara di Athena, di Sparta, dan
di tempat-tempat lain di dunia ketika itu, tetap lah merupakan bangun organisasi yang
berbentuk kerajaan dengan proses pergantian kekuasaan dari satu generasi ke generasi
berikutnya secara turun-temurun. Memang banyak terjadi pergantian kepemimpinan
melalui perebutan kekuasaan atau kudeta di sepanjang sejarah umat manusia.
Fenomena kudeta itu betapapun merupakan penyimpangan dari tradisi yang baku. Hal
ini memang sering terjadi dalam sejarah, tidak saja di lingkungan kerajaan tetapi juga
di lingkungan siste pemerintahan non-kerajaan. Dengan perkataan lain, konsepsi
tentang republik di zaman Yunani kuno itu seperti yang diimpikan oleh Plato itu
belum lah menjadi gambaran kenyataan ketika itu dan bahkan di masa-masa
sesudahnya.
Hanya saja, dalam sistem pemerintahan kerajaan yang disebut oleh Plato
dengan ‘res publica’ itu dibayangkan bahwa dalam penyelenggaraan kekuasaan
sehari-hari sudah dengan sendirinya raja harus menyerap aspirasi rakyat banyak untuk
kepentingan umum. Karena para raja, bagaimanapun juga memang haruslah melayani
kepentingan rakyat, bukan melayani kepentingannya sendiri. Oleh sebab itu, yang
ideal diangkat menjadi raja menurut Plato haruslah mereka yang memenuhi
kualifikasi sebagai filosof, yang memiliki kecerdasan dan pemahaman yang luas dan
mendalam mengenai masalah-masalah kepentingan umum. Demonstrasi rakyat kota,
perlawanan mereka, dan bahkan kekuatan mereka dapat menumbangkan kekuasaan
raja, meskipun dari perlawanan itu akan muncul raja baru yang nantinya juga akan
mewariskan tahta yang dikuasainya kepada anak-cucunya sendiri untuk generasi
berikutnya.
21
Dalam kaitan itulah maka praktik yang terjadi pada awal perkembangan
sejarah Islam, mulai dari masa kepemimpinan nabi Muhammad sampai tampilnya
Mu’awiyah ibn Abi Sofyan menjadi Khalifah dinasti Ummaiyah pertama, sungguh
sangat penting untuk dicatat secara tersendiri. Tampilnya Muhammad menjadi
pemimpin, di samping sebagai nabi dan rasul tidak didasarkan atas keturunan,
melainkan karena adanya ‘social trust’ dan ‘social support’ dari masyarakat. Karena
itu, bagi Montgomery Watt, kedudukan Muhammad ketika itu adalah nabi/rasul
(Prophet) dan sekaligus merupakan negarawan (statesman)17. Demikian pula
tampilnya Abubakar Siddik menjadi Khalifah didasarkan atas “bai’at” atau
konkritnya berdasarkan pemilihan umum yang bersifat langsung dan terbuka yang
dimotori oleh Umar ibn Khattab.
Banyak orang yang salah memahami konsepsi “bai’at” itu yang sebenarnya.
Dalam praktik, tokoh-tokoh pergerakan biasa menggunakan istilah “bai’at” itu untuk
mengambil sumpah agar para pengikutnya tunduk dan taat kepada pimpinan yang
membai’at. Kebiasaan demikian ini tentu saja sangat salah. Bai’at itu sendiri yang
benar adalah seperti yang dilakukan Umar ibn Khattab ketika membai’at Abubakar
Siddik menjadi khalifah pengganti nabi. Sesudah Umar ibn Khattab menyatakan
“bai’at” nya maka para sahabat lainnya berbondong-bondong menyatakan dukungan
juga kepada Abubakar dan membai’atnya menjadi khalifah. Dengan perkataan lain,
bai’at kepemimpinan itu bukanlah tindakan atas kepada bawahan, melainkan
sebaliknya dari bawahan kepada atasan. Dengan bai’at itu lah rakyat menyatakan
dukungannya kepada khalifah, persis seperti pemungutan suara dengan mana rakyat
menentukan pilihannya untuk mengangkat seseorang menjadi pemimpin yang mereka
percayai.
Oleh karena itu, sistem bai’at yang dilakukan oleh Umar ibn Khattab kepada
Abubakar Siddik itu, menurut pendapat saya, dapat disebut sebagai cikal bakal sistem
pemilihan kepala negara yang pertama dalam sejarah umat manusia. Karena itu,
sistem khilafaturrasul yang dipraktikkan di zaman sepeninggal nabi Muhammad tidak
lain dan tidak bukan adalah sistem republik yang diimpikan Plato di zaman Yunani
kuno. Impian Plato tentang “res publica” dituliskannya dalam buku “Republics”
belum dapat dipraktikkan di zamannya. Impiannya itu baru dipraktikkan setelah masa
nabi Muhammad menjadi pemimpin yang kemudian setelah meninggal dunia
digantikan oleh Khalifah Abubakar Siddik.
Sejak Abubakar dipilih menjadi khalifah, 4 khalifah berikutnya juga
ditabalkan menjadi “amirul mu’minin” dengan cara yang tidak bersifat turun temurun.
Bersamaan dengan itu, seperti sudah diuraikan di atas mengenai pandangan Islam
mengenai tradisi demokrasi pada bagian terdahulu, semua masalah yang menyangkut
kepentingan umum selalu diputuskan oleh para khalifah secara musyawarah dengan
melibatkan pihak-pihak yang terkait sesuai dengan prinsip demokrasi perwakilan. Hal
demikian ini tidak lain merupakan sistem demokrasi yang bersifat substantif dalam
proses pengambilan keputusan yang dipraktikkan dalam tradisi politik Islam sejak
zaman nabi.
Karena itu, konsep Khilafah Islamiyah sebenarnya tidak lain merupakan
konsep republik seperti yang diimpikan Plato dan seperti yang pertama kali
diterapkan dalam praktik di zaman nabi Muhammmad dan masa khulafaurrasyidin.
Dengan demikian, sudah seharusnya perdebatan yang tidak kunjung selesai mengenai
pengertian “Khilafah Islamiyah” yang bersifat global seperti yang diimpikan oleh
banyak kalangan segera diakhiri saja. Suatu republik, jika berkembang maju dan kuat
17
Montgomery Watt, Muhammad: Prophet and Statesman, Oxford University Press, 1964, hal.92-94.
22
dapat saja meluas pengaruhnya ke seluruh dunia. Misalnya republik Amerika Serikat
yang ada sekarang sangat luas pengaruh kekuasaannya di seluruh dunia. Jika ada satudua republik yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam, lalu berkembang
sangat maju dan kuat, baik secara militer, secara ekonomi, politik, maupun
kebudayaan, maka negara Muslim dimaksud tidak sulit untuk berperan seperti satu
kekhalifahan yang kuat seperti di masa-masa lalu, yaitu kekhalifahan Islam antara
abad ke-6 sampai dengan abad ke-13, atau setidaknya seperti kekhalifahan Ottoman
sampai abad ke-19 dan sebelum Perang Dunia Pertama yang masih dikenal sangat
kuat pengaruhnya di dunia.
Tradisi-tradisi yang tumbuh dan hidup dalam sejarah Islam dapat ditafsirkan
tidak menolak sistem republik. Bahkan tradisi Islam itu lah yang justru pertama kali
menerapkan prinsip-prinsip yang di kemudian hari kita kenal sebagai konsep republik
dan konsep demokrasi. Konsep republik yang diidealkan dan konsep demokrasi yang
dipandang buruk di masa Plato, justru dipraktikkan dengan baik di masa awal
perkembangan Islam, dan dari sana terus dikembangkan menjadi tradisi politik
modern sampai dengan sekarang.
F. PIAGAM MADINAH, KONSTITUSI TERTULIS PERTAMA
Di samping adanya prinsip-prinsip doktrin negara hukum (nomokrasi),
prinsip-prinsip demokrasi permusyawaratan, dan bentuk negara republik sebagaimana
diuraikan di atas, sejarah Islam juga memperkenalkan kepada dunia mengenai piagam
perjanjian bersama antar warga kota Madinah untuk hidup bersama dalam satu wadah
negara dalam bentuk naskah yang dikenal dengan Piagam Madinah. Dalam pengertian
modern sekarang, Piagam Madinah ini identik dengan pengertian konstitusi tertulis,
yaitu sebagai naskah konstitusi tertulis pertama dalam sejarah umat manusia.
Banyak klaim di antara para ahli mengenai naskah konstitusi tertulis pertama
dalam sejarah umat manusia. Bahkan kode sipil Hammurabi juga dinisbatkan oleh
beberapa sarjana sebagaii konstitusi tertulis pertama dalam sejarah. Akan tetapi,
apabila dibaca dengan perspektif modern dewasa ini tentang makna undang-undang
dasar sebagai konstitusi tertulis, maka naskah pertama yang berisi hasil-hasil
kesepakatan bersama antar warga masyarakat yang ditunjukkan oleh adanya
tandatangan bersama antar tokoh-tokoh yang mewakili pelbagai kelompok yang
beraneka ragam dalam masyarakat, tidak lain adalah Piagam Madinah18.
Piagam Madinah tersebut ditandatangani bersama oleh 13 kepala suku dan
kelompok-kelompok dalam masyarakat bersama nabi Muhammad pada tahun
622M19. Ketiga belas kepala suku tersebut adalah (i) kaum Muhajirin atau orang
Islam yang berasal dari Mekkah, (ii) kaum Anshar atau orang Islam yang memang
hidup di kota Madinah, (iii) kaum Yahudi dari banu ‘Awf, (iv) kaum Yahudi dari
banu Sa’idah, (v) kaum Yahudi dari banu Hars, (vi) kaum Yahudi dari banu Jusyam,
(vii) kaum Yahudi dari banu al-Najjar, (viii) kaum Yahudi dari banu Amr ibn ‘Awf,
(ix) kaum Yahudi dari banu al-Nabit, (x) kau Yahudi dari banu al-‘aws, (xi) kaum
Yahudi dari banu Sa’labah, (xii) suku Jafnah dari banu Sa’labah, dan (xiii) suku banu
Syuthaybah. Tercatat dalam sejarah, suku yang terakhir ini pernah berkhianat dan
kemudian kepala suku dihukum oleh rasulullah dengan hukuman mati.
Montgomery Watt bahkan menyebutnya sebagai “The Constitution of Medinah”, lihat ibid.hal. 93.
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Rajagrafindo Persada, Jakarta, edisi 2009,
hal.85-86.
18
19
23
Prinsip ketaatan kepada kesepakatan para pemimpin dalam bentuk piagam
perjanjian bersama itu, dalam Islam, sangat diberi tekanan. Dalam QS. Dinyatakan,
“Athi’ullaha, wa athi’urrasula, wa ulil-amri minkum”. Allah memerintahkan kepada
orang-orang yang beriman untuk menaati Allah, menaati Rasulullah, dan para
pemimpin di antara kamu. Salah satu bentuknya kumpulan kepemimpinan itu adalah
perkumpulan para tokoh yang mewakili kelompok dan golongan kaumnya masingmasing untuk menandatanganni kesepakatan bersama untuk hidup bersama sebagai
satu kesatuan masyarakat di Madinah.
Semua kesepakatan yang dibuat secara sukarela (an tarodhin) diwajibkan oleh
nabi agar ditaati oleh setiap umat Islam. Jika ada yang melanggar, maka kepada yang
bersalah dijatuhi hukuman sebagaimana mestinya. Dalam sejarah, nabi Muhammad
tercatat memang menjatuhkan hukum konkrit kepada orang-orang yang menghianati
perjanjian bersama itu. Dengan demikian, setiap orang Islam, tidak hanya wajib
tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga kepada setiap norma hukum
yang lahir dari kesepakatan bersama, baik dalam bentuk undang-undang dasar,
undang-undang, peraturan daerah, ataupun peraturan-peraturan pelaksanaannya
(executive acts) maupun dalam bentuk kontrak-kontrak perdata yang mengikat bagi
pihak-pihak yang membuatnya. Semua ini jelas merupakan gambaran prinsip negara
hukum, prinsip negara konstitusional (constitutional state), dan prinsip negara
demokrasi berdasar atas hukum atau negara konstitusional yang dikenal di zaman
modern sekarang.
Karena itu, kepeloporan umat Islam sejak masa Rasulullah meski dimulai dari
bentuknya yang paling sederhana dapat dicatat terdapat dalam pelbagai komponen
sistem politik. Pertama, Islam memulai sistem kepemimpinan masyarakat dan negara
dari ‘social trust’ dan ‘social support’ kepada Muhammad sebagai orang yang dikenal
sebagai “al-amin” atau “yang terpercaya. Kedua, pola kepemimpinan Muhammad
diteruskan dengan proses pergantian kepemimpinan tidak lagi berdasarkan sistem
keturunan seperti sebelumnya. Ketiga, dalam penyelenggaraan kepentingan umum,
para pemimpin umat selalu membuat keputusan melalui proses permusyawaratan dan
perwakilan sebagamana mestinya. Keempat, dalam bentuknya yang sederhana, Islam
juga lah yang memulai tradisi pemilihan umum dengan sistem “bai’at” untuk
menentukan diangkatnya seorang kepala negara. Kelima, Dalam penyelenggaraan
kepemimpinan, dikenal adanya prinsip ‘la tho’ata li makhluqin fi ma’siyatil kholiq’
yang menentukan bahwa yang harus dijadikan ukuran ketaatan tertinggi adalah sistem
aturan, bukan perintah atasan. Dengan pandangan demikian, Islam juga lah yang
mempelopori berlakunya prinsip ‘the rule of law, not of man’. Keenam, bentuk
organisasi “kekhilafahan” terutama selama periode “khulafaurrasyidin” mulai sejak
terpilihnya Abubakar Siddik sebagai Khalifah tidak lain merupakan cikal bakal
praktik konkrit mengenai ide pemerintahan republik sebagaimana yang sudah
diimpikan oleh Plato dalam bukunya “Republic” pada masa Yunani kuno.
G. CATATAN AKHIR: REPUBLIK INDONESIA
Untuk menggambarkan contoh pemikiran kenegaraan yang dipraktikkan di
dunia Islam, kita dapat menjadikan UUD 1945 salah satu bahan kajian mengenai
pertautan hubungan antara paham kenegaraan modern dengan pandangan ke-Islaman
tentang kekuasaan negara. UUD 1945 memuat kandungan prinsip yang sangat kaya,
yang secara substantif tidak dapat dilepaskan dari pengertian-pengertian yang
berkembang di kalangan umat Islam yang merupakan penduduk utama atau mayoritas
24
negeri ini. Doktrin ke-Maha-Kuasaan Tuhan, paham kedaulatan rakyat, ide negara
hukum, konsep kekhalifahan dan bentuk negara republik dan lain sebagainya dapat
dipahami dalam harmoni pengertian antara teori dan tradisi Islam dengan pandangan
kenegaraan modern di Indonesia.
Dalam perspektif internal, ajaran kekuasaan tertinggi atau konsep kedaulatan
yang dianut oleh UUD 1945 mencakup ajaran (i) kedaulatan Tuhan, (ii) kedaulatan
rakyat, dan sekaligus (iii) kedaulatan hukum20. Ajaran kedaulatan Tuhan YME
tercermin dalam pengakuan bangsa Indonesia dalam alinea ketiga dan keempat
Pembukaan UUD 1945 serta dalam ketentuan Pasal 29 ayat (1) UUD 1945. Pada
Alinea 3 Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa “Atas berkat rakhmat Allah Yang
Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan
kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini
kemerdekaannya”.
Sementara itu, pada Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945, ditegaskan pula
bahwa ”..... maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan
Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia
dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/
Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia”.
Dari kedua alinea itu, kita dapat mengetahui bahwa bangsa Indonesia
mengakui adanya kekuasaan yang Maha Kuasa di atas manusia, yang atas berkat
rahmat-Nya bangsa Indonesia menyatakan kemerdekannya. Bersamaan dengan itu,
pada alinea keempat ditegaskan pula bahwa bangsa Indonesia menganut ajaran
kedaulatan rakyat yaitu bahwa susunan Negara Republik Indonesia yang dibentuk
adalah susunan negara yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan
Yang Maha Esa beserta prinsip-prinsip atau keempat sila lainnya dari Pancasila.
Paham kedaulatan Tuhan itu ditegaskan lagi dalam rumusan ketentuan Pasal
29 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan, “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang
Maha Esa”. Ketentuan Pasal 29 ayat (1) ini dapat dikatakan merupakan penegasan
saja dari rumusan sila pertama Pancasila sebagaimana tertulis dalam Alinea Keempat
Pembukaan UUD 1945 tersebut di atas. Bersamaan dengan itu, Pasal 1 ayat (2) dan
ayat (3) UUD 1945 menegaskan pula bahwa Indonesia adalah negara demokrasi yang
berdasar atas hukum atau konstitusi dan sekaligus sebagai negara hukum. Pasal 1 ayat
(2) menentukan, ”Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut
Undang-Undang Dasar21. Sedangkan Pasal 1 ayat (3) berbunyi, “Negara Indonesia
adalah negara hukum”.
20
Lihat Jimly Asshiddiqie, Gagasan Kedaulatan Rakyat dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di
Indonesia, Ichtiar Baru – van Hoeve, Jakarta, 1994, hal.59-62.
Pasal 1 ayat (2) ini diubah pada tahun 2001, yaitu pada Perubahan Ketiga. Semula rumusannya berbunyi, “Kedaulatan berada
di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”. Dengan perumusan yang baru, yaitu
“Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”, yang berubah adalah (i) penyebutan
subjek MPR sebagai pelaku sepenuhnya kedaulatan rakyat dihilangkan,, dan (ii) dasar konstitusional pelaksanaan kedaulatan
rakyat itu ditegaskan secara eksplisit. Dengan perubahan tersebut, terdapat tiga penegasan yang mendasar. Pertama, bahwa
prinsip kekuasaan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kekuasaan yang berasal dari rakyat sebagai sumber
yang tertinggi, sehingga kekuasaan itu harus diselenggarakan oleh rakyat itu sendiri dan untuk ditujukan hanya kepentingan
seluruh rakyat ang berdaulat itu sendiri pula. Inilah yang dimaksud sebagai prinsip dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Bahkan, di kalangan negara-negara yang sedang berkembang, dimana penyelenggaraan negaranya memerlukan tingkat
partisipasi yang luas dari seluruh rakyat, dapat pula dikatakan bahwa sistim demokrasi atau kedaulatan rakyat di zaman modern
harus diselenggarakan dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat, dan bersama rakyat. Kedua, pelaksana atau pelaku kedaulatan
rakyat itu tidak hanya dilakukan oleh MPR seperti sebelumnya, tetapi oleh semua organ konstitusi. Ketiga, penyelenggaraan atau
pelaksanaan kedaulatan rakyat atau demokrasi harus dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan undang-undang dasar, yaitu
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dari prinsip pertama dapat ditarik kesimpulan bahwa MPR tidak lagi memegang
21
25
Adanya ketiga prinsip ajaran kedaulatan tersebut di atas dapat dibaca dalam
satu nafas, sehingga – seperti dalam tradisi politik Islam – pengertian kekuasaan
tertinggi dalam Negara Republik Indonesia pertama-tama harus dipahami berasal dari
Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya saja, berbeda dari paham teokrasi, kekuasaan Tuhan
Yang Maha Esa itu secara operasional dijelmakan dalam konsep kedaulatan rakyat
dan kedaulatan hukum sebagaimana mestinya. Dengan keyakinan akan adanya KeMaha-Kuasaan Tuhan yang mutlak, maka setiap manusia dipandang relatif dalam
hubungan yang egaliter antara satu sama lain. Dari pengertian yang demikian inilah
dikembangkan pengertian bahwa yang berdaulat dalam kegiatan bernegara adalah
rakyat, bukan penguasa.
Di pihak lain, ke-Maha-Kuasaan Tuhan Yang Maha Esa itu juga dijelmakan
dalam prinsip-prinsip hukum wajib ditaati berdasarkan hukum yang berpuncak pada
UUD 1945 sebagai konstitusi sumber hukum tertinggi. Dengan demikian, terdapat
segi tiga yang saling berhubungan erat satu sama lain, yaitu prinsip Ke-MahaKuasaan Tuhan, Kedaulatan Rakyat atau demokrasi, dan gagasan Negara Hukum atau
prinsip negara konstitusional (constitutional state) yang memandang hukum sebagai
panglima dalam segala aktifitas bernegara. Pengertian yang demikian itu jelas seiring
dan sejalan dengan pengertian-pengertian yang berkembang dalam teori dan praktik
tradisi politik Islam sebagaimana diuraikan di atas.
kewenangan eksklusif sebagai satu-satunya pelaku kedaulatan rakyat, sehingga dapat dipahami sebagai satu-satunya lembaga
negara yang tertinggi yang dapat mengklaim sebagai cermin kedaulatan seluruh rakyat Indonesia. Sedangkan dari prinsip kedua,
dipastikan bahwa semua organ konstitusi, semua lembaga negara, semua cabang kekuasaan, sama-sama menjalankan kekuasaan
negara berdasarkan undang-undang dasar. Prinsip terakhir inilah yang dalam teori disebut sebagai prinsip negara konstitusional,
“constitutional state” atau “constitutional government”, yang tidak lain merupakan istilah lain dari pengertian “rechtsstaat” atau
Negara Hukum menurut istilah yang lazim dipakai di kalangan negara-negara Eropah Kontinental.
26
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Andrews, William G., Constitutions and Constitutionalism, 3 rd edition, New Jersey: van Nostrand
Company, 1968.
Asshiddiqie, Jimly, Agenda Pembangunan Hukum di Abad Globalisasi, Jakarta: Balai Pustaka, 1996.
--------------, Gagasan kedaulatan Rakyat dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di Indonesia, Jakarta:
Ichtiar Baru van Hoeve, 1994.
--------------, Islam dan Kedaulatan Rakyat, Jakarta: Gema Insani Pers, 1995.
--------------, Islam dan Tegaknya Negara Hukum Kita, Al-Azhar, 1 Syawal 1429 H.
--------------, Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia, Bandung: Angkasa, 1996.
--------------, Pengantar Pemikiran Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia,
Jakarta: The Habibie Center, 2001.
--------------, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Pasca Reformasi, Jakarta: BIP-Gramedia, 2008.
--------------, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jakarta: Konpres dan Rajagrafindo, 2006, 2007,
2008, dan 2009.
--------------, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Jakarta: Konpres, 2005, 2006, 2007.
--------------, The Constitutional Law of Indonesia: A Comprehensive Overview, Sweet & Maxwell
Asia, 2009.
Azhary, Muhammad Tahir, Negara Hukum: Suatu Studi tentang Prinsip-prinsipnya dilihat dari segi
Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, Jakarta: Bulan
Bintang, 1992.
Berki, R.N., The History of Political Thought: A Short Introduction, London: J.M.Dent and Sons,
1988.
Bogdanor, Vernon (ed), Blackwell’s Encyclopaedia of Political Science, Blackwell, Oxford, 1987.
Bryce, J., Studies in History and Jurisprudence, vol.1, Clarendon Press, Oxford, 1901.
De Tocqueville, Alexis, Democracy in America, edited by Phillips Bradley, Vol.I, New York: Vintage
Books, edisi tahun 1956.
Dicey, A.V. An Introduction to the Study of the Law of the Constitution, London: English Language
Book Society and Macmillan, 1971.
Friedrich, C.J., Man and His Government, McGraw-Hill, New York, 1963.
Manan, Bagir, Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi Suatu Negara, CV. Mandar Maju, Bandung, 1995.
Matosoewignjo, Sri Soemantri, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, Alumni, Bandung, 1987.
McIlwain, Charles Howard, Constitutionalism: Ancient and Modern, Ithaca, New York: Cornell
University Press, 1966.
Neumann, Franz, The Rule of Law: Political Theory and the Legal System of Modern Society,
Leamington Spa and Heidelberg, 1986.
Phillips, O. Hood , Constitutional and Administrative Law, 7th ed., Sweet and Maxwell, London, 1987.
Plato, The Laws, Penguin Classics, 1986 (diterjemahkan dan dengan kata pengantar oleh Trevor J.
Saunders.
Soekanto, Soerjono, Masalah Kedudukan dan Peranan Hukum Adat, Jakarta: Academia, 1979.
Talib, Sayuti, Receptie A Contrario, Jakarta: Academia, 1977.
Thompson, Brian, Constitutional dan Administrative Law, 3rd edition, London: Blackstone Press, 1997.
Utrecht, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Jakarta: Ichtiar, 1962.
Watt, Montgomery, Muhammad: Prophet and Statesman, Oxford University Press, 1964.
27
Download