PROMOSI KESEHATAN MENTAL DAN PREVENSI GANGGUAN

advertisement
Promosi dan prevensi 1
PROMOSI KESEHATAN MENTAL DAN PREVENSI GANGGUAN MENTAL PADA
ANAK DAN REMAJA
Aloysius L.S. Soesilo
Fakultas Psikologi – UKSW Salatiga
ABSTRACT
Public health improvement can be seen as a continuum from health promotion dan
ill health prevention to timely and appropriate clinical care. Good public health
practice creates a community benefit. It is delivered in a social, cultural, and
economic context that affects quality of life and health in general. Prmotion and
prevention have to go hand in hand, and complement each other. Increasing
problems of truancy, violence, substance abuse, teen pregnancy, sexually
transmitted diseases, and other psychological and social problems among our
students should be seen as an alarming sign of the seriousness of any promotion
and prevention strategies. This articles attempts to raise awareness of the
importance of an integrated and multifaceted approach to health promotion and
mental health problem prevention.
Keywords: health, promotion, prevention, primary education
PENDAHULUAN
Prinsip mendasar yang harus kita pegang ketika berurusan dengan anakanak dan remaja adalah bahwa kesehatan dan gangguan mental pada mereka
adalah urusan kita semua. Artinya bahwa semua profesional, masyarakat dan
orangtua yang berhubungan dengan kehidupan anak sehari-hari selayaknya
Promosi dan prevensi 2
sanggup untuk bertindak meningkatkan kesejahteraan psikologis (psychological
well-being) mereka dan mencegah kesejahteraan ini terpuruk oleh karena masalah
dan tantangan kehidupan.
Oleh karena itu, mencermati keadaan mereka,
memahami bagaimana berkomunikasi dengan mereka, dan mengerti signifikansi
dari apa yang mereka katakan dan perbuat serta bagaimana kita bertindak ketika
pertolongan dibutuhkan adalah hal yang penting. Daripada melakukan intervensi
setelah anak bermasalah lebih baik, perhatian dan upaya kita dicurahkan pada
promosi dan prevensi. Implikasinya adalah jelas bahwa semua pihak berusaha
menciptakan lingkungan di mana orang-orang muda ini dapat bertumbuh-kembang
dan memperoleh pendidikan yang mendukung kesejahteraan hidup mereka.
Gangguan-gangguan mental pada anak dan remaja adalah hal yang umum
terjadi. Banyak gangguan yang dialami pada masa dewasa bermula dari faktorfaktor resiko pada masa anak-anak. Maraknya banyak persoalan bertautan
dengan emosi dan perilaku kelompok usia muda dewasa ini telah memberkan
beban yang besar pada penderitaan semua pihak dan biaya penanganan yang
besar, kalau masih beruntung mendapatkannya. Beban ini harus dikurangi dan
perhatian serius harus diarahkan pada upaya-upaya promosi dan prevensi
kesehatan baik fisik maupun mental.
Dalam layanan terhadap anak dan remaja khususnya, memang tidak
terlampau bermanfaat memisahkan promosi dari prevensi karena pengembangan
ketrampilan (skills) yang disasarkan pada kesejahteraan psikologis dapat
mempunyai efek preventif yang penting, dan perhatian pada perkembangan yang
normal dapat memberikan informasi mengenai strategi-strategi yang ditujukan
pada penanganan problem-problem dalam kesehatan mental. Namun demikian ,
promosi tetap mempunyai tempat yang penting dalam prevensi gangguan
kesehatan karena promosi menjadi efektif di dalam prevensi keluasan rentang
resiko dan penyakit yang berhubungan dengan emosi dan perilaku.
Promosi dan prevensi 3
PROMOSI KESEHATAN
Promosi kesehatan mental bertujuan untuk meningkatkan atau memperbaki
kapasitas bagi kesehatan mental individu, keluarga, organisasi dan komunitas.
Telah banyak dipahami orang bahwa makna sehat bukan sekedar tidak adanya
gangguan atau penyakit. Kesehatan berpengaruh atas kapasitas orang untuk
membentuk relasi interpersonal dan sosial, untuk berkomunikasi, berperasaan dan
berpikir, untuk koping dengan kehilangan dan perubahan, hidup yang produktif dan
sejahtera.
Menurut Mental Health Foundation di Amerika, (1999, dalam Dwivedi &
Harper, 2004), anak yang sehat secara mental mempunyai kemampuan untuk







Berkembang secara psikologis, emosional, kreatif, intelektual, dan
spiritual
Mengambil
inisiatif,
mengembangkan
dan
mempertahankan
kelangsungan relasi personal yang memuaskan
Memanfaatkan kesendirian (solitude) dan menikmatinya
Menjadi sadar akan orang lain dan berempati dengan mereka
Bermain dan belajar
Mengembangkan rasa benar dan salah
Menghadapi problem dan kemalangan serta belajar dari peristiwaperistiwa ini, dalam cara-cara yang selaras dengan tingkat usia mereka
(hal. 17)
Promosi kesehatan berkepentingan dengan pemberdayaan pada aras
inidividu maupun komunitas. Pada aras individual, yang menjadi sasaran
pemberdayaan adalah, misalnya, parenting, harga-diri (self-esteem), resiliensi, dan
kompetensi psikososial. Sedangkan pada aras komunitas, pemberdayaan
dibangun melalui inklusi sosial, program anti perundungan (anti-bullying),
kepekaan dan solidaritas sosial, dukungan sosial, keadilan dan kesetaraan.
Semua ini dimaksudkan untuk mereduksi hambatan-hambatan struktural terhadap
kesehatan, seperti mengeliminasi diskriminasi dan ketimpangan dalam akses bagi
perumahan, pendidikan, pekerjaan, dsb, dan kerentanan terhadap problemproblem kesehatan, absenteisme karena kondisi kesehatan, problem-problem
Promosi dan prevensi 4
belajar dan keprilakuan, perilaku beresiko, dan penelantaran serta kekerasan
(abuse) (Dwipedi & Harper, 2004).
Di
dalam
model
transasksional
organisme
dan
interaksinya
denganlingkungan, apa yang dialami oleh anak pada suatu waktu dalam
kehidupannya bukanlah fungsi dari keadaan internal anak sendiri dan bukan pula
sekedar kondisi lingkungan,melainkan dampak dari interaksi yang kompleks antara
anak dan lingkungan. Baik pada diri individu sendiri dan lingkungan terdapat
faktor-faktor resiko dan sekaligus faktor-faktor protektif atau resiliensi. Selanjutnya,
faktor-faktor ini bisa menimbun efek kumulatif baik pada diri individu, keluarga,
maupun lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, inisiatif-inisiatif promosi perlu
mencakup perhatian pada individu sendiri sehingga dia bisa memiliki kesanggupan
untuk menghadapi kesulitannya, dan pada pihak lain, keterlibatan lingkungan,
termasuk struktur-struktur yang memfasilitasi perencanaan dan pengambilan
keputusan dalam pengadaan dan pelaksanaan layanan.
Literatur telah menunjukkan adanya garis penghubungan yang jelas antara
ketidak-setaraan, ketidak-adilan, disintegrasi relasi sosial, dan merosotnya modal
sosial dan kesejahteraan lahir dan batin dengan problem-problem kesehatan.
Maka apabila kesehatan mental ditempatkan sebagai hal yang kunci dalam
keseluruhan kesehatan komunitas (sekolah, lingkungan tempat tinggal sekitar, dan
lingkup yang lebih luas), maka program-program promosi, termasuk membangun
modal
sosial,
harus
mendapatkan
prioritas.
Pemberdayaan
dimaksudkan
terumtama untuk memperbear kemungkingan-kemungkinan bagaimana orang
dapat memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
Dalam inisiatif-inisiatif pemberdayaan, promosi kesehatan dan prevensi
gangguan kesehatan bersifat multifaktorial dan apabila resiliensi atau faktor-faktor
protektif membesar, maka ketahanan individu akan semakin besar dalam
mengatur hidupnya. Sebaliknya, apabila faktor-faktor resiko menjadi semakin
membesar, resiko gangguan dan penyakit menjadi meningkat secara signifikan.
Dengan demikian, rasio antara dua hal ini dianggap sebagai pengukuran atas
kemungkinan dampak apa yang terjadi pada mereka yang rentan atau terpapar
Promosi dan prevensi 5
pada faktor-faktor resiko, dibandingkan dengan mereka yang tidak rentan. Dalam
realitas, sering tidak mudah menentukan secara lebih spesifik faktor-faktor resiko
apa yang memberikan kontribusi real dan ini benar untuk berbagai gangguan,
bergantung pada tahap perkembangan anak juga.
PREVENSI
Ada tiga tahapan yang dikenal dalam prevensi yang awalnya dikemukakan
oleh Leavell dn Clark pada tahun 1950s (Dwivedi & Harper, 2010), yakni primer,
sekunder dan tersier. Leavell dan Clark mendeskripsikan prensi primer sebagai
measures applicable to a particular disease or group of diseases in order to
intercept the causes of disease before they involve man in the form of specific
immunization, attention to personal hygiene, use of environmental sanitation,
protection against accupational hazards, protecttion from accidents, use of specific
nutrients, protection from carcinogens, and avoidance of allergens (dalam Cohen &
Chehimi, 2007, p. 5).
Definisi yang terutama berorientasi pada penyakit ini selanjutnya diadopsi
oleh bidang-bidang yang lebih luas seperti prevensi problem-problem sosial,
kekerasan, degradasi kualitas lingkungan, dan oleh kesehatan mental. Inisiatif
prevensi primer bersifat proaktif dan diarahkan pada populasi, bukan sekedar
perorangan. Prevensi primer berupaya untu mengurangi angka kasus-kasus baru.
Banyak kecelakaan dan penyakit dapat dihindari dan nyawa diselamatkan
dengan tindakan-tindakan preventif primer. Kita ambil misalnya regulasi tentang
merokok, imunisasi rutin bagi anak, penggunaan helm bagi pengendaraan sepeda
motor, penggunaan sabuk pengaman dalam mobil, larangan penggunaan HP saat
mengendarai, pelarangan penggunaan timbal dalam cat, dan fluoridasi air minum
adalah contoh-contoh yang memberikan evidensi bahwa inisiatif-inisiatif preventif
primer bisa efektif. Oleh karena itu regulasi-regulasi semacam itu harus
ditanamkan pada anak sejak awal dan dilakukan secara tegas oleh penegak
hukum.
Promosi dan prevensi 6
Prevensi sekunder terdiri dari seperangkat pengukuran yang digunakan untuk
deteksi dini dan intervensi segera guna mengontrol suatu problem atau penyakit
dan meminimalkan konsekuensi ang terjadi. Prevensi sekunder ini berupaya
menurunkan angka gangguan dalam populasi. Sedangkan prevensi tersier
menurunkan derajat disabilitas karena adanya gangguan tertentu, berfokus pada
reduksi lebih lanjut komplikasi yang berkembang dari suatu penyakit atau problem,
melalui tritmen dan rehabilitasi. Dalam perkembangan selanjutnya Gordon (1987)
mengajukan nomenklatur yang lain dalam intervensi preventif sebagai berikut:
universal, selektif, dan terindikasi. Bagan berikut bisa membantu kita untuk melihat
keseluruhan spektruk intervensi:

Prevensi : universal, selektif, terindikasi

Tritmen: identifikasi kasus; tritmen standar untuk gangguan-gangguan
yang diketahui

Maintenance : pelaksanaan tritmen jangka panjang (reduksi relaps);
after care (rehabilitasi)
Untuk kejelasannya, penggunaan kata ‘prevensi’ hanya untuk intervensiintervensi yang dilakukan sebelum awal terjadi suatu gangguan (initial onset).
Intervensi preventif universal (misalnya, prenatal care untuk semua ibu baru)
ditargetkan pada publik umum atau keseluruhan kelompok populasi. Prevensi
selektif (contohnya, kunjungan rumah day care untuk bayi yang mempunyai berat
badan di bawah normal saat lahir) ditargetkan untuk individu-individu atau subkelompok yang mempunyai resiko lebih tinggi dari kelompok lainnya untuk
mengalami gangguan. Yang terakhir, intervensi preventif terindikasi (contohnya,
program
pelatihan
menenai
interaksi
orangtua-anak
untuk
anak-anak
berkebutuhan khusus) ditargetkan untuk individu dengan resiko tinggi dengan
penanda (marker) biologis yang tidak memenuhi kriteria diagnostik formal dan
karena itu merupakan kasus-kasus sub-klinis.
Prevensi universal dimaksudkan sebagai program yang diimplemetasikan
pada keseluruhan populasi, tanpa memandang status resiko mereka. Program
Promosi dan prevensi 7
selektif
secara
tipikal
difokuskan
pada
anak
dan
remaja
yang
mulai
memperlihatkan peningkatan resiko untuk mengalami problem kesehatan mental
sebagai akibat dari terpaparnya mereka pada faktor-faktor resiko yang diketahui.
Sedangkan program prevensi terindikasi menargetkan anak dan remaja yang
memperlihatkan simptom-simptom awal problem/gangguan kesehatan mental
(Sawyer, dkk., 2010).
Setiap upaya serius untuk mereduksi problem/kesulitan keprilakuan
harus
memprioritaskan
menunjukkan
usaha-usaha
“tanda-tanda
peringatan”
preventif
(warning
dengan
signs)
kelompok
tentang
yang
perilaku
problematik. Tujuan (goals) harus mencakup baik promosi dampak perkembangan
yang positif dan prevensi kesulitan/gangguan, melalui pengembangan apa yang
oleh Greenberg dan Weissberg (2001, dalam Poulou, 2005) disebut mediator
kompetensi (competency mediators). Kompotensi ini dimaksudkan sebagai
mediator dalam intervensi, misalnya, pengenalan-diri yang efektif sebagai mediator
bagi perilaku oposisional. Setiap definisi tentang kompetensi harus mencakup
elemen-elemen ketrampilan seperti kesadaran-diri (self-awareness), kontrol
impulsivitas, kooperasi (bekerja bersama) serta caring pada diri dan orang lain
(Elias, Hoover & Poedubicky, 1997, dalam Poulou, 2005).
Sistem pendidikan memberikan sarana dan cara yang paling efisien dan
sistematis untuk meningkatkan perkembangan positif pada kelompok muda usia
dalam jumlah besar. Guru harus memandang diri bukan sekedar berperan sebagai
instruktor akademik. Guru bisa membuat perbedaan dalam hidup muridnya melalui
karya dan pribadi mereka. Mereka seringkali orang yang terdahulu dalam
mendeteksi bahwa siswa yang memiliki defisit dalam ketrampilan kognitif juga
mengalami kesulitan emosional dan perilaku. Belum banyak penelitian yang
menyoroti persepsi dan peran guru terhadap pengembangan atau implementasi
program ketrampilan sosial, emosional dan kognitif di dalam setting sekolah. Salah
satu penelitian oleh Poulou (2005) mencoba untuk menginvestigasi persepsi guru
mengenai apa skills yang paling penting yang seharusnya dimiliki oleh para siswa
pendidikan dasar shingga mereka bisa terhindar dari kesulitan emosional dan
Promosi dan prevensi 8
keprilakuan. Dari sudut pandang guru, ketrampilan yang dianggap penting adalah
sebagai berikut:
Ketrampilan emosional:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Mengenali dan mengidentifikasikan emosi
Ekspresi emosi
Asesmen intensitas emosi
Manipulasi emosi
Kontrol atas ketidaksabaran
Kontrol atas impulsivitas
Reduksi kecemasan
Pengakuan akan adanya perbedaan antara emosi dan tindakan
Ketrampilan kognitif:
1. Dialog dengan diri sendiri (internal monologue)
2. Persepsi dan interpretasi mengenai tanda-tanda sosial (pengertian
mengenai efek pengaruh sosial atas perilaku
3. Menggunakan tahap-tahap pemecahan masalah
4. Memahami pandangan orang lain
5. Memahami aturan-aturan yang menyangkut perilaku
6. Mengadopsi perilaku positif dan asertif dalam kehidupan
7. Mengembangkan kesadaran-diri (self-awareness)
Ketrampilan keprilakuan – Komunikasi efektif
1. Ketrampilan non-verbal (kontak mata, ekspresi fasial, gestur, suara)
2. Ketrampilan verbal (mengekspresikan keinginan, mendengarkan
dengan hati-hati, melindungi diri terhadap pengaruh negatif,
menolong orang lain, berpartisipasi dalam kelompok)
(Sumber: Poulou, 2005, hal. 44)
Apabila prevensi primer dilakukan baik di sekolah maupun dalam keluarga
dan masyarakat, maka prevensi primer merupakan investasi yang bagus.
Pelayanan kesehatan adalah komitmen yang paling mahal yang dilakukan oleh
pemerintah maupun non-pemerintah. Prevensi primer pada umumnya dipandang
sebagai cara yang paling cost-effective untuk menyediakan pelayanan kesehatan
karena perannya dalam meringankan penderitaan yang tidak perlu dan biaya tinggi
untuk perawatan dan pengobatan penakit. Di samping itu, pendekatan prevensi
juga mengurangi biaya sosial yang berhubungan dengan penyakit dan pelukaan
Promosi dan prevensi 9
yang diakibatkan oleh hilangnya produktivitas dan pembiayaan untuk disabilitas,
kompensasi bagi pekerja, aau corak-corak jaminan sosial lainnya.
Strategi prevensi yang efektif haruslah tanggap terhadap tantangantantangan seperti telah dikemukakan di atas, dan menargetkan tidak hanya
perilaku kesehatan perseorangan tetapi juga lingkungan di mana perilaku tersebut
terjadi. Fokus yang terbatas pada perubahan perilaku personal pada akhirnya akan
menggagalkan kita sebagai masyarakat karena fokus yang sempit juga
mempersempit kemungkinan-kemungkinan solusi secara tidak tepat. Harus ada
pergeseran dari fokus pada program dengan skopa sempit dan jangka
pendek
ke fokus yang berjangkauan luas dan jangka panjang. Oleh karena itu, lingkungan
tidak sekedar persoalan air dan udara bersih, melainkan konteks sosial dan
environmental di mana gerak kehidupan seharian terjadi. Maka tidaklah berlebihan
bila kita berharap bahwa orang akan mengubah perilakunya dengan mudah ketika
begitu banyak kekuatan-kekuatan dalam lingkungan fisik, sosial dan budaya
bergerak bersama mendukung perubahan (faktor-faktopr protektif). Sebaliknya
sangat tidak beralasan kita berharap orang berubah, apabila kekuatan-kekuatan ini
berkonspirasi melawan perubahan (faktor-faktor resiko).
Spectrum of Prevention
Atas dasar apa yang telah disebutkan di atas, maka inisiatif preventi yang
berhasil haruslah komprehensif. Dia merupakan hampiran yang terintegrasi dan
bersisi majemuk (multifaceted). Ada satu contoh model yang disebut Spectrum of
Prevention yang awal mulanya dkembangkan oleh Larry Cohen di tahun 1983
ketika dia bekerja sebagai direktur program preventif pada Contra Costa County
Health Department (Cohen & Chehimi, 2005). Kita bisa belajar dari program
semacam ini, dan untuk itu program ini akan dipaparkan di sini mengikuti apa yang
ditulis oleh Cohen dan Chehimi.
Promosi dan prevensi 10
The Spectrum of Prevention menawarkan suatu kerangka-kerja yang
sistematik untuk mengembangkan program-program prevensi primer yang efektif
dan sustainable (lihat Bagan 1)
THE SPECTRUM OF PREVENTION
Mempengaruhi policy dan legislasi
Mengubah praktek-praktek kelembagaan/organisasi
Mengembangkan koalisi dan jejaring kerja
Mengedukasi penyedia layanan
Mempromosikan edukasi komunitas
Memperkuat pengetahuan dan ketrampilan perorangan
Bagan 1. The Spectrum of Prevention (Sumber; Cohen & Chehimi, 2005)
Enam tahapan atau aras dalam program ini memungkinkan kita untuk
beroperasi lebih dari sekedar pendekatan penyebaran brosur dengan merumuskan
berbagai area di mana prevensi bisa diimplementasikan. Setiap tahap dalam
prgoram ini bersifat saling menunjang atau saling melengkapi. Apabila digunakan
bersamaan, masing-masing tahap menguatkan yang lainnya, mengarah kepada
efektivitas yang lebih besar.
Aras pertama, “Memperkuat pengetahuan dan ketrampilan perorangan”,
menekankan peningkatan skills individual
yang esensila dalam perilaku
kesehatan. Berbagai layanan yang tengah dilaksanakan oleh pemerintah atau
swasta merupakan satu kesempatan yang umum untuk pengembangan skills ini,
misalnya memberikan ASI untuk ibu baru, dukungan sosial sebelum dan sesudah
anak dilahirkan agar pemberian ASI bisa dilakukan dan dijaga kelangsungannya.
Aras kedua, “Mempromosikan edukasi komunitas,” berupaya menjangkau
omasyarakat dengan informasi dan sumber-sumber yang tersedia untuk
mempromosikan kesehatan dan keselamatan mereka. Secara tipikal, pendidikan
Promosi dan prevensi 11
kesehatan banyak berfokus pada pengadaan brosur, penyelenggaraan seminar
atau forum sejenis. Memang kegiatan-kegiatan semacam ini membuat orang
terpapar atau membuka akses pada informasi penting, namun seringkali tidak
selalu memberikan dampak yang besar. Pada era sekarang media massa juga
menjadi sumber utama untuk edukasi bagi setiap orang.
Aras ketiga, “Edukasi penyedia layanan”, menekankan peranan penting
yang dimainkan oleh kelompok sebagai sumer yang dipercaya, sebagai kelompok
inti dalam strategi prevensi. Guru dan pejabat layanan kesehatan masyarakat
sering diidentifikasikan sebagai kelompok kunci untuk mendisiminasikan informasi
dan metode baru. Namun, pengertian mengenai kelompok kunci ini perlu diperluas
daripada sekedar pelayan kesehatan dan guru, karena kelompok ini bisa dibangun
dari berbagai unsur dalam masyarakat, dari pemuka adat, pemimpin agama,
kalangan bisnis, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dsb.
Aras keemapt, “Membangun/mengembangkan koalisi dan jejaring kerja,”
berfokus pada kolaborasi dan organisasi komunitas. Melalui pendekatan
kolaboratif, akan membawa bersama berbagai partisipan untuk menjamin
keberhasilan program dan meningkatkan “critical mass” di balik upaya-upaya
komunitas/masyarakat. Kolaborasi bukan merupakan tujuan itu sendiri, melainkan
sarana untuk mencapai tujuan. Seringkali cara yang terbaik untuk menjamin
strategi yang komprehensif adaalah membangun koaliasi dengan berbagai pihak
dengan latar belakang yang majemuk. Kolaborasi bisa dibangun pada berbagai
tingkatan, dari akar rumput hingga kelembagaan.
Aras kelima, “Mengubah praktek-praktek kelembagaan,” berkepentingan
dengan perubahan organisasional dari perspektif sistem. Praktek-prakterk
kelembagaan dalam organisai kunci dapat berpengaruh atas kesehatan dan norma
sosial/komunal.
Perubahan
atau
penataan
dalam
praktek
kelembagaan
menjangkau anggota, klien, dan karyawan dan juga masyarakat sekitar dan bisa
menjadi model bagi semuanya. Lembaga pemerintah dan lembaga kesehatan
adalah lokasi kunci untuk melakukan perubahan karena peran dan penentuan
standar yang mereka tentukan.
Promosi dan prevensi 12
Aras yang keenam dan terakhir adalah “Mempengaruhi kebijakan dan
legislasi.” Kebijakan (policy) dapat dipandang sebagai seperangkat aturan yang
menjadi penuntun atau pedoman bagi aktivitas pemerintah maupun nonpemerintah. Dengan begitu, kebijakan menentukan fondasi atau kerangka kerja
bagi tindakan. Dengan memandatkan apa yang diharapkan atau dipersyaratkan,
maka kebijakan yang baik akan mempengaruhi rentang luas perilaku dan
perubahannya dalam skala masyarakat luas yang pada gilirannya menjadi norma
sosial. Walaupun kebijakan sering dimengerti sebagai berasal dari negara atau
pemerintah, namun kebijakan prevensi yang efektif dapat saja dikembangkan pada
level komunitas atau lokal yang kemudian dapat diintegrasikan dengan kebijakan
yang lainnya.
Pendidikan Life Skills Melalui Sekolah
Ilustrasi lain di samping model The Spectrum of Prevention adalah Life
Skills Education Program yang dikembangkan oleh WHO pada tahun 1997, dan
mengarah pada kompetensi psikososial anak-anak dan remaja dan bisa
diselenggarakan dalam berbagai setting, termasuk sekolah. Data menunjukkan
bahwa program menghasilkan berbagai perbaikan dalam relasi guru-siswa,
kesehatan dan kesejahteraan, prestasi akademik, kehadiran sekolah, relasi –
orangtua-anak, kepercayaan-diri, harga-diri, prevensi perundungan (bullying) dan
problem perilaku, penyalahgunaan substansi, kehamilan remaja, HIV/AIDS, dsb.
(Coley & Dwivedi, 2004). LSEP ini merupakan program yang fleksibel yang
didasarkan pada seperangkat prinsip yang bisa disesuaikan dengan keadaan dan
waktu.
Esensi dari LSEP adalah untuk menciptakan suatu lingkungan belajar di
mana guru dapat mengorganisasikan aktivitas-aktivitas belajar yang aktif dan
eksperiensial. Variasi metode bisa digunakan di dalam kelompok kecil atau
pasangan, dari brainstorming, diskusi, role play, games dan debat dalam area-area
Promosi dan prevensi 13
seperti pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, berpikir kreatif dan kritis,
komunikasi dan relasi interpersonal, kesadaran-diri (self-awareness) dan empati,
hingga koping dengan emosi dan stressor.
Muatan program ini direncanakan
diberikan pada tiga tahap. Tahap pertama berisi pengajaran komponen-komponen
dasar mengenai life skills, dipraktekkan dalam hubungannya dengan situasi-situasi
kehidupanan sehari-hari. Pada tahap kedua, fokus diberikan pada aplikasi life skills
pada tema-tema yang berkaitan dengan berbagai problema kesehatan dan sosial.
Pada tahap ketiga, ada aplikasi life skills dalam hubungan dengan situasi-situasi
beresiko spesifik yang dapat berpengaruh pada kesehatan dan problem kesehatan
dan sosial. Kekuatan dari program ini adalah fleksibilitas dalam implementasinya.
Program ini juga bisa diaplikasikan dalam kurikulum ekstra kurikular (misalnya,
inisiatif promosi kesehatan mental) ataupun terintegrasi dalam kurikulum (misalnya
sebagai pelajaran pendidikan personal, sosial dan kesehatan (PSHE) dan/atau
dileburkan sebagai bagian dari suatu mata pelajaran (misalnya, ketrampilan
berkomunikasi sebagai bagian pelajaran bahasa).
Yang amat penting dalam program ini adalah kegiatan latihan dalam
kelompok yang sifatnya eksperiensial dengan mempertimbangkan cara-cara untuk
lebih lanjut mengembangkan dan mengimplementasikan masing-masing topik
dalam kehidupan sekolah. Dalam pengembangan program dari sisi konten dan
metode, para ahli dalam bidang yang dipandang relevan bisa dilibatkan untuk
menyusun program. Dukungan dan konsultasi dengan para ahli di luar sekolah
tetap bisa dijaga selama dan sesudah pelatihan berakhir. Mekanisme semacam ini
akan mendorong dan menyemangati para guru untuk lebih lanjut mengembangkan
life skills di dalam kelas mereka, dan dalam sekolah secara keseluruhan.
Kalau program semacam ini masuk dalam kurikulum sekolah, dia tidak diuji
dan dinilai seperti mata pelajaran lainnya. Uji sesungguhnya bagi program
semacam ini barangkali akan tiba waktunya dalam perjalanan hidup si individu,
dan uji kehidupan bisa lebih keras daripada pemberian nilai mata pelajaran. Jika
seorang siswa tidak memenuhi syarat minimum untuk lolos dalam suatu pelajaran,
dia bisa mengikuti program remedy atau mengikuti tes tahun berikutnya. Namun,
Promosi dan prevensi 14
apabila si remaja menjadi hamil atau kecanduan narkoba atau terlibat dalam tindak
kriminal, dia tidak bisa mengikuti remedy dalam satu tahun seperti anak yang
gagal matematika. Pengalaman semacam ini tentunya akan menimbulkan dampak
yang bertahan lama pada anak, keluarga, dan sekolah.
Semua yang bekerja bersama anak dalam profesinya menyadari bahwa
banyak anak yang bersekolah, dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan
tinggi bahkan, kurang memiliki life skills. Ketergantungan/kecanduan pada games
dan telepon selular mencerminkan relasi interpersonal yang tidak berkembang. Di
rumah, anak mendapatkan perhatian dari orangtua justru hanya ketika anak
berulah, dan apabila dia duduk tenang manis dengan HP atau komputernya, dia
tidak mendapatkan perhatian dari orangtua. Inilah contoh kecil dari sedemikian
banyak hal yang dari awalnya anak memang tidak mendapatkan peluang untuk
memperoleh life (social) skills. Dengan begitu, intervensi promotif danpreventif
serta peluang pada tingkat pendidikan prasekolah dan dasar dapat mememberikan
pengaruh pad aperkembangan emosional dan kesejahteraan mental mereka.
Intervensi dini bersifat krusial bagi keberhasilan pengembangan dan pembentukan
kompetensi sosial yang efektif. Apabila anak sebagai pembelajar memandang
dirinya sebagai mampu berhasil dalam menyelesai tugas yang dihadapi, maka dia
memiliki peluanglebih besar dalam menguasai ketrampilan, dan keberhasilan ini
juga akan meluas pada ketrampilan-ketrampilan yang dia butuhkan untuk menjadi
insan yang dia cita-citakan. Aktualisasi diri mendekatkan diri yang real (real self)
kepada diri ideal (ideal self), dan ini amat bergantung pada dimilikinya harga-diri
dan akuisisi life skills (Coley & Dwivedi, 2004).
Berbagai kegiatan ekstra-kurikular, kunjungan di luar sekolah, pameran,
festival, pentas, olahraga, memasak, mengelola kafetaria sekolah, koperasi,
penata acara saat tamu berkunjung ke sekolah, dan organisasi siswa, semuanya
bisa menawarkan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan life skills. Anakanak yang sudah biasa terpapar pada berbagai strategi seperti ini akan
mengembangkan skills dan bergerak maju pada aktivitas yang lebih kompleks.
Promosi dan prevensi 15
Orangtua perlu terlibat dan komunikasi dengan orangtua hendaknya mencakup life
skills yang juga dilakukan di sekolah. Keterlibatan orangtua bisa berarti dukungan
bagi guru dan kedua pihak bisa berbagi strategi untuk koping dengan stres,
kesehatan, dan kebutuhan serta persoalan yang aktual dan yang potensial.
Apabila anak merasakan bahwa sekolah memperhatikan isu dan persoalan yang
mereka anggap penting di dalam kehidupan mereka, atau dalam kehidupan
teman-teman mereka, maka sekolah menjadi bagian yang relevan dari hidup
mereka, sebagai bagian penting yang dirasakan memberikan kontriobusi berarti
bagi hidup mereka. Perasaan begini akan mereduksi perilaku membolos dan
ketidak-pedulian antar teman dan terhadap nilai pendidikan.
KESIMPULAN
Prinsip yang harus dipegang bilamana kita berurusan denga kesehatan )fisk
dan mental), khususnya pada anak dan remaja, adalah bahwa kesehatan adalah
urusan semua pihak. Dengan semakin meningkatnya masalah kesehatan dan
gangguan emosional serta perilaku yang kita amati deasa ini, strategi dan
pendekatan promotif dan preventif menjadi pilihan yang harus mendapatkan
prioritas. Tanpa ada prioritas ke sini, kita akan dihadapkan dengan persoalan dan
biaya yang amat besar sebagai dampak yang ditimbulkan dari problem-problem
kesehatan. Pendekatan preventif dan promotif harus dilakukan sedini mungkin,
justru apa yang dimengerti sehat dan berperilaku sehat diinginkan dimiliki oleh
setiap individu. Oleh karena itu pendidikan dasar adalah setting yang penting untuk
memulai strategi ini. Dua model yang ditampilkan di sini diharapkan bisa
membantu kita untuk memiliki gambaran mengenai apa (konten) dan bagaimana
(metode) intervensi promotif dan preventif dibangun dan diimplementasikan.
Promosi dan prevensi 16
DAFTAR PUSTAKA
Dwivedi, K.N., & Harper, P.B. (2004). Promoting the emotional well-being of
children and adolescent and preventing their mental ill health. London:
Jessica Kingsley.
Cohen, L., & Chehimi, S. (2007). Beyond brochures – The imperative for primary
prevention. Dalam L. Cohen, V. Chavez, & S Chehimi (Eds.), Prevention is
primary: Strategies for community well-being (pp. 3-24). San Francisco, CA:
Jossey-Bass.
Coley, J., & Dwivedi, K.N. (2004). Life skills education through schools. Dalam K.N.
Dwivedi & P.B. Harper (Eds.), Promoting the emotional well-being of
children and adolescent and preventing their mental ill health (pp. 132-148).
London: Jessica Kingsley.
Poulou, M. (2005). The prevention of emotional and behavioral difficulties in
schools: Teachers’ suggestions. Educational psychology in practice, 21,3752.
Sawyer, M.G., et al. (2010). School-based prevention of depression: A randomized
controlled study of the beyondblue schools research initiative. The journal of
child psychology and psychiatry, 51, 199-209.
Download