SEBUAH `KEGILAAN` BARU: Antropologi sebagai Hal Gila yang

advertisement
SEBUAH ‘KEGILAAN’ BARU:
Antropologi sebagai Hal Gila yang Menarik
Oleh: Kasyfiyullah ‘kesepz’ (0806481803)
Tulisan ini dibuat sebagai tugas untuk Ujian Akhir semester
Mata kuliah Metode Penelitian Antropologi
Perkenalan dengan Antropologi
Terbangun pagi di sebuah kamar berukuran 3x3 yang sudah saya tinggali sekian lama
dengan tergagap dan secara otomatis melihat jam dinding di sebelah utara kamar yang
menunjukan pukul 6.30. kamar tidur kecil dan agak pengap dengan tempelan banyak foto dan
poster di sebelah barat, ditempel di atas keramik bekas dapur dan lemari pakaian besar yang
menutupi dinding kamar sebelah timur.
Apa yang pertama terlintas di kepala adalah hitungan waktu perjalanan rumah-depok
untuk mengukur seberapa lama perjalanan agar tidak telat sampai di kampus hari pertama kuliah,
ya!? seperti itulah kurang lebih apa yang adad di pagi hari kedua bulan februari untuk
menghadapi sebuah kegilalan baru yang dimulai hari itu. Kegilaan tersebut adalah kembali
berstatus mahasiswa aktif pasca sarjana antropologi UI yang memang bahkan sebelumnya
hamper tidak terlintas di kepala mengenai antropologi. Begitulah cara diri saya memandang
realitas yang sayaa jalani selama ini. Hanya ada dua hal yang berlaku di dunia saya. Yaitu
‘Kesenangan’ dan ‘Kegilaan’. Kesenangan bagi saya dalam pandangan banyak para penganut
agama di Indonesia disebut dengan rezeki sedangkaan dalam bahasa lain yang seringkali
digunakan oleh para Marxist mengenai proui yaitu sebuah need satisfaction yang bagi saya
‘need’ tidak hanya berupa kebutuhan biologis melaainkan mental need dan kesenangan yang ada
dalam cara saya memandang hidup saya adalah mental satisfaction dalam banyak hal. Sedangkan
cara pandang saya yang kedua adalah ‘kegilaan’ yang tidak berarti sebagaimana arti gila pada
umumnya melainkan bahasa kiasan yang saya gunakan sebagai pengganti dari sebuah tantangan,
‘cobaan’ atau ketidaksenangan dalam hidup. Sebagai alas an yang cukup klise adalah bahwa cara
pandang saya ini sebagai bentuk dari usaha saya menghindari apa yang disebut dalam bahasa
para penganut agama dengan ‘kufur’ atau pengingkaran, pengingkaran terhadap ‘cobaan hidup’
atau pengingkaran terhadap realitas yang tidak sesuai dengan keinginan hati. Ya begitulah saya
memandang dunia saya sampai saat ini.
Seperti pada pagi lainnya dengan ritual yang sepertinya akan mulai berubah setelah hari
ini, ritual pagi yang cukup umum dilakukan banyak orang, bangun pagi, ibadah bagi orang islam
kemudian mandi dan bersih-bersih serta siap-siap untuk menuju kesesuatu tempat yang hari ini
tujuan telah ditetapkan dua minggu sebelumnya, yaitu ke Depok dan tujuan lebih tepat adalah
kampus Pascasarjana Antropologi Universitas Indonesia karena telah ada pemberitahuan
sebelumnya bahwa pada hari kedua Februari ini diadakan kumpul hari pertama kegiatan kuliah
dan perkenalan kepada anggota baru Antropologi sebagai sebuah komunitas. Pada pagi ini juga
seperti kebanyakan perjalanan yang saya telah jalani, jalur perjalanan baru berarti peta baru
berarti menjadi sebuah perhatian baru bagaimana agar bisa sampai UI dengan waktu yang
terukur mencegah ‘ketidak cocokan’ dengan paraturan yang ada, untuk itu saya sebagai seorang
pengendara mulai menghitung perkiraan jarak dan waktu tempuh paling tidak dengan keadaan
pagi dan sebagai sedikit pembuktian dari hipotesa prakiraan waktu tempuh yang telah saya coba
hitung pagi tadi. Dan aka nada tambahan ritual hamper setiap hari yang ditambahkan dalam
kegiatan harian, yaitu pergi ke kampus untuk mengikuti mata kuliah pada semester ini.
Perjalanan ke Depok pun cukup lancar walaupun perjalanan Senin pagi karena memang
khusus hari ini ada pertemuan jam 9 dengan para akademisi Antropologi lainnya dan ‘orientasi’
mengenai perkuliahan di Pascasarjana Antropologi.
Pertemuan para civitas akademika Pasca-antrop dimulai jam 10an lewat yang berarti
molor karena memang cukup banyak peserta yang datang agak terlambat. Orang pertama yang
saaya kenal dalam pertemuan tersebut adalalh sdri. Tina Napitupulu yang kemudian berkenalan
dengan bu Ike dan mas Andi Achdiyan. Setelah cukup banyak peserta yang daatang, acara
dilaksanakan di gedung PAU ruang 304, ruang yang cukup besar dan dingin. Dipandu oleh
Ketua Program Pasca-Antropologi dan Sekretaris program, ibu Sulis dan pak Tony. Acara
dimulai dengan perkenalan satu persatu civitas akademik yang dimulai oleh ibu Sulis dan pak
Tony yang kemudian dilanjutkan dengan para mahasiswa yang duduk di bangku paling depan
dengan poin perkenalan nama, panggilan, lama menjadi mahasiswa pasca, asal program studi
pada jenjang sebelumnya dan alas an menjadikan Antropologi sebagai pilihan kuliah. Setibanya
giliran saya memperkenalkan diri, saya memperkenalkan diri dengan nama Kasyfiyullah dan
menekankan kepada nama panggilan sebagai Kesep karena bagi saya sendiri nama panggilan
tersebut sudah sangat melekat semenjak kelas dua Mts (setara dengan SMP) dan cukup mudah
untuk diingat disbanding denga nama asli saya yang terlalu ‘arab’ dan dengan penyebutan yang
cukup sulit hingga menyebabkan kesalahan panggil seperti hasbi, kasip, kasbi, kasyif, sampai
kasti dan banyak ‘plesetan’ lainnya dari nama asli saya. Jadi saya kira lebih sederhana dengan
nama kesep dan terkadang saya menganggap kesep sebagai identitas kedua saya. Kemudian
sampai pada penyampaian alas an saya memilih Antropologi sebagai studi lanjut saya setelah
sebelumnya saya mempelajari Filsafat sebagai studi tingkat sarjana di UGM.
Mengenai alas an memilih Antropologi ini, kepala saya melayang kepada kejadian
setahun sebelum hari perkenalan tersebut. Dengan sseting jalan raya Kuningan, sepulang saya
dari ‘base camp’ kepanitiaan acara International Youth Forum 2008 lalu. Diatas motor sebagai
pengendara bersama kakak saya –dengan posisi sebagai pembonceng- (yang saat itu baru
menjadi Mahasiswa Pascasarjana di Sosiologi pedesaan IPB) memulai pembicaraaan mengenai
kebingungan saya untuk memilih studi apa untuk jenjang Pascasarjana dengan ilustrasi obrolan
seperti ini
Kakak saya=K
Saya= S
*masing-masing dengan logat berbicara orang Betawi yang cukup kental
K:
*dengan berteriak karena jalan yang cukup ramai dan angin yang memendam
suaranya “gimana pih? Lo jadi mo s2? Jadinya mo ngambil jurusan apa?”
S:
*dengan sedikit kaget karena saat itu agak malas untuk membahas mengenai studi
s2 dan juga sambil berteriak karena alas an yang sama dengan kakak saya “kaga
tau gw, masih bingung..mo ngambil apa ya?” *sambil tetap memperhatikan jalan
K:
“lah elu gimana sih? Khan yang mo kuliah juga elu, emang lo tertariknya apa?”
S:
“au dah…bingung juga nul, gw sih pengennya yang deket aja, kaga usah jauhjauh kaya s1 kemaren di Jogja, nah! Pengennya sih ambil Design Grafis di ITB
Bandung”
K:
“alesannya?”
S:
“gw pengen seriusin design nul..khan lebih enak tuh klo hoby bisa jadi profesi,
lebih seru, lagian design yang bener bagus dmn?? Bukannya di ITB yang bagus?”
K:
“yah..sebenernya terserah lo, emang klo filsafat lagi kenapa?”
S:
“waduh…kaga dah, klo gw sih mikirnya, filsafat itu harus di dukung sama
kemampuan teknis karena filsafat kan Cuma bermain disekitar konsep aja nul, mo
ngapain coba klo cm ngandelin filsasfat? Jaajdi orang gila iya..filsafat klo berdiri
sendiri kaga bisa apa-apa nul, hamper sia-sia, paling Cuma wat diri sendiri…”
K:
“owh,,,ya terserah lu juga sih…tapi dulu lo belajar tentang kebudayaan gak?”
S:
“iya, ada Filsafat Kebudayaan dulu di Filsafat. Emangnya kenapa?”
K:
“nah lo sama pembahasan mengenai kebudayaan demen kaga?”
S:
“gw sih demen, karena banyak juga maen konsep n ritual gitu, apalagi dulu gw
banyak ngebahas betawi, ya seru juga ngebahas budaya. Emang kenapa?”
K:
“ya kaga…gw ada usul aja, kenapa lo kaga ambil Antrop aja? Emang lo kaga
tertarik sama antrop?”
S:
“hmmm..gimana ya?gw sih kaga kepikiran, emang kebudayaan apa??emang
ngebahas yang mananya dari kebudaayaan?”
K:
“ya kurang lebih hamper sama ama Sosiologi, cuma antrop lebih kepada
kebudayaan aja”
S:
“owwhhh…”
S:
“ya liat aja dah nanti, gw masih bingung juga”
*Dan pembicaraan pun berhenti dengan saya tetap konsentraasi pada jalanan dan kakak
saya yang juga sibuk dengan dirinya sendiri
Dari kejadian tersebut merupakan ‘entry point’ bagi saya secara pribadi mengenai
Antropologi dan mulai menyusupi kepala saya sebagai pilihan tambahan untuk kelanjutaan studi
saya, begitu juga pada bulan Juli 2008 saya dan kakak saya pergi ke UI untuk ‘survey’ atau
pengambilan data atau bahan untuk memperlengkap pertimbangan dan perbimbangan saya
mengenai studi S2 yang akan saya ambil, pada saat itu saya mengungjungi pasca antrop untuk
mengambil contoh mata kuliah yang ada dan daftar biaya masuk, begitu juga saya menuju FIB
UI untu mencari informasi mengenai program pascasarjana Filsafat, dan Sejarah serta mencari
informasi di UI salemba untuk kajian Timur-Tengah, kajian Eropa, dan kajian Lingkungan. Dari
apa yang saya miliki informasinya, saya mencoba memilih studi apa yang bagi saya cukup
‘logis’ untuk saya jalani, baik dari pembahasan, keuangan, dan kemampuan pribadi termasuk
pertimbangan untuk mengambil Design Grafis di ITB. Dan ternyata, saya menyimpulkan bahwa
memilih adalah hal yang sulit dengan berbagai pertimbangan yang membuat kebimbangan
semakin besar. Sebagai jalan selanjutnya, saya berusaha mengikuti saran dari kakak saya yang
paling tua yang menganjurkan untuk bertanya kepada ‘Tuhan’ dengan melakukan Shalat
Istikharah yang merupakan sebuah ritual ceremony shalat yang bertujuan untuk meminta tolong
kepada tuhan untuk memberikan keyakinan dalam memilih beberapa hal, dari ritual agama
tersebut beberapa kali saya mimpi mengenai Antropologi dan keinginan untuk menjadikan
Antropologi sebagai pilihan studi S2 sayapun seakan menguat. Jika mengingat kejadian ini saya
seakan terbawa kepada pembahasan dari Geertz dalam essaynya Religion as a Cultural System
yang memang pernah saya bahas dalam kuliah Filsafat Agama pada masa S1 dahulu yang pada
intinya saya pahami agama sebagai sebuah system symbol yang membangun mood dan motivasi
serta membungkus semuanya dengan aura faktualitas. Terlepas dari posisi saya sebagai pemeluk
agama, saya kira pembahasan kembali pada kuliah pak Tony mengenai agama ini mengingaatkan
saya mengenai kejadian saya dan bagaimana agama bisa membangun motivasi dalam diri saya
untuk menentukan sebuah pilihan tertentu. Dari kejadian yang saya kira bersifat metafisis
religious ini menjadi alasan pamungkas saya kenapa saya memilih Antropologi sedangkan alasan
pertama tergambar dari dialog dengan kakak saya di atas motor sseperti yang telah diilustrasikan
diatas.
Selanjutnya saya memperkenalkan alas an saya memilih antropologi sebagai studi S2 ini
dengan 3 alasan yang saya katakana bertingkat (seperti tingkatn pengetahuan dalam banyak
pembahasan epistemology) yang saya bagi kepada tiga tingkatan, yaaitu alas an dalam
pemahaman saya sebagai common, alas an dalam tingkatan yang lebih logis dan alasan metafisis
alas an dalam pemahaman umum adalah bahwa saya menyukai pembahasan mengenai
kebudayaan bahkan semenjak saya berada di tingkatan SMA walaupun saya mengambil jurusasn
keagamaan, kemudian alas an yang lebih logis adalah sedikit pengembangan dari alas an pertama
yaitu hubungan antara Filsafat yang pada masa kini ‘sangat’ Anthropocentic yang memusatakana
kepada pembahasan mengenai manusia dan juga banyaak membahas mengenai symbol
walalupun banyak membahas dalam tataran konsep sedangkan Antropologi yang membahas
kesemuanya itu dalam tataran yang lelbih empiris, dan bagi saya, memilih Antropologi berarti
menjejakan kaki ke bumi. Sedangkan alas an terakhir adalah alas an metafisika yaitu ‘petunjuk’
tuhan melalui mimpi dan keyakinan yang sudah diberikan.
Acara diteruskan dengan perkenalan para ’senior’ yang lelbih dulu berada di pasca-antrop
dengan metode yang sama dan berarkhir sekitar pukul 12.00 dan dilanjutkan dengan pengenalan
computer dan kuliah pertama Metode Penelitian Antropologi
Persoalan pribadi,
apa bedanya antara Filsafat dan Antropologi?
Kuliah pertama kali adalaah Metode penelitian antropologi dengan Dosen pertama bapak
Iwan Tjitradjaja. Kuliah dimulai pada jam 13.00 setelah orientais mengenai Computer dan
bagaimana mendownload buku secara gratis oleh pak Purwono. Pada masa pertama kuliah ini,
yang pertama didiskusikan selain silabi perkuliahan adalah perbedaan antara Teori dan konsep,
selain itu bagi saya sebagai orang yang masih agak awam mengenai Antropologi mencoba
memahami apa yang dibahas oleh pak Iwan dan saya mencoba mencerna apa yang di diskusikan
di kelas adalah bahwa antropologi adalah keilmuan social yang radikal, reflektif, dan holistic.
Pada saat itu saya masih dengan philosophy view yang telah saya pelajari berfikir bahwa ternyata
antara filsafat dan antropologi tidak jauh berbeda. Baik filsafat maupun antropologi memiliki
sifat keilmuan yang sama. Begitu juga pada kuliah hari berikutnya, dengan dosen yang sama,
mata kuliah Konsep kebudayaan dalam kajian antropologi yang sayaa pahami dengan penekanan
yang tidak jauh berbeda bahwa antropologi adalah keilmuan yang reflektif dan saya menjadikan
refleksi sebagai kata kunci mengenai antropologi. Hanya saja, pemahaman mengenai antropologi
sebagai keimun yng relekti ini menimbulkan pertanyaan dalam benak saya yaitu apa bedanya
antropologi dengan filsafat karena jika ternyata ‘hampir’ sama, saya merasa bingung untuk apa
saya belajar antropologi jika filsafat juga membahasa hal yang hamper sama, refleksi, holistic,
kritis dan radikal. Pertanyaan ini bagi saya penting untuk saya jawab sebagai usaha memuaskan
keraguan yang ada dalam benak saya. Paling tidak agar keraguan saya tidak berkembah lebih
jauh bahkan berkembang ke arah yang negative. Pada kuliah pertama hari ke tiga, kuliah pak
Tony saya memutuskan untuk mengungkapan keraguan yang saya alami dengan bertanya kepada
pak Tony mengenai apa perbedaan antaara antropologi dengaan filsafat. Dan dosen menjawab
dengan cukup ‘diplomatis’ dengan membedakan keduanya sebagai dunia konsep dan dunia
empiris. Mendengar pertanyaan saya, kurang lebih seperti ini
“perbedaan filsafat dengaan aantropologi adalah, bahwa filsafat ‘bermain’ dalam dunia
konsep dan ide, sedangkan antropologi adalah ‘turunan’ dari konsep filosofis tersebut
kedalam realitas, antropologi menerapkan konsep filosofis itu kedalam kehidupan social
masyarakat dan juga sebagai ‘pembuktian’ terhadap konsep tersebut”.
Jawaban yang dilontarkan terssebut memang tidak menjawab secara keseluruhan dari
keingintahuan dan keraguan yang saya rasakan, haanya saja paaling tidak, keraguan saya
terhadap antropologi sebagai ilmu yang berbeda dengaan filsafat tetapi paling tidak mempu
menggeser keraguan tersebut menjadi rasa penasaran dan keinginan untuk tahu lebih dalam lagi
mengenaia antropologi, juga sebagai ajang pembuktian bagi diri sendiri bahwa saya mampu
menjejakan kaki kebumi.
Mengenai problem pribadi ini menjadi persoalan tersendiri bagi pribadi seoraang Kesep
dan bagi saya, akan saya coba menjawab sendiri dengan apa yang saya paahami mengenai
antropologi.
Obrolan konyol yang berubah menjadi ilmiah
Obrolan konyol dalaam konteks yang saya maksud adalah obrolan, candaan, dan obrolan
mengenai pengalaman pribadi dengan teman-teman sesame mahasiswa maupun dengan teman
non-mahasiswa. Dalam banyak pengalaman pribadi, dalam interaksi dengan individu lain
terutma dengan mahasiswa/i antropologi, ternyata banyak hal yang mengejutkan saya dan saya
temukan bahwa antropologi sebagai sebuah keilmuan bisa dikatakan membahas haal yang sangat
‘cair’ dalam keseharian dan pergaulan. Pembahasan mengenai hal yang ‘cair’ tersebut tidak
melulu menjadi sebuah konsep atau mungkin ‘sampah’ yang berlalu begitu saja melainkan
memperkuat antropologi sebagai sebuah bidang keilmuan yang sangat empiris walaupun sebagai
sebuah bidang keilmuan selalu berkutat dengan konsep dan teori. Bisa saya berikan salah satu
contoh obrolan setelah kuliah hari rabu, kuliah Memahami Teks Antropologi yang diampu oleh
pak Tony, seting kejadian di kantin Pascafe di pojok dalam kanan, obrolan terjadi antara tiga
orang, saya (S), Tina (T), dan Anne (A):
……setelah makan dan minum, sambil bersendau gurau terjadi percakapan seperti ini:
A:
“duh…gw lagi bête negh, klo gini biasanya gw ngerokok, enak aja rasanya…
paling nggak gw bisa santai lah…rokok lo apa sep?”
S:
“Dji Sam Soe Filter, kenapa emang? Lo mao??”
T:
“lah, emang lo ngerokok? Biasanya apa rokok lo An?”
A:
“waduh sep, rokok lo berat ah, males gw…biasanya gw rokok putih atau yang
lebih enteng aja.”
S:
“owh…ya gimana?gw masuknya ya rokok beginian. Nah elu tin, ngerokok,
mao?”
A:
“aneh ya emang klo gw ngerokok? Gw sih biasanya ngerokok dan gw ngerasa
biasa aja, gw jujur klo gw ngerokok”
T:
“yaaelah…biasa aja kali, gw jugaa ngerokok koq. Dan gw de punyaa perjanjian
sama cowok gw, klo die ngerokok ya gw juga boleh, dia nggak boleh protes”
A:
“ah..gw beli rokok dulu ya?”
S:
“yaudah gih..di Alfamart Hukum tuh”
T:
“iya deh sana”
Dan Anne pun pergi (ngeloyor) menuju tempat beli rokok
T:
“emang kenapa yak lo cewe ngerokok?? Aneh apa ya?”
S:
“ah…gw sih biasa aja tin, lah di filsafat dulu de biasa banget liatnya”
T:
“iya dah elu mah…tapi kenapa orang lain susah ya?” padahal itu khan Cuma
konstruksi social aja, emang kenapa klo cewe ngerokok? Cowok aja ngerokok
kaga masalah..”
S:
“lah itu die tin…banyak yang musti dipertanyakan emang… tapi paling nggak,
ada kata wajajr dan nggak wajar, wajar itu gw kira apa yang sudah terkoknstruksi
oleh orang pada umumnya… bukanya yang begitu membentuk kebudayaan juga,
kebudayaan yang dipahami sebagai ‘faith’ orang banyak?”
T:
“yang nggak wajar yang melenceng dari pemahaman umum…”
S:
“ nah itu die, nah secaraa umum cewe jarang ada yang ngerokok mungkin”
Anne tiba dengan membawa Rokoknya dan tiga buah coklat wafelatos
A:
“obrolan lo pada sampe dimana?”
T:
“sampe rokok, cewe yang ngerokok seakan-akan aneh ato bahkan nista”
A:
“owh..ya lu liat aja entar, apalagi gw yang berkerudung gini, liat aja mata orang
nanti, seakan gw nista banget dah..”
A:
“gw benci banget sama mata orang yang ngeliat klo gw lagi ngerokok gini”
*sambil membuka rokok dan membakarnya dengana meminjam korek dari saya
A:
“mao tin?”
T;
“ah iya ah…tapi gw minta rokok lo ajaj sep..bagi ya?”
S:
“ambil aja silahkan…”
Dan kami bertiga pun merokok bersama…
A:
“tuh liat tuh, mata orang ngeliat gw..benci banget gw, emang gw nista banget
apa?” * seorang bapak-bapak lewat dengan mata melirik Anne dengan mata yang
agak aneh untuk memandang seseorang
A:
“bener khan?”
S:
“ya gitu deh, mungkin dalam pemahaman dia, cewe ya ‘kaga bolelh’ merokok
karena akan memperlihatkan ‘kebengalan’”
A:
“ah…semuanya khan Cuma masalah konstruksi, trus jadi penyimbolan yang
berujung kepada bentuk budaya dan point of view, kenapa harus ada baik buruk
sih?”
T:
“iya tuh, gw juga aneh, kenapa ujungnya jadi begitu ya? Bener salah, bête gw,
jadi ada penilaian, padahal kadang orang yang menilai kita bisa lebih buruk dari
kita”
S:
“iya, jadi ada penistaan gitu ya? Liat aja mata tadi, symbol banget khan? Symbol
penistaan gitu, padahal ya cm beda ekspresi cara pandang, tapi kita juga sudah
terikat sama penyimbolan itu, ude jadi kesepakatan yang tertanam di kita juga, klo
pandangan model gitu jadi penistaan. Ya gitu khan??kita belajar budaya juga gitu,
kita sendiri tercebut di dalamnya
T:
“iya, padahal konyolnya itu konstruksi manusia sendiri, tapi berpengaruh juga
sama individu laen, padahal, relative banget…bisa jadi di kita, biasa aja apa yang
dia liat nista, tapi kita juga terpengaruh sama budaya mereka, kita jadi
terpengaruh oleh bingkai pandangan mereka…dan mereka seenaknya menilai dari
‘faith’ mereka sendiri.”
S:
“ ya gitulah kenyataannya…”
Obrolan dilanjutkan dengan pembahasan lanjut dan pembahasan masalah pribadi
masing-masing hingga masing-masing pergi dengan alasan untuk bertemu
pasangan masing-masing…
Dari apa yang saya coba ilustrasikan dengan sepotong kejadian tersebut, saya mencoba
merefleksikannya secara pribadi dan hal seperti ini cukup mengagetkan terutama pribadi karena
bagaimanapun juga, dalam obrolan yang sifatnya sehaari-hari, apa yang terjadi tidak terlepas dari
apa yang selama ini banyak dibahas secara teoritis. Hal ini membuat saya berfikir bahwa
kebanyakan studi ilmiah yang saya tahu, sisi teoritisnya selalu berada di laboratorium atau
berada di kelas dan tercatat dalam buku. Berbeda dengan apa yang saya temui ini, teori, konsep
social yang dibahas di kelas dan dibaca di buku, hadir juga dalam kenyataan social yang saya
alami sehari-hari, walaupun dalam alasan klisenya, studi ilmiah adalah empiric, dapat dibuktikan
secara empiric. Hanya saja secara pribadi, sebagai seorang yang cukup lama berkutat dengan
filsafat –yang mempunyai dalil ilmiah yang sama, yaitu empiric- saya kira, konsep dan teori
yang banyaak dibicarakan di kelas adalah sebuah proses generalisasi yang cukup panjang,
menjadi konsep ideal yang terkadang menjadi jauh dari kenyataan social sehari-hari. Berbeda
dengan pembahasan antropologi –atau mungkin banyak keilmuan social yang lain- yang
membahas realitas social keseharian, saya merasakan bahwa teori dan konsep ide yang dibahas
terasa begitu cair dalam reallitasas social seperti yang sudah saya katakan tadi. Bagaimana saya
melihat bukti dari konsep ide tanpa harus secara lebih ‘serius’ ‘membuktikan’ teori yang sudah
dibahas.
Hal yang bagi saya juga menjadi sebuah hal yang patut dikakaagumi adalah bagaimana
secara personal, individu-individu yang berada di dalam lingkungan studi antropologi merupakan
individu reflektif yang mampu membuat obrolan sehari-hari, obrolan yang pada umumnya
berupa gossip dan hal-hal yang banyak oranag katakana sebagaai ‘saampah’, menjadi obrolan
yang ilmiah. Sebagaai penguatan ‘materi’ yang sudah dipelajari sebelumnya.
Antropologi adalah ‘GILA’
Seperti apa yang sudah dituliskan sebelumnya, bahwa perkenalan dengan antropologi
adalah hal yang cukup luar biasa bahkan dalam pengalaman studi dan pengalaman hidup saya
dalam sebuah realita, realitas social seorang kesep. Dalam sebuah sidang hasil Desertasi, pak
Afid mengatakan bahwa menjadi seorang Antropolog merupakan hal yang sulit, begitu juga
dalam banyak kesempata kuliah memahami text antropologi hari Rabu, pak Tony mengatakan
bahwa untuk menjadi Antropologi adalah memperhatikan hal yang dianggap banyak orang
sebagai hal yang ‘remeh’, begitu juga dengan kuliah metoli, pak Iwan berkali-kali mengatakan
bahwa antropologi membahas hal yang sudah ‘biasa’ dalam kehidupan manusia. Begitu juga
dengan salah satu tulisan yang mengatakan bahwa perbedaan antara antropolog –etnograferdengan wartawan adalah bahwa etnografer membahas kejadian yang terjadi sehari-hari, yang
biasa sedangkan wartawan selalu menyajikan hal yang luar biasa, kejadian yang ada diluar
kebiasaan sehari-hari.
Dari apa yang saya pelajari dan dengarkan tersebut, membuat saya berfikir bahwa
kepekaan adalah melihat hal yang unik dari ke’biasa’an yang dialami, melihat hal yang tidak
biasa dari yang biasa atau jika saya mencoba menarik hal ini lebih jauh lagi kedalam dunia ide
adalah bahwa menjadi antropolog adalah bagaimana kita mulai berfikir terbalik. Seperti orang
yang ‘gila’ bahwa cara berfikir antropologi adaalah mencoba melihat beras diantara tumpukan
padi, melihat hal yang hamper mustahil, hal yang membutuhkan ketelitian, kepekaan, cara
berfikir radikal, holistic, dan kritis. Kesemua cara tersebut adalah hal ideal yang ‘hampir’ saya
katakan mustahil dalam memilikinya. Akan tetapi menjadi antropolog adalah proses menuju
kesana dan exercise untuk bisa memiliki kepekaan, kritis, radikal, dan ketelitian. Proses yang
bagi saya berarti sebuah proses yang memberikan arti lebih kepada kehidupan itu sendiri.
Tingkat kemustahilan yang tinggi tersebut menjadi sebuah bukti dari kata-kata pak Afid dan
menjadi sebuah kata ‘GILA’ dalam kamus hidup saya. Tidak hanya karena saya memiliki prinsip
‘kesenangan’ dan ‘kegilaan’ seperti yang dituliskan di awal tulisan, bagaimanapun juga, menjadi
antropologi menambah kegilaan tersebut dan apa yang melebihinya adalah ketertarikan untuk
menjadi seorang Gila yang dinamakan Anthropologist.
Bodoh dan dibodohi
Dalam pengalaman perkuliahan yang telah saya jalani, selama selama semester ini paling
tidak ada banyak hal yang terjadi yang membuat mata saya terbuka, perasaan hati turun dan
kesombongan mereda. Dan sifat terakhir ini menghentak dan ditabrak oleh pengalamanpengalaman real yang saya alami selama kuliah ini.
Selama satu semester, bagi beberapa individu dalam angkatan saya, ada satu mata kuliah
yang ‘menakutkan’ atau menegangkan. Alasannya sangat sederhana, karena suasana kelas yang
tidak nyaman dan cara dosen yang saat itu kami anggap tidak memperhatikan psikologi siswa
hingga siswa merasa cukup tertekan untuk mengikuti perkuliaan. Perkuliahan tersebut adalah
perkuliahan hari rabu bagi angkatan kami. Bagi saya pribadi, sebagai seorang yang cukup
memegang ‘teguh’ prinsip relativitas, ada hal yang cukup mengganggu prinsip saya tersebut
yaitu ketika beberapa kesempatan kelas kuliah bapak Dosen memperbandingkan kemampuan
memahami teks siswa dan keluhan siswa dengan pengalamannya dan realitas kehidupan
mahasiswa di Luar Negri tempatnya belajar pada masanya, dikatakan bahwa kami, beberapa
siswa yang mengikuti kuliah sebenarnya adalah mahasiswa manja karena di luar negri sana dan
ketika masa beliau menjadi mahasiswa, para mahasiswa diwajibkan membaca tugas setiap hari
sekitar 60 halaman dengan bahasa inggris. Dan kesemuanya saya pahami sebagai sebuah standar
mahasiswa yang seakan akan diinginkannya. Ditambahkan oleh Dosen tersebut bahwa bagi
beliau, cukup konyol ketika mahasiswa tidak dapt memahami teks yang dimaksud padahal
beberapa pembahasan hanya sekitar 40 halaman dan itu dikumpulkan dengan jangka waktu
seminggu saja, tidak seperti di ‘Amrik’ sana yang satu hari harus membaca sekitar 60 halaman
setiap hari.
Apa yang disampaikan oleh Dosen mengenai perbandingan kelas tersebut dengan kelas di
‘Amrik’ itu tidak dapat saya terima, hal ini bagi saya cukup mengganggu kepala dan perasaan
saya karena bagi saya secara sederhana, bahwa keadaan di kelas antropologi tidak pantas
dipersamakan dengan kelas di luarnegri sana yang notabene berbahasa inggris sebagai bahasa ibu
mereka. Dengan jelas saya merasa kecewa dengan perlakuan beliau sebagai dosen karena apa
yang saya pahami adalah, ketidak pantasan komparasi yang tidak sejajar. Kami anggota kelas
menggunakan bahasa Indonesia sedangkan tugas akan selalu diberikan berbahasa inggris, saya
artikan itu bahwa bahasa inggris bukan bahasa ibu kami dan untuk membaca buku berbahasa
asing, paling tidak selalu ada proses penterjemahan terlebih dahulu yang pada intinya bahwa
kesulitan dalam memahami teks dengan bahasa asing lebih besar dengan dengan bahasa sendiri.
Selain itu, masih dalam pikiran saya, dalam satu minggu ada sekitar lima mata kuliah yang
masing-masing memiliki tugas, jadi bagi saya cukup tidak relevan apa yang dikatakan oleh
Dosen pada hari Rabu tersebut. Walau kesemua ini terkesan apologis dan defensive karena
‘ketidakmampuan’ untuk mengikuti kuliah tersebut, bagaimanpun juga, cara berfikir seperti ini
cukup lama bercokol di kepala saya.
Setelah beberapa kali berdiskusi dengan beberapa teman saya, ternyata dengan
berjalannya waktu, saya mulai mendapat pencerahan, ping tiadadk, jika tidak dikatakan sebagai
sebagai pencerahan saya menganggap apa yang mulai saya pahami sebagai sebuah bentuk cara
memandang yang positif. Pada awal saya menanggapi cara ‘membimbing’ Dosen dengan
memanganggap mahasiswa sebagai orang bodoh. Atau saya menggunakan istilah singkat sebagai
‘dibodohi’ akan tetapi setelah masuk dari beberapa orang saya kira ada sudut pandang lain
walaupun masih dalam tataran kata ‘bodoh’.
Kata ‘Bodoh’ menjadi kunci dalam permasalahan ini, baik posisi menjadi objek maupun
subjek, apa yang saya katakana sebagai cara pandang beda yang lebih positif adalah bahwa saya
merasa menjadi orang bodoh tetapi tidak karena dibodohi, melainkan secara reflektif dan sadar
bahwa pribadi seorang kesep merupakan pribadi yang bodoh dan masih harus tetap
bersemangant untuk melawan kebodohan tersebut. Pandangan ini menabrak rasa sombong yang
ada dalam diri pribadi. Sebagai seorang mahasiswa pascasarjana, saya kira menjadi wajar jika
timbul sedikit banyak kesombongan dan rasa tinggi hati karena memang teman seumuran saya
tidak begitu banyak yang beruntung masih mampu mengecap pendidikan pasca dan ada jugaa
perasaan superioritas terhadap individu yang seumur dalam segi kognisi karena jenjang yang
lebih tinggi. Dan memang secara jujur saya mengakui bahwa ‘rasa’ seperti itu hadir dalam benak
saya, sedikit maupun banyak. Seperti yang saya katakan diatas bahwa rasa ini ditabrak oleh
perasaan ‘Bodoh’ pribadi karena masih mencari apologi atas kelalaian dan ketidak mampuan
mengikuti class rule yang dibuat oleh Dosen sebagai chief of class saat kuliah berlangsung. Rasa
bodoh itu meresap dalam benak saya dan meredam rasa sombong karena saya merasa masih
bodoh dan banyak hal yang harus saya pelajari dan gali terus. Walaupun mungkin tidak akan
pernah selesai. Dan satu hal lain yang saya pahami bahwa apologi sselalau menunjukan
kelemahan pribadi dan mengarah kepada kebodohan itu sendiri.
Two sided of life, two as one
Dalam buku Emmerson, dituliskan bahwa etnografi merupakan sebuah penelitian yang
memerlukan rasa dan logika, ethnography is science and art in same time. Kata dalam tugas
membaca tulisan Emmerson membuat saya tergelitik, baik dalam hal etnografi yang memang
saat itu, perdebatan dan dialog yang terjadi untuk membahasnya, maupun tergelitik untuk
melihatnya sebagai sebuah cara ‘memandang’ dunia.
Pada saat pembahasan mengenai ethnography sebagai sains dan seni pada satu waktu bu
Ike melemparkan pertanyaan, “bagaimana bisa koq etnografi jadi sains juga seni?” dan saya
mencoba menjawab bahwa dalam melakukan etnografi, ada interaksi dengan realitas social yang
coba dipahami. Dalam interaksi tersebut dibutuhkan seni berinteraksi begitu juga dalam
penyusunan etnografi, dibutuhkan seni penyusunan, seni retorika dalam bercerita, dalam memilih
data dan sebagainya. Dan etnografi adalah sebuah hal yang ilmiah karena memang mampu
dibuktikan secara teoritis, selain itu juga ilmiah karena etnografi mengangkat teori-teori ilmiah
dalam membahas dan memahami sebuah realitas kebudayaan. paling tidak jawaban seperti itu
yang terlontar dan memang rasa tergelitik terhadap etnografi sebagai seni dan sains dalam satu
waktu, terutama dalam sisi saya memandang hidup menimbulkan pertaanyaan yang senada
dengana pertanyaan bu Ike walaupun dengan intisari yang agak berbeda. Yaitu “bagaimana bisa
dua hal yang saling “berlawanan” ada di dalam kesatuan yang sama?”.
Dari diskusi diatas beberapa kali pula ada diskusi yang membahas hal serupa tau
membuat saya membahas hal serupa seperti bagaimana hokum alam ini, dengan percontohan
siang dan malam sebagai sebuah hal yang tidak bergeser. Tetapi keduanya diperlawankan dan
berada dalam satu hokum. Begitu juga dengan banyak hal yang lain. Teringat dengan konsep
Yin-Yang yang juga pernah dibicarakan dalam kelas, saya kira konsep tersebut sebagai sebuah
gambaran real dari alam atau realitas ini. Dan sebagai kesimpulan sampai saat ini bahwa tidak
pernah ada nomor satu, dalam pengertian bahwa tidak ada ‘ketunggalan’ yang berdiri sendiri.
Satu atau kesatuan atau ‘ketunggalan’ merupakan sebuah ‘unity’ artinya keberadaannya tidak
serta merta sebagai sebuah yang dalam istilah Immanuel Kant sebagai ‘das ding an sich’ atau
berada dengan sendirinya melainkan berdiri sebagai sebuah susunan dari angka setelahnya yaitu
dua, tiga, dan seterusnya. Sedangkan dalam kaitannya dengan konsep Yin-Yang, saya memcoba
memahami bahwa secara nyata dalam hidup manusia itu selalu terdiri dari dua sisi, dua sisi yang
membentuk kesatuan, dua sisi yang dikatakan ‘berlawanan’ dan menegaskan lawannya satu sama
lain, dimana bisa saya katakana bahwa ditengahnya ada kata ‘netral’ yang sangat tipis. Dan dari
apa yang pernah dituliskan Emmerson tersebut bagi saya mempunyai banyak hal yang menarik
yang menarik diri saya untuk terus membentuk gagasan mengenai realitas saya sendiri.
Refleksi: sebuah Kegilaan yang berubah menjadi Kesenangan
Sebagaimana yang telah dituliskan di atas, bagaimana saya memandang antropologi
sebagai sebuah kegilaan baru dalam hidup saya sebagai kesep dan bagaimana kegilaan tersebut
merupakan hal yang membuat hidup saya berwarna dan bisa berubah menjadi sebuah
kesenangan. Begitulah dengan kegilaan bernama antropologi tersebut berubah menjadi sebuah
kesenangan tersediri untuk berada di dalamnya. Bagaimana juga antropologi memberikan rasa
penasaran untuk lebih dalam tercebur, dan bagaimana juga antropologi memperkaya sudut
pandang saya. Paling tidak dalam refleksi saya sampai saat ini, apa yang paling berharga untuk
saya pelajari adalah Kejujuran, jujur dalam bersikap, memandang, berfikir, jujur terhadap
keadaan, bahkan jujur dalam berinteraksi. Bagaimanapun juga, kejujuran juga mampu membuat
saya lebih menerima ‘perbedaan’ dalam realitas social. Kejujuran tersebut juga saya pelajari
dengan kebebasan yang banyak diberikan dalam system perkuliahan, contoh kecil adalah
kebebasan mengutarakan ‘rasa’ dalam tugas mata kuliah pak Iwan yang bagi saya sebagai
sebuah bentuk melatih kejujuran itu sendiri. Bebas tidak berarti lepas, melainkan kebebasan
sebagai sebuah kejujuran.
Hal yang paling jelas dengan banyak kejadian dan pengalaman yang saya utarakan dalam
tulisan ini –walaupun hanya sepenggal pengalaman belaka- adalah saya menikmati kesemua itu,
menikmati rasa takut, rasa tegang, rasa tersinggung, rasa kecewa dan hal-hal yang timbul dalam
lingkungan ‘ke-antropologi-an yang saya alami. Walaupun saya rasa cukup aneh ketika pada
awal saya melihat kuliah ini sebagai sebuah kegilaan, tantangan, atau bahkan hal yang bisa
‘merusak’ kesenangan saya selama ini berubah menjadi sebuah bagian kesenangan pribadi.
Kesenangan tidak berarti sebuah rasa yang positif atau sebuah satisfaction belaka, lebih dari
semua itu, kesenangan tersusun dari bagian-bagian ‘rasa’ dalam pengalaman yang telah terjadi.
Kesenangan adalah sebuah unity. Termasuk di dalamnya adalah ‘Kegilaan’ dalam pandangan
hidup saya.
Download