skripsi Risma

advertisement
EVALUASI SUPLEMENTASI EKSTRAK LERAK (Sapindus rarak)
TERHADAP POPULASI PROTOZOA, BAKTERI DAN
KARAKTERISTIK FERMENTASI RUMEN
SAPI PERANAKAN ONGOLE
SECARA IN VITRO
SKRIPSI
ARISMA KURNIAWATI
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
RINGKASAN
ARISMA KURNIAWATI D24051615. 2009. Evaluasi Suplementasi Ekstrak Lerak
(Sapindus rarak) terhadap Populasi Protozoa, Bakteri dan Karakteristik
Fermentasi Rumen Sapi Peranakan Ongole secara In Vitro. Skripsi Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Sri Suharti, S.Pt., M.Si.
Pembimbing Anggota : Ir. Sudarsono Jayadi, MSc.Agr
Sapindus rarak (lerak) merupakan tanaman yang mempunyai kandungan
saponin tinggi. Saponin merupakan senyawa sekunder tanaman yang dapat digunakan
sebagai agen defaunasi pada sistem rumen ternak ruminansia untuk menekan
pertumbuhan populasi protozoa. Pengurangan populasi protozoa diharapkan dapat
meningkatkan populasi bakteri, karena pada kondisi normal protozoa sering memangsa
bakteri rumen. Kandungan saponin buah lerak yang diekstrak dengan metanol akan
meningkat hingga 81,5%. Ekstrak lerak mempunyai rasa yag pahit, sehingga
manajemen pemberian harus disiasati agar lebih palatabel. Salah satu cara pemberian
agar efisien yaitu dalam bentuk pakan blok.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi pengaruh suplemen ekstrak lerak (Sapindus rarak) ke dalam ransum yang
mengandung pakan blok terhadap populasi protozoa, bakteri dan karakteristik
fermentasi rumen sapi peranakan ongole secara in vitro.
Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni sampai September 2008, di
Laboratorium Biokimia, Fisiologi dan Mikrobiologi, Fakultas Peternakan, Institut
Pertanian Bogor. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK),
dengan tiga perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diberikan antara lain P1
(Ransum Kontrol / K), P2 (K + ekstrak lerak 0,09%) dan P3 (K + ekstrak lerak 0,18%).
Ransum kontrol terdiri dari 48% hijauan, 50% konsentrat dan 2% pakan blok. Data
dianalisis dengan menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan untuk melihat
perbedaan antar perlakuan diuji dengan uji jarak Duncan. Peubah yang diamati dalam
penelitian ini adalah kecernaan bahan kering dan bahan organik (KCBK dan KCBO),
konsentrasi VFA total, proporsi molar VFA, konsentrasi NH3, produksi gas total,
populasi protozoa dan bakteri.
Hasil analisa ragam menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak lerak tidak
signifikan mempengaruhi nilai KCBK dan KCBO dan tidak signifikan meningkatkan
konsentrasi VFA total, namun berdasarkan gambaran proporsi molar terjadi kenaikan
propionat. Suplementasi ekstrak lerak tidak signifikan menurunkan konsentrasi NH3 dan
populasi protozoa, namun suplementasi ekstrak lerak dapat meningkatkan populasi
bakteri total. Produksi gas total cenderung meningkat pada inkubasi 0-48 jam, namun
suplementasi ekstrak lerak tidak signifikan mempengaruhi nilai produksi gas total.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suplementasi ekstrak lerak dengan
taraf 0,09% dan 0,18% dalam ransum dapat memodifikasi karakteristik fermentasi
rumen, populasi protozoa dan bakteri. Suplementasi ekstrak lerak dapat meningkatkan
proporsi propionat yang merupakan sumber energi utama bagi sapi pedaging.
Kata-kata kunci : Sapindus rarak, fermentasi rumen, kecernaan, saponin, sapi PO
2
ABSTRACT
In vitro Study of Suplementation of Sapindus rarak Extract on Protozoa and
Bacteria Population and Ongole Crossbreed Rumen
Fermentation Characteristic
A. Kurniawati, S. Suharti and S. Jayadi
This experiment was conducted to evaluate the effect of suplementation using Sapindus
rarak extract on protozoal and bacteria population, fermentation characteristic and in
vitro digestibility. The experimental design was Randomize Complete Block Design
with 5 treatments and 3 replications. The treatments were: P1 (control diet consist on
48% forage, 50% concentrat and 2% feed block), P2 (P1 + 0.09% Sapindus rarak
extract), P3 (P1+0.18% Sapindus rarak extract). Variables observed were protozoal and
bacteria population, dry matter and organic matter digestibilities, total Volatile Fatty
Acid (VFA) concentration and VFA molar proportion, ammonia (NH3) concentration,
and total gas production. Data were analyzed using Analysis of Variance and significant
differences among treatment were examined using Duncan Multiple Range Test. The
result showed that suplementation using Sapindus rarak extract did not significant
decreased amonia (NH3) concentration and protozoa of population, but suplementation
of Sapindus rarak extract increased bacteria population. Total gas production tend to
increased during 0-48 h incubation. Dry matter and organic matter digestibilities and
total VFA concentration was not affected by Sapindus rarak exstract suplementation.
Molar proportion of VFA was shifted from asetat to propionat production and reduce
the ration of acetat : propionat.
Keywords: Sapindus rarak, ruminal fermentation, digestibility, saponin, ongole
crossbreed
3
EVALUASI SUPLEMENTASI EKSTRAK LERAK (Sapindus
rarak) TERHADAP POPULASI PROTOZOA, BAKTERI DAN
KARAKTERISTIK FERMENTASI RUMEN
SAPI PERANAKAN ONGOLE
SECARA IN VITRO
SKRIPSI
ARISMA KURNIAWATI
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
4
EVALUASI SUPLEMENTASI EKSTRAK LERAK (Sapindus
rarak) TERHADAP POPULASI PROTOZOA, BAKTERI DAN
KARAKTERISTIK FERMENTASI RUMEN
SAPI PERANAKAN ONGOLE
SECARA IN VITRO
Oleh
ARISMA KURNIAWATI
D24051615
Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan
Komisi Ujian Lisan pada tanggal 1 September 2009
Pembimbing Utama
Pembimbing Anggota
Sri Suharti, S.Pt, MSi
NIP. 19741012 200501 2 002
Ir. Sudarsono Jayadi, MSc.Agr
NIP. 19660226 199003 1 001
Dekan
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor
Ketua Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor
Dr.Ir.Luki Abdullah, MSc.Agr
NIP. 19670107 199103 1 003
Dr. Ir. Idat Galih Permana, MSc
NIP. 19670506 199103 1 001
5
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Nganjuk pada tanggal 26 Maret 1987 dari pasangan
Bapak Paiman dan Ibu Endang Purnamawati.
Penulis mengawali pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Negeri Ngrawan II
pada tahun 1993 dan diselesaikan pada tahun 1999. Pendidikan lanjutan pertama
dimulai oleh penulis pada tahun 1999 dan diselesaikan pada tahun 2002 di Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama Negeri (SLTPN) I Nganjuk. Penulis kemudian
melanjutkan ke Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) I Nganjuk pada tahun
2002 dan lulus pada tahun 2005.
Penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi
Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2005 melalui
program USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Selama mengikuti pendidikan,
penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (HIMASITER)
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penulis juga aktif berpartisipasi dalam
berbagai kegiatan kepanitiaan, antara lain kepanitiaan Baktisosial Mahasiswa
Peternakan (Bloka-D) dan Seminar Pakan Nasional 2008.
6
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’aalamiin. Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT atas segala karunia dan rahmatnya-Nya sehingga penelitian dan
penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi ini berjudul Evaluasi Suplementasi
Ekstrak Lerak (Sapindus rarak) terhadap Populasi Protozoa, Bakteri dan
Karakteristik Fermentasi Rumen Sapi Peranakan Ongole secara In Vitro.
Skripsi ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan mulai bulan Juni
sampai bulan September 2008 bertempat di Laboratorium Biokimia, Fisiologi dan
Mikrobiologi Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan,
Institut Pertanian Bogor.
Saponin merupakan suatu senyawa hasil metabolit sekunder tanaman yang
dapat digunakan sebagai agen defaunasi protozoa. Lerak (Sapindus rarak)
merupakan salah satu tanaman yang mempunyai kandungan saponin tinggi, yaitu
mencapai 21%. Buah lerak yang diekstrak dengan metanol mempunyai kandungan
saponin yang tinggi yaitu mencapai 81,5%. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi suplementasi ekstrak lerak ke dalam ransum terhadap populasi
protozoa dan karakteristik rumen sapi PO secara in vitro.
Penulis memahami bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, besar harapan penulis adanya sumbangan pemikiran
dari berbagai kalangan untuk perbaikan skripsi ini. Penulis pun mengucapkan terima
kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut berperan sehingga penulisan skripsi ini
dapat terselesaikan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.
Bogor, September 2009
Penulis
7
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN ................................................................................................
i
ABSTRACT...................................................................................................
iii
LEMBAR PERNYATAAN ...........................................................................
iv
LEMBAR PENGESAHAN ...........................................................................
v
RIWAYAT HIDUP .......................................................................................
vi
KATA PENGANTAR ...................................................................................
vii
DAFTAR ISI..................................................................................................
viii
DAFTAR TABEL..........................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
xi
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................
xii
PENDAHULUAN .........................................................................................
1
Latar Belakang ...................................................................................
Tujuan ................................................................................................
1
2
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................
3
Lerak (Sapindus rarak) ......................................................................
Saponin ..............................................................................................
Pengaruh Saponin terhadap Sistem Rumen .......................................
Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia .............................................
Mikroba Rumen .................................................................................
Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik ...................................
Produksi Gas ......................................................................................
Volatile Fatty Acid (VFA) .................................................................
Amonia (NH3) ....................................................................................
3
4
6
7
7
10
10
11
13
METODE .......................................................................................................
15
Lokasi dan Waktu ..............................................................................
Materi .................................................................................................
Rancangan Percobaan ........................................................................
Prosedur .............................................................................................
15
15
15
16
HASIL DAN PEMBAHASAN .....................................................................
23
Kondisi Umum Penelitian ..................................................................
Populasi Protozoa...............................................................................
Populasi Bakteri .................................................................................
Kecernaan Bahan Kering (KCBK) ....................................................
Kecernaan Bahan Organik (KCBO) ..................................................
Produksi Gas Total .............................................................................
Konsentrasi NH3 (Amonia) ................................................................
Konsentrasi VFA................................................................................
23
24
25
27
28
28
30
31
8
KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................................
34
Kesimpulan ........................................................................................
Saran...................................................................................................
34
34
UCAPAN TERIMAKASIH ..........................................................................
35
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................
36
LAMPIRAN...................................................................................................
39
9
DAFTAR TABEL
Nomor
Halaman
1. Komposisi Nutrien Ransum dan Bahan Penyusun Ransum sebagai
Substrat Fermentasi.
.........................................
23
2. Pengaruh Perlakuan terhadap Populasi Protozoa dan Bakteri Total..
25
3. Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan
Organik
.........................................
27
4. Produksi Gas Total selama Inkubasi 0-48 Jam ...................................
29
5. Rataan Konsentrasi NH3, VFA Total dan Proporsi Molar VFA .......
32
10
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Halaman
1. Buah dan Pohon Lerak ...............................................................
3
2. Struktur Kimia Kelas Utama dari Saponin (Wallace, 2002)
5
3. Proses Metabolisme Karbohidrat dalam Rumen Ternak
Ruminansia (McDonald et al., 2002) .....................................
12
4. Proses Metabolisme Protein dalam Rumen Ternak
Ruminansia (McDonald et al., 2002) .................................... ...
5. Grafik Pengaruh Ekstrak Lerak pada Produksi Gas..............................
14
29
11
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Halaman
1. Hasil Analisa Ragam KCBK ............................................................
39
2. Hasil Analisa Ragam KCBO .............................................................
39
3. Hasil Analisa Ragam Konsentrasi NH3 ................................................
39
4. Hasil Analisa Ragam Konsentrasi VFA ................................................
39
5. Hasil Analisa Ragam Populasi Protozoa .............................................
39
6. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 2 Jam. ...............
39
7. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 4 Jam ................
40
8. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 8 Jam ................
40
9. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 12 Jam ..............
40
10. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 24 Jam ..............
40
11. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 48 Jam ..............
40
12
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tingkat produktivitas sapi potong di Indonesia terutama yang dipelihara oleh
peternak rakyat masih tergolong rendah. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya kandungan nutrien ransum, tingkat kecernaan yang rendah dan
manajemen pemeliharan yang belum optimal. Sapi pedaging membutuhkan
konsentrat lebih banyak dari pada hijauan untuk prekusor pembentukan otot daging,
namun pada umumnya karena alasan ekonomi peternak rakyat tidak mampu
memberi pakan konsentrat yang cukup. Pemberian pakan dengan hijauan tinggi akan
mengurangi tingkat kecernaan dalam sistem rumen.
Tingkat kecernaan pakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
tingkat produktivitas ternak, dimana pada ternak ruminansia tingkat kecernaan pakan
dipengaruhi oleh populasi mikroba yang ada didalam rumen. Sutardi (1979)
menyatakan bahwa adanya bakteri dan protozoa yang hidup dalam rumen
menyebabkan ruminansia dapat mencerna ransum yang mengandung serat kasar
tinggi. Pernyataan ini didukung oleh Arora (1989) yang menyatakan bahwa protozoa
berperan dalam pola fermentasi rumen dengan cara mencerna partikel-partikel pati
sehingga dapat mempertahankan pH rumen atau sebagai buffer rumen. Protozoa
mempunyai sifat memangsa bakteri untuk memenuhi kebutuhan protein, karena
kemampuan protozoa untuk mensintesis asam amino sangat rendah.
Mikroba rumen sebagian besar dihuni oleh bakteri, jumlah bakteri dalam
rumen mencapai 109 sel/ml sedangkan jumlah protozoa dalam rumen lebih sedikit
dari bakteri yaitu sekitar 106 sel/ml (McDonald et al., 2002). Keberadaan protozoa
dalam rumen sering mengganggu ekosistem bakteri, karena mempunyai sifat
memangsa bakteri. Jika populasi protozoa tidak terkendali dapat menurunkan jumlah
populasi bakteri dan mempengaruhi proses pencernaan serat pakan. Populasi
protozoa dalam rumen dapat ditekan dengan penggunaan agen defaunasi. Salah satu
agen defaunasi yang dapat digunakan untuk menekan populasi protozoa adalah
saponin yang merupakan hasil metabolisme sekunder tanaman. Saponin dapat
mengganggu perkembangan populasi protozoa karena saponin mampu membuat
suatu ikatan dengan sterol pada permukaan membran sel protozoa. Hal tersebut
menyebabkan membran sel protozoa pecah, sel mengalami lisis dan akhirnya
mengakibatkan kematian pada protozoa.
13
Buah lerak (Sapindus rarak) yang diekstraksi dengan metanol mengandung
saponin yang cukup tinggi yaitu mancapai 81,47% (Astuti et al., 2008). Kandungan
saponin dalam buah lerak diharapkan dapat menekan pertumbuhan populasi protozoa
dalam rumen sehingga mampu mengoptimalkan populasi bakteri dalam rumen dan
meningkatkan kecernaan ransum.
Berdasarkan kemampuannya menekan pertumbuhan protozoa, maka secara
tidak langsung ekstrak lerak diharapkan dapat menekan pertumbuhan bakteri
metanogen.
Hal ini dimungkinkan karena protozoa merupakan host bakteri
metanogen. Pembentukan gas metan pada sistem rumen dapat menyebabkan hewan
ruminansia mengalami kehilangan sebagian energi kimia yang tercerna, dengan
penambahan ekstrak lerak dapat mengurangi pembentukan gas metan sehingga
kehilangan energi dapat diminimalkan. Penurunan populasi protozoa diharapkan
dapat meningkatkan populasi bakteri dan mempengaruhi karakteristik fermentasi
rumen. Ekstrak lerak mempunyai rasa yang pahit, sehingga pemberian ekstrak lerak
perlu disiasati agar lebih palatabel. Melalui penelitian ini dilakukan evaluasi ekstrak
lerak yang ditambahkan dalam ransum sapi dalam bentuk pakan blok terhadap
populasi protozoa, populasi bakteri dan karakteristik fermentasi rumen sapi PO
(Peranakan Ongole) secara in vitro.
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh suplementasi
ekstrak lerak terhadap populasi protozoa dan bakteri, konsentrasi VFA total dan
proporsi molar VFA, konsentrasi NH3, kecernaan bahan kering dan bahan organik,
serta produksi gas total pada rumen sapi PO secara in vitro.
14
TINJAUAN PUSTAKA
Lerak (Sapindus rarak)
Lerak merupakan jenis tumbuhan yang berasal dari Asia Tenggara yang dapat
tumbuh dengan baik pada hampir segala jenis tanah dan keadaan iklim, dari dataran
rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 450-1500 m dari permukaan laut.
Umumnya perkembangbiakan lerak dilakukan melalui penanaman biji, sedangkan
perbanyakan dengan stek tidak menunjukkan hasil yang memuaskan (Afriastini,
1990).
Gambar 1. Buah dan Pohon Lerak
Lerak tergolong dalam famili Sapindaceae yang berbentuk pohon dan
merupakan raksasa rimba dengan diameter 1 m dan mampu mencapai tinggi 42 m.
Daun lerak bertangkai panjang dan merupakan daun majemuk menyirip yang terdiri
atas anak-anak daun berbentuk bundar memanjang dengan ukuran panjang 4,5–15,5
cm dan lebar 1,5–4,0 cm. Daun muda umumnya berbulu halus dan bila umurnya
meningkat bulu ini gugur dan warna daun menjadi hijau pucat. Ibu tulang daun
sebelah bawah agak menonjol dan berwarna coklat. Pada ujung-ujung tangkainya
terdapat karangan bunga berupa malai yang bergagang panjang (15-35 cm). Bunga
berwarna kuning muda, berkelamin tunggal dan satu rumah, terdiri atas lima helai
daun kelopak dengan panjang 2-3,5 mm, empat helai daun mahkota berbentuk lanset
memanjang dengan tepi yang berambut rapat dan panjangnya 3,5-5 mm, dan 8 buah
benang sari. Bakal buah berlekuk tiga dengan satu bakal biji pada setiap ruang. Buah
15
yang dihasilkan bulat mirip bola dengan diameter 2-2,5 cm, berminyak dan sedikit
berkerut. Buah lerak yang masih muda berwarna hijau dan buah yang sudah tua
berwarna coklat kehitaman (Heyne, 1987).
Daging buah pada lerak banyak mengandung air, mempunyai rasa pahit dan
beracun. Tiap buah mempunyai satu biji yang berkulit keras berwarna hitam
mengkilat dengan diameter kurang lebih 1 cm. Menurut Heyne (1987) buah lerak
terdiri dari 75 persen daging buah dan 25 persen biji, pada bagian daging buah
banyak terkandung senyawa saponin yang merupakan racun yang cukup kuat.
Kulit buah, biji, kulit batang dan daun lerak mengandung saponin dan
flavonoida, disamping itu kulit buah juga mengandung alkaloida dan polifenol,
sedangkan kulit batang dan daunnya mengandung tanin. Senyawa aktif yang telah
diketahui dari buah lerak adalah senyawa – senyawa dari golongan saponin dan
sesquiterpene (Wina et al., 2005a). Menurut Sunaryadi (1999) pengujian secara
kualitatif daging buah lerak mengindikasikan cukup aman diberikan pada ternak.
Kandungan senyawa yang terdapat pada daging buah diantara adalah triterpen,
alkaloid dan steroid, sedangkan kandungan senyawa yang negatif diantaranya adalah
antrakinon, tanin, fenol, flavonoid dan minyak atsiri.
Saponin
Saponin adalah suatu glikosida yang terdapat pada beberapa tanaman.
Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian
tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan. Fungsi
saponin dalam tanaman untuk melindungi diri dari hama, saponin diketahui sebagai
bentuk penyimpanan karbohidrat, atau merupakan waste product dari metabolisme
tumbuh-tumbuhan. Sifat yang khas dari saponin antara lain berasa pahit, berbusa
dalam air, mempunyai sifat detergen yang baik, beracun bagi binatang berdarah
dingin, mempunyai aktivitas hemolisis (merusak sel darah merah), tidak beracun
bagi binatang berdarah panas, mempunyai sifat anti eksudatif dan mempunyai sifat
anti inflamatori. Berdasarkan sifat-sifat tersebut, senyawa saponin mempunyai
kegunaan yang sangat luas, antara lain sebagai detergen, pembentuk busa pada alat
pemadam kebakaran, pembentuk busa pada industri sampo dan digunakan dalam
industri farmasi serta dalam bidang fotografi. Beberapa saponin bekerja sebagai
antimikroba, saponin tertentu menjadi penting karena dapat diperoleh dari beberapa
16
tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku untuk sintesis hormon steroid yang
digunakan dalam bidang kesehatan (Robinson, 1995).
Saponin merupakan jenis glikosida yang terdiri atas gula sebagai bagian
glikon yang terikat pada sapogenin yang merupakan bagian aglikonnya (Harborne,
1996). Berdasarkan struktur kimia, saponin dikelompokkan menjadi tiga kelas utama
yaitu kelas steroid, kelas steroid alkaloid dan kelas triterpenoid (Wallace et al.,
2002). Kerangka dasar sapogeninya adalah cincin pentasiklik sebagai triterpena.
Sedangkan saponin steroid mempunyai struktur sapogenin berupa steroid C-27
dengan rantai samping spiroketal. Bagian aglikon saponin ini bercincin tetrasiklik
seperti sterol, asam empedu, dan aglikon kardiak (Harbone, 1996).
Gambar 2. Struktur Kimia Kelas Utama dari Saponin (Wallace, 2002)
Saponin sebagian besar terkandung dalam tanaman, namun saponin juga
terkandung dalam beberapa jenis hewan seperti sea cucumber. Saponin yang
terkandung dalam tanaman banyak ditemukan pada bagian akar, umbi, kulit pohon,
biji dan buah. Mayoritas saponin yang terdapat di alam terutama pada tumbuhan
merupakan jenis saponin triterpena. Saponin terdapat pada berbagai spesies tanaman,
baik tanaman liar maupun tanaman budidaya. Saponin juga banyak ditemukan dalam
tanaman yang digunakan sebagai hijauan pakan ternak ruminansia dan tanaman yang
berpotensi sebagai imbuhan pakan untuk ruminansia seperti Yuca shidigera, Quillaja
saponaria dan berbagai macam spesies Sapindus. Kandungan saponin dalam
tanaman yang digunakan sabagai hijauan pakan banyak terdapat pada bagian daun,
seperti pada alfalfa, Enterolobium cyclocarpum, Mellitus alba, Sesbania sesban, S.
pachycarpa, Avena sativa dan Brachiaria decumbens (Wina et al., 2005b).
Spesies tanaman sapindus seperti Sapindus saponaria, S. rarak, S.
emarginatus, S. drummonii dan S. delavay pada umumnya mempunyai kandungan
saponin yang tinggi. Salah satu jenis sapindus yang mempunyai kandungan saponin
17
tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai imbuhan pakan pada ruminansia adalah
Sapindus rarak (lerak). Buah lerak dalam bentuk hasil ekstraksi dengan metanol
telah dilaporkan mengandung saponin dengan kadar lebih tinggi daripada buahnya
yang tanpa diekstrak (Thalib, 2004). Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian
Astuti et al. (2008) menyatakan buah lerak (Sapindus rarak) yang diekstraksi dengan
metanol mengandung saponin yang cukup tinggi yaitu mancapai 81,5%. Menurut
Sunaryadi (1999) kandungan saponin total hasil ekstraksi tanaman lerak banyak
terdapat di bagian daging buah yaitu sekitar 48,87%.
Pengaruh Saponin terhadap Sistem Rumen
Saponin mempunyai pengaruh yang lebih menguntungkan pada ternak
ruminansia dibandingkan pada ternak non ruminansia. Pemberian bahan yang
mengandung saponin dapat meningkatkan pertumbuhan, efisiensi pakan dan
kesehatan ternak. Saponin dapat meningkatkan sintesis protein mikroba rumen dan
menurunkan degradabilitas protein dalam rumen. Penurunan degradasi protein dalam
rumen dapat terjadi karena terbentuknya kompleks protein-saponin yang sedikit
tercerna dan terkait dengan kemampuan saponin sebagai agen defaunasi yang
menyebabkan penurunan total populasi protozoa rumen. Saponin dapat mengganggu
perkembangan protozoa dengan terjadinya ikatan antara saponin dengan sterol pada
permukaan membran sel protozoa, menyebabkan membran pecah, sel lisis dan mati.
Keberadaan kolesterol pada membran sel eukariotik (termasuk protozoa) tetapi tidak
terdapat pada sel bakteri prokariotik, memungkinkan protozoa rumen lebih rentan
terhadap saponin karena saponin mempunyai daya tarik menarik terhadap kolesterol.
Populasi bakteri rumen tidak mengalami gangguan karena disamping bakteri tidak
mempunyai sterol yang dapat berikatan dengan saponin, bakteri mempunyai
kemampuan untuk memetabolisme faktor antiprotozoa tersebut yang menghilangkan
rantai karbohidrat (Suparjo, 2008).
Akhir-akhir ini sudah mulai berkembang pemanfaatan tanaman yang
mengandung
saponin
sebagai
alternatif
penggunaan
bahan-bahan
kimia
industri/sintetik untuk menekan populasi protozoa dalam rumen (Thalib, 2004;
Suparwi, 2000). Secara kimia saponin memiliki diversifikasi struktur yang luas, dan
senyawa-senyawa saponin tertentu dengan sifat surfaktannya dapat menyebabkan
terjadinya lisis pada dinding sel protozoa, dengan demikian dapat digunakan untuk
defaunasi protozoa. Penggunaannya sebagai defaunator protozoa rumen dilaporkan
18
sangat efektif. Penelitian Thalib (2004) menyatakan bahwa ekstrak buah Sapindus
rarak digunakan untuk menghambat produksi gas CH4, dan efektivitasnya sebagai
inhibitor metanogenesis.
Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia
Pencernaan merupakan proses perubahan fisik dan kimia yang dialami bahan
pakan dalam alat pencernaan. Proses pencernaan tersebut meliputi pencernaan
mekanik, pencernaan hidrolitik dan pencernaan fermentatif. Pencernaan mekanik
terjadi dalam mulut oleh gigi melalui proses mengunyah dengan tujuan untuk
memperkecil ukuran, kemudian pakan masuk ke dalam perut dan usus melalui
pencernaan hidrolitik, tempat zat makanan diuraikan menjadi molekul-molekul
sederhana oleh enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan oleh hewan (Sutardi, 1980).
Hasil pencernaan fermentatif berupa Volatile Fatty Acid (VFA), NH3 dan air yang
sebagian diserap dalam rumen dan sebagian lagi diserap dalam omasum. Selanjutnya
pakan yang tidak dicerna disalurkan ke abomasum dan dicerna secara hidrolitik oleh
enzim-enzim pencernaan, sama seperti yang terjadi pada monogastrik (Arora, 1989).
Sistem pencernaan ruminansia sangat tergantung pada perkembangan
populasi mikroba yang mendiami rumen dalam mengolah setiap bahan pakan yang
dikonsumsi. Mikroba tersebut berperan sebagai pencerna serat dan sumber protein.
Mikroba rumen berperan mencerna pakan berserat yang berkualitas rendah dan dapat
dimanfaatkan sebagai sumber protein bagi induk semang, sehingga kebutuhan asamasam amino untuk ternak tidak sepenuhnya tergantung pada protein pakan yang
diberikan (Sutardi, 1980).
Mikroba Rumen
Mikroba yang terdapat dalam rumen dibagi menjadi empat jenis
mikroorganisme anaerob, yaitu bakteri, protozoa, fungi dan mikroorganisme lainnya
seperti virus. Penghuni rumen yang fungsional paling penting adalah bakteri, dalam 1
ml getah rumen terkandung 109 sampai 1010 sel dan merupakan 5-10% massa kering
isi perut besar (Schlegel, 1994). Jumlah protozoa dalam rumen lebih sedikit bila
dibandingkan dengan jumlah bakteri yaitu sekitar 106 sel/ml. Ukuran tubuhnya lebih
besar dengan panjang tubuh berkisar antara 20-200 mikron, oleh karena itu biomassa
total dari protozoa hampir sama dengan biomassa total bakteri (McDonald et al.,
2002) .
19
Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan aktifitas populasi
mikroba rumen adalah temperatur, pH, kapasitas buffer, tekanan osmitik, kandungan
bahan kering dan potensial oksidasi reduksi (Dehority, 2004). Pola pertumbuhan
bakteri dan protozoa rumen dipengaruhi oleh pola fermentasi yang ditunjukkan oleh
proporsi molar VFA dan pH rumen. Perkembangan populasi mikroba rumen
terutama bakteri akan dibatasi oleh kadar amonia cairan rumen yang rendah, karena
ini sangat diperlukan oleh bakteri sebagai sumber N untuk membangun sel tubuhnya.
Bakteri Rumen
Spesies-spesies bakteri dan protozoa yang berbeda saling berinteraksi melalui
hubungan simbiosa dan menghasikan produk - produk yang khas seperti selulosa,
hemiselulosa, dan pati melalui pencernaan polimer tumbuhan. Bakteri rumen spesies
tertentu seperti Ruminococcus flavifaciens, R. alubus, Butyrivibrio fibrisolvans, dan
Selenomonas ruminantium bertanggung jawab dalam fermentasi pregastrik
membentuk asetat, propionat, butirat, CO2 dan H2. Fermentasi akan diikuti
meningkatnya pertumbuhan mikroba dan sintesis protein sel sebagai sumber protein
untuk ternak. Bakteri dalam rumen mampu mensintesis vitamin – vitamin golongan
B kompleks (Arora, 1989).
Bakteri merupakan biomassa terbesar di dalam rumen, terdapat sekitar 50%
dari total bakteri hidup bebas dalam cairan rumen dan sekitar 30-40% menempel
pada partikel makanan. Beberapa jenis bakteri dari spesies Micrococcus,
Staphylococcus, Streptococcus, Corynebacterium, Lactobacillus, Fusobacterium dan
Propionibacteriun ditemukan menempel pada epitel dinding rumen, disamping itu
terdapat spesies bakteri methanogen yang hidup menempel pada protozoa (Dehority,
2004).
Bakteri rumen memiliki fungsi yang sangat penting terhadap fermentasi serat
dan tanaman berpolimer (Arora, 1989). Bakteri mengurai karbohidrat polimer dalam
pakan menjadi senyawa sederhana seperti asam lemak dan alkohol dari selulosa,
amilum, fruktosan dan xilan (Schlegel, 1994).
Bakteri rumen terdiri dari jenis gram positif dan gram negatif. Perbedaan
utama antara bakteri gram positif dan gram negatif terletak pada struktur dinding sel.
Dinding sel bakteri gram negatif merupakan struktur berlapis, sedangkan bakteri
gram positif mempunyai satu lapis yang tebal. Bakteri gram positif memiliki
20
kandungan peptidoglikan yang tinggi dibandingkan bakteri gram negatif, disamping
itu kandungan lipid pada dinding sel bakteri gram positif lebih rendah dari dinding
sel bakteri gram negatif (Waluyo, 2005). Spesies bakteri rumen yang termasuk dalam
gram positif antara lain Lactibacillus ruminis, Lactobacillus vitulinus, Eubacterium
ruminantium, Clostridium polysaccarilyticum, Streptococcus bovis dan Butyrivibrio
fibrisolvens, sedangkan yang termasuk dalam gram negatif antara lain Prevotella
sp.,
Ruminobacter
amylophilus,
Fibrobacter
succinogenes,
Selenomonas
ruminantium, Succinimonas amylolitica dan Treponema bryantii (Hobson dan
Stewart, 1997).
Protozoa Rumen
Protozoa merupakan mikroorganisme yang ada dalam rumen dengan jumlah
lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah bakteri yaitu sekitar 1 juta/ml
(McDonald et al., 2002). Protozoa bersifat anaerob, apabila kadar oksigen atau pH isi
rumen tinggi, maka protozoa tidak dapat membentuk cyste untuk mempertahankan
diri dari lingkungan yang jelek, sehingga dengan cepat akan mati (Arora, 1989). Pada
ruminansia, protozoa yang bersilia berkembang di dalam rumen dan membantu
pencernaan zat – zat makanan dari rumput – rumputan yang kaya akan serat kasar.
Protozoa jenis Holotrica terutama memecah gula terlarut seperti glukosa, maltosa,
sukrosa dan pati terlarut dan melepaskan asam asetat, asam butirat, asam laktat, CO2,
H2 dan amilopektin. Amilopektin sebagai simpanan energi bagi protozoa digunakan
apabila substrat dalam lingkungan rumen berkurang.
Keadaan kelaparan atau kekurangan makanan jangka lama merupakan faktor
utama penyebab berkurangnya jumlah protozoa. Rendahnya pH mengurangi populasi
protozoa secara drastis. Protozoa mempunyai kemampuan sangat kecil untuk
mensintesa asam amino dan vitamin B kompleks. Protozoa memperoleh dua
golongan zat makanan tersebut dari bakteri dan dapat menghidrogenasi asam – asam
lemak tak jenuh menjadi asam lemak jenuh (Arora, 1989). Sebagian besar protozoa
memakan bakteri untuk memperoleh sumber nitrogen dan mengubah protein bakteri
menjadi protein protozoa, bersamaan dengan itu memperoleh tambahan sumber
protein dan pati dari ingesta rumen.
21
Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik
Kecernaan adalah perubahan fisik dan kimia yang dialami pakan dalam alat
pencernaan, perubahan tersebut berupa penghalusan pakan menjadi butir-butir atau
partikel kecil. Kecernaan bahan organik merupakan faktor penting yang menentukan
kualitas pakan. Setiap jenis ternak ruminansia memiliki mikroba rumen dengan
kemampuan
yang
berbeda-beda
dalam
mendegradasi
pakan,
sehingga
mengakibatkan perbedaan kecernaan dalam rumen (Sutardi, 1979). Kecernaan pakan
didefinisikan sebagai bagian pakan yang tidak diekskresikan dalam feses sehingga
diasumsikan bagian tersebut diserap oleh tubuh hewan. Kecernaan dinyatakan
dengan dasar bahan kering (McDonald et al., 2002). Kecernaan in vitro dipengaruhi
oleh pencampuran sampel pakan, cairan rumen, pH, pengaturan suhu fermentasi,
lamaya waktu inkubasi, ukuran partikel sampel dan larutan penyangga (Selly, 1994).
Derajat keasaman pH cairan rumen merupakan faktor penting dalam pemanfaatan
bahan organik pada sistem pencernaan ruminansia, sedangkan faktor yang
mempengaruhi degradasi ransum dalam saluran pencernaan ruminansia adalah
struktur makanan, ruminasi, produk saliva dan pH optimum (Anggorodi, 1994).
Produksi Gas
Produksi gas yang dihasilkan menunjukkan adanya fermentasi pakan oleh
mikroba rumen. Pada sistem rumen karbohidrat dihidrolisis menjadi disakarida dan
non sakarida, kemudian difermentasi menjadi produk VFA terutama asetat,
propionate dan butirat serta gas yang berupa gas metan (CH4), H2 dan CO2
(McDonald et al., 2002). Metode pengukuran gas (gas test) digunakan untuk
mengevaluasi nilai nutrisi pakan. Hubungan antara kecernaan in vivo dan produksi
gas (CO2 dan CH4) secara in vitro pada saat pakan diinkubasi dengan menggunakan
cairan rumen selama 24 jam dapat digunakan untuk memperkirakan kecernaan bahan
organik dan energi metabolis yang terkandung dalam pakan. Gas yang dihasilkan
dari metode pengukuran gas ini secara langsung dihasilkan dari proses fermentasi,
sedangkan gas yang dihasilkan secara tidak langsung berasal dari proses buffer dari
VFA (Close dan Menke, 1986).
Produksi gas dalam sistem rumen dihasilkan dari proses fermentasi asetat,
propionat dan butirat. Dalam sehari gas yang terbentuk dari seekor sapi sekitar 900
liter. Berdasarkan volumenya gas tersebut tersusun dari 65% karbon dioksida (CO2),
22
27% metan (CH4), 7% nitrogen (N) dan 0,18% hidrogen (H2) serta gas H2S
(Schlegel, 1994).
Volatile Fatty Acid (VFA)
Proses pencernaan karbohidrat di dalam rumen ternak ruminansia akan
menghasilkan energi berupa asam-asam lemak atsiri (VFA) antara lain yang utama
yaitu asetat, propionat, butirat, valerat dan format dengan perbandingan di dalam
rumen berkisar pada 50-70% asetat, 17-21% propionat, 14-20% butirat, valerat dan
format hanya terbentuk dalam jumlah kecil (Schlegel, 1994). VFA berfungsi sebagai
sumber energi bagi mikroba rumen, dan merupakan sumber kerangka karbon bagi
pembentukan protein mikroba. Kisaran produksi total VFA cairan rumen yang
mendukung pertumbuhan mikroba yaitu 80 sampai 160 mM (Sutardi, 1977).
Produksi VFA di dalam cairan rumen dapat digunakan sebagai tolak ukur
fermentabilitas pakan (Hartati, 1998). VFA dapat diperoleh dari proses hidrolisis
lemak oleh bakteri lipolitik menjadi asam lemak dan gliserol, kemudian gliserol
tersebut difermentasikan lebih lanjut menjadi asetat, propionat, butirat dan valerat.
VFA juga merupakan produk akhir fermentasi karbohidrat dan merupakan sumber
energi utama ruminansia asal rumen. Peningkatan jumlah VFA menunjukkan mudah
atau tidaknya pakan tersebut didegradasi oleh mikroba rumen. Komposisi VFA di
dalam rumen berubah dengan adanya perbedaan bentuk fisik, komposisi pakan, taraf
dan frekuensi pemberian pakan, serta pengolahan. Produksi VFA yang tinggi
merupakan kecukupan energi bagi ternak (Sakinah, 2005).
Ransum yang diberikan kepada ternak ruminansia sebagian besar terdiri dari
karbohidrat. Di dalam rumen, polisakarida dihidrolisa menjadi monosakarida oleh
enzim-enzim mikroba rumen. Kemudian monosakarida tersebut, seperti glukosa
difermentasi menjadi VFA (Volatile Fatty Acid) berupa asetat, propionat, butirat dan
gas CH4 serta CO2. VFA diserap melalui dinding rumen melalui penonjolanpenonjolan yang menyerupai jari yang disebut vili. Sekitar 75% dari total VFA yang
diproduksi akan diserap langsung retikulo-rumen yang masuk ke darah, sekitar 20%
diserap di abomasum dan omasum, dan sisanya sekitar 5% diserap di usus halus
(McDonald et al., 2002). Proses metabolisme karbohidrat dan pembentukan VFA
pada ternak ruminansia disajikan pada Gambar 3.
23
Selulosa
Pati
Selubiosa
Maltosa
Glukosa-1-phosphat
Glukosa
Isomaltosa
Glukosa-6-phosphat
Pektin
Asam Uronat
Hemiselulosa
Pentosa
Pentosan
Sukrosa
Fruktosa-6-phosphat
Fruktosa
Fruktan
Fruktosa-1,6-diphosphat
Asam Piruvat
Format
CO2
H2
Metan
Asetil CoA
Malonil
CoA
Laktat Oksaloasetat
Asetoasetil Laktil
CoA
CoA
Asetil phosphat ß-Hidroksibutiril Akrilil
CoA
CoA
Krotonil
CoA Propionil
CoA
Butiril
CoA
Asetat
Metilmalonil CoA
Malat
Fumarat
Suksinat
Suksinil CoA
Butirat Propionat
Gambar 3. Proses Metabolisme Karbohidrat dalam Rumen Ternak
Ruminansia (McDonald et al., 2002)
Parakkasi (1999) menambahkan bahwa sebagian besar VFA diserap langsung
melalui dinding rumen, hanya sedikit asetat, beberapa propionat dan sebagian besar
butirat termetabolisme dalam dinding rumen. VFA yang terbentuk merupakan
24
sumber energi yang merupakan salah satu ciri khas dari ruminansia. Hasil
pencernaan fermentatif berupa VFA, NH3, dan air diserap sebagian di rumen dan
sebagian lagi di omasum. Selanjutnya pakan yang tidak tercerna disalurkan ke dalam
abomasum dan dicerna secara hidrolitik oleh enzim-enzim pencernaan sama seperti
yang terjadi pada hewan monogastrik.
Amonia (NH3)
Mikroorganisme di dalam rumen dan retikulum ternak ruminansia dapat
mensintesis asam-asam amino esensial untuk kebutuhannya. Untuk memenuhi hal
itu, dibutuhkan protein makanan yang berkualitas baik, namun juga terdapat
kelemahan dimana protein yang masuk akan dirombak oleh mikroba rumen menjadi
amonia untuk sintesis protein tubuhnya (McDonald et al., 2002). Produksi NH3
berasal dari protein yang didegradasi oleh enzim proteolitik. Tingkat hidrolisis
protein tergantung dari daya larutnya yang berkaitan dengan kenaikan kadar NH3
(Arora, 1989). Menurut Sutardi (1977), protein bahan makanan yang masuk ke
dalam rumen mula-mula akan mengalami proteolisis oleh enzim-enzim protease
menjadi oligopeptida, sebagian dari oligopeptida akan dimanfaatkan oleh mikroba
rumen untuk menyusun protein selnya, sedangkan sebagian lagi akan dihidrolisa
lebih lanjut menjadi asam amino yang kemudian secara cepat dideaminasi menjadi
asam keto alfa dan amonia.
Amonia merupakan sumber nitrogen utama dan penting untuk sintesis protein
mikroba (Sakinah, 2005). Menurut Astuti et al. (1993), sumbangan NH3 pada ternak
ruminansia sangat penting mengingat bahwa prekusor protein mikroba adalah
amonia dan senyawa sumber karbon, makin tinggi kadar NH3 di rumen maka
kemungkinan makin banyak protein mikroba yang terbentuk sebagai sumber protein
tubuh. Konsentrasi nitrogen amonia sebesar 5 mg persen setara dengan 3,57 mM
sudah mencukupi kebutuhan nitrogen mikroba. Amonia hasil fermentasi tidak
semuanya disintesis menjadi protein mikroba, sebagian akan diserap ke dalam darah.
Amonia yang tidak terpakai dalam rumen akan dibawa ke hati diubah menjadi urea,
sebagian dikeluarkan melalui urine dan yang lainnya dibawa ke kelenjar saliva.
Proses metabolism protein dan pembentukan amonia (NH3) ditunjukkan pada
Gambar 4. Untuk mencegah dampak yang buruk dari pemenuhan nitrogen amonia
asal urea, produksi NH3 di dalam rumen akan diproduksi terus-menerus walaupun
sudah terjadi akumulasi (Sutardi, 1977). Konsentrasi amonia yang optimum untuk
25
menunjang sintesis protein mikroba dalam cairan rumen sangat bervariasi, berkisar
antara 6-21 mM (McDonald et al., 2002).
Pakan
Protein
Non-protein N
Kelenjar
Saliva
Sulit
Didegradasi
Mudah
Non-protein N
Didegradasi
Enzim protease
Peptida
Enzim peptidase
Hati
Deaminasi
Asam Amino
Amonia
NH3
urea
Rumen
Protein Mikroba
Ginjal
Dicerna di Usus
Halus
Diekskresikan
(urine)
Gambar 4. Proses Metabolisme Protein dalam Rumen Ternak Ruminansia
(McDonald et al., 2002)
26
METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni sampai September 2008 di
Laboratorium Biokimia, Fisiologi dan Mikrobiologi Fakultas Peternakan, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Materi
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain neraca analitik,
eksikator, syringe glass Hohenheim 100 ml, tabung gas CO2, termos, kain penyaring,
waterbath, cawan Conway, sentrifus, pompa vakum, labu penyuling, labu
Erlenmeyer, oven 105oC, tanur, gegep, sudip, magnetic stirrer, destilator, buret,
kondensor, tabung fermentor, tutup karet, pipet volumetik, bulp dan cawan porselen.
Bahan yang diperlukan untuk pembuatan sampel ransum perlakuan adalah
hijauan kering (rumput lapang), konsentrat, pakan blok dan ekstrak lerak. Bahan
yang dibutuhkan untuk uji KCBK dan KCBO antara lain larutan HgCl2, kertas saring,
dan aquadest. Bahan yang dibutuhkan untuk uji NH3 antara lain asam borat, Na2CO3
jenuh, dan H2SO4 0,005N. Bahan yang digunakan untuk uji VFA antara lain NaOH
0,5N, HCl 0,5N dan H2SO4 15%. Pengukuran produksi gas total diperlukan bahan
sebagai berikut, larutan mikro mineral (CaCl2.2H2O, MnCl2.4H2O, CoCl2.6H2O dan
FeCl3.6H2O), larutan buffer rumen (NH4HCO3 dan NaHCO3), larutan makro
(NaHPO4, KH2PO4 dan MgSO4.7H2O), larutan resazurin 0,1% dan larutan pereduksi
(NaOH 1N dan NaS.9H2O).
Cairan Rumen
Cairan rumen yang digunakan berasal dari sapi PO yang dipasang fistula pada
bagian rumen yang dipelihara di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Rancangan Percobaan
Perlakuan
Pada penelitian ini terdapat 3 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan tersebut
antara lain :
P1
: Ransum Kontrol (K)
27
P2
: K + ekstrak lerak 0,09%
P3
: K + ekstrak lerak 0,18%
Model
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan
Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan sebagai kelompok.
Pengelompokan berdasarkan waktu pengambilan cairan rumen. Model matematik
yang digunakan dalam analisa adalah :
Yij = µ + βi + τj + εij
Keterangan :
Yij : nilai pengamatan perlakuan ke-i, blok ke-j
µ
: rataan umum
βi : efek perlakuan ke-i
τj : efek blok ke-j
εij : galat perlakuan ke-i dan blok ke-j
Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati selama penelitian ini adalah produksi gas, konsentrasi
NH3, konsentrasi VFA total dan proporsi molar VFA, kecernaan bahan kering
(KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), serta populasi bakteri dan protozoa.
Analisis Data
Data dianalisa dengan analysis of variance (ANOVA) (Mattjik dan
Sumertajaya, 2002). Selanjutnya, jika berbeda nyata dilakukan uji jarak Duncan.
Pembahasan proporsi molar VFA dan populasi bakteri, data dianalisis secara
deskriptif karena pengujian sampel dilakukan tanpa ulangan.
Prosedur
Ekstraksi Lerak
Ekstrak lerak diperoleh dengan cara mengekstraksi buah lerak dengan
metanol. Buah lerak dibersihkan, dikeringanginkan selama 30–36 jam (45oC), setelah
itu dikeringkan dengan menggunakan oven (60oC). Buah lerak yang sudah kering
digiling dan dimaserasi dengan perbandingan tepung lerak dan metanol 1 : 4. Hasil
maserasi disaring dengan menggunakan kertas saring, kemudian supernatan yang
dihasilkan dikeringbekukan agar menjadi bubuk menggunakan alat freeze drier.
28
Persiapan Sampel
Sampel ransum perlakuan yang dipergunakan adalah ransum yang
mengandung ekstrak lerak yang terdiri atas hijauan, konsentrat dan pakan blok
dengan perbandingan 48 : 50 : 2, serta hijauan tunggal dan konsentrat tunggal.
Pengambilan Cairan Rumen
Termos yang akan dipakai untuk tempat cairan rumen diisi dengan air panas
sehingga suhunya mencapai 390C kemudian ditutup. Cairan rumen diambil dari sapi
berfistula, kemudian diperas dengan menggunakan kain kasa dan dimasukkan ke
dalam termos hangat. Sebelum digunakan untuk tempat cairan rumen, air panas yang
ada di dalam termos dibuang terlebih dahulu. Untuk menjaga agar cairan rumen tetap
dalam kondisi anaerob, termos harus segera ditutup rapat dan dialiri gas CO2
sebelum digunakan.
Pembuatan Larutan Mc Dougal (Saliva Buatan)
Untuk membuat larutan 6 liter, sebanyak 5 liter air destilasi dimasukkan ke
dalam labu takar yang bervolume 6 liter kemudian dimasukkan bahan-bahan sbagai
berikut NaHCO3 (58,8 gram), Na2HPO4.7H2O (42 gram), KCL (3,42 gram), NaCl
(2,82 gram), MgSO4.7H2O (0,72 gram) dan CaCl2 (0,24 gram). Semua bahan
tersebut dilarutkan kecuali CaCl2, setelah semua bahan larut ditambahkan CaCl2.
Kemudian leher labu dicuci dengan air destilasi hingga permukaan air mencapai
tanda tera. Campuran lalu dikocok dengan gas CO2 secara perlahan-lahan dengan
cara melewatkannya.
Fermentasi Pakan
Tabung fermentor yang telah diisi dengan 0,5 gram sampel ransum perlakuan
ditambahkan 10 ml cairan rumen dan 40 ml larutan McDougal. Tabung fermentor
dikocok dengan cara mengaliri gas CO2 selama 30 detik (pH 6,5-6,9) dan ditutup
dengan karet berventilasi. Tabung dimasukkan ke dalam shaker water bath dengan
suhu 390C, dilakuan fermentasi selama 4 jam untuk sampel VFA/NH3 dan fermentasi
48 jam untuk sampel KCBK/KCBO. Untuk menghentikan fermentasi tutup karet
berventilasi dibuka dan ditetesi 2 tetes HgCl2 untuk menghentikan aktivitas mikroba.
Pengukuran KCBK dan KCBO (Tilley & Terry, 1963)
Pembuatan Larutan Pepsin. Sebanyak 2,8 gram pepsin (1:7000) dilarutkan dalam
850 ml air bebas ion, kemudian ditambahkan 17,8 ml HCL pekat dan campuran
29
dimasukkan ke dalam labu takar. Air ditambahkan hingga permukaan mencapai
tanda tera.
Pengukuran KCBK dan KCBO. Sampel dalam tabung fermentor yang sudah
diinkubasi 48 jam dan ditetesi HgCl2 disentrifusi dengan kecepatan 2500 rpm selama
20 menit. Supernatan dan endapan dipisahkan, kemudian endapan yang terbentuk
ditambah 50 ml larutan pepsin-HCL 0,2%. Campuran tersebut diinkubasi selama 48
jam tanpa tutup karet. Setelah 48 jam campuran endapan-pepsin disaring
menggunakan kertas saring whatman No.41 dengan bantuan pompa vacum. Hasil
saringan (residu) dimasukkan ke dalam cawan porselen yang sebelumnya sudah
diketahui bobot kosongnya. Bahan kering diperoleh dengan cara mengeringkan
sampel dalam oven 1050C selama 24 jam. Selanjutnya bahan dalam cawan dipijarkan
atau diabukan dalam tanur listrik selama 6 jam pada suhu 450-6000C. Sebagai blanko
digunakan residu asal fermentasi tanpa sampel ransum perlakuan.
Koefisien Cerna Bahan Kering (KCBK) dan Koefisien Cerna Bahan Organik
(KCBO) diitung dengan rumus :
BK sampel (gr) – (BK residu (gr) – BK blanko (gr))
% KCBK
=
x 100%
BK sampel
BO sampel (gr) – (BO residu (gr) – BO blanko (gr))
% KCBO
=
x 100%
BO sampel
Prosedur Pengukuran Konsentrasi NH3 (Metode Mikrodifusi Conway)
Pengukuran konsentrasi NH3 menggunakan metode Mikrodifusi Conway
(General Laboratory Procedures, 1966). Sebelum digunakan bibir cawan Conway
diolesi dengan vaselin. Supernatan yang dihasilkan dari proses fermentasi dengan
inkubasi 4 jam diambil 1 ml, kemudian ditempatkan pada salah satu ujung alur
cawan Conway, pada ujung satunya dimasukkan 1 ml Na2CO3 jenuh. Antara
supernatan dan Na2CO3 tidak boleh bercampur. Larutan asam borat berindikator
sebanyak 1 ml ditempatkan dalam cawan kecil yang terletak di tengah cawan
Conway, kemudian cawan Conway langsung ditutup rapat hingga kedap udara.
Setelah itu cawan Conway digoyang-goyangkan hingga supernatan dan NaCO3
tercampur rata, dan dibiarkan dalam suhu ruang selama 24 jam. Setelah 24 jam asam
borat berindikator dititrasi dengan H2SO4 0,005 N sampai terjadi perubahan warna
dari biru menjadi merah.
30
Konsentrasi NH3 dihitung dengan rumus:
Volume H2SO4 x N. H2SO4 x 1000
NH3 (mM) =
Berat sampel x BK sampel
Prosedur Pengukuran Konsentrasi VFA
Pengukuran konsentrasi VFA dengan menggunakan metode steam destilasi
(General Laboratory Procedures, 1966). Prosedur pengukuran VFA, pertama
dipersiapkan alat destilasi yaitu dengan mendidihkan air dan mengalirkan air ke
kondensor atau pendingin. Kemudian masukkan 5 ml sampel dan 1 ml H2SO4 15%
ke dalam alat destilasi. VFA yang dihasilkan ditangkap dengan 5 ml NaOH 0,5 N
yang dimasukkan dalam labu erlenmeyer. Cairan ditampung hingga mencapai 250300 ml setelah itu dititrasi dengan larutan HCl 0,5 N.
Konsentrasi VFA dihitung dengan rumus
(a-b) x N.HCl x 1000/5
VFA (mM) =
Berat sampel x BK sampel
a : volume titran blanko
b : volume titran contoh
Pengujian proporsi molar VFA menggunakan metode gas kromatografi dengan
salicilic acid sebagai standar. Pengujian dilakukan di Pusat Penelitian dan
Pengembangan Ternak, Bogor.
Prosedur Pengukuran Gas Test (Close dan Menke, 1986)
Pembuatan Larutan Media. Untuk pembuatan larutan media diperlukan :
•
0,1 ml larutan mineral mikro (13,2 gr CaCl22H2O + 10 gr MnCl24H2O + 1,0
gr CoCl26H2O + 8,0 gr FeCl36H2O + aquades hingga volumenya 100 ml).
•
200 ml larutan buffer rumen (4,0 gr NH4HCO3 + 35,0 gr NaHCO3 + aquades
hingga volumenya 1000 ml).
•
200 ml larutan makro (5,7 gr Na2HPO4 anhydrous + 6,2 g KHPO4 anhydrous
+ 0,6 g MgSO4.7H2O, dan ditambah dengan aquadest hingga mencapai
volume 1000 ml).
•
1,0 ml larutan resazurin 0,1% (w/v)
•
40 ml larutan pereduksi (4,0 ml NaOH 1 N + 625 mg Na2S.9H2) ditambah 95
ml aquades.
31
Larutan tersebut dicampur menjelang akan digunakan dan dijaga pada temperatur
39oC.
Persiapan Sampel Gas Test. Piston syringe diberi vaselin, kemudian 230 mg pakan
blok perlakuan yang sudah dihaluskan dimasukkan ke dalam syring dan piston
kemudian dipasang. Larutan media yang sudah diaduk dan dialiri gas CO2
ditempatkan dalam waterbath 39oC. Selanjutnya, cairan rumen sebagai sumber
inokulum diambil dan disaring. Satu bagian cairan rumen dicampur dengan 2 bagian
media dan diaduk dengan magnetic stirrer lalu disimpan dalam waterbath dan dialiri
gas CO2. Sebanyak 30 ml campuran cairan rumen dan media dimasukkan ke dalam
syringe menggunakan spuit. Udara yang ada di dalam syringe dikeluarkan dan klep
syringe ditutup. Posisi piston pada waktu sebelum inkubasi dicatat (Gb0). Piston
diinkubasi dalam waterbath selama 48 jam dan pencatatan posisi piston dilakukan
pada jam ke 2, 4, 6, 8, 12, 24, dan 48.
Produksi gas diukur dengan rumus :
Gb (ml/200 mg BK, 24 jam) =
((Gb24-Gb0) - (Gb24 blanko-Gb0 blanko)*200*((FH+FC)/2)/BK bahan)
FH
= produksi gas standar hijauan (Asumsi FH = 1)
FC
= produksi gas standar konsentrat (Asumsi FC = 1)
Menghitung Populasi Protozoa dan Bakteri
Perhitungan Populasi Protozoa. Penghitungan populasi protozoa dilakukan dengan
menggunakan counting chamber dengan larutan garam formalin (formalin salin)
yang dibuat dari campuran formalin dengan NaCl fisiologis (Ogimoto dan Imai,
1981). Sebanyak 1ml larutan formalin salin dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
dicampur dengan cairan rumen segar atau cairan rumen yang telah mengalami
inkubasi 4 jam kemudian diaduk secara merata. Sampel cairan diteteskan pada
counting chamber dan ditutup dengan cover glass sampai rata. Counting chamber
yang digunakan mempunyai ketebalan 0,1 mm, dengan luas kotak terkecil 0,0625
mm yang terdapat 16 kotak dan kotak yang dibaca sebanyak 5 kotak. Populasi
protozoa diamati dengan mikroskop lensa obyektif dengan pembesaran 40x dan
okuler 10x.
Populasi protozoa dihitung dengan rumus :
32
1
Populasi protozoa =
x 1000 x C x Fp
0,1 x 0,065 x 16 x 5
Keterangan
: C = jumlah koloni yang dihitung
Fp = faktor pengencer ( 2 )
Perhitungan Populasi Bakteri Total. Populasi bakteri dihitung dengan metode
pencacahan koloni bakteri hidup. Prinsip perhitungannya adalah cairan rumen
diencerkan secara serial, lalu disimpan dalam tabung Hungate. Media tumbuh yang
digunakan untuk menghitung populasi bakteri total adalah media BHI (Brain Heart
Infusion). Pembuatan media BHI yaitu dengan cara mencampurkan bahan-bahan
seperti BHI powder, glukosa, sellulobiosa, pati, cystein, hemin dan resazurin,
kemudian dimasukkan ke dalam botol yang telah disterilkan dengan autoclave.
Campuran tersebut dipanaskan sampai terjadi perubahan warna dari coklat
kekuningan menjadi coklat kemerahan dan berubah kembali menjadi coklat
kekuningan, setelah itu didinginkan dan dialiri dengan gas CO2. Media BHI anaerob
dimasukkan ke dalam tabung Hungate yang sebelumnya telah diisi bacto agar
sebanyak 0,150 gram dengan volume masing – masing 4,9 ml.
Sampel (cairan rumen yang telah mengalami perlakuan dan inkubasi 4 jam)
dipipet 0,05 ml dimasukkan ke dalam media pengencer. Pengenceran dilakukan
sebagai berikut: 0,05 ml kultur bakteri dimasukkan ke dalam 4,95 ml media
pengencer. Selanjutnya dari media pengencer diambil kembali sebanyak 0,05 ml, lalu
dimasukkan ke dalam 4,95 ml media pengencer berikutnya, sehingga terdapat
pengenceran 10-2, 10-4, 10-6 dan 10-8. Dari masing-masing seri tabung pengenceran
diambil sebanyak 0,1 ml, kemudian dimasukkan ke media agar dan diputar sambil
dialiri air pada roller, agar media dapat menjadi padat secara merata. Selanjutnya
bakteri diinkubasi selama 24 jam.
Penghitungan populasi bakteri dilakukan dengan rumus :
Populasi bakteri = Jumlah koloni
0,05 × 10x × 0,1
Keterangan :
x : tabung seri pengenceran ke-x
33
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Penelitian
Ekstrak lerak merupakan hasil ekstraksi buah dan biji lerak dengan
menggunakan pelarut metanol. Ekstrak lerak berbentuk serbuk dan mempunyai
kandungan saponin yang sangat tinggi, selain saponin dalam ekstrak lerak juga
mengandung tanin dan sarsaponin. Pada penelitian ini suplementasi ekstrak lerak
dalam pakan blok untuk meningkatkan palatabilitas, karena ekstrak lerak mempunyai
rasa yang pahit. Pengujian secara in vitro dilakukan pada suhu 39oC anaerob dengan
kisaran pH 6,5-6,9, dimana kondisi tersebut menyerupai kondisi dalam rumen. Pada
penelitian in vitro kondisi rumen dapat ditiru dengan cara memasukkan substrat yang
dicampur dengan cairan rumen dan buffer (larutan Mcdougal) ke dalam tabung
fermentor, kemudian diinkubasi dalam shaker waterbath. Substrat yang digunakan
pada pengujian secara in vitro terdiri dari rumput lapang yang telah dikeringkan dan
dihaluskan (BK 21,95%), konsentrat (BK 85,25%) dan pakan blok (Lerak Molasses
Blok) yang telah dihaluskan (BK 86,4%). Komposisi pakan blok yang digunakan
terdiri dari bahan mikro (urea, garam dan mineral mix), pollard, molasses dan kapur,
Pada pengujian secara in vitro penggunaan pakan blok dicampur dengan
konsentrat dan hijauan disusun menjadi ransum, yang selanjutnya disebut ransum
kontrol. Ransum kontrol yang digunakan sebagai substrat dalam penelitian ini terdiri
dari 48% hijauan, 50% konsentrat dan 2% pakan blok. Komposisi konsentrat yang
digunakan yaitu bungkil kedelai, bungkil kelapa, onggok, pollard, molasses, DCP,
NaCl dan kapur, sedangkan hijauan yang digunakan yaitu rumput lapang. Komposisi
nutrien bahan yang digunakan dalam penyusunan ransum ransum kontrol dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Nutrien Ransum dan Bahan Penyusun Ransum sebagai
Substrat Fermentasi
Rumput
Lapang
9,37
Konsentrat
Pakan Blok
6,60
41,89
Ransum
Kontrol
8,39
Protein Kasar (% BK)
8,98
19,07
21,53
14,28
Lemak Kasar (% BK)
1,03
2,99
0,74
2,0
Serat Kasar (% BK)
41,14
12,20
4,00
26,05
Nurien
Abu (% BK)
Sumber : Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan (2009)
34
Penyusunan ransum kontrol didasarkan pada ransum sapi PO yang umumnya
diberikan pada sapi yang dipelihara skala kecil atau secara tradisional. Ransum yang
diberikan biasanya mengandung konsentrat lebih rendah, faktor harga konsentrat
membuat peternak memberikan pakan hijauan lebih tinggi dari pada konsentrat.
Pemberian hijauan (sumber serat) yang tinggi pada umumnya akan menurunkan
kecernaan pakan, sehingga akan mempengaruhi performa dan produktivitas sapi PO.
Suplementasi ekstrak lerak pada pakan tinggi serat dapat meningkatkan aktifitas
bakteri pendegradasi serat sehingga dapat meningkatkan kecernaan pakan berserat
tinggi.
Mutu hijauan yang ada di Indonesia cukup rendah, sehingga penggunaan
hijauan harus diimbangi dengan pemberian konsentrat sebagai sumber energi.
Pecampuran hijauan dan konsentrat dalam ransum diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan nutrisi ternak ruminansia dibandingkan hanya diberi pakan hijauan saja.
Disamping itu penambahan pakan blok memberikan sumbangan mineral dan protein
pakan. Kandungan protein kasar dari ransum sebesar 14,28% BK dan kadar protein
tersebut masih dapat memenuhi kebutuhan protein sapi pedaging yang berkisar
antara 14-16 %BK (NRC, 1984). Pencampuran hijauan dan konsentrat dalam ransum
juga mempengaruhi kandungan serat kasar, dimana kandungan serat kasar ransum
kontrol (26,05% BK) lebih rendah dari serat kasar hijauan (41,14% BK) sehingga
mengakibatkan kecernaan ransum lebih tinggi dari pada kecernaan hijauan.
Populasi Protozoa
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa efek perlakuan tidak nyata
menurunkan populasi protozoa. Hal tersebut disebabkan karena penghitungan
populasi dilakukan pada inkubasi 4 jam, dimana pada jam ke 3-4 protozoa
mengalami fase lag (pertumbuhan cepat) sehingga saponin dalam ekstrak lerak tidak
mempengaruhi populasi protozoa. Suplementasi ekstrak lerak dengan taraf 0,09%
dan 0,18% ke dalam ransum kontrol hanya menurunkan populasi protozoa sebesar
1% dan 9% (Tabel 2).
Saponin yang terkandung dalam ekstrak lerak dapat mempengaruhi
perkembangan protozoa, karena saponin mampu membentuk ikatan dengan sterol
yang terkandung dalam dinding sel protozoa, sehingga mempengaruhi tegangan
permukaan membran sel protozoa. Hal tersebut mengakibatkan permeabilitas dinding
sel meningkat dan akhirnya cairan dari luar sel akan masuk ke dalam sel protozoa.
35
Masuknya cairan dari luar sel mengakibatkan pecahnya dinding sel sehingga
protozoa mengalami kematian atau lisis. Pada penelitian Hess et al. (2003)
suplementasi saponin yang berasal dari Sapindus saponaria sebanyak 100 mg/g BK
(kandungan saponin 120 mg/g BK) ke dalam ransum pada inkubasi 24 jam dapat
menurunkan populasi protozoa hingga 54%.
Tabel 2. Pengaruh Perlakuan terhadap Populasi Protozoa dan Bakteri Total
Perlakuan
Parameter
Protozoa (log 10/ml) Bakteri total (log 10/ml)*)
Ransum kontrol (K)
K + 0.09% ekstrak lerak
K + 0.18% ekstrak lerak
*)
3,90±0,24
3,88±0,45
3,55±0,17
8,04
9,21
10,01
Keterangan : Pengambilan data dilakukan satu kali.
Protozoa merupakan salah satu mikroba rumen yang ikut berperan dalam
fermentasi pakan dalam sistem rumen. Protozoa berkembang di dalam rumen dalam
kondisi anaerob dan mempengaruhi proses fermentasi karbohidrat pakan. Protozoa
penting keberadaanya karena dapat menstabilkan pH saat fermentasi berlangsung
sehingga dapat berfungsi sebagai penyangga (Arora, 1989). Perkembangan protozoa
dalam rumen juga sangat dipengaruhi kondisi pH rumen, rendahnya pH rumen dapat
mengurangi populasi protozoa secara drastis.
Populasi Bakteri
Gambaran hasil penghitungan bakteri total memperlihatkan suplementasi
ekstrak lerak dalam ransum kontrol dapat meningkatkan populasi bakteri (Tabel 2).
Suplementasi ekstrak lerak dengan taraf 0,09% dan 0,18% mampu meningkatkan
populasi bakteri hingga 100-200 kali dari kontrol, hal tersebut menandakan bahwa
saponin cukup berperan dalam menstimulasi perkembangan populasi bakteri rumen.
Peningkatan populasi bakteri tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh perubahan
populasi protozoa. Saponin yang ditambahkan dalam pakan ruminansia dapat
membentuk komplek irreversibel dengan kolesterol. Kolesterol dan sterol merupakan
komponen dalam membran sel semua jenis mikroorganisme kecuali mikroorganisme
jenis prokariota (bakteri) (Cheeke, 2000). Hal tersebut mengakibatkan saponin hanya
mampu melisiskan sel protozoa sehingga mengakibatkan kematian pada protozoa,
namun saponin tidak berpengaruh terhadap sel bakteri. Berdasarkan gambaran
populasi bakteri telihat bahwa kandungan saponin dan senyawa-senyawa lain yang
36
terdapat dalam ekstrak lerak tidak mengganggu populasi bakteri rumen, terlihat dari
populasi bakteri berkisar antara 108-1010 sel/ml dimana populasi normal bakteri
dalam rumen sekitar 1010 sel/ml.
Suplementasi saponin dalam pakan dapat menurunkan populasi protozoa dan
meningkatkan populasi bakteri. Dalam ekosistem rumen protozoa mempunyai sifat
memangsa bakteri, sehingga penurunan populasi protozoa dapat meningkatkan
perkembangan populasi bakteri. Hal tersebut telah dibuktikan oleh beberapa
penelitian antara lain penelitian yang dilakukan Thalib (2004), penambahan ekstrak
metanol buah lerak (saponin 15%) ke dalam pakan (rumput raja) sebanyak (80
mg/100ml) pada inkubasi 48 jam dapat menurunkan populasi protozoa sampai 79%
dan meningkatkan populasi bakteri sekitar 39% dari kontrol. Pada penelitian Diaz et
al. (1993) penambahan buah Sapindus saponaria pada pakan domba signifikan
meningkatkan bakteri total dan bakteri selulolitik pada rumen domba.
Peningkatan populasi bakteri total menunjukkan bahwa saponin tidak
mempengaruhi permeabilitas dinding sel bakteri, namun tidak semua jenis bakteri
tahan terhadap saponin. Wang et al. (2000) menyatakan bahwa pemberian saponin
yang berasal dari ekstrak Yuca schidigera pada pakan tinggi biji-bijian dapat
menekan Streptococcus bovis (gram positif) dalam mencerna pati. Hal tersebut juga
telah dibuktikan dalam penelitian Wallace et al. (1994), saponin dari ekstrak Y.
schidigera dapat menstimulasi pertumbuhan populasi Prevotella ruminicola (gram
negatif) dan menekan pertumbuhan populasi S. bovis (gram positif). Menurut Cheeke
(2000) saponin dapat menekan perkembangan populasi protozoa dan bakteri gram
positif.
Peningkatan populasi bakteri memberikan efek positif terhadap fermentasi
pakan, dimana laju fermentasi pakan menunjukkan adanya peningkatan. Peningkatan
fermentasi pakan dapat dilihat dari konsentrasi VFA total yang merupakan produk
dari fermentasi pakan yang dilakukan oleh bakteri dalam rumen.
Kecernaan Bahan Kering (KCBK)
Hasil analisa ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak signifikan
mempengaruhi kecernaan bahan kering (KCBK), suplementasi ekstrak lerak dengan
taraf 0,09% dan 0,18% menunjukkan hasil yang sama dengan kontrol (Tabel 3). Hal
tersebut menandakan bahwa suplementasi ekstrak metanol lerak tidak mempengaruhi
kecernaan pakan dan aktivitas mikroba rumen dalam mencerna pakan.
37
Tabel 3. Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan
Organik
Parameter
Perlakuan
Ransum kontrol (K)
K + 0.09% ekstrak lerak
K + 0.18% ekstrak lerak
KCBK (%)
KCBO (%)
67,37±1,76
66,13±1,81
65,19±2,17
63,98±1,17
64,62±1,30
63,65±0,96
Kecernaan zat-zat makanan merupakan salah satu ukuran dalam menentukan
kualitas dari pakan. Semakin tinggi kecernaan bahan kering maka semakin tinggi
juga peluang nutrisi yang dapat dimanfaatkan ternak untuk pertumbuhannya.
Kecernaan pakan dipengaruhi oleh pencampuran pakan, cairan rumen dan inokulasi,
pH kondisi fermentasi, pengaturan suhu fermentasi, lama waktu inkubasi, ukuran
sampel dan larutan penyangga (Selly, 1994).
Nilai kecernaan bahan kering ransum kontrol adalah 67,37%, lebih tinggi dari
nilai kecernaan dalam batas normal yang berkisar antara 50-60% (Sutardi, 1979).
Suplementasi ekstrak lerak ke dalam ransum dengan taraf 0,09% dan 0,18%
menurunkan kecernaan 3% dan 4%. Hal tersebut disebabkan karena adanya
kandungan tanin dalam ekstrak lerak. Tanin dapat berikatan dengan protein pakan
sehingga mengakibatkan protein sulit didegradasi oleh mikroba rumen. Buah lerak
yang diekstrak menggunakan metanol mengandung tanin sebesar 8,20% (Astuti et
al., 2008). Kecernaan bahan kering juga dapat dipengaruhi oleh kandungan protein
pakan, karena setiap sumber protein memiliki kelarutan dan ketahanan degradasi
yang berbeda-beda (Sutardi, 1980).
Kecernaan Bahan Organik (KCBO)
Hasil
sidik
ragam
menunjukkan
mempengaruhi kecernaan bahan organik.
efek
perlakuan
tidak
signifikan
Pada penelitian ini nilai KCBO yang
dihasilkan berbanding lurus dengan nilai KCBK (Tabel 3). Nilai KCBK akan sesuai
nilai KCBO karena sebagian bahan kering dalam ransum terdiri dari bahan organik
(Sutardi, 1980). Seperti halnya kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik
(KCBO) juga dapat dijadikan tolok ukur dalam menilai kualitas ransum. Nilai
kecernaan bahan organik suatu pakan dapat menentukan kualitas pakan (Sutardi,
38
1980). Rahmawati (2001) menambahkan bahwa bahan organik menghasilkan energi
untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak.
Nilai kecernaan pada penelitian ini sama dengan penelitian Hess et al. (2003)
yang menyatakan bahwa kecernaan bahan organik ransum yang disuplementasi
ekstrak Sapindus saponaria sebanyak 100 mg/g BK (kandungan saponin 120 mg/g
BK) ke dalam ransum menunjukkan hasil yang tidak berbeda dengan kontrol. Hal
yang sama juga ditunjukkan pada penelitian Thalib (2004), menyatakan bahwa
suplementasi ekstrak metanol lerak dalam bentuk serbuk (80 mg/ 100 ml dengan
kadar saponin 15%) pada ransum domba menunjukkan nilai kecernaan yang tidak
berbeda dengan kontrol.
Produksi Gas Total
Hasil sidik ragam menunjukkan suplementasi ekstrak lerak kedalam ransum
tidak nyata mempengaruhi
produksi gas pada inkubasi 0-48 jam. Hal tesebut
menandakan bahwa suplemenatsi ekstrak lerak dengan taraf 0,09% dan 0,18% dalam
ransum kontrol belum mempengaruhi produksi gas total (Tabel 5).
Laju produksi gas menggambarkan peningkatan produksi gas terjadi pada
waktu inkubasi 0–48 jam (Gambar 5). Pada jam inkubasi ke 24–48 suplementasi
ekstrak lerak dapat meningkatkan produksi gas dibanding ransum kontrol. Hal
tersebut menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak lerak dapat meningkatkan laju
fermentasi, terlihat dari peningkatan konsentrasi VFA sebesar 10% dan 20% pada
ransum kontrol yang disuplementasi ekstrak lerak dengan taraf 0,09% dan 0,18%.
Produksi gas yang dihasilkan menunjukkan terjadinya proses fermentasi
pakan oleh mikroba di dalam rumen. Gas-gas ini dihasilkan dari suatu proses
fermentasi dan degradasi yang terjadi di dalam rumen dan merupakan gambaran
banyaknya bahan organik yang dapat dicerna di dalam rumen (Firsoni, 2005). Gas
yang terentuk dari proses fermentasi terdiri dari 56% CO2, 32% metan (CH4), 8,2%
N2 dan 3,5%O2 (Arora, 1989).
39
Gambar 5. Grafik Pengaruh Ekstrak Lerak pada Produksi Gas
Suplementasi bahan yang mengandung saponin ke dalam pakan dapat
menurunkan produksi CH4, hal tersebut disebabkan karena saponin dapat
menurunkan populasi protozoa sehingga dapat menurukan aktivitas metanogen.
Penurunan produksi gas CH4 pada bahan pakan yang disuplementasi saponin telah
dibuktikan oleh Thalib (2004), bahwa ekstrak metanol lerak dapat digunakan sebagai
inhibitor metanogenesis dan dapat menurunkan produksi gas CH4.
Tabel 5. Produksi Gas Total selama Inkubasi 0-48 Jam
Waktu inkubasi
(jam ke -)
Produksi gas total (ml /200 mg BK)
Ransum Kontrol
(K)
K + 0,18%
ekstrak lerak
K + 0,09%
ekstrak lerak
0
0
0
0
2
6,36±4,62
7,37±1,79
8,82±2,91
4
10,62±5,80
10,81±2,94
12,37±2,34
8
16,43±5,09
16,30±4,31
17,32±3,29
12
23,29±8,81
22,24±3,90
24,25±4,35
24
29,59±10,03
30,92±4,59
33,02±4,85
48
34,90±11,24
37,17±5,57
39,46±4,26
Metan (CH4) merupakan gas yang dibentuk dari reaksi antara H2 dan CO2,
sehingga penurunan produksi CH4 dapat meningkatkan proporsi gas H2 yang dapat
digunakan untuk pembentukan propionat. Wina et al. (2005b) menyatakan bahwa H2
tersedia untuk pembentukan CH4 kemungkinan bersaing dengan kebutuhan H2 untuk
pembentukan propionat, sehingga jika konsentrasi propionat dalam rumen meningkat
40
dengan penambahan saponin maka produksi CH4 diduga akan menurun.
Pada
penelitian ini pengukuran produksi gas bersifat total dan tidak dilakukan pemisahan
proporsi CO2, H2 dan CH4, sehingga penurunan produksi CH4 dapat diduga dari
peningkatan proporsi propionat. Hubungan keterkaitan antara penurunan produksi
CH4 dan peningkatan proporsi propionat telah dibuktikan oleh penelitian Hess et al.
(2004), penambahan Sapindus saponaria pada ransum ternak ruminansia dapat
mengurangi pelepasan gas CH4 hingga 20% dan terjadi peningkatan proporsi
propionat.
Konsentrasi Amonia (NH3)
Hasil analisa ragam menunjukkan bahwa efek perlakuan tidak nyata
mempengaruhi produksi amonia (NH3). Hal tersebut menunjukkan bahwa
suplementasi ekstrak lerak dengan taraf 0,09% dan 0,18% tidak mempengaruhi
aktivitas mikroba rumen dalam metabolisme protein. Hasil penelitian tersebut sesuai
dengan hasil penelitian yang dilakukan Thalib (2004), menyatakan bahwa
suplementasi ekstrak metanol lerak dalam bentuk serbuk (80 mg/ 100 ml dengan
kadar saponin 15%) pada ransum domba dihasilkan konsentrasi NH3 yang tidak
berbeda dengan kontrol. Namun hasil penelitian tersebut tidak sama dengan hasil
penelitian Wina et al. (2005a), menyatakan suplementasi ekstrak metanol sapindus
rarak dengan taraf 0,25; 0,5; 1,0; 2,0 dan 4,0 mg/ml dalam ransum yang tersusun
dari rumput gajah dan pollard (7 : 3) signifikan menurunkan konsentrasi NH3.
Protein di dalam rumen mengalami proses degradasi oleh enzim proteolitik
menjadi asam-asam amino, kemudian sebagian besar asam-asam amino mengalami
katabolisme menjadi asam-asam organik, amonia dan CO2. Amonia merupakan
sumber nitrogen utama bagi mikroba rumen karena amonia yang dibebaskan dalam
rumen sebagian dimanfaatkan oleh mikroba untuk sintesis protein mikroba (Arora,
1989). Sekitar 3,5-14 mM amonia (NH3) digunakan oleh mikroba rumen sebagai
sumber N untuk proses sintesis selnya.
Konsentrasi NH3 yang dihasilkan dari semua perlakuan berkisar antara 15,8516,31 mM (Tabel 4) dan nilai tersebut masih optimal untuk pertumbuhan mikroba
rumen. McDonald et al. (2002) menyatakan bahwa konsentrasi NH3 yang optimum
untuk menunjang sintesis protein mikroba dalam cairan rumen sangat bervariasi,
berkisar antara 6-21 mM. Konsentrasi NH3 pada ransum kontrol lebih tinggi dari
konsentrasi NH3 hijauan dan konsentrat. Hal tersebut disebabkan karena dalam
41
ransum kontrol terdapat 2% pakan blok yang mengandung urea. Urea merupakan
sumber Non Protein Nitrogen, sehingga dapat meningkatkan produksi amonia.
Konsentrasi Volatile Fatty Acid (VFA)
Hasil analisa ragam menunjukkan bahwa produksi VFA total tidak nyata
dipengaruhi oleh perlakuan. Hal tersebut menandakan bahwa suplementasi ekstrak
lerak tidak mempengaruhi aktivitas mikroba rumen dalam memproduksi VFA.
Produksi VFA total yang dihasilkan berkisar antara 153,42–184,68 mM, nilai
tersebut masih berada di atas kisaran konsentrasi VFA yang dihasilkan oleh mikroba
rumen dalam kondisi normal yaitu 80–160 mM (Sutardi, 1980). VFA diserap ke
dalam sistem peredaran darah melalui proses glukoneogenesis, kemudian VFA
diuabah oleh hati menjadi gula darah. Gula darah inilah yang akan mensuplai
sebagian besar kebutuhan energi bagi ternak ruminansia (Lehninger, 1982).
Suplementasi ekstrak lerak dengan taraf 0,09% dan 0,18% ke dalam ransum
kontrol meningkatkan konsentrasi VFA sebesar 10% dan 20%. Hasil penghitungan
konsentrasi VFA total dapat dilihat pada Tabel 4. Peningkatan populasi bakteri
hingga 100-200 kali mengakibatkan peningkatan laju fermentasi pakan, sehingga
dapat meningkatkan produksi VFA.
Tabel 4. Rataan Konsentrasi NH3, VFA Total dan Proporsi Molar VFA
Perlakuan
Parameter
Ransum Kontrol
(K)
NH3 (mM)
K+0.09%
ekstrak lerak
K+0.18%
ekstrak lerak
16,31±2,36
15,85±3,15
16,00±3,18
153,42±29,00
170,26±43,08
184,68±33,35
asetat
64,58
62,76
60,39
propionat
21,44
23,01
24,01
butirat
11,70
12,54
13,13
valerat
0,89
0,86
0,94
VFA (mM)
Proporsi molar (%) *)
Sumber *) : Pusat penelitian dan Pengembangan Ternak (2008)
Proses fermentasi karbohidrat oleh mikroba rumen menghasilkan energi
berupa asam-asam lemak atsiri (VFA) antara lain yang utama yaitu asetat, propionat,
dan butirat. Menurut Arora (1989), peranan VFA sangat penting sebagai sumber
energi, VFA juga merupakan sumber kerangka karbon untuk pembentukan protein
42
mikroba. Produksi VFA total dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, sifat
karbohidrat, laju makanan meninggalkan rumen dan frekuensi pemberian makan
(Sutardi, 1977).
Gambaran proporsi molar atau VFA parsial rumen sapi menurut Arora (1989)
antara lain 50-60% asam asetat, 18–24% asam propionat dan sekitar 13–21% asam
butirat. Hasil analisis proporsi molar VFA dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan
gambaran dari proporsi molar VFA suplementasi ekstrak lerak dapat meningkatkan
proporsi propionat dan butirat, namun menurunkan proporsi asetat. Hal tersebut
hampir sama dengan hasil penelitian Wina et al. (2005a), menyatakan bahwa
suplementasi ekstrak metanol Sapindus rarak dengan taraf 0,25; 0,5; 1,0; 2,0 dan 4,0
mg/ml dalam ransum yang tersusun dari rumput gajah dan pollard (7:3)
mengakibatkan perubahan proporsi molar dimana asetat dan butirat menurun, tetapi
propionat meningkat.
Secara biokimia propionat dibentuk dari glukosa, xilosa dan laktat melalui
dua cara yaitu jalur reduksi langsung dan jalur asam dikarboksilat melalui interaksi
mikroorganisme rumen. Peningkatan proporsi propionat kemungkinan disebabkan
oleh peningkatan populasi bakteri karena efek penambahan saponin terhadap
populasi protozoa, sehingga akan mempengaruhi fermentasi pakan dan produksi
asam laktat. Arora (1989) menyatakan di dalam jalur reduksi langsung Clostridium
propionicum dan Megasphaera elsdenii mengubah laktat menjadi propionat.
Menurut Brock dan Madigan (1991) protozoa lebih menyukai substrat yang mudah
difermentasi seperti pati dan gula, namun protozoa mempunyai kemampuan
memecah pati lebih lama dibandingkan dengan bakteri. Protozoa mengkonsumsi pati
atau karbohidrat mudah larut dan disimpan dalam bentuk polisakarida (amilopektin)
dalam tubuh, sehingga pati dan karbohidrat mudah larut sebagian tidak difermentasi
oleh bakteri. Pada ransum tinggi karbohidrat (konsentrat) protozoa dapat membatasi
aktivitas bakteri dalam fermentasi pati secara besar-besaran sehingga penurunan pH
secara drastis (acidosis) dapat dicegah.
Peningkatan proporsi propionat juga disebabkan oleh pergeseran penggunaan
H2 hasil fermentasi untuk produksi propionat akibat rendahnya aktifitas bakteri
pembentuk metan (CH4). Sedangkan penurunan proporsi asetat disebabkan karena
piruvat lebih banyak dikonversi menjadi Acetyl Coenzym A yang merupakan
prekusor pembentukan butirat, sehingga proporsi butirat meningkat. Peningkatan
43
propionat sangat penting untuk sapi pedaging karena merupakan sumber energi.
Propionat merupakan substrat dalam pembentukan glukosa melalui proses
glukoneogenesis. Propionat yang terserap dapat menyuplai 30% (atau lebih) glukosa
untuk ruminansia (Parakkasi, 1999).
44
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Suplementasi ekstrak lerak (Sapindus rarak) dalam ransum sapi pedaging
(dalam bentuk pakan blok) secara in vitro tidak nyata menurunkan populasi protozoa,
namun gambaran populasi bakteri menunjukkan adanya peningkatan jumlah
populasi. Disamping itu suplementasi ekstrak lerak juga tidak signifikan
mempengaruhi kecernaan bahan kering dan orgaik (KCBK dan KCBO), produksi gas
total selama inkubasi 0-48 jam, konsentrasi amonia (NH3) dan VFA total, namun
berdasarkan proporsi molar VFA terlihat adanya peningkatan proporsi propionat
yang merupakan sumber energi utama bagi sapi pedaging dan penurunan proporsi
asetat. Suplementasi ekstrak lerak dengan taraf 0,09% dan 0,18% dalam ransum
dapat memodifikasi karakteristik fermentasi rumen, populasi protozoa dan bakteri.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara in vitro mengenai waktu
inkubasi dan taraf suplementasi ekstrak metanol S. rarak kedalam ransum yang
optimum, sehingga dapat meningkatkan efektifitas fermentasi rumen dan
menghasilkan produk-produk fermentasi yang dapat dimanfaatkan ternak inangnya.
45
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan segala limpahan nikmat, rahmat dan hidayahNya sehingga skripsi ini
dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Sri Suharti S.Pt, M.Si
sebagai dosen pembimbing utama dan Ir. Sudarsono Jayadi M.Sc sebagai dosen
pembimbing anggota dan pembimbing akademik atas segala bimbingan, arahan, doa,
motivasi serta perhatiannya selama penelitian hingga penulisan skripsi. Kepada Ir.
Anita S. Tjakradidjaja, MRur. Sc. selaku dosen penguji seminar atas segala masukan
dan saran perbaikan. Kepada Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, M.S dan Dr. Ir. Rarah R.A.M,
DEA sebagai dosen penguji tugas akhir atas saran dan masukannya.
Ucapan terima kasih yang terdalam untuk kedua orang tua penulis Bapak
Paiman dan Ibu Endang P, kedua adik penulis Danang dan Farida serta keluarga
besar yang ada di Nganjuk atas doa, semangat, kasih sayang, perhatian, kesabaran,
nasehat serta dukungan moril maupun materil
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Ibu Yani, Ibu Dian, Pak Rahmat
dan Mas Joko atas segala bantuan dan bimbingan selama penelitian. Teman satu
payung penelitian Siska dan Dilla untuk kebersamaannya. Penulis mengucapkan
terima kasih kepada teman-teman seperjuangan INTP 42, sahabat penulis Ajenk,
Ratna dan teman-teman kecilku atas segala bantuan, dukungan dan indahnya
persahabatan. Terima kasih juga untuk saudara penulis all crystalizer (Die-die, mbak
Ik, Ai, mbak Vin, Amy, Vence, Agem dan Nida) untuk semangat dan hangatnya
kebersamaan. Kepada keluarga besar Depertemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan,
FAPET, IPB terimakasih atas segala pelajaran dan pengalaman berharga sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan baik. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat untuk penulis dan semua pihak yang membutuhkan.
Bogor, September 2009
Penulis
46
DAFTAR PUSTAKA
Afriastini, J.J. 1990. Daftar Nama Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.
Arora, S.P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Edisi Indonesia. Penerbit
Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Astuti, D.A., B. Sastradipradja, Kiranadi dan E. Budiarti. 1993. Pengaruh perlakuan
jerami jagung dengan asam asetat terhadap metabolisme in vitro dan in vivo
pada kambing laktasi. Laporan Penelitian. Fakultas Kedokteran Hewan.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Astuti, D.A., E. Wina, B. Haryanto dan S. Suharti. 2008. Suplementasi lerak
berbentuk pakan blok untuk meningkatkan produksi dan kualitas daging sapi
potong serta pengaruhnya terhadap keseimbangan mikroba rumen. Laporan
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. IPB Bekerja sama dengan BPPT
Ciawi, Bogor.
Brock, T.D. and M.T, Madigan. 1991. Biologi of Microorganism 6th Edition.
Prentice Hall International, London.
Cheeke, P.R. 2000. Actual and potential applications of yucca schidigera and quillaja
saponaria saponins in human and animal nutrition. J. Animal Science 77: 110.
Close, W and K. Menke. 1986. Selected Topics in Animal Nutrition. University of
Hohenheim. Jerman.
Dehority, B.A. 2004. Rumen Microbiology. Nottingham University Press,
Nottingham.
Diaz, A., M. Avendano and A. Escobar. 1993. Evaluation of sapindus saponaria as a
defaunating agent and its effect on different rumen digestion parameters. J.
Livest. Res. Rural Dev. 5: 1-6.
Firsoni. 2005. Manfaat tepung daun kelor (Moringa oleifera, Lam) dan glirisidia
(Gliciridia sepium, Jacq) sebagai sumber protein dalam urea molases blok
(UMB) terhadap metabolisme pakan secara in vitro dan produksi susu sapi
perah. Tesis. Program Pascasarjana. Universitas Brawijaya. Malang.
General Laboratory Prosedures. 1966. Department of Dairy Science. University of
Wisconsin, Madison.
Harborne, J.B. 1996. Metode Fitokimia. Terjemahan K. Padmawinata. ITB Press,
Bandung.
Hartati, E. 1998. Suplementasi minyak lemuru dan seng ke dalam ransum yang
mengandung silase pod kakao dan urea untuk memacu pertumbuhan sapi
Holstein jantan. Disertasi. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Vol. III. Terjemahan: Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Sarana Jaya, Jakarta.
Hess, H.D., M. Kreuzer, T.E. Diaz, C.E. Lascano, J.E. Carulla, Carla L. Soliva and
A. Machmuller. 2003. Saponon rich tropical fruits affect fermentation and
47
methagonesis in faunated and defaunated rumen fluid. J. Animal Feed
Science and Technology 109: 79-94
Hobson, P.N and C.S. Stewart. 1997. The Rumen Microbial Ecosystem. St
Edmundsbury Press, Great Britain.
Lehninger, A.L. 1982. Dasar-dasar Biokimia. Penerjemah: M. Thenewidjaja.
Erlangga, Jakarta.
Mattjik, A.H dan M. Sumertajaya. 2002. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi
SAS dan MINITAB. IPB Press, Bogor.
McDonald, P., R. Edwards and J. Greenhalgh. 2002. Animal Nutrition. 6th Edition.
New York.
National Research Council (NRC). 1984. Nutrient Requirements of Beef Cattle 6th
Edition. National Academy Press, Washington DC.
Ogimoto, K. and S. Imai. 1981. Atlas of Rumen Microbiology. Japan Science.
Societes Press, Tokyo.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Universitas
Indonesia, Jakarta.
Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerjemah K.
Padmawinata. ITB Press, Bandung.
Sakinah, D. 2005. Kajian suplementasi probiotik bermineral terhadap produksi VFA,
NH3, dan kecernaan zat makanan pada domba. Skripsi. Fakultas Peternakan.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Schlegel, H.G. 1994. Mikrobiologi Umum. Penerjemah: T. Baskoro. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Selly. 1994. Peningkatan kualitas pakan serat bermutu rendah dan amoniasi dan
inokulan digesta rumen. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Sunaryadi. 1999. Ekstraksi dan isolasi buah lerak (Sapindus rarak) serta pengujian
daya defaunasinya. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Suparjo. 2008. Saponin, peran dan pengaruhnya bagi ternak dan manusia.
Laboratorium Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Jambi. http
//:jojo66.wordpress.com. [29 Desember 2008].
Suparwi. 2000. Pengaruh minyak kelapa dan kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis)
terhadap kecernaan ransum dan jumlah protozoa. J. Prod. Ternak 2(2): 53-59.
Sutardi, T. 1977. Ikhtisar Ruminologi. Bahan Kursus Peternakan Sapi Perah. Kayu
Ambon Lembang. Direktorat Jendral Peternakan-FAO, Bandung.
Sutardi, T. 1979. Ketahanan protein bahan makanan terhadap degradasi oleh mikroba
rumen dan manfaatnya bagi peningkatan produktivitas ternak. Prosiding
Seminar dan Penunjang Peternakan. Lembaga Penelitian Peternakan, Bogor.
Sutardi, T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
48
Thalib. 2004. Uji efektivitas saponin buah sapindus rarak sebagai inhibitor
metanogenesis secara in vitro. J. Ilmu Ternak dan Veteriner 9(3): 164-171.
Tilley, J.M.A and R.A. Terry. 1963. A two stage technique for the in vitro digestion
of forage. J. British Grassland Society. 18: 104–111.
Wallace, R.J., L. Arthaud and C.J. Newbold. 1994. Influence of Yucca shcidigera
extract on ruminal ammonia concentrations and ruminal microorganisms. J.
Applied Environmental Microbiology 60: 1762-1767.
Wallace, R.J., N.R. McEwan, F.M. McIntosh, B. Teferedegne and C.J. Newbold.
2002. Natural products as manipulators of rumen fermentation. J. Animal.
Science 15(10): 1458-1468.
Wang, Y., T.A. McAllister, L.J. Yanke and P.R. Cheeke. 2000. Effect of steroidal
saponin from yucca schidigera extract on ruminal microbes. J. Applied
Microbiology. 88: 887-896.
Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Umum. UMM Press, Malang.
Wina, E., S. Muezel, E. Hoffman, H.P.S. Makkar, and K. Becker. 2005a. Saponins
containing methanol extract of sapindus rarak affect microbial fermentation,
microbal activity and microbial comunity structure in vitro. J. Animal Feed
Science and Technology 121: 159-174.
Wina, E., S. Muezel, E. Hoffman, H.P.S. Makkar, and K. Becker. 2005b. The impact
of saponin-containing plant materials on ruminant production – A Review. J.
Agricultural and Food Chemistry 53: 8093 – 8015.
49
LAMPIRAN
50
Lampiran 1. Hasil Analisa Ragam KCBK
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
f.hit
16,83
9,27
19,23
45,34
8,42
3,09
2,75
f.0,05
3,06
1,12
4,74
4,35
Lampiran 2. Hasil Analisa Ragam KCBO
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
f.hit
14,51
2,52
14,25
31,28
7,26
0,84
2,04
f.0,05
3,56
0,41
4,74
4,35
Lampiran 3. Hasil Analisa Ragam Konsentrasi NH3 (Amonia)
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
0,44
65,73
11,19
77,36
f.hit
0,22
21,91
1,60
f.0,05
0,14
13,70
4,74
4,35
Lampiran 4. Hasil Analisa Ragam Konsentrasi VFA
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
1959,08
4651,52
6778,77
13389,37
f.hit
979,54
1550,51
968,40
f.0,05
1,01
1,60
4,74
4,35
Lampiran 5. Hasil Analisa Ragam Populasi Protozoa
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
0,30
0,21
0,69
1,20
f.hit
0,15
0,07
0,10
f.0,05
1,54
0,70
4,74
4,35
Lampiran 6. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 2 Jam
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
12,06
29,54
69,53
111,13
f.hit
6,03
9,85
9,93
f.0,05
0,61
0,99
4,74
4,35
51
Lampiran 7. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 4 Jam
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
7,38
74,00
69,43
150,81
f.hit
1,84
37,00
8,68
f. 0,05
0,21
4,26
4,74
4,35
Lampiran 8. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 8 Jam
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
2,46
172,15
112,80
287,41
f.hit
0,62
86,08
14,10
f.0,05
0,04
6,10
4,74
4,35
Lampiran 9. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 12 Jam
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
8,11
104,39
231,19
343,69
f.hit
4,05
34,80
33,03
f.0,05
0,12
1,05
4,74
4,35
Lampiran 10. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 24 Jam
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
23,86
190,87
245,24
459,97
f.hit
11,93
63,62
35,03
f.0,05
0,34
1,82
4,74
4,35
Lampiran 11. Hasil Analisa Ragam Produksi Gas selama Inkubasi 48 Jam
SK
Perlakuan
Kelompok
Error
Total
db
JK
2
3
7
12
KT
41,61
269,76
257,22
568,59
f.hit
20,81
89,92
36,75
f.0,05
0,57
2,45
4,74
4,35
52
Download