Pengelolaan Sumber Alam dan Lingkungan Hidup

advertisement
BAB 7
PENGELOLAAN SUMBER ALAM DAN
LINGKUNGAN HIDUP
BAB 7
PENGELOLAAN SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP
I. PENDAHULUAN
Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dengan jelas disebutkan
bahwa "Bangsa Indonesia menghendaki keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, antara sesama manusia serta lingkungan Alam di sekitarnya". Dengan demikian keserasian antara
kegiatan-kegiatan manusia dalam pembangunan dengan pembinaan
mutu lingkungan hidup merupakan arah pembangunan jangka panjang yang harus diikuti.
Dalam pada itu Garis-garis Besar Haluan Negara juga menggariskan pokok-pokok pengarahan kebijaksanaan di bidang Sumber Alam
dan Lingkungan Hidup sebagai berikut :
a. Kegiatan inventarisasi dan evaluasi sumber alam perlu lebih ditingkatkan dengan tujuan untuk lebih mengenal sumber alam
hutan, tanah, air, dan energi yang sangat diperlukan bagi pembangunan.
b. Dalam penggalian, pengolahan dan pemanfaatan sumber-sumber
alam, serta dalam pembinaan lingkungan hidup perlu dipergunakan teknologi yang sesuai sehingga mutu dan kelestarian sumber
alam dan lingkungan hidup dapat dipertahankan.
c. Dalam pelaksanaan pembangunan perlu selalu diadakan penilaian yang seksama terhadap pengaruhnya bagi lingkungan hidup,
agar pengamanan terhadap pelaksanaan pembangunan dan lingkungan hidupnya dapat dilakukan sebaik-baiknya. Penilaian tersebut perlu dilakukan baik secara sektoral maupun regional dan
untuk itu perlu dikembangkan kriteria mutu baku lingkungan
hidup.
d. Rehabilitasi sumber alam yang berupa tanah dan air yang rusak
perlu lebih ditingkatkan lagi melalui pendekatan terpadu daerah
265
aliran sungai dan wilayah. Dalam hubungan ini program penyelamatan hutan, tanah, dan air perlu lebih disempurnakan dan
ditingkatkan.
e. Pendayagunaan daerah pantai dan laut perlu ditingkatkan tanpa
merusak mutu dan kelestarian lingkungan hidup.
f.
Dalam pembangunan pemukiman diberikan prioritas kepada perbaikan lingkungan hidup bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Sumber-sumber alam merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu
ekosistem, yaitu lingkungan tempat berlangsungnya hubungan timbal
balik antara mahluk hidup dan faktor-faktor alam, antara mahluk
hidup satu sama lain dan antara faktor alam satu sama lain. Oleh
karena itu pendayagunaan sumber alam pada hakekat berarti melakukan
perubahan-perubahan
di
dalam suatu ekosistem
yang pengaruhnya akan menjalar pada seluruh jaringan sistem kehidupan.
Semua pembangunan terjadi dalam suatu ekosistem alami yang telah
atau belum diubah oleh tindakan manusia. Pembangunan membawa
perubahan-perubahan dalam berbagai ukuran, tetapi selalu dibatasi
oleh kendala-kendala ekologis yang bekerja dalam ekosistem alami.
Suatu sumber alam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Dalam hubungan ini pemanfaatan sumber alam perlu dilakukan berdasarkan atas patokan-patokan,yang berikut : (1) daya-guna dan hasilguna yang optimum dalam batas-batas kelestarian yang mungkin dicapai, (2) tidak mengurangi kemampuan dan kelestarian sumber alam
lain yang berkaitan dalam suatu ekosistem, dan (3) memberikan
kemungkinan untuk mempunyai pilihan penggunaan bagi pembangunan
di masa depan.
Lingkungan hidup sebagai media hubungan timbal balik antara
mahluk dengan faktor-faktor alam terdiri dari bermacam-macam
proses ekologi yang merupakan suatu kesatuan yang mantap.
Proses-proses tersebut merupakan matarantai atau siklus penting
yang menentukan daya dukung lingkungan hidup terhadap pembangunan. Siklus-siklus yang sangat penting bagi kehidupan manusia
di antaranya adalah siklus hidrologi, yang mengatur tata perairan,
266
baik yang berhubungan dengan aliran air dalam berbagai bentuknya, maupun lingkungan hidup bagi mahluk tertentu; siklus hara,
yang mengatur rantai makanan yang sangat berpengaruh terhadap
perimbangan antar jenis dan antar populasi mahluk; siklus energi
dan bahan yang mengatur penggunaan dan perubahan bentuk energi
mulai dari sumber energi matahari yang merupakan sumber energi
dasar bagi kehidupan sampai kepada sumber energi yang dipakai
untuk keperluan metabolisme mahluk hidup; dan siklus-siklus lain
yang merupakan struktur dasar dari ekosistem.
Kegiatan-kegiatan pembangunan dapat mempengaruhi struktur dasar
tersebut dengan pencemaran oleh karena bahan yang dihasilkan oleh
proses pembangunan yang telah menambah beban pada aliran bahan,
dan dapat pula terjadi gangguan yang mendasar terhadap proses
ekosistem tersebut. Gangguan dalam bentuk pencemaran dalam banyak hal masih dapat diatasi dengan penggunaan berbagai teknologi pencegah pencemaran lingkungan. Tetapi gangguan yang mendasar terhadap struktur dasar ekosistem merupakan gangguan yang
tidak mungkin diatasi oleh kemampuan manusia, oleh karena itu
gangguan seperti ini harus dihindarkan. Gangguan terhadap struktur
dasar ekosistem tersebut merupakan gangguan terhadap kelangsungan
hidup yang sesungguhnya menjadi tujuan pokok dari setiap pembangunan.
Dengan demikian perencanaan pendayagunaan sumber-sumber
alam dan lingkungan hidup d a l a m rangka proses pembangunan
tidak dapat diperlakukan secara terpisah, tetapi harus selalu diperlakukan dalam hubungannya dengan ekosistem yang bersangkutan.
Misalnya sebuah waduk adalah bagian ekosistem sungai yang berpengaruh terhadap sistem perikanan, penggunaan wilayah pesisir
berkaitan erat dengan sistem perkembangan perikanan laut di laut
lepas. Sebaliknya kelangsungan hidup dari suatu waduk tergantung
kepada keadaan hutan dan pola bercocok tanam di bagian atas
Daerah Aliran Sungai tersebut. Dalam contoh ini ekosistem waduk
dan pesisir tersebut meliputi seluruh daerah aliran sungai.
Pendekatan secara ekosistem dalam pembangunan diharapkan dapat
mencegah terjadinya pengaruh sampingan yang merugikan, yang pada
267
hakekatnya merupakan beban yang harus ditanggung oleh masyarakat.
Dengan pendekatan seperti ini diharapkan akan diperoleh hasil optimal yang lestari dari usaha-usaha pembangunan bagi peningkatan
kesejahteraan rakyat.
I1. KEADAAN DAN MASALAH
Sumber-sumber alam yang terbatas dan jumlah penduduk yang
semakin bertambah besar dengan tingkat pendapatan yang belum
memadai dapat menimbulkan masalah-masalah pengelolaan sumber
alami dan lingkungan hidup. Sebagaimana juga dialami oleh negaranegara yang sedang berkembang lainnya, masalah-masalah tersebut
timbul sebagai pencerminan dari akibat-akibat keterbelakangan pembangunan dan sekaligus juga merupakan suatu masalah yang timbul
menyertai proses pelaksanaan pembangunan.
Masalah pertambahan penduduk dan penyebaran penduduk yang
kurang serasi sangat mempengaruhi kerusakan-kerusakan sumbersumber alam dan lingkungan hidup. Berkaitan dengan hal . tersebut di
atas maka kemiskinan menyebabkan tingkat kerusakan sumber alam
dan lingkungan hidup menjadi bertambah besar. Masalah pengelolaan
sumber-sumber alam dan lingkungan hidup karena keterbelakangan
pembangunan merupakan suatu masalah yang mendesak bagi Indonesia.
Tekanan kepadatan penduduk yang berjalin erat dengan kemiskinan
hidup telah mendorong penduduk untuk mengolah tanah dengan caracara yang merusak kelestarian kesuburannya. Penduduk telah membuka hutan-hutan yang subur melalui pembakaran dan perladangan
berpindah yang sangat merusak kelestariannya, sehingga memperluas
tanah-tanah kritis, yang berkaitan dengan penurunan mutu kehidupan
yang lebih parah lagi karena kerusakan-kerusakan yang timbul oleh
banjir dan erosi serta kekeringan yang melanda daerah-daerah tersebut. Hutan-hutan yang seharusnya dipelihara untuk perlindungan terhadap bahaya banjir, erosi dan kekeringan telah diubah menjadi tanahtanah kritis yang tidak bermanfaat dan berbahaya, dan jumlah sumber
alam yang tersedia untuk pembangunan makin menipis pula.
268
Keterbelakangan pembangunan dalam peningkatan kesadaran masyarakat dan pendidikan yang berhubungan dengan penyelamatan sumber alam dan lingkungan hidup telah membantu pula proses perusakan
tersebut di atas. Keterbelakangan dalam pembangunan pengelolaan
hutan tropika telah menyebabkan kerusakan-kerusakan terhadap kelestarian hutan yang disebabkan eksploitasi hutan yang semakin besar,
yang tidak dapat diimbangi oleh kemampuan pengelolaan dan teknologi yang ada.
Keterbelakangan pembangunan di daerah pesisir telah menyebabkan kerusakan-kerusakan pantai dan hutan payau, yang berakibat
langsung terhadap kerusakan sumber alam dan lingkungan hidup yang
mendukung pembangunan perikanan pantai, wisata pantai, dan lainlain.
Keterbelakangan pembangunan dalam usaha tani telah menyebabkan kerusakan-kerusakan terhadap tanah oleh karena erosi, karena
usaha pencegahan erosi tidak mampu dilaksanakan oleh para petani
miskin yang mempunyai tanah milik atau garapan yang sangat sempit, terutama di Jawa dan Bali. Sedangkan di luar Pulau Jawa dan
Bali, sistem perladangan berpindah telah menyebabkan kerusakan-kerusakan sumber alam hutan dan tanah dalam jumlah yang besar.
Keterbelakangan pembangunan menimbulkan akibatnya pula terhadap pemukiman dan lingkungan hidup. Hal ini tercermin antara
lain pada keadaan perumahan yang tidak sehat, baik di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan, kekurangan penyediaan air minum
yang bersih dan mencukupi, kesehatan lingkungan tidak memadai,
keadaan sampah kota yang makin tidak terkendali, pertumbuhan kotakota besar yang tidak terkendalikan sehingga mendorong tumbuhnya
daerah-daerah miskin di perkotaan, kekurangan sarana angkutan
umum, dan berbagai masalah lain yang makin lama makin banyak
dan mendesak. Masalah-masalah tersebut pada gilirannya menimbulkan masalah-masalah sosial yang makin .lama makin gawat.
Keterbelakangan pembangunan dalam pembinaan kelembagaan
dan aparatur yang berhubungan dengan pengelolaan sumber alam dan
lingkungan hidup menambah pula sukarnya pembinaan lingkungan
269
hidup yang sehat, karena ketidakjelasan tanggungjawab dan wewenang seringkali menghambat usaha-usaha pembinaan lingkungan
hidup. Di samping itu penguasaan teknologi tepatguna untuk pembinaan lingkungan hidup pada umumnya belum memadai.
Oleh karena itu adalah mutlak diperlukan untuk terus menerus
mengusahakan pembangunan guna mengurangi dan menghapuskan
kemiskinan rakyat baik kemiskinan materiil maupun kemiskinan pengetahuan dan moral.
Dalam pada itu pengalaman-pengalaman negara lain di dunia menunjukkan bahwa pembangunan yang kurang mengindahkan lingkungan hidup dapat pula menyebabkan kerusakan sumber alam dan
pencemaran lingkungan hidup. Oleh karena itu perlu ditingkatkan
dan dilanjutkan pengembangan suatu cara, pola, dan prosedur pembangunan yang sekaligus juga menghindarkan dan mengembangkan
lingkungan hidup ketingkat yang lebih sempurna, terutama dalam
hubungannya dengan pembangunan pertanian, pengairan, energi,
pengembangan wilayah sungai, perikanan, kehutanan, perindustrian,
pertambangan, pemukiman, prasarana, pengembangan wilayah pesisir,
dan lain-lain.
Pencemaran lingkungan hidup tidak hanya dalam bentuk pencemaran fisik seperti pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran
tanah, dan lain-lain, tetapi juga pencemaran lingkungan sosial yang
seringkali menimbulkan keresahan-keresahan sosial yang gawat. Pola
konsumsi dan gaya hidup mewah di dalam proyek-proyek pembangunan menimbulkan suasana yang kurang menguntungkan bagi kelangsungan hidup proses pembangunan di dalam wilayah yang penduduknya miskin. Kurangnya pendekatan-pendekatan yang serasi terhadap
lingkungan sosial, dan kurangnya perhatian terhadap kebutuhankebutuhan masyarakat lokal, seringkali, menimbulkan keresahankeresahan yang dapat mengganggu kelangsungan pembangunan itu
sendiri. Oleh karena itu perlu makin dikembangkan cara, pola dan
prosedur agar pelaksanaan pembangunan sekaligus juga menghindarkan akibat-akibat sosial dan bahkan mengembangkan lingkungan hidup
sosial masyarakat setempat ke tingkat yang lebih baik.
270
Pembangunan yang harus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan
manusia berarti peningkatan penggunaan sumber-sumber alam dan
lingkungan hidup untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat. Peningkatan penggunaan sumber alam dan lingkungan hidup
merupakan keharusan untuk memerangi kemiskinan. Tetapi peningkatan kebutuhan dan usaha untuk memenuhinya, di satu fihak berhadapan dengan keterbatasan sumber alam dan daya dukung lingkungan hidup di lain fihak. Oleh karena itu perencanaan dan
pengelolaan sumber alam dari segi permintaan perlu dikembangkan
dalam keserasian dengan perencanaan dan pengelolaan sumber alam
dari segi penyediaan. Dengan demikian pembangunan untuk memenuhi kebutuhan yang makin meningkat tersebut tidak melampaui daya
dukung sumber alam dan lingkungan hidup yang sangat vital bagi
kelangsungan hidup bangsa dan negara. Peningkatan kebutuhan manusia akan membawa akibat peningkatan pencemaran lingkungan
hidup, apabila pemanfaatan sumber alam tersebut tidak dilakukan
dengan hemat dan hati-hati.
Sumber alam harus dapat dikelola secara masuk akal agar mampu
mendukung keperluan rakyat banyak dan sekaligus juga mampu menunjang pelaksanaan pembangunan jangka panjang secara terus
menerus. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang jelas tentang jenis,
mutu, jumlah, dan lokasi dari sumber-sumber alam tersebut dan kemungkinan penggunaannya yang tepatguna dan berhasilguna yang
optimal. Masalah koordinasi inventarisasi dan evaluasi sumber alam
dan lingkungan hidup memerlukan cara, pola, dan prosedur pelaksanaan kegiatan yang mantap.
Dalam hubungan ini penentuan kebijaksanaan dan pelaksanaan
program-program yang bertalian dengan pertumbuhan ekonomi perubahan sosial, dan perkembangan kebudayaan senantiasa harus
memperhitungkan faktor-faktor yang mungkin dapat menimbulkan
kerusakan sumber alam dan pencemaran lingkungan hidup. Dalam
rangka kebijaksanaan ini perlu selalu diperhitungkan faktor-faktor
yang menyangkut masalah pemeliharaan kelestarian dan kelangsungan
sumber-sumber alam dan lingkungan hidup.
271
Dengan demikian jelaslah bahwa masalah-masalah pengelolaan
sumber alam dan lingkungan hidup sangat erat hubungannya satu
sama lain, dan semuanya merupakan bagian dari keseluruhan masalah-masalah pembangunan nasional.
III. KEBIJAKSANAAN DAN LANGKAH-LANGKAH
Menurut sifatnya, maka sumber-sumber alam ada yang tidak dapat
dipulihkan kembali setelah habis dipakai seperti gas dan minyak
bumi, batubara, mineral, dan lain-lain, dan ada pula sumber alam
yang dapat dipulihkan kembali setelah dipergunakan seperti hasil
hutan, hasil laut, air, dan sumber alam biologis lainnya.
Dalam melaksanakan pembangunan yang. juga sekaligus mengembangkan lingkungan hidup, adalah penting untuk menggunakan sumber alam yang tak dapat terpulihkan itu secara sangat bijaksana dan
terutama dipakai untuk meningkatkan kemampuan rakyat banyak meningkatkan taraf hidupnya, sehingga sumber alam yang habis terpakai
tersebut tidak menurunkan kemakmuran bangsa. Dalam hubungan
ini penting untuk mengusahakan sumber alam .seperti minyak dan
gas bumi, batubara, mineral, dan lain-lain yang lazimnya padat modal
dengan teknologi tinggi, dengan cara pembangunan yang memberi
dorongan pada kehidupan ekonomi masyarakat disekitarnya. Selanjutnya sumber alam yang habis dipakai itu harus mendorong pembangunan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian kehilangan sumber
alam tersebut telah dapat diganti dengan tingkat kemajuan masyarakat
yang lebih tinggi untuk membina pembangunan berikutnya.
Dalam mengolah dan mengelola sumber alam yang dapat dipulihkan
perlu diperhatikan keharusan melestarikan sumber-sumber alam tersebut, dengan kelestarian sumber alam seperti hutan, tanah, air, dan
laut serta sumber alam biologis, maka sumber alam itu tetap utuh
untuk dimanfaatkan secara terus-menerus, tidak hanya untuk generasi
sekarang ini tetapi lebih-lebih untuk generasi-generasi yang akan
datang.
Dengan demikian, maka pembangunan yang juga melestarikan dan
menyerasikan lingkungan hidup ini sekaligus juga membangkitkan
272
solidaritas bangsa dan membangkitkan ikatan solidaritas antara generasi sekarang dengan generasi nanti.
Kebijaksanaan pembangunan dengan pengembangan lingkungan
hidup perlu diusahakan untuk memperluas dimensi pembangunan itu
sendiri. Pembangunan tidak hanya penting untuk meningkatkan taraf
hidup dalam arti materiil saja, tetapi pembangunan juga penting untuk
meningkatkan taraf hidup yang hakiki dalam arti mutu kehidupan.
Peningkatan mutu kehidupan dapat dicapai apabila pola pembangunan
membuka kemungkinan untuk memilih berbagai kegiatan hidup yang
beraneka ragam. Pola pembangunan yang hanya membuka pilihan
kegiatan hidup yang seragam dan tunggal tidak akan mampu memberi
warna hidup dengan mutu yang tinggi. Sebaliknya apabila masyarakat
dapat memilih berbagai jenis kegiatan pembangunan dengan kegiatan
hidup yang beraneka ragam, maka warna hidup akan lebih hangat
dan mutu hidup akan lebih tinggi.
Bertambah beraneka ragam isi lingkungan hidup, maka bertambah
mantap dan makin berarti lingkungan hidup ini bagi perkembangan
mutu hidup manusia. Karena itu kebijaksanaan pembangunan dengan
pengembangan lingkungan hidup membuka kemungkinan bagi keanekaragaman dan diversifikasi lingkungan hidup, dan dengan demikian
membuka kesempatan untuk memilih bermacam-macam kegiatan dalam peri kehidupan yang lebih luas dan lebih berarti.
Dalam hubungannya dengan pembangunan lingkungan sosial, maka
pola hidup berpribadi adalah pola hidup yang wajar dan serasi dengan
lingkungan hidup masyarakat Indonesia. Pengembangan pola hidup
yang serasi dengan daya dukung sumber alam dan lingkungan, lingkungan fisik dan sosial, merupakan suatu usaha yang perlu dilaksanakan
untuk menumbuhkan dan membina hubungan timbal balik yang
serba selaras antara manusia, masyarakat dan lingkungan alam
sekitarnya.
Dalam hubungan dengan itu jelaslah bahwa pola konsumsi dan
gaya hidup mewah di banyak negara maju yang tinggi tingkat pendapatann tidak akan mungkin didukung oleh kemampuan ekonomi
masyarakat Indonesia. Dan oleh Karena itu menjadi sangat perlu un-
273
tuk mengendalikan dan membina gaya hidup dan pola konsumsi yang
lebih serasi dengan lingkungan hidup sosial masyarakat pada
umumnya.
Sumber alam dan lingkungan hidup yang merupakan modal dasar
bagi pembangunan perlu dikenali dengan seksama dan menyeluruh.
Untuk meningkatkan daya-guna dan hasil-guna dari modal, keahlian
dan ketrampilan, serta fasilitas dan kemampuan pengelolaan yang
terbatas, maka inventarisasi dan evaluasi sumber alam dan lingkungan
perlu dilaksanakan dengan satu kesatuan rencana dan kesatuan penilaian untuk memungkinkan penyelesaian kegiatan pengenalan sumber
alam dan lingkungan hidup tanah, air, laut, hutan, udara, energi,
mineral, dan lain-lain secara lebih cepat dan lebih efisien. Koordinasi
pelaksanaan yang efektif perlu dikembangkan melalui kesatuan rencana dan pengendalian program baik fisik maupun finansial.
Penilaian sumber alam dan lingkungan hidup dilakukan secara terpadu sehingga sumber alam tersebut dapat dialokasikan penggunaannya kepada sektor-sektor pembangunan, menurut kriteria manfaat yang
paling tinggi bagi masyarakat banyak, untuk dikembangkan sesuai
dengan kemampuan sehingga dapat mendukung usaha pemerataan pendapatan, peningkatan kesempatan kerja, kemantapan pembangunan,
kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup, dan memberikan lebih
banyak pilihan bagi pembangunan yang akan datang. Dengan demikian kebijaksanaan tataguna sumber alam, dan ruang merupakan bagian yang sangat penting untuk dikembangkan menuju kearah pemerataan tersebut di atas, termasuk dalam hal ini kebijaksanaan tataguna
tanah yang mantap dan dinamis di mana tanah sebagai lingkungan
hidup diperhitungkan pula di dalamnya.
Kerusakan-kerusakan sumber alam oleh proses pembangunan
tidak saja akan mengarah kepada kepunahan manfaat sumber alam
tersebut untuk kehidupan manusia, tetapi juga akan menimbulkan
kerusakan-kerusakan pula pada sumber-sumber alam lainnya.
Dalam hubungan dengan ini maka kerusakan-kerusakan hutan yang
disebabkan oleh kegiatan perladangan dan pembukaan tanah lainnya akan membawa akibat kerusakan pada sistem tata air dalam
suatu wilayah, yang pada gilirannya akan membawa akibat pada
274
pembangunan yang berhubungan dengan sumber alam tersebut.
Oleh karena itu perombakan-perombakan hutan menjadi areal-areal
terbuka bagi kepentingan pembangunan pemukiman, infrastruktur/
prasarana, pertanian, dan lain-lain perlu dihindari sejauh mungkin.
Perusakan lapisan tanah atas, akan menyebabkan hilangnya manfaat tanah untuk usaha pertanian yang berkelangsungan, oleh karena itu usaha-usaha pertambangan permukaan, pembukaan tanah
untuk transmigrasi, perladangan, pembangunan prasarana, dan lainlain harus dilakukan sedemikian rupa sehingga kelangsungan pembangunan pertanian di daerah-daerah tersebut dikemudian hari dapat
dimungkinkan. Perombakan hutan bakau di daerah pesisir dan
pembongkaran karang dan pasir pantai, akan menyebabkan kerusakan sumber alam biologis perikanan yang akan mempengaruhi
laju pertumbuhan pembangunan perikanan, oleh karena itu perombakan-perombakan daerah pesisir untuk kepentingan pembangunan
pemukiman, prasarana angkutan, industri kayu, dan lain-lain
harus dilakukan sedemikian rupa sehingga pengembangan perikanan
dapat berjalan dan berkelangsungan.
Kerusakan sumber alam air dalam sungai-sungai dan air bumi
oleh pencemaran industri, sampah rumah tangga, dan lain-lain akan
menyebabkan berkurangnya manfaat air untuk kepentingan pembangunan industri yang memerlukan air bersih, pembangunan pemukiman yang membutuhkan air minum, perikanan darat yang membutuhkan air untuk kehidupan yang sehat daripada sumber alam
biologis yang menunjang kehidupan perikanan. Dengan demikian
makin jelaslah bahwa pengelolaan sumber alam dan lingkungan
hidup, harus mempertimbangkan pula segi-segi pembangunan wilayah menurut ruang dan waktu.
Kebutuhan yang meningkat seringkali menyebabkan peningkatan
eksploitasi sumber alam untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek
menjadi lebih berkembang daripada usaha-usaha pelestarian alam
untuk pembangunan di masa depan. Kepentingan mempertahankan
suatu sumber alam dan lingkungan hidup dalam bentuk aslinya merupakan suatu usaha pencadangan sumber alam dan bentuk-bentuknya seperti plasma nuftah bagi peningkatan mutu budidaya, per-
275
kembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi, perlindungan ekosistem,
dan lain-lain yang sangat penting bagi pembangunan masa kini dan
masa depan. Perkembangan usaha peningkatan produksi pangan di
masa depan banyak ditentukan oleh perbaikan genetik dari varitasvaritas tanaman dan hewan yang dibudidayakan, dan perbaikan
genetik tersebut hanya mungkin dilakukan bila persediaan plasma
nuftah dalam alam dapat dipertahankan setinggi mungkin. Oleh
karena itu pengembangan suaka-suaka alam, dan usaha-usaha perlindungan ekosistem merupakan keperluan pembangunan nasional.
Dengan demikian usaha-usaha rehabilitasi sumber alam dan lingkungan hidup yang telah rusak, dan pengembangan pemeliharaan
kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup yang masih utuh
merupakan kebijaksanaan yang perlu mendapatkan perhatian dalam
program-program yang nyata.
Pendayagunaan sumber-sumber alam senantiasa akan menghasilkan bahan-bahan sisa yang biasanya dibuang ke dalam lingkungan.
Apabila jumlah bahan-bahan sisa tersebut melampaui daya asimilasi
lingkungan hidup, maka akan terjadi penumpukan bahan-bahan
buangan tersebut yang akan merusak ekosistem dan masyarakat akan
menanggung beban untuk membersihkan lingkungan hidupnya dari
bahan-bahan pencemar tersebut atau mengeluarkan biaya yang lebih
banyak untuk memelihara kesehatannya. Oleh karena itu dari sejak
awal perlu ditetapkan kebijaksanaan pokok untuk pengelolaan
sumber alam dalam hubungannya dengan lingkungan hidup. Kriteria-kriteria standar lingkungan hidup dan kriteria-kriteria bahan
buangan perlu segera ditetapkan, pengendalian pencemaran melalui
penggunaan teknologi yang lebih baik dan pengaturan lokasi kegiatan perlu ditetapkan lebih mantap. Di samping itu analisa pengaruh lingkungan dari kegiatan-kegiatan tersebut perlu dikembangkan pula dalam tahap perencanaan kegiatan, dan penilaian dari
hasil-hasil .analisa pengaruh lingkungan tersebut perlu ditetapkan
cara, pola, dan prosedur penilaian dan pelembagaannya dalam proses
pembangunan. Hal-hal ini semua akan memungkinkan pengambilan
tindakan-tindakan pengamanan yang diperlukan dengan tepat dan
tegas.
.
276
Penggunaan energi dalam pembangunan merupakan sumber pencemaran lingkungan yang utama, oleh karena itu kebijaksanaan pengelolaan energi perlu secara tegas dikaitkan dengan kebijaksanaan
perlindungan lingkungan hidup.
Untuk mengurangi tekanan terhadap sumber alam hutan yang disebabkan oleh kebutuhan sumber daya energi untuk keperluan
rumah tangga di daerah pedesaan, maka pengelolaan penyediaan
kayu bakar di daerah pedesaan perlu dikembangkan dengan lebih
mantap, mulai dari penanaman pohon-pohon sumber kayu bakar,
pengelolaan hutan-hutan kayu bakar rakyat, teknologi penggunaan
kayu bakar dan lain-lainnya. Di samping itu dapat dikembangkan
sumber energi mikrohidro, panas bumi, panas matahari, pusat listrik
tenaga air, gas bumi, dan lain-lainnya. Penggunaan sumber energi
minyak bumi, batubara, dan sejenisnya dikendalikan dengan baik
untuk mengurangi tingkat pencemaran lingkungan di daerah pemukiman dan daerah-daerah lainnya.
Dalam pengembangan lingkungan hidup peranan manusia dan
masyarakat sangat menentukan. Manusia dan masyarakat dapat
merusak dan mencemarkan lingkungan hidup, tetapi sebaliknya
manusia dan masyarakat dapat pula menjadi penyelamat dan
pembina lingkungan hidup yang sehat dan bertanggungjawab. Oleh
karena itu penyertaan setiap manusia dan seluruh masyarakat
untuk ikut serta memelihara, melestarikan, dan mengembangkan
lingkungan hidup merupakan kebijaksanaan yang perlu dirumuskan ke dalam program-program pelaksanaan pengembangan lingkungan hidup yang lebih jelas. Untuk keperluan tersebut pembinaan peraturan dan perundangan lingkungan hidup dan sumber
alam perlu ditingkatkan, demikian juga pengembangan etika sosial masyarakat yang sesuai dan serasi dengan kebutuhan perkembangan pembangunan sumber alam dan lingkungan hidup perlu
ditingkatkan lebih lanjut.
Pengembangan lingkungan hidup perlu dilihat tidak sebagai hal
yang berdiri sendiri, tetapi sebagai suatu ihtiar yang terpadu dengan
pengembangan berbagai segi peri kehidupan bangsa. Dengan demi-
277
kian pengembangan lingkungan hidup merupakan bagian dari kesatuan strategi pembangunan integral untuk meningkatkan kesejahteraan
dan mutu kehidupan masyarakat dalam kerangka besar pembinaan
bangsa yang berkepribadian. Dengan demikian kebijaksanaan dan
langkah-langkah dalam berbagai bidang dan sektor pembangunan
mencerminkan pula pertimbangan-pertimbangan dan usaha-usaha
yang bertalian dengan pengelolaan sumber-sumber alam dan lingkungan hidup.
Langkah-langkah pengelolaan sumber-sumber alam dan lingkungan
hidup dalam proses pelaksanaan pembangunan dapat diperinci sebagai
berikut :
1. Penduduk, Pemukiman, dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Kerusakan sumber-sumber alam dan pencemaran lingkungan hidup
tidak saja terjadi oleh karena pelaksanaan pembangunan yang kurang
bijaksana, tetapi juga oleh karena pertumbuhan penduduk yang amat
pesat sehingga di beberapa tempat telah melampaui daya dukung
lingkungannya. Untuk menghindarkan proses perusakan sumber alam
dan lingkungan hidup lebih lanjut dan untuk memungkinkan rehabilitasi sumber alam dan lingkungan hidup yang rusak, maka keseimbangan antara daya dukung lingkungan dan jumlah penduduk harus
dikembangkan. Pemecahan masalah ini akan dilaksanakan melalui
peningkatan pelaksanaan program keluarga berencana, peningkatan
pemindahan penduduk melalui transmigrasi, pemukiman kembali
peladang-peladang berpindah ke tempat-tempat pemusatan penduduk
yang mantap, dan berbagai usaha pembangunan lainnya.
Berkaitan dengan program keluarga berencana, maka kesehatan
masyarakat perlu pula diperhatikan melalui usaha-usaha pemberantasan penyakit menular, peningkatan pelayanan kesehatan di desa
dan dikota-kota, peningkatan kegiatan perbaikan kesehatan lingkungan, dan lain-lain untuk membantu tercapainya hubungan antara
manusia dan lingkungannya yang lebih serasi dan lebih sehat.
Keadaan lingkungan pemukiman cenderung untuk memburuk karena pertambahan penduduk yang lebih cepat dibandingkan dengan
278
kecepatan penambahan fasilitas-fasilitas pelayanan umum untuk mengimbanginya. Oleh karena itu usaha untuk penyebaran dan pembinaa n
pemukiman yang serasi dengan sumber alam dan lingkungan hidup
yang menopangnya akan dapat mendorong usaha-usaha pembangunan
daerah dan perluasan kesempatan kerja menuju peningkatan mutu
kehidupan yang lebih baik di seluruh wilayah nusantara.
Pembangunan kota perlu lebih memperhatikan keserasian hubungan antara kota dengan lingkungannya dan antara kota dengan daerah
pedesaan di sekitarnya serta keserasian pertumbuhan kota dengan
daerah di sekitarnya. Bagaimanapun pembangunan lingkungan pemukiman kota perlu diarahkan kepada pembangunan pemukiman untuk
penduduk yang berpendapatan rendah yang merupakan bagian terbesar dari penduduk kota.
Masalah pemukiman itu dihadapi dalam situasi dan skala yang
berbeda-beda di daerah perkotaan dan di daerah pedesaan, sehingga
pada dasarnya pembinaan pemukiman dan lingkungan hidup dapat
digolongkan ke dalam tiga masalah utama, yaitu: (1) masalah kepen dudukan dan pemukiman, (2) masalah pembinaan lingkungan di
daerah perkotaan, dan (3) masalah pembinaan pemukiman di daerah
pedesaan.
Usaha-usaha untuk menanggulangi masalah penduduk dan pemukiman mencakup empat kegiatan utama, yaitu:
(1) usaha mengurangi kecepatan pertambahan penduduk melalui
program keluarga berencana dan kebijaksanaan kependudukan
yang menyeluruh. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan kebutuhan tenaga kerja bagi pembangunan dimasa depan.
(2) usaha untuk mewujudkan penyebaran penduduk yang lebih
merata sesuai dengan daya dukung lingkungannya, melalui program transmigrasi dari Jawa ke Iuar Jawa dan penyebaran
kegiatan pembangunan yang lebih merata ke daerah-daerah untuk
merangsang perpindahan penduduk secara spontan keluar dari
Jawa dan dari daerah lain yang padat penduduknya.
(3) Usaha untuk mengurangi arus perpindahan penduduk dari daerah
pedesaan ke kota - kota, dan dari kota-kota kecil ke kota-kota besar
279
melalui usaha penciptaan pusat-pusat perkembangan baru di
kota-kota yang berukuran sedang dan kota kecil serta pembangunan daerah pedesaan.
(4) Usaha-usaha untuk menghimpun penduduk yang tinggalnya di
daerah-daerah terpencil jauh dari pusat-pusat kegiatan yang ada
dengan program pemukiman kembali penduduk terasing dan
peladang berpindah untuk mempermudah pembangunan .fasilitas
pelayanan umum .dan pembinaan masyarakat serta pencegahan
kerusakan hutan oleh karena perladangan berpindah.
Pembinaan pemukiman di daerah perkotaan diarahkan kepada
kegiatan-kegiatan utama sebagai berikut:
(1) usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan fasilitas pelayanan
umum kota, yaitu fasilitas pelayanan kesehatan, saluran pembuangan kotoran, pengendalian sampah, fasilitas pelayanan sosial
seperti sekolah-sekolah, tempat rekreasi umum, pusat kegiatan
pemuda, penerangan listrik, air minum, pengangkutan umum,
dan lain-lain. Melalui usaha-usaha tersebut diharapkan kesehatan akan bertambah baik dan timbulnya masalah sosial seperti
tindakan kriminil, penyalahgunaan narkotika, tunasusila, dan sebagainya dapat dicegah atau dikurangi.
(2) usaha-usaha perbaikan perumahan di daerah perkotaan melalui
program perbaikan kampung dan pembangunan rumah murah.
Usaha-usaha ini terutama ditujukan kepada golongan masyarakat berpenghasilan rendah dan membina swadaya dan swakelola
dari masyarakat sendiri untuk membina lingkungan pemukimannya. Usaha-usaha ini juga harus mampu menimbulkan lapangan
kerja baru di daerah tersebut, mampu memanfaatkan bahan yang
terdapat setempat, dan mampu menimbulkan motivasi sosial yang
konstruktif.
(3) Usaha-usaha pengaturan jaringan pengangkutan umum yang lebih
baik untuk mengimbangi peningkatan kendaraan bermotor dan
makin padatnya lalu lintas kota. Dengan demikian terjaminlah
kelancaran penyelenggaraan fungsi kota. Dalam hal ini usahausaha dilakukan untuk memperbaiki ruang gerak dari penduduk
280
berpenghasilan rendah, dan pemilihan jenis dan sistem angkutan
kota yang hemat bahan bakar dan mengurangi pencemaran lingkungan. Perhatian yang lebih besar kepada pejalan kaki perlu
dikembangkan.
(4) Usaha-usaha pencegahan pencemaran lingkungan udara dan air
yang diakibatkan oleh buangan rumah tangga, buangan pasar,
dan industri, melalui pengaturan lokasi yang tepat sesuai dengan
karakteristik lingkungan hidup, melalui pengelolaan sampah yang
lebih mantap, pengembangan standar-standar dan peraturan-peraturan pencegahan pencemaran lingkungan, dan melalui pendidikan dan penyuluhan yang membangkitkan penyertaan aktif
dari masyarakat luas untuk mencegah pencemaran lingkungan pemukiman.
(5) Usaha-usaha pengaturan tata ruang dan tata guna tanah yang
lebih baik sehingga segala fungsi kota, seperti daerah tempat
tinggal, daerah industri, daerah pusat jasa, daerah rekreasi, tempat-tempat ibadah, jalur hijau dan taman-taman kota dan sebagainya mendapatkan tempat dan berfungsi secara layak serta dalam keserasian satu sama lain. Hal ini dilakukan melalui usahausaha perencanaan tata kota, pengaturan penguasaan dan pemilihan tanah dalam kota, dan lain-lain.
(6) Usaha pembinaan pengetahuan dan kesadaran masyarakat kota
akan pentingnya pengikutsertaan yang aktif dalam pembinaan
lingkungan pemukiman yang lebih baik, peningkatan disiplin menuju kepada ketertiban dan ketentraman kehidupan kota yang
lebih baik.
Pembangunan lingkungan pemukiman daerah perkotaan tersebut
di atas akan menarik penduduk daerah pedesaan yang miskin untuk
pindah kekota, sehingga kemudian lingkungan hidup di kota akan
menjadi buruk kembali karena tekanan yang berat terhadap penyediaan lapangan kerja, fasilitas pelayanan umum, perumahan, dan lainlain. Oleh karena itu pembangunan lingkungan pemukiman kota
tersebut di atas perlu diimbangi oleh pembangunan lingkungan pemukiman pedesaan di sekitarnya untuk menghindarkan pindahnya pendu-
281
duk pedesaan ke kota-kota. Pembangunan kota dan daerah pedesaan
disekitarnya dengan demikian merupakan suatu kesatuan pembangunan sistem pemukiman yang menyeluruh.
Pembinaan lingkungan pemukiman di daerah pedesaan di titik beratkan kepada pembinaan swadaya masyarakat untuk membina pemukiman yang sehat dengan memperhatikan alat, tradisi, dan pandanganpandangan hidup masyarakat di daerah pedesaan.
Peningkatan mutu perumahan dan pembinaan lingkungan kesehatan
pemukiman desa dititik beratkan kepada pembinaan swadaya dan
swakelola masyarakat dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan warga desa untuk mempergunakan bahan-bahan yang terdapat
setempat dengan sehemat-hematnya. Rumah-rumah sehat percontohan
yang dibuat berdasarkan pola arsitektur-arsitektur tradisional yang
baik dikembangkan di daerah pedesaan oleh swadaya masyarakat
dengan mendapatkan bantuan-bantuan kredit dan bimbingan teknis
yang diperlukan. Dengan cara ini suatu pemukiman desa yang sehat,
beraneka ragam dan menunjang norma-norma kehidupan sosial yang
produktif dapat dikembangkan secepat-cepatnya.
Pola pemukiman umum pedesaan dikembangkan dengan tataruang
pedesaan yang baik sehingga fungsi rumah, bangunan-bangunan umum
seperti mesjid, tempat pertemuan umum, jalan-jalan desa, penerangan
listrik pedesaan, tanah pekarangan, dan tegalan, tempat mandi umum
dan air minum pedesaan dapat dikembangkan dengan mutu yang lebih
baik. Segala usaha tersebut diarahkan agar penduduk pedesaan dapat
memperoleh pekerjaan di lingkungan pedesaan itu sendiri, mempunyai lingkungan hidup sosial yang menyenangkan dan produktif, memiliki fasilitas-fasilitas kehidupan yang memadai seperti sekolah, pelayanan kesehatan, lembaga sosial desa dan lain-lain, sehigga alasanalasan untuk berpindah ke kota-kota dapat ditiadakan atau sekurangkurangnya dikurangi.
Selanjutnya mengingat eratnya hubungan antara masyarakat pedesaan dengan alam, diusahakan pembinaan kesadaran dan pengetahuan
masyarakat desa untuk serta dalam pengelolaan. sumber-sumber alam
dan lingkungan hidup agar dapat dijamin kelestarian dan pemanfaatan
282
yang sebaik-baiknya dari sumber alam dan lingkungan hidup alami
tersebut. Dengan demikian masyarakat di daerah pedesaan akan merupakan penjaga dan pencegah kerusakan-kerusakan terhadap sumber
alam dan lingkungan hidup alami pada umumnya. Dalam hubungan
dengan ini adat kebiasaan masyarakat desa yang mendukung kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup perlu dibantu untuk dipertahankan dan dikembangkan.
Pembangunan lingkungan pemukiman tidak hanya ditujukan pada
perbaikan-perbaikan fasilitas pelayanan umum dan prasarana fisik
pemukiman, tetapi juga pembinaan fasilitas usaha, dan yang lebih
penting lagi adalah pembinaan manusianya yang merupakan penggerak
pembangunan itu sendiri.
Pembangunan pemukiman, dengan demikian, harus mampu mendorong laju pertumbuhan regional yang serasi, dan harus mampu
membina interaksi sosial yang dapat memperkaya mutu kehidupan
yang lebih hakiki. Untuk keperluan tersebut, dalam hubungannya
dengan pembangunan pemukiman transmigrasi, pembangunan pemukiman tidak hanya dilakukan dalam areal pemukiman transmigrasi
tetapi juga dalam wilayah-wilayah di sekeliling daerah transmigrasi
dalam suatu pola yang integral.
2. Pembangunan pertanian dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan pendapatan harus
diimbangi oleh peningkatan produksi pertanian dalam bentuk bahan
pangan, bahan baku industri, bahan energi biologis, dan lain-lain.
Pada dasarnya proses pembangunan pertanian berwujud usaha mengalihkan sistem pertanian dengan produktivitas rendah menjadi sistem
pertanian dengan produktivitas relatif tinggi. Dalam rangka usaha ini
cara bercocok tanam di daerah-daerah pertanian tradisional perlu
terus disempurnakan melalui pola-pola yang .dapat meningkatkan
kelestarian kesuburan tanah, penyediaan fasilitas produksi pertanian
dan jasa distribusi hasil pertanian, prasarana, dan kemampuan pengelolaan produksi dan distribusi hasil pertanian.
Dalam banyak hal produksi pertanian tidak akan mungkin ditingkatkan dengan pesat tanpa bantuan bahan - bahan pendukung yang
283
berupa pupuk dan pestisida, penggunaan jenis unggul, dan pengairan.
Meskipun demikian penggunaan bahan-bahan kimia pupuk dan pestisida yang mempunyai pengaruh yang merugikan terhadap kesuburan
tanah dan perairan dalam jangka panjang perlu dihindarkan. Sistem
pergiliran tanaman perlu dikembangkan lebih lanjut dan diserasikan
dengan pembangunan fasilitas-fasilitas produksi dan jasa distribusi
hasil pertanian.
Penggunaan pupuk hijau dan pupuk alam perlu dikembangkan
kembali dalam rangkaian kegiatan yang serasi. Akibat-akibat sampingan yang merugikan yang disebabkan oleh pola pengawetan tanah
yang kurang diperhatikan, penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi
yang kurang cermat, dan lain-lain dapat merugikan perkembangan
pertanian lainnya seperti perkembangan perikanan dan perusakan
serta pendangkalan waduk-waduk dan jaringan irigasi yang sangat
penting bagi kelangsungan hidup usaha pertanian itu sendiri, penyediaan air minum dan lain-lain. Oleh karena itu usaha penyelamatan
tanah yang sempurna perlu dikembangkan dengan usaha sungguhsungguh pada areal-areal pertanian terutama pada pertanian tanah kering. Pengendalian penggunaan pupuk dan pestisida lebih ditingkatkan
terutama di daerah-daerah yang berdekatan dengan pemukiman dimana
air minum merupakan masalah yang gawat, dan di daerah-daerah yang
berdekatan dengan daerah pesisir di mana tempat-tempat perkembangan biakan ikan perlu dipertahankan untuk kelangsungan
perkembangan perikanan. Dalam hubungan dengan ,ini, analisa pengaruh lingkungan perlu dikembangkan dalam tahap perencanaan penggunaan pupuk dan pestisida secara besar-besaran, dan pembangunan
waduk-waduk besar, perombakan daerah pantai, dan lain-lain.
Perluasan areal pertanian yang dilakukan dengan usaha perombakan ekosistem secara besar-besaran harus didahului dengan analisa
pengaruh lingkungan yang cermat. Pada tahap perencanaan, untuk
dapat mengetahui tingkat perombakan dan akibat-akibat yang merugikan pembangunan, sehingga kemudian tindakan-tindakan penyelamatan dapat dilakukan dengan tepat dalam proses pembangunan yang
bersangkutan. Dalam hubungan ini perombakan hutan-hutan
primer yang berharga secara besar – besaran untuk pemukiman trans-
284
migrasi dan usaha pertaniannya, perlu sejauh mungkin dikurangi dan
lebih diarahkan kepada perubahan areal-areal tanah alang-alang
dan hutan-hutan sekunder. Perluasan persawahan pasang surut perlu
dilakukan dengan hati-hati agar kelestarian ekosistem yang menjamin
kesuburan dan keamanan pembangunan pertanian dikemudian hari
dapat dipertahankan dan dikembangkan.
Usaha-usaha pencegahan perluasan tanah kritis yang disebabkan oleh
pembukaan tanah dan cara bercocok tanam yang kurang baik
perlu ditingkatkan, dan rehabilitasi dari tanah-tanah kritis yang sudah
terjadi perlu ditingkatkan pula dengan usaha-usaha reboisasi dan penghijauan yang lebih baik. Usaha-usaha ini diharapkan akan dapat membina
dan mengembangkan landasan sumber alam bagi kepentingan
pembangunan dimasa yang akan datang, dan juga diharapkan dapat
mengamankan hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan terhadap bahaya erosi, kekeringan, dan banjir yang merusak, dan penyelamatan sistem hidrologi yang vital bagi kelangsungan kehidupan.
Usaha-usaha itu pada dasarnya adalah usaha untuk memulihkan dan
meningkatkan daya dukung lingkungan hidup ketingkat yang lebih
baik.
Kerusakan lingkungan pesisir dan lautan telah terjadi karena usaha
perikanan yang pesat tidak didukung oleh pembinaan sumber alarn
perikanan yang ada. Gejala-gejala pengurusan sumber daya perikanan
telah terlihat dengan jelas di daerah pantai yang menimbulkan keresahankeresahan sosial yang makin gawat. Oleh karena itu pengaturan
usaha perikanan pantai perlu dikembangkan serasi dengan daya dukung lingkungan pesisir.
Usaha penangkapan ikan yang dapat mengganggu kelestarian alam
seperti pemakaian bahan peledak, racun, alat penangkap yang kurang
tepat, dan lain-lain, perlu dikendalikan dengan ketat, dan perusakan
karang dan hutan payau sejauh mungkin dihindarkan. Untuk keperluan tersebut pembinaan pengetahuan dan teknologi pelestarian sumber perikanan perlu ditingkatkan pula.
Usaha-usaha tersebut diatas dikembangkan dalam rangka perbaikan
lingkungan hidup sosial bagi masyarakat petani yang berpenghasilan
rendah.
285
Hutan merupakan sumber alam yang memiliki kegunaan beraneka
ragam baik yang bersifat ekonomis maupun yang bersifat sosial budaya.
Sumber Alam Hutan dapat menghasilkan kayu, rotan, umbi-umbian,
kulit, daun, margasatwa, perlindungan tata-air dan lingkungan hidup,
penyediaan plasma nuftah, dan sebagainya.
Tetapi meskipun demikian pemanfaatan hutan juga tidak lepas dari
masalah lingkungan hidup. Eksploitasi hutan besar-besaran untuk memanfaatkan jenis-jenis kayu tertentu dapat menyebabkan kepunahan
jenis-jenis kayu berharga tersebut, terutama disebabkan oleh karena
kerusakan-kerusakan terhadap tanah dan anakan pohon-pohon berharga dalam proses eksploitasi tersebut.
Kepunahan jenis-jenis kayu berharga tersebut tentu saja menurunkan
nilai ekonomis sumber alam hutan sisa yang kemudian berkembang menjadi hutan-hutan sekunder yang kurang berharga. Untuk
mengatasi masalah ini maka sistem tebangpilih yang diterapkan di
hutan-hutan tropika di Indonesia perlu dikembangkan terus dengan
penuh disiplin agar keanekaragaman jenis dan mutu hutan yang telah
ditinggalkan dapat berkembang mendekati keadaan aslinya dalam
suatu periode tertentu sehingga jumlah dan mutu hutan yang tersedia di
masa yang akan datang tidak berkurang bahkan bertambah baik. Pelaksanaan pengendalian penebangan hutan tersebut perlu dilaksanakan
melalui peningkatan kemampuan pengelolaan aparat-aparat kehutanan,
pembinaan .sistem dan prosedur pengendalian yang lebih mantap, kemampuan teknologi yang lebih baik, dan pembukaan wilayah hutan
yang lebih baik, untuk mempertahankan kelestarian sumber alam hutan
tersebut.
Kerusakan-kerusakan hutan yang disebabkan oleh karena perladangan berpindah, kebakaran hutan dan perluasan padang alang-alang
perlu dicegah secepat-cepatnya melalui pendekatan-pendekatan yang
lebih mendasar seperti pemukiman kembali peladang-peladang berpindah, pemilikan dan tataguna tanah yang lebih pasti, pelaksanaan
hukum dan perundangan yang lebih jelas dan tegas, dan lain-lain,
tanpa melupakan pendekatan-pendekatan sosial-ekonomis kepada masyarakat penyebab kerusakan sumber alam hutan tersebut. Perlu ditekankan bahwa penyebab kerusakan hutan tersebut bukan saja rakyat
286
sekitar hutan yang miskin, tetapi juga para pengusaha dan pejabat
yang kurang pengetahuan dan kurang tanggungjawab melestarikan
sumber alam hutan.
Pembinaan dan pengamanan suaka alam dan taman-taman nasional
perlu ditingkatkan untuk kepentingan pembangunan di masa depan.
Pemanfaatan sumber alam ini sangat membantu dalam perkembangan
jasa pariwisata dan rekreasi, pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, perlindungan lingkungan hidup, penyediaan dan pelestarian
plasma nuftah, dan lain-lain.
Untuk kemungkinan pengamanan hutan-hutan tersebut di atas masalah
tata batas hutan yang pasti perlu segera diselesaikan untuk menjamin
kepastian hukum dari pengembangan sumber alam hutan.
3. Industri, Pertambangan dan Energi, serta pengelolaan lingkungan hidup.
Masalah-masalah lingkungan hidup di bidang industri berpangkal
tolak pada kegiatan pembangunan industri, kegiatan pemanfaatan sumber-sumber alam, kegiatan teknik produksi, dan kegiatan penggunaan
hasil produksi. Gangguan terhadap lingkungan hidup biasanya berupa
kehancuran sumber-sumber alam, pencemaran biologis, pencemaran
lingkungan oleh bahan-bahan kimia, pencemaran fisik seperti kebisingan, radiasi panas dan bahan radioaktif, dan gangguan-gangguan
sosial budaya. Pencemaran yang bersifat gangguan umum biasanya
berbentuk pencemaran lingkungan perairan, pencemaran udara, dan
pencemaran tanah, sedangkan pencemaran yang bersifat lokal biasanya berbentuk penumpukan sampah padat di atas tanah.
Industri-industri yang menghasilkan bahan buangan yang berbahaya
atau bahan kimia yang tahan pelapukan seyogyanya dikendalikan dengan ketat dan usaha pencegahan pencemaran di dalam proses produksi dan distribusi hasil dilakukan secara maksimum dan terus menerus. Industri-industri seperti ini dalam perencanaan pendiriannya diwajibkan untuk melaksanakan analisa pengaruh lingkungan yang lengkap untuk mempersiapkan usaha-usaha pencegahan pencemaran yang
akan timbul.
287
Kewajiban pelaksanaan analisa pengaruh lingkungan dan pelaksanaan
usaha pencegahan pencemaran juga diwajibkan bagi industri-industri
yang menghasilkan bahan buangan yang banyak dalam hubungannya
dengan daya dukung lingkungan yang bersangkutan. Dengan demikian
wilayah-wilayah industri, industri tekstil, industri besi-baja, industri
pupuk dan pestisida, industri minyak, industri pengolahan timah dan
aluminium, industri obat-obatan, industri pengolahan hasil pertanian
dan kehutanan, dan sejenisnya perlu dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pencegahan pencemaran lingkungan baik secara sendiri-sendiri
maupun secara bersama-sama.
Industri-industri diusahakan untuk dibangun di daerah yang jauh
dari pemukiman penduduk, dan apabila terpaksa berdekatan dengan
pemukiman penduduk maka analisa pengaruh lingkungannya perlu
dilakukan dan usaha pencegahan pencemaran lingkungan perlu ditingkatkan. Pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan oleh
industri dititik beratkan pada pengaturan lokasi industri, penentuan
kriteria bahan buangan, pemanfaatan teknologi yang mengurangi pencemaran lingkungan, pengelolaan bahan buangan dalam daur ulang
yang mantap, penggunaan nilai-nilai lingkungan hidup sebagai salah
satu ukuran dalam penilaian proyek-proyek industri, dan peningkatan
pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan
hidup yang bermutu baik.
Tujuan utama dari usaha-usaha tersebut ialah agar peningkatan
kegiatan industri dalam rangka pembangunan nasional tidak membawa
akibat rusaknya sumber alam dan lingkungan hidup.
Permasalahan lingkungan hidup di bidang pertambangan pada
umumnya meliputi permasalahan eksplorasi pertambangan dan minyak bumi yang menggunakan bahan-bahan peledak, peletusan sumursumur eksplorasi dan sebagainya, eksploitasi pertambangan minyak
bumi terutama dilepas pantai, pengangkutan minyak bumi dalam
jumlah besar, penambangan terbuka yang merusak sumber alam tanah
dan air, dan lain lain.
Untuk menanggulangi masalah kerusakan sumber alam tanah dan
air pada eksploitasi pertambangan permukaan seperti pertambangan
288
nikel, pasir-besi, timah, kapur, batu dan pasir, mangan, dan batubara,
harus diusahakan agar lapisan tanah atas yang subur dapat diamankan untuk kemudian dikembalikan ketempat semula setelah proses
penambangan selesai. Dengan demikian areal bekas pertambangan permukaan tidak menjadi tanah mati yang tidak bermanfaat, tetapi dapat
dikembalikan menjadi tanah pertanian atau hutan yang akan bermanfaat bagi masyarakat dikemudian hari. Pembuangan tanah galian
ke sungai-sungai dan danau harus dicegah sedapat-dapatnya untuk
menghindarkan pendangkalan dan perusakan lingkungan perairan
yang sangat bermanfaat bagi keperluan perikanan, air minum, dan
pengairan. Lubang-lubang galian pertambangan harus ditutup kembali setelah usaha pertambangan selesai untuk menghindarkan kecelakaan yang membawa kerugian bagi masyarakat dikemudian hari.
Usaha pertambangan dan penggalian sumber alam harus dilaksanakan agar tidak merusak sumber alam lain dan mencemarkan lingkungan hidup bagi kepentingan pembangunan berikutnya.
Sumber energi merupakan penggerak pembangunan disegala sektor, dan penggunaan energi disegala bidang selalu berhubungan
dengan pengotoran lingkungan baik lingkungan fisik udara, tanah,
dan air, maupun lingkungan biologis. Oleh karena itu kebijaksanaan
di bidang pengelolaan dan distribusi sumber energi selalu harus diarahkan kepada produksi dan penggunaan sumber energi dan proses
penggunaan energi yang mengurangi kerusakan terhadap lingkungan
hidup. Ini berarti penyediaan energi yang bersih seperti energi panas
bumi, energi panas matahari, energi air dan sejenisnya perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar. Penyediaan sumber energi minyak dan gas bumi perlu diusahakan untuk dapat memberikan energi
yang tidak terlalu banyak mengandung unsur kimia yang berbahaya
seperti unsur timah hitam, belerang, nitrogen oksida, dan lain-lain.
Produksi dan penggunaan bahan kimia tertentu seperti DDT, BHC,
PCB dan sejenisnya secara berangsur-angsur dibatasi dan diawasi dengan ketat.
Untuk mengurangi kerusakan sumber alam hutan karena pengambilan kayu dan bahan-bahan biologis lainnya untuk bahan bakar di
daerah pedesaan, maka perlu dikembangkan pengelolaan penyediaan
289
kayu bakar yang mengarah kepada kelestarian produksi bersama-sama
dengan pembinaan jaringan distribusi dan teknologi penggunaan yang
efisien. Penggunaan batubara dan sumber energi lainnya dapat pula
dikembangkan dalam hubungannya dengan penyediaan energi bagi
keperluan rumah tangga dan bagi keperluan penggerak industri lainnya. Bagaimanapun juga penggunaan sumber energi tersebut tidak
boleh membawa kerusakan sumber-sumber alam dan lingkungan hidup yang diperlukan untuk kepentingan pembangunan lainnya.
Oleh karena penggunaan energi yang boros mempunyai pengaruh
yang besar terhadap kerusakan lingkungan hidup dan persediaan
sumber energi bagi kepentingan yang akan datang, maka harus diusahakan penggunaan energi yang sehemat-hematnya disegala bidang pembangunan. Keselamatan pengangkutan minyak bumi dengan
tanker-tanker di lautan perlu ditingkatkan agar-kerusakan-kerusakan
terhadap lingkungan hidup perairan laut tidak semakin besar karena
kebocoran-kebocoran dan kecelakaan kapal-kapal tanker.
Untuk menghindarkan pencemaran lingkungan oleh karena pertambangan, industri, dan energi, maka proses perencanaan pembangunannya haruslah dilakukan secermat-cermatnya dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan hidup dan sumber alam, sehingga
usaha-usaha penyelamatan sumber alam dan lingkungan hidup dapat
dibina sebagai bagian integral dari pembangunannya.
Penelaahan lingkungan hidup dan pelaksanaan penyelamatan sumber alam dan lingkungan hidup dalam usaha pertambangan, industri,
dan energi perlu diawasi dengan seksama melalui pengaturan-pengaturan yang mantap dan tegas.
Usaha-usaha pertambangan, industri, dan energi yang biasanya dilakukan secara padat modal dan teknologi seringkali terletak didaerah pedesaan yang miskin. Perbedaan yang menyolok dari fasilitas
kehidupan antara kedua lingkungan sosial tersebut seringkali menimbulkan keresahan-keresahan sosial yang gawat. Untuk menghindarkan kerusakan lingkungan sosial tersebut maka dalam pembangunan
industri, pertambangan, dan energi perlu diperhitungkan pula pembangunan fasilitas kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya seperti
290
fasilitas penerangan listrik, air minum, fasilitas beribadat, sekolah,
rumah sakit, dan lain-lain. Dengan demikian masyarakat pedesaan
atau perkotaan yang miskin di sekitar usaha-usaha itu dapat ikut
serta merasakan manfaat pembangunan dan ikut serta merasa bertanggung jawab untuk mengamankan pembangunan tersebut tanpa
terlalu banyak merubah pola kehidupan sosial budaya yang baik dan
produktif.
4. Pemilikan dan Penguasaan Tanah, Tataguna Tanah, Tataguna
Air, Tataguna Ruang dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Tanah, lahan, dan air merupakan sumber alam dan sekaligus pula
merupakan lingkungan hidup. Oleh karena itu tanah, lahan, dan air
tersebut pada umumnya berkaitan erat dari satu tempat ketempat lain
dalam hubungannya dengan kelangsungan proses ekosistem. Oleh karena itu dalam pengaturan tataguna tanah atau lahan dan tataguna
air, perhatian perlu diarahkan kepada pengaturan penggunaan sumber alam tanah dan air tersebut agar cara penggunaannya di suatu
tempat tidak mengganggu manfaat tanah dan air tempat lainnya.
Tanah dan lahan yang terdapat di lereng-lereng terjal dan di
daerah pegunungan tidak dapat digunakan untuk keperluan-keperluan yang menyebabkan rusaknya sistem tata-air yang akan merusak
kegunaan tanah dan air di lembah-lembah. Penggunaan sumber alam
air, baik air permukaan maupun air bumi, di suatu tempat di daerah
hulu tidak boleh merusak manfaat air tersebut di daerah-daerah
hilirnya. Di daerah-daerah seperti itu segala usaha penggunaan tanah
dan air harus dilengkapi dengan usaha-usaha penyelamatan sumber
alam dan lingkungan hidup seperti usaha pencegahan erosi dan pencemaran air dan sebagainya.
Penggunaan wilayah pesisir harus diatur sedemikian rupa agar
kelangsungan kehidupan perikanan dapat dijamin pada tingkat
yang baik.
Bagaimanapun juga, keadaan yang paling mendesak adalah menentukan daerah-daerah lahan dan perairan yang merupakan daerahdaerah perlindungan utama bagi kehidupan di daerah lain, dan
di daerah – daerah itu dengan segera ditetapkan pola pengelolaannya
291
dengan sebaik-baiknya untuk menjamin kelangsungan kehidupan seluruh wilayah. Daerah-daerah tersebut apabila mungkin sebaiknya
dijadikan suaka alam atau hutan lindung yang diamankan dengan
sebaik-baiknya, dengan demikian kepentingan masyarakat yang
lebih banyak dapat diutamakan dan fungsi sosial tanah dapat dikembangkan secara nyata.
Tataguna dan ruang di daerah perkotaan harus mampu mencerminkan pemerataan keadilan dan kehidupan yang lebih baik. Nilai
lebih dari perubahan penguasaan tanah harus dapat dimanfaatkan
bagi kepentingan pembangunan masyarakat yang lebih banyak.
Masalah tanah merupakan masalah yang rawan di bidang sumber
alam. Di daerah pedesaan jumlah petani meningkat terus jauh
lebih cepat daripada perluasan tanah pertanian, sehingga luas ratarata pemilikan tanah untuk setiap petani menurun dengan cepat.
Luas rata-rata pemilikan tanah yang sangat kecil, di bawah setengah
hektar, merupakan hal sangat umum pada petani di daerah pedesaan
di Jawa, Bali, Lombok, dan beberapa daerah lain yang padat penduduknya. Luas pemilikan tanah yang sangat kecil tersebut jelas
tidak mampu mendukung kehidupan suatu keluarga petani, oleh
karena itu usaha pertanian di daerah-daerah tersebut tidak akan
mampu memberikan pendapatan dan pekerjaan yang diperlukan oleh
petani di daerah pedesaan tersebut.
Di daerah perkotaan, jumlah penduduk meningkat jauh lebih
cepat lagi, sehingga kebutuhan tanah untuk perumahan, bangunan
usaha dan industri, bangunan prasarana umum, dan lain-lain makin
meningkat pula.
Dengan terbatasnya jumlah tanah yang tersedia, dan meningkatnya kebutuhan akan tanah, maka makin meningkat pulalah harga
tanah. Dalam hubungan ini penduduk kota yang umumnya mempunyai kemampuan ekonomis yang lebih baik daripada penduduk
pedesaan, banyak pula yang mempergunakan pendapatannya yang
berlebihan untuk memiliki atau menguasai tanah sampai ke desadesa. Penduduk pedesaan yang miskin, karena tekanan hidup yang
berat, tidak mempunyai pilihan lain kecuali menjual tanah miliknya yang
kecil itu.
292
Keadaan tersebut di atas seringkali mempersulit usaha pemerintah
untuk membantu petani miskin melalui usaha-usaha peningkatan
pertanian seperti BIMAS dan Penghijauan, perkebunan rakyat, dan
lain-lain. Hal ini disebabkan oleh karena penguasaan tanah-tanah
tersebut menjadi kurang jelas, sehingga sasaran usaha-usaha tersebut
kurang tercapai. Tanah-tanah yang luas yang dimiliki oleh mereka
yang bukan petani seringkali dibiarkan tidak produktif, sehingga
sumber kehidupan pertanian di daerah pedesaan makin berkurang
pula bagi penduduk pedesaan yang bersangkutan. Keadaan-keadaan
tersebut telah menyebabkan keresahan-keresahan sosial yang cukup
gawat di daerah pedesaan dan di daerah kota.
Di daerah pesisir, telah pula terjadi banyak penguasaan tanah
pantai yang menyebabkan sukarnya para nelayan mencari tempat
bersandar bagi perahu-perahu nelayan, sehingga kehidupan nelayan
yang miskin di beberapa daerah menjadi makin bertambah sulit.
Dalam pelaksanaan pembagian hasil antara penggarap dan pemilik
menurut kenyataan banyak yang tidak mengikuti ketentuan Undangundang No. 2 tahun 1960 tentang Bagi Hasil padahal undang-undang
tersebut mempunyai tujuan melindungi golongan ekonomi lemah.
Pengakuan hak ulayat seperti tersebut dalam pasal 3 Undangundang No. 5 tahun 1960 menjamin kedudukan hukum tanah-tanah
adat tradisional dengan pembatasan selama tidak bertentangan dengan kepentingan Nasional dan Negara serta tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan lainnya yang lebih
tinggi. Pasal-pasal mengenai hal tersebut sering-sering tidak diperhatikan, sehingga timbul persoalan yang disebabkan karena adanya
perbedaan kepentingan antara hak ulayat dan kepentingan Nasional
dalam soal tanah.
Untuk menanggulangi masalah tersebut maka penertiban administrasi pertanahan akan lebih ditingkatkan mulai dari tingkat desa,
Kecamatan, sampai ke tingkat Kabupaten
Dalam usaha ini, kegiatan utama adalah pengukuran batas-batas
yang jelas dari tanah yang bersangkutan dan pemberian bukti yang
kuat sebagai tanda pemilikan dan administrasi pertanahan yang ter293
I
atur. Untuk keperluan itu maka aparat-aparat agraria ditiap Kabupaten akan diperlengkapi lebih baik sehingga mampu mengadakan
pengukuran batas-batas tanah dan memberikan tanda bukti hak atas
tanah dalam waktu cepat, dan khusus bagi para petani pemilik
tanah yang miskin yang mempunyai tanah kurang dari 0,5 ha, secara
bertahap tanda-tanda bukti hak atas tanah tersebut diberikan dengan
cuma-cuma. Dalam hubungan dengan itu monitoring perubahanperubahan pemilikan secara teratur dilaksanakan pula, agar pelaksanaan dari UUPA tentang luas pemilikan tanah maksimum dan
tata-guna tanah yang ditetapkan dapat dilaksanakan dengan baik.
Tanah-tanah yang dikuasai oleh adat seperti tanah ulayat, tanah
marga, dan sejenisnya harus segera dapat diketahui baik luasnya,
batas-batasnya, lokasinya, maupun kelompok adat yang menguasainya.
Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dikemukakan kebijaksanaan mengenai tanah sebagai berikut : "Agar pemanfaatan tanah
sungguh-sungguh membantu usaha meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, maka di samping menjaga kelestariannya perlu dilaksanakan penataan kembali
penggunaan, penguasaan dan pemilikan tanah ". Kemudian juga dikemukakan : "Pembangunan Pertanian harus merupakan usaha yang
terpadu dengan pembangunan daerah dan pedesaan. Dalam hubungan ini diperlukan langkah-langkah untuk mengendalikan secara
efektif masalah penggunaan, penguasaan dan pemilikan tanah sehingga benar-benar sesuai dengan azas adil dan merata".
Sebenarnya telah cukup pengaturan dilakukan dalam hubungannya dengan masalah tanah. Tetapi pelaksanaan peraturan-peraturan
tersebut belum selancar sebagaimana diharapkan.
Undang-Undang Pokok Agraria dan semua peraturan pelaksanaannya, yang berhubungan dengan pendaftaran tanah, belum dapat
dilaksanakan dengan baik karena beberapa hambatan seperti (1)
masyarakat terutama masyarakat pedesaan, belum merasakan perlunya untuk mendaftarkan haknya atas tanah karena hak-hak adatnya
diakui oleh masyarakat dan diakui oleh UUPA, (2) proses pendaf-
294
taran tanah dirasakan terlalu sulit dan mahal oleh masyarakat, (3)
kemampuan aparat agraria belum memadai untuk melaksanakan
pengukuran-pengukuran tanah yang diperlukan untuk pendaftaran
tanah. Terhambatnya usaha-usaha pendaftaran tanah menyebabkan
keadaan administrasi pertanahan belum memadai dan oleh karena
itu penyimpangan-penyimpangan hukum dalam pemilikan dan penguasaan tanah belum dapat diawasi dengan baik.
Batas maksimum pemilikan tanah telah ditetapkan dengan UUPA
dan beberapa peraturan pelaksanaannya. Sejak tahun 1960 pelaksanaan ketentuan-ketentuan tersebut telah dimulai dengan pelaksanaan
landreform, tetapi sejak tahun 1966 pelaksanaan landreform semakin mengendor dan bahkan terjadi banyak pelanggaran dengan berbagai cara penguasaan tanah tanpa hak pemilikan yang sah. Pelaksanaan larangan pemilikan tanah guntay belum dilaksanakan dengan
baik, administrasi pertanahan masih terbelakang, pelaksanaan landreform belum lancar, masih terdapat penguasaan tanah berlebihan
dan sebagainya. Hal ini semua telah menyebabkan semakin sukarnya
untuk menyelesaikan masalah tanah.
Untuk menangani masalah tersebut, maka pelaksanaan landreform
perlu digalakkan kembali, dengan pedoman kerja yang mantap, tegas dan serasi dengan keadaan masyarakat pada waktu ini.
Kelebihan tanah yang disebabkan oleh pelaksanaan landreform
dibagikan kepada petani penggarap yang miskin. Dalam hal tanah
kelebihan landreform tersebut marupakan tanah yang mempunyai kemiringan lebih dari 40% yang terletak di daerah kritis, maka tanahtanah tersebut dalam kelompok yang besar akan dikuasai oleh
negara dan dijadikan kawasan hutan untuk perlindungan ekosistem,
dan penghasil kayu bakar bagi rakyat. Demikian juga halnya dengan
tanah-tanah lain yang tandus dan tidak dapat dibagikan karena tidak
ada calon penerimanya.
Tanah perkebunan yang terlantar harus segera dapat ditangani
dan dimanfaatkan oleh pemegang hak atas tanah tersebut untuk usaha yang telah ditentukan. Untuk keperluan ini bantuan pemerintah
dalam bentuk bimbingan teknis dan fasilitas kredit murah perlu di-
295
pertimbangkan. Apabila usaha-usaha tersebut tidak berhasil mendorong pemegang hak atas tanah tersebut untuk memanfaatkan tanah
tersebut, maka tanah perkebunan terlantar tersebut segera dimiliki
dan dikuasai kembali oleh negara dan dijadikan areal kerja perkebunan negara, kawasan hutan atau bentuk-bentuk usaha perkebunan
yang lain.
Beberapa peraturan pelaksanaan dari UUPA dan UUBH yang penting belum tersusun, sehingga banyak masalah dalam pertanahan
belum dapat diselesaikan secara mantap. Dalam hubungan ini akan
segera diadakan peraturan-peraturan pelaksanaan yang berhubungan
dengan penggunaan tanah oleh bukan pemilik, pembatasan luas
minimum dan maksimum tanah untuk bangunan, pencabutan hak
milik karena tanah diterlantarkan, pembebanan hak milik atas tanah
hak guna dan hak pakai, kewajiban pemegang hak atas tanah
untuk memelihara dan mencegah kerusakan tanah serta menambah
kesuburan tanah, dan perundang-undangan tata guna tanah.
Di samping peraturan-peraturan tersebut akan dikembangkan pula
suatu pola perpajakan atas tanah yang didasarkan atas penggunaan
tanah yang tepat dan rasional sesuai dengan fungsi sosial dari
tanah. Dalam hal ini pajak atas tanah ditetapkan secara progresif
sesuai dengan luas pemilikan. Pemindahan hak milik atas tanah
akan dikenakan pajak sesuai dengan nilai potensial tanah yang bersangkutan. Perubahan ,penggunaan tanah-tanah pertanian yang mempunyai fasilitas pengairan yang baik yang dibangun oleh negara sejauh
mungkin akan dihindarkan. Tanah pertanian sawah yang baik
yang dipindahkan hak pemilikannya dan dijadikan tanah untuk bangunan akan dikenakan pajak tanah yang lebih tinggi sesuai dengan
nilai bangunan yang dibangun diatasnya. Peraturan pelaksanaan yang
akan disusun tersebut di atas harus mencerminkan suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan golongan masyarakat yang mempunyai pendapatan rendah, seperti petani kecil, petani penggarap, nelayan
kecil, dan golongan masyarakat kota berpenghasilan rendah, sehingga jurang pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin menjadi lebih kecil. Dengan demikian dibina lingkungan hidup sosial
yang lebih serasi, adil, aman, dan tertib. Penataan penggunaan tanah
296
yang akan dilaksanakan dalam Repelita III terutama akan diarahkan
kepada usaha memberikan pedoman dan pengarahan dalam rangka
meningkatkan efisiensi penggunaan tanah sesuai dengan perencanaan, persediaan dan peruntukannya bagi berbagai keperluan pembangunan yang erat hubungannya dengan penggunaan tanah, terutama
dalam usaha pertanian dan pembukuan daerah pertanian baru, transmigrasi dan pemukiman, perindustrian dan jaringan jalan. Dalam
pada itu kebijaksanaan penggunaan tanah kota akan diarahkan
kepada usaha menyusun rencana penggunaan tanah perkotaan yang
dapat dipakai sebagai bahan dalam merencanakan perkembangan
kota serta mencegah terjadinya sengketa penggunaan tanah perkotaan. Hal ini dilakukan melalui tata-ruang dan tata-guna tanah yang
baik.
Demikian pula diberi perhatian kepada pengembangan lingkungan
pemukiman pedesaan melalui tata-ruang pedesaan yang lebih baik.
Pembagian tanah kepada petani penggarap yang luasnya kurang
untuk dapat menghidupi sebuah keluarga petani dan sistem pewarisan
yang berlaku akan berakibat kembalinya masalah yang semula, karena
petani penggarap tersebut akan menjual lagi tanah-tanah tersebut
karena tidak mampu menghidupinya, dan petani tersebut akan kembali menjadi penggarap yang tidak mempunyai tanah. Oleh karena
itu perlu ditetapkan suatu kebijaksanaan agar pemilikan tanah pertanian minimum dikaitkan dengan koperasi penggarapan tanah, sehingga suatu rantai lengkap penggarapan tanah, panen, pemeliharaan tanaman, pengelolaan hasil, pemasaran, dapat dilaksanakan oleh
petani-petani miskin tersebut dan pendapatan petani tersebut dapat
lebih ditingkatkan.
Untuk kepentingan peningkatan produksi pertanian seperti pangan,
hasil-hasil perkebunan, dan lain-lain, maka di daerah padat penduduk
seperti Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi Selatan, dijajagi kemungkinan penukaran tanah-tanah milik rakyat yang tandus di gununggunung. yang mempunyai kemiringan minimum 40% dengan tanahtanah hutan di daerah rendah yang rata yang mempunyai kemiringan
kurang dari 8%. Sebagian dari hutan produksi di dataran rendah
harus dipertahankan untuk perlindungan kelestarian ekosistem yang
297
khas, dan untuk peningkatan produksi kayu bakar dan bahan bangunan bagi masyarakat.
Penukaran-penukaran tanah tersebut akan mengakibatkan bertambah luasnya tanah pertanian yang produktif dan bertambah luasnya
tanah-tanah hutan untuk kepentingan perlindungan lingkungan hidup
Penukaran-penukaran tanah tersebut harus diarahkan kepada pola
tataguna tanah yang rasional. Pola seperti ini juga dapat diterapkan
di daerah yang kurang padat penduduknya di luar Jawa, di mana
tanah-tanah perladangan yang kurang subur dan tanah-tanah alangalang di daerah pegunungan dapat dipertukarkan dengan tanah-tanah
hutan yang subur di dataran rendah yang rata. Pemusatan tanah pertanian di dataran rendah ini akan memudahkan usaha-usaha penambahan produksi pangan dengan cara pangairan dan pemupukan yang
tepat, dan sekaligus mengurangi bahaya erosi dan penggundulan
hutan-hutan dipegunungan. Penukaran-penukaran tanah ini merupakan usaha pemindahan petani pemilik dan petani penggarap yang miskin ke daerah-daerah yang lebih baik. Dalam pola ini penempatan
transmigrasi di luar Jawa dapat diterapkan pula untuk membuka
hutan-hutan yang subur di daerah-daerah rendah yang datar. Dalam
hal ini hutan-hutan yang menjadi sasaran adalah hutan-hutan yang
potensi hasilnya sudah rendah karena berbagai sebab kerusakan hutan
seperti hutan-hutan sekunder dan daerah alang-alang.
5. Pembangunan Prasarana dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Pembangunan prasarana pembangunan seperti jaringan jalan angkutan darat, jaringan jalan kereta api, jaringan angkutan air dan
udara, pelabuhan air dan udara, bendungan serba guna, pembangkit
energi listrik dan jaringan distribusinya, saluran distribusi minyak
bumi, dan lain-lain, mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap
kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup.
Oleh karena pengaruhnya yang besar terhadap lingkungan hidup,
maka dalam proses perencanaan pembangunan prasarana utama tersebut perlu dilengkapi dengan analisa pengaruh lingkungan yang terperinci, agar pengamanan terhadap lingkungan dan bangunanbangunan prasarana itu dapat sekaligus dilakukan dalam pola yang
integral.
298
Pemisahan suatu wilayah oleh suatu jalan bebas hambatan, akan
memisahkan kehidupan sosial yang tadinya merupakan kesatuan, sehingga menimbulkan keresahan-keresahan sosial yang gawat. Oleh
karena itu dalam pembangunan jalan lintas cepat seperti itu perlu
diusahakan agar hubungan sosial antara kedua bagian wilayah tersebut tidak banyak terganggu. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun jalan lintas tradisional di atas atau di bawah jalan lintas
cepat tersebut. Hal ini tentu saja akan dapat dihindarkan apabila
dalam perencanaan jalan lintas tersebut faktor lingkungan mendapatkan perhatian yang seksama.
Pencemaran pantai dan kehidupan biologis yang terjadi dalam pembangunan dan penggunaan pelabuhan oleh kapal-kapal merupakan
hal yang sangat mengganggu. Gangguan ini dapat berakibat berkurangnya sumber pencaharian penduduk pesisir.
Pencemaran lingkungan yang berupa pencemaran udara oleh gas
buangan dan kebisingan serta buangan panas, biasanya terjadi dalam
proses pembangunan dan pemanfaatan pelabuhan udara, pembangkit
listrik, jaringan angkutan, dan sebagainya. Kejadian-kejadian tersebut
harus dapat diperkecil dengan usaha pencegahan pencemaran yang
mantap mulai dari proses perencanaan sampai pada tahap pengelolaan
penggunaan prasarana tersebut.
Pembangunan bendungan serbaguna biasanya merubah ekosistem
suatu daerah aliran sungai secara mendasar. Pengaruh perubahan tersebut dapat mempengaruhi perkembangan sumber perikanan, sistem
hidrologi, kehidupan sosial ekonomi masyarakat, dan lain-lain. Perubahan-perubahan tersebut perlu diperhitungkan dalam proses perencanaan pembangunan bendungan-bendungan serbaguna, dan segera
diambil tindakan-tindakan pengamanan yang tepat untuk menyelamatkan lingkungan hidup fisik dan sosial yang baik yang pada akhirnya
akan mengamankan bangunan prasarana tersebut dikemudian hari.
Pada dasarnya pembangunan prasarana bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui peningkatan daya dukung alam
dan sosial yang lebih baik. Oleh karena itu perlu dicegah terjadinya
bencana dikemudian hari oleh karena pembangunan prasarana tersebut, dan dalam hubungan ini analisa pengaruh lingkungan pada tahap
299
perencanaan pembangunan prasarana tersebut perlu dilaksanakan
dengan teliti, untuk dapat dipergunakan sebagai dasar pelaksanaan
pembangunan yang menyeluruh dan melestarikan lingkungan hidup.
6. Pemanfaatan wilayah pesisir dan lautan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Daerah pesisir dan lautan merupakan sumber alam dan lingkungan
hidup yang mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan
bagi kepentingan pembangunan. Dua pertiga wawasan nusantara
Indonesia terdiri dari lautan yang luas dengan ribuan pulau-pulau
besar dan kecil, yang mempunyai garis pantai yang sangat panjang.
Pemanfaatan sumber alam dan lingkungan hidup yang sangat besar
tersebut akan mampu meningkatkan pembangunan dalam pertahanan
dan keamanan, perkembangan ekonomi, perhubungan antar pulau,
peningkatan produksi pangan, dan sumber bahan-bahan dasar lain
yang diperlukan bagi pembangunan nasional.
Meskipun demikian pemanfaatan daerah pesisir laut Jawa dan
Selat Malaka yang sangat intensif telah pula menyebabkan pencemaran perairan laut yang cukup gawat.
Pencemaran pesisir yang disebabkan oleh tumpahan minyak dan
pertambangan lepas pantai, pencemaran bahan buangan dari kapal,
pencemaran bahan buangan kota dan lumpur yang berasal dari daratan, dan lain-lain. Oleh karena itu dalam pemanfaatan daerah pesisir
dan lautan, terutama di Laut Jawa dan Selat Malaka, perhatian terhadap penanggulangan pencemaran perairan lautan perlu mendapat
perhatian yang lebih besar. Hal ini berhubungan pula dengan kepentingan negara-negara ASEAN yang menggunakan lautan tersebut
untuk kepentingannya messing-masing. Kerjasama antar negara ASEAN .dalam menanggulangi masalah pencemaran laut ini harus dikembangkan lebih sempurna.
Perlindungan terhadap hutan-hutan bakau yang sangat penting bagi
perkembangan perikanan laut dan perlindungan pantai perlu ditingkatkan dalam kordinasi yang lebih mantap.
-
300
Mengingat kebutuhan yang makin meningkat akan bahan pangan,
maka usaha-usaha budidaya lautan perlu dikembangkan lebih cepat
lagi dalam keserasian dengan daya dukung lingkungan hidup.
7. Pengaturan Biaya Pembangunan Lingkungan Hidup.
Dalam merencanakan pembangunan maka biasanya sudah disadari
bahwa penetapan investasi sekarang akan memberi pengaruhnya
kepada bentuk pola pembangunan dimasa datang.
Oleh karena itu penetapan investasi dimasa sekarang harus sudah
memperhitungkan berbagai hal yang diperkirakan akan timbul dimasa
depan nanti.
Dalam menilai berbagai pengaruh dari pembangunan seperti industri, pertanian dan pertambangan kepada lingkungan akan dihadapi
porsoalan bahwa beban biaya lingkungan yang ditimbulkan tidak akan
segera tercakup dalam struktur biaya. Umumnya hal-hal yang berkepentingan langsung dengan neraca laba rugi akan tercakup dalam
struktur biaya perusahaan. Tetapi biaya yang ditimbulkannya kepada
lingkungan alam dan lingkungan sosial, umumnya sulit untuk direkareka dalam perhitungan neraca rugi laba.
Secara teoritis maka ilmu ekonomi perusahaan telah mengembangkan sistem harga bayangan untuk menilai biaya yang ditimbulkan
pembangunan kepada masyarakat, yang dikenal dengan "perhitungan
biaya sosial". Maka pengaruh lingkungan yang merusak dan ditimbulkan oleh pembangunan dapat pula dihitung melalui sistem perhitungan harga sosial ini.
Meskipun demikian, mungkin cara ini dianggap terlalu sulit atau
terlalu mahal bagi kelangsungan hidup pembangunan seperti industri,
pertanian, pertambangan, dan sebagainya, sehingga banyak pengusaha
cenderung untuk mengabaikan biaya pengaruh lingkungan dari kegiatan industri ini. Pertubuhan industri secara terus menerus tanpa
ikhtiar memperhitungkan pengaruh lingkungan, akan mengurangi secara berangsur-angsur kemampuan daya dukung alam menyerap
pengaruh negatif dari industri kepada lingkungan. Jika titik kejenuhan
daya serap lingkungan sudah terlampaui, maka akan timbul reaksi
301
yang hebat dan industri di masa datang akan menghadapai akibat
dari diabaikannya pengaruh lingkungan di masa kini.
Masalahnya sekarang adalah bahwa kebanyakan pengusaha bukan
tidak menyadari kegawatan permasalahan lingkungan, akan tetapi
berbagai langkah ini akan memperbesar biaya perusahaan sehingga
mengurangi kemampuan bersaing perusahaan di pasaran.
Perlu diingat bahwa dikebanyakan pembangunan seperti industri
di luar negeri maka berbagai usaha mengurangi pengaruh lingkungan
yang negatif sudah tercakup dalam struktur biaya perusahaan masingmasing. Sehingga pencantuman biaya pengurangan pengaruh lingkungan dalam struktur biaya perusahaan di Indonesia tidak menambah
kemampuan bersaing perusahaan kita, akan tetapi lebih mengoreksi
posisi bersaing kepada dataran yang lebih wajar.
Masalah pengendalian biaya perlu di ikhtiarkan pada segi-segi lain,
termasuk segi-segi yang secara langsung turut mempengaruhi pengembangan lingkungan. Salah satu segi yang relevan dengan pengembangan lingkungan adalah pola manajemen yang lebih hemat.
Proses pembangunan di negara kita akan bisa dipercepat apabila
dapat ditumbuhkan sikap hidup yang lebih berhemat sebagai pencerminan dari pola hidup yang lebih wajar dan sesuai dengan kemampuan. Pembangunan adalah hasil dari kegiatan investasi. Berkat penanaman modal maka kemampuan produksi bisa ditingkatkan. Adanya
modal memberi kesempatan tetapi bukan jaminan bisa terlaksananya
pembangunan. Untuk ini diperlukan suatu semangat pembangunan,
semangat juang yang menghendaki kemajuan .dan pembangunan. Pencerminan dari semangat ini terlihat kepada adanya tabungan, sikap
hidup yang hemat dan semangat kerja keras.
Sikap hidup hemat dan semangat kerja keras yang paling penting
adalah yang hidup di kalangan pengusaha sebagai produsen dan pelaksana pembangunan. Oleh karena itu manajemen dan pengusaha perlu
memiliki dan menghayati .sikap hidup hemat ini. Berdasarkan sikap
hidup ini maka struktur biaya perusahaan bisa makin diperkecil.
Demikian pula bantuan dalam bentuk bimbingan teknis, peringanan pajak dan insentif lain perlu diberikan kepada dunia usaha
302
untuk memungkinkan penyertaan dunia usaha dalam penanggulangan
kerusakan sumber alam dan lingkungan hidup. Peralatan dan teknologi yang dipergunakan dengan efektif oleh dunia usaha untuk mencegah pencemaran lingkungan hidup perlu diberikan keringanan-keringanan pajak, sebaliknya dunia usaha yang mencemarkan lingkungan
hidup akan dikenakan pajak tambahan.
Bantuan yang lebih langsung untuk membangun fasilitas pencegahan
pencemaran umum bagi kelompok industri atau usaha dapat diberikan
dengan sistem pengelolaan tertentu. Bantuan ini terutama akan diberikan kepada pengusaha-pengusaha lemah dalam bidang industri, jasa
pasar, dan lain-lain. Bersamaan dengan itu usaha-usaha peningkatan
kesadaran masyarakat untuk kelestarian lingkungan hidup diarahkan
juga pada pengusaha secara mantap dan terus menerus dengan cara
menyampaikan secara berkala penerangan tentang cara-cara penanggulangan pencemaran yang efektif dan mudah serta murah, dan implikasi hukum apabila pencemaran terjadi.
8. Pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan
sumber alam dan lingkungan hidup.
Untuk mendukung usaha-usaha penyelamatan sumber alam dan
lingkungan hidup yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan, diperlukan penguasaan ilmu dan teknologi yang tepat dan cocok
untuk keadaan Indonesia. Untuk mencapai tujuan itu, maka perlu dilakukan pendidikan keahlian dan latihan-latihan yang berhubungan
dengan peningkatan kemampuan penalaran lingkungan hidup dalam
setiap sektor pembangunan, baik di tingkat pelaksana di pusat dan
di daerah, di tingkat penelitian, di tingkat dunia usaha dan lain-lain.
Yang paling penting sebagai usaha jangka pendek adalah melaksanakan pendidikan dan latihan pengelolaan sumber alam dan lingkungan
hidup, terutama dalam prosedur penilaian proyek, kepada para perencana di segala bidang.
Pendidikan keahlian yang lebih khusus dapat dibina secara bertahap di tingkat perguruan tinggi dan dikaitkan erat dengan pembentukan pusat-pusat studi pengelolaan sumber alam dan lingkungan hidup di beberapa perguruan tinggi dan lembaga - lembaga tertentu, se-
303
hingga dapat dihasilkan pengalaman dan tenaga-tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan keadaan lingkungan hidup di Indonesia.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap usaha pelestarian sumber alam dan lingkungan hidup, maka pendidikan ilmu lingkungan dapat diberikan sebagai mata pelajaran umum mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Pengetahuan akan keadaan lingkungan hidupnya bagi generasi muda ini diharapkan dapat
meningkatkan penyertaan aktif dan mantap dari segenap generasi
muda untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan hidup yang
lebih baik.
Penerangan melalui media massa dan berbagai cara penyuluhan
perlu dikembangkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat secara umum dalam usaha penyelamatan sumber alam dan lingkungan
hidup, termasuk kursus-kursus bagi ibu rumah-tangga, pemuda, pramuka, dan lain-lain.
Ilmu dan teknologi memegang peranan penting dalam usaha pemanfaatan sumber alam dan pelestarian lingkungan hidup. Di dalam memilih ilmu dan teknologi yang akan digunakan, perlu dipergunakan pertimbangan pengaruhnya terhadap kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup, di samping pertimbangan-pertimbangan yang lazim dipergunakan seperti pertimbangan ekonomis, penyerapan tenaga kerja,
dan lain-lain.
Tenaga-tenaga pengelola sumber-sumber alam dan lingkungan hidup masih harus terus dibina dan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan pembangunan misalnya tenaga ahli pengawetan
tanah dan air, pengelola hutan dan lautan, ahli-ahli tata lingkungan,
tenaga-tenaga peneliti dalam bidang oceanologi, hidrologi, suaka alam,
geologi, hukum lingkungan, mass media dan lain-lain.
Oleh karena masalah lingkungan Indonesia merupakan masalah
setempat dan nasional, maka pembinaan kemampuan tenaga ahli tersebut di atas perlu dilakukan di dalam lingkungan hidup Indonesia
sendiri, agar pandangan dan pendekatan yang dipergunakan dalam penelaahan masalah lingkungan hidup dapat dipertanggung-jawabkan dengan baik.
304
9.
Pembinaan hukum dan aparatur, dalam pengelolaan sumber
alam dan lingkungan hidup.
Untuk memberikan pengaturan yang mantap dalam usaha pengelolaan sumber alam dan lingkungan hidup di Indonesia perlu dikembangkan peraturan perundang-undangan yang sesuai, dengan mempergunakan kriteria mutu lingkungan hidup yang lebih kwantitatif.
Dalam hal ini perlu segera diadakan peraturan perundang-undangan
yang mengatur tataguna tanah, tataguna air dan lain-lain yang dilengkapi dengan peraturan pelaksanaannya serta pedoman-pedoman kerja
yang lebih tegas. Sementara itu, bersamaan dengan pembuatan peraturan perundang-undangan secara sektoral sesuai dengan kepentingan perlindungan dan pembangunan lingkungan hidup di masing-masing
bidang, perlu pula segera digarap suatu Undang-undang yang mengatur ketentuan-ketentuan pokok tentang masalah lingkungan yang menyangkut pengaturan (1) pemukiman manusiawi dan lingkungan hidup, (2) pengelolaan sumber daya alam, (3) pencemaran lingkungan,
dan (4) yurisdiksi departemen-departemen di bidang lingkungan hidup.
Undang-undang yang memuat azas serta prinsip-prinsip pokok tentang
perlindungan dan pengembangan lingkungan hidup ini beserta sanksisanksinya akan merupakan dasar bagi semua peraturan perundangundangan lainnya yang diciptakan secara sektoral. Dalam merumuskan berbagai peraturan perundang-undangan tersebut di atas, perlu
diperhatikan azas serta prinsip-prinsip yang digunakan oleh konvensikonvensi internasional di bidang lingkungan hidup. Peraturan perundang-undangan yang mengatur pokok-pokok kebijaksanaan di
bidang lingkungan secara menyeluruh dan peraturan-peraturan
perundang-undangan secara sektoral yang dilengkapi peraturan, pelaksana serta tatacara pelembagaannya perlu dikembangkan lebih cepat,
agar kesimpang siuran wewenang dan tanggungjawab dalam pengelolaan sumber alam dan lingkungan hidup dapat dikurangi. Analisa
pengaruh lingkungan yang telah dibuat oleh proyek-proyek perlu
diikuti oleh tatacara pelembagaannya, agar koordinasi dalam penilaian
suatu prayek atau kegiatan dapat dilakukan dengan baik, sehingga
hambatan – hambatan proseduril dapat dihilangkan. Keseluruhan per-
305
aturan perundang-undangan tersebut selanjutnya akan membina
suatu sistem hukum lingkungan nasional.
Kegiatan-kegiatan pembinaan peraturan perundang-undangan tersebut harus diawali dengan inventarisasi dari semua aturan hukum
berkenaan dengan masalah lingkungan yang tersebar diberbagai
bidang, konvensi-konvensi internasional serta undang-undang tentang
lingkungan dari negara-negara lain di bidang lingkungan yang kiranya dimanfaatkan bagi pembinaan hukum lingkungan di negara kita.
Usaha pembinaan lingkungan ini perlu segera diikuti oleh pembinaan
aparat-aparat pelaksana hukumnya yang mampu melaksanakan
tugas yang dibebankan kepadanya.
Dalam pelaksanaan aturan-aturan hukum lingkungan hidup, penelusuran mutu lingkungan hidup perlu dilakukan dengan teratur
dan melembaga, sehingga data dasar yang diperlukan untuk mengambil tindakan-tindakan dapat disediakan dengan cepat dan mempunyai ketelitian yang dapat diandalkan.
Dalam membina institusi pengelolaan sumber alam dan lingkungan
hidup perlu ada suatu badan dengan tugas melakukan pembinaan
lingkungan hidup, memonitor dan mengawasi pelaksanaan kebijaksanaan serta peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan
hidup. Badan ini merupakan aparatur operasional pada tingkat nasional yang menangani masalah-masalah lingkungan hidup. Di daerah
tingkat I dan daerah tingkat II tugas tersebut diserahkan kepada
instansi-instansi daerah yang khusus dibina untuk keperluan masalah lingkungan. Di tingkat desa pengawasan lingkungan dapat
dilakukan dengan memanfaatkan lembaga yang sudah ada seperti
Lembaga Musyawarah Desa dan Lembaga Sosial Desa.
Di samping usaha-usaha tersebut di atas, diperlukan pula pengembangan cara-cara penyerasian usaha pengelolaan sumber alam dan
lingkungan hidup. Usaha ini amat luas sifatnya dan mencakup
berbagai segi kehidupan yang melibatkan berbagai lembaga, baik
pemerintah maupun lembaga-lembaga masyarakat. Oleh karena itu
usaha-usaha penyerasian kebijaksanaan dan langkah-langkah serta
tindakan – tindakan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan
306
sumber alam dan lingkungan hidup akan lebih ditingkatkan lagi dalam
Repelita ketiga ini.
PROGRAM-PROGRAM
Jumlah penduduk yang tinggi dan tingkat pendapatan yang rendah
merupakan tantangan pembangunan yang masih harus dihadapi di
dalam REPELITA III yang akan datang. Kedua hal tersebut perlu
ditanggulangi melalui pembangunan yang efisien di segala bidang,
karena seringkali menjadi sebab utama terjadinya perusakan kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup. Tetapi kehidupan yang
mewahpun dapat merusak kelestarian sumber alam dan lingkungan
hidup oleh karena adanya pemborosan penggunaan sumber
alam
dan lingkungan hidup.
Pembangunan yang harus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia berarti peningkatan penggunaan sumber alam dan lingkungan hidup untuk memenuhi kebutuhan yang makin meningkat.
Peningkatan penggunaan sumber alam dan lingkungan ini merupakan
keharusan yang tidak dapat dielakkan untuk dapat memerangi kemiskinan. Akan tetapi meningkatnya kebutuhan dan usaha untuk
memenuhi akan mengalami hambatan-hambatan karena keterbatasan
sumber alam. Oleh karena itu perencanaan dan pengelolaan sumber
alam dari segi permintaan perlu diserasikan dengan perencanaan dan
pengelolaan sumber alam dari segi penyediaan, agar supaya kebutuhan
yang makin meningkat, tersebut tidak melampaui daya dukung sumber
alam dan lingkungan hidup yang penting bagi kelangsungan kehidupan
bangsa dan negara.
Peningkatan penggalian dan pemakaian sumber alam dan peningkatan usaha pembangunan akan menyebabkan peningkatan pencemaran lingkungan hidup yang selanjutnya akan menghambat usaha
peningkatan pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu pemanfaatan
sumber alam perlu diusahakan agar dilakukan sehemat mungkin,
dalam arti alokasi penggunaan yang tepat dan pemanfaatan yang
efisien, dan pelaksanaan
pembangunan
dilakukan dengan hati-hati
agar pencemaran lingkungan hidup dapat dihindarkan.
307
Penambahan jumlah penduduk yang cukup besar di daerah perkotaan dan daerah pedesaan yang berdekatan dengan kota-kota
dalam wilayah yang tingkat pembangunannya tinggi menimbulkan
masalah kemerosotan mutu lingkungan hidup pemukiman yang cukup
besar, yang selanjutnya akan menurunkan produktivitas manusia
dan dengan demikian menurunkan tingkat pendapatan masyarakat
dan produktivitas wilayah. Yang paling banyak menderita adalah
golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Kemerosotan
mutu lingkungan pemukiman merupakan sebab yang jelas dari meningkatnya kriminalitas dan keresahan sosial, kemerosotan kesehatan
masyarakat, dan kemerosotan solidaritas masyarakat. Kemerosotan
mutu lingkungan hidup pemukiman menyangkut berbagai aspek
fisik, sosial, dan budaya, seperti perumahan, kesehatan lingkungan,
pengangkutan, infrastruktur, kehidupan sosial dan budaya, dan lainlain. Oleh karena itu penanggulangan masalah kemerosotan mutu
lingkungan pemukiman perlu dilaksanakan secara lintas sektor yang
efisien dan konsisten.
Pembangunan lingkungan hidup daerah perkotaan, yang akan
memperbaiki fasilitas kehidupan di kota-kota akan menarik penduduk pedesaan yang miskin untuk pindah ke kota, yang kemudian
menyebabkan kemampuan lingkungan pemukiman kota dibebani
terlalu berat, sehingga kemudian lingkungan hidup pemukiman di
kota-kota akan menjadi buruk kembali karena tekanan yang berat
terhadap penyediaan lapangan kerja, fasilitas kesehatan, fasilitas
lingkungan, perumahan, dan lain-lain, sehingga pengaruh pembangunan hilang lenyap ditelan oleh kenaikan jumlah penduduk yang
pesat. Oleh karena itu perbaikan lingkungan hidup pemukiman di
daerah perkotaan perlu diimbangi oleh perbaikan lingkungan hidup
pedesaan di sekitarnya sehingga penyediaan lapangan kerja dan fasilitas kehidupan yang baik di pedesaan dapat mengurangi keinginan
penduduk desa untuk pindah ke kota, dan bahkan dapat menarik
penduduk kota yang padat penduduknya untuk pindah ke daerah
pedesaan dan mengembangkan daerah pedesaan.
Di daerah pedesaan, kebutuhan yang meningkat akan bahan
pangan dan energi, menyebabkan kerusakan hutan yang besar dan
308
penggarapan tanah yang makin sering dengan tidak memperhatikan
pengawetan tanah dan air, sehingga tingkat kesuburannya makin
menurun yang berarti produktivitasnya makin merosot. Untuk tetap
mempertahankan jumlah produksi pangan diperlukan tanah garapan
yang lebih luas, sehingga masyarakat pedesaan menebang hutanhutan dan menggarap tanahnya lebih sering lagi. Hal ini menyebabkan makin meluasnya tanah-tanah kritis sehingga masyarakat
pedesaan tersebut semakin miskin saja. Perluasan tanah kritis di
daerah pegunungan dan perbukitan telah menyebabkan banjir, kekeringan dan pelumpuran sungai-sungai dan bendungan yang merusak hasil pembangunan yang telah dilaksanakan baik berupa pemukiman, infrastruktur, areal pertanian pangan, industri dan pembangkit tenaga listrik. Akibatnya seluruh wilayah daerah aliran
sungai mengalami kemerosotan pertumbuhan pembangunan dan
pendapatan regional akan menurun pula.
Di daerah pesisir, peningkatan kebutuhan pangan, energi, dan
peningkatan usaha di bidang pembangunan pemukiman, industri
dan perhubungan, telah menyebabkan rusaknya hutan-hutan bakau
dan daerah pesisir tertentu yang disebabkan oleh penggalian sumber
perikanan yang melampaui batas daya dukung perairan, perusakan
karang-karang pantai, pencemaran perairan, perombakan daerah pasang-surut, dan lain-lain, sehingga produktivitas daerah pesisirpun
makin menurun saja. Penghasilan nelayan rakyat makin menurun
pula karena produktivitas pesisir yang menurun dan pertumbuhan
lapangan usaha lain tidak berkembang.
Wilayah pesisir yang rawan ini perlu ditingkatkan daya dukungnya melalui pemeliharaan dan rehabilitasi hutan-hutan bakau, pencegahan pencemaran oleh industri, pemukiman, dan kegiatan perhubungan, pengaturan usaha perikanan tambak, dan pengaturan
usaha penangkapan ikan pantai berdasarkan kelestarian sumber
alam dan lingkungan hidup, dan pengaturan penggunaan tanah di
wilayah pesisir.
Kebutuhan yang meningkat seringkali menyebabkan peningkatan
penggunaan sumber alam untuk mencukupi kebutuhan jangka pendek dan kurang memperhatikan usaha - usaha pelestarian sumber
309
alam untuk pembangunan jangka panjang dan untuk generasi yang
akan datang. Kepentingan mempertahankan suatu sumber alam
dalam bentuk aslinya merupakan suatu usaha pencadangan sumber
alam dan bentuk-bentuknya seperti plasmanuftah bagi peningkatan
mutu budidaya, perkembangan pariwisata, pengetahuan dan teknologi, perlindungan ekosistem, dan lain-lain, yang sangat penting bagi
pembangunan di masa depan. Perkembangan usaha di bidang
pangan di masa depan banyak ditentukan oleh perbaikan genetik
dari varitas-varitas tanaman dan hewan yang dibudidayakan, dan
perbaikan genetik tersebut hanya mungkin bila persediaan plasmanuftah dalam alam dapat dipertahankan sebanyak mungkin.
Pengaruh pembangunan terhadap lingkungan hidup fisik dan lingkungan .hidup sosial perlu selalu diperhitungkan, agar supaya kerusakan terhadap lingkungan hidup fisik dan keresahan lingkungan
sosial dapat diketahui dan dihindari, sehingga .kelangsungan pembangunan itu dapat dijamin dengan lebih baik. Oleh karena itu
kriteria pengaruh lingkungan hidup perlu dipergunakan sebagai salah
satu faktor dalam pemilihan proyek atau kegiatan usaha baik secara
sektor maupun secara regional. Di samping proyek-proyek yang
nyata manusia dan masyarakat dapat pula secara individual merusak
kelestarian dan mencemarkan lingkungan hidup, tetapi sebaliknya
manusia dapat pula menjadi penyelamat dan pembina lingkungan
hidup yang bertanggungjawab. Oleh karena itu penyertaan setiap
manusia dan seluruh masyarakat untuk ikut serta memelihara, melestarikan, dan mengembangkan lingkungan hidup perlu dibina
terus menerus.
Pembangunan dengan pengembangan lingkungan hidup harus
mampu membuka dimensi baru dalam pembangunan dengan membuka kemungkinan bagi keanekaragaman lingkungan hidup sehingga
dengan demikian membuka kesempatan untuk memilih beraneka
ragam kegiatan dalam peri kehidupan yang lebih luas, lebih bermutu, dan lebih mantap.
Berdasarkan keadaan dan tujuan pembangunan dalam hubungan
dengan pengelolaan sumber alam dan lingkungan hidup tersebut,
310
maka pelaksanaannya disusun dalam 3 program-program sebagai
berikut :
(1) Program Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air
(2) Program Pembinaan Sumber Alam dan Lingkungan Hidup
(3) Program Pengembangan Meteorologi dan Geofisika
(1) Program Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air
Untuk mencegah kemerosotan dan sebanyak mungkin meningkatkan produktivitas sumber alam tanah, hutan, air, dan lautan, maka
usaha-usaha pengawetan tanah dan air dalam areal produksi pertanian,
pencegahan perusakan daerah pesisir, pencegahan perusakan hutan,
dan usaha reklamasi tanah kritis perlu ditingkatkan dan dikembangkan
melalui pola pembangunan masyarakat yang menyeluruh. Pendekatan
sosial dan budaya perlu dimasukkan pula dalam penanggulangan
masalah ini. Perbaikan daya dukung lingkungan hidup dan sumber
alam tersebut di atas dilaksanakan melalui suatu kesatuan rencana
pengelolaan daerah aliran sungai, sehingga dengan demikian kordinasi
pelaksanaan pembangunan yang efektif dalam usaha-usaha pertanian,
pemukiman, industri, pembangunan infrastruktur, pemasaran hasil,
reboisasi dan penghijauan, pembangunan bendungan dan pembangkit
tenaga, dan pembangunan masyarakat dapat dikembangkan berdasarkan peningkatan efisiensi penggunaan sumber alam tanah dan air yang
semakin langka.
Usaha-usaha tersebut di atas diarahkan kepada pencegahan kemerosotan pendapatan peta dan nelayan miskin pada daerah-daerah kritis
dan sedapat mungkin meningkatkan pendapatan mereka melalui perbaikan dan peningkatan produktivitas usaha tani dan nelayan pada
tanah garapan dan perairan pantai yang bersangkutan, peningkatan
landasan sumber bagi pembangunan di masa depan, peningkatan keanekaragaman usaha, dan penyediaan lapangan kerja yang cukup,
Usaha-usaha itu juga bertujuan mengamankan dan melindungi investasi pembangunan yang telah berlangsung terhadap bencana banjir,
kekeringan, dan pelumpuran dalam daerah aliran sungai yang bersangkutan, dan meningkatkan daya dukung lingkungan perairan
sehingga kemungkinan pembangunan di masa depan dapat berkembang
lebih banyak.
311
Program Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air ini dikembangkan
lebih lanjut untuk mencakup kegiatan-kegiatan reboisasi dan penghijauan, pembangunan bangunan pencegah erosi dan banjir, penyehatan
sungai, pembinaan penyediaan kayu bakar bagi rakyat pedesaan dan
pembinaan masyarakat secara menyeluruh dalam usaha peningkatan
lapangan kerja pedesaan, pengawetan tanah dalam areal produksi pangan, perlindungan daerah pesisir, pencegahan perusakan hutan, dan
perbaikan tata guna tanah pada 35 Daerah Aliran Sungai yang terpenting agar dapat meningkatkan keseimbangan antara fungsi perlindungan, fungsi produksi, pemukiman dan industri, serta fungsi keanekaragaman dalam pedesaan, yang dikembangkan dalam suatu kesatuan
pengelolaan daerah aliran sungai. Dalam kegiatan ini termasuk juga
penyediaan energi pedesaan dalam rangka penyelamatan hutan.
Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup dapat dimanfaatkan
oleh banyak kegiatan. Kegiatan-kegiatan pembangunan dalam memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan hidup seringkali bersaingan
yang dapat menyebabkan berkurangnya dayaguna dan hasil guna
sumber daya alam dan lingkungan hidup tersebut secara keseluruhan.
Di beberapa daerah, di mana intensitas pembangunan sudah cukup
tinggi, persaingan penggunaan sumber daya alam dan lingkungan hidup
seringkali menyebabkan kemerosotan daya dukung lingkungan
tersebut.
Kerusakan-kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup
telah terlihat dengan jelas dalam ekosistem daerah aliran sungai di
Jawa, Sulawesi Selatan, Bali dan sebagainya. Perbaikan-perbaikan
daerah aliran sungai yang telah rusak tersebut memerlukan pengelolaan kegiatan-kegiatan yang lebih terpadu yang menyangkut pengendali- an aliran sungai, pengelolaan terpadu daerah aliran sungai, terutama daerah aliran sungai di Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara,
dan Lampung. Di samping itu tataguna tanah, tataguna air dan tataagraria perlu dikembangkan dalam pelaksanaan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup dalam daerah-daerah aliran sungai
yang rawan tersebut, agar kerusakan sumber alam dan lingkungan
hidup selanjutnya dapat dicegah dan daya dukung daerah aliran
sungai dapat diperbaiki.
312
Dengan demikian program ini akan mencakup juga kegiatankegiatan inventarisasi dan perencanaan sumber-sumber air, sungai,
danau dan rawa, pengaturan aliran sungai, perbaikan pesisir, danau
dan sungai, pembinaan sistem pengelolaan terpadu daerah aliran
sungai, untuk meningkatkan daya dukung sumber alam dan lingkungan
hidup daerah aliran sungai, rawa, danau dan pesisir, sistem pelaksanaan tataguna tanah, tataruang dan tata-agraria daerah aliran sungai,
dan lain-lain yang mengarah kepada penggunaan optimal ekosistem dan
kelestarian lingkungan hidup.
(2) Program Pembinaan Sumber Alam dan Lingkungan Hidup.
Terdapat banyak kemungkinan untuk memanfaatkan sumber alam
dan lingkungan hidup yang khas tanpa merusaknya, misalnya pengem
bangan pariwisata dan jasa rekreasi dengan segala industri penunjangnya, pengembangan budaya, pengetahuan dan pendidikan, penyediaan
plasmanuftah, dan lain-lain. Untuk mencegah hilangnya sumber alam
dan lingkungan hidup yang khas bagi keperluan pembangunan di masa
depan, beberapa bagian dari wilayah nasional perlu dilestarikan dan
dikembangkan menjadi areal suaka alam dan taman nasional yang dikelola secara terpadu untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, penyediaan jasa rekreasi yang dapat menciptakan lapangan
kerja baru dan sumber pendapatan baru bagi pemerintah dan masyarakat. Pembangunan Taman Nasional menyangkut berbagai aspek
yang berhubungan dengan kebudayaan, perhubungan, jasa pariwisata,
kehutanan, industri kerajinan, penyertaan masyarakat, dan lain-lain.
Oleh karena itu pembinaan Taman Nasional dan suaka alam tersebut
merupakan suatu pembangunan lintas sektor yang cukup dapat dikembangkan. Pelaksanaan pembangunan suaka alam dan taman nasional ini perlu dikembangkan melalui pembangunan suaka alam dan
taman nasional yang meliputi Pembangunan dalam aspek pariwisata;
kehutanan, infrastruktur, dan partisipasi masyarakat, dan dipusatkan
di daerah-daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Nusa
Tenggara Barat Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi dan Maluku Irian Jaya.
Untuk mencegah agar pembangunan tidak merusak lingkungan hidup yang mendukungnya maka pembangunan tersebut harus menyer-
313
takan pengembangan lingkungan hidup sebagai salah satu tujuannya.
Dalam hubungan ini pembangunan dalam bidang pertanian, perikanan, penyediaan energi, pemukiman, industri, perhubungan, pertambangan, dan infrastruktur seperti bendungan, jalan lintas utama,
dan lain-lain perlu dikembangkan agar memperhitungkan pengaruhpengaruhnya terhadap mutu lingkungan hidup. Pembangunan lingkungan hidup dalam sektor-sektor tersebut berarti pembangunan
masa depan yang lebih baik bagi perkembangan sektor-sektor itu
sendiri dan bagi masyarakat umum. Untuk keperluan itu maka kriteria pengaruh pembangunan terhadap lingkungan hidup perlu dijadikan salah satu faktor dalam pemilihan proyek dan kegiatan pembangunan baik sektoral maupun regional, dan kriteria tersebut dapat
dikembangkan
dalam pembinaan dunia usaha dan masyarakat untuk mengembangkan lingkungan hidup yang baik.
Pembinaan lingkungan hidup ini mencakup aspek-aspek dan kegiatan
pencegahan pencemaran, bimbingan usaha penanggulangan pencemaran, penentuan kriteria dan penelusurannya, dan lain-lain baik
yang dikembangkan dalam tiap sektor maupun secara regional dan
nasional, terutama didaerah padat industri, pemukiman dan sejenisnya di Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain.
Lingkungan pemukiman yang sehat dapat meningkatkan produktivitas manusia dan masyarakat yang berpendapatan rendah, sehingga
dengan peningkatan produktivitasnya diharapkan mereka akan mampu meningkatkan pendapatannya ke tingkat yang lebih baik. Lingkungan pemukiman yang buruk menambah beban sosial yang besar
kepada penduduknya yang berupa biaya kesehatan, biaya kriminalitas
dan biaya kehilangan waktu kerja karena sakit, dan lain-lain. Oleh
karena itu usaha perbaikan mutu lingkungan hidup pemukiman di
daerah perkotaan pedesaan merupakan usaha yang mempunyai pengaruh ekonomi dan sosial yang sangat baik. Pembangunan lingkungan pemukiman yang sehat perlu dikembangkan di dalam pola regional
yang menggambarkan keseimbangan antara pembangunan pemukiman di daerah perkotaan dan pembangunan pemukiman di daerah
pedesaan untuk menghindari proses urbanisasi, dan juga dikembangkan ke dalam pola lintas - sektor yang menggambarkan keseimbangan
314
antara pembangunan fasilitas pemukiman fisik, infrastruktur, fasilitas sosial dan budaya, pelayanan kesehatan dan sosial, dan partisipasi aktif masyarakat yang bersangkutan. Pembangunan lingkungan
pemukiman ditujukan kepada masyarakat berpenghasilan rendah,
dan dilaksanakan dalam suatu kesatuan rencana dan keserasian pelaksanaan yang menyangkut berbagai kegiatan seperti pelayanan kesehatan, pelayanan sosial, infrastruktur, kesehatan lingkungan, kredit perumahan, pembinaan sosial dan budaya, penyediaan lapangan
kerja lokal, dan lain-lain, yang dilaksanakan dalam pola regional
yang mantap. Untuk menjamin kordinasi yang efektif, maka pembangunan lingkungan pemukiman tersebut perlu dilaksanakan dalam
suatu kesatuan rencana dan pengendalian yang mantap.
Pendidikan, penelitian dan penyuluhan merupakan penunjang utama yang perlu dikembangkan untuk menghasilkan pengalaman nasional di bidang ilmu dan teknologi lingkungan hidup, membina tenaga
ahli dan trampil dalam pengelolaan lingkungan hidup, dan meningkatkan penyertaan aktif dari masyarakat luas dalam pembinaan
lingkungan hidup yang baik.
Untuk keperluan ini akan dibentuk 13 pusat-pusat studi pengelolaan sumber alam dan lingkungan hidup yang dikaitkan dengan
pembinaan perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian d a l a m
rangka pembangunan regional. Di samping itu diadakan pembinaan
mata-ajaran ilmu lingkungan dalam kurikulum-kurikulum sekolahsekolah mulai dari SD sampai perguruan tinggi, penataran tenagatenaga perencana pembangunan di berbagai bidang dalam penilaian
proyek-proyek dilihat dari aspek sumber alam dan perlindungan
lingkungan hidup, persiapan bahan dan metode peningkatan kesadaran masyarakat akan perlunya melestarikan lingkungan hidup,
yang kemudian dilaksanakan dalam usaha-usaha penyuluhan di daerah perkotaan dan pedesaan melalui berbagai media.
Kegiatan manusia dalam pembangunan merupakan penunjang
pokok dalam pengelolaan sumber Alam dan lingkungan. Pengaturan
dan lembaga yang mantap untuk memungkinkan pembinaan mutu
lingkungan hidup perlu dikembangkan untuk memungkinkan pe-
315
makaian kriteria-kriteria lingkungan dalam proses pembangunan. Di
samping itu kemantapan penerapan dan pengawasan dalam hubungannya dengan pelestarian sumber alam dan lingkungan hidup perlu
pula diatur dalam peraturan yang tepat dilengkapi dengan aparat
yang memadai.
Pengenalan sumber alam dan lingkungan hidup yang merupakan modal dasar bagi pembangunan perlu dilakukan secara seksama dan
menyeluruh. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana dan
daya nasional, baik yang berupa modal, keahlian dan keterampilan,
fasilitas institusi, dan kemampuan pengelolaan, maka inventarisasi
d a n evaluasi sumber alam perlu dilaksanakan dengan satu kesatuan
rencana dan kesatuan penilaian untuk memungkinkan penyelesaian
pengenalan sumber alam dan penilaian sumber alam tanah, air, hutan, laut, atmosfir, energi, mineral dan lain-lain dengan lebih cepat
dan lebih efisien. Kordinasi yang efektif dalam pelaksanaan inventarisasi perlu dikembangkan melalui kesatuan rencana dan pengendalian program baik fisik maupun finansial.
Penilaian sumber alam yang telah diketahui, baik jenis, jumlah, nilai,
mutu, dan lokasinya, dilakukan secara terpadu, sehingga sumber
alam yang telah diketahui tersebut dapat dialokasikan kepada sektorsektor pembangunan, menurut kriteria manfaat yang paling tinggi
bagi masyarakat banyak, untuk dikembangkan sesuai dengan kemampuan yang ada, sehingga dapat mendukung usaha pemerataan pendapatan, peningkatan kesempatan kerja, kemantapan serta kelestarian
sumber alam dan lingkungan hidup, dan memberikan kemungkinan
pembangunan yang lebih banyak bagi generasi yang akan datang,
yang berarti mempertahankan solidaritas bangsa dan solidaritas antar
generasi. Dalam kerangka ini termasuk pula perencanaan tataguna
tanah yang mampu menunjang pemerataan pendapatan, meningkatkan kesempatan kerja, meningkatkan kemantapan sosial dan perlindungan lingkungan hidup.
(3) Program Pengembangan Meteorologi dan Geofisika.
Atmosfir yang sekaligus merupakan sumber alam dan lingkungan
hidup mengandung proses-proses fisik yang rumit. Proses – proses fisik
316
dalam atmosfir tersebut sangat mempengaruhi kehidupan manusia,
flora, dan fauna di -muka bumi.
Kegiatan-kegiatan pembangunan seperti perhubungan, pertanian,
dan perikanan, sangat tergantung kepada keadaan iklim yang merupakan akibat dari proses geofisika.
Keberhasilan panen, penyebaran hama dan penyakit, keamanan
penerbangan, perikanan laut, dan lain-lain dapat lebih diamankan
melalui usaha-usaha yang mengarah kepada pengenalan karakteristik
iklim dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyesuaikan
kegiatan-kegiatan agar pembangunan dapat memanfaatkan iklim bagi
percepatan pembangunan tersebut.
Dalam program ini akan dikembangkan jaringan meteorologi yang
lengkap untuk memungkinkan keselamatan penerbangan dan pelayaran yang lebih besar, peramalan musim tanam dan panen dan kemungkinan pengendalian perkembangan hama dan penyakit, sistem peramalan cuaca yang lebih dapat dipercaya untuk meramalkan bencana
alam secara lebih awal, inventarisasi dan pengembangan sumbersumber energi yang ditimbulkan oleh proses geofisika dan panas
matahari, seperti angin, arus laut, pengembangan usaha penelusuran
pencemaran udara, dan lain-lain.
Dalam hubungan ini perlu dikembangkan penggunaan teknologi
tepat guna, suatu gabungan yang harmonis antara teknologi angkasa
yang mutahir dengan teknologi padat karya.
317
Download