7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Atletik Menurut buku

advertisement
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Atletik
Menurut buku panduan kurikulum (2013:56) “Altetik berasal dari bahasa
yunani, yaitu “athlon atau athlum” artinya pertandingan, perlombaan,
pergulatan, atau perjuangan. Orang yang melakukannya dinamakan “athleta”
(atlet). Atletik adalah salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan/
diperlombakan yang meliputi nomor jalan, lari, lompat dan lempar”.
Istilah “athletic” dalam bahasa inggris dan atletik dalam bahasa jerman
mempunyai pengertian yang luas meliputi berbagai cabang olahraga yang
bersifat perlombaan atau pertandingan, termasuk renang, bola basket, tenis,
sepak bola, senam dan lain-lain. Menurut sejarah, bangsa yunani yang
pertama kali menyelenggarakan perlombaan atletik. Hal ini dapat dibaca dari
karya punjangga Yunani Purba bernama Homerus. Atletik itu sendiri berasal
dari bahasa Yunani “athlos”, artinya lomba. Pada waktu itu cabang olahraga
atletik dikenal dengan pentahlon atau panca lomba dan decathon atau dasa
lomba.
Pada nomor lari (marathon), nomor ini merupakan kegiatan berlari yang
telah dimulai sejak tahun 490 sebelum masehi. Kegiatan itu berawal dari
sebuah kota kecil yang bernama Marathon, 40 km dari Athena. Jarak
sepanjang itulah yang diperlombakan dalam Olimpiade 1889 di Athena. Baru
pada Tahun 1908, jarak marathon dibakukan menjadi jarak 42,195 km. Sejak
itu, cabang olahraga marathon selalu menjadi puncak sekaligus penutup
seluruh rangkaian olahraga.
Olipiade modern dilaksanakan atas prakarsa seorang warga negara Prancis
yang bernama Baron Peire Louherbin pada tahun 1896 bertempat di Athena
Yunani. Dalam olimpiade tersebut nomor atletik merupakan tambang
mendali yang diperebutkan. Namun organisasi olahraga atletik internasional
baru terbentuk pada tanggal 17 juli 1912 pada Olimpiade ke-5 di Stockhom,
8
Swedia dengan nama “International Amateur Athletic Federation” yang di
singkat IAAF. Sejak saat itu, atletik mengalami perkembangan yang sangat
pesat. Pada tanggal 3 september 1950 di Indonesia berdiri PASI (Persatuan
Atletik Seluruh Indonesia).
2. Lari Cepat 100 Meter
a. Pengertian
Lari adalah gerakan perpindahan tempat dengan maju ke depan yang
dilakukan lebih cepat dari berjalan. Berjalan, salah satu kakinya selalu
berhubungan (kontak) dengan tanah, sedangkan lari ada saatnya kedua kaki
lepas dari tanah sehingga ada saatnya badan melayang di udara. Lari jarak
pendek sering disebut sebagai lari cepat atau sprint. Sprint adalah suatu
aktivitas atau gerakan lari yang dilakukan dari start sampai finish dengan
kecepatan penuh. Dengan demikian lari 100 meter adalah gerakan lari
secepat-cepatnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dengan kecepatan
penuh.
Menurut Gerry A Carr (1997: 13), “sprint yang baik membutuhkan
reaksi yang cepat, akselerasi yang baik, dan jenis lari yang efisien”. Dengan
demikian untuk dapat mencapai hasil yang maksimal seorang sprinter harus
mempunyai kecepatan akselerasi yang baik agar saat start gerakan dapat
dilakukan secepat mungkin sehingga kecepatan puncak dapat segera
tercapai. Setelah kecepatan puncak tercapai seorang sprinter harus mampu
mempertahankan selama mungkin sampai melewati garis finish.
b. Teknik Lari
Dalam semua perlombaan lari jarak pendek, masing-masing peserta
harus lari pada lintasan terpisah. Lintasan ini lebarnya 1.22 meter, yang
dibatasi dengan garis putih selebar 5 cm. Peserta yang mendorong,
mendesak, menubruk, atau memotong/menghalangi pelari lain sehingga
menggangu lajunya lari, dapat dinyatakan diskualifikasi. Untuk mencapai
prestasi maksimal pada lari 100 meter perlu diperhatikan teknik-teknik
khusus lari cepat yang dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
9
1) Teknik start
Start adalah awalan atau permulaan seorang pelariakan melakukan
lari. Kemampuan start yang baik sangat diperlukan dalam lari 100 meter
karena start merupakan kecepatan awal yang mempengaruhi kecepatan
selanjutnya. Keterlambatan melakukan start sangat merugikan pelari, hal
ini disebabkan pelari tersebut akan ditinggal dari pelari lain.
Start dalam lari jarak pendek harus menggunakan start jongkok
(croucing start), yaitu start yang dilakukan dengan permulaan sikap
jongkok di belakang garis start. Aba-aba untuk start ini dilakukan dalam
tiga fase : “bersedia”, “siap”, “ya” atau dengan tembakan start pistol.
Bila atlet mendengar aba-aba “bersedia”, harus mempersiapkan diri lari
menuju start block yang berada di belakang garis start. Mulai
membungkukan badanya dengan kedua kaki bertumpu pada block start
dan lutut kaki belakang diletakkan di tanah (sedikit jauh dari kaki yang
diletakkan di depan). Pada saat yang sama tangan diletakan segera di
belakang garis start, kira-kira selebar bahu, dengan ujung-ujung jari
menyentuh tanah (ibu jari dan telunjuk berhadapan membentuk huruf
“V”). Badan dibuat seimbang dan kepala rileks.
Pada aba-aba “siap”, lutut diangkat dari tanah sedemikian rupa
sehingga kedua kaki sama-sama sedikit bengkok (kaki depan 90°dan
kaki belakang membentuk 130°) dan kedua kaki tersebut menekan pada
balok start. Pinggul menjadi naik sedemikian rupa sehingga lebih tinggi
dari bahu yang letaknya berada di atas tangan. Lengan dipertahankan
lurus dengan berat badan dibebankan merata pada semua titik tumpu dan
pandangan mata tetap rendah. Pada aba-aba “ya” atau pada saat pistol
berbunyi, si atlet dengan gerak reflek bertolak dari balok start, pada saat
yang sama mengangkat kedua tangannya dari tanah yang mengakibatkan
ketidakseimbangan badan sebagai tahap awal dari gerakan start. Kaki
belakang dalam keadaan bengkok bergerak maju, kaki yang lain
diluruskan dengan kuat untuk memberi daya dorong kedepan. Kedua
lengan memberi imbang gerak terhadap kedua kaki membantu
10
menimbulkan daya, selama gerakan lari. Selama langkah pertama, tubuh
bergerak kedepan seperti “anak panah yang lepas dari busur” (dengan
sudut 45°) dan langkah itu pendek, cepat dan rendah, dengan gerak kaki
yang lincah ditanah, tetapi tidak secara sengaja dipendekkan. Sedikit
tubuh akan tegak, sedangkan langkah kaki menjadi lebih panjang sampai
posisi lari yang wajar tercapai
Gambar 1 Teknik Start
(Herald Muller, Wolfgang Ritzdolf, IAIF, Jakarta, 2000 : 36)
2) Teknik lari
Setelah melakukan start dengan langkah-langkah peralihan yang
meningkat semakin panjang dan condong badan yang berangsur
berkurang, maka selanjutnya dilakukan lari secepatnya dilakukan lari
secepat mungkin sampai garis finish. Lari adalah lompatan yang
berturut-turut. Didalamnya terdapat suatu fase dimana kedua kaki tidak
menginjak atau menumpu pada tanah, jadi lari ini berbeda dengan
berjalan. Gerak lari secara keseluruhan dimulai dari saat kaki mulai
melangkah menyentuh tanah lagi. Teknik lari ini terdiri atas 3 tahap,
11
yaitu:
a) Tahap melangkah
Mata kaki dan lutut yang melangkah diluruskan pada saat
titik berat badan bergerak bergerak di depan kaki yang mampu dan
mendorong pinggul kedepan. Pada saat yang bersamaan kaki yang
lain, yang disebut sebagai kaki bebas, ditekuk dan bergerak kearah
depan dan keatas memberikan kekuatan ganda. Perpanjangan
melangkah bersamaan dengan mengangkat paha kaki bebas. Kaki
langkah meninggalkan tanah dengan mengangkat tumit dan
menekan tanah dengan ujung jari. Kedua tangan mengayun
mengimbangi gerak kedua kaki. Kekuatan terbesar dari langkah ini,
bersamaan dengan dorongan akhir ketika siku berada jauh
dibelakang dan lutut kaki yang berlawanan mencapai ketinggian
tertinggi di depan. Lengan berayun sedikit menyilang dada
membentuk sudut 90°. Kekuatan gerakan tangan dan kaki langsung
mengimbangi kecepatan lari dan gerak posisi tubuh yang hampir
tegak, tanpa membungkuk kedepan atau ke belakang.
Gambar 2 Tahap Melangkah
( Herald Muller, Wolfgang Ritzdolf, IAIF, Jakarta, 2000 : 23)
b) Tahap pemulihan kembali
Sesaat setelah melangkah, hubungan dengan tanah putus dan
titik berat badan mengikuti arah parabola. Pada tahap ini kecepatan
12
hilang. Kaki yang melangkah bergerak kebelakang dan kaki yang
lain ke depan membuat tarikan aktif ketika menyentuh tanah.
Selama kaki belakang melakukan gerakan ke atas berulang-ulang,
lengan berayun dengan langkah yang berlawanan. Keseluruhan
gerakan ini, dapat disebut sebagai gerak rilek pada saat melayang
atau tahap pemulihan.
c) Support
Yang dimaksud dengan support adalah sandaran yang terjadi
pada waktu hubungan dengan tanah mulai terjadi. Pada saat mana
terjadi penurunan titik berat badan (dalam hal ini kaki). Sebagian
telapak kaki menyentuh tanah terlebih dahulu, baru kemudian
seluruh telapak kaki menyentuh tanah dengan mengeper sehingga
kaki benar-benar menginjak tanah. Pada saat sama lutut sedikit
dibengkokan sebagai persiapan untuk melangkah, sedangkan lutut
yang lain bergerak ke arah depan terus ditekuk (menjaga
keseimbangan kecepatan) sampaimenjadi kaki tumpu (dibawah titik
berat badan) dan bersama-sama pinggul bergerak kedepan pada saat
rilek, selama kaki tumpu menjadi kaki langkah/dorong. Sesaat
setelah mendapatkan relaks maksimum, gerak lengan menjadi
semakin kuat dan berayun secara wajar di sisi tubuh. Kepala tetap
lurus menghadap ke depan, pandangan mata beberapa meter ke
depan. Gerak kaki ditanah hendaklah selalu elastis/mengeper, tetapi
dengan kecepatan yang lebih besar. Tekanan dan langkah yang lebih
besar berasal dari bagian kaki belakang, oleh karena itu seseorang
dilarang berlari dengan ujung jari. Kecepatan lari bergantung pada
frekuensi langkah, tenaga, arah gerakan, dan menghilangkan tenaga
yang sia-sia dengan cara rilek. Hal ini menyangkut teknik
berdasarkan koordinasi dan kekuatan mempertahankan tenaga dan
semangat yang menggebu-gebu sampai finish. Posisi balok start
berbeda-beda sesuai dan tergantung pada anatomi atlet dan sifat-sifat
13
pribadinya. Sudut kemiringan balok sebaiknya tidak terlalu curam
seperti pada balok yang di belakang.
3) Teknik melewati garis finish
Seorang pelari dianggap sudah finish ditentukan dengan bagianbagian tubuhnya dalam mencapai bidang vertikal dari sisi terdekat gris
finish sesuai dengan yang telah ditentukan dalam peraturan. Yang
dimaksud dengan bagian tubuh adalah “torso” togok badan pelari, dari
kepala, leher, lengan dan kaki. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan
pelari pada waktu melewati garis finish, yaitu:
a) Lari terus tanpa mengubah sikap lari
b) Dada dicondongkan kedepan, tangan kedua-duanya diayunkan ke
bawah belakang, di Amerika lazim disebut “the lunge”
(merobohkan diri).
c) Dada di putar dengan ayunan tangan ke depan atas sehingga bahu
sebelah maju ke depan, yang lazim disebut “the shaung”.
Jarak 20 meter terakhir sebelum garis finish, merupakan
perjuangan untuk mencapai kemenangan dalam suatu lomba lari. Kalah
atau menang di tentukan di sini. Menurut M. Yusuf Hadisasmita
(1992:72), bahwa menjelang garis finish perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a) Percepat dan lebarkan langkah, tetapi harus rilek,
b) Pusatkan pikiran untuk mencapai finish,
c) Jangan
melakukan
gerakan
secara
bernafsu,
sehingga
menimbulkan ketegangan. Ketegangan akan mengurangi lebar
langkah, yang akan berakibatkan mengurangi kecepatan,
d) Jangan menengok lawan
e) Jangan melompat,
f) Jangan memperlambat langkah (lari) sebelum melewati garis
finish.
Ada beberapa hal yang harus dihindari dalam lari jarak pendek,
14
antara lain:
a) Dorongan ke depan tidak cukup dan kurang tinggi mengangkat
lutut.
b) Menjejakan kaki keras-keras di tanah dan mendaratkanya dengan
tumit.
c) Tubuh condong sekali ke depan atau lengkung ke belakang.
d) Memutar kepala dan menggerakan bahu secara berlebihan.
e) Lengan di ayun ke atas dan ayunanya terlalu jauh menyilang dada.
f) Meluruskan kaki yang akan dilangkahkan kurang sempurna.
g) Berlari zig-zag dengan gerakan ke kiri dan ke kanan.
h) Pada aba-aba “siap”, kepala diangkat, Dgu terlalu tinggi atau
terlalu rendah. Langkah kurang sempurna dan mencondongkan
badan ke depan secara tiba-tiba.
Gambar 3 Tahap Memasuki Garis Finish
(Herald Muller, Wolfgang Ritzdolf, IAIF, Jakarta, 2000 : 24)
c. Kecepatan lari
Dalam banyak cabang olahraga, kecepatan merupakan komponen
fisik yang sangat penting. Kecepatan menjadi faktor penentu dalam lari
jarak pendek. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa pelaksanaan lari
jarak pendek idealnya pelari akan berlari dengan kecepatan maksimal dari
start sampai finish. Menurut Harsono (1988:216), “kecepatan adalah
15
kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara
berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, atau kemampuan
untuk menempuh suatu jarak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya”.
Bompa (1984:249), “Membagi kecepatan menjadi tiga, yaitu : (a)
kecepatan reaksi, (b) kecepatan gerakan siklis (berulang-ulang), dan (c)
kecepatan gerakan asiklis (kecepatan aksi)”.
Menurut Josef Nossek (1982:277), menyatakan bahwa ada empat
macam kecepatan, yaitu:
1) Kecepatan sprint, kemampuan organisme untuk bergerak ke depan
dengan kekuatan dan kecepatan maksimal. Kekuatan sprint ditentukan
oleh otot dan persendian.
2) Kecepatan reaksi, kemampuan organisme untuk menjawab suatu
ransangan secepat mungkin. Kecepatan reaksi ditentukan oleh iritabilitas
susunan syaraf, daya orientasi situasi dan ketajaman panca indera.
3) Kecepatan gerak, kemampuan organisme untuk bergerak secepat
mungkin dalam gerak yang utuh. Kecepatan gerakan ditentukan oleh
kecepatan otot, daya ledak, daya koordinasi gerakan, kelincahan, dan
keseimbangan.
4) Daya tahan kecepatan, daya kemampuan seorang pelari mempertahankan
kecepatan maksimal. Bila daya tahan kecepatan menurun, maka
kecepatan maksimalnya akan menurun.
d. Sistem energi untuk Lari 100 meter
Suatu program latihan harus disusun untuk mengembangkan
kemampuan fisiologis tertentu yang diperlukan untuk penampilan
ketrampilan olahraga. “salah satu kemampuan fisiologis yang perlu
dikembangkan adalah penyediaan energi untuk aktivitas otot” Ujian latihan
ini didasarkan pada suatu pemahaman tentang sitem energi manusia dan
kebutuhan energi tertentu untuk aktivitas olahraga. “energi didefinisikan
sebagai kapasitas atau kemampuan untuk melakukan kerja, sedangkan kerja
didefinisikan sebagai suatu penerapan dari suatu gaya (Force) melalui suatu
16
jarak. Dengan demikian energi dan kerja tidak dapat dipisahkan” (Fox,
1984: 30, 206).
Pemahaman sistem energi sangat penting karena digunakan untuk
pedoman dalam memberikan program latihan kepada atlet. Kesalahan
pemberian program latihan dapat menyebabkan prestasi yang dicapai
kurang optimal.
Berdasarkan waktu penampilan atau pelaksanaan olahraga dapat
dibedakan dalam 4 (empat) bidang rangkaian kesatuan energi. Hal ini dapat
dilihat di dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 1. Empat Bidang Rangkaian Kesatuan Energi
Bidang
1.
Waktu
Sistem Energi Utama
Penampilan
yang Terlibat
Kurang
dari ATP-PC
- Lari 100 meter, tolak peluru,
30 detik
2.
3.
Contoh Jenis Aktivitas
pukulan dalam tenis dan golf.
30 detik- 1,5
ATP-
dan
menit
Laktat
1,5 menit – 3
Asam
menit
Oksigen
Asam - Lari cepat 200-400 meter,
renang 100 meter.
laktat,
dan - Lari
800
meter,
nomor-
nomor senam, tinju (1 ronde
3 menit), gulat (periode 2
menit).
4.
Lebih dari 3
Oksigen
menit
- Sepak bola, lari marathon,
joging
Adapun karakteristik umum dari sistem energi tersebut diatas menurut Fox
(1984: 22) dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 2. Karakteristik Umum Sistem Energi
Sistem ATP-PC
Sistem Asam Laktat
- Anaerobik (tanpa oksigen) - Anaerobik
Sistem Oksigen
- Aerobik (oksigen)
17
- Sangat cepat
- Cepat
- Bahan bakar kimia PC
- Bahan bakar makanan - Bahan bakar makanan
- Lambat
glikogen
- Produksi
ATP
glikogen dan protein
sangat - Produksi ATP terbatas - Produksi
terbatas
ATP
tidak
terbatas
- Penyimpanan
penimbunan
atau - Dengan memproduksi - Dengan
di
otot
terbatas
asam
laktat
produksi
,
tidak melelahkan
menyebabkan
kelelahan otot
- Menggunakan aktivitas lari - Menggunakan aktivitas - Menggunakan
daya
cepat atau berbagai power
dengan lama (durasi)
tahan
yang tinggi, lama aktivitas
antara 1-3 menit
atau durasi panjang
atau
aktivitas
pendek
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sistem energi yang dibutuhkan dalam
lari cepat 100 meter adalah sitem ATP-PC karena dalam melakukan lari tanpa
menggunakan oksigen (anaerob) dan jumlah ATP yang diproduksi terbatas
hal ini tentunya menyebabkan otot akan lebih cepat lelah. “Perbedaan utama
antara penyediaan energi anaerobik dan aerobik adalah jika dilakukan
pembentukan jumlah glikogen yang sama, maka dengan cara aerobik lebih
banyak 13 kali ATP yang dikembangkan dari pada dengan proses anaerobik.
Ini berarti cara penyediaan energi aerobik lebih ekonomis dan tentu saja otot
dapat bekerja lebih lama”. Nossek (1982: 77)
3. Analisis Anatomis dan Fisiologis
a. General Kinetik
Ricky Wirasamita (2013:218) bependapat bahwa “Kinetik olahraga
adalah kajian tentang tenaga yang menciptakan gerak, dan mengubah
kedudukan pada suatu tempat karena alasan tertentu ketika berolahraga.
Mencangkup pengertian dasar tentang gerak manusia dan mempengaruhi
18
strukturnya yang mempengaruhi gerak”. Hal ini penting untuk melengkapi
kegiatan yang tepat serta menyempurnakan kemampuan dalam analisis
kinetik pada olahraga. Gerak efisien adalah gerak yang menopang
keberhasilan penampilan olahraga. Kesempurnaan dari keterampilan
olahraga yang sangat tinggi tergantung kemampuan menerapkan prinsipprinsip kinetik.
Keterampilan olahraga memerlukan gerak yang kompleks dari
susunan skeletal muscles. Tingkat penampilan olahragawan seringkali
dibatasi oleh terbatasinya gerak otot kerangka. Pengetahuan ini dapat
dipergunakan untuk menyusun aktivitas yang dapat dipergunakan untuk
dasar keputusan gerak. Tubuh yang sedang bergerak memiliki tiga ciri
umum yang berpengaruh kuat pada penampilan olahraga, yaitu kecepatan,
percepatan,dan daya gerak. Hubungan factor-faktor tersebut harus
dipertimbangkan dalam mengevaliasi keterampilan olahraga.
Karakteristik setiap cabang olahraga satu dengan yang lainya
memiliki keunikan sendiri, dengan demikian sajian model latihanpun harus
digelar sebagaimana kebutuhan dan kesuaian setiap gerakan yang
ditampilkan. Kajian ilmu urai, pembahasan analisis lebih difokuskan pada
dimensi struktur kerangkan dan kaki tubuh. Menganalisis gerakan tubuh
bukan hal sederhana, namun demikian ketidaksederhanaan ini juga bukan
merupakan sesuatu yang rumit untuk dipelajari. Dasar pengetahuan ilmu
urai yang harus dimiliki, diantaranya terkait erat dengan osteology dan
arthrology yang banyak mengupas tentang tulang dan persendian.
Agar lebih runtut berikut ini secara sistematik analisis akan
diarahkan
mulai
dari
tahap
persiapan
(preparation),
pelaksanaan
(execution), dan sikap akhir (follow through). Memehami analisis gerak dan
suatu teknik, dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1) Mengetahui dahulu tentang pola umum gerakan (general pattern
movement)
2) Mengetahui kelompok persendian dan gerakan apa yang dilakukannya.
19
3) Mengetahui oto-otot yang terlibat pada gerakan tersebut, baik yang
bersifat agonis, sinergis, stabilizer, maupun neutralizer.
4) Mengetahui bagaimana cara melatih otot-otot tersebut.
Oleh karenanya beberapa segmen tubuh yang berperan besar
terhadap posisi ideal dan akan memberikan vitalitas yang tinggi perlu
diuraikan lebih lanjut. Posisi dan struktur tubuh yang ideal akan menjadi
konsep dan mendasari tingkah laku berfikir tentang sikap, keterampilan,
konsep sehat. Semua ini mempengaruhi psikis (psychological comfort) :
tidak ada konflik, tidak ada stress, tidak ada ketegangan sehingga
memberikan kebahagiaan hidup.
b. Gerak Manusia
Gerak manusia dapat diamati karena adanya perubahan posisi dari
tubuh atau anggota tubuh dalam ruang dan waktu. Semua bentuk gerakan
terjadi karena dipengaruhi oleh sejumlah gaya. Gaya disini tidak lain adalah
kontraksi otot ada tiga unsur yang menyebabkan terjadinya gerakan, yaitu:
1) Tuclang sebagai alat penggerak
2) Persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan
3) Otot sebagai sumber penggerak
Pada dasarnya ada 3 tipe otot yang bekerja saat lari:
1. Primer (Primary)
2. Pendukung (Supporting)
3. Tambahan (Auxiliary)
20
Gambar 4 Anatomi Otot
(Sumber:http://3.bp.blogspot.com/-reEEemBLIak/UOuxkOiZWI/AAAAAAAAAK0/Vko6HSxUn8I/s1600/sistema_muscular.gif)
21
Gambar 5 Anatomi Tulang
(Sumber:http://4.bp.blogspot.com/2fHLm2KJdm4/VPJ26ZatRHI/
AAAAAAAACnU/52uIq5ZWPSY/s1600/Gerak.jpg)
22
1. Otot Primer
Bagian otot kaki yang termasuk kategori Primer dalam mendukung
aktifitas lari adalah:

Otot quadriceps femoris

Otot hamstring

Otot gluteus maximus

Otot iliopsoas

Otot betis
Gambar 6 Otot Kaki
(Sumber: http://dunialari.com/otot-apa-yang-bekerja-ketika-kita-berlari/)
Otot quadriceps femoris — seringkali disebut quadriceps atau
quadriceps extensor atau singkatnya quads — adalah gabungan dari
beberapa otot lagi di bagian depan paha, yaitu:

Otot rectus femoris

Otot vastus medialis

Otot vastus lateralis

Otot vastus intermedius
23
Kelompok otot quads mengaktifkan 2 sendi – sendi pinggul dan sendi lutut
– terutama untuk menekuk pinggul (membungkuk) dan meluruskan lutut.
Otot hamstring terdiri dari 4 otot di belakang paha, yaitu:

Otot semitendinosus

Otot semimembranosus

Otot biceps femoris long head

Otot biceps femoris short head
Keempat otot ini mengaktifkan sendi lutut, terutama untuk gerakan
menekuk lutut.
Ketiga otot diatas juga menggerakan sendi pinggul, terutama untuk
meluruskan pinggul. Namun karena otot biceps femoris short head hanya
melintasi sendi lutut, otot ini tidak terlibat dalam gerakan ekstensi pinggul.
Otot gluteus maximus adalah salah satu dari tiga otot gluteal, dan
merupakan yang terbesar dari ketiganya. Otot ini berperan sebagai
pembentuk bokong.
Fungsi utama dari gluteus maximus adalah untuk menjaga bagian belakang
tubuh tetap tegap, atau untuk mendorong kedudukan pinggul ke posisi yang
tepat. Ini sebabnya spesies primata lain memiliki bentuk bokong lebih rata
dibanding manusia.
Otot Iliopsas
Gambar 7 Otot Perut
(Sumber: http://dunialari.com/otot-apa-yang-bekerja-ketika-kita-berlari/)
24
Otot iliopsoas — atau disebut juga hip flexors — terdiri dari 2 otot:

Otot iliacus

Otot psoas major
Otot iliacus memiliki jenjang yang lebih pendek dibanding psoas major dan
bermula dari iliac fossa bagian dari ilium (di ujung panggul) dan menempel
pada femur (tulang paha). Otot psoas major bermula dari vertebra T-12
sampai L-5 (dari tulang belakang) dan juga menempel pada femur.
Kelompok otot iliopsoas — dengan psoas major sebagai pemain utama –
mendukung gerakan lekukan pinggul.
Otot betis — atau triceps surae — merupakan kelompok otot yang
terdiri dari:

Otot gastrocnemius

Otot soleus
Tujuan dari otot betis adalah untuk menekuk plantaris pergelangan kaki dan
lutut.
2. Otot Pendukung
Bagian otot kaki yang termasuk kategori Pendukung dalam berlari adalah:

Otot biceps brachii

Otot perut atas

Otot perut bawah
Otot biceps brachii — atau lebih dikenal dengan sebutan biceps —
adalah otot lengan bagian atas yang berfungsi memutar lengan bawah dan
menekuk siku. Karena berlari akan lebih efisien bila dilakukan dengan siku
ditekuk, maka otot biceps brachii mendukung aktifitas lari.
Otot perut atas dan otot perut bawah menguatkan pusat tubuh
(core). Pelari membutuhkan pusat tubuh yang kuat untuk menjaga postur –
hal ini penting untuk memaksimalkan performa dan mencegah cidera.
Karena aktifitas lari menimbulkan banyak rotasi tulang belakang,
25
dibutuhkan otot perut atas dan bawah yang kuat untuk stabilisasi tulang
belakang dan meminimalkan pembuangan energi pada saat perpindahan
tenaga ke bagian ekstremitas tubuh (kaki dan tangan).
3. Otot Tambahan
Ada yang berpendapat otot tambahan tidak diperlukan dalam berlari,
namun ada juga yang beranggapan seluruh tubuh bekerja ketika kita berlari.
Sebagian dari otot-otot tubuh bagian lain yang dianggap membantu aktifitas
lari adalah:

Otot intercostals eksternal

Otot intercostals internal
Otot intercostals eksternal membantu pernarikan napas dan otot
intercostals internal membantu pembuangan napas.
Ada otot lain yang dapat diikutsertakan dalam kategori otot tambahan,
contoh adalah kelompok otot yang menopang kepala agar tetap tegak ketika
kita berlari.
3. Usia Latihan
Menurut umur dalam spesialisasi lari cepat yaitu mulai olahraga
berusia 10-12 tahun dan memulai spesialisasi lari cepat yaitu berumur 1416 tahun setelah itu performa terbaik yaitu 22-26 tahun
(Sumber
:
http://rizkycompas.blogspot.co.id/2011/12/petunjuk-untuk-
memulai-spesialisasi.html?m1)
4. Pendekatan Pembelajaran
a. Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Salah satu komponen dalam proses belajar adalah pendekatan
pembelajaran. Menurut Waluyo (2011:26) pendekatan pembelajaran dapat
26
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu
proses yang sifatnya masih umum, didalamnya mewadahi, menginspirasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cangkupan teoritis
tertentu. Berdasarkan pengertian pendekatan dan pembelajaran tersebut
dapat disimpulkan bahwa, pendekatan pembelajaran merupakan cara kerja
yang mempunyai sistem untuk memudahkan pelaksaksanaan proses
pembelajaran dan membelajarkan siswa guna membantu dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya
diturunkan kedalam strategi pembelajaran, strategi pembelajaran tersebut
meliputi (Waluyo, 2011:27) :
1) Menetapkan spesifikasi dan kualitikasi tujuan pembelajaran yakni
perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2) Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran
yang dipandang paling efektif.
3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur,
metode dan teknik pembelajaran)
Dari
pemaparan
tersebut
dapat
dilihat
bahwa
pendekatan
pembelajaran berfungsi sebagai cara dalam penyajian isi pembelajaran atau
merupakan kegiatan yang dipilih guru dalam proses pembelajaran guna
memberikan kemudahan siswa menuju tercapainya tujuan yang telah
ditetapkan.
b. Pentingnya pendekatan Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran terdapat komponen siswa sebagai objek
yang sedang belajar dan guru sebagai pengajar untuk memberikan materi
pelajaran guna terjadi perubahan pada diri siswa. Mengajar merupakan
suatu kegiatan yang dilakukan seseorang yang memiki pengetahuan atau
ketrampilan yang lebih dari pada yang diajar, untuk memberikan suatu
pengertian, kecakapan atau ketangkasan.
27
Upaya untuk menyampaikan materi atau keterampilan kepada siswa,
maka harus diterapkan pendekatan pembelajaran yang tepat. Pendekatan
pembelajaran yang diterapkan hendaknya mengacu pada penemuan yang
terarah dan pemecahan masalah. Penemuan dan pemecahan masalah tersebut
merupakan pendekatan yang membantu tercapainya dengan mengacu pada
pendekatan pembelajaran yang terkendali, dengan seksama menyusun seri-seri
pembelajaran yang memberi urutan pembelajaran terhadap tujuan yang telah
dirumuskan. Pendekatan pembelajaran merupakan salah satu bagian integral
yang dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Berhasil dan tidaknya
tujuan pembelajaran dapat dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang
diterapkan oleh guru.
Penerapan metode pembelajaran yang dilakukan seorang guru akan
mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dengan
metode pembelajaran yang tepat akan dapat membangkitkan motivasi belajar
siswa, sehingga akan mendukung pencapaian hasil belajar lebih optimal.
Dari pemaparan tersebut dapat dilihat bahwa pendekatan pembelajaran
berfungsi sebagai cara dalam penyajian isi pembelajaran atau merupakan
kegiatan yang dipilih guru dalam proses pembelajaran guna memberikan
kemudahan siswa menuju tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
c. Pendekatan Pembelajaran dalam Pendidikan Jasmani
Pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani adalah cara atau
jalan yang ditempuh untuk menyajikan tugas-tugas ajar yang pada dasarnya
berupa kerja fisik dan terampilan. Guru pendidikan jasmani dalam
merencanakan pembelajaran harus memilih pendekatan yang akan digunakan
dalam pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk berlatih, bergembira,
menikmati proses pembelajaran serta dapat meningkatkan hasil belajar.
Beberapa pendekatan yang dapat dipilih oleh guru pendidikan jasmani, antara
lain:
1) Pendekatan drill (pendekatan konvesional)
2) Pendekatan bermain
28
3) Pendekatan kompetitif
4) Pendekatan pola gerak dominan
Dari keempat macam pembelajaran diatas, pendekatan drill adalah
pendekatan yang selama ini dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran
pendidikan jasmani dan sering disebut dengan pendekatan konvensional,
sedangkan pendekatan bermain, pendekatan kompetitif dan pendekatan pola
gerak dominan adalah pendekatan pembelajaran baru yang merupakan inovasi
yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan anak dalam proses
pembelajaran. Pendekatan bermain dilakukan untuk pembelajaran atletik,
pendekatan kompetitif untuk pembelajaran renang dan pendekatan pola gerak
dominan dilakukan untuk pembelajaran senam. Meskipun demikian dalam
proses pembelajaran bermain tidak menutup kemungkinan didalamnya juga
terjadi proses kompetisi yang merupakan ciri khas dari pendekatan kompetitif
dan gerakan-gerakan dominan yang merupakan ciri khas dari pendekatan pola
gerak dominan. Menyesuaikan dengan materi pembelajaran yang diteliti yaitu
lari pendek 100 meter yang merupakan bagian dari pembelajaran atletik,
dalam penelitian ini dibatasi hanya pada pendekatan drill dan pendekatan
bermain.
5. Pendekatan Pembelajaran Drill
Pendekatan drill adalah pendekatan pembelajaran yang selama ini
diterapkan oleh guru pendidikan jasmani disekolah-sekolah. Menurut Suwarna,
dkk (2006:111) Pendekatan drill adalah cara mengajar dengan memberikan
latihan berulang-ulang mengenai apa yang telah diajarkan guru sehingga siswa
memperoleh pengetahuan dan ketrampilan tertentu. Agar pelaksanaan
pendekatan drill dapat berjalan dengan lancar, maka perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a. Perlu adanya penjelasan tengtang apa yang menjadi tujuan pembelajaran,
sehingga setelah selesai latihan siswa dapat mengerjakan sesuatu yang
diharapkan guru.
b. Perlu adanya penjelasan tentang apa yang harus dikerjakan oleh siswa.
29
c. Lama latihan perlu disusuaikan dengan kemampuan siswa.
d. Perlu adanya kegiatan selingan agar siswa merasa tidak bosan.
e. Jika ada kesalahan segera diadakan perbaikan oleh guru.
Sejalan dengan hal tersebut Danu Hoedaya (2001: 3)
menerangkan
bahwa pendekatan drill adalah pendekatan pembelajaran jasmani yang
menekankan pada penguasaan teknik dasar, dan beriontasi pada keterampilan
teknik.
Berdasarkan pendapat ahli tersebut dapat diartikan bahwa pendekatan
pembelajaran drill dalam pendidikan jasmani adalah cara mengajar dengan
memberikan latihan yang berulang-ulang hingga siswa mampu menguasai teknik
yang diajarkan.
a. Kelebihan dan Kekurangan pendekatan pembelajaran drill
Perlu disadari bahwa pendekatan drill tentu memiliki kelebihan dan
kekurangan. Latihan sprint 100 meter dengan pendekatan drill merupakan
latihan yang dalam pelaksanaannya siswa melakukan latihan teknik secara
berulang-ulang. Latihan sprint dengan metode drill menekankan pada
penguasaan teknik yang benar. Kelebihan pendekatan pembelajaran drill antara
lain :
1) Siswa dapat mengerti dan menguasai teknik-teknik dasar yang diajarkan
dengan baik dan benar.
2) Siswa dapat meperagakan atau mempraktekan teknik yang diajarkan
3) Kesalahan teknik dapat dikenali lebih awal karena ada koreksi dari guru,
sehingga dapat menimalkan kesalahan teknik.
4) Siswa melakukan gerakan lari cepat secara berulang ulang, sehingga siswa
melakukan gerakan lari cepat dengan terbiasa.
Sedangkan kelemahan pendekatan pembelajaran drill antara lain:
1) Dapat menimbulkan rasa bosan, karena harus mengulang-ulang gerakan
yang sama secara terus menerus dan menunggu gilirannya.
2) Hasrat gerak siswa tidak terpengaruhi karena pembelajaran harus dilakukan
secara runtut.
30
6. Pendekatan Pembelajaran Bermain
a.
Pengertian Pendekatan Pembelajaran Bermain
Menurut Rusli Lutan (2000: 31) memaparkan bahwa bermain
sebagai aktivitas yang dilakukan secara bebas dan sukarela. Sejalan
dengan hal tersebut M. Furqon Hidayatullah (2008: 4) menerangkan
bahwa bermain merupakan cara untuk berekplorasi dan bereksperimen
dengan dunia sekitar sehingga anak akan menemukan sesuatu dari
pengalaman
bermain.
Pendekatan
bermain
merupakan
bentuk
pembelajaran yang dikonsep dalam bentuk permainan. Menurut Wahjoedi
(1999: 121) pendekatan bermain adalah pembelajaran yang diberikan
dalam bentuk atau situasi permainan.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
pendekatan bermain merupakan pembelajaran yang dikonsep dalam
bentuk permainan yang mengarah pada teknik-teknik yang diajarkan dan
diharapkan mampu untuk meningkatkan motivasi dan minat siswa dalam
belajar, sehingga hasil belajar siswa akan lebih optimal.
Pendekatan permainan merupakan bentuk latihan suatu teknik
cabang olahraga yang dilakukan dalam bentuk permainan. Tidak menutup
kemungkinan teknik yang buruk atau rendah mengakibatkan permainan
kurang menarik. Untuk itu seorang guru harus mampu mengatasinya.
Rusli Lutan dan Adang Suherman (2000: 36-36) menyatakan manakala
guru atau pelatih menyadari bahwa rendahnya kualitas permainan
disebabkan oleh rendahnya kemampuan skill, maka guru mempunyai
beberapa pilihan sebagai berikut:
1) Guru dapat terus melanjutkan aktivitas permainan untuk beberapa
lama sehingga sisiwa menangkap gagsan umum permainan yang
dilakukan.
2) Guru dapat kembali pada tahapan bekerja yang lebih rendah dan
membiarkan siswa berlatih mengkombinasikan ketrampilan tanpa
tekanan untuk menguasai strategi.
3) Guru dapat merubah ketrampilan pada level yang lebih simpel dan
31
lebih dikuasai sehingga siswa dapat konsentrasi belajar strategi
bermain.
b.
Kelebihan Dan Kekurangan Pendekatan Pembelajaran Bermain
Latihan sprint 100 meter dengan pendekatan merupakan cara latihan
yang dalam pelaksanaan dilakukan dengan bentuk permainan. Bentuk
permainan yang dimaksud yaitu permainan lari memindahkan bola dengan
dibuat kompetisi. Dalam pelaksanaan pendekatan bermain, kreativitas,
inisiatif, kemampuan siswa untuk berfikir dan memahami pola permainan.
siswa berperan penting untuk mengambil keputusan yang tepatsesuai
dengan
permasalahan
yang
terjadi
dalam
permainan. Kelebihan
pendekatan pembelajaran bermain antara lain:
1) Pembelajaran dalam bentuk permainan akan menimbulkan rasa
senang dan motivasi belajar meningkat.
2) Dapat rasangan kemampuan berfikir, memecahkan masalah, dan
mengambil keputusan yang tepat sesuai situasi yang terjadi dalam
permainan.
3) Meningkatkan kemampuan siswa untuk menilai dirinya sendiri dan
kemampuannya selama proses pengajaran apakah sudah baik atau
belum.
Sedangkan kelemahan pendekatan pembelajaran bermain antara lain
:
1) Siswa kurang memahami konsep gerakan teknik yang diajarkan
dengan baik dan benar, sehingga akan sering terjadi kesalahan teknik.
2) Pengorganisasian pembelajaran kurang kendali.
3) Guru akan mengalami kesulitan untuk mengontrol kesalahan teknik
yang dilakukan siswa.
32
7. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Drill Dan Bermain Dalam Lari
Cepat 100 Meter.
Dalam pembelajaran lari cepat 100 meter, ada beberapa pendekatan
pembelajaran yang dapat dipilih guru untuk mampu mengoptimalkan
kemampuan siswa, diantaranya adalah pendekatan pembelajaran drill dan
pendekatan pembelajaran bermain. Adapun pengertian dari pendekatan drill
dan bermain dalam pembelajaran lari cepat 100 meter adalah sebagai berikut :
a) Pendekatan drill dalam pembelajaran pada lari cepat 100 meter
Pembelajaran lari cepat 100 meter yang mengutamakan latihan
teknik dasar dengan sisitem pengulangan agar siswa dapat menguasai
teknik lari cepat 100 meter yang berupa teknik start, teknik lari, dan
teknik melewati garis finish yang baik dan benar.
b) Pendekatan bermain dalam pembelajaran lari cepat 100 meter
Pembelajaran lari cepat 100 meter yang di konsep dalam bentuk
permainan yang mengarah pada teknik-teknik yang diajarkan dan
diharapkan mampu untuk meningkatkan motivasi dan minat siswa dalam
belajar. Adapun bentuk-bentuk permainan yang dapat dilakukan dalam
pembelajaran lari cepat 100 meter adalah permainan memindahkan bola,
dimana sebuah bola diletakan pada ujung dari jalur lintasan tiap team.
Cara melakukan para pelari berlari mengambil bola serta membawanya
dan di letakan ke start kemudian sebelum mulai lari pelari berikutnya
dengan suatu tepukan tangan.
33
B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan, untuk memperoleh
gambaran yang lebih jelas mengenai arah penelitian, maka disajikan kerangka
pemikiran sebagai berikut.
1. Perbedaan Pengaruh antara Pendekatan Drill dan Pendekatan Bermain
Terhadap Kemampuan Lari Cepat 100 Meter.
Pendekatan pembelajaran drill dan bermain masing-masing memiliki
karakteristik yang berbeda. Pembelajaran dengan pendekatan drill menekankan
pada penguasaan teknik lari cepat 100 meter yang baik dan benar. Dalam
pelaksanaannya pembelajaran lari cepat 100 meter dengan pendekatan drill yaitu,
teknik-teknik lari cepat 100 meter dipelajari secara berulang-ulang dengan
komando dari guru hingga terjadi otomatisasi dalam gerakan lari cepat 100 meter
yang benar.
Pembelajaran lari cepat 100 meter dengan pendekatan bermain
merupakan bentuk pembelajaran yang dirancang dalam konsep permainan yang
mengarah pada teknik-teknik lari cepat 100 meter. Dalam pelaksanaannya
pembelajaran lari cepat 100 meter dengan pendekatan bermain yaitu mengemas
lari cepat 100 meter dalam bentuk permainan memindahkan bola. Sehingga siswa
dapat menemukan sendiri cara melakukan lari cepat 100 meter melalui diskusi
dan bermain secara berkelompok.
Berdasarkan karakteristik dan kelebihan serta kelemahan pendekatan
pembelajaran drill dan bermain, hal ini akan mempunyai pengaruh terhadap hasil
belajar lari cepat 100 meter. Perbedaan perlakuan dan tingkat kesulitan maupun
kemudahan dalam pelaksanaan pembelajaran keterampilan akan menimbulkan
pengaruh yang berbeda pula. Dengan demikian diduga, terdapat perbedaan
pengaruh antara pendekatan pembelajaran drill dan bermain terhadap
kemampuan lari cepat 100 meter.
34
2. Pendekatan Pembelajaran Drill Lebih Baik Dibanding Pendekatan
Pembelajaran Bermain Terhadap Kemampuan Lari Cepat 100 Meter.
Dalam pembelajaran, pendekatan pembelajaran drill dan bermain
mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pendekatan pembelajaran
drill memiliki kelebihan antara lain: siswa dapat mengerti dan menguasai teknikteknik yang diajarkan dengan baik dan benar, kesalahan teknik dapat dikenali
lebih awal karena ada koreksi dari guru, sehingga dapat meminimalkan kesalahan
teknik. Kelemahan pendekatan pembelajaran drill antara lain: dapat menimbulkan
rasa bosan, karena harus mengulang-ulang gerakan yang sama secara terus
menerus dan menunggu giliran untuk melakukan tugas ajar, hasrat gerak siswa
tidak terpenuhi karena pembelajaran harus dilakukan secara runtut. Sedangkan
pendekatan pembelajaran bermain memiliki kelebihan antara lain: menimbulkan
rasa senang dan motivasi belajar meningkat, dapat merangsang kemampuan
berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan yang tepat sesuai
situasi yang terjadi dalam permainan, meningkatkan kemampuan siswa untuk
menilai dirinya sendiri dan kemampuannya selama proses pengajaran apakah
sudah baik atau belum dan mampu mempelajari teknik-teknik yang diajarkan
secara mandiri. Sedangkan kelemahan pendekatan pembelajaran bermain adalah
siswa kurang memahami konsep gerakan teknik yang diajarkan dengan baik dan
benar, sehingga akan sering terjadi kesalahan teknik, pengorganisasian
pembelajaran kurang terkendali, guru akan mengalami kesulitan untuk
mengontrol kesalahan teknik yang dilakukan siswa.
Dalam teori belajar, untuk meraih kemampuan yang maksimal dalam
penguasaan keterampilan, maka siswa harus mendapatkan pembelajaran teknik
secara kreatif dan menyenangkan agar terjadi otomatisasi gerakan teknik yang
baik dan benar. Pada pembelajaran lari Cepat 100 meter, bahwa semakin banyak
siswa melakukan teknik lari cepat 100 meter yang baik dan benar maka
penguasaan keterampilan teknik yang diajarkan akan semakin maksimal sehingga
hasil belajar siswa dalam penguasaan keterampilan teknik akan optimal.
Berdasarkan pemikiran dan pemaparan diatas diduga bahwa dalam
pembelajaran lari Cepat 100 meter dengan pendekatan drill, siswa akan
35
memperoleh hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang
belajar dengan pendekatan bermain.
C. Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan
diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan pengaruh antara pendekatan drill dan pendekatan bermain
terhadap kemampuan lari cepat 100 meter pada siswa putra kelas VII SMP
Negeri 3 Colomadu tahun pelajaran 2015/2016.
2. Pendekatan pembelajaran drill lebih baik pengaruhnya terhadap kemampuan lari
cepat 100 meter pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 3 Colomadu tahun
pelajaran 2015/2016.
Download