1. Mengetahui Dendrologi sebagai ilmu dasar kehutanan 2

advertisement
BAB I. PENDAHULUAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Mengetahui Dendrologi sebagai ilmu dasar kehutanan
2. Mengenal jenis-jenis pohon sebagai potensi kekayaan alam Indonesia
3. Mampu membedakan kelompok tumbuhan
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Mahasiswa dapat menjelaskan cakupan ilmu yang dipelajari pada mata kuliah
Dendrologi.
2. Mahasiswa mampu mengenal pohon komersial sebagai suatu potensi alam Indonesia.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan, membedakan pohon dengan tumbuhan lainnya
serta pengelompokan tumbuhan.
Materi Pembelajaran :
Dendrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang pengelompokan tumbuhan terutama
tumbuhan berkayu dalam kelompok-kelompoknya untuk memudahkan pengenalan serta
ilmu untuk mengklasifikasikan tumbuhan (Rudjiman, 1991). Dendrologi juga mempelajari
cara menentukan nama ilmiah tumbuhan/pohon dan membuat herbarium.
1
Indonesia memiliki 122..227.000ha hutan yang berupa hutan tropis dengan
keanekaragaman hayati yang sangat tinggi yang merupakan bagian dari Daerah Flora
Malaysiana yang terkenal kaya akan jenis makhluk hidup baik flora maupun faunanya.
Jenis pohon komersial di Indonesia sangat beragam diduga sekitar 4.000 jenis. Dari jumlah
itu baru sedikit yang dikenal sifat-sifatnya dan telah dipasarkan. Dari jenis yang
dipasarkanpun masih sangat sedikit pengetahuan untuk mengenal ciri khas kayu
perdagangan yang ada, lebih banyak mengenal hanya sebatas struktur kayunya saja, tidak
dalam bentuk habitus, ciri dasar kayu perdagangan tersebut.
Dengan bertambahnya penduduk membawa beberapa dampak terhadap keutuhan
ekosistem hutan, antara lain kebutuhan hidup meningkat baik kebutuhan kayu bangunan
kawasan budidaya pertanian, pertambangan maupun kawasan untuk pemukiman termasuk
penggunaan lahan untuk pembuatan fasilitas umum. Hal ini sangat mempengaruhi
eksistensi hutan dan tentunya akan mempengaruhi kepunahan jenis-jenis tertentu.
Kemajuan teknologi akan menambah tekanan pada keragaman jenis yang ada,
misalnya jenis kayu tertentu yang pada waktu lampau atidak ada gunanya, seperti
kalapapa/laban (Vitex pubescens) merupakan kayu keras dari keluarga Verbenaceae yang
merupakan pioneer di sekitar bukit Tangkiling yang sekarang banyak dibutuhkan untuk
kayu bangunan, sehingga keberadaan di hutan terancam punah, sedangkan upaya untuk
pembudidayaannya belum dilakukan. Pada akhirnya akan ada usaha untuk peningkatan
kualitas kayu tersebut, sehingga kita wajib tahu sifat dan keluarga kayu tersebut untuk
usaha pemuliaan pohonnya, seperti contoh kalapapa/laban tersebut merupakan keluarga
verbenaceae yang berkerabat dekat dengan jenis jati, sungkai dan melina sehingga bisa
disilangkan untuk mendapatkan jenis unggulan dengan kelebihan tertentu seperti halnya
dalam membuat varietas jati unggul di Jawa.
Mengingat hal-hal tersebut menjadi kewajiban kita untuk mengenal, tidak hanya jenis
komersial saja, namun semua jenis yang ada (dimana suatu saat akan ada manfaatnya) di
sekitar kita khususnya hutan rawa gambut dan hutan tropis khas Kalimantan agar tetap
lestari demi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pengenalan jenis Pohon membahas tentang banir , bentuk perakaran, sifat batang dan
kulit, sifat-sifat daun, bunga, buah dan biji serta tajuk dan dahan / percabangan serta kunci
identifikasi. Indonesia memiliki 122..227.000ha hutan yang berupa hutan tropis dengan
2
keanekaragaman hayati yang sangat tinggi yang merupakan bagian dari Daerah Flora
Malaysiana yang terkenal kaya akan jenis makhluk hidup baik flora maupun faunanya.
Jenis pohon komersial di Indonesia sangat beragam diduga sekitar 4.000 jenis. Dari jenis
yang dipasarkan juga masih sangat sedikit pengetahuan untuk mengenal ciri khas kayu
perdagangan yang ada, lebih banyak mengenal hanya sebatas struktur kayunya saja, tidak
dalam bentuk habitus, ciri dasar kayu perdagangan tersebut.
Upaya-upaya untuk mempermudah pekerjaaan mengenal jenis pohon diantaranya
adalah pengenalan keanekaragaman sifat-sifat organ-organ pohon. Organ-organ yang
penting untuk dikenal dengan mudah ditemukan dilapangan :
a. Banir /akar
Tajuk
b.
Batang dan kulit
c.
Daun dan organ-organ lainnnya
d.
Bunga, buah dan biji
dan dahan / percabanganIndonesia dijuluki dengan negara dengan mega
biodiversitas yang memiliki hutan tropis yang cukup luas dengan keanekaragaman hayati,
baik flora maupun fauna. Kita boleh berbangga dengan kekayaan tumbuhan yang tidak
dimiliki negara lain. Lebih kurang 30.000 sampai 40.000 jenis tumbuhan yang tersebar
dari Aceh sampai Papua, dari daratan rendah hingga dataran tinggi, dari daerah tropik
hingga daerah sejuk.
Jenis-jenis pohon di Indonesia sangat banyak. Oleh Endert, seorang pakar tumbuhtumbuhan Belanda yang pernah bekerja di Indonesia ditaksir ada kira-kira 4.000 jenis
pohon dan dari 4.000 jenis ini belumlah kita kenal semua baik namanya maupun sifatnya.
Sedangkan kurang lebih 400 jenis diantaranya mempunyai nilai perdagangan dibidang
hasil kayunya. Selain hasil kayu ini tentu masih ada hasil lainnya seperti hasil kulit,
getah, buah dan lain-lain yang kesemuanya masih memerlukan penggarapan para
pakarnya.
Pepohonan yang terdapat di hutan tropika Indonesia memiliki sifat-sifat morfologi
yang sangat beraneka-ragam. Secara umum pepohonan memiliki bagian-bagian yang
dapat digunakan untuk mengenalnya. Bagian-bagian tersebut adalah batang, tajuk, dahan
dan ranting, kuncup, bunga dan buah.
3
Secara umum batang pepohonan di dalam hutan mempunyai sifat yang
beranekaragam yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat morfologi bagian luar dan
bagian dalamnya. Sifat morfologi bagian luar yang dimaksud adalah diameter pohon
yang diambil
50cm
ke atas dari
sifat-sifat yang mudah dilihat atau diraba tanpa
menggunakan parang atau alat lainnya, sedangkan sifat morfologi bagian dalam adalah
sifat-sifat yang dapat dilihat setelah batang ditakik dengan parang.
Untuk identifikasi tumbuhan secara baik dan benar harus dikombinasikan dengan
pengenalan morfologi seranting daun. Dalam kegiatan penanamaan ilmiah suatu jenis
tumbuhan diperlukan data dan bukti ilmiah yang dapat ditelusuri kembali oleh para ahli
tumbuhan, baik yang sezaman maupun dari generasi berikutnya.
Bukti ilmiah yang
umum dijadikan bahan penulusuran, selain berupa barang cetakan yaitu buku-buku
monografi tumbuhan juga berupa koleksi material herbarium. Koleksi material herbarium
tersebut terdiri atas contoh daun, kuncup dan bunga atau buah jika ada, yang melekat pada
ranting yang telah diproses sedemikian rupa sehingga dapat disimpan lama.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pengenalan morfologi seranting daun , kulit
luar, dan kulit dalam sangat penting dalam menentukan nama ilmiah suatu jenis tumbuhan.
Bahwa kegiatan menentukan nama ilmiah suatu jenis tumbuhan disebut kegiatan
identifikasi atau determinasi. Jika kita memiliki seranting daun dari pohon yang akan
ditentukan nama ilmiahnya maka determinasi dilakukan berdasarkan koleksi material
herbarium yang telah diberi nama ilmiah oleh ahli taxonomi tumbuhan.
Pengenalan jenis Pohon membahas tentang banir , bentuk perakaran, sifat batang dan
kulit, sifat-sifat daun, bunga, buah dan biji serta tajuk dan dahan / percabangan serta kunci
identifikasi.
Tujuan Pembelajaran :
1. Mengidentifikasi banir dan perakaran pohon dengan benar.
2. Mengidentifikasi sifat-sifat batang dan kulit pohon dengan benar.
3. Menjelaskan sifat-sifat daun dengan benar
4. Mengidentifikasi morfologi bunga, buah dan biji.
5. Mengidentifikasi morfologi tajuk dan dahan/percabangan dengan benar.
6. Membuat dan cara menggunakan kunci determinasi
4
Indonesia terkenal sangat kaya akan jenis tumbuhan dan diperkirakan 25.000 jenis
tumbuhan berbunga atau berbiji menghuni alam yang tersebar di seluruh Nusantara
Upaya-upaya untuk mempermudah pekerjaaan mengenal jenis pohon diantaranya
adalah pengenalan keanekaragaman sifat-sifat organ-organ pohon. Organ-organ yang
penting untuk dikenal dengan mudah ditemukan dilapangan :
 Banir /akar
 Batang dan kulit
 Daun dan organ-organ lainnnya
 Bunga, buah dan biji
 Tajuk dan dahan / percabangan
Pertanyaan :
1. Jelaskan cakupan ilmu yang dipelajari pada mata kuliah Dendrologi yang saudara
ketahui!
2. Apakah yang dimaksud dengan identifikasi tumbuhan?
3. Bagaimana cara mengetahui nama jenis pohon asing di lapangan?
4. Jelaskan beda antara pohon dengan tumbuhan lainnya !
5. Apa sajakah yang biasa dijadikan penanda/pengelompok jenis tumbuhan ?
6. Apakah yang dimaksud dengan tajuk ?
Acuan Pustaka
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH
Freeman & Company. San Fransisco London.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia
Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book Company
Inc. New York.
5
BAB II. KLASIFIKASI TUMBUHAN BERKAYU
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Mengetahui pengertian tumbuhan berkayu
2. Mengetahui jenis-jenis komersial dan tatacara nomenklatur tumbuhan.
3. Memahami pengelompokan tumbuhan dari kelompok Dikotil dan monokotil.
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Mahasiswa mampu menyebutkan definisi tumbuhan berkayu
2. Mahasiswa mampu menjelaskan ciri-ciri umum spesies dalam satu famili,
mengklasifikasikan dan mampu menghafal nama ilmiah pohon komersial untuk
kehutanan sesuai pengelompokannya.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan ciri jenis-jenis tumbuhan kayu dari kelompok
Dikotil dan monokotil.
Materi Pembelajaran
Tumbuhan berkayu adalah kelompok tumbuhan yang tumbuh tahunan dan
mempunyai lingkar tahun (meristem lateral) baik monokotil maupun dikotil (William M.,
and Ellwood S., 1958). Keanekaragaman hayati adalah variasi bentuk, penampilan, jumlah
dan ciri lain pada tingkat gen, species serta ekosistem. Tahap-tahap klasifikasi makhluk
hidup yaitu :

Identifikasi

Pengelompokan berdasarkan ciri-cirinya

Pemberian nama takson.
Keanekaragaman hayati adalah variasi bentuk, penampilan, jumlah dan ciri lain pada
tingkat gen, species serta ekosistem. Penyebab keanekaragaman hayati adalah faktor
genetika dan lingkungan. Keanekaragaman hayati dipelajari melalui pengelompokan
makhluk hidup berdasarkan kesamaan bentuk (sifat morfologinya), manfaat, habitat
(perawakan), dan filogenetik (hubungan kekerabatan)nya.
6
Klasifikasi makhluk hidup bertujuan untuk :
1. Memudahkan pengenalan
2. Menyusun hubungan kekerabatan
3. Memudahkan dalam mempelajarinya
Tahap-tahap klasifikasi makhluk hidup yaitu :
1. Identifikasi
2. Pengelompokan berdasarkan ciri-cirinya
3. Pemberian nama takson.
Divisi Spermatophyta / Tumbuhan Berbiji mempunyai ciri :
1. Memiliki organ biji, sebagai alat reproduksi aseksual
2. Memiliki bunga atau strobilus sebagai penghasil biji
Urutan Takson Makhluk Hidup
Animali
Kingdom
Plantae
Phylum/Divisio
Classis/kelas
Ordo/bangs
Familia/suku
Genus/marg
Species
Gambar 1. Tumbuhan Biji (Spermatophyta) pada Kelas Gymnospermae dan
Angiospermae
7
Ini adalah gambar ovum dari pinus (a gymnosperm), Megasporangium yang besar
dilindungi oleh lapisan pelindung yang disebut integumen. (Pada Angiospermae integumen
ada 2 lapis).
Proses pembentukan biji melalui tahap sebagai berikut :
1. Pembentukan biji dimulai dengan terjadinya penyerbukan (polinasi).
2. Serbuk sari kemudian berkecambah membentuk tabung sari yang tumbuh
menuju bakal biji.
3. Selama tumbuh, inti serbuk sari membelah menjadi 2 yaitu 1 inti generatif dan 1
inti vegetatif.
4. Inti generatif lalu membelah lagi menjadi 2 inti generatif (Sel
(Sel Sperma)
5. Inti vegetatif berfungsi mengantarkan inti generatif menuju bakal biji.
6. Setelah sampai pada bakal biji, inti vegetatif hancur. Kemudian 2 inti generatif
(sel sperma) akan masuk ke bakal biji melalui mikrofil.
7. Didalam bakal biji, inti kandung lembaga
lembaga akan membelah 3 kali menghasilkan 8
inti, yaitu 2 inti sinergid, 1 ovum, 3 inti antipoda dan 2 inti kandung lembaga
sekunder.
8. Lalu 1 inti generatif akan masuk membuahi ovum menjadi embrio, dan 1 inti
generatif lain membuahi IKLS dan akan terbentuk endospermae.
end
9. Terbentukkah biji. Peristiwa ini di sebut pembuahan ganda.
8
A. Klasifikasi Tumbuhan
Kingdom
Plantae
Divisio
Schizop
hyta
Thalloph
yta
Bryophy
ta
Pteridop
hyta
Golongan
jamur
belah
(bakteri)
dan
ganging belah (biru)
Golongan algae, fungi, lichenes
Golongan lumut : Musci ( l.daun ) & Hepaticae (l.hati )
Dibagi atas 4 kelas :
1. Psilotinae (p.telanjang/purba)
2. Equiseteiinae (p. ekor kuda)
3. Lycopodinae (p.kawat)
Dibagi atas 2 sub division (Anonim, 1991) yaitu :
Spermatophyta
1. Gymnospermae yang terbagi atas 3 kelas yaitu :
a. Cycadiinae
b. Coniferae
c. Gnetinae
2. Angiospermae, terbagi atas 2 kelas yaitu :
a. Dicotyledone dibagi atas banyak famili antara lain :
i. Solanaceae : Kentang, leunca, tomat, cabe
ii. Myrtaceae : cengkih, eukaliptus, jambu
iii. Mimosaceae : petai, sengon
iv. Caesalpineaceae : Flamboyan, trembesi
v. Papilionaceae : Kacang tanah, sono kembang,
sono keling
vi. Verbenaceae : jati, loban, sungkai
vii. Apocynaceae : pulai, kamboja, jelutung
viii. Sapotaceae : sawo kecik, sawo, tanjung
ix. Ebenaceae : kayu hitam/eboni, kesemek
x. Burceraceae : keben, tancang
xi. Lyrthraceae : bungur
xii. Meliaceae : mindi, mahoni,
xiii. Anacardiaceae : kompas, mangga,kedondong
xiv. Fagaceae : oak
xv. Bombacaceae : randu
xvi. Dipterocarpaceae : kruing, meranti, mrawan,
marsawa, sengkawang
xvii. dll
b. Monocotyledone, terbagi atas banyak famili yaitu :
i. Poaceae : padi, oat, jagung, rumput
ii. Musaceae : pisang
iii. Arecaceae/palmaceae : kelapa, enau, sawit
iv. dll
9
Spermatophyta dibagi
ibagi menjadi 2 sub divisi yaitu
1. Gymnospermae,, menurut William M. And Ellwood, S., 1958 dibagi atas 4
kelas yaitu Gingkophyta, Pinaphyta, Cycadophyta dan Gnetophyta. Pada
beberapa jenis tumbuhan berkayu pada Gymnospermae mempunyai kotiledon
(keping lembaga) lebih dari 2 buah, ada yang 3, 4, 5 ataupun 7.
7
2. Angiospermae,,
penyerbukan
merupakan
dan
tumbuhan
pembuahan
yang
berbiji
lain
tertutup
dengan
dengan
tipe
Gymnospermae.
Angiospermae dibagi menjadi 2 kelas yaitu :
a. Monokotil merupakan tumbuhan berkeping tunggal seperti jagung,
kelapa, kelapa sawit, pinang, padi yang dikelompokkan lagi menjadi
beberapa ordo dan famili seperti gramineae, palmae, dan sebagainya.
b. Dikotil merupakan tumbuhan berkeping
berkeping dua meliputi banyak ordo dan
famili dari jenis herba, semak hingga pohon berkayu.
Perbedaan diantara Monokotil dan Dikotil akan terlihat pada tabel berikut :
Gambar 2.
2 Perbedaan Monokotil dan Dikotil
10
Pertanyaan :
1.
Sebutkan definisi tumbuhan berkayu !
2.
Jelaskan ciri-ciri umum spesies dalam satu famili, mengklasifikasikan dan mampu
menghafal
nama
ilmiah
pohon
komersial
untuk
kehutanan
sesuai
pengelompokannya !
3.
Jelaskan ciri jenis-jenis tumbuhan kayu dari kelompok Dikotil dan monokotil!
4.
Angiospermae dibedakan menjadi 2 kelas sebutkan!
5.
Sebutkan perbedaan antara Dikotil dan monokotil!
6.
Sebutkan 10 jenis pohon komersial beserta nama ilmiah dan familinya!
Acuan Pustaka
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH
Freeman & Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees.
Schol of Biological Sciense Univercity of Malaya.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia
Jakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book
Company Inc. New York.
11
BAB III. IDENTIFIKASI DAUN
Tujuan Pembelajaran Umum :
1.
Memahami istilah ilmiah untuk organ daun
2.
Memahami bentuk-bentuk dan tipe-tipe daun
3.
Memahami pengelompokan daun berdasarkan famili
4.
Memahami tipe daun untuk mendalami taksonomi tumbuhan
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1.
Mahasiswa mampu menjelaskan istilah ilmiah untuk organ daun
2.
Mahasiswa mampu menjelaskan bentuk-bentuk dan tipe-tipe daun
3.
Mahasiswa mampu menjelaskan pengelompokan daun berdasarkan famili
4.
Mahasiswa mampu menyebutkan tipe daun
untuk mendalami taksonomi
tumbuhan
Materi Pembelajaran
Daun merupakan bagian / organ tumbuhan yang berfungsi untuk membentuk
makanan (fotosintesis), respirasi dan transpirasi. Karena itu daun menunjukkan pola
khas, dan bernilai penting dalam taksonomi tumbuhan. Daun dalam berbagai bentuk
mempunyai bagian-bagian antara lain terdiri atas :
1. helaian daun (lamina)
2. Tangkai daun (petiole)
3. Terkadang ada kelenjarnya.
Keistimewaan :
1. Pada jenis-jenis tertentu kadang tidak dijumpai tangkai daun sehingga daun
langsung menempel di ranting disebut dengan duduk daun (sessile), contoh pada
ketapang (Terminalia catappa)
2. Pada jenis tertentu juga dijumpai daun penumpu (stipule) seperti sisik yang
menutup kuncup daun/kuncup bunga, contoh pada nangka, (Artocarpus integra),
cempedak (Artocarpus capendens), kluwih (Artocarpus comunis), meranti
(Shorea spp.).
12
Bagian-bagian daun :
1. Tata daun (Phyllotaxy)
a. Berhadapan (Opposite)
b. Melingkar (Whorled/verticillate)
c. Berseling (Alternate)
2. Komposisi daun
a. Daun tunggal (simple leaf)
b. Daun majemuk ( compound leaf)
i. Majemuk menyirip ( Pinnate) ada yang berjumlah ganjil dan genap
contoh pada Leguminosae
ii. Menjari (palmate) contoh pada ubi kayu, jarak, pancasuda.
3. Bentuk daun
a. Jarum (Acicular)
b. Sisik kecil runcing melebar di pangkal (scalelike)
c. Garis memanjang sempit (Linear)
d. Memanjang (Oblong), panjang 2,5 x lebar daun sama lebar pangkal ke
ujung daun
e. Lanset (Lanceolate), panjang 3-5 x lebar daun, melebar di pangkal daun
f. Lanset sungsang (Oblanceolate) mirip lanset namun yang melebar ujung
daun.
g. Bulat telur (Ovate), melebar di pangkal daun.
h. Bulat telur sungsang (Obovate), kebalikan ovate melebar di ujung
daunnya.
i. Elips ( Elliptical)
j. Jorong (Oval), panjang 1,5 x lebar daun
k. Bundar (Orbicular), panjang = lebar
l. Bentuk ginjal (reniform)
m. Bentuk jantung (cordate)
n. Delta (deltoid)
o. Belah ketupat (Rhomboid)
p. Bulat telur terbalik / sudip (Spatulate)
13
4. Bentuk tepi daun
a. Revolute (menggulung kebelakang)
b. Entire (rata)
c. Repand (agak bergelombang)
d. Sinnate (bergelombang dalam)
e. Crenate (bergigi tumpul)
f. Serrate (bergigi tajam mengarah ke ujung)
g. Dentate (bergigi tajam mengarah keluar)
h. Double serrate
i. Double crenate
j. Lobed bergelombang dalam hingga nyaris ke tulang daun utama
k. Cleft seperti sukun namun di tepi bergigi tajam
l. Parted berlekuk dalam hingga tulang daun
5. Bentuk pangkal
a. Acuminate (meruncing)
b. Acute (runcing)
c. Mucronate (runcing dari kulit dengan ujung yang jelas terpisah)
d. Cuspidate ( berujungkan pucuk yang kaku dan tajam)
e. Obtuse (tumpul)
f. Rounded (bundar membusur penuh)
g. Truncate (terpotong)
h. Emarginate (berlekuk)
6. Ujung daun
a. Cuneate (segitiga sungsang)
b. Acute (runcing)
c. Cordate ( bentuk jantung)
d. Inequilateral (asimetri)
e. Obtuse (tumpul)
f. Rounded (bundar/membusur penuh)
g. Truncate (terpotong)
14
h. Auriculate (bertelinga, berbentuk tombak pada bagian depan besar dan
punca-punca kecil pada kaki.
7. Tipe pertulangan daun
a. Sejajar (pada monokotil)
b. Menjala/terbuka ( pada dikotil) dibagi menjadi 3 macam yaitu :
i. Menjari pada pancasuda, mahang.
ii. Bersirip pada kebanyakan daun
iii. Membusur (arcuate) contoh pada Ginkgo biloba
8. Sifat permukaan daun
a. Glabrous (licin/gundul)
b. Pubescent (berbulu lembut)
c. Villous (berambut panjang lurus)
d. Tomentose (berambut ikal/wol)
e. Scabrous (berambut pendek kasar)
f. Glaucous (warna putih kebiruan/berlilin)
g. Rugose ( berkeriput karena tulang daun tenggelam)
h. Grandular ( berresin/ berminyak)
9. Daun tebal berdaging (coriaceous) atau tipis (membraneous)
Pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun, dan hanya terdapat
pada batang/cabang/ranting. Sifat-sifat atau ciri-ciri daun yang dapat membantu dalam
identifikasi antara lain : tipe daun, duduk daun, tangkai daun, dan bentuk daun.
Macam daun/tipe daun :
1. Daun tunggal (simple leaf), yaitu daun dengan satu helaian daun.
2. Daun majemuk (Compound leaf), yaitu daun dari beberapa tumbuhan terdiri dari dua
atau lebih helaian daun yang melekat pada tangkai persekutuan. Daun majemuk
dimiliki oleh suku :
 Sub suku Mimosoideae ( Leguminosae)  Sub suku Caesalpinoideae
 Sub suku Papilionoideae Leguminosae)
Leguminosae)
 Rutaceae
 Burseraceae
 Meliaceae
 Sapindaceae
15
Berdasarkan jumlah anak daunnya maka daun majemuk dibedakan menjadi :
a. Daun majemuk menjari tiga :

Vitex spp. ( Laban)

Sandaricum koetjapi (Ketapi,sentol)

Melicope glabra (Sampang, terutup)
b. Daun majemuk menjari lima.

Bombax sp. (Kapuk)

Heritiera javanica (mengkulang jari)
c. Daun majemuk menyirip ganjil (berakhir dengan sutu anak daun) :

Suku Burseraceae (Santiria spp., Dacryodes spp., Canarium spp.,
Triomma spp.)

Suku Leguminosae (Pericopsis mooniana, Pterocarpus indicus )

Suku Verbenaceae , Peronema canescens ( Sungkai )
d. Daun majemuk menyirip genap (berakhir dengan dua anak daun)

suku Leguminosae (Sindora spp.,Koompassia spp.)

Cynometra sp. (Nam-nam).

Suku Meliaceae (Xylocarpus granatum)
e. Daun majemuk menyirip ganda (Bipinnate) :

Suku
Leguminosae
(Falcataria
moluccana
(Sengon),
Leucaena
spp.(Lamtoro), Delonix regia (Plamboyan), Parkia speciosa (Petai)
Kedudukan/susunan/ tata letak daun.
1. Berhadapan atau berpasangan bersilang (Opposite) yaitu pada setiap buku/ruas
terdapat sepasang daun yang berhadapan atau arah berlawanan, contoh :

Suku Myrtaceae marga Eugenia

Rubiaceae marga Nauclea, Pertusadina, Neolamarckia.

Guttiferae marga Calophyllum, Garcinia.

Celastraceae marga Kokoona.

Melastomataceae marga Pternadra, Melastoma.

Verbenaceae marga Tectona, Vitex, Peronema, Gmelina dan Geunsia.
16
2. Selang-seling (alternate) yaitu pada setiap buku/ruas hanya terdapat satu helaian
daun dan letaknya selang-seling, contoh :

Suku Dipterocarpaceae

Suku Annonaceae, marga Monocarpia, Xylopia, Polyalthia, Canangium.

Ebenaceae marga Diospyros,

Myristicaceae marga Myristica, Knema, Horsfieldia

Suku Bombacaceae marga Durio.
3. Tersebar (Spiral), Apabila letak daun pada ruas/buku dilihat dari atas maka
bentuknya seakan-akan seperti spiral, contoh :

Suku Moraceae marga Ficus, Artocarpus, Paratocarpus

Sapotaceae marga Palaquium, Payena, Madhuca

Lauraceae marga Litsea

Dilleniaceae marga Dillenia

Elaeocarpaceae marga Elaeocarpus

Lecythidaceae marga Barringtonia, Planchonia

Theaceae marga Schima

Euphorbiaceae marga Macaranga, Baccaurea
4. Berkarang atau Roset, apabila duduk daun pada setiap buku terdapat lebih dari
tiga helai daun, contoh :

Apocynaceae marga Dyera, Alstonia (Pulai).

Casuarinaceae marga Casuarina

Lauraceae marga Actinodaphne
Tangkai daun biasanya sebagai pelengkap ciri di dalam identifikasi.
1.
Tangkai daun biasanya bulat, pipih dan bersudut (umum)
2.
Melengkung contoh Suku Dipterocarpaceae
3.
Tangkai daun menebal; menebal dipangkal, menebal diujung contoh Suku
Dipterocarpaceae marga Dipterocarpus
4.
Menebal di pangkal dan ujung contoh suku Tiliaceae, Sterculiaceae dan
Elaeocarpaceae.
17
5.
Tangkai daun berkuping di pangkal contoh Suku Guttiferae
6.
Tangkai daun beralur (berparit) contoh suku Dilleniaceae.
Bentuk Helaian Daun.
Tombak; Lanset; Oval; Bulat telur; Bulat telur sungsang; Bundar; Perisai; Belah
ketupat; Sudip; Garis; Jantung ; Memanjang/bulat panjang (oblong); Anak panah;
Ginjal; Pedang; Jarum (Acicular).
Pangkal Helaian Daun.
 Tidak simetris (Asymitris) pada marga Santiria, Ficus
 Bentuk baji (Cuneate) pada marga Cratoxylun.
 Agak runcing/menyempit (Tapered).
 Membulat atau bulat (Rounded) pada Shorea
 Berlekuk (emarginate ) atau bentuk Jantung (Cordate ) pada Macaranga.
 Rompang / rata ( Truncate )
Ujung helaian daun
• Runcing / lancip ( Acutus ), contoh : Shorea spp.
• Meruncing / melancip ( Acuminatus )
• Bertugi ( Aristatus )
• Bertaring ( Cuspidatus )
• Berduri ( Mucronatus )
• Tumpul ( Obtusus )
• Bertakik ( Retusus )
• Membulat ( Rotundatus )
• Berlekuk ( Emarginatus )
Tepi/pinggir Helaian Daun.
 Rata (Integer), contoh pada Shorea spp.
 Berombak (Repandus), contoh Dipterocarpus spp.
 Bergerigi (Serratus), contoh pada Canarium spp.
 Bergerigi ganda ( Biserratus )
 Bergiri ( Dentatus )
 Berjumbai ( Fimbriatus )
18
 Berbagi ( Partitus )
 Bercangap ( Pissus )
 Berlekuk (Lobatus ) contoh pada Macaranga sp.
 Tebal (Thickened) contoh pada Sindora spp. (Sindur, Anggi)
Permukaan Helaian Daun.
o Atas
:
 Licin (umum)
 Berlapis lilin (suku Fagaceae marga Quercus, Lithocarpus)
o Bawah
:
 Licin (umum)
 Berlapis lilin :

Putih : Parashorea

Hijau kebiru-biruan : suku Lauraceae (Medang-medangan)
 Kasar :

Berbulu : Shorea

Bersisik : suku Bombacaceae marga Durio
Pertulangan Daun
1. Urat daun pertama (primer)
a. Jumlahnya lebih dari satu :
i.
Urat daun primer menjadi sempurna : pada suku Euphorbiaceae
marga Mollotus, Macaranga, Endospermum.
ii.
Urat daun primer menjari tak sempurna contoh
o Trinerved base : marga Aleurites, Ficus, Pentace, Sterculia,
Microcos, Scaphium, Pterospermum dan Trema.
o Trinerved
:
marga
Cinnamomum,
Pternadra
dan
Rhodamnia.
b.
Jumlahnya satu (umum)
2. Urat daun kedua (primer)
a. Menyirip sempurna contoh suku Myristicaceae
19
b. Menyirip tidak sempurna contoh suku Lauraceae, Dipeterocarpaceae
marga Vatica.
c. Menyirip mendatar contohnya Guttiferrae, Apocynaceae, Sapotaceae dan
suku Dipterocarpaceae marga Dryobalanops.
3. Urat daun kedua (sekunder)
o Menyirip mendatar rapat. Contohnya suku Guttiferae marga Calophyllum,
Dipterocarpaceae marga Drybalanops.
o Urat sambung/sejajar pinggir (Intramarginal Vein). Contoh pada suku
Myrtaceae marga Eugenia, Sonneratiacea marga Duabanga dan suku
Sapotaceae marga Ganua.
o Sambung dan menjerat (Looping) pada suku Dipterocarpaceae marga
Anisoptera (mersama), Cotylelobium (Giam).
o Dryobalanoid (urat menyirip mendatar dan diantara urat terdapat urat
pendek yang tidak sampai ke tepi) pada beberapa marga Hopea (Merawan)
4. Urat daun ketiga (tertier)
a. Tangga (Scalariform) pada suku Shorea spp. (Meranti)
b. Menjala (Reticulata) pada Vatica spp. (Resak)
c. Tangga-jala (Scalariform-Reticulite) pada Neobalanocarpus hemii (Cengal)
5. Kuncup ujung ranting
a. Bulat pada suku Araucariaceae marga Agathis (Damar)
b.
Lancip/runcing pada suku Podocarpaceae marga Podocarpus.
c. Melengkung pada suku Myrtaceae dan Sapotaceae
d. Bersegi empat/kuncup lebih dari satu pada suku Anacardiaceae
Pertanyaan :
1. Daun merupakan suatu identitas tumbuhan untuk sarana identifikasi jenis, jelaskan!
2. Daun berdasarkan filotaksisnya dibedakan menjadi 2 yaitu… dan ….
3. Apakah yang dimaksud dengan filotaksis?
4. Apakah yang dimaksud dengan daun tunggal dan majemuk?
5. Apakah stupila itu?
6. Apakah domatia itu?
20
Acuan pustaka :
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH
Freeman & Company. San Fransisco London.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia
Jakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book
Company Inc. New York.
Lembar Praktikum
Waktu dan tempat praktikum : ........di Lab. Fakultas Pertanian dan Kehutanan
Univ. Muhamadiyah Palangkaraya.
Tujuan Praktikum :
 Memahami bentuk-bentuk dan tipe-tipe daun
 Memahami perbedaan tiap tipe daun
 Memahami tipe daun untuk mendalami taksonomi tumbuhan
Alat dan Bahan :
 Daun tanaman kehutanan dalam berbagai tipe
Hasil Pengamatan :
Nama Pohon :
Keterangan :
Phyllotaxy
Komposisi daun
Bentuk daun
: …….
Bentuk tepi daun
Pangkal daun : …..
Ujung daun
Pertulangan daun
Permukaan daun
: ……
: …….
: …..
: …..
: …..
: ….
21
Nama Pohon :
Keterangan :
Phyllotaxy
Komposisi daun
Bentuk daun : …….
Bentuk tepi daun
Pangkal daun : …..
Ujung daun
Pertulangan daun
Permukaan daun
: ……
: …….
: …..
: …..
: …..
: ….
Nama Pohon :
Keterangan :
Phyllotaxy
Komposisi daun
Bentuk daun
: …….
Bentuk tepi daun
Pangkal daun : …..
Ujung daun
Pertulangan daun
Permukaan daun
: ……
: …….
: …..
: …..
: …..
: ….
Pembahasan
Kesimpulan :
Praktikan :
Nama
No. Mhs
:
:
22
BAB IV. IDENTIFIKASI BUNGA
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Memahami menghafal istilah ilmiah untuk organ bunga
2. Memahami pengelompokan tipe bunga berdasarkan famili
3. Memahami bentuk-bentuk dan tipe-tipe bunga
4. Memahami perbedaan tiap tipe bunga
5. Memahami tipe bunga untuk mendalami taksonomi tumbuhan
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Mahasiswa mampu menghafal istilah ilmiah untuk organ bunga
2. Mahasiswa mampu menjelaskan pengelompokan tipe bunga berdasarkan famili
3. Mahasiswa mampu menjelaskan bentuk-bentuk dan tipe-tipe bunga
4. Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan tiap tipe bunga
5. Mahasiswa mampu menjelaskan tipe bunga untuk mendalami taksonomi
tumbuhan
Materi Pembelajaran
Bunga merupakan organ generatif tumbuhan yang mempengaruhi kelangsungan
hidup tumbuhan. Bunga dapat dijadikan sarana pengelompokan tumbuhan (taksonomi)
karena mempunyai kemiripan pada jenis-jenis tertentu. Bunga dianggap sebagai ranting
dan daun-daun yang berubah fungsinya. Bunga merupakan dasar dari sistem klasifikasi
tumbuhan, sehingga pemahaman bunga dianggap perlu.
Bagian-bagian bunga terdiri dari kelopak bunga (calyx/sepal), daun mahkota bunga
(petal), benang sari (stamen) dan satu atau lebih putik (pistil). Jika bunga mempunyai
semua bagian-bagian tersebut disebut bunga lengkap, sedangkan bila ada beberapa
bagian tersebut yang tidak ada maka dinamakan bunga tidak lengkap.
Berdasarkan keadaan organ reproduksi tumbuhan, diketahui ada bunga sempurna
(bisexual/hermaphrodit) apabila dalam satu bunga terdapat benang sari dan putik,
sedangkan bunga tidak sempurna (unisexual) apabila dalam satu bunga hanya terdapat
putik atau benangsari saja. Dalam penelitian sering dijumpai bunga seolah-olah
23
merupakan bunga sempurna namun salah satu organ generatifnya tidak berfungsi, maka
dikelompokkan menjadi bunga tidak sempurna. Jika yang berfungsi benangsarinya saja
maka dinamakan bunga jantan (staminate)) dan apabila putiknya saja yang berfungsi
dinamakan bunga betina (pistillate
pistillate).
Apabila dalam satu pohon mempunyai kedua jenis bunga jantan dan betina, maka
tumbuhan tersebut dinyatakan berumah satu (monoecious),
(
), sedangkan bila dalam satu
pohon hanya ada bunga jantan atau betina saja dinamakan pohon berumah dua
(dioecious).
Gambar 3. Bagian-bagian
Bagian
Bunga
Bagan organisasi bunga :
Bunga
Bunga Lengkap
Bunga tidak Lengkap
Asesoris bunga tidak ada, bunga
Asesoris bunga : tangkai, daun
tidak lengkap, daun mahkota
pelindung (stipula),
), dasar bunga,
bunga tidak ada ((Apetalous) dan
diskus kelenjar, kelopak bunga, daun
tanpa kelopak bunga ((asepalous)
Bagian utama :
Bagian utama bunga berumah satu
(moneocious):
):
a. Benang sari : tangkai sari, kepala sari
dan tepung sari
b. Putik : Kepala putik, turus (style),
(
bakal
buah dan bakal biji.
a. bunga berumah satu ((monoecious):
benangsari dan putik terpisah dari satu
bunga, namun posisi masih dalam satu
pohon.
c. Bunga berumah dua (dioecious) :
benangsari dan putik ada pada pohon
yang berbeda.
24
Tata bunga/ susunan bunga dibagi menjadi 2 macam yaitu :
1. Axillary yaitu bunga tersusun di ketiak daun.
2. Terminal yaitu bunga tersusun pada ujung ranting.
Bunga dibagi atas :
1. Bunga tunggal apabila bunga dapat berdiri sendiri pada satu tangkai bunga.
2. Bunga
majemuk
(inflorescensi)
jika
bunga
tersusun
pada
tangkai
persekutuan/berkelompok dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Determinate inflorescensi, yaitu bila sumbu utama pendek dan berakhir pada
bunga yang mekar lebih dahulu. Tipe bunga ini antara lain :
i.
Cyme : yaitu tata bunga terdiri dari sumbu sentral yang memikul sejumlah
bunga bertangkai secara silindrikal (tangkai sama panjang) dan berpucuk
rata (tangkai tidak sama panjang).
b. Indeterminate inflorescensi, yaitu bila sumbu utama tanpa bunga diujungnya dan
memanjang. Sumbu-sumbu cabang mengulangi percabangan sumbu utama. Tipe
bunga ini antara lain :
 Spike : bulir, inflorescensi terdiri dari sumbu sentral dengan bunga-bunga
duduk.
 Catkin (ament) : bunga berempulur, bulir bersisik dengan bunga berkelamin
satu tanpa daun mahkota, terkulai.
 Reseme : tandan, inflorescensi terdiri dari sumbu sentral dengan bunga
bertangkai.
 Punicle : Malai, tandan majemuk atau tandan bercabang.
 Corymb : malai rata, cabang bawah berbentuk malai
dengan membentuk
bidang datar.
 Umbel : berbentuk payung, tangkai memusat pada satu titik
 Head (bongkol/ globos ) : inflorescensi terdiri atas sejumlah bunga duduk
menggerombol di dasar bunga contoh : petai, putrimalu, lamtoro.
25
Gambar 4. Tipe-tipe Perbungaan
Bunga pada tumbuhan pohon dapat dianggap sebagai ranting dengan daun-daun
yang telah berubah fungsinya. Bunga merupakan dasar dalam sistem klasifikasi
tumbuhan. Oleh karena itu pemahaman bunga merupakan bagian yang sangat penting.
Tipe-tipe perbungaan.
1.
Bulir (spike), jika bunga-bunga tersusun atau tanpa gagang perbungaan dan bungabunga tersebut hampir duduk atau tanpa gagang bunga. Perbungaan semacam ini
dijumpai pada suku Fagaceae marga : Castanopsis, Lithocarpus atau Quercus).
2.
Tandan (Raceme), jika bunga-bunga tersusun berselang-seling pada gagang
perbungaan yang memanjang tak terbatas dan bunga-bunga tersebut bergagang;
misalnya pada suku Dilleniaceae marga Dillenia dan suku Guttiferae marga
Calophyllum.
3.
Malai (panicle), seperti tandan tetapi perbungaan ini bercabang-cabang; masingmasing cabang memiliki bunga-bunga yang bertangkai, yang bergantian mekarnya
dari bawah keatas, misalnya pada beberapa marga dari suku Dipterocarpaceae dan
Verbenaceae,
4.
Payung (Umbel), jika bunga-bunga dengan gagangnya tersusun terpusat pada ujung
gagang perbungaan. Pohon dari suku Annonaceae umumnya memiliki tipe
perbungaan demikian.
26
5.
Bongkol (Head), jika bunga-bunga tersusun pada permukaan perbungaan yang
bulat seperti kepala dan biasanya bunga-bunga tersebut tidak bergagang. Pohon dari
suku Mimosaceae memiliki tipe perbungaan demikian.
6.
Bunga tunggal (Solatary), jika hanya terdapat satu bunga pada satu gagang tidak
berupa gabungan beberapa bunga.
Bagian-bagian dari bunga adalah :
a. Daun kelopak (calyx atau sepal)
b. Daun mahkota (corolla atau petal).
c. Benangsari (stamen): organ reproduksi jantan.
d. Kepala putik (pistil) : organ reproduksi betina.
e. Dasar bunga.
Gambar 5. Tipe-tipe Mahkota Bunga
Pertanyaan :
1. Sebutkan istilah ilmiah untuk organ bunga !
2. Jelaskan pengelompokan tipe bunga berdasarkan famili!
3. Jelaskan bentuk-bentuk dan tipe-tipe bunga !
4. Jelaskan perbedaan tiap tipe bunga
5. Jelaskan tipe bunga untuk mendalami taksonomi tumbuhan !
27
6. Bunga merupakan suatu identitas tumbuhan untuk sarana identifikasi jenis,
jelaskan!
7. Perbungaan dibedakan atas axilary dan lateralis, jelaskan!
8. Apakah yang dimaksud dengan bunga tunggal dan majemuk?
9. Apakah tenda bunga itu?
Acuan Pustaka
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia
Jakarta.
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH
Freeman & Company. San Fransisco London.
Lembar Praktikum :
Waktu dan tempat praktikum : ........di Lab. Fakultas Pertanian dan Kehutanan
Univ. Muhamadiyah Palangkaraya.
Tujuan Praktikum :
 Memahami bentuk-bentuk dan tipe-tipe bunga
 Memahami perbedaan tiap tipe bunga
 Memahami tipe bunga untuk mendalami taksonomi tumbuhan
Alat dan Bahan :
 bunga tanaman kehutanan dalam berbagai tipe
28
Hasil Pengamatan :
Nama Pohon :
Keterangan :
1. Susunan bunga
: ………….
2. Jenis bunga
: ………….
3. Jika termasuk bunga majemuk tipe
susunan tangkai ;
a. Determinate/indeterminate
inflorescensi
Nama Pohon :
Keterangan :
1. Susunan bunga
: ………….
2. Jenis bunga
: ………….
3. Jika termasuk bunga majemuk tipe
susunan tangkai ;
a. Determinate/indeterminate
inflorescensi
b. Tipe bunga : ………….
Nama Pohon :
Keterangan :
1. Susunan bunga
: ………….
2. Jenis bunga
: ………….
3. Jika termasuk bunga majemuk tipe
susunan tangkai ;
a. Determinate/indeterminate
inflorescensi
b. Tipe bunga
: ………….
29
Nama Pohon :
Keterangan :
1. Susunan bunga
: ………….
2. Jenis bunga
: ………….
3. Jika termasuk bunga majemuk tipe
susunan tangkai ;
 Determinate/indeterminate
inflorescensi
 Tipe bunga : ………….
Pembahasan :
Kesimpulan :
Praktikan
:
Nama
:
No. Mhs
:
30
BAB V. IDENTIFIKASI BUAH DAN BIJI
Tujuan Pembelajaran Umum :
1.
Memahami istilah ilmiah untuk organ buah dan biji
2.
Memahami pengelompokan tipe buah berdasarkan famili
3.
Memahami bentuk-bentuk dan tipe-tipe buah
4.
Memahami perbedaan tiap tipe buah
5.
Memahami tipe buah untuk mendalami taksonomi tumbuhan
6.
Memahami bagian-bagian buah dan biji
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1.
Mahasiswa mampu menyebutkan istilah ilmiah untuk organ buah dan biji
2.
Mahasiswa mampu menjelaskan pengelompokan tipe buah berdasarkan famili
3.
Mahasiswa mampu menjelaskan bentuk-bentuk dan tipe-tipe buah
4.
Mahasiswa mampu menyebutkan perbedaan tiap tipe buah
5.
Mahasiswa mampu menyebutkan tipe buah untuk mendalami taksonomi
tumbuhan
6.
Mahasiswa mampu menjelaskan bagian-bagian buah dan biji
Materi Pembelajaran
Buah adalah organ tumbuhan yang mengandung biji, tapi tak semua buah
mengandung biji, Dengan kata lain buah adalah organ reproduksi tumbuh-tumbuhan
berbiji yang merupakan hasil pembuahan, umumnya terdiri atas kulit buah, daging, kulit
biji dan biji. Bagian-bagian buah :
A. Kulit buah
C. Kulit biji
B. Daging buah
D. Biji
Struktur biji meliputi :
1. Kulit biji
a) Kulit luar (keras) / testa
b) Kulit dalam (selaput tipis) / tegmen
31
2. Kotiledon
3. Embrio
a. Calon daun pertama / plumula
b. Calon batang
c. Calon akar utama / radicula
4. Tali pusar
Gambar 6. Bagian Buah dan Biji
Struktur buah ada beberapa tipe yaitu :
1. Gymnospermae terutama Conifer mempunyai buah berbentuk cone contoh pinus,
cemara, damar/agathis, Araucaria.
2. Angiospermae, buah merupakan bakal buah yang masak. Ada 2 macam yaitu :
a. Buah tunggal yang terbentuk oleh satu putik, dengan bentuk-bentuk sebagai
berikut :
i.
Buah berdaging :
o Buah buni
: Tanjung (Mimosops elengi)
o Buah batu
: Jati ( Tectona grandiss )
o Buah Pome
: delima (Pome granata), jambu biji (Eugenia guajava)
Buah kering merekah :
ii.
: Bungur (Lagerstromea speciosa)
o Buah polong/legume
: Johar ( Acasia mangium )
o Buah Jangkar/bumbung
: Pantung ( Dyera lowii)
iii.
o Buah kotak/capsule
Buah kering tidak merekah :
o Buah nut
: pampaning
o Buah bersayap
: Kahoi ( Shorea balangeran )
o Buah Longkah (Achene) : buah kecil berongga berbiji satu contoh
Tabati (Sizygium spp.)
iv.
Buah semu : Jambu mete ( Anacardium ocidental )
32
b. Buah majemuk, terbentuk oleh dua atau lebih putik yang terdapat pada dasar
bunga yang sama, ada 2 macam yaitu :
i.
Buah agregat, merupakan kumpulan buah tunggal berasal dari putik
terpisah yang terdapat dalam satu dasar bunga persekutuan contoh sirsat,
serikaya (Anona spp.)
ii.
Buah multiple, merupakan kumpulan buah tunggal yang berasal dari
putik-putik bunga yang terpisah-pisah (nangka, cempedak dan nanas)
Buah dapat dibedakan 2 (dua) golongan menurut Ardiansyah, 2003 yaitu:
1. Buah semu atau buah tertutup, jika buah terbentuk dari bakal buah beserta bagianbagian lain pada bunga, sedangkan buah sesungguhnya kadang-kadang tersembunyi.
Buah semu dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
a) Buah semu tunggal, buah yang terjadi dari satu bunga dengan satu bakal buah.
b) Buah semu ganda jika pada satu bunga terdapat lebih dari satu bakal buah yang
bebas satu sama lain dan kemudian masing-masing dapat tumbuh majemuk.
c) Buah semu majemuk yaitu buah yang terjadi dari bunga majemuk, tetapi
seluruhnya dari luar tampak seperti buah pada suku moraceae marga Artocarpus
(nangka).
2. Buah sejati atau buah telanjang, jika buah hanya terbentuk dari bakal buah. Buah
sejati,buah sejati dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam yaitu :
a) Buah sejati tunggal, buah sejati yang terjadi dari satu bunga dengan satu bakal
buah, misalnya buah mangga (Mangifera)
b) Buah sejati ganda, buah yang terjadi dari satu bunga dengan beberapa bakal
buah yang bebas satu sama lain dan masing-masing bakal buah menjadi satu
buah (lampeso).
c) Buah sejati majemuk, buah yang terjadi dari satu bunga majemuk yang masingmasing bunganya mendukung satu bakal buah, tetapi setelah menjadi buah tetap
berkumpul ( mengkudu).(Samingan, T., 1982)
33
Buah sejati tunggal dapat dibedakan dalam 7 macam :
1. Buah batu (drupe) yakni buah yang bagian luarnya dinding buahnya berdaging,
sedangkan bagian dalamnya membentuk lapisan yang berkayu atau berserat; misalnya
buah mangga (Mangifera indica) dari suku Anacardiaceae.
2. Buah buni (berry), yakni buah yang dindingnya berdaging lunak, berair, biasanya
berbiji lebih dari satu. Pohon dari suku Sapotaceae, misalnya marga Palaquium,
Payena, Chrysophyllum dan suku Guttiferae marga Mangostana.
3. Buah kotak (Capsule) yakni buah buah yang merekah, berasal dari beberapa daun
buah dan berisi banyak biji, misalnya pada mahoni (Swietenia macrophylla) dari suku
Miliaceae, bungur (Lagerstromia speciosa) suku Lyrthraceae dan pada suku
Sterculiaceae.
4. Buah longkah (Achene), yakni buah kering berbiji tunggal yang tidak pecah, berasal
dari satu daun buah. Buah tabati mempunyai tipe buah ini, pohon dari suku Fagaceae
marga Castanopsis, Lithocarpus atau Quercus memiliki buah semacam ini.
5. Buah Polong (Legume) yakni buah yang berasal dari satu suku Legumninosae,
berbentuk gepeng, terdiri atas 2 belahan yang dapat dibuka bila kering, berbiji satu
atau lebih; misalnya pada pohon sengon (Falcataria muluccana) atau petai (Parkia
speciosa) serta marga Saraca.
6. Buah keras bersayap (Samara), misalnya pada pohon mengkulang jari (Heritiera sp.)
7. Buah bumbung/jangkar, misalnya pada suku Apocynaceae marga Alstonia, Dyera.
Gambar 7. Tipe Buah
34
Pertanyaan :
1. Sebutkan istilah ilmiah untuk organ buah dan biji !
2. Jelaskan pengelompokan tipe buah berdasarkan famili!
3. Jelaskan bentuk-bentuk dan tipe-tipe buah!
4. Sebutkan perbedaan tiap tipe buah!
5. Sebutkan tipe buah untuk mendalami taksonomi tumbuhan!
6. Jelaskan bagian-bagian buah dan biji!
Acuan Pustaka
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH
Freeman & Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees.
School of Biological Sciense Univercity of Malaya.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia
Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book
Company Inc. New York.
Lembar Praktikum :
Waktu dan tempat praktikum : ...........di Lab. sementara Fakultas Kehutanan Univ.
Muhamadiyah Palangkaraya.
Tujuan Praktikum :
 Memahami bagian-bagian buah dan biji
 Memahami perbedaan tiap tipe buah
Alat dan Bahan :
 Buah dari macam-macam tipe buah seperti Johar, akasia, pala, cemara, jambu
monyet, jati
Hasil Pengamatan :
 Tipe buah dan bagian-bagiannya
35
Tipe buah : ………………….
Keterangan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Tangkai buah
Kulit luar
Kulit dalam
Daging buah
Biji
Sayap
Tipe buah : ………………….
Tipe buah : ………………….
36
Bagian – bagian biji
Keterangan :
1. Kulit biji
a. Luar (Eksoderm)
b. Dalam (endoderm)
2. Kotiledone
3. Embrio
a. Calon tunas
b. Calon batang
c. Calon akar
4. Tali pusar
Pembahasan :
Kesimpulan :
Praktikan :
Nama
: …………………….
No. Mhs
: ……………………
37
BAB VI. IDENTIFIKASI AKAR, BANIR DAN KULIT POHON
Tujuan Pembelajaran Umum :
1.
Memahami istilah ilmiah untuk organ tubuh tumbuhan
2.
Memahami pengelompokan tipe banir dan permukaan kulit pohon berdasarkan
famili
3.
Memahami bentuk-bentuk dan tipe-tipe banir dan bentuk permukaan kulit pohon
untuk identifikasi jenis.
4.
Memahami tipe perakaran, banir dan kulit pohon untuk mendalami taksonomi
tumbuhan
5.
Memahami perbedaan tiap tipe banir.
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1.
Mahasiswa mampu menyebutkan istilah ilmiah untuk organ tubuh tumbuhan
2.
Mahasiswa mampu menyebutkan pengelompokan tipe banir dan permukaan kulit
pohon berdasarkan famili.
3.
Mahasiswa mampu menyebutkan bentuk-bentuk dan tipe-tipe banir dan bentuk
permukaan kulit pohon untuk identifikasi jenis.
4.
Mahasiswa mampu menjelaskan tipe perakaran, banir dan kulit pohon untuk
mendalami taksonomi tumbuhan
5.
Mahasiswa mampu menyebutkan perbedaan tiap tipe banir.
Materi Pembelajaran
38
Identifikasi Banir dan Bentuk Perakaran.
1. Banir Kuncup (Steep buttresses) yaitu banir yang tumbuh tinggi dibawah batang
agar tidak rebah.
Gambar 8. Banir Kuncup
 Kempas (Koompassia malaccensis)
 Merbau (Intsia spp.)
 Meranti Bunga (Shorea parvifolia)
 Kapur/Kamper (Dryobalanops spp.)
 Nyatoh (Palaquium spp.)
 Meranti Merah (Shorea leprosula)
 Keruing (Dipterocarpus spp.)
 Balau (Shorea leavis)
2. Banir Menjalar (Spreading buttresses) yaitu akar tumbuh dari berbagai arah
menjalar diatas permukaan tanah.

Keranji (Dialium spp.)

Kayu Pinang (Pentace laxiflora)

Bongin ( Irvingia malayana )
3. Banir papan (Plank buttresses) yaitu akar yang berbentuk seperti papan yang
diletakkan miring untuk memperkokoh berdirinya pohon tinggi besar.
Gambar 9. Banir Papan
 Mersawa (Anisoptera spp.)
 Kenanga (Cananga adorata)
 Keranji ( Dialium indum)
 Merawan (Hopea beccariana)
 Jelamai jaha (Terminalia
subspathulata)
 Bongin (Irvingia malayana)
39
4. Banir terbang atau akar jangkang (Stilit root) akar yang tumbuh dari bagian
bawah batang ke segala arah dan seakan-akan menunjang batang agar tidak rebah.
Gambar 10. Banir Jangkang
 Bakau (Rhizophora spp.)
 Simpur (Dillenia spp.)
 Merawan (Hopea spp.)
 Jangkang (Xylopia spp.)
5. Akar napas (Pneumatophores) yaitu cabang-cabang akar yang tumbuh tegak
keatas sehingga muncul dari permukaan tanah atau air tempat tumbuhnya.
Gambar 11. Akar Nafas
 Api-api (Avicennia spp.)
 Bogem (Sonneratia spp.)
 Pulai rawa ( Alstonia pneumatophora)
 Nyirih( Xylocarpus mekongensis )
 Tumih (Combretocarpus rotundatus)
6. Akar lutut
(Knee shaped root) yaitu akar bagian akar yang tumbuh keatas
kemudian membengkok masuk lagi ke dalam tanah sehingga membentuk seperti
lulut yang dibengkokkan.
 Tancang (Bruguera spp.)
 Nyatoh ketiau (Ganua motlayana)
7. Akar gantung atau akar udara, yaitu akar yang menggantung di udara dan tumbuh
kearah tanah.
 Beringin (Ficus benyamina)
40
Identifikasi Sifat-sifat Batang dan Kulit
1. Kulit Dalam (Inner bark)
2. Tekstur kulit dalam (texture of inner bark)
3. Bau (smell)
4. Warna kulit dalam ( colour of inner bark)
Kulit Dalam (Inner bark)
Getah (Latex).
Apabila kulit ditarik/dibacok akan mengeluarkan getah :
a. Getah putih / putih susu :
 Suku Apocynaceae
jenis Dyera costulata, Dyera Lowii (Jelutung),
Alstonia spp. (Pulai)
 Moraceae jenis Artocarpus spp.(Terap, keledang, jemo, cempedak).
 Euphorbiaceae (Elateriospermum tapos, Pimelodendron spp.).
 Sapotaceae jenis Palaquium spp. Madhuca spp., Payena spp.(Nyatoh)
 Suku Burseraceae jenis Dacryodes spp., Santiria spp., Triomma spp. (Kenari,
kembayau).
b. Getah Kuning
 Suku Guttiferae jenis Garcinia spp.(manggis)
 Calophyllum spp (Bintangur/kapurnaga)
 Terminalia catappa (ketapang)
c. Getah Hitam.
Suku Anacardiaceae jenis Gluta spp. (Rengas), Mangifera indica (mangga),
Anacardium ocidental (jambu mete) dll
Getah Merah
•
Suku Myristicaceae jenis Myristica spp.. Knema spp., Horsfieldia spp.
•
Suku Euphorbiaceae jenis Macaranga gigantea
•
Caesalpiniaceae jenis Dialium spp. (Keranji).
e. Getah Coklat.
Suku Hypericaceae jenis Cratoxylun spp.
( Gerunggang)
41
Tekstur Kulit dalam (Textur of Inner bark)
1. Berlapis (Laminated)
Apabila kulit dalam menunjukkan lebih dari satu
bila dibuatkan
susunan diatas dari yang lain
bacokan/takikan yang berbeda garis horizontal
dapat dilihat
pada permukaan kulit dalam antara lain :
 Suku Dipterocarpaceae jenis Anisoptera spp.
Meranti putih dari jenis
(mersawa), dan kelompok
Shorea lamelatta
 Suku Tiliaceae jenis Pentace spp. (Kayu Pinang).
2. Berpasir
Apabila kulit dalam dipotong dan dihancurkan diantara jari terasa seperti pasir
kecil misalnya :
•
suku Euphorbiaceae jenis Endospermum spp. (Sesendok, mata udang , mata
buaya),
•
suku Polygalaceae jenis Xanthophyllum spp. (Minyak berok
•
suku Lauraceae (Medang-medangan)
•
suku Theaceae jenis Schima wallichii (Puspa)
•
pada suku Dipterocarpaceae jenis Vatica spp. (Resak)
3. Berserat (fibrious)
Contoh : Suku Sterculiaceae jenis Scapium spp. (Kembang semangkok), suku
Annonaceae jenis Mezzettia, spp.(pisang-pisang), Monocarpia spp. (Mempisang),
Polyalthia spp. (Banitan, Glodokan), suku Thymelaeaceae jenis Aquilaria
beccariana, A. malaccensis, A. microcarpa, (Gaharu), suku Tiliaceae jenis
Pentace spp.(Kayu pinang), dan suku Malvaceae jenis Hibiscus tiliaceus (Waru).
4. Berwarna Campur (Mottled) :
Pada kulit dalam tampak berwarna campur dari kemerah-merahan ( pink ),
kream,
dan kuning seperti pada jenis Irvingia malayana ( Bongin ) dan
beberapa dari suku Meliaceae.

Seperti Karet ( Rubbery ) ;

Pada suku Hypericaceae jenis Cratoxylum arborescens (Gerunggang).
5. Berserat halus seperti sutera ;pada jenis Gonystylus spp. (Ramin).
42
6.
Bermiang ; ada suku Lauraceae (Medang-medangan) dan suku Theaceae jenis
Schima wallichii (Puspa)
Bunyi Menciut (Hissing sound) ;
Kelompok dari Dillenia spp. (Simpur); mengeluarkan bunyi mendesis setelah
batang ditakik / dibacok., terentang (Camnosperma spp.)
Bau
1. Bau Resin (Resinous smell);
Pada suku Dipterocarpaceae marga Shorea dan Dipterocarpus, suku Burseraceae
jenis Santiria spp., Canarium spp., dan suku Anacrdiaceae jenis Mangifera spp.
(Mangga-manggaan).
2. Bau Bawang (Garlic Smell);
Pada suku Olacaceae jenis Scorodocarpus borneensis (Kayu bawang , Kulim) atau
pada Cedrela serrata (Surian Bawang).
3. Bau kapur Barus (Camphor Smell);
Pada suku Dipterocarpaceae jenis Dryobalanops aromatica (Kapur).
4. Bau wangi / rempah (Aromatic Smell) terutama dari suku Lauraceae jenis
Cinnamomum spp.(Kayu manis).
5. Bau kacang / buncis (Bean Smell) untuk anggota dari suku Leguminosae sub suku
Mimosoideae jenis Parkia spp. (Petai) dll.
6. Bau Asam (Tamarind Smell) ;
Pada
suku
Euphorbiaceae
jenis
Sapium
baccatum
(Merbatung),
suku
Sonneratiaceae jenis Duabanga moluccana (Binuang laki)
7. Bau Busuk (Foetid Smell); pada suku Leguminosae jenis senna nodosa
8. Bau kutu busuk (Bug Smell) ;
Pada suku Rosaceae jenis Prunus sp. (Merlipas)
9. Bau Kelapa Muda; pada suku Juglandaceae jenis Engelhardia serrata (Kayu
hujan).
10. Bau Empas Tebu; pada suku Ulmaceae jenis Gironniera nervosa (Empas Tebu).
11. Bau Sperma; pada suku Rutaceae jenis Melicope glabra (Sampang).
43
12. Bau Sperma wangi, pada suku Rutaceaea jenis Melicope luna-ankenda (Terutup)
Warna Kulit Dalam
1. Merah daging ; pada Shorea pauciflora (Meranti merah) dan Baccaurea spp. (
Kapul-kapulan, jentikan ).
2. Merah Hati ; pada Styrax benzoin ( Kemenyan)
3. Merah muda / merah ; pada jenis meranti merah (Shorea dasyphylla), (Shorea
acuta), (Shorea johorensis), (Shorea macrantha), (Shorea ovalis), (Shorea
palembanica), (Shorea parvistipulata), (Shorea teysmanniana), (Shorea uliginosa),
(Shorea smithiana).
4. Coklat kemerahan ; pada jenis meranti merah (Shorea almon), (Shorea balangeran
), (Shorea fallax), (Shorea leprosula),(Shorea monticola), (Shorea parvifolia),
(Shorea pinanga ),( Shorea platycarpa ),( Shorea scabrida ).
5. Coklat / kuning pucat ; pada meranti merah, meranti kuning (Shorea
amplexicaulis),(Shorea
argentifolia),
(Shorea
longisferma),
(Shorea
macrobalanos), (Shorea macrophylla),(Shorea myrionerva), dan
(Shorea
pachyphylla).
6. Coklat kekuningan ; pada meranti merah dan meranti kuning (Shorea albida),
(Shorea acuminatissima), (Shorea faguetiana), (Shorea faguetinoides), (Shorea
ferruginea), (Shorea gibbosa), (Shorea dupalicata), (Shorea multiflora),(Shorea
potoiensis), dan (Shorea rugosa).
7. Coklat pucat ; pada meranti merah (Shorea sagittata) dan Meranti kuning (Shorea
xanthophylla ).
8. Berwarna seperti kopi ; pada meranti merah (Shorea scaberrima), (Shorea pilosa),
(Shorea pubistyla).
Kulit Tengah (lapisan tipis pada bagian luar dari bagian kulit hidup) ;
1. Warna merah cerah ; pada Shorea macroptera (Meranti Melandai).
2. Warna kuning ; pada Lophopetalum spp. (Perupuk)
3. Warna hijau ; pada Intsia palembanica (Merbau).
44
Pertanyaan :
1. Sebutkan istilah ilmiah untuk organ tubuh tumbuhan!
2. Sebutkan pengelompokan tipe banir dan permukaan kulit pohon berdasarkan family!
3. Sebutkan bentuk-bentuk dan tipe-tipe banir dan bentuk permukaan kulit pohon untuk
identifikasi jenis!
4. Jelaskan tipe perakaran, banir dan kulit pohon untuk mendalami taksonomi tumbuhan
5. Sebutkan perbedaan tiap tipe banir!
Acuan Pustaka
Ardiansyah, 2003. Kunci Identifikasi 57 Jenis Pohon Shorea spp. di Dareah Kalimantan
Selatan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. Sekolah Kehutanan Menengah
Atas (SKMA) Samarinda. Departemen Kehutanan Republik Indonesia.
Ardiansyah, 2003. Kunci Identifikasi 80 Jenis Pohon Shorea spp. di Dareah Kalimantan
Tengah. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. Sekolah Kehutanan Menengah
Atas (SKMA) Samarinda. Departemen Kehutanan Republik Indonesia.
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH
Freeman & Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees.
Schol of Biological Sciense Univercity of Malaya.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia
Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book
Company Inc. New York.
45
BAB VII. HERBARIUM
Tujuan Pembelajaran Umum :
1.
Memahami tata cara pembuatan herbarium
2.
Mengetahui cara pengawetan organ tumbuhan untuk keperluan pendidikan
3.
Memahami bagian-bagian tumbuhan untuk herbarium dalam hal identifikasi
tumbuhan.
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1.
Mahasiswa mampu menjelaskan tata cara pembuatan herbarium
2.
Mahasiswa mampu menjelaskan cara pengawetan organ tumbuhan untuk
keperluan pendidikan
3.
Mahasiswa mampu menjelaskan bagian-bagian tumbuhan untuk herbarium dalam
hal identifikasi tumbuhan.
Materi Pembelajaran
Herbarium menurut Lawrence (1962) adalah
sekumpulan spesimen tumbuh-
tumbuhan yang umumnya telah dikeringkan, dipres dan disusun secara berurutan
menurut suatu sistem klasifikasi tertentu dan berguna untuk referensi (bahan acuan) atau
untuk tujuan-tujuan ilmiah lainnya. Gedung tempat penyimpan herbarium juga disebut
herbarium contoh Herbarium Bogoriense.
Tujuan pengumpulan herbarium adalah untuk mengetahui nama dari tumbuhtumbuhan yang bersangkutan, dimana nama tersebut baru dapat diketahui setelah
identitas dan hal-hal yang menyangkut objek tumbuh-tumbuhan itu daat diketahui. Maka
agar orang dapat mengenal nama tumbuh-tumbuhan
haruslah mendatangi tempat
hidupnya (habitatnya) lalu mengumpulkan spesimen dan terakhir melakukan identifikasi.
Untuk melaksanakan kegiatan identifikasi diperlukan bahan untuk identifikasi yaitu :
1. Identifikasi tumbuh-tumbuhan yang saat ini belum dikenal oleh dunia ilmu
pengetahuan.
2. Identifikasi kembali tumbuh-tumbuhan yang oleh orang lain sudah diketahui
nama dan tempatnya dalam sistem klasifikasi.
46
Apabila bahan herbarium yang diidentifikasikan
itu ternyata merupakan tumbuh-
tumbuhan yang belum dikenal dunia ilmu pengetahuan, maka terhadap bahan herbarium
tersebut, harus dicoba untuk ditentukan nama dan tempatnya dalam sistem identifikasi.
Sedangkan apabila bahan herbarium yang diidentifikasikan ternyata sudah dikenal, maka
orang hanya me re-identifikasi saja dengan cara mencocokkan bahan yang ada atau
menggunakan kunci determinasi.
Langkah-langkah identifikasi :
1. Eksplorasi, yaitu kegiatan penjelajahan suatu wilayah tertentu dengan tujuan
untuk mengenal nama semua kekayaan jenis tumbuhan di wilayah tersebut
dengan melakukan koleksi. Tujuan eksplorasi adalah mengenal semua jenis
tumbuhan yang ada di wilayah eksplorasi. Hal ini tidak bisa disamakan dengan
kegiatan penelitian ekologi dengan metoda sampling, jadi disemua wilayah harus
dijamah, sehingga diperlukan eksplorer yang benar-benar teliti. Kekayaan jenis
tumbuhan di suatu wilayah atau tempat tertentu disebut flora, yang banyak
dikenal contohnya flora van java, flora malesiana, dan sebagainya.
2. Koleksi, yaitu kegiatan pengumpulan spesimen tumbuhan dengan beberapa
peralatan koleksi antara lain :
a. Alat pengepres, berbentuk papan sepasang di lapisi kertas koran terdapat
lobang ventilasi udara dan tali pengikat ukuran tertentu.
b. Lempeng Almunium berombak (seng) untuk mengepres juga
c. Gunting tanaman untuk memotong specimen
d. Parang
e. Etiket gantung untuk mencatat nomor pengumpulan, tanggal dan nama
kolektor.
f. Kantong herbarium untuk mengepak papan pres dalam jumlah tertentu.
g. Sasak kayu, adalah alat pengepres specimen khusus untuk daerah
subtropis.
h. Kertas hisap, sebagai pelapis alat pengepres untuk mengeringkan cairan
tumbuhan dalam hal pengeringan.
i. Botol plastik untuk alat pengumpul specimen basah
47
j. Buku koleksi, untuk mencatat setiap informasi specimen
yang
dikumpulkan. Data yang harus ditulis antara lain :
i. Nomor specimen
ii. Nama Famili
iii. Nama Genus
iv. Nama Species
v. Nama Daerah
vi. Tempat penemuan
vii. Habitat
viii. Tanggal koleksi
ix. Ketinggian dari permukaan laut
x. Catatan lain yang diperlukan misalnya : habitus, tinggi maksimal,
tinggi bebas cabang, diameter setinggi dada, ada tidaknya banir,
getah, arsitektur pohonnya, bentuk hidupnya, warna kulit, daun,
bunga, buah (yang mungkin akan hilang saat dikeringkan).
k. Kantong biji
l. Kertas penyangga specimen
m. Kompor untuk mengeringkan specimen jika cuaca tidak bersahabat
n. Oven/ Kotak tempat specimen dikeringkan dengan kompor
o. Kertas karton
p. Pemahat kayu untuk mengambil contoh kayu dan kulitnya.
Metode pengumpulan spesimen ada dua macam yaitu :
a. Metode kering, yaitu mengoleksi secara langsung spesimen di bawa ke
laboratorium. Spesiemn diatur sebaik mungkin di atas kertas koran dan
dipres dan dirangkai dalam suatu pigura.
b. Metode basah, dilakukan khusus pada spesimen basah seperti buah, bunga,
semai yang dimasukkan dalam suatu tabung tertentu berisi cairan
formalin/alkohol gliserin. Spesimen dicuci bersih dan dibilas dengan
alkohol 70% ditambah gliserin dengan perbandingan 3 : 1.
48
Perlakuan-perlakuan setelah di laboratorium
a. Pengeringan, spesimen dikeringkan dengan alat pengering suhu 20, 40, 60
dan 800C tergantung tebal tipisnya bahan. Untuk disinfektan, spesimen
yang akan dikeringkan disemprot menggunakan LPCP (Lauril Pentaklor
penat) dilakukan sebanyak 2 kali.
b. Penempelan herbarium, alat yang digunakan antara lain kertas hias, kertas
penutup herbarium, benang dan jarum, pita perekat, gunting kertas, pinset,
amplop, cap „poisoned“, dan lem. Teknik yang digunakan seperti
membuat hiasan dinding dalam pigura dengan sistematika ilmiah.
c. Penempelan label dan kunci determinasi dan label Institut. Label daerah
dengan warna spesifik misal untuk benua Asia hijau, Afrika berwarna
kuning, Australia berwarna coklat, Eropa berwarna pink, Belanda
berwarna putih, Amerika dan Canada berwarna biru dan Amerika Selatan
berwarna krem khusus jika akan dikirim ke Herbarium Internasional.
Pertanyaan :
1.
Apakah herbarium itu ?
2.
Tujuan pembuatan herbarium adalah…
3.
Sebutkan cara kerja alat pengepres specimen!
4.
Spesimen apa sajakah yang wajib ada pada pembuatan herbarium?
5.
Bagaimana cara kerja metode basah untuk herbarium ?
Acuan Pustaka
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
49
BAB VIII. ARSITEKTUR POHON
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Memahami istilah yang digunakan dalam ilmu arsitektur pohon
2. Memahami pengelompokan pohon berdasarkan arsitekturnya
3. Memahami bentuk-bentuk arsitektur pohon beberapa famili pohon komersial
4. Menghafal jenis pohon komersial sesuai bentuk arsitekturnya.
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Terampil memilahkan jenis berdasarkan bentuk arsitekturnya.
2. Terampil menggambar arsitektur pohon
3. Terampil menilai bentuk arsitektur pohon di lapangan.
4. Terampil memilahkan famili pohon berdasarkan bentuk arsitektur pohon.
Materi Pembelajaran
Adalah suatu kajian lanjut ilmu dendrologi yang mempelajari perbedaan bentukbentuk pertumbuhan pohon guna menggolongkan tanaman dalam kelompokkelompok yang lebih kecil. Kriteria penggolongan model berdasarkan 8 hal yaitu :
1. Axis sympodial/monopodial
2. Sifat pertumbuhan kontinu/ritmik
3. Titik tumbuh apical terbatas/tidak (Apical berhenti setelah timbul fase
generatif
4. Filotaxis spiralis/districus
5. Influorescensia terminal (apikal)/lateralis
6. Arah percabangan plagiotropis/orthotropis
7. Cabang syleptik (plagiotropis pertama terpanjang dan terlebar)/ proleptik
(orthotropis pertama terpendek berupa sisik daun)
8. Keluarnya cabang dari batang kontinu/ritmik
Bentuk-bentuk arsitektur pohon tidak terikat hanya pada bentuk-bentuk pohon
komersial saja, namun untuk keseluruhan bentuk pohon terutama yang ada di daerah
tropis yang mempunyai beraneka ragam bentuk yang spesifik. Bentuk arsitektur
50
pohon bisa juga dijadikan acuan untuk pengklasifikasian tumbuhan terutama
tumbuhan berkayu yang dipelajari dalam Dendrologi. Bentuk-bentuk arsitektur pohon
menurut Halle & Oldeman 1970 secara garis besar dibagi dalam 23 model yaitu :
1. Holtum
8. Attim
15. Petit
22. Prevost
2. Tomlinson
9. Massart
16. Aubreville
23. Fagerlind
3. Corner
10. Roux
17. Theoretical I
4. Chamberlain
11. Troll
18. Theoretical II
5. Leuwenberg
12. Mc Clure
19. Theoritical III
6. Scarrone
13. Kwan koriba
20. Cook
7. Rauh
14. Schoute
21. Mangenot
1. Holtum
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Pada saat masih muda mempunyai duduk daun (filotaxis) spiralis
b. Axis batang tidak bercabang dan monopodial
c. Inflourscensia apical
d. Masa hidup terbatas oleh tumbuhnya bunga
Monopodial berarti batang hanya satu tidak bercabang, setelah berbunga mati.
Sympodial berarti bercabang, pada pisang termasuk sympodial karena batang pisang
berada dalam tanah, yang muncul hanya pelepah daunnya saja yang menyerupai
batang.
Contoh tanaman model Holtum : Metroxylon solomonense ( sejenis sagu )
Agave spp.(Agave)
Arenga sacharifera (aren)
Corypha umbraculifera (sejenis palma)
51
Sketsa arsitektur model Holtum :
Gambar 12. Model Holtum
: Simbol spiralis
: ritmik
2. Tomlinson
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Derivate dari model Holtum dan Corner
b. Axis batang bercabang (Sympodial ) dalam tanah
c. Influorescensia apical
d. Filotaxis spiralis
e. Hidup terbatas
Contoh :
Imperata cylindrica (Alang-alang)
Ananas cosmosus (Nanas)
Musa paradisiaca ( Pisang )
Musa sapiensis ( Pisang )
Musa madagascarensis ( Pisang kipas )
52
Gambar 13. Model Tomlinson
3. Corner
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Mirip model Holtum, namun influorescensia lateralis
b. Axis batang monopodial
c. Filotaxis spiralis
d. Hidup tidak terbatas
Contoh :
Elaeis guinensis (kelapa sawit)
Cocos nucifera ( kelapa )
Arenga pinnata ( aren )
Carica pubescens ( pepaya Dieng )
Carica papaya (pepaya )
Cycas revoluta (pakis haji).
53
Gambar 14. Model Corner
: Simbol spiralis
4. Chamberlain
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Axis batang bercabang (Sympodial ) tidak bercabang
b. Influorescensia terminalis
c. Filotaxis spiralis
Contoh :
Clerodendron paniculatum (srigunggu)
Gambar 15. Model Chamberlain
: Simbol spiralis
: ritmik
54
5. Leeuwenberg
Model ini ditemukan oleh AJM Leeuwenberg tahun 1961. Ciri-ciri model ini adalah :
a. Axis batang bercabang (Sympodial ) modul yang pertama endogen, modul
berikutnya berhenti karena timbulnya bunga. Pohon yang semakin tinggi modul
semakin pendek. ( Struktur pohon modular )
b. Influorescensia terminalis
c. Filotaxis spiralis
d. Struktur pohon seperti itu disebut modular
Contoh :
Jatropha gosiipiifolia ( buah roda )
Rauvolfia vomitoria
Plumeria abtusa (kamboja putih )
Manihot esculenta ( ubi kayu )
Plumeria rubra ( kamboja merah )
Capsicum arboreum ( cabe )
Alstonia sericea
Ricinus communis ( jarak )
Gambar 16. Model Leeuwenberg
: Simbol spiralis
55
6. Scarrone
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Merupakan perpaduan model antara Leuwenberg dan kwan koriba.
b. Axis batang tidak bercabang (monopodial ) tumbuh tidak terbatas dan secara
ritmik
c. Cabang keluar dari batang secara ritmik sympodial
d. Influorescensia apical
e. Filotaxis spiralis
Contoh :
Mangifera indica ( mangga )
Peltophorum ferrugineum (johar cina)
Mangifera odorata ( kweni )
Anacardium ocidentale ( jambu mete )
Mangifera lalijiwa ( mangga lalijiwa )
Pandanus tectorius ( Pandan duri )
Cassia siamea (johar)
Spondias mombin (jenis kedondong).
Gambar 17. Model Scarrone
: Simbol spiralis
: ritmik
56
7. Rauh
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Axis batang tidak bercabang (monopodial ) tumbuh tidak terbatas dan secara
ritmik .
b. Cabang keluar dari batang secara ritmik monopodial dan merupakan fotokopi dari
batang
c. Infruorescensia lateralis
d. Filotaxis spiralis
Contoh :
Arthocarpus communis ( kluwih )
Hevea braziliensis ( karet )
Canarium schweinfurthii (kenari afrika)
Cecropia peltata (Pancasuda)
Batang sympodial pasti influorescensianya tidak lateralis.
1. Inflourescensia terminalis.
2. Dalam satu family tidak mesti satu
model/ bisa beda model.
Gambar 18. Model Rauh
: Simbol spiralis
: ritmik
57
8. Attim
Ciri-ciri model ini adalah : mirip Rauh namun ritmik
a. Axis batang tidak bercabang (monopodial ) tumbuh tidak terbatas dan secara
kontinu.
b. Cabang-cabang keluar dari batang secara kontinu dengan arah prtotropis bersifat
monopodial.
c. Ranting keluar dari cabang juga secara kontinu
d. Influorescensia lateralis
e. Filotaxis spiralis
Model ini jarang dijumpai, karena pertumbuhan kontinu, jika ritmik lebih toleran
terhadap lingkungan.
Contoh :
Casuarina equisetifolia (Cemara )
Soneratia caseolaris (Bogem/perapat )
Rhizophora mangle (Bakau)
Eucalyptus globulus (jenis eucalyptus)
Garcinia gnetoides (manggis2an)
Gambar 19. Model Attim
: Simbol spiralis
: ritmik
58
9. Massart
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Axis batang tidak bercabang (monopodial ) tumbuh tidak terbatas secara ritmik
b. Cabang-cabang keluar dari batang secara ritmik plagiotropis, dan bersifat
monopodial.
c. Influorescensia lateralis
d. Filotaxis spiralis pada batang, sedangkan pada cabang districus
Contoh :
Diospyros spp. (jenis kayu hitam hamper semuanya bermodel ini)
Caeba pentandra ( Randu )
Myristica fragrans ( pala )
Agathis borneensis ( damar )
Shorea ovalis ( meranti merah )
Jenis-jenis Ebenaceae (Diospyros sp.)
Duabanga spp. ( Binuang )
Gambar 20. Model Massart
: Simbol spiralis
: ritmik
59
10. Roux
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Batang monopodial tidak terbatas tumbuh secara kontinu, plagiotropis
b. Infruorescensia lateralis
c. Filotaxis spiralis pada batang, sedangkan pada cabang districus
Contoh :
Gnetum gnemon ( mlinjo )
Chrysophyllum subnudum
Cananga odorata ( kenanga )
Coffea Arabica ( kopi arabika )
Durio Zibethinus ( Durian )
Shorea pinanga ( Tengkawang )
Xylopia aethiopica (di tn sebangau)
Hopea odorata ( merawan )
Gambar 21. Model Raux
: Simbol spiralis
: ritmik
60
11. Troll
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Suatu arsitektur yang terbentuk oleh penumpukan cabang yang semula orthotropis
kemudian membengkok menjadi plagiotropis
b. Umumnya influorescensia lateralis
c. Filotaxis spiralis pada batang, cabang districus
d. Tajuk menyerupai payung
Contoh :
Delonix regia ( Flamboyan )
Parkea roxburghii ( petai )
Pterocarpus indicus ( Sono kembang )
Anona muricata ( Sirsat )
Chrysophyllum cainito ( Genitru )
Psidium guajava ( Jambu biji )
Averhoa bilimbi ( Belimbing manis )
Paraserianthes falcataria ( Sengon )
Samanea samman ( Trembesi )
Strephonema pseudocola
Gambar 22. Model Troll
: Simbol spiralis
: ritmik
61
12. Mc Clure
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Batang sympodial, sama dengan model roux tapi batang ada dibawah tanah. Batang
diatas tanah orthotropis menjadi plagiotropis dan monopodial. Cabang plagiotropis.
b. Infruorescensia lateralis
c. Filotaxis batang spiralis, cabang districus
Contoh :
Dendrocalamus asper (bambu petung)
Gigantochloa apus ( bambu apus )
Bambusa bambos ( bambu ori )
Bambosa vulgaris ( bambu kuning )
Bambosa atroviolacea(bambu wulung)
Gambar 23. Model Mc. Clure
: Simbol spiralis
: ritmik
62
13. Kwan Koriba
Ciri-ciri model ini adalah :
a. Tumbuh berhenti melalui beberapa modul yang mengulangi hal-hal yang sama sehingga
tumbuh modul lagi lalu dari beberapa modul tersebut hanya satu yang tumbuh ke atas yang
lainnya tumbuh menyamping. Hal ini terjadi hingga akhir pertumbuhan.
b. Batang sympodial orthotropis
c. Cabang simpodium plagiotropis
d. Influorescensia apical/terminalis
e. Filotaxis spiralis
f. Perawakan/arsitektur bersifat moduler
g. Cabang terdiri atas 3 dimensi
h. Kalau sudah tua batang lurus, waktu mudanya bengkok
Contoh :
Ochroma bicolor ( Balsa )
Cerbera odollata ( Bintaro )
Cerbera manghas
Alstonia macrophylla ( mirip Pulai )
Gambar 24. Model Kwan Koriba
: Simbol spiralis
: ritmik
63
14. Schoute
Model ini ditemukan oleh JC. Shoute 1909. Ciri-ciri model ini adalah :
a. Axis batang seharusnya monopodial tetapi terbelah langsung menjadi 2 seksi sehingga
menyerupai sympodial.
b. Influorescensia lateralis atau apical
c. Filotaxis spiralis
d. Monopodial plagiotropis dengan filotaksis distichous dan filotaxis cabang spiral.
Contoh :
Phyllanthus sp ( salam )
Theobroma cacao ( kakao)
Coffeea Arabica ( kopi )
Diospyros celebice ( eboni )
Gambar 25. Model Schoute
: Simbol spiralis
: ritmik
64
15. Petit
Ciri-ciri model ini adalah :
1. Tumbuh berhenti melalui beberapa modul yang mengulangi hal-hal yang sama sehingga
tumbuh modul lagi lalu dari beberapa modul tersebut hanya satu yang tumbuh ke atas yang
lainnya tumbuh menyamping. Hal ini terjadi hingga akhir pertumbuhan.
2. Axis batang monopodial
3. Cabang berhadapan
4. Influorescensia lateralis
5. Filotaxis spiralis
Contoh :
Family Icacinaceae
Gossypium arboretum
Morinda lucida
Gambar 26. Model Petit
: Simbol spiralis
: ritmik
65
16. Prevost
Ciri-ciri model ini adalah :
i. Tumbuh berhenti melalui beberapa modul yang mengulangi hal-hal yang sama sehingga
tumbuh modul lagi lalu dari beberapa modul tersebut hanya satu yang tumbuh ke atas yang
lainnya tumbuh menyamping. Hal ini terjadi hingga akhir pertumbuhan.
j. Batang sympodial orthotropis
k. Cabang simpodium plagiotropis
l. Influorescensia apical/terminalis
m. Filotaxis spiralis
n. Perawakan/arsitektur bersifat moduler
o. Cabang pada model prevot 2 dimensi
p. Kalau sudah tua batang lurus, waktu mudanya bengkok
Contoh :
Alstonia scholaris(pulai)
Lasianthera africana (fam. Icacinaceae)
Gambar 27. Model Prevost
: Simbol spiralis
: ritmik
66
Pertanyaan :
1. Apakah yang dimaksud dengan monopodial dan sympodial ?
2. Apakah yang dimaksud dengan percabangan ritmik ?
3. Apakah yang saudara ketahui dengan percabangan disticus?
4. Apakah yang dimaksud dengan filotaxis?
5. Apakah model arsitektur pohon selamanya menentukan famili pohon yang bersangkutan?
Jelaskan!
Acuan Pustaka
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH Freeman &
Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees. Schol
of Biological Sciense Univercity of Malaya.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book Company Inc.
New York.
67
BAB IX. KUNCI DETERMINASI TUMBUHAN KAYU
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Memahami cara mendeterminasi tumbuhan kayu
2. Mengetahui tata nama
lokal dan
nama ilmiah tumbuhan
kayu khusus jenis
Dipterocarpaceae untuk Kalimantan Tengah dan Selatan
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Mahasiswa mampu mempraktekkan cara mendeterminasi tumbuhan kayu
2. Mahasiswa mampu mennghafal tata nama lokal dan nama ilmiah tumbuhan kayu
khusus jenis Dipterocarpaceae untuk Kalimantan Tengah dan Selatan
Materi Pembelajaran
Indonesia memiliki hutan tropis yang cukup luas dengan keanekaragaman hayati, baik flora
maupun fauna. Kita boleh berbangga dengan kekayaan tumbuhan yang tidak dimiliki negara
lain. Lebih kurang 30.000 sampai 40.000 jenis tumbuhan yang tersebar dari Aceh sampai Papua,
dari daratan rendah hingga dataran tinggi, dari daerah tropik hingga daerah sejuk.
Jenis-jenis pohon di Indonesia sangat banyak.
Oleh Endert, seorang pakar tumbuh-
tumbuhan Belanda yang pernah bekerja di Indonesia ditaksir ada kira-kira 4.000 jenis pohon dan
dari 4.000 jenis ini belumlah kita kenal semua baik namanya maupun sifatnya. Sedangkan
kurang lebih 400 jenis diantaranya mempunyai nilai perdagangan dibidang hasil kayunya. Selain
hasil kayu ini tentu masih ada hasil lainnya seperti hasil kulit, getah, buah dan lain-lain yang
kesemuanya masih memerlukan penggarapan para pakarnya.
Shorea terdiri atas sekitar 195 jenis dan variasi dalam marganya sangat besar. Pembagian
botaninya menjadi sub-divisi dalam banyak kasus berkaitan dengan kelompok-kelompok yang
dikenal dipenggergajian dan pasar kayu. Deskripsi jenis dalam kunci jenis shorea yang terdapat
di daerah Kalimantan Selatan ada sekitar 57 jenis Shorea.
Untuk mempelajari identifikasi / determinasi tanaman kehutanan, khususnya pohon yang
menghasilkan kayu, getah, kulit, buah dan lain-lainnya dalam perdagangan memerlukan tahapan
praktek identifikasi atau determinasi di lapangan maupun di laboratorium secara terus-menerus
68
yang dimulai dari identifikasi organ tubuh pohon yang dapat digunakan penentuan kelompok /
golongan pohon secara tepat.
Pepohonan yang terdapat di hutan tropika Indonesia memiliki sifat-sifat morfologi yang
sangat beraneka-ragam. Secara umum pepohonan memiliki bagian-bagian yang dapat digunakan
untuk mengenalnya. Bagian-bagian tersebut adalah batang, tajuk, dahan dan ranting, kuncup,
bunga dan buah.
Secara umum batang pepohonan di dalam hutan mempunyai sifat yang beranekaragam
yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat morfologi bagian luar dan bagian dalamnya. Sifat
morfologi bagian luar yang dimaksud adalah diameter pohon yang diambil 50 cm ke atas dar
sifat-sifat yang mudah dilihat atau diraba tanpa menggunakan parang atau alat lainnya,
sedangkan sifat morfologi bagian dalam adalah sifat-sifat dapat dilihat setelsh batang ditakik
dengan parang.
Untuk identifikasi tumbuhan secara baik dan benar harus dikombinasikan dengan
pengenalan morfologi seranting daun. Dalam kegiatan penanamaan ilmiah suatu jenis tumbuhan
diperlukan data dan bukti ilmiah yang dapat ditelusuri kembali oleh para ahli tumbuhan, baik
yang sezaman maupun dari generasi berikutnya. Bukti ilmiah yang umum dijadikan bahan
penulusuran, selain berupa barang cetakan yaitu buku-buku monografi tumbuhan juga berupa
koleksi material herbarium.
Koleksi material herbarium tersebut terdiri atas contoh daun,
kuncup dan bunga atau buah jika ada, yang melekat pada ranting yang telah diproses sedemikian
rupa sehingga dapat disimpan lama.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pengenalan morfologi seranting daun , kulit luar, dan
kulit dalam sangat penting dalam menentukan nama ilmiah suatu jenis tumbuhan.
Bahwa
kegiatan menentukan nama ilmiah suatu jenis tumbuhan disebut kegiatan identifikasi atau
determinasi. Jika kita memiliki seranting daun dari pohon yang akan ditentukan nama ilmiahnya
maka determinasi dilakukan berdasarkan koleksi material herbarium yang telah diberi nama
ilmiah oleh ahli taxonomi tumbuhan.
Untuk mengelola hutan seharusnya mengetahui banyak ilmu dasar kehutanan antara lain
Biologi Tumbuhan, statistik, dendrologi, Dasar genetika, Embriologi, silvicultur umum, Fisiologi
dan sebagainya. Berikut adalah ulasan sekilas mata kuliah Dendrologi guna mengetahui
kekerabatan tanaman yang akan disilangkan. Contoh jenis dalam famili berikut yang ditulis
hanya jenis komersial kehutanan saja.
69
Tiap famili mempunyai penggolongan-penggolongan tersendiri menurut aturan binomial
namenclature dimana dibawah famili mempunyai ordo dan species yang beraneka ragam
berdasarkan ciri-ciri tiap anggota kelompok tersebut. Famili-famili tersebut antara lain :
1. Coniferaceae
2. Anacardiaceae
19. Sterculariaceae
3. Apocynaceae
20. Theaceae
4. Bombacaceae
21. Verbenaceae
5. Casuarinaceae
22. Tiliaceae
6. Lecitidaceae
23. Ebenaceae
7. Dipterocarpaceae
24. Anonaceae
8. Euphorbiaceae
25. Myrtaceae
9. Meliaceae
26. Myristicaceae
10. Leguminosae
27. Rhizoporaceae
a. Mimosaceae
28. Rubiaceae
b. Papilinoiceae
29. sapindaceae
c. Caesalpinaceae
30. Thymilariaceae
11. Moraceae
31. Sapotaceae
12. Myrtaceae
32. Sterculariaceae
13. Myristicaceae
33. Theaceae
14. Rhizoporaceae
34. Verbenaceae
15. Rubiaceae
35. Tiliaceae
16. sapindaceae
36. Ebenaceae
17. Thymilariaceae
37. Anonaceae
18. Sapotaceae
Berikut contoh kunci determinasi yang dibuat oleh Departemen Kehutanan khusus untuk
mengidentifikasi jenis-jenis
family Dipterocarpaceae di daerah Kalimantan tengah dan
Kalimantan Selatan.
70
Kunci lapangan marga
Dipterocarpaceae
1. a. Batang berbanir ………………………………………………………….
2
b. Batang tidak berbanir ……………………………………………………
8
2. a. Batang berbanir papan atau berjangkang ………………………………
3
b. Batang berbanir kuncup ………………….……………………………..
4
3. a. Kulit dalam berserat, berwarna kemerahan, kekuningan, coklat kemerahan atau kuning pucat, urat daun sekunder menyirip atau tipe
dryobalanoid ……………………………………………………………
Hopea
b. Kulit dalam berserat, berwarna kuning, urat daun sekunder sambung
dan menjerat ( looping ) …………………………………………….
Anisoptera
4. a. Kulit batang bersisik ……………………………………………………
5
b. Kulit batang tidak demikian ……………………………………………
6
5. a. Urat daun sekunder menyirip mendatar rapat, permukaan bawah daun
licin ………………………………………………………………… Dryobalanops
b. Urat daun sekunder menyirip, permukaan bawah daun licin atau berbulu berwarna putih ……………………………………………………
6. a. Kulit batang bersisik dan berlentisel atau beralur dan berlentisel ….
Upuna
7
b. Kulit batang licin bergelang , beralur dangkal - dalam , beralur,
beralur bersisik ………………………………………………………..
Shorea
7. a. Kulit batang bersisik dan berlentisel, daun berukuran besar, tepi
helaian daun bergelombang atau berombak ……………………
Dipterocarpus
b. Kulit batang beralur dan berlentisel, daun agak kecil atau kecil ,
tepi helaian daun rata ……………………………………………
Parashorea
8. a. Kulit batang licin atau licin retak, permukaan atas daun bila kering
coklat muda, urat daun sekunder sambung dan menjerat ( looping )
…………………………………………………………………….
Cotylelobium
b. Kulit batang licin bergelang, permukaan atas daun bila kering hijau
kekuning-kuningan, urat daun sekunder menyirip tidak sempurna ..
………………………………………………………………………….
Vatica
71
CARA MENGGUNAKAN KUNCI DETERMINASI POHON DI
LAPANGAN
Kunci determinasi atau identifikasi yang tersebut dapat digunakan sepanjang jenis yang
diidentifikasi telah tertuang di dalam kunci tersebut. Membaca kunci harus dimulai dengan
memperhatikan dasar-dasar pemilahannya, misalnya jika kunci determinasi tersebut dimulai
dengan kulit batang / seranting daun. Kunci Identifikasi 57 jenis pohon yang didasarkan
pada sifat – sifat
morfologi batang , banir, dan daun serta kunci identifikasi 10 jenis
penghasil tengkawang
yang didasarkan pada sifat-sifat seranting daun.
Untuk mengidentifikasi di lapangan ,
bandingkan sifat-sifat
yang terdapat di
lapangan Seperti kulit batang dengan teliti dan benar yang tertera pada kunci identifikasi ,
misalnya mulai dari no. 1, lalu pindah ke nomor 2a ( Kulit batang licin bergelang atau licin
bergelang dan bersisik ) , kemudian pindah ke nomor 3a ( Kulit batang licin bergelang, kulit
dalam coklat merah jambu , urat sekunder 12 – 19 pasang, tangkai daun panjang 2,4 – 3,4
cm ..... Shorea stenoptera
atau sebaliknya 3b. ( Kulit batang licin bergelang, retak dan
bersisik , kulit dalam , urat sekunder tidak demikian ,
lihat 4 a ( kuliit dalam coklat
kekuningan, urat sekunder 11 – 14 pasang, tangkai daun panjang 1 – 1,6 cm ..............Shorea
ferruginea berati jenis tersebut sudah ketemu dan seterusnya, sampai sifat-sifat jenis pohon
di lapangan / seranting daun yang akan diidentifikasi sesuai dengan sifat-sifat jenis pohon
yang ada pada kunci identifikasi yang digunakan.
Teknik penelusuran uraian yang tercantum pada kunci identifikasi lapangan / Seranting daun
yang dihadapi adalah sebagai berikut :
1.
1a, 2a, 3a, ……………………………………………………..
Shorea stenoptera
2.
1a, 2a, 3b, 4a, ….......………………………………………….
Shorea ferruginea
3.
1a, 2a, 3b, 4b, ………………………………………………… Shorea pinanga
4.
1a, 2b, 5a, 6a, .....……………………………………………..
Shorea palembanica
5.
1a, 2b, 5a. 6b …….......……………………………………….
Shorea splendida
6.
1a, 2b, 5b, 7a, 8a, ……………………………………………
Shorea inappendiculata
7.
1a, 2b, 5b, 7a, 8b ......................................................................
Shorea superba
8.
1a, 2b, 5b, 7b, 9a, 10a ..............................................................
Shorea foxworthyi
9.
1a, 2b, 5b, 7b, 9a, 10b...............................................................
Shorea mecistopteryx
72
10. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11a, 12a ......................................................
Shorea multiflora
11. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11a, 12b ......................................................
Shorea leptoderma
12. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13a, 14a ..............................................
S. agamii ssp.diminuta
13. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13a, 14b ..............................................
Shorea polyandra
14. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15a, 16a .......................................
Shorea angustifolia
15. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15a, 16b .......................................
Shorea amplexicaulis
16. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17a .......................................
Shorea johorensis
17. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18a, 19a, 20a ...............
Shorea pauciflora
18. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18a, 19a, 20b, .............
Shorea ovata
19. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18a, 19b, 21a ...............
Shorea platyclados
20. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18a, 19b, 21b, 22a .......
Shorea kunstleri
21. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18a, 19b, 21b, 23a, 24a . Shorea micans
22. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18a, 19b, 21b, 23a, 24b, 25a, .................... ......
...................................................................................................
Shorea brunnescens
23. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18a, 19b, 21b, 23a, 24b, 25b. .........................
..................................................................................................
24. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18a, 19b, 21b, 23b, 26a
Shorea havilandii
Shorea longisperma
25. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18a, 19b, 21b, 23b, 26b, 27a ...........................
.................................................................................................
Shorea falcifera
26. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18a, 19b, 21b, 23b, 26b, 27b .........................
.................................................................................................
Shorea obscura
27. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28a, ...................
Shorea crassa
28.
1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29a, ............
Shorea guiso
29.
1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30a, 31a, Shorea hopeifolia
30.
1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30a, 31b,
Shorea atrinervosa
31. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 32a, 33a, .........................
..........................................................................................................
32.
Shorea laevis
1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 32b, 33b, 34a, ................
.........................................................................................................
Shorea lunduensis
33. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 32b, 33b, 34b, 35a, ........
.........................................................................................................
Shorea hypoleuca
73
34. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 32b, 33b, 34b, 35b, ........
Shorea seminis
..........................................................................................................
35. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 32b, 36a, 37b. ........
...........................................................................................................
Shorea maxwelliana
36. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 36a, 37a, 38a, ................
...........................................................................................................
Shorea scrobiculata
37. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 36a, 37a, 39a, ...................
................................................................................................................... Shorea isoptera
38. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 36a, 37a, 39b, ...................
............................................................................................................... Shorea falcifeoides
39. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 36b, 40a, .. Shorea ladiana
40. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 36b, 40b, 41a, ...................
.................................................................................................................. Shorea materialis
41. 1a, 2b, 5b, 7b, 9b, 11b, 13b, 15b, 17b, 18b, 28b, 29b, 30b, 36b, 40b, 41b, ....................
.........................................................................................Shorea assamica ssp. philippinensis
42. 1b, 42a, 43a, ...................................................................................
Shorea scabrida
43. 1b, 42a, 43b, .................................................. Shorea parvistipulata ssp. parvistipulata
44. 1b, 42b, 44a, 45a, ................................................
Shorea parvifolia ssp. parvifolia
45. 1b, 42b, 44a, 45b, ................................................
Shorea parvifolia ssp. velutinata
46. 1b, 42b, 44b, 46a, 47a, ..................................................................
Shorea leprosula
47. 1b, 42b, 44b, 46a, 47b, ..................................................................
Shorea platycarpa
48. 1b, 42b, 44b, 46b, 48a, 49a, .............................................................
Shorea retusa
49. 1b, 42b, 44b, 46b, 48a, 49b, 50a, .................................................... Shorea balangeran
50. 1b, 42b, 44b, 46b, 48a, 49b, 50b, ................................................... Shorea tysmanniana
51. 1b, 42b, 44b, 46b, 48b, 51a, 52a, ........................................................ Shorea smithiana
52. 1b, 42b, 44b, 46b, 48b, 51a, 52b, ...................................................
Shorea exelliptica
53. 1b, 42b, 44b, 46b, 48b, 51b, 53a, 54a, .................................... Shorea ovalis spp. ovalis
54. 1b, 42b, 44b, 46b, 48b, 51b, 53a, 54b, .................................................. Shorea gibbosa
55. 1b, 42b, 44b, 46b, 48b, 51b, 53b, 55a, ............................................... Shorea lamellata
56. 1b, 42b, 44b, 46b, 48b, 51b, 53b, 55b, 56a, ......................................... Shorea virescens
57. 1b, 42b, 44b, 46b, 48b, 51b, 53b, 55b, 56b, ....................................... Shorea lamellata
74
KUNCI IDENTIFIKASI 57 JENIS POHON BALAU, MERANTI
MERAH, MERANTI PUTIH DAN MERANTI KUNING ( Shorea spp. )
DI LAPANGAN DAERAH KALIMANTAN SELATAN
1. a. Kulit batang licin bergelang ; licin bergelang dan bersisik; licin bergelang
dan retak; licin kemudian bersisik; licin, beralur dangkal dan bersisik ;
licin,beralur sedang dan bersisik; licin ,bopeng dan bersisik ; licin bergelang
dan berlentisel ; licin , retak dan bersisik ; licin, retak dan mengelupas
menjadi sisik kecil ; licin, bersisik dangkal ; bersisik ; bersisik rapat
merata dengan retak-retak panjang ; bersisik halus ; bersisik
mengelupas ; bersisik tidak beraturan ; retak-retak ; retak dangkal ;
dan retak bersisik
.................................................................................
2
b. Kulit batang beralur dangkal ; beralur dangkal kemudian bopeng ;
beralur dangkal bergelang tidak sambung ; beralur sedang ;
beralur dalam ; beralur lebar ; beralur rapat ; beralur dan bersisik ;
beralur dan bersisik besar .......................................................................
2.
42
a. Kulit batang licin bergelang atau licin bergelang dan bersisik .............
3
b. Kulit batang tidak demikian …………………………………….….
5
3. a. Kulit batang licin bergelang , kulit dalam coklat merahjambu,
bentuk daun bulat panjang , Urat daun sekunder 12 - 19 pasang,
tangkai daun panjang 2,4 - 3,4 cm……………...…………......…Shorea stenoptera
b. Kulit batang licin bergelang , retak dan bersisik, dan urat daun
sekunder tidak demikian ....................................................................
4
4. a. Kulit dalam coklat kekuningan, urat daun sekunder 11 - 14
pasang, tangkai daun panjang 1 – 1,6 cm .................................... Shorea ferruginea
b. Kulit dalam coklat merah jambu pucat, urat sekunder 10 – 16 pasang, ,
Shorea pinanga
tangkai daun panjang 1,3 – 2,8 cm ...........................................
5. a. Kulit batang licin bergelang dan retak ……………………………...
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………………..
6
7
6. a. Kulit dalam merah jambu , urat daun sekunder 12 - 17 pasang , daun
yang kering coklat kehitam-hitaman …………………………
Shorea pelembanica
b. Kulit dalam merah jambu pucat, urat daun sekunder 10 - 13 pasang,
75
daun yang kering coklat lembayung ………………………….. Shorea splendida
7. a. Kulit batang licin kemudian bersisik …………………………………
8
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………………...
9
8.
a. Kulit dalam coklat kemerahan , urat daun sekunder 10 - 24
pasang, tangkai daun panjang 1,3 – 3 cm, permukaan bawah daun
yang kering berwarna kream atau putih ................................Shorea inappendiculata
b. Kulit dalam coklat kekuningan, urat daun sekunder 16 - 24
pasang tangkai daun panjang 1 – 1,5 cm, permukaan bawah daun
yang kering berwarna keputihan atau keperakan ............................. Shorea superba
9. a. Kulit batang licin, beralur sedang dan bersisik ……….…………..
10
b. Kulit batang tidak demikian ……………………………………..…
11
10. a. Kulit dalam berwarna coklat tua, urat daun sekunder 8 - 15 pasang,
tajuk rapat, setengah bulat …………………………………
Shorea foxworthyi
b. Kulit dalam berwarna coklat jingga,urat daun sekunder 16 - 23
pasang, tidak beraturan, terbuka …….………………… Shorea mecistopteryx
11. a. Kulit batang licin, bopeng dan bersisik atau licin bergelang dan berlentisel .................................................................................................
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………………..
12
13
12. a. Kulit batang licin, bopeng dan bersisik, daun berukuran agak kecil,
urat daun sekunder 7 - 10 pasang , permukaan atas daun yang
kering coklat .....................................................................................Shorea multiflora
b. Kulit batang licin, bergelang dan berlentisel , daun berukuran besar,
urat daun sekunder 7 – 12 pasang, permukaan atas daun yang kering
coklat kemerahan ..........................................................................Shorea leptoderma
13. a. Kulit batang licin, retak dan bersisik ……………………………….
14
b. Kulit batang tidak demikian …………………………………………
15
14. a. Damar kelabu tembus cahaya , kulit dalam berlapis,
bentuk daun bulat telur menyempit, panjang, 4,5 - 10,5 cm,
lebar 2,5 - 4,8 cm …....................................................Shorea agamii ssp. diminuta
b. Damar hitam atau kuning , kulit dalam berserat, bentuk daun lanset
atau ellips sempit, panjang 5,8 - 13 cm, lebar 2,8 - 5 cm .... Shorea polyandra
76
15. a. Kulit batang licin, retak dan mengelupas menjadi sisik kecil ……..
16
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………………
17
16. a. Pohon kecil sampai sedang ( diameter 60 cm ), urat daun sekunder
6 - 10 pasang, daun sempit, bentuk daun lanset, buah tidak bersayap ……………………………………………………….
Shorea angustifolia
b. Pohon sedang sampai besar ( diameter sampai 130 cm ), urat daun
sekunder 9 - 14 pasang, bentuk daun elllips atau bulat telur, buah
bersayap …………………….…………………………..
Shorea amplexicaulis
17. a. Kulit batang licin, bersisik dangkal, damar kream, daun yang tua
lobang-lobang ………………….………………………………
Shorea johorensis
b. Kulit batang tidak demikian ……………………………………….
18
18. a. Kulit batang bersisik …………………………………………….
19
b. Kulit batang tidak demikian …………...…………………………
28
19. a. Kulit dalam merah jambu sampai merah mendaging ......................
20
b. Kulit dalam tidak demikian ............................................................
21
20. a. Damar mirip susu atau coklat kelabu , urat sekunder 7 – 12 pasang,
daun yang kering coklat tua , pohon sampai 1200 m dpl .......... Shorea pauciflora
b. Damar kuning pucat, urat daun sekunder 7 – 10 pasang, daun yang
coklat , pohon di hutan Dipterocarps di atas 600 m dpl ...............
Shorea ovata
21. a. Kulit dalam coklat merah - kuning, urat daun sekunder 12 - 25
pasang , urat tengah tajam……..................……………………… Shorea platyclados
b. Kulit dalam tidak demikian …………………………..………..
22
22. a. Kulit dalam coklat jingga, urat daun sekunder 6 - 9 pasang ….. Shorea kunstleri
b. Kulit dalam dan urat daun tidak demikian .......................................
23. a. Kulit dalam coklat kekuningan
23
..................................................
24
b. Kulit dalam tidak demikian .......................................................
26
24. a. Urat daun sekunder 7 atau 8 pasang, pangkal daun tidak simitris .
b. Urat daun sekunder > 8 pasang, pangkal daun simitris ...............
Shorea micans
25
25. a. Urat daun sekunder 9 – 14 pasang, permukaan atas daun kering
coklat kelabu, umumnya terdapat pada ketinggian 400 – 800 m
atau sampai 1500 m dpl ............................................................. Shrea brunnescens
77
b.
Urat daun sekunder 8 – 15 pasang, permukaan atas daun yang
Kering pucat, terdapat pada hutan rawa dan gambut ....................
Shorea havilandii
26. a. Kulit dalam coklat seperti kopi, urat daun sekunder 10 – 13 pasang,
permukaan atas daun kering coklat kemerahan , gundul, bawah daun
coklat pucat, berbulu pendek di permukaan dan di urat ............ Shorea longisperma
b. Kulit dalam tidak demikian ...........................................................
27
27. a. Kulit dalam coklat – kuning , damar mirip susu, urat daun sekunder
6 – 10 pasang, permukaan atas daun kering coklat kelabu, bawah
daun coklat berbulu pendek atau gundul ....................................
Shorea falcifera
b. Kulit dalam coklat muda, damar kuning, urat daun sekunder 7 – 9
pasang , permukaan atas daun kering kekuningan pucat atau coklat
kelabu, bawah daun keperakan, gloucous , coklat kelabu, gundul
atau berbulu rapat atau jarang .........................................................
Shorea obscura
28. a. Kulit batang bersisik rapat merata dengan retak-retak panjang,
kulit dalam coklat kekuningan, urat daun sekunder 10 - 15
Shorea crassa
pasang …………………………………………....…………….
b. Kulit batang tidak demikian ……………………….…………..
29
29. a. Kulit batang bersisik lunak, kulit dalam coklat merah jambu,
urat daun sekunder 11 - 19 pasang …………………………
Shorea guiso
b. Kulit batang tidak demikian ……………………………………..
30
30. a. Kulit batang bersisik mengelupas ....................................................
31
b. Kulit batang tidak demikian ............................................................
32
31. a. Damar berwarna hitam atau putih pada permukaannya,
kulit
dalam coklat pucat, urat daun sekunder 7 - 11 pasang … Shorea hopeifolia
b. Damar berwarna kuning atau coklat kelabu, kulit dalam coklat
tua, urat sekunder 9 - 12 pasang ………………………
32.
Shorea atrinervosa
a. Kulit batang bersisik tidak beraturan ...............................................
33
b. Kulit batang tidak demikian ...........................................................
36
33. a. Kulit dalam coklat – merah gelap, urat daun sekunder 10 – 20 pasang,
permukaan atas dan bawah daun licin mengkilat ............................
Shorea laevis
b. Kulit dalam coklat kekuningan, urat daun sekunder < 20 pasang ,
78
permukaan atas dan bawah daun tidak demikian ............................
34
34. a. Urat daun sekunder 11 – 15 pasang , daun tebal seperti kulit, tangkai
daun tidak berbulu
.................................................................. Shorea lunduensis
b. Urat daun sekunder > 15 pasang, daun tebal, tangkai daun berbulu ...
35
35. a. Urat daun sekunder 10 – 17 pasang, permukaan bawah daun kering
kekuningan , sudut urat daun sekunder tidak bersudut tajam
( < 30 0 ) ................................................................................ Shorea hypoleuca
b. Urat daun sekunder 9 – 17 pasang, permukaan bawah daun kering
kelabu atau gloucous pada daun muda, ranting dan kuncup , sudut urat
daun sekunder bersudut tajam ( > 30 o )..............................
36. a. Kulit batang retak-retak atau retak dangkal
Shorea seminis
................................
37
b. Kulit batang retak dan bersisik atau beralur tidak beraturan ........
40
37. a. Kulit batang retak-retak ................................................................
38
b. Kulit batang retak dangkal, damar mirip susu, urat daun sekunder
7
– 12 pasang .......................................................................... Shorea maxwelliana
38. a. Damar berwarna coklat kelabu, urat daun sekunder 9 – 17 pasang,
tangkai daun pendek , panjang 0,8 – 1,3 cm .......................... Shorea scrobiculata
b. Damar berwrana hitam, urat daun dan tangkai daun tidak
demikian ....................................................................................
39
39. a. Urat daun sekunder 9 - 11 pasang, tangkai daun yang kering hitam,
panjang 1,3 – 2,1 cm, pangkal daun membulat ( simitris ), tepi
daun sering bergelombang ....................................................... Shorea isoptera
b. Urat daun sekunder 8 – 12 pasang , tangkai daun yang kring tidak
hitam, panjang 1,4 – 2,4 cm, pangkal daun tidak simitris , tepi
daun tidak bergelombang ........................................................ Shorea falciferoides
40. a. Urat daun sekunder 5 atau 6 pasang, kulit dalam coklat kekuningan,
damar mirip susu
....................................................................
Shorea ladiana
b. Urat daun sekunder > 6 pasang, kulit dalam dan damar tidak
demikian .....................................................................................
41
41. a. Urat daun sekunder 8 – 12 pasang, kulit dalam coklat gelap ,
berserat, damar kuning coklat, kulit batang retak dan bersisik ,
79
daun berukuran besar panjang 8 – 17 cm, pangkal daun tidak
simitris, bawah daun berbulu halus berwarna kream, tumbuh di
hutan kreangas .......................................................................... Shorea materialis
b. Urat daun sekunder 10 - 15 pasang, kulit dalam putih dan merah
jambu pucat, berlapis, damar tembus cahaya, kulit batang ber alur
tidak beraturan, daun berukuran kecil, panjang 4 – 10 cm, pangkal
daun simitris , membulat , bawah daun coklat, tumbuh di hutan
dataran rendah ................................................. Shorea assamica ssp. philippinensis
42. a. Kulit batang beralur dangkal ….. ……………………………..…
b. Kulit batang tidak demikian
43
…………………………………....
44
43. a. Kulit batang beralur dangkal , kulit dalam berwarna merah tua
Shorea scabrida
coklat, urat sekunder 8 - 12 pasang ……….......………….
b. Kulit batang beralur dangkal kemudian bopeng , kulit dalam berwarna
Merah jambu pucat atau coklat pucat sampai coklat kemerahan ,
urat daun sekunder 13 – 21 pasang ..... Shorea parvistipulata ssp. parvistipulata
44. a. Kulit batang beralur dangkal dan bergelang tidak sambung, terdapat
domatia ( rumah kutu ) tidak sambung pada permukaan bawah daun
di kiri kanan urat tengah ...................................................................
45
b. Kulit batang tidak demikian ...............................................................
46
45. a. Permukaan atas dan bawah daun yang kering licin - kasap,
berwarna coklat, ureat daun sekunder 9 - 13 pasang ……..
………………………………………………… Shorea parvifolia ssp. parvifolia
b. Permukaan atas dan bawah daun yang kering kasap, berwarna
coklat kemerahan, uurat daun sekunder 9 - 14 pasang ……......
………….....………………………………….... Shorea parvifolia ssp. velutinata
46. a. Kulit batang beralur dangkal sedang ……....……………......…
47
b. Kulit batang tidak demikian …………… …………………......
48
47. a. Pohon tumbuh dihutan dataran rendah dibawah 700 m dpl,
damar mirip susu, permukaan bawah daun dikiri kanan urat primer
terdapat domatia ( rumah kutu ) sambung, urat sekunder 10 - 16
pasang ….........................................................................
Shorea leprosula
80
b.
Pohon tumbuh di hutan kreangas < 400 m dpl, damar berwarna
kuning, permukaan bawah daun dikiri kanan urat primer tidak
terdapat domatia ( rumah kutu ) sambung , urat daun sekunder
Shorea platycarpa
12 – 18 pasang ....................................................................
48. a. Kulit batang beralur dalam
…………………………………
49
b. Kulit batang tidak demikian …………………………………….
51
49. a. Pohon hanya terdapat pada hutan kreangas , kulit dalam coklat
kuning atau coklat pucat , banir pendek, urat daun sekunder 9 - 13
Shorea retusa
pasang , ujung daun tumpul ………….................……..
b. Pohon hanya terbatas pada hutan rawa - gambut , banir tinggi,
kulit dalam , urat daun sekunder dan ujung daun tidak demikian ...
50
50. a. Kulit dalam coklat – merah, daun besar panjang 7 – 12,8 cm ,
lebar 3,1 – 6,8 cm , urat daun sekunder 10 – 18 pasang ,
permukaan bawah dan urat primer daun yang kering berwarna
Shorea balangeran
kuning karat…...................................................................…
b. Kulit dalam merah jambu – coklat kemerahan , daun agak kecil ,
panjang 7,5 – 11,5 cm, lebar 3,5 – 5,2 cm , urat daun sekunder
9– 12 pasang, permukaan bawah daun dan urat primer tidak
berwarna kuning karat ..........................................………..
Shorea tysmanniana
51. a. Kulit batang beralur lebar atau beralur rapat ……………….....
52
b. Kulit batang beralur bersisik …………………………………...
53
52. a. Kulit batang beralur lebar > 3 cm, kulit dalam merah jambu,
permukaan bawah daun berbulu kasar, urat daun sekunder
13 - 15 pasang ………………………………………..
Shorea smithiana
b. Kulit batang beralur rapat, kulit dalam kream atau kuning pucat ,
dan permukaan bawah daun kasap sampai kasar , urat daun
sekunder 12 – 18 pasang .....................................................
Shorea exelliptica
53. a. Kulit dalam berserat ....................................................................
54
b. Kulit dalam berlapis ...................................................................
55
54. a. Kulit dalam coklat – merah jambu pucat , damar coklat kelabu ,
bawah daun berbulu kasar, daun yang gugur mengkerut menyerupai
81
perahu / sampan , urat daun sekunder 18 – 26 pasang ...... Shorea ovalis ssp. ovalis
b. Kulit dalam coklat kekuningan , damar hitam, bawah daun licin ,
atau tidak berbulu , daun yang gugur menggulung , urat daun
Shorea gibbosa
sekunder 7 – 10 pasang .......................................................
55. a. Kulit dalam berwarna merah muda sampai coklat, damar kuning
keputihan, daun kering kecoklatan, urat daun sekunder 12 - 16
pasang , permukaan atas dan bawah daun licin ………
Shorea bracteolata
b. Kulit dalam , damar , dan permukaan daun tidak demikian ........
56
56. a. Kulit dalam kream sampai kuning, damar mirip susu ,
tangkai daun panjang 1,4 - 2 cm, permukaan bawah daun licin
sampai kasap, daun yang kering coklat kelabu , daun berukuran
panjang 6,5 – 15 cm, urat daun sekunder 16 - 26 pasang ...Shorea virescens
b. Kulit dalam merah jambu, kuning, damar kelabu tembus cahaya,
tangkai daun pendek 0,5 - 1,1 cm, permukaan bawah daun
berbulu kasap, daun yang kering coklat kekuningan , daun berukuran
panjang 7 – 17,5 cm , urat daun sekunder 20 - 26 pasang ... Shorea lamellata
KUNCI DETERMINASI SERANTING DAUN JENIS PENGHASIL
TENGKAWANG DI KALIMANTAN YANG DI LINDUNGI
1. a. Daun penumpu pendek, kecil ( < 3 cm )……………………...
2
b. Daun penumpu panjang ( > 3 cm ) …………………………
8
2. a. Bekas daun penumpu mengelilingi ranting ….............................
3
b. Bekas daun penumpu tidak mengelilingi ranting …………….
4
3. a. Bentuk daun penumpu bulat telur, panjang sampai 2,5 cm,
lebar sampai 0,8 cm ……………………………………..….
Shorea amplexicaulis
b. bentuk daun penumpu bulat telur, panjang sampai 2,5 cm,
lebar sampai 1,5 cm …………………………………...
Shorea splendida
4. a. Kuncup daun berbentuk bulat telur …………………………..
5
b. Kuncup daun berbentuk tidak demikian ……………………..
7
5. a. Ranting berkeriput kecil, berkutil …………………………
b. Ranting halus, tidak berkutil ………………………………….
Shorea scaberrima
6
82
6. a. Bekas daun penumpu horizontal, nampak jelas, daun berbentuk
oblong, panjang 13 – 20 cm, lebar 6 – 10 cm ……… ….
Shorea mecistopteryx
b. Bekas daun penumpu menurun, kurang jelas, daun berbentuk
Shorea seminis
oblong sampai lanset, panjang 9 – 18 cm, lebar 2,5 – 8 cm ..
7.
a. Bentuk daun penumpu lonjong, tumpul, panjang 14 mm,
lebar 5 mm ……………………………………………..
Shorea beccariana
b. Bentuk daun penumpu lanset, meruncing, panjang 15 mm,
lebar 3 mm ………………………………………………
8.
Shorea palembanica
a. Bekas daun penumpu mengelilingi ranting …………………..
9
b. Bekas daun penumpu tidak mengelilingi ranting …………
9.
Shorea pinanga
a. Kuncup daun berbentuk tombak, pipih, panjang 12 – 18 mm,
lebar 4 – 6 mm ……………………………………………
Shorea macrophylla
b. Kuncup daun berbentuk agak bulat , tumpul, biasanya tertutup
daun penumpu , panjang 4 mm, lebar 3 mm ……………….
Shorea stenoptera
CARA MENGGUNAKAN KUNCI DETERMINASI POHON DI
LAPANGAN
Kunci determinasi atau identifikasi yang tersebut pada bab IV dapat
sepanjang jenis yang diidentifikasi telah tertuang di dalam kunci tersebut.
kunci harus dimulai dengan memperhatikan dasar-dasar pemilahannya,
digunakan
Membaca
misalnya jika
kunci determinasi tersebut dimulai dengan kulit batang / seranting daun.
Kunci Identifikasi 80 jenis pohon yang didasarkan pada sifat – sifat
morfologi
batang , banir, dan daun serta kunci identifikasi 10 jenis penghasil tengkawang
yang
didasarkan pada sifat-sifat seranting daun.
Untuk mengidentifikasi di lapangan ,
bandingkan sifat-sifat yang terdapat di
lapangan
Seperti kulit batang dengan teliti dan benar yang tertera pada kunci identifikasi , misalnya
mulai dari no. 1, lalu pindah ke nomor 2a ( Kulit batang licin bergelang ) , kemudian
pindah ke nomor 3a ( Kulit dalam kuning – coklat, bentuk daun bulat, urat daun sekunder 8
-- 11 pasang, tangkai daun sekunder 3 – 4 cm ……………Shorea rotundifolia ) atau
sebaliknya 3b. ( Kulit dalam coklat merah jambu, bentuk daun bulat panjang, urat daun
sekunder 12 - 19 pasang, tangkai daun panjang 2,4 - 3,4 cm …………Shorea
83
stenoptera
) berati jenis tersebut sudah ketemu dan seterusnya, sampai sifat-sifat jenis
pohon di lapangan / seranting daun yang akan diidentifikasi sesuai dengan sifat-sifat jenis
pohon yang ada pada kunci identifikasi yang digunakan.
Teknik penelusuran uraian yang tercantum pada kunci identifikasi lapangan / Seranting daun
yang dihadapi adalah sebagai berikut :
1.
1a, 2a, 3a, ……………………………………………………..
Shorea rotundifolia
2.
1a, 2a, 3b, …………………………………………………….
Shorea stenoptera
3.
1a, 2b, 4a, 5a, …………………………………………………
Shorea ferruginea
4.
1a, 2b, 4a, 5b,6a, …… ………………………………………..
Shorea beccariana
5.
1a, 2b, 4a. 5b, 6b, …………………………………………….
Shorea pinanga
6.
1a, 2b, 4b, 7a, 8a, ……………………………………………
Shorea palembanica
KUNCI IDENTIFIKASI 80 JENIS POHON BALAU, MERANTI
MERAH, MERANTI PUTIH DAN MERANTI KUNING ( Shorea spp. )
DI LAPANGAN DAERAH KALIMANTAN TENGAH
1
a. Kulit batang licin bergelang ; licin bergelang dan bersisik; licin bergelang
dan retak; licin kemudian bersisik; licin, beralur dangkal dan bersisik ;
licin,beralur sedang dan bersisik; licin ,bopeng dan bersisik ; licin, retak
dan bersisik ; licin, retak dan mengelupas menjadi sisik kecil ; licin
bersisik dangkal ; licin, bersisik dangkal dan berlentisel ; licin atau
permukaan membusuk ; bersisik ; bersisik rapat merata dengan retakretak panjang ; bersisik lunak ; bopeng dengan lumut kerak ……….
2
b. Kulit batang beralur dangkal ; beralur dangkal teratur ; beralur
dangkal bergelang tidak sambung ; beralur dangkal dan bersisik ;
beralur sedang ; beralur dalam ; beralur dalam dan rapat ; beralur lebar ;
beralur dan bersisik ; retak dan bersisik dan ; bersisik tidak teratur ..
36
2. a. Kulit batang licin bergelang . …………….………….……………..
3
b. Kulit batang tidak demikian …………………………………….….
4
3.
a. Kulit dalam kuning – coklat, bentuk daun bulat, urat daun
sekunder 8 - 11 pasang, tangkai daun panjang 3 – 4 cm ……
Shorea rotundifolia
84
b. Kulit dalam coklat merahjambu, bentuk daun bulat panjang ,
Urat daun sekunder 12 - 19 pasang, tangkai daun panjang 2,4 3,4 cm ………………………………………………….…
Shorea stenoptera
4. a. Kulit batang licin bergelang dan bersisik …………………………...
5
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………….
7
5. a. Kulit dalam coklat kekuningan, urat daun sekunder 11 - 14
pasang, permukaan dan urat daun berbulu berwarna coklat … Shorea ferruginea
b. Kulit dalam , urat daun sekunder tidak demikian, permukaan
dan urat daun tidak demikian ………………………………………
6
6. a. Kulit dalam merah jambu, urat daun sekunder 10 - 13 pasang, stipul
kecil …….……………………………………………………
Shorea beccariana
b. Kulit dalam coklat merah jambu pucat, urat daun sekunder 10 - 16
Shorea pinanga
pasang, stipul besar ………………………………………….
7. a. Kulit batang licin bergelang dan retak ……………………………...
8
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………………..
9
8. a. Kulit dalam merah jambu , urat daun sekunder 12 - 17 pasang , daun
yang kering coklat kehitam-hitaman ……………………...… Shorea pelembanica
b. Kulit dalam merah jambu pucat, urat daun sekunder 10 - 13 pasang,
daun yang kering coklat lembayung …………………………..
9.
Shorea splendida
a. Kulit batang licin kemudian bersisik …………………………………
10
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………………...
13
10. a. Kulit dalam coklat pucat, urat daun sekunder 10 - 14 pasang …
…………………………………………………..……Sh.orea macroptera ssp. baillonii
b. Kulit dalam coklat muda atau coklat kekuningan …………………
11
11. a. Kulit dalam merah muda, bentuk daun memerisai, tangkai daun
panjang 1,8 - 3,6 cm ………………………………………….
Shorea peltata
b. Kulit dalam coklat kekuningan, bentuk daun tidak memerisai,
tangkai daun pendek ………………………………………………
12
12. a. Tangkai daun penjang , 1,3 - 3 cm, urat daun sekunder 10 - 24
pasang ……………………………………………….…Shorea inappendiculata
b. Tangkai daun pendek, 1 – 1,5 cm, urat daun sekunder 16 - 24
85
Shorea superba
pasang ……………………………………………………..
13. a. Kulit batang licin, beralur dangkal dan bersisik …………………
14
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………………
15
14. a. Kulit dalam berwarna seperti kopi susu, urat daun sekunder 12 - 16
Shorea pilosa
pasang, bawah daun tidak berbulu …………………………..
b. Kulit dalam berwarna coklat merah, urat daun sekunder 18 - 26
pasang , bawah daun berbulu kasar …………………… Shorea ovalis spp. Ovalis
15. a. Kulit batang licin, beralur sedang dan bersisik ……….…………..
16
b. Kulit batang tidak demikian ……………………………………..…
17
16. a. Kulit dalam berwarna coklat tua, urat daun sekunder 8 - 15 pasang,
Shorea foxworthy
tajuk rapat, setengah bulat …………………………………
d. Kulit dalam berwarna coklat jingga, urat daun sekunder 16 - 23
pasang, tidak beraturan, terbuka .……………………… Shorea mecistopteryx
17. a. Kulit batang licin, bopeng dan bersisik …………...…………………
18
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………………..
19
18. a. Kulit dalam coklat kuning pucat, daun berukuran besar, urat daun
sekuder 13 - 18 pasang ……………………..……………
Shorea macrophylla
b. Kulit dalam coklat kekuningan,daun berukuran agak kecil, urat daun
Sekunder 7 - 10 pasang …………………………………….
Shorea multiflora
19. a. Kulit batang licin, retak dan bersisik ……………………………….
20
b. Kulit batang tidak demikian …………………………………………
21
20. a. Kulit dalam berlapis, bentuk daun bulat telur menyempit, panjang
4,5 - 10,5 cm, lebar 2,5 - 4,8 cm ……….………Shorea agamii ssp. diminuta
b.
Kulit dalam berserat, bentuk daun lanset atau ellips sempit, panjang
5,8 - 13 cm, lebar 2,8 - 5 cm …………………………….
Shorea polyandra
21. a. Kulit batang licin, retak dan mengelupas menjadi sisik kecil ……..
22
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………………
23
22. a. Pohon kecil sampai sedang ( diameter 60 cm ), urat daun sekunder
6 - 10 pasang, daun sempit, bentuk daun lanset, buah tidak bersayap ……………………………………………………….
b.
Shorea angustifolia
Pohon sedang sampai besar ( diameter sampai 130 cm ), urat daun
86
sekunder 9 - 14 pasang, bentuk daun elllips atau bulat telur, buah
bersayap ………….………….………………………….....
Shorea amplexicaulis
23. a. Kulit batang licin, bersisik dangkal, damar kream, daun yang tua
Shorea johorensis
lobang-lobang ………………….……………………………
b. Kulit batang tidak demikian ……………………………………….
24
24. a. Kulit batang licin, bersisik dangkal dan berlentisel ……..…………
25
b. Kulit batang tidak demikian ……………………………………….
27
25. a. Kulit dalam coklat kuning, banir pendek ( jangkang ), urat daun
sekunder 8 - 11 pasang ………………………………….
Shorea oboivoidea
b. Kulit dalam coklat kekuningan, banir tinggi 1 - 2 m, urat daun
9 - 17 pasang …………………………………………………
26
26. a. Tangkai daun pendek, 1 - 1,6 cm, Urat daun sekunder
9 - 17 pasang , permukaan bawah daun muda dan ranting serta
Shorea seminis
kuncup kelabu keputihan …………………………………..
b. Tangkai daun panjang, 1,7 - 3 cm, urat daun sekunder 9 - 15
pasang , permukaan bawah daun muda dan ranting serta kuncup
tidak kelabu putih ……….…………………………………. Shorea faguetinoides
27. a.
Kulit datang licin atau permukaan membusuk, kulit dalam berlapis
berwarna kuning pucat – coklat dan kream, urat daun sekunder
Shorea ochracea
> 25 pasang ………………………………………………..
b.
Kulit batang tidak demikian ……………………………...….….
28
28. a.
Kulit batang bersisik …………………………………………….
29
b.
Kulit batang tidak demikian …………...…………………………
34
29. a.
Kulit dalam merah mendaging, urat sekunder 7 - 12 pasang Shorea pauciflora
b. Kulit dalam tidak demikian …………………………….………
30
30. a. Kulit dalam coklat merah - kuning, urat daun sekunder 12 - 25
pasang …………….………………………………………..
Shorea platyclados
b. Kulit dalam tidak demikian …………………………..………..
31
31. a. Kulit dalam coklat jingga, urat daun sekunder 6 - 9 pasang …. Shorea kunstleri
b. Kulit dalam coklat tua , urat daun sekunder 10 - 13 pasang…Shorea longisperma
32. a. Kulit batang bersisik rapat merata dengan retak-retak panjang,
87
kulit dalam coklat kekuningan, urat daun sekunder 10 - 15
Shorea crassa
pasang …………………………………………………………
b. Kulit batang tidak demikian ……………………….…………..
33
33. a. Kulit batang bersisik lunak, kulit dalam coklat merah jambu,
Shorea guiso
urat daun sekunder 11 - 19 pasang ………………………
b. Kulit batang tidak demikian ……………………………………..
34
34. a. Kulit batang bopeng dengan lumut kerak, dan beralur lebar serta
dalam, kulit dalam coklat kream pucat, urat daun sekunder
Shorea elliptica
9 - 13 pasang …………………………………………………
b. Kulit batang mengelupas bersisik ……………………………..
35
35. a. Damar berwarna hitam atau putih pada permukaannya, kulit
dalam coklat pucat, urat daun sekunder 7 - 11 pasang … Shorea hopeifolia
b. Damar berwarna kuning atau coklat kelabu, kulit dalam coklat
tua, urat sekunder 9 - 12 pasang ………………………
Shorea atrinervosa
36. a. Kulit batang beralur dangkal ….. ………………………………
b. Kulit batang tidak demikian
37
…………………………………..
41
37. a. Kulit dalam berwarna seperti kopi ……………………………..
38
b. Kulit dalam tidak demikian ……………………………………
39
38. a. Permukaan atas daun yang kering coklat kuning, permukaan bawah
daun berbulu kasar, Urat daun sekunder 14 - 18 pasang, ujung daun
bervariasi ada runcing, tumpul dan berlekuk ……….…………… Shorea pubistyla
b. Permukaan atas daun yang kering coklat lembayung, permukaan
bawah daun berbulu halus pendek rapat, urat daun sekunder 14 –
ujung daun runcing …………………………………………… Shorea scaberrima
39. a. Kulit dalam berwarna trengguli atau coklat agak lembayung,
urat sekunder 14 - 20 pasang ………………………………
Shorea uliginosa
b. Kulit dalam berwarna merah tua - coklat atau coklat kuning ……..
40.
40
a. Kulit dalam berwarna merah tua - coklat, urat sekunder 8 - 12
pasang ………………………..………………………………
Shorea scabrida
b. Kulit dalam berwarna coklat kuning, urat daun sekunder 20 - 34
pasang ………………………………………………………
Shorea slootenii
88
41.
a. Kulit batang beralur dangkal teratur ………………………………
42
b. Kulit batang tidak demikian …………………………………………
43
42. a. Permukaan atas daun kering kemerahan, licin – kasap dan bawah daun
kemerahan atauu coklat kuning, berbulu kasap – kasar, uurat dauun
sekunder 13 - 21 pasang …………….…Shorea parvistipulata ssp. parvistipulata
b. Permukaan atas daun kering coklat keputihan dana bawah daun berwarna keperakan , berbulu halus, urat dauun sekuunder kurang
lebih 16 pasang …………………….……..Shorea parvistipulata ssp. albifolia
43. a. Kulit batang beralur dangkal bergelang tidak sambung ……………
44
b. Kulit batang tidak demikian ……………………………………….
45
44. a. Permukaan atas dan bawah daun yang kering licin - kasap,
berwarna coklat, ureat daun sekunder 9 - 13 pasang ……..
………………………………………………… Shorea parvifolia ssp. parvifolia
b. Permukaan atas dan bawah daun yang kering kasap, berwarna
coklat kemerahan, urat daun sekunder 9 - 14 pasang ……
………………………………………………….... Shorea parvifolia ssp. velutinata
45. a. Kulit batang beralur dangkal dan bersisik ……………………
46
b. Kulit batang tidak demikian …………………………………
51
46. a. Kulit dalam berwarna merah jambu pucat …………………..
47
b. Kulit dalam tidak demikian ………………………………….
48
47. a. Banir tinggi sampai 2,5 m, tajuk menjuntai, daun lebar ,
penumpu besar, uurat daun sekuunder 3 - 5 pasang …
Shorea quandrinervis
b. Banir kecil, tinggi 1 m, tajuk tidak menjuntai, daun sedang
penumpu kecil, urat daun sekuunder 11 - 13 pasang ………
48. a. Kulit dalam coklat pucat atau coklat kuning pucat …………
Shorea carapae
49
b. Kulit dalam coklat jingga atauu merah jambu tua - merah
mendaging ……………………………………………………..
50
49. a. Kulit dalam coklat pucat, kayu guubal kuning pucat dan
kayu teras coklat merah, urat daun sekunder 19 - 25 pasang,
permukaan bawah daun berbulu pendek dan rapat ……………
Shorea sagittata
b. Kulit dalam coklat kuning pucat, gubal kuning dan kayuu teras
89
berwarna seperti kopi, urat daun sekunder 7 - 9 pasang,
permukaan bawah daun tidak berbulu ……………………
Shorea pachyphylla
50. a. Kulit dalam coklat jingga, tajuk rapat, permukaan bawah daun
yang kering coklat kekuningan, urat daun sekunder 6 - 9
Shorea asahii
pasang, buah tidak bersayap ………………………………….
b. Kulit dalam merah jambu tua - merah mendaging tua, permukaan
bawah daun berbulu halus berwarna coklat kelabu, urat daun
Shorea ovata
sekunder 7 - 10 pasang, buah bersayap ……………………
51. a. Kulit batang beralur sedang …………………………………….
52
b. Kulit batang tidak demikian …………………………………….
55
52. a. Kulit dalam berwarna coklat kuning, kulit luar coklat tua, urat
Shorea regosa
daun sekunder 13 - 21 pasang ………….…………………
b. Kulit dalam berwarna coklat kemerahan, kulit luar coklat
kelabu pucat , urat daun sekunder < 17 pasang
…………..
53
53. a. Pohon tumbuh di hutan krengas < 400 m dari permukaan lauut,
urat daun sekunder 12 - 18 pasang …………………………. Shorea platycarpa
b. Pohon tumbuh di hutan dataran rendah di bawah 700 m dari
permukaan laut …………………………………………………
54
54. a. Pada permukaan bawah daun dikiri kanan urat primer terdapat
Shorea leprosula
domatia sambung, urat sekunder 10 - 16 pasang ………….
b. Pada permukaan bawah daun dikiri kanan urat primer tidak ter-
Shorea resinosa
dapat domatia sambung, urat sekuunder 9 - 13 pasang …
55. a. Kulit batang beralur dalam
…………………………………
56
b. Kulit batang tidak demikian …………………………………….
61
56. a. Terdapat pada hutan krengas …………………………………….
57
b. Terdapat pada hutan rawa gambut ………………………………
58
57. a. Kulit dalam coklat kuning, urat daun sekunder 9 - 13 pasang,
Shorea retusa
ujung daun tumpul …………………………………………
b. Kulit dalam coklat kuning, urat daun sekunder 11 - 18 pasang,
ujung daun runcing ……………………………………….
Shorea venulosa
58. a. Kulit dalam berwarna coklat merah …………………………….
59
90
b. Kulit dalam berwarna coklat kuning …………………………..
60
59. a. Permukaan bawah dan urat primer daun yang kering berwarna
kuning karat, urat daun sekunder 10 - 18 pasang , daun
Shorea balangeran
besar …………………………………………………………
b.
Permukaan bawah daun dan urat primer tidak berwarna kuning
Karat, urat daun sekunder 9 - 12 pasang, daun aagak kecil
.......………………………………………………………..
Shorea tysmanniana
Shorea albida
60. a. Urat daun sekunder 16 - 23 pasang ……………………….
b. Urat daun sekunder 9 - 16 pasang ………………….. Shorea acuminatissima
61. a. Kulit batang beralur dalam dan rapat , terdapat pada punggung
bukit sampai 1000 m dari permukaan laut, urat daun sekunShorea coreacea
der 16 - 19 pasang …………………………………………..
b. Kulit batang tidak demikian ………………………………….
62
62. a. Kulit batang beralur lebar atau beraluur rapat ………………...
63
b. Kulit batang tidak demikian …………………………………..
66
63. a. Kulit batang beralur lebar > 3 cm, kulit dalam merah jambu,
permukaan bawah daun berbulu kasar, urat daun sekunder
13 - 15 pasang ………………………………………..
Shorea smithiana
b. Kulit batang beralur rapat, kulit dalam dan permukaan bawah
daun serta urat daun sekunder tidak demikian …………….
64
64. a. Kulit dalam coklat kekuningan , permukaan bawah dauun
Shorea confusa
licin, urat dauun sekunder 10 - 18 pasang ………………
b. Kulit dalam kream atau kuning-kuning pucat, urat daun
Sekunder 12 - 18 pasang ………………………………
Shorea exelliptica
65. a. Kulit batang beralur dan bersisik ……………………………..
66
b. Kulit batang retak dan bersisik ……………………………….
79
66. a. Kulit dalam berlapis ……………………………………………
67
b. Kulit dalam berserat …………………………………………..
68
67. a. Kulit dalam berwarna merah muda sampai coklat, damar kuning
keputihan, daun kering kecoklatan, urat daun sekunder 12 - 16
pasang , permukaan atas dan bawah daun licin ……………
Shorea bracteolata
91
b. Kuulit dalam berwarna merah muda, kuning, damar kuning
bening atau putih, daun kering coklat kekuningan, urat dauun
sekunder 20 - 26 pasang, permukaan atas daun licin dan bawah
Shorea lamellata
daun berbulu kasap …………………………………………
68. a. Banir tinggi 5 m, daun tipis , daun yang kering menggulung,
tangkai daun coklat atau merah coklat bila kering, tidak
Shorea gibbosa
mengkerut , urat sekunder 7 - 10 pasang …………………
b. Tidak demikian ……………………………………………….
69
69. a. Damar berwarna kuning ………………………………………
70
b. Damar berwarna lain ………………………………………….
71
70. a. Terdapat pada daerah perbukitan kering sampai 1400 m dari
Shorea obscura
permukaan laut , urat daun sekunder 25 - 31 pasang ……
b. Terdapat pada punggung bukit 200 - 1000 m dari permukaan
Shorea laevis
laut, urat daun sekunder 10 - 20 pasang …………….……
71. a. Damar berwarna kream, coklat pucat, banir tipis, tinggi 3 - 5
meter , urat daun sekunder 7 - 13 pasang …………
Shorea mojongensis
b. Damar berwarna tidak demikian ……………………………..
72
72. a. Damar berwarna hitam ……………………………………...
73
b. Damar berwarna lain ………………………………………..
74
73. a. Banir sampai 3 m tinggi, tajuk berukuran sedang sampai
besar, tangkai daun paanjang 1,4 - 2,4 cm, urat daun
sekuunder 8 - 12 pasang …………………………………. Shorea falciferoides
b.
Banir 2 m tinggi, tajuk kecil - sedang, tangkai daun pendek
0,6 - 1 cm, urat daun selkunder 7 - 10 pasang ….
74. a. Damar berwarna coklat kelabu tua atau coklat kelabu …
b. Damar berwarna lain ………………………………………
Shorea potoiensis
75
76
75. a. Damar berwarna coklat , banir penderk 1,5 m tinggi, urat
daun sekunder 7 - 13 pasang, tangkai daun panjang
1 - 1,6 cm , daun yang kering menggulung ……………….
Shorea faguetiana
b. Damar berwarna coklat kelabu, banir kecil sampai 70 cm
tinggi, urat daun sekunder 7 - 19 pasang, tangkai daun
92
pendek, 0,8 - 1,3 cm , daun yang kering tidak menggulung ..horea scrobicuulata
76. a. Damar berwarna putih susu ………………………………
77
b. Damar berwarna lain ………………………………………
78
77. a. Banir sampai 3 m tinggi, daun berukuran sedang
( 6,5 - 15 x 2,8 - 8 cm ), tepi daun tidak menggulung , tangkai daun panjang 1,4 - 2 cm, per –
mukaan bawah daun licin sampai kasap, urat daun
Shorea virescens
sekunder 16 - 26 pasang …………………………….
b. Banir tinggi 4 m, daun kecil dan tipis ( 6 - 10 x 2,5 - 4,5 ),
tepi daun menggulung, tangkai daun pendek 0,5 - 1,1 cm,
permukaan bawah daun berbulu halus, urat daun sekunder
Shorea maxwelliana
7 - 13 pasang …………………………………….
78. a. Damar kuning, tumbuh di hutan rawa – gambut, kulit
dalam merah coklat, uurat sekunder 10 - 13 pasang
Shorea inaequilateralis
b. Damar coklat, tumbuh di hutan pegunungan antara 1000
dan 1500 m , kulit dalam merah tuua, urat daun sekunder
13 - 18 pasang ………………………………………
Shorea monticola
79. a. Kulit batang retak dan bersisik, daun berukuran sedang
(10 - 23 x 4 - 8,5 cm), tepi helaian daun tidak menggulung, permukaan bawah daun licin - kasap, urat daun
sekunder 8 - 14 pasang …………………………………
Shorea collaris
b. Kulit batang bersisik tidak beraturan, daun berukuran besar
(15 - 25 x 6,5 - 12 cm ), tepi helaian daun menggulung
permukaan bawah daun tidak berbulu, urat daun sekunder
11 - 14 pasang ……………………………………..
Shorea iliasii
93
KUNCI DETERMINASI SERANTING DAUN JENIS PENGHASIL
TENGKAWANG DI KALIMANTAN YANG DI LINDUNGI
1. a. Daun penumpu pendek, kecil ( < 3 cm )……………………...
2
b. Daun penumpu panjang ( > 3 cm ) …………………………
8
2. a. Bekas daun penumpu mengelilingi ranting ……………………
b. Bekas daun penumpu tidak mengelilingi ranting …………….
3
4
3. a. Bentuk daun penumpu bulat telur, panjang sampai 2,5 cm,
lebar sampai 0,8 cm ………………………………………………
Shorea amplexicaulis
b. bentuk daun penumpu bulat telur, panjang sampai 2,5 cm,
lebar sampai 1,5 cm …………………………………………..
Shorea splendida
4. a. Kuncup daun berbentuk bulat telur …………………………..
5
b. Kuncup daun berbentuk tidak demikian ……………………..
7
5. a. Ranting berkeriput kecil, berkutil ……………………..………
b. Ranting halus, tidak berkutil ………………………………….
Shorea scaberrima
6
6. a. Bekas daun penumpu horizontal, nampak jelas, daun berbentuk
oblong, panjang 13 – 20 cm, lebar 6 – 10 cm …………… …. Shorea mecistopteryx
b. Bekas daun penumpu menurun, kurang jelas, daun berbentuk
oblong sampai lanset, panjang 9 – 18 cm, lebar 2,5 – 8 cm …...
7.
Shorea seminis
a. Bentuk daun penumpu lonjong, tumpul, panjang 14 mm,
lebar 5 mm …………………………………………………..
Shorea beccariana
b. Bentuk daun penumpu lanset, meruncing, panjang 15 mm,
lebar 3 mm ……………………………………………………
8.
a. Bekas daun penumpu mengelilingi ranting …………………..
b. Bekas daun penumpu tidak mengelilingi ranting …………….
9.
Shorea palembanica
9
Shorea pinanga
a. Kuncup daun berbentuk tombak, pipih, panjang 12 – 18 mm,
lebar 4 – 6 mm ……………………………………………..
Shorea macrophylla
b. Kuncup daun berbentuk agak bulat , tumpul, biasanya tertutup
daun penumpu , panjang 4 mm, lebar 3 mm ……………….
Shorea stenoptera
94
Pertanyaan :
1. Bagaimana tatacara mendeterminasi jenis pohon?
2. Jenis-jenis kayu yang ada di kalimantan didominasi oleh famili....
3. Apakah beda meranti putih, kuning dan merah dari segi dendrologinya?
4. Jenis khas kayu meranti adalah berbanir dan berbuah sayap untuk apakah bentuk akar dan
buah tersebut di alam nyata?
Acuan Pustaka
Ardiansyah, 2003. Kunci Identifikasi 57 Jenis Pohon Shorea spp. di Dareah Kalimantan Selatan.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA)
Samarinda. Departemen Kehutanan Republik Indonesia.
Ardiansyah, 2003. Kunci Identifikasi 80 Jenis Pohon Shorea spp. di Dareah Kalimantan Tengah.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA)
Samarinda. Departemen Kehutanan Republik Indonesia.
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH Freeman &
Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees. Schol
of Biological Sciense Univercity of MalayaRudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas
Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book Company Inc.
New York.
95
BAB X. IDENTIFIKASI JENIS KOMERSIAL
FAMILI DIPTEROCARPACEAE
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Mengenal ciri umum family Dipterocarpaceae
2. Memahami dan mengetahui jenis pohon komersial dari famili Dipterocarpaceae
3. Memahami dan mengetahui kegunaan kayu komersial dari famili Dipterocarpaceae.
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Mahasiswa mampu menunjukkan ciri umum untuk famili Dipterocarpaceae
2. Mahasiswa mampu mengenali jenis pohon komersial dari famili Dipterocarpaceae
3. Mahasiswa
mampu
mengenali
kegunaan
kayu
komersial
dari
famili
Dipterocarpaceae.
Materi Pembelajaran
Dipterocarpaceae
Dipterocarpus retusus
Famili Dipterocarpaceae mempunyai 17 genus dan beranggotakan 500 jenis yang
mendominasi hutan dataran rendah di kawasan tropis seperti di Kalimantan dan Sumatra.
Tinggi pohon mencapai 80 meter (genus Dryobalanops, Hopea dan Shorea), yang tertinggi
adalah jenis (Shorea faguetiana) mencapai tinggi 88.3 meter. Dipterocarpaceae
kedudukannya dalam strata tajuk yang dominan. Selain di Indonesia family ini juga terdapat
96
di kawasan tropis lainnya seperti South East Asia sampai New Guinea. Africa, Amerika
Selatan, India, Asia Tenggaradan Malaysia.
Sekarang beberapa jenis anggota Famili ini yang berada di Indonesia khususnya terancam
punah karena kegiatan illegal logging dan eksploitasi besar-besaran karena selain kayunya
produk hasil hutan non kayunya juga bernilai ekonomi tinggi seperti kamper, resin, minyak
biji tengkawang, balsam maupun minyak aromatic essensialnya. Secara ilmu Genetikanya
bahwa
DNA family
Sarcolaenaceae hampir sama dengan famili
Dipterocarpaceae.
Dipterocarpaceae berasal dari bahasa Yunani yaitu Di = dua; ptero = sayap dan carpus =
buah; yang berarti pohon yang mempunyai buah bersayap dua.
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
1. Buah bersayap
2. Stipula pada daun
3. berbanir
4. berdamar pada kayunya
5. kayu keras
6. terdapat kelenjar pada daun
Klasifikasi untuk famili Anacardiaceae :
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Malvales
Famili
: Dipterocarpaceae
Sub Famili
: Dipterocarpoideae, Monotoideae dan Pakaraimoideae
97
Genus
:
1. Dipterocarpodeae (Terdapat di Sri Lanka, India, Asia Tenggara hingga
New Guinea, dan sebagian besar terdapat di pulau Kalimantan sebagai
species dominan di hutan dataran rendah (lowland forests) termasuk
Kalimantan Utara (Brunei, Sabah and Sarawak) terdiri atas 13 genus dan 475
jenis :
a. Upuna
h. Dryobalanops
b. Vateria
i. Hopea
c. Vateriopsis
j. Neobalanocarpus
d. Vatica
k. Parashorea
e. Anisoptera
l. Shorea
f. Cotylelobium
m. Stemonoporus
g. Dipterocarpus
2. Monotoideae
a. Marquesia (Afrika) : 30 jenis
b. Monotes (Di Afrika dan Madagascar) : 26 jenis
c. Pseudomonotes (khas Colombia Amazon)
3. Pakaraimoideae ( hanya di hutan dataran tinggi Amerika Selatan)
a. Pakaraimaea
Phylogeny Dipterocarpaceae
Dipterocarpaeae
Dipterocarpoideae
Dipterocarpeae
Shoreae
Monotoideae
Pakaraimoideae
.
Anisoptera
Cotylelobium
Dipterocarpus
Stemonoporus
Upuna
Vateria
Vateriopsis
Vatica
Dryobalanops'
Hopea
Neobalanocarpus
Parashorea
Shorea
Marquesia
Monotes
Pseudomonotes
Pakaraimaea
98
Di Indonesia suku Dipterocarpaceae terdiri dari ratusan dan Kalimantan memiliki jumlah
yang terbesar, yaitu sekitar 267 jenis. Pulau-pulau lain seperti Sumatera 106 jenis, Sulawesi
tujuh jenis, Maluku enam jenis, Irian Jaya 15 jenis dan Nusa Tenggara tiga jenis. Sebagian besar
terdapat di daerah beriklim basah dengan kelembaban udara yang tinggi, dari dataran rendah
sampai kedataran tinggi atau pegunungan dengan curah hujan di atas 2000 mm per tahun dengan
musim kemarau yang pendek
Hutan tropika basah Kalimantan didominasi oleh suku Dipterocarpaceae. Secara harpiah
Dipterocarpaceae berarti “buah yang bersayap dua“. Pada kenyataannya buah Dipterocarpaceae
tidak selalu bersayap dua tetapi sebenarnya ada yang bersayap lima. Ciri umum pohon suku
Dipterocarpaceae adalah tinggi, besar, batang umumnya berbanir, sehingga mudah dikenali.
Suku ini terkenal karena jenis-jenis kayunya terkenal secara komersial. Banyak digunakan
masyarakat untuk berbagai keperluan, seperti meranti merah, meranti putih, meranti kuning,
balau /bangkirai, kapur atau kamper, kruing, giam, dan resak. Jenis-jenis pohon meranti adalah
bahan baku utama bagi industri penggergajian dan kayu lapis.
Disamping kayu, suku Dipterocarpaceae juga terkenal karena beberapa jenis diantaranya
menghasilkan hasil hutan non kayu,seperti damar mata kucing dan buah tengkawang. Damar
mata kucingyang dihasilkan berasal dari pohon Shorea javanica adalah bahan penting dalam
pembuatan cat dan vernis. Demikian juga buah tengkawang yang dihasilkan oleh beberapa jenis
dari marga Shorea adalah merupakan bahan penting dalam industri pembuatan coklat. Kedua
hasil hutan non kayu tersebut merupakan komoditi ekspor yang penting bagi Indonesia. Di
Indonesia, suku Dipterocarpaceae didominasi oleh
sembilan marga, yaitu
Anisoptera,
Cotylelobium, Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Parashorea, Shorea, Upuna dan
Vatica.
 Marga Anisoptera adalah marga yang hanya terdiri dari sekitar tujuh jenis penghasil kayu
Mersawa. Tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m dari permukaan laut.
 Marga Cotylelobium adalah marga penghasil kayu giam, tersebar terutama di Sumatera
dan Kalimantan. Tempat tumbuh di daerah perbukitan dengan ketinggian mencapai 1500
m dari permukaan laut.
 Marga Dipterocarpus yang merupakan penghasil jenis-jenis kayu keruing, mempunyai
pohon yang besar, berbatang lurus dan berbanir. Tumbuh pada ketinggian di bawah 1400 m
99
dari permukaan laut. Tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa dan bali dengan jumlah jenis
sekitar 69 jenis.
 Marga Dryobalanops merupakan penghasil kayu jenis-jenis kapur atau kamper. Marga ini
hanya terdiri dari tujuh jenis. Daerah penyebarannya adalah Kalimantan dan Sumatera, di
hutan-hutan dataran rendah atau hutan rawa dengan ketinggian umumnya mencapai 800 m
dari permukaan laut.
 Marga Hopea merupkan pohon kecil sampai besar penghasil kayu cengal dan Merawan.
Batang berbanir pendek ( papan ) atau berjangkang. Marga ini terdiri dari 49 jenis, tersebar
dari Sumatera , Kalimantan sampai ke Irianjaya,kecuali Nusa Tenggara.
 Marga Parashorea adalah suatu marga yang di Indonesia hanya terdapat sekitar delapan
jenis.
Daerah penyebaran terutama di Kalimantan dan Sumatera.
Marga ini banyak
mendominasi hutan-hutan dataran rendah hingga perbukitan, sampai ketingggian 1400 m dari
permukaan laut.
 Martga Shorea terkenal sebagai penghasil jenis-jenis kayu meranti. Marga ini juga adalah
penghasil kayu balau, bangkirai, balangeran, dan gisok.
sekitar 195 jenis.
Diperkirakan jumlah jenisnya ada
Daerah penyebaran mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa,Sulawesi
sampai ke Maluku. Tumbuh mendominasi dari dataran rendah sampai kepegunungan 1750
m dari permukaan laut.
 Marga Upuna hanya terdiri dari satu jenis dan banyak terdapat di Kalimantan,yaitu Upuna
borneensis . Tempat tumbuh di dataran rendah sampai perbukitan.
 Marga Vatica adalah marga penghasil kayu resak dan terdapat sekitar 33 jenis. Tersebar
luas yaitu di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya.
100
MENGENAL MARGA SHOREA / MERANTI
Marga Shorea sangat beraneka-ragam dan mempunyai daerah sebaran yang sangat luas.
Symington membaginya dalam 176 jenis dan Ashton 195 jenis. Desh seorang pakar teknologi
kayu membagi marga Shorea menurut sifat-sifat tehnisnya, tetapi untuk para pakar botani
pembagian ini sukar dimengerti dan melukiskan beberapa golongan, khusus untuk jenis-jenis
yang berada di Malaysia oleh Symington, diantaranya golongan Balau, golongan Meranti paang,
golongan Meranti damar hitam, golongan Meranti merah. Di Indonesia oleh Pusat Penelitian
dan Pengembangan hasil hutan telah menggolongkan marga Shorea dalam beberapa golongan
berdasarkan tehnologi kayu, diantaranya golongan Balau, golongan Meranti merah, golongan
Meranti putih, dan golongan Meranti kuning.
Penyebaran : India, Sri Langka, Malesia Barat, Pilipina, Malaysia dan Indonesia :
Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali-Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Jenis-jenis yang terdapat di Kalimantan Tengah (Ardiansyah, 2003) :
Golongan Balau :
1. Shorea asahii P.S. Ashton
2. Shorea atrinervosa Symington
3. Shorea crassa P.S.Ashton
4.
Shorea exelliptica Meijer
5. Shorea falcifernides Foxw ssp. Gloucescens
6. Shorea foxworthyi Symington
7. Shorea guiso ( Blanco ) Blume
8. Shorea inappendiculata Burck
9. Shorea laevis Ridl.
10. Shorea maxwelliana King
11. Shorea obscura Meijer
12. Shorea scrobiculata Burck
13. Shorea seminis ( de Vriese ) Slooten
14. Shorea superba Symington
101
Golongan Meranti Merah:
1.
Shorea albida Foxw.
2.
Shorea amplexicaulis P.S. Ashton
3.
Shorea balangeran ( Korth. ) Burck
4.
Shorea beccariana Burck
5.
Shorea carapae P.S. Ashton
6.
Shorea coreacea Burck
7.
Shorea elliptica
8.
Shorea ferruginea Dyer ex Brandis
9.
Shorea inaequilateralis Sym
10. Shorea johorensis Foxw.
11. Shorea kunstleri King
12. Shorea leprosula Miq
13. Shorea macrophylla ( de Vriese ) P.S. Ashton
14. Shorea macroptera ssp, baillonii
15. Shorea mecistopteryx Ridl.
16. Shorea monticola P.S.Ashto
17. Shorea ovalis ( Korth. ) Blume ssp. ovalis
18. Shorea ovata Dyer ex Brandis
19. Shorea pauciflora King.
20. Shorea pachyphylla Ridl. ex Symington
21. Shorea palembanica Miq.
22. Shorea parvifolia Dyer ssp. Parvifolia
23. Shorea parvifolia ssp. velutinata P.S. Ashton
24. Shorea parvistipulata F. Heim ssp parvistipula
25. Shorea parvistipulata F. Heim ssp. Albifolia P.S. Ashton
26. Shorea pilosa P.S.Ashton
27. Shorea pinanga Symington
28. Shorea platycarpa F. Heim.
29. Shorea platyclados Slooten ex Foxw.
30. Shorea pubistyla P.S.Ashton
102
31. Shorea quadrinervis Slooten
32. Shorea retusa Meijer
33. Shorea rotundifolia P.S.Ashton.
34. Shorea rugosa F. Heim
35. Shorea sagittata P.S. Ashton
36. Shorea scaberrima Burck
37. Shorea scabrida Symington
38. Shorea smithiana Symington
39. Shorea slootenii G.H.S. Wood ex P.S. Ashton
40. Shorea splendida (de Vriese ) P.S.Ashton
41. Shorea stenoptera Buck
42. Shorea tysmanniana Dyer ex Brandis
43. Shorea uliginosa Foxw
44. Shorea venulosa G.H.S. Wood ex Meijer
Golongan Meranti Putih:
1. Shorea agamii P.S.Ashton ssp. Diminuta P.S. Ashton
2. Shorea bracteolata Dyer.
3. Shorea confusa
4. Shorea gratissima ( Wall. Ex Kurz ) Dyer
5. Shorea lamellata Foxw.
6. Shorea ochracea Symington
7. Shorea resinosa Foxw
8. Shorea virescens Parijs
Golongan Meranti Kuning:
1.
Shorea acuminatissima Symington
2.
Shorea angustifolia P.S. Ashton
3.
Shorea collaris Slooten
4.
Shorea faguetiana F. Heim
5.
Shorea gibbosa Brandis
103
6.
Shorea hopeifolia ( F.Heim ) Symington
7.
Shorea iliasii P.S. Ashton
8.
Shorea longiflora ( Brandis ) Symington
9.
Shorea longisperma Roxb
10. Shorea mojongensis P.S. Ashton
11. Shorea multiflora ( Burck ) Symington
12. Shorea potoiensis P.S. Ashton
13. Shorea peltata Symington
14. Shorea polyandra P.S. Ashton
Departemen Kehutanan telah mengeluarkan peraturan yang menyatakan beberapa jenis
Shorea penghasil lemak yang banyak digunakan oleh penduduk maupun menjadi bahan
industri kosmetik atau sebagai bahan pencampur coklat, dilarang untuk ditebang.
Jenis-jenis Shorea tersebut antara lain adalah :
1.
Shorea amplexicaulis P.S. Ashton
2.
Shorea beccariana Burck
3.
Shorea lepidota ( Korth. ) Blume
4.
Shorea macrantha Brandis
5.
Shorea mecistopteryx Ridl. *
6.
Shorea palembanica Miq. *
7.
Shorea pinanga Scheff. *
8.
Shorea scaberrima Burck *
9.
Shorea macrophylla P.S. Ashton *
*
*
10. Shorea splendida P.S. Ashton *
11. Shorea seminis Slooten
*
12. Shorea stenoptera Burck *
* adalah jenis yang terdapat di Kalimantan Tengah ( 10 Jenis )
104
Kegunaan :
Golongan
Balau : Karena kekuatan dan keawetannya yang tinggi dipergunakan untuk
konstruksi berat terutama yang berhubungan dengan lembab dan berhubungan dengan
tanah. Jenis kayu ini antara lain dipergunakan untuk jembatan, bantalan kereta api, tiang
listrik/ telegam , bangunan kapal, kosen perumahan, karoseri dll. Ketahanannya
menjadikannya sangat cocok di daerah tropis, walaupun ditempatkan langsung di atas tanah
sekalipun. Kayu Shorea laevis sering diperdagangkan dengan nama bangkirai.
Golongan meranti Merah :
Kayu bahan bangunan aneka guna yang paling umum di
Malaysia bagian barat. Karena tidak mengandung silika, kayunya mudah dikerjakan.
Dianjurkan agar penempatannya tidak bersentuhan langsung dengan tanah karena kayu ini
tidak tahan lama. Meranti merah merupakan kayu yang sangat baik untuk konstruksi dan
juga untuk kayu lapis dan viner. Sekurang-kurang nya dikenal 3 kelompok dagang. Meranti
merah muda (kayu keras berbobot ringan),
sedang)
dan tengkawang
meranti merah tua
(kayu keras berbobot
(jenis yang dilindungi buah besar dan menghasilkan
biji
tengkawang). Dan juga digunakan untuk bahan bangunan perumahan ( rangka ), balok,
gelegar, koso, pintu dan jendela, dinding, lantai , reng dan lain-lain.
Golongan meranti Putih :
Untuk venir dan kayu lapis, juga untuk papan partikel , lantai,
bangunan dan perkapalan ( Shorea lamellata dikenal nama kayu tahan ). Pernah dipakai
untuk tong minyak palm, mungkin baik pula untuk karoseri atau mebel.
Golongan Meranti Kuning :
Digunakan sebagai bahan bangunan ringan. Kayu gubalnya
harus tidak diikutsertakan dalam pemakaian, karena sangat rentan terhadap serangan kepik
bubuk. Kayunya tidak tahan lama, dan karena itu disarankan ditempatkan langsung dengan
tanah. Meranti kuning merupakan kayu sangat baik
untuk
lantai dan mebel murah,
tetapi pemakaian utama untuk lapis baik untuk viner luar maupun dalam dan pembuatan
hard board dan partikle board.
Dapat
digunakan untuk kaso, bangunan perumahan,
panil dan bahan pembungkus.
105
Ciri-ciri khas organ vegetatip adalah sebagai berikut :
1. Bergetah bening, bila beroksidasi dan setelah kering akan menjadi damar. Warna damar
digunakan sebagai identifikasi jenis di lapangan seperti damar hitam, coklat, coklat tua,
coklat kekuningan (golongan meranti kuning), coklat pucat,
putih
susu
putih, putih bening ,
(golongan meranti putih), dan kuning, coklat kelabu, kuning
pucat,
kuning susu, cream, kram pucat, dan kuning kehijauan ( golongan meranti merah dan
balau).
2. Daun tunggal dalam kedudukan / susunan daun selang-seling ( berseling ).
3. Tangkai daun melengkung.
4. Bentuk daun bulat telur, bulat panjang / oblong, ellips dengan ujung runcing atau
meruncing.
5. Urat / tulang daun ke dua (sekunder) menyirip sempurna, dan urat ketiga (tertier)
bentuk tangga atau tangga jala.
6. Terdapat daun penumpu (Stipula) bentuk daun biasa
(berpasangan) tak bertangkai
berwarna hijau sampai merah-coklat, lama melekat pada ranting atau sebaliknya. Bentuk
daun penumpu
ada yang bulat, segitiga, oval, bulat panjang, atau bangun ginjal.
7. Permukaan bawah daun kebanyakan berbulu kasar, ada juga berbulu halus,
berwarna
hijau sampai coklat / coklat kekuningan / karat (warna tersebut tetap sampai daun
gugur).
8. Kulit batang ada yang licin, licin bergelang; licin bergelang dan bersisik; licin bergelang
dan retak ; licin kemudian bersisik; licin , beralur dangkal dan bersisik ; licin , beralaur
sedang dan bersisik; licin, bopeng dan bersisik ; licin, retak dan bersisik;
licin, retak
dan mengelupas menjadi sisik kecil; licin dan berssik dangkal ; licin , bersisik dangkal
dan berlentisel ; licin atau permukaan membusuk ;
retak; bersisik lunak;
beralur dangkal ;
bergelang tidak sambung ;
bersisik rapat merata dan retak-
beralur dangkal teratur ;
beralur dangkal
beralur dangkal dan bersisik ; beralur sedang ; beralur
lebar atau beralur rapat ; beralur bersisik dan retak bersisik.
9. Kulit dalam berserat atau berlapis. Warna kulit dalam kuning- coklat ; kuning pucat ;
coklat
kuning; coklat kekuningan ; coklat kuning pucat ; kream-kuning pucat ;
kream dan coklat ;
coklat muda ; coklat tua ; coklat merah ; coklat pucat ; coklat
106
merah jambu ; coklat merah
jambu pucat ; merah jambu ; merah jambu tua ; merah
pudar ; merah – coklat ; merah tua ;
trengguli ; kopi susu ; seperti kopi .
10. Banir biasanya mencolok dari rendah sampai tinggi yang merupakan
kelompok
ciri khas
Shorea.
Ciri-ciri khas organ generatip :
1.
Bunga / buah dalam susunan malai.
2.
Daun mahkota berwarna merah muda.
 Buah bersayap tiga besar dan dua kecil, sayap dipangkal melebar mencakup buah ; sayap
Dipangkal lepas satu sama lain.
Contoh kayu penting dari famili ini :
a. Balangeran ( Shorea balangeran)
b. Resak ( Vatica spp.)
c. Kamper ( Dryobalanops spp.)
d. Keruing ( Dipterocarpus indicus)
e. Meranti kuning, merah, dll ( Shorea spp.)
Pertanyaan :
1. Ada berapa genus pada famili Dipterocarpaceae ?
2. Ada berapa sub famili Dipterocarpaceae jelaskan dan sebutkan !
3. Produksi sampingan dari Dipterocarpaceae adalah…
4. Tipe buah Dipterocarpaceae adalah….
5. Sebutkan ciri khusus famili Dipterocarpaceae !
Acuan Pustaka
Ardiansyah, 2003. Kunci Identifikasi 57 Jenis Pohon Shorea spp. di Dareah Kalimantan Selatan.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA)
Samarinda. Departemen Kehutanan Republik Indonesia.
Ardiansyah, 2003. Kunci Identifikasi 80 Jenis Pohon Shorea spp. di Dareah Kalimantan Tengah.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA)
Samarinda. Departemen Kehutanan Republik Indonesia.
107
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH Freeman &
Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees. Schol
of Biological Sciense Univercity of Malaya.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book Company Inc.
New York.
http//Wikipedia. Berbagai macam Famili Tumbuhan Berkayu diunduh April 2012.
108
BAB XI. IDENTIFIKASI JENIS KOMERSIAL 2
(Apocynaceae, Sapotaceae, Euphorbiaceae, Moraceae)
Tujuan Pembelajaran Umum :
1.
Memahami ciri umum family Apocynaceae, Sapotaceae, Euphorbiaceae dan Moraceae
2.
Memahami jenis pohon komersial dari famili Apocynaceae, Sapotaceae, Euphorbiaceae
dan Moraceae serta mampu
mengenali kegunaan kayu komersial dari famili
Apocynaceae, Sapotaceae dan Euphorbiaceae.
3.
Mengetahui nama ilmiah pohon komersial dari famili Apocynaceae, Sapotaceae,
Euphorbiaceae dan Moraceae.
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1.
Mahasiswa mampu menunjukkan ciri umum untuk famili Apocynaceae, Sapotaceae,
Euphorbiaceae dan Moraceae yang bercirikan mempunyai getah putih.
2.
Mahasiswa mampu menyebutkan dan menjelaskan jenis pohon komersial dari famili
Apocynaceae, Sapotaceae, Euphorbiaceae dan Moraceae serta mampu
mengenali
kegunaan kayu komersial dari famili Apocynaceae, Sapotaceae dan Euphorbiaceae.
3.
Menghafal nama ilmiah pohon komersial kehutanan dari famili Apocynaceae,
Sapotaceae, Euphorbiaceae dan Moraceae.
Materi Pembelajaran
Keempat famili yang disajikan di bab ini adalah sama-sama mempunyai getah berwarna
putih susu namun mempunyai perbedaan mendasar diantara ketiganya baik dari tajuk, bentuk
daun, perbungaan maupun buah dan biji.
1. Famili Apocynaceae
Alyxia oliviformis
Wrightia antidysenterica
109
Merupakan kelompok tumbuhan yang mempunyai getah putih dengan system duduk daun
(filotaxis) berkarang dan berbunga bentuk tabung serta buah berbentuk jangkar dan mempunyai
1500 jenis dalam 424 genus. Apocynaceae merupakan tumbuhan bunga dalam bentuk pohon,
semak, herba maupun tumbuhan penutup tanah yang hidup di daerah tropis maupun subtropis
dan tumbuh alami di Eropa, Asia, Afrika, Australia dan Amerika. Beberapa species berpa pohon
tinggi tumbuh di hutan hujan tropis, beberapa tumbuh di hutan tropis kering dengan lingkungan
yang kering.
Beberapa jenis menghasilkan latex seperti pantung dan ada juga yang tidak berlatex namun
ciri lainnya cenderung seperti famili Apocynaceae seperti bunga Adenium (kamboja jepang).
Ada juga yang menghasilkan getah beracun.
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Gentianales
Famili
: Apocynaceae
Sinonim
:
o
Asclepiadaceae Borkh. (nom. cons.)
o
o
o
o
o
Periplocaceae Schltr. (nom. cons.)
Plumeriaceae Horan.
tapeliaceae Horan.
Vincaceae Vest
Willughbeiaceae J. Agardh
Sub Famili





:
Apocynoideae
Asclepiadoideae
Periplocoideae
Rauvolfioideae
Secamonoideae
110
Genus
 Acokanthera
 Aganonerion
 Aganosma
 Alafia
 Allamanda
 Allomarkgrafia
 Allowoodsonia
 Alstonia
 Alyxia
 Amalocalyx
 Ambelania
 Amsonia
 Ancylobotrys
 Anechites
 Angadenia
 Anodendron
 Apocynum
 Arduina
 Artia
 Asketanthera
 Aspidosperma
 Baissea
 Beaumontia
 Bousigonia
 Cabucala
 Callichilia
 Calocrater
 Cameraria
 Carissa
 Carpodinus
 Carruthersia
 Carvalhoa
 Catharanthus
 Cerbera
 Cerberiopsis
 Chamaeclitandra
 Chilocarpus
 Chonemorpha
 Cleghornia
 Clitandra
 Condylocarpon
 Couma
 Craspidospermum
:
 Adenium
 Crioceras
 Cycladenia
 Cyclocotyla
 Cylindropsis
 Delphyodon
 Dewevrella
 Dictyophleba
 Dipladenia
 Diplorhynchus
 Dyera
 Ecdysanthera
 Echites
 Elytropus
 Epigynium
 Eucorymbia
 Farquharia
 Fernaldia
 Forsteronia
 Funtumia
 Galactophora
 Geissospermum
 Gonioma
 Grisseea
 Gymnema
 Hancornia
 Haplophyton
 Himatanthus
 Holarrhena
 Hoya
 Hunteria
 Hymenolophus
 Ichnocarpus
 Isonema
 Ixodonerium
 Kamettia
 Kibatalia
 Kopsia
 Lacmellea
 Landolphia
 Laubertia
 Laxoplumeria
 Lepinia
 Lepiniopsis
 Leuconotis
 Lochnera
 Lyonsia
 Macoubea
 Macropharynx
 Macrosiphonia
 Malouetia
 Mandevilla
 Mascarenhasia
 Melodinus
 Mesechites
 Micrechtites
 Microplumeria
 Molongum
 Mortoniella
 Motandra
 Mucoa
 Neobracea
 Neocouma
 Nerium
 Nouettea
 Ochrosia
 Odontadenia
 Oncinotis
 Orthopichonia
 Pachypodium
 Pachouria
 Papuechites
 Parahancornia
 Parameria
 Parepigynum
 Parsonsia
 Peltastes
 Pentalinon
 Petchia
 Picralima
 Plectaneia
 Pleiocarpa
 Pleioceras
 Plumeria
 Pottsia
 Prestonia
 Pycnobotrya
 Quiotania
 Rauvolfia
 Rhabdadenia
 Rhazya
 Rhigospira
 Rhodocalyx
 Rhyncodia
 Saba
 Schizozygia
 Secondatia
 Sindechites
 Skytanthus
 Spirolobium
 Spongiosperma
 Stemmadenia
 Stephanostegia
 Stephanostema
 Stipecoma
 Strempeliopsis
 Strophanthus
 Tabernaemontan
 Tabernanthe
 Temnadenia
 Thenardia
 Thevetia
 Tintinnabularia
 Trachelospermum
 Urceola
 Urnularia
 Vahadenia
 Vallariopsis
 Vallaris
 Vallesia
 Vinca
 Voacanga
 Willughbeia
 Woytkowskia
 Wrightia
 Xylinabaria
 Xylinabariopsis
111
Sub family Asclepiadoideae








Araujia
Asclepias (subfamily Asclepiadoideae)
Caralluma
Ceropegia
Cionura
Cynanchum
Periploca (subfamily Periplocoideae)
Vincetoxicum
Wrightia tinctoria di Keesara, Andhra
Pradesh, India
Apocynoideae
Bunga Saba senegalensis, di Africa buahnya
bisa dimakan
Catharanthus pusillus
Vinca major, a popular garden plant
Cryptolepis buchananii
Holarrhena pubescens
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
a. Bergetah putih susu
b. Pertumbuhan ritmik
c. Bunga berbentuk terompet
d. Buah berbentuk jangkar, biji bersayap tunggal
e. Kayu keras
f. Batang halus tidak berbanir
112
Contoh kayu penting dari famili ini :
a. Jelutung (Dyera costulata)
b. Pulai (Alstonia scholaris)
c. Alamanda (Alamanda cathartica)
d. Pulai pandak (Kibatalia maingayi)
Jenis pada family Apocynaceae sebagian besar tumbuh di daerah tropis :
Hutan hujan tropis dan hutanrawa di Indomalaya tinggi mencapai 80 m. Di Australia
terdapat jenis Alstonia, Alyxia, Cerbera and Ochrosia. Di Afrika,dan India family
Apocynaceae berupa pohon yang lebih kecil yaitu Carissa, Wrightia and Holarrhena. Di
hutan tropis Amerika, Myanmar, Malaya banyak dijumpai jenis Rauvolfia, Tabernaemontana
and Acokanthera dan sebagainya.
Famili apocynaceae (dogbane family) berupa pohon, semak, herba maupun liana dengan
cirri khas bergetah putih, daun berkarang, bunga berbentuk terompet bisexual, buah berbentuk
tabung (jangkar), berry dan kapsul. Jenis komersial family ini adalah genus Alstonia, Dyera,
Carpodinus, Landolphia, Hancornia, Funtumia dan Mascarenhasia. Beberapa genus tanaman
hias dan ornament : Amsonia (bluestar), Nerium (oleander), Vinca (periwinkle), Carissa
(Natal plum, an edible fruit), Allamanda (golden trumpet), Plumeria (frangipani), Thevetia
(lucky nut), Mandevilla (Savannah flower), Adenium (desert-rose).
Beberapa genus yang biasa digunakan untuk obat antara lain Acokanthera, Apocynum,
Cerbera, Nerium, Thevetia dan Strophantus. Rauvolfia serpentina(Indian Snakeroot) sebagai
obat hipertensi dan Catharanthus roseus untuk obat kanker. Genus Apocynum yang
merupakan bahan serat yang hidup alami di Amerika. Sumber makanan Fernaldia pandurata
(common name: loroco) untuk masyarakat El Salvadorian dan Guatemala. Jenis popular
Apocynaceae di Kalimantan Tengah adalah pulai (Alstonia scholaris).
113
Gambar 28. Pulai (Alstonia scholaris)
Pulai merupakan family Apocynaceae yang banyak tumbuh di Kalimantan Tengah karena
tahan terhadap genangan air di hutan rawa. Pulai sering disebut kayu blackboard Indian devil
tree, ditabark, milkwood pine yang hidup alami di benua Amerika dan IndomalayaAustralasia. Kayu pulai baik digunakan untuk membuat pensil, di Bali merupakan kayu
keramat karena untuk membuat patung dewa.
Kolkata, West Bengal, India
Alstonia scholaris
114
Susunan Daun Pulai
Kulit kayu Pulai
Pulai merupakan pohon berbunga dengan tinggi lebih dari 40 meter. Kulit kayu tua berwarna
abu-abu dengan permukaan kulit berlenti sel. Daun mengkilat, berbentuk spatula dengan
tulang daun 25-50 pasang/lembaran daun.
Bunga mekar pada bulan Oktober berbau harum seperti bunga Cestrum nocturnum. Biji
berbentuk oval berbulu sangat ringan, dengan tipe buah tabung (jangkar) pecah saat buah
kering.
2. Famili Sapotaceae
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
a. Bergetah putih
b. Daun tunggal berbulu halus pada bagian bawah daun warna keputihan atau
kecoklatan/keemasan pada bagian bawah daun
c. Buah seperti sawo berdaging
d. Bunga aromatis
e. Buah batu cth Jati, buah sejati cth melina
f. kayu bertekstur halus dan kuat sehingga digunakan untuk membuat patung.
g. Batang halus tidak berbanir.
115
h. Penetralisir kadar timbal paling efektif sehingga digunakan untuk tanaman jalur
hijau)
Contoh kayu penting dari famili ini :
a. Genintru (Chryzophillum ceinito)
b. Sawo (Achras sapota)
c. Tanjung (Mimusops elengi)
d. Sawo kecik (Manilkara kauki)











Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Ericales
Famili
: Sapotaceae
Genus
:
Aningeria
Argania
Aubregrinia
Aulandra
Autranella
Baillonella
"Beccariella" Pierre (non Cesati:
preoccupied) (sometimes included in
Pouteria)
Boerlagella Cogn. (sometimes
included in Pouteria)
Breviea
Burckella
Capurodendron













Faucherea
Gluema
Inhambanella
Isonandra
Labourdonnaisia
Labramia
Lecomtedoxa
Leptostylis
Letestua
Madhuca
Manilkara
Mastichodendron
Micropholis
 Pichonia
 Planchonella Pierre (sometimes
included in Pouteria)
 Pouteria
 Pradosia
 Pycnandra
 Sarcaulus
 Sarcosperma
 Sersalisia R.Br. (sometimes
included in Pouteria)
 Sideroxylon
 Synsepalum
 Tieghemella
 Tridesmostemon
116









Chromolucuma
Chrysophyllum
Delpydora
Diploknema
Diploon
Eberhardtia
Ecclinusa
Elaeoluma
Englerophytum








Neohemsleya
Neolemonniera
Nesoluma
Niemeyera
Northia
Omphalocarpum
Palaquium
Payena
 Tsebona
 Van-royena Aubrév. (sometimes
included in Pouteria)
 Vitellaria
 Vitellariopsis
 Xantolis
Madhuca longifolia var. latifolia di Narsapur, Medak district, India.
Sapotaceae merupakan family tumbuhan bunga dengan ordo Aricales, terdiri dari 65 genus
dan 800 jenis yang tumbuh di daerah tropis. Banyak anggota family ini berguna untuk :
1. Sebagai penghasil buah seperti Manilkara (Sapodilla, Sapota), Chrysophyllum cainito
(Star-apple atau Golden Leaf Tree), Pouteria (Abiu, Canistel, Lúcuma, Mamey
sapote), Vitellaria paradoxa (Shea) and Sideroxylon australe (plum asli Australia).
Shea (Africa dan karité di Perancis; juga disebut Shea butter)
2. Menghasilkan minyak biji yang bernilai ekonomi seperti shea butter, di Marocco
untuk menghasilkan minyak makan Argania spinosa (L.).
3. Untuk kosmetik tradisional dan modern pada buah yang disebut miracle fruit
(Synsepalum dulcificum).
4. Penghasil getah perca genus Palaquium (Gutta-percha)
117
3. Famili Euphorbiaceae
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
a. Bergetah putih pada bark (kulit)
b. Daun majemuk menjari/ berkarang/tunggal
c. Bunga malai
d. Buah batu /kotak
e. Pertumbuhan cepat
f. Penghasil minyak pada biji
Contoh kayu penting dari famili ini :
e. Jarak (Ricinus comunis)
f. Karet (Hevea braziliensis)
g. Buah roda ( Jatropha gosilophia)
h. Kemiri (Elaiurites moluccana)
4. Famili Moraceae
Panama Rubber (Castilla elastica)
Moraceae merupakan keluarga Mulberry/Fig yang merupakan tumbuhan bunga terdiri atas
40 genus dan 1000 jenis. Famili ini mempunyai getah putih pada jaringan parenkimnya.
118
Klasifikasi Famili Moraceae :
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Rosales
Famili
:Moraceae
Sub Famili
: Artocarpeae; Castilleae; Dorstenieae; Ficeae; Moreae
Genus
:
Artocarpeae
 Artocarpus Breadfruit,
Jackfruit
 Batocarpus
 Clarisia
 Hullettia
 Parartocarpus
 Prainea
 Treculia
Ficeae
FicusFigtrees, Banyans
Castilleae
 Antiaris
 Antiaropsis
 Castilla
 Helicostylis
 Maquira
 Mesogyne
 Naucleopsis
 Perebia
 Poulsenia
 Pseudolmedia
 Sparattosyce
Dorstenieae
 BrosimumBreadnut
 Bosqueiopsis
 Dorstenia
 Helianthostylis
 Scyphosyce
 Trilepisium
 Trymatococcus
 Utsetela
Moreae
 Bagassa
 Bleekrodea
 Broussonetia
Paper Mulberry
 Fatoua
 Maclura Osageorange
 Milicia
 Morus mulberry
 Sorocea
 Streblus
 Trophis
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
a. Bergetah putih susu
b. Permukaan daun tunggal halus mengkilat dan kaku, daun oval
c. Bunga di ketiak daun
d. Buah sempurna kebanyakan steril
e. sebagai tanaman penyimpan air dan pelindung
f. Permukaan batang halus berbanir dan berakar tunjang (gantung)
Contoh kayu penting dari famili ini :
1. Beringin ( Ficus binyamina )
4. Cempedak ( Artocarpus cipedens)
2. Preh (Ficus elestica )
5. Nangka ( Artocarpus integra )
3. Pancasuda (Cecropia peltata )
6. Kluwih ( Artocarpus communis )
119
Pertanyaan :
1. Jenis komersial dari family Sapotaceae adalah….
2. Persamaan antara family Apocynaceae, Moraceae, Euphorbiaceae dan Sapotaceae.
3. Jenis pohon yang merupakan penghasil kayu untuk patung adalah famili ....
4. Ciri khas famili Apocynaceae adalah…
5. Jenis penghasil getah perca adalah….
Acuan Pustaka
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH Freeman &
Company. San Fransisco London.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia Jakarta.
http//Wikipedia. Berbagai macam Famili Tumbuhan Berkayu diunduh April 2012.
120
BAB XII IDENTIFIKASI JENIS KOMERSIAL 3
(Verbenaceae, Myrtaceae)
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Mengenal cirri umum famili Verbenaceae dan Myrtaceae
2. Memahami cara menghafal dan mengenal nama ilmiah pohon komersial kehutanan
dari famili Verbenaceae dan Myrtaceae
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Mahasiswa mampu
menunjukkan
ciri
umum
untuk
famili Verbenaceae dan
Myrtaceae
2. Mahasiswa mampu menjelaskan dan membedakan jenis pohon komersial dari famili
Verbenaceae dan Myrtaceae
3. Mahasiswa mampu
mengenali kegunaan kayu komersial dari famili Verbenaceae
dan Myrtaceae
Materi Pembelajaran
1. Famili Verbenaceae
Lantana camara (Tembelekan)
Golden Dew Drops (Duranta erecta)
Frog fruit (Phyla nodiflora)
Klasifikasi untuk Famili Verbenaceae :
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Lamiales
121
Famili
: Verbenaceae, sinonim : Durantaceae dan Petreaceae
Genus
: ada 35 macam
 Nashia Millsp.
 Neosparton Griseb.
 Parodianthus Tronc.
 Petrea L. – sandpaper vines
 Phyla Lour. – fogfruits
 Pitraea Turcz.
 Priva Adans.
 Recordia Moldenke
 Rehdera Moldenke
 Rhaphithamnus Miers
 Stachytarpheta Vahl
 Stylodon Raf.
 Tamonea Aubl.
 Ubochea
 Urbania
 Verbena L.verbenas/vervains
 Verbenoxylum Tronc.
 Xeroaloysia Tronc.
 Xolocotzia Miranda
 Acantholippia Griseb.
 Aloysia Palau beebrushes
 Baillonia Bocq.
 Bouchea Cham.
 Burroughsia
 Casselia Nees & Mart.
 Chascanum E.Mey
 Citharexylum L. – Fiddlewoods
 Coelocarpum Balf.f.
 Diostea Miers
 Dipyrena Hook.
 Duranta L.
 Glandularia J.F.Gmel.
 Hierobotana Briq.
 Junellia Moldenke
 Lampayo F.Phil. ex Murillo
 Lantana L. – shrub verbenas, lantanas
 Lippia L.
 Mulguraea N.O’Leary & P.Peralta
 Chloanthes R.Br. → Lamiaceae
 Clerodendrum L. → Lamiaceae
 Congea Roxb. → Lamiaceae
 Cornutia L. → Lamiaceae
 Cyanostegia Turcz. → Lamiaceae
 Cyclocheilon Oliv. → Orobanchaceae
 DicrastylisJ.Drumm.exHarv.→Lamiaceae
 Dimetra Kerr → Oleaceae
 Discretitheca P.D.Cantino → Lamiaceae
 Euthystachys A.DC. → Stilbaceae
 Faradaya F.Muell. → Lamiaceae
 Garrettia H.R.Fletcher → Lamiaceae
 Glossocarya Wall. ex Griff. → Lamiaceae
 Gmelina L. → Lamiaceae
 Hemiphora(F.Muell.)F.Muell→ amiaceae
 Holmskioldia Retz. → Lamiaceae
 Hosea Ridl. → Lamiaceae
 HymenopyramisWall.exGriff.→Lamiaceae
 Kalaharia Baill. → Lamiaceae
 Karomia Dop → Lamiaceae
 Lachnostachys Hook. → Lamiacae
 Amasonia L.f. Lamiaceae
 Asepalum Marais → Orobanchaceae
 Avicennia L. → Acanthaceae
 Brachysola(F.Muell.)Rye→ Lamiaceae
 Callicarpa L. → Lamiaceae
 Campylostachys Kunth → Stilbaceae
 Caryopteris Bunge → Lamiaceae
122
Verbenaceae umumnya dikenal dengan famili Verbena atau vervain family, yang umum
didominasi oleh tumbuhan bunga daerah tropis.baik berupa pohon, semak maupun herba dengan
bau aromatic. Dahulu dikenal dengan nama family Lamiaceae yang dipersempit menjadi family
Verbenaceae dengan anggota 35 genus and 1,200 species. Vegetasi mangrove dari family ini
adalah genus Avicennia, terkadang disebut juga dengan istilah family Avicenniaceae, atau
Acanthaceae.
Verbenaceae yang banyak tumbuh di hutan dataran rendah dan peralihan hutan dataran
rendah dan gambut untuk jenis kayu komersial antara lain sungkai (Peronema canescens) dan
kalapapa/laban (Vitex pubescens), sedangkan dalam bentuk herba dan semak sangat beragam
yang biasa dimanfaatkan untuk obat herbal.
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
1.
Bentuk penampang melintang tunas muda berbentuk kotak
2.
Daun tunggal/majemuk dengan permukaan daun berbulu kasar, memiliki domatia,
daun bentuk bulat atau oval menuju bulat dan bersayap daun
3.
Duduk daun berhadapan
4.
Bunga majemuk terletak diujung / pucuk (axilary) dan ada juga yang di ketiak daun
seperti Melina.
5.
Bunga berrbentuk tabung yang tersusun dalam bentuk kerucut diujung tangkai
6.
Buah batu contoh Jati, buah sejati contoh melina
7.
kayu keras
8.
Batang halus tidak berbanir
9.
Tajuk bulat
Contoh kayu penting dari famili ini di Indonesia :
1. Jati (Tectona grandis, L)
2. Melina (Gmelina arborea )
3. Sungkai (Peronema canescens )
4. Kalapapa/laban (Vitex pubescens)
5. Senggugu ( Clerodendron spp.) utk obat gurah
6. Lemon Verbena (Aloysia triphylla) daunnya untuk bumbu/ penyedap masakan
7. Verbenas or vervains (Verbena), untuk herbalism, tumbuh sebagai herba di lahan
budidaya.
123
2. Famili Myrtaceae
Melaleuca leucadendron (Galam) merupakan jenis Myrtaceae yang popular di rawa gambut
Famili Myrtaceae mendominasi hutan tropis terutama rawa gambut dengan populasi jenis
yang melimpah karena tahan genangan dan mampu beradaptasi di tanah dengan pH rendah
seperti Tabati, jambu-jambu, kayu pelawan, galam, duwet dan sebagainya yang merupakan
genus Syzigium, Eugenia, Psidium, Melaleuca dan sebagainya. Selain hasil kayunya, famili
Myrtaceae juga menghasilkan produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti minyak atsiri,
buah, dan obat-obat herbal tradisional juga dihasilkan dari organ famili Myrtaceae terutama
daun. Sebagian besar merupakan jenis pioner hutan rawa gambut.
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
a. Kulit batang mengelupas tipis dan parah berwarna coklat, keputihan atau doreng
(E.deglupta)
b. Permukaan daun atas mengkilat sedangkan bagian bawah berbulu halus, daun bentuk
bulat menuju oval, lanset, berbau aromatis (gondopuro)
c. Daun mempunyai kelenjar minyak atsiri yang bersifat aromatis
d. Bunga di ketiak daun warna putih dengan benagsari mengumpul banyak membentuk
warna putih pada bunga dan berbentuk malai.
e. Buah kotak
f. kayu lunak untuk kertas
g. Batang tidak berbanir
124
Famili Myrtaceae terdiri atas ordo terkenal antara lain Myrtales. Myrtle, clove, guava, feijoa,
allspice, and eucalyptus yang merupakan tumbuhan kayu. Ciri khusus family ini adalah jaringan
angkut (phloem) terletak diantara jaringan kayu (xylem). Daun selalu hijau tidak ada musim
gugur, terletak alternate dan cenderung opposite (berhadapan). Bunga terdiri atas 5 lembar
mahkota bunga dengan benangsari berjumlah banyak, menonjol dan berwarna cerah. Myrtaceae
terdiri atas 130-150 genus dan 5650 jenis (Govaerts et al. 2008). Genus dengan buah kotak
seperti Eucalyptus, Corymbia, Angophora, Leptospermum, Melaleuca, Metrosideros di Amerika
sejenis dengan genus Tepualia di Chili dan Argentina. Eucalyptus adalah jenis yangt dominan di
banyak tempat di Australia dan secara sporadic di Philipina seperti Eucalyptus regnans yang
merupakan pohon bunga tertinggi di dunia. Genus penting di Australia antara lain Callistemon
(bottlebrushes), Syzygium, and Melaleuca (paperbarks). Genus Osbornia, asli Australia
merupakan tumbuhan mangrove. Eugenia, Myrcia, dan Calyptranthes merupakan genus pada
daerah neotropik.
Gambar 29. Buah Famili Myrtaceae
Syzygium samarangense, Jambu air anggota Myrtaceae
Klasifikasi untuk Famili Myrtaceae :
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Myrtales
Famili
: Myrtaceae
125
Genus
 Acca
 Accara
 Acmena
 Acmenosperma
 Actinodium
 Agonis
 Algrizea
 Allosyncarpia
 Amomyrtella
 Amomyrtus
 Angasomyrtus
 Angophora
 Archirhodomyrtus
 Arillastrum
 Astartea
 Asteromyrtus
 Austromyrtus
 Babingtonia
 Backhousia
 Baeckea
 Balaustion
 Barongia
 Basisperma
 Beaufortia
 Blepharocalyx
 Callistemon
 Calothamnus
 Calycolpus
 Calycorectes
 Calyptranthes
 Calyptrogenia
 Calythropsis
 Calytrix
 Campomanesia
 Carpolepis
 Chamelaucium
 Chamguava
 Cheyniana
 Choricarpia
 Cleistocalyx
 Cloezia
 Conothamnus
 Corymbia
 Corynanthera
 Cupheanthus
 Curitiba
 Darwinia
 Decaspermum
: ada 130 macam yaitu :
 Eremaea
 Eucalyptopsis
 Eucalyptus
 Eugenia
 Feijoa (syn. Acca)
 Gomidesia
 Gossia
 Harmogia
 Hexachlamys
 Homalocalyx
 Homalospermum
 Homoranthus
 Hottea
 Hypocalymma
 Kanakomyrtus
 Kania
 Kardomia
 Kjellbergiodendron
 Kunzea
 Lamarchea
 Legrandia
 Lenwebbia
 Leptospermum
 Lindsayomyrtus
 Lithomyrtus
 Lophomyrtus
 Lophostemon
 Luma
 Lysicarpus
 Mallostemon
 Marlierea
 Melaleuca
 Meteoromyrtus
 Metrosideros
 Micromyrtus
 Mitranthes
 Mitrantia
 Monimiastrum
 Mosiera
 Myrceugenia
 Myrcia
 Myrcianthes
 Myrciaria
 Myrrhinium
 Myrtastrum
 Myrtella
 Myrteola
 Myrtus
 Neofabricia
 Neomitranthes
 Neomyrtus
 Ochrosperma
 Octamyrtus
 Osbornia
 Paramyrciaria
 Pericalymma
 Phymatocarpus
 Pileanthus
 Pilidiostigma
 Piliocalyx
 Pimenta
 Pleurocalyptus
 Plinia
 Pseudanamomis
 Psidium
 Purpureostemon
 Regelia
 Rhodamnia
 Rhodomyrtus
 Rinzia
 Ristantia
 Sannantha
 Scholtzia
 Seorsus
 Siphoneugena
 Sphaerantia
 Stereocaryum
 Stockwellia
 Syncarpia
 Syzygium
 Taxandria
 Tepualia
 Thaleropia
 Thryptomene
 Tristania
 Tristaniopsis
 Ugni
 Uromyrtus
 Verticordia
 Waterhousea
 Welchiodendron
 Whiteodendron
 Xanthomyrtus
 Xanthostemon
126
Contoh kayu penting dari famili ini di Indonesia :
1.
Leda(Eucalyptus deglupta)
7.
Kelor merah ( Tristania maingaiyi )
2.
Ampupu (Eucalyptus urophylla)
8.
Galam (Melaleuca leucadendron)
3.
Eukaliptus( Eucalyptus alba )
9.
Kayu putih (Melaleuca cajuputi)
4.
Eukaliptus ( Eucalyptus grandiss)
10. Cengkeh (Eugenia aromatica)
5.
Varietas hibrid Eucalyptus urograndis)
11. Jambu air (Eugenia aquatica)
6.
Kayu loso ( Metroxiderus petiolata )
Pertanyaan :
1.
Sebutkan jenis pohon komersial dari famili Verbenaceae yang terdapat di Palangka Raya!
2.
Sebutkan ciri khusus family Verbenaceae!
3.
Sebutkan jenis pohon komersial dari famili Myrtaceae yang terdapat di Palangka Raya!
4.
Sebutkan ciri khusus family Myrtaceae!
5.
Myrtaceae mempunyai cirri khusus pada daun… dan kulit…
Acuan Pustaka
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH Freeman &
Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees. Schol
of Biological Sciense Univercity of Malaya.
Govaerts, R. et al. (12 additional authors). 2008. World Checklist of Myrtaceae. Royal Botanic
Gardens, Kew. xv + 455 pp.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book Company Inc.
New York.
http//Wikipedia. Berbagai macam Famili Tumbuhan Berkayu diunduh April 2012.
127
BAB XIII. IDENTIFIKASI JENIS KOMERSIAL 4
(Anacardiaceae, Lauraceae, Thymeliaceae)
Tujuan Pembelajaran Umum :
1.
Mengenal cirri umum famili Anacardiaceae, Lauraceae dan Thymeliaceae
2.
Memahami, mengenali dan menghafal nama ilmiah pohon komersial kehutanan dari
famili Anacardiaceae, Lauraceae dan Thymeliaceae
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1.
Mahasiswa mampu menunjukkan ciri umum untuk famili Anacardiaceae, Lauraceae dan
Thymeliaceae
2.
Mahasiswa mampu menyebutkan dan membedakan jenis pohon komersial dari famili
Anacardiaceae, Lauraceae dan Thymeliaceae
3.
Mahasiswa mampu mengenali kegunaan kayu komersial dari famili Anacardiaceae,
Lauraceae dan Thymeliaceae.
Materi Pembelajaran
1. Famili Anacardiaceae
Lannea grandis di Banten, Indonesia
Anacardiaceae atau family cashew atau sumac family) adalah family dari tumbuhan bunga
dengan buah semu yang diproduksi oleh tangkai buah. Anacardiaceae merupakan jenis komersial
terutama untuk diambil hasil hutan bukan kayunya (HHBK) dari genus Anacardium, sedangkan
untuk diambil buahnya dari genus mangifera, poison ivy, sumac, smoke tree, dan marula. Di
kalimantan Tengah terdapat pohon rengas/jingah (Gluta rengas) yang tumbuh di sepanjang
128
aliran sungai merupakan anggota family Anacardiaceae dari genus Gluta dan yang hidup sebagai
pionir di hutan dataran rendah seperti gandaria, binjai, kasturi (genus Mangifera) dan sebagai
pionir hutan rawa gambut yaitu terentang (Campnosperma spp.)
Pohon dengan kandungan racun, ada yang mengandung resin dan getah. Lokasi saluran
resin yang akan terbentuk di batang, akar dan daun sebagai ciri khas famili ini. Saluran resin
berada di jaringan gabus pada jambu mete dan beberapa jenis lainnya di kulit dan kortek primer.
Pada beberapa jenis mengandung tanin. Kayu Anacardiaceae mempunyai celah pada jaringan
vesselnya dalam parenkimnya sehingga akan timbul bunyi mendesis jika batang dilukai seperti
pada terentang (Campnosperma spp.). Duduk daun berhadapan (opposite) dan tanpa stipula.
Bunga majemuk pada ujung tangkai (axilary). Sistem perbungaan bisexual dan merupakan bunga
sempurna. Kelopak 3-7 lembar tanpa mahkota bunga, benang sari sama dengan jumlah mahkota
berbentuk lempeng dengan putik ditengahnya. Buah jarang terlihat masak karena rontok. Kulit
biji sangat tipis dan keras, tanpa endosperma dan mempunyai kotyledone yang besar dengan satu
embrio di dalamnya.
Famili Anacardiaceae sangat melimpah keberadaannya di daerah tropis dan hanya sebagian
kecil yang berada di daerah subtropics.Sebagian besar hidup alami di hutan tropis Amerika,
Afrika, dan India. Genus Pistacias dan beberapa jenis Rhus ditemukan di Eropa. Jenis Rhus
banyak dijumpai di Amerika Utara dan Schinus khusus tumbuh di Amerika Selatan.
Produk yang dihasilkan dari famili ini adalah produk hasil hutan bukan kayu seperti kacang
mete (cashew) dan pistacia, buah-buahan seperti mangga, kedondong, gandaria, kasturi, binjai
dan buah marula. Produk kayunya dari jenis Rengas dan Terentang.
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
1. Bergetah coklat ada yang bersifat gatal jika terkena kulit (rengas)
2. Daun tunggal
3. Bunga berbentuk tabung yang tersusun dalam bentuk malai
4. Buah semu pada jambu monyet dan sejati pada mangga
5. kayu keras
6. Berbanir/tidak
129
Klasifikasi untuk famili Anacardiaceae :
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Sapindales
Famili
: Anacardiaceae
Genus
:
 Actinocheita
 Anacardium (Cashew)
 Androtium
 Antrocaryon
 Apterokarpos
 Astronium/Myracrodruon
 Baronia
 Bonetiella
 Bouea
 Buchanania
 Campnosperma
 Cardenasiodendron
 Choerospondias
 Comocladia
 Cotinus (Smoke tree)
 Cyrtocarpa
 Dracontomelon
 Drimycarpus
 Ebandoua
 Euleria
 Euroschinus
 Faguetia
 Fegimanra
 Gluta
 Haematostaphis
 Haplorhus
 Harpephyllum
 Heeria
 Holigarna
 Koordersiodendron
 Lannea
 Laurophyllus
 Lithraea
 Loxopterigium
 Loxostylis
 Malosma
 Mangifera (Mango)
 Mauria
 Melanochyla
 Metopium
 Micronychia
 Montagueia
 Mosquitoxylum
 Nothopegia
 Ochoterenaea
 Operculicarya
 Ozoroa
 Pachycormus
 Parishia
 Pegia
 Pentaspadon
 Pistacia (Pistachio)
 Pleiogynium
 Poupartia
 Protorhus
 Pseudoprotorhus
 Pseudosmodingium
 Pseudospondias
 Rhodosphaera
 Rhus (Sumac)
 Schinopsis
 Schinus (Peppertree)
 Sclerocarya (Marula)
 Semecarpus
 Smodingium
 Solenocarpus
 Sorindeia
 Spondias
 Swintonia
 Tapirira
 Thyrsodium
 Toxicodendron (Poison Ivy,
Poison Oak, Poison Sumac)
 Trichoscypha
Contoh kayu penting dari famili ini di Indonesia :
1. Rengas (Gluta rengas)
5. Gandaria ( Mangifera spp.)
2. Mangga (Mangifera indica)
6. Kasturi (Mangifera kasturi)
3. Terentang (Campnosperma longifolia)
7. Jambu monyet (Anacardium occidental)
4. Binjai (Mangifera spp.)
130
2. Famili Lauraceae
Litsea glutinosa
Flora de Filipinas,
Filipinas 1880-1883, by Francisco Manuel Blanco
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Laurales
Laura
Famili
: Lauraceae
Laur
Genus
:
 Actinodaphne
 Aiouea
 Alseodaphne
 Aniba
 Apollonias
 Aspidostemon
 Beilschmiedia
 Caryodaphnopsis
 Cassytha
 Chlorocardium
 Cinnadenia
 Cinnamomum
 Cryptocarya
 Dehaasia
 Dicypellium
 Dodecadenia
 Endiandra
 Endlicheria
 Eusideroxylon
 Gamanthera
 Hexapora
 Hufelandia
 Hypodaphnis
 Iteadaphne
 Kubitzkia
 Laurus
 Licaria
 Lindera
 Litsea
 Machilus
 Malapoenna
 Mezilaurus
 Misanteca
 Mocinnodaphne
 Mutisiopersea
 Nectandra
 Neocinnamomum
 Neolitsea
 Notaphoebe
 Nothaphoebe
 Ocotea
 Oreodaphne
 Parasassafras
 Parthenoxylon
 Paraia
 Persea
 Phoebe
 Phyllostemonodaphne
 Pleurothyrium
 Polyadenia
 Potameia
 Potoxylon
 Povedadaphne
 Ravensara
 Rhodostemonodaphne
 Sassafras
 Schauera
 Sextonia
 Sinopora
inopora
 Sinosassafras
 Syndiclis
 Tetranth
Tetranthera
 Tylostemon
 Umbellularia
 Urbanodendron
 Williamodendron
131
Famili lauraceae terdiri atas 3000 jenis tumbuhan bunga dalam 50 genus. Kebanyakan
merupakan tumbuhan daerah subtropics dan tropis Asia Tenggara dan Amerika Selatan.
Dikenal dengan famili dominan pada habitat Laurel forest. Sebagian bersifat aromatik.
Genus Cassytha merupakan genus yang bersifat parasit.
Cinnamomum tamala(Malabathrum/ Tejpat)
Lindera melissifolia.
Lindera triloba
Ocotea obtusata
Kelompok famili Lauraceae yang bernilai komersial antara lain :

Penghasil minyak essential untuk parfum

Herba sebagai penghasil racun (irritant atau cairan racun) seperti Cassytha spp.

Penyedap masakan (rempah-rempah seperti kayu manis (Cinnamomum spp.)

Buah-buahan seperti Alpokat (Persea Americana)

Kayu Ulin / besi (Eusyderoxylon zwageri)

Tumbuhan obat
Penyebaran benih pada family ini dilakukan oleh primate, jenis hewan pengerat dan ikan
khusus untuk yang bertipe penyebaran hidrochory. Daun dengan domatia pada berkas
pembuluh. Pada jenis Ocotea menjadi sarang semut baik di daun maupun lubang-lubang
batang hingga melakukan simbiosis dengan tumbuhan seperti gaharu. Pohon menduduki
lapisan dominan pada hutan hujan tropis maupun hutan laurel. Pada daerah rawa juga
terdapat jenis famili ini yang beradaptasi dengan membentuk pneumatophora.
132
3. Famili Thymeliaceae
Jenis populer famili ini adalah Ramin (Gonystylus spp.) adalah salah satu jenis pohon
yang tumbuh di hutan alam rawa. Di Indonesia, saat ini jenis kayu Ramin hanya dapat
dijumpai di kawasan hutan rawa pulau Sumatera. Kepulauan selat Karimata, dan
Kalimantan. Di Pulau Sumatera, jenis kayu ramin dijumpai di kawasan sebelah timur mulai
dari Riau hingga Sumatera Selatan. Di pulau Kalimantan, kayu jenis ramin dapat dijumpai di
wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan sedikit di Kalimantan Timur.
Kayu jenis ramin telah sejak lama dikenal sebagai penghasil produk kayu komersial dan
memiliki harga jual yang cukup mahal sehingga digolongkan dalam kategori kayu indah.
Penampakan fisik jenis ramin yang bertekstur halus membuat jenis ini cukup digemari di
pasar kayu Internasional. Harga jual dari produk jadi kayu ramin di pasar internasional
hingga saat ini telah mencapai US $ 1.000 per meter kubik. Produk yang dihasilkan
umumnya berbentuk kayu olahan (sawn timber), produk setengah jadi (moulding), dowels)
dan produk jadi (furniture, window blinds, snooker cues).Negara pengimpor jenis kayu ini
antara lain Italia, Amerika Serikat, Taiwan, Jepang, China, dan Inggris. Tingginya harga jual
dan besarnya kebutuhan pasar terhadap jenis kayu ini ternyata membuat maraknya kegiatan
Ramin. Ramin penebangan di kawasan hutan rawa gambut.
Setelah menjadi andalan dari perusahaan HPH hutan rawa tahun 1990-an, dalam
beberapa tahun belakangan ramin juga telah menjadi incaran aktivitas illegal logging. Sejak
tahun 1998 aktivitas Illegal logging telah teridentifikasi menjadi semakin marak dan kayu
ramin menjadi salah satu kayu terpopuler yang menjadi incaran para penebang di Sumatera
danKalimantan. Bahkan pada tahun 1999, aktivitas illegal logging di kawasan Taman
Nasional Tanjung Puting volume penebangan ilegal kayu ramin mencapai 5.000 m3 setiap
minggunya. Angka ini sebanding dengan angka produksi tahunan sebuah perusahaan HPH
penghasil ramin di Riau, PT Diamond Raya Timber (PT. DRT).
Penebangan jenis kayu ramin secara ilegal tidak hanya dijumpai di TN Tanjung Puting
saja melainkan telah menjalar ke beberapa kawasan konservasi hutan rawa gambut.
Sementara data tentang berapa besar volume kayu ramin yang telah diperdagangkan dan
diekspor dari Indonesia secara ilegal tidak ada orang yang tahu. Yang jelas sampai saat ini
kayu ramin ilegal yang berasal dari Indonesia masih beredar di pasar-pasar internasional.
Padahal sejak pertengahan dekade 90-an jenis kayu ramin telah dinyatakan langka. Ancaman
133
kepunahan terhadap jenis kayu ramin dengan maraknya aktivitas illegal logging yang telah
merambah ke kawasan konservasi serta adanya tekanan tekanan dari organisasi
Pertanyaan :
1. Apakah cirri khusus suatu pohon masuk dalam family Lauraceae
2. Apakah cirri khusus suatu pohon masuk keluarga Anacardiaceae
3. Keluarga/family Anacardiaceae yang merupakan kayu komersial antara lain …
4. Keluarga/family Lauraceae yang merupakan kayu komersial antara lain …
5. Keluarga/family Thymeliaceae yang merupakan kayu komersial antara lain …
Acuan Pustaka
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH Freeman &
Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees. Schol
of Biological Sciense Univercity of Malaya.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book Company Inc.
New York.
http//Wikipedia. Berbagai macam Famili Tumbuhan Berkayu diunduh April 2012.
134
BAB XIV. IDENTIFIKASI JENIS KOMERSIAL 5
(Leguminosae)
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Mengenal cirri umum famili Leguminosae
2. Memahami nama ilmiah pohon komersial kehutanan dari famili Leguminosae
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Mahasiswa mampu menunjukkan ciri umum untuk famili Leguminosae
2. Mahasiswa mampu mennyebutkan jenis pohon komersial dari famili Leguminosae
3. Mahasiswa mampu menyebutkan kegunaan kayu komersial dari famili Leguminosae
Materi Pembelajaran
Famili Leguminosae
Kudzu (Pueraria lobata)
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
1.
Daun majemuk menyirip
2.
Bersimbiosis mutualisme pada akarnya dengan bakteri Rhizobium spp.dalam fiksasi
unsur N.
3.
Bunga berbentuk kupu-kupu yang tersusun dalam bentuk malai maupun bonggol
seperti putri malu (Mimosa pudica) dan petai (Parkea roxburghi) terletak axilary
maupun terminalis.
4.
Buah berbentuk polong atau buah bersayap tunggal sono kembang (Pterocarpus
indicus)
5.
Cepat tumbuh
6.
Merupakan materi untuk pembuatan pupuk hijau karena daun mudah terdekomposisi.
135
7.
Pada beberapa spesies cenderung membentuk filodia (daun semu)seperti pada Acacia
mangium/ acacia auriculiformis.
8.
Terbagi atas 3 sub famili yaitu Mimosacideae (seperti sengon), Papilionidaeae (seperti
sono keling), dan Caesalpineadeae (seperti secang)
Contoh kayu penting dari famili ini :
1. Sengon (Falcataria moluccana)
7. Johar (Cassia siamea)
2. Acacia mangium/ A. auriculiformis.
8. Trengguli (Cassia fistula)
3. Acacia decuren
9. Flamboyan (Delonix regia)
4. Sono keling (Dalbergia latifolia)
10. Secang ( Caesalpinea sappan)
5. Petai (Parkea roxburghi)
11. Kempas ( Kompasia malacensis)
6. Asam jawa (Tamarindus indicus)
Klasifikasi untuk Famili Leguminosae :
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Fabales
Famili
: Fabaceae/Leguminosae
Sub Famili
: Caesalpinioideae; Mimosoideae; Papilionideae/Faboideae
Genus
:
Acacia baileyana (Wattle)
Calliandra emarginata
Dichrostachys cinerea
Sickle Bush
Desmodium gangeticum
Indigofera gerardiana
Alysicarpus vaginalis
Lathyrus odoratus
Inflorescence Lupinus
arboreus
136
Pisum sativum (Peas)
Trifolium repens di
India.
Gymnocladus dioicus
Zornia gibbosa
Smithia conferta
Ciri khusus tiap sub family antara lain :

Mimosoideae: 80 genus dan 3,200 jenis. Sebagian besar hidup di iklim tropis pada suhu
udara yang panas seperti Asia Amerika dan Afrika.Contoh : Mimosa, Acacia.

Caesalpinioideae: 170 genus dan 2,000 jenis di daerah cosmopolitan. Contoh :
Caesalpinia, Senna, Bauhinia, Amherstia.

Faboideae: 470 genus dan 14,000 jenis di daerah cosmopolitan. Contoh : Astragalus,
Lupinus.
Famili Fabaceae atau Leguminosae, yang umumnya dikenal dengan nama famili
legume, pea, kacang-kacangan/polong-polongan atau bean, adalah family yang beranggota
banyak dengan multiple guna baik untuk kayu pertukangan, tanaman penghijauan, bahan
makanan dan bahan bangunan yang merupakan keluarga famili terbesar ketiga setelah
Orchidaceae dan Asteraceae dengan 730 genus19.400 jenis. Genus terbesar adalah
Astragalus (lebih dari 2,400 species), Acacia (lebih dari 950 species), Indigofera (lebih dari
700 species), Crotalaria (± 700 species), dan Mimosa (± 500 species).
Leguminosae mampu tumbuh di berbagai tipe iklim di bumi baik tropis basah, kering
maupun di daerah subtropics. Beberapa jenis leguminosae penting untuk budidaya tanaman
antara lain :Glycine max (kedelai), Phaseolus (beans), Pisum sativum (capri), Cicer arietinum
(chickpeas), Medicago sativa (alfalfa), Arachis hypogaea (kacang tanah), Ceratonia siliqua
(carob), dan Glycyrrhiza glabra (licorice).
Leguminosae dalam bentuk pohon dan mempunyai kualitas kayu yang bagus antara lain
kayu kompas, sono keling. Kebanyakan merupakan jenis pohon penghijauan karena cepat
tumbuh bersimbiosis mutualisme dengan bakteri N dalam menjerap unsure hara tanah dan
137
mampu bertahan di kondisi yang ekstrim seperti trembesi, sengon, alfalfa. Ciri khas daun
family Leguminosae adalah majemuk menyirip baik ganda maupun ganjil, berbunga kupukupu dan berbuah polong/papan seperti petai.
Gambar 30. Perbungaan Famili Leguminosae
Wisteria sinensis, Faboideae
Subfamili Leguminosae dibedakan menurut tipe perbungaannya :
 Caesalpinioideae bunga zygomorphic contoh pada Bauhinia purpuera, dengan benang
sari menonjol ke atas lebih panjang satu dengan lainnya. Inflorescensia indeterminate.
 Mimosoideae, bunga actinomorphic tersusun dalam bentuk bunga bonggol seperti bola
(globose inflorescences). Benang sari menonjol membentuk koloni bunga menyerupai
bola dan berwarna mencolok disbanding mahkota bunganya.
 Faboideae, bunga zygomorphic, dengan struktur khusus. Terdapat 2 daun mahkota yang
lebih tinggi sebagai penopang lebih besar dari lainnya Jumlah benang sari 10 buah
dengan bentuk bunga asimetris.
138
Gambar 31. Buah Polong pada Leguminosae
Vicia angustifolia
Keberadaan family Leguminosae mempunyai multifungsi antara lain :

Penghasil bahan bangunan seperti kayu kompas, sono keeling

Media penyuply unsure hara dengan sifat khusunya yang mampu bersimbiosis
dengan bakteri N

Penghasil bahan makanan sumber protein nabati

Sumber obat alami seperti alfalfa untuk membuat produk larutan kesehatan
(Klorophil) dan asam jawa untuk obat tradisional

Sebagai tanaman hias seperti Laburnum, Robinia, Gleditsia, Acacia, Mimosa, dan
Delonix dan herba

Penghasil kertas seperti akasia

Sarana untuk memproduksi madu alam pada tegakan akasia.

Sumber makanan ternak seperti lamtoro

Alat untuk rehabilitasi lahan kritis karena kandungan zat lemas pada akar tanaman
famili Leguminosae.
139
Pertanyaan :
1. Apakah cirri khusus suatu pohon masuk dalam family Leguminosae
2. Jenis komersial family Leguminosae adalah…
3. Keistimewaan Leguminosae dalam mengubah tanah tandus adalah...
4. Sebutkan sub family Leguminosae!
5. Arti Leguminosae adalah…
Acuan Pustaka
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH Freeman &
Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees. Schol
of Biological Sciense Univercity of Malaya.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book Company Inc.
New York.
http//Wikipedia. Berbagai macam Famili Tumbuhan Berkayu diunduh April 2012.
140
BAB XV. IDENTIFIKASI JENIS KOMERSIAL 6
(JENIS-JENIS POHON DI KALIMANTAN TENGAH)
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Mengenal cirri umum beberapa famili pohon di Kalimantan Tengah
2.
Memahami, mengenali danMenghafal nama ilmiah pohon komersial kehutanan beberapa
famili pohon di Kalimantan engah
Tengah Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Mahasiswa mampu menunjukkan ciri umum untuk beberapa famili pohon di Kalimantan
Tengah
2. Mahasiswa mampu mengenali jenis pohon komersial beberapa famili pohon Kalimantan
Tengah
3. Mahasiswa mampu
mengenali kegunaan kayu komersial beberapa famili pohon
Kalimantan Tengah
Materi Pembelajaran
1. Famili Meliaceae
Melia azedarach
Chinese Rice Flower (Aglaia odorata)
Meliaceae atau dikenal dengan keluarga Mahagoni adalah tumbuhan bunga sebagian
besar berbentuk pohon, herba termasuk mangrove. Bertajuk hijau sepanjang tahun, namun
sebagian melakukan pengguguran daun di musim kemarau. Famili ini terdiri atas 50 genus
dan 550 jenis di daerah tropis.
141
Klasifikasi famili Meliaceae :
















Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Sapindales
Famili
: Meliaceae
Genus
:
Aglaia
Anthocarapa
Aphanamixis
Astrotrichilia
Azadirachta
Cabralea
Calodecarya
Capuronianthus
Carapa
Cedrela
Cedrelopsis
Chisocheton
Chukrasia
Cipadessa
Dysoxylum
Ekebergia
















Entandrophragma
Guarea
Heckeldora
Humbertioturraea
Khaya
Lansium
Lepidotrichilia
Lovoa
Malleastrum
Melia
Munronia
Naregamia
Neobeguea
Owenia
Pseudobersama
Pseudocarapa
















Pseudocedrela
Pterorhachis
Reinwardtiodendron
Ruagea
Sandoricum
Schmardaea
Soymida
Sphaerosacme
Swietenia
Synoum
Toona
Trichilia
Turraea
Turraeanthus
Vavaea
Walsura
 Xylocarpus
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
a. Daun oval 1 : 3
b. Daun majemuk dengan permukaan daun licin, daun bentuk bulat /oval menuju bulat
c. Bunga majemuk tersusun di ketiak daun
d. Buah kotak cth mahoni, buah sejati cth mindi
e. Biji ada yang bersayap cth mahoni
f. kayu keras
g. Batang beralur dangkal/dalam tidak berbanir
h. Tajuk bulat
142
Kegunaan beberapa jenis famili ini antara lain :

Kayu komersial seperti mahoni, suren

Penghasil pestisida hayati seperti Mindi

Tanaman penghijauan

Penghasil buah

Obat herba seperti buah mahoni untuk obat penyakit kulit.

Penghasil minyak nabati dan pembuat sabun
Contoh kayu penting dari famili ini :
1.
Mahoni (Swietenia macrophylla)
2.
Mindi (Melia azidarah)
3.
Suren (Toona sureni)
4.
Naam (Azadirachta indica) (India)
5.
Crabwood Carapa procera (Amerika Selatan dan Afrika)
6.
Cedrela Cedrela odorata (Amerika; kayu dikenal sebagai Spanish-cedar)
7.
Sapele Entandrophragma cylindricum (Africa)
8.
Utile /Sipo, Entandrophragma utile (Africa)
9.
Bossé Guarea cedrata (Africa)
10. Bossé Guarea thompsonii (Africa)
11. Ivory Coast Mahogany Khaya ivorensis (Africa)
12. Senegal Mahogany Khaya senegalensis (Africa)
13. Chinaberry or Bead, Melia azedarach (Amerika Utara, Queensland, India dan Cina selatan)
14. Mahogany Swietenia species (tropical Americas)
15. Australian Red cedar Toona australis (Australia), often included in Toona ciliata (seq.)
Toon, surian (int. trade) Toona ciliata (India, southeast Asia and eastern Australia)
143
2. Famili Ebenaceae
Euclea
Kayu diklasifikasikan dalam kelompok kayu mahal, berwarna hitam (black wood). Salah
satu jenis endemic Indonesia adalah eboni (Diosyros celebica). Ebenaceae mempunyai tajuk
yang selalu hijau yang tumbuh di tropis dan subtropics. Ebenaceae mempunyai
kecenderungan untuk bersimbiosis dengan jamur mikorisa. Banyak terdapat di hutan hujan
tropis Malaysia, Indonesia, Afrika dan Amerika.
Buah yang dapat dimakan oleh beberapa fauna vertebrata. Buah banyak mengandung
tannin yang dihindari oleh herbivore saat belum masak. Famili Ebenaceae terdari atas 768
jenis dalam bentuk pohon, semak dan herba. Pohon atau semak family ini bertipe perbungaan
dioecious, terkadang monoecious. Daun tipis, berwarna gelap. Kulit dan akar juga berwarna
gelap seperti kayunya. Inflorescence cymose atau bunga tunggal dengan posisi perbungaan
axillary. Buah berbentuk kapsul, dan terkadang berry.Saat musim buah, pohon menggugurkan
daunnya. Buah mempunyai rasa manis dan bias dimakan.
Klasifikasi famili Ebenaceae :
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Ericales
Famili
:Ebenaceae
144
Genus
:

Diospyros

Euclea

Lissocarpa
Ciri-ciri famili ini adalah sebagai berikut :
1. Kayu termasuk jenis kayu mewah
2. Permukaan daun berbulu halus, memiliki seludang daun, daun bentuk bulat atau
oval menuju lanset
3. Buah sejati
4. tajuk kerucut dengantangkai penyusun berhadapan
5. Batang halus tidak berbanir
Fossil bunga Royena graeca.
Diospyros chloroxylon
Bunga Persimmon
Diospyros dichrophylla
Pohon saat musim kering
145
Contoh kayu penting dari famili ini :
1. Kesemek(Diospyros kauki )
2. Buah mentega (Diospyros philipinensis )
3. kayu arang/hitam (Diospyros celebica )
3. Famili Sapindaceae
Litchi chinensis
Sapindaceae juga disebut famili soapberry adalaha family tumbuhan bunga dalam ordo
Sapindales dengan 140-150 genus dan 1400-2000 jenis termasuk buah maple, horse chestnut
dan leci. Sapindaceae tumbuh di daerah iklim tropis, subtropics dan habitat hutan Laurel.
Famili ini mempunyai ciri khas kandungan zat saponin yang bersifat racun pada daun, biji,
maupun akar terutama pada genus Serjania, Paullinia, Acer dan Allophylus. Beberapa genus
yang
tumbuh
di
subtropis
antara
lain
dari
Aceraceae
(Acer,
Dipteronia)
dan
Hippocastanaceae (Aesculus, Billia, Handeliodendron). Habutis famili ini dari pohon, liana
semak dan herba.
Klasifikasi Famili ini adalah :
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Rosales
Famili
: Sapindaceae / Soapberry family
146
Sub Famili
:

Dodonaeoideae

Hippocastanoideae

Sapindoideae

Xanthoceroideae
Genus
:



Aceraceae (Acer, Dipteronia)
Hippocastanaceae (Aesculus, Billia, Handeliodendron)
Beberapa genus lainnya :




Serjania
Paullinia
Acer
Allophylus
Dodonaea viscosa




Dipteronia
Dodonaea
Nephelium
Pometia
Rambutan (Nephelium lepopetalum)




Schleiceira
Aesculus
Billia
Handeliodendron
Mata Kucing (Pometia spp.)
Bunga kecil dan uniseksual sempurna, ada yang monocious dan diocious. Mahkota bunga
dan kelopak bunga 5, benang sari menyerupai filament/rambut. Perantara penyerbukan oleh
insect dan angin. Buah tipe fleshy atau buah kering, ada yang bertipe nut, berry, drupe,
schizocarps, kapsul maupun samara.
Sapindaceae mempunyai fungsi :
1. Penghasil buah tropis komersial seperti leci, kelengkeng, rambutan, mamoncillo,
maple dan sebagainya serta dan sirup seperti Mapel.
2. Penghasil produk sabun dan detergent.
3. Kayu ornament seperti genus Koelreuteria, Cardiospermum dan Ungnadia
4. Penghasil Lak seperti minyak Indian Macassar (Schleichera trijuga), Kesambi
(Schleichera oleosa)
147
4.
Famili Anonaceae
Annona muricata






















Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Magnoliales
Magnolia
Famili
: Anonaceae
Genus
:
Afroguatteria
Alphonsea
Ambavia
Anaxagorea
Ancana
Annickia
Annona
Anomianthus
Anonidium
Artabotrys - trail-grape
Asimina
Asteranthe
Balonga
Bocagea
Bocageopsis
Boutiquea
Cananga - Ylang-ylang
Cardiopetalum
Cleistochlamys
Cleistopholis
Craibella
Cremastosperma





















Fissistigma
Fitzalania
Friesodielsia
Froesiodendron
Fusaea
Gilbertiella
Goniothalamus
Greenwayodendron
Guamia
Guatteria/haya minga, haya
blanca
Guatteriella
Guatteriopsis
Haplostichanthus
Heteropetalum
Hexalobus
Hornschuchia
Isolona
Letestudoxa
Lettowianthus
Malmea
Marsypopetalum
 Oxandra - blacklancewood,
haya
 Pachypodanthium
 Papualthia
 Petalolophus
 Phaeanthus
 Phoenicanthus
 Piptostigma
tostigma
 Platymitra
 Polyalthia
 Polyceratocarpus
 Popowia
 Porcelia
 Pseudartabotrys
 Pseudephedranthus
 Pseudoxandra
 Pseuduvaria
 Pyramidanthe
 Raimondia
 Reedrollinsia
 Richella
 Rollinia - wild sugar-apple
148




















Cyathocalyx
Cyathostemma
Cymbopetalum
Dasoclema
Dasymaschalon
Deeringothamnus/false
pawpaw
Dendrokingstonia
Dennettia
Desmopsis
Desmos
Diclinanona
Dielsiothamnus
Disepalum
Duckeanthus
Duguetia
Ellipeia
Ellipeiopsis
Enicosanthum
Ephedranthus
Exellia
Asimina triloba fruit.





















Meiocarpidium
Meiogyne
Melodorum
Mezzettia
Mezzettiopsis
Miliusa
Mischogyne
Mitrella
Mitrephora
Mkilua
Monanthotaxis
Monocarpia
Monocyclanthus
Monodora
Mosannona
Neostenanthera
Neo-uvaria
Onychopetalum
Ophrypetalum
Oreomitra
Orophea
Cananga odorata




















Ruizodendron
Sageraea
Sanrafaelia
Sapranthus
Schefferomitra
Sphaerocoryne
Stelechocarpus - kepel
Stenanona
Tetrameranthus
Toussaintia
Tridimeris
Trigynaea
Trivalvaria
Unonopsis
Uvaria
Uvariastrum
Uvariodendron
Uvariopsis
Woodiellantha
Xylopia
Anona squamosa
Anonaceae juga dikenal dengan family apel yang berupa semak, pohon dan jarang berupa
liana yang terdiri atas 130 genua dalam 2300-2500 jenis. Habitat tumbuh family ini adalah
daerah tropis dan sedikit ditemukan di daerah subtropics. Anonaceae mempunyai manfaat
antara lain :
1. Penghasil buah yang dapat dimakan terdiri atas 5 genus yaitu Annona, Rollinia, Uvaria,
Melodorum dan Asimina Dari genus Annona: custard apple (A. reticulata), cherimoya
(A. cherimola), soursop /guanábana /graviola (A. muricata), sweetsop (A. squamosa),
ilama (A. diversifolia), soncoya (A. purpurea), atemoya (a cross between A. cherimola
and A. squamosa); dan biriba (Rollinia deliciosa).
149
2. Kulit pohon, daun dan akar pada beberapa jenis bersifat acetogenins bermanfaat untuk
pengobatan herbal (anti HIV, kanker) dan tradisional.
3. Penghasil minyak aromatik seperti kenanga (Cananga odorata)
4. Tanaman hias seperti glodokan tiang (Polyatia longifolia)
5. Penyusun hutan hujan tropis seperti Pisang-pisang (Mezzetia spp.) dan jangkang
(Xylopia spp.)
5. Famili Clusiaceae





Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Malpighiales
Famili
:Clusiaceae
Sub Famili
:
Genus
:
Allanblackia
Chrysochlamys
Clusia
Dystovomita
Garcinia





Lorostemon
Montrouziera
Moronobea
Pentadesma
Platonia




Symphonia
Thysanostemon
Tovomita
Tovomitopsis
150
Clusiaceae atau Guttiferae Juss. (1789) (nom. alt. et cons. = nama alternatif adalah
family dengan 37 genus dan 1610 jenis dari herba, semak maupun pohon dengan cirri
khas mempunyai getah merah dan buah bertipe buah kotak. Di daerah Kalimantan
banyak terdapat family ini antara lain geronggang yang merupakan pioneer dengan
kualitas kayu kuat, manggis dan gantalang.
6. Famili Combretaceae
Combretum constrictum
Kingdom
: Plantarum
Devisio
: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Sub devisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Myrtales
Famili
:Combretocarpaceae, Sinonim :
 Bucidaceae Spreng.
 Myrobalanaceae Martinov
 Strephonemataceae Venkat. & Prak.Rao
 Terminaliaceae J.St.-Hil.
Jenis yang banyak dijumpai di Kalimantan Tengah dari famili ini adalah tumih
(Combretocarpus rotundatus) sebagai pioneer di lahan gambut yang terbuka dapat
tumbuh homogeny dengan perakaran nafas yang unik. Jenis pohon peneduh untuk
taman karena mempunyai bentuk yang artistic seperti Ketapang (Terminalia cattapa),
keben (Baringtonia asiatica).
151
Pertanyaan :
1. Apakah cirri khusus suatu pohon masuk dalam :
a. family Meliaceae
b. Famili Ebenaceae
c. Famili Sapindaceae
d. Famili Anonaceae
e. Famili Gutiferae
f. Famili Combretocarpaceae
2. Sebutkan jenis dari famili Anonaceae yang banyak tumbuh di hutan rawa gambut !
3. Sebutkan jenis dari famili Guttiferae sebagai pioneer di lahan bertanah gambut !
4. Apakah tipe buah pada Guttiferae ?
Acuan Pustaka
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH
Freeman & Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees.
Schol of Biological Sciense Univercity of Malaya.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia
Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book Company
Inc. New York.
http//Wikipedia. Berbagai macam Famili Tumbuhan Berkayu diunduh April 2012.
152
BAB XVI. IDENTIFIKASI JENIS KOMERSIAL 7
GYMNOSPERMAE
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Mengenal cirri umum kelas Gymnospermae
2. Memahami, mengenali dan menghafal nama ilmiah pohon komersial kehutanan dari
kelas Gymnospermae
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Mahasiswa mampu menunjukkan ciri umum untuk kelas Gymnospermae
2. Mahasiswa
mampu
mennyebutkani
jenis
pohon
komersial
dari
kelas
Gymnospermae
3. Mahasiswa mampu mengenali kegunaan kayu komersial dari kelas Gymnospermae.
Materi pembelajaran
GYMNOSPERMAE
Divisi Spermatophyta Dibagi menjadi 2 sub divisi yaitu Gymnospermae dan
Angiospermae. Angiospermae sudah banyak dibahas pada bab sebelumnya sebagai
kelompok besar tumbuhan berbiji tertutup yang terbagi atas dua kelas besar yaitu
Monokotil dan Dikotil. Sedangkan Gymnospermae merupakan sub divisi khusus tumbuhan
kayu dari kelompok tumbuhan berbiji terbuka. Gymnospermae, menurut William M. And
Ellwood, S., 1958 dibagi atas 4 kelas yaitu Gingkophyta, Pinaphyta, Cycadophyta dan
Gnetophyta.
a.
Pinophyta
Strobilus jantan Tusam (Pinus merkusii)
Strobilus betina Tusam (Pinus merkusii)
Gambar 32. Pinophyta
153
Pinus merupakan golongan tumbuhan berdaun jarum. Dalam satu tangkai daun ada
yang beranak daun 2, 3 atau 5. Pinus mempunyai dua jenis bunga berdasarkan jenis
kelamin bunganya, namun masih dalam satu pohon hanya letaknya saja yang berbeda
(Monoceous). Bunga pada pinus disebut strobilus jadi ada strobilus jantan dan betina.
Strobilus jantan ada di posisi axilarry (pucuk) dan Strobilus betina ada di posisi lateralis
(ketiak daun/tangkai). Perbungaan setahun sekali secara serentak/ musiman.
Ciri dan Karakteristik
 Merupakan tumbuhan gymnospermae
yang terbesar dari ukuran sampai
jumlah anggotanya.
 Selalu hijau sepanjang tahun.
 Daun berbentuk jarum, dilapisi lapisan
kutikula.
 Memiliki alat reproduksi berupa konus
(strobilus).
 1 Pohon umumnya memiliki 2 konus,
konus jantan di ujung cabang, dan
konus betina di bawahnya.
Gambar 33. Habitus Pinophyta
b. Ginkophyta
Gambar 34. Ginkophyta
154
Ciri dan Karakteristik :

Tubuh berupa pohon besar.

Merupakan tumbuhan berumah dua (dioseus).

Bentuk daun seperti kipas.

Pada musim panas dan semi berwarna hijau, pada musim gugur dan musim dingin
berwarna coklat dan daun berguguran.

Hanya tersisa 1 spesies, yaitu Ginkgo biloba
c. Cycadophyta
Ciri dan Morfologinya
 Menyerupai palem, daun tersusun
roset batang.
 Daun muda tumbuh menggulung,
menyerupai tumbuhan paku.
 Biji terbuka dan dihasilkan oleh
strobilus betina.
 Merupakan tumbuhan berumah dua
(dioseus)
 Strobilus tumbuh pada ujung batang
Gambar 35. Cycadophyta
155
3. Gnetophyta
Gambar 36. Gnetophyta
Ciri dan Morfologinya

Bunga berkelamin tunggal (dioseus).

Terdiri dari 3 ordo, yaitu :
 Gnetales contoh melinjo (Gnetum gnemon)
 Ephedrales
 Welwitschiales
Pertanyaan :
1.
Secara garis besar Gymnospermae adalah kelompok tumbuhan ….
2.
Tumbuhan berbiji terbuka maksudnya adalah ….
3.
Bunga pada pinus disebut…
4.
Sebutkan 4 kelas dalam Gymnospermae!
5.
Kelas yang merupakan tanaman hias pada gymnospermae adalah….
156
Acuan Pustaka
Foster A.S., & Gifford E.M., 1959. Comparative Morfology of Vascular Plants. WH Freeman &
Company. San Fransisco London.
Oldeman R. & Halle F., 1975. An Essay on the Architecture of Growth of Tropical Trees. Schol
of Biological Sciense Univercity of Malaya.
Rudjiman, 1991. Dendrologi. Universitas Gadjahmada Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada UniversityPress.
Samingan, T., 1982. Dendrologi. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Gramedia Jakarta.
William M., and Ellwood S., 1958. Textbook of Dendrologi. Mc Graw-Hill Book Company Inc.
New York.
http//Wikipedia. Berbagai macam Famili Tumbuhan Berkayu diunduh April 2012.
157
Download