budaya politik masyarakat indonesia dalam - E

advertisement
ISSN 2087-2208
BUDAYA POLITIK MASYARAKAT INDONESIA DALAM PERSPEKTIF
PEMBANGUNAN POLITIK
Oleh: Drs. Budi Mulyawan, M.Si.
Abstrak
Budaya politik merupakan sesuatu yang inheren pada setiap masyarakat yang terdiri atas sejumlah
individu yang hidup, baik dalam sistem politik tradisional, transisional, maupun modern, sehingga
menjadi aspek yang siginifikan dalam sistem politik. Sebagai faktor yang sangat berpengaruh
terhadap perilaku politik seseorang, kajian terhadap pembangunan politik suatu bangsa tidak bisa
dilepaskan dari budaya politik yang tumbuh dan berkembang di masyarakatnya. Seberapa besar
harmonisasi yang dicapai oleh budaya politik dengan pelembagaan politik merupakan parameter
dari pembangunan politik itu sendiri.
Kata kunci: budaya politik, sistem politik, dan pembangunan politik.
A. Pendahuluan
Kebudayaan, merupakan blue print of behavior yang memberikan pedoman bagaimana
warga masyarakat bertindak atau berperilaku dalam upaya mencapai tujuan bersama. Atas dasar
kebudayaan, masyarakat membentuk prosedur-prosedur yang harus diterapkan untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut. Budaya politik – sebagai unsur dari kebudayaan − merupakan sesuatu yang
inheren pada setiap masyarakat yang terdiri atas sejumlah individu yang hidup, baik dalam sistem
politik tradisional, transisional, maupun modern. Dalam hal ini Almond dan Verba (dalam Gaffer,
2006:99) mendefinisikan budaya politik sebagai “sikap individu terhadap sistem politik dan
komponen-komponennya, dan juga sikap individu terhadap peranan yang dapat dimainkan dalam
sebuah sistem politik Sedangkan David Easton (dalam Winarno, 2008:15) menyatakan bahwa
budaya politik adalah “all politically relevan orientation whether of cognitive, evaluative, or
expressive sort.”1
Budaya politik merupakan aspek yang sangat siginifikan dalam sistem politik.Hal ini
dikarenakan bekerjanya struktur dan fungsi politik dalam suatu sistem politik sangat ditentukan
oleh budaya politik yang melingkupinya (Winarno, 2008:65).2 Dalam konteks sistem politik
Indonesia, Kantaprawira (2006:35) memposisikan budaya politik sebagai satu dari sekian jenis
lingkungan yang mengelilingi, mempengaruhi, dan menekan sistem politik, bahkan yang dianggap
paling intens dan mendasari sistem politik. Lebih jauh, Kantaprawira (2006:36) mengkonstatasi
bahwa salah satu parameter pembangunan politik Indonesia adalah tercapainya keseimbangan
atau harmoni budaya politik dengan pelembagaan politik yang ada atau akan ada.
Berpijak dari paparan di atas, tulisan ini mencoba untuk memberikan gambaran mengenai
budaya politik Indonesia untuk mengenal atribut atau ciri yang terpokok untuk menguji proses
1
Orientasi yang bersifat kognitif menyangkut pemahaman dan keyakinan individu terhadap sistem politik dan
atributnya, seperti tentang ibukota negara, lambang negara, kepala negara, batas-batas negara, mata uang yang dipakai,
dan lain sebagainya.Sementara itu orientasi yang bersifat afektif menyangkut ikatan emosional yang dimiliki oleh
individu terhadap sistem politik.Jadi menyangkut feeling terhadap sistem politik.Sedangkan orientasi yang bersifat
evaluatif menyangkut kapasitas individu dalam rangka memberikan penilaian terhadap sistem politik yang sedang
berjalan dan bagaimana peranan individu di dalamnya.
2
Struktur-struktur yang umum dalam sistem politik adalah kelompok-kelompok kepentingan, partai-partai politik, badan
legislatif, eksekutif, birokrasi, dan badan-badan peradilan.
FISIP UNWIR Indramayu
1
JURNAL ASPIRASI Vol. 5 No.2Februari 2015
yang berlanjut maupun yang berubah, seirama dengan proses perubahan dan perkembangan
politik masyarakat di masa konsolidasi demokrasi saat ini.3
.
B. Tipe-tipe Budaya Politik
Gabriel Almond dan Sidney Verba (1963) mengklasifikasikan tipe-tipe kebudayaan politik :
(1) Budaya politik parokial (parochial political culture) yang ditandai dengan tingkat partisipasi
politik masyarakat yang sangat rendah. Hal ini disebabkan faktor kognitif, misalnya tingkat
pendidikan masyarakat yang rendah; (2) Budaya politik subyek (subject political culture) di mana
anggota-anggota masyarakatnya memiliki minat, perhatian, mungkin pula kesadaran terhadap
sistem secara keseluruhan, terutama terhadap output-nya, namun perhatian atas aspek input
serta kesadarannya sebagai aktor politik, boleh dikatakan nol; dan (3) Budaya politik partisipan
(participant political culture) yang ditandai oleh adanya perilaku bahwa seseorang menganggap
dirinya ataupun orang lain sebagai anggota aktif dalam kehidupan politik sehingga menyadari
setiap hak dan tanggungjawabnya (kewajibannya) dan dapat pula merealisasi dan
mempergunakan hak serta menanggung kewajibannya.
Namun demikian, dalam suatu masyarakat kerapkali ditemukan inklanasi kepada salah satu
tipe budaya politik, misalnya, dalam budaya politik partisipan masih dapat dijumpai individuindividu yang tidak menaruh minat pada obyek-obyek politik secara luas. Menyadari realitas
budaya politik yang hidup di masyarakat tersebut, Almond menyimpulkan adanya budaya politik
campuran (mixed political culture) yang menurutnya lazim terjadi pada masyarakat yang
senantiasa mengalami perkembangan dan dinamika yang pesat, sehingga sistem politik bisa
berubah dan kultur serta struktur politik senantiasa tidak selaras. Budaya politik campuran (mixed
political culture) yang dikemukakan Almond sebagai berikut:
1. Budaya Parokial-Subjek (The Parochial-Subject Culture)
Tipe budaya politik saat sebagian besar penduduk menolak tuntutan-tuintutan ekslusif masyarakat
suku yang feodalistik.Masyarakatnya mengembangkan kesetiaan terhadap sistem politik yang
lebih kompleks dengan struktur-struktur pemerintahan pusat yang sentralistis.
2. Budaya Subyek-Partisipan (The Subject-Participant Culture)
Proses peralihan dari budaya subyek menuju budaya partisipan yang sangat dipengaruhi
oleh cara bagaimana peralihan budaya parokial menuju budaya subyek. Dalam budaya subyekpartisipan ini, sebagian besar penduduk telah memperoleh orientasi-orientasi input yang
bersifat khusus dan serangkaian orientasi pribadi yang aktif; sementara sebagian penduduk
masih terorientasi dengan struktur kekuasaan yang otoriter dan menempatkan partisipasi
masyarakat pasif.
3. Budaya Parokial-Partisipan (The Parochial-Participan Culture)
Kondisi ini biasanya terjadi di dalam negara yang sedang berkembang.Hampir seluruh negara
berkembang memiliki budaya parokial.Karenannya sistem politik mereka terancam oleh
fragmentasi parokial yang tradisional, padahal mereka ingin secepatnya menjadi sebuah negara
modern. Suatu masa, cenderung ke otoritarianisme dan pada waktu yang lain ke arah
demokrasi.
4. Budaya Parokial-Subyek-Partisipan (Civic Culture)
Civic culture (budaya kewarganegaraan) menekankan pada partisipasi rasional dalam
kehidupan politik, digabungkan dengan adanya kecenderungan politik parokial dan subyek
warganegara maka menjadikan sikap-sikap tradisional dari penggabungannya dalam orientasi
partisipan yang mengarah pada suatu budaya politik dengan keseimbangan aktivitas politik,
3
Esensi konsolidasi demokrasimenurut Larry Diamond adalah terbentuknya suatu perilaku dan sikap, baik di tingkat
elite maupun massa yang mencakup dan bertolak dari metode dan prinsip-prinsip demokrasi. Sedangkan menurut
Laurence Whitehead, konsolidasi demokrasi mencakup peningkatan secara prinsipil komitmen seluruh elemen
masyarakat pada aturan main demokrasi.
2
Program Studi Ilmu Pemerintahan
ISSN 2087-2208
keterlibatan dan adanya rasionalitas serta kepasifan, tradisionalitas, dan komitmen terhadap
nilai-nilai parokial. Singkatnya, budaya politik ini merupakan penggabungan karakteristik dari
ketiga budaya politik murni. Dalam pemahaman yang lebih sederhana, budaya politik
kewarganegaraan merupakan kombinasi antara karakteristik-karakteristik aktif, rasional,
mempunyai informasi yang cukup mengenai politik, kesetiaan pada sistem politik, kepercayaan
dan kepatuhan terhadap pemerintah, keterikatan pada keluarga, suku, dan agama.
C. Budaya Politik Masyarakat Indonesia dalam Perspektif Pembangunan Politik
Sudah cukup banyak ahli yang melakukan kajian terhadap budaya politik Indonesia.
Beberapa diantaranya menjadikan kelompok etnis Jawa sebagai titik tolak analisis mereka atas
dasar asumsi bahwa di masyarakat yang multietnik akan ditemukan pola budaya yang dominan.
Dalam hal ini, etnis Jawa dipandang sangat mewarnai sikap, perilaku, dan orientasi politik
kalangan elit politik di Indonesia4.
Pada umumnya para ahli sependapat bahwa pola hubungan yang ditemukan pada
masyarakat Indonesia bersifat patronase (patronage) yang sangat dipengaruhi oleh pola relasi
antara pemimpin dan pengikut yang berkembang pada kebudayaan Jawa. Jackson (1978:23)
misalnya, menyatakan bahwa lingkaran hubungan patron-klien pada masyarakat Jawa disusun
atas relasi hubungan yang bersifat diadik, face to face, tidak setara, tetapi saling menghargai
antara pemimpin dengan pengikutnya (leaders and followers). Sementara Gaffar (206:109)
menyoroti dasar dari pola hubungan antara patron (patron) dan klien (client) tersebut sebagai
hubungan yang bersifat resiprokal dengan mempertukarkan sumber daya (exchange of resources)
yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Pola hubungan tersebut walaupun bersifat asimetris,
akan tetap terpelihara selama masing-masing pihak memiliki sumber daya tersebut.5
Dalam konteks struktur sosial masyarakat Jawa, Gaffar (206:107) memandangnya sebagai
struktur yang bersifat hiearkhis yang didasarkan pada aspek kekuasaan (politis) ketimbang atribut
sosial yang bersifat materialistik. Dalam hal ini ada pemilihan yang tegas antara mereka yang
memegang kekuasaan (priyayi sebagai pihak penguasa atau wong gedhe) dan rakyat kebanyakan
(wong cilik), yang termanifestasi dalam kehidupan sosial di mana birokrat seringkali menampakkan
diri dengan self-image atau citra diri yang bersifat benevolensi, yaitu dengan ungkapan sebagai
pamong praja yang melindungi rakyat, sebagai pamong atau guru/pendidik bagi rakyatnya,
sehingga mewajibkan rakyat loyal kepada mereka. Implikasi negatif dari citra diri seperti itu dalam
kehidupan berdemokrasi adalah rakyat mengalami proses alienasi dari proses politik. Rakyat
diposisikan sebagai objek yang harus selalu menerima segala keputusan pemerintah dalam setiap
kebijakan publik.
Dalam kajian selanjutnya, Gaffar (2006:114) mensinyalir kemunculan budaya politik yang
bersifat neo-patrimonialistik dalam perpolitikan di Indonesia.Dikatakan neo-patrimonialistik
karena negara memiliki atribut yang bersifat modern dan rasionalistik, seperti birokrasi; tetapi
juga memperlihatkan beberapa atribut yang bersifat patrimonialistik sebagaimana konsep
patrimonialisme yang dikembangkan oleh Max Weber.6
Pendapat Rusadi Kantaprawira (2006:37-39) selaras dengan dua ahli sebelumnya.
Menurutnya, budaya politik Indonesia masih sangat kuat dipengaruhi viariabel feodalisme,
4
Beberapa ahli yang dimaksud dalam tulisan ini antara lain Karl D. Jackson (1978),Afan Gaffar (2006 ), Rusadi
Kantaprawira (2006), dan Budi Winarno (2008)
5
Sebagai pihak yang memiliki sumber daya yang lebih besar dan lebih kuat, sudah tentu patronlah yang paling banyak
menikmati hasil dari hubungan ini.
6
Atribut yang dimaksud menurut Weber, yaitu: Pertama, kecenderungan untuk mempertukarkan sumber daya yang
dimiliki seorang penguasa kepada teman-temannya. Kedua, kebijakan seringkali lebih bersifat partikularistik daripada
universalistik.Ketiga, rule of laws merupakan sesuatu yang sifatnya sekunder dibandingkan dengan kekuasaan dari
seorang penguasa (rule of man).Keempat, kalangan penguasa politik seringkali mengaburkan antara mana yang
menyangkut kepentingan pribadi dan mana yang menyangkut kepentingan publik.
FISIP UNWIR Indramayu
3
JURNAL ASPIRASI Vol. 5 No.2Februari 2015
paternalisme, dan primordialisme. Indikator dari paternalisme dan patrimonial yang masih cukup
kuat mewarnai budaya politik Indonesia adalah asal bapak senang (bapakisme); sedangkan
indikator primordialisme berupa sentimen kedaerahan, kesukuan, keagamaan, perbedaan
pendekataan terhadap agama tertentu, puritanisme dan non-puritanisme, dan sebagainya. Namun
ditengah-tengah pengaruh tradisionalisme tersebut, Kantaprawira mengidentifikasi tumbuhnya
kelompok elit di Indonesia sebagai akibat pengaruh pendidikan modern (Barat) yang merupakan
partisipan aktif. Atas dasar analisis pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap budaya politik
masyarakat, Kantaprawira (2006:38) berkesimpulan bahwa budaya politik Indonesia merupakan
mixed political culture yang diwarnai oleh besarnya pengaruh kebudayaan politik parokial-subyek.7
Adapun di Era Reformasi, berdasarkan kajian Budi Winarno (2008:66-70), budaya politik
masyarakat Indonesia ternyata tidak membawa perubahan yang signifikan, karena masih tetap
diwarnai oleh paternalisme, parokhialisme, mempunyai orientasi yang kuat terhadap kekuasaan,
dan patrimonialisme yang masih berkembang dengan sangat kuat.Hal ini disebabkan adopsi sistem
politik hanya menyentuh pada dimensi struktur dan fungsi-fungsi politiknya (yang biasanya
diwujudkan dalam konstitusi), namun tidak pada semangat budaya yang melingkupi pendirian
sistem politik tersebut.
Dalam mengkaji budaya politik masyarakat Indonesia atas dasar empat budaya politik
campuran (mixed political culture) yang dikemukakan Gabriel Almond, Winarno (2008:66-68)
berkesimpulan bahwa budaya politik di Indonesia merupakan kombinasi antara parochial-subject
culture, subject-participant culture, parochial-participant culture, dan civic culture. Dalam hal ini
budaya politik Indonesia, menurutnya, bergerak di antara subject-participant culture dan
parochial-participant culture.
Subject-participant culture ditandai oleh menguatnya partisipasi politik masyarakat dalam
kehidupan politik terhadap input-input politik, sementara pada waktu yang bersamaan
berkembang rasa ketidakmampuan masyarakat untuk mengubah kebijakan. Rasa sebagai wong
cilik, orang-orang tidak mampu, dan termarginalkan membuat mereka hanya berorientasi pada
output sistem politik dibandingkan dengan kepedulian terhadap proses input sistem politik.
Fenomena seperti ini tidak hanya ditemukan di daerah-daerah pedesaan, tetapi juga di perkotaan
di mana masyarakat miskin dan termarginalkan tumbuh subur.Bahkan, kebijakan pembangunan
yang dilaksanakan oleh para penguasa politik yang berorientasi pada kebijakan neo-liberal
mendorong kelompok-kelompok marginal ini semakin besar.
Parochial-participant culture ditandai semangat primordialisme secara berlebihan, yakni
menguatnya wacana kedaerahan pasca diterapkannya otonomi daerah.Dalam hal ini terdapat
tekanan dan desakan yang kuat di beberapa daerah agar pemimpin lokal seperti walikota/bupati
dan gubernur dipilih dari putra-putra daerah. Situasi ini jelas akan merugikan sistem politik secara
keseluruhan karena cenderung menimbulkan konflik
horizontal dan menghambat rasa
kebangsaan (nation building) yang pada akhirnya menjadi faktor penghambat konsolidasi
demokrasi.
Sejauh ini belum ditemukan kajian ahli tentang budaya politik masyarakat Indonesia dengan
menyertakan proporsi pada tiap kategori tipe budaya politik dalam konteks mengetahui model
orientasi masyarakat terhadap pemerintahan dan politik. Tulisan ini mencoba memetakan budaya
politik masyarakat Indonesia berdasarkan klasifikasi tipe-tipe budaya politik menurut Almond
dengan menyertakan proporsi kuantitatif pendukung pada setiap klasifikasi.
Langkah pemetaan dilakukan dengan melakukan dikotomi dua struktur komunitas:
perkotaan dan perdesaan. Selanjutnya warga pada masing-masing komunitas dikelompokan
7
Kantaprawiraberusaha menggambarkan kondisi budaya politik Indonesia di masa diterapkannya sistem politik
Demokrasi Liberal, Demokrasi Terpimpin, dan Demokrasi Pancasila;sementaraGaffar menjadikan budaya politik Orde
Baru sebagai objek kajiannya.
4
Program Studi Ilmu Pemerintahan
ISSN 2087-2208
berdasarkan status sosioekonomi mereka. Hal ini didasari pada pendapat Lipset (dalam Asrinaldi,
2012:68) bahwa masyarakat yang memiliki status ekonomi yang lebih baik akan lebih mudah
berpartisipasi secara efektif ketimbang yang memiliki status ekonomi yang berkekurangan.
Dengan demikian terdapat keterkaitan antara status sosioekonomi seseorang dengan
perkembangan demokrasi.Selain sosio-ekonomi, dimensi lain yang memiliki pengaruh signifikan
terhadap perkembangan demokrasi adalah tingkat pendidikan formal. Tinggi-rendah pendidikan
individu berkaitan dengan rasionalitas seseorang dalam melakukan evaluasi terhadap aktivitas
politik.Dalam hal ini terdapat korelasi antara sosio-ekonomi dengan tingkat pendidikan di mana
pendidikan yang rendah pada umumnya ditemukan pada masyarakat kalangan miskin.
Berdasarkan hal tersebut, masyarakat perkotaan dibagi dalam tiga stratifikasi: masyarakat
miskin, kelas menengah, dan kelas atas. Sementara warga komunitas perdesaan dibagi
berdasarkan stratifikasi: elit − massa.
Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia yang mempunyai hak pilih pada Pemilu yang
baru lalu berjumlah 186.612.255 jiwa8 sementara persentase penduduk perdesaan sebesar 50,2 %
dan penduduk perkotaan 49,8%, maka penduduk pedesaan yang memiliki hak pilih sebesar
93.679.352 jiwa dan perkotaan 92.932.903 jiwa. Adapun angka kemiskinan di perdesaan pada
tahun 2011 sebesar 16,56% dan di perkotaan 9,87%,9 sehingga jumlah penduduk miskin di
pedesaan yang mempunyai hak pilih sebesar 15.513.300 jiwa sedangkan di perkotaan 9.172.478
jiwa.
Menyoal struktur sosial masyarakat perkotaan di mana 9,87 persen merupakan masyarakat
miskin dan 50,3 persen adalah kelas menengah.10Dalam konteks tersebut menarik untuk
dikemukakan hasil penelitian Asrinaldi (2012:215) yang menyatakan bahwa budaya politik
masyarakat miskin di perkotaan cenderung parokial dan subjektif. Di sini, Asrinaldi membagi sikap
politik masyarakat miskin menjadi dua kategori: kelompok pertama adalah kelompok yang apatis
terhadap politik; sedangkan kelompok kedua adalah yang dikategorikan memiliki sikap semi apatis
atau semi politik. Pendidikan kelompok terakhir ini hanya tamat SD atau tidak tamat SLTP. Dasar
pendidikan inilah yang membantu mereka mendapatkan informasi politik, misalnya mencari
pengetahuan mengenai aktivitas politik melalui surat kabar – biasanya surat kabar bekas yang ada
di sekitar mereka. Dari dua kategori ini walaupun Asrinaldi tidak secara tegas membedakan
masing-masing kategori berdasarkan budaya politiknya, namun dapat diduga kelompok
berkebudayaan parokial yang dimaksudkannya adalah kelompok apatis, sedangkan yang
berbudaya subjektif merupakan kelompok semi apatis.
Sementara berdasarkan hasil survey litbang Kompas, orientasi politik kelas menengah juga
cenderung apatis dan belum mau bergerak mengorganisasikan diri untuk perubahan. Mereka tidak
begitu menghiraukan apa yang terjadi pada kondisi sosial politik meskipun mereka masih
menunjukkan eksistensinya dalam pemilihan umum dan daerah. Dengan demikian eksistensi atau
keterlibatan kategori masyarakat ini hanya sebatas partisipasi tidak langsung (representative
democracy)11, belum menyentuh partisipasi dengan keterlibatan langsung (representative
democracy).Orientasi politik semacam ini dapat dikategorikan kebudayaan politik subyek.Hal ini
dikuatkan dengan pendapat Dedi Irawan (dalam Efriza, 2012:118) bahwa masyarakat
berkebudayaan politik subjek tergambarkan dalam kelompok-kelompok menengah di
8
Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahun 2014
Statistics Indonesia Tahun 2012 (http://puzzleminds.com/kualitas-kependudukan-di-indonesia/)
10
Survey litbang Kompas mengenai kelas menengah 2012 (http://politik.kompasiana.com/2012/ 09/21/ membacapilihan-politik-kelas-menengah-494839.html)
11
Secara teoritis partisipasi politik masyarakat menurut ahli dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu partisipasi
langsung dan tidak langsung. Partisipasi langsung berkaitan dengan keterlibatan langsung (representative democracy),
misalnya melakukan debat politik, diskusi publik, lobi politik, dan menghadiri kampanye politik. Sedangkan partisipasi
tidak langsung(representative democracy) diidentifikasi dengan keterlibatan publik yang terbatas atau bahkan
diwakilkan, misalnya kegiatan mencoblos dalam pemilu.
9
FISIP UNWIR Indramayu
5
JURNAL ASPIRASI Vol. 5 No.2Februari 2015
perkotaan.Mereka memiliki tingkat kesadaran politik yang memadai, yaitu memahami tentang
situasi dan dinamika politik yang mengantarkan mereka untuk bersimpati pada salah satu
parpol.Hanya saja kalangan menengah perkotaan ini biasanya bersikap pasif dalam aktivitas
politik.
Adapun dalam menentukan kategori masyarakat berbudaya politik partisipan, parameter
yang digunakan dalam tulisan ini adalah aspek rasionalitas masyarakat dalam kegiatan politik. 12
Apabila diasumsikan rasionalitas seseorang dalam melakukan aktivitas politik ditentukan oleh
pengetahuan mereka dan pengetahuan tersebut dibentuk oleh proses pendidikan formal
(Asrinaldi, 2012:45), maka budaya politik partisipan dianggap ekuivalen dengan pendidikan tinggi
yang dicapai seseorang.
Bertolak dari beberapa asumsi dan data kuantitatif tersebut, maka dapat dikemukakan
bahwa dari sejumlah 92.932.903 jiwa penduduk dewasa di perkotaan:
- Penduduk miskin apatis bertipe budaya politik parokial diperkirakan berjumlah 4.553.712
jiwa atau 4,9 persen. Sementara warga masyarakat miskin yang memiliki sikap semi
apatis atau semi politik berkebudayaan subyek berjumlah 4.646.645 atau 5 persen.
- Kelas menengah berjumlah 46.745.250 atau 50,3 persen penduduk dewasa, berbudaya
politik subjek.13
- Masyarakat bertipe kebudayaan partisipan diperkirakan berasal dari kalangan
berpendidikan tinggi (sarjana dan diploma) yang jumlahnya berkisar antara 5-10%14 atau
berkisar antara 9.330.613 sampai 18.661.225 jiwa. Sementara dari kalangan mahasiswa
sebanyak 4,8 juta15 jiwa atau 2,56 persen dan kalangan elit yang jumlahnya diperkirakan
mencapai kurang dari 2 persen. Dari perhitungan sederhana ini dapat diketahui bahwa
jumlah warga masyarakat perkotaan bertipe budaya partisipan berjumlah ± 15 persen
atau 13.939.935 jiwa.
Adapun identifikasi masyarakat pedesaan dilakukan dengan mendasarkan pada konsep
stratifikasi masyarakat pedesaan yang dikemukakan Hofsteede (1992:45-46), yakni: (1) Elit desa,
yang terdiri dari lurah, pegawai-pegawai daerah dan pusat, pemimpin formal dan pemuka
masyarakat, guru, tokoh-tokoh politik maupun agama, dan petani kaya dan (2) Massa, yang terdiri
dari petani menengah, buruh tani, pedagang kecil, serta pengrajin. Dari stratifikasi tersebut akan
sangat mudah diketahui bahwa kelompok elit desa sebagai lapisan teratas jumlahnya jauh lebih
kecil dibandingkan kelompok massa. Diperkirakan jumlahnya antara 2-3 persen saja dari seluruh
warga desa.Kalangan yang dikonstatasi merupakan kelompok terpelajar dan memiliki akses
terhadap kekuasaan dan sumber daya ekonomi di pedesaan ini kita kategorikan dalam kelompok
masyarakat berkebudayaan politik partisipan.
Sebagaimana dikemukakan, jumlah penduduk miskin yang mempunyai hak pilih di pedesaan
mencapai16,56 persen atau 15.513.301 jiwa. Diasumsikan angka buta aksara 12,2 persen
seluruhnya merupakan warga miskin pedesaan, maka sebesar itu pula jumlah warga masyarakat
miskin bertipe budaya parokial (11.428.881 jiwa); sementara sisanya sebesar 4.084.420 atau 4,36
persen bertipe budaya politik subjek. Namun dalam hal ini keterbatasan dan minimnya akses
12
Rasionalitas yang dimaksud tidak hanya menyangkut kepentingan pribadi memperoleh manfaat dari tindakannya,
tetapi juga membawa pengaruh pada kebijakan publik, kinerja pemerintahan, dan aspek personal dari pemimpin yang
sesuai dengan harapan masyarakat (V.O. Key dalam Asrinaldi, 2012: hlm44)
13
Kelas menengah di Indonesia dicirikan dengan rata-rata pendidikannya setingkat SMA, dengan penghasilan Rp. 1,9
Juta per bulan serta pengeluaran Rp. 750 ribu - Rp. 1,9 Juta per bulan (Kompas, 2012).
14
Angkatan kerja Indonesia berpendidikan diploma/sarjanaberdasarkan Statistics Indonesia Tahun 2012 berjumlah
10.318.000 jiwa yang terdiri dari para pekerja 9.418.000 jiwa dan yang belum bekerja 900,000. Dengan demikian
angka yang mendekati riil adalah 5,53% dikalikan jumlah penduduk yang memiliki hak pilih, hasilnya 10.319.657,7
atau 10.319.658 jiwa.
15
Menurut data BPS tahun 2012, jumlah mahasiswa Indonesia saat ini baru mencapai 4,8 juta orang.
6
Program Studi Ilmu Pemerintahan
ISSN 2087-2208
terhadap informasi politik memungkinkan jumlah warga miskin di wilayah pedesaan bertipe
budaya politik parokial jumlahnya lebih besar lagi.
Masyarakat budaya politik parokial yang disebabkan terbatasnya informasi politikditemukan
padapada struktur komunitas masyarakat desa terpencil dan suku yang terpencar menjauh dari
pusat kekuasaan politik.Sebagai contoh situasi yang ditemukan di desa-desa perbatasan antara
Indonesia dan Malaysia di propinsi Kalimantan Barat.Namun jumlah penduduk komunitas ini
relatif kecil, diperkirakan hanya beberapa ratus jiwa.
Untuk mendeskripsikan kebudayaan politik masyarakat pedesaan, khususnya kelompok
massa dengan proporsi yang mendekati kenyataan yang sesungguhnya, sudah tentu memerlukan
kajian yang mendalam, menimbang pengaruh budaya tradisional masih sangat kuat berakar pada
komunitas ini. Pola hubungan patronase, misalnya, masih sangat kuat mewarnai kehidupan
masyarakat pedesaan. Ini diindikasikan dengan suksesnya beberapa elit desa yang ditengarai
memiliki kekayaan berupa bidang tanah yang sangat luas berhasil lolos menuju legislatif tingkat
Kabupaten bahkan Propinsi karena jumlah suara dari klien mereka memadai dalam mengusung
mereka menduduki kursi tersebut. Dalam hal ini kelompok massa pedesaan nampaknya sudah
memiliki ciri-ciri tipe budaya politik subjek, namun masih diwarnai budaya tradisional sebagaimana
dikemukakan, terlebih paternalisme yang sudah sangat mengakar dalam struktur masyarakat
pedesaan.
Paparan di atas mendukung pendapat ahli bahwa budaya politik Indonesia merupakan
mixed political culture, kombinasi dari 3 (tiga) budaya politik: (1) masyarakat budaya parokial yang
jumlahnya diperkirakan kurang dari 20 persen penduduk dewasa yang berasal dari masyarakat
miskin berpendidikan sangat rendah dan warga komunitas masyarakat desa terpencil dan suku
terasing; (2) masyarakat budaya politik partisipan, jumlahnya diperkirakan 16 persen berasal dari
kalangan sarjana, mahasiswa, elit politik perkotaan, dan elit desa; dan (3) masyarakat budaya
politik subjek, jumlahnya mencapai lebih dari 60% yang terdiri dari kalangan kelas menengah
perkotaan dan massa pedesaan.
D. Penutup
Budaya politik Indonesia di Era Reformasi tidak membawa perubahan yang signifikan
terhadap budaya politik masyarakat Indonesia, walaupun secara historis pelembagaan formal
sistem politik Indonesia sudah mengalami beberapa kali perubahan.16Hal ini dapat dipahami
mengingat suatu kebudayaan berdasarkan hukum-hukum perkembangan masyarakat (laws of
social development) berjalan relatif lambat.Dalam konteks ini perlu kita simak pendapat dari
Winarno (2008:67) bahwa mengubah budaya politik tidak semudah mengubah struktur dan
fungsi-fungsi politik. Mengubah struktur dan fungsi dapat dilakukan dengan mengubah undangundang dasar suatu negara, tetapi mengubah budaya politik suatu bangsa akan memerlukan
waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Terlebih ketika budaya tersebut telah mengakar dalam
kehidupan politik masyarakatnya.
Capaian proporsi 12,57% penduduk dewasa berkebudayaan politik partisipan tentunya
dibilang masih rendah bila dibandingkan dengan capaian masyarakat demokratik industrial, 17
sebuah masyarakat di mana terdapat cukup banyak ativis politik dan kehadiran pemberian suara
yang besar ataupun publik peminat yang kritis dalam mendiskusikan masalah-masalah
16
Pelembagaan formal yang dimaksud adalah sistem politik Demokrasi Liberal ke sistem Demokrasi Terpimpin dan
terakhir ke sistem politik Demokrasi Pancasila.
17
Bandingkan dengan pendapat Almond bahwaproporsi kebudayaan politik dalam masyarakat demokratik industrial
mencapai 40-60% penduduk dewasa berbudaya politik partisipan; ± 30% berbudaya subyek; dan penduduk dewasa
berbudaya parokial kira-kira 10% (Mas’oed dan Andrwew, 2008:52).
FISIP UNWIR Indramayu
7
JURNAL ASPIRASI Vol. 5 No.2Februari 2015
kemasyarakatan dan pemerintahan, dan kelompok-kelompok penekan yang mengusulkan
kebijakan-kebijkan baru (Winarno, 2008:19). Namun demikian, melihat tingginya proporsi
masyarakat bertipe budaya subjek yang terdiri dari kalangan menengah perkotaan dan pemilih
pemula yang rata-rata berpendidikan SLTA , maka potensi terjadinya pergeseran budaya politik
masyarakat kalangan ini ke arah budaya politik partisipan sangatlah besar. Terlebih fenemona
yang terjadi akhir-akhir ini di mana kalangan pengusaha, baik kelas atas atau maupun kelas
menengah mulai tertarik untuk terjun dalam kancah politik praktis. Hal ini sudah tentu menjadi
fenomena yang sangat menggembirakan dalam pembangunan politik di Indonesia
Daftar Pustaka
Agustino, Leo, 2009. Politik dan Perubahan.Yogyakarta : Graha Ilmu
Asrinaldi, 2012.Politik Masyarakat Miskin Kota.Yogyakarta : Gava Media.
Elfriza, 2012.Political Explore: Sebuah Kajian Ilmu Politik. Bandung : Alfabeta.
Gaffar, Affan,2006. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Hofsteede, W.M.F. 1992
Proses Pengambilan Keputusan di Empat Desa Jawa
Barat.Yogyakarta.Gajah Mada Press.
Jackson, Karl D. & Pye, Lucian W, 1978.Political Power and Communications in Indonesia. Barkeley
and Los Angeles : University of California Press.
Kantaprawira, Rusadi, 2006. Sistem Politik Indonesia: Suatu Model Pengantar. Bandung : Sinar
Baru Algensindo.
Marijan, Kacung, 2010. Sistem Politik Indonesia: Konsolidasi Demokrasi Pasca-Orde Baru. Jakarta :
Kencana.
Mas’oed, M & MacAndrew, C, 2008.Perbandingan Sistem Politik. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.
Varma, S.P., 2010. Teori Politik Modern.Jakarta : RajaGrafindo Persada.
Winarno, Budi, 2007. Sistem Politik Indonesia Era Reformasi.Yogyakarta : MedPress.
Website
http://revolusidesa.com/category/page/fakta_desa/33/URBANISASI-DAN-KEMISKINAN-DESA
http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/26/13202052/Mahasiswa.di.Indonesia.
Cuma.4.8.Juta
http://puzzleminds. com/kualitas-kependudukan-di-indonesia/
8
Program Studi Ilmu Pemerintahan
Download