Diskriminasi Gender

advertisement
Kekerasan Terhadap Perempuan Bukti Diskriminasi Gender, Benarkah
Maraknya isu “Kekerasan terhadap perempuan”, menjadi rangkaian kosakata yang cukup
populer dalam beberapa tahun belakangan ini, telah memasuki wilayah yang paling kecil dan
eksklusif, yaitu keluarga.
Sangat ironis, di tengah-tengah masyarakat yang katanya ‘modern’, karena dibangun di atas
prinsip rasionalitas, demokrasi, dan humanisme—yang secara teori seharusnya mampu
menekan tindak kekerasan—justru budaya kekerasan semakin menjadi fenomena yang tidak
terpisahkan. Dewasa ini kita menyaksikan dengan jelas munculnya berbagai tindak kriminalitas,
kerusuhan, kerusakan moral, pemerkosaan, penganiayaan, pelecehan seksual, dan lain-lain
yang keseluruhannya adalah wadah budaya kekerasan. Di AS sendiri yang konon Negara
pengusung HAM, justru menunjukan laporan yang cukup mengejutkan. Andrew L. Sapiro dalm
bukunya berjudul Amerika NO.1 menyebutkan “Kita no.1 dalam kasus pemerkosaanyaitu 114
per100 ribu penduduk.” Departemen Kehakiman AS sampai akhir 1992 menyebutkan bahwa
20% pemerkosa adalah bapaknya sendiri, 26% orang dekatnya, 51% orang yang dikenalnya, 4%
orang yang tidak dikenalnya. Ini fakta tahun 1992, bagaimana dengan sekarang? Senada dengan
kondisi di Indonesia, Komnas Perempuan mencatat bahwa kekerasan terhadap perempuan
meningkat terus dari tahun ke tahun. Catatan tahun 2004, misalnya, menyebut 5.934 kasus
kekerasan menimpa perempuan. Angka ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2001 (3.169
kasus) dan tahun 2002 (5.163 kasus). Angka ini merupakan peristiwa yang berhasil dilaporkan
atau di-monitoring. Dari keseluruhan 5.934 kasus kekerasan terhadap perempuan, 2.703 adalah
kasus KDRT. Tercakup dalam kategori ini adalah kekerasan terhadap istri sebanyak 2.025 kasus
(75%), kekerasan terhadap anak perempuan 389 kasus (10% ), dan kekerasan terhadap
keluarga lainnya 23 kasus (1%). Pelaku umumnya adalah orang yang mempunyai hubungan
dekat dengan korban seperti suami, pacar, ayah, kakek, dan paman.
Tanggal 25 November, masyarakat dunia memperingati hari internasional Penghapusan
Kekerasan Terhadap Perempuan. Hari itu merupakan momen untuk menguatkan gerakan
solidaritas berdasarkan kesadaran bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan
pelanggaran HAM.
Issue tersebut diterjemahkan dengan cepat oleh pemerintah Indonesia dengan menggagas
‘Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tagga’ melalui UU No. 23 tahun 2004, yang disandarkan
pada Deklarasi PBB tentang ‘Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan’ (20 Desember
1998). Terakhir, pada Konferensi Perempuan Internasional di New York, ditandatangani
Konvensi Internasional tentang Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (awal Maret 2000).
Menurut kacamata feminis, kekerasan terhadap perempuan—yang mereka bahasakan dengan
kekerasan berbasis jender—merupakan hasil bentukan interaksi social yang terjadi dalam
masyarakat patriarki (sistem yang didominasi dan dikuasai oleh laki-laki). Menurut mereka, di
Indonesia secara histories sudah mengusung pelembagaan kekerasan jender sejak dulu masa
kerajaan, yaitu dengan berlakunya norma kepatuhan dan komoditi di tengah-tengah
masyarakat (Jurnal Perempuan, ed. 09).
Keadaan-keadaan inilah yang mereka anggap semakin memperkokoh ketidakadilan sistemik
terhadap perempuan. Apalagi kebijakan pembangunan dalam seluruh aspeknya selama ini
lebih banyak memihak kepada laki-laki. Adapun kebijakan yang berkenaan dengan perempuan
cenderung mengarah pada pemberdayaan perempuan sebagai ibu dan istri saja. Akhirnya,
posisi perempuan semakin terpinggirkan, terutama dalam hak-hak sosial, ekonomi dan politik;
mereka selalu menjadi orang nomor dua setelah laki-laki, baik dalam sektor privat (keluarga)
maupun publik (masyarakat). Kondisi ini sering berujung pada penuduhan terhadap Islam yang
dianggap lebih memihak laki-laki dan bersifat misoginis (membenci perempuan).
Inilah yang, menurut mereka, menjadi penyebab maraknya kekerasan terhadap perempuan,
termasuk dalam rumah tangga. Mereka bahkan menuduh norma agama khususnya Islam turut
mendukung langgengnya budaya kekerasan terhadap perempuan, termasuk KDRT, seperti
hukum Islam seputar kebolehan seorang suami berpoligami, wajibnya seorang istri meminta
izin suami ketika keluar rumah, kebolehan suami memukul istrinya ketika ia nusyûz, atau
keharusan seorang istri melayani suaminya ketika ia menginginkannya, dan lain-lain.
Perlu dipahami bahwa kejahatan atau kekerasan tidak ada kaitannya dengan masalah jender
(perbedaan jenis kelamin), karena kekerasan tidak hanya menimpa kaum perempuan, tetapi
juga menimpa kaum laki-laki, baik di dalam ataupun di luar rumah tangga. Pandangan bahwa
kekerasan terkait dengan jender adalah pandangan yang sangat keliru. Ia hanyalah pandangan
kaum feminis yang mengukur kejahatan berdasarkan jender, pelaku dan obyeknya. Mereka
membela pelacuran ketika perempuan menjadi korban (padahal pelacuran merupakan tindak
kejahatan). Mereka pun mencap poligami sebagai bagian dari KDRT karena pihak yang menjadi
korban pun—menurut mereka—adalah perempuan. Padahal jika kita mau jujur, jelas sekali
bahwa maraknya kekerasan terhadap perempuan atau KDRT merupakan cerminan dari
gagalnya bangunan sosial-politik yang didasarkan pada ideologi sekularis-kapitalis ini.
Munculnya banyak kasus kekerasan terhadap perempuan maupun KDRT adalah karena tidak
adanya perlindungan oleh negara, masyarakat, maupun keluarga. Ini adalah akibat dari tidak
adanya pemahaman yang jelas tentang hak-hak dan kewajiban negara, masyarakat, ataupun
anggota keluarga (suami-istri).
Diskriminasi perempuan di dalam kehidupan buddhis antara lain :
Buddha tidak ada yang perempuan (dalam artian Buddha tertinggi, seperti Gotama) karena
seorang Buddha harus mempunyai ciri-ciri Buddha berjumlah 32 (maha purusa)
Setelah Buddha meninggal—mungkin beberapa abad setelahnya—timbul pandangan bahwa
kelahiran sebagai perempuan lebih rendah karena karma buruk kelahiran sebelumnya. Jadi ada
anggapan sampai saat ini bahwa kelahiran sebagai perempuan karena akibat karma buruk
masa lampau dibanding kelahiran sebagai laki-laki.
Di Kitab Jataka Pali (cerita kehidupan lampau Buddha Gotama sebagai Bodhisatta) Bodhisatta
tidak pernah terlahir sebagai seorang perempuan, padahal sebagai hewan ada dalam cerita
tersebut. Jataka adalah cerita yang bukan dari Buddha sendiri atau dengan kata lain adalah teks
tambahan yang disusun ketika penyusunan Tripitaka.
Semenjak Sangha Bhikkhuni ada, umur Sangha Bhikkhu akan menjadi setengahnya dari 1000
tahun menjadi 500 tahun.
Cerita penolakan Buddha sebanyak 3 kali terhadap ibu tirinya yang ingin ditahbiskan menjadi
bikkhuni. Akhirnya Buddha menerima bhikkhuni dengan syarat 8 garu dhamma.
Delapan garu dhamma atau delapan aturan keras bagi bhikkhuni, dua diantaranya adalah:
Seorang bhikkhuni, walaupun sudah menjalankan sampai 100 tahun kebiksuniannya, harus
menyapa dengan hormat terhadap seorang bhikkhu walaupun bhikkhu tersebut baru sehari
menjadi biksu.
Seorang bhikkhuni tidak diperbolehkan untuk menasehati seorang bhikkhu, namun seorang
bhikkhu boleh menasehati seorang bhikkhuni.
Download