SKRIPSI Perubahan Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat dalam

advertisement
SKRIPSI
Perubahan Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat dalam Memerangi
Terorisme Internasional di Afghanistan Pada Periode Pemerintahan
Barack Obama
Disusun oleh:
Atik Fadilatul Husna
(106083003646)
Jurusan Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2012
LEMBAR PENGESAHAN
Perubahan Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat dalam Memerangi
Terorisme Internasional di Afghanistan Pada Periode Pemerintahan Barack
Obama
Disusun Oleh:
Atik Fadilatul Husna
106083003646
Dosen Pembimbing
Pembimbing Akademik
M. Adian Firnas, S.IP, M.Si
Ali Munhanif Ph.D
NIP. 196512121992031004
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana
JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2012
i
ii
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan skripsi ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau
merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tangerang, April 2012
Atik Fadilatul Husna
iii
ABSTRAK
Skripsi ini menganalisis tentang perubahan kebijakan luar negeri Amerika
Serikat dalam memerangi terorisme internasional di Afghanistan dibawah
pemerintahan Barack Obama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat
dalam memerangi terorisme internasional di Afghanistan. Metode yang digunakan
untuk menulis penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif
yang menggunakan buku-buku, jurnal ilmiah, koran sebagai sumber penelitian. Dari
hasil penelitian tersebut penulis menemukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat adalah faktor internal atau domestik
dan faktor eksternal. Faktor internal atau domestik terdiri dari segi ekonomi, sosial,
dan politik, pengaruh ideologi dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal dari
perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat adalah pernyataan sikap negaranegara dalam menyikapi sebuah kebijakan luar negeri dimasa pemerintahan
sebelumnya (masa George W Bush junior). Dikarenakan sikap agresif dan gaya
kepemimpinan George W Bush yang lebih hard power atau lebih mengedepankan
militer sehingga mendapatkan protes dari masyarakat Amerika Serikat itu sendiri dan
juga dari negara-negara di dunia. Oleh karena itu Barack Obama tampil dengan gaya
kepemimpinan yang baru yaitu smart power yang lebih mengutamakan diplomasi.
Kerangka teori yang digunakan dalam skripsi ini adalah teori kepentingan
nasional, dimana pada setiap negara tentu lebih mengutamakan kepentingan
nasionalnya untuk mewujudkan tujuan dari negaranya. Kepentingan nasional tersebut
kemudian diimplementasikan dalam sebuah kebijakan luar negeri, sehingga dapat
dikatakan bahwa kebijakan luar negeri suatu negara merupakan kepanjangtanganan
dari kepentingan nasional.
iv
KATA PENGANTAR
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan segala petunjuk, rahmat, kesehatan, serta kekuatan sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Perubahan Kebijakan Luar Negeri
Amerika Serikat dalam Memerangi Terorisme Internasional di Afghanistan
Pada Periode Pemerintahan Barack Obama”. Terwujudnya skripsi ini tidak lepas
dari bantuan berbagai pihak yang telah mendorong dan membimbing penulis baik dari
segi tenaga, ide-ide, maupun pemikiran. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis
ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak (Mukasam) dan Ibu (Sri Jusmiati) tersayang yang telah memberikan
semangat dan juga doanya walaupun dari kampung halaman, namun dengan
doa yang tulus dari merekalah akhirnya penulis bisa menyelesaikan penulisan
skripsi ini. Serta tak lupa seluruh adik-adikku tercinta (Bidin, Dila, dan
Diandra) terimakasih atas dukungan, bimbingan, dan hiburan by phone nya
sampai saat ini.
2. Bapak M. Adian Firnas, S.IP, M.Si sebagai dosen pembimbing skripsi penulis
yang telah memberikan arahan, saran, dan juga ilmunya. Serta tak hentihentinya memberikan semangat kepada penulis hingga penulisan skripsi ini
dapat terselesaikan dengan baik. Alhamdulillah. Terimakasih atas kesabaran,
perhatian, dan juga waktu luangnya ditengah-tengah kesibukan.
v
3. Ibu Dina Afrianti, Ph.D, sebagai ketua Jurusan Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Agus Nilmada Azmi, M. Si, sebagai sekretaris Jurusan Hubungan
Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Seluruh Bapak/ Ibu Dosen Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif hidayatullah Jakarta
yang telah mengajarkan ilmu tanpa mengingat lelah “jasamu takkan pernah
kulupakan” serta membantu penulis untuk segera menyelesaikan tugasnya
sebagai mahasiswa.
6. Bapak Dr. Abdul Mujib M.Ag dan Ibu dr. Siti Nur Aisyah Jauharoh , Ph.D
sebagai orang tua yang telah membimbing penulis selama di Jakarta.
7. Sahabat tercinta teman didalam kelas Hubungan Internasional: Rahma, Dian,
Desty, Izzun (alm), Astrid, Diah, Crista, Qory, Irfan, Julian. Terimakasih
banyak atas sharing dan motivasinya, tetap semangat buat teman-teman yang
belum selesai...!! dan juga buat sahabat seperantauan Hadi, Dani, Alan,
Ikhwan, terimakasih atas pengertian dan juga kerjasamanya dalam hal apapun.
8. Anak-anak didik sekaligus yang menjadi hiburan penulis selama mengerjakan
skripsi: Zia, Nina, Azka, Raffi, Adel, Abizar, Thalent, Naura, Rheinaya,
Sulthan, Aqilla, Fattan, Adit, Nayla, Rakhel, Daffa, Nindy, Dayu, Aira dan
Fazl.... Terimakasih dengan senyum manis kalian menjadi hiburan tersendiri
bagi kaka.. ^_^
vi
9. Teman-teman
Mahasiswa/Mahasiswi
Jurusan
Hubungan
Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Jakarta kelas A
khususnya dan seluruh angkatan 2006 umumnya.
10. Semua pihak yang telah turut serta dalam membantu penyelesaian skripsi ini,
namun tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terimakasih banyak.
Semoga segala bantuan yang tidak ternilai harganya ini mendapat imbalan di
sisi Allah SWT sebagai amal ibadah, yang tidak akan putus, Amiin. Penulis
menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan
saran yang membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi perbaikanperbaikan kedepannya.
Tangerang, 03 April 2012
Atik Fadilatul Husna
vii
Daftar Isi
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN
i
LEMBAR PERNYATAAN
ii
ABSTRAK
iii
KATA PENGANTAR
iv
DAFTAR ISI
vii
I. Pendahuluan
1.1.
Latar belakang penelitian ....................................................... 1
1.2.
Pertanyaan penelitian ............................................................. 5
1.3.
Tujuan Penelitian .................................................................... 5
1.4.
Kerangka teori ......................................................................... 6
1.5.
Metode penelitian ................................................................... 16
1.6.
Sistematika penulisan ............................................................. 18
II. Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat dalam Memerangi
Terorisme Internasional di Afghanistan Pada masa George W Bush
dan Barack Obama
II.1. Kebijakan luar Negeri Amerika Serikat pada masa George W Bush
junior di Afghanistan ………………………………………….....19
II.2. Kebijakan luar Negeri Amerika Serikat pada masa Barack Obama di
Afghanistan …………………………………………………….. 23
viii
III. Faktor-faktor dalam Perumusan Kebijakan Luar Negeri Amerika
Serikat
II.1.
Faktor Domestik (Internal)
II.1.a. Kondisi sosial, ekonomi dan politik
Amerika Serikat .......................................................... 27
II.1.b. Pengaruh dari berbagai kelompok kepentingan ......... 30
II.1.c. Pengaruh ideologi ...................................................... 41
II.1.d. Faktor individu dari seorang pemimpin ……………...46
II.2.
Faktor Internasional
II.2.a. Kondisi
internasional
dalam
menyikapi
sebuah
kebijakan pemerintahan sebelumnya (George W Bush
junior) ......................................................................... 49
IV. Analisis terhadap penyebab perubahan kebijakan luar negeri
Amerika Serikat dalam memerangi terorisme internasional di
Afghanistan era Barack Obama
IV.1.
Faktor internal
IV.1.a. Keadaan ekonomi, sosial, dan politik dalam negeri
Amerika Serikat .......................................................... 54
IV.1.b. Faktor internal dalam diri Barack Obama .................. 59
IV.2.
Faktor internasional ................................................................ 65
ix
IV.3.
Implementasi konsep smart power dalam kebijakan luar negeri
Amerika Serikat dalam memerangi terorisme internasional di
Aghanistan masa Barack Obama ............................................ 68
V. Penutup
V.1. Kesimpulan …………................................................................... 74
Daftar Pustaka .............................................................................................. 78
x
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Penelitian
Setiap negara mempunyai tujuan nasional dan juga kebijakan luar negeri
dalam melakukan kerjasama dengan negara lain. Untuk itu setiap negara perlu
merumuskan sebuah kebijakan agar dapat hidup bekerjasama dengan negara lain
dalam mencapai sebuah tujuan bersama melalui sebuah kerjasama internasional.
Negara Amerika Serikat merupakan sebuah negara besar, untuk itu Amerika Serikat
mempunyai sebuah kebijakan yang mempunyai nilai besar dalam politik
internasional.
Pada masa George W Bush, kebijakan luar negeri Amerika Serikat
cenderung lebih mengutamakan militer/ hard power tanpa memperdulikan kecamankecaman baik dari negara lain maupun dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
Kecaman tersebut pernah muncul ketika Amerika Serikat menyerang Afghanistan
yang diduga sebagai basis terorisme dan Amerika memanfaatkan kebijakan selfdefense untuk melakukan pre-emptive strike. Pada pasal 51 resolusi 1368 tahun 2001
diterangkan apabila penyerangan tersebut didasarkan atas self defence maka negara
yang menyerang tersebut harus segera melaporkan tindakannya ke DK (Dewan
Keamanan) PBB. Namun pada kenyataannya Amerika belum bahkan tidak
melaporkan kejahatan kemanusiaannya terhadap DK PBB atas penyerangannya
terhadap Afghanistan.1
Pergantian kepemimpinan di Amerika Serikat dari George W Bush kepada
Barack Obama tahun 2009 lalu merupakan sebuah fenomena yang baru pertama kali
1
Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika
Global (Bandung: P. T. Alumni, 2005), h. 663.
1
terjadi, karena untuk pertama kalinya kandidat presiden Amerika Serikat yang berasal
dari kulit hitam ini mampu memenangkan pemilihan umum pada tahun 2009.
Presiden George Bush merupakan presiden yang berasal dari partai Republik
sedangkan calon presiden Barack Obama berasal dari partai Demokrat. Untuk itu
sudah pasti kebijakan yang diambilpun berbeda. Kebijakan presiden George Bush
terkenal dengan keras dan lebih mengedepankan militer sedangkan senator Barack
Obama lebih mengedepankan diplomasi.2
Skripsi ini akan membahas apa saja yang mempengaruhi dari perubahan
kebijakan luar negeri Amerika Serikat dibawah presiden Barack Obama dalam
memerangi terorisme internasional, karena kepemimpinan dimasa George Bush
kebijakan yang diambil banyak menimbulkan kontra dimata masyarakat internasional
terutama dunia muslim. Hal ini disebabkan karena tuduhan George W Bush terhadap
Osama bin Laden atas peristiwa runtuhnya gedung menara kembar WTC (World
Trade Center) pada 11 September 2001. Sedangkan gedung menara kembar tersebut
merupakan simbol kedigdayaan Amerika Serikat, dengan adanya peristiwa tersebut
maka George W Bush memerintahkan anggota militernya untuk menyerang
Afghanistan yang disinyalir sebagai tempat persembunyian Osama bin Laden.3 Atas
penyerangan militer Amerika tersebut maka negara-negara muslim menilai bahwa
Amerika bukan memerangi terorisme melainkan karena ada motif lain yaitu karena
ingin menguasai minyak dan juga untuk membangun saluran pipa yang melewati
Afghanistan.4 Alasan Amerika Serikat dalam menyerang Afghanistan inilah yang
2
Riefqi Muna, “Paradigma Pertahanan dari Hard Power ke Smart Power dalam jurnal
Pertahanan dan Perdamaian,” Jakarta: Pusat Studi Pertahanan dan Perdamaian FISIP Universitas Al
Azhar Indonesia V, no. 1 (April 2009): h. 86-87.
3
Aleksius Jemadu, Politik Global dalam Teori dan Praktik (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008),
h. 163.
4
Adhi Ariebowo, “BAB II Kronologi Penyerangan dan Spekulasi yang Berkembang atas
Motivasi Amerika Serikat” FISIP UI 2009 diakses pada Kamis, 17 November 2011 dari
www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/122929...Literatur.pdf.
2
dinilai oleh negara-negara muslim kurang masuk akal sehingga membuat negara
muslim (Iran, Irak, Mesir, dan lain-lain) mengutuk keras tindakan Amerika tersebut.
Kebijakan Obama yang lebih mengedepankan diplomasi atau lebih dikenal
dengan smart power (perpaduan antara hard power dan soft power)5 ini merupakan
sebuah titik awal untuk mengembalikan citra Amerika yang dianggap sangat tidak
memperhatikan saran dari negara lain ketika masa George W Bush. Kebijakan yang
diambil oleh Obama tersebut tentunya juga tidak hanya dipengaruhi oleh kelompok
kepentingan sepihak namun banyak pihak yang ikut andil dalam proses pengambilan
kebijakan, baik itu yang pro dengan idenya maupun yang kontra. Amerika merupakan
sebuah negara besar dan ditempati oleh orang-orang yang sangat intelektual dan
berpengaruh dalam percaturan politik internasional, sehingga ketika sebuah kebijakan
diambil oleh presidennya tentu akan mempengaruhi percaturan politik global.
Contohnya adalah ambisi Amerika Serikat untuk menguasai minyak di kawasan
Timur Tengah.
Salah satu usaha presiden Barack Obama dalam mengembalikan citra baik
negaranya dimata masyarakat internasional adalah dengan melakukan kunjungan ke
kawasan Dunia Islam, seperti ke Turki dan Mesir pada bulan Juni 2009 dan juga ke
Indonesia pada bulan November 2009.6 Itu artinya bahwa Amerika mencoba
merangkul dunia muslim kembali untuk meyakinkan bahwa misi dari pada presiden
Barack Obama adalah misi perdamaian. Obama mengirimkan Hillary Clinton ke
wilayah Timur Tengah itu disebabkan karena Timur Tengah sedang dilanda konflik
yang berkepanjangan selain itu juga karena untuk memperbaiki citra buruk dimata
dunia muslim setelah kepemimpinan sebelumnya yaitu George W Bush. Citra buruk
tersebut disebabkan karena penyerangan aksi militer Amerika Serikat yang alasannya
5
Ibid., h. 164.
http:/www.politik.lipi.go.id/index.php/en/columns/politik-internasional/99-prospekhubungan-as-indonesia-pasca-kunjungan-hillary diakses pada 06 Juli 2011.
6
3
selalu dianggap benar oleh Amerika Serikat yaitu memerangi terorisme dan juga
karena kepemilikan atas senjata pemusnah massal oleh Irak.
Dalam pengambilan sebuah kebijakan, setiap negara dipengaruhi oleh faktor
domestik dan faktor internasional namun faktor domestik lebih diutamakan dalam
pengambilan kebijakan luar negeri.7 Diantara faktor domestik adalah kondisi sosial,
ekonomi, politik serta pengaruh dari kelompok-kelompok kepentingan, sedangkan
dari faktor internasional adalah kondisi politik internasional yang terjadi saat itu.
Begitu pula dengan kebijakan luar negeri yang dikeluarkan oleh Barack Obama
sebagai presiden ke-44 di Amerika Serikat banyak dipengaruhi oleh kelompok
kepentingan dari faktor internalnya, terutama setelah turunnya George W Bush
kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang juga masih dipengaruhi oleh
neokonservatif8 dan dipandang sangat kontra terhadap keinginan masyarakat dunia.
Beberapa faktor internal dan eksternal yang tersebut diatas tidak akan pernah
lepas dari setiap negara yang akan merumuskan kebijakan luar negeri begitu juga
dengan negara Amerika Serikat sebagai negara yang sangat kuat. Sehingga disetiap
pergantian presiden di Amerika Serikat pertama kali yang paling diperhatikan oleh
negara-negara sekitarnya adalah kebijakan luar negeri terutama terhadap negaranegara muslim.
Untuk itu perlu penjelasan lebih lanjut mengenai faktor internal dan faktor
eksternal sebagaimana yang tersebut diatas. Dengan adanya penjelasan yang lebih
7
Leonard Hutabarat, “Analisis Kebijakan Luar Negeri dalam Studi Hubungan Internasional,”
Dalam jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta: Universitas Kristen Indonesia, Vol. V, no.
22 ( Mei 2005), h. 19.
8
Neoconservative is foreign policy thought emphasizes the moral necessity of distinguishing
between the forces of good and evil in the international arena, the importance of maintaining US
military dominance, a greater willingness to use force, and deep distrust of international law and
institutions (Neokonservatif adalah sebuah kebijakan luar negeri yang menekankan kekuatan baik dan
kekuatan jahat dikawasan internasional, mengutamakan kepentingan kemiliteran US, serta mempunyai
keinginan yang kuat dalam menggunakan kekuatan kemiliteran tersebut, dan ketidakpercayaan dalam
lembaga dan hukum internasional). Nur Rahmat Yuliantoro, kelas Politik luar negeri AS, HI UGM, 17
Maret 2011, “Neokonservatisme dan Politik Luar Negeri Amerika Serikat,” artikel diakses pada 6 Juli
2011 dari http://www.rachmat.staff.ugm.ac.id/.. AS/neokonservatif%20 dan %20PLN.
4
mendetail tentunya akan lebih memudahkan pembaca untuk memahami dan mengerti
bahwa pada setiap pengambilan kebijakan luar negeri suatu negara tidak hanya
berdasar pada satu aktor saja yaitu presiden, namun disana masih banyak pengaruh
dan juga banyak hal yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum sebuah
keputusan kebijakan luar negeri tersebut disahkan oleh senat. Untuk itu kalau kita
melihat pada setiap pergantian presiden kita pasti melihat terlebih dahulu siapa dan
apa saja yang menjadi agenda kebijakannya apabila nantinya ia terpilih menjadi
presiden, namun masyarakat intelektual dan juga organisasi masyarakat, partai, NGO
(Non Government Organization) dan lain-lain tentu tidak akan hanya melihat
bagaimana figure dari calon presiden tetapi juga melihat dan mengamati siapa yang
berada dibelakangnya yang mampu menjadikan dia menjadi seorang presiden.
Dikarenakan justru orang yang dibelakangnya itulah nantinya yang akan memberikan
kontribusi besar dalam setiap kebijakan yang diambil.
I.2. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian dalam skripsi ini adalah bagaimana perubahan kebijakan luar
negeri Amerika Serikat terkait upaya memerangi terorisme internasional di
Afghanistan pada periode pemerintahan Barack Obama?
I.3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui proses perumusan politik luar negeri Amerika Serikat
2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kebijakan luar
negeri
Amerika
Serikat
dalam
pemerintahan Barack Obama.
5
memerangi
terorisme
pada
periode
3. Diharapkan penelitian ini akan bermanfaat bagi peneliti lainnya yang tertarik
dengan masalah ini.
1.4. Kerangka Teori
Kepentingan Nasional
Konsep kepentingan nasional ini sangat penting dalam memahami dan
menjelaskan perilaku internasional. Kepentingan nasional ini dijadikan sebagai acuan
untuk merumuskan suatu kebijakan pada suatu negara. Para penganut realis
menyamakan kepentingan nasional dengan power, dimana power menjadi sebuah alat
yang dapat mengembangkan dan memelihara kontrol suatu hubungan negara dengan
negara lain.9
Politik di Amerika Serikat memang sangat menarik untuk dibicarakan.
Mengingat negara Amerika merupakan negara yang mempunyai pengaruh besar
dalam setiap pergerakan politik dunia. Amerika Serikat mulai merasa dikhianati oleh
Jepang ketika peristiwa Pearl Harbour pada 7 Desember 1941,10 yaitu ketika warga
masyarakat Amerika serta tentara masih terlelap tidur namun tiba-tiba tentara Jepang
menyerang Amerika sehingga mengakibatkan banyak korban berjatuhan dari pihak
Amerika.
Belajar dari hal itu Amerika merasakan bahwa negaranya masih belum aman,
sehingga Amerika Serikat selalu berusaha untuk memperbaiki dalam memberikan
rasa aman tersebut terhadap warga negaranya. Salah satu upayanya adalah dengan
menunjukkan kekuatan militernya, dan hal itu dibuktikan dengan penyerangannya
9
Anak Agung Banyu Perwita, dan Yanyan Mochammad Yani, Pengantar Ilmu Hubungan
Internasional (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 35.
10
“Fakta fakta Sejarah Serangan Jepang ke Pearl Harbour, ” diakses pada 10 Juli 2011 dari
http://www.tambahwawasan.com/2011/03/fakta-fakta-sejarah-serangan-jepang-ke.html.
6
terhadap Jepang di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945,11 dengan
penyerangan tersebut ditujukan untuk menunjukkan kekuatan militer Amerika Serikat
terhadap masyarakat internasional.
Hans J Morgenthau mengemukakan mengenai kepentingan nasional yaitu, the
concept of the national interest, then, contains two elements, one that is logically
required and in that sense necessary, and one that is variable and determined by
circumstances.12 Menurutnya kepentingan nasional terdiri dari dua elemen yaitu
didasarkan pada pemenuhan sendiri atau kebutuhan dalam negeri itu sendiri dan
kedua mempertimbangkan lingkungan strategis sekitarnya atau kondisi luar dari
negaranya. Sehingga pemenuhan dalam negeri dapat dilakukan dengan cara
mempertahankan kedaulatan wilayah negara, stabilitas politik dalam negeri, menjaga
identitas budaya dari ancaman negara lain. Sedangkan yang dimaksud dengan
mempertimbangkan kondisi lingkungan strategis adalah dengan cara menciptakan
perdamaian dunia melalui diplomasi.
Kepentingan nasional ini tidak hanya dikemukakan oleh Hans J Morgenthau
saja, melainkan masih banyak dari para pakar pengamat Hubungan Internasional,
diantaranya adalah Charles W Kegley dan Eugene R. Wittkopf13 yang memberikan
pemikiran tentang kepentingan nasional. Menurut mereka kepentingan nasional
adalah usaha suatu negara dalam memberikan rasa aman terhadap warga negaranya
baik dari agresi luar atau dalam negeri itu sendiri, kesejahteraan terhadap rakyatnya,
dan melindungi nilai-nilai negara. Lebih jauh dari itu ia juga mengemukakan bahwa
tidak mungkin suatu negara dapat mencapai kepentingan nasionalnya harus dengan
11
Publikasi.umy.ac.id/index.php/hukum/article/view/1869/409 diakses pada 19 November
2011.
12
Dikutip dalam tesis Martinus Siswanto Prajogo dengan judul “Kepentingan Nasional:
Sebuah Teori Universal dan Penerapannya oleh Amerika Serikat di Indonesia,” Universitas Indonesia
program kajian wilayah Amerika Serikat (Jakarta: Juni, 2009), diakses pada 10 Juli 2011 dari http:
www.strahan.kemhan.go.id/media/files/kepentingan-nasional.pdf.
13
Ibid.,
7
mengurangi rasa aman dan rasa kesejahteraan terhadap kompetitornya. Sehingga
diperlukan sebuah kerjasama dengan negara lain baik kerjasama yang bersifat
regional maupun internasional demi terciptanya perdamaian global.
Menyimak dari penjelasan yang tersebut diatas, maka dapat diambil suatu
kesimpulan bahwa suatu negara apabila menginginkan kesejahteraan dan keamanan
terhadap warga negaranya harus mempunyai power atau kekuatan agar tercapai
kepentingan nasionalnya, dengan adanya kekuatan tersebut dapat dengan mudah
untuk mengayomi warga negaranya, seperti yang terjadi pada negara Amerika Serikat
atas penyerangan terhadap WTC 11 September 2001, atas peristiwa tersebut Amerika
langsung menuduh bahwa dibalik peristiwa itu semua adalah ulah dari para teroris
yang dipimpin oleh Osama bin Laden. Penyeranganpun segera dilakukan ke
Afghanistan meskipun terdapat kecaman dari PBB, namun karena pengaruh dan juga
kekuasaan Amerika Serikat didalam tubuh PBB yang sangat kuat, maka Amerikapun
menjadi sangat mudah dalam menjalankan aksinya.
Miroslav Nincic14 mengungkapkan terdapat tiga asumsi dasar kepentingan
nasional, yaitu pertama kepentingan tersebut bersifat vital yang dalam pencapaiannya
harus menjadi prioritas utama pemerintah dan masyarakat. Kedua kepentingan
tersebut berkaitan dengan lingkungan internasional, jadi pencapaian kepentingan
nasional dipengaruhi oleh lingkungan internasional. Ketiga kepentingan tersebut
harus tidak memihak kepada salah satu instansi ataupun kelompok manapun
melainkan harus mewakili dari seluruh aspirasi masyarakat.
Kepentingan nasional yang sudah menjadi tujuan negara harus diterapkan
melalui sebuah kebijakan luar negeri, sebelum menjadi sebuah kebijakan luar negeri
yang dibuat oleh pemerintah terlebih dahulu harus melalui pengesahan dari sebuah
14
Dikutip dalam buku Aleksius Jemadu, Politik Global dalam Teori dan Praktik
(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), h. 67.
8
badan legislatif, setelah adanya pengesahan maka kebijakan tersebut dapat
terealisasikan. Seperti contoh penyerangan tentara Amerika Serikat ke Afghanistan,
penyerangan tersebut dilakukan setelah Bush berpidato untuk memerangi terorisme
dan menyarankan untuk melakukan tindakan militer ke Afghanistan karena dianggap
telah mengancam kedaulatan Amerika Serikat, mengganggu keamanan nasional
Amerika Serikat dan juga kepentingaan nasional Amerika Serikat. Sebelum
melakukan penyerangan tersebut, presiden meminta persetujuan terhadap senat
terlebih dahulu.
Untuk itu kepentingan nasional sangat berkaitan erat dengan kebijakan luar
negeri suatu negara, karena dengan kebijakan luar negeri maka usaha suatu negara
untuk memberikan rasa aman dan rasa kesejahteraan terhadap warganegaranya
menjadi lebih terjamin. Misalnya bagi mereka warganegara Amerika yang melakukan
studi diluar negeri, maka apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap pelajar
tersebut setidaknya mendapat respon dari negara yang ditempati apabila negara yang
ditempati tersebut mengadakan suatu hubungan kerjasama dengan negara tersebut.
Dapat dikatakan bahwa kepentingan nasional membutuhkan sebuah kebijakan luar
negeri agar apa yang menjadi tujuan negara tersebut dapat terealisasikan, artinya
kebijakan luar negeri merupakan kepanjangtanganan dari kepentingan nasional.
Kebijakan Luar Negeri
Untuk mewujudkan kepentingan nasional suatu negara maka sebuah negara
perlu untuk merumuskan kebijakan luar negeri. Kebijakan yang diterapkan harus
memenuhi semua kepentingan masyarakat dan kepentingan nasional negaranya.
Meminjam istilah Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani foreign
policy merupakan suatu perangkat formula, nilai, sikap, arah serta sasaran untuk
9
mempertahankan, mengamankan, dan memajukan kepentingan nasional didalam
percaturan dunia internasional15.
Kebijakan luar negeri juga merupakan serangkaian sasaran bagaimana suatu
negara berinteraksi dengan negara lain baik dibidang politik, ekonomi, sosial, dan
militer. Untuk itu aktor-aktor negara melakukan berbagai macam kerjasama baik
kerjasama yang bersifat bilateral, trilateral, regional, dan multilateral. Biasanya
kebijakan luar negeri ini dapat dilakukan dengan berbagai cara namun terdapat tiga
yang paling umum, yaitu melalui perang, perdamaian dan kerjasama ekonomi16.
K J Holsti mengeluarkan argumen bahwa kebijakan luar negeri adalah strategi
atau rencana tindakan yang dibentuk oleh para pembuat keputusan suatu negara dalam
menghadapi negara lain atau unit politik internasional lainnya dan dikendalikan untuk
mencapai tujuan nasional yang dituangkan dalam terminologi kepentingan nasional.
Terdapat lima landasan pembuatan sumber kebijakan luar negeri AS, kelima landasan
it5u adalah17:
1. External Sources (sumber eksternal) meliputi atribut-atribut yang ada pada
sistem internasional dan pada karakteristik serta sikap suatu negara dalam
menjalaninya. External Sources mencakup perubahan yang terjadi di
lingkungan eksternal, kebijakan dan tindakan dari negara lain baik itu konflik
maupun kerjasama, ancaman, dukungan yang baik secara langsung atau tidak
langsung mempengaruhi foreign policy suatu negara.
15
Anak Agung Banyu Perwita, dan Yanyan Mochammad Yani, Pengantar Ilmu Hubungan
Internasional (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 47.
16
K.J Holsti, International Politics A Framework for Analisys 6 th ed (New Jersey A Simon &
Schuster Company, 1992), h. 82.
17
Eugene R Wittkoff, Charles W Jr Kegley, dan James M Scott, American Foreign policy,
Sixth Edition (United States Thomson Wadsworth, 2003), h. 16-19 data ini diperkuat pula dari
Artikel Yanyan Mochammad Yani disampaikan pada acara sistem politik luar negeri bagi perwira
siswa sekolah staf dan komando TNI AU (Bandung: 16 Mei 2007) diakses pada 07 Juli 2011 dari
http:// pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/…/politik luar negeri. Pdf.
10
2. Societal Sources (sumber masyarakat) yaitu seluruh karakteristik sosial
domestik dan sistem politik yang membentuk orientasi masyarakat terhadap
dunia. Intinya adalah seluruh aspek non pemerintah dari sistem politik yang
mempengaruhi foreign policy. Hal ini meliputi keadaan geografis, etnis, nilai
atau norma yang berkembang di masyarakat, populasi, opini publik, dan lainlain.
3. Governmental Sources (sumber pemerintah) meliputi seluruh elemen dari
struktur pemerintahan yang memberikan pertimbangan-pertimbangan akan
pilihan foreign policy baik yang sifatnya memperluas atau membatasi pilihan
yang akan diambil oleh para pembuat kebijakan, tentunya dalam lingkungan
serta interaksi antar pihak-pihak didalam pemerintahan.
4. Role Sources (sumber peranan), role disini terkait dengan peranan atau status
dari pemerintah sebagai pembuat keputusan.
5. Individual Sources (sumber individu) meliputi nilai-nilai dari seorang
pemimpin atau pengambil keputusan sebagai ideologinya, pengalaman
hidupnya, masa kecilnya, latar belakang pendidikannya, segala sesuatu yang
mempengaruhi persepsinya, karakter, dan lain-lain. Hal-hal inilah yang
mempengaruhi persepsi, pilihan-pilihan dan respon atau reaksi dari seorang
pengambil keputusan dari pengambil keputusan yang lain.
Rosenau juga mengatakan pendapatnya bahwa kebijakan luar negeri
merupakan sebuah upaya dan usaha pemerintah melalui segala sikap dan aktivitas
dalam memperoleh keuntungan eksternalnya. Kebijakan ini ditujukan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup negara dimasa mendatang. Ungkapan Rosenau
ini sangat menarik untuk dikutip yaitu mengenai kebijakan luar negeri yang memiliki
11
landasan atau konsep dasar dalam menjalankan hubungan negaranya dengan kejadian
dilingkungan eksternalnya.18
“Kebijakan luar negeri memiliki tiga konsep dalam menjelaskan
hubungan antara suatu negara dengan kejadian dan situasi diluar
negaranya, yaitu:
1. Kebijakan luar negeri sebagai sekumpulan orientasi (as a
cluster of orientation) politik luar negeri sebagai
sekumpulan orientasi merupakan pedoman bagi para
pembuat keputusan untuk menghadapi situasi eksternal
yang menuntut pembuatan keputusan dan tindakan
berdasarkan orientasi tersebut, orientasi ini terdiri dari
persepsi, sikap, dan nilai-nilai.
2. Politik luar negeri sebagai seperangkat komitmen dan
rencana untuk bertindak (as a set of commitments to and
plan for action), kebijakan luar negeri berupa rencana dan
komitmen kongkrit yang dikembangkan oleh para pembuat
keputusan untuk membina dan mempertahankan situasi
lingkungan eksternal yang konsisten dengan orientasi
kebijakan luar negeri.
3. Kebijakan luar negeri sebagai bentuk perilaku atau aksi (as
a form of behavior), pada tingkat ini kebijakan luar negeri
berada pada tingkat yang lebih empiris yakni berupa
langkah-langkah nyata yang diambil oleh para pembuat
18
Artikel Yanyan Mochammad Yani disampaikan pada acara sistem politik luar negeri bagi
perwira siswa sekolah staf dan komando TNI AU (Bandung: 16 Mei 2007) diakses pada 07 Juli 2011
dari http:// pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/…/politik luar negeri. Pdf.
12
keputusan yang berhubungan dengan kejadian serta situasi
dilingkungan eksternalnya.”
Dari kedua pendapat yang tersebut diatas, yaitu KJ Holsti dan Rosenau, maka
dapat diambil suatu kesimpulan bahwa keputusan dalam pengambilan kebijakan luar
negeri tidak akan pernah lepas dari faktor internal suatu negara, seperti faktor
ekonomi, faktor politik dalam negeri, faktor sosial, peranan LSM (Lembaga Swadaya
Masyarakat), kelompok kepentingan, dan lain-lain. Selain itu faktor eksternal juga
tetap menjadi pertimbangan dalam pengambilan sebuah kebijakan luar negeri suatu
negara, dengan saling mengkondisikan antara faktor internal dan eksternal maka akan
terbentuklah sebuah kebijakan yang sesuai dengan keinginan nasional negaranya
masing-masing.
Leonardo Hutabarat juga mengemukakan bahwa elemen dalam pembuatan
kebijakan luar negeri didasarkan pada para pembuat keputusan itu sendiri, sehingga
sebuah kebijakan tidak akan terlaksana tanpa adanya komitmen untuk mencapai
tujuan
dengan
keseimbangan
antara
kemampuan
yang
diperlukan
dalam
pengimplementasiannya.19 Hutabarat juga mengatakan bahwa size, status, resources
dan human factors adalah elemen kunci dalam studi kebijakan luar negeri selain itu
juga karena situasi geopolitik suatu negara dan tantangan yang dihadapinya dalam
jangka
pendek.
Sedangkan
dalam
jangka
panjang
kebijakan
luar
negeri
diterminologikan dalam konteks politik umum dalam pemerintahan, seperti
democracy, dictatorship (pemerintahan yang diktator), stability dan instability.20 Oleh
karena itu faktor-faktor yang tersebut diatas sangat penting dalam pembuatan
kebijakan luar negeri, dan dalam mempengaruhi langkah-langkah yang akan diambil.
19
Leonard Hutabarat, “Analisis Kebijakan Luar Negeri dalam Studi Hubungan Internasional”
Dalam jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Jakarta: Universitas Kristen Indonesia, Vol. V, no. 22
( Mei 2005), h. 15.
20
Ibid., h. 16.
13
Tabel: gambaran kepentingan nasional yang dijabarkan ke dalam tujuan kebijakan
luar negeri serta tindakan dalam pencapaiannya21
Kepentingan
Tujuan Kebijakan Luar
Tindakan atau
Nasional
Negeri
Implementasi
Kedaulatan
dan Mobilisasi dukungan negara Pengiriman
keutuhan territorial
misi
tetangga, negara besar dan diplomatik
organisasi internasional
Pembangunan
dan Meyakinkan negara donor dan Perundingan dana untuk
pertumbuhan
investor
ekonomi
memberikan
asing
untuk mendukung
bantuan
luar umum
negeri dan investasi asing
Penyebaran
values
dan
dana
mendukung
demokrasi dan hak
umum
azasi manusia suatu
demokrasi
negara
pendidikan
demokrasi
core Peningkatan peran gerakan Penyaluran
seperti demokrasi dan civil society
pemilihan
dan
untuk
pemilihan
pendidikan
(khususnya
AS)
Keamanan
dan regional
nasional Pembentukan dan revitalisasi Penandatanganan
pakta
aliansi militer dan kerjasama militer dan militer bersama
regional
Dari tabel diatas dapat dijelaskan, setiap kepentingan nasional yang menjadi
agenda suatu negara harus diimplementasikan dalam sebuah kebijakan luar negeri.
21
Leonard Hutabarat, “Analisis Kebijakan Luar Negeri dalam Studi Hubungan Internasional”,
h. 70.
14
Untuk itu harus dijelaskan bagaimana sebuah kebijakan luar negeri itu
diimplementasikan. Pertama, adalah kedaulatan dan keutuhan territorial. Demi
menjaga keutuhan dan kedaulatan teritorial suatu negara maka setiap negara harus
mendapatkan dukungan dari beberapa negara terutama negara-negara besar dan juga
organisasi internasional. Agar dapat memiliki hubungan yang baik dengan berbagai
negara maka diutuslah seorang diplomat dengan membawa misinya sebagaimana
yang dijelaskan sebelumnya.
Kedua, dalam hal pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, maka suatu
negara berusaha mencari pendonor dan juga investor asing agar mau untuk
menanamkan saham dalam negaranya. Atas penanaman saham tersebut maka akan
membuat tingkat perekonomian suatu negara menjadi lebih baik. Tindakannya adalah
dengan merundingkan bahwa dana yang didapat dari pendonor adalah untuk
pendidikan demokrasi dan khususnya untuk pengembangan kualitas masyarakat.
Ketiga, kepentingan nasional berupa penyebaran demokrasi dan hak asasi manusia
khususnya bagi negara Amerika Serikat. Amerika Serikat sangat gencar untuk
menanamkan sistem demokrasi terhadap suatu negara, untuk itu kebijakan luar negeri
Amerika Serikat salah satunya adalah dengan meningkatkan gerakan demokrasi dan
juga civil society. Gerakan tersebut diimplementasikan dengan cara memberikan
penyaluran dana terhadap suatu negara untuk mendukung pemilihan umum dan
pendidikan demokrasi.
Keempat adalah kemanan nasional dan regional. Keamanan suatu negara itu
sangat penting, mengingat bahwa sebuah negara mempunyai rakyat yang harus
dilindungi, dengan adanya rasa aman maka akan menciptakan suasana yang nyaman
dan tentram. Untuk itu sebuah negara perlu untuk membentuk atau mengaktifkan
kembali sebuah aliansi kerjasama militer baik dalam bidang regional maupun
15
internasional. Kerjasama tersebut diimplementasikan dengan ditandanganinya sebuah
perjanjian pakta militer atau lainnya.22
I.5. Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif.23 Menurut Blaxter metode
kualitatif yaitu menganalisis perilaku dan sikap politik yang tidak dapat atau tidak
dianjurkan untuk dikuantifikasikan. Penulis juga menggunakan metode deskriptif,
yang berarti dalam melakukan penelitian dalam Hubungan Internasional harus dilihat
dari permasalahan yang ada kemudian dikaitkan dengan teori dalam Hubungan
Internasional.24 Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan dokumen
berupa teks-teks tertulis dalam bentuk artikel, buku, berita di koran, dan lain-lain.
Analis yang digunakan adalah prosedur analisa non matematis. Prosedur ini
nantinya akan menemukan temuan dari data-data yang dikumpulkan dengan berbagai
macam sarana. Sarana tersebut juga melalui buku, jurnal, koran, media televisi,
internet dan lain-lainnya.25 Setelah data-data tersebut dikumpulkan kemudian disusun
dan dirinci, perincian tersebut dilakukan untuk mendeskripsikan secara umum ciri-ciri
dan kecenderungan masing-masing aktor dalam pengambilan keputusan kebijakan
luar negeri.26
22
Ibid.,
Lisa Harrison, Metodologi Penelitian Politik (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2007), h. 86.
24
Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional : Disiplin dan Metodologi Dictionary
(Jakarta:LP3ES, 1990), h. 223.
25
Anselm Strauss, dan Juliet Corbin, Dasar dasar Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2003), h. 5.
26
Bambang Cipto, Tekanan Amerika terhadap Indonesia Kajian atas Kebijakan Luar Negeri
Clinton terhadap Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 34.
23
16
I.6. Sistematika Penulisan
I. Pendahuluan
1.1.
Latar belakang penelitian
1.2.
Pertanyaan penelitian
1.3.
Kerangka teori
1.4.
Metode penelitian
1.5.
Sistematika penulisan
II. Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat dalam Memerangi
Terorisme Internasional di Afghanistan Pada masa George W Bush
dan Barack Obama
II.1. Kebijakan luar Negeri Amerika Serikat pada masa George W Bush
junior di Afghanistan
II.2. Kebijakan luar Negeri Amerika Serikat pada masa Barack Obama
di Afghanistan
III. Faktor-faktor dalam Perumusan Kebijakan Luar Negeri Amerika
Serikat
III.1.
Faktor Domestik (Internal)
III.1.a. Kondisi sosial, ekonomi dan politik
Amerika Serikat
III.1.b. Pengaruh dari berbagai kelompok kepentingan
17
III.1.c. Pengaruh ideologi
III.1.d. Faktor individu dari seorang pemimpin
III.2.
Faktor Internasional
III.2.a. Kondisi
internasional
dalam
menyikapi
sebuah
kebijakan pemerintahan sebelumnya (George W Bush
junior)
IV. Analisis terhadap penyebab perubahan kebijakan luar negeri
Amerika Serikat dalam memerangi terorisme internasional di
Afghanistan era Barack Obama
IV.1.
Faktor internal
IV.1.a. Keadaan ekonomi, sosial, dan politik dalam negeri
Amerika Serikat
IV.1.b. Faktor internal dalam diri Barack Obama
IV.2.
Faktor internasional
IV.3.
Implementasi konsep smart power dalam kebijakan luar negeri
Amerika Serikat dalam memerangi terorisme internasional di
Afghanistan masa Barack Obama
V. Penutup
V.1. Kesimpulan
Daftar Pustaka
18
BAB II
KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT DALAM MEMERANGI
TERORISME INTERNASIONAL DI AFGHANISTAN PADA MASA
GEORGE W BUSH DAN BARACK OBAMA
II.1. Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat pada masa George W Bush Junior
di Afghanistan
George W Bush menjabat sebagai presiden Amerika Serikat selama dua
periode yaitu pada 20 Januari 2001 sampai 20 Januari 2009. Pada masa jabatannya di
Amerika Serikat terjadi sebuah peristiwa yang sangat mencengangkan dunia, yaitu
runtuhnya gedung menara kembar WTC pada 11 September 2001. Atas peristiwa
tersebut maka Bush mengambil sebuah tindakan untuk menyerang setiap pihak yang
ikut secara langsung atau tidak langsung dalam penyerangan tersebut. Pengertian
secara langsung disini adalah orang yang terlibat langsung dalam penyerangan gedung
menara tersebut, sedangkan orang yang disebut-sebut sebagai dalang dari aksi
penyerangan tersebut adalah Osama bin Laden. Osama merupakan pemimpin alQaeda yang berbasis di Afghanistan.27 Adapun pengertian secara tidak langsung
adalah bagi negara-negara yang mendukung aksi tersebut, yang memberikan bantuan
baik dari segi materi ataupun persenjataan.
Oleh karena itu George W Bush yang menjabat sebagai presiden Amerika
serikat waktu itu mengambil sebuah kebijakan, diantaranya:
1. Mengisolasi setiap negara yang memberikan dukungan terhadap kelompok
teroris agar negara tersebut menghentikan bantuannya.
27
Bien Pasaribu dan Jamaluddin Ritonga, Perang Bush Memburu Osama (Jakarta: Penerbit
Sinar Haiti, 2001), h. 86.
19
2. Memperkuat peraturan dan hukum dalam melawan tindakan terorisme melalui
berbagai kerjasama internasional.
3. Bersikap tegas dan menolak upaya tawar-menawar maupun negosiasi yang
diminta oleh kelompok teroris.
4. UU the Anti-terrorism and Effective Death Penalty Act tahun 1996.28
5. Undang-undang Patriot Act 2001, yaitu undang-undang yang secara keras
menyatakan menentang terorisme, dan berbagai kegiatan yang mendukungnya
atau bersentuhan dengan aksi terorisme dinyatakan sangat dilarang, terutama
dalam pemberian bantuan.
6. Berusaha agar PBB juga ikut bertindak tegas dalam masalah teroris, karena
Amerika Serikat sadar bahwa upaya dalam memerangi terorisme tidak akan
berjalan efektif jika tidak dilakukan secara kolektif29.
7. Kebijakan unilateralisme, pre-emption strike dengan doktrin strike first.30
Peristiwa 11 September 2001 tersebut menjadi titik balik kebijakan luar negeri
Amerika Serikat, sehingga selain mengubah pola hubungan antara dunia muslim
dengan Amerika namun juga telah mengubah pola hubungan Amerika Serikat dengan
negara-negara di Eropa. Hal ini diungkapkan pula oleh Philip Stephens dalam artikel
harian Financial Times edisi tanggal 5 September 2002 yaitu akan adanya sebuah
benturan “mindsets”. Negara-negara Eropa juga merasakan bahwa Amerika Serikat
28
Poltak Partogi Nainggolan, Terorisme dan Tata Dunia Baru (Jakarta: Tim Peneliti HI Pusat
Pengkajian dan Pelayanan Informasi (P3I) DPR RI, 2002), h. 163-166.
29
Usaha Amerika Serikat dalam mempengaruhi PBB yaitu dengan dikeluarkannya resolusi
1368 PBB yang mengutuk serangan tersebut dan mengajak semua negara untuk mendukung tindakan
Amerika Serikat pada 12 September 2001. (A. Safril Mubah, Menguak Ulah Neokons Menyingkap
Agenda Terselubung Amerika dalam Memerangi Terorisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h.
162.
30
Unilateralisme: suatu tindakan yang tidak harus mendapat persetujuan dari badan
internasional atau dari negara sekutu; pre-emption strike: suatu tindakan untuk menyerang terlebih
dahulu sebelum diserang oleh negara lain terhadap segala bentuk potensi ancaman terhadap warga
negaranya.
20
setelah peristiwa tersebut nampak seperti unilateralisme yaitu dengan membentuk
sebuah aliansi untuk melawan gerakan teroris.31
Seperti yang dikutip diatas, Amerika Serikat juga melakukan kebijakan secara
sepihak/ unilateralisme dalam upaya memerangi terorisme, yaitu seperti pertama
mengisolasi negara-negara yang memberikan bantuan terhadap kelompok teroris baik
bantuan berupa dukungan dana, pemasokan senjata, pelatihan militer, menyediakan
tempat persembunyian. Kedua memperkuat hukum-hukum yang ada dengan
menekankan pada perlawanan terhadap terorisme melalui kerjasama-kerjasama
internasional, dikarenakan masalah terorisme ini sudah sangat kompleks dan harus
ditanggulangi dengan cara bersama-sama. Ketiga bersikap tidak mau berkompromi
dalam hal apapun dengan kelompok teroris.
Kebijakan yang diambil oleh pemerintah Amerika Serikat ini tidak lain adalah
karena influence dari neo-konservatif. Karena sejak periode pertama pemerintahan
Bush sudah dikelilingi oleh tokoh-tokoh neo-konservatif yang dipimpin oleh Cheney.
Dick Cheney ini mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam keikutsertaan
penentuan kebijakan luar negeri dikarenakan kedudukannya sebagai wakil presiden
AS pada masa George W Bush.
Pada dasarnya George W Bush beraliran realis, namun banyak dari staf-stafnya
yang beraliran neo-konservatif dan keduanya lebih menekankan terhadap militer.
Namun keinginan mereka setelah terjadi penyerangan 11 September tersebut berbeda.
Realis menginginkan untuk menyerang Afghanistan sebagai sasaran utamanya yaitu
terhadap Taliban sebagai pemimpin pemerintahan pada waktu itu sekaligus disinyalir
sebagai pelindung dari Osama bin Laden, selain itu juga terdapatnya aliran al-Qaeda
yang disinyalir sebagai jaringan yang turut serta melindungi Osama bin Laden
31
Trias Kuncahyono, Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish (Jakarta: Kompas, 2005), h. 85
21
dikarenakan menurut mereka Osama yang memberikan dana guna pelatihan al-Qaeda.
Alasan menyerang Afghanistan juga untuk menyelamatkan rakyat yang tidak berdosa
dari rezim Taliban sekaligus memusnahkan kerajaan Taliban.
Sedangkan neo-konservatif mempunyai keinginan untuk menyerang Irak
terlebih dahulu, karena mereka atau neo-konservatif ingin memusnahkan dari sumber
pembuatan senjata pemusnah masal yang diduga Irak adalah pemasok senjata pasukan
Taliban dan al-Qaeda.32 Namun, karena Bush lebih berambisi untuk menyerang
Afghanistan terlebih dahulu akhirnya neo-konservatifpun mengikutinya yang pada
akhirnya nanti tetap mempunyai tujuan yang sama yaitu mematikan jaringan al-Qaeda
dan terorisme.33 Disinilah terlihat bagaimana Bush junior lebih menekankan konssep
hard power yaitu dengan mengutamakan militer melalui pre emptive strike.
Kemudian bagaimana dengan masyarakat muslim yang berada di Amerika
Serikat? Menurut Farhana Khera (aktivis muslim AS) mengatakan bahwa ternyata
warga muslim di Amerika Serikat mendapatkan perlakuan pendiskriminasian oleh
pemerintah Amerika Serikat baik dari kubu Republik maupun dari kubu Demokrat, hal
ini semakin terlihat terutama setelah terjadinya peristiwa WTC 11 September 2001
lalu. Dikutip dari sumber Metro TV meski di Amerika hanya terdapat sekitar 1% dari
warga AS atau sekitar 3 juta pendiskriminasian warga muslim di AS sudah
berlangsung sejak lama, tidak hanya itu warga kulit hitam, warga yahudi, bahkan
warga bangsa India yang sebagai bangsa asli Amerika Serikat baru diakui tahun
1924.34
32
A Safril Mubah, Menguak Ulah Neokons Menyingkap Agenda Terselubung Amerika dalam
Memerangi Terorisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), h. 218
33
Trias Kuncahyono, Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish (Jakarta: Kompas, 2005), h. 221.
34
Metro Siang Kamis 31 Maret 2011, pkl. 13.00 at Metro TV
22
II.2. Kebijakan Luar Negeri Amerika seriklat pada masa Barack Obama di
Afghanistan
Pada kampanye pemilu presiden Amerika Serikat tahun 2008 Barack Obama
lebih mengusung terhadap perbaikan dalam negeri dahulu, baik dari segi ekonomi,
sosial dan juga politik dalam negeri Amerika Serikat setelah kepemimpinan George
W Bush yang dipandang oleh masyarakat sangat merugikan oleh masyarakat Amerika
Serikat sendiri pada khususnya. Hal ini terlihat dengan beberapa kampanye pemilu
yang diantaranya adalah kebijakan ekonomi yang berupa menaikkan pajak bagi
mereka yang berpenghasilan tinggi. Selain itu juga mencoba mengajak masyarakat
Amerika untuk tidak terlalu bergantung dengan minyak atau mencoba mengajak
menggunakan bahan alternatif lain yang dapat mengurangi ketergantungannya
terhadap minyak.35
Adapun kebijakan luar negerinya diantaranya adalah dengan menarik pasukan
militernya dari Irak, dan menambah pasukan militernya di Afghanistan guna
meminimalisir gerakan terorisme atau bahkan membunuh kepala dari teroris, yang
mereka sebut-sebut yaitu Osama bin Laden.36 Dalam menjalankan kebijakan luar
negerinya Obama cenderung lebih lunak. Obama lebih menekankan konsep smart
power daripada hard power yang pernah digunakan oleh George W Bush. Hal ini
terlihat dengan upaya Obama dalam memerangi terorisme di Afghanistan, yaitu
dengan menyuruh pasukan militer untuk melakukan penyerangan terhadap Osama bin
Laden.
Konsep smart power ini merupakan perpaduan antara hard power dan soft
power, jadi dalam arti kata lain adalah kemampuan untuk menggunakan secara
bersamaan antara hard power dan smart power. Istilah smart power ini sudah lama
35
36
“Sang Kandidat Presiden” (Koran Republika, Senin, 03 November 2008), h. 10
Ibid.,
23
merujuk pada sebuah terbitan yang muncul di Foreign Affairs tahun 2004.37 Istilah
tersebut akhirnya semakin popular didalam diplomasi internasional dengan adanya
laporan tentang “Smart Power” yang menekankan perlunya untuk memperhatikan
atau menggunakan pendekatan ini untuk melengkapi hard power sebagai upaya untuk
memaksimalkan kepentingan ditingkat internasional.38
Oleh karena itu maka dapat kita lihat bagaimana Geroge W Bush
menggunakan konsep hard power yang sangat berlebihan sehingga bukan hanya
merusak citranya dalam negara Amerika Serikat itu sendiri namun juga merusak
citranya di dunia internasional. Pada akhirnya kekuasaanya harus berhenti selain
karena masa jabatannya telah selesai namun juga karena kebijakan luar negerinya
yang sangat agresif.
Kemenangan Barack Obama disambut baik oleh masyarakat Amerika Serikat
karena masyarakat Amerika Serikat berharap bahwa ada perubahan baru dalam cara
kepemimpinan Amerika serikat. Oleh karena itu Obama mencoba melakukan
kebijakan dengan cara langsung memerangi gerakan Taliban yang ada di Afghanistan
yang diduga sebagai basis terorisme, dengan meminimalisir korban dari rakyat
Afghanistan.
Konsep smart power kini diperkenalkan oleh Menlu Amerika Serikat Hillary
Clinton dan juga Barack Obama sebagai upaya mengembalikan reputasi internasional
Amerika Serikat yang tersingkirkan karena metode militer dalam perang global
melawan terorisme. Hillary Clinton mengatakan with smart power, diplomacy will be
37
Suzanne Nossel, “Smart Power”, Foreign Affairs, Vol. 83, No.2, 2004, hal. 131-142.
Pengertian smart power ini ditulis pula oleh Riefqi Muna, “Paradigma Pertahanan dari Hard Power ke
Smart Power dalam jurnal Pertahanan dan Perdamaian,” Jakarta: Pusat Studi Pertahanan dan
Perdamaian FISIP Universitas Al Azhar Indonesia V, no. 1 (April 2009), h. 86-87.
38
Riefqi Muna, “Paradigma Pertahanan dari Hard Power ke Smart Power dalam jurnal
Pertahanan dan Perdamaian,” h. 86-87.
24
the vanguard of foreign policy atau dengan smart power maka diplomasi akan
menjadi barisan depan dalam menjalan kebijakan luar negeri.39
Seperti itulah upaya yang dilakukan Obama dalam menjalankan kebijakan luar
negerinya untuk memerangi terorisme di Afghanistan. Obama lebih memilih untuk
tepat pada sasaran dengan meminimalisir korban yang berlebihan. Maka dapat
diambil suatu kesimpulan bahwa pada masa kepimpinan Geroge W Bush lebih
banyak disetir oleh kelompok garis keras (neokonservatif –yang akan dejalskan vada
bab selanjutnya), walaupun pada masa Obama kelompok tersebut masih tetap
mempengaruhi kebijakannya namun Obama berusaha untuk mengimbanginya agar
tidak terjadi ketimpangan antara keinginan masyarakat Amerika Serikat dengan
keinginan dari kelompok tersebut. Disinilah peran konsep smart power itu dijalankan
oleh Barack Obama sebagai langkah dalam memerangi terorisme di Afghanistan.
39
Ibid.,
25
BAB III
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUMUSAN KEBIJAKAN
LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT
Kekuatan Amerika Serikat memang sudah tidak dapat diragukan lagi. Dari
segi militernya kita bisa melihat sendiri bagaimana usahanya dalam memerangi
gerakan terorisme di Afghanistan dan juga bagaimana usahanya untuk menunjukkan
kepada dunia bahwa ia menjadi negara yang superpower. Pada bab ini akan
membahas tentang faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan kebijakan luar
negeri Amerika Serikat.
Perubahan kebijakan luar negeri suatu negara disebabkan oleh dua faktor yaitu
faktor internal dan faktor eksternal.40 Faktor internal tersebut bermacam-macam
mulai dari segi sosial, ekonomi, keadaan politik dan juga bagaimana kelompok
kepentingan yang ada di Amerika Serikat saling memberikan pengaruhnya masingmasing dalam setiap perumusan kebijakan luar negeri Amerika. Faktor eksternal yang
juga menjadi pertimbangan pula dalam pengambilan sebuah perumusan kebijakan
luar negeri seperti bagaimana pandangan negara lain mengenai negara Amerika dan
juga bagaimana situasi dan kondisi negara-negara lain, namun faktor internal lebih
diutamakan daripada faktor eksternal.
40
William D. Colplin, dan Marsedes Marbun, Pengantar Politik Internasional Suatu Telaah
Teoritis (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensido, 2003), h. 81. Sumber ini juga diperkuat dari
Moestopo Magazine, “Harapan Akan Sebuah perubahan” artikel diakses pada 24 April 2011 dari
http://majalah.moestopo.ac.id/?tag=kebijakan-luar-negeri.
26
III. 1. Faktor domestik (internal)
III. 1. a. Kondisi sosial, ekonomi, dan politik Amerika Serikat
Amerika Serikat merupakan sebuah negara yang besar, dengan luas wilayah
sekitar 9,83 juta km pada tahun 1994 di Amerika pada 25 kota terbesar berjumlah
sekitar 31.220.927 jiwa dan pada tahun 2012 jumlah penduduk Amerika Serikat
sekitar 312.800.000 jiwa.41 Negara ini termasuk negara multietnis dan multikultural
karena masuknya para imigran dari seluruh penjuru dunia. Sebelum datangnya
masyarakat Eropa, Amerika diduduki oleh suku Indian selama bertahun-tahun
lamanya, namun kemudian suku Indian tersebut terkena wabah penyakit dan terjadi
peperangan dengan pendatang Eropa.42
Dalam hal ekonomi, Amerika menganut sistem kapitalis yaitu suatu sistem
dimana pemerintah tidak ikut campur dalam masalah ekonomi, artinya baik individu
maupun pihak swasta bebas menggunakan sumber ekonomi. Sistem ini biasa juga
disebut dengan sistem ekonomi pasar bebas atau laissez faire.43 Ekonomi di Amerika
merupakan ekonomi yang terbesar didunia, karena kita tahu bahwa banyak negara
yang menggunakan mata uang sebagai tolak ukur mata uangnya.
Amerika juga kaya akan sumber daya mineral, seperti emas, minyak,
batubara, dan lain-lain. Akan tetapi kekayaan itu masih dianggapnya kurang cukup
karena mengingat penduduk Amerika yang sangat banyak dan juga untuk cadangan
dikehidupan masyarakat Amerika mendatang. Untuk itu Amerika sangat berambisi
41
Stephen S. Birdsall, Garis Besar Geografi Amerika. (John Wiley & Sons, Inc, 1992), h.
193. Sumber lain diperkuat dari US News Weekly, Jumlah populasi AS 2012 hampir 313 juta orang
diakses
pada
Rabu,
7
Maret
2012
dari
http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&prev=/search%3Fq%3Ddata%2Bpenduduk%
2Bamerika%2Bserikat%2Btahun%2B2012%26hl%3Did%26biw%3D1143%26bih%3D501%26prmd
%3Dimvns&rurl=translate.google.co.id&sl=en&u=http://www.usnews.com/opinion/blogs/robertschlesinger/2011/12/30/us-population-2012-nearly-313-million-people%3Fs_cid%3Drelatedlinks:TOP&usg=ALkJrhhKKhx1Nv6pLQxdVwS1jMpIeh13Yw
42
Stephen S. Birdsall, Garis Besar Geografi Amerika. (John Wiley & Sons, Inc, 1992), h.
194.
43
www.scribd.com/doc/.../Teori-Laissez-Faire-Dalam-an-Ekonomi diakses pada Ahad, 25
Maret 2012.
27
dalam menyerang negara Timur Tengah yang pada dasarnya adalah untuk mengincar
minyak, dan hal ini menjadi salah satu perhatian utama dalam setiap pengambilan
kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat.44
Dampak politik juga terjadi pada Amerika Serikat setelah runtuhnya gedung
WTC. Kebijakan langsung dilakukan oleh George W Bush sebagai Presiden yang
menjabat pada era tersebut yaitu dengan melakukan penyerangan terhadap
Afghanistan, negara yang dituduh Amerika serikat sebagai dalang teroris. Keputusan
dalam pengambilan kebijakan tersebut hanya selang waktu beberapa jam saja setelah
kejadian tersebut, sehingga menjadikan masyarakat dunia terutama negara muslim
berpikir bahwa hal tersebut kurang masuk akal, namun pemerintah Amerika Serikat
tetap pada pendiriannya yaitu melakukan penyerangan terhadap Afghanistan
meskipun banyak pula dari negara-negara lain terutama negara-negara Arab
mengecam tindakan tersebut. Maka muncullah berbagai protes dan demo dari negaranegara yang kontra dengan tindakan AS tersebut. Akan tetapi langkah Amerika
Serikat sangat keras dalam melakukan kampanye melawan terorisme. Dalam mencari
dukungan tersebut Bush harus menawarkan iming-iming berupa bantuan asalkan
negara yang dibantu tersebut mau untuk berada dibarisan Amerika Serikat dalam
mengkampanyekan melawan terorisme. Sebut saja negara Indonesia yang juga
mendapat bantuan berupa uang lebih dari US$ 1miliar dan mencabut embargo
terhadap militer Indonesia, dan pernyataan kesanggupan dinyatakan oleh Megawati
presiden Indonesia pada waktu itu. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Megawati
berkunjung ke negara Amerika Serikat 17 September 2001. Negara India dan juga
Pakistan mendapatkan janji dari Amerika Serikat berupa pencabutan sanksi bahwa
44
Sidik Jatmika, AS penghambat demokrasi membongkar politik standar ganda AS
(Yogyakarta: Biograf publishing, 2000), h. 11.
28
kedua negara tersebut tidak lagi menjadi kepentingan keamanan nasional Amerika
Serikat.45
Akhirnya banyak dari negara-negara Arab yang enggan untuk melakukan
kerjasama dengan Amerika Serikat karena kebijakan hard power yang digunakan oleh
George W Bush. Kebijakan hard power yang lebih mengedepankan kemiliterannya
dalam merealisasikan kepentingan nasionalnya tentu akan sangat merugikan bagi
negara yang mengadakan hubungan dengan negara Amerika Serikat, kecuali apabila
kedua negara tersebut mempunyai tujuan yang sama.46
Dalam hal partai politik Amerika Serikat sangat didominasi oleh dua partai
besar, yaitu partai Republik dan partai Demokrat, namun dari partai mana saja
presiden tersebut terpilih, Amerika tetap menjalankan misinya yaitu mengedepankan
kepentingan nasionalnya diantaranya adalah mnguasai minyak. Timur tengah yang
menjadi pusat perhatian utama bagi Amerika Serikat tentu selalu menjadi bahan
pembicaraan disetiap pembuatan sebuah kebijakan luar negeri Amerika. Dari ketiga
faktor kondisi sosial, ekonomi, dan politik tersebut diatas secara garis besar Amerika
Serikat berada dalam keterpurukan dan berusaha untuk bangkit untuk memulihkan
keadaan dalam negerinya, yang pada masa itu Amerika Serikat dipimpin oleh
presiden George W Bush. Kebijakan yang diambil sangat kontradiktif dan tidak
banyak diterima oleh masyarakat internasional, yaitu sebuah kebijakan yang lebih
mengutamakan militer meskipun yang dilakukannya adalah demi memperbaiki
keamanan dalam negerinya. Untuk itu keadaan dalam negeri suatu negara sudah
barang tentu menjadi perhatian utama pemerintah dalam mengambil sebuah kebijakan
sebelum kebijakan tersebut disetujui oleh senat.
45
Bien Pasaribu dan Jamaluddin Ritonga, Perang Bush Memburu Osama (Jakarta: Penerbit
Sinar Haiti, 2001), h. 97.
46
Riefqi Muna, “Paradigma Pertahanan dari Hard Power ke Smart Power dalam jurnal
Pertahanan dan Perdamaian,” Jakarta: Pusat Studi Pertahanan dan Perdamaian FISIP Universitas Al
Azhar Indonesia V, no. 1 (April 2009): h. 86-87.
29
III. 1. b. Pengaruh dari berbagai kelompok kepentingan
Kita tahu bahwa perkembangan studi hubungan internasional dewasa ini
sudah tidak lagi membahas masalah politik, pertahanan, dan keamanan saja.
Melainkan juga masalah hak-hak asasi manusia, ekonomi, lingkungan hidup dan juga
terorisme yang kini sangat mengundang perhatian masyarakat dunia karena masalah
teroris tersebut justru menjadi masalah yang paling utama dihadapi oleh negaranegara di dunia.
Hubungan internasional (HI) kini mengalami perkembangan yang pesat,
seiring perkembangan tersebut maka aktor-aktor internasional tentu juga bertambah
banyak. Secara garis besar terdapat dua tipe aktor dalam Hubungan Internasional,47
yaitu aktor negara dan aktor non negara. Aktor non negara ini terdiri dari aktor
individu dan organisasi internasional. Pengaruh aktor individu ini akan terlihat
melalui sebuah kebijakan-kebijakan yang diambilnya, meski tidak terlalu terlihat
namun sedikit banyak mempunyai pengaruh pula dalam pemerintahan. Misalnya,
presiden, perdana menteri, dan lain-lain. Sebelum mempelajari tentang aktor non
negara maka perlu diketahui terlebih dahulu sedikit mengenai induk daripada aktor
non negara.
Dalam buku Pengantar Ilmu Hubungan Internasional karangan Anak Agung
Banyu Perwita dan Yanyan Mohammad Yani terdapat argumen dari Clive Archer
bahwa organisasi internasional adalah suatu struktur formal dan berkelanjutan yang
dibentuk atas suatu kesepakatan antara anggota-anggota (pemerintah dan non
pemerintah) dari dua atau lebih negara berdaulat dengan tujuan untuk mengejar
kepentingan bersama para anggotanya.48
47
Dalam buku Anak Agung Banyu Perwita, dan Yanyan Mochammad Yani, Pengantar Ilmu
Hubungan Internasional (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 11.
48
Dikutip dalam buku Anak Agung Banyu Perwita, dan Yanyan Mochammad Yani,
Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 100.
30
Organisasi internasional digolongkan menjadi dua, pertama yaitu organisasi
antar pemerintah (Inter Governmental Organization), yang beranggotakan delegasi
resmi pemerintah negara-negara, contoh PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), WTO
(World Trade Organization). Kedua organisasi non pemerintah (Non Governmental
Organization) yang terdiri dari kelompok-kelompok swasta baik dalam bidang
keilmuan, ekonomi, humaniter contoh PMI (Palang Merah Internasional).
 Non Government Organization (NGO)
NGO adalah suatu lembaga yang dihimpun oleh orang-orang swasta atau
publik dari berbagai kewarganegaraan. Tujuan utama dari NGO adalah melunakkan,
dan juga mempengaruhi subjek dari hukum internasional yang tidak lain adalah
negara melalui suatu kegiatan yang jangkauannya bisa meluas terhadap berbagai
negara.49 Dalam pengambilan sebuah kebijakan di Amerika juga tidak hanya
dipengaruhi oleh aktor negara saja, melainkan juga aktor non negara. Seperti MNC
(Multinational Corporation). MNC merupakan sebuah perusahaan yang memiliki
kantor pusat di suatu negara dan melakukan kegiatan-kegiatannya diberbagai negara.
Oleh sebab itu perusahaan ini bisa menjadi fokus kontroversi dalam suatu negara
karena kemampuannya yang dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah baik dalam
hal ekonomi maupun dalam hal politiknya.50 Diantara perusahaan-perusahaan yang
mempunyai peranan penting dalam perpolitikan di Amerika, misalnya adalah
perusahaan minyak. Perusahaan minyak di Amerika Serikat seperti Esso, Texaco,
Mobil, dan Socal.51
49
Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika
Global (Bandung: PT Alumni, 2005), h. 54.
50
Ibid,. h. 56
51
Yusuf Solichien M, “Kepentingan Nasional dan Upaya Amerika Serikat,” (FISIP UI, 2008)
diakses pada, Ahad 30 Oktober 2011 dari www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/127056-T%2023483...
31
Awal mula dari keinginan Amerika Serikat untuk menguasai minyak di
Timur Tengah adalah yaitu ketika konsorsium perusahaan minyak terbesar di
Amerika Serikat ini mulai mendominasi dikawasan Timur Tengah yaitu ketika tahun
1930, waktu itu di Timur Tengah ditemukan ladang minyak dan menjadi rebutan
antara Amerika Serikat dengan Inggris. Akan tetapi karena Inggris mempunyai hutang
terhadap Amerika Serikat disebabkan atas kekalahannya melawan Jerman pada
Perang Dunia I maka kekuatan dan posisi Amerika Serikat jauh lebih kuat. Tahun
1933 Arab Saudi memberikan konsesi terhadap Arabian American Oil Compaany
(Aramco).52
Sebelum peristiwa WTC 11 September 2001, Amerika pada dasarnya telah
mengalami krisis yang sangat parah sehingga diperlukan langkah-langkah di dalam
negeri untuk mengatasi masalah tersebut, seperti Amerika mendorong kegiatan MNC
diluar negeri guna mempermudah untuk mengakses dan juga memperluas pasar-pasar
yang ada diluar negeri. Berangkat dari inilah perusahaan minyak memberikan
pengaruh yang besar dalam pengambilan kebijakan Amerika terutama agar
tercapainya keinginan dari perusahaan yang ingin mengeksplorasi minyak gas dan
non migas, mengingat Amerika Serikat juga sangat memerlukan minyak sebagai
pasokan dinegaranya demi memenuhi kebutuhan dalam negerinya.
 Kepentingan yang mempengaruhi
Disebut kelompok kepentingan yang mempengaruhi (interest influence),
karena kelompok ini juga mampu memberikan pengaruh yang sangat besar dalam
pengambilan sebuah kebijakan pada suatu negara, terutama pada negara yang
menganut sistem dwi partai atau lebih. Apabila suatu negara menganut sistem dua
52
Ibid.,
32
partai atau lebih atau yang disebut dengan sistim politik terbuka maka interest
influence mempunyai kesempatan dan juga pengaruh yang sangat besar, namun
apabila negara tersebut menganut sistem satu partai atau sistem politik tertutup maka
interest influence akan sulit untuk masuk kedalam birokrasi pemerintahan tersebut.53
Seperti contoh di negara Amerika Serikat yang didominasi oleh dua
kekuatan partai besar yaitu partai Republik dan partai Demokrat. Partai Republik yang
cenderung lebih berhaluan militer sedangkan partai Demokrat yang lebih
mengedepankan diplomasi. Walaupun pada intinya kedua partai tersebut mempunyai
tujuan yang sama yaitu menunjukkan eksistensi Amerika Serikat sebagai negara
adidaya dan juga mempertahankan kepentingan nasionalnya. Baik dari partai
manapun presiden Amerika tersebut berasal namun kelompok kepentingan tetap
mempunyai pengaruh yang besar karena sudah tertanam kuat dalam negara tersebut,
terlebih kelompok kepentingan tersebut memiliki dana yang cukup besar. Misalnya di
Amerika Serikat adalah kelompok zionis. Kelompok zionis ini selalu mengedepankan
keinginannya dalam mewujudkan Israel sebagai sebuah negara yang berdiri sendiri
dengan melobi terhadap pemerintahan Amerika Serikat.54
Kelompok zionis ini akan memberikan kontribusi yang signifikan setiap
percaturan politik dalam pemilu di Amerika Serikat. Mereka mempunyai organisasi
yang sangat terkenal akan kepandaiannya dalam melobi pemerintahan Amerika
Serikat yaitu AIPAC atau American Israel Public Affairs Committee.55 AIPAC sangat
pandai dalam melobi dalam setiap kebijakan serta menduduki posisi yang sangat
strategis bagi anggotanya maka kebijakan luar negeri yang diambil oleh pemerintah
53
William D. Colplin, dan Marsedes Marbun, Pengantar Politik Internasional Suatu Telaah
Teoritis (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensido, 2003), h. 87.
54
Infiltrasi zionisme di AS bagian 3, diakses pada Rabu, 7 Maret 2012 dari
http://www2.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/zionisme/infiltrasi-zion/tiga.htm
55
“Kelompok Lobi Zionis Desak Obama untuk Serang Iran”, (Koran Republika, Minggu 12
Pebruari
2012)
diakses
pada
11
Maret
2012
dari
http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/02/12/lza9r0-kelompok-lobi-zionis.....
33
Amerikapun dapat berjalan sejalan dengan kepentingannya. Contohnya penekanan
AIPAC terhadap pemerintah Amerika Serikat untuk menyerang Iran atas fasilitas
nuklir yang dimiliki Iran, pada dasarnya penyerangan tersebut didasarkan pada
ketakutan Israel atas kepemilikan senjata nuklir Iran yang dianggap sebagai ancaman
bagi negara Yahudi, selain itu juga karena pemimpin-pemimpin Iran berulang kali
menyerukan penghancuran terhadap Israel.56 Contoh yang lain adalah lobi agresi
Israel terhadap Gaza pada 27 Desember 2008, meski pada kenyataannya banyak dunia
yang menentang namun Amerika Serikat tidak dapat berbuat banyak, Amerika Serikat
hanya berani untuk menyerukan hentikan peperangan tanpa ada tindakan yang tegas.
Disinilah terbukti dengan jelas bahwa lobi Yahudi sangat kuat dalam pemerintahan
Amerika Serikat.57
Amerika Serikat tidak akan pernah bisa lepas dari Israel, begitu juga dengan
Israel tidak akan pernah bisa lepas dari Amerika, mengingat mereka pada dasarnya
adalah negara yang sama-sama ingin menguasai dunia. Untuk itu berbagai cara
dilakukan Amerika untuk terus membantu Israel walaupun Israel dalam posisi yang
salah sekalipun, karena kuatnya pengaruh lobi Israel di pemerintahan Amerika Serikat
dan banyaknya faktor tekanan dari mereka. Sebenarnya Amerika Serikat yang
membutuhkan Israel ataukah Israel yang membutuhkan Amerika Serikat? Namun
pada kenyataannya mereka tidak dapat lepas satu sama lain yang artinya saling
membutuhkan.
56
“Israel Mainkan Lobi Yahudi Tekan AS Soal Iran”, (Koran Republika, Senin 06 Pebruari
2012) diakses pada 11 Maret 2012 dari http://id.berita.yahoo.com/israel-mainkan-lobi-yahudi-tekansoal-iran-015144439.html.
57
“politik internasional”, diakses pada Minggu 11 Maret 2012 dari
http://www.scribd.com/doc/32206348/pOLITIK-iNTERNASIONAL.
34
 Pengaruh dari massa atau publik
Massa atau publik juga mempunyai pengaruh yang sangat signifikan, dalam
hal ini mengacu kepada iklim opini pada sebuah populasi yang dipertimbangkan oleh
para pengambil keputusan pada saat menyusun politik luar negeri. Dalam sistim
politik terbuka iklim opini lebih terbebas dari manipulasi. Jika dalam sistim politik
tertutup massa cenderung akan dibungkam atau disetir oleh atasan, maka dengan
adanya media massa dimanfaatkan oleh para pengambil keputusan untuk membangun
suatu opini publik yang mendukung kebijakan-kebijakan luar negeri mereka.58
Dalam negara demokrasi seperti Amerika Serikat rakyat menerima informasi
dari berbagai sumber, untuk itu keberadaan pers dan juga media massa sangat
membantu publik untuk mengeluarkan opini-opini mereka ketika berpartisipasi dalam
sebuah pemilu. Selain itu keberadaan pers juga dibutuhkan oleh para pengambil
keputusan karena peran mereka dalam pemilu. Bagi para pengambil keputusan
pengumpulan opini publik dapat dibilang lebih konstan tentang pandangan
masyarakat terhadap status para pengambil keputusan, dan informasi ini semakin
relevan apabila pemilu semakin dekat, karena dengan informasi tersebut dapat
memberikan bukti-bukti dalam memprediksi mengenai hasil pemilu.59
Media massa dengan dunia memang tidak dapat dipisahkan, karena segala
isi dan yang ada didunia ini adalah menjadi sumber informasi dari media massa.
Kemudian media massa mempunyai tugas kewajiban untuk mengakomodasi segala
peristiwa-peristiwa yang ada didunia melalui pemberitaan dalam berbagai bentuk,
baik berupa berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya, sehingga kondisi
di dunia nyata bisa dikatakan mempengaruhi media massa begitu juga sebaliknya
bahwa media massa dapat mempengaruhi keadaan dunia.
58
William D. Colplin, dan Marsedes Marbun, Pengantar Politik Internasional Suatu Telaah
Teoritis (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensido, 2003), h. 90.
59
Ibid., h. 89.
35
Menurut William L Rivers
dalam jurnal studi Amerika pemerintahan
Amerika Serikat menganggap bahwa pemberitaan dari media massa itu sangat
penting. Hal ini dapat dilihat dari besarnya anggaran pemerintah Amerika Serikat
dalam pembiayaan pemberitaan kegiatan-kegiatan hubungan masyarakat dan
informasi publik sebesar $400 juta pertahun. Kekuatan media massa memang tidak
dapat lepas dari kehidupan setiap negara. Media massa bisa berupa dalam bentuk
cetakan, siaran, dan juga internet.60 Dalam bentuk cetakan seperti surat kabar,
majalah, dan buku. Contohnya adalah New York Times, The Washington Times, The
Wall Street Journal, dan lain-lain. Dalam bentuk siaran bisa berupa televisi dan juga
radio seperti BBC, CNN. Sedangkan dalam bentuk internet sudah menjadi tidak asing
lagi bagi seluruh masyarakat dunia, pengaruhnya juga sangat besar dalam
mempengaruhi masyarakat terlebih ketika akan diadakan pemilu.
Dalam sistim politik terbuka seperti di Amerika Serikat, maka pengaruh dari
massa sangat penting dalam pengambilan kebijakan/ keputusan, contohnya peran
mereka dalam pemilu. Dengan pengumpulan opini publik atau massa terutama ketika
mendekati pemilihan umum sumber informasi akan lebih up to date sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya.61
Salah satu contohnya adalah negara Amerika Serikat, ketika Amerika
Serikat dipimpin oleh George W Bush publik tidak puas atas gaya kepemimpinan
Bush yang lebih mengedepankan militer dan cenderung lebih brutal dalam
menjalankan pemerintahan Amerika Serikat, yaitu penyerangan militer Amerika
Serikat terhadap negara Afghanistan yang akhirnya banyak membunuh masyarakat
sipil Afghanistan namun tidak membuahkan hasil, serta penyerangan militer Amerika
60
Theophilus J. Riyanto, “Kekuatan Media Massa dalam Kampanye Kepresidenan di Amerika
Serikat” dalam Jurnal Studi Amerika Vol. X No. 1, Januari-Juni (Jakarta : pusat kajian Wilayah
Amerika Universitas Indonesia, 2005), h. 70.
61
William D. Colplin, dan Marsedes Marbun, Pengantar Politik Internasional Suatu Telaah
Teoritis (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensido, 2003), h. 87.
36
Serikat terhadap Irak atas kepemilikan senjata pemusnah massal yang dimiliki oleh
negara Irak. Atas ketidakpuasan tersebut maka pemerintah Amerika Serikat yang
dipimpin oleh Barack Obama merubah cara menjalankan kebijakan luar negerinya
yaitu dengan menggunakan pendekatan smart power,62 contohnya adalah dengan
menarik pasukan mliternya dari Irak secara bertahap.
 Partai politik yang mempengaruhi (partisan influencers)
Pada negara Amerika Serikat didominasi oleh dua partai besar yaitu partai
Republik dan partai Demokrat. Meskipun partai bukan sebuah aktor negara namun
pengaruhnya sangat besar dalam partisipasi politik sebuah negara. Setiap partai yang
ada mempunyai kandidat masing-masing untuk diajukan dalam sebuah pemilihan
umum serta memiliki tujuan yang berbeda sesuai dengan kepentingan partai yang
disesuaikan dengan keadaan negaranya saat itu.
Contohnya adalah pemilu Amerika Serikat pada 4 November 2008, selain
dari kedua partai tersebut diatas terdapat partai-partai kecil lainnya yang mampu
mengurangi suara kedua partai besar tersebut. Diantara partai tersebut adalah partai
Konstitusi, partai Libertarian, partai Hijau, dan juga terdapat dari jalur independen.63
62
Riefqi Muna, “Paradigma Pertahanan dari Hard Power ke Smart Power dalam jurnal
Pertahanan dan Perdamaian,” Jakarta: Pusat Studi Pertahanan dan Perdamaian FISIP Universitas Al
Azhar Indonesia V, no. 1 (April 2009), h. 86-87.
63
“Sang Kandidat Presiden” (Koran Republika, Senin, 03 November 2008), h. 10.
37
Berikut adalah sedikit gambaran dari kampanye pemilu di Amerika Serikat64
Partai
Demokrat
Kandidat partai
Barack Obama
Program kampanye
 Kebijakan luar negerinya penarikan pasukan
dari Irak.
 Kebijakan ekonomi berupa menaikkan pajak
bagi yang berpenghasilan tinggi.
 Dalam bidang energi, Obama mengajak
warga
AS
untuk
menggunakan
energi
alternatif demi mengatasi ketergantungan AS
pada minyak dan menggunakan bahan bakar
standar tinggi bagi kendaraan-kendaraan di
AS.
Republik
John McCain
 Tetap mempertahankan pasukan AS di Irak
 Lebih baik melakukan pengeboran minyak
sendiri
dilepas
pantai
daripada
harus
bergantung pada pasokan minyak negara
lain.
 Pengurangan pajak
Konstitusi
Chuck Baldwin
 Peningkatan kualitas angkatan bersenjata
menjadi prioritas utama
 Mendukung adanya modernisasi angkatan
bersenjata AS sesuai dengan perkembangan
teknologi dan situasi dunia yang terus
berubah.
64
Ibid.,
38
 Menarik pasukan dari Irak.
 Menjalin hubungan yang damai dengan
semua bangsa tanpa melakukan campur
tangan masalah domestik negara lain.
Hijau
Cynthia
McKinney
 Berawal dengan mengenal gerakan hak-hak
sipil,
maka
ia
menginginkan
AS
menjalankan sepenuhnya persamaan hak
bagi warganya (karena ia merupakan putri
dari pejabat penegak hukum kulit hitam
pertama).
Libertarian
Bob Barr
 Menentang pendudukan dan perang Irak.
 Pemenuhan kebutuhan bahan bakar melalui
sumber-sumber dalam negeri.
 Menurunkan biaya pembelanjaan negara
yang telah melalui peningkatan pada tahun
2008.
Independen
Ralph Nader
 Adanya
solusi
dua
negara
dalam
penyelesaian konflik Israel-Palestina.
 Dan tidak bergantung pada energi fosil.
Tertulis dengan jelas bahwa tujuan dari kampanye masing-masing calon
presiden dari masing-masing partai adalah berbeda. Kita lihat dari partai yang sangat
berpengaruh di Amerika Serikat yaitu Republik dan Demokrat. Partai Republik dalam
masalah peperangan melawan Irak ia akan terus untuk meyerang negara tersebut
sampai ditemukannya senjata pemusnah massal sebagaimana alasannya dalam
39
memerangi Irak, padahal penyerangannya adalah bertujuan untuk kepentingan
nasionalnya yaitu minyak dan untuk menunjukkan kedigdayaan Amerika serikat,
kemudian partai Demokrat dalam masalah peperangan dengan Irak, ia akan menarik
kembali pasukannya dari Irak kemudian akan memindahkannya ke Afghanistan,
dalam arti ini berarti sama saja namun pada hakekatnya langkah yang diambil Obama
terbilang langkah jitu, karena alasan untuk menyerang ke Afghanistan jauh lebih
masuk akal yaitu menyerang gerakan Taliban dan juga al Qaeda sebuah jaringan
terorisme yang dipimpin oleh Osama bin Laden, yang mana jaringan tersebut memang
ada di Afghanistan dari pada harus menyerang Irak yang kurang masuk akal karena
alasan senjata pemusnah massal yang terbukti sampai sekarang belum diketemukan
senjata pemusnah massal tersebut.
Setelah tertulis secara jelas maksud ataupun tujuan dari sebuah partai, maka
kandidat yang menang dalam pemilu harus mengutamakan pula misi dari partai
tersebut selain harus mengutamakan pula kepentingan nasional negara tersebut,
karena dia memenangkan pemilu tersebut berdiri diatas partai yang menyokongnya.
Biasanya didalam negara demokrasi yang stabil partisan influencers memainkan
peran terbatas dalam menyetujui atau menolak tindakan-tindakan politik luar negeri
yang diprakarsai oleh para pengambil keputusan politik luar negeri, meskipun
partisan influencers ini dalam jangka panjang dapat berperan dalam mengubah sikapsikap dasar masyarakat melalu perdebatan umum.65 Salah satu contohnya adalah
ketika masa pemerintahan Bush yang berasal dari partai Republik maka kebijakan
yang diambilpun akan dapat dengan mudah disetujui oleh senat karena didalam senat
tersebut mayoritas adalah dari partai Republik.
65
William D. Colplin, dan Marsedes Marbun, Pengantar Politik Internasional Suatu Telaah
Teoritis (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensido, 2003), h. 86.
40
Maka tak heran apabila masyarakat Amerika pada pemilihan presiden yang
ke 44 bulan November tahun 2008 kemarin melihat terlebih dahulu biografi dari calon
pemimpin, janji kampanyenya apakah sesuai dengan keadaan nasional negaranya dan
juga partai yang mendukungnya, dan juga riwayat hidupnya dalam permainan politik
di Amerika Serikat. Partai ini lebih cenderung untuk mengutamakan politik dalam
negerinya daripada politik luar negerinya, karena mereka lebih mengutamakan
keamanan dalam negerinya terlebih dahulu.
III.1.c. Pengaruh ideologi
Salah satu faktor yang mempengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat
adalah faktor ideologi, faktor ideologi yang berkembang di Amerika Serikat adalah
neokonservatif. Konservatif berasal dari kata conserve, menurut Irving Kristol yang
juga disebut sebagai the god father of neoconservatism, neocons adalah kelompok
yang sebelumnya menganut nilai-nilai liberal tetapi merasa tidak sepaham dengan
garis politik yang diambil sebagian besar kelompok liberal sehingga memutuskan
untuk beralih ke konservatif. Liberalism telah dipandang gagal dalam merespon
realita sosial politik AS tahun 1960-an sehingga membuat sebagian kalangan liberal
kecewa dan akhirnya berpindah kealiran konservatif.66
Tokoh-tokoh kunci neokonservatif diantaranya adalah Dick Cheney,
Donald Rumslfeld, Paul wolfowitz, Richard Perle, Douglas Feith, Lewis Libby, John
Bolton, Norman Podhoretz, William Kristol, Elliot Abrams, Robert Kagan, Michael
Ledeen, Frank Gaffney, jr.67 kelompok neokonservatif ini menginginkan penyebaran
demokrasi liberal ke seluruh dunia, dan hal itu akan dapat dilakukan dengan mudah
66
Karya Ilmiah, “Neoconservatif-vs-Islamist-post-911” diakses pada Kamis, 8 April 2011.
dari http://www.scribd.com/doc/7873219/neoconservatif-vs-Islamist-post-911
67
Suharko, “NGO, Civil Society dan Demokrasi: Kritik atas pandangan liberal,” dalam jurnal
Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Yogyakarta: Fisipol UGM, Vol. 7, no. 2 (Nopember 2003), h. 40.
41
apabila prinsip-prinsip yang terkandung didalamnya menjadi landasan kebijakan luar
negeri Amerika Serikat. Untuk itu, salah satu tujuan utama neokonservatif ini adalah
mempengaruhi pemerintah pada setiap pembuatan kebijakan luar negeri.
Menurut neokonservatif runtuhnya Uni Soviet pada Perang Dingin
menjadikan Amerika Serikat sebagai pemimpin global dan merupakan suatu titik
balik perjalanan AS dalam mencapai tujuan untuk menjadi kekuatan hegemoni dunia.
Setelah selama lebih dari empat dekade disaingi negara komunis (Uni Soviet), yang
membuat dunia terbelah secara bipolar, kini AS menjadi satu-satunya kekuatan
adikuasa yang tak tertandingi. Maka bagi neokonservatif, era unipolar ini harus tetap
dipertahankan dalam genggaman AS. Artinya AS harus tetap menjadi satu-satunya
kekuatan hegemoni dunia yang tak mampu disaingi oleh negara lain.68
Dalam pandangan kelompok ini, dunia bisa mencapai titik
perdamaian
apabila Amerika Serikat memiliki kepemimpinan yang kuat dan setiap rezim yang
dianggap mengancam kepentingan nasional AS maka akan dihadapi secara agresif
dengan pre emptive strike melalui aksi unilateral. Yaitu setiap aksi Amerika dalam
percaturan global tidak perlu mendapat persetujuan dari kekuatan lain, bahkan dari
sekutu sendiri sekalipun.69
Neocons ini selalu berusaha untuk duduk dalam pemerintahan dengan
menduduki posisi yang penting, seperti Departemen Pertahanan, Deartemen Luar
Negeri, dan lain-lain. Pada masa pemilihan presiden tahun 1980 yang dimenangkan
oleh
Ronald
Reagon
merupakan
awal
kejayaan
neokonservatif.
Jaringan
neokonservatif ini sebenarnya telah terbentuk sejak tahun 1970-an,70 ia tersebar
68
Karya Ilmiah, “Neoconservatif-vs-Islamist-post-911” diakses pada Kamis, 8 April 2011.
dari http://www.scribd.com/doc/7873219/neoconservatif-vs-Islamist-post-911
69
Ibid.,
70
Muhammad Takiyudin Ismail, “Aliran neokonservatif dalam dasar luar negeri Amerika
Serikat: konservatif atau nasionalis atau idealis” artikel diakses pada Kamis, 8 April 2011 dari
42
diberbagai institusi seperti media massa dan NGO, namun belum berhasil atau belum
mendapat kepercayaan penuh dalam kabinet.
Salah satu contoh beberapa neokonservatif yang terlibat dalam pemerintahan
Reagan adalah Jeane Kirkpatrick (Duta Besar AS di PBB), Richard Perle (Staf Ahli
Menteri Pertahanan), dan Elliot Abrams (Staf Ahli Menteri Luar Negeri).71
Menurutnya jabatan Jeane Kirkpatrick sangat strategis karena dapat membawa misi
untuk membawa kepentingan AS dalam forum internasional. Masa Bush junior
kelompok neokonservatif mengalami kedigdayaan pula, banyak pemikiran dari
neocons yang menjadi pijakan Bush dalam merumuskan kebijakan luar negeri.
Kebijakan luar negeri yang semula bersifat multilateral berubah menjadi unilateral72
yang mengandalkan aksi militer pre emptive strike terutama setelah peristiwa WTC
11 September 2001.
Pengaruh neokonservatif dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat
dianggap berhasil yaitu ketika Bush junior melancarkan aksinya dalam penggulingan
Saddam Husein dengan alasan adanya pengadaan senjata pemusnah masal dan perang
melawan Afghanistan dengan alasan perang melawan teroris. Bush dijadikan alat oleh
neocons kedalam kekuasannya, tidak perlu menempatkan figur yang penting sebagai
nomor satu di Amerika Serikat tetapi cukup memposisikan Dick Cheney sebagai
pasangannya yaitu wakil presiden dalam pemerintahan Amerika Serikat.73
Dengan kedudukan Dick Cheney sebagai wakil presiden, maka ia juga
mempunyai pengaruh besar dalam menentukan siapa saja yang duduk dalam menteri-
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:sRfDz4NF1aEJ:journalarticle.ukm.my/379/1/
1.pdf+tokoh+neokonservatif+pdf&cd=5&hl=jw&ct=clnk&gl=id&source=www.google.co.id
71
Mubah A Safril, Menguak Ulah Neokons Menyingkap Agenda Terselubung Amerika dalam
Memerangi Terorisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 56.
72
Poltak Partogi Nainggolan, Terorisme dan Tata Dunia Baru (Jakarta: Tim Peneliti HI Pusat
Pengkajian dan Pelayanan Informasi (P3I) DPR RI, 2002), h. 169.
73
Mubah A Safril, Menguak Ulah Neokons Menyingkap Agenda Terselubung Amerika dalam
Memerangi Terorisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 68.
43
menteri, seperti dari neocons ia meletakkan Donald Rumsfeld sebagai Menteri
Pertahanan, Paul Wolfowitz sebagai Deputi Menteri Pertahanan yang kini menjadi
Bank Dunia, Elliot Abrams sebagai Staf National Security Council, dan lain-lain.74
Departemen pertahanan dan Departemen Luar Negeri sengaja dipilih oleh Dick
Cheney agar diduduki oleh neocons karena kedua kedudukan ini yang menjadi
lembaga kunci perumusan kebijakan luar negeri Amerika Serikat, sehingga pengaruh
neocons sangat kuat dalam pemerintah Bush junior, kekuatan neocons yang sudah
mengakar seperti ini tentu akan sangat sulit untuk dihilangkan, mengingat semakin
lama pengaruh dan pengikutnya semakin banyak dan sudah menduduki kedudukan
penting yang justru bukan hanya dalam pemerintahan AS sendiri melainkan juga
dalam kancah internasional. Media massa, NGO dan lembaga donor juga menjadi
pusat kekuatan neocons dalam mempengaruhi masyarakat internasional.
Di Amerika Serikat kelompok neokonservatif yang mengakar kuat adalah
kebebasan. Gerakan ini tidak hanya dalam hal kebebasan saja, namun juga dalam
berbagai hal seperti dalam bertindak kekerasan. Hawkish75 merupakan karakter yang
menjadi sikap kekerasan utama dalam mencapai tujuannya, sehingga antara
neokonservatif dan hawkish ini sangat berkaitan, meskipun mereka hanya tergolong
kelompok yang kecil namun pengaruhnya sangat luar biasa didunia.
74
75
Ibid., h. 69.
Trias Kuncahyono, Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish (Jakarta: Kompas, 2005), h. 16.
44
Gambar diagram peran neokons sebagai policy influence kebijakan anti Islam
politik AS76
Konfrontasionis
Unilateral
pre emptive strike
Neokons
Neokons juga
berpengaruh
dalam
kebijakan anti
Islam politik
Bush
pertarungan
Kepentingan
Akomodasionis
Kelompok
lain
Keterangan
:
: pengaruh satu arah
:pengaruh
dua
arah
atau
saling
memcpengaruhi
: hasil dari upaya mempengaruhi
76
Lihat Gergez, Fawaz A. 1999. America and Political Islam: Clash of Civilization or Clash
of Interest?.Ibid. Dan Huntington, Samuel.P. 2004. Who Are We? The Challenges To America’s
National
Identity.
diakses
pada
Kamis,
8
April
2011
dari
http://www.scribd.com/doc/7873219/neoconservatif-vs-Islamist-post-911.
45
Diagram diatas merupakan salah satu contoh bagaimana neocons telah
berhasil mempengaruhi dalam pengambilan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Pada diagram tersebut terlihat terdapat dua kelompok yang mencoba untuk
mempengaruhi kebijakan luar negeri AS namun melalui cara yang berbeda. Dari
kelompok neocons mereka menginginkan kebijakan unilateral dengan pre emptive
strike yang sangat konfrontasi dengan politik Islam, sedangkan dari kelompok lain
terlihat lebih menginginkan kebijakan akomodasionis.
Antara neocons dengan kelompok lain memiliki pandangan yang berbeda
mengenai kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam memerangi terorisme masa
Bush junior. Perbedaan itu akhirnya menimbulkan sebuah pertarungan yang akhirnya
dimenangkan oleh kubu neocons, seiring dengan peristiwa 11 September 2001. Bush
lebih menanggapi pengaruh dari neocons yang diwujudkan dalam perang ke
Afghanistan tahun 2001 dan ke Irak tahun 2003.77
III.1.d. Pengaruh individu dari seorang pemimpin
Seperti pada penjelasan pada bagian kerangka teori diatas menerangkan
bahwa Individual Sources (sumber individu) meliputi nilai-nilai dari seorang
pemimpin atau pengambil keputusan sebagai ideologinya, pengalaman hidupnya,
masa kecilnya, latar belakang pendidikannya, segala sesuatu yang mempengaruhi
persepsinya, karakter, dan lain-lain.
Disini penulis mengambil contoh langsung yaitu Barack Obama. Barack
Obama atau Obama lahir di Honohulu, pada 4 Agustus 1961. Obama adalah putera
dari Barack Hussein Obama senior yang berasal dari Kenya berkulit hitam beserta
ibunya Ann Dunham dari Kansas City berkulit putih. Pertemuan mereka yaitu ketika
77
Ibid.,
46
Obama senior mendapatkan beasiswa di East West Center/ University of Hawai,
Honolulu. Setelah bercerai dari Obama senior, Ann Dunham menikah dengan pria
Indonesia yang bernama Lolo Soetoro. Obama junior yang ikut dengan ibunya tinggal
di Jakarta selama 3,5 tahun mulai umur 6 tahun dan sempat mengenyam pendidikan di
SD Fransiscus Assisi dan SDN 01 Menteng di Jalan Besuki.78
Masa kecilnya Obama junior pernah tinggal di Indonesia, Ibunya sangat
peduli dengan rakyat miskin, dan hal ini diwariskan pula kepada Obama yang sangat
menghargai komunitasnya apa adanya. Berangkat dari sinilah Obama terkesan lebih
sopan dan lebih lunak, karena dia dapat berbaur dan dapat berkomukasi dengan siapa
saja dengan baik.
Pada awalnya Obama ditawarkan sebagai koordinator dari para pengangguran
akibat PHK oleh Gerald Kellmandi Chicago, Illionis.79 Ternyata kesempatan ini
dijadikan oleh Obama sebagai batu loncatan dalam menggapai karir politiknya.
Sebelumnya Obama adalah seorang dosen hukum di Universitas Chicago, dia sangat
pintar dalam berbicara, sehingga dia sangat pintar dalam memikat orang. Pada tahun
1996 dia memenangkan pertarungan sebagai senator di negara bagian Illionis
kemudian Obama mencoba untuk masuk dalam senat AS, meskipun dulu sempat
merasakan kegagalan karena dinilai masih kurang mampu.
Untuk menuju kursi senat ia harus mengalahkan lawan politiknya yang
sama-sama dari partai Demokrat yaitu Blair Hull, karena Blair Hull sangat kaya
sehinga ia gampang mendapatkan dukungan untuk duduk di senat AS, namun ketika
pemilu pendahuluan popularitas Obama meningkat karena latar belakangnya, warga
Amerika sangat senang dengan kisahnya yang sukses berasal dari warga miskin dan
terlantar. Setelah Obama menang ia harus bertarung melawan musuhnya dari partai
78
Barack Obama, diterjemahkan oleh Ruslani dan Lulu Rahman, Barack Obama dari Jakarta
Menuju Gedung Putih (Jakarta: PT Ufuk Publishing House, 2009), h. 8.
79
Ibid., h. 61.
47
Republik yang bernama Jack Ryan dan yang menarik adalah bahwa kedua-duanya
adalah lulusan universitas Harvard jurusan hukum.
Didalam partai Demokrat Obama diberikan kesempatan untuk berpidato
pada konvensi Demokrat di Boston, dalam pidatonya Obama sangat pintar dalam
merangkai kata, dan juga mempunyai visi dan juga misi yang sangat jelas. Pidato
tersebut menarik para politisi lain bahkan banyak dari media cetak yang
membicarakan Obama sehingga membawa Obama pada kemenangan dalam senat di
AS dengan perolehan 69. Kepintaran yang dimiliki oleh Obama membawa Obama
menjadi lebih dikenal lagi oleh masyarakat Amerika Serikat sehingga berpengaruh
pula pada popularitas karir politiknya dalam masyarakat Amerika Serikat.
Akhirnya pada pemilu presiden AS 2008, Barack Obama maju sebagai calon
presiden bersaing dengan Hillary Clinton dalam tubuh partai Demokrat. Dalam
pertarungan tersebut Obama harus melawan Hillary yang selalu memojokkan dengan
radikalisme. Pada akhirnya dimenangkan oleh Obama, setelah kemenangan Obama
kini Obama harus berhadapan dengan lawan politiknya dari partai lain yaitu Republik,
adapun lawan politiknya dari partai Republik adalah John McCain. Isu yang paling
utama digunakan oleh John McCain dalam melawan Obama adalah masalah rasial,
dimana masyarakat Amerika Serikat sangat kental dengan ras kulit putih dan
mendiskriminasi ras kulit hitam, meskipun Obama juga merasakan bahwa isu rasial
ini dapat mengancam kampanye politiknya namun Obama tidak mementingkan hal
itu, Obama terus meyakinkan rakyat Amerika Serikat dengan tujuan kampanye
politiknya. Partai Demokrat cenderung lebih berhaluan lunak daripada partai
Republik. Demokrat lebih mau untuk mendengarkan aspirasi masyarakat dan banyak
diduduki oleh orang yang berhaluan non neokonservatif. Inilah satu satu upaya
Obama memilih Demokrat sebagai partai yang dianutnya. Selain karena keinginan
48
dari dirinya untuk mencoba merubah cara memimpin ketika menjadi presiden di
Amerika Serikat, Obama juga didukung oleh partai Demokrat yang menyokongnya.
Adapun karir politk Obama dimulai dengan menjadi senator di Illionis Amerika
Serikat dan juga menjadi anggota senat AS, ternyata dengan karir tersebut mampu
memikat rakyat AS karena latar belakangnya dan juga kelihaiannya dalam berkata,
namun tidak segampang itu Obama harus menghadapi lawan politiknya yaitu
McCain.
Walaupun McCain selalu memojokkan Obama dengan warna kulit hitamnya
namun Obama sebagai salah satu warga kulit hitam menunjukkan bahwa tidak ada
rasa dendam bahkan permusuhan antara warga kulit hitam dan kulit putih, yang
dibutuhkan negara Amerika Serikat saat ini setelah peristiwa WTC adalah perubahan.
Perubahan yang membawa negara Amerika Serikat menjadi lebih baik dan tetap
menjadi negara yang mendominasi setiap pergerakan politik dunia dengan caranya
yang lain yaitu yang jauh lebih lunak dan lebih mengedepankan kerjasama. Karena
keinginan Barack Obama untuk merubah Amerika Serikat menjadi lebih baik sudah
tertanam didalam dirinya, meskipun Obama harus bersusah payah untuk menuju jalan
kursi kepresidenan.
III.2. Faktor internasional
III.2.a. Sikap negara-negara internasional kebijakan pemerintah Amerika Serikat
(pada periode pemerintahan George W Bush junior)
Pada masa presiden George W Bush junior, Amerika banyak mendapat
kritikan dari negara internasional. Terutama mengenai penyerangannya terhadap
negara Irak, Afghanistan, dan juga penganiayaan terhadap narapidana penjara
Guantanamo. Hal inilah yang membuat masyarakat dunia kurang merasa puas dengan
49
sikap militer Amerika yang agresif. Sikap agresif ini juga mendapat kecaman dari
masyarakat internasional ketika Amerika memberikan dukungan penuh serangan
militer Israel terhadap Palestina.
George W Bush menjabat dalam dua Periode (20 Januari 2001 sampai 20
Januari 2009), dalam masa jabatannya banyak diantara kebijakan-kebijakannya yang
kontroversional sehingga menimbulkan protes masyarakat, seperti kebijakan Amerika
dalam penyerangan terhadap Irak tahun 2003, penyerangan terhadap Afghanistan
tahun 2001, dan juga sikap yang sangat brutal terhadap narapidana penjara
Guantanamao, dan lain-lain seperti yang tersebut diatas.80
Amerika menyerang Afghanistan dengan alasan pemberantasan terhadap
terorisme, sedangkan di Irak adalah dengan alasan pengadaan senjata pemusnah
massal yang sebenarnya adalah ingin menggulingkan Saddam Husein. Pernyataan
Bush dalam “perang melawan teror” di Afghanistan hanya dijadikan sebuah tameng
untuk menguasai dan menindas rakyat Afghanistan. Amerika beranggapan bahwa
Afghanistan bukanlah negara yang mendukung teroris tetapi negara yang didukung
oleh teroris dengan alasan Al-Qaeda menyediakan pelatihan, persenjataan, tentara
dan banyak memberikan bantuan finansial untuk gerakan Taliban, sedangkan Taliban
memberikan ruang fasilitas sebagai camp dari pelatihan al-Qaeda. Dari sinilah
Amerika menyerang Afghanistan dengan alasan menyerang teroris, sehingga banyak
korban yang berjatuhan yang bukan hanya dari pihak musuh Amerika namun juga
warga sipil Afghanistan, karena banyaknya korban yang berjatuhan dari warga sipil
Afghanistan maka masyarakat muslim dunia banyak yang menyerukan protes untuk
segera menghentikan penyerangan terhadap Afghanistan.81
80
Bien Pasaribu dan Jamaluddin Ritonga, Perang Bush Memburu Osama (Jakarta: Penerbit
Sinar Haiti, 2001), h. 86.
81
Ibid., h. 87.
50
Selain itu, kebijakan Amerika yang sangat kontroversi yaitu kebijakan UU
the Anti-terrorism and Effective Death Penalty Act82 tahun 1996. UU ini sangat tidak
diterima oleh negara-negara lain terutama negara yang menjalin hubungan dengan
Amerika. Dalam UU ini berisikan bahwa diperbolehkan untuk melegitimasi setiap
kebijakan pemerintah untuk memerangi terorisme baik didalam negeri maupun diluar
negeri. Selain itu, termasuk juga kewenangan Amerika untuk memberikan extradisi
para teroris yang terbukti melakukan penyerangan terhadap warga dan juga properti
Amerika untuk diadili di Amerika. Tentu saja hal ini sangat menimbulkan polemik
dalam menjalin hubungan bilateral dengan Amerika, karena tidak semua negara mau
menyerahkan warga negaranya untuk diextradisi di negara Amerika.
Kebijakan lain yang juga menimbulkan kontroversi adalah kebijakan “preemptive strike” ini tidak didukung oleh semua anggota PBB namun didukung oleh
negara sekutu AS yang termasuk dalam anggota PBB. Dalam anggota PBB yang
bukan anggota Dewan Keamanan PBB tersebut banyak yang menentang tindakan
Amerika Serikat, dengan asumsi bahwa penyerangan Amerika Serikat tersebut bukan
karena terhadap terorisme melainkan atas dasar keberadan negara Irak yang disinyalir
mengembangkan senjata pemusnah massal dan juga pada dasarnya adalah untuk
minyak sedangkan di Afghanistan adalah karena ingin menguasai minyak dan juga
untuk membangun saluran pipa milik Amerika yang melalui negara Afghanistan.83
Dewan Keamanan (DK) PBB memang memberikan landasan terhadap suatu
negara untuk membela diri apabila ada serangan dari negara lain. Hal ini tertulis
dalam resolusi 1368 2001,84 pasal 51 yang berisikan bahwa hak pembelaan terhadap
individual atau kolektif negara-negara. Selain itu tertulis pula dalam resolusi baru No.
82
Poltak Partogi Nainggolan, Terorisme dan Tata Dunia Baru (Jakarta: Tim Peneliti HI Pusat
Pengkajian dan Pelayanan Informasi (P3I) DPR RI, 2002), h. 166.
83
Trias Kuncahyono, Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish (Jakarta: Kompas, 2005), h. 85.
84
Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika
Global (Bandung: P. T. Alumni, 2005), h. 660-661.
51
1373 (2001), yang berisikan bahwa langkah-langkah dan tindakan yang harus diambil
oleh negara-negara anggota untuk memberantas terorisme, sedangkan Amerika
mendasarkan penyerangan ke Afghanistan atas resolusi 1368 dan 1373, namun perlu
ditegaskan bahwa hak bela diri dalam pasal 51 tersebut adalah tindakan bela diri yang
ditujukan kepada state actor85, sedangkan yang terajadi pada 11 September 2001
adalah penyerangan yang dilakukan oleh jaringan teroris/ non state actor.
Penyerangan Amerika tersebut yang seharusnya ditujukan terhadap non state actor
menjadi penyerangan terhadap Afghanistan dengan dalih memerangi terorisme dari
akar-akarnya, sehingga dapat dikatakan bahwa Amerika telah memanfaatkan istilah
self-defence untuk melakukan pre-emptive strike.
Dalam pasal 51 diterangkan pula apabila penyerangan tersebut didasarkan
atas self defence maka negara yang menyerang tersebut harus segera melaporkan
tindakannya ke Dewan Keamanan PBB. Akan tetapi pada kenyataannya Amerika
belum bahkan tidak melaporkan kejahatan kemanusiaannya terhadap Dewan
Keamanan PBB. Resolusi-resolusi tersebut pada hakikatnya hanya meminta kepada
seluruh negara-negara untuk melindungi negara dari terorisme dan bukan untuk
menyerang Afghanistan. Untuk itu penyerangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat
sangat dikecam oleh negara-negara lain. Dewan Keamanan PBBpun juga mengutuk
keras kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Amerika tersebut, namun karena
Dewan Keamanan PBB banyak disetir oleh orang-orang Amerika maka DK PBB
hanya bisa gigit jari dan tidak bisa melakukan tindakan tegas terhadap apa yang
dilakukan oleh Amerika Serikat. Selanjutnya penyerangan terhadap Irak atas dasar
85
Ibid, h. 663
52
memerangi terorisme global juga dikecam keras oleh negara-negara Perserikatan
Bangsa-bangsa.86
Dari kebijakan presiden George W Bush yang dipandang oleh negara di
dunia sangat kontroversial, sehingga menimbulkan kebencian masyarakat dalam
negeri Amerika Serikat sendiri dan juga negara Timur Tengah yang mempunyai
masalah atau pernah konflik dengan Amerika. Untuk itu Amerika memerlukan
pengembalian citra yang baik dimata internasional agar lebih mudah dalam
melakukan diplomasi dengan negara-negara di dunia. Inilah yang menjadi pekerjaan
rumah Barack Obama sebagai presiden sesudahnya, yaitu menstabilkan dan
memperkuat kerjasama kembali dengan negara didunia terutama negara muslim.
Dalam menjalankan pemerintahannya Barack Obama tidak bekerja sendiri,
namun dibantu oleh Menteri Luar Negerinya yaitu Hillary Clinton salah satunya
adalah dengan melakukan berbagai kunjungan terlebih dahulu sebelum presiden
melakukan kunjungan kenegara yang akan dikunjungi, hal itu dilakukan supaya ketika
presiden akan melakukan kunjungan, maka sudah mempunyai gambaran bagaimana
reaksi dari negara yang akan dikunjungi. Apakah masyarakat dari negara tersebut
merespon dengan sangat baik atau akankah ada tindakan-tindakan anarkis yang
kemungkinan akan membuat kunjungan tersebut berakibat fatal.
86
Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika
Global, h. 664-665.
53
BAB IV
ANALISIS TERHADAP FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN
KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT DALAM MEMERANGI
TERORISME INTERNASIONAL DI AFGHANISTAN ERA BARACK
OBAMA
IV.1. Faktor Internal
IV.1.a. Keadaan ekonomi, sosial, dan politik dalam negeri Amerika Serikat
Sebelum Obama menjabat sebagai presiden Amerika Serikat yang ke-44,
Amerika Serikat dipimpin oleh George W Bush junior, ketika George W Bush
menjabat sebagai presiden di negara Amerika Serikat terjadi sebuah peristiwa yang
sangat mengejutkan seluruh dunia. Dua menara kembar yang sangat kokoh mampu
ditabrak oleh pesawat yang disinyalir dilakukan oleh kelompok teroris menurut
Amerika Serikat kemudian dikenal dengan peristiwa WTC 11 September 2011.
Setelah peristiwa WTC 11 September 2011 perekonomian Amerika Serikat
mengalami kekacauan luar biasa, dikarenakan dengan runtuhnya gedung menara
kembar tersebut membuat pemerintahan Amerika Serikat menjadi terhambat terutama
dalam bidang ekonomi, karena gedung menara kembar tersebut dijadikan sebagai
tempat para investor maupun perusahaan-perusahaan penting dalam menanamkan
saham mereka, sehingga selain berdampak terhadap perusahaan-perusahaan yang ada
digedung tersebut juga berdampak pula terhadap perusahaan-perusahaan lain yang
menjalin hubungan dengan perusahaan tersebut. Diantaranya adalah perusahaan
NYSE (New York Stock Exchange) yang menempati pada dua menara, adapun
perusahaan investasi lainnya adalah investmen banking Morgan Stanley, Goldman
54
Sach, dan Lehman Brothers,87 selain itu juga terdapat perusahaan televisi yang
menempati gedung ini pula. Maka setelah runtuhnya gedung tersebut perekonomian
di Amerika menjadi merosot tajam, terlebih pada awal 2001-an Amerika Serikat
sudah mengalami resesi.
Sejak setelah runtuhnya gedung tersebut pasar modal, bursa efek di Amerika
otomatis langsung ditutup. Dengan ditutupnya bursa efek tersebut maka menjadikan
perekonomian Amerika mandek atau berhenti secara total, sedangkan kerugian akibat
serangan teroris ini mencapai sekitar 40 milyar dollar Amerika.88
Pasar modal di Wall Street baik NYSE (New York Stock Exchange),
American Stock Exchange maupun Nasdaq ditutup selama empat hari. Penutupan ini
termasuk lama mengingat perekonomian Amerika adalah tempat atau pusat dari
perdagangan dunia sehingga mengakibatkan banyak dari pemilik saham yang ingin
melepas sahamnya, dan saham penerbangan mengalami penderitaan atau kerugian
yang paling berat sehingga mengakibatkan dollar Amerika Serikat langsung melemah
dari yen dan euro. Para pemodal melakukan tindakan penyelamatan terhadap nilai
investasi mereka (flight to safety) menjual saham yang dipegang, dengan mengganti
pembelian terhadap emas atau obligasi.89
Keterpurukan dalam bidang ekonomi tersebut secara tidak langsung
membawa dampak pula terhadap banyaknya masyarakat
yang mengalami
pengangguran
Amerika
secara
mendadak.
Untuk
itu
masyarakat
Serikat
menginginkan adanya sebuah lowongan pekerjaan baru agar mereka dapat bertahan
hidup serta untuk memulihkan keadaan diri mereka sendiri. Selain itu pula, keadaan
87
Mereka adalah nama-nama perusahaan yang menanamkan investasi yang besar terhadap
gedung tersebut.
88
Warsono, “Dampak Serangan World Trade Center terhadap Kinerja Pasar Modal
Indonesia,” artikel diakses pada 4 April 2011 dari http://warsono.staff.umm.ac.id/.../DampakSerangan-World-Trade-Center...
89
Ibid.,
55
psikologis masyarakat juga menjadi dampak dari peristiwa WTC tersebut terutama
bagi mereka yang kehilangan kerabatnya dan juga bagi mereka yang kehilangan harta
bendanya. Akhirnya
masyarakat Amerika banyak mengalami trauma, gangguan
psikis atau kejiwaan, gangguan sosial, bahkan ada yang mengalami keputusasaan
dalam menjalani hidup. Hal ini terutama terjadi kepada para korban yang tempat
tinggalnya dekat dengan gedung tersebut. Harta, dan seluruh harapannya hilang tanpa
ada yang tersisa sedikitpun, saudara bahkan orangtua atau anak sekalipun. Para
peneliti juga mengemukakan sebanyak 95,6%90 dari korban WTC melaporkan
mengalami gangguan stress dan trauma, dan sebagai efek jangka panjangnya dari
kejadian ini maka bagi mereka yang masih selamat terus melaporkan perkembangan
psikis mereka terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah karena dapat
mengganggu rutinitas kehidupan sehari hari mereka apabila keadaan sudah kembali
normal.
Keadaan politik dalam negeri Amerika Serikat setelah peristiwa WTC juga
menjadi lebih brutal dan agresif, presiden George W Bush yang memerintah pada
waktu itu langsung mengambil sebuah kebijakan dengan melakukan penyerangan
terhadap Afghanistan, negara yang diklaim oleh Bush sebagai dalang teroris yang
ternyata tidak disetujui oleh sebagian besar masyarakat internasional. 91 Akan tetapi
karena pernyataan Bush untuk menyerang teroris -dengan tokoh utamanya yaitu
Osama bin Laden seseorang yang disebut sebut Bush sebagai dalang utamanya dan
sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas peristiwa WTC ini disinyalir berada
di Afghanistan- akhirnya pada tanggal 14 September 2001 para pemimpin Kongres
dan Gedung Putih menyetujui dalam pengalokasian dana 40 milyar dollar AS sebagai
90
http://www.news-medical.net/news/20110110/1242/Indonesian.aspx?page=2 diakses pada
Sabtu 19 Pebruari 2011.
91
Bien Pasaribu dan Jamaluddin Ritonga, Perang Bush Memburu Osama (Jakarta: Penerbit
Sinar Haiti, 2001), h. 23.
56
paket darurat untuk merespon serangan teroris terhadap peristiwa WTC dan juga
markas besar militer Pentagon. Akhirnya sebuah serangan besar benar-benar
dilancarkan oleh pasukan militer Amerika Serikat yang dibantu oleh negara Inggris
terhadap negara Afghanistan pada Minggu malam tanggal 7 Oktober 2001.92 Situasi
politik dalam negeri Amerika Serikat menjadi lebih mengedepankan militer, berbagai
cara dilakukan untuk menyerang aksi terorisme, bahkan biaya yang dikeluarkan
selama 5,5 tahun terhitung dari tahun 2001 ditaksir telah menghabiskan biaya sekitar
$500 milyar.93 Biaya tersebut disebut-sebut sebagai biaya anggaran perang dan
rekonstruksi luar negeri yang terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat, hal ini
terbukti dengan tanggal 07 September 2003 Bush meminta dana sebesar $87 milyar
ke kongres yang merupakan tambahan dana yang telah disetujui oleh kongres,
sebelumnya pemerintah AS juga meminta dana untuk kampanye militer sebesar $79
milyar.94 Kebutuhan militer yang sangat tinggi membuat keadaan ekonomi dalam
negeri Amerika Serikat menjadi carut marut, banyak masyarakat Amerika yang
kehilangan pekerjaannya, ditambah dengan gangguan psikis dan juga mental serta
kurang mendapat perhatian dari pemerintah Amerika yang dipimpin oleh George W
Bush pada waktu itu yang lebih memfokuskan diri dalam memerangi terorisme.
Dari ketiga faktor yang tersebut diatas, maka Barack Obama yang
menyalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat sangat prihatin dan menginginkan
segera terjadi pemulihan kondisi sosial, ekonomi dan juga politik dalam negeri
Amerika Serikat. Untuk itu ketika masa kampanye tahun lalu Obama juga mengusung
perbaikan ekonomi dalam negeri.
92
Ibid.,
Widarti Rahardjo (penterjemah), Change We Can Believe In (Jakarta: P. T. Ufuk publishing
house, 2009), h. 294.
94
Bien Pasaribu dan Jamaluddin Ritonga, Perang Bush Memburu Osama (Jakarta: Penerbit
Sinar Haiti, 2001), h. 81.
93
57
Dalam
masa
kampanye
Obama
lebih
mengedepankan
keinginan
masyarakatnya sendiri terlebih dahulu demi meraih simpati terhadap dirinya. Pidato
Obama yang bijak dengan kata-kata yang terangkai indah mampu menyihir jutaan
masyarakat Amerika Serikat untuk memilih dirinya. Bagaimana tidak, Obama
memberikan janji-janji yang sangat dibutuhkan masyarakat Amerika Serikat pada saat
itu, diantaranya adalah janji Obama untuk memberikan pajak terhadap mereka yang
berpenghasilan tinggi, mengurangi tingkat pengangguran, meringankan beban harga
bahan bakar minyak untuk yang berpenghasilan rendah, meringankan biaya
pengobatan untuk rakyat miskin, dan lain-lain. Janji-janji Obama tersebut terangkum
dalam kampanyenya dengan mengusung tema Change We Can Believe In.95
Cara Obama dalam menyampaikan pidatonya dalam berkampanye terlihat
lebih bersahabat dengan masyarakat Amerika, maka masyarakat Amerika Serikat
menyambut baik dan mengharapkan Obama mampu melaksanakan janji-janjinya,
karena yang dibutuhkan oleh masyarakat Amerika yaitu perubahan, perubahan yang
membawa masyarakat kekehidupan yang jauh lebih nyaman dan tenang. Satu hal
yang menurut penulis sangat mengena dalam pidato Obama mengenai kata-katanya
yang sangat dalam dalam meraih simpati masyarakatnya yaitu bahwa ketika Obama
membahas mengenai masalah ekonomi, Obama mengatakan dalam salah satu
pidatonya yaitu “warga Amerika bukanlah masalahnya melainkan mereka adalah
jawabannya,
jika banyak dari warga Amerika yang berhasil maka ekonomi
Amerikapun akan menjadi sebuah kesuksesan.” Selain itu juga pernyataan Obama
setelah dirinya terpilih menjadi presiden yaitu “saya tidak akan melupakan pemilik
sejati kemenangan ini yakni anda semua. Kemenangan ini adalah milik kalian.”96
95
Widarti Rahardjo (penterjemah), Change We Can Believe In (Jakarta: P. T. Ufuk publishing
house, 2009), h. 44.
96
Ibid., h. 24.
58
Pernyataan Obama melalui pidatonya tersebut menurut penulis dinilai sopan
namun tepat mengenai terhadap keinginan masyarakat yaitu menginginkan adanya
perubahan dikarenakan masyarakat Amerika Serikat sudah jenuh dan bosan dengan
gaya kepemimpinan George W Bush junior ditambah dengan gaya bicara Obama
yang khas dan juga dengan senyuman kharismatiknya sehingga Obama terkesan lebih
ramah daripada McCain lawan politiknya ketika masa kampanye dahulu. Menurut
penulis Obama mampu membangkitkan semangat masyarakat Amerika dengan
menjadikan masyarakat Amerika Serikat sebagai faktor utama dalam kemajuan
negara Amerika Serikat, melihat dari berbagai penjelasan diatas. Setelah Obama
terpilih menjadi presiden Amerika Serikat pada November 2009 terlihat lebih
mengedapankan diplomasi dengan negara-negara lain, Obama menggunakan
pendekatan smart power97 daripada hard power98 yang dijalankan oleh George W
Bush dahulu.
IV.1.b. Faktor internal dalam diri Barack Obama
Obama merupakan sosok seseorang yang dikenal sangat supel atau mudah
bergaul, cara bicaranyapun mampu menarik perhatian banyak masyarakat yang bukan
hanya masayarakat Amerika Serikat melainkan juga perhatian masyarakat dunia. Hal
ini terbukti dengan berbagai pidato yang disampaikan ketika Obama melakukan
kampanye pemilu presidennya. Banyak masyarakat yang tak percaya jika pada
akhirnya Obama mampu meraih kursi di kepresidenan Amerika Serikat.
Kecerdasan Obama selain dari kegigihannya nampaknya juga karena
keturunan yang dimiliki oleh Ann Dunham ibu kandungnya. Ann Dunham sangat
97
Riefqi Muna, “Paradigma Pertahanan dari Hard Power ke Smart Power dalam jurnal
Pertahanan dan Perdamaian,” Jakarta: Pusat Studi Pertahanan dan Perdamaian FISIP Universitas Al
Azhar Indonesia V, no. 1 (April 2009) h. 86-87.
98
Ibid.,
59
gemar menyampaikan gugatan politik pada pemerintahan dan bahkan juga sempat
menyesalkan akan keberadaan presiden Amerika Serikat yang bagi Ann Dunham
kurang berkenan dihatinya, dan ini merupakan salah satu karakter dari Obama saat
ini,99 yaitu dalam diri Obama menginginkan perubahan kearah yang lebih baik dalam
pemerintahan Amerika Serikat. Simon Saragih100 mengemukakan pada kata
pengantarnya dalam buku “ketekunan dan hati putih Barack Obama” bahwa Barack
Obama memang menarik perhatian, selain Obama yang masih tergolong muda juga
memancarkan kepedulian dan kehangatan serta kepedulian, bertindak sesuai dengan
hati nurani, dan sejak lulus pendidikan tertingginya Obama bercita-cita membangun
keadilan dan kesejahteraan bersama.
Dalam masa hidup ibunya Obama yaitu Stanley Ann Dunham,
lingkungannya diwarnai dengan segregasi kulit putih dan hitam dengan komunitas
yang saling tidak percaya,101 hal inilah yang paling tidak disukai oleh Ann Dunham
nampaknya hal ini juga diwariskan terhadapkan Barack Obama yang menginginkan
tidak adanya kesenjangan antara kulit hitam dan kulit putih. Selama tinggal di
Indonesia Obama mengaku belajar kemurahan hati dari ibunya, ketika ibunya
memberikan pada pengemis yang terlihat lebih menderita yang jumlah pengemisnya
tersebut tidak sedikit, sangat peduli dengan wanita miskin, selain itu Ann juga terbiasa
dengan dunia dan juga budaya yang berbeda dan menghargai komunitasnya. Hal ini
juga diungkapkan oleh Obama sendiri.102 Berangkat dari sinilah Obama mempunyai
rasa iba dan belas kasihan terhadap masyarakat yang kurang mampu atau masyarakat
miskin. Untuk itu ketika Obama mengampanyekan diri sebagai calon presiden tidak
99
Simon Saragih, Ketekunan dan Hati Putih Barack Obama Kisah Lengkap Perjalanan Hidup
dan Karier Politik (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2009), h. 11.
100
Ibid., h. vii
101
Simon Saragih, Ketekunan dan Hati Putih Barack Obama Kisah Lengkap Perjalanan
Hidup dan Karier Politik, h. 11.
102
Ibid,. h. 17.
60
ketinggalan pula untuk memberikan kebijakan dalam negerinya berupa pengentasan
kemiskinan dengan membuka lahan pekerjaan terutama setelah Amerika Serikat
dilanda krisis ekonomi setelah jatuhnya menara WTC. Tugas itu bukan hanya menjadi
pekerjaan rumah Obama saja tetapi harus dibantu oleh semua masyarakat Amerika
Serikat sebagai pelaku utama dari maju tidaknya perekonomian dalam negeri Amerika
Serikat.
Selain faktor keturunan kecerdasan, keprihatinan dan juga kegigihan yang
dimiliki oleh ibunya Obama juga didukung oleh faktor internal yang ada pada dirinya
yaitu inginnya perubahan kearah yang lebih baik pada negara Amerika Serikat. Tidak
ada rasa saling membeda-bedakan terutama antar ras karena yang diinginkan Obama
hanyalah perubahan. Walaupun ayahnya memiliki sifat-sifat yang kurang baik namun
hal itu nampaknya tidak banyak terlihat pada diri Obama, bahkan Obama memberikan
sikap yang baik ketika banyak dari kalangan media menyoroti ayah Obama junior
tentang kebiasaan buruknya.
Selama empat tahun Obama tinggal di Indonesia, membuat Obama lebih
mengenal dari Islam itu sendiri, bahkan tidak jarang Obama bermain di surau
(mushalla, langgar) dan surau itu biasanya digunakan oleh para asatidz atau guru-guru
untuk mengajari segala hal tentang agama, belajar mengaji dan lain-lain. Tentunya
selama tinggal di Indonesia Obama lebih mengenal dari Islam itu sendiri disamping ia
juga mempunyai keturunan darah daging muslim dari neneknya di Kenya. Kemudian
bagaimana Obama menyikapi tentang Islam selama masa kampanye? Menurut penulis
Obama menganggap bahwa pada dasarnya Islam baik namun kembali pada umat
muslim yang memaknai dari ajaran Islam itu sendiri. Dalam buku Anwar Holid
seorang proofreader terbaik mizan Obama mengatakan bahwa kita masyarakat dunia
dihadapkan pada hidup ketika sensitivitas agama luar biasa hebat dan kerugiannya
61
dalam Islam adalah terdapat masyarakat muslim yang berusaha untuk melakukan
kejahatan dengan cara konstan untuk menunjukkan bahwa ternyata dunia barat
antagonistik terhadap Islam.103
Sedangkan ketertarikan Obama pada sebuah partai dimulai dari penugasan
Obama sebagai senator illionis menuju Springfield, dan Springfield tersebut
didominasi oleh partai Republik. Akhirnya Obama sadar akan pentingnya politik saat
berada di Ibu Kota Illionis tersebut, sebelum menjabat sebagai senator Illionis Obama
berangkat dari seorang liberal, namun setelah ia berangkat menuju Springfield.
Kedatangan Obama di Springfield tidak langsung mendapat sambutan, untuk meraih
simpati itu Obama mencoba meraih lingkungan sosial dan terlibat pada acara-acara
cocktail di Springfield, serta ikut bergabung pula dalam permainan poker yang rutin
dilakukan mingguan bersama antar anggota parlemen. Hal ini membuat Obama lama
kelamaan mendapat sambutan hangat dari kalangan parlemen.104
Obama adalah seorang professor bidang hukum internasional, ketika mantan
senator AS Paul Simon (Demokrat Illionis) mempunyai ide untuk menyusun undangundang tentang pengaturan pembiayaan kampanye, namun ide ini tertahan karena
tidak ada yang berminat untuk mendalami. Akhirnya Obamalah yang diberikan tugas
tersebut setelah melihat keseriusan kerja dari Obama, tugas tersebut bertujuan untuk
memperketat sistem antara lain dengan penciptaan rekening kampanye listrik, yang
akan dipakai oleh politisi untuk pengeluaran pribadi secara teratur.105
Pemberian pekerjaan tersebut adalah mewakili dari kubu Demokrat oleh
Senator Illionis, Emil Jones Jr, yang berkulit hitam. Jones sendiri memilih Obama atas
rekomendasi dari Abner J Mikva seorang mantan hakim dan anggota Kongres dari
103
Anwar Holid, Barack Hussein Obama (Bandung: PT Mizan, 2009), h. 163.
Simon Saragih, Ketekunan dan Hati Putih Barack Obama Kisah Lengkap Perjalanan
Hidup dan Karier Politik, h. 183.
105
Ibid., h. 85.
104
62
partai Demokrat. Berangkat dari sinilah akhirnya Obama mendapat sambutan yang
baik dan mulai mendapat kepercayaan dari masyarakat untuk maju dalam senat di
Amerika Serikat yang akhirnya mendorong Obama menjadi presiden Amerika Serikat
dari kubu partai Demokrat.106
Faktor internal bersumber dari idiosinkretik (idiosyncratic sources)107
merupakan sumber internal dengan melihat nilai-nilai pengalaman, bakat serta
kepribadian elit politik yang mempengaruhi persepsi, kalkulasi, dan perilaku mereka
terhadap kebijakan luar negeri. Dalam sember ini tercakup pula persepsi seorang elit
politik tentang keadaan alamiah dari arena internasional dan tujuan nasional yang
hendak dicapai. Mengamati dari kepribadian elit politik yang mempengaruhi persepsi
akan sebuah pengambilan kebijakan maka tidak dapat lepas dari partai yang
mengusungnya untuk menjadikan kandidat sebagai presiden. Kita ambil contoh dari
partai Republik ketika masa George W Bush junior, pada masa Bush junior kebijakan
luar negeri Amerika Serikat sangat agresif. Hal ini disebabkan karena gaya
kepemimpinan Bush yang dipengaruhi oleh sikap konservatisme dan ini semua tidak
bisa lepas pula dari mayoritas anggota kongres yang mayoritas dari Republik dan
berhaluan konservatif. Contohnya adalah mempertahankan kehadiran pasukan
Amerika Serikat di Irak meskipun mendapat kecaman dari dalam dan luar negeri dan
kebijakan inipun dilanjutkan oleh McCain sebagai lawan politik Obama (dari partai
Demokrat) dalam memperebutkan kursi kepresidenan tahun 2008. Pada akhirnya
dunia muslim menjadi kurang bersahabat dengan Amerika Serikat lantaran sikap
arogan dan juga kebrutalan militernya dengan dalih memerangi terorisme.
106
Simon Saragih, Ketekunan dan Hati Putih Barack Obama Kisah Lengkap Perjalanan
Hidup dan Karier Politik, h. 85.
107
Artikel Yanyan Mochammad Yani disampaikan pada acara sistem politik luar negeri bagi
perwira siswa sekolah staf dan komando TNI AU (Bandung: 16 Mei 2007) diakses pada 07 Juli 2011
dari http:// pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/…/politik luar negeri. Pdf.
63
Sedangkan pada masa pemerintahan Barack Obama (sedang menjabat sebagai
presiden Amerika Serikat yang berasal dari partai Demokrat) saat ini, kebijakan luar
negeri Obama cenderung lebih lunak atau lebih mengedepankan diplomasi terlebih
dahulu, nampaknya sikap yang lebih mengutamakan diplomasi ini sudah mengakar
dalam tubuh partai Demokrat, partai Demokrat cenderung lebih memfokuskan diri
terhadap jalannya demokrasi dan juga pemenuhan hak-hak asasi manusia. Contohnya
adalah kebijakan Obama memberikan pajak yang tinggi bagi mereka yang
berpenghasilan tinggi,108 pemulihan perekonomian dalam negeri Amerika Serikat
dengan cara menciptakan lapangan kerja, kemudian terlihat pula dengan usaha Obama
untuk mengajukan Undang-undang kesehatan ke DPR di Amerika Serikat dan hal ini
menjadi agenda penting dalam negeri Obama.
Untuk itu pada masa pemerintahan sekarang ini hubungan antara dunia
muslim dengan Amerika Serikat jauh lebih baik, hal ini disebabkan karena usaha
Obama dalam berdiplomasi kepada negara-negara muslim seperti ke negara Turki,
Arab Saudi, Mesir, dan Indonesia. Dalam kunjungan tersebut Obama merangkul
dunia muslim kembali setelah ketidakpercayaan dunia muslim terhadap Amerika
Serikat selama masa pemerintahan sebelumnya yaitu George W Bush junior, sehingga
hal ini menggambarkan bahwa pada masa Obama (Demokrat) hubungan antara
Amerika Serikat dengan dunia muslim cenderung lebih harmonis. Masa inipun
nampak pula ketika masa pemerintahan Bill Clinton, yaitu dengan mengawali masa
bakti pemerintahannya dengan mengurangi anggaran Departemen Luar Negeri.
Clinton lebih terobsesi untuk membangun kembali perekonomian domestik yang
menurun selama 12 tahun masa Republikan (George W Bush senior masa 1989-
108
“Sang Kandidat Presiden” (Koran Republika, Senin, 03 November 2008), h. 10.
64
1993).109 Dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Demokrat lebih mengutamakan
petualangan dalam negeri terlebih dahulu daripada petualangan politik luar negeri.
IV. 2. Faktor Internasional
Peristiwa WTC telah merubah keadaan warga Amerika Serikat dan juga
pemerintah Amerika Serikat. Warga Amerika Serikat menjadi takut dan trauma
dengan kejadian yang mampu meruntuhkan menara kembar, yang mana menara
tersebut merupakan simbol kedigdayaan Amerika Serikat, karena ketakutan tersebut
membuat sebagian warga Amerika Serikat ada yang mengalami gangguan psikologis
dan ada juga yang cacat karena terkena reruntuhan gedung tersebut. Sedangkan
pemerintahan Amerika Serikat sendiri menjadi lebih keras dalam mengambil sebuah
keputusan terlepas siapapun dalang dari runtuhnya gedung tersebut, namun menurut
George W Bush presiden Amerika Serikat pada waktu itu mengatakan bahwa
peristiwa tersebut adalah ulah dari para teroris yang dipimpin oleh Osama bin
Laden.110 Tuduhan yang dialamatkan terhadap Osama tersebutpun membuat George
W Bush mengutamakan kebijakan luar negerinya yaitu untuk perang melawan
terorisme.
Akhirnya Geroge W Bush mengambil sebuah kebijakan yang dinilai cukup
kontroversial yaitu kebijakan UU the Anti terrorism and Effective Death Penalty Act
tahun 1966 yang secara umum melegitimasi setiap kebijakan pemerintah dalam
109
Bambang Cipto, Dunia Islam dan Masa Depan Hubungan Internasional di Abad 21
(Yogyakarta: Divisi Publikasi dan Penerbitan LP3M Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2011),
h. 171.
110
Osama bin Laden lahir di Riyadh pada tahun 1957. Ayahnya merupakan pengusaha
kontruksi sukses Saudi Arabia dan Yaman. Ayah Osama disebut-sebut mempunyai aset AS$10 milyar,
dan hebatnya anak-anaknya siap untuk berjihad. Mungkin inilah yang menjadi salah satu penyebab
Osama untuk berbuat jihad. (Bien Pasaribu dan Jamaluddin Ritonga, Perang Bush Memburu Osama
(Jakarta: Penerbit Papas Sinar Sinanti, 2001), h. 6.
65
memerangi terorisme didalam dan luar negeri.111 Selain itu dalam memerangi
terhadap terorisme juga menerapkan kebijakan unilateralisme, pre emption strike112
dengan doktrin strike first. Atas perintah George W Bush militer Amerika Serikat
melakukan penyerangan terhadap negara Afghanistan pada tahun 2001 dan negara
Irak pada tahun 2003. Alasan penyerangan tentara Amerika terhadap Afghanistan
adalah memerangi terorisme sedangkan di Irak adalah dengan alasan pengadaan
senjata pemusnah masal yang sebenarnya ingin menguasai minyak, dengan kebijakankebijakan tersebut membawa perubahan terhadap hubungan antara Amerika serikat
dengan dunia muslim.
Hubungan antara negara Amerika Serikat dengan negara muslim menjadi
kurang bersahabat, ketidakharmonisan hubungan sangat terlihat dengan kebijakankebijakan yang dijalankan oleh pemerintahan George W Bush. Bahkan dalam sebuah
pidatonya Bush mengatakan “anda bersama kami atau bersama teroris”.113
Pernyataan tersebut memberikan bukti bahwa Amerika Serikat dengan dibawah
pemerintahan George W Bush sangat terlihat memusuhi teroris, sedangkan menurut
pemerintah George W Bush teroris yang terlibat dalam peristiwa WTC tersebut
dilakukan oleh orang muslim.
Kebijakan George W Bush juga terlihat lebih mendukung Israel daripada
Palestina atas perseteruan pemilikan tanah yang sudah lama diduduki oleh Palestina.
Sekalipun Israel salah dimata masyarakat internasional, namun bagi Amerika Serikat
upaya yang dilakukan Israel adalah untuk melindungi negaranya dari musuh.
111
Poltak Partogi Nainggolan, Terorisme dan Tata Dunia Baru (Jakarta: Tim Peneliti HI Pusat
Pengkajian dan Pelayanan Informasi (P3I) DPR RI, 2002), h. 166.
112
Unilateralisme: suatu tindakan yang tidak harus mendapat persetujuan dari badan
internasional atau dari negara sekutu; pre-emption strike: suatu tindakan untuk menyerang terlebih
dahulu sebelum diserang oleh negara lain terhadap segala bentuk potensi ancaman terhadap warga
negaranya. (Poltak Partogi Nainggolan, Terorisme dan Tata Dunia Baru (Jakarta: Tim Peneliti HI
Pusat Pengkajian dan Pelayanan Informasi (P3I) DPR RI, 2002), h. 172.
113
Trias Kuncahyono, Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish (Jakarta: Kompas, 2005), h. 85
66
Pembelaan serta perlindungan diberikan oleh Amerika Serikat meskipun Amerika
Serikat tahu bahwa Israel banyak diprotes oleh masyarakat dunia atas pelanggaran
suatu perjanjian ataupun karena membunuh rakyat sipil Palestina yang menjadi
korban kebengisan Israel.
Beberapa kebijakan yang dilaksanakan oleh George W Bush banyak yang
diprotes oleh masyarakat internasional. Selain karena penyerangannya terhadap
Afghanistan dan juga Irak protes masyarakat internasional juga timbul karena sikap
yang brutal dengan narapidana yang berada di penjara Guantanamo. 114 Narapidana di
penjara Guantanamo diperlakukan dengan tidak manusiawi, dan tidak segera untuk
diadili sehingga seperti menyiksa narapidana tersebut dengan hidup-hidup.
Dari berbagai aksi protes dari masyarakat internasional dan juga dari negara
muslim, maka Obama sebagai presiden Amerika Serikat saat ini menggunakan suatu
terobosan baru dengan mengutamakan perbaikan hubungan dengan negara muslim
dalam kebijakan luar negerinya. Hal ini untuk membuktikan bahwa apa yang
dijanjikan ketika masa kampanye dahulu yaitu untuk merubah citra Amerika Serikat
menjadi lebih baik, supaya tidak banyak diprotes oleh kebanyakan negara ketika
Amerika Serikat bermain dalam kancah politik didunia. Oleh karena itu dalam
memimpin Amerika Serikat Obama cenderung lebih terlihat santun dan juga
berdiplomasi terlebih dahulu. Sehingga oleh banyak kalangan Barack Obama dinilai
memiliki kemampuan untuk menggali smart power. Untuk itu, konsep smart power
kini diperkenalkan oleh Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat
sebagai upaya dalam pengembalian reputasi didunia internasional menggunakan
114
Bien Pasaribu dan Jamaluddin Ritonga, Perang Bush Memburu Osama (Jakarta: Penerbit
Sinar Haiti, 2001), h. 86.
67
metode militer dalam perang melawan terorisme yang diperkuat dengan diplomasi –
with smart power, diplomacy will be the vanguard of foreign policy.115
IV.3. Implementasi konsep smart power dalam kebijakan luar negeri Amerika
Serikat masa Barack Obama
Menurut Riefqi Muna dalam jurnal studi pertahanan dan perdamaian, istilah
smart power adalah kemampuan untuk menggunakan secara bersamaan antara hard
power dengan soft power. Dalam kosakata hubungan internasional penggunaan smart
power belum terlalu lama, kemudian istilah ini menjadi semakin popular didalam
diplomasi internasional dengan adanya smart power yang menekankan perlunya
memperhatikan atau menggunakan pendekatan ini untuk melengkapi hard power
yang ditujukan sebagai upaya untuk memaksimalkan kepentingan ditingkat
internasional.116
Dijelaskan pula bahwa dalam jurnal tersebut, hard power merupakan
penggunaan kekuatan militer dan ekonomi untuk mempengaruhi atau memaksa
perilaku pihak lain, sedangkan soft power menekankan kepada upaya mempengaruhi
atau menarik pihak lain secara persuasif seperti perdagangan, diplomasi, bantuan dan
penyebaran nilai-nilai. Pengimplementasian hard power telah dilakukan oleh
pengalaman negara Amerika Serikat pada masa pemerintahan George W Bush yaitu
dengan membuahkan hasil ketidakharmonisan hubungan dengan dunia muslim
dikarenakan kebijakannya akan penyerangan terhadap Irak, Afghanistan, pembelaan
terhadap negara Israel, penerapan kebijakan luar negeri lainnya yang membekukan
minat dunia muslim untuk berhubungan baik dengan Amerika Serikat.
115
Riefqi Muna, “Paradigma Pertahanan dari Hard Power ke Smart Power dalam jurnal
Pertahanan dan Perdamaian,” Jakarta: Pusat Studi Pertahanan dan Perdamaian FISIP Universitas Al
Azhar Indonesia V, no. 1 (April 2009), h. 86-87.
116
Ibid.,
68
Untuk itu, kini Barack Obama sebagai pemimpin dalam pemerintahan
Amerika Serikat harus bisa membawa Amerika Serikat untuk berubah, dengan
menggunakan smart power Barack Obama bersama menteri luar negerinya Hillary
Clinton memulai untuk berinteraksi dengan dunia muslim atas misi perdamaian. Salah
satu tujuan kunjungan Barack Obama pada waktu itu adalah Mesir. Hal ini
dikarenakan Mesir mempunyai letak yang sangat strategis, selain itu tujuan Obama
memilih untuk mengunjungi Mesir terlebih dahulu adalah karena Mesir pernah
menjadi sekutu Amerika Serikat dimasa pemerintahan Jimmy Carter. Sedangkan saat
ini Mesir dipimpin oleh Hosni Mubarok yang juga disebut-sebut sebagai antek dari
Amerika Serikat, hal ini terlihat dengan pembelaan Hosni Mubarok terhadap
kepentingan Amerika Serikat yaitu menjaga poin-poin kesepakatan dalam perjanjian
Camp David, yaitu bahwa Mesir tidak akan menyerang negara Israel dan juga akan
menjaga kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah.117
Dalam pidato pertamanya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Obama
mengatakan bahwa:
“Islam adalah bagian dari Amerika. Dan saya percaya bahwa
Amerika menyepakati fakta bahwa apapun ras, agama, atau pos
kehidupan, kita semua memiliki aspirasi yang sama, yaitu hidup
dalam perdamaian dan keamanan untuk mendapatkan pendidikan
dan bekerja secara terhormat, untuk mencintai keluarga,
komunitas, dan Tuhan kita.”118
Obama juga mengakui bahwa negara-negara mayoritas muslim sering
diperlakukan sebagai bawahan tanpa dipedulikan aspirasinya, untuk itu Obama
117
Agus N Cahyo, Tokoh-tokoh Timur Tengah yang diam-diam Menjadi Antek Amerika dan
Sekutunya (Jogjakarta: DNA Pres, 2011), h. 156.
118
Dina Y Sulaeman, Obama Revealed Realitas dibalik Pencitraan (Jakarta: Penerbit Aliya
Publishing, 2010), h. 5.
69
menginginkan hubungan yang baru antara AS dengan dunia muslim atas dasar
persamaan. Selain itu pidato Obama juga menyinggung masalah Israel-Palestina
bahwa Hamas harus menghentikan kekerasan, mengakui kesepakatan dimasa lalu, dan
mengakui hak eksistensi Israel. Pada saat itu pula antara Israel dengan Palestina harus
sama-sama mengakui hak eksistensi masing-masing. Mengenai masalah Iran, Obama
mengatakan bahwa Obama bersedia maju untuk berunding tanpa syarat, dengan
landasan saling menghormati.119
Selain negara Mesir, Barack Obama juga mengunjungi negara Turki.
Kunjungan Obama ke Turki selain karena penduduknya sekitar 77 juta jiwa dan 99
persen muslim,120 menurut Amerika Serikat Turki mempunyai peranan penting
dikawasan Timur Tengah. Secara geografis Turki berbatasan dengan Iran Utara, Turki
juga dianggap sebagai sekutu yang krusial dalam perang melawan teror dan basis
logistik penting bagi Amerika Serikat dalam memimpin perang di Irak.121
Dalam kunjungannya ke negara Turki pada tahun 2009, Obama mengatakan
dalam pidatonya “Biarkan saya katakan sejelas mungkin, Amerika Serikat tidak dan
tidak akan pernah memerangi Islam.”122 Dalam pidatonya tersebut terlihat dengan
jelas bagaimana Obama mencoba untuk menarik simpati dunia muslim setelah
kemarahan dunia Islam pada Israel dan negara sekutu utamanya yaitu Amerika
Serikat atas teror dan genosida Israel di Gaza. Terdapat poin penting lainnya atas
pidato Obama kepada negara Turki yaitu terkait dengan konflik di Timur Tengah.
Posisi Turki yang berperan penting dalam Timur Tengah,123 karena negara Turki
119
Ibid., h. 7.
www.eramuslim.com/.../akankah-turki-menjadi-pemimpin-dunia-isla... diakses pada Senin,
26 Maret 2012.
121
Agus N Cahyo, Tokoh-tokoh Timur Tengah yang diam-diam Menjadi Antek Amerika dan
Sekutunya (Jogjakarta: DNA Pres, 2011), h. 219.
122
Dina Y Sulaeman, Obama Revealed Realitas dibalik Pencitraan (Jakarta: Penerbit Aliya
Publishing, 2010), h. 99.
123
www.eramuslim.com/.../akankah-turki-menjadi-pemimpin-dunia-isla... diakses pada Senin,
26 Maret 2012.
120
70
berbatasan langsung dengan Irak Utara sehingga pasukan Amerika Serikat bisa masuk
ke Irak melalui Turki, apabila Turki memberikan izin. Tentu saja Obama membujuk
Turki demi kepentingan militer bersama dalam jangka waktu yang panjang dan juga
atas ancaman teror yang dihadapi. Selain itu Obama juga mengatakan dalam
pidatonya terkait dengan negara Iran “Perdamaian di kawasan Timur Tengah akan
mencapai kemajuan jika Iran melepaskan ambisinya untuk membuat senjata nuklir,
karena tidak ada untungnya merebaknya senjata nuklir terutama di Turki.”124
Dalam lawatannya ke negara Indonesia, sebagai negara yang berpenduduk
muslim terbesar di dunia, Obama menyampaikan pidatonya yang terkait dengan tiga
poin penting yaitu pembangunan, demokrasi, dan agama.125 Pertama dalam hal
pembangunan Obama mengatakan bahwa Amerika banyak memiliki sumbangsih
terhadap keberhasilan perekonomian Indonesia yaitu dengan penanaman modal
Amerika Serikat di Indonesia dan juga ekspor dari Amerika meningkat menjadi 50
persen. Kedua dalam hal demokrasi Obama mengatakan atas usaha negara Indonesia
bahwa demokrasi dan pembangunan saling menopang, dan tidak dengan
mengorbankan hak asasi manusia. Obama mengatakan bahwa untuk menuju sebuah
negara yang demokrasi harus menempuh perjalanan yang panjang, namun dengan
perjalanan yang panjang itu negara akan menjadi lebih kuat dan sejahtera serta
menjadi sebuah masyarakat yang adil dan bebas. Ketiga terkait dalam hal agama
Obama mengatakan bahwa Indonesia tenggelam dalam spiritualitas yaitu sebuah
tempat menyembah Tuhan dengan berbagai cara. Obama menyinggung masalah
teroris dengan menegaskan bahwa “Amerika sedang tidak memerangi, dan takkan
terlibat perang dengan Islam, namun kita harus menghancurkan Al Qaeda dan antek124
Dina Y Sulaeman, Obama Revealed Realitas dibalik Pencitraan (Jakarta: Penerbit Aliya
Publishing, 2010), h. 101.
125
nasional.vivanews.com/news/read/188098-isi-lengkap-pidato-obama diakses pada Senin,
26 Maret 2012.
71
anteknya. Siapapun yang ingin membangun tidak boleh bekerjasama dengan teroris.
Ini bukanlah tugas Amerika sendiri. Indonesia sendiri telah berhasil memerangi
teroris dan aliran garis keras.”126
Begitulah cara Obama dalam menerapkan smart powernya ketika
menjalankan kebijakan luar negerinya, dengan cara tersebut ternyata dunia muslim
mulai mau untuk diajak berunding dengan Obama, setelah dengan dilaksanakan
beberapa janji-janji dalam kampanyenya yaitu menarik pasukan militernya dari Irak
dan memindahkannya ke Afghanistan yang hanya untuk memerangi teroris secara
bertahap. Cara pendekatan yang dilakukan oleh Obama ini memunculkan sebuah
argument dari Suzie Sudarman pengamat politik dan budaya Amerika Serikat
mengatakan bahwa Obama mempunyai daya kharismatik yang mampu menyihir
semua masayarakat Amerika Serikat sejak Obama berpidato didepan senat. Kebijakan
dalam negeri Obama seperti universal health127, regulasi sektor, global warming,
mengurangi tingkat pengangguran, kemiskinan dan lain-lain, dinilai belum
sepenuhnya dijalankan dengan baik karena masih terdapat banyaknya tingginya
jumlah pengangguran, lambatnya laju perrtumbuhan ekonomi, dan lain-lain.
Sedangkan kebijakan luar negeri Obama menurut Suzie masih diragukan
keseriusannya dalam menyelesaikan konflik Israel-Palestina, pernyataan Suzie
tersebut disampaikan karena dipicu dengan adanya insiden penyerangan terhadap
kapal relawan Marmar dari Mercy yang membawa bantuan untuk Palestina diblokade
Israel hingga menyebabkan kematian seorang relawan dari Turki, dan Amerika
Serikat tidak segera mengambil tindakan dengan tegas atas insiden tersebut. Suzie
juga mengatakan bahwa Michael Obama atau istri dari Barack Obama junior dapat
126
127
Ibid.,
Dalam acara televisi Riwayat Sabtu 21 Januari 2011di Trans TV pukul. 07.00.
72
menempatkan
posisinya
dalam
arti
tidak
overacting128
sejak
Obama
mengampanyekan diri sebagai presiden sampai menghantarkan Obama ke kursi
kepresidenan.
Prof. Dr. Azyumardi Azra juga menyampaikan pendapatnya bahwa pada
dasarnya Obama mempunyai itikad atau niat yang baik dan juga simpatik, namun
Obama tidak dapat meengekspresikan itu semua dikarenakan Obama mendapatkan
tekanan-tekanan dari dalam negeri, misalnya adalah loby Yahudi. Dari kalangan
televisi sampai media cetak, orang orang intelektual, dan juga pendonor yang paling
besar kebanyakan dikuasai oleh Yahudi. Orang Kristen dan juga orang Katolik yang
tinggal di Amerika Serikat juga lebih pro dengn Israel. Prof. Dr. Azyumardi Azra juga
mengatakan bahwa Obama melakukan konstruksi, Obama mampu menyihir hubungan
antara Amerika Serikat dengan muslim menjadi lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan
kunjungan negara Obama ke Turki, Mesir, dan kemudian Indonesia dan disambut bik
oleh negara-negara tersebut. Kunjungan yang dilakukan terhadap negara-negara yang
mayoritas penduduknya adalah muslim. Obama juga pernah mendapatkan nobel
perdamaian ditahun 2009.129
Begitulah usaha Obama untuk menarik simpati dunia muslim, bahwa
Amerika Serikat menginginkan adanya sebuah misi perdamaian untuk memulai
hubungan baik dengan dunia muslim. Nampaknya hal itu disambut baik oleh negara
muslim yang kemudian dibuktikan dengan kunjungan Obama ke Mesir, Turki dan ke
Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim.
128
129
Ibid.,
Dalam acara televisi Riwayat Sabtu 21 Januari 2011di Trans TV pukul. 07. 00.
73
BAB V
PENUTUP
V.I. Kesimpulan
Janji Barack Obama dalam kampanyenya untuk membawa perubahan
terhadap negara Amerika Serikat disambut baik oleh masyarakat Amerika ketika
Obama mengkampanyekan diri sebagai calon presiden Amerika Serikat. Pada masa
pemerintahan George W Bush, Amerika mengalami ketidakstabilan baik dalam hal
ekonomi, politik dan juga sosial. Ketidakstabilan ini mulai terlihat dengan jelas
setelah peristiwa WTC tahun 2011 dan juga melalui pengiriman pasukan militernya
ke negara Afghanistan dan Irak yang menghabiskan dana melebihi budget dari
anggaran yang telah ditetapkan, sehingga Amerika Serikat mengalami krisis dalam
negeri. Selain itu juga karena intervensi Amerika terhadap negara-negara yang
berkonflik Israel-Palestina.
Perbedaan gaya kepemimpinan antara George W Bush dengan Barack
Obama terlihat dengan jelas ketika mereka dihadapkan pada masalah Timur Tengah,
meski keduanya berujung pada sama-sama menginginkan minyak demi kepentingan
nasionalnya namun pendekatan yang digunakan berbeda yaitu, George Bush
cenderung lebih radikal atau hard power sedangkan Obama cenderung lebih smart
power. Obama merubah cara menjalankan kebijakannya dikarenakan melihat banyak
dari negara muslim pada umumnya mengutuk keras atas tindakan-tindakan yang
dilakukan oleh militer Amerika Serikat dibawah pimpinan George W Bush atau biasa
disebut dengan faktor eksternal, selain itu dikarenakan juga Obama melihat kondisi
politik, sosial dan juga ekonomi dalam negeri Amerika Serikat terutama setelah
peristiwa WTC tahun 2001.
74
Kebijakan yang dilakukan oleh George W Bush sangat keras atau lebih
dikenal dengan hard power, lebih mengutamakan pre emptive strike dan
unilateralisme seperti yang dijelaskan penulis diatas. George W Bush dinilai kurang
memperdulikan akan pendapat dari negara-negara lain, seperti penyerangannya
terhadap Afghanistan yang banyak menewaskan masyarakat sipil Afghanistan, yang
pada kenyataannya adalah Amerika Serikat menginginkan Afghanistan menjadi
negara bonekanya dan hal tersebut berhasil dengan terpilihnya Hamid Kharzai sebagai
pemimpin di Afghanistan, tujuannya untuk membunuh Osama bin Laden pun juga
tidak membuahkan hasil.
Setelah berakhirnya masa jabatan George W Bush, akhirnya kursi
kepresidenan Amerika Serikat ditempati oleh Barack Obama junior dari partai
Demokrat. Kemenangan Barack Obama disambut antusias oleh masyarakat Amerika
Serikat terlebih oleh masyarakat internasional bahkan masyarakat Indonesiapun juga
sempat mengelu-elukan atas kemenangan Obama karena Obama yang sempat tinggal
dan menempuh pendidikan di Menteng Jakarta Selatan. Obama sebagai presiden kulit
hitam pertama di Amerika Serikat sanggup meyakinkan masyarakat Amerika Serikat
untuk membawa perubahan terhadap negara Amerika. Dalam menjalankan
kebijakannya Obama menggunakan pendekatan yang jauh lebih lunak daripada
George W Bush, Obama menggunakan smart power yaitu perpaduan antara hard
power dan juga soft power. Dengan kebijakan tersebut Obama dapat membawa
hubungan baik antara Amerika Serikat dengan negara muslim, selain itu meskipun
Obama tetap mengirimkan pasukannya ke Afghanistan namun pengirimannya tersebut
menurut Obama membuahkan hasil yaitu dengan terbunuhnya Osama bin Laden pada
minggu 1 Mei 2011 oleh pasukan bersenjata Amerika Serikat di Islamabad Pakistan.
75
Melihat dari berbagai tindakan dan juga pengaruh yang dilakukan oleh pelobi
terhadap pemerintahan Barack Obama, maka penulis memberikan kesimpulan bahwa
pada dasarnya Obama berada pada posisi yang terjepit. Disatu sisi Obama harus
menjalankan tugasnya sebagai presiden yang mau tidak mau mendapat tekanan dari
kelompok pelobi Yahudi, disisi lain Obama menginginkan perubahan yang baik
terutama hubungan negaranya dengan negara Amerika Serikat. Usaha Obama untuk
memperbaiki hubungan Amerika Serikat dengan negara muslim terlihat jelas dengan
beberapa kunjungan Obama terhadap negara yang berpenduduk mayoritas muslim
sebagaimana yang telah penulis jelaskan di bab IV.
Dengan gaya kepemimpinannya yang berupa smart power ini ternyata mampu
membawa negara Amerika Serikat menjalin hubungan yang lebih baik daripada masa
George W Bush. Setidaknya dengan smart power Obama jauh lebih lunak, sekalipun
Obama tetap mengririmkan pasukannya ke Afghanistan namun dengan smart power
tersebut berujung pada terbunuhnya Osama bin Laden menurut intelijen Amerika
Serikat. Hal ini berarti bahwa apa yang diimpi-impikan oleh masyarakat Amerika
Serikat, yaitu terbunuhnya Osama bin Laden memberikan rasa puas bagi masyarakat
Amerika Serikat itu sendiri. Sekalipun kepala dari teroris menurut Amerika Serikat
yaitu Osama bin laden telah terbunuh, namun Amerika Serikat harus tetap waspada
terhadap teroris-teroris lain.
Penulis juga menilai bahwa keseriusan Obama dalam hal penyelesaian konflik
Israel-Palestina masih diragukan, pasalnya dengan sikap Obama yang dingin dan
bahkan membela sekutunya tersebut membuktikan bahwa Obama sebagai kepala dari
kepemerintahan Amerika Serikat masih memberikan perlindungan terhdap Israel. Jika
menyambungkan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat yang tersebut diatas,
maka sudah terlihat jelas bahwa upaya Amerika Serikat untuk menciptakan
76
perdamaian pada intinya tidak bisa melepaskan Israel sebagai sekutu yang paling
mempunyai peranan penting pula di kawasan Timur Tengah. Dikarenakan Amerika
yang tetap membutuhkan minyak sebagai pasokan kebutuhan domestik dalam
negerinya.
Padahal Obama berjanji akan segera menyelesaikan konflik Israel-Palestina
tersebut, namun sampai saat ini janji Obama tersebut belum terealisasikan dengan
baik sedangkan masa jabatan Obama hampir selesai pada tahun 2013 mendatang.
Tentunya hal ini dapat menjadikan masyarakat Amerika Serikat dan dunia
mengurangi rasa kepercayaannya terhadap Obama akan kepemimpinan Obama
kembali jika Obama mencalonkan untuk menjabat kembali sebagai presiden di
Amerika Serikat.
Namun dalam salah satu siaran televisi swasta di Indonesia memberitakan
bahwa Barack Obama sangat serius dalam menggunakan media internet sebagai
bentuk salah satu caranya agar tahu perkembangan opini masyarakat yang tentunya
mengenai dirinya. Kemungkinan dengan cara ini nantinya dijadikan Obama sebagai
sumber informasi yang kemudian menimbulkan ide-ide yang dapat meyakinkan
kembali terhadap masyarakat akan tujuannya sebagai pemimpin Amerika Serikat
untuk membawa misi perdamaian terutama dengan dunia muslim.
77
Daftar Pustaka
Buku
Bien, Pasaribu dan Jamaluddin Ritonga 2001 Perang Bush Memburu Osama. Jakarta:
Penerbit Sinar Haiti.
Birdsall, Stephen S 1992 Garis Besar Geografi Amerika. John Wiley & Sons, Inc.
Cipto, Bambang 2011 Dunia Islam dan Masa Depan Hubungan Internasional di
Abad 21. Yogyakarta: Divisi Publikasi dan Penerbitan LP3M Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
Cipto, Bambang 2003 Tekanan Amerika terhadap Indonesia Kajian atas Kebijakan
Luar Negeri Clinton terhadap Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Colplin, William D. dan Marsedes Marbun 2003 Pengantar Politik Internasional
Suatu Telaah Teoritis. Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensido.
Harrison, Lisa 2007 Metodologi Penelitian Politik. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Holsti, K.J 1992 International Politics A Framework for Analisys 6th ed. New Jersey
A Simon & Schuster Company.
Jatmika, Sidik 2000 AS penghambat demokrasi membongkar politik standar ganda
AS. Yogyakarta: Biograf publishing.
Jemadu, Aleksius 2008 Politik Global dalam Teori dan Praktik . Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Kuncahyono, Trias 2005 Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish. Jakarta: Kompas.
Mas’oed, Mohtar 1990 Ilmu Hubungan Internasional : Disiplin dan Metodologi
Dictionary. Jakarta:LP3ES.
Mauna, Boer 2005 Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi Dalam Era
Dinamika Global. Bandung: P. T. Alumni.
78
Nainggolan, Poltak Partogi 2002 Terorisme dan Tata Dunia Baru. Jakarta: Tim
Peneliti HI Pusat Pengkajian dan Pelayanan Informasi (P3I) DPR RI.
Obama, Barack diterjemahkan oleh Ruslani dan Lulu Rahman 2009 Barack Obama
dari Jakarta Menuju Gedung Putih. Jakarta: PT Ufuk Publishing House.
Petras , James 2009 Zionisme dan Keruntuhan Amerika Bagaimana Lobi Yahudi
Menindas Negara Muslim dan Menghancurkan Amerika Serikat dari Dalam.
Jakarta: Zahra publishing house.
Perwita, Anak Agung Banyu dan Yanyan Mochammad Yani 2006 Pengantar Ilmu
Hubungan Internasional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rahardjo, Widarti (penterjemah) 2009 Change We Can Believe In. Jakarta: P. T. Ufuk
publishing house.
Safril, Mubah A 2007 Menguak Ulah Neokons Menyingkap Agenda Terselubung
Amerika dalam Memerangi Terorisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saragih, Simon 2009 Ketekunan dan Hati Putih Barack Obama Kisah Lengkap
Perjalanan Hidup dan Karier Politik. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Strauss, Anselm dan Juliet Corbin 2003 Dasar dasar Penelitian Kualitatif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sulaeman, Dina Y 2010 Obama Revealed Realitas dibalik Pencitraan. Jakarta:
Penerbit Aliya Publishing.
Tim Winer 2008 Membongkar Kegagalan CIA Spionase Amatiran Sebuah Negara
Adidaya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Wahid, Abdul dkk 2004 Kejahatan Terorisme Perspektif Agama, HAM dan Hukum.
Bandung: P. T. Refika Aditama.
Wittkoff, Eugene R Charles dkk 2003
American Foreign policy, Sixth Edition.
United States Thomson Wadsworth.
79
Jurnal
Hutabarat, Leonard. “Analisis Kebijakan Luar Negeri dalam Studi Hubungan
Internasional,” Dalam jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. V,
no. 22 ( Mei 2005).
Muna, Riefqi .“Paradigma Pertahanan dari Hard Power ke Smart Power dalam jurnal
Pertahanan dan Perdamaian” V, no. 1 (April 2009).
Riyanto, Theophilus J. “Kekuatan Media Massa dalam Kampanye Kepresidenan di
Amerika Serikat” dalam Jurnal Studi Amerika Vol. X No. 1, Januari-Juni
(Jakarta : pusat kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia, 2005).
Suharko, “NGO, Civil Society dan Demokrasi: Kritik atas pandangan liberal,” dalam
jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 7, no. 2. Nopember, 2003.
Website
“Black Americans in Congress,” diakses pada Rabu, 02 November 2011dari
baic.house.gov/.../profile.html... - Amerika Serikat.
Diolah dari berbagai sumber lihat Gergez, Fawaz A. 1999. America and Political
Islam: Clash of Civilization or Clash of Interest?.Ibid. Dan Huntington,
Samuel.P. 2004. Who Are We? The Challenges To America’s National
Identity.
diakses
pada
Kamis,
8
April
2011
dari
http://www.scribd.com/doc/7873219/neoconservatif-vs-Islamist-post-911.
El Baroroh, Umdah. “Diskusi JIL bulan Agustus Lobi Israel Menundukkan Amerika,”
(05
September
2006)
diakses
pada
2
November
http://islamlib.com/id/artikel/lobi-israel-menundukkan-amerika
80
2011dari
Era muslim media rujukan, “Obama: Israel dan AS selamanya akan menjadi sekutu
kuat, ” (Selasa, 21 Juni 2011) diakses pada Rabu, 02 November 2011 dari
www.eramuslim.com/.../obama-israel-dan-amerika-serikat-selamanya...
“Fakta fakta Sejarah Serangan Jepang ke Pearl Harbour, ” diakses pada 10 Juli 2011
dari http://www.tambahwawasan.com/2011/03/fakta-fakta-sejarah-seranganjepang-ke.html.
Geovanie, Jeffrie. McCain vs Obama Pasca Konvensi diakses pada Senin, 24 Oktober
2011
dari
http://jeffriegeovanie.com/index.php?option=com_content&task=view&id=
38&Itemid=27
Ismail, Muhammad Takiyudin. “Aliran neokonservatif dalam dasar luar negeri
Amerika Serikat: konservatif atau nasionalis atau idealis” artikel diakses
pada
Kamis,
8
April
2011
dari
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:sRfDz4NF1aEJ:jou
rnalarticle.ukm.my/379/1/1.pdf+tokoh+neokonservatif+pdf&cd=5&hl=jw&
ct=clnk&gl=id&source=www.google.co.id
Karya Ilmiah, “Neoconservatif-vs-Islamist-post-911” diakses pada Kamis, 8 April
2011. dari http://www.scribd.com/doc/7873219/neoconservatif-vs-Islamistpost-911
Maruli, Aditia ed. “PBB Kubur Laporan Pelanggaran HAM di Afghanistan,”
(Minggu, 03 Oktober 2011) diakses pada 2 November 2011dari
www.antaranews.com/.../pbb-kubur-laporan-pelanggaran-ham-di-afg...
Moestopo Magazine, “Harapan Akan Sebuah perubahan” artikel diakses pada 24
April 2011 dari http://majalah.moestopo.ac.id/?tag=kebijakan-luar-negeri
81
Moskwa.Kompas.com, “Osama Meninggal Sebelum Serangan AS,” diakses dari
internasional.kompas.com/.../Osama.Meninggal.Sebelum.Serangan.A...
diakses pada Rabu, 02 November 2011.
Nur Rahmat Yuliantoro, kelas Politik luar negeri AS, HI UGM, 17 Maret 2011,
“Neokonservatisme dan Politik Luar Negeri Amerika Serikat,” artikel
diakses pada 6 Juli 2011 dari
http://www.rachmat.staff.ugm.ac.id/..
AS/neokonservatif%20 dan %20PLN.
Publikasi.umy.ac.id/index.php/hi/article/view/1196/1510 diakses pada 25 Oktober
2011.
Prajogo, Martinus Siswanto. tesis dengan judul “Kepentingan Nasional: Sebuah Teori
Universal dan Penerapannya oleh Amerika Serikat di Indonesia,”
Universitas Indonesia program kajian wilayah Amerika Serikat (Jakarta:
Juni,
2009),
diakses
pada
10
Juli
2011
dari
http://www.bitlib.net/ebook/dephan/ Amerika Serikat.
Primasiwi, Andika “Osama bin Laden dilaporkan Tewas,” diakses pada Rabu, 02
November
2011
dari
suaramerdeka.com/v1/index.../Osama-Bin-Laden-
Dilaporkan-Tewas.
Radio Islam, “Laporan PBB Soal Pelanggaran HAM di Afghanistan, ” (Rabu, 19
Maret
2008)
diakses
pada
Rabu,
02
November
2011
dari
indonesian.irib.ir/index.php?...pelanggaran-ham...afghanistan...
Saragih, Simon “Obama setelah Konvensi Demokrat,” (08 November 2008) diakses
pada
Rabu,
02
November
2011dari
www1.kompas.com/readkotatua/.../obama.setelah.konvensi.demokrat.
82
Maarif, Ahmad Syafiie dalam Republika versi cetak, Obama dan Dunia Islam, selasa
16
Juni
2009
diakses
pada
26
Januari
2012
dari
www.maarifinstitute.org/index2.php?option=com...do_pdf=1...
Solichien M, Yusuf. “Kepentingan Nasional dan Upaya Amerika Serikat,” (FISIP UI,
2008)
diakses
pada,
Ahad
30
Oktober
2011
dari
www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/127056-T%2023483...
Warsono, “Dampak Serangan World Trade Center terhadap Kinerja Pasar Modal
Indonesia,”
artikel
diakses
pada
4
April
2011
dari
http://warsono.staff.umm.ac.id/.../Dampak-Serangan-World-Trade-Center...
Yani, Yanyan Mochammad. Artikel disampaikan pada acara sistem politik luar negeri
bagi perwira siswa sekolah staf dan komando TNI AU (Bandung: 16 Mei
2007) diakses pada 07 Juli 2011 dari http:// pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/…/politik luar negeri. Pdf.
http:/www.politik.lipi.go.id/index.php/en/columns/politik-internasional/99-prospekhubungan-as-indonesia-pasca-kunjungan-hillary diakses pada 06 Juli 2011.
http://www.news-medical.net/news/20110110/1242/Indonesian.aspx?page=2 diakses
pada Sabtu 19 Pebruari 2011.
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/09/110919_obama.shtml
diakses
pada
Rabu, 5 Oktober 2011
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/09/080924_profilmccain.shtml
diakses pada Senin, 24 Oktober 2011.
83
Koran
“Dunia Berpesta dan Berharap kepada Obama,” (Koran Kompas, 06 November
2008).
Litbang Kompas, “Sentimen Ras Vs Barack Hussein Obama,” (Koran Kompas,
Selasa 04 November 2008).
“Obama: Perubahan telah Datang ,” (Koran Tempo, Kamis 06 November 2008).
“Obama Presiden,” (Koran Tempo, Kamis 06 November 2008).
Sambazy, Budiarto dan Simon Saragih. “Obama menang Obama: Kemenangan Ini
Milik Anda Semua,” (Koran Kompas, Kamis 06 November 2008).
“Sang Kandidat Presiden” (Koran Republika, Senin, 03 November 2008), h. 10
Saragih, Simon. “Strategi Jitu hingga 4 November,” (Koran Kompas, Rabu 05
November 2008).
Subangun, Emmanuel. “Osama “versus” Obama,”
(Koran Kompas, Sabtu, 22
November 2008).
Tri Mulyono, “Obama:mulai memangkas pajak ,” (Koran Kompas, Minggu, 22
Februari 2009).
Pranowo , M Bambang. “Fenomena Obama di Negeri Satu Rakyat,” (Koran Kompas,
Senin 01 Desember 2008).
Televisi
Metro Siang Kamis 31 Maret 2011, pukul. 13.00 at Metro TV.
Acara televisi Riwayat Sabtu 21 Januari 2011, pukul. 07. 00 at Trans TV.
84
Download