Peran Modal Sosial dalam Kesejahteraan Ekonomi

advertisement
Laporan Studi Pustaka (KPM 403)
PERAN MODAL SOSIAL DALAM KESEJAHTERAAN EKONOMI
RUMAH TANGGA PETANI
NURUL FAUZIAH
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa Laporan Studi Pustaka yang berjudul “Peran
Modal Sosial dalam Kesejahteraan Ekonomi Rumah Tangga Petani” benar-benar
hasil karya saya sendiri yang belum pernah diajukan sebagai karya ilmiah pada
perguruan tinggi atau lembaga manapun dan tidak mengandung bahan-bahan yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh pihak lain kecuali sebagai bahan rujukan yang
dinyatakan dalam naskah. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan
saya bersedia mempertanggungjawabkan pernyataan ini.
Bogor,
Desember 2014
NURUL FAUZIAH
NIM. I34110094
ABSTRAK
NURUL FAUZIAH. Peran Modal Sosial dalam Kesejahteraan Ekonomi Rumah
Tangga Petani. Dibimbing oleh SOFYAN SJAF
Hampir semua kebijakan pertanian di Indonesia berfokus pada peningkatan manfaat
moda produksi. Moda produksi yang pemerintah fokuskan dalam meningkatkan
kesejahteraan petani tetap saja tidak membuat petani terbebas dari belenggu
kemiskinan. Semua kelompok masyarakat (suku bangsa) di Indonesia pada hakekatnya
mempunyai potensi-potensi sosial budaya yang kondusif dan dapat meningkatkan
kesejahteraan. Tujuan dari studi pustaka ini adalah: (1) mengetahui berbagai batasan
konsep modal sosial oleh para ahli, (2) mengidentifikasi komparasi pengukuran modal
sosial, dan (3) mengidentifikasi pengukuran kesejahteraan ekonomi. Berbagai modal
sosial yang ada di masyarakat disinyalir mampu memberikan kontribusi kesejahteraan
ekonomi bagi masyarakat. Tipologi modal sosial yang berada pada masyarakat yaitu
bounding, bridging dan linking dapat ditentukan melalui tingginya tingkat unsur-unsur
modal sosial. Unsur-unsur modal sosial terdiri dari: kepercayaan, nilai sosial, jaringan,
solidaritas, tingkat partisipasi, dan pemanfaatan modal dalam komunitas. Kesejahteraan
dapat dilihat melaui dua pendekatan, yakni: (1) kesejahteraan diukur dengan pendekatan
objektif dan (2) kesejahteraan diukur dengan pendekatan subjektif
Kata kunci: modal sosial, tipologi modal sosial, kesejahteraan, komunitas petani
ABSTRACT
NURUL FAUZIAH. The Role of Social Capital in Economic Welfare of Farmer
Households. Supervised by SOFYAN SJAF
Almost all agricultural policies in Indonesia focus on increasing the benefits from mode
of production. Mode of production that government focus for improving the farmers
welfare still can not make farmers freed from the shackles of poverty. Community
groups (tribes) in Indonesia have essentially social and cultural potentials conducive
and can improve well-being. The purpose of this literature study are: (1) determine the
concept limits of social capital by experts, (2) identify the comparative measurement of
social capital, and (3) identify the measurement of economic welfare. Various social
capital in the community pointed able to contribute to the economic welfare of society.
The elements of social capital consists of: belief, social value, networking, solidarity,
participation rates, and capital utilization in the community. Welfare can be viewed
through two approaches, namely: (1) wellfare that measured by an objective approach
and (2) welfare that measured by subjective approach
Key word: social capital, typology of social capital,welfare, farmer community
PERAN MODAL SOSIAL DALAM KESEJAHTERAAN EKONOMI RUMAH
TANGGA PETANI
Oleh
NURUL FAUZIAH
I340094
Laporan Studi Pustaka
Sebagai syarat kelulusan KPM 403
pada
Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN
MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
LEMBAR PENGESAHAN
Dengan ini menyatakan bahwa Studi Pustaka yang disusun oleh:
Nama Mahasiswa
: Nurul Fauziah
NIM
: I34110094
Judul
: Peran Modal Sosial dalam Kesejahteraan Ekonomi
Rumah Tangga Petani
dapat diterima sebagai syarat kelulusan mata kuliah Studi Pustaka (KPM 403) pada
Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia,
Institut Pertanian Bogor.
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Dr. Sofyan Sjaf, M.Si
NIP. 19781003 200912 1003
Mengetahui,
Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Siti Amanah, MSc
NIP. 19670903 199212 2001
Tanggal Pengesahan: ____________________
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga Laporan Studi Pustaka yang berjudul “Peran Modal
Sosial dalam Kesejahteraan Ekonomi Rumah Tangga Petani” dapat terselesaikan
dengan baik. Laporan Studi Pustaka ini ditujukan untuk memenuhi syarat kelulusan MK
Studi Pustaka (KPM 403) pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan
Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyadari
bahwa laporan Studi Pustaka ini dapat terselesaikan dengan baik karena dukungan dan
bantuan dari berbagai pihak. Terimakasih penulis ucapkan kepada Dr. Sofyan Sjaf M.
Si. selaku dosen pembimbing yang senantiasa memberikan saran, kritik, dan motivasi
selama proses penulisan Studi Pustaka ini. Penulis juga menyampaikan hormat dan
terimakasih kepada Hendro Sulistiyono dan Siti Khodijah selaku orang tua yang selalu
memberi kasih sayang dan dukungan. Terimakasih disampaikan pula pada donatur
Beasiswa Angkatan 16 Sosek Institut Pertanian Bogor. Kemudian terimakasih penulis
sampaikan kepada teman-teman SKPM IPB angkatan 48 yang telah memberi motivasi
dan dukungan selama penulisan Laporan Studi Pustaka. Penulis berharap Laporan Studi
Pustaka ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Penulis menyadari
bahwa dalam karya ini terdapat kesalahan, untuk itu saran dan kritik yang membangun
dari pembaca sangat penulis harapkan.
Bogor, Desember 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL......................................................................................................
ix
DAFTAR GAMBAR.................................................................................................. ix
PENDAHULUAN......................................................................................................
1
Latar Belakang.........................................................................................................
1
Tujuan Penelitian...................................................................................................... 2
Metode Penelitian..................................................................................................... 2
RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA............................................................
3
1. Penguatan Modal Sosial Untuk Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan dalam
Pengelolaan Agroekosistem Lahan Kering. Studi Kasus: Desa-desa (Hulu
DAS) ex Proyek Bangunan Lahan Kering, Kabupaten Boyolali....................... 3
2. Peran Modal Sosial dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Petani
Tembakau di Kabupaten Wonosobo................................................................... 5
3. Peranan Modal Sosial dalam Pembangunan....................................................... 7
4. Modal Sosial dan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga di Daerah Perdesaan
Provinsi Jambi....................................................................................................
5. Upaya Pengentasan Kemiskinan pada Petani Menggunakan Model Tindakan
Kolektif Kelembagaan Pertanian.......................................................................
6. Penguatan
Keluarga
Miskin
melalui
Penguatan
Modal
Sosial..................................................................................................................
7. Identifikasi Dan Analisis Modal Sosial dalam Rangka Pemberdayaan
Masyarakat Nelayan Desa Gangga Dua Kabupaten Minahasa
Utara...................................................................................................................
8. Transformasi Struktur Nafkah Pedesaan: Pertumbuhan “Modal Sosial
Bentukan” dalam Skema Pengelolaan Hutan Bersama Mayarakat di
Kabupaten Kuningan..........................................................................................
9. Analisis Modal Sosial sebagai Salah Satu Upaya dalam Pengentasan
Kemiskinan (Studi Kasus: Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Koto
Tangah Kota Padang).........................................................................................
10. Penguatan Modal Sosial dalam Penanganan Produk Olahan Kopi Pada
Komunitas Petani Kopi di Kabupaten Jember...................................................
11. Pemanfaatan Modal Sosial dalam Upaya Peningkatan Kesejahteraan
Keluarga dan Komunitaas (Studi pada Komunitas Petani Karet di Kecamatan
Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat).......................................................
12. Penguatan Modal Sosial untuk Pemberdayaan Masyarakat dalam
Pembangunan Pedesaan (Kelompok Tani Kecamatan Rambatan).....................
13. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Miskin Pedesaan melalui Pengembangan
Institusi dan Modal Sosial Lokal........................................................................
9
11
13
14
17
19
22
24
26
28
viii
14. Modal Sosial dalam Komunitas Kuta Etnis Karo dan Relevansinya dengan
Otonomi Daerah................................................................................................. 29
15. Modal Sosial dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Miskin di Kecamatan
Tanah Sareal dan Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor................................... 31
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN.................................................................... 33
Modal Sosial...............................................................................................................
33
1.
Pengertian Modal Sosial.................................................................................... 33
2.
Tipologi Modal Sosial.......................................................................................
34
3.
Unsur Modal Sosial...........................................................................................
35
4.
Pengukuran Modal Sosial.................................................................................. 37
Kesejahteraan.............................................................................................................. 39
1.
Kesejahteraan Objektif......................................................................................
2.
Kesejahteraan Subjektif..................................................................................... 40
SIMPULAN................................................................................................................
40
41
Hasil Rangkuman dan Pembahasan............................................................................ 42
Pertanyaan Penelitiam Selanjutnya............................................................................. 46
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
47
RIWAYAT HIDUP....................................................................................................
50
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Definisi, peranan dan lingkup analisis modal sosial .................................... 34
Tabel 2. Matriks variabel modal sosial oleh para penulis ......................................... 37
Tabel 3. Identifikasi tipologi modal sosial berdasarkan unsur-unsur modal sosial.. 43
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Usulan kerangka analisis baru ................................................................ 45
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan jumlah rumah tangga petani yang besar.
Pada tahun 2003 jumlah rumah tangga petani mencapai 31 juta namun pada tahun 2013
menurun menjadi 26 juta rumah tangga petani (BPS 2013). Penurunan angka sebesar 5
juta rumah tangga petani selama satu dekade tersebut dikarenakan berbagai banyak hal.
Penyebab penurunan tersebut salah satunya adalah karena petani maupun buruh tani
mengalami kemunduran kesejahteraan ekonomi. Sehingga petani dan buruh tani beralih
mata pencaharian ke sektor lainnya. Tidak ada jaminan kesejahteraan bagi petani
Indonesia. Hampir semua kebijakan pertanian di Indonesia berpegang pada peningkatan
manfaat moda produksi. Moda produksi yang pemerintah pentingkan tetap saja tidak
membuat petani terbebas dari belenggu kemiskinan.
Data jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2013 adalah 28 Juta
penduduk. Kemudian dari 28 juta penduduk miskin di Indonesia, sejumlah 17 juta
penduduk adalah penduduk di wilayah pedesaan Indonesia (BPS 2013). Data dalam
BPS (2013) menunjukan persentase jumlah rakyat miskin di Indonesia, sekitar 66
persen berada di pedesaan dan sekitar 56 persen menggantungkan hidup sepenuhnya
pada pertanian. Diketahui pula bahwa dari seluruh penduduk miskin pedesaan ini
ternyata 90 persen bekerja yang berarti mereka bekerja keras namun tetap belum
sejahtera.
Pemerintah menetapkan UU Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan
Pemberdayaan Petani. Undang-Undang tersebut menimbang bahwa peraturan
perundang-undangan yang berlaku saat ini belum mengatur perlindungan dan
pemberdayaan petani secara komprehensif, sistemik, dan holistik. Implementasi UU
Nomor 19 Tahun 2013 berupa bentuk kebijakan yang dapat diberikan untuk melindungi
kepentingan petani, antara lain pengaturan impor komoditas pertanian sesuai dengan
musim panen dan/atau kebutuhan konsumsi di dalam negeri, penyediaan sarana
produksi pertanian yang tepat waktu, tepat mutu, dan harga terjangkau bagi petani, serta
subsidi sarana produksi, kemudian penetapan tarif bea masuk komoditas pertanian, serta
penetapan tempat pemasukan komoditas pertanian dari luar negeri dalam kawasan
pabean.
Selain itu, dilakukan penetapan kawasan usaha tani berdasarkan kondisi dan
potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan, fasilitasi
asuransi pertanian untuk melindungi petani dari kerugian gagal panen akibat bencana
alam, wabah penyakit hewan menular, dan perubahan iklim. Dalam Undang-Undang
tersebut moda produksi masih mendapat perhatian lebih oleh pemerintah. Dalam hal
sosial masyarakat petani mendapatkan pemberdayaan mengenai kelembagaan, namun
kelembagaan tersebut di dominasi oleh kelembagaan formal berisi tata aturan yang
mengikat.
Semua kelompok masyarakat (suku bangsa) di Indonesia pada hakekatnya
mempunyai potensi-potensi sosial budaya yang kondusif dan dapat menunjang
pembangunan. Persoalannya selama ini potensi-potensi tersebut kurang mendapat
tempat karena adanya anggapan potensi-potensi tersebut tidak relevan dengan zaman
dan tidak dapat digunakan untuk peningkatan taraf hidup manusia. Akibatnya selain
tidak banyak dipahami, juga tidak diikut sertakan dalam proses pembangunan itu
2
sendiri. Terdapat penyeragaman modal yang bersifat materi. Modal tersebut selalu
diutamakan sehingga berakibat kurangnya perhatian terhadap potensi-potensi lokal.
Putnam (1995) dalam Pranadji (2006) menyatakan bahwa bangsa yang
memiliki modal sosial tinggi cenderung lebih efisien dan efektif dalam menjalankan
berbagai kebijakan untuk mensejahterakan dan memajukan kehidupan rakyatnya. Modal
sosial dapat meningkatkan kesadaran individu tentang banyaknya peluang yang dapat
dikembangkan untuk kepentingan masyarakat. Putnam, et al (1993) dalam Field (2010)
menyatakan modal sosial adalah penampilan organisasi sosial, seperti kepercayaan,
norma-norma (atau hal timbal balik), dan jaringan (dari ikatan-ikatan masyarakat).
Penampilan organisasi sosial tersebut dapat memperbaiki efisiensi masyarakat dengan
memfasilitasi adanya koordinasi dan kerjasama bagi keuntungan bersama.
Tujuan Penulisan
Pengkajian mengenai “Peran Modal Sosial dalam Kesejahteraan Ekonomi
Rumah Tangga Petani” sebagai salah satu proses Studi Pustaka bertujuan untuk: (1)
mengetahui berbagai batasan konsep modal sosial oleh para ahli, (2) mengidentifikasi
komparasi pengukuran modal sosial, dan (3) mengidentifikasi pengukuran kesejahteraan
ekonomi. Tujuan tersebut diharapkan mampu menstimulus kerangka penelitian dan
rumusan permasalahan baru serta melahirkan kontribusi dalam perkembangan ilmu
pengetahuan.
Metode Penelitian
Proses penyusunan Studi Pustaka terkait modal sosial ini menggunakan metode
analisis data sekunder dengan mengumpulkan beragam bahan referensi hasil penelitian
ataupun text books sebagai penambah wawasan dan teori. Bahan referensi hasil
penelitian dapat berupa jurnal, laporan proceeding, thesis, ataupun disertasi. Selanjutnya
kajian pustaka diringkas, dilakukan analisis dan sintesis berdasarkan teori serta disusun
menjadi tulisan ilmiah yang utuh untuk kepentingan penelitian ilmiah berikutnya.
RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA
1.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Nama Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Tanggal diunduh
:
Penguatan Modal Sosial Untuk
Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan dalam
Pengelolaan Agroekosistem Lahan Kering.
Studi Kasus: Desa-desa (Hulu DAS) ex
Proyek Bangunan Lahan Kering, Kabupaten
Boyolali.
2006
Jurnal
Elektronik
Tri Pranadji
Jurnal Agro Ekonomi
Vol. 24 No.2 : 30-39
http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/J
AE%2024-2d.pdf
10 September 2014
Ringkasan
Tulisan ini didasarkan pada hasil penelitian penulis mengenai penguatan modal
sosial di masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat pedesaan dalam pengelolaan
argoekosistem lahan kering (ALK). Sejak tiga per empat abad lalu kerusakan ALK
daerah DAS di Jawa, terutama daerah perbukitan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) sudah mencapai tingkat serius (Thijsse 1982). Modal sosial dan
budaya setempat, yang bisa menjadi kunci pembuka (master keys) (Kliksberg 1999)
untuk mengatasi kerusakan ALK, hingga kini masih belum mendapat perhatian yang
memadai. Penguatan modal sosial dalam pembangunan pedesaan dapat dinilai sebagian
pembaruan pendekatan yang sangat penting.
Tujuan dari penelitian adalah: (1) menganalisis pengaruh penerapan model
pengelolaan ALK yang dikembangkan pemerintah terhadap tingkat kehidupan dan
memperbaiki ALK melalui pengembangan kegiatan pertanian-nya, (2) menganalisis
elemen modal sosial dilandaskan pada nilai-nilai budaya, manajemen sosial,
kepemimpinan, penyelenggaraan pemerintahan desa, solidaritas dalam pengembangan
model pemberdayaan masyarakat pedesaan untuk perbaikan pengelolaan ALK di
pedesaan secara berkelanjutan. Penelitian menggunakan dua pendekatan ilmu sosial
yaitu penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan
penganalisaan secara cross section dengan melakukan pengamatan langsung terhadap
dua model pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan ALK diamati secara
bersamaan dan dengan menggunakan indikator yang sama.
Kostov dan Lingrad (2001) menyatakan bahwa pembangunan pedesaan di masa
datang memerlukan pendekatan baru. Penguatan modal sosial dalam pembangunan
pedesaan dapat dinilai sebagai pembaruan pendekatan yang sangat penting. Jika
pembangunan pedesaan tidak disertai dengan penguatan lembaga dan organisasi seperti
pendapat (Tjondronegoro 1977), partisipasi masyarakat terbanyak di pedesaan (Sajogyo
1974), dan pemberdayaan ekonomi rakyat (mubyarto 2002) maka apapun program atau
4
proyek pembangunan pedesaan yang dijalankan pemerintah, termasuk perbaikan
pengelolaan ALK di pedesaan, akan sulit mencapai hasil yang diharapkan.
Menurut penulis, jika penguatan modal sosial hanya dianggap sebagai
pengembangan jaringan hubungan (fisik) antara komponen kepercayaan (trust),
Jaringan hubungan kerja (net-work), dan kerjasama (cooperation), sebagian banyak
dikemukakan oleh kalangan pakar (ekonomi) di negara maju. Hal tersebut dinilai masih
belum menyentuh langsung akar atau inti dari penguatan modal sosial itu sendiri.
Menurut penulis inti dari modal sosial adalah nilai-nilai budaya lokal.
Masyarakat dukuh memiliki hubungan horizontal yang relatif kuat dibanding
desa. Dalam hasil penelitian dikemukakan bahwa aspek kepercayaan atau trust menjadi
komponen utama pembentuk modal sosial di pedesaan. Proyek belum memperhatikan
tentang pentingnya penguatan modal sosial setempat dalam memperbaiki ALK.
Ketimpangan kekuatan modal sosial antardukuh bisa dijadikan petunjuk kemungkinan
terjadinya gejala ketidakberdayaan masyarkat dalam pengelolaan ALK, dan sekaligus
menjadi petunjuk tentang lemahnya kelembagaan masyarakat madani dan
penyelenggaraan pemerintahan setempat. Kerusakan tata nilai masyarakat pedesaan
merupakan faktor penting penyebab terjadinya ketidakberdayaan masyarakat dan
kemerosotan pengelolaam ALK setempat. Terdapat perbandingan empat desa lokasi
penelitian mengenai aspek modal sosial dan kesejahteraan. elemen modal sosial yang
diteliti adalah: (1) pemerintahan, (2) kepemimpinan, (3) hubungan elit-anak buah, (4)
solidaritas, (5) Gotong royong, (6) Manajemen sosial dan (7) Jaringan kerja. Secara
kuantitatif penulis menyipulkan modal sosial yang paling kuat dimilik oleh Desa
Kedungpoh (dari empat desa). Sedangkan untuk kesejahteraan penulis menggunakan
indikator kemiskinan yaitu konsumsi kalori 2100kal/kpt/hr dan kemampuan
menyekolahkan anak hingga SMP (Sekolah Menengah Pertama. Dari indikator tersebut
menunjukan bahwa masyarakat petani di Desa Kedungpoh paling tinggi dibanding tiga
desa lainnya
Analisis
Penulis mengemukakan bahwa dimensi modal sosial sering kali tidak melihat
nilai-nilai yang ada di belakang modal sosial tersebut. Penelitian ini berhasil
menemukan hubungan positif kuatnya modal sosial komunitas dengan tingginya
kesejahteraan komunitas. Penelitian sudah mendeskripsikan
bahwa dalam
mengidentifikasi modal sosial, seorang peneliti harus memahami keberadaan tata nilai
yang terdapat dalam modal sosial. Pada masyarakat yang berpotensi cepat maju
umumnya mampu mengembangkan jaringan kepercayaan (mutual trust) yang relatif
besar. Menurut penulis elemen modal sosial yang dinilai penting dalam masyarakat
adalah: (1) penguatan budaya atau tata nilai. Masyarakat memiliki tata nilai yang
mampu mengakomodasi masalah kekurangan pangan dan faktor kesulitan hidup
lainnya. Contohnya masyarakat memiliki lumbung paceklik yang kemudian
berkembang menjadi lumbung desa. Dalam nilai kewirausahaan masyarakat pedukuhan
telah melintasi batas geografi, hubungan kekerabatan dan ketetanggaan bisa menjadi
wadah pengembangan kewirausahaan kolektif tingkat dukuh dan subdukuh sedangkan
kelembagaan KUD tidak mampu menunjukkan sebagai wadah pengembangan
kewirausahaan, (2) kepercayaan (trust ). Kepercayaan menurut penulis tidak dilihat
hanya sebagai masalah personalitas (psikologis) atau intrapersonal. Pada hasil penelitian
dikemukakan terbentuknya rasa saling percaya adalah hasil interaksi yang melibatkan
anggota masyarakat dalam suatu kelompok ketetanggaan, asosiasi tingkat dukuh,
organisasi tingkat desadan berkembangnya sistem jaringan sosial hingga melintasi desa,
5
dan (3) manajemen sosial. Manajemen sosial dapat diidentifikasi oleh penulis melalui
tingkat ketergantungan masyarakat desa contoh pada pusat pemeritahan. Khususnya
mengenai pengelolan lahan kering.
2.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
:
:
:
:
:
:
:
Volume
(Edisi):hal
Alamat
URL/DOI
Tanggal diunduh
:
:
:
:
Peran Modal Sosial dalam Peningkatan
Kesejahteraan Masyarakat Petani Tembakau
di Kabupaten Wonosobo
2012
Prosiding
Elektronik
Budhi Cahyono dan Ardian Adhiatma
Conference In Business, Accounting and Management
(CBAM) 2012
Vol.1 No.1 Hal: 131-144
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/view/
128/104
10 September 2014
Ringkasan
Kemiskinan muncul sebagai akibat dari model pembangunan di Indonesia yang
lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi secara berlebihan dan mengabaikan
perhatian pada aspek budaya kehidupan bangsa. Dalam perkembangannya, orientasi
kepada pertumbuhan dicoba untuk diseimbangkan dengan orientasi pada pemerataan,
salah satunya tampak pada program-program spesifik penanggulangan kemiskinan.
Asumsi paradigma ini adalah pertumbuhan tidak cukup sehingga perlu ada kebijakan
distribusi dan redistribusi untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin. Pada
perkembangan berikutnya terjadi pergeseran paradigma ke arah pemberdayaan
masyarakat, dimana orang miskin tidak lagi dilihat sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku
pembangunan, dan proses pembangunan diarahkan pada peningkatan kualitas sumber
daya manusia.
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat action research yang
menekankan pada action atau tindakan. Peneliti melakukan tindakan atau eksperimen
yang secara khusus diamati secara terus menerus Peneliti memilih secara purporsif
lokasi penelitian, yaitu di Kabupaten Wonosobo. Jumlah sampel sebanyak 104 orang,
yang terdiri dari 80 petani tembakau, 16 tokoh masyarakat, 16 perangkat desa, dan 2
orang perangkat kecamatan. Adapun sampel diambil dari delapan desa yang ada di
Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo.
Kajian lebih mengutamakan penyelesain masalah ekonomi yang bersumber pada
sumberdaya manusia itu sendiri. Masalah ekonomi memang sangat terlihat di
Kabupaten Wonosobo. Permasalahan bidang ekonomi tersebut meliputi: (1) rendahnya
tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonosobo, yaitu 2,1% per tahun sehingga
lebih rendah dibandingkan denga rata-rata nasional, yang mengindikasikan tingkat
produktivitas masyarakat masih rendah sehingga belum mampu memanfaatkan potensi
6
yang dimiliki secara optimal dan, (2) masih tingginya tingkat kemiskinan dengan
jumlah keluarga pra sejahtera mencapai 57,3% pada tahun 2005.
Hasil penelitian menjabarkan bahwa penguatan sosial dapat dilakukan dengan
mengembangkan skema-skema penguatan modal sosial, seperti peningkatan fungsi
BPD, LKMD, Gapoktan, PKK, BUMDes, dan Koperasi. Penguatan sosial kapital
dilakukan dengan memaksimalkan peran lembaga-lembaga sosial dengan memfokuskan
pada penguatan aspek kepercayaan, mutual respect, dan mutual benefit, serta
memperhatikan faktor budaya dan nilai-nilai yang berlaku. Kelembagaan yang ada
dimasyarakat tersebut dipandang sebagai modal sosial. Partisipasi masyarakat dalam
kelembagaan-kelembagaan tersebut termasuk tinggi. Setiap kelembagaan memiliki
fungsinya masing-masing dan masyarakat diharapkan dapat mengidentifikasi dan
memanfaatkannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat berbagai cara untuk
meningkatkan optimalisasi modal sosial. Cara pertama adalah dengan memberikan
pembinaan kepada masyarakat pedesaan sesuai dengan kebutuhannya. Perlu juga
dilakukan bimbingan dalam pemasaran hasil produksi, pelatihan-pelatihan teknis bertani
dan bercocok tanam yang efektif, bantuan sarana dan prasarana (pupuk, alat rajang
tembakau, obat-obatan), dan pelatihan terkait dengan akses modal bagi para petani.
Analisis
Penulis menerapkan pendapat Fukuyama (2000) yaitu modal sosial yang
sebenarnya adalah norma-norma dan nilai-nilai bersama yang dibangkitkan oleh
kepercayaan (trust), dimana trust merupakan dasar bagi sikap keteraturan, kejujuran,
dan perilaku kooperatif yang muncul dari dalam sebuah komunitas masyarakat yang
didasarkan pada normanorma yang dianut bersama oleh para anggotanya. Sedangkan
aspek lainnya (kerjasama, jaringan kerja), tidak akan terbentuk dengan baik jika tidak
dilandasi hubungan saling percaya. Jika Pranadji (2006) di jurnal pertama bahwa dalam
mengidentifikasi modal sosial harus melihat nilai yang melatarbelakanginya, maka
Cahyono dan Adhiatma (2012) menambahkan pentingnya elemen kepercayaan (trust).
Nilai-nilai kepercayaan dalam masyarakat dapat dilihat dari frekuensi
pertemuan yang cenderung rutin dalam kelembagaan setiap bulannya. Hal tersebut
adalah bentuk kepercayaan diantara warga desa yang merupakan elemen modal sosial.
Kemudian terdapat elemen dari modal sosial yaitu solidaritas antar warga. Hal ini dapat
dilihat dari penjelasan penulis mengenai rasa memiliki diantara anggota sehingga
kerukunan dan persatuan warga meningkat yaitu dengan cara silaturahmi, bertukar
pengalaman, kekompakaan dll. Persaudaraan di desa contoh lebih banyak diwarnai
nilai-nilai primordial atau askriptif. Kemudian nilai kepercayaan, solidaritas, jaringan
kerjasama tersebut dijadikan modal dalam peningkatan fungsi yang lain, seperti
peningkatan respek dan keuntungan bersama.
7
3.
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume
(Edisi):hal
Alamat
URL/DOI
Tanggal
diunduh
:
:
:
:
:
:
:
:
Peranan Modal Sosial dalam Pembangunan
2012
Artikel Jurnal
Elektronik
Inayah
Semarang, Politeknik Negeri Semarang
:
:
Jurnal Pengembangan Humaniora
Vol. 12 No. 1, April 2012 hal: 43-49
:
http://www.polines.ac.id/ragam/index_files/jurnalragam/
paper_6%20apr%202012.pdf
20 September 2014
:
Ringkasan
Melalui modal sosial sebagai sumberdaya sosial, masyarakat dapat membuat
sumberdaya baru. Oleh karena itu penulis mengemukakan bahwa modal sosial diyakini
sebagai salah satu komponen utama dalam menggerakkan kebersamaan, mobilitas ide,
saling kepercayaan dan saling menguntungkan untuk mencapai kemajuan bersama.
Modal sosial yang lemah akan meredupkan semangat gotong royong, memperparah
kemiskinan, meningkatkan pengangguran, kriminalitas, dan menghalangi setiap upaya
untuk meningkatkan kesejah-teraan penduduk.
Putnam, et al dalam (Suharto 2007) menyatakan modal sosial adalah penampilan
organisasi sosial, seperti kepercayaan, norma-norma (atau hal timbal balik), dan
jaringan (dari ikatan-ikatan masyarakat), yang dapat memperbaiki efisiensi masyarakat
dengan memfasilitasi adanya koordinasi dan kerjasama bagi keuntungan bersama.
Fukuyama (1995) menyatakan modal sosial adalah kemampuan yang timbul dari
adanya kepercayaan (trust) dalam sebuah komunitas. Upphoff (dalam Suharto 2007)
modal sosial dapat diperlakukan sebagai satu akumulasi berbagai jenis-jenis psikologis,
budaya, kelembagaan sosial yang tak terukur, dan asset-asset yang terkait pengaruh
perilaku kerjasama.
Penulis mengutip Hasbullah (2006) yang mengetengahkan enam unsur pokok
dalam modal sosial berdasarkan berbagai pengertian modal sosial yang telah ada, yaitu:
(1) participation in a network: kemampuan sekelompok orang untuk melibatkan diri
dalam suatu jaringan hubungan sosial, melalui berbagai variasi hubungan yang saling
berdampingan dan dilakukan atas dasar prinsip kesukarelaaan (voluntary), kesamaan
(equality), kebebasan (freedom), dan keadaban (civility), (2) reciprocity:
Kecenderungan saling tukar kebaikan antar individu dalam suatu kelompok atau antar
kelompok itu sendiri tanpa mengharapkan imbalan, (3) trust: suatu bentuk keinginan
untuk mengambil resiko dalam hubungan-hubungan sosialnya yang didasari oleh
perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan
akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung, (4) social
norms: Sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh masyarakat dalam
suatu entitas sosial tertentu, (5) values: Sesuatu ide yang telah turun temurun dianggap
benar dan penting oleh anggota kelompok masyarakat, dan (6) proactive action:
Keinginan yang kuat dari anggota kelompok untuk tidak saja berpartisipasi tetapi
8
senantiasa mencari jalan bagi keterlibatan anggota kelompok dalam suatu kegiatan
masyarakat.
Penulis kemudian menjabarkan peranan modal sosial dalam pembangunan.
Terdapat beberapa dimensi pembangunan manusia yang sangat dipengaruhi oleh modal
sosial antara lain kemampuan untuk menyelesaikan kompleksitas berbagai
permasalahan bersama, mendorong perubahan yang cepat di dalam masyarakat,
menumbuhkan kesadaran kolektif untuk memperbaiki kualitas hidup dan mencari
peluang yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan. Melalui pernyataan tersebut
penulis mengungkapkan bahwa dalam konteks pembangunan manusia, modal sosial
mempunyaipengaruh yang besar. Pada pembangunan ekonomi penulis mengemukakan
bahwa pembangunan industri pada masyarakat dengan modal sosial tinggi akan cepat
berkembang karena modal sosial akan menghasilkan energi kolektif yang
memungkinkan berkembangnya jiwa dan semangat kewirausahaan di tengah
masyarakat yang pada gilirannya akan menumbuhkembangkan dunia usaha. Pada
pembangunan sosial, masyarakat tradisional diketahui memiliki asosiasi-asosiasi
informal yang umumnya kuat dan memiliki nilai-nilai, norma, dan etika kolektif sebagai
sebuah komu-nitas yang saling berhubungan. Hal ini merupakan modal sosial yang
dapat mendorong munculnya organisasi-organisasi modern dengan prinsip keterbukaan,
dan jaringan-jaringan informal dalam masyarakat yang secara mandiri dapat
mengembangkan pengetahuan dan wawasan dengan tujuan peningkatan kesejahteraan
dan kualitas hidup bersama dalam kerangka pembangunan masyarakat. Pada
pembangunan politik, tingginya modal sosial akan mendorong efektifitas pemerintahan,
beragam determinan memungkinkan negara berfungsi secara lebih efektif dan memiliki
legitimasi. Modal sosial tinggi yang dimiliki masyarakat lebih dapat memfasilitasi
hubungan antara negara dan rakyat. Hubungan yang baik antara pemerintah dan
masyarakat akan menjamin stabilitas politik negara.
Analisis
Artikel jurnal ini membahas konsep modal sosial dan peranannya terhadap
pembangunan. Kajian modal sosial mampu didefinisikan kembali oleh penulis dengan
menyimpulkan definisi dari para ahli. Variabel yang terdapat dalam konsep modal
sosial sesuai dengan penjabar penulis menurut para ahli adalah: (1) interaksi (dapat
sampai kepada hubungan timbal balik), (2) kepercayaan, (3) jaringan dan (4) nilai dan
norma yang membentuk struktur masyarakat. Sesuai dengan tujuan bahasannya penulis
mampu menjabarkan peranan modal sosial dalam berbagai konteks pembangunan yaitu:
(1) pembangunan manusia, (2) pembangunan sosial, (3) pembangunan ekonomi, dan (4)
pembangunan politik. Keempat konteks peranan modal sosial tersebut dapat
mengarahkan peneliti lain untuk meneliti modal sosial dalam pembangunan masyarakat.
9
4.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume
(Edisi):hal
Alamat
URL/DOI
Tanggal diunduh
:
:
:
:
:
:
:
Modal Sosial dan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga di
Daerah Perdesaan Provinsi Jambi
2007
Disertasi
Elektronik
Suandi
Bogor, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
:
:
-
:
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/40
884/2007sua.pdf?sequence=11
20 September 2014
:
Ringkasan
Merujuk pada laporan UNDP, peringkat HDI Indonesia dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan terus menerus. Hal ini merefleksikan bahwa kualitas Sumber
Daya Manusia (SDM) Indonesia dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Dengan arti
kata, pembangunan sektor sosial dalam rangka meningkatkan SDM ternyata tidak
sejalan dengan pembangunan ekonomi. Disertasi penulis mengungkapkan kata kunci
pembangunan di Indonesia dari mulai kebijakan UUD 1945 Pasal 33 sampai UU RI No
25 tahun 2000. Pada Pasal 33 UUD yang memberi arah pembangunan ekonomi untuk
menuju kesejahteraan sosial. Kata kunci pembangunan di Indonesia adalah kualitas
SDM. Kemudian, UU RI No 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional
(Propenas) tahun 2000-2004, pembangunan pangan dan gizi tercantum dalam bidang
ekonomi serta sosial budaya. Menurut penulis hal ini menunjukan pembangunan
ekonomi yang dikembangkan selama ini tidak berdampak positif terhadap keualitas
SDM.
Tujuan dari disertasi ini adalah: (1) mengidentifikasi dan mengkaji tingkat
kesejahteraan ekonomi keluarga di daerah perdesaan Provinsi Jambi, (2) mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan ekonomi keluarga, (3) mengkaji
perbedaan tingkat kesejahteraan ekonomi keluarga berdasarkan wilayah agroekologi,
(4) menganalisis pengaruh modal sosial terhadap kesejahteraan ekonomi keluarga, dan
(5) menghasilkan model pemberdayaan keluarga di daerah perdesaan. Penelitian
dilakukan di Daerah Perdesaan Provinsi Jambi dengan jumlah sampel penelitian 325
keluarga atau 10% dari populasi (3.257 Keluarga). Data analisis melalui model
Structural Equation Modelling (SEM). SEM merupakan gabungan dari model regresi
dan analisis alur (path analysis)
Di dalam hasil identifikasi tingkat kesejahteraan menunjukan bahwa
kesejahteraan ekonomi keluarga (objektif dan subjektif) di daerah penelitian tergolong
sejahtera. Tingkat kesejahteraan di wilayah pegunungan merata dibandingkan dengan
tingkat kesejahteraan di wilayah pesisir pantai. Pengujian melalui model SEM
menunjukan pengaruh positif (baik secara langsung maupun tak langsung) variabel
modal sosial terhadap kesejahteraan ekonomi keluarga. Hal ini berarti semakin tinggi
tingkat modal sosial yang dimiliki oleh keluarga maka tingkat kesejahteraan keluarga
tersebut semakin baik. Tingginya tingkat kesejahteraan ekonomi objektif keluarga
10
sebagian besar dipengaruhi oleh faktor modal sosial terutama adalah faktor partisipasi
keluarga dalam asosialsi lokal, manfaat asosiasi lokal dan keterpercayaan masyarakat
masing-masing berpengaruh positif terhadap tingkat kesejahteraan ekonomu objektif.
Analisis
Penelitian ini mengkaji peran modal sosial terhadap tingkat kesejahteraan
keluarga. Penulis menyimpulkan konsep modal sosial yang dikembangkan oleh
beberapa ahli. Konsep modal sosial menurut penulis yakni modal sosial merupakan
bentuk jaringan kerja sosial dan ekonomi di masyarakat yang terjadi antar individu dan
kelompok baik formal maupun informal yang bermanfaat dan menguntungkan.
Kemudian penulis mengkategorikan modal sosial melalui dua dimensi yang saling
berhubungan (interrelated) yakni dimensi struktural dan dimensi karakter. Kedua
dimensi ini pun disempurnakan oleh penulis mengacu pada konsep yang dikembangkan
oleh ahli1.
Peneliti mengkaji modal sosial dari kategori modal sosial. Modal sosial
dikategorikan melalui dua dimensi yang saling berhubungan: (1) dimensi struktural
yaitu diukur melalui tinggi rendahnya kontribusi asosiasi lokal. Asosiasi lokal yang
terdapat pada masyarakat dapat diidentifikasi tinggi, yaitu dilihat dari jumah asosiasi
yang diikuti, partisipasi maupun manfat dari asosiasi lokal. Hal ini mengindikasikan
asosiasi lokal dinilai penting oleh warga, baik asosiasi formal maupun nonformal.
Asosiasi lokal yang terdapat di masyarakat adalah kelompok pengajian, arisan, KUD,
kelompok tani dll, dan (2) dimensi karakter masyarakat yaitu mencakup: tingkat
keterpercayaan masyarakat, hasil penelitian tampak lebih dari 50 persen keluarga
contoh di daerah penelitian tergolong pada kelompok dengan karakter msyarakat yang
tinggi dan sangat tinggi. Karakter masyarakat dapat dilihat dari nilai keterpercayaan,
solidaritas dan semangat kerja. Karakter masyarakat pada lokasi penelitian dapat
disimpulkan tinggi dan akan kondusif dalam kehidupan sosial ekonomi.
1
Bourdieu (1986), Coleman (1988), Putnam, Leonardi dan Nanetti (1993), Grootaert (1997), Woolcock
(1998), Fukuyama (1999), Uphoff (1999), Dasgupta P (2000:218) dan Flores dan Fernando (2003)
11
5
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume
(Edisi):hal
Alamat
URL/DOI
Tanggal diunduh
:
:
:
:
:
:
:
Upaya Pengentasan Kemiskinan pada Petani
Menggunakan Model Tindakan Kolektif Kelembagaan
Pertanian
2012
Jurnal
Elektronik
Bondan Satriawan dan Henny Oktavianti
-
:
:
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Volume 13, No 1 Juni 2012, hlm 96-112
:
http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/12345
6789/1732/07-Bondan.pdf?sequence=1
20 September 2014
:
Ringkasan
Sektor pertanian di Indonesia sebagian besar dibangun oleh petani. Dari jumlah
penduduk Jawa Timur yang bekerja yaitu sebanyak 19.305.000 orang, 42,9 persen
bekerja di sektor pertanian (BPS Jatim, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah
tenaga kerja yang terserap didominasi oleh sektor pertanian. Sehingga, kesejahteraan
petani harus menjadi perhatian karena pertanian merupakan sektor pendukung
ketahananpangan nasional. Faktor kultur dan struktural kerap kali dilihat sebagai
elemen penting yang menentukan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat
(Hasibuan, 1993). Salah satu hal yang perlu dianalisis adalah pola kehidupan petani.
Pola tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor kultur dan struktural yang dapat
menentukan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan petani. Faktor kultural dan
struktural ini sering digunakan sebagai acuan modal sosial (social capital) untuk
melihat suatu permasalahan didasarkan pada apa yang dimiliki suatu komunitas.
Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan, antara lain: pertama, menganalisis
berbagai penyebab kemiskinan pada petani, sehingga melalui analisis pertama tersebut
akan dapat diketahui mengapa petani –sebagai salah satu aktor penyedia kebutuhan
pangan– masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan yang kedua, melalui studi ini akan
diketahui bagaimana sistem kelembagaan pertanian yang berlangsung selama ini.
Penelitian menggunakan metode ZOPP (metode perencanaan proyek yang berorientasi
tujuan) yang bersifat partisipatif, maka perlu melibatkan masyarakat dan pihak-pihak
yang berkepentingan, yang diperlukan untuk memperoleh data dan informasi secara
akurat di lapangan. Penelitian menggunakan teknik-teknik partisipatif untuk
menemukan akar penyebab masalah kemiskinan pada petani.
Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab kemiskinan petani
dilatarbelakangi oleh banyak hal, antara lain: kemampuan investasi petani yang rendah,
ketergantungan petani, ketergantungan dana, dan tidak terpenuhinya kebutuhan pokok
rumah tangga petani. Berdasarkan program-program yang telah disusun dan dianalisi
maka dikemukakan matrik pemilihan program oleh masyarakat. Program-program
tersebut adalah: (1) program penciptaan pasar bagi petani, (2) program pembentukan/
pengaktifan KUT/ Gapoktan, (3) pendampingan KUT/Gapoktan yang dapat
diimplementasikan dengan adanya pelatihan manajemen organisasi serta kemampuan
12
menjalankan fungsi eksternal (networking), dan (4) pengadaan lahan percontohan di
masing-masing desa.
Satu individu masyarakat secara alami akan cenderung memilih melakukan aksi
bersama dengan individu lain ketika mereka merasa ada kesamaan dalam hal tujuan
yang ingin dicapai dan ketika merasa ada ketidakpastian serta resiko yang dihadapi jika
bergerak sendirian. Dengan demikian, transformasi modal sosial ke dalam tindakan
kolektif menjadi bermanfaat sebagai faktor penting untuk mempengaruhi dan
menentukan bentuk keputusan dasar.
Analisis
Penulis menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif dalam mengkaji
permasalahan petani dan kemiskinan pada petani. Analisis tersebut adalah penggunaan
metode ZOPP (Zielorientierte Projektplanung) metode yang digunakan menyangkut
beberapa langkah analisis yang dilakukan secara bertahap dalam penelitian, antara ain:
(1) participation analysis (analisis partisipatif), (2) problem analysis (analisis masalah),
(3) objectives analysis (analisis tujuan), (4) discussion of alternatives (analisis alternatif
dan penentuan prioritas), dan (5) protect planning matrix (yang mencakup 4 tahap).
Dalam tulisan di kaji mengenai pola petani dalam menentukan kemakmuran yaitu
berdasarkan pola kultur dan stuktural. Penulis mengungkapkan bahwa studi mengenai
modal sosial sering kali mengacu pada pola kultur dan struktur masyarakat (dalam hal
ini masyarakat petani).
Modal sosial yang menjadi perhatian dalam tulisan adalah: (1) Jaringan. Petani
perlu membangun jaringan yang lebih luas, yaitu modal sosial petani yang tidak dibatasi
oleh wilayah territorial. Modal sosial yang terbangun dengan baik ternyata dapat
memunculkan suatu gagasan atau pikiran yang cenderung sama antarpetani dan samasama mempunyai keinginan untuk memajukan kesejahteraan petani, dan (2) Tindakan
bersama (collective action). Penulis melihat unsur modal sosial yang terintegrasi dalam
aksi kolektif sebagai awal dari pengentasan kemiskinan. Untuk membebaskan diri dari
kemiskinan yang membelenggu, petani melakukan pembangunan interaksi sosial yang
diilhami dari masing-masing individu petani. Warga secara bersama mau menganalisis
permasalahan yang dialami yaitu dengan berdiskusi dan melakukan pemilihan program
(pengentasan kemiskinan) secara partisipatif.
13
6.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota
dan
Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
:
:
:
:
:
Tanggal diunduh
:
:
:
:
Penguatan Keluarga Miskin melalui Penguatan
Modal Sosial
2007
Artikel Jurnal
Elektronik
Bambang Rustanto
Jurnal Informasi
Vol 12. No. 03 tahun 2007 hlm: 22-31
http://puslit.kemsos.go.id/upload/post/files/1c2a
8d2e06b07e498bc340d1a9c323e7.pdf
10 Oktober 2014
Ringkasan
Menangani kemiskinan pada hakekatnya merupakan upaya memberdayakan
orangmiskin. Memberdayakan orang miskin dapat dilakukan dengan pendekatan
pengembangan modal sosial melalui kelompok-kelompok yang alamiah tumbuh di
masyarakat. Keluarga miskin di perkotaan pada dasarnya merupakan lapisan yang
mempunyai potensi dan modal sosial yang belum dikembangkan. Penulis
menyimpulkan pengertian modal sosial yang lebih luas dengan mengacu pada
pengetahuan para ahli sosial maupun ekonomi. Modal sosial yaitu berupa jaringan
sosial, atau sekelompok orang yang dihubungkan oleh persaan simpati dan kewajiban
serta oleh norma pertukaran dan civic engagement.
Selanjutnya penulis membahas terori tipe modal sosial menurut Woolcock
(2001). Tiga tipe modal sosial menurut Woolcock (2001) adalah: (1) perekat sosial
(social bounding) yaitu tipe modal sosial dengan karakteristik adanya ikatan yang kuat
atau adanya perekat sosial dalam suatu sistem kemasyarakatan, misalnya hubungan
kekerabatan, (2) institusi atau mekanisme (social bridging), merupakan suatu ikatan
sosial sosial yang timbul sebagai reaksi atas berbagai macam karakteristik kelompok.
Jembatan sosial ini muncul karena adanya berbagai berbagai macam kelemahan yang
ada di masyarakat, Stephen Aldidge menggambarkan sebagai “pelumas sosial” yaitu
pelancar roda-soda penghambat jalannya modal sosial dalam sebuah komunitas.
Wilayah kerjanya lebih luas daripada social bounding. Social bridging bisa bekerja
lintas kelompok etnis, maupun kelompok kepentingan, dan (3) hubungan atau jaringan
sosial (social linking) merupakan hubungan sosial yang dicirikan dengan adanya
hubungan di antara status sosial yang ada dalam masyarakat. Misalnya, hubungan antara
elite politik dengan masyarakat umum.
Setiap orang atau keluarga melakukan pengelompokkan sosial atas dasar
masalah dan kebutuhan masing-masing. Kelompok sosial dianggap sebagai alat sosial
bagi masyarakat untuk memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhannya secara lebih
efisien. Hal yang dikemukakan oleh penulis ini didukung oleh pendapat Etzioni (1992),
bahwa melalui kelompok sosial dapat dikoordinasikan sejumlah besar tindakan manusia
baik sebagai warga maupun keluarga. Pendekatan partisipatif dalam pengembangan
masyarakat mengarahkan penyadaran kepada warga masyarakat untuk mengelompokan
diri dalam kelompok sosial. Menurut Ashley (1999) dan Mukherjee (2002), Sustainable
livelihood (Sli) merupakan salah satu teknik penguatan kelompok secara partisipatif
14
dalam pengembangan modal sosial bagi keluarga miskin. Prinsip Sli yaitu: (1) people
centered, (2) responsive and participatory, (3) multi level, (4) conducive in partnership,
(5) sustainable, dan (6) dynamic.
Analisis
Artikel ini menyampaikan pokok pemikiran mengenai kemiskinan yang terjadi
pada keluarga yang dapat diatasi melaui penguatan modal sosial. Penulis
menyampaikan bahwa perlu berhati-hati dalam menentukan ukuran objektif untuk
mengkaji kemiskinan, karena ukuran obyektif kemiskinan sangat bervariasi. Kebutuhan
manusia tidak hanya diukur secara ekonomi semata. Maka pada penentuan garis
kemiskinan yang direduksi dari aspek ekonomi semata tidak akan memberikan
pemecahan pada persoalan dimensi lainnya seperti budaya dan politik. Penulis lebih
menekankan bahwa modal sosial adalah berupa jaringan sosial, atau sekelompok orang
yang dihubungkan oleh perasaan, kewajiban serta norma pertukaran. Kemudian jaringan
sosial tersebut diorganisasikan menjadi sebuah institusi yang memberikan perlakuan
khusus terhadap mereka yang dibentuk oleh jaringan. Unsur (variabel) modal sosial
yang dilihat penulis adalah: (1) interaksi dalam kelompok, (2) jaringan sosial,
(3)perasaan empati dan (4) norma yang terdapat dalam masyarakat.
7.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Nama Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Tanggal diunduh
:
Identifikasi Dan Analisis Modal Sosial
dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat
Nelayan Desa Gangga Dua Kabupaten
Minahasa Utara
2010
Jurnal
Elektronik
Otniel Pontoh
Jurnal Perikanan dan Kelautan tropis
Vol. 6 No.3, Desember 2010 hlm: 125-133
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/JPKT/
article/view/156/122
15 Oktober 2014
Ringkasan
Masyarakat wilayah pesisir yang berprofesi sebagai nelayan hingga kini masih
merupakan salah satu pelaku usaha perikanan yang berkontribusi besar terhadap masih
tingginya tingkat kemiskinan masyarakat di wilayah pesisir. Dari sejumlah 8.090 desa
pesisir yang sebagian besar dihuni masyarakat nelayan, tercatat 16,42 juta jiwa hidup
dengan indeks kemiskinan sebesar 0,32. Artinya lebih kurang 32% individu di wilayah
pesisir masih belum mampu memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar (Yayasan
Smeru dan BPS (2002) dalam Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006). Kondisi ini
tentunya ironis jika dibandingkan dengan banyaknya upaya pembangunan yang telah
dilakukan oleh pemerintah (BBRSE 2005).
15
Penulis menggambarkan bahwa terdapat beberapa literatur yang mengemukakan
bahwa modal manusia, modal sumberdaya alam dan modal ekonomi produktif sudah
banyak digarap oleh pemerintah, namun tidak demikian halnya dengan modal sosial
yang selama ini masih banyak diabaikan (Cernea 1988; Hasbullah, 2006; Jamasy,
2004). Dapat disimpulkan bahwa ketidakberhasilan atau masih rendahnya kinerja
pembangunan hingga kini dikarenakan pemerintah seringkali mengabaikan sistem sosial
masyarakat yang menjadi obyek pembangunan. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan
metode eksploratif dan deskriptif. Tujuannya adalah untuk menampilkan gambaran pola
kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Pendekatan studi kasus dipilih guna
mempelajari organisasi sosial ekonomi dan variabel atau aspek terkait lainnya lebih
mendalam. Penelitian ini dilakukan di Desa Gangga Dua, Kabupaten Minahasa Utara.
Penelitian dan pengambilan data dilakukan selama bulan Juli sampai Agustus 2007.
Tulisan ini memaparkan hasil dari suatu penelitian yang bertujuan mendapatkan
gambaran tentang identifikasi dan analisis modal sosial dalam rangka pemberdayaan
masyarakat nelayan. Penggambaran modal sosial dilakukan melalui kajian sosial
budaya masyarakat nelayan di Desa Gangga Dua, Kabupaten Minahasa Utara, yang
merupakan masyarakat nelayan yang menghadapi ancaman menipisnya sumber-daya
perikanan di perairan operasionalnya. Data dan informasi yang terkumpul
dikelompokkan berdasarkan pengertian-pengertian yang dikembangkan untuk setiap
faktor yang dikaji, yaitu: (a) nilai dan norma masyarakat lokal, (b) kepercayaan lokal;
(c) pola dan sistem produksi dan reproduksi, dan (d) politik lokal. Penelitian ini
dilakukan di Desa Gangga Dua, Kabupaten Minahasa Utara.
Penulis mengidendifikasi karakter sosial budaya masyarakat nelayan. Dalam
menganalisis karakter sosial budaya masyarakat nelayan penulis melaui empat faktor.
Faktor-faktor tersebut adalah: (1) faktor nilai dan norma masyarakat, (2) faktor
kepercayaan dan organisasi lokal, (3) faktor pola dan sistem produksi dan reproduksi,
dan (4) faktor politik lokal. Menurut Hasbullah (2006) modal sosial berdasarkan
karakter sosial budaya masyarakat terdiri dari dua jenis, yaitu modal sosial terikat dan
modal sosial yang menjembatani. Perbedaan keduanya dapat ditemui melalui
penggambaran karakter-karakter sosial budaya di masyarakat yang terkait dengan
karakter setiap modal sosial. Berdasarkan hasil analisis terhadap masyarakat nelayan
tersebut dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki tipologi modal sosial terikat beserta
penyebabnya menyiratkan perlunya kebijakan dalam rangka meningkat modal sosial di
masyarakat nelayan tersebut. Kebijakan dimaksud adalah perbaikan struktur sosial yang
terkait dengan kehidupan ekonomi masyarakat nelayan
Analisis
Penelitian ini menjelaskan gambaran tentang identifikasi dan analisis modal
sosial dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Kemudian penulis menggunakan
pendekatan studi kasus guna mempelajari organisasi sosial ekonomi dan variabel yang
terkait secara lebih mendalam. Penulis memaparkan bahwa karakter sosial budaya
(yang menjadi ciri atau karakter modal sosial dimasyarakat nelayan) diketahui melalui
pendekatan
terhadap faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi
kebudayaan masyarakat (Jamasy, 2006). Faktor internal mencakup: (a) pola organisasi
sosial dalam suatu komunitas yang mencakup kepercayaan lokal, pola dan sistem
produksi dan reproduksi serta politik lokal, dan (b) norma dan nilai-nilai yang melekat
dalam komunitas.
16
Faktor eksternal dapat dirangkum dalam pengaruh agama, pendidikan serta
sistem dan hubungan politik dan pemerintahan dengan luar komunitas. Namun dalam
mengidentifikasi karakter sosial budaya masyarakat nelayan, penulis merinci faktorfaktor pemaparannya tersebut menjadi empat faktor. Faktor-faktor yang dipaparkan
penulis beserta contohnya adalah: (1) faktor nilai dan norma masyarakat: nilai yang
terdapat dalam masyarakat nelayan di desa ini beranggapan bahwa laut tidak ada yang
memiliki, tidak terdapat batasan wilayah operasional,dan tidak melakukan tindakan
konservasi, (2) faktor kepercayaan dan organisasi lokal: para nelayan anggota suatu
kelompok tertentu masih terjerat dalam pola permodalan melalui peminjamanan uang
kepada para tengkulak bunga tinggi. Belum ada tindakan kolektif yang terkait agama
ataupun kepercayaan yang mereka anut. Nelayaan memiliki kepercayaan bahwa seluruh
hasil tangkapan adalah anugerah yang patut disyukuri, (3) faktor pola dan sistem
produksi dan reproduksi: Masyarakat di daerah penelitian adalah nelayan dan beberapa
individu yang merangkap juga mengerjakan pertanian. Nelayan belum tampak berupaya
mengadopsi alat tangkap yang lebih modern dari daerah lain, (4) faktor politik lokal.
Dari aspek kepemimpinan, masyarakat nelayan menilai kepemimpinan berdasarkan
wibawa dan kemampuan yang dimiliki seseorang. Karakteristik kempemimpinan yang
dimaksud menggiring kepada figur-figur atau tokoh-tokoh yang berlandaskan
kemampuan ekonomi.
Hasbullah (2006) mengungkapkan modal sosial berdasarkan karakter sosial
budaya masyarakat terdiri dari dua jenis, yaitu modal sosial terikat dan modal sosial
yang menjembatani. Perbedaan keduanya dapat ditemui melalui penggambaran
karakter-karakter sosial budaya di masyarakat yang terkait dengan karakter setiap modal
sosial. Penulis menggunakan modal sosial terikat untuk mendeskripsikan hasil temuan.
Yakni masyarakat nelayan yang umumnya homogen (tingkat kesejahteraan, pendapatan
dari matapencaharian), perhatian penulis terfokus pada upaya nelayan menjaga nilainilai turun-temurun telah diakui dan dijalankan sebagian dari tata perilaku dan perilaku
moral dari komunitas kemudian nelayan lebih mengutamakan solidarity making dari
pada hal-hal yang lebih nyata untuk lebih mensejahterakan diri.
17
8.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
:
:
:
:
Nama Editor
Judul Buku
Kota
dan
Penerbit
Nama Jurnal
:
:
Nama :
:
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
Tanggal diunduh
:
Transformasi Struktur Nafkah Pedesaan:
Pertumbuhan “Modal Sosial Bentukan” dalam
Skema Pengelolaan Hutan Bersama Mayarakat
di Kabupaten Kuningan
2007
Jurnal
Elektronik
Agustina M Purnomo, Arya Hadi Dharmawan
dan Ivanovich Agusta
Sodality; Jurnal Transdisiplin Sosiologi,
Komunikasi, dan Ekologi Manusia
Vol. 01 No. 02 hal: 193-216
http://jamu.journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/a
rticle/download/5931/4608
15 Oktober 2014
Ringkasan
Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) merupakan sistem
manajemaen yang mengatur “tata hubungan-pemanfaatan sumber hutan” antara
penduduk desa yang berada di kawasan setempat dengan Perum Perhutani sebagai
lembaga-profit resmi yang mendapatkan amanah untuk memanfaatkan-mengelola dan
memproduksi hasil hutan berbasisskan sumberdaya hutan negara. PHBM di
implementasikan secara sengaja sebagai risk escaping strategy untuk menekan dampak
tak diinginkan dari proses pemanfaatan dan pertukaran (pemanfaatan) sumberdaya yang
timpang yang bisa berakibat munculnya konflik agraria secara tidak menguntungkan.
PHBM diyakini oleh Perhutani sebagai skema jitu yang mampu menjadikan menjadikan
landasan penting bagi terbentuknya transformasi struktur nafkah pedesaan sekitar hutan
(rural livelihood structure transformation) melalui pemanfaatan kapitalisasi asset sosial.
Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui benarkah kelembagaan bentukan
berupa PHBM akan mampu menggerakkan sistem nafkah kemudian apakah Masyarakat
Desa Hutan (MHD) memiliki sistem rasionalisme yang sama dengan apa yang ada
dalam sistem gagasan Perum Perhutani.
Tulisan dari studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menarik
delapan kasus distinct untuk ditelaah lebih mendalam. Kemudian indepth interview pada
berbagai informan kunci dan diskusi kelompok terfokus dilakukan untuk melengkapi
dan mempertajam data dan informasi yang diperoleh. Penelitian ini di lakukan di
Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Rumah tangga yang berada di Desa Pada Beunghar
adalah unit analisisnya.
Pendekatan aset dan aktivitas dari Ellis (2000) de Haan (2000), Meikle et, al.
(2001) serta Chambers dan Conway (1991) akan digunakan untuk memahami strategi
nafkah rumahtangga di Desa Padabeunghar. Strategi nafkah meliputi kemampuan
mengakses sumberdaya dan aktivitas-aktivitas yang dibangun dengan menggunakan
sumberdaya nafkah. Sumberdaya nafkah (livelihood resources) menurut Chambers and
Conway (1991) terdiri dari lima modal penting: (1) modal alam atau natural capital, (2)
modal manusia atau human capital yang dibentuk oleh skill, capacity dan ability, (3)
18
modal uang atau financial capital, (4) modal fisik atau physical capital, dan (5) modal
sosial atau social capital.
Strategi nafkah yang mempresentasikan serangkaian pilihan penggunaan
sumberdaya nafkah dan aktivitas nafkah yang dilakukan rumahtangga untuk mencapai
tujuan rumah tangga (kesejahteraan sosial dan ekonomi). Namun kebanyakan rumah
tangga MDH lebih memilih rasionalitas lain yang dikembangkan berdasarkan manfaat
jangka panjang. Moralitas kehidupan dalam kebersamaan diletakkan oleh MDH pada
tempat yang lebih penting daripada sekedar prestasi kemajuan dan keterjaminan
ekonomi individual rumah tangga namun mengisolasinya dari kehangan sosial dari
keseluruhan sistem lokal. Rumah tangga lokal beranggapan bahwa kebutuhan survival
yang dipenuhi dalam suasana persaingan dan menegasikan solidaritas sosial, bukanlah
etika-moral yang terpuji dan dikehendaki dalam tatanan budaya ekonomi lokal. Oleh
karena itu, pemupukan modal sosial asli menjadi lebih penting untuk dilakukan terlebih
dahulu sebelum prioritas lainnya dipenuhi. Rasionalitas semacam ini tidak match
dengan rasionalitas yang dikembangkan dalam sistem PHBM yang semata-mata
berorientasi pada pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga dan pengamanan tanah
(sumberdaya hutan) dari konflik agraria. PHBM yang dibangun oleh negara (melalui
Perum Perhutani) sebagai modal sosial bentukan ternyata tidak mampu menjadi basis
alternatif pengamanan sistem nafkah petani lokal.
Analisis
Modal sosial yang terdapat dalam tulisan dibahas sebagai salah satu strategi
nafkah yang seharusnya hadir untuk mensejahterakan MDH. PHBM dianggap sebagai
modal sosial bentukkan yang dimana modal sosial tersebut dituntut untuk dapat
diterapkan oleh MDH sehingga MDH mencapai kesejahteraan ekonomi. Masyarakat
atau MDH menerapkan nilai dan etika yang rasional yaitu berbentuk modal sosial asli.
MDH masih memegang ikatan sosial yang tumbuh asli di dalam masyarakat.
Nilai dan etika asli dapat terwujud melalui: Anggapan rumah tangga lokal
bahwa kebutuhan yang dipenuhi dalam suasana persaingan dan menegasikan solidaritas
sosial, bukanlah etika moral yang terpuji dan dikehendaki dalam tatanan budaya
ekonomi lokal. Kemudian partisipasi sosial yang ditunjukan oleh rumahtangga terhadap
rumah tangga lain pada kegiatan hajatan, kondangan, neang dan sejenisnya merupakan
modal sosial asli yang berada dalam masyarakat
Modal sosial “bentukan” dapat berupa kebijakan peraturan-peraturan untuk
memanfaatkan hutan dalam PHBM yang syarat akan nilai kontraktual yang rumit dan
sangat birokratis. Modal sosial “bentukan” tersebut cenderung dianggap menyalahi
nilai berekonomi dalam masyarakat. Ikatan yang berlangsung antara MDH dengan
Perum Perhutani berlangsung dalam konteks pertukaran transaksional antara perusahaan
(di satu pihak) yang memiliki kekuasaan atas lahan dan MDH yang memiliki tenaga
kerja untuk menggarap lahan dan terdesak oleh pemenuhan kebutuhan ekonomi.
19
9.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota
dan
Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
:
:
:
:
:
Tanggal diunduh
:
:
:
:
Analisis Modal Sosial sebagai Salah Satu Upaya
dalam Pengentasan Kemiskinan (Studi Kasus:
Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Koto
Tangah Kota Padang)
2012
Jurnal
Elektronik
Neng Kamarni
Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan
Vol. 03 No. 03 hal: 36-52
http://www.journal.unitaspdg.ac.id/downlotfile.php?file=Jur.%20Manajem
en%20(4)%20Vol.3%20No.3%20Sep%202012.p
df.
15 Oktober 2014
Ringkasan
Kemiskinan merupakan permasalahan ekonomi utama yang dirasakan oleh
setiap daerah di Indonesia. Kesenjangan pendapatan antara kelompok penduduk, salah
satunya merefleksikan masih banyaknya penduduk yang hidup dalam kemiskinan.
Kecamatan Koto Tangah adalah salah satu daerah perkotaan yang mempunyai banyak
penduduk yang miskin. Berdasarkan data BPS (2008) terdapat 5.988 rumah tangga
miskin atau sekitar 16% di Kecamatan Koto Tangah, yang merupakan kecamatan yang
mempunyai jumlah penduduk miskin tertinggi di Kota Padang. Pada umumnya, rumah
tangga miskin memiliki karakteristik lemahnya jaringan sosial terhadap antar
kelembagaan (interlinkage institution) yang ada, baik secara horizontal maupun secara
vertikal. Lemahnya akses terhadap jaringan ekonomi dan modal sosial lainnya
umumnya disebabkan karena mereka tidak memiliki persyaratan sosial yang cukup,
misalnya lemahnya pendidikan, pengetahuan, dan kemampuan berkomunikasi. Modal
sosial merupakan salah satu modal dasar yang kurang diperhatikan selama ini.
Tujuan umum penelitian adalah untuk menganalisis modal sosial rumah tangga
dan dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan rumah tangga miskin di Kecamatan
Koto Tangah. Secara spesifik tujuan penulisan adalah: (1) mempelajari karakteristik dan
menganalisis modal sosial yang dimiliki masyarakat Kecamatan Koto Tangah Kota
Padang, (2) mempelajari karakateristik jaringan sosial dan kelembagaan yang dimiliki
rumah tangga miskin, baik formal maupun nonformal, terutama kelembagaan ekonomi
yang merupakan sarana utama untuk peningkatan kesejahteraan. Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif, dan dilakukan secara purposif di
Kelurahan Lubuk Minturun dengan pertimbangan kelurahan tersebut berada pada
pinggir kota. Sedangkan Kecamatan Koto Tangah mempunyai persentase tertinggi
rumah tangga miskin di Kota Padang (BPS, REKAPPLS, 2008). Metode pengambilan
sampel dilakukan dengan cara Simple Random Sampling di Kelurahan Lubuk Minturun.
Putnam (1995) mengartikan modal sosial sebagai perekat bagi setiap individu,
dalam bentuk norma, kepercayaan dan jaringan kerja, sehingga terjadi kerjasama yang
saling menguntungkan, untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini juga mengandung
20
pengertian bahwa diperlukan adanya suatu social networks (networks of civic
engagement) ikatan/jaringan sosial yang ada dalam masyarakat, dan norma yang
mendorong produktivitas komunitas. Bahkan lebih jauh, Putnam melonggarkan
pemaknaan asosiasi horisontal, tidak hanya yang memberi desireable outcome (hasil
pendapatan yang diharapkan) melainkan juga undesirable outcome (hasil tambahan).
Menurut Woolcock dan Narayan (2000), modal sosial adalah merupakan
bagaimana hubungan diantara pelaku ekonomi dan hubungannya dengan lembagalembaga ekonomi. Dalam penelitian social capital dan ekonomi pembangunan dapat
dikateorikan kepada 4 perspektif yang nyata:
1. The Commutarian View
Perspektif social capital masyarakat yang ada pada organisasi tingkat lokal,
dimana dilihat dari jumlah anggotanya dan kepadatan grup-grup membentuk
masyarakat;
2. The networks View
Network view dari modal sosial adalah suatu bentuk dalam assosiasi yang
tertutup, dimana social capital disini merupakan 2 mata pisau, dapat
meningkatkan nilai jasa bagi anggota masyarakat, tetapi juga merupakan biayabiaya non ekonomi dalam masyarakat dengan konsekuensi negatif bagi
ekonomi;
3. Institutional view
Institutional view merupakan variabel dependen dalam social capital. Menurut
pandangan ini, Jaringan masyarakat dan kelompok-kelompok masyarakat
merupakan produk dari politik, dan lingkungan institusi formal. Dimana
perspektif commutarian dan network menciptakan sosial capital sebagai variable
independen, apakah hasil yang diperoleh baik atau buruk; dan
4. The Synergy View
Yaitu sinergi yang timbul dari hubungan semua kelompok dalam jaringan
masyarakat dengan pihak-pihak lain seperti perusahaan, pemerintah, dan
asosiasi lainnya. Dengan kata lain merupakan gabungan perspektif antara
network view dengan institutional view.
Dari hasil pengujian hipotesa dapat disimpulkan kepemilikan tanah dan
penghasilan rumah tangga memiliki hubungan yang kuat dengan kesejahteraan rumah
tangga. Tanah dikelola dengan baik dapat menjadi investasi yang dapat mempengaruhi
atau menambah pendapatan seseorang atau rumah tangga yang pada akhirnya akan
meningkatkan kemampuan konsumsi seseorang atau rumah tangga. Keikutsertaan
dalam persatuan/lembaga masyarakat miskin Kelurahan Lubuk Minturun tergolong
masih rendah dengan tingkat pencapaian 41,9%. Rendahnya keikutsertaan rumah tangga
miskin dalam persatuan kelembagaan disebabkan rendahnya pendidikan responden dan
kurangnya pengetahuan tentang fungsi suatu bentuk persatuan/kelembagan yang
merupakan salah satu kekuatan masyarakat untuk mau bersatu dalam mencapai tujuan
pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Aliran modal rumah tangga
miskin tergolong sangat rendah. Akses rumah tangga untuk memperoleh pinjaman dari
lembaga keuangan sangat minim. Dari uji hipotesa dapat disimpulkan lembaga
persatuan dalam masyarakat mempunyai peranan dalam perkembangan kesejahteraan
masyarakat kelurahan yang diproksikan dengan pengeluaran rumah tangga, karena
faktor ini merupakan tingkat kemajuan manusia dalam menguasai alam dan
lingkungannya. Namun dilihat dari tingkat pencapaian kesejahteraannya, masih rendah.
21
Analisis
Penulis lebih menitikberatkan jaringan sosial sebagai bagiian modal sosial yang
berpengaruh terhadapt kesejahteraan. Penulis menganggap bahwa jaringan sosial adalah
sebagai awal dari kelembagaan. Kelembagaan tersebut terutama kelembagaan
pemasaran. Modal sosial yang penulis gambarkan yaitu melekat pada seperangkat
hubungan antar manusia dalam suatu kelompok sosial. Hubungan antar masyarakat bisa
menjadi produktif sejauh yang diharapkan bersama, seperangkat nilai yang disepakati
dan adanya sara saling percaya antara satu sama lain.
Variabel modal sosial yang digunakan oleh penulis adalah: (1) persatuan
kelompok: terdapat hubungan persatuan kelompok dengan kesejahteraan rumah tangga,
(2) adat istiadat: dari hasil penelitian diungkapkan bahwa tidak terdapat relasi antara
adat istiadat dengan kesejarteraan rumah tangga (tidak dapat diputuskan), (3) trust dan
(4) partisipasi: dalam partisipasi dan trust dapat dilihat bahwa semakin luas interaksi
(bentuk partisipasi) rumah tangga dalam persatuan kelompok maka semakin tinggi
kesejahteraan. Variabel yang paling erat hubungannya dengan kesejahteraan keluarga
adalah variabel persatuan kelompok.
Modal sosial yang lemah mengundang munculnya pertentangan nilai dan
menonjolnya rasa saling tidak percaya. Akan tetapi bila modal sosial yang tidak
dikaitkan dengan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), bisa
berakibat perhatian terhadap pentingnya kelangsungan hidup bersama dalam
masyarakat menjadi terabaikan. Modal sosial dapat mengurangi kemiskinan dan
meningkatkan kemampuan masyarakat, tidak sekedar jumlah tetapi kehidupan
masyarakat yang lebih berarti. Dengan dimensi yang ada dalam modal sosiall,
persatuan, budaya/adat istiadat, kepercayaan dan partisipasi.
22
10
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota
dan
Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
:
:
:
:
:
Tanggal diunduh
:
:
:
:
Penguatan Modal Sosial dalam Penanganan
Produk Olahan Kopi Pada Komunitas Petani Kopi
di Kabupaten Jember
2012
Jurnal
Elektronik
Rokhani
Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian
Vol. 06 No. 01 hal: 20-34
http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JSEP/article/vie
wFile/800/616
15 Oktober 2014
Ringkasan
Semua dimensi kehidupan manusia telah dilanda globalisasi yang dicirikan oleh
kehidupan yang semakin individualistis, ikatan-ikatan makin longgar, dan tergerusnya
modal sosial. Berdasarkan beberapa hasil kajian, modal sosial di beberapa negara
termasuk Indonesia sudah mulai melemah, sementara modal sosial sama pentingnya
dengan modal lainnya seperti: modal alam (natural capital), modal ekonomi (economic
capital), modal finansial (financial capital). Modal sosial sering kali diabaikan
sekalipun modal sosial yang terdiri dari unsur: kepercayaan (trust), jejaring
(networking), kelembagaan lokal, kearifan lokal, norma-norma dan kebiasaan lokal)
sangat diperlukan dalam program pemberdayaan maupun pembangunan. Modal sosial
menarik bagi lembaga pemerintah dan badan-badan pembangunan nasional dan
antarbangsa karena memiliki relevansi yang luas, yaitu memudahkan pengambilan
keputusan yang efisien dengan peluang keberhasilan yang tinggi dan memiliki efek
pada produktivitas komunitas.
Salah satu komoditas dari tanaman perkebunan yang layak dikembangkan di
Kabupaten Jember adalah kopi. Hingga saat ini, produk-produk olahan kopi masih
sedikit, karena sebagian besar hanya terbatas pada produk olahan berupa minuman.
Tujuan dari penelitian adalah: (1) mengetahui bagaimana kondisi modal sosial
masyarakat dalam komunitas petani yang menangani diversifikasi produk olahan kopi,
(2) strategi pengembangan diversifikasi produk olahan kopi berbasis pengelolaan modal
sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif yaitu dengan
wawancara mendalam, pengamatan berperan serta dan diskusi kelompok terarah.
Daerah penelitian ditentutan secara sengaja (purposive method) yaitu di lima besar
Kecamatan dengan luas dan produksi tertinggi di Kabupaten Jember. Dasar
pertimbangan pemilihan daerah tersebut dikarenakan di wilayah tersebut berpotensi
untuk dikembangkan dalam produk diversifikasi olahan kopi.
Masyarakat petani kopi tersebut memiliki hubungan sosial yaitu kerjasama dan
ikatan kerjasama tersebut paling kuat adalah diatara sesama petani kopi. Masyarakat
dengan ciri tersebut diatas dikategorikan dalam masyarakat yang berciri Gemeinschaft.
Dari tiga jenis Gemeinschaf menurut Tonnies, yaitu Gemeinschaft by blood,
Gemeinschaft of placo (locality), dan Gemeinschaft of mind, maka komunitas petani
kopi tergolong dalam Gemeinschaft yang of placo (locality), karena tolong menolong
23
didasarkan pada tempat tinggal yang saling berdekatan. Kemudian rasa kepercayaan
dapat terlihat dalam transaksi atau pinjam meminjam uang. petani yang tidak tergabung
dalam kelembagaan apapun relatif sulit untuk mengakses beberapa program, salah
satunya bantuan mesin pengolah kopi. Seperti yang terjadi pada komunitas petani di
Desa Sumbersalak Kecamatan Lodokombo.
Modal sosial yang kuat dapat dijadikan sebagai modal untuk mengembangkan
diversifikasi produk olahan kopi, sedangkan modal sosial yang masih lemah harus
dilakukan penguatan. Beberapa modal sosial yang sudah kuat dalam komunitas petani
kopi adalah: kerjasama, kepercayaan, norma, adat, nilai budaya lokal, toleransi, kearifan
dan pengetahuan lokal, kepemimpinan sosial, partisipasi masyarakat, kemandirian,
kebebasan mobilitas, aktualisasi kemampuan membeli komoditas “kecil” dan “besar”,
pembuatan keputusan rumahtangga, jaminan ekonomi dan kontribusi terhadap keluarga.
Sedangkan unsur modal sosial yang masih lemah adalah: jaringan pemasaran, jaringan
pengolahan produk, jaringan pengemasan produk, kebersamaan, keterlibatan dalam
kampanye atau protes serta kebebasan relatif dari domuniasi keluarga.
Analisis
Penulis mengidentifikasi kondisi modal sosial melalui berbagai variabel.
Sehingga modal sosial dapat dipahami dalam berbagai hubungan sosial yang ada di
masyarakat. Penulis mengidentifikasi secara terpisah modal sosial di tingkat komunitas
dan modal sosial di tinggkat rumah tangga petani. Hal ini menarik karena dipaparkan
perbedaan kemampuan rumah tangga petani dalam kebebasan mobilitas, pembuatan
keputusan rumah tangga, keterlibatan kampanye atau protes-protes serta melihat
jaminan ekonomi dan kontribusi terhadap keluarga. Penulis telah mengidentifikasi
modal sosial yang kuat dan yang masih lemah dalam petani kopi Kabupaten Jember.
Modal sosial dalam lingkup komunitas yang dapat terlihat dalam bacaan adalah:
1. Rasa kepercayaan, rasa percaya diantara sesama petani kopi masih tinggi karena
umumnya peminjaman uang dilakukan tanpa catatan, bahkan antar sesama
mereka tidak perlu jaminan;
2. Kerjasama, kerjasama dalam komunitas petani kopi di semua lokasi penelitian
tergolong tinggi. Selain dalam pengelolaan lahan, kerjasama juga terjadi di
setiap siklus kehidupan baik kelahiran, khitan, pernikahan hingga kematian.
Demikian pula dengan pembangunan sarana umum seperti: sekolah, jalan,
hingga tempat peribadatan;
3. Jaringan pemasaran produk, pemasaran kopi dilakukan menggunakan 2 cara
yaitu langsung dan tidak langsung. Langsung kepada pengolah kopi dan tidak
langsung melalui pengepul;
4. Norma-norma, adat, nilai budaya lokal, nilai budaya lokal ditunjukkan dengan
kegiatan gotong royong atau saling membantu tanpa upah. Gotong royong
dilakukan dalam bentuk perbaikan sarana umum.
5. Toleransi, Sikap toleransi pun ditunjukkan saat terjadi isu-isu terorisme
pengeboman gereja yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Petani kopi baik
umat Kristiani maupun Islam menjaga gereja bersama-sama;
6. Kearifan dan pengetahuan lokal, pada komunitas petani kopi ditemukan
beberapa kearifan lokal, antara lain: dipergunakannya lumpang kayu dalam
proses pengolahan kopi;
7. Kepemimpinan sosial, kepemimpinan yang paling disegani dalam komunitas
petani kopi relatif berbeda-beda, namun Kyai/ulama masih mendapat hati
dimata komunitas petani kopi termasuk di Desa Rowosari Kecamatan
24
Sumberjambe. Sekalipun masih ada yang percaya pada paranormal atau dukun,
namun prosentasenya relatif kecil. Sedangkan kepemimpinan formal seperti
ketua RT/RW, Kades, Camat, Bupati mendapat tempat di masyarakat untuk
menyelesaikan permasalahan terkait dengan hokum; dan
8. Kebersamaan, petani kopi tergabung kedalam wadah kelompok tani. Alasan
masyarakat berkelompok tani adalah lebih mudah dalam mendapatkan
informasi, dalam memecahkan masalah budidaya, dan mempererat tali
silaturahmi.
11.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota
dan
Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
:
:
:
:
:
Tanggal diunduh
:
:
:
:
Pemanfaatan Modal Sosial dalam Upaya
Peningkatan Kesejahteraan Keluarga dan
Komunitaas (Studi pada Komunitas Petani Karet
di Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman,
Sumatera Barat)
2006
Jurnal
Elektronik
Badaruddin
Jurnal Wawasan
Vol. 12 No. 2 Hal: 118-125
http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JSEP/article/vie
wFile/800/616
9 November 2014
Ringkasan
Persoalan utama yang paling sering menimpa petani pada hampir semua
komoditi yang dihasilkan adalah rendahnya posisi tawar (bargaining position) petani
terhadap para pedagang dalam hal menetapkan harga. Salah satunya adalah petani karet.
Petani karet hanya dapat pasrah dengan harga yang ditetapkan secara sepihak oleh para
pedagang karet. Persoalan ini telah membuka wawasan komunitas petani karet di
Jorong (Dusun) Polongan Dua Kecamatan Rao Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera
Barat untuk mengorganisir diri dalam bentuk kerjasama kolektif dalam menjual
komoditi karet yang mereka hasilkan dengan sistem “lelang”. Sistem penjualan tersebut
telah diikuti oleh jorong tetangganya yaitu Jorong Lubuk Aro, dan beberapa jorong
lainnya. Kemampuan komunitas mengorganisir diri dalam kegiatan kolektif seperti
kasus penjualan karet secara kolektif menunujukan bahwa pada komunitas tersebut
telah terbangun pilar-pilar elemen modal sosial yang akan memperkuat posisi tawar
komunitas terhadap kekuatan-kekuatan eksternal yang mencoba melakukan eksploitasi
terhadap mereka.
Tujuan tulisan adalah: (1) mengetahui secara historis proses tumbuhnya
kerjasama penjualan secara kolektif pada komuni petani karet di Jorong Polongan Dua
dan Jorong Lubuk Aro dan (2) mengetahui sejauhmana kesejahteraan keluarga dan
komunitas meningkat dengan adanya penjualan karet secara kolektif. Penelitian ini
25
menggunakan kombinasi pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dimana pendekatan
kualitatif dijadikan sebagai pendekatan yang lebih dominan.
Sebelum terbentuknya sistem kerjasama penjualan secara kolektif, terdapat
sistem kerjasama kolektif dalam pengelolaan sumberdaya yaitu oleh masyarakat yang
terletak di sepanjang Sungai Sibinail yang mengalir melewati beberapa jorong yang ada
di Kecamatan Rao. Kerjasama kolektif ini dikenal dengan “lubuk larangan”. Kemudian
seorang warga di Jorong Polongan Dua bernama H. Raudin, pada tahun 1984 memiliki
gagaasan untuk mencoba menghimpun warga jorong yang memiliki kebun karet agar
mau menjualnya secara bersama-sama dengan melelangnya kepeda beberapa pedagang
karet. Terdapat permasalahan dalam kegiatan penjualan karet secara kolektif yaitu: (1)
kepercayaan yakni sebagian warga khawatir bahwa pengurus tidak dapat menjalankan
tugas dengan baik dan jujur, (2) keterkaitan sebagian petani karet dengan pedagang
karet (toke) disebabkan adanya hubungan hutang piutang antara petani karet dengan
toke, (3) adanya hubungan kerabat dengan toke, baik karena hubungan daerah maupun
hubungan perkawinan menyulitkan bagi si petani karet untuk menjual hasil produksi
pada toke lain. Kepala jorong melakukan musyawarah jorong, didalam musyawarah
tersebut dibahas mengenai permasalahan tersebut dan disepakati panitia sementara
untuk mengelola sistem lelang tersebut. Kemudian dilakukan pemilihan kembali panitia
setelah melakukan beberapa kali sistem lelang, penilaian tersebut sesungguhnya
termasuk ke dalam unsur dari modal sosial. Pembentukkan kerjasama kolektif tersebut
membutuhkan proses yang cukup panjang untuk dapat terwujud.
Penjualan karet sistem lelang mengakibatkan petani karet memiliki posisi tawar
(bargaining position) yang lebih kuat terhadap harga. Petani karet akan lebih mungkin
untuk mendapatkan harga tertinggi, karena para toke juga akan berupaya untuk
menawar dengan harga yang maksimal menurut perhitungannya. Dalam hasil penelitian
disebutkan bahwa responden 100% responden menganggap penjualan karet dengan
sistem lelang mampu meningkatkan penghasilan mereka bila dibandingkan dengan
penjualan karet secara individual.
Analisis
Penulis mengemukakan alur pembentukan tindakan kolektif sehingga dapat
dipahami unsur modal sosial yang terbentuk didalam tindakan kolektif tersebut. Unsurunsur yang terlihat dalam membentuk tindakan kolektif tersebut adalah: (1) hubungan
saling percaya (trust), yang meliputi adanya kejujuran dan toleransi oleh panitia
sementara maupun oleh petani karet yang hasil karetnya akan dilelang, (2) pranata
(institutions), meliputi nilai-nilai yang dimiliki bersama oleh petani karet, norma-norma
dan sanksi-sanksi dan aturan yang dimiliki kelembagaan “lelang”, dan (3) jaringan
sosial (social networks), meliputi adanya partisipasi, pertukaran timbal balik oleh petani
karet dan toke, solidaritas dan kerjasama antar petani karet yang menginginkan
kehidupan yang lebih baik. Adanya jaringan unsur modal sosial yang telah dijabarkan,
memberikan manfaat dalam konteks terbentuknya kerjasama kolektif dalam
pengelolaan penjualan komoditi karet.
26
12.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota
dan
Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
:
:
:
:
:
Tanggal diunduh
:
:
:
:
Penguatan Modal Sosial untuk Pemberdayaan
Masyarakat dalam Pembangunan Pedesaan
(Kelompok Tani Kecamatan Rambatan)
2012
Jurnal
Elektronik
Primadona
Jurnal Polibisnis
Vol. 4 No. 1 Hal: 12-23
http://ojs.polinpdg.ac.id/index.php/JEB/article/do
wnload/645/610
9 November 2014
Ringkasan
Pada negara kita kebijakan yang diambil selalu berganti dan kalanya terjadi juga
tumpang tindih. Sering kita melihat dalam kenyataan bergantinya tujuan pembangunan
dan prioritas utama yang akan dilaksanakan maka kebijakan yang diambil juga berganti.
Tidak dapat kita pungkiri permasalahan pangan di pedesaan sebenarnya adalah masalah
yang sudah lama mengapung, ini dapat kita lihat permasalahan lokal yaitu bagaimana
sebenarnya kemampuan masyarakat pedesaan dalam memenuhi kebutuhan pangan
rumah tangga di desanya sesuai dengan preferensi dan kemampuan sumber daya yang
dimiliki seperti hal nya yang ditemukan oleh Wilensky (1999). Selama ini dalam
mengkaji dan membuat kebijakan untuk tercapainya pembangunan selalu hanya diukur
dari potensi sumber daya, potensi finansial dan kurang mengamati bagaimana keadaan
modal sosial dalam lingkungan diperdesaan yang dianggap masih melekat dengan besar
modal sosial, justru yang selalu diunggulkan adalah masalah potensi daerah seperti
struktur tanah, infrastruktur dan modal lainnya sedangkan banyak penelitian yang
dilakukan seperti Putnam di Irlandia mengatakan bahwa jika modal sosialnya tinggi
maka akan berdampak terhadapkehidupan ekonomi masyarakatnya.
Metode penelitian yang digunakan pada tulisan adalah jenis penelitian kualitatif
dengan menggunakan instrumen penelitian wawancara, kuesioner dan Focus Group
Discussion. Tujuan penelitian adalah untuk menggali pemikiran baru mengenai
pemberdayaan komunitas petani melalui penguatan modal sosial. Populasi dalam
penelitian ini adalah anggota kelompok tani pada Nagari III Koto, Nagari Rambatan,
dan Nagari Balimbing. Penentuan sampel yang akan dijadikan sumber data adalah
berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan. Sampel yang akan diambil secara
acak dengan jumlah sebanyak 2 kelompoktani untuk 3 nagari di Kecamatan Rambatan.
Setiap kelompok diambil sembilan orang untuk sampel didalam masing-masing
sembilan kelompok.
Dari enam kelompok tani yang diteliti, menurut hasil penelitian terdapat empat
kelompok tani yang dapat dikatakan sudah berhasil dalam membangun modal sosial
yang kecenderungannya kuat didalam kelompoknya, diantaranya kelompok tani Karatau
Sakato, Hamparan Sawah Batu Payek, Sawah Pudiang dan Kelompok Tani Tamasu
Harapan. Kecendrungan kuatnya modal sosial pada ke empat kelompok tani itu
27
dibuktikan dengan hampir semua unsur yang membangun modal sosial itu dilakukan
didalam kelompok tani dengan baik.
Analisis
Penulis mengkritisi kebijakan pemerintah yang fokus terhadap peningkatan
manfaat moda produksi. Penulis mengukur modal sosial dengan ukuran yang pernah
dikemukakan atau dilakukan oleh Fukuyama. Menurut penulis ukuran tersebut untuk
membantu memberikan hasil bahwa terdapat kecerndrungan kuat atau lemahnya modal
sosial disuatu wilayah atau negara, atau didalam suatu kelompok. Penelusuran yang
dilakukan penulis disini dengan melihat unsur-unsur modal sosial dan bagaimana
berjalannya didalam kelompok tani dipedesaan dalam rangka melaksanakan
pembangunan.
Ukuran atau variabel yang digunakan penulis untuk mengukur modal sosial
adalah: (1) partisipasi: unsur kepercayaan didalam kelompok sangat penting dan ini
dapat dilihat dengan kepercayaan terhadap sesama didalam kelompok dan juga
kepercayaan terhadap ketua kelompok serta kepercayaan terhadap pemerintah terhadap
program-program yang selama ini diberikan pada masyarakat, (2) kepercayaan:
kepercayaan merupakan unsur modal sosial yang paling terlihat, atau dengan kata lain
dalam kelompok tani kepercayaan merupakan variabel yang bernilai tinggi.
Kepercayaan tersebut dapat dilihat melalui tingkat kepercayaan dengan pemerintah,
kepercayaan kepada ketua kelompok maupun kepercayaan dengansesama anggota
kelompok, (3) kepedulian terhadap sesama (resiprocity): penyimpanan padi untuk
selama empat bulan atau selama panen berikutnya datang, gunanya adalah untuk
menghindari terjadinya paceklik atau kekurangan dan kelaparan makanan pokok, dan
(4) organisasi sosial: keikutan anggota dalam kelompok didasari oleh keinginan dari
anggota kelompok atau individu itu sendiri untuk maju tanpa keterpaksaan dari pihak
manapun.
28
13.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota
dan
Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
:
:
:
:
:
Tanggal diunduh
:
:
:
:
Strategi Pemberdayaan Masyarakat Miskin
Pedesaan melalui Pengembangan Institusi dan
Modal Sosial Lokal
2005
Jurnal
Elektronik
Oman Sukmana
Jurnal Humanity
Vol. 1 No. 1 Hal: 69-75
http://ejournal.umm.ac.id/index.php/humanity/arti
cle/view/808
4 Desember 2014
Ringkasan
Berbagai upaya penanggulangan kemiskinan telah dilakukan oleh pemerintah.
Namun upaya-upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan hingga kini masih
belum membuahkan hasil yang memuaskan. Masih banyak penduduk Indonesia baik
desa maupun kota yang menderita kemiskinan. Program pengentasan kemiskinan akan
sangat berhasil apabila masyarakat miskin diberi peluang yang lebih besar untuk
mengurus dirinya sendiri, mempengaruhi kemampuan dan berpartisispasi dalam
kegiatan yang mempengaruhi kemampuan ekonomi dan kesejahteraan hidup mereka.
Tujuan penelitian adalah: (1) mendeskripsikan gambaran, identifikasi dan
pengembangan institusi sosial lokal dan modal sosial lokal pada masyarakat miskin
pedesaan, (2) mendeskripsikan pemanfaatan institusi sosial lokal dan modal sosial lokal
sebagai strategi pemberdayaan.Metode penelitian yang digunakan adalah model
penelitian diskriptif kualitatif dengan model kuantitatif untuk menguatkan argumen.
Populasi penelitian adalah masyarakat miskin pedesaaan di wilayah Kecamatan Pujon,
Kabupaten Malang.
Dari hasil penelitian dapat dilihat pemaparan jenis institusi sosial dan modal
sosial. Identifikasi dan pengembangan modal sosial yang ada di lingkungan masyarakat
Desa Sukomulyo yang hidup dan berkembang terdiri atas nilai-nilai, kebiasaan
masyarakat dan tradisi masyarakat. Arah pemanfaatan institusi sosial dan modal sosial
sebagai strategi pemberdayaan meliputi: (1) sebagai sarana bermusyawarah dan
bermufakat, (2) sebagai sarana untuk berdemokrasi, (3) meningkatkan peran serta, (4)
media untuk menambah pengetahuan dan (5) meningkatkan pendapatan keluarga.
Analisis
Penulis kurang mengungkapkan bukti kualitatif berupa histori maupun
pernyataan langsung dari masyarakat tempat lokasi penelitian. Hal ini menyulitkan
pembaca untuk memahami unsur modal sosial yang ada di masyarakat dan pengukuran
kesejahteraan masyarakat. Variabel modal sosial yang dapat dilihat dari tulisan ini
adalah modal sosial yang berbentuk nilai lokal yaitu terwujud dalam adanya kegiatan
rutin acara selamatan desa, kegiatan gotong royong dan kegiatan keagamaan. Penulis
menghubungkan dimensi kemiskinan dengan modal sosial yakni melalui dimensi sosial
29
budaya. Penulis mengungkapkan bahwa dimensi sosial budaya dapat diubah menjadi
lebih produktif apabila budaya tersebut dijadikan modal untuk pemberdayaan.
14.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota
dan
Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
:
:
:
:
:
Tanggal diunduh
:
:
:
:
Modal Sosial dalam Komunitas Kuta Etnis Karo
dan Relevansinya dengan Otonomi Daerah
2005
Jurnal
Elektronik
Sri Alem Sembiring dan Lister Berutu
Jurnal Universitas Sumatera Utara
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3
818/1/antropologi-sri%20alem.pdf
4 Desember 2014
Ringkasan
Adanya Undang-undang Otonomi Daerah No. 22 & 25 1999 membuat berbagai
pihak mulai sadar bahwa pengembangan potensi-potensi yang ada di masing-masing
daerah mutlak diperlukan, sekaligus memberi peluang keterlibatan warga secara lebih
luas dalam proses pengambilan keputusan. Melalui Undang-Undang ini diharapkan
terjadi desentralisasi sebagai pengganti kebijakan lama yang sentralistik, baik pada
aspek ekonomi, politik, dan sosial budaya. Dengan demikian pembangunan partisipatif
menjadi kata kunci yang harus diterapkan pada masing-masing wilayah sesuai tuntutan
otonomi. Salah satu strateginya dengan memberdayakan modal sosial yang selama ini
dikesampingkan karena ada anggapan bahwa pembangunan hanya butuh modal
ekonomi dan modal fisik semata.
Tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi berbagai jenis dan tipe nilai-nilai,
pengetahuan, pranata acuan bertindak, jaringan kerja, kesepakatan dan institusi yang
berkembang pada komunitas Kuta Karo di Desa Bukit. Penelian ini menggunakan
metode penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi dan melakukan
teknik kajian bersama.
Penelitian tentang modal sosial di Desa Bukit ini, dapat dijadikan sebagai suatu
contoh konkrit bahwa di dalam masyarakat ternyata banyak potensi-potensi lokal yang
dapat dikembangkan untuk menunjang kberhasilan otonomi itu sendiri. Dari temuantemuan tersebut dapat diketahui bagaimana masyarakat dapat mengembangkan diri atau
kelompoknya tanpa banyak campuran tangan pihak luar. Modal sosial yang ada di Desa
Bukit merupakan bentuk kreatifitas lokal karena lahir dan berkembang dalam
masyarakat. Modal sosial tersebut terkait dengan berbagai aspek kehidupan. Kemudian
hal ini didukung dengan fakta proses munculnya institusi, selain tumbuh dari inisiatif
masyarakat juga dibangun berdasarkan komtmen bersama sehingga tingkat kepercayaan
masyarakat anggotanya tetap terpelihara. Temuan lainnya adalah modal sosial dapat
dibentuk di komunitas ini. munculnya jenis modal sosial baru yang dibentuk dan
dibangun oleh sebagian kelompok masyarakat. Contohnya adalah Credit Union yakni
usaha simpan pinjam khusus kaum perempuan di Desa Bukit. lnstitusi ini memunculkan
30
paradigma baru bagi perempuan untuk membangun diri, terutama mengurangi
ketergantungan ekonomi kepada pihak laki-laki (suami).
Analisis
Penulis telah memaparkan modal sosial yang ada pada komunitas Kuta Karo.
Pemaparan penulis lebih menggunakan definisi modal sosial menurut Putnam (1993).
Putnam (1993) menyatakan komponen modal sosial terdiri dari kepercayaan (trust),
aturan-aturan (norms) dan jaringan-jaringan kerja (networks) yang dapat memperbaiki
efisiensi dalam suatu masyarakat melalui fasilitas tindakan-tindakan yang terkordinasi.
Variabel yang terlihat dalam memaparan penulis adalah:
1. Keaktifan warga dan kepercayaan: Orang-orang yang biasanya dianggap atau
dipilih menjadi pemimpin di Bukit adalah orang-orang yang mau
bermusyawarah (arih) dengan warga desa, sanggup merespon/menaggapi
keinginan warga desa, karena menurut warga pemimpin dalam hal ini Kepala
kampung merupakan wakil rakyat;
2. Partisipasi: Dalam pengambilan keputusan yang menyangkut masalah
kepentingan desa atau Kuta, warga bukit selalu melaksanakan arih kula atau
musyawarah desa, yang dilakukan sekali setahun. Kemudian partisipasi dalam
melakukan pemberdayaan dapat terlihat pada saat bertukar pengetahuan mereka
dalam pembibitan,pengelolaan tanah dan tanaman didasarkan pada pengalamanpengalaman atau percobaan-percobaan; dan
3. Komitmen: Setelah keputusan diambil dan ditetapkan, baik itu keputusan hasil
musyawarah mufakat ataupun pemungutan suara, biasanya seluruh warga akan
melaksanakan keputusan itu dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Penulis menyimpulkan bahwa berbagai modal sosial sebenarnya kondusif
dengan pembangunan. Kemudian penulis memaparkan jika dikaji lebih jauh dan
dipahami dapat dijadikan modal untuk pembangunan itu sendiri, karena pembangunan
sebenarnya bukan harus sesuatu yang baru tapi dapat mengacu kepada potensi lokal
yang sudah ada sebelumnya. Selanjutnya penulis menemukan jenis modal sosial baru
yang dibentuk dan dibangun oleh sebagian kelompok masyarakat yaitu Credit Union
yakni usaha simpan pinjam khusus kaum perempuan di Desa Bukit. lnstitusi ini
memunculkan paradigma baru bagi perempuan untuk membangun diri, terutama
mengurangi ketergantungan ekonomi kepada pihak laki-laki (suami). Modal sosial ini
tidak berlawanan dengan nilai setempat karena dibangun oleh masyarakat, hal ini
berbeda dengan modal sosial “bentukan” PHBM pada tulisan sebelumnya.
31
15.
Judul
:
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
:
:
:
:
Nama Editor
Judul Buku
Kota
dan
Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi):hal
Alamat URL/DOI
:
:
:
Tanggal diunduh
:
:
:
:
Modal Sosial dan Ketahanan Pangan Rumah
Tangga Miskin di Kecamatan Tanah Sareal dan
Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor
2009
Jurnal
Elektronik
Alfiasari, Drajat Martianto, dan Arya H.
Dharmawan
Jurnal Sodality
Vol.03 No.01 Hal 125-152
http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/
view/5869
4 Desember 2014
Ringkasan
Kemiskinan bukan saja milik masyarakat pedesaan. Masyarakat yang tinggal di
wilayah perkotaan pun tidak luput dari kemiskinan. Pertumbuhan yang cepat di wilayah
perkotaan dihadapkan pada sebuah tantangan baru, yaitu penyebaran dan pemimgkatan
kemiskinan di daerah perkotaan (urban). Bagi rumah tangga miskin khususnya yang
tinggal di daerah perkotaan, keberadaan modal berupa uang (financial capital) dan
modal alam (natural capital) cukup terbatas. Mereka tidak mempunyai cukup uang
untuk membeli kebutuhan pangan secara cukup baik jumlah maupun mutunya. Selain
itu, keterbatasan akses terhadap sumberdaya fisik seperti pelayanan kesehaatan publik,
pelayanan transportaasi publik dan fasilitas pelayanan-pelayanan sosial lainnya
seringkali dialami oleh rumah tangga miskin. Kondisi tersebut pada akhirnya
menyebabkan kualitas modal manusia yang ada pun menjadi terbatas kemampuannya
untuk melakukan upaya optimal dalam rangka meningkatkat kesejahteraannya.
Penelitian yang dilakukan oleh penulis menggunakan desain penelitian cross
sectional study. Penelitian dilakukan di wilayah Kota Bogor yaitu di Kelurahan Kedung
Jaya, Kecamatan Tanah Sareal dan Kelurahan Tajur, Kecamatan Bogor Timur.
Penulis memaparkan hasil penelitian mengenai modal sosial dan ketahanan
pangan rumah tangga miskin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tangga
miskin responden dengan tingkat kepercayaan, jaringan sosial dan norma sosia yang
rendah maka akan cenderung berada dalam kondisi tidak tahan pangan. Sebaliknya
apabila rumah tangga mempunyai tingkat kepercayaan tinggi maka akan cenderung
berada dalam kondisi tahan pangan, seperti yang terlihat di Kelurahan Kedung Jaya.
Komponen modal sosial yang berhubungan paling erat dengan ketahanan pangan rumah
tangga adalah kepercayaan rumah tangga dalam menjalin hubungan tanpa rasa saling
curiga, kepercayaan rumah tangga untuk dapat menjaga lingkungan tetap sustain,
jumlah hubungan sosial yang dimiliki, dan istri yang bukan merupakan penduduk asli di
lingkungan tempat tinggal.
32
Analisis
Penulis mengemukakan bahwa modal sosial dapat dikembangkan dan
dioptimalkan dalam bentuk kelembagaan-kelembagaan sosial di tingkat komunitas yang
dapat menguatkan ketahanan pangan rumah tangga miskin. Kemudian penulis
menyimpulkan tipe modal sosial pada rumah tangga miskin dengan tipe modal sosial
menurut Walcock (1998). Hal ini sama dengan apa yang telah dilakukan dalam tulisan
Suandi (2007) pada disertasi yang menganalisis modal sosial dan kesejahteraan
ekonomi keluarga di daerah perdesaan Provinsi Jambi, Rustanto (2007) dalam Jurnal
Informasi yakni menganalisis upaya penguatan keluarga miskin melalui penguatan
modal sosial dan Pontoh (2010) yaitu pada Jurnal Perikanan dan Kelautan. Modal sosial
yang telah dikaji adalah termasuk tipe modal sosial bounded solidaritiy.
Penulis menggunakan menganalisis modal sosial yaitu dengan menggunakan
variabel:
1. Kepercayaan, pengukuran kepercayaan yang diukur oleh penulis melihat pada:
a. Kepercayaaan diri rumah tangga dalam menjalin hubungan sosial.
b. Kepercayaan rumah tangga untuk menjalin kerjasama tanpa saling saling
curiga
c. Kepercayaan rumah tangga bahwa di lingkungannya dapat menciptakan
kedamaian dan meredam kekacauan sosial
d. Kepercayaan rumah tangga bahwa di lingkungannya dapatmenjaga
hubungan di antara mereka tetap sustain;
2. Jaringan sosial. Dilihat pada sifat jaringan dan karakteristik jaringan:
a. Sifat Jaringan: formal dan informal
b. Karakteristik Jaringan: bentuk, luas, kedalaman, keragaman dan
permanency; dan
3. Norma sosial:
a. Aturan-aturan tidak tertulis dalam hubungan antar rumah tangga di dalam
komunitas.
b. Nilai-nilai tradisional yang sudah ada turun temurun
c. Nilai-nilai agama yang diyakini dalam menjalin hubungan sosial.
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN
Modal Sosial
Modal sosial dipahami sebagai suatu bentuk dari interaksi sosial dalam
masyarakat, interaksi tersebut berlangsung melalui institusi, relasi dan norma yang
diakui dan dipatuhi secara bersama Field (2010). Masyarakat membuat aturan
kesepakatan bersama sebagai suatu nilai dalam komunitasnya. Teori modal sosial, tesis
sentralnya dapat dipermudah dalam dua kata yaitu soal hubungan (Field 2010).
Selanjutnya Field (2010) mengemukakan dengan membangun hubungan sesama, dan
menjaganya agar terus berlangsung sepanjang waktu, individu mampu bekerjasama
untuk mencapai berbagai hal yang tidak dapat mereka lakukan sendiri, atau yang dapat
mereka capai namun dengan susah payah. Konsep modal sosial telah banyak
didiskusikan dalam ilmu-ilmu sosial dalam kurun waktu tahun terakhir. Modal sosial
mulai dikembangkan oleh peneliti untuk menyentuh ranah kebijakan sebagai strategi
pembangunan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fukuyama (1995) yang dikutip oleh
Cahyono dan Adhiatma (2012) sedikitnya ada dua kontribusi utama modal sosial
terhadap pembangunan, yaitu sebagai fungsi sosial dan fungsi politik.
1. Pengertian Modal Sosial
Menurut Bourdieu dan Wacquant (1992) dalam Field (2010) Modal sosial
adalah jumlah sumberdaya, aktual atau maya yang berkumpul pada seseorang individu
atau kelompok karena memiliki jaringan tahan lama berupa hubungan timbal balik
perkenalan dan pengakuan yang sedikit banyak terinstitusionalisasikan. Field (2010)
mengemukakan bahwa teori modal sosial Bourdieu secara jelas melihat modal sosial
sebagai hak milik eksklusif elite (berupa aset) yang didesain untuk mengamankan posisi
elite tersebut. Jika modal sosial Bourdieu menitik beratkan sebagai aset individu dan
modal sosial merupakan hasil, maka Coleman (1994) dalam (Field 2010)
mendefinisikan modal sosial sebagai seperangkat sumber daya yang melekat pada
hubungan keluarga dan dalam organisasi sosial komunitas dan yang berguna pada
perkembangan kognitif atau sosial anak atau idividu. pernyataan tersebut lebih sarat
akan makna karena di dalamnya ia menggambarkan nilai hubungan bagi semua aktor,
individu, dan kolektif baik yang berkedudukan istimewa maupun yang kedudukannya
tidak menguntungkan. Coleman melihat modal sosial sebagai sumberdaya karena dapat
memberi kontribusi terhadap kesejahteraan individu.
Putnam (1996) dalam Field (2010) modal sosial adalah bagian dari kehidupan
sosial jaringan, norma dan kepercayaan yang mendorong partisipan bertindak bersama
secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. Kemudian Field (2010)
memaparkan pembahasan Putnam selanjutnya. Putnam berpendapat bahwa gagasan inti
dari teori modal sosial adalah bahwa jaringan memiliki nilai kemudian kontak sosial
akan memengaruhi produktivitas individu dan kelompok. Pengertian lain yakni oleh
Fukuyama (1995) yang dikutip oleh Cahyono dan Adhiatma (2012) bahwa modal
sosial adalah serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama
diantara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama
diantara mereka. Fukuyama (1995) dalam Inayah (2012) menyatakan modal sosial
timbul dari adanya kepercayaan (trust) dalam sebuah komunitas. Dari definisi tersebut
dapat dilihat Fukuyama perpendapat bahwa modal sosial termasuk dalam budaya dan
kepercayaan. Berikut merupakan batasan definisi modal sosial menurut beberapa ahli:
34
Tabel 1. Definisi, peranan dan lingkup analisis modal sosial
Ahli
Bourdieu
Coleman
Putnam
Fukuyama
Definisi
Hasil dari hubungan
timbal balik
perkenalan dan
pengakuan individu
maupun kelompok
Sumberdaya yang
melekat pada
hubungan keluarga
dan dalam organisasi
sosial komunitas
Jaringan,
kepercayaan dan
norma merupakan
aset/fasilitas untuk
mencapai tujuan
bersama
Nilai-nilai atau
norma-norma
informal yang
dimiliki bersama
yang memungkinkan
terjalinnya kerjasama
Peranan
Lingkup Analisis
Sebagai aset elite
untuk menjamin
tercapainya modal
ekonomi
Individu dalam
kelompok
Untuk menjamin
tercapainya
kesejahteraan
keluarga/komunitas
Melihat hubungan
seluruh aktor. Aktor
atau individu dalam
keluarga dan
masyarakat
Masyarakat luas
Untuk menjamin
tercapainya
kesejahteraan
ekonomi
Untuk menjamin
tercapainya
kesejahteraan sesuai
dengan nilai-nilai
kelompok/komunitas
Komunitas.
Masyarakat.
Berbagai definisi di atas dapat diketahui memiliki perbedaan peranan maupun
lingkup analisis sesuai dengan argumentasi ahli. Untuk studi dalam suatu komunitas
maka dapat dirumuskan kembali definisi dari modal sosial. Modal sosial adalah
sumberdaya yang muncul dari hasil interaksi dalam suatu komunitas, baik antar
individu maupun institusi yang melahirkan ikatan emosional berupa kepercayaan,
jaringan-jaringan sosial, nilai-nilai dan norma-norma yang membentuk struktur
masyarakat yang berguna untuk koordinasi dan kerjasama dalam mencapai tujuan
bersama. Kepercayaan akan membuat individu mau untuk bekerjasama dalam mencapai
tujuan, demikian juga terhadap jaringan. Menurut beberapa hasil penelitian yang telah
diresum dan dianalisis, penggunaan definisi modal sosial oleh Putnam lebih banyak
digunakan karena Putnam mengkaji modal sosial dalam ruang lingkup yang lebih luas.
2. Tipologi Modal Sosial
Putnam (2000) dalam Field (2010) mengemukakan perbedaan antara dua bentuk
dasar modal sosial yaitu menjembatani (inklusif) dan mengikat (ekskusif).Modal sosial
yang menjembatani cenderung menyatukan individu dari beragam ranah sosial.
Hubungan-hubungan yang menjembatani tersebut berperan dalam penyediaan aset-aset
eksternal dan bagi penyebaran informasi.Kemudian bentuk modal sosial yang mengikat
adalah modal sosial yang cenderung mendorong identitas eksklusif dan
mempertahankan homogenitas suatu masyarakat.Bentuk modal sosial ini dapat menjadi
perekat terkuat sosiologi sehingga terbentuk solidaritas yang kuat.Konsep tersebut telah
banyak diterima oleh peneliti sosial (Field 2010). Ahli lain yaitu Woolcock (2001)
dalam (Field 2010) membedakan tipe modal sosial menjadi tiga tipe hubungan, yaitu:
35
(1) modal sosial yang mengikat (bounding capital), yang berarti ikatan antar-orang
dalam situasi yang sama, seperti keluarga dekat, teman akrab dan rukun tangga, (2)
modal sosial yang menjembatani (bridging capital), yang mencakup ikatan yang lebih
longgar dari beberapa orang, seperti teman jauh dan rekan kerja, dan (3) modal sosial
yang menghubungkan (linking capital), yang menjangkau orang-orang yang berbeda
pada situasi berbeda seperti mereka yang sepenuhnya ada di luar komunitas, sehingga
mendorong anggotanya memanfaatkan banyak sumber daya daripada yang tersedia di
dalam komunitas.
Pada penerapannya, kedua tipe hubungan modal sosial yang diungkapkan
Putnam dan Woolcock adalah membedakan modal sosial akan lebih berkembang di
dalam komunitas yang homogen atau modal sosial akan lebih kuat apabila diterapkan
pada antar komunitas (heterogen). Penelitian yang menggunakan konsep ini adalah
pada: (1) Suandi (2007) yakni pada disertasi yang menganalisis modal sosial dan
kesejahteraan ekonomi keluarga di daerah pedesaan Provinsi Jambi, (2) Rustanto (2007)
dalam Jurnal Informasi yakni menganalisis upaya penguatan keluarga miskin melalui
penguatan modal sosial, (3) Pontoh (2010) yaitu pada Jurnal Perikanan dan Kelautan,
Pontoh (2010) menganalisis modal sosial dalam rangka pemberdayaan masyarakat
nelayan Desa Gangga Dua, Kabupaten Minahasa Utara, dan (4) Alfiasari et al. (2009)
dalam menganalisis modal sosial dan ketahanan pangan. Keempat penulis tersebut
menyimpulkan bentuk modal sosial menggunakan konsep tipe/bentuk modal sosial
tersebut.
Penentuan tipe modal sosial yang digagas oleh Woolcock (2001) dalam Field
(2010) dapat berdasarkan variabel atau unsur modal sosial dari para ahli yaitu: Putnam,
Fukuyama, dan Coleman. Berikut tipe modal sosial dan unsur yang terdapat di
dalamnya: (1) tipe modal sosial yang mengikat (bounding capital): tingkat kepercayaan,
nilai sosial, perasaan senasib, (2) tipe modal sosial yang menjembatani (bridging
capital): jaringan, solidaritas, dan tingkat partisipasi pada kelembagaan, (3) tipe modal
sosial yang menghubungkan (linking capital): jaringan, tingkat partisipasi, dan
kebergantungan terhadap komunitas lain.
3. Unsur Modal Sosial
Konsep modal sosial lainnya dikemukakan oleh Hasbullah (2006) dalam Inayah
(2012), yang mengetengahkan enam unsur pokok dalam modal sosial berdasarkan
berbagai pengertian modal sosial, yaitu: (1) participation in a network: Kemampuan
sekelompok orang untuk melibatkan diri dalam suatu jaringan hubungan sosial, melalui
berbagai variasi hubungan yang saling berdampingan dan dilakukan atas dasar prinsip
kesukarelaaan (voluntary), kesamaan (equality), kebebasan (freedom), dan keadaban
(civility), (2) reciprocity: Kecenderungan saling tukar kebaikan antar individu dalam
suatu kelompok atau antar kelompok itu sendiri tanpa mengharapkan imbalan, (3) trust:
Suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan-hubungan sosialnya
yang didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti
yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling
mendukung, (4) social norms: Sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti
oleh masyarakat dalam suatu entitas sosial tertentu, (5) value: Sesuatu ide yang telah
turun temurun dianggap benar dan penting oleh anggota kelompok masyarakat, dan (6)
proactive action: Keinginan yang kuat dari anggota kelompok untuk tidak saja
berpartisipasi tetapi senantiasa mencari jalan bagi keterlibatan anggota kelompok dalam
suatu kegiatan masyarakat.
36
Berbagai unsur modal sosial yang dikemukakan oleh Hasbullah (2006) banyak
digunakan pula sebagai variabel modal sosial yang dikaji oleh berbagai peneliti. Unsur
modal sosial tersebut diukur dan dianalisis dalam suatu masyarakat untuk mengungkap
karakteristik modal sosial yang terdapat pada masyarakat. Unsur tersebut diukur tingkat
kekuatannya sehingga dapat simpulkan karakteristik masyarakat lebih kuat pada unsur
tertentu. Selanjutnya mengenai unsur jaringan (network) tidak akan berdampak pada
kehidupan masyarakat jika tidak disertai nilai-nilai yang ada pada masyarakat dan
kepercayaan (trust) yang dimiliki individu terhadap individu lain maupun kelompok.
Sehingga unsur trust dapat disimpulkan unsur yang penting dalam mengkaji modal
sosial.
Pranadji (2006) mengemukakan bahwa dalam kehidupan sosial di pedesaan,
pengertian kepercayaan (trust) seharusnya tidak dilihat sekedar masalah personalitas
(psikologis) atau intrapersonal, melainkan mencakup juga aspek ekstrapersonal dan
intersubyektif (asosiasi tingkat dukuh, organisasi tingkat desa dan sistem jaringan sosial
hingga melintasi batas desa). Pada masyarakat yang berpotensi cepat maju umumnya
mampu mengembangkan jaringan kepercayaan (mutual trust) yang relatif besar.
Selanjutnya mengenai nilai yang melekat dalam masyarakat, Pranadji (2006) melihat
tata nilai yang ada dalam masyarakat melalui empat elemen nilai komposit, yaitu:
1. Ditegakkannya sistem sosial di pedesaan yang berdaya saing tinggi (produktif)
namun berwajah humanistik tidak eksploitatif dan intimidatif terhadap sesama
manusia atau masyarakat;
2. Ditegakkannya sistem keadilan yang dilandaskan pada pemenuhan kebutuhan
dasar manusia (tidak imperialistik dan menegasi kehidupan sosial);
3. Ditegakkannya sistem solidaritas yang dilandaskan pada hubungan saling
percaya (mutual trust) antar elemen pembentuk sistem masyarakat; dan
4. Dikembangkannya peluang untuk mewujudkan tingkat kemandirian dan
keberlanjutan kehidupan masyarakat yang relatif tinggi, yang merupakan salah
satu bagian terpenting keberadaan suatu masyarakat.
Pendapat Pranadji tersebut mendukung konsep Fukuyama (1995) dalam Field
(2010) bahwa kepercayaan adalah dasar dari tatanan sosial yaitu komunitas tergantung
pada kepercayaan timbal balik dan tidak akan muncul spontan. Dalam penelitian studi
kasus modal sosial “bentukan” PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) yang
dilakukan oleh Purnomo et al. (2007) juga mendukung pendapat Pranadji (2006). Hasil
penelitian tersebut adalah masyarakat lebih memilih melakukan interaksi sosial dan
memanfaatkan modal sosial asli yang berupa nilai-nilai asli masyarakat daripada
melakukan kebijakan sebagai modal sosial “bentukan”. Dalam pelaksanaan kebijakan
PHBM syarat akan persaingan mendapat keuntungan ekonomi. Penelitian tersebut
mengemukakan anggapan rumah tangga lokal bahwa kebutuhan yang dipenuhi dalam
suasana persaingan dan menegasikan solidaritas sosial, bukanlah etika moral yang
terpuji dan dikehendaki dalam tatanan budaya ekonomi lokal. Kemudian terdapat nilai
yang masih dipertahankan yang ditunjukan oleh rumahtangga terhadap rumah tangga
lain pada kegiatan hajatan, kondangan, neang dan sejenisnya merupakan modal sosial
asli yang berada dalam masyarakat
Karakter sosial budaya yang menjadi ciri atau karakter modal sosial di
masyarakat diketahui melalui pendekatan terhadap faktor-faktor internal dan eksternal
yang mempengaruhi kebudayaan masyarakat (Jamasy, 2006) dalam Pontoh (2010).
Faktor internal mencakup: (1) pola organisasi sosial dalam suatu komunitas yang
mencakup kepercayaan lokal, pola dan sistem produksi dan reproduksi serta politik
lokal, dan (2) normaserta nilai-nilai yang melekat dalam komunitas. Sedangkan faktor
37
eksternal dapat dirangkum dalam pengaruh agama, pendidikan serta sistem dan
hubungan politik dan pemerintahan dengan luar komunitas. Faktor-faktor internal dan
eksternal akan membentuk karakter dari modal sosial suatu masyarakat nelayan.
Adapun karakter yang dibentuk terdiri dari kelompok-kelompok masyarakat yang ada,
identitas kolektif suatu kelompok dan antar kelompok dalam suatu komunitas, tingkat
partisipasi dan proaktif anggota dalam suatu kelompok
4. Pengukuran Modal Sosial
Pengukuran modal sosial secara kritis adalah bergantung pada melekatnya
modal sosial dalam konteks tertentu (Pontoh 2010). Bagi komunitas bisnis pengukuran
modal sosial adalah untuk menelaah keuntungan dan kerugian. Bagi komunitas
pemerintahan maupun lembaga kebijakan pemerintahan, pengukuran modal sosial
dilakukan untuk mengetahui suatu kebijakan (program maupun aturan) dapat terlaksana
dengan baik. Kemudian bagi peneliti sosial, pengukuran dilakukan untuk mengetahui
karakteristik hubungan sosial masyarakat. Berikut adalah variabel dalam pengukuran
modal sosial yang digunakan oleh beberapa penulis:
Tabel 2. Matriks penelitian modal sosial oleh para penulis
No
.
1.
Penelitian
Pranadji
(2006)
Daerah
penelitian
Kabupaten
Gunungkidu
l dan
Kabupaten
Boyolali
Metode
penelitian
kualitatif
dan
kuantitatif
(Konsep Modal
Sosial):

Tata nilai
 Kepercayaan
 Kerja sama
 Jaringan kerja
 Manajemen
sosial
Metode
Variabel penelitian
2.
Cahyono
dan
Adhiatma
(2012)
Kecamatan
Kertek,
Kabupaten
Wonosobo
Metode
kuantitatif
dan action
research
(Modal sosial):
 Nilai
kepercayaan
 Solidaritas
 Jaringan
kerjasama
3.
Suandi
(2007)
Pedesaan
Provinsi
Jambi
Metode
penelitian
kualitatif
dan
kuantitatif
(Modal sosial)
Dimensi struktural:
 Asosiasi (jumlah
dan
kebermanfaatan)
 Jaringan kerja
 Tingkat
partisipasi
Hasil
Terdapat
kesenjangan
modal sosial
diantara dukuh.
Hal ini dapat
menunjukan
kekuatan
pemerintahan desa
tidak mampu
menembus
masyarakat
lapisan bawah
Hasil penelitian
menunjukkan
bahwa terdapat
berbagai cara
untuk
meningkatkan
optimalisasi modal
sosial.
Faktor partisipasi
dalam asosiasi
lokal merupakan
faktor yang paling
berpengaruh
terhadap
kesejahteraan
ekonomi
38
4.
Satriawan
dan
Oktavianti
(2012)
Provinsi
Jawa Timur
Metode
penelitian
kualitatif,
Metode
ZOPP
perencanaa
n proyek
berorientasi
tujuan
Metode
penelitian
kualitatif
5.
Pontoh
(2010)
Kabupaten
Minahasa
Utara
6.
Purnomo,
Dharmawa
n dan
agusta
(2007)
Kabupaten
Kuningan
Metode
penelitian
kualitatif
7.
Kamarni
(2012)
Kecamatan
Koto
Tangah,
Kota Padang
Metode
penelitian
kuantitatif
Dimensi karakter:
 Kepercayaan
 Solidaritas
 Semangat kerja
(Modal sosial)
 Jaringan (luas
jaringan)
 Tindakan
bersama
(collective
action)
(Modal sosial)
 Nilai dan norma
 Kepercayaan dan
organisasai
sosial
 Pola sistem
produksi dan
reproduksi
 Politik lokal
(Modal sosial)

Nilai dan etika

Solidaritas

Modal sosial
“bentukan”
(kebijakan
PHBM)
(Modal sosial)




8.
Rokhani
(2012)
Kabupaten
Jember
Metode
penelitian
kuantitatif
Persatuan
kelompok
Adat istiadat
Kepercayaan
Tingkat
partisipasi
(Modal sosial)

Rasa
kepercayaan

Kerjasama

Jaringan

Norma

Toleransi

Kearifan lokal

Kebersamaan

Tanggung
jawab

Partisipasi
Kebergantungan
petani pada moda
produksi, investasi
menyebabkan
kemiskinan petani.
Modal sosial
belum
termanfaatkan
Hubungan sosial
kemasyarakat
masih sangat kuat
dimana kehidupan
sosial mereka
begitu sangat erat.
Modal sosial
“bentukan”
memuat peraturanperaturan yang
rumit dan sangat
birokratis.
Semakin luas
interaksi rumah
tangga dalam
persatuan
kelompok/lembag
a maka semakin
tinggi pula
kesejahteraan
rumah tangga
tersebut.
Terdapat beberapa
modal sosial yang
telah kuat yang
ada dalam
masyarakat.
Modal sosial yang
kuat dapat
dijadikan sebagai
modal untuk
mengembangkan
diversifikasi
produk olahan
kopi
39
9.
Badarudin
(2006)
Kabupaten
Pasaman,
Sumatera
Barat
Metode
penelitian
kualitatif
dan metode
kuantitatif
(Modal sosial)

Kepercayaan
(trust)

Pranata
(institusi)

Jaringan
sosial (social
networks)
10.
Primadona
Kecamatan
Rambatan,
Kabupaten
Tanah Datar,
Sumatera
barat
Metode
penelitian
kualitatif
(Modal sosial)

Parisipasi

Kepercayaan

Kepedulian
terhadap
sesama

Organisasi
sosial
Penjualan karet
sistem lelang
(kelembagaan
lokal)
mengakibatkan
petani karet
memiliki posisi
tawar (bargaining
position) yang
lebih kuat
terhadap harga.
Dari enam
kelompok tani
yang diteliti,
menurut hasil
penelitian terdapat
empat kelompok
tani yang dapat
dikatakan sudah
berhasil dalam
membangun
modal sosial yang
kecenderungannya
kuat didalam
kelompoknya
Berbagai variabel di atas adalah unsur modal sosial yang diteliti oleh para
penulis untuk melihat karakteristik modal sosial masyrakat. Dari tabel diatas dapat
terlihat beberapa penulis tidak mengukur tingkat kepercayaan (trust). Trust merupakan
nilai kepercayaan yang tumbuh untuk menjamin terjalinnya kerjasama yang selanjutnya
akan dihubungkan dengan variabel tingkat kesejahteraan. Pada beberapa hasil penelitian
dikemukakan terbentuknya rasa saling percaya adalah hasil interaksi yang melibatkan
anggota masyarakat dalam suatu kelompok ketetanggaan, asosiasi tingkat dukuh,
organisasi tingkat desa dan berkembangnya sistem jaringan sosial hingga melintasi
desa. Pada penulis yang menggunakan konsep modal sosial oleh Fukuyama, komponen
trust sangat diperlihatkan dan kemudian disajikan dalam analisis yang lebih mendalam.
Hal ini dikarenakan menurut para penulis tersebut, komponen trust adalah cikal bakal
dari terbentuknya modal sosial yang kuat dan sering kali menjadi variabel yang bernilai
tinggi.
Kesejahteraan
Kesejahteraan merupakan konsep yang digunakan untuk menyatakan kualitas
hidup suatu masyarakat atau individu di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu
(Suandi 2007). Konsep kesejahteraan atau rasa sejahtera yang dimiliki bersifat relatif,
tergantung bagaimana penilaian masing-masing individu terhadap kesejahteraan itu
sendiri. Dimensi kesejahteraan rakyat disadari sangat luas dan kompleks, sehingga suatu
taraf kesejahteraan rakyat hanya dapat terlihat jika dilihat dari suatu aspek tertentu.
40
Secara mikro terdapat beberapa istilah yang digunakan untuk menganalisis
tingkat kesejahteraan keluarga (Suandi 2007) antara lain: kesejahteraan finansial, status
ekonomi, situasi ekonomi, interaksi sosial, dan lain lain. Kesejahteraan juga dapat
dilihat melaui dua pendekatan, yakni: (1) kesejahteraan diukur dengan pendekatan
objektif dan (2) kesejahteraan diukur dengan pendekatan subjektif.
1. Kesejahteraan Objektif
Kesejahteraan ekonomi objektif keluarga di wilayah penelitian diukur dengan
besarnya pengeluaran keluarga (Suandi 2007). Suandi (2007) menjelaskan bahwa
pengeluaran keluarga yang dimaksud adalah pengeluaran yang diperuntukkan
pembelian kebutuhan keluarga sehari-hari, yaitu kebutuhan pokok dan lainnya.Dengan
demikian, pengeluaran keluarga dialokasikan untuk kebutuhan pangan, non pangan dan
investasi (dapat berupa biaya pendidikan). Terdapat pula indikator kesejahteraan BPS
(2006) yaitu: (1) kependudukan, meliputi jumlah, komposisi dan distribusi penduduk,
(2) Kesehatan dan gizi kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan
penduduk dengan menggunakan indikator utama angka kematian bayi, angka harapan
hidup, angka kesakitan dan status gizi, (3) pendidikan, (4) ketenagakerjaan, (5) taraf
dan pola konsumsi, dan (6) perumahan dan lingkungan. Indikator ini digunakan oleh
Pranadji (2006),
2. Kesejahteraan Subjektif
Kesejahteraan subjektif menurut Suandi (2007) adalah tingkat kesejahteraan
yang dilihat secara personal yang diukur dalam bentuk kepuasan dan kebahagiaan. Hal
ini sejalan dengan hasil penelitian Sumarti (1999) bahwa kesejahteraan subjektif
individu atau keluarga adalah wujud kebudayaan yang dihasilkan melalui proses
pengalaman hidup sekelompok manusia dalam hubungannya dengan lingkungan (fisik
dan sosial). Menurut Suandi (2007) tingkat kesejahteraan ekonomi subjektif dapat
diukur dari tingkat kepuasan pemenuhan kebutuhan pangan, non pangan dan investasi.
Berbagai modal sosial yang ada dipedesaan disinyalir telah mampu memberikan
kontribusi bagi masyarakat pedesaan. Hal tersebut diketahui melalui berbagai hasil
penelitian yang dianalisis. Peran modal sosial dalam pencapaian kesejahteraan
seharusnya bukan hanya merupakan kegiatan rutinitas bagi masyarakat, namun juga
harus mampu menampung berbagai permasalahan dan melakukan pemecahan masalah
secara kolektif. Upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui
optimalisasi modal sosial seharusnya didukung dengan kebijakan pemerintah yang tidak
hanya fokus terhadap penyedian moda produksi.
SIMPULAN
Hasil Rangkuman dan Pembahasan
Modal sosial menurut berbagai ahli dapat didefinisikan kembali dalam lingkup
komuitas sebagai sumberdaya yang muncul dari hasil interaksi dalam suatu komunitas,
baik antar individu maupun dengan institusi yang melahirkan ikatan emosional berupa
kepercayaan, jaringan-jaringan sosial, nilai-nilai dan norma-norma yang membentuk
struktur masyarakat yang berguna untuk koordinasi dan kerjasama dalam mencapai
tujuan bersama. Modal sosial dalam masyarakat hendaknya dipahami bahwa di dalam
suatu komunitas terdapat keragaman (agama, budaya, kepentingan, status sosial,
pendidikan, pendapatan, keahlian, gender) dari anggotanya, sehingga perlu adanya
pemahaman yang mendalam terhadap keragaman tersebut. Sementara itu pemahaman
nilai-nilai, norma menjadi hal yang penting dalam mewujudkan modal sosial yang kuat
(Cahyono dan Adhiatma 2012).
Modal sosial telah diukur dalam beragam metode dan variabel. Dalam
pengukuran modal sosial dapat dinyatakan bahwa untuk mendapatkan satu ukuran
sebagai ukuran tunggal dan benar adalah hal yang sulit dilakukan. Kesulitan
dikarenakan lingkup modal sosial demikian luas. Kemudian di dalam modal sosial
terdapat beragam tipologi modal sosial yang membedakan tipe modal sosial yang ada
pada masyarakat. Beragam pendekatan diperlukan berkaitan dengan unit analisisnya.
Kesulitan juga dihadapi karena lingkup telaah modal sosial bukanlah individua tetapi
pada kelompok, komunitas atau kelompok sosial tertentu yang dinamis. Pada usulan
penelitian baru, akan memfokuskan lingkup modal sosial pada rumah tangga tani di
pedesaan.
Kajian modal sosial dalam level komunitas modal sosial akan mencerminkan
nilai-nilai solidaritas dan menunjukan tipe hubungan sosial Field (2010). Tipe hubungan
sosial tersebut dapat berupa (Woolcock 2001) dalam Field (2010): (1) modal sosial
yang mengikat (bounding capital), yang berarti ikatan antar-orang dalam situasi yang
sama, seperti keluarga dekat, teman akrab dan rukun tangga, (2) modal sosial yang
menjembatani (bridging capital), yang mencakup ikatan yang lebih longgar dari
beberapa orang, seperti teman jauh dan rekan kerja, dan (3) modal sosial yang
menghubungkan (linking capital), yang menjangkau orang-orang yang berbeda pada
situasi berbeda seperti mereka yang sepenuhnya ada di luar komunitas, sehingga
mendorong anggotanya memanfaatkan banyak sumber daya daripada yang tersedia di
dalam komunitas.
Menurut pustaka yang telah dikaji, berbagai modal sosial yang ada di
masyarakat disinyalir telah mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dengan
berdasarkan pada unsur modal sosial yang ada dimasyarakat baik nilai sosial maupun
nilai budaya. Unsur modal sosial pada dasarnya sudah dimiliki oleh masyarakat desa
sebagai modal sosial. Namun demikian untuk mencapai dan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi di pedesaan, keberadaan modal sosial masih perlu ditingkatkan
perannya dengan melibatkan masyarakat desa secara proaktif. Kesejahteraan ekonomi
keluarga dapat diukur dengan dua pendekatan, yakni pendekatan objektif dan subjektif.
Pendekatan objektif mengguanakan pengukuran yang ditetapkan oleh berbagai institusi
seperti BKKBN, BPS (2006),World Bank dll. Sedangkan pendekatan subjektif diukur
melalui tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan pangan,
nonpangan dan investasi.
42
Usulan Kerangka Analisis Baru
Berdasarkan hasil analisis dan kajian referensi dari berbagai literatur, program
pemerintah belum mengintegrasikan modal sosial asli yang terdapat masyarakat
terhadap kebijakan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. Kebijakan
pemerintah cenderung untuk membuat modal sosial bentukan. Modal sosial bentukan
tersebut dapat berupa kelembagaan yang sistematika peraturannya menyulitkan
masyarakat. Pemerintah menetapkan UU Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani. Implementasi Undang-Undang tersebut berupa bentuk
kebijakan yang dapat diberikan untuk melindungi kepentingan petani. Peraturan
tersebut lebih memfokuskan pada pengadaan moda produksi daripada penguatan modal
sosial yang telah ada dimasyarakat. Semua kelompok masyarakat (suku bangsa) di
Indonesia pada hakekatnya mempunyai potensi-potensi sosial budaya yang dapat
menunjang pembangunan. Salah satu potensi sosial tersebut adalah modal sosial.
Modal sosial menurut berbagai ahli dapat didefinisikan kembali dalam lingkup
komunitas sebagai sumberdaya yang muncul dari hasil interaksi dalam suatu komunitas,
baik antar individu maupun dengan institusi yang melahirkan ikatan emosional berupa
kepercayaan, jaringan-jaringan sosial, nilai-nilai dan norma-norma yang membentuk
struktur masyarakat yang berguna untuk koordinasi dan kerjasama dalam mencapai
tujuan bersama. Variabel-variabel yang diambil untuk diteliti dalam penelitian baru ini
adalah unsur modal sosial berdasarkan definisi baru. Variabel atau unsur modal sosial
ini kemudian digolongkan berdasarkan tipologi modal sosial menurut Woolcock. Tipe
modal sosial dan unsur yang terdapat di dalamnya adalah: (1) tipe modal sosial yang
mengikat (bounding capital): tingkat kepercayaan dan nilai-nilai sosial, (2) tipe modal
sosial yang menjembatani (bridging capital): jaringan, solidaritas dan tingkat partisipasi
pada kelembagaan, (3) tipe modal sosial yang menghubungkan (linking capital):
jaringan, tingkat partisipasi, dan kebergantungan terhadap komunitas lain. Identifikasi
tipologi modal sosial berdasarkan unsur-unsur modal sosial dapat dilihat dalam tabel
berikut:
43
Tabel 3. Identifikasi tipologi modal sosial berdasarkan unsur-unsur modal sosial
Tipologi modal sosial
Unsur modal sosial
Bounding
Bridging
Linking
Jaringan
√
√
Solidaritas
√
Tingkat partisipasi
√
Kepercayaan
√
Nilai-nilai sosial
√
Kebergantungan
terhadap komunitas
lain
√
√
Tingkat kepercayaan diukur dalam bentuk tingkat keyakinan seseorang terhadap
tindakan secara konsisten pada saat terjalinnya hubungan antar individu atau kelompok
dalam komunitas. Tingkat kepercayaan dapat dilihat dari: (1) kesediaan individu untuk
berinteraksi dan membantu individu lain, (2) toleransi terhadap situasi sosial, dan (3)
tingkat komitmen menjaga perjanjian dalam bermasyarakat. Tingkat kepercayaan
merupakan elemen tata nilai yang ada pada masyarakat yang melekat dalam kehidupan
sehari-hari yang menjadi sumberdaya sosial. Variabel penerapan nilai sosial dapat
diketahui melalui: (1) nilai-nilai tradisional, (2) nilai-nilai agama yang diyakini, dan (3)
perasaan senasib
Variabel modal sosial selanjutnya adalah jaringan sosial. Setelah terdapat
kepercayaan antar individu maupun kelompok dalam bermasyarakat, maka akan
memungkinkan terdapat jaringan sosial yang eksistensinya mengalami keberlanjutan.
Variabel jaringan sosial dilihat melalui: (1) kuatnya ikatan kekerabatan, (2) tingkat
kebermanfaatan kelembagaan yang diikuti, dan (3) tingkat keterbukaan informasi akan
sumberdaya. Selanjutnya variabel partisipasi individu pada kelembagaan atau asosiasi
penting bagi kelembagaan yang individu ikuti karena sangat menentukan kemajuan dan
peran kelembagaan. Partisiapsi berkaitan dengan pemanfaatan jaringan pada komunitas.
Individu dapat memanfaatkan jaringan yang terjalin antar individu, maupun individu
dengan kelompok. Partisipasi dalam kelembagaan dilihat melalui: (1) jumlah
kelembagaan lokal yang diikuti, (2) keaktifan dalam pertemuan, dan (3) tingkat
pengambilan yang dilakukan oleh individu.
Variabel yang akan diukur dalam modal sosial lainnya adalah solidaritas,
solidaritas komnitas dapat diketahui melalui: (1) tingkat homogenitas, (2) tingkat
kepeduliaan, dan (3) tingkat persatuan kelompok. Kemudian terdapat variabel modal
sosial yang terakhir adalah kebergantungan. Kebergantungan yang dimaksud adalah
tingkat kebergantungan individu terhadapat komunitas lain. Variabel ini akan diukur
dari penggunaan sumberdaya dari luar komunitas dan pemanfaatan modal dari
komunitas lain.
44
Selanjutnya karakteristik modal sosial yang dilihat berdasarkan variabel-variabel
tersebut akan dihubungkan dengan kesejahteraan ekonomi komunitas petani dan dilihat
tingkat pengaruhnya. Kesejahteraan ekonomi suatu komunitas dapat dibedakan menjadi
kesejahteraan objektif dan subjektif. Tinggi rendahnya tingkat kesejahteraan objektif
diukur dari alokasi pengeluaran untuk kebutuhan pangan, non pangan dan investasi.
Kesejahteraan subjektif dapat dilihat dalam skala individu maupun keluarga mengenai
tingkat kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan. Kesejahteraan subjektif adalah
kesejahteraan menurut persepsi individu yang merasakan seberapa tinggi
kesejahteraannya, bukan dari persepsi orang lain. Tinggi rendahnya kesejahteraan
subjektif dilihat pada tingkat kepuasan pemenuhan kebutuhan pangan, non pangan dan
investasi. Kajian modal sosial tersebut dijabarkan dalam usulan kerangka penelitian
baru sebagai berikut:
45
BOUNDING CAPITAL
1. Tingkat kepercayaan
- Kesediaan
- Toleransi
- Tingkat komitmen
2. Nilai sosial
- Nilai-nilai tradisional
- Nilai-nilai agama yang
diyakini
- Perasaan senasib
BRIDGING CAPITAL
1. Jaringan
- Ikatan kekerabatan
- Kebermanfaatan
asosiasi yang diikuti
- Keterbukaan informasi
2. Solidaritas
- Tingkat homogenitas
- Tingkat kepedulian
- Tingkat persatuan
kelompok
3. Tingkat partisipasi
- Jumlah kelembagaan
lokal yang diikuti
- Keaktifan dalam
pertemuan
- Pengambilan keputusan
LINKING CAPITAL
1. Jaringan
- Ikatan Kekerabatan
- Kebermanfaatan
asosiasi yang diikuti
- Keterbukaan informasi
2. Tingkat partisipasi
- Jumlah kelembagaan
lokal yang diikuti
- Keaktifan dalam
pertemuan
- Pengambilan keputusan
3. Kebergantungan
- Penggunaan
sumberdaya dari luar
komunitas
- Pemanfaatan modal dari
komunitas lain
Gambar 1. Usulan kerangka pemikiran baru
KESEJAHTERAAN
OBJEKTIF
- Kebutuhan pangan
- Kebutuhan non
pangan
- Kebutuhan
investasi
KESEJAHTERAAN
SUBJEKTIF
- Pemenuhan
kebutuhan pangan
- Pemenuhan
kebutuhan non
pangan
- Peneuhan
keinvestasi
46
Pertanyaan Penelitian Selanjutnya
Modal sosial dapat berupa sumberdaya yang telah ada di masyarakat dan dapat
dimanfaatkan bersama untuk mencapai tujuan bersama. Penentuan tipe modal sosial
yang digagas oleh Woolcock (2001) dalam Field (2010) dapat berdasarkan variabel atau
unsur modal sosial dari para ahli. Berikut tipe modal sosial dan unsur yang terdapat di
dalamnya: (1) tipe modal sosial yang mengikat (bounding capital): tingkat kepercayaan,
nilai sosial, perasaan senasib, (2) tipe modal sosial yang menjembatani (bridging
capital): jaringan, solidaritas, dan tingkat partisipasi pada kelembagaan, (3) tipe modal
sosial yang menghubungkan (linking capital): jaringan, tingkat partisipasi, dan
kebergantungan terhadap komunitas lain. Pertanyaan penelitian yang akan dikaji dalam
penelitian selanjutnya adalah sejauh mana peran modal sosial terhadap kesejahteraan
ekonomi rumah tangga petani. Berdasarkan pertanyaan penelitian tersebut dapat
dirincikan pertanyaan pendukung, yaitu:
1. Tipe modal sosial apa yang paling berperan dalam kesejahteraan objektif rumah
tangga petani?
2. Tipe modal modal sosial apa yang paling berperan dalam kesejahteraan subjektif
rumah tangga petani?
3. Tipe modal sosial apa yang paling berperan dalam kesejahteraan rumah tangga
petani?
DAFTAR PUSTAKA
Alfiasari, Martianto A, dan Dharmawan A.H. Modal Sosial dan Ketahanan Pangan
Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Tanah Sareal dan Kecamatan Bogor
Timur, Kota Bogor. Jurnal Sodality Vol.3 No. Dapat diunduh di
http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/view/5869
Badaruddin. 2006. Pemanfaatan Modal Sosial dalam Upaya Peningkatan Kesejahteraan
Keluarga dan Komunitaas (Studi pada Komunitas Petani Karet di Kecamatan
Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat). Jurnal Wawasan. Vol. 12 No. 2.
[diunduh
9
November
2014].
Dapat
diunduh
di
http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JSEP/article/viewFile/800/616
Cahyono B, Adhiatma A. 2012. Peran Modal Sosial dalam Peningkatan Kesejahteraan
Masyarakat Petani Tembakau di Kabupaten Wonosobo. [Prociding seminar]
Makalah disampaikan pada seminar Conference In Business, Accounting and
Management (CBAM) Vo.1 No.1 [Internet]. [diunduh 10 September 2010].
Dapat diunduh di:
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/view/128/104
Field J. 2010. Modal Sosial (Alih bahasa dari bahasa Inggris oleh NURHADI). Bantul
[ID]: Kreasi Wacana 272 hal. [Judul asli Social Capital]
Inayah. 2012. Peranan Modal Sosial dalam Pembangunan. Jurnal Pengembangan
Humaniora Vol.12 No.1 [Internet]. [diunduh 20 September 2014]. Dapat di
undu di:
http://www.polines.ac.id/ragam/index_files/jurnalragam/paper_6%20apr%20201
2.pdf
Kamarni. 2012. Analisis Modal Sosial sebagai Salah Satu Upaya dalam Pengentasan
Kemiskinan (Studi Kasus: Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Koto Tangah
Kota Padang). Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Vol.3 No.3 [Internet].
[diunduh pada 15 Oktober 2014]. Dapat diunduh di: http://www.journal.unitaspdg.ac.id/downlotfile.php?file=Jur.%20Manajemen%20(4)%20Vol.3%20No.3%
20Sep%202012.pdf.
Pontoh O. 2007. Identifikasi Dan Analisis Modal Sosial dalam Rangka Pemberdayaan
Masyarakat Nelayan Desa Gangga Dua Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal
Perikanan dan Kelautan Tropis Vol. 6 No.3 [Internet]. [diunduh 15 Oktober
2014]. Dapat diunduh di:
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/JPKT/article/view/156/122
Pranadji T. 2006. Penguatan Modal Sosial Untuk Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan
dalam Pengelolaan Agroekosistem Lahan Kering. Studi Kasus: Desa-desa (Hulu
DAS) ex Proyek Bangunan Lahan Kering, Kabupaten Boyolali. Jurnal Agro
Ekologi Vol. 24 No.2. [Internet]. [diunduh 10 September 2014]. Dapat diunduh
di: http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/JAE%2024-2d.pdf
48
Primadona. 2012. Penguatan Modal Sosial untuk Pemberdayaan Masyarakat dalam
Pembangunan Pedesaan (Kelompok Tani Kecamatan Rambatan). Jurnal
Polibisnis
Vol.
4
No.1.
[Internet].
Dapat
diunduh
di:
http://ojs.polinpdg.ac.id/index.php/JEB/article/download/645/610
Purnomo A, Dharmawan A.H, Agusta I. 2007. Transformasi Struktur Nafkah Pedesaan:
Pertumbuhan “Modal Sosial Bentukan” dalam Skema Pengelolaan Hutan
Bersama Mayarakat di Kabupaten Kuningan Vol. 1 No.2 [Internet]. Dapat
diunduh di:
http://jamu.journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/download/5931/4608
Rokhani. 2012. Penguatan Modal Sosial dalam Penanganan Produk Olahan Kopi Pada
Komunitas Petani Kopi di Kabupaten Jember. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian
Vol.6 No.1. [diunduh pada 15 Oktober 2014]. Dapat diunduh di:
http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JSEP/article/viewFile/800/616.
Rustanto B. 2007. Penguatan Keluarga Miskin Melalui Penguatan Modal Sosial. Jurnal
Informasi Vol. 12 No. 3. [diunduh 10 oktober 2014]. Dapat diunduh di:
http://puslit.kemsos.go.id/upload/post/files/1c2a8d2e06b07e498bc340d1a9c323e
7.pdf
Satriawan B. 2012. Upaya Pengentasan Kemiskinan pada Petani Menggunakan Model
Tindakan Kolektif Kelembagaan Pertanian. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol.
13 No.1 [Internet]. [diunduh 20 September 2014]. Dapat diunduh di:
http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/123456789/1732/07Bondan.pdf?sequence=1
Sembiring S, Berutu L. 2005. Modal Sosial dalam Komunitas Kuta Etnis Karo dan
Relevansinya dengan Otonomi Daerah. Jurnal Universitas Sumatera Utara.
Suandi[. 2007. Modal Sosial dan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga di Daerah Perdesaan
Provinsi Jambi. [Disertasi]. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
[diunduh 20 September 2007]. Dapat diunduh di:
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/40884/2007sua.pdf?sequ
ence=11
Sukmana O. 2005. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Miskin Pedesaan melalui
Pengembangan Institusi dan Modal Sosial lokal. Jurnal Humanity Vol.1 No. 1
Sumarti, Titik M.C. 1999. “Persepsi Kejahteraan dan Tindakan Kolektif Orang Jawa
dalam Kaitannya dengan Gerakan Masyarakat dalam Pembangunan Keluarga
Sejahtera di Pedesaan. [Disertasi]. Program Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2013. Jumlah Penduduk Miskin, Persentase Penduduk
Miskin dan Garis Kemiskinan, 1970-2013. [Internet]. Dapat diunduh di:
http://bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=23&no
tab=7
49
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2013. Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian menurut
Golongan Luas Lahan yang Dikuasai Tahun 2003 dan 2013. [Internet]. Dapat di
unduh di:
http://st2013.bps.go.id/dev/st2013/index.php/site/tabel?searchtabel=Jumlah+Rumah+Tangga+Usaha+Pertanian+menurut+Golongan+Luas+La
han+yang+Dikuasai+Tahun+2003+dan+2013&tid=21&searchwilayah=Indonesia&wid=0000000000&lang=id
[UU] Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.
[Internet]. Dapat diunduh di:
http://perundangan.pertanian.go.id/admin/uu/UU%20No.19%20Tahun%202013
%20Perlindungan%20&%20Pemberdayaan%20Petani.pdf
RIWAYAT HIDUP
Nurul Fauziah dilahirkan di Brebes pada tanggal 3 Mei 1993 dari pasangan
Hendro Sulistiyono dan Siti Khodijah. Penulis menyelesaikan pendidikan formalnya di
Kabupaten Brebes. Pendidikan formal yang pernah dijalani adalah di SD Muhammadiah
Brebes, SMP Negeri 2 Brebes dan SMA Negeri 1 Brebes. Pada tahun 2011 penulis
diterima sebagai mahasiswi Institut Pertanian Bogor dengan Program Studi Sains
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Pada semester ke-3 tepatnya pada tahun
2012, hingga semester ke-8 penulis adalah penerima Beasiswa Angkatan 16 Sosek IPB.
Selama penulis menimba ilmu di Institut Pertanian Bogor, penulis aktif dalam
organisasi. Penulis aktif sebagai anggota KPMDB (Kumpulan Pelajar Mahasiswa
Daerah Brebes) pada tahun 2012 sampai tahun 2013, kemudian sebagai bendahara pada
tahun 2014. Pada tahun 2013 penulis bergabung dalam kepengurusan HIMASIERA
(Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-Ilmu Komunikasi dan Pengembangan
Masyarakat). Dalam kepengurusan tersebut penulis menjadi sekretaris divisi public
relation. Prestasi yang pernah diraih oleh penulis adalah sebagai juara 2 menulis cerita
pendek pada acara HIMASIERA OLAH TALENTA pada tahun 2012. Kemudian
menjadi finalis kategori cerita pendek pada acara Al-Qalam Writification di Universitas
Pendidikan Indonesia.
Download