pendahuluan - Fakultas Teknik

advertisement
KELAYAKAN BATU GUNUNG MADURA
SEBAGAI AGREGAT KASAR
PADA CAMPURAN BETON
Moch. Hazin mukti
Universitas Madura, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik
Jl. Raya Panglegur KM 3,5, Pamekasan 69317
E-mail : [email protected] / [email protected] /
[email protected]
ABSTRAK
Beton adalah salah satu alternatif dari bahan konstruksi dari suatu bangunan, yang mana susunannya
terdiri dari agregat kasar dan agregat halus ( kelrikil dan pasir ) yang di ikat dengan semen. Didaerah
madura dalam pembuatan beton pada umumnya sebagai campuran beton dipakai batuan gunung kapur
(sebagai agregat kasar). Dari sampel yang kami uji dengan bejana Los Angeles ternyata batuan tersebut
mempunyai derajad kekerasan kurang baik yaitu terjadi pembubukan ± 40%. Berdasarkan variasi
campuran dari 1:1, 5:2, 5:1, 2:3 dengan ujin tekan beton di dapat tegangan karakteristik Ω bk 180kg/cm² 225kg/cm². Berdasarkan hasil percobaan di atas dengan bahan batuan uji tersebut dapat dipakai pada
mutu beton kelas menengah yaitu K-125 sampai K-225.
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Sejalan dengan lajunnya perkembangan
suatu negara, khususnya Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang oleh pemerintah
direncanakan melalui Pembangunan Jangka
Panjang (REPELITA), tampak sekali
perubahan perubahan yang telah kita lihat.
Perubahan perubahan yang kita inginkan
tersebut adalah tidak lain agar atau
meningkatkan kesejahteraan masyarakat
disamping pula untuk mengangkat derajat
Negara Republik Indonesia di mata
internasional.
Hal
tersebut
diwujudkan
dalam
pembangunan di segala bidang, yang paling
tampak dalam pembangunan tersebut adalah
pembangunan fisik. Pembangunan fisik ini
seperti gedung, jalan, bendungan dan
sebagainya. Yang mana membutuhkan
bahan atau material seperti kayu, batu, pasir,
dan bahan tambang akan membawa dampak
lingkungan yang tidak kita inginkan, dengan
penggunaan bahan material sesuai dengan
rencana atau aturan yang ada akan
mengurangi dampak lingkungan.
Penyediaan material untuk memenuhi
kebutuhan dalam pembangunan fisik
menjadi dilema bagi daerah yang jauh dari
tempat penambangan atau tempat yang
memproduksi material tersebut. Unsur
material yang sering digunakan dalam
pembangunan fisik adalah paseir, semen,
besi, kayu dan sebagainya. Semakin jauh
tempat dan material yang kita inginkan
perhitungan biaya bertambah pula.
Berangkat dari pemikiran tersebut dan
ditambah pengalaman dalam mengutip
pertemuan ilmiah kami tertarik untuk
mengangkat atau meneliti material yang ada
di madura ini. khususnya bahan bangunan
yang ada di madura seperti batu gunung
yang dapat digunakan sebagai bahan agregat
beton atau jalan. Karena di dalam peraturan
yang ada dan paling sering digunakan di
indonesia adalah agregat yang berasal dari
sungai yang warnanya hitam ( agak hitam ).
1
Dengan dicanangkannya daerah madura
sebagai daerah perluasan industri jawa
timur, akan tampak pesat pembangunan di
daerah
madura
nantinya,
terutama
pembangunan fisik sehingga membutuhkan
bahan material yang cukup banyak.
Sehingga kelayakan material lokal seperti
batu gunung perlu diteliti, mengingat di
madura batuan berasal dari batu kapur
(limestone). Ini dapat terlihat dari gunung
gunung yang ada di pulau madura adalah
gunung kapur. Dengan kondisi demikian
maka batuan kapur inilah yang banyak
dipakai sebagai agregat kasar pada jalan
maupun kasar beton.
PERUMUSAN MASALAH
Dengan uraian tersebut di atas tampak
potensi batuan dari gunung dapat
dimanfaatkan karena disamping jumlahnya
yang memadai juga harga bisa lebih murah
daripada mendatangkan batuan dari luar
madura. Sehingga pemakaian batuan kapur
ini sebagai agragat kasar pada pembuatan
beton akan menguntungkan.
Permasalhannya apakah layak batuan kapur
tersebut bila digunakan sebagai agregat
kasar pada campuran beton, sehubungan
dengan karakteristik yang membentuk
batuan tersebut adalah kapur dan
kekerasannya apakah akan berpengaruh
terhadap mutu beton yang dihasilkan, dan
sampai seberapakah tegangan karakterisktik
yang bisa dicapai oleh beton yang
dibentuknya tersebut.
Dengan permasalaha yang timbul tersebut
perlu adanya penelitian batuan kapur
tersebut agar diketahui kelayakannya bila
dipakai sebagai agregat kasar pada
campuran beton.
TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui kelayakan batuan kapur (batu
gunung) yang terdapat di madura untuk
dipakai sebagai agregat kasar dalam
campuran beton dengan mengacu pada
pedoman pedoman yang ada, dan untuk
mengetahui besar tegangan karakteristik
yang bisa dicapai oleh beton bila memakai
agregat kasar batuan kapur yang ada di
madura ini.
Dengan penelitian ini diharapkan dapat
dibuat anggapan atau semacam pedoman,
sehingga dalam menentukan tegangan
karakteristik yang kita inginkan dapat kita
pikirkan pula campuran yang harus dibuat.
BATASAN BATASAN PENELITIAN
Faktor faktor yang mempengaruhi dalam
suatu penelitian biasanya banyak sekali
sehingga menjadi hambatan dalam jalannya
penelitian, dan menghindarkan hambatan
tersebut maka kami mengadakan suatu
batasan
batasan
serta
pengendalian
pengendalian terhadap material (bahan)
yang dipakai dalam membuat benda uji
beton sebagai berikut:
1. Semen ( memeakai semen gresik )
2. Pasir (dalam penelitian ini memakai
pasir hitam sebagai agregat halus )
3. Air ( air PDAM )
4. Faktor air semen = 0,6 (semua
percobaan )
5. Suhu atau temperatur ruangan selalu
dipertahankan
6. Dalam penelitian ini dibuat 5 ( lima )
macam campuran beton masing
masing campuran beton tersebut
dibuat 15 buah benda uji.
7. Lima ( 5 ) macam campuran beton
tersebut dibuat perbandingan sebagai
berikut :
Campuran beton
1.
1:1, 1:5, 2:5
2.
1:1, 1,75:2,75
3.
1:2:3
4.
1:2:2,5
5.
1:2:2,75
2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi Agregat
Agregat Kasar adalah yang dipakai
dalam
pembuatan
beton
yang
mempunyai ukuran 5 mm.
2. Jenis batuan yang digunakan sebagai
agregat.
Ada tiga jenis batuan yang digunakan
sebagai sebagai agregat kasar maupun
agregat halus, yaitu :
1. Batuan endapan, yang terjadi akibat
timbunan endapan maupun tiupan
angin.
Contoh : Batu Pasir, Batu tulis dan
batu kapur.
2. Batuan vulkanik, yang terjadi akibat
pendinginan yang diikuti oleh
pembekuan bahan bahan magma
yang meleleh.
Jenisnya :
 Batuan
ekstrusif,
akibat
tertuangnya bahan bahan pada
permukaan bumi
 Batuan instrusif, terjadi akibat
pendinginan dan pembekuan
didalam kerak bumi
3. Batuan metamorfik, yang terjadi
akibat modifikasi dari batuan
endapan dan batuan vulkanik
Contoh : Marmer, quarsit.
Dari ketiga jenis batuan diatas, yang
mempunyai yang benar ditinjau dari
mutu maupun kekuatan tekan yang
akan dihasilkan adalah jenis batu
kapur.
Jenis agregat kasar :
1. Batu pecah alami, yaitu batuan / kerikil
yang didapat sebagai hasil dis integarasi
alami dari batuan batuan
2. Batuan pecah yang didapat dari
pemecahan batu ( crushed stone )
Cara penilaian agregat
Untuk menilai cocok atau tidaknya suatu
bahan dipakai sebagai agregat beton
tergantung dari :
1. Ukurannya serta gradasinya
2. Kebersihannya
3. Kekerasannya
4. Bentuk butirnya
5. Bentuk permukaan
Kelima syarat diatas tercakup dalam
perumusan SII 0052-80, sebagai berikut :
1. Modulus Kehalusan
2. Kadar lumpur
3.a. Kadar zat organnik
Ditentukan dengan larutan
sulfat 3%
3.b. Kadar yang di uji dengan
goresan batang tembaga
4.a. Kekerasan batu dibanding
pasir bangka
4.b. Kekerasan los angeles
5.
6.
Sifat kekal di uji dengan
larutan jenuh garam sulfat :
a.
Natrium sulfat
b. Magnesium
sulfat
Tidak bersifat reaktif
7.
Batuan pipih
8.
Susunan grading
Agregat
Kehalusan
1,5-3,8
5%
Agregat
Kasar
6,0-7,1
1%
Warna
standart
-
-
5%
2,2
-
-
Lihat
tabel 2
10%
12%
15%
18%
BS 8821973
20%
berat
BS 8821973
Tabel 2. Kekerasan Batuan
Kelas dan mutu Beton
menurut PBI 1971
Beton kelas I dan mutu B0
dan Mutu B1
Beton kelas II dan atau beton
mutu K-125, K-175, K-225
Beton Kelas III dan atau
beton mutu di atas K-225 atau
beton pertekan
Kekerasan dengan bejana
geser Los Angeles, Bagian
hancur – tembus ayakan
1,7mm maksimum ( % )
40-50
27-40
27
HIPOTESA
Limestone madura jika memenuhi syarat
syarat seperti yang disebutkan diatas
dengan campuran : 1:2:3 dapat mencapai
kekuatan antara K-175 – K-225
3
METODELOGI PENELITIAN
1. VARIABEL PENELITIAN
Yang diperlukan sebagai variabel bebas
pada penelitian ini adalah perbandingan
campuran beton sedangkan faktor lain
seperti
pasir,
gradasi
agregat
dikendalikan.
2. POPULASI
Material benda uji yang digunakan
dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Semen, menggunakan semen gresik
2. Air, menggunakan semen gresik
3. Pasir, menggunakan pasir dari lestri
4. Kerikil, di ambil dari desa rekkerrek
kabupaten pamekasan. Sedangkan
kerikil pembanding di ambil dari
daerah sekitar malang.
3. MACAM MACAM PERCOBAAN
DAN JUMLAH SAMPEL
Macam macam percobaan yang
dilakukan dan jumlah sampel yang
dapat dibuat pada tabel di bawah ini :
MACAM
Pengujian Pasir

Percobaan
Gradasi

Percobaan berat
jenis
dan
absorbsi
Pengujian Kerikil

Percobaan
Gradasi

Percobaan berat
jenis
dan
absorbsi

Percobaan abrasi

Percobaan
uji
tekan
JUMLAH
JUMLAH
SAMPEL
2
2
2
2
2
2
2
2
1
6
1
90
4. CARA PENGUJIAN DAN
ANALISIS SAMPEL
Metode yang dipakai untuk percobaan /
pengujian dan analisis data, disesuaikan
dengan pedoman pedoman yang berlaku
sebagai berikut :
 Analisis saringan berdasarkan BS
882-1973
 Uji kekerasan bebatuan memakai
bejana geser Los Angeles sesuai
ASTM C 131
 Uji tekan beton dan analisisnya
berdasarkan PBI-1971, dimana
tegangan karakteristik rencana
dirumuskan sebagai berikut :
Ωbk = Ωbm-k.s
Dimana :
Ωbk = tegangan karakteristik beton
yang didapat
Ωbm = tegangan rata rata beton dari
sejumlah benda uji ( N )
S = standart deviasi
=
K = konstanta yang tergantung dari
jumlah benda uji. Jika n > 20,
maka k=1,64. Jika n<20, maka
harga k seperti tabel berikut ( 2 )
:
N
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Sr
TERCAPAI
1.92
1.87
1.83
1.80
1.78
1.75
1.73
1.71
1.69
1.68
1.65
1.65
1.64
Sr TIDAK
TERCAPAI
2.38
2.24
2.12
2.04
1.96
1.90
1.85
1.80
1.77
1.73
1.69
1.65
1.64
5. LANGKAH PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode test
laboratorium untuk bahan bahan yang
dipergunakan beserta benda uji kubus
betonnya.
4
HASIL PENELITIAN
2,36
129,10
12,99
20,10
79,89
1,18
173,30
17,33
37,43
62,57
SPESIFIKASI PASIR
0,60
205,60
20,56
57,99
40,01
1.
0,30
177,50
17,75
75,74
24,26
0,15
178,60
17,86
93,6
6,40
0,075
53,60
5,36
98,96
1,04
Jumlah
999,55
Pemerikasaan Berat Jenis dan Absorbsi
Pasir
a. Air yang masuk dalm piknometer
sampai tanda 500cc, air yang
dikeluarkan 310cc = A
b. Tambah air setelah satu jam pertama
8cc = B
c. Tambah air setelah satu jam kedua
1cc = C
d. Jumlah air yang masuk dalam
piknometer : W=A+B+C= 319CC
e. Volume agregat halus V= volume
total – W = 500-319=181cc
f. Berat agregat halus setelah di oven :
A=490,10gr
g. Berat jenis sebelum di oven : Gs=
Vol Total / V = 500/181=2,76
h. Berat jenis setelah di oven : Gs= A/V
=490,10/181=2,76
i. Absorbsi= ( Vol.Total-A ) / A *
100% = ( 500-490,10 ) /
490,10*100%=2,02%
j. Standart : Berat Jenis 2,5gr/cm³
Absorbsi < 2,3%
2. Pemeriksaan Gradasi Butiran
Pasir sebanyak 1000gr di oven selama
24jam, kemudian dimasukkan kedalam
ayakan yang tersusun sebagaimana
tersebut dibawah ini.
Berat yang tersisa pada masing masing
ayakan kemudian ditimbang, dan
hasilnya sebagaimana tercantum di
bawah ini.
Lubang
Ayakan
Sisa
Ayakan
(kg)
%
40
0
0
Jumlah
Sisa
Ayakan
Rata rata
(%)
100
25
0
0
100
100
Jumlah
Yang
Lewat
Ayaka
490,89
*Modulus halus Pasir = 490,89 / 100 = 4,9
P
E
R
S
E
N
T
A
S
E
L
O
L
O
S
%
UKURAN AYAKAN ( mm )
GRAFIK GRADASI AGREGAT HALUS BS 882-1973
SPESIFIKASI KERIKIL
Pemeriksaan Berat Kerikil Dan Absorbsi
Kerikil :
a. Berat kerikil sebelum di oven = 500gr
(B)
b. Berat kerikil terendam air = 2830gr (C)
c. Berat kerikil setelah di oven = 4680gr
(A)
d. Berat jenis sebelum di oven :
Gs = B / (B-C) = 5000/(5000-2830)
=2,30
e. Berat jenis setelah di oven :
Gs = A / (B-C) = 4680/(5000-2830)
=2,156
f. Absorbsi = (B-A) / A = (5000-4680)
/4680*100% = 6,84%
100
19
0
0
100
100
9,5
0
0
100
100
4,75
71,10
7,11
7,11
92,89
Pemeriksaan Gradasi Kerikil
Kerikil yang di ayak sebanyak 10kg,
susunan ayakan dan hasil dari ayakan
dengan cara yang sama seperti pada
5
pemeriksaan gradasi pasir diperlihatkan
dibawah ini :
LUBANG
AYAKAN
(mm)
38.1
19.0
9.50
4.75
JUMLAH
YANG
LEWAT
AYAKAN
100
91.82
0.94
0
P
E
R
S
E
N
T
A
S
E
L
O
L
O
S
%
UKURAN AYAKAN ( mm )
GRAFIK GRADASI AGREGAT HALUS BS 882-1973
PERCOBAAN ABRASI
Percobaan Abrasi untuk menguji kekerasan
dari batu kerikil dilakukan mengikuti
prosedur yang ada pada ASTM C 131,
sebagai berikut :
1. Berat benda uji : 5000gr dengan
perincian sebagai berikut :
 Tertahan ayakan 1” =1250gr
 Tertahan ayakan ¾” =1250gr
 Tertahan ayakan ½” =1250gr
 Tertahan ayakan 3/8 ”=1250gr
2. Jumlah bola baja = 12 baja
3. Setelah bejana dijalankan selama 5
menit, maka diadakan pengayakan
terhadap benda uji memakai ayakan
dengan diameter lubang = 2mm
4. Data yang didapat adalah sebagai
berikut:
 Tertahan ayakan 2mm = 2972gr
 Lolos ayakan 2mm = 1849gr
5. Keausan = 5000 – 2972 = 2028gr
6. Derajat keausan = 2028 / 5000 *100%
= 40,56%
HASIL TEST KUBUS BETON
CAMPURAN
1:1, 5:2,5
NO
BERAT
(kg)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
7.12
7.23
7.26
7.3
7.29
7.45
7.45
7.32
7.47
7.17
7.26
7.55
6.69
7.09
7.02
7.26
FAS
0,60
GAYA
TEKAN
(ton)
43.34
42.48
42.48
51.92
28.32
42.48
33.04
49.08
49.08
56.64
57.58
29.26
30.2
48.48
38.7
33.04
SLUMP
70mm
TEGANGAN
(kg/cm²)
296.3418
290.4615
290.4615
355.0085
193.6410
290.4615
225.9145
335.5897
335.5897
387.2820
393.7094
200.0683
206.4957
331.4871
264.6153
225.9145
Tegangan rata rata
= 288.94 kg/cm²
Standart deviasi
= 63.02 kg/cm²
Tegangan karakteristik= 182.43 kg/cm²
Berat rata rata kubus = 7.246 kg
Berat volume beton = 2147 kg/m³
CAMPURAN
1:1,75 , 5:2,5
NO
BERAT
(kg)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
7.16
7.14
6.82
7.21
7.45
7.31
7.37
7.3
7.22
7.17
FAS
0
GAYA
TEKAN
(ton)
4342
37.76
34.92
33.04
43.42
35.87
41.53
46.25
51.92
33.04
SLUMP
68mm
TEGANGAN
(kg/cm²)
296.888
258.1880
238.7692
225.9145
296.8888
245.2649
283.9658
316.2393
355.0085
225.9145
6
11
12
13
14
15
16
7.23
7.44
7.48
7.23
7.38
7.44
56.64
58.52
37.76
46.25
44.36
45.42
387.2820
400.1367
258.1880
316.2393
303.3162
310.5641
Tegangan rata rata
= 294.92 kg/cm²
Standart deviasi
= 51.48 kg/cm²
Tegangan karakteristik= 208.00 kg/cm²
Berat rata rata kubus = 7.27kg
Berat volume beton = 2154.63 kg/m³
CAMPURAN
1:2:3
NO
BERAT
(kg)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
7.11
7.33
7.31
7.41
7.61
7.25
7.17
7.11
7.15
7.32
7.352
7.16
7.21
7.22
7.1
7.16
FAS
0.60
GAYA
TEKAN
(ton)
40.59
42.48
43.48
38.7
33.04
45.31
35.87
38.7
46.7
56.64
54.75
45.31
55.69
39.64
37.76
42.48
SLUMP
53mm
TEGANGAN
(kg/cm²)
277.5384
290.4615
296.8888
264.6153
225.9145
309.8119
245.2649
264.6153
319.3162
387.2820
374.3589
309.8119
380.7863
271.0427
258.1880
290.4615
Tegangan rata rata
= 297.90 kg/cm²
Standart deviasi
= 46.40 kg/cm²
Tegangan karakteristik= 219.81 kg/cm²
Berat rata rata kubus = 7.25 kg
Berat volume beton = 2147.63 kg/m³
CAMPURAN
1:2:2.5
NO
BERAT
(kg)
1
2
7.45
7.25
FAS
0.60
GAYA
TEKAN
(ton)
39.64
39.64
SLUMP
68mm
TEGANGAN
(kg/cm²)
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
7
7.17
7.43
7.2
7.44
7.15
7.24
7.29
7.32
7.3
7.07
7.38
7.15
36.81
43.42
51.92
36.81
33.04
28.32
46.25
37.76
47.2
37.76
47.2
37.76
39.64
251.6923
296.8888
355.0085
251.6923
225.9145
193.6410
193.6410
316.2393
316.2393
258.1880
322.7350
258.1880
271.0427
Tegangan rata rata
= 270.21 kg/cm²
Standart deviasi
= 44.39 kg/cm²
Tegangan karakteristik= 194.31 kg/cm²
Berat rata rata kubus = 7.256 kg
Berat volume beton = 2149.93 kg/m³
CAMPURAN
1:2:2.5
NO
BERAT
(kg)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
7.23
7.18
7.15
7
7.58
7.3
7.33
7.32
7.5
7.32
7.26
7.24
7.1
7.28
7.24
FAS
0.60
GAYA
TEKAN
(ton)
39.64
36.81
40.59
34.92
39.64
49.08
45.31
40.59
38.7
37.76
34.92
42.48
48.18
36.81
37.76
SLUMP
55mm
TEGANGAN
(kg/cm²)
271.0427
251.6923
277.5384
238.7692
271.0427
335.5897
309.8119
277.5384
264.6153
258.1880
238.7692
290.4615
329.4358
251.6923
258.1880
Tegangan rata rata
= 274.96 kg/cm²
Standart deviasi
= 28.888 kg/cm²
Tegangan karakteristik= 225.57 kg/cm²
Berat rata rata kubus = 7.27 kg
Berat volume beton = 2153.68 kg/m³
271.0427
271.0427
7
CAMPURAN
1:2:2.5
NO
BERAT
(kg)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
7.68
7.3
7.5
7.76
7.67
7.87
7.62
7.5
7.78
7.75
7.56
7.49
7.91
7.58
7.56
8
FAS
0.60
GAYA
TEKAN
(ton)
39.64
36.81
40.59
34.92
39.64
49.08
45.31
40.59
38.7
37.76
34.92
42.48
48.18
36.81
37.76
56.64
SLUMP
55mm
TEGANGAN
(kg/cm²)
309.8119
419.5555
374.3589
264.6153
342.0854
316.2393
374.3589
335.5897
348.5128
400.1367
406.6324
322.7350
387.2820
335.5897
387.2820
387.2820
DISKUSI DAN KESIMPULAN
Berdasanskan hasil penelitian yang kami
lakukan, didapatkan beberapa hasil dan
kesimpulan sebagai berkut :
1.
2.
Tegangan rata rata
= 357.00 kg/cm²
Standart deviasi
= 40.62 kg/cm²
Tegangan karakteristik= 288.35 kg/cm²
Berat rata rata kubus = 7.66 kg
Berat volume beton = 2269.07 kg/m³
Kekerasan/keausan batuan diuji dnegan
bejana Los Angeles = 40,3%. Ini berarti
batuan hanya sesuai untuk mutu beton
kelas II. Dari hasil mutu beton tersebut
disarankan tidak dipakai untuk betonbeton mutu tinggi, seperti untuk
material beton pratekan.
Tegangan karakteristik beton yang di
dapat dari bermacam-macam beton
dapat d i lihat sebagai berikut :
Camputan
Fas
1:2:3
1 : 1,5 : 2,5
1 : 1,75 :
2,75
1 : 2 : 2,5
1 : 2 : 2,75
1:2:3
0,60
0,60
0,60
0,60
0,60
0,60
Slump
(mm)
53
70
68
68
55
54
Ω bk
(kg/cm)
220
182
208
194
225
228
Tegangan karakteristik maximum yang
dapat di capai adalah 22 kg/cm² pada
campuran 1:2:2,75. Namum menurut
kami,
hasil
di
atas
kurang
mencerminkan yang sesungguhnya,
karena adanya ketidaktelitian ukuran
pada cetaka, sehingga berpengaruh
terhadap ukuran kubus beton yang
dihasilkan, yang pada akhirnya juga
berpengaruh terhadap bidang kontak
beban (terjadi pemusatan tegangan).
3.
4.
Keharusan tekan kubus terjadi pada
kerikil, bukan pada hubungan ikatan
antara pasir dan kerikil. Hal ini
memperlihatkan bahwa antara batu
kapur dengan pasir terjadi ikatan yang
baik.
Perlu diadakan penelitian lebih lanjut
terhadap hubungan antara gradasi
8
5.
kerikil, gradasi pasir, dan kekerasan
kerikil.
Perlu diadakan penelitian lebih lanjut
terhadap beberapa tempat yang
mungkin mempunyai derajat kekerasan
yang lebih baik, sehingga akan
didapatkan mutu beton yang lebih baik
pula.
DAFTAR PUSTAKA
Aman Subakti, Teknologi Beton Dalam
Praktek, Laboratorium Beton Institut
Teknologi
Sepuluh
Nopember,
Surabaya,1991.
DPMB., Peraturan Beton
Indonesia 1971, 1971.
Bertulang
Gideon, H.K. Dkk., Teknologi Beton
(Makalah Seminar),
UK. Petra,
1988.
Murdock and Brook., Bahan dan Praktek
Beton,
(Terjemahan
Stefanus
Hendrako), Erlangga, 1988.
Nwy, Beton Bertulang Suatu Pendekatan
Dasar,
(Terjemahan
Bambang
Budiono), Eresco, Bandung, 1990.
9
Download