TATA NASKAH DINAS DAN BAHASA INDONESIA

advertisement
DIKLAT FUNGSIONAL DASAR
BAHAN AJAR
TATA NASKAH DINAS DAN BAHASA INDONESIA
Disusun oleh
I Gede Komang Chahya Bayu Anta Kusuma
Widyaiswara Muda, Pusdiklat Pajak
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan
Pusdiklat Pajak
2016
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..................................................................................................................
KEGIATAN BELAJAR I :
TATA NASKAH DINAS TERKAIT PEMERIKSAAN...........................................................
A. Peraturan Tata Naskah Dinas ...............................................................................
1
1
B. Jenis Naskah Dinas ..............................................................................................
3
1. Jenis naskah dinas umum terkait pemeriksaan ............................................
3
2. Jenis naskah dinas khusus terkait pemeriksaan .........................................
16
KEGIATAN BELAJAR II :
KAIDAH BAHASA INDONESIA TERKAIT DENGAN PEMBUATAN KKP DAN LHP
B. Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar ............................................
26
C. Bentuk Bahasa Baku ............................................................................................
29
D. Ejaan Yang Disempurnakan ................................................................................
33
1. Penulisan huruf ...............................................................................................
34
2. Penulisan kata ................................................................................................
38
3. Partikel ...........................................................................................................
42
4. Kata bilangan ..................................................................................................
43
5. Kata-kata yang sering salah penulisan ..........................................................
46
6. Ungkapan idiomatik .........................................................................................
46
7. Penggunaan Tanda Baca ................................................................................
46
D Struktur Kalimat Efektif ...........................................................................................
52
LATIHAN ......................................................................................................................
LAMPIRAN
62
KEGIATAN BELAJAR I
TATA NASKAH DINAS TERKAIT PEMERIKSAAN
Indikator keberhasilan
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat dapat :
1. menjelaskan peraturan tata naskah dinas, baik peraturan tata naskah dinas umum dan
peraturan tata naskan dinas khusus
2. menjelaskan jenis naskah dinas umum terkait yang terkait dengan pemeriksaan dan
naskah dinas khusus terkait pemeriksaan
dan menerapkan peraturan tata naskah dinas dalam setiap penugasan pemeriksaan.
A. Peraturan Tata Naskah Dinas
Tata naskah dinas yang seragam dan berlaku secara nasional akan menciptakan
kelancaran komunikasi
tertulis yang efektif dan efisien, dengan demikian nantinya
informasi antar instansi pemerintah dapat dimanfaatkan dalam rangka pelaksanaan tugas
umum pemerintahan. Dalam mencapai tujuan tersebut maka Menteri Negara
Pendayagunaan Apatur Negara mengeluarkan peraturan menteri Nomor 22 Tahun 2008
mengenai Pedoman Umum Tata Naskah Dinas yang digunakan sebagai acuan umum
mengelenggarakan administrasi umum dan acuan penyusunan tata naskah dinas sesuai
kebutuhan instansi.
Selanjutnya, Menteri Keuangan menerbitkan PMK-151/PMK.01/2010 tanggal 27
Agustus 2010, yang mengatur mengenai Pedoman Tata Naskah Dinas di Kementerian
Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan tersebut mengatur mengenai pengelolaan
informasi tertulis (naskah) yang mencakup pengaturan jenis, format, penyiapan,
pengamanan, pengabsahan, distribusi, dan penyimpanan serta media yang digunakan
dalam komunikasi kedinasan.
Mengacu pada ketentuan Menteri Keuangan tersebut, kemudian Direktur Jenderal
Pajak menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : 33/PJ./2013 tentang Tata
Naskah Dinas di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Tata Naskah Dinas Direktorat
Jenderal Pajak tersebut digunakan untuk keperluan intern maupun dalam berkoordinasi
dengan instansi atau pihak lain di luar Direktorat Jenderal Pajak.
Asas yang harus diperhatikan dalam penyusunan naskah dinas adalah sebagai
berikut :
Bahasa Indonesia|
1
1. Asas Efektif dan Efisien
Penyelenggaraan tata naskah dinas perlu dilakukan secara efektif dan efisien dalam
penulisan, penggunaan ruang atau lembar naskah dinas, spesifikasi informasi, serta
dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan lugas.
2. Asas Pembakuan
Naskah dinas diproses dan disusun menurut tata cara dan bentuk yang telah
dibakukan.
3. Asas Pertanggungjawaban
Penyelenggaraan tata naskah dinas dapat dipertanggungjawabkan dari segi isi,
format, prosedur, kearsipan, kewenangan, dan keabsahan.
4. Asas Keterkaitan
Kegiatan penyelenggaraan tata naskah dinas terkait dengan kegiatan administrasi
umum dan unsur administrasi umum lainnya.
5. Asas Kecepatan dan Ketepatan
Untuk mendukung kelancaran tugas dan fungsi satuan kerja atau satuan organisasi,
tata naskah dinas harus dapat diselesaikan tepat waktu dan tepat sasaran, antara
lain dilihat dari kejelasan redaksional, kemudahan prosedural, kecepatan
penyampaian dan distribusi.
6. Asas Keamanan
Tata naskah dinas harus aman secara fisik dan substansi mulai dari penyusunan,
klasifikasi dan kualifikasi, penyampaian kepada yang berhak, pemberkasan,
kearsipan, dan distribusi. Demi terwujudnya tata naskah dinas yang efektif dan
efisien, pengamanan naskah dan aspek legalitasnya perlu dilihat sebagai penentu
yang paling penting.
Dengan diterbitkannya Tata Naskah Dinas ini maka seluruh kegiatan surat
menyurat yang dilakukan di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak wajib berpedoman
dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini yang mencakup pengaturan tentang jenis
dan format naskah dinas, penyusunan naskah dinas, logo dan cap dinas, penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar, tata persuratan dan penggunaan media surat
menyurat.
Namun demikian terdapat bentuk tata naskah dinas yang sudah diatur dengan
ketentuan yang bersifat khusus maka tetap mengacu ketentuan masing-masing. Tata
Naskah dinas yang bersifat khusus antara lain naskah dinas dalam hal kepegawaian,
penagihan pajak, pemeriksaan pajak.
Dengan demikian, tata naskah dinas yang terkait dengan pemeriksaan pajak dan
sudah diatur secara khusus tetap mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor :
17/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pemeriksaan.
Bahasa Indonesia|
2
B. Jenis Naskah Dinas
Tugas utama pemeriksa pajak adalah melakukan pemeriksaan sesuai tujuan yang
ditetapkan dalam Surat Perintah Pemeriksaan. Sebagai bukti Pemeriksaan telah selesai
dilaksanakan adalah pemeriksa dapat menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP),
Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) dan lampirannya.
Dalam proses pemeriksaan pajak mulai dari tahap persiapan pemeriksaan,
pelaksanaan pemeriksaan dan pelaporan berupa penyusunan KKP dan LHP tentunya
terdapat dokumen tertulis yang bersifat umum dan dibuat terkait pelakasanaan
pemeriksaan. Dalam hal naskah dinas umum yang dibuat oleh Tim Pemeriksa maka
naskah dinas tersebut wajib berpedoman pada tata naskah dinas yang sudah diatur
dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : 33/PJ./2013.
1. Jenis Naskah Dinas Umum Terkait Pemeriksaan
Beberapa jenis naskah dinas yang terkait dengan pelaksanaan pemeriksaan ini
antara lain :
1.1. Laporan Hasil Rapat (LHR)
Laporan hasil rapat merupakan bagian dari naskah dinas laporan yang disusun
dalam rangka membut laporan mengenai jalannya sesuatu pertemuan yang
disusun secara teratur dan dipertanggungjawabkan oleh si pembuat dan atau
nama peserta pertemuan itu sendiri, sehingga mengikat sebagai dokumen resmi
dari kejadian/peristiwa yang disebut di dalamnya.
Terhadap Laporan Hasil Rapat yang telah disusun tersebut wajib disahkan atau
ditandatangani. Kewenangan pembuatan dan penandatangan untuk Laporan
hasil rapat dilakukan oleh pejabat/pegawai yang diserahi tugas dan atasan
langsung. Salah satu contoh kegiatan yang wajib dibuat LHR adalah
pembahasan usulan pemeriksaan khusus atau rapat penggalian potensi pajak
bersama-sama dengan AR (Account Representative).
Laporan Hasil Rapat (LHR) terdiri dari beberapa bagian terdiri dari :
a. Kepala LHR
Bagian kepala LHR terdiri dari:
1)
kepala LHR yang berisi logo Kementerian Keuangan, nama instansi,
Bahasa Indonesia|
3
dan alamat instansi yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris;
2)
tulisan laporan hasil rapat (LHR) ditulis dengan huruf kapital di bawah
logo dan nama instansi;
3)
kata pengundang diikuti tanda baca titik dua (:) ditulis dengan huruf awal
kapital, terletak di sebelah kiri di bawah kata laporan hasil rapat (LHR);
4)
kata referensi surat diikuti tanda baca titik dua (:) ditulis dengan huruf
awal kapital di bawah nama jabatan pengundang, dan di bawahnya
ditulis nomor dan tanggal;
5)
kata tempat diikuti tanda baca titik dua (:) ditulis dengan huruf awal
kapital, terletak di sebelah kanan di bawah kata laporan hasil rapat
(LHR);
6)
kata waktu diikuti tanda baca titik dua (:) ditulis dengan huruf awal
kapital di bawah kata tempat;
7)
kata hari/Tanggal diikuti tanda baca titik dua (:) ditulis dengan huruf awal
kapital di bawah kata waktu;
8)
kata topik/agenda rapat ditulis dengan huruf kapital secara simetris di
dalam kolom.
b. Laporan Hasil Rapat berisi:
1)
peserta,
termasuk
keterangan
pejabat
yang
menjadi
pimpinan/pembicara/moderator rapat;
2)
uraian pembahasan;
3)
usulan;
4)
kesimpulan.
c. Kaki LHR
Bagian kaki LHR terdiri dari:
1)
tempat dan tanggal pembuatan LHR;
2)
kata pembuat LHR ditulis dengan huruf awal kapital dan diakhiri tanda
baca koma (,);
3)
tanda tangan pembuat LHR;
4)
nama lengkap pembuat LHR;
5)
Nomor Induk Pegawai (NIP) pembuat LHR;
6)
kata mengetahui ditulis dengan huruf awal kapital dan diakhiri dengan
tanda baca koma (,);
7)
tanda tangan atasan langsung pembuat LHR;
8)
nama lengkap atasan langsung pembuat LHR;
Bahasa Indonesia|
4
9)
Nomor Induk Pegawai (NIP) atasan langsung pembuat LHR.
Selain unsur-unsur LHR di atas, dalam penyusunan LHR terdapat hal-hal yang
perlu diperhatikan antara lain :
a. LHR berisi uraian suatu kejadian secara tertulis singkat, tepat dan sesuai
dengan tatakrama penulisan naskah.
b. Apabila pembicara mengatakan “off the record,” berarti hal-hal yang
dibicarakannya itu tidak boleh dicatat.
c. Pembuat LHR berkewajiban menghaluskan kata-kata/kalimat yang
dianggap kurang pantas/bijaksana untuk dicantumkan sesuai dengan
aslinya.
d. Agar memudahkan pembahasan maka setiap pokok pembicaraan diberi
nomor urut baru dan berkelanjutan.
e. LHR disampaikan kepada para peserta rapat dengan menggunakan surat
atau nota dinas.
Contoh Format laporan hasil rapat (LHR)
Bahasa Indonesia|
5
1.2. Nota Dinas
Nota Dinas merupakan naskah dinas intern di lingkungan unit kerja yang
dibuat oleh seorang pejabat dalam melaksanakan tugas guna menyampaikan
laporan, pemberitahuan, pernyataan, permintaan, atau penyampaian pendapat
kepada pejabat lain. Nota dinas memuat hal yang bersifat rutin, berupa catatan
ringkas, dan lengkap. Nota dinas tidak boleh digunakan untuk membuat putusan
mutasi pegawai.
Karena merupakan naskah intern maka nota dinas umumnya digunakan oleh :
atasan kepada bawahan yang memuat instruksi, perintah, atau informasi lainnya
Bahasa Indonesia|
6
yang disampaikan pimpinan kepada bawahannya atau sebaliknya
Ruang lingkup penggunaan nota dinas yaitu:
a. nota dinas pejabat eselon I kepada Menteri Keuangan;
b. nota dinas antarpejabat di lingkungan Kantor Pusat Direktorat Jenderal
Pajak;
c. nota dinas antarpejabat di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Pajak;
d. nota dinas di lingkungan KPP;
e. nota dinas di lingkungan Unit Pelaksana Teknis.
Kewenangan untuk menandatangani Nota Dinas adalah dilakukan oleh para
pejabat dalam satu unit organisasi yang bersangkutan sesuai dengan lingkup
tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya.
Dengan demikian susunan suatu naskah nota dinas terdiri dari :
a. Kepala nota dinas
Bagian kepala nota dinas terdiri dari:
1) Kepala naskah dinas yang berisi logo Kementerian Keuangan, nama
instansi, dan alamat instansi/satuan organisasi yang diletakkan secara
simetris dan ditulis dengan huruf kapital;
2) Garis pemisah horisontal atas dengan panjang sama dengan lebar ruang
penulisan nota dinas dengan ukuran tebal 1½ pt;
3) Frasa nota dinas dicantumkan di bawah garis pemisah, ditulis seluruhnya
dengan huruf kapital secara simetris;
4) Kata nomor ditulis seluruhnya dengan huruf kapital secara simetris di
bawah frasa nota dinas;
5) Singkatan Yth. ditulis di bawah nomor diikuti tanda baca titik dua (:) di
margin kiri;
6) Kata dari diikuti tanda baca titik dua (:), ditulis di bawah singkatan Yth.;
7) Kata sifat ditulis di bawah kata dari diikuti tanda baca titik dua (:) dan
kemudian diikuti kualifikasi nota dinas, yaitu Sangat Rahasia, Rahasia,
atau Biasa, dapat juga digabung dengan klasifikasi nota dinas, yaitu
Sangat Segera, Segera, atau Biasa;
8) Kata lampiran, ditulis lengkap di bawah kata Sifat, diikuti tanda baca titik
dua (:), kemudian diikuti dengan jumlah dan nama barang yang
dilampirkan dengan huruf kecuali bila jumlah kata bilangan lebih dari dua
kata, misalnya Dua Puluh Lembar atau 21 Lembar. Apabila tidak ada
lampiran, tulisan lampiran tidak perlu dicantumkan;
Bahasa Indonesia|
7
9) Kata hal, bukan perihal, ditulis di bawah lampiran, diikuti tanda baca titik
dua (:), yang mencantumkan masalah pokok nota dinas, sesingkat
mungkin, menggunakan huruf kapital pada setiap awal kata, dan tidak
diakhiri dengan tanda baca titik (.) serta tidak perlu diberi garis bawah;
10) Kata tanggal ditulis paling bawah diikuti tanda baca titik dua (:) dengan
huruf awal kapital;
11) Garis pemisah horisontal bawah dengan panjang sama dengan lebar
ruang penulisan Nota Dinas dengan ukuran tebal ¾ pt.
b. Batang tubuh nota dinas
Bagian batang tubuh nota dinas terdiri dari:
1) Pembuka yang berisi latar belakang, maksud, dan tujuan nota dinas
secara singkat dan jelas;
2) Isi nota dinas yang memuat pokok/uraian inti permasalahan nota dinas;
3) Penutup.
c. Kaki nota dinas
Bagian kaki nota dinas terdiri dari:
1)
nama jabatan penanda tangan nota dinas tidak perlu dicantumkan
apabila nama jabatan penanda tangan sama dengan nama pengirim.
Namun, apabila menggunakan konstruksi untuk beliau (u.b.), nama
jabatan penanda tangan perlu dicantumkan dan ditulis dengan huruf awal
kapital serta diakhiri dengan tanda baca koma (,).
2)
tanda tangan pejabat;
3)
nama lengkap pejabat yang menandatangani nota dinas, ditulis dengan
huruf awal kapital tanpa gelar;
4)
Nomor Induk Pegawai (NIP).
Contoh penandatanganan tanpa atas nama:
(tanda tangan)
Nama Lengkap
NIP …
Contoh pejabat penandatanganan untuk beliau (u.b.):
Sekretaris Direktorat Jenderal
u.b.
Kepala Bagian Umum,
(tanda tangan)
Nama Lengkap
NIP …
Bahasa Indonesia|
8
5) Kata tembusan yang ditulis lengkap di margin kiri bawah diikuti tanda
baca titik dua (:) dan tidak diberi garis bawah. Frasa kepada Yth. atau
Disampaikan kepada Yth. tidak perlu dicantumkan, dan tidak perlu
ditambahkan pula kata sebagai laporan, arsip, atau istilah sejenisnya.
Hal yang perlu diperhatikan :
a. Nota dinas tidak dibubuhi cap dinas.
b. Tembusan nota dinas berlaku di lingkungan intern instansi.
c. Penomoran nota dinas dilakukan dengan mencantumkan nomor nota dinas,
unit organisasi, dan tahun.
d. Untuk nota dinas yang bersifat rahasia, tulisan nota dinas tidak diikuti
dengan kata rahasia.
Bahasa Indonesia|
9
Bahasa Indonesia|
10
CONTOH
Bahasa Indonesia|
11
1.3. Surat Dinas
Surat Dinas merupakan satu-satunya jenis naskah dinas korespondensi
eksternal,
yang
digunakan
dalam
pelaksanaan
tugas
pejabat
dalam
menyampaikan informasi kedinasan berupa pemberitahuan, pernyataan,
permintaan, penyampaian naskah dinas atau barang, atau hal kedinasan lainnya
kepada pihak lain baik di dalam maupun di luar Direktorat Jenderal Pajak. Surat
Dinas ini dapat digunakan untuk surat- menyurat antara lain :
a. antarpejabat eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan;
b. antarpejabat eselon II pada dua unit organisasi eselon I yang berbeda di
lingkungan Kementerian Keuangan;
c. pejabat eselon II pada instansi vertikal kepada pejabat eselon I atau pejabat
eselon II Kantor Pusat dalam unit organisasi eselon I yang sama;
d. Kepala Kantor (pejabat eselon III atau pejabat eselon IV) pada kantor
pelayanan/UPT kepada pejabat eselon II/III pada kantor wilayah atau
kepada pejabat di lingkungan kantor pusat dalam satu unit organisasi eselon
I yang sama.
Dalam surat dinas, kewenangan untuk menandatangani surat dinas dilakukan
oleh pejabat sesuai dengan tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawabnya.
Secara umum penandatangan surat dinas ini adalah kepala kantor mulai unit
eselon I, II, III dan seterusnya.
Dalam menyusun surat dinas, susunan tata naskahnya terdiri dari :
a. Kepala surat dinas
Bagian kepala surat dinas terdiri dari:
1) kepala surat dinas yang berisi logo Kementerian Keuangan, nama
instansi, dan alamat instansi/satuan organisasi yang diletakkan secara
simetris dan ditulis dengan huruf kapital;
2) garis pemisah horisontal atas dengan panjang sama dengan lebar ruang
penulisan surat dinas dengan ukuran tebal 1½ pt;
3) tanggal, bulan, dan tahun pembuatan surat di margin kanan,
sejajar/sebaris dengan nomor surat;
4) nomor surat dinas yang ditulis lengkap di margin kiri, diikuti tanda baca
titik dua (:). Penomoran surat dinas merujuk pada ketentuan pemberian
kode dan nomor surat Direktorat Jenderal Pajak;
5) kata sifat ditulis di bawah nomor, diawali dengan huruf kapital, diikuti
tanda baca titik dua (:) dan diikuti kualifikasi surat, Sangat Rahasia,
Bahasa Indonesia|
12
Rahasia, atau Biasa, dapat juga digabung dengan klasifikasi surat,
Sangat Segera, Segera, atau Biasa;
6) kata lampiran ditulis di bawah sifat surat, diawali dengan huruf awal
kapital, diikuti tanda baca titik dua (:), dicantumkan jumlah dan nama
barang yang dilampirkan dengan huruf kecuali bila jumlah kata bilangan
lebih dari dua kata, misalnya Dua Puluh Lembar atau 21 Lembar, apabila
tidak ada lampiran tidak perlu dicantumkan tulisan lampiran;
7) kata hal bukan perihal, ditulis di bawah lampiran, diikuti tanda baca titik
dua (:), yang mencantumkan masalah pokok surat, sesingkat mungkin,
menggunakan huruf kapital pada setiap awal kata, dan tidak diakhiri
dengan tanda baca titik (.) serta tidak perlu diberi garis bawah;
8) alamat yang dituju kepada pejabat karena fungsi dan tugasnya berkaitan
langsung dengan informasi surat, ditulis di margin kiri di bawah kata hal,
didahului dengan singkatan Yth. diikuti nama jabatan yang dituju.
Sebutan Ibu, Bapak atau Sdr. hanya digunakan apabila diikuti dengan
nama orang. Penulisan kata jalan pada alamat tidak disingkat, nama jalan
dan nama kota ditulis dengan huruf kapital pada setiap awal kata, nama
kota tidak diberi kata depan di dan tidak diberi garis bawah.
Contoh:
Yth. Direktur Jenderal Pajak
Gedung Utama Lantai 5 KPDJP
Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 40-42
Jakarta 12190
Yth. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak
Gedung Utama Lantai 5 KPDJP
Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 40-42
Jakarta 12190
Yth. Bapak A. Fuad Rahmany
Gedung Utama Lantai 5 KPDJP
Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 40-42
Jakarta 12190
b. Batang tubuh surat dinas
Bagian batang tubuh surat dinas terdiri dari:
1) pembuka surat dinas yang berisi latar belakang, maksud, dan tujuan
surat secara singkat dan jelas;
Bahasa Indonesia|
13
2) isi surat dinas yang memuat pokok/uraian inti permasalahan surat;
3) penutup surat dinas.
c. Kaki surat dinas
Bagian kaki surat dinas terdiri dari
1) nama jabatan penanda tangan surat dinas yang ditulis dengan huruf awal
kapital, dan diakhiri tanda baca koma (,). Apabila nama unit organisasi
sudah tercantum lengkap pada kepala surat dinas, nama jabatan tidak
perlu ditulis lengkap;
2) tanda tangan pejabat;
3) nama lengkap pejabat yang menadatangani surat dinas, ditulis dengan
huruf awal kapital tanpa gelar;
4) Nomor Induk Pegawai (NIP);
Contoh:
Kepala Bagian Organisasi dan Tatalaksana,
(tanda tangan dan cap dinas)
Nama Lengkap
NIP …................
5) tembusan yang ditulis lengkap di margin kiri bawah diikuti tanda baca titik
dua (:) dan tidak diberi garis bawah, tidak perlu mencantumkan Kepada
Yth., Disampaikan kepada Yth., dan tidak perlu menambahkan kata
sebagai laporan, arsip, atau istilah sejenisnya,
contoh :
Tembusan :
1. Direktur Jenderal Pajak
2. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak
3. dst.
6) untuk surat Menteri Keuangan atau pejabat eselon I atas nama Menteri
Keuangan yang menggunakan kepala surat berupa lambang negara dan
nama jabatan, pada bagian bawah halaman ditulis alamat lengkap
Kementerian Keuangan secara simetris dengan huruf bercetak tebal dan
berukuran Arial 10.
Penyampaian surat dinas kepada pihak yang dituju, dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu menggunakan Buku Ekspedisi atau Lembar Pengantar.
Bukti Penyampaian surat dinas ini sebaiknya diadministrasikan secara rapi
sehingga memudahkan dalam menelusuri atau melakukan pengawasan
terhadap tindaklanjut surat dinas dimaksud.
Bahasa Indonesia|
14
Dalam menyusun surat dinas hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :
a. kepala surat dinas hanya digunakan pada halaman pertama.
b. jika surat dinas disertai dengan lampiran, disertakan keterangan jumlah
lampirannya.
Contoh Format surat dinas
Bahasa Indonesia|
15
2. Jenis Naskah Dinas Khusus terkait Pemeriksaan
2.1. Surat Kuasa
Surat kuasa adalah naskah dinas yang berisi pemberian wewenang kepada
badan hukum/kelompok orang/perseorangan atau pihak lain dengan atas
namanya untuk melakukan suatu tindakan tertentu dalam rangka kedinasan.
Susunan surat kuasa antara lain :
a. Kepala surat kuasa
Bagian kepala surat kuasa terdiri dari:
1) kepala yang berisi logo Kementerian Keuangan, nama instansi, dan
alamat instansi yang diletakkan secara simetris dan ditulis dengan huruf
kapital;
2) judul surat kuasa ditulis di bawah logo dan nama instansi ditulis dengan
huruf kapital secara simetris;
3) nomor surat kuasa yang ditulis secara simetris. Penomoran surat kuasa
merujuk pada ketentuan pemberian kode dan nomor surat Direktorat
Jenderal Pajak.
b. Batang tubuh surat kuasa
Bagian batang tubuh surat kuasa terdiri dari:
1) nama lengkap dan jabatan yang memberi kuasa;
2) nama lengkap dan jabatan yang menerima kuasa;
3) materi pokok yang dikuasakan untuk dilaksanakan;
4) kalimat penutup.
c. Kaki surat kuasa
Bagian kaki surat kuasa memuat keterangan tempat, tanggal, bulan dan
tahun pembuatan serta nama jabatan, tanda tangan, nama lengkap, dan
NIP pemberi dan penerima kuasa, dibubuhi meterai sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. Khusus surat kuasa dalam bahasa Inggris
tidak menggunakan meterai.
Hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun surat kuasa antara lain :
a. Menteri Keuangan tidak menggunakan NIP.
b. Meterai dibubuhkan pada kolom pemberi kuasa sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
c. Khusus untuk surat kuasa Menteri Keuangan dalam bahasa Inggris, nama
Menteri Keuangan tidak disertai cap dinas.
Bahasa Indonesia|
16
Contoh Surat Kuasa
2.2. Surat Pengantar
Surat
pengantar
adalah
naskah
dinas
yang
digunakan
untuk
mengantar/menyampaikan barang atau naskah. Dalam proses pemeriksaan surat
pengantar diperlukan dalam rangka menyampaikan atau mengimkan berkas SPT
Wajib Pajak, berkas LHP dan KKP kepada seksi Pelayanan dan seksi terkait,
Bahasa Indonesia|
17
berkas review ke Kanwil dan lain-lain yang biasanya sekaligus digunakan sebagai
tanda terima dokumen atau bukti pengiriman surat dinas.
Sebagai salah satu jenis naskah resmi maka surat pengantar juga wajib
ditandatangani
oleh
pihak
yang
berwenang.
Kewenangan
untuk
menandatanganani surat pengantar dibuat dan ditandatangani oleh pejabat
sesuai dengan tugas, wewenang dan tanggung jawabnya.
Susunan naskah surat pengantar yaitu :
a. Kepala surat pengantar
Bagian kepala surat pengantar terdiri dari:
1) kepala surat pengantar yang berisi logo Kementerian Keuangan, nama
instansi, dan alamat instansi yang ditulis dengan huruf kapital secara
simetris;
2) alamat yang dituju, ditulis di margin kiri di bawah logo dan nama instansi
dengan kata Yth. diikuti nama jabatan yang dituju;
3) tanggal, bulan, dan tahun ditulis di margin kanan sebaris dengan kata Yth.;
4) tulisan surat pengantar yang diletakkan secara simetris dan ditulis dengan
huruf kapital;
5) nomor surat pengantar ditulis simetris di bawahnya.
b. Batang tubuh surat pengantar
Bagian batang tubuh surat pengantar terdiri dari:
1) nomor urut;
2) jenis naskah/barang yang dikirim;
3) banyaknya naskah/barang;
4) keterangan.
c. Kaki surat pengantar
Bagian kaki surat pengantar terdiri dari:
1) nama jabatan pembuat surat pengantar;
2) tanda tangan;
3) nama dan NIP;
4) cap dinas.
Hal yang perlu diperhatikan apabila tim pemeriksa menyusun surat pengantar
antara lain :
a. Surat pengantar dikirim rangkap dua, lembar pertama untuk penerima dan
lembar kedua untuk pengirim.
b. Surat Pengantar wajib dibubuhkan tanggal terima, tanda tangan dan nama
jelas pihak yang menerima
Bahasa Indonesia|
18
c. Surat pengantar yang disampaikan melalui faximile atau pos tercatat
sebaiknya digabungkan dengan bukti pengiriman faximile atau bukti
pengiriman pos tercatat.
d. Surat pengantar wajib diadministrasikan secara rapi guna memudahkan
menelusuri dan melakukan pengawasan atas tindak lanjut surat dinas
dimaksud.
Format surat pengantar.
Bahasa Indonesia|
19
2.3. Berita Acara
Berita acara merupakan naskah dinas yang berisi uraian tentang proses
pelaksanaan suatu kegiatan yang harus ditandatangani oleh para pihak dan para
saksi. Dalam proses pemeriksaan, Berita Acara sangat penting mengingat
kegiatan Tim pemeriksa cukup banyak dan umumnya berbeda-beda sesuai
kondisi di lapangan. Dalam Tatacata pemeriksaan yang diatur pada Peraturan
Menteri Keuangan Nomor : 17/PMK.03/2013, terdapat beberapa jenis berita acara
yang formatnya sudah diberikan contoh baku, sehingga memudahkan Tim
pemeriksa dalam menyiapkan berita acara pada setiap kegiatan pemeriksaan.
Dalam melakukan penyusunan dokumen/naskah berita acara terdapat beberapa
bagian yang perlu menjadi perhatian antara lain :
a. Kepala berita acara
Bagian kepala berita acara terdiri dari:
1) Kepala naskah dinas yang berisi logo Kementerian Keuangan, nama
instansi, dan alamat instansi/satuan organisasi yang diletakkan secara
simetris dan ditulis dengan huruf kapital;
2) Tulisan berita acara ditulis di bawah logo dan nama instansi yang ditulis
dengan huruf kapital secara simetris;
3) Nomor berita acara ditulis simetris di bawah judul. Penomoran berita acara
merujuk pada ketentuan pemberian kode dan nomor surat Direktorat
Jenderal Pajak.
b. Batang tubuh berita acara
Bagian batang tubuh berita acara terdiri dari :
1) Tulisan hari, tanggal, bulan, tahun, jam, tempat pelaksanaan, nama
lengkap, NIP, dan jabatan para pihak yang membuat berita acara;
2) Uraian materi pelaksanaan kegiatan (substansi berita acara);
3) Kalimat penutup.
c. Kaki berita acara
Bagian kaki berita acara memuat tempat pelaksanaan penandatanganan.
Nama jabatan, tanda tangan, nama lengkap, dan NIP para pihak serta para
saksi.
Bahasa Indonesia|
20
Contoh format berita acara
Bahasa Indonesia|
21
3. Penomoran dan Pemberian Kode Naskah
Penomoran dan pemberian kode naskah dinas merupakan bagian penting
dalam rangka mendapatkan kejelasan dan kemudahan untuk mengenali suatu naskah
dinas.
Nomor dan kode yang digunakan dalam tata naskah dinas di lingkungan Direktorat
Jenderal Pajak adalah tanda atau simbol tertentu berupa angka dan huruf sebagai
tanda pengenal dan identifikasi terhadap unit organisasi yang bersangkutan. Dalam
rangka komunikasi administrasi, setiap unit organisasi wajib menggunakan kode
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3.1 Pemberian Kode Naskah Dinas di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak
Kode naskah dinas selain dapat
digunakan sebagai sarana untuk
mengidentifikasi naskah dinas, diharapkan mampu memberikan kemudahan
bagi unit organisasi di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam mengelola
tata naskah dinas, sehingga dapat memperlancar pelaksanaan tugas dan
fungsi.
Kode naskah dinas di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak disusun menurut
urut-urutan unit organisasi yang berlaku. Oleh karena itu setiap perubahan atau
penyempurnaan organisasi di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak perlu diikuti
dengan penyempurnaan dan penetapan kode naskah dinas.
a. Sistem penomoran dan pemberian kode didasarkan atas pengelompokan
jenis naskah dinas sebagai berikut :
-
Peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan;
-
Surat dan naskah dinas yang dipersamakan dengan itu.
b. Asas sistem penomoran dan pemberian kode naskah dinas diatur sebagai
berikut :
-
dibedakan antara ketentuan pelaksanaan dari peraturan perundangundangan yang menjadi wewenang Direktur Jenderal Pajak dengan
surat biasa dan naskah dinas yang dipersamakan;
-
dibedakan antara Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak dan unit
instansi vertikal;
-
dibedakan antara penomoran dan kode penunjuk (Kp.). Kode
penunjuk (Kp) digunakan untuk memudahkan penelusuran ke dalam,
guna mengetahui sumber surat, pengonsep, dan dimana verbal
konsep terakhir disimpan;
-
Penentuan pejabat yang berhak menandatangani;
Bahasa Indonesia|
22
-
Dibuat agar mudah diingat/dicari kembali serta memberi landasan
bagi pengembangan sistem penomoran unit organisasi di lingkungan
Direktorat Jenderal Pajak.
3.2 Kode Naskah Dinas di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak
Untuk membedakan naskah dinas di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak diberi
kode sebagai berikut :
a. Naskah dinas yang memuat pengaturan, penetapan, dan penugasan :
No.
Jenis Naskah
Kode
1.
Peraturan
PER
2.
Instruksi
INS
3.
Surat Edaran
SE
4.
Keputusan
KEP
5.
Surat Perintah
PRIN
6.
Surat Tugas
ST
b. Naskah dinas yang bersifat internal dan eksternal :
No.
Jenis Naskah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Nota Dinas
Memorandum
Surat Dinas
Surat Undangan
Nota Dinas dengan kualifikasi Rahasia
Nota Dinas dengan kualifikasi Sangat Rahasia
Surat Dinas dengan kualifikasi Rahasia
Surat Dinas dengan kualifikasi Sangat Rahasia
Kode
ND
Mo
S
Und
NDR
NDSR
SR
SSR
c. Naskah dinas yang bersifat khusus :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Jenis Naskah
Surat Perjanjian
Surat Kuasa
Berita Acara
Surat Keterangan
Surat Pengantar
Pengumuman
Kode
PRJ
SKU
BA
KET
SP
Peng
Bahasa Indonesia|
23
d. Naskah dinas yang berupa formulir :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Jenis Naskah
Telegram
Surat Kawat
Radiogram
Faksimili
e-Mail
Berita Telepon
Kode
TLG
KWT
RDG
FAK
EMAIL
BT
e. Naskah dinas yang berupa catatan/naskah yang bersifat dokumen sebagai
alat pembuktian :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
Jenis Naskah
Lembar Disposisi
Verbal
Berita Acara Pemeriksaan
Naskah Serah Terima
Nota
Kesepahaman
(Memorandum
Understanding/MoU)
Kode
LD
VRB
BAP
NST
of MoU
Selain kode naskah dinas tersebut, apabila terdapat naskah dinas yang bersifat
teknis dan mempunyai bentuk khusus dapat dibuat kode naskah dinas tersendiri.
3.3 Penomoran dan Pengodean naskah dinas
Pada setiap naskah dinas wajib diberikan nomor dan kode petunjuk surat. Hal
ini diperlukan dalam rangka memudahkan untuk mengadministrasikan naskah
dinas.
Nomor dan kode naskah dinas ditulis di margin kiri dibawah kepala naskah dinas
tetapi khusus untuk Nota Dinas, Surat Edaran Pengumuman dan lain-lain di
margin tengah bawah kepala naskah dinas.
Dibawah ini akan diuraikan beberapa bagian penomoran naskah dinas yang
berhubungan dengan tatacara pemeriksaan antara lain :
a. Nomor dan kode surat dinas pada kantor pelayanan
Contoh :
Nomor : S-……./WPJ.26/KP.01/……..
Penjelasan:
- S = kode jenis naskah dinas : surat,
nota dinas, berita acara
- ………
= Nomor urut agenda
- WPJ
= Kode Unit Kanwil Ditjen
Pajak;
- KP.01
= Kode Unit KPP
- ……
=
Tahun
penerbitan
naskah dinas
Bahasa Indonesia|
24
b. Pemberian nomor dan kode petunjuk Nota dinas
Contoh :
Nomor : ND-…/WPJ.26/KP.01/……..
Penjelasan:
- S
= kode jenis naskah dinas : surat,
nota dinas, berita acara
- ………= Nomor urut agenda
- WPJ = Kode Unit Kanwil Ditjen Pajak;
- KP.01 = Kode Unit KPP
- …… = Tahun penerbitan naskah dinas
c. Pemberian nomor dan kode petunjuk Berita Acara
Contoh :
Nomor : BA-…/WPJ.26/KP.01/……..
Penjelasan:
- S = kode jenis naskah dinas : surat,
nota dinas, berita acara
- …… = Nomor urut agenda
- WPJ = Kode Unit Kanwil Ditjen Pajak;
- KP.01 = Kode Unit KPP
- …… = Tahun penerbitan naskah dinas
3.4 Pemberian kode petunjuk naskah dinas
Kode Petunjuk (Kp.) ditulis di margin kiri bawah surat pada setiap halaman
dengan menggunakan huruf Arial 9.
a. Kode Petunjuk di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak
Contoh :
Kp.:PJ.011/PJ.0111
Penjelasan:
- Kode penunjuk ditulis Kp.;
- PJ.011
= Kode Bagian Organisasi
Tatalaksana;
- PJ.0111 = Kode Bagian Organisasi
Tatalaksana, Subbagian Organisasi
dan
dan
Bahasa Indonesia|
25
b. Kode Petunjuk di Kantor Wilayah DJP
Contoh :
Kp.:BD.03/BD.0301
Penjelasan:
Kode penunjuk ditulis Kp.;
BD.03 = Kode bidang Pemeriksaan, Penyidikan dan
Penagihan Pajak;
- BD.0301 = Kode bidang Pemeriksaan, Penyidikan
dan
Penagihan
Pajak,
Seksi
Bimbingan
Pemeriksaan.
-
c. Kode Petunjuk di Kantor Pelayanan Pajak
Contoh :
Kp.:KP.06/KP0600
Penjelasan:
- Kode penunjuk ditulis Kp.;
- KP.06 = Kode Kantor Pelayanan Pajak;
- KP.0600 = Kode Subbagian Umum
Bahasa Indonesia|
26
KEGIATAN BELAJAR II
KAIDAH BAHASA INDONESIA TERKAIT DENGAN PEMBUATAN KKP DAN LHP
Indikator keberhasilan
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat dapat :
1. menjelaskan pengertian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
2. menjelaskan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan
3. menjelaskan Struktur Kalimat Efektif
dan menerapkan peraturan tata naskah dinas dalam setiap penugasan pemeriksaan.
A. Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Tugas utama pemeriksa pajak adalah melakukan pemeriksaan sesuai tujuan yang
ditetapkan dalam Surat Perintah Pemeriksaan. Sebagai bukti Pemeriksaan telah selesai
dilaksanakan adalah pemeriksa dapat menyerahkan LHP , KKP dan lampirannya.
Dokumen KKP dan LHP ini akan menjadi dasar untuk :
1. Penyusunan Nota Penghitungan, dan penerbitan surat ketetapan pajak dan / atau
STP
2. Bahan dalam melakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan dengan Wajib Pajak
3. Sumber data atau informasi bagi penyelesaian keberatan atau banding yang
diajukan oleh Wajib Pajak
4. Referensi untuk pemeriksaan berikutnya
5. Mempertangungjawabkan
pelaksanaan
pemeriksaan
telah
sesuai
Standar
pemeriksaan.
Mengingat fungsi KKP dan LHP yang sangat penting maka pemeriksa pajak
seharusnya dapat mengungkapkan proses pemeriksaan yang telah dilakukan dalam
bentuk KKP dan LHP secara ringkas, jelas dan mudah dipahami oleh pembaca.
Dalam penyusunan KKP dan LHP ini perlu memperhatikan penggunakan
bahasa
tulisan yang efektif (ringkas, jelas dan mudah dipahami).
Dalam tulisan HB Sumardi, M.Pd mengenai faktor pendukung keefektifan kalimat
dijelaskan bahwa Setiap ide atau informasi dari individu yang ingin disampaikan harus
disusun dengan kalimat efektif sehingga dapat diterima dengan jelas, dan mudah
dipahami oleh pembaca. Dalam mewujudkan kalimat efektif ini terdapat beberapa unsur
yang perlu diperhatikan antara lain :
Bahasa Indonesia|
27
a. Penggunaan Bahasa yang baik dan benar
b. Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan
c. Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baku
Sedangkan menurut Ida Bagus Putrayasa kalimat efektif harus memenuhi 2 syarat yaitu
syarat awal dan syarat utama.
1. Syarat awal kalimat efektif terdiri dari :
a. Pemilihan kata (diksi) artinya kalimat efektif seharusnya disusun dengan pilihan
kata-kata yang tidak menimbulkan perbedaan pemahaman bagi pembaca.
b. Penggunaan pedoman ejaan yang mencakup penulisan huruf, penulisan kata
dan tanda baca yang mengacu pada Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) .
2. Syarat Utama kalimat efektif terdiri dari :
a. Struktur Kalimat Efektif
Struktur kalimat merupakan unsur-unsur yang diperlukan dalam penyusunan
kalimat yang terdiri dari struktur kalimat umum, kalimat pararel dan kalimat
periodik.
b. Ciri-ciri Kalimat Efektif
Ciri-ciri kalimat efektif terdiri dari kesatuan, kehematan, penekanan dan
kevariasian.
Dalam buku Kalimat Efektif, Ida Bagus Putra Yasa, menjelaskan Bahasa Indonesia yang
baik adalah bahasa indonesia yang digunakan sesuia dengan situasi pemakainya,
sedangkan bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan
sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Dengan demikian secara keseluruhan yang
dimaksud bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang
penggunaannya sesuai dengan situasi pemakainya dan sesuai dengan kaidah yang
berlaku. Dengan demikian penggunaan bahasa dalam situasi dinas, pembuatan surat
dinas, laporan dinas, seminar, atau penulisan karya ilmiah merupakan situasi resmi yang
memerlukan bahasa yang resmi. Bahasa resmi adalah bahasa yang memenuhi
keresmian yang dapat diartikan sebagai bahasa baku. Dalam bahasa baku atau resmi
tentunya bahasa keseharian harus dihindari.
Contoh :
Tidak baku
-
Minggu lalu telah dibilang oleh Kepala kantor untuk mengirimkan surat panggilan
pemeriksaan.
Bahasa Indonesia|
28
-
Surat tugas untuk pemeriksaan pajak sudah dibikin oleh Tim pemeriksa pajak
Seharusnya :
-
Minggu lalu Kepala Kantor telah mengatakan untuk mengirimkan surat panggilan
pemeriksaan.
-
Surat tugas untuk pemeriksaan pajak sudah dibuat oleh Tim pemeriksa pajak
Secara lebih rinci, pemakaian bahasa sesuai dengan situasi pemakainya adalah
penggunaan bahasa indonesia yang memenuhi kaidah baku dan tidak baku. Apabila
bahasa atau kalimat digunakan untuk penyampaian informasi yang bersifat resmi
misalkan surat menyurat dinas, rapat, laporan dll, maka seharusnya digunakan bahasa
atau kalimat yang dapat mencerminkan sifat keresmian yaitu dengan menggunakan
bahasa/kalimat baku. Sebaliknya dalam menyampaikan informasi yang bersifat tidak
resmi maka bahasa atau kalimat yang digunakan dapat berupa kalimat baku dan tidak
baku. Dalam situasi tidak resmi, bahasa atau kalimat yang disampaikan dapat dipahami
oleh pihak pembaca/penerima pesan maka bahasa tersebut dapat dikatagorikan sebagai
bahasa yang baik.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia yang baik
belum tentu merupakan bahasa Indonesia yang benar dan sebaliknya bahasa Indonesia
yang benar belum tentu merupakan bahasa Indonesia yang baik, tergantung pada situasi
pemakainya dan kaidah bahasa yang berlaku.
Selanjutnya, agar lebih memahami penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar,
yang menitikberatkan pada pemakaian bahasa resmi maka pada sub bab berikutnya akan
dijelaskan hal-hal terkait dengan penyusunan bahasa baku.
B. Bentuk Bahasa Baku
Bentuk Bahasa baku adalah bahasa resmi atau formal baik tertulis maupun lisan. Ragam
baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar masyarakat
pemakaiannya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukkan norna- norna
bahasa dalam penggunaannya( Ida Bagus putrayasa, 2007).
Ragam baku mempunyai sifat- sifat sebagai berikut :
Bahasa Indonesia|
29
1. Kemantapan Dinamis
Kemantapan dinamis berupa kaidah- kaidah dan aturan- aturan yang tetap. Bahasa
baku atau standar tidak dapat berubah setiap saat. Dalam kemantapan bahasa baku
akan ditemukan adanya kata-kata yang menggunakan pola tertentu yang bersifat
sama misalnya perajin bukan pengrajin, perusak bukan pengrusak dll. Meskipun
demikian kemantapan bahasa baku tidak bersifat kaku, yang ditunjukkan dengan
munculnya kosa kata baru yang menggantikan kata sebelumnya, misalnya Langganan
adalah pihak penjual sesuai produk dan Pelanggan adalah pihak pembeli yang selalu
membeli suatu produk pada tempat yang sama.
2. Cendekia
Bahasa baku dinyatakan bersifat cendekia karena ragam bahasa baku umumnya
digunakan pada tempat resmi. Dalam penggunaanya bahasa baku dapat diwujudkan
dengan kalimat, paragrap, dan satuan bahasa yang lain yang lebih besar dengan
mengutamakan pengungkapan nalar atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk
akal. Proses untuk mencendekiaan bahasa itu sangat penting dilakukan mengingat
perkembangan ilmu dan teknologi modern, yang kini umumnya masih bersumber dari
bahasa asing dan harus dapat disampaikan dalam bahasa Indonesia.
3. Seragam
Bentuk bahasa baku bersifat seragam, maksudnya proses pembakuan adalah proses
penyeragaman bahasa yaitu pencarian titik- titik keseragaman. Misalnya untuk
menyebutkan pelayan yang bertugas menjadi awak kabin pesawat di kenal dengan
Pranmugari. Hal ini terjadi atas kesepakatan pihak yang mengusulkan dan kata yang
telah disepakati ini akan menjadi bentuk baku.
Bentuk baku dari bahasa memiliki ciri- ciri sebagai berikut :
a. Memakai ucapan baku
Ucapan baku / benar berkaitan dengan penggunaan bahasa lisan. Pembakuan
ucapan atau pelafalan masih sulit dilakukan sampai sekarang. Sebagai acuan,
pelafalan yang baik adalah pelafalan yang tidak terpengaruh oleh ucapan- ucapan
kedaerahan. Sebagai contoh masyarakat Jawa mengucapkan bunyi b, d, j, dar g,
diucapkan di awal kata: mBandung, mDemak, nJombang, ngGarut. Demikian pula,
pengucapan kata- kata bersuku mati fonem akhir/b/,/ct/, dan lgl, dilafalkan/p/,/t/rtkl
Misalnya pad,akata: bab, murid, ajeg, diucapkan menjadi bap, murit, ajek.
Bahasa Indonesia|
30
b. Memakai ejaan resmi
Bahasa baku wajib menggunakan ejaan resmi yang dituliskan secara jelas, dan
tetap pada kata, kalimat ,aupun tanda baca sesuai dengan Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempumakan( EYD).
c. Menghindari unsur- unsur daerah baik leksikal maupun gramatikal
1) Unsur- unsur leksikal adalah kata, terutam akata- kata dari bahasa daerah atau
kata- kata gaul yang merusak eksistensi bahasa Indoneia. Sebagai contoh,
kata yang harus dihindari :
Kata Daerah
Seharusnya
Ketemu
Bertemu
Situ
Kamu
Bikin
Membuat
Bilang
Mengatakan
Sistim
Sistem
2) Unsur gramatikal adalah unsur yang bersifat ketatabahasaan (pembentuk kata
atau kalimat). Contoh
Bahasa Indonesia Tidak Baku
Mobilnya orang itu baru
Saya sudah tahu dimana dia
disekolahkan
Kerjakan Pekerjaan itu sebaik mungkin
Bahasa Indonesia Baku
Mobil orang itu bagus
Saya
sudah
tahu
tempat
sekolahnya
Kerjakanlah pekerjaan itu sebaikbaiknya
3) Pemakaian fungsi gramatikal (Subyek, Predikat ) secara eksplisit dan
konsisten Contoh :
Bahasa Indonesia Tidak Baku
Kepada Bapak Kepala Kantor
kami silahkan
Kampus STAN yang indah itu
Penyusunan laporan ini saya
dibantu istri
Bahasa Indonesia Baku
Bapak Kepala Kantor kami silahkan
Kampus STAN itu indah
Dalam penyusunan laporan ini, saya
dibantu istri
4) Pemakaian konjungsi bahwa atau karena secara eksplesit dan konsisten
Contoh :
Bahasa Indonesia Tidak Baku
Hari ini dia tidak masuk dia wisuda
Mohon jangan ribut disini ada ujian
Bahasa Indonesia Baku
Hari ini dia tidak masuk karena
wisuda
Mohon jangan ribut karena di sini
ada ujian
Bahasa Indonesia|
31
5) Pemakaian awalan men-, di- atau ber- secara eksplesit dan konsisten.
Bahasa Indonesia Tidak Baku
Anak-anak tamatan SMK banyak kerja
di toko
Untuk urusan ini saya tidak mau ambil
risiko
Dua orang penduduk lokal curi sepeda
Bahasa Indonesia Baku
Anak-anak tamatan SMK banyak
bekerja di toko
Untuk urusan ini, saya tidak mau
mengambil risiko
Dua orang penduduk lokal
mencuri sepeda
6) Pemakaian partikel lah, kah, pun secara eksplesit dan konsisten Contoh :
Bahasa Indonesia Tidak Baku
Kerjakan latihan itu dengan baik
Bahasa Indonesia Baku
Kerjakanlah latihan itu dengan
baik
Berapa harga solar seliter
Berapakah harga solar seliter
Sampai sekarang dia tidak pernah hadir Sampai sekarangpun, dia tidak
pernah hadir
7) Pemakaian kata depan, kata sambung secara tepat
Bahasa Indonesia Tidak Baku
Hal ini akan saya laporkan sama
atasan saya
Kalungnya terbuat daripada
emas
Untuk pembangunan asrama itu
memerlukan puluhan hektar
lahan
Bahasa Indonesia Baku
Hal ini akan saya laporkan pada atasan
saya
Kalungnya terbuat dari emas
Pembangunan asrama itu memerlukan
puluhan hektar lahan
8) Pemakaian pola : aspek-pelaku-tindakan secara konsisten
Bahasa Indonesia Tidak Baku
Bahasa Indonesia Baku
Prosedur yang benar sudah Prosedur yang benar telah saya lalui
saya lalui
(Saya telah melalui prosedur itu…)
Pengamatan dia belum lakukan Pengamatan belum lakukan (Dia belum
melakukan pengamatan …)
Saya akan cari warga baru itu
Akan saya cari warga baru itu (Saya akan
mencari warga ….)
9) Menghindari pemakaian bentuk-bentuk yang mubazir atau bentuk bersinonim
Bahasa Indonesia Tidak Baku
Para hadirin sekalian yang saya
hormati
Ucapannya
banyak
mengandung kata-kata pedas
Kalau seandainya saya menjadi
camat, akan saya bangun
daerah ini
Bahasa Indonesia Baku
Hadirin yang saya hormati
Ucapannya
mengandung
kata-kata
pedas
Seandainya saya menjadi camat, akan
saya bangun daerah ini
Bahasa Indonesia|
32
10) Menghindari pemakaian kalimat yang bermakna ganda
Bahasa Indonesia Tidak Baku
Bahasa Indonesia Baku
Seluruh murid dilarang tidak Seluruh murid dilarang merokok
boleh merokok
Ibu Dewi sangat mencintai Ibu Dewi sangat mencintai suaminya,
suaminya, saya juga
saya juga mencintai suami saya
11) Memakai konstruksi sintetis
Bahasa Indonesia Tidak Baku
Dikasih komentar
Bahasa Indonesia Baku
Dikomentari
Bikin rusak
Dia punya buku
Dirusakan
Bukunya
12) Kata-kata yang sering salah pemakaiannya
Dibawah ini akan disampaikan contoh kata-kata yang sering digunakan secara
salah, namun pemakaian kata yang sering ini mengakibatkan salah kaprah
sehingga dianggap benar.
Kata
Acuh
Keberatan
Penjabat
Pejabat
Pengacara
Pembawa acara
Makna sebenarnya
Peduli
Terlalu berat
Pejabat sementara
Orang yang mempunyai jabatan
Penasehat hukum
Pewara
C. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan digunakan oleh bagi instansi
pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik
dan benar. Secara teknis yang dimaksud dengan ejaan adalah hal-hal yang terkait
dengan penyusunan kalimat yaitu :
-
pemakaian huruf,
-
penulisan kata,
-
penggunaan tanda baca.
Penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sebagai mana di atur dalam Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional 46 Tahun 2009, perlu dipahami karena merupakan salah
satu faktor yang mendukung kalimat yang efektif.
Bahasa Indonesia|
33
1. Pemakaian Huruf
a. Penulisan huruf besar atau huruf kapital
Huruf kapital sering juga disebut dengan huruf besar.
Namun istilah ini dapat membingungkan karena pada
kenyataannya akan ada huruf kapital dalam ukuran kecil,
misalnya font 8. Sebaliknya juga akan ada huruf kecil (bukan kapital) dalam
ukuran besar, misalnya font 40. Oleh karena itu, menurut Eko Sugiarto, yang
dimaksud dengan huruf kapital, yaitu huruf yang berukuran dan berbentuk
khusus.
Berdasarkan EYD, penggunaan huruf kapital adalah sebagai berikut.
No
1.
Uraian
Sebagai unsur pertama kata
pada awal kalimat
Contoh
2.
Sebagai
huruf
petikan langsung
pertama
 Adik bertanya, “Di mana kita makan?”
 Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah,
Nak!”
 “Kemarin engkau datang,” katanya.
 “Besok pagi,” kata ibu, “dia akan
berangkat”.
3.
Sebagai
huruf
pertama
dalam
ungkapan
yang
berhubungan dengan nama
Tuhan dan Kitab Suci,
termasuk kata ganti untuk
Tuhan
 Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha
Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam,
Kristen.
 Tuhan tunjukkan jalan terbaik kepada
hamba-Nya.
 Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke
jalan yang Engkau beri rahmat.
4.
Sebagai huruf pertama nama
gelar
kehormatan,
keturunan, dan keagamaan
yang diikuti nama orang





5.
Sebagai huruf pertama unsur
nama jabatan dan pangkat
yang diikuti nama orang atau
yang
dipakai
sebagai
 Presiden Joko Widodo
 Perdana Menteri Nehru
 Profesor Supomo




Dia membaca.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu belum selesai.
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim
Bahasa Indonesia|
34
No
Uraian
pengganti
nama
orang
tertentu, nama instansi, atau
nama tempat
Contoh
 Laksamana Muda Udara Husein
Sastranegara
 Sekretaris Jenderal
Kementerian
Keuangan
 Gubernur Bali
6.
Sebagai
huruf
pertama
unsur-unsur nama orang




7.
Sebagai huruf pertama nama
bangsa, suku bangsa, dan
bahasa
 Bangsa Indonesia, suku Bali, bahasa
Inggris
8.
Sebagai huruf pertama nama
tahun, bulan, hari, hari raya,
dan peristiwa sejarah
 tahun Hijriah, tarikh Masehi, bulan
Agustus, bulan Maulid, hari Jumat, hari
Galungan, hari Lebaran, hari Natal,
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
9.
Huruf kapital dipakai sebagai
huruf pertama nama geografi
 Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit
Barisan, Cirebon, Danau Toba, Dataran
TinggiDieng, Gunung Semeru, Jalan
Diponegoro, Jazirah Arab, Kali Brantas,
LembahBaliem,
Ngarai
Sianok,
Pegunungan Jayawijaya, Selat Lombok,
Tanjung
Harapan,Teluk
Benggala,
Terusan Suez
10. Sebagai
huruf
pertama
semua unsur nama negara,
lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, serta nama
dokumen resmi, kecuali kata
seperti dan
 Republik Indonesia
 Majelis Permusyawaratan Rakyat
 Departemen
Pendidikan
dan
Kebudayaan
 Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak
 Keputusan PresidenRepublik Indonesia
Nomor 57 Tahun 1972
11. Sebagai
huruf
pertama
setiap unsur bentuk ulang
sempurna yang terdapat
pada nama badan, lembaga
pemerintah
dan
ketatanegaraan,
serta
dokumen resmi
 Perserikatan Bangsa-Bangsa
 Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
 Undang-Undang DasarRepulik
Indonesia
 Rancangan Undang-Undang
Kepegawaian
12. Sebagai
huruf
pertama
semua
kata
(termasuk
semua unsur kata ulang
sempurna) di dalam nama
buku, majalah, surat kabar
dan judul karangan, kecuali
kata seperti di, ke, dari, dan,
 Saya telah membaca buku Dari Ave
Maria ke Jalan Lain ke Roma
 Bacalah majalah Bahasa dan Sastra
 Dia adalah agen surat kabar Sinar
Pembangunan
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Bahasa Indonesia|
35
No
Uraian
yang, untuk yang tidak
terletak pada posisi awal
Contoh
 Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas
Hukum Perdata”
13. Sebagai huruf pertama unsur
singkatan
nama
gelar,
pangkat, dan sapaan









Dr. doctor
M.A. master of arts
S.E. sarjana ekonomi
S.H. sarjana hukum
S.S. sarjana sastra
Prof. professor
Tn. tuan
Ny. nyonya
Sdr. saudara
14. Sebagai
huruf
pertama
penunjuk
hubungan
kekerabatan seperti bapak,
ibu, saudara, kakak, adik,
dan paman yang dipakai
dalam
penyapaan
dan
pengacuan







“Kapan Bapak Berangkat?” tanya Harto.
Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”
Surat Saudara sudah saya terima
“Silakan duduk, Dik!” kata Ucok
Besok Paman akan datang
Mereka pergi ke rumah Pak Camat
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan
15. Sebagai huruf pertama kata
ganti Anda
 Sudahkah Anda tahu?
 Surat Anda telah kami terima
Tidak Memakai Huruf Kapital
Terdapat pengecualian pemakaian huruf kapital, yaitu sebagai berikut.
No
Uraian
1.
Tidak dipakai sebagai huruf pertama
unsur nama jabatan dan pangkat yang
diikuti nama orang atau yang dipakai
sebagai pengganti nama orang tertetu,
nama instansi, atau nama tempat.
Tidak dipakai sebagai huruf pertama
nama jabatan dan pangkat yang tidak
diikuti nama orang, nama instansi, atau
nama tempat.
 Dia baru saja diangkat
menjadi sultan
 Tahun ini dia pergi naik haji
Tidak dipakai sebagai huruf pertama
nama orang yang digunakan sebagai
nama jenis atau satuan ukuran
 Mesin diesel
 10 volt
 5 ampere
2.
3.
Contoh
 Siapakah gubernur yang
baru dilantik itu?
 Kemarin Brigadir Jenderal
Ahmad dilantik menjadi
mayor jenderal
Bahasa Indonesia|
36
No
4.
5.
Uraian
Contoh
Tidak dipakai sebagai huruf pertama 
nama bangsa, suku, dan bahasa yang
dipakai sebagai bentuk dasar kata
turunan
Tidak dipakai sebagai huruf pertama 
peristiwa sejarah yang tidak dipkai
sebagai nama

Mengindonesiakan
kata
asing keinggris-inggrisan
Soekarno
dan
Hatta
memproklamasikan
kemerdekaan bangsanya
Perlombaan
senjata
membawa resiko pecahnya
perang dunia
6.
Tidak dipakai sebagai huruf pertama
istilah geografi yang tidak menjadi
unsur nama diri
 berlayar ke teluk, mandi di
kali, menyeberabangi selat,
pergi ke arah tenggara
7.
Tidak dipakai sebagai huruf pertama
nama geografi yang digunakan
sebagai nama jenis.




8.
Tidak dipakai sebagai huruf pertama
kata yang bukan nama negara,
lembaga
pemerintah
dan
ketatanegaraan, badan, serta nama
dokumen resmi.
 Menjadi sebuah republik
 Beberapa badan hukum
 Kerja
sama
antara
Pemerintah dan rakyat
 Menurut
undang-undang
yang berlaku
9.
Tidak dipakai sebagai huruf pertama
kata penunjuk hubungan kerabatan
yang tidak dipakai dalam pengacuan
atau penyapaan.
 Kita
semua
harus
menghormati bapak dan ibu
kita
 Semua kakak dan adik saya
sudah berkeluarga
garam inggris
gula jawa
kacang bogor
pisang ambon
b. Penulisan huruf miring
Saat ini, pemakaian komputer sudah sangat jamak, sehingga penulisan huruf
miring tidak terkendala, cukup tekan icon italic atau tekan tombol Ctrl+i. Dalam
tulisan tangan atau mesin ketik tidak mudah menulis huruf miring, huruf atau kata
yang akan dicetak miring digarisbawahi. Garis bawah tersebut kata demi kata,
spasi antarkata tidak perlu digarisbawahi. Adapun penggunaan huruf miring
berdasarkan EYD adalah sebagai berikut.
Bahasa Indonesia|
37
No
1.
Uraian
Untuk menuliskan nama buku,
majalah dan surat kabar yang
dikutip dalam tulisan
Contoh
2.
Untuk
menegaskan
atau
mengkhususkan huruf,
bagian
kata, kata, atau kelompok kata
 Huruf pertama kata abad adalah
a
 Dia buka menipu, tetapi ditipu
 Bab ini tidak membicarakan
penulisan huruf kapital
 Buatlah kalimat dengan berlepas
tangan
3.
Untuk menuliskan nama ilmiah
atau ungkapan asing, kecuali
ungkapan asing yang telah diserap
ke dalam bahasa Indonesia
penulisannya
diperlakukan
sebagai kata Indonesia
 Nama ilmiah buah manggis ialah
Carcinia mangostama
 Politik devide et impera pernah
merajalela di negeri ini
 Weltanschauung antara lain
diterjemahkan
menjadi
‘pandangan dunia’
 Tetapi:
o Negara itu telah mengalami
empat kali kudeta.
o Korps diplomatik memperoleh
perlakuan khusus.
 majalah Bahasa dan Sastra
 buku
Negarakertagama
karangan Prapanca
 surat kabar Suara Rakyat
Bahasa Indonesia|
38
2. Penulisan Kata
a. Kata turunan
No
Uraian
1.
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis
serangkai dengan kata dasarnya
2.
Jika bentuk dasar berupa gabungan kata,
awalan atau akhiran ditulis serangkai
dengan kata yang langsung mengikuti
atau mendahuluinya
3.
Jika bentuk dasar yang berupa gabungan
kata mendapat awalan dan akhiran
sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulus
serangkai
4.
Jika salah satu unsur gabungan kata
hanya
dipakai
dalam
kombinasi,
gabungan kata itu ditulis serangkai
Contoh
bergetar, dikelola, penetapan,
menengok, mempermainkan
bertepuk
tangan,
garis
bawahi, menganak sungai,
sebar luaskan
menggarisbawahi,
menyebarluaskan,
dilipatgandakan,
penghancurleburan
adipati, aerodinamika,
antarkota, anumerta,
audiogram, awahama,
bikarbonat, biokimia,
caturtunggal, dasawarsa,
dekameter, demoralisasi,
dwiwarna, ekawarna,
ekstrakurikuler, elektroteknik,
infrastruktur, inkonvensional,
introspeksi, kolonialisme,
kosponsor, mahasiswa,
mancanegara, multilateral,
narapidana, nonkolaborasi,
Pancasila, panteisme,
paripurna, poligami,
pramuniaga, prasangka,
purnawirawan, reinkarnasi,
saptakrida, semiprofessional,
subseksi, swadaya, telepon,
transmigrasi, tritunggal,
ultramodern
Catatan:
1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf non-Indonesia,
panawalnya adalah huruf kapital, diantara kedua Afrikanisme
unsur itu harus dituliskan tanda hubung (-)
2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan  Mudah-mudahan Tuhan
diikuti kata esa dan kata yang bukan kata
Yang
Maha
Esa
dasar, gabungan itu ditulis terpisah
melindungi kita.
 Marilah kita beersyukur
kepada Tuhan Yang Maha
Pengasih.
3) Jika kata maha sebagai unsur gabungan  Tuhan Yang Mahakuasa
merujuk kepada Tuhan dan diikuti oleh kata
menentukan arah hidup
dasar, kecuali kata esa, gabungan itu ditulis
kita.
serangkai
 Mudah-mudahan Tuhan
Yang
Maha
Esa
melindungi kita.
Bahasa Indonesia|
39
No
Uraian
4) Bentuk-bentuk terikat dari bahasa asing yang
diserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti
pro, kontra, dan anti, dapat digunakan
sebagai bentuk dasar
5) Kata tak sebagai unsur gabungan dalam
peristilahan ditulis serangkai dengan bentuk
dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis
terpisah jika diikuti oleh bentuk berimbuhan






Contoh
Sikap masyarakat yang
pro lebih banyak daripada
yang kontra.
Mereka memperlihatkan
sikap
anti
terhadap
kejahatan.
Taklaik terbang
Taktembus cahaya
Tak bersuara
Tak terpisahkan
b. Kata Depan
Penggunaan kata depan di, ke, dan dari ditulis harus ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya, kecuali kata depan ini ada di dalam gabungan kata yang sudah
lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Pada prinsipnya,
penulisan di dan ke ada dua macam, yaitu sebagai awalan dan sebagai kata
depan.
1) Penulisan di sebagai kata depan harus ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya. Fungsi sebagai kata depan yang menunjukkan tempat atau
keberadaan sesuatu. Biasanya, di sebagai kata depan merupakan penentu
tempat dan jawaban atas pertanyaan yang menanyakan tempat.
Misalnya :
-
di rumah, di kantor, di gudang, di pasar, di toko, di jalan raya, dan
sebagainya.
-
Kain itu terletak di dalam lemari.
-
Bermalam sajalah di sini.
-
Di mana Siti sekarang?
-
Mereka ada di rumah.
-
Ia ikut terjun di tengah kancah perjuangan.
2) Penulisan di sebagai awalan harus ditulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya.
Misalnya:
-
dibaca, diminum, diambil, diangkat, diselimuti, dan sebagainya.
-
Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.
Bahasa Indonesia|
40
3) Penulisan ke sebagai kata depan harus ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya. Biasanya, ke sebagai kata depan menyatakan arah atau tujuan
dan jawaban atas pertanyaan, “Ke mana?”
Misalnya :
-
ke sekolah, ke pasar, ke pantai, ke pusat perbelanjaan, ke Yogyakarta, ke
luar negeri, dan sebagainya.
-
Ke mana saja ia selama ini?
-
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
-
Mari kita berangkat ke pasar.
-
Saya pergi ke sana-sini mencarinya.
4) Penulisan ke sebagai awalan harus ditulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya.
Misalnya:
-
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
-
Kesampingkan saja surat permohonan yang tidak jelas.
-
Ia masuk, lalu keluar lagi.
-
Bawa kemari gambar itu.
-
Kemarikan buku itu.
-
kelima, ketua, kekasih, keterampilan, kemanusiaan, dan sebagainya.
Kata depan di dan ke pada kalimat tertulis dapat digunakan secara tepat dengan
cara menggantikannya dengan kata yang lain. Dibawah ini dijelaskan kata yang
dapat digunakan untuk menguji apakah penulisan kata depat di dan ke sudah tepat
yaitu :
1) Umumnya kata di dan ke ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya (sebagai
kata depan) jika di dan ke tersebut dapat diganti dengan kata dari.
Misalnya:
-
Di sini, ke sini
 dari sini
-
Di kantor, ke kantor
 dari kantor
-
Di luar negeri, ke luar negeri
 dari luar negeri
Bahasa Indonesia|
41
2) Ke pada kata kemari, meskipun menunjukkan arah, harus ditulis serangkai
karena ke pada kata kemari tidak lazim diganti dengan kata di dan dari.
Misalnya: kemari  di mari (tidak lazim), dari mari (tidak lazim)
3) Penulisan kata keluar ada dua macam. Jika merupakan lawan makna masuk,
ditulis serangkai. Jika sebagai lawan makna ke dalam, ditulis terpisah.
Misalnya:
-
Pak Farhan baru saja keluar kelas
 lawan makna masuk
-
Pak Farhan berangkat ke luar negeri
 lawan makna ke dalam
3. Partikel
a. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
-
Bacalah buku itu baik-baik.
-
Apakah yang tersirat dalam dalam surat itu?
-
Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia.
-
Siapakah gerangan dia?
-
Apatah gunanya bersedih hati?
-
Apatah gunanya bersedih hati?
b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
-
Apa pun yang dilakukannya, ia tetap terbaik.
-
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
-
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke
rumahku.
-
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.
Terdapat kata-kata yang memakai partikel pun pada kelompok yang sudah lazim
dan dianggap padu, contohnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun,
biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun,
walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
-
Adapun sumber beritanya belum diketahui.
-
Bagaimanapun juga akan dicobanya menghubungi Saudaranya.
-
Baik karyawan maupun karyawati ikut berdiskusi.
-
Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Bahasa Indonesia|
42
-
Walaupun miskin, ia selalu gembira.
c. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat
yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
-
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
-
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
-
Harga kain itu Rp 2.000,00 per helai.
Catatan:
Partikel per dalam bilangan pecahan yang ditulis dengan huruf dituliskan serangkai
dengan kata yang mengikutinya.
4. Kata Bilangan
Bilangan dapat dinyatakan dengan angka atau kata. Angka dipakai sebagai lambang
bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka
Romawi.
-
Angka Arab
: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
-
Angka Romawi
: I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L, C, D, M
a. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii)
satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Misalnya:
- 0,5 sentimeter
- pukul 15.00
- liter
- 50 dolar Amerika
- $5.10*
- 10 persen
1 jam 20 menit
4 meter persegi
17 Agustus 1945
US$3.50*
100 yen
27 orang
5 kilogram
tahun 1928
Rp5.000,00
10 paun Inggris
Y100
catatan:
(1) Tanda titik pada contoh bertanda bintang (*) karena merupakan satuan mata
uang asing mama menunjukkan tanda desimal
(2) Penulisan lambang mata uang, seperti Rp, US$, £, ¥ tidak diakhiri dengan
tanda titik dan tidak ada spasi antara lambang itu dan angka yang
mengikutinya, kecuali di dalam tabel.
b. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau
kamar pada alamat.
Misalnya:
Bahasa Indonesia|
43
-
Jalan Kemanggisan Raya No.1 Jakarta Barat
-
Hotel Indonesia, Kamar 169
c. Angka digunakan juga untuk memberi nomor bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
- Bab X, Pasal 5, halaman 252
- Surah Yasin: 9
d. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
1) Bilangan utuh
Misalnya:
- Dua belas
12
- Dua puluh dua
22
- Dua ratus dua puluh dua 222
2) Bilangan pecahan
Misalnya:
- Setengah
- Tiga perempat
- Seperenam belas
- Tiga dua pertiga
- Seperseratus
- Satu persen
- Satu permil
- Satu dua persepuluh
½
¾
1/16
3 2/3
1/100
1%
1‰
1,2
Catatan:
Tanda hubung dapat digunakan dalam penulisan lambing bilangan dengan
huruf yang dapat menimbulkan salah pengertian.
Misalnya:
- 20 2/3 (dua puluh dua-pertiga)
- 22/30
(dua-puluh-dua pertiga puluh)
- 20 15/17 (dua puluh lima-belas pertujuh belas)
- 150 2/3 (seratus lima puluh dua-pertiga)
e. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:
- pada awal abad XX
- dalamkehidupan abad ke-20 ini
- pada awal abad kedua puluh
- kantor di tingkat II gedung itu
- di tingkat ke-2 gedungitu
- di tingkat keduagedung itu
f.
Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti cara yang
berikut.
Bahasa Indonesia|
44
Misalnya:
- tahun ’50-an atau tahun lima puluhan
- uang 5000-an atau uang lima ribuan
- lima uang 1.000-an atau lima uang seribuan
g. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis
dengan huruf,kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan,
seperti dalam perinciandan pemaparan.
Misalnya:
-
Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
-
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
-
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan
52 orang memberikan suara blangko.
-
Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100
helicak, 100 bemo.
h. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan
kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau
dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
-
Dua belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
-
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu
Penulisan yang salah :
i.
-
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
-
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
Angka yang menunjukkan bilangan utuh secara besar dapat dieja
Misalnya:
j.
-
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
-
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 200 juta orang.
Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks, kecuali
didalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Misalnya:
-
Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
-
Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
Bukan:
-
Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pgawai.
-
Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
k. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Bahasa Indonesia|
45
Misalnya:
-
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (Sembilan ratus
Sembilanpuluh Sembilan dan tujh puluh lima perseratus rupiah).
Penulisan yang salah :
-
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (Sembilan ratus Sembilan
puluhSembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.
5. Kata-kata yang sering salah penulisan
Terdapat beberapa kata yang dipengaruhi dengan pengucapannya sehingga dalam
menuliskan kata tersebut sering terjadi kesalahan. Beberapa kata yang sering terjadi
kesalahan penulisan adalah :
Penulisan yang salah
Atlit
Cuman
Akhli
Apotik
kaedah
Penulisan yang benar / baku
Atlet
Cuma
Ahli
Apotek
kaidah
6. Ungkapan idiomatik
Ungkapan idiomatik adalah kalimat yang mempunyai pasangan tetap artinya kata
tersebut selalu hadir dengan pasangannya. Contoh
Penulisan yang salah
Sesuai
disebabkan
Penulisan yang benar / baku
Sesuai dengan
Disebabkan oleh
7. Penggunaan Tanda Baca
a. Tanda titik (.)
1) Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
-
Orang Tuaku tinggal di Denpasar.
-
Biarlah mereka duduk di sana.
-
Dia menanyakan siapa yang akan datang.
-
Hari ini tanggal 06 April 2003.
-
Marilah kita mengheningkan cipta.
-
Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.
Bahasa Indonesia|
46
Khusus untuk kalimat yang sudah diakhiri dengan tanda titik, maka tanda (.)
cukup dituliskan satu kali.
Misalnya:
-
Buku itu disusun oleh Drs. Sudjatmiko, M.A.
Dia membeli buku, pensil, dsb.
Dia mengatakan, “Kaki saya sakit.”
2) Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar,
atau daftar.
Misalnya:
-
III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
B. Direktorat Jenderal Agraria
1. …
-
1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
Penulisan tanda titik (.) pada angka atau huruf yang dituliskan pada bagan
atau ikhtisar maka tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf yang tanda
terakhir dalam deratan angka atau huruf.
3) Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan waktu.
Misalnya : Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35
menit, 20 detik)
4) Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan jangka waktu.
Misalnya:
-
2.30.10 jam (2 jam, 30 menit, 10 detik)
-
0.40.20 jam (40 menit, 20 detik)
-
0.0.30 jam (30 detik)
5) Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan
yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.
Bahasa Indonesia|
47
Misalnya : Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai
Poestaka.
6) Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya:
-
Pulau itu berpenduduk 24.200 orang.
-
Bencana Alam yang terjadi tahun lalu menewaskan 1.001 jiwa.
7) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
-
Ia lahir pada tahun 2003 di Jakarta.
-
Lihat halaman 2345 seterusnya.
-
Nomor gironya 2345678.
8) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan
atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Misalnya:
-
Acara Peresmian Bendungan
-
Bentuk dan Kedaulatan (Bab 1 UUD ’45)
-
Panti Jompo
9) Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal suat atau
(2) nama dan alamat surat.
Misalnya:
-
Jalan Bintaro Raya 12 (tanpa titik)
-
Mataram (tanpa titik)
-
6 April 2003 (tanpa titik)
-
Yth. Sdr. Moh. Nurkhasan (tanpa titik)
-
Jalan Cucur Raya 12 (tanpa titik)
-
Probolinggi (tanpa titik)
Atau:
-
Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)
-
Jalan Sakti 1 (tanpa titik)
-
Denpasar (tanpa titik)
b. Tanda koma (,)
1) Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau
pembilangan.
Bahasa Indonesia|
48
Misalnya:
-
Saya menjual beras, tepung, dan Minyak goreng.
-
Surat biasa, surat kilat, maupun surat khusus memerlukan prangko.
-
Satu, dua, … tiga!
2) Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat
setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, atau melainkan.
Misalnya:
-
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
-
Budi bukan siswa saya, melainkan siswa Ibu Murni.
3) Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika
anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
-
Kalau hari hujan, saya tida datang.
-
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
4) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat
jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
-
Saya akan hadir kalau menerima undangan.
-
Dia tidak akan datang karena ujian.
-
Dia paham bahwa belajar itu penting.
5) Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antar
kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena
itu, jadi, lagi pula,meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya:
-
Anak itu tekun dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa
belajar di luar negeri.
-
Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi
siswa terbaik.
-
Meskipun begitu, dia tidak pernah berlaku sombong kepada siapapun.
6) Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan
dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:
-
O, begitu?
-
Wah, hebat sekali!
-
Hati-hati, ya, nanti jatuh.
-
Sudah saatnya istirahat, pak.
Bahasa Indonesia|
49
7) Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
dalam kalimat.
Misalnya:
-
Kata ibu “Saya senang sekali.”
-
“Saya Senang sekali,” kata ibu, “karena kamu lulus.”
8) Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat,
(iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang
ditulis berurutan.
Misalnya:
-
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Ekonomi,
Universitas Terbuka
-
Indonesia, Jalan raya Melawai 4, Jakarta.
-
Sdr. Winarsa, Jalan Mawar Merah 12, Bogor.
-
Kuala Lumpur, Malaysia.
9) Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya
dalam daftar pustaka.
Misalnya : Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa
Indonesia. Jilid 1 dan2. Djakarta: Pustaka Rakjat.
10) Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misalnya : W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karangmengarang (Jogjakarta:UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
11) Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang
mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau
marga.
Misalnya :
-
Aditya, S.E.
-
Ny. Melati, M.A.
12) Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen
yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya :
-
12,5 m
-
Rp12,50
13) Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak
membatasi.
Misalnya :
-
Dosen saya, Pak Untung, pandai sekali.
Bahasa Indonesia|
50
-
Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.
-
Seluruh pegawai, baik yang laki-laki maupun perempuan, mengikuti
latihan paduan suara.
Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit
tanda koma:
Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
14) Tanda
koma
dapat
dipakai―untuk
menghindari
salah
baca―di
belakangketerangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
-
Dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan
sikap yang sungguh-sungguh.
-
Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
-
Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam upaya
pembinaan dan pengembanagan bahasa.
-
Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.
15) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langung itu berakhir dengan
tanda tanya atau seru.
Misalnya:
-
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.
-
“Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.
c. Tanda tanya
1) Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya:
-
Kapan ia berangkat?
-
Saudara tahu, bukan?
2) Tanda taya dipakai dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat
yangdisangsikan atau yang kurang dapat membuktikan kebenarannya.
Misalnya:
-
Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?).
-
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
Bahasa Indonesia|
51
d. Tanda seru
Tanda seru dipakai sesuda ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau
perintah yangmenggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa
emosi yang kuat.
Misalnya:
-
Alangkah seramnya peristiwa itu!
-
Bersihkan kamar itu sekarang juga!
-
Masak! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya.
-
Merdeka!
e. Tanda Garis Miring (/)
1) Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat dan nomormpada alamat dan
penandaanmasa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
-
No. 7/PK/1973
-
Jalan Kramat III/10
-
tahun anggaran 1985/1986
2) Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
Misalnya:
- dikirimkan lewat darat atau lewat laut
‘dikirim lewat darat/laut’
- harganya Rp25,00/lembar
‘harganya Rp25,00 tiap lembar’
Bahasa Indonesia|
52
D.
STRUKTUR KALIMAT EFEKTIF
Kalimat dinyatakan efektif apabila kalimat itu mampu menyampaikan suatu informasi
kepada pihak lain secara utuh, sesuai sasaran dan diterima secara sempurna. Informasi
atau pesan dapat diterima dengan sempurna karena pemilihan kata yang mendukung
kalimat sehingga dapat mengungkapkan kandungan gagasan.Dengan demikian kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan ditinjau
dari sisi pemilihan kata, struktur, dan logikanya.
1. Syarat Kalimat Efektif
Menururt Ida Bagus Putrayasa, kalimat efektif harus memenuhi dua syarat yaitu syarat
awal dan syarat utama.
a. Syarat awal kalimat efektif
a.1. Pemilihan kata (diksi) yang mencakup :
1) Kata-kata yang memenuhi isoformisme yaitu kesamaan makna karena
kesamaan pengalaman masa lalu atau adanya kesamaan struktur kognitif;
2) Kata-kata yang bersinonim (kesamaan arti) dan berhomofon (kesamaan bunyi);
3) Kata-kata yang bermakna denotasi (makna konseptual atau makna dasar) dan
konotasi (makna yang mengacu pada nilai dan rasa);
4) Kata umun dan khusus. Semakin luas cakupan makna kata maka makin umum
sifatnya. Sebaliknya makin sempit cakupan maknanya maka semkin khusus
sifat kata tersebut;
5) Kata-kata atau istilah asing. Penggunaan kata atau istilah asing sedapat
mungkin dihindari agar isnformasi yang ingin disampaikan dapat diterima
dengan baik oleh lawan bicara kita;
6) Kata abstrak dan konkrit. Kata abstrak lebih sulit dipahami daripada kata
kongkrit. Kata abstrak mempunyai referen berupa konsep, sedangkan kata
kongkret mempunyai referen objek yang dapat diamati. Jika yang didiskripsikan
suatu fakta, tentu saja harus lebih banyak menggunakan kata-kata kongkret;
7) Kata populer dan kata kajian. Kata populer adalah yang dipergunakan pada
berbagai kesempatan dalam komunikasi sehari-hari di kalangan semua
masyarakat adalah kata populer. Sedangkan kata kajian adalah kelompok kata
Bahasa Indonesia|
53
yang hanya dikenal dan dipergunakan secara terbatas dalam kesempatankesempatan tertentu;
8) Jargon, kata percakapan, dan slang. Untuk tulisan formal untuk khalayak yang
lebih luas, lebih baik dihindari kata-kata yang termasuk ‘jargon’ karena hanya
dipahami oleh kalangan tertentu; dan
9) Bahasa prokem. Bahasa prokem hanya diketahui oleh kalangan tertentu yang
biasanya berbentuk sandi oleh karena itu tidak baik digunakan untuk tulisan
yang bersifat umum.
a.2. Penggunaan pedoman ejaan yang mencakup:
1) Penulisan huruf;
2) Penulisan kata; dan
3) Tanda baca.
Untuk ketiga hal tersebut kita harus mengacu pada Ejaan Yang Disempurnakan
dan akan dibahas dalam bab selanjutnya.
b. Syarat Utama Kalimat Efektif
Menurut Ida Bagus Putrayasa, menjelaskan syarat utama kalimat efektif adalah
struktur dan ciri kalimat efektif.
b.1. Struktur kalimat efektif
Struktur kalimat efektif terdiri dari tiga struktur yaitu kalimat umum, kalimat
pararel atau kesejajaran, dan kalimat periodik.
Struktur kalimat umum
unsur-unsur yangmembangun kalimat dapat dibedaan menjadi dua, yaitu:
unsur wajib dan unsur takwajib (manasuka efektif). Unsur wajib adalah unsur
yang harus ada dalam sebuah kalimat, yaitu subjek (S) dan predikat (P).
Sedangkan unsur takwajib adalah unsur yang boleh ada dan boleh tidak ada,
yaitu kata kerja bantu: harus, boleh; keterangan aspek: sudah, akan;
keterangan: tempat, watu, cara, dan sebagainya. Unsur-unsur tersebut dapat
diikhtisarkan sebagai berikut.
Bahasa Indonesia|
54
(Aux)
K
=
FSb
+
(Asp)
(W)
+
FPr
+
(T)
(Pnd)
(C)
Keterangan :
K
FSb
FPr
:
:
:
Kalimat
Frase Subjek
Frase
Predikat
:
:
FB (Frase Benda)
FB (Frase Benda)
FK (Frase Kerja)
FS (Frase Sifat)
FD (Frase Depan)
Fbil (Frase Bilangan)
Aux
:
Auxilary
: Harus, boleh, mau;
Asp
:
Aspek
: Sudah, akan, senang;
Pnd
:
: Memang, tidak, hanya;
W
:
: Sebelum, sesudah, ketika;
T
:
: di......., ke......., dari.....,;
C
:
: Sebab, akibat, syarat, perlawanan, keadaan,
dan lain-lain
Unsur-unsur yang diapit tanda kurung disebut unsur manasuka, sedangkan
yang lain disebut unsur wajib.
Contoh
Dia memang sudah harus berangkat hari Minggu ke Jakarta untuk diklat.
Fsb
Pnd
Asp Aux
FPr
W
T
C
Unsur wajib kalimat tersebut adalah : Dia berangkat.
Struktur kalimat pararel atau kesejajaran
Pararelisme atau kesejajaran dalam kalimat adalah penggunaan bentukbentuk bahasa yang sama yang dipakai dalam susunan serial. Jika sebuah
ide dalam suatu kalimat dinyatakan dengan frase (kelompok kata), maka ideide yang sederajat harus dinyatakan dengan frase juga. Jika sebuah ide
dalam suatu kalimat dinyatakan dengan kata benda (misalnya bentuk pe-an,
ke-an), maka ide lain yang sederajat harus dengan kata benda juga. Demiian
juga halnya bila sebuah ide dalam suatu kalimat dinyatakan dengan kata kerja
(misalnya bentuk me-kan, di-kan), maka ide lainnyayang sederajat harus
dinyatakan dengan jenis kata yang sama. Pararelisme akan membantu
memberi kejelasan kalimat secara keseluruhan.
Bahasa Indonesia|
55
Contoh :
a) Penyakit
alzheimer alias pikun adalah satu segi usia tua yang paling
mengerikan dan berbahaya, sebab pencegahan dan cara pengobatannya
tak ada yang tahu.
Dalam kalimat tersebut ide yang sederajat adalah kata “mengerikan dan
berbahaya” dan kata “pencegahan dengan cara mengobatanya”. Ide yang
sederajat dalam kalimat tersebut tidak sederajat, agar sederajat maka
sebaiknya kalimat tersebut menjadi sebagai berikut.
Penyakit
alzheimer alias pikun adalah satu segi usia tua yang paling
mengerikan dan membahayakan, sebab pencegahannya dan cara
pengobatannya tak ada yang tahu.
b) Pemeriksa sudah meminta dokumen pendukung kepada Wajib Pajak dan
sudah diperhitungkan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan.
Buat kalimat tersebut menjadi kalimat dengan struktur yang sejajar:
________________________________________________________
__________________________________________________________
__________________________________________________________
Kesejajaran sebuah kalimat terdiri dari dua macam yaitu kesejajaran dari segi
bentuk maupun dari segi makna.
a) Kesejajaran Bentuk
Imbuhan digunaan untuk membentuk kata berperan dalam menentukan
kesejajaran. Berikut ini contoh yang memperlihatkan ketidak-sejajaran
bentuk.
Kegiatan pemeriksaan meliputi peminjaman buku, menghitung pajaknya,
dan menerbitkan ketetapan pajak.
Ubahlah kalimat tersebut agar mempunyai kesejajaran bentuk
__________________________________________________________
___________________________________________________________
b) Kesejajaran Makna
Dalam sebuah kalimat bentuk dan makna mempunyai kaitan yang erat,
ibarat dua sisi mata uang. Harus ada hubungan kesejajaran makna antara
Bahasa Indonesia|
56
subjek, predikat, objek, dan sebagainya. Hubungan itu ditentukan oleh
relasi makna antarsatuan.
Contoh
Dia berdebat mempertahankan pendapat masing-masing.
Dalam kalimat tersebut ‘berdebat’ bermakna ‘saling debat’. Hal itu berarti
harus dilakuan oleh lebih dari satu orang. Karena kata ‘dia’ bermakna
tunggal, subjek kalimat tersebut perlu diubah, misalnya ‘mereka’.
Setelah menyiapkan semuanya, pemeriksaanpun segera dimulai.
Ubah kalimat tersebut agar mempunyai kesamaan predikat
 Setelah menyiapkan semuanya, mereka segera memulai pemeriksaan.
 Setelah semuanya disiapkan, pemeriksaan segera dimulai.
__________________________________________________________
__________________________________________________________
c) Kesejajaran Pilihan Kata
Kadang-kadang, soal ujian dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Soal yang
baik harus memuat perincian pilihan yang sejajar sehingga memberi
peluang yang sama untuk dipilih.
Contoh:
Pemasangan telepon akan menyebabkan…..
a. Melancarkan tugas
b. Menambah wibawa
c. Meningkatkan pengeluaran
Jawaban yang diharapkan adalah (a), tetapi kalimat ‘Pemasangan telepon
akan menyebabkan melancarkan tugas’ bukanlah kalimat yang baik.
Soal tersebut bisa diubah sebagai berikut.
Pemasangan telepon akan meningkatkan…..
a. Kelancaran
b. Wibawa
c. Pengeluaran
Struktur kalimat periodik
Dalam kalimat umum, unsur-unsur yang dikemukakan cenderung unsur
intinya. Sebaliknya, pada kalimat periodik unsur-unsur tambahan yang
Bahasa Indonesia|
57
terlebih dahulu dikemukakan. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian para
pembaca atau pembicara terhadap pendengarnya.
Contoh :
-
Kemarin Penelaah keberatan dari kanwil DJP DIY disambut oleh Wajib
Pajak dengan ramah. (K-S-P-O)
-
Oleh peserta diklat tugas tersebut dikerjakan dengan penuh semangat.
(O-K-P-K)
b.2. Ciri-Ciri Kalimat Efektif
Ciri-ciri kalimat efektif ada empat meliputi kesatuan (unity), kehematan
(economy), penekanan (emphasis), dan kevariasian (variety).
1) Kesatuan (unity)
Kalimat yang efektif haruslah mengungkapkan sebuah ide pokok atau satu
kesatuan pikiran. Kesatuan tersebut bisa dibentuk jika ada keselarasan
antara subjek-predikat, predikat-objek, dan predikat-keterangan. Kalimat
yang subjeknya diantarkan oleh pertiel sebaiknya dihindarkan agar
kesatuan gagasan yang hendak disampaikan dapat ditangkap dengan baik
oleh pembaca.
Contoh
Kepada para peserta diklat diharapkan menyerahkan data pribadi di ruang
sekretariat.
Sebaiknya
Para peserta diklat diharapkan menyerahkan data pribadi di ruang
sekretariat.
Ubahlah kalimat di bawah ini agar mempunyai kesatuan (unity).
Di dalam pemeriksaan itu merupakan jalan menghitung pajak menurut
Wajib Pajak maupun Pemeriksa Pajak.
-
Pemeriksaan itu merupakan jalan menghitung pajak menurut Wajib
Pajak maupun Pemeriksa Pajak.
-
Tahun ini merupakan tahun yang berat untuk merealisasikan
penerimaan pajak.
2) Kehematan (economy)
Kehematan adalah adanya hubungan jumlah kata yang digunakan dengan
luasnya jangkauan makna yang diacu. Kalimat dikatakan hemat bukan
Bahasa Indonesia|
58
karena jumlah katanya sedikit, sebaliknya dikatakan tidak hemat karena
jumlah katanya terlalu banyak. Yang utama adalah seberapa banyakkah
kata yang bermanfaat bagi pembaca. Oleh karena itu kata-kata yang tidak
perlu bisa dihilangkan.
Untuk penghematan kata, hal-hal berikut perlu diperhatikan.
a) Mengulang subjek kalimat
Tanpa disadari, penulis sering mengulang subjek dalam satu kalimat.
Jika pengulangan tersebut tidak membat kalimat menjadi lebih jelas,
maka tidak diperlukan. Perhatikan kalimat berikut ini.
Pemeriksa itu segera membuat laporannya setelah dia mendapat
dokumen yang diperlukan.
Penelaah keberatan segera bekerja setelah mereka mengetahui
kakanwil akan memasuki ruang kerjanya.
b) Hiponim dihindarkan
Dalam bahasa ada kata yang merupakan bawahan makna kata atau
ungkapan yang lebih tinggi. Kata merah sudah mengandung makna
kelompok warna. Kata Desember sudah bermakna bulan. Perhatikan
contoh berikut ini.
Ahkir bulan Maret adalah batas akhir penyampaian SPT Tahunan Wajib
Pajak Orang Pribadi.
Warna unggu dan warna pink adalah warna kesukaan Maemunnah.
c) Pemakaian kata depan ‘dari’ dan ‘daripada’
Penggunaan dari dalam bahasa Indonesia untuk menunjukkan arah
(tempat), asal (asal-usul). Sedangkan daripada berfungsi untuk
membandingkan sesuatu benda atau hal dengan benda atau hal
lainnya. Pilihlah penggunaan pemakaian ‘dari’ dan ‘daripada’ yang
benar dalam kalaimat di bawah ini.
-
Pak GusHar berangkat dari Jogja pukul 19.30. (B / S)
-
Kepala Kantor A lebih baik daripada Kepala Kantor B. (B / S)
-
Anak dari teman saya hari ini akan dilantik menjadi Penelaah
Keberatan. (B /S)
-
Dirjen Pajak menekankan, bahwa di dalam memutuskan keberatan
kepentingan daripada Wajib Pajak harus diutamakan. (B / S)
Bahasa Indonesia|
59
3) Penekanan (emphasis)
Penekanan dalam kalimat maksudanya adalah upaya pemberian
penekanan aksentuasi, pementingan atau pemusatan perhatian pada
salah satu unsur atau bagian kalimat. Agar unsur atau bagian kalimat yang
diberi penekanan itu lebih mendapat perhatian dari pembaca.
Dalam bahasa lisan hal ini dilakukan oleh pembicara dengan cara
memperlambat ucapan, meninggikan suara, dan sebagainya. Untuk
penulisan ada beberapa cara untuk memberikan penekanan pada kalimat,
antara lain dengan memindahkan letak frase dan mengulangi kata-kata
yang sama.
a) Pemindahan letak frase atau mengutamakan bagian kalimat
GusHar Wegig Pramudito berpendapat bahwa salah satu indikator
keberhasilan pemeriksaan pajak adalah dengan sedikitnya pengajuan
keberatan oleh Wajib Pajak.
Salah satu indikator keberhasilan pemeriksaan pajak, menurut GusHar
Wegig Pramudito adalah sedikitnya pengajuan keberatan oleh Wajib
Pajak.
Sedikitnya pengajuan keberatan oleh Wajib Pajak merupakan salah satu
indikator keberhasilan pemeriksaan. Demikian pendapat GusHar Wegig
Pramudito.
b) Mengulang kata-kata yang sama
Dalam memutuskan permohonan keberatan harus ada keseimbangan
antara penerimaan pajak dan hak Wajib Pajak juga keseimbangan
antara keadilan dengan kesinambungan usaha.
Pajak dari cara pandang yang lebih luas bisa dilihat dari dimensi
ekonomi, dimensi hukum, dimensi politik, bahkan dimensi budaya.
4) Kevariasian (variety)
Penulisan yang mempergunakan kalimat dengan pola yang sama akan
membuat suasana menjadi monoton atau datar sehingga menimbulkan
kebosanan pada pembaca. Demikian juga jika penulis terus-menerus
Bahasa Indonesia|
60
memilih kalimat yang pendek. Oleh karena itu, dalam penulisan diperlukan
pola dan kalimat yang bervariasi. Kemungkinan variasi kalimat tersebut
adalah sebagai berikut.
a) Variasi pembuka kalimat
Sebuah kalimat bisa dibuka dengan frase keterangan, frase benda,
frase kerja, dan partikel penghubung. Contohnya adalah sebagai
berikut.
Dibuangnya jauh-jauh rasa lelah karena masih banyak pekerjaan yang
belum diselesaikan. (frase kerja)
Karena tunggakan keberatan terlalu banyak membuatnya semakin
semangat dalam bekerja. (partikel penghubung)
b) Variasi dalam pola kalimat
Penelaah Keberatan itu pandai tapi tidak dikenal kakanwilnya. (S-P-O)
Tidak dikenal kakanwilnya Penelaah Keberatan yang pandai itu. (P-OS)
c) Variasi dalam jenis kalimat
Efektivitas sebuah kalimat berita dapat dikatakan dalam kalimat tanya.
Perhatikan contoh berikut ini.
...... Dirjen Pajak sekali lagi menegaskan perlunya seluruh pegawai
DJP mensukseskan SPN. Apakah semua pegawai DJP memahami arti
suksesnya SPN?
d) Variasi bentuk aktif-pasif
Penerimaan pajak bisa tercapai dengan cara menghimbau dan
melakukan konseling. Jika Wajib Pajak tidak merespon himbauan kita
bisa memeriksanya. (aktif-aktif-aktif-aktif)
Penerimaan pajak bisa tercapai dengan cara menghimbau dan
melakukan konseling, jika Wajib Pajak tidak merespon himbauannya
maka akan diperiksa. (aktif-aktif-pasif-pasif)
Bahasa Indonesia|
61
LATIHAN TATA NASKAH DINAS DAN BAHASA INDONESIA
Latihan 1 (SURAT DINAS)
Sesuai Surat Perintah Pemeriksaan Pajak Nomor : PRIN-123/WPJ.04/KP.0600/2015 tanggal
12 Juni 2015 kepada tim pemeriksa diperintahkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap
Wajib Pajak :
Nama
: PT. Sempurna Selalu
NPWP
: 01.234.555.6-011.000
Alamat
: Jalan Kuningan No. 23 Jakarta Selatan
Tahun Pajak
: Januari s.d. Desember 2014
Jenis Pajak
: Semua Jenis Pajak
Data yang tersedia pada berkas Wajib Pajak dan aplikasi SIDJP antara lain :
1. Data pada Aplikasi SIDJP dan portal DJP :
No.
Uraian
SPT
Aplikasi
SIDJP/MPN/PKPM
I
Setoran Pajak
a
PPh pasal 25
120.000.000,00
89.000.000,00
b
PPh pasal 23
25.000.000,00
25.000.000,00
c
PPN
50.000.000,00
50.000.000,00
II
PPN (Pajak Masukan)
a.
PT. Anugerah Sejahtera
35.000.000,00
0,00
b.
CV.Aditya Raya
34.000.000,00
0,00
2. Informasi lainnya yang tersedia :
No.
Jenis Pajak
MPN
I
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
PPh pasal 25
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah
SSP
0
9.000.000
9.000.000
9.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
0
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
10.000.000
0
10.000.000
89.000.000 118.000.000
Tanggal
setor
’05-02-2014
’06-03-2014
’09-04-2014
’02-05-2014
’06-06-2014
’04-07-2014
’04-08-2014
’07-09-2014
’07-10-2014
’04-11-2014
’08-12-2014
’05-01-2015
Keterangan
BRI Jakarta
BRI Jakarta
BRI Jakarta
BRI Jakarta
BRI Jakarta
BRI Jakarta
BRI Jakarta
BRI Jakarta
BRI Jakarta
BRI Jakarta
BRI Jakarta
BRI Jakarta
3. Data pajak Masukan menunjukkan terdapat yang tidak sama antara lain :
a. Pembelian kepada PT. Anugerah Sejahtera, NPWP : 02.000.123.0-012.000, alamat
jalan Sudirman No.1220 Jakarta, Faktur Nomor : 010.14.000000015 tanggal 2 Juni
2014 sebesar Rp 35.000.000,00
b. Pembelian kepada CV. Aditya Raya, NPWP : 01.123.222.0-013.000, alamat jalan
Pesanggrahan No.1220 Jakarta, Faktur Nomor : 010.14.000000234 tanggal 23
September 2014 sebesar Rp 34.000.000,00
Diminta :
Susunlah surat dinas yang perlu dibuat dengan berpedoman pada tata naskah dinas yang
sudah ditentukan pada peraturan Dirjen Pajak Nomor : 33/PJ./2013 !
Bahasa Indonesia|
62
Latihan 2 (KALIMAT EFEKTIF)
Tn. Parto bekerja sebagai Manager pada PT. Sederhana Bahagia sudah terdaftar sebagai
Wajib Pajak di KPP Kebayoran baru sejak tanggal 23 Mei 2001. Pada tahun pajak 2014
jumlah penghasilan yang diterima sebesar Rp 200.000.000,00 dan PPh pasal 21 yang
dipotong oleh perusahaan sebesar 40.000.000,00. Setelah menghitung kembali PPh Orang
Pribadinya, Jumlah PPh terhutang ternyata hanya sebesar Rp 20.000.000,00 sehingga
peritungan pajak Tn. Parto menjadi lebih bayar. Berdasarkan kondisi tersebut Tn. Parto
dilakukan pemeriksaan dan informasi yang diperoleh dalam pemeriksaan antara lain :
1. Tn. Parto sudah menikah dengan Ny. Susi dengan dikarunia seorang putri.
2. Saat ini, anak Tn. Parto masih bersekolah pada kelas 3 SMA
3. Untuk membantu keuangan keluarga Ny. Susi membuka toko pakaian muslim dengan
penghasilan rata-rata sebesar 100 juta per bulan
4. Setiap bulan Tn. Parto menerima penghasilan dari rumah kontrakannya sebesar Rp
5.000.000,00
Berdasarkan informasi di atas, sebagai Tim Pemeriksa, Saudara diminta menyusun kalimat
efektif dalam bentuk gambaran kegiatan usaha Tn. Parto untuk tahun 2014 sebagai
kelengkapan pada KKP dan LHP.
Latihan 3 (KALIMAT EFEKTIF)
Informasi mengenai Wajib Pajak yang diperiksa dan disusun gambaran usaha secara rinci :
- Peredaran Usaha Tahun 2014 sebesar Rp 20 Milyar
- Wajib Pajak menjual pupuk subsidi kepada kelompok tani di seluruh Jawa Timur
- Alamat Wajib Pajak di Jalan Sudirman Nomor 20 Surabaya Jawa Timur
- Perusahaan terdaftar dan memperoleh NPWP sejak 2 Juni 2011
- Direktur Perusahaan adalah Tn. Widarto, dia sudah menikah dan mempunyai 2 anak
yang masih sekolah di SMA dan anak tertua sedang mengikuti kuliah di Universitas
Brawijaya
- Dagangan utama perusahaan adalah jual pakaian sekolah untuk anak SD sampai dengan
SMP
- Perusahaan membeli langsung barang dagangan dan apabila perlu ada juga yang
dipesan melalui Pabrik langganan (PT. Pakaian Sekolah).
- Dalam memesan pakaian sekolah perusahaan hanya memberikan ukuran dan motif dan
selanjutnya memberikan harga untuk masing-masing jenis pakaian
- Bahan baku yang digunakan perusahaan sebagian besar berasal dari pembelian impor
dari India.
- Tidak ada proses lebih lanjut yang dilakukan perusahaan karena semua pekerjaan
dilakukan sesuai spesifik yang sudah disiapkan oleh perusahaan
- Jumlah karyawan pada tahun 2014 adalah 50 pegawai tetap untuk staff dan 200 pegawai
pabrik bagian produksi dan proses pendukung.
Data hasil pemeriksaan yang ditemukan berdasarkan data laporan laba rugi dan SPT Wajib
Pajak antara lain :
- Hasil Equalisasi penyerahan PPN dengan Omzet PPh Badan
- Terdapat pembelian yang belum dilaporkan sebesar Rp 20 Milyar berdasarkan pengujian
arus hutang
- Terdapat pembelian yang belum dilaporkan sebesar Rp 20 Milyar berdasarkan pengujian
arus piutang
Berdasarkan informasi di atas, susunlah gambaran kegiatan usaha dan penjelasan mengenai
dasar koreksi fiskal dengan menggunakan kalimat efektif.
Bahasa Indonesia|
63
Latihan 4 (BERITA ACARA)
Berdasarkan Surat Perintah Pemeriksaan Nomor : PRIN-123/WPJ.04/KP.0600/2015 tanggal
2 Januari 2015 terhadap Wajib Pajak, PT. Alam Sejatera Mandiri, NPWP : 02.000.000.9012.000 dengan alamat jalan Kebayoran Nomor 34 Jakarta dilakukan pemeriksaan untuk
tahun pajak 2013. Pada tanggal 12 Agustus 2015, Tim pemeriksa sudah selesai
melaksanakan pemeriksaan dan telah menerbitkan surat ketetapan pajak. Pada tanggal 15
Agustus 2015, tim pemeriksa menyembalikan dokumen yang dipinjam dalam pemeriksaan
dan diketahui terdapat dokumen berupa kartu persediaan dan fotocopy rekening koran dari
bank swasta yang rusak karena terkena air hujan. Atas dokumen yang rusak tersebut wajib
pajak minta kepada Tim pemeriksa untuk dibuatkan berita acara kerusakan berkas.
Atas kondisi tersebut, Saudara sebagai tim pemeriksa diminta membuat berita acara
kerusakan berkas Wajib Pajak dan berpedoman pada tata naskah dinas yang telah ditentukan
Direktorat Jenderal Pajak.
Latihan 5 (SURAT PENGANTAR)
Pada tanggal 23 Agustus 2015, Saudara sebagai tim pemeriksa akan mengirimkan LHP dan
KKP ke seksi Pelayanan untuk diterbitkan surat ketetapan pajak. Adapun informasi dokumen
yang akan dikirimkan antara lain :
a.
SPT Tahunan PPh Badan Tahun 2014 dan tahun 2013
b.
LHP Nomor : LAP-99/WPJ.04/KP.0400/2015
c.
Kertas Kerja Pemeriksaan
d.
Laporan Keuangan Audit KAP Surya & Rekan
e.
Nota Penghitungan SKPKB PPh Badan
f.
Nota Penghitungan SKPKB PPN masa Januari s.d. Desember (12 set)
Buatlah Surat Pengantar pengiriman berkas Wajib Pajak, LHP dan KKP ke seksi Pelayanan
berdasarkan pada tata naskah dinas yang telah ditentukan Direktorat Jenderal Pajak.
Latihan 6
Pada tanggal 23 Juni 2015, tim pemeriksa telah selesai melaksanakan tugas pemeriksaan
dan telah diterbitkan surat ketetapan pajak. Setelah 1 bulan dari tanggal surat ketetapan pajak
yaitu 22 Juli 2015 diketahui terdapat kekeliruan melakukan perekaman tahun pajak, yaitu
tertulis Januari 2011 seharusnya Januari 2013. Atas kekeliruan tersebut Saudara diminta
membantalkan surat ketetapan pajak dan menerbitkan surat yang baru
Saudara diminta membuat surat permohonan pembatalan skp kepada seksi pelayanan
dengan menggunakan kalimat efektif.
Bahasa Indonesia|
64
Latihan : 7 (NOTA DINAS)
PT. ABC, NPWP : 02.000.000.2-001.000 telah dilakukan pemeriksaan untuk tahun 2014,
Pemeriksaan telah selesai dilaksanakan dengan LHP Nomor : LAP- /.....dengan data yang
diproduksi berupa :
1. Data penjualan bahan baku dari PT. XYZ, NPWP : 01.000.000.2-011.000 sebesar Rp 2
Milyar
2. Data pembagian Deviden kepada pemegang Sdr. Ahmad, NPWP : 06.000.234.4-012.000
sebesar Rp 200 juta
Saudara diminta menyusun nota dinas, pengiriman alat keterangan kepada seksi PDI.
Latihan : 8 (KALIMAT EFEKTIF)
Tim pemeriksa dari KPP X sedang melakukan pemeriksaan terhadap PT.BCD untuk tahun
pajak 2013 karena SPT Tahunan PPh yang disampaikan wajib pajak padal tanggal 30 April
2014 menyatakan lebih bayar. Dalam rangka menyelesaikan pemeriksaan tersebut kepada
tim pemeriksa telah diterbitkan surat perintah pemeriksaan pajak. Beberapa kondisi yang
terjadi dalam pelaksanaan pemeriksaan dapat dijelaskan :
1. Informasi terkait Wajib Pajak :
- Alamat Wajib Pajak di Jalan Kemanggisan I Jakarta Barat
- Wajib Pajak berusaha dalam bidang perdagangan komputer khusus wilayah Jakarta
dan sekitarnya
- Barang dagangan dibeli dari PT. JKL (pemasok) yang berlokasi di Mangga Dua
2. SPT PPh Badan yang disampaikan Wajib Pajak menyatakan rugi sebesar Rp 50 juta
ruliah dan PPh pasal 25 yang telah disetorkan selama tahun 2013 adalah sebesar Rp 15
juta
3. Pada saat surat pemberitahuan pemeriksaan disampaikan kepada Wajib Pajak, ternyata
alamat yang tercantum pada surat perintah pemeriksaan tidak ditemukan.
4. Wajib Pajak menolak dilakukan pemeriksaan dan akan segera melunasi kewajiban pajak
sesuai dengan perhitungan pajak yang dilampirkan dalam surat himbauan AR yaitu
sebesar Rp 10 juta
5. Berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan adanya selisih antara lain :
a. Pos Peredaran usaha menurut SPT PPh Badan Rp 1 Milyar terdapat selisih sebesar
Rp 100 juta karena berdasarkan hasil pengujian arus piutang jumlah peredaran
usaha diketahui sebesar Rp 1,1 Milyar
b. DPP PPN yang dilaporkan pada SPT Masa PPN masa pajak Januari s.d. Desember
2013 menunjukkan sebesar Rp 925 juta sehingga terdapat selisih dengan peredaran
usaha menurut PPh Badan sebesar Rp 75 juta
c. Hasil pengujian pembelian terdapat selisih pembelian yang belum dilaporkan
sebesar Rp 120 juta dan prosentase laba bersih usaha pada laporan laba rugi
menunjukkan sebesar 10%
d. Pada biaya operasional ditemukan pengeluaran untuk pemegang saham yaitu :
- Pembelian paket liburan ke LN untuk pemegang saham sebesar Rp 80 juta
- Biaya bunga sebesar Rp 15 juta untuk pinjaman yang dananya digunakan
memperbaiki rumah tinggal pemegang saham.
- Pembayaran SKPKB PPh hasil pemeriksaan tahun pajak 2011 sebesar Rp 130
juta.
- Pembayaran STP PPN pasal 14 ayat 4 sesuai hasil pemeriksaan tahun pajak
2011.
6. Pada data feeding terdapat data pembelian kepada PT.JKL sebesar Rp 700 juta. Atas
Bahasa Indonesia|
65
data tersebut akan dikirimkan surat permintaan keterangan dan bukti.
7. Walaupun seluruh data yang dipinjam sudah diberikan oleh Wajib Pajak, tim pemeriksa
mengajukan permohonan perpanjangan jangka waktu pengujian karena proses
pemeriksaan tidak dapat diselesaikan sesuai jangka waktu.
Berdasarkan data di atas, Saudara diminta menyusun naskah dinas dengan kalimat efektif,
sesuai tata naskah dinas terkait dengan :
- Penyusunan SPHP dan lampiran berupa daftar temuan pemeriksaan
- Penyusunan surat dinas perpanjangan jangka waktu pengujian
Bahasa Indonesia|
66
DAFTAR PUSTAKA
Agus Suharsono, 2014. Bahan Ajar Diklat Fungsional Pemeriksa Ahli, Jakarta : Pusdiklat
Pajak.
Eko Sugiarto, 2013. Master EYD, Yogyakarta: Suaka Media
Ida Bagus Putrayasa, 2009. Kalimat Efektif, Bandung: PT. Refika Aditama
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 46 Tahun 2009 tentang Ejaan Bahasa
Indonesia Yang Disempurnakan
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER-33/PJ./2013 tentang Tata Naskah
Dinas
Peraturan Menteri Keuangan Nomor : PMK-17/PMK.03/2013 tentang Tata Cara
Pemeriksaan
Bahasa Indonesia|
67
LAMPIRAN
Matriks Tata Naskah Dinas
NO.
JENIS
1. Peraturan
2.
Pedoman
-
-
3.
Petunjuk Pelaksanaan
4.
Instruksi
5.
Prosedur Tetap
(protap)/Prosedur
Operasional Standar
-
6.
Surat Edaran
7.
Keputusan
-
8.
Surat Perintah
-
9.
Surat Tugas
-
10.
Nota Dinas
-
11.
Memorandum
-
12.
Surat Dinas
-
URAIAN
Tata cara penyusunannya mengikuti Peraturan Menteri Keuangan
tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Menteri Keuangan,
Keputusan Menteri Keuangan, Peraturan Pimpinan Unit Organisasi
Eselon I, dan Keputusan Pimpinan Unit Organisasi Eselon I di
Lingkungan Kementerian Keuangan
Memuat acuan yang bersifat umum.
Penerapan disesuaikan dengan karakteristik tugas Direktorat
Jenderal Pajak.
Merupakan lampiran dari peraturan induk.
Memuat cara pelaksanaan kegiatan.
Memuat urutan pelaksanaan.
Menjabarkan kebijakan yang lebih tinggi.
Petunjuk/arahan tentang pelaksanaan kebijakan suatu peraturan
perundang-undangan.
Pengertian,
tata
cara,
kewenangan
(penerbitan
dan
penandatanganan), bentuk, dan susunannya mengikuti Peraturan
Menteri Keuangan tentang pedoman penyusunan Standar
Prosedur Operasi (Standard Operating Procedures) di lingkungan
Kementerian Keuangan.
Memuat pemberitahuan yang dianggap penting dan mendesak.
Terbatas kepada lingkungan tertentu.
Tata cara penyusunannya mengikuti Peraturan Menteri Keuangan
tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Menteri Keuangan,
Keputusan Menteri Keuangan, Peraturan Pimpinan Unit Organisasi
Eselon I, dan Keputusan Pimpinan Unit Organisasi Eselon I di
Lingkungan Kementerian Keuangan
Dibuat oleh atasan atau pejabat yang berwenang kepada bawahan
atau pejabat lain.
Digunakan untuk penunjukan Pejabat Pengganti (Pelaksana Tugas
atau Pelaksana Harian).
Dibuat oleh atasan atau pejabat yang berwenang kepada bawahan
atau pejabat lain.
Memuat apa yang harus dilakukan.
Digunakan untuk melaksanakan kegiatan kedinasan dalam jangka
waktu tertentu.
Ditujukan untuk intern lingkungan unit kerja (Misalnya dalam
lingkungan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak atau Kantor
Wilayah).
menyampaikan laporan, pemberitahuan, pernyataan, permintaan,
atau penyampaian pendapat.
Naskah dinas intern.
Digunakan untuk mengingatkan suatu masalah, menyampaikan
arahan, peringatan, saran, dan pendapat kedinasan.
Berupa pemberitahuan, pernyataan, permintaan, penyampaian
naskah dinas atau barang, atau hal kedinasan lainnya di dalam
maupun di luar Direktorat Jenderal Pajak.
Bahasa Indonesia|
68
13.
Surat Undangan
- Ditujukan untuk mengundang pejabat/pegawai/seseorang untuk
menghadiri suatu acara kedinasan tertentu.
- Berisi kesepakatan bersama tentang suatu obyek.
- Mengikat pihak-pihak yang membuat perjanjian.
- Ada kewajiban untuk melaksanakan suatu tindakan atau perbuatan
hukum yang telah disepakati.
- Berisi pemberian wewenang.
- Ditujukan kepada badan hukum/kelompok orang/perseorangan
atau pihak lain.
- Ada kewajiban untuk melakukan suatu tindakan tertentu dalam
rangka kedinasan.
- Berisi uraian proses pelaksanaan suatu kegiatan.
- Ditandatangani oleh para pihak dan para saksi.
- Berisi informasi dari pejabat mengenai suatu hal/seseorang untuk
kepentingan kedinasan.
- Ditujukan untuk mengantar/menyampaikan barang atau naskah
dinas.
- Pemberitahuan kepada pejabat/pegawai di lingkungan Direktorat
Jenderal Pajak maupun masyarakat umum.
- Berisi pemberitahuan pelaksanaan suatu kegiatan/kejadian.
- Laporan mengenai jalannya sesuatu pertemuan yang disusun
secara teratur dan dipertanggungjawabkan oleh si pembuat dan
atau nama peserta pertemuan itu sendiri, sehingga mengikat
sebagai dokumen resmi dari kejadian/peristiwa yang disebut di
dalamnya.
14.
Surat Perjanjian
15.
Surat Kuasa
16.
Berita Acara
17.
Surat Keterangan
18.
Surat Pengantar
19.
Pengumuman
20.
21.
Laporan
Laporan Hasil Rapat
22.
Telaahan Staf
23.
Formulir
24.
Surat Perjalanan Dinas
25.
Naskah Serah Terima
Jabatan
26.
Naskah Dinas Elektronis -
-
-
Berbentuk uraian.
Disampaikan oleh pejabat atau staf.
Memuat analisis.
Singkat dan jelas.
Memberikan alternatif pemecahan suatu masalah.
Berbentuk pengaturan alokasi ruang atau lembar naskah isian.
Dalam bentuk kartu/lembar cetakan.
Mempunyai judul tertentu.
Berisi keterangan.
Pengertian, tata cara, kewenangan penandatanganan, bentuk, dan
susunannya mengikuti Peraturan Menteri Keuangan mengenai
perjalanan dinas bagi pejabat negara, pegawai negeri, dan pegawai
tidak tetap.
Digunakan pada saat penggantian jabatan.
Disaksikan dan ditandatangani oleh pejabat di atasnya.
Ditandatangani pada saat pelantikan atau serah terima jabatan dari
pejabat lama kepada pejabat baru.
Berupa komunikasi dan informasi yang dilakukan secara elektronis.
Terekam dalam multimedia elektronis.
Bahasa Indonesia|
69
Download