BUKU 2 - RSCM

advertisement
BUKU 2
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2015
KATA SAMBUTAN
KETUA DEPARTEMEN THT FKUI/RSCM
Assalammu’alaikum Wr.Wb.
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena Revisi Buku Rancangan
Pengajaran Program Pendidikan Profesi Dokter Spesialis-1 (PPDS Sp-1) Ilmu Penyakit Telinga Hidung
Tenggorok FKUI/RSCM telah dapat diselesaikan.
Revisi Buku Rancangan Pengajaran ini perlu dilakukan karena adanya pembaharuan pada
proses pendidikan dokter spesialis (PPDS) atau Sp-1 ilmu kesehatan THT. Selain itu, dengan
perkembangan mutu layanan rumah sakit yang harus terakreditasi nasional maupun internasional
dan sesuai Academic Health System (AHS), serta mencapai visi misi departemen THT, maka disusun
perangkat pendidikan berupa Buku Rancangan Pengajaran sebagai pedoman untuk melaksanakan
pendidikan secara terstruktur dan berkualitas yang dapat meningkatkan kompetensi akademik dan
kompetensi profesional dari masing-masing peserta program.
Pada era globalisasi ini para lulusan Dokter Spesialis THT diharapkan memiliki kompetensi
profesional yang baik dan bertaraf internasional serta memiliki kompetensi sebagai seorang peneliti.
Semoga dengan terbitnya Buku Rancangan Pengajaran (BRP) ini program pendidikan yang telah
berlangsung selama ini dapat berjalan lebih baik lagi.
Akhirnya kepada penyusun BRP PPDS Sp-1 Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok FKUI/RSCM
saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, atas dedikasi,usaha serta waktu yang diluangkan
untuk menyelesaikan buku ini.
Wassalammu’alaikum Wr.Wb.
Ketua Departemen THT FKUI/RSCM
DR.Dr. Trimartani Sp.THT-KL (K)
Assalammu’alaikum Wr.Wb.
Dengan mengucap puji syukur ke hadirat Allah SWT, revisi Buku Rancangan
Pengajaran Program Pendidikan Profesi Dokter Spesialis-1 Ilmu Kesehatan THT-KL
FKUI, untuk peserta PPDS Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok FKUI/ RSCM
telah dapat diselesaikan.
BRP ini terdiri atas tiga buku sesuai dengan tahapan proses belajar peserta
PPDS-Sp1 Ilmu Kesehatan THT-KL yaitu Buku 1 Tahap Pembekalan, Buku 2 Tahap
Magang dan Buku 3 Tahap Mandiri. Buku ini berisi materi-materi modul
pendidikan sesuai dengan Kolegium THT-KL, kewenangan klinis sesuai dengan
kompetensi setiap tahap pendidikan, sistem penilaian baik pre-asessment
maupun evaluasi akhir serta aktivitas pembelajaran.
BRP ini selalu akan dievaluasi dan diperbaharui setiap 5 tahun untuk
penyempurnaan dan penjaminan mutu sesuai dengan kemajuan dan
perkembangan Ilmu Kesehatan THT-KL.
Kepada para Staf Pengajar dan para Peserta PPDS Ilmu Kesehatan THT
FKUI/ RSCM kami harapkan selalu mengikuti dan melaksanakan apa yang
tercantum dalam Buku Rancangan Pengajaran ini.
Akhir kata kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu terlaksananya revisi dan penerbitan Buku Rancangan Pengajaran ini.
Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.
Jakarta. Agustus 2015
Penyusun,
Dr.Nina Irawati, Sp.THT KL (K)
Koordinator Program Studi
Ilmu Kesehatan THT-KL FKUI/RSCM
Menghadapi proses globalisasi dan kebutuhan mencetak tenaga ahli
dibidang ilmu kesehatan THT-KL bertaraf internasional serta adanya
tuntutan dari masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang
lebih baik dan berkualitas khususnya dalam bidang Ilmu Kesehatan THTKL, diperlukan tenaga kesehatan professional yang didukung oleh
penguasaan ilmu dan teknologi yang baik.
Penguasaan ilmu teknologi yang baik akan dicapai dengan
meningkatkan kompetensi dari peserta program pendidikan Ilmu
Kesehatan THT-KL FKUI.
Dalam rangka meningkatkan kualitas mutu lulusan Dokter
Spesialis THT-KL FKUI selain Buku Kurikulum Pendidikan juga diperlukan
Buku Rancangan Pengajaran untuk menjabarkan isi kurikulum secara
lebih lengkap dan sistematis agar program pendidikan berlangsung
dengan baik.
Buku Rancangan Pengajaran ini menjelaskan materi
pendidikan yang diberikan kepada peserta PPDS-Sp1 setiap semester
yang diikutinya. Materi Pendidikan diberikan dalam bentuk modul.
Modul tentang materi pendidikan akan dijabarkan secara
terperinci oleh masing-masing divisi terkait yang ada di Departemen Ilmu
Kesehatan THT-KL FKUI pada saat peserta program pendidikan mengikuti
stase pendidikan.
Diharapkan dengan cara pembelajaran dengan bentuk modul
ini akan dapat meningkatkan kompetensi dari pada lulusan spesialisasi
THT-KL FKUI sehingga dapat meningkatkan efektifitas pelayanan serta
mampu menjadi pakar dalam bidang Ilmu Kesehatan THT-KL.
Visi dan Misi
Visi program studi THT-KL adalah menghasilkan lulusan dokter
spesialis THT yang mempunyai kemampuan professional bersifat
internasional dan dapat memberikan pelayanan kesehatan berlandaskan
perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran
berdasarkan bukti (evidence based medicine) dengan pengalaman luar
biasa untuk semua melalui Academic Health Systemdi Asia Tenggara
tahun 2019.
Misi program studi THT-KL adalah Menyelenggarakan pendidikan
THT-KL yang berkualitas, berdaya saing, kreatif, inovatif dan berstandar
Internasional dengan para pakar berlandaskan profesionalisme.
Menyelenggarakan pendidikan suasana yang nyaman dan apresiatif serta
pengalaman belajar yang luar biasa. Menyelenggarakanpendidikan yang
meningkatkan pelayanan kesehatan diberbagai setting pelayanan
kesehatan prima.
SEMESTER IV










Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Neurotologi 2
Keterampilan Neurotologi 2
Otologi 2
Keterampilan Otologi 2
Laring Faring 2
Keterampilan Laring Faring 2
Rinologi 2
Keterampilan Rinologi 2
Pelatihan Kegawatan THT 3
Keahlian Komprehensif 3
A.
Mata Kuliah
:
MKK-2 MD22802323 /
MPK MD22802524
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
:
Ketua Divisi Neurotologi THT-KL
MODUL NEUROTOLOGI 2 DAN
Pendahuluan
MODUL KETERAMPILAN NEUROTOLOGI 2
Modul Neurotologi merupakan materi pendidikan
yang memberikan
pelatihan keprofesian dengan
menerapkan penyakit serta kelainan THT-KL secara ilmiah
khususnya dalam bidang Neurotologi THT-KL.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta PPDS THT-KL
diharapkan mampu memahami penyakit serta kelainan
dalam bidang Neurotologi THT-KLdan mencapai kompetensi
yang diharapkan di bidang Neurotologi ilmu kesehatan THTKL.Komponen kompetensi yang diharapkan tercapai setelah
melewati modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu
menerapkan etika, disiplin dan taat hukum dengan
rasa tanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya
berdasarkan kemampuan intelektual dan profesional.
Area kompetensi: Profesionalisme, dan Etik dan
Medikolegal
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif.
Area kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien
dan keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi
dan multidisiplin
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif
dalam lingkup sistem pelayanan kesehatan secara
keseluruhan. Area kompetensi: Kerjasama Tim
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan
berkualitas yang berorientasi pada pasien. Area
kompetensi: Patient Safety dan Sistem Manajemen
Mutu
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar
dan mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL.
Area kompetensi: EBM
6. Kompetensi dalam
mampu menerapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit THT-KL
dengan tingkat kompetensi yang tinggi dengan
memperhatikan risiko, manfaat, dan efisiensi biaya.
Area kompetensi: Pendekatan Keilmuan Dan
Keterampilan Klinik
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Pembekalan
semester II yang sudah melalui ujian masuk penerimaan PPDS.
C.
Sasaran Pembelajaran
1.
Peserta PPDS THT-KL mampu menjelaskan embriologi, anatomi, fisiologi,
patofisiologi, organ telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam, termasuk
didalam hal ini adalah sistem vestibuler dan sistem saraf fasialis.
2.
Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding mengenai
gangguan pendengaran, keseimbangan dan gangguan saraf fasialis.
3.
Peserta PPDS THT-KL mampu melakukan pemeriksaan dan mengiterpretasi hasil
pemeriksaan audiologi khusus , keseimbangan khusus dan pemeriksaan fungsi
saraf fasialis khusus.
.
D.
Lingkup Bahasan
D.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program mampu
memahami, menegakkan diagnosis, memberikan terapi penyakit-penyakit serta
melakukan tindakan dalam bidang Neurotolog THT, meliputi:
1. Peserta PPDS THT-KL mampu menjelaskan embriologi, anatomi, fisiologi,
patofisiologi, organ telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam, termasuk
didalam hal ini adalah sistem vestibuler dan sistem saraf fasialis.
2. Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding
mengenai gangguan pendengaran yang disebabkan oleh :
- Atresia liang telinga, mikrotia
- Gangguan fungsi tuba, patolus tuba
- Infeksi (OMSK, labirintitis)
- Timpanosklerosis, Otosklerosis
- Proses sentral (CAPD)
- Vaskuler (sudden deafness, stroke)
- Trauma (trauma kepala, trauma akustik, barotrauma, NIHL)
- Degenerasi (presbikusis, multipel sklerosis)
- Imunologi (ALHL)
- Kongenital
- Tinitus
- Tumor (neuroma akustik)
- Ototoksik (gol aminoglikosida, cisplatin, furosemid)
3. Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding
mengenai gangguan keseimbangan perifer yang disebabkan oleh :
- Infeksi (OMSK, labirintitis, neuritis vestibuler)
- Vaskuler (sudden vertigo ec sudden deafness,hipotensi ortostatik)
- Trauma (trauma kepala)
- Degenerasi (Presbiastasis)
- Imunologi (Menier’e deseases)
- Kongenital, BPV pada anak
- Tumor
- Ototoksik
- BPPV
- Superior canal dehiscent
4. Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding
mengenai gangguan saraf fasialis perifer yang disebabkan oleh :
- Infeksi (OMSK, Bell’s palsy, Ramsay Hunt syndrom, Zine herpete)
- Trauma (trauma kepala, karena operasi)
- Kongenital
- Tumor (Neuroma akustik, tumor telinga, parotis)
- Degeneratif
5. Mampu melakukan pemeriksaan dan menginterpretasi hasil pemeriksaan
pendengaran khusus seperti tes audiometri tutur ,tes SISI, tes Tone decay ,
tes akustik imitans, OAE
6. Mampu melakukan pemeriksaan dan menginterpretasi hasil pemeriksaan
keseimbangan khusus seperti Head impuls test, Head shaking test, tes visual
dynamic aquity, tes posisi untuk BBPV, terapi reposisi otolit, terapi
rehabilitasi vestibuler
7. Mampu melakukan pemeriksaan dan menginterpretasi hasil pemeriksaan
fungsi saraf fasialis khusus seperti tes topografi saraf fasialis.
Lingkup Bahasan
Pokok/topik bahasan
Gangguan
Pendengaran,
keseimbangan dan
Saraf Fasialis
Embriologi, anatomi
fisiologi dan
patofisiologi
pendengaran,
keseimbangan dan
saraf Fasialis
Tahap
Kewenangan
Klinis
3c
interpretasi hasil
pemeriksaan khusus
3c
Pemeriksaan audiologi,
fungsi keseimbangan
dan fungsi saraf fasialis
khusus
managemen pasien
3c
3c
Melakukan tahap
3c
persiapan pemeriksaan
KHUSUS dan
menginterpretasikan
hasil serta mendiagnosis
gangguan pendengaran,
keseimbangan dan saraf
Fasialis
Gangguan
pendengaran,
keseimbangan dan
saraf fasialis
Anatomi,
fisiologi,patofisiologi,
diagnosis dan
tatalaksana .
indikasi, dan persiapan,
langkah-langkah
pemeriksaan
3c
anatomi, fisiologi,
patofisiologi gangguan
pendengaran,
keseimbangan dan saraf
fasialis
Diagnosis dan
tatalaksana
komprehensif.
indikasi, dan langkahlangkah,
persiapan.pemeriksaa
3c
3c
3c
3c
D.2
Keterampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta PPDS THT-KL mampu:
Tindakan
1. Tes berbisik
2. Tes Garputala
3. - PemeriksaanAudiometri nada murni &
masking
-Tes SAL(Sensineural Aquity Level) untuk
mengatasi dilema masking
- Tes FIT (Fusion at Inferred Threshold)
4. Pemeriksaan audiometri tutur & masking
5. Pemeriksaan Psikoakustik untuk Tinitus dan
LDL (Loudness Discomfort Level)
Tingkat
Kewenangan
klinis
3
3
3
2
3
2
3
6. Pemeriksaan penentuan lokasi lesi (site of
lesion) : ABLB, SISI, Tone decay
7. Audiologi pediatric
- Behavioural Observsation Audiometry (BOA)
- Visual Reinvorcement Audiometry (VRA)
- Tes play audiometri
- Tes fungsi persepsi
8. Pemeriksaan Timpanometri
9. Pemeriksaan Tes Fungsi Tuba
10. Tes keseimbangan sederhana
11. Head Impulse Test, Head Shaking Test dan
Dynamic Visual Acuity Test
12. Pemeriksaan Tes posisi (Dix Hallpike, side lying,
roll test)
13. PemeriksaanTes Kalori (dengan air atau udara)
14.Pemeriksaan Posturografi
15. Tes fungsi motorik saraf fasialis (sistem Freyss
atau House-Brackmann)
16. Pemeriksaan Topografi Nervus Fasialis
3
3
3
3
3
3
4
3
3
2
2
4
3
17. Pemeriksaan Elektrofisiologis fungsi saraf Fasialis
(NET)
18.Pemeriksaan BERA
19.Pemeriksaan ASSR
20.Pemeriksaan OAE
21.Terapi Reposisi Otolit dan terapi rehabilitasi
vestibuler (VRT)
22. Habilitasi dan rehabilitasi fungsi pendengaran
D.3
E.
2
2
2
3
3
2
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan
bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
Lingkup Bahasan (Pokok Bahasan)
1. Pada modul ini ditetapkan lingkup bahasan sebagai berikut:
- Atresia liang telinga, mikrotia
- Gangguan fungsi tuba, patolus tuba
- Infeksi (OMSK, labirintitis)
- Timpanosklerosis, Otosklerosis
- Proses sentral (CAPD)
- Vaskuler (sudden deafness, stroke)
- Trauma (trauma kepala, trauma akustik, barotrauma, NIHL)
- Degenerasi (presbikusis, multipel sklerosis)
- Imunologi (ALHL)
- Kongenital
- Tinitus
- Tumor (neuroma akustik)
- Ototoksik (gol aminoglikosida, cisplatin, furosemid)
2. Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding
mengenai gangguan keseimbangan perifer, seperti :
- Infeksi (OMSK, labirintitis, neuritis vestibuler)
- Vaskuler (sudden vertigo ec sudden deafness,hipotensi ortostatik)
- Trauma (trauma kepala)
- Degenerasi (Presbiastasis)
-
Imunologi (Menier’e deseases)
Kongenital, BPV pada anak
Tumor
Ototoksik
BPPV
Superior canal dehiscent
3. Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding
mengenai gangguan saraf fasialis perifer, seperti :
- Infeksi (OMSK, Bell’s palsy, Ramsay Hunt syndrom, Zine herpete)
- Trauma (trauma kepala, karena operasi)
- Kongenital
- Tumor (Neuroma akustik, tumor telinga, parotis)
- Degeneratif
F.
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul Neurotologi ilmu kesehatan THT-KL meliputi tahap
orientasi, latihan, dan umpan balik.
1.
Tahap orientasi bertujuan memberikan wawasan mengenai gangguan
pendengaran, keseimbangan postural dan gangguan saraf wajah (n. fasialis).
a. belajar mandiri
b. diskusi topik
2.
Tahap latihan bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan
praktek klinis/keterampilan di bidang Neurotologi ilmu kesehatan THT-KL.
a. kerja poliklinik
b. skill tutorial
3.
Tahap umpan balik bertujuan untuk evaluasi proses pembelajaran dengan
a. tinjauan pustaka/journal reading
b. CBD/case based discussion
G.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS THT-KL harus memenuhi persyaratan kehadiran
sebanyak 90%.
1. Evaluasi Formatif : dilakukan selama masa rotasi secara
berkesinambungan, bertujuan untuk menilai pengetahuan sikap dan
perilaku peserta didik.
H.
I.
2. Evaluasi Sumatif : dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk
menilai tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul
Neurotologi.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis
Berupa ujian essay pre testpada awal (minggu pertama) dan post test pada
awal minggu ke 6 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis
peserta PPDS THT-KL. NBL adalah 75.
2. Minicex
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta PPDS THT-KL
mengumpulkan data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan
tatalaksana dan memberikan edukasi ke pasien.
3. DOPS
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan.
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
J.
K.
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
Sumber Daya
Pelaksana modul
:
1. Prof.Dr.dr. Jenny Endang Bashiruddin, Sp THT-KL(K)
2. Dr. Widayat Alviandi, Sp THT-KL(K)
3. Dr. Brastho Bramantyo, Sp THT-KL (K)
Lahan Praktek
1. Poliklinik departemen ilmu kesehatan THT-KL RSCM
2. Ruang rawat Gedung A RSCM
L.
Matriks Kegiatan modul Neurotologi II
Hari/Tgl
Senin s/d
Jum’at
(Minggu I)
Waktu
08.00-15.30
Materi
Peraturan pelayanan
pasien di Div
Neurotologi
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
pendengaran
Tutor
Prof.Dr.dr. Jenny
E B, Sp THT
Diskusi topic
Dr. Widayat
Alviandi, Sp THT
Dr. Brastho
Bramantyo, Sp
THT
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
keseimbangan
Senin s/d
Jum’at
(Minggu II)
08.00-15.30
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan saraf
fasialis
pelatihan
pemeriksaan
audiologi,
keseimbangan, saraf
fasialis KHUSUS
Pelatihan interpretasi
pemeriksaan
audilogi,
keseimbangan dan
saraf fasialis
KHUSUS
Evaluasi
kemampuan
program studi
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
pendengaran
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
keseimbangan
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan saraf
fasialis
Pelatihan
pemeriksaan dan
Teknik
Pengarahan
Kerja praktek
CBD/case based
discussion
Ujian tulis: Essay
Prof.Dr.dr. Jenny
E B, Sp THT
Diskusi topic
Kerja praktek
Dr. Widayat
Alviandi, Sp THT
Dr. Brastho
Bramantyo, Sp
THT
CBD/case based
discussion
Senin s/d
Jum’at
(Minggu III)
08.00-15.30
Senin s/d
Jum’at
(Minggu IV)
08.00-15.30
interpretasi
audiologi khusus
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi
keseimbangan
khusus
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi fasialis
khusus
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
pendengaran
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
keseimbangan
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan saraf
fasialis
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi
audiologi khusus
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi
keseimbangan
khusus
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi fasialis
khusus
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
pendengaran
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
keseimbangan
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan saraf
fasialis
Prof.Dr.dr. Jenny
E B, Sp THT
Dr. Widayat
Alviandi, Sp THT
Dr. Brastho
Bramantyo, Sp
THT
Diskusi/Praktikum
Prof.Dr.dr. Jenny
E B, Sp THT
Diskusi/Praktikum
Ujian Tulis Essay
Dr. Widayat
Alviandi, Sp THT
Dr. Brastho
Bramantyo, Sp
THT
Senin s/d
Jum’at
(Minggu V)
Senin s/d
Jum’at
(Minggu VI)
08.00-15.30
08.00-15.30
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi
audiologi khusus
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi
keseimbangan
khusus
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi fasialis
khusus
Evaluasi
kemampuan
pelayanan pasien di
Div Neurotologi
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
pendengaran
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
keseimbangan
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan saraf
fasialis
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi
audiologi khusus
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi
keseimbangan
khusus
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi fasialis
khusus
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
pendengaran
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan
keseimbangan
Prof.Dr.dr. Jenny
E B, Sp THT
Diskusi/Praktikum
Dr. Widayat
Alviandi, Sp THT
Dr. Brastho
Bramantyo, Sp
THT
Prof.Dr.dr. Jenny
E B, Sp THT
Diskusi/Praktikum
Ujian Tulis Essay
Dr. Widayat
Alviandi, Sp THT
Diagnosis dan
tatalaksana
Gangguan saraf
fasialis
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi
audiologi khusus
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi
keseimbangan
khusus
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi fasialis
khusus
Evaluasi
kemampuan
pelayanan pasien di
Div Neurotologi
Dr. Brastho
Bramantyo, Sp
THT
Daftar Pustaka:
1. Jackler RK, Brackmann DE, Neurotology
2. Katz J, Clinical Audiology
3. Gelfand SA, Essentials of Audiology
4. Herdman SJ, Vestibuler Rehabilitation
5. May M, Schaitkin BM, The Facial Nerve
MODUL OTOLOGI 2 DAN
MODUL KETERAMPILAN OTOLOGI 2
Mata Kuliah
:
MKK-1 MD22802325 /
MPK MD22802526
Jumlah SKS
A.
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1 SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
1.
:
Ketua Divisi Otologi THT-KL
2.
3.
4.
5.
6.
Pendahuluan
Modul otologi-2 adalah materi pendidikan yang
memberikan pelatihan keprofesian dengan menerapkan
pembelajaran penatalaksanaan penyakit-penyakit tersering
yang dijumpai di bidang otologi ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorok bedah kepala leher (THT-KL).
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program
diharapkan mampu memahami patogenesis penyakit,
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan
memberikan terapi penyakit-penyakit telinga di bidang
otologi ilmu kesehatan THT-KL. Komponen kompetensi yang
diharapkan tercapai setelah melewati modul ini:
Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan etika,
disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung jawab dalam
mengamalkan ilmunya berdasarkan kemampuan intelektual dan
profesional. Area kompetensi: Profesionalisme, dan Etik dan
Medikolegal
Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif. Area
kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan keluarga, dan
Komunikasi efektif interprofesi dan multidisiplin
Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam lingkup
sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Area kompetensi:
Kerjasama Tim.
Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga prinsip-prinsip
patient safety dan pelayanan berkualitas yang berorientasi pada
pasien. Area kompetensi: Patient Safety dan Sistem Manajemen
Mutu.
Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan mengikuti
perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area kompetensi: EBM.
Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan
teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan tingkat kompetensi yang
tinggi dengan memperhatikan risiko, manfaat, dan efisiensi biaya.
Area kompetensi: Pendekatan Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
A.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) tahap pembekalan
semester II yang sudah melalui modul terintegrasi bidang keilmuan dasar THT-KL.
B.
Sasaran Pembelajaran
1. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien kelainan kongenital telinga sesuai
kompetensinya.
2. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien trauma telinga sesuai kompetensinya.
3. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien benda asing telinga (luar, tengah dan
dalam) sesuai kompetensinya.
4. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien penyakit inflamasi telinga luar sesuai
kompetensinya.
5. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien penyakit inflamasi telinga tengah sesuai
kompetensinya.
6. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien penyakit inflamasi telinga dalam sesuai
kompetensinya.
7. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien penyakit tumor jinak dan ganas telinga
sesuai kompetensinya.
D.
Lingkup Bahasan
D.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan proses pembelajaran PPDS THT-KL
mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara menegakkan
diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta menerapkannya pada
tatalaksana pasien sesuai kompetensinya :
1. Kelainan-kelainan kongenital telinga, yaitu:
i. Kelainan kongenital telinga herediter.
ii. Kelainan kongenital telinga non-herediter.
2. Jenis trauma telinga, yaitu:
i. Trauma mekanik pada telinga.
ii. Trauma kimia pada telinga.
iii. Trauma akustik pada telinga.
3. Benda asing telinga (luar, tengah dan dalam).
4. Penyakit inflamasi telinga luar, yaitu:
i. Otitis eksterna sirkumskripta.
ii. Otitis eksterna difusa.
5. Penyakit-penyakit inflamasi telinga tengah, yaitu:
i. Otitis media supuratif.
ii. Otitis media non-supuratif.
6. Penyakit-penyakit inflamasi telinga dalam, yaitu:
i. Labirinitis.
ii. Penyakit Meniere.
iii. Neuronitis vestibularis.
iv. Presbiakusis.
v. Ototoksisitas.
vi. Sudden deafness.
vii. Tuli akibat bising.
Lingkup Bahasan
Topik Bahasan
Kelainan kongenital
telinga herediter &
non-herediter.
 Atresia dan stenosis
liang telinga.
 Celah brakial 1.
Trauma mekanik,
kimia, & akustik.
 Laserasi & avulsi kulit
liang telinga.
 Perforasi membran
timpani.
 Dislokasi osikel.
Tahap Kewenangan
Klinis
 Fraktur tulang
temporal.
Benda asing telinga
 Benda asing organik &
luar, tengah & dalam
anorganik telinga luar,
tengah & dalam.
Otitis eksterna
 Otitis eksterna
sirkumskripta.
 Otitis eksterna difusa.
 Otitis eksterna
maligna.
Otitis media
 Otitis media supuratif:
otitis media akut
(rekuren) & otitis
media supuratif
kronik.
 Otitis media nonsupuratif: otitis media
efusi, glue ear.
Labirintitis
 Labirintitis purulenta.
 Labirintitis serosa.
Tumor jinak dan ganas:  Seruminoma.
a. liang telinga.
 Adenokarsinoma liang
b. Telinga tengah.
telinga.
c. CPA.
 Osteoma.
 Exostosis.
 Osteosarkoma.
 Adenokarsinoma
telinga tengah.
 Neuroma akustik.
D.2
Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu:
Jenis keterampilan
Tingkat
kewenangan
klinis
POLIKLINIK
Menggunakan peralatan diagnostik, alat bedah mikro, dan bahan 5
kimia / obat-obatan untuk telinga.
Membaca dan interpretasi hasil pemeriksaan penunjang (fungsi 5
pendengaran, nervus fasialis, keseimbangan, radiologi).
KAMAR OPERASI
Mampu melakukan persiapan operasi telinga (alat, pasien, 5
dokumen pendukung).
Mampu mengenali dan menyebutkan struktur anatomi telinga
dan tulang temporal.
Mampu mempraktekkan teknik bedah dasar pada operasi telinga.
Mampu melakukan tindakan operasi pada jaringan lunak pada
operasi telinga tengah (INSISI KULIT RETROAURIKULA,
MEMBUANG TEPI PERFORASI MEMBRAN TIMPANI, INSISI KULIT
LIANG TELINGA, INSISI MUSKULOPERIOSTEUM RETROAURIKULA,
PENGAMBILAN GRAFT FASIA OTOT.
Mampu melakukan tindakan operasi pada tulang temporal:
MASTOIDEKTOMI SEDERHANA.
Mampu melakukan tindakan operasi pada tulang temporal:
ATIKOTOMI POSTERIOR.
Mampu melakukan tindakan operasi pada tulang temporal:
TIMPANOTOMI POSTERIOR.
Mampu melakukan tindakan operasi pada tulang temporal:
AMPUTASI TIP MASTOID.
Mampu melakukan tindakan operasi pada tulang temporal:
MERUNTUHKAN DINDING POSTERIOR LIANG TELINGA
D.3
E.
5
5
3
3
3
3
3
3
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan
bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul otologi-1 ilmu kesehatan THT-KL meliputi tahap
orientasi, latihan, dan umpan balik.
1. Tahap orientasi bertujuan memberikan wawasan mengenai penyakit-penyakit
yang sering dijumpai pada praktek sehari-hari di bidang otologi.
a. Belajar mandiri.
b. Diskusi topik.
2. Kerja praktek bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan
praktek klinis / keterampilan di bidang otologi ilmu kesehatan THT-KL dengan
cara:
a. Kerja poliklinik.
b. Kerja ruang rawat inap.
c. Kerja instalasi gawat darurat.
3. Tahap umpan balik bertujuan untuk evaluasi proses pembelajaran dengan
metode:
a. Tinjauan pustaka/journal reading.
b. CBD/case based discussion.
F.
G.
H.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran. Untuk
dapat dievaluasi, peserta PPDS harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak 90%
1. Evaluasi Formatif : dilakukan selama masa rotasi secara berkesinambungan, bertujuan
untuk menilai pengetahuan sikap dan perilaku peserta didik.
2. Evaluasi Sumatif
: dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai
tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul otologi-1.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
a. Ujian tulis.
Berupa ujian essay pre test pada awal (minggu ke-1) dan post test pada awal minggu
ke-4 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. Nilai batas lulus
(NBL) = 75.
b. Minicex.
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan data,
menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan memberikan
edukasi ke pasien.
c. DOPS.
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
d. Logbook
e. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
I.
Sumber Daya
Pelaksana modul
:
I. Dr. Alfian Farid Hafil, Sp THT-KL(K).
II. DR. Dr. Ratna Dwi Restuti, SpTHT-KL(K).
III. Dr. Harim Priyono, SpTHT-KL(K).
J.
Lokasi Praktek
I. Poliklinik / instalasi rawat jalan divisi otologi departemen ilmu kesehatan THT-KL
RS. Cipto Mangunkusumo.
II. Instlasasi rawat inap departemen ilmu kesehatan THT-KL RS. Cipto
Mangunkusumo.
J. Matriks Kegiatan
Hari/Tgl
SENIN
Waktu
08.00-10.00
Senin s/d 08.00-15.30
Jum’at
Minggu I
Senin s/d 08.00-15.30
Jum’at
Minggu II
Senin s/d 08.0015.30
Jum’at
Minggu III
Materi
Cara kerja di Divisi
Otologi
Tutor
Teknik
Dr. Alfian Farid Pengarahan
Hafil,
SpTHT-KL
(K).
DR. Dr. Ratna D.
Restuti, SpTHT-KL
(K).
Dr. Harim Priyono,
SpTHT-KL (K).
Idem
Diskusi/Praktikum
 Bekerja di Poli Divisi
 Latihan menggunakan alat
diagnostik
 Memahami penyakit di
bidang Otologi
 Bekerja di kamar operasi
IGD/IBP
 Melakukan tatalaksana
pasien rawat inap
Idem
 Bekerja di poli Divisi
 Memahami penyakit di
bidang Otologi
 Bekerja di kamar operasi
IGD/IBP
 Follow up pasien di
bangsal
Idem
 Bekerja di Poli Divisi
 Memahami penyakit di
bidang Otologi
 Bekerja
di
kamar
operasi IGD/IBP
Diskusi/Praktikum
Diskusi/Praktikum
 Follow up pasien di
Senin s/d 08.0015.30
Jum’at
Minggu
IV
Senin
s/d
Jum’at
08.0015.30
Minggu V
Senin
s/d
Jum’at
Minggu
VI
08.0015.30
bangsal
Idem
 Bekerja di Poli Divisi
 Memahami
penyakit
dibidang Otologi
 Bekerja
di
kamar
operasi IGD/IBP
 Follow up pasien di
bangsal
 Ujian Tulis
idem
 Bekerja di Poli Divisi
 Memahami
penyakit
dibidang Otologi
 Bekerja di kamar operasi
IGD/IBP
 Follow up pasien di
bangsal.
idem
 Bekerja di Poli Divisi
 Memahami
penyakit
dibidang Otologi
 Bekerja di kamar operasi
IGD/IBP
 Follow up pasien di
bangsal
 Ujian Tulis
Diskusi/Praktikum
Ujian Tulis Essay
Diskusi/Praktikum
Diskusi/Praktilum
Ujian Tulis Essay
Daftar Pustaka:
1. Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editors. Buku Ajar Telinga Hidung
Tenggorok. Jakarta:Balai Penerbit FKUI;2009.
2. Johnson JT, Rosen CA editors. Bailey’s Head and Neck Surgery
Otolaryngology, 5th ed, Volume one, Philadelphia: Lippincott Williams and
Wilkins, 2014.
3. Ballenger JJ.: Disease of The Ear Nose Throat and Head and Neck, 13th Ed,
Lea-Febiger, 1985.
4. Adam GL, Boies LR,Hilger PA.: Fundamentals of Otolaryngology. 6 th ed. WB
Saunders Co.1989.
MODUL LARING FARING 2 DAN
MODUL KETERAMPILAN LARING FARING 2
Mata Kuliah
:
MKK-1 MD22802327 /
MPK MD22802528
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
:
Ketua Divisi Laring Faring THT-KL
A.
Pendahuluan
Modul Laring Faring adalah materi pendidikan yang
memberikan pelatihan keprofesian dengan menerapkan
penyakit serta kelainan THT-KL secara ilmiah khususnya dalam
bidang Laring Faring THT-KL.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program PPDS
diharapkan mampu memahami penyakit serta kelainan dalam
bidang Laring Faring THT-KLdan mencapai kompetensi yang
diharapkan di bidang Laring Faring ilmu kesehatan THTKL.Komponen kompetensi yang diharapkan tercapai setelah
melewati modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung
jawab dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan
kemampuan intelektual dan profesional. Area
kompetensi: Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal.
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif.
Area kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan
keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin.
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim.
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient
Safety dan Sistem Manajemen Mutu.
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM.
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan
tingkat kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan
risiko, manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi:
Pendekatan Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Magang
semester II yang sudah melalui ujian masuk penerimaan PPDS
C.
Sasaran Pembelajaran
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, patofisiologi, tumbuh-kembang
Faring dan laring, termasuk didalamnya tonsil, sistem terbentuknya suara, sistem
vaskularisasi, persarafan.
2. Residen THT mampu membuat diagnosis, diagnosis banding disphonia, Sumbatan
Jalan Napas Atas (Sumbatan laring), Abses leher dalam, Kelainan kongenital laring,
Trauma laring, Lesi jinak laring, Lesi ganas laring, Obtructive Sleep Apnea Syndrome
3. Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana komprehensif disphonia,
Sumbatan Jalan Napas Atas (Sumbatan laring), Abses leher dalam, Kelainan
kongenital laring, Trauma laring, Lesi jinak laring, Lesi ganas laring, Obtructive Sleep
Apnea Syndrome.
D.
Lingkup Bahasan
D.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program mampu
memahami, menegakkan diagnosis, memberikan terapi penyakit-penyakit serta
melakukan tindakan dalam bidang Laring Faring THT, meliputi:
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, patofisiologi,
tumbuh-kembang larin dan faring, termasuk didalamnya tonsil, sistem
pembentukan suara, sistem vaskularisasi, persarafan.
2. Residen THT mampu membuat diagnosis, diagnosis banding disphonia,
Sumbatan Jalan Napas Atas (Sumbatan laring), Abses leher dalam,
Kelainan kongenital laring, Trauma laring, Lesi jinak laring, Lesi ganas
laring, Obtructive Sleep Apnea Syndrome
3. Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana komprehensif
disphonia, Sumbatan Jalan Napas Atas (Sumbatan laring), Abses leher
dalam, Kelainan kongenital laring, Trauma laring, Lesi jinak laring, Lesi
ganas laring, Obtructive Sleep Apnea Syndrome.
Lingkup Bahasan
Pokok Bahasan
Trauma laring
anatomi, fisiologi
laring
Abses leher dalam
Obructive sleep
apnea syndrome
(OSAS)
Tumor ganas laring
interpretasi CT-scan
Handling RFL
managemen pasien
trauma laring
basic surgical
landmark, indikasi,
kontraindikasi,
komplikasi, persiapan
operasi, alat-alat yang
akan dipakai
patofisiologi, dan
tatalaksana trauma
larig
indikasi,
kontraindikasi,
komplikasi,
persiapan, langkahlangkah tindakan
rekonstruksi laring
anatomi, patofisiologi
abses leher dalam
tatalaksana
komprehensif
indikasi,
kontraindikasi,
komplikasi, langkahlangkah, persiapan.
anatomi, fisiologi,
patofisiologi
sumbatan
pemeriksaan RFL,
muller maneuver,ESS,
dan
mengintrepetasikan
polisomnografi
tatalaksana
komprehensif
(OSA surgery,
edukasi,
anatomi, fisiologi,
patofisiologi laring
Tahap Kewenangan
Klinis
Stenosis laring
Disfonia
Kelainan kongenital
(Laryngomalasia,
laryngeal web,
laryngeal cleft,
hygroma colli,
hemangioma,parese
)
Infeksi faring laring
(tonsilitis faringitis,
laringitis)
Lesi jinak laring
(hemangioma,
Papiloma
laring,granuloma,no
dul, polyp,
indikasi,
kontraindikasi dan
komplikasi
laringektomi dan
diseksi leher
Persiapan dan
melakukan
trakeostomi
patofisiologi stenosis
laring
diagnosis dan
komplikasi
Persipan pre operasi
alat-alat yang
dipersiapkan
Fisiologi, etiologi dan
patofisiologi
diagnosis dan
diagnosis banding
tatalaksana
komprehensif
Tumbuh kembang
diagnosis
tatalaksana
komprehensif
anatomi, histologi,
patofisiologi
diagnosis
komplikasi
tatalaksana
komprehensif
patofisiologi
diagnosis
tatalaksana
komprehensif
D.2
Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu:
Keterampilan
Penegakan diagnosis penyakit laring
faring dengan anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan penunjang, inform
concent
Tindakan laringoskopi tidak langsung
Tatalaksana medikamentosa
Cricotirotomi
Trakeostomi terintubasi
Trakeostomi primer
Melebarkan stoma
Decanulasi
Pemasangan NGT
Ekstraksi benda asing orofaring
Biopsi lokal anestesi tumor orofaring
Perawatan kanul trakea
Perawatan luka pasca operasi
Angkat jahitan
Insisi abses peritonsil
Insisi submandibula
Insisi retrofaring
Insisi parafaring
Perawatan abses
Penggantian kanul trakea
Flexible Optik Laringoskopi
Muller manuever
Interprestasi hasil PSG
Interpretasi hasilmCT scan
Laringoskopi diagnostic daan biopsi
Ekstirpasi lesi jinak laring non neoplasma
Ekstirpasi lesi jinak laring neoplasma
Insisi dan Flap pada operasi Tiroidektomi
Insisi apron pada operasi laringektomi
Penutupan luka penutupan luka pada
operasi laringektomi
Tahap Magang
Semester 4
4
4
4
4
4
2
4
4
4
4
4
4
4
4
4
1
0
0
4
4
4
4
3
3
2
0
2
2
2
2
Tonsilekomi dan adenoidektomi
Diagnosis dan tatalaksana LPR
Ekstirpasi kista leher
D.3
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan
bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
E.
Lingkup Bahasan (Pokok Bahasan)
Pada modul ini ditetapkan lingkup bahasan sebagai berikut:
1. Infeksi laring faring
2. Dysphonia
3. Sumbatan Jalan Napas Atas (Sumbatan laring)
4. Abses leher dalam
5. Kelainan kongenital laring
6. Trauma laring
7. Lesi jinak laring
8. Lesi ganas laring
9. Obtructive Sleep Apnea Syndrome.
F.
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul Laring Faring ilmu kesehatan THT-KL meliputi
tahap orientasi, latihan, dan umpan balik.
1. Tahap orientasi bertujuan memberikan wawasan mengenai disphonia, Sumbatan
Jalan Napas
Atas (Sumbatan laring), Abses leher dalam, Kelainan kongenital
laring, Trauma laring, Lesi jinak laring, Lesi ganas laring, Obtructive Sleep Apnea
Syndrome
a. belajar mandiri
b. diskusi topic.
2. Tahap latihan bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan
praktek klinis/keterampilan di bidang Laring Faring ilmu kesehatan THT-KL
a. kerja poliklinik
b. skill tutorial
3. Tahap umpan balik bertujuan untuk evaluasi proses pembelajaran dengan
a. tinjauan pustaka/journal reading
b. CBD/case based discussion
G.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak
90%
1. Evaluasi Formatif : dilakukan selama masa rotasi secara berkesinambungan,
bertujuan untuk menilai pengetahuan sikap dan perilaku peserta didik.
2. Evaluasi Sumatif : dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai
tercapainya
seluruh kompetensi yang diharapkan di modul Laring
Faring.
I.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis
Berupa ujian essay pre test pada awal (minggu pertama) dan post test pada awal
minggu ke- 6 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. NBL
adalah 80.
2. Minicex
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan
data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan
memberikan edukasi ke pasien
3. DOPS
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
J.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
K.
Sumber Daya
Pelaksana modul
:
1. Prof. Dr. Bambang Hermani, Sp THT-KL(K)
(HBH)
2. Dr. Syahrial MH, Sp THT-KL(K)
(SMH)
3. Dr. Arie Cahyono, Sp THT-KL(K)
(ARI)
4. Dr. Fauziah Fardizza, Sp THT-KL(K)
(FFZ)
Lahan Praktek
1. Poliklinik departemen ilmu kesehatan THT-KL RSCM
2. Instalasi Bedah Pusat RSCM
3. Ruang rawat Gedung A RSCM
L.
Matriks Kegiatan
Hari/Tgl
SENIN
Waktu
08.00-10.00
Materi
Cara kerja di Divisi
Laring Faring
Tutor
Prof. Dr. HBH
Dr.SMH
Dr.ARI
Dr.FFZ
Teknik
Pengarahan
Senin s/d
Jum’at
Minggu I
08.00-15.30
 Infeksi laring faring
 Dysphonia
 Sumbatan Jalan
Napas Atas
(Sumbatan laring)
 Abses leher dalam
 Kelainan kongenital
laring
 Trauma laring
 Lesi jinak laring
 Pelatihan
menggunakan
flexible optic
laryngoscop
Prof. Dr. HBH
Dr.SMH
Dr.ARI
Dr.FFZ
Diskusi topik
Kerja praktek
CBD/case based
discussion
Ujian tulis: Essay
08.00-15.30
 Infeksi laring faring
 Dysphonia
 Sumbatan Jalan
Napas Atas
(Sumbatan laring)
 Abses leher dalam
 Kelainan kongenital
laring
 Trauma laring
 Lesi jinak laring
 Pelatihan membaca
CT-scan/ PSG
Prof. Dr. HBH
Dr.SMH
Dr.ARI
Dr.FFZ
Senin s/d 08.00-15.30
Jum’at
Minggu III
 Infeksi laring faring
 Dysphonia
 Sumbatan Jalan
Napas Atas
(Sumbatan laring)
 Abses leher dalam
 Kelainan kongenital
laring
 Trauma laring
 Pelatihan ekstraksi
benda asing
Prof. Dr. HBH
Dr.SMH
Dr.ARI
Dr.FFZ
Senin s/d
Jum’at
Minggu
IV
 Infeksi laring faring
 Dysphonia
 Sumbatan Jalan
Napas Atas
(Sumbatan laring)
 Abses leher dalam
Prof. Dr. HBH
Dr.SMH
Dr.ARI
Dr.FFZ
Senin s/d
Jum’at
Minggu II
08.00-15.30
Diskusi/Praktikum
Ujian Tulis Essay
 Kelainan kongenital
laring
 Trauma laring
 Lesi jinak laring
Daftar Pustaka:
1. Alper C., Myers E N., Eibling., Decicion Making In Ear, Nose, and Throat Disorders,
Saunders Company, 152-153., 2001
2. Bailey BJ., Johnson JT. Pharyngitis, 601-613., 2006
3. Becker W., Nauman H H., Pfaltz R C., Ear, Nose, and Throat Diseases, Thieme, 299387., 1194
4. Koufman JA, Belafsky PC. Infectious and Inflammatory Diseases of the Larynx.
In:Snow Jr JB, Ballenger JJ, editors. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and
Neck. 16th ed. Philadelpia: Lea&Febiger;2003.p.1194-214.
5. Postma GN, Amin MR, Koufman JA. Laryngitis. In: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands
SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR, editors. Head and neck surgery –
otolaryngology. 3rd ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2001. p.599-605.
6. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia, Lea &
Febiger, 1993, chapter 26, pp.424-34
7. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 1993, chapter 39, pp.492-500
8. Adam GL, Boies LR, Hilger PA, eds. Boies Fundamentalis
Otolaryngology.Philadelphia : WB Sounders Co, 1989,chapter ,pp. 240-59
of
9. Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology.
Philadelphia. WB Saunders Co., 1991, chapter 13, pp. 333-42
10. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw Hill, 8 th
Ed, Chapter 31, pp. 724-92
MODUL RINOLOGI 2 DAN
MODUL KETERAMPILAN RINOLOGI 2
Mata Kuliah
:
MKK-1 MD22802329 /
MPK MD22802530
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
:
Ketua Divisi Rhinologi THT-KL
A.
Pendahuluan
Modul Laring Faring adalah materi pendidikan yang
memberikan pelatihan keprofesian dengan menerapkan
penyakit serta kelainan THT-KL secara ilmiah khususnya dalam
bidang Laring Faring THT-KL.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program PPDS
diharapkan mampu memahami penyakit serta kelainan dalam
bidang Laring Faring THT-KLdan mencapai kompetensi yang
diharapkan di bidang Laring Faring ilmu kesehatan THTKL.Komponen kompetensi yang diharapkan tercapai setelah
melewati modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung
jawab dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan
kemampuan intelektual dan profesional. Area
kompetensi: Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif.
Area kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan
keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient
Safety dan Sistem Manajemen Mutu
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan
tingkat kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan
risiko, manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi:
Pendekatan Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap magang semester IV
yang sudah melalui divisi alergi imunologi dan onkologi tahap pembekalan.
C.
Sasaran Pembelajaran
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, vaskularisasi, persarafan, tumbuh
kembang, fisiologi, patofisiologi hidung dan sinus paranasal serta septum nasal.
2. Residen THT mampu menegakan diagnosis dan diagnosis banding dan komplikasi
dari penyakit hidung dan sinus paranasal.
3. Residen THT mampu menentukan jenis dan waktu untuk dilakukan pemeriksaan
penunjang, serta mampu melakukan interpretasi CT-scan.
4. Residen THT mampu menggunakan endoskopi dengan baik dan benar
5. Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana secara komprehensif baik
medikamentosa maupun pembedahan
6. Residen THT mampu menjelaskan indikasi, kontraindikasi dan komplikasi operasi
serta alat-alat yang diperlukan.
7. Residen THT mampu menjelaskan basic surgical landmark dan tahapan-tahapan
operasi
D.
Lingkup Bahasan
D.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program mampu
memahami, menegakkan diagnosis, memberikan terapi penyakit-penyakit serta
melakukan tindakan dalam bidang Rinologi THT, meliputi:
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, vaskularisasi, persarafan,
tumbuh kembang, fisiologi, patofisiologi hidung dan sinus paranasal serta
septum nasal.
2. Residen THT mampu menegakan diagnosis dan diagnosis banding dan
komplikasi dari penyakit hidung dan sinus paranasal.
3. Residen THT mampu menentukan jenis dan waktu untuk dilakukan
pemeriksaan penunjang, serta mampu melakukan interpretasi CT-scan.
4. Residen THT mampu menggunakan endoskopi dengan baik dan benar
5. Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana secara komprehensif
baik medikamentosa maupun pembedahan
6. Residen THT mampu menjelaskan indikasi, kontraindikasi dan komplikasi
operasi serta alat-alat yang diperlukan.
7. Residen THT mampu menjelaskan basic surgical landmark dan tahapantahapan operasi
Lingkup
Bahasan
Pokok
bahasan
Tahap
Kewenangan
Klinis
Inflamasi dan
atau infeksi
hidung dan
sinus
paranasal
Rinosinusitis
akut
3c
Rinosinusitis
kronik
Polip nasal
Snusitis
dentogen
Infeksi jaringan
lunak
(vestibulitis,
selulitis)
Penyakit
autoimun
(bersama divisi
alergi
imunologi)
Sinusitis Jamur
Abses Septum
kelainan
septum
atresia koana
anosmia
trauma
anosmia pasca
infeksi
epistaksis
anterior
epistaksis
posterior
3c
Kelainan
anatomi
Gangguan
penghidu
Epistaksis
Benda Asing,
3c
3c
3c
3c
3c
3c
3c
3c
3c
3c
3c
3c
3c
Lesi jinak
hidungdan
sinus
paranasal
(angiofibroma,
Papiloma
inverted,
bekerjasama
dengan divisi
onkologi THT)
Angiofibroma
3c
papiloma
inverted
3c
D.2 Keterampilan
Jenis Tindakan/ keterampilan
Magang
Smt IV
Penegakan diagnosis dengan 4
anamnesis, pemeriksaan fisik,
rinoskopi anterior dan posterior
Evaluasi menggunakan
endoskop 0 derajat
nasal 4
Pembacaan CT-Scan
4
evaluasi menggunakan nasal
endoskop 30,45, 70, 110 derajat
2,3
pemeriksaan fungsi penghidu
3
tatalaksana medikamentosa
3
tatalaksana pembedahan : BSEF I 2
(Unsinektomi, middle meatal
antrostomi)
tatalaksana pembedahan : BSEF
II (Unsinektomi, middle meatal
antrostomi + etmoidektomi)
1
tatalaksana pembedahan BSEF III
DCR
1
tatalaksana pembedahan BSEF III
(Unsinektomi, middle meatal
antrostomi
+
etmoidektomi+sfenodotomi dan
atau frontal)
1
tatalaksana BSEF
Osteoperiosteal)
(Jabir
1
tatalaksana BSEF IV (kebocoran
CSS)
1
tatalaksana BSEF IV (operasi skull
base)
1
tatalaksana BSEF IV (ekstirpasi
tumor dengan endoskop)
1
tatalaksana
Septoplasti
:
2
tatalaksana
pembedahan:
Reduksi Konka Inferior
2
melakukan perawatan luka pasca
operasi BSEF
2
IV
pembedahan
tindakan polipektomi sederhana 2
di poliklinik
D.3
tindakan sinuskopi diagnostic
3
tindakan sinuskopi tindakan
2
ekstraksi benda asing
3
pemasangan tampon anterior
4
pemasangan tampon posterior
3
ligasi arteri sfenopalatina
0
ekstraksi benda asing
3
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan
bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
E.
Lingkup Bahasan (Pokok Bahasan)
Pada modul ini ditetapkan lingkup bahasan sebagai berikut:
1. Inflamasi dan infeksi hidung dan sinus paranasal
2. Kelainan anatomi
3. Gangguan penghidu
4. Epistaksis
5. Benda asing
6. Lesi jinak hidung dan sinus paranasal.
F.
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul Rinologi ilmu kesehatan THT-KL meliputi tahap
orientasi, latihan, dan umpan balik.
1. Tahap orientasi bertujuan memberikan wawasan mengenai Rinosinusitis, Polip,
Kelainan septum, Epistaksis, Gangguan Penghidu dan Benda asing
a. belajar mandiri
b. diskusi topik
2. Tahap latihan bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan praktek
klinis/keterampilan di bidang Rinologi ilmu kesehatan THT-KL
a. kerja poliklinik
b. skill tutorial
3. Tahap umpan balik bertujuan untuk evaluasi proses pembelajaran dengan
a. tinjauan pustaka/journal reading
b. CBD/case based discussion
G.
I.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak
90%
1. Evaluasi Formatif : dilakukan selama masa rotasi secara berkesinambungan,
bertujuan untuk menilai pengetahuan sikap dan perilaku peserta didik.
2. Evaluasi Sumatif : dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai
tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul Rinologi.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis.
Berupa ujian essay pre testpada awal (minggu ke-1) dan post test pada awal minggu
ke-4 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. Nilai batas lulus
(NBL) =75.
2. Minicex.
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan
data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan memberikan
edukasi ke pasien.
3. DOPS.
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
G. Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
30%
H.
I.
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
Sumber Daya
Pelaksana modul
:
1. Dr. Umar Said Dharmabakti, Sp THT-KL(K)
2. Dr. Endang Mangunkusumo, Sp THT-KL(K)
3. DR.Dr. Retno S Wardani, Sp THT-KL (K)
4. Dr. Febriani Endiyarti, Sp THT-KL
Lahan Praktek
1. Poliklinik departemen ilmu kesehatan THT-KL RSCM
2. Instalasi Bedah Pusat RSCM
3. Ruang rawat Gedung A RSCM
Matriks Kegiatan
Hari/Tgl
Waktu
Materi
Tutor
Teknik
SENIN
08.0010.00
Cara kerja di Divisi
Rinologi
Dr.Umar SD
Pengarahan
Dr.Endang
MK
DR.Dr.Retno
SW
Dr.Febriani
Senin
s/d
Jum’at
Minggu I
08.0015.30
Infeksi dan inflamasi
hidung dan sinus
paranasal
idem
Diskusi topik
kelainan anatomi
Kerja praktek
epistaksis
CBD/case based
discussion
gangguan penghidu
Ujian tulis: CBD
benda asing
lesi Jinak hidung dan
sinus paranasal
Pre Assesment
modul pembekalan
Senin
s/d
Jum’at
Minggu
II
08.0015.30
Infeksi dan inflamasi
hidung dan sinus
paranasal
idem
idem
idem
Diskusi/Praktikum
kelainan anatomi
epistaksis
gangguan penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung dan
sinus paranasal
pelatihan
penggunaan nasal
endoskop bersudut
pelatihan membaca
CT-scan dengan
program osirix
Senin
s/d
Jum’at
Minggu
III
08.0015.30
Infeksi dan inflamasi
hidung dan sinus
paranasal
kelainan anatomi
epistaksis
gangguan penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung dan
sinus paranasal
pelatihan septoplasti
kambing
skill tutorial tahapan
operasi BSEF
Senin
s/d
Jum’at
Minggu
IV
08.0015.30
Infeksi dan inflamasi
hidung dan sinus
paranasal
idem
kelainan anatomi
epistaksis
gangguan penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung dan
sinus paranasal
pelatihan septoplasti
kambing
skill tutorial tahapan
operasi BSEF
Senin
s/d
Jum’at
Minggu
V
08.0015.30
Infeksi dan inflamasi
hidung dan sinus
paranasal
kelainan anatomi
epistaksis
gangguan penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung dan
sinus paranasal
idem
Ujian DOPS
keterampilan
poliklinik
Senin
s/d
Jum’at
Minggu
VI
08.0015.30
Infeksi dan inflamasi
hidung dan sinus
paranasal
idem
kelainan anatomi
epistaksis
Ujian Minicex, CBD
gangguan penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung dan
sinus paranasal
Daftar Pustaka
1. Adam GL, Boies LR, Hilger PA.: Fundamentals of Otolaryngology. 6th ed. WB Saunders
Co.1989.
2. Iskandar N, Soepardi EA., Bashiruddin J, Restuti RD, editors. Buku Ajar Telinga Hidung
Tenggorok. Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2009.
3. Bailey BJ, Johnson JT.: Head and Neck Surgery Otolaryngology. Philadelphia. Lippincott
Williams & wilkins. 4th Ed. 2006.
4. Ballenger JJ.: Disease of The Ear Nose Throat and Head and Neck, 13th Ed, Lea –Febiger,
1985. Scott Brown: Otolaryngology, 6th Ed, JP Lippincont, 1997.
5. Lee KJ.: Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery, New York. McGraw Hill, 8 th
Ed.2003.
6. Kennedy DW, Bolger WE,Zienrech SJ.: Diseases of the Sinuses, diagnosis and
management, 1st Ed.Ontario, BC Decker Inc, 2001.
7. Stammberger H.: Functional Endoscopic Sinus Surgery. The Messerklinger technique,
Philadelphia, BC Decker Inc 1991.
8. Wormald PJ.: Endoscopic Sinus Surgery. Anatomy, Three-Dimensional Reconstruction
and Surgical Technique, New York. Thieme, 2nd Ed.2008.
9. Fokkens WJ, Lund VJ, Mullol J, Bachert C et al. European Position Paper on
Rhinosinusitis and Nasal Polyps. 2012.
MODUL PELATIHAN KEGAWATAN THT 3
Mata Kuliah
:
MPA MD22802531
Jumlah SKS
:
Modul Pelatihan Kegawatan THT
3 (1 SKS)
A. Pendahuluan
Modul Kegawatdaruratan THT adalah materi pendidikan yang
memberikan pelatihan keprofesian dengan menerapkan penyakit serta
kelainan THT-KL secara ilmiah khususnya dalam bidang kegawatdaruratan
THT-KL.
Tujuan Pembelajaran
Lama
Setelah melewati modul ini, peserta program diharapkan mampu
:
6 Bulan (Selama Periode
Semester IV)
memahami penyakit serta kelainan dalam bidang Kegawatdaruratan THTKL
dan
mencapai
kompetensi
yang
diharapkan
di
bidang
Kegawatdaruratan ilmu kesehatan THT-KL. Komponen kompetensi yang
Ketua Modul
:
Koordinator Kegawatdaruratan
THT-KL
diharapkan tercapai setelah melewati modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan etika,
disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung jawab dalam
mengamalkan ilmunya berdasarkan kemampuan intelektual dan
profesional. Area kompetensi: Profesionalisme, dan Etik dan
Medikolegal
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif. Area
kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan keluarga,
dan Komunikasi efektif interprofesi dan multidisiplin
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam lingkup
sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Area
kompetensi: Kerjasama Tim
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga prinsipprinsip patient safety dan pelayanan berkualitas yang
berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient Safety dan
Sistem Manajemen Mutu
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan mengikuti perkembangan ilmu
penyakit THT-KL. Area kompetensi: EBM
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit
THT-KL dengan tingkat kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan risiko, manfaat,
dan efisiensi biaya. Area kompetensi: Pendekatan Keilmuan Dan Keterampilan Klinik
B. Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Magang semester IV
C. Sasaran Pembelajaran
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, patofisiologi, tumbuh-kembang
organ telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher.
2. Peserta didik mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding kasus kegawatdaruratan
THT.
3. Mampu melakukan pemeriksaan penunjang dan bekerjasama dengan disiplin ilmu lain
dalam melakukan penatalaksanaan komprehensif kasus kegawatdaruratan THT.
D. Lingkup Bahasan
I.1 Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program mampu memahami,
menegakkan diagnosis, memberikan terapi penyakit-penyakit dalam bidang Kegawatdaruratan
THT, meliputi:
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, patofisiologi, tumbuh-kembang
organ telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher.
2. Residen THT mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding:
1.
2.
3.
4.
5.
Benda asing di THT
Nyeri telinga akut
Komplikasi intrakranial otitis media akut/ otitis media supuratif kronis
Trauma telinga dan tulang temporal
Tuli mendadak
6. Epistaksis
7. Trauma wajah
8. Trauma jaringan lunak wajah
9. Trauma hidung
10. Abses leher
11. Sumbatan laring
12. Trauma trakea
13. Disfagia
14. Esofagitis korosif
3. Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana komprehensif :
1. Benda asing di THT
2. Nyeri telinga akut
3. Komplikasi intrakranial otitis media akut/ otitis media supuratif kronis
4. Trauma telinga dan tulang temporal
5. Tuli mendadak
6. Epistaksis
7. Trauma wajah
8. Trauma jaringan lunak wajah
9. Trauma hidung
10. Abses leher
11. Sumbatan laring
12. Trauma trakea
13. Disfagia
14. Esofagitis korosif
Lingkup Bahasan
pokok bahasan
3c
Benda Asing di THT:




Benda asing di Esofagus
Benda asing di Laring
Benda asing di Trakea
Benda asing di Bronkus
Kewenang
an klinis
Anatomi, Fisiologi Dan Patofisiologi





Benda asing di Sinus
Piriformis
Benda asing di Dasar
Lidah
Benda asing di Faring/
Tonsil
Benda asing di Hidung
Benda asing di Liang
Telinga
3c
Diagnosis dan Diagnosis Banding
3c
Rencana tatalaksana tindakan dan
medikamentosa pada kasus benda
asing di THT
3c
Manajemen pasien
Benda Asing di THT
3c
3c
indikasi, kontraindikasi, komplikasi,
persiapan, langkah-langkah
pengambilan benda asing di THT
3c
Nyeri Telinga Akut
 Otitis Media Supuratif
Akut (OMA)
 Otitis Eksterna
Sirkumskrip (Furunkel)
 Otitis Eksterna Difus
 Otitis Eksterna Maligna
Anatomi, patofisiologi Nyeri Telinga
Akut
Diagnosis
Tatalaksana Komprehensif
3c
3c
3c
3c
Komplikasi Intrakranial
Otitis Media Akut/ Otitis
Media Supuratif Kronis:
 Meningitis Otogenik
 Trombosis Sinus
Lateralis
 Abses Ekstradural
 Abses Subdural
 Abses Otak Otogenik
 Hidrosefalus Otikus
Trauma Telinga dan Tulang
Temporal;
 Trauma Daun Telinga
 Keluar Cairan/ Darah
dari Liang Telinga
 Gangguan
Pendengaran
 Gangguan
Keseimbangan
 Paresis Fasial
 Fraktur Tulang
Temporal
Anatomi, fisiologi, patofisiologi
Intrakranial Otitis Media Akut/ Otitis
Media Supuratif Kronis
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, fisiologi, patofisiologi Telinga
Diagnosis
3c
3c
Rencana Tata Laksana
3c
Tuli Mendadak
 Iskemia Koklea
 Infeksi Virus
 Pasca Trauma Kepala
 Trauma Bising Keras
 Perubahan Tekanan
Atmosfir
 Obat Ototoksik
 Penyakit Meniere
 Neuroma Akustik
Anatomi dan patofisiologi Tuli
Mendadak
3c
Diagnosis dan komplikasi
3c
Rencana tatalaksana
3c
Anatomi, fisiologi dan patofisiologi
Epistaksis
 Perdarahan Anterior
 Perdarahan Posterior
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Trauma Muka
 Fraktur Tulang Hidung
 Fraktur Maksila
 Fraktur Zigoma
 Fraktur Mandibula
 Fraktur Orbita
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Trauma Jaringan Lunak
Muka
 Avulsi Total
 Avulsi Sebagian
 H. Laserasi
3c
Diagnosis
3c
Komplikasi
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Trauma Hidung
 Trauma Tertutup
 Trauma Terbuka
Anatomi, histologi, patofisiologi
Diagnosis
3c
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Abses Leher
 Abses Peritonsil
 Abses Retrofaring
 Abses Parafaring
 Abses Submandibula
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Sumbatan Laring
 Radang
 Tumor
 Kelainan Kongenital
 Paresis Postikus
Bilateral
 Trauma
 Benda Asing
Trauma Trakea
 Trauma Tumpul
Anatomi, histologi, patofisiologi
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi


Trauma Tajam
Trauma Endogen
3c
Diagnosis
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Disfagia
 Kelainan Faring
 Kelainan Esofagus
3c
Diagnosis dan diagnosis banding
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
3c
Diagnosis
Esofagitis Korosif
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
I.2 Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu:
Keterampilan
Tahap
Pembekalan
Semester 4
Ekstraksi Benda Asing:
Benda asing di laring: perasat Heimlich/ laringoskopi
Benda asing di trakea: persiapan bronkoskopi
Benda asing di bronkus : persiapan bronkoskopi
3,4
1
1
Benda asing di esofagus: persiapan esofagoskopi
Benda asing di sinus piriformis: laringoskopi
Benda asing di dasar lidah: laringoskopi langsung/ tak
langsung
Benda asing di faring/tonsil: ekstraksi dengan pinset/ cunam
Benda asing di hidung: ekstraksi dengan pengait
Benda asing di liang telinga: ekstraksi dengan pengait/ pinset
Nyeri telinga akut
Tatalaksana Medikamentosa
Pemasangan tampon telinga
Komplikasi intrakranial otitis media akut/ otitis media supuratif kronis
Tatalaksana Medikasmentosa
Trauma telinga dan tulang temporal
Tuli mendadak
Diagnosis dan Tatalaksana Medikamentosa
Epistaksis
Pemasangan tampon anterior
Pemasangan tampon posterior
Trauma muka
Trauma jaringan lunak muka
Bedah minor
Trauma hidung
Reduksi tertutup
Aspirasi dan insisi hematoma septum
Abses leher
Aspirasi dan insisi abses peritonsil
Aspirasi dan Insisi abses submandibular
Aspirasi dan Insisi abses retrofiring
Aspirasi dan Insisi abses parafaring
Terapi medikamentosa
Sumbatan jalan napas atas
Tindakan laringoskopi tidak langsung
Tindakan laringoskopi langsung
Cricotirotomi
Trakeostomi terintubasi
Trakeostomi primer
Trauma trakea
Tindakan laringoskopi langsung
Cricotirotomi
Trakeostomi terintubasi
1
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
1
0
0
1
0
0
0
0
3,4
1
1
2
1
1
1
2
Trakeostomi primer
Pemasangan NGT
Disfagia
Pemasangan NGT
Esofagitis korosif
esofagoskopi
Pemasangan NGT
1
3
3,4
1
3
II.3 Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika terhadap
pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan nonpramedik. Disiplin dan bertanggung
jawab serta peserta didik dapat berkomunikasi jujur dan terbuka, bekerjasama dalam
tim dalam penatalaksanaan kasus kegawatdaruratan THT.
E. Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul kegawatdaruratan ilmu kesehatan THT-KL meliputi tahap :
1. Praktek klinis di IGD dan ruang rawat RSCM dengan supervise berjenjang
2. Diskusi dengan DPJP jaga harian setelah jaga.
I. Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Form penilaian yang diisi oleh DPJP jaga harian dan dikumpulkan maksimal 1 minggu
setelah jaga.
G. Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan,
Form penilaian
40%
Keterampilan
Form penilaian
20%
Sikap dan perilaku
Form penilaian
40%
H. Sumber Daya
Pelaksana modul
: Seluruh staf pengajar THT-KL
Lahan Praktek
1. Unit Gawat Darurat RSCM
2. Ruang rawat RSCM
I. Matriks Kegiatan
Hari/Tgl
Waktu
SeninJumat
15.0007.00
SabtuMinggu
08.0020.00
20.0008.00
Materi
Kasus
kegawatdaruratan
THT
Kasus
kegawatdaruratan
THT
Tutor
Teknik
DPJP jaga harian
Form penilaian
DPJP jaga harian
Form penilaian
Daftar Pustaka:
1. Iskandar N, Helmi. Panduan penatalaksanaan gawat darurat telinga hidung tenggorok.
Jakarta: Balai penerbit FKUI. 2008
MODUL KEAHLIAN KOMPREHENSIF 3
Mata Kuliah
:
MPA MD22802432
Jumlah SKS
:
Modul Keahlian Komprehensif
THT 3 (2 SKS)
Lama
:
6 Bulan (Selama Periode
Semester II)
Ketua Modul
:
Koordinator Penelitian THT-KL
A.
Pendahuluan
Modul Keahlian Kompehensif THT 3 adalah materi
pendidikan yang memberikan dasar pengetahuan serta
mendorong peserta didik agar mampu menyusun karya ilmiah dan
melakukan presentasi ilmiah sehingga menjadi dasar dalam
melakukan pendekatan diagnosis serta penatalaksanaan kasuskasus THT sesuai dengan evidence based medicine.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program diharapkan
mampu mencapai kompetensi yang diharapkan dalam menyusun
dan mempresentasikan karya ilmiah sesuai dengan evidence
based medicine. Komponen kompetensi yang diharapkan
tercapai setelah melewati modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan etika,
disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung jawab dalam
mengamalkan ilmunya berdasarkan kemampuan intelektual
dan profesional. Area kompetensi: Profesionalisme, dan Etik
dan Medikolegal.
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif. Area
kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan keluarga,
dan Komunikasi efektif interprofesi dan multidisiplin.
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Area
kompetensi: Kerjasama Tim.
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga prinsipprinsip patient safety dan pelayanan berkualitas yang
berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient Safety
dan Sistem Manajemen Mutu.
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM.
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu pengetahuan
dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan tingkat
kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan risiko,
manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi: Pendekatan
Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Magang Semester IV
C.
Sasaran Pembelajaran
C.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program mampu:
1. Melakukan penulisan karya ilmiah.
2. Melakukan penelusuran kepustakaan dengan baik dan benar.
3. Melakukan critical appraisal terhadap kepustakaan yang digunakan sebagai
landasan pembuatan karya ilmiah.
4. Melakukan presentasi ilmiah dengan baik dan benar.
C.2
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga
etika terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan nonpramedik. Disiplin
dan bertanggung jawab serta taat terhadap jadwal diskusi. Peserta didik dapat
berkomunikasi jujur dan terbuka, bekerjasama dalam tim serta menjunjung tinggi
etika penulisan karya ilmiah.
D.
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul Keahlian Kompehensif THT 3 meliputi :
a. Menyusun makalah
b. Mencari literatur dan melakukan critical appraisal
c. Diskusi dengan pembimbing
d. Presentasi Ilmiah
F.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan penilaian karya ilmiah dan
presentasi oleh pembimbing, moderator dan penguji
I.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Formulir penilaian karya ilmiah. NBL adalah 75.
2. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari diskusi dengan pembimbing dan
presentasi ilmiah
G.
Pembobotan
Bentuk
Form penilaian Karya
Ilmiah
H.
I.
Sumber Daya
Pelaksana modul
Evaluasi
-Makalah dan Media
presentasi
-Presentasi dan diskusi
Bobot
50% pembimbing
30 % penguji
20% pembimbing
: 1. DR dr Susyana Tamin SpTHT-KL(K)
2. dr. Nina Irawati SpTHT-KL(K)
Matriks Kegiatan Modul Modul Keahlian Kompehensif THT 3
Hari
Waktu
Materi
SeninJumat
2 bulan
Penyusunan
karya ilmiah
dan diskusi
dengan
pembimbing
Selasa/
rabu/
jumat
Sesuai
Presentasi
jadwal
karya ilmiah
yang telah 5
ditentukan
Pembimbing Presentasi
SeninJumat
2 bulan
Pembimbing Belajar
mandiri
Selasa/
rabu/
jumat
Penyusunan
karya ilmiah
dan diskusi
dengan
pembimbing
Sesuai
Presentasi
jadwal
karya ilmiah
yang telah 6
ditentukan
Staf
Teknik
Pengajar
Pembimbing Belajar
mandiri
diskusi
Moderator
Penguji
diskusi
Pembimbing Presentasi
Moderator
Penguji
Daftar Pustaka:
1. Weerda H. Plastic surgery of the ear. In: Scott Brown’s otolaryngology, vol.3, 6th
edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997,3/8/1-21
2. Weerda H. Surgery of the auricle. Georg Thieme Verlag, NY 2007
3. Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and Throat
Disease, 2nd edition, Thiema Medical Publishers Inc., New York, 1994,
4. Behrbohm H, Tardy ME Jr, Essentials of Septorhinoplasty, Philosophy-ApproachesTechnigues, Thieme Medical Publisher, New York, 2004
5. Lee. KJ, Congenital Malformation in Otolryngology and Head and Neck Surgery,
Elseiver Science Publishers, 1989.
6. Bailey BJ, Johnson JT., Head and Neck Surgery Otolaryngology, Vol 1&2, 5th edition
Lippincot William-Wilkins, Philadelphia USA, 2014
7. Arun KL Randal N, Embriology of Head and Neck. In ; Grabb & Smith’s Plasti Surgery
6th edition Lippincott William &wilkins,
SEMESTER V
 Modul Endoskopi Bronkoesofagologi 2
 Modul
Keterampilan
Endoskopi
Bronkoesofagologi 2
 Modul Onkologi 2
 Modul Keterampilan Onkologi 2
 Modul Plastik Rekosntruksi 2
 Modul
Keterampilan
Plastik
Rekosntruksi 2
 Modul THT Komunitas
 Modul Keterampilan THT Komunitas
 Modul Pelatihan Kegawatan THT 4
MODUL ENDOSKOPI BRONKOESOFAGOLOGI 2 DAN MODUL
KETERAMPILAN ENDOSKOPI BRONKOESOFAGOLOGI 2
Mata Kuliah
:
MKK-1 MD22802333 /
MPK MD22802534
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
:
Ketua Divisi Endoskopi
Bronkoesofagologi THT-KL
A.
Pendahuluan
Modul EBE adalah materi pendidikan yang memberikan
dasar pengetahuan keahlian dalam bidang ilmu penyakit THT
agar peserta program PPDS semester V tahap magang mampu
memecahkan masalah ilmu penyakit THT-KL secara ilmiah
khususnya dalam bidang EBE yaitu KELAINAN DI TRAKTUS
TRAKEOBRONKIAL, ESOFAGUS DAN KESULITAN MENELAN
OROFARING.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program PPDS
diharapkan mampu memahami penyakit serta kelainan dan
mencapai kompetensi yang diharapkan di bidang EBE ilmu
kesehatan THT-KL.Komponen kompetensi yang diharapkan
tercapai setelah melewati modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung jawab
dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan kemampuan
intelektual dan profesional. Area kompetensi:
Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif. Area
kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan
keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim.
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient
Safety dan Sistem Manajemen Mutu.
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM.
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu pengetahuan
dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan tingkat
kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan risiko,
manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi: Pendekatan
Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Pembekalan
semester V
C.
Sasaran Pembelajaran (Audience, Behaviour, Condition, Degree)
1. Mampu mendiagnosis kelainan di traktus trakeobronkial, esofagus dan masalah
kesulitan menelan orofaring
2. Mampu menjelaskan patogenesis kelainan di traktus trakeobronkial, esofagus dan
masalah kesulitan menelan orofaring
3. Mampu menjelaskan gambaran klinis kelainan di traktus trakeobronkial, esofagus
dan masalah kesulitan menelan orofaring
4. Mampu menjelaskan secara lengkap jenis jenis pemeriksaan penunjang
lainnya.pada kelainan di traktus trakeobronkial, esofagus dan masalah kesulitan
menelan orofaring
5. Mampu menjelaskan dan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk
tindakan esofagoskopi /bronkoskopi untuk diagnosis dan terapiutik kelainan di
traktus trakeobronkial, esofagus dan masalah kesulitan menelan orofaring
6. Melakukan endoskopi/tindakan lain baik berupa rinolaringoskopi fleksibel,
bronkoskopi ataupun esofagoskopi rigid/fleksibel sebagai bagian dari
penatalaksanaan di traktus trakeobronkial, esofagus dan masalah kesulitan
menelan orofaring
7. Peserta PPDS THT mampu melakukan dan membuat laporan bronkoskopi atau
esofagoskopi dan pemeriksaan FE
8. Mampu mendiagnosis tanda-tanda komplikasi akibat kelainan di traktus
trakeobronkial, esofagus dan masalah kesulitan menelan orofaring
D.
LINGKUP BAHASAN
D.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program PPDS
mampu menjelaskan dan memahami :
1. Peserta PPDS THT mampu menjelaskan struktur penting dan fungsi traktus
trakeobronkial esofagus, orofaring serta konsep dasar dan terminologi
anatomi.
2. Peserta PPDS THT mampu menjelaskan proses fisiologi, dan patogenesis
kelainan di traktus trakeobronkial, esofagus dan masalah kesulitan menelan
orofaring
3. Peserta PPDS THT mampu menjelaskan pemberian modalitas farmakologi,
penggunaan radiologi.
4. Peserta PPDS THT mampu menguraikan tindakan pembedahan yang
berhubungan dengan kelainan di traktus trakeobronkial, esofagus dan
masalah kesulitan menelan orofaring
5. Peserta PPDS mampu menjelaskan dan mempersiapkan peralatan yang
dibutuhkan untuk tindakan esofagoskopi /bronkoskopi untuk diagnosis dan
terapiutik kelainan di traktus trakeobronkial, esofagus dan masalah kesulitan
menelan orofaring
6. Peserta PPDS melakukan endoskopi/tindakan lain baik berupa
rinolaringoskopi fleksibel, bronkoskopi ataupun esofagoskopi rigid/fleksibel
sebagai bagian dari penatalaksanaan di traktus trakeobronkial, esofagus dan
masalah kesulitan menelan orofaring
9. Mampu mendiagnosis tanda-tanda komplikasi akibat kelainan di traktus
trakeobronkial, esofagus dan masalah kesulitan menelan orofaring.
Lingkup
Bahasan
Pokok Bahasan
Tahap
Kewenangan
Klinis
Trakeobronkial,
esofagus,
orofaring
Anatomi
trakeobronkial,
esofagus dan orofaring
3c
Persarafan - jaras
traktus trakeobronkial,
esofagus dan orofaring
Vaskularisasi
Kelainan
esofagus :
Benda asing
esofagus
Stenosis
esofagus
Patofisiologi
3c
Diagnosis ( gejala,
tanda klinis)
3c
Pemeriksaan
penunjang (Radiologi,
CT scan, Esofagoskopi
kaku dan fleksibel)
3c
Tata laksana
komprehensif
3c
Komplikasi dan
tatalaksananya
3c
Patofisiologi
Diagnosis ( gejala,
tanda klinis)
3c
Pemeriksaan
penunjang (Radiologi,
CT scan, Barium
esofagogram,
Esofagoskopi kaku dan
fleksibel)
Tata laksana
komprehensif
Komplikasi dan
tatalaksananya
Esofagitis :
Refluks
Eosinofilik
Patofisiologi
Diagnosis ( gejala,
tanda klinis)
3c
Pemeriksaan
penunjang (Radiologi,
CT scan, Barium
esofagogram, pH metri,
Esofagoskopi kaku dan
fleksibel, biopsy
mukosa)
Tata laksana
komprehensif
Komplikasi dan
tatalaksananya
Gangguan
Patofisiologi dan jenis
neuromuscular : kelainan.
spasme difus
esofagus,
Nutcracker
Diagnosis ( gejala,
Esofagus
tanda klinis)
Akalasia,
Pemeriksaan
divertikulum
penunjang (Radiologi,
CT scan, Barium
esofagogram, pH metri,
Manometri,
Esofagoskopi kaku dan
fleksibel, biopsy
mukosa)
Tata laksana
komprehensif
Komplikasi dan
tatalaksananya
3c
Disfagia fase
oral dan fase
faring
Patofisiologi dan jenis
kelainan.
3c
Diagnosis ( gejala,
tanda klinis)
Pemeriksaan
penunjang (FEES,
Videofluruoskopi, CT
scan
Tata laksana
komprehensif
Komplikasi dan
tatalaksananya
Benda asing
traktus
trakeobronkial
Patofisiologi
3c
Diagnosis ( gejala,
tanda klinis)
Pemeriksaan
penunjang (Radiologi,
CT scan, Bronkoskopi
kaku dan fleksibel,
Virtual bronkoskopi)
Tata laksana
komprehensif
Komplikasi dan
tatalaksananya
D.2
Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu:
Keterampilan
Tahap Magang
Semester V
Melakukan konseling edukasi
pasien sesuai kelainan di traktus
trakeobronkial, esofagus dan
masalah kesulitan menelan
orofaring
4
Melakukan konseling pemberian
4
modalitas farmakologi,
penggunaan pemeriksaan
penunjang
Melakukan konseling, persiapan
4
dan prosedur esofagoskopi,
bronkoskopi
Peserta PPDS THT mampu
4
melakukan dan membuat
laporan bronkoskopi atau
esofagoskopi dan pemeriksaan
FEES
Peserta PPDS melakukan
endoskopi/tindakan lain baik
berupa rinolaringoskopi fleksibel,
bronkoskopi ataupun
esofagoskopi rigid/fleksibel
sebagai bagian dari
penatalaksanaan di traktus
trakeobronkial, esofagus dan
masalah kesulitan menelan
orofaring
3
D.3 Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan
bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
E.
Tingkat Kewenangan Klinis
TINDAKAN
Melakukan anamnesis
pemeriksaan fisik
TINGKAT
KEWENANGAN KLINIS
dan
Pemeriksaan rhinolaringoskopi
serat optic lentur
Trakeo - Bronkoskopi Kaku
(Bonkoskopi diagnostik)
Trakeo - Bronkoskopi Fleksibel
4
4
3
2
Ekstraksi Benda Asing TrakeoBronkus dengan Bronkoskopi 3
kaku
Esofagoskopi kaku
4
Ekstraksi Benda Asing Esofagus
3
dengan Esofagoskopi kaku
Biopsi tumor trakea-bronkus
2
dengan Bronkoskopi kaku
Biopsi tumor esofagus dengan
3
Esofagoskopi kaku
Trans Nasal Esophagoscopy
(Flexible Esophagoscopy)
2
Dilatasi
Esofagus
dengan
Esofagoskopi
Rigid
2
(Esophagoscopic Dilation Under
Direct Vision)
FEES (Flexible Endoscopic
Esophageal of the Swallowing)
4
F.
Metode Dan Tahapan Pengajaran
Metode pengajaran pada modul disfagia THT-KL meliputi
a. Belajar mandiri
b. Kuliah interaktif
c. Kerja praktek
G.
Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS harus memenuhi persyaratan kehadiran sebagai
berikut
Evaluasi Sumatif : dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai tercapainya
seluruh kompetensi yang diharapkan di modul EBE
H.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis.
Berupa ujian essay pre testpada awal (minggu ke-1) dan post test pada awal minggu
ke-4 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. Nilai batas lulus
(NBL) =75.
2. Minicex.
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan
data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan memberikan
edukasi ke pasien.
3. DOPS.
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
I.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
J.
K.
Sumber Daya
Pelaksana modul
: 1. Dr. dr Susyana Tamin, Sp THT-KL(K)
2. dr. Elvie Zulka, Sp THT-KL(K)
3. dr. Rahmanofa Yunizaf SpTHT
Matriks Kegiatan
Hari/Tgl
SENIN
Waktu
08.00-10.00
Materi
Cara kerja di Divisi
Endoskopibronkoesofagologi
Tutor
Dr. Susyana Tamin
Dr.Elvie Zulka
Dr Rahmanofa
Yunizaf
Senin
s/d
Jum’at
08.00-15.30
 Traktus
trakeobronkial dan
esofagus
 Benda asing traktus
trakeobronkial dan
esofagus
 ujian pre tes
 Esofagitis
 Stenosis esofagus
 Pelatihan membaca
Skor Temuan Refluks
Idem
Idem
-
Diskusi topik
Kerja praktek
CBD/case based
discussion
 Kelainan
neuromuscular
esofagus
 Disfagia fase oral dan
fase faring
 Review modul

Idem
-
Diskusi topik
Kerja praktek
CBD/case based
discussion
Idem
-
Diskusi topik
Kerja praktek
CBD/case based
discussion
08.00-15.30
 Review modul
Idem
-
Diskusi topik
Kerja praktek
CBD/case based
discussion
08.00-15.30
 Review modul
 Ujian Tulis
Idem
-
Diskusi topik
Kerja praktek
Minggu I
Senin
s/d
Jum’at
Minggu II
Senin
s/d
Jum’at
Minggu III
Senin
s/d
Jum’at
Minggu IV
Senin
s/d
Jum’at
Minggu V
Senin
s/d
08.00-15.30
08.00-15.30
08.00-15.30
Teknik
Pengarahan
-
Diskusi topik
Kerja praktek
CBD/case based
discussion
Ujian tulis: Essay
Jum’at
-
Minggu VI
-
CBD/case based
discussion
Presentasi Timjauan
Pustaka
Ujian Tulis Essay
Daftar Pustaka
1. Griffith P.F, Joel D.C, Jean D : Trauma. Foreign Bodies. Esophageal surgery, 2 nd ed. 2002:577615
2. Schiratzki H: Removal of Foreign Body in The Esophagus. Archives of Otolaryngology. 1976;102
(4): 238-40.
3. Ellen MF. Caustic Ingestion and Foreign Bodies in the Aerodigestive Tract. In: Byron I, Bailey eds.
Head and Neck Surgery Otolaryngology, 2nd edition. Lippincot-Raven.1998
4. Byron J, Bailey, Karen H, Calhoun. In: Byron I, Bailey eds. Atlas of Head and Neck SurgeryOtolaryngology.2nd edition. Lippincot, Philadelphia 2001: p834-5
5. Leder SB, Sasaki CT, Burrell MI. Fiberoptic endoscopic evaluation of dysphagia to identify silent
aspiration. Dysphagia 1998;13:19-21.
6. Tamin S, Ku PK, Cheung D. Assessment and management of dysphagia with fiberoptic endoscopic
examination of swallowing (FEES) and its future implementation in Indonesia. ORLI. 2004; 34(4):
26-33.
7. Kendall K. Head and Neck : Structures, functions, and evaluation in dysphagia. In : Leonard R,
Kendall K,editors. Dysphagia assessment and treatment planning. A team approach,1st ed. San
Diego, London: Singular Publishing Group Inc; 1997. p.7-18.
8. McCulloch TM, Van Daele DJ. Normal anatomy and physiology of the nose, the pharynx, and the
larynx. In: Langmore SE, editors. Endoscopic evaluation and treatment of swallowing Disorder,
1st ed. New York, Stuttgart: Thieme; 2001. p. 7-36.
9. Eibling DE. Organs of swallowing. In: Carrau RL, Murry T, editors. Comprehensive Management
of swallowing disorders,1st ed. San Diego, London: Singular Publishing Group;1999. p. 11-21.
10. Marks L, Rainbow D. Neuro antomy and anatomy of the normal swallowing process in adults.
In: Marks L, Rainbow D, editors. Working with dysphagia, 1st ed. United Kingdom: Speechmark
Publishing Ltd; 2001.p. 2-6.
11. Aviv JE. The normal swallow. In: Carrau RL, Murry T, editors. Comprehensive management of
swallowing disorders, 1st ed. San Diego, London: Singular Publishing Group;1999.p. 23-9.
12. Adams G.L., Boies L.R, Higler P.A., Buku Ajar Penyakit THT. EGC. Jakarta. Hal 455.
13. Bailey BJ., Johnson JT. Esofageal Disorder, 755-70., 2006
14. Ballantyne J.C, Grove John, Edwards C.H., Downton David. In a Synopsis of otolaryngology.
15. Bristal John wright & sons red. Page 353 – 369
MODUL ONKOLOGI 2 DAN
MODUL KETERAMPILAN ONKOLOGI 2
Mata Kuliah
:
MKK-1 MD22802335 /
MPK MD22802536
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
:
Ketua Divisi Onkologi THT-KL
2.
A.
Pendahuluan
Pada modul ini dipelajari mengenai anatomi, surgical
landmark, patofisiologi, diagnosis dan penatalaksanaan
tumor dibidang onkologi THT.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program diharapkan
mampu memahami penyakit-penyakit tumor dibidang
Onkologi THT, diagnosis dan penatalaksanaannya.
Komponen kompetensi yang diharapkan tercapai setelah
melewati modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung jawab
dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan kemampuan
intelektual dan profesional. Area kompetensi:
Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal.
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif.
Area kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan
keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin.
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim.
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient
Safety dan Sistem Manajemen Mutu.
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM.
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan
tingkat kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan
risiko, manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi:
Pendekatan Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Pembekalan
semester III yang sudah melalui modul terintegrasi bidang keilmuan dasar THT-KL
C.
Sasaran Pembelajaran
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi dan surgical landmark tumor dibidang
Onkologi THT dengan lengkap
2. Residen THT mampu menjelaskan patofisiologi tumor dibidang Onkologi THT
3. Residen THT mampu menginterpretasi hasil pemeriksaan penunjang (radiologi,
histopatologi, serologi) tumor dibidang Onkologi THT
4. Residen THT mampu menegakkan diagnosis tumor dibidang Onkologi THT
5. Residen THT mampu merencanakan tatalaksana komprehensif tumor dibidang
Onkologi THT
D.
Lingkup Bahasan
D.1
Pengetahuan
Sesuai dengan modul Kolegium THT-KL diharapkan setelah menyelesaikan
pembelajaran peserta program mampu menjelaskan penegakkan diagnosis dan
tatalaksana tumor dibidang Onkologi THT, yang meliputi:
- Karsinoma nasofaring
- Tumor sinonasal
- Angiofibroma
- Tumor rongga mulut, oropharynx, hipofaring
- Tumor kelenjar liur
- Tumor tiroid
- Tumor ganas kulit di kepala leher
- Unknown primary tumor
- Ca Laryng
Lingkup Bahasan
Pokok Bahasan
Tahap
Klinis
Karsinoma
Anatomi
3C
Nasofaring
Patofisiologi
3C

Diagnosis histopatologi
klasifikasi WHO /WF
3C
Kewenangan

Interpretasi
imunohistokimia

CT/MRI scan

Foto thoraks

USG Abdomen

Bone scan

Pet scan

Penegakan Diagnosis

Tatalaksana
 Informed consent
3C
3C
 Komplikasi tindakan
 Cara
mengatasi
komplikasi
 Teknik
3C
rinofaringolaringoskopi
(bekerjasama
dengan
divisi Laringfaring)
 Interpretasi
hasil
pemeriksaan
 Teknik biopsi local dengan
3C
endoskopi rigid (bekerja
sama
dengan
divisi
rinologi)
 Teknik biopsi local dengan
endoskopi fleksibel
Tumor Sinonasal
Anatomi
3C
Patofisiologi
3C

Diagnosis histopatologi

Interpretasi
imunohistokimia
3C

CT/MRI scan

Foto thoraks

USG Abdomen

Bone scan

Pet scan

Penegakan Diagnosis

Tatalaksana
 Informed consent
3C
3C
 Komplikasi tindakan
 Cara
mengatasi
komplikasi
 Teknik
3C
rinofaringolaringoskopi
(bekerjasama
dengan
divisi Laringfaring)
 Interpretasi
hasil
pemeriksaan
 Teknik biopsi local dengan
3C
endoskopi rigid (bekerja
sama
dengan
divisi
rinologi)
 Teknik biopsi local dengan
endoskopi fleksibel
Angiofibroma
Anatomi
3C
Patofisiologi
3C
- Diagnosis histopatologi
- 3C
- Interpretasi
imunohistokimia
- CT/MRI scan
- Foto thoraks
- USG Abdomen
- Bone scan
- Pet scan

Penegakan Diagnosis

Tatalaksana
 Informed consent
3C
3C
 Komplikasi tindakan
 Cara
mengatasi
komplikasi
 Teknik
3C
rinofaringolaringoskopi
(bekerjasama
dengan
divisi Laringfaring)
 Interpretasi
hasil
pemeriksaan
 Teknik biopsi local dengan
3C
endoskopi rigid (bekerja
sama
dengan
divisi
rinologi)
 Teknik biopsi local dengan
endoskopi fleksibel
Anatomi
3C
Patofisiologi
3C

Diagnosis histopatologi

Interpretasi
imunohistokimia

CT/MRI scan

Foto thoraks
3C
Tumor

USG Abdomen

Bone scan

Pet scan
rongga 
3C
Penegakan Diagnosis
mulut, oropharynx, 
Tatalaksana
hipofaring
 Informed consent
3C
 Komplikasi tindakan
 Cara
mengatasi
komplikasi
 Teknik
3C
rinofaringolaringoskopi
(bekerjasama
dengan
divisi Laringfaring)
 Interpretasi
hasil
pemeriksaan
 Teknik biopsi local dengan
3C
endoskopi rigid (bekerja
sama
dengan
divisi
rinologi)
 Teknik biopsi local dengan
endoskopi fleksibel
Tumor kelenjar liur
Anatomi
3C
Patofisiologi
3C

Diagnosis histopatologi

Interpretasi
imunohistokimia

CT/MRI scan
3C

Foto thoraks

USG Abdomen

Bone scan

Pet scan

Penegakan Diagnosis

Tatalaksana
 Informed consent
3C
3C
 Komplikasi tindakan
 Cara
mengatasi
komplikasi
 Teknik
3C
rinofaringolaringoskopi
(bekerjasama
dengan
divisi Laringfaring)
 Interpretasi
hasil
pemeriksaan
 Teknik biopsi local dengan
3C
endoskopi rigid (bekerja
sama
dengan
divisi
rinologi)
 Teknik biopsi local dengan
endoskopi fleksibel
Tumor tiroid
Anatomi
3C
Patofisiologi
3C

Diagnosis histopatologi

Interpretasi
imunohistokimia

CT/MRI scan

Foto thoraks
3C

USG Abdomen

Bone scan

Pet scan

Penegakan Diagnosis

Tatalaksana
 Informed consent
3C
3C
 Komplikasi tindakan
 Cara
mengatasi
komplikasi
 Teknik
3C
rinofaringolaringoskopi
(bekerjasama
dengan
divisi Laringfaring)
 Interpretasi
hasil
pemeriksaan
 Teknik biopsi local dengan
3C
endoskopi rigid (bekerja
sama
dengan
divisi
rinologi)
 Teknik biopsi local dengan
endoskopi fleksibel
Anatomi
Tumor ganas kulit di Patofisiologi
kepala leher

Diagnosis histopatologi
klasifikasi WHO /WF

Interpretasi
imunohistokimia

CT/MRI scan

Foto thoraks
3C
3C
3C

USG Abdomen

Bone scan

Pet scan

Penegakan Diagnosis

Tatalaksana
 Informed consent
3C
3C
 Komplikasi tindakan
 Cara
mengatasi
komplikasi
 Teknik
3C
rinofaringolaringoskopi
(bekerjasama
dengan
divisi Laringfaring)
 Interpretasi
hasil
pemeriksaan
 Teknik biopsi local dengan
3C
endoskopi rigid (bekerja
sama
dengan
divisi
rinologi)
 Teknik biopsi local dengan
endoskopi fleksibel
Unknown
primary Anatomi
3C
tumor
Patofisiologi

Diagnosis histopatologi
klasifikasi WHO /WF

Interpretasi
imunohistokimia

CT/MRI scan

Foto thoraks
3C
3C

USG Abdomen

Bone scan

Pet scan

Penegakan Diagnosis

Tatalaksana
 Informed consent
3C
3C
 Komplikasi tindakan
 Cara
mengatasi
komplikasi
 Teknik
3C
rinofaringolaringoskopi
(bekerjasama
dengan
divisi Laringfaring)
 Interpretasi
hasil
pemeriksaan
 Teknik biopsi local dengan
3C
endoskopi rigid (bekerja
sama
dengan
divisi
rinologi)
 Teknik biopsi local dengan
endoskopi fleksibel
Ca Laring
Anatomi
3C
Patofisiologi
3C

Diagnosis histopatologi
klasifikasi WHO /WF

Interpretasi
imunohistokimia

CT/MRI scan

Foto thoraks
3C

USG Abdomen

Bone scan

Pet scan

Penegakan Diagnosis

Tatalaksana
3C
 Informed consent
3C
 Komplikasi tindakan
 Cara
mengatasi
komplikasi
 Teknik
3C
rinofaringolaringoskopi
(bekerjasama
dengan
divisi Laringfaring)
 Interpretasi
hasil
pemeriksaan
 Teknik biopsi local dengan
3C
endoskopi rigid (bekerja
sama
dengan
divisi
rinologi)
 Teknik biopsi local dengan
endoskopi fleksibel
D.2
Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu:
Keterampilan
Tahap
Pembekalan
Semester 3
Menegakan diagnosis berdasarkan anamnesis, 3
pemeriksaan fisik THT, pemeriksaan penunjang
Teknik rinofaringolaringoskopi
3
Interpretasi hasil pemeriksaan
Teknik biopsi local dengan endoskopi rigid
3
3
Teknik biopsi local dengan endoskopi fleksibel
D.3
3
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga
etika terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin
dan bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
E.
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul Onkologi meliputi tahap orientasi, latihan, dan
umpan balik.
1. Tahap orientasi bertujuan memberikan wawasan mengenai penyakit-penyakit tumor
dibidang onkologi THT
a. belajar mandiri
b. diskusi topic
2. tahap latihan bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan praktek
klinis/keterampilan menjelaskan diagnosis dan tatalaksana penyakit-penyakit tumor
dibidang onkologi THT
a. kerja poliklinik
3. Tahap umpan balik bertujuan untuk evaluasi proses pembelajaran dengan
a. tinjauan pustaka/journal reading
b. CBD/case based discussion
F.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak
90%
1. Evaluasi Formatif : dilakukan selama masa rotasi secara berkesinambungan,
bertujuan untuk menilai pengetahuan sikap dan perilaku peserta didik.
2. Evaluasi Sumatif : dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai
tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul alergi
imunologi.
G.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis.
Berupa ujian essay pre test pada awal (minggu ke-1) dan post test pada awal minggu
ke-4 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. Nilai batas lulus
(NBL) =75.
2. Minicex.
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan
data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan memberikan
edukasi ke pasien.
3. DOPS.
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
H.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
I.
J.
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
Sumber Daya
Pelaksana modul
: 1. dr. Zanil Musa, Sp THT-KL(K)
2. dr. Marlinda Adham, Sp THT-KL(K), PhD
3. dr. Ika Dewi Mayangsari, Sp THT-KL
Lahan Praktek
1. Poliklinik departemen ilmu kesehatan THT-KL RSCM
Matriks Kegiatan
Hari/Tgl
Waktu
Materi
Tutor
Teknik
Senin
07.30-08.30
Cara kerja di Divisi
Dr. Zanil
Pengarahan
(Minggu I)
Dr.Marlinda
Dr. Mayang

Karsinoma nasofaring
s/d

Tumor sinonasal
Jum’at

Angiofibroma
(Minggu I)

Tumor
Senin
08.30-15.30
rongga
idem
d. Diskusi topik
e. Kerja
praktek
mulut,
f.
CBD
oropharynx, hipofaring
g. DOPS

Tumor kelenjar liur
h. Ujian
tulis:

Tumor tiroid
Essay
(pre

Tumor ganas kulit di kepala
test)
leher

Unknown primary tumor

Ca Laryng

Pemeriksaan RFL

Biopsi

Karsinoma nasofaring
s/d

Tumor sinonasal
Jum’at

Angiofibroma
(Minggu II)

Tumor
Senin
08.00-15.30
rongga
idem
i.
Diskusi topik
j.
Kerja
praktek
mulut,
k. CBD
oropharynx, hipofaring

Tumor kelenjar liur

Tumor tiroid

Tumor ganas kulit di kepala
l.
DOPS
leher

Unknown primary tumor

Ca Laryng

Pemeriksaan RFL

Biopsi

Karsinoma nasofaring
s/d

Tumor sinonasal
Jum’at

Angiofibroma
Senin
08.00-15.30
Idem
m. Diskusi topik
n. Kerja
praktek

(Minggu III)
Tumor
rongga
mulut,
o. CBD
oropharynx, hipofaring

Tumor kelenjar liur

Tumor tiroid

Tumor ganas kulit di kepala
p. DOPS
leher

Unknown primary tumor

Ca Laryng

Pemeriksaan RFL

Biopsi

Karsinoma nasofaring
s/d

Tumor sinonasal
Jum’at

Angiofibroma
(Minggu IV)

Tumor
Senin
08.00-15.30
rongga
Idem
q. Diskusi topik
r.
Kerja
praktek
mulut,
s. CBD
oropharynx, hipofaring
t.
DOPS

Tumor kelenjar liur
u. Literature

Tumor tiroid

Tumor ganas kulit di kepala
review
leher

Unknown primary tumor

Ca Laryng

Pemeriksaan RFL

Biopsi

Karsinoma nasofaring
s/d

Tumor sinonasal
Jum’at

Angiofibroma
(Minggu V)

Tumor
Senin
08.00-15.30
rongga
Idem
v. Diskusi topik
w. Kerja
praktek
mulut,
x. CBD
oropharynx, hipofaring
y. DOPS

Tumor kelenjar liur
z. Ujian

Tumor tiroid
Essay (post

Tumor ganas kulit di kepala
test)
leher
tulis:

Unknown primary tumor

Ca Laryng

Pemeriksaan RFL

Biopsi

Karsinoma nasofaring
s/d

Tumor sinonasal
Jum’at

Angiofibroma
(Minggu VI)

Tumor
Senin
08.00-15.30
rongga
idem
aa. Diskusi topik
bb. Kerja
praktek
mulut,
cc. CBD
oropharynx, hipofaring
dd. DOPS

Tumor kelenjar liur
ee. Ujian

Tumor tiroid

Tumor ganas kulit di kepala
tulis:
Essay
leher

Unknown primary tumor

Ca Laryng

Pemeriksaan RFL

Biopsi
Daftar Pustaka:
1. AbbasAK, Lichtman AH, Pillai S. Cellular and Molecular Immunology. 6th Ed.
Philadelphia: Saunders Elsevier; 2010.
2. Baratawidjaja KG, Rengganis I. Imunologi Klinik Dasar. 8th Ed. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI;2009.
3. Krause JH, Chadwick SJ, Gordon B, Derebery M, editors. Allergy and Immunology. An
Otolaringic Approach. Philadelphia:Lippincott Williams & Wilkins;2002.
4. King HC, Mabry RL, Mabry CS. Allergy in ENT Practice – A Basic Guide. New
York:Thieme;1998.
5. Bousquet J, et al. WHO Initiative-ARIA . J Allergy Clin Immunol 2001; 108 (5): 147-334
6. Bousquet J, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) 2008 update (in
collaboration with the World Health Organization, GA(2)LEN and AllerGen). J Allergy
2008 Apr ; 63 (86):8-160
7. Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editors. Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok.
Jakarta:Balai Penerbit FKUI;2009.
8. Johnson JT, Rosen CA editors. Bailey’s Head and Neck Surgery Otolaryngology, 5 th ed,
Volume one, Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins, 2014.
MODUL PLASTIK REKONSTRUKSI 2 DAN
MODUL KETERAMPILAN PLASTIK REKONSTRUKSI 2
Mata Kuliah
:
MKK-1 MD22802337 /
MPK MD22802538
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
:
Ketua Divisi Plastik Rekonstruksi
THT-KL
A.
Pendahuluan
Modul Plastik Rekonstruksi II adalah materi pendidikan yang
memberikan dasar pengetahuan keahlian dalam bidang plastik
rekonstruksi THT-KL yang berkaitan dengan ilmu penyakit THT
agar peserta program semester V tahap pembekalan mampu
memecahkan masalah ilmu penyakit THT-KL secara ilmiah
khususnya dalam bidang plastik rekonstruksi.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program diharapkan
mampu mencapai kompetensi yang diharapkan berkaitan
dengan bidang plastic rekonstruksi THT-KL. Komponen
kompetensi yang diharapkan tercapai setelah melewati modul
ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung jawab
dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan kemampuan
intelektual dan profesional. Area kompetensi:
Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal.
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif.
Area kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan
keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin.
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim.
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient
Safety dan Sistem Manajemen Mutu.
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM.
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan
tingkat kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan
risiko, manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi:
Pendekatan Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Pembekalan
semester II
C.
Sasaran Pembelajaran
C.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program mampu:
1. Menjelaskan dan menerapkan berbagai dasar bedah plastik rekonstruksi
THT-KL dalam penanganan pasien
i. Menjelaskan fisiologi dan patofisiologi penyembuhan luka serta dapat
melakukan perawatan luka yang benar.
ii. Merencanakan dan menjelaskan metode dan jenis tandur dan jabir.
iii. Menjelaskan dan Melakukan analisis wajah dengan cara foto
dokumentasi pre dan post operasi plastik rekonstruksi
2. Menjelaskan patofisiologi kelainan fungsi dan fisik pada maksilofasial
termasuk hidung dan daun telinga.
3. Menjelaskan patofisiologi, etiologi, Menegakkan diagnosis dan
merencanakan tatalaksana serta edukasi tentang kelainan kongenital THTKL (Celah bibir dan palatum, deformitas hidung celah bibir, deformitas
maksilofasial, mikrotia, atresia liang telinga, deformitas telinga, dan fistel
preaurikuler)
Lingkup Bahasan
Pokok Bahasan
Plastik
THT-KL
Proses
penyembuhan luka
Perawatan luka
Tandur alih.
Jabir
analisis
dan
dokumentasi wajah
pre
dan
post
operasi
plastik
rekonstruksi
anatomi
dan
fisiologi hidung.
rekonstruksi pada
kelainan
hidung
luar dan dalam
Rekonstruksi
Kelainan Hidung
Tahap Kewenangan
Klinis
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
(septoplasti,
rinoplasti
dan
septorinoplasti),
patofisiologi
kelainan fungsi dan
fisik akibat trauma
gejala dan tanda
fraktur hidung
diagnosis
dan
diagnosis banding
trauma hidung
tindakan
dan
pengelolaan
trauma dan fraktur
hidung
pada
keadaan akut dan
lanjut
tindakan operasi
reposisi tertutup
indikasi,
kontraindikasi, dan
komplikasi berbagai
tindakan
pengelolaan
trauma hidung
komplikasi trauma
hidung
kelainan kongenital
hidung
kelainan fisik dan
patofisiologi hidung
tindakan
dan
pengelolaan untuk
kelainan kongenital
hidung
kelainan
defek
hidung
kelainan fisik dan
patofisiologi hidung
tindakan
dan
pengelolaan untuk
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
Maksilofasial
kelainan
defek
hidung
anatomi, histologi
dan fisiologi wajah
termasuk
daun
telinga pada anak
dan dewasa
kelainan fisik dan
patofisiologi wajah
tata
laksana
penanganan
kelainan wajah non
patologi
dan
patologi
kelainan
defek
maksilofasial
kelainan fisik dan
patofisiologi
maksilofasial
tindakan
dan
pengelolaan untuk
kelainan
defek
maksilofasial
kelainan kongenital
telinga
kelainan fisik dan
patofisiologi telinga
Tata laksana untuk
kelainan kongenital
telinga (mikrotia,
atresia liang telinga,
deformitas telinga,
dan
fistel
preaurikuler)
anatomi, histologi
dan
fisiologi
maksilofacial pada
anak dan dewasa.
patogenesis serta
patofisiologi
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
Labiopalatoskisis
trauma
maksilofasial
komplikasi berbagai
fraktur
maksilofasial,
fraktur
sinus,
fraktur Lefort I, II
dan III, fraktur
zigoma,
serta
mandibula.
indikasi,
kontra
indikasi, komplikasi
(maloklusi,
diplopia)
dan
berbagai
pendekatan operasi
terhadap
fraktur
maksilofasial
Tata laksana fraktur
maksilofasial:
fraktur
sinus
frontal,
fraktur
maksila,
fraktur
zigoma
dan
mandibula
embriologi,
anatomi
dan
fisiologi
rongga
mulut dan bibir
kelainan anatomi
dan fisiologi rongga
mulut dan bibir
faktor resiko dan
patofiologi
terjadinya berbagai
jenis labioskisis
Tata
laksana
komprehensif
labioskisis.
embriologi,
anatomi
dan
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
fisiologi
palatum
dan jaringan sekitar
kelainan anatomi
dan
fisiologi
palatum
dan
jaringan sekitar
faktor resiko dan
patofisiologi
terjadinya berbagai
jenis palatoskisis
Tata
laksana
komprehensif
palatoskisis.
C.2
3C
3C
3C
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan
bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
E.
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Ada 3 tahapan pembelajaran: yaitu tahap orientasi, latihan, portfolio, dan umpan
balik. Metode pembelajaran dapat diberikan dalam bentuk : bedah buku, diskusi topik,
belajar mandiri, dan latihan pada pasien. Tiap-tiap topik bahasan akan berada dalam
tahapan yang berbeda dan akan diberikan dengan metode yang berbeda seperti yang
tercantum dalam matriks kegiatan.
F.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak
lebih dari 75%.
1. Ujian Formatif : dilakukan dalam masa rotasi yang sedang berjalan, bertujuan
untuk memonitor perkembangan PPDS dalam masa rotasi.
2. Ujian Sumatif : dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai
tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul Plastik
rekonstruksi THT-KL I.
G.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis.
Berupa ujian essay pre testpada awal (minggu ke-1) dan post test pada
awal minggu ke-4 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS.
Nilai batas lulus (NBL) =75.
2. Minicex.
Untuk penilaian berkesinambungan
kemampuan peserta didik
mengumpulkan data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan
tatalaksana dan memberikan edukasi ke pasien.
3. DOPS.
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
Waktu Pelaksanaan
1.
Ujian pretest dilakukan dalam minggu pertama rotasi
2.
Ujian Cased Based Discussion dan post test dilakukan pada selama stase
3.
Ujian Sumatif dilakukan pada minggu ke V (lima)
H.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
I.
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
Sumber Daya
Pelaksana modul
: 1. DR dr Trimartani SpTHT-KL(K)
2. DR dr Dini Widiarni SpTHT-KL(K) MEpid
3.DR dr Mirta Hediyati SpTHT-KL(K)
J.
Matriks Kegiatan
Matrik kegiatan dalam Modul Plastik Rekonstruksi THT-KL adalah
Hari
/
Tanggal
Senin
Waktu
Materi
08.00-10.00
Cara kerja di Divisi Plastik Dr. dr. Dini W.W SpTHT-KL (K)
Rekonstruksi
DR.dr.Trimartani SpTHT-KL(K)
Dr. dr. Mirta H.R SpTHT-KL(K)
 Bekerja di Poli Divisi
 Latihan menggunakan alat
diagnostik
 Memahami penyakit di
bidang
Plastik
Rekonstruksi THT
 Bekerja di kamar operasi
IGD / IBP
 Bekerja di Poli Divisi
 Memahami penyakit di
bidang
Plastik
Rekonstruksi THT
 Bekerja di kamar operasi
IGD / IBP
 Follow Up pasien di
bangsal
 Bekerja di Poli Divisi
 Memahami penyakit di
bidang
Plastik
Rekonstruksi THT
 Bekerja di kamar operasi
IGD / IBP
 Follow Up pasien di
bangsal
Pengarahan
 Bekerja di Poli Divisi
 Memahami penyakit di
bidang
Plastik
Rekonstruksi THT
 Bekerja di kamar operasi
IGD / IBP
 Follow Up pasien di
bangsal
 Bekerja di Poli Divisi
Diskusi/
Praktikum
Senin s/d 08.00-15.30
Jum’at
Minggu I
Senin s/d 08.00-15.30
Jum’at
Minggu II
Senin s/d 08.00-15.30
Jum’at
Minggu III
Senin s/d 08.00-15.30
Jum’at
Minggu IV
Senin s/d 08.00-15.30
Jum’at
Tutor
Teknik
Diskusi/
Praktikum
Diskusi/
Praktikum
Diskusi/
Praktikum
Diskusi/
Praktikum
Minggu V
 Memahami penyakit di
bidang
Plastik
Rekonstruksi THT
 Bekerja di kamar operasi
IGD / IBP
 Follow Up pasien di
bangsal
Senin s/d 08.00-15.30
Jum’at
Minggu VI
 Bekerja di Poli Divisi
 Memahami penyakit di
bidang
Plastik
Rekonstruksi THT
 Bekerja di kamar operasi
IGD / IBP
 Follow Up pasien di
bangsal
 Ujian Tulis
Diskusi/
Praktikum
Ujian
Tulis Essay
Daftar Pustaka:
1. Weerda H. Plastic surgery of the ear. In: Scott Brown’s otolaryngology, vol.3, 6th
edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997,3/8/1-21
2. Weerda H. Surgery of the auricle. Georg Thieme Verlag, NY 2007
3. Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and Throat
Disease, 2nd edition, Thiema Medical Publishers Inc., New York, 1994,
4. Behrbohm H, Tardy ME Jr, Essentials of Septorhinoplasty, Philosophy-ApproachesTechnigues, Thieme Medical Publisher, New York, 2004
5. Lee. KJ, Congenital Malformation in Otolryngology and Head and Neck Surgery,
Elseiver Science Publishers, 1989.
6. Bailey BJ, Johnson JT., Head and Neck Surgery Otolaryngology, Vol 1&2, 5 th edition
Lippincot William-Wilkins, Philadelphia USA, 2014
7. Arun KL Randal N, Embriology of Head and Neck. In ; Grabb & Smith’s Plasti Surgery
6th edition Lippincott William &wilkins, 2007
MODUL THT KOMUNITAS DAN
MODUL KETERAMPILAN THT KOMUNITAS
Mata Kuliah
:
MKK-1 MD22802339 /
MPK MD22802540
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
:
Ketua Divisi THT Komunitas THTKL
A.
Pendahuluan
Modul THT Komunitas adalah materi pendidikan yang memberikan
dasar pengetahuan keahlian dalam bidang ilmu penyakit THT agar
peserta PPDS THT-KL semester V tahap Magang mampu memecahkan
masalah ilmu penyakit THT-KL secara ilmiah khususnya dalam bidang
THT Komunitas berupa gangguan pendengaran pada bayi, anak dan
kelompok khusus, gangguan bicara pada anak dan rehabilitasihabilitasi pendengaran.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program diharapkan
mampu mencapai kompetensi yang diharapkan di bidang THT
komunitas. Komponen kompetensi yang diharapkan tercapai
setelah melewati modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung jawab
dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan kemampuan
intelektual dan profesional. Area kompetensi:
Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal.
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif.
Area kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan
keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin.
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim.
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient
Safety dan Sistem Manajemen Mutu.
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM.
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan
tingkat kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan
risiko, manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi:
Pendekatan Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap magang semester V
C.
Sasaran Pembelajaran (Audience, Behaviour, Condition, Degree)
1. Mampu mendiagnosis kelainan pendengaran pada bayi dan anak
2. Mampu menjelaskan embriologi, patogenesis kelainan pednegaran pada bayi dan
anak.
3. Mampu menjelaskan gambaran klinis gangguan bicara dan kelainannya.
4. Mampu mementukan jenis pemeriksaan yang digunakan untuk diagnosis kelainan
pendengaran yang ditemukan.
5. Mampu melakukan habilitas dan rehabilitasi pada kelaian bicara.
6. Mampu menentukan jenis alat bantu dengar yang dibutuhkan beserta alternatif
jenis alat bantu dengar yang lain.
D.
Lingkup Bahasan
D.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program
mampu menjelaskan dan memahami :
1. Peserta PPDS THT-KL mampu menjelaskan embriologi dan patofisiologi
gangguan pendengaran pada bayi dan anak.
2. Menjelaskan faktor resiko gangguan pendengaran dan tata laksananya
3. Peserta PPDS THT-KL dapat melakukan pemeriksaan pendengaran yang di
lakukan dengan tepat.
4. Peserta PPDS THT-KL dapat melakukan diagnosis dan tatalaksana pada
gangguan wicara
5. Menjelaskan kelaian Wicara dan kelainan yang terjadi pada saat Hiponasal
dan Hipersanal terkait dengan Kelainan palatum dan kelaianan pada
velofaringeal
6. Mengatahui jenis kelaian wicara
7. Peserta PPDS THT-KL dapat mengetahui jenis alat bantu dengar konvensional
dan sistem tanam
8. Peserta PPDS THT-KL dapat mengetahui Habilitasi – Rehabilitasi yang tepat
pada gangguan wicara
Lingkup Bahasan
Pokok Bahasan
Tahap Kewenangan
Klinis
Gangguan
pendengaran pada
bayi dan anak
 Perkembangan
bicara dan auditorik pada
bayi dan anak
3C
 Faktor resiko
gangguan pendengaran
pada bayi dan anak
Gangguan
pendengaran pada
anak sekolah
Strategi, deteksi dan
diagnosis gangguan
pendengaran pada anak
sekolah
3C
Penalaksanaan dan
edukasi gangguan
pendengaran pada anak
sekolah
Gangguan pendengaran
pada kelompok khusus
Gangguan
pendengaran pada
Pekerja di
lingkungan bising
Ototoksik
Presbikusis
 Indikasi
pemasangan alat
bantu dengar
 Dapat
menjelaskan
alternative alat
bantu dengar lain
Habilitasi / rehabilitasi
pendengaran
3C
D.2
Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu :
Keterampilan
Tahap magang Semester V
Menjelaskan anatomi dan fungsi pendengaran sejak 4
tahap embriologi sampai berkembang
Peserta PPDS THT-KL mampu menjelaskan 4
pemeriksaan yang akan dilakukan dengan
menggunakan pemeriksaan elektrofisiologi
Menjelaskan hasil pemeriksaan dan membuat 4
laporan kelainan yang terjadi
Peserta PPDS THT-KL mampu menjelaskan diagnosis 4
yang ditemukan serta habilitasi yang akan dilakukan.
D.3
E.
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga
etika terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik.
Disiplin dan bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas
serta pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur
dan terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
Tingkat Kewenangan Klinis
TINDAKAN
Melakukan anamnesis 4
dan pemeriksaan fisik
TINGKAT
KEWENANGAN
KLINIS
Pemeriksaan
4
pendengaran
secara
subyektif (VRA, BOA,
Play audiometri)
Pemeriksaan
DPOAE
skrining – Diagnostik
Pemeriksaan
BERA
Skrining – Diagnostik
Pemeriksaan ASSR
Pemeriksaan Nasalance
Pemeriksaan
Audiometri Skrining
F.
Metode Dan Tahapan Pengajaran
Metode pengajaran pada modul disfagia THT-KL meliputi
a. Belajar mandiri
b. Kuliah interaktif
c. Kerja praktek
G.
EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS THT-KL harus memenuhi persyaratan kehadiran
sebagai berikut
Evaluasi Sumatif : dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai tercapainya
seluruh kompetensi yang diharapkan di modul THT Komunitas
H.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis.
Berupa ujian essay pre testpada awal (minggu ke-1) dan post test pada awal
minggu ke-4 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. Nilai
batas lulus (NBL) =75.
2.
Minicex.
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan
data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan
memberikan edukasi ke pasien.
3. DOPS.
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
I.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
J.
K.
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
Sumber Daya
Pelaksana modul
: 1. Dr. Ronny Suwento Sp THT-KL(K)
2. DR. dr. Semiramis Zizlavsky, Sp THT-KL(K)
3. dr. Tri Juda Airlangga SpTHT (K)
4. dr. Fikry Hamdan Yasin Sp THT
Matriks Kegiatan
Hari/Tgl
SENIN
Waktu
08.00-10.00
Materi
Cara kerja di Divisi
THT Komunitas
Tutor
Teknik
1. Dr. Ronny Suwento Sp Pengarahan
THT-KL(K)
2. DR. dr. Semiramis
Zizlavsky, Sp THT-KL(K)
3. dr. Tri Juda Airlangga
SpTHT (K)
4. dr. Fikry Hamdan Yasin
Sp THT
Senin
s/d
Jum’at
 Deteksi
dini Idem
Pendengaran
pada
bayi dan anak
 Deteksi Pemeriksaan
pendengaran
pada
pekerja, anak sekolah
dan kelompok khusus
lain
 ujian pre tes
Idem
 Pemeriksaan
pendengaran
subyektif
 Pemeriksaan OAE
a. Diskusi topik
b. Kerja praktek
c. CBD/case
based
discussion
d. Ujian
tulis:
Essay
08.00-15.30
Idem
 Pemeriksaan BERA
 Pemeriksaan ASSR
 Habilitasi rehabilitasi
wicara
 Pemeilihan alat Bantu
dengar
a. Diskusi topik
b. Kerja praktek
c. CBD/case
based
discussion
08.00-15.30
 Review modul
a. Diskusi topik
b. Kerja praktek
c. CBD/case
based
discussion
08.00-15.30
Minggu I
Senin
s/d
Jum’at
08.00-15.30
Minggu II
Senin
s/d
Jum’at
Minggu III
Senin
s/d
Jum’at
Idem

Minggu IV
a. Diskusi topik
b. Kerja praktek
c. CBD/case
based
discussion
d.
Senin
s/d
Jum’at
Minggu V
08.00-15.30
 Review modul
Idem
Senin
s/d
Jum’at
08.00-15.30
 Review modul
 Ujian Tulis
Idem
Minggu VI
a. Diskusi topik
b. Kerja praktek
c. CBD/case
based
discussion
d.
a. Diskusi topik
b. Kerja praktek
c. CBD/case
based
discussion
d. Presentasi
Timjauan
Pustaka
e. Ujian
Tulis
Essay
DAFTAR PUSTAKA
1. Health technology Assesment : Skrining Pendengaran pada bayi baru lahir. Depkes RI 2006
2. Suwento R, Zizlavsky S, Hendarmin H. Gangguan dengar pada bayi dan anak dalam
Soepardi E. Iskandar N, Buku jar Ilmu Kesehatan THT kepala & leher. Edisi 6 FKUI 2007
3. Katz handbook of Clinical audiology, 5 th edition. Lippincot William & Wilkin, 2002
4. Northerm Jl. Downs MP. Hearing Inchildren 5th edition. Lippincot William & Wilkin 2002
5. Mc. Cormick B. Practical Aspec of Audiology Paediatric Audiology 0 – 5 Years 2nd Edition
Whurr Publisher. London
6. Joint Committe on Infant Hearing Tear 2000 Position Statement: Principles and Guidlines
for early Hearing Detection and Intervention Program AMeican Journal of Audiology. June
2000 Vol 9: 9 – 29
7. Joint Committe on Infant Hearing Tear 2000 Position Statement: Principles and Guidlines
for early Hearing Detection and Intervention Program American Journal of Paediatic 2007
Vol 120 number120 : 898-921 .
8. Dilon H. Hearing Aids. Thieme, Boomerang Press Sydney. 2001
9. RooserRJ. Clark Jl. Screening For Auditory disorder. In Rohr MV editor. Auditory disorder
in School children 4th edition Thieme New York: 2004 p 94-123
10. Direktorat kesehatan khusus direktorat kesehatan masyarakat Departemen Kesehatan
Penyakit akibat hubungan kerja. Simposium THT penyakit akibat hubungan kerja dan
cacat akibat kecelakaan kerja. Jakarta 2001
MODUL PELATIHAN KEGAWATAN THT 4
Mata Kuliah
:
MPK MD22802541
Jumlah SKS
:
Modul Pelatihan Kegawatan THT
4 (2 SKS)
Lama
:
6 Bulan (Selama Periode
Semester V)
Ketua Modul
:
Koordinator kegawatdaruratan
THT-KL
A. Pendahuluan
Modul Kegawatdaruratan THT adalah materi pendidikan
yang memberikan pelatihan keprofesian dengan menerapkan
penyakit serta kelainan THT-KL secara ilmiah khususnya dalam
bidang kegawatdaruratan THT-KL.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program diharapkan
mampu memahami penyakit serta kelainan dalam bidang
Kegawatdaruratan THT-KL dan mencapai kompetensi yang
diharapkan di bidang Kegawatdaruratan ilmu kesehatan THT-KL.
Komponen kompetensi yang diharapkan tercapai setelah melewati
modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung
jawab dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan
kemampuan intelektual dan profesional.
Area
kompetensi: Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif.
Area kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien
dan keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi:
Patient Safety dan Sistem Manajemen Mutu
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar
dan mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL.
Area kompetensi: EBM
6. Kompetensi dalam
mampu menerapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit THT-KL
dengan tingkat kompetensi yang tinggi dengan
memperhatikan risiko, manfaat, dan efisiensi biaya.
Area kompetensi: Pendekatan Keilmuan Dan
Keterampilan Klinik
B. Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Magang semester V
C. Sasaran Pembelajaran
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, patofisiologi, tumbuh-kembang
organ telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher.
2. Peserta didik mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding kasus kegawatdaruratan
THT.
3. Mampu melakukan pemeriksaan penunjang dan bekerjasama dengan disiplin ilmu lain
dalam melakukan penatalaksanaan komprehensif kasus kegawatdaruratan THT.
D. Lingkup Bahasan
I.1 Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program mampu memahami,
menegakkan diagnosis, memberikan terapi penyakit-penyakit dalam bidang
Kegawatdaruratan THT, meliputi:
1.Residen THT mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, patofisiologi, tumbuhkembang organ telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher.
2.Residen THT mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding:
a. Benda asing di THT
b. Nyeri telinga akut
c. Komplikasi intrakranial otitis media akut/ otitis media supuratif kronis
d. Trauma telinga dan tulang temporal
e. Tuli mendadak
f. Epistaksis
g. Trauma wajah
h. Trauma jaringan lunak wajah
i. Trauma hidung
j. Abses leher
k. Sumbatan laring
l. Trauma trakea
m. Disfagia
n. Esofagitis korosif
3. Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana komprehensif :
a. Benda asing di THT
b. Nyeri telinga akut
c. Komplikasi intrakranial otitis media akut/ otitis media supuratif kronis
d. Trauma telinga dan tulang temporal
e. Tuli mendadak
f. Epistaksis
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
Trauma wajah
Trauma jaringan lunak wajah
Trauma hidung
Abses leher
Sumbatan laring
Trauma trakea
Disfagia
Esofagitis korosif
Lingkup Bahasan
pokok bahasan
Kewenang
an klinis
3c
Anatomi, Fisiologi Dan Patofisiologi
Benda Asing di THT:









Benda asing di Esofagus
Benda asing di Laring
Benda asing di Trakea
Benda asing di Bronkus
Benda asing di Sinus
Piriformis
Benda asing di Dasar
Lidah
Benda asing di Faring/
Tonsil
Benda asing di Hidung
Benda asing di Liang
Telinga
3c
Diagnosis dan Diagnosis Banding
3c
Rencana tatalaksana tindakan dan
medikamentosa pada kasus benda
asing di THT
3c
Manajemen pasien
Benda Asing di THT
3c
3c
indikasi, kontraindikasi, komplikasi,
persiapan, langkah-langkah
pengambilan benda asing di THT
3c
Nyeri Telinga Akut
 Otitis Media Supuratif
Akut (OMA)
 Otitis Eksterna
Sirkumskrip (Furunkel)
 Otitis Eksterna Difus
 Otitis Eksterna Maligna
Anatomi, patofisiologi Nyeri Telinga
Akut
Diagnosis
Tatalaksana Komprehensif
3c
3c
3c
3c
Komplikasi Intrakranial
Otitis Media Akut/ Otitis
Media Supuratif Kronis:
 Meningitis Otogenik
 Trombosis Sinus
Lateralis
 Abses Ekstradural
 Abses Subdural
 Abses Otak Otogenik
 Hidrosefalus Otikus
Trauma Telinga dan Tulang
Temporal;
 Trauma Daun Telinga
 Keluar Cairan/ Darah
dari Liang Telinga
 Gangguan
Pendengaran
Anatomi, fisiologi, patofisiologi
Intrakranial Otitis Media Akut/ Otitis
Media Supuratif Kronis
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, fisiologi, patofisiologi Telinga
Diagnosis
3c



Gangguan
Keseimbangan
Paresis Fasial
Fraktur Tulang
Temporal
3c
Rencana Tata Laksana
3c
Tuli Mendadak
 Iskemia Koklea
 Infeksi Virus
 Pasca Trauma Kepala
 Trauma Bising Keras
 Perubahan Tekanan
Atmosfir
 Obat Ototoksik
 Penyakit Meniere
 Neuroma Akustik
Anatomi dan patofisiologi Tuli
Mendadak
3c
Diagnosis dan komplikasi
3c
Rencana tatalaksana
3c
Anatomi, fisiologi dan patofisiologi
Epistaksis
 Perdarahan Anterior
 Perdarahan Posterior
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Trauma Muka
 Fraktur Tulang Hidung
 Fraktur Maksila
 Fraktur Zigoma
 Fraktur Mandibula
 Fraktur Orbita
Anatomi, histologi, patofisiologi
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Trauma Jaringan Lunak
Muka
 Avulsi Total
 Avulsi Sebagian
 H. Laserasi
3c
Diagnosis
3c
Komplikasi
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Trauma Hidung
 Trauma Tertutup
 Trauma Terbuka
Anatomi, histologi, patofisiologi
Diagnosis
3c
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
Abses Leher
 Abses Peritonsil
 Abses Retrofaring
 Abses Parafaring
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi

3c
Abses Submandibula
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Sumbatan Laring
 Radang
 Tumor
 Kelainan Kongenital
 Paresis Postikus
Bilateral
 Trauma
 Benda Asing
Anatomi, histologi, patofisiologi
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Trauma Trakea
 Trauma Tumpul
 Trauma Tajam
 Trauma Endogen
3c
Diagnosis
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Disfagia
 Kelainan Faring
 Kelainan Esofagus
3c
Diagnosis dan diagnosis banding
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Esofagitis Korosif
Anatomi, histologi, patofisiologi
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
I.2 Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu:
Keterampilan
Ekstraksi Benda Asing:
Benda asing di laring: perasat Heimlich/ laringoskopi
Benda asing di trakea: bronkoskopi
Benda asing di bronkus : bronkoskopi
Benda asing di esofagus: esofagoskopi
Benda asing di sinus piriformis: laringoskopi
Benda asing di dasar lidah: laringoskopi langsung/ tak
langsung
Benda asing di faring/tonsil: ekstraksi dengan pinset/ cunam
Benda asing di hidung: ekstraksi dengan pengait
Benda asing di liang telinga: ekstraksi dengan pengait/ pinset
Nyeri telinga akut
Tatalaksana Medikamentosa
Pemasangan tampon telinga
Komplikasi intrakranial otitis media akut/ otitis media supuratif kronis
Tatalaksana Medikasmentosa
Trauma telinga dan tulang temporal
Tuli mendadak
Diagnosis dan Tatalaksana Medikamentosa
Epistaksis
Pemasangan tampon anterior
Pemasangan tampon posterior
Trauma muka
Trauma jaringan lunak muka
Bedah minor
Trauma hidung
Reduksi tertutup
Tahap magang
Semester 5
3,4
2,3
2,3
3,4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
1
2
Aspirasi dan insisi hematoma septum
Abses leher
Aspirasi dan insisi abses peritonsil
Aspirasi dan Insisi abses submandibular
Aspirasi dan Insisi abses retrofiring
Aspirasi dan Insisi abses parafaring
Terapi medikamentosa
Sumbatan jalan napas atas
Tindakan laringoskopi tidak langsung
Tindakan laringoskopi langsung
Cricotirotomi
Trakeostomi terintubasi
Trakeostomi primer
Trauma trakea
Tindakan laringoskopi langsung
Cricotirotomi
Trakeostomi terintubasi
Trakeostomi primer
Pemasangan NGT
Disfagia
Pemasangan NGT
Esofagitis korosif
esofagoskopi
Pemasangan NGT
2
1
0
0
0
2
3,4
1
1
2
2
1
1
2
2
2
4,5
2
2
II.3 Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika terhadap
pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan nonpramedik. Disiplin dan bertanggung
jawab serta peserta didik dapat berkomunikasi jujur dan terbuka, bekerjasama dalam
tim dalam penatalaksanaan kasus kegawatdaruratan THT.
E. Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul kegawatdaruratan ilmu kesehatan THT-KL meliputi tahap :
1. Praktek klinis di IGD dan ruang rawat RSCM dengan supervise berjenjang
2. Diskusi dengan DPJP jaga harian setelah jaga.
I. Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Form penilaian yang diisi oleh DPJP jaga harian dan dikumpulkan maksimal 1 minggu
setelah jaga.
G. Pembobotan
Bentuk
Pengetahuan,
Keterampilan
Sikap dan perilaku
Evaluasi
Form penilaian
Form penilaian
Form penilaian
Bobot
40%
20%
40%
H. Sumber Daya
Pelaksana modul
: Seluruh staf pengajar THT-KL
Lahan Praktek
4. Unit Gawat Darurat RSCM
5. Ruang rawat RSCM
I. Matriks Kegiatan
Hari/Tgl
Waktu
SeninJumat
15.0007.00
SabtuMinggu
08.0020.00
20.0008.00
Materi
Kasus
kegawatdaruratan
THT
Kasus
kegawatdaruratan
THT
Tutor
Teknik
DPJP jaga harian
Form penilaian
DPJP jaga harian
Form penilaian
Daftar Pustaka:
1. Iskandar N, Helmi. Panduan penatalaksanaan gawat darurat telinga hidung
tenggorok. Jakarta: Balai penerbit FKUI. 2008
SEMESTER VI










Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Neurotologi 3
Keterampilan Neurotologi 3
Otologi 3
Keterampilan Otologi 3
Laring Faring 3
Keterampilan Laring Faring 3
Rinologi 3
Keterampilan Rinologi 3
Keahlian Komprehensif 4
Pelatihan Kegawatan THT 5
117
118
Mata Kuliah
:
MKK-3 MD22802342 /
MPK MD22802543
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
MODUL NEUROTOLOGI 3
DAN
MODUL KETERAMPILAN NEUROTOLOGI 3
:
Ketua Divisi Neurotologi THT-KL
A.
Pendahuluan
Modul Neurotologi merupakan materi pendidikan yang
memberikan
pelatihan keprofesian dengan menerapkan
penyakit serta kelainan THT-KL secara ilmiah khususnya dalam
bidang Neurotologi THT-KL.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta PPDS THT-KL
diharapkan mampu memahami penyakit serta kelainan dalam
bidang Neurotologi THT-KLdan mencapai kompetensi yang
diharapkan di bidang Neurotologi ilmu kesehatan THTKL.Komponen kompetensi yang diharapkan tercapai setelah
melewati modul ini:
7. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung jawab
dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan kemampuan
intelektual dan profesional.
Area kompetensi:
Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal
8. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif. Area
kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan
keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin
9. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim
10. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient
Safety dan Sistem Manajemen Mutu
11. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM
12. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu pengetahuan
dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan tingkat
kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan risiko,
manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi:
Pendekatan Keilmuan Dan Keterampilan Klinik
118
119
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Pembekalan semester
II yang sudah melalui ujian masuk penerimaan PPDS
C.
Sasaran Pembelajaran
2. Peserta PPDS THT-KL mampu menjelaskan embriologi, anatomi, fisiologi,
patofisiologi, organ telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam, termasuk
didalam hal ini adalah sistem vestibuler dan sistem saraf fasialis.
3. Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding mengenai
gangguan pendengaran, keseimbangan dan gangguan saraf fasialis.
4. Peserta PPDS THT-KL mampu melakukan pemeriksaan dan mengiterpretasi hasil
pemeriksaan audiologi , keseimbangan dan fungsi saraf fasialis perifer yang bersifat
advanced
5. Peserta PPDS THT-KL mampu mengelola dan menganalisis secara terintegrasi
masalah gangguan pendengaran, keseimbangan perifer, dan saraf fasialis perifer.
6. Peserta PPDS THT-KL mampu memeriksa dan menginterpretasi seluruh hasil
pemeriksaan pendengaran, keseimbangan perifer dan saraf fasialis perifer serta
menganalisanya sehingga dapat mengelola pasien secara komprehensif.
Lingkup Bahasan
D.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta PPDS THT-KL mampu
memahami, menegakkan diagnosis, memberikan terapi penyakit-penyakit serta
melakukan tindakan dalam bidang Neurotolog THT, meliputi:
1. Peserta PPDS THT-KL mampu menjelaskan embriologi, anatomi, fisiologi,
patofisiologi, organ telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam, termasuk
didalam hal ini adalah sistem vestibuler dan sistem saraf fasialis.
2. Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding mengenai
gangguan pendengaran yang disebabkan oleh :
- Atresia liang telinga, mikrotia
- Gangguan fungsi tuba, patolus tuba
- Infeksi (OMSK, labirintitis)
- Timpanosklerosis, Otosklerosis
- Proses sentral (CAPD)
- Vaskuler (sudden deafness, stroke)
- Trauma (trauma kepala, trauma akustik, barotrauma, NIHL)
- Degenerasi (presbikusis, multipel sklerosis)
- Imunologi (ALHL)
- Kongenital
D.
119
120
-
Tinitus
Tumor (neuroma akustik)
Ototoksik (gol aminoglikosida, cisplatin, furosemid)
3. Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding mengenai
gangguan keseimbangan perifer yang disebabkan oleh :
- Infeksi (OMSK, labirintitis, neuritis vestibuler)
- Vaskuler (sudden vertigo ec sudden deafness,hipotensi ortostatik)
- Trauma (trauma kepala)
- Degenerasi (Presbiastasis)
- Imunologi (Menier’e deseases)
- Kongenital, BPV pada anak
- Tumor
- Ototoksik
- BPPV
- Superior canal dehiscent
4. Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding mengenai
gangguan saraf fasialis perifer yang disebabkan oleh :
- Infeksi (OMSK, Bell’s palsy, Ramsay Hunt syndrom, Zine herpete)
- Trauma (trauma kepala, karena operasi)
- Kongenital
- Tumor (Neuroma akustik, tumor telinga, parotis)
- Degeneratif
5. Mampu melakukan pemeriksaan dan menginterpretasi hasil pemeriksaan
pendengaran yang advanced seperti tes psikoakustik untuk tinnitus, dilemma
masking, tes FIT (Fusion at Inferred Threshold), BERA, ASSR.
6. Mampu melakukan pemeriksaan dan menginterpretasi hasil pemeriksaan
keseimbangan yang advanced seperti ENG, posturografi.
7. Mampu melakukan pemeriksaan dan menginterpretasi hasil pemeriksaan fungsi
saraf fasialis seperti tes elektrofisiologis saraf fasialis
Lingkup Bahasan
Gangguan
Pendengaran,
keseimbangan dan
Saraf Fasialis
Pokok Bahasan
Embriologi, anatomi
fisiologi dan
patofisiologi
pendengaran,
Tahap
Kewenangan Klinis
3C
120
121
Gangguan
pendengaran,
keseimbangan dan
saraf fasialis
keseimbangan dan
saraf Fasialis
interpretasi hasil
pemeriksaan advanced
Pemeriksaan audiologi,
fungsi keseimbangan
dan fungsi saraf fasialis
advanced
managemen pasien
Melakukan tahap
persiapan pemeriksaan
ADVANCE dan
menginterpretasikan
hasil serta
mendiagnosis
gangguan pendengaran,
keseimbangan dan
saraf Fasialis
Anatomi,
fisiologi,patofisiologi,
diagnosis dan
tatalaksana .
indikasi, dan persiapan,
langkah-langkah
pemeriksaan advanced
anatomi, fisiologi,
patofisiologi gangguan
pendengaran,
keseimbangan dan
saraf fasialis
Diagnosis,tatalaksana,
dan analisis
komprehensif
indikasi, dan langkahlangkah,
persiapan.pemeriksaan
advanced
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
3C
121
122
D.2
Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan Peserta PPDS THT-KL mampu:
TINGKAT KEMAMPUAN KETRAMPILAN TAHAP MAGANG
(SEMESTER VI)
Tindakan
1. Tes berbisik
2. Tes Garputala
3. - PemeriksaanAudiometri nada murni &
masking
-Tes SAL(Sensineural Aquity Level) untuk
mengatasi dilema masking
- Tes FIT ( Fusion at Inferred Threshold)
4. Pemeriksaan audiometri tutur & masking
5. Pemeriksaan Psikoakustik untuk Tinitus dan LDL
(Loudness Discomfot Level)
Tingkat Kewenangan
Klinis
4
4
4
4
4
4
4
6. Pemeriksaan penentuan lokasi lesi (site of
lesion) : ABLB, SISI, Tone decay
7. Audiologi pediatric
- Behavioural Observsation Audiometry (BOA)
- Visual Reinvorcement Audiometry (VRA)
- Tes play audiometri
- Tes fungsi persepsi
8. Pemeriksaan Timpanometri
9. Pemeriksaan Tes Fungsi Tuba
10. Tes keseimbangan sederhana
11. Head Impulse Test, Head Shaking Test dan Dynamic
Visual Acuity Test
12. Pemeriksaan Tes posisi (Dix Hallpike, side lying, roll
test)
13. PemeriksaanTes Kalori (dengan air atau udara)
14.Pemeriksaan Posturografi
15. Tes fungsi motorik saraf fasialis (sistem Freyss atau
House-Brackmann)
16. Pemeriksaan Topografi Nervus Fasialis
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
122
123
17. Pemeriksaan Elektrofisiologis fungsi saraf Fasialis
(NET)
18.Pemeriksaan BERA
19.Pemeriksaan ASSR
20.Pemeriksaan OAE
21.Terapi Reposisi Otolit dan terapi rehabilitasi
vestibuler (VRT)
22. Habilitasi dan rehabilitasi fungsi pendengaran
D.3
E.
4
4
4
4
4
2
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan
bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
Lingkup Bahasan (Pokok Bahasan)
Pada modul ini ditetapkan lingkup bahasan sebagai berikut:
- Atresia liang telinga, mikrotia
- Gangguan fungsi tuba, patolus tuba
- Infeksi (OMSK, labirintitis)
- Otosklerosis
- Proses sentral (CAPD)
- Vaskuler (sudden deafness, stroke)
- Trauma (trauma kepala, trauma akustik, barotrauma, NIHL)
- Degenerasi (presbikusis, multipel sklerosis)
- Imunologi (ALHL)
- Kongenital
- Tinitus
- Tumor (neuroma akustik)
- Ototoksik (gol aminoglikosida, cisplatin, furosemid)
1. Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding
mengenai gangguan keseimbangan perifer, seperti :
- Infeksi (OMSK, labirintitis, neuritis vestibuler)
- Vaskuler (sudden vertigo ec sudden deafness,hipotensi ortostatik)
- Trauma (trauma kepala)
- Degenerasi (Presbiastasis)
- Imunologi (Menier’e deseases)
- Kongenital, BPV pada anak
123
124
2.
F.
Tumor
Ototoksik
BPPV
Peserta PPDS THT-KL mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding
mengenai gangguan saraf fasialis perifer, seperti :
- Infeksi (OMSK, Bell’s palsy, Ramsay Hunt syndrom, Zine herpete)
- Trauma (trauma kepala, karena operasi)
- Kongenital
- Tumor (Neuroma akustik, tumor telinga, parotis)
- Degeneratif
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul Neurotologi ilmu kesehatan THT-KL meliputi tahap
orientasi, latihan, dan umpan balik.
1. Tahap orientasi bertujuan memberikan wawasan mengenai gangguan pendengaran,
keseimbangan postural dan gangguan saraf wajah (n. fasialis).
a. belajar mandiri
b. diskusi topik
2. Tahap latihan bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan praktek
klinis/keterampilan di bidang Neurotologi ilmu kesehatan THT-KL
a. kerja poliklinik
b. skill tutorial
3. Tahap umpan balik bertujuan untuk evaluasi proses pembelajaran dengan
a. tinjauan pustaka/journal reading
b. CBD/case based discussion
G.
H.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran. Untuk
dapat dievaluasi, peserta PPDS THT-KL harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak
90%.
1. Evaluasi Formatif : dilakukan selama masa rotasi secara berkesinambungan, bertujuan
untuk menilai pengetahuan sikap dan perilaku peserta PPDS THT-KL.
2. Evaluasi Sumatif : dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai
tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul Neurotologi.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis.
124
125
Berupa ujian essay pre testpada awal (minggu ke-1) dan post test pada awal minggu
ke-4 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. Nilai batas lulus
(NBL) =75.
2. Minicex.
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan
data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan memberikan
edukasi ke pasien.
3. DOPS.
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
I.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
J.
K.
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
Sumber Daya
Pelaksana modul :
1. Prof.Dr.dr. Jenny Endang Bashiruddin, Sp THT-KL(K)
2. Dr. Widayat Alviandi, Sp THT-KL(K)
3. Dr. Brastho Bramantyo, Sp THT-KL (K)
Lahan Praktek
1. Poliklinik departemen ilmu kesehatan THT-KL RSCM
2. Ruang rawat Gedung A RSCM
Matriks Kegiatan modul Neurotologi III
Hari/Tgl
Senin s/d
Jum’at
(Minggu I)
Waktu
08.0015.30
Materi
Peraturan
pelayanan pasien
di Div Neurotologi
Tutor
Prof.Dr.dr.
Jenny E B, Sp
THT
Teknik
Pengarahan
Diskusi topic
Kerja praktek
125
126
Senin s/d
Jum’at
(Minggu II)
08.0015.30
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komprehensif
Gangguan
pendengaran
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komprehensif
Gangguan
keseimbangan
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komprehensif
Gangguan saraf
fasialis
pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi secara
komperhensif tes
pendengaran,
keseimbangan,
saraf fasialis baik
yang dasar, khusus
dan advanced
Evaluasi
kemampuan
program studi
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan
pendengaran
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan
keseimbangan
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Dr. Widayat
Alviandi, Sp
THT
Dr. Brastho
Bramantyo,
Sp THT
CBD/case based
discussion
Ujian tulis: Essay
Prof.Dr.dr.
Jenny E B, Sp
THT
Dr. Widayat
Alviandi, Sp
THT
Dr. Brastho
Bramantyo,
Sp THT
Diskusi topic
Kerja praktek
CBD/case based
discussion
126
127
Senin s/d
Jum’at
(Minggu III)
08.0015.30
Gangguan saraf
fasialis
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
audiologi
advanced
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
keseimbangan
advanced
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
fasialis advanced
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan
pendengaran
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan
keseimbangan
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan saraf
fasialis
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
audiologi
advanced
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
keseimbangan
advanced
Prof.Dr.dr.
Jenny E B, Sp
THT
Dr. Widayat
Alviandi, Sp
THT
Dr. Brastho
Bramantyo,
Sp THT
Diskusi/Praktikum
127
128
Senin s/d
Jum’at
(Minggu IV)
08.0015.30
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
fasialis advanced
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan
pendengaran
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan
keseimbangan
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan saraf
fasialis
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
audiologi
advanced
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
keseimbangan
advanced
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
fasialis advanced
Evaluasi
kemampuan
pelayanan pasien
di Div Neurotologi
Prof.Dr.dr.
Jenny E B, Sp
THT
Dr. Widayat
Alviandi, Sp
THT
Dr. Brastho
Bramantyo,
Sp THT
Diskusi/Praktikum
Ujian Tulis Essay
128
129
Senin s/d
Jum’at
(Minggu V)
08.0015.30
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan
pendengaran
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan
keseimbangan
Prof.Dr.dr.
Jenny E B, Sp
THT
Dr. Widayat
Alviandi, Sp
THT
Dr. Brastho
Bramantyo,
Sp THT
Diskusi/Praktikum
Prof.Dr.dr.
Jenny E B, Sp
THT
Dr. Widayat
Alviandi, Sp
THT
Dr. Brastho
Bramantyo,
Sp THT
Diskusi/Praktikum
Diagnosis dan
tatalaksana secara
komperhensif
Gangguan saraf
fasialis
Senin s/d
Jum’at
(Minggu VI)
08.0015.30
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
audiologi
advanced
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
keseimbangan
advanced
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
fasialis advanced
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
audiologi
advanced
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
keseimbangan
advanced
129
130
Pelatihan
pemeriksaan dan
interpretasi tes
fasialis advanced
Evaluasi
kemampuan
pelayanan pasien
di Div Neurotologi
Ujian Tulis Essay
Daftar Pustaka:
1. Jackler RK, Brackmann DE, Neurotology
2. Katz J, Clinical Audiology
3. Gelfand SA, Essentials of Audiology
4. Herdman SJ, Vestibuler Rehabilitation
5. May M, Schaitkin BM, The Facial Nerve
130
131
Mata Kuliah
:
MKK-3 MD22802344 /
MPK MD22802545
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
MODUL OTOLOGI 3 DAN
MODUL KETERAMPILAN OTOLOGI 3
:
Ketua Divisi Otologi THT-KL
A.
Pendahuluan
Modul otologi-2 adalah materi pendidikan yang
memberikan pelatihan keprofesian dengan menerapkan
pembelajaran penatalaksanaan penyakit-penyakit tersering yang
dijumpai di bidang otologi ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorok bedah kepala leher (THT-KL).
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program diharapkan
mampu memahami penyakit-penyakit tumor dibidang Otologi
THT, diagnosis dan penatalaksanaannya. Komponen kompetensi
yang diharapkan tercapai setelah melewati modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan etika,
disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung jawab dalam
mengamalkan ilmunya berdasarkan kemampuan intelektual
dan profesional. Area kompetensi: Profesionalisme, dan Etik
dan Medikolegal.
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif. Area
kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan keluarga,
dan Komunikasi efektif interprofesi dan multidisiplin.
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Area
kompetensi: Kerjasama Tim.
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga prinsipprinsip patient safety dan pelayanan berkualitas yang
berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient Safety
dan Sistem Manajemen Mutu.
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM.
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu pengetahuan
dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan tingkat
kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan risiko,
manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi: Pendekatan
Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
131
132
B.
Karakteristik Peserta
Peserta PPDS THT-KL Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap magang semester
VI yang sudah melalui modul Otologi 2 dan Modul Keterampilan Otologi 2 semester IV.
C.
Sasaran Pembelajaran
1. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien kelainan kongenital telinga sesuai
kompetensinya.
2. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien trauma telinga sesuai kompetensinya.
3. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien benda asing telinga (luar, tengah dan
dalam) sesuai kompetensinya.
4. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien penyakit inflamasi telinga luar sesuai
kompetensinya.
5. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien penyakit inflamasi telinga tengah sesuai
kompetensinya.
6. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien penyakit inflamasi telinga dalam sesuai
kompetensinya.
7. PPDS THT-KL mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara
menegakkan diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta
menerapkannya pada tatalaksana pasien penyakit tumor jinak dan ganas telinga
sesuai kompetensinya.
132
133
D.
Lingkup Bahasan
D.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan proses pembelajaran PPDS THT-KL
mampu memahami dan menjelaskan patogenesis penyakit, cara menegakkan
diagnosis kerja, membuat diagnosis banding dan terapi, serta menerapkannya
pada tatalaksana pasien sesuai kompetensinya :
1. Kelainan-kelainan kongenital telinga, yaitu:
i. Kelainan kongenital telinga herediter.
ii. Kelainan kongenital telinga non-herediter.
2. Jenis trauma telinga, yaitu:
i. Trauma mekanik pada telinga.
ii. Trauma kimia pada telinga.
iii. Trauma akustik pada telinga.
3. Benda asing telinga (luar, tengah dan dalam).
4. Penyakit inflamasi telinga luar, yaitu:
i. Otitis eksterna sirkumskripta.
ii. Otitis eksterna difusa.
5. Penyakit-penyakit inflamasi telinga tengah, yaitu:
i. Otitis media supuratif.
ii. Otitis media non-supuratif.
6. Penyakit-penyakit inflamasi telinga dalam, yaitu:
i. Labirinitis.
ii. Penyakit Meniere.
iii. Neuronitis vestibularis.
iv. Presbiakusis.
v. Ototoksisitas.
vi. Sudden deafness.
vii. Tuli akibat bising.
Lingkup Bahasan
Topik Bahasan
Kelainan
kongenital telinga
herediter & nonherediter.
Trauma mekanik,
kimia, & akustik.
· Atresia dan stenosis
liang telinga.
· Celah brakial 1.
· Laserasi & avulsi
kulit liang telinga.
Tahap Kewenangan
Klinis
3C
3C
· Perforasi membran
timpani.
133
134
Benda asing
telinga luar,
tengah & dalam
Otitis eksterna
Otitis media
Labirintitis
Tumor jinak dan
ganas:
O. liang telinga.
P. Telinga
tengah.
Q. CPA.
· Dislokasi osikel.
· Fraktur tulang
temporal.
· Benda asing organik
& anorganik telinga
luar, tengah & dalam.
· Otitis eksterna
sirkumskripta.
· Otitis eksterna
difusa.
· Otitis eksterna
maligna.
· Otitis media
supuratif: otitis media
akut (rekuren) & otitis
media supuratif
kronik.
· Otitis media nonsupuratif: otitis media
efusi, glue ear.
· Labirintitis
purulenta.
· Labirintitis serosa.
· Seruminoma.
3C
3C
3C
3C
3C
· Adenokarsinoma
liang telinga.
· Osteoma.
· Exostosis.
· Osteosarkoma.
· Adenokarsinoma
telinga tengah.
· Neuroma akustik.
134
135
D.2
Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu :
Jenis keterampilan
POLIKLINIK
Menggunakan peralatan diagnostik, alat bedah
mikro, dan bahan kimia / obat-obatan untuk telinga.
Membaca dan interpretasi hasil pemeriksaan
penunjang (fungsi pendengaran, nervus fasialis,
keseimbangan, radiologi).
KAMAR OPERASI
Mampu melakukan persiapan operasi telinga (alat,
pasien, dokumen pendukung).
Mampu mengenali dan menyebutkan struktur
anatomi telinga dan tulang temporal.
Mampu mempraktekkan teknik bedah dasar pada
operasi telinga.
Mampu melakukan tindakan operasi pada jaringan
lunak pada operasi telinga tengah (INSISI KULIT
RETROAURIKULA, MEMBUANG TEPI PERFORASI
MEMBRAN TIMPANI, INSISI KULIT LIANG TELINGA,
INSISI MUSKULOPERIOSTEUM RETROAURIKULA,
PENGAMBILAN GRAFT FASIA OTOT.
Mampu melakukan tindakan operasi pada tulang
temporal: MASTOIDEKTOMI SEDERHANA.
Mampu melakukan tindakan operasi pada tulang
temporal: ATIKOTOMI POSTERIOR.
Mampu melakukan tindakan operasi pada tulang
temporal: TIMPANOTOMI POSTERIOR.
Mampu melakukan tindakan operasi pada tulang
temporal: AMPUTASI TIP MASTOID.
Mampu melakukan tindakan operasi pada tulang
temporal: MERUNTUHKAN DINDING POSTERIOR
LIANG TELINGA
D.3
Tingkat kewenangan
klinis
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan
bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
135
136
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
E.
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul otologi-1 ilmu kesehatan THT-KL meliputi tahap
orientasi, latihan, dan umpan balik.
1. Tahap orientasi bertujuan memberikan wawasan mengenai penyakit-penyakit
yang sering dijumpai pada praktek sehari-hari di bidang otologi.
a. Belajar mandiri.
b. Diskusi topik.
2. Kerja praktek bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan praktek
klinis / keterampilan di bidang otologi ilmu kesehatan THT-KL dengan cara:
a. Kerja poliklinik.
b. Kerja ruang rawat inap.
c. Kerja instalasi gawat darurat.
3. Tahap umpan balik bertujuan untuk evaluasi proses pembelajaran dengan
metode:
c. Tinjauan pustaka/journal reading.
d. CBD/case based discussion.
F.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak
90%.
1. Evaluasi Formatif : Dilakukan selama masa rotasi secara berkesinambungan,
bertujuan untuk menilai pengetahuan sikap dan perilaku
peserta didik.
2. Evaluasi Sumatif : Dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai
tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul
alergi imunologi.
G.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis.
Berupa ujian essay pre testpada awal (minggu ke-1) dan post test pada awal minggu
ke-4 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. Nilai batas lulus
(NBL) =75.
136
137
2.
Minicex.
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan
data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan memberikan
edukasi ke pasien.
3. DOPS.
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
H.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
I.
Sumber Daya
Pelaksana modul
:
1. Dr. Alfian Farid Hafil, Sp THT-KL(K).
2. DR. Dr. Ratna Dwi Restuti, SpTHT-KL(K).
3. Dr. Harim Priyono, SpTHT-KL(K).
Lahan Praktek
1. Poliklinik / instalasi rawat jalan divisi otologi departemen ilmu kesehatan THT-KL
RS. Cipto Mangunkusumo.
2. Instlasasi rawat inap departemen ilmu kesehatan THT-KL RS. Cipto
Mangunkusumo.
J.
Matriks Kegiatan
Hari/Tgl
Waktu
Materi
Tutor
Teknik
137
138
SENIN
08.0010.00
Cara kerja di
Divisi
Otologi
Senin s/d
Jumat
(Minggu I)
08.0015.30
· Bekerja di
Poli Divisi
Dr. Alfian
Farid Hafil,
SpTHT-KL (K).
DR. Dr. Ratna
D. Restuti,
SpTHT-KL (K).
Pengarahan
Dr. Harim
Priyono,
SpTHT-KL (K).
idem
Diskusi/Praktikum
idem
Diskusi/Praktikum
idem
Diskusi/Praktikum
· Latihan
menggunakan
alat diagnostik
· Memahami
penyakit di
bidang Otologi
· Bekerja di
kamar operasi
IGD/IBP
Senin s/d
Jumat
(Minggu
II)
08.0015.30
· Bekerja di
poli Divisi
· Memahami
penyakit di
bidang Otologi
· Bekerja di
kamar operasi
IGD/IBP
· Follow up
pasien di
bangsal
Senin s/d
Jumat
(Minggu
III)
08.0015.30
· Bekerja di
poli Divisi
· Memahami
penyakit di
bidang Otologi
· Bekerja di
kamar operasi
IGD/IBP
138
139
· Follow up
pasien di
bangsal
Senin s/d
Jumat
(Minggu
IV)
08.0015.30
· Bekerja di
Poli Divisi
idem
Diskusi/Praktikum
idem
Diskusi/Praktikum
· Memahami
penyakit
dibidang
Otologi
· Bekerja di
lamar operasi
IGD/IBP
· Follow up
pasien di
bangsal
Senin s/d
Jum’at
(Minggu
V)
08.0015.30
· Bekerja di
Poli Sub Dept
· Memahami
penyakit
dibidang
Otologi
· Bekerja di
kamar operasi
IGD/IBP
· Follow up
pasien di
bangsal
Daftar Pustaka:
1. Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editors. Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok.
Jakarta:Balai Penerbit FKUI;2009.
2. Johnson JT, Rosen CA editors. Bailey’s Head and Neck Surgery Otolaryngology, 5 th
ed, Volume one, Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins, 2014.
3. Ballenger JJ.: Disease of The Ear Nose Throat and Head and Neck, 13th Ed, LeaFebiger, 1985.
4. Adam GL, Boies LR,Hilger PA.: Fundamentals of Otolaryngology. 6th ed. WB Saunders
Co.1989.
139
140
MODUL LARING FARING 3 DAN
MODUL KETERAMPILAN LARING FARING 3
Mata Kuliah
:
MKK-1 MD22802346 /
MPK MD22802547
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
4 Minggu
Ketua Modul
:
Ketua Divisi Laring Faring THT-KL
A.
Pendahuluan
Modul Laring Faring adalah materi pendidikan
yang memberikan pelatihan keprofesian dengan
menerapkan penyakit serta kelainan THT-KL secara
ilmiah khususnya dalam bidang Laring Faring THT-KL.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program
diharapkan mampu mencapai kompetensi yang diharapkan
berkaitan dengan bidang Laring Faring THT-KL. Komponen
kompetensi yang diharapkan tercapai setelah melewati
modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu
menerapkan etika, disiplin dan taat hukum dengan
rasa tanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya
berdasarkan kemampuan intelektual dan
profesional. Area kompetensi: Profesionalisme,
dan Etik dan Medikolegal
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara
efektif. Area kompetensi: Komunikasi efektif
dengan pasien dan keluarga, dan Komunikasi
efektif interprofesi dan multidisiplin
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif
dalam lingkup sistem pelayanan kesehatan secara
keseluruhan. Area kompetensi: Kerjasama Tim
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan
menjaga prinsip-prinsip patient safety dan
pelayanan berkualitas yang berorientasi pada
pasien. Area kompetensi: Patient Safety dan
Sistem Manajemen Mutu
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk
belajar dan mengikuti perkembangan ilmu penyakit
THT-KL. Area kompetensi: EBM
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit THT-KL
dengan tingkat kompetensi yang tinggi dengan
memperhatikan risiko, manfaat, dan efisiensi
biaya. Area kompetensi: Pendekatan Keilmuan
Dan Keterampilan Klinik.
140
141
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Magang
semester II yang sudah melalui ujian masuk penerimaan PPDS
C.
Sasaran Pembelajaran
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, patofisiologi, tumbuh-kembang
Faring dan laring, termasuk didalamnya tonsil, sistem terbentuknya suara, sistem
vaskularisasi, persarafan.
2. Residen THT mampu membuat diagnosis, diagnosis banding disphonia, Sumbatan Jalan
Napas Atas (Sumbatan laring), Abses leher dalam, Kelainan kongenital laring, Trauma
laring, Lesi jinak laring, Lesi ganas laring, Obtructive Sleep Apnea Syndrome
3. Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana komprehensif disphonia,
Sumbatan Jalan Napas Atas (Sumbatan laring), Abses leher dalam, Kelainan kongenital
laring, Trauma laring, Lesi jinak laring, Lesi ganas laring, Obtructive Sleep Apnea
Syndrome.
D.
Lingkup Bahasan
D.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program mampu
memahami, menegakkan diagnosis, memberikan terapi penyakit-penyakit serta
melakukan tindakan dalam bidang Laring Faring THT, meliputi:
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, patofisiologi, tumbuhkembang larin dan faring, termasuk didalamnya tonsil, sistem pembentukan
suara, sistem vaskularisasi, persarafan.
2. Residen THT mampu membuat diagnosis, diagnosis banding disphonia,
Sumbatan Jalan Napas Atas (Sumbatan laring), Abses leher dalam, Kelainan
kongenital laring, Trauma laring, Lesi jinak laring, Lesi ganas laring, Obtructive
Sleep Apnea Syndrome.
3. Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana komprehensif disphonia,
Sumbatan Jalan Napas Atas (Sumbatan laring), Abses leher dalam, Kelainan
kongenital laring, Trauma laring, Lesi jinak laring, Lesi ganas laring, Obtructive
Sleep Apnea Syndrome.
Lingkup Bahasan
Trauma laring
Pokok Bahasan
anatomi, fisiologi laring
interpretasi CT-scan
Handling RFL
Tahap Kewenangan Klinis
3C
3C
3C
141
142
Abses leher dalam
managemen pasien
trauma laring
basic surgical landmark,
indikasi, kontraindikasi,
komplikasi, persiapan
operasi, alat-alat yang
akan dipakai
patofisiologi, dan
tatalaksana trauma larig
3C
indikasi, kontraindikasi,
komplikasi, persiapan,
langkah-langkah tindakan
rekonstruksi laring
anatomi, patofisiologi
abses leher dalam
3C
3C
tatalaksana komprehensif
Obructive sleep apnea
syndrome (OSAS)
Tumor ganas laring
Stenosis laring
3C
3C
3C
3C
3C
indikasi, kontraindikasi,
komplikasi, langkahlangkah, persiapan.
3C
anatomi, fisiologi,
patofisiologi sumbatan
3C
pemeriksaan RFL, muller
maneuver,ESS, dan
mengintrepetasikan
polisomnografi
3C
tatalaksana komprehensif
(OSA surgery, edukasi,
anatomi, fisiologi,
patofisiologi laring
3C
indikasi, kontraindikasi
dan komplikasi
laringektomi dan diseksi
leher
3C
Persiapan dan melakukan
trakeostomi
3C
patofisiologi stenosis
laring
diagnosis dan komplikasi
Persipan pre operasi
3C
3C
3C
3C
142
143
Disfonia
Kelainan kongenital
(Laryngomalasia,
laryngeal web, laryngeal
cleft, hygroma colli,
hemangioma,parese)
Infeksi faring laring
(tonsilitis faringitis,
laringitis)
Lesi jinak laring
(hemangioma, Papiloma
laring,granuloma,nodul,
polyp,
alat-alat yang
dipersiapkan
Fisiologi, etiologi dan
patofisiologi
3C
diagnosis dan diagnosis
banding
tatalaksana komprehensif
Tumbuh kembang
3C
diagnosis
tatalaksana komprehensif
3C
3C
anatomi, histologi,
patofisiologi
3C
diagnosis
komplikasi
tatalaksana komprehensif
patofisiologi
3C
3C
3C
3C
diagnosis
tatalaksana komprehensif
3C
3C
3C
3C
D.2
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan
bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
D.
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul Laring Faring ilmu kesehatan THT-KL meliputi
tahap orientasi, latihan, dan umpan balik.
1. Tahap orientasi bertujuan memberikan wawasan mengenai disphonia, Sumbatan
Jalan Napas Atas (Sumbatan laring), Abses leher dalam, Kelainan kongenital laring,
Trauma laring, Lesi jinak laring, Lesi ganas laring, Obtructive Sleep Apnea Syndrome
a. belajar mandiri
b. diskusi topic
143
144
2. Tahap latihan bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan praktek
klinis/keterampilan di bidang Laring Faring ilmu kesehatan THT-KL
a. kerja poliklinik
b. skill tutorial
3. Tahap umpan balik bertujuan untuk evaluasi proses pembelajaran dengan
a. tinjauan pustaka/journal reading
b. CBD/case based discussion
E.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak
lebih dari 75%.
1. Evaluasi Formatif
: Dilakukan dalam masa rotasi yang sedang berjalan,
bertujuan untuk memonitor perkembangan PPDS
dalam masa rotasi.
2. Evaluasi Sumatif
: Dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk
menilai tercapainya seluruh kompetensi yang
diharapkan di modul Plastik rekonstruksi THT-KL I.
F.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis.
Berupa ujian essay pre testpada awal (minggu ke-1) dan post test pada awal
minggu ke-4 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. Nilai
batas lulus (NBL) =75.
2. Minicex.
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan
data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan
memberikan edukasi ke pasien.
3. DOPS.
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
G.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
144
145
Minicex
Sikap dan perilaku
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
H.
Sumber Daya
Pelaksana modul
:
1. Prof. Dr. Bambang Hermani, Sp THT-KL(K) (HBH)
2. Dr. Syahrial MH, Sp THT-KL(K) (SMH)
3. Dr. Arie Cahyono, Sp THT-KL(K) (ARI)
4. Dr. Fauziah Fardizza, Sp THT-KL(K) (FFZ)
Lokasi Praktek
1. Poliklinik departemen ilmu kesehatan THT-KL RSCM
2. Ruang rawat Gedung A RSCM
3. Instalasi Bedah Pusat RSCM
J.
Matriks Kegiatan
Matrik kegiatan dalam Modul Plastik Rekonstruksi THT-KL adalah :
Hari/Tgl
Waktu
Materi
Tutor
Teknik
SENIN
08.0010.00
Cara kerja di
Divisi
Prof. Dr. HBH
Pengarahan
Laring Faring
Dr.SMH
Dr.ARI
Dr.FFZ
 Infeksi
laring faring
Prof. Dr. HBH
Senin s/d
Jum’at
(Minggu I)
08.0015.30
Diskusi topik
 Dysphonia Dr.SMH
Kerja praktek
 Sumbatan
Jalan Napas
Atas
(Sumbatan
laring)
Dr.ARI
CBD/case based
discussion
 Abses
leher dalam
Dr.FFZ
Ujian tulis: Essay
145
146
 Kelainan
kongenital
laring
 Trauma
laring
 Lesi jinak
laring
 Pelatihan
menggunakan
flexible optic
laryngoscop
Senin s/d
Jum’at
(Minggu II)
08.0015.30
 Infeksi
laring faring
Prof. Dr. HBH
 Dysphonia Dr.SMH
 Sumbatan Dr.ARI
Jalan Napas
Atas
(Sumbatan
laring)
 Abses
leher dalam
Dr.FFZ
 Kelainan
kongenital
laring
 Trauma
laring
 Lesi jinak
laring
 Pelatihan
membaca CTscan/ PSG
Senin s/d
Jum’at
(Minggu III)
08.0015.30
 Infeksi
laring faring
Prof. Dr. HBH
Diskusi/Praktikum
 Dysphonia Dr.SMH
 Sumbatan Dr.ARI
Jalan Napas
Atas
(Sumbatan
laring)
146
147
 Abses
leher dalam
Dr.FFZ
 Kelainan
kongenital
laring
 Trauma
laring
 Pelatihan
ekstraksi
benda asing
Senin s/d
Jum’at
(Minggu IV)
08.0015.30
 Infeksi
laring faring
Prof. Dr. HBH
 Dysphonia Dr.SMH
 Sumbatan
Jalan Napas
Atas
(Sumbatan
laring)
Dr.ARI
 Abses
leher dalam
Dr.FFZ
Ujian Tulis Essay
 Kelainan
kongenital
laring
 Trauma
laring
 Lesi jinak
laring
Daftar Pustaka:
1. Alper C., Myers E N., Eibling., Decicion Making In Ear, Nose, and Throat Disorders,
Saunders Company, 152-153., 2001
2. Bailey BJ., Johnson JT. Pharyngitis, 601-613., 2006
3. Becker W., Nauman H H., Pfaltz R C., Ear, Nose, and Throat Diseases, Thieme, 299387., 1194
4. Koufman JA, Belafsky PC. Infectious and Inflammatory Diseases of the Larynx.
In:Snow Jr JB, Ballenger JJ, editors. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and
Neck. 16th ed. Philadelpia: Lea&Febiger;2003.p.1194-214.
5. Postma GN, Amin MR, Koufman JA. Laryngitis. In: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands
SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR, editors. Head and neck surgery –
147
148
otolaryngology. 3rd ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2001. p.599605.
6. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia, Lea &
Febiger, 1993, chapter 26, pp.424-34
7.
Bailey BJ and Pillsburry III HC.Head and Neck Surgery – Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 1993, chapter 39, pp.492-500
8.
Adam GL, Boies LR, Hilger PA, eds. Boies Fundamentalis
Otolaryngology.Philadelphia : WB Sounders Co, 1989,chapter ,pp. 240-59
of
9. Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology.
Philadelphia. WB Saunders Co., 1991, chapter 13, pp. 333-42
10. Lee KJ. Essential Otolaryngology.Head & Neck Surgery. New York. McGraw Hill, 8 th
Ed, Chapter 31, pp. 724-92
148
149
MODUL RINOLOGI 3 DAN
MODUL KETERAMPILAN RINOLOGI 3
Pendahuluan
A.
Mata Kuliah
:
MKK-3 MD22802348 /
MPK MD22802549
Jumlah SKS
:
 Materi Keahlian Khusus
(MKK) = 1 SKS
 Materi Penerapan
Keprofesian (MPK) = 1
SKS
Lama
:
1.
4 Minggu
Ketua Modul
:
Ketua Divisi Rinologi THT-KL
2.
3.
4.
5.
6.
Modul Rinologi adalah materi pendidikan yang
memberikan pelatihan keprofesian dengan menerapkan
penyakit serta kelainan THT-KL secara ilmiah khususnya
dalam bidang Rinologi THT-KL.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program
diharapkan mampu memahami penyakit serta kelainan
dalam bidang Rinologi THT-KLdan mencapai kompetensi
yang diharapkan di bidang Rinologi ilmu kesehatan THTKL. Komponen kompetensi yang diharapkan tercapai
setelah melewati modul ini:
Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung
jawab dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan
kemampuan intelektual dan profesional.
Area
kompetensi: Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal
Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif.
Area kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan
keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin.
Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim.
Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient
Safety dan Sistem Manajemen Mutu.
Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM.
Kompetensi dalam
mampu menerapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan
tingkat kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan
risiko, manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi:
Pendekatan Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
149
150
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Magang
semester VI yang sudah melalui divisi lainnya di departemen THT-KL.
C.
Sasaran Pembelajaran
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, vaskularisasi, persarafan,
tumbuh kembang, fisiologi, patofisiologi hidung dan sinus paranasal serta
septum nasal.
2. Residen THT mampu menegakan diagnosis dan diagnosis banding dan
komplikasi dari penyakit hidung dan sinus paranasal.
3. Residen THT mampu menentukan jenis dan waktu untuk dilakukan
pemeriksaan penunjang, serta mampu melakukan interpretasi CT-scan.
4. Residen THT mampu menggunakan endoskopi dengan baik dan benar
5. Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana secara komprehensif
baik medikamentosa maupun pembedahan
6. Residen THT mampu menjelaskan indikasi, kontraindikasi dan komplikasi
operasi serta alat-alat yang diperlukan.
7. Residen THT mampu menjelaskan dan melakukanbasic surgical landmark
dan tahapan-tahapan operasi
D.
Lingkup Bahasan
D.1
Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program
mampu memahami, menegakkan diagnosis, memberikan terapi penyakitpenyakit serta melakukan tindakan dalam bidang Rinologi THT, meliputi:
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, vaskularisasi, persarafan,
tumbuh kembang, fisiologi, patofisiologi hidung dan sinus paranasal
serta septum nasal.
2. Residen THT mampu menegakan diagnosis dan diagnosis banding dan
komplikasi dari penyakit hidung dan sinus paranasal.
3. Residen THT mampu menentukan jenis dan waktu untuk dilakukan
pemeriksaan penunjang, serta mampu melakukan interpretasi CT-scan.
4. Residen THT mampu menggunakan endoskopi dengan baik dan benar
5. Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana secara
komprehensif baik medikamentosa maupun pembedahan
6. Residen THT mampu menjelaskan indikasi, kontraindikasi dan
komplikasi operasi serta alat-alat yang diperlukan.
7. Residen THT mampu menjelaskan basic surgical landmark dan tahapantahapan operasi
150
151
Lingkup Bahasan
Inflamasi dan infeksi
hidung dan sinus
paranasal
Kelainan anatomi
Gangguan penghidu
Epistaksis
Pokok bahasan
Rinosinusitis akut
3C
Rinosinusitis kronik
3C
Polip nasal
Snusitis dentogen
3C
3C
Infeksi jaringan
lunak (vestibulitis,
selulitis)
3C
Penyakit autoimun
(bersama divisi
alergi imunologi)
3C
Sinusitis Jamur
3C
Abses Septum
kelainan septum
3C
3C
atresia koana
anosmia trauma
anosmia pasca
infeksi
epistaksis anterior
3C
3C
3C
epistaksis posterior
3C
angiofibroma
papiloma inverted
3C
3C
3C
3C
3C
Benda Asing,
Lesi jinak hidungdan
sinus paranasal
(angiofibroma,
Papiloma inverted,
bekerjasama dengan
divisi onkologi THT)
Tahap
Kewenangan Klinis
3C
3C
151
152
D.2
Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu:
Jenis Tindakan/ keterampilan
Magang Smt IV
Penegakan diagnosis dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik, rinoskopi anterior dan
posterior
5
Evaluasi menggunakan nasal endoskop 0
derajat
5
Pembacaan CT-Scan
5
evaluasi menggunakan nasal endoskop
30,45, 70, 110 derajat
3,4
pemeriksaan fungsi penghidu
4
tatalaksana medikamentosa
4
tatalaksana pembedahan : BSEF I (Maksila)
3,4
tatalaksana pembedahan BSEF II (Maksila
dan Etmoid)
2
tatalaksana pembedahan BSEF III DCR
2
tatalaksana pembedahan BSEF III (Maksila,
etmoid dan frontal atau sfenoid)
2
tatalaksana BSEF IV (Jabir Osteoperiosteal)
2
tatalaksana BSEF IV (kebocoran CSS)
2
tatalaksana BSEF IV (operasi skull base)
2
tatalaksana BSEF IV (ekstirpasi tumor
dengan endoskop)
2
tatalaksana pembedahan : Septoplasti
3
tatalaksana pembedahan: Reduksi Konka
Inferior
3
melakukan perawatan luka pasca operasi
BSEF
3
tindakan polipektomi sederhana di
poliklinik
3
152
153
E.
tindakan sinuskopi diagnostik
4
tindakan sinuskopi tindakan
3
ekstraksi benda asing
4
pemasangan tampon anterior
5
pemasangan tampon posterior
4
ligasi arteri sfenopalatina
2
ekstraksi benda asing
4
D.3
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan
bertanggungjawab serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta
pedoman penggunaan obat. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan
terbuka, bekerjasama, dalam tim serta menjunjung tinggi patient safety.
D.4
Bahasan
Pada modul ini ditetapkan lingkup bahasan sebagai berikut:
1. Inflamasi dan infeksi hidung dan sinus paranasal
2. Kelainan anatomi
3. Gangguan penghidu
4. Epistaksis
5. Benda asing
6. Lesi jinak hidung dan sinus paranasal
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul Rinologi ilmu kesehatan THT-KL meliputi
tahap orientasi, latihan, dan umpan balik.
1. Tahap orientasi bertujuan memberikan wawasan mengenai Rinosinusitis,
Polip, Kelainan septum, Epistaksis, Gangguan Penghidu dan Benda asing
a. belajar mandiri
b. diskusi topik
2. Tahap latihan bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan
praktek klinis/keterampilan di bidang Rinologi ilmu kesehatan THT-KL
a. kerja poliklinik
b. skill tutorial
3. Tahap umpan balik bertujuan untuk evaluasi proses pembelajaran dengan
a. tinjauan pustaka/journal reading
b. CBD/case based discussion
153
154
F.
G.
H.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak
90%
1. Evaluasi Formatif : Dilakukan selama masa rotasi secara berkesinambungan,
bertujuan untuk menilai pengetahuan sikap dan perilaku
peserta didik.
2. Evaluasi Sumatif : Dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai
tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul
alergi imunologi.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Ujian tulis.
Berupa ujian essay pre testpada awal (minggu ke-1) dan post test pada awal minggu
ke-4 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. Nilai batas lulus
(NBL) =75.
2. Minicex.
Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan
data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan memberikan
edukasi ke pasien.
3. DOPS.
Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/prosedural/tindakan
4. Logbook
5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 85.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan
Essay
70%
Minicex
Sikap dan perilaku
30%
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Keterampilan
DOPS
100%
154
155
I.
Sumber Daya
Pelaksana modul
1.
2.
3.
4.
:
Dr. Umar Said Dharmabakti, Sp THT-KL(K)
Dr. Endang Mangunkusumo, Sp THT-KL(K)
DR.Dr. Retno S Wardani, Sp THT-KL (K)
Dr. Febriani Endiyarti, Sp THT-KL
Lahan Praktek
1. Poliklinik departemen ilmu kesehatan THT-KL RSCM
2. Instalasi Bedah Pusat RSCM
3. Ruang rawat Gedung A RSCM
K.
Matriks Kegiatan
Matrik kegiatan dalam Modul Alergi Imunologi THT-KL adalah :
Hari/Tgl
SENIN
Senin s/d
Jum’at
(Minggu I)
Senin s/d
Jum’at
(Minggu II)
Waktu
08.0010.00
08.0015.30
08.0015.30
Materi
Cara kerja di
Divisi
Rinologi
Infeksi dan
inflamasi hidung
dan sinus
paranasal
kelainan anatomi
epistaksis
gangguan
penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung
dan sinus
paranasal
Pre assesment
modul magang
semester IV
Infeksi dan
inflamasi hidung
dan sinus
paranasal
Tutor
Dr.Umar SD
Dr.Endang MK
DR.Dr.Retno SW
Dr.Febriani
idem
idem
Teknik
Pengarahan
Diskusi topik
Kerja praktek
CBD/case based
discussion
idem
155
156
Senin s/d
Jum’at
(Minggu III)
08.0015.30
Senin s/d
Jum’at
(Minggu IV)
08.0015.30
kelainan anatomi
epistaksis
gangguan
penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung
dan sinus
paranasal
pelatihan
septoplasti
kadaver
pelatihan BSEF
kadaver
Infeksi dan
inflamasi hidung
dan sinus
paranasal
kelainan anatomi
epistaksis
gangguan
penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung
dan sinus
paranasal
pelatihan
septoplasti atau
BSEF I di IBP
pasien
Infeksi dan
inflamasi hidung
dan sinus
paranasal
kelainan anatomi
epistaksis
gangguan
penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung
dan sinus
paranasal
idem
Diskusi/Praktikum
idem
156
157
Senin s/d
Jum’at
(Minggu V)
Senin s/d
Jum’at
(Minggu VI)
08.0015.30
08.0015.30
pelatihan
septoplasti atau
BSEF I di IBP
pasien
Infeksi dan
inflamasi hidung
dan sinus
paranasal
kelainan anatomi
epistaksis
gangguan
penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung
dan sinus
paranasal
Infeksi dan
inflamasi hidung
dan sinus
paranasal
kelainan anatomi
epistaksis
idem
Ujian DOPS
keterampilan IBP
idem
Ujian Minicex,
CBD
gangguan
penghidu
benda asing
lesi Jinak hidung
dan sinus
paranasal
Daftar Pustaka
1. Adam GL, Boies LR, Hilger PA.: Fundamentals of Otolaryngology. 6 th ed. WB
Saunders Co.1989.
2. Iskandar N, Soepardi EA., Bashiruddin J, Restuti RD, editors. Buku Ajar Telinga
Hidung Tenggorok. Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2009.
3. Bailey BJ, Johnson JT.: Head and Neck Surgery Otolaryngology. Philadelphia.
Lippincott Williams & wilkins. 4th Ed. 2006.
4. Ballenger JJ.: Disease of The Ear Nose Throat and Head and Neck, 13th Ed, Lea –
Febiger, 1985. Scott Brown: Otolaryngology, 6th Ed, JP Lippincont, 1997.
157
158
5. Lee KJ.: Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery, New York. McGraw Hill,
8th Ed.2003.
6. Kennedy DW, Bolger WE,Zienrech SJ.: Diseases of the Sinuses, diagnosis and
management, 1st Ed.Ontario, BC Decker Inc, 2001.
7. Stammberger H.: Functional Endoscopic Sinus Surgery. The Messerklinger
technique, Philadelphia, BC Decker Inc 1991.
8. Wormald PJ.: Endoscopic Sinus Surgery. Anatomy, Three-Dimensional
Reconstruction and Surgical Technique, New York. Thieme, 2nd Ed.2008.
9. Fokkens WJ, Lund VJ, Mullol J, Bachert C et al. European Position Paper on
Rhinosinusitis and Nasal Polyps. 2012.
158
159
MODUL KEAHLIAN KOMPREHENSIF 4
Mata Kuliah
:
MPA MD22802450
Jumlah SKS
:
Modul Keahlian Komprehensif
THT 2 (2 SKS)
Lama
:
6 Bulan (Selama Periode
Semester II)
Ketua Modul
:
Koordinator Penelitian THT-KL
A.
Pendahuluan
Modul Keahlian Kompehensif THT 4 adalah materi
pendidikan yang memberikan dasar pengetahuan serta
mendorong peserta didik agar mampu menyusun karya ilmiah dan
melakukan presentasi ilmiah sehingga menjadi dasar dalam
melakukan pendekatan diagnosis serta penatalaksanaan kasuskasus THT sesuai dengan evidence based medicine.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program diharapkan
mampu mencapai kompetensi yang diharapkan dalam menyusun
dan mempresentasikan karya ilmiah sesuai dengan evidence
based medicine. Komponen kompetensi yang diharapkan
tercapai setelah melewati modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung jawab
dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan kemampuan
intelektual dan profesional.
Area kompetensi:
Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal.
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif. Area
kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien dan
keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin.
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim.
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi: Patient
Safety dan Sistem Manajemen Mutu.
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar dan
mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL. Area
kompetensi: EBM.
6. Kompetensi dalam mampu menerapkan ilmu pengetahuan
dan teknologi ilmu penyakit THT-KL dengan tingkat
kompetensi yang tinggi dengan memperhatikan risiko,
manfaat, dan efisiensi biaya. Area kompetensi:
Pendekatan Keilmuan Dan Keterampilan Klinik.
159
160
B.
Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Magang semester VI
C.
Sasaran Pembelajaran
C.1 Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program mampu:
1. Melakukan penulisan karya ilmiah.
2. Melakukan penelusuran kepustakaan dengan baik dan benar.
3. Melakukan critical appraisal terhadap kepustakaan yang digunakan
sebagai landasan pembuatan karya ilmiah.
4. Melakukan presentasi ilmiah dengan baik dan benar.
C.2
Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika
terhadap pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan nonpramedik. Disiplin dan
bertanggung jawab serta taat terhadap jadwal diskusi. Peserta didik dapat
berkomunikasi jujur dan terbuka, bekerjasama dalam tim serta menjunjung tinggi
etika penulisan karya ilmiah.
E.
Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul Keahlian Kompehensif THT 2 meliputi :
a. Menyusun makalah
b. Mencari literatur dan melakukan critical appraisal.
c. Diskusi dengan pembimbing
d. Presentasi Ilmiah
F.
Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan penilaian karya ilmiah dan
presentasi oleh pembimbing, moderator dan penguji
I.
Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Formulir penilaian karya ilmiah. NBL adalah 75.
2. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari diskusi dengan
pembimbing dan presentasi ilmiah. NBL adalah 85.
160
161
G.
Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Form
penilaian -Makalah dan Media 50% pembimbing
Karya Ilmiah
presentasi
30 % penguji
-Presentasi
dan 20% pembimbing
diskusi
H.
I.
Sumber Daya
Pelaksana modul
: 1. DR dr Susyana Tamin SpTHT-KL(K)
2. dr. Nina Irawati SpTHT-KL(K)
Matriks Kegiatan Modul Modul Keahlian Kompehensif THT 2
Hari
SeninJumat
Waktu
2 bulan
Materi
Staf Pengajar
Penyusunan karya ilmiah dan Pembimbing
diskusi dengan pembimbing
Selasa/
rabu/
jumat
SeninJumat
Sesuai jadwal Presentasi karya ilmiah 3
yang
telah
ditentukan
2 bulan
Penyusunan karya ilmiah dan
diskusi dengan pembimbing
Selasa/ Sesuai jadwal Presentasi karya ilmiah 4
rabu/ yang
telah
jumat ditentukan
Pembimbing
Moderator
Penguji
Pembimbing
Pembimbing
Moderator
Penguji
Teknik
Belajar
mandiri
diskusi
Presentasi
Belajar
mandiri
diskusi
Presentasi
Daftar Pustaka:
1. Weerda H. Plastic surgery of the ear. In: Scott Brown’s otolaryngology, vol.3, 6 th
edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997,3/8/1-21
2. Weerda H. Surgery of the auricle. Georg Thieme Verlag, NY 2007
3. Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and
Throat Disease, 2nd edition, Thiema Medical Publishers Inc., New York, 1994,
4. Behrbohm H, Tardy ME Jr, Essentials of Septorhinoplasty, PhilosophyApproaches- Technigues, Thieme Medical Publisher, New York, 2004
5. Lee. KJ, Congenital Malformation in Otolryngology and Head and Neck Surgery,
Elseiver Science Publishers, 1989.
161
162
6. Bailey BJ, Johnson JT., Head and Neck Surgery Otolaryngology, Vol 1&2, 5 th
edition Lippincot William-Wilkins, Philadelphia USA, 2014
7. Arun KL Randal N, Embriology of Head and Neck. In ; Grabb & Smith’s Plasti
Surgery 6th edition Lippincott William &wilkins,
162
163
MODUL PELATIHAN KEGAWATAN THT 5
Mata Kuliah
:
MPK MD22802551
Jumlah SKS
:
Modul Pelatihan Kegawatan THT
5 (3 SKS)
Lama
:
6 Bulan (Selama Periode
Semester VI)
Ketua Modul
:
Koordinator Kegawatdaruratan
THT-KL
A. Pendahuluan
Modul Kegawatdaruratan THT adalah materi pendidikan
yang memberikan pelatihan keprofesian dengan menerapkan
penyakit serta kelainan THT-KL secara ilmiah khususnya dalam
bidang kegawatdaruratan THT-KL.
Tujuan Pembelajaran
Setelah melewati modul ini, peserta program diharapkan
mampu memahami penyakit serta kelainan dalam bidang
Kegawatdaruratan THT-KL dan mencapai kompetensi yang
diharapkan di bidang Kegawatdaruratan ilmu kesehatan THT-KL.
Komponen kompetensi yang diharapkan tercapai setelah melewati
modul ini:
1. Kompetensi dalam memahami dan mampu menerapkan
etika, disiplin dan taat hukum dengan rasa tanggung
jawab dalam mengamalkan ilmunya berdasarkan
kemampuan intelektual dan profesional.
Area
kompetensi: Profesionalisme, dan Etik dan Medikolegal
2. Kompetensi dalam area berkomunikasi secara efektif.
Area kompetensi: Komunikasi efektif dengan pasien
dan keluarga, dan Komunikasi efektif interprofesi dan
multidisiplin
3. Kompetensi dalam mampu bekerja secara efektif dalam
lingkup sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Area kompetensi: Kerjasama Tim
4. Kompetensi dalam mampu bekerja dengan menjaga
prinsip-prinsip patient safety dan pelayanan berkualitas
yang berorientasi pada pasien. Area kompetensi:
Patient Safety dan Sistem Manajemen Mutu
5. Kompetensi dalam memiliki komitmen untuk belajar
dan mengikuti perkembangan ilmu penyakit THT-KL.
Area kompetensi: EBM
6. Kompetensi dalam
mampu menerapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi ilmu penyakit THT-KL
dengan tingkat kompetensi yang tinggi dengan
memperhatikan risiko, manfaat, dan efisiensi biaya.
Area kompetensi: Pendekatan Keilmuan Dan
Keterampilan Klinik
163
164
B. Karakteristik Peserta
Peserta adalah Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Tahap Magang semester VI
C. Sasaran Pembelajaran
1. Residen THT mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, patofisiologi, tumbuh-kembang
organ telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher.
2. Peserta didik mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding kasus kegawatdaruratan
THT.
3. Mampu melakukan pemeriksaan penunjang dan bekerjasama dengan disiplin ilmu lain
dalam melakukan penatalaksanaan komprehensif kasus kegawatdaruratan THT.
D. Lingkup Bahasan
I.1 Pengetahuan
Diharapkan setelah menyelesaikan pembelajaran peserta program mampu memahami,
menegakkan diagnosis, memberikan terapi penyakit-penyakit dalam bidang Kegawatdaruratan
THT, meliputi:
1.Residen THT mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, patofisiologi, tumbuh-kembang
organ telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher.
2.Residen THT mampu membuat diagnosis dan diagnosis banding:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
Benda asing di THT
Nyeri telinga akut
Komplikasi intrakranial otitis media akut/ otitis media supuratif kronis
Trauma telinga dan tulang temporal
Tuli mendadak
Epistaksis
Trauma wajah
Trauma jaringan lunak wajah
Trauma hidung
Abses leher
Sumbatan laring
Trauma trakea
Disfagia
Esofagitis korosif
164
165
3.Residen THT mampu menyusun rencana tatalaksana komprehensif :
a. Benda asing di THT
b. Nyeri telinga akut
c. Komplikasi intrakranial otitis media akut/ otitis media supuratif
kronis
d. Trauma telinga dan tulang temporal
e. Tuli mendadak
f. Epistaksis
g. Trauma wajah
h. Trauma jaringan lunak wajah
i. Trauma hidung
j. Abses leher
k. Sumbatan laring
l. Trauma trakea
m. Disfagia
n. Esofagitis korosif
Lingkup Bahasan
pokok bahasan
Kewenangan
klinis
3c
Anatomi, Fisiologi Dan Patofisiologi
Benda Asing di THT:









Benda asing di Esofagus
Benda asing di Laring
Benda asing di Trakea
Benda asing di Bronkus
Benda asing di Sinus
Piriformis
Benda asing di Dasar Lidah
Benda asing di Faring/ Tonsil
Benda asing di Hidung
Benda asing di Liang Telinga
3c
Diagnosis dan Diagnosis Banding
3c
Rencana tatalaksana tindakan dan
medikamentosa pada kasus benda asing di THT
165
166
3c
Manajemen pasien
Benda Asing di THT
3c
3c
indikasi, kontraindikasi, komplikasi, persiapan,
langkah-langkah pengambilan benda asing di
THT
3c
Nyeri Telinga Akut
 Otitis Media Supuratif Akut
(OMA)
 Otitis Eksterna Sirkumskrip
(Furunkel)
 Otitis Eksterna Difus
 Otitis Eksterna Maligna
Anatomi, patofisiologi Nyeri Telinga Akut
Diagnosis
3c
3c
3c
Tatalaksana Komprehensif
3c
Komplikasi Intrakranial Otitis
Media Akut/ Otitis Media
Supuratif Kronis:
 Meningitis Otogenik
 Trombosis Sinus Lateralis
 Abses Ekstradural
 Abses Subdural
 Abses Otak Otogenik
 Hidrosefalus Otikus
Anatomi, fisiologi, patofisiologi Intrakranial
Otitis Media Akut/ Otitis Media Supuratif
Kronis
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
166
167
3c
Trauma Telinga dan Tulang
Temporal;
 Trauma Daun Telinga
 Keluar Cairan/ Darah dari
Liang Telinga
 Gangguan Pendengaran
 Gangguan Keseimbangan
 Paresis Fasial
 Fraktur Tulang Temporal
Anatomi, fisiologi, patofisiologi Telinga
Diagnosis
3c
3c
Rencana Tata Laksana
3c
Anatomi dan patofisiologi Tuli Mendadak
Tuli Mendadak
 Iskemia Koklea
 Infeksi Virus
 Pasca Trauma Kepala
 Trauma Bising Keras
 Perubahan Tekanan Atmosfir
 Obat Ototoksik
 Penyakit Meniere
 Neuroma Akustik
3c
Diagnosis dan komplikasi
3c
Rencana tatalaksana
3c
Anatomi, fisiologi dan patofisiologi
Epistaksis
 Perdarahan Anterior
 Perdarahan Posterior
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
167
168
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Trauma Muka
 Fraktur Tulang Hidung
 Fraktur Maksila
 Fraktur Zigoma
 Fraktur Mandibula
 Fraktur Orbita
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
3c
Trauma Jaringan Lunak Muka
 Avulsi Total
 Avulsi Sebagian
 H. Laserasi
Diagnosis
3c
Komplikasi
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Trauma Hidung
 Trauma Tertutup
 Trauma Terbuka
Anatomi, histologi, patofisiologi
Diagnosis
3c
168
169
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Abses Leher
 Abses Peritonsil
 Abses Retrofaring
 Abses Parafaring
 Abses Submandibula
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Sumbatan Laring
 Radang
 Tumor
 Kelainan Kongenital
 Paresis Postikus Bilateral
 Trauma
 Benda Asing
3c
Diagnosis
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Trauma Trakea
 Trauma Tumpul
 Trauma Tajam
 Trauma Endogen
3c
Diagnosis
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
Disfagia
 Kelainan Faring
 Kelainan Esofagus
3c
Diagnosis dan diagnosis banding
169
170
Rencana Tatalaksana komprehensif
3c
Anatomi, histologi, patofisiologi
3c
Diagnosis
Esofagitis Korosif
3c
Rencana Tatalaksana komprehensif
I.2 Ketrampilan
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu:
Keterampilan
Tahap
Pembekalan
Semester VI
Ekstraksi Benda Asing:
Benda asing di laring: perasat Heimlich/ laringoskopi
Benda asing di trakea: bronkoskopi
Benda asing di bronkus : bronkoskopi
Benda asing di esofagus: esofagoskopi
Benda asing di sinus piriformis: laringoskopi
Benda asing di dasar lidah: laringoskopi langsung/ tak
langsung
Benda asing di faring/tonsil: ekstraksi dengan pinset/ cunam
Benda asing di hidung: ekstraksi dengan pengait
Benda asing di liang telinga: ekstraksi dengan pengait/ pinset
Nyeri telinga akut
Tatalaksana Medikamentosa
Pemasangan tampon telinga
Komplikasi intrakranial otitis media akut/ otitis media supuratif kronis
Tatalaksana Medikasmentosa
Trauma telinga dan tulang temporal
Tuli mendadak
3,4
2,3
2,3
3,4
3,4
3,4
4
4
4
4
4
3,4
3,4
170
171
Diagnosis dan Tatalaksana Medikamentosa
Epistaksis
Pemasangan tampon anterior
Pemasangan tampon posterior
Trauma muka
Trauma jaringan lunak muka
Bedah minor
Trauma hidung
Reduksi tertutup
Aspirasi dan insisi hematoma septum
Abses leher
Aspirasi dan insisi abses peritonsil
Aspirasi dan Insisi abses submandibular
Aspirasi dan Insisi abses retrofiring
Aspirasi dan Insisi abses parafaring
Terapi medikamentosa
Sumbatan jalan napas atas
Tindakan laringoskopi tidak langsung
Tindakan laringoskopi langsung
Cricotirotomi
Trakeostomi terintubasi
Trakeostomi primer
Trauma trakea
Tindakan laringoskopi langsung
Cricotirotomi
Trakeostomi terintubasi
Trakeostomi primer
Pemasangan NGT
Disfagia
Pemasangan NGT
Esofagitis korosif
esofagoskopi
Pemasangan NGT
3,4
4
4
1
2,3
2
3,4
2,3
2,3
2,3
2,3
3,4
2,3
1
2,3
2,3
2,3
1
2,3
2,3
1
4,5
2
2
II.3 Sikap dan Perilaku
Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta didik mampu menjaga etika terhadap
pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan nonpramedik. Disiplin dan bertanggung
jawab serta peserta didik dapat berkomunikasi jujur dan terbuka, bekerjasama dalam tim
dalam penatalaksanaan kasus kegawatdaruratan THT.
171
172
E. Metode dan Tahapan Pembelajaran
Metode pengajaran pada modul kegawatdaruratan ilmu kesehatan THT-KL meliputi tahap :
1. Praktek klinis di IGD dan ruang rawat RSCM dengan supervise berjenjang
2. Diskusi dengan DPJP jaga harian setelah jaga.
I. Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan
1. Form penilaian yang diisi oleh DPJP jaga harian dan dikumpulkan maksimal 1 minggu
setelah jaga.
G. Pembobotan
Bentuk
Evaluasi
Bobot
Pengetahuan,
Form penilaian
40%
Keterampilan
Form penilaian
20%
Sikap dan perilaku
Form penilaian
40%
H. Sumber Daya
Pelaksana modul
: Seluruh staf pengajar THT-KL
Lahan Praktek
1. Unit Gawat Darurat RSCM
2. Ruang rawat RSCM
I. Matriks Kegiatan
Hari/Tgl
Waktu
SeninJumat
15.0007.00
SabtuMinggu
08.0020.00
20.0008.00
Materi
Kasus
kegawatdaruratan
THT
Kasus
kegawatdaruratan
THT
Tutor
Teknik
DPJP jaga harian
Form penilaian
DPJP jaga harian
Form penilaian
172
173
Daftar Pustaka:
1. Iskandar N, Helmi. Panduan penatalaksanaan gawat darurat telinga hidung
tenggorok. Jakarta: Balai penerbit FKUI. 2008
173
Download