implikasi hukum penandatanganan akta yang tidak

advertisement
IMPLIKASI HUKUM PENANDATANGANAN AKTA YANG TIDAK
DILAKUKAN DI HADAPAN NOTARIS DALAM AKAD KREDIT DI
PERBANKAN
LEGAL IMPLICATION OF SIGNING A DEED WITHOUT THE PRESENCE
OF A NOTARY IN BANK CREDIT AGREEMENT
Alfajri, Nurfaidah Said, Oky Deviany
Program Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin
Alamat Korespondensi :
Al fajri, SH
Fakultas Hukum
Program Pascasarjana (S2)
Universitas Hasanuddin
Makassar, 90245
HP: 085241984146
Email: [email protected]
ABSTRAK
Salah satu kewajiban notaris adalah menandatangani akta di hadapan para pihak dan saksi-saksi, namun, pada
kenyataannya hal mana tidak dilakukan di hadapan notaris yang akan berakibat timbulnya akibat hukum.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akibat hukum penandatanganan akta jaminan fidusia yang tidak
dilakukan di hadapan notaris dan mengetahui perlindungan hukum bagi para pihak. Penelitian ini menggunakan
metode normatif empiris, yaitu hukum yang objek kajiannya meliputi ketentuan perundang-undangan dan bahan
pustaka lainnya (in abstracto) serta penerapannya pada peristiwa hukum (in concreto). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pertama, terdapat akta di mana dalam penandatanganannya tidak dilakukan di hadapan
notaris yang disebabkan oleh kesibukan dari pihak bank dan debitor serta notaris itu sendiri di mana pengikatan
terjadi secara bersamaan. Kemudian akta tersebut masih dapat dikatakan sebagai akta otentik, sepanjang tidak
ada pihak yang mengklaim, sehingga hal tersebut membutuhkan tundakan hukumk tertentu untuk
menjustufikasi, dan untuk membuktikannya denngan cara mengambil gambar dari pelaksanaan pembuatan akta
melalui foto atau rekaman video. Kedua, perlindungan hukum terhadap para pihak akibat dari perbuatan
melangar hukum yang dilakukan oleh notaris yaitu notaris harus mengganti biaya ganti rugi terhadap pihak yang
menderita kerugian tersebut. Kesimpulan menunjukkan bahwa Notaris mengembalikan hak dan kedudukannya
berdasarkan UUJN dan Kode Etik Notaris.
Kata Kunci : Perlindungan hukum, pelanggaran notaris, Fidusia
ABSTRACT
One of the obligations of a notary deed was signed in the presence of the parties and witnesses, however, in
reality it would have done before a notary public that will result in the emergence of the legal consequences.
This study aims to find out the legal implication of signing a deed of fiduciary guarantee without the presence
of a notary; and the legal protection on the parties involved in the signing process. The research used empirical
normative method. The objects of study are legal regulations and other library materials (in abstracto) as well
as the application in legal events (in concreto). The results reveal that a deed signed without the presence of a
notary (due to the tight-scheduled activities of the bank, finance institutions, and the notary) can still be
considered authentic as long as there is no any claim. This requires certain legal actions to justify, and it can be
proven by taking the pictures of the procces of making the deed with photos or video recordings. Furthermore,
legal protection is given on the parties involved because of the unlawful acts commited by the notary. The
notary must recompense the loss of the parties involved in the procces. The conclusion suggests that the notary
restore the rights and position based UUJN and Notary Code of Ethics.
Keywords : Protection laws, breach of notaries, Fiduciary
PENDAHULUAN
Dalam banyak kasus mengenai penandatanganan akta notariil salah-satu kasus yang
relevan dengan penelitian ini adalah mengenai penandatanganan minuta akta yang tidak
ditandatangani di mana dalam kasus tersebut terdapat notaris yang tidak menandatangani
minuta aktanya sampai notaris tersebut meninggal dunia.
Mekanisme penandatanganan akta notariil tidak hanya terbatas pada persoalan bahwa
akta tersebut harus ditandatangani namun, penandatanganan akta tersebut juga harus di
hadapan notaris sebagaimana telah diatur dalam Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN bahwa
“membacakan akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang
saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan notaris”.
Akta sendiri adalah surat sebagai alat bukti yang diberi tanda tangan, yang memuat
peristiwa yang menjadi dasar suatu hak atau perikatan, yang dibuat sejak semula dengan
sengaja untuk pembuktian. Jadi, untuk dapat digolongkan dalam pengertian akta maka surat
harus ditanda tangani. Keharusan untuk ditandatanganinya surat untuk dapat disebut sebagai
akta berasal dari Pasal 1869 BW. Keharusan adanya tanda tangan tidak lain bertujuan untuk
membedakan akta yang satu dengan akta yang lain atau dari akta yang dibuat orang lain.
Fungsi tanda tangan adalah untuk memberi ciri atau untuk mengindividualisir sebuah akta.
Akta yang dibuat oleh A dan B dapat diidentifisir dari tanda tangan yang dibubuhkan pada
akta-akta tersebut. Oleh karena itu nama atau tanda tangan yang ditulis dengan huruf balok
tidaklah cukup, karena dari tulisan huruf balok itu tidak tampak ciri-ciri atau sifat-sifat
pembuat.Ketentuan pasal 16 ayat (1) huruf l tersebut adalah kewajiban notaris sebagaimana
tertuang dalam Pasal 16 ayat (1) dan kata di hadapan adalah hadirnya seorang notaris secara
fisik di hadapan para pihak dan saksi-saksi (penjelasan Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN).
Dalam hal penandatanganan tersebut di atas ditegaskan kembali dalam Pasal 44
UUJN menentukan bahwa: (1) Segera setelah akta dibacakan, akta tersebut ditanda tangani
oleh setiap penghadap, saksi dan notaris kecuali apabila ada penghadap yang tidak dapat
membubuhkan tanda tangannya dengan menyebutkan alasannya; (2) Alasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dinyatakan secara tegas dalam akta; (3) Akta sebagaimana dimaksud
pada Pasal 43 ayat (3) ditanda tangani oleh penghadap, notaris dan saksi dan penerjemah; (4)
Pembacaan, penerjemahan atau penjelasan dan penadatanganan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (3) dan Pasal 43 ayat (2), ayat (3) dan ayat (5) dinyatakan secara tegas pada
akhir akta.
Membacakan akta sampai pada penandatanganan adalah satu kesatuan dari peresmian
akta di mana sebelum akta tersebut di tandatangani terlebih dahulu akta tersebut dibacakan di
depan para pihak yang bersangkutan guna menyampaikan kebenaran isi akta dengan
keinginan para pihak kemudian akta tersebut ditandatangani tentunya di hadapan para pihak
dan dua (2) orang saksi.
Ketentuan pasal 16 ayat (1) huruf l tersebut adalah kewajiban notaris sebagaimana
tertuang dalam Pasal 16 ayat (1) dan kata di hadapan adalah hadirnya seorang notaris secara
fisik di hadapan para pihak dan saksi-saksi (penjelasan Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN).
Membacakan akta sampai pada penandatanganan adalah satu kesatuan dari peresmian
akta (verlijden) di mana sebelum akta tersebut di tandatangani terlebih dahulu akta tersebut
dibacakan di depan para pihak yang bersangkutan guna menyampaikan kebenaran isi akta
dengan keinginan para pihak kemudian akta tersebut ditandatangani, tentunya di hadapan
para pihak dan dua (2) orang saksi.
Membacakan akta sampai pada penandatanganan adalah satu kesatuan dari peresmian
akta (verlijden), dalam hal ini yang menjadi fokus pembahasan adalah penandatanganan akta
di mana penandatanganan tersebut juga harus dilakukan di hadapan notaris bahwa sebelum
akta tersebut di tandatangani terlebih dahulu akta tersebut dibacakan di hadapan para pihak
yang bersangkutan guna menyampaikan kebenaran isi akta dengan keinginan para pihak
kemudian akta tersebut ditandatangani, tentunya di hadapan para pihak dan dua (2) orang
saksi. Ketentuan Pasal tersebut memberikan kepastian kehadiran para pihak yang hadir di
hadapan notaris adalah pihak yang juga bertandatangan dalam akta. Namun, Pada
kenyataannya disinyalir bahwa penandatanganan akta tersebut tidak dilakukan di hadapan
notaris oleh karena pengikatan yang terjadi secara bersamaan.
Kebiasaan Penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan notaris dilandasi
dengan kebiasaan praktik pengikatan akta yang dilakukan di kantor notaris. Pengikatan mana
jika terjadi secara bersamaan di tempat yang berbeda, maka notaris tidak akan mungkin
berada dalam 1 (satu) tempat yang berbeda pada saat yang bersamaan. Terkait dengan hal
tersebut, maka perlu untuk meninjau lebih jauh mengenai praktik penandatanganan akta yang
tidak dilakukan di hadapan notaris dan tanggung jawab notaris yang tidak menandatangani
akta yang dilakukan di hadapannya dalam hal ini adalah Akta Jaminan Fidusia.
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami
tentang implikasi hukum terhadap penandatanganan Akta Jaminan Fidusia yang tidak
dilakukan di hadapan notaris serta untuk mengetahui dan memahami tentang perlindungan
hukum bagi para pihak.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kota Makassar dengan pertimbangan bahwa dengan
pesatnya perkembangan ekonomi yang juga mendongkrak perkembangan dalam bidang
perbankan di mana kebutuhan masyarakat dalamhal permodalan dan sebagainya
membutuhkan bank sebagai peminjam modal, maka banyak timbul berbagai perjanjian kredit
di perbankan yang diikuti dengan perjanijan pembebanan, yaitu dalam hal ini khusus Akta
Jaminan Fidusia yang dibuat oleh notaris di mana dalam pembuatan akta tersebut terjadi
dibeberapa bank dan Lembaga Pembiayaan secara bersamaan, sehingga memungkinkan
seorang notaris tidak menandatangani akta tersebut di hadapan para pihak dan saksi-saksi.
Sifat dan Tipe Penelitian
Tipe penelitian hukum ini merupakan penelitian hukum normatif empiris, yaitu
penelitian hukum yang objek kajiannya meliputi ketentuan-ketentuan perundang-undangan
(in abstraco) serta penerapannya pada peristiwa hukum (in concreto).
Sifat penelitian hukumnya adalah deskriptif analitis, yaitu menggambarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dikaitkan dengan teori-teori hukum dan praktek
pelaksanaan hukum positif yang menyangkut permasalahan diatas. Bersifat deskriptif, bahwa
dengan penelitian ini diharapkan akan diperoleh suatu gambaran yang bersifat manyeluruh
dan sistematis. Dikatakan analitis, karena berdasarkan gambaran-gambaran dan fakta-fakta
yang diperoleh melalui studi dokumen maka selanjutnya dilakukan analisis secara cermat
untuk menjawab permasalahan dalam penelitian.
Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah 1) Data primer,
yaitu data original yang sumbernya langsung ditemukan dalam Perundang-undangan yang
berlaku dan berkaitan dengan permasalahan penelitian. 2) Data sekunder, yaitu data yang
diperoleh dari kajian atau telaah dari berbagai buku-buku, dokumen-dokumen yang berkaitan
dengan permasalahan penelitian.
Populasi dan Sampel
Populasi, populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 15 orang Notaris yang
diketahui memiliki beberapa Akta Jaminan Fidusia berdasarkan keterangan dari Kepala Seksi
Kantor Pendaftaran Fidusia dengan surat Keterangan Nomor : W15-HU.03.02-81, tertanggal
24 Oktober 2012. Sampel, Sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 3 orang Notaris
yang ditentukan secara purposive sampling yaitu penelitian ditujukan kepada Notaris di kota
makassar yang diketahui oleh peneliti telah mengeluarkan beberapa Akta Jaminan Fidusia.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara studi dokumen untuk
mendapatkan data sekunder melalui penelitian kepustakaan dan wawancara yaitu teknik
pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara/interview secara langsung melalui
kuesioner kepada responden, yaitu Notaris, MPD, Sekretaris Pendaftaran Fidusia dan Bank.
Analisis Data
Berdasarkan sifat penelitian deskriptif analitis, maka data yang diperoleh dari
penelitian lapangan diuji kebenarannya kemudian dihubungkan dan dianalisa secara kualitatif
dengan data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan, sehingga dapat membahas
permasalahan secara menyeluruh, sistematis dan objektif.
HASIL
Implikasi Hukum Penandatanganan Akta Pembebanan Yang Tidak Di Hadapan
Notaris
Kewajiban Notaris untuk membacakan akta dihadapan penghadap dengan dihadiri
oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap,
saksi, dan Notaris diatur dalam Ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN. Ketentuan ini
dipertegas kembali dalam Pasal 44 UUJN yang menyatakan bahwa segera setelah akta
dibacakan, akta tersebut ditandatangani oleh setiap penghadap, saksi, dan Notaris, kecuali
apabila ada penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan dengan menyebutkan
alasannya. Ketentuan pembacaan dan penandatanganan tersebut adalah satu kesatuan dari
peresmian akta (verlijden). Kemudian Kata di hadapan dalam penandatanganan akta tersebut
adalah hadirnya seorang notaris dalam proses peresmian akta (verlidjen) atau face to face
sebagaimana diatur dalam penjelasan Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN.
Dalam praktik penandatanganan akta di mana dalam penandatanganannya tidak
dilakukan di hadapan para pihak dan saksi-saksi ketika pembuatan akta pembebanan tersebut
terjadi secara bersamaan pada tempat yang berbeda. Hal ini di tegaskan oleh notaris Early
bahwa dalam praktik notaris tidak mungkin berada dalam 2 (dua) tempat yang berbeda dalam
waktu yang bersamaan.
Hal tersebut di atas ditegaskan pula oleh notaris Syahrir Made Ali bahwa kondisi
tersebut menyulitkan seorang notaris untuk tetap hadir di hadapan para pihak, namun sedapat
mungkin penandatanganan tersebut harus dilakukan di hadapan para pihak dengan cara
mengkondisikan waktu (mengatur schedule), hal tersebut juga kadang terjadi dikarenakan
kesibukan dari para pihak, maka para pihak tidak dapat hadir dalam penandatanganan akta.
Oleh karena kesibukan tersebut, maka terkadang notaris kembali ke kantor dan untuk proses
selanjutnya karyawan notaries lah yang datang menghadap ke bank untuk melanjutkan proses
penandatanganan akta tersebut.
Hal tersebut di atas tidak sesuai dari apa yang telah ditentukan dalam Kode Etik
Notaris bahwa larangan atas mengirimkan minuta akta untuk ditandatangani sebagaimana
yang tertuang dalam Pasal 4 huruf I Kode Etik Notaris.
Menurut notaris Nugriyanti bahwa penghadap/pihak perbankan sebaiknya menolak
jika yang datang bukan notarisnya atau untuk selanjutnya, penandatanganan dilakukan di
kantor notaris yang bersangkutan.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas bahwa dalam kondisi tersebut bank juga harus
konsisten terhadap penandatanganan akta karena akta tersebut merupakan akta miliknya yang
akan memberikan perlindungan dalam menjamin kepastian hukum jika debitor wanprestasi.
Kembali ditegaskan oleh Syahrir Made Ali selaku Majelis Pengawas Notaris
(selanjutnya disebut MPD) dari unsur notaris bahwa terdapat kasus di mana seorang notaris
maupun saksi yang belum menandatangani akta jaminan fidusia pada saat pemeriksaan. Pada
saat pemeriksaan tersebut notaris langsung melengkapi kekurangan pada akta tersebut dalam
hal ini tandatangan. Tindakan dari MPD mengenai pelanggaran notaris tersebut bahwa MPD
memberikan teguran lisan dan jika hal tersebut masih dilanggar, maka akan ditindak lanjuti
sesuai prosedur hukum yang berlaku.
Seharusnya MPD dalam hal ini mempertanyakan proses peresmian akta (verlijden)
yang baru akan ditandatangani pada saat pemeriksaan tersebut bahwa menurut penulis hal
mana berpotensi pada penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan para pihak
sebab minuata akta tersebut baru akan ditandatangani pada saat pemeriksaan. Pertanyaan
tersebut terkait dengan tempat peresmian akta dan siapa yang berhadapan dengan para pihak
dan saksi-saksi dan saksi-saksi.
Menurut Herlien Budiono (2008) suatu Akta Notaris merupakan suatu keterangan
notaris dalam kedudukannya sebagai pejabat umum yang menjamin. 1) kehadiran (para)
penghadap, 2) pada tempat tertentu, 3) pada tanggal tertentu, 4) benar (para) penghadap
memberikan keterangan sebagaimana tercantum dalam akta, atau benar terjadi keadaan
sebagaimana disebutkan dalam akta, 5) benar ditandatangani oleh (para) penghadap untuk
akta pihak (partij acte).
Menurut penulis manfaat penandatanganan akta yang dilakukan di hadapan notaris
adalah agar notaris menjamin bahwa pihak yang berhadapan di hadapannya adalah pihak
yang juga menandatangani akta, dengan demikian pemalsuan identitas atau pemungkiran
tandatangan dapat diminimalisir. Penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan
notaris akan berakibat turunnya nilai pembuktian akta otentik menjadi akta di bawah tangan
sebagaimana tertuang dalam Pasal 16 ayat (8) UUJN.
Relevan dari pernyataan di atas notaris Early juga menegaskan bahwa dengan kondisi
seperti itu dapat saja terjadi penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan para
pihak, terkadang juga dikarenakan kesibukan dari pihak bank dalam hal ini yang bertanda
tangan hanya 1 pejabat bank yang menangani semua pengikatan yang ada di makassar yaitu
pihak Legal Drafting. Praktik penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan notaris
tersebut dilatarbelakangi oleh kebiasaan praktik penandatanganan akta dilakukan di bank atau
di tempat mana para pihak atau klien berada.
Menurut notaris Syahrir Made Ali bahwa hal yang sama juga pernah terjadi dalam
dunia praktik kenotariatan oleh karena pimpinan cabang tidak memberikan delegasi secara
tertulis kepada pihak legal bank untuk bertandatangan di hadapan notaris. Pada umumnya
bank negeri belum memberikan pendelegasian tersebut khusunya bank swasta sudah hampir
keseluruhan telah melakukan pendelegasian tersebut.
Berdasarkan ketentuan Pasal 98 ayat (1) UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas (selanjutnya disebut UUPT), yang berwenang untuk mewakili perseroan baik di
dalam maupun di luar pengadilan adalah Direksi. Direksi dalam hal ini adalah Pimpinan
Cabang bank dan pihak Legal Officer dalam hal ini adalah Legal Drafting adalah karyawan
Bank yang bertugas membuat perjanjian kredit.
Kemudian ketentuan Pasal 103 UUPT
menentukan bahwa Direksi dapat memberi kuasa tertulis kepada 1 (satu) orang karyawan
Perseroan atau lebih atau kepada orang lain untuk dan atas nama Perseroan melakukan
perbuatan hukum tertentu sebagaimana yang diuraikan dalam surat kuasa. Yang dimaksud
kuasa di sini adalah kuasa khusus untuk perbuatan tertentu sebagaimana disebutkan dalam
surat kuasa (Penjelasan Pasal 103 UUPT).
Dasar hukum yang mengatur mengenai surat kuasa ini dapat kita temui dalam
KUHPerdata dan harus diperhatikan bahwa penerima kuasa tidak diperbolehkan melakukan
tindakan yang melampaui kuasa yang diberikan kepadanya (Pasal 1797 KUHPerdata).
Berdasarkan hal tersebut di atas bahwa telah menunjukkan in-konsistensi pihak bank
dalam mematuhi hukum sementara pendelegasian (Sharing is delegation) pimpinan cabang
ke pihak Legal wajib dilakukan karena pihak yang bertandatangan lah yang menjadi pihak
Kreditur, yaitu Pimpinan Cabang bukan Legal, dengan adanya pendelegasian tersebut pihak
Legal bank akan berwenang dalam hal pembuatan akta sampai pada proses peresmiannya dan
tentunya pendelegasian tersebut juga disebutkan dalam komparisi akta bahwa benar pihak
legal berwenang dalam menjalankan proses pembuatan sampai pada peresmian akta,
sebaliknya bahwa jika pihak Legal dalam proses pembuatan akta tersebut tanpa
pendelegasian dari Pimpinan Cabang, maka yang berhadapan di hadapan notaris bukan pihak
yang bertandatangan dalam akta dengan kata lain bahwa pihak legal tersebit bukan pihak
yang ada dalam akta. Dengan demikian penandatanganan akta tersebut tidak dilakukan di
hadapan para pihak.
Tidak jarang kondisi persaingan tidak sehat juga terjadi di kalangan notaris, di mana
seorang notaris dalam menentukan harga suatu akta sangat variatif, artinya bahwa antara
notaris 1 (satu) dengan notaris yang lainnya sangat berbeda. Persaingan mana disebabkan
oleh UUJN tidak mengatur ketentuan honor minimum melainkan hanya mengatur ketentuan
honor maximum, maka notaris dengan bebas menentukan harga akta yang pada kenyataannya
dijadikan sebagai bagian dari pelayanan. Hal mana tidak sesuai dengan Pasal 4 Huruf l Kode
Etik Notaris, menentukan bahwa melakukan usaha-usaha, baik langsung maupun tidak
langsung yang menjurus kearah timbulnya persaingan yang tidak sehat dengan sesama rekan
notaris.
Meskipun ketentuan honor minimum tidak diatur dalam UUJN, namun melalui
keseragaman nilai nominal minimum suatu akta yang tentunya disepakati dari seluruh notaris
di Indonesia sekiranya akan memberikan dampak yang positif dari praktik persaingan yang
terjadi dalam dunia kenotariatan saat ini.
Kedudukan notaris sebagai pejabat umum (openbaar Ambtenaar) merupakan suatu
pejabat yang terhormat yang diberikan oleh Negara secara atributif melalui Undang-undang
kepada seorang yang dipercayainya yang akan menjaga harkat dan martabatnya sebagai
pejabat umum (openbaar Ambtenaar). Notaris menertibkan diri sesuai dengan fungsi,
kewenangan dan kewajiban sebagaimana ditentukan di dalam UUJN dan Kode Etik Notaris.
Seorang pejabat umum (openbaar Ambtenaar) diharapkan mampu melayani
masyarakat dengan sebaik-baiknya atas kewenangan yang telah diamanahkan kepadanya,
namun dalam hal pelayanan tersebut di samping mengingat aturan Perundang-undangan,
notaris juga harus mengingat aturan mengenai etika bahwa notaris dalam menjalankan tugastugasnya harus mampu membedakan apa yang sah dan apa yang tidak sah; membedakan apa
yang benar dan apa yang tidak benar. Hal ini sejalan dengan asas kepatutan di mana dalam
asas tersebut menitik beratkan persoalan kesesuaian peraturan Perundang-undangan terhadap
praktiknya atau dengan kata lain bahwa dalam melakukan perbuatan hukum harus sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam hal pelayanan seorang notaris diharap memberikan pelayanan yang tidak
bertentangan dengan suatu Perundang-undangan mana pun bahwa penandatanganan tidak
harus dilakukan di tempat kreditor dan debitor, namun pelayanan dilakukan dengan cara
yang profesional, seperti mempercepat proses pembuatan akta dengan didukung oleh fasilitas
yang memadai dan hal-hal lain yang dianggap perlu tanpa melanggar suatu Perundangundangan dan notaris seharusnya menitik beratkan pada persoalan kualitas dan menjadi
seorang notaris yang bertanggung jawab atas segala akta yang telah dibuatnya.
Dalam hal pelayanan seorang notaris bahwa Seorang notaris diwajibkan memiliki
sebuah kantor untuk memfasilitasi kinerja yang mengakomodir tugas dan kewajibannya
sebagai pejabat umum yang profesional sesuai dengan UUJN, hal mana termuat dalam Pasal
19 ayat (1) UUJN. Kemudian hal tersebut juga diatur dalam Pasal 3 ayat (13) Kode Etik
Notaris, menentukan bahwa menjalankan jabatan notaris terutama dalam pembuatan,
pembacaan dan akta dilakukan di kantornya, kecuali karena alasan-alasan yang sah.
Sebagai pembanding dalam hal tersebut di atas, maka penulis mengutip salah satu
artikel asing, yaitu sebagai berikut :
“The notary has also a duty to properly preserve the original deeds in his office for
future consultation or issue of certified copies. The originals cannot leave his office unless he
receives a Court order. The second main function assigned to a latin notary is meant to
guarantee the achievement of the desired results”.
(Notaris juga memiliki kewajiban untuk melestarikan apa yang benar dari perbuatan
aslinya di kantornya untuk konsultasi masa depan atau masalah salinan resmi. Sesungguhnya
Notaris tidak bisa meninggalkan kantornya kecuali ia menerima perintah Pengadilan. Fungsi
utama yang kedua ditugaskan untuk notaris latin dimaksudkan untuk menjamin tercapainya
hasil yang diinginkan).
Fokus pembahasan konteks tersebut di atas, bahwa pelaksanaan tugas dan kewajiban
notaris di Negara-negara eropa dalam melayani masyarakatnya dilakukan di kantor notaris,
hal mana secara jelas dinyatakan dalam artikel tersebut di atas bahwa “seorang notaris
dilarang meninggalkan kantor kecuali ada perintah dari pengadilan”. Hal ini menegaskan
bahwa di mana dalam proses pembuatan akta-akta dilakukan di kantor notaris dengan kata
lain bahwa yang datang menghadap ke kantor notaris adalah klien bukan notaris di mana
dalam kebiasaan praktek yang terjadi di Indonesia khususnya di kota Makassar bahwa notaris
yang datang menghadap klien yaitu pihak kreditur dan tidak jarang pula notaris datang
menghadap kepada debitur.
Jika ditinjau dari aspek kebutuhan masyarakat akan akta otentik bahwa sekiranya
masyarakatlah yang membutuhkan jasa seorang notaris di mana akta otentik sebagai alat
bukti yang mengikat dan sempurna. Kebutuhan akan bukti yang mengikat dan sempurna
tersebut sangat dirasakan dalam memberikan kepastian dan perlindungan hukum dalam
perbuatan hukum seseorang maupun kelompok. Perbuatan hukum tersebut juga telah diatur
dalam Undang-undang mengenai keharusan dalam pembuatannya secara otentik untuk
memenuhi prosedur pendaftaran.
Dalam hal mengantisipasi terhadap kondisi-kondisi tertentu dalam hal ini ketika
pengikatan terjadi secara bersamaan di mana seorang notaris tidak mungkin berada dalam 2
(dua) tempat yang berbeda. Maka, menurut penulis segala kegiatan notaris harus dilakukan
di kantor notaris, dengan penandatanganan akta yang dilakukan di kantor notaris,
penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan para pihak dan saksi-saksi akan
terhindarkan di mana notaris secara kolektif menandatangani akta-akta tersebut di hadapan
para pihak dan saksi-saksi terkecuali pada tahap pembacaan akta. Dengan demikian potensi
terjadinya sengketa terhadap pemungkiran tandatangan dari pihak debitor yang disebabkan
oleh penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan notaris akan terhindarkan di
mana notaris yang bersangkutan tidak menyaksikan penandatanganan akta tersebut. Akibat
hukum terhadap akta bahwa akta tersebut akan kehilangan otentisitasnya atau terdegradasi
menjadi akta di bawah tangan sebagaimana tertuang dalam Pasal 16 ayat (8) UUJN.
Menurut Sjaifurrachman dkk (2011) bahwa berlakunya degradasi kekuatan bukti akta
notaris menjadi akta di bawah tangan pada umumnya sejak tetap (inkracht). Akta yang
mempunyai kekuatan bukti di bawah tangan ini tetap sah dan mengikat kecuali adanya
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang menyatakan batalnya
akta tersebut atau tidak mengikatkan akta tersebut.
UUJN dalam hal ini belum menjelaskan mengenai ketentuan terdegradasinya akta
tersebut menjadi akta di bawah tangan merupakan akibat langsung atau tidak, maka terhadap
degradasi kekuatan pembuktian akta otentik menjadi akta di bawah tangan tidak serta merta
atau harus memlaui putusan yang inkracht.
Berbicara mengenai putusan Hakim yang telah inkracht berarti telah terjadi sengketa
yang diawali dengan gugatan para pihak, misalnya adanya pemungkiran tanda tangan oleh
pihak debitor bahwa pihak debitor tersebut telah memungkiri tandatangan yang telah ia
bubuhkan ke dalam akta tersebut. Berdasarkan hasil penelitian di Pengadilan Negeri bahwa
tidak terdapat putusan inkracht terkait hal tersebut, maka hal mana akan menjadi antisipasif
oleh karena hal tersebut sangat berpotensi terhadap pemungkiran tandatangan dan untuk lebih
menguatkan proses pembuktian ketika debitor wanprestasi di mana notaris dalam hal ini
menyaksikan penandataganan akta tersebut.
Secara prosedural terkait dalam hal pembuktian di mana pihak penggugat yang dalam
hal ini pihak yang dibebani beban pembuktian akan menghadapi kesulitan untuk
membuktikan hal tersebut memang benar telah ditandatangani di hadapan notaris atau
memang benar bahwa pihak yang datang menghadap (tergugat) di hadapan notaris adalah
pihak yang juga bertandatangan dalam akta, namun bukan berarti bahwa pembuktian terkait
perkara tersebut sama sekali tidak dapat dibuktikan.
Menurut Alvi Syahrin (2001), bahwa suatu alat bukti yang dipergunakan di
pengadilan perlu memenuhi beberapa syarat, diantaranya : 1) Diperkenankan oleh undangundang untuk dijadikan alat bukti; 2) Reability, yaitu alat bukti tersebut dapat dipercaya
keabsahannya; 3) Necessity, yaitu alat bukti yang diajukan memang diperlukan untuk
membuktikan suatu fakta; 4) Relevance, yaitu alat bukti yang diajukan mempunyai relevansi
dengan alat bukti yang diajukan.
Berdasarkan konteks tersebut di atas bahwa alat-alat bukti yang akan disertakan dalam
gugatan adalah alat bukti tersebut harus diatur atau disebutkan dalam undang-undang sebagai
alat bukti, keabsahan dan relevansi antara alat bukti dan peristiwa yang diperkarakan,
kemudian alat bukti tambahan dalam hal ini seperti foto dan rekaman video.
Untuk lebih menguatkan pembuktian pihak penggugat dapat menggunakan foto dan
rekaman video sebagai alat bukti, hal ini relevan dengan unsur necessity di mana sepanjang
alat bukti yang diajukan perlu untuk membenarkan suatu fakta, maka pengajuan alat bukti
tersebut diterima dipersidangan.
Alat bukti foto dan semacamnya belum diatur dalam KUHPerdata, namun telah diatur
dalam UU ITE yang menegaskan bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU ITE, menegaskan
bahwa “Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi
tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange
(EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf,
tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau
dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.”
Kemudian Pasal 1 angka 4, menegaskan bahwa “Dokumen Elektronik adalah setiap
Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam
bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat,
ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi
tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda,
angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami
oleh orang yang mampu memahaminya.”
Oleh sebab penandatanganan akta dilakukan di kantor notaris, maka untuk melindungi
perbuatan hukum pihak bank dan juga notaris itu sendiri dalam hal penandatanganan akta
yang dilakukan di hadapan notaris bahwa hal mana harus didukung dengan fasilitas yang
memadai seperti, perekam suara, CCTV, dan foto. Dengan demikian hal mana juga untuk
menghindari potensi terjadinya sengketa dikemudian hari.
PEMBAHASAN
Penelitian ini menunjukkan inkonsistensi notaris dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya sebagai pejabat publik bahwa selain notaris tidak mematuhi aturan yang
telah diamantakan oleh UUJN, notaris juga tidak mematuhi kode etik Notaris, di mana dari
dari hasil pembahsan sebelumnya bahwa telah terjadi penandatanganan akta yang tidak
dilakukan di hadapan para pihak dan saksi-saksi. hal mana tidak sesuai dengan Pasal 16 ayat
(1) huruf l UUJN. Hal mana akan menimbulkan akibat hukum.
Menurut Ahmad Ali (2008) bahwa klasifikasi akibat hukum ada 3 macam, yaitu
sebagai berikut: 1) Akibat hukum berupa lahirnya, berubahnya, atau lenyapnya suatu kaidah
hukum tertentu. Contohnya; Mencapai usia 21 tahun melahirkan keadaan hukum baru, yaitu
dari tidak cakap untuk bertindak menjadi cakap untuk bertindak; Seorang dewasa yang
ditaruh di bawah pengampuan karena gila akan melenyapkan kecakapannya untuk bertindak,
setelah ditaruh di bawah kuratele; 2) Akibat hukum berupa lahirnya, berubahnya, atau
lenyapnya suatu hubungan hukum tertentu. Contonya; sejak pembeli barang telah membayar
lunas harga barang dan penjual telah menyerahkan dengan tuntas barangnya, maka lenyaplah
hubungan hukum jual beli di antara keduanya; 3) Akibat hukum berupa sanksi, baik sanksi
pidana mapun sanksi di bidang hukum keperdataan. Contohnya; Dalam hukum pidana,
dikenal mecam-macam sanksi yang diatur oleh Pasal 10 KUHP, yaitu: pidana mati, pidana
penjara, pidana kurungan dan denda, serta pidana tambahan, seperti pencabutan hak-hak
tertentu, perampasan barang-barang tertentu, ataupun pengumuman putusan hakim.
Sedangkan dibidang hukum perdata, dikenal sanksi baik terhadap perbuatan melawan hukum
maupun wanprestasi. Pada perbuatan melawan hukum, sanksinya adalah pemberian ganti rugi
berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata. Sedangkan sanksi yang dapat dikenakan atas
wanprestasi ada empat kemungkinan, yaitu: a) debitur diharuskan melaksanakan perjanjian;
b) debitur diwajibkan memberi ganti rugi; c) debitur diharuskan melaksanakan perjanjian
disertai dengan ganti rugi; d) dalam hal perjanjian timbal balik, perjanjian dibatalkan
olehakim.
Notaris yang tidak mematuhi atau tidak menjalankan kewajibannya sesuai dengan
ketentuan dalam Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN, dalam hal ini adalah notaris yang tidak
menandatangani akta di hadapan para pihak dan saksi-saksi, maka akan terimplikasi
timbulnya akibat hukum , yaitu sebagai berikut : 1) Akibat hukum terhadap notaris, adalah
pemberhentian sementara dari jabatannya sebagai notaris karena telah melakukan
pelanggaran terhadap kewajiban dan larangan jabatan sebagaimana yang tertuang dalam
Pasal 9 ayat (1) huruf d UUJN; 2) Akibat hukum terhadap akta adalah akta tersebut akan
kehilangan otentisitasnya atau terdegradasi menjadi akta di bawah tangan sebagaimana
tertuang dalam Pasal 16 ayat (8) UUJN, dengan demikian akta tersebut tidak dapat didaftar
karena telah terdegradasi menjadi akta di bawah tangan karena pendaftaran AJF harus disertai
dengan salinan Akta Notariil sebaimana tertuang dalam Pasal 2 ayat (4) huruf a PP 86/2000
Tentang Tata Cara Pendaftaran dan Biaya Pembuatan AJF dimana dalam hal pendaftaran
tersebut adalah wajib dilakukan sebagaimana tertuang dalam Ketentuan Pasal 11 ayat (1)
UUJF.
Mengenai ganti rugi diatur dalam Pasal 84 UUJN di mana Ketentuan Pasal tersebut
menegaskan tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh notaris yang mengakibatkan akta
tersebut terdegradasi menjadi akta di bawah tangan atau suatu akta menjadi batal demi
hukum dapat menjadi alasan kepada para pihak yang menderita kerugian untuk penggantian
biaya, ganti rugi, dan bunga kepada notaris.
Menurut Ahmadi Miru dkk (2008) Tanggung jawab untuk melakukan pembayaran
ganti kerugian kepada pihak yang mengalami kerugian tersebut baru dapat dilakukan apabila
orang yang melakukan perbuatan melanggar hukum tersebut adalah orang yang mampu
bertanggung jawab secara hukum (tidak ada alasan pemaaf). Secara teoritis, dikatakan bahwa
tuntutan ganti kerugian berdasarkan alasan perbuatan melanggar hukum baru dapat dilakukan
apabila memenuhi empat unsur di bawah, yaitu : 1) Ada perbuatan melanggar hukum; 2) Ada
kerugian; 3) Ada hubungan kausalitas antara kerugian dan perbuatan melanggar hukum; 4)
Ada kesalahan.
Menurut jeremi Bentham (2006) bahwa ganti rugi merupakan suatu kebaikan yang
diterima dengan memperhitungkan kerusakan yang diderita. Jika persoalannya terkait dengan
suatu pelanggaran, ganti rugi adalah sesuatu yang diberikan kepada pihak yang menderita
kerugian sepadan dengan memperhitungkan kerusakan yang dideritanya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka kerugian yang dialami oleh para pihak akibat
dari penandatanganan akta tersebut adalah termasuk kerugian harta benda yang berupa
kerugian nyata terdiri atas biaya yang dikeluarkan meliputi honorarium notaris, serta biayabiaya lain yang timbul sebagai pelaksanaan dari pembuatan akta tersebut.
Selanjutnya ketentuan tentang ganti kerugian dalam Pasal 1365 KUH Perdata yang
menyatakan bahwa “tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang
lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian
tersebut. Pasal ini merupakan pasal yang paling populer berkaitan dengan perbuatan
melanggar hukum, yakni ketentuan yang mewajibkan orang yang melakukan perbuatan
melanggar hukum untuk mengganti kerugian kepada pihak yang dirugikan akibat perbuatan
melanggar hukum tersebut.
Menurut Ridwan HR (2010) bahwa dalam hal pertanggungjawaban pejabat,
Kranenburg dan Vegting mengemukakan dua teori yaitu: 1) Teori Fautes personalles, yaitu
teori yang menyatakan bahwa kerugian terhadap pihak ketiga itu dibebankan kepada pejabat
yang karena tindakannya itu telah menimbulkan kerugian; 2) Teori Fautes de services, yaitu
teori yang menyatakan bahwa kerugian terhadap pihak ketiga itu dibebankan pada instansi
dari pejabat yang bersangkutan.
Dari uraian kedua teori di atas jika dihubungkan dengan tindakan hukum Notaris yang
tidak melakukan penandatanganan akta di hadapan para pihak dan saksi-saksi notaris dapat
diminta pertanggungjwabannya berdasarkan teori fautes personalles karena notaris bertindak
dalam kapasitasnya selaku pejabat umum.
Menurut penulis bahwa tindakan hukum notaris dalam pembuatan akta adalah
tindakan hukum yang dijalankan dalam kapasitasnya selaku pejabat umum dalam rangka
menjalankan kewenangan jabatannya. Tindakan hukum tersebut dilakukan adalah dalam hal
untuk dan atas nama jabatannya, sehingga tindakan hukum tersebut dikategorikan sebagai
tindakan hukum jabatan. Jadi berdasarkan teori tersebut, maka yang bertanggungjawab atas
kerugian yang diderita oleh para pihak adalah notaris yang melakukan kelalaian.
Menurut Munir Fuady (2010) bahwa dalam ilmu hukum kesalahan dianggap ada
apabila memenuhi salah satu diantara 3 (tiga) syarat sebagai berikut: 1) Ada unsur
kesengajaan; atau 2) Ada unsur kelalaian (negligence, culpa); dan 3) Tidak ada alasan
pembenar atau alasan pemaaf (rechtvaardigingsgrond), seperti keadaan overmacht, membela
diri, tidak waras dan lain-lain.
Dari penjelasan di atas, maka unsur kesengajaan terjadi karena adanya niat dari si
pelaku untuk berbuat sesuatu yang dapat mengakibatkan timbulnya kerugian bagi pihak lain
(korban). Sedangkan dalam unsur kelalaian, pelaku dalam berbuat sesuatu yang
mengakibatkan timbulnya kerugian bagi korban adalah dilakukan tanpa didahului oleh
adanya niat.
Jika ditinjau berdasarkan alasan mengapa notaris tidak melakukan penandatanganan
akta di hadapan para pihak dan saksi-saksi sebagaimana yang telah dinyatakan oleh notaris
tersebut sebelumnya adalah terjadi karena akibat adanya pengikatan yang terjadi secara
bersamaan dan kesibukan dari para pihak. Dengan begitu, menurut penulis pada dasarnya
notaris tidak memiliki niat untuk tidak menandatangani akta di hadapan penghadap dan saksisaksi, maka kesalahan seperti ini digolongkan sebagai kesalahan yang diakibatkan karena
kelalaian dari notaris.
KESIMPULAN DAN SARAN
Penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan notaris disebabkan oleh
kebiasaan penandatanganan akta yang dilakukan di bank dan di tempat para pihak di mana
jika pengikatan terjadi secara bersamaan, maka notaris tidak dapat menghadiri ke 2 (dua)
pengikatan tersebut di tempat yang berbeda.
Hal lain bahwa terkadang pihak bank tidak dapat menghadiri pengikatan oleh sebab
pihak bank dalam hal ini adalah pimpinan cabang tidak berada di tempat di mana pimpinan
cabang tidak memberikan pendelegasian terhadap stafnya yaitu legal drafting.
Agar terhindar dari masalah penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan
para pihak dan saksi-saksi, maka langkah yang harus ditempuh, adalah menertibkan
kebiasaan penandatanganan akta yang dilakukan di tempat para pihak, yaitu kreditor dan
debitor dengan kata lain bahwa pelaksanaan penandatanganan akta tersebut dilakukan di
kantor notaris .
Penertiban
tersebut
terkait
dengan
notaris
sebagai
pejabat
publik
untuk
mengembalikan fungsi seorang notaris yang seharusnya dalam menjaga harkat dan
martabatnya sebagai seorang pejabat umum yang profesional di mana dalam menjalankan
segala kegiatan dilakukan di kantornya.
Yang terpenting adalah meskipun pengikatan tersebut dilakukan di bank dan di
tempat debitor, notaris harus tetap menaati peraturan Perundang-undangan yang berlaku
dalam hal ini bahwa notaris mengembalikan hak dan kedudukannya berdasarkan UUJN. Agar
pengikatan yang terjadi sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam akta, maka sebaiknya ada
keseragaman dalam menggunakan kata berhadapan yang tertuang dalam kepala akta di mana
notaris dapat membuat akta di mana saja, asal masih dalam wilayah jabatannya.
Hal lain adalah pengawasan yang dilakukan oleh pihak Majelis Pengawas Notaris
sebaiknya dilakukan secara berkala dengan mendukung fasilitas yang mendukung untuk
pelaksanaan tugas MPD.
Jadi, penertiban tersebut di atas diharap mampu menjawab kondisi pengikatan yang
terjadi secara bersamaan dan mampu mengembangkan mengenai pengawasan yang baik,
sehingga setiap penandatanganan akta selalu dilakukan di hadapan notaris dan
otentisitas
akta tetap terjaga dengan begitu para pihak akan mendapatkan kepastian dan perlindungan
hukum sebagaimana mestinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ghofur, Abdul Anshori, (2009). Lembaga Kenotariatan Indonesia, Perspektif Hukum dan
Etika. Yogyakarta;UII.
Ali, Achmad. (2008). Menguak Tabir Hukum. Bogor: Ghalia Indonesia, hal 68.
Miru, Ahmadi & sakka Pati. (2008). Hukum Perikatan. Penjelasan Makna Pasal 1233
sampai 1456. Jakarta: Raja Grafindo
Adjie, Habib. (2008). Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat
Publik.Bandung : PT. Refika Aditama.
Bodiono, Herlien. (2008). Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang Kenotariatan.
Bandung: Citra Aditya Bakti.
Bentham, Jeremi. (2006). Teori Perundang-Udangan Prinsip-prinsip Legislasi, Hukum
Perdata dan HukumPidana. Bandung. Nusamedia & Nuansa.
HR, Ridwan, (2010), Hukum Administrasi Negara, Edisi Revisi, Jakarta: Rajawali Pers.
Satrio. J (2005). Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan Fidusia. Pt. Citra Aditya Bakti :
Bandung.
Fuady, Munir, (2010). Perbuatan Melawan Hukum. Bandung, Citra Aditya Bhakti.
Syahrin Alvi. (2001). Ketentuan pidana dalam undang-undang no. 32 tahun 2009 Tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Llingkungan Hidup. PT. soft Media.
Sjaifurrachman, (2011). Aspek Pertanggung Jawaban Notaris dalam Pembuatan Akta. CV.
Mandar Maju : Bandung.
INTERNET
http://www.asnnotary.org/?form=employeenotaryissues
Download