Film Sebagai Media Komunikasi Pendidikan (Perbedaan Kognisi

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Pengertian Komunikasi
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasl dari bahasa
Latin communis yang berarti “sama”, communico, communicatio, atau communicare
yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah
istilah yang paling sering sebagai asal usul komunikasi, yang merupakan akar dari
kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran,
suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2005 : 4).
Secara paradigmatis, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh
seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, atau
perilaku, baik langsung secara lisan maupun tak langsung melalui media (Effendy,
2004 : 5).
Pengertian komunikasi memang sangat sederhana dan mudah dipahami, tetapi
dalam pelaksanaannya sangat sulit dipahami, terlebih lagi bila yang terlibat
komunikasi memiliki referensi yang berbeda, atau di dalam komunikasi berjalan satu
arah misalnya dalam media massa, tentunya untuk membentuk persamaan ini akan
mengalami banyak hambatan (Wahyudi, 1986: 29).
Pengertian komunikasi menurut Berelson dan Starainer dalam Fisher adalah
penyampaian informasi, ide, emosi, keterampilan, dan seterusnya melalui penggunaan
simbol kata, angka, grafik dan lain-lain (Fisher, 1990:10). Sedangkan menurut Onong
U. Effendy (1984 : 6), komunikasi adalah peristiwa penyampaian ide manusia.
Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa komunikasi merupakan suatu
proses penyampaian pesan yang dapat berupa pesan informasi, ide, emosi,
keterampilan dan sebagainya melalui simbol atau lambang yang dapat menimbulkan
efek berupa tingkah laku yang dilakukan dengan media-media tertentu.
Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of
Communication in Society dalam Effendy (2005: 10), mengatakan bahwa cara yang
baik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who
Says What in Which Channel To Whom With What Effect?
1
Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima
unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni :
-
Komunikator ( communicator, source, sender )
-
Pesan ( message )
-
Media ( channel, media )
-
Komunikan ( communicant, communicatee, receiver, recipient)
-
Efek (effect, impact, influence)
Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang
menimbulkan efek tertentu.
Peran film sebagai media komunikasi sama seperti peran media lainnya yaitu
untuk menimbulkan efek tertentu bagi khayalayak. Sumber atau komunikator dalam
film adalah pembuat film, sedangkan pesan adalah informasi yang ingin disampaikan
kepada penerima. Komunikan adalah khalayak yang disasar oleh pembuat film dan
efek yang diharapkan adalah agar pesan yang disampaikan dapat dirasakan, dinikmati
dan dilakukan oleh khalayak.
2.2.
Film Sebagai Media komunikasi pendidikan
Menurut UU No.8 Tahun 1992 Pasal 1 tentang perfilman, film adalah karya
cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar
yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita
video, piringan video, dan bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala
bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses
lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan atau ditayangkan dengan
sistem proyeksi mekanik, elektronik, dan lainnya.
Menurut Mulyana (2008:52) film dapat mempengaruhi budaya. Pendidikan di
Indonesia banyak dipengaruhi oleh sistem budaya, oleh karena itu melalui film
pendidikan yang mendidik diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai konstruktif
untuk memperbaharui nilai destruktif seperti malas, boros, hedonis, tidak disiplin,
tidak bertanggung jawab dan percaya tahayul. Lebih lanjut menurut Mulyana bahwa
meskipun secara teoritis, hubungan antara film dan budaya itu bersifat dua arah, para
2
pakar lebih sering mengkaji apa pengaruh film terhadap nilai budaya dan khalayaknya
daripada pengaruh nilai budaya terhadap film.
Di dalam film aspek yang paling penting adalah bagaimana pesan-pesan yang
akan
disampaikan
dikemas
dalam
bentuk
adegan-adegan
yang
saling
berkesinambungan dan menyatu membentuk suatu cerita. Jika cerita film tidak dapat
dimengerti oleh khalayak maka dapat dikatakan komunikasi tidak tersampaikan
dengan baik.
Peransi (2005:10,11) membagi unsur-unsur yang membentuk suatu cerita yang
berkesinambungan sebagai berikut :
1. Shot
Shot adalah peristiwa yang direkam oleh film tanpa interupsi, dimulai pada
saat tombol kamera dilepaskan lagi dan film berhenti berjalan di dalam
kamera. Panjangnya shot tergantung pada lamanya tombol kamera tersebut
ditekan.
2. Scene atau adegan
Scene atau adegan terbentuk apabila beberapa shot disusun secara berarti dan
menimbulkan suatu pengertian yang lebih luas tapi utuh. Scene atau adegan
merupakan
unit
paling
kecil
yang
lengkap
dalam
film
dan
mengkomunikasikan suatu aksi (action) yang lengkap atau suatu pikiran yang
utuh.
3. Sequence atau babak
Sequence terbentuk apabila beberapa adegan disusun secara berarti dan logis,
luas dan kompleks, bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang atau
pendek, di berbagai lokasi, mengkomunikasikan suatu peristiwa yang utuh dan
bermakna dalam menunjang tema dari film yang bersangkutan.
Pada penelitian ini dibagi empat sequence yang akan menjadi fokus yaitu
seperti pada sequence saat Denias dilarang oleh ayahnya untuk bersekolah namun
Denias tetap memiliki semangat untuk sekolah. Penulis membagi ini menjadi
sequence satu, menurut penulis ini merupakan hal yang berani karena Denias
melawan keinginan ayahnya namun bukan dengan membangkang tetapi dengan lebih
dulu menyelesaikan tugasnya untuk bekerja di kebun, melalui adegan ini ingin
diajarkan nilai-nilai pendidikan bahwa anak tidak harus melawan keinginan orang tua
3
dengan membangkang namun dengan cara lain yang lebih baik seperti menyelesaikan
dulu pekerjaan rumah. Saat Denias dan teman-temannya membuat honai sebagai
sekolah, sebagai sequence dua, disini penulis melihat semangat anak-anak di desa
Arwanop yang sangat rindu untuk mempunyai sekolah dengan bergotong royong
tanpa lelah untuk membangun Honai. Penulis ingin melihat seberapa jauh film ini
dapat memotivasi siswa SDN Balikalebu dan mempunyai kesadaran bahwa di tempat
lain banyak anak-anak yang memiliki fasilitas terbatas namun tetap mempunyai
semangat untuk bersekolah. Adegan Denias saat berlari puluhan kilo meter untuk
sampai ke sekolah di kota. Sebagai sequence tiga, penulis melihat semangat Denias
yang sangat besar untuk sekolah dimana dia rela meninggalkan ayahnya serta
kehidupannya di desa untuk dapat bersekolah dan belajar. Adegan Denias saat belajar
menghafal letak Indonesia melalui peta yang terbuat dari kardus bekas. Sebagai
sequence empat, penulis melihat bahwa walaupun dengan fasilitas yang terbatas
tetapi Denias tetap mempunyai semangat untuk belajar.
Pemilihan sequence-sequence ini karena kondisi yang dibangun dalam film
Denias Senandung Di Atas Awan hampir sama dengan situasi pendidikan yang terjadi
di Sumba Barat yaitu tidak adanya dukungan dari orang tua kepada anak-anaknya
untuk bersekolah sehingga anak-anak akhirnya tidak memiliki keinginan dan perasaan
yang kuat untuk ke sekolah. Pesan- pesan dalam sequence-sequence tersebut kiranya
dapat memotivasi siswa SDN Balikalebu untuk memiliki semangat ke sekolah.
Didalam film adanya ilusi yang timbul secara kuat pada penonton karena tidak
saja besarnya objektifitas yang terdapat pada pernyataan sinematografi itu, tetapi juga
pada aktivitas penonton sendiri dalam mengandaikan berbagai pikiran dan motivasi
yang berada pada gambar-gambar yang disaksikan. Gambar-gambar atau imaji-imaji
itu tidak saja diproyeksikan oleh sebuah proyektor, tapi juga merupakan proyeksi dari
kehidupan batiniah dari penontonnya (Peransi, 2005:24).
Menurut Peransi (2005:6) dalam mengalami dan menghayati film terjadi
proyeksi dan identifikasi. Proses ini memiliki tiga segi, yaitu :
a) Proyeksi dan identifikasi optik. Imaji-imaji filmis yang dilihat pada layar,
dilihat penonton melalui lensa kamera. Kalau kamera berpindah-pindah, maka
melalui identifikasi ini penontonpun berpindah-pindah dalam ruang filmis itu.
Penonton secara optik mengidentifikasikan dirinya dengan kameramen.
Contohnya dalam film Denias Senandung Di Atas Awan pada scene tiga saat
4
Denias saat berlari puluhan kilo meter untuk sampai ke sekolah di kota. Dalam
hal ini melalui indera penglihatan penonton mendapat imaji penglihatan
penonton berpindah-pindah dari gunung melewati sungai dan sampai ke kota.
b) Proyeksi dan identifikasi emosional. Melalui identifikasi optik ini terjadi
identifikasi dan proyeksi emosional. Dengan sendirinya ia bisa terjadi kalau
perpindahan kamera dalam menyingkapkan ruang kejadian filmis itu
berlangsung secara logis dan bermotivasi, sebagaimana yang telah
dikemukakan. Seperti dalam scene empat adegan saat Denias bertahan hidup
di panti untuk bisa tetap bersekolah di kota. Dimana Denias di pukul dan tetap
tabah, tidak melawan pada Nuel. Disini terdapat proyeksi emosional dimana
penonton dibawa untuk merasakan motivasi Denias untuk tetap sabar dan
bertahan di panti asuhan.
c) Proyeksi dan identifikasi imajiner adalah kenyataan bahwa pada saat penonton
melihat film, ia secara imajinatif berada diantara tokoh-tokoh dan benda-benda
dalam ruang filmis itu, dan bahwa sewaktu-waktu ia melihat kejadian-kejadian
dalam ruang itu melalui salah seorang tokoh sama seperti kita berdiri di depan
cermin.
Referensi hasil penelitian yang penulis temukan tentang film dengan
efek kognitif, afektif maupun psikomotirik sangat terbatas. Namun dalam
penelitian yang dilakukan oleh Nanang Suhendri (2010 :78) tentan film laskar
pelangi dan motivasi belajar SMP Dharma Pancasila Medan, hasil penelitian
menunjukkan bahwa film laskar pelangi berpengaruh terhadap motivasi
belajar siswa SMP Dharma Pancasila Medan. Sehingga hasil ini paling tidak
menunjukkan bahwa film dapat digunakan sebagai media pendidikan.
2.3.
Efek Film Dalam Proses Pendidikan
Efek dalam komunikasi terbagi atas 3 yaitu :
1. Efek Kognitif : Efek yang berhubungan dengan pengetahuan dari penerima
pesan.
5
2. Efek Afektif : Efek yang diterima oleh penerima pesan berhubungan
dengan apa yang dirasakan oleh penerima pesan.
3. Efek Konatif/Psikomotor : Efek yang mengharapkan tergeraknya
komunikan atau penerima pesan untuk melakukan sesuatu yang disarankan
oleh komunikator dalam penyampaian pesannya.
Dari ketiga komponen diatas, Jallaludin Rakhmat (2005:37) menjelaskan
bahwa manusia merupakan makhluk sosial, dari proses sosial inilah manusia
memperoleh beberapa karakteristik yang dapat mempengaruhi seseorang untuk
berperilaku dan mengambil sebuah keputusan.
Efek media yang dapat juga dikaitkan dengan efek komunikasi instruksional
dalam dunia pendidikan dapat mempengaruhi seseorang dalam waktu pendek
sehingga dengan cepat mempengaruhi mereka, namun juga memberi efek dalam
waktu yang lama, sehingga memberi dampak pada perubahan-perubahan dalam waktu
yang lama (Bungin, 2008:317).
Menurut McQuail (2000:423) pengaruh media yang juga merupakan efek
dapat dibedakan ke dalam tingkatan individu, kelompok atau organisasi, institusi
sosial, keseluruhan masyarakat, dan budaya. Pada penelitian ini dibatasi hanya pada
tingkatan individu saja karena objek dalam penelitian ini ada pada kognisi dan afeksi
individu.
Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan
pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada
tahun1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain
(ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian
yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya. Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga
domain, yaitu:
1. Cognitive Domain
(Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual,
seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2. Affective Domain
(Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi,
seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
6
3. Psychomotor Domain
(Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan
motorik seperti tulisan tangan, mengetik,berenang,dan mengoperasikan mesin.
Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan
sub
kategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku
yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks.Tingkah laku dalam
setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih
rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman”
yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada
tingkatan pertama.
Dalam penelitian ini lebih di fokuskan pada kognisi dan afeksi siswa
karena Dalam penelitian ini penulis hanya ingin melihat pengaruh film Denias
Senandung Di Atas Awan pada pengetahuan dan pemahaman siswa SDN Balikalebu
karena menurut penulis anak-anak baru sampai pada tahap tersebut dalam proses
berfikir mereka. Hal ini sejalan dengan pendapat Oswald Kroh (dalam Ahmadi,
2005:79) yang mengatakan bahwa usia 10-12 tahun merupakan periode realism kritis.
Pengamatan dan tanggapan anak bersifat kritis dan realistis. Anak sudah dapat
mengadakan sintesis logis dan ia pun telah mampu menghubungkan bagian-bagian
menjadi satu totalitas. Hal tersebut dikarenakan wawasan dan intelektual anak sudah
mencapai taraf kematangan. Penelitian ini tidak sampai pada tahap psikomotorik
siswa karena keterbatasan waktu yaitu bertepatan dengan liburan kenaikan kelas
sehingga tidak memungkinkan untuk melihat efek psikomotik dari film Denias
Senandung Di Atas Awan.
2.3.1. Domain Kognitif
Karlinah (1999:7,8) mengemukakan efek kognitif adalah akibat yang timbul
pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya. Dalam efek kognitif ini
akan dibahas tentang bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam
mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitif.
Menurut Bloom (dalam Krathwohl, 2002:10-14), segala upaya yang
menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.
Efek kognitif
berhubungan dengan pengaruh pada kemampuan berfikir, termasuk didalamnya
kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan
7
kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang
proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi.
Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah:
-
Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall)
atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan
sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya.
Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang paling
rendah.
-
Pemahaman (comprehension)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu
setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami
adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai
segi.
Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat
memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal
itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan
jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau
hafalan.
-
Penerapan (application)
Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ideide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumusrumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkret.
Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi
ketimbang pemahaman.
-
Analisis (analysis)
Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu
bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu
memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu
dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi
ketimbang jenjang aplikasi.
8
-
Sintesis (syntesis)
Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses
berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan
bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi
suatu pola yang yang berstruktur atau berbentuk pola baru. Jenjang sintesis
kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis.
-
Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif
dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan
seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau
ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia
akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokanpatokan atau kriteria yang ada.
Dalam penelitian ini penulis hanya ingin melihat pengaruh film Denias
Senandung Di Atas Awan pada pengetahuan dan pemahaman siswa SDN Balikalebu
karena menurut penulis anak-anak baru sampai pada tahap tersebut dalam proses
berfikir mereka. Hal ini sejalan dengan pendapat Oswald Kroh (dalam Ahmadi,
2005:79) yang mengatakan bahwa usia 10-12 tahun merupakan periode realism kritis.
Pengamatan dan tanggapan anak bersifat kritis dan realistis. Anak sudah dapat
mengadakan sintesis logis dan ia pun telah mampu menghubungkan bagian-bagian
menjadi satu totalitas. Hal tersebut dikarenakan wawasan dan intelektual anak sudah
mencapai taraf kematangan. teori ini digunakan untuk menganalisa kognitif siswa
SDN Balikalebu yang sebelumnya mereka sudah memiliki pengetahuan serta
pemahaman tentang sekolah dan pendidikan.
2.3.2. Domain Afektif
Rivers (2003:108) efek afektif adalah efek yang berkaitan dengan sikap dan
nilai seseorang terhadap stimulus. Efek afektif mencakup watak perilaku seperti
perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap
seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan
kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik
dalam berbagai tingkah laku.
9
Ranah afektif menurut Kratwohl (dalam Sukmadinata, 2009:181 ) menjadi
lebih rinci lagi ke dalam empat jenjang, yaitu:
-
Receiving atau attending (menerima atau memperhatikan), adalah
kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang
datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain.
Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan
untuk menerima stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau
rangsangan yang datang dari luar. Receiving atau attending juga sering di
beri pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau
suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia
menerima nilai atau nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan mereka
mau menggabungkan diri kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri
dengan nilai itu.
-
Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”.
Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh
seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena
tertentu dan membuat reaksi terhadapnya. Jenjang ini lebih tinggi daripada
jenjang receiving.
-
Valuing (menilai, menghargai). Menilai atau menghargai artinya
memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan
atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan
membawa kerugian atau penyesalan. Valuing adalah merupakan tingkat
afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding. Dalam
kaitan dalam efek film Denias Senandung Di Atas Awan ini siswa disini
tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah
berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena,
yaitu baik atau
buruk. Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk
mengatakan “itu adalah baik”, maka ini berarti bahwa siswa SDN
Balikalebu telah menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai di tanamkan
(internalized) dalam dirinya. Dengan demikian nilai tersebut telah stabil
dalam diri siswa.
10
-
Organization
(mengatur
atau
mengorganisasikan),
artinya
mempertemukan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang
membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan
merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi,
termasuk didalamnya hubungan satu nilai dengan nilai lain. Pemantapan
dan perioritas nilai yang telah dimilikinya.
Teori toksonomi Bloom dan Krathwoh ini biasa digunakan untuk
tujuan
belajar yaitu upaya pengembangan seluruh kepribadian individu baik segi fisik
maupun psikis (Yusup, 1990:12). Belajar yang dimaksud adalah belajar untuk
mengenal dunia sosial di luar lingkungan individu melalui film agar dapat
memberikan efek positif dalam diri siswa yang akan menjadi responden dalam
penelitian ini. Perbedaan teori Bloom dengan penelitian efek media yang biasa
digunakan dalam penelitian komunikasi pada umumnya karena hasilnya akan
diketahui lebih mendetail hasil belajar melalui media instruksional dalam hal ini film
yang mempengaruhi tingkatan kognitif dan afektif dalam proses belajar.
Dalam komunikasi pendidikan, film banyak digunakan sebagai media
instruksional untuk menimbulkan perubahan-perubahan agar menghasilkan Sumber
Daya Manusia yang berpendidikan. Perubahan ini bertumpu pada tiga domain yaitu
kognitif, afektif dan psikomotorik sesuai dengan taksonomi Bloom
11
2.4.
Kerangka Pikir
Film denias dalam sequencesequence yang telah ditetapkan
efeknya
Siswa SDN
Balikalebu yang
nonton film
Siswa SDN
Balikalebu yang
tidak nonton film
Efek film bagi
anak didik
(kognitif dan
afektif )
Penjelasan :
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yaitu untuk melihat secara langsung
perbedaan kognitif dan afektif SDN Balikalebu yang dijadikan kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol akibat pesan pendidikan dalam film Denias Senandung Di Atas Awan.
2.5.
Hipotesa Statistik
H0: Tidak ada perbedaan kognitif dan afektif kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen siswa SDN Balikalebu akibat Film Denias Senandung Di Atas
awan tentang semangat ke sekolah.
Ha: Ada perbedaan kognitif dan afektif kelompok kontrol dn kelompok
eksperimen siswa SDN Balikalebu akibat Film Denias Senandung Di Atas
awan tentang semangat ke sekolah.
12
Download