Yohanes 10:40-42 - GRII Kelapa Gading

advertisement
GRII Kelapa Gading
Khotbah Minggu (25 Januari 2015)
Pengkhotbah : Pdt. Billy Kristanto, Th.D Tema : …....….…..……………...….........
Nas Alkitab
: .............................................................................................................
Tahun ke-16
Pertobatan Mendahului Pengampunan Dosa
Pdt. Billy Kristanto, Th.D.
Lukas 3:1-20
Ringkasan Khotbah
762/801
18 Januari 2015
Bagian pasal 3 ini adalah satu-satunya
injil yang melakukan paralelisasi demikian
jelas antara Yohenes pembaptis sebagai
pendahulu dari Sang Mesias yaitu Yesus
Kristus, ini satu perspektif yang sangat penting
di dalam injil Lukas, karena Lukas ingin
menghadirkan konsep history of salvation,
yaitu pekerjaan Tuhan yang dinyatakan di
dalam sejarah. Yohanes pembaptis sendiri
adalah seorang tokoh yang Yesus sendiri
mengatakan dan Lukas sendiri juga mencatat
seperti itu, dia mewakili seluruh nabi dari PL,
yang terbesar dari seluruh nabi PL adalah
Yohanes pembaptis yang pernah dilahirkan
oleh manusia, demikian Yesus mengatakan.
Maka waktu kita membaca bagian ini ayat 1
dan 2 keterangannya seperti agak bertele-tele,
lalu kita bertanya, apa sih kepentingan kita
membaca hal seperti ini? Untuk kita pembaca
kitab modern, tidak aware istilah ini artinya
apa, tetapi kalau kita sangat acquainted
dengan pembacaan cerita nabi-nabi di dalam
PL, kita langsung akan tahu bahwa secara
form criticism Lukas ini menghadirkan struktur
sedemikian
untuk
menyatakan
bahwa
Yohanes itu adalah nabi.
Kalau kita membaca cerita nabi-nabi
dalam PL selalu didahului dengan gambaran
seperti ini. Waktu pembaca Lukas membaca
kalimat ini, mereka pasti akan langsung tahu
bahwa kita sedang berurusan dengan nabi
dan sekali lagi Yesus mengkonfirmasikan
bahwa Yohanes itu mewakili seluruh nabi PL
dan dia menutup kanonisasi itu, dan dia
mempersiapkan
orang
untuk
datang,
mengenal dan percaya kepada Yesus Kristus.
Yohanes pembaptis mempunyai panggilan
yang unik di dalam kehidupan pelayanannya,
kita tahu di dalam catatan ini. Nah waktu kita
membaca tentang kehidupan Yohanes,
termasuk khotbahnya dsb., kita mendapati
tidak terlalu banyak dibandingkan dengan
Yohanes,. Petrus dll., tetapi waktu kita
mempelajari dari bahan yang sangat minim
itu, kita menemukan inti dari khotbah yang
GRII KG 762/801 (hal 4)
disampaikan oleh Yohanes pembaptis yaitu
dalam ayat 3, “panggilan untuk bertobat”.
Kalau kita membicarakan dengan perspektif
ordo salutis (urutan keselamatan), ini
dikatakan mendahului pengampunan dosa.
Dalam bagian ini sekali kita membaca
pertobatan dalam konteks ordo salutis, ini
mendahului pengampuna dosa. Yohanes
pembaptis itu mendahului Yesus, Yesus
datang bukan tanpa didahului oleh Yohanes
pembaptis dan berita keselamatan, injil yang
disampaikan oleh Yesus Kristus bukan tanpa
berita pertobatan dari Yohanes pembaptis.
Kita harus hati-hati terhadap jenis kekristenan
yang sangat menekankan anugerah, ya
anugerah memang harus selalu ditekankan
karena alkitab mengajarkan hal itu, tetapi
kalau terus-menerus menekankan anugerah,
anugerah, tapi tidak membicarakan tentang
pertobatan, akhirnya menjadi gambaran
teologi injili yang tidak injili lagi, karena
teologi injili yang asli mengikuti kepada
alkitab, itu ada berita pertobatan. Dalam ayat
4 yang sudah kita baca, Lukas mengutip kitab
Yesaya, jalan yang harus diluruskan itu seperti
satu tol, highway, yang mempersiapkan
datangnya Mesias, kenapa Mesias tidak
datang-datang? Karena jalan ini tidak beresberes, kita harus hati-hati dengan gambaran
teologi injili yang agak murahan, yang
mengatakan, semuanya itu non conditional,
segala sesuatu itu tidak ada syaratnya, hanya
satu-satunya itu, percaya kepada Yesus
Kristus, saya baca alkitab ketemu prinsip yang
lain dan saya percaya Calvin, Luther dan
Zwingli juga akan ketemu prinsip yang sama,
karena ini alkitab. Orang yang terus
mengatakan pokoknya beriman dulu, beriman
saja, memang kita hopeless kalau selalu di
dalam dosa, kecuali beriman baru bisa
diselamatkan, tetapi tidak ada berita
pertobatan yang mendahului orang beriman
dan menerima pengampunan dosa, akhirnya
menciptakan orang-orang kristen yang tetap
hidup di dalam dosa, meskipun mereka
percaya sudah berada di dalam Yesus Kristus,
persis seperti yang dikatakan di sini.
Orang-orang ini menghibur diri, tetapi
kita keturunan Abraham loh, jadi maksudnya
keturunan Abraham itu apa? Tidak perlu jalan
yang diluruskan ini? Tidak perlu pertobatan
karena keturunan Abraham? Seperti sekarang
banyak juga orang kristen yang berkata, tetapi
GRII KG 762/801 (hal 1)
Ekspositori Injil Lukas (56)
Ekspositori Injil Lukas (56)
saya ke gereja loh atau mungkin kalimat yang
lebih theologically, lebih benar lagi, lebih
bahaya lagi, tapi kita sudah percaya kepada
Yesus Kristus loh? Tidak usah bicara tentang
pertobatan, saya sudah terima anugerah dari
Yesus Kristus, kamu tidak usah tegur dosa
saya, saya sudah diselamatkan sepenuhnya
oleh darah Yesus Kristus dan pengorbananNya
itu sempurna. Waduh celaka sekali, luar biasa
bahaya, padahal kalimatnya itu betul, tetapi
kalau kita selidiki, tidak ada kalimat
pertobatan yang mendahului, tidak ada dan
tidak mungkin bisa melepaskan diri dari
murka Allah, tidak ada kekristenan yang bisa
melepaskan dirinya dari pada berita
pertobatan, tidak ada, itu bukan kekristenan
yang diajarkan oleh alkitab, itu kekristenan
palsu, ajaran bidat. Lalu yang paling bahaya
adalah coba dihias dengan gambarangambaran seperti teologi anugerah, sola fide
dsb, sepertinya dekat sekali dengan ajaran
para reformator, padahal para reformator
tidak pernah mengajarkan hal seperti itu.
Berita
pertobatan
mendahului
pengampunan dosa, tanpa pertobatan tidak
ada injil, tidak ada, coba kita perhatikan,
Yesaya mengatakan, setiap lembah akan
ditimbun, setiap gunung dan bukit akan
menjadi rata, jalan yang naik turun itu Yesaya
mengatakan, ini semua harus diratakan. Jadi
jalan yang berliku-liku harus dibuat lurus dan
yang naik turun juga harus dibuat lurus, baru
setelah itu highway ini akan mempersiapkan
kedatangan Sang Mesias, ini tentu saja
maksudnya metaforik. Apa yang dimaksud
jalan yang berliku-liku itu? Yang disebut jalan
yang lurus itu apa? Kalau kita membaca
konteks asli dari kitab Yesaya jelas sekali yaitu
the way of righteousness, kehidupan yang
benar dan ini sekali lagi dikatakan oleh
Yohanes pembaptis, makanya bertobatlah dari
kehidupan
yang
unrighteous
menjadi
kehidupan yang righteous. Kita jarang
mendengar message seperti ini, biasanya kita
kan seperti seolah-olah diajar dalam teologi
reformatoris,
kita
ini
manusia
yang
unrighteous, semuanya unrighteous, tidak ada
seorang pun yang righteous, seorang pun
tidak, semuanya unrighteous, memang betul,
lalu habis itu apa? Percaya di dalam Yesus
Kristus baru nanti kamu akan menjadi orang
righteous,
dibenarkan
bukan
dengan
kebenaranmu sendiri, tetapi kebenaran yang
dari Yesus Kristus, fine, kita terima teologi
yang seperti itu, tetapi ini bukan satu-satunya
pasal, pasal yang lain harus melengkapi.
Kalau kita baca di sini, teriakan dari
Yohanes pembaptis ini justru mempersiapkan
orang kepada iman yang benar, Calvin
mengatakan kalimat yang indah waktu dia
bicara tentang kaitan antara repentance,
pertobatan dan forgiveness, pengampunan
dosa, dia mengatakan, repentance itu adalah
precondition dari pada forgiveness tapi bukan
basis, sehingga kita layak diampuni, ada
certain paradoks di situ. Kalau kita
mempelajari teologi reformed, kita harus siap
dengan banyak paradoks, kalau orang yang
tidak mau terima paradoks, pemikirannya
hanya one sided, pokoknya saya satu sisi ini
saja, lalu setiap tention kita akan pilih satu sisi,
kita tidak akan bisa belajar teologi reformed.
Teologi reformed itu paradoksikalitas-nya
dibandingkan alkitab jauh lebih rendah,
alkitab lebih banyak lagi paradoks-nya,
paradoks itu bukan kontradiksi, kalau kita
tidak siap dengan cara pikir yang lincah
seperti ini, akan kesulitan sekali untuk
mengerti bukan hanya teologi Calvin, tetapi
kita akan kesulitan mengerti alkitab, karena
alkitab sendiri banyak paradoks di dalamnya
dan paradoks itu bukan kontradiksi, tetapi
kelincahan melihat di dalam berbagai macam
perspektif. Misalnya ada orang yang
pikirannya luas seperti laut, lalu kita yang
pikirannya hanya satu gayung ingin mengerti
pikiran orang yang luas seperti laut, itu tidak
masuk akal, kita yang harus rendah hati,
bukan mereka yang perlu dikoreksi. Pikiranpikiran orang besar seringkali kita tidak
mengerti, seperti kelihatan kontradiksi,
sebenarnya pikiran kita yang tidak cukup
untuk menampung kekayaan pikiran mereka.
Satu
sisi
memang
betul
ada
pengampunan dosa, iman, anugerah dsb.,
tetap di sisi yang lain kita melihat ajaran ini
bukan tanpa pertobatan, maka Calvin waktu
membahas bagian ini (relasi repentance dan
forgiveness),
menggunakan
penjelasan
paradoksikal itu. Pengampunan dosa bukan
tidak
didahului
dengan
pertobatan,
pertobatan itu semacam precondition dari
pada pengampunan dosa, tetapi (ini
paradoksnya) pengampunan dosa ini basisnya
bukan karena kita bertobat, tetapi basis
pengampunan dosa ini karena Kristus yang
mati. Sekali lagi, memang kita diampuni
dosanya bukan karena usaha pertobatan kita,
bukan, basisnya itu selalu adalah korban Yesus
Kristus di atas kayu salib, tetapi pengampunan
dosa bukan tanpa pertobatan (paradoks), itu
adalah pattern yang ditetapkan oleh Tuhan.
Maka bahaya sekali orang yang mengatakan,
saya percaya kepada Mesias, saya terima
Yesus sebagai Juruselamat di dalam hatiku,
dsb., tetapi tidak ada cerita tentang lembah
yang ditimbun, gunung dan bukit yang
menjadi rata dsb., yang berliku-liku diluruskan,
tidak ada cerita itu di dalam kehidupan orang
tersebut, tidak ada, tetapi dia berani mengaku
sebagai orang percaya, sebagai orang pilihan,
tetapi tidak ada buah pertobatan di dalam
kehidupannya,
tidak
ada.
Yohanes
mengatakan, kamu keturunan ular beludak,
siapa yang mengatakan kepada kamu supaya
melarikan diri dari murka yang akan datang?
Maksudnya adalah, kamu pikir kamu bisa
melarikan diri dari murka yang akan datang,
hanya dengan mengatakan, kami ini
keturunan
Abraham?
Tidak,
Yohanes
mengatakan, hasilkan buah yang sesuai
dengan pertobatan.
Di dalam ajaran mana pun tidak ada
yang tanpa pertobatan, pokoknya tiba-tiba
regeneration faith lalu diselamatkan, surga,
tidak ada seperti itu dalam ajaran manapun,
GRII KG 762/801 (hal 2)
pasti harus ada satu poin membicarakan
repentance, dimanapun urutannya ataupun
kalau tidak mau diurutkan tetap harus ada
aspek repentance, karena ini adalah ajaran dari
alkitab sendiri. Tetapi waktu kita membaca di
dalam Lukas, kita mendapati gambaran
repentance yang mendahului pengampunan
dosa, Yohanes mengatakan mengikuti Yesaya,
sebetulnya itu cerita pertobatan, waktu
gunung, bukit dibuat menjadi rata, itu adalah
cerita pertobatan, orang yang dipersiapkan
akhirnya layak untuk menerima injil dari
Tuhan. Sekali lagi, ketetapan dari Tuhan
bahwa cerita keselamatan itu bukan tanpa
pertobatan, di dalam PL sepertinya orang kan
lament kenapa kok Mesias tidak datangdatang? Mereka terus mengeluh, mereka
meratap dihadapan Tuhan, seperti orang itu
lupa apa yang dikatakan Yesaya, Mesias tidak
akan datang kalau jalan itu tidak diluruskan,
jalan yang berliku-liku itu harus diluruskan,
perlu jalan tol-nya, misalnya kalau presiden
datang, kan perlu dipersiapkan jalannya? Ini
gambaran lumrah, di dalam alkitab juga
dikatakan mirip seperti itu, bukan karena
Tuhan perlu dikawal, tentu saja bukan di
dalam spirit seperti itu, karena kita tahu Yesus
kan lahir begitu rendah, dikandang binatang
dsb., tetapi ini adalah pattern yang memang
dikehendaki Tuhan sendiri.
Bahwa ketika Mesias datang, orang harus
terlebih
dahulu
dikoreksi
kehidupan
berdosanya, kalau tidak, apa yang menjadi
akibatnya? Orang akan menghina injil, coba
kita perhatikan, kenapa orang-orang Farisi,
ahli Taurat (tentu saja tidak semuanya) tidak
bisa menerima injil yang disampaikan oleh
Yesus Kristus? Karena tidak ada cerita
pertobatan, mereka tidak mau diluruskan,
hatinya itu banyak lembah, bukit, gunung
yang terus berliku-liku, hati mereka itu
berliku-liku, terus bersilat lidah, hatinya
banyak cabang, akhirnya tidak pernah bisa
menerima injil. Waktu injil diberitakan kepada
mereka selalu kosong, tidak ada resonance,
justru menimbulkan kejengkelan, kepahitan
dan kebencian lebih dalam di dalam diri
orang-orang itu. Nah di sini waktu Yohanes
tampil, dia mempersiapkan jalan itu, the way
of righteousness, hasilkan buah-buah yang
sesuai dengan pertobatan, kapak sudah
tersedia dalam setiap pohon dan setiap pohon
yang tidak menghasilkan buah yang baik,
akan ditebang dan dibuang ke dalam api.
Berkaitan dengan ayat ini biasanya orang suka
memperdebatkan (khususnya waktu di PA),
bicara tentang yang ditebang ini betul-betul
orang yang ditebang atau di dalam
pengertian di dalam diri satu orang ada
bagian-bagian yang jahat yang akan
ditebang? Secara singkat dalam bagian ini,
paradigma mereka waktu berpikir, itu berpikir
umat Israel sebagai satu komunitas, satu
umat, bukan berpikir secara individual, itu kan
penemuan modern.
Kita kan seringkali mengatakan kalimat
supaya firman Tuhan ini boleh menyentuh
pribadi lepas pribadi, tetapi kalau kita
membaca di dalam konteks alkitab, mereka
berpikirnya itu sebagai kumpulan umat. Kita
sulit mengerti cerita Akhan yang berdosa,
yang mencuri barang, kok Yosua dan seluruh
Israel kalah, karena cara pikir kita individualis,
yang dosa dia yang tanggung ya dia sendiri.
Seperti kita mau mengatakan kalau saya
berdosa ya saya tanggung sendiri dosanya,
apakah kita masih percaya kalimat seperti itu
ya? Saudara berdosa, punya kelemahan,
saudara tanggung sendiri? Saudara tidak
tanggung sendiri, yang ikut tanggung itu
termasuk juga tetangga saudara, keluarga
saudara, mereka semua ikut menanggung,
bukan hanya saudara yang tanggung, itu
terlalu mudah. Apakah ada orang membunuh
orang lain lalu setelah itu dosanya dia
tanggung sendiri? Lalu keluarga yang mati itu
bagaimana? Keluarga yang dibunuh juga ikut
menanggung dosa itu, maka gambaran dosa
yang
individualis
seperti
ini,
hyper
individualize itu bukan ajaran alkitab, itu
ajaran bohong, orang yang bilang kalau saya
berdosa, saya tidak mempengaruhi siapasiapa kok, semua akibat akan saya tanggung
sendiri, kalimat seperti tidak ada di dalam
alkitab. Coba kita baca lagi tentang Akhan,
kenapa dia jadi mempengaruhi orang lain
harus menanggung dosanya dia juga? Padahal
Yosua tidak iku mencuri seperti Akhan, kenapa
semua orang jadi kena seperti itu?
Kalau kita melihat kembali pada bagian
ini, ayat ini mengatakan, pikiran Israel sebagai
umat, komunitas, yang kemudian kepada
mereka Yohanes pembaptis ini menyampaikan
firman, bukan individu demi individu, itu
memang betul ada tempatnya juga, tetapi di
sini adalah orang banyak, the crowd. Lalu
waktu kita membaca juga di dalam ayat 10,
demikian juga yang berespon adalah orang
banyak. Kalau kita melihat di sini, respon
pertama dari orang banyak, tetapi kemudian
Lukas men-detail-kan, ada pemungut cukai,
ada prajurit-prajurit, ada berbagai macam
kelompok dan juga termasuk di dalam
pelayanan Yesus Kristus, mencapai setiap
lapisan dari pada masyarakat, setiap jenis
vocation and calling itu diberitakan kepada
mereka berita pertobatan. Berita pertobatan
bukan certain untuk satu orang saja, bukan,
ada gereja yang konsentrasi sekali kepada
orang-orang
kaya,
ada
gereja
yang
konsentrasi sekali kepada orang-orang miskin,
seperti kalau konsentrasi kepada orang miskin
lebih benar, yang orang kaya berkata, waduh
gereja itu perlu dicurigai, sepertinya
motivasinya tidak benar, pemimpinnya hanya
mau perpuluhan dan kolekte saja dsb., tetapi
dua-duanya sebetulnya salah.
Karena di dalam alkitab kalau kita
melihat, pelayanan dari Yohanes pembaptis,
Yesus Kristus itu bukan hanya mencapai satu
lapisan, whether hanya orang kaya saja atau
orang miskin saja atau whether hanya pejabatpejabat saja, atau hanya orang-orang yang
tidak punya kedudukan saja, ya tidak, tapi itu
mencapai semua lapisan, keluasan seperti ini
kita harus belajar dari Yohanes pembaptis,
GRII KG 762/801 (hal 3)
Yesus Kristus. Waktu kita membaca respon
dari orang banyak, dikatakan, jika demikian
apakah yang harus kami perbuat? Saya mau
tekankan kalimat “apakah yang harus kami
perbuat?” Ada resepsi yang salah dari teologi
reformatoris, setiap kali kita ketemu kalimat
“perbuatan” kita langsung bilang, manusia
bukan diselamatkan karena perbuatan, tapi
karena iman, terus bicara seperti itu, akhirnya
orang-orang kristen benar-benar tidak ada
perbuatan, yang ada hanya iman. Celakanya
yang lihat iman hanya Tuhan, setelah Tuhan
lihat, sebenarnya juga tidak ada, karena
menurut Yakobus iman yang tidak ada
perbuatan, itu bukan iman, berkanjang dalam
teologi iman seperti ini akhirnya bisa bahaya
sekali. Coba kita perhatikan, Yohanes
pembaptis yang mempersiapkan Yesus Kristus
datang dengan injil Kerajaan Surga, lalu
Yohanes pembaptis yang mendahului dengan
berita pertobatan.
Waktu
Yohanes
membawa
berita
pertobatan ini, menegur dengan keras, lalu
orang menanggapi secara positif, “apa yang
harus kami perbuat?”, ada sesuatu yang
konkrit. Yohanes bukan menjawab, oh tidak
perlu berbuat apa-apa, perbuatan tidak
menyelamatkan, percaya saja, tidak ada
tulisan seperti itu dalam bagian ini. Kita akan
bingung sebetulnya sola fide atau bukan sola
fide? Nah sekali lagi, pengajaran yang
paradoksikal di dalam alkitab, kalau kita tidak
siap, lalu pikiran kita terus one sided, maunya
hanya sisi ini saja, pokoknya yang berlainan
dengan sisi ini pasti kontradiktif, harus saya
buang, either saya pilih ini tidak terima ini atau
saya pilih ini tidak terima itu, kalau seperti itu,
kita tidak bisa masuk ke dalam kekayaan
akitab, karena pikiran kita hanya terima di
dalam laci kita yang sempit. Dalam bagian ini
Yohanes tidak mengkoreksi waktu mereka
tanya apa yang harus kami perbuat, Yohanes
menjawab dengan kalimat-kalimat yang
mengarahkan mereka kepada perbuatan.
Yesus mengajarkan iman dan Yohanes
pembaptis mendahului dengan perbuatan,
berapa banyak orang non kristen yang
tersandung karena perbuatan orang kristen?
Apakah ada orang non kristen yang
tersandung karena iman orang kristen? Saya
tidak bisa jadi kristen karena imannya, kalimat
seperti itu tidak pernah saya dengar, biasanya
orang non kristen tersandung karena
perbuatannya, lalu orang kristen berkata apa?
Orang itu tidak diselamatkan dengan
perbuatan, ini betul-betul celaka, orang itu
makin tidak yakin lagi, kalau sudah begitu ya
sudah, good luck to your theology and your
religion, saya semakin tidak yakin dengan jalan
yang kamu jalani, memang kamu selalu
menghina perbuatan, itu persoalannya.
Tetapi di dalam cerita ini kita melihat
Yohanes pembaptis setelah menantang
mereka untuk menghasilkan buah pertobatan,
respon-nya adalah apakah yang harus kami
perbuat? Lalu Yohanes menjawab dengan
perbuatan, di dalam perbuatan itu terkandung
iman yang sejati, ini tidak ada benturan sama
sekali dengan sola gracia, sola fide, yang akan
ada benturan adalah kalau mereka betul-betul
menjadikan ini sebagai basis dari pada
forgiveness, pengampunan itu seolah-olah di
dasarkan oleh cerita pertobatan ini. Bukan
didasarkan oleh pertobatan ini, tetapi di sisi
yang lain, bukan tanpa cerita pertobatan yang
dihasilkan di dalam perbuatan yang konkrit.
Coba perhatikan, di dalam kekristenan yang
kita terima dari alkitab ada tanggung jawab
sosial, ini sangat berkaitan dengan injil,
kadang-kadang di dalam kelompok injili
begitu sensitif, over sensitif, kita mengatakan
itu sebagai liberal, kalau kita yang injili, kita
menekankan iman ibadah, iman ibadah, iman
penginjilan dsb., itu yang sosial gospel tidak
karu-karuan (saya bukan mau mengajarkan
sosial gospel), tetapi kalau kita membaca di
dalam alkitab, di dalam injil yang sejati ada
dimensi sosial, bukan hanya dimensi berdoa,
tutup mata kemudian melihat Tuhan, tapi ada
dimensi horizontal, ada dimensi sosial, itu
cerita injil yang sejati. Kenapa Yesus
melenyapkan banyak penyakit? Kalau orangorang karismatik mengatakan tentunya di
dalam mukjizat-Nya, orang lupa itu adalah
aspek
melepaskan
orang
dari
pada
penderitaan dsb., pemulihan dari pada
theology of creation, itu semua tercakup di
dalam cerita Yesus melenyapkan penyakit,
mengusir setan dsb.
Waktu Yohanes menjawab pertanyaan
dari orang banyak itu, kita mendapat
jawabnnya itu untuk berbagai macam
kelompok, menarik, untuk kelompok ini ada
jawaban ini dst., maksudnya apa? Setiap orang
sepertinya
memang
mempunyai
pergumulannya
masing-masing,
punya
kelemahannya sendiri-sendiri, mungkin kita
teriak-teriak menyuruh orang untuk memberi,
memberi, mungkin tidak semua orang
persoalannya di situ? Mungkin tidak semua
orang itu persoalannya di situ, dia tidak
persoalan di dalam memberi, persoalannya di
dalam bagian yang lain, maka di sini Yohanes
pembaptis dengan sensitif terhadap audience,
kepada kelompok ini mengatakan ini, kepada
kelompok itu mengatakan ini dst., alangkah
indahnya kalau pelayanan kita bisa seperti ini.
Bukan kalimat borongan, satu kalimat untuk
seribu orang, semuanya pasti kalimat benar,
untuk seribu orang pasti cocok, kenyataannya
adalah orang ini membutuhkan kalimat ini,
orang itu membutuhkan kalimat itu dst., sekali
lagi ada dimensi sosial, seperti dalam ayat 11,
barang siapa mempunyai baju, hendaklah ia
membagi dengan yang tidak punya, barang
siapa mempunyai makanan, hendaklah ia
berbuat juga demikian. Urusan food and
clothing, makanan dan pakaian, kalau kita
cukup, berikanlah kepada mereka yang tidak
cukup, ada orang yang simply tidak bisa
berpikir seperti ini, dia hanya berpikir yang
penting saya sendiri cukup, orang lain tidak
cukup, itu karena dia harus trying harder,
harus berjuang sampai berhasil. Kadangkadang mendorong orang berjuang sampai
berhasil itu very much connected dengan
kepelitan kita dan kita tidak sadar, kita
berkata, kamu harus berjuang, berjuang,
maksudnya adalah kamu jangan ganggu saya
financially, saya doa saja, diganggu terus-
GRII KG 762/801 (hal 4)
terusan tidak apa-apa, tapi kamu jangan
bicara tentang uang dan kartu kredit, itu
urusan sensitif, kalau urusan itu kamu
berjuang sendiri, kita dukung dalam dosa saja,
Tuhan Yesus menyertai engkau, begitu kan
ya?
Tetapi di dalam bagian ini kita betulbetul melihat satu realitas orang yang
berbagian di dalam kehidupan orang lain
yang kekurangan physically bukan di dalam
doa saja, tetapi juga physically ada bagian
makanan, pakaian artinya hal-hal yang pokok,
bukan orang yang perlu travelling ke suatu
tempat dll., bukan itu, orang seperti itu tidak
usah ditolong ya tidak apa-apa, itu bukan
yang utama. Tetapi di dalam bagian ini
khususnya adalah makanan dan pakaian,
berarti ini adalah hal-hal yang paling dasar di
dalam kehidupan seseorang, tetapi tidak
tercukupi, tidak ada orang yang tidak peduli
dengan hal ini, ya dia bisa saja jalan terus dan
tidak mempedulikan orang-orang seperti itu.
Yohanes mengingatkan kepada mereka,
jangan menjadi orang yang tidak sensitif
seperti ini, untuk pemungut-pemungut cukai
yang datang untuk dibaptis, Yohanes
mengatakan, jangan menagih lebih banyak
dari pada yang telah ditentukan. Yang
pertama tadi urusan ketidakpedulian, mungkin
pelit, tidak peduli, acuh tak acuh terhadap
penderitaan orang lain, yang kedua ini
serakah, memang ada kemiripan, serakah,
jangan menagih lebih banyak dari pada yang
telah ditentukan bagimu. Sebetulnya setiap
orang itu ada porsinya masing-masing, tetapi
ada orang yang serakah, apa sih serakah itu?
Yaitu orang yang tidak bisa mencukupkan diri
dengan porsi yang ditentukan Tuhan baginya,
akhirnya terjerat di dalam berbagai macam
dosa, kenapa? Karena dia serakah, jangan
menagih lebih banyak dari pada yang telah
ditentukan bagimu, itu bukan porsimu, itu
haknya orang lain.
Kepada prajurit-prajurit pertanyaan yang
sama, apa yang harus kami perbuat? Yohanes
menjawab mereka, jangan merampas dan
jangan memeras, dan cukupkan dirimu
dengan gajimu, the art of contentment,
mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki,
dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita
dan tidak mempergunakan power, jabatan
untuk memeras, untuk mencekik orang lain,
untuk merampas. Orang yang bisa merampas,
memeras di sini kan certain punya power, ada
perkataan dari Abraham Lincoln, kalau kita
mau menguji karakter seseorang, semua
orang itu pada dasarnya bisa berhadapan
dengan kesulitan, berjuang saja, hampir
semuanya bisa lewat, tetapi kalau kita mau
menguji karakter seseorang, bukan dengan
adversity, bukan dengan difficulty, menurut
Abramah Lincoln adversity itu ujian terlalu
rendah, terlalu mudah, karena semua orang
nanti banyak yang lulus. Tapi kalau kita mau
uji karakter seseorang, kita berikan dia power,
berikan dia kekuasaan, lalu kita bicara lagi
tentang karakternya. Ada banyak orang yang
tidak punya power seperti sangat ramah dsb.,
itu bukan ramah, masalahnya tidak punya
modal juga untuk sombong, kalau dia tidak
punya apa-apa, tidak punya uang, pasti akan
kelihatan ramah, begitu kan ya? Tetapi begitu
dia memiliki power, lalu kita jadi bingung, loh
kok dia berubah ya? Itu tidak berubah, dari
dulu juga memang begitu, hanya monster
yang di dalam belum kelihatan, begitu kan ya?
Begitu ada power, monster-nya langsung
kelihatan, dulu ketutupan, tidak kelihatan,
karena dia tidak punya modal. Orang yang
suka merampas, memeras, itu adalah orang
yang tidak tahan uji pada waktu diberikan
power di dalam kehidupannya, ini kan prajuritprajurit, punya certain power, Israel kan
bangsa jajahan, prajurit-prajurit, mereka
punya certain power. Kalau mau abuse otoritas
mereka, ya bisa, makanya mereka bisa
memeras dan merampas. Orang takut, tidak
berani berurusan dengan para prajurit, maka
bagaimana? Ya ini gambaran kerentanan
seseorang waktu punya power, punya kuasa,
punya
kedudukan
dsb.,
dia
bisa
mempergunakannya dengan salah, lalu
dipakai untuk memeras dan merampas orang
lain. Yohanes mengingatkan kepada mereka
cukupkan dirimu dengan gajimu. Sekali lagi
the art of contentment, seni mencukupkan diri
dengan apa yang Tuhan berikan di dalam
kehidupan kita.
Waktu kita membaca dalam bagian ini,
Yohanes mulai berhadapan dengan orangorang yang kemudian bertanya, kalau kita
baca khususnya dalam injil Lukas dan injil
Yohanes, membahas semacam pertanyaan
yang timbul apakah sebetulnya Yohanes ini
adalah Mesias? Kita lihat ayat 15, orang
banyak itu menanti, berharap dan bertanya di
dalam hatinya apakah Yohanes ini adalah
Sang Mesias? Yohanes jujur waktu dia
mengatakan, aku membaptis kamu dengan
air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripadaku
akan datang, membuka tali kasutNya pun aku
tidak layak (membuka tali kasut itu adalah
pekerjaan budak), Yohanes mau mengatakan,
jadi budakNya pun saya tidak layak. Dan di
sini ada metafora, simbol yang lain, dikatakan,
aku membaptis kamu dengan air, alkitab suka
memakai
elemen-elemen
natural,
lalu
kemudian di dalamnya itu ada certain
spektrum pengertian air, ini kan berita
pertobatan?
Menarik,
waktu
saya
merenungkan bagian ini, ini berita yang
begitu keras, berita pertobatan, kapak dsb.,
tetapi sebetunya substansinya adalah air, air
itu membersihkan kan ya? Di dalam teriakan
pertobatan yang sangat keras dari Yohanes
pembaptis, itu ada kelembutan air yang
membersihkan,
di
dalam
injil,
kelemahlembutan yang diberitakan oleh Yesus
Kristus bukan tidak ada penghakiman, di
dalam kapak ada air, di dalam injil yang
diberitakan Yesus Kristus ada api.
Maka gambaran kekristenan yang hanya
satu sisi, itu selalu tidak cukup, di dalam
banyak hal, whether itu di dalam doktrin
keselamatan, atau di dalam doktrin gereja
atau di dalam doktrin Allah Tritunggal, ada
orang yang lebih cenderung menekankan
ketigaannya, akhirnya nanti jadi polytheis,
bukan jadi trinitarian, ada orang yang
cenderung
menekankan
kesatuannya,
GRII KG 762/801 (hal 1)
Ekspositori Injil Lukas (56)
Ekspositori Injil Lukas (56)
akhirnya juga bukan pengakuan iman
trinitaris, nanti jadi sama-sama bidat. Di dalam
alkitab itu ada banyak konsep yang
paradoksikal, satu dan tiga, tiga dan satu, dan
dua-duanya betul, bukan satu atau tiga, kalau
tiga tidak mungkin satu, kalau satu tidak
mungkin tiga, salah, itu bukan pikiran di
dalam alkitab. Di dalam doktrin keselamatan
juga sama, satu sisi ada kedaulatan Allah yang
menetapkan, sisi yang lain ada kehendak
Tuhan untuk menyelamatkan semua orang,
kalau kita tidak bisa terima keduanya,
sebetulnya kita tidak mengerti alkitab, karena
alkitab
berbicara
di
dalam
bahasa
paradoksikal.
Di dalam pemberitaan Yohanes yang
keras itu ada air segar yang membersihkan
orang dari pada dosa-dosanya dan di dalam
pelayanan dari Yesus Kristus bukan tidak ada
api, sebetulnya terjemahan Roh Kudus dan api
bisa diterjemahkan juga dengan angin dan
api, itu seperti yang kita baca dalam peristiwa
pentakosta, itu seringkali diambil menjadi
simbol untuk menggambarkan divine powerful
present, maksudnya Roh Kudus, angin dan api.
Dua metafora ini mengandung kekayaan
spektrum, angin, seperti dalam peristiwa
pentakosta, kita juga membaca percakapan
Yesus dengan Nikodemus juga memakai
metafora angin, seperti angin dsb. Angin di
sini, khususnya di dalam konteks Lukas 3, itu
dikaitkan dengan alat penampi, bukan angin
topan atau angin ribut, kalau di desa masih
bisa kita lihat ketika menampi gabah, yang
ringan itu akan terbang, jadi angin itu
berfungsi untuk melakukan penghakiman, jadi
waktu ditampi ada bobotnya, dia balik lagi ke
bawah, yang tidak ada bobot (debu, sekam
dsb.) itu semua akan ke luar dan yang
membersihkan itu adalah angin. Angin itu
akan menyingkirkan bahan campuran yang
tidak dibutuhkan, api juga demikian, api
mempunyai
fungsi
yang
memurnikan,
menyucikan,
logam-logam
kalau
ingin
dimurnikan harus dipanaskan dengan api
yang
sekian
derajat
sampai
semua
campurannya terpisah, lalu yang asli kelihatan,
melalui api.
Api seperti angin, itu mempunyai satu
pengertian pemurnian dan penyucian, dan
juga sekaligus penghakiman, waktu di sini
dikatakan, Yesus Sang Mesias itu akan
membaptis kamu dengan Roh Kudus dan
dengan api, berarti di sini bukan tanpa
penyucian, bukan tanpa pemisahan, bukan
tanpa penghakiman. Yohanes melanjutkan
dalam ayat 17, alat penampi itu sudah
ditanganNya untuk membersihkan tempat
pengirikanNya dan untuk mengumpulkan
gandumNya ke dalam lumbungNya, tetapi
debu jerami itu akan dibakarNya dalam api
yang tidak terpadamkan, ini berita pertobatan
yang sangat serius, bukan kekristenan yang
murahan, bukan kekristenan yang tanpa
pertobatan. Yang menarik dalam ayat 18,
setelah berbicara yang sangat keras, Lukas
mencatat Yohanes memberitakan kabar baik
kepada orang banyak, berita teguran dosa itu
adalah kabar baik, orang yang tidak bisa
menerima ini, memang hatinya sudah bebal.
Orang yang tidak bisa menerima teguran yang
dari Tuhan sebagai good news, orang itu
memang hatinya sudah bebal, kalau orang
yang hatinya betul-betul digerakkan oleh Roh
Kudus, yang dipimpin oleh Tuhan sendiri,
waktu dia mendengar berita pertobatan, dia
seperti yang dicatat di sini, menurut Lukas, itu
adalah good news. Good news kalau Tuhan itu
masih menghajar kita, Good news kalau Tuhan
masih menyatakan sebetulnya kita itu siapa
dan ini ada satu pengharapan, karena Tuhan
mau
memerdekakan
kita
dari
pada
keberdosaan itu.
Tetapi waktu orang sudah mulai
dibiarkan, waktu orang sudah mulai menjadi
seperti Herodes, bagaimanapun di sini ditutup
dengan cerita yang tidak enak ini kan ya?
Yohanes memberitakan berita penghakiman
itu, tetapi Lukas mengatakan, ini sebetulnya
good news, kenapa good news? Karena
motivasinya bukan Tuhan itu senang sekali
dengan kematian orang fasik, Tuhan
menghendaki semua orang diselamatkan, God
revealed will, tapi di sisi yang lain kita harus
menerima fakta, tidak semua orang akhirnya
diselamatkan. Herodes ini adalah orang yang
bukan saja tidak berespon, tetapi dia
memasukkan Yohanes ke dalam penjara, dia
berusaha untuk mendiamkan, to silent berita
dari pada Yohanes, sekarang dia sendiri
terusik dosanya, kita harus hati-hati mencari
firman Tuhan, kalau bisa yang terus
mengangkat kita, tidak ada teguran, bikin kita
senang, seperti kita orang yang saleh sekali
begitu kan ya? Akhirnya terakhir ketemunya
api neraka atau kita cari gereja, cari tempat
yang kita betul-betul dibuka keadaan hati kita
bagaimana, kesempitan kita ada dimana,
persoalan kita ada dimana? Lalu itu menjadi
satu good news untuk kita, untuk kita terus
bertumbuh dan berbagian di dalam natur
Ilahi, seperti dikatakan oleh rasul Petrus, tetapi
Herodes
tidak,
Herodes
berusaha
mendiamkan berita dari pada Yohanes.
Waktu injil diberitakan itu ada kuasa
yang mengutubkan, ini tidak bisa ditolak, injil
waktu diberitakan akan memisahkan orang
percaya dan tidak percaya, itu namanya
doktrin pilihan, ada yang disingkirkan, ada
yang tidak diberikan pengertian oleh Tuhan,
bukan karena mereka tidak sanggup untuk
mengerti, karena mereka sendiri tidak mau
mengerti, jadi ada tanggungjawab manusia
juga menolak injil. Orang-orang Farisi, waktu
menolak pengajaran dari Yesus Kristus,
mereka menolak dari dirinya sendiri, kita tidak
bisa bilang mereka menolak karena sudah
ditetapkan Tuhan, tidak, mereka menolak dari
kedagingan mereka sendiri, dari dosa mereka
sendiri. Dari sisi Tuhan, Tuhan tidak
menganggap mereka layak untuk menerima
firman Tuhan, di situ ada dignitas injil, kalau
kita tidak mengerti bagian ini, kita belum
mengerti alkitab secara komplit, Yesus
mengatakan, kita tidak buang mutiara ke babi
(jangan membaca ayat ini dengan pengertian
GRII KG 762/801 (hal 2)
yang salah), Yesus mau mengatakan, ada
orang yang memang kita tidak ada perlunya
lagi berbicara tentang injil kepada mereka.
Karena mereka tidak siap, mereka menghina
dan mereka tidak dipimpin oleh Tuhan terusmenerus mendengarkan mutiara yang begitu
berharga untuk mereka, ini ajaran dari alkitab,
ajaran Yesus Kristus dan ide ini berkaita erat
dengan kedaulatan Tuhan.
Sekali
lagi,
meskipun
Yohanes
memberikan teguran begitu keras, tetapi
Lukas mencatat this is the good news, ini
adalah kabar baik, ini adalah injil, orang yang
sakit, lalu dikasih tahu bahwa dia sakit, itu
sepertinya memang bukan kabar baik, tetapi
itu adalah good news di dalam pengertian kita
bisa tahu bahwa kita sakit, itu maksudnya.
Kalau orang yang sakit dibilang tidak sakit, itu
kan penipuan, jadi yang penipuan bisa seperti
good news, yang bad news itu bisa good news
di dalam pengertian, istilah good itu bukan
istilah enak didengar, menyenangkan saya, itu
bukan good news, good news menurut alkitab
adalah membawa orang untuk masuk ke
dalam pengenalan diri apa adanya dan
memberikan
kesempatan
orang
untuk
bertobat. Karena tanpa pertobatan tidak ada
orang yang diselamatkan, Herodes tidak
diselamatkan, at least kita tidak pernah baca
cerita pertobatan Herodes di dalam alkitab,
kemungkinan besar dia adalah orang yang
binasa, karena dia tidak pernah bertobat,
karena dia tidak pernah menerima berita yang
dibicarakan oleh Yohanes pembaptis, dia
anggap sepi, seperti tidak ada, dia bermegah
di dalam posisinya dsb., akhirnya menjadi
orang yang dilewatkan oleh Tuhan. Kiranya
Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa
oleh pengkhotbah (AS)
GRII KG 762/801 (hal 3)
Download