Dinamika Kebidanan vol. 3 no.1 Januari 2013 1 HUBUNGAN

advertisement
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL
PRIMIGRAVIDA DENGAN KUNJUNGAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN
SAMPAI DENGAN K4 DI KABUPATEN PATI
Lingga Kurniati*)
*) Akademi Kebidanan Abdi Husada Semarang
Korespondensi : [email protected]
ABSTRAK
Kunjungan ibu hamil adalah kontak antara ibu hamil dan petugas kesehatan yang memberi pelayanan
antenatal untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan. Standar minimal kunjungan 4x kunjungan selama
kehamilan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pati dikarenakan cakupan kunjungan kehamilan masih
dibawah standar yaitu 87,07 % dari target 2010 sebesar 95%. Khususnya yang terjadi di puskesmas pati II hanya
mencapai 62,96%. Faktor pengetahuan merupakan domain kognitif dan juga sikap ibu mempengaruhi untuk
terbentuknya perilaku, artinya ibu hamil dapat melakukan kunjungan karena ibu tahu tujuan dan keuntungan
kunjungan kehamilan.
Penelitian ini menggunakan studi korelasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah populasi ibu hamil
trimester III saat dilakukan penelitian pada bulan Juni-Juli tahun 2009 adalah 134 ibu hamil primigravida.
Penarikan sampel secara purposive sampling dengan besar sampel 34 responden. Instrumen penelitian ini
menggunakan kuesioner dan buku KIA ibu.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kunjungan
pemeriksaan kehamilan menggunakan uji Continuity Correction didapatkan hasil 0,034 sedangkan hubungan
antara sikap dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan menggunakan uji Chi Square didapatkan hasil 0,009.
Hal ini berarti ada hubungan yang signifikan antar tingkat pengetahuan dengan kunjungan pemeriksaan
kehamilan serta antara sikap dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan, sehingga disarankan kepada pertugas
kesehatan untuk lebih meningkatkan pelayanan dan pendidikan kesehatan terutama dalam menjaga kehamilan.
Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap dan Kunjungan pemeriksaan kehamilan sampai dengan K4
PENDAHULUAN
Masalah kesehatan ibu dan perinatal merupakan masalah nasional yang perlu
mendapat prioritas utama, karena sangat menentukan kualitas sumber daya manusia
pada generasi mendatang. Perhatian terhadap ibu dalam sebuah keluarga perlu
mendapat perhatian khusus karena Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sampai saat
ini masih merupakan yang tertinggi di negara-negara Association South East Asian
Nation (ASEAN). Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2007 angka kematian ibu mencapai 248 per 100.000 kelahiran hidup (Untoro dalam
1
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
Elisabeth, 2009). Faktor medis yang menjadi penyebab kematian langsung kematian ibu
adalah perdarahan (42%), eklamsi (13%), keguguran (11%), partus lama/macet (9%)
dan penyebab lain (15%) (Antara, 2008).
Upaya untuk mengatasi hal tersebut diatas yang dilakukan dalam mempercepat
penurunan AKI adalah mendekatkan pelayanan kebidanan setiap ibu yang
membutuhkannya. Kebijakan Departemen Kesehatan dalam upaya mempercepat
penurunan AKI adalah dengan pendekatan pelayanan ibu dan anak di tingkat dasar dan
rujukan yang pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “empat pilar safe
mother hood” dimana pilar kedua adalah asuhan antenatal yang bertujuan untuk
memantau perkembangan kehamilan dan mendeteksi kelainan atau komplikasi yang
menyertai kehamilan secara dini dan ditangani secara benar (Depkes RI, 2001).
Pemeriksaan kehamilan yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus
risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian ibu. Kematian ibu juga diwarnai oleh
hal-hal nonteknis yang masuk kategori penyebab mendasar, seperti rendahnya taraf
pengetahuan,
sikap
ibu
hamil,
tingkat
pendidikan
yang
masih
rendah,
ketidakberdayaan ibu hamil dalam mengambil keputusan serta melewati pentingnya
pemeriksaan kehamilan dengan melihat angka kunjungan pemeriksaan kehamilan
(K4) yang masih kurang dari standar acuan nasional (Prawirohardjo, 2002).
Standar pelayanan kebidanan pada pelayanan pemeriksaan kehamilan
minimal di kabupaten atau kota khususnya pelayanan kesehatan ibu dan anak dengan
target tahun 2010 : berupa cakupan kunjungan ibu hamil K1 dan K4. K1 yaitu
kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan. Cakupan Kl di bawah
70% (dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil dalam kurun waktu satu tahun)
menunjukkan keterjangkauan pelayanan antenatal yang rendah, yang mungkin
2
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
disebabkan oleh pola pelayanan yang belum cukup aktif. Rendahnya K1
menunjukkan bahwa akses petugas kepada ibu masih perlu ditingkatkan. Sedangkan
K4 : Kontak minimal 4 kali selama masa kehamilan untuk mendapatkan pelayanan
antenatal, yang terdiri atas minimal 1 kali kontak pada trimester pertama, satu kali
pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga. Cakupan K4 di bawah 60%
(dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil dalam kurun waktu satu tahun) menunjukkan
kualitas pelayanan antenatal yang belum memadai . (Departemen Kesehatan RI,2007)
Berdasarkan profil kesehatan Propinsi Jawa Tengah tahun 2007 didapatkan
pencapaian cakupan kunjungan ibu hamil K4 di Provinsi Jawa Tengah pada tahun
2007 sebesar 86,82% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2006
yang mencapai 88,78%, dan masih dibawah target pencapaian tahun 2010 yaitu 95%.
Sedangkan untuk Kabupaten Pati pencapaian cakupan K4 pada tahun 2008 sebesar
87,07 % dan mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2007 sebesar 88,67 dari
targetnya sebesar 91,68 %. Pada tahun 2008, dari 35 Puskesmas yang ada di
Kabupaten Pati, Puskesmas Pati II menempati peringkat terendah dengan pencapaian
K4 sebesar 62,96 % dan dibandingkan dengan tahun 2007 yang mencapai 87,70%.
Dengan demikian target untuk cakupan K4 di Puskesmas Pati II masih belum tercapai
(Dinkes Propinsi Jawa Tengah 2007 dan Subdin Kesga Dinkes Kabupaten Pati, 2008).
Berdasarkan survey awal sasaran ibu hamil pada tahun 2008, yang ada di
wilayah kerja Puskesmas Pati II jumlahnya sebanyak 642 ibu hamil. Sedangkan pada
bulan Mei tahun 2009 yang tercatat di puskesmas jumlahnya 581 ibu hamil. Jumlah
ibu hamil primigravida 182 ibu hamil dan multigravida 399 ibu hamil. Sedangkan
untuk jumlah ibu hamil primigravida trimester III sejumlah 134 ibu hamil.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa belum tercapainya target K4
dipengaruhi banyak faktor. Beberapa faktor yang mempengaruhi ibu untuk melakukan
3
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
kunjungan antenatal, antara lain faktor pendidikan, pengetahuan, sikap ibu, pekerjaan,
paritas, ekonomi, dan sebagainya. Dengan pendidikan dan pengetahuan yang tinggi
menggambarkan wawasan ibu akan mendukung ibu untuk mempertimbangkan hal-hal
positif dan cenderung untuk melakukan kunjungan. Tetapi ada hal lain disebabkan
karena pengetahuan ibu tentang pedoman dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),
khususnya pemahaman tentang informasi kunjungan pemeriksaan kehamilan masih
kurang, sehingga masih ditemukan ibu hamil yang belum melakukan kunjungan
pemeriksaan kehamilannya secara teratur. Dengan demikian pengetahuan akan
mempengaruhi sikap dan perilakunya (Depkes RI, 1999).
Berdasarkan uraian di atas peneliti bermaksud untuk meneliti tentang
hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu hamil primigravida dengan kunjungan
pemeriksaan kehamilan Sampai dengan K4.
METODE PENELITIAN
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti
(Notoatmodjo, 2002 ). Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil
primigravida TM III di wilayah kerja puskesmas Pati II Kabupaten Pati yaitu
sebanyak 134 ibu hamil primigravida TM III, sampel pada penelitian ini adalah 34
ibu hamil primigravida TM III. Pengambilan sampel dalam penelitian ini
menggunakan teknik purposive sampling.
4
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Analisa Univariat
a. Pengetahuan
Tabel 4.1 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Tentang Kunjungan
Pemeriksaan Kehamilan di Puskesmas Pati II Kabupaten Pati Tahun
2009 (n=34)
Pengetahuan
Frekuensi
Prosentase (%)
Baik
Cukup
Kurang
17
10
7
50,0
29,4
20,6
Jumlah
34
100
Sumber : Data Primer
Dari tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden
pada penelitian ini didapatkan sebanyak 17 responden (50%) berpengetahuan
baik, 10 responden (29,4%) dengan pengetahuan cukup dan sebanyak 7 responden
(20,6%) dengan pengetahuan kurang.
b. Sikap
Tabel 4.2 Distribusi sikap Responden di Puskesmas Pati II Kabupaten Pati tahun
2009 (n=34)
Sikap ibu
Frekuensi
Prosentase (%)
Positif
Negatif
20
14
58,8
41,2
Jumlah
34
100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebanyak 20 responden
(58,8%) mempunyai sikap kategori positif dan sebanyak 14 responden (41,2%)
5
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
yang mempunyai sikap kategori negatif terhadap kunjungan pemeriksaan
kehamilan.
c. Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan
Tabel 4.3 Distribusi Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan di Puskesmas Pati II
Kabupaten Pati Tahun 2009
Kunjungan Pemeriksaan
Kehamilan
≥ 4 kali kunjungan
< 4 kali kunjungan
Jumlah
Frekuensi
Prosentase (%)
21
13
34
61,8
38,2
100
Sumber : Data Sekunder
Lebih dari separuh responden yaitu 21 orang (61,8%) melakukan kunjungan
pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali kunjungan dan hanya 13 responden (38,2%) yang
melakukan kunjungan pemeriksaaan kehamilan < 4 kali kunjungan.
2. Analisis Bivariat
a. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Kunjungan Pemeriksaan
Kehamilan
Tabel 4.4 Tabel Silang Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Kunjungan Pemeriksaan
Kehamilan di Puskesmas Pati II Kabupaten Pati Tahun 2009
Pengetahuan
Kurang
Cukup
Baik
Jumlah
Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan
< 4 kali
(%)
≥ 4 kali
(%)
kunjungan
kunjungan
5
71,4
2
28,6
5
50,0
5
50,0
3
17,6
14
82,4
13
38,2
21
61,8
Jumlah
7
10
17
X²
Hitun
g
p
value
4,484
0,034
34
Berdasarkan hasil penelitian tentang Tingkat Pengetahuan Ibu dengan
Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan di Puskesmas Pati II Kabupaten Pati Tahun
6
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
2009 dapat disimpulkan bahwa dari 34 ibu hamil terdapat 17 ibu hamil
primigravida dengan pengetahuan baik. Dari jumlah tersebut ternyata yang
melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan yang ≥ 4 kali kunjungan sebanyak
14 orang (82,4 %) dan sisanya 3 orang (17,6 %) < 4 kali kunjungan. Sedangkan
jumlah ibu hamil dengan pengetahuan cukup sebanyak 10 orang, dari jumlah
tersebut ternyata yang melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali
kunjungan sebanyak 5 orang (50,0 %) dan yang melakukan kunjungan
pemeriksaan kehamilan < 4 kali kunjungan adalah 5 orang (50,0 %). Dan ibu yang
memiliki pengetahuan kurang sebanyak 7 orang, dimana dari jumlah tersebut yang
melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali kunjungan sebanyak 2
orang (28,6 %) dan yang melakukan kunjungan kehamilan < 4 kali kunjungan
sebanyak 5 orang (71,4 %).
Dalam penelitian ini, analisis bivariatnya menggunakan uji Chi Square.
Hasil uji chi square tidak dapat digunakan karena syarat uji chi square tidak
memenuhi syarat yaitu masih terdapat 3 cell (50.0%) yang nilai expeected
countnya kurang dari 5 (hasil terlampir). Maka langkah selanjutnya dilakukan
penggabungan antara kategori kurang dan cukup menjadi kategori kurang +
cukup, sehingga analisa bivariatnya menggunakan Continuity Correction karena
tabel 2x2 dan tidak ada nilai harapan kurang dari 5 (E<5) .
Tabel 4.5 Tabel Silang pengetahuan ibu hamil primigravida dengan Kunjungan
Pemeriksaan Kehamilan di Puskesmas Pati II kabupaten Pati Tahun
2009
Pengetahuan
Cukup+kurang
Baik
Jumlah
Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan
< 4 kali
(%)
≥ 4 kali
(%)
kunjungan
kunjungan
10
58,8
7
41,2
3
17,6
14
82,4
13
38,2
21
61,8
Jumlah
17
17
X²
Hitun
g
4,484
p
value
0,034
34
7
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
Berdasarkan tabel 4.4 setelah dilakukan penggabungan dapat disimpulkan
bahwa dari 34 ibu hamil terdapat 17 ibu hamil primigravida dengan pengetahuan
baik. Dari jumlah tersebut ternyata yang melakukan kunjungan pemeriksaan
kehamilan yang ≥ 4 kali kunjungan sebanyak 14 orang (82,4 %) dan sisanya 3
orang (17,6 %) < 4 kali kunjungan. Sedangkan jumlah ibu hamil dengan
pengetahuan cukup+kurang sebanyak 17 orang, dari jumlah tersebut ternyata yang
melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali kunjungan sebanyak 7
orang (41,2 %) dan yang melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan < 4 kali
kunjungan adalah 10 orang (58,8%). Hasil analisis setelah dilakukan
penggabungan dan Continuity Correction diperoleh hasil p value sebesar 0,034
pada 95% Confidebce interval, karena nilai p value lebih kecil dari 0,05 (0,034 <
0,05), sehingga Ho ditolak dan menerima Ha yang berbunyi “ada hubungan yang
signifikan antara pengetahuan ibu dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan”.
b. Hubungan antara sikap ibu hamil primigravida dengan Kunjungan Pemeriksaan
Kehamilan
Tabel 4.5 Tabel Silang sikap ibu hamil primigravida dengan Kunjungan
Pemeriksaan Kehamilan di Puskesmas Pati II kabupaten Pati Tahun
2009
Sikap
Negatif
B
Positif
e Jumlah
Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan
< 4 kali
(%)
≥ 4 kali
(%)
kunjungan
kunjungan
9
64,3
5
35,7
4
20,0
16
80,0
13
38,2
21
61,8
Jumlah
14
20
X²
Hitung
6,839
p
valu
e
0,00
9
34
berdasarkan tabel 4.5 dapat disimpulkan bahwa dari 34 ibu hamil terdapat 14 ibu
hamil primigravida dengan sikap negatif. Dari jumlah tersebut ternyata yang
melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan yang ≥ 4 kali kunjungan sebanyak
8
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
5 orang (35,7%) dan sisanya 9 orang (64,3%) < 4 kali kunjungan %). Dan tredapat
20 ibu hamil primigravida yang memiliki sikap yang positif tentang kunjungan
pemeriksaan kehamilan, dimana dari jumlah tersebut yang melakukan kunjungan
pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali kunjungan sebanyak 16 orang (80,0 %) dan yang
melakukan kunjungan kehamilan < 4 kali kunjungan sebanyak 4 orang (20,0 %).
Hasil analisis uji statistik X2 (Chi Square) dengan menggunakan
komputerisasi program SPSS yang perhitungannya dapat dilihat pada tabel 4.5
serta pada lampiran dapat diketahui bahwa nilai chi kuadrat hitung adalah 6,839
yang berarti lebih besar dari chi kuadrat tabel, dengan dk = 1 dan taraf kesalahan
5% (taraf kepercayaan 95%) yaitu 3,481 (X2 hitung > X2 tabel). Hal ini
menunjukkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini juga dapat dilihat dari p
value 0,009, nilai ini lebih kecil dari 0,05 hal ini mengandung makna bahwa
secara statistik ada hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan kunjungan
pemeriksaan kehamilan.
B. Pembahasan
1. Analisis Univariat
a. Pengetahuan
Data mengenai tingkat pengetahuan responden yang diperoleh dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa prosentase tertinggi terdapat pada responden
berpengetahuan baik yaitu sebesar 50,0%, prosentase tertinggi kedua adalah
pengetahuan cukup sebesar 29,4 % dan sebanyak 20,6 % pengetahuan kurang.
Dari hasil penelitian dapat dijelskan dari 34 responden, prosentase yang
sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik berkaitan dengan
kunjungan pemeriksaan kehamilan. Dikarenakan ibu mengalami kehamilan
9
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
pertama dan cenderung memperhatikan kehamilannya. Selain itu ibu juga sudah
mendapatkan informasi mengenai pemeriksaan kehamilan yang sebagian besar
dari petugas kesehatan, buku KIA milik ibu, kader, media elektronik maupun
media cetak. Tetapi ada pula ibu hamil primigravida dalam penelitian ini yang
pengetahuannya tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan kurang dikarenakan
oleh banyak faktor, misalnya tingkat pengetahuan mengenai kehamilannya,
informasi yang penting mengenai kehamilannya, tingkat sosial ekonomi atau
bahkan adat istiadat dan kepercayaan masyarakat di daerah setempat.
Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan
perilaku seseorang, karena pengetahuan dapat menimbulkan perubahan persepsi
dan kebiasaan masyarakat. Pengetahuan yang meningkat akan mengubah
kebiasaan masyarakat yang positif menjadi lebih positif.
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan
ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu.
Selain itu pengetahuan dalam diri seseorang terhadap sesuatu informasi terjadi
secara bertahap, yaitu dari sekedar tahu (know) kemudian berkembang menjadi
memahami (comprehension), dapat mengaplikasikan (applicative), menganalisa
(analysis) kemudian mensintesa (synthesis) dan kemudian sampai pada tahap
dapat mengevaluasi (evaluation).
Oleh karena itu, dalam penelitian ini dapat dilihat tingkat pengetahuan
responden telah mencapai tingkatan aplikasi (applicative), yaitu dimana reponden
dapat mengaplikasikan pengetahuan yang telah dipahami pada situasi atau kondisi
real dengan melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan.
10
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
b. Sikap
Sikap responden terhadap kunjungan pemeriksaan kehamilan dikategorikan
dalam dua hal yaitu positif dan negatif. Berdasarkan penelitian ini, diketahui
sebanyak 20 responden (58,2 %) mempunyai sikap yang cenderung positif dan
sebanyak 14 responden (41,8%) mempunyai sikap yang cenderung negatif
terhadap kunjungan pemeriksaan kehamilan.
Sikap yang positif terhadap kunjungan pemeriksaan kehamilan berarti
bahwa seorang ibu hamil memiliki respon atau reaksi yang mendukung terhadap
kunjungan pemeriksaan kehamilan, namun belum tentu dikatakan suatu tindakan.
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2003). Pendapat lain, sikap
adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman
yang memberikan pengaruh dinamik/terarah terhadap respon individu pada semua
obyek dan situasi yang berkaitan dengannya (Widayatun, 1999).
Berdasarkan yang terjadi dilahan, sikap ibu terhadap kunjungan pemeriksaan
kehamilan dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, adat istiadat dan kebiasaan
setempat. Hasil peneliltian menunjukkan sebagian ibu hamil mempunyai sikap
yang positif mengenai pemeriksaan kehamilan, tetapi untuk melakukan kunjungan
pemeriksaan kehamilan menemui banyak hambatan seperti jarak ke fasilitas
kesehatan cukup jauh, kurangnya dukungan dari keluarga terutama suami, tingkat
sosial ekonomi, adat istiadat dan sistem nilai masyarakat juga menghambat ibu
untuk periksa hamil. Sehingga kunjungan pemeriksaan kehamilan belum
terlaksana dengan baik sesuai standar yang ditetapkan oleh depkes yaitu minimal
4x kunjungan.
11
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
c. Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan
Dalam hal praktik kunjungan pemeriksaan kehamilan, responden yang
melaksanakan kunjungan pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali kunjungan sebanyak 21
responden (61,8%), dan hanya 13 responden (38,2%) yang melakukan
pemeriksaan kehamilan < 4 kali kunjungan.
Kunjungan pemeriksaan kehamilan adalah kontak antara ibu hamil dengan
petugas kesehatan yang memberi pelayanan untuk mendapatkan pemeriksaan
kehamilan. Kunjungan pemeriksaan kehamilan atau perilaku kesehatan tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo
(2003) terwujudnya suatu perbuatan nyata dilatar belakangi oleh tiga faktor pokok
yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor pendorong yang antara lain
adalah pengetahuan ibu, sikap, nilai budaya, kepercayaan diri dan karakteristik ibu
(paritas) agar ibu hamil melaksanakan kunjungan pemeriksaan kehamilan.
Namun bukan berarti ibu hamil yang melakukan kunjungan pemeriksaan
tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Depkes RI ≥ 4 kali kunjungan
adalah ibu hamil yang tidak sadar atau tahu akan pentingnya pemeriksaan
kehamilan, lebih sering ibu memeriksakan kehamilannya akan lebih bagus lagi
dimana ini berarti ibu dalam melakukan pemeriksaan kehamilan frekuensinya
tidak akan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pengamatan yang ada, ibu hamil yang berpengetahuan baik
cenderung rutin memeriksakan dirinya ke tenaga kesehatan, tetapi tidak
memungkinkan ibu hamil berpengetahuan baik juga ada yang tidak memeriksakan
dirinya dikarenakan beberapa alasan. Khususnya masyarakat desa masih
menganggap kesehatan pada saat kehamilan tidak begitu diperhatikan. Untuk
12
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
memeriksakan dirinya menunggu kehamilannya sudah besar dan bila mengalami
masalah atau keluhan kehamilannya.
Namun pada dasarnya kunjungan pemeriksaan yang tidak sesuai dengan
standar Depkes RI bukanlah merupakan suatu masalah, karena standar yang
dibuat adalah standar minimal kunjungan pemeriksaan kehamilan, bukan standar
baku yang harus wajib dilaksanakan dengan sesuai. Karena semakin sering ibu
memeriksakan kehamilannya maka akan lebih cepat diketahui apabila terjadi
resiko kelainan pada kehamilan.
2. Analisis Bivariat
a. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan
Dalam penelitian ini, hasil uji Chi-Square antara variabel tingkat
pengetahuan responden dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan tidak dapat
digunakan karena tidak memenuhi syarat, sehingga uji yang dilakukan
menggunakan Continuity Correction didapatkan hasil p<0,05 atau dengan kata
lain ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Salah satu hal yang sangat
mempengaruhi seseorang dalam melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan
adalah pengetahuan seseorang tersebut tentang pemeriksaan kehamilan. Sehingga
semakin tinggi pengetahuan tentang pemeriksaan kehamilan maka semakin tinggi
kecenderungan orang untuk melakukan pemeriksaan kehamilan.
Disebutkan pula dalam penelitian De Weerdt dalam Istiarti (2000)
menyatakan ada pengaruh kuat dari tingkat pengetahuan terhadap kunjungan
pemeriksaan kehamilan. Bila dihubungkan pada perilaku, keikutsertaan ibu hamil
dalam program pelayanan antenatal, maka proses seseorang untuk ikut dalam
pelayanan antenatal yaitu orang harus tahu pengertian pelayanan antenatal dan
kegunaannya bagi kesehatan ibu hamil, setelah orang tahu selanjutnya ada
13
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
pemikiran positif maupun negative. Pengetahuan tentang segi positif dari
pelayanan antenatal tersebut akan menentukan sikap orang terhadap pelayanan
antenatal.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya
tindakan (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan yang dimaksud perilaku (behavior)
adalah kecenderungan untuk bertindak secara nyata (Ahmadi, 2002), seperti
praktik yang dilakukan ibu hamil untuk melakukan kunjungan pemeriksaan
kehamilannya dalam penelitian ini juga termasuk kedalam perilaku, lebih tepatnya
adalah perilaku kesehatan.
Faktor pengetahuan sangat berpengaruh terhadap kunjungan pemeriksaan
kehamilan
dikarenakan
pengatahuan
merupakan
domain
kognitif
untuk
terbentuknya perilaku, artinya ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan kehamilan
karena ibu tahu tujuan dan keuntungan pemeriksaan kehamilan akan berpersepsi
bahwa pemeriksaan kehamilan tidak ada gunanya dan akhirnya ibu tidak
memeriksakan diri selama kehamilannya.
Dari teori-teori tersebut jelas terlihat bahwa pengetahuan tentang
pemeriksaan kehamilan berpengaruh terhadap kunjungan pemeriksaan kehamilan,
walaupun banyak factor-faktor lain yang berpengaruh.
b. Hubungan sikap dengan Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan
Dalam penelitian ini, hasil uji Chi-Square antara variabel sikap responden
dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan didapatkan hasil p<0,05 dengan hasil
p value 0,009 atau dengan kata lain ada hubungan antara sikap dengan kunjungan
pemeriksaan kehamilan. Berdasarkan penelitian dilahan walaupun banyak ibu
14
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
hamil yang bersikap positif mengenai kunjungan pemeriksaan ibu hamil, tetapi
masih
banyak
ditemukan
ibu
hamil
primigravida
tidak
memeriksakan
kehamilannya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh
Avianti (2005) dan Nutriasworo (2000) bahwa ada hubungan antara sikap ibu
hamil dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan. Sikap yang baik mendorong
seseorang untuk dapat memeriksakan dirinya selama kehamilannya yang
bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan janinnya. Sedangkan sikap yang
kurang baik terhadap kesehatan akan membawa seseorang untuk melakukan
tindakan yang tidak tepat dalam memilih pelayanan kesehatan. (Avianti, 2005 dan
Nutriasworo, 2000)
Hasil penelitian ini dapat menunjukkan bahwa dengan didasari sikap yang
baik ibu hamil akan berpengaruh terhadap kunjungan pemeriksaan kehamilan dan
yang pada akhirnya adalah bertujuan untuk memelihara kondisi hamil yang sehat
dan melahirkan dengan selamat.
SIMPULAN
1. Tingkat pengetahuan pada responden di Puskesmas Pati II Kabupaten Pati tahun 2009
berbeda-beda dan sebagian besar berpengetahuan baik yaitu sebanyak 17 responden
(50,0%). Hal ini dapat diketahui karena ibu mengalami kehamilan pertama
(primigravida) dan cenderung untuk menjaga kehamilannya. Selain itu juga ibu hamil
sudah mendapatkan informasi mengenai pemeriksaan kehamilan yang sebagian besar
dari petugas kesehatan, buku KIA milik ibu, kader, media elektronik/ media cetak.
2. Dari 34 responden di Puskesmas Pati II sebagian besar mempunyai sikap yang
cenderung positif yaitu sebanyak 20 responden (58,2%). Perilaku yang positif ini
disebabkan karena adanya stimulus dari luar yaitu sebagian ibu tahu tujuan dan
keuntungan dari kunjungan pemeriksaan kehamilan.
15
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
3. Kunjungan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Pati II Kabupaten Pati dari 34
responden sebagian besar sudah sesuai dengan standar dari Depkes RI (≥ 4 kali
kunjungan) yaitu 21 responden (61,8%), sedangkan yang tidak sesuai standar ( < 4
kali kunjungan) sebanyak 13 responden (38,2%). Dan faktor-faktor yang menghambat
ibu untuk melakukan kunjungan kehamilan antara lain misalnya tingkat pengetahuan
yang mendalam mengenai kehamilannya, informasi yang penting mengenai
kehamilannya, tingkat sosial ekonomi atau bahkan adat istiadat dan kepercayaan
masyarakat di daerah setempat.
4. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan kunjungan
pemeriksaan kehamilan, dimana didapatkan p value lebih kecil 0,05 (0,034 < 0,05).
5. Terdapat hubungan antara sikap dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan,
ditunjukkan dengan nilai p value lebih kecil dari pada 0,05 (0,009 <0,05).
KEPUSTAKAAN
Antara,
ABD.
(2008).
Tingginya
Jumlah
Kematian
Ibu/Anak
Indonesia.
http.www.kompas.com/kesehatan/read/xml/2009. (Diakses pada tanggal 6 Juni
2009)
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
. (2007). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
Avianti, 2005. Analisis Minat ibu hamil ANC poliklinik kebidanan terhadap penggunaan
pelayanan persalian di RS Romani tahun 2004. Tesis MMIK Undip
Azrul , A. (2004). Upaya Menyelamatkan Hidup Ibu. http//www.depkes.go.id. diakses
tanggal 16 April 2009
Azwar, S. (2005). Sikap Manusia Dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Budiarto. (2002). Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Agung
Ceto.
. (2004). Metodologi Penelitian Kedokteran: Sebuah Pengantar. Jakarta: EGC.
Danim, S. (2003). Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Depkes RI.1998. Pedoman Pelayanan Kebidanan Dasar.Jakarta
16
Dinamika Kebidanan
vol. 3 no.1 Januari 2013
. 2002. Standar Acuan Pemeriksaan Kehamilan. Jakarta
Dinas Kesehatan Kabupaten Pati. 2008. Profil Kesehatan Kabupaten Pati Tahun 2008.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah .2007. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2007.
Elisabeth, S. 2009. KB Turunkan Angka Kematian Ibu. Available at
http://www.sinarhrapan.co.id/berita/0805/24/kesra 01.html (diakses 20 Maret 2009).
:
Hastono, SP. (2001). Analisa Data. Jakarta: FKMUI.
Hasan, I. 2002. Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta : Ghalia indonesia
Hidayat, A.A.A. (2007). Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data. Jakarta:
Salemba Medika.
Istiarti, T. (2000). Menanti Buah Hati Kaitan Antara Kemiskinan dan Kesehatan. Yogyakarta:
Pressindo.
Machfoed, I. (2005). Tehnik Membuat Alat Ukur Penelitian Bidang Kesehatan Keperawatan
dan Kebidanan. Yogyakarta:Fitramaya.
Manuaba. I. B. G. (2002). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan
Bidan. Jakarta: EGC.
Nazir. (2003). Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Notoatmodjo, S. (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
. (2007). Promosi kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: PT Rineka Cipta
Nutriasworo, 2003, Hubungan Karakteristik Ibu Hamil Dan Kualitas Pelayanan Dengan
Kunjungan Ulang Pelayanan Antenatal Di Wilayah Kerja Puskesmas Welahan
Kabupaten Jepara. Skripsi universitas diponegoro.
Prawirohardjo, S. (2002). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka BP-SP.
, S. (2002). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Poerwadarminto .(2003). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta
Sugiyono. (2005). Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata. (2003). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rusdakaria.
Widayatun, RT. (1999). Ilmu Pendidikan Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
17
Download