7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kelapa Kopyor 2.1.1 Biologi

advertisement
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kelapa Kopyor
2.1.1 Biologi Kelapa Kopyor
Kelapa kopyor merupakan kelapa dengan buah yang unik, yaitu memiliki
endosperma (daging buah) yang terlepas dari tempurungnya (Prasetyo &
Rachmat, 2003; Mashud, 2010). Warisno (1998) menyebutkan bahwa secara
morfologi, kelapa kopyor sulit dibedakan dengan kelapa normal, akan tetapi
dengan cara menggoyang - goyang buahnya, suara yang gemericik dari air kelapa
di dalam buah dapat digunakan untuk membedakan antara kedua jenis kelapa
tersebut. Kelapa kopyor dapat dibedakan dengan mudah setelah buah kelapa
dibelah (Gambar 2.1) (Mashud, 2010).
Salah satu penyebab lepasnya endosperma dari tempurung pada kelapa
kopyor diduga
karena adanya defisiensi enzim α-D-Galaktosidase (Sukendah,
2009). Enzim tersebut merupakan
salah satu enzim yang dibutuhkan dalam
proses pembentukan endosperma pada tanaman kelapa (Sukendah, 2009). Adanya
defisiensi enzim tersebut menyebabkan putusnya hubungan jaringan endosperma
dengan embryo sehingga secara alami endosperma tidak mampu mendukung
pertumbuhan embryo (Maskromo & Novarianto, 2007).
7
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
8
Gambar 2.1. Perbedaan endosperma buah kelapa yang dibelah (A) pada kelapa
normal dan (B) kelapa kopyor. (Mashud, 2010).
Menurut Maskromo & Novarianto (2007) kelapa kopyor muncul secara
alami dan bersifat diturunkan dengan gen resesif. Sifat kopyor akan muncul
apabila saat penyerbukan bunga betina atau bakal buah yang memiliki gen resesif
kopyor (k) bertemu dengan bunga jantan yang memiliki gen resesif (k) baik
dalam satu pohon maupun yang berbeda pohon. Dengan demikian peluang
terbentuknya buah kopyor dalam satu pohon atau tandan tergantung pada peluang
penyerbukan yang melibatkan sifat kopyor pada bunga jantan atau betina tanaman
kelapa tersebut. Pada kelapa tipe Dalam, persentase kelapa kopyor yang terbentuk
secara alami tidak lebih dari 20 %, sedangkan kelapa tipe Genjah dapat mencapai
40 % (Maskromo et al., 2007; Mashud, 2008). Hal ini disebabkan kelapa kopyor
tipe Dalam melakukan penyerbukan silang sedangkan pada tipe Genjah
melakukan penyerbukan sendiri sehingga peluang untuk bertemunya gen resesif
antara bunga jantan dan bunga betina lebih besar (Mashud & Manaroinsong,
2007).
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
9
2.1.2 Manfaat dan Nilai Ekonomi Kelapa Kopyor
Kelapa kopyor memiliki daging buah dengan tekstur buah yang lunak, cita
rasa yang khas dan gurih (Mahmud, 2009). Menurut Hutapea et al. (2007), kelapa
kopyor biasa dipasarkan dalam bentuk buah segar maupun siap saji seperti es
kopyor dan es campur. Selain itu, kelapa kopyor juga dapat diolah terlebih dahulu
untuk menghasilkan produk dengan nilai ekonomis lebih tinggi seperti es cream
kopyor, selai kopyor ataupun permen kopyor. Di samping itu endosperma kelapa
kopyor memiliki nilai gizi lebih tinggi jika dibandingkan dengan endosperma
kelapa normal (Sukendah, 2009).
Permintaan kelapa kopyor dilaporkan sangat tinggi terutama pada waktu –
waktu tertentu seperti saat bulan puasa dan menjelang lebaran. Akibat permintaan
yang meningkat maka harga buah kopyor dapat meningkat hingga dua sampai
tiga kali lipat dari harga biasa (Mahmud, 2009). Walaupun sampai saat ini belum
pernah dilakukan survei untuk mengetahui secara pasti keseluruhan kebutuhan
kelapa kopyor, tetapi survei pada beberapa daerah sentra kelapa kopyor seperti
Lampung dan Sumenep menunjukan bahwa kebutuhan kelapa kopyor di
Indonesia terutama kota besar di Jawa seperti Jakarta sangat tinggi sedangkan
kelapa kopyor yang dihasilkan jumlahnya terbatas (Maskromo et al., 2007).
2.1.3 Budidaya Kelapa Kopyor
Buah kopyor tidak dapat berkecambah secara alami karena endospermanya
tidak mampu menyokong pertumbuhan embryo (Prasetyo & Rachmat, 2003).
Akibatnya pembibitan kelapa kopyor dilakukan dengan cara menyemaikan buah
kelapa normal yang diperoleh dari pohon dengan tandan yang menghasilkan buah
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
10
kopyor. Pembibitan dengan cara tersebut kurang efektif untuk dilakukan karena
tidak semua pohon yang dipelihara akan menghasilkan buah kopyor. Kelapa
kopyor tipe Dalam yang diperoleh melalui pembibitan secara alami tersebut hanya
akan menghasilkan buah kopyor sekitar 3 - 25 % (Maskomo et al., 2007),
sedangkan pada tipe Genjah dapat mencapai 30 – 50 % (Mashud, 2008).
Salah satu teknik untuk mengatasi permasalah tersebut adalah dengan
menggunakan teknik kultur embryo. Tanaman kelapa kopyor hasil kultur embryo
berpotensi sangat besar dalam menghasilkan buah kopyor yaitu mencapai 90 –
100% (Hutapea et al., 2007).
2.2 Kultur Embrio Kelapa Kopyor
Kultur embryo adalah teknik untuk menumbuhkan embryo zigotik pada
kondisi aseptis dalam medium tertentu sehingga diperoleh bibit tanaman
(Raghavan, 2003). Kultur embryo biasa dilakukan untuk menyediakan bibit suatu
tanaman dengan alasan tertentu, seperti penyelamatan spesies tanaman budidaya
hasil persilangan yang tidak dapat bertahan hidup apabila ditumbuhkan secara
alami
(Burun
&
Poyrazoglu,
2002)
maupun
dapat
digunakan
untuk
menyelamatkan dan menumbuhkan embryo yang memiliki kebutuhan khusus
(Raghavan, 2003).
Pada tanaman kelapa, teknik kultur embryo telah banyak dilakukan dengan
berbagai macam tujuan antara lain untuk koleksi dan pengiriman plasma nutfah
kelapa (Mashud, 2008), penyelamatan plasma nutfah serta perbaikan bibit
tanaman kelapa (Mashud & Manaroinsong, 2007). Khusus pada kelapa unggul
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
11
seperti kelapa kopyor dan kelapa kenari, kultur embryo digunakan untuk
menghasilkan bibit unggul yang mampu menghasilkan buah unggul dengan
persentase yang lebih tinggi (Mashud, 2008).
Aplikasi kultur embrio untuk menghasilkan bibit kelapa telah banyak
dilakukan di beberapa negara seperti Sri Lanka, Filipina, India dan Indonesia.
Tingkat keberhasilan kultur embryo di setiap negara bervariasi, seperti di Sri
Lanka dan Filipina sangat tinggi (94 -98 %; Weerakoon, 2002; Rillo et al., 2002).
Namun di Indonesia dan India memiliki keberhasilan yang lebih rendah (61 – 67
%; Karun et al., 2002; Mashud, 2002).
Pelaksanaan kultur embryo kelapa pada umumnya dilakukan melalui 4
tahap, yaitu (1) koleksi embryo dari lapang (2) persiapan media (3) teknik aseptik
(4) aklimatisasi (Mashud & Manaroinsong, 2007). Tahap koleksi embryo dari
lapang terdiri atas tahap pemanenan buah kelapa sebagai sumber embryo,
pengupasan dan pengambilan silinder endosperma, pemisahan embryo dari
endosperma (Gambar 2.2; Mashud et al., 2003).
Tahap persiapan media tanam untuk kultur embryo, media tanam yang
umum digunakan terdiri atas unsur hara makro, mikro, vitamin, zat pengatur
tumbuh, arang aktif dan sukrosa sebagai sumber energi (Mashud, 2010). Beberapa
medium tanam yang banyak digunakan untuk menumbuhkan embryo kelapa
secara in vitro meliputi medium CPCRI (Central Plantation Crops Research
Institute; Damasco, 2002; Karun et al., 2002; Mashud, 2002; Rillo et al., 2002),
medium UPLB (University of Phillipine Los Banos; Karun et al., 2002; Mashud,
2002; Rillo, 2002; Weerakon et al., 2002). medium PCA (Phillipine Coconut
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
12
Authority; Rillo et al., 2002), serta medium HEC (Hybrid Embryo Culture ;
Rillo, 2004).
Gambar 2.2. Pengupasan buah kelapa (A) dilanjutkan dengan pengambilan
silinder endosperma (B) kemudian embryo di isolasi dari silinder
endosperma (C) (Mashud et al., 2004).
Tahap selanjutnya merupakan tahap yang paling penting dalam kultur
jaringan yaitu tahap teknik aseptik. Teknik aseptik terdiri dari persiapan embryo
steril dan pemeliharaan embryo secara in vitro (Mashud et al., 2003). Pada
tahapan ini umumnya eksplan disterilkan dengan menggunakan larutan aseptik
seperti larutan hipoklorit (Weerakon et al., 2002). Embryo yang telah disterilkan
kemudian ditanam pada media tanam (Mashud, 2008) dan dipelihara pada
temperatur 28 - 30 ºC dalam kondisi terang dengan periode 14 jam cahaya, 10 jam
tanpa cahaya (Adkins, 2008).
Tahap aseptik selanjutnya adalah tahap induksi akar. Pada kelapa biasa,
keberhasilan induksi akar bervariasi antara 26 - 70 % tergantung media yang
digunakan (Karun et al., 2002). Namun, pada kelapa kopyor tingkat keberhasilan
induksi akar masih sangat rendah.
Prasetyo & Rachmat (2003) melaporkan
bahwa induksi akar dengan menggunakan medium dasar Murashige dan Skoog
(MS, 1962) hanya mampu menginduksi akar sekitar 11 %, sedangkan Sukendah et
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
13
al., (2008) melaporkan tingkat keberhasilan induksi akar yang lebih tinggi (45 %).
Tingkat keberhasilan induksi akar yang lebih tinggi, yaitu 100 % telah dilaporkan
oleh Risnani (2012).
Tahap terakhir dalam penyediaan bibit kelapa adalah tahap aklimatisasi.
Aklimatisasi adalah tahap penyesuaian bibit dari kondisi kultur (in vitro) ke
kondisi lingkungan luar (ex vitro) di screen house atau lapang yang mengharuskan
bibit tumbuh secara autotrofik (Mashud et al., 2004). Pada kelapa kopyor, tingkat
keberhasilan pada tahap ini masih rendah yaitu kurang dari 20 % (Sukendah,
2005; Mashud, 2010). Hal ini disebabkan karena bibit mengalami shock dan tidak
mampu beradaptasi dengan lingkungan luar (Mashud et al., 2004). Hal inilah
yang menjadi penyebab belum banyak dikembangkannya budidaya kelapa kopyor
dengan persentase buah kopyor tinggi melalui teknik kultur embryo.
2.3. Aklimatisasi dan Permasalahannya
Aklimatisasi merupakan tahapan yang sangat penting untuk memindahkan
planlet hasil kultur in vitro yang tumbuh secara fotomikotrofik ke lingkungan ex
vitro di screen house atau lapang yang mengharuskan bibit tumbuh secara
autotrofik (Mashud et al., 2004; Wardani et al., 2008; Handayani, 2011).
Aklimatisasi dibutuhkan waktu selama beberapa minggu atau beberapa bulan
untuk menyesuaikan tanaman secara perlahan dengan lingkungannya.
Banyak tanaman hasil kultur in vitro berhasil diaklimatisasi dengan mudah
seperti pada tanaman Aronia arbutifolia L. (Colun-Guasp et al., 1996), kacang
tanah (Sinaga, 1998), sambung nyawa (Kristina et al., 2005), krisan (Muhit,
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
14
2007), Rauvolfia serventina L. (Baksha, 2007), anggrek (Wardani et al., 2008),
Vitis vinifera (Gago et al., 2009), anyelir (Rohayati & Marlina, 2009), Eucalyptus
globulus L. (Pinto et al., 2010), Stevia rebaudiana (Verna, 2011), dan Bambusa
tulda. Roxb (Mishra et al., 2011). Namun pada tanaman yang lain seperti kelapa
sawit (Meiriani, 2002), anthurium (Marlina, 2004; Gantaif & Madal, 2010), dan
Dendrobium lituiflorum (Vyas et al., 2011) tahap aklimatiasi sulit untuk
dilakukan.
Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab gagalnya proses aklimatiasi
tanaman hasil kultur jaringan di antaranya adalah perbedaan lingkungan tanaman
yang sangat kontras antara lingkungan in vitro dengan lingkungan ex vitro.
Perbedaan lingkungan tersebut seperti kelembapan udara di dalam botol yang
sangat tinggi (di atas 95 %) dengan intensitas cahaya yang rendah serta
ketersediaan gas CO2 yang sangat terbatas, sedangkan di lingkungan ex vitro
memiliki kelembapan udara yang relatif lebih rendah (sekitar 60 - 80 %) dengan
intensitas cahaya dan kadar gas CO2 yang relatif tinggi (Pospisilova et al., 1999;
Pospisilova et al, 2007). Hal inilah yang menjadi penyebab tanaman mengalami
shock dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan luar (Mashud et al.,
2004).
2.3.1 Kadar Air
Air berperan penting untuk keberlangsungan hidup semua makhluk hidup
termasuk tumbuhan, karena air merupakan penyusun sel yang kadarnya bervariasi
kisaran antara 60 – 85 % tergantung pada jenis jaringan selnya (Salisbury & Ross,
2005). Air memiliki peran sebagai sistem pelarut di dalam sel, mempertahankan
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
15
tekanan turgor serta berperan penting dalam pengangkutan unsur hara dan mineral
dari akar menuju ke daun (Hsiao, 1973). Akibatnya, air mutlak dibutuhkan
tumbuhan dan harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup. Oleh karena itu air
sering menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman
(Taiz & Zaiger, 2002).
Kehilangan air dapat menyebabkan terganggunya proses pertumbuhan dan
perkembangan tanaman dengan efek lebih jauh dapat menyebabkan kematian bagi
tanaman (Mark et al., 1995). Pada bibit tanaman yang baru dipindahkan dari
kondisi lingkungan in vitro ke lingkuangan ex vitro sering kali mengalami
kelayuan pada daun sebagai akibat dari hilangnya air dari sel daun ke lingkungan
ex vitro.
Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab hilangnya kadar air pada
daun sewaktu terjadi proses aklimatisasi di antaranya adalah lapisan epikutikular
lilin. Menurut Esau (1977) epikutikular lilin merupakan senyawa lipid yang
terdapat di luar permukaan epidermis, bersifat kedap air dan berfungsi sebagai
pengatur kadar air di dalam sel-sel yang berada di bawahnya Secara anatomis
semakin tebal lapisan epikutikular lilin pada daun maka tanaman tersebut akan
relatif lebih tahan terhadap kekeringan dibandingkan dengan tanaman yang
memiliki lapisan epikutikular lilin tipis.
Menurut Imaningsih (2006), ketebalan lapisan epikutikular lilin merupakan
salah satu cara tumbuhan untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Lapisan
epikutikular lilin merupakan lapisan pelindung pada tumbuhan yang berada di atas
lapisan epidermis daun yang
memiliki fungsi sebagai pelindung daun dari
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
16
penguapan. Tanpa adanya lapisan pelindung tersebut, maka hilangnya uap air
melalui permukaan daun akan berlangsung sangat cepat sehingga tumbuhan akan
layu dan mati (Salisbury & Ross, 2005). Epikutikular lilin juga merupakan
lapisan pertahanan pertama bagi tumbuhan untuk menghadapi kondisi lingkungan
ekternal seperti perlindungan terhadap radiasi sinar matahari maupun serangan
patogen (Mark et al., 1995; Matthew, 1995).
Menurut Gilly et al., (1997) dan Seelye et al., (2003), bibit tanaman yang
dihasilkan dari teknik perbanyakan secara in vitro memiliki lapisan epikutikular
lilin yang lebih tipis dibandingkan dengan bibit yang dihasilkan melalui teknik
konvensional. Akibatnya bibit yang dihasilkan dari perbanyakan secara in vitro
akan kehilangan air secara cepat pada waktu dipelihara di lingkungan ex vitro.
Maka banyak tanaman yang dihasilkan dari teknik in vitro akan mati sewaktu
dilakukan aklimatisasi.
Faktor lain yang diduga berpengaruh terhadap hilangnya kadar air pada selsel daun selama terjadinya proses aklimatisasi adalah struktur stomata. Stomata
berfungsi sebagai tempat berlangsungnya pertukaran gas (CO2, O2) dan tempat
keluarnya uap air (transpirasi) antara jaringan tumbuhan dengan lingkungannya
(Cha-um et al., 2010 ). Menurut Pospisilova et al., (1999) bibit tanaman yang
dihasilkan dari teknik perbanyakan secara in vitro pada umumnya memiliki
stomata yang lebih banyak terbuka dibandingkan dengan bibit yang dihasilkan
melalui teknik konvensional (Gambar 2.3). Akibatnya bibit yang dihasilkan dari
perbanyakan secara in vitro akan mengalami penguapan dengan cepat sewaktu
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
17
dilakukan aklimatisasi. Akibatnya banyak tanaman yang mati pada tahapan
tersebut.
Gambar 2.3 Perbandingan stomata bibit in vitro dengan bibit normal
(Pospisilova et al.,1999).
2.3.2 Faktor Fotosintesis
Fotosintesis adalah suatu proses pengubahan zat – zat anorganik H2O dan
CO2 oleh kloroplas diubah menjadi zat organik karbohidrat (C6 H12 O6) dengan
bantuan energi cahaya (Gambar 2.4. Taiz & Zaiger, 2002). Fotosintesis
merupakan aktivitas kompleks, dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor
eksternal. Faktor internal meliputi kondisi jaringan dan organ fotosintetik,
kandungan klorofil, umur jaringan daun, aktivitas fisiologi seperti transpirasi,
respirasi dan adaptasi fisiologis. Faktor eksternal seperti suhu, kelembaban,
kecepatan angin, hujan, cahaya, konsentrasi CO2, air (H2O) dan penyebab
timbulnya stress seperti ketersediaan air, ada polutan biosida dan zat-zat beracun
lain (Taiz & Zaiger, 2002; Suyitno, 2006; Cha-um et al., 2010).
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
18
Gambar 2.4 Rumus Reaksi Fotosintesis (Taiz & Zaiger, 2002).
Selama proses aklimatisasi, bibit yang dihasilkan dari perbanyakan secara in
vitro memiliki laju fotosintesis yang lebih rendah dibandingkan dengan bibit yang
dihasilkan melalui teknik konvensional (Minocha et al., 2009). Akibatnya selama
proses tersebut bibit in vitro memiliki laju pertumbuhan yang lebih rendah
(Wellburn, 1994).
Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab rendahnya laju fotosintesis
pada tanaman in vitro di antaranya adalah ketebalan daun tanaman. Daun
memiliki dua permukaan yaitu permukaan yang menghadap ke atas (adaxial) dan
permukaan yang menghadap ke bawah (abaxial). Secara umum, kelapa
merupakan tanaman monokotil yang memiliki susunan daun dari atas ke bawah
secara berurutan adalah epidermis atas, jaringan mesofil dan epidermis bawah
(Gambar 2.5. Santana et al., 2010; Noblick, 2013). Pada umumnya epidermis
atas dilindungi oleh lapisan epikutikular lilin guna memperkecil terjadinya
penguapan (Santana et al., 2010). Jaringan mesofil umumnya tersusun atas
jaringan tiang (palisade), jarignan bunga karang (spons) maupun ikatan pembuluh
(Noblick, 2013, Moya et al., 2013). Pada jaringan mesofil inilah banyak
ditemukan kloroplas yang mengandung klorofil sehingga bagian tersebut
berwarna hijau.
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
19
Mesofil Abnormal
Gambar 2.5 Perbandingan penampang melintang daun kelapa in vitro (A dan B)
dengan bibit kelapa yang dipelihara secara ex vitro (C dan D). T
(tebal daun); KT (kutikula); Ep. A (epidermis atas); MS (jaringan
mesofil, MS. Kl (jaringan mesofil dengan kloroflas); Ep. B
(epidermis bawah) (Santana et al., 2010; Noblick, 2013).
Pada tanaman yang dipelihara secara in vitro jaringan mesofil banyak
mengalami keabnormalan dibandingkan dengan tanaman yang dipelihara secara
ex vitro (Gambar 2.5. Santana et al., 2010). Keabnormalan jaringan mesofil pada
tanaman in vitro nampak dengan bentuk jaringan palisade yang kurang beraturan
dan berukuran sangat panjang dengan kandungan kloroplas yang lebih sedikit. Hal
ini berbeda dengan tanaman ex vitro yang memiliki bentuk jaringan palisade yang
kompak dengan ukuran lebih pendek dan mengandung banyak kloroplas (Santana
et al., 2010). Akibat sedikitnya jaringan yang mengandung kloroplas pada
tanaman in vitro tersebut akan menyebabkan rendahnya laju fotosintesis sehingga
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
20
menyebabkan pertumbuhan tanaman lambat (Willburn, 1999; Minocha et a.,
2009).
Faktor lain yang diduga mempengaruhi proses fotosintesis adalah kadar
klorofil. Klorofil merupakan pigmen penyerap cahaya pada proses fotosintesis
yang terdapat pada tumbuhan, alga dan bakteri fotosintetik. Senyawa ini yang
berperan dalam proses fotosintesis tumbuhan dengan menyerap dan mengubah
energi cahaya matahari menjadi energi kimia (Taiz & Zaiger, 2002). Pada
tumbuhan tingkat tinggi terdapat dua macam
jenis klorofil yaitu klorofil a
(C55H72O5N4Mg) yang berwarna hijau tua dan klorofil b (C55H70O6N4Mg) yang
berwarna hijau muda, keduanya dibedakan oleh gugus methyl (CH3) pada klorofil
a dan gugus aldehid (CHO) pada klorofil b (Gambar 2.6).
Gambar 2.6. Rumus bangun klorofil a dan klorofil b (Taiz & Zaiger, 2002).
Pada umumnya tanaman yang dipelihara secara in vitro memiliki kadar
klorofil a dan kadar klorofil b serta klorofil total yang lebih rendah dibandingkan
dengan tanaman yang dipelihara secara ex vitro (Pospisilova et al., 1998;
Pospisilova et al., 1999; Pospisilova et al., 2007). Akibatnya kecepatan
fotosintesis pada tanaman yang dipelihara secara in vitro jauh lebih rendah
dibandingkan dengan tanaman ex vitro (Pospisilova et al., 1999). Selama proses
aklimatisasi, kadar klorofil a, kadar klorofil b, klorofil total maupun kecepatan
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
21
fotosintesis akan meningkat dengan bertambahnya waktu (Pospisilova et al.,
1999; Minocha et al, 2009).
2.4 Upaya Perbaikan Teknik Aklimatisasi Kelapa Kopyor
Pada kelapa kopyor, tingkat keberhasilan pada tahap aklimatisasi
masih
rendah (Mashud & Manaroinsong, 2007; Sukendah et al., 2008). Teknik yang
digunakan untuk aklimatisasi pada penelitian-penelitian tersebut adalah dengan
menggunakan
teknik
konvensional
yaitu
tanaman
disungkup
dengan
menggunakan plastik guna menjaga kelembaban. Hasil yang diperoleh dengan
teknik tersebut masih sangat rendah, yaitu kurang dari 20 % (Mashud &
Manaroinsong, 2007; Sukendah et al., 2008). Hal ini disebabkan karena bibit
mengalami shock dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan luar (Mashud
et al., 2004).
Teknik penelitian yang lebih baik dilaporkan oleh Risnani (2012) dengan
menggunakan kotak aklimatisasi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan
keberhasilan yang lebih tinggi, yaitu di atas 90 %. Namun demikian, pada
penelitian tersebut belum dilakukan penelitian lebih lanjut tentang perubahan
anatomi dan fisiologi bibit kelapa kopyor yang berhasil diaklimatisasikan dan
dipelihara di lingkungan luar. Oleh karena itu pada skripsi ini akan dilaporkan
hasil analisis anatomi dan morfologi daun bibit yang dipelihara secara in vitro
dibandingkan dengan bibit selama aklimatisasi maupun yang telah dipelihara di
lingkungan ex vitro selama sekitar 2 tahun.
Perbandingan Anatomi dan Fisiologi..., M. Efendi, FKIP UMP, 2014
Download