I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

advertisement
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat ditunjang oleh indikator
tabungan dan investasi domestik yang digunakan untuk menentukan tingkat
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negara tersebut. Pembangunan secara
umum difokuskan pada pembangunan ekonomi melalui usaha peningkatan
pertumbuhan ekonomi yang berkaitan erat dengan peningkatan pendapatan
nasional baik secara keseluruhan maupun per kapita sehingga masalah-masalah
seperti
pengangguran,
kemiskinan,
serta
adanya
ketimpangan
distribusi
pendapatan diharapkan dapat terpecahkan melalui trickle down effect (Todaro dan
Smith, 2006).
Pembangunan ekonomi merupakan tahapan proses yang mutlak dilakukan
oleh pemerintahan suatu negara agar dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh
masyarakat negara tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka pembangunan
ekonomi dilakukan oleh semua negara, termasuk negara yang tergabung dalam
Association of South East Asian Nation (ASEAN).
Pada negara-negara ASEAN yang umumnya terdiri dari negara-negara
berkembang (developing country) termasuk di dalamnya mengandalkan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, membutuhkan dana yang cukup besar. Akan
tetapi pelaksanaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di sebagian besar
negara berkembang terhambat oleh keterbatasan modal. Keterbatasan modal
tersebut disebabkan oleh adanya kesenjangan tabungan dan investasi (savinginvestment gap) dan kesenjangan ekspor dan impor (export-import gap). Cara
untuk memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan oleh suatu negara untuk
meningkatkan pertumbuhannya dapat berasal dari dalam negeri maupun dari luar
negeri. Pembiayaan dari dalam negeri salah satunya adalah melalui tabungan
dalam negeri, sedangkan apabila tabungan dalam negeri atau pendapatan nasional
tidak mencukupi maka dapat memperoleh tambahan dari luar negeri berupa
pinjaman luar negeri maupun foreign direct investment.
2 Krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 yang kemudian menjadi
krisis multidimensi memiliki dampak yang dirasakan oleh beberapa negara di
kawasan Asia antara lain nilai tukar yang terdepresiasi sangat tajam, inflasi yang
tinggi, dan menurunnya kepercayaan investor untuk berinvestasi di Asia, akan
tetapi krisis yang berawal dari jatuhnya nilai tukar Baht di Thailand ini tidak
meluas ke bagian dunia yang lain. Setelah krisis di akhir tahun 1990-an tersebut,
ASEAN meningkatkan hubungan ekonomi eksternal dengan beberapa negara Asia
Timur, seperti China, Jepang dan Korea Selatan dan kemudian kerjasama ini
dinamakan ASEAN+3. Kerjasama ASEAN+3 mampu membentuk pasar yang
lebih besar dibandingkan ASEAN, sehingga menunjukkan perubahan ekonomi ke
arah yang lebih baik dan kondisi perekonomian yang stabil.
Pada tahun 2005 juga terjadi guncangan akibat melonjaknya harga minyak
dunia dan disusul pada pertengahan 2007 krisis perumahan (subprime mortage)
yang melanda Amerika Serikat dengan cepat berubah menjadi krisis keuangan
global yang meluas ke hampir seluruh belahan dunia dan berdampak pada
ketidakstabilan perekonomian di negara ASEAN 5+3. Hal tersebut dapat dilihat
dari rendahnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN 5+3 pasca krisis
seperti pada Gambar 1 berikut ini :
15
Pertumbuhan Ekonomi (%) Indonesia
10
Malaysia
Filipina
5
Thailand
0
Singapura
1995
1997
1999
2001
2003
2005
2007
‐5
‐10
2009
Korea Selatan
China
Tahun Jepang
Sumber: World Development Indicator, 2011 (diolah)
Gambar 1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Negara ASEAN 5+3
Tahun 1995-2010 (Persen)
3 Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat pada seluruh negara ASEAN 5+3
terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi pasca terjadi krisis yaitu pada tahun
1997, tahun 2005 maupun pada tahun 2008. Ketiga krisis yang terjadi ini telah
memberikan dampak kerusakan yang besar bagi negara-negara Asia, salah
satunya adalah kesenjangan tabungan dan investasi domestik. Kondisi pergerakan
kesenjangan tabungan dan investasi domestik dapat dilihat pada Gambar 2.
Kesenjangan Tabungan dan I nvestasi
Domestik (persen GDP)
35
30
25
20
15
10
5
0
-5 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010
Indonesia
Malaysia
Singapura
Thailand
Filipina
Korea Selatan
Jepang
China
-10
-15
Sumber: Asian Development Bank, 2011 (Diolah)
Gambar 2. Perkembangan Kesenjangan Tabungan dan Investasi Domestik
Kawasan Negara ASEAN 5+3 Tahun 1996-2010 (Persen GDP)
Dari Gambar 2 dapat diamati bahwa pergerakan kesenjangan tabungan dan
investasi domestik di kawasan ASEAN 5+3 cenderung bernilai positif dan
berfluktuasi. Kesenjangan positif dialami oleh negara ASEAN 5+3, kecuali
negara Filipina. Hal tersebut menandakan bahwa terdapat tingkat tabungan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pembentukan modal di masing-masing
negara, kecuali Filipina. Ini juga berarti bahwa selama periode tersebut, terdapat
potensi investasi yang belum termanfaatkan di negara ASEAN 5+3. Sedangkan
fluktuasi yang terjadi merupakan akibat dari adanya krisis ekonomi, dimana
kesenjangan menurun secara tajam ketika terjadi krisis ekonomi yaitu pada tahun
1997, tahun 2005 dan tahun 2008. Akan tetapi satu tahun pasca krisis tersebut
terjadi peningkatan kesenjangan dalam jumlah yang cukup besar seperti yang
terjadi pada tahun 1998, tahun 2006, dan tahun 2009.
4 Pengalaman ini membuat negara-negara Asia terutama ASEAN mulai
mempertimbangkan ide penguatan integrasi moneter demi mencapai stabilitas
keuangan regional. Peningkatan integrasi moneter antar negara di kawasan Asia
menjadi penting dengan harapan dapat mengurangi dampak negatif dan
menanggulangi krisis serupa di kemudian hari.
1.2
Perumusan Masalah
Salah satu masalah dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi yang
dihadapi negara-negara berkembang termasuk Indonesia adalah keterbatasan
modal dalam negeri. Hal ini tercermin pada angka kesenjangan tabungan investasi
“Saving-Investment Gap” (S-I gap) dan “Foreign Exchange Gap” (forex gap).
Saving - Investment gap menggambarkan kesenjangan antara tabungan dalam
negeri dengan dana investasi yang dibutuhkan, sedangkan Foreign Exchange Gap
menggambarkan kesenjangan antara kebutuhan devisa untuk membiayai impor
barang atau jasa dengan penerimaan devisa hasil ekspor barang atau jasa. Oleh
karena itu negara-negara berkembang membutuhkan pinjaman luar negeri untuk
menutup kekurangan kebutuhan pembiayaan investasi dan untuk membiayai
defisit transaksi berjalan (current account) neraca pembayaran dalam rangka
pembiayaan transaksi internasional sehingga posisi cadangan devisa tidak
terganggu (Sanuri, 2005).
Akan tetapi sebenarnya tantangan mendasar yang dihadapi oleh
perekonomian negara ASEAN 5+3 dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan adalah pemenuhan kebutuhan investasi yang makin meningkat baik
dalam jangka pendek maupun jangka menengah. Oleh karena itu diperlukan
upaya khusus guna meningkatkan tabungan domestik (Gross Domestic Saving),
baik yang berasal dari tabungan pemerintah maupun tabungan masyarakat.
Perkembangan tabungan domestik di negara ASEAN 5+3 pada tahun 1996-2010
dapat dilihat pada Gambar 3.
5 Tabungan Domestik (persen
GDP)
60
Indonesia
50
Malaysia
40
Singapura
30
Thailand
20
Filipina
Korea Selatan
10
Jepang
0
China
1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010
Sumber: Asian Development Bank, 2011 (Diolah)
Gambar 3. Perkembangan Tabungan Domestik di Kawasan Negara ASEAN 5+3
Tahun 1996-2010 (Persen GDP)
Berdasarkan Gambar 3 dapat diamati bahwa terdapat jumlah tabungan
domestik yang cukup tinggi di masing-masing negara ASEAN 5+3. Oleh karena
itu timbulah kesenjangan tabungan dan domestik yang positif di negara ASEAN
5+3, kecuali negara Filipina. Fakta ini menunjukkan bahwa peningkatan investasi
sesungguhnya sangat memungkinkan terutama mengingat potensi tabungan
domestik yang masih berada di atas tingkat investasi domestik. Selain itu, fakta ini
juga memberikan arti bahwa persoalan investasi di negara ASEAN 5+3
sesungguhnya bukan terletak pada faktor kurangnya pembiayaan, tetapi lebih
kepada iklim investasi yang kurang mendukung pengembangan usaha. Kondisi
yang paling menonjol adalah belum terciptanya keadaan yang mendorong
masyarakat untuk melakukan penanaman modal. Rendahnya investasi pemerintah
juga merupakan suatu masalah yang dialami negara di kawasan ASEAN 5+3, hal
tersebut menyebbakan lambatnya perkembangan infrastruktur yang seharusnya
dapat
memicu
pertumbuhan
ekonomi
dan
mengurangi
kesenjangan.
Perkembangan investasi domestik di negara ASEAN 5+3 pada tahun 1996-2010
dapat diketahui pada Gambar 4.
6 Sumber: Asian Development Bank, 2011 (Diolah)
Gambar 4. Perkembangan Investasi Domestik di Kawasan Negara ASEAN 5+3
Tahun 1996-2010 (Persen GDP)
Berdasarkan Gambar 3 dan Gambar 4, kondisi yang umum terjadi di
kawasan ASEAN 5+3 adalah oversaving dan underinvestment. Terjadinya kondisi
oversaving merupakan dampak dari tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia
dan negara ASEAN 5+3 lainnya yang mencapai angka diatas 4 persen.
Oversaving seperti yang terlihat pada Gambar 1.3 menandakan bahwa tingkat
tabungan domestik yang cukup tinggi di negara-negara ASEAN 5+3, yang
terbentuk dari tingginya pendapatan per kapita sehingga memicu peningkatan
tabungan masyarakat. Akan tetapi dana surplus kesenjangan tabungan dan
investasi domestik ini tidak pula berdampak baik bagi peningkatan investasi
domestik. Justru hal ini berdampak pada rendahnya tingkat investasi domestik
seperti yang dapat dilihat dalam Gambar 1.4. Kondisi underinvestment yang
terjadi di Indonesia dan negara ASEAN 5+3 lainnya disebabkan oleh minimnya
dana investasi pemerintah maupun invetasi asing yang lebih banyak bermain di
investasi portofolio dibandingkan investasi riil.
Di negara Indonesia pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2011 yang
hanya mampu tumbuh 6,5 persen dipandang belum maksimal lantaran minimnya
investasi pemerintah Indonesia. Hal tersebut dikarenakan pemerintah menurunkan
alokasi anggaran untuk kegiatan investasi sebesar 47,2 persen yaitu dari Rp3,5
triliun pada APBN Perubahan 2010 menjadi Rp1,9 triliun dalam RAPBN 2011.
Hal yang serupa juga terjadi pada investasi asing. Selama ini banyak dana asing
7 yang masuk ke Indonesia hanya berupa investasi portofolio yang berupa sertifikat
Bank Indonesia (SBI), saham, ataupun Surat Utang Negara (SUN) dengan
berharap return (imbalan) yang besar. Ironisnya, setelah mengambil keuntungan,
aliran modal itu bisa keluar dengan cepat dan tidak masuk ke investasi langsung
asing (foreign direct investment). Hal inilah yang sering mengganggu stabilitas
ekonomi dalam negeri dan juga menyebabkan timbulnya kondisi underinvestment
di Indonesia. Kondisi serupa juga banyak terjadi di negara ASEAN 5+3 lainnya.
Hal tersebut menandakan bahwa dibutuhkan peningkatan investasi
terutama untuk menggerakan sektor riil dalam rangka pengembangan investasi di
Indonesia dan negara-negara ASEAN 5+3 lainnya. Adanya kebijakan pemerintah
untuk meningkatkan alokasi dan kapasitas investasi pemerintah dalam rangka
mendukung pembangunan infrastruktur, dan berbagai kebijakan pemerintah
lainnya seperti penyertaan modal berupa investasi pada sektor dan perusahaan
yang strategis yang dapat memberikan nilai tambah yang optimal guna
meningkatkan perekonomian negara, menjadi hal mutlak yang harus dilakukan
oleh negara-negara ASEAN 5+3.
Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui kondisi dan pergerakan
kesenjangan tabungan dan investasi domestik serta faktor-faktor yang
mempengaruhi kesenjangan antara tabungan dan investasi guna meningkatkan
pertumbuhan ekonomi negara ASEAN 5+3 dalam rangka pembentukan integrasi
ekonomi yang berkesinambungan dalam rangka mencapai Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) yang mengacu pada kesejahteraan masyarakat ASEAN 5+3.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disusun perumusan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi kesenjangan tabungan dan investasi domestik di
kawasan negara ASEAN 5+3.
2. Apa faktor-faktor yang memengaruhi kesenjangan antara tabungan dan
investasi domestik di kawasan negara ASEAN 5+3.
1.3
Tujuan Penelitian
Berdasarkan hasil pemaparan rumusan penelitian di atas, dapat ditentukan
tujuan dari penelitian ini antara lain :
8 1. Menganalisis kondisi kesenjangan tabungan dan investasi domestik di
kawasan ASEAN 5+3.
2. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesenjangan antara
tabungan dan investasi domestik di kawasan negara ASEAN 5+3.
1.4
Manfaat Penelitian
Penelitian ini akan memberikan gambaran mengenai kondisi kesenjangan
tabungan dan investasi domestik serta faktor-faktor yang memengaruhinya di
kawasan negara ASEAN 5+3. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pihakpihak berwenang sebagai referensi untuk harmonisasi dan koordinasi kebijakan
dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta menyeimbangkan
kesenjangan tabungan dan investasi domestik. Selain itu, penelitian ini diharapkan
memberikan manfaat bagi pembacanya dan sebagai referensi untuk melakukan
penelitian lebih lanjut. Bagi penulis sendiri, penelitian ini merupakan wadah
pembelajaran untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama menempuh
pendidikan di Institut Pertanian Bogor.
Download