Koordinasi - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

advertisement
Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian sesuai Peraturan Presiden
Nomor 8 Tahun 2015 mempunyai tugas
koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian
kebijakan di bidang perekonomian. Adapun
keluaran Kemenko Perekonomian adalah
rekomendasi kebijakan atas hasil koordinasi,
sinkronisasi, dan pengendalian kebijakan
terkait isu bidang perekonomian. Dalam
melaksanakan tugas dan fungsi, Kemenko
Perekonomian
menerapkan
prinsip
koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik
dengan kementerian koordinator lainnya
maupun dengan kementerian/lembaga lain
terkait. Prinsip tersebut diarahkan untuk
mencapai sasaran strategis
Kemenko
Perekonomian, yaitu : a) Terwujudnya sinkronisasi
dan
koordinasi
kebijakan
perekonomian,
b)
Terwujudnya
pengendalian
kebijakan
perekonomian, dan c) Terwujudnya tata kelolah
pemerintahan yang baik. Indikator Kinerja Utama
pengukur keberhasilan atau tercapainya sasaran
strategis adalah :
Target Indikator kinerja dapat tercapai melalui
berbagai kegiatan koordinasi dan sinkronisasi, serta
pengendalian kebijakan bidang perekonomian yang
menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk
mendorong atau ditindaklanjuti menjadi rancangan
peraturan perundang-undangan baru (IKU 1) atau
perubahan (IKU 2). Tahun 2015 keberhasilan
14
rekomendasi atas kegiatan koordinasi/sinkronisasi
yang terimplementasi (IKU 1) dihitung dari target 54
Rancangan Peraturan per-UU-an Baru, terealisasi
57.
Rancangan Peraturan Perundang-Undangan Baru
yang dihasilkan dikelompokkan kedalam 4 tema
sebagai bagian menterjemahkan
Nawa Cita butir 6 dan 7. Keempat
tema tersebut adalah guna
memenuhi harapan stakeholder
dan telah ditetapkan dalam Peta
Strategi
Kemenko
Bidang
Perekonomian. Rincian capaian
IKU 1 berdasarkan rumpun tema
tampak pada Grafik diatas.
Terwujudnya pengendalian
kebijakan
perekonomian
merupakan implementasi fungsi
pengendalian atas pelaksanaan
kebijakan bidang perekonomian
oleh K/L yang menghasilkan
rekomendasi yang berimplikasi pada Rancangan
perubahan Peraturan Perundangan yang ada.
Target 9 RPP (Perubahan) dapat terealisasi 19.
Tingginya realisasi disebabkan adanya amanat
klusterisasi kebijakan perekonomian berupa Paket
Kebijakan Ekonomi I sampai dengan VIII. Sasaran
ii
Paket Kebijakan Ekonomi ini adalah: Peningkatan
Pertumbuhan Ekonomi; Peningkatan Daya Beli
Masyarakat; Peningkatan daya saing industri dan
perluasan basis produksi nasional; dan Peningkatan
Ekspor.
Terwujudnya tata kelola pemerintahan yang
baik dilihat dari IKU tingkat kinerja manajemen
Kementerian. Maksud dari Tingkat manajeman kinerja
Kementerian adalah upaya penataan kebijakan teknis
kementerian dalam koordinasi Kemenko Bidang
Perekonomian. Upaya penataan tersebut melalui
peraturan atau keputusan Menteri Teknis didalam
koordinasi Kemenko Bidang Perekonomian
sebagai tindak lanjut rekomendasi kebijakan
perekonomian (deregulasi).
Nilai realisasi kinerja manajemen Kementerian adalah
80 yang termasuk dalam klasifikasi tingkat 3 (Baik).
Sementara target yang telah ditetapkan adalah
(sangat baik). Tidak tercapainya target 4 tersebut
dipengaruhi oleh adanya 28 peraturan yang masih
dalam tahap pembahasan dan akan diteruskan pada
tahun 2016.
Realisasi anggaran Tahun 2015 adalah
RP232.502.677,- atau sebesar 70,63% dari total
pagu Rp 329.204.232,00. Hal ini mengalami
peningkatan dibandingkan dengan realisasi belanja
tahun 2014 sebesar 69,80% dari total pagu
Rp293.100.133,-. Rincian Realisasi per Jenis Belanja,
tampak dalam grafik di atas.
Belanja
Modal
49,34%
Belanja
Pegawai
70,27%
Belanja
Barang
71,23%
Menyadari tantangan, persaingan, dan
harapan masyarakat yang tinggi, Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian akan terus
mengoptimalkan potensi yang ada untuk disinergikan
dengan seluruh Kementerian/Lembaga dalam
koordinasi, Pemerintah Daerah, dan Pelaku Bisnis,
sehingga tercipta aturan dan arahan yang tepat
sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi
Indonesia lebih stabi, merata dan
terjaga kelangsungannya.
Target pertumbuhan ekonomi
2015 sebesar 5,6%, hanya dapat
tercapai 4.8% (YoY). Lemahnya
kondisi perekonomian global, yang
diikuti penurunan kinerja neraca
perdagangan, dan penurunan daya beli
masyarakat memberikan dampak pada
kondisi perekonomian secara umum,
Namun demikian, melalui partisipasi
aktif, koordinasi Kemenko Bidang
Perekonomian memberikan andil
positif,
sehingga
kondisi
perekonomian tidak mengalami krisis
yang parah, dan terhindar dari keterpurukan
yang dalam, walupun adanya tekanan ‘tapering
off’ Amerika, depresiasi nilai tukar Yen, yang
diikuti dengan melemahnya permintaan produk
ekspor ke Eropa. Paket-paket kebijakan Ekonomi
tahun 2015 diyakini akan membawa perbaikan di
tahun-tahun mendatang. Sehingga, tujuan Kemenko
Bidang Perekonomian
untuk mewujudkan
pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan
berkelanjutan, dan mewujudkan kinerja organisasi
yang baik, secara bertahap dapat tercapai.
iii
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Bab I
Pendahuluan
Bab II
Perencanaan Kerja
i
ii
iv
v
vi
1.
2.
3.
4.
5.
Latar Belakang Rencan
Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi
Struktur Organisasi
Aspek Strategis Organisasi
Isu Strategis Organisasi
2
3
4
5
5
1.
2.
3.
4.
Rencana Strategis Kemenko Perekonomian Tahun 2015 -2019
Rencana Kerja
Perjanjian Kinerja
Pengukuran Kinerja
11
15
17
18
1.
2.
Bab III
Akuntabilitas Kerja
3.
4.
Bab IV
Penutup
Capaian Kinerja Organisasi
Analis Capaian Kinerja Organisasi
 Analisis Sasaran Strategis I
 Analisis Sasaran Strategis II
 Analisis Sasaran Strategis III
Peningkatan Akuntabilitas Kinerja dari Waktu ke Waktu
Realisasi Anggaran
Penutup
22
23
33
45
47
53
57
Lampiran – Lampiran
I.
Perjanjian Kinerja 2015
II.
Manual Indikator Kinerja Utama Tingkat Kementerian
III.
Kerangka Rencana Kerja Kemenko Bidang Perekonomian TA 2015
IV.
Matriks Rumpun Sasaran Strategis dan Kegiatan
V.
Contoh Pola Cascading Indikator Kinerja Individu
VI.
Contoh Pola Pengelolaan dan Pengukuran Kinerja
iv
14
16
Tabel 2.1 Sasaran Strategis Kemenko Bidang Perekonomian Tahun 2015
Tabel 2.2 Program Kemenko Bidang Perekonomian Tahun Anggaran 2015
17
Tabel 2.3 Perjanjian Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
22
Tabel 3.1 Realisasi Capaian Kinerja 2015 Kemenko Bidang Perekonomian
23
33
Tabel 3.2 Capaian IKU pada SS I
Tabel 3.3 Capaian IKU pada SS II
47 Tabel 3.4 Pengelompokan Penataan Peraturan Teknis
48
Tabel 3.5 Realisasi IKU dari Waktu ke Waktu
52 Tabel 3.6 Perbedaan SS dan IKU Tahun 2014 dan 2015
54 Tabel 3.7 Realisasi Anggaran per Sasaran Strategis
55
Tabel 3.8 Realisasi Anggaran per Kelompok Kegiatan dan Kelompok SS
Tabel 3.6 Perbedaan SS dan IKU Tahun 2014 dan 2015
v
Gambar 1.1
Gambar 2.1
Gambar 2.2
Gambar 2.3
Gambar 3.1
Gambar 3.2
Gambar 3.3
Gambar 3.4
Gambar 3.5
Gambar 3.6
Gambar 3.7
Gambar 3.8
Gambar 3.9
Gambar 3.10
Gambar 3.11
Gambar 3.12
Gambar 3.13
Gambar 3.14
Gambar 3.15
Gambar 3.16
Gambar 3.17
Gambar 3.18
Gambar 3.19
Gambar 3.20
Struktur Organisasi Kemenko Bidang Perekonomian
Peta Strategis Tahun 2015 - 2019 Kemenko Bidang Perekonomian
Fokus Program Kemenko Bidang Perekonomian Tahun Anggaran 2015
Polarisasi Capaian Kinerja Organisasi
Pengelompokan Tema Capaian Koordinasi dan Sinkronisasi (IKU I) Kebijakan Perekonomian
Rancangan Peraturan Perundang-undangan Dalam Rangka Mewujudkan Stabilisasi dan
Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2015
Ilustrasi Koordinasi Pembahasan Fasilitasi Fasilitasi Pajak Penghasilan untuk penanaman
modal di bidang- bidang usaha tertentu dan/atau di Daerah – daerah tertentu
Kemudahan Fasilitas Pajak
Rancangan Peraturan Perundang – Undangan Baru dalam rangka Peningkatan Daya Saing
Ilustrasi Koordinasi/Sinkronisasi Pembahasan Usulan RPP Fasilitasi di Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK)
Sebaran Lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Rancangan Peraturan Perundang – Undangan Baru dalam Rangka Transformasi Industri
Tahun 2015
Ilustrasi Koordinasi Realisasi Penyerapan Biodesel
Ilustrasi Koordinasi Persiapan Penerapan E-Commerce di bidang Industri
Koordinasi dan Sinkronisasi Optimalisasi Hubungan Internasional
Ilustrasi Koordinasi Optimalisasi Hubungan Internasional
Daftar Rancangan Perundang-Undangan (Perubahan) dalam Rangka Pengendalian
Pelaksanaan Kebijakan Perekonomian
Peta Paket Kebijakan Ekonomi I - VIII
Ilustrasi Koordinasi KUR
Capaian IKU pada Sasaran Strategis Terwujudnya Tata Kelola Pemerintahan
Contoh Aplikasi Berbasis Web Cascading IKU ke Level Individu/Indikator Kinerja Individu
pada Sasaran Kerja Pegawai (//skp.ekon.go.id)
Pagu dan Realisasi Anggaran 2011-2016 (Rpooo.ooo) Kemenko Bidang Perekonomian
Realisasi Anggaran 2015 per Jenis Belanja Kemenko Bidang Perekonomian
Realisasi Anggaran TA 2015 per Program
4
13
16
23
24
25
26
26
27
28
28
29
30
30
32
32
34
36
39
46
51
53
53
54
vi
1
BAB I
PENDAHULUAN
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
2
1.Latar Belakang
Agenda Pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2015 – 2019 menyebutkan bahwa salah satu dari tiga masalah pokok bangsa
terletak pada kelemahan sendi perekonomian. Hal ini ditandai dari masih belum
terselesainya masalah kemiskinan, kesenjangan sosial, kesenjangan antar wilayah,
lemahnya infrastuktur dan ketergantungan dalam pangan, energi, utang luar negeri dan
keuangan. Kondisi perekonomian bangsa indonesia juga tidak terlepas dari pengaruh
pertumbuhan ekonomi dunia yang mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu.
Permasalahan perekonomian bangsa tersebut menuntut pemerintah untuk mampu
menghasilkan kebijakan guna mendukung stabilitas ekonomi.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sesuai Peraturan Presiden Nomor
8 Tahun 2015 mempunyai tugas koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian kebijakan di
bidang perekonomian. Adapun keluaran Kemenko Perekonomian adalah rekomendasi
kebijakan atas hasil koordinasi dan sinkronisasi perumusan dan penetapan kebijakan,
pelaksanaan kebijakan, serta pengendalian pelaksanaan kebijakan terkait isu bidang
perekonomian. Dalam melaksanakan tugas dan fungsi, Kemenko Perekonomian
menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik dengan kementerian
koordinator lainnya maupun dengan kementerian/lembaga lain terkait. Prinsip tersebut
diarahkan untuk mencapai sasaran strategis
Kemenko Perekonomian, yaitu : a)
Terwujudnya sinkronisasi dan koordinasi kebijakan perekonomian, b) Terwujudnya
pengendalian kebijakan perekonomian, dan c) Terwujudnya tata kelola pemerintahan
yang baik.
Program Penataan Kabinet oleh Presiden Republik Indonesia Tahun 2015
menuntut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melakukan penataan
organisasi dengan pendekatan isu strategis yang akan ditangani oleh Kemenko
Perekonomian. Transformasi Organisasi Kemenko Perekonomian dituangkan dalam
Peraturan Menteri Bidang Perekonomian Nomor 5 tahun 2015 tentang Organisasi dan
Tata Kerja. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian diharapkan mampu
memperbaiki stabilitas perekonomian bangsa. Berbagai program dan kegiatan di bidang
perekonomian menjadi fokus koordinasi dan sinkronisasi, serta pengendalian
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian guna memenuhi tuntutan stakeholders
dan mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Laporan Kinerja tahun 2015 ini disusun sebagai laporan penyelenggaraan sistem
akuntabilitas kinerja dalam mendukung pelaksanaan Reformasi Birokrasi di lingkungan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
3
2.Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2015 tentang Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian, maka kedudukan, tugas, fungsi, susunan organisasi
dan tata kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, adalah sebagai berikut:
A. Kedudukan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Presiden Republik Indonesia.
B. Tugas Pokok
Kementerian
Koordinator
menyelenggarakan
Bidang
koordinasi,
Perekonomian
sinkronisasi,
dan
mempunyai
tugas
pengendalian
urusan
Kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang perekonomian.
C. Fungsi
Dalam melaksanakan tugas tersebut,
Kementerian
Koordinator
Bidang
Perekonomian menyelenggarakan fungsi:
1) koordinasi dan sinkronisasi
perumusan, penetapan, dan
pelaksanaan kebijakan
Kementerian/Lembaga yang terkait
dengan isu di bidang perekonomian;
2) pengendalian pelaksanaan kebijakan
Kementerian/ Lembaga yang terkait
dengan isu di bidang Perekonomian;
3) koordinasi pelaksanaan tugas,
pembinaan, dan pemberian
dukungan administrasi kepada
seluruh unsur organisasi di
lingkungan Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian;
4) pengelolaan barang milik/kekayaan
negara yang menjadi tanggung jawab
Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian;
5) pengawasan atas pelaksanaan tugas di
lingkungan Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian; dan
6) pelaksanaan
fungsi
lain
yang
diberikan oleh Presiden.
Kementerian
Koordinator
Bidang
Perekonomian dalam melaksanakan
tugas dan fungsi, mengkoordinasikan
Kementerian, sebagai berikut:
- Kementerian Keuangan;
- Kementerian PU dan Perumahan
Rakyat
- Kementerian Ketenagakerjaan;
- Kementerian Lingkungan Hidup &
Kehutanan;
- Kementerian Perindustrian;
- Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/BPN;
- Kementerian Perdagangan;
- Kementerian Badan Usaha Milik
Negara;
- Kementerian Pertanian;
- Kementerian Koperasi dan UKM; dan
- Instansi lain yang dianggap perlu.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
4
3. Struktur Organisasi
Turunan Peraturan Presiden nomor
8 tahun 2015 adalah Peraturan Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian Nomor
5 Tahun 2015 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian. Susunan Eselon I
Kemenko Bidang Perekonomian, terdiri
dari:
Sekretariat
Kementerian
Koordinator; Deputi Bidang Koordinasi
Ekonomi Makro dan Keuangan; Deputi
Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian;
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan
Energi, Sumber Daya Alam, dan
Lingkungan Hidup; Deputi Bidang
Koordinasi
Ekonomi
Kreatif,
Kewirausahaan dan Daya Saing Koperasi
dan Usaha Kecil dan Menengah; Deputi
Bidang Koordinasi Perniagaan dan
Industri; Deputi Bidang Koordinasi
Percepatan
Infrastruktur
dan
Pengembangan Wilayah; Deputi Bidang
Koordinasi
Kerja
Sama
Ekonomi
Internasional; Staf Ahli Bidang Hubungan
Ekonomi dan Politik, Hukum, dan
Keamanan; Staf Ahli Bidang Hubungan
Ekonomi dan Kemaritiman; Staf Ahli
Bidang
Hubungan
Ekonomi
dan
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan;
Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah;
dan Staf Ahli Bidang Pengembangan Daya
Saing Nasional.
Struktur organisasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian hingga Unit
Eselon II dapat dilihat dalam gambar berikut :
Gambar 1.1
Struktur Organisasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
5
4. Aspek Strategis Organisasi
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian merupakan bagian dari
penyelenggara pemerintah yang mempunyai peran strategis terhadap tercapainya
tujuan nasional khususnya di bidang perekonomian. Di dalam RPJMN 2015 – 2019,
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian diarahkan untuk mendukung kegiatan
prioritas nasional berupa:
a. Menstabilkan situasi ekonomi makro dan memperkuat struktur ekonomi.
b. Realokasi sumber daya untuk pemanfaatan yang lebih produktif, di bidang ekonomi
terutama
percepatan
pembangunan
infrastruktur,
ketahanan
pangan
dan
pembangunan industri,
c. Meningkatkan daya saing ekonomi nasional dan kepercayaan investor, serta
d. Meningkatkan pemerataan pembangunan dan mengurangi kemiskinan.
Fokus kegiatan pada prioritas nasional tersebut memberikan posisi strategis
Kemenko Bidang Perekonomian untuk memberikan rekomendasi kebijakan di bidang
perekonomian kepada Presiden dan Kementerian yang ada berada dalam koordinasi
Kemenko Bidang Perekonomian. Melalui tugas dan fungsi koordinasi, sinkronisasi, dan
pengendalian, Kementerian Koordinator melakukan rapat koordinasi/sinkronisasi,
monitoring serta evaluasi terhadap suatu isu kebijakan perekonomian. Kegiatan ini
diharapkan mampu memberikan arah kebijakan yang berkualitas dan efektif sehingga
dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan sesuai dengan
tujuan nasional. Sasaran Strategis yang dituju Kemenko Perekonomian dalam rangka
mewujudkan peran strategis tersebut di atas, adalah:
a. Terwujudnya Koordinasi dan Sinkronisasi Kebijakan Perekonomian
b. Terwujudnya Pengendalian Kebijakan Perekonomian
c. Terwujudnya Tata Kelola Pemerintah yang baik
5. Isu Strategis Organisasi
Permasalahan di bidang perekonomian yang dihadapi bangsa Indonesia pada
tahun 2015 dinilai cukup kompleks. Hal ini menuntut Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian untuk responsif dalam mengkoordinasikan, mensinkronkan serta
mengendalikan kebijakan di bidang perekonomian. Dinamika perubahan lingkungan
strategis baik dari dalam maupun luar negeri memberikan pengaruh singnifikan
terhadap kondisi perekonomian nasional. Berikut dipetakan beberapa potensi
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
6
permasalahan
perekonomian
yang
memerlukan
fokus
koordinasi/Sinkronisasi/
pengendalian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian:
A. Target Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
Target pertumbuhan ekonomi tahun
Bidang
2015 sebesar 5.6%, meningkat jika
memperkuat
dibandingkan target 2014 yang sebesar
lembaga koordinator dan pengendalian
5.1%. Selain tantangan dari luar seperti
untuk meminimalkan ketidaksesuaian/
masih rendahnya kinerja ekspor sejalan
inkonsistensi antara rencana dengan
dengan lemahnya permintaan dunia,
implementasi
juga diperlukan satu sinergisitas antara
pembangunan, khususnya di bidang
pemangku
perekonomian
kepentingan
mewujudkan
ekonomi.
target
Kementerian
dalam
pertumbuhan
Koordinator
Perekonomian
perlu
kapasitasnya
selaku
program/kegiatan
dan
ketidaksesuaian
antar sektor, serta pemerintah pusat
dan daerah.
B. Ekonomi Makro dan Keuangan
Permasalahan kondisi ekonomi
-
Kapasitas SDM Indonesia masih
makro dan keuangan yang dihadapi
terbatas,
tahun 2015 adalah sebagai berikut:
rendahnya tingkat pendidikan dan
-
produktivitas pekerja Indonesia.
Ketersediaan infrastruktur untuk
mendukung peningkatan
-
-
-
ditandai
dengan
Penerapan dan penguasaan
perkembangan ekonomi sangat
teknologi masih terbatas, sehingga
terbatas dan harus dapat
daya saing usaha tidak seperti yang
ditingkatkan.
diharapkan.
Penguatan struktur ekonomi,
-
Kemampuan pembiayaan
berupa penguatan sektor primer,
pembangunan terbatas. Oleh
sekunder dan tersier secara
karena itu, penggalian sumber-
terpadu, dengan sektor sekunder
sumber penerimaan dan
sebagai penggerak utama
mengefektifkan pengeluaran
penguatan tersebut.
pembangunan menjadi tantangan
Peraturan perundang-undangan
yang harus dihadapi.
pusat dan daerah yang saling
tumpang tindih dan kontradiksi.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
7
C. Pangan dan Pertanian
Pembangunan
pertanian,
pangan
menghadapi
dan
komponen komoditi pangan memiliki
masalah:
kontribusi
konversi lahan pertanian, terutama di
signifikan
dalam
pembentukan IHK.
Jawa, Madura dan Bali yang terus
Di bidang pembenihan, perlu
meningkat. Untuk itu, sistem pertanian
pengembangan pusat-pusat perbenihan
skala luas (food estate) harus dapat
di tingkat petani maupun perusahaan
segera
dibuka
perbenihan yang memenuhi standard
kepada dunia usaha baik nasional,
kualitas perbenihan nasional maupun
swasta maupun asing, namun dengan
global. Pembangunan pertanian juga
porsi
sangat
direalisasikan,
dan
dan
pengaturan
Ketersediaan
yang
pangan,
adil.
melalui
penting
bagi
upaya
pengurangan kemiskinan di daerah
peningkatan produksi pangan, sangat
perdesaan
penting
mengandalkan sumber pendapatannya
bagi
tercapainya
stabilitas
harga pangan dan inflasi. Mengingat
yang
sebagian
besar
dari pertanian.
D. Energi, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
Permasalahan
yang
dihadapi
SDA
dan
LH
antara
lain
adalah:
(1) ketergantungan pada bahan bakar fosil (batubara dan migas) sebagai sumber
energi;
(2) pemanfaatan
sumber
energi
terbarukan
belum optimal; (3)
pengelolaan pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang belum
optimal.
E. Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan Daya saing KUKM
Pengembangan
ekonomi
kreatif
mengalami
beberapa
masalah,
yaitu:
(1) penyediaan sumber daya kreatif (orang kreatif) yang profesional dan kompetitif;
(2) penyediaan sumber daya pendukung yang berkualitas, beragam dan kompetitif;
(3) penguatan struktur industri yang berdaya saing, tumbuh, dan beragam;
(4) penyediaan pembiayaan yang sesuai dan kompetitif; (5) perluasan pasar bagi
karya kreatif; (6) penyediaan infrastruktur teknologi yang sesuai dan kompetitif; dan
(7) penguatan kelembagaan yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif.
Permasalahan-permasalahan tersebut menjadi faktor rendahnya daya saing ekonomi
kreatif Indonesia di tingkat global saat ini.
Dalam hal pengembangan UKM menghadapi permasalahan, antara lain: (1)
keterbatasan
kapasitas kewirausahaan, manajemen dan teknis produksi; (2)
keterbatasan akses ke pembiayaan; dan (3) keterbatasan kapasitas inovasi, adopsi
teknologi dan penerapan standar. Aturan dan kebijakan yang ada saat ini juga belum
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
8
cukup efektif untuk memberikan kemudahan, kepastian dan perlindungan usaha bagi
UMKM dan koperasi. Koperasi juga masih menghadapi kendala terkait kapasitas
pengurus dan anggota koperasi dalam mengelola dan mengembangkan koperasi
sesuai jati diri, dan kebutuhan untuk menciptakan kesejahteraan bersama.
F.
Industri dan Perniagaan
Pengembangan kawasan industri
adanya
dukungan
dan kawasan ekonomi lainnya terdapat
optimal
terkait
beberapa
(1)
operasional pengembangan Kawasan
Belum adanya mekanisme pengaturan
Perdagangan dan Pelabuhan Bebas
(legal) terkait insentif fiskal dan non-
(KPBPB)
fiskal yang dapat secara langsung
kawasan untuk peningkatan industri
diimplementasikan
lokasi
dan perdagangan berorientasi pasar
pengembangan kawasan industri; (2)
ekspor; dan (4) Belum adanya regulasi
Belum adanya kajian hasil inventarisasi
yang optimal yang dapat menjadi
potensi komoditi unggulan lokal non-
arahan dalam pengembangan Kawasan
mineral yang optimal sebagai basis
Strategis
Nasional
(KSN)
potensi pengembangan yang bernilai
Ekonomi,
terutama
KSN
Kawasan
ekonomi tinggi yang dapat secara
Pengembangan
Ekonomi
Terpadu
langsung diserap dan dikembangkan
(KAPET).
permasalahan,
yaitu:
pada
kebijakan
yang
kelembagaan
sebagai
salah
satu
dan
basis
bidang
dalam kawasan industri; (3) Belum
G.
Infrastuktur dan Pengembangan Wilayah
Terkait
Infrastruktur
koordinasi
dan
bidang
Pengembangan
Di
bidang
transportasi,
Inftrastuktur
permasalahan
Wilayah, permasalahan yang dihadapi
dihadapi
antara lain: (1) rendahnya kapasitas
meratanya pembangunan infrastruktur
tampungan, menurunnya ketersediaan,
yang
dan berkurangnya resapan air yang
Indonesia Barat. Sedangkan di bidang
menyebabkan
pertanahan
Keberadaan
kebanjiran;
tulang
(2)
punggung
adalah
masih
masih
yang
berpusat
dan
belum
di
wilayah
penataan
ruang
permasalah utama terletak pada tidak
telekomunikasi khususnya kabel serat
harmonisnya
optik yang masih belum merata dan
perundang – undangan sektoral yang
masih berfokus di kota–kota besar, (3)
mengatur pemanfaatan ruang dalam
masih minimnya penanganan terhadap
skala besar.
sektor persampahan, drainase dan air
limbah.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
berbagai
peraturan
9
H. Kerjasama Ekonomi Internasional
Dalam bidang Koordinasi Kerjasama Ekonomi Internasional menghadapi
permasalahan, antara lain: (1) pola pikir masyarakat dan pelaku usaha yang belum
melihat secara keseluruhan potensi dan peluang serta manfaat yang dapat diraih
dalam keterbukaan pasar global dan juga integrasi ekonomi antar bangsa; (2)
sinergitas antar Kementerian/Lembaga dalam kancah diplomasi internasional agar
memperkuat posisi tawar Indonesia dalam berbagai perundingan internasional; (3)
Pentingnya menggali lebih banyak potensi kerjasama dengan negara lain.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
10
BAB II
PERENCANAAN KINERJA
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
11
1. Rencana Strategis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
2015 -2019
Penyusunan Rencana Strategis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Tahun 2015 – 2019 mengacu pada RPJMN tahun 2015-2019, sebagaimana program
prioritas Nawa Cita. Implementasi Rencana Strategis merupakan wujud partisipasi
dalam mendukung terwujudnya tujuan negara sesuai dengan Visi dan Misi Presiden
Republik Indonesia.
Nawa Cita merupakan jalan perubahan menuju indonesia berdaulat, mandiri dan
berkepribadian yang didalamnya fokus pada hal-hal penting pembangunan termasuk di
bidang perekonomian. Rencana Strategis Tahun 2015 – 2019 secara garis besar memuat
Visi, Misi, tujuan, sasaran strategis sebagai tolak ukur keberhasilan serta program dan
kegiatan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam rangka mencapai target
kinerja sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian Nomor 11 tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian Tahun 2015-2019.
A. VISI KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
“Terwujudnya koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembangunan ekonomi
yang efektif dan berkelanjutan”
Visi ini mendukung Visi Presiden : Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat,
Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong. Visi tersebut disusun
berdasarkan kristalisasi nilai-nilai dasar atau value Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian, yaitu : profesional, integritas, kerjasama, inovasi dan responsibility
(tanggung jawab) yang disingkat dengan “PIKIR”. Makna visi Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian dijabarkan sebagai berikut:
makna kata “koordinasi dan sinkronisasi” merupakan proses mengupayakan
terjadinya kesamaan persepsi, pemikiran dan tindakan dalam mewujudkan
pencapaian tujuan;
makna kata “pengendalian” merupakan bagian proses koordinasi dan
sinkronisasi yang penekanannya pada pusat penanggungjawab implementasi
kebijakan agar dapat mewujudkan tujuan organisasi sesuai rencana;
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
12
makna kata “efektif” mempunyai arti bahwa kinerja hasil koordinasi dan
sinkronisasi memberikan manfaat dan dampak yang signifikan bagi upaya
pencapaian sasaran pembangunan di bidang ekonomi;
kata “berkelanjutan” bermakna bahwa koordinasi harus dilakukan secara terus
menerus dan proaktif supaya pelaksanaan pembangunan perekonomian yang
dilakukan oleh sektor dan pelaku ekonomi dapat berjalan sinergi, sehingga
pembangunan ekonomi yang dicapai dapat berkesinambungan.
B. MISI KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
“ Menjaga dan memperbaiki koordinasi dan sinkronisasi penyusunan kebijakan, serta
pengendalian pelaksanaan kebijakan perekonomian”
Misi tersebut merupakan perwujudan peran dan fungsi Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian dalam mendukung Misi Presiden yang antara lain adalah
“Mewujudkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia yang Tinggi , Maju dan Sejahtera serta
Mewujudkan Bangsa yang Berdaya Saing”. Implementasi Misi Presiden tersebut
diwujudkan melalui kinerja
lintas sektor di bidang ekonomi. Dalam rangka
meningkatkan kinerja lintas sektor di bidang ekonomi secara optimal, dibutuhkan usaha
untuk menyatukan tindakan, kebulatan pemikiran, dan keselarasan dari berbagai intansi
terkait melalui kegiatan sinkronisasi dan koordinasi kebijakan. Sejalan dengan strategi
dan aktivitas yang dilakukan dalam upaya pencapaian tujuan suatu kebijakan,maka
pengendalian pelaksanaan kebijakan/program secara intensif diupayakan untuk
mengatasi permasalahan yang timbul dalam proses pencapaian kinerja. Tindakan
pengendalian dapat mengantisipasi secara dini tantangan dan hambatan yang dihadapi,
sehingga progres kinerja dalam melaksanakan kebijakan/program di bidang ekonomi
berjalan dengan optimal.
C. TUJUAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
Berdasarkan Visi dan Misi tersebut di atas, dirumuskan tujuan Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian, yaitu sebagai berikut:
1. Terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
2. Terwujudnya kinerja organisasi yang baik.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
13
Tujuan tersebut merupakan upaya
Kemenko
Bidang
memastikan
pelaksanaan
program
bidang
Perekonomian
(periode 2015-2019). Pemetaan Rencana
kebijakan/
Strategis Kementerian Koordinator Bidang
oleh sektor/lintas sektor di
ekonomi
dicapai dalam kurun waktu 5 tahun
sebagaimana
telah
dengan
dijelaskan di atas secara ringkas tertuang
komitmen yang tinggi guna pencapaian
dalam peta strategi organisasi. Visi, misi,
kinerja perekonomian yang semakin baik
tujuan,
dari
Upaya-upaya
dalam
perekonomian
dengan
waktu
pencapaian
ke
dijalankan
Perekonomian,
waktu.
kinerja
sasaran
peta
yang
strategi
mempertimbangkan
dituangkan
disusun
potensi,
difokuskan pada target sasaran makro
permasalahan, dan tantangan organisasi
ekonomi. Pernyataan Tujuan Kementerian
yang dihadapi ke depan dalam periode
Koordinator Bidang Perekonomian yang
2015-2019. Peta Strategi dimaksud adalah
ditetapkan tersebut, diharapkan dapat
sebagai berikut.
Gambar 2.1
Peta Strategi Tahun 2015-2019 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
14
Aspek strategis yang dimiliki Kemenko Bidang Perekonomian merupakan sumber
daya yang digunakan untuk mencapai Sasaran Strategis (SS). Sasaran Strategis ditingkat
Kementerian meliputi 3 sasaran yang merupakan penanda keberhasilan yang akan
dicapai, khususnya pada tahun 2015.
D. SASARAN STRATEGIS
Berdasarkan tujuan, selanjutnya Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
menjabarkan dalam sasaran strategis yang akan dicapai secara tahunan selama periode
Renstra. Hal ini dilakukan agar kinerja Kementerian dapat terukur dan dapat dicapai
secara nyata. Sasaran strategis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk
tahun adalah sebagai berikut :
Tabel 2. 1
Sasaran Strategis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Tahun 2015
Sasaran Strategis
Tujuan 1 :
Indikator Kinerja Utama
Terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan
Sasaran Strategis 1 :
Terwujudnya Koordinasi dan Sinkronisasi
Kebijakan Perekonomian
Presentase program koordinasi kebijakan
bidang perekonomian yang terimplementasi
Sasaran Strategis 2 :
Terwujudnya Pengendalian Kebijakan
Perekonomian
Presentase kebijakan bidang perekonomian
yang terimplementasi
Tujuan 2 : Terwujudnya kinerja organisasi yang baik.
Sasaran Strategis 3 :
Terwujudnya Tata Kelola Pemerintah yang
baik
Tingkat Kinerja Manajeman Kementerian
85≤n≤100 = 4 : Sangat Baik
(Hijau)
65≤n<85 = 3 : Baik
(Hijau)
45≤n<65 = 2 : Kurang
(Merah)
n<45
= 1 : Sangat Kurang (Merah)
SS 1 dan SS 2 merupakan fokus terhadap tercapainya tujuan terwujudnya
pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian (Tujuan I). Sedangkan SS 3 merupakan bagian dalam rangka
mendukung terlaksananya kinerja pelaksanaan tugas dan fungsi kementerian dan
jajaran dibawahnya, bersifat upaya kelembagaan dalam mengelola organisasi agar
terwujud kinerja organisasi yang baik (Tujuan II). Namun demikian, dalam perjalanan
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
15
waktu
tahun
2015,
sesuai
dengan
tranformasi
organisasi
dan
pergantian
kepemimpinan, terjadi perubahan paradigma agar SS 3 diubah menjadi sasaran yang
lebih berorientasi kepada stakeholder (orientasi eksternal). Sehingga, Orientasi Tata
Kelola dalam SS 3 adalah penataan kebijakan perekonomian di tingkat Kementerian
Teknis di bawah koordinasi Kemenko Bidang Perekonomian. Perubahan sejalan dengan
upaya Pimpinan baru Kemenko dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi
nasional melalui paket-paket kebijakan ekonomi (pergantian dari Bp. Sofyan Djalil ke
Bp. Darmin Nasution).
Selanjutnya untuk melihat sejauh mana sasaran strategis tersebut tercapai
dibutuhkan ukuran yang secara periodik dilihat perkembangan capaiannya. Ukuran
dimaksud adalah Indikator Kinerja Utama (IKU) tingkat Kementerian. IKU sebagai
Indikator keberhasilan tercapainya sasaran strategis tersebut akan dijabarkan pada Sub
Bahasan mengenai Perjanjian Kinerja.
2. Rencana Kerja
Dengan memperhatikan rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan
berpedoman pada Renstra, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyusun
Rencana Kerja (Renja) yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan yang meliputi
kegiatan pokok serta kegiatan pendukung untuk mencapai sasaran hasil sesuai program
induk. Dokumen Renja dirinci menurut indikator keluaran, sasaran keluaran pada
tahun rencana, perkiraan sasaran tahun berikutnya, lokasi, pagu indikatif sebagai
indikasi pagu anggaran, serta cara pelaksanaannya.
Berdasarkan RKP dan Pagu Anggaran serta Renja yang telah ditetapkan,
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyusun Rencana Kerja dan Anggaran
(RKA). RKA memuat informasi kinerja yang meliputi program, kegiatan dan sasaran
kinerja, serta rincian anggaran. Informasi pendanaan dalam RKA memuat informasi
Rincian Anggaran, antara lain: keluaran, komponen masukan, jenis belanja, dan
kelompok belanja. Rencana kerja kementerian merupakan penjabaran dari sasaran
strategis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan menetapkan Indikator
Kinerja Utama untuk mengukur capaian kinerja organisasi. Kerangka Rencana Kerja
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dapat dilihat pada lampiran.
Pada tahun 2015 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melakukan
revisi dokumen Rencana Kerja (Renja). Terdapat perbedaan program dan sumber dana
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
16
antara Renja awal dan Renja Revisi. Disamping itu, terdapat perbedaan penetapan
sasaran strategis. Renja awal 2015 telah ditetapkan pada bulan Januari tahun 2015
sedangkan Renja revisi ditetapkan pada bulan Maret 2015. Revisi dipandang perlu
untuk menyesuaikan transformasi yang terjadi di Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian agar sesuai dengan program kerja pemerintahan Kabinet Kerja. Sasaran
strategis yang dipergunakan dalam pengukuran kinerja tahun 2015 adalah sasaran
strategis yang terdapat pada dokumen Renja revisi tahun 2015. Program Kementerian
dalam Renja 2015 adalah sebagai berikut.
Tabel 2.2
Program Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Tahun Anggaran 2015
Renja Awal
Sasaran
Strategis
Program
Program Koordinasi
Kebijakan Bidang
Perekonomian
Renja Revisi
Alokasi Anggaran
Keselarasan
pengelolaan
fiskal dan
moneter
Alokasi Anggaran
Terwujudnya
sinkronisasi dan
koordinasi
kebijakan bidang
perekonomian
189.806.500.000
198.704.803.000
Terwujudnya
pengendalian
kebijakan
perekonomian
Terwujudnya
implementasi
program kerja
utama
Jumlah
Sasaran Strategis
Program Koordinasi
Kebijakan Bidang
Perekonomian
Meningkatnya
peran Indonesia
dalam rangka
kerja sama
ekonomi luar
negeri
Program Dukungan
Manajemen dan
Pelaksanaan Tugas
Teknis lainnya
Kemenko
Perekonomian
Program
103.117.500.000
Program Dukungan
Manajemen dan
Pelaksanaan Tugas
Teknis lainnya
Kemenko
Perekonomian
292.924.000.000
Terwujudnya tata
kelola
pemerintahan yang
baik
Jumlah
130.499.429.000
329.204.232.000
Sumber : Dokumen Renja 2015, diolah
Fokus
Program
Kementerian
Koordinator
Bidang Perekonomian pada Tahun Anggaran
2015 adalah Program
Program Koordinasi
Kebijakan Bidang Perekonomian, dan Program
Program
Dukungan
Manajemen
40%
Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas
Teknis lainnya Kemenko Perekonomian.
Gambar 2. 2
Fokus Program Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian TA 2015
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
Program
Koordinasi
Kebijakan
60%
17
3. Perjanjian Kinerja
Perjanjian Kinerja Kementerian Koordinator bidang perekonomian disusun
berdasarkan tugas dan fungsi sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Presiden
Nomor 8 Tahun 2015, dan mempertimbangkan relevansi dengan tujuan yang ingin
dicapai pada Tahun 2015. Sesuai dengan Peraturan Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perjanjian Kinerja dan Indikator Kinerja
Utama di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, maka indikator
yang terdapat pada Perjanjian Kinerja ditetapkan sebagai Indikator Kinerja Utama.
Perjanjian Kinerja ini menjadi komitmen bersama seluruh elemen dalam unit
kerja di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk mewujudkan
tujuan Kementerian yang diharapkan dapat berimplikasi pada tercapainya tujuan
nasional. Selain berdasarkan tugas dan fungsi Kementerian, Perjanjian Kinerja mengacu
pada Renstra Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan RPJMN tahun 20152019. Variabel-variabel dalam perjanjian kinerja Tahun 2015 adalah sebagai berikut.
Tabel 2.3
Perjanjian Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Sasaran Strategis
Indikator Kinerja Utama
Target
Terwujudnya
Presentase program koordinasi
100%
sinkronisasi dan
kebijakan bidang perekonomian
koordinasi kebijakan
yang terimplementasi
perekonomian
Terwujudnya
Presentase kebijakan bidang
pengendalian kebijakan
perekonomian yang
perekonomian
terimplementasi
Terwujudnya tata kelola
Tingkat Kinerja Manajeman
pemerintahan yang
Kementerian
baik
Skala Tingkat :
85≤n≤100 = 4 : Sangat Baik
65≤n<85
= 3 : Baik:
45≤n<65
= 2 : Kurang
n<45
= 1 : Sangat Kurang
100%
4
(Hijau)
(Hijau)
(Merah)
(Merah)
Keterangan
(Kompenen Pengukuran)
Koordinasi dan Sinkronisasi
Rancangan Peraturan Perundangan
BARU oleh Kemenko Bidang
Perekonomian. (Target 54
Rancangan Peraturan Perundangundangan)
Koordinasi dan Sinkronisasi
PERUBAHAN Peraturan
Perundangan oleh Kemenko Bidang
Perekonomian. (Target 9
rekomendasi)
Merupakan pelaksanaan fungsi
pengendalian atas pelaksanaan
Kebijakan yang sedang berjalan)
Semula : Gabungan nilai tata kelola
keuangan, implementasi SAKIP,
implementasi RB, penguatan SDM
Diubah : Tata kelola Kebijakan
Kementerian Teknis melalui
Peraturan/Keputusan Teknis dalam
rangka deregulasi kebijakan
perekonomian
Sumber : Dokumen PK 2015, diolah
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
18
penurunan/cascading
Proses
Indikator
Koordinator
dituangkan
Kinerja
Kementerian
Bidang
Perekonomian
dalam
kinerja
memiliki
pengaruh
Kementerian.
terhadap
Upaya
ini
memastikan bahwa Rencana Strategis
kinerja
yang ditetapkan Kementerian Koordinator
pejabat eselon I dan II, dan penetapan
Bidang Perekonomian telah dijabarkan
Indikator Kinerja Individu dalam Sasaran
dalam sasaran strategis yang diukur
Kinerja
level
melalui pencapaian indikator kinerja pada
individu. Indikator Kinerja Utama (IKU)
seluruh pegawai, dari pejabat struktural
yang merupakan indikator keberhasilan
pada semua tingkatan, hingga pelaksana.
Kementerian diturunkan dalam bentuk
Sehingga setiap pegawai dapat diukur
Indikator Kinerja (IK) dalam Program dan
kinerja
individunya
Kegiatan untuk level organisasi eselon I
sejauh
mana
dan II atau dapat juga disebut IKU tingkat
mendukung
Eselon I dan II. Indikator pada SKP disusun
kementerian, yang dikelola melalui sistem
untuk mendukung pencapaian Indikator
//skp.ekon.go.id.
Kinerja
tingkatan
Strategis Kementerian sampai ke Indikator
jabatan ataupun pekerjaan yang dilakukan
Kinerja keberhasilan Kegiatan tertuang
pegawai,
dalam lampiran.
Pegawai
(SKP)
pimpinan.
dapat
perjanjian
tersebut
untuk
Apapun
dipastikan
pekerjaan
untuk
kontribusinya
pencapaian
Penjabaran
diketahui
dalam
strategi
Sasaran
4. Pengukuran Kinerja
Kementerian Koordinator Bidang
menghitung, sifat data IKU, sumber data,
Perekonomian telah menyusun manual
periode data IKU, dan keterangan lain
IKU yang digunakan sebagai panduan
yang dianggap perlu. Cara pengukuran
menjaga konsistensi pengukuran kinerja.
capaian kinerja untuk setiap sasaran
Manual
dokumen
strategis adalah berbeda. Secara garis
penjelasan IKU Kementerian Koordinator
besar formula penghitungan IKU untuk
Bidang Perekonomian yang berisi berbagai
setiap sasaran strategis adalah sebagai
informasi seperti definisi, satuan, tehnik
berikut :
IKU
merupakan
Formula penghitungan IKU untuk Sasaran Strategis Terwujudnya Koordinasi dan
Sinkronisasi Kebijakan Perekonomian :
Implementasi Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan perekonomian = realisasi
dibandingkan dengan target, rancangan peraturan perundang-undangan baru
bidang perekonomian
Target 2015 : 54 Rancangan Peraturan Baru
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
19
Formula penghitungan IKU untuk Sasaran Strategis Terwujudnya Pengendalian
Kebijakan Perekonomian :
Implementai pengendalian pelaksanaan kebijakan bidang perekonomian =
realisasi dibandingkan dengan target, rancangan perubahan peraturan
perundang-undangan
dibidang
Perekonomian.
Target 2015 : 9 Rancangan Perubahan
Formula penghitungan IKU untuk Sasaran Strategis
Terwujudnya Tata Kelola
Pemerintah yang baik :
Tata kelola Kebijakan Kementerian Teknis melalui Peraturan/Keputusan Teknis
dalam rangka deregulasi kebijakan perekonomian = realisasi dibandingkan
dengan target, Peraturan/Keputusan Kementerian Teknis di bawah Koordinasi
kemenko Bidang Perekonomian.
tata kelola kebijakan
Target 2015 : 141
tingkat
Adapun Status Kinerja NKO ditandai
capaian kinerja organisasi tahun 2015
dengan warna, pemberian warna sesuai
dilakukan dengan cara menjumlahkan
nilai NKO, adalah sebagai berikut:
Untuk
pengukuran
nilai capaian IKU dibagi dengan jumlah
IKU Kementerian. Metode perhitungan
Gambar 2.3.
Polarisasi Capaian Kinerja Organisasi
Nilai Kinerja Organisasi (NKO) diperoleh
melalui
penghitungan
dengan
Hijau
Kuning
Merah
X ≥ 100
80 ≤ X < 100
X < 80%
(memenuhi
ekspektasi)
(belum
memenuhi
ekspektasi)
(tidak
memenuhi
ekspektasi)
menggunakan data target dan realisasi
IKU
yang
tersedia.
Dengan
membandingkan antara data target dan
realisasi IKU, akan diketahui nilai NKO.
Formula penghitungan NKO adalah:
NKO =
∑ capaian IKU
∑ IKU
× 100%
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
20
Tahapan pengukuran kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terdiri dari
tiga tahap yaitu (Permenko 9 Nomor 2015) :
a.
Pengumpulan Data Kinerja (IKU)
Setiap semester dilakukan pengukuran kinerja oleh Bagian Fasilitasi Penguatan Kinerja,
Biro Perencanaan. Untuk data kinerja kegiatan (fisik output dan anggaran) dilakukan
per triwulan oleh Bagian Program dan Anggaran. Data Capaian Kinerja Bulanan
Individu dikumpulkan per triwulan oleh Bagian SDM. Data capaian target IKU
dikumpulkan dari KPI Manager tiap-tiap kedeputian/sekretariat.
b.
Analisis Data Kinerja
Data yang telah terkumpul di kelompokkan dan dilakukan analisis. Terhadap Indikator
yang belum tercapai dilakukan pendalaman atas hambatan-hambatan yang dihadapi
dalam pencapaian kinerja. Kegiatan analisis ini dilakukan bersama dengan Unit kerja
terkait.
c.
Melaporkan Capaian Kinerja
Analisis capaian kinerja semesteran akan dipaparkan pada Rapat Pimpinan Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian. Hasil laporan kinerja semester akan digunakan
sebagai bahan penyusunan Laporan Kinerja pada akhir tahun.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
21
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
22
1. Capaian Kinerja Organisasi
Capaian Target Indikator Kinerja Utama Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian 2015 menunjukan hasil yang positif, walupun ada salah satu indikator
kinerja yang masih belum mencapai tingkat yang diinginkan (IKU No.3). Capaian kinerja
dengan pendekatan polarisasi warna terdapat pada warna Hijau. Capaian kinerja
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Tahun 2015 disajikan dalam tabel sebagai
berikut :
Tabel 3.1.
Realisasi Capaian Kinerja 2015 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
SS
Indikator Kinerja Utama
Target
Realisasi
Kinerja
(a)
(b)
(c)
(d)
(e)=(d)/(c)
Terwujudnya
sinkronisasi dan
koordinasi kebijakan
perekonomian
Presentase program
koordinasi kebijakan bidang
perekonomian yang
terimplementasi
100%
106%
106%
Terwujudnya
pengendalian
kebijakan
perekonomian
Presentase kebijakan bidang
perekonomian yang
terimplementasi
100%
211%
211%
4
3
Baik
Terwujudnya tata
kelola pemerintahan
yang baik
Tingkat Kinerja Manajeman
Kementerian
85≤n≤100 = 4 : Sangat Baik/Hijau
65≤n<85 = 3 : Baik/Hijau
45≤n<65 = 2 : Kurang/Merah
n<45 = 1 : Sangat Kurang/Merah
Penjelasan atau analisis atas capaian IKU untuk setiap sasaran strategis Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian tertuang dalam sub bab berikut.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
23
2. Analisis Capaian Kinerja Organisasi
Sasaran Strategis 1 : Terwujudnya sinkronisasi dan koordinasi kebijakan
perekonomian
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian adalah instansi pemerintah yang
melaksanakan tugas koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian urusan Kementerian dalam
penyelenggaraan pemerintahan di bidang perekonomian. Dalam pencapaian sasaran
strategis ini, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menetapkan Indikator Kinerja
Utama (IKU) yang pencapaiannya ditabulasikan dalam tabel 3.2.
Indikator Kinerja Utama
Presentase program
koordinasi kebijakan
bidang perekonomian
yang terimplementasi
Target
Realisasi
100%
106%
(54
Rancangan
Peraturan
Per-UU-an
sebagai
implementasi
atas
rekomendasi)
(57
Rancangan
Peraturan
Per-UU-an
sebagai
implementasi
atas
rekomendasi)
Kinerja
106%
Tabel 3.2.
Capaian IKU pada
sasaran strategis
terwujudnya
sinkronisasi dan
koordinasi kebijakan
perekonomian
Penjelasan atas capaian IKU di atas adalah sebagai berikut :
Rancangan Undang-Undang, Rancangan
Peraturan
Pemerintah,
Rancangan
Peraturan Presiden, Rancangan Keppres,
Rancangan Inpres, Peraturan Menko Bidang
Perekonomian
Melalui berbagai
Koordinasi
berbagai
rapat
dan Sinkronisasi dengan
Kementerian terkait di bidang
Bidang
dan
Keputusan
Perekonomian.
Kementerian
Menko
Tahun
Koordinator
2015
Bidang
Perekonomian menargetkan sebanyak 54
perekonomian dihasilkanlah rekomendasi
Rancangan
kebijakan yang selanjutnya ditindaklanjuti
Undangan Baru dan terealisasi sebanyak 57
menjadi Rancangan Peraturan Perundang–
Rancangan
Peraturan
Undangan. Batasan Rancangan Peraturan
Undangan.
Rancangan
Perundang-Undangan tersebut berupa :
Perundang-Undangan
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
Peraturan
yang
PerundangPerundangPeraturan
dihasilkan
24
dikelompokan kedalam 4
tema
sebagai
ditetapkan dalam Peta Strategi Kemenko
bagian menterjemahkan Nawa Cita butir 6
Bidang Perekonomian. Jumlah rancangan
(produktivitas dan daya saing pasar) dan 7
peraturan
(kemandirian ekonomi). Pengelompokan ke
dihasilkan pada tiap tema terlihat dalam
dalam empat tema tersebut adalah untuk
Gambar 3.1 berikut.
perundang-undangan
yang
memenuhi harapan stakeholder, dan telah
Gambar 3.1.
Pengelompokan Tema Capaian Koordinasi dan Sinkronisasi (IKU 1)
Kebijakan Perekonomian
10
Optimalisasi Hubungan
Internasional
10
Transformasi Industri
14
Peningkatan Daya Saing
23
Jumlah Rancangan
Peraturan PerundangUndangan Baru
Stabilisasi dan pertumbuhan
ekonomi
0
10
20
30
Rancangan Peraturan Perundang-Undangan Baru sebagai wujud keberhasilan Sinkronisasi
dan Koordinasi Kebijakan Perekonomian yang dilakukan Kemenko Bidang Perekonomian
tahun 2015 sesuai dengan pengelompokan tema, adalah sebagai berikut:
1. Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi
Tema Stabilitas dan pertumbuhan
menuntut Kementerian Koordinator Bidang
ekonomi menjadi fokus untuk mengatasi isu
Perekonomian untuk responsif. Melalui
strategis di bidang ekonomi makro dan
berbagai macam kegiatan rapat koordinasi
keuangan
dan sinkronisasi yang dilakukan di tahun
dan
bidang
Pangan
dan
Pertanian. Seperti dijelaskan pada bab
2015
Kementerian
pendahuluan di atas, isu strategis ini masih
Perekonomian menghasilkan 23 rancangan
menghadapi berbagai macam kendala yang
paraturan perundang – undangan baru dan
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
Koordinator
Bidang
25
1
Paket
Kebijakan
Program
kebijakan
mewujudkan pertumbungan ekonomi yang
pengembangan Kelapa Sawit. Diharapkan
inklusif dan berkelanjutan. Adapun rincian
rancangan
dari rancangan peraturan perundang –
tersebut
kontribusi
dapat
terhadap
pertumbuhan
ekonomi
memberikan
stabilitas
dan
sehingga
dapat
undang tersebut bisa dilihat pada gambar di
bawah ini :
Sumber : DBK Ekonomi Makro dan Keuangan;
DBK Pangan dan Pertanian; 2015; diolah.
Gambar 3.2
Rancangan Peraturan Perundang – Undangan Baru dalam rangka Mewujudkan Stabilitas dan
Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2015
Salah satu rancangan peraturan
tertentu
dan/atau
perundang-undangan yang memiliki daya
tertentu.
Rancangan
ungkit
dan
menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 18
pertumbuhan ekonomi adalah RPP tentang
Tahun 2015 pada tanggal 6 April 2015 oleh
Fasilitasi
untuk
Presiden Joko Widodo. Latar belakang
penanaman modal di bidang- bidang usaha
terbitnya peraturan ini adalah karena sejak
tinggi
Pajak
dalam
stabilitas
Penghasilan
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
di
daerah
tersebut
-daerah
disahkan
26
tahun
2011
pertumbuhan
ekonomi
yang ada, terkait hal ini ternyata belum
Indonesia mengalami perlambatan yang
memberikan signifikansi yang baik bagi
ditandai dengan rendahnya nilai investor
pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga
dan
menuntut
dipandang perlu menerbitkan PP tentang
menunjang
Fasilitasi pajak guna mendorong investor.
nilai
ekspor.
perubahan
strategi
Hal
ini
untuk
percepatan perekonomian. Pelaksanaan PP
Peran Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian adalah melakukan rapat-rapat
koordinasi hingga menghasilkan rekomendasi yang menyepakati dirancangnya kebijakan
baru yang berdampak positif bagi pelaku ekonomi berupa Peraturan Perundang-Undangan.
Gambar 3.3
Ilustrasi Koordinasi Pembahasan
Fasilitasi Pajak Penghasilan untuk
penanaman modal di bidangbidang usaha tertentu dan/atau di
Daerah – daerah tertentu.
Sumber : Humas, 2015
Manfaat PP Nomor 18 Tahun 2015 adalah menjawab permasalahan di bidang tax
allowance. Peraturan Pemerintah
ini
mampu
adalah salah satu outcome yang
dicapai terkait Stabilitas dan
Pertumbuhan Ekonomi. Ilustrasi
kemudahan-kemudahan
dapat
digambarkan sebagai berikut.
Gambar 3.4
Kemudahan Fasilitas Pajak
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
Sumber : DBK Ekonomi Makro dan Keuangan
. Hal ini
27
Efektifitas PP Nomor 18 Tahun 2015 akan dirasakan oleh masyarakat, bila
pemberlakuan dan substansinya dapat diketahui oleh pelaku usaha. Peran Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian melalui Deputi Koordinasi Bidang Ekonomi Makro dan
Keuangan adalah turut memastikan Peraturan Perundang-undangan ini diketahui dan dapat
dijalankan melalui workshop dan sosialisasi. Melalui sosialisasi maka semua elemen
masyarakat
terutama
BUMN
dan
stakeholder
mengetahui
untuk
kemudian
diimplementasikan, sehingga lebih mendorong investasi dan stabilitas perekonomian terjaga.
2. Peningkatan Daya Saing
Tema peningkatan daya saing dalam
Peta Strategi Kementeian Koordinator
Bidang Perekonomian menjadi fokus untuk
mengatasi isu di Bidang Koordinasi
Perniagaan dan Industri, dan isu di Bidang
Percepatan
Infrastruktur
Dan
Pengembangan Wilayah. Kendala yang
dihadapi isu strategis bidang tersebut
memerlukan inisiasi dari Kementerian
Koordinator
untuk
menghasilkan
rekomendasi
kebijakan
baru
yang
selanjutnya dijadikan rancangan peraturan
perundang – undangan. Tahun 2015 dalam
menangani isu perniagaan, industri,
percepatan
infrastruktur,
dan
pengembangan wilayah, fungsi koordinasi
dan
sinkronisasi
Kemenko
Bidang
Perekonomian menghasilkan rekomendasi
yang menginisiasi 14 rancangan peraturan
perundang-undangan
agar
mampu
meningkatkan daya saing di bidang
perekonomian.
Gambar 3.5
Rancangan Peraturan Perundang-undangan Baru dalam rangka Peningkatan Daya Saing
Sumber : DBK Perniagaan & Industri; DBK Percepatan Infrastruktur & Pengembangan Wilayah; 2015;
diolah.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
28
Rekomendasi yang mendorong disusunnya Rancangan Peraturan Pemerintah
terhadap usulan Fasilitasi di Kawasan Ekonomi Khusus dinilai memiliki urgensi terhadap
peningkatan daya saing. Rancangan ini disahkan menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 96
Tahun 2015 oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 28 Desember 2015. Lahirnya
Gambar 3.6
Ilustrasi Koordinasi dan Sinronisasi
Pembahasan usulan RPP Fasilitasi di Kawasan Ekonomi Khusus
Pokok-pokok rancangan
peraturan tersebut merupakan
amanat UU No. 39 tahun 2009
tentang
Kawasan
Ekonomi
Khusus
untuk
pemerataan
ekonomi yang adil.
Sumber : Humas, 2015
laboratorium
kebijakan. Adapun
sebaran Lokasi KEK
2009-2014
dan
indikasi lokasi KEK
Tahun 2015 - 2019
adalah
sebagai
berikut.
Gambar 3.7
Sebaran Lokasi
Kawasan Ekonomi
Khusus
Sumber :
DBK Percepatan
Infrastruktur dan
Pengembangan
Wilayah,2015
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
sekaligus
menjadi
29
Rekomendasi-rekomendasi yang dimasukan
yang menghasilkan barang, dan industri
dalam peraturan tersebut antara lain bahwa
yang menghasilkan jasa.
KEK harus memiliki karakter atau semangat:
Perbedaan perlakuan di KEK adalah: di
tax
KEK
-
free, bureaucracy-free,
KITAS-
tidak
diberlakukan
pembatasan
free, union-free, license-free, dan long term
leashold property. Fasilitas selama masa
bahwa barang yang boleh diimpor adalah
awal investasi yang diberikan KEK ialah
dalam negeri; (b) sudah diproduksi namun
pembebasan bea masuk atas impor mesin,
spesifikasi
barang, dan bahan selama 2 tahun untuk
dibutuhkan; dan (c) sudah diproduksi
pembangunan atau pengembangan industri
namun jumlahnya belum mencukupi.
barang yang (a) belum diproduksi di
belum
memenuhi
yang
3. Transformasi Industri
Rumpun tema ini diangkat untuk mengatasi isu strategis di bidang pengelolaan
energi, sumber daya alam dan lingkungan hidup;
dan isu di bidang ekonomi kreatif,
kewirausahaan dan daya saing KUKM. Rekomendasi sebagai hasil tindakan koordinasi dan
sinkronisasi untuk mengatasi permasalahan pada isu strategis ini telah mendorong dibuatnya
10 rancangan peraturan perundang–undangan, yaitu sebagai berikut:
Sumber : DBK Pengelolaan SDALH;
DBK DBK EkrafKewirausaahan-KUKM;
2015; diolah.
Gambar 3.8
Rancangan Peraturan Perundang – Undangan Baru dalam Rangka Transformasi Industri Tahun 2015
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
30
Rekomendasi dihasilkan dari beberapa kali kegiatan koordinasi dan sinkronisasi hingga
dianggap bahwa isu tersebut perlu dibuat suau kebijakan baru. Hal ini merupakan buah
pikiran yang solid dan matang agar tidak kaku dan sulit diimplementasikan. Berikut
adalah beberapa gambar ilustrasi kegiatan-kegiatan koordinasi dan sinkronisasi, terkait
transformasi industri.
Gambar 3.9
Koordinasi Realisasi Penyerapan Biodesel.
Dipimpim oleh Bapak Darmin Nasution dan dihadiri oleh ). Hadir dalam rapat tersebut Menteri
Badan Usaha Milik
Negara Rini Soemarno,
Menteri Perindustrian
Saleh Husin, Direktur
Utama PT Pertamina
(Persero) Dwi Soetjipto,
Direktur Utama PT PLN
(Persero) Sofyan Basir,
Direktur Utama Badan
Pengelola
Dana
Perkebunan
(BPDP)
Sawit
Bayu
Krisnamurthi
dan
Kepala Badan Kebijakan
Fiskal
Kementerian
Keuangan
Suahasil
Nazara.
Gambar 3.10
Koordinasi Persiapan Penerapan E-Commerce di bidang industri.
Dihadiri oleh Beberapa
Menteri, turut hadir dalam
rapat ini, Tedjo Edhi
(Menko
Polhukam),
Rachmat Gobel (Menteri
Perdagangan),
dan
Rudiantara (Menkominfo)
Sumber : Humas, 2015
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
31
Salah satu rancangan peraturan
menyusun berbagai aturan yang berkaitan
perundang - undangan yang dihasilkan
dengan
Kemenko
yaitu
Koordinator Bidang perekonomian harus
Kebijakan
mampu mengkoordinasikan keperluan hal-
Fasilitas Perdagangan Bebas di Dalam
hal tersebut. Menteri Keuangan menyusun
Negeri (Inland Free Trade Arrangement).
aturan tentang bea masuk dan PPN, Menteri
Kebijakan
Perdagangan menyusun aturan tentang
Bidang
Rancangan
Inpres
ini
mendesak,
hadirnya
Perekonomian
tentang
menjadi
penting
khususnya
Masyarakat
dan
menghadapi
Ekonomi
perdagangan
kemudahan
dan
bebas.
Menteri
kecepatan
Surat
ASEAN.
Keterangan Asal (SKA) Barang Indonesia
Rancangan intruksi ditandatangani Presiden
dan SKA lainnya yang diperlukan, Menteri
menjadi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor
Perindustrian membuat aturan mengenai
13 Tahun 2015 tentang Kebijakan Fasilitas
penetapan industri dan kawasan tertentu
Perdagangan Bebas di Dalam Negeri, pada
yang mendapatkan fasilitas perdagangan
23 Desember 2015. Inpres ini lahir untuk
bebas di dalam negeri dan pemberian
menjawab masalah di bidang industri
sertifikat Tingkat Kandungan Dalam Negeri
terutama
(TKDN), dan Kepala Badan Koordinasi
untuk
Penanaman
Modal
(BKPM)
menyusun
aturan tentang kemudahan dan percepatan
izin investasi. Melalui Inpres ini pula,
Hal
tersebut
Presiden
memberikan
mandat
kepada
merupakan outcome transformasi industri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Dalam
untuk melakukan pemantauan, evaluasi,
proses
rancangan
inpres
ini,
Presiden memerintahkan beberapa menteri
dan
dan
pelaksanaan
pejabat
setingkat
menteri,
untuk
pengendalian
penyusunan
kebijakan
dan
fasilitas
perdagangan bebas di dalam negeri.
4. Optimalisasi Hubungan Internasional
Optimalisasi
hubungan
internasional
merupakan
tema
guna
mengukur
penyelesaian permasalahan di bidang kerja sama internasional. Isu–isu kerja sama
internasional yang terjadi di tahun 2015, menuntut Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian untuk mampu melakukan koodinasi dan menghasilkan rekomendasi yang
mendorong peningkatan hubungan internasional yang makin kondusif, erat, dan
menciptakan nilai investasi bagi negara. Koordinasi dan sinkronisasi guna optimalisasi
hubungan internasional antara lain, sebagai berikut :
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
32
Gambar 3.11
Sumber : DBK Kerjasama Ekonomi
Internasional; 2015; diolah.
Koordinasi dan Sinkronisasi Optimalisasi Hubungan Internasional Tahun 2015
Salah satu upaya koordinasi di bidang hubungan internasional yang dianggap
penting
dalam
optilimasi
hubungan
internasional adalah Kerjasama Bilateral
Gambar 3.12
Koordinasi Optimalisasi Hubungan Internasional
antara Indonesia dan Italia. Bagi Itali,
tahun 2015 merupakan kunjungan
pertama seorang kepala negara Italia ke
Indonesia
sepanjang
66
tahun
hubungan diplomatik kedua negara.
Hubungan bilateral Indonesia
dan Italia telah berkembang dengan
baik bahkan terus meningkat. Hal ini
ditandai
dengan
perdagangan
peningkatan
tren
bilateral. Perdagangan
bilateral Indonesia dan Italia mencatat
angka positif. Total nilai perdagangan
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
Sumber : Humas, 2015
33
bilateral antara Indonesia dan Italia sebesar 4 juta US Dollar. Angka ini menunjukkan
peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 3,8 juta US Dollar.
. Ini adalah outcome optimalisasi hubungan
internasional
Melalui upaya optilimasi hubungan antar negara masih banyak potensi yang belum
dimanfaatkan dalam kerjasama dua negara, yang perlu dieksplorasi lebih lanjut. Dalam
hubungan dengan Italia, kita mengundang para investor asal Italia untuk berpartisipasi
dalam proyek di sektor industri kreatif, pariwisata dan kelautan. Hubungan kerjasama
Indonesia dan Itali tahun 2015 mempunyai nilai investasi lebih dari 500 juta US Dollar.
Sasaran Strategis 2 : Terwujudnya pengendalian kebijakan perekonomian
Salah satu fungsi dari Kementerian
yang
menghasilkan
rekomendasi
dan
Koordinator Bidang Perekonomian adalah
berimplikasi pada Rancangan perubahan
melakukan
Peraturan Perundangan yang ada.
pengendalian
kebijakan
pemerintah melalui pemantauan, evaluasi,
serta
pengendalian
dan
ini, berupa Indikator Kinerja Utama (IKU)
pelaksanaan kebijakan yang sudah berjalan.
Presentase program koordinasi kebijakan
Terwujudnya
pengendalian
bidang
perekonomian
merupakan
fungsi
pengendalian
penyusunan
Ukuran pencapaian sasaran strategis
atas
kebijakan
implementasi
pelaksanaan
perekonomian
yang
terimplementasi, dengan capaian tahun
2015 adalah sebagai berikut.
kebijakan bidang perekonomian oleh K/L
Indikator Kinerja
Target
Realisasi
Kinerja
Presentase kebijakan
100%
211%
211%
bidang perekonomian
(9 Rancangan
Perubahan
Peraturan PerUU-an)
(19 Rancangan
Perubahan
Peraturan PerUU-an)
Utama
Tabel 3.3.
Capaian IKU pada
sasaran strategis
Terwujudnya
pengendalian
kebijakan
perekonomian
yang terimplementasi
Tingginya Realisasi dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan diawal tahun
disebabkan pada pertengahan tahun 2015, Kemenko Bidang Perekonomian diamanatkan
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
34
untuk membuat paket-paket kebijakan guna mempercepat upaya pemulihan perekonomian
negara. Rancangan Perubahan Peraturan Perundang-Undangan sebagai hasil dorongan
Rekomendasi dari koordinasi dan sinkronisasi atas fungsi pengendalian Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian antara lain, sebagai berikut:
Gambar 3.13
Daftar Rancangan Peraturan Perundang-Undangan (Perubahan)
dalam rangka pengendalian kebijakan perekonomian
Disusunnya
rancangan
peraturan
perundang-undangan
tersebut
ditujukan
untuk
menyempurnakan atau merubah peraturan perundang-undangan yang sudah berjalan.
Diharapkan dengan dilakukannya perubahan pada peraturan perundang-undangan yang
sudah berjalan, dapat menjawab tantangan dan permasalahan terkait isu strategis dalam
bidang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya saing, transformasi industri
serta optimalisasi hubungan internasional.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
35
Kinerja sasaran strategis terwujudnya pengendalian kebijakan perekonomian tercapai
juga melalui paket-paket kebijakan yang ditetapkan tahun 2015.
P
aket Kebijakan sebagai Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
dalam melaksanakan fungsi Pengendalian Kebijakan.
Sesuai
yang
dari penataan kebijakan ekonomi nasional
Menteri
ini adalah tersusunnya 8 (delapan) paket
Koordinator Bidang Perekonomian untuk
ekonomi kebijakan pada tahun 2015.
melakukan
dan
Kemenko Bidang Perekonomian sebagai
pengendalian penyusunan dan pelaksanaan
instansi yang melakukan koordinasi dan
kebijakan
sinkronisasi kebijakan di bidang ekonomi
diberikan
dengan
Presiden
mandat
kepada
pemantauan,
di
bidang
evaluasi,
perekonomian,
Kementerian
Koordinator
Perekonomian
telah
koordinasi
dan
Bidang
memegang peranan yang cukup penting
melaksanakan
dalam penyusunan paket kebijakan ekonomi
sinkronisasi
kementerian/lembaga
yang
dengan
berada
di
yang
dikeluarkan
mendorong
pemerintah
pertumbuhan
demi
ekonomi.
bawah koordinasinya untuk melakukan
Peluncuran paket kebijakan ekonomi pada
Penataan kebijakan ekonomi nasional. Hasil
tahun 2015 dilakukan secara bertahap.
Latar belakang disusunnya paket Kebijakan Ekonomi ini adalah:
a. Adanya permasalahan yang cukup kompleks di bidang regulasi dan birokrasi;
b. Lemahnya penegakan hukum; dan
c. Ketidakpastian usaha yang menjadi beban daya saing industri.
Manfaat peluncuran paket kebijakan ekonomi pada tahun 2015 adalah:
a. Peningkatan pertumbuhan ekonomi;
b. Peningkatan daya beli masyarakat;
c. Peningkatan daya saing industri dan perluasan basis industri nasional; dan
d. Peningkatan ekspor.
Peta Paket Kebijakan Ekonomi tahun 2015 dapat dilihat pada gambar berikut.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
36
3
1
Gambar 3.14
Peta Paket Kebijakan Ekonomi I-VIII
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
Sumber : Humas, 2015
37
Pokok-pokok paket kebijakan ekonomi yang diterbitkan tahun 2015, adalah :
Paket Kebijakan Ekonomi I, 2015
Paket kebijakan ekonomi I difokuskan kepada:

Deregulasi yakni :
- Merasionalisasi peraturan dengan menghilangkan
duplikasi/redundansi/irrelevant regulations
- Melakukan keselarasan antar peraturan
- Melakukan konsistensi peraturan

Debirokratisasi berupa :
- Simplifikasi perizinan seperti satu identitas pelaku usaha/profile sharing,
sedikit persyaratan perizinan, dan sebagainya
- Adanya SOP dan SLA yang jelas dan tegas dalam mekanisme dan prosedur
perizinan serta penyediaan help desk dan pengawasan internal yang
berkelanjutan
- Menganut sistem pelimpahan kewenangan kepada PTSP (tempat, bentuk,
waktu, biaya)
- Penerapan Risk Management yang selaras dalam proses perizinan
- Pelayanan perizinan dan non perizinan melalui sistem elektronik

Penegakan hukum dan kepastian usaha, diantaranya :
- Adanya saluran penyelesaian permasalahan regulasi dan birokrasi (damage
control channel)
- Pengawasan,
pengamanan
dan
kenyamanan,
serta
pemberantasan
pemerasan dan pungli
- Membangun ketentuan sanksi yang tegas dan tuntas dalam setiap peraturan
Paket Kebijakan Ekonomi II 2015
Tidak seperti paket kebijakan ekonomi I yang lebih banyak berfokus kepada
penyempurnaan peraturan perundang-undangan, paket kebijakan ekonomi II lebih
difokuskan kepada deregulasi dan debirokratisasi peraturan untuk
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
38
Regulasi yang dibutuhkan untuk layanan cepat investasi 3 jam ini
adalah Peraturan Kepala BKPM dan Peraturan Pemerintah mengenai Kawasan
Industri serta Peraturan Menteri Keuangan.
Paket Kebijakan Ekonomi III 2015
Pemerintah meluncurkan paket Kebijakan Ekonomi Tahap Ke 3 meliputi (1)
Penurunan Harga BBM, Listrik dan Gas; (2) Perluasan Penerima KUR; dan (3)
Penyederhanaan Izin Pertanahan untuk kegiatan penanaman modal.
Paket Kebijakan Ekonomi IV 2015
 Kebijakan pengupahan yang adil, sederhana dan terproyeksi.
RPP Pengupahan adalah mengenai formula perhitungan upah minimum. Adanya
formula perhitungan upah minimum membawa perubahan baru terhadap proses
penetapan upah minimum yang telah berlaku selama ini.
karena memperhitungkan tingkat inflasi dan pertumbuhan
ekonomi. Sementara dalam perhitungan upah sebelumnya, proses penetapan upah
minimum diawali dari survey Kebutuhan Hidup Layak (KHL), kemudian dibahas
dalam sidang dewan pengupahan untuk ditetapkan menjadi nilai KHL. Nilai KHL
dibahas dalam sidang dewan pengupahan untuk ditetapkan menjadi besaran nilai
upah minimum. Kecenderungan dalam proses pembahasan besaran upah
minimum selama ini selalu menimbulkan polemik, akibat tidak adanya acuan baku
dalam menetapkan nilai upah minimum
 Kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang lebih murah dan luas.
untuk mendorong gerak roda ekonomi masyarakat, pemerintah memberikan
subsidi bunga yang lebih besar bagi KUR. Untuk itu, dilakukan Perubahan
Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 6 Tahun 2015
menjadi Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha
Rakyat.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
39
Salah satu upaya koordinasi dan sinkronisasi guna
pengendalian kebijakan dan
memberikan
adalah pengendalian pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Kebijakan KUR melakukan berbagi
upaya dalam rangka
Beberapa
kebijakan yang dilakukan Kemenko Bidang Perekonomian dalam penyaluran KUR
diantaranya :
1. Melakukan perbaikan regulasi pelaksanaaan KUR dengan menyusun Rancangan
Keppres tentang Perubahan atas keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 2015 tentang
Komite Kebijakan Pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Rancangan
Keppres ini sudah ditetapkan oleh Presiden dengan Keputusan Presiden Nomor 19
Tahun 2015.
2.
Melaksanakan koordinasi/sinkronisasi terkait Imbal Jasa Penjaminan/Premi (IJP) KUR
khususnya bagi usaha mikro. Beberapa kebijakan penting yang dihasilkan adalah:
-
penyusunan rancangan instruksi
presiden tentang pembiayaan bagi
Gambar 3.15
Ilustrasi Koordinasi KUR
usaha mikro dan kecil;
-
penyusunan
permenko
tentang
komite kebijakan pembiayaan bagi
usaha mikro dan kecil; dan
-
penyusunan
permenko
tentang
pedoman pelaksanaan KUR bagi
usaha mikro dan kecil.
3. Melakukan
pemantuan
terhadap
kegiatan penyaluran KUR Mikro di
Sumber : Humas, 2015
seluruh provinsi Indonesia. Beberapa
tahapan yang dilakukan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam rangka
penyaluran KUR adalah :
-
Persiapan Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan KUR tahun 2015,
Menko
Perekonomian melakukan Koordinasi KUR bersama dengan kementerian dan
lembaga lain, Direksi Bank BUMN, serta Direksi Pusat Penjamin. Kebijakan yang
dihasilkan adalah melalui pedoman pelaksanaan KUR mikro. Pada rancangan
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
40
pedoman tersebut, dijelaskan mengenai tujuan pengembangan skema KUR mikro,
yaitu sebagai berikut :
1) Melanjutkan peningkatan akses pembiayaan UMK sektor prioritas (pertanian,
perikanan, industri kecil, TKI) kepada perbankan;
2) Membangun sistem informasi debitur Usaha Mikro dan Kecil yang efektif dan
berkesinambungan;
3) Mendorong kerjasama Kementerian, Pemerintah Daerah, dan bank dalam
memfasilitasi peningkatan kapasitas UMKM;
4) Meningkatkan peran perusahaan penjamin dalam skema kredit yang
berpenjaminan;
5) Penetapan skema penyaluran KUR dengan rincian sebagai berikut :
Jenis KUR
Plafon Kredit
Subsidi Bunga
Alokasi Dana yang
disediakan (Rp)
KUR Mikro
s/d 25 Juta
7%
20 Triliun
KUR Ritel
> Rp 25juta s.d Rp 500 juta
3%
9 Triliun
KUR Penempatan TKI
s/d 25 Juta
12%
1 Triliun
- Implementasi dan Umpan Balik
Tahap ini adalah memastikan Kebijakan KUR terimplementasi, dan diperolehnya
umpan balik dalam rangka penguatan regulasi dan perbaikan alur skema dari KUR
sekaligus penyerahan data calon debitur potensial dari Pemerintah Provinsi
setempat.
Paket Kebijakan Ekonomi V 2015

Revaluasi Aset
Kebijakan ini diharapkan bisa membantu perusahaan meningkatkan performa
finansialnya melalui perbaikan nilai asset yang terkena dampak depresiasi
rupiah dan inflasi.
Manfaat lainnya adalah beban
cashflow pajak saat revaluasi menjadi lebih ringan, karena tarif PPh revaluasi
yang rendah. Beban PPh pada tahun-tahun setelah revaluasi juga lebih rendah

Menghilangkan pajak berganda dana investasi Real Estate, Properti dan
Infrastruktur

Deregulasi di bidang perbankan syariah
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
41
Paket Kebijakan Ekonomi VI
Dalam paket kebijakan ekonomi VI, ada 3 kebijakan deregulasi yang dikeluarkan,
yakni:
1.
Upaya
melalui
Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Berbagai fasilitas dan
kemudahan yang akan diberikan di KEK meliputi:
No
Bidang
1. Pajak
Penghasilan
(PPh)
2.
3.
4.
5.
6.
Fasilitas dan Kemudahan
Kegiatan Utama (Tax Holiday):
- pengurangan PPh sebesar 20-100% selama10-25
tahun dengan nilai investasi lebih dari Rp.1triliun.
- pengurangan PPh sebesar 20-100% selama5-15
tahun dengan nilai investasi lebih dari Rp. 500 milyar.
Kegiatan di luar Kegiatan Utama(Tax Allowance):
o Pengurangan penghasilan netto sebesar 30% selama
6 tahun;
o Penyusutan yang dipercepat;
o PPh atas deviden sebesar 10%;
o Kompensasi kerugian 5-10 tahun.
PPN dan
PPnBM
Impor: tidak dipungut
Pemasukan dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean
(TLDDP) ke KEK tidak dipungut
Pengeluaran dari KEK ke TLDDP tidak dipungut
Transaksi antar pelaku di KEK: tidak dipungut
Transaksi dengan pelaku di KEK lain: tidak dipungut
Kepabeanan Dari KEK ke pasar domestik: tarif bea masuk memakai
ketentuan Surat Keterangan Asal
Pemilikan
Orang asing/badan usaha asing dapat memiliki
Properti
hunian/properti di KEK (Rumah Tapak atau Satuan
Bagi Orang Rumah Susun).
Asing
Pemilik hunian/properti diberikan izin tinggal dengan
Badan Usaha Pengelola KEK sebagai penjamin
Dapat diberikan pembebasan PPnBM dan PPn atas barang
sangat mewah (luxury)
Kegiatan
Dapat diberikan pengurangan Pajak Pembangunan I
Utama
sebesar 50-100%
Pariwisata
Dapat diberikan pengurangan Pajak Hiburan sebesar 50100%
Ketenagaker Di KEK dibentuk Dewan Pengupahan dan LKS Tripartit
jaan
Khusus
Hanya 1 Forum SP/SB di setiap perusahaan
Pengesahan dan perpanjangan Rencana Penggunaan
Tenaga Kerja Asing (RPTKA) di KEK
Perpanjangan Ijin Menggunakan Tenaga kerja Asing
(IMTA) di KEK
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
42
7.
8.
9.
Keimigrasian Fasilitas Visa Kunjungan Saat Kedatangan selama 30 hari
dan dapat diperpanjang 5 (lima) kali masing-masing 30
hari
Visa kunjungan beberapa kali (multiple visa) yang
berlaku 1 tahun
Izin tinggal bagi orang asing yang memiliki properti di
KEK
Izin tinggal bagi orang asing lanjut usia yang tinggal di
KEK Pariwisata
Pertanahan Untuk KEK yang diusulkan Badan Usaha Swasta diberikan
HGB dan perpanjangannya diberikan langsung
bersamaan dengan proses pemberian haknya.
Administrator KEK dapat memberikan pelayanan
pertanahan
Perizinan
Administrator berwenang menerbitkan izin prinsip dan
izin usaha melalui pelayanan terpadu satu pintu di KEK
Percepatan penerbitan izin selambat-lambatnya 3 jam
(dalam hal persyaratan terpenuhi)
Penerapan
perizinan
dan
nonperizinan
daftar
pemenuhan persyaratan (check list)
Proses dan penyelesaian perizinan dan non perizinan
keimigrasian, ketenagakerjaan, dan pertanahan di
Administrator KEK
2. Penyediaan Air Untuk Masyarakat Secara Berkelanjutan dan Berkeadilan
Mahkamah Konstitusi (MK) melalui putusan No.85/PUU-XI/2013 memutuskan
Undang-Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air bertentangan
dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak
memiliki kekuatan hukum mengikat. Memperhatikan putusan MK dan
, khususnya
dalam hal pengusahaan dan/atau penyediaan air oleh para pelaku usaha yang
berinvestasi di Indonesia, maka pemerintah menyusun Rancangan Peraturan
Pemerintah tentang Pengusahaan Sumber Daya Air (RPP Pengusahaan SDA) dan
RPP tentang Sistem Penyediaan Air Minum (RPP SPAM).
3. Proses Cepat (paperless) Perizinan Impor Bahan Baku Obat
Proses impor-ekspor melalui sistem Indonesia National Single Window (INSW).
INSW adalah loket elektronik tunggal untuk penyelesaian perizinan impor ekspor
serta pengurusan dokumen kepabeanan dan kepelabuhanan, yang merupakan
wujud reformasi birokrasi dengan sistem pelayanan publik yang cerdas.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
43
Paket Kebijakan Ekonomi VII
 Percepatan Proses Sertifikasi Tanah
Percepatan proses sertifikasi tanah dilakukan dengan cara :
- Pelayanan Sabtu-Minggu (termasuk di Area Car Free Day), pelayanan malam
hari di area Car Free Night Bandung dan Pasar Tradisional di Pandeglang;
- Membuka outlet pelayanan untuk mendekatkan Tempat Pelayanan Pertanahan
dengan Pemukiman Masyarakat (sudah mulai di Kabupaten Bandung dan
Kabupaten Semarang);
- Melaksanakan Pelayanan “Desa On-Line” di Provinsi NTB, Kabupaten Bangka
Tengah dan Kota Batam;
- Memberikan kelonggaran biaya (Rp. 0,-) bagi pemilik Kartu Keluarga
Sejahtera (KKS) yang dikeluarkan Kementerian Sosial.
Selain itu, pemerintah juga mempercepat jangka waktu pengumuman untuk
pendaftaran tanah, yang semula butuh waktu 60 hari untuk pendaftaran tanah
secara periodik dan 30 hari untuk pendataran tanah secara sistematik, menjadi
14 hari kerja. Layanan lain adalah mengubah pendaftaran tanah dari cara
manual ke sistem elektronik, sehingga total waktu untuk proses sertifikat tanah
menjadi 30 hari kerja (1 hari untuk pemeriksaan pemohonan, 10 hari untuk
pengecekan dan pengukuran tanah, 3 hari untuk pengolahan data fisik dan
yuridis, 14 hari pengumuman, dan 2 hari untuk penandatanganan dan
penyerahan sertifikat tanah).
 Insentif Pajak Bagi Industri Padat Karya
menerbitkan Peraturan Pemerintah yang memberi Keringanan Pajak Penghasilan
(PPh 21) bagi pegawai yang bekerja pada industri padat karya selama jangka
waktu 2 (dua) tahun, dan dapat diperpanjang. Memindahkan bidang usaha pada
Lampiran II Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2015, yang meliputi Industri
Alas Kaki untuk Keperluan Sehari-hari , Industri Sepatu Olahraga, dan Industri
Sepatu Teknik Lapangan/ Keperluan Industri menjadi bagian dari Lampiran I.
Dengan perubahan ini maka ketiga industri tersebut dapat memperoleh fasilitas
pajak di seluruh propinsi tanpa pengecualian. Selain itu juga menambah bidang
usaha pada Lampiran I dengan tambahan Industri Pakaian Jadi dari Tekstil
(Garmen) dan Industri Pakaian Jadi dari Kulit.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
44
Paket Kebijakan Ekonomi VIII

Kebijakan Satu Peta
Pengembangan kawasan atau infrastruktur seringkali terbentur dengan sejumlah
masalah terkait pemanfaatan ruang dan penggunaan lahan. Konflik ini sulit
diselesaikan karena Informasi Geospasial Tematik (IGT) saling tumpang tindih
satu sama lain. Karena itu, kebijakan satu peta yang mengacu pada satu referensi
geospasial, satu standar, satu basis data dan satu geoportal untuk mempercepat
pelaksanaan pembangunan nasional menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Basis referensi peta yang sama, juga akan meningkatkan keandalan informasi
terkait lokasi dari berbagai aktivitas ekonomi. Ini akan memberikan kepastian
usaha.Berbagai informasi yang dikompilasi dalam satu peta ini juga bisa
dimanfaatkan untuk sejumlah simulasi, antara lain untuk mitigasi bencana.
Melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Pelaksanaan Kebijakan
Satu Peta ini, kementerian dan lembaga akan menyiapkan peta tematik skala
1:50.000 sesuai rencana aksi masing-masing dengan batas akhir tahun 2019.
Kebijakan

Pembangunan Kilang Minyak
Pembangunan kilang minyak dilakukan untuk meningkatkan produksi minyak
sehingga permintaan akan BBM dapat terpenuhi. Selain membangun kilang baru,
pemerintah juga akan meningkatkan (upgrade) kilang yang sudah ada.
Pemerintah memproyeksikan produksi BBM akan meningkat dari 825 ribu barel
per hari pada 2015 menjadi 1,9 juta barel per hari pada 2025. Sampai saat ini,
setidaknya ada empat kilang yang beroperasi dan perlu perbaikan, yaitu di
Cilacap, Balikpapan, Balongan dan Dumai. Kilang baru akan dibangun di
Bontang dan Tuban

Insentif bagi perusahaan jasa pemeliharaan pesawat
Yaitu dimana pemerintah memberikan insentif dalam bentuk bea masuk 0%
untuk 21 pos tarif terkait suku cadang dan komponen perbaikan atau
pemeliharaan pesawat terbang.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
45
Diantara Rancangan Peraturan Pemerintah yang menjadi bagian dari Paket Kebijakan
Ekonomi, dan 2 Instruksi Presiden (Inpres) yaitu :
1. RPP tentang Kawasan Industri;
2. RPP tentang Pembiayaan Holtikultura;
3. RPP tentang Usaha Wisata Agro
Holtikultura;
4. RPP tentang Penyerahan Barang Kena
Pajak Tertentu yang Bersifat Strategis
yang
Tidak
Dipungut
Pajak
Pertambahan Nilai;
5. RPP tentang Fasilitas dan Kemudahan di
Kawasan Ekonomi Khusus;
6. RPP tentang Perubahan Atas PP Nomor
131 Tahun 2000 tentang Pajak
Penghasilan atas Bunga Deposito dan
Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank
Indonesia;
7. RPP tentang Tata Cara Perubahan
Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan;
8. RPP tentang Perubahan Kedua Atas PP
Nomor 24 Tahun 2010 tentang
Penggunaan Kawasan Hutan;
9. RPP tentang Pemilikan Rumah Tempat
Tinggal atau oleh Hunian Orang Asing
yang Berkedudukan di Indonesia;
10. RPP tentang Jenis dan Tarif atas Jenis
Penerimaan Negara Bukan Pajak yang
Berlaku pada Kementerian Agraria dan
Tata
Ruang/Badan
Pertanahan
Nasional,
11. RPP tentang Pelaksanaan Pembangunan
dan Pengembangan Kilang Minyak di
Dalam Negeri.
Sedangkan dua Inpres yang siap diundangkan adalah :
1. Rancangan Inpres tentang Kebijakan
2. Rancangan
Inpres
tentang
Deregulasi
Fasilitas Perdagangan Bebas di Dalam
untuk Meningkatkan Daya Saing Industri,
Negeri (Inland Free Trade Arrangement)
Kemandirian Industri, & Kepastian Usaha.
Sasaran Strategis 3 : Terwujudnya Tata Kelola pemerintahan yang baik
(Tindak lanjut Kementerian Teknis dalam mendukung Kebijakan Perekonomian)
Untuk mencapai sasaran strategis tersebut, diukur dengan Indikator Kinerja Utama
yaitu Tingkat Kinerja Manajeman Kementerian. Maksud dari Tingkat manajeman kinerja
Kementerian adalah upaya penataan kebijakan teknis kementerian dalam koordinasi
Kemenko Bidang Perekonomian. Upaya penataan tersebut melalui peraturan atau keputusan
Menteri Teknis didalam koordinasi Kemenko Bidang Perekonomian sebagai tindak lanjut
rekomendasi kebijakan perekonomian (deregulasi).
Berbeda dengan indikator kinerja utama pertama dan kedua yang melihat batasan
keberhasilan sasaran strategis melalui tersusunnya Rancangan Peraturan PerundangUndangan yang ditetapkan oleh Presiden, atau Menko Perekonomian maka pada IKU ketiga
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
46
ini Kemenko Bidang Perekonomian diarahkan pada tata kelola kebijakan perekonomian
melalui Ketentuan Teknis pada Kementerian di bawah koordinasi Kemenko Bidang
Perekonomian untuk merespon masalah-masalah perekonomian, seperti
misalnya:
perlambatan pertumbuhan ekonomi, depresiasi rupiah, menghadapi MEA (Masyarakat
Ekonomi ASEAN), dan dinamika globalisasi ekonomi.
Adapun pengklasifikasian
Tingkat manajeman kinerja tata kelola kebijakan
perekonomian melalui Ketentuan Teknis pada Kementerian Teknis/Sektor adalah sebagai
berikut :
Nilai
Kategori
85≤n≤100
= 4 : Sangat Baik (Hijau)
65≤n<85
= 3 : Baik: (Hijau)
45≤n<65
= 2 : Kurang (Merah)
n<45
= 1 : Sangat Kurang (Merah)
Nilai diperoleh dari realisasi peraturan/keputusan kementerian teknis dibagi dengan target
peraturan/keputusan kementerian teknis dikali seratus.
Tahun 2015 melalui paket kebijakan ekonomi ditargetkan 141 peraturan/
keputusan kementerian teknis. Realisasinya adalah 113 peraturan/keputusan. Perbandingan
antara realisasi dengan target tersebut menunjukan bahwa nilai
tata kelola kebijakan
perekonomian melalui Ketentuan Teknis adalah sebesar 80, sehingga Realisasi Indikator
Kinerja Utama ketiga ini adalah 3 (Baik) dari target yang telah ditetapkan sebelumnya 4
(sangat baik). Tidak tercapainya target 4 tersebut dipengaruhi oleh adanya 28 peraturan
yang masih dalam tahap pembahasan dan akan diteruskan pada tahun 2016.
. Capaian Indikator Kinerja Utama
Tingkat Kinerja Manajeman Kementerian adalah :
160
141, Tingkat 4
140
113, Tingkat 3
120
Tingkat Kinerja
Kinerja
Tingkat
Manajemen
Manajeman
Kementerian (melalui
Kementerian
(Melalui
penataan peraturan
teknis pada
penataan
Peraturan
Kementerian
Teknis
pada di bawah
Koordinasi Kemenko
Kementerian
Perekonomian)dalam
Koordinasi)
100
80
60
40
20
0
Target
Realisasi
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
Gambar 3.16
Capaian IKU pada
Sasaran Strategis
Terwujudnya Tata Kelola
Pemerintahan
47
Capaian penataan peraturan kementerian teknis dapat dikelompokan dalam sasaran
sebagai berikut.
Tabel 3.4
Pengelompokan Penataan Peraturan Teknis
Sasaran Peraturan
Target
Realisasi
% Realisasi
Mendorong daya saing industri nasional
104
87
84%
Kemudahan perijinan investasidan memperbaiki
ketentuan devisa hasil ekspor
11
11
100%
Fasilitasi pelayanan keuangan, pembiayaan ekspor
dan pengurangan badan usaha
7
1
14%
Jaring pengaman sosial dan peningkatan
kesejahteraan rakyat
10
8
80%
Meningkatkan iklim industri dan investasi melalui
intensif pajak dan deregulasi perbankan syariah
3
1
33%
Menggerakkan ekonomi wilayah pinggiran dan
kemudahan memperoleh kebutuhan komoditi
strategis
2
2
100%
Mendorong kegiatan berusaha seluruh lapisan
industri nasional
3
3
100%
Penyelesaian konflik lahan, meningkatkan
produksi minyak nasional, mendorong industri
suku cadang, komponen, dan perawatan pesawat
terbang nasional
1
0
0%
Jumlah
141
113
Nilai : 80
3. Peningkatan Akuntabilitas Kinerja dari Waktu ke Waktu
Secara keseluruhan, realisasi IKU Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
telah memenuhi target yang ditetapkan, bahkan meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini
menunjukkan bahwa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian secara konsisten dapat
mencapai target kinerjanya setiap tahun. Sebagai bahan perbandingan, capaian kinerja
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam 3 (tiga) tahun terakhir disajikan
dalam tabel.3.5 berikut.
Sasaran strategis dan IKU tahun 2015 berbeda dengan periode tahun 2012 s/d 2014,
dimana Sasaran strategis dan IKU 2012-2014 disesuaikan dengan Renstra 2010-2014,
sedangkan untuk sasaran strategis dan IKU tahun 2015 berpedoman kepada Renstra 20152019.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
48
Tabel 3.5
Realisasi IKU dari waktu ke waktu
Walaupun
Sasaran
Strategis
IKU
Realisasi
capaian kinerja
Target
2012-2014
2012
2013
2014
Baik
Baik
Baik
Keselarasan
pengelolaan
fiskal dan
moneter
Kualitas tindakan
antisipasi terhadap
potensi ketidakstabilan
fiskal dan moneter
Baik
Meningkatnya
peran Indonesia
dalam rangka
kerja sama
ekonomi luar
negeri
Terwujudnya
implementasi
program kerja
utama
Peningkatan kerjasama
ekonomi luar negeri
80
Kementerian
Koordinator
Bidang
88,95
94
Perekonomian
92
selalu mencapai
100%, namun
dari segi
Komposit Indeks dari
Indeks ketahanan
pangan, ketahanan
energi, percepatan
pembangunan
infrastruktur, serta
perbaikan iklim
investasi dan iklim
usaha
4
4
4
implementasi
4
sistem
akuntabilitas
kinerja masih
perlu
ditingkatkan.
Sumber : Biro Perencanaan,2012-2014
Hal
ini
sesuai
dengan evaluasi akuntabilitas kinerja yang telah dilakukan oleh Kementerian PAN-RB dan
hasil evaluasinya telah disampaikan kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
dengan surat nomor B/3954/M.PANRB/12/2015 tanggal 11 Desember 2015. Beberapa
rekomendasi yang diberikan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi untuk peningkatan kualitas laporan kinerja Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian di tahun 2015 ini, antara lain sebagai berikut :
1. Melaksanakan tindaklanjut rekomendasi hasil evaluasi pada tahun sebelumnya;
2. Menyempurnakan indikator kinerja agar lebih spesifik dan terukur serta dapat
menggambarkan pencapaian sasaran dan tujuan dengan lebih baik;
3. Menjabarkan dan menurunkan (cascading) indikator keberhasilan yang ada di dalam
Renstra;
4. Melakukan monitoring dan evaluasi pencapaian kinerja secara berkala kemudian
memanfaatkan hasilnya dalam penyusunan laporan kinerja dan perbaikan perencanaan;
5. Meningkatkan kualitas analisis pada laporan kinerja dan memanfaatkannya untuk
perbaikan perencanaan berikutnya baik untuk jangka pendek maupun jangka
menengah;
6. Hasil evaluasi internal dijadikan masukan untuk mendorong peningkatan perbaikan
penerapan manajemen kinerja yang lebih berorientasi hasil.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
49
Menindaklanjuti rekomendasi tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah
melakukan langkah-langkah dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan akuntabilitas
kinerja instansi diantaranya :
1. Integrasi Manajemen Kinerja dengan Sistem AKIP
Dalam rangka mencapai visi, misi dan
sebagaimana
strategi, Kementerian Koordinator Bidang
strategis.
Perekonomian menerapkan manajemen
lingkungan Kementerian sudah selaras
kinerja berbasis Balanced Scorecard.
dengan Sistem AKIP yang terdiri atas 5
Sistem manajemen/pengelolaan kinerja
tahapan
ini mejadi alat eksekusi strategi, yang
tertuang
dalam
Pengelolaan
utama,
kinerja
yaitu
kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan
kinerja,
sasaran-sasaran strategis yang dicapai
penghitungan capaian kinerja.
jangka
waktu
di
perencanaan
menerjemahkan visi dan misi menjadi
dalam
peta
evaluasi
kinerja
dan
tertentu
a. Perencanaan Kinerja
Bertepatan dengan periode perencanaan
Permenpan
strategis baru, Kementerian Koordinator
mengatur petunjuk teknis perjanjian
Bidang
melakukan
kinerja, Kemenko Bidang Perekonomian
Strategis.
juga telah melakukan kontrak kinerja
Perubahan Renstra mulai dari kejelasan
untuk semua pejabat eselon I dan II sejak
visi, misi, sasaran strategis dan IKU
tahun
sebagaimana
pemerintahan
sasaran kerja individu selalu ditekankan
yang baru. Penyusunan SS dan IKU
agar mengikuti Permenko 5 Tahun 2015
berorientasi pada perspektif stakeholder
dan
guna kejelasan hasil atau outcome. Selain
kedeputian.
itu pemilik peta strategi seperti pejabat
sesuai dengan level tanggung jawab
eselon I dan II dibatasi memiliki IKU yang
pegawai.
Perekonomian
perubahan
bersifat
pada
Rencana
program
aktivitas.
53
2011.
Renja
tahun
2014
Mekanisme
Tahunan
Uraian
yang
penetapan
tiap-tiap
indikator
unit
dibuat
Sebagaimana
b. Pengukuran Kinerja
Pada
tahap
ini
Bidang
sesuai dengan Tusi dan kapasitas unit
Perekonomian melakukan pengukuran
dalam mencapai target. Setiap IKU
kinerja berdasarkan IKU sebagaimana
mempunyai
kontrak
tahun.
memastikan IKU tersebut definitif, dapat
Kontrak kinerja berisi SS dan IKU yang
diukur, obyektif, sesuai dengan tugas dan
kinerja
Kemenko
pada
awal
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
manual
IKU
yang
50
fungsi, memiliki formula perhitungan,
diatur pula tata cara pengukuran dan
dan sumber data. Peraturan Menteri
pelaporan data kinerja pada tiap-tiap
Koordinator
unit
Bidang
Perekonomian
organisasi
Eselon
I
dan
II.
nomor 9 Tahun 2015 tentang PK dan
Pengukuran kinerja individu pegawai
IKU di Lingkungan Kemenko Bidang
Kemenko
Bidang
Perekonomian
dilakukan
setiap
menjadi
pedoman
Perekonomian
bulan
untuk
keselaran indikator dalam Renja, PK dan
memastikan target pada sasaran kerja
Penetapan IKU. Melalui Permenko ini
individu
tercapai.
c. Pelaporan Kinerja
Hasil
pelaksanaan
kegiatan
dan
Kementerian
Koordinator
Bidang
pengukuran rumpun-rumpun indikator
Perekonomian. Hasil laporan kinerja
yang telah dikelola, selalu dimonitor oleh
semester akan digunakan sebagai bahan
tiap level pimpinan terutama pendekatan
penyusunan
realisasi fisik kegiatan dan keuangan
Kinerja Pemerintah (LAKIP). Pelaporan
memastikan menuju sasaran strategis
kinerja individu bulanan disampaikan
sesuai peta strategis. Capaian indikator
secara triwulanan pada bagian yang
kinerja dilaporkan setiap semester dan
bertanggung jawab pembinaan pegawai.
disampaikan
pada
Rapat
Laporan
Akuntabilitas
Pimpinan
d. Evaluasi Kinerja
Evaluasi kinerja dilaksanakan bersamaan
Inspektorat terhadap laporan kinerja
dengan rapat monitoring capaian kinerja
unit. Hasil penilaian dimanfaatkan untuk
setiap semester. Fokus evaluasi adalah
perbaikan
pada
rendah
capaian diakhir tahun dapat sesuai target
yang
yang ditetapkan, serta umpan balik
capaian
(warna
kuning
kinerja
atau
yang
merah)
membutuhkan tindak lanjut segera. Pada
periode
selanjutnya
agar
untuk tahun berikutnya.
level teknis, evaluasi juga dilakukan oleh
e.
Capaian Kinerja
Pencapaian
kinerja
dihitung
dengan
pendukung
baik
yang
didokumentasikan
membandingkan target dan realisasi baik
dengan
IKU. Setiap capaian mempunyai data
dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
sebagai
bahan
ketika
51
Hasil capaian kinerja ditetapkan oleh
Akuntabilitas
pejabat
Pemerintah.
yang
digunakan
prestasi
berwenang
sebagai
kerja
untuk
bahan
penilaian
pegawai.
Melalui
Kinerja
Instansi
Penjenjangan
indikator
kinerja
pegawai
berkontribusi
Capaian
memastikan
setiap
mendukung
penetapan indikator berjenjang sesuai
sasaran strategis dan tujuan organisasi.
level tanggung jawab, sangat membantu
Mulai dari penyusunan rencana kinerja
Kementerian
sampai pelaporan kinerja berjalan sesuai
Koordinator
Bidang
Perekonomian dalam menjalankan Sistem
mekanisme yang telah ditetapkan.
2. Peningkatan Kualitas Dokumen Perencanaan dan Pelaporan
Dalam rangka peningkatan kualitas dokumen perencanaan di lingkungan Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian, pada tahun 2015 telah dilakukan beberapa langkah
perbaikan. Hal ini juga sejalan dengan rekomendasi Kementerian Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dimana Kemenko Perekonomian dituntut
untuk senantiasa melakukan penyempurnaan atas kualitas dokumen-dokumen
perencanaan, indikator kinerja, dan laporan keuangan di unit kerja secara menyeluruh.
Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini yaitu dalam rangka penyelarasan dan sinkronisasi
dokumen perencanaan dan dokumen pelaporan kinerja, serta peningkatan kualitas
dokumen perencanaan dan dokumen pelaporan kinerja. Dengan kata lain, penyelarasan
dilakukan antara dokumen Renja yang merupakan dokumen perencananaan sekaligus
dasar penyusunan dokumen penganggaran (RKA-KL atau DIPA) dengan dan Perjanjian
Kinerja yang merupakan dokumen kinerja tahunan. Beberapa langkah perbaikan yang
telah dilakukan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada tahun 2015
sebagai berikut:
-
Penjabaran/
penurunan
(cascading)
Gambar 3.17 Contoh Aplikasi berbasis web
Cascading IKU ke level individu/Indikator
indikator
Kinerja Individu pada Sasaran Kerja
keberhasilan
Pegawai (//skp.ekon.go.id)
dari IKU
Kementerian
secara
berjenjang
sampai ke level
individu melalui
keberlanjutan
penerapan penilaian prestasi kerja pegawai dengan aplikasi elektronik berbasis web.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
52
- Penyusunan pedoman pengumpulan data kinerja untuk penyusunan LAKIP dengan
ditetapkkanya Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 9 Tahun
2015 tentang Perjanjian Kinerja dan Indikator Kinerja Utama di lingkungan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Peraturan Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian ini mengatur tatacara pelaporan data kinerja, penetapan
indikator kinerja utama sebagai acuan pengukuran kinerja yang akan digunakan
sebagai bahan untuk penyusunan Laporan Kinerja.
- Pengimplementasian transformasi kelembagaan dengan ditetapkannya Peraturan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 5 tahun 2015 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kemenko Bidang Perekonomian. Permenko tersebut merupakan upaya
penguatan salah satu area perubahan dalam pelaksanaan reformasi birokrasi yaitu
penataan dan penguatan organisasi, dan penyesuaian Peta Strategi Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian tahun 2015-2019.
- Penyempurnaan laporan kinerja dimana capaian kinerja organisasi pada tahuntahun sebelumnya digunakan sebagai pembanding atas kinerja organisasi pada
tahun tersebut.
- Penyempurnaan Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Utama (IKU) dengan
melakukan revisi pada Rencana Kerja (Renja) Tahun 2015. Pada tahun 2015,
perumusan sasaran strategis dan IKU lebih mengadopsi pendekatan fungsi, bukan lagi
pendekataan isu seperti pada tahun 2014. Pertimbangan ini dinilai lebih relevan dan
efektif untuk mewujudkan tujuan mengingat ouput Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian adalah rekomendasi kebijakan di bidang Perekonomian. Perbedaan
penetapan sasaran strategis beserta IKU tersebut bisa dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 3.6
Perbedaan
Sasaran
Stategis dan
IKU
Kementerian
Tahun 2014
dan 2015
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
53
4. Realisasi Anggaran
Berdasarkan data per 7 Januari
sebesar Rp329.204.232.000,-. Realisasi
2016 dengan menggunakan sumber
penyerapan DIPA tahun 2015 ini
dari data SPAN, realisasi penyerapan
meningkat dari tahun sebelumnya yang
DIPA Kementerian Koordinator Bidang
mencapai 69,80%. Secara umum, dalam
Perekonomian
keseluruhan
sebesar
TA
jenis
2015
secara
periode
belanja
adalah
penyerapan DIPA dapat dilihat dalam
Rp232.502.832.677,-
atau
2012-2015
realisasi
gambar berikut:
mencapai 70,63% dari total pagu
Gambar 3.18
Pagu dan Realisasi Anggaran 2011-2016 (Rp000.000)
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
400.000.000.000
350.000.000.000
300.000.000.000
250.000.000.000
82,91%
70,63%
72,6%
69,8%
70,47%
200.000.000.000
150.000.000.000
100.000.000.000
50.000.000.000
-
2011
2012
2013
2014
2015
2016
PAGU ANGGARAN 254.220.2
254.220.2
288.739.6
293.100.1
329.204.2
361.614.9
REALISASI
210.774.0
209.624.9
204.583.8
232.516.9
179.149.0
PAGU ANGGARAN
REALISASI
Sumber: Bagian Keuangan, 2015
Gambar 3.19
Realisasi Anggaran 2015 per Jenis Belanja
Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian
Belanja
Modal
49,34%
Realisasi sebesar
Rp232.502.832.677,- terdiri dari
realisasi belanja pegawai
Belanja
Barang
71,23%
Rp57.242.882.181,-(70,27% dari
pagu Rp81.455. 969.000,-),
belanja barang
Rp172.572.131.071,- (71,23%
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
Belanja
Pegawai
70,27%
54
dari pagu Rp242.278.651.000) dan
(49,34% dari pagu Rp5.469.612.000,-).
belanja modal Rp2.698.439.425,Anggaran berbasis kinerja pada Kementerian Koordinator Bidang perekonomian,
nampak dalam mencapai 3 sasaran strategis yang telah ditetapkan melalui 2 program
dan terdiri dari 23 sasaran hasil. Masing-masing sasaran hasil dilaksanakan oleh unit
Eselon I sesuai dengan tugas dan fungsinya dan dijabarkan menjadi kegiatan-kegiatan
pada unit eselon II. Adapun total pagu DIPA dari 2 program tersebut adalah sebesar
Rp329.204.232.000,-. Realisasi dari 2 program tersebut adalah sebagaimana tabel
berikut:
Tabel 3.7
Realisasi Anggaran Per Sasaran Strategis
Program
Program Koordinasi
Kebijakan Bidang
Perekonomian
Sasaran Strategis
Pagu (000)
Terwujudnya sinkronisasi dan
koordinasi kebijakan bidang
perekonomian
107.371.399
71.415.634
66,51%
91.333.404
63.798.646
69,85%
130.499.429
97.288.546
74,55%
Terwujudnya pengendalian
kebijakan perekonomian
Program Dukungan
Manajemen dan
Pelaksanaan Tugas
Teknis lainnya Kemenko
Perekonomian
Terwujudnya tata kelola
pemerintahan yang baik
Jumlah
329.204.232
Realisasi (000)
% Realisasi
232.502.826
70,63%
Gambar 3.20
Realisasi Anggaran TA 2015 per Program
Program Dukungan Manajemen
dan Pelaksanaan Tugas Teknis
lainnya Kemenko Perekonomian
97.289 (68%)
130.499
135.214 (75%)
Program Koordinasi Kebijakan
Bidang Perekonomian
Realisasi (Rp000)
0
Pagu (Rp000)
198.705
100.000
200.000
Realisasi biaya per program dan per kelompok kegiatan dalam rangka
mewujudkan sasaran strategis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tahun
2015, diuraikan pada tabel di bawah ini :
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
55
Tabel 3.8 Realisasi Anggaran Per Kelompok Kegiatan dan Kelompok SS
Unit
Organisasi
Rumpun Kegiatan untuk mencapai Sasaran
Strategis
Kedeputian I
Kedeputian
II
Kedeputian
III
Kedeputian
IV
Kedeputian
V
Kedeputian
VI
Kedeputian
VII
Sekretariat
Dewan
Nasional
KEK
Setmenko
Rumpun SS
Tingkat
Kementerian
Pagu Anggaran
Realisasi
(Rp x 1.000,-)
(Rp x 1.000,-)
% Realisasi
Program Koordinasi Kebijakan Bidang Perekonomian
1. Koordinasi dan Sinkronisasi Bidang
SS 1
7.220.347
Ekonomi Makro dan Keuangan
2. Pengendalian Bidang Ekonomi Makro
SS 2
5.279.653
dan Keuangan
1. Koordinasi dan Sinkronisasi Bidang
SS 1
11.015.348
Pangan dan Pertanian
2. Pengendalian Bidang Pangan dan
SS 2
584.652
Pertanian
1. Koordinasi dan Sinkronisasi Bidang
SS 1
15.550.563
Pengelolaan Energi, SDA dan LH
2. Pengendalian Bidang Pengelolaan
Energi, SDA dan LH
SS 2
6.834.740
5.632.465
3.872.495
7.741.997
347.405
5.014.429
73,37%
56,34%
74,24%
65,51%
68,44%
50,58%
66,58%
84,62%
77,30%
87,86%
89,84%
5.150.000
4.979.920
96,70%
SS 3
9.150.000
7.223.105
78,94%
SS 3
113.099.429
82.589.617
73,02%
SS 3
600.000
422.940
70,49%
SS 3
2.500.000
2.072.966
82,92%
329.204.232
232.502.826
70,63%
dengan rata-rata realisasi selama 2011-2014 sebesar 74% adalah merupakan
. Efisiensi tersebut pada umumnya dari
penghematan
59,42%
81,54%
Jumlah realisasi anggaran tahun 2015 sebesar 70,63%, apabila dibandingkan
barang/jasa,
70,28%
SS 3
JUMLAH
pengadaan
73,35%
12.679.411
1. Koordinasi dan Sinkronisasi Bidang
Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan
SS 1
1.028.040
579.220
Daya Saing KUKM
2. Pengendalian Bidang Ekonomi Kreatif,
SS 2
10.971.960
8.145.164
Kewirausahaan dan Daya Saing KUKM
1. Koordinasi dan Sinkronisasi Bidang
SS 1
15.402.498
10.090.180
Perniagaan dan Industri
2. Pengendalian Bidang Perniagaan dan
SS 2
2.597.502
Industri
1.777.653
1. Koordinasi dan Sinkronisasi Bidang
Percepatan Infrastruktur dan
SS 1
40.789.605
20.629.752
Pengembangan Wilayah
2. Pengendalian Bidang Percepatan
Infrastruktur dan Pengembangan
SS 2
58.216.895
38.758.461
Wilayah
1. Koordinasi dan Sinkronisasi Bidang
SS 1
9.753.788
8.253.821
Kerjasama Ekonomi Internasional
2. Pengendalian Bidang Kerjasama
SS 2
2.146.212
1.659.041
Ekonomi Internasional
1. Koordinasi dan Sinkronisasi Kebijakan
SS 1
6.611.210
5.808.788
Kawasan Ekonomi Khusus
2. Pengendalian Kebijakan Kawasan
SS 2
4.701.790
4.223.998
Ekonomi Khusus
Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kemenko Bidang Perekonomian
1. Peningkatan Pelayanan Perencanaan
2. Peningkatan dan Pengelolaan Layanan
Persidangan, Hukum dan Humas
3. Peningkatan dan Pengelolaan Pelayanan
Umum (Manajemen)
4. Pengawasan Inspektorat
5. Penelaahan Kebijakan Bidang
Perekonomian
78,01%
dalam
pelaksanaan
kegiatan,
seperti
pengurangan biaya perjalanan dinas, membatasi rapat konsinyering yang dilaksanakan
di hotel yang digeser untuk kegiatan telaahan atau kajian guna meningkatkan sinergi
dalam merumuskan rekomendasi kebijakan bidang perekonomian.
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
56
BAB IV
PENUTUP
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
57
L
aporan
Kementerian
Kinerja
Kementerian
Koordinator
Bidang
telah ditetapkan sebelumnya. Tahun 2015
telah
dikoordinasikan/disinkronkan
57
Perekonomian Tahun 2015 menyajikan
Rancangan Peraturan Perundang-undangan
upaya-upaya dalam koridor tugas dan
yang sifatnya baru (Capaian IKU 1), dan 19
fungsi yang diamanatkan oleh Presiden
Rancangan
Peraturan
untuk turut menjaga kondisi perekonomian
undangan
yang
bangsa.
Kemenko
(Capaian IKU 2). Dalam lingkup indikator
Perekonomian bersatu padu menjalankan
tata kelola kebijakan teknis kementerian
roda organisasi untuk mencapai tujuan
dalam
melalui
Perekonomian
Unsur-unsur
integrasi
implementasi
Sistem
Perundang-
sifatnya
koordinasi,
perubahan
Kemenko
mencapai
tingkat
Bidang
Baik.
Akuntabilitas Kinerja Kementerian. Tujuan
Tingkat ini meleset dari target Sangat Baik
terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang
yang telah ditetapkan dalam Perjanjian
inklusif dan berkelanjutan dicapai melalui 3
Kinerja.
sasaran
strategis
yang
dalam
Menyadari tantangan, persaingan,
kelompok tema: stabilitas dan pertumbuhan
dan harapan masyarakat yang tinggi,
ekonomi,
Kementerian
peningkatan
transformasi
industri,
dibagi
daya
dan
saing,
optimalisasi
Koordinator
Bidang
Perekonomian akan terus mengoptimalkan
hubungan internasional. Melalui alokasi 2
potensi
program dalam dokumen anggaran, sasaran
dengan
strategis Kemenko Bidang Perekonomian
dalam koordinasi, Pemerintah Daerah, dan
diukur dengan 3 indikator kinerja utama
Pelaku Bisnis, sehingga tercipta aturan dan
meliputi
arahan
pengelompokan
koordinasi/
yang
ada
seluruh
yang
untuk
disinergikan
Kementerian/Lembaga
tepat
sehingga
tingkat
sinkronisasi, fungsi pengendalian, dan tata
pertumbuhan
kelola
stabil, merata dan terjaga kelangsungannya.
kebijakan
ekonomi
Indonesia
lebih
teknis
bidang
rekomendasi
kebijakan
sebesar 5,6%, hanya tercapai 4.8% (YoY).
perekonomian telah lahir di tahun 2015
Lemahnya kondisi perekonomian global,
sebagai hasil dari kegiatan koordinasi,
penurunan kinerja neraca perdagangan,
sinkronisasi, dan pengendalian. Wujud
dan penurunan daya
implementasi dari rekomendasi tersebut
memberikan
adalah ditindaklanjuti dengan kebijakan
perekonomian secara umum.
formal melalui penyusunan Rancangan
demikian,
Peraturan
koordinasi Kemenko Bidang Perekonomian
perekonomian.
Target pertumbuhan ekonomi 2015
Berbagai
Perundang-undangan
Bidang
Perekonomian yang baru dan yang sifatnya
dampak
melalui
memberikan
merubah atau memperkuat peraturan yang
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
andil,
beli masyarakat
pada
partisipasi
sehingga
kondisi
Namun
aktif,
58
Koordinator
Bidang
Perekonomian,
sehingga dapat memberikan umpan balik
guna peningkatan kinerja pada periode
berikutnya. Secara internal Laporan Kinerja
tersebut harus dijadikan motivator untuk
lebih
dengan
meningkatkan
jalan
kinerja
selalu
organisasi
menyesuaikan
indikator-indikator kinerja yang telah ada
dengan
Akhirnya
dengan
disusunnya
perkembangan
stakeholders,
sehingga
tuntutan
Kementerian
Laporan Kinerja ini, diharapkan dapat
Koordinator Bidang Perekonomian dapat
memberikan informasi secara transparan
semakin dirasakan keberadaannya dalam
kepada
menjaga kondisi perekonomian bangsa.
seluruh
pihak
yang
terkait
mengenai tugas dan fungsi Kementerian
Laporan Kinerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2015
LAMPIRAN-LAMPIRAN :
I.
Perjanjian Kinerja 2015
II.
Manual Indikator Kinerja Utama Tingkat Kementerian
III.
Kerangka Rencana Kerja Kemenko Bidang Perekonomian TA 2015
IV.
Matriks Rumpun Sasaran Strategis dan Kegiatan
V.
Contoh Pola Cascading Indikator Kinerja Individu
VI.
Contoh Pola Pengelolaan dan Pengukuran Kinerja
Lampiran II
Manual
Perhitungan
1
Presentase Program Koordinasi Kebijakan Bidang Perekonomian
Yang Terimplementasi
IKU KEMENTERIAN
Definisi
: Implementasi program-program koordinasi dan sinkronisasi
kebijakan bidang perekonomian dengan K/L yang
menghasilkan Rekomendasi yang ditindaklanjuti dengan
Rancangan Peraturan Perundangan Baru bidang
Perekonomian yang dikoordinasi dan disinkronisasi oleh
Kemenko Bidang Perekonomian. (Batasan RPP : DPR,
Presiden, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian)
Satuan
: %
Teknik Menghitung
: Implementasi Program Koordinasi dan Sinkronisasi kebijakan
perekonomian = realisasi dibandingkan dengan target,
rancangan peraturan perundang-undangan baru bidang
perekonomian
r
t
X100%
Target 2015 : 100% (54 Rancangan Peraturan Baru)
Sifat Data IKU
: Maximize
Sumber Data
: Kedeputian, Biro HPH
Periode Data IKU
: Semesteran
Keterangan Lain
: -
Manual
Perhitungan
2
Presentase Kebijakan Bidang Perekonomian Yang Terimplementasi
IKU KEMENTERIAN
Definisi
: Implementasi fungsi pengendalian atas pelaksanaan
kebijakan bidang perekonomian K/L yang telah ditetapkan,
menghasilkan rekomendasi dan berimplikasi pada
Rancangan perubahan Peraturan Perundangan yang
ada. (Batasan RPP : DPR, Presiden, Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian)
Satuan
: %
Teknik Menghitung
: Implementasi pengendalian pelaksanaan kebijakan bidang
perekonomian = realisasi dibandingkan dengan target,
rancangan perubahan peraturan perundang-undangan yang
ada dibidang perekonomian.
r
t
X100%
Target 2015 : 100% (9 Rancangan Perubahan Peraturan)
Sifat Data IKU
: Maximize
Sumber Data
: Kedeputian, Biro HPH
Periode Data IKU
: Semesteran
Keterangan Lain
: -
Manual
Perhitungan
3
Tingkat Kinerja Manajeman Kementerian
IKU KEMENTERIAN
Definisi
Mengukur upaya penataan kebijakan teknis kementerian
dalam koordinasi Kemenko Bidang Perekonomian. Upaya
penataan tersebut melalui peraturan atau keputusan
:
Menteri Teknis didalam koordinasi Kemenko Bidang
Perekonomian sebagai tindak lanjut rekomendasi kebijakan
perekonomian (deregulasi).
Satuan
: Indeks (1 – 4)
Nilai Kinerja Manajemen/Tata Kelola diperoleh dari realisasi
peraturan/keputusan kementerian teknis dibagi dengan target
peraturan/keputusan kementerian teknis dikali seratus
Nilai Kinerja = r/t x 100
Teknik Menghitung
Klasifikasi Tingkat Kinerja Manajeman Kementerian :
: 85≤n≤100 = 4 : Sangat Baik
(Hijau)
65≤n<85 = 3 : Baik
(Hijau)
45≤n<65 = 2 : Kurang
(Merah)
n<45 = 1 : Sangat Kurang (Merah)
Target 2015 : 4 (141 Peraturan/Keputusan Kementerian
Teknis)
Sifat Data IKU
: Maximize
Sumber Data
: Kedeputian, Biro HPH
Periode Data IKU
: Semesteran
Keterangan Lain
Batasan Peraturan/Keputusan yang dikeluarkan
: Kementerian Teknis di bawah Koordinasi Kemenko Bidang
Perekonomian
Kerangka Rencana Kerja (Renja) 2015 Kemenko Bidang Perekonomian
Lampiran III
Sasaran Strategis 2:
Terwujudnya Pengendalian Kebijakan Perekonomian
Indikator Kinerja :
Presentase Kebijakan Perekonomian yang
terimplementasi
(Rekomendasi yang ditindaklanjuti dengan
Perubahan Peraturan Perundang-undangan
Kebijakan Perekonomian yang ditindaklanjuti)
Sasaran Strategis 3:
Terwujudnya Tata Kelola Pemerintahan yg baik
Indikator Kinerja :
Tingkat Kinerja Manajemen Kementerian
(Jumlah Peraturan/Keputusan Kementerian Teknis
sebagai penataan kebijakan perekonomian di tingkat
Kementerian di bawah koordinasi Kemenko Bidang
Perekonomian)
RPJM / RENSTRA
Sasaran Strategis 1:
Terwujudnya Sinkronisasi dan Koordinasi Kebijakan
Perekonomian
Indikator Kinerja :
Presentase Program Koordinasi Kebijakan
Perekonomian yang terimplementasi
(Jumlah Rancangan Peraturan Perundang-undangan
yang diselesaikan koordinasi/sinkronisasi - nya)
SSIndikator Kinerja Utama Kementerian
VISI KEMENKO PEREKONOMIAN : Terwujudnya koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembangunan ekonomi yang efektif dan berkelanjutan.
MISI KEMENKO PEREKONOMIAN: Menjaga dan memperbaiki koordinasi dan sinkronisasi penyusunan kebijakan, serta pengendalian pelaksanaan kebijakan perekonomian.
TUJUAN
: 1. Terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan
2. Terwujudnya kinerja organisasi yang baik
Koordinasi (K)-Sinkronisasi (S)-Pengendalian (P)
7 Kegiatan
(PK/POK)
Terwujudnya:
• K&S Kebijakan
Pangan dan
Pertanian
• P. Pelaks’an
Kebijakan Pangan
dan Pertanian
• Efektivitas tata
kelola pangan
dan pertanian
yang baik
5 Kegiatan
(PK/POK)
Terwujudnya:
• K&S Kebijakan
Pengelolaan ESDA
dan LH
• P. Pelaks’an
Kebijakan
Pengelolaan ESDA
dan LH
• ↑ Pemahaman
pemangku
kepentingan kebj.
baru EITI
6 Kegiatan
(PK/POK)
Terwujudnya:
• K&S Perumusan Kebijakan
EK, Kwirausahaan, & Daya
Saing KUKM
• P. Pelaks’an Kebijakan
Kebijakan EK,
Kwirausahaan, & Daya
Saing KUKM
• K&S Perumusan Kebijakan
EK, KUKM, SDM, Buruh
Pelaks. MEA
• P. Pelaks. Kebijakan 8 MRA
pengembangan EK pelaks
MEA
5 Kegiatan
(PK/POK)
Terwujudnya:
• K&S Kebijakan
Perniagaan dan
Industri
• P. Pelaks’an Kebijakan
Perniagaan dan
Industri
• K&S Kebijakan ↑
Daya Saing Nas
7 Kegiatan (PK/POK)
Terwujudnya:
• K&S Kebijakan
Percepatan Infras
&Bangwil
• P. Pelaks’an Kebijakan
Percepatan Infras
&Bangwil
• Pengembangan KSE baru
di luar Jawa
• Tercapainya Penetapan
PIP yang diusulkan
8 Kegiatan (termasuk
KPPIP+KEK (PK/POK)
Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Rp. 130.499.429.000
Hasil/Outcome : - ↑ budaya organisasi berbasis kinerja & kompetensi serta tata kelola organisasi, untuk perbaikan pelayanan.
- ↑ produktivitas melalui sarana dan prasarana yang berkualitas untuk seluruh pegawai.
S
E
T
M
E
N
K
O
5 Kegiatan
(PK/POK)
Renja
Program Koordinasi Kebijakan Bidang Perekonomian Rp.196.185.085.000
(23 hasil/outcome)
Terwujudnya:
• K&S Kebijakan
Kerjasama Ekonomi
Internasional
• P. Pelaks’an
Kebijakan Kerjasama
Ekonomi
Internasional
• Pemaham Peserta
atas materi
sosialisasi Hasil KE
Internasional
Sasaran Program Eselon I
Terwujudnya:
• K&S Kebijakan
Ek.Makro & Keu
• P. Pelaks’an
Kebijakan
Ek.Makro dan Keu
• Perluasan Akses
Pembiayaan UMK
Lampiran IV
MATRIKS SASARAN DAN INDIKATOR KINERJA KEGIATAN TAHUN 2015
(KELOMPOK DUKUNGAN DAN LAYANAN)
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
Sasaran Kegiatan
Terselenggaranya pelayanan perencanaa
Bidang Perekonomian
dan pelaksanaan reformasi birokrasi di
lingkungan Kementerian Koordinator
Tercapainya dukungan manajemen
danpelaksanaan tugas teknis lainnya
Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian
Indikator Kinerja Kegiatan
Jumlah dokumen perencanaan yang
berkualitas
Jumlah dokumen perencanaan yang
berkualitas
Jumlah laporan Komunikasi Publik Kebijakan
Bidang Perekonomian
Dokumen perencanaan
Jumlah laporan kegiatan persidangan
KementeriaKoordinator Bidang
Perekonomian
Laporan Kegiatan Persidangan
Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian
Fasilitasi Naskah Kebijakan
Menteri
Laporan dukungan kegiatan
Menko Perekonomian dan
Jumlah laporan dukungan kegiatan Menko
Perekonomian dan Fasilitasi Naskah
Kebijakan Menteri
Terselenggaranya tugas dan fungsi
dukungan yang optimal terhadap
Milik Negara pelayanan Administrasi
Umum, Sumber
Daya Manusia, Keuangan,
Kerumahtanggaan, dan Pengelolaan Barang
organisasi Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian dalam pelaksanaan
Output
Jumlah laporan rancangan peraturan
perundangundangan,
telaahan masalah hukum
dan perundang- undangan, serta Sistem
Jaringan Dokumentasi dan
Informasi Hukum
Persentase administrasi dan pengembangan
sumber daya manusia yang diselesaikan
Persentase laporan pelaksanaan sistem dan
implementasi pelayanan prima dalam
pelaksanaanakuntansi dan pelaporan
keuangan, verifikasi, dan perbendaharaan
yang diselesaikan
Perekonomian yang diselesaikan
Persentase pelaksanaan fungsi
kerumahtanggaandan tata usaha pimpinan
dalam mendukung
pelaksanaan tugas pokok organisasi
Kemenko
Persentase pelaksanaan pengelolaan barang
miliknegara yang diselesaikan
Dokumen pelaksanaan reformasbirokrasi
Laporan Komunikasi Publik
Kebijakan Bidang Perekonomian
Dokumentasi dan Informasi
Hukum
masalah hukum dan perundangundangan, serta
Sistem Jaringa
Laporan rancangan peraturan
perundang-undangan, telaahan
Laporan administrasi dan
pengembangan sumber daya
manusia
Laporan pelaksanaan sistem
akuntansi instansi, verifikasi, dan
perbendaharaan
Laporan pelaksanaan fungsi
kerumahtanggaan dan tata usaha pimpinan
Laporan pelaksanaan fungsi
pengelolaan Barang Milik Negara
Meningkatnya kinerja unit kerja dalam
Koordinator Bidang Perekonomian
(Clean Government) untuk mewujudkan
Kegiatan
Bebas dari Korupsi (KBK) di Kementerian
penyelenggaraan pemerintahan yang baik
(Good
Governance) melalui pemerintahan yang
bersih
Jumlah pelaksanaan hasil pengawasan yang
dilaksanakan
Terwujudnya laporan hasil telaahan yang
mendukung upaya pencapaian kinerja
Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian
Jumlah laporan hasil telaahan yang
dilaksanakan dalam upaya mendukung upaya Laporan hasil telaahan yang
pencapaian kinerja Kementerian Koordinator dilaksanakan dalam upaya
Bidang Perekonomian
mendukung upaya pencapaian kinerja
Kementerian
Koordinator Bidang
Perekonomian
Jumlah pegawai yang terbayar gaji
Layanan perkantoran
dan tunjangan
4
3
2
1
1
3
97%
100%
97%
97
Laporan hasil pengawasan yang
dilaksanakan
4
Jumlah laporan hasil pemantauan tindak
lanjut hasilpengawasan (internal dan
eksternal)
Terselenggaranya tugas dan fungsi
dukungan yang optimal terhadap
Milik Negara pelayanan Administrasi
Umum, Sumber
Daya Manusia, Keuangan,
Jumlah terselenggaranya operasion dan
Kerumahtanggaan, dan Pengelolaan Barang pemeliharaan perkantoran
organisasi Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian dalam pelaksanaan
Tersedianya sarana dan prasarana
yang berkualitas untuk seluruh
pegawai
Volume
Persentase (%) Pemenuhan sarana
dan prasarana kerja yang berkualitas
bagi seluruh pegawai
Laporan hasil pemantauan
tindak lanjut hasil pengawasan (internal dan
eksternal)
3
5
12
Layanan Perkantoran
12
Sarana dan prasarana yang
berkualitas untuk seluruh
pegawai
100
Program
PROGRAM DUKUNGAN
MANAJEMEN DAN
PELAKSANAAN TUGAS
TEKNIS LAINNYA KEMENKO
PEREKONOMIAN
Lampiran IV
MATRIKS SASARAN DAN INDIKATOR KINERJA KEGIATAN TAHUN 2015
(KELOMPOK PENGENDALIAN)
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
Sasaran Kegiatan
Indikator Kinerja Kegiatan
Output
Volume
Program
9
PROGRAM
KOORDINASI
KEBIJAKAN BIDANG
PEREKONOMIAN
Tersusun rekomendasi paket kebijakan
ekonomi yang mendukung kebijakan
moneter dan neraca pembayaran
Persentase rekomendasi pengendalian Rekomendasi pengendalian kebijakan
kebijakan moneter dan neraca
moneter dan neraca pembayaran.
pembayaran yang ditindaklanjuti
Tersusunnya rekomendasi kebijakan
pembiayaan kredit, asuransi dan
remitansi untuk pekerja migran
Tersusunnya rekomendasi Kebijakan
yang terkait dengan bidang BUMN
Persentase rekomendasi Pengendalian
kebijakan pembiayaan kredit, asuransi
dan remitansi untuk pekerja migran
yang ditindaklanjuti
BUMN yang ditindaklanjuti Persentase
rekomendasi pengendalian kebijakan
Tersusunnya rekomendasi
pengembangan kebijakan ekonomi
daerah dan sektor riil
Persentase rekomendasi pengendalian Rekomendasi pengendalian
pengembangan Ekonomi daerah dan pengembangan Ekonomi daerah dan
Sektor Riil yang ditindaklanjuti
Sektor Riil
Tersusunnya rekomendasi kebijakan
fiskal
Persentase rekomendasi pengendalian Rekomendasi pengendalian kebijakan
kebijakan fiskal yang ditindaklanjuti
fiskal
Tersusunnya rekomendasi kebijakan
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
Persentase Pengendalian kebijakan
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
yang ditindaklanjuti
Persentase Pengendalian kebijakan
KUR yang ditindaklanjuti
Rekomendasi Pengendalian kebijakan
PasarModal dan Lembaga Keuangan
8
Rekomendasi Pengendalian kebijakan
KUR
7
Tercapainya peningkatan produksi
daging, telur dan susu segar untuk
pemenuhan kebutuhan konsumsi protein
hewani dan peningkatan produksi dan
ketersediaan hasil perikanan untuk
peningkatan konsumso dan eksport,
peningkatan produksi dan produktifitas
garam dalam rangka
swasembada berkelanjutan
Persentase rekomendasi hasil
pengendalian pelaksanaan kebijakan
bidang peternakan danperikanan yang
diimplementasikan
Rekomendasi hasil pengendalian
pelaksanaan kebijakan bidang
peternakan
dan perikanan
Tercapainya stabilitas harga,
ketersediaan dan keterjangkauan
pangan pokok dalam rangka
menuju swasembada pangan pokok
Persentase rekomendasi
pengendalian pelaksanaan kebijakan
bidang pangan yang ditindaklanjuti
Tercapainya Target Penyaluran KUR
Rekomendasi Pengendalian kebijakan
pembiayaan kredit, asuransi dan
remitansi untuk pekerja migran
Rekomendasi pengendalian kebijakan
BUMN
11
26
Rekomendasi pengendalian
pelaksanaan kebijakan bidang pangan
1
Persentase rekomendasi hasil
pengendalian pelaksanaan kebijakan
dibidang agribisnis yang
ditindaklanjuti
Laporan rekomendasi hasil
pengendalian
pelaksanaan kebijakan dibidang
agribisnis
Persentase rekomendasi hasil
pengendalian pelaksanaan kebijakan
prasarana, sarana pangan
dan pertanian yang ditindaklanjuti
Rekomendasi hasil pengendalian
pelaksanaan kebijakan prasarana,
sarana pangan dan pertanian
1
1
1
Persentase rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan PEPI yang
ditindaklanjuti
Rekomendasi pelaksanaan
pengendalian
kebijakan PEPI
Persentase rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan
Pengembangan Investasi yang
ditindaklanjuti
Rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan
Pengembangan Investasi
Meningkatnya Ekspor dan
berkembangnya Fasilitasi Perdagangan
Internasional
Persentase rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan Peningkatan
Ekspor danFasilitasi Perdagangan
Internasional yang
ditindaklanjuti
Rekomendasi pelaksanaan
pengendalian
kebijakan Peningkatan Ekspor dan
Fasilitasi Perdagangan Internasional
Meningkatnya Pengembangan Logistik
Nasional untuk mendukung kelancaran
arus barang
Persentase rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan
Pengembangan Logistik yang
ditindaklanjuti
Persentase rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan
pengembangan pasar dalam negeri
yang ditindaklanjuti
Rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan
pengembangan Pengembangan
Logistik
Rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan
pengembangan pasar dalam negeri
Tersusunnya Rekomendasi kebijakan
Pengembangan Sektor dan Kawasan
Industri
Persentase rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan
Pengembangan sektor
dan kawasan Industri yang
ditindaklanjuti
Rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan
Pengembangan sektor dan
kawasan Industri
Terwujudnya Sistem National Single
Window yang efisien, konsisten,
transparan dan simple
Persentase rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan
Pengembangan dan Penerapan Sistem
Nasional Single Window dan Intergrasi
ke dalam Sistem ASW yang
ditindaklanjuti
Rekomendasi pelaksanaan
pengendalian kebijakan
Pengembangan dan Penerapan
Sistem Nasional Single Window dan
Intergrasi ke dalam Sistem ASW
Tersusunnya Rekomendasi kebijakan
pengembangan pasar dalam negeri dan
tertib usaha
10
1
Peningkatan peran perkebunan dan
Jumlah rekomendasi pengendalian
Rekomendasi pengendalian
hortikultura untuk pemenuhan konsumsi pelaksanaan kebijakan pekebunan dan pelaksanaan
dalam negeri, dan
hortikultura yang ditindaklanjuti
kebijakan pekebunan dan hortikultura
peningkatan ekspor
Terimplementasinya rerkomendasi
kebijakan dibidang agribisnis untuk
peningkatan nilai tambah pertanian dan
peningkatan kesejahteraan
petani
Peningkatan pemanfaatan lahan
terlantar, pengurangan konversi lahan
pertanian, percepatan
pembangunan irigasi dengan pembukaan
lahan beririgasi, serta pembukaan dan
pengelolaan
sarana produksi pertanian dalam rangka
mendukung peningkatan produksi
pertanian
Meningkatnya investasi nasional
4
2
2
4
4
4
3
4
Lampiran IV
Sasaran Kegiatan
Indikator Kinerja Kegiatan
Output
Tersusunnya Rekomendasi Kebijakan
Persentase (%) Rekomendasi
dalam Rangka Percepatan Pembangunan pengendalian Urusan Infrastruktur
Infrastruktur Sumber Daya Air
Sumber Daya Air yang dilaksanakan
Rekomendasi pengendalian Urusan
Infrastruktur Sumber Daya Air
Tersusunnya Rekomendasi Kebijakan
Telematika dan Utilitas yang
ditindaklanjuti
Persentase (%) Rekomendasi Hasil
PengendalianPelaksanaan Kebijakan
Telematika dan Utilitas
yang ditindaklanjuti
Rekomendasi Hasil Pengendalian
Pelaksanaan Kebijakan Telematika dan
Utilitas
Tersusunnya Rekomendasi Kebijakan
dalam Percepatan Pembangunan
Transportasi Multi Moda
Persentase (%) Rekomendasi
pengendalian pelaksanaan kebijakan
Sistem Transportasi Multimoda
Rekomendasi pengendalian
pelaksanaan kebijakan Sistem
Transportasi Multimoda
Tersusunnya Rekomendasi Kebijakan
Bidang Penataan Ruang dan Kawasan
Strategis Ekonomi
Jumlah Rekomendasi Pengendalian
Rekomendasi Pengendalian
Pelaksanaan Kebijakan Penataan
Pelaksanaan Kebijakan Penataan Ruang
Ruang dan Kawasan StrategisEkonomi dan Kawasan Strategis Ekonomi
yang ditindaklanjuti
Tersusunnya Rekomendasi Kebijakan
Perumahan,Pertanahan, dan
Pembiayaan Infrastruktur yang
ditindaklanjuti
Persentase (%) Rekomendasi
Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan
Perumahan, Pertanahan, dan
Pembiayaan Infrastruktur yang
ditindaklanjuti
Persentase (%) rekomendasi
pengendalian pelaksanaan kebijakan
dibidang produktivitas energi
Tersusunnya rekomendasi kebijakan
dalam upaya pencapaian sasaran
peningkatan produktifitas energi
Pembiayaan Infrastruktur
Rekomendasi Pengendalian
Pelaksanaan Kebijakan Perumahan,
Pertanahan, dan Pembiayaan
Infrastruktur yang ditindaklanjuti
Laporan rekomendasi pengendalian
pelaksanaan kebijakan dibidang
produktivitas energi
Tersusunnya rekomendasi kebijakan
dalam upaya pencapaian sasaran
peningkatan pengelolaan
infrastruktur energi
Persentase rekomendasi pengendalian Laporan rekomendasi pengendalian
pelaksanaan dibidang Infrastruktur
pelaksanaan dibidang Infrastruktur
Energi Yang ditindaklanjuti
Energi
Tersusunnya rekomendasi kebijakan
dalam upaya pencapaian sasaran
peningkatan pengelolaan
industri ekstratif
Persentase rekomendasi pengendalian Laporan rekomendasi pengendalian
kebijakan di bidang Industri Ekstraktif kebijakan di bidang Industri Ekstraktif
Tersusunnya rekomendasi kebijakan
dalam upaya pencapaian sasaran
peningkatan pelestarian lingkungan
hidup
Meningkatnya jumlah pelaku ekonomi
kreatif dan kontribusinya terhadap
perekonomian nasional
Persentase rekomendasi pengendalian Laporan rekomendasi pengendalian
kebijakan di bidang Industri Ekstraktif kebijakan di bidang Industri Ekstraktif
Persentase (%) laporan pengendalian
pelaksanaan kebijakan di bidang
pengembangan ekonomi kreatif
Laporan hasil pengendalian
pelaksanaan kebijakan di bidang
pengembangan
Terwujudnya ekonomi kerakyatan yang
tangguh, efisien dan berdaya saing
Pengembangan UKM Berbasis
Teknologi Laporan hasil pengendalian
kebijakan
Meningkatnya pengelolaan dan
pengembangan potensi ekonomi
kawasan
Teknologi yang ditindaklanjuti
Persentase (%) laporan hasil
pengendalian kebijakan
Pengembangan UKM Berbasis
Persentase (%) laporan pengendalian
pelaksanaan kebijakan Peningkatan
Daya Saing Ekonomi Kawasan
Meningkatnya pengelolaan dan
pengembangan kewirausahaan melalui
peran inkubator wirausaha
Persentase (%) laporan pengendalian Laporan hasil pengendalian
pelaksanaan kebijakan Pengembangan pelaksanaan kebijakan Pengembangan
Kewirausahaan
Kewirausahaan
Meningkatnya daya saing Koperasi dan
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Persentase (%) laporan pengendalian
pelaksanaan kebijakan Peningkatan
Daya Saing Koperasi dan Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah
Laporan pengendalian pelaksanaan
kebijakan Peningkatan Daya Saing
Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah
Persentase (%) laporan pengendalian
pelaksanaan kebijakan
Ketenagakerjaan
Laporan pengendalian pelaksanaan
kebijakan di bidang Ketenagakerjaan
Persentase (%) rekomendasi
pengendalian pelaksanaan kebijakan 8
MRA yang sesuai dengan
pengembangan Ekonomi Kreatif
Nasional (engineering services,
architectural, accountancy
services) dalam pelaksanaan MEA 2015
Rekomendasi pengendalian
pelaksanaan kebijakan 8 MRA yang
sesuai dengan pengembangan Ekonomi
Kreatif Nasional (engineering services,
architectural,
accountancy services) dalam
pelaksanaan MEA 2015
Persentase (%) rekomendasi
pengendalian kebijakan kerjasama
ekonomi Asia yang ditindaklanjuti
Rekomendasi pengendalian kebijakan
kerjasama ekonomi Asia
Meningkatnya kerja sama ekonomi Asia
Meningkatnya kerja sama ekonomi
Eropa, Afrika, dan Timur Tengah
Program
4
PROGRAM
KOORDINASI
KEBIJAKAN BIDANG
PEREKONOMIAN
2
2
8
4
3
3
3
Terimplementasinya rerkomendasi
Persentase rekomendasi pengendalian Rekomendasi pengendalian kebijakan
kebijakan dibidang tata kelola kehutanan kebijakan di bidang Tata Kelola
di bidang Tata Kelola Kehutanan
untuk antisipasi perubahan iklim
Kehutanan
Meningkatnya Pengelolaan dan
pengembangan dibidang
Ketenagakerjaan
Volume
Laporan hasil pengendalian
pelaksanaan kebijakan Peningkatan
Daya Saing Ekonomi Kawasan
1
3
4
4
4
4
4
4
1
8
Persentase Rekomendasi pengendalian Rekomendasi pengendalian kebijakan
kebijakan kerjasama ekonomi Eropa, Kerjasama Ekonomi Eropa, Afrika dan
Afrika dan Timur Tengah yang
Timur Tengah
ditindaklanjuti
13
Meningkatnya kerja sama ekonomi
Amerika dan Pasifik
Persentase (%) rekomendasi
pengendalian kebijakan kerjasama
ekonomi Amerika dan
Pasifik yang ditindaklanjuti
Rekomendasi pengendalian kebijakan
kerjasama ekonomi Amerika dan
Pasifik
6
Meningkatnya kerja sama ekonomi
Regional dan Subregional
Persentase rekomendasi pengendalian
kebijakan kerjasama ekonomi Regional
dan Sub Regional
yang ditindaklanjuti
Persentase (%) rekomendasi
pengendalian kebijakan Kerja Sama
ekonomi Multilateral dan Pembiayaan
yang ditindaklanjuti
Rekomendasi pengendalian kebijakan
kerjasama ekonomi Regional dan Sub
Regional
Meningkatnya kerja sama ekonomi
Multilateral dan pembiayaan
Rekomendasi Pengendalian Kebijakan
Kerjasama Ekonomi Multilateral dan
Pembiayaan
6
5
Lampiran IV
MATRIKS SASARAN DAN INDIKATOR KINERJA KEGIATAN TAHUN 2015
(KELOMPOK KOORDINASI DAN SINKRONISASI)
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
Sasaran Kegiatan
Tersusun rekomendasi paket
kebijakan ekonomi yang mendukung
kebijakan moneter dan neraca
pembayaran
Tersusunnya rekomendasi kebijakan
pembiayaan kredit, asuransi dan
remitansi untuk pekerja migran
Indikator Kinerja Kegiatan
Output
Volume
Target
Program
12
85%
PROGRAM
KOORDINASI
KEBIJAKAN BIDANG
PEREKONOMIAN
12
85%
12
85%
12
90%
12
85%
12
85%
12
85%
1
85%
1
85%
1
85%
1
85%
1
85%
1
85%
1
85%
1
85%
Rekomendasi kebijakan
Pengembangan
Investasi
3
80%
Rekomendasi kebijakan
peningkatan daya saing
Pengembangan Investasi
1
100%
Persentase rekomendasi dari hasil
koordinasi, sinkronisasi dan sosialisasi
kebijakan moneter dan neraca
pembayaran yang ditindaklanjuti
Persentase rekomendasi dari hasil
koordinasi, sinkronisasi dan sosialisasi
kebijakan pembiayaan kredit, asuransi
dan remitansi untuk pekerja migran
yang ditindaklanjuti
Rekomendasi dari hasil koordinasi,
sinkronisasi dan sosialisasi kebijakan
moneter dan neraca pembayaran
Tersusunnya rekomendasi Kebijakan Persentase rekomendasi dari hasil
yang terkait dengan bidang BUMN koordinasi, sinkronisasi dan sosialisasi
kebijakan BUMN yang ditindaklanjuti
Rekomendasi dari hasil koordinasi,
sinkronisasi dan sosialisasi kebijakan
BUMN
Tersusunnya rekomendasi
pengembangan kebijakan ekonomi
daerah dan sektor riil
Persentase rekomendasi dari hasil
koordinasi, sinkronisasi dan sosialisasi
kebijakan ekonomi daerah dan sektor riil
ditindaklanjuti
Tersusunnya rekomendasi kebijakan Persentase rekomendasi dari hasil
fiskal
koordinasi, sinkronisasi dan sosialisasi
kebijakan fiskal yang
ditindaklanjuti
Tersusunnya rekomendasi kebijakan Persentase rekomendasi dari hasil
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan koordinasi, sinkronisasi dan sosialisasi
kebijakan Pasar Modal
Rekomendasi dari hasil koordinasi,
sinkronisasi dan sosialisasi kebijakan
Pengembangan Ekonomi daerah dan
Sektor Riil
Rekomendasi dari hasil koordinasi,
sinkronisasi dan sosialisasi kebijakan
fiskal
Tercapainya Target Penyaluran KUR
Persentase rekomendasi dari hasil
koordinasi, sinkronisasi dan sosialisasi
kebijakan KUR yang
ditindaklanjuti
Tercapainya peningkatan produksi
Persentase rekomendasi hasil koordinasi
daging, telur dan susu segar untuk
dan sinkronisasi kebijakan bidang
pemenuhan kebutuhan konsumsi
peternakan dan perikanan yang
protein hewani dan peningkatan
diselesaikan
Presentase rekomendasi hasil kordinasi
produksi dan ketersediaan hasil
dan sinkronisasi kebijakan
perikanan untuk peningkatan
konsumso dan eksport, peningkatan pengembangan ekonomi wilayah pesisir
dan pulau - pulau kecil yang
produksi dan produktifitas garam
ditindaklanjuti
dalam rangka swasembada
Tercapainya stabilitas harga,
Persentase rekomendasi hasil koordinasi
ketersediaan dan keterjangkauan
dan sinkronisasi kebijakan bidang pangan
pangan pokok dalam rangka
yang diimplementasikan
menuju swasembada pangan pokok
Rekomendasi dari hasil koordinasi,
sinkronisasi dan sosialisasi kebijakan
KUR
Peningkatan peran perkebunan dan
hortikultura untuk pemenuhan
konsumsi dalam negeri, dan
peningkatan ekspor
Persentase rekomendasi hasil koordinasi
dan sinkronisasi kebijakan bidang
perkebunan dan hortikultura yang
diimplementasikan
Presentase rekomendasi hasil kordinasi
dan sinkronisasi kebijakan
pengembangan rempah - rempah yang
ditindaklanjuti
Persentase rekomendasi hasil koordinasi
dan sinkronisasi kebijakan dibidang
agribisnis yangdiimplementasikan
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan bidang
perkebunan
dan hortikultura
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan pengembangan
rempah - rempah
Persentase rekomendasi hasil koordinasi
dan sinkronisasi kebijakan prasarana dan
sarana pangan dan pertanian yang
diimplementasikan
Persentase rekomendasi hasil koordinasi
dan sinkronisasi penyelesaian konflik
lahan pertanian yang ditindaklanjuti
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan prasarana dan
sarana pangan dan pertanian
Terimplementasinya rerkomendasi
kebijakan dibidang agribisnis untuk
peningkatan nilai tambah pertanian
dan peningkatan kesejahteraan
petani
Peningkatan pemanfaatan lahan
terlantar, pengurangan konversi
lahan pertanian, percepatan
pembangunan irigasi dengan
pembukaan lahan beririgasi, serta
pembukaan dan pengelolaan
sarana produksi pertanian dalam
rangka mendukung peningkatan
Meningkatnya investasi nasional Persentase rekomendasi kebijakan
Pengembangan Investasi yang
ditindaklajuti
Persentase Rekomendasi kebijakan
peningkatandaya saing
Pengembangan Investasi yang
ditindaklanjuti
Meningkatnya Ekspor dan
berkembangnya Fasilitasi
Perdagangan Internasional
Meningkatnya Pengembangan
Logistik Nasional untuk
mendukung kelancaran arus
barang
Tersusunnya Rekomendasi
kebijakan penguapasar dalam
negeri dan tertib usaha
Tersusunnya Rekomendasi
kebijakan
Pengembangan Sektor dan
Kawasan Industri
Rekomendasi dari hasil
telaahan/kajian kebijakan pembiayaan
kredit, asuransi dan
remitansi untuk pekerja migran
Rekomendasi dari hasil koordinasi,
sinkronisasi dan sosialisasi kebijakan
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan bidang
peternakan
dan perikanan
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan pengembangan
ekonomi wilayah pesisir dan pulau pulau kecil
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan bidang pangan
Laporan rekomendasi hasil koordinasi
dan
sinkronisasi kebijakan dibidang
agribisnis
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi penyelesaian konflik lahan
pertanian
Persentase rekomendasi Kebijakan
PEPI yang ditindaklanjuti
Rekomendasi Kebijakan PEPI
2
80%
Persentase rekomendasi kebijakan
Peningkatan Ekspor dan Fasilitasi
Perdagangan Internasional
yang ditindaklajuti
Rekomendasi kebijakan
Peningkatan Ekspor dan Fasilitasi
Perdagangan Internasional
5
80%
Persentase Rekomendasi kebijakan
peningkatan daya saing ekspor yang
ditindaklanjuti
Persentase rekomendasi kebijakan
Pengembangan Logistik yang
ditindaklajuti
Rekomendasi kebijakan
peningkatan daya saing ekspor
1
100%
5
80%
Persentase rekomendasi kebijakan
peningkatan daya saing
Pengembangan Logistik yang
ditindaklanjuti
Tersusunnya Rekomendasi kebijakan
penguasan pasar dalam negeri dan
tertib usaha
Persentase rekomendasi kebijakan
peningkatandaya saing pasar dalam
negeri yang ditindaklanjuti
Rekomendasi kebijakan
peningkatan daya saing
Pengembangan Logistik
1
100%
5
80%
1
100%
Persentase rekomendasi kebijakan
Pengembangan Sektor dan kawasan
Industri yang ditindaklanjuti
Rekomendasi kebijakan
Pengembangan
Sektor dan kawasan Industri
3
80%
Persentase Rekomendasi kebijakan
peningkatan daya saing sektor dam
Kawasan Industri yang
ditindaklanjuti
Rekomendasi kebijakan
peningkatan daya
saing sektor dan Kawasan Industri
1
100%
Rekomendasi kebijakan
Pengembangan
Logistik
Rekomendasi kebijakan penguatan
pasar
dalam negeri dan tertib usaha
Rekomendasi kebijakan
peningkatan dayasaing pasar
dalam negeri
Lampiran IV
Sasaran Kegiatan
Indikator Kinerja Kegiatan
Output
Terwujudnya Sistem National
Persentase rekomendasi kebijakan
Single Window yang efisien,
Pengembangan dan Penerapan
konsisten, transparan dan simple Sistem Nasional Single Window dan
Intergrasi ke dalam Sistem
ASW yang ditindaklajut
Rekomendasi kebijakan
Pengembangan daPenerapan
Sistem Nasional Single Windowdan
Intergrasi ke dalam Sistem ASW
Tersusunnya Rekomendasi
Kebijakan dalam Rangka
Percepatan Pembangunan
Infrastrukturb Sumber Daya Air
Persentase (%) koordinasi Kebijakan
Urusan Infrastruktur Sumber Daya
Air yang Ditindaklanjuti
Rekomendasi Hasil Koordinasi
Kebijakan
Urusan Infrastruktur Sumber Daya
Air
Tersusunnya Rekomendasi
Kebijakan Telematika dan
Utilitas yang ditindaklanjuti
Persentase (%) Rekomendasi
Kebijakan Telematika dan Utilitas
yang ditindaklanjuti
Rekomendasi Kebijakan
Telematika dan
Utilitas
Tersusunnya Rekomendasi
Persentase (%) Rekomendasi
Kebijakan dalam Percepatan
kebijakan sistem transportasi
Pembangunan Transportasi Multi multimoda
Moda
Rekomendasi kebijakan sistem
transportasi multimoda
Tersusunnya Rekomendasi
Kebijakan Bidang Penataan
Ruang dan Kawasan Strategis
Ekonomi
Jumlah Rekomendasi Hasil
Koordinasi dan Sinkronisasi
Kebijakan bidang Penataan Ruang
dan Kawasan Strategis Ekonomi yang
ditindaklanjuti
Rekomendasi Hasil Koordinasi dan
Sinkronisasi Kebijakan Bidang
Penataan Ruang dan Kawasan
Strategis Ekonomi
Tersusunnya Rekomendasi
Kebijakan Perumahan,
Pertanahan, dan Pembiayaan
Infrastruktur yang ditindaklanjuti
Persentase (%) Rekomendasi
Kebijakan Perumahan, Pertanahan,
dan Pembiayaan Infrastruktur yang
ditindaklanjuti
Rekomendasi Kebijakan
Perumahan,
Pertanahan, dan Pembiayaan
Infrastruktur
Tersusunnya rekomendasi
Persentase (%) rekomendasi
kebijakan dalam upaya
kebijakan dibidangproduktivitas
pencapaian sasaran peningkatan energi yang terimplementasi
produktifitas energi
Laporan rekomendasi kebijakan
dibidang produktivitas energi
Tersusunnya rekomendasi
Persentase rekomendasi Kebijakan
kebijakan dalam upaya
Dibidang Infrastruktur Energi yang
pencapaian sasaran peningkatan Ditindaklanjuti
pengelolaan
infrastruktur energi
Laporan rekomendasi Kebijakan
Dibidang
Infrastruktur Energi
Tersusunnya rekomendasi
Persentase rekomendasi kebijakan di Laporan rekomendasi kebijakan di
kebijakan dalam upaya
Industri Ekstraktif
Industri
pencapaian sasaran peningkatan
Ekstraktif
pengelolaan industri ekstratif
Terimplementasinya
Persentase rekomendasi kebijakan di
rerkomendasi kebijakan dibidang bidang Tata Kelola Kehutanan
tata kelola kehutanan untuk
antisipasi perubahan iklim
Persentase rekomendasi hasil
koordinasi dan sinkronisasi kebijakan
Heart of Borneo yang ditindaklanjuti
Rekomendasi kebijakan di bidang
Tata Kelola Kehutanan
rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan Heart of
Borneo
Tersusunnya rekomendasi
Persentase rekomendasi kebijakan
Laporan rekomendasi kebijakan
kebijakan dalam upaya
bidang pelestarian lingkungan hidup bidang
pencapaian sasaran peningkatan
pelestarian lingkungan hidup
pelestarian lingkungan hidup
Meningkatnya jumlah pelaku
ekonomi kreatif dan
kontribusinya terhadap
perekonomian nasional
Persentase (%) rekomendasi
Rekomendasi hasil koordinasi dan
kebijakan di bidang pengembangan sinkronisasi kebijakan di bidang
ekonomi kreatif yang ditindaklanjuti pengembangan ekonomi kreatif
Terwujudnya ekonomi
Persentase (%) rekomendasi hasil
kerakyatan yang tangguh, efisien koordinasi dan sinkronisasi kebijakan
dan berdaya saing
pengembangan UKM berbasis
teknlogi yang ditindaklanjuti
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan
pengembangan UKM berbasis
teknlogi
Meningkatnya pengelolaan dan Persentase (%) rekomendasi
pengembangan potensi ekonomi kebijakan di bidang peningkatan
kawasan
daya saing ekonomi kawasan yang
ditindaklanjuti
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan di bidang
peningkatan daya saing ekonomi
kawasan
Meningkatnya pengelolaan dan
pengembangan kewirausahaan
melalui peran inkubator
wirausaha
Persentase (%) rekomendasi
kebijakan Pengembangan
Kewirausahaan yang ditindaklanjuti
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan di bidang
pengembangan Kewirausahaan
Meningkatnya daya saing
Persentase (%) rekomendasi
Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil kebijakan Peningkatan Daya Saing
dan Menengah
Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah yang ditindaklanjuti
Rekomendasi hasil koordinasi dan
sinkronisasi kebijakan di bidang
Peningkatan Daya Saing Koperasi
dan Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah
Meningkatnya Pengelolaan dan
pengembangan dibidang
Ketenagakerjaan
Persentase (%) Rekomendasi
Rekomendasi hasil koordinasi dan
Kebijakan dibidang Ketenagakerjaan sinkronisasi kebijakan bidang
yang ditindaklanjuti
Ketenagakerjaan
Persentase (%) rekomendasi
kebijakan Ekonomi Kreatif Nasional,
KUKM, SDM, dan
ketenagakerjaan/buruh dalam
pelaksanaan MEA 2015
Persentase (%) kesepakatan
kerjasama ekonomi Asia yang
terselesaikan
Persentase Kesepakatan Kerja Sama
Ekonomi Eropa, Afrika, dan Timteng
yang terselesaikan
rekomendasi kebijakan Ekonomi
Kreatif
Nasional, KUKM, SDM, dan
ketenagakerjaan/buruh dalam
pelaksanaan MEA 2015
Kesepakatan Kerjasama Ekonomi
Asia
Meningkatnya kerja sama
ekonomi Amerika dan Pasifik
Persentase (%) kesepakatan kerja
sama ekonomi Amerika dan Pasifik
yang terselesaikan
Kesepakatan kerja sama ekonomi
Amerika
dan Pasifik
Meningkatnya kerja sama
ekonomi Regional dan
Subregional
Persentase kesepakatan kerjasama
ekonomi Regional dan Sub Regional
yang terselesaikan
Kesepakatan Kerjasama Ekonomi
Regional
dan Sub Regional
Meningkatnya kerja sama
ekonomi Multilateral dan
pembiayaan
Persentase (%) kesepakatan kerja
sama ekonomi Multilateral dan
Pembiayaan yang terselesaikan
Kesepakatan Kerjasama Ekonomi
Multilateral dan Pembiayaan
Meningkatnya kerja sama
ekonomi Asia
Meningkatnya kerja sama
ekonomi Eropa, Afrika, dan
Timur Tengah
Kesepakatan Kerjasama Ekonomi
Eropa,
Afrika dan Timur Tengah
Volume
Target
Program
5
80%
PROGRAM
KOORDINASI
KEBIJAKAN BIDANG
PEREKONOMIAN
4
85%
2
80%
4
85%
9
9%
4
80%
3
80%
3
85%
3
85%
1
85%
3
85%
3
85%
4
85%
5
80%
4
85%
4
85%
4
85%
4
85%
1
85%
4
85%
5
85%
4
85%
6
85%
5
85%
Lampiran V
Contoh Pola Cascading Indikator Kinerja Individu
Menko
Deputi
(I)
Asdep
(Fiskal)
Terwujudnya
Koordinasi dan
Sinkronisasi
Kebijakan
Perekonomian
Terwujudnya
Koordinasi dan
Sinkronisasi
Kebijakan
dibidang
Ekonomi Makro
dan Keuangan
Tersusunnya
Rekomendasi
Kebijakan
Fiskal
(P e r n y a t a a n s a s a r a n)
Kabid
(Penerimaan
Fiskal)
Jumlah Konsep
Rekomendasi
hasil
koordinasi,
Sinkronisasi,
Monev
Kebijakan
dibidang
Penerimaan
Negara yang
tersusun
Kasubid
(Penerimaan
Pajak)
Pelaksanan/
JFU
Jumlah Bahan
Rekomendasi
hasil
Koordinasi,
Sinkronisasi,
Monev
Kebijakan di
Bidang
Penerimaan
Pajak yang
terolah dan
teranalisis
Jumlah bahan
koordinasi,
sinkronissi dan
sosialisasi
kebijakan
dibidang
penerimaan
pajak yang
terkumpul
(P e r n y a t a a n I n d I k a t o r)
Perjanjian Kinerja
Mekanisme PP 46/2008 (PPK:SKP & PKP), //skp.ekon.go.id
Lampiran VI
Contoh Pola Pengelolaan dan Pengukuran Kinerja Tahun 2015
IKU SES
Persentase kepatuhan terhadap
ketentuan dibidang perencanaan
anggaran, keuangan, perlengkapan dan
kepegawaian;
Indeks kepuasaan pelayanan
kesekretariatan dan pengawasan;
Indikator Kinerja Kegiatan/IKU Eselon II
Jumlah Dokumen Perencanaan yang Berkualitas
Jumlah Dokumen Pelaksanaan Reformasi Birokrasi
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Jumlah Pelaksanaan Hasil Pengawasan yang
dilaksanakan
Persentase Pelaksanaan Fungsi Kerumahtanggaan dan
Tata Usaha Pimpinan dalam Mendukung Pelaksanaan
Tugas Pokok Organisasi Kemenko Perekonomian yang
diselesaikan
Jumlah Laporan Dukungan Kegiatan Menko
Perekonomian dan Fasilitasi Naskah Kebijakan Menteri
Jumlah Laporan Kegiatan Persidangan KKBP
Jumlah Laporan Rancangan Peraturan Perundangundangan, Telaahan Masalah Hukum dan Perundangundangan, serta Sistem Jaringan Dokumentasi dan
Informasi Hukum.
Laporan Hasil Telaahan yang dilaksanakan dlm upaya
pencapaian kinerja KKBP
Meningkatkan budaya
organisasi berbasis
kinerja dan kompetensi
serta tata kelola
organisasi, untuk
perbaikan pelayanan
Persentase dan penggunaan aplikasi di
bidang kesekretariatan;
Kualifikasi laporan keuangan tetap
"Wajar Tanpa Pengecualian";
Jumlah Laporan Komunikasi Publik Kebijakan Bidang
Perekonomian
Persentase Pelaksanaan Pelayanan Pengelolaan Barang
Milik Negara yang diselesaikan
Persentase Laporan Pelaksanaan Sistem dan
Implementasi Pelayanan Prima dalam Pelaksanaan
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Verifikasi dan
Perbendaharaan yang diselesaikan
Jumlah Laporan Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Hasil
Pengawasan (Internal dan Eksternal)
Persentase sumber daya manusia yang Persentase Administrasi dan Pengembangan Sumber
memenuhi standar kompetensi.
Daya Manusia yang diselesaikan
Meningkatnya
produktivitas melalui
sarana dan prasarana
yang berkualitas untuk
seluruh pegawai
Jumlah pegawai yang terbayar gaji dan tunjangan
Persentase pemenuhan sarana dan
prasarana yang berkualitas untuk seluruh
pegawai
Persentase (%) Pemenuhan Sarana dan Prasarana kerja
yang berkualitas bagi seluruh pegawai
2 Sasaran Strategis
6 Indikator Kinerja Utama
2 IKU Rocan, 7 IKU Biro Umum+SA, 4 IKU RoHPH, 2 IKU
Inspektorat
Target
Realisasi
Kinerja
(R/T)
Unit Es.II
Penanggung
Jawab
Anggaran
Rumpun Kegiatan
4 Dok
4
100%
3 Dok
3
100%
4 Laporan
4
100%
Inspektorat
Pengawasan Inspektorat
100
103%
Biro Umum
Peningkatan dan Pengelolaan
Pelayanan Umum
(Manajemen)
1
100%
Biro HPH
Peningkatan dan Pengelolaan
Layanan PersidanganHukum dan
Humas
97 %
1 Laporan
Biro
Perencanaan
Peningkatan Pelayanan
Perencanaan
1 Laporan
1
100%
3 Laporan
3
100%
5 Laporan
5
100%
SA
2 Laporan
2
100%
Biro HPH
97 %
97
100%
Biro Umum
100 %
100
100%
Biro Umum
Peningkatan dan Pengelolaan
Pelayanan Umum
(Manajemen)
3
100%
Inspektorat
Pengawasan Inspektorat
Biro Umum
Peningkatan dan Pengelolaan
Pelayanan Umum
(Manajemen)
Biro Umum
Peningkatan dan Pengelolaan
Pelayanan Umum
(Manajemen)
3 Laporan
97 %
100
103%
378 %
378
100%
100 %
100
100%
Penelaahan KebijakanBidang
perekonomian
Peningkatan dan Pengelolaan
Layanan PersidanganHukum dan
Humas
Peningkatan dan Pengelolaan
Pelayanan Umum
(Manajemen)
Alokasi
Realisasi
Pengelolaan
Kontrak Kinerja
%
Individu (termasuk IKU
Realisasi
Es.III,Es.IV, JFU)
4.267.169.000
4.240.299.380
99%
882.832.000
739.620.467
84%
550.000.000
382.339.554
70%
4.775.302.000
3.403.988.798
71%
500.000.000
292.231.755
58%
500.000.000
411.859.100
82%
1.000.000.000
785.624.654
79%
2.500.000.000
2.072.965.810
83%
7.150.000.000
5.733.389.169
80%
855.000.000
561.588.152
66%
855.000.000
642.522.886
75%
50.000.000
40.600.000
81%
3.648.867.000
3.121.799.266
86%
98.465.259.000
72.635.725.527
74%
4.500.000.000
2.223.992.825
49%
130.499.429.000
97.288.547.343
75%
//skp.ekon.go.id (UserID & Password masing-masing)
Pengukuran
SS. SES
Download