tanaman jagung - Digital Repository

advertisement
PENETAPAN STANDAR WARNA DAUN
SEBAGAI UPAYA IDENTIFIKASI STATUS HARA (N)
TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) PADA TANAH REGOSOL
SKRIPSI
Oleh :
Wisnu Sapto Nugroho
20090210002
Program Studi Agroteknologi
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2013
1
PENETAPAN STANDAR WARNA DAUN
SEBAGAI UPAYA IDENTIFIKASI STATUS HARA (N)
TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) PADA TANAH REGOSOL
(Determination of Leaf Color Standards For Identify effort Nutrient Status (N)
of Maize /(Zea mays L.) at Regosol Soil)
Nugroho W.S1), G. Budiyanto2), B.H. Isnawan2)
ABSTRACT
A study, entitled "Determination of Leaf Color Standards For Identify the
Nitrogen (N) Status of Corn (Zea mays L.) in Regosol Soil", was conducted from
February up to August 2013 in the experimental land of Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta, aims to obtain a standard of leaves green color on
the growth of corn as the identification of the status of nitrogen adequacy.
The experiment was done using the experimental methods are arranged in
a completely randomized design (CRD) which consisted of 7 treatments : 125 kg
N/ha (N1), 150 kg N/ha (N2), 175 kg N/ha (N3), 200 kg N/ha (N4), 225 kg N/ha
(N5), 250 kg N/ha (N6), and 275 kg N/ha (N7).
The result showed that Leaf color scale is can be set on a color between
5GY 5/8 and 5GY 6/8 on the doses between 250 kg N/ha and 275 kg N/ha. Dose of
250 kg N/ha gave the highest of plant height. In the other side, dose of 275 kg N/ha
gave the highest results in the components of seed weight/cob and grain weight of
100 seeds at 14% moisture content.
Key words: Corn, Nitrogen Status, Leaf Color Standards
PENDAHULUAN
Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas yang memiliki arti penting
bagi bangsa Indonesia karena menjadi komoditas utama penghasil karbohidrat
setelah beras. Selain itu, jagung juga digunakan sebagai pakan ternak dan bahan
baku industri lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir peningkatan kebutuhan
jagung tidak sejalan dengan laju peningkatan produksi di dalam negeri sehingga
diperlukan impor jagung yang makin besar (Nyimas, 2006). Selain sebagai sumber
pangan, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya),
diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan
istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan
tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai
bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga
sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi. Biji jagung kaya akan
karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat
dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji (http:// repository. usu.ac.id/
bitstream/ 123456789/ 23043/5/ Chapter%20II. pdf, diakses 13 Mei 2013).
Produksi jagung di Indonesia masih tergolong rendah karena belum bisa
memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang
menyebabkan kurangnya produksi jagung di Indonesia salah satunya adalah
permasalahan budidaya. Proses fotosintesis tanaman sangat dipengaruhi oleh cara
1
budidaya yang dilakukan. Dalam proses fotosintesis, klorofil memiliki peran yang
sangat penting, karena tanpa klorofil tanaman tidak akan bisa melakukan
fotosintesis yang akan menghasilkan fotosintat. Fotosintesis adalah suatu
proses biokimia pembentukan zat makanan atau energi yaitu glukosa yang
dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri dengan menggunakan zat
hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari.
Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam
fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan
di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang
terdapat di atmosfer bumi. Untuk mendapatkan fotosintat yang maksimal, maka
proses fotosintesis juga harus dimaksimalkan, salah satunya dengan cara
memaksimalkan peran klorofil dalam proses tersebut. Proses fotosintesis pada
tumbuhan terjadi di dalam daun, oleh karena itu agar proses fotosintesis berjalan
maksimal, daun tumbuhan harus terjaga termasuk masalah warna hijau daun.
Warna hijau daun disebabkan oleh kandungan klorofil di dalamnya. Warna hijau
daun juga menunjukan kandungan unsur hara N pada tanaman. Tanaman yang
kekurangan unsur hara N, daunnya akan menguning sehingga proses fotosintetis
tidak maksimal. Dalam produksi tanaman, untuk memperoleh hasil yang
maksimum, ketersediaan unsur hara merupakan syarat mutlak. Salah satu unsur
hara penting yang ketersediaannya harus dalam keadaan cukup adalah nitrogen.
Tanaman jagung mengambil N sepanjang hidupnya. Nitrogen dalam tanah bersifat
labil, karena perubahan bentuknya menyebabkan kandungan N dalam tanah mudah
berkurang dan mudah tercuci, maka pemupukan dengan cara bertahap sangat
dianjurkan. Nitrogen diserap tanaman selama masa pertumbuhan sampai
pematangan biji, sehingga tanaman ini menghendaki tersedianya N secara terus
menerus pada semua stadia pertumbuhan sampai pembentukan biji (http://
repository. usu.ac.id/ bitstream/ 123456789/ 23043/5/ Chapter%20II. pdf, diakses
13 Mei 2013).
Suwardi dan Efendi (2009) mangatakan bahwa tanaman jagung dalam
pertumbuhan fase awal sampai masak fisiologis membutuhkan nitrogen sekitar
120-180 kg/hektar sedangkan N yang terangkut ke tanaman jagung hingga panen
sekitar 129-165 kg/hektar dengan tingkat hasil 9,5 ton/hektar. Nitrogen yang
diserap pada tanaman tersebut merupakan hara esensial yang berfungsi sebagai
bahan penyusun asam-asam amino, protein dan klorofil yang penting dalam proses
fotosintesis serta bahan penyusun komponen inti sel. Pupuk N memegang peranan
penting dalam peningkatan produksi tanaman selain pupuk P dan K. Saat ini
penggunaan pupuk pada tanaman jagung belum rasional dan berimbang. Pupuk
yang rasional dan berimbang dapat tercapai apabila takaran pupuk memperhatikan
status hara serta kebutuhan tanaman untuk mencapai hasil yang optimal (Balai
Penelitian Tanah 2008). Pupuk N memegang peran sangat penting dalam
peningkatan produksi jagung. Penggunaan pupuk yang berlebihan, selain akan
memperbesar biaya produksi juga akan merusak lingkungan akibat adanya emisi
gas N2O pada proses amonifikasi, nitrifikasi, dan denitrifikasi (Wahid, 2003).
Pemberian pupuk N yang berlebihan pada tanaman jagung dapat meningkatkan
kerusakan akibat serangan hama dan penyakit terutama pada musim hujan,
2
memperpanjang umur, dan tanaman lebih mudah rebah akibat batang dari daun
yang berlebihan dari ukuran normal, sedangkan akar tidak mampu menahan.
Mempertahankan kondisi tanaman dalam keadaan cukup hara N namun
tidak berlebihan merupakan salah satu alternatif meningkatkan efisiensi pupuk N.
Pupuk diberikan berdasarkan kandungan N dalam daun tanaman yang ditunjukkan
oleh penampakan warna daun. Penentuan kondisi tanaman kritis terhadap N
dilakukan dengan menggunakan SPAD (Soil Plant Analysis Development) yang dapat
mendeteksi kandungan hara tanaman. Metode ini kemudian dimodifikasi dengan
suatu alat berupa bagan warna daun (BWD) atau leaf color chart (LCC) karena
harga alat SPAD cukup mahal (sekitar US$ 1500/unit) sehingga sulit dijangkau
oleh petani. Hasil penelitian penggunaan BWD memberikan gambaran bahwa
BWD dapat mengoptimalkan penggunaan N, merupakan alat peraga untuk
menduga status N daun, sangat sederhana, tidak bersifat merusak, murah dan
mudah digunakan, ramah lingkungan dan dapat dimiliki oleh petani karena
harganya terjangkau. Namun, alat ini tidak dapat digunakan pada daerah-daerah
yang kondisi tanahnya bermasalah, seperti tanah kahat belerang (S) dan fosfor (P)
atau kelebihan besi, karena hasilnya akan dikaburkan oleh pengaruh kekurangan
atau keracunan hara tersebut. Oleh karena itu, penggunaan BWD hanya
direkomendasikan pada daerah-daerah yang tanahnya tidak bermasalah atau
setelah kondisi tanah yang bermasalah tersebut diatasi (Wahid, 2003).
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan standar warna hijau daun yang
tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung sebagai identifikasi status
kecukupan hara N.
TATA CARA PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Februari s/d Agustus 2013 di
Kebun Percobaan dan Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta, Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih jagung hibrida
varietas Bisi 2, pupuk kandang (kambing) 20 ton/hektar, pupuk KCl (60% K2O),
pupuk SP-36 (36%P2O5) dan pupuk urea (46% N), tanah regosol yang diambil dari
lahan percobaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tamantirto, Kasihan,
Bantul, DIY.
Alat yang digunakan adalah timbangan elektrik dengan ketelitian 0,01g
dan 0,5kg, gembor, cangkul, saringan lolos 2mm, oven, cetok, polybag ukuran
45x35 cm, penggaris, alat tulis, munshell colour chart, leaf area meter, kamera
digital.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan Rancangan faktor tunggal yang
disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan pemupukan
N dan masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan sebagai berikut : 1). 125 kg
N/hektar (N1),2). 150 kg N/hektar (N2),
3).175 kg N/hektar (N3), 4).200 kg
N/hektar (N4), 5). 225 kg N/hektar (N5), 6). 250 kg N/hektar (N6), dan 7). 275 kg
N/hektar (N7)
Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yaitu : Persiapan
media tanam, Penanaman, Pemeliharaan (Penyiraman, Penyulaman, Pemupukan,
Pengendalian hama dan penyakit), dan pengamatan serta panen.
3
Ada beberapa variabel pangamatan dalam pelaksanaan penelitian ini yaitu :
Fase vegetatif (Tinggi tanaman, Jumlah daun, Warna hijau daun, Luas daun, Berat
segar tanaman, Berat kering tanaman) dan fase generatif (Berat segar tongkol
tanpa kelobot, Berat kering tongkol tanpa kelobot, Berat biji/tongkol dan Berat 100
butir biji pada kadar air 14%)
Data hasil pengamatan ditabulasi dan dianalisis. Analisis menggunakan
Sidik Ragam atau Anova (Analysis of variance) pada taraf α = 5%. Apabila ada
beda nyata, maka digunakan uji lanjut Uji Jarak Berganda Duncan (UJGD) pada
taraf α = 5%.
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan Vegetatif
Ketersediaan unsur hara dalam tanah akan mempengaruhi pertumbuhan
tanaman dalam hal ini yaitu ketersediaan unsur nitrogen yang dibutuhkan tanaman
selama pertumbuhan vegetatif maupun generatif. Hasil Uji Jarak Berganda Duncan
(UJGD) 5% terhadap tinggi tanaman (cm) pada umur 7 minggu disajikan dalam
tabel 1.
Tabel 1. UJi Jarak Berganda Duncan (UJGD) 5% terhadap tinggi tanaman (cm)
Perlakuan
Tinggi tanaman (cm)
125 kg N / hektar (N1)
77.333 abc
150 kg N / hektar (N2)
74.000 bc
175 kg N / hektar (N3)
81.333 a
200 kg N / hektar (N4)
73.667 c
225 kg N / hektar (N5)
80.333 ab
250 kg N / hektar (N6)
82.333 a
275 kg N / hektar (N7)
77.167 abc
Ket: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak
berbeda nyata berdasarkan UJGD 5%
Pengamatan tinggi tanaman dilakukan seminggu sekali mulai pada minggu
kedua sampai minggu ketujuh setelah tanam. Dari UJGD 5% terhadap tinggi
tanaman (cm) bahwa perlakuan pupuk N 250 kg/hektar menghasilkan tanaman
paling tinggi dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan pupuk N 175 kg/hektar
dan berbeda tidak nyata dengan perlakuan N 125 kg/hektar, 225 kg/hektar dan 275
kg/hektar. Akan tetapi pelakuan N 250 kg/hektar berbeda nyata dengan pelakuan
N 150 kg/hektar dan 200 kg/hektar.
Kondisi lingkungan yang juga disebut iklim mikro mempunyai pengaruh
yang besar bagi pertumbuhan tanaman seperti misalnya curah hujan dan arah mata
angin. Curah hujan yang tinggi dapat mengakibatkan proses pencucian unsur hara
dalam tanah semakin cepat terjadi sehingga ketersediaan hara bagi tanaman
menjadi berkurang. Hasil UJGD 5% yang disajikan dalam tabel 1 menunjukkan
pertumbuhan tinggi tanaman yang tidak sama dari masing-masing perlakuan. Hal
ini terjadi dengan adanya kemungkinan proses pelindian unsur hara yang terjadi
pada tanah tidak sama karena faktor curah hujan dan angin yang menyertainya.
Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan 175 kg N/hektar tidak berbeda
nyata dengan perlakuan 250 kg N/hektar dan menunjukkan hasil paling tinggi. Hal
4
ini menunjukkan bahwa ketersediaan unsur hara khususnya nitrogen pada
pelakuan 175 dan 250 kg N/hektar sudah terpenuhi. Hal ini didukung dengan hasil
pengamatan warna daun yang menunjukkan bahwa perlakuan 175 dan 250 kg
N/hektar memberikan warna daun paling hijau yaitu pada skala 5GY 5/8 untuk
perlakuan 175 kg N/hektar dan skala 5GY 4/8 untuk perlakuan 250 kg N/hektar.
Pertumbuhan tinggi batang terjadi di dalam meristem interkalar dari ruas.
Ruas memanjang sebagai akibat meningkatnya jumlah sel dan meluasnya sel.
Pertumbuhan karena pembelahan sel terjadi pada dasar ruas bukan pada meristem
ujung (Gardner, dkk., 1991).
Pertumbuhan tinggi tanaman dapat diakibatkan karena ketersediaan unsur
hara dan air yang cukup dalam tanah. Terutama unsur nitrogen yang digunakan
untuk pertumbuhan batang dan daun. Jika unsur N tersedia cukup dalam tanah
maka proses fotosintesis akan berjalan lancar dan hasil fotosintatnya akan banyak
sehingga tinggi tanaman akan dipercepat. Pertumbuhan tinggi tanaman
dipengaruhi oleh sinar matahari yang diterima tanaman (Nurhayati, 2003).
Berdasarkan hasil sidik ragam 5% terhadap jumlah daun pada fase
vegetatif maksimal menunjukkan bahwa semua perlakuan takaran pupuk N
memberikan pengaruh yang sama terhadap jumlah daun. Hasil sidik ragam 5%
terhadap jumlah daun disajikan dalam tabel 2.
Tabel 2. Hasil sidik ragam 5% terhadap jumlah daun
125
150
175
200
225
250
275
Jumlah daun (helai)
12.0000 a
12.3333 a
14.3333 a
13.3333 a
14.0000 a
13.6667 a
14.3333 a
Perlakuan
kg N / hektar (N1)
kg N / hektar (N2)
kg N / hektar (N3)
kg N / hektar (N4)
kg N / hektar (N5)
kg N / hektar (N6)
kg N / hektar (N7)
Ket: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak
berbeda nyata berdasarkan Sidik Ragam 5%
Pengamatan jumlah daun dilakukan seminggu sekali sejak minggu kedua
setelah tanam sampai minggu ke tujuh setelah tanam. Dari hasil sidik ragam
menunjukkan pemberian pupuk N dengan dosis yang berbeda memberikan
pengaruh yang sama terhadap parameter pengamatan jumlah daun (tabel 2).
Jumlah daun yaitu berkisar antara 12-14,33 helai. Pemberian nitrogen diharapkan
memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dalam hal ini yaitu jumlah
daun.
Nitrogen mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan
vegetatif tanaman. Namun penyerapan unsur N oleh tanaman juga dipengaruhi
oleh lingkungan disekitar tanaman. Dari hasil sidik ragam 5% pada tabel 3
menunjukkan tidak ada beda nyata terhadap parameter jumlah daun. Kondisi
lingkungan yang tidak stabil menjadikan penyerapan unsur N oleh tanaman tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter jumlah daun.
Peningkatan pertumbuhan tinggi tanaman meneyebabkan bertambahnya
jumlah daun karena laju pertumbuhan semakin meningkat dengan bertambahnya
5
umur tanaman, namun pada saat tanaman memasuki fase vegetatif maksimal atau
masuk fase generatif peningkatan jumlah daun jagung menunjukkan tidak beda
nyata. Hal ini disebabkan jumlah daun dalam satu tanaman ditentukan oleh
sedikitnya primordia daun yang terbentuk pada tanaman tersebut, sehingga daun
suatu tanaman akan berkurang jika perkembangannya tidak didukung oleh
lingkungan yang memadai (Utami, 2005). Hal ini juga menunjukkan bahwa
jumlah daun yang terbentuk pada tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dari
tanaman.
Anischan (2013) menyatakan bahwa respons tanaman terhadap N juga
tergantung pada baik buruknya suplai unsur hara yang lainnya. Tanpa pemberian P
dan K respons hasil terhadap peningkatan N lebih rendah dibanding bila P dan K
diberikan dalam jumlah yang cukup. Disamping itu, respons terhadap pemberian P
dan K akan lebih besar bila suplai N makin banyak. Penyerapan unsur hara oleh
tanaman berfungsi untuk pembentukan sel tanaman termasuk salah satunya yaitu
daun. Apabila penyerapan hara tidak maksimal maka sel tanaman yang terbentuk
juga tidak maksimal.
Berdasarkan hasil sidik ragam 5% terhadap luas daun pada fase vegetatif
maksimal menunjukkan bahwa semua perlakuan takaran pupuk N memberikan
pengaruh yang sama terhadap luas daun. Hasil sidik ragam 5% terhadap luas daun
disajikan dalam tabel 3.
Tabel 3: Hasil sidik ragam 5% terhadap luas daun
125
150
175
200
225
250
275
Luas daun (cm2)
Perlakuan
kg N / hektar (N1)
kg N / hektar (N2)
kg N / hektar (N3)
kg N / hektar (N4)
kg N / hektar (N5)
kg N / hektar (N6)
kg N / hektar (N7)
4244.3
4355.0
4402.7
4837.0
5276.3
4718.0
4899.7
a
a
a
a
a
a
a
Ket: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak
berbeda nyata berdasarkan Sidik Ragam 5%
Berdasakan hasil sidik ragam 5% menunjukkan tidak ada beda nyata pada
luas daun. Meskipun tidak berbeda nyata, akan tetapi ada kecenderungan
peningkatan luas daun sampai pada pemberian dosis N 225 kg/hektar (tabel 3). Hal
ini menunjukkan adanya pengaruh ketersediaan unsur N terhadap pembentukan sel
daun. Dengan penambahan pupuk N maka luas daun juga semakin besar, sehingga
diharapkan akan meningkatkan fotosintetis. Fotosintetis diharapkan akan
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karena fotosintat yang
dihasilkan lebih besar.
Hasil sidik ragam 5% yang menunjukkan tidak ada beda nyata pada
parameter luas daun, hal ini dikarenakan penyerapan unsur hara oleh tanaman
masih sama antar perlakuan. Jumlah dan ukuran daun dipengaruhi oleh genotipe
dan lingkungan (Humpheries dan Wheeler, 1963) dalam Gardner, dkk. (1991).
6
Panjang, lebar, dan luas daun umumnya meningkat berangsur-angsur menurut
otogeni samapai ke suatu titik kemudian pada spesies tertentu menurun perlahanlahan menurut otogeni, sehingga daun terbesar terletak dekat dengan pusat
tanaman. Berat dan luas maksimum daun suatu tanaman tercapai pada awal daur
hidupnya, setelah itu meningkatnya berat dan luas daun sama, dengan menurunnya
suatu status yang disebut sebagai luas daun kritis (Gardner, dkk., 1991). Maka dari
itu, meskipun ada kecenderungan peningkatan luas daun dari tiap dosis pemberian
pupuk N, namun disaat tanaman memasuki fase generatif tidak ada beda nyata
pada parameter luas daun. Hal ini disebabkan awal daur hidup tanaman sudah
terlewati sehingga tidak ada lagi peningkatan yang signifikan pada luas daun.
Hasil sidik ragam 5% terhadap berat segar dan berat kering tanaman
menunjukkan bahwa semua perlakuan pupuk N yang diberikan memberikan
pengaruh yang sama. Hasil pengukuran berat segar dan berat kering tanaman
disajikan dalam tabel 4.
Tabel 4. Hasil sidik ragam 5% berat segar dan berat kering tanaman
Berat segar (g)
Berat kering (g)
Perlakuan
660.9 a
104.13 a
125 kg N / hektar (N1)
737.5 a
102.36 a
150 kg N / hektar (N2)
844.2 a
118.55 a
175 kg N / hektar (N3)
844.3 a
111.34 a
200 kg N / hektar (N4)
873.0 a
117.15 a
225 kg N / hektar (N5)
805.4 a
118.13 a
250 kg N / hektar (N6)
895.0 a
275 kg N / hektar (N7)
120.65 a
Ket: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak berbeda
nyata berdasarkan Sidik Ragam 5%
berat segar tanaman (g)
Pengamatan berat segar tanaman dilakukan pada minggu ke delapan
setelah tanam dengan cara menimbang seluruh tanaman jagung. Dari hasil sidik
ragam menunjukkan bahwa tidak ada beda nyata dari semua perlakuan (tabel 4).
Meskipun tidak ada beda nyata, namun ada kecenderungan semakin meningkatnya
berat segar tanaman dengan penambahan dosis pupuk N. Peningkatan berat segar
tanaman dapat dilihat pada gambar 1.
1000
800
844.2
660.9
844.3
737.5
873
805.4
895
600
400
200
0
125
150
175
200
225
250
275
kg/hektar kg/hektar kg/hektar kg/hektar kg/hektar kg/hektar kg/hektar
Dosis nitrogen
Gambar 1. Pengaruh pemberian N terhadap berat segar tanaman
7
Berat kering tanaman (g)
Unsur nitrogen yang terkandung di dalam urea mempunyai fungsi
membentuk butir-butir hijau daun dan pembentukan sel-sel tanaman yang penting
dalam proses fotointesis, sehingga dapat mempercepat pertumbuhan tanaman
dalam hal ini berat segar tanaman (www.petrokimia-gresik.com/nitrogen.asp).
Dosis pupuk N 275 kg/hektar menunjukkan hasil paling tinggi. Hal ini terjadi
karena kebutuhan N bagi pertumbuhan tanaman jagung terpenuhi sehingga
pertumbuhan tanaman berjalan maksimal. Sedangkan dosis pupuk N 125 kg/hektar
menunjukkan hasil paling rendah. Hal ini disebabkan karena kebutuhan nitrogen
bagi pertumbuhan vegetatif tanaman belum terpenuhi dalam hal ini yaitu berat
segar tanaman.
Jumin (1991) dalam Adinata (2004) mengatakan bahwa pemupukan yang
tersedia terutama pupuk nitrogen kaan mempertinggi pertumbuhan vegetatif
tanaman. Tanaman yang kekurangan unsur nitrogen mengalami hambatan dalam
pembentukan hijau daun yang sangat berperan dalam fotosintesis, sehingga
pembentukan karbohidrat yang berfungsi untuk energi dan pembentukan sel bagi
pertumbuhan tanaman menjadi kurang akibatnya tanaman menjadi kuning dan
pertumbuhan lambat. Tingginya berat segar tanaman dipengaruhi oleh kandungan
air dalam tanaman tersebut. Hasil asimilasi yang diproduksi oleh jaringan hijau
ditranslokasikan ke bagian tubuh tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan,
cadangan makanan dan pengelolaan sel (Gardner, dkk., 1991).
Berat kering tanaman dilakukan setelah tanaman mengalami berat yang
konstan setelah dioven. Berat kering tanaman merupakan hasil yang menunjukkan
optimalisasi serapan unsur hara oleh tanaman selama pertumbuhan. Berat kering
tanaman merupakan akumulasi fotosintat yang dihasilkan dari proses fotosintesis.
Unsur hara yang diserap oleh tanaman berfungsi untuk membentuk sel-sel
tanaman selama pertumbuhan. Oleh karena itu, semakin besar berat kering
tanaman berarti menunjukkan semakin banyak unsur hara yang diserap oleh
tanaman selama pertumbuhan. Pengaruh pemberian nitrogen terhadap berat kering
tanaman dapat dilihat pada gambar 2.
125
118.55
120
115
117.15
118.13
225
250
120.65
111.34
110
105
104.13
102.36
100
95
90
125
150
175
200
275
Dosis N (kg/hektar)
Gambar 2. Pengaruh pemberian N terhadap berat kering tanaman
Gambar 2 dapat dilihat bahwa perlakuan 275 kg N/hektar memberikan
hasil paling tinggi terhadap parameter nerat kering tanaman. Tanaman yang
pertumbuhan vegetatifnya baik akan mempunyai berat segar yang tinggi diikuti
8
oleh kandungan air yang rendah maka akan diperoleh berat kering yang tinggi
(Adinata, 2004). Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa perlakuan antar dosis pupuk N
sebesar 125 kg/hektar, 150 kg/hektar, 175 kg/hektar, 200 kg/hektar, 225 kg/hektar,
250 kg/hektar, 275 kg/hektar tidak memberikan pengaruh nyata terhadap
parameter berat kering tanaman. Hal ini terjadi karena ada kemungkinan adanya
ketidakseimbangan antara dosis pupuk N dengan unsur yang lain yaitu P dan K
sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap pertumbuhan tanaman.
Kemungkinan ini didasarkan pada pernyataan Anischan (2013) yang
menyatakan bahwa respons tanaman terhadap N juga tergantung pada baik
buruknya suplai unsur hara yang lainnya. Tanpa pemberian P dan K respons hasil
terhadap peningkatan N lebih rendah dibanding bila P dan K diberikan dalam
jumlah yang cukup. Disamping itu, respons terhadap pemberian P dan K adalah
lebih besar bila suplai N banyak. Peningkatan pemberian dosis pupuk N yang tidak
diiringi dengan peningkatan dosis P dan K diduga menjadi penyebab tidak
maksimalnya penyerapan unsur hara karena terjadi ketidakseimbangan anatara
pupuk N, P dan K.
Pertumbuhan tanaman jagung akan berjalan baik dengan cukup tersedianya
unsur hara dalam tanah. Pengambilan unsur hara dalam tanah oleh akar tanaman
yang terjadi secara difusi dan aliran massa dalam bentuk NO3- dan NH4+ jika unsur
N, pada unsur P dalam bentuk H2PO4- dan HPO4 2-, dan jika unsur K diambil
dalam bentuk K+ . pengambilan unsur hara dan air dari dalam tanah digunakan
untuk fotosintesis tanaman dan akan dihasilkan fotosintat yang akan disebarkan ke
seluruh bagian tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Apabila proses
fotosintesis berjalan lancer maka hasil fotosintatnya tinggi, dengan demikian
tanaaman menjadi gemuk dan berat kering tanaman akan bertambah tinggi. Daun
merupakan sumber asimilat utama bagi kenaikan berat kering (Gold Sworth dan
Fisher, 1992) dalam Nurhayati (2003). Pertumbuhan tanaman yang baik akan
menghasilkan berat segar tanaman yang tinggi diikuti oleh kandungan air yang
rendah maka akan diperoleh berat kering tanaman yang tinggi.
Pengamatan warna daun dilakukan pada saat tanaman memasuki fase
vegetatif maksimal atau pada saat awal muncul bunga jantan yaitu sekitar umur
50-60 hari setelah tanam. Pengamatan warna daun dilakukan dengan
menggunakan munshell color chart untuk mengetahui nilai klorofil pada tanaman.
Hasil pengamatan warna daun dengan menggunakan munshell color chart
menunjukkan adanya perbedaan tingkat kehijauan warna daun jagung dari
berbagai perlakuan pupuk nitrogen (tabel 5).
Tabel 5. Hasil pengamatan warna hijau daun
Perlakuan
125 kgN/hektar
150 kgN/hektar
175 kgN/hektar
200 kgN/hektar
225 kgN/hektar
250 kgN/hektar
275 kgN/hektar
Skala Warna Daun
5GY 5/8
5GY 5/8
5GY 5/8
5GY 6/10
5GY 6/10
5GY 5/8
5GY 6/8
9
Hal ini terjadi karena fungsi dari nitrogen yaitu selain merangsang
pertumbuhan tanaman, juga memberikan warna hijau pada daun. Semakin gelap
warna hijau daun pada tanaman jagung menunjukkan semakin tinggi unsur
nitrogen yang diserap tanaman. Tingginya serapan unsur nitrogen oleh tanaman
diharapkan akan meningkatkan berat kering tanaman dan juga hasil panen. Hal ini
didukung dari pernyataan Soepardi (1983) bahwa pada serealia, nitrogen akan
memperbesar butir-butir dan presentase protein.
Daun berfungsi sebagai organ utama fotosintesis pada tumbuhan tingkat
tinggi. Permukaan luar daun yang luas dan datar memungkinkannya menangkap
cahaya semaksimal mungkin per satuan volume dan meminimalkan jarak yang
harus ditempuh oleh CO2 dari permukaan daun ke kloroplas, yaitu jarak sekitar 0,1
mm pada daun-daun kebanyakan tanaman budidaya (Gardner, dkk., 1991).
Soepardi (1983) mengatakan dari tiga unsur yang biasanya diberikan
sebagai pupuk, nitrogen merupakan yang paling menyolok dan cepat. Nitrogen
berperan merangsang pertumbuhan di atas tanah dan memberikan warna hijau
pada daun. Pada serealia nitrogen akan memperbesar butir-butir dan presentase
protein.
Buckman dan Brady (1982) mengatakan bahwa nitrogen cenderung
menghasilkan sukulen yaitu kualitas khusus yang diharapkan pada tanaman
tertentu seperti selada dan lobak (sayuran). Tanaman yang kekurangan nitrogen
akan tumbuh kerdil dan memiliki sistem perakaran terbatas. Daun menjadi kuning
atau hijau kekuningan dan cenderung mudah jatuh.
Gardner, dkk. (1991) mengatakan bahwa agar pemanfaatan radiasi
matahari oleh tanaman budidaya dapat dilakukan secara efisien, maka penyerapan
radiasi tersebut harus sebagian oleh jaringan fotosintesisnya yang hijau. Untuk
mendapatkan warna hijau yang tepat pada daun jagung maka pemberian nitrogen
menjadi cara yang efektif. Fotosintesis menjadi satu-satunya sumber energi bagi
kehidupan tanaman selama pertumbuhan. Kandungan klorofil yang ada di dalam
daun menunjukkan status hara N pada tanaman.
Hasil pengamatan warna daun jagung dan selanjutnya dikorelasikan
dengan hasil berat biji/tongkol dan berat 100 butir biji jagung pada kadar 14%
maka, penetapan standar warna daun jagung untuk mendapatkan hasil jagung yang
optimal yaitu pada skala antara 5GY 5/8 sampai 5GY 6/8 seperti pada gambar 3.
Gambar 3a. Warna daun skala 5GY 5/8
Gambar 3b. Warna daun skala 5GY 6/8
10
Pertumbuhan Generatif
Pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif maupun generatif sangat
dipengaruhi ketersediaan unsur hara dalam tanah. Ketersediaan unsur nitrogen
menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan juga
pembentukan buah atau hasil tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap berat segar
tongkol tanpa kelobot disajikan dalam tabel 6.
Komponen hasil ditentukan dengan penimbangan berat tongkol tanpa
kelobot yang dipanen dari petak hasil pada saat jagung telah memasuki masak
fisiologis dengan ditandai kelobot paling luar telah mengering dan lapisan pati
sudah keras. Dari hasil sidik ragam 5% menunjukkan bahwa semua perlakuan
dosis nitrogen memberikan pengaruh yang sama terhadap berat segar tongkol
(Tabel 6). Hal ini disebabkan kebutuhan nitrogen pada fase generatif tidak
sebanyak pada fase vegetatif sehingga penyerapan unsur nitrogen maksimal terjadi
pada fase vegetatif dan mulai menurun pada saat memasuki fase generatif.
Tabel 6. Hasil sidik ragam 5% terhadap berat segar tongkol tanpa kelobot
Berat segar tongkol tanpa kelobot
(g)
167.80 a
124.80 a
114.63 a
113.17 a
128.10 a
134.40 a
164.45 a
Perlakuan
125
150
175
200
225
250
275
kg N / hektar (N1)
kg N / hektar (N2)
kg N / hektar (N3)
kg N / hektar (N4)
kg N / hektar (N5)
kg N / hektar (N6)
kg N / hektar (N7)
Ket: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak
berbeda nyata berdasarkan Sidik Ragam 5%
Hal ini diperkuat dengan pernyataan bahwa nitrogen nerupakan unsur hara
utama dalam penyediaan nutrisi tanaman, dan merupakan komponen utama dalam
klorofil, protoplasma dan protein. Nitrogen berperan dalam banyak proses
fisiologi, terutama fase pertumbuhan vegetatif dan memberikan warna hijau daun.
Tetapi kalau terlalu banyak dapat menghambat pembungaan dan pembuahan
bahkan mengundang hama dan penyakit (http:// repository. usu.ac.id/ bitstream/
123456789/23043/5/Chapter%20II.pdf, diakses 13 Mei 2013).
Tanaman jagung mempunyai dua tahap pertumbuhan sepanjang hidupnya,
yaitu pertumbuhan vegetatif dan generatif. Tanaman jagung pada fase vegetatif
lebih membutuhkan nitrogen (N), unsur tersebut dibutuhkan tanaman karena untuk
pembentukan bagian vegetatifnya, terutama pada batang, akar dan daun.
Sedangkan unsur nitrogen pada masa pertumbuhan generatifnya diperlukan untuk
pembentukan tongkol (Lingga dan Marsono , 2000) dalam (Yuningsih, 2002).
Berat kering merupakan akumulasi dari hasil fotosintesis yang dilakukan
oleh tanaman. Hasil Uji Jarak Berganda Duncan 5% terhadap berat kering tongkol
tanpa kelobot disajikan dalam tabel 7.
11
Tabel 7. Hasil uji jarak berganda duncan 5% terhadap berat kering tongkol tanpa
kelobot
125
150
175
200
225
250
275
Perlakuan
kg N / hektar (N1)
kg N / hektar (N2)
kg N / hektar (N3)
kg N / hektar (N4)
kg N / hektar (N5)
kg N / hektar (N6)
kg N / hektar (N7)
Berat kering tongkol tanapa kelobot (g)
130.75 a
93.95 ab
71.37 b
80.57 b
90.47 ab
95.60 ab
131.15 a
Ket: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak
berbeda nyata berdasarkan UJGD 5%
Berat kering tongkol tanpa kelobot dilakukan setelah tongkol dijemur
selama 2 hari. Dari tabel 6 terlihat bahwa perlakuan nitrogen 125 kg/hektar tidak
berbeda nyata terhadap perlakuan N 275 kg/hektar dan berbeda tidak nyata
terhadap perlakuan N 150 kg/hektar, 225 kg/hektar, 250 kg/hektar. Akan tetapi
perlakuan 125 kg N/hektar dan 275 kg N/hektar berbeda nyata terhadap perlakuan
175 kg N/hektar dan 200 kg N/hektar.
Pada tabel 7 menunjukkan bahwa perlakuan 275 kg N/hektar memberikan
hasil tertinggi terhadap parameter berat kering tongkol tanpa kelobot. Namun
perlakuan 275 kg N/hektar tidak berbeda nyata terhadap perlakuan 125 kg
N/hektar maka efektifitas pemberian pupuk nitrogen anorganik dianjurkan
menggunakan dosis 125 kg/hektar dikarenakan kebutuhan unsur nitrogen oleh
tanaman untuk pembentukan buah sudah tercukupi.
Pemberian unsur hara tanah bertujuan untuk menambah persediaan unsur
hara yang dibutuhkan oleh tanaman, untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil
bagi tanaman (Sarief, 1986 dalam Yuningsih, 2002). Menurut Muhali (1977)
dalam (Yuningsih, 2002) tujuan pemupukan selain untuk mengembalikan
kesuburan tanah yang mengalami penurunan juga untuk mencapai produksi yang
optimal.
Pengamatan berat biji/tongkol pada kadar air 14% merupakan komponen
pengamatan yang penting untuk dilakukan karena untuk menghitung hasil usaha
tani yang didapatkan dari hasil jagung tersebut.
Hasil Uji Jarak Berganda Duncan 5% terhadap berat biji/tongkol pada
kadar air 14% disajikan dalam tabel 8.
12
Tabel 8. Hasil Uji Jarak Berganda Duncan 5% terhadap berat biji/tongkol pada
kadar air 14%
Berat biji/tongkol pada kadar air
14% (g/tongkol)
93.21 a
64.29 ab
51.42 b
58.65 b
69.34 ab
76.42 ab
97.89 a
Perlakuan
125
150
175
200
225
250
275
kg N / hektar (N1)
kg N / hektar (N2)
kg N / hektar (N3)
kg N / hektar (N4)
kg N / hektar (N5)
kg N / hektar (N6)
kg N / hektar (N7)
Ket: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak
berbeda nyata berdasarkan UJGD 5%
Pengamatan berat biji/tongkol pada kadar air 14% dilakukan dengan
menghitung berat biji/tongkol jagung pipilam kemudian dikonversi pada kadar
air14% dengan rumus sebagai berikut :
Y = 100 – Ka x b
100 – 14
Dimana : Y = berat biji/tongkol pada kadar air 14%
Ka = kadar air biji yang ditentukan dengan grain moisture meter
b = berat biji/tongkol (pada waktu pengukuran)
berat biji/tongkol (g/tongkol)
Dari hasil UJGD 5% pada tabel 7 menunjukkan bahwa perlakuan dosis 275
kg N/hektar pada parameter berat biji/tongkol pada kadar 14% tidak berbeda nyata
dengan perlakuan 125 kg N/hektar dan berbeda tidak nyata terhadap perlakuan 150
kg N/hektar, 225 kg N/hektar, 250 kg N/hektar. Perlakuan 125 kg N/hektar dan
275 kg N/hektar berbeda nyata lebih tinggi daripada perlakuan 175 kgN/hektar dan
200 kg N/hektar.
Pengaruh pemberian unsur nitrogen pada peningkatan hasil berat
biji/tongkol dapat dilihat pada gambar 4.
120
100
80
60
40
20
0
berat
biji/tongkol
Y=0,006831x2 - 2,652029 + 313,125714
r=0,955 R2 = 0,913
125
150
175
200
225
250
275
dosis nitrogen (kg/hektar)
Gambar 4. Pengaruh dosis N terhadap berat biji/tongkol pada kadar air
14%
13
Gambar 4 menunjukkan bahwa perlakuan 275 kg N/hektar memberikan
hasil paling tinggi dengan persamaan regresi kuadratik Y=0,006831x2 - 2,652029x
+ 313,125714 dengan nilai R2= 0,913 yang berarti 91,3% berat biji/tongkol
dipengaruhi oleh dosis nitrogen. Sedangkan 8.7% berat biji/tongkol dipengaruhi
oleh faktor lain di luar perlakuan dosis nitrogen. Hal ini menunjukkan bahwa
ketersediaan unsur hara N dalam tanah tercukupi untuk pembentukan buah.
Respon tanaman sangat tergantung pada keseimbangan ketresediaan pupuk N,P,K
bagi tanaman. Penyerapam nitrogen akan dipengaruhi oleh baik buruknya suplai
unsur P dan K sebagaimana Anischan (2013) mengatakan bahwa tanpa pemberian
P dan K respon hasil terhadap peningkatan N lebih rendah dibanding bila P dan K
diberikan dalam jumlah yang cukup. Disamping itu, respon terhadap pemberian P
dan K akan lebih besar bila suplai N makin banyak.
Berat 100 butir biji kering diambil dari tanaman sampel dinyatakan dalam
g/100 biji pada kadar air 14% yang dihitung dengan persamaan :
Y = 100 – Ka x b
100 – 14
Dimana : Y = berat 100 biji pada kadar air 14%
Ka = kadar air biji yang ditentukan dengan grain moisture meter
b = berat 100 biji (pada waktu pengukuran)
Hasil sidik ragam 5% terhadap parameter berat 100 butir biji pada kadar air
14% disajikan dalam tabel 9.
Tabel 9. Hasil Sidik Ragam 5% terhadap berat 100 biji pada kadar air 14%
Berat 100 biji pada kadar air 14%
(g)
27.903 a
125 kg N / hektar (N1)
24.403 a
150 kg N / hektar (N2)
23.297 a
175 kg N / hektar (N3)
23.460 a
200 kg N / hektar (N4)
28.440 a
225 kg N / hektar (N5)
26.107 a
250 kg N / hektar (N6)
30.430 a
275 kg N / hektar (N7)
Ket: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata
berdasarkan Sidik Ragam 5%
Perlakuan
Hasil sidik ragam 5% menunjukkan tidak ada beda nyata terhadap berat
100 butir biji jagung. Hal ini menunjukkan bahwa semua perlakuan memberikan
pengaruh yang sama terhadap parameter berat 100 butir biji yang artinya bahwa
besar butir biji jagung dari tiap perlakuan juga tidak berbeda.
Nitrogen adalah unsur hara utama dalam penyediaan nutrisi tanaman, dan
merupakan komponen utama dalam klorofil, protoplasma dan protein. Nitrogen
berperan dalam banyak proses fisiologi, terutama fase pertumbuhan vegetatif dan
memberikan warna hijau daun (http:// repository. usu.ac.id/ bitstream/
123456789/23043/5/Chapter%20II.pdf, diakses 13 Mei 2013)
Pengaruh pemberian dosis nitrogen terhadap peningkatan berat 100 butir
biji jagung dapat dilihat pada gambar 5.
14
berat 100 biji (g)
35
30
25
20
15
10
5
0
berat
100…
Y=0,000812x2 - 0,301632x + 52,120857
r=0,829 R2 = 0,688
125
150
175
200
225
250
275
dosis nitrogen (kg/hektar)
Gambar 5. Pengaruh dosis N terhadap berat 100 butir biji jagung
Gambar 5 dapat dilihat bahwa perlakuan 275 kg N/hektar memberikan
hasil paling tinggi pada parameter berat 100 butir biji jagung dengan persamaan
regresi kuadratik Y=0,000812x2 - 0,301632x + 52,120857 dengan nilai R2=0,688
yang artinya bahwa 68,8% berat 100 butir biji dipengaruhi oleh dosis nitrogen.
Sedangkan 31.2% berat 100 butir biji dipengaruhi oleh faktor lain di luar
perlakuan dosis nitrogen. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian nitrogen dalam
jumlah yang cukup tersedia bagi tanaman maka akan memberikan hasil yang
optimal karena pembetukkan protein dalam tanaman untuk membentuk butiran
buah juga maksimal. Sedikit N, P, dan K diserap tanaman pada pertumbuhan fase
2, dan serapan hara sangat cepat terjadi selama fase vegetatif dan pengisian biji.
Unsur N dan P terus-menerus diserap tanaman sampai mendekati matang,
sedangkan K terutama diperlukan saat silking. Sebagian besar N dan P dibawa ke
titik tumbuh, batang, daun, dan bunga jantan, lalu dialihkan ke biji. Sebanyak 2/33/4 unsur K tertinggal di batang. Dengan demikian, N dan P terangkut dari tanah
melalui biji saat panen, tetapi K tidak. Anischan (2013) mengatakan bahwa respon
tanaman terhadap nirogen juga tergantung pada baik buruknya suplai unsur hara
lainnya. Tanpa pemberian P dan K respon hasil terhadap peningkatan N lebih
rendah dibanding bila P dan K diberikan dalam jumlah yang cukup. Disamping itu,
respon terhadap pemberian P dan K akan lebih besar bila suplai N makin banyak.
KESIMPULAN dan SARAN
Berdasarkan hasil pembahasan sebagaimana tersaji dalam BAB IV dapat
disimpulkan bahwa :1). Skala warna daun yang tepat untuk mengidentifikasi status
hara N pada hasil tanaman jagung yaitu antara skala 5GY 5/8 - 5GY 6/8 pada dosis
antara 250 kg/hektar sampai 275 kg/hektar. 2). Pemberian pupuk nitrogen dengan
dosis 250 kg/hektar memberikan pengaruh pertumbuhan paling tinggi pada
parameter tinggi tanaman. 3). Pemberian pupuk nitrogen dengan dosis 275
kg/hektar memberikan hasil paling tinggi pada komponen berat biji/tongkol dan
berat 100 butir biji pada kadar air 14%.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan media polibag, maka dari itu
disarankan perlu dilakukan penelitian lanjutan di lahan dalam skala yang lebih luas
dan di berbagai daerah yang memiliki faktor lingkungan berbeda-beda demi
mendapatkan hasil penelitian yang lebih optimal.
15
DAFTAR PUSTAKA
Adinata, K. 2004. Pertumbuhan vegetative tanaman jagung (Zea may L.) yang
diberi kombinasi zeolite dan pupuk nitrogen di lahan pasir pantai.
Yogyakarta. 62 h
Anischan, G. 2013. Bagan Warna Daun (BWD). Balai Besar Penelitian Tanaman
Padi
Balai Penelitian Tanah. 2008. Perangkat Uji Tanah Kering. Warta. Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Vol. 30, No. 5. h.13
Buckman, H.O., dan N. C. Brady. 1989. Ilmu Tanah. Diterjemahkan oleh
Soegiman. Barata Karya Aksara. Jakarta. 721 h
Gardner, F.P, Pearce, R.B dan Mitchell, R.L. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
UI press. Jakarta. 428h
Nurhayati, S. 2003. Pengaruh Dosis Dan Saat Pemberian Pupuk NPK Terhadap
Hasil Jagung Hibrida (Zea mays L.). Yogyakarta. 58h. Skripsi
fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Petrokimia.----. Nitrogen. Dalam www.petrokimia-gresik.com/nitrogen.asp
Soepardi,G. 1988. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Institut Pertanian Bogor.
591p Dalam Skripsi Sri, Y. 2002. Kajian dosis dan frekuensi pupuk
nitrogen pada pertumbuhan dan hasil jagung (Zea mays L.).
Yogyakarta. 57h
Suwardi dan R. Efendi. 2009. Efisiensi Penggunaan Pupuk N Pada Jagung
Komposit Menggunakan Bagan Warna Daun. http://balitsereal.
litbang. deptan. go.id/ ind/images/stories/32.pdf., Diakses 15 Mei
2013
USU.2011. Chapter II. Dalam http://repository. usu.ac.id/ bitstream/ 123456789
/23043/5/Chapter%20II.pdf. Diakses 13 Mei 2013
Utami, S. 2005. Pengaruh Sistem Olah Tanah Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil
Jagung Manis (Zea mays Saccharata Strurt). Yogyakarta. 61h
Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Wahid, A.S., 2003. Peningkatan Efisiensi Pupuk Nitrogen Pada Padi Sawah
Dengan Metode Bagan Warna Daun. Jurnal Libang Pertanian. H.
157.
Yuningsih, S. 2002. Kajian dosis dan frekuensi pupuk nitrogen pada pertumbuhan
dan hasil jagung (Zea mays L.). Yogyakarta. 57h. Skripsi Fakultas
Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
16
Download