Dinamika sel darah putih pada domba lokal yang

advertisement
31
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemeriksaan darah dilakukan sesaat sebelum operasi penanaman material
implan (H0), dan beberapa hari setelah operasi penanaman, yaitu hari ke-3, 7, 14,
21, 30 , 60 dan 90. Pemilihan waktu pemeriksaan dilakukan berdasarkan waktu
proses persembuhan tulang dan kerusakan jaringan (Cheville 2006). Pemeriksaan
darah yang dilakukan adalah jumlah total sel darah putih dan diferensial sel darah
putih yang meliputi jumlah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil dan basofil.
Jumlah Total Sel Darah Putih (/µl)
Jumlah Total Sel Darah Putih (Leukosit)
20000.00
16000.00
12000.00
HA-TKF
8000.00
HA-Kitosan
Normal
4000.00
0.00
0
3
7
14
21
30 60 90
Waktu (hari)
Gambar
15
Rataan jumlah total sel darah putih domba sebelum dan setelah
operasi penanaman material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor.
Gambar 15 memperlihatkan bahwa kelompok perlakuan HA-Kitosan
memiliki pola yang relatif stabil namun berada dibatas atas ambang normal, yaitu
berkisar antara 4.000–12.000 µl (Lawhead & Baker 2005). Peningkatan jumlah
total sel darah putih pada kelompok HA-Kitosan yang cukup tinggi terjadi pada
hari ke-3 setelah operasi. Hal ini merupakan respon alami tubuh dalam mengatasi
kerusakan jaringan akibat trauma setelah operasi (Underwood 1992). Kerusakan
jaringan meningkatkan kebutuhan sel darah putih menuju jaringan tersebut. Jika
kebutuhan tidak mencukupi, maka di dalam sumsum tulang akan terjadi
peningkatan produksi dan melepaskan sel darah putih dalam jumlah yang lebih
32
banyak ke dalam sirkulasi (Bush 1991). Peningkatan jumlah total sel darah putih
yang melebihi batas kisaran normal terjadi pada hari ke-90. Hal ini diduga karena
material implan HA-Kitosan lebih sulit terdegradasi dibandingkan HA-TKF,
sehingga keberadaannya yang tidak terserap sempurna pada akhir pemeriksaan,
direspon oleh tubuh sebagai benda asing. Hasil penelitian Nurlaela (2009)
menunjukkan bahwa morfologi komposit HA-Kitosan terlihat lebih rapat
dibandingkan dengan HA-TKF yang lebih rapuh, sehingga HA-Kitosan lebih sulit
terdegradasi dibandingkan HA-TKF.
Kelompok HA-TKF memiliki jumlah total sel darah putih yang masih
berada dalam kisaran normal. Kelompok ini memperlihatkan pola yang
menyerupai kurva terbalik, terjadi peningkatan hingga mencapai puncak kurva
pada hari ke-14 dan kemudian mengalami penurunan hingga hari terakhir
pengamatan (hari ke-90) menuju nilai awal sebelum diberi perlakuan (hari ke-0).
Namun demikian, nilai tersebut masih berada dalam kisaran normal. Peningkatan
jumlah total sel darah putih terjadi hingga hari ke-14 merupakan respon tubuh
akibat kerusakan jaringan. Menurut Underwood (1992), apabila terjadi kerusakan
jaringan, tubuh akan merespon dengan cara sumsum tulang melepaskan cadangan
sel darah putih ke dalam sirkulasi darah, sehingga jumlah total sel darah putih
dalam darah akan meningkat.
Jumlah total sel darah putih yang menurun hingga hari ke-90 merupakan
indikasi bahwa HA-TKF memberikan persembuhan yang lebih baik dibandingkan
dengan kelompok HA-Kitosan. Hal ini dikarenakan sifat senyawa HA-TKF yang
biodegradable (Cai et al. 2009), biokompatibiliti sempurna, osteokonduktif (Shi
2004). Material TKF memiliki sifat biologis non-reaktif dan resorbable, bertindak
sebagai scaffold untuk pertumbuhan ke dalam tulang sehingga penggantian tulang
dapat mengalami degradasi progresif (Lange et al. 1986). HA terbukti memiliki
kemampuan osteokompatibiliti dan osteokonduktif yang mempercepat proses
regenerasi tulang (Fujishiro et al. 2005). Struktur HA relatif stabil, memiliki sifat
biokompatibilitas yang baik sehingga cepat bergabung dengan jaringan tulang
(Ratajska et al. 2008). Brown et al. (2002) melaporkan bahwa HA-TKF
menyebabkan reaksi inflamasi yang minimal, sehingga peningkatan jumlah total
sel darah putih yang terjadi masih berada dalam kisaran normal.
33
Kelompok HA-Kitosan secara umum memiliki jumlah total sel darah putih
yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok HA-TKF. HA merupakan
garam kristal yang terdapat pada matriks organik tulang (Guyton & Hall 2006)
dan TKF merupakan mineral kalsium yang terdapat dalam tubuh dalam jumlah
rendah (Samuelson 2007), sehingga komposisi HA dan TKF dapat diterima oleh
tubuh. Sunil et al. (2008) mengatakan bahwa TKF memiliki kemampuan
biodegradation dan incorporation yang lebih baik ketika digabungkan dengan
HA. Dalam penelitian ini tujuan penggunaan kitosan adalah sebagai perekat
dalam penggunaannya dengan HA (Ratajaska et al. 2008), dan secara morfologi
HA-Kitosan memiliki struktur yang lebih rapat (Nurlaela 2009), sehingga kitosan
dimungkinkan lebih sulit terdegradasi.
Jumlah Neutrofil
7000.00
Jumlah Neutrofil (/µl)
6000.00
5000.00
4000.00
HA-TKF
3000.00
HA-Kitosan
2000.00
Normal
1000.00
0.00
0
3
7
14
21
30
60
90
Waktu (hari)
Gambar 16
Rataan jumlah neutrofil domba sebelum dan setelah operasi penanaman
material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor.
Gambar 16 menunjukkan bahwa jumlah neutrofil pada kelompok HAKitosan secara umum masih berada dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara
700–6.000 µl (Jain 1993). Kelompok HA-Kitosan mengalami peningkatan jumlah
neutrofil pada hari ke-3, ke-30 dan pada hari terakhir pemeriksaan.
34
Peningkatan jumlah neutrofil kelompok HA-Kitosan yang terjadi pada hari
ke-3 merupakan respon alami tubuh dalam mengatasi kerusakan jaringan.
Peningkatan jumlah neutrofil terjadi akibat meningkatnya kebutuhan yang
disebabkan oleh kerusakan jaringan. Kerusakan sel akan melepaskan mediator
yang menghasilkan akumulasi sel polimorfik (neutrofil, eosinofil dan basofil) dan
makrofag, serta faktor humoral seperti antibodi menuju lokasi kerusakan
(Wolfensohn dan Lloyd 2000). Jika kebutuhan tidak mencukupi, maka di dalam
sumsum tulang akan terjadi peningkatan produksi dan pelepasan neutrofil dalam
jumlah yang lebih banyak ke dalam sirkulasi. Produksi sel neutrofil yang terjadi di
sumsum tulang distimuli dalam 1-2 hari dan setelah itu neutrofil dilepaskan,
sehingga neutrofil akan terlihat di dalam sirkulasi (Bush 1991).
Penurunan jumlah neutrofil kelompok HA-Kitosan terjadi pada hari ke-7
dan mendekati nilai pada awal pemeriksaan. Hal ini merupakan sistem pengaturan
tubuh setelah sumsum tulang memproduksi sel neutrofil yang berlebihan untuk
mengatasi kerusakan jaringan yang terjadi (Jain 1993), sehingga jumlah neutrofil
yang ditemukan dalam sirkulasi darah pada hari ke-7 menurun mendekati nilai
pada awal pemeriksaan.
Peningkatan jumlah neutrofil kelompok HA-Kitosan yang terjadi pada hari
ke-30 diduga disebabkan akumulasi stres. Stres dapat meningkatkan jumlah
neutrofil dalam darah (Kelly 1984). Stres ini dimungkinkan terjadi akibat
handling yang dilakukan setiap hari. Menurut Kelly (1984), stres akibat rasa
sakit, takut ataupun exercise yang berlebihan juga dapat meningkatkan frekuensi
nafas dan denyut jantung. Hal ini didukung oleh pemeriksaan klinis setelah
operasi yang dilakukan Paradisa (2010) yang menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan frekuensi nafas dan denyut jantung melebihi kisaran normal pada
domba tersebut.
Peningkatan yang terjadi pada hari terakhir pengamatan dapat disebabkan
oleh jaringan pada kelompok HA-Kitosan yang mengalami persembuhan jaringan
dan degradasi yang lebih lama dibandingkan dengan kelompok HA-TKF. Hal ini
karena HA-Kitosan memiliki struktur yang lebih rapat, sehingga tidak ada poripori untuk vaskularisasi yang akan merangsang sel-sel progenitor untuk
memperbaiki kerusakan tulang. Idealnya campuran material implan tersebut harus
35
memiliki porositas tinggi, ruang yang besar (berpori), untuk memberi ruang yang
cukup bagi perkembangan jaringan dan vaskularisasi baru (Feng Zhao et al.
2002).
Peningkatan jumlah neutrofil pada kelompok HA-Kitosan merupakan
respon normal setelah operasi dalam proses persembuhan, bukan disebabkan
adanya infeksi bakteri, karena berdasarkan hasil penelitian tentang pemeriksaan
klinis yang dilakukan oleh Paradisa (2010) tidak memperlihatkan terjadinya
demam yang merupakan salah satu indikasi adanya infeksi. Hal ini ditunjukkan
dengan temperatur tubuh domba yang masih berada dalam kisaran normal.
Kelompok HA-TKF memperlihatkan jumlah neutrofil yang masih berada
dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara 700–6.000 µl (Jain 1993). Kelompok
ini memiliki jumlah neutrofil yang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok
HA-Kitosan. Kelompok ini mengalami peningkatan jumlah neutrofil pada hari ke3 dan hari ke-14 setelah operasi dan secara perlahan mengalami penurunan hingga
mencapai nilai seperti pada titik awal pemeriksaan. Underwood (1992)
melaporkan bahwa peningkatan jumlah neutrofil merupakan respon alami tubuh
yang terjadi akibat trauma operasi. Penurunan yang terjadi pada akhir pengamatan
merupakan proses pemulihan (persembuhan), dengan ditandai jumlah neutrofil
yang sebelumnya tinggi akan menurun menjadi normal (Bush 1991). Menurut
Brown et al. (2002), HA-TKF merupakan bahan sintetik dengan reaksi inflamasi
minimal.
Neutrofil berperan dalam pertahanan pertama terhadap infeksi bakteri
(Underwood 1992). Sel ini memiliki kemampuan fagositik dan bakterisidal serta
sangat berperan dalam kondisi inflamasi (McCurnin & Bassert 2006). Neutrofil
berperan dalam melawan infeksi dengan cara migrasi menuju jaringan yang
terinfeksi oleh bakteri, menembus dinding kapiler dengan cara diapedesis dan
memfagosit bakteri tersebut. Neutrofil menuju jaringan yang terluka ataupun
diserang, kemudian melepaskan zat-zat kemotoksik. Sel-sel yang mengalami luka
atau kerusakan melepaskan histamin yang membantu mengawali proses
peradangan (Frandson 1992). Jumlah neutrofil pada kedua kelompok perlakuan
secara umum masih berada dalam kisaran normal. Hal ini menunjukkan bahwa
tidak terjadi infeksi bakteri selama proses persembuhan.
36
Jumlah Limfosit
Jumlah Limfosit (/µl)
10000.00
8000.00
6000.00
HA-TKF
4000.00
HA-Kitosan
Normal
2000.00
0.00
0
3
7
14
21
30
60
90
Waktu (hari)
Gambar 17
Rataan jumlah limfosit domba sebelum dan setelah operasi
penanaman material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor
Gambar 15 memperlihatkan bahwa kelompok HA-Kitosan masih berada
dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara 2.000–9.000 µl (Jain 1993).
Kelompok HA-Kitosan memiliki jumlah limfosit yang mendekati kelompok HATKF. Kelompok HA-Kitosan memiliki jumlah limfosit yang lebih tinggi
dibandingkan kelompok HA-TKF sejak awal hingga hari ke-3 pemeriksaan,
namun mengalami penurunan hingga jumlahnya berada dibawah kelompok HATKF.
Selanjutnya
kelompok ini
mengalami
peningkatan
hingga
akhir
pemeriksaan. Peningkatan jumlah limfosit terjadi pada hari ke-3, 60 dan 90,
namun demikian peningkatan yang terjadi masih berada dalam kisaran normal.
Menurut Jain (1993), peningkatan jumlah limfosit distimuli oleh paparan antigen
akibat adanya infeksi bakteri, virus dan agen parasit.
Kelompok HA-TKF memiliki jumlah limfosit yang masih berada dalam
kisaran normal, yaitu berkisar antara 2.000–9.000 µl (Jain 1993). Pada hari
terakhir pengamatan, kelompok HA-TKF mengalami penurunan jumlah limfosit
hingga mencapai batas bawah nilai awal pengamatan, namun demikian nilainya
masih berada dalam kisaran normal. Hal ini menunjukkan bahwa material implan
HA-TKF dapat memberikan persembuhan tulang yang baik karena senyawa ini
37
memiliki sifat fisis, kimia, mekanis, dan biologis yang mirip dengan struktur
tulang (Guyton & Hall 2006), sehingga keberadaannya dapat diterima dengan
baik di dalam tubuh.
Jumlah limfosit domba pada kedua kelompok perlakuan masih berada
dalam kisaran jumlah limfosit domba normal. Hal ini menunjukkan bahwa
senyawa yang terkandung dalam material implan HA-TKF dan HA-Kitosan masih
dapat diterima oleh tubuh dan tidak mempengaruhi dinamika limfosit domba. HA
tidak menimbulkan respon tubuh terhadap material asing (Aprilia 2008), sehingga
tidak menimbulkan respon imun berupa respon penolakan terhadap implan.
Jumlah Monosit
800.00
Jumlah Monosit (/µl)
700.00
600.00
500.00
400.00
HA-TKF
300.00
HA-Kitosan
200.00
Normal
100.00
0.00
0
3
7
14
21
30
60
90
Waktu (hari)
Gambar 18
Rataan jumlah monosit domba sebelum dan setelah operasi
penanaman material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor
Gambar 18 memperlihatkan jumlah monosit kelompok HA-Kitosan
memiliki jumlah monosit yang masih berada dalam kisaran normal, yaitu berkisar
antara 0-750 µl (Jain 1993). Kelompok HA-Kitosan memiliki pola yang fluktuatif.
Peningkatan jumlah monosit terjadi pada hari ke-3, 14, 21 dan 90. Peningkatan
jumlah monosit terjadi akibat adanya respon untuk melakukan fagositosit benda
asing seperti jaringan yang mati (sel debris) (Underwood 1992), sel rusak atau sel
yang tidak berfungsi (Bush 1991). Sel ini memfagosit partikel besar dan sel
38
debris yang tidak dapat ditangani oleh sel neutrofil (McCurnin & Bassert 2006).
Penurunan jumlah monosit terjadi pada hari ke-7. Jain (1993) melaporkan jumlah
monosit dalam darah juga dipengaruhi oleh konsentrasi kortikosteroid. Steroid
menginduksi penurunan jumlah monosit yang akan menghambat pelepasan
monosit dari sumsum tulang atau terjadi penurunan jumlah produksi.
Kelompok HA-TKF mulai awal hingga akhir pengamatan menunjukkan
pola yang relatif stabil dan memiliki jumlah monosit yang cenderung rendah
dibandingkan dengan HA-Kitosan. Namun demikian, jumlah monosit kelompok
ini masih berada dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara 0-750 µl (Jain 1993).
Peningkatan dan penurunan yang ditunjukkan pada Gambar 18
memperlihatkan jumlah monosit kedua kelompok masih dalam kisaran normal.
Bush (1991) mengatakan bahwa monosit dalam darah normal jumlahnya sangat
sedikit. Hal serupa dipaparkan oleh Reece (2006) bahwa monosit bersirkulasi di
dalam darah kurang dari 24 jam, sehingga jumlahnya dalam darah normal sangat
sedikit. Monosit berada di sirkulasi darah dalam waktu yang pendek, kemudian
masuk ke dalam jaringan dan berubah menjadi makrofag akibat adanya respon
untuk melakukan fagositosit benda asing seperti bakteri (Frandson 1992) dan
jaringan yang mati (sel debris) (Underwood 1992), sel rusak atau sel yang tidak
berfungsi (Bush 1991).
Kemampuan biocompatible yang dimiliki HA-TKF (Shi 2004, Fujishiro et
al. 2005) dan HA-Kitosan (Maachou et al. 2008) menunjukkan bahwa pada
material tersebut terjadi harmonisasi dengan sistem tubuh, tidak mempunyai efek
toksik atau mengganggu fungsi biologis (Dorland
2002). HA-TKF memiliki
reaksi inflamasi yang minimal (Brown et al. 2002) dan HA-Kitosan memiliki
kemampuan bakteriostatik dan fungistatik yang mencegah infeksi (Aprilia 2008),
sehingga tubuh tidak merespon kedua material implan sebagai benda asing dan
dapat diterima oleh tubuh.
Jumlah Eosinofil
Gambar 19 memperlihatkan bahwa kelompok HA-Kitosan memiliki
jumlah eosinofil yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok HA-TKF.
Kelompok HA-Kitosan mengalami peningkatan dan penurunan jumlah eosinofil
39
yang fluktuatif, namun masih berada dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara
0–2.400 µl (Jain 1993). Peningkatan jumlah eosinofil terjadi pada hari ke-3, 14
dan 90, sedangkan penurunan jumlah eosinofil terjadi pada hari ke-7 dan 60 yang
mencapai nilai di bawah nilai awal pemeriksaan. Bush (1991) melaporkan bahwa
peningkatan jumlah eosinofil dapat juga terjadi akibat kerusakan jaringan kronis.
Kerusakan jaringan mengandung sejumlah besar sel mast (terutama pada kulit,
sehingga sel mast melepaskan histamin). Hal ini akan menarik lebih banyak
eosinofil menuju ke lokasi jaringan yang rusak. Penurunan jumlah eosinofil dapat
disebabkan stres dan rasa takut akibat handling. Jain (1993) melaporkan bahwa
penurunan jumlah eosinofil terlihat dalam kondisi stres, yang ditandai dengan
peningkatan pelepasan glukokortikoid oleh korteks adrenal. Glukokortikoid ini
akan menurunkan pelepasan eosinofil dari sumsum tulang, sehingga jumlah
eosinofil dalam sirkulasi menurun.
Jumlah Eosinofil (/µl)
3000.00
2500.00
2000.00
1500.00
HA-TKF
1000.00
HA-Kitosan
Normal
500.00
0.00
0
3
7
14
21
30
60
90
Waktu (hari)
Gambar 19
Rataan jumlah eosinofil domba sebelum dan setelah operasi
penanaman material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor
Jumlah eosinofil pada kelompok HA-TKF relatif stabil, kecuali pada hari
ke-14 terjadi sedikit peningkatan. Menurut Frandson (1992), peningkatan ini
dapat disebabkan juga oleh adanya respon tubuh terhadap reaksi alergi. Tubuh
dalam merespon adanya reaksi alergi, akan meningkatkan jumlah eosinofil.
Eosinofil berperan dalam merespon adanya reaksi alergi dan pertahanan terhadap
40
infeksi agen parasit (Underwood 1992) dan mengurangi inflamasi (Bush 1991).
Menurut Frandson (1992), eosinofil yang bersirkulasi dalam darah normal
jumlahnya sedikit. Pergerakan jumlah eosinofil pada hari terakhir pemeriksaan
yang mencapai nilai awal merupakan indikasi bahwa selama proses persembuhan
tulang, domba tidak mengalami infeksi parasit, reaksi alergi atau reaksi
hipersensitivitas anafilaksis yang merupakan peran eosinofil dalam mengontrol
reaksi tersebut, sehingga jumlah eosinofil dalam darah yang ditemukan pada
kelompok HA-TKF berada dalam kisaran normal dan mancapai nilai awal
sebelum diberi perlakuan.
Jumlah Basofil
Jumlah Basofil (/µl)
350.00
300.00
250.00
200.00
HA-TKF
150.00
HA-Kitosan
100.00
Normal
50.00
0.00
0
3
7
14
21
30 60 90
Waktu (hari)
Gambar 20
Rataan jumlah basofil domba sebelum dan setelah operasi penanaman
material implan tulang.
Keterangan: Data pada H60=2 ekor , H90=1 ekor
Gambar 20 memperlihatkan bahwa jumlah basofil kelompok HA-Kitosan
masih berada dalam kisaran normal, yaitu berkisar antara 0–300 µl (Jain 1993).
Jumlah basofil yang ditemukan pada kelompok ini sangat sedikit. Hal ini
didukung oleh Underwood (1992) yang melaporkan bahwa jumlah basofil yang
bersirkulasi dalam darah normal sangat sedikit. Kelompok HA-Kitosan
mengalami peningkatan jumlah basofil pada hari ke-30 hingga hari ke-90, namun
peningkatan yang terjadi sangat sedikit, sehingga dapat dikatakan bahwa
kelompok HA-Kitosan memiliki jumlah basofil yang relatif stabil. Menurut
41
Frandson (1992), peningkatan ini dapat disebabkan adanya reaksi sel basofil yang
merangsang sel mast dalam mengontrol peradangan di lokasi kerusakan jaringan.
Kelompok HA-TKF juga memperlihatkan jumlah basofil yang masih
berada dalam kisaran normal dan secara umum memiliki jumlah basofil yang
lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok HA-Kitosan. Sampai hari terakhir
pengamatan, basofil hampir tidak ditemukan pada kelompok HA-TKF, kecuali
pada hari ke-30, namun peningkatan yang terjadi dalam jumlah yang sangat
sedikit, sehingga dapat dikatakan bahwa kelompok HA-TKF memiliki jumlah
basofil yang relatif stabil. Peningkatan ini diakibatkan pelepasan heparin dan
histamin oleh sel mast dalam mengontrol peradangan di lokasi kerusakan jaringan
(Frandson 1992).
Basofil mengandung heparin dan histamin (Underwood 1992). Basofil
memiliki fungsi utama dalam reaksi alergi (terutama hipersensitivitas) oleh
pelepasan sejumlah mediator termasuk histamin, heparin dan serotonin (Bush
1991). Heparin dilepaskan di daerah peradangan. Basofil merupakan prekusor
bagi sel mast. Sel mast dan basofil melepaskan histamin, sedikit bradikinin dan
serotonin. Sel-sel ini terlibat dalam reaksi peradangan jaringan dan proses reaksi
alergi (Frandson 1992). Gambar 18 menunjukkan bahwa jumlah basofil kedua
kelompok perlakuan berada dalam kisaran normal dan memiliki jumlah yang
sedikit. Hal ini menggambarkan bahwa selama proses persembuhan tulang,
domba pada kedua kelompok perlakuan, yaitu kelompok HA-TKF dan HAKitosan tidak mengalami reaksi alergi yang ditimbulkan oleh kedua material
implan.
Penanaman material implan tulang yang dilakukan tidak mempengaruhi
dinamika sel darah putih domba. Peningkatan sel darah putih pada awal
pemeriksaan setelah dilakukan operasi penanaman material implan merupakan
reaksi yang normal dalam mengatasi kerusakan jaringan akibat trauma operasi
(Underwood 1992). Berdasarkan hasil penelitian Paradisa (2010), dikatakan
bahwa terjadi peradangan secara lokal pada bagian proksimal tibia yang ditanami
material implan berupa rubor (kemerahan), kalor (panas), dolor (rasa sakit) dan
tumor (pembengkakan) selama beberapa hari setelah operasi. Tanda peradangan
yang terjadi merupakan reaksi yang normal setelah operasi dan dialami pada
42
proses persembuhan (Wolfensohn & Lloyd 2000). Brown et al. (2002)
melaporkan bahwa HA-TKF memiliki reaksi inflamasi minimal dan rekasi
imunologi yang rendah, sehingga sel darah putih yang berperan dalam melawan
infeksi bakteri maupun dalam reaksi alergi dapat ditemukan dalam jumlah yang
sangat sedikit.
Pemilihan biomaterial yang tepat sangat penting dalam proses implantasi.
Idealnya biomaterial yang dipilih harus bersifat osteogenic, biocompatible,
bioresorbable (Nandi et al. 2008), osteoinductive, osteoconductive, biodegradable
(Thanaphat et al. 2008) dan memiliki stabilitas mekanik (Pearce et al. 2007).
Biomaterial tersebut juga harus memiliki porositas tinggi (berpori) agar dapat
memberikan ruang untuk vaskularisasi sehingga akan merangsang sel-sel
osteoprogenitor dalam proses osteogenesis (Maachou et al. 2008).
Download