Metodologi Pemeringkatan untuk Perusahaan Pembiayaan

advertisement
 Fitur Pemeringkatan ICRA Indonesia
Desember 2014
Metodologi Pemeringkatan untuk
Perusahaan Pembiayaan
Perusahaan pembiayaan, atau dikenal sebagai perusahaan multifinance, memainkan peran yang penting
dalam pasar keuangan di Indonesia. Dibandingkan dengan bank, perusahaan pembiayaan memiliki
fleksibilitas yang lebih besar dalam struktur pengendalian dan pengoperasian, dan juga diberi kebebasan
untuk memberikan pinjaman tanpa harus memprioritaskan sektor-sektor tertentu, ataupun harus
mencadangkan dana wajib kepada bank sentral. Namun, terdapat aturan-aturan yang membatasi jasa-jasa
apa saja yang dapat ditawarkan oleh perusahaan pembiayaan dan pilihan-pilihan pembiayaan yang dapat
mereka peroleh. Perusahaan pembiayaan juga tidak diperbolehkan menggalang dana langsung dari
masyarakat. Menurut peraturan yang baru, kegiatan usaha perusahaan pembiayaan di Indonesia dapat
meliputi:





Pembiayaan investasi
Pembiayaan modal kerja
Pembiayaan multiguna
Sewa guna usaha
Kegiatan berbasis fee sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di sektor
jasa keuangan.
Hal ini merupakan pengembangan dari sebelumnya, dimana pada umumnya kegiatan perusahaan
pembiayaan mencakup pembiayaan konsumen, sewa guna usaha, anjak piutang dan kartu kredit.
Dalam pemeringkatan terhadap perusahaan pembiayaan, ICRA Indonesia melakukan evaluasi atas risiko
bisnis dan risiko keuangan dari perusahaan, dan menggunakan hasil evaluasi tersebut untuk
memproyeksikan tingkat dan kestabilan dari kinerja keuangan perusahaan tersebut di masa depan
berdasarkan berbagai macam kemungkinan skenario yang ada. Peringkat ditentukan berdasarkan asas
“going concern” dan bukan hanya berdasarkan penilaian atas tingkat aset dan hutang perusahaan pada
suatu tanggal tertentu saja. Parameter-parameter umum yang digunakan untuk menilai risiko bisnis dan
risiko keuangan dari suatu perusahaan pembiayaan (seperti ditunjukkan oleh daftar di bawah) dibahas
secara mendalam pada dua bagian berikut ini. Uraian metodologi ini tidak bertujuan untuk membahas
seluruh parameter pemeringkatan yang digunakan dalam pemeringkatan kredit dari perusahaan
pembiayaan, namun bertujuan menyampaikan secara umum kerangka kerja yang digunakan saat
melakukan pemeringkatan.

Risiko Bisnis
 Kondisi lingkungan operasional perusahaan
 Struktur kepemilikan
 Franchise dan ukuran perusahaan serta daya saing
 Manajemen, sistem dan strategi perusahaan, struktur tata kelola

Risiko Keuangan
 Kualitas aset
 Likuiditas
 Profitabilitas
 Kecukupan modal
ICRA Indonesia
Walaupun terdapat beberapa parameter yang digunakan untuk menilai risiko bisnis dan risiko keuangan,
seberapa penting suatu parameter dibandingkan dengan parameter yang lainnya dapat berbeda-beda
untuk setiap perusahaan, tergantung potensi dari parameter tersebut untuk dapat mengakibatkan
perubahan profil risiko secara keseluruhan. Sebagai contoh, dalam lingkungan operasional yang normal,
suatu perusahaan pembiayaan konsumen yang relatif baru dapat menunjukkan profitabilitas yang sangat
baik. Namun, hal itu mungkin tidak dapat dipertahankan setelah melalui beberapa siklus usaha. Oleh
karena itu, bobot yang lebih tinggi akan dikenakan pada profil risiko bisnis dibandingkan kinerja keuangan
perusahaan tersebut. Lebih jauh, suatu perusahaan yang memiliki profil bisnis yang kuat dan kinerja
keuangan yang stabil akan dianggap lebih baik dibandingkan perusahaan lain yang kinerja keuangannya
sama atau bahkan lebih baik, tapi memiliki profil bisnis yang lebih lemah.
RISIKO BISNIS
Penilaian yang dilakukan ICRA Indonesia atas risiko bisnis dilakukan dengan analisis yang menyeluruh
atas kondisi lingkungan operasional perusahaan, struktur kepemilikan, serta nilai franchise, manajemen
dan sistem yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Karena sebagian besar dari parameter ini bersifat
kualitatif, ICRA Indonesia berusaha menghilangkan terjadinya subjektivitas dengan cara mendapatkan dan
menilai informasi berdasarkan sub parameter yang terdefinisikan, yang akan diperbandingkan dengan
perusahaan-perusahaan lain. Analisis yang dilakukan juga mempertimbangkan penilaian ICRA Indonesia
akan kinerja dari berbagai sektor, prospek ekonomi di masa yang akan datang, serta hal-hal yang
berhubungan dengan kondisi lingkungan operasional perusahaan.
Lingkungan Operasional Perusahaan
Lingkungan operasional perusahaan dapat mempengaruhi prospek pertumbuhan dan kualitas aset dari
perusahaan pembiayaan secara signifikan dan oleh karenanya memiliki peran penting dalam
pemeringkatan. Dalam melakukan penilaian akan lingkungan operasional perusahaan, ICRA Indonesia
mempertimbangkan kondisi ekonomi secara keseluruhan, prospek dari industri dimana kelompok aset
yang sedang diberikan pembiayaan beroperasi serta kondisi peraturan yang ada. Contoh, untuk
perusahaan pembiayaan mobil komersial, tingkat kegiatan ekonomi dan biaya pengapalan/pengangkutan
barang adalah sangat penting untuk diketahui, sementara untuk perusahaan pembiayaan perumahan,
prospek industri real estate penting dicermati baik dari sisi peningkatan nilai aset maupun dari sisi kualitas
aset.
Perubahan-perubahan dalam peraturan dapat secara signifikan mempengaruhi (baik secara positif
maupun negatif) besarnya kerugian kredit (credit losses) dari perusahaan pembiayaan. Sebagai contoh,
Sistem Informasi Debitur (SID) yang dibuat Bank Indonesia bertujuan untuk membantu perusahaan
pembiayaan mendapatkan informasi yang akurat dan tepat waktu akan debitur mereka. Namun, kenyataan
di lapangan, saat ini perusahaan pembiayaan masih mengalami kendala teknis dalam memanfaatkan SID,
dikarenakan belum adanya data kependudukan yang baku (masih terbuka kemungkinan untuk seorang
debitur memiliki lebih dari satu kartu identitas dengan alamat berbeda). Hal ini tentu saja berakibat pada
lemahnya validitas informasi yang dihasilkan dari SID. Peraturan lainnya yang memberikan dampak
terhadap industri adalah pemberlakuan uang muka minimum, kewajiban adanya fidusia dalam pembiayaan
kendaraan dan pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM), di mana peraturan ini dipandang memiliki
dampak yang kurang menguntungkan, paling tidak untuk jangka pendek, sehubungan dengan
melambatnya pertumbuhan bisnis tersebut.
Intensitas persaingan juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap profil kredit dari suatu perusahaan
pembiayaan, dikarenakan intensitas kompetisi saat ini atau yang diantisipasi akan terjadi akan
mempengaruhi prospek pertumbuhan, laba dan strategi manajemen perusahaan. Evaluasi dari ICRA
Indonesia memfokuskan pada tingkat kompetisi saat ini dan juga daya tarik suatu segmen untuk
mengundang kompetisi baru dengan menilai beberapa faktor termasuk potensi pertumbuhan, halangan
untuk masuk (entry barriers) dan tingkat imbal hasil setelah memperhitungkan risiko.
Struktur Kepemilikan
Struktur kepemilikan dapat memainkan peran kunci dalam profil kredit suatu perusahaan. Perusahaan
induk (promoter) yang kuat dan sinergi yang strategis antara bisnis perusahaan pembiayaan dan bisnis
ICRA Indonesia Halaman 2 dari 7
perusahaan induk dapat berdampak positif bagi profitabilitas, likuiditas dan permodalan dari perusahaan
pembiayaan tersebut yang pada akhirnya bermanfaat bagi profil kreditnya.
Dalam menilai struktur kepemilikan suatu perusahaan pembiayaan, parameter-parameter yang menjadi
bahan penilaian adalah profil kredit dari pemilik, struktur kepemilikan saham perusahaan pembiayaan
tersebut, sinergi operasional antara perusahaan pembiayaan dengan promoter, tingkat keterlibatan
promoter dalam perusahaan pembiayaan, tingkat komitmen dan rekam jejak promoter dalam menyediakan
dukungan dana.
Struktur Tata Kelola
ICRA Indonesia meyakini bahwa struktur tata kelola perusahaan yang memadai adalah hal yang penting
dalam memberikan kepercayaan bahwa kewenangan yang diberikan kepada lini manajer dari suatu
perusahaan pembiayaan dilaksanakan sesuai dengan prosedur-prosedur yang sudah ditetapkan, dan
prosedur-prosedur tersebut tidak bertentangan dengan acuan kebijakan dan tujuan-tujuan strategis secara
luas dari perusahaan pembiayaan tersebut. Evaluasi ICRA Indonesia terhadap struktur tata kelola dari
perusahaan pembiayaan mencakup penilaian aspek-aspek struktural dari dewan direksi, dewan komisaris
dan dewan komite; dan penilaian akan berjalannya fungsi dari bermacam-macam dewan komite.
Franchise dan Ukuran Perusahaan
Bagi suatu perusahaan pembiayaan, kekuatan franchise menentukan kapasitas dari perusahaan
pembiayaan untuk tumbuh dan di saat yang sama mempertahankan tingkat imbal hasil yang wajar yang
telah mempertimbangkan faktor risiko, juga untuk mempertahankan ketahanan tingkat pendapatan
(resilience of income) dan memfasilitasi prediktabilitas dari kinerja keuangannya di masa yang akan
datang. Penting untuk diingat, suatu perusahaan pembiayaan dengan pangsa pasar yang signifikan
(perusahaan yang besar karena posisinya dibandingkan pasar secara keseluruhan) maupun pemain
segmentasi khusus (niche player - perusahaan lebih kecil yang target pasarnya unik atau yang
hubungannya kuat dengan para pemain utama di segmen pasar yang mereka tuju) dapat memiliki
franchise yang kuat1 yang dapat bermanfaat bagi profil kredit mereka.
Sementara untuk ukuran perusahaan, biasanya penilaian dilakukan dengan memperhatikan bauran kredit
dari perusahaan pembiayaan dan hal ini memiliki pengaruh terhadap posisi pasar, keberagaman,
konsentrasi risiko kredit, stabilitas pendapatan dan fleksibilitas keuangan dari perusahaan.
Manajemen, Sistem dan Strategi
Kualitas dari manajemen (terutama dewan direksi), kebijakan dan sistem, ekspektasi pemegang saham
dan strategi yang diambil untuk mengelola ekspektasi-ekspektasi tersebut serta kualitas akuntansi adalah
batu fondasi yang membangun profil risiko kredit dari suatu perusahaan pembiayaan. Faktor-faktor ini akan
semakin penting untuk perusahaan pembiayaan yang baru dibentuk, dengan rekam jejak yang masih
pendek, atau perusahaan pembiayaan yang mengalami perubahan profil bisnis.
Dalam mengevaluasi manajemen, sistem dan strategi dari suatu perusahaan pembiayaan, ICRA Indonesia
melakukan penilaian atas daya saing perusahaan (kemampuan untuk menyesuaikan norma pinjaman
dan/atau bunga pinjaman), ketergantungan pada jasa alih daya(outsourcing), kecepatan pertumbuhan,
kecepatan tanggap terhadap perubahan-perubahan pasar, rekam jejak dan pengalaman dewan direksi
(dalam hubungannya dengan rencana pertumbuhan dan siklus umur dari kredit yang diberikan), dan selain
itu juga tingkat penyebaran portofolio kredit (pembiayaan)-nya.
Untuk rekam jejak, evaluasi dilakukan berdasarkan siklus bisnis yang telah dilewati. Perusahaan
pembiayaan konsumen untuk mobil dan motor (dimana jangka waktu pinjaman biasanya 3-4 tahun) yang
sudah beroperasi 5-6 tahun dapat dianggap memiliki rekam jejak yang cukup baik. Namun, perusahaan
pembiayaan perumahan berusia sama hanya akan dianggap memiliki rekam jejak berkualitas rata-rata
karena jangka waktu pinjaman untuk kredit pemilikan rumah (KPR) bervariasi antara 5-20 tahun.
Kemudian, bila perusahaan melakukan ekspansi ke produk atau wilayah baru, rekam jejak maupun
1
Untuk perusahaan yang besar dilihat dari kekuatan posisinya terhadap keseluruhan pasar dan untuk perusahaan kecil dilihat
dari produk uniknya atau hubungannya yang kuat dengan pemain kunci pada rantai pembiayaan dari segmen yang ditargetkan
ICRA Indonesia Halaman 3 dari 7
pengalaman manajemen mungkin tidak akan mencapai tingkat sejajar dengan perusahaan dengan
pertumbuhan stabil yang tumbuh pada lokasi dan produk yang sama.
Seluruh pemeringkatan kredit, termasuk untuk sektor perusahaan pembiayaan, melihat pentingnya
penilaian akan kualitas dari manajemen perusahaan yang sedang diperingkat, dan juga
kekuatan/kelemahan yang diakibatkan karena perusahaan tersebut berada dibawah suatu kelompok
perusahaan tertentu. Penilaian ini sebagian besar bersifat subjektif, walaupun rekam jejak dari manajemen
bisa dijadikan faktor pendukung yang aktual. Biasanya, diskusi yang mendalam dilakukan dengan
manajemen perusahaan pembiayaan yang diperingkat yang bertujuan untuk memahami tujuan-tujuan,
rencana dan strategi bisnis dan pandangan manajemen mengenai kinerja di masa lalu dan prospek kinerja
di masa depan.
Beberapa faktor lain yang dinilai adalah:
 Pengalaman dari promoter/manajemen pada bidang usaha perusahaan pembiayaan tersebut.
 Komitmen dari promoter/manajemen terhadap bidang usaha perusahaan pembiayaan
tersebut.
 Kebijakan manajemen atas pengambilan dan pengendalian risiko.
 Kebijakan manajemen risiko dari perusahaan pembiayaan tersebut (risiko kredit dan risiko
pasar)
 Kekuatan dari perusahaan lain dalam satu grup perusahaan yang sama dengan perusahaan
pembiayaan tersebut.
 Kemampuan dan kemauan dari grup untuk mendukung perusahaan pembiayaan tersebut
misalnya melalui penambahan modal, bila diperlukan.
Evaluasi yang cermat atas kebijakan manajemen risiko harus dilakukan karena hal itu memberikan
panduan penting dalam mengevaluasi pengaruh dari kondisi kritis dalam hal likuiditas, profitabilitas dan
permodalan dari perusahaan. ICRA Indonesia membandingkan kebijakan-kebijakan underwriting yang
dimiliki perusahaan pembiayaan tersebut dengan kelaziman (best practices) di industri untuk melakukan
penilaian terhadap profil risiko perusahaan tersebut. Penilaian profil risiko juga melibatkan evaluasi
terhadap praktek-praktek pelaksanaan bisnis perusahaan pembiayaan tersebut (dilakukan sendiri atau
dialihdayakan), disamping sistem penagihan dan pengawasan mereka.
ICRA Indonesia juga mengevaluasi rencana-rencana bisnis dan strategi dari perusahaan pembiayaan
tersebut dan juga ekspektasi pemegang saham dari perusahaan. Walaupun pemeringkatan yang
ditetapkan ICRA Indonesia ditujukan untuk pemegang surat hutang, memenuhi ekspektasi pemegang
saham adalah penting karena, bila tidak, strategi perusahaan tersebut juga bisa mengalami perubahan
(untuk memenuhi ekspektasi pemegang saham), yang pada akhirnya akan mempengaruhi profil kreditnya.
RISIKO KEUANGAN
Kualitas Aset
Kualitas aset berperan penting dalam memprediksi kinerja finansial perusahaan pembiayaan di masa yang
akan datang. Fokus dari evaluasi atas kualitas aset adalah pada proyeksi kerugian selama perusahaan
beroperasi (lifetime losses), perubahan kerugian menurut beberapa skenario, pengaruh biaya-biaya yang
timbul akibat pemberian kredit (credit costs) terhadap profitabilitas dan penyangga yang tersedia (dalam
bentuk modal atau penyisihan/provisi) untuk melindungi pemegang surat hutang dari pemburukan kualitas
aset yang tidak terduga.
Dalam melakukan evaluasi atas kualitas aset dari perusahaan pembiayaan, ICRA Indonesia menilai
kualitas dari proses evaluasi kredit dan norma pemberian kredit, tingkat risiko dari portofolio kredit,
ketertarikan terhadap risiko (risk appetite), ketersediaan data untuk memfasilitasi keputusan kredit, dan
rekam jejak dalam mengelola portofolio pinjaman dalam beberapa siklus bisnis perusahaan. Penilaian juga
dilakukan atas konsentrasi risiko kredit, tren dalam kelayakan pelanggan, tren dalam kredit bermasalah
(disesuaikan dengan umur dari kredit bermasalah tersebut), persentase aset bermasalah (non-performing
loans/NPL) kotor, persentase NPL bersih dan NPL bersih dibandingkan dengan total modal dan
sebagainya.
ICRA Indonesia Halaman 4 dari 7
Di samping itu, seberapa tersebarnya aset dari perusahaan pembiayaan tersebut juga merupakan indikator
penting dari kualitas asetnya. Dalam melakukan penilaian atas diversifikasi, faktor-faktor yang pada
umumnya diperhatikan mencakup bauran kredit, risiko kredit, tingkat konsentrasi dari portofolio,
diversifikasi geografis, dan profil peminjam. Tingkat diversifikasi yang tinggi dapat membentengi
perusahaan pembiayaan dari pengaruh pemburukan kondisi di satu segmen. Tapi, diversifikasi ke segmensegmen yang lebih berisiko belum tentu meningkatkan ketahanan dari perusahaan dan oleh karenanya
belum tentu akan memperbaiki peringkat. Kemampuan suatu perusahaan pembiayaan untuk mengelola
diversifikasi, terutama dalam bisnis yang beragam dan/atau wilayah-wilayah baru adalah suatu hal penting,
sepenting kedalaman manajemen dan kemampuan untuk mengadopsi keahlian dan teknik-teknik yang
dibutuhkan untuk menjalankan suatu bisnis.
Indikator-indikator dari kualitas aset dapat berbeda tergantung dari kelompok aset, profil peminjam, norma
pencatatan/pengakuan NPLdan kebijakan akuntansi dalam mencatat hapus buku (write-offs). Karena itu,
membandingkan indikator-indikator ini antara perusahaan yang berkecimpung dalam kelompok aset yang
berbeda mungkin tidak memberikan hasil yang berarti. Untuk membuat perbandingan lebih berarti, ICRA
Indonesia melakukan perbandingan atas kredit bermasalah pada tingkat 30hari+ (di atas 30 hari), 60hari+,
90hari+ untuk kelompok aset dan profil peminjam yang sama, disesuaikan dengan pengenaan hapus buku.
Bila tersedia, analisis kelompok statis (static pool) dapat digunakan karena memberikan estimasi yang
cukup berarti atas kerugian yang terjadi pada berbagai tahap yang terdapat dalam suatu siklus kredit dan
juga proyeksi kerugian yang terjadi selama perusahaan beroperasi. Analisis ini juga terbebas dari distorsi
yang disebabkan oleh tingkat pertumbuhan perusahaan yang tinggi.
Likuiditas
Penting bagi perusahaan pembiayaan untuk menjaga profil likuiditas yang cukup untuk lancarnya aktivitas
pembiayaan mereka termasuk untuk meningkatkan nilai aset dan juga memenuhi kewajiban/komitmen
secara tepat waktu. Penting juga bagi perusahaan pembiayaan untuk mengelola risiko tingkat suku bunga
karena hal itu dapat mempengaruhi profitabilitas di masa depan.
Penilaian ICRA Indonesia terhadap likuditas mencakup evaluasi atas kebijakan likuiditas perusahaan, profil
jatuh tempo dari aset dan kewajiban yang dimilikinya dan kesenjangan yang terjadi serta cadangan yang
tersedia untuk mengisi kesenjangan tersebut. Evaluasi yang dilakukan ICRA Indonesia juga memfokuskan
pada diversifikasi dari sumber-sumber pendanaan dan kualitas dari sumber-sumber pendanaan tersebut
(sering kali diukur melalui ketersediaan sumber-sumber tersebut pada saat krisis).
Profitabilitas
Kemampuan suatu perusahaan pembiayaan untuk menghasilkan laba yang memadai adalah hal yang
penting baik dilihat dari sisi pemegang saham maupun pemegang surat hutang. Fokus dari evaluasi yang
dilakukan ICRA Indonesia adalah memprediksi tingkat dan kualitas dari pendapatan di masa yang akan
datang dengan secara cermat mengamati elemen-elemen dasarnya – selisih imbal hasil kredit dan biaya
pendanaan (interest spreads), pendapatan non bunga (fee based income), biaya operasional dan biayabiaya yang terjadi akibat pemberian kredit (credit costs).
Evaluasi atas profitabilitas dimulai dengan interest spreads dan kecenderungannya sehubungan dengan
adanya perubahan pada lingkungan operasional perusahaan, posisi likuiditas dan strategi perusahaan.
Penilaian juga dilakukan atas kemampuan perusahaan pembiayaan menghasilkan pendapatan non bunga
(pendapatan berbasiskan fee). Porsi yang lebih tinggi dari pendapatan berbasiskan fee menandakan
adanya diversifikasi dan karenanya dapat meningkatkan kehandalan dari pendapatan dan oleh karenanya
positif bagi profil risiko perusahaan.
Setelah melakukan penilaian atas arus pendapatan, ICRA Indonesia mengevaluasi efisiensi kegiatan
operasional (biaya operasional dibandingkan total aset, dan rasio biaya terhadap pendapatan) dan
kemudian membandingkan kedua parameter ini dengan perusahaan lain di industri yang sama. Akhirnya,
biaya kredit diestimasi berdasarkan profil kualitas aset dari perusahaan tersebut. Profitabilitas2 kemudian
dibandingkan dengan perusahaan lain di industri yang sama. Perlu dipahami bahwa imbal hasil ekuitas
2
Laba setelah pajak sebagai persentase dari rata-rata total aset dan laba setelah pajak sebagai persentase dari rata-rata
modal
ICRA Indonesia Halaman 5 dari 7
(ROE) yang tinggi belum tentu menghasilkan peringkat yang tinggi, karena profitabilitas yang tinggi
mungkin disertai risiko melekat yang tinggi, yang mungkin memiliki volatilitas yang lebih tinggi dan lebih
sulit untuk diprediksi.
Kualitas Akuntansi
Kebijakan pelaporan akuntansi yang konsisten dan wajar adalah pra-syarat untuk evaluasi keuangan dan
perbandingan dengan perusahaan sejenis. ICRA Indonesia melakukan tinjauan atas kebijakan akuntansi,
catatan atas laporan keuangan dan catatan auditor secara detil. Penyimpangan yang terjadi dari praktek
akuntansi yang berlaku umum (pedoman standar akuntansi keuangan/PSAK) kemudian dicatat dan
laporan keuangan dari perusahaan disesuaikan untuk merefleksikan akibat dari penyimpangan tersebut.
Kecukupan Modal
Modal suatu perusahaan pembiayaan memberikan proteksi tingkat kedua bagi pemegang surat hutang
(proteksi tingkat pertama adalah laba perusahaan) dan, oleh karena itu, kecukupan modal (sehubungan
dengan risiko pasar, kredit dan operasional yang melekat padanya) adalah hal penting yang harus
diperhatikan saat melakukan pemeringkatan. Seberapa berisiko produk pinjaman tersebut dan seberapa
terkonsentrasinya portofolio pinjaman menentukan jumlah modal yang dibutuhkan untuk memberikan
tingkat perlindungan yang diinginkan oleh pemegang surat hutang yang dikeluarkan suatu perusahaan
pembiayaan. Kebutuhan akan modal berbasiskan risiko bervariasi sesuai dengan konsentrasi dari dan
tingkat risiko dari bauran produk (product mix) tersebut seperti yang diindikasikan pada gambar berikut.
Bagan 1: Matriks kebutuhan modal berbasiskan risiko
Konsentrasi Portofolio
Kerugian kredit dan variabilitas yang diperkirakan
Rendah
Tinggi
Tinggi
Moderat
Tinggi
Rendah
Rendah
Cukup tinggi
ICRA Indonesia memulainya dengan modal yang disesuaikan (sebagaimana dijelaskan pada bagian
kualitas akuntansi) dan mempertimbangkan kemampuan internal untuk menambah modal dan
kemungkinan adanya dukungan kuat dari perusahaan induk/perusahaan dalam satu grup, dan juga
mengevaluasi kecukupan modal berbasiskan risiko dari perusahaan pembiayaan tersebut untuk kategori
pemeringkatan tertentu.
ICRA Indonesia juga melakukan evaluasi atas kualitas dari modal suatu perusahaan pembiayaan,
disamping tingkat permodalannya. Persentase yang lebih tinggi dari modal Tier I dilihat sebagai hal yang
lebih baik, karena sifatnya yang jauh lebih permanen. Di samping itu, kemampuan suatu perusahaan
pembiayaan untuk memenuhi peraturan kecukupan modal yang dipersyaratkan (seperti rasio permodalan
dengan total pinjaman) juga dievaluasi.
Bila dirasakan perlu, ICRA Indonesia juga melakukan penyesuaian pada modal suatu perusahaan
pembiayaan untuk secara tepat merefleksikan risiko yang mendasari suatu transaksi yang dilakukan oleh
perusahaan pembiayaan tersebut, seperti misalnya skema penerusan pinjaman (loan channelling).
ICRA Indonesia Halaman 6 dari 7
Ringkasan
Pemeringkatan kredit yang diberikan oleh ICRA Indonesia adalah suatu representasi simbolis dari opini
ICRA Indonesia saat ini terhadap risiko kredit relatif sehubungan dengan instrumen yang diperingkat. Opini
tersebut dihasilkan setelah melalui evaluasi yang mendalam terhadap risiko bisnis dan keuangan dari
perusahaan pembiayaan dan mempergunakannya untuk memproyeksikan tingkat dan stabilitas dari kinerja
keuangan perusahaan pembiayaan yang bersangkutan di masa depan dalam beberapa skenario yang
mungkin terjadi. Walaupun beberapa parameter digunakan untuk menilai profil risiko dari suatu
perusahaan pembiayaan, seberapa penting suatu parameter dibandingkan parameter yang lainnya
(kualitatif maupun kuantitatif) dapat berbeda-beda di tiap-tiap perusahaan, tergantung potensi dari
parameter-parameter tersebut untuk merubah profil risiko keseluruhan dari perusahaan tersebut.
© Copyright, 2014, ICRA Indonesia. All Rights Reserved.
Semua informasi yang tersedia merupakan infomasi yang diperoleh oleh ICRA Indonesia dari sumber-sumber yang dapat
dipercaya keakuratan dan kebenarannya. Walaupun telah dilakukan pengecekan dengan memadai untuk memastikan
kebenarannya, informasi yang ada disajikan 'sebagaimana adanya' tanpa jaminan dalam bentuk apapun, dan ICRA
Indonesia khususnya, tidak melakukan representasi atau menjamin, menyatakan atau menyatakan secara tidak
langsung, mengenai keakuratan, ketepatan waktu, atau kelengkapan dari informasi yang dimaksud. Semua informasi
harus ditafsirkan sebagai pernyataan pendapat, dan ICRA Indonesia tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang
dialami oleh pengguna informasi dalam menggunakan publikasi ini atau isinya.
*) Dimodifikasi dan diterjemahkan dari ICRA’s Credit Rating Methodology for Non-Banking Finance Companies.
ICRA Indonesia Halaman 7 dari 7
Download