Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan

advertisement
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
i
Pendahuluan
S
emestinya iklim bumi berubah secara alami, tapi karena keseimbangan alam
terganggu akibat kegiatan manusia iklim pun menjadi kacau. Matahari,
atmosfer, dan gas rumah kaca menjadi faktor dominan dalam perubahan
iklim global. Jika keseimbangan alam terganggu, maka kita tinggal menunggu
akibat yang ditimbulkannya. Contohnya kondisi di sejumlah wilayah di Indonesia yang iklimnya cenderung mulai ekstrim dan tidak beraturan seperti terjadi
kemarau, terik disejumlah kawasan di pulau jawa, ternyata di Sulawesi Selatan
dan Kalimantan terkena banjir bandang pada Juni 2007. Lebih lanjut efek rumah
kaca menyebabkan gejala cuaca tadi menjadi ekstrim sehingga cuaca menjadi
amburadul (tidak beraturan/anomali cuaca).
Selain itu pemanasan global telah mencairkan gunung-gunung es di kedua
kutub bumi dan menaikkan permukaan laut yang tak mudah dihentikan atau
dihambat yang berakibat pada tenggelamnya pulau-pulau kecil diseluruh dunia.
Semenjak disepakatinya Kyoto Protocol sampai dengan disetujuinya konsep
REDD pada pertemuan COP 13 di Bali, perkembangan isu ini berlangsung
sangat cepat. Sementara itu, pemahaman tentang masalah ini belum merata pada
semua stakeholders (termasuk pejabat pemerintah, pemerintah daerah, lembaga
swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, pelaku usaha dibidang kehutanan, dan
masyarakat lokal). Oleh sebab itu dirasa perlu untuk mempersiapkan materi
yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman tentang isu yang
terkait dengan perubahan iklim, dan pemanfaatan karbon hutan serta isu terkait
lainnya.
Saat ini banyak berkembang penawaran-penawaran dari dalam dan luar negeri
untuk memanfaatkan karbon hutan kepada para stakeholders terkait langsung di daerah, masyarakat dan atau pengelola hutan. Potensi memanfaatkan
peluang pendanaan dan perdagangan karbon hutan cukup besar. Bila dikelola
dengan baik, peluang ini dapat dikembangkan untuk menyusun konsep-konsep
perbaikan kondisi hutan, mengurangi tingkat kemiskinan dan mendorong
pembangunan sosio ekonomi masyarakat sekitar hutan. Dilain pihak, kesiapan
para stakeholders di daerah dalam menyikapi isu masih terbatas dan dalam
persepsi yang berbeda-beda.
ii
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Masyarakat yang merupakan stakeholders penting dalam isu ini, juga perlu
diberikan pemahaman yang benar mengenai peluang pendanaan dan pemanfaatan karbon hutan agar potensi yang besar tersebut dapat diwujudkan untuk
meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat. Dengan demikian pada
akhirnya kelestarian hutan dapat tercapai bersamaan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Peningkatan pemahaman kepada masyarakat belum dapat terlaksana sebagaimana mestinya karena belum tersedianya bahan-bahan atau materi yang
dapat memberi penjelasan secara sederhana kepada masyarakat tentang manfaat
karbon hutan.
Peningkatan pemahaman dan sosialisasi mengenai isu perubahan iklim dan
potensi pemanfaatan karbon hutan masih terbatas kepada stakeholders ditingkat pemerintahan dan akademisi, dimana materi yang disampaikan sangat sulit
dipahami oleh masyarakat awam. Materi yang disusun dalam bentuk buku ini
dimaksudkan sebagai bahan untuk meningkatkan pengetahuan khusus untuk
masyarakat, disampaikan dalam bentuk informasi yang lebih mudah dipahami
sehingga dapat dimengerti oleh masyarakat sampai pada tingkat lokal. Materi
ini berasal dari berbagai sumber antara lain bahan-bahan pelatihan tingkat
nasional/internasional, publikasi, artikel, hasil workshop dan lain-lain.
Isi dan Materi yang tercantum dalam Buku
Buku ini berisi informasi dan penjelasan yang disusun dalam bentuk bab-bab
dikelompokkan berdasarkan pengetahuan dasar yang perlu dipahami, meliputi perubahan iklim dan dampaknya bagi kehidupan dimasa mendatang, serta
peranan hutan dalam adaptasi dan memitigasi perubahan iklim tersebut.
Disampaikan pula informasi mengenai kebijakan internasional dan nasional
terkait perubahan iklim dan perdagangan karbon dari hutan. Dilanjutkan dengan
informasi mengenai mekanisme dan peluang dalam perdagangan karbon hutan,
Implikasi REDD terhadap komunitas masyarakat sekitar hutan, dan terakhir
adalah informasi mengenai strategi perbaikan kondisi hutan oleh masyarakat.
Bab penutup berisi daftar istilah dan penjelasannya.
Materi yang disampaikan dalam buku ini merupakan pengetahuan dasar yang
terkait dengan isu perubahan iklim dan pemanfaatan karbon hutan. Masih diperlukan referensi yang lebih banyak untuk memahami lebih lengkap dan lebih
mendalam karena perkembangan isu ini sangat cepat dan masih dalam tahap
penyusunan konsep yang bisa diterima dan diterapkan oleh semua Negara.
Khusus untuk Indonesia proses ini juga masih terus berjalan, sehingga informasi
harus terus diperbaharui.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
iii
Penyusunan materi modul dibagi kedalam 5 Bab yaitu :
Bab I. Peranan Hutan Dalam Adaptasi dan Mitigasi terhadap perubahan iklim.
Ruang lingkup dan sasaran materi :
Dalam materi ini disampaikan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan
perubahan iklim, apa saja penyebab perubahan iklim, dimana biasanya terjadi
pelepasan emisi gas CO2, apa dampak dari perubahan iklim tersebut, serta
bagaimana proyeksi ke depan jika terjadi perubahan iklim yang drastis. Bagaimana upaya-upaya pengurangan dampak perubahan iklim tersebut dan apa
serta bagaimana peranan hutan dalam adaptasi & mitigasi terhadap perubahan
iklim yang terjadi.
Disampaikan pula penjelasan mengenai pengertian hutan, jenis-jenis hutan berdasarkan fungsinya (terutama fungsinya sebagai adaptasi dan mitigasi terhadap
perubahan iklim), jenis-jenis hutan berdasarkan kondisi tempat tumbuh, serta
peranan dan manfaat hutan bagi masyarakat/penduduk Indonesia. Dengan
mengetahui apa dan bagaimana itu hutan serta banyak manfaat yang dapat
diperoleh dari hutan, serta peran hutan dalam adaptasi dan mitigasi terhadap
perubahan iklim, diharapkan masyarakat akan berusaha mempertahankan
keberadaan hutan di wilayahnya masing-masing.
Topik dan materi bahasan:
1. Apa yang dimaksud dengan perubahan iklim dan apa saja tanda-tanda
akibat perubahan iklim tersebut.
2. Apa penyebab perubahan iklim (industri, deforestasi, degradasi, transportasi dll), dimana saja terjadinya pelepasan emisi gas CO2 yang paling banyak.
3. Bagaimana dampak perubahan iklim terhadap kehidupan dimasa mendatang.
4. Apa yang dimaksud dengan hutan dan ekosistem hutan (secara umum &
ringkas).
5. Pembagian tipe hutan berdasarkan fungsi (Hutan lindung, hutan produksi,
suaka margasatwa, taman nasional)
6. Pembagian tipe hutan berdasarkan kondisi tempat tumbuhnya
7. Peran Hutan bagi Perekonomian Indonesia dan manfaat hutan bagi masyarakat luas
8. Apa peran hutan terhadap dalam siklus karbon terutama dalam penyerap
emisi (carbon conservation, carbon sequestration, carbon substitution)
Bab II. Kebijakan Internasional dan Nasional Tentang Perubahan Iklim dan
REDD.
Ruang lingkup dan sasaran materi :
1. Dalam materi ini disampaikan mengenai kebijakan internasional dan
nasional terkait dengan Perubahan Iklim dan REDD, kelembagaan yang
iv
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
berperan di dalam pengambilan keputusan, hasil-hasil pertemuan internasional yang berpengaruh terhadap kebijakan kehutanan Indonesia dalam
penanggulangan perubahan iklim, internalisasi dalam kebijakan nasional
dan dampaknya terhadap kerjasama internasional di bidang kehutanan.
2. Disampaikan pula contoh-contoh kerjasama bilateral, mulitilateral dan
juga inisiatif daerah untuk menjalin kerjasama di bidang perubahan iklim
dan REDD yang dilakukan dengan skema inisiatif Pasar Karbon Sukarela
(Voluntary Carbon Market).
Topik dan materi bahasan:
1. Organisasi internasional yang menangani perubahan iklim dan mekanisme
kerja organisasi.
2. Hasil-hasil pertemuan internasional tentang Perubahan Iklim dan REDD.
3. Internalisasi hasil-hasil pertemuan internasional kedalam kebijakan nasional
4. Bentuk kerjasama internasional baik bilateral maupun multilateral.
5. Inisiatif Daerah/Kerjasama Daerah dalam rangka memanfaatkan pasar
karbon voluntary.
Bab III. Mekanisme dan Peluang dalam Pendanaan dan Perdagangan Karbon
Hutan.
Ruang lingkup dan sasaran materi:
Dalam materi ini disampaikan penjelasan mengenai pengertian perdagangan
karbon, pendanaan karbon, offset karbon, pasar karbon (pasar regulatory dan
pasar sukarela), perkembangan pasar karbon khususnya yang terkait dengan
sektor hutan, cara memasarkan kredit karbón, proses dan persiapan dalam
perdagangan karbon, persyaratan proyek dan prosedur dalam memanfaatkan
pasar karbon, peluang masyarakat dalam memanfaatkan perdagangan karbon.
Dengan mengetahui apa dan bagaimana mekanisme perdagangan karbon, diharapkan masyarakat luas dapat memahami tentang perdagangan karbon dan
memanfaatkan peluang dalam perdagangan dan pendanaan karbon hutan.
Topik dan materi bahasan:
1. Apa yang dimaksud dengan pendanaan dan perdagangan karbon.
2. Offset karbon dan perannya dalam perdagangan karbon
3. Pasar karbon apa saja yang telah ada? (Pasar regulatory dan Pasar sukarela)
4. Bagaimana perkembangan pasar karbon regulatory?
5. Bagaimana perkembangan pasar karbon sukarela?
6. Bagaimana memasarkan kredit carbón dari offset hutan?
7. Bagaimana proses dan persiapan dalam perdagangan karbon di pasar
sukarela?
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
v
8. Bagaimana persyaratan proyek dan prosedur dalam pasar karbon sukarela?
9. Peran masyarakat dalam memanfaatkan perdagangan karbon khususnya
pasar karbon sukarela.
Bab IV. Implikasi REDD terhadap Komunitas Masyarakat di Sekitar Hutan
Ruang lingkup dan sasaran materi:
Dalam materi ini disampaikan penjelasan mengenai latar belakang munculnya
konsep REDD di Indonesia (pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi
hutan), bagaimana REDD ini menjadi mekanisma penting dalam pengelolaan
hutan lestari. Dengan mengetahui dan memahami tentang konsep REDD ini
diharapkan masyarakat akan lebih memahami tentang manfaat pelaksanaan
REDD dalam rangka penanganan perubahan iklim.
Negosiasi internasional tentang REDD masih berlangsung sampai saat ini.
Dengan mengetahui dan memahami proses debat mengenai kerangka kerja
REDD di tingkat internasional maka diharapkan masyarakat juga dapat
mengikuti dan memahami secara umum setiap proses dan negosiasi yang berlangsung yang akan berpengaruh terhadap arah dan bentuk kegiatan REDD
di tingkat nasional dan sub-nasional. Oleh karena itulah dalam sesi ini juga
disampaikan mengenai unsur penting REDD berdasarkan pedoman (protocol)
internasional, dan aspek legal internasional dalam pelaksanaan REDD .
Kegiatan REDD di tingkat nasional juga perlu disampaikan kepada target group
(masyarakat) karena setiap negara mempunyai keunikan tersendiri dalam
merancang kegiatan REDD nya disesuaikan dengan situasi dan keadaan
negaranya, begitu pula di Indonesia. Namun yang terpenting dan perlu diketahui oleh masyarakat adalah terkait regulasi, kelembagaan dan mekanisme
pelaksanaan kegiatan model percontohan REDD di Indonesia.
Dalam bab ini disampaikan kegiatan model percontohan REDD untuk perdagangan karbon di tingkat proyek/tapak. Setiap kegiatan proyek REDD di
Indonesia, mempunyai keunikan/perbedaan tersendiri dan rancangan proyek
REDD harus berdasarkan kriteria sosial, budaya , ekonomi dan lingkungan
sekitarnya dan masyarakat diharapkan ikut terlibat langsung dalam kegiatan
REDD di tingkat tapak.
Topik dan materi bahasan:
1. Latar Belakang tentang Isu REDD dan Perubahan Iklim
2. Pemanasan Global dan Perubahan Iklim
3. Peran Hutan Dalam Perubahan Iklim Global
4. Penyebab dan Akar Masalah Terjadinya Deforestasi dan Degradasi di Indonesia.
5. Strategy untuk Masyarakat Dalam Mengurangi Deforestasi.
vi
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Konsep REDD
Pengertian REDD di tingkat Internasional
Unsur Utama dalam Pelaksanaan REDD
Aspek Legal REDD di tingkat Internasional
Pengertian REDD di tingkat Nasional
Isu Nasional tentang Deforestasi dan Degradasi
Regulasi dan Kelembagaan yang diperlukan terkait REDD
Pelaksanaan REDD ditingkat Tapak
Implikasi pelaksanaan REDD terhadap masyarakat
Bab V. Strategi Perbaikan Kondisi Hutan oleh Masyarakat.
Ruang lingkup dan sasaran materi :
Peranan hutan dan kehutanan dalam isu-isu perubahan iklim sangat penting,
dan hampir dibahas dalam berbagai forum. Perkembangan terakhir mengenai
peran hutan tersebut terdapat dalam konsep REDD dan skema lainnya, yang
potensinya dalam pendanaan dan perdagangan karbon saat ini banyak dikembangkan. Potensi pendanan dan perdagangan karbon dari hutan ini tentu saja
harus memenuhi persyaratan kondisi hutan yang dikelola dengan baik, serta
upaya konservasi dan rehabilitasi kondisi hutan yang ada, baik yang dilakukan
oleh pemerintah maupun masyarakat.
Dalam materi ini disampaikan hal-hal yang terkait dengan fungsi hutan, interaksi hutan dan masyarakat, faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan hutan
(deforestasi atau degradasi hutan) sehingga diharapkan masyarakat dapat memahami fungsi-fungsi hutan sebagaimana yang diatur dalam undang-undang.
Juga dapat menimbulkan perhatian yang lebih serius akan hal ini sehingga
masyarakat dapat berperan aktif mencegah dan mengendalikan terjadinya
kerusakan hutan. Disampaikan pula bagaimana peran pemerintah dan masyarakat dalam mencegah kerusakan hutan yang terjadi. Jika masyarakat telah
memahami posisinya maka diharapkan masyarakat dapat berperan serta dalam
menyusun strategi pengendalian dan perbaikan kondisi pengelolaan hutan
dilingkungannya. Kegiatan pengelolaan hutan yang baik, dan kegiatan pencegahan terjadinya deforestasi dan degradasi hutan mempunyai potensi untuk
dijadikan proyek-proyek karbon yang dapat dikembangkan oleh masyarakat
sekitar hutan. Pengembangan hutan kemasyarakatan, hutan rakyat, hutan desa
dan hutan tanaman rakyat adalah beberapa contoh dari kegiatan yang bisa
dikembangkan dalam proyek-proyek karbon.
Dalam upaya perbaikan kondisi hutan melalui rehabilitasi hutan, tata kelola
hutan yang baik dan mencegah deforestasi memerlukan sumber-sumber pendanaan. Selain sumber pendanaan pemerintah dan donor, juga ada peluang
sumber pendanaan dari kredit karbon hutan melalui mekanisme perdagangan
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
vii
atau pendanaan karbon. Sumber pendanaan untuk rehabilitasi hutan dan
potensi pemanfaatan dari kredit karbon hutan juga disampaikan dalam materi
ini. Dengan demikian masyarakat diharapkan dapat menggali potensi ini dan
memanfaatkannya untuk pengembangan dan pembangunan hutan di sekitar
lingkungannnya.
Topik dan materi bahasan:
1. Fungsi Pokok Hutan
2. Status Kawasan Hutan
3. Fungsi-fungsi Pokok Hutan
4. Implikasi Perubahan Fungsi Hutan
5. Faktor-faktor Penyebabn Kerusakan Hutan
6. Kerusakan pada hutan produksi
7. Kerusakan pada hutan lindung
8. Kerusakan pada kawasan konservasi
9. Strategi Untuk Mengurangi Terjadinya Kerusakan Hutan
10. Peran Kebijakan Pemerintah
11. Peran Serta Masyarakat
12. Strategi Rehabilitasi Hutan oleh Masyarakat
13. Potensi Sumber-sumber Pendanaan Rehabilitasi Hutan
Bab VI. Daftar Istilah dan Penjelasannya
Pada Bab terakhir ini menjelaskan istilah-istilah yang sering digunakan dalam
kaitannya dengan isu perubahan iklim dan perdagangan karbon.
viii
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
BAB 1
PERANAN HUTAN DALAM ADAPTASI
DAN MITIGASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM
Ruang Lingkup dan Sasaran dari Materi ini:
Dalam materi ini disampaikan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan
perubahan iklim, apa saja penyebab perubahan iklim, dimana biasanya terjadi
pelepasan emisi gas CO2, apa dampak dari perubahan iklim tersebut, serta
bagaimana proyeksi ke depan jika terjadi perubahan iklim yang drastis. Bagaimana upaya-upaya pengurangan dampak perubahan iklim tersebut dan apa
serta bagaimana peranan hutan dalam adaptasi & mitigasi terhadap perubahan
iklim yang terjadi.
Dalam materi ini disampaikan pula penjelasan mengenai pengertian hutan,
jenis-jenis hutan berdasarkan fungsinya (terutama fungsinya sebagai adaptasi
dan mitigasi terhadap perubahan iklim), jenis-jenis hutan berdasarkan kondisi
tempat tumbuh, serta peranan dan manfaat hutan bagi masyarakat/penduduk
Indonesia. Dengan mengetahui apa dan bagaimana hutan serta banyak manfaat
yang dapat diperoleh dari hutan, serta peran hutan dalam adaptasi dan mitigasi
terhadap perubahan iklim, diharapkan masyarakat akan berusaha mempertahankan keberadaan hutan di wilayahnya masing-masing.
Topik dan materi bahasan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Apa yang dimaksud dengan perubahan iklim dan apa saja tanda-tanda
akibat perubahan iklim tersebut.
Apa penyebab perubahan iklim (industri, deforestasi, degradasi, transportasi dll), dimana saja terjadinya pelepasan emisi gas CO2 yang paling
banyak.
Bagaimana dampak perubahan iklim terhadap kehidupan dimasa mendatang.
Apa yang dimaksud dengan hutan dan ekosistem hutan (secara umum &
ringkas).
Pembagian tipe hutan berdasarkan fungsi (Hutan lindung, hutan produksi,
suaka margasatwa, taman nasional)
Pembagian tipe hutan berdasarkan kondisi tempat tumbuhnya
a. Hutan pantai
b. Hutan mangrove atau payau
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
1
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
7.
Hutan rawa
Hutan rawa gambut
Hutan hujan dataran rendah
Hutan hujan pegunungan bawh
Hutan hujan pengunungan atas
Hutan musim bawah
Hutan musim tengah dan atas
Hutan kerangas
Hutan savana
Hutan tanah kapur
Hutan batuan ultra basa
Hutan tepi sungai
Apa peran dan manfaat hutan secara umum dan peran hutan dalam siklus
karbon terutama dalam penyerap emisi (carbon conservation, carbon sequestration, carbon substitution)
Manfaat setelah mengikuti sosialisasi materi ini adalah :
1. Memahami macam2 tipe dan jenis hutan berdasarkan fungsi maupun
tempat tumbuhnya dan perannya dalam adaptasi dan mitigasi perubahan
iklim.
2. Memahami sebab2 perubahan iklim
3. Memahami apa dampak perubahan iklim terhadap kehidupan mereka
4. Memahami bagaimana melakukan adaptasi & mitigasi terhadap perubahan iklim.
I. PERANAN HUTAN DALAM PERUBAHAN IKLIM GLOBAL.
1.1 Apakah Perubahan iklim itu?
•
•
2
Perubahan Iklim adalah setiap perubahan nyata yang dapat diukur faktor
iklimnya (seperti temperatur atau tingkat penguapan) dalam setiap periode
waktu (contohnya setiap 1 dekade).
Suatu Forum yang mengurusi soal perubahan iklim yaitu United Nations
Forum Convention on Climate Change (UNFCCC) mendefinisikan perubahan iklim adalah perubahan yang berkontribusi secara langsung atau tidak
langsung terhadap kegiatan manusia yang merubah komposisi atmosfir
global.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Beberapa contoh ekstrim akibat perubahan iklim
a) Serangan Badai
b) Kekeringan
dan gelombang panas
c) Hujan & Banjir
Terjadinya perubahan iklim telah banyak dibuktikan secara ilmiah. Musim
kemarau yang semakin panjang serta musim penghujan yang relative pendek
dengan intensitas hujan yang tinggi merupakan bukti nyata adanya perubahan iklim. Hal ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan manusia seperti
kekeringan yang berkepanjangan, gagal panen, krisis pangan, air bersih,
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
3
pemanasan muka laut serta banjir dan longsor. Dampak dari perubahan iklim
akan sangat dirasakan Negara berkembang yang paling menderita karena tidak
mampu membangun struktur untuk beradaptasi, walaupun Negara maju juga
merasakan dampak perubahan iklim.
1.2 Apakah yang menyebabkan perubahan iklim?
Ketika bumi menerima panas dari matahari, secara alami sebagian panas
akan terperangkap di atmosfir akibat adanya beberapa jenis gas. Gas-gas yang
menangkap panas tersebut dikenal sebagai gas rumah kaca (GRK) karena cara
kerjanya mirip rumah kaca (greenhouse), dimana suhu di dalamnya diatur agar
cukup hangat sehingga tanaman dapat tumbuh. Terperangkapnya panas oleh
gas-gas di atmosfir dikenal dengan istilah ’efek rumah kaca’.
Sebenarnya efek rumah kaca diperlukan agar permukaan bumi cukup hangat
untuk didiami. Sayangnya, aktivitas manusia membuat konsentrasi GRK
semakin tinggi dan menyebabkan suhu permukaan bumi semakin panas sehingga terjadilah perubahan iklim.
Emisi (gas yang dikeluarkan) dari pembangkit listrik dan kendaraan bermotor
yang menggunakan bahan bakar fosil – seperti minyak bumi dan batubara –
merupakan sumber utama karbondioksida (CO2). Gas ini merupakan GRK yang
memiliki pengaruh terbesar terhadap terjadinya perubahan iklim. Karbondioksida juga terkandung dalam jumlah besar pada pohon sehingga kebakaran dan
penebangan hutan menyebabkan meningkatnya konsentrasi GRK.
Penggambaran terjadinya efek rumah kaca
Sumber Gambar : IPCC Fourth AssessmentReport 2007
4
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Panas matahari yang jatuh ke permukaan bumi sebagian dilepaskan kembali
ke udara di atas permukaan tersebut. Artinya makin banyak panas yang jatuh
maka makin banyak pula panas yang dilepaskan sehingga suhu udara di tempat
tersebut pun menjadi bertambah pula.
Ada 6 jenis GRK penting yang menyumbang terjadinya pemanasan global dan
perubahan iklim yaitu CO2 (karbon dioksida, penyumbang terbesar pemanasan
global), N2O (nitro oksida), CH4 (metan), HFCs (hydrofluorocarbons), PFCs
(perfluorocarbons), dan SF6 (sulphur hexafluorida).
Pemakaian pupuk buatan pada pertanian menghasilkan N2O. Selan itu, pembusukan pakan ternak, kotoran hewan, dan sampah organik akan melepaskan
gas metana (CH4). Proses serupa terjadi pada tanah yang tergenang air seperti
daerah rawa-rawa dan persawahan. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa
peternakan, sawah, dan tempat pembuangan sampah ikut meningkatkan GRK.
Beberapa kegiatan lain menghasilkan GRK yang menyerap panas dengan
kekuatan sangat tinggi walaupun konsentrasinya rendah. Penggunaan beberapa
jenis gas untuk freon AC dan campuran produk kaleng semprot serta proses
produksi beberapa industri, terutama peralatan listrik, juga mengasilkan GRK.
Fakta menunjukkan bahwa industri di Negara maju telah menyumbang emisi
GRK sebesar 70%, yang berasal dari sektor energi, transportasi, industri, bangunan dan energi lain. Sedangkan emisi yang dihasilkan negara berkembang
hanya 30%. Ini lebih banyak berasal dari sektor non-energi seperti sampah,
pertanian dan penggunaan lahan, termasuk penebangan hutan.
1.3 Sektor-sektor apa saja yang menyumbangkan emisi GRK?
Source: IPCC Fourth Assessment Report, 2007
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
5
Dilihat dari gambar, sektor yang paling besar menyumbangkan emisi (pembuangan) gas rumah kaca adalah dari sektor energy : 25.9 %(energi yang menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, dll). Kemudian disusul dengan
sektor Industry: 19.4 %. Berikutnya adalah sektor Kehutanan : 17.4, sektor
pertanian sebesar 13.5%, sektor transportasi : 13.1%, kegiatan pemukiman : 7.9
% dan terakhir dari limbah sebesar 2.8 %.
Sektor kehutanan merupakan salah satu sumber pengemisi Gas Rumah Kaca
yang cukup besar yaitu menyumbangkan 17-25 % dari emisi Gas Rumah Kaca
global. Sekitar 75 % dari emisi ini berasal dari negara tropis dan umumnya
merupakan hasil dari konversi hutan ke penggunaan lain (deforestasi) dan
degradasi hutan.
Akan tetapi, keberadaan hutan dalam konteks perubahan iklim global dapat
berperan baik sebagai penyerap dan penyimpan karbon (carbon sink) maupun
sebagai sumber emisi. Mengenai hal ini akan dijelaskan lebih lanjut di halamanhalaman berikut.
1.4 Apa dampak perubahan iklim pada kehidupan dimasa mendatang?
Dampak perubahan iklim
akan
mempengaruhi
seluruh aspek kehidupan.
Contohnya antara lain:
1.
2.
3.
6
Perubahan
iklim
dan
cuaca
akibat
peningkatan
suhu
sejak tahun 1990, suhu
rata-rata
tahunan
meningkat sekitar 0.3
derajat celcius. Akibatnya adalah peningkatan intensitas curah
hujan, yang sudah
Gambar Dampak perubahan iklim pada berbagai
tentu meningkatkan sektor kehidupan
resiko banjir secara Sumber gambar: IPCC Fourth Assessment Report 2007
signifikan; kenaikan
permukaan air laut, yang akan menggenangi daerah produktif pantai.
Mempengaruhi pertanian dan penghidupan pantai termasuk pertambakan
ikan dan udang, produksi padi dan jagung.
Ancaman terhadap keamanan pangan sebagai akibat perubahan iklim pada
bidang pertanian.
Pengaruh terhadap kesehatan manusia. Merebaknya penyakit yang berkembang biak lewat air dan vektor seperti malaria dan demam berdarah.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
4.
5.
Menurunnya qualitas dan quantitas air. Jumlah persediaan air akan berkurang akibat musim kering berkepanjangan, yang akan berpengaruh
terhadap produksi pertanian.
Berkurangnya keanekaragaman hayati karena diperkirakan 20-30% jenisjenis tanaman dan hewan akan langka karena dampak kenaikan temperatur
global.
1.5 Bagaimana peran hutan sebagai penyimpan dan pengemisi GRK?
Emisi GRK yang terjadi di sektor kehutanan Indonesia bersumber dari deforestasi
(konversi hutan untuk penggunaan lain seperti pertanian, perkebunan, pemukiman,
pertambangan, prasarana wilayah) dan degradasi (penurunan kualitas hutan)
akigat illegal logging, kebakaran, over cutting, perladangan berpindah dan perambahan.
Sementara itu, vegetasi dan tanah menyimpan + 7.500 Gt CO2 (> 2 x CO2 di atmosfir).
Hutan menyimpan ~ 4.500 CO2 (> CO2 di atmosfir). Deforestasi mengemisi sekitar 8
Gt CO2 per tahun (WRI, 2002). Apabila deforestatsi merupakan 17-18 % dari masalah
(emisi GRK), maka bila kita melakukan pencegahan/pengurangan deforestasi dapat
menjadi 17 – 18 % dari solusi pula -----à peluang REDD (peluang mendapatkan
dana dari skema Reduce Emission from Deforestation and Forest Degradation).
Jumlah karbon yang dapat diserap hutan sangat tergantung dari jenis/tipe dan
karakteristik hutan. Hutan tropis dapat menyimpan karbon sekitar 40% dari hutan
dunia. Tegakan di hutan tropis dapat menahan karbon sekitar 50 % lebih besar dari
kapasitas tegakan di luar hutan tropis. Itulah sebabnya hutan tropis memainkan
peranan penting dalam menstabilkan GRK karena kapasitasnya yang besar dalam
menyimpan dan menyerap karbon, dan juga dalam melepas karbon akibat kegiatan
deforestasi maupun degradasi hutan yang telah dijelaskan tadi.
Karena peran hutan begitu penting dalam stabilisasi GRK dan pembangunan
berkelanjutan, maka marilah kita kenali apa yang dimaksud dengan hutan dan
berbagai jenis tipe hutan.
2. PENGERTIAN HUTAN
Hutan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita. Hutan merupakan sumber
kehidupan tidak hanya bagi penduduk di dalam atau di sekitar hutan tetapi
bagi masyarakat luas bahkan bagi seluruh umat manusia.
Menurut Undang-undang Kehutanan no. 41/1999, hutan adalah ”suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan sumberdaya alam hayati didominasi
pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya
tidak dapat dipisahkan”.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
7
Berdasarkan pengertian ini, hutan harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
”Kesatuan Ekosistem, artinya suatu kumpulan yang terdiri dari sejumlah benda
hidup dan benda mati yang saling berhubungan. Benda hidup disini merupakan
isi hutan yang dapat berupa hewan maupun tumbuhan. Benda mati yang berupa
tanah, air, dan udara menyediakan wadah serta topangan hidup bagi isi hutan.
”Hamparan lahan sumberdaya alam hayati, artinya tanah yang di atasnya
terdapat tumbuhan dan hewan serta benda-benda mati.
”Dominasi Pepohonan”, artinya hutan sebagian besar terdiri dari pepohonan.
Pohon-pohon ini tidak hanya menjadi isi hutan tapi juga menyediakan wadah
dan topangan hidup bagi makhluk-makhluk lainnya. Kemusnahan satu jenis
makhluk hidup lainnya di dalam hutan tidak secara langsung akan memusnahkan hutan, namun apabila yang musnah tersebut adalah pepohonan maka
musnah pula hutan tersebut.
”Persekutuan alam lingkungan yang tidak dapat saling dipisahkan, artinya
antara benda-benda yang ada di dalam hutan terjalin saling ketergantungan.
Hilangnya satu jenis mahluk akan berpengaruh terhadap keberadaan makhlukmakhluk lainnya. Sebagai contoh, bila tidak ada pepohonhan maka binatangbiinatang hutan akan banyak yang mati.
Di Indonesia, apakah suatu lahan itu termasuk dalam wilayah hutan ditentukan
oleh pemerintah. Jadi bisa saja lahan yang tidak ada pohonnya dimasukkan
dalam suatu wilayah hutan. Ini mungkin karena dulunya wilayah tersebut
adalah hutan. Dalam wilayah seperti ini segala ketentuan yang berlaku untuk
wilayah hutan juga diberlakukan. Di lain pihak, bisa saja ada lahan yang ditumbuhi pepohonan namun oleh pemerintah ditentukan bukan sebagai hutan,
misalnya sebagai lahan pertambangan.
2.1. Jenis-jenis Hutan berdasarkan Fungsinya.
Hutan dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa hal, diantaranya adalah
fungsi hutan dan tempat tumbuhnya.
Hutan memiliki banyak fungsi namun seringkali sebuah hutan hanya dimanfaatkan salah satu fungsinya saja. Fungsi hutan mana yang bisa dimanfaatkan
harus diatur oleh pemerintah agar tidak terjadi tumpang tindih.
Di Indonesia, berdasarkan fungsinya hutan dapat dikelompokkan menjadi:
8
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
2.1.1. Hutan Lindung
Hutan lindung adalah kawasan hutan milik negara yang karena keadaan
alamnya diperuntukkan bagi pengaturan tata air, pencegahan bencana banjir
dan erosi serta pemeliharaan kesuburan tanah.
Menurut Undang-undang Kehutanan no. 41 tahun 1999, di dalam kawasan hutan
lindung tidak boleh dilakukan kegiatan pengambilan hasil hutan,penebangan,
pemukiman, dan sebagainya yang dapat berpengaruh terhadap mutu lingkungan air di dalam dan sekitar hutan tersebut.
2.1.2. Hutan Produksi
Hutan produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan untuk menghasilkan
hasil hutan khususnya yang berupa kayu. Namun ini bukan berarti di kawasan
hutan produksi kita bisa seenaknya menebang kayu untuk mengambil hasil
hutan lainnya. Kegiatan pemanfaatan hasil hutan di kawasan hutan produksi
diatur oleh hukum agar tidak mengancam kelestarian hutan itu sendiri.
2.1.3. Suaka Margasatwa.
Suaka margasatwa adalah kawasan hutan yang mempunyai keaneka-ragaman
jenis hewan yang tinggi sehingga perlu dikelola agar tetaplestari. Di kawasan
suaka margasatwa segala kegiatan yang mengancam kelestarian hewan yang
dilindungi di wilayah tersebut, misalnya berburu, mengambil telur, menangkap hewan, tidak diperbolehkan. Di Indonesia terdapat cukup banyak suaka
margasatwa. Yang terkenal diantaranya adalah Ujung Kulon di Propinsi Banten.
2.1.4. Taman Nasional
Taman Nasional ditetapkan oleh Pemerintah pada suatu areal yang memiliki
ekosistem yang masih asli. Yang dilindungi di areal Taman Nasional tidak hanya
hewan atau tumbuhannya saja tetapi keseluruhan lahan. Contoh Taman Nasional Tanjung Puting, TN G.Gede-Pangrango-Halimun-Salak, TN Meru Betiri dll.
2.2. Jenis Jenis Hutan Berdasarkan Kondisi Tempat Tumbuh.
Hutan terdapat di berbagai tempat di muka bumi dengan kondisi tanah, iklim,
maupun ketiinggian yang berbeda. Kondisi tanah tersebut ada yang subur,
asam, berpasir, berlumpur, dan sebagainya. Iklim juga ada bermacam-macam,
misalnya iklim basah (curah hujan tinggi sepanjang tahun), iklim kering (curah
hujan tahunan rendah), atau iklim musim (memiliki beberapa musim dengan
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
9
kondisi cuaca sangat berbeda ditiap musim). Demikian pula ketinggian, ada
daerah pantai yang hampir sejajar dengan permukaan laut, ada daerah dataran
rendah, pegunungan bawah, pegunungan menengah, dan pegunungan tinggi.
Perbedaan ini membuat hutan-hutan tersebut memiliki ciri khas masing-masing.
Pembagian hutan menurut kondisi tempat hutan itu berada menurut Whitmore
(1990) dan Soerianegara (1977) dalam Barmawi dkk (2002), adalah sebagai
berikut :
2.2.1. Hutan Pantai
Yaitu hutan yang terdapat di daerah pantai berpasir. Jenis pohon yang biasa
tumbuh di hutan seperti ini diantaranya adalah cemara laut, ketapang, serta
kelapa. Hutan pantai di Indonesia banyak terdapat di Sumatera, Jawa, Bali dan
Sulawesi.
2.2.2. Hutan Mangrove atau Payau
Adalah hutan yang terdapat di daerah
berair payau atau di muara sungai atau
pantai. Biasanya hutan seperti ini terdiri
dari pohon bakau sehingga sering pula
disebut hutan bakau.
Di pulau Kalimantan banyak sekali
terdapat hutan bakau, baik di pesisir
10
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
pantainya maupun di tepi-tepi sungai. Hutan-hutan ini merupakan tempat yang
bagus sekali untuk mencari ikan karena ikan-ikan senang sekali bertelur dan
berkembang biak di antara akar-akar pohon bakau.
2.2.3. Hutan Rawa
Hutan ini terdapat di rawa yang
tergenang air terus menerus
atau pasang surut. Jenis pohon
yang sering tumbuh di hutan
rawa misalnya pohon rambai
dan aren. Di Indonesia hutan
jenis ini banyak terdapat di Sumatera, Kalimantan, dan Irian
Jaya.
2.2.4. Hutan Rawa Gambut
Hutan ini tumbuh di daerah rawa gambut dengan kondisi tanah yang asam dan
kurang subur. Jenis pohon yang sering terdapat di hutan rawa gambut adalah
pohon galam, merapat dan ramin. Hutan jenis ini banyak terdapat di Sumatera
dan Kalimantan.
Dalam kondisi alami, lahan gambut berperan sebagai penyimpan karbon, mengumpulkan begitu banyak jumlah karbon di dalam tanah. Mereka menyimpan
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
11
karbon dalam jumlah setara dengan yang dihasilkan oleh emisi dari bahan
bakar minyak bumi selama 100 tahun pada tingkat penggunaan saat ini. Sehingga dengan demikian, gambut berperan sangat penting terhadap terjadinya
perubahan iklim. Pengelolaan yang tepat terhadap lahan gambut tropis sangat
penting, karena kawasan ini lebih rawan terhadap kekeringan dan kebakaran
2.2.5. Hutan Hujan dataran rendah
Hutan ini terdapat di tempat
dengan ketinggian sampai 1000
meter dari permukaan laut
dengan curah hujan yang tinggi.
Hutan jenis ini merupakan jenis
hutan yang paling subur dengan
keanekaragaman hayati yang
palling kaya. Banyak jenis pohon
terdapat di sini, misalnya ulin,
meranti, jabon, dan sebagainya.
Di Indonesia, hutan hujan dataran
rendah banyak terdapat di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya.
2.2.6. Hutan Hujan pegunungan bawah.
Hutan hujan pegurungan bawah
terdapat di daerah dengan ketinggian antara 1000 sampai 2000 meter
dari permukaan laut (dpl) dengan
curah hujan yang tinggi. Jenis
pohon yang biasa tumbuh disini
misalnya kayu manis, agathis, dan
manggis-manggisan. Hutan hujan
pegunungan bawah banyak terdapat di Sumatera, Jawa, Sulawesi,
dan Irian Jaya.
12
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
2.2.7. Hutan Hujan pegunungan atas.
Hutan hujan pegunungan atas terdapat di daerah dengan ketinggian di atas
2000 meter dari permukaan laut dengan curah hujan yang tinggi. Hutan jenis ini
banyak ditumbuhi perdu, sementara pohon-pohon yang masih bisa dijumpai
biasanya berukuran lebih kecil. Hutan hujan pegunungan atas dapat ditemukan
di Sumatera, Irian Jaya dan Sulawesi.
2.2.8. Hutan musim bawah.
Hutan musim bawah terdapat di
daerah beriklim kering atau musim
dengan ketinggian di bawah 1000
meter dpl. Di Indonesia, hutan musim
bawah terdapat di Jawa, Nusa Tenggara dan Sulawesi.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
13
2.2.9. Hutan Musim Tengah dan atas.
Hutan musim tengah dan atas terdapat di daerah beriklim kering atau musim
dengan ketinggian 1000 sampai 4100 meter dpl. Di Indonesia hutan hujan jenis
ini terdapat di Nusa Tenggara, Sulawesi dan Irian Jaya.
2.2.10. Hutan Kerangas.
Hutan kerangas terdapat di daerah dengan kondisi tanah berpasir, miskin unsur
hara dan cendering asam. Di hutan kerangas cukup banyak tumbuh pohon dari
jenis meranti, pelawan, bahkan ulin, namun biasanya berukuran agak kecil
sebagai akibat kondisi tanah yang kurang subur. Hutan seperti ini terdapat di
Kalimantan dan Sumatera.
2.2.11. Hutan Savana
Hutan savana adalah hutan yang terdiri
dari padang rumput dengan sejumlah
pohon yang jarang berukuran besar. Di
beberapa tempat pohon-pohon ini tumbuh
cukup rapat sehingga terbentuk hutan yang
cukup lebat pula. Hutan seperti ini terdapat
di daerah yang kering seperti di Nusa Tenggara.
14
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
2.2.12. Hutan tepi sungai.
Di sepanjang sungai-sungai besar
di Kalimantan dan Sumatera
juga banyak terdapat hutan yang
tumbuh di tepian yang berlumpur. Di hutan seperti ini biasanya
tumbuh pohon nipah, sagu atau
rambai.
2.2.13. Hutan batuan ultra basa.
Di beberapa bagian Kalimantan, Irian Jaya, Maluku dan Sulawesi, terdapat
daerah yang tanahnya banyak mengandung batuan mineral dengan unsur
logam yang cukup tinggi. Di daerah seperti ini juga banyak terdapat Hutan
dengan jenis-jenis pohon diantaranya adalah kemiri dan beberapa jenis meranti.
2.2.14. Hutan tanah kapur.
Di daerah dengan tanah kapur seperti di Irian Jaya, Maluku dan Sulawesi
kadang-kadang juga terdapat hutan. Hutan seperti ini ditumbuhi pohon dengan
keanekaragaman jenis yang lebih sedikit. Pohon jati dan pohon eboni merupakan
jenis pohon yang sering terdapat di hutan kapur.
Kita wajib bersyukur karena di Indonesia pada umumnya dan Kalimantan pada
khususnya banyak terdapat hutan dari berbagai jenis. Dengan keanekaragaman
jenis hutan tersebut berarti makin banyak pula jenis manfaat yang bisa kita ambil
dari keberadaan hutan kita. Beberapa negara kurang beruntung karena hanya
memiliki hutan dengan jenis yang kurang beragam. Di Australia, misalnya, yang
sering kita jumpai hanyalah hutan savana.
Rasa syukur tersebut harus kita wujudkan dengan menjaga kelestarian hutan
kita.
3. PERANAN HUTAN BAGI PEREKONOMIAN INDONESIA
Hutan sangat berperan dalam pembangunan Indonesia. Bahkan di awal-awal
berdirinya negara kita, ketika kita belum memiliki industri dan pabrik seperti saat
ini, hasil hutan berupa kayu merupakan penyumbang terbesar bagi pendapatan
negara disamping pertambangan minyak dan gas. Dengan pendapatan inilah
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
15
kemudian pemerintah membiayai pembangunan sekolah, jalan, rumah sakit
dan fasilitas lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kini meskipun Indonesia telah menghasilkan banyak barang industri untuk
diekspor, namun ekspor barang-barang yang berasal dari kayu masih menjadi
andalan untuk menambah pendapatan negara. Disamping itu, hutan kita juga
merupakan obyek wisata yang sangat digemari oleh wisatawan mancanegara.
Ribuan wisatawan setiap tahunnya datang ke Indonesia hanya untuk menikmati
keindahan dan kesegaran berada di hutan tropis yang tidak ada di negara-negara
mereka.
Hutan juga menjadi sandaran hidup bagi sebagian besar penduduk Indonesia.
Pemanfaatan hutan oleh penduduk meliputi:
Sebagai sumber bahan pangan. Banyak jenis hewan dan tumbuhan hutan
yang dijadikan bahan makanan oleh penduduk, baik daging, telur daun, buah,
maupun akarnya. (contoh2 gambar/foto).
Sebagai sumber bahan untuk pembuatan rumah dan perabotan. Kayu, kulit,
dan daun merupakan bahan utama untuk pembuatan rumah. Bahkan ada
yang membangun rumahnya di atas pohon. Disamping itu hampir sebagian
besar perabotan rumah dapat dibuat dari hasil hutan khususnya kayu. (contoh2
gambar/foto).
Sebagai sumber energi. Masih banyak penduduk Indonesia, khususnya yang
tinggal di dalam atau di sekitar hutan, yang menggunakan kayu bakar untuk
keperluan memasak maupun mengolah hasil kebun atau pertanian mereka.
(gambar: arang dan kayu bakar).
Sebagai sumber bahan baku obat dan kosmetik. Sebelum meluasnya penggunaan obat kimia, bahkan sampai sekarang, banyak masyarakat kita yang
menggunakan jenis-jenis tumbuhan atau hewan tertentu untuk pengobatan dan
perawatan kecantikan.
MANFAAT HUTAN BAGI MASYARAKAT LUAS
4.1 Manfaat Langsung Hutan
Manfaat langsung hutan adalah adalah manfaat berupa hasil hutan yang bisa
dimanfaatkan langsung bagi keperluan manusia. Manfaat ini mencakup:
4.1.1. Hasil Hutan Berupa Kayu.
Hutan sebagai penghasil kayu merupakan hal yang lazim dipergunakan bagi
16
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Hasil hutan berupa kayu yang seharihari kita pergunakan adalah berupa kayu log, sebagai bahan bangunan, kayu
bakar, bahan baku industri mebel kayu, pulp/kertas dan sebagainya.
Hasil hutan berupa kayu merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, tetapi untuk mengembalikan hutan yang telah ditebang memerlukan waktu
yang cukup lama, mulai dari puluhan tahun, bahka ada yang mencapai usia
ratusan tahun lamanya untuk dapat ditebang kembali.
4.1.2. Hasil Hutan Bukan Kayu.
Disamping kayu, hutan juga menghasilkan bahan-bahan lain yang tidak kalah
bermanfaatnya bagi manusia :
a.
Bahan makanan dari hewan baik berupa daging, telor, bahkan sarang
maupun tumbuhan.
b. Bahan kosmetik dan obat-batan dari hewan atau tumbuhan yang ada di
hutan.
c. Bahan pakaian, misalnya kokon ulat sutra yang berkembang biak di hutan.
d. Bahan perabotan, misalnya rotan. Dll.
4.2 Manfaat Tidak Langsung Hutan
Disamping memiliki manfaat langsung dari bahan-bahan yang dihasilkannya
baik itu berasal dari tumbuhan atau hewan, hutan juga memiliki sejumlah
manfaat lainnya. Manfaat-manfaat ini berasal dari keberadaan hutan itu sendiri
yang memberi pengaruh positif terhadap manusia maupun alam secara keseluruhan.
Manfaat dari keberadaan hutan dapat dinikmati dengan tanpa mengambil
sesuatu apapun, baik berupa hewan, tumbuhan, atau bahan-bahan lain dari
hutan tersebut. Oleh karena itu manfaat-manfaat tersebut disebut manfaat tidak
langsung dari hutan.
4.2.1 Hutan sebagai penjaga lingkungan.
Lingkungan hidup kita terdiri atas: (1) Lingkungan Daratan, (2) Lingkungan air,
dan (3) Lingkungan Udara. Hutan hanya merupakan sebagian dari lingkungan
daratan, namun keberadaannya berpengaruh tidak hanya terhadap apa yang
ada di darat namun juga segala yang ada di air dan di udara. Pengaruh-pengaruh
tersebut timbul karena hutan memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :
a.
b.
Pengendali air.
Pengatur suhu.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
17
c. Penghasil Udara bersih.
d. Sebagai tempat tumbuh yang baik bagi hewan dan tumbuhan.
e. Mencegah pengikisan tanah.
Mari kita bahas satu persatu fungsi-fungsi tersebut.
a.
Pengendali air.
Air adalah sumber kehidupan. Semua makhluk hidup yang ada di bumi, termasuk manusia, tidak akan dapat hidup tanpa air. Dan para ahli sependapat bahwa
karena adanya airlah maka di bumi ini ada kehidupan, sementara di planet lain
yang tidak ada airnya tidak terdapat sedikitpun mahluk hidup.
Air tidak akan pernah habis, namun dia hanya akan berpindah tempat atau
bentuk.
Hutan, dalam hal ini berperan sebagai pengatur tata air. Caranya:
Pada waktu hujan, air yang jatuh dilantai hutan tidak langsung mengalir ke
sungai karena ditahan oleh akar-akar tanaman. Pada saat yang bersamaan,
lantai hutan akan menyerap dan menahan sebagian dari air tersebut. Air ini
akan masuk kedalam tanah dan keluar disuatu titik menjadi sumber air yang
tidak akan kering bahkan dimusim kemarau.
Dilain pihak, dengan tertahannya air yang jatuh di lantai hutan, maka jumlah air
yang mengalir ke sungai atau ke tempat yang lebih rendah akan berkurang baik
Gambar: siklus air.
18
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
jumlah maupun kecepatannya. Dengan demikian banjir dan tanah longsor yang
seringkali disebabkan oleh aliran air yang berlebihan dapat dicegah.
Air hujan yang jatuh ke tanah lalu langsung mengalir ke sungai akan membawa
butiran-butiran tanah. Disatu pihak hal ini akan mengurangi kesuburan tanah,
sementara disaat yang bersamaan juga menyebabkan air sungai menjadi keruh.
Air yang keruh kurang layak untuk diperguanakan entah untuk memasak,
minum, ataupun mencuci. Sungai yang airnya keruh biasanya juga kurang
banyak ikannya.
Disamping itu, bila tidak ada pohon-pohonan hutan yang menahan laju air,
maka air dalam jumlah besar akan langsung mengalir ketempat yang lebih
rendah. Bila air ini tidak dapat lagi ditampung oleh sungai-sungai atau danau
maka terjadilah banjir.
Kegiatan Manusia yang mempengaruhi Air
Air tidak akan habis meskipun terus digunakan. Hal ini dikarenakan air mengalami proses pendauran. Daur air akan terus berlangsung selama ada sinar
matahari. Kegiatan manusia sangat berpengaruh pada daur air. Pada Gambar
berikut terlihat bahwa hutan menjadi gundul akibat penebangan liar. Apa yang
akan terjadi, pada daur air jika hal itu di biarkan?
Gambar Hutan menjadi gundul
akibat penebangn secara liar.
Penebangan hutan secara berlebihan dapat menyebakan tanah kering dan
tandus. Air sulit meresap pada tanah tandus. Jika hujan terjadi, air hujan
langsung mengalir ke tempat yang lebih rendah. Air ini terus mengalir hingga
sampai ke laut. Air yang mengalir akan mengikis tanah lapisan atas bahkan
dapat menyebabkan bencana banjir
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
19
b. Hutan sebagai pengatur suhu.
Panas matahari yang jatuh ke permukaan bumi sebagian dilepaskan
kembali ke udara di atas permukaan
tersebut. artinya makin banyak
panas yang jatuh maka makin
banyak pula panas yang dilepaskan
sehingga suhu udara di tempat
tersebut pun menjadi bertambah
pula.
Namun di tempat yang hutannya
masih bagus, panas matahari yang
jatuh ke permukaan bumi sebagian akan diserap oleh daun-daun pohon yang
menutupi permukaan tersebut sehingga panas pun menjadi berkurang. Karena
panas yang diterima permukaan memang sudah berkurang, maka panas yang
dilepaskan kembalipun menjadi lebih sedikit. Sebagai akibatnya suhu udara di
tempat tersebut akan terkendali sehingga lebih nyaman bagi makhluk hidup.
c.
Hutan sebagai Penghasil udara bersih.
Hutan juga berfungsi sebagai penghasil udara segar. Sebagian besar tumbuhan
mengalami proses pembakaran zat-zat makanan yang disebut fotosintesis.
Dalam proses ini tumbuhan menyerap zat karbondioksida (CO2) dan melepaskan zat oksigen (O2).
20
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Karbondioksida adalah zat yang dihasilkan oleh pernapasan hewan dan
manusia serta oleh proses pembakaran, entah di pabrik, dapur, mobil, dan sebagainya. Zat ini memiliki sifat menahan panas. Di tempat yang udaranya banyak
mengandung karbondioksida, panas yang dilepaskan oleh permukaan bumi di
tempat tersebut akan ditahan oleh zat tersebut untuk kemudian dipantulkan
kembali ke permukaan bumi. Sebagai akibatnya, suhu di permukaan bumi akan
meningkat.
Oksigen adalah zat yang diperlukan hewan dan manusia untuk bernafas. Tanpa
oksigen kita semua akan mati. Padahal setiap kali bernafas kita menghirup
sekian banyak oksigen dan mengubahnya menjadi karbondioksida. Bayangkan
di dunia ini sekarang hidup sekitar 2 milyar manusia, ditambah hewan yang
jumlah keseluruhannya mungkin beberapa kali lipat jumlah manusia, dan
mereka semua menghirup oksigen! Untunglah di dunia ini masih banyak tumbuhan sehingga pasokan oksigen selalu tersedia. Tetapi apa yang terjadi kalau
tumbuh-tumbuhan tersebut semakin berkurang?
Udara yang segar adalah udara yang banyak mengandung oksigen dan sedikit
sekali mengandung bahan-bahan yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
Udara semacam inilah yang dihasilkan tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan.
5 .PERANAN HUTAN DALAM MENCEGAH ATAU
PENYESUAIAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM.
Seperti telah dijelaskan pada halaman sebelumnya, peran hutan sangat penting
sebagai pengemisi GRK dan juga sekaligus sebagai penyerap dan penyimpan
karbon. Hutan akan melepaskan GRK (terutama CO2) ke atmosfir ketika ditebang. Dengan menanam kembali tegakan dan mengembalikan keadaan hutan,
maka karbon yang ada di udara akan diikat kembali ke dalam tanah dan tegakan
melalui kegiatan fotosintesis.
Karena pentingnya peran hutan dalam memitigasi perubahan iklim, maka tindakan-tindakan seperti praktek pengelolaan hutan produksi lestari, pengelolaan
kawasan konservasi dan lindung, pembatasan konversi hutan, pemberantasan
illegal logging dan penanggulangan kebakaran hutan akan mengurangi emisi
CO2 dan meningkatkan resiliensi ekosistem hutan terhadap perubahan iklim.
Rehabilitasi lahan dan hutan terdegradasi, pengembangan hutan tanaman industri dan perkebunan di lahan-lahan yang terdegradasi, serta kegiatan restorasi
hutan akan meningkatkan kapasitas hutan dalam menyerap dan menyimpan
carbon, yang pada akhirnya juga akan meningkatkan resiliensi ekosistem hutan
terhdap perubahan iklim. Dengan demikian, pengelolaan hutan lestari berkontribusi positif terhadap upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
21
Pengelolaan Hutan Lestari merupakan kerangka kegiatan yang efektif untuk
mengurangi dampak dan penyesuaian terhadap perubahan iklim. Bagan berikut
ini dapat menjelaskan hubungan antara kegiatan pengelolaan hutan lestari
sebagai bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
MITIGASI
ADAPTASI
SFM
SFM
Konservasi
Karbon
Penyimpa­nan
Karbon
REED
Restorasi
Hutan
Pemanenan
hasil hutan
kayu
Reboisasi dan
penghijauan
Penanaman
pohon-pohon
di lahan
pertanian
Substitusi
Substitusi
produk kayu
untuk baja,
beton, plastik,
almunium
Bioenergi
berbasis kayu
Kemampuan
hutam dan pohon,
meliputi keaneka­
ragaman genetik
yang tinggi
Pemilihan Sistim
silvikultur dan
pendekatan
pengelolaan
Kapasitas
masyarakat yang
bergantung pada
hutan
Bagaimana Cara mengukur Karbon Hutan
Mengukur jumlah karbon tersimpan di hutan cukup mudah dan dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri dari waktu ke waktu. Ada tiga tahap pengukuran
yaitu :
1.
2.
3.
Biomassa semua tanaman dan nekromasa yang ada pada suatu lahan
Mengukur konsentrasi Karbon tanaman di laboratorium
Menghitung kandungan karbon yang disimpan pada suatu lahan
22
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
BIOMAS ATAS PERMUKAAN
Biomass di atas
permukaan
Necromas
Understrorey
Litter
KARBON TANAH
BIOMASS BAWAH PERMUKAAN
Metode pengukuran karbon berdasarkan pada pengukuran perubahan dalam
stok karbon.Tersedia sejumlah buku sumber dan panduan pengukuran karbon.
Pengukuran pool karbon dengan menerapkan teknik-teknik pengukuran hutan
(forest inventory), sampling tanah dan survey ekologi
Apakah semua sumber karbon perlu diukur
Tergantung pada:
• Ketersediaan metode, ketelitian yang diinginkan dan biaya untuk mengukur dan memonitor
• Tujuan pengukuran/ penaksiran
• Laju perubahan
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
23
BAB 2
Kebijakan Internasional dan National Tentang
Perubahan Iklim dan REDD
Ruang Lingkup dan Sasaran dari Materi
Dalam materi ini akan disampaikan mengenai kebijakan internasional terkait
dengan Climate Change, kelembagaan yang berperan di dalam pengambilan
keputusan, hasil-hasil pertemuan internasional yang berpengaruh terhadap
kebijakan kehutanan Indonesia dalam penanggulangan perubahan iklim,
internalisasi dalam kebijakan nasional dan dampaknya terhadap kerjasama
internasional di bidang kehutanan.
Sebagai contoh akan disampaikan kerjasama bilateral, mulitilateral dan juga
inisiatif daerah untuk menjalin kerjasama di bidang perubahan iklim dan REDD
baik yang dilakukan dengan skema inisiatif Voluntary Carbon Market.
Topik dan Materi Bahasan:
1.
2.
3.
4.
5.
Organisasi internasional yang menangani perubahan iklim dan mekanisme
kerja organisasi.
Hasil-hasil pertemuan internacional tentang Perubahan Iklim dan REDD.
Internalisasi hasil-hasil pertemuan internasional kedalam kebijakan nasional
Bentuk kerjasama internasional baik bilateral maupun multilateral.
Inisiatif Daerah/Kerjasama Daerah dalam rangka memanfaatkan pasar
karbon voluntary.
Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti paparan ini, dapat:
1. Memahami peran organisasi internasional yang terkait dengan perubahan
iklim dan kelembagaannya (UNFCCC, COP, SBSTA, Ratifikasi , dll) serta
negara/aktor utamanya
2. Memahami kebijakan internasional terkait dengan Climate Change (REDD,
LULUCF, KYOTO PROTOKOL dll)
3. Memahami kaitan kebijakan internasional yang berpengaruh terhadap
hutan dan kehutanan Indonesia terkait dengan perubahan iklim.
4. Memahami internalisasi dalam kebijakan nasional
24
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
5.
Memahami jenis dan proses kerjasama internasional di bidang kehutanan
(bilateral dan multilateral etc.)
1. UNITED NATIONS FRAMEWORK CONVENTION ON
CLIMATE CHANGE/UNFCCC (Konvensi Kerangka Kerja PBB
tentang Perubahan Iklim)
1.1 Latar Belakang
Pada bulan Juni tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brasil - Pada Konferensi Tingkat
Tinggi Bumi (Earth Summit) tentang Lingkungan dan Pembangunan (United
Nations Conference on Environment and Development/UNCED), telah disepakati yang bersifat mengikat secara hukum (legally binding) tentang Konvensi
Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim/ UNFCCC yang mulai berlaku
sejak 21 Maret 1994. Pada KTT Bumi tersebut UNFCCC telah ditandatangani
oleh 154 wakil negara.
Sejas tahun 1995, para pihak telah bertemu setiap tahun melalui Konferensi Para
Pihak (Conference on Parties, COP) guna menerapkan dan mengimplementasikan kerangka kerja tersebut.
UNFCCC bertujuan:
Menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) antropogenik untuk menghindari ‘ancaman antropogonik yang berbahaya’ terhadap system iklim. Gas
yang dikendalikan adalah metan, nitrogen oksida, dan karbon dioksida.
Tujuan akhir Konvensi adalah:
Mencapai stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir pada tingkat tertentu yang menghindari ’ancaman antropogenik yang berbahaya bagi sistem
iklim
1.2 Kelembagaan
Kelembagaan yang mendukung proses negosiasi dibawah payung UNFCCC
adalah Conference of Parties (COP), Konferensi Para Pihak yang merupakan badan tertinggi, atau yang memiliki wewenang tertinggi membuat keputusan
sekaligus merupakan asosiasi Para Pihak yang meratifikasi Konvensi.
COP bertanggungjawab untuk menjaga konsistensi upaya internasional dalam
mencapai tujuan utama konvensi, dengan demikian COP memiliki kesempatan
untuk meninjau pengaruh dari tindakan yang dilakukan oleh Para Pihak dalam
kaitannya dengan pencapaian tujuan Konvensi.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
25
COP diselenggarakan setahun sekali, kecuali dalam kondisi tertentu jika para
pihak menghendaki lain. Tempat penyelenggaraan COP didasarkan atas
tawaran yang disampaikan oleh calon tuan rumah, jika tidak ada penawaran,
secara otomatis COP akan diselenggarakan di secretarist UNFCCC di Bonn,
Jerman. Kelembagaan di dalam COP adalah sebagai berikut:
Presiden COP
Posisi Presiden COP secara resmi bergiliran diantara negara di lima wilayah regional PBB, dan biasanya adalah Menteri Lingkungan Hidup di negara tersebut.
Pemilikannya dilakukan secara aklamasi setelah pembukaan sesi COP. Perannya memfasilitasi pekerjaan COP dan mempromosikan persetujuan diantara
para pihak. Presiden COP harus bersifat neutral.
Biro COP
Biro COP memandu pekerjaan COP dan badan di bawahnya. Biro COP tidak
hanya bekerja pada satu sesi COP tapi juga pada peride antar sesi. Anggota Biro
COP 11 orang , Biro COP dipilih untuk satu tahun, tetapi anggotanya dapat
dipilih ulang untuk kedua kalinya.
Subsiadiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA)
SBSTA merupakan penghubung antara penilaian informasi ilmiah, teknis dan
teknologi yang disediakan oleh badan internasional yang kompeten, dan keperluan COP yang berorientasi kebijakan. Sumber-sumber yang dijadikan acuan
COP diantaranya Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).
Subsiadiary Body for Implementation (SBI)
SBI menyusun rekomendasi untuk membantu COP dalam hal mereview dan
menilai implementasi konvensi yang efektif. Peran lainnya adalah memberikan
saran kepada COP atas mekanisme keuangan yang dioperasikan oleh Global
Environment Facility (GEF), administrasi dan masalah lain terkait anggaran.
Ad Hoc Group
Ad hoc adalah badan tambahan yang dibentuk sesuai kebutuhan dan bersifat
sementara.
Limited membership Bodies
Badan khusus dengan keanggotaan terbatas juga dibentuk untuk membahas
hal-hal khusus dan bersifat sementara diantaranya:
26
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Expert Group on Technology Transfer
The Consultative Group of Experts on National Communications from Parties
not included in Annex I to the Convention (Consultative Group of Experts, or
CGE)
The Least Developed Countries Expert Group (LEG)
Sekretariat Konvensi
Sekretariat Konvensi berkedudukan di Bonn, Jerman dengan tugas utama yaitu:
• Mengatur penyelenggaraan dan memberikan layanan dalam sesi di COP,
pertemuan-pertemuan badan pembantu dan Biro,
• Mengkompilasi dan meneruskan laporan yang diterima.
- Membentuk para pihak khususnya negara berkembang dalam hal
implementasi komitmennya.
-
Dukungan bagi negosiasi
-
Koordinasi dengan Global Environment Facility, United Nations
Development Programme/UNDP, United Nations Environment Programme/UNEP dan Bank Dunia, IPCC>
-
Mempersiapkan dokumen resmi yang diperlukan COP dan badan
pembantu
-
Mengkompilasi data inventarisasi GRK dan mengatur peninjauan
Komunikasi Nasional negara-negara Annex 1.
-
Melakukan koordinasi review secara mendalam tentang komunikasi
nasional pihak Annex I.
1.3 Negara-negara dan aktor utama
Negara atau aktor utama dan kepentingannya. Dalam Konvensi Perubahan
Iklim terdapat 2 blok besar yang terdiri atas Negara maju (developed atau industrialized countries) dan Negara berkembang (developing countries). Kedua
kelompok ini merupakan kelompok Negara-negara yang memiliki hak suara
dalam konvensi. Di samping itu terdapat pula organisasi non pemerintah (non
government organization) dan lembaga international (international organization) yang tidak memiliki hak suara dalam setiap pertemuan tertutup konvensi
tetapi dapat melakukan proses interaksi dengan setiap Negara baik secara individu maupun kelompok melalui kesempatan-kesempatan di luar acara formal
(side events atau special events).
a. Pihak dalam Konvensi
b. Kelompok Pihak di bawah konvensi
-
Pihak Annex I
-
Pihak AnnexII
-
Pihak yang tidak termasuk ke dalam Annex 1 (Non-Annex Parties
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
27
-
Negara Transisi Ekonomi
-
Negara-negara terbelakang (Least Developed Countries/LDCs)
c. Kelompok Regional
d. Kelompok-kelompok Negosiasi politik
-
Group 77 + China
-
Kelompok Africa
-
Kelompok Negara-negara Pulau Kecil (AOSIS)
-
Uni Eropa
-
Kelompok Payung
-
Environment Integrity Group (EIG)
-
OPEC
-
Negara-negara pengamat
e. Organisasi Non Pemerintah
f. Organisasi Internasional
2. HASIL COP
Beberapa catatan penting dalam setiap persidangan COP dihasilkan dokumen
yang merupakan keputusan penting yang memberikan arah perkembangan
COP mulai dari COP 1 tahun 1995 hingga COP 12 tahun 2006. Perkembangan
COP dan hasilnya sebagai berikut:
a.
COP 1 tahun 1995 Berlin Mandate
Catatan penting adalah:
• Fase uji coba kegiatan joint implementation (JI) yang dikenal Activities
Jointly Implementation (AJI).
• Komitment negara maju untuk mengurangi emisi mulai dibicarakan
secara subsantial.
• Tidak ada tuntutan komitmen bagi negara berkembang dalam protokol.
• Koalisi G77 (minus OPEC)
b.
COP 2 tahun 1996 Geneva Declaration
Deklarasi geneva antara lain:
• Pengakuan dan penerimaan para menteri dan ketua delegasi atas
Laporan IPCC sebagai laporan ilmiah yang dapat diandalkan sebagai
pijakan untuk mengambil tindakan global, nasional dan lokal, khususnya oleh negara-negara Annex 1 dalam rangka menurunkan emisi Gas
Rumah Kaca.
• Ajakan untuk mengembangkan protokol dan instrumen legal lainnya
berdasarkan temuan ilmiah.
• Instruksi kepada para pihak untuk mempercepat negosiasi terhadap
teks protokol yang secara hukum akan mengikat.
28
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
COP 3
COP 3 di Kyoto merupakan salah satu perhelatan paling besar dan istimewa
yang melibatkan diplomasi lingkungan internasional yang canggih. Konferensi
ini diikuti 2200 delegasi dari 58 negara anggota Konvensi, enam negara pengamat, 4000 LSM dan organisasi internasional dan 3700 perwakilan media.
Presiden COP 3 adalah Menteri Badan Lingkungan Jepang, Hiroshi Ohki. Hasil
penting dari COP 3 adalah diadopsinya Protokol Kyoto pada tanggal Desember
1997 setelah melalui perdebatan dan negoisasi yang panjang dan melelahkan.
Kepemimpinan Dubes Estrada dari Argentina diakui sebagai faktor penting
dapat diadopsinya Protokol Kyoto, sehingga dapat dianggap sebagai salah satu
pahlawan COP3. Kyoto Protokol terdiri dari 28 pasal dengan pasal-pasal yang
penting diantaranya:
• Isu-isu metodologi
• Pencapaian Komitmen bersama
• Clean Development Mechanism/CDM atau Mekanisme Pembangunan Bersih
(pasal 2)
• Mekanisme keuangan (pasal 11)
• Perdagangan emisi
• GRK dan sektor/kategori sumbernya (Annex A)
• Komitmen pembatasan dan pengurangan emisi tiap pihak.
Dalam Protokol Kyoto, pihak Annex I Parties sepakat untuk menurunkan emisi
enam gas rumah kaca secara keseluruhan paling tidak sebanyak 5% di bawah
level tahun 1990 antara tahun 2008 dan 2012. Protokol Kyoto membangun
mekanisme perdagangan emisi dan “joint implementation” (JI) diantara Negara
maju dan mendorong proyek pengurangan emisi bersama antara negara maju
dan negara berkembang yang disebut “clean development mechanism” (CDM)
atau mekanisme pembangunan bersih. Protokol ini akan berlaku 90 hari setelah
diratifikasi oleh 55 negara, termasuk Annex I yang mewakili paling tidak 55%
persen dari emisi CO2 total oleh Annex I pada tahun 1990
COP 4
COP 4 diselenggarakan di Buenos Aires pada tahun 1998, merupakan COP yang
pertama dilakukan di negara berkembang. Presiden COP adalah Maria Julia
Alzogaray, Menteri Sumber Daya Alam dan Pembangunan Berkelanjutan Argentina. Tujuan utama COP 4 adalah untuk merancang tindak lanjut implementasi Protokol Kyoto, antara lain dalam alih teknologi dan mekanisme keuangan.
Pada COP 4 ini Indonesia menjadi ketua dari G77+China.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
29
Elemen-elemen teknis yang dibahas dalam COP 4 dapat dikategorikan sebagai
berikut:
• “Land Use, Land Use Change and Forestry” (LULUCF)
• riset dan observasi
• metodologi serta pengembangan dan alih teknologi.
• Penekanan utama pembahasan adalah tentang definisi hutan, aforestasi,
reforestasi dan deforestasi.
Dalam COP 4 ini negara berkembang mencatat banyak “kemenangan” terutama
dalam hal yang terkait dengan alih teknologi dan mekanisme keuangan. Dalam
COP ini telah berhasil diletakkan landasan bagi COP-COP berikutnya dan telah
berhasil mengadopsi Buenos Aires Plan of Action (BAPA). Pada COP ini juga
diperkenalkan istilah Voluntary Commitment oleh tuan rumah yang tidak terlalu
didukung oleh negara-negara Annex 2. Kelak istilah tersebut lebih popular dan
lebih diterima oleh negara Annex 2 sebagai mekanisme fleksibel.
COP 5
COP 5 dilaksanakan pada tahun 2000 di Bonn. Negoisasi di fokuskan pada
hal-hal teknis, beberapa hal diantaranya, antara lain :
• Penyusunan Guideline untuk persiapan komunikasi nasional bagi negaranegara yang tergabung Annex 1,
• Capacity building
• Alih teknologi
• Mekanisme fleksibel
COP 6
COP yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda pada tanggal 3 – 24 Nopember
2000 ini tidak menghasilkan apapun. Penyebab utamanya adalah kompleksnya
masalah yang dibahas dan konsultasi yang tidak transparan menyebabkan
Presiden COP 6 JP Pronk (Menteri Perencanaan Tata Ruang dan Lingkungan
Belanda) kurang popular di kalangan negara berkembang. Sehingga penyelesaian COP 6 di Den Haag di tunda dan dilanjutkan di Bonn pada tanggal 6 – 27
Juli 200. Di Bonn inilah akhirnya dihasilkan sebuah kesepakatan politik yang
kemudian dikenal dengan nama “Bonn Agreement”.
Agenda utama COP 6 adalah menyelesaikan rencana detail pengoperasian
Protokol Kyoto yang diuraikan dalam BAPA (COP 4). Keberhasilan COP 6 akan
diukur dari sampai berapa jauh pertemuan ini mampu mempersiapkan jalan
bagi dioperasionalkannya Protokol Kyoto sedini mungkin. Isu-isu yang dibahas
antara lain mekanisme keuangan dan pedoman bagi GEF, mekanisme fleksibel,
LULUCF.
30
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Elemen utama yang tertuang di dalam Bonn Agreement:
• mekanisme pendanaan dalam skema konvensi dan dalam skema Protokol
Kyoto;
• meningkatkan dana GEF,
• membentuk dana baru perubahan iklim,
• mengefektifkan penyaluran dana bilateral dan multilateral
• membentuk dana adaptasi dari CDM
• dampak negatif perubahan iklim
COP7
Pada COP 7 diadopsi Marrakech Accords yang menghasilkan target terhadap
pelaksanaan Protokol yaitu sekitar Agustus/September 2002 bersamaan dengan
pertemuan World Summit on Sustainable Development (WSSD) yang dilaksanakan
di Johannesburg, South Africa.
Beberapa keputusan penting dalam Sidang ini antara lain:
• Regulasi operasional tentang jual beli emisi internasional antar pihak dalam
Protokol dan bagi CDM serta implementasi bersama,
• Regime yang secara garis besar mengatur konsekuensi akan kegagalan
dalam pemenuhan target emisi tetapi ditunda bagi Negara yang menyetujui protokol sebelum diberlakukannya konsekuensi tersebut secara legally
binding,
• Prosedur akunting bagi mekanisme yang fleksibel.
COP8
COP 8 diselenggarakan di New Delhi, India yang berlangsung dari 23 Oktober
sampai dengan 1 November 2002. Hal-hal penting yang dibahas dan diputuskan
diantaranya adalah:
• panduan yang lebih baik bagi komunikasi nasional Negara-negara nonAnnex I;
• berbagai isu tentang mekanisme finansial;
• “good practices” dalam kebijakan dan prosedur (policies and measures);
• Penelitian dan pengamatan yang sistematik;
• Kerjasama dengan organisasi internasional terkait; dan
• Isu-isu terkait metodologi
Agenda yang tak terselesaikan:
Protokol Kyoto belum efektif karena jumlah penurunan emisi dari negara-negara
Annex yang meratifikasi protokol belum mencapai persyaratan 55 persen.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
31
Hasil dari COP 8 adalah Deklarasi New Delhi tentang Perubahan Iklim dan
Pembangunan Berkelanjutan (Delhi Declaration on Climate Change and Sustainable
Development) yang butir-butir pentingnya adalah sebagai berikut:
• menekankan pembangunan dan penghapusan kemiskinan sebagai prioritas di negara berkembang,
• memahami prinsip common but differentiated responsibilities, prioritas dan
kondisi pembangunan nasional dalam implementasi komitmen UNFCCC
COP 9
COP 9 dilaksanakan di Milan pada tanggal 1 – 13 Desember 2003. Kesepakatan
yang diadopsi ber kaitan dengan kelembagaan dan prosedur implementasi
Kyoto Protocol UNFCCC antara lain berhubungan dengan:
-
-
-
Definisi dan modalities bagi dimasukkannya kegiatan afforestasi dan reforestasi ke dalam CDM;
Panduan “good practice” bagi penggunaan lahan, perubahan lahan dan
kehutanan (guidance on land use, land-use change and forestry (LULUCF));
Dana Khusus Perubahan Iklim (Special Climate Change Fund (SCCF)); dan
Dana bagi Negara-negara terbelakang (Least Developed Countries /LDC
Fund).
COP 10
COP 10 dilaksanakan di Buenos Aires, Argentina pada tanggal 6 -7 Desember
2004. Selama konferensi berbagai isu penting yang dibahas dan diputuskan
diantaranya adalah: transfer teknologi; isu terkait penggunaan lahan, perubahan lahan dan kehutanan (biasa dikenal dengan land use, land-use change and
forestry/LULUCF); mekanisme finansial UNFCCC; komunikasi nasional Annex
I; pengembangan kapasitas/capacity building; pengaruh buruk dan adaptasi; dan
Artikel 6 UNFCCC (pendidikan, pelatihan dan kepedulian publik). Sedangkan
komitmen yang dihasilkan disebut sebagai Buenos Aires Programme of Work on
Adaptation and Response Measures, yang hasilnya terbagi menjadi empat:
• pengaruh buruk perubahan iklim;
• impact of the implementation of response measures;
• pekerjaan multilateral lanjutan terkait aktivitas di bawah keputusan 5/CP.7;
dan
• program kerja SBSTA tentang dampak, kerentanan, dan adaptasi terhadap
perubahan iklim.
Namun demikian, beberapa isu tetap tidak terselesaikan, diantaranya tentang
dana untuk Negara-negara terbelakang/ The Least Developed Countries (LDC)
Fund, Dana Khusus Perubahan Iklim/ Special Climate Change Fund (SCCF) dan
32
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Protocol Article 2.3 (pengaruh buruk dari kebijakan dan prosedur/adverse effects of
policies and measures).
COP 11
COP 11 dan Meeting of the Parties to Protokol Kyoto (COP/MOP 1) berlangsung
di Montreal, Kanada, dari tanggal 28 November sampai dengan tanggal 10
Desember 2005. Pada COP/MOP , para pihak mendiskusikan dan mengambil
keputusan tentang rincian operasional yang belum terselesaikan pada Protokol
Kyoto, termasuk paket kesepakatan yang dikenal dengan nama “Marrakesh
Accords.” Kesepakatan ini berisi panduan bagaimana Protokol berfungsi, seperti
yang terkait dengan mekanisme fleksibel yang ditujukan untuk membantu para
pihak memenuhi target pengurangan emisi dengan cara yang paling murah dan
memenuhi persyaratan.
COP/MOP juga mengadopsi keputusan tentang proses mendiskusikan komitmen pasca 2012 termasuk keputusan untuk membentuk badan subsider (subsidiary body) baru yaitu Ad Hoc Working Group on Further Commitments for Annex I
parties under the Kyoto Protocol (AWG). COP membahas isu-isu terkait:
- pembangunan kapasitas,
- pengembangan dan transfer teknologi,
- pengaruh buruk perubahan iklim terhadap Negara-negara berkembang
dan Negara-negara terbelakang, dan
- berbagai isu terkait financial dan penganggaran termasuk panduan bagi
GEF yang berfungsi sebagai mekanisme financial UNFCCC.
Setelah pembahasan yang panjang, COP sepakat tentang proses mempertimbangkan aksi di masa datang dalam UNFCCC, yang antara lain berupa workshop
yang membahas masalah ini sampai dengan COP 13.
Pada COP 11 beberapa pihak mendiskusikan proposal Papua New Guinea
untuk memberikan insentif bagi Negara berkembang yang dapat menghindari
deforestasi. Inilah cikal bakal dari mekanisme yang saat ini ramai dibahas, yaitu
Reducing Emissions from Deforestation in Developing Countries (REDD).
Pada COP ini pula disepakati Montreal Action Plan yang merupakan kesepakatan
yang bertujuan untuk memperpanjang usia Protokol Kyoto setelah berakhirnya
setelah tahun 2012 dan menegosiasikan pengurangan lebih jauh emisi gas rumah
kaca.
COP 12
Pada tanggal 6-17 November 2006, satu seri pertemuan perubahan iklim berlangsung di kantor PBB di Nairobi, Kenya. Konferensi Perubahan Iklim - Nairobi
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
33
2006 berisi COP 12 UNFCCC dan konferensi kedua COP yang berfungsi sebagai
Meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (COP/MOP 2).
Pada COP/MOP 2, para pihak membahas isu terkait mekanisme fleksibel pada
Protocol Kyoto, khususnya CDM dan Joint Implementation. Berbagai isu yang
dibahas diantaranya terkait dengan:
• mekanisme finansial,
• komunikasi nasional,
• transfer teknologi,
• pembangunan kapasitas, dan
• pengaruh buruk perubahan iklim terhadap negara berkembang dan negara
terbelakang serta response measures dan kebutuhan khusus negara terbelakang (Article 4.8 and 4.9).
Fokus utama baik COP/MOP 12 dan COP 2 adalah aksi jangka panjang terhadap
perubahan iklim dan pengembangan kerangka kerja aksi setelah “periode komitmen pertama” Protokol Kyoto berakhir pada 2012. Pendekatan “multi-track”
terhadap isu ini yang disepakati pada COP11 and COP/MOP 1 dilanjutkan di
Nairobi.
Isu tentang pengurangan deforestasi di Negara berkembang (reducing deforestation in developing countries) pertama kali disampaikan pada sesi pleno COP pada
tanggal 7 November dan dibahas pada contact group meetings, konsultasi informal dan pertemuan kelompok drafting, diketuai oleh Audun Rosland (Norway)
dan Hernán Carlino (Argentina). Para pihak segera menyetujui diadakannya
workshop ke dua tentang insentif positif untuk mengurangi emisi dari deforestasi
sebelum SBSTA 26.
COP 13
COP 13 diselenggarakan di Bali pada tanggal 3 sampai 15 Desember 2007. Acara
ini diikuti oleh 10,800 peserta, termasuk diantaranya lebih dari 3500 delegasi
pemerintah, 5800 perwakilan dari badan-badan PBB, organisasi antara pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat, serta sekitar 1500 anggota media yang
terakreditasi. Konferensi ini juga berfungsi sebagai Meeting of the Parties to the
Kyoto Protocol ke tiga (COP/MOP3). Presiden COP 13 adalah Rachmat Witoelar,
Menteri Lingkungn Hidup Republik Indonesia.
Topik utama yang dibahas dalam COP 13 adalah kerjasama jangka panjang dan
periode pasca 2012, ketika periode komitmen pertama Protokol Kyoto berakhir.
34
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Hal penting yang dihasilkan dalam COP 13 adalah:
Bali Action Plan, yang diantaranya berisi:
• REDD sebagai salah satu aksi mitigasi nasional/internasional yang perlu
ditingkatkan
• Jadwal pertemuan the Ad Hoc Working Group on Long-term Cooperative Action
under the Convention pada tahun 2008
Keputusan COP-13 tentang REDD :
• Keputusan penting yang disepakati dalam COP 13 adalah tentang pendekatan kebijakan dan positive incentive untuk REDD, yang terkait dengan:
• Pilot/demonstration activities,
• Capacity building & technology transfer,
• Indicative guidance untuk Pilot/demonstration activities.
Indicative guidance untuk REDD pilot/demonstration activities merupakan panduan
umum dalam pelaksanaan demonstration activities di negara berkembang yang
berisi:
1. Demonstration activities harus mendapat persetujuan host Party/ Pemerintah,
2. Penghitungan pengurangan /peningkatan emisi harus sesuai hasil,
terukur, tranparan, dapat diverifikasi, dan konsisten sepanjang waktu,
3. Pelaporan menggunakan panduan pelaporan/reporting guidelines (Good
Practice Guidance for Land Use, Land-Use Change and Forestry) sebagai dasar
penghitungan dan monitoring emisi,
4. Pengurangan emisi dari national demonstration activities dievaluasi berdasar
emisi deforestasi dan degradasi nasional,
5. Subnational demonstration activities dievaluasi dalam batas kegiatan tersebut, termasuk evaluasi terhadap pengalihan emisi (displacement of emission
atau kebocoran/leakage ) sebagai dampak dari kegiatan dimaksud,
6. Pengurangan /peningkatan emisi demonstration activity didasarkan pada
emisi di masa lampau, dengan memperhatikan kondisi masing-masing
negara,
7. Pemakaian pendekatan subnational harus merupakan suatu langkah
menuju pendekatan nasional reference levels/baseline dan estimasi pengurangan emisi,
8. Demonstration activities harus konsisten dengan provisi di bawah United
Nations Forum on Forests (UNFF), United Nations Convention to Combat
Desertification (UNCCD), dan United Nations Convention on Biological
Diversity (UNCBD),
9. Pengalaman dari implementasi demonstration activities dilaporkan dan
tersedia melalui Web platform;
10. Pelaporan demonstration activities berisi tentang deskripsi kegiatan, efektivitas, dan informasi lain yang relevan,
11. Dianjurkan menggunakan independent expert review.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
35
Reducing Emisions from degradasi dan deforestasi (REDD)
Reducing Emisions from degradasi dan deforestasi merupakan isu terbaru
dalam pembahasan isu perubahan iklim. Indonesia telah berpartisipasi aktif
dalam proses pembahasan dalam pertemuan para pihak COP sejak isu ini
dimasukkan dalam agenda COP yaitu COP-11 di Montreal tahun 2005.
Pada saat ini ada lima opsi kebijakan internasional terkait dengan REDD, yaitu:
1. Sistem kredit karbon sebagai kelanjutan dari Protokol Kyoto (compliance
market),yang pelaksanaannya berbasis proyek atau wilayah geografis (nasional atau sub-nasional)
2. Sistem kredit karbon REDD yang diatur dalam protokol tersendiri di bawah
UNFCCC
3. Mekanisme kompensasi REDD yang berbasis pendanaan bukan pasar
(sama seperti GEF) dan
4. Sistem pendanaan berbasis pasar sukarela (voluntary market)
5. Sistem kredit karbon REDD yang mengikuti kerangka UNFCCC dengan
model pelaporan yang sudah diadop oleh negara Annex 1.
Dari semua ini, opsi yang dianggap paling bermanfaat bagi negara berkembang
ialah opsi REDD yang berbasis pasar dengan aturan yang mengikat (compliance
rules) sebagai kelanjutan dari Protokol Kyoto atau melalui protokol tersendiri
di bawah UNFCCC yang pelaksanaannya tidak berbasis proyek tetapi pada
tingkat wilayah geoprafis tertentu (nationl atau sub-nasional).
Pertimbangannya ialah opsi ini akan menjamin pasar REDD yang tinggi karena
kredit yang dihasilkan dapat digunakan oleh negara pemberi kompensasi untuk
memenuhi dari target penurunan emisi dan masalah kebocoran karbon dapat
diatasi. Sudah barang tentu besar pasar REDD melalui opsi ini akan sangat ditentukan oleh target penurunan emisi yang ditetapkan bagi negara maju setelah/
pasca Kyoto, jumlah negara yang ikut menetapkan target penurunan emisi dan
kecendrungan besar penurunan emisi dari pelaksanaan proyek CDM dari sektor
energi.
Besar pendapatan negara dari kegiatan REDD akan ditentukan oleh besarnya
volume penurunan emisi yang dicapai dan dijual oleh negara tersebut serta
kemampuannya untuk menjamin pembeli bahwa penurunan emisi yang terjadi
bersifat nyata (additional) dan memberikan dampak positif terhadap kondisi
sosial dan lingkungan.
Hal ini sangat terkait pada tingkat kemampuan pengelolaan hutan oleh daerah
dan nasional sehingga dapat menjaminan dan membangun kepercayaan negara
pembeli terhadap negara penjual kredit tentang kualitas dari kredit yang REDD
yang akan dihasilkan.
36
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Contoh-contoh keberhasilan tentang pelaksanaan pengelolaan hutan secara
lestari perlu diungkapkan secara internasional untuk membangun kepercayaan
internasional terhadap kemampuan Indonesia untuk melaksanakan REDD.
Apapun keputusan yang dipilih berkaitan dengan REDD, efektifitas dan keberlanjutan dari pelaksanaan REDD baik di tingkat nasional maupun internasional akan sangat bergantung pada apakah sistem pembayaran dapat dilakukan
secara adil dan transparan kepada yang berhak atau pihak yang terkait langsung
dalam melaksanakan upaya perlindungan dan pencegahan kerusakan hutan
dan lahan gambut.
Dana kompensasi juga harus cukup tinggi dan dapat mendorong keberlanjutan
upaya REDD. Isu penting berkaitan dengan REDD ialah sejauh mana kemampuan dari sistem pemerintahan yang ada dapat menjamin pelaksanaan REDD
memiliki dampak sosial yang positif, bukan justru hanya memberikan manfaat
bagi pihak-pihak tertenetu yang selama ini memanfaatkan keuntungan dari kegiatan eksploitasi hutan dengan memanfaatkan ketidakberdayaan masyarakat.
COP 14
Pertemuan para pihak ke 14 mengenai perubahan iklim akan dilaksnakan pada
tanggal 1-2 Desember 2008 di Poznan, Polandia. Pertemuan tersebut bermaksud
memberikan desempatan dan menggambarkan kemajuan-kemajuan bersama
yang diperoleh selama tahun 2008 dan akan melanjutkan diskusi serta negosiasi mengenai perubahan iklim selanjutnya pada tahun 2009 di Copenhagen,
Denmark. Harapan-harapan yang ingin dicapai oleh para pihak dalam pertemuan di Poznan hádala sebagai berikut:
Menyepakati rencana aksi dan program kerja untuk tahun terakhir negosiasi
setelah satu tahun pembahasan-pembahasan yang lengkap dan luas mengenai
isu-isu penting yang berhubungan dengan komitmen-komitmen, tindakantindakan dan kerjasama yang akan datang,
Membuat kemajuan-kemajuan yang nyata pada sejumlah isu yang sedang
berjalan yang membutuhkan implementasi lebih jauh pada masa datang dari
konvensi dan Kyoto Protocol,
Memajukan pemahaman dan kesamaan pandangan pada pembagian visi (shared
vision) bagi rejim perubahan iklim baru,
Memperkuat momentum dan komitmen pada proses dan batas waktu yang
ditetapkan.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
37
Isu penting yang akan dibahas pada COP 14 adalah mengenai capacity building
pada negara berkembang, REDD, transfer technology dan adaptasi. Pertemuanpertemuan pendahuluan sebelum pelaksanaan COP 14 telah dilaksanakan,
yaitu di Bangkok, Bonn dan Accra.
Pertemuan di Bangkok
Pertemuan Bangkok Climate Change Talks dilaksanakan pada tanggal 31 Maret – 4
April 2008 di Bangkok Thailand dan diikuti oleh 162 negara. Bangkok Climate
Change Talks merupakan sesi pertama dalam Ad Hoc Working Group on Long
Term Cooperative Action (AWG-LCA 1). Pada pertemuan tersebut, kesepakatan
yang dicapai adalah sebuah program kerja dimana struktur negosiasi mengenai
kesepakatan internasional perubahan iklim pada jangka panjang akan diletakan
dalam kerangka pertemuan COP 15 di Kopenhagen Denmark. Selain itu dalam
pertemuan tersebut juga memberikan tanda-tanda yang jelas mengenai penggunaan mekanisme pasar, seperti Mekanisme Pembangunan Bersih Protokol
Kyoto (CDM), untuk dilanjutkan dan diperbaiki oleh negara maju agar mencapai target-target pengurangan emisi.
Isu penting yang dibahas dalam pertemuan Bangkok adalah mengenai shared
vision dan peningkatan aksi mengenai mitigasi, adaptasi, teknologi dan pendanaannya.
Pertemuan di Bonn
Pertemuan Bonn Climate Change Talks dilaksanakan pada tanggal 2 – 12 Juni 2008
di Bonn Jerman. Pertemuan ini merupakan sesi ke-2 dari Ad Hoc Working Group
on Long Term Cooperative Action (AWG-LCA 2) yang diluncurkan di Bali. Dalam
pertemuan tersebut negosiasi perubahan iklim berkisar pada Kyoto Protocol’s
Market-Based Mechanism dan carbon sinks. SBI telah mempersiapkan review ke
dua mengenai Protokol Kyoto dibawah artikel 9 yang akan dilaksanakan pada
bulan Desember 2009, sedangkan SBSTA juga telah membuat beberapa kemajuan mengenai metodologi untuk pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi (REDD). Secara umum, pertemuan tersebut telah berhasil mengadopsi
30 kesimpulan dan empat draft keputusan dalam pertemuan selanjutnya.
SBSTA telah mengundang para pihak untuk mengirimkan pandangan mereka
mengenai isu-isu metodologi yang menonjol, yaitu: penilaian terhadap perubahan tutupan tajuk hutan dan hubungannya dengan cadangan karbon, serta
GRK, perubahan-perubahan tambahan dalam SFM, demonstrasi pengurangan
emisi dari deforestasi (REDD), tingkat referensi emisi (REL), pendugaan dan
demonstrasi REDD serta kriteria untuk mengevaluasinya. Negara-negara yang
diundang untuk mengirimkan pandangannya terdiri atas Canada, Kolombia,
Kosta Rica, Gabon mewakili kepentingan Kamerun, Republik Afrika Tengah,
38
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Kongo, Guinea Equitorial, Gabon dan Republik Demokratik Kongo, India, Indonesia, Jepang, Nepal, Paraguay mewakili kepentingan Argentina, Honduras,
Panama, Paraguay dan Peru, Slovenia mewakili Uni Eropa dan negara-negara
anggotanya, Sri Lanka, Swiss, Amerika Serikat dan Vanuatu.
Dalam pertemuan tersebut juga ditekankan tanggungjawab negara-negara industri untuk menunjukkan komitmennya pada target-target pengurangan emisi
baru dan komitmen jangka menengah mereka dalam penurunan emisi sekitar
25% - 40% pada tahun 2020.
Pertemuan di Accra
Pertemuan mengenai climate change talks berikutnya sebelum diadakannya COP
14 di Poznan Polandia dilaksanakan pada tanggal 21 – 27 Agustus 2008 di Accra,
Ghana. Pertemuan tersebut terdiri atas dua pertemuan paralel, yaitu Third
Session Ad Hoc Working Group on Long-Term Cooperative Action Under Convention
(AWG-LCA 3) dan The First Part of Sixth Session Ad Hoc Working Group on Further
Commitments For Annex I Parties Under The Kyoto Protocol (AWG-KP 6-1).
Dalam AWG-LCA ke-3 ini juga diselenggarakan dua sesi workshop mengenai
“Cooperative Sectoral Approaches and Sector-Specific Actions, in order to enhance
implementation of Article 4, paragraph 1 c, of the Convension” dan “Policy Approaches
and Positive Incentives on issues relating to reducing emissions from deforestation and
forest degradation in developing countries; and the role of conservation, sustainable
management of forest and enhancement of forest carbon stocks in developing countries”.
Mengenai sectoral approaches, negara-negara berkembang yang tergabung dalam
G77 + Cina memiliki pandangan bahwa cooperative sectoral approaches hanya
berkaitan dalam konteks enhancement implementation artikel 4.1.c dari Konvensi dengan lingkup promote and cooperate in the development and diffusion, including transfer of technologies khususnya untuk sektor-sektor yang relevan, misalnya
energi, transportasi, industri, pertanian, kehutanan dan pengelolaan limbah.
Negara-negara berkembang juga menekankan bahwa tidak akan menggunakan
pendekatan tersebut dalam mencapai target nasional pengurangan emisinya.
Isu-isu utama yang terkait dengan cooperative sectoral approaches tersebut terdiri
atas beberapa hal berikut:
1. Dapat digunakan sebagai climate change instrument dalam pemenuhan
tujuan Konvensi,
2. Diterapkannya prinsip Common but Differentiated Responsibility (CBDR)
dan RC
3. Digunakan dalam konteks pembangunan dengan mempertimbangkan
national circumstances
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
39
4. Merupakan climate change instrument pada pasar karbon global dan skema
perdagangan emisi
5. Tidak akan diterapkan sebagai uniform international antar negara.
Konsep sectoral approach ini pertama kali dikenalkan oleh Jepang sejak pertemuan Bangkok pada bulan April 2008 dan Bonn pada bulan Juni 2008 yang
lalu. Jepang menegaskan bahwa konsep tersebut tidak akan digunakan dalam
mencapai target nasional penurunan emisi para pihak, tidak akan membatasi
(barriers) perdagangan nasional, dan tetap berpegangan pada prinsip CBDR dan
RC. Namun selanjutnya, delegasi Jepang mengharapkan agar konsep tersebut
dapat dikembangkan menjadi status internasional technology benchmark dari
aktivitas sectoral approach.
Pada pertemuan Informal Working Group on Interim Financing of REDD di
Oslo bulan Mei tahun 2009 tercermin keinginan beberapa negara a.l. Brazil,
Papua Nugini, Equador, dan Costarica untuk memunculkan REDD plus (memasukkan unsur konservasi, carbon enhanchemen dan SFM) kedalam skema REDD.
Oleh karena itu Indonesia perlu menentukan posisi apakah mekanisme REDD
ini hanya akan dibatasi untuk reforestasi dan degradasi hutan saja, atau akan
memasukkan semuanya ke dalam wadah REDD. Penentuan posisi ini harus
segera dikeluarkan mengingat hasil pertemuan WG IFR ini akan dituangkan
dalam sebuah joint statement menjelang COP 15 di Copenhagen pada bulan
Desember 2009.
Dalam AWG-LCA ke-3 ini telah terbentuk 3 contact groups, yaitu:
1. Enhanced action on adaptation and its means of implementation,
2. Enhanced action on mitigation and its means of implementation,
3. Delivering of finance and technology including the consideration of institutional arrangement dan satu informal consultant untuk membahas work program 2009.
UNCCD
United Nations Convention to Combat Desertification
Latar Belakang
Dalam pertemuan di Rio de Janeiro tahun 1992 yang dikenal dengan pertemuan Bumi (Rio Earth Summit), United Nations Conference on Environment and
Development (UNCED) membahas bagaimana menanggulangi degradasi lahan
dan akhirnya merekomendasikan pembentukan konvensi penanggulangan
degradasi lahan. Konvensi terbentuk pada tanggal 26 Desember 1996 setelah
diratifikasi oleh 50 negara dengan nama The United Nations Convention to Combat
40
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Desertification in those Countries Experiencing Serious Drought and/or Desertification,
Particularly in Africa/UNCCD1. Saat ini telah 193 negara meratifikasi konvensi
tersebut. Pada awalnya, UNCCD dikhususkan bagi negara Afrika, namun pada
perkembangannya tidak terbatas hanya pada negara Afrika, karena lahan
kering dan permasalahan yang ditimbulkan akibat kerusakannya tidak hanya
di Afrika saja bahkan di negara maju seperti Eropa dengan terjadinya migrasi
besar-besaran.
Pemerintah Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut pada tanggal 28
Agustus 1998 dengan Keputusan Presiden No. 135/19982 tentang Pengesahan
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Memerangi Penggurunan di Negara-Negara yang Mengalami Kekeringan dan/atau Penggurunan yang Serius,
terutama di Afrika.
Misi pokok UNCCD adalah pendekatan dan teknik baru yang koordinatif
melalui pelaksanaan program aksi, penelitian termasuk bantuan internasional
untuk menanggulangi degradasi lahan.
Tujuannya adalah menanggulangi degradasi lahan dan mengurangi dampak
kekeringan melalui tindakan efektif pada semua tingkatan yang didukung
oleh kerjasama internasional dan pengaturan kemitraan dalam suatu kerangka
pendekatan yang integral dan konsisten dengan agenda 21, dengan suatu
pemikiran untuk tercapainya pembangunan berkelanjutan di kawasan yang
terkena masalah degradasi lahan
Untuk mencapai tujuan ini diperlukan strategi-strategi secara terpadu jangka
panjang yang secara simultan terfokus di kawasan yang terkena masalah, pada
peningkatan produktivitas tanah, rehabilitasi, konservasi dan pengelolaan
tanah dan air secara berkelanjutan, yang mengarah pada perbaikan kondisi
kehidupan, terutama pada tingkat masyarakat.
Merujuk pada Agenda 21 hasil KTT Bumi yang merupakan blueprint untuk aksi
pembangunan berkelanjutan global pada abad 21, Bab 12 tentang Managing
Fragile Ecosystems: Combating Desertification and Drought, diputuskan bahwa
lingkup program National Action Programme/NAP (Program Aksi Nasional)
yang relevan untuk Indonesia yaitu:
1. Mengintensifkan kegiatan konservasi tanah dan air;
2. Mengembangkan persiapan dan skema penanggulangan kekeringan;
3. Mendorong dan mengembangkan partisipasi masyarakat lokal serta
pendidikan lingkungan dalam rangka pengendalian degradasi lahan dan
dampak kekeringan.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
41
Convention On Biological Diversity – UNCBD
Kesadaran masyarakat internasional terhadap perlindungan Keanekaragaman
Hayati (KH) ditandai dengan pembentukan UN Convention on Biological Diversity
(UN-CBD) pada Konferensi PBB mengenai Lingkungan dan Pembangunan”,
Rio de Janeiro, Brazil, 1992.
UNCBD mulai resmi berlaku sejak 29 Januari 1993, dan saat ini jumlah penanda
tangan adalah 191 pihak. Indonesia telah meratifikasi UNCBD melalui UU No.
5 Tahun 1994
Tujuan dari Konvensi ini adalah :
a. Mempromosikan konservasi Biodiversitas (Biodiversities),
b. Pemanfaatan yang berkelanjutan dari komponen Biodiveristas, dan
c. Sharing yang adil dan equitable dari keuntungan yang timbul akibat penggunaan genetic material.
Pasal-pasal krusial dalam UNCBD :
Pasal 6
: Tindakan Umum Bagi Konservasi dan Pemanfaatan secara
Berkelanjutan
Setiap pihak dengan kondisi dan kemampuan khususnya wajib
mengembangkan Strategi Nasional dan Rencana Aksi
Pasal 7 : Identifikasi dan Pemantauan
Setiap pihak wajib mengidentifikasi dan memantau komponenkomponen keanekaragaman hayati, mengidentifikasi prosesproses dan kategori-kategori kegiatan yang berdampak merugikan terhadap keanekaragaman hayati
Pasal 8 : Konservasi In-situ
Konservasi keanekaragaman hayati in situ
Pasal 10
: Pemanfaatan secara berkelanjutan berkelanjutan komponenkomponen Keanekaragaman hayati
Pasal 11-14 : Upaya untuk meningkatkan konservasi dan pemanfaatan
berkelanjutan Dimana upaya-upaya dimaksud adalah tindakan
insentif, penelitian dan pelatihan, pendidikan dan kesadaran
masyarakat, pengkajian dampak dan pengurangan dampak
yang merugikan.
Pasal 15-21 : Benefit sharing ;Mencakup akses pada sumber daya genetis,
akses pada teknologi dan alih teknologi, pertukaran informasi,
kerjasama teknis dan ilmiah, penangan bioteknologi dan pembagian keuntungan, sumber dana, mekanisme pendanaan.
42
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Program Kerja Konvensi
COP telah menyusun program kerja yang dibagi menjadi tujuh thematic programmes, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
Keanekaragaman hayati Pesisir dan Laut,
Keanekaragaman hayati Pertanian,
Keanekaragaman hayati hutan,
Keanekaragaman hayati perairan darat, dan
Keanekaragaman hayati kawasan kering dan sub humid.
COP juga telah mengidentifikasi 17 cross-cutting issues (isu lintas tema dan lintas
sektor) yang diperlukan untuk mengimplementasikan ketentuan-ketentuan
substantive sesuai pasal Konvensi termasuk didalamnya adalah isu kawasan
lindung (Protected Areas).
3. Internalisasi di Indonesia
3.1 Ratifikasi
Dalam rangka internalisasi pada kebijakan pemerintah Indonesia maka ditunjuk Focal Point UNCCC di Indonesia adalah Kementrian Lingkungan Hidup.
Indonesia aktif merespon isu perubahan iklim sejak pertama kali diadopsinya
UNFCCC pada tahun 1992, yaitu dengan diterbitkannya peraturan-peraturan
mulai dari tingkat UU sampai dengan peraturan Menteri seperti:
1. Indonesia meratifikasi UNFCCC pada tahun 1994 dengan diundangkannya UU No.6/1994 tentang Perubahan Iklim. (Lembaran Negara Republik
Indonesia Republik Indonesia Tahun 1994 nomor 42, tambahan lembaran
negara RI nomor 3557)
2. Undang undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup (Lembaran Negara RI tahun 1997 nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 3699)
3. Protokol Kyoto disepakati pada tahun 1997, dan sudah diratifikasi pada
tahun 2004 dengan UU No.17 tahun 2004 tentang Ratifikasi Protokol Kyoto.
( Lembaran Negara RI tahun 2004 nomor 72, Tambahan lembaran Negara
RI nomor 4403)
4. Dan Menteri Kehutanan menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan
No.P.14/Menhut-II/2004 tentang Tata Cara Aforestasi dan Reforestasi dalam
kerangka Mekanisme Pembangunan Bersih sebagai sarana untuk memfasiltasi CDM sector kehutanan di Indonesia.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
43
5. Peraturan Presiden No.46 tahun 2008 tentang Dewan Nasional Perubahan
Iklim,
6. Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.13/menhut-II/2009 tanggal 12 Januari
2009 tentang Pembentukan kelompok Kerja perubahan Iklim lingkup Departemen Kehutanan.
7. Penerbitan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.30/Menhut-II/2009 tanggal
1 Mei 2009 tentang Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD).
8. Penerbitan Peraturan Menteri Kehutanan no. P.36/Menhut-II/2009 tanggal
22 Mei 2009 tentang Tata Cara Perizinan Usaha Pemanfaatan Penyerapan
dan/atau Penyimpanan Karbon Pada Hutan Produksi dan Hutan Lindung.
3.2 Manfaat bagi Indonesia
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan luas hutan yang cukup luas memiliki posisi yang strategis dalam konvensi perubahan iklim. Beberapa manfaat
yang dapat diambil oleh Indonesia dalam kaitannya dengan perubahan iklim,
yaitu:
1. Mempromosikan penggunaan hutan untuk meningkatkan penyerapan
karbon.
2. Membangun kebijakan untuk mendorong penggunaan energi terbarukan
dan efisiensi energi.
3. Mendorong pemerintah daerah untuk bekerja sama dengan organisasi
sejenis di tingkat internasional dalam kaitannya dengan perubahan iklim.
4. Mendorong pembangunan hutan rakyat dan pengelolaan hutan lestari.
4. Kerjasama Internasional
Indonesia menganggap penting bahwa negara berkembang perlu segera mempersiapkan diri terhadap kemungkinan bencana terkait iklim (badai tropis,
banjir, kekeringan, longsor, kesehatan dll) yang akan makin sering terjadi dengan
resiko yang makin besar akibat terjadinya perubahan iklim. Negara berkembang
akan menerima dampak terbesar meskipun kontribusinya terhadap emisi gas
rumah kaca (GHGs) paling kecil. Negara berkembang dengan sumberdayanya
sendiri tidak akan mampu melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Mitigasi adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mencegah atau
mengurangi laju perubahan iklim, sedangkan adaptasi adalah kegiatan dalam
rangka antisipasi menghadapi perubahan iklim.
Peran hutan dalam stabilisasi iklim dan sebagai sistem penyangga kehidupan
belum memperoleh penilaian yang memadai dari sisi finansial baik di dalam
44
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
mekanisme yang tersedia di bawah konvensi perubahan iklim maupun dalam
sistem pasar terhadap produk dan jasa hutan. Contoh a) A/R CDM : prosedur
dan metodologinya kompleks, b) sertifikasi terhadap produk hutan belum
memberikan insentif yang memadai antara SFM dan non SFM. Bagi negara
produsen sertifikasi produk hutan lebih merupakan non-tariff barrier daripada
insentif pasar.
Diperlukan kebijakan internasional seluas mungkin untuk mendorong negara
berkembang melakukan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi
hutan untuk memberikan kontribusi yang significant terhadap stabilisasi GHGs
di atmosir.
Selain itu, upaya pengurangan emisi dari deforestasi juga memerlukan pendekatan internasional yang tidak akan mengancam pembangunan ekonomi negara
yang bersangkutan dan kehidupan masyarakat lokalnya. Selain itu, upaya pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi perlu insentif yang setara dengan
opportunity costs dari penggunaan lahan/hutan tersebut.
Saat ini sudah ada inisiatif pelaksanaan proyek REDD sebelum kesepakatan
internasional berkaitan dengan post Kyoto dicapai. Diantaranya ialah:
• Pilot proyek yang dilaksanakan oleh negara berkembang sebelum mekanisme REDD diterima secara formal.
• Organisasi atau sektor swasta yang independent yang melakukan kegiatan
REDD melalui pasar karbon sukarela
Jenis-jenis kerjasama yang saat ini telah terlaksana adalah:
4.1 Kerjasama dengan Pemerintah Jerman
1. Berdasarakan hasil G to G negosiasi di Bonn, Jerman tanggal 1-2 Oktober
2007, kegiatan kehutanan termasuk pada bidang kerjasama prioritas baru
pemerintah Jerman, yaitu bidang Perubahan Iklim dengan tema utama
(mainstreaming)-nya kehutanan. Terdapat 5 Kegiatan baru pada bidang
ini yang meliputi 3 usulan Dep. Kehutanan dan 2 usulan dari KLH. Porsi
bantuan kehutanan disepakati sejumlah 26 Juta Euro (20 juta bantuan
keuangan dan 6 juta bantuan teknik) dari 35 juta Euro atau sekitar 74 % dari
bantuan bidang perubahan iklim.
2. Kerjasama Indonesia dengan Jerman baru yang sudah commited atau sudah
ada dalam summary record G to G negotiation yang telah ditandatangani
kedua belah pihak pada tanggal 1-2 Oktober 2007 di Bonn Jerman disepakati pendanaan kehutanan sejumlah 26 juta Euro terbagi dalam skema
kerjasama keuangan (Financial Cooperation / FC) dan kerjasama bantuan
teknik (Technical cooperation/ TC).
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
45
3. Skema FC untuk kegiatan forestry and climate change `Reducing emissions from
forest areas` dengan tujuan demonstration activities REDD mendapat alokasi
dana 20 juta Euro, sedangkan skema TC berupa bantuan teknik adalah
untuk kegiatan Penyempurnaan Rencana Strategi Kehutanan terkait REDD
dengan alokasi dana 3,5 juta Euro dan dukungan Implementasi Heart of
Borneo untuk pemerintah Indonesia dengan alokasi dana 2,5 juta Euro.
4.2 Kerjasama dengan Pemerintah Inggris
1. Arrangement antara Pemerintah Inggris dengan Departemen Kehutanan
‘Cooperation to Support Forest Governance and Multistakeholders Forestry Programme’ telah ditandatangani pada tanggal 11 Oktober 2007 oleh Sekretaris
Jenderal.
2. Tujuan kerjasama ini adalah dukungan terhadap proses dan implementasi
Voluntary Partnership Agreement (VPA), Forest Governance dan Multistakeholders Forestry Programme (MFP), ditambah dengan penjajakan peluang
kerjasama dibidang Reducing Emission from Deforestation and Degradation
(REDD).
3. Jumlah dana awal sebesar 5 Juta Poundsterling, dengan jangka waktu 3 (tiga)
tahun (2007 – 2010), sedangkan pelaksana kegiatan secara administrasi akan
dilakukan oleh Service Provider.
4.3 Kerjasama dengan Pemerintah Australia
1. Dibawah Program Global Initiative Forests and Climate (GIFC) Pemerintah
Australia telah menandatangani Subsiadiary Arrangement dengan pemerintah Indonesia pada tanggal 3 oktober 2007 di Jakarta.
2. Jumlah dana sebesar 40 juta US $ yang terdiri dari Indonesia Australisa
Forest carbon partnership (IAFCP) sejumlah 10 juta US $ untuk initial
support dan 30 juta US $ untuk Kalimantan Forest Climate partnership.
3. Jangka waktu 5 (lima ) tahun (2007 – 2012).
4.4 Kerjasama dengan Pemerintah Korea
1. Memorandum of Understanding antara pemerintah Korea dan pemerintah
Indonesia di bidang Climate Change telah ditandatangani pada tanggal 25
Juli 2007.
2. Kerjasama di bidang Adaptation and Mitigation of climate Change in Forestry Through Afforestation Clean Development mechanism (A/R CDM)
and Other related mechanism.
3. Jumlah dana sebesar 5 juta US $ dengan jangka waktu 5 tahun (2009-2012.
46
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
INISIATIF DAERAH/ KERJASAMA DAERAH DENGAN SKEMA
VOLUNTARY CARBON MARKET (Pasar Karbon Sukarela).
Skema pencegahan Deforestasi di Aceh
Skema perdagangan karbon yang pertama di Indonesia akan dibangun di Aceh.
Diumumkan di awal Pebruari, skema tersebut bertujuan untuk melindungi
750.000 Ha Hutan di Aceh Utara dari penebangan hutan dan pembukaan lahan
perkebunan kelapa sawit. Sekitar 130.000 orang tinggal di dalam dan di sekitar
Ekosistem Ulu Masen. Proyek merupakan kerjasama antara Pemerintah Provinsi
Aceh, Organisasi Konservasi Flora dan Fauna International dan sebuah perusahaan Australia, Carbon Conservation. Proyek tersebut telah mendapat sumber
dana senilai US $ 9 juta dari Bank AS, Merril Lynch.
Skema dimaksud telah mendapat sertifikasi dari Climate, Community and
Biodiversity Alliance (CCBA)-proyek pertama yang akan dijamin oleh sebuah
badan yang berkedudukan di AS yang mencakup sejumlah Ornop Konservasi
dan Perusahaan seperti Intel dan Weyerhauser. Proyek itu akan menjual kredit
karbon ke pasar karbon sukarela dan akan mendapat keuntungan dari pasar
karbon baru pasca 2012 yang kemungkinan akan disetujui dalam konferensi
UNFCCC di Kopenhagen tahun depan.
Carbon Conservation (CC) telah membantu meyakinkan Gubernur Aceh dan
Papua akan masa depan yang cerah dari pasar karbon hutan. Tahun lalu, Gubernur Aceh mengumumkan penundaan (Moratorium) logging untuk hutan-hutan
Aceh yang semakin kritis. Salah satu pelanggan CC di pasar karbon adalah perusahaan pertambangan internasional Rio Tinto yang berkedudukan di Inggris.
Proyek Ulu Masen berencana untuk mengurangi penebangan hutan sebesar 85%
dan untuk menggalang kredit karbon senilai US $ 16,5 juta. Proyek diharapkan
dapat menggalang US $ 432 juta selama 30 tahun mendatang. Penduduk desa setempat yang dapat membuktikan bahwa hutannya tidak ditebang diperkirakan
akan mendapat US $ 26 juta untuk lima tahun pertama. Kawasan proyek akan
dipantau oleh pengawas kehutanan dan melalui citra satelit.
FFI mengklaim bahwa para pemangku kepentingan akan diajak berkonsultansi
dalam rancangan dan implementasi proyek, termasuk para pemimpin komunitas tradisional (mukim). Catatan rancangan proyek menyatakan bahwa seluruh
keuntungan akan dibagikan secara adil diantara seluruh pemangku kepentingan, termasuk komunitas yang hidupnya bergantung pada hutan dan mereka
yang mempunyai hak adat atas tanah hutan.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
47
Skema pencegahan Deforestasi di Papua
Sementara itu di Papua, pada bulan Mei 2008, Gubernur Papua Barnabas Suebu
menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Emerald Planet serta mitranya dari Australia, New Forest Asset Management (NFAM), untuk menjajaki
potensi perdagangan karbon di Papua. NFAM mengatakan bahwa pihaknya
akan menanam investasi US $ 10 juta untuk mengadakan penelitian di Mimika,
Mamberamo dan Merauke dan jumlah cadangan karbon di tiga kabupaten
tersebut akan diumumkan pada akhir tahun. Suebu mengatakan bahwa dari 13,5
juta hektar hutan Papua, 50% adalah untuk konservasi, 20% untuk produksi dan
30% untuk diubah antara lain menjadi perkebunan dan pertanian. Meskipun
demikian, penebangan hutan yang merusak dan penyelundupan kayu masih
merajalela.
(Endnotes)
1
http://www.unccd.int/
2
http://www.unmit.org/legal/IndonesianLaw/keppres/k1998135.htm
48
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
BAB 3
Mekanisme dan Peluang dalam Perdagangan
Karbon Hutan
Ruang lingkup dan sasaran materi:
Dalam materi ini disampaikan penjelasan mengenai pengertian perdagangan
karbon, pendanaan karbon, offset karbon, pasar karbon (pasar regulatory dan
pasar sukarela), perkembangan pasar karbon khususnya yang terkait dengan
sektor hutan, cara memasarkan kredit karbón, proses dan persiapan dalam
perdagangan karbon, persyaratan proyek dan prosedur dalam memanfaatkan
pasar karbon, peluang masyarakat dalam memanfaatkan perdagangan karbon.
Dengan mengetahui apa dan bagaimana mekanisme perdagangan karbon, diharapkan masyarakat luas dapat memahami tentang perdagangan karbon dan
memanfaatkan peluang dalam perdagangan dan pendanaan karbon hutan.
Topik dan materi bahasan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Apa yang dimaksud dengan pendanaan dan perdagangan karbon.
Offset karbon dan perannya dalam perdagangan karbon
Pasar karbon apa saja yang telah ada? (Pasar regulatory dan Pasar sukarela)
Bagaimana perkembangan pasar karbon regulatory
Bagaimana perkembangan pasar karbon sukarela
Bagaimana memasarkan kredit carbón dari offset hutan
Bagaimana proses dan persiapan dalam perdagangan karbon di pasar
sukarela
8. Bagaimana persyaratan proyek dan prosedur dalam pasar karbon sukarela
9. Peran masyarakat dalam memanfaatkan perdagangan karbon khususnya
pasar karbon sukarela.
Manfaat setelah mengikuti sosialisasi materi ini dapat:
1. Memahami pendanaan dan perdagangan karbon
2. Memahami dan menjelaskan jenis-jenis pasar karbon yang ada yaitu pasar
regulatory dan pasar voluntary
3. Memahami proses persiapan dalam memasuki pasar karbon
4. Memahami persyaratan proyek dan prosedur dalam pasar karbon voluntary
5. Memahami peluang yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam perdagangan karbon
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
49
1. Penjelasan umum perdagangan karbon hutan
Perubahan iklim telah memberi dampak antara lain pada perubahan pola hujan,
perubahan pola tanam, naiknya permukaan air laut, penyebaran penyakit, peningkatan suhu bumi. Berbagai konvensi yang terkait dengan perubahan iklim
telah digelar untuk membahas isu pengurangan emisi gas rumah kaca. Salah
satu solusi yang ditawarkan adalah pemberian insentif untuk Negara pemilik
hutan, termasuk masyarakat tentunya, melalui pendanaan karbon dan perdagangan karbon.
Berdasarkan berbagai data dan informasi dapat disimpulkan bahwa penyebab
utama dari emisi karbon adalah pembakaran fossil fuel pada sektor energi,
transportasi, tambang sebesar + 80%, sedangkan emisi karbon akibat deforestasi
dan degradasi hutan sebesar + 20%. Hutan yang ditumbuhi pepohonan dapat
berperan sebagai “obat” untuk mengurangi emisi karbon (CO2) karena selama
pohon tumbuh akan menyerap karbon dan sekitar + 50% dari biomasa pohon
adalah stok karbon yang dapat disimpan selamanya sepanjang tidak terbakar
atau lapuk (terdekompisisi).
Memelihara bumi adalah tanggung jawab bersama semua Negara dan masyarakat di dunia, namun harus berdasarkan prinsip “common but differentiated
responsibilities”, yaitu semua negara memiliki tanggung jawab yang sama,
namun secara khusus dibedakan sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena
itu, negara yang mempunyai kemampuan ekonomi yang lebih, apalagi yang
telah menyumbangkan emisi karbon dalam jumlah besar, tentunya harus memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pemeliharaan dan penyelamatan
bumi. Negara-negara tersebut melalui kesepakatan global untuk mengatasi
perubahan iklim, yaitu Protokol Kyoto, telah setuju untuk memenuhi kewajiban
yang telah diatur dalam penanganan perubahan iklim dengan memberikan
dananya diantaranya melalui pendanaan karbon.
Perdagangan karbon merupakan bagian dari mekanisme penyelamatan bumi
dari ancaman pemanasan global. Kandungan karbon mesti tetap terjaga di perut
bumi agar tak menguap ke angkasa, mendidihkan suhu alam semesta, melelehkan es di kutub. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui
kontribusi emisi karbon dari masing-masing sektor, dapat diketahui bahwa
emisi dari sektor kehutanan adalah sebesar 17-18%. Selengkapnya dijelaskan di
Bab I dan Bab IV.
1.1 Apa yang dimaksud dengan pasar karbon?
Pasar karbon adalah sebuah pasar yang menjual sertifikasi penurunan emisi
karbon yang didasari oleh komitmen moral dan formal untuk mengurangi
emisi, terikat oleh sebuah kredibilitas sertifikasi. Biaya transaksi bisa menjadi
tinggi, karena sertifikasi memerlukan penilaian penurunan emisi karbon.
50
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Pasar karbon dihasilkan dari sistem “cap-and-trade”. Pemerintah membangun
system “cap-and-trade” untuk mencapai pengurangan polutan dengan biaya
yang rendah untuk masyarakat daripada peraturan yang berupa perintah dan
pengawasan selama ini. Pasar karbon didasarkan pada premis bahwa perusahaan tertentu akan dapat mengurangi GRK dengan harga yang lebih rendah
dibadingkan yang lain. Jika perusahaan tersebut dapat menjual kelebihan
pengurangan emisi kepada perusahaan lain, semua biaya yang terkait dengan
system ini akan menjadi lebih rendah.
Bagian pertama dari system ini adalah apa yang disebut dengan “cap” yang
merupakan batas emisi karbon yang diperkenankan untuk suatu entitas. Pemerintah akan menentukan batas jumlah GRK yang diemisi setiap tahun. Batas ini
biasanya menurun setiap tahun berikutnya. Pemerintah kemudian menetapkan
jumlah “cap” yang diperkenankan tiap tahun yang berupa kuota. Pada setiap
jumlah yang diperkenankan tersebut memperbolehkan suatu entitas untuk
mengemisi satu ton CO2 pada tahun tersebut. Entitas yang mampu mengemisi karbon kurang dari kuota ”cap”nya dapat menjual kelebihan kuota tersebut
kepada emiter yang memerlukan ekstra karbon untuk memenuhi kuotanya.
Lembaga Pemerintah yang akan bertindak sebagai bankir (pelaksana) lelang
emisi tersebut (bahkan kadang-kadang diberikan cuma-cuma). Sumber-sumber
emisi utama, seperti pabrik dan industri besar, serta industri perminyakan yang
menghasilkan BBM dan panas, harus mencatat emisi yang dikeluarkan setiap
tahun berjalan. Pada akhir tahun, mereka harus melaporkan kepada Pemerintah
satu satuan jumlah emisi untuk tiap satu ton emisi yang dihasilkan.
Selanjutnya ada yang bagian yang disebut dengan perdagangan pasar. Perusahaan akan memilih cara yang paling efektif untuk memenuhi persyaratan
dalam pengurangan emisinya. Pada umumnya, mereka akan mengurangi emisi
sampai dengan titik dimana dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk
membeli kuota emisi yang diperkenankan daripada melakukan pengurangan
emisi selanjutnya. Selanjutnya, mereka akan membeli kuota dari perusahaan
lain yang dapat mengurangi emisinya dibawah persayaratan yang ditentukan.
Harga karbon dari kelebihan kuota tersebut akan ditentukan oleh permintaan
dan penawaran di pasar.
1.2 Apa perbedaan antara pendanaan dan perdagangan karbon?
Pendanaan karbon berkaitan dengan kewajiban negara-negara Annex 1 untuk
menyediakan pendanaan sebagai kompensasi dalam upaya penurunan emisi
Gas Rumah Kaca (GRK) yang diatur dalam Protokol Kyoto. Kompensasi ini
diberikan melalui komitmen negara-negara tersebut untuk menyalurkan pendanaan dalam program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim baik secara bilateral
maupun unilateral.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
51
Beberapa komitmen negara-negara Annex 1 dalam pendanaan karbon hutan
dituangkan dalam bentuk pengelolaan dana melalui :
• World Bank’s Forest Carbon Partnership Facility, didukung oleh beberapa
donor international, dengan anggaran yang diusulkan sebesar US$300 juta
dimana sebesar US$170 million telah dialokasikan.
• World Bank’s Strategic Climate Fund, dengan komitmen pembiayaan dari
kelompok Negara-negara G8 dan mencakup Forest Investment Programme
(Program Investasi Hutan).
• Norway Forest Fund, dengan komitmen sebesar US$2.8 juta untuk selama 5
tahun sejak 2008.
• Congo Basin Fund, didukung oleh Norwegia dan Inggris, dengan pendanaan
sebesar US$195 juta.
• Japanese Government’s Cool Earth Partnership dirancang untuk mendukung
program adaptasi perubahan iklim dan akses untuk energi bersih, dengan
perhatian pada sector kehutanan, alokasi anggaran US$2 miliar per tahun
dari total anggaran US$10 miliar.
• Australian Deforestation Fund, ditujukan untuk mengurangi deforestasi di
wilayah Asia Tenggara, dengan anggaran AUS$ 200 juta.
• Komitmen pendanaan sebesar € 500 juta dari Jerman untuk keragaman
hayati.
• Usulan the European Commission untuk membentuk mekanisme Pendanaan
Iklim Global, sebagian untuk pendanaan hutan tropis.
• Brazil’s Fund untuk perlindungan hutan huan tropis Amazon telah menerima komitmen pendanaan awal sebesar US$130 juta dari Norwegia (diambil
dari the Norwegian Forest Fund).
Adapun perdagangan karbon terjadi pada pasar karbon yang lebih bersifat
sukarela, dimana terdapat pembeli, penjual, produk dan kesepakatan antara
pembeli dan penjual. Perdagangan karbon ini dilakukan melalui pasar saham
yang menjual komoditi karbon. Beberapa pasar saham tersebut antara lain
Chicago Climate Exchange (CCX), Australian Climate Exchange (ACX).
2. Bagaimana Mekanisme Pendanaan dan Perdagangan Karbon?
Mekanisme pendanaan karbon diawali dengan adanya upaya untuk mengatur
pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang diatur melalui perjanjian
internasional untuk mengurangi emisi GRK global sebagaimana tertuang dalam
Protokol Kyoto. Berdasarkan perjanjian tersebut, Negara-negara maju yang
meratifikasi protocol ini wajib untuk menurunkan emisi GRK-nya sesuai target
masing-masing yang telah ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama.
Protokol Kyoto disepakati pada tanggal 12 Desember 1997 setelah Konvensi
Perubahan Iklim menegosiasikan upaya pengurangan emisi GRK oleh Negaranegara yang meratifikasi konvensi tersebut.
52
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Melalui Protokol Kyoto, negara-negara maju yang sering disebut sebagai Negara-negara ANNEX I wajib mengurangi emisi GRK-nya rata-rata sebesar 5,2%
dari tingkat emisi tersebut pada tahun 1990. Dalam upaya mengurangi emisi
diperlukan acuan atau baseline untuk menghitung emisi GRK, dan tahun 1990
ditetapkan sebagai baseline perhitungannya. Negara-negara selain ANNEX I
yang disebut Negara-negara non-ANNEX I tidak diwajibkan untuk menurunkan
emisi GRK-nya tetapi mekanisme partisipasi untuk pengurangan emisi tersebut
terdapat didalam Protokol Kyoto yang dikenal dengan prinsip “common but differentiated responsibilities”, yaitu semua negara memiliki tanggung jawab yang
sama, namun secara khusus dibedakan sesuai dengan kemampuannya. Protokol
Kyoto mengatur semua ketentuan tersebut selama periode komitmen pertama
dari tahun 2008 sampai dengan 2012.
Melalui Global Forest Alliance (GFA) dan Forest Carbon Partnership Facility
(FCPF) yang dibentuk oleh Bank Dunia disalurkan pendanaan karbon untuk
mengurangi emisi dari deforestasi yang dikenal dengan Reducing Emission from
Deforestation and Forest Degradation (REDD). Mekanisme yang dibangun untuk
membantu negara-negara yang melaksanakan REDD adalah:
• Mekanisme ”readiness”, yang akan menyediakan bantuan teknis, alih tekonologi dan bantuan finansial untuk negara-negara dalam menyiapkan perhitungan stok karbon hutan secara nasional, sumber-sumber emisi hutan,
biaya peluang (opportunity costs) untuk pelaksanaan REDD, dan untuk
merancang strategi REDD yang mempertimbangkan prioritas dan kendala
yang dihadapi.
• Mekanisme pendanaan carbon, yang akan memberikan pembayaran kepada
negara-negara yang mampu menurunkan emisi kabon melalui pelaksanaan
REDD. Pembayaran ini digunakan untuk membiayai program-program
pengelolaan dan konservasi hutan, termasuk reformasi kebijakan, penanggulangan dan pencegahan kebakaran hutan, insentif untuk petani hutan,
masyarakat atau organisasi yang mencegah konversi hutan menjadi lahan
pertanian.
Selain itu, mekanisme perdagangan karbon dapat dilakukan melalui offset
karbon. Adapun yang dimaksud dengan offset adalah pengurangan emisi yang
disertifikasi (Certified Emission Reduction) yang diperoleh diluar sector yang telah
diatur. Perusahaan yang diatur oleh system “cap-and-trade” kadang diperbolehkan untuk memberikan “offset” yang mencakup emisinya sebagai pengganti
batas emisi yang dibuat oleh “cap”. Offset dapat diterbitkan untuk kegiatankegiatan yang berorientasi pada konservasi seperti penanaman pohon di areal
yang sebelumnya berhutan (reforestasi), pengurangan emisi dari deforestasi,
manajamen hutan yang lebih baik, dan perubahan-perubahan lainnya dalam
praktek-praktek pengelolaan lahan seperti konservasi tanah garapan, serta
proyek-proyek non-konservasi seperti penangkaran dan pembakaran metan
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
53
dari pengolahan lahan, tambang batubara, dan manajemen pupuk di lahan
pertanian. Kegiatan-kegiatan yang dapat diukur pengurangan emisinya dari
sektor-sektor tersebut berhak untuk menjual kredit offset.
Beberapa keuntungan diperbolehkannya kredit offset dalam perdagangan
karbon adalah:
• Offset mempromosikan kegiatan pengurangan emisi pada sektor-sektor
yang tidak dicakup oleh “cap”. Tanpa offset, akan terjadi insentif terbatas
untuk mengurangi emisi dari sektor-sektor ini.
• Offset dapat mengurangi semua biaya wajib, sehingga dapat mendorong
lebih egresif tujuan pengurangan emisi karbon karena mengintrodusir
fleksibilitas yang lebih besar dalam system dan membuka pasar untuk
sektor-sektor dengan pengurangan emisi yang lebih murah.
Beberapa pihak skeptis dengan diperbolehkannya offset dalam pasar karbon
dengan alasan:
• Pengurangan emisi dari offset mungkin sulit diukur dan diverifikasi karena
mereka sering datang dari sumber-sumber yang ada di daerah.
• Offfset secara internasional mengirim uangnya ke luar negeri, yang secara
politik kurang disukai.
• Kecuali dikawal oleh “cap” yang lebih ketat, offset mengurangi sejumlah
pengurangan emisi suatu perusahaan yang harus dibuat sendiri.
• Kredit dari pengurangan emisi dari deforestasi yang dapat dihindari di
Negara-negara berkembang merupakan salah satu tipe offset yang memungkinkan.
Contoh lain dari perdagangan karbon adalah mekanisme perdagangan emisi
(emissions trading) yang diterapkan oleh Uni Eropa. Perdagangan emisi ini telah
dimulai awal 2005 dengan melibatkan 14 negara anggotanya ditambah 11 negara
Eropa Timur dan eks Uni Soviet. Masing-masing negara menerima jatah emisi
karbon untuk dibagi ke instalasi industri yang keseluruhan berjumlah 12.000
unit. Hasilnya, sekitar 450 juta ton gas emisi ekuivalen karbon bisa dijualbelikan
pada periode 2005-2007. Sedangkan, untuk periode kedua, 2008-2012, dengan
target pengurangan gas setara CO2 sebanyak 10%, kredit karbon yang ditransaksikan bisa mencapai 2,2 milyar ton gas setara CO2.
Industri di Eropa tidak harus mengkompensasikan kelebihan emisinya dengan
cara membeli kredit karbon dari kawasan itu pula. Mengingat pasar karbon
mengikuti hukum pasar bebas, maka industri tersebut bisa membeli kredit
karbon dari kawasan lain seperti Asia. Skema yang digunakan bisa dengan Clean
Development Mechanism (CDM) atau Joint Implementation (JI).
54
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
3. Pasar karbon apa saja yang telah ada?
Sejak Protokol Kyoto ditandatangani, beberapa pasar karbon telah dibentuk.
Beberapa pasar adalah regulatory, sedangkan lainnya ada yang voluntary.
3.1 Pasar Regulatory (Regulatory Market)
Protokol Kyoto membentuk pasar International Emissions Trading (IET) yang
merupakan system “cap-and-trade” yang memperkenankan Negara-negara
Annex I untuk berdagang karbon dengan Negara-negara Annex I lainnya.
• Mekanisme pengurangan emisi GRK yang diatur dalam Protokol Kyoto
adalah:
• Joint Implementation (JI), mekanisme yang memungkinkan negara-negara
maju untuk membangun proyek bersama yang dapat menghasilkan kredit
penurunan atau penyerapan emisi GRK;
• Clean Development Mechanism (CDM), mekanisme yang memungkinkan
Negara-negara non-ANNEX I untuk berperan aktif membantu penurunan
emisi GRK melalu proyek yang diimplementasikan oleh sebuah Negara
maju. Nantinya kredit penurunan emisi GRK yang dihasilkan dari proyek
tersebut dapat dimiliki oleh Negara maju tersebut. CDM juga bertujuan
agar Negara berkembang dapat mendukung pembangunan berkelanjutan,
selain itu CDM adalah satu-satunya mekanisme dimana Negara berkembang dapat berpartisipasi dalam Protokol Kyoto.
• Emission trading (ET), mekanisme yang memungkinkan sebuah negara maju
untuk menjual kredit penurunan emisi GRK melebihi target negaranya.
Negara-negara diperbolehkan untuk membentuk “gelembung” (bubble)
untuk mendistribusikan kembali target awalnya sepanjang jumlah target
pengurangan emisi semua Negara-negara individual tidak melampui yang
ditetapkan. Saat ini, Uni Eropa adalah satu-satunya kelompok Negara yang
membentuk gelembung ini.
Mekanisme Kyoto dibentuk untuk merangsang pembangunan berkelanjutan
melalui alih teknologi dan investasi, membantu Negara-negara yang berkomitmen untuk mencapai targetnya dengan cara yang efektif, dan mendorong sektor
swasta dan Negara-negara berkembang untuk berkontribusi dalam upaya
pengurangan emisi.
European Union Missions Trading Schemes (EU ETS) (2005-2008) adalah uji coba
skema cap-and-trade untuk membantu Negara-negara EU mencapai targetnya
sesuai Protokol Kyoto. EU ETS memperbolehkan kredit dari CDM dan JI diperdagangkan di pasar. EU ETS adalah pasar karbon terbesar yang ada saat ini.
New South Wales GHG Abatement Scheme (2003-2013) menciptakan benchmark
emisi untuk pengguna listrik di Australia. Sistem ini akan segera dirubah
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
55
menjadi skema perdagangan emisi nasional di Australia.
Regional Greenhouse Gas Initiative (RGGI) adalah kesepakatan diantara 10 Negara
Bagian Northeastern dan Mid-Atlantic di Amerika Serikat untuk melaksanakansistem cap-and-trade berbasis pasar pada 2009, yang memandatkan cap dan
penurunan emisi CO2 dari industri energi. RGGI adalah program cap-and-trade
mandatory yang pertama di Amerika Serikat yang membahas emisi penyebab
perubahan iklim dan dipandang sebagai model potensial dan preseden untuk
program Federal dalam rangka membatasi emisi GRK.
3.2 Pasar Sukarela (Voluntary Market)
Chicago Climate Exchange (CCX) merepresentasikan pasar system cap-and-trade
yang pesertanya adalah sukarela; namun komitmen penurunan emisi adalah
wajib sesuai dengan system tersebut. CCX memperkenankan anggotanya
membuat komitmen untuk berdagang karbon diantara anggota dan juga
membeli secara offset dari proyek-proyek di luar keanggotaan “cap”.
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim mendorong
banyak orang untuk mengambil tindakan dalam mitigasi dampaknya melalui
pasar eceran sukarela (voluntary retail market) untuk offset karbon yang tumbuh
sejalan dengan pasar regulatory. Banyak sumber emisi GRK, seperti transportasi perjalanan, penggunaan rumah tangga, dan kegiatan-kegiatan khusus,
kurang cukup dibahas dalam instrumen kebijakan yang ada, dan yang terlibat
ingin melakukan sesuatu untuk mitigasi emisi ini. Lebih lanjut, tidak mungkin
menurunkan emisinya menjadi nol, sehingga membeli secara offset merupakan
cara untuk “menetralisir” emisi yang tidak terelakkan. Pasar eceran terdiri dari
perusahaan, pemerintah, organisasi, lembaga internasional dan perseorangan,
yang membeli atau menjual kredit karbon untuk alasan selain compliance regulatory. Kredit eceran ini, yang umumnya mengacu pada Verified Emissions
Reductions (VERs), sering membeli dari para pengecer, yaitu organisasi yang
menanam investasi portfolionya pada proyek offset dan menjual sebagian pengurangan emisi yang dihasilkan kepada pelanggannya dalam jumlah yang relatif
kecil. Ada sekitar 30-40 pengecer karbon di seluruh dunia yang sebagian besar
berada di Eropa, Amerika Serikat dan Australia (Taiyab, 2006). Harganya sangat
bervariasi, dari US$5 – US$35 atau lebih per tCO2eq, tergantung pada kualitas
dan lokasi proyek dan mark-upnya disediakan oleh pengecer (Buztengeiger,
2005). Pasar seluruhnya tidak diatur, dan kreditnya tidak digunakan untuk
memenuhi apapun target yang jadi kesepakatan wajib, walaupun pengembang
proyek bisa memilih untuk mengikuti standar dan metoda verifikasi CDM atau
bisa mengembangkan metodanya sendiri.
Pasar voluntary merepresentasikan komplemen yang menjanjikan terhadap
pasar compliance, karena mencakup banyak tipe proyek yang tidak diperbolehkan pada pasar compliance. Sebagai contoh, 86% proyek pasar voluntary
56
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
berukuran kecil sampai sedang, melakukan offset kurang dari 50,000 tCO2 per
tahun (Harris, 2006). Di sisi lain, proyek-proyek CDM kurang menarik secara
finansial di bawah batas ini. Oleh karena itu, pasar voluntary menciptakan
peluang pasar untuk proyek-proyek skala kecil yang tidak ada sebelumnya.
Untuk proyek-proyek kehutanan, yang sebagian besar tidak layak di bawah
pasar compliance, telah mencapai 56% pasar voluntary (Harris, 2006)
Tabel 1. Ringkasan Pasar Karbon
Ukuran Pasar 2007
Pasar
Voluntary
Pasar Regulatory
Tipe
Mekanisme
International
Emission Trading
(IET)
Joint
Implementation
(JI)
Clean
Development
Mechanism
(CDM)
Bubbles
Unit yang
diperdagangkan
Peserta yang
berhak
Assigned Amount
Units (AAUs)
Negara-negara
Annex I
Nilai (m
US$)
-
-
41
499
551
7,426
-
-
2,061
50,097
Pengecer listrik
25
224
Negara-negara
Bagian yang
terlibat
-
-
Semua pihak
23
72
Semua pihak
42
258
Emissions Reduction Negara-negara
Units (ERUs)
Annex I
Certified Emissions
Reductions (CERs)
N/A
European Union
European Union
Emissions Trading
Allowances (EUAs)
Scheme (EU ETS)
Abatement
New South Wales
certificates
Regional
Greenhouse Gas
Initiative (RGGI)
Chicago Climate
CFI contracts
Exchange
Retail Market
Volume
(MtCO2)
Verified Emissions
Reductions (VERs)
Negara-negara
Annex I dan nonAnnex I
Negara-negara
Annex I
Negara-negara
anggota Uni
Europa
Bagaimana perkembangan pasar voluntary?
Amerika Serikat merupakan negara yang tidak meratifikasi Protokol Kyoto,
karena dengan potensi 6 milyar kubik ton emisi per tahun berarti harus mem-
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
57
bayar $1,200 milyar per tahun jika mengikuti ketentuan dalam Protokol Kyoto.
Namun, di dalam negeri ada desakan dari negara bagiannya seperti California,
Illinois dll supaya Amerika Serikat terlibat dalam pengurangan emisi dengan
memulai perdagangan karbon secara voluntary. Oleh karena itu, di Amerika
Serikat telah dibentuk pasar karbon voluntary, seperti Chicago Climate Exchange
(CCX). Anggota CCX secara voluntir mengurangi 1 persen per tahun dari baseline emisi perusahaan/organisasi
Selain itu, Australia selaku kontributor emisi karbon per kapita terbesar, seperti
AS yang khawatir akan kewajiban membayar emisi dalam jumlah besar, secara
bertahap sejak 2004 telah mempersiapkan mekanisme perdagangan emisi domestik secara sukarela sebelum akhirnya berkomitmen meratifikasi Protokol
Kyoto.
US$ 331m
CCX
72
OTC
US$ 154m
US$ 97m
154
US$ 42m
US$ 22m
42
22
US$ 37m
US$ 41m
3
3
34
38
258
38
58
4. Bagaimana cara memasarkan kredit karbon dari offset hutan?
Untuk memasarkan kredit carbon dari offset hutan dapat dilakukan dengan
berbagai cara (Guciano, 2008):
Menerbitkan Carbon Financial Instruments (CFI) di bursa CCX, 1 CFI setara
dengan 22,000 kubik ton CO2 = Indonesia bisa punya 282000000 CFI, jumlah
sebanyak ini bisa mempengaruhi harga di pasar futures (CCFX)
Memverifikasi dan di registrasi dari proyek reforestrasi. Proyek offset carbon
hutan yang pertama merupakan transaksi kredit carbon hutan dari Costa Rica
58
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
oleh Precious Woods Group, sebuah perusahaan Swiss yang bergerak dalam manajemen hutan berkelanjutan.
Meregistrasi pengurangan emisi karbon dari pengurangan illegal logging, kebakaran hutan dan pembukaan lahan ke CCAR, Conservation Fund, The Nature
Conservancy, dimana mereka kemudian menjual ke dunia usaha yang mencari
offset untuk pengurangan emisinya.
Memasukkan proyek ke dalam lembaga multisektor seperti the National Carbon
Offset Coalition (NCOC) atau Carbon Sequestration Units. Program NCOC dirancang untuk membantu pemilik tanah untuk merencanakan aktifitas pengumpulan carbon dan mendokumentasikan hasilnya sesuai standar dan protokol
internasional sehingga memenuhi persyaratan bagi pembeli potensial.
Menitipkan ke Carbonfund yang membeli dan menyimpan atas nama nasabah
kredit karbon dari proyek pengurangan emisi hutan yang telah diverifikasi.
Carbonfund tidak menjual atau memperdagangkan proyek pengurangan emisi.
Meminta dana offset yang diberikan ke Climate Trust yang digunakan untuk
memilih, mengontrak, membeli, dan mengelola proyek offset hutan sepanjang
masa berlaku kontrak. Offset ini kemudian di transfer ke nasabah yang ingin
memilikinya sebagai aset perusahaan dan dapat digunakan untuk mematuhi
aturan dan persyaratan GRK atau di “tabung” untuk kegunaan dimasa depan.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
59
5. Bagaimana proses dan persiapan dalam perdagangan karbon
di pasar sukarela?
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam menyiapkan produk yang siap dijual
adalah:
• Menetapkan dan mendaftarkan lokasi dan hitung volume karbon, parsel/
cluster, lokasi (GIS), biomasa, total pengendapan, formula akutansi;
• Menetapkan baseline berdasarkan pengukuran base tahunan dan perubahan
stok karbon tiap tahun. Verifikasi dibutuhkan untuk proyek menengah dan
besar;
• Mendaftarkan proyek tersebut dan tentukan pengelola (misal, unit khusus
di Dephut);
• Mengasuransikan unit produk yang akan dijual;
• Mengundang verificator dari pasar karbon (missal CCX);
Menunjuk agen pemasaran yang sudah menjadi anggota pasar karbon (misal
CCX)
• Biaya-biaya yang harus dikeluarkan dalam proses persiapan antara lain
adalah:
• biaya asuransi, verifikasi, pemasaran dan biaya transaksi
• biaya untuk membuat laporan tahunan dan verifikasi tahunan.
• Proyek karbon hutan yang diperbolehkan di CCX antara lain adalah:
• Hutan kecil yang bukan untuk industri, yaitu (i) hutan yang dikelola untuk
diproduksi, habitat, konservasi, dll; (ii) hutan yang ikut dalam program
bimbingan sertifikasi.
Afforestation/Reforestation, yaitu (i) proyek aforestasi atau reforestasi yang
dimulai setelah tahun 1989; (ii) lahan di wilayah kehutanan yang masuk dalam
program pemeliharaan/Forest Land Enhancement Program (FLEP) ; (iii) lahan di
wilayah program cadangan konservasi/ Conservation Reserve Program (CRP) atau
peningkatan cadangan konservasi/Conservation Reserve Enhancement Program
(CREP); (iv) lahan dalam perlindungan jangka panjang seperti wilayah konservasi dengan komitmen jangka panjang untuk menyimpan stok karbon di hutan
dan lahan yang tercatat sebagai milik sah kehutanan.
Proyek penghutanan dan pemeliharaan hutan yang dimulai setelah 1 Januari
1990 diatas lahan gundul atau hutan yang rusak
Proyek konservasi hutan bisa mendapatkan kontrak CFI jika dilaksanakan dalam
60
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
kaitannya dengan penghutanan lahan yang sudah ditetapkan peruntukannya
Selanjutnya perlu dilakukan kegiatan seperti:
• Menetapkan peruntukan wilayah hutan yang dikelola secara berkelanjutan
• Memperlihatkan komitmen jangka panjang untuk menjaga stok karbon di
hutan
• Menggunakan metoda yang disetujui dalam penghitungan stok karbon
• Memverifikasi stok karbon yang dilakukan oleh pihak ketiga yang independen
• Biaya yang terkait yang harus dikeluarkan setelah proyek disetujui yang
tergantung pada lawas proyek dan jumlah karbon yang dihasilkan untuk
diperdagangkan atau disimpan di”bank”, antara lain adalah:
• Biaya inventarisasi hutan
• Biaya untuk pihak ketiga dalam rangka sertifikasi keberlanjutan
• Biaya persiapan proyek (kantor dll)
• Biaya partisipasi atau biaya yang berkaitan dengan agregasi, perdagangan,
laporan, verifikasi.
6. Bagaimana persyaratan proyek dan prosedur dalam pasar
karbon sukarela?
Langkah 1:
Membuat studi kelayakan
• Fase I: Menetapkan Carbon Baseline dan tingkat sekuestrasi
• Fase II: Analisa Ekonomi
Langkah 2:
Project Development (dari proyek offset, verifikasi, registrasi, dan marketing/
perdagangan kredit karbon)
• Fase III: Proposal Proyek
• Fase IV: Komitmen Proyek
• Fase V: Penghitungan Baseline dan pengembangan sistem akutansi
karbon
• Fase VI: Verifikasi proyek
• Fase VII: Aggregasi proyek (untuk ukuran kecil), Pendaftaran Baseline,
dan Perdagangan
7. Bagaimana peluang masyarakat dalam memanfaatkan pendanaan dan perdagangan karbon?
Masyarakat dapat memanfaatkan peluang dari skema pendanaan dan perdagangan karbon, antara lain:
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
61
•
•
Adanya peluang dari skema pendanaan karbon untuk memperoleh dukungan dalam pengembangan kapasitas, bantuan teknis, dan transfer teknologi
dalam menghitung stok karbon, database yang lebih akurat, sistem monitoring, dan pembangunan kelembagaan.
Dalam skema REDD, masyarakat dapat terlibat dalam proses membangun
model percontohan (demonstration activities) mulai tahun 2008 sampai
dengan 2012.
Adanya peluang untuk mendapatkan sertifikasi pada unit pengelolaan
hutan yang dikelola masyarakat, khususnya untuk perdagangan karbon.
Masyarakat dapat menerima offset dari perusahaan/sektor lain termasuk
yang berdekatan lokasinya, sehingga terjalin kerjasama yang saling menguntungkan untuk memelihara lingkungan.
Adanya insentif langsung selain hasil hutan yang diperoleh apabila masyarakat telibat dalam mekanisme pendanaan dan perdagangan karbon.
Mendorong adanya legalitas unit pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
62
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
•
•
•
•
BAB 4
Implikasi Redd Terhadap Komunitas
Masyarakat Sekitar Hutan
Ruang Lingkup dan Sasaran dari Materi ini:
Dalam materi ini disampaikan penjelasan mengenai latar belakang munculnya
konsep REDD di Indonesia (pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi
hutan) , bagaimana REDD ini menjadi mekanisma penting dalam penanganan
perubahan iklim. Dengan mengetahui dan memahami tentang konsep REDD
ini diharapkan masyarakat akan lebih memahami tentang pentingnya pelaksanaan REDD dalam rangka penanganan perubahan iklim
Negosiasi internasional tentang REDD ini masih berlangsung sampai saat ini.
Dengan mengetahui dan memahami proses debat mengenai kerangka kerja
REDD di tingkat internasional maka diharapkan masyarakat juga dapat
mengikuti dan memahami secara umum setiap proses dan negosiasi yang berlangsung yang akan berpengaruh terhadap arah dan bentuk kegiatan REDD
di tingkat nasional dan proyek. Oleh karena itulah dalam sesi ini juga disampaikan mengenai elemen kunci REDD berdasarakan protocol internasional,
perdagangan karbon dan aspek legal internasional dalam pelaksanaan REDD .
Kegiatan REDD di tingkat nasional juga perlu disampaikan kepada target group
(masyarakat) karena setiap negara mempunyai keunikan tersendiri dalam
merancang kegiatan REDD nya disesuaikan dengan situasi dan keadaan
negaranya, begitu pula Indonesia. Namun yang terpenting dan perlu diketahui
oleh masyarakat adalah terutama terkait regulasi, kelembagaan dan mekanisme
pelaksanaan kegiatan percontohan REDD di Indonesia.
Dalam mater dasar ini juga disampaikan penjelasan kegiatan percontohan REDD
dan initiative lain untuk perdagangan karbon di tingkat project/tapak. Setiap
pelaksanaan kegiatan skema REDD di Indonesia, mempunyai keunikan/perbedaan tersendiri dan kegiatan REDD harus di desain disesuaikan berdasarakan
kriteria sosial, budaya , ekonomi dan lingkungan sekitarnya dan masyarakat
diharapkan ikut terlibat langsung dalam kegiatan REDD di tingkat tapak,
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
63
Manfaat setelah mengikuti sosialisasi materi ini :
1. mengetahui dan memahami tentang latar belakang mengapa issu REDD
menjadi mekanisme penting dalam penanganan perubahan iklim
2. Mengetahui isu international tentang REDD diantaranya elemen kunci
REDD berdasarkan protokol internasional, perdagangan karbon , aspek
legal REDD
3. Mengetahui dan memahami proses proses di tingkat nasional terkait
pelaksanaan REDD seperti pelaksanaan proyek REDD di tingkat tapak
serta implikasi kegiatan REDD terhadap masyarakat sekitar hutan
Topik dan materi bahasan:
• Latar belakang tentang issu REDD dan perubahan iklim:
-
Pemanasan global dan perubahan iklim
-
Peran hutan dalam perubahan iklim global
-
Penyebab dan akar masalah terjadinya deforestasi dan degradasi di
Indonesia
-
Strategi untuk masyarakat dalam mengurangi deforestasi
-
Reduce Emission and Deforestation and Degradation terdiri dari konsep
REDD, biaya REDD, skema RED, potensi pasar dan manfaat REDD
bagi Indonesia
• Perkembangan REDD di tingkat nasional
-
Isu nasional tentang deforestasi dan degradasi
-
Regulasi dan kelembagaan yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan REDD
-
Mekanisme pelaksanaan percontohan (Demonstration Activities)
REDD
-
Pelaksanaan proyek REDD di tingkat lapangan (tapak)
• Implikasi pelaksanaan kegiatan REDD terhadap masyarakat
1. Latar Belakang Tentang Issu REDD Dan Perubahan Iklim
1.1. Pemanasan Global dan Perubahan Iklim
Sejak dimulainya era industri, konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer
meningkat dari waktu ke waktu dengan cepat. Apabila tidak ada upaya untuk
menekan emisi gas rumah kaca ini maka, diperkirakan dalam waktu 100 tahun
(2100) atau bahkan bisa lebih cepat, konsentrasi gas rumah kaca, khususnya
CO2 akan mencapai dua kali lipat dari konsentrasi saat ini. Peningkatan sebesar
ini diperkirakan akan menyebabkan terjadinya peningkatan suhu global antara
1oC sampai 4.5oC dan tinggi muka air laut sebesar 60 cm. Naiknya muka air
laut akan mempersempit luas daratan dan menenggelamkan beberapa negara
kepulauan kecil, sementara peningkatan suhu global akan mengarah pada
perubahan iklim.
64
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Beberapa laporan menyebutkan bahwa effect pemanasan global akan mempe­
ngaruhi:
1.
2.
3.
4.
5.
Perubahan iklim dan cuaca;
• Peningkatan suhu sedang – sejak tahun 1990, suhu rata-rata tahunan
telah meningkat sekitar 0.3 derajat Celsius pada seluruh musim;
• Peningkatan intensitas curah hujan - curah hujan per tahun diperkirakan meningkat 2-3% di seluruh Indonesia, dalam periode yang
lebih pendek, meningkatkan resiko banjir secara signifikan;
Kenaikan Muka Air laut
Naiknya permukaan air laut – ini akan menggenangi daerah produktif
pantai, mempengaruhi pertanian dan penghidupan pantai, termasuk pertambakan ikan dan udang, produksi padi dan jagung;
Pertanian dan Persediaan Makanan
ancaman terhadap keamanan pangan sebagai akibat perubahan iklim pada
bidang pertanian;
Ekosistem
naiknya permukaan air laut – ini akan menggenangi daerah produktif
pantai, mempengaruhi pertanian dan penghidupan pantai, termasuk pertambakan ikan dan udang, produksi padi dan jagung;
Kesehatan Manusia
Merebaknya penyakit yang berkembang biak lewat air dan vektor– seperti
malaria dan demam berdarah.
1.2 Peran hutan dalam perubahan iklim global
Sektor kehutanan merupakan salah satu sumber pengemisi GRK yang cukup
besar yaitu dengan sumbangan antara 18-25 % dari emisi GRK global. Sekitar 75
% dari emisi ini berasal dari negara tropis dan umumnya merupakan hasil dari
konversi hutan ke penggunaan lain (deforestasi) dan degradasi hutan.
Hutan dalam konteks perubahan iklim global dapat berperan baik sebagai
penyerap dan penyimpan carbon (sink ) maupun sebagai sumber emisi (source)
(Gambar 1).
Praktik pengelolaan hutan produksi lestari, pengelolaan kawasan konservasi
dan lindung, pembatasan konversi hutan, pemberantasan illegal logging dan
penanggulangan kebakaran hutan akan mengurangi emisi CO2 dan meningkatkan resiliensi ekosistem hutan terhadap perubahan iklim. Rehabilitasi lahan dan
hutan terdegradasi, pengembangan hutan tanaman industri dan perkebunan
di lahan-lahan yang terdegradasi, akan meningkatkan kapasitas hutan dalam
menyerap dan menyimpan carbon, yang pada akhirnya juga akan meningkatkan resiliensi ekosistem hutan terhadap perubahan iklim. Dengan demikian,
pengelolaan hutan lestari berkontribusi positif terhadap upaya adaptasi dan
mitigasi perubahan iklim.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
65
Gambar 1. Peran Hutan Dalam Perubahan Iklim. Sumber : UNFCCC Website
Peran masyarakat dalam proses alih guna lahan dan tutupan sangat besar. Pada
satu sisi, masyarkat berperan dalam menjaga fungsi hutan namun disi lain
mereka juga ikut berkontribusi terhadap percepatan laju konversi dan degradasi
hutan karena desakan akan kebutuhan ekonomi mereka. Oleh karena itu dalam
menjaga dan mengembalikan kondisi hutan di Indonesia pelibatan masyarakat
menjadi suatu keharusan dengan memperhatikan dan menciptakan sistem kompensasi yang adil bagi mereka karena ikut menjaga dan memperbaiki kondisi
hutan. Didalam konteks perubahan iklim upaya ini disebut sebagai upaya
mitigasi yaitu upaya untuk menekan laju emisi atau meningkatan penyerapan
GRK ke dan dari atmosfer. Perbaikan kondisi hutan tidak hanya dapat menurunkan konsentrasi GRK di atmosfer tetapi juga dapat meningkatkan ketahanan
ekosistem tersebut terhadap anomali dan perubahan iklim. Karena hal tersebut,
upaya perbaikan kondisi hutan dikatakan juga sebagai kegiatan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Mekanisme perdagangan karbon di sektor kehutanan dalam rangka mitigasi
perubahan iklim di bawah UNFCCC/Kyoto Protocol yang melibatkan Negara
berkembang sampai saat ini baru terbatas pada A/R CDM (peningkatan kapasitas penyerapan/penyimpanan karbon melalui kegiatan tanaman menanam).
Sedangkan REDD (pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan)
baru dalam tahap persiapan pelaksanaan pilot percobaan/demonstration activities
dan dalam proses penyiapan perangkat hukum pelaksanaan REDD. Baik A/R
CDM maupun REDD merupakan kegiatan mitigasi perubahan iklim.
66
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
1.3 Penyebab dan akar masalah terjadinya deforestasi dan degradasi di Indonesia
Hutan merupakan kekayaan yang sangat berharga bagi ekosistem dunia,
dimana didalamnya terdapat lebih dari 60% keanekaragaman hayati dunia.
Hutan memiliki banyak nilai, seperti nilai sosial-ekonomi, bermacam-macam
fungsi ekologis yang penting dalam kaitannya dengan lahan dan perlindungan serta nilai budaya yang tidak bisa dilepaskan dari hutan. Hutan bagi
masyarakat yang tinggal disekitarnya merupakan areal untuk mencari makan
dan bertahan hidup. Bagi mereka hutan dapat menyediakan obat-obatan,
madu, kayu bakar serta barang dan jasa lainnya seperti halnya nilai rohani dan
budaya. Pada tataran global, hutan masih memegang peranan penting dalam
pengaturan iklim dan menjadi reservoir karbon yang utama diatas permukaan
bumi dan keberadaannya dapat mencegah peningkatan efek rumah kaca.
Berkurangnya luasan dan turunnya kualitas hutan sampai saat sekarang ini
masih menjadi permasalahan utama dunia kehutanan Indonesia. Hal ini dapat
kita lihat dari masih besarnya angka deforestasi Indonesia setiap tahunnya.
Tentu hal ini tidak terjadi begitu saja, banyak hal yang menyebabkan hutan
alam Indonesia terdeforestasi setiap tahunnya. Banyak faktor yang apabila kita
analisa lebih lanjut dapat di-indikasikan sebagai penyebab terjadinya deforestasi
dan degradasi hutan di Indonesia baik langsung maupun tidak langsung. Untuk
mengetahui faktor-faktor tersebut, maka pada beberapa tahun lalu terbentuk
sebuah inisiatif yang disebut dengan ”Underlying Causes of Deforestation
and Forest Degradation”. Studi-studi yang berkaitan dengan inisiatif ini sudah
sangat banyak membuah pemikiran dan skenario tentang pelaku, bagaimana
dan apa saja faktor yang menyebabkan penyusutan hutan dunia, terutama
hutan hujan tropis.
Penyebab utama deforestasi dan degradasi hutan antara lain :
1. Konversi hutan
2. Kebutuhan pembangunan sektor lain (pertambangan, pertanian, pekerjaan
umum, dll)
3. Pasar nasional dan internasional terhadap produk-produk hutan
4. Kebakaran hutan dan lahan
5. Perambahan hutan
6. Eksploitasi kayu berlebihan
Hasil analisis menyimpulkan bahwa penyebab dan akar masalah terjadinya
deforestasi dapat dikelompokkan kedalam 2 kategori (Geist and Lambin,
2007 ) yaitu:
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
67
Penyebab langsung (Proximate causes) adalah kegiatan manusia yang berpengaruh langsung terhadap kerusakan lingkungan di tingkat loka/tapak
Penyebab tidak langsung, berupa akar masalah yang terkait dengan masalah
sosial, ekonomi, politik , dan atau budaya yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap deforestasi
1.4 Strategi untuk masyarakat dalam mengurangi deforestasi
Usulan-usulan untuk pencegahan deforestasi terbagi menjadi dua kelompok
utama:
• Pendekatan berbasis pasar yaitu mengaitkan skema-skema pengurangan
deforestasi dengan sistem perdagangan karbon. Koalisi negara-negara
yang memiliki hutan hujan (the Coalition for Rainforest Nations), sebagian
besar LSM konservasi dan kalangan bisnis pendanaan karbon mendorong
skema-skema dimana negara-negara yang memiliki hutan mendapat kredit
penurunan emisi karbon bila tidak menebangi hutan mereka. Kredit ini
dapat dijual di pasar karbon internasional kepada negara-negara yang
memiliki industri beremisi karbon yang membutuhkan kredit untuk menjalankan operasi mereka. Hal ini menimbulkan masalah etika sebab negara
dan perusahaan dapat membeli hak untuk tetap mencemari atmosfir bumi.
• Pendekatan dana publik yaitu memakai dana bantuan dari negara-negara
kaya untuk membayar negara-negara yang memiliki hutan di Selatan untuk
mengurangi pembukaan hutan. Bantuan tersebut dikumpulkan melalui
sumbangan sukarela dari negara-negara industri atau lewat pajak (sebagaimana dijelaskan dalam bab 3 sebelumnya)
Strategi terkait kebijakan nasional dalam mengurangi deforestasi di sektor
kehutanan harus didasarkan pada beberapa prinsip yaitu:
• Semua negara memiliki tanggungjawab yang sama, namun secara khusus
dibedakan sesuai dengan kemampuan.
• Tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Atas dasar prinsip tersebut, maka strategy untuk menurunkan emisi GRK dari
sektor kehutanan adalah:
1. Intensifikasi pengelolaan hutan yang harus dicapai pada 2012. Beberapa
langkah yang diambil adalah:
• Penerapan pengelolaan hutan baik alam maupun tanaman yang memenuhi kriteria dan standard SFM.
• Pembentukan lembaga pengelolaan hutan dalam bentuk Kesatuan
Pengelolaan Hutan yang harus mulai dibangun pada tahun 2008 dan
harus selesai pada tahun 2012.
68
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
•
•
•
•
•
Peningkatan upaya konservasi dan rahabilitasi pada type hutan rawa
gambut yang mempunyai potensi besar menyerap GRK, wilayah coral
(terumbu karang) pada kawasan TN laut, serta penguatan upaya konservasi dan rehabilitasi pada kawasan lindung (kawasan hutan konservasi, dan hutan lindung) yang menjadi kewenangan sektor kehutanan.
Menanggulangi kebakaran hutan dan lahan, sehingga kebakaran hutan
dan lahan dapat ditekan sebesar 95% yang dicapai pada tahun 2012.
Beberapa langkah yang akan diambil adalah:
Penegakan hukum sebagaimana mestinya.
Pemberian insentif berupa tekhnologi tepat guna dan insentif materi.
Pemberdayaan Manggala Agni dan partisipasi masyarakat.
3.
Memberdayakan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan
dalam pengelolaan hutan. Kegiatan pemberdayaan ini akan dilakukan
melalui beberapa kegiatan:
• Mengembangkan Hutan Tanaman Rakyat seluas 5,4 juta hektar yang
akan dicapai pada tahun 2010. Pengembangan HTR diharapkan akan
menghilangkan kegiatan perladangan berpindah yang tidak ramah
lingkungan.
• Pengembangan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM),
Hutan Kemasyarakatan (HKM), dan Sosial Forestry.
4.
Konversi hutan untuk kepentingan HTI, pertanian, perkebunan, dan pemukiman diprioritaskan pada lahan-lahan yang telah terdegradasi, dan sesuai
dengan tata ruang yang ada.
1.5 REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation in developing
countries)
REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation in developing countries) adalah mekanisme internasional yang dimaksudkan untuk memberikan
insentif yang bersifat positif bagi negara berkembang yang berhasil mengurangi
emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Mekanisma REDD bersifat sukarela
(voluntary) dan menghormati kedaulatan negara (sovereignty).
Untuk memahami hal-hal yang terkait dengan REDD maka perlu pemahaman
akan hal-hal sebagai berikut:
a. Konsep REDD
Menurut data dari World Resource Insititute (WRI,2000) yang dikutip dalam
Stern Report disebutkan bahwa deforestasi menyumbang sekitar 18% terhadap
emisi gas rumah kaca (green house Gases/GHGs) global. Dari 18 % kontribusi
emisi tersebut, 75 % diantaranya berasal dari deforestasi di negara berkembang.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
69
IPCC (2007) mencatat kontribusi dari deforestasi sebesar 17 % terhadap total
emisi GHGs global. Gambar 3 a dan 3 b menunjukkan emisi GHGs dari berbagai
sumber dan jenis GHGs.
Apabila tidak ada intervensi kebijakan (policy approach and positive incentives)
dan insentive yang memungkinkan negara berkembang mengurangi deforestasi
dengan tetap menjamin keberlanjutan pembangunan nasionalnya, maka dikhawatirkan emisi dari deforestasi di negara berkembang akan terus meningkat
sebagai konsekuensi dari pertambahan penduduk dan keperluan pembangunan
lainnya sehingga target-target penurunan emisi secara global tidak akan pernah
tercapai.
Berdasarkan pertimbangan dua hal tersebut di atas, disusunlah konsep REDD
dengan maksud dapat mengurangi emisi melalui pencegahan deforestasi dan
degradasi di negara-negara yang memiliki hutan.
Akan tetapi konsep REDD baru dalam tahap persiapan pelaksanaan pilot
percobaan/demonstration activities dalam proses penyiapan perangkat hukum
pelaksanaan REDD, dan diharapkan sudah dapat terealisasi pada tahun 2012.
REDD adalah merupakan salah satu kegiatan mitigasi perubahan iklim.
Pada saat COP-11 di Montreal tahun 2005, Costarica, Paua New Guinea (PNG)
dan negara negara yang tergabung dalam Koalisis Pemilik Hutan Tropis (Coalition for Rain Forest Nations/CfRN) mengajukan proposal tentang insentif untuk
pencegahan deforestasi (avoided deforestation). Kemudian pada COP 13 di Bali
tahun 2007 lalu telah berhasil disepakati beberapa hal penting antara lain terkait
aspek scientific, teknis dan metodologi, serta pertukaran informasi. Desember
2009. Diharapkan pada COP-15 tahun 2009 mendatang di Denmark dapat
dicapai kesepakatan mengenai modality, aturan dan prosedur implementasi
REDD.
Box 1:
Beberapa Catatan dari Kesepakatan/keputusan COP-13 tentang REDD
COP-13 telah menghasilkan keputusan tentang pengurangan emisi dari
deforestasi dan degradasi (REDD) di negara berkembang. REDD juga
merupakan bagian penting dari aksi mitigasi perubahan iklim dalam
“Bali Action Plan”
Dalam “Bali Action Plan” disamping negara maju yang harus memenuhi
kewajiban peningkatan target penurunan emisi dan mebantu negara
berkembang (capacity building, technology transfer, finacial) dalam
upaya mengurangi dampak negatif perubahan iklim, negara berkembang
juga didorong melakukan aksi nyata dalam upaya mitigasi dan adaptasi
70
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
terhadap perubahan iklim dalam konteks pembangunan berkelanjutan,
a.l. melalui integrasi upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim ke
dalam perencanaan nasional dan sectoral planning.
Beberapa butir penting dari keputusan COP 13 yang memerlukan tindak
lanjut segera maupun terjemahan lebih lanjut untuk implementasinya di
Indonesia antara lain :
REDD dilaksanakan atas dasar sukarela (voluntary basis) dengan prinsip
menghormati kedaulatan negara (sovereignty)
Negara maju spekat memberikan dukungan untuk capacity building,
transfer teknologi di bidang metodologi dan institutional, pilot/demonstration activities.
Untuk pelaksanaan pilot/demonstration activities dan implementasi REDD,
diperlukan penguasaan aspek metodologi sesuai standard internasional.
Oleh karenanya COP-13 menyepakati indicative guidance untuk pilot/
demonstration activities dimana terdapat tanggung jawab internasional,
nasional (Pemerintah Pusat) dan sub-national (pelaksana di daerah)
Hal-hal yang terus menyebabkan berkembangnya konsep REDD tidak terlepas
dari fakta sebagaimana data dan gambar yang disampaikan berikut ini:
Perbandingan Emisi Gas Rumah Kaca (Green House Gases/GHGs) global antara tahun 1990 dan 2004
Sumber Emisi GHGs global (IPCC 2007)
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
71
Selanjutnya, hasil-hasil penelitian bahwa vegetasi dan tanah menyimpan ±
7500 Gt CO2 atau lebih dari dua kali lipat CO2 di atmosfir, sedangkan hutan
menyimpan ~ 4500 Gt CO2, lebih besar dari GHGs di atmosfir. Beberapa sumber
menyebutkan bahwa mempertahankan hutan yang ada lebih murah dari pada
menanam tanaman baru, disamping memerlukan waktu yang cukup lama
sampai mencapai kapasitas optimal dalam menyerap dan menyimpan carbon.
Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa kontribusi aforestasi dan reforestasi dalam
menyeimbangkan emisi dari deforestasi dan kegiatan lain, jauh lebih kecil
dibandingkan dengan regenerasi alam (regrowth).
72
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Saat ini telah berkembang konsensus tentang skema REDD yang diperluas
menjadi REDD plus yang memasukan komponen Pengelolaan Hutan Lestari
(Sustainable Forest Management), Konservasi dan peningkatan stok karbon dari
dari upaya penanaman (Enhanching carbon stock from plantation). Namun demikian pemahaman tentang REDD Plus, komponen penopangnya seperti kelembagaan dan SDM di Indonesia sendiri masih perlu didiskusikan walaupun
REDD Plus akan segera diputuskan pada COP 15 Di Copenhagen
b. Biaya REDD
Upaya pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi memerlukan biaya
yang di luar kemampuan dana dosmestik kebanyakan negara berkembang. Biaya
biaya tersebut a.l opportinuty costs (biaya untuk kompensasi bagi pemilik hutan
atas nilai kegiatan yang paling menguntungkan), implementation costs (biaya
yang diperlukan untuk perbaikan perencanaan dan pengelolaan), administrative costs (biaya operasional) dan tarnsaction costs (biaya untuk penggalangan
dana, negosiasi dengan partner, monitoring, approval). Berdasarkan hasil analisis Union of Concerned Scientist (UCS) tahun 2008, total biaya implementasi,
adminstrasi dan biaya transaksi sekitar US$1 untuk penurunan emisi per ton
CO2. Sedangkan opportunity costs menurut berbagai seumber berkisar antara
US$1.84-18.86 per ton penurunan emisi CO2.
c. Skema REDD
REDD sampai saat ini masih dalam proses negosiasi di bawah SBSTA/COPKonvensi Perubahan Iklim (UNFCCC) untuk aspek teknis/metodologis, sedang
mengenai aspek kebijakan termasuk pendanaan masih menjadi bagian dari
pembahasan di Ad Hock Working Group on Long Term Cooperative Action (AWGLCA). Dengan demikian perdagangan karbon dalam rangka pengurangan emisi
dari deforestasi yang terjadi (bila ada) adalah melalui pasar sukareal (voluntary
market). Inipun juga belum jelas apakah kredit yang diperoleh pembeli dapat
diperjualbelikan dalam compliance market nantinya.
UCS (2008) memperkirakan akan ada 3 macam pendekatan pendanaan REDD
yaitu:
• Direct Carbon Market, perusahaan di negara industry membeli kredit REDD
untuk emission allowance dalam sistem cap and trade di negerinya. Dengan
REDD perusahaan ini diperbolehkan mengemisi lebih dari kuota di dalam
negerinya dan dikompensasi dengan pencegahan emisi dari deforestasi
dan degradasi di negara berkembang. Pendekatan ini seperti untuk CDM
(project baseline) dan kemungkinan akan memasukan REDD national baseline setelah REDD menjadi bagain dari pasar karbon pasca 2012. Potensi
pendanaan diperkirakan mencapai puluhan milyar dollar per tahun.
• Market Linked. Pendekatan ini mencipatakan pendanaan melalui pelelangan
pendapatan atau alokasi allowance untuk REDD dari sistem cap and trade,
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
73
•
atau dengan menciptakan dual market system dimana kredit REDD tidak
fungible dengan allowance negara industry. Potensi pendanaan diperkirakan
mencapai beberapa puluh milyar dollar per tahun
Voluntary. Pendanaan sukarela yang berasal dari individu atau negara
yang tidak dikaitkan dengan system cap and trade di negerinya. Kontribusi
Norway $2.6 Milyar yang diumumkan di Bali merupakan salah satu contoh
voluntary initiative. Perusahaan dan stakeholders lain juga dapat membeli
kredit yang sekali kredit dibeli tidak lagi dapat digunakan untuk emmission
compliance di pasar karbon. Potensi pendanaan diperkirakan hanya mencapai ratusan dollar per tahun.
d. Manfaat REDD bagi Indonesia
Manfaat REDD harus dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi tanggung jawab sebagai
anggota komunitas internasional dan dari sisi kewajiban seluruh komponen
bangsa untuk kepentingan nasional, terlepas ada tidaknya mekanisme internasional yang mendorong/memaksa Indonesia melakukannya.
Berdasarkan data FAO (2005), diantara 8,22 juta ha pengurangan hutan per
tahun di 10 negara berkembang (Tabel 1), Brazil dan Indonesia menyumbang
masing-masing 3,10 juta ha/tahun dan 1,87 juta ha/tahun. Dengan demikian
Indonesia menyumbang sekitar 22,86 % pengurangan luasan hutan di 10 negara
berkembang tersebut.
Dalam konvensi perubahan iklim (UNFCCC), negara berkembang belum terikat
target kuantitatif untuk mengurangi emisi GHGs, namun tetap memiliki kewajiban berkontribusi terhadap upaya pencegahan dampak negatif perubahan
iklim atas dasar common but differentiated responsibilities.
Dengan peringkat di atas, meskipun secara internasional di bawah UNFCCC
tidak berkewajiban menurunkan emisi, Indonesia sudah merasakan dampak
negatif dari kerusakan hutannya baik dari sisi lingkungan (hilangnya keanekaragaman hayati termasuk sumberdaya genetik, bencana lingkungan sejalan
dengan kerusakan hutan), sosial (rusaknya sumberdaya hutan dimana masyarakat yang tinggal di/sekitar hutan bergantung untuk sumber penghidupannya),
dan ekonomi (menurunnya kontribusi sektor kehutanan dalam pembangunan
ekonomi nasional). Untuk itu Indonesia dituntut untuk dapat meminimalkan
kerusakan hutan yang antara lain dapat dilakukan melalui pengurangan deforestasi dan degradasi hutan.
REDD dalam kaitan dengan upaya pengurangan emisi dari deforestasi dan
degradasi di negara berkembang, adalah merupakan mekanisme internasional
yang dapat mendukung upaya Indonesia dalam mencapai tujuan reformasi yang
telah/sedang dilakukan di sektor kehutanan, baik melalui aliran dana, peningkatan kapasitas maupun transfer teknologi
74
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
e. Potensi pasar REDD di Indonesia
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa skema REDD sampai saat ini masih
dalam proses negosiasi di bawah COP -Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC).
Dengan demikian, perdagangan carbon dalam rangka pengurangan emisi dari
deforestasi dan degradasi yang terjadi (bila ada) adalah melalui pasar sukarela
(voluntary market). Gambar 6 menunjukkan pasar carbon yang ada di tingkat
global saat ini melalui berbagai mekanisme baik di bawah Kyoto Protocol (antar
negara maju yaitu Joint Implementation/JI dan Emission Trading/JT), dan antara
negara maju dengan negara berkembang yaitu Clean Development Mechanism/
CDM), maupun pasar sukarela.
Sampai saat ini belum jelas berapa potensi pasar REDD, namun dilihat dari
pasar carbon yang ada dan perkembangan negosiasi di COP, potensi pasar
REDD diperkirakan berkisar antara USD 2-31 milyar dengan asumsi pengurangan emisi dari deforestasi antara 10 - 50 % dan harga carbon antara USD 7-20
per ton CO2. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan dana ODA yang saat ini
tersedia untuk sektor kehutanan di negara berkembang sebesar USD 1.5 milyar
dan pasar A/R CDM sebesar USD 100 ribu dari total CDM sebesar USD 8 milyar
(Studi IFCA 2007).
Seberapa potensi Indonesia (REDDI/Reducing Emissions from Deforestation and
forest Degradation in Indonesia), dapat dikalkulasi sebagai berikut :
Di tingkat Global, emisi tahunan dari deforestasi sebesar 4.8 Gt CO2 (1.3 Gt C),
potensi pengurangan emisi antara 10-50%, dan harga $7-20/tCO2, potensi pasar
sebesar US $ 2-31 milyar per tahun. Indonesia, dengan menggunakan data laju
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
75
deforestasi antara tahun 2000-2005 sekitar 1,2 juta ha per tahun, dan asumsi stok
carbon antara 100-300 ton per ha (~ 368 – 1104 ton CO2 per ha), maka potensi
REDDI antara USD 0.31 - 13,25 Milyar.
2. Perkembangan REDD di tingkat nasional
Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan adalah semua upaya
pengelolaan hutan dalam rangka pencegahan dan atau penurunan kuantitas
tutupan hutan dan stok karbon yang dilakukan melalui berbagai kegiatan untuk
mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan .
2.1 Isu nasional tentang deforestasi dan degradasi
Pemecahan masalah deforestasi dan degradasi hutan tidak dapat dipisahkan
dari pemecahan masalah pembangunan nasional secara keseluruhan. Kehutanan merupakan sektor berbasis lahan (tata guna lahan), eksistensinya tidak terpisah dari keperluan pembangunan sektor lain seperti pertanian, infrastruktur,
industri dll. Emisi dari deforestasi dan degradasi adalah isu internasional, yang
memerlukan aksi nyata di tingkat nasional-lokal.
Meletakkan isu ini ke dalam kebijakan pembangunan kehutanan dan nasionallokal sangat krusial untuk menjamin kesinambungan upaya dan dampak
positif. Upaya ini memerlukan bantuan pendanaan, peningkatan kapasitas, dan
transfer teknologi dari masyarakat global terutama negara maju sesuai mandat
UNFCCC.
Gambar dibawah ini memperlihatkan peran hutan yang dikelola secara lestari
dalam stabilitas GRK dan pembangunan berkelanjutan
76
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Sementara itu, penanganan isu perubahan iklim dalam Kebijakan Nasional
dapat dilihat sebagaimana tabel di bawah ini:
KEBIJAKAN PRIORITAS
KONTRIBUSI TERHADAP PENANGANAN
ISU PERUBAHAN IKLIM
Pemberantasan pencurian
dan perdagangan kayu
illegal
Pengurangan emisi
•
Pengurangan emisi,
•
Peningkatan sink,
•
Peningkatan sink,
Rehabilitasi dan konservasi
sumberdaya hutan
•
Pengurangan emisi,
•
Mempertahankan carbon stock (carbon
conservation), peningkatan resiliensi
Pemberdayaan masyarakat
di dalam dan di sekitar
hutan
•
Pengurangan emisi,
•
Peningkatan sink,
Revitalisasi sektor
kehutanan khususnya
industri kehutanan
Pemantapan kawasan hutan
Penciptaan kondisi pemungkin (enabling
conditions)
Sumber: Departemen Kehutanan
2.2 Regulasi dan Kelembagaan yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan
REDD
Kebijakan nasional yang disusun untuk pengaturan pelaksanaan REDD (Penurunan Emisi dari deforestasi dan degradasi hutan) disusun dengan merujuk
kepada keputusan internasional terkait dengan REDD karena pelaksanaan
REDD akan menjadi bagian dari komitment Indonesia sebagai salah satu negara
penandatangan konvensi perubahan iklim (UNFCCC) dalam mendukung
upaya mengatasi
masalah pemanasan global. Sampai saat ini kebijakan dan peraturan terkait
dengan REDD masih terus berproses, matrik berikut ini memperlihatkan kebijakan nasional terkait REDD yang dikeluarkan oleh berbagai instansi.
Kebijakan nasional terkait dengan REDD dan Perubahan Iklim.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
77
Instansi terkait
Dephut (MoF)
KLH (MoE)
UU
(Law)
UU No 41
/1999 tentang
kehutanan
UU No1/2004
tentang
kehutanan
UU No
26/2007 tentang
perencanaan
spatial;
menyatakn
bahwa
tutuoan hutan
minimal 30%
dari areal DAS
PP
(Government
Regulation)
KEPRES
(Presidential
Decree)/
Presidential
Instruction
(INPRES)
PP 45/2004
; tentang
perlindungan
Hutan
PP6/2007 ,
diamandemen
menjadi
PP3/2008 ttg
pengelolaan
hutan
Menko
Perekonomian
• Permenhut No
61 tahun 2008
ttg restorasi
ekosistem
• Permenhut
No. 68 tahun
2008 tentang
pelaksanaan
demonstration
activity REDD
• Permenhut No.
30 tahun 2009
tentang tata cara
pelaksanaan
REDD
• Permenhut No.
36 tahun 2009
tentang tata cara
perijinan usaha
pemanfaatan
penyerapan
dan/atau
penyimpanan
karbon pada
hutan produksi
dan hutan
lindung
UU No.6/1994
Pengesahan
UNFCCC
(UNFCC
ratification)
UU No. 23
/1997 tentang
Pengelolaan
Lingkungan
hidup
(Environment
management)
UU 17/2005
tentang
ratifikasi Kyoto
Protokol
KEP /M.PPN/2008
tentang koordinasi
kerjasama dalam
bidang perubahan
iklim
UU 32/2004
tentang
(Pemerintah
Daerah)
PERDA
(Local
Government
Regulation)
Peraturan lainnya
Other Regulations
•
•
•
•
Bappenas
(National Dev
Planning)
Depdagri
(MOHA)
PERMEN
(Ministrial Decree)
INPRES
5/2008 ttg
REDD
•
Renja
Kehutanan
2006-2025
Renstra
kehutanan
RKTN
(Rencana
Kehutanan
Tingkat
Nasional)
Reja nasional
2004-2009
National
development
planning:
Indonesia
responses
to climate
change
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan REDD, maka setidaknya diperlukan pengaturan dan penetapan sebagai berikut :
• Pengaturan pengelolaan dana di tingkat national dan lokal (mekanisme
penerimaan dana internasional, pendistribusian, up front financing bila
diperlukan)
• Penetapan Emissions Reference Level (nasional, sistem monitoring, pelaporan
dan verifikasi (kriteria untuk menjamin kredibilitas, institusi yang bertanggung jawab dll)
• National registry (institusi yang bertanggung jawab untuk me-record dan
tracking kredit REDD)
• Peraturan-perundangan (regulasi yang ada : nasional dan lokal, penyesuaian yang diperlukan dll)
• Institusi penanggung jawab (penilaian usulan, pemberian approval dll)
• Penjual (masyarakat, business community, pemerintah)
Saat ini pembangunan kelembagaan untuk penangan issue REDD masih dalam
proses namun demikian lembaga yang perlu dibentuk terkait dengan pelaksanaan REDD adalah sebagai berikut :
• Dewan Perubahan Iklim betugas merumuskan kebijakan nasional, strategi,
program dan kegiatan pengendalian perubahan iklim dan mengkoordinasikan kegiatan dalam pelaksanaan tugas pengendalian perubahan iklim yang
meliputi kegiatan adaptasi, mitigasi, alih teknologi dan pendanaan
• Komisi REDD adalah komisi yang dibentuk oleh Menteri dan bertugas
dalam pengurusan pelaksanaan REDD
• Lembaga Penilai Independent adalan lembaga yang berhak melakukan
verifikasi laporan hasil kegiatan REDD
• Registrasi Nasional adalah lembaga yang mempunyai tugas melakukan
pencatatan atas semua kegiatan REDD
• KPH (P/L/K) sebagai salah satu premakarsa kegiatan REDD
2.3. Mekanisme pelaksanaan percontohan (Demonstration Activities) REDD
Mekanisme pelaksanaan kegiatan REDD di Indonesia diatur oleh Permenhut
No. 30/Menhut-II/2009 tentang tatacara pengurangan emisi dari deforestasi
dan degradasi dan Permenhut No. 68/Menhut-II/2008 tentang penyelenggaraan
demonstration activities REDD
2.4 Pelaksanaan proyek REDD di tingkat lapangan (tapak).
Menurut Permenhut No. 30/Menhut-II/2009, masyarakat pemilik atau pengelola
hutan dapat mengajukan permohonan untuk kegiatan REDD.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
79
Keterlibatan masyarakat sebagai stakeholder dalam proses pengusulan kegiatan
demonstrasi REDD sangat penting untuk menciptakan kepemilikan untuk menjamin komitmen dari para stakeholder. Komitmen stakeholder diperlukan untuk
lancarnya implementasi kegiatan dan juga untuk menjamin keberlanjutan
kegiatan. Dua hal ini sangat tergantung pada partisipasi aktif para stakeholder
diantaranya masyarakat.
Konsultasi dan partisipasi masyarakat lokal perlu dilakukan, mengingat keputusan COP 13 yang menyatakan bahwa kebutuhan masyarakat lokal harus diperhatikan ketika kegiatan untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan
dilakukan.
Matrik dibawah ini adalah kompilasi inisiative-inisiative yang muncul terkait
dengan pelaksanaan kegiatan skema REDD dibawah program pendanaan internasional.
80
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Negara
Inggris
Jerman
No.
1
2
FORESTRY-CLIMATE
CHANGE programme
Issue Climate Change
dan REDD
Durasi 7 tahun,
dimulai awal
tahun 2009
2007-2010
Cooperation to
Support Forest
Governance and
Multistakeholders
Forestry Programme
Financial Cooperation
/ FC
Waktu (durasi)
Judul
20 juta Euro
5 juta Poundsterling
Jumlah Dana
Through a multistakeholder approach, help build capacity of central
and local government and civil society, support partnerships between
government and civil society, promote policy analysis and development,
and support poverty reduction through more equitable and sustainable
management of natural resources, with a particular focus on the rights
and opportunities through community forestry for disadvantaged and
women’s groups;
Explore the opportunities for governance reforms that are necessary for
Reduced Emissions from Deforestation and Degradation (REDD).
2.
3.
Location : Kabupaten Malinau dan Kapuas Hulu
With activities :
Investments in ReadinessActivities in REDD Demonstration
Institutional Set-Up and Implementation Concept
•
Payment Distribusment
Overal Objective:
To support Indonesia with the reduction of Green House Gases (GHG)
emission (mitigation) from deforestation and degradation.in demonstration
projects in selected districts of Kalimantan ; targets will be defined for the
specific demonstration activities and will be in accordance to the district
emission baselines
Specific Objective:
Support governance reforms to reduce and eventually eliminate illegal
logging and its associated timber trade, with a particular focus on support
to negotiation and implementation of the EU-GoI FLEGT VPA and other
international arrangements;
1.
Tujuan
Matrik kerjasama Pemerintah Indonesia dengan beberapa Negara
untuk pelaksanaan kegiatan skema REDD
(pembangunan Demonstration activities)
3
Australia
Kalimantan Forests and
Climate Partnership
A Program of Bilateral
Cooperation to Reduce
Greenhouse Gas
Emissions Associated
with Deforestation in
Indonesia under the
Global Initiative on
Forests and Climate
Technical Cooperation
/ TC
Supporting
implementation of
Ministry of Forestry’s
strategic plan
Oktober 2007
s.d Oktober
2012
Dimulai
pertengahan
2008
untuk durasi
3 (tiga) tahun
30 juta dollar Australia
10 juta dollar Australia
3,5 juta Euro
(3) FireWatch Indonesia
FireWatch Indonesia is being implemented by Landgate and aims to provide
fire fighting teams with timely access to information required to identify and
suppress fires. This will be achieved through a system that transfers data from
satellite receiving stations in Rumpin and Parepare to the Ministry of Forestry
and Ministry of Environment offices in Jakarta and two pilot provinces: Central
Kalimantan and Riau (nodes). Training of LAPAN and Ministry of Forestry
staff has taken place in Perth and the nodes are being connected through the
INHERENT network, a high speed internet and microwave link. Installation
of computer servers and further training of support staff are planned over the
coming months. In relation to the FireWatch Indonesia activity, Pak Darori (DG,
Conservation) visited Landgate in Perth, Western Australia, from 29th June–2nd
(2) Kalimantan Forests and Climate Partnership (KFCP)
An intensive round of consultation on the KFCP design has taken place with
central and local government agencie
The targets for the KFCP is in central Kalimantan. The original targets of
70,000ha for avoided deforestation, 200,000ha peatland rehabilitation, and
planting of 100 million trees were based on a total funding goal of A$100 million.
It was noted that with current resources (A$30m) the KFCP is focusing on
avoided deforestation over an area of 70,000ha, within a total project area of
about 130,000ha. The KFCP is being designed so that it can be scaled up to the
other targets as additional partner contributions are secured.
(1) Forest Resources Information System / Indonesia National Carbon
Accounting System
The objective is to allow estimation of greenhouse emissions over time. In
due course, this work will be used to help test policy scenarios around the
setting of reference emissions levels and other practical issues relating to the
implementation of a REDD mechanism in Indonesia.
The goal of the program is to support GOI efforts to reduce greenhouse gas
emissions associated with deforestation in Indonesia, through action to reduce
rates of deforestation, support reforestation and promote sustainable forest
management, delivering improvements in rural livelihoods and environmental
benefits.
Activities will be divided into 3 components/issues :
1.Policy and strategies
2.Implementation of strategic plan (REDD and FMU)
3. Conservation and sustainable development (HoB)
Government agencies, local communities, civil society and private sector
implement improved institutional and regulatory framework, approaches,
methodologies, and services to promote conservation and sustainable
development and reduction of greenhouse gas emissions from deforestation and
forest degradation in selected districts in Kalimantan.
World Bank
Forest Carbon Pantership
facilities
Tropical forest
conservation for
reducing emission
from deforestation
and degradation and
enhancing carbon stocks
in Meru Betiri National
Park Indonesia
UN-REDD
2009-2011
2008-2012
4 years
5 juta dollar US
Keterangan: Data diambil Pusat Kerjasama Luarnegeri Dephut sampai dengan Juli 2009
7.
ITTO
UN REDD
Norwegian
government
5.
6.
Republik
Korea
4
Korea-Indonesia
Joint
Program on
Adaptation
and
Mitigation of Climate
Change
in
Forestry
through
Afforestation/
Reforestation
Clean
Development Mechanism
(A/R CDM) and other
Related Mechanisms
To analyze REDD application, one of the key issues in international
climate change discussions, and to acquire framework in carbon credits
by preventing forest conversion as a post-2012 preparative measure
To implement capacity building programs including expert exchange and
training courses
2.
3.
To suport REDDI readineness
(1) To improve livelihood local communities living inside and in surrounding
of Meru Betiri Nationa park through oarticipation in avoiding deforestation,
degradation and biodiversity loss and (2) to develop credible measurable,
reportable, and verifiable sytem for monitoring emission from REDD and
enhanchement carbon stock in the Meru Betiri National park east Java
To suport REDD readiness and Demonstration activities
The partnership will focus on supporting Indonesia’s efforts to reforesting the
ex-mega rice project as well as conserving the rich bio-diversity of forested
peatland, promoting sustainable forest management and addressing illegal
logging and illegal timber trade. The partnership will, in turn, contribute also to
the enhancement of livelihood for forest-dependent communities.
To acquire cost-effective potential A/R CDM sites and to establish
foundation for carbon credits in preparation of post-2012 emission
commitment
1.
(4) Second REDD demonstration
At the Australia-Indonesia Ministerial Forum (AIMF), held in Canberra
from 11th-12th November 2008, ministers agreed to develop a second REDD
demonstration activity (Demo II) under the IAFCP. A broad set of principles
to address in Demo II has been agreed and a shortlist of locations has been
identified, comprising Jambi, Bengkulu-South Sumatra, Halmahera and Central
Sulawesi.
July.
5. Implikasi pelaksanaan REDD terhadap masyarakat
Masalah kerusakan hutan menjadi sorotan dunia, khususnya dikaitkan dengan
isu perubahan iklim. Sementara itu masalah kemiskinan pun menjadi persoalan
yang semakin menjadi perhatian banyak pihak. REDD merupakan salah satu
mekanisme yang ditawarkan untuk merespon permasalah tersebut dengan
pemberian kompensasi yang cukup besar bila dapat mengurangi emisi karbon
hutan.
Bagi Indonesia pendapatan (revenue) yang didapat dari REDD ini dipercaya
dapat mendukung pengelolaan hutan yang lebih berkelanjutan. Adanya revenue
yang besar dari REDD ini menuntut persyaratan, kesiapan, kemampuan dan
kerjasama berbagai pihak termasuk masyarakat untuk bisa meraihnya. Selain
itu persyaratan penting lainnya adalah dipunyainya baseline data untuk tingkat
nasional, mekanisme monitoring, mekanisme distribusi hasil pembayaran
karbon yang saat ini dalam tahap persiapan.
Peluang yang akan diperoleh stakeholder penting termasuk masyarakat adalah
adanya dukungan pengembangan kapasitas, bantuan teknis dan tranfer
teknologi yang dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan dalam
menghitung karbon, membuat database kehutanan yang lebih akurat dan
membangun kelembagaan yang diperlukan termasuk lembaga kemasyarakatan.
Selain itu masyarakat dilibatkan dalam proses membangun model percontohan
“demonstration activities” yang akan mulai dilaksanakan.
Skema REDD jika berjalan dengan baik dapat memberikan kesempatan masyarakat di sekitar hutan untuk dapat meningkatkan taraf hidupnya. Sehingga
ada pemahaman yang berkembang terutama di daerah bahwa pemerintah/
masyarakat akan memperoleh keuntungan besar dari mekanisme ini, sementara
banyak yang belum jelas tentang peran yang harus mereka mainkan, tanggung
jawab yang harus mereka pikul, hak yang akan diterimakan dsb. Perlu diingat
mekanisma REDD bukan untuk mendulang uang tapi merupakan investasi
mendatang untuk perbaikan lingkungan.
Penerapan pengelolaan hutan berbasis masyarakat adalah untuk menjaga kelestarian fungsi hutan yang seimbang dari sisi ekologi dan ekonomi merupakan
kegiatan prinsip dalam Skema REDD dan itu bukan saja akan menguntungkan
masyarakat itu sendiri tetapi juga kepentingan masyarakat secara lebih luas, termasuk masyarakat global. Dengan dukungan kebijakan yang baik diharapkan
penerapan pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat dapat mempercepat
penghutanan kembali dan sekaligus menguatkan ekonomi rakyat dalam mempercepat pengentasan kemiskinan. Meningkatkan skala praktik pengelolaan
hutan berbasis masyarakat yang berkelanjutan akan berdampak nyata terhadap
mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan secara simultan mengarah kepada
pencapaian millenium development goals.
84
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
BAB 5
STRATEGI PERBAIKAN KONDISI HUTAN
OLEH MASYAAKAT
Ruang Lingkup dan Sasaran dari Materi ini:
Peranan hutan dan kehutanan dalam isu-isu perubahan iklim sangat penting,
dan hampir dibahas dalam berbagai forum. Perkembangan terakhir mengenai
peran hutan tersebut terdapat dalam konsep REDD dan skema lainnya, yang
potensinya dalam pendanaan dan perdagangan karbon saat ini banyak dikembangkan. Potensi pendanan dan perdagangan karbon dari hutan ini tentu saja
harus memenuhi persyaratan kondisi hutan yang dikelola dengan baik, serta
upaya konservasi dan rehabilitasi kondisi hutan yang ada, baik yang dilakukan
oleh pemerintah maupun masyarakat.
Dalam materi ini disampaikan hal-hal yang terkait dengan fungsi hutan, interaksi hutan dan masyarakat, faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan hutan
(deforestasi atau degradasi hutan) sehingga diharapkan masyarakat dapat memahami fungsi-fungsi hutan sebagaimana yang diatur dalam undang-undang.
Juga dapat menimbulkan perhatian yang lebih serius akan hal ini sehingga
masyarakat dapat berperan aktif mencegah dan mengendalikan terjadinya
kerusakan hutan. Disampaikan pula bagaimana peran pemerintah dan masyarakat dalam mencegah kerusakan hutan yang terjadi. Jika masyarakat telah
memahami posisinya maka diharapkan masyarakat dapat berperan serta dalam
menyusun strategi pengendalian dan perbaikan kondisi pengelolaan hutan
dilingkungannya. Kegiatan pengelolaan hutan yang baik, dan kegiatan pencegahan terjadinya deforestasi dan degradasi hutan mempunyai potensi untuk
dijadikan proyek-proyek karbon yang dapat dikembangkan oleh masyarakat
sekitar hutan. Pengembangan hutan kemasyarakatan, hutan rakyat, hutan desa
dan hutan tanaman rakyat adalah beberapa contoh dari kegiatan yang bisa
dikembangkan dalam proyek-proyek karbon.
Dalam upaya perbaikan kondisi hutan melalui rehabilitasi hutan, tata kelola
hutan yang baik dan mencegah deforestasi memerlukan sumber-sumber pendanaan. Selain sumber pendanaan pemerintah dan donor, juga ada peluang
sumber pendanaan dari kredit karbon hutan melalui mekanisme perdagangan
atau pendanaan karbon. Sumber pendanaan untuk rehabilitasi hutan dan
potensi pemanfaatan dari kredit karbon hutan juga disampaikan dalam materi
ini. Dengan demikian masyarakat diharapkan dapat menggali potensi ini dan
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
85
memanfaatkannya untuk pengembangan dan pembangunan hutan di sekitar
lingkungannnya.
Topik dan Materi Bahasan:
1. Fungsi pokok dan status kawasan hutan
2. Faktor-faktor Penyebab Kerusakan Hutan dan Pencegahannya.
3. Peranan Pemerintah dan Masyarakat Dalam Mencegah Kerusakan Hutan
dan Memperbaiki Kondisi Hutan.
4. Strategi Rehabilitasi Hutan oleh Masyarakat.
5. Potensi sumber-sumber pendanaan perbaikan hutan.
Setelah mengikuti sosialisasi terkait meteri ini maka diharapkan dapat
1. Memahami fungsi dan status kawasan hutan sebagaimana yang diamanahkan dalam undang-undang.
2. Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya kerusakan hutan atau deforestasi dan degradasi hutan.
3. Mengetahui strategi perbaikan kondisi hutan dan upaya-upaya pencegahan
terjadinya kerusakan hutan.
4. Memahami kegiatan-kegiatan rehabilitasi hutan dan potensi sumber pendanaan rehabiliatsi hutan.
1. Fungsi Pokok Hutan
Hampir tidak ada manusia yang tidak berhubungan dengan hutan dalam
kehidupan sehari-harinya. Langsung atau tidak langsung hutan telah menjadi
bagian penting bagi kehidupan manusia. Akan tetapi seberapa jauh hutan berpengaruh terhadap kehidupan manusia dan lingkungannya? Tidaklah banyak
yang menyadarinya. Juga bagaimana hutan itu dikelola atau dimanfaatkan oleh
pemerintah atau badan usaha atau perorangan yang memperoleh izin, maka tidaklah semua kita dapat memahaminya. Hutan secara tradisional telah menyatu
dalam kehidupan masyarakat sekitar hutan sedangkan perkembangan pengaturan pengelolaan hutan itu sendiri tidak banyak dipahami oleh masyarakat
luas. Bagi masyarakat awam hutan itu lebih banyak diketahui sebagai pengatur
tata air ketika musim hujan dan musim kering silih berganti, dan hutan sebagai
sumber penghidupan subsisten (cukup untuk memenuhi kehidupan seharihari), dan atau hutan sebagai sumber ekonomi yang diekploitasi kayunya, dan
atau hutan sebagai sumber lahan-lahan baru yang dapat dikonversi menjadi
lahan pertanian, kebun dan sebagainya. Dan adanya kerusakan hutan biasanya
langsung secara fisik dirasakan oleh masyarakat dengan perubahan-perubahan
lingkungan mikro disekitarnya. Kampung atau desa yang menjadi lebih panas,
kekeringan yang semakin dirasakan, atau banjir yang lebih sering terjadi, atau
86
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
satwa liar yang menjadi hama tanaman yang semakin sering merusak tanaman
pertanian dsb. Itulah contoh-contoh indikator kerusakan hutan yang dirasakan
oleh masyarakat.
Sebaliknya masyarakat tidak pula menyadari bahwa keberadaan manusia dan
meningkatnya populasi yang tinggal disekitar hutan telah mengakibatkan
hutan selalu dibawah ancaman. Sebagian masyarakat juga tidak menyadari
bahwa pengaturan-pengaturan tata ruang hutan telah diatur dalam perundangundangan yang dibuat pemerintah yang harus dipatuhi. Oleh karena itu adalah
penting bagi masing-masing orang mengetahui bagaimana undang-undang
telah mengatur fungsi-fungsi hutan tersebut. Dengan mengetahui hal ini diharapkan kepada semua orang atau pihak atau lembaga dapat menjadi mengerti
dan tidak saling menyalahkan apabila terjadi sesuatu perubahan dalam hutan
yang ada disekitarnya.
Adapun peraturan perundangan yang mengatur hutan dan kehutanan di
Indonesia adalah Undang-undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.
Undang undang ini adalah pengganti Undang-undang Pokok Kehutanan No. 5
tahun 1967 yang terbit dan berlaku sejak tahun 1967. Dari UU 41/199 telah pula
diterbitkan beberapa Peraturan Pemerintah (PP) yaitu PP No. 44 /2004 tentang
Perencanaan Hutan, PP 6/2008, tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan dan perubahnnya sebagaimana PP 3/2008, PP No. 45/2004
tentang Perlindungan Hutan, serta beberapa Peraturan Menteri Kehutanan
sebagai dasar pelaksanaannya.
Konsideran Undang-Undang nomo 41 tahun 1999 menyebutkan bahwa hutan
sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa, merupakan kekayaan yang
dikuasai oleh Negara, memberi manfaat serbaguna bagi umat manusia, karenanya wajib disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara optimal serta dijaga
kelestariannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bagi generasi sekarang
maupun generasi mendatang. Dalam konsideran ini terlihat bahwa hutan itu
adalah kekayaan negara yang harus dimanfaatkan bagi kemakmuran rakyat
dengan prinsip-prinsip pengelolaan hutan yang lestari.
Selanjutnya disadari pula bahwa hutan sebagai salah satu penentu sistem
penyangga kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat, cenderung menurun
kondisinya, oleh karena itu keberadaanya harus dipertahankan secara optimal,
dijaga daya dukungnya secara lestari, dan diurus dengan akhlak, adil, arif,
bijaksana, terbuka, secara profesional serta bertanggung-gugat. Dengan menurunnya konsisi hutan itu maka berbagai upaya harus dilakukan untuk dapat
mempertahankan dan memperbaiki kondisi hutan yang ada agar fungsinya
sebagai penyangga kehidupan dapat pulih sebagaimana mestinya.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
87
Selanjutnya hutan didefenisikan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa
hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan
dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat
dipisahkan. Dalam defenisi ini terlihat bahwa pepohonan merupakan komponen penting dalam hutan dan lingkungannya, sehingga ketiadaan pohon dalam
suatu kawasan hutan sering disebut sebagai hutan rusak, atau telah terjadinya
deforestasi (deforestation), atau degradasi (degradation).
1.1. Status Kawasan Hutan
Berdasarkan statusnya hutan terdiri dari Hutan Negara, dan Hutan Hak. Hutan
Negara dapat pula berupa Hutan Adat. Hutan Negara adalah hutan yang berada
pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. Hutan Hak adalah hutan yang
berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. Dalam istilah tata ruang maka
dikenal istilah Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK) dan Kawasan Budidaya
Non Kehutanan (KBNK) atau biasa juga disebut sebagai Areal Penggunaan Lain
(APL). Kawasan KBK itu adalah kawaan hutan tetap yang telah ditetapkan statusnya oleh pemerintah. Sedangkan kawasan KBNK atau APL adalah kawasan
hutan yang telah dikeluarkan statusnya sebagai kawasan hutan dan biasanya
akan digunakan untuk penggunaan lain seperti perkebunan, perluasan kota atau
pemukiman, dan pengunaan lain untuk pembangunan sektor non kehutanan.
Undang-undang juga mengakui keberadaan Hutan Adat yaitu hutan negara
yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat. Hutan Adat ini ditetapkan
statusnya oleh Pemerintah sebagaimana diatur dalam undang-undang bahwa
Pemerintah menetapkan status hutan dan hutan adat ditetapkan sepanjang
menurut kenyataannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan masih
ada dan diakui keberadaannya. Keberadaan masyarakat hukum adat ini harus
didukung oleh pengakuan yang disahkan oleh pemerintah daerah setempat.
1.2. Fungsi-fungsi Pokok Hutan.
Berdasarkan fungsinya pemerintah membedakan tiga fungsi pokok hutan yaitu:
1. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan.
2. Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata
air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan
memelihara kesuburan tanah.
3. Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman
tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.
88
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Selanjutnya Hutan konservasi dibedakan lagi menjadi:
• Kawasan hutan suaka alam.
• Kawasan hutan pelestarian alam,
• Taman buru.
Kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan
dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai sistem penyangga
kehidupan.
Kawasan pelestarian alam adalah huta dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Bagaimanan hutan dapat berfungsi sebagaimana yang diamanahkan oleh Undangundang tersebut?
Tata ruang wilayah telah diatur oleh pemerintah sebagaimana dalam Undangundang No. 39/2008. Demikian pula hutan telah diatur tata ruangnya berdasarkan fungsi-fungsi yang telah dijelaskan diatas. Setiap orang atau pihak harus
menghormati tata ruang yang telah dibuat. Dengan demikian maka kita telah
berperan mempertahankan fungsi hutan sebagaimana mestinya. Jika ada pihak
yang tidak menghormati tata ruang ini maka dengan demikian akan mempercepat perubahan terjadinya fungsi hutan secara tidak terencana. Fungsi hutan
dapat saja berubah namun harus melalui pengkajian yang konfrehensif dan
mempunyai alasan yang kuat mengapa perubahan fungsi hutan itu diperlukan.
Hutan produksi berfungsi sebagai tempat memproduksi hasil-hasil hutan yang
diperlukan oleh masyarakat baik berupa kayu ataupun non kayu. Pemerintah
telah pula mengatur bagaimana cara-cara pengambilan hasil hutan kayu atau
non kayu sehingga hutan produksi yang dimaksud dapat dikelola secara lestari,
sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) no. 6/2008 dan
PP no 3/2008, dan peraturan Menteri Kehutanan yang merupakan peraturan
pelaksanaan dari PP tersebut). Hutan lindung sebagaiman fungsinya harus diposisikan sebagai perlindungan. Perubahan fungsi hutan lindung memerlukan
persyaratan dan pertimbangan teknis dan keilmuan yang ketat terutama yang
dapat memperkirakan dampak jangka panjang dari perubahan terebut. Begitu
pula halnya dengan perubahan fungsi kawasan konservasi dimana perubahan
fungsi akan dapat mengakibatkan hilangnya suatu jenis atau berkurangnya
keanekaragaman hayati yang dalam jangka panjang berdampak besar. Oleh
karena itu perubahan fungsi pada hutan lindung dan hutan konservasi sedapat
mungkin hendaknya dapat dihindari.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
89
1.3. Implikasi Perubahan Fungsi Hutan.
Fungsi hutan yang begitu luas hampir tidak mungkin digantikan oleh bangunan atau sarana yang dibangun oleh manusia. Fungsi hutan sangat kompleks
dan berjalannya suatu fungsi hutan telah terjadi secara evolusi dan beradaptasi dengan kondisi setempat dalam waktu yang relatif lama. Maka dari itu
berubahnya fungsi hutan akan membawa dampak bagi lingkungan sekitarnya.
Penetapan fungsi hutan tentu telah didasarkan oleh kaedah-kaedah keilmuan
yang mempertimbangkan keadaan topografi, kekhususan hutan, lingkungan,
tipe hutan dan lain sebagainya. Fungsi hutan tidak dapat begitu saja dirubah
oleh pemerintah atau pemerintah daerah. Perubahan fungsi hutan harus melalui
pengkajian yang konfrehensif yang melibatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan harus memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Banyak pelajaran yang dapat dilihat dari serangkaian bencana yang terjadi
seperti banjir, longsor, kekeringan sebagai dampak dari menurunnya kondisi
hutan, akibat perubahan fungsi yang tidak terkendali. Ini memperlihatkan
betapa pentingnya fungsi hutan bagi lingkungan mikro maupun makro secara
umum. Peranan hutan dalam perubahan iklim saat ini menjadi dalam perbahasan isu-isu global. (lihat Bab I dan Bab II dari Modul ini)
2. Faktor-faktor Penyebab Kerusakan Hutan
Kerusakan hutan secara umum dapat didefenisikan sebagai penurunan fungsifungsi hutan yang dapat dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi dengan
berkurangannya penutupan lahan, berubahnya komposisi jenis, penggundulan
hutan serta bentuk lain, yang secara fisik dapat dilihat telah berubah dari kondisi
awalnya. Didalam isu-isu perubahan iklim kerusakan hutan ini sering disebut
dengan deforestasi dan atau degradasi, tergantung pada tingkat kerusakan
hutan dan lahan yang terjadi.
Memahami faktor yang menyebabkan kerusakan hutan adalah sangat penting
untuk merancang kebijakan dan efekifitas kelembagaan untuk mengurangi
laju kerusakan hutan. Banyak faktor penyebab kerusakan hutan dan satu sama
lain saling terkait. Namun yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi
dua yaitu, Pertama: penyebab langsung adalah adalah kegiatan manusia yang
secara langsung berdampak kepada lingkungan pada tingkat lokal, dan Kedua:
penyebab tidak langsung yaitu faktor sosial, ekonomi, politis yang secara tidak
langsung mengakibatklan terjadinya deforestasi/kerusakan hutan.
Melihat kerusakan hutan haruslah secara proporsional. Tidak semua kerusakan
hutan yang terjadi akan berdampak buruk kepada hutan dan lingkungannya.
Kerusakan hutan dapat pula terjadi secara alamiah, namun kerusakan hutan
90
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
seperti ini tidak menjadi perhatian karena kerusakannya akan dapat pulih
kembali dengan sendirinya. Pemanenan kayu yang terjadi pada hutan produksi
tidak dapat dikatakan sebagai kerusakan hutan apabila pemanenan itu telah
dilakukan sesuai dengan perencanaan dan ilmu-ilmu pemanen hutan yang
benar. Adapun kerusakan yang terjadi akibat pohon tumbang, bekas jalan sarad,
tegakan tinggal yang rusak merupakan kerusakan yang diperkirakan dapat
pulih kembali selama hutan produksi itu dapat dikelola dengan baik. Namun
kerusakan hutan dapat terjadi pada hutan produksi yang dapat dikategorikan
sebagai deforestasi atau degradasi bila pemegang izin IUPHHK/HPH tidak
melaksanakan pengelolaan hutan sesuai ketentuan, atau pengelolaan hutan
tidak menerapkan prinsip-prinsip hutan lestari. Adapun kerusakan yang timbul
pada hutan-hutan konservasi atau hutan lindung lebih banyak diakibatkan oleh
pencurian kayu atau pembalakan liar, karena penebangan pohon dilakukan
secara tidak terkendali dan tidak dilakukan penanaman kembali. Kebakaran
hutan dan bencana alam seperti longsor, banjir bandang, dan perambahan juga
menjadi faktor penting kerusakan hutan yang terjadi pada hutan lindung dan
hutan konservasi.
Berikut ini dapat dilihat faktor-faktor yang potensial menyebabkan terjadinya
kerusakan hutan pada berbagai fungsi hutan yang ada.
2.1. Kerusakan pada hutan produksi.
Hutan produksi sebagaimana maksudnya adalah sebagai fungsi produksi
hasil-hasil hutan yang selanjutnya dimanfaatkan bagi kepentingan ekonomi
dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Hutan produksi di Indonesia dikelola
dengan cara diberikan hak pemanfaatannya kepada badan usaha dalam bentuk
Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK/HPH) baik di hutan
alam maupun dalam bentuk hutan tanaman. Secara umum hutan produksi
diharuskan dilekola dalam bentuk sistem pengelolaan hutan produksi yang
lestari (PHPL), dan dengan demikian baik fungsi pokoknya secara ekonomi
dan fungsi lainnya sebagai fungsi ekologi dan sosial akan dapat dipelihara pula
secara lestari oleh badan usaha yang diberi izin pemanfaatannnya itu. Namun
demikian potensi penurunan fungsi hutan produksi dapat saja terjadi. Berikut
ini adalah kegiatan-kegiatan pada hutan produksi yang berpotensi mengakibatkan kerusakan hutan:
1. Kegiatan pembalakan liar/illegal logging.
2. Konversi lahan hutan yang tidak sesuai ketentuan.
3. Tebang yang melebihi jatah tebang tahunan (sebagaimana yang tertuang
dalam Rencana Karya Tahunan)
4. Menebang jenis-jenis yang dilindungi
5. Tidak melaksanakan perencanaan hutan dengan baik sehingga kegiatan
pemungutan hasil hutan dilakukan secara sporadis dan tidak terencana.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
91
6. Mengoperasikan alat-alat berat tidak sesuai dengan spesifikasinya.
7. Penebangan di kawasan lindung atau kawasan konservasi dan sepadan
sungai.
8. Kebakaran hutan
Tidak melakukan pemeliharaan hutan dan penanaman kembali sebagaimana
yang diatur dalam Sistem Tebang Pilih dan Tanam Indonesia (TPTI) yang meliputi 11 tahap kegiatan pembinaan hutan yang harus dilaksanakan secara benar.
2.2. Kerusakan pada hutan lindung.
Hutan lindung dikelola oleh pemerintah, dan atau pemerintah daerah. Sebagaimana fungsinya sebagai fungsi lindung bagi lingkungan sekitarnya, dan
pada umumnya bercirikan topografi yang berat, dan berada dalan remote area.
Tetapi pada umumnya juga telah ada masyarakat yang tinggal didalam kawasan
hutan ini. Lemahnya pengawasan dan kelembagaan maka hutan lindung ini
juga sangat rentan terjadi kerusakan hutan. Faktor-faktor potensial terjadinya
kerusakan hutan diantaranya adalah:
1. Kegiatan pembalakan liar/illegal logging
2. Penyerobotan lahan
3. Perladangan berpindah
4. Pertambangan illegal (Catatan: hutan lindung umumnya mengandung
potensi tambang yang besar, tidak dikelola oleh badan usaha, kurang pengawasan, sehingga potensi penambangan illegal cukup besar).
5. Kebakaran hutan
6. Bencana alam longsor dan banjir bandang.
2.3. Kerusakan pada kawasan konservasi:
Sebagai kawasan konservasi karena kekhasannya, hutan ini kaya akan keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah yang potensial. Kawasan konservasi ini umumnya berada pada hutan-hutan dataran rendah yang tanahnya
subur. Kondisi ini membuat potensi terjadinya kerusakan hutan juga sangat
tinggi, dan diantaranya adalah karena:
1. Kegiatan penebangan liar
2. Penyerobotan lahan (Catatan: kawasan konservasi umumnya mempunyai
kesuburan tanah yang baik, akses mudah, pengawasan kurang sehingga
potensi penyerobotan lahan cukup tinggi).
3. Perladangan
4. Pertambangan illegal
5. Kebakaran hutan
6. Pencurian sumber-sumber plasma nuthfah untuk komersial.
7. Konversi lahan untuk penggunaan lain.
92
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
3. Strategi untuk Mengurangi Terjadinya Kerusakan Hutan
Banyak faktor yang menentukan bagaimana menyusun strategi dalam mengurangi terjadinya kerusakan hutan. Keberhasilan suatu strategi penyelamatan
kawasan hutan sangat tergantung kepada kebijakan pemerintah dan pelaksanaan ketentuan, dan penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat dalam
penyelamatan kawasan hutan tersebut.
3.1. Peran Kebijakan Pemerintah
Menyadari besarnya potensi penurunan kualitas hutan maka pemerintah
mulai melaksanakan program rehabilitasi hutan sejak tahun 1960an, dan sejak
itu program rehabilitasi hutan dilaksanakan dalam bentuk konsep yang sangat
beragam. Setidaknya dalam waktu lima puluh tahun terakhir ini ada 150 model
(konsep) proyek rahablitasi hutan pada sekitar 400 lokasi diseluruh Indonesia
(Adiwinata Nawir, dkk). Namun proyek rehabilitasi hutan baru sangat intensif
dilakukan pada dekade 1980 sampai sekarang sejalan dengan kesadaran bahwa
laju kerusakan hutan sangat meningkat sejak dekade itu. Sejumlah model
proyek telah dilaksanakan seperti progam reboisasi dan penghijauan sejak tahun
1970an, pengembangan hutan tanaman industri (timber estate) sejak tahun
1980an, pembangunan HTI dengan Dana Reboisasi (Pembentukan usaha-usaha
patungan dalam membangun HTI) sejak tahun 1990an, dan Program Gerakan
Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL/Gerhan) sejak tahun 2003.
Secara tata waktu, program rehabilitasi hutan di Indonesia dimulai sejak awal
Orde Baru yang tertuang dalam berbagai bentuk kebijakan pemerintah (dalam
hal ini Departemen Kehutanan) yang dipayungi dalam berbagai bentuk peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum pelaksanaan kegiatan.
Rentang waktu kebijakan-kebijakan utama pemerintah yang mempengaruhi
kegiatan rehabilitasi hutan di Indonesia, sejak awal pemerintah Orde Baru
sampai saat ini adalah sebagai berikut: (dari Kartodihardjo dan Supriono 2000
dalam Nawir, 2006: CIFOR).
1. Awal Orde Baru dengan Rencana Pembangunan 25 tahun.
2. Undang-undang Pokok Kehutanan tahun 1967
3. Dana Jaminan Reboisasi tahun 1980
4. Terbentuknya Depertemen Kehutanan tahun 1983
5. Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tahun 1984.
6. Program Hutan Tanaman Industri tahun 1985
7. Sistem Tebang Pilih dan Tanam Indonesia tahun 1989
8. Undang-undang No. 41 tentang Kehutanan tahun 1999
9. Undang-undang Otonomi Daerah tahun 1999
10. Peraturan Pemerintah tentang Dana Reboisasi tahun 2002
11. Program Perhutanan Sosial tahun 2002
12. Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL/Gerhan) tahun 2003.
13. Indonesia Menanam tahun 2008.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
93
Evaluasi dari program rehabilitasi hutan yang dilaksanakan pemerintah tersebut memperlihatkan beberapa permasalahan yang mengakibatkan program
tersebut menjadi tidak efektif antara lain adalah:
1. Target pemerintah yang mengandalkan sumber daya hutan sebagai sumber
pendapatan nasional telah mengakibatkan terjadinya exploitasi hutan yang
berlebihan sehingga terjadi ketidak seimbangan antara kerusakan hutan
dengan upaya hrehabilitasi hutan.
2. Perkembangan isu yang komplek mengenai penyebab langsung terjadinya
deforestasi dan degradasi hutan, yang mengakibatkan terjadinya kerancuan
dalam membuat kebijakan.
3. Transisi dan perubahan kebijakan tentang rehabilitasi hutan, sehingga
memperlihatkan ketidak konsistenan kebijakan pada setiap terjadi pergantian pemerintahan.
4. Program kegiatan rehabilitasi hutan yang berorientasi kepada keproyekan,
yang pada banyak kasus mengakibatkan tidak terlaksananya teknis-teknis
rehabilitasi hutan secara benar.
Secara umum, sebagaimana yang juga diterapkan oleh berbagai negara, ada
beberapa kebijakan pemerintah yang dapat mengurangi terjadinya degradasi
dan deforestasi, diantaranya adalah:
1.
Menetapkan sebanyak-banyaknya kawasan lindung (Konsep Perlindungan
hutan). Melindungi kawasan hutan secara tegas merupakan cara yang
paling sederhana dalam mengurangi deforestasi atau degradasi hutan
dengan cara menetapkan suatu kawasan sebagai kawasan lindung atau
kawasan konservasi. Namun cara ini pada kenyataannya kebanyakan tidak
efektif, khususnya pada kawasan-kawasan yang di dalam atau disekitarnya
telah ada pemukiman atau dihuni oleh masyarakat yang cenderung akan
berkembang. Untuk pola perlindungan hutan ini ada dua strategi yang
biasa diterapkan yaitu penetapan suatu areal menjadi kawasan lindung,
dan manajemen infrastruktur yang ada disekitar kawasan hutan tersebut.
• Kawasan lindung bisa menjadi sangat efektif untuk konservasi
ekosistem alam akan tetapi keberhasilannya sangat tergantung pada
dukungan dan peran masyarakat lokal. Oleh karena itu adalah sangat
penting untuk mendesain pengelolaan kawasan lindung dengan melibatkan partisipasi masyarakat yang ada disekitar kawasan itu.
• Pengembangan infrastruktur khususnya pembangunan jalan-jalan
baru melintasi kawasan hutan adalah faktor yang menjadi titik awal
dari terjadinya percepatan kerusakan hutan. Oleh karena itu dalam
pengembangan wilayah yang dimulai dengan pembangunan infrastruktur perlu mempertimbangkan semua aspek termasuk dampak
kepada lingkungan dan sosial sebagai akibat pembangunan jalan.
Dengan mempertimbangkan aspek tersebut maka kebijakan pengembanangan wilayah dan pembangnan infrastruktur akan lebih tepat
94
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
dengan mengantisipasi dampak negatif kepada hutan dan merancanakan pencegahannya dari awal. Hal demikian tidaklah mudah
karena lemahnya penegakan hukum dan konflik kepentingan terhadap
suatu kawasan sering kali mengalahkan pertimbangan rasional sebuah
kebijakan sehingga hutan dan lingkungan selalu menjadi korban dari
konflik kepentingan tersebut.
2.
Penetapan kawasan hutan sesuai dengan tata ruang secara konsisten.
Tidak semua hutan dijadikan sebagai kawasan konservasi dibawah ketentuan-ketentuan perlindungan hutan. Sebagian kawasan hutan diperlukan
untuk penggunaan lain seperti pertanian, pengembangan wilayah, penggunaan untuk pengembangan sektor lain seperti pertambagan, perkebunan
dan lain sebagainya. Peruntukan kawasan hutan demikian telah tertuang
dalam rencana tata ruang wilayah yang telah dibuat. Oleh karena itu konsistensi kebijakan pemerintah pada tata ruang ini akan menentukan keberhasilan strategi mencegah dan mengurangi terjadinya kerusakan hutan.
Menekan terjadinya perubahan fungsi kawasan hutan bersama dengan
mendorong upaya rehabilitasi hutan merupakan pertimbangan pada setiap
kebijakan yang harus diambil.
Pemerintah dalam menyusun kebijakan harus selalu berupaya mengurangi
terjadinya kerusakan hutan atau berkurangnya luas kawasan hutan yang masih
baik. Intensifikasi lahan untuk tujuan produksi produk pertanian merupakan
kebijakan yang dapat mengurangi laju konversi lahan yang ada. Saat ini dan
dimasa yang akan datang ini pengelolaan kawasan hutan yang baik akan sangat
berpotensi untuk mendapatkan dana pembanguan dari sumber-sumber dana
internasional diantaranya adalah perdagangan karbon atau pendanaan karbon
untuk perbaikan rahabilitasi hutan. (Lihat Bab III. Mekanisme dan Peluang
Perdagangan dan Pendanaan Karbon).
Potensi sumber dana pembangunan dari perdagangan karbon ini dapat berasal
dari hutan produksi, kawasan lindung dan juga dari hutan-hutan rakyat. Oleh
karena itu potensi ekonomi hutan tidak semata berasal dari kayu akan tetapi
juga dari jasa-jasa lingkungan. Hal ini hanya bisa diperloleh dari hutan-hutan
yang dikelola dengan baik. Adalah kewajiban pemerintah dan masyarakat
untuk selalu menjaga hutan dan mengurangi terjadinya deforestasi dan degradasi hutan.
3.2. Peran Serta Masyarakat.
Peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan telah diakomodasikan dan
diatur dalam Undang-undang No. 41/1999 sebagaimana yang disebutkan dalam
pasal 68 yaitu bahwa: “Masyarakat berhak menikmati kualitas lingkungan
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
95
hidup yang dihasilkan hutan”. Dan hak yang dimaksud adalah hak masyarakat
untuk dapat :
1. Memanfaatkan hutan dan hasil hutan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
2. Mengetahui rencana peruntukan hutan, pemanfaatan hasil hutan, dan
informasi kehutanan.
3. Memberi informasi, saran dan pertimbangan dalam pembangunan kehutanan, dan
4. Melakukan pengawasan terhadap pelakasanaan pembangnan kehutanan
baik langsung maupun tidak langsung.
Selain mengatur tentang hak masyarakat sebagaimana diatas, Undang-undang
juga mengatur kewajiban masyarakat terhadap hutan, sebagaimana yang
disebutkan dalam pasal 69 yaitu: Masyarakat berkewajiban untuk ikut serta
memelihara dan menjaga kawasan dari gangguan dan perusakan. Kewajiban
masyarakat ini tentunya diujudkan dalam kegiatan-kegiatan yang berupaya
mendorong tidak terjadinya kerusakan hutan seperti terlibat dalam mengawasi
pelaksanaan pengelolaan hutan disekitarnya, dan atau terlibat dalam kegiatan
rehabilitasi hutan baik yang dilaksanakan melalui program pemerintah maupun
program rehabilitasi hutan yang diinisiasi secara swadaya masyarakat. Dalam
melaksanakan rehabilitasi hutan, masyarakat dapat meminta pendampingan,
pelayanan dan dukungan kepada lembaga swadaya masyarakat, pihak lain
atau pemerintah sebagimana yang juga diatur dalam undang-undang. Lebih
lanjut upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dan peningkatan keterlibatan
masyarakat dalam pengelolaan hutan diatur pula dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. P 01/Menhut-II/2004 tentang Pemberdayaan Masyarakat Setempat
di Dalam dan atau Sekitar Hutan dalam rangka Social Forestry.
Pada kebanyakan studi kasus proyek-proyek rehabilitasi hutan yang dilaksanakan pemerintah maka peran serta masyarakat merupakan faktor kunci
keberhasilan suatu proyek. Untuk itu maka menjadi penting melibatkan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi hutan ataupun kegiatan pengelolaan hutan
secara umum.
4. Strategi Rehabilitasi Hutan oleh Masyarakat
Rehabilitasi hutan dan lahan dimaksudkan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung,
produktivitas dan perannya mendukung sistem penyangga kehidupan tetap
terjaga. Kegiatan rehabilitasi hutan dapat dilakukan melalui kegiatan reboisasi,
penghijauan, pemeliharaan, pengayaan tanaman, dan penerapan teknik-teknik
konservasi tanah dan air secara vegatatif dan atau sipil teknis.
96
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Memperhatikan faktor-faktor terjadinya kerusakan hutan atau deforestasi maka
semua pemangku kepentingan (stakeholder) dapat memainkan perannya dalam
rehabilitasi hutan. Peran pemerintah dalam rehabilitasi hutan selain melalui
kebijakan adalah secara langsung mempunyai tanggungjawab untuk menjaga
dan merehabilitasi lahan-lahan pada hutan negara, sedangkan masyarakat
dapat berperan pada rehabilitasi hutan negara dengan cara turut serta dalam
program, tetapi juga dapat melakukan rehabilitasi hutan dengan pola swadaya
melalui berbagai progam yang ada. Community forestry (CF) adalah salah satu
bentuk peran serta masyarakat dalam rehabilitasi hutan di Indoensia. Praktekpraktek CF ini dapat dilihat dalam bentuk pembangunan Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa, dan Hutan Rakyat, dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR).
Hutan Kemasyarakatan (HKm):
Dalam Undang-undang 41/1999, dan PP no 6/2008, Hutan Kemasyarakatan
diartikan sebagai hutan negara yang pemanfaatannya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat. Pemberian izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan
ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat sekitar hutan, yang
dapat diberikan pada hutan lindung dan hutan produksi. Pengelolaan hutan
kemasyarakatan ini harus berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari
dan tidak dapat dialihtangankan atau dirubah fungsinya.
Hutan Rakyat:
Istilah hutan rakyat sudah lama dikenal dalam program-program pembangunan kehutanan. Dalam undang-undang 41/1999 pengertian hutan rakyat dikenal
dengan nama hutan hak yaitu hutan yang dibangun dalam areal yang dibebani
hak atas tanah, dalam hal ini dibebani hak milik, dan berada diluar kawasan
hutan negara. Pada era program reboisasi dan penghijauan, pembangunan
hutan rakyat ini berada dalam program penghijauan yaitu penanaman pohon
atas lahan milik diluar kawasan hutan. Saat ini pola yang terus dikembangakan
dalam pengembangan hutan rakyat termasuk di dalam program Gerakan
Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Kontribusi hutan rakyat ini dalam
penutupan lahan hutan saat ini sudah cukup besar, dan tentu saja mempunyai
potensi ekonomi, selain nilai konservasi yang berpotensi untuk dikembangkan
dalam proyek-proyek karbon.
Hutan Desa:
Hutan desa adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dimanfaatkan untuk
kesejahteraan desa. Peluang untuk pengembangan hutan desa ini telah dipayungi oleh peraturan Pemerintah sebagaimana yang tertuang dalam PP 6/2006
dimana disebutkan bahwa Pemerintah mengalokasikan hutan negara untuk
kepentingan hutan kemasyarakatan, hutan desa, dan model-model kemitraan.
Hutan desa dapat diberikan pada hutan lindung atau hutan produksi, dengan
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
97
persyaratan-persayatan tertentu. Namun sejauh ini belum banyak hutan desa
yang diberikan, dan sepertinya terlindas oleh program-program penanaman
yang digalakkan pemerintah dalam Gerhan. Padahal bila melihat struktur
pemerintahan desa dan keterlibatan masyarakat akan lebih mudah mengatur
dan pembagian manfaat bila model hutan desa dapat dikembangkan menjadi
suatu potensi proyek-proyek karbon dari hutan. Hutan desa dapat pula menjadi
model yang baik dimana masyarakat akan menikmati secara langsung manfaat
dana yang diperoleh, dan memberikan peluang yang baik sebagai alat resolusi
konflik di kawasan hutan.
Hutan Adat:
Hutan adat diakui keberadaannya sepanjang masyarakatnya masih mempunyai sistem nilai, dan sosial budaya yang melekat dengan wilayah hutan tertentu,
dan keberadaannya harus ditetapkan oleh Pemerintah Daerah setempat. Ada
syarat-syarat yang harus dipenuhi bila sekelompok masyarakat sekitar hutan
ingin mempunyai hutan adat dan keberadaannya diakui secara legal oleh para
pemangku kepentingan. Tanpa pengaturan sesuai ketentuan tentang hutan adat
ini akan mengakibatkan kerancuan dalam pengakuan hak atas suatu kawasan
dan itu berpotensi menjadi konflik kepentingan yang mengakibatkan kerawanan
sosial. Kerancuan mengenai keberadaan hutan adat ini banyak menjadi faktor
pemicu konflik kepentingan antar masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah
dan pada banyak kasus tidak pernah dapat diselesaikan secara tuntas, sehingga
berpotensi menjadi faktor kerusakan hutan.
Hutan Tanaman Rakyat:
Hutan tanaman rakyat adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh perorangan atau koperasi untuk meningkatkan potensi dan kualitas
hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan. HTR ini diberikan kepada perorangan atau koperasi
dalam bentuk izin usaha IUPHHK hutan tanaman dimana alokasi dan penetapan arealnya dilakukan oleh Menteri Kehutanan dan diutamakan dekat dengan
industri hasil hutan. HTR ini merupakan program pemerintah dalam rangka
percepatan pembangunan hutan tanaman, dan sumber pendanaannya dapat
berasal dari Dana Reboisasi yang dialokasikan untuk ini melalui Badan Layanan
Umum (BLU) kehutanan. HTR dimaksudkan untuk memperbaiki tutupan
lahan hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Pola
HTR juga memberikan akses lebih kepada masyarakat untuk rehabilitasi hutan
negara yang telah terdegradasi, dan dapat pula menjadi sarana resolusi konflik
tenurial di kawasan hutan.
98
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
BOX : Penyebab Deforestasi.
Deforestasi adalah perubahan secara permanen dari areal berhutan menjadi
tidak berhutan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Memahami faktorfaktor penyebab terjadinya deforestasi dan tekanan yang yang terjadi pada
hutan adalah penting untuk merancang kebijakan yang efektif untuk menekan
terjadinya konversi hutan. Melakukan kegiatan konservasi tanpa memahami
penyebab deforestasi akan tidak bermanfaat karena tidak akan berpengaruh
kepada terjadinya penurunan laju deforestasi.
Faktor penyebab deforestasi sangat beragam, tetapi satu hal yang penting dan
umum untuk semua type hutan adalah perambahan hutan dan penebangan
hutan untuk kepentingan ekonomi, dimana hasil-hasil yang diperoleh langsung
dari memanfaatkan lahan hutan itu jauh lebih besar daripada mempertahankannya berfungsi sebagai hutan (dimana manfaatnya tidak langsung). Adanya akses
jalan yang baik, kesuburan tanah, dan harga yang tinggi untuk produk-produk
pertanian semuanya menjadi motivasi untuk terjadinya konversi hutan atau
deforestasi. Sementara itu lemahnya tata kelola sumber daya, rancunya hak-hak
hukum adat, dan terjadinya konflik lahan akan mengancam suber daya hutan
yang ada.
Menentukan ada faktor utama penyebab deforestasi dari suatu kawasan adalah
masalah yang kompleks. Dari studi-sudi kasus deforestasi dapat disimpulkan
bahwa di daerah tropis penyebabnya merupakan interaksi dari berbagai faktor,
dan interaksi faktor ini berbeda dari satu kawasan dengan kawasan lainnya.
Secara umum penyebab deforestasi itu dapat dikategorikan yaitu penyebab
utama berupa aktivitas manusia yang berdampak langsung kepada lingkungan
pada tingkat lokal, dan penyebab/ faktor pendukung berupa faktor sosial,
ekonomi, politik dan budaya, yang secara tidak langsung berdampak pada
terjadinya deforestasi.
Geist dan Labai (2001, dalam Cortez dan Stephen, 2009) menyebutkan bahwa
faktor penyebab yang populer dari deforestasi adalah faktor ekonomi, kelembagaan, kebijakan nasional, dan pengaruh tidak langsung dari faktor-faktor
utama yaitu perluasan pertanian, exploitasi hutan, dan pengembangan infrastruktur. Pada tingkat global, perluasan pertanian adalah fator utama terjadinya
konversi lahan pada hampir semua studi kasus. Konversi lahan yang dimaksud
dapat berupa pencetakan lahan pertanian baru, peternakan, atau juga dalam
bentuk perladangan berpindah dan lain sebagainya.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
99
Faktor Penyebab Langsung:
Penyebab utama yang langsung dan segera terlihat adalah perubahan tutupan
lahan hutan untuk berbagai keperluan. Pengembangan infrastruktur kedalam
kawasan hutan yang didorong oleh tingginya nilai ekonomis kayu, pertanian
menetap adalah faktor utama pendorong terjadinya deforestasi.
Perluasan lahan-lahan pertanian merupakan faktor utama yang menyebabkan
deforestasi di daerah tropis di seluruh dunia. Pengembangan pertanian yang
dimaksud antara lain adalah pembangunan lahan pertanian baru, peternakan,
perladangan berpindah dan pemukiman di kawasan pertanian. Ada beberapa
faktor yang memotivasi terjadinya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian yaitu:
1. Kondisi lahan hutan yang baik untuk pertanian.
2. Harga produk pertanian yang cukup tinggi dibandingkan dengan hasilhasil hutan.
3. Biaya tenaga yang rendah yang diperlukan untuk mengkonversi lahan
hutan, dan
4. Terjadinya perubahan demografi penduduk disekitar kawasan hutan.
Pembalakan hutan:
Kegiatan pembalakan hutan (logging) itu sendiri tidaklah merupakan penyebab
utama dari deforestasi, dan juga bukan menjadi penyebab utama terjadinya degradasi hutan. Akan tetapi dampak dari operasional logging yang membangun
jaringan jalan, pemukiman dan kegiatan ekonomi dari operasional logging merupakan pemicu bagi terjadinya deforestasi di hutan produksi. Aktivitas ekonomi
yang terjadi mendorong masyarakat untuk datang ke pusat-pusat operasonal
logging, baik sebagai pekerja maupun pelaku ekonomi, dan ini dipermudah
dengan adanya akses jalan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama maka akan
terbentuk suatu komunitas didalam hutan yang selanjutnya akan mengancam
lahan-lahan hutan untuk dikonversi secara illegal untuk berbagai kepentingan.
Faktor inilah yang paling banyak menyebabkan berkurangan kawasan hutan
pada hutan-hutan produksi yang dikelola oleh suatu badan usaha, dibandingkan dengan akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan penebangan itu sendiri.
Pengembangan infrastruktur:
Pengembangan infrastuktur berupa jalan, pemukiman, saluran irigasi, tambang
dan infrastruktur lainnya bukan merupakan faktor besar jika dilihat dari konteks
luas lahan yang dikonversi, tetapi secara tidak langsung akan membuka akses
ke hutan yang akan terkait dengan penyebab deforestasi lainnya. Tanpa adanya
100
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
akses jalan ke hutan tidak akan mungkin terjadinya perubahan lahan untuk pertanian dan industri dapat dilakukan, dan adanya akses jalan ini menjadi pemicu
bagi berkembangannya faktor penyebab lainnya.
Faktor pendorong atau penyebab tidak langsung terjadinya deforestasi adalah
faktor ekonomi dalam pengertian luas luas, politik, teknologi, sosial dan demografi. Pada studi kasus deforestasi di daerah tropis maka faktor ekonomi
merupakan faktor penting bagi terjadinya proses deforestasi.
Faktor Ekonomi:
Ekonomi global dan nasional memegang peranan penting dalam deforestasi.
Pertumbuhan pasar kayu dan produk-produk pertanian lainnya di pasar global
telah mendorong terjadinya konversi hutan. Didukung oleh faktor lain yaitu
murahnya nilai lahan, tenaga kerja, bahan bakar juga menambah terjadinya percepatan deforestasi, serta perubahan tata guna lahan yang ada. Hal ini hampir
terjadi pada semua negara tropis yang sumber daya alam hutannya masih cukup
banyak.
Faktor Kebijakan dan Kelembagaan.
Kebijakan dan kelembagaan memegang peranan penting dalam deforestasi termasuk kerancuan tolok ukur deforestasi, land tenure, dan kegagalan kebijakan.
Kesalahan kebijakan pemerintah dapat mempercepat terjadinya konversi lahan
hutan melalui insentif pertanian, kebijakan perdagangan, kebijakan subsidi,
adanya pembalakan liar dan lain-lain. Membuat kebijakan haruslah secara
holistik dapat mempertimbangan dampak-dampak yang mungkin terjadi pada
lingkungan. Banyak kebijakan yang dibuat hanya mempertimbangkan kepentingan ekonomi sesaat tetapi sangat buruk bagi kelestarian sumber daya hutan
dimasa yang akan datang.
Faktor Teknologi:
Teknologi mengakibatkan meningkatnya produktivitas dibidang pertanian dan
hal ini bisa menjadi pemicu perluasan-perluasan lahan pertanian dari hutan.
Secara teori teknologi dapat saja meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian, dan pernah diperkirakan bahwa kebutuhan lahan-lahan pertanian bisa
saja berkurang dari yang ada saat ini oleh karena perkembangan bioteknologi
dalam peningkatan produktivitas lahan-lahan pertanian. Namun hampir tidak
ada bukti bahwa hal tersebut dapat mengurangi rencana perluasan lahan pertanian. Justru sebaliknya akan semakin banyak orang-orang ingin memanfaatkan
lahan hutan menjadi lahan pertanian karena nilai ekonomi lahan pertanian lebih
tinggi daripada nilai ekonomi lahan hutan.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
101
Faktor Budaya:
Budaya masyarakat lokal yang tidak bisa berubah khusus dalam hal pemanfatan
teknologi dan masih tetap menggunakan teknologi tradisional seperti kebiasaan
membakar lahan akan menjadi faktor pemicu terjadinya deforestasi. Dilain
pihak ada juga budaya yang ingin mempertahankan nilai-nilai sakral suatu
kawasan hutan dapat menjadi faktor penyelamat hutan. Namun penyelamatan
hutan karena faktor budaya ini relatif kecil dan tidak signifikan jika dibandingkan dengan laju deforestasi yang ada.
Faktor Demografi:
Faktor demografi sangat berpengaruh bagi terjadinya deforestasi. Pertumbuhan
penduduk dan ketersediaan lahan yang ada membuat pola migrasi penduduk
untuk memperoleh lahan-lahan pertanian baru yang berasal dari lahan-han
hutan yang dikonversi baik secara legal melalui perubahan fungsi hutan
maupun tidak legal melalui penyerobotan atau okupasi lahan hutan. Pertambahan penduduk karena kegagalan program kependudukan akan meningkatkan
kebutuhan lahan untuk pertanian dan pemukiman. Lahan-lahan hutan sebagai
satu-satunya sumber lahan akan menjadi tumpuan dan hal ini akan mempercepat laju deforestasi.
Deforestasi di Indonesia:
Cifor telah melakukan evaluasi terhadap program rehablitasi hutan yang dilakukan pemerintah semenjak tiga dasa warsa terakhir yaitu semenjak tahun 1970an
sampai sekarang. Dan salah satu hasil studi tersebut juga melakukan identifikasi
tentang terjadinya deforestasi dan degradasi lahan dan menganalisa faktor pendorong terjadinya. Dalam studi Cifor tersebut deforestasi didefenisikan sebagai
hilangnya atau terdegradasinya habitat hutan yang disebabkan oleh alam atau
ulah manusia. Pertanian, perkembangan pemukiman, kegiatan kehutanan yang
tidak berdasarkan kelestarian, eksploitasi tambang dan minyak merupakan
penyebab deforestasi. Sedangkan lahan dan hutan terdegradasi didefinisikan
sebagai lahan bekas hutan yang rusak parah karena terganggu secara intensif
dan atau terus menerus sehingga lahan tersebut menjadi kurang produktif, misalnya akibat kebakaran hutan dan pembalakan liar. Namun demikian defenisi
ini hanya memberi gambaran apa yang dimaksud dalam studi tersebut karena
belum ada suatu kesepakatan mengenai definisi deforestasi dan degradasi yang
dapat diterima oleh berbagai pihak pemangku kepentingan (stakeholder).
Hasil studi Cifor bahwa faktor pendorong deforestasi diidentifikasi dengan
memahami penyebab langsung dan penyebab tidak langsung yang mendasari
penurunan tutupan lahan dan pelaku yang bertanggungjawab atas hal itu. Penyebab langsung deforestasi sebagian besar karena kondisi alam dan kegiatan
manusia. Studi ini selain mengidentifikasi dalam skala nasional juga mengi-
102
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
dentifikasi faktor-faktor penyebab deforestasi pada beberapa propinsi yang
dijadikan lokasi studi kasus. Dan masing-masing wilayah memperlihatkan hasil
interaksi faktor yang berbeda satu sama lainnya.
Kondisi Alam/Penyebab alamiah:
Geomorfologi dan tingginya curah hujan di Indonesia mempengaruhi tanah
sehingga rentan terhadap bencana alam seperti longsor dan erosi yang langsung menyebabkan deforestasi. Akan tetapi sulit untuk memperkirakan berapa
luas hutan yang terdeforestasi karena faktor alamiah seperti ini. Walaupun
kontroversial. Contoh terjadinya deforestasi karena faktor alamiah ini adalah
sebagaimana banjir bandang di Bahorok, Sumatera Utara dan bajir dan longsor
yang terjadi di Sumatera Barat.
Kegiatan Manusia dan Pelaku Deforestasi:
Kegiatan yang berhubungan dengan pemanfaatan hutan yaitu berupa operasional pengusahaan hutan, pembalakan liar dan kebakaran hutan merupakan
penyebab utama deforestasi. Konversi lahan hutan menjadi perkebunan, dan
kegiatan penambangan terbuka di lahan-lahan hutan, juga merupakan penyebab utama deforestasi yang saat ini banyak terjadi di Kalimantan, dan Sumatera.
Penyebab dasar/akar masalah dan pelaku deforestasi:
Penyebab yang mendasari deforestasi lebih kompleks dan mencakup berbagai
aspek antara lain kegagalan pasar, kebijakan yang tidak tepat, kapasitas pemerintah (pusat dan daerah) yang belum memadai serta persoalan ekonomi dan
perubahan politik. Penyebab yang mendasari dan penyebab langsung tidak
dapat dipisahkan dan saling terkait yang merupakan serangkaian kejadian yang
panjang yang mengakibatkan deforestasi. Ekploitasi hutan berlebihan untuk
pembangunan ekonomi telah terbukti menyebabkan tingginya laju kerusakan
hutan pada banyak negara termasuk Indonesia. Ekstensifikasi pertanian pada
kebanyakan negara berkembang juga merupakan faktor penyebab terjadinya
deforestasi. Pelaku deforestasi tidak saja kelompok masyarakat yang terkait
langsung dengan kehidupan di hutan tetapi juga kelompok-kelompok usaha
yang berbasis kawasan yang selalu melakukan exspansi perluasan ke kawasan
hutan dengan cara mengkonversi hutan menjadi lahan untuk keperluan lain.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
103
5. Potensi Sumber-sumber Pendanaan Rehabilitasi Hutan
Selama ini sumber dana pemerintah merupakan sumber pendanaan utama
dalam kegiatan rehabilitasi hutan. Sumber pendanaan lainnya juga dapat dari
negara-negara donor yang umumnya diberikan dalam bentuk program kerjasama teknis antar negara. Kegiatan rehabilitasi hutan yang dilakukan dengan
sumber pendanaan pemerintah atau donor ini umumnya dilaksanakan di
kawasan hutan-hutan negara yang mempunyai fungi lindung atau konservasi.
Sumber pendanaan pemerintah yang disalurkan diluar kawasan hutan negara
(pada hutan milik) dahulu dilaksanakan dalam program pengijauan, tetapi
sekarang dilaksanakan dalam program Gerhan.
Peranan swasta dalam rehabilitasi hutan dan lahan juga cukup besar. Pembangunan Hutan Tanaman yang dilakukan dengan sumber-sumber pendanaan
swasta merupakan contoh dari kegiatan rehabilitasi hutan oleh swasta. Tentu
saja kegiatan ini mempunyai nilai komersial akan tetapi fungsi perbaikan lingkungan dari kegiatan penanaman ini juga sangat signifikan. Sementara itu penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan swasta juga
banyak yang dilakukan dalam bentuk kegiatan penanaman pada lahan-lahan
hutan negara atau hutan milik. Perusahaan nasional dan multi nasional yang
berkontribusi terhadap emisi CO2 umumnya mengalokasikan dana yang cukup
besar untuk kegiatan penanaman pohon untuk memperbaiki image perusahaan.
Seperti diketahui bahwa hutan memainkan dua peranan sekaligus dalam perputaran emisi karbon di alam. Pertama; hutan menangkap CO2 dari udara melalui
proses fotosintesa, dan Kedua; dapat pula mengeluarkan emisi CO2, melalui
konversi hutan, respirasi, kebakaran hutan dan dekomposisi biomasa yang ada
di hutan. Dan dua hal yang yang kontradiksi inilah yang selalu menjadi topik
pembahasan peran hutan dalam perubahan iklim. Komitmen negara-negara
yang telah disepakati dan menjadi kewajiban untuk mengurangi emisi CO2
di atmosfir dalam rangka mencegah terjadinya perubahan iklim drastis, telah
menjadikan komoditas ‘carbon offset’ atau ‘carbon sequestration’ ini menjadi
penting dan berkembang menjadi sumber pendanaan dan sumber perdagangan
karbon karena kewajiban tersebut. Utuk itu saat ini banyak bermuculan lembaga
atau badan yang mencari peluang perdagangan karbon di negara-negara yang
mempunyai hutan luas. Hutan yang baik dan atau dikelola dengan baik menjadi
sumber untuk perdagangan karbon, sementara kegiatan rehabilitasi hutan
untuk menjadikan kondisinya lebih baik, juga menjadi menarik sebagai lahan
investasi yang nantinya potensial untuk diperdagangkan karbonnya. Pontensi
ini terus dikembangkan dan telah difasilitasi oleh pemerintah melalui terbitnya
Peraturan Menteri No. P30/Menhut-II/2009 tentang Tata Cara Pengurangan
Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD).
104
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Kegiatan-kegiatan kehutanan yang potensial untuk memperoleh sumbersumber pendanaan dari kredit karbon hutan (forest carbon credit) ini antara lain
adalah:
• Reforestasi : Penanaman pohon pada areal yang dahulunya hutan tetapi
telah tidak berhutan lagi dalam jangka waktu tertentu.
• Afforestasi : Penanaman pohon pada areal dimana dahulunya bukanlah
kawasan hutan alam.
• Forest Management: Pengelolaan hutan yang baik dalam konsep Sustainable Forest Management (SFM) dimana target akhirnya adalah dapat
membuat stok karbon dalam hutan bertambah dan memungkinkan untuk
memperoleh forest carbon credit.
• Mencegah deforestasi: kredit carbon hutan diperoleh dari kegiatan yang
dapat mencegah terjadinya deforestasi akibat konversi hutan, dan memeliharan stok karbon yang ada di hutan (sebagaimana konsep REDD).
• Meningkatkan pemanfaatan kayu dan pemanfaatan limbah dari kegiatan
pemanenan dan industri.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
105
Vi. Daftar Istilah dan Penjelasannya
Abatement
Merujuk ke pengurangan derajat atau intensitas emisi gas rumah kaca
Accession
Tindakan dimana suatu Negara menjadi Fihak dalam suatu perjanjian yang telah
dinegosiasikan dan ditandatangani oleh Negara-negara lainnya; mempunyai efek
legal yang sama dengan ratifikasi.
Activities Jointly Implementation (AJI) :
Aktivitas yang dilaksanakan dibawah Konvensi untuk memitigasi perubahan iklim
melalui kemitraan antara investor dari Negara maju dan counterpart dari Negara
berkembang di suatu Negara tuan rumah/host country melalui fase pilot / pendahuluan yang berakhir pada tahun 2000. Tujuannya adalah untuk melibatkan dana
dari fihak swasta dalam transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Lihat juga Joint
Implementation
Ad hoc Group on Article 13 (AG13)
Komisi yang dibentuk oleh COP-1 untuk meneliti bagaimana membantu pemerintah
menghadapi kesulitan yang dialami dalam memenuhi komitmen dalam Konvensi
Perubahan Iklim (1995-1998)
Ad hoc Group on Article 13 (AG13)
Komisi yang dibentuk oleh COP-1 untuk meneliti bagaimana membantu pemerintah
menghadapi kesulitan yang dialami dalam memenuhi komitmen dalam Konvensi
Perubahan Iklim (1995-1998)
Ad hoc Group on the Berlin Mandate (AGBM)
Badan subsider yang dibentuk oleh COP-1 untuk melaksanakan pertemuan yang
menuju ke adopsi Protokol Kyoto; AGBM menyelesaikan pekerjaannya pada tanggal
30 November 1997.
Ad hoc Group on the Berlin Mandate (AGBM)
Badan subsider yang dibentuk oleh COP-1 untuk melaksanakan pertemuan yang
menuju ke adopsi Protokol Kyoto; AGBM menyelesaikan pekerjaannya pada tanggal
30 November 1997.
Ad Hoc Working Group on Further Commitments for Annex I parties under
the Kyoto Protocol (AWG).
Kelompok kerja ad hoc tentang komitmen lebih lanjut bagi Fihak Annex I di bawah
Protokol Kyoto (AWG). Kelompok ini dibentuk pada COP/MOP 1. Tugasnya adalah
mendiskusikan komitmen pasca 2012.
Adaptasi terhadap perubahan iklim :
Tindakan penyesuaian oleh system alam atau manusia yang berupaya mengurangi
106
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
kerusakan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
adalah kegiatan dalam rangka antisipasi menghadapi perubahan iklim. Penyesuaian
dalam sistem alam atau sistem buatan manusia untuk menjawab rangsangan secara
iklim (aktual atau perkiraan) atau pengaruhnya, yang mengontrol bahaya yang
ditimbulkan atau memberikan kesempatan yang menguntungkan
Adaptation Fund / Dana Adaptasi
Dana adaptasi dibangun untuk membiayai proyek dan program adaptasi nyata di
Negara berkembang yang merupakan Fihak-Fihak pada Protokol Kyoto. Dana ini
dibiayai dari bagian keuntungan aktivitas proyek mekanisme pembangunan bersih
dan dana dari sumber-sumber lainnya. Informasi lebih lanjut lihat: http://unfccc.int/
cooperation_and_support/financial_mechanism/items/3659.php
Afforestation
Penanaman hutan baru pada lahan-lahan yang secara historis bukan merupakan
hutan
Amendment.
Modifikasi oleh COP pada teks Konvensi. Jika konsensus tidak dapat diraih, amandemen harus disetujui oleh tiga perempat dari suara semua Fihak yang hadir dan
memasukkan suara.
Annex II Parties
Negara-negara yang terdaftar pada Lampiran/Annex II Konvensi yang mempunyai
kewajiban khusus untuk menyediakan sumberdaya finansial dan memfasilitasi transfer teknologi untuk Negara berkembang. Negara-negara ini termasuk 24 anggota
awal OECD ditambah dengan negara-negara Uni Eropa.
Anthropogenic greenhouse emissions
Emisi gas rumah kaca yang berasal dari aktivitas manusia.
Article 4.1
Artikel Konvensi yang menyatakan komitmen umum bagi semua Fihak, baik negara
berkembang maupun negara maju.
Article 4.2
Artikel Konvensi yang menyatakan komitmen khusus bagi Fihak Negara maju
(Annex I) saja – khususnya bahwa Fihak ini akan mengambil tindakan yang bertujuan untuk mengembalikan emisi gas rumah kaca ke tingkat tahun 1990 pada tahun
2000.
Article 6 Supervisory Committee
Komite yang melaksanakan pengawasan secara internasional tentang proyek Joint
Implementation “track-two”. Proyek Joint Implementation dilaksanakan oleh
Negara sponsor dan penerima Negara maju sebagaimana pada Artikel 6 Protokol
Kyoto – kemungkinan besar dengan penerima Negara dengan “ekonomi transisi”.
Track-two digunakan jika salah satu atau kedua negara tidak memenuhi persyaratan
untuk program Joint Implementation standar (”track)
Article 6 Supervisory Committee
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
107
Komite yang melaksanakan pengawasan secara internasional tentang proyek Joint
Implementation “track-two”. Proyek Joint Implementation dilaksanakan oleh
Negara sponsor dan penerima Negara maju sebagaimana pada Artikel 6 Protokol
Kyoto – kemungkinan besar dengan penerima Negara dengan “ekonomi transisi”.
Track-two digunakan jika salah satu atau kedua negara tidak memenuhi persyaratan
untuk program Joint Implementation standar (”track-one”). Lihat track two.
Assigned amount unit (AAU)
Unit yang digunakan dalam Kyoto Protocol setara/ekuivalen dengan 1 metric ton
CO2. Setiap anggota Annex I mengeluarkan AAU sampai dengan tingkat jumlah
yang ditetapkan, sesuai dengan Artikel 3, paragraph 7 dan 8, Protokol Kyoto. AAU
dapat ditukar melalui perdagangan emisi/emissions trading.
Ad Hoc Working Group on Further Commitments for Annex I parties under
the Kyoto Protocol (AWG).
Kelompok kerja ad hoc tentang komitmen lebih lanjut bagi Fihak Annex I di bawah
Protokol Kyoto (AWG).
Kelompok ini dibentuk pada COP/MOP 1. Tugasnya adalah mendiskusikan komitmen pasca 2012.
Bali Action Plan
Rencana Aksi yang dihasilkan pada COP 13 tahun 2007 di Bali
Berlin Mandate
Diadopsi pada COP-1, mandat yang memunculkan negosiasi menuju ke adopsi
Protokol Kyoto.
bersifat mengikat secara hukum (legally binding) :
bilateral
kerjasama antar dua negara
Biomass fuels or biofuels
Bahan bakar yang diproduksi dari bahan organic kering atau minyak bakar yang
dihasilkan oleh tumbuhan/ tanaman. Bahan bakar ini diyakini dapat diperbaharui
selama vegetasi yang menghasilkannya dipelihara atau ditanam kembali, seperti
misalnya kayu bakar, alcohol hasil fermentasi dari gula, dan minyak bakar yang
dihasilkan dari sari kacang kedele. Kegunaannya dalam menggantikan bahan bakar
fosil adalah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca karena tanaman yang merupakan sumber bahan bakar menangkap karbon dioksida dari atmosfer.
Bonn agreements
untuk kesepakatan politik yang dicapai pada COP-6 di Bonn, Jerman, pada tahun
2001, dimana pemerintah-pemerintah menyepakati sebagian besar isu kontroversial
politik di bawah Rencana Aksi Buenos Aires. Kesepakatan Bonn membuka jalan bagi
Marrakech Accords pada tahun yang sama.
Bonn fund
Dana khusus UNFCCC sumbangan dari Pemerintah Jerman untuk menutupi biaya
kegiatan UNFCCC yang diselenggarakan di Bonn.
108
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Brazilian proposal
Usulan delegasi Brazil yang dibuat tahun 1997 sebagai bagian dari negosiasi Protokol
Kyoto. Usulan ini berisi rumus untuk menetapkan target pengurangan emisi yang
berbeda untuk para Fihak berdasarkan dampak kumulatif dari emisi para Fihak
secara historis pada temperatur rata-rata permukaan bumi.
Bunker fuels
Istilah yang digunakan merujuk ke bahan bakar yang dikonsumsi oleh transportasi
laut dan udara internasional.
Bureau
Badan yang bertanggung jawab mengarahkan kerja COP. Kesepuluh anggotanya
merupakan delegasi yang dipilih oleh masing-masing dari lima kelompok regional.
Badan ini terdiri dari Ketua/Presiden COP, enam wakil presiden, Ketua-ketua SBI
dan SBSTA, dan rapporteur. Masing-masing Convention’s subsidiary bodies juga
mempunyai sebuah badan.
CACAM
Koalisi negosiasi Negara-negara Asia Tengah dan Kaukasia, Albania dan Republik
Moldova.
Capacity building
Dalam konteks perubahan iklim, pembangunan kapasitas adalah suatu proses
mengembangkan keterampilan teknis dan kemampuan institusi di Negara berkembang dan Negara dalam transisi ekonomi untuk memudahkan Negara bersangkutan
menangani secara efektif penyebab dan akibat perubahan iklim.
carbon conservation
penyimpanan karbon
Carbon market
Istilah yang popular tetapi menyesatkan untuk system perdagangan dimana Negaranegara dapat membeli atau menjual unit emisi gas rumah kaca dalam usaha untuk
memenuhi batas emisi nasionalnya, baik di bawah Protokol Kyoto atau di bawah
kesepakatan lain, seperti di antara Negara anggota Uni Eropa. Istilah ini berasal
dari fakta bahwa karbon dioksida adalah gas yang dominan dan gas lainnya diukur
dengan unit yang disebut “setara karbon-dioksida”.
carbon sequestration :
pengikatan /penyerapan karbon, Proses memindahkan karbon dari atmosfir dan
menyimpannya dalam reservoir. Sekuestrasi merujuk ke “pemerangkapan” karbon
dioksida dengan suatu cara yang dapat menghindari dilepaskannya ke atmosfer
dalam suatu jangka waktu tertentu.
carbon sinks :
penyimpan carbon atau peningkatan kapasitas penyerapan/penyimpanan karbon
melalui kegiatan tanaman menanam.
carbon substitution
penggantian/substitusi karbon
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
109
CBD :Convention on Biological Diversity.
Konvensi Keanekaragaman Hayati
CBDR : common but differentiated responsibilities
semua negara memiliki tanggung jawab yang sama, namun secara khusus dibedakan
sesuai dengan kemampuannya.
CC TRAIN
Metodologi pelatihan untuk menilai kerentanan terhadap perubahan iklim.
Certified emission reductions (CER)
Unit dalam Protokol Kyoto setara 1 metrik ton. CER dikeluarkan untuk pengurangan
emisi dari aktivitas CDM. Dua jenis khusus CER disebut pengurangan emisi tersertifikasi temporer (tCERs) dan emisi tersertifikasi jangka panjang (lCERs) dikeluarkan
untuk pemindahan emisi dari proyek CDM aforestasi dan reforestasi.
CFC
Chlorofluoracarbon
CG-11
Kelompok Utama 11 (koalisi negosiasi Eropa Tengah Fihak Annex I)
CGE
Consultative Group of Experts on National Communications from Parties not included in Annex I to the Convention.
Kelompok konsultatif tenaga ahli pada Komunikasi Nasional dari Fihak-fihak yang
tidak termasuk pada Annex I Konvensi.
CH4
Methane.
Chair (or Chairman, Chairperson, etc.)
Delegasi nasional yang dipilih oleh Negara peserta untuk memimpin pembahasan
pada subsidiary body. Ketua berbeda bisa dipilih untuk kelompok-kelompok
informal lainnya. Ketua bertanggung jawab untuk memfasilitasi kemajuan suatu
persetujuan/kesepakatan dan bekerja selama periode antar waktu sampai dengan
COP yang akan datang.
Clean Development Mechanism (CDM) :
Mekanisme Pembangunan Bersih
Clearing house
Pelayanan yang memfasilitasi atau mempermudah transaksi diantara berbagai fihak.
Climate Change (perubahan iklim):
Setiap perubahan nyata yang dapat diukur faktor iklimnya (seperti temperatur atau
tingkat penguapan) dalam setiap periode waktu (contohnya setiap 1 dekade).
CMS :
Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals.
Konvensi tentang Konservasi Jenis/Spesies Hewan Migrasi Liar
110
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
CO2
Karbon dioksida . Gas yang terdapat di atmosfer, dihasilkan sebagai produk sampingan dari pembakaran , contohnya bahan bakar fosil dan biomassa yang membusuk
atau terbakar. Karbon dioksida juga dapat dilepaskan ketika terjadi kegiatan alih
guna lahan dan kegiatan industry.
Committee of the Whole
Sering dibentuk pada suatu COP untuk membantu menegosiasikan teks. Komisi ini
terdiri dari anggota yang sama dengan COP. Ketika Komisi menyelesaikan pekerjaannya, teks dikembalikan ke COP, yang memfinalisasi dan kemudian mengadopsi
teks selama sesi sidang pleno.
Common Reporting Format (CRF)
Format standar pelaporan perkiraan emisi dan pemindahan gas rumah kaca dan
informasi lain oleh Fihak Annex I
Compliance
Pemenuhan komitmen pengurangan dan pelaporan emisi di bawah UNFCCC dan
Protokol Kyoto oleh Negara/ bisnis/individu.
Compliance Committee
Komisi yang membantu memfasilitasi, mempromosikan dan mengimplementasikan
kesesuaian dengan persyaratan pada Protokol Kyoto. Komisi ini terdiri dari 20
anggota dengan keterwakilan menyebar di berbagai region, Negara berkembang
pulau kecil, fihak Annex I dan non-Annex I, dan berfungsi melalui siding pleno,
biro, cabang fasilitatif dan cabang enforcement.
Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties (COP/MOP)
Badan tertinggi Konvensi adalah COP, yang berfungsi sebagai pertemuan Fihakfihak pada Protokol Kyoto. Sesi COP dan COP/MOP dilaksanakan pada periode
yang sama untuk mengurangi biaya dan meningkatkan koordinasi antara Konvensi
dan Protokol.
Conference room papers (CRPs)
Kategori dokumen pada sesi pertemuan yang berisi proposal atau outcome/luaran
pada kerja sesi yang bersangkutan. CRP hanya digunakan selama sesi ybs.
Consultative Group of Experts on National Communications from non-Annex
I Parties
Panel yang dibentuk untuk meningkatkan persiapan komunikasi nasional dari
Negara-negara berkembang. Komunikasi nasional merupakan kewajiban dari Fihakfihak terkait Konvensi Perubahan Iklim.
Contact group
Pertemuan terbuka yang dapat dilakukan oleh COP, badan subsider atau Komite
secara Keseluruhan (Committee of the Whole) dimana para Fihak dapat bernegosiasi
sebelum mengajukan teks yang disepakati untuk diadopsi secara formal. Para pengamat pada umumnya dapat menghadisi sesi ini.
Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
111
COP (Convention of the Party) :
Konferensi Para Pihak yang merupakan badan tertinggi, atau yang memiliki
wewenang tertinggi membuat keputusan sekaligus merupakan asosiasi Para Pihak
yang meratifikasi
Konvensi.
Countries with Economies in Transition (EIT)
Negara dengan Transisi Ekonomi
Corporate Social Responsibility (CSR)
atau Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan adalah kewajiban suatu
Perseroaan yang bertujuan untuk menciptakan hubngan perseroan yang serasi,
seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma dan budaya masyarakat
setempat.
CSD
United Nations Commission on Sustainable Development. Komisi Badan Persatuan
Bangsa-bangsa dibidang pembangunan berkelanjutan.
Dana Adaptasi
Dana adaptasi dibangun untuk membiayai proyek dan program adaptasi nyata di
Negara berkembang yang merupakan Fihak-Fihak pada Protokol Kyoto. Dana ini
dibiayai dari bagian keuntungan aktivitas proyek mekanisme pembangunan bersih
dan dana dari sumber-sumber lainnya. Informasi lebih lanjut lihat: http://unfccc.int/
cooperation_and_support/financial_mechanism/items/3659.php
Dana Reboisasi atau DR
adalah dana yang dipungut dari pemegang IUPHHK dalam hutan alam pada hutan
produksi untuk mereboisasi dan merehabilitasi hutan.
Decision
Persetujuan formal yang (tidak seperti resolusi) menuju ke tindakan mengikat secara
hukum. Ini menjadi bagian dari batang tubuh keputusuan yang mengarahkan kerja
COP.
Declaration
Pernyataan politik yang tidak mengikat yang dibuat oleh menteri-menteri yang
menghadiri pertemuan utama (misalnya Deklarasi Para Menteri di Geneva pada
COP-2)
deforestasi, :
konversi hutan untuk penggunaan lain seperti pertanian, perkebunan, pemukiman,
pertambangan, prasarana wilayah
degradasi :
penurunan kualitas hutan) akigat illegal logging, kebakaran, over cutting, perladangan berpindah dan perambahan.
Demonstration Activities :
Kegiatan percontohan REDD
112
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Designated National Authority (DNA)
Suatu kantor, kementrian, atau entitas resmi lainnya yang ditunjuk oleh Fihak terkait
Protokol Kyoto untuk mereview and memberikan persetujuan nasional atas proyek
yang diusulkan dibawah CDM.
Dewan Internasional Inisiatif Lingkungan Lokal.
Dibentuk pada tahun 1988 oleh Organisasi Meteorologi Dunia dan Program Lingkungan PBB (UNEP), IPPC melakukan survei literatur teknis dan ilmiah di seluruh
dunia dan mempublikasikan laporan yang dikenal secara luas sebagai sumber informasi perubahan iklim yang paling dapat dipercaya. IPPC juga bekerja di metodologi
dan menjawab permintaan khusus dari badan subsider Konvensi. IPPC merupakan
institusi independen dan tidak terkait dengan Konvensi.
Direct Carbon Market
perusahaan di negara industry membeli kredit REDD untuk emission allowance
dalam sistem cap and trade di negerinya. Dengan REDD perusahaan ini diperbolehkan mengemisi lebih dari kuota di dalam negerinya dan dikompensasi dengan
pencegahan emisi dari deforestasi dan degradasi di negara berkembang. Pendekatan
ini seperti untuk CDM (project baseline) dan kemungkinan akan memasukan REDD
national baseline setelah REDD menjadi bagain dari pasar karbon pasca 2012. Potensi
pendanaan diperkirakan mencapai puluhan milyar dollar per tahun.
Documents
Dokumen terdiri dari beberapa kategori. Dokumen resmi tersedia untuk semua
orang dan menampilkan logo PBB dan Konvensi Perubahan Iklim. Dokumen ini
berisi nomor referensi, misalnya FCCC/CP/1998/1. Dokumen pra-sesi tersedia
sebelum pertemuan, sering dalam nam bahasa resmi PBB. Dokumen in-sesi dibagikan di tempat (lihat CRP, L docs, Misc. Doc, dan non-papers). Dokumen informal
sering dibagikan di luar ruang pertemuan oleh pengamat.
Drafting group
Kelompok pengonsep
Dual market system
Kredit REDD tidak fungible dengan allowance negara industry. Potensi pendanaan
diperkirakan mencapai beberapa puluh milyar dollar per tahun
Efek rumah kaca :
emisi gas-gas seperti CO2, Metan (CH4), Nitro, CFC dll yang dihasilkan industria,
dan sector transportasi, kegiatan pertanian, penebangan hutan dll, yang menimbulkan efek panas di udara.
Emission reduction unit (ERU) /Unit Pengurangan Emisi
Unit dalam Protokol Kyoto yang setara dengan 1 metric ton CO2. Unit pengurangan
emisi (ERU) didapatkan dari pengurangan emisi atau penghilangan emisi dari
proyek Joint Implementation.
Emissions trading /perdagangan emisi
Salah satu dari tiga mekanisme yang ada di Protokol Kyoto, dimana negara Annex
I dapat mentransfer unit Protokol Kyoto untuk membeli unit dari Fihak Annex I
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
113
lainnya. Suatu Fihak dalam Annex I harus memenuhi persyaratan spesifik eligibility
untuk ikut serta dalam perdagangan emisi.
Entry into force
Saat dimana suatu perjanjian antar pemerintah menjadi mengikat secara hukum—
terjadi pada suatu interval yang ditetapkan sebelumnya dan memerlukan ratifikasi
dari sejumlah Negara. Konvensi Perubahan Iklim memerlukan 50 ratifikasi untuk
dapat berlaku. Saat ini telah berlaku bagi setiap fihak baru 90 hari setelah Fihak yang
bersangkutan meratifikasi Konvensi.
Environmental Integrity Group (EIG)
Aliansi koalisi atau negosiasi yang terdiri dari Meksiko, Republik Korea dan Swiss.
ESCAP
Economic and Social Commission for Asia and the Pacific.
Komisi Sosial dan Ekonomi untuk Asia dan Pasifik.
European Union (EU)
Sebagai suatu organisai integrasi ekonomi, Uni Eropa merupakan Fihak Konvensi
maupun Protokol Kyoto. Namun demikian, EU tidak memiliki suara terpisah dari
negara-negara anggotanya. Karena EU menandatangani Konvensi ketika dikenal
sebagai Masyarakat Ekonomi Eropa, EU memakai nama ini untuk semua tujuan
terkait Konvensi secara formal. Negara-negara anggotanya adalah Austria, Belgia,
Cyprus, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Jerman, Yunani, Hungaria,
Irlandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luxemburg, Malta, Belanda, Polandia, Portugal,
Slovakia, Spanyol, Swedia dan Inggris.
Executive Board of the Clean Development Mechanism
Panel yang terdiri dari 10 anggota yang dipilih pada COP-7 yang mengawasi CDM
dan beroperasi sebelum Protokol diberlakukan.
Expert Group on Technology Transfer (EGTT)
Kelompok tenaga ahli yang dibentuk pada COP7 dengan tujuan meningkatkan
implementasi Artikel 4.5 Konvensi, dengan menganalisa dan mengidentifikasi caracara untuk memfasilitasi dan mempercepat kegiatan transfer teknologi di bawah
Konvensi.
Expert review teams
Kelompok tenaga ahli, yang dinaminasikan oleh para Fihak, yang mereview laporan
nasional yang dimasukkan oleh Fihak Annex I ke UNFCCC dan Protokol Kyoto.
FAO
Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Organisasi Pertanian dan Pangan PBB
Financial Mechanism
Fihak Negara maju (Fihak Annex II) diharuskan menyediakan sumberdaya financial
untuk membantu Negara-negara berkembang mengimplementasikan Konvensi.
Untuk memfasilitasi ini, Konvensi membentuk mekanisme financial untuk menyediakan dana bagi Fihak Negara berkembang. Para Fihak dalam Konvensi menugas-
114
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
kan pelaksanaan mekanisme financial ke Global Environment Facility (GEF) dengan
on-going basis, yang direview tiap empat tahun, Mekanisme financial akuntabel
terhadap COP.
Friends of the chair
Delegasi yang dipanggil/diajak oleh Ketua (yang mempertimbangkan keperluan keseimbangan politik diantara berbagai kepentingan) untuk membantu melaksanakan
tugas khusus.
Fugitive fuel emissions
Emisi gas rumah kaca sebagai produk sampingan atau limbah atau sisa proses
produksi, penyimpanan, atau pengangkutan bahan bakar, seperti gas metan yang
menguap selama proses pengeboran atau penyaringan minyak dan gas, atau kebocoran gas alam dari jalur pipa.
GATT
General Agreement on Tariffs and Trade.
Persetujuan Umum tentang Tarif dan Perdagangan,
GCOS
Global Climate Observing System.
Sistem Pengamatan Iklim Global.
GEF
Global Environmental Facilities
GEF adalah organisasi financial independent yang menyediakan hibah bagi Negaranegara berkembang untuk proyek yang memberi manfaat lingkungan global dan
mempromosikan penghasilan/penghidupan yang lestari bagi masyarakat. Para Fihak
Konvensi mengoperasikan mekanisme financial ke GEF berdasarkan kegiatan yang
sedang berjalan, dan direview setiap empat tahun. Mekanisme finansial akuntabel
terhadap COP. Informasi lebih lanjut lihat: http://www.thegef.org/
Gerhan/GNRHL
merupakan dsingkatan dari Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang
merupakan program pemerintah dalam rangka merehabiltasi hutan dan lahan kritis
di Indonesia melalui suatu gerakan penanaman pohon di lahan-lahan kritis.
Global warming potential (GWP)
Indeks yang menunjukkan pengaruh kombinasi pada waktu yang berbeda gas rumah
kaca yang berada di atmosfer dan efektifitas relatifnya dalam menyerap radiasi sinar
infra merah yang ke luar.
GOOS (Global Ocean Observing System.)
Sistem Pengamatan Lautan Global
Greenhouse gases (GHGs)/Gas Rumah Kaca
Gas-gas di atmosfer yang bertanggung jawab sebagai penyebab pemanasan global
dan perubahan iklim. Gas-gass rumah kaca yang utama adalah karbon dioksid
(CO2), metan (CH4) dan Nitrogen oksida (N20). Gas-gas rumah kaca yang kurang
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
115
umum—tetapi sangat kuat—adalah hydrofluorocarbons (HFCs), perfluorocarbons
(PFCts) and sulphur hexafluoride (SF6).
Group of 77 (G-77) and China
Aliansi besar negosiasi yang terdiri dari Negara-negara berkembang yang memfokuskan pada berbagai topic internasional, termasuk isu perubahan iklim. G-77
dibentuk pada tahun 1967 dengan dukungan Konferensi PBB tentang Perdagangan
dan Pembangunan (UNCTAD). Tujuannya adalah menyelarskan posisi negosiasi 131
negara anggotanya.
GRULAC
Group of Latin American and Caribbean States.
Kelompok Negara-negara Amerika Latin dan Karibia.
Global Environment Facility (GEF)
GEF adalah organisasi financial independent yang menyediakan hibah bagi Negaranegara berkembang untuk proyek yang memberi manfaat lingkungan global dan
mempromosikan penghasilan/penghidupan yang lestari bagi masyarakat. Para Fihak
Konvensi mengoperasikan mekanisme financial ke GEF berdasarkan kegiatan yang
sedang berjalan, dan direview setiap empat tahun. Mekanisme finansial akuntabel
terhadap COP. Informasi lebih lanjut lihat: http://www.thegef.org/.
GTOS
Global Terrestrial Observing System.
Sistem Observasi Terestrial Global
GWP
Global warming potential.
Potensi pemanasan global.
HFC
Hydrofluorocarbons.
Hidrofluorocarbon.
“hot air”
Merujuk ke kekhawatiran bahwa beberapa pemerintahan akan mampu memenuhi
target emisi gas rumah kaca di bawah Protokol Kyoto dengan usaha minimal dan
dapat membanjiri pasar dengan kredit emisi, mengurangi insentif bagi Negara lain
untuk memotong emisi domestic mereka sendiri.
Hutan hak
adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah.
Hutan Adat
adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat.
Hutan Produksi
adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan.
116
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Hutan Lindung
adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem
penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan
erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
Hutan konservasi
adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok
pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.
Hutan Desa
adalah hutan negara yang belum dibebani izin/hak yang dikelola oleh desa dan
dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa.
Hutan Tanaman Rakyat atau HTR
adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompk masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan
silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan.
ICAO
International Civil Aviation Organization.
Organisasi Penerbangan Sipil Internasional.
ICCP
International Climate Change Partnership.
Kemitraan Perubahan Iklim Internasional.
ICLEI
International Council of Local Environmental Initiatives.
Dewan Internasional Inisiatif Lingkungan Lokal.
IEA
International Energy Agency.
Badan Energi Internasional.
IGO
Intergovernmental organization.
Organisasi antarpemerintah.
llegal logging :
Pembalakan Liar
IMO
International Maritime Organization.
Implementation
Aksi (legislasi atau regulasi, keputusan hukum, atau aksi lainnya) yang diambil
pemerintah untuk menerjemahkan perjanjian internasional ke dalam undangundang/peraturan dan kebijakan domestik.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
117
INC
Intergovernmental Negotiating Committee for the UNFCCC (1990-1995).
Komisi Negosiasi antarpemerintah untuk UNFCCC (1990-1995).
In-depth review (IDR)
Proses dimana implementasi Konvensi dan/atau Protokol Kyoto oleh Fihak Annex I
dinilai (diassess) oleh tim tenaga ahli internasional.
Informal contact group
Sekelompok delegasi yang diperintahkan oleh Ketua untuk bertemu secara pribadi
untuk membahas hal khusus untuk mengkonsolidasikan berbagai pandangan yang
berbeda, dan menghasilkan proposal yang disepakati, sering dalam bentuk teks
tertulis.
Intergovernmental Negotiating Committee (INC)
Komite yang dibentuk untuk menyusun konsep Konvensi. INC bertemu dalam lima
sesi antara Februari 1991 dan Mei 1995. Setelah teks Konvensi diadopsi tahun 1992,
INC bertemu enam kali lagi untuk mempersiapkan COP-1. INC menyelesaikan
tugasnya pada Februari 1995.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)
Dibentuk pada tahun 1988 oleh Organisasi Meteorologi Dunia dan Program Lingkungan PBB (UNEP), IPPC melakukan survei literatur teknis dan ilmiah di seluruh
dunia dan mempublikasikan laporan yang dikenal secara luas sebagai sumber informasi perubahan iklim yang paling dapat dipercaya. IPPC juga bekerja di metodologi
dan menjawab permintaan khusus dari badan subsider Konvensi. IPPC merupakan
institusi independen dan tidak terkait dengan Konvensi.
International Climate Change Partnership
Koalisi global perusahaan dan asosiasi yang berkomitmen untuk berpartisipasi
secara konstruktif dalam penyusunan kebijakan tentang perubahan iklim.
IOC
Intergovernmental Oceanographic Commission.
Komisi Oseanografi/Kelautan antarpemerintah.
IUPHHK atau IUPHHBK
adalah Izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu, atau bukan kayu yang diberikan
untuk memanfaatkan hasil hutan berupa kayu atau bukan kayu dalam hutan alam
pada hutan produksi memalui kegiatan pemanenan atau penebangan, pengayaan,
pemeliharaan dan pemasaran.
ISO
International Standards Organization.
Organisasi Standar Internasional.
IUCN
World Conservation Union.
Badan Konservasi Dunia.
118
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Joint Liaison Group (JLG).
Kelompok perwakilan dari Sekretariat UNFCCC, CBD, dan UNCCD yang dibentuk
untuk membahas kegiatan umum untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan
perubahan iklim, keanekaragaman hayati dan penggurunan.
Joint implementation (JI)
Mekanisme dalam Protokol Kyoto dimana suatu Negara maju dapat menerima “unit
pengurangan emisi” ketika membantu mendanai proyek yang mengurangi emisi
gas rumah kaca bersih di Negara maju lainnya (dalam praktek, kemungkinan besar
Negara penerima adalah Negara dengan “transisi ekonomi”). Fihak Annex I harus
memenuhi persyaratan khusus untuk berpartisipasi dalam Joint Implementation.
JUSSCANNZ
Singkatan yang mewakili Negara-negara industri non Uni Eropa yang kadangkadang bertemu untuk membahas berbagai isu terkait perubahan iklim. Anggotanya
adalah jepang, Amerika Serikat, Swiss, Kanada, Australia, Norwegia, dan Selandia
Baru. Islandia, Meksiko dan Republik Korea mungkin juga menghadiri pertemuan
JUSSCANZ.
JWG
Joint working group.
Kelompok Kerja Sama
International Climate Change Partnership (ICCP)
Kemitraan Perubahan Iklim Internasional.
Kawasan Budi Daya Kehutanan (KBK):
adalah Istilah dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi yang menunjukkan
kawasan tersebut adalah kawasan hutan negara yang diperuntukkan bagi kegiatan
kehutanan.
Kawasan Budi Daya Non Kehutanan (KBNK)
adalah Istilah dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi yang menunjukkan
kawasan tersebut adalah kawasan hutan negara yang telah berubah statusnya yang
diperuntukkan bagi kegiatan non kehutanan, atau sektor lain, dan biasa juga disebut
dengan Areal Penggunaan Lain (APL)
Kawasan hutan suaka alam
adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok sebagai
kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya,
yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.
Kawasan Hutan Pelestarian Alam
adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok perlindungan
sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan
satwa, serta pemanfaatan secara lestari suber daya lam hayati dan ekosistemnya.
KPH
Kesatuan Pemangkuan Hutan
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
119
Kyoto mechanisms
Tiga prosedur yang dibangun di bawah Protokol Kyoto untuk meningkatkan
fleksibilitas dan mengurangi biaya pengurangan gas rumah kaca; mekanisme
tersebut adalah Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB/CDM), perdagangan emisi
(emission trading), dan implementasi bersama (joint implementation)
KYOTO PROTOKOL :
Mekanisme dalam Protokol Kyoto dimana suatu Negara maju dapat menerima “unit
pengurangan emisi” ketika membantu mendanai proyek yang mengurangi emisi
gas rumah kaca bersih di Negara maju lainnya (dalam praktek, kemungkinan besar
Negara penerima adalah Negara dengan “transisi ekonomi”). Fihak Annex I harus
memenuhi persyaratan khusus untuk berpartisipasi dalam Joint Implementation.
Mekanisme di bawah Protokol Kyoto dimana Negara maju dapat mendanai proyek
pengurangan atau pemindahan emisi gas rumah kaca di Negara berkembang, dan
menerima kredit untuk pelaksanaannya yang dapat digunakan untuk memenuhi
kewajiban pengurangan emisi Negara maju.
L. docs
Dokumen dalam sesi pertemuan yang berisi konsep laporan untuk diadopsi dalam
COP atau badan turunannya. Biasanya dokumen semacam ini tersedia dalam enam
bahasa resmi PBB.
Land use, land-use change, and forestry (LULUCF)
Sektor inventarisasi gas rumah kaca yang meliputi emisi dan pemindahan gas rumah
kaca yang berasal dari aktivitas pemanfaatan lahan secara langsung oleh manusia,
perubahan lahan dan kehutanan.
Leakage /kebocoran
Bagian dari pengurangan gas rumah kaca oleh negara berkembang – negara-negara
yang mencoba memenuhi batas wajib di bawah Protokol Kyoto – yang mungkin
timbul kembali di negara lain yang tidak terikat oleh batas tersebut. Misalnya
perusahaan multinasional mungkin memindahkan pabriknya dari Negara maju ke
Negara berkembang untuk menghindari pembatasan emisi.
Least Developed Countries (LDCs)
Negara-negara termiskin di dunia. Kriteria yang saat ini digunakan oleh Dewan
Sosial dan Ekonomi (ECOSOC) sebagai dasar LDC adalah penghasilan yang rendah,
kelemahan dalam sumberdaya manusia dan ketidakmampuan ekonomi. Saat ini
terdapat sekitar 50 negara yang dimasukkan ke dalam kategori LDC oleh Sidang
Umum PBB.
Least Developed Country (LDC) Expert Group
Panel yang terdiri dari 12 tenaga ahli yang menyediakan saran bagi LDC di dalam
persiapan dan implementasi program aksi adaptasi nasional (NAPA) – rencana untuk
menangani keperluan mendesak dan segera Negara tersebut untuk mengadaptasi
perubahan iklim.
Least Developed Country Fund (LDCF)
LDCF adalah dana yang dibangun untuk mendukung program kerja untuk mem-
120
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
bantu Fihak LDC untuk melaksanakan, antara lain, persiapan dan implementasi
program aksi adaptasi nasional (NAPA). GEF, sebagai entitas yang mengoperasikan
mekanisme financial Konvensi, telah diberi kepercayaan untuk mengoperasikan dana
ini. Untuk informasi lebih lanjut lihat: http://unfccc.int/cooperation_and_support/
financial_mechanism/least_developed_country_fund/items/3660.php
Marrakesh Accords
Kesepakatan/persetujuan yang dicapai pada COP-7 yang menetapkan berbagai
aturan untuk “mengoperasikan” persyaratan Protokol Kyoto yang lebih kompleks.
Kesepakan ini, diantara berisi pembangunan system perdagangan emisi gas rumah
kaca; implementasi dan monitoring Mekanisme Pembangunan Bersih dan menetapkan dan mengoperasikan tiga jenis pendanaan untuk mendukung usaha-usaha
adapatasi perubahan iklim.
Meeting
Pertemuan formal yang dilakukan selama “sesi”. Setiap sesi di dalam COP, misalnya,
dibagi menjadi sejumlah pertemuan. Sebuah pertemuan pada umumnya dijadwalkan dari jam 10 pagi sampai dengan jam 1 siang atau dari jam 3 siang sampai dengan
jam 6 sore.
Mekanisme Pembangunan Bersih Protokol Kyoto (CDM) :
mekanisme yang memungkinkan negara-negara maju untuk membangun proyek
bersama yang dapat menghasilkan kredit penurunan atau penyerapan emisi GRK;
mekanisme yang memungkinkan Negara-negara non-ANNEX I untuk berperan
aktif membantu penurunan emisi GRK melalu proyek yang diimplementasikan oleh
sebuah Negara maju. Nantinya kredit penurunan emisi GRK yang dihasilkan dari
proyek tersebut dapat dimiliki oleh Negara maju tersebut
mekanisme yang memungkinkan sebuah negara maju untuk menjual kredit penurunan emisi GRK melebihi target negaranya.
Mitigasi terhadap perubahan iklim :
Dalam konteks perubahan iklim, mitigasi adalah intervensi manusia untuk mengurangi sumber atau meningkatkan sink gas rumah kaca. Contohnya adalah menggunakan bahan bakar fosil secara lebih efisien untuk proses industri atau pembangkit
tenaga listrik, beralih ke energi matahari atau tenaga angin, meningkatkan insulasi
pada bangunan, dan membangun hutan dan sink lainnya untuk mengurangi lebih
banyak lagi karbondioksida dari atmosfer.
Modifikasi oleh COP pada teks Konvensi. Jika konsensus tidak dapat diraih, amandemen harus disetujui oleh tiga perempat dari suara semua Fihak yang hadir dan
memasukkan suara.
Miscellaneous documents (misc. docs)
Dokumen yang dicetak di atas kertas biasa tanpa logo PBB. Dokumen ini biasanya
berisi pandangan atau komentar yang dicetak sebagaimana aslinya dari delegasi
tanpa edit formal.
Mitigation
Dalam konteks perubahan iklim, mitigasi adalah intervensi manusia untuk mengu-
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
121
rangi sumber atau meningkatkan sink gas rumah kaca. Contohnya adalah menggunakan bahan bakar fosil secara lebih efisien untuk proses industri atau pembangkit
tenaga listrik, beralih ke energi matahari atau tenaga angin, meningkatkan insulasi
pada bangunan, dan membangun hutan dan sink lainnya untuk mengurangi lebih
banyak lagi karbondioksida dari atmosfer.
Montreal Protocol
Protokol Montreal tentang Substansi yang Mengurangi Lapisan Ozon, dan kesepakatan internasional yang diadopsi di Montreal tahun 1987.
Multilateral
kerjasama dengan beberapa negara dan badan-badan Internasional
Multistakeholders Forestry Programme (MFP),
Program Kerjasama Kehutanan Multipihak
N20
Nitrous oxide.
National adaptation programmes of action (NAPAs)
Dokumen yang dipersiapkan oleh Negara terbelakang (LDC) yang mengidentifikasi
kebutuhan penting dan mendesak untuk adaptasi terhadap perubahan iklim. NAPA
disajikan ke komunitas donor internasional untuk mendapatkan dukungan.
National communication
Dokumen yang disusun dan dikirimkan sesuai dengan Konvensi (dan Protokol
Kyoto) dimana suatu Fihak memberikan informasi ke Fihak lainnya tentang aktivitas
yang dikerjakan untuk menangani perubahan iklim. Sebagian besar Negara maju
saat ini telah memasukkan komunikasi nasional ke empat mereka; kebanyakan
Negara berkembang telah menyelesaikan komunikasi nasional pertamanya dan
sedang dalam proses persiapan komunikasi ke dua.
National delegation
Satu atau lebih petugas yang ditugaskan untuk mewakili dan bernegosiasi atas nama
suatu Negara.
Non-Annex I Parties
Merujuk ke Negara-negara yang telah meratifikasi atau menyetujui Konvensi PBB
tentang Perubahan Iklim yang tidak termasuk ke dalam Annex I Konvensi.
Non-governmental organizations (NGOs)
Organisasi yang bukan merupakan bagian dari struktur pemerintah. Kelompok ini
termasuk kelompok lingkungan, lembaga penelitian, kelompok bisnis, dan asosiasi
pemerintah desa dan lokal. Banyak LSM menghadiri perbincangan tentang iklim
sebagai pengamat. Agar dapat menghadiri pertemuan Konvensi, LSM haruslah
nirlaba (non-profit).
Non-paper
Dokumen di dalam sesi pertemuan yang dikeluarkan secara informal untuk memfasilitasi negosiasi. Dokumen ini tidak memiliki simbol dokumen resmi. Dokumen
dapat memiliki nomor identifikasi atau nama pengarangnya.
122
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Non-Party
Negara yang belum meratifikasi Konvensi tetapi menghadiri pertemuan sebagai
pengamat.
“No-regrets options”
Teknologi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dimana manfaat lainnya (dalam
bentuk efisiensi atau pengurangan biaya energi) sedemikian ekstensif sehingga
investasi sangat masuk akal untuk alasan tersebut. Misalnya, combined-cycle gas
turbines – dimana panas dari bahan bakar yang terbakar menggerakkan turbin uap
sedangkan ekspansi termal dari gas yang terbuang menggerakkan turbin gas – dapat
memperbesar efisiensi mesin generator listrik sampai dengan 70%.
Observers
Badan, LSM, dan pemerintah yang bukan merupakan Fihak Konvensi yang
mendapatkan ijin untuk menghadiri, tetapi tidak untuk memilih, pada pertemuan
COP dan badan-badan di bawahnya. Pengamat bisa termasuk PBB dan badan
khususnya; organisasi antar pemerintah lainnya seperti Badan Energi Atom Internasional; dan LSM terakreditasi.
offset karbon:
adalah pengurangan emisi yang disertifikasi (Certified Emission Reduction) yang
diperoleh diluar sector yang telah diatur. Offset dapat diterbitkan untuk kegiatankegiatan yang berorientasi pada konservasi seperti penanaman pohon di areal yang
sebelumnya berhutan (reforestasi), pengurangan emisi dari deforestasi, manajamen
hutan yang lebih baik, dan perubahan-perubahan lainnya dalam praktek-praktek
pengelolaan lahan seperti konservasi tanah garapan, serta proyek-proyek nonkonservasi seperti penanggkaran dan pembakaran metan dari pengolahan lahan,
tambang batubara, dan manajemen pupuk di lahan pertanian
OECD
Organisation for Economic Co-operation and Development.
Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi.
OPEC
Organization of Petroleum Exporting Countries.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak.
Party
Negara (atau organisasi gabungan ekonomi regional seperti Uni Eropa) yang sepakat
untuk terikat dalam suatu perjanjian dan perjanjian tersebut telah berlaku.
Pasar Karbon voluntary
Pasar bebas untuk perdagangan karbon. Perdagangan karbon terjadi pada pasar
karbon yang lebih bersifat voluntary, dimana terdapat pembeli, penjual, produk dan
kesepakatan antara pembeli dan penjual. Perdagangan karbon ini dilakukan melalui
pasar saham yang menjual komoditi karbon.
Pasar carbón regulatory
adalah sebuah pasar yang menjual sertifikasi penurunan emisi karbon yang didasari
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
123
oleh komitmen moral dan formal untuk mengurangi emisi, terikat oleh sebuah
kredibilitas sertifikasi
PHL
Pengelolaan hutan lestari
PFC
Perfluorocarbon.
Perfluorokarbon.
Plenary
Pertemuan formal seluruh COP atau salah satu badan di bawahnya. Keputusan atau
kesimpulan formal hanya boleh diambil pada saat sesi ini.
Policies and measures (PAMs)
Frase/istilah yang sering dipakai – kadang-kadang disingkat PAM – merujuk ke
tahapan yang diambil atau akan diambil oleh Negara-negara untuk mengurangi
emisi gas rumah kaca di bawah UNFCCC dan Protokol Kyoto. Beberapa kebijakan
dan tindakan terdapat di Protokol dan dapat memberikan kesempatan bagi kerjasama antar pemerintah.
President
Perwakilan dari Negara anggota yang dipilih oleh para Fihak untuk mengetuai
COP. Presiden seringkali adalah seorang birokrat senior atau menteri dari Negara
atau regional yang menjadi tuan rumah pertemuan. Presiden tidak berpartisipasi
dalam negosiasi sebagai perwakilan dari negara/pemerintah anggota selama masa
kepresidenan.
Protocol
Persetujuan internasional terkait dengan konvensi, tetapi sebagai suatu persetujuan
tambahan dan terpisah yang harus ditandatangani dan diratifikasi oleh para Fihak
konvensi terkait. Protokol biasanya memperkuat suatu konvensi dengan menambah
komitmen baru yang lebih detail.
Quantified Emissions Limitation and Reduction Commitments (QELROs)
Target dan jadwal waktu yang mengikat secara hukum di bawah Protokol Kyoto
untuk pembatasan atau pengurangan emisi gas rumah kaca oleh Negara maju.
Ratifikasi
Persetujuan formal, seringkali oleh Parlemen/DPR atau badan legislatif nasional
lainnya, terhadap suatu konvensi, protokol, atau perjanjian, sehingga memungkinkan suatu Negara menjadi suatu Fihak. Ratifikasi merupakan suatu proses terpisah
yang dilakukan setelah suatu Negara menandatangani suat perjanjian. Instrumen
ratifikasi harus diletakkan dengan suatu ”depositary” (dalam hal Konvensi Perubahan Iklim, Sekretaris Jenderal PBB) untuk mulai perhitungan awal menjadi suatu
Fihak (dalam hal Konvensi, waktunya adalah 90 hari).
Recommendation
Tindakan formal COP yang lebih lemah dibandingkan dengan keputusan atau resolusi, dan tidak mengikat terhadap Fihak Konvensi.
124
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Reducing Emission from Deforestation in Developing Countries (REDD)
Pengurangan emsisi dari deforestasi di Negara berkembang. Isu ini muncul pada
COP 11 di Montreal. Beberapa pihak mendiskusikan proposal Papua New Guinea
untuk memberikan insentif bagi Negara berkembang yang dapat menghindari
deforestasi.
Reforestation
Penanaman kembali lahan hutan yang sebelumnya berisi hutan tetapi telah dikonversi menjadi penggunaan lain.
Regional groups
Aliansi Negara-negara, pada umumnya berada di regional geografis yang sama,
yang bertemu untuk membahas isu dan menominasikan anggota biro dan petugas
lainnya bagi aktivitas di dalam Konvensi. Lima kelompok regional adalah Afrika,
Asia, Eropa Timur dan Tengah (CEE), Amerika Latin dan Karibia (GRULAC), dan
Eropa Barat dan Kelompok Lain (WEOG).
Registries, registry systems
Database elektronik yang akan melacak dan merekam semua transaksi di bawah
sistem perdagangan emisi gas rumah kaca Protokol Kyoto (carbon market) dan di
dalam mekanisme seperti Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM).
Research and systematic observation
Kewajiban bagi para Fihak Konvensi Perubahan Iklim; mereka diminta untuk mempromosikan dan bekerjasama dalam penelitian dan pengamatan sistematik tentang
sistem iklim, dan diminta untuk membantu negara-negara berkembang dalam
pelaksanaannya.
Reservation
Pengecualian atau concern yang dicatat oleh Fihak pada saat penerimaan keputusan
COP. Reservasi tidak diperkenankan untuk Konvensi itu sendiri atau Protokol.
Reservoirs
Komponen dalam system iklim dimana gas rumah kaca atau asal usul gas rumah
kaca tersimpan. Pohon merupakan reservoir bagi karbon dioksida.
Resolution
Arahan yang memandu kerja COP – lebih sebagai opini daripada aksi legal permanen. Tidak seperti keputusan, resolusi biasanya bukan merupakan bagian formal
dari legislasi yang diputuskan oleh COP.
Review of commitments
Pengamatan/review regular oleh Fihak Konvensi tentang kecukupan Artikel 4.2(a)
dan (b) yang berisi komitmen negara maju untuk membatasi emisi gas rumah kaca.
Review pertama dilakukan pada COP-1 dan hasilnya menunjukkan bahwa kemajuannya “tidak mamadai” – sehingga negosiasi menuju ke Protokol Kyoto, yang
mensyaratkan komitmen lebih ketat bagi Negara-negara maju.
Rio Conventions
Tiga konvensi lingkungan, dua diantaranya diadopsi pada Earth Summit tahun
1992 di Rio de Janeiro: Konvensi PBB tentang Konvensi Kerangka Perubahan Iklim
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
125
(UNFCCC), dan Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), sedangkan yang ke tiga,
Konvensi PBB untuk Menghindari Penggurunan (UNCCD) diadopsi tahun 1994. Isu
yang ditangani oleh ketiga perjanjian saling terkait – khususnya, perubahan iklim
dapat menimbulkan akibat buruk pada penggurunan dan keanekaragaman hayati –
dan melalui Kelompok Joint Liaison, sekretariat ketiga konvensi mengkoordinasikan
kegiatannya untuk mencapai kemajuan bersama.
Removal unit (RMU)
Unit dalam Protokol Kyoto setara dengan 1 ton karbon dioksida. RMU diambil di
Fihak Annex I dengan aktivitas LULUCF yang menyerap karbon dioksida.
Roster of experts
Tenaga ahli yang dinominasikan oleh para Fihak dalam Konvensi Perubahan Iklim
untuk membantu Sekretariat dalam pekerjaan terkait dengan review laporan nasional Fihak Annex I, persiapan laporan teknologi adaptasi, transfer teknologi ke
negara-negara berkembang, dan perkembangan pengetahuan mitigasi dan adaptasi
perubahan iklim.
Rules of procedure
Aturan parlemen yang mengatur prosedur dalam COP, mencakup hal-hal seperti
pengambilan keputusan dan partisipasi. COP belum mengadopsi aturan prosedur
secara formal, tetapi semuanya kecuali satu (dalam hal pemungutan suara/voting)
saat ini diterapkan.
SF6
Sulphur hexafluoride.
Second Assessment Report (SAR)
Review menyeluruh penelitian di seluruh dunia tentang perubahan iklim yang
dikumpulkan oleh IPCC dan dipublikasikan pada tahun 1995. Sekitar 2000 orang
ilmuwan dan tenaga ahli ikut berpartisipasi. Laporan ini juga dikenal sebagai
Perubahan Iklim 1995. SAR menyimpulkan bahwa “keseimbangan bukti yang ada
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh manusia yang nyata terhadap iklim global.”
Laporan tersebut juga menyatakan bahwa terdapat “no-regrets options” dan strategi
cost-effective lainnya untuk menanggulangi perubahan iklim.
Secretariat
Kantor yang berisi staf pegawai sipil internasional yang bertanggung jawab ”melayani” Konvensi UNFCCC dan menjamin kelancaran operasionalnya. Sekretariat menyusun jadwal pertemuan, mengumpulkan dan menyiapkan laporan, dan berkoordinasi dengan badan-badan internasional terkait lainnya. Sekretariat Perubahan
Iklim, yang berada di Bonn, Jerman, secara institusional terkait dengan PBB.
Sequestration
Sekuestrasi merujuk ke “pemerangkapan” karbon dioksida dengan suatu cara yang
dapat menghindari dilepaskannya ke atmosfer dalam suatu jangka waktu tertentu.
Signature
Penandatanganan oleh kepala Negara atau kepala pemerintahan, menteri luar negeri,
atau pejabat lain yang mewakili untuk menandatangani persetujuan Negara terhadap teks perjanjian internasional seperti Konvensi atau Protokol, dan menunjukkan
keinginan Negara untuk menjadi suatu Fihak dalam suatu persetujuan / perjanjian.
126
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Sink
Proses, aktivitas atau mekanisme yang menghilangkan gas rumah kaca, aerosol atau
cikal bakal gas rumah kaca dari atmosfer. Hutan dan vegetation lainnya dianggap
sebagai sinks karena memindahkan karbon diokasida melalui fotosintesa.
sistem “cap-and-trade” :
merupakan batas emisi karbon yang diperkenankan untuk suatu entitas
Pemerintah kemudian menetapkan jumlah “cap” yang diperkenankan tiap tahun
yang berupa kuota Entitas yang mampu mengemisi karbon kurang dari kuota
”cap”nya dapat menjual kelebihan kuota tersebut kepada emiter yang memerlukan
ekstra karbon untuk memenuhi kuotanya.
Special Climate Change Fund (SCCF)
SCCF dibangun untuk mendanai proyek terkait dengan adaptasi; transfer teknologi
dan pembangunan kapasitas; energi, transportasi, industri, pertanian, kehutanan
dan pengelolaan limbah; dan diversifikasi ekonomi. Dana ini harus secara bersamasama dipakai dengan mekanisme pendanaan lainnya untuk implementasi Konvensi.
Global Environment Facility (GEF), sebagai entitas yang mengoperasikan mekanisme
pendanaan Konvensi, telah dipercaya untuk mengelola dana ini.
“Spill-over effects”
Gema di dalam Negara-negara berkembang yang disebabkan oleh tindakan yang
diambil oleh Negara-negara maju untuk memotong emisi gas rumah kaca. Misalnya,
pengurangan emisi di Negara-negara maju dapat menurunkan permintaan akan
minyak sehingga harga minyak internasional naik, menyebabkan lebih banyak penggunaan minyak dan lebih besar emisi di Negara berkembang, sebagian menambah
pengurangan yang sebenarnya. Perkiraan saat ini adalah bahwa implementasi penuh
Protokol Kyoto mungkin menyebabkan pengurangan emisi di Negara maju sebesar
5 sampai dengan 20% bocor ke Negara berkembang.
Subsidiary body
Komite yang membantu COP. Dua buah badan subsider permanent dibentuk oleh
Konvensi: Badan Subsider untuk Implementasi (SBI) dan Badan Subsider untuk
Pertimbangan Ilmiah dan Teknologi (SABSTA). COP-1 juga membentuk dua badan
termporer: Kelompok Ad-hoc untuk Mandat Berlin, yang merampungkan pekerjaanya pada 30 November 1997, dan Kelompok Ad-hoc untuk Artikel 13. Badan
subsider tambahan dapat dibentuk jika diperlukan.
Square brackets
Simbol tipografi [--] yang ditempatkan di sekitar teks yang sedang dinegosiasikan
untuk menandakan bahwa bahasa yang terletak di dalamnya sedang dibahas tetapi
belum disepakati/disetujui.
Subsidiary Body for Implementation (SBI)
SBI menyusun rekomendasi untuk membantu COP dalam hal mereview dan menilai
implementasi konvensi yang efektif. SBI menyusun rekomendasi untuk membantu
COP dalam hal mereview dan menilai implementasi konvensi yang efektif.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
127
Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA)
SBSTA berfungsi sebagai penghubung antara informasi dan penilaian yang diberikan oleh sumber-sumber tenaga ahli (seperti IPCC) dan COP, yang berfokus ke
penyusunan kebijakan.
Sustainable development
Pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Technology transfer
Rangkaian proses yang meliputi aliran pengetahuan, pengalaman dan peralatan
untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim diantara berbagai fihak pemangku
kepentingan.
Third Assessment Report (TAR)
Review menyeluruh penelitian ilmiah global ketiga tentang perubahan iklim, diterbitkan oleh IPCC tahun 2001. Laporan ini diantaranya menyatakan bahwa “sistem
iklim bumi telah menunjukkan perubahan baik dalam skala global maupun regional
sejak era pra-industri, dimana sebagian perubahan ini karena kegiatan manusia.
Terdapat bukti baru yang lebih kuat bahwa pemanasan yang diamati selama 50
tahun terakhir karena kegaiatan/aktivitas manusia. TAR juga mempunyai focus pada
pengaruh regional perubahan iklim.
Track- two JI
Satu diantara dua pendekatan untuk memverifikasi pengurangan atau penghilangan
emisi di bawah mekanisme Joint Implementation, dimana setiap proyek JI diverifikasi melalui prosedur di bawah pengawasan Komite Pengawas JI. Prosedur Track
Two mensyaratkan bahwa setiap proyek direview oleh entitas independent yang
terakreditasi.
Trust funds
Funds earmarked for specific programmes within the UN system.
Dana yang dialokasikan untuk program khusus dalam system PBB.
TT:CLEAR
Technology Transfer Information Clearing House.
Umbrella group : Kelompok Payung
Koalisi lepas Negara-negara maju non-Uni Eropa yang dibentuk mengikuti adopsi
Protokol Kyoto. Meskipun tidak ada daftar keanggotaan formal, kelompok ini
biasanya termasuk Australia, Canada, Iceland, Japan, New Zealand, Norway, the
Russian Federation, Ukraine, and the United States.
UN
United Nations. Persatuan Bangsa-Bangsa
UNCCD
United Nations Convention to Combat Desertification.
Konvensi PBB tentang Penanggulangan Penggurunan.
128
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
UNCED
United Nations Conference on Environment and Development.
Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan.
UNCTAD
United Nations Conference on Trade and Development.
Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan.
UNDP
United Nations Development Programme.
Program Pembangunan PBB.
UNECE
United Nations Economic Commission for Europe.
Komisi Ekonomi PBB untuk Eropa.
UNEP
United Nations Environment Programme.
Program Lingkungan PBB.
UNFCCC
United Nations Framework Convention on Climate Change.
Konvensi Kerangka PPB tentang Perubahan Iklim.
UNIDO
United Nations Industrial Development Organization.
Organisasi Pembangunan Industri PBB.
Uniform report format
Format standar dimana para Fihak memasukkan informasi tentang aktivitas yang
dilaksanakan secara bersama-sama di bawah Konvensi.
Voluntary commitments
Konsep naskah yang dipertimbangkan selama negosiasi Protokol Kyoto yang memperbolehkan Negara-negara berkembang secara sukarela mengikat ke dalam target
emisi yang mengikat secara hukum. Usulan ini dibuang pada tahap akhir negosiasi.
Isu ini tetap penting bagi beberapa delegasi dan dapat dibahas pada sesi COP yang
akan datang.
Vulnerability
Suatu derajat dimana sebuah system sensitive terhadap, atau tidak dapat menghadapi, pengaruh buruk perubahan iklim, termasuk variabilitas iklim dan iklim ekstrim.
Vulnerability/kerentanan merupakan fungsi dari sifat, skala/derajat, dan tingkat
variasi iklim dimana suatu sistem terkena sensitivitas, dan kemampuan adaptasinya.
WCC
World Climate Conference.
Konferensi Iklim Dunia.
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
129
WEOG
Western European and Others Group (United Nations regional group).
Kelompok Eropa Barat dan Kelompok lainnya (kelompok regional PBB).
WHO
World Health Organization.
Organisasi Kesehatan Dunia.
WMO
World Meteorological Organization.
Organisasi Meteorologi Dunia.
WSSD
World Summit on Sustainable Development.
Pertemuan Tingkat Tinggi Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan.
WTO
World Trade Organization.
Organisasi Perdagangan Dunia.
Referensi dan Daftar Pustaka :
-------- 2006. UNFCCC Handbook. Climate Change Secretariat. Bonn, Germany.
-------- 2006. COP/MOP2 FINAL. iisd Reporting Services. Earth Negotiations Bulletin
Vol 12 No 318, Monday, 20 November 2006. http://www.iisd.ca/climate/cop12/
Departemen Kehutanan.2007. Apa itu REDD. Jakarta
Departemen Kehutanan. 2008. Glossary of Climate Change Acronyms. Jakarta
Departemen Kehutanan. 2007. Indonesia Forest Climate Alliance (IFCA). http://
www.dephut.go.id/INFORMASI/LITBANG/IFCA/IFCA.htm
Murdiyarso, D. 2003. Sepuluh tahun perjalanan negosiasi Konvensi Perubahan Iklim.
Penerbit Buku Kompas. Jakarta.
Informasi untuk buku ini juga dirangkum dan disarikan dari laporan delegasi RI
yang terkait dengan sidang Conference of Parties dan Badan-Badan bawahan
terkait UNFCCC;
Dan dari situs :
http://www. unfccc.int
www.unfcccbali.org
http://www.dephut.go.id
www.carbonpositive.net
Dan situs terkait REDD lainnya.
Climate Change: A Glossary of Terrm. 4th Edition, April 2007. IPIECA. 79 hal.
Eco Securities. The forest carbon offsetting survey 2008. 33 hal. Downloaded at:http://
www.ecosecurites.com.
Executive Summary Voluntary Carbon Market. Directorate General of Forestry Planning, Ministry of Forestry. 2008. 31 hal.
130
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
Nawir, A.A., Murniati, Rumboko, L. 2003. Rehabilitasi Hutan di Indonesia: Akan
kemanakah arahnya setelah lebih dari tiga dasawarsa?.Cifor. Bogor 330 hal.
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. P 36/Menhut-II/2009 Tentang
Tata Cara Perizinan Usaha Pemanfaatan Penyerapan dan/atau Penyimpanan
Karbon Pada Hutan Produksi dan Hutan Lindung.
Peraturan Perundangan Kehutanan di Era Reformasi. UU No. 41/1999, PP No.
25/2000, PP No. 34/2002, PP No. 35/2002. Research Institute for Forestry Decentralization Extention Service. RIFDEXTS Bogor. 235 Hal.
Stephen, P. 2008. Introductory Course on Reducing Emissions from Deforestation
and Forest Degradation (REDD). A Participant Resource Manual. Draft – November 2008.IDSS Pty Ltd. 97 p.
Kurniatun Hairiah dan Subekti Rahayu. Pengukuran Karbon tersimpan di berbagai
macam penggunaan lahan.2007. ICRAF. Jakarta
Peluang Pemanfaatan Potensi Karbon Hutan dalam Isu Perubahan Iklim
131
Download