7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Pembelajaran

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Pembelajaran Fisika di SMA
a. Hakikat Belajar
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai
hasil
pengalamannnya
sendiri
dalam
interaksi
dengan
lingkungannya (Slameto, 2003: 2). Sedangkan WS. Winkel (1991:36)
“Menyatakan dalam interaksi aktif dalam lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan
nilai sikap”. Dari pernyataan tersebut belajar dapat diartikan sebagai
proses interaksi aktif untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai
hasil dari pengalaman sendiri.
Menurut psikologi daya, belajar adalah melatih daya-daya agar
dapat berfungsi dengan baik. Menurut psikologi behavioristik, belajar
adalah membentuk hubungan stimulus-respons dengan latihan-latihan.
Menurut psikologi kognitif, belajar adalah proses-proses pusat otak atas
struktur kognitif (fakta) dalam bentuk pemahaman dan pemecahan
masalah. Menurut psikologi Gestalt, belajar adalah akibat interaksi antara
individu dengan lingkungan berdasarkan keseluruhan dan pemahaman.
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat di tarik kesimpulan
bahwa:
1) Situasi belajar harus bertujuan dan tujuan-tujuan itu diterima baik oleh
masyarakat. Tujuan merupakan salah satu aspek dari situasi belajar.
2) Tujuan dan maksud belajar timbul dari kehidupan anak sendiri.
3) Di dalam mencapai tujuan itu, siswa senantiasa akan menemui
kesulitan,
rintangan-rintangan
dan
situasi-situasi
yang
menyenangkan.
4) Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat.
7
tidak
8
5) Proses belajar terutama mengerjakan hal-hal yang sebenarnya. Belajar
apa yang diperbuat dan mengerjakan apa yang dipelajari.
6) Kegiatan-kegiatan
dan
hasil-hasil
belajar
dipersatukan
dan
dihubungkan dengan tujuan dalam situasi belajar.
7) Siswa memberikan reaksi secara keseluruhan.
8) Siswa mereaksi suatu aspek dari lingkungan yang bermakna baginya.
9) Siswa diarahkan dan dibantu oleh orang-orang yang berbeda dalam
lingkungan itu.
Bukti bahwa seseorang telah melakukan kegiatan belajar ialah
adanya perubahan tingkah laku. Tingkah laku manusia terdiri dari
sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada
aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu adalah: pengetahuan,
pemahaman, kebiasaan, keterampilan, apresiasi emosional, hubungan
sosial, jasmani, budi pekerti, etika, sikap, dan lain-lain.
b. Tujuan Belajar
Menurut Winarno Surachmat, (1986:65) “Tujuan belajar dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu:
pengumpulan pengetahuan, penanaman
konsep, dan kecekatan serta pembentukan konsep dan perbuatannya”.
Tujuan belajar tersebut di atas merupakan penjabaran dari tiga aspek,
yaitu, aspek nalar dan pengetahuan (kognitif), aspek afektif, aspek
psikomotorik,
c. Pembelajaran Fisika di SMA
Pengertian pembelajaran dikutip dari Sadiman, dkk (1986) dalam
Soetodjo (1968 : 85) adalah suatu usaha untuk membuat peserta didik
belajar atau suatu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik
Pembelajaran adalah kegiatan mengorganisasi lingkungan yang
ada disekitar siswa yang dapat mendorong dan menumbuhkan minat siswa
dalam
melakukan kegiatan belajar,
(Sudjana.
1995). Kegiatan
mengorganisir lingkusngan merupakan suatu proses yang kompleks
sehingga diperlukan perencanaan yang matang oleh guru agar dapat
menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.
9
Kurikulum mengembangkan dua modus proses pembelajaran
yaitu
proses
pembelajaran
pembelajaran
langsung
langsung
merupakan
dan
proses
tak
langsung.
dimana
peserta
Proses
didik
mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan
psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajarnya.
Sedangkan pembelajaran adalah proses pembelajaran yang terjadi selama
proses pembelajaran langsung tetapi tidak dirancang dalam kegiatan
khusus.
Pendidikan sains diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat”
sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang
lebih mendalam tentang alam sekitar, GBPP (2004). Pendidikan sains di
sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk
mempelajari diri sendiri, dan alam sekitar, serta prospek pengembangan
lebih lanjut dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Pendidikan
sains
menekankan
pada
pemberian
pengalaman
langsung
untuk
mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan
memahami alam sekitar secara ilmiah.
Mata pelajaran Fisika adalah salah satu mata pelajaran dalam
rumpun sains yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis
induktif dan deduktif dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan
dengan peristiwa alam sekitar, baik secara kualitatif maupun kuantitatif
dengan
menggunakan
matematika,
serta
dapat
mengembangkan
pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri (GBPP, 2004:1).
Fisika adalah landasan untuk memahami kompleksitas teknologiteknologi modern, dan penting dalam perkembangan teknologi suatu
negara. Fisika memberikan kontribusi yang signifikan pada penemuanpenemuan
yang
membentuk
kehidupan
modern
dan
membantu
menjelaskan kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari (Erinosho,
2013 :1). Fisika menjadi salah satu mata pelajaran yang esensial dan
penting untuk dipelajari oleh siswa. Karena Fisika tidak hanya melingkupi
aspek di luar lingkup siswa, seperti perkembangan teknologi dan
10
penemuan-penemuan mutakhir, namun melingkupi diri siswa sendiri dan
kejadian-kejadian setiap hari di sekitarnya.
Tujuan pembelajaran Fisika di SMA menurut GBPP Fisika SMA
(2004:2) adalah agar siswa menguasai konsep-konsep Fisika dan saling
keterkaitannya serta mampu menggunakan metode ilmiah yang dilandasi
sikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya
sehingga lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan penciptanya.
Sedangkan dasar yang digunakan dalam melihat hubungan hakikat Fisika
dan pengajaran Fisika menurut taksonomi Bloom adalah sebagai berikut:
1) Unsur kognitif (pengetahuan, pengertian) merupakan aspek hasil
(produk).
2) Unsur psikomotorik menunjuk pada keterampilan melakukan aktivitasaktivitas Fisika dan keterampilan-keterampilan melakukan aktivitas
kognitif.
3) Unsur afektif menunjuk pada sifat alamiah yang harus dimiliki dalam
melakukan aktivitas (Oemar Hamalik, 1990:3).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran
Fisika, siswa dihadapkan pada pengalaman atau gejala fisis yang dihadapi
secara kualitatif. Sehingga siswa harus mengamati gejala-gejala tersebut.
Dengan mempergunakan pengetahuan-pengetahuan yang telah ada,
penalaran logis dan pengalamannya siswa secara aktif diajak untuk
menganalisis hasil pengamatannya.
2. Kemampuan Berpikir Kritis
Berpikir kritis dapat diidentifikasi sebagai kemampuan dan aktivitas,
(Allison dkk, 2014:2). Secara sederhana berpikir kritis dapat digambarkan
ketika kita menganalisa apa yang dikatakan, menilai apa yang dikatakan,
menetukan bukti yang dibutuhkan, mengkombinasikan berbagai infotrmasi
yang saling mendukung (koheren), mengidentifikasi kesalahan dalam
berpendapat (reasoning), mempertanyakan apa saja yang tidak masuk akal
atau sesuai dengan pemahaman kita, dan mengambil keputusan berdasarkan
11
berbagai informasi alasan yang terbaik Kemampuan berpikir kritis merupakan
aktivitas yang ditimbulkan dari hasil pemikiran mendalam.
Menurut Santrack (2008: 359) berpikir kritis adalah pemikiran
reflektif dan produktif dan melibatkan evaluasi bukti. Beberapa cara yang
dapat digunakan guru untuk memasukkan pemikiran kritis dalam proses
pembelajaran, antara lain:
a. Pertanyaan yang timbul bukan hanya “apa”, tetapi juga “bagaimana” dan
“mengapa”.
b. Kaji dugaan “fakta” untuk mengetahui apakah ada bukti yang mendukung.
c. Berdebatlah secara rasional bukan emosional
d. Sadar bahwa ada lebih dari satu jawaban atau penjelasan yang baik.
e. Jawaban untuk suatu pertanyaan dibandingkan dan dinilai secara seksama.
f. Pernyataan atau jawaban yang ada tidak diterima begitu saja, tetapi
dievaluasi kebenarannya.
g. Menciptakan ide baru dengan informasi baru di luar apa yang sudah kita
tahu.
Senada dengan Santrack (2014) dan Allison dkk (2014), Facione
(2013:4) juga menjabarkan kemampuan berpikir kritis sebagai kemampuan
berpikir dan berkehendak untuk membuktikan suatu hal, menjabarkan maksud
serta untuk menyelesaikan masalah (Problem Solving). Aspek–aspek dari
berpikir kritis dalam Facione, (2013:5) antara lain: intepretation, analysis,
evaluasi, inference, explanation, dan self regulation.
a. Intepretation
Intepretation merupakan kemampuan untuk memahami arti atau maksud
sebenarnya dari suatu hal. Sebagai contoh memberikan contoh berbagai
pengalaman, memahami situasi, data, kegiatan, prosedur, penilaian, dan
aturan. Sebagai contoh kemampuan intepretation adalah memahami
masalah, mengidentifikasinya tanpa adanya bias, menjelaskan makna dari
suatu tanda, grafik dan tabel, serta mengidentifikasi tema dan tujuan.
12
b. Analysis
Analisis diartikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, lebih jauh
lagi : analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi maksud dan
mencapai hubungan yang sebenarnya antara pernyataan, pertanyaan,
konsep, deskripsi, dan bentuk lain dari hal yang menunjukkan tentang
kepercayaan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi dan opini. Keahlian
dalam hal menguji ide, menentukan argumentasi yang kuat, dan
menganalisa argumen yang disampaikan orang lain juga merupakan sub
kemampuan analisis.
c. Evaluasi
Evaluasi,
merupakan
kemampuan
untuk
menilai
(mengevaluasi)
kredibilitas suatu pernyataan atau alasan yang disampaikan orang lain
yang mana merupakan hasil dari deskripsi seseorang dari hasil persepsi
perorangan,pengalaman yang dimiliki, situasi, penilaian, kepercayaan
mengenai suatu hal ataupun opini semata dari seseorang.
d. Inference
Inference
merupakan
kemampuan
untuk
mengidentifikasi
dan
mempertahankan suatu elemen yang dapat digunakan untuk membentuk
suatu alasan, untuk membentuk hipotesis, berdasarkan informasi yang
relevan dan disukung oleh adanya data.
e. Explanation
Explanation (menjelaskan), merupakan kemampuan untuk menunjukkan
kepada lawan bicara ketidaksesuaian maupun kesesuaian alasan yang
disampaikan. Sebagaimana dapat menunjukkan kepada orang lain
gambaran penuh dari suatu masalah bukan hanya berdasarkan perspektif
seorang belaka. Sehingga menghasilkan alasan yang kuat dan dapat
diterima oleh orang lain.
f. Self Regulation
Self Regulation merupakan kesadaran diri untuk mengamati aktivitas
kognitif seseoarang, hal–hal yang berkaitan dengan aktivitas yang
dilakukan, serta hasil belajar yang dilakukan, sebagai salah satu aplikasi
13
dari kemapuan analisis dan evaluasi diri sendiri terhadap kemampuan
penilaian diri melalui beberapa pertanyaan yang dilayangkan pada diri
sendiri. Dapat menguji pandangannya sendiri terhadap suatu isu yang
sensitif yang memiliki kemungkinan akan berpengaruh terhadap dirinya
sendiri.
Mengetahui kemampuan berpikir kritis (Critical Thinking Skill) akan
dapat dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul sebagaimana
Tabel 2.1. Pertanyaan berikut akan membimbing menuju kemampuan berpikir
kritis dalam berbagai hal. Untuk memahami (Interpretation), kemampuan
analisis (Analysis), emampuan menyelidiki (Inference), kemampuan evaluasi
(Evaluation) dan kemampuan menjelaskan (Explanation), dan kemampuan
menilai diri (Self-Regulation).
Tabel 2.1 . Pertanyaan yang Menunjukkan Berpikir Kritis
Daftar Pertanyaan untuk Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis
Sub Skill
Pertanyaan
Intepretation
 Apa maksudnya?
 Apa yang terjadi?
 Bagaimana agar memahami hal tersebut?
 Apa cara terbaik untuk mencirikan/mengkategorikan/
mengklasifikasikan ini?
 Pada bagian ini, apa maksud dengan mengatakan/
melakukan hal ini?
 Bagaimana sesuatu tersebut menjadi masuk akal
(berdasarkan percobaan, perasaan ataupun pernyataan)?
Analysis
 Tolong beritahukan kembali alasanmu untuk membuat
peryataan tersebut?
 Apa kesimpulanmu/ apa klaimmu?
 Kenapa demikian?
 Bagaimana pendapatmu?
 Pro ataukah kontra?
 Alasan apa yang kita miliki sehingga kita menenrima
kesimpulan ini?
 Apa dasarnya sehingga kamu menyatakan demikian?
Inference
 Menunjukkan apa yang telah dimiliki terhadap
kesimpulan yang diambil.
 Memberikan alasan yang dimiliki untuk menujukan
pernyataan
 Apa bukti dari akibat yang ada?
 Dengan menyetujui atau menolak pernyataan perubahan
14





Evaluation





Explanation


Self
Regulation






apa yang terjadi?
Apa informasi tambahan yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan suatu pertanyaan?
Jika percaya pada bukti ini, apa akibat yang terjadi?
Apa akibat dari perlakuan tersebut?
Apa alternatif lain yang belum terjelaskan?
Apakah ada akibat yang tak jelas terhadap keputusan
yang dibuat?
Seberapa terpercaya pernyataan tersebut?
Kenapa pernyataan harus dipercayai?
Seberapa kuat alasan yang diberikan?
Apakah fakta yang dimiliki terpercaya?
Seberapa percaya diri kesimpulan yang dihasilkan dari
hal yang diketahui?
Apa hasil spesifik yang diperoleh dari hasil investigasi?
Tolong jelaskan bagaimana kita menuju analisis
tersebut?
Bagaimana penafsiran tersebut dapat diperoleh?
Kenapa jawaban tersebut benar?
Seberapa yakin terhadap jawaban yang diberikan?
Seberapa bagus bukti/penjelasan yang diberikan?
Menunjukkan bagian yang kurang meyakinkan?
Dapatkah kita memperbaiki pernyataan/jawaban yang
diberikan?
Sumber: Facione (2013)
Setiap aspek kemampuan berpikir kritis memiliki sub kemampuan
(sub skill) dan dideskripsikan sebagaimana dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Penjelasan Aspek Berpikir Kritis
Sub Skill
Deskripsi
Intepretation Untuk memahami dan mengekspresikan arti
pentingnya berbagai pengalaman , situasi ,
data, peristiwa , penilaian , konvensi ,
peraturan , Prosedur dasar , atau kriteria.
Analysis
Inference
Untuk mengidentifikasi hubungan aktual
diantara pernyataan , pertanyaan , konsep ,
deskripsi atau bentuk lain dari representasi
dimaksudkan untuk mengungkapkan
keyakinan , penilaian , pengalaman , alasan ,
informasi , atau opini.
Mengidentifikasi dan elemen aman diperlukan
untuk menarik kesimpulan yang masuk akal :
untuk membentuk dugaan dan hipotesis untuk
Kata Kerja
Mengkategorikan
Decode
signifikansi
Memperjelas
makna
Memeriksa ideide
Mengidentifikasi
argumen
Mengidentifikasi
alasan dan klaim
Permintaan bukti
Alternatif dugaan
Menarik
15
Evaluation
Explanation
Self
Regulation
mempertimbangkan informasi yang relevan
dan untuk menurunkan yang konsekuensi
pada mengalir dari laporan data, prinsip ,
bukti , penilaian , bene , opini, konsep ,
deskripsi, pertanyaan , dan bentuk lain dari
representasi .
Mengakses kredibilitas pernyataan atau
representasi lain yang rekening atau deskripsi
dari seseorang persepsi , pengalaman , situasi ,
penilaian , keyakinan , atau pendapat , dan
untuk menilai kekuatan logis dari hubungan
inferensial aktual atau dimaksudkan antara
pernyataan , deskripsi, pertanyaan , atau
bentuk lain dari representasi
kesimpulan
menggunakan
penalaran
induktif atau
deduktif
Menilai
kredibilitas klaim
Menilai kualitas
argumentasi yang
dibuat
menggunakan
penalaran
induktif atau
deduktif
Hasil pernyataan
Membenarkan
prosedur
Menujukan
argumen
Membenarkan penalaran dengan bukti ,
konseptual , metodologis , criteriological , dan
pertimbangan kontekstual yang didasarkan
hasil seseorang , dan untuk menyajikan
penalaran seseorang dalam bentuk argumen
yang meyakinkan.
Sadar untuk memantau kegiatan kognitif
Memonitor diri
seseorang , elemen digunakan dalam kegiatan Mengkoreksi diri
tersebut , dan hasilnya educed , khususnya
dengan menerapkan keterampilan dalam
analisis , dan evaluasi untuk penilaian
disimpulkan sendiri dengan pandangan
menuju pertanyaan , mengkonfirmasikan ,
memvalidasi , atau mengoreksi penalaran baik
seseorang atau hasil seseorang
Sumber: Facione (2013)
Kemampuan berpikir kritis sebagai suatu kemampuan berkehendak
sangat penting untuk keberhasilan dalam pembelajaran. Berdasarkan
penelitian Aditya, Suyanto, dan Viyanti (2013:1) menyatakan bahwa terdapat
pengaruh positif dari kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar siswa.
Maka perlu dilaksanakan penelitian untuk meningkatkan kemampuan berpikir
kritis.
3. Model Pembelajaran
Pernyataan Joyce, et al. (2004), dalam Sutarto & Indrawati (2013:21)
mendefinisikan model pembelajaran sebagai suatu perencanaan atau suatu
16
pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di
kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkatperangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer,
kurikulum, dan lain-lain. Suryani (2013) menyatakan bahwa dalam model
pembelajaran terdapat strategi pengajaran, metode pengajaran, atau teknik
pengajaran. Model pengajaran mempunyai arti yang lebih luas atau dapat
diartikan sebagai bungkus/bingkai dari penerapan suatu strategi, metode atau
teknik. Sehingga posisi model pembelajaran dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Model Pembelajaran
Pendekatan
Strategi
Metode
Teknik
Gambar 2.1. Posisi Model Pembelajaran
Gambar 2.1. menunjukkan bahwa model melingkupi pendekatan,
strategi, metode dan teknik. Model pembelajaran memuat unsur-unsur penting
yang menentukan jenis atau nama model pembelajaran tersebut. Joyce, et al.
(2004) mengemukakan bahwa setiap model
pembelajaran memiliki lima
unsur karakteristik model yang dijelaskan seperti berikut.
a. Sintakmatik
Dalam melaksanakan suatu kegiatan, tentu perlu berpikir tentang
langkah-langkah melaksanakan kegiatan tersebut. Dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran, perlu
dipikirkan tentang langkah-langkah
pembelajaran. Langkah-langkah ini mengakomodasi tentang apa yang
harus
dilakukan
dirumuskan.
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah
17
b. Sistem Sosial
Dalam kegiatan belajar mengajar tentu ada interaksi sosial atau
interaksi antar manusia. Interaksi tersebut bisa terjadi antara guru dan
siswa, antara siswa dan siswa, antara kelompok siswa dengan kelompok
siswa yang lain. Bentuk intraksi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain jumlah siswa atau mahasiswa (besar atau kecil), latar belakang,
kemampuan, dan kematangan siswa atau mahasiswa. Setiap model
pembelajaran mensyaratkan situasi atau suasana dan norma tertentu.
Situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam
suatu
model
pembelajaran disebut sistem sosial.
c. Prinsip Reaksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, ada pola kegiatan
yang menggambarkan cara guru dalam melihat dan memperlakukan para
siswanya, termasuk cara guru memberikan respon terhadap siswanya. Pola
kegiatan guru dalam memperlakukan atau memberikan respon pada
siswanya tersebut disebut prisnip reaksi.
d. Sistem Pendukung
Agar kegiatan pembelajaran berjalan efektif dan efisien maka
diperlukan sistem yang mendukung. Sistem pendukung itu bisa berupa
sarana, alat dan bahan yang diperlukan dalam melaksanakan model
pembelajaran tersebut. Sistem pendukung ini berkaitan dengan sintakmatik
yang ada dalam model pembelajaran tersebut.
e. Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sintakmatik dalam
suatu model pembelajaran adalah menggambarkan langkah-langkah
pembelajaran yang mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran
Dengan demikian dampak instruksional adalah hasil belajar yang dicapai
siswa sesuai tujuan yang diharapkan. Namun demikian, dalam kegiatan
pembelajaran ada dampak pembelajaran yang muncul tanpa direncanakan
terlebih dahulu. Dampak pembelajaran yang tidak direncanakan tersebut
dikatakan sebagai dampak pengiring. Jadi dapat dikatakan bahwa dampak
18
pengiring adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses
pembelajaran, sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami
langsung oleh para siswa tanpa pengarahan langsung dari guru.
4. Pembelajaran Berbasis e-learning
Riyana
(2010),
menyatakan
dengan
penggunaan
teknologi
komunikasi dan informasi dalam bidang pendidikan memberikan pengaruh
yang
sangat
besar.
Dalam
proses
pembelajaran,
dirasakan
adanya
kecenderungan: (a) bergesernya pendidikan dari sistem pembelajaran yang
berorientasi pada guru (teacher centered) ke sistem yang berorientasi pada
peserta didik (student centered), (b) tumbuh dan makin memasyarakatnya
pendidikan terbuka dan jarak jauh, (c) semakin banyaknya pilihan sumber
belajar yang tersedia.
Rosenberg (2001:8) dalam Hermawan (2013) menambahkan ada tiga
pergeseran dalam proses pembelajaran akibat perkembangan teknologi
komunikasi yaitu: (a) pergeseran dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja,
(b) pergeseran dari kertas ke online, dan (c) pergeseran fasilitas fisik ke
fasilitas jaringan kerja. Dengan adanya teknologi informasi ini guru dapat
memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan peserta didik,
demikian pula peserta didik dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang
luas dari berbagai sumber melalui ruang maya dengan menggunakan
komputer atau internet.
Hamalik
sebagaimana
yang
dikutip
oleh
Arsyad
(2007)
mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar
mengajar
dapat
membangkitkan
keinginan
dan
minat
yang
baru,
membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan
membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap mahasiswa.
Hal ini
didukung dengan enelitian yang dilakukan oleh Numiek Sulistyo Hanum
(2013) dengan judul “Keefektifan E-learning Sebagai Media Pembelajaran
(Studi Evaluasi Model Pembelajaran E-learning SMK Telkom Sandhy Putra
19
Purwokerto)”. Hasil dari penelitian adalah aspek penyampaian atau metode
penyampaian pembelajaran e-learning menunjukkan kategori cukup efektif.
Model pembelajaran menggabungkan kegiatan pembelajaran di kelas
dan online perlu diketahui proporsi kegiatan yang tepat dapat dilakukan secara
online maupun tradisional (di kelas). Model pembelajaran berdasarkan
pemanfaatan e-learning di kelas dapat diklasifikasikan seperti pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Komposisi Pembelajaran Kelas dan Online
Proporsi
konten
pembelajaran
Online
0%
Model
Pembelajaran
Deskripsi
Tradisional
Tidak ada teknologi/konten online
yangdigunakan. Pembelajaran
disampaikan secara tertulis atau lisan
1%-29%
Fasilitas web
Pembelajaran yang menggunakan
teknologi berbasis web untuk
memfasilitasi dasar pembelajaran
kursus tatap muka. Menggunakan
sistem manajemen kursus ( CMS ) atau
halaman web untuk memasukkan
silabus sebuah tugas , sebagai contoh .
30%-79%
Blended/Hybrid Pembelajaran yang memadukan secara
online dan tatap muka pengiriman .
Proporsi yang besar dari konten yang
disampaikan secara online , biasanya
menggunakan diskusi online , dan
biasanya memiliki beberapa pertemuan
tatap muka
Pembelajaran semua konten yang
+80%
Online
disampaikan secara online . Biasanya
tidak memiliki pertemuan tatap muka
(Sumber : Elaine Allen, Jeff Seaman, dan Richard Garret :2007)
Tabel 2.3. memberikan informasi proporsi konten pembelajaran yang
dibelajarkan secara online serta yang dibelajarkan di kelas. Dari informasi
Tabel 2.3. Tersebut menunjukkan bahwa terdapat model pembelajaran yang
memiliki porsi penempatan konten pembelajaran online (konten pembelajaran
online antara 30%-79%) seimbang dengan kegiatan di kelasnya yang disebut
pembelajaran Hybrid/Blended.
20
5. Model Blended Learning
Ratna, Novitayati (2013) Secara etimologi istilah Blended Learning
terdiri atas dua kata yaitu blended dan learning. Blend berarti “mencampurkan
yang baik, sehingga orang tidak bisa melihat bagian secara terpisah”
sedangkan, learning memiliki arti “suatu pengetahuan yang diperoleh dengan
belajar”. Demikian Blended Learning mengandung makna pola pembelajaran
yang mengandung unsur pencampuran, atau penggabungan antara satu pola
dengan pola yang lainnya.
Aryani (2009) menyebutkan bahwa Blended Learning adalah sebuah
pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model
pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan
media dialog antara dosen dengan mahasiswa.
Masie Clark (2003) mendefinisikan
Blended Learning sebagai
pembelajaran yang menggabungkan dua metode atau lebih. Kombinasi ini
termasuk
didalamnya,
gabungan antara pembelajaran di kelas dan
pembelajaran online, gabungan antara pembelajaran online yang terhubung
dengan pelatih ataupun anggota, gabungan antara simulasi dan pembelajaran
yang terstruktur. Blended Learning menurut Orhan (2007) yaitu adanya
keterpaduan antara belajar tatap muka dengan pembelajaran jarak jauh yang
berbasis internet. Blended Learning adalah pengkombinasian atau campuran
dua atau lebih komponen atau metode pembelajaran untuk mendapatkan hasil
pelajaran yang diharapkan.
Heinze (dalam Tsai et al., 2011: 262) merumuskan bahwa Blended
Learning merupakan “kombinasi yang efektif dari berbagai modus
pengiriman, model pengajaran dan gaya belajar, dan didasarkan pada
komunikasi yang transparan antara semua pihak yang terlibat dalam
pelatihan”. Hal ini mengandung makna bahwa Blended Learning merupakan
pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian,
cara mengajar dan gaya pembelajaran yang berbeda serta ditemukan pada
komunikasi terbuka di antara seluruh bagian yang terlibat dalam pelatihan.
21
a. Hakikat Model Blended Learning
McGinnis (2005) dalam Soekartawi menyarankan 6 hal yang
perlu diperhatikan dalam penerapan Blended Learning :
1) Penyampaian bahan ajar dan penyampaian pesan-pesan yang lain
(seperti pengumuman) secara konsisiten.
2) Penyelenggaraan pembelajaran melalui Blended Learning harus
diselenggarakan secara serius.
3) Bahan ajar yang diberikan harus selalu mengalami perbaikan (update)
baik itu formatnya, isinya maupun ketersediaan bahan ajar yang
memenuhi kaidah bahan ajar mandiri.
4) Alokasi waktu bisa dimulai dengan formula 75:25 dalam artian bahwa
75% untuk pembelajaran online dan 25% untuk pembelajaran secara
tatap muka (konvensional).
5) Alokasi waktu tutorial 25% khusus bagi mereka yang tertinggal,
namun bila tidak memungkinkan maka waktu tersebut dapat digunakan
untuk menyelesaikan kesulitan siswa dalam memahami masalah
belajar.
6) Dalam Blended Learning diperlukan kepemimpinan yang mempunyai
waktu
dan
perhatian
untuk
terus-menerus
berupaya
untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran.
Blended Learning merupakan gabungan pembelajaran yang
dilakukan secara tatap-muka dan secara virtual. Perbedaan model
pembelajaran konvensional, kelas virtual dan blended learning dapat
dilihat di Tabel 2.4.
Dalam Tabel 2.4. memberikan petunjuk bahwa pelaksanaan
pendidikan jarak jauh terlihat lebih fleksibel. Dengan demikian melalui
model Blended
Learning
prinsip-prinsip
kebebasan,
kemandirian,
keluwesan, keterkinian, kesesuaian, mobilitas, dan efisiensi seperti yang
disyaratkan dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh tersebut relatif
mudah untuk dipenuhi.
22
Tabel 2.4. Tabel Porsi Kegiatan dalam Pembelajaran
Kelas
Kelas
Kelas Blended
NO
Variabel
Konvensional
Virtual
Learning
1 Registrasi
Di kampus
Online
Keduanya
Lingkungan
Hidup
Terprogram Keduanya
2
pembelajaran
Lingkungan
Di kampus
Di
luar Keduanya
3
kampus
kampus
Kehadiran
Diperlukan
Tidak
Keduanya
4
tutor/guru
diperlukan
Jadwal kelas
Tertentu
Kapan saja Kapan saja dan
5
tempat
& & dimana dimana saja
waktunya
saja
6 Email
Tidak ada
Ya
Ya
Audio-video
Tidak ada
Tidak ada
Ya
7 conference
chatting
8 Konsultasi
Tatap muka
Diumumkan Keduanya
Kerja
Ya
Tidak
Ya
9
kelompok
10 Tugas rumah
Ya
Tidak
Ya
Sumber: Soekartawi (2005).
Terdapat beberapa tipe implementasi blended learning dalam
pembelajaran. Berdasarkan implementasinya dalam pembelajaran didalam
kelas, pelaksanaan Blended Learning dibagi menjadi 5 tipe, dapat dilihat
pada tabel 2.5.
Tabel 2.5 Model Implementasi Blended Learning
Tipe 1
Tipe 2
Tipe 3
Tipe 4
Tipe 5
Kurikulum Kurikulum
Sebagian
Instruksi
Instruksi
sepenuhnya sebagian atau besar atau
kelas dengan kelas yang
online
sepenuhnya
sepenuhnya
komponen
mencakup
dengan
online
kurikulum
secara online sumber
pilihan
dengan
online
diperlukan
daya online
untuk
beberapa
dengan
melalui kelas dan tidak
interaksi
waktu yang
siswa
dan / atau
ada
tatap muka diperlukan
bertemu di
hari sekolah
persyaratan
baik dalam
kelas harian
bagi siswa
kelas atau
atau lab
untuk online
komputer lab komputer
.
Sumber : Kusairi (2011)
23
Senada dengan Kusairi, dalam Anitah (2009) menyatakan dengan
memadukan antara e-learning dengan classroom learning, beberapa
alternative pembelajaran berikut ini dapat dipilih :
1) Model kelas murni. Disini semua kegiatan belajar disampaikan di
dalam kelas. Tetapi ada tugas-tugas yang diberikan kepada pebelajar
untuk mengakses internet/web.
2) Pembelajar belajar melalui online learning – pertemuan kelas – online
learning lagi – pertemuan kelas untuk keterampilan-keterampilan
lanjut – pertemuan kelas (aplikasi praktis).
3) Kegiatan kelas – online learning – mentoring (keterampilan lanjutan) –
aplikasi praktis di lapangan.
4) Pertemuan kelas – pertemuan kelas – aplikasi praktis – e-mentoring –
pengalaman lapangan.
b. Kelebihan Blended Learning
Beberapa kelebihan pemanfaatan Blended Learning dalam
pembelajaran diantaranya:
1) Meningkatkan performa peserta didik, Bawaneh (2011).
2) Blended Learning dapat
meningkatkan pedagogi,
akses dan
fleksibilitas, serta efektivitas biaya, Graham dkk (2005)
3) Blended Learning mendukung keuntungan
e-learning termasuk
pengurangan biaya, efisiensi waktu, dan kenyamanan tempat untuk
pelajar dapat memahami pribadi dalam masalah penting dan dapat
memberi motivasi ketika pembelajaran tatap muka, Welsh dkk (2003).
4) Blended Learning memiliki kelebihan yaitu siswa memiliki banyak
waktu belajar di bawah bimbingan oleh guru, Mujiyanto (2012)
5) Blended Learning mampu menumbuhkan kemandirian siswa untuk
mengkonstruksi sendiri pengetahuannya, ditunjukkan dengan adanya
peningkatan penguasaan konsep, peningkatan generik sains dan siswa
memberikan tanggapan yang baik, Mubaraq (2009).
6) Blended Learning meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa,
Izuddin (2012).
24
7) Blended Learning berhasil meningkatkan kemandirian belajar, Critical
Thinking, maupun prestasi belajar dari mahasiswa, Sari (2013).
c. Rancangan Penyelenggaraan Blended Learning
Dalam Slemer (2005) dan Soekartawi (2005) menyarankan halhal
yang
harus
diperhatikan
dalam
dalam
merancang
dan
menyelenggarakan Blended Learning agar hasilnya optimal, yaitu:
1) Bahan ajar diubah atau disiapkan menjadi bahan ajar yang memenuhi
syarat untuk pendidikan blended learning. maka bahan ajar dirancang
untuk tiga macam bahan ajar yaitu bahan ajar yang dapat dipelajari
sendiri, bahan ajar yang dapat dipelajari melalui tatap-muka, dan
bahan ajar yang dapat dipelajari melalui on-line/web-based learning.
2) Software yang digunakan untuk pembelajaran disiapkan agar dapat
digunakan dalam kerja kelompok.
3) Format dari on-line learning disiapkan agar tersedia bahan ajar
tersedia dalam format html atau format PDF).
4) Rancangan yang dibuat diuji terlebih dahulu untuk mengetahui
kemudahan dalam menggunakan rancangan pembelajaran agar lebih
optimal.
5) Blended Learning diselenggarakan dengan menugaskan instruktur
khusus (dosen/guru) yang tugas utamanya melayani pertanyaan siswa.
d. Rancangan Pembelajaran Model Blended Learning
Prosedur pelaksanaan Blended Learning (Woodall dan Hovis,
2010) antara lain:
1) Prepare Me
Guru mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti pembelajaran dan
memahami segala macam kegiatan yang akan dilakukan dalam
pembelajaran serta membagi siswa dalam beberapa kelompok secara
heterogen. Siswa belajar untuk terbiasa dengan perlengkapan, strategi
atau teknologi yang digunakan dalam Blended Learning.
25
2) Tell Me
Guru membimbing siswa untuk memahami topik yang diberikan
kepada masing-masing kelompok dalam tahapan ini meliputi
presentasi, penjelasan dari fakta, konsep, prosedur dan prinsip-prinsip
yang terkait dengan materi. Tahapan ini juga dapat digunakan untuk
menguatkan kembali motivasi dalam pembelajaran.
3) ShowMe
Guru membimbing siswa untuk melakukan observasi, sehingga siswa
dapat menjelaskan topik yang dibahas. Tahapan ini berkaitan erat
dengan fakta, prosedur, prinsip, konsep dan atau proses dalam
praktikum
yang
ditunjukkan
pada
siswa
sehingga
memiliki
pemahaman yang baik untuk menerapkan keterampilan.
4) Let Me
Guru
membimbing
siswa
untuk
melakukan
pengelompokan
(pengklasifikasian) materi yang dibahas, serta melengkapi Lembar
Kerja Siswa (LKS/ /Work Sheet) dengan menggunakan berbagai sumber
belajar yang diperoleh dari buku atau internet. Siswa dapat
menerapkan keterampilan atau pengetahuan baru yang didapatnya dan
memberikan umpan balik untuk dijadikan koreksi.
5) Coach Me
Guru membimbing siswa untuk berdiskusi dalam kelompok kecil dan
membawanya dalam diskusi secara on line. Siswa dapat berbagi
pengalaman dengan yang lain, meliputi, guru, siswa lain, atau ahli.
6) Connect Me
Guru membimbing siswa untuk mengkomunikasikan hasil diskusi
kelompok kecil di depan kelas (dalam kegiatan diskusi kelas). Guru
membimbing siswa untuk menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran
yang telah dilakukan. Siswa dapat mengaplikasikan materi dalam
kehidupan sehari-hari dan mengadakan forum diskusi melalui berbagai
macam media. Pada tahap ini siswa bebas memberikan ide atau
26
gagasan dalam sebuah forum diskusi serta dapat digunakan untuk
memecahkan masalah yang berhubungan dengan kehidupansehari-hari.
7) Support Me
Guru memberikan konfirmasi kepada siswa agar tidak terjadi salah
konsep. Guru membimbing siswa jika di dalam diskusi ataupun
pencarian sumber terjadi kekurangan. Tahapan ini siswa diberi
dukungan kembali untuk memperoleh informasi-informasi yang
mendukung pemahaman dalam materi.
8) Check Me
Guru memberikan evaluasi (tes) pada masing-masing siswa untuk
mengetahui sejauh mana penguasaan konsep materi yang diperoleh
siswa. Guru memberikan penugasan kepada siswa untuk mengkaitkan
pengetahuan siswa terhadap pembelajaran yang akan dilakukan pada
pertemuan selanjutnya.
Berdasarkan perbandingan porsi kelas dan e-learning pada penerapan
model Blended Learning yakni dengan menggunakan prosi Blended Learning
tipe 4 oleh Allen (2007) dan Kusairi (2011) dan langkah-langkah kegiatan
Blended Learning oleh Woodall dan Hoffis (2010) maka diperoleh bagan alir
kegiatan Blended Learning sebagaimana Gambar 2.2.
Pada Gambar 2.2 sebagaimana tipe implementasi Blended Learning
yang dijabarkan oleh Kusairi (2011) atau Tabel 2.3 kolom 4, yang
menjelaskan bahwa Blended Learning tipe/mode 4 adalah “Classroom
instruction with substantial required online components that extend beyond
the classroom and/or the school day”. Maksudnya instruksi dapat dilakukan
di kelas dimana ada sebagian komponen pembelajaran yang berada pada
sistem online dan sistem online dilakukan di luar kelas/atau jam pelajaran.
Model implementasi yang paling sederhana dan terlihat adalah model 4. Hal
ini berarti guru melakukan pembelajaran tatap muka dengan melibatkan
kegiatan siswa yang memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di internet
misalnya film, animasi, game dan sebagainya.
27
Prepare me : Pelatihan Log
in dan pendaftaran serta
pengguanan media
Guru: Konfirmasi
Akun Peserta Didik
Murid: pendaftaran
Akun Peserta Didik
Tell Me : Petunjuk dan peta
konsep pada tiap materi
Show Me : Guru membuka
forum diskusi untuk pertanyaan
dan pertanyaan siswa dan
masalah pada materi
Let Me : guru membiarkan
siswa mengexplorasi e
learning dan dan buku
Coach Me : siswa memasuki
kelas untuk menyelesaikan LKS
dan diskusi
Connect Me : siswa
menyampaikan hasil
diskusinya pada forum
Support Me : Guru
melakukan konfirmasi
Check me : evaluasi test
online maupun tertulis
Gambar 2.2. Bagan Alir kegiatan Blended Learning
6. Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research
berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat
28
tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut,
Trianto (2013:13).
David Hopkins (1993) dalam Trianto (2010 : 15)
menyebut penelitian tindakan kelas sebagai suatu studi yang sistematis
(penelitian)
yang
dilakukan
oleh pelaku
pendidikan
dalam upaya
meningkatkan mutu pembelajaran melalui tindakan yang terencana dan
dampak dari hal ini adalah guru, dimana dengan peranannya pada proses
pembelajaran akan menentukan pencapaian hasil belajar. Peran guru
dipandang sebagai perpaduan yang baik dalam merencanakan tindakan dan
sebagai pelaku penelitian.
Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
penelitian tindakan kelas penelitian merupakan penelitian kualitatif yang
dilakukan oleh guru sendiri ketika mendapatkan permasalahan dalam
pembelajaran dan mencarikan solusinya dalam upaya memperbaiki kualitas
pembelajarannya.
Jika diperhatikan, maka titik tumpu (orientasi) dari pada PTK
(Penelitian Tindakan Kelas) adalah suatu kegiatan penelitian dengan
mencermati sebuah kegiatan pembelajaran yang diberikan tindakan, yang
secara
sengaja
dimunculkan
dalam
sebuah
kelas,
yang
bertujuan
memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas
tersebut.
Pertama kali PTK diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika
Serikat Kurt Lewin pada tahun 1946 yang selanjutnya diekmbangkan oleh
Stephen Kemmis, Robin Mac Taggart, John Elliot, Dave Ebbutt dan lainnya.
Jenis PTK yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah model
Kemmis-Taggart, yaitu penelitian bersiklus yang kegiatan tindakan (acting)
dan pengamatan (observing) dilaksanakan dalam satu waktu yang sama karena
kedua proses merupakan dua tindakan yang tak dapat dipisahkan,(Trianto,
2013:30).
Tujuan dari PTK (Trianto, 2011:7) bahwa dengan proses yang
dilaksanakan dalam PTK dapat menjadi inovasi baru yang berupa sebuah
model pembelajaran, yang memiliki ciri khas tertentu yang berbeda dengan
29
model pembelajaran sebelumnya serta memiliki kelebihan-kelebihan tertentu
yang belum dimiliki model pembelajaran sebelumnya atau tidak seluruhnya
harus baru (merupakan kombinasi dari unsur yang ada sebelumnya), namun
harus ada bukti bahwa hasil inovasi tersebut memiliki kelebihan dengan model
sebelumnya. Kreativitas guru dibutuhkan untuk membuat kombinasikombinasi baru dalam kegiatan pembelajaran, atau melihat hubunganhubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya,
sehingga dapat diperoleh pembelajaran yang
7. Materi Pembelajaran
a. Mata dan Kacamata
Mata manusia sebagai alat indra penglihatan dapat dipandang
sebagai alat optik yang sangat penting bagi manusia. Mata sebagai indra
manusia memiliki bagian-bagian yang dapat dilihat pada Gambar 2.3. dan
fungsinya dapat dilihat pada Tabel 2.6.
Gambar 2.3. Bagian-Bagian Mata
Tabel 2.6. Bagian Mata dan Fungsinya
NO Bagian Mata
1.
Kornea Mata
2.
3.
Otot siliar
Iris
4.
5.
Pupil
Lensa
6.
Retina
Fungsi
Sebagai penerima rangsangan cahaya dan meneruskannya
ke bagian mata ynag lebih dalam.
Untuk mengatur panjang fokus (kelengkungan) lensa.
Untuk mengatur lebar pupil sehingga banyaknya cahaya
yang masuk ke mata bisa dikendalikan.
Tempat lewatnya cahaya yang menuju ke retina.
Untuk memfokuskan cahaya atau bayangan benda agar
tepat jatuh di retina.
Sebagai Layar penerima cahaya atau bayangan benda.
30
1) Pembentukan Bayangan Benda pada Retina.
Proses pembentukan bayangan pada mata normal terjadi
apabila berkas cahaya yang masuk ke mata akan dibiaskan oleh lensa mata
sehingga berkas sinar biasnya tepat berpotongan pada retina. Adapun sifat
bayangan yang terbentuk adalah nyata, terbalik, dan diperkecil. Dari retina
cahaya kemudian dikirim dalam bentuk listrik ke otak melalui saraf mata.
Impuls diproses oleh otak sehingga terbentuk bayangan nyata dan tegak
yang memberi kesan bahwa kita melihat benda tersebut.
2) Daya Akomodasi Mata.
Perlu diketahui bahwa jarak antara lensa mata dan retina selalu
tetap. Sehingga dalam melihat benda-benda pada jarak tertentu perlu
mengubah kelengkungan lensa mata. Untuk mengubah kelengkungan
lensa mata, yang berarti mengubah jarak titik fokus lensa merupakan tugas
otot siliar. Hal ini dimaksudkan agar bayangan yang dibentuk oleh lensa
mata selalu jatuh di retina. Pada saat mata melihat dekat lensa mata harus
lebih cembung (otot-otot siliar menegang) dan pada saat melihat jauh
lensa harus lebih pipih (otot-otot siliar mengendor). Peristiwa perubahanperubahan ini disebut daya akomodasi. Daya akomodasi (daya suai)
adalah kemampuan otot siliar untuk menebalkan atau memipihkan
kecembungan lensa mata yang disesuaikan dengan dekat atau jauhnya
jarak benda yang dilihat. Manusia memiliki dua batas daya akomodasi
(jangkauan penglihatan) yaitu:
a) Titik dekat mata (punctum proximum)
Titik dekat mata (punctum proximum) adalah jarak benda terdekat di
depan mata yang masih dapat dilihat dengan jelas. Untuk mata normal
(emetropi) titik dekatnya berjarak 10cm-20cm (anak-anak) dan
berjarak 20cm-30cm (dewasa). Titik dekat disebut jarak baca normal.
b) Titik jauh mata (punctum remotum)
Titik jauh mata (punctum remotum) adalah jarak benda terjauh di
depan mata yang masih dapat dilihat dengan jelas. Untuk mata normal
titik jauhnya adalah “tak terhingga”.
31
3) Kelainan Pada Mata
a) Rabun Jauh (Miopi)
Seseorang yang cacat mata rabun jauh tidak dapat melihat
benda benda yang letaknya jauh secara jelas. Cacat mata ini
disebabkan lensa mata tidak dapat memipih degan baik sehingga sinarsinar sejajar yang datang dari benda jatuh di depan retina sebagaimana
terihat pada Gambar 2.4. Titik jauh penderita kurang dari tak
terhingga.
Gambar 2.4. Pembentukan Bayangan Pada Mata Miopi
Penderita Rabun Jauh (miopi) dapat ditolong dengan
mengunakan kacamata dengan lensa cekung atau negatif. Lensa
negatif diletakkan didepan mata (Gambar 2.5), sehingga bayangan
akan jatuh tepat pada retina. Dan bayangan terlihat oleh mata.
Gambar 2.5. Koreksi Mata Miopi
Besarnya kekuatan lensa (dioptri) yang digunakan penderita
rabun jauh sangat tergatung pada titik jauh penderita. Agar dapat
melihat benda-benda pada jarak tak terhingga seperti mata ormal,
penderita rabun jauh harus menggunakan lensa cekung yang
menghasilkan bayangan di depan lensa pada jarak yang sama dengan
titik jauh penerita. Bayangan yang terbentuk bersifat maya sehingga
jarak bayagan yang dibentuk s’ = titik jauh penderita
32
Fokus kacamata yang harus digunakan dapat dihitung dengan
Persamaan 2.1.
=
+
………………………………………………(2.1)
So = letak benda sebenarnya (~)
Si = – PR (batas maksimum jangkauan penglihatan) tanda (-)
menggambarkan bayangan di depan lensa.
diperoleh bahwa:f = – PR, Ukuran lensa yang digunakan
adalah :
=
…………………………………………………(2.2)
P = kekuatan lensa dalam satuan dioptri (D)
f = jarak fokus lensa kaca mata dalam satuan meter (m)
b) Rabun Dekat (Hipermetropi)
Ciri-ciri penderita rabun dekat adalah ia tidak dapat melihat
jelas benda-benda yang letaknya dekat walaupun mata telah
berakomodasi maksimal. Penyebabnya adalah lensa mata tidak dapt
mencembung sebagaimana mestina seingga sinar-sinar dari benda
yang dekat akan membentuk bayangan di belakang retina (Gambar
2.6), sehingga untuk dapat melihat benda dekat dibutuhkan lensa untuk
melakukan koreksi pada penglihatan.
Gambar 2.6. Pebentukan Bayangan pada Mata Hipermetropi
Penderita rabun dekat dapat ditolong dengan menggunakan
kacamata (alat optik) berlensa cembung atau positif (Gambar 2.7).
Lensa positif akan membantu menempatkan bayangan tepat pada
retina.
33
Gambar 2.7. Koreksi Mata Hipermetropi
Kekuatan lensa yang dapat digunakan penderita hipermetropi
tergantung pada titik dekat penderita. Kekuatan lensa yang dibunakan
oleh penderita hipermetropi terbantung pada titik dekat penderita. Agar
dapat melihat benda pada jarak baca normal (25 cm), maka penderita
rabun dekat harus menggunakan lensa kacamata yang menghasilkan
bayangan di depan lensa pada jarak yang sama dengan titik dekat
penderita. Bayangan yang terlihat adalah maya sehingga s’ = – titik
dekat penderita. Fokus yang dibutuhkan oleh kacamata hipermetropi
dapat dilihat dalam persamaan 2.3.
=
+
…………………………………………(2.3)
Keterangan:
So = Sn (jarak baca normal = 25 cm)
Si = – PP (titik dekat hipermetropi), tanda minus menunjukkan bahwa
bayangan maya yang terletak di titik dekatnya.
c) Cacat Mata Presbiopi
Gambar 2.8. Mata Presbiopi
Cacat mata presbiopi (mata tua atau rabun dekat dan rabun
jauh diakibatkan karena melemahnya daya akomodasi) terjadi karena
bayangan jatuh di belakang retina pada saat melihat dekat dan
34
bayangan jatuh di depan retina pada saat melihat jauh (Gambar 2.8).
Hal ini terjadi karena daya akomodasi lensa mata lemah.
Gambar 2.9. Koreksi mata Presbiopi
Agar dapat melihat jelas baik benda yang dekat maupun yang
jauh maka perlu dibantu dengan menggunakan gabungan lensa
cembung (konvergen) dan cekung (divergen). Cacat mata ini sering
juga dikenal dengan nama cacat mata tua. Ukuran lensa yang
digunakan diketahui dengan menentukan titik jauh maupun titik
dekatnya. Selanjutnya dengan menggunakan cara sebagaimana pada
cacat miopi dan cacat hipermetropi, ukuran lensa dapat diketahui.
b. Lup
Sebagaimana namanya, lup memiliki fungsi untuk memperbesar
bayangan benda. Lup adalah lensa cembung yang digunakan untuk
mengamati benda-benda kecil agar nampak lebih besar. Bayangan yang
dibentuk oleh lup memiliki sifat: maya, tegak, dan diperbesar. Untuk itu
benda harus diletakkan di Ruang I (Pembagian ruang pada lup dapat
dilihat pada Gambar 2.10) atau daerah yang dibatasi oleh fokus dan pusat
lensa atau cermin (antara f dan O), dimana So < f.
Gambar 2.10. Ruang pada Lup
35
Ada tiga cara bagaimana menggunakan lup yaitu:
1) Perbesaran lup untuk mata berakomodasi pada jarak x
Lup adalah sebuah lensa cembung. Telah diketahui bahwa bayangan
maya, tegak, diperbesar dapat diamati pada lensa cembung jika benda
ditaruh di antara O dan F, atau jika jarak s memenuhi O < s < f
Ukuran angular paling besar oleh mata langsung tanpa lup diperoleh
jika benda diletakkan pada titik dekat mata. Ukuran angular untuk lup
dengan mata berakomodasi pada jarak x ditunjukkan pada gambar
2.11.
Gambar 2.11.
Melihat Benda Menggunakan Lup dengan
Mata Berakomodasi Pada Jarak x
Perhatikan untuk sinar-sinar paraksial, nilai sudut dalam radian
mendekati nilai tangennya. Sehingga,
= tan
=
= tan
=
′
Sesuai definisi perbesaran angular
=
/
=
/
=
(2.4)
Dari persamaan perbesaran linier lensa, telah diketahui bahwa
′
=
′
Sehingga persamaan (2.4.) menjadi
=
(2.5)
36
Untuk mata berakomodasi pada jarak x, bayangan harus terletak di
depan lup sejauh x, sehingga s’= -x . Substitusikan ini ke dalam
persamaan 2 maka akan menghasilkan rumus umum perbesaran
angular yaitu
=
−(− )
=
Dari rumus lensa tipis seperti persamaan 2.1 diperoleh bahwa untuk
pengamatan dengan lup pada pengamatan dengan mata berakomodasi
pada jarak x adalah persamaan
= +
=
……………………..(2.6)
Jika nilai disubstitusikan ke dalam persamaan (2.5.) diperoleh
=
1
+
=
=
+
Perbesaran lup untuk mata berakomodasi pada jarak x
=
+
………………(2.7.)
2) Perbesaran lup untuk mata berakomodasi maksimum
Agar mata yang mengamati benda melaui sebuah lup berakomodasi
maksimum, bayangan harus terletak di titik dekat mata. Dengan
demikian, s’ = Sehingga x =
dengan
adalah jarak titik dekat mata pengamat.
. Dengan memasukkan nilai x =
pada persamaan
(2.6.) diperoleh rumus perbesaran lup untuk mata berakomodasi
maksimum yaitu :
=
+
=
+1
……………..(2.8.)
37
3) Perbesaran lup untuk mata tidak berakomodasi
Agar mata yang mengamati benda melalui lup tidak cepat lelah , lup
digunakan dengan mata tidak berakomodasi. Pembentukan bayangan
pada mata tak berakomodasi sesuai dengan Gambar 2.12. yaitu
menempatkan benda di titik fokus lensa, sehingga sinar-sinar yang
mengenai mata sejajar
Gambar 2.12.
Lukisan Pembentukan Bayangan Pada Lup
untuk Mata Tidak Berakomodasi
Ukuran angular untuk mata tidak berakomodasi adalah
= tan
=
ℎ
Sesuai dengan definisi perbesaran angular
=
=
/
/
Perbesaran
lup untuk mata tak berakomodasi
=
………….(2.9.)
c. Kamera
Kamera merupakan alat optik yang dapat mengambil gambar dan
menyimpannya dalam bentuk file, film maupun print-out. Kamera
menggunakan lensa positif dalam membentuk bayangan. Sifat bayangan
yang dibentuk kamera adalah nyata, terbalik, dan diperkecil.
Pemfokusan dilakukan dengan mengatur jarak lensa dengan film.
Perubahan jarak benda mengakibatkan perubahan jarak bayangan pada
film oleh karena itu lensa kamera perlu digeser agar bayangan tetap jatuh
pada film. Hal ini terjadi karena jarak fokus lensa kamera tetap. Dari
38
rumus umum optik, jika jarak fokus tetap, maka perubahan jarak benda
(So) akan diikuti oleh perubahan jarak bayangan (Si). Bagian- bagian
penting pada kamera dapat dilihat pada Gambar 2.13.
1) Lensa positif, membiaskan cahaya dan membentuk bayangan nyata,
terbalik dan diperkecil.
2) Aperture merupakan tempat masuknya cahaya ke kamera.
3) Diafragma mengatur jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera
dengan mengubah ukuran aperturenya.
4) Film merupakan media yang menangkap bayangan nyata yang
dibentuk oleh lensa.
Gambar 2.13. Bagian-Bagian Utama pada Kamera
Untuk menangkap gambar yang jelas pada film maka jalannya
pembentukan bayangan harus seperti Gambar 2.14. Agar bayangan selalu
jatuh pada film karena letak benda yang berubah, maka dapat diatur
dengan menggeser jarak lensa terhadap filmnya. So = jarak benda dalam
meter, Si = jarak bayangan dalam meter, F = titik fokus lensa
Gambar 2.14. Pembentukan Bayangan Pada Kamera
39
Berdasarkan Gambar 2.15, kemiripan antara kamera dan mata dapat
dibandingkan pada Tabel 2.6
Tabel 2.7. Kesamaan Prinsip Kerja Bagian Mata dan Kamera
Kamera Mata
Keterangan
Lensa
Lensa Lensa cembung
Diafragma Iris
Mengatur besar kecilnya lubang cahaya
Aperture
Pupil Lubang tempat masuknya cahaya
Film
Retina Tempat terbentuknya bayangan
(a)
(b)
Gambar 2.15. Perbandingan Bagian (a) Kamera (b) Mata
Secara umum bagian-bagian kamera sama dengan bagian-bagian
mata, namun kedua alat ini memiliki perbedaan dalam hal menempatkan
bayangan pada retina/film, perbedaannya adalah mata menggunakan daya
akomodasi sedangkan kamera menggunakan pergeseran lensa
d. Mikroskop
Untuk pengamatan zat renik diperlukan alat optik yang memiliki
kemampuan untuk memperbesar bayangan hingga berlipat-lipat. Alat ini
dikenal dengan nama mikroskop. Mikroskop yang paling sederhana
menggunakan kombinasi dua buah lensa positif, dengan panjang titik
fokus obyektif lebih kecil daripada jarak titik fokus lensa okuler.
Prinsip kerja mikroskop adalah obyek ditempatkan di ruang
dua lensa obyektif sehingga terbentuk bayangan nyata terbalik dan
diperbesar. Lensa okuler mempunyai peran seperti lup, sehingga pengamat
dapat melakukan dua jenis pengamatan yaitu dengan mata tak
berakomodasi atau dengan mata berakomodasi maksimum. Pilihan jenis
40
pengamatan ini dapat dilakukan dengan cara menggeser jarak benda
terhadap lensa obyektif yang dilakukan dengan tombol soft adjustment
(tombol halus yang digunakan untuk menemukan fokus).
1) Bagian – Bagian Mikroksop Dan Fungsinya
Mikroskop terdiri dari bagian-bagian rumit yang masing-masing
memiliki fungsi tersendiri. Bagian mikroskop dapat dilihat pada
Gambar 2.16.
Gambar 2.16. Bagian-Bagian Mikroskop
Berdsararkan penomoran yang ada pada Gambar 2.16. bagian-bagian
mikroskop memiliki kegunaan yang dijelaskan pada Tabel 2.8.
mengetahui
bagian
mikroskop
sangat
membantu
dalam
mengoperasikannya. Langkah utama yang biasa dilakukan ketika
mengoperasikan mikroskop adalah pengaturan cahaya agar medan
penglihatan baik dengan memutar bagian yang bernama revolver,
pengaturan perbesaran lensa obyektif, pengaturan sumber cahaya
dengan mengarahkan cermin mikroskop ke arah sumber cahaya, dan
pengaturan preparat preparat yang akan diamati di atas meja benda,
lalu dijepit dengan penjepitnya sehingga cahaya yang terkumpul dalam
kondensor menembus kaca benda.
41
Tabel 2.8. Bagian-Bagian dan Fungsi Bagian Mikroskop
A
B
Bagian
Mikroskop
Lensa okuler
Tabung mikroskop
C
Revolver
D
E
F
G
H
I
Lensa objektif
Lensa objektif
Meja mikroskop
Klip
Kaki mikroskop
Cermin
J
Diafragma
K
L
Lengan mikroskop
Pemutar halus
M
Pemutar kasar
NO
Fungsi
Lensa yang dilihat/diintip
Bagian yang menghubungkan lensa okuler
denganlensa obyektif
Bemutar yang digunakan untuk mengubah
dperbesaran lensa obyektif
Perbesaran lemah
Perbesaran kuat
Tempat meletakkan specimen / preparat yang diamati
Penjepit object glass
Menegakkan mikroskop
Memantulkan cahaya pada lensa obyektif agar
pengamatan preparat lebih jelas
Bagian yang digunakan untuk mengatur intensitas
cahaya yang masuk ke lensa obyektif
Pegangan mikroskop
Bagian yang digunakan untuk menggerakkan
(menjauhkan/mendekatkan) lensa obyektif terhadap
preparat secara pelan/halus
Bagian yang digunakan untuk menggerakkan
(menjauhkan/mendekatkan) lensa obyektif terhadap
preparat secara cepat
2) Pembentukan Bayangan pada Mikroskop
a) Mata Berakomodasi maksimal
Pengamatan ini menempatkan benda pada ruang II lensa
obyektif dan menempatkan bayangan akhir (bayangan lensa
okuler) maya pada titik dekat pengamat (PP) pada Gambar 2.17.
Gambar 2.17. Gambar Pembentukan Bayangan pada Mikroskop
dengan Pengamatan Mata Berakomodasi
42
Panjang mikroskop diukur dari jarak antara lensa obyektif
dan lensa okuler. Untuk masing-masing jenis pengamatan, panjang
mikroskop dapat dihitung dengan cara yang berbeda. Sehingga
panjang
teropong
untuk
pengamatan
mata
berakomodasi
persamaan
d = Si(Ob) + So(Ok)
…..…………………………………….(2.10)
Keterangan:
d
= panjang mikroskop (mm)
Si(Ob) = jarak bayangan lensa obyektif (mm)
So(Ok) = jarak benda lensa okulerdalam (mm)
Perbesaran mikroskop merupakan hasil kali dari perbesaran
obyektif dan perbesaran okulernya atau dijabarkan pada persamaan
2.11.
=
(
)
×
(
……………………………(2.11)
)
pada pengamatan dengan mata berakomodasi maksimal besarnya
perbesaran obyektif (persamaan 2.12) dan perbesaran okuler
(persamaan 2.13).
(
)
=
(
)
=
………………………(2.12)
+1
……………………….(2.13)
Sehingga dengan
mensubtitusikan persamaan
2.11
dengan
persamaan 2.12 dan 2.13 diperoleh perbesaran akhir pada
mikroskop dengan pengamatan mata berakomodasi maksimal
persamaan 2.14.
=
×
(
)
+1
………………………..(2.14)
Keterangan:
S(Ob) = Jarak benda lensa obyektif dalam meter
S’(Ob) = Jarak bayangan lensa obyektif dalam meter
PP = titik dekat pengamat dalam meter
f(Ok) = panjang fokus lensa okuler dalam meter
43
b) Mata Tak Berakomodasi
Pengamatan menggunakan mikroskop dengan mata tidak
berakomodasi. Bayangan pobyektif tepat jatuh pada fokus lensa
okuler sehingga bayang sesuai dengan Gambar 2.18.
Gambar 2.18. Pembentukan Bayangan pada Mikroskop
dengan Mata tak Berakmomodasi
Pengamatan ini menempatkan bayangan akhir (bayangan
lensa okuler) maya pada titik jauh pengamat (PR). Panjang
mikroskop diukur dari jarak antara lensa obyektif dan lensa okuler.
Untuk masing-masing jenis pengamatan, panjang mikroskop dapat
dihitung dengan cara yang berbeda. Sehingga panjang teropong
untuk pengamatan dengan mata tak berakomodasi persamaan 2.15.
d = Si(Ob) + f(Ok)
………………………..(2.15)
Keterangan:
d = panjang mikroskop dalam meter
Si(Ob) = jarak bayangan lensa obyektif dalam meter
f(Ok) = jarak fokus lensa okuler dalam meter
Perbesaran total mikroskop sebagaimana dijabarkan dalam
persamaan 2.11, namun pada pengamatan dengan mata tak
berakomodasi
persamaan 2.16.
besarnya perbesaran okuler dirumuskan dengan
44
=
……………………….(2.16)
Persamaan perbesaran akhir untuk pengamatan mata tidak
berakomodasi dijabarkan pada persamaan 2.17
=
×
(
)
………………………..(2.17)
Keterangan:
S(Ob) = Jarak benda lensa obyektif dalam meter
S’(Ob) = Jarak bayangan lensa obyektif dalam meter
PP = titik dekat pengamat dalam meter
f(Ok) = panjang fokus lensa okuler dalam meter
e. Teleskop
Teropong atau teleskop adalah sebuah alat yang digunakan
untuk melihat benda-benda yang jauh sehingga tampak lebih jelas dan
lebih dekat. Secara umum teropong terdiri atas dua buah lensa positif. Satu
lensa mengarah ke obyek dan disebut lensa obyektif dan satu lensa
mengarah ke mata dan disebut lensa okuler.
Prinsip utama pembentukan bayangan pada teropong adalah:
lensa obyektif membentuk bayangan nyata dari sebuah obyek jauh dan
lensa okuler berfungsi sebagai lup. Dengan demikian cara mengamati
obyek apakah mau dengan cara berakomodasi maupun tidak berakomodasi
tergantung dari posisi lensa okulernya. Oleh karena itu jarak antara
obyektif dan okuler dapat diubah-ubah. Panjang teropong adalah jarak
antara lensa obyektif dan lensa okulernya. Berdasarkan fungsinya
teropong dibagi menjadi 3, yaitu: teropong bintang, teropong bumi dan
teropong panggung
1) Teropong Bintang
Teropong bintang digunakan untuk mengamati obyek-obyek
yang ada di langit (bintang). Teropong bintang terdiri dari sebuah lensa
cembung yang berfungsi sebagai lensa obyektif dengan diameter dan
jarak fokus besar, sedangkan okulernya adalah sebuah lensa cembung
45
dengan jarak fokus pendek. Bayangan yang dibentuk oleh lensa
objektif selalu bersifat nyata, terbalik, dan diperkecil. Bayangan
yang dibentuk lensa okuler bersifat maya, terbalik, dan diperkecil
terhadap benda yang diamati. Berdasarakan cara pengamatannya
teropong bintang dapat dibagi menjadi dua yakni pengamatan dengan
mata berakomodasi maksimal dan pengamatan dengan mata tak
berakomodasi.
(a) Mata tak Berakomodasi
Untuk mata tak berakomodasi bayangan benda jatuh di fokus
okuler dan
Gambar
′
=
′
sebagaimana yang dapat dilihat pada
2.19. Bayangan akhir ditangkap mata pada jarak tak
terhingga atau dengan kata lain bayangan yang diamati tidak
terlihat.
Gambar 2.19. Pembentukan Bayangan pada Teropong Bintang
dengan Mata Tak Berakomodasi
Pengamatan benda-benda di langit berlangsung berjam-jam. Agar
mata tidak lelah, pengamatan dilakukan dengan mata tidak
berakomodasi. Jarak kedua lensa d pada teropong bintang
(panjang teropong) adalah jarak antara lensa obyektif dan lensa
okuler atau sesuai dengan persamaan 2.18.
=
+
……………….(2.18)
Perbesaran angular dari teropong merupakan perbandingan fokus
obyektif dan okulernya (persamaan 2.19)
46
=
……………….(2.19)
Keterangan:
d = Panjang teropong bintang (m)
f(Ob) = jarak fokus lensa obyektif (m)
f(Ok) = jarak fokus lensa okuler (m)
(b)
Mata Berakomodasi maksimal
Untuk pengamatan teropong bintang dengan mata berakomodasi
maksimal bayangan dari lensa obyektif jatuh tepat pada fokus
objektif atau bayangan objektif jatuh di ruang I lensa okuler
namun fokus obyektif tidak saling berhimpit dengan fokus
′
okuler
≠
′
, maka bayangan akhir benda akan jatuh pada
titik terjauh penglihatan pengamat seperti Gambar 2.20.
Gambar 2.20. Pembentukan Bayangan Teropong Bintang
Pada Mata Berakomodasi
Panjang teropong merupakan penjumlahan dari fokus
+
objektif dan jarak benda okuler atau: =
dimana jarak
benda okuler sama dengan persamaan 2.20.
′
=−
………………(2.20)
Sehingga jarak okuler dapat ditentukan dengan persamaa 2.21.
47
=
.
………………(2.21)
Adapun perbesaran angular pada teropong bintang dijabarkan
dengan persamaan 2.22.
=
………………(2.22)
Keterangan:
d
= Panjang teropong bintang (m)
f(Ob) = jarak fokus lensa obyektif (m)
s(Ok) = jarak benda lensa okuler (m)
2) Teropong Bumi
Teropong bumi disebut juga teropong medan atau teropong
yojana yang menghasilkan bayangan akhir yang tegak terhadap arah
benda semula digunakan untuk mengamati obyek-obyek yang jauh
dipermukaan bumi. Teropong ini akan menghasilkan bayangan yang
nampak lebih jelas, lebih dekat dan tidak terbalik. Teropong bumi
terdiri dari tiga lensa positif dan salah satunya sebagai pembalik
bayangan.
(a) Mata Berakomodasi
Gambar 2.21. Pengamatan Teropong Bumi dengan Mata
Berakomodasi Maksimal
Bayangan yang dibentuk oleh lensa pembalik berada diantara titik
fokus dan pusat lensa (ruang I) lensa okuler sehingga bayangan
yang dihasilkan oleh lensa okuler bersifat maya, tegak, dan
diperbesar. Gambar 2.21.
Panjang teropong bumi (d) atau jarak antara lensa objektif dengan
lensa okuler dapat dijabarkan dengan persamaan 2.23.
48
= ′
+4
+
……………………(2.23)
Perbesaran teropong bumi dengan pengamatan mata berakomodasi
maksimal dapat ditentukan dengan persamaan 2.24.
=
+1
………………………...(2.24)
Keterangan:
d
= Panjang teropong bintang (m)
M
= Perbesaran bayangan angular
S’(Ob)= jarak bayangan lensa obyektif (m)
S(Ok) = jarak benda lensa okuler (m)
f(Ok) = jarak fokus lensa okuler (m)
fp
= jarak fokus lensa pembalik (m)
(2) Mata Tak Berakomodasi
Untuk pengamatan dengan mata tak berkomodasi karena bayangan
obyektif jatuh di dua kali fokus pembalik dan bayangan pembalik
jatuh di dua kali fokus lensa pembalik yang berhimpit dengan
fokus lensa okuler seperti Gambar 2.22.
Gambar 2.22. Pembentukan Bayangan Pada Teropong
Bumi dengan Mata tak Berakomodasi
Panjang teropong bumi adalah panjang fokus lensa obyektif
ditambah 4 kali jarak fokus lensa pembalik dan panjang fokus
49
lensa okuler. panjang tubuh teropong bumi dapat ditentukan
dengan persamaan 2.25.
=
+4
+
………………(2.25)
Dan perbesaran angular teropong bumi dengan pengamatan mata
tak berakomodasi ditentukan dengan persamaan 2.26.
=
……………..(2.26)
Keterangan:
d
= Panjang teropong bintang (m)
M
= Perbesaran bayangan angular
f(Ob) = jarak fokus lensa obyektif (m)
S(Ok) = jarak benda lensa okuler (m)
f(Ok) = jarak fokus lensa okuler (m)
fp
= jarak fokus lensa pembalik (m)
3) Teropong Panggung
Teropong panggung adalah teropong yang mengkombinasikan
antara lensa positif dan lensa negatif. Lensa negatif digunakan sebagai
pembalik dan sekaligus sebagai okuler. Sifat bayangan yang terbentuk
adalah maya, tegak, dan diperkecil.
(1) Mata Berakomodasi Maksimal
Untuk pengamatan dengan mata berakomodasi maksimal, pada lensa
obyektif : jarak benda Sob = ∞, S’ob =fob atau bayangan lensa objektif
jatuh tepat pada fokus lensa objektif, sedangkan pada lensa okuler
fok<Sok<2fok (di belakang okuler) dan bayangan lensa okuler harus
jatuh tepat pada minus jarak baca normal S’ok=-Sn. Sehingga
pembentukan bayangannya sebagaimana Gambar 2.23.
50
Gambar 2.23. Pembentukan Bayangan Pada Teropong Panggung
dengan Mata Berakomodasi
Panjang teropong panggung untuk pengamatan dengan mata
berakomodasi maksimal (d) dapat ditentukan dengan persamaan
2.27.
=
+
………………………(2.27)
Dimana fok bernilai negatif karena lensa cekung memiliki
fokus negatif. Perbesaran bayangan yang dihasilkan ditentukan
dengan persamaan 2.28.
=
………………………..(2.28)
Keterangan:
d
= Panjang teropong bintang (m)
M
= Perbesaran bayangan angular
S(Ok) = jarak benda lensa okuler (m)
f(Ob) = jarak fokus lensa obyektif (m)
(2) Mata tak Berakomodasi
Prinsip kerja teropong panggung untuk pengamatan mata tak
berakomodasi adalah sinar sejajar yang masuk ke lensa obyektif
membentuk bayangan nyata tepat di titik fokus obyektif. Dan oleh
lensa okuler akan dibentuk bayangan yang dapat dilihat oleh mata.
Karena jarak benda okuler berhimpit dengan fokus lensa maka
bayangan yang dihasilkan oleh lensa okuler berada pada jarak tak
hingga.
51
Gambar 2.24. Pembentukan Bayangan Pada Teropong Panggung
dengan Tak Berakomodasi
Pada pengamatan tanpa berakomodasi maka panjang teropong
ditentukan dengan persamaan 2.29.
d = f (Ob) – f (Ok)
………………………(2.29)
Perbesaran bayangan ditentukan dengan persamaan 2.30.
=
…….………………..(2.30)
Keterangan:
d
= panjang teropong (m)
M
= Perbesaran bayangan
f (Ob) = panjang fokus lensa obyektif (m)
f (Ok) = panjang fokus lensa okuler (m)
B. Kerangka Berpikir
Keberhasilan belajar siswa khususnya Fisika dipengaruhi oleh berbagai
faktor, mulai dari faktor internal yakni faktor yang berasal dari dalam diri siswa
maupun faktor eksternal yang dipengaruhi oleh guru, kesulitan belajar dan juga
media pembelajaran yang tersedia untuk mendukung kegiatan pembelajaran
Fisika. Pembelajaran sebagai proses timbal balik (interaktif) untuk mencapai
tujuan pembelajaran harus membutuhkan peran aktif siswa. Pembelajaran yang
aktif menurut Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010) memiliki ciri-ciri
antara lain: semua siswa terlibat secara aktif, peserta didik berpikir aktif,
mendorong rasa ingin tahu untuk bertanya, peserta didik mengekpresikan
52
gagasannya, dan siswa dapat bertanya secara kritis. Pembelajaran yang aktif
harus didorong dengan kemampuan berpikir kritis.
Dalam pembelajaran kemampuan berpikir kritis sangatlah penting.
Berdasarkan penelitian Aditya, Suyanto, dan Viyanti (2013:1) menyatakan bahwa
terdapat pengaruh positif dari kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar
siswa. Namun kenyataannya kemampuan berpikir kritis siswa kelas X.1 SMA N 1
Karanggede masih rendah. Maka perlu dilaksanakan penelitian tindakan untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
MacKnight (2000:1) menyatakan bahwa kemampuan berpikir kritis
mencakup banyak bentuk komunikasi (berbicara, mendengarkan, menulis dan
membaca). Ke semua itu bukan merupakan aktivitas yang terpisah sehingga perlu
adanya model yang mendukung semua aktivitas tersebut.
Senada
dengan
MacKnight,
Sudjatmiko
(2003:4),
menyatakan,
“Kegiatan pembelajaran harus memungkinkan siswa bersosialisasi dengan
menghargai perbedaan (pendapat, sikap, dan kemampuan prestasi) dan berlatih
untuk bekerjasama mengkomunikasikan gagasan, hasil kreasi, dan temuannya
kepada guru dan siswa lain.” Hal tersebut juga dapat diwujudkan dengan
diintegrasikannya media sosial dalam sebuah aplikasi pembelajaran (e-learning).
Kurikulum juga mengisyaratkan bahwa pembelajaran tidak hanya
dilakukan di kelas tapi dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja (anywhere,
anytime, anyhow), sehingga dapat dikombinasikan pemanfaatan e–learning
dengan pembelajaran di kelas dan sebaliknya yang sering disebut dengan Blended
Learning. Fasilitas akses internet juga tersedia di sekolah namun belum
dimanfaatkan secara optimal.
Model pembelajaran Blended Learning mendukung peningkatkan
kemampuan berpikir kritis sebagaimana penelitian Sari (2013) yang menyatakan
bahwa model Blended Learning berhasil meningkatkan Critical Thinking, namun
kegiatan latihan tetap berada di kelas dan tidak dilengkapi fasilitas diskusi. Untuk
mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan penelitian dengan kerangka berpikir
sebagai berikut, Gambar 2.25.
53
Menambah komunikasi
pembelajaran di luar jam
sekolah (online).
Suasana Belajar
interakatif di dalam dan
di luar kelas (e-learning)
Siswa mengkonstruksi
pengetahuan yang
diperoleh
Pembelajaran Fisika
siswa X 1 SMA N 1
Karanggede Boyolali
Tahun 2014/2015
- Pembelajaran pasif
dan pengetahuan
masih
dikonstruksikan
oleh guru
- Siswa kurang aktif
Proses
pembelajaran
kurang efektif
sehingga
kemampuan
berpikir kritis
rendah
Penerapan model
pembelajaran
blended learning
untuk siswa X 1
SMA N 1
Karanggede
Boyolali Tahun
2014/2015
Kemampuan
berpikir kritis
meningkat
Gambar 2.25. Skema Kerangka Berpikir
C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian tindakan kelas ini dengan menerapkan blended
learning pada pembelajaran akan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa
kelas X 1 SMA N 1 Karanggede Boyolali Tahun Ajaran 2014/2015.
Download