bab ii pengaturan hukum tentang jaminan sosial tenaga kerja atas

advertisement
25
BAB II
PENGATURAN HUKUM TENTANG JAMINAN SOSIAL
TENAGA KERJA ATAS KECELAKAAN KERJA
D.
Sejarah Jaminan Sosial Tenaga Kerja di Indonesia
1. Pengertian Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
pada Pasal 1 terdapat berbagai pengertian yang berhubungan dengan jaminan
sosial tenaga kerja, yaitu :
a.
Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja
pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.
b.
Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna
menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri
maupun untuk masyarakat.
c.
Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau
imbalan dalam bentuk lain.
Sedangkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 Pasal 1
tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja terdapat pengertian-pengertian yang
berhubungan dengan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, yaitu:
25
26
a.
Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja
dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari
penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat
peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan
kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia.
b.
Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di
dalam maupun di luar hubungan kerja, guna menghasilkan jasa atau barang
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
c.
Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubungan dengan
hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja,
demikian pula kecelakaan yag terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah
menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau
wajar dilalui.
d.
Cacat adalah keadaan hilang atau berkuragnya fungsi anggota badan yang
secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan hilang atau berkurangnya
kemampuan untuk menjalankan pekerjaan.
e.
Sakit adalah setiap gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan,
pengobatan, dan/atau perawatan.
f.
Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan
gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan, dan/atau
perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.
Dalam
hidupnya,
manusia
menghadapi
ketidakpastian,
baik
itu
ketidakpastian yang sifatnya spekulasi maupun ketidakpastian murni yang selalu
27
menimbulkan kerugian. Ketidakpastian murni inilah yang seringkali disebut
denga risiko. Risiko terdapat dalam berbagai bidang, dan bisa digolongkan dalam
dua kelompok utama yaitu risiko fundamental dan risiko khusus. Risiko
fundamental ini sifatnya kolektif dan dirasakan oleh seluruh masyarakat, seperti
risiko politis, ekonomis, sosial, hankam dan internasional. Sedangkan resiko
khusus, sifatnya lebih individual karena dirasakan oleh perorangan, seperti resiko
terhadap harta benda, terhadap diri pribadi, dan terhadap kegagalan usaha.
Untuk menghadapi resiko ini tentunya diperlukan suatu instrument atau alat
yang setidak-tidaknya akan dapat mencegah atau mengurangi timbulnya resiko
itu. Instrument atau alat ini disebut dengan jaminan sosial.
Jaminan sosial dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan istilah Social
Security. Istilah ini untuk pertama kalinya dipakai secara resmi oleh Amerika
Serikat dalam suatu Undang-Undang yang bernama The Social Security Act Of
1935. Kemudian dipakai secara resmi oleh New Zealand Tahun 1938 sebelum
secara resmi dipakai oleh ILO (International Labour Organization). Menurut ILO :
“Social Security pada prinsipnya adalah sistem perlindungan yang diberikan
oleh masyarakat untuk para warganya, melalui berbagai usaha dalam menghadapi
resiko-resiko ekonomi atau sosial yang dapat mengakibatkan terhentinya/sangat
berkurangnya penghasilan”. 22
Sedangkan Kennet Thomson, seorang tenaga ahli pada Sekretariat Jenderal
International Social Security Association (ISSA) di Jenewa, dalam Regional
Training Seminar ISSA di Jakarta bulan Juni 1980, mengataka bahwa :
22
Astek Menjawab, loc. cit.
28
“Jaminan sosial dapat diartikan sebagai perlindungan yang diberikan oleh
masyarakat bagi anggota-anggotanya untuk risiko-risiko atau peristiwaperistiwa tertentu dengan tujuan sejauh mungkin untuk menghindari
terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut yang dapat mengakibatkan hilangnya
atau turunnya sebagian besar penghasilan, dan untuk memberikan pelayanan
medis dan/atau jaminan keuangan terhadap konsekuensi ekonomi dari
peristiwa tersebut, serta jaminan untuk tunjangan keluarga dan anak”. 23
Sejalan dengan dua pengertian di atas, Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial, pada Pasal 2 ayat
(4)nya menggariskan bahwa :
“Jaminan Sosial sebagai perwujudan dari sekuritas sosial adalah seluruh
sistem perlindungan dan pemeliharaan kesejahteraan sosial bagi warga Negara
yang diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau masyarakat guna memelihara
taraf kesejahteraan sosial”. 24
Kalau diperhatikan ketiga pengertian di atas, maka nampaknya ketiga
pengertian tersebut memberikan pengertian jaminan sosial dengan begitu luasnya,
seakan-akan jumlah sscial itu sendiri telah mencakup bidang pencegahan dan
penyembuhan serta bidang pembinaan, ketiga bidang ini kalau dikaitkan lebih
jauh lagi akan apa yang dinamakan Perlindungan Buruh, sehingga akan amat
luaslah ruang lingkupnya. Kalau kita akan membicarakan jaminan sosial bagi
pekerja dengan bertumpunya pada defenisi di atas, maka yang dimasukkan ke
dalam jaminan sosial ini hal-hal yang bersangkutan dengan :
23
24
Sentanoe Kertonegoro, loc. cit.
H. Zainal Asikin, S.H., S.U. (dkk), loc. cit.
29
1) Jaminan sosial itu sendiri
2) Kesehatan keja, dan
3) Keselamatan dan keamanan kerja 25
Namun kenyataannya menunjukkan, bahwa Hukum Perburuhan Indonesia
tidak memasukkan Kesehatan Kerja, Keselamatan Kerja dan Keamanan Kerja di
dalam konsepsi jaminan sosial, hal ini berarti, bahwa Hukum Perburuhan
Indonesia mendefikasikan jaminan sosial itu secara murni atau secara sempit,
seperti yang dikemukakan oleh Imam Soepomo, bahwa “Jaminan Sosial adalah
pembayaran yang diterima pihak buruh dalam hal buruh di luar kesalahannya
tidak melakukan pekerjaan, jadi menjamin kepastian pendapatan (income security)
dalam hal buruh kehilangan upahnya karena alasan di luar kehendaknya”. 26
Pengertian jaminan sosial secara sempit ini lebih dipertegas lagi oleh
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor : PER-03/MEN/1980 yang
dalam Pasal 2 ayat (1) menentukan, bahwa :
“Program jaminan sosial adalah program yang meliputi jaminan sakit,
hamil, bersalin, hari tua/pensiun, kecelakaan/cacad dan meninggal dunia
bagi tenaga kerja dan/atau kelurganya”.
Untuk mempermudah pengertian, maka dari uraian di atas dapat
disimpulkan :
1) Jaminan sosial dapat diartikan secara luas dan secara sempit dalam pengertian
yang luas jaminan sosial ini meliputi pula usaha-usaha yang berupa:
25
26
Ibid., hal. 100
Imam Soepomo, loc. cit.
30
a. Pencegahan dan pengembangan, yaitu di bidang kesehatan, keagamaan,
keluarga berencana, pendidikan, bantuan hukum dan lain-lain yang dapat
dikelompokkan dalam pelayanan sosial (social security).
b. Pemulihan dan penyembuhan, seperti bantuan untuk bencana alam, lanjut
usia, yatim piatu, penderita cacad, dan berbagai ketunaan yang dapat
dikelompokkan dalam pengertian bantuan sosial (social assistance).
c. Pembinaan dalam bentuk perbaikan gizi, perusahaan, transmigrasi,
koperasi dan lain-lain yang dapat dikategorikan dalam sarana sosial
(sosial infra struktur).
2) Hukum Perburuhan Indonesia memberikan pengertian jaminan sosial secara
sempit, dengan bentuk-bentuk seperti yang akan diuraikan pada sub-sub bab
berikutnya. 27
2.
Sejarah Terbentuknya Jaminan Sosial Bagi Pekerja
Gerakan jaminan sosial dimulai pada permulaan abad ke-19 di Eropa Barat.
pada waktu itu di negara-negara tersebut sudah berlaku perundang-undangan
kemiskinan (poor law) di mana orang-orang miskin dapat memperoleh bantuan
dari pemerintah.
Peraturan perundangan kemiskinan ini pada mulanya dimaksudkan sebagai
alat untuk mencegah terjadinya kelaparan dan ketelantaran sehingga menghindari
kemungkinan terjadinya gejolak sosial. Namun mengingat pada waktu itu di
Eropa Barat terjadi pula proses industrialisasi yang menimbulkan golongan
masyarakat baru, yang terdiri dari para buruh dengan upah yang rendah,
27
H. Zainal Asikin, S.H., S.U. (dkk), op. cit., hal. 101
31
mengakibatkan perundangan kemiskinan itu dituntut pula agar berlaku bagi
mereka. Dengan berlakunya peraturan perundangan kemiskinan tersebut, bagi
para kaum buruh di Eropa Barat, maka dimuailah suatu momentum baru yang
mendasari
prinsip-prinsip
jaminan
sosial
bagi
buruh
yang
peraturan
perundangannya baru bisa dibentuk beberapa tahun kemudian.
Secara bertahap sampai dengan tahun 1880 terdapat tiga metode yang
dipergunakan untuk memberikan perlindungan (jaminan social) bagi buruh dari
ketelantaran, yaitu :
•
Tabungan Kecil
Dengan metode ini prinsip jaminan sosial tidak mencapai sasarannya. Upah
buruh/tenaga kerja yang sudah sedemikian kecilnya tidak mungkin akan
disisihkan/disisakan lagi untuk tabungan. Untuk memenuhi kebutuhan mereka
sudah dapat dikatakan tidak mencukupi apalagi untuk ditabung
•
Tanggung Jawab Pengusaha
Maksud dari metode ini adalah membebankan tanggung jawab untuk
menanggung buruh yang terkena risiko kerja, sepenuhnya pada pengusaha
(employers liability). Metode ini didasarkan atas prinsip, bahwa siapa yang
mempekerjakan buruh tentu harus bertanggung jawab atas buruh itu, termasuk
pula atas kemungkinan keselamatan kerja yang bisa saja dialami oleh buruh
berlangsungnya hubungan kerja tersebut.
32
Di Indonesia metode ini pernah dipergunakan, baik semasa Pemerintahan
Hindia Belanda berdasarkan KUH Perdata, maupun setelah kemerdekaan
berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1947. Namun karena tetap
dianggap mempunyai kelemahan, maka metode ini pun ditinggalkan. Suatu
contoh dapat dikemukakan dari KUH Perdata pasal 1602w.
Dari ketentuan pasal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa buruh yang
tertimpa kecelakaan kerja dapat menuntut majikan(yang tentu saja lewat
pengadilan) untuk memberikan ganti kerugian. Tuntutan ini dapat dilakukan
dengan alasan, bahwa majikan telah melalaikan kewajibannya untuk memelihara
alat-alat sehingga buruh tertimpa kecelakaan.
Namun seperti yang telah dikemukakan di atas, meskipun metode tanggung
jawab pengusaha ini mempunyai beberapa kelemahan namun Negara kita pernah
mempergunakan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1947.
•
Metode Asuransi Komersial
Untuk meringankan beban tanggung jawab pengusaha dalam menanggung
ganti rugi kecelakaa kerja, pada akhir abad ke-19 digunakan metode asuransi.
Mula-mula metode ini hanyalah berupa metode yang biasa saja atau bisa
dikatakan primitif karena anggota masyarakat (buruh) secara periodik dan teratur
mengumpulkan uang untuk memberikan batuan pemeliharaan medis atau
penguburan bagi para anggota yang menderita risiko.
33
Pada awalnya, metode ini membawa hasil. Tetapi lama kelamaan sering
jaminan yang dijanjikan tidak terpenuhi karena faktor manajemen yang tidak
teratur. Karena itu maka pemerintah turun tangan dengan memberi pengaturan,
pengawasan dan pembatasan kegiatan usaha-usaha yang dapat dilakukannya
secara efisien. Pengelolaan bidang usaha tersebut akhirnya dikelola secara
komersial sehingga mirip dengan perusahaan asuransi yang kita kenal sekarang
ini.
Karena sudah bersifat komersial maka sulit diharapkan metode ini akan
mencapai sasaran dalam memberikan jaminan sosial secara kolektif yang
menyangkut risiko sosial dan ekonomis, seperti pertanggungan sakit, hamil dan
bersalin misalnya. Apabila dipaksakan, kemungkinan risiko yang hanya bisa
dicakup oleh perusahaan komersial hanyalah asuransi jiwa saja.
Karena alasan-alasan tersebut di atas maka di negara-negara yang sedang
berkembang tidak ada yang mempergunakan metode asuransi komersial ini.
•
Metode Asuransi Sosial
Program asuransi sakit. Kemudia dalam tahap berikutnya tahun 1884
ditambah dengan program asuransi kecelakaan kerja. Dan pada tahun 1889
dilengkapi dengan Program Asuransi Pensiun hari tua dan cacat.
Penemuan asuransi sosial memberikan teknik yang mantap dan baik dalam
penyelenggaraan jaminan sosial bagi pekerja.
34
Asuransi sosial ini dikatakan mantap dan baik karena mengandung sifatsifat sebagai berikut :
•
Dibiayai dari iuran pekerja, pengusaha dan mungkin saja pemerintah;
•
Jaminan dibayarkan dari iuran tersebut;
•
Hak buruh didasarkan atas iurannya;
•
Tidak diperlukan adanya tes kebutuhan; semua pekerja berdasarkan
peraturan perundang-undangan diwajibkan menjadi peserta tanpa
memandang kesehatan dan besar kecilnya risiko kerja.
Menyadari akan baiknya sistem asuransi sosial ini maka pemerintah
mempergunakan sistem/metode ini melalui/berdasarkan: Peratuaran Menteri
Perburuhan Nomor 3 Tahun 1964 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun
1977.
Dari uraian tersebut mengenai sejarah terbentuknya jaminan social bagi
pekerja ini, maka dapat disimpulkan bahwa Republik Indonesia dalam sejarah
jaminan social bagi pekerja-pekerjanya pernah memakai metode-metode tanggung
jawab pengusaha dan metode asuransi sosial berdasarkan Undang-Undang Nomor
33 Tahun 1947 jo Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1951, Peraturan Menteri
Perburuhan Nomor 3 Tahun 1964 jo Peraturan Menteri Perburuhan Nomor 3
Tahun 1967, dan yang terakhir yang sedang hangat-hangatnya diberlakukan
adalah Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1977. 28
28
Ibid., hal. 102
35
E.
Macam-Macam Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Berbicara tentang macam-macam jaminan sosial tenaga kerja, maka tidak
terlepas dari pelaksanaan program jaminan sosial tenaga kerja tersebut. Menurut
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 Pasal 6 ayat (1) yang menjadi ruang
lingkup jaminan sosial tenaga kerja meliputi:
1)
Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
2)
Jaminan Kematian (JK)
3)
Jaminan Hari Tua (JHT)
4)
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) 29
Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1947; adalah
Undang-Undang tentang Kecelakaan. Oleh karena itu maka undang-undang ini
memberikan jaminan kecelakaan/menderita sakit dalam hubungan kerja yang
meliputi jaminan sosial untuk :
a.
Jaminan Sosial/Tunjangan untuk Sakit (perawatan dan pengobatan)
b.
Jaminan Sosial/Tunjangan Cacat (yaitu tunjangan kepada buruh sendiri)
c.
Jaminan Sosial/Tunjangan Meninggal dunia, janda/duda, dan anak yatim
piatu. 30
Jaminan-jaminan sosial di atas diberikan kepada yang berhak sesuai dengan
jumlah yang telah ditentukan untuk masing-masing kecelakaan. Namun karena
undang-undang ini dikeluarkan Tahun 1947 maka tentu saja jumlah pemberian
ganti kerugian (jaminan) nya sudah tidak sesuai lagi untuk zaman sekarang.
29
30
Maimun, op. cit., hal. 85
H. Zainal Asikin, S.H., S.U. (dkk), op. cit., hal. 114
36
Dalam praktek, yang berlaku sekarang adalah Asuransi Sosial Tenaga Kerja
(Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1977). Namun ini hanya terbatas pada
pekerja yang menjadi peserta ASTEK saja. Bagi yang tidak, pada prinsipnya
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1947 masih tetap berlaku bagi mereka.
a.
Jaminan Sosial/Tunjangan untuk Sakit
Perlu diingat bahwa yang dimaksud dengan sakit dalam hal ini adalah sakit
yang berhubungan dengan pekerjaan/hubungan kerja. Jadi bukan semacam sakit
malaria atau sakit kepala, panas dan lain-lainnya yang satu, dua atau tiga hari akan
sembuh. Sakit yang akan mendapatkan tunjangan adalah sakit yang diderita lebih
dari tiga hari dan nyata-nyata penyakit itu disebabkan oleh karena adanya
hubungan kerja atau alat-alat kerja.
Besarnya tunjangan sakit tidak ditentukan dalam Undang-Undang Nomor
33 Tahun 1947. Yang jelas, bahwa segala biaya pengobatan dan perawatan
termasuk obat-obat yang berkaitan dengan penyakitnya harus diberikan
penggantian kerugian. Oleh karena itu, segala kwitansi atau bukti-bukti
pembayaran lainnya dari si penderita harus disimpan untuk nanti setelah dia
sembuh egala biaya tersebut dapat dimintakan penggantian kerugian kepada
pengusaha..
Di samping itu, bagi pekerja yang terkena kecelakaan, sehingga terpaksa
dirawat di rumah sakit akan mendapatkan tunjangan berdasarkan pasal 11
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1947. Besarnya tunjangan itu adalah sebesar
upahnya setiap hari selama 120 hari. Apabila setelah lewat 120 hari pekerja ini
belum juga sehat, dan tenaganya belum pulih untuk bekerja maka tunjangan itu
37
menjadi 50% dari upah setiap hari selama pekerja yang bersangkutan belum
mampu bekerja. Pembayaran tunjangan ini dilakukan setiap waktu para pekerja
menerima upahnya, kecuali jika antara pengusaha dan pekerja yang bersangkutan
telah dibuat perjanjian lain dari pada itu.
Dalam hal menentukan mampu tidaknya seorang pekerja untuk bekerja
kembali, setelah mengalami kecelakaan tentunya diperlukan jasa seorang dokter
penasihat. Dokter ini adalah dokter khusus yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan
sehubungan dengan diberlakukannya Undang-Undang Kecelakaan tersebut.
b.
Jaminan Sosial/Tunjangan Cacat
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1947 sebetulnya membagi pengertian
cacat ini ke dalam 2 (dua) bagian, yaitu:
1.
Cacat yang mengakibatkan pekerja untuk sementara tidak mampu
bekerja, dan
2.
Cacat yang mengakibatkan pekerja untuk selama-lamanya tidak mampu
bekerja.
Cacat yang tersebut pada poin 1 (satu) bahwa tidaklah termasuk yang
namanya cacat, sebab yang namanya cacat menurut persepsi adalah keadaan yang
mengakibatkan seorang pekerja itu selamanya tidak mampu lagi mengerjakan
yang biasa ia lakukan.
Sedangkan kalau tidak mampu bekerjanya itu hanya untuk sementara saja
maka itu bukanlah cacat, tetapi itu digolongkan ke dalam keadaan sakit. Dari
tunjangan untuk ini sudah diuraikan pada sub a di atas.
38
Sedangkan tunjangan untuk pekerja yang mengalami kecelakaan yang
mengakibatkan selamanya pekerja tersebut tidak akan mampu lagi untuk bekerja,
sudah ditentukan di dalam lampiran Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1947.
Tunjangan tersebut harus sudah dibayar oleh pengusaha setelah dokter
penasihat menyatakan, bahwa pekerja karena kecelakaan tersebut selamanya tidak
akan mampu lagi bekerja.
Untuk lebih jelasnya mengenai berapa besarnya tunjangan cacat untuk
selamanya tidak mampu bekerja ini, akan kami kutipkan lampiran UndangUndang Nomor 33 Tahun 1947 sebagai berikut :
Selama-lamanya tidak mampu bekerja karena kehilangan :
Persentase Tunjangan x besar upah
:
1. Lengan kanan dari sendi bahu ke bawah
40
2. Lengan kiri dari sendi bahu ke bawah
35
3. Lengan kanan dari sendi ke bawah
35
4. Lengan kiri dari sendi ke bawah
30
5. Tangan kanan dari atas pergelangan ke bawah
30
6. Tangan kiri dari atas pergelangan ke bawah
28
7. Kedua belah kaki dari pangkal paha ke bawah
70
8. Sebelah kaki dari pangkal paha ke bawah
35
9. Kedua belah kaki dari mata kaki ke bawah
50
10. Sebelah kaki dari mata kaki ke bawah
25
11. Kedua belah mata menjadi buta
70
12. Sebelah mata menjadi buta
30
13. Pendengaran pada kedua belah telinga
40
39
14. Pendengaran pada sebelah telinga
10
15. Ibu jari tangan kanan
15
16. Ibu jari tangan kiri
12
17. Telunjuk tangan kanan
9
18. Telunjuk tangan kiri
7
19. Satu jari lain dari tangan kanan
4
20. Satu jari lain dari tangan kiri
3
21. Salah satu ibu jari kaki
3
22. Salah satu ibu jari kaki yang lainnya
2
Perlu diperhatikan bahwa :
a.
Bagi orang kidal, kalau kehilangan salah satu lengan atau jari, maka
keterangan kanan dan kiri yang tersebut dalam daftar tersebut di atas,
diperuntukkan letaknya;
b.
Dalam hal kehilangan beberapa anggota badan yang tersebut di atas, maka
besarnya tunjangan ditetapkan dengan menjumlahkan banyaknya persen
dari tiap-tiap anggota;
c.
Anggota badan yang tidak dipakai sama sekali karena lumpuh dianggap
sebagai hilang.
Perlu diperhatikan, bahwa menurut ketentuan pasal 11 ayat (1) bagian
apabila seorang pekerja yang mengalami cacat sehingga dia tidak mampu lagi
bekerja untuk selama-lamanya dan ternyata cacatnya itu tidak terdapat dalam table
di atas, maka besarnya tunjangan ditentukan oleh pegawai pengawas dengan
persetujuan dokter penasihat. Jika terjadi perselisihan antara pegawai pengawas
40
dengan dokter penasihat mengenai hal ini Menteri Tenaga Kerja yang harus
menetapkan dengan mengingat pertimbangan Menteri Kesehatan.
Di samping itu, jika cacatnya pekerja tersebut keadaannya sedemikian rupa
sehingga di rumahnya dia sama sekali tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang
biasa dia lakukan sebelum dia menderita cacat itu, maka besarnya tunjangan
adalah 50% dari upah sehari untuk setiap harinya.
Dan jika dengan kecelakaan/cacat itu menyebabkan si pekerja secara terusmenerus memerlukan bantuan orag lain bagi dirinya maka besarnya tunjangan
dinaikkan menjadi 70% dari upah.
c.
Jaminan Sosial/Tunjangan Meninggal Dunia
Jika pekerja meninggal dunia akibat kecelakaan yang diderita di dalam
hubungan kerja, maka semua ahli waris yang menjadi tanggungannya
mendapatkan tunjangan/jaminan sosial berdasarkan Undang-Undang Nomor 33
Tahun 1947.
Pemberian tunjangan ini hanya dapat dilakukan secara berkala/tiap bulan,
kecuali dengan persetujuan pegawai pengawas tunjangan berkala ini dapat doganti
menjadi tunjangan sekaligus apabila :
•
Jika dengan pemberian tunjangan sekaligus itu keluarga yang ditinggalkan
pekerja ini tidak akan menjadi terlatar hidupnya;
•
Jika keluarga/ahli waris yang ditinggalkan pekerja akan meninggalkan
Indonesia;
41
•
Jika perusahaan yang diwajibkan memberikan tunjangan merupakan suatu
hukum yang akan dibubarkan;
•
Jika majikan perusahaan yang diwajibkan memberikan tunjangan
meniggal dunia, dan warisannya aka dibagi oleh para ahli warisnya.
Sedangkan besarnya tunjangan/jaminan sosial bagi ahli waris pekerja yang
meninggal dunia adalah sebagai berikut :
•
Sebesar 30% dari upah setiap hari untuk jandanya. Jika terdapat lebih dari
seorang janda, maka tunjangan yang 30% harus dibagi rata di antara
mereka. Kemudian jika pekerja yang meninggal adalah wanita, maka
suami yang ditinggalkannya akan mendapat tunjangan 30% dengan syarat
suaminya itu tidak mempunyai pekerjaan;
•
Sebesar 15% dari upah setiap hari bagi seorang anak yang sah atau
disahkan, dan belum berumur 16 tahun atau belum kawin. Jika anak itu
dengan meninggalkan pekerjaan menjadi yatim piatu maka banyaknya
tunjangan ditambah menjadi 20%;
•
Paling banyak 30% dari upah setiap hari untuk tiap hari bagi ayah dan ibu,
atau jika pekerja itu tidak mempunyai ayah dan ibu, kepada kakek dan
nenek yang nafkahnya sebagian besar dicarikan oleh pekerja yang
meninggal dunia. Pemberian tunjangan untuk ayah dan ibu atau kakek
nenek ini dapat dilakukan apabila pemeberian tunjangan untuk janda/duda
dan anak-anak pekerja telah dilakukan secara penuh. Artinya, tunjangan
dapat diberikan kepada mereka apabila janda/duda dan anak-anak pekerja
42
tidak lagi mendapatkan tunjangan; misalnya karena janda/duda itu kawin
lagi, dan anak-anaknya sudah berumur lebih dari 16 tahun.
•
Paling banyak 20% dari upah setiap hari bagi cucu pekerja yang tidak
berorang tua lagi dan nafkanhnya dicarikan sendiri oleh pekerja.
Tunjangan untuk cucu pekerja ini juga dapat diberikan apabila penerima
tunjangan pada poin 1,2 dan 3 sudah menerima secara penuh.
•
Paling banyak 30% dari upah sehari untuk mertua laki-laki dan mertua
wanita dari pekerja yang nafkahnya dicarikan oleh pekerja.
Tunjangan ini baru dapat diberikan apabila penerima yang tersebut pada
poin 1, 2, 3 dan 4 sudah menerima secara penuh.
Di atas telah dikatakan, bahwa tunjangan-tunjangan bagi ahli waris pekerja
dapat pula diberikan secara sekaligus bila pegawai pengawasan mengizinkan.
Besarnya pemeberian tunjangan secara sekaligus ini ditetapkan :
−
Sama dengan 48 kali tunjangan setiap bulan, apabila tunjangan telah
diberikan secara berkala kurang dari 1 (satu) tahun;
−
Sama dengan 40 kali tunjangan setiap bulan, apabila tunjangan telah
diberikan secara berkala selama 1 (satu) tahun lebih, tetapi kurang dari 2
(dua) tahun;
−
Sama dengan 24 kali tunjangan setiap bula, apabila tunjangan telah
diberikan secara berkala selama 3 (tiga) tahun lebih.
Selain tunjangan-tunjangan bagi para ahli waris di atas, apabila pekerja
meninggal dunia ahli warisnya juga akan mendapatkan tunjangan uang kubur.
43
Besarnya tunjangan uang kubur ini ketika Undang-Undang Nomor 33
Tahun 1947 seratus dua puluh lima rupiah.
Jumlah yang Rp 125,00 tentu saja untuk saat sekarang tidak ada gunanya,
dan oleh karenanya perlu disesuaikan. Undang-undang dan peraturan-peraturan
yang akan menyesuaikan jumlah tunjangan kubur di atas sampai sekarang tidak
muncul-muncul.
Karena tidak ada peraturan yang menyesuaikan besarnya uang kubur, maka
praktek yang berlaku adalah kebijaksanaan dari majikan perusahaan. Artinya,
besar tunjangan uang kubur yang diberikan kepada ahli waris pekerja adalah
tergantung dari kebijaksanaan majikannya. Akibatnya, besar uang tunjangan
kubur di masing-masing perusahaan adalah berbeda. Dan ini tentu saja
menimbulkan rasa ketidakadilan. Oleh karena itu, jalan yang paling baik adalah
memasukkan semua pekerja menjadi peserta ASTEK.
F.
Peran Pemerintah dalam Perlindungan Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Pemerintah mempunyai peranan yang sangat besar untuk terselenggaranya
jaminan sosial tenaga kerja dengan sebaik-baiknya. Pemerintah dalam Jamsostek
telah bekerja sama denga tujuan agar setiap tenaga kerja yang telah mendaftarkan
kepersertaannya mendapatkan jaminan dan santunan serta biaya ganti rugi ketika
terjadi peristiwa dalam hubungan kerja.
Depnaker ( Departemen Tenaga Kerja) sebagai wakil pemerintah dalam
bidang ketenagakerjaan mencakup bidang yang sangat luas. Departemen adalah
badan yang berwenang serta berkewajiban untuk mengawasi dan menyelesaikan
44
segala masalah-masalah yang terjadi dalam bidang ketenagakerjaan dan sekaligus
sebagai badan yang berwenang dalam pengerahan dan pembinaan tenaga kerja.
Depnaker sebagai wakil pemerintah mempunyai tugas antara lain meliputi
hal-hal sebagai berikut :
a. Menyediakan dan penggunaan tenaga kerja
b. Pengembangan dan perluasan kerja
c. Pembinaan keahlian dan kejuruan tenaga kerja
d. Pembinaan hubugan ketenagakerjaan
e. Pengurusan syarat-syarat dan jaminan sosial
f. Pembinaan norma-norma perlindungan kerja
g. Pembinaan norma-norma keselamatan kerja 31
Pasal 19 Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 150 Tahun 1999,
berbunyi bahwa pengawasan terhadap ditaatinya keputusan menteri ini dilakukan
oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan. Pengawasan yang dilakukan oleh
pengawas tersebut di atas yang dalam hal ini adalah Depnaker masih dapat
dikatakan/ terbilang belum efektif yang masih bersifat pasif atau masih bersifat
menunggu. Hal ini mungkin karena ketidak harusan pengusaha dalam
mendaftarkan setiap tenaga kerjanya ke pihak penyelenggara PT Jamsostek.
Pembinaan dan pengawasan tehadap penyelenggara program jaminan sosial
tenaga kerja oleh badan penyelenggara (PT Jamsostek) dilakuka oleh yang
bertanggung jawab dalam bidang ketenagakerjaan (Menteri Tenaga Kerja). Dalam
31
Imam Soepomo, op. cit., hal. 42
45
melakukan pembinaan dan pengawasan tersebut menteri yang bersangkutan dapat
melakukan pemeriksaan langsung setiap waktu.
Pembinaan yang berkaitan dengan penetapan kebijaksanaan regulasi
(Peraturan Perundang-undangan) dilakukan bersama oleh Menteri tenaga Kerja
dan menteri keuangan. Pembinaan dan pengawasan yang berkaita dengan program
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dilakukan bersama oleh Menteri Tenaga
Kerja dan Menteri Kesehatan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 1999 tentang
Pengalihan Kedudukan, tugas dan kewenangan Menteri Keuangan selaku Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Pemegang Saham pada perusahaan
Perseroan (Perserio) dan Perseroan Terbatas yang sebagian sahamnya dimiliki
oleh Negara Republik Indonesia kepada Menteri Negara Penanaman Modal da
Pembinaan BUMN, fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap badan
penyelenggara Jamsostek (PT Jamsostek) dilakukan oleh Menteri Keuangan. 32
Menteri Tenaga Kerja dalam melaksanakan fungsi pembinaan dan
pengawasan terhadap penyelenggaraan program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Nomor :PER-05/ MEN /1993 tanggal 27 Februari 1993 tentang Petunjuk Teknis
Pendaftaran Kepersertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan dan
Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
32
Zulaini Wahab, Jaminan Pensiun dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja di Indonesia, (Bandung : PT
Citra Aditya Bakti, 2001), hal. 167
46
Di samping itu, laporan keuangan PT Jamsostek yang diaudit oleh Badan
Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), bukan oleh kantor Akuntan
Publik sebagai Auditor Independen.
Program jaminan sosial tenaga kerja merupakan suatu program pemerintah
yang bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi tenaga kerja dan
keluarganya hanya dapat terlaksana dengan baik apabila pemerintah dalam hal ini
Depnaker melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap ditaatinya ketentuanketentuan perundang-undangan tersebut.
Adapun bentuk pengawasan yang dilakukan hendaklah dengan melakukan
peninjauan langsung perusahaan-perusahaan untuk melihat keadaan tenaga kerja
dan menanyai langsung kepada tenaga-tenaga kerja tentang pelaksanaan
Jamsostek di perusahaan tersebut. Sehingga dengan demikian tenaga kerja merasa
terlindungi dan dengan demikian tercapai pulalah sekaligus tujuan nasional yaitu
menciptakan masyarakat adil dan makmur.
Ada empat persoalan asuransi tenaga kerja yang ditawarkan oleh Jamsostek
bagi manfaat pekerja dan masing-masing memiliki besaran persentase potongan
gaji yang berbeda-beda. Untuk program Jaminan Hari Tua (JHT) iuran sebesar
(5,7%) dari gaji karyawan bersangkutan dibebankan kepada perusahaan (3,7%)
dan pekerja sendiri (25). Program Jaminan Kesehatan (JKS) besar iuran variatif
dengan rentang (3%) hingga (6%) dari gaji karyawan yang dibebankan seluruhnya
kepada perusahaan. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) juga dibebankan
seluruhnya kepada perusahaan untuk menggunakan dengan rentang antara
47
(0,24%) hingga (1,74%) dari gaji karyawan. Untuk program Jaminan Kematian
(JKM) dibebankan seluruhnya kepada perusahaan dengan persentase (0,30%). 33
PT (Persero) Jamsostek memiliki dasar hukum yang kuat untuk melakukan
pemungutan iuran, yakni UU No. 3/ 1992 dan PP No. 15/1995. Hak pungut ini
bertemu dengan adanya kebutuuhan perusahaan dan pekerja akan adanya asuransi
social tenaga kerja. Disinilah letak kekuatan PT (Persero) Jamsostek.
Pemerintah masih dibatasi kendala pendanaan untuk mewujudkan konsep
ideal jaminan sosial universal yang dibiayai oleh APBN dalam rangka
pelaksanaan amanat UUD 1945 pasal 34 “Fakir miskin dan anak terlantar
dipelihara oleh Negara”. Secara ideal, sebagaimana yang telah diterapkan di
Negara-negara Eropa, sebagian dari pajak yang disetorkan ke APBN disisihkan
untuk program jaminan sosial bagi masyarakat. Di Indonesia hal ini menemui
kendala karena masih belum optimalnya pemasukan pajak.
Status hukum BUMN bagi perusahaan merupakan permasalahan bagi PT
(Persero) Jamsostek dalam memberikan pengembalian manfaat yang optimum
bagi pekerja. Indonesia dan Cina adalah salah satu dari sedikit negara yang
memberikan bada hukum BUMN bagi institusi penyelenggara jaminan sosialnya,
suatu hal yang ditinggalkan oleh negara-negara lainnya. Program jaminan sosial
merupakan program publik yang diwajibkan oleh UU dimana iuran dan investasi
yang dikumpulkan bukanlah merupakan pendapatan, melainkan utang institusi
penyelenggara yang harus dikembalikan kepada peserta. Dikatakan sebelumnya
33
Maimun, op. cit., hal. 97
48
merupakan program publik yang diwajibkan karena sistem jaminan sosial
merupakan salah satu program welfare state yang hanya memberikan benefit
standar minimum, suatu hal yang berbeda dengan yang ditawarkan oleh asuransi
komersial.
Dalam
penyelenggaraan
jamsostek,
PT
(Persero)
Jamsostek
juga
menghadapi masalah akibat ketergantungan yang besar pada pihak regulator,
terutama
dalam
hal
law
enforcement
dan
perbaikan
benefit.
Dalam
penyelenggaraan jaminan sosial di banyak Negara, badan penyelenggara
melakukan law enforcement sendiri sehingga dapat melakukan akses langsung ke
perusahaan-perusahaan. Jadi Departemen teknik terkait yakni Depnaker
semestinya dikembalikan fungsinya sebagai “wasit” dan regulator yang baik
dalam penyelenggara jamsosotek. Sebagai contoh, kenyataan yang terjadi di
lapangan menunjukkan adanya ketidaktaatan dari para perusahaan untuk
mengikuti perintah UU No. 3 Tahun 1992, seperti pelaporan jumlah pegawai dan
gaji yang menyimpang dari jumlah semestinya, yang sulit untuk ditindak secara
tegas oleh badan penyelenggara karena wewenang untuk menindak dimiliki
Depnaker. Kadang aparat Depnaker yang mestinya menjadi “wasit” yang baik
justru makin memperkeruh situasi ini.
Dari segi peluang PT (Persero) Jamsostek, jumlah peserta dari tahun ke
tahun terus meningkat seiring meningkatnya jumlah pekerja di sektor formal, yang
memang selama ini menjadi target pasar penyelenggara PT Jamsostek.
49
Pertambahan peserta terasa berjalan tersendat-sendat dan target pasar
potensial dari sektor formal saja masih, 12 juta (tahun 2000). Peluang pasar yang
ada sangat besar apalagi bila juga masuk ke lingkup sektor informal dengan
jumlah pekerja sektor informal ini yang sangat besar, sebanyak 62,35 juta orang.
Adanya prinsip “law of big number” mengharuskan tercapainya angka peserta
dalam jumlah besar, sehingga selayaknya badan ini dibantu agar dapat
berkonsentrasi melakukan perannya sebagai agen pembangunan.
Ancaman yang dihadapi oleh PT (Persero) Jamsostek timbul dari sikap
pemerintah yang dirasakan kurang tegas atau mengabaikan kekacauan yang
terjadi. Antara sesama BUMN penyelanggara asuransi sosial dibiarkan terjadi
kompetisi yang sebenarnya tidak dapat dibenarkan. Penyimpangan dari konsep
ideal ini diperparah dengan dimungkinkannya penyelenggara dari konsep satu
BUMN oleh UU No. 3 Tahun 1992. Tidak adanya sikap yang tegas dari
pemerintah (yang mengesankan ambivalensi sikap pemerintah), dan dorongan
untuk mencetak laba sebanyak mungkin baik BUMN menyebabkan lahirnya
praktek penawaran paket asuransi kesehatan oleh PT Askes kepada perusahaanperusahaan yang memberatkan penyelanggaraan Jamsostek. Hal ini timbul karena
adaya tumpang tindih antara UU No. 3 Tahun 1992 yang mewajibkan perusahaan
menjadi anggota jamsostek, dan PP No. 14 Tahun 1993 pasal 2 ayat (4) yang
membeloehkan perusahaan untuk tidak mengikuti program jaminan kesehatan
dasar apabila sudah menyelenggarakan sendiri program jaminan pemeliharaan
kesehatan yang lebih baik. Seharusnya ditarik garis yang tegas antara paket
jaminan kesehatan minimum yang diselenggarakan oleh badan penyelenggara
50
jamsostek yaitu PT (Persero) Jamsostek dan paket asuransi kesehatan plus yang
boleh ditawarkan oleh swata atau PT Askes yang dalam hal ini berlaku sebagai
perusahaan swasta, sehingga kedua jenis paket ini tidak perlu dan tidak bisa
dicampuradukkan. 34
Bila dibandingkan dengan ketiga BUMN lain di bidang asuransi, yaitu PT
(Persero) ASKES, ASABRI, TASPEN, jelas catatan prestasi keuangan di atas
lebih baik. Oleh sebab itu peran pemerintah sebenarnya pada jaminan sosial
tenaga kerja pada kecelakaan kerja adalah mendaftarkan tenaga kerja kepada PT
Jamsostek dan Departemen Tenaga Kerja untuk mendapatkan ganti rugi atas
kecelakaan yang diderita oleh tenaga kerja.
34
Ibid, hal. 04
Download