BAB V SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN IMPLIKASI

advertisement
BAB V
SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN IMPLIKASI
5.1 Simpulan
Penelitian
ini
menguji pengaruh kepercayaan
berdasarkan afektif,
kepercayaan berdasarkan kognitif, dan efikasi diri pengetahuan pada berbagi
pengetahuan pegawai
Pengadilan Tinggi Yogyakarta. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa:
1. Kepercayaan berdasarkan afektif memiliki pengaruh positif pada berbagi
pengetahuan.
Kepercayaan berdasarkan afektif didasarkan pada ikatan emosional
yang menghasilkan respon positif sehingga seseorang akan nyaman
berbagi pengetahuan. Semakin tinggi tingkat kepercayaan berdasarkan
afektif seseorang, maka semakin tinggi tingkat berbagi pengetahuannya.
2. Kepercayaan berdasarkan kognitif memiliki pengaruh positif pada berbagi
pengetahuan.
Kepercayaan berdasarkan kognitif cenderung percaya pada buktibukti kehandalan dan profesionalitas seseorang yang dievaluasi. Semakin
tinggi tingkat kepercayaan berdasarkan kognitif kepada orang yang
dievaluasi, maka orang yang mengevaluasi tidak ragu-ragu untuk berbagi
pengetahuan dari orang yang dievaluasi.
3. Efikasi diri pengetahuan memiliki pengaruh positif pada berbagi
pengetahuan.
69
Efikasi
diri
pengetahuan
merupakan
keyakinan
diri
akan
pengetahuan yang dimiliki mampu membantu orang lain untuk
menyelesaikan masalah atau pekerjaan (Lin, 2007). Semakin tinggi tingkat
efikasi diri pengetahuan seseorang maka semakin tinggi orang tersebut
akan berbagi pengetahuan dengan tujuan membantu orang lain untuk
menyelesaikan masalah atau pekerjaan.
5.2 Keterbatasan
Penelitian ini memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
1. Common method bias. Penggunaan metode penilaian self reported untuk
mengukur
berbagi pengetahuan,
kepercayaan
berdasarkan afektif,
kepercayaan berdasarkan kognitif, dan efikasi diri pengetahuan dinilai
dapat menimbulkan bias terkait dengan butir-butir pernyataan yang
digunakan. Akan tetapi, dalam melakukan penelitian ini peneliti telah
berupaya
semaksimal
mungkin
untuk
mengurangi kecenderungan
terjadinya bias tersebut dengan melakukan beberapa hal, seperti
diantaranya adalah menjamin keanoniman dan kerahasiaan data diri
responden, serta menggunakan pernyataan-pernyataan dengan kalimat
yang lebih baik tanpa mengurangi makna yang sesungguhnya. Pada
penelitian selanjutnya, disarankan agar peneliti di masa yang akan datang
dalam mengukur variabel berbagi pengetahuan, kepercayaan berdasarkan
afektif, kepercayaan berdasarkan kognitif, dan efikasi diri pengetahuan
tidak hanya menggunakan metode penilaian self reported, namun juga
70
dengan menggunakan metode penilaian dari sumber lainnya, seperti oleh
atasan dan ataupun rekan kerja.
2. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional survey
sehingga hanya dapat menunjukkan kejadian pada satu waktu saat
dilakukan penelitian saja. Ada kemungkinan di waktu yang berbeda
sampel yang digunakan mengalami perubahan dalam berbagi pengetahuan,
kepercayaan berdasarkan afektif, kepercayaan berdasarkan kognitif, dan
efikasi diri pengetahuan yang bisa memberikan pengaruh yang berbeda.
Bagi penelitian selanjutnya, disarankan peneliti menggunakan metode
longitudinal agar hasil penelitian dapat lebih baik dan akurat.
5.3 Implikasi
5.3.1 Implikasi Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan alternatif
keputusan bagi pimpinan Pengadilan Tinggi Yogyakarta serta Mahkamah Agung
RI selaku kantor pusat mengenai kondisi berbagi pengetahuan pegawai. Hal ini
berkaitan dengan adanya restrukturisasi organisasi mengarah pada organisasi
berbasis pengetahuan. Persepsi kebanyakan pegawai mengenai knowledge is
power harus didorong oleh organisasi untuk diubah menjadi knowledge sharing is
power.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kepercayaan berdasarkan afektif
pegawai Pengadilan Tinggi Yogyakarta masuk dalam kategori sedang atau tidak
terlalu tinggi dilihat dari nilai mean (3,28). Berkaitan dengan hal tersebut maka
71
perlu adanya kerjasama antara pimpinan dengan pegawai untuk meningkatkan
kepercayaan berdasarkan afektif antar pegawai Pengadilan Tinggi Yogyakarta.
Penting bagi pimpinan kantor untuk membangun kepercayaan interpersonal
khususnya kepercayaan berdasarkan afektif diantara para pegawai Pengadilan
Tinggi Yogyakarta. Membangun kepercayaan berdasarkan afektif para pegawai
Pengadilan Tinggi Yogyakarta bisa dilakukan dengan cara meningkatkan interaksi
antar pegawai melalui kegiatan employee gathering dan senam pagi atau jalan
sehat. Kegiatan employee gathering memang tidak pernah ada di Pengadilan
Tinggi Yogyakarta. Employee gathering sebagai salah satu wadah dalam
menciptakan suasana kerekatan antar pegawai penting untuk dilaksanakan
sehingga hubungan internal mereka dapat berjalan dengan baik. Kegiatan
employee gathering dikemas dengan aktivitas yang menyenangkan dan diadakan
permainan yang membutuhkan adanya kerjasama dengan tujuan agar antar
pegawai saling berinteraksi. Selain itu dengan diadakan senam pagi atau jalan
sehat secara rutin setiap Hari Jumat, dapat meningkatkan interaksi antar pegawai
amupun pimpinan sebagai media saling mengenal satu sama lain sehingga
mempunyai kedekatan emosional yang diharapkan dapat menumbuhkan
kepercayaan berdasarkan afektif diantara mereka. Dengan kegiatan-kegiatan
tersebut diharapkan meningkatkan ikatan sosial serta ikatan emosional antar
pegawai sehingga dapat menumbuhkan kepercayan berdasarkan afektif para
pegawai. Kegiatan employee gathering dan senam pagi atau jalan sehat tersebut
diharapkan menjadi suatu kegitan yang dapat diagendakan secara formalitas dan
72
periodik dalam rangka meningkatkan kepercayaan berdasarkan afektif sehingga
semakin mendorong untuk saling berbagi.
Nilai mean untuk kepercayaan berdasarkan kognitif para pegawai
Pengadilan Tinggi Yogyakarta masuk dalam kategori tinggi, yaitu sebesar 3,54.
Hal tersebut memiliki arti bahwa para pegawai mempunyai kepercayaan yang
tinggi akan kemampuan dan kompetensi rekan kerja karena adanya alasan dan
bukti dari kompetensi, tanggung jawab, serta kehandalan sebagai kriteria yang
digunakan
untuk
menilai
kepercayaan
tersebut.
Meskipun
kepercayaan
berdasarkan kognitif para pegawai Pengadilan Tinggi Yogyakarta sudah masuk
dalam kategori tinggi, tetap diperlukan adanya usaha mempertahankan dan
meningkatkan lagi kepercayaan tersebut agar berbagi pengetahuan antar pegawai
semakin meningkat. Upaya yang bisa dilakukan dengan dukungan pimpinan
berupa kebijakan pembentukan kelompok atau tim kerja dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan. Dengan dibentuknya kelompok atau tim kerja maka pegawai
yang tergabung dalam kelompok atau tim kerja tersebut dapat melihat langsung
bukti dari kompetensi serta kehandalan satu sama lain. Ada beberapa sifat
pekerjaan yang harus dilaksanakan secata tim, akan tetapi yang terjadi selama ini
pimpinan hanya membentuk satu tim dengan anggota tim yang tidak pernah
berubah untuk melakukan pekerjaan tersebut. Perlu adanya pembentukan lebih
dari satu tim dan dilakukan secara formalitas yang dituangkan dalam Surat
Keputusan dengan anggota tim dari seluruh bagian. Artinya pimpinan
memberikan kesempatan yang sama pada setiap pegawai untuk terlibat dan
berkontribusi dalam tim untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Selain dibentuknya
73
tim, perlu diagendakan secara formal dan periodik secara bulanan kegiatan
pengarahan oleh pimpinan yang dihadiri seluruh pegawai Pengadilan Tinggi
Yogyakarta. Kegiatan pengarahan bulanan tersebut dapat dijadikan wadah bagi
pimpinan untuk memberi kesempatan kepada pegawai untuk memberikan saran
dan kritik untuk kemajuan kantor. Selain itu hal tersebut juga dapat bertujuan
sebagai media untuk melaporkan kemajuan maupun hambatan yang dialami setiap
sub bagian. Dengan cara tersebut pegawai akan saling mengevaluasi satu sama
lain dari bukti kompetensi atau hasil pekerjaan yang diselesaikan. Hasil evaluasi
tersebut dapat meningkatkan rasa percaya berdasarkan kognitif mereka dan
diharapkan pegawai tidak lagi enggan untuk berbagi pengetahuan satu sama lain.
Efikasi diri pengetahuan para pegawai Pengadilan Tinggi Yogyakarta masuk
dalam kategori tinggi dengan nilai mean sebesar 3,46. Meskipun didapatkan nilai
mean dalam kategori tinggi, masih perlu adanya peningkatan efikasi diri
pengetahuan pegawai. Hal tersebut agar dapat meningkatkan tingkat berbagi
pengetahuan pegawai, mengingat nilai mean dimensi memberikan pengetahuan
masih dalam kategori sedang yaitu 3,34. Sedangkan nilai mean untuk dimensi
mengumpulkan pengetahuan sudah masuk dalam kategori tinggi, yaitu 3,50.
Semakin tinggi efikasi diri pengetahuan pegawai, maka membuat semakin
percaya diri dan termotivasi untuk memberikan pengetahuan yang dia miliki.
Peningkatan efikasi diri pengetahuan bisa dilakukan dengan cara
meningkatkan sumber dari efikasi diri (Bandura, 1997), antara lain pengalaman
individu, pengalaman keberhasilan orang lain, persuasi verbal, dan keadaan
fisiologis dan emosional.
74
Pengalaman individu bisa diperoleh dari pendidikan dan pelatihan yang
diperoleh para pegawai. Pimpinan diharapkan memberikan pendidikan dan
pelatihan secara berkala dan merata kepada pegawai Pengadilan Tinggi
Yogyakarta. Meskipun kebijakan rotasi pekerjaan yang terjadi di Pengadilan
Tinggi Yogyakarta sempat menimbulkan
permasalahan yaitu pengulangan
kesalahan yang sama dan keterlambatan dalam menyelesaikan pekerjaan, akan
tetapi sebaiknya kebijakan rotasi pekerjaan ini tetap diterapkan secara berkala. Hal
tersebut dimaksudkan agar pegawai memiliki pengetahuan, wawasan, dan
pengalaman lebih beragam.
Pengalaman keberhasilan dari orang lain merupakan proses belajar dari
pengalaman orang lain sehingga akan mempengaruhi efikasi diri. Persuasi vebal
adalah informasi tentang kemampuan yang disampaikan secara verbal oleh
seseorang yang berpengaruh. Hal ini biasanya digunakan untuk menyakinkan
seseorang bahwa ia cukup mampu melakukan suatu tugas. Peningkatan efikasi diri
pengetahuan bisa ditingkatkan dari pengalaman keberhasilan dari orang lain dan
persuasi vebal dengan cara pemberian penghargaan. Penghargaan tersebut
diberikan kepada pegawai untuk merefleksikan keberhasilan pegawai dalam
menguasai dan melaksanakan suatu tugas. Penghargaan tersebut misalnya
pemberian pujian dan penghargaan bagi pegawai yang berprestasi atau teladan
yang sering diberikan sebutan “employee of the month”. Tujuan diberikan
penghargaan ini agar para pegawai dapat belajar dari pengalaman pegawai yang
diberikan penghargaan tersebut dan memotivasi para pegawai bahwa semua bisa
mendapatkan penghargaan dari pimpinan. Selain itu manfaat diberikan
75
penghargaan bagi pegawai yang menerima adalah informasi dan pengakuan akan
kemampuannya dirinya. Efikasi diri pengetahuan pegawai akan meningkat atau
menurun jika ia mendapat informasi yang positif atau negatif tentang dirinya.
Peningkatan efikasi diri pengetahuan juga bisa didapatkan dari keadaan
fisiologis dan emosional. Individu akan melihat kondisi fisiologis dan emosional
dalam menilai kemampuan, kekuatan, dan kelemahan dari disfungsi tubuh.
Kondisi fisiologis dan emosional yang sedang dihadapi individu akan
mempengaruhi keyakinan individu dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas.
Secara keadaan fisiologis pegawai Pengadilan Tinggi Yogyakarta dalam keadaan
baik, artinya tidak ada pegawai sebagai penyandang cacat tubuh. Hal tersebut
diasumsikan bahwa seluruh pegawai Pengadilan Tinggi Yogyakarta tidak
mengalami hambatan maupun kesulitan secara fisik dalam bekerja khususnya
berbagi pengetahuan antar rekan kerja. Keadaan emosional pegawai merupakan
faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan efikasi diri
pengetahuan pegawai. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai
pikiran. Emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia,
karena emosi dapat merupakan motivator perilaku (Goleman, 2002). Emosi harus
dikendalikan dengan baik agar dapat memotivasi perilaku kearah positif.
Pengendalian tersebut diperlukan adanya kecerdasan emosional dalam setiap
Pegawai Pengadilan
Tinggi
Yogyakarta.
Kecerdasan
Emosional
adalah
kemampuan untuk memonitor emosi diri sendiri dan orang lain, memilah-milah
antara emosi yang satu dengan yang lain, serta menggunakan informasi emosi
untuk memandu cara berpikir dan perilaku (Goleman, 2002). Dibutuhkan
76
dukungan dari pimpinan Pengadilan Tinggi Yogyakarta untuk membantu
meningkatkan kecerdasan emosional para pegawai Pengadilan Tinggi Yogyakarta.
Dukungan tersebut dapat berupa pemberian pendidikan dan pelatihan kecerdasan
emosional bagi pegawai Pengadilan Tinggi Yogyakarta. Manfaat dari pendidikan
dan pelatihan tersebut adalah pegawai dapat mempelajari bagaimana kompetensi
kecerdasan emosional mampu meningkatkan kualitas hidup dan membantu
pegawai dalam meraih prestasi di tempat kerja. Pegawai belajar cara menganalisa
perilaku diri sendiri, mengatur reaksi dari orang lain, dan menciptakan perilaku
yang seimbang dalam menjalani peran di kantor maupun di luar kantor.
Pendidikan dan pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan
emosional para pegawai sehingga efikasi diri pengetahuan mereka meningkat dan
pada akhirnya tingkat berbagi pengetahuan antar rekan kerja semakin meningkat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan
pendidikan terakhir yang memiliki tingkat kepercayaan berdasarkan afektif,
kepercayaan berdasarkan kognitif, efikasi diri pengetahuan, dan berbagi
pengetahuan paling rendah dilihat dari nilai mean adalah responden yang
memiliki pendidikan terakhir sebagai sarjana dibandingkan responden yang
memiliki pendidikan terakhir SMA, diploma, dan pascasarjana. Selain itu
responden yang memiliki masa kerja 0-10 tahun juga diketahui mempunyai
tingkat kepercayaan berdasarkan afektif, kepercayaan berdasarkan kognitif,
efikasi diri pengetahuan, dan berbagi pengetahuan paling rendah dilihat dari nilai
mean. Dari hasil penelitian tersebut, diharapkan upaya-upaya untuk meningkatkan
kepercayaan berdasarkan afektif, kepercayaan berdasarkan kognitif, serta efikasi
77
diri pengetahuan yang telah dibahas di atas agar lebih di fokuskan kepada pegawai
yang memiliki pendidikan terakhir sarjana dan pegawai yang belum mempunyai
banyak pengalaman yaitu pegawai yang memiliki masa kerja 0-10 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan berdasarkan afektif,
kepercayaan berdasarkan kognitif, dan efikasi diri pengetahuan hanya
memberikan sumbangan pengaruh 36,6% pada berbagi pengetahuan. Artinya
masih terdapat banyak faktor anteseden diluar dari faktor kepercayaan
berdasarkan afektif, kepercayaan berdasarkan kognitif, dan efikasi diri
pengetahuan yang memberikan efek pada berbagi pengetahuan. Faktor-faktor
yang perlu diteliti lebih lanjut yang mempengaruhi berbagi pengetahuan selain
variabel yang diteliti dalam penelitian ini sebagai contoh, antara lain: reciprocal
benefit, budaya organisasi, tipe kepemimpinan, ketersediaan teknologi informasi,
struktur organisasi, dan sebagainya. Karena itu diharapkan para pimpinan dapat
terus menggali faktor-faktor tersebut, sehingga proses berbagi pengetahuan di
Pengadilan Tinggi Yogyakarta semakin meningkat.
78
Download