EVALUASI PEMILIHAN DAN PENGGUNAAN

advertisement
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
EVALUASI PEMILIHAN DAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA
PADA PASIEN KANKER PAYUDARA PASCA KEMOTERAPI
DI RSUP. Dr. SARDJITO YOGYAKARTA
TAHUN 2005
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)
Program Studi Ilmu Farmasi
Oleh :
Irene Megantari
N.I.M : 03.8114.010
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2007
i
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PERSETUJUAN PEMBIMBING
EVALUASI PEMILIHAN DAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA
PADA PASIEN KANKER PAYUDARA PASCA KEMOTERAPI
DI RSUP. Dr. SARDJITO YOGYAKARTA
TAHUN 2005
Yang diajukan oleh :
Irene Megantari
N.I.M : 03.8114.010
Telah disetujui oleh :
ii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
TERIMA KASIH
TUHAN YESUS KRISTUS
&
BUNDA MARIA
KAU SERTAI dan NAUNGI HAMBAMU
SELALU
KUPERSEMBAHKAN
untuk :
Bapak- Ibuku
Adik dan seluruh Keluarga Besar-ku
iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan
dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarata, 31 Juli 2007
Penulis
Irene Megantari
v
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
INTISARI
Kanker payudara merupakan penyakit kanker yang paling banyak
diderita oleh kaum wanita. Sel kanker tersebut merupakan hasil mutasi gen.
Pasien kanker payudara pasca kemoterapi lebih mudah terinfeksi sebab
pemberian kemoterapi dapat menimbulkan myelosuppression. Oleh karena itu,
pemberian antibiotika dibutuhkan untuk mengatasi infeksi yang terjadi
Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi pemilihan dan penggunaan
antibiotika pasca kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005. Penelitian ini termasuk non-ekperimental dengan
rancangan penelitian evaluatif yang bersifat retrospektif dengan menggunakan
data rekam medik pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
Pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005 ada 70 pasien. Prosentase penderita kanker berdasarkan
kelompok umur adalah: <30 tahun 3%, 30-39 tahun 13%, 40-49 tahun 40%, 5059 tahun 26%, 60-69 tahun 8%, 70-79 tahun 3%, dan tidak diketahui 7,14%. Ada
3 kasus punya riwayat kanker pada keluarga. Stadium kanker : stadium I 1 kasus,
IIA 2 kasus, IIB 4 kasus, IIIA 9 kasus, IIIB 21 kasus, IV 25 kasus, dan tidak
diketahui 8 kasus. Frekuensi pemberian kemoterapi paling banyak 8 kali (1,4%)
dan paling sedikit 1 kali (31,4%). Komplikasi paling banyak leukositosis 7,1%
dan paling sedikit neutropenia 2,8%. Penyakit penyerta: Diabetes Melitus 5.7%,
hipertensi 1,4% dan asma 1,4%. Terdapat 12 kelas terapi obat yang digunakan,
dan ada 5 golongan serta 7 jenis antibiotika. Kasus Drug Related Problems yang
terjadi terkait penggunaan antibiotika: 3 kasus butuh antibiotika, 4 kasus tidak
perlu antibiotika, 1 kasus obat tidak tepat, dan 1 kasus dosis terlalu rendah.
Dampak/outcome yang terjadi: 50 kasus pasien membaik dan 22 kasus pasien
belum sembuh.
Kata kunci : kanker payudara, pasca kemoterapi, antibiotik, komplikasi, penyakit
penyerta, drug related problems (DRPs)
vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRACT
Breast cancer is the highest frequency cancer suffered by female. This
cancer cell is the result of the gene mutation. Post-chemotherapy breast cancer
patients are more susceptible to get infection because chemotherapy treatment can
cause mylosuppression. That is why antibiotic treatment is needed to prevent and
cure the infection occurred.
The research was conducted to evaluate the selection and using of the
antibiotics for the post-chemotherapy breast cancer patients in RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta in 2005. This research was non-experimental research with the
retrospective-evaluative research draft using post-chemotherapy breast cancer
patients’ medical record in RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta in 2005.
Post-chemotherapy breast cancer patients in RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta in 2005 were 70 patients. Percentages of the Cancer-sufferers’ based
on age are: <age 30 was 3%, age 30-39 was 13%, age 40-49 was 0%, age 50-59
was 26%, age 60-69 was 8%, age 70-79 was 3%, and unknown was 7,14%. There
were three cases which have cancer history in the family. Cancer stadium:
Stadium I was 1 case, stadium IIA were 2 cases, stadium IIB were 4 cases,
stadium IIA were 9 cases, stadium IIB were 21 cases, stadium IV were 25 cases,
and unknown were 8 cases. Chemotherapy treatment frequency: the most was 8
times (1, 4%) and the least was 1 time (31,4%). Complication: the most was
leukositosis (7,1%) and the least was neutropenia (2,8%). Concurrent diseases:
Diabetes Melitus (5,7%), Hypertension (1,4%), and Asthma (1,4%). There were
12 drugs therapy classes used, 5 classification and 7 types of antibiotics. Drug
Related Problems cases happened dealing with antibiotics treatment: 3 cases
needed antibiotics, 4 cases didn’t need antibiotics, 1 case inappropriate drugs, and
1 case too-low dosage. Outcome happened: 50 cases of recoving patient got well
and 22 cases patients have not been cured yet.
Keyword: breast cancer, post-chemotherapy, antibiotics, complication,
accompanied diseases, drug-related problems (DRPs)
vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria di Surga,
karena berkat dan kuasa Roh KudusNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh
gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Direktur RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta, yang berkenan memberikan izin
penelitian di rumah sakit tersebut.
2. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, yang berkenan
memberikan izin penelitian.
3. Rita Suhadi, M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing skripsi atas waktu,
kesabaran, bimbingan , masukan, pengarahan, nasihat dan dorongan yang
diberikan selama penyusunan skripsi sampai selesai.
4. dr. Luciana Kuswibawati, M.Kes., selaku dosen penguji, atas kritik dan saran
yang telah diberikan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.
5. Aris Widayati, M.Si., Apt., selaku dosen penguji, atas kritik dan saran yang
telah diberikan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.
6. Seluruh staf di bagian pendidikan dan penelitian RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta atas bantuannya kepada penulis.
viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
7. Seluruh staf di bagian rekam medik RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta atas
bantuan dan kemudahannya dalam memberikan informasi kepada penulis.
8. Segenap dosen dan karyawan di fakultas farmasi Universitas Sanata Dharma.
9. Bapak dan Ibuku tercinta atas doa, kasih sayang, nasihat, dukungan serta
kesabarannya.
10. Tunanganku FX. Truli Saputro Atmojo atas cinta, kasih sayang, waktu,
kesabaran dan pengertiannya yang telah diberikan kepada penulis selama ini.
11. Kakek-nenekku semua, atas doa dan nasihatnya.
12. Adikku tercinta Reni dan Ndaru atas keceriaan dan kebersamaannya.
13. Keponakkanku Wahyu, Ganda, Diki dan Puput atas keceriaan dan
kebersamaannya.
14. Pak Lik dan Bu Lik semua atas doa, nasihat dan dukungannya.
15. Keluarga besar tunanganku (Bapak, Ibu, Bu Lik, Pak Lik, Simbah) atas doa,
nasihat dan dukungannya selama ini.
16. Vera, Nia, Komang, Lusi, Devi, Endah, Diah, Rosa “Muntilan”, Silih,
Yohana, Sakundita, Dita “kecil”, Sinta, Ari, Rani, Lintang atas kebersamaan,
kekonyolan, keceriaan dan dukungannya.
17. Teman-teman angkatan 2001-2002 : Vero, Fitri, Rendeng, Weni, Muli, Ulin,
atas kebersamaan dan dukungannya.
18. Teman-teman KKN “Pasca Gempa” : Okik, Maya, Tante Leli, Marin, Melia,
Nia, Anggi, Om Adit, Jevi, Titin atas kebersamaan dan berbagi pengalaman
selama ini.
19. Titin dan Johan atas waktu dan terjemahannya.
ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
20. Teman-teman praktikum kelompok A angkatan 2002.
21. Teman kelas A angkatan 2003.
22. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Kiranya Bapa di Surga membalas semua kebaikan anda sekalian dan
senantiasa melimpahkan berkat dan karunia Roh KudusNya. Amin. Akhirnya,
dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun demi kesempurnaan penelitian ini. Akhir kata, semoga tulisan
ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Yogyakarta, Juli 2007
Penulis
x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL........................................................................................
i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................
iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................
iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..........................................................
v
INTISARI.........................................................................................................
vi
ABSTRACT.......................................................................................................
vii
KATA PENGANTAR .....................................................................................
viii
DAFTAR ISI....................................................................................................
xi
DAFTAR TABEL............................................................................................
xv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xviii
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xviii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah.......................................................................
1
1. Perumusan masalah..........................................................................
3
2. Keaslian penelitian ...........................................................................
3
3. Manfaat penelitian............................................................................
4
B. Tujuan Penelitian...................................................................................
4
BAB II PENELAAHAN PUSTAKA...............................................................
5
A. Kanker ...................................................................................................
5
B. Kanker Payudara ...................................................................................
6
xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
1. Definisi.............................................................................................
6
2. Epidemiologi ....................................................................................
7
3. Etiologi.............................................................................................
7
4. Patofisiologi .....................................................................................
8
5. Tanda dan Gejala Klinis...................................................................
11
6. Diagnosis..........................................................................................
11
C. Kemoterapi...........................................................................................
12
D. Netropenia ............................................................................................
14
E. Tanda Infeksi........................................................................................
15
F. Antibiotika ...........................................................................................
16
1. Definisi.............................................................................................
16
2. Mekanisme Kerja .............................................................................
18
3. Resistensi .........................................................................................
19
G. Evaluasi Penggunaan Antibiotika ........................................................
19
H. Keterangan Empiris..............................................................................
21
BAB III METODOLOGI PENELITIAN.........................................................
22
A. Jenis dan Rancangan Penelitian ...........................................................
22
B. Definisi Operasional ............................................................................
22
C. Subyek, Bahan, dan Lokasi Penelitian.................................................
24
D. Jalannya Penelitian...............................................................................
24
1. Analisis situasi dan penentuan masalah ...........................................
24
2. Tahap penelusuran data....................................................................
25
3. Tahap pengambilan data ..................................................................
25
xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4. Tahap analisis data ...........................................................................
25
E. Tata Cara Analisis Hasil.......................................................................
26
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................
29
A. Gambaran Umum .................................................................................
29
1. Prosentase kasus kanker payudara berdasarkan kelompok umur ....
29
2. Riwayat kanker dalam keluarga .......................................................
31
3. Stadium kanker payudara.................................................................
32
4. Frekuensi pemberian kemoterapi .....................................................
33
5. Komplikasi dan penyakit penyerta...................................................
35
B. Pola Penggunaan Obat .........................................................................
36
1. Obat antibiotika................................................................................
36
2. Obat antineoplastik/sitotoksik..........................................................
39
3. Obat untuk saluran cerna..................................................................
40
4. Obat untuk saluran nafas..................................................................
41
5. Obat untuk sistem syaraf pusat ........................................................
41
6. Obat analgesik..................................................................................
42
7. Obat hormonal..................................................................................
42
8. Obat antialergi..................................................................................
43
9. Obat gizi ...........................................................................................
43
10. Obat untuk penyakit otot skelet dan sendi .....................................
44
11. Obat untuk sistem endokrin dan metabolik....................................
45
12. Obat untuk kardiovaskuler .............................................................
45
C. Drug Related Problems (DRPs) penggunaan antibiotik ......................
46
xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
D. Dampak atau Outcome Pasien..............................................................
54
E. Rangkuman Pembahasan .....................................................................
54
1. Gambaran umum kanker payudara pasca kemoterapi .....................
54
2. Pola penggunaan obat pada kanker payudara ..................................
55
3. Drug Related Problems (DRPs) penggunaan antibiotik ..................
56
4. Dampak atau outcome pasien...........................................................
58
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..........................................................
59
A. Kesimpulan ..........................................................................................
59
B. Saran.....................................................................................................
60
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................
61
LAMPIRAN.....................................................................................................
64
LAMPIRAN KOMPOSISI OBAT BRAND NAME.........................................
92
BIOGRAFI PENULIS .....................................................................................
94
xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel I.
Tingkat stadium kanker dan keparahan pada kasus kanker
payudara berdasarkan The American Joint Committee on
Cancer tahun 1992 ...................................................................
10
Tabel II.
Pilihan Obat Tunggal, untuk kemoterapi kanker payudara......
12
Tabel III.
Pilihan Obat Kombinasi, kemoterapi Neoadjuvant dan
Adjuvant untuk kanker payudara (Anonim, 2007)................
13
Tabel IV.
Penggolongan antibiotik berdasarkan fungsinya. ....................
17
Tabel V.
Frekuensi pemberian kemoterapi pada pasien kanker
payudara di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.........
34
Komplikasi pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi di
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 20005 ..........................
35
Penyakit penyerta pada kasus kanker payudara pasca
kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 .....
36
Golongan dan jenis antibiotika yang digunakan pasien kanker
payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005 ............................................................
37
Golongan obat dan jenis obat antineoplastik/sitotoksik pada
kasus kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ..............................................
39
Golongan dan jenis obat saluran cerna pada kasus kanker
payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005 ............................................................
40
Golongan dan jenis obat untuk saluran pernafasan pada
kasus kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ..............................................
41
Golongan dan jenis obat untuk sistem syaraf pusat pada
kasus kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ..............................................
41
Tabel VI.
Tabel VII.
Tabel VIII.
Tabel IX.
Tabel X.
Tabel XI.
Tabel XII.
xv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tabel XIII.
Golongan dan jenis obat analgesik pada kasus kanker
payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005 ............................................................
42
Golongan dan jenis obat hormonal pada kasus kanker
payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005 ............................................................
43
Golongan dan jenis obat antialergi pada kasus kanker
payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005 ............................................................
43
Golongan dan jenis obat gizi pada kasus kanker payudara
pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun
2005..........................................................................................
43
Tabel XVII. Golongan dan jenis obat untuk penyakit otot skelet dan sendi
pada kasus kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ..............................................
44
Tabel XVIII. Golongan dan jenis obat untuk sistem endokrin dan
metabolik pada kasus kanker payudara pasca kemoterapi di
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ............................
45
Tabel XIV.
Tabel XV.
Tabel XVI.
Tabel XIX.
Golongan dan jenis obat untuk kardiovaskuler pada kasus
kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005 ............................................................
45
Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca
kemoterapi pada kasus 10 kanker payudara di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ..............................................
47
Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca
kemoterapi pada kasus 15 dan 66 kanker payudara di RSUP.
Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ........................................
48
Tabel XXII. Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca
kemoterapi pada kasus 69 kanker payudara di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ..............................................
49
Tabel XXIII. Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca
kemoterapi pada kasus 20 dan 27 kanker payudara di RSUP.
Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ........................................
50
Tabel XX.
Tabel XXI.
xvi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tabel XXIV.
Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca
kemoterapi pada kasus 29 kanker payudara di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ........................................
51
Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca
kemoterapi pada kasus 35 kanker payudara di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ........................................
52
Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca
kemoterapi pada kasus 37 kanker payudara di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005 ........................................
53
Dampak/Outcome
yang
terjadi
setelah
pasien
mendapatkan perawatan di rumah sakit .............................
54
Pengelompokan obat berdasarkan kelas terapi untuk
penangan kanker payudara.................................................
55
Golongan dan jenis antibiotika yang digunakan pasien
kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005 ......................................................
56
Tabel XXX.
Drug Related Problems antibiotika tidak tepat..................
56
Tabel XXXI.
Drug Related Problems tidak perlu antibiotika .................
57
Tabel XXXII.
Drug Related Problems butuh antibiotika ........................
57
Tabel XXXIII.
Drug Related Problems dosis antibiotika rendah ..............
57
Tabel XXXIV.
Ringkasan kasus Drug Related Problems ..........................
58
Tabel XXXV.
Dampak/Outcome
yang
terjadi
setelah
pasien
mendapatkan perawatan di rumah sakit .............................
58
Tabel XXV.
Tabel XXVI.
Tabel XXVII.
Tabel XXVIII.
Tabel XXIX.
xvii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.
Proses pembentukan sel kanker ...............................................
5
Gambar 2.
Perbedaan sel normal dengan sel kanker .................................
6
Gambar 3.
Hasil mamografi payudara normal (gambar kiri) dengan
kanker payudara (gambar kanan) .............................................
6
Gambar 4.
Anatomi Payudara....................................................................
9
Gambar 5.
Efek samping kemoterapi ringan sampai berat. .......................
14
Gambar 6.
Distribusi kelompok umur pasien kanker payudara di RSUP.
Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 .......................................
30
Distribusi pasien yang mempunyai riwayat kanker dalam
keluarga ....................................................................................
31
Distribusi kelompok stadium kanker payudara yang diderita
pasien yang dirawat di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta
tahun 2005................................................................................
33
Gambar 7.
Gambar 8.
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiaran 1.
Lampiran 2.
Data pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP.
Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 .....................................
64
Daftar obat brand name dengan komposisinya.....................
92
xviii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker merupakan salah satu penyakit yang banyak menimbulkan
kematian (Rugo, 2001). Berdasarkan data dari National Cancer Institute (2005)
kasus baru kanker payudara pada wanita di Amerika Serikat tahun 2005 adalah
211.240 dengan kematian 40.410 sedangkan di Indonesia terdapat 114.649
penderita.
Kanker payudara muncul sebagai akibat sel-sel yang abnormal terbentuk
pada payudara dengan kecepatan yang tidak terkontrol. Sel tersebut merupakan
hasil mutasi gen dengan perubahan bentuk, ukuran maupun fungsinya (Lippman,
1998). Penyebab utama kanker tersebut belum diketahui secara pasti, namun ada
berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan kanker payudara. Faktor risiko
tersebut antara lain riwayat kanker payudara dalam keluarga (hereditas), umur
menarche dan menopause, tidak menyusui, serta umur (Lippman, 1998).
Pengobatan yang dapat diberikan kepada penderita kanker payudara ialah
pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan terapi hormonal. Kemoterapi
merupakan pengobatan untuk membunuh sel kanker dengan menggunakan obat
antikanker yang diberikan dalam bentuk pil (secara per oral), injeksi atau infus
(Rugo, 2001).
Efek samping kemoterapi adalah mual-muntah, diare, konstipasi,
malnutrisi, pendarahan, kardiotoksik, hepatotoksik, nefrotoksik, rambut rontok,
dan myelosuppresion. Myelosuppresion yakni penurunan kemampuan sumsum
1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2
tulang dalam menghasilkan sel darah merah, sel darah putih dan trombosit
(Lippman, 1998).
Penurunan jumlah netrofil dan leukosit akan mempermudah terjadinya
risiko infeksi serta akan memberi peluang untuk pertumbuhan tumor (Djoerban,
2004). Pasien kanker bersifat immunosuppresion karena kankernya sendiri
maupun karena kemoterapi yang diterima pasien sehingga mudah terinfeksi berat
dan pasien meninggal. Sekitar 90% penderita kanker meninggal akibat infeksi,
pendarahan, atau infeksi dengan pendarahan. Oleh karena itu perlu antibiotika
untuk mengatasi infeksi yang terjadi dengan didukung pemilihan serta
penggunaan antibiotika yang tepat untuk mengurangi risiko kematian (KodaKimble, 2001).
Mengingat pentingnya penggunaan antibiotika untuk penanganan infeksi,
maka dirancang suatu penelitian untuk mengevaluasi pemilihan dan penggunaan
antibiotika pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta pada tahun 2005. Jumlah pasien kanker payudara yang dirawat di
RSUP. Dr. Sardjito pada tahun itu secara keseluruhan berjumlah 252 orang.
Dipilih RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta karena rumah sakit tersebut
merupakan rumah sakit pendidikan dan penelitian yang memiliki pelayanan
spesialis kanker terpadu, yang mempunyai visi menjadi rumah sakit unggulan
dalam bidang pelayanan, pendidikan dan pelatihan di kawasan Asia Tenggara
tahun 2010 yang bertumpu pada kemandirian, serta misi untuk menyelenggarakan
penelitian dan pengambangan iptekdok kesehatan yang berwawasan global
(Anonim, 2003a).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3
1. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
a.
seperti apakah profil pasien kanker payudara pasca kemoterapi yang dirawat
di RSUP Dr. Sardjito meliputi umur, riwayat kanker pada keluarga, stadium,
frekuensi kemoterapi, komplikasi, dan penyakit penyerta ?
b.
seperti apakah pola penggunaan obat pada penanganan kanker payudara,
khususnya golongan dan jenis antibiotika ?
c.
apakah dalam kasus kanker payudara pasca kemoterapi timbul “kejadian
masalah berkenaan obat” (drug related problems atau DRPs) yang terkait
dengan penggunaan antibiotika ?
d.
seperti apakah dampak atau outcome yang terjadi terhadap infeksi maupun
pada kankernya sendiri ?
2. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran pustaka, pernah dilakukan penelitian mengenai
“Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Pasien Kanker Payudara Pasca
Kemoterapi di RS. Panti Rapih Yogyakarta tahun 2004” (Revianti, 2005) dan
“Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pasca Kemoterapi pada Pasien Leukemia di
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2004” (Lestari, 2005). Penelitian tentang
evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pada pasien kanker payudara di
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 sejauh ini belum pernah dilakukan.
Penelitian ini berbeda dengan yang dilakukan Revianti (2005) yaitu dalam hal
lokasi dan periode sedangkan dengan Lestari (2005) pada subyek penelitian.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4
3. Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis untuk memberikan informasi mengenai pola pengobatan
menggunakan antibiotika pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi di
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta. Manfaat praktis sebagai dasar evaluasi farmasis
di RSUP.Dr. Sardjito dalam memberikan pertimbangan kepada dokter dalam hal
pemberian terapi antibiotika kepada pasien kanker payudara pasca kemoterapi
sehingga penggunaan antibiotika semakin rasional demi meningkatkan pelayanan
kesehatan.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pemilihan
dan penggunaan antibiotika pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi yang
dirawat di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta pada tahun 2005. Adapun tujuan
khususnya yaitu untuk mengetahui :
1. profil pasien kanker payudara meliputi umur, riwayat kanker pada keluarga,
stadium, frekuensi kemoterapi, komplikasi dan penyakit penyerta,
2. pola penggunaan obat pada penanganan kanker payudara, khususnya golongan
dan jenis antibiotika,
3. “kejadian masalah berkenaan obat” atau drug relates problems (DRPs) yang
timbul, terkait dengan penggunaan antibiotika pada pasien kanker payudara
pasca kemoterapi,
4. dampak atau outcome yang terjadi terhadap infeksi dan kankernya sendiri.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
5
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Kanker
Kanker atau tumor ganas merupakan penyakit sel yang dicirikan dengan
perubahan mekanisme kontrol yang mengatur proliferasi dan diferensiasi sel. Sel
kanker dan racun yang dihasilkan akan menyebar ke seluruh organ tubuh
melewati aliran darah maupun sistem getah bening (Anonim, 2001).
Gambar 1. Proses pembentukan sel kanker (Weaver, 2002).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6
B. Kanker Payudara
1. Definisi
Kanker payudara muncul sebagai akibat sel-sel yang abnormal terbentuk
pada payudara dengan kecepatan tidak terkontrol dan tidak beraturan. Sel tersebut
merupakan hasil mutasi gen dengan perubahan bentuk, ukuran maupun fungsinya
(Lippman, 1998). Lebih dari 70% penderita kanker payudara ditemukan sudah
dalam stadium lanjut (Moningkey, 2000).
Gambar 2. Perbedaan sel normal dengan sel kanker (Weaver, 2002)
Gambar 3.
Hasil mamografi
(gambar kiri) payudara normal dengan (gambar kanan)kanker payudara
(Anonim, 2000a).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
7
2. Epidemiologi
Di Indonesia setiap tahunnya diperkirakan terdapat 100 penderita kanker
baru setiap 100.000 penduduk seiring peningkatan angka harapan hidup, sosial
ekonomi serta perubahan pola penyakit (Tjindarbumi, 2000). Kasus baru kanker
payudara pada wanita di Amerika Serikat tahun 2005 adalah 211.240 dengan
kematian 40.410, di Indonesia terdapat 114.649 penderita (National Cancer
Institute, 2005). Di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta pasien kanker payudara yang
dirawat ada 252 orang pada tahun 2005. Pada tahun 2006 di Amerika Serikat,
kasus kanker payudara (wanita saja) menempati urutan pertama (32%) dan
penyebab kematian kedua setelah kanker paru (Anonim, 2007).
3. Etiologi
Penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti. Faktor risiko
yang sangat berpengaruh terhadap timbulnya kanker payudara antara lain genetik,
faktor endokrin, dan faktor lingkungan.
a. Faktor Endokrin
Faktor endokrin akan mempengaruhi insidensi pada kanker payudara,
diantaranya adalah total durasi lamanya menstruasi, early menarche (menstruasi
di umur dini), nulliparity (wanita yang tidak memiliki anak) dan melahirkan anak
pertama di umur >30 tahun akan meningkatkan risiko lama hidup pada
perkembangan kanker payudara (Dipiro, 2003).
b. Faktor Genetik
Sekitar 5-10% kanker payudara terjadi akibat adanya kelainan genetik
yang diturunkan anggota keluarga. Hal ini akan meningkatkan risiko timbulnya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
8
kanker tipe tertentu misalnya sindroma Li-Fraumeni, mutasi pada kromosom 1q,
3p, 13q, 17p menimbulkan kanker payudara pada umur lebih muda. Lebih dari 5085% wanita dengan mutasi gen BRCA-1 atau BRCA-2 akan terkena kanker
payudara (Anonim, 2003b).
c. Faktor Lingkungan
Makanan, nutrisi, dan terpapar senyawa radioaktif dapat memicu
timbulnya kanker payudara (Anonim, 2003b).
4. Patofisiologi
Identifikasi subtipe histopatologi kanker payudara penting karena ada
hubungannya dengan aspek klinik yaitu prediksi metastasis, terapi dan prognosis.
a. Dasar klasifikasi subtipe histopatologi kanker payudara yang sering digunakan
adalah WHO tahun 1981. Menurut WHO subtipe histopatologi kanker
payudara ada 2 macam yaitu :
1). carcinoma noninvasive
Carcinoma noninvasive artinya sel yang membahayakan mengikat
kelenjar lain pada lobus, dengan tidak ada bukti penetrasi pada sel tumor
menyambung dengan dasar membran di sekitar 2 tipe pada struktur yang
dikelilingi
jaringan
fibrous.
Umumnya
kanker
payudara
adalah
adenocarcinoma yang berasal dari sel epitel pada pembuluh atau kelenjar.
Ada dua bentuk pada carcinoma noninvasive yaitu ductal carcinoma insitu
dan lobular carcinoma insitu.
2). carcinoma invasif
Carcinoma invasif adalah sel yang rusaknya melewati dasar membran
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
9
di sekeliling struktur payudara, dimana sel tersebut muncul dan menyebar di
sekeliling jaringan. Ukuran carcinoma bermacam-macam, kurang dari
10mm dan kedalaman lebih dari 80mm, namun yang sering dijumpai yakni
kedalaman 20-30mm. Secara klinis akan terlihat kuat dan jelas serta kulit
nampak bersisik dengan punting susu tertarik ke dalam (Underwood, 2001).
b. Anatomi payudara
Payudara manusia berbentuk kerucut tetapi sering kali berukuran tidak
sama. Payudara memanjang dari tulang rusuk kedua atau ketiga sampai tulang
rusuk keenam atau ketujuh, dari tepi sentral ke garis aksilaris anterior. “Ekor”
payudara memanjang sampai ke aksila dan cenderung lebih tebal ketimbang
daerah payudara lainnya. Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus,
jaringan otot penyokong, lemak, pembuluh darah, saraf, dan pembuluh limfe
(Guiliano, 2001).
Gambar 4.
Anatomi Payudara (Anonim, 2000a)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
10
Tabel I. Tingkat stadium kanker dan keparahan pada kasus kanker payudara
berdasarkan The American Joint Committe on Cancer tahun 1992.
Kelompok Stadium
Stadium O
Stadium I
Stadium II A
Stadium II B
Stadium III A
Stadium III B
Stadium IV
Tumor Utama (T)
T0
TIS
T1
T2
T3
T4
T
TIS
T1
T0
T1
T2
T2
T3
T0
T1
T2
T3
T4
Tanpa T
Tanpa T
N
M
N0
M0
N0
M0
N1
M0
N1
M0
N0
M0
N1
M0
N0
M0
N2
M0
N2
M0
N2
M0
N1, N2
M0
Tanpa N
M0
N3
M0
Tanpa N
M1
Keterangan
Tidak ada tanda utama adanya tumor
Carcinoma in situ (terbatas pada tempat asal)
Tumor ≤ 2 cm
Tumor > 2 cm tetapi ≤ 5 cm
Tumor > 5 cm
Perluasan ke dinding dada, peradangan, luka dan
bernanah
Nodus Limfaticus (N)
N0
N1
Keterangan
Tidak ada benjolan
Pertumbuhan dengan benjolan yang dapat
digerakkan pada sisi yang sama
N2
Pertumbuhan dengan benjolan yang sulit
digerakkan pada sisi yang sama
N3
Pertumbuhan benjolan pada sisi dalam kelenjar
susu
Jarak pertumbuhan (M)
M0
Keterangan
Tidak ada pertumbuhan atau penyebaran ke organ
lain
Jarak pertumbuhan (termasuk penyebaran pada
sisi yang sama di atas klavula getah bening)
M1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
11
5. Tanda dan Gejala Klinis
Berupa benjolan pada payudara, eksema punting susu atau pendarahan
pada punting susu, tetapi umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri. Benjolan itu
mula-mula kecil, makin lama makin besar lalu melekat pada kulit dan
menimbulkan perubahan kulit payudara atau punting susu.
Kulit atau punting susu akan tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah
kecoklatan sampai menjadi udema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk,
mengkerut dan timbul ulkus. Ulkus tersebut makin lama akan semakin membesar
dan akhirnya akan menghancurkan seluruh payudara dengan bau yang busuk dan
menjadi mudah berdarah (Anonim, 2000a).
6. Diagnosis
Secara umum diagnosis kanker payudara dibedakan menjadi 2 yaitu
skrining dan diagnostik. Yang termasuk skrining antara lain :
a. pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
yang dilakukan setahun sekali
setelah umur 20 tahun,
b. pemeriksaan payudara oleh dokter yang dimulai pada umur 20 tahun, setiap 3
tahun sekali pada umur 20-39 tahun dan setiap tahun sekali setelah umur 40
tahun,
c. mammografi skrining yang dilakukan pada pasien tanpa gejala untuk
mendeteksi adanya kanker payudara yang samar (Ramli, 2000).
Yang termasuk diagnostik (Ramli, 2000) :
a. anamnesa meliputi tanda, gejala dan faktor risiko,
b. pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, dan tanda metastasis
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
12
C. Kemoterapi
Kemoterapi adalah obat yang sangat toksik terhadap sel kanker yang
bertujuan untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi diberikan dalam bentuk pil,
injeksi atau infus. Kemoterapi dapat diberikan sebelum atau sesudah terapi utama.
Pemberian kemoterapi sebelum terapi utama disebut neoadjuvant kemoterapi
sedangkan sesudah terapi utama disebut adjuvant kemoterapi (Anonim, 2007).
Jangka waktu pemberian kemoterapi dilakukan selama 6 bulan.
Berdasarkan penelitian terdahulu dapat dipastikan bahwa pemberian kemoterapi
kombinasi lebih efektif untuk mematikan sel kanker. Dalam pemberian
kemoterapi harus memperhitungkan kondisi pasien terlebih nilai hemoglobin
pasien (Anonim, 2002).
Tabel II. Pilihan Obat Tunggal, untuk kemoterapi kanker payudara (Anonim,
2007).
Obat-obat kemoterapi yang biasa digunakan untuk
terapi kanker payudara
Brand Name
Generic Name
Adriamycin
Doxorubicin
Cytoxan
Cyclophosphamide
Ellence
Epirubicin
Gemzar
Gemcitabine
Navelbine
Vinorelbine
Taxol
Paclitaxel
Taxotere
Docetaxel
Xeloda
Capecitabine
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
13
Tabel III. Pilihan Obat Kombinasi, kemoterapi Neoadjuvant dan Adjuvant untuk
kanker payudara (Anonim, 2007).
Pilihan Kemoterapi Neoadjuvant dan Adjuvant
FAC/CAF
FEC/CEF
AC
EC
TAC
A CMF
E CMF
CMF
AC x 4
A T
C
FEC
T
fluorouracil/doxorubicin/cyclophosphamid or
cyclophosphamide/epirubicin/fluorouracil
doxorubicin/cyclophosphamide dengan atau
tidak dikombinasi dengan paclitaxel
epirubicin/cyclophosphamide
docetaxel/doxorubicin/cyclophosphamide
diikuti pemberian filgrastim
doxorubicin diikuti pemberian
cyclophosphamide/methotrexate/fluorouracil
epirubicin diikuti pemberian
cyclophosphamide/methotrexate/fluorouracil
cyclophosphamide/methotrexate/fluorouracil
doxorubicin/cyclophosphamide berikutnya
diikuti dengan paclitaxel 4 kali, setiap 2 minggu
ditambah pemberian filgrastim
doxorubicin diikuti paclitaxel diikuti dengan
cyclophosphamide, setiap 2 minggu ditambah
pemberian filgrastim
flourouracil/epirubicin/cyclophosphamide
diikuti pemberian docetaxel
Kemoterapi kanker sifatnya tidak selektif, maka kemoterapi juga
mengenai sel bukan sel kanker misalnya sumsum tulang (myelosuppression),
saluran cerna, sistem reproduksi, folikel rambut, diare, konstipasi, dan secara
berurutan dapat menyebabkan infeksi bakteri, fungi, dan virus (Noorwati, 2003
dan Rugo, 2001).
Myelosuppresion yaitu penurunan kemampuan sumsum tulang dalam
menghasilkan sel darah merah, sel darah putih dan trombosit akibat pemberian
kemoterapi (Anonim, 2007). Selama mengalami myelosuppresion, risiko pasien
terkena infeksi meningkat atau mengalami tanda-tanda anemia (Weaver, 2002).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
14
Kemoterapi
↓
Netropenia
↓
Demam Netropeni
↓
Komplikasi
Infeksi Bakteremi
↓
Memperpanjang perawatan RS
↓
Meninggal
Gambar 5. Efek samping kemoterapi ringan sampai berat.
D. Netropenia
Netrofil adalah tipe sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan
tubuh primer terhadap infeksi. Netropenia ialah penurunan jumlah sel netrofil dari
batas normal. Jumlah netrofil normal dalam darah sekitar 2500-6000 sel/ml dan
lama hidupnya sekitar 10-20 hari. Netropenia merupakan faktor predisposisi
terjadinya infeksi, risiko infeksi mulai meningkat jika jumlah netrofil <1000sel/ml
dan mencapai puncaknya bila mencapai ≤500 sel/ml. Infeksi dengan jumlah
netrofil ≤500 sel/ml dan kenaikan suhu tubuh >38,5°C dinamakan demam
netropenia. Netropenia dan risiko infeksi akan membatasi dosis kemoterapi yang
diberikan, bahkan mungkin menghentikan kemoterapi (Finberg, 1998).
Faktor risiko netropenia selama kemoterapi tergantung pada :
1.
jenis dan dosis kemoterapi,
2.
pasien lanjut umur,
3.
pasien dengan status performance buruk,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
15
4.
nutrisi pasien buruk,
5.
adanya penyakit penyerta misalnya gangguan fungsi hati, ginjal, darah tinggi
atau infeksi (Anonim, 2006a).
Terapi yang dapat diberikan untuk mengatasi netropenia/infeksi selama
pasien menjalani kemoterapi ialah dengan pemberian antibiotika, transfusi
leukosit dan penurunan atau penundaan siklus kemoterapi. Tetapi pilihan terapi
tersebut saat ini dihindari karena transfusi leukosit berisiko komplikasi transmisi
infeksi, reaksi alergi dan toksisitas pulmonal, penurunan dosis atau penundaan
kemoterapi akan mengurangi hasil akhir kemoterapi (Anonim, 2006a).
Strategi terbaru adalah menggunakan sitokin faktor pertumbuhan sel
granulosit untuk profilaksis atau terapi netropenia akibat kemoterapi dikenal
dengan nama Recombinant Human Granulocyte Colony Stimulating Factors
(rHu-GCSFs) atau filgastrim. Recombinant Human Granulocyte Colony
Stimulating Factors (rHu-GCSFs) merupakan protein non-glikosilat yang
dihasilkan dari teknologi rekombinan gen bakteri Escherichia coli. Granulocyt
Colony Stimulating Factors (G-CFSs) berperan sebagai faktor pertumbuhan
hematopoiesis terhadap pertumbuhan dan proliferasi sel netrofil. Uji praklinik
menunjukkan rHu-GCSF mampu meningkatkan aktivitas netrofil, memproduksi
netrofil sumsung tulang dan melepaskan ke peredaran darah tepi. Produksi netrofil
akan meningkat 9,4 kali lipat (Anonim, 2006a).
E. Tanda Infeksi
Komplikasi infeksi pada penderita kanker payudara dapat diketahui
berdasarkan tanda-tanda berikut :
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
16
1. suhu badan >38°C (Normal : 37°C-38°C)
2. nadi >120 x/menit (Normal : 100-120 x/menit)
3. jumlah leukosit >12 x103 sel/ml (Normal : 4-10 x103sel/ml)
4. risiko infeksi meningkat jika jumlah netrofil <1000 sel/ml dan mencapai
puncaknya bila mencapai ≤500 sel/ml.
5. kenaikan jumlah limfosit disebabkan oleh infeksi virus seperti rubella, hepatitis
dan infeksi mononukleosis.
6. infeksi dapat menyebabkan kenaikan jumlah monosit misalnya tifoid,
endokarditis subakut, infeksi mononukleosis dan tuberkolosis (Walker dan
Edwards, 1999).
F. Antibiotika
1. Definisi
Antibiotika adalah senyawa kimia khas, dihasilkan oleh mikroorganisme
hidup termasuk struktur analognya yang dibuat secara sintetik, serta mempunyai
kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme
lain (Archer, 1998). Berdasarkan sifat toksisitas selektif, dikenal antibiotika yang
mempunyai aktivitas untuk menghambat pertumbuhan mikroba (antibiotik
bakteriostatik), dan ada yang bersifat pembunuh mikroba (antibiotik bakterisid).
Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba atau
membunuhnya masing-masing dikenal sebagi kadar hambat minimal/KHM dan
kadar bunuh minimal/KBM (Setiabudi dan Gan, 1995).
Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada
manusia harus mempunyai sifat toksisitas selektif setinggi mungkin, artinya obat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
17
tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik
untuk hospes (Setiabudi dan Gan, 1995).
Tabel IV. Penggolongan antibiotik berdasarkan fungsinya.
Antibiotik
Profilaksis
Kuratif
Infeksi
Potensi infeksi
Empirik
≠ dilakukan tes kultur
kuman
Absolut
Kultur Kuman
Antibiotik profilaksis adalah antibiotik yang diberikan ketika terjadi
potensi terinfeksi. Antibiotik profilaksis juga diberikan pada pasien pra operasi
dan immunocompromized. Potensi terinfeksi ditandai dengan penurunan jumlah
leukosit dari batas normal yakni ≤2000 sel/ml. Oleh karena itu, untuk
pengobatannya digunakan antibiotika dengan spektrum luas yakni antibiotik yang
sensitif terhadap bakteri gram negatif maupun positif. Pada penderita kanker
payudara antibiotika profilaksis yang sering digunakan misalnya golongan
sefalosporin dan kuinolon (Guiliano, 2001).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
18
Antibiotika kuratif adalah antibiotika yang diberikan ketika terjadi
infeksi. Positif terinfeksi ditandai dengan peningkatan jumlah leukosit dari batas
normal yakni >12.000 sel/ml. Antibiotika empirik dan absolut merupakan bagian
dari antibiotika kuratif, yang membedakan kedua antibiotika ini adalah dilakukan
atau tidaknya tes kultur kuman. Penggunaan antibiotika empirik didasarkan pada
pengalaman dengan unit klinis khusus, dengan harapan penanganan awal akan
memperbaiki hasil. Contoh antibiotika empirik yang sering digunakan dalam
terapi kanker payudara ialah golongan sefalosporin generasi ketiga dan
aminoglikosida.
Antibiotika
absolut
ialah
antibiotika
yang
pemilihan
dan
penggunaannya didasarkan pada jenis kuman hasil kultur, sehingga memiliki
tingkat selektifitas yang sangat tinggi. Contoh antibiotika absolut yakni
metronidazol (antiprotozoa) yang dalam penggunaannya biasa dikombinasi
dengan sefalosporin (Katzung, 2004).
2. Mekanisme Kerja
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antimikroba dibagi 5 kelompok yaitu
a. memblok
enzim-enzim esensial dalam metabolisme folat (antara lain :
sulfonamid-trometoprim, dan sulfon),
b. menghambat sintesis dinding sel (antara lain : penisilin, sefalosporin,
basitrasin, vankomisin, dan sikloserin),
c. mempengaruhi permeabilitas membran sel (antara lain : polimiksin, dan
golongan polien),
d. beraksi pada subunit ribosom 30S atau 50S dan menghambat sintesis protein–
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
19
secara reversibel (antara lain : aminoglikosida, makrolid,linkomisin, tetrasiklin
dan kloramfenikol),
e. mempengaruhi metabolisme asam nukleat bakteri (antara lain : rifampisin, dan
golongan kuinolon).
3. Resistensi
Penggunaan antibiotika yang memiliki ruang lingkup luas sebenarnya
tidak perlu karena dapat berakibat berkembangnya strain resistensi dan
meningkatnya efek samping. Oleh karena itu, untuk memutuskan pemberian
antibiotika pada kasus infeksi/potensial infeksi, perlu memperhatikan gejala
klinik, jenis patogenitas mikrobanya, kesanggupan mekanisme daya tahan tubuh
hospes serta efektifitas dan kerugiannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
timbulnya resistensi kuman dan efek toksisitas kumulatif (Archer, 1998).
G. Evaluasi Penggunaan Antibiotika
Drug related problems (DRPs) adalah kejadian atau efek yang tidak
diharapkan yang dialami pasien dalam proses terapi dengan obat dan secara aktual
atau potensial bersamaan dengan outcome (dampak) yang diharapkan pada saat
mendapat perawatan dari suatu penyakit (Cipolle, Strand and Morley, 1998).
Masalah-masalah dalam kajian DRPs menurut Cipolle dkk. (1998) ialah :
1. butuh obat (need for additional drug therapy), pasien akan mendapatkan risiko
tinggi bila tidak mendapatkan terapi tambahan, meliputi kondisi medis yang
membutuhkan terapi obat baru, keadaan kronis yang membutuhkan kelanjutan
terapi, kondisi yang membutuhkan kombinasi obat untuk mendapatkan efek
sinergis atau potensi, kondisi dengan risiko dan butuh obat untuk mencegahnya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
20
2. tidak perlu obat (unnecessary drug therapy), pasien mengalami komplikasi atau
penyulit akibat obat tidak dibutuhkan, meliputi tidak ada indikasi pada saat itu,
menelan obat dengan jumlah yang toksik, kondisi akibat drug abuse, lebih baik
disembuhkan dengan non-drug therapy, pemakaian dosis ganda yang
seharusnya sukup dengan terapi dosis tunggal, minum obat untuk mencegah
efek samping lain yang seharusnya dapat dihindarkan;
3. obat salah (wrong drug), komplikasi atau penyulit yang terjadi akibat salah
obat, meliputi kondisi menyebabkan obat tidak efektif, alergi obat tertentu,
obat yang bukan paling efektif untuk indikasi, faktor risiko yang kontraindikasi
dengan obat, efektif tetapi bukan yang paling murah, efektif tetapi bukan yang
paling aman, antibiotika resisten terhadap infeksi pasien, penyakit sukar
disembuhkan, kombinasi yang tidak perlu;
4. pasien mendapat obat yang tidak mencukupi atau kurang (dosage too low),
meliputi terlalu rendah untuk memberikan respon, konsentrasi obat di bawah
therapeutic range (obat, dosis rute, atau konversi formula obat tidak cukup),
pemberian terlalu awal,
5. munculnya efek yang tidak diinginkan atau efek samping obat (adverse drug
reaction) dan adanya interaksi obat (drug interaction), meliputi diberikan
terlalu tinggi kecepatannya, alergi, faktor risiko, interaksi obat-obat atau
makanan, hasil laboratorium berubah akibat obat;
6. pasien mendapat dosis obat yang berlebih (dosage too high), meliputi dosis
terlalu tinggi, kadar serum terlalu tinggi, dosis terlalu cepat dinaikkan,
akumulasi obat karena penyakit kronis, obat, dosis, rute, konversi formula tidak
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
21
sesuai bagi pasien, dosis dan interval tidak cukup;
7. ketidakpatuhan pasien pada penggunaan obat yang diresepkan (uncomplience),
karena tidak menerima obat sesuai regimen karena medication error, tidak taat
instruksi, harga obat mahal dan tidak memahami aturan penggunaan obat.
H. Keterangan Empiris
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pemilihan dan penggunaan
antibiotika pasca kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005 yang terkait dengan kasus DRPs (Drug Related Problems)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
22
BAB III
METODOLOG1 PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian mengenai “Evaluasi Pemilihan dan Penggunaan Antiboitika
pada Pasien Kanker Payudara Pasca Kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta Tahun 2005” merupakan jenis penelitian non-eksperimental dengan
rancangan penelitian deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Noneksperimental karena tidak ada perlakuan terhadap subyek uji. Rancangan
dekriptif evaluatif karena data disajikan apa adanya. Bersifat retrospektif karena
bahan yang digunakan adalah data rekam medik yang lampau pasien kanker
payudara pasca kemoterapi dan masih hidup pada tahun 2005.
B. Definisi Operasional
1. Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika adalah menilai dan
mengkoreksi tata cara pelayanan kesehatan dalam memilihkan antibiotika
yang tepat, yang akan diberikan kepada pasien untuk penyembuhan meliputi
golongan, jenis, dan dosis antibiotika.
2. Kasus adalah pasien kanker payudara berdasarkan diagnosis, yang dicatat di
rekam medik RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
3. Karakteristik pasien meliputi jumlah pasien, distribusi umur, riwayat kanker
dalam keluarga, stadium, frekuensi pemberian kemoterapi, komplikasi,
penyakit penyerta, tanggal masuk dan tanggal keluar perawatan, tanda vital,
riwayat pengobatan, tindakan yang dilakukan, diagnosa masuk dan diagnosa
keluar, data hematologi pasien, keluhan ketika masuk dan selama perawatan,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
23
terapi farmakologi dan nonfarmakologi yang diberikan, lama pemberian obat
dan dampak/outcome.
4. Antibiotika profilaksis atau preventif adalah antibiotika yang diberikan pada
pasien ketika terjadi potensial infeksi yakni ditandai penurunan jumlah
leukosit <2.000 sel/ml atau ketika terjadi netropenia.
5. Antibiotika kuratif adalah antibiotika yang diberikan pada saat pasien
terinfeksi, yang ditandai dengan peningkatan jumlah sel leukosit yang sangat
bermakna >12.000 sel/ml.
6. Golongan
antibiotika
adalah
pengelompokan
antibiotika
berdasarkan
pendekatan struktur kimia, spektrum kerja, mekanisme kerja, daya kerja, dan
berdasarkan farmakokinetikanya.
7. Pasca kemoterapi adalah suatu kondisi pasien setelah-segera diterapi dengan
obat penggunaan obat antikanker.
8. Frekuensi kemoterapi adalah banyaknya pemberian kemoterapi untuk tiap
bulannya.
9. Penyakit penyerta adalah penyakit yang menyertai selama proses pengobatan
dan tidak terikat dalam satu sistem. Akan terdeteksi bersama-sama pada awal
pemeriksaan.
10. Komplikasi adalah penyakit yang menyertai penyakit utama dan masih dalam
satu sistem.
11. Drug Related Problems (DRPs) adalah permasalahan yang muncul terkait
pemakaian obat meliputi : pemilihan antibiotika yang tidak tepat, dosis
kurang, dosis lebih, interaksi obat, efek samping, indikasi yang tidak dirawat,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
24
gagal menerima obat, dan obat tanpa indikasi.
12. Dampak atau outcome adalah hasil yang diperoleh setelah menjalani
perawatan di rumah sakit. Hasil yang didapatkan yakni membaik atau belum
sembuh.
13. Lembar rekam medik kanker payudara adalah kumpulan catatan dokter, dan
perawat yang berisi data klinis pasien kanker payudara meliputi nomor rekam
medik, nama, umur, diagnosa, stadium, keluhan masuk, keluhan pasca
kemoterapi, dosis dan aturan pakai, jumlah obat, jenis obat yang digunakan
serta data laboratorium dan data non laboratorium.
C. Subyek, Bahan dan Lokasi Penelitian
Subyek penelitian yang digunakan adalah pasien kanker payudara pasca
kemoterapi pada tahun 2005 yang dirawat di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta.
Bahan penelitian adalah data rekam medik yang lampau pasien kanker payudara
pasca kemoterapi dan masih hidup pada tahun itu. Lokasi penelitian dilakukan di
Instalasi Rekam Medik RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta, Jalan Kesehatan 01 Sekip
Yogyakarta 587333.
D. Jalannya Penelitian
1. Analisis situasi dan penentuan masalah
Dimulai dengan melihat pola penyakit kanker payudara yang ada di
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 yang diperoleh di Instalasi Catatan
Medis. Jumlah pasien kanker payudara yang dirawat di RSUP. Dr. Sardjito tahun
2005 keseluruhannya ada 252 pasien. Pasien tersebut ada yang diterapi dengan
kemoterapi, pemilihan dan penggunaan antibiotika pada pasien kanker payudara -
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
25
pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta belum pernah dilakukan.
2. Tahap Penelusuran Data
Penelusuran data dilakukan dengan melihat laporan pada lembar catatan
medis yang ada di Instalasi Catatan Medis RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun
2005. Dari total pasien kanker payudara yang ada yakni 252 pasien, yang
mendapatkan kemoterapi dan pada tahun itu masih hidup ada 70 kasus.
3. Tahap Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan di bagian rekam medik RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta dan dilakukan secara retrospektif karena data yang diambil adalah
data lampau. Data yang akan diambil hanya kasus kanker payudara pasca
kemoterapi yang terjadi pada awal Januari 2005 sampai akhir Desember 2005
dengan kriteria bahwa pasien pada tahun tersebut masih hidup.
Dalam proses ini data yang diambil meliputi nomor rekam medis pasien,
umur, riwayat kanker dalam keluarga, stadium, frekuensi pemberian kemoterapi,
komplikasi, penyakit penyerta, tanggal masuk dan tanggal keluar perawatan, tanda
vital, riwayat pengobatan, tindakan yang dilakukan, diagnosa masuk dan diagnosa
keluar, data hematologi pasien, keluhan ketika masuk dan selama perawatan,
terapi farmakologi dan nonfarmakologi yang diberikan, lama pemberian obat dan
dampak/outcome.
4. Tahap Analisis Data
Data yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan prosentase kelompok
umur pasien, riwayat kanker dalam keluarga, stadium kanker, frekuensi
pemberian kemoterapi, komplikasi dan penyakit penyerta, jenis dan golongan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
26
antibiotika yang digunakan, serta outcome pasien. Data tersebut disajikan dalam
bentuk tabel atau grafik dan didukung dengan penjelasan secara deskriptif. Pada
tahap akhir evaluasi mengenai drug related problems (DRPs) yang terkait
pemilihan
dan
penggunaan
antibiotika
dilakukan
menggunakan
metode
Subjectives, Objectives, Assessment, Plan (SOAP) yang dimodifikasi.
E. Tata Cara Analisis Hasil
Analisis hasil dalam penelitian ini dikelompokkan menurut diagnosis
pasien. Data dibahas secara evaluatif dengan bantuan tabel atau grafik.
Analisis hasil dalam penelitian ini mencakup :
1. distribusi umur pasien pada kasus kanker payudara pasca kemoterapi
dikelompokkan menjadi 7 kelompok yaitu umur <30 tahun, 30-39 tahun, 40-49
tahun, 50-59 tahun, 60-69 tahun, 70-79 tahun dan >80 tahun. Kemudian dibuat
prosentasenya, cara menghitungnya yakni dengan menggunakan rumus berikut
n
x 100%
70
Keterangan; n = jumlah kasus
70 = jumlah semua kasus
2. riwayat kanker dalam keluarga, dihitung berdasarkan jumlah kasus yang
memiliki masalah tersebut,
3. prosentase kasus berdasarkan stadium yang diderita, dihitung berdasarkan
dengan rumus berikut,
n
x 100%
70
Keterangan; n = jumlah kasus tiap stadium, 70 = jumlah semua kasus.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
27
4. prosentase frekuensi pemberian kemoterapi dihitung berdasarkan jumlah kasus
dengan frekuensi kemoterapi tertentu kemudian dibagi dengan jumlah
keseluruhan kasus dan dikalikan 100%,
5. komplikasi dan penyakit penyerta dihitung berdasarkan seringnya muncul dari
tiap kasus,
6. prosentase pola penggunaan obat berdasarkan kelas terapi dihitung dengan
menjumlahkan berapa kali golongan dan jenis obat yang digunakan kemudian
dibagi dengan jumlah semua kasus dan dikalikan 100%,
7. evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pada kasus kanker payudara
pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta 2005 dilakukan dengan
mengidentifikasi drug related problems (DRPs)
yang terkait dengan
pemakaian antibiotika. Pengelompokan kasus yang berkaitan dengan
pemakaian antibiotika dapat didasarkan pada kategori DRPs (drug related
problems) berikut ini :
a) butuh antibiotika,
b) tidak perlu antibiotika,
c) antibiotika yang diberikan tidak sesuai atau salah,
d) pasien mendapat dosis antibiotika yang kurang,
e) timbul efek samping atau interaksi antar antibiotika dan antibiotika dengan
obat lain sebagai akibat penggunaan secara bersamaan,
f) pasien mendapat dosis antibiotika yang berlebih,
g) ketidakpatuhan pasien akan penggunaan antibiotika.
8. prosentase dampak/outcome yang terjadi dihitung berdasarkan jumlah kasus -
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
28
yang hasilnya membaik atau belum sembuh kemudian dibagi dengan jumlah
keseluruhan kasus yang ada dan dikalikan 100%.
Standar terapi pemilihan dan penggunaan antibiotika pada kasus kanker
payudara pasca kemoterapi yang digunakan dalam penelitian ini adalah National
Comprehensive Cancer Network (NCCN) tahun 2005, penggolongan obatnya
berdasarkan Informatorium Obat Nasional Indonesia tahun 2002 dan MIMS 2006.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
29
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bersifat retrospektif yakni dengan melihat catatan medis
pasien kanker payudara pasca kemoterapi yang dirawat di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005. Data yang digunakan ialah data rekam medik perawatan
terakhir pasien kanker payudara pasca kemoterapi. Hasil penelitian dan
pembahasan “Evaluasi Pemilihan dan Penggunaan Antibiotika Pasca Kemoterapi
pada Pasien Kanker Payudara Di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2005”
dibagi menjadi 5 bagian.
A. Gambaran Umum
Gambaran umum hasil penelitian disajikan dalam 5 bagian. Bagian
pertama berisi prosentase kasus kanker payudara berdasarkan kelompok umur,
kedua berisi riwayat kanker dalam keluarga, ketiga berisi stadium kanker
payudara, keempat berisi frekuensi kemoterapi, kelima berisi komplikasi dan
penyakit penyerta. Pasien kanker payudara yang dirawat dan menjalani
kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito pada tahun 2005 ada 70 orang dan semuanya
wanita
1. Prosentase kasus kanker payudara berdasarkan kelompok umur
Umur pasien dapat dijadikan kriteria dalam pemilihan jenis obat, dosis
obat, bentuk sediaan obat, dan jumlah obat. Pemberian obat pada lansia harus
memperhitungkan jumlah obat dan dosis karena adanya penurunan fungsi faal
tubuh pasien tersebut. Kelompok umur pasien kanker payudara dibedakan
menjadi 6 kelompok yakni <30 tahun dengan jumlah kasus 2, 30-39 tahun dengan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
30
jumlah kasus 9, 40-49 tahun dengan jumlah kasus 28, 50-59 tahun dengan jumlah
kasus 18, 60-69 tahun dengan jumlah kasus 6, 70-79 tahun dengan jumlah kasus 2
dan tidak diketahui umurnya dengan jumlah kasus 5.
Berikut ini disajikan
prosentase kelompok umur kasus kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005 pada gambar 6.
Prosentase
Kelompok Umur Pasien Kanker Payudara
di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2005
30
40%
Jumlah Pasien
25
20
26%
15
13%
10
5
8%
7%
3%
3%
di
ke
ta
hu
i
70
-7
9
tid
ak
60
-6
9
50
-5
9
40
-4
9
30
-3
9
<3
0
0
Umur Pasien (tahun)
Gambar 6. Distribusi kelompok umur pasien kanker payudara di RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa proporsi kasus kanker
payudara berdasar kelompok umur paling banyak diderita pada umur 40 tahun
hingga 49 tahun, hal ini sudah sesuai dengan teori. Menurut teori, umur 30-40
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
31
tahun kemungkinan terkena kanker payudara yakni 1 dari 252 orang, umur 40-50
tahun yakni 1 dari 68 orang, umur 50-60 tahun yakni 1 dari 35 orang dan umur
60-70 tahun 1 dari 27 orang.
Menurut Yuliani (2000) hal ini disebabkan oleh faktor keturunan dan
faktor endokrin. Faktor keturunan sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan
risiko terkena kanker payudara. Faktor endokrin yakni pada umur 40 tahun ke atas
merupakan masa menjelang menopause sedangkan umur di atas 50 tahun
disebabkan oleh faktor risiko akibat terlambatnya menopause, sehingga pada
masa-masa ini ada penyesuaian produksi hormon. Hal ini akan memicu
peningkatkan risiko kanker payudara.
2. Riwayat kanker dalam keluarga
RIWAYAT KANKER PAYUDARA
DALAM KELUARGA PASIEN
70
Jumlah pasien kanker payudara
63
60
50
40
30
20
10
3
0
ada riw ayat
tidak ada riw ayat
Pasien kanker payudara
Gambar 7. Distribusi pasien yang mempunyai riwayat kanker dalam keluarga.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
32
Dari tujuh puluh (70) pasien yang dirawat hanya 3 kasus yang memiliki
riwayat kanker payudara dalam keluarga. Faktor genetik-kanker (hereditas) yang
ada dalam keluarga (riwayat kanker pada keluarga) merupakan faktor risiko yang
paling utama dalam menyebabkan kanker. Menurut teori, riwayat kanker dalam
keluarga memiliki peranan sebesar 90% untuk diturunkan kepada anak perempuan
atau saudara perempuannya, dan ± 5-10% kanker payudara dapat terjadi akibat
kelainan genetik yang diturunkan anggota keluarga.
3. Stadium kanker payudara pasca kemoterapi
Penentuan stadium kanker payudara dimulai dengan pemeriksaan medis
yang lengkap. Dari data yang diperoleh, diketahui bahwa stadium kanker yang
paling banyak diderita pasien ialah stadium lanjut, yakni stadium III dan IV.
Prosentase pasien pada stadium IV yakni 36% atau 25 kasus dan stadium IIIB
30% atau 21 kasus, artinya pasien datang untuk berobat sudah pada tingkat
keparahan yang tinggi.
Menurut Sukardja (1995) tingkat stadium sangat mempengaruhi hasil
terapinya semakin dini stadium terdeteksi dan diobati maka akan semakin besar
kemungkinan untuk sembuh. Kemungkinan sembuh pada stadium 0: 95%, I: 90%,
II: 55%, III: 40% dan IV: 1%. Kanker stadium III dan IV (stadium lanjut) sangat
sulit untuk disembuhkan, oleh karenanya pemberian kemoterapi pada stadium
tersebut bersifat paliatif yakni tidak menghilangkan kausanya, melainkan
memperbaiki kondisi pasien yang mengganggu, misalnya mengurangi rasa nyeri
dengan morfin. Berikut disajikan distribusi kelompok stadium kanker payudara
pada gambar 8.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
33
Distribusi Kelompok Stadium Kanker
Payudara
28
26
25
24
22
21
20
I
Jumlah pasien
18
IIA
16
IIB
14
IIIA
12
IIIB
10
IV
9
Tidak diketahui
8
8
6
4
4
2
2
1
0
Stadium kanker
Gambar 8. Distribusi kelompok stadium kanker payudara yang diderita pasien
yang dirawat di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
4. Frekuensi pemberian kemoterapi
Kesembuhan penyakit kanker ditentukan oleh kontinyunitas melakukan
pengobatan. Salah satu pengobatan yang diberikan ialah kemoterapi. Saat ini
kemoterapi
merupakan
pilihan
pengobatan
yang
paling
efektif
untuk
menyembuhkan kanker, karena kemoterapi dapat mematikan sel-sel kanker yang
menyebar sehingga tingkat keparahan pasien dapat diturunkan. Berikut disajikan
prosentase frekuensi pemberian kemoterapi pada tabel V.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
34
Tabel V. Frekuensi pemberian kemoterapi pada pasien kanker payudara di
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
Frekuensi
Jumlah
Prosentase
1x
22 kasus
31,4 %
2x
12 kasus
17,1 %
3x
15 kasus
21,4 %
4x
6 kasus
8,5 %
5x
4 kasus
5,7 %
6x
9 kasus
12,8 %
7x
-
-
8x
1 kasus
1,4 %
Tidak diketahui
1 kasus
1,4 %
Dari 70 kasus kanker payudara, frekuensi pemberian kemoterapi yang
paling banyak dilakukan yaitu 8 kali dengan 1 kasus dan paling sedikit 1 kali
dengan 22 kasus. Menurut teori, jangka waktu pemberian kemoterapi ialah 6
bulan. Frekuensi pemberian kemoterapi disesuaikan dengan tingkat stadium.
Semakin tinggi tingkatan stadium kanker maka pemberian kemoterapi akan sering
dilakukan. Namun teori tersebut memiliki kelemahan yakni bahwa pemberian
kemoterapi yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko infeksi atau penekanan
sumsum tulang, karena frekuensi pemberian berhubungan dengan dosis dan efek
samping obat. Obat kemoterapi bersifat tidak selektif terhadap sel kanker. Obat
kemoterapi dapat membunuh sel-sel lain yang mempunyai kecepatan membelah
seperti sel kanker misalnya sel darah dan folikel rambut.
Jumlah kasus yang menderita pada tingkat stadium lanjut (IIIA, IIIB &
IV) ada 55 kasus, sedangkan yang menjalani kemoterapi di atas 3 kali ada 20
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
35
kasus. Dan yang di bawah 4 kali ada 49 kasus. Artinya kesadaran pasien akan
pentingnya pengobatan kanker secara dini masih kurang.
5. Komplikasi dan penyakit penyerta
Komplikasi adalah penyakit yang menyertai penyakit utama dan masih
dalam satu sistem. Berikut ini tabel jumlah penyakit komplikasi pada pasien
kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
Tabel VI. Komplikasi pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP.
Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
No
1
2
3
Komplikasi
Netropenia
Leukositosis
Limfositosis
Jumlah kasus
2
5
3
Prosentase (%)
2,8
7,1
4,2
Kondisi yang umumnya akan memperparah keadaan pasien adalah
netropenia dan leukositosis. Leukositosis adalah indikasi terinfeksi, sedangkan
netropenia sebagai indikasi potensial infeksi, kalau parah serta tidak segera diobati
dapat menyebabkan kematian. Pada kasus seperti ini perlu diberikan terapi
antibiotika profilaksis atau kuratif yang tepat untuk mengatasinya. Antibiotika
profilaksis diberikan jika pasien potensial terinfeksi sedangkan kuratif jika pasien
positif terinfeksi. Antibiotika profilaksis yang sering digunakan pada kasus kanker
payudara yaitu antibiotika dengan spektrum luas misalnya β-laktam (sefalosporin
generasi 1 & 2) dan kuinolon, sedangkan kuratifnya yakni sefalosporin generasi
ketiga, aminoglikosida dan metronidasol.
Penyakit penyerta yang diderita pasien kanker payudara pasca kemoterapi
yaitu diabetes melitus, hipertensi dan asma. Berikut ini tabel jumlah penderita
kanker payudara yang disertai penyakit penyerta.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
36
Tabel VII. Penyakit penyerta pada kasus kanker payudara pasca kemoterapi di
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
No
1
2
3
Penyakit penyerta
Diabetes melitus
Hipertensi
Asma
Jumlah kasus
4
1
1
Prosentase (%)
5,7
1,4
1,4
B. Pola Penggunaan Obat
Obat yang digunakan pada penanganan kanker payudara ada 12
golongan berdasarkan kelas terapinya. Obat-obat tersebut meliputi obat
antineoplastik, obat antibiotika, obat untuk saluran cerna, obat untuk saluran
pernafasan, obat untuk sistem syaraf pusat, obat analgesik, obat hormonal, obat
gizi, obat antialergi, obat untuk penyakit otot skelet dan sendi, obat untuk sistem
endokrin dan metabolik, serta obat untuk kardiovaskular.
1. Obat antibiotika
Ada lima (5) golongan antibiotika yang digunakan yaitu : β-laktam
(penisilin & sefalosporin generasi ke-3), kuinolon, aminoglikosida dan
antiprotozoa. Ada tujuh (7) jenis antibiotika dari kelima golongan tersebut yaitu
ampisilin,
amoksisilin
klavulanat,
seftriakson,
seftasidim,
siprofloksasin,
gentamisin dan antiprotozoa (metronidasol).
Dari tujuh puluh (70) pasien kanker payudara pasca kemoterapi hanya 9
pasien yang mendapatkan antibiotika. Sembilan pasien tersebut termasuk pasien
yang potensial infeksi, infeksi dan salah obat. Namun pada kenyataannya ada 3
pasien yang potensial infeksi, 5 pasien terinfeksi dan 4 pasien tidak potensial
infeksi atau infeksi tetapi diberikan antibiotika dalam terapinya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
37
Tabel VIII. Golongan dan jenis antibiotika yang digunakan pasien kanker
payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta
tahun 2005.
No
1.
Golongan
Antibiotika
Penisillin
2.
Sefalosporin
3.
4.
5.
Kuinolon
Aminoglikosida
Antibiotika anaerob
Jenis Antibiotika
Jumlah
Ampisilin
Amoksisilin
klavulanat
Seftriakson
Seftasidim
Siprofloksasin
Gentamisin
Metronidasol
1
1
Prosentase
(%)
1,4
1,4
3
2
2
1
4
4,2
2,8
2,8
1,4
5,7
Penentuan status pasien potensial infeksi atau infeksi dimulai dengan
pemeriksaan data laboratorium yang lengkap yakni pada data hematologi serta
tanda-tanda vital yang dimiliki pasien. Pasien yang mengalami potensial infeksi
ditandai
dengan penurunan jumlah leukosit (<2.000 sel/ml) atau penurunan
jumlah neutrofil (<1.000 sel/ml), sedangkan bila terjadi infeksi ditandai dengan
peningkatan jumlah leukosit (>12.000 sel/ml). Pengobatan kondisi potensial
infeksi yakni dengan pemberian antibiotik profilaksis contohnya sefalosporin dan
kuinolon. Untuk kasus infeksi, dapat diberikan antibiotika kuratif contohnya
sefalosporin generasi ketiga, aminoglikosida, dan metronidasol.
Dipilih antibiotika golongan sefalosporin karena antibiotik tersebut
memiliki spektrum aktivitas yang luas dan efektif untuk abses jaringan lunak.
Pada pasien kanker payudara, terdapat perlukaan pada payudara sehingga rentan
terhadap infeksi stafilokokkus atau streptokokkus, oleh karena itu antibiotik
sefalosporin merupakan pilihan obat yang tepat untuk kasus potensial infeksi.
Disamping itu, sefalosporin juga dapat dikombinasikan dengan antibiotik
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
38
kuinolon dengan tujuan untuk meningkatkan efek sinergis dalam membunuh agen
penginfeksi. Kuinolon merupakan antibiotik yang sangat peka terhadap bakteri
gram positif maupun negatif, selain itu penggunaan antibiotik kuinolon misalnya
siprofloksasin memang ditujukan untuk infeksi pada kulit dan jaringan lunak.
Aminoglikosida dipilih sebagai antibiotik empirik karena antibiotika
tersebut berfungsi untuk mengatasi infeksi bakteri gram negatif enterik pada
pasien kanker payudara. Aminoglikosida akan memiliki efek yang sinergis bila
dikombinasikan dengan antibiotik golongan β-laktam.
Dari tabel VIII dapat diketahui bahwa golongan dan jenis antibiotika
yang sering digunakan yaitu seftriakson dan seftasidim (sefalosporin generasi
ketiga) dan metronidasol (antiprotozoa). Penggunaan antibiotik tersebut ada yang
tunggal dan kombinasi. Kombinasi antibiotik yang diberikan pada kasus ini yaitu
golongan sefalosporin dengan kuinolon, sefalosporin dengan metronidasol, dan
kuinolon dengan metronidasol.
Kombinasi sefalosporin-kuinolon digunakan pada terapi profilaksis,
tujuan kombinasi tersebut yakni untuk meningkatkan efek sinergis dan juga
memperluas
spektrum
aktivitas
terhadap
agen
penginfeksi.
Pemberian
metronidasol dimaksudkan untuk mengatasi infeksi bakteri anaerob yang
diperoleh di rumah sakit (infeksi yang didapat), oleh karenanya pemberian
metronidasol dalam kasus ini dikombinasikan dengan sefalosporin atau kuinolon.
Pemilihan antibiotika pada kasus ini sudah tepat atau sesuai dengan teori, karena
umumnya bakteri yang menginfeksi pasien dengan kanker payudara ialah bakteri
gram
positif
(Streptococcus
pneumoniae,
Staphylococcus
epidermidis,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
39
Staphylococcus aureus) dan bakteri gram negatif (Escherichia coli, Pseudomonas
aeruginosa). Bakteri-bakteri tersebut akan masuk melalui jaringan yang luka dan
menginfeksi mulai dari jaringan subkutan sampai ke sistemik.
2. Obat antineoplastik/ sitotoksik
Obat antineoplastik atau obat kemoterapi mempunyai kelemahan yakni
dapat merusak sel-sel tubuh normal. Obat kemoterapi digunakan untuk
memperpanjang harapan hidup atau meringankan pasien akibat dari gejala kanker
(paliatif). Beberapa aktifitas antitumor sitotoksik dibedakan atas beberapa kelas.
Berikut ini penyajian prosentase obat antineoplastik yang digunakan.
Tabel IX. Golongan obat dan jenis obat antineoplastik/sitotoksik pada kasus
kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta
tahun 2005.
No
Golongan obat
1
2
Zat pengalkil
Antibiotik sitotoksik
3
4
5
Antikanker hormonal
Antimetabolit
Antineoplastik lain
Jenis obat
Siklofosfamid
Epirubisin
Doksorubisin
Tamoksifen
5-Fluorourasil
Paklitaksel
Xeloda
Metrotreksat
Fluorourasil
Karboplatin
Jumlah
kasus
47
17
40
2
13
18
3
2
1
3
Prosentase
(%)
67
24
57
2,8
21,4
25,7
4,3
2,8
1,4
4,3
Pemberian obat kemoterapi di atas dapat menimbulkan efek samping
yaitu suppesi sumsum tulang (myelosuppresion), yakni penekanan/penghentian
aktifitas sumsum tulang yang berakibat pengurangan jumlah trombosit, leukosit,
eritrosit dan netrofil sehingga
dapat berakibat menimbulkan anemia maupun
netropenia. Semua obat antineoplastik yang ada dalam penelitian ini dapat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
40
menimbulkan gejala-gejala netropenia dan anemia. Sehingga pemberiannya harus
hati-hati dan perlu pengawasan terhadap hasil laboratorium setelah penggunaan
obat ini untuk mengetahui terjadi atau tidaknya anemia dan netropenia.
3. Obat saluran cerna
Gangguan gastrointestinal seperti mual dan muntah sering terjadi pada
pasien kanker payudara pasca kemoterapi. Berikut ini adalah data kelompok
terapi obat saluran cerna yang digunakan pada kasus kanker payudara pasca
kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
Tabel X. Golongan dan jenis obat saluran cerna pada kasus kanker payudara
pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
No
Golongan obat
Jenis obat
Jumlah
kasus
Prosentase
(%)
1
Laksatif
Duphalak
1
1,4
2
Antitukak (antasida)
Ranitidin
Pantoprasol
8
6
11,4
8,6
Pariet
Simetidin
1
11
1,4
15,7
Pemberian obat saluran cerna digunakan untuk mengurangi keluhan
seperti berkurangnya nafsu makan, mulut terasa pahit, diare dan mual-muntah
akibat pemberian kemoterapi maupun pemberian antibiotika. Obat kemoterapi
dapat menimbulkan mual-muntah melalui rangsangan yang berupa stimulus pada
chemoreceptor trigger zone yang terdapat pada medula, korteks serebral, dan
peripheral pada gastrointestinal. Stimulus ini memacu mual-muntah pada medula
dan saraf motorik yang bertanggung jawab pada pengaturan sekretori dan
kontraksi otot yang mengawali muntah. Reseptor yang terkait pada mekanisme ini
ialah dopamine, serotonin, histamin, dan opioid serta reseptor asetilkolin.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
41
4. Obat saluran nafas
Obat saluran nafas diberikan pada pasien kanker payudara untuk
mengatasi batuk dan sesak nafas yang diakibatkan oleh keadaan netropenia
sehingga paru-paru mudah terinfeksi dan menimbulkan batuk. Obat yang
digunakan pada kasus ini ada 3 golongan yaitu antihistamin sedatif, mukolitik dan
obat batuk-pilek.
Tabel XI. Golongan dan jenis obat untuk saluran pernafasan pada kasus kanker
payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun
2005.
No
Golongan obat
Jenis obat
Jumlah kasus
Prosentase
(%)
14
1
Dipenhidramin
10
2
Antihistamin
sedatif
Mukolitik
Ambroksol sirup
1
1,4
3
Batuk dan pilek
Levodropropisin
2
2,8
5. Obat sistem syaraf pusat
Tabel XII. Golongan dan jenis obat untuk syaraf pusat pada kasus kanker
payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun
2005.
No
Golongan obat
Jenis obat
Jumlah kasus
1
Antiemetik dan
antivertigo
2
Psikofarmaka
Ondansetron
Metoklopramid
Domperidon
Diazepam
22
3
1
2
Prosentase
(%)
31,4
4,2
1,4
2,8
Penggunaan obat untuk susunan syaraf pusat harus hati-hati, karena
mempunyai efek adiktif yang sangat kuat bila digunakan dalam jangka waktu
yang lama. Pemberian obat ini biasanya diberikan 30 menit menjelang proses
operasi. Pemberian ondansentron untuk mengatasi mual dan muntah pasca
kemoterapi dengan mekanisme kerja mem-blok serotonin, namum obat ini
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
42
harganya mahal. Metoklopramid dan domperidon fungsinya hampir sama dengan
ondansentron, namun kedua obat ini lebih sering digunakan untuk mual muntah
karena gangguan cerna atau insidensi mual muntah rendah.
6. Obat analgesik
Obat analgesik yang digunakan pada kasus ini ada 2 golongan yakni
analgesik non-opioid dan analgesik opioid. Pemberian obat analgesik pada kasus
kanker payudara berfungsi untuk mengatasi rasa demam, nyeri, dan sakit kepala
yang sering dirasakan pada penderita kanker payudara. Berikut ini tabel
pengelompokkan obat analgesik yang digunakan pada pasien kanker payudara di
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
Tabel XIII. Golongan dan jenis obat analgesik pada kasus kanker payudara pasca
kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
No
Golongan obat
Jenis obat
Jumlah kasus
1
Analgesik non-opioid
2
1
2
Analgesik opioid
Parasetamol
Asam
Mefenamat
Garam morfin
5
Prosentase
(%)
2,8
1,4
7
7. Obat hormonal
Fungsi penggunaan obat hormonal pada pasien kanker payudara adalah
sebagai antiinflamasi sistemik akibat peradangan kanker dan juga untuk reaksi
alergi yang ditimbulkan akibat penggunaan obat kemoterapi. Penggunaan obat
golongan kortikosteroid pada kasus ini digunakan secara bersama-sama dengan
obat antineoplastik. Penggunaan antidiabetik oral ditujukan pada pasien dengan
penyakit penyerta diabetes, yang berfungsi untuk menstabilkan gula darah.
Berikut ini tabel data penggunaan obat hormonal pada pasien kanker payudara di -
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
43
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
Tabel XIV. Golongan dan jenis obat hormonal pada kasus kanker payudara pasca
kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
No
1
Golongan obat
Kortikosteroid
2
Antidiabetik oral
Jenis obat
Deksametason
®
Gliquidone
Jumlah kasus
30
Prosentase
(%)
42,8
1
1,4
8. Obat antialergi
Pemberian obat antialergi sebagai terapi premedikasi. Fungsinya untuk
pengatasan alergi yang timbul setelah pemberian kemoterapi atau setelah transfusi
darah. Obat ini diberikan 30 menit menjelang transfusi darah. Berikut tabel data
penggunaan obat antialergi pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi di
RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
Tabel XV. Golongan dan jenis obat antialergi pada kasus kanker payudara pasca
kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
No
Golongan obat
Jenis obat
Jumlah kasus
1
Antialergi
Duradryl®
1
Prosentase
(%)
1,4
9. Obat gizi
Tabel XVI. Golongan dan jenis obat gizi pada kasus kanker payudara pasca
kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
No
Golongan obat
Jenis obat
Jumlah kasus
1
Vitamin
2
3
Vitamin E
Vitamin B
Enervon C®
Lycoxy®
Betavit®
Roborantin®
Nerviton®
Neurodex®
Neurobion®
2
1
3
6
10
1
1
Prosentase
(%)
2,8
1,4
4,2
8,6
14,2
1,4
1,4
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
44
Kejadian malnutrisi sering terjadi pada penderita kanker payudara,
akibatnya pasien akan menjadi mudah terinfeksi dan memperlambat proses
penyembuhan. Penggunaan obat gizi berfungsi untuk meningkatkan atau
menggantikan asupan makanan yang diperoleh dari luar.
10. Obat untuk penyakit otot skelet dan sendi
Nyeri otot dan persendian sering dirasakan pasien kanker payudara. Oleh
karena itu, untuk mengatasinya digunakan obat untuk sakit otot dan sendi. Obat
yang digunakan pada pasien kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito merupakan
kelompok jenis obat Anti Inflamasi Nonsteroid (AINS). Pemilihan obatnya sudah
tepat, karena kelompok obat tersebut memiliki aktifitas yang lebih baik
dibandingkan parasetamol atau analgesik opioid.
Namun, ada beberapa kelemahan penggunaan AINS pada pasien lanjut
usia, karena pasien lanjut usia sangat rentan terhadap peningkatan efek samping
AINS. Oleh karena itu, dokter sebelum meresepkan obat hendaknya perlu
mempertimbangkan rasio manfaat dan efek sampingnya. Pilihan obat pengganti
AINS pada pasien lanjut usia adalah parasetamol dosis tunggal atau kombinasi
parasetamol dengan analgesik opioid. Berikut ini tabel pengelompokkan obat
untuk penyakit otot skelet dan sendi yang digunakan pasien kanker payudara.
Tabel XVII. Golongan dan jenis obat untuk penyakit otot skelet dan sendi pada
kasus kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005.
No
Golongan obat
Jenis obat
Jumlah kasus
1
Obat untuk penyakit
rematik dan guot
Ibuprofen
Ketoprofen
1
1
Prosentase
(%)
1,4
1,4
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
45
11. Obat untuk sistem endokrin dan metabolik
Obat untuk sistem endokrin dan metabolik diberikan pada pasien kanker
payudara yang mengalami gangguan yang berhubungan dengan skeletal atau
hiperkalsemia yang diinduksi oleh kanker dengan keganasan tingkat lanjut yang
mengenai tulang. Penggunaan obat Zoledronic acid tidak boleh dikombinasi
dengan antibiotik aminoglikosida karena dapat menimbulkan efek aditif. Tetapi
pada kasus ini penggunaannya sudah tepat.
Tabel XVIII. Golongan dan jenis untuk sistem endokrin dan metabolik pada
kasus kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005.
No
Golongan obat
Jenis obat
Jumlah kasus
1
Obat metabolisme
tulang
Zoledronic acid
1
Prosentase
(%)
1,4
12. Obat untuk kardiovaskuler
Penggunaan obat kardiovaskuler pada pasien kanker payudara ditujukan
pada pasien yang mengalami tekanan darah tinggi. Sebelum mendapatkan
kemoterapi tekanan darah pada pasien darah tinggi harus dinormalkan terlebih
dahulu, dengan tujuan untuk menghindari risiko yang berakibat fatal jika tetap
diberikan kemoterapi. Berikut ini daftar penggunaan obat kardiovaskuler yang
pada pasien kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
Tabel XIX. Golongan dan jenis untuk kardiovaskuler pada kasus kanker payudara
pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
No
Golongan obat
Jenis obat
Jumlah kasus
1
Duretika golongan
tiazid
Antihipertensi
penghambat ACE
HCT
1
Prosentase
(%)
1,4
Kaptopril
1
1,4
2
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
46
Sebelum
obat
tersebut
diresepkan,
hendaknya
dokter
perlu
memperhitungkan efek yang ditimbulkan bila obat tersebut dikombinasi dengan
obat lain, karena obat tersebut sangat rentan kontra indikasi terhadap berbagai
jenis obat (misalnya antibiotik aminoglikosida, siklosporin, vankomisin,
antidepresan, antihistamin, anestetik dan masih banyak lagi).
Pada penelitian ini, kasus yang mendapatkan obat tersebut adalah pasien
dengan nomor kasus 7 dan 52 (lihat lampiran I). Pada kasus tersebut
penggunaannya sudah tepat dan tidak terjadi drug reated problems (DRPs).
C. Drug Related Problems (DRPs)
Dalam penelitian ini, dari 70 kasus kanker payudara pasca kemoterapi
yang diteliti, ada 61 kasus yang tidak terjadi Drug Related Problems (DRPs) dan
9 kasus terjadi DRPs terkait dengan penggunaan antibiotika. Sembilan (9) kasus
yang mengalami DRPs tersebut terdiri dari 3 kasus butuh antibiotika, 4 kasus
tidak butuh antibiotika, 1 kasus mendapatkan antibiotik yang tidak tepat, dan 1
kasus pemberian antibiotik dengan dosis kurang. Penyelesaian masalah terapi
pada kasus yang terjadi Drug Related Problems (DRPs) menggunakan metode
Subjectives, Objectives, Assessment, Plan (SOAP) yang dimodifikasi dan
disajikan dalam bentuk tabel. Subyektif berisikan keluhan, riwayat pengobatan
dan umur pasien. Obyektif berisikan tanda-tanda vital, data hematologi, dan
stadium kanker
pasien. Assessment berisikan penilaian peneliti terhadap
komponen-komponen yang ada pada bagian subyektif dan obyektif. Plan diganti
menjadi Rekomendasi yakni berisikan anjuran dalam menyelesaikan kasus yang
terjadi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
47
Tabel XX. Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca kemoterapi pada
kasus 10 kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun
2005.
Subyektif:
No RM : 01.19.03.51, 56 th. Pasien mengeluh nyeri sendi, batuk, nyeri
tenggorokan, mual, muntah dan rambut rontok.Mendapat antibiotik, yaitu :
amoksisilin 3x500 mg selama 1 hari.Mendapatkan kemoterapi dengan inj.
siklofosfamid 700mg, inj. epirubisin 100mg, inj. flurourasil 700mg.
Obyektif :
Ca. Mammae T4N3M1 dengan problem metastase hepar dan tulang.
Tanda Infeksi :
1. Suhu : tanggal 26/08/05 : 37°C (Normal)
2. Nadi : tanggal 26/08/05 : 84x/menit (Normal : 100-120 x/menit)
Pemeriksaan laboratorium hematologi tanggal 27/08/05 :
1. WBC : 5.7 x103/mL (Normal : 4.0-10.0 x103/mL)
2. Netrofil : 4.0 x103/ mL (Normal : 2.0-6.90 x103/mL atau 35.0-88.7%)
3. Limfosit : 1.0 x103/mL (Normal : 0.60-3.40 x103/mL atau 12.0-44.0%)
4. Monosit : 0.6 x103/mL (Normal : 0.0-0.90 x103/mL atau 0.0-11.2%)
5.Eosinofil : 0.1 x103/mL (Normal : 1-4 %)
6. Basofil : 0.0 (Normal : 0-1%)
Assessment :
Hematologi pasien dalam batas normal, pasien immunocompromized dan
berisiko infeksi. Antibiotika yang digunakan berfungsi untuk mengobati radang
tenggorokan. Dosis pemberian antibiotikanya masih kurang, karena aturan
pemakaian amoksisilin ialah selama 4 hari, sehingga kasus ini masuk dalam
kategori drug related problems terkait dosis antibiotik yang terlalu rendah.
Rekomendasi:
1. Penggunaan antibiotika amoksisilin harus ditingkatkan menjadi 4 hari.
2. Monitor hematologi selanjutnya dan tanda-tanda infeksi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
48
Tabel XXI. Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca kemoterapi
pada kasus 15 dan 66 kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005.
Subyektif:
No RM : 01.19.06.82 (pasien 15), 47 th.
Mendapat antibiotik, yaitu : seftriakson 2x1 g selama 1 hari
Pasien 15 mendapat kemoterapi dengan inj. siklofosfamid 700mg, inj.
metotreksat 70mg, dan inj. 5FU 750mg. Pasien 66 mendapat kemoterapi dengan
xeloda.
Obyektif :
Ca Mammae Dextra
Tanda Infeksi :
1. Suhu : tanggal 15/11/05: 37°C (Normal)
2. Nadi : tanggal 15/11/05 : 90x/menit (Normal : 100-120 x/menit)
Pemeriksaan laboratorium hematologi tanggal 14/11/05 :
1. WBC : 6.61 x103/mL (Normal : 4.0-10.0 x103/mL)
2. Netrofil : 75 % (Normal : 2.0-6.90 x103/mL atau 35.0-88.7%)
3. Limfosit : 17 % (Normal : 0.60-3.40 x103/mL atau 12.0-44.0%)
4. Monosit : 3.6 % (Normal : 0.0-0.90 x103/mL atau 0.0-11.2%)
5. Eosinofil : 4.2 % (Normal : 1-4 %)
6. Basofil : 0.2 % (Normal : 0-1%)
Assessment :
Terjadi peningkatan proporsi eosinofil, sedangkan data hematologi lainnya
dalam
jumlah normal. Peningkatan eosinofil merupakan respon yang wajar
akibat pemberian kemoterapi. Kasus ini tidak ada indikasi terinfeksi namun
pasien mendapatkan antibiotika seftriakson 2x1 g selama 1 hari, sehingga kasus
ini termasuk dalam kategori DRPs tidak perlu antibiotika.
Rekomendasi :
1. Pada kondisi tersebut pasien tidak perlu mendapatkan terapi antibiotika
sehingga tidak dianjurkan menggunakan antibiotika.
2. Pantau terus hasil laboratorium khususnya hematologi dan tanda-tanda
infeksi.
Hal yang sama juga terjadi pada pasien dengan No RM : 01.19.39.38 (pasien 66).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
49
Tabel XXII. Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca kemoterapi
pada kasus 69 kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta
tahun 2005.
Subyektif:
No RM : 01.21.18.40, 42th. Keluhan setelah kemoterapi merasakan mual dan
muntah. Mendapatkan kemoterapi dengan inj. paxus 130 mg, dan inj.
doksorubisin 530 mg.
Obyektif :
Ca. Mammae stadium IV
Tanda Infeksi :
1.Suhu : tanggal 29/11/05: 37,5°C (Normal)
2.Nadi : tanggal 30/11/05 : 84x/menit (Normal : 100-120 x/menit)
Pemeriksaan laboratorium hematologi tanggal 29/11/05 :
1. WBC : 14,7 x103/mL (Normal : 4.0-10.0 x103/mL)
2. Netrofil : - (Normal : 2.0-6.90 x103/mL atau 35.0-88.7%)
3. Limfosit : - (Normal : 0.60-3.40 x103/mL atau 12.0-44.0%)
4. Monosit : - (Normal : 0.0-0.90 x103/mL atau 0.0-11.2%)
5.Eosinofil : - (Normal : 1-4 %)
6. Basofil : - (Normal : 0-1%)
Assessment :
Terjadi peningkatan jumlah WBC dari batas normal, peningkatan jumlah WBC
menandakan terjadinya infeksi pada tubuh pasien. Namun demikian, pasien
tersebut tidak mendapatkan antibiotika selama perawatannya. Oleh karena itu,
kasus ini termasuk dalam kategori DRPs pasien butuh antibiotika
Rekomendasi :
1. Pasien perlu mendapatkan terapi antibiotika empirik misalnya sefalosporin
generasi ke-3 yakni seftasidim 1-2 g (i.v) tiap 6-12 jam.
2. Perlu dilakukan tes kultur dan tes sensitifitas bakteri terhadap antibiotik.
3.
Pantau terus hasil laboratorium khususnya hematologi dan tanda infeksi lain.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
50
Tabel XXIII. Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca kemoterapi
pada kasus 20 dan 27 kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005.
Subyektif:
No RM : 01.18.00.33 (pasien 27), 55 th. Pasien 20 mendapatkan kemoterapi
dengan inj. doksorubisin 80mg dan inj. paxus 300mg. Pasien 27 mendapatkan
kemoterapi dengan inj. epirubisin 70 mg dan inj. endoksan 750mg.
Obyektif :
Ca Mamae Dextra T2N0M0
Tanda Infeksi :
1.Suhu : tanggal 07/07/05 : 36.5°C (Normal)
2. Nadi : tanggal 07/07/05: 80x/menit (Normal : 100-120 x/menit)
Pemeriksaan laboratorium hematologi tanggal 27/08/05 :
1. WBC : 4.0 x103/mL (Normal : 4.0-10.0 x103/mL)
2. Netrofil : 0.65 x103/mL (Normal : 2.0-6.90 x103/mL atau 35.0-88.7%)
3. Limfosit : 0.28 x103/mL (Normal : 0.60-3.40 x103/mL atau 12.0-44.0%)
4. Monosit : 0.03 x103/mL (Normal : 0.0-0.90 x103/mL atau 0.0-11.2%)
5.Eosinofil : 0.0 (Normal : 1-4 %)
6. Basofil : 0.0 (Normal : 0-1%)
Assessment :
Terjadi penurunan jumlah netrofil dari batas normal, dengan demikian pasien
potensial
mengalami infeksi, namun pasien tidak mendapatkan terapi
antibiotika, sehingga hal ini termasuk dalam kategori DRPs butuh antibiotika.
Rekomendasi:
1. Pasien membutuhkan antibiotika profilaksis yakni golongan kuinolon
misalnya ofloksasin dengan dosis 2x400mg untuk mencegah keparahan
infeksi yang dialami pasien.
2. Perlu pemberian rHu-GCSF untuk meningkatkan aktivitas netrofil sehingga
dapat menurunkan risiko infeksi dan akan mempercepat kesembuhan.
3. Perlu pemberian Macrophage Colony Stimulating Factor (M-CSF) untuk
meningkatkan jumlah limfosit.
Hal yang sama juga terjadi pada pasien dengan No RM 01.20.35.58 (pasien 20).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
51
Tabel XXIV. Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca kemoterapi
pada kasus 29 kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta
tahun 2005.
Subyektif:
No RM : 01.18.42.65, 38 th.
Mendapatkan antibiotika Baquinor® 2x500 mg selama 1 hari.
Mendapatkan kemoterapi dengan inj. siklofosfamid 600mg, inj. epirubisin
130mg, inj. 5FU 600mg.
Obyektif :
Carcinoma Mamae Dextra T4N1M0 komplikasi otitis media kronik benigna.
Tanda Infeksi :
1.Suhu : tanggal 15/09.05: 37°C (Normal)
2.Nadi : tanggal 15/09/05: 84x/menit (Normal : 100-120 x/menit)
Pemeriksaan laboratorium hematologi tanggal 02/05/05 :
1. WBC : 4,6 x103/mL (Normal : 4.0-10.0 x103/mL)
2. Netrofil : 56,9 % (Normal : 2.0-6.90 x103/mL atau 35.0-88.7%)
3. Limfosit : 31,1 % (Normal : 0.60-3.40 x103/mL atau 12.0-44.0%)
4. Monosit : 10,6 % (Normal : 0.0-0.90 x103/mL atau 0.0-11.2%)
5.Eosinofil : 0,1 % (Normal : 1-4 %)
6. Basofil : 0.3% (Normal : 0-1%)
Assessment :
Terjadi penurunan proporsi eosinofil sedangkan hematologi lainnya dalam batas
normal. Penurunan proporsi eosinofil merupakan respon yang wajar akibat
pemberian
kemoterapi. Namun demikian, pasien mendapatkan antibiotika
Baquinor® 2x500 mg oral selama 1 hari. Oleh karena itu kasus ini termasuk
dalam kategori DRPs tidak perlu antibiotika.
Rekomendasi :
1. Pada kondisi tersebut pasien tidak perlu mendapatkan terapi antibiotika,
sehingga pasien tidak dianjurkan untuk menggunakan antibiotika.
2. Pantau terus hasil laboratorium khususnya hematologi dan tanda-tanda
infeksi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
52
Tabel XXV. Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca kemoterapi
pada kasus 35 kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta
tahun 2005.
Subyektif:
No RM : 01.19.88.44, 36 th.
Mendapat antibiotik untuk dibawa pulang yaitu siprofloksasin 2 x 500mg, dan
metronidasol 3 x 500
mg. Pasien mendapatkan kemoterapi dengan inj. paxus 300mg, dan inj.
doksorubisin 70mg.
Obyektif :
Ca. Mamae Bilateral T4N2Mx dengan metastase paru dan hepar.
Tanda Infeksi :
1.Suhu : tanggal 05/10/05: 37°C (Normal)
2.Nadi : tanggal05/10/05 : 84x/menit (Normal : 100-120 x/menit)
Pemeriksaan laboratorium hematologi tanggal 04/10/05 :
1. WBC : 6.4 x103/mL (Normal : 4.0-10.0 x103/mL)
2. Netrofil :58.0% (Normal : 2.0-6.90 x103/mL atau 35.0-88.7%)
3. Limfosit : 8.5% (Normal : 0.60-3.40 x103/mL atau 12.0-44.0%)
4. Monosit : 9.7% (Normal : 0.0-0.90 x103/mL atau 0.0-11.2%)
5.Eosinofil : 1.4% (Normal : 1-4 %)
6. Basofil : 1.2% (Normal : 0-1%)
Assessment :
Terjadi penurunan proporsi eosinofil sedangkan jumlah hematologi lainnya
dalam batas normal. Penurunan proporsi eosinofil merupakan respon yang wajar
akibat pemberian kemoterapi. Namun demikian, pasien mendapatkan antibiotika
siprofloksasin 2 x 500mg, dan metronidasol 3 x 500mg untuk dibawa pulang.
Oleh karena itu kasus ini termasuk dalam kategori DRPs tidak perlu antibiotika.
Rekomendasi:
1. Pada kondisi tersebut pasien tidak perlu mendapatkan terapi antibiotika,
sehingga pasien tidak dianjurkan untuk menggunakan antibiotika.
2. Pantau terus hasil laboratorium khususnya hematologi dan tanda infeksi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
53
Tabel XXVI. Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca kemoterapi
pada kasus 37 kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta
tahun 2005.
Subyektif:
No RM : 01.20.20.20, 44 th.
Mendapat obat antiprotozoa yaitu metronidasol 3x500mg selama 1 hari.
Pasien mendapatkan kemoterapi dengan inj. siklofosfamid 600mg dan inj.
doksorubisin 60mg.
Obyektif :
Ca. Mammae Sinistra T4N0M0.
Tanda Infeksi :
1.Suhu : tanggal 16/11/05 : 38°C (Normal)
2.Nadi : tanggal 16/11/05 : 90x/menit (Normal : 100-120 x/menit)
Pemeriksaan laboratorium hematologi tanggal 16/11/05 :
1. WBC : 12,99 x103/mL (Normal : 4.0-10.0 x103/mL)
2. Netrofil : 77.1% (Normal : 2.0-6.90 x103/mL atau 35.0-88.7%)
3. Limfosit : 14.2% (Normal : 0.60-3.40 x103/mL atau 12.0-44.0%)
4. Monosit : 7.9% (Normal : 0.0-0.90 x103/mL atau 0.0-11.2%)
5.Eosinofil : 0.6% (Normal : 1-4 %)
6. Basofil : 0.2% (Normal : 0-1%)
Assessment:
Terjadi peningkatan jumlah WBC, berarti pasien terinfeksi. Metronidasol yang
diberikan harus dikombinasikan dengan antibiotik golongan β-laktam untuk
meningkatkan efek sinergis, oleh karenanya kasus ini termasuk dalam kategori
DRPs antibiotik yang tidak tepat
Rekomendasi:
1. Metronidasol dikombinasikan dengan sefalosporin generasi ke-3 yakni
seftasidim 1 g (i.v) tiap 6-12 jam. Metronidasol untuk infeksi anaerob dengan
dosis anjuran 3 x 500mg secara per oral selama 7 hari.
2. Perlu dilakukan tes kultur dan tes sensitifitas bakteri terhadap antibiotika
3. Pantau terus hasil laboratorium hematologi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
54
D. Dampak/Outcome Pasien
Dampak/outcome yang diperoleh pasien kanker payudara pasca
kemoterapi dilihat dalam dua hal yakni pada kasus infeksi/potensial infeksi dan
kankernya sendiri. Dampak/outcome yang terjadi disajikan dalam bentuk tabel.
Tabel XXVII. Dampak/Outcome yang terjadi setelah pasien mendapatkan
perawatan di rumah sakit.
Kondisi
Infeksi
Potensial infeksi
Kanker
Dampak/Outcome
Membaik
Belum sembuh
Membaik
Membaik
Belum sembuh
Jumlah kasus
2
3
3
50
22
Prosentase (%)
2,8
7,1
7,1
71,4
31,4
E. Rangkuman Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemilihan dan penggunaan
antibiotika pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2005. Berdasarkan data rekam medis, ditemukan 70 pasien
kanker payudara pasca kemoterapi.
1. Gambaran umum kasus kanker payudara pasca kemoterapi
Gambaran umum yang dilihat meliputi umur, riwayat kanker dalam
keluarga, stadium, frekuensi pemberian kemoterapi, komplikasi dan penyakit
penyerta. Berdasarkan kelompok umur terdapat 2 kasus umur <30 tahun, 9 kasus
umur 30-39 tahun, 28 kasus umur 40-49 tahun, 18 kasus umur 50-59 tahun, 6
kasus umur 60-69 tahun, 2 kasus umur 70-79 tahun, dan 5 kasus tidak diketahui
umurnya.
Dari tujuh puluh (70) pasien yang dirawat hanya 3 kasus yang memiliki
riwayat kanker payudara dalam keluarga. Berdasarkan tingkat stadiumnya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
55
terdapat 25 pasien stadium IV, 21 pasien stadium IIIB, 9 pasien stadium IIIA, 4
pasien stadium IIB, 2 pasien stadium IIA, dan 1 pasien stadium I. Faktor hereditas
yang ada dalam keluarga (riwayat kanker pada keluarga) merupakan faktor risiko
yang paling utama dalam menyebabkan kanker.
Frekuensi pemberian kemoterapi yang paling banyak dilakukan yaitu 8
kali dengan 1 kasus dan paling sedikit 1 kali dengan 22 kasus. Komplikasi yang
menyertai kasus kanker payudara pasca kemoterapi yakni netropenia, leukositosis,
dan limfosistosis. Penyakit penyerta yang diderita pasien kanker payudara pasca
kemoterapi yaitu diabetes melitus, hipertensi dan asma.
3. Pola Penggunaan Obat
Tabel XXVIII. Pengelompokan obat berdasarkan kelas terapi untuk penangan
kanker payudara.
No
Obat berdasarkan kelas terapi
1.
obat antibiotik
2.
obat antineoplastik
3.
obat saluran cerna
4.
obat saluran nafas
5.
obat sistem syaraf pusat
6.
obat analgesik
7.
obat hormonal
8.
obat antialergi
9.
obat gizi
10.
obat untuk penyakit otot skelet dan sendi
11.
obat untuk sistem endokrin dan metabolik
12.
obat untuk kardiovaskuler
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
56
Dari tujuh puluh (70) pasien kanker payudara pasca kemoterapi hanya 9
pasien yang mendapatkan antibiotika. Sembilan (9) pasien tersebut termasuk
pasien yang potensial infeksi, infeksi dan salah obat. Kenyataannya ada 3 pasien
yang potensial infeksi, 5 pasien positif terinfeksi, dan 4 pasien tidak
infeksi/potensial infeksi tetapi diberikan antibiotika dalam terapinya
Tabel XXIX. Golongan dan jenis antibiotika yang digunakan pasien kanker
payudara pasca kemoterapi di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta
tahun 2005.
No
Golongan Antibiotika
Jenis Antibiotika
1.
Penisillin
2.
Sefalosporin
3.
4.
5.
Kuinolon
Aminoglikosida
Antibiotika anaerob
Ampisilin
Amoksisilin klavulanat
Seftriakson
Seftasidim
Siprofloksasin
Gentamisin
Metronidasol
3. DRPs terkait penggunaan antibiotika
Dari tujuh puluh (70) pasien kanker payudara pasca kemoterapi yang
diteliti, terdapat 9 kasus yang mengalami Drug Related Problems (DRPs) terkait
dengan penggunaan antibiotika. Sembilan (9) kasus tersebut meliputi 3 kasus
butuh antibiotika, 4 kasus tidak butuh antibiotika, 1 kasus pemberian antibiotik
yang tidak tepat, dan 1 kasus pemberian antibiotik dengan dosis kurang.
Tabel XXX. Drug Related Problems antibiotika tidak tepat.
No. RM
01.20.20.20
Permasalahan
pasien
mendapatkan
metronidasol
3x500mg
selama 1 hari
Penilaian
terjadi peningkatan
jumlah
WBC,
metronidasol perlu
dikombinasi
Anjuran
Metronidasol
dikombinasi
dengan
sefalosporin generasi
ketiga
misalnya
seftasidim, lakukan tes
kultur kuman.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
57
Tabel XXXI. Drug Related Problems tidak perlu antibiotika.
No. RM
01.19.06.82
01.19.39.38
01.18.42.65
01.19.88.44
Permasalahan
Penilaian
mendapatkan
terjadi peningkatan
seftriakson 2x1g proporsi eosinofil,
selama 1 hari
sedangkan
hematologi lainnya
normal
mendapatkan
terjadi peningkatan
siprofloksasin
proporsi eosinofil,
®
(Baquinor )
sedangkan
2x500mg
hematologi lainnya
selama sehari
normal
mendapatkan
terjadi penurunan
siprofloksasin
proporsi eosinofil,
2x500mg
dan sedangkan
metronidasol
hematologi lainnya
3x500mg
normal
Anjuran
pantau
terus
hasil
laboratorium khusunya
hematologi dan tandatanda infeksi
pantau
terus
hasil
laboratorium khusunya
hematologi dan tandatanda infeksi
pantau
terus
hasil
laboratorium khusunya
hematologi dan tandatanda infeksi
Tabel XXXII. Drug Related Problems butuh antibiotika.
No. RM
01.21.18.40
Permasalahan
Infeksi
01.18.00.33
01.20.35.58
Potensial
terinfeksi
Penilaian
Anjuran
Berikan
antibiotika
terjadi peningkatan empirik. Perlu dilakukan
jumlah WBC
tes kultur dan pantau
terus hasil laboratorium
hematologi selanjutnya
terjadi penurunan berikan
antibiotika
jumlah netrofil
profilaksis,
berikan
Macrophage
Colony
Stimulating Factor (MCSF)
untuk
meningkatkan
jumlah
limfosit
serta
terus
memantau hematologi
selanjutnya dan tanda
infeksi.
Tabel XXXIII. Drug Related Problems Dosis antibiotika yang diberikan rendah.
No. RM
Permasalahan
Penilaian
01.19.03.51 mendapatkan pasien
berisiko
amoksisilin
immunocompromize,
3x500mg
dan berisiko infeksi.
selama 1 hari
Anjuran
penggunaan amoksisilin
harus
ditingkatkan
menjadi 4 hari, dan
monitor
hematologi
selanjutnya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
58
Tabel XXXIV. Ringkasan kasus Drug Related Problems
No
1
Status kondisi pasien
POTENSIAL INFEKSI
4
INFEKSI
No. Rekam Medik
01.18.00.33
01.20.35.58
01.21.18.40
01.19.06.82
01.19.39.38
01.19.88.44
01.18.42.65
01.20.20.20
2
3
INFEKSI
TIDAK
INFEKSI/POTENSIAL
TERINFEKSI
5
POTENSIAL INFEKSI
01.19.03.51
DRPs yang terjadi
Butuh Antibiotika
Butuh Antibiotika
Tidak Perlu
Antibiotika
Antibiotika Tidak
Tepat
Dosis terlalu rendah
4. Dampak/Outcome pasien
Tabel XXXV. Dampak/Outcome yang terjadi setelah pasien mendapatkan
perawatan di rumah sakit.
Kondisi
Infeksi
Potensial infeksi
Kanker
Dampak/Outcome
Membaik
Belum sembuh
Membaik
Membaik
Belum sembuh
Jumlah kasus
2
3
3
50
22
Prosentase (%)
2,8
7,1
7,1
71,4
31,4
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
59
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pasca
kemoterapi pada kasus kanker payudara di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun
2005, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1. Profil pasien : kelompok umur terbanyak 40-49 tahun 40%, 3 kasus memiliki
riwayat kanker dalam keluarga; stadium terbanyak diderita stadium IV (25
kasus); frekuensi kemoterapi terbanyak 8x (1 kasus) dan paling sedikit 1x (22
kasus); komplikasi leukositosis 5 kasus, netropenia 2 kasus, dan limfositosis 3
kasus; penyakit penyerta diabetes mellitus 1 kasus, hipertensi 4 kasus, dan
asma 1 kasus .
2. Terdapat
12
kelas
terapi
obat
yang
digunakan:
antibiotik,
antineoplastik/sitotoksik, obat saluran cerna, obat saluran nafas, obat sistem
syaraf pusat, analgesik, obat hormonal, antialergi, obat gizi, obat untuk otot
skelet dan sendi, obat sistem endokrin dan metabolik, dan obat kardiovaskuler.
Ada 5 golongan dan 7 jenis antibiotika.
3. Drug Related Problems yang terjadi terkait penggunaan antibiotika: 3 kasus
butuh antibiotik, 4 kasus tidak perlu antibiotik, 1 kasus antibiotik tidak tepat,
dan 1 kasus dosis antibiotik terlalu rendah.
4. Dampak/outcome yang terjadi: pada infeksi/potensial infeksi 5 kasus membaik
dan 3 kasus belum sembuh, pada kankernya sendiri 50 kasus membaik dan 22
kasus belum sembuh.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
60
B. Saran
1. Dapat dilakukan penelitian yang sama namun dengan penanganan kasus yang
berbeda misalnya : mengevaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pada
kasus kanker payudara pasca mastectomy.
2. Dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan analisa dari segi ekonomi meliputi
biaya perawatan, harga obat yang digunakan, dan kemampuan ekonomi pasien
pada lokasi penelitian yang berbeda agar dapat diketahui jumlah kasus kanker
payudara yang terjadi di tempat tersebut dan kesanggupan pasien untuk
mengupayakan kesembuhan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
61
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2000a, Artikel Kanker Payudara, http://www.infokes.com, diakses
Januari 2006.
Anonim, 2000b, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, 4-5, 228-234,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jendral
Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.
Anonim, 2001, Kanker, http://www. litbang.depkes.go.id, diakses Februari 2006.
Anonim,
2002, Kemajuan Pengobatan Kanker
Kompas.com, diakses Februari 2006.
Payudara,
http://www.
Anonim, 2003a, RS. Dr. Sardjito, http://www.pdspersi.co.id, diakses Februari
2006.
Anonim, 2003b. Penatalaksanaan Kanker Payudara Terkini, RS. Dharmais
Pustaka Populer Obor, Jakarta, 4, 6-7, 78-79, 109-111.
Anonim, 2006a, Cermin Dunia Kedokteran : Terapi dan Profilaksis Netropenia
akibat kemoterapi Cermin Dunia Kedokteran, PT. Kalbe Farma, Jakarta,
hal 61.
Anonim, 2006b, MIMS Indonesia, Media Asia, Singapore.
Anonim, 2007, Cancer, Chemoterapi, Anemia and Fatigue: What’s the
Connection?,
http://www.anemia.com/anemia/anemiacancer.html.
Diakses pada tanggal 15 Mei 2007.
Archer, G.L. dan Polk, R.E., 1998, Treatment and Profilaksis of Bacterial
Infections in Horrison’s Principle of Internal Medicine, 16th Edition, part
seven.
Cipolle, R.S., Strand, L.M., and Morley, P.C., 1998, Pharmaceutical Care
Practise, Mc Graw-Hill, New York, 73-111.
Djoerban,
2004,
Kanker
Payudara
Serang
9
Persen
http://www.kompas.com/kesehatan/0503/29/084357,htm,
Februari 2006.
Wanita,
diakses
Finberg, R., 2005, Infection in Patient with Cancer in Horrison’s Principle of
Internal Medicine, 16th Edition, part five.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
62
Guiliano, M.D.A.E., Breast in Current Medical Diagnosis & Treatment 2002, 41th
Edition, Chapter XVI.
Kalantaridou, S., dkk., 1999, Hormone Therapy in Women in Pharmacotherapy A
Pathophysiologic Approach, 6th Edition, 1493-1514, Mc. Graw-Hill
Medical Publishing Division, New York.
Katzung, B.G., 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, 180-197, Penerbit Salemba
Medika, Jakarta.
Koda Kimble, M.A., Young, L.Y., 2001, Applied Therapeutic The Clinical Use of
Drugs, 7th Ed, Lippincount Williams & Wilkins, Baltimon, Ch 87.
Lestari, G.P., 2005, Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pasca Kemoterapi pada
Pasien Leukemia Di RS. Dokter Sardjito Yogyakarta tahun 2004, Skripsi
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Lippman, M.E., 1998, Breast Cancer in Horrison’s Principle of Internal
Medicine, 16th Edition, part six.
Moningkey, S. I., 2000, Epidemologi Kanker Payudara, Medika ; Januari 2000,
Jakarta.
National
Cancer
Institute,
2005
General
Information,
http://www.nci.nih.gov/cancertopics/pdq/treatment/breast/healthprofessio
nal. Diakses 23 Agustus 20006.
National Comprehensive Cancer Network (NCCN), 2002, Fever and Neutropenia
Treatment Guidelines For Patient with Cancer, NCCN and ACS
(American Cancer Society), USA. Diakses 29 September 2006.
Noorwati, 2003, Farmakologi Obat-obat Kemoterapi dan Hubungannya dengan
Siklus Sel, RS. Dharmais, Jakarta.
Ramli, Umbas R., Sonar S.P., 2000, Deteksi Dini Kanker, Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Revianti, M.K.A.Y., 2005, Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pasca Kemoterapi
pada Pasien Kanker Payudara Di RS. Panti Rapih Yogyakarta tahun
2004, Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Rugo, S.H.MD., 2001, Cancer in Current Medical Diagnosis & Treatment 2002,
41th Edition, Chapter IV.
Setiabudy, R. dan Gan V.H.S., 1995, Pengantar Antimikroba, Farmakologi dan
Terapi, Edisi 4, 571-572, Gadjah Mada University press, Yogyakarta.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
63
Sukardja, I.D.G., 1995, Terapi Paliatif Kanker Payudara in Pertemuan Ilmiah
Nasional ke-1 Perhimpunan Onkologi Indonesia, Bandung.
Tjindarbumi, 2000, Deteksi Dini Kanker Payudara dan Penanggulangannya,
Dalam : Deteksi Dini Kanker, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
Underwood JEC, 2001, House Officer Series Hematology, EGC, Jakaerta, 1-2.
Walker, R. dan Edwards, C., 1999, Clinical Pharmacy and Therapeutics,. 2nd
Edition, 58-63 dan 742-743, Churchill Livingstone IN, UK.
Weaver, C.H., 2002, Myelosuppression, http://www.411-cancer, diakses 16 Mei
2007.
Yuliani, 2000, Faktor Risiko Kanker Payudara, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 1
DATA PASIEN KANKER PAYUDARA PASCA KEMOTERAPI
YANG DIRAWAT DI RSUP. Dr. SARDJITO
TAHUN 2005
No
Kasus
1
Data Pasien
Diagnosis
No. RM : 00.68.22.34
Usia/ JK : 42 th / W
Dirawat ke : 10
Masuk : 10/08/05
Keluar : 11/08/05
R. Penyakit Kelurga : kanker
Tanda Vital
TD : 130/90
Suhu : 36,5
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-8
Masuk : Ca Mammae
Dextra T3N2M0
Keluar : Ca Mammae
Dextra T3N2M0
Data Laboratorium
Keluhan
Terapi
Tgl 09/ 08/05
Masuk : -
Non Farmakologi : -
WBC: 7.1 x103
Neut : 4.5 x103
Lym : 1.8 x103
Mon : 0.7 x103
Eos : 0.1 x103
Baso: -
Selama Perawatan :
resiko muntah dan cemas
Farmakologi :
Inj. Kalmetason 2 amp
Inj. Dipenhidramin 5 amp (1x)
Inj. Simetidin 1 amp
Frazon 10 (3x1)
Simetidin 20 (3x1)
Neurobion I
Ulsikan I
Inj. Frazon 8 mg II
Paxus 30 mg VII (dlm intralit)
Intralit I
Lama Pemberian
Hasil
Perawatan
Belum sembuh
10/8, 11/8
10/8
10/8, 11/8
11/8
11/8
11/8
11/8
10/8, 11/8
10/8
Obat yang dibawa pulang :
Frazon (3x1))
Simetidin (3x1)
2
No. RM : 01.14.92.37
Usia/ JK : 36 th / W
Dirawat ke : ke-2
Masuk : 06/06/05
Keluar : 13/06/05
R. Penyakit Kelurga : Tanda Vital
TD : 120/70
Suhu : Nadi : 88 x/ menit
R. Pengobatan : post kemoterapi ke1 dan post mastectomy
Tindakan yang dilakukan : trasfusi
PRC dan pada hari ke-5 dilakukan
kemoterapi ke-2
Masuk : Ca Mammae
Dextra
(Progresive
Disease)
Keluar : Ca Mammae
Dextra
(Progresive
Disease)
Tgl
06/06/05
09/06/05
Masuk : Payudara kanan
ada luka post operasi.
Payudara kiri ada bekas
operasi. Lengan : oedem
⊕, hiperemis ⊕, NT ⊕.
Pada
Px
tersebut
didapatkan
problem
anemia
(Hb
7.9),
Hipoalbuminemia
(albumin 2.8).
WBC: 5.12 x103
Neut : 76.0%
Lym : 14.0%
Mon : 5.9%
Eos : 3.9%
Selama Perawatan : Pada
hari ke V perawatan SS
dimasukkan,
keluhan
post SS : mual ⊕,
muntah
⊕,
rambut
WBC: 5.18 x10
Neut : 68.6 %
Lym : 17.9 %
Mon : 8.3 %
Eos : 4.6 %
Baso: 0.6 %
Tgl
3
Belum sembuh
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Karbohidrat Tinggi Protein
Farmakologi :
inf. D5% lini
Nerviton E 1x1
PRC 1 kolf
Paxus 300 mg
Karboplatin 450 mg
06/06, 07/06
06/06, 07/06
07/06
11/06
11/06
64
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Baso: 0.2%
Tgl
rontok, nafsu makan ↓.
12/06/05
WBC: 7.65 x103
Neut : 85.2%
Lym : 11.4%
Mon : 2.6%
Eos : 0.5%
Baso: 0.3%
3
4
No. RM : 01.19.76.51
Usia/ JK : 58 th / W
Dirawat ke : 3
Masuk : 16/11/05
Keluar : 19/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 36,5
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : post mactectomy
dan post kemoterpi ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
Masuk : Ca Mammae
Dextra T4NoMo.
Ca Mammae SinistraResidif.
No. RM : 01.18.73.85
Usia/ JK : 39 th / W
Dirawat ke : 1
Masuk : 20/06/05
Keluar : 16/07/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 37
Nadi : 85 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-1
Masuk : Ca ductal
infiltratif Mammae S
Keluar : Ca Mammae
Dextra T4NoMo.
Ca Mammae SinistraResidif.
Keluar : Ca ductal
infiltratif Mammae S
Tgl
-/-/-
Masuk : -
Membaik
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
WBC: 7.3x103
Neut : 3.6 x103
Lym : 2.7 x103
Mon : 0.7 x103
Eos : 0.3 x103
Baso: 0.0 x103
Selama Perawatan : -
Tgl - / - / -
Masuk : -
Non Farmakologi : -
WBC: 7.2 x103
Neut : 4.2 x103
Lym : 2.2 x103
Mon : 0.4 x103
Eos : 0.4 x103
Baso: -
Selama Perawatan : -
Farmakologi :
Inj. Siklofosfamid 750 mg
Inj. Adriamisin 75 mg
Inj. 5FU 750 mg
Farmakologi :
Inj. Frazon 1 amp
Inj. Simetidin 1 amp
Inj. Kalmetason 1 amp
Inj.Siklofosfamid 700 mg
Inj. Epirubisin
60 mg
Inj. SFU
750 mg
Simetidin 3x1
Frazon 2x1
17/11
17/11
17/11
17/11
17/11
17/11
18/11, 19/11
18/11, 19/11
Belum sembuh
14/07
14/07
14/07
65
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
5
6
7
No. RM : 01.18.69.90
Usia/ JK : 66 th / W
Dirawat ke : 1
Masuk : 19/05/05
Keluar : 04/06/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/80
Suhu : 36,4
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
No. RM : 01.18.58.64
Usia/ JK : 46 th / W
Dirawat ke : 1
Masuk : 18/05/05
Keluar : 19/05/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/70
Suhu : 37
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
Masuk : Ca Mammae
Dextra
Keluar : Ca Mammae
Dextra + Hiperglikemi
Tgl - / - / -
Masuk : -
Non Farmakologi :-
WBC: 6.2 x103
Neut : 3.8 x103
Lym : 1.9 x103
Mon : 0.2 x103
Eos : 0.3 x103
Baso: -
Selama Perawatan :
Hiperglikemia , nafsu
makan turun
Farmakologi :
Tamoxifen 2x 10 mg
Tgl
Masuk : -
Non Farmakologi : -
Selama Perawatan : -
Farmakologi :
Inj. Pentotal 1 amp
Inj. Dexamet 2 amp
Inj. Vomceran 8 mg
Inj. Epirubisin 10 mg NaCl 100
cc (2x)
Inj. Endoxan 1 gr NaCl 100 cc
(2x)
RI 3x2 unit
RI 3x6 unit
Glurenorm 30 mg 1-1-0
Becom-C 1x1
Inj.Siklofosfamid 750 mg
Inj. Adriamisin 75 mg
Inj. 5FU 750 mg
RI 3x8 unit
:
Masuk :Ca Mammae
Sinister T3N1M1
Keluar : Ca Mammae
Sinister T3N1M1
-/-/-
WBC: 7.8 x103
Neut : 60 %
Lym : 32 %
Mon : 2 %
Eos : 3 %
Baso: 3 %
23/05, 25/08,
27/05
27/05
30/5
03/06
03/06
03/06
03/06
03/06
03/6
Membaik
18/05
18/05
18/05
18/05
18/05
Obat yang dibawa pulang :
Vomceran 3x1
Qten
2x1
:
No. RM : 01.18.60.74
Usia/ JK : 50 th / W
Dirawat ke : 2
Masuk : 04/06/05
Keluar : 08/06/05
R. Penyakit Keluarga : Hipertensi
Tanda Vital
TD : 220/110
Suhu : 36,5
Nadi : 108 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi yang ke-1
Membaik
Masuk : Ca Mammae
Dextra T3N4M0
Masuk : -
Tgl - / - / 3
Keluar : Ca Mammae
Dextra T3N4M0 dan
hipertensi
WBC: 7.1 x10
Neut : 4.8 x103
Lym : 1.7 x103
Mon : Eos : Baso: -
Selama Perawatan :
mual, muntah, rambut
rontok, lemah
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Narfoz 10 mg 1x1
HCT 1x1
Inj. Siklofosfamid 500 mg
Inj, Epirubisin
60 mg
Inj. 5FU 500 mg
04/06 s.d 07/06
Belum sembuh
06/06
06/06
07/06
07/06
07/06
07/06
66
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
8
9
10
No. RM : 01.19.37.93
Usia/ JK : 53 th / W
Dirawat ke : :2
Masuk : 07/12/05
Keluar : 08/12/05
R. Penyakit Kelurga : Tanda Vital
TD : 130/90
Suhu : 36
Nadi : 84x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke- 6
Masuk : Ca Mammae
Sinister
Keluar : Ca Mammae
Sinister
Tgl - / - / -
Masuk : -
WBC: 4.6 x 103
Neut : Lym : Mon : Eos : Baso: -
Selama Perawatan : mual
muntah, nafsu makan
turun.
Non Farmakologi : Diet Timggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Vomceran 8 mg / iv
Siklofosfamid 700 mg/NaCl 100
ml
Epirubisin 75 mg/ NaCl 100 ml
Fluracedryl 750 mg/ NaCl 100
ml
07/12
Membaik
07/12
07/12
07/12
07/12
:
No. RM : 01.19.47.41
Usia/ JK : 24 th/ W
Dirawat ke : 4
Masuk : 13/10/05
Keluar : 15/10/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 36.6
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
No. RM : 01.19.03.51
Usia/ JK : 56 th / W
Dirawat ke : 2
Masuk : 26/08/05
Keluar : 28/8/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 140/90
Suhu : 37
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post masectomy
dan post kemoterapi ke-2
Masuk : Ca Mammae
Sinister
ductal
infiltratif T4N1Mo
Keluar : Ca Mammae
Sinister
ductal
infiltratif T4N1Mo
Masuk : Ca Mammae
T4N3M1
Tgl - / - / WBC: 8.6 x10
Neut : 4.2 x103
Lym : 2.5 x103
Mon : 1.2 x103
Eos : 0.1 x103
Baso: 0.6 x103
Non Farmakologi : -
Selama Perawatan : -
Farmakologi :
Inj. Siklofosfamid 700 mg
Inj. Epirubisin
100 mg
Inj. Flurourasil 700 mg
Masuk : -
Tgl - / - / 3
Keluar : Ca Mammae
T4N3M1
dengan
problem
metastase
hepar dan tulang.
Masuk : -
Belum sembuh
3
WBC: 5.7 x10
Neut : 4.0 x103
Lym : 1.0 x103
Mon : 0.6 x103
Eos : 0.1 x103
Baso: 0.0 x103
Selama Perawatan :
nyeri sendi, batuk, nyeri
tenggorokan
mual,
muntah, rambut rontok
Non Farmakologi : Diet Timggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Inf. D5% lini
Nerviton E 1x1
Amoksisilin 3x500 mg
As. Mefenamat 3x1
Inj. Siklofosfamid 600 mg
Inj. Epirubisin
60 mg
Inj. Flurourasil 600 mg
14/10
14/10
14/10
26/08 s.d 28/08
Membaik
27/08
27/08
27/08
27/08
27/08
27/08
27/08
67
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tindakan
yang
kemoterapi ke-3
11
12
13
dilakukan
No. RM : 01.06.31.52
Usia/ JK : 43 th / W
Dirawat ke : 1
Masuk : 22/07/05
Keluar : 23/07/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/60
Suhu : 36
Nadi : 88 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
Masuk : Ca Mammae
Sinister std IV
TIDAK ADA DATA
LAB.
Masuk : -
Non Farmakologi : -
Selama Perawatan : -
Farmakologi :
Inj. Doksorubisin 80 mg
Inj. Paxus 210 mg
Keluar : Ca Mammae
Sinister std IV
Membaik
22/07
22/07
:
No. RM : 01.16.32.23
Usia/ JK : 47 th / W
Dirawat ke : 5
Masuk : 03/05/2005
Keluar : 04/06/2005
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 100/70
Suhu : 36.4
Nadi
: 80 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-4
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-5
Masuk : : Ca Mammae
T3N2Mx
No. RM : 01.19.96.49
Usia/ JK : 50 th/ W
Dirawat ke : 2
Masuk : 28/09/05
Keluar : 29/09/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 36.2
Nadi
: 84 x/menit
Masuk : Ca Mammae
Duplex std IV
Keluar : : Ca Mammae
T3N2Mx
Keluar : Ca Mammae
Duplex std IV
Masuk : -
Non Farmakologi : -
WBC: 4.3 x103
Neut : 3.1 x103
Lym : 0.6 x103
Mon : 0.5 x103
Eos : 0.1 x103
Baso: 0.1 x103
Selama Perawatan :
Pasien
mengatakan
cemas, tiap kali obat
masuk mual dan muntah
Farmakologi :
Narvos 8 mg II (2x)
Inj. Doksorubisin 50 mg I
Inj. Doksorubisin 10 mg I
Inj. Paxus 30 mg
VI
Infus set Intralite
I
Inj. NaCl I
Inj. Zantac I
Deksametason I
Dipenhidramin I
Tgl
Masuk : -
Non Farmakologi : -
Selama Perawatan : mual
dan muntah
Farmakologi :
Cedantin 8 mg
Inj. Deksametason 2 amp
Delladryl 2 cc
Inj. Rantin 2 amp
NaCl 100 cc
Inj. Doksorubisin 70 mg +
D5%
Tgl
-/-/-
-/-/-
WBC: 6.1 x10
Neut : 5.3 x103
Lym : 0.5 x103
Mon : 0.2 x103
Eos : 0.2 x103
Baso: -
3
Membaik
03/06
03/06
03/06
03/06
03/06
03/06
03/06
03/06
03/06
Belum sembuh
28/09
28/09
28/09
28/09
28/09
28/09
68
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-1
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-2
14
15
16
No. RM : 01.19.34.27
Usia/ JK : 38 th/ W
Dirawat ke : 4
Masuk : 25/10/05
Keluar : 31/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 105/75
Suhu : 37
Nadi
: 88 x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
Masuk : Ca Mammae
Dextra T4CN0M0
Keluar : Ca Mammae
Dextra T4CN0M0 +
paru
Tgl
-/-/-
WBC: 4.2 x103
Neut : 2.0 x103
Lym : 1.5 x103
Mon : 0.6 %
Eos : 0.1 %
Baso: -
Masuk : pasien
mengeluh benjolan
bertambah nyeri, keluar
cairan, nanah dan darah,
nafsu makan dan minum
turun, berat badan turun,
mual muntah , cepat
terasa kenyang, sesak
nafas −,batuk −, buang
air besar dan buang air
kecil tidak ada keluhan.
Selama Perawatan
mengalami nyeri
No. RM : 01.19.06.82
Usia/ JK : 47 th / W
Dirawat ke : 6
Masuk : 14/11/05
Keluar : 16/11/05
R. Penyakit Kelurga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 37
Nadi : 90 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-4
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-5
Masuk : Ca Mammae
Dextra
No. RM : 01.17.13.81
Usia/ JK : 47 th / W
Dirawat ke : 7
Masuk : 19/10/05
Keluar : 20/10/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
Masuk : Ca Mammae
Dextra T3N0M1
Keluar : Ca Mammae
Dextra
Tgl
-/-/-
28/09
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
25/10 s.d. 31/10
Farmakologi :
Inj. Siklofosfamid 700 mg
Inj. Adriamisin 70 mg
Inj. 5FU 700 mg
Non Farmakologi : -
WBC: 6.61 x103
Neut : 75 %
Lym : 17 %
Mon : 3.6 %
Eos : 4.2 %
Baso: 0.2 %
Selama Perawatan : -
Farmakologi :
Inj. Frazon 1 amp
Inj. Simetidin 1 amp
Inj. Kalmetason 1 amp
Inj. Siklofosfamid 700 mg
Inj. Metotreksat
70 mg
Inj. 5FU 750 mg
Ceftriaxon 2x1 g
Tradil 3x1
Inj. Neurosanbe 2x1 amp
Tgl - / - / -
Masuk : -
Non Farmakologi : -
Selama Perawatan : -
Farmakologi :
Medixon 20 mg (2x)
Inj. Dipenhidramin 50 mg
Inj. Rantin 50 mg
Inj. Paxus 330 mg
WBC: 5.8 x10
Neut : 2.9 x103
Lym : 2.2 x103
Mon : Eos : -
Belum sembuh
26/10
26/10
26/10
:
Masuk : -
3
Keluar : Ca Mammae
Dextra T3N0M1
100 cc
Inj. Paxus 240 mg + Intralite
500 cc
Membaik
15/11
15/11
15/11
15/11
15/11
15/11
15/11
15/11
15/11
Belum sembuh
19/10
20/10
20/10
20/10
69
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Baso: -
TD : 110/70
Suhu : 36.5
Nadi
: 88 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke- 5
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-6
17
No. RM : 01.20.58.80
Usia/ JK : 50 th / W
Dirawat ke : 2
Masuk : 25/10/05
Keluar : 27/10/05
R. Penyakit Keluarga :
Tanda Vital
TD : 120/70
Suhu : 36.6
Nadi
: 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-1
Tindakan
yang
kemoterapi ke-2
18
dilakukan
Masuk : Ca Mammae
sinistra std IV
Keluar : Ca Mammae
sinistra std IV invasi
ke pembuluh darah
Tgl
Deksametason 2x 20 mg
-/-/-
Masuk : -
WBC: 4.52 x103
Neut : 6.05 x103
Lym : 2.4 x103
Mon : 1.1 x103
Eos : 0.33 x103
Baso: 0.11 x103
Selama Perawatan : mual
Tgl - / - / -
Masuk : -
WBC: 8.43 x103
Neut : 71.5 %
Lym : 2.03 x103
Mon : 0.76 %
Eos : 0.05 %
Baso: 0.01 %
Selama Perawatan : mual
dan rambut rontok
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Inf. NaCl 0.9 % lini
Roborantin 1x1
Nerviton E 1x1
Siklofosfamid 800 mg
Doksorubisin 80 mg
20/10
25/10 s.d 27/10
Belum sembuh
25/10
25/10
26/10
26/10
26/10
:
No. RM : 01.20.74.94
Usia/ JK : 42 th / W
Dirawat ke : 2
Masuk : 08/11/05
Keluar : 12/11/05
R. Penyakit Keluarga :
Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 36.5
Nadi
: 80 x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-1
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-2
Masuk : Ca Mammae
dextra T3N0M0
Keluar : Ca Mammae
dextra T3N0M0
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Grabion 1x1
inf. NaCl 0.9 % lini
Inj. Siklofosfamid 750 mg
Inj. Doksorubisin 75 mg
Roborantin 1x1
09/11 s.d. 12/11
Membaik
09/11 s.d. 12/11
09/11 s.d. 12/11
12/11
12/11
12/11
70
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
19
20
21
No. RM : 01.19.63.68
Usia/ JK : 46 th / W
Dirawat ke : 2
Masuk : 29/09/05
Keluar : 30/09/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/60
Suhu : 36.6
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post kmoterapi ke3
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-4
Masuk :
Ca Mammae Dextra
T3N0M1
No. RM : 01.20.35.58
Usia/ JK : -/ W
Dirawat ke : 2
Masuk : 23/11/05
Keluar : 2/12/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 36.4
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
Masuk : Ca Mammae
std IV bilateral
No. RM : 01.14.20.43
Usia/ JK : 31 th/ W
Dirawat ke : 3
Masuk : 31/12/05
Keluar : 01/01/06
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Keluar : Ca Mammae
Dextra T3N0M1
Tgl
WBC: 4.66 x103
Neut : 3.97 %
Lym : 3.43 %
Mon : 1.91 %
Eos : 0.52 %
Baso: 0.17 %3
Tgl
Selama
pusing
Perawatan
WBC: 10.2 x10
Neut : 1.3 x103
Lym : 1.7 x103
Mon : Eos : Baso: -
Selama Perawatan :
nyeri pinggang, luka Ca
pada Mammae kanan,
nyeri ⊕
Tgl - / - / -
Masuk : -
WBC: 2.2 x103
Neut : Lym : Mon : Eos : Baso: -
Selama Perawatan :
cemas,
dan
pasca
kemoterapi
mualmuntah.
:
Masuk : Ca Mammae
T4N2Mx
Keluar : Ca Mammae
T4N2Mx
29/09
Belum sembuh
:
Masuk : -
-/-/3
Keluar : Ca Mammae
std IV bilateral
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Masuk : -
-/-/-
Farmakologi :
Systenol 1 tab
inf. NaCl
inj. Frazon 8 mg 1 amp
Inj. Simetidin 1 amp
Inj. Kalmetason 1 amp
Inj. .Neosan 700 mg + D5%
100cc
Inj. Carcinocin 70 mg + D5%
100 cc
Inj. Curasil 700 mg + D5%
100cc
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
MST 2x1
Ximede 2x1
Qten
2x1 (10)
Legres 2x1
Pariet 2x1
Dupholax Syr I 3xCI
Primperan XV 3x1
Inj. Doksorubisin 50 mg
Inj. Doksorubisin 30 mg
Inj. Deksametason
Inj. Paxus 300 mg
Solcosoryl Jelly I
Intralit I
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Narfoz 8 mg I tab
Quino biotic 2x500 mg
Inciclor 2x500 mg X
Calafen 2x1 X
29/09
29/09
29/09
29/9
29/09
29/09
29/09
29/09
23/11 s.d 2/12
Membaik
25/11 s.d 2/12
25/11 s.d 2/12
23/11 s.d 2/12
23/11 s.d 2/12
23/11 s.d 2/12
26/11 s.d 2/12
29/11 s.d 1/12
23/11
23/11
23/11
23/11
23/11
23/11
31/12 s.d 01/01
Belum sembuh
31/12 s.d 01/01
31/12 s.d 01/01
31/12 s.d 01/01
31/12 s.d 01/01
71
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Inj. Taxol 30 mg VII
Inj. Doksorubisin 50 mg I
Inj. Doksorubisin 10 mg II
Inj. NaCl
Inj. Dipenhidramin
Inj. Deksametason
Inj. Zantac 1 amp (i.v)
Suhu : 36
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
22
23
No. RM : 01.14.10.65
Usia/ JK : 46th/ W
Dirawat ke : 1
Masuk : 19/11/05
Keluar : 22/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 36.5
Nadi : 100 x/menit
R. Pengobatan : Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
No. RM : 01.21.41.20
Usia/ JK : 55 th / W
Dirawat ke : 1
Masuk : 25/11/05
Keluar : 01/12/06
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 36.7
Nadi : 88 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
Masuk :
Ca Mammae stadium
IV metastatis tulang
Keluar :
Ca Mammae stadium
IV metastatis tulang
Tgl 19/ 11/05
Masuk : -
WBC: 12.4 x103
Neut : 8.9 x103
Lym : 2.7 x103
Mon : Eos : Baso: -
Selama Perawatan : mual
Tgl 30/ 11/05
Masuk : Selama Perawatan : mual
Farmakologi :
Qten 2x1 XIX
Betavit 2x1 XIX
Inj. Pantozol II
Inj.Deksametason IV
Inj.Dipenhidramin II
Inj.Radin II
Inj.Vomceran II
Inj.Paxus 30 mg VII
Inj. Carboplastin 450 mg
:
Masuk : Ca Mammae
Sinistra Tipe ductal
Infiltratif std I
Keluar : Ca Mammae
Sinistra Tipe ductal
Infiltratif std I
:
WBC: 8.45 x103
Neut : 54.4 %
Lym : 27.4 %
Mon : 4.9 %
Eos : 12.9 %
Baso: 0.4 %
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Captopril 25 mg 1 tab
Aspar K 1 tab
Lactular 1 tab
Grabion 1 tab
Inj. Vomceran 1 amp/ 24 jam
Inj. Siklofosfamid 850 mg
(dalam -100 cc NaCl 30 tpm)
Inj. Doksorubisin 85 mg (dalam
100 cc NaCl 30 tpm)
NaCl 20 tpm
31/12
31/12
31/12
31/12
31/12
31/12
31//12
19/11 s.d 22/11
Belum sembuh
19/11 s.d 22/11
19/11 s.d 22/11
21/11
21/11
21/11
21/11
21/11
21/11
21/11
21/11
21/11
25/11 s.d 01/12
Membaik
25/11
25/11
25/11
26/11 s.d 01/12
30/11
30/11
30/11
30/11
72
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
24
25
No. RM : 01.19.21.96
Usia/ JK : - / W
Dirawat ke : 2
Masuk : 16/11/05
Keluar : 19/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 100/70
Suhu : 37
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
Masuk : Ca Mammae
sinistra T4N2M0
Keluar : Ca Mammae
sinistra
T4N2M0
metastase
ke
limfonodi axilla
Masuk : pilek, nyeri
pada bekas operasi
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
WBC: 10.99 x103
Neut : Lym : 14.2%
Mon : 7.9 %
Eos : 0.6 %
Baso: 0.2 %
Selama Perawatan
mengalami
hipoalbnuminemia
Farmakologi :
Roborantin 1x1
Inj. Siklofosfamid 930mg
Inj. Doksorubisin 93mg
Inj. Ranitidin
Tgl - / - / -
Masuk : -
Tgl - / - / -
:
16/11 s.d 19/11
Belum sembuh
16/11 s.d 19/11
20/11
20/11
20/11
:
No. RM : 01.20.66.92
Usia/ JK : 56 th/ W
Dirawat ke : 3
Masuk : 30/11/05
Keluar : 02/12/05
R. Penyakit Keluarga :
Tanda Vital
TD : 130/85
Suhu : 36
Nadi : 92 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
Masuk : Ca Mammae
Dexter
Keluar : Ca Mammae
Dexter
WBC: 8.0 x10
Neut : Lym : Mon : Eos : Baso: -
3
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
30/11 s.d 02/12
Membaik
Selama Perawatan : Farmakologi :
Narfoz 8 mg 1 tab
Inj. Doksorubisin 70 mg (dalam
NaCl 500 cc 30 tpm)
Inj. Zantac 1 amp (i v)
Inj. Deksametason 1 amp
Inj. Dipenhidramin 1 amp
Inj. Paxus 210 mg (dalam Ecosol
500 cc dengan slang infus
Khusus 30 tpm)
01/12
01/12
01/12
01/12
01/12
01/12
Obat dibawa pulang :
Glisodin 2x1
Clast 2x1
Deksametason 3x1
Enervon C 1x1
26
No. RM : 01.17.82.14
Usia/ JK : 41 th/ W
Dirawat ke :
Masuk : 04/05/05
Keluar : R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Masuk : Ca Mamae
Dextra
Keluar : Ca Mamae
Dextra
Tgl 05/05/05
WBC: 8,59 x103
Neut : Lym : 2,1 %
Mon : 8,3 %
Eos : 0,6 %
Baso: 0,2 %
Masuk : Selama Perawatan : -
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Nerviton E 1x1
Xelloda 500 mg
Xelloda 250 mg
04/05
Membaik
04/05
04/05
04/05
73
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Suhu : 37
Nadi : 84x / menit
R. Pengobatan : post radioterapi
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
27
28
29
:
No. RM : 01.18.00.33
Usia/ JK : 55 th /W
Dirawat ke : 3
Masuk : 07/07/05
Keluar : 07/07/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 36,5
Nadi : 80x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
No. RM : 01.18.42.64
Usia/ JK : 45 th /W
Dirawat ke : 5
Masuk : 12/10/05
Keluar : 15/10/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/70
Suhu : 37
Nadi : 86 x/ menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-4
No. RM : 1.18.42.65
Usia/ JK : 38 th/ W
Dirawat ke : 6
Masuk : 15/09/05
Keluar : 17/09/05
R. Penyakit Keluarga : -
Masuk : Ca Mamae
Dextra T2N0M0
Keluar : Ca Mamae
Dextra T2N0M0
Masuk : Ca.Mamae
Sinistra T4N1M0
Keluar : Ca.Mamae
Sinistra T4N1M0
Masuk : Selama Perawatan : -
Tgl 05/07/05
WBC: 4.0 x103
Neut : 0.65 x103
Lym : 0.28 x103
Mon : 0.03 x103
Eos : 0.03 x103
Baso: -
WBC: 3,2 x10
Neut : 51,4 %
Lym : 27,7 %
Mon : 20,6 %
Eos : 0,1 %
Baso: 0,2 %
Farmakologi :
Q-ten 2 x 1 XXX
Inj. Pantozol
Inj. Kytril
Inj. Deksametason
Ijn. Epirubisin 70 mg (dalam
D5% 100 )
Inj. Endoxan 750 mg (dalam
D5% 100)
Masuk : Selama Perawatan : -
Tgl 11/10/05
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
07/07/05
Membaik
07/07/05
07/07/05
07/07/05
07/07/05
07/07/05
07/07/05
13/10 s.d 15/10
Membaik
3
Farmakologi :
Metochropropamid 1 amp
Inj. Vomceran 1 amp (i v)
Inj. Deksametason 1 amp
Inj.Endoxan 900 mg (dlm NaCl
100 cc 30 tpm)
Inj. Doksorubisin 90mg (dlm
NaCl 100 cc 30 tpm)
:
13/10
15/10
15/10
15/10
15/10
15/10
Roborantin 1 x 1
Masuk : Carcinoma
Mamae
Dextra
T4N1M0
Keluar : Carcinoma
Mamae
Dextra,
Tgl 15/09/05
WBC: 4,6 x103
Neut : 56,9 %
Lym : 31,1 %
Mon : 10,6 %
Masuk : Selama Perawatan : mual
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Baquinor ear drop 3 x 2 tts
Tremenza 3 x 1 tab
15/09 s.d 17/09
Membaik
15/09
15/09
74
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
T4N1M0
komplikasi
otitis media kronik
benigna
Eos : 0,1 %
Baso: 0,3 %
No. RM : 1.17.55.89
Usia/ JK : 51 th/W
Dirawat ke : 3
Masuk : 29/08/05
Keluar : 30/08/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 36
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
danpost kemoterapi ke-5
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-6
Masuk : Carcinoma
Mamae
Sinistra
T2N1M0
Tgl 26/08/05
No. RM : 01.03.98.36
Usia/ JK : 49 th /W
Dirawat ke : 4
Masuk : 02/05/05
Keluar : 03/05/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 36
Nadi : 88 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-3
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-4
Masuk : Ca Mamae
Bilateral,
Locally
Advanced Asidif
Tanda Vital
TD : 110/80
Suhu : 37
Nadi : 84 x/ menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-5
Tindakan
yang
kemoterapi ke-6
30
31
dilakukan
Ambroxol 3 x 1 tab
Nerviton E 1 x 1
Inj. Siklofosfamid 600mg
Inj. Epirubisin 130 mg
Inj. SFU 600 mg
Inf. NaCl 0,9% lini
15/09
16/09
16/09
16/09
16/09
16/09
:
Keluar : Carcinoma
Mamae
Sinistra
T2N1M0
Keluar : Ca Mamae
Bilateral,
Locally
Advanced Asidif
Masuk : Selama Perawatan
resiko nutrisi vit. C
WBC: 4,4 x103
Neut : 50,8 %
Lym : 27,3 %
Mon : 17,2 %
Eos : 4,2 %
Baso: 0,5 %
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Inj. Deksametason 1 amp
Inj. Ulsikur 1 amp
Inj. Frazon 8 mg
Inj. Neosar 650 mg (dlm NaCl
100 cc)
Inj. Epirubisin 70 mg (dlm NaCl
100 cc)
Inj. Curacil 650 mg (dlm NaCl
100 cc)
Tgl 02/05/05
WBC: 3,79 x10
Neut : 52,9 %
Lym : 35,1 %
Mon : 8,92 %
Eos : 2,54 %
Baso: 0,564 %
:
3
Masuk : udem pada
tangan kiri dan tumor
pada leher
Selama Perawatan : -
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Inj. Vomceran 8 mg
Inj. Deksametason 2 amp
Inj. Rantin 2 amp
Inj. Diladril 2 amp
Paxus 240 mg (dlm intralit
500cc)
Carboplastin 450 mg (dlm NaCl
500 cc)
29/08 s.d 30/08
Membaik
29/08
29/08
29/08
29/08
29/08
29/08
02/05 s.d 03/05
Membaik
02/05
02/05
02/05
02/05
02/05
02/05
Terapi pulang :
Puragesik
MST 3 x 1 tab
75
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
32
33
34
No. RM : 1.16.25.23
Usia/ JK : 55 th/W
Dirawat ke : 7
Masuk : 17/11/05
Keluar : 18/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 37
Nadi : 80x/menit
R. Pengobatan : poat mastectomy
dan post kemoterapi ke-5
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-6
Masuk : Carcinoma
Mamae
Sinistra
T4N3M0
No. RM : 1.18.74.58
Usia/ JK : 43 th/ W
Dirawat ke : 3
Masuk : 18/07/05
Keluar : 23/07/05
R. Penyakit Keluarga :Tanda Vital
TD : 100/70
Suhu : 37
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-1
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-2. Pada terapi ini
pasien tidak diberikan kemoterapi
karena
pasien
mengalami
pansitopenia
Masuk : Ca Mamae
Sinistra Stadium IV
No. RM : 1.19.16.22
Usia/ JK : 45 th/W
Dirawat ke : 5
Masuk : 06/10/05
Keluar : 12/10/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 37
Masuk : Ca Mamae
Dextra T4N1M0
Keluar : Carcinoma
Mamae
Sinistra
T4N3M0
Keluar : Ca Mamae
Sinistra Stadium IV
metastase
tulangtulang panggul dan
pansitopenia
Keluar : Ca Mamae
Dextra T4N1M0
Tgl 17/11/05
Masuk : Selama Perawatan : -
WBC: 6,2 x103
Neut : Lym : Mon :
Eos : Baso: -
Tgl 20/07/05
WBC: 9.0 x103
Neut : Lym : Mon : Eos : 3,76
Baso: -
Tgl 07/10/05
WBC: 4,47 x103
Neut : 63,7 %
Lym : 16,8 %
Mon : 15,9 %
Eos : 2,0 %
Baso: 1,6 %
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
Farmakologi :
Frazon 8 mg tab
Inj. Deksametason 2 amp
Inj. Simetidin 1 amp
Inj. Dipenhidramin 1 amp
Paxus 210 mg (dlm intralit
500cc)
Masuk : Selama Perawatan :
pansitopenia dan badan
lemas
Masuk : Selama Perawatan : -
Non Farmakologi : Transfusi
PRC 2 kolf/hari
Farmakologi :
Inf. Assering 20 tpm
Inj. Tyason 1 g/12 jam/iv
Q-ten 2x1 VII
Betafit 2x1 VII
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein,
Transfusi darah
17/11/05
Membaik
17/11/05
17/11/05
17/11/05
17/11/05
17/11/05
18/07
Membaik
20/07
18/07 s.d 23/07
21/07 s.d 23/07
21/07 s.d 23/07
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Inj. Vomceran 8 mg/iv
Inj. Deksametason 2 ampul / iv
Doksorubisin 90 mg (dlm D5%
05/10 s.d 12/10
08/10
11/10
11/10
11/10
76
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke- 4
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-5
35
36
37
No. RM : 01.19.88.44
Usia/ JK : 36 th/W
Dirawat ke : 3
Masuk : 05/10/05
Keluar : 07/10/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 37
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomt
dan post kemoterapi ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
Masuk : Ca Mamae
Bilateral
T4N2Mx
dengan metastase paru
dan hepar
No. RM : 01.18.21.59
Usia/ JK : 40 th /W
Dirawat ke : 6
Masuk : 28/09/05
Keluar : 03/10/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/75
Suhu : 37
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-5
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-6
Masuk : Ca Mamae
Sinistra T4N3M0 ,
metastase tulang
No. RM : 01.20.20.20
Usia/ JK : 44 th/W
Dirawat ke : 3
Masuk : 09/11/05
Keluar : 16/11/05
Masuk : Ca Mamae
Sinistra T4N0M0
Keluar : Ca Mamae
Bilateral
T4N2Mx
dengan metastase paru
dan hepar
Tgl
04/10/05
WBC: 6,4 x103
Neut : 58,0 %
Lym : 30,8 %
Mon : 10,1 %
Eos : 0,7 %
Baso: 0,4 %
Masuk : Selama Perawatan : mual
dan lemas
100cc 30 tpm)
Endoxan 900 mg (dlm D5%
100cc 30 tpm)
11/10
Non Farmakologi : Diet Tinggi
Kalori Tinggi Protein
05/10 s.d 07/10
Farmakologi :
Nerviton E 1 x 1 tab
Inj. Paxus 300 mg
Inj. Doksorubisin 70 mg
Roborantin 1 x 1
Membaik
07/10
07/10
07/10
07/10
Obat yang dibawa pulang :
Ciprofloxacin 2 x 500 mg
Metoklopramid tab (k/p)
Metonidazol 3 x 500 mg
Keluar : Ca Mamae
Sinistra
T4N3M0,
metastase tulang
Keluar : Ca Mamae
Sinistra T4N0M0
Tgl 28/09/05
WBC: 4,95 x10
Neut : 79,2 %
Lym : 8,5 %
Mon : 9,7 %
Eos : 1,4 %
Baso: 1,2 %
3
Tgl 16/11/05
WBC: 12,99 x103
Neut : 77,1 %
Lym : 14,2 %
Masuk
:
normositik
normokromik
anemia
-
Selama Perawatan : mual
Masuk : anemia dan
hipoalbumin
Selama Perawatan : mual
dan nyeri pada luka
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori Tinggi
Protein,
Transfusi PRC 1 kolf/12 jam
Farmakologi :
Inj. ondancentron 8 mg (i v)
Inj. Deksametason 2 amp (i v)
Inj. Siklofosfamid 700 mg (dlm
NaCl 0,9% 100 cc)
Inj. Epirubisin 130 mg (dlm
NaCl 0,9% 100 cc)
Inj. SFU 700 mg (dlm NaCl
0,9% 100 cc)
Nerviton E 1 x 1
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Transfusi darah
Membaik
28/09 s.d 03/10
29/10 , 30/09
02/10
02/10
02/10
02/10
02/10
02/10
Membaik
Tinggi
09/11 s.d 16/11
11/11
77
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Mon : 7,9 %
Eos : 0,6 %
Baso: 0,2 %
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 38
Nadi : 90 x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
38
39
No. RM : 01.20.37.34
Usia/ JK : 68 th/W
Dirawat ke : 1
Masuk : 14/09/05
Keluar : 17/09/05
R. Penyakit Keluarga :Tanda Vital
TD : 100/50
Suhu : 37.8
Nadi : 96 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
Masuk : Ca Mamae
Sinistra Stadium IV
Keluar : Ca Mamae
Sinistra Stadium IV,
metastase
paru
bilateral dan hepar
Tgl 14/09/05
WBC: 11,03 x103
Neut : 73,4 %
Lym : 17,4 %
Mon : 7,5 %
Eos : 1,4 %
Baso: 0,3 %
Farmakologi :
Roborantin 1 x 1
Inj. Siklofosfamid 600 mg
Inj. Doksorubisin 60 mg
Grahabion 1 x 1
Metronidazol
Masuk : batuk dan sesak
nafas
14/09 s.d 17/09
Belum sembuh
Tinggi
Selama Perawatan : Farmakologi :
Nerviton E 1 x 1
Inj. Paxus 230 mg
Inj. Doksorubisin 70 mg
Inj. Narfoz 1 amp
Inj. Deksametason 2 amp
14/09 s.d 16/09
16/09
16/09
16/09
16/09
Terapi yang dibawa pulang :
Nerviton E 1 x 1
:
No. RM : 1.20.41.34
Usia/ JK : 40 th/W
Dirawat ke : 3
Masuk : 15/11/05
Keluar : 19/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/70
Suhu : 37
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
12/11 s.d 15/11
15/11
15/11
10/11
11/11
Masuk : Ca Mamae
Dextra T4N0M0
Keluar : Ca Mamae
Dextra T4N0M0
Tgl 15/11/05
WBC: 7,23 x103
Neut : 63,0 %
Lym : 22,7 %
Mon : 11,3 %
Eos : 1,1 %
Baso: 1,9 %
Masuk : Selama Perawatan : mual
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Farmakologi :
Neurodex 1x1
Inj. Siklofosfamid 870 mg
Inj. Doksorubisin 87 mg
Belum sembuh
Tinggi
15/11 s.d 19/11
15/11
16/11
16/11
78
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
40
41
42
No. RM : 1.20.20.60
Usia/ JK : 40 th/W
Dirawat ke : 3
Masuk : 22/12/05
Keluar : 26/12/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 36
Nadi : 76 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
No. RM : 1.20.90.40
Usia/ JK : 46 th/W
Dirawat ke : 1
Masuk : 31/10/05
Keluar : 09/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 36
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
No. RM : 1.21.08.21
Usia/ JK : 40 th/W
Dirawat ke : 1
Masuk : 10/11/05
Keluar : 15/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 37.5
Nadi : 86 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Masuk : Ca Mamae
Dextra T4N0M0
Keluar : Ca Mamae
Dextra T4N0M0
Masuk : -
Tgl 22/12/05
WBC: 6,97 x103
Neut : 43,3 %
Lym : 33,0 %
Mon : 7,5 %
Eos : 15,5 %
Baso: 0,7 %
Selama Perawatan : -
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Ambroxol Syr 3xC I
Roborantin 1x1
Inj. Deksametason 2 amp
Inj. Siklofosfamid 700 mg (dlm
NaCl 0,9% 100 cc 30 tpm)
Inj. Doksorubisin 70 mg (dlm
(dlm NaCl 0,9% 100 cc 30 tpm)
22/12 s.d 25/12
24/12 , 25/12
24/12 , 25/12
26/12
26/12
26/12
Terapi pulang :
Grahabion 1x1
Masuk : Ca Mamae
Dextra T4N1M1
Keluar : Ca Mamae
Dextra T4N1M1
Masuk : sesak nafas dan
batuk
Tgl 27/10/05
WBC: 6,36 x10
Neut : 63,3 %
Lym : 25,2 %
Mon : 7,7 %
Eos : 2,2 %
Baso: 1,6 %
3
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Membaik
Tinggi
31/10 s.d 09/11
Selama Perawatan : Farmakologi :
Grahabion 1 x 1
Inj. Siklofosfamid 800 mg
Inj. Doksorubisin 80 mg
01/11s.d 09/11
08/11
08/11
:
Masuk : Ca Mamae
Dextra Std III
Keluar : Ca Mamae
Dextra Std III
Tgl
10/11/05
WBC: 9,49 x103
Neut : 65,0 %
Lym : 26,8 %
Mon : 6,2 %
Eos : 1,7 %
Baso: 0,3 %
Masuk : nyeri
bekas operasi
pada
Selama Perawatan :
mual, muntah, badan
terasa lemas, dan sakit
perut.
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Membaik
Tinggi
10/11 s.d 15/11
Farmakologi :
Grahabion 1 x 1
Inj. Siklofosfamid 840 mg
Inj. Doksorubisin 84 mg
Metoklopramid 3x1(kalau mual)
New Diatab 3x2
11/11 s.d 13/11
13/11
13/11
13/11
13/11
79
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tindakan
yang
kemoterapi ke-1
43
44
dilakukan
No. RM : 1.21.05.70
Usia/ JK : 29 th/W
Dirawat ke : 1
Masuk : 28/10/05
Keluar : 31/10/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 37
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
No. RM : 1.20.95.85
Usia/ JK : 55 th/W
Dirawat ke : 1
Masuk : 10/10/05
Keluar : 15/10/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 37.8
Nadi : 88 x/menit
R. Pengobatan : Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
:
Masuk : Ca Mamae
Bilateral Std. IV
Tgl 29/10/05
Keluar : Ca Mamae
Bilateral Std. IV
WBC: 7,10.103
Neut : 63,0 %
Lym : 23,0 %
Mon : 11,1 %
Eos : 2,5 %
Baso: 0,4 %
Masuk : ulkus, nyeri
Non Farmakologi :
Diet Tinggi KaloriTinggi Protein
Membaik
28/10 s.d 31/10
Selama Perawatan : Farmakologi :
Roborantin 1x1
Inj. Epirubisin 60 mg
Inj. Siklofosfamid 600 mg
Inj. SFU 500 mg
29/10, 30/10
31/10
31/10
31/10
:
Masuk : Ca Mamae
Stadium IV, metastase
tulang dan hepar
Keluar : Ca Mamae
Stadium IV, metastase
tulang dan hepar
:
Tgl 10/10/05
WBC: 8,8 x103
Neut : 62,2 %
Lym : 20,4 %
Mon : 8,9 %
Eos : 3,4 %
Baso: 5,1 %
Masuk : mual, punggung
nyeri dan kembung
Selama Perawatan : mual
dan muntah
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Farmakologi :
Vometa 3x1 XVI
Inpepsa 3x1CT
Aldactone2x100
Lanagogom 3x1 X
Corsel 3x1 X
Prorenal 3x1 X
Inj.Rantin 3x1
Inj. Pantozol 2x1
Inj. Primperan 3x1
Inj. Deksametason 2x1
Inj. Deladril 1x1
Inj. Kytril 2x1
Inj. Doksorubisin 50/10
Inj. Paxus 100/30
Inj. Pronalges 1x1
Inj. Diazepam 15 mg
Inj. Valisanbe 15 mg
Belum sembuh
Tinggi
10/10 s.d 15/10
10/10 s.d 12/10
10/10 s.d 15/10
13/10 s.d 15/10
14/10 s.d 15/10
14/10 s.d 15/10
14/10 s.d 15/10
10/10 s.d12/10,
12/10 s.d 15/10
12/10 s.d 15/10
14/10
14/10
14/10
14/10
14/10
11/10 s.d 13/10
10/10
13/10
Obat yang dibawa pulang:
Corsel 3x1
80
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Prorenal 3x1
Lanagogum 3x1
Vometa 2x1
Aldactone 1x100 mg
45
46
47
No. RM : 01.20.97.39
Usia/ JK : 52 th/W
Dirawat ke : 3
Masuk : 09/12/05
Keluar : 22/12/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 130/80
Suhu : 37.8
Nadi : 87 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
Masuk : Ca Mamae
Dextra T2N1M0
Keluar : Ca Mamae
Dextra T2N1M0
Masuk :
payudara
Tgl 09/12/05
WBC : 15,39 x10
Neut : 83,2 %
Lym : 10,0 %
Mon : 5,8 %
Eos : 0,2 %
Baso: 0,8 %
luka
pada
3
Selama Perawatan : -
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein,
Transfusi darah PRC
Membaik
Tinggi
09/12 s.d 22/12
11/12
Farmakologi :
Metronidazol
Inj. Tramadol 1 amp
Inj. Ceftriaxone 1 g
Inj. Cylofosfamid 650 mg
Inj. SFU 650 mg
Inj. Epirubisin 90 mg
11/12, 12/12
13/12
14/12, 17/12
21/12
21/12
21/12
Terapi pulang :
Roborantin 1 x 1
No. RM : 01.17.07.15
Usia/ JK : 72th/W
Dirawat ke : 6
Masuk : 22/07/05
Keluar :23/07/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/90
Suhu : 36
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-5
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-6
Masuk : Ca Mamae
Bilateral Std IV
No. RM : 01.17.64. 92
Usia/ JK : 53 th/W
Dirawat ke : 2
Masuk : 17/03/05
Keluar : 07/04/05
Masuk : Ca Mamae
Sinistra
Std
IV
metastase ke pulmo
Keluar : Ca Mamae
Bilateral Std IV
Keluar : Ca Mamae
Tgl 21/07/05
WBC: 3,6 x 103
Neut : Lym : Mon : Eos : Baso: -
Tgl 04/03/05
Masuk : nyeri untuk
menelan
Belum sembuh
Tinggi
22/07 s.d 23/07
Selama Perawatan : Farmakologi :
Clanexy Syr 3x1 CII
Ibuprofen Syr 2x1 C II
Trombopob cream 3x1
Kemicitin cream 3x1
Masuk : sesak nafas
Selama Perawatan : -
WBC: 6.3 x 103
Neut : -
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
22/07
22/07
22/07
22/07
Membaik
Tinggi
17/03 s.d 07/04
Farmakologi :
81
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/80
Suhu : 36
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : kemoterapi ke-1
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-2
48
49
Lym : Mon : Eos : Baso: -
Masuk : Ca Mamae
Bilateral T4N1M0
Tgl 24/02/05
Keluar : Ca Mamae
Bilateral T4N1M0
Masuk : Ca Mamae
tipe duktal T4N3Mx
Masuk : leucopenia
WBC: 3.0.8 x103
Neut : Lym : 3.18 x103
Mon : 2.31 %
Eos : 0.23 %
Baso: 0.355 %
Selama Perawatan : -
Tgl 22/02/05
Masuk : Selama Perawatan : 3
Keluar : Ca Mamae
tipe duktal T4N3Mx
metastasis ke kelenjar
aksila
:
17/03
17/03
17/03
17/03
17/03
17/03
17/03
18/03
18/03
Inj. Siklofosfamid 200 mg
Inj. Deksametasone
Inj. Vomceran 8 mg
Inj. Curacil 750 mg
Inj. Epirubisin 500 mg
Inj. Simetidine
Inj. Kalmethazone
Vomceran 4 mg X
Simetidine
:
No. RM : 01.17.26.89
Usia/ JK : 33 th/W
Dirawat ke : 2
Masuk : 26/02/05
Keluar : 27/02/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 37
Nado : 86 x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-1
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-2
No. RM : 01.17.48.85
Usia/ JK : Dirawat ke : 1
Masuk : 21/03/05
Keluar : 21/03/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/75
Suhu : 37
Nadi : 87 x/menit
R. Pengobatan : Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
Sinistra
Std
IV
metastase ke pulmo
WBC: 7.1 x10
Neut : 5.56 x103
Lym : 58.8 %
Mon : 1.5 %
Eos : 3.2 %
Baso: 0.1 %
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Inj. Deksametasone 2 amp 2x1
Inj. Pantosol
Inj. Frazon
Inj. Dipenhidramin
Meisec 2x1
Primperan 3x1
Inj. Paxus 300 mg
Inj. Doksorubisin 75 mg
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Farmakologi :
Tertacef 1x1 g
Lycoxy 1x1
Muact 2x1 X
Mefinal 3x1 X
Xclose 2x1 x
Inj. Siklofosfamid 96 mg
Inj. Metrotrexat 960 mg
Inj. SFU 500 mg
26/02 s.d 27/02
26/02 s.d 27/02
26/02 s.d 27/02
26/02 s.d 27/02
26/02 s.d 27/02
26/02 s.d 27/02
26/02 s.d 27/02
26/02
26/02
Membaik
Tinggi
21/03
08/03
08/03
21/03
21/03
21/03
08/03
08/03
08/03
82
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
50
No. RM : 01.16.94.19
Usia/ JK : 46 th/W
Dirawat ke : 5
Masuk : 20/07/05
Keluar : 01/08/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 36
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-6
Tindakan
yang
pleurodesis
51
52
dilakukan
Keluar : Ca Mamae
T4N2Mx
Masuk : sesak nafas
Tgl 29/07/05
WBC: 5.2 x103
Neut : Lym : Mon : Eos : Baso: -
Selama Perawatan :
merasakan
nyeri
di
punggung, mual dan
muntah setelah makan
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Levopront Syr 3x20 cc
Tramal R 2x1
Inj. Simetidin 2x1 amp
Inj. Tramal 1 amp
Inj. Vomceran 2x8 mg
Cravit 1x0.5 mg
Masuk : Ca Mamae
Dextra T4N0Mx
Keluar : Ca Mamae
Dextra T4N0Mx
,
komplikasi Diabetes
Melitus tipe II
Masuk : Ca Mamae
Dextra Std IV
Tgl 24/11/05
WBC: 5.04 x 10
Neut : Lym : 0.84 x103
Mon : 0.98 x103
Eos : 0.08 x103
Baso: 0.06 x103
3
Tgl 11/06/05
Masuk
:
Diabetes
Melitus
tipe
II,
Dislipidemia , Anemia
Mikrositik hipokromik
Selama Perawatan :
pendarahan, lemah dan
pasien merasakan nyeri,
Anemia
Mikrosiitik
Hipokromik
Masuk : benjolan pecah
dan mengeluarkan bau
3
Keluar : Ca Mamae
Dextra
Std
IV,
komplikasi Hipertensi
WBC: 4.44 x10
Neut : Lym : 1.44 x103
Mon : 0.79 x103
Eos : 0.06 x103
Baso: 0.08 x103
Selama
mual
Perawatan
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
20/07 s.d 01/08
20/07 s.d 01/08
20/07 s.d 22/07,
26/07 s.d 01/08
21/07 s.d 28/07,
01/08
21/07 s.d 01/08
26/07 s.d 01/08
21/07 s.d 25/07
21/07 s.d 29/07
MST 2x20mg
:
No. RM : 01.20.91.59
Usia/ JK : 58 th/W
Dirawat ke : 2
Masuk : 22/11/05
Keluar : 26/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 37
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-1
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-2
No. RM : 01.18.24.63
Usia/ JK : 66 th/W
Dirawat ke : 4
Masuk : 11/08/05
Keluar :186/08/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 130/70
Suhu : 37
Nadi : 89 x/menit
Masuk : Ca Mamae
T4N2Mx
Membaik
Tinggi
22/11 s.d 26/11
Farmakologi :
Glunenorm 2x1
22/11 s.d 24/11,
26/11
MST 2x10 mg
Tramandol 3x1
Inj. Tramandol 3x1 amp
Grahabion
Gemfibrozil 1x 30 mg
Inj. Cyclophospamid 840 mg
Inj. Doksorubisin 80 mg
22/11 s.d 23/11
23/11
24/11 s.d 26/11
22/11 s.d 26/11
26/11
24/11
24/11
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
11/08 s.d 16/08
Belum sembuh
Tinggi
:
Farmakologi :
Nerviton E 1x1
HCT
Captopril 2x25 mg
Gemfibrozil 1z300 mg
Inj. Siklofosfamid 800 mg
11/08 s.d 16/08
14/08 s.d 15/08
13/08
14/08
16/08
83
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Inj. Doksorubisin 60 mg
Inj. SFU 750 mg
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
53
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
54
55
Masuk : Ca Mamae
Sinistra
Std
IV
komplikasi
asma
persisten
No. RM : 01/.19.42.72
Usia/ JK : 40 th/W
Dirawat ke : 1
Masuk :26/07/05
Keluar : 01/08/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 37
Nadi : 86 x/menit
Keluar : Ca Mamae
Sinistra
Std
IV
komplikasi
asma
persisten
Tgl 26/07/05
WBC: 6.25 x 10
Neut : Lym : 1.77 x103
Mon : 0.93 x103
Eos : 0.32 x103
Baso: 0.05 x103
Masuk : batuk
3
Selama Perawatan : -
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
16/08
16/08
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Inj. Nebulizer 2x2cc
Nerviton E 1x1
Sistenol
Inj. Doksorubisin 90 mg
Inj. Endoxan 900 mg
26/07/05 s.d
01/08/05
26/07 s.d 31/07
26/07 s.d 29/07
26/07 s.d 31/07
30/07
30/07
:
No. RM : 01.19.98.47
Usia/ JK : 53 th/W
Dirawat ke : 4
Masuk : 10/11/05
Keluar : 14/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 37
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-3
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-4
Masuk : Ca Mamae
Dextra T4N1M0 dan
Leukopenia
No. RM : 01.19.91.07
Usia/ JK : 41 th/W
Dirawat ke : 4
Masuk : 09/11/05
Keluar : 12/11/05
R. Penyakit Keluarga : -
Masuk : Ca Mamae
Dextra T3N0Mx
Keluar : Ca Mamae
Dextra T4N1M0
Keluar : Ca Mamae
Dextra T3N0Mx
Tgl 10/11/05
Masuk : Selama Perawatan : mual
WBC: 3.43 x103
Neut : 2.28 x103
Lym : 0.38 x103
Mon : 0.73 x103
Eos : 0.02 x103
Baso: 0.02 x103
Tgl 09/11/05
WBC: 3.88 x103
Neut : 2.60 x103
Lym : 0.54 x103
Mon : 0.67 x103
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Roborantia 1x1
Inj. Doksorubisin 90 mg
Inj. Endoxan 900 mg
Masuk : Selama Perawatan : -
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Farmakologi :
Grahabion 1x1
10/11 s.d 14/11
10/11 s.d 14/11
13/11
13/11
Membaik
Tinggi
09/11 s.d12/11
09/11 s.d12/11
84
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Eos : 0.06 x103
Baso: 0.01 x103
Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 37
Nadi : 86 x/menit
R. Pengobatan :post mastectomy
dan post kemoterapi ke-3
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-4
56
57
58
No. RM : 00.99.44.84
Usia/ JK : 52 th/W
Dirawat ke : 2
Masuk : 02/07/05
Keluar : 09/07/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/70
Suhu : 37
Nadi : 86 x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
Masuk : Ca Mamae
Sinistra Std IV
No. RM : 01.18.59.10
Usia/ JK : 38 th/W
Dirawat ke : Masuk : 09/06/05
Keluar :27/06/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 37
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
Masuk : Ca Mamae
Sinistra Std IV
No. RM : 01.19.98.34
Usia/ JK : 31 th/W
Dirawat ke : 2
Keluar : Ca Mamae
Sinistra Std IV
Keluar : Ca Mamae
Sinistra Std IV
Tgl 29/06/05
WBC: 2.0 x10
Neut : Lym : Mon : Eos : Baso: -
Inj. Siklofosfamid 800 mg
Inj. Doksorubisin 70 mg
Masuk : Selama Perawatan : 3
Tgl 09/06/05
WBC: 16.18 x 103
Neut : 12.24 x103
Lym : 2.43 x103
Mon : 1.43 x103
Eos : 0.03 x103
Baso: 0.05 x103
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
11/11
11/11
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Inj. Siklofosfamid 750 mg
Inj. Epirubisin 165 mg
Inj. SFU 650 mg
Masuk : nyeri pada paha
dan panggul
Selama Perawatan :
nyeri pada paha dan
punggung, pasien tidak
bisa bangun
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
07/07
07/07
07/07
Belum sembuh
Tinggi
Farmakologi :
Nerviton E 1x1
Inj. Gentamicin 3x60 mg
Inj. Siklofosfamid 600 mg
Inj. Epirubisin 60 mg
Inj. Fluouracyl 600 mg
Masuk : Ca Mamae
Sinistra T4N1M0
Tgl 13/09/05
WBC: 4.73 x103
Masuk : Selama Perawatan : mual
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
09/06 s.d 27/06
09/06 s.d 15/06,
18/06 s.d 27/06
09/06 s.d 15/06,
18/06 s.d 27/06
09/06 s.d 15/06,
18/06 s.d 27/06
15/06
15/06
15/06
Inj. Ciftazidim 3x1 g
:
02/07 s.d 09/07
Membaik
Tinggi
13/09 s.d 15/09
85
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
59
60
Masuk : 13/09/05
Keluar : 15/09/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 37
Nadi : 82 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-1
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-2
Keluar : Ca Mamae
Sinistra T4N1M0
No. RM : 01.18.78.31
Usia/ JK : 60 th/W
Dirawat ke : 3
Masuk : 19/10/05
Keluar : 21/10/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 37
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-5
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-6
Masuk : Ca Mamae
T3N1M0
No. RM : 01.03.12.02
Usia/ JK : - / W
Dirawat ke : 2
Masuk : 04/08/05
Keluar :10/08/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 160/95
Suhu : 37
Nadi : 90 x/menit
R. Pengobatan : post radioterapi
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
TIDAK ADA DATA
LABORATORIUM
Farmakologi :
Nerviton E 1x1
Inj. Endoxan 500 mg
Inj. Doksorubisin 50 mg
Masuk : Selama Perawatan : -
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Keluar : Ca Mamae
T3N1M0
Masuk : Ca
Sinistra
metastase
komplikasi
hipertensi
Mamae
T3N1M0
tulang,
dengan
Keluar : Ca Mamae
Sinistra T3N1M0
:
Neut : 63,2 %
Lym : 28.8 %
Mon : 6.6 %
Eos : 0.8 %
Baso: 0.6 %
13/09 s.d 14/09
15/09
15/09
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Inj. Deksametason 2 amp
Inj. Dipenhidramin 2cc
Inj. Rantin 2 amp
Inj. Frazon 8 mg
Inj. Doksorubisin 75 mg (dlm
100 cc 30 tpm)
Inj. Paxs 250 mg (dlm 500 cc)
Tgl 05/08/05
WBC: 9.48 x103
Neut : 69.2 %
Lym : 22.2%
Mon : 7.6 %
Eos : 0.7 %
Baso: 0.3 %
Masuk : Selama Perawatan
pusing dan batuk
:
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Farmakologi :
Captopril 2x12.5 mg
Tamofen 1x1
Betavit 2x1
Tromboles 2x1
Gaticin 2x1
Levopront Syr 3xC1
Tanakan 3x1
Inj. Meticobalt 2x1 amp
Inj. Zometa
Xeloda
19/10 s.d 21/10
19/10
19/10
19/10
19/10
19/10
19/10
Membaik
Tinggi
04/08 s.d 10/08
05/08 s.d 09/08
05/08 s.d 09/08
06/08 s.d 09/08
06/08 s.d 09/08
08/08 s.d 09/08
08/08 s.d 09/08
08/08 s.d 09/08
06/08 s.d 07/08
06/08 s.d 07/08
06/08
86
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
61
62
63
No. RM : 69.85.46
Usia/ JK : 40 th/W
Dirawat ke : 2
Masuk : 10/10/05
Keluar :10/10/05
R. Penyakit Keluarga : kanker
Tanda Vital
TD : 120/80
Suhu : 37
Nadi : 86 x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi
ke-1
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-2
Masuk : Ca Mamae
Dextra Std IV
No. RM : 01.18.74.84
Usia/ JK : 44 th/W
Dirawat ke : 3
Masuk : 19/11/05
Keluar : 23/11/06
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 120/70
Suhu : 37
Nadi : 86 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-4
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-5
Masuk : Ca Mamae
Sinistra Std IV
No. RM : 01.20.67.39
Usia/ JK : 64 th/W
Dirawat ke : 2
Masuk : 24/11/05
Keluar : 28/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/80
Suhu : 37
Nadi : 80 x/menit
R. Pengobatan : post radioterapi
Masuk : Ca Mamae
Sinistra T3N1M0
Keluar : Ca Mamae
Dextra Std IV
Keluar : Ca Mamae
Sinistra Std IV
Keluar : Ca Mamae
Sinistra T3N1M0
Tgl 04/10/05
Masuk : Selama Perawatan : mual
WBC: 3.0 x103
Neut : 38 %
Lym : 52 %
Mon : 4 %
Eos : 6 %
Baso: -
Tgl 22/11/05
WBC: 4.87 %
Neut : 50.9 %
Lym : 9.0 %
Mon : 9.9 %
Eos : 2.96 %
Baso: 0.6 %
TIDAK ADA DATA
LABORATORIUM
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Inj. Deksametason 2x2 amp
Inj. Kitril 1 amp
Inj. Pantozol
Inj. Deladryl 2 amp
Inj. Ranitidin 2 amp
Inj. Dosorubicin 75 mg ( dlm
100 cc 30 tpm)
Inj. Paxus 260 mg (dlm 500 cc)
Masuk : leher kiri terasa
pegal
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
10/10
10/10
10/10
10/10
10/10
10/10
10/10
10/10
Membaik
Tinggi
19/11 s.d 23/11
Selama Perawatan : Farmakologi :
Roborantia 1x1
Inj. Doksorubisin 84 mg
Inj. Siklofosfamid 840 mg
Masuk : Selama Perawatan : -
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Farmakologi :
Inj. Frazon 1 amp
Inj. Simetidine 1 amp
Inj. Kalmethazone 1 amp
Inj. Epirubisin 50 mg
Inj. Siklofosfamid 500 mg
Simetidine 3x1
22/11, 23/11
22/11
22/11
Membaik
Tinggi
24/11 s.d 28/11
26/11
26/11
26/11
27/11
27/11
28/11
87
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tindakan
yang
kemotrapi ke-1
64
65
66
dilakukan
No. RM : 01.20.51.99
Usia/ JK : 51 th/ W
Dirawat ke : 1
Masuk : 21/09/05
Keluar : 29/09/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 130/80
Suhu : 37
Nadi : 86 x/menit
R. Pengobatan : pos mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemopterapi ke-1
:
Masuk : Ca Mamae
Sinistra T4N1M0
Metastasis ke kelenjar
getah bening
Keluar : Ca Mamae
Sinistra T4N1M0
Metastasis ke kelenjar
getah bening
Tgl 29/09/05
Masuk : Selama Perawatan : -
WBC: 11.23 x103
Neut : 85.2 %
Lym : 10.8 %
Mon : 3.8 %
Eos : 0.1 %
Baso: 0.1 %
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
28/11
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Nerviton E 1x1
Pronolges
Inj. Doksorubisin 70 mg
Inj. Siklofosfamid 70 mg
21/09 s.d 29/09
21/09 s.d 29/09
21/09 s.d 29/09
28/09
28/09
:
No. RM : 01.20.60.29
Usia/ JK : 55 th/ W
Dirawat ke : 3
Masuk : 18/11/05
Keluar : 22/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD :110/70
Suhu : 36
Nadi : 84 x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
No. RM : 01.19.39.38
Usia/ JK : 70 th/W
Dirawat ke : 1
Masuk : 13/09/05
Keluar : 17/09/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 130/80
Suhu : 37.5
Nadi : 86 x/menit
Frazone 2x1
Masuk : Ca Mamae
Sinistra T4N1M0
Keluar : Ca Mamae
Sinistra T4N1M0
Masuk : Ca Mamae
Sinistra Std IV
Keluar : Ca Mamae
Sinistra
Std
IV
metastasis
paru
noduler
Tgl 18/11/05
Masuk : Selama Perawatan : mual
WBC: 6.18 x103
Neut : 63.2 %
Lym : 18.0 %
Mon : 17.2 %
Eos : 0.6 %
Baso: 1.0 %
Tgl 12/09/05
WBC: 6.1 x10
Neut : Lym : Mon : Eos : Baso: -
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Belum sembuh
Tinggi
Farmakologi :
Roborantia 1x1
Adalat oros 1x30 mg
Inj. Siklofosfamid 870 mg
Inj. Doksorubisin 87 mg
Masuk : nyeri dan
pendarahan pada mamae
3
Selama Perawatan :
mengeluh nyeri dan
anemia
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Farmakologi :
Infus NaCl
Inj.Ceftriaxone 2x1g
Trombo Aspilet 2x80 mg
Lasix
18/11 s.d 22/11
18/11 s.d 20/11
18/11 s.d 20/11
21/11
21/11
Belum sembuh
Tinggi
13/09 s.d 17/09
13/09 s.d 17/09
13/09, 15/09,
18/09
13/09 s.d 17/09
13/09 s.d 17/09
88
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
R. Pengobatan : post radioterapi
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
67
68
69
:
No. RM : 01.20.04.64
Usia/ JK : 48th/W
Dirawat ke : 3
Masuk : 08/11/05
Keluar : 12/11/05R. Penyakit
Keluarga : Tanda Vital
TD : 130/80
Suhu : 37.5
Nadi : 86x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
dan post kemoterapi ke-2
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-3
Masuk : Ca Mamae
Dextra Std IV
No. RM : 01.20.97.65
Usia/ JK : 46th/W
Dirawat ke : 1
Masuk : 12/11/05
Keluar : 19/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 200/100
Suhu : 37,5
Nadi : 90x/menit
R. Pengobatan : post mastectomy
Tindakan
yang
dilakukan
kemoterapi ke-1
Masuk : Ca Mamae
Dextra T4N2M0 dengan
komplikasi Hipertensi
No. RM : 01.21.18.40
Usia/ JK : 42th/W
Dirawat ke : 2
Masuk : 29/11/05
Keluar : 30/11/05
R. Penyakit Keluarga : kanker
Tanda Vital
Keluar : Ca Mamae
Dextra Std IV
Keluar : Ca Mamae
Dextra T4N2M0
Tgl 08/11/05
Masuk : anemia dan
leukopenia
WBC: 2.45x103
Neut : 37.5 %
Lym : 14.8 %
Mon : 45.3 %
Eos : 2.0 %
Baso: 0.4 %
13/09 s.d 17/09
15/09
15/09 , 16/09
18/09
Membaik
Tinggi
Farmakologi :
Infus NaCl
Grahabion 1x1
Inj. Siklofosfamid 900 mg (dlm
100 cc)
Inj. Adriamicin 900 mg 9dlm
100 cc)
Masuk : hipertensi stage
II
Tgl 15/11/05
WBC: 8.38x10
Neut : 57.5 %
Lym : 27.5 %
Mon : 13.6 %
Eos : 0.4 %
Baso: 1.0 %
Selama Perawatan : -
Nerviton E 1x1
Metronidazole
Ceftazidin 2x1 g
Xeloda
Non Farmakologi :
Transfusi Darah
Diet Tinggi Kalori
Protein
3
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori
Protein
Farmakologi :
Infus NaCl
Roborantia 1x1
HCT
Tgl 28/11/05
WBC:14.7 x10
Neut : Lym : Mon : Eos : -
11/11
12/11 s.d 19/11
Selama Perawatan : mual
:
Keluar : Ca Mamae
Std IV
08/11 s.d 12/11
08/11 s.d 10/11
11/11
Belum sembuh
Tinggi
Captopril 2x25 mg
Masuk : Ca Mamae
Std IV
10/11
08/11 s.d 12/11
3
Masuk : Selama Perawatan : mual
dan muntah
Adalat oros 1x300 mg
Inj. Siklofosfamid 600 mg
Inj. Doksorubisin 60 mg
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori Tinggi
Protein
Farmakologi :
Carsel 3x1
Pariet 2x1
12/11 s.d 17/11,
19/11
12/11 s.d 17/11,
19/11
12/11 s.d 17/11,
19/11
12/11 s.d 17/11,
19/11
19/11
18/11
18/11
Belum sembuh
29/11 s.d 30/11
29/11 s.d 30/11
29/11 s.d 30/11
89
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Baso: -
TD : 120/80
Suhu : 37.5
Nadi : 84x/menit
R. Pengobatan : post kemoterapi ke1
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-2
70
No. RM : 01.21.16.62
Usia/ JK : Dirawat ke : 2
Masuk : 08/11/05
Keluar : 22/11/05
R. Penyakit Keluarga : Tanda Vital
TD : 110/70
Suhu : 37
Nadi : 84x/menit
R. Pengobatan : post radioterapi
Tindakan
yang
dilakukan
:
kemoterapi ke-1
Masuk : Ca Mamae
Dextra T2N0M0
Keluar : Ca Mamae
Dextra T2N0M0
Tgl 08/11/05
WBC: 7.07x103
Neut : 58.6 %
Lym : 31.7 %
Mon : 7.1 %
Eos : 2.5 %
Baso: 0.1 %
Masuk : Selama Perawatan :
merasakan nyeri di dada
Glosidin 1x1
Enervon C 1x1
Tamoven 2x1
Infus NaCl
Inj. Paxus 130 mg
Inj. Doksorubisin 530 mg
Inj. Pantozol 2x1 amp
Ecosal 500 cc
Inj.Ranitidin
Inj. Dipenhidramin
Inj. Deksametason
Non Farmakologi :
Diet Tinggi Kalori Tinggi
Protein
Farmakologi :
Infus NaCl
Roborantia
Inj. Adriamicyn 60 mg
Inj. Siklofosfamid 600 mg
29/11 s.d 30/11
29/11 s.d 30/11
29/11 s.d 30/11
29/11 s.d 30/11
29/11
29/11
29/11
29/11
29/11
29/11
29/11
Membaik
08/11 s.d 22/11
09/11 s.d 22/11
09/11 s.d 22/11
21/11
21/11
90
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lanjutan LAMPIRAN I
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
White Blood Cell (WBC)
Netrofil
Limfosit
Monosit
Eosinofil
Basofil
PEMERIKSAAN TANDA VITAL
Nadi
Suhu
ANGKA NORMAL
4.0-10.0 x103/mL
2.0-6.90 x103/mL atau 35.0-88.7%
0.60-3.40 x103/mL atau 12.0-44.0%
0.0-0.90 x103/mL atau 0.0-11.2%
1-4 %
0-1%
100-120 x/menit
36,5-38 °C
91
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
92
LAMPIRAN
KOMPOSISI OBAT BRAND NAME
Adriamisin®
Aldacton®
Baquinor ear drop®
Betavit®
Cravit®
Duphalak®
Duradryl®
Endoksan®
Enervon C®
Fluracedryl®
Frazon®
Gatisin®
Glisodin®
Glurenorm®
Inpepsa®
Kalmethason®
Karsinosin®
Kemicitin®
Kitril®
Klaneksi®
Korsel®
Kurasil®
Lanagogum®
Legres®
Levopront®
Lycoxy®
Medixon®
MST®
Narfoz®
Nerviton E®
Neurobion®
Neurodex®
Paxus®
Pantosol®
Primperan®
: Doksorubisin HCL
: Spironolacctone
: Siprofloksasin
: Betain sitrat 220 mg (setara dengan Betaine 83,3 mg),
dan vitamin E 66,7 iu
: Levoflokxacin
: Laktulosa
: Diphenhidramin HCL.
: Siklofosfamid
: Vit.B1 50 mg, Vit.B2 25 mg, Vit. B6 10 mg, Vit. B12 5
mg, Vit.C 500 mg, Niacinamide 50 mg, Ca pantotenat
20mg.
: 5-Fluorouracil
: Ondansentron
: Gatifloksasin
: Super oksida Dismutase Ekstra Melon dengan gliadin
: Glikuidon
: Sukralfate
: Deksametason
: Doksorubisin
: Kloramfenikol
: Granisetron HCL
: Amoksisilin klavulanat
: Ubidecarenone 30 mg, levocarnitine 500 mg
: 5-Fluorouracil
: Ext. chelidonii 40 mg, ext. curcuma 20 mg, ext.
spinaceae 50 mg, pure lecithin (PPC 95%), oleum meth.
Pip. 5 mg, oleum curcuma 5 mg.
: Leucoselect phytosome 25 mg. lycopene 2,5 mg
: Levodropropizine
: Leutin 3 mg, lycopene 8 mg, Vit.E 50 mg, Vit.C 250
mg, Zn 20 mg, β-carotene 10,000 iu, selenium yeast
30mcg
: Metil prednisolon
: Garam morfin
: Ondansetron
: Vit. B1 100 mg, Vit. B6 200 mg, Vit. B12 200mcg
: Vit. B1 100 mg, Vit. B6 200 mg, Vit. B12 200 mcg
: Vit. B1 100 mg, Vit. B6 200 mg, Vit. B12 250 mcg
: Paklitaksel
: Pantoprasol
: Metoklopramid HCL
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
93
Pronalges®
Rantin®
Roborantin®
Sistenol®
Tamofen®
Tiason®
Tramal R®
Ulsikur®
Vomceran®
Vometa®
Valisanbe®
Zantac®
Zometa®
Xeloda®
: Ketoprofen
: Ranitidin
: Vitamin B kompleks
: Paracetamol 500 mg, n-actylcysteine 200 mg
: Tamoksifen sitrate
: Seftriakson Na
: Tramandol hidroklorida
: Simetidin
: Ondansetron
: Domperidone
: Diazepam
: Ranitidin HCL
: Zoledronic acid
: Capecitabine
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
94
BIOGRAFI PENULIS
Penulis bernama Irene Megantari, anak pertama dari tiga
bersaudara. Lahir di Sleman, 11 Januari 1986 dari
keluarga Robertus Sugiya dengan Maria Ani Sumarah.
Riwayat pendidikan penulis : tahun 1991-1997 lulus dari
SD. Kanisius Klepu, Minggir, Sleman,Yogyakarta; tahun
1997-2000 melanjutkan ke SLTP. Negeri 6 Yogyakarta;
tahun 2000-2003 melanjutkan ke SMU. Stella Duce 1 Yogyakarta dan pada tahun
2003 melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di Fakultas Farmasi Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta.
Download