peranan ternak kerbau dalam masyarakat adat toraja di sulawesi

advertisement
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2010
PERANAN TERNAK KERBAU DALAM MASYARAKAT
ADAT TORAJA DI SULAWESI SELATAN
(The Role of Buffalo in Culture Toraja Ethnic in South Sulawesi)
MATHEUS SARIUBANG1, R. QOMARIYAH1 dan L. KRISTANTO2
1
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 17,5, Makassar
2
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur, Jl. PM Noor Sempaja, Samarinda 75119
ABSTRACT
Peoples of Tana Toraja ethnic is located 350 km from the capital of South Sulawesi province with a
population of approximately 450 000 inhabitants, located above 700 – 1500 meter DPL (above sea level), and
is popular as a major tourism attraction area in eastern Indonesia. In addition, the area is famous as a tourist
destination because it has beautiful scenery, unique customs, including the rambu solo or party of funeral
ceemonial, which in the event size is the number of buffalo are sacrificed. Ceremony “Rambu Solo” can be
implemented based on the social status of the deceased body so that the big party can only be conducted
among thetribe nobility, and the party's most high-called “Rapasan Sapu Randanan” where the party
consuming one week and spend hundreds to thousands of buffaloes and pig. The purpose of writing this paper
is to introduce the role of indigenous buffaloes in the Toraja in South Sulawesi.
Key Words: Tana Toraja, Buffallo, “Rambu Solo”
ABSTRAK
Masyarakat adat Tana Toraja terletak 350 km dari ibukota Propinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah
penduduk sekitar 450 000 jiwa, terletak diatas ketinggiaan 700 – 1500 m DPL, dan terkenal sebagai daerah
pariwisata utama dibagian Indonesia timur. Selain itu daerah ini terkenal sebagai daerah tujuan wisata karena
memiliki pemandangan yang indah, adat istiadat unik termasuk pesta “Rambu solo” atau pesta adat kematian,
dimana pada acara ini ukurannya adalah banyaknya kerbau yang dikurbankan. Upacara kematian “Rambu
Solo” ini dapat dilaksanakan berdasarkan status sosial yang meninggal sehingga pesta yang besar hanya dapat
dilaksanakan kalangan atas saja, dan pesta yang paling tinggi disebut “Rapasan Sapu Randanan” dimana
pestanya berlangsung 1 minggu dan menghabiskan ratusan ekor kerbau dan ribuan ekor babi. Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah untuk memperkenalkan peranan ternak kerbau dalam masyarakat adat Tana
Toraja di Sulawesi Selatan.
Kata Kunci: Tana Toraja, Kerbau, “Rambu Solo”
PENDAHULUAN
Suku Toraja merupakan salah satu etnik di
Sulawesi Selatan memiliki tradisi budaya
upacara kematian “Rambu solo”. Rambu solo
adalah upacara kematian untuk orang yang
sudah meninggal. Upacara kematian ini,
berbeda dengan upacara-upacara kematian
lainnya. Upacara ini diadakan dengan sangat
meriah dan mewah layaknya sebuah pesta
akbar. Namun upacara kematian ini tidak
sedikitpun melambangkan upacara kematian
tetapi lebih berupa pesta perayaan. Karena itu
upacara kematian ini sering disebut pesta adat.
122
Mereka meyakini bahwa dengan mengadakan
upacara adat ini roh si mati dapat diiring sampai
mencapai Nirwana keabadian. Pada upacara
kematian ini penggunaan simbol-simbol sangat
berperan penting, salah satunya adalah
penggunaan simbol kerbau sebagai syarat
utama dalam upacara kematian Rambu Solo.
Kata toraja berbagai versi antara lain
berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti
"orang yang berdiam di negeri atas", versi
lainnya mengatakan diambil dari pimpinan
rombongan dalam suatu kapal dari negeri Cina
pada saat perang saudara disana bernama
Toraya yang terdampar dipantai timur pulau
Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau 2011
Sulawesi. Pemerintah kolonial Belanda
menamai suku ini Toraja pada tahun 1909.
Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman,
rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya.
Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa
sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh
ratusan orang dan berlangsung selama
beberapa hari. Akan tetapi ada satu hal yang
memegang peranan yang cukup penting dalam
adat istiadat masyarakat suku Toraja yakni
kerbau. Kerbau adalah binatang paling penting
bagi orang Toraja, salah satu etnis yang berada
di Pulau Sulawesi Indonesia. Bagi etnis Toraja,
kerbau adalah binatang yang paling penting
dalam kehidupan sosial mereka. Kerbau atau
dalam bahasa setempat tedong tidak dapat
dipisahkan
dari
kehidupan
sehari-hari
masyarakat. Selain sebagai hewan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sosial, ritual
maupun kepercayaan tradisional, kerbau juga
menjadi alat takaran status sosial, dan alat
transaksi. Dari sisi sosial, kerbau merupakan
harta yang bernilai tinggi bagi pemiliknya.
Tidak mengherankan bila orang Toraja sangat
sayang dengan kerbau mereka. Hal ini dapat
dilihat dari percakapan sehari-hari, pada saat
hendak bertransaksi, mengadakan pesta, dalam
menjalankan ibadah keagamaan.
Untuk menghormati orang tua yang telah
meninggal sebagai pertanda hormat pada yang
meninggal atas jasa-jasa semasa hidupnya.
Sama seperti adat-adat daerah lain yang
menggunakan simbol sebagai perlambang atau
tanda dalam suatu upacara adat. Begitu juga
masyarakat tanah Toraja yang menggunakan
simbol kerbau sebagai tanda mereka. Mereka
menyakini bahwa kerbau inilah yang nantinya
akan membawa roh orang mati yang dipestakan
menuju nirwana alam baka (roh si mati
menunggangi kerbau). Kerbau di keseharian
kehidupan masyarakat Toraja merupakan
hewan yang sangat tinggi maknanya dan
dianggap suci juga melambangkan tingkat
kemakmuran seseorang jika memilikinya
karena harga satu ekor kerbau bisa mencapai
puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Simbol adalah sesuatu yang biasanya
merupakan
“tanda”
kelihatan
yang
menggantikan gagasan atau obyek. Dalam arti
yang tepat simbol adalah “citra” atau imej yang
menunjuk pada suatu tanda indrawi dan realitas
supra indrawi, dan dalam suatu komunitas
tertentu tanda-tanda indrawi langsung dapat
dipahami,
misalnya
sebuah
tongkat
melambangkan wibawa tertinggi. Simbolisme
dipakai sebagai alat perantara untuk
menguraikan sesuatu. Simbolisme juga sangat
berperan dalam kebudayaan tanah Toraja.
Simbolisme dipakai sebagai alat tukar maupun
sebagai
mas
kawin
misalnya
untuk
menggadaikan sawah digunakan standar
kerbau, atau pun melamar gadis digunakan
kerbau sebagai ukuran yang sekaligus
menunjukkan strata sosial gadis yang dilamar,
tergantung jumlah kerbau yang ditentukan
sebagai mas kawin yang akan dibayar bila
terjadi perceraian.
Keseharian masyarakat Tana Toraja,
Sulawesi Selatan, tidak bisa dipisahkan dengan
hewan kerbau. Ini berlangsung hingga
sekarang. Bahkan, sebelum uang dijadikan alat
penukaran transaksi modern, hewan bertanduk
ini sudah kerap ditukar dengan benda lain.
Selain memiliki nilai ekonomis tinggi, hewan
bertubuh tambun ini juga melambangkan
kesejahteraan sekaligus menandakan tingkat
kekayaan dan status sosial pemiliknya di mata
masyarakat. Kerbau di Tana Toraja memiliki
ciri fisik yang khas dibandingkan dengan
daerah lain, terutama pada warna kulitnya yang
belang menyerupai sapi. Orang Toraja biasa
menyebut jenis kerbau ini Tedong Bonga.
Lantaran kulitnya yang aneh, maka kerbau
belang memiliki arti penting dalam setiap ritual
pesta kematian atau Rambu Solo. Kerbau ini
diperlakukan secara khusus. Semenjak kecil
sehingga dianggap suci sebagai hewan kurban
pada upacara Rambu Solo.
Tak salah jika harga kerbau setengah albino
ini menjadi mahal. Harga seekor hewan yang
masuk golongan kerbau lumpur (Bubalus
bubalis) itu kira-kira Rp. 50 – 175 juta,
tergantung kelasnya yang dinilai dari warna
belang yang simetris dan jumlah tubuh yang
belang maupun warna belang yang bersih dan
terang. Selain kerbau belang, kerbau biasa pun
juga akan dikurbankan dalam ritual Rambu
Solo, dengan harga bervariasi tergantung
penilaian eksterior antara lain jumlah dan letak
posisi pusar sampai warna bulu yang dianggap
jelek yang disebut “sambao” atau hamba
kerbau dengan harga yang paling murah.
Dahulu kerbau hanya sebagai hewan yang
biasa-biasa saja yang dipakai untuk menggarap
atau membajak sawah dan digunakan sebagai
alat tarnsportasi rakyat. Kerbau sangat
123
Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau 2011
membantu didalam kelangsungan hidup
masyarakat. Namun seiring bergesernya nilainilai peradaban kerbau semakin dihargai
karena memiliki andil besar dan berjasa
didalam membantu kegiatan kerja juga
kelangsungan hidup masyarakat Toraja. Selang
waktu berlalu akhirnya penghargaan kepada
hewan kerbau ini semakin lama semakin besar
dan hewan kerbau ini didaulat dan diangkat
sebagai simbol masyarakat tanah Toraja yang
dianggap sangat membantu kelangsungan
hidup masyarakat Tana Toraja, karena
membantu mengolah dan menyuburkan tanah
persawahan mereka sebagai lumbung hidup
mereka.
Ternak kerbau sebagai simbol status sosial
dalam tradisi “Rambu Solo”
Upacara kematian “Rambu Solo” ini dapat
dilaksanakan berdasarkan status sosial yang
meninggal sehingga pesta yang besar hanya
dapat dilaksanakan kalangan atas saja, dan
pesta yang paling tinggi disebut “Rapasan Sapu
Randanan” dimana pestanya berlangsung 1
minggu dan menghabiskan ratusan ekor kerbau
dan ribuan ekor ternak Babi. Pesta semacam ini
dapat menghabiskan dana sampai puluhan
milyar rupiah, dan konon kabarnya sebelum
masyarakat Toraja mengenal peri kemanusiaan
hamba yang meninggal ikut dikorbankan 1
orang yang akan mengawal yang meninggal
sampai di ”Puya” atau Nirwana. Tempat
pelaksanaan pesta semacam ini umumnya
dilaksanakan di suatu lapangan yang disebut
“rante” dimana pada tempat ini dibangun
pondok-pondok yang dapat menampuing tamu
selama pesta berlangsung. Tamu yang datang
tergantung dari jumlah kerabat dan diikuti
sanak saudara yang jumlahnya bisa mencapai
ribuan sampai puluhan ribu orang. Pada lokasi
ini juga dilengkapi dengan gelanggang tempat
adu kerbau dan acara adu kerbau ini
merupakan rangkaian upacara adat yang paling
digemari para tamu dan undangan termasuk
para wisatawan domestik dan asing. Dalam
dunia modern sekarang ini yang membuat
pesta adat semakin ramai dan pengorbanan
kerbau semakin banyak adalah karena ada
anggapan bahwa siapa yang mampu
melaksanakan pesta adat yang besar maka dia
dan keluarganya akan terangkat status
124
sosialnya, sedangkan yang tidak mampu
melaksanakan pesta adat yang besar status
sosialnya terabaikan bahkan dianggap turun
kelas, sehingga pesta adat dewasa ini dapat
dianggap sebagai pertarungan status sosial
dalam masyakat adat Toraja. Pelaksanaan pesta
adat merupakan pelayanan sosial terhadap
masyarakat dimana hewan yang disembelih
atau dipotong dagingnya dibagikan kepada
tamu-tamu, seluruh tetangga dan pemuka
masyarakat serta tokoh agama dalam satu
lembang/desa bahkan kadang dalam satu
kecamatan. Pelaksanaan Rambu Solo lainnya
dapat dilaksanakan turun satu tingkat dengan
pesta diatas dengan pemotongan kerbau
puluhan sampai ratusan kerbau. Dan acara
yang paling kecil dengan hanya mengorbankan
satu ekor kerbau dan acaranya hanya
berlangsung satu hari. Dalam pelaksanaan
pesta adat salah satu acara yang disukai para
tamu dan para turis adalah nyanyian pujaan
terhadap orang yang meninggal yang disebut
”Ma,badong” yang menyanyikan status sosial
dan kebaikan atau jasa-jasa almarhum atau
almarhumah semasa hidupnya. Pemotongan
kerbau pada pesta Rambu solo dimaksudkan
bahwa roh almarhum atau almarhumah
menunggangi salah satu kerbau yang
teristimewa (kerbau belang atau bonga) dan
kerbau-kerbau hitam lainnya menjaga dan
mengiringi, perjalanan roh si mati menuju alam
nirwana keabadian dan juga semakin banyak
kerbau yang dikurbankan semakin cepat dosa
si mati terhapuskan dan mendapat tempat di
sisi-Nya, dan makin banyak kerbau yang
dikurbankan juga akan melambangkan
kelayakan kehidupan sang mendiang di alam
baka. Dan banyaknya kerbau yang dikurbankan
selain menjaga keselamatan roh si mati menuju
alam nirwana juga secara tidak langsung akan
meninggalkan ketentraman batin bagi seluruh
keluarga yang ditinggalkan didunia. Bahkan
dipercaya bahwa kalau arwahnya sudah
disucikan maka dia akan menjadi orang suci
yang selalu mengawasi dan menjaga anak
cucunya untuk selalu berbuat baik, mereka
percaya bahwa rezeki dan hukuman selama
masih hidup di dunia akan selalu diberikan
oleh leluhur yang sudah hidup suci di nirwana.
Klasifikasi kerbau berdasarkan penampilan
eksterior dalam masyarakat adat Tana Toraja.
Secara umum orang Toraja membuat klaster
Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau 2011
kerbau berdasarkan penampilan eksterior
antara lain:
1. Tedong
Saleko
(Kerbau
belang),
Merupakan jenis Kerbau yang sempurna
belangnya dan posisi belangnya simetris
diseluruh badan kerbau, sehingga memiliki
nilai status sosial yang sangat tinggi dan
nilai
jualnya
bisa
mencapai
Rp. 300.000.000 per ekor.
2. Tedong Bonga (kerbau belang), memiliki
warna belang di sebagian besar tubuhnya,
termasuk yang belangnya hanya sebagian
kecil dibadannya. Nilai jualnya biasanya
Rp. 50.000.000 – 175.000.000 tergantung
distribusi belang pada tubuh kerbau.
3. Tedong Pudu, umumnya berbadan kekar
dan warna hitam. Kerbau jenis ini sangat
kuat dalam bertarung. Pada acara adu
kerbau pada pesta kematian, kerbau pudu
umumnya tampil sebagai petarung yang
kuat. Harga jualnya sekitar Rp. 30.000.000
– 100.000.000.
4. Tedong Balian, kerbau betina kebiri yang
memiliki panjang tanduk kurang lebih 2,5
meter. Nilai jualnya kadang lebih tinggi
daripada kerbau belang Rp. 50.000.000 –
100 000.000.
5. Tedong Lotong Boko, kerbau ini memiliki
ciri ciri warnanya kulitnya putih tetapi di
pundaknya terdapat warna hitam yang
simetris antara kiri dan kanan, harga
jualnya Rp. 50.000.000 – 80.000.000.
6. Tedong sokko, kerbau ini memiliki tanduk
yang arahnya turun ke bawah dan hampir
bertemu dibagan rahang bawah. Harganya
antara Rp. 40.000.000 – 70.000.000.
7. Tedong Tekken langi, kerbau ini memiliki
tanduk satu mengarah keatas dan yang
satunya menghadap kebawah. Harganya
sama dengan tedong sokko yaitu antara
Rp. 40.000.000 – 70.000.000.
8. Tedong Todi, kerbau berwarna hitam tetapi
di kepalanya (jidat) ada warna putih.
Nilainya jualnya antara Rp. 15.000.000 –
30.000.000.
9. Tedong Sambao, warna buluhnya suram
tidak hitam dan tidak merah dan lazim
disebut hambah kerbau. Merupakan kerbau
yang paling murah. Harganya antara Rp.
6.000.000 – 10.000.000.
10. Tedong Bulan, kerbau ini keseluruhan
kulitnya berwarna putih, menurut legenda
setempat jika seluruh tubuhnya berwarna
putih (termasuk matanya) maka kerbau ini
tidak akan bisa hidup, dan masih banyak
lagi jenis kerbau yang sangat dihargai dan
dihormati oleh masyarakat Toraja, dan
tentu juga kerbau tersebut memiliki nilai
jual yang tinggi dibandingkan dengan
kerbau yang dijumpai.
Kerbau sebagai ternak aduan
Agar tubuh kerbau menjadi kekar dan kuat,
susu dan belasan butir telur ayam menjadi
santapannya sehari-hari. Kekuatan dan postur
tubuhnya akan sangat berpengaruh pada nilai
jual serta daya tempur kerbau di arena adu
kerbau. Kerbau yang sering muncul sebagai
pemenang memiliki penggemar tersendiri di
arena pertandingan yang digunakan sebagai
ajang hiburan rakyat serta pertaruhan uang
antarwarga tersebut (Oase.kompas). Apabila
seseorang yang meninggal dan jiwanya keluar
dari jasadnya dan kemudian masuk dalam
phase kehidupan baru di alam puya (alam
baka), dan bertemu dengan penguasa alam
puya bernama Puang lalodongna, yang
mendapat kekuasaan penuh dari Puang matua
(Tuhan), untuk mengatur dan menertibkan
kehidupan arwah-arwah manusia yang sudah
meninggal. Pada saat arwah si mati menghadap
puya, ia akan ditanya sudah seberapa baikkah
upacara kematianmu dilaksanakan dengan baik
sesuai aturan yang berlaku? Yaitu dengan
banyaknya kurban kerbau-kerbau yang
dipersembahkan. Jika ternyata belum selesai
dan tidak sesuai aturan yang benar maka arwah
si mati tidak diperbolehkan memasuki puya
(alam baka) dan harus kembali ke dunia
semula dan hidup dalam dunia antara kematian
dan kehidupan (maya) dan arwah-arwah yang
ditolak inilah yang bergentayangan dan
mengganggu manusia disekelilingnya.
Konsep ajaran orang Toraja tak melihat
kematian sebagai sesuatu yang harus ditakuti.
Bagi mereka, kematian adalah bagian dari
ritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau
boleh ditangisi, kematian juga menjadi
kegembiraan yang membawa manusia kembali
menuju surga, asal-muasal leluhur. Dengan
kata lain, mereka percaya adanya kehidupan
setelah kematian. Di dalam upacara kematian
Rambu Solo kesedihan tidak terlau tergambar
di wajah-wajah keluarga yang berduka, sebab
125
Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau 2011
mereka punya waktu yang cukup untuk
mengucapkan selamat jalan kepada si mati,
sebab jenazah yang telah mati biasanya
disimpan dalam rumah adat (tongkonan),
disimpan bisa mencapai hitungan tahun.
Maksud dari jenazah disimpan ada beberapa
alasan: 1). Menunggu sampai keluarga bisa
atau mampu untuk melaksanakan upacara
kematian Rambu Solo, 2). Menunggu sampai
anak-anak dari si mati datang semua untuk siap
menghadiri pesta kematian ini. Karena mereka
menganggap bahwa orang yang telah mati
namun belum diupacarakan tradisi Rambu Solo
ini dianggap belum mati dan dikatakan hanya
sakit, karena statusnya masih “sakit“. Orang
yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan
diperlakukan sebagai orang yang masih hidup.
Pada masyarakat pemeluk Aluk Todolo (agama
kepercayaan masyarakat terdahulu), juga pada
sebagian keluarga yang telah menjadi kristen
atau katolik, perlakuan tadi termasuk
menyediakan makanan, minuman, rokok dan
sirih. Pihak keluarga juga harus selalu menjaga
agar “si sakit“ tidak mendapat gangguan dalam
bentuk apapun, termasuk menjaganya pada
malam hari sampai pada diupacarakan baru
bisa dikatakan “mati atau meninggal”. Karena
lamanya jenazah disimpan dan ada bersama
diantara orang-orang hidup dalam keluarga
maka sedikit demi sedikit aroma kesedihan itu
terkikis dan akhirnya sampai pada upacara
kematiannya kesedihan tidak terlalu tergambar
pada wajah-wajah keluarga yang berduka.
KESIMPULAN
Kerbau yang dikorbankan dalam pesta
Rambu Solo sesungguhnya hanyalah sebuah
simbol. Simbol dari sebuah tradisi yang turun
temurun. Sebab, dalam pelaksanaan upacara
ini, ada yang lebih penting, yaitu makna yang
terkait erat dengan kepercayaan masyarakat.
Bagi sebagian orang, tradisi ini bisa jadi
dinilai sebagai pemborosan. Sebab, demikian
besar biaya yang harus dikeluarkan untuk
penyelenggaraannya. Bahkan, ada yang sampai
tertunda berbulan-bulan untuk mengumpulkan
biaya pelaksanaan upacara ini; bahkan ada
yang menyatakan, orang Toraja mencari
kekayaan hanya untuk dihabiskan pada pesta
kematian.
126
Pandangan lain menyatakan, sungguh berat
acara itu dilaksanakan. Sebab, orang yang
kedukaan justru harus mengeluarkan biaya
besar untuk pesta. Untuk diketahui, hewanhewan yang dikorbankan dalam upacara itu,
ternyata bukan hanya dari kalangan keluarga
yang meninggal, tetapi juga merupakan
bantuan dari semua keluarga dan kerabat.
Selain itu, hewan yang dikorbankan itu juga
dibagi-bagikan, termasuk disumbangkan ke
rumah-rumah ibadah. Pesta ini sesungguhnya
menjadi simbol dari upaya melestarikan tradisi
tolong-menolong dan gotong-royong.
Bagi
masyarakat
Toraja,
berbicara
pemakaman bukan hanya berbicara upacara,
status, jumlah kerbau yang dipotong, tetapi
juga soal malu (siri'). Makanya, upacara
Rambu Solo juga terkait dengan tingkat
stratifikasi sosial. Dulunya, pesta meriah hanya
menjadi milik bangsawan kelas tinggi dalam
masyarakat ini. Akan tetapi, sekarang mulai
bergeser. Siapa yang kaya, itulah yang
pestanya meriah.
Dalam upacara Rambu Solo ini simbol
kerbau berperan sangat penting didalam
membentuk konsep kelas sosial atau strata
sosial di mata masyarakat Toraja dan
masyarakatnya mempercayai bahwa dengan
banyaknya kerbau-kerbau yang dikurbankan
akan lebih cepat mengantarkan roh si mati
menuju nirwana keabadian, karena kerbaukerbau inilah yang akan mengiringi perjalanan
roh si mati menuju alam baka. Dan sama sekali
tidak ada kesenjangan sosial pada masyarakat
kalangan bawah yang tidak dapat melaksanakan
upacara Rambu Solo ini karena dengan adanya
upacara kematian ini juga membawa berkah
bagi rakyat kalangan bawah karena mendapat
bagian daging dari kerbau-kerbau yang
dipotong atau disembelih. Jadi dengan adanya
kerbau sebagai simbol adat dengan kehidupan
masyarakat Toraja dan terlebih dalam ritual
kematian Rambu Solo ini dapat menjelaskan
eksistensi dari penggelar ritual ini dengan
mengedepankan kerbau sebagai simbol status
dari pemiliknya.
DAFTAR PUSTAKA
ABDUL, A.S. 2004. Simbolisme Tradisional Toraja.
Yogyakarta.
Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau 2011
BADRIE, H.M.G. 1997. Aluk todolo dan tradisi
simpan mayat di Tana Toraja. Bandar Gunung
Pesagi, Lampung.
SAID, A.A. 2004. Simbolisme unsur visual rumah
tradisional Toraja dan perubahan aplikasinya
pada desain modern.
LIPUTAN 6 SCTV. 2005. Makna Kerbau di Tana
Toraja. Jakarta.
SUARA MERDEKA. 2005. Upacara Kematian Rambu
Solo. Jakarta.
PASTOR, B.S. dan U.S.D.R. MARDI. 2005. Tradisi
Aluk Todolo Tana Toraja. Yogyakarta.
YEHUDA PANDU.
Yogyakarta.
2004.
Pemerhati
Budaya.
127
Download