International Workshop on Coastal Satelite Altimetry

advertisement
RESELECASEA
COASTAL ALTIMETRY IN
SOUTH EAST ASIA
Press Release
International Workshop on Coastal Satelite Altimetry
Bogor, 16 November 2011
•
•
•
•
•
•
Dapat memantau seluruh permukaan laut global tanpa henti dalam periode panjang
menjadi sangat penting karena data permukaan laut rata-rata dari masa ke masa adalah
indikator dari perubahan iklim akibat global warming. Permukaan laut rata-rata ini
dapat menggambarkan reaksi dari beberapa komponen yang berbeda dari sistem iklim
bumi. Perubahan iklim semakin mengkhawatirkan sebab setiap kenaikan permukaan
laut yang ditimbulkannya juga sangat berdampak pada sosial ekonomi.
Satelit altimetri adalah teknologi masa kini dan masa yang akan datang. Terbukti, satelit
altimetri sejak dinyatakan operasional tahun 1992 telah memantau seluruh permukaan
lautan dengan kualitas pengamatan yang relatif homogen dan teliti. Kontribusinya
sangat signifikan pada berbagai keperluan ilmiah dan praktis seperti pemetaan,
oseanografi, geofisik, perikanan dan perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut.
Namun dibalik kemajuan pemantauan berbasis teknologi satelit, bukan dimaksudkan
bahwa pengamatan tradisonal pemantauan laut di garis pantai seperti pasang surut
sudah tidak diperlukan lagi. Peran stasiun pasang surut tak kalah penting sebagai titik
kontrol bagi pemantauan satelit di bumi.
Peluncuran satelit altimeter dalam tahun berbeda telah berhasil menjaga
keberlangsungan pengamatan satelit altimetri pada orbitnya. Era Satelite altimetry
bermula dari keberhasilan Seasat (1978) dan kemudian Geosat (1985) oleh NASA
Amerika Serikat. Kemudian Badan Angkasa Luar Eropa (ESA) berhasil meluncurkan ERS-1
(1991) dan ERS-2 (1995) dan Amerika meluncurkan GFO (1998). Amerika bekerja sama
dengan Perancis meluncurkan 3 satelit yaitu Topex/Poseidon (1992), dan Jason-1 (2001)
dan Jason-2 (2008) and kembali ESA meluncurkan Envisat (2002). Negara Cina baru saja
di bulan Agustus berhasil meluncurkan satelit Altimetri HY-2 dan India beserta Jepang
akan menyusul di beberapa tahun mendatang.
Teknologi berbasis satelit seperti satelit altimetri begitu menarik minat para ahli
kelautan karena satelit altimetri ini adalah satelit remote sensing yang datanya terbuka
diakses bebas via internet, tidak seperti satelit remote sensing lainnya yang citranya
relatif mahal. Apa yang terjadi pada fenomena pesatnya kemajuan dan kreativitas yang
terjadi pada sistem operasi dan aplikasi open source, hal yang sama terjadi juga pada
teknologi altimetri, perkembangan dan aplikasinya sangat luar biasa pesat.
Diakusi, kualitas pemantauan satelit altimetri di lautan lepas sudah begitu baik dan teliti,
namun untuk daerah pantai dan laut dangkal seperti Perairan Kepulauan Indnesia, data
satelit altimetri masih kurang bagus karena ketelitiannya menurun drastis akibat distorsi
•
•
•
•
sinyal ketika melintas di sekitar batas pantai. Pengolahan datanya pun cukup rumit dan
perlu pengetahuan khusus.
Sekarang perhatian para ahli semakin tertuju pada meningkatkan ketelitia altimetri di
daerah perairan pantai karena penggunaannya berpotensi besar dari segi ilmiah dan
keperluan praktis. Inilah menjadi salah satu motivasi bagi Bakosurtanal membangun
komunitas para ahli satelit altimetri melalui workshop, training dan kegiatan penelitian
terapan.
Kenaikan permukaan laut global sebesar 3 mm/tahun baru meyakinkan para ahli setelah
data altimetri membenarkannya. Nilai nominal kecepatan kenaikan permukaaan laut 3
mm/tahun sepertinya bisa menyesatkan tidak akan membahayakan kehidupan bumi
karena besarnya dapat dikatakan cukup kecil bagi pengamatan mata kita. Akan tetapi
dampak ikutannya akan terlihat bukan saja bila dilihat dampak jangka panjang misalnya
kenaikan 100 tahun total akan menjadi 30 centimeter. Selain itu, akibat kenaikan
permukaan laut di berbagai belahan dunia secara regional sangat bervariasi.
Mencairnya lapisan es terutama di Greenland, sebagai penyebab utama kenaikan
permukaan laut, berdasarkan hasil analisis pengamatan satelit altimeter ternyata
kenaikan permukaan laut ternyata lebih tinggi di kawasan Pantai Indonesia Timur
dibandingkan dengan kawasan Pantai di Indonesia Barat dan belahan dunia lainnya.
Workshop ini merupakan bagian kegiatan bersama Bakosurtanal dengan Projek Riset
Reconstruction of Sea Level Change in South Asia Using Satellite Altimetry and Tide
Gauge Data (RESELECASEA).
Proyek RESELECASEA mendapat pendanaan riset
kompetitif dari Asia Pacific Network for Global Change Research (APN) yang
sekretariatnya di Tokyo. Tujuan Projek RESELECASEA ini adalah, pertama, meningkatkan
kemampuan para peneliti kita dalam pengolahan dan penggunaan data satelit altimeter
dan kedua untuk merekontruksi peta kenaikan permukaan laut di Asia Tenggara dengan
menggunakan data Satellit Altimeter dan data hasil pengamatan pasang surut. Kegiatan
ini, dengan Dr. Parluhutan Manurung dari Bakosurtanal sebagai peneliti utama,
mendapat dukungan dari Prof. Robert R Leben dari University of Colorado yang telah
mengerjakan pengembangan satelit altimeter di NASA dan berbagai kegiatan
pemantauan arus di sekitar Teluk Meksiko dan Dr. Stefano Vignudelli adalah editor buku
Coastal Altimetry dari Italia. Peneliti Vietnam juga disertakan untuk memperluas uji
coba model yang dikembangkan lebih luas ke negara tersebut.
Peta permukaan laut akan menyajikan pola-pola perubahan yang terjadi di permukaan
lautan seperti perputaran arus, gelombang, lintasan tsunami, dan La Nino dan El Nino.
Pola perubahan permukaan laut ini juga memberi sinyal penting terkait dengan biota
laut dan distribusi phyto plankton sehingga industri perikanan juga memakai satelit
altimetri untuk meningkatkan volume tangkapan. Berbagai praktek sudah menunjukkan
hasil menggembirakan terbukti hasil satelit altimetri memiliki kesesuaian yang tinggi
dengan citra satelit lainnya. Dunia Industri kelautan berlomba memanfaatkan
keunggulan pengamatan satelit altimetri yaitu homogen, terus menerus dan dapat
diakses bebas. (Dr. Asep Karsidi – Kepala BAKOSURTANAL)
Download