Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori–teori yang berkaitan dengan
pengaruh, biaya, coporate social responsibility, dan laba perusahaan. Pengaruh itu
sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:849) adalah daya yang ada
atau timbul dari sesuatu (barang atau benda) yang ikut memberi watak, kepercayaan,
atau perbuatan seseorang.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan dalam penelitian penulis mengenai
seberapa besar daya yang ada atau timbulkan dari biaya corporate social
responsibility terhadap tingkat laba perusahaan.
2.1 Biaya
Untuk mengelola suatu perusahaan diperlukan informasi biaya yang
sistematik dan komparatif. Informasi ini membantu manajemen untuk dapat
menetapkan sasaran laba perusahaan di masa yang akan dating. Menetapkan target
departemen menuju pencapaian sasaran akhir, mengevaluasi keefektifan rencana, dan
lain sebagainya. Oleh
karena itu, akan sangat penting bagi manajemen untuk
mengetahui pengertian, objek serta penggolongan biaya secara lebih mendalam.
10
11
2.1.1 Pengertian Biaya
Biaya memiliki berbagai macam arti tergantung maksud dari pemakai istilah
tersebut. Mulyadi membedakan pengertian biaya ke dalam arti luas dan arti sempit
antara lain sebagai berikut (Mulyadi, 2012: 3):
Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam
satuan uang, yang telah terjadi atau mungkin terjadi untuk mencapai tujuan
tertentu. Dalam arti sempit biaya merupakan bagian dari harga pokok yang
dikorbankan dalam usaha untuk memperoleh penghasilan.
Supriyono juga membedakan biaya ke dalam dua pengertian yang berbeda
yaitu biaya dalam arti cost dan biaya dalam arti expense (Supriyono, 2011: 14):
Biaya dalam arti cost (harga pokok) adalah jumlah yang dapat diukur dalam
satuan uang dalam rangka pemilikan barang dan jasa yang diperlukan perusahaan,
baik pada masa lalu (harga perolehan yang telah terjadi) maupun pada masa yang
akan datang (harga perolehan yang akan terjadi). Sedangkan expense (beban) adalah
Biaya yang dikorbankan atau dikonsumsi dalam rangka memperoleh pendapatan
(revenues) dalam suatu periode akuntansi tertentu.
Dari definisi-definisi biaya tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa biaya
adalah suatu sumber ekonomi yang dapat diukur dengan satuan moneter yang
dikorbankan perusahaan untuk memperoleh penghasilan.
12
2.1.2 Klasifikasi Biaya
Pembagian biaya dapat dihubungkan dengan suatu proses produksi dalam
perusahaan industri baik yang mempunyai hubungan langsung maupun tidak
langsung, yaitu berhubungan dengan:
1. Produk.
2. Volume produksi.
3. Departemen manufaktur.
4. Periode akuntansi.
5. Keputusan, tindakan, dan evaluasi.
Klasifikasi biaya sangat penting guna membuat ikhtisar yang berarti atas data
biaya. Hal tersebut berguna untuk manajemen memperoleh informasi dalam
mengambil keputusan atau kebijaksanaan bagi perusahaan. Beberapa hal yang
dihubungkan dengan biaya adalah sebagai berikut:
1. Biaya dalam hubungannya dengan produk
Pembagian biaya dalam hubungannya dengan produk terdiri dari:
a. Biaya Manufaktur.
Biaya manufaktur disebut juga biaya produksi atau biaya pabrik. Biaya
manufaktur biasanya didefinisikan sebagai jumlah dari tiga elemen biaya:
1. Biaya bahan baku langsung
13
Berikut beberapa definisi menurut para ahli tentang bahan baku langsung:
Menurut Mulyadi (2010:275) bahan baku merupakan bahan yang membentuk
bagian menyeluruh produk jadi. Bahan baku yang diolah dalam perusahaan
manufaktur dapat diperoleh dari pembelian lokal, impor atau dari pengolahan sendiri.
Sedangkan menurut Carter (2009:40) yang diterjemahkan oleh Krista adalah bahan
baku langsung adalah semua bahan baku yang membentuk bagian integral dari
produk jadi dan dimasukkan secara eksplisit dalam perhitungan biaya produk.
Berdasarkan pendapat dari para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
bahan baku merupakan unsur paling pokok dalam proses produksi.
2. Tenaga kerja langsung
Berikut beberapa definisi menurut para ahli tentang tenaga kerja langsung:
Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:12) biaya tenaga kerja langsung
adalah tenaga kerja yang digunakan dalam merubah atau mengkonversi bahan baku
menjadi produk selesai dan dapat ditelusuri secara langsung kepada produk selesai,
dan menurut Sunarto (2003:5) biaya tenaga kerja adalah biaya yang timbul karena
pemakaian tenaga kerja yang dipergunakan untuk mengolah bahan menjadi barang
jadi, biaya tenaga kerja langsung merupakan gaji dan upah yang diberikan tenaga
kerja yang terlibat langsung dalam pengolahan barang. Sedangkan menurut Carter
(2009:40) yang diterjemahkan oleh Krista, biaya tenaga kerja langsung adalah tenaga
kerja yang melakukan konversi bahan baku langsung menjadi produk jadi dan dapat
14
dibebankan secara layak ke produk tertentu.
Berdasarkan pendapat dari para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
tenaga kerja langsung merupakan faktor penting berupa sumber daya manusia yang
mempengaruhi proses pengelolaan bahan baku menjadi barang jadi pada suatu proses
produksi dan biaya tenaga kerja merupakan upah yang diberikan kepada tenaga kerja
dari usaha tersebut.
3. Overhead pabrik
Berikut ini merupakan beberapa pengertian menurut para ahli mengenai biaya
overhead:
Menurut Carter (2009:40) yang diterjemahkan oleh Krista, biaya overhead
pabrik terdiri atas semua biaya manufaktur yang tidak secara langsung ditelusuri ke
output tertentu. Misalnya biaya energi bagi pabrik seperti gas, listrik, minyak dan
sebagainya. Sedangkan menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:13) Biaya
Overhead dapat dikelompokkan menjadi beberapa elemen:

Bahan tidak langsung (bahan pembantu atau penolong) adalah bahan yang
digunakan dalam penyelesaian produk tetapi pemakaiannya relatif lebih kecil
dan biaya ini tidak dapat ditelusuri secara langsung kepada produk selesai.
Contoh: amplas, pola kertas, oli dan minyak pelumas, paku, sekrup dan
mur,staples, asesoris pakaian, vanili, garam, pelembut, pewarna.
15

Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung adalah biaya tenaga kerja yang
membantu dalam pengolahan produk selesai, tetapi dapat ditelusuri kepada
produk selesai. Contoh: Gaji satpam pabrik, gaji pengawas pabrik, pekerja
bagian pemeliharaan, penyimpanan dokumen pabrik, gaji operator telepon
pabrik, pegawai pabrik, pegawai bagian gudang pabrik, gaji resepsionis
pabrik, pegawai yang menangani barang.

Biaya tidak langsung lainnya adalah biaya selain bahan tidak langsung dan
tenaga kerja tidak langsung yang membantu dalam pengolahan produk selesai,
tetapi tidak dapat ditelusuri kepada produk selesai. Contoh : Pajak bumi dan
bangunan pabrik, listrik pabrik, air, dan telepon pabrik, sewa pabrik, asuransi
pabrik, penyusutan pabrik, peralatan pabrik, pemeliharaan mesin dan pabrik,
gaji akuntan pabrik, reparasi mesin dan peralatan pabrik.
Berdasarkan pendapat dari para ahli tentang overhead dapat disimpulkan
bahwa biaya overhead adalah biaya penolong atau pembantu yang tidak dapat
ditelusuri terhadap produk jadi karena pemakaiannya bahan yang relatif kecil.
Bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung keduanya disebut biaya
utama (prime cost). Sedangkan tenaga kerja langsung dan overhead pabrik keduanya
disebut biaya konversi.
b. Beban Komersial.
16
Beban komersial terdiri atas dua klasifikasi besar: beban pemasaran dan beban
administratif. Beban pemasaran yaitu mulai dari titik dimana biaya manufaktur
berakhir. Sedangkan
beban administratif termasuk beban yang terjadi dalam
mengarahkan dan mengendalikan organisasi.
2. Biaya dalam hubungannya dengan volume produksi
Beberapa jenis biaya berubah secara proporsional terhadap perubahan dalam
volume produksi atau output, sementara yang lainnya tetap relatif konstan dalam
jumlah. Kecenderungan biaya untuk berubah terhadap output harus dipertimbangkan
oleh manajemen jika manajemen ingin sukses dalam merencanakan dan
mengendalikan biaya.
a. Biaya variabel.
Jumlah total biaya variabel berubah secara proporsional terhadap perubahan
aktivitas dalam rentang yang relevan (relevant range).
b. Biaya tetap.
Biaya tetap bersifat konstan secara total dalam rentang yang relevan. Dengan
kata lain, biaya tetap per unit semakin kecil seiring dengan meningkatnya aktivitas
dalam rentang yang relevan.
c. Biaya semi-variabel.
Biaya semivariabel memiliki elemen biaya tetap dan biaya variabel.
17
3. Biaya dalam hubungannya dengan departemen produksi.
Dalam sistem klasifikasi biaya ini, departemen adalah objek biayanya. Suatu
bisnis biasanya dibagi menjadi beberapa segmen atau departemen, yang berfungsi
sebagai dasar untuk mengklasifikasikan dan mengakumulasikan biaya dan
membebankan tanggung jawab untuk pengendalian biaya. Saat produk melalui suatu
suatu departemen, unit tersebut dibebankan dengan biaya yang dapat ditelusuri
langsung dan biaya tidak langsung.
a. Departemen produksi dan departemen jasa.
Kegiatan operasi manual dan operasi mesin seperti pembentukan dan
perakitan dilakukan secara langsung dalam departemen produksi pada produk atau
bagian-bagian produk. Departemen jasa yang umum di beberapa organisasi adalah
departemen pemeliharaan, departemen penggajian, dan departemen pemrosesan data.
Jika suatu biaya dapat ditelusuri ke suatu departemen dimana biaya tersebut berasal,
maka biaya tersebut disebut biaya langsung departemen, seperti gaji supervisor dan
biaya penyusutan mesin dari departemen pemeliharaan merupakan biaya langsung
dari departemen pemeliharaan. Sementara jika suatu biaya digunakan bersama oleh
beberapa departemen yang memperoleh manfaat dari biaya tersebut, maka biaya itu
disebut biaya tidak langsung departemen, seperti biaya sewa gedung dan biaya
penyusutan gedung kantor.
b. Biaya Bersama (common cost) dan biaya gabungan (joint cost).
18
Biaya bersama dan biaya gabungan adalah jenis biaya tidak langsung. Biaya
bersama biasanya ada di organisasi dengan banyak departemen atau segmen. Biaya
gabungan terjadi ketika produksi dari suatu produk menghasilkan satu atau beberapa
produk lain tanpa dapat dihindari.
4. Biaya dalam Hubungannya dengan Periode Akuntansi
a. Pengeluaran Modal (Capital Expenditure).
Pengeluaran ini ditujukan untuk memberikan manfaat di masa depan dan dilaporkan
sebagai aktiva.
b. Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure).
Pengeluaran ini memberikan manfaat untuk periode sekarang dan dilaporkan sebagai
beban.
c. Biaya dalam Hubungannya dengan suatu Keputusan, Tindakan atau Evaluasi.
Dalam membuat pilihan diantara beberapa alternatif yang mungkin dilakukan,
adalah penting untuk mengidentifikasi biaya (pendapatan, pengurangan biaya,
penghematan) yang relevan terhadap pilihan tersebut. Biaya diferensial adalah salah
satu nama dari biaya yang relevan untuk suatu pilihan diantara banyak alternatif.
Pengertian biaya diferensial menurut Supriyono (2001:259) adalah biaya yang akan
datang yang berbeda diantara berbagai alternatif keputusan yang mungkin dipilih.
Sedangkan Carter dan Usry (2009:322) menyatakan bahwa biaya diferensial adalah
19
biaya yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan suatu usulan proyek atau
memperluas aktivitas yang telah dilakukan. Sementara itu suatu biaya yang telah
terjadi tidak relevan terhadap pengambilan keputusan disebut biaya tertanam.
2.1.3 Pengukuran Biaya
Pengukuran biaya adalah sebagai dasar untuk mengola sumber daya
organisasi karena biaya sangat penting untuk mengukur sumber daya yang diperoleh
atau tersedia dan digunakan. Berikut beberapa metode pengukuran menurut
(Lasniroha, Tetty. 2002:36):

Throughput Costing

Variable Costing

Absorption Costing
2.2 Corporate Social Responsibility
2.2.1 Pengertian Corporate Social Responsibility
Dalam peraturan perusahaan Bank Indonesia mengeluarkan tentang CSR
mengenai perusahaan perbankan melalui Prograam Sosial Bank Indonesia atau PSBI
merupakan bentuk kepedulian atau empati social Bank Indonesia untuk kontribusi
dalam membantu memecahkan masalah sosial ekonomi yang dihadapi masyarakat.
20
Melalui program sosial. Bank Indonesia juga berupaya meningkatkan kesadaran dan
pemahaman masyarakat terhadap pelaksanaan tugas dan pencapaian tujuan Bank
Indonesia.
PSBI meliputi dua jenis program, yakni Program Strategis dan Kepedulian
Sosial. Program Strategis mencakup program pengembangan ekonomi dan program
peningkatan pengetahuan serta pemahaman masyarakat tentang tujuan dan pelaksaan
tugas Bank Indonesia. Sementara Program Kepedulian Sosial, merupakan kepedulian
atau empati terhadap permasalahan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan
lingkungan hidup, kebudayaan, keagamaan, dan penanganan musibah dan bencana
alam.
2.2.2 Perkembangan Konsep CSR Periode 1980-an – Saat ini
Perkembangan menurut Caroll (1978) dalam buku CSR Transformasi Konsep
Sustainability management dan Implementasi di Indonesia (Karini, Dwi. 2009:14),
konsep CSR memuat komponen-komponen sebagai berikut:
1. Economic responsibilities
Tanggung jawab social utama perusahaan adalah tanggung jawab ekonomi,
karena lembaga bisnis terdiri dari aktivitas ekonomi yang menghasilkan barang
dan jasa bagi masyarakat secara menguntungkan.
21
2. Legal responsibilities
Masyarakat berharap bisnis dijalankan dengan mentaati hukum dan peraturan
yang berlaku yang pada hakikatnya dibuat oleh masyarakat melalui lembaga
legislatif.
3. Ethical responsibilities
Masyarakat berharap perusahaan menjalankan bisnis secara etis. Menurut Epstein
(1989: 584-585), etika bisnis menunjukan refleksi moral yang dilakukan oleh
pelaku bisnis secara perorangan maupun secara kelembagaan (organisasi) untuk
menilai suatu isu di mana penilaian ini merupakan pilihan terhadap nilai yang
berkembang dalam suatu masyarakat. Melalui pilihan nilai tersebut, individu, atau
organisasi akan memberikan penilain apakah sesuatu yang dilakukan itu benar
akan memberikan penilaian apakah sesuatu yang dilakukan itu benar atau salah,
adil atau tidak serta memiliki kegunaan (utilitas) atau tidak.
4. Discretionary responsibilities
Masyarakat mengharapkan keberadaan perusahaan dapat memberikan manfaat
bagi mereka. Ekspektasi masyarakat tersebut dipenuhi oleh perusahaan melalui
berbagai program yang bersifat filantropis. Dalam kaitan ini perusahaan juga
ingin
dipandang sebagai warga negara yang baik (good citizen) di mana
kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat akan mempengaruhi reputasi
perusahaan. Oleh sebab itu aktivitas yang dilakukan perusahaan sebagai
22
manifestasi discretionary responsibilities sering juga disebut sebagai Corporate
Citizenship.
Tabel 2.1
Kategori Tanggung Jawab Sosial dan Aktivitas CSR
Discretionary
Corporate
giving/charity,
corporate
citizenship,
Responsibilities
community development.
Ethical Responsibilities
Memproduksi produk makanan yang bergizi dan aman
bagi konsumen.
Legal Responsibilities
Membayar pajak, mentaati undang-undang ketenaga
kerjaan.
Economic
Melaksanakan good
corporate
governance
yang
Responsibilities
memungkinkan perusahaan memperoleh maksimalisasi
laba.
Sumber: Kartini, Dwi. 2009. buku CSR Transformasi Konsep Sustainability
management dan Implementasi di Indonesia, diadaptasi dari Archie B. Carrol, A
Three-Dimensional Conceptual Model of Corporate Performance,The Academy
of Management Review.
2.2.3 Pedoman (Guidelines) dan Tata Etika (Codes of Conduct)
Selain ISO 26000 yang mengatur tentang standar CSR, ada berbagai
Guidelines atau pedoman sangat diperlukan dalam pelaksanaan strategi CSR oleh
23
perusahaan. Di beberapa institusi global telah menetapkan pedoman yang baik serta
efektif mengenai apa saja yang berhubungan dengan CSR, salah satunya dari institusi
yang bernama World Business Council for Sustainable Development. Tetapi yang
paling menjadi acuan utama adalah UN Global Compact yang diinisiasi oleh mantan
Sekjen PBB Kofi Anan. Konten dari UN Global Compact dalam buku CSR
Transformasi Konsep Sustainability management dan Implementasi di Indonesia
(Kartini, Dwi. 2009:47) adalah sebagai berikut:

Hak Azasi Manusia
1. Mendukung dan menghormati perlindungan HAM.
2. Menghindari keterlibatan di dalam pelanggaran HAM.

Aturan Perburuhan
3. Mempertahankan kebebasan berserikat dan perjanjian kolektif.
4. Penghapusan kerja paksa.
5. Penghapusan kerja oleh kanak-kanak.
6. Peniadaan diskriminasi
dalam
penempatan
tenaga
penugasan.

Lingkungan
7. Mendukung kehati-hatian dalam penanganan lingkungan.
8. Penyebarluasan tanggung jawab lingkungan.
9. Mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan.

Anti Korupsi
kerja
dan
24
10. Secara aktif melawan segala bentuk korupsi, termasuk pemerasan dan
penyuapan.
Beberapa negara telah menjadikan UN Global Compact ini menjadi suatu
kebijakan yang disesuaikan lagi dengan kebijakan negara mereka masing-masing.
Sehingga dengan adanya pedoman ini, korporasi, pemerintah dan masyarakat paham
mengenai ruang lingkup serta apa yang menjadi substansi CSR itu sendiri.
2.2.4 Promosi Kegiatan Sosial (Cause Promotion)
Biaya promosi dapat ditetapkan oleh perusahaan sesuai dengan kebutuhan dan
anggaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Yang sering terjadi dalam sebuah
perusahaan adalah ketika perusahaan menggunakan
biaya promosi tinggi, maka
volume penjualan harusnya semakin tinggi pula (Kurniawan, Ryan. 2013:1).
Dalam aktivitas CSR ini, perusahaan menyediakan dana atau sumber daya
lainnya yang dimiliki perusahaan untuk meningkat kesadaran masyarakat terhadap
suatu kegiatan sosial atau untuk mendukung pengumpulan dana, partisipasi dari
masyarakat atau perekrutan tenaga sukarela untuk kegiatan tertentu.
Beberapa tujuan komunikasi persuasif yang ingin dicapai oleh perusahaan
melalui pelaksaan cause promotion menurut (Kohler dan Lee, 2005:51), adalah
sebagai berikut:
25
1. Menciptakan kesadaran dan perhatian dari masyarakat terhadap suatu masalah
dengan menyajikan angka-angka statistik serta fakta-fakta yang menggugah.
2. Membujuk masyarakat untuk memperoleh informasi lebih banyak mengenai
suatu isu sosial dengan mengunjungi website tertentu.
3. Membujuk orang untuk menyumbangkan waktunya, untuk membantu mereka
yang membutuhkan.
4. Membujuk orang menyumbangkan uangnya untuk kemanfaatan masyarakat
melalui pelaksanaan program sosial perusahaan. Sebagai contoh, SCTV
membentuk Pundi Amal SCTV untuk membantu masyarakat miskin melalui
pelaksanaan program beasiswa, pengobatan gratis.
5. Membujuk orang untuk menyumbangkan sesuatu yang mereka miliki selain
uang. Misalnya, took buku Gramedia menyediakan kotak khusus untuk
menampung sumbangan buku bekas guna disumbangkan ke kelompok
masyarakat lain yang membutuhkan buku-buku tersebut.
Berbagai benefit yang dapat diperoleh perusahaan dengan melaksanakan
kegiatan cause promotions, menurut (Kohler dan Lee, 2005) adalah sebagai berikut:
1. Pelaksanaan cause promotions oleh perusahaan akan memperkuat positioning
merk perusahaan.
2. Pelaksanaan cause promotions dapat turut menciptakan jalan bagi ekspresi
loyalitas konsumen terhadap suatu masalah, sehingga bisa meningkatkan
loyalitas konsumen terhadap peerusahaan penyelenggara promosi.
26
3. Memberikan peluang kepada para karyawan perusahaan untuk terlibat dalam
suatu kegiatan sosisal yang menjadi kepedulian mereka.
4. Cause promotions dapat menciptakan kerjasama antara perusahaan dengan
pihak-pihak lain ( misalnya media), sehingga memperbesar dampak
pelaksanaan promosi.
5. Aktivitas cause promotions dapat meningkatkan citra perusahaan (corporate
image), dimana citra perusahaan yang baik akan dapat memberikan berbagai
pengaruh positif lainnya, misalnya meningkatkan kepuasan dan loyalitas
karyawan yang dapat memberikan kontribusi positif peningkatan kinerja
finansial perusahaan.
2.2.5 Reward bagi Korporat yang Melaksakan CSR
2.2.5.1 Reward Finansial bagi Perusahaan
Mungkin hitungan-hitungan incremental capital-output ratio untuk setiap
rupiah yang dikeluarkan untuk investasi CSR belum bisa dibuat secara baku, tetapi
keterlibatan perusahaan dalam inisiatif CSR di era sekarang ini tidak akan sia-sia,
oleh karena itu ada beberapa reward yang akan dinikmati (Kartini, Dwi. 2009:84).
Reward itu berupa:

Menurunkan Biaya Operasional Perusahaan

Meningkatkan Volume Penjualan dan Pangsa Pasar
27

Menarik Calon Investor

Pertumbuhan Nilai Saham yang Signifikan

Membuat Kesejahteraan Karyawan Lebih Baik

Mencegah Resiko dari Dampak Sosial

Mencegah Resiko dari Dampak Alam
2.2.5.2 Reward Non Financial bagi Perusahaan
Reward non finansial bertendensi adanya pergerakan CSR dari suatu
perusahaan yang menghasilkan, tidak berbentuk uang tetapi berbentuk peningkatan
kapasitas dan kapabiliti perusahaan tersebut secara kualitatif, dan tentu sangat
menguntungkan bagi perusahaan itu sendiri. Inti reward dari pelaksanaan CSR non
financial bagi perusahaan adalah „Memperkuat Reputasi Perusahaan.’
Ada 5 elemen yang membantu proses “Memperkuat Reputasi Perusahaan”
menurut (Kartini, Dwi. 2009:88) yakni:

Kepercayaan

Kredibilitas

Responsibility

Akuntabilitas

Mengelola Risiko Bisnis Secara Lebih Tanggap dan Terperinci.
28
2.2.6 Pelaporan CSR
Undang-undang PT No. 40 Tahun 2007 pasal 66 (2007:32) menyatakan
bahwa:
“Laporan Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan termasuk
dalam laporan tahunan yang harus disampaikan oleh direksi kepada RUPS
setelah ditelaah oleh dewan Komisaris dalam jangka waktu paling lambat 6
(enam) bulan setelah tahun buku persero terakhir.”
Pemerintah belum menerbitkan peraturan pelaksanaan mengenai bentuk
laporan pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, tetapi ISRA 2008 telah
menggunakan kriteria penilaian yang merujuk pada rerangka Global Reporting
Initiative (GRI) –Sustainibility Reporting Guidelines versi 3.0. Sustainibility
Reporting Guidelines berisi, Reporting Principles, Reporting Guidelines, dan standar
disclosure.
2.2.7 Komponen Biaya CSR
Menurut Septina dan Emrinaldi (2012:72) komponen biaya corporate social
responsibility yaitu:
1. Biaya Kesejahteraan Karyawan
29
Mencakup praktik ketenagakerjaan, melalui program kesejahteraan karyawan
yang dapat ditentukan melalui penelusuran akun-akun laporan keuangan terkait
dengan pelaksaan program ini seperti akun gaji, upah, bonus, tunjangan dan
kesejahteraan karyawan.
2. Biaya Bina Lingkungan
Mencakup lingkungan, dilakukan melalui program bina lingkungan yang
dapat ditentukan dengan menelusuri akun-akun terkait dengan kegiatan ini dalam
laporan keuangan, seperti akun sumbangan, iuran, pelatihan dan pendidikan,
hubungan masyarakat dan bina lingkungan.
3. Biaya Kemitraan
Mencakup pelibatan dan pengembangan masyarakat melalui program
kemitraan dapat ditentukan melalui penelusuran akun-akun terkait dengan kegiatan
ini pada laporan keuangan, seperti akun program kemitraan, dana pinjaman, ikatan
kerjasama dan sponsor
2.3 Laba
2.3.1 Pengertian Laba
Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan laba. Laba merupakan
indikator prestasi atau kinerja perusahaan yang besarnya tampak di laporan keuangan,
30
tepatnya laba rugi. (Wild, Subramanyam, dan Halsey. 2005: 25) mendefenisikan
laba sebagai berikut:
Laba (earnings) atau laba bersih (net income) mengindikasikan profitabilitas
perusahaan. Laba mencerminkan pengembalian kepada pemegang ekuitas untuk
periode bersangkutan, sementara pos-pos dalam laporan merinci bagaimana laba
didapat. Laba terdiri dari empat elemen utama yaitu pendapatan (revenue), beban
(expense), keuntungan (gain), dan kerugian (loss). Defenisi dari elemen-elemen laba
tersebut telah dikemukakan oleh (Stice, dan Skousen 2004: 230).
1. Pendapatan (revenue) adalah arus masuk atau peningkatan lain dari aktiva
suatu entitas atau pelunasan kewajibannya (atau kombinasi dari keduanya)
dari penyerahan atau produksi suatu barang, pemberian jasa, atau aktivitas
lain yang merupakan usaha terbesar atau usaha utama yang sedang dilakukan
entitas tersebut.
2. Beban (expense) adalah arus keluar atau penggunaan lain dari aktiva atau
timbulnya kewajiban (atau kombinasi keduanya) dari penyerahan atau
produksi suatu barang, pemberian jasa, atau pelaksanaan aktivitas lain yang
merupakan usaha terbesar atau usaha utama yang sedang dilakukan entitas
tersebut.
3. Keuntungan (gain) adalah peningkatan dalam ekuitas (aktiva bersih) dari
transaksi sampingan atau transaksi yang terjadi sesekali dari suatu entitas dan
31
dari semua transaksi, kejadian, dan kondisi lainnya yang mempengaruhi
entitas tersebut, kecuali yang berasal dari pendapatan atau investasi pemilik.
4. Kerugian (loss) adalah penurunan dalam ekuitas (aktiva bersih) dari transaksi
sampingan atau transaksi yang terjadi sesekali dari suatu entitas dan dari
semua transaksi, kejadian, dan kondisi lainnya yang mempengaruhi entitas
tersebut, kecuali yang berasal dari pendapatan atau investasi pemilik.
2.3.2 Jenis-jenis Laba
1. Laba kotor
Menurut Wild, Subramanyam, dan Halsey (2005: 120) laba kotor
merupakan “pendapatan dikurangi harga pokok penjualan”. Apabila hasil penjualan
barang dan jasa tidak dapat menutupi beban yang langsung terkait dengan barang dan
jasa tersebut atau harga pokok penjualan, maka akan sulit bagi perusahaan tersebut
untuk bertahan.
2. Laba operasi
Menurut (Stice, Stice dan Skousen 2004: 243) “laba operasi mengukur
kinerja operasi bisnis fundamental yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dan
didapat dari laba kotor dikurangi beban operasi”. Laba operasi menunjukkan seberapa
efisien dan efektif perusahaan melakukan aktivitas operasinya.
32
3. Laba sebelum pajak
Laba sebelum pajak menurut Wild, Subramanyam, dan Halsey (2005: 25)
merupakan “laba dari operasi berjalan sebelum cadangan untuk pajak penghasilan”.
4. Laba bersih
Laba bersih menurut Wild, Subramanyam, dan Halsey (2005: 25)
merupakan “laba dari bisnis perusahaan yang sedang berjalan setelah bunga dan
pajak”.
2.4 Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
Biaya Corporate
Social
Responsibility
Corporate Social
Responsibility
Berdasarkan
Citra
Perusahaan
Meningkat
kerangka
pemikiran
Kepercayaan
Masyarakat
Meningkat
Laba
Meningkat
tersebut
memperlihatkan
penulis
sebagaimana CSR mempengaruhi tingkat laba, yaitu dalam hal berprilaku etis
perusahaan diharuskan memberikan tanggung jawab bagi lingkungan sekitar
perusahaannya seperti konsumen, karyawan, pemegang saham, dan lingkungan segala
aspek operasional perusahaan yang mencakup aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.
33
Yang memang diharapkan sebagaimana perusahaan bertanggung jawab atas
lingkungan sekitarnya yaitu dengan perusahaan yang mengeluarkan biaya corporate
social responsibility yang dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan, dimana
dengan melakukan aktivitas CSR perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan
masyarakat terhadap produk perusahaan sehingga reputasi perusahaan juga
meningkat dimata masyarakat. Jadi masyarakat akan berkeinginan untuk membeli
produk perusahaan. Semakin laku produk perusahaan di pasaran maka laba (profit)
yang dapat dihasilkan perusahaan akan semakin meningkat. Dengan meningkatnya
profit akan dapat menarik investor, karena profitabilitas menjadi pertimbangan
penting bagi investor dalam keputusan investasinya, kemudian mendapatkan
perhatian dari masyarakat akan perusahaan yang bertanggung jawab bukan hanya
bertanggung jawab kepada pihak internal perusahaan melainkan eksternal
perusahaan. Hal tersebut menjadikan masyarakat sekitar maupun luas memberikan
kepercayaan mereka terhadap perusahaan, yang secara berbarengan memberikan
peningkatan laba bagi perusahaan itu sendiri.
2.5 Hipotesis Penelitian
Menurut epistomologi, hipotesis berasal dari kata hipo (hypo) dan tesis
(thesis). Hipo artinya belum, tesis artinya dalil. Hipotesis artinya belum jadi dalil,
atau calon dalil. Untuk menjadi dalil, hipotesis harus diuji secara empiris melalui
penelitian. Jika setelah diuji, didukung dengan data, maka hipotesis tersebut menjadi
34
dalil (printciple atau law). Hasil penelitian berupa dalil inilah yang dianggap akan
memberikan sumbangan kepada ilmu pengetahuan, dan menjadi bagian dari
himpunan ilmu atau himpunan pengetahuan (a body of science atau a body of
knowledge) (Sigit, 2001) dalam (Nuryaman dan Veronica, 2015:69).
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Ho : Biaya Corporate Social Responsibility tidak mempunyai pengaruh
signifikan terhadap Tingkat Laba Perusahaan.
Ha : Biaya Corporate Social Responsibility mempunyai pengaruh signifikan
terhadap Tingkat Laba Perusahaan.
Jika hipotesis nol (Ho) ditolak, maka hipotesis alternatif (Ha) diterima yang
artinya biaya corporate social responsibility berpengaruh terhadap tingkat laba
perusahaan.
Download