Tatapmuka_ke10

advertisement
1. Direct Costing sebagai Alat Perencanaan Laba
Perencanaan laba (profit planning) sering disebut anggaran perencanaan
(planning budget) atau rencana operasi (plan of operation) adalah rencana dari
manajemen yang meliputi seluruh tahap dari operasi di masa yang akan datang
untuk mencapai perusahaan dibagi kedalam dua jenis yaitu rencana jangka pendek
dan rencana jangka panjang. Direct costing bermanfaat dalam pembuatan rencana
jangka pendek. Direct costing yang memisahkan biaya variabel dan tetap dalam
laporan rugi laba sehingga akan diketahui kontribusi marjin dan pemisahaan biaya
variabel dan tetap maka manajemen bisa direncanakan beberapa laba akan
diperoleh bila penjualn berjumlah “X” unit dan beberapa penjualan terendah harus
direalisir supaya perusahaan tidak menderita rugi (dalam bab lain akan dibahas
tersendiri). Misalnya harga jual per unit produk perusahaan A Rp 1.000,00 biaya
variabel per unit Rp 400,00 dan biaya tetap Rp 400.000,00 jumlah penjualan yang
direncanakan (menurut anggaran) 1000 unit. Maka diketahui :
Per unit
Total
Prosentase
Penjualan (1000 unit)
Rp. 1.000,00
Rp. 1.000.000,00
100
Biaya variabel
Rp.400,00
Rp.400.000,00
40
Konstribusi marjin
Rp.
Rp.600.000,00
60
Biaya tetap
Rp.450.000,00
45
Laba
Rp.150.000,00
15
600,00
Dari perhitungan ini bisa direncanakan bahwa penjualan terendah
perusahaan tidak menderita rugi.
Sales = Biaya tetap + Biaya variabel + Laba
Sales = 1000 x Biaya tetap = 450.000 Biaya variabel = 400 X
X unit = 450.000 + 400 X + 0
1000 X – 400 X = 450.000
600 X = 450.000
X = 750 unit
Penjualan terendah = 750 unit, untuk mengecek kebenaran kita kembalikan.
750 x 1000 = 450.000 + 300.000 + 0
750.000
= 750.000
Direct costing juga bermanfaat untu merencanakan perluasan daerah
pemasaran dengan analisis kontribusi marjin. Contoh-contoh perusahaan masih
mempunyai kapasitas menganggur dari mesinnya, dimana biaya tetap jumlahnya
tidak berubah baik produksi penuh maupun kurang, misalnya : kapasitas produksi
100.000 unit kekuatan pasar 75.000 unit. Biaya variabel Rp. 600/unit. Biaya tetap
Rp. 45.000,00 harga jual biasa = Rp. 1.000,00 tapi penjualan bisa diperluas dan
volume akan bertambah menjadi 100.000 unit bila harga diturunkan menjadi Rp.
950/unit perencanaan itu akan dijalankan dengan melihat :
Sebelum
Perluasan Pasar
Penjualan 75.000 @ Rp. 1.000
Sesudah
Perluasan Pasar
Rp. 75.000.000,00
Penjualan 100.000 @ Rp. 950
Rp. 95.000.000,00
Biaya Variabel
Rp. 45.000.000,00
Rp. 60.000.000,00
Managerial Income
Rp. 30.000.000,00
Rp. 35.000.000,00
Biaya Tetap
Rp. 25.000.000,00
Rp. 25.000.000,00
Rp. 5.000.000,00
Rp. 10.000.000,00
2. Direct Costing sebagai Petunjuk Penentuan Harga Jual
Penentuan harga jual dalam pasaran bebas dengan persaingan sempurna
dimana pembeli dan penjual sama-sama mempunyai kebebasan menentukan sikap
(memilih barang, harga dan sebagainya), harga jual ditentukan oleh pasar
(permintaan dan penawaran). Dalam keadaan seperti ini pada umumnya pasar
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Perusahaan-perusahaan yang menjual barangnya di pasar menamakan
barangnya dengan nama yang berbeda-beda, harga yang berbeda-beda
walaupun barangnya sama.
2. Perusahaan tidak bisa merubah harga tanpa akibat dalam persaingan.
3. Perusahaan baru sukar memasuki/memperoleh bagian pasar.
Cara yang sering berhasil dalam merebut bagian yang lebih besar dari
pasar dengan menentukan harga yang relatif lebih rendah dengan produk yang
berkualifikasi sama dengan produk lain. Informasi kontribusi marjin dan direct
costing sangat membantu dalam menentukan harga jual yang kompetitif, karena
kontribusi marjin menunjukkan berapa kelebihan hasil penjualan dari biaya
variabel (yang umumnya out of pocket cost). Bisa diperhitungkan dengan
mengalikan kontribusi marjin/unit kali jumlah penjualan. Sedang biaya tetap akan
tetap jumlahnya. Oleh karena itu tertutup tidaknya tergantung jumlah contribution
margin yang didapat, selisih antara kontribusi marjin dan biaya tetap merupakan
laba. Sebagai contoh lihat di atas (pada direct costing sebagai alat perencanaan
laba), dengan contoh tersebut bisa ditentukan bahwa harga jual Rp. 950 lebih tepat
(menguntungkan) bila dipakai dalam full costing akan sulit menentukan dengan
tepat hal semacam ini.
3. Direct Costinguntuk Pengambilan Keputusan Manajemen
Seringkali manajemen dihadapkan pada masalah pemilihan alternatif
dimana alternatif-alternatif tersebut mempunyai pengaruh terhadap besar kecilnya
laba perusahaan. Banyak pengambilan keputusan mengenai masalah semacam ini
bisa dipecahkan dengan pertolongan analisis kontribusi marjin atau direct costing.
Seperti masalah memasuki pasar-pasar baru, perluasan usaha, memenuhi atau
tidak pesanan khusus, membuat sendiri atau memesan bahan pembantu atau suku
cadang tertentu. Semua ini bisa dibantu oleh analisis kontribusi marjin atau direct
costing.
Contoh :
Perusahaan mempunyai kapasitas normal mesin 1.000 unit masih dipakai
750 unit, harga jual di pasaran umum 1 unit seharga Rp. 1.000,00. Sebuah pabarik
memesan 200 unit dengan harga Rp. 700,00 (di bawah harga pasar dan di bawah
biaya produksi bila dihitung dengan full costing) pesanan ini tidak akan merusak
harga pasar di pasaran umum). Baiay variabel per unit Rp. 500,00. Biaya tetap per
unit Rp. 300,00 atau total Rp. 300.000,00 diterima atau tidak pesanan tersebut.
Dengan direct costing bisa dianalisis sebagai berikut :
Penjualan 750 x Rp. 1.000
Sebelum
Ada Pesanan
Rp. 750.000,00
Sesudah
Ada Pesanan
Penjualan
(750 x Rp. 1.000) + (200 x Rp. 700)
Biaya Variabel 750 x Rp. 500
Biaya Variabel 950 x Rp. 500
Rp. 890.000,00
Rp. 375.000,00
Rp. 475.000,00
Kontribusi Marjin
Rp. 375.000,00 Rp. 415.000,00
Biaya Tetap
Rp. 300.000,00 Rp. 300.000,00
Laba
Rp. 75.000,00 Rp. 115.000,00
ANALISISBIAYA,VOLUME DAN LABA
4.2.1 Uraian dan Contoh
Pada bagian yang membahas direct costing telah dibicarakan secara
singkat
manfaat
metode
tersebut,salah
satu
manfaat
adalah
penggunaannya dalam perencahaanlaba. Bagi manajemen sangat penting
merencanakan sebelum operasi dimulai atau sebelum laba direalisir
mengetahui seberapa besar laba akan diperoleh apabila volume penjualan
sebesar "X" unit, berapa volume penjualan paling sedikit harus dicapai
supaya perusahaan tidak nrenderita rugi, berapa batas hasil penjualan
merupakan pertanda perusahaan bisa meneruskan atau tidak usahanya,
dalam bagian ini dibahas semua hal yang berhubungan dengan analisis
volume biaya dan laba.
Break Even Point
Analisis
volume,biaya
dan
laba
yang
pertaraa
kita
bahas
adalahbreak even point (BEP). Brekeven point adalah suatu
keadaan dimana jumlah penjualan sa ma dengan jumlah biaya
atau keadaan dimana perusahaan tidak me mperoleh laba dan
tidak
menderita
rugi
atau
laba
perusahaan
sama
dengan
nol.Keadaan, ini penting diketahui perusahaan (Manajemen). Karena
dengan mengetahui batas tersebut manajemen bisa mengambil sikap tentang
kebijaksanaan pemasaran, harga dan sebagainya dan bisa merencanakan
laba yang akan diperoleh. Break even point bisa dicari dengan pendekatan
persamaan atau pendekatan grafik.
Pendekatanpersamaan: Ada dua bentuk pendekatan persamaan
a)
Persamaan biasa
b)
Metode kontribusi marjin
a) Persamaan Biasa
Break ev en point den gan pendekatan p ers amaan bis a dap at dicari
dengan raenencukan laba sama dengan no1.
Penjualan - (Biaya Variabel + Biaya tetap) = Laba
Karena laba dalam BEP sama dengan nol maka persamaan tersebut menjadi:
Penjualan - (Biaya Variabel + Biaya Tetap) = 0
atau
PENJUALAN BEP = BIAYA VARIABEL + BIAYA TETAP + U
Contoh
Seorang pengusaha akan menjual mainan anak-anak dengan harga jual
Rp250,00 sebuah, biaya variabel tiap buah mainan Rp150,00 yaitu
berupa karton dan kertas warna Rp100,00 per buah mainan serta upah
yang mengerjakan setiap mainan Rp50,00 sedang biaya tetap yaitu
terdiri dari penunggu scand di pasar malam dan sewa tenda sehari
Rp7.5OO,OO.
Dengan data tersebut bisa dihitung break even point dan volume
penjualan mainan anak-anak tersebut sebagai berikut: Karena volume
penjualan tidak diketahui, diumpamakan "X" maka BEP :
250 X =150 X + 7.500
250 X - 150 X = 7.500
100 X = 7.500
X = 75
Jadi
volume
terendah
yang
harus
dicapai
setiap
hari
agar
perusahaantidak menderita rugi adalah 75 unit (75 buah mainan) atau 75 x
Rp250,00 =Rp18.750,00. Kita coba untuk mengetes hasil tersebut dengan
mengembalikan pada persamaannya.
Rp250,00 x 75 = Rp150,00 x 75 + Rp7.500,00
Rp18.750,00 = Rp11.250,00 + Rp7.500,00
Dengan penjualan sebesar Rp18.750,00 tiap hari maka perusahaan tidak
mendapat laba dan tidak menderita rugi atau pengusaha mainan anak-anak
tersebut dalam bentuk Break Even Point dalam penjualan 75 unit mainan
tiap hari dengan Rp18.750,00 bisa ditutup biaya variabel 75 x Rp 250,00 =
Rp11.250,00 dan, biaya tetap Rp7.500,00
b) Metode kontribusi marjin
Break even point bisa juga dicari dongan pendekatan Marginal Income
(Contribution Margin).
Kontribusi Marjin = Penjualan - Biaya variabel.
Dalam contoh di atas contribution margin per unit = Rp250,00 Rp150,00
= Rp100,00
Break even point per unit
BIAYA TETAP + LABA YANG DIINGINKAN
KONTRIBUSI MARJIN
= 7.500 + 0 100
= 75
Atau
Break even point dalam rupiah
Rp
= Biaya trtap + Laba yang diinginkan
Kontribusi marjin %
= 7.500 + U
100
250
= 7.500
0.40
= 18.750
Atau
=
Biaya tetap
Sales – Biaya variabel
Sales
=
Biaya tetap
Sales – Biaya variabel
Sales Sales
=
BT
BT = Biaya tetap
BV = Biaya variabel
BV
P = Penjualan
BEP1 =- 7.500
p
500
1–
=
250 7500
7.500
=
Pendekatan Grafik
1 – 0,60
= 18.750
0,40
Break even juga bisa dicari dengan pendekatan grafik. Pertama grafik
biaya variabel, grafik biaya tetap dan grafik penjualan harus diketahui lebih
dahulu. Kemudian menjadikan satu wadah untuk menemukan grafik break
even point (titik BSP). Untuk contoh ambil data-data dalam contoh
Biaya
sebelumnya.
(Rp)
Biaya
Penjualan
(Rp)
(Rp)
12.500
7.500
7.500
7.500
5.000
4.500
3.800
1.500
0
unit
unit
10 20 30
Grafik Biaya Variabel
0
10 20
30
50
Grafik Biaya Tetap
2.000
0
unit
10
20
30
50
Grafik
Penjualan
Keterangan Gambar 3.1
Biaya variabel naik proporsional dengan kenaikan unit dalam unit 10
biaya variabel Rp1.500,00, 20 unit biaya variabel Rp3.000,00 dan
seterusnya. Biaya tetap jumlahnya tetap Rp7.50O,00, walaupun unit
berubah-ubah. Penjualan sifatnya juga proporsional dengan unit yang
dijual, unit yang dijual 10 unit penjualan Rp2.500,00; penjualan 20 unit
hasil penjualan Rp5.000,00 dan seterusnya langkah berikutnya.
Menjadikan grafik biaya variabel dan tetap, menjadi satu grafik biaya
yaitu menambahkan antara garis biaya variabel dan tetap hal ini bisa
dilakukan biaya variabel lebih dahulu (dimulai dari nol) atau biaya variabel
dimulai setelah biaya tetap.
Gambar 3.2
Grafik Biaya Tetap dan Variabel
Keterangan Gambar 3.2
-
Padawaktuproduk di jual 20 unit biaya variableRp3.000,00 dan biaya
tetap Rp7.500,00 atau biaya total = Rp10.500,00.
-
Pada waktu produk dijual 60 unit biaya variabel Rp9.000,00 biaya
tetap Rp7.500,00 atau biaya total Rp16.500,00dan seterusnya.
Tahap berikutnya menjadikan satu ketiga elemen break even point
tersebut yaitu biaya variabel, biaya tetap dan penjualan dan akan bisa
diketahui break even pointnya.
Cara menggambar, grafik break even point ada dua cara:
1. Biaya variabel dari titik nol dan biaya tetap dari Rp7.500,00
2. Biaya variabel dari atas biaya tetap (Rp7.500,00)
Grafik BEP cara I
Grafik BEP cara II
Ganbar 3.3
Pada tahap terakhir akan diketahui sekaligus break even point dalam
unit dan dalam rupiah penjualan yaitu pada waktu penjualan Rp18.75O,OO
terjadi break even point atau pada waktu penjualan berjumlah 75 unit.
Unsur-unsur yang ada dalam grafik tersebut adalah:
Gambar 3.4
Grafik Break Even Point menyeluruh
Dari grafik tersebut bisa diketahui misalnya penjualan 60 unit dengan
ditarik garis 50 unit maka tampak hasil penjualan hanya Rp12.500, biaya.
variabel Rp7.5OO, biaya tetap Rp7.500, Biaya total Rp15.000 rugi Rp2.500,
ada penurunan volume penjualan, begitu sebaliknya makin luas daerah laba
makin menguntungkan.
Laba yang diinginkan perusahaan
Dengan analisis break even point perusahaan juga bisa merencanakan
penjualan harus dicapai agar perusahaan mendapat Laba sejumlah yang
diinginkan bisa dicapai dengan mencantumkan (menambahkan) Labayang
diinginkan tersebut pada biaya dalam rumus break even point.
Contoh 1
Pengusaha mainan anak-anak dalam contoh sebelumnya mengiginkan
laba sebesar Rp 2.500 /hari.
X
= Jumlah penjualan yang harus direalisir
Sales
= Biaya variabel + Biaya tetap + Laba yang diinginkan
250 X
= 150 X + 7.5O0 + 2.500
250 X
= 150 X = 10.000
100 X = 10.000
X = 100
Jumlah penjualan yang harus direalisir untuk mendapatkan Laba
Rp2.500,00 adalah 100 unit.
Tes Kebenaran
RP
%
Penjualan 100 x 250
25.000
100
Biaya variabel 100 x 150
15.000
60
Kontribusi marjin
10.000
40
Biaya tetap
7.500
30
Laba
2.500
10
Atau
kita
masukkan ke
Contribution Margin.
dalam rumus BEP
dengan
memakai
Unit yang harus terjual =
Biaya tetap + Laba
Kontribusi marjin per unit
= 7.500 + 2.500
100
= 10.000
100
= 100 unit
Atau
Penjualan yang
harus direalisir
=Biaya tetap + Laba
BV
1–
P
=
7.500 + 2.500
0,04
= Rp 25.000
Contoh 2
Perusahaan "Fitra"
Laporan Rugi – laba
Penjualan
Rp 10.000.000,00
Biaya total
Biaya variabel
Rp 7.000.000,00
Biaya tetap
Rp 5.000.000,00
Rugi
Rp 12.000.000,00
Rp 2.000.000,00
Catatan
Perbandingan biaya variabel dengan penjualan selalu sama yaitu:
7.000.000
atau
10.000.000
70
100
Diminta :
a) Apabila biaya tetap naik sebesar Rp 2.000.000,00 berupa penjualan harus
direalisir supaya perusahaan bisa break even?
b) Dengan biaya tetap seperti a dan perusahaan menginginkan
labaRp1.000.000,00 berapa penjualan harus direalisir?
Jawab
a) X = Jumlah rupiah dalam break even point
X = Biaya variabel + Biaya tetap + Laba yang diinginkan
X = 7.000.000
X + (5.000.000 + 2.000.000) + 0
10.000.000
X – 0,70 X = 7.000.000
X
0,30 X = 7.000.000
X = Rp 23.333.333,00
Tes
Penjualan
Rp 23.333.333,00
Biaya variabel (0,70 x 23.333.333,00) Rp 16.333.333,00
Kontribusi marjin
= Rp 7.000.000,00
Biaya tetap
= Rp 7.000.000,00
0
b) Jumlah rupiah
harus direalisir
= BT + Laba
BV
1–
P
= 7.000.000 + 1.000.000
70
1–
100
= 8.000.000
0,30
= Rp 26.666.666,00
Tes
Penjualan
Biaya variabel 0,70 x 26.666.666,00
Rp 26.666.666,00
= Rp 18.666.666,00
Rp 8.000.000,00
Biaya tetap
Rp 7.000.000,00
Laba
Rp 1.000.000,00
Anggapan-anggapan yang Mendasari Analsis Break Even Point
Analisis break even point tidak bisa diterapkan dalam semua kondisi
untuk mengetrapkan break even point. Ada satu set anggapan yang
mendasari perhitungan tersebet. Anggapan itu antara lain :
1) Tingkah laku biaya dan pendapatan ditentukan pada batas yang telahdi
budgetkan (direncanakan).
2) Semua biaya bisa dipisahkan antara biaya tetap dan biaya variabel.
3) Biaya tetap akan tetap jumlahnya pada kapasitas yang telahdibudgetkan
(direncanakan).
4)
Biaya
variabel
naik/turun
secara
dengannaik/turunnya penjualan.
5) Harga jual tidak berubah.
6) Biaya-biaya tidak berubah.
7) Produktivitas dan efisiensi tidak berubah.
proporsional
sesuai
Download