BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kanker 1. Definisi Kanker Kanker

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kanker
1. Definisi Kanker
Kanker merupakan suatu kondisi dimana sel telah kehilangan
pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami
pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali, serta
mengancam nyawa individu penderitanya (Siburian dan Wahyuni,
2012).
Kanker adalah pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak
normal, berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus
membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan sekitar (invasive)
dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang
organ-organ penting serta syaraf tulang belakang. Sel-sel yang
berkembang ini akan menumpuk, mendesak dan merusak jaringan
dan organ yang ditempati. Penumpukan sel baru inilah yang disebut
tumor ganas (Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI,
2015).
2. Faktor resiko penyakit kanker
Faktor resiko penyakit kanker menurut Pusat Data dan Informasi
Kementrian Kesehatan RI (2015), antara lain:
a. Faktor Genetik
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
b. Faktor Karsinogen, di antaranya yaitu zat kimia, radiasi, virus,
hormon, dan iritasi kronis.
c. Faktor Perilaku/Gaya Hidup, diantaranya yaitu merokok, pola
makan yang tidak sehat, konsumsi alkohol, dan kurang
aktivitas fisik.
3. Jenis-jenis kanker
Jenis-jenis Kanker menurut Peiwen (2010):
a. Karsinoma
Jenis kanker yang berasal dari sel yang melapisi permukaan
tubuh atau permukaan saluran tubuh, misalnya jaringan seperti
sel kulit, testis, ovarium, kelenjar mucus, sel melanin, payudara,
leher rahim, kolon, rectum, lambung, pancreas, dan esofagus.
b. Limfoma
Jenis kanker yang berasal dari jaringan yang membentuk
darah, misalnya jaringan limfe, lacteal, limfa, berbagai kelenjar
limfe, timus, dan sumsum tulang. Limfoma spesifik antara lain
adalah penyakit Hodgkin (kanker kelenjar limfe dan limfa)
c. Leukemia
Kanker jenis ini tidak membentuk massa tumor, tetapi
memenuhi pembuluh darah dan mengganggu fungsi sel darah
normal.
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
d. Sarkoma
Yaitu jenis kanker dimana jaringan penunjang yang berada
dipermukaan tubuh seperti jaringan ikat, termasuk sel - sel yang
ditemukan diotot dan tulang.
e. Glioma
Yaitu kanker susunan syaraf, misalnya sel-sel glia (jaringan
penunjang) di susunan saraf pusat.
f. Karsinoma in situ
Yaitu istilah yang digunakan untuk menjelaskan sel epitel
abnormal yang masih terbatas di daerah tertentu sehingga masih
dianggap lesi prainvasif (kelainan/luka yang belum menyebar)
4. Pengobatan Kanker
Penatalaksanaan kanker bersifat multidisipliner, mulai dari
pendekatan diagnostik yang melibatkan banyak keahlian, kemudian
pengobatan kanker yang multimodalitas dengan operasi, radiasi dan
kemoterapi, ataupun kombinasi dari ketiga hal tersebut. Pemilihan
modalitas terapi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang jika tidak
diperhatikan bukan hanya tidak akan mencapai hasil yang
diharapkan namun justru dapat memperburuk penyakit dan kondisi
pasien yang semuanya justru akan menurunkan kualitas hidup pasien
disamping beban finansial bagi keluarga (Sutrisno dkk, 2010).
Sebagian besar pengobatan kanker khususnya kemoterapi pada
penyakit yang telah mengalami metastase diberikan dengan tujuan
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
paliatif, dimana lama hidup atau kualitas hidup menjadi sasaran
pengobatan. Namun demikian, pengobatan pasien-pasien ini
umumnya gagal untuk memperpanjang masa hidup, sehingga
meningkatkan kualitas hidup merupakan tujuan yang lebih realistik.
Demikian juga, kualitas hidup ternyata sudah digunakan oleh para
dokter onkologi untuk memodifikasi atau menghentikan terapi
(Sutrisno dkk, 2010).
Pada stadium lanjut, pasien dengan penyakit kronis tidak hanya
mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas,
penurunan berat badan, gangguan aktivitas tetapi juga mengalami
gangguan psikososial dan spiritual yang mempengaruhi kualitas
hidup pasien dan keluarganya. Maka kebutuhan pasien pada stadium
lanjut suatu penyakit tidak hanya pemenuhan/ pengobatan gejala
fisik,, namun juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan
psikologis, sosial dan spiritual yang dilakukandengan pendekatan
interdisiplin yang dikenal sebagai perawatan paliatif (Fitria, 2010).
Pengobatan pada penderita kanker stadium lanjut (IV) mengacu
pada prosedur medis yg diberikan pada penderita kanker, sedangkan
penanganan mengacu kepada pendampingan secara menyeluruh,
meliputi aspek medis dan non-medis, yaitu aspek psiko dan sosial,
atau yang biasa disebut dengan aspek bio-psiko-sosial, sesuai dengan
model yang diajukan Engel dalam model biopsikososial yaitu model
yang mencakup faktor psikologi, sosial dan perilaku, pendekatan
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
yang merupakan landasan ilmiah dalam upaya mengasuh pasien,
karena raga yang mengidap penyakit dipersatukan lagi dengan
dimensi psikososialnya yang dapat memperngaruhi perjalanan
penyakitnya (Yusarga, 2009).
5. Kondisi Psikologis yang dialami Pasien Kanker
Masalah-masalah psikologis yang biasa timbul pada penyakit
terminal adalah (Damayanti dkk, 2008):
a.
Perubahan-perubahan dalam konsep diri pasien
Pasien dengan penyakit terminal biasanya semakin tidak
dapat menunjukkan dirinya secara ekspresif. Mereka menjadi
sulit untuk mempertahankan kontrol biologis dan fungsi
sosialnya.
b.
Masalah mengenai interaksi social
Konsekuensi
mengenai
interaksi
sosial
yang
tidak
menyenangkan dapat menyebabkan pasien mulai menarik diri
dari kehidupan sosialnya. Ada beberapa alasan pasien mulai
menarik diri antara lain proses kehilangan (mempersiapkan diri
untuk meninggalkan keluarga), ketakutan merepotkan keluarga
dengan biaya dan pengobatan penyakit pasien, dan kepanikan
mengahadapi kematian yang akan segera dating.
c. Masalah-masalah komunikasi
Ketika keadaan pasien semakin buruk, maka komunikasi
mengenai penyakit yang dianggap tabu juga akan berkurang
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
karena pasien dapat juga merasa tidak enak untuk membahas
mengenai hal-hal tentang kematian.
Berkaitan dengan masalah psikologis dan sosial yang
dihadapi pasien dengan penyakit terminal, Dr. Elisabeth KublerRoss dalam Damayanti dkk (2008), telah mengidentifikasi lima
tahap yang mungkin dilewati pasien terminal yaitu tahap kaget,
tahap penolakan, tahap amarah, tahap depresi, dan tahap pasrah.
B. Aspek Spiritual
1. Definisi Spiritual
Kebutuhan spiritual adalah harmonisasi dimensi kehidupan.
Dimensi ini termasuk menemukan arti, tujuan, menderita, dan
kematian, kebutuhan akan harapan dan keyakinan hidup, dan
kebutuhan akan keyakinan pada diri sendiri, dan Tuhan. Ada 5
dasar kebutuhan spiritual manusia yaitu: arti dan tujuan hidup,
perasaan misteri, pengabdian, rasa percaya dan harapan di waktu
kesusahan (Hawari, 2002).
Spiritual penting dalam meningkatkan kesehatan dan kualitas
hidup. Spiritual juga penting dikembangkan menjadi dasar tindakan
dalam pelayanan kesehatan. Pentingnya spiritualitas dalam
pelayanan kesehatan dapat dilihat dari batasan Organisasi
Kesehatan Dunia yang menyatakan bahwa aspek spiritual
merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya.
Tahun 1947 World Health Organization (WHO) memberikan
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
batasan sehat hanya dari 3 (tiga) aspek saja yaitu sehat fisik
(organobiologi), sehat mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat
sosial.
2. Aspek Spiritual
Kebutuhan spiritual adalah harmonisasi dimensi kehidupan.
Dimensi ini termasuk menemukan arti, tujuan, menderita, dan
kematian; kebutuhan akan harapan dan keyakinan hidup, dan
kebutuhan akan keyakinan pada diri sendiri, dan Tuhan. Ada 5
dasar kebutuhan spiritual manusia yaitu: arti dan tujuan hidup,
perasaan misteri, pengabdian, rasa percaya dan harapan di waktu
kesusahan (Hawari, 2002).
Menurut Burkhardt (dalam Hamid, 2000) spiritualitas
meliputi aspek sebagai berikut :
a. Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau
ketidakpastian dalam kehidupan
b. Menemukan arti dan tujuan hidup
c.
Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan
kekuatan dalam diri sendiri
d. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan
dengan Yang Maha Tinggi.
3. Dimensi Spiritual
Dimensi
spiritual
berupaya
untuk
mempertahankan
keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi
stress emosional, penyakit fisik, atau kematian. Dimensi spiritual
juga dapat menumbuhkan kekuatan yang timbul diluar kekuatan
manusia (Kozier, 2004).
Spiritualitas sebagai suatu yang multidimensi, yaitu
dimensi eksistensial dan dimensi agama, Dimensi eksistensial
berfokus pada tujuan dan arti kehidupan, sedangkan dimensi
agama lebih berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan
Yang Maha Penguasa. Spiritualitas sebagai konsep dua dimensi.
Dimensi vertikal adalah hubungan dengan Tuhan atau Yang Maha
Tinggi yang menuntun kehidupan seseorang, sedangkan dimensi
horizontal adalah hubungan seseorang dengan diri sendiri, dengan
orang lain dan dengan lingkungan. Terdapat hubungan yang terus
menerus antara dua dimensi tersebut (Hawari, 2002).
4. Kompetensi yang di dapat dari Spiritualitas yang Berkembang
Tischler (2002) mengemukakan terdapat empat kompetensi
yang didapat dari spiritualitas yang berkembang, yaitu :
a. Kesadaran pribadi (personal awareness), yaitu bagaimana
seseorang mengatur dirinya sendiri, self-awareness, emotional
self-awareness, penilaian diri yang positif, harga diri, mandiri,
dukungan diri, kompetensi waktu, aktualisasi diri.
b. Ketrampilan pribadi (personal skills), yaitu mampu bersikap
mandiri, fleksibel, dan mudah beradaptasi.
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
c. Kesadaran sosial (sosial awareness), yaitu menunjukan sikap
sosial yang posotif, empati, altruisme.
d. Ketrampilan sosial (sosial skills), yaitu memiliki hubungan
yang baik dengan teman kerja dan atasan, menunjukan sikap
terbuka terhadap orang lain, mampu bekerja sama, pengenalan
yang baik terhadap nilai positif, baik dalam menanggapi
kritikan.
5. Faktor yang berhubungan dengan Spiritual
Dyson dalam Young (2007) menjelaskan tiga faktor yang
berhubungan dengan spiritualitas, yaitu :
a. Diri sendiri
Jika seseorang dan daya jiwa merupakan hal yang
fundamental dalam eksplorasi atau penyelidikan spiritualitas.
b. Sesama
Hubungan seseorang dengan sesama sama pentingnya
dengan diri sendiri. Kebutuhan untuk menjadi anggota
masyarakat dan saling berhubungan telah lama diakui sebagai
pengalaman pokok manusiawi.
c. Tuhan
Pemahaman tentang Tuhan dan hubungan manusia dengan
Tuhan secara tradisional dipahami dalam kerangka hidup
keagamaan. Akan tetapi, dewasa ini
telah dikembangkan
secara luas dan tidak terbatas.
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
C. Dukungan Sosial
1. Definisi dukungan sosial
Menurut Gonollen dan Bloney (dalam Muzdalifah, 2009),
dukungan sosial adalah derajat dukungan yang diberikan kepada
individu khususnya sewaktu dibutuhkan oleh orang-orang yang
memiliki hubungan emosional yang dekat dengan orang tersebut.
Katc dan Kahn (2000) berpendapat, dukungan sosial adalah
perasaan positif, menyukai, kepercayaan, dan perhatian dari orang
lain yaitu orang yang berarti dalam kehidupan individu yang
bersangkutan, pengakuan, kepercayaan seseorang dan bantuan
langsung dalam bentuk tertentu.
Dukungan sosial pada umumnya menggambarkan mengenai
peranan atau pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh orang lain
yang berarti seperti anggota keluarga, teman, saudara, dan rekan
kerja. Johnson and Johnson berpendapat bahwa dukungan sosial
adalah pemberian bantuan seperti materi, emosi, dan informasi
yang berpengaruh terhadap kesejahteraan manusia. Dukungan
sosial juga dimaksudkan sebagai keberadaan dan kesediaan orangorang yang berarti, yang dapat dipercaya untuk membantu,
mendorong, menerima, dan menjaga individu.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan sosial
Cohen & Syme (1985) dalam Sholichah (2009), menyatakan
faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan sosial adalah :
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
a. Pemberi dukungan sosial
Dukungan yang diterima melalui sumber yang sama akan
lebih mempunyai arti daripada yang berasal dari sumber yang
berbeda-beda
setiap
kesinambungan
saat.
dukungan
Hal
yang
ini
berkaitan
diberikan
yang
dengan
akan
memberikan keakraban dan tingkat kepercayaan penerima
dukungan.
b. Jenis Dukungan
Jenis dukungan yang diterima akan mempunyai arti bila
dukungan itu bermanfaat dan sesuai dengan situasi yang
dihadapi, seperti orang yang kekurangan pengetahuan,
dukungan informatif yang diberikan akan lebih bermanfaat
bagi dirinya.
c. Penerima Dukungan
Karakteristik atau ciri-ciri penerima dukungan akan
menentukan
keefektifan
dukungan
yang
diperoleh.
Karakteristik tersebut diantaranya kepribadian, kebiasaan, dan
peran sosial. Proses yang terjadi dalam pemberian dan
penerimaan dukungan itu dipengaruhi oleh kemampuan
penerima dukungan untuk mencari dan mempertahankan
dukungan yang diperoleh.
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
d. Lamanya Pemberian Dukungan
Lama atau singkatnya pemberian dukungan tergantung
pada kapasitasnya. Kapasitas berkaitan dengan kemampuan
dari pemberi dukungan untuk memberikan dukungan yang
ditawarkan selama suatu periode tertentu.
3. Aspek-Aspek Dukungan Sosial
Hause (dalam Suniatul, 2010) berpendapat bahwa ada empat
aspek dukungan sosial yaitu:
a. Aspek Emosional adalah melibatkan kekuatan jasmani dan
keinginan untuk percaya pada orang lain sehingga individu
yang bersangkutan menjadi yakin bahwa orang lain tersebut
mampu memberikan cinta dan kasih sayang kepadanya.
b. Aspek Instrumental meliputi penyediaan sarana untuk
mempermudah atau menolong orang lain sebagai contohnya
adalah peralatan, perlengkapan, dan sarana pendukung lain
dan termasuk didalamnya memberikan peluang waktu.
c.
Aspek
Informatif
berupa
pemberian
informasi
untuk
mengatasi masalah pribadi. Aspek informatif ini terdiri dari
pemberian nasehat, pengarahan, dan keterangan lain yang
dibutuhkan oleh individu yang bersangkutan.
d.
Aspek Penilaian terdiri atas dukungan peran sosial yang
meliputi umpan balik, perbandingan sosial, dan afirmasi
(persetujuan). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
bahwa aspek-aspek dukungan sosial adalah aspek emosional,
aspek instrumental, aspek informatif, dan aspek penilaian.
Dukungan sosial dapat diwujudkan dengan bantuan materi,
bantuan fisik, bimbingan, umpan balik, dan partisipasi sosial
D. Kualitas Hidup
1. Definisi Kualitas Hidup
Setiap individu memiliki kualitas hidup yang berbeda
tergantung
dari
masing-masing
individu
dalam
menyikapi
permasalahan yang terjadi dalam dirinya. Jika menghadapi dengan
positif maka akan baik pula kualitas hidupnya, tetapi lain halnya
jika menghadapi dengan negatif maka akan buruk pula kualitas
hidupnya. Kreitler & Ben (2004) dalam Nofitri (2009) kualitas
hidup diartikan sebagai persepsi individu mengenai keberfungsian
mereka di dalam bidang kehidupan. Lebih spesifiknya adalah
penilaian individu terhadap posisi mereka di dalam kehidupan,
dalam konteks budaya dan system nilai dimana mereka hidup
dalam kaitannya dengan tujuan individu, harapan, standar serta apa
yang menjadi perhatian individu (Nofitri, 2009).
Menurut WHO (1994) dalam (Bangun 2008), kualitas
hidup didefenisikan sebagai persepsi individu sebagai laki-laki atau
wanita dalam hidup, ditinjau dari konteks budaya dan system nilai
dimana mereka tinggal, dan berhubungan dengan standar hidup,
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
harapan, kesenangan, dan perhatian mereka.Hal ini merupakan
konsep tingkatan, terangkum secara kompleks mencakup kesehatan
fisik, status psikologis, tingkat kebebasan, hubungan social dan
hubungan kepada karakteristik lingkungan mereka.
Di dalam bidang kesehatan dan aktivitas pencegahan
penyakit,
kualitas
hidup
dijadikan
sebagai
aspek
untuk
menggambarkan kondisi kesehatan (Wilson dkk dalam (Larasati,
2012). Adapun menurut Cohen & Lazarus dalam (Larasati, 2012)
kualitas hidup adalah tingkatan yang menggambarkan keunggulan
seorang individu yang dapat dinilai dari kehidupan mereka.
Kualitas hidup individu tersebut biasanya dapat dinilai dari kondisi
fisiknya,
psikologis,
hubungan
sosial
dan
lingkungannya
WHOQOL Group (1998) dalam (Larasati, 2012).
Herman (Silitonga, 2007) definisi kualitas hidup yang
berhubungan dengan kesehatan dapat diartikan sebagai respon
emosi dari penderita terhadap aktivitas sosial, emosional, pekerjaan
dan hubungan antar keluarga, rasa senang atau bahagia, adanya
kesesuaian antara harapan dan kenyataan yang ada, adanya
kepuasan dalam melakukan fungsi fisik, sosial dan emosional serta
kemampuan mengadakan sosialisasi dengan orang lain.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup
Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh WHOQOL (dalam
Power, 2003), persepsi individu mengenai kualitas hidupnya
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
dipengaruhi oleh konteks budaya dan sistem nilai dimana individu
tinggal. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan Fadda dan
Jiron (1999) bahwa kualitas hidup bervariasi antara individu yang
tinggal di kota/ wilayah satu dengan yang lain bergantung pada
konteks budaya, sistem, dan berbagai kondisi yang berlaku pada
wilayah tersebut. Menurut para peneliti, faktor-faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup adalah:
a. Gender atau Jenis Kelamin
Moons, dkk (2004) dalam (Noftri, 2009) mengatakan
bahwa gender adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
kualitas hidup. Fadda dan Jiron (1999) dalam (Noftri, 2009)
mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan
dalam peran serta akses dan kendali terhadap berbagai sumber
sehingga kebutuhan atau hal-hal yang penting bagi laki-laki dan
perempuan juga akan berbeda. Bain, dkk (2003) dalam (Noftri,
2009) menemukan adanya perbedaan antara kualitas hidup
antara laki-laki dan perempuan, dimana kualitas hidup laki-laki
cenderung lebih baik dari pada kualitas hidup perempuan.
Bertentangan dengan penemuan Bain, dkk (2004) dalam (Noftri,
2009) menemukan bahwa kualitas hidup perempuan cenderung
lebih tinggi dari pada laki-laki. Hal ini mengindikasikan adanya
perbedaan aspek-aspek kehidupan dalam hubungannya dengan
kualitas hidup pada laki-laki dan perempuan. Ryff dan Singer
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
(1998) dalam (Noftri, 2009) mengatakan bahwa secara umum,
kesejahteraan laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda,
namun perempuan lebih banyak terkait dengan aspek hubungan
yang bersifat positif sedangkan kesejahteraan tinggi pada pria
lebih terkait dengan aspek pendidikan dan pekerjaan yang lebih
baik.
b. Usia
Moons, dkk (2004) dan Dalkey (2002) dalam (Noftri,
2009) mengatakan bahwa usia adalah salah satu faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Ryff dan Singer (1998) dalam Papalia, dkk
(2007) individu dewasa mengekspresikan kesejahteraan yang
lebih tinggi pada usia dewasa madya. Penelitian yang dilakukan
oleh Rugerri, dkk (2001) menemukan adanya kontribusi dari
faktor usia tua terhadap kualitas hidup subjektif. Penelitian yang
dilakukan oleh Wagner, Abbot, & Lett (2004) menemukan
adanya perbedaan yang terkait dengan usia dalam aspek-aspek
kehidupan yang penting bagi individu.
c. Pekerjaan
Moons, dkk (2004) dalam (Noftri, 2009) mengatakan
bahwa terdapat perbedaan kualitas hidup antara penduduk yang
berstatus sebagai pelajar, penduduk yang bekerja, penduduk
yang tidak bekerja (atau sedang mencari pekerjaan), dan
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
penduduk yang tidak mampu bekerja (atau memiliki disablity
tertentu). Wahl, dkk (2004) dalam (Noftri, 2009) menemukan
bahwa status pekerjaan berhubungan dengan kualitas hidup baik
pada pria maupun wanita.
d. Pendidikan
Moons, dkk (2004) dan Baxter (1998)
mengatakan
bahwa tingkat pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi kualitas hidup subjektif. Penelitian yang
dilakukan oleh Wahl, dkk (2004) dalam (Noftri, 2009)
menemukan bahwa kualitas hidup akan meningkat seiring
dengan lebih tingginya tingkat pendidikan yang didapatkan oleh
individu. Penelitian yang dilakukan oleh Noghani, dkk (2007)
dalam (Noftri, 2009) menemukan adanya pengaruh positif dari
pendidikan terhadap kualitas hidup subjektif namun tidak
banyak.
e. Status pernikahan
Moons, dkk (2004) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan
bahwa terdapat perbedaan kualitas hidup antara individu yang
tidak menikah, individu bercerai ataupun janda, dan individu
yang menikah atau kohabitasi. Penelitian empiris di Amerika
secara umum menunjukkan bahwa individu yang menikah
memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi daripada individu
yang tidak menikah, bercerai, ataupun janda/duda akibat
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
pasangan meninggal Glenn dan Weaver (1981) dalam (Nofitri,
2009) .Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh
Wahl, dkk (2004) dalam (Nofitri, 2009) menemukan bahwa baik
pada pria maupun wanita, individu dengan status menikah atau
kohabitasi memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi.
f. Penghasilan
Baxter, dkk (1998) dan Dalkey (2002) dalam (Nofitri,
2009) menemukan adanya pengaruh dari faktor demografi
berupa penghasilan dengan kualitas hidup yang dihayati secara
subjektif. Penelitian yang dilakukan oleh Noghani, Asgharpour,
Safa, dan Kermani (2007) dalam (Nofitri, 2009) juga
menemukan adanya kontribusi yang lumayan dari faktor
penghasilan terhadap kualitas hidup subjektif namun tidak
banyak.
g. Hubungan dengan orang lain
Baxter, dkk (1998) dalam (Nofitri, 2009) menemukan
adanya pengaruh dari faktor demografi berupa faktor jaringan
sosial dengan kualitas hidup yang dihayati secara subjektif.
Kahneman, Diener, & Schwarz (1999) dalam (Nofitri, 2009)
mengatakan bahwa pada saat kebutuhan akan hubungan dekat
dengan orang lain terpenuhi, baik melalui hubungan pertemanan
yang saling mendukung maupun melalui pernikahan, manusia
akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik baik secara fisik
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
maupun emosional. Penelitian yang dilakukan oleh Noghani,
Asgharpour, Safa, dan Kermani (2007) dalam (Nofitri, 2009)
juga menemukan bahwa faktor hubungan dengan orang lain
memiliki kontribusi yang cukup besar dalam menjelaskan
kualitas hidup subjektif.
h. Standard referensi
O’Connor (1993) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan bahwa
kualitas hidup dapat dipengaruhi oleh standard referensi yang
digunakan
seseorang
seperti
harapan,
aspirasi,
perasaan
mengenai persamaan antara diri individu dengan orang lain. Hal
ini sesuai dengan definisi kualitas hidup yang dikemukakan oleh
WHOQoL (Power, 2003) dalam (Nofitri, 2009), bahwa kualitas
hidup akan dipengaruhi oleh harapan, tujuan, dan standard dari
masing-masing individu. Glatzer dan Mohr (1987) dalam
(Nofitri, 2009) menemukan bahwa di antara berbagai standard
referensi yang digunakan oleh individu, komparasi sosial
Universitas Sumatera Utara memiliki pengaruh yang kuat
terhadap kualitas hidup yang dihayati secara subjektif. Jadi,
individu membandingkan kondisinya dengan kondisi orang lain
dalam menghayati kualitas hidupnya.
3. Dimensi Kualitas Hidup
Menurut WHOQOL group Lopez dan Sayder (2004) (dalam
Sekarwiri 2008), kualitas hidup terdiri dari empat dimensi yaitu
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, hubungan sosial dan
hubungan dengan lingkungan.
a. Dimensi Fisik
Dalam hal ini dimensi fisik yaitu aktivitas sehari-hari,
ketergantungan obat-obatan dan bantuan medis, energi dan
kelelahan, mobilitas, sakit dan ketidaknyamanan, tidur dan
istirahat, serta kapasitas kerja. Menurut Tarwoto dan Martonah
(2010) aktivitas sehari – hari adalah suatu energi atau keadaan
untuk bergerak dalam memenuhi kebutuhan hidup dimana
aktivitas dipengaruhi oleh adekuatnya system persarafan, otot
dan tulang atau sendi.
Ketergantungan obat-obatan dan bantuan medis yaitu
seberapa besar kecenderungan individu menggunakan obatobatan atau bantuan medis lainnya dalam melakukan aktivitas
sehari-hari.
Energi
dan
kelelahan
merupakan
tingkat
kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari. Sedangkan mobilitas merupakan tingkat
perpindahan yang mampu dilakukan oleh individu dalam
menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Kemudian sakit dan
ketidaknyamanan menggambarkan sejauh mana perasaan
keresahan yang dirasakan individu terhadap hal-hal yang
menyebabkan individu merasa sakit (Sekarwiri, 2008).
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
Menurut Tarwoto dan Martonah (2010) istirahat merupakan
suatu keadaan dimana kegiatan jasmaniah menurun yang
berakibat badan menjadi lebih segar. Sedangkan tidur adalah
suatu keadaan relative tanpa sadar yang penuh ketenangan
tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulangulang dan masingmasing menyatakan fase kegiatan otak dan
badaniah yang berbeda. Kapasitas kerja menggambarkan
kemampuan yang dimiliki individu untuk menyelesaikan tugastugasnya.
b. Dimensi Psikologis
Dimensi psikologis yaitu bodily dan appearance, perasaan
negatif , perasaan positif, self – esteem, berfikir, belajar,
memori, dan konsentrasi. Aspek sosial meliputi relasi personal,
dukungan sosial dan aktivitas seksual. Kemudian aspek
lingkungan yang meliputi sumber finansial, freedom, physical
safety dan security , perawatan kesehatan dan sosial care
lingkungan rumah, kesempatan untuk mendapatkan berbagai
informasi baru dan keterampilan, partisipasi dan kesempatan
untuk melakukan rekreasi atau kegiatan yang menyenangkan
serta lingkungan fisik dan transportasi (Sekarwiri, 2008).
Bodily
dan
appearance
menggambarkan
bagaimana
individu memandang keadaan tubuh serta penampilannya.
Perasaan negative menggambarkan adanya perasaan yang tidak
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
menyenangkan yang dimiliki oleh individu. Perasaan positif
merupakan gambaran perasaan yang menyenangkan yang
dimiliki oleh individu. Self – esteem melihat bagaimana
individu menilai atau menggambarkan dirinya sendiri. Berfikir,
belajar, memori, dan konsentrasi dimana keadaan kognitif
individu yang memungkinkan untuk berkonsentrasi, belajar dan
menjelaskan fungsi kognitif lainnya (Sekarwiri, 2008).
c. Dimensi Hubungan Sosial
Dimensi hubungan social mencakup relasi personal,
dukungan
social
dan
aktivitas
sosial.
Relasi
personal
merupakan hubungan individu dengan orang lain. Dukungan
sosial yaitu menggambarkan adanya bantuan yang didapatkan
oleh individu yang berasal dari lingkungan sekitarnya.
Sedangkan aktivitas seksual merupakan gambaran kegiatan
seksual yang dilakukan individu (Sekarwiri, 2008).
d. Dimensi Lingkungan
Adapun dimensi lingkungan yaitu mencakup sumber
financial, Freedom, physical safety dan security, perawatan
kesehatan dan sosial care, lingkungan rumah, kesempatan untuk
mendapatkan berbagai informasi baru dan keterampilan,
partisipasi dan kesempatan untuk melakukan rekreasi atau
kegiatan
yang
menyenangkan,
lingkungan
fisik
serta
transportasi (Sekarwiri, 2008).
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
E. Kemoterapi
1. Definisi kemoterapi
Kemoterapi merupakan proses pemberian obat-obatan anti
kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang
bertujuan membunuh sel kanker (dalam Chyntia, 2009). Jadwal
pengobatan kemoterapi sangat bervariasi. Seberapa sering dan
seberapa lama pasien mendapatkan kemoterapi tergantung pada
tipe dan stadium kanker; tujuan pengobatan (apakah kemoterapi
digunakan untuk mengobati kanker, mengontrol perkembangannya,
atau mengurangi gejala-gejala), tipe kemoterapi, dan bagaimana
tubuh bereaksi terhadap kemoterapi (dalam Bellenir, 2009).
Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker yang paling
banyak dilakukan (Azwar 2007, h.8). Komplikasi kemoterapi juga
dapat menimbulkan ketidaknyamanan, meningkatkan stres dan
mempengaruhi kualitas hidup klien. Dengan kata lain tindakan
kemoterapi secara signifikan berdampak atau mempengaruhi
kualitas hidup dari klien kanker di antaranya kesehatan fisik,
psikologis, spiritual, status ekonomi dan dinamika keluarga (Yusra
2011). WHO (dikutip dalam Farida 2010) mengemukakan bahwa
kualitas hidup adalah konsep multi dimensional yang meliputi
dimensi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan yang berhubungan
dengan penyakit dan terapi. Cella dan Cherin tahun 2001 (dikutip
dalam Farida 2010) menyatakan bahwa kualitas hidup merupakan
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
penilaian dan kepuasan klien terhadap tingkat dan fungsi kehidupan
mereka dibandingkan dengan keadaan ideal yang seharusnya bisa
dicapai menurut klien.
2. Kemoterapi Dibedakan Menjadi Tiga, yaitu :
a) Kemoterapi paliatif, jenis kemoterapi yang dilakukan dengan
alasan untuk mengendalikan atau melenyapkan tumor untuk
meringankan gejala kanker seperti rasa sakit.
b) Kemoterapi adjuvant, jenis kemoterapi yang dilakukan dengan
alasan untuk mencegah kemunculan kembali sel-sel kanker
setelah pembedahan atau terapi radiasi untuk mengontrol
tumor. Cara kerja kemoterapi ini adalah dengan membidik dan
melenyapkan sel kanker yang berkembang dengan sangat cepat
di dalam tubuh.
c) Kemoterapi Neo-adjuvant, kemoterapi yang dilakukan dengan
alasan untuk mengurangi tumor sehingga mudah dioperasi
yang diberikan sebelum operasi.
3. Cara Pemberian Kemoterapi
a) Dalam bentuk tablet atau kapsul yang harus diminum beberapa
kali sehari. Keuntungan kemoterapi oral semacam ini adalah:
bisa dilakukan di rumah.
b) Dalam bentuk suntikan atau injeksi. Bisa dilakukan di ruang
praktek dokter, rumah sakit, klinik, bahkan di rumah.
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
c) Dalam bentuk infus, Dilakukan di rumah sakit, klinik, atau di
rumah (oleh paramedis yang terlatih).Tergantung jenisnya,
kemoterapi ada yang diberikan setiap hari, seminggu sekali,
tiga minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Berapa sering
penderita harus menjalani kemoterapi, juga tergantung pada
jenis kanker penderita.
4. Manfaat Kemoterapi
a) Pengobatan, beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara
tuntas dengan satu jenis kemoterapi atau beberapa jenis
kemoterapi.
b) Kontrol, kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat
perkembangan kanker agar tidak bertambah besar atau
menyebar ke jaringan lain
c) Mengurangi gejala, bila kemoterapi tidak dapat menghilangkan
kanker, maka kemoterapi yang diberikan bertujuan untuk
mengurangi
gejala
yang
timbul
pada
pasien,
seperti
meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta
memperkecil ukuran pada daerah yang diserang.
5. Efek Kemoterapi
Pengobatan secara kemoterapi memiliki efek samping,
dimana efeknya tergantung jenisnya, Kemoterapi ada yang
diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga minggu sekali, bahkan
sebulan
sekali.
Berapa
sering
penderita
harus
menjalani
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
Kemoterapi, juga tergantung pada jenis kanker penderita. Yang
paling ditakuti dari kemoterapi adalah efek sampingnya. Ada-tidak
atau berat-ringannya kondisi akan pulih seperti semula. Beberapa
produk suplemen makanan mengklaim bisa mengurangi efek
samping kemoterapi sekaligus membangun kembali kondisi tubuh.
Bisa menggunakannya, tetapi konsultasikanlah dengan ahlinya, dan
sudah tentu dengan dokter juga. Saat ini, dengan semakin
maraknya penggunaan obat-obatan herbal (yang semakin diterima
kalangan
kedokteran),
banyak
klinik
yang
mengaku
bisa
memberikan kemoterapi herbal yang bebas efek samping. Kalau
Anda bermaksud menggunakannya, pastikan yang menangani
Anda di klinik tersebut adalah seorang dokter medis. Paling tidak
Anda harus berkonsultasi dengan dokter yang merawat Anda, dan
lakukan pemeriksaan laboratorium secara teratur untuk memantau
hasilnya.
Kebanyakan
pasien
yang
diberikan
kemoterapi
juga
mengalami mual, muntah, dan kerontokan rambut (dalam
Tavistock & Routledge, 2002). Banyak orang yang memandang
bahwa rambut mereka merupakan bagian yang sangat penting dari
penampilan. Pada beberapa budaya, rambut juga merupakan
lambang dari kesuburan atau status, sehingga kerontokan rambut
dapat menjadi pengalaman yang begitu sulit (dalam Odgen, 2004).
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
Kebanyakan efek samping mereda setelah kemoterapi berakhir.
Tetapi terkadang efek tersebut dapat berlangsung berbulan-bulan
atau bahkan bertahuntahun. Kemoterapi juga dapat menyebabkan
efek samping jangka panjang yang tidak kunjung reda seperti
kerusakan hati, paru-paru, ginjal, saraf, atau organ reproduksi.
Beberapa tipe kemoterapi bahkan dapat menyebabkan kanker
tambahan beberapa tahun kemudian (dalam Bellenir, 2009).
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
F. Kerangka Teori
Karakteristik responden :
a) Gender / jenis kelamin
b) Usia
c) Pendidikan
d) Pekerjanan
e) Status pernikahan
f) Penghasilan
g) Hubungan dengan orang lain
Dukungan sosial
-
Dukungan emosional
Dukungan instrumental
Dukungan informatif
Dukungan penilaian
Dimensi kualitas hidup
-
Kualitas hidup pasien kanker
dengan kemotarapi
Kesehatan fisik
Kesejahteraan psikologis
Hubungan sosial
lingkungan
Aspek spiritual
-
Perkembangan
Keluarga
Ras / suku
Agama yang dianut
Kegiatan keagamaan
=
= yang tidak diteliti
= yang diliti
Gambar 2.2
Kerangka Konsep modifikasi dari : (Tishler, 2002), (Kozier, 2004), (Dyson dalam
Young, 2007), (WHOQOL group Lopez dan Syder, 2004
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
G. Kerangka konsep
Kerangka konseptual merupakan dasar pemikiran yang di
rumuskan dari fakta-fakta, observasi dan tinjauan pustaka (Saryono,
2008)
Aspek Spiritual
-
Dimensi spiritual
Kompetensi yang
di
dapat
dari
spiritual
yang
berkembang
Faktor
yang
berhubungan
dengan spiritualitas
-
Kualitas hidup pasien
kanker dengan
kemoterapi
Dukungan sosial
-
Dukungan
emosional
Dukungan
instrumental
Dukungan
informatif
Dukungan penilaian
Gambar 2.1
kerangka konsep modifikasi dari : (Kozier, 2004), (Tischler, 2002), (Dyson dalam
Young, 2007)
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
H. Hipotesis
Ha = ada hubungan antara aspek spiritual dan dukungan sosial
terhadap kualitas hidup pasien kanker dengan kemoterapi di RSUD
Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Ho = tidak ada hubungan antara aspek spiritual dan dukungan sosial
terhadap kualitas hidup pasien kanker dengan kemoterapi di RSUD
Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Hubungan Aspek Spiritual..., MIGUNANI UTAMI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
Download