stabilitas potensi sediaan akhir kandidat formulasi vaksin rotavirus

advertisement
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
STABILITAS POTENSI SEDIAAN AKHIR KANDIDAT
FORMULASI VAKSIN ROTAVIRUS PADA
BERBAGAI TEKNIK FREEZING DAN SUHU
PENYIMPANAN
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi
GIAN PERTELA
NIM. 109102000041
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
JULI 2013
ii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
iii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
iv
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
v
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ABSTRAK
Nama
: Gian Pertela
Program Studi : Strata-1 Farmasi
Judul
: Stabilitas Potensi Sediaan Akhir Kandidat Formulasi Vaksin
Rotavirus Pada Berbagai Teknik Freezing dan Suhu Penyimpanan
Pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap pengaruh teknik freezing dan
suhu penyimpanan terhadap stabilitas formulasi kandidat vaksin rotavirus.
Pengamatan ini ditujukan untuk mendapatkan kombinasi yang paling optimal
antara teknik freezing pada suhu -70oC, -152oC, dan nitrogen cair dengan suhu
penyimpanan 2 – 8oC, -20oC, dan -70oC. Perlakuan lama penyimpanan adalah 30,
60, 90, dan 120 hari dengan titer virus sebagai parameter kestabilan vaksin. Uji
titrasi virus dilakukan menggunakan metode indirect immunofluorescence assay
dengan penanda antibodi poliklonal rabbit anti SA 11 sebagai antibodi primer dan
antibodi IgG goat anti rabbit sebagai antibodi sekunder untuk mengamati jumlah
rotavirus dalam tiap vial kandidat formulasi vaksin.
Data hasil pengamatan menunjukkan bahwa teknik freezing dan suhu
penyimpanan berpengaruh terhadap kestabilan kandidat formulasi vaksin. Teknik
freezing -152oC dan suhu penyimpanan 2 – 8oC masing-masing memiliki titer
paling rendah dibandingkan dengan teknik freezing dan suhu penyimpanan
lainnya. Secara keseluruhan, semua teknik freezing dan suhu penyimpanan tidak
menunjukkan penurunan titer yang signifikan pada lama penyimpanan 42, 60, 90
dan 120 hari.
Kata kunci
: rotavirus, teknik freezing, suhu penyimpanan, potensi
vi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ABSTRACT
Name
: Gian Pertela
Program Study: Strata-1 Pharmacy
Title
: The Stability of Final Preparations Potency of Rotavirus Vaccine
Formulation Candidate on Various Freezing Technique and
Temperature Storage.
This study is an observation on influence technique of freezing and temperature
storage on the stability of the final preparations potency of rotavirus vaccine
formulation candidate. This research is aimed at attaining optimal combination
between freezing technique at the temperature of -70oC, -152oC, and liquid
nitrogen by using the storage temperature of 2-8oC, -20oC, and -70oC. The
duration of the storage is 42, 60, 90, and 120 days by the virus titer as vaccine
stability parameter. The test on virus titration is committed by using the method of
indirect immunofluorescence assay with the antibody signifier of polyclonal
rabbit anti SA as primary antibody and IgG goat anti rabbit as secondary antibody
to observe the account of rotavirus in each vaccine formulation candidate.
The data of observation result showed that freezing technique and storage
temperature have significant influence on the stability of vaccine formulation
candidate. The freezing technique of -152oC and storage temperature of 2-8oC
have the lowest titer in comparison with the other freezing technique and storage
temperature. In conclusion, all freezing techniques and storage temperatures do
not show the significant titer decreasing at the storage of 42, 60, 90 and 120 days.
Keywords
: rotavirus, freezing technique, storage temperature, potency
vii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur saya panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan berbagai macam nikmat, karunia, serta kasih sayang-Nya sehingga
saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi dengan judul “Stabilitas
Potensi Sediaan Akhir Kandidat Formulasi Vaksin Rotavirus Pada Berbagai
Teknik Freezing dan Suhu Penyimpanan” ini dilakukan dalam rangka memenuhi
salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi
Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak,
mulai dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, pasti sangatlah
sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Yuni Anggraeni, M. Farm., Apt. selaku pembimbing pertama dan Ibu
drh. Maharani, M. Si selaku Pembimbing kedua, yang memiliki andil
besar dalam proses penelitian dan penyelesaian tugas akhir saya ini,
semoga segala bantuan dan bimbingan Ibu mendapat imbalan yang lebih
baik di sisi-Nya.
2. Bapak Dr. Elvyn Fajrul Jaya Saputra, M. Kes selaku Direktur Perencanaan
dan Pengembangan PT Bio Farma (Persero), yang telah bersedia
menerima saya untuk melakukan observasi dan penelitian, serta
menggunakan segala fasilitas selama penelitian di Divisi Penelitian dan
Pengembangan, PT Bio Farma (Persero).
3. Staf Divisi Penelitian dan Pengembangan PT Bio Farma (Persero), Bu
Sophia, Pak Nailul, Bu Dini, Bu Niar, Bu Anna, yang telah berkenan
menerima saya dengan sangat baik dan memberikan pengalaman yang
sangat berharga selama penelitian.
4. Bapak Prof. Dr. (hc) dr. M. K. Tadjudin, Sp., And. selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
viii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5. Drs. Umar Mansur, M. Sc., Apt. selaku Ketua Program Studi Farmasi,
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Bapak dan Ibu staf pengajar dan karyawan yang telah memberikan
bimbingan, bantuan, dan ilmunya selama saya menempuh pendidikan di
Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
7. Ayahanda Ir. Burhan Ramdan dan Ibunda Ir. Aswariny Hamid yang
sampai saat ini masih mendampingi saya setiap saat dan dengan terus
menerus memberikan panutan, kasih sayang, dukungan, motivasi, doa, dan
nasehatnya yang tak akan pernah mampu untuk saya membalas semuanya,
semoga keduanya mendapatkan balasan yang jauh lebih baik di sisi-Nya.
8. Kakak saya Geibril Kafrawi, S. Kom. satu-satunya saudara kandung yang
selalu memberikan bantuan dan dukungannya.
9. Keluarga kedua saya, seluruh rekan-rekan PSF 2009 yang selalu saya
sayangi, Arif, Irsyad, Indah, Nadya.
10. Kakak-kakak senior PSF 2008 dan 2007, adik-adik junior PSF 2010 dan
2011, serta keluarga kecil saya di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
Farmasi periode 2011 – 2012, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
11. Keluarga besar Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah dan angkatan Maximilian.
12. Serta semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak bisa
disebutkan satu persatu.
Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan
semua pihak yang telah membantu saya hingga saat ini. Semoga skripsi ini dapat
membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Ciputat, Juli 2013
Penulis
ix
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL …………….………………………………………
ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ………………………
iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………
iv
HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………..
v
ABSTRAK ………….……………………………………………………
vi
ABSTRACT ……………………………………………………………
vii
KATA PENGHANTAR …..……………………………………………
viii
DAFTAR ISI ……....……………………………………………………
x
DAFTAR TABEL ………………………………………………………
xii
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………
xiii
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………
xiv
BAB 1
BAB 2
PENDAHULUAN ………….……………………………….
1
1.1 Latar Belakang ..…………….……………………………
1
1.2 Perumusan Masalah ..…………………………………….
3
1.3 Tujuan Penelitian ..……………………………………….
4
1.4 Manfaat Penelitian .………………………………………
4
TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………
5
……………………………..…………………….
5
2.1.1 Karakteristik Virus .……..…………………………
6
2.1.2 Klasifikasi Virus ..…………………………………
7
2.1.3 Replikasi Virus …………..…………………………
8
2.2 Rotavirus ..……………………………………………….
9
2.2.1 Karakteristik Rotavirus …………………………….
9
2.2.2 Epidemiologi dan Imunitas ……………..…………
12
2.2.3 Respon Imun Tubuh ……………………………….
14
2.3 Vaksin ……………………………………………………
16
2.3.1 Definisi Vaksin …………………………………….
16
2.3.2 Jenis-jenis Vaksin ………………………………….
18
2.3.3 Komponen dan Bahan Eksipien Vaksin …………...
20
2.1 Virus
x
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 3
2.3.4 Proses Produksi Live-virus Vaksin .………………..
21
2.3.5 Vaksin Rotavirus .…………………………………..
25
2.4 Freezing (Pembekuan) ..………………………………….
28
2.5 Stabilitas Vaksin dalam Aspek Penyimpanan ……………
30
2.6 Immunofluorescence ...………………………….………..
32
2.7 Protein Stabilizer, Sukrosa ..……..………………………
34
METODOLOGI PENELITIAN …………………………..
38
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ...………………………….
38
3.2 Alat Penelitian ……………………………………………
38
3.3 Bahan Penelitian …………………………………………
38
3.4 Prosedur Penelitian ………………………………………
38
3.4.1 Pembuatan Sediaan Kandidat Vaksin Rotavirus ..…
38
3.4.2 Variasi Perlakuan Teknik Freezing dan Suhu
Penyimpanan pada Sediaan Kandidat Vaksin ……..
39
3.4.3 Evaluasi Sediaan …………………………………..
40
3.4.4 Uji Stabilitas Vaksin Kandidat Vaksin Rotavirus
Selama Penyimpanan …....…………………………
41
3.4.5 Metode Analisis Data …....…………………………
44
3.5 Alur Penelitian ……….……………….…………………
45
HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………….….
46
4.1 Formulasi dan Evaluasi Sediaan ..……………………….
46
4.1.1 Uji Fisik …..…………………………………….….
46
4.1.2 Uji Sterilitas .……………..…………….………….
47
4.1.3 Uji Potensi ..………………………………………..
48
4.2 Uji Stabilitas …...…………………………………………
49
KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………..
62
5.1 Kesimpulan ……………………...………………………
62
5.2 Saran …...………...………………………………………
62
DAFTAR PUSTAKA ……..……………………………………………
64
LAMPIRAN …………………………………………………………….
69
BAB 4
BAB 5
xi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Perbedaan virus dan sel …...…………………………………..
5
Tabel 3.1 Desain perlakuan pada kandidat vaksin rotavirus ..……………
39
Tabel 4.1 Hasil uji fisik ….………………………………………………
47
Tabel 4.2 Hasil uji sterilitas …….………………………………………..
48
Tabel 4.3 Hasil uji potensi ….…………………………...……………….
48
Tabel 4.4 Desain plate 96 well pada immunofluorescence assay …..……
51
Tabel 4.5 Konsentrasi rotavirus dalam kandidat formulasi vaksin dengan
teknik freezing -70oC …...………………………………..…..
52
Tabel 4.6 Konsentrasi rotavirus dalam kandidat formulasi vaksin dengan
teknik freezing -152oC ….………………………………….….
52
Tabel 4.7 Konsentrasi rotavirus dalam kandidat formulasi vaksin dengan
teknik freezing menggunakan nitrogen cair …………………...
52
Tabel 4.8 Sidik ragam hasil pengolahan data analisis repeated measures..
53
xii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Penyandian gen dan struktur tiga dimensi dari partikel
rotavirus …………………………………………………..…
10
Gambar 2.2 Penggambaran skematis protein struktural dari rotavirus ….
11
Gambar 2.3 Vaksin reassortant rotavirus manusia-sapi (RotaTeq)………
27
Gambar 2.4 Profil penurunan suhu pada pembekuan cepat dan
pembekuan lambat ..…………………………………………
29
Gambar 2.5 Visualisasi mikroskop fluorescence ...………………………
32
Gambar 2.6 Skema imunofluoresensi langsung dan tidak langsung .……
33
Gambar 2.7 Struktur kimia sukrosa ...……………………………………
35
Gambar 2.8 SEM (Scanning Electron Microscope) film tipis lapisan
monolayer .………………………………………………….
36
Gambar 4.1 Hubungan teknik freezing suhu penyimpanan pada sediaan
kandidat formulasi vaksin rotavirus terhadap potensinya …..
56
Gambar 4.2 Hubungan teknik freezing dan waktu penyimpanan pada sediaan
kandidat formulasi vaksin rotavirus terhadap potensinya ......
56
Gambar 4.3 Hubungan suhu penyimpanan dan waktu penyimpanan pada
sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus terhadap
potensinya …..…………………………………..…………..
57
Gambar 4.4 Karakteristik intracellular ice dan extracellular ice pada
sel ...………………………………………………….……...
58
xiii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Data jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada tiap
perlakuan teknik freezing dan suhu penyimpanan selama
30, 60, 90, dan 120 hari …………………………………….
Lampiran 2. Contoh perhitungan yang digunakan pada penelitian ...........
Lampiran 3. Data perbandingan hasil pengolahan statistik repeated
measures yang dipisahkan sesuai dengan kelompok teknik
freezing-nya pada sediaan kandidat vaksin rotavirus .…….
Lampiran 4. Data perbandingan hasil pengolahan seluruh data
(tanpa pemisahan kelompok) menggunakan analisis statistik
repeated measures pada sediaan kandidat vaksin rotavirus ..
Lampiran 5. Grafik konsentrasi rotavirus terhadap teknik freezing dan
suhu penyimpanan pada tiap waktu penyimpanan …..……
xiv
69
73
75
80
81
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Rotavirus merupakan penyebab yang paling sering menimbulkan penyakit
gastroenteritis pada anak-anak khususnya pada bayi usia hingga 3 tahun di seluruh
dunia.
Rotavirus
menyebabkan
diare
dan
muntah-muntah
yang
dapat
mengakibatkan kematian pada bayi akibat dehidrasi. Hasil penelitian dunia
memaparkan bahwa setiap tahunnya penyakit gastroenteritis yang disebabkan oleh
rotavirus di Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengakibatkan kurang lebih 500.000
kematian (Cortese et al., 2009). Menurut hasil penelitian, di Indonesia, prevalensi
terjadinya diare yang disebabkan oleh rotavirus telah terdeteksi tersebar di
beberapa wilayah dengan rentang mulai dari 38% hingga 69% pada bayi dan anak
usia di bawah umur lima tahun. Hasil data prevalensi rotavirus di Indonesia
selama Januari hingga April 2007 mengalami peningkatan dari hasil investigasi
sebelumnya (Radji, et al., 2010). Pada tahun 1990 hingga awal 2000 saat belum
dikenalnya vaksin rotavirus, di Amerika Serikat terjadi 2,7 juta kasus
gastroenteritis pada bayi umur di bawah 5 tahun, di mana sekitar 410.000 adalah
penderita rawat jalan, 205.000-272.000 penderita memasuki Unit Gawat Darurat
(UGD), 55.000-70.000 penderita rawat inap, dan 20-60 penderita mengalami
kematian (Glass et al., 2009). Biaya tahunan yang dikeluarkan oleh Amerika
Serikat dalam menangani permasalahan rotavirus ini bahkan melebihi $ 1 milyar
(Kang, 2006).
Berdasarkan data tersebut, vaksin telah diidentifikasi sebagai strategi
terbaik saat ini untuk mengurangi beban yang berhubungan dengan diare rotavirus
yang parah dan fatal. Selama dua dekade terakhir, diskusi di antara berbagai
kelompok, termasuk World Health Organization (WHO), Institute of Medicine
and the Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI), telah
mengidentifikasi bahwa vaksin rotavirus sebagai prioritas pengembangan. Di
Indonesia, PT Biofarma tengah berusaha mengembangkan vaksin rotavirus
sebagai upaya menangani permasalahan rotavirus di dunia. Vaksin rotavirus
sangat perlu dikembangkan mengingat rotavirus merupakan strain virus yang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2
banyak mengalami mutasi genetik karena dapat mengalami reassortant, yakni
proses swapping (penukaran) materi genetik antara dua strain untuk menghasilkan
strain virus baru. Selain G1, G2, G3, dan G4, saat ini muncul rotavirus strain G9
yang dapat menginfeksi manusia di dunia, dan muncul pula strain G12 di India
dengan frekuensi kemunculan yang meningkat. Hal ini merepresentasikan
kemungkinan kemunculan genotip rotavirus yang lain dan menjadi tantangan saat
ini dan masa depan, terkait vaksin rotavirus (Angel, et al., 2007).
Dalam proses pengembangan vaksin, aspek penting selain menentukan
formulasi yang ideal adalah stabilitas dalam penyimpanannya. Hal ini dikarenakan
persoalan cold-chain (upaya menjaga stabilitas suhu dingin yang diperlukan
produk untuk tetap berada di rentang tertentu selama proses produksi hingga
distribusi) menjadi penting diperhatikan pada sediaan biologis, dalam hal ini
vaksin (Huynh-Ba dan Zahn, 2009). Jika cold-chain tidak dapat dipertahankan,
vaksin yang poten sekalipun tingkat efikasinya akan hilang (Parthsarthy et al.,
2001). Uji stabilitas dengan metode freeze-thaw maupun heat-stress yang
dilakukan terhadap produk pun tidak dapat memperkirakan secara pasti kualitas
produk khususnya waktu simpan dan suhu penyimpanan karena dapat
mengakibatkan kemungkinan lainnya, seperti terjadinya degradasi dalam
formulasi zat biologis, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut (Huynh-Ba
dan Zahn, 2009).
Studi mengenai teknik freezing saat proses produksi vaksin perlu
dilakukan sebagai upaya untuk menjaga stabilitas sediaan selama proses
penyimpanan. Pada proses produksi vaksin skala besar, biasanya sebelum sediaan
dikemas menjadi unit dose (dalam ampul) atau multi dose (dalam vial), vaksin
disimpan dalam jumlah yang besar dengan menggunakan teknik freezing untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi baik dari segi produksi maupun
penyimpanan. Teknik-teknik dalam freezing bermacam-macam dan setiap produk
biologi memiliki spesifikasi yang berbeda tergantung dari sifat komponen aktif
yang ada di dalamnya. Misalnya vaksin difteri, tetanus, atau hepatitis B bersifat
termolabil pada suhu rendah, sehingga upaya pembekuan dijaga agar tidak terlalu
rendah dan suhu penyimpanan dijaga pada suhu 2-8oC.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3
Dalam hal freezing, tidak hanya suhu pada proses pembekuan saja yang
berpengaruh pada komponen aktif vaksin, laju pembekuan (slow freeze dan quick
freeze) juga berpengaruh terhadap induksi denaturasi dengan mekanisme yang
tidak terkontrol (Kramer et al., 2002). Ketika vaksin mengalami kerusakan akibat
pembekuan, potensi dan efikasi yang dimiliki vaksin tersebut tidak dapat
dipulihkan, artinya kerusakan tersebut permanen (irreversible) (Dietz et al.,
1997). Vaksin yang mengalami kerusakan akibat pembekuan memiliki
imunogenisitas yang lebih rendah dan cenderung mengalami reaksi lokal, seperti
abses steril (Mansoor, 1997). Selain studi optimasi teknik freezing, studi optimasi
suhu penyimpanan vaksin dalam kemasan ampul atau vial juga perlu dilakukan
dalam upaya memenuhi stabilitas vaksin pada saat proses distribusi dan proses
penyimpanan agar vaksin tersebut dapat mempertahankan viabilitas antigen. Suhu
penyimpanan vaksin bermacam-macam dan secara umum dibutuhkan suhu yang
rendah untuk kondisi penyimpanannya, seperti pada kulkas (2 hingga 8oC),
freezer (-10 hingga -20oC), atau bahkan pada suhu ultra rendah (-40 hingga 80oC).
Studi optimasi teknik freezing maupun suhu penyimpanan akan dilakukan
pada penelitian ini, mengingat stabilitas sediaan vaksin terkait pengaruhnya
terhadap suhu tidak dapat diperkirakan secara pasti dengan metode yang lain.
Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip quality by design
melalui analisis secara statistika agar diketahui kombinasi teknik freezing dan
suhu penyimpanan kandidat vaksin rotavirus yang tepat dari desain-desain yang
telah diusulkan, dengan mempertimbangkan stabilitas vaksin tersebut agar
viabilitas dan imunogenisitasnya dapat dipertahankan.
1.2
Perumusan Masalah
1. Bagaimanakah pengaruh berbagai kombinasi antara teknik freezing
dan suhu penyimpanan yang dilakukan pada sediaan kandidat
formulasi vaksin rotavirus terhadap kestabilan sediaan vaksin yang
diperoleh?
2. Kombinasi manakah yang paling optimum untuk diterapkan dalam
produksi kandidat formulasi vaksin rotavirus tersebut?
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
4
1.3
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan mengevaluasi pengaruh
berbagai kombinasi teknik freezing dan suhu penyimpanan pada sediaan akhir
kandidat formulasi vaksin rotavirus terhadap kestabilan sediaan, serta dapat
menentukan kombinasi teknik freezing dan suhu penyimpanan yang paling
optimum untuk diterapkan dalam proses produksi vaksin rotavirus nantinya.
1.4
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang dapat
dipertanggungjawabkan tentang kombinasi antara teknik freezing dan suhu
penyimpanan yang tepat dari sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus sehingga
dapat menjadi referensi dalam perlakuan freezing saat proses produksi vaksin
rotavirus dan penyimpanan yang optimum saat proses distribusi vaksin rotavirus
sebagai upaya menjaga stabilitas vaksin.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Virus
Virus adalah makhluk hidup aseluler yang merupakan penyebab infeksi
pada manusia, hewan, dan tanaman atau bahkan bakteri. Mekanisme virus dalam
menyebabkan penyakit sama seperti sel eukariot dan prokariot lainnya yakni
dengan cara menyerang sel yang rentan. Virus tidak memiliki ciri hidup yang
sama dengan sel. Perbedaan sifat antara virus dan sel dapat dilihat pada tabel 2.1
(Bauman, 2012).
Tabel 2.1 Perbedaan virus dan sel
Perbedaan sifat antara virus dan sel
Virus
Sel
Merupakan makromolekul yang bersifat Melakukan metabolisme sendiri
inert diluar sel, dan menjadi aktif di
dalam sel
Tidak membelah diri atau tumbuh
Membelah diri dan tumbuh
Aseluler
Seluler
Merupakan parasit intraseluler
Kebanyakan hidup bebas
Mengandung DNA atau RNA dengan Mengandung DNA dan RNA
beberapa
pengecualian
seperti
Cytomegalovirus dan Mimivirus
Genome dapat berupa untai ganda Genomnya merupakan untai ganda
maupun untai tunggal
Berukuran ultramikroskopik, antara 10 Diameternya 200 nm hingga 12 cm
nm hingga 400 nm
Memiliki kapsid yang mengandung Dikelilingi oleh membran fosfolipid
protein di sekitar genom, dan beberapa dan juga dinding sel
memiliki amplop
Bereplikasi
dengan
memanfaatkan Bereplikasi dengan sendirinya melalui
enzim dan organel sel inang
reproduksi seksual maupun aseksual
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
6
2.1.1
Karakteristik Virus
Virus merupakan makhluk hidup yang berukuran sangat kecil, aseluler dan
bersifat infeksius yang biasanya memiliki satu atau lebih bagian asam nukleat,
dapat berupa RNA maupun DNA. Virus tidak memiliki membran sitoplasma,
sitosol, dan organ fungsional lainnya. Ukuran virus paling kecil memiliki diameter
10 nm, sedangkan yang terbesar memiliki diameter 400 nm, di mana 400 nm
merupakan ukuran terkecil dari sel bakteri. Genom virus dapat berupa DNA untai
tunggal, DNA untai ganda, RNA untai tunggal, atau RNA untai ganda (Bauman,
2012).
Virus memiliki status ekstraseluler dan interseluler. Di luar sel, dalam
keadaan ekstraseluler, virus disebut dengan virion. Pada dasarnya, virion terdiri
dari selubung protein yang disebut dengan kapsid. Kapsid dari virus tersusun atas
sub-unit protein yang disebut dengan kapsomer, beberapa kapsomer tersusun dari
protein jenis tunggal saja, dan beberapa lainnya tersusun atas beberapa jenis
protein yang berbeda. Asam nukleat virus yang dikelilingi oleh kapsidnya disebut
dengan nukleokapsid. Lapisan paling luar dari virion berfungsi sebagai pelindung
sekaligus pengenal yang akan berikatan dengan senyawa kimia komplemen dari
permukaan sel inang spesifiknya. Setelah virus masuk dan berada di dalam, status
interseluler pun dimulai, dan kapsid akan dilepaskan. Virus tanpa kapsid akan
berwujud sebagai asam nukleat saja, tetapi masih disebut dengan virus (Bauman,
2012).
Semua virus tidak memiliki membran sel, tetapi sebagian virus memiliki
envelope yang komposisinya sama dengan membran sel dan terletak mengelilingi
nukleokapsid. Virus yang memiliki membran disebut dengan virion bersampul
(enveloped virion), sedangkan virion tanpa envelope disebut dengan virion
telanjang (non-enveloped virion). Sama seperti membran sitoplasma, envelope
virus tersusun atas fosfolipid lapis rangkap dan protein. Protein pada envelope dan
glikoprotein seringkali memegang peranan penting dalam mengenali sel inang
(Bauman, 2012).
Ada tiga bentuk dasar dari virus, yakni heliks, polihedral, dan kompleks.
Kapsid dari virus heliks tersusun atas kapsomer yang berikatan bersama dalam
pola spiral untuk membentuk lengkungan yang mengelilingi asam nukleat. Kapsid
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
7
dari virus polihedral membentuk bola dengan struktur yang kasar dan kaku,
dengan bentuk yang mirip dengan kubah. Jenis dari kapsid polihedral yang paling
umum adalah ikosahedron, dengan 20 sisi yang dimiliki. Sedangkan pada virus
komplek, kapsidnya memiliki bentuk yang berbeda yang tidak dapat dimasukkan
ke dalam dua kategori lainnya (heliks dan polihedral). Contoh dari virus komplek
ini adalah virus cacar, yang memiliki beberapa lapisan penutup (termasuk lemak)
dan tidak memiliki kapsid yang mudah diidentifikasi (Bauman, 2012).
Virus dapat bersifat sangat spesifik. Ia menyerang tidak hanya inang
tertentu, tetapi bahkan hanya sel tertentu pada inang. Sebagai contoh, HIV
(Human Immunodeficiency Virus) secara spesifik menyerang situs pembantu
Limfosit-T (helper T-limphocytes) pada manusia, dan tidak menghasilkan efek
pada sel otot maupun tulang manusia. Spesifikasinya bergantung pada ketepatan
afinitas dari protein atau glikoprotein yang berada di permukaan dari sel inang.
Sebaliknya, beberapa virus ada yang bersifat sangat umum, menginfeksi berbagai
jenis sel dari berbagai inang yang berbeda. Contoh dari virus general ini adalah
virus west nile yang dapat menginfeksi hampir semua spesies dari burung,
beberapa mamalia, dan beberapa reptil (Bauman, 2012).
2.1.2
Klasifikasi Virus
Komisi internasional taksonomi virus (International Committee on
Taxonomy Viruses) pada tahun 1966 menetapkan sebuah skema taksonomi untuk
klasifikasi dan identifikasi virus. Famili virus diklasifikasikan menjadi dua
berdasarkan jenis asam nukleatnya, yaitu virus DNA (Poxviridae, Herpesviridae,
Adenoviridae, dll) dan virus RNA (Picornaviridae, Coronaviridae, Retroviridae,
Reoviridae, dll). Nama famili secara khusus dapat diturunkan baik dari
karakteristik spesifik dari familinya maupun nama dari suku yang penting dalam
famili tersebut. Sebagai contoh, famili Picornaviridae mengandung RNA virus
yang sangat kecil, Hepadnaviridae mengandung DNA virus yang dapat
mengakibatkan hepatitis B. Famili Herpesviridae dinamai untuk herpes simplex,
yakni virus yang dapat mengakibatkan herpes pada alat kelamin. Sebutan khas
dari virus biasanya diambil dari penamaan umum dalam bahasa inggrisnya yang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
8
ditulis miring, misalnya human immunodeficiency virus dan rabies virus
(Bauman, 2012).
2.1.3
Replikasi Virus
Virus tidak dapat bereproduksi sendiri karena virus tidak memiliki gen
dari semua enzim yang dibutuhkan untuk replikasi, dan juga tidak memiliki
ribosom yang mana sangat berperan dalam sintesis protein. Virus sangat
bergantung pada enzim dan organel dari inangnya untuk membentuk virion-virion
baru. Begitu suatu inang berada di bawah kontrol dari genom virus, maka inang
tersebut akan dipaksa untuk mereplikasi materi genetik dari virus dan
menerjemahkan protein virus, termasuk kapsomer dan enzim virus (Bauman,
2012).
1) Siklus replikasi litik
Siklus replikasi dari virus biasanya berakhir pada kematian dan
lisis dari sel inang. Karena dalam siklus ini lisis yang dialami oleh sel
merupakan penanda dari sudah dekatnya akhir dari siklus, maka tipe
replikasi ini disebut dengan siklus replikasi litik. Siklus ini terjadi pada
kebanyakan bakteriofag, contohnya adalah bakteriofag T4. Secara umum,
siklus ini terdiri atas penempelan dari virion kepada sel inang, pemasukan
virion atau genom virus ke dalam sel inang, sintesis dari asam nukleat baru
dan protein viral melalui enzim dan ribosom dari sel inang, pembentukan
virion baru dalam sel inang, dan terakhir yaitu pelepasan virion baru dari
sel inang (Bauman, 2012).
2) Siklus replikasi lisogenik
Beberapa bakteriofag mengalami modifikasi siklus replikasi
dimana sel inang yang telah diinfeksi masih dapat tumbuh dan melakukan
reproduksi normal sampai beberapa generasi sebelum akhirnya mengalami
lisis. Siklus ini disebut dengan siklus replikasi lisogenik, dan fage yang
mengalami siklus ini disebut dengan fage lisogenik (Bauman, 2012).
Contoh fage yang mengalami siklus replikasi lisogenik adalah fage
lambda, yang merupakan parasit dari E. Coli. Adapun siklus lisogenik
secara umum diawali dari pemasukkan DNA virus ke dalam sel, di mana
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
9
sel inang tidak mengalami kerusakan dan genom dari fage tidak serta
merta mengambil alih kontrol dari sel melainkan bertahan sementara
dalam bentuk inaktifnya yang disebut dengan profage. Profage bertahan
dalam bentuk inaktif dengan mengkode protein yang menekan gen dari
profage. DNA virus berfusi dengan DNA dari kromosom sel. Setiap sel
mereplikasikan kromosom yang terinfeksi, maka profage akan ikut
terreplikasi. Profage akan dikeluarkan dari kromosom melalui proses
rekombinasi atau peristiwa genetik lainnya, yang kemudian memasuki fase
litik kembali (induksi). Setelah terjadi induksi, akan terjadi tahapan yang
sama dengan siklus litik, yakni diawali dengan sintesis, dilanjutkan dengan
pembentukan, dan diakhiri dengan pelepasan (Bauman, 2012).
2.2
Rotavirus
2.2.1
Karakteristik Rotavirus
Rotavirus pertama kali ditemukan sekitar tahun 1960an di dalam hewan
dan pertama kali diungkapkan terdapat pada manusia ketika ditemukannya virus
tersebut pada usus anak-anak yang mengalami gastroenteritis akut dengan
menggunakan mikroskop elektron. Kata “rota” berasal dari bentuknya yang
menyerupai roda. Rotavirus merupakan virus dengan karakteristik tiga lapis
ikosahedron protein kapsid, yakni lapisan luar (kapsid luar), lapisan tengah
(kapsid dalam), dan lapisan inti, dengan diameter 70-nm dan termasuk dalam
family Reoviridae (Dennehy, 2008). Lapisan inti dari rotavirus merupakan genom
virus yang terdiri dari sebelas segmen RNA untai ganda yang menyandikan enam
viral protein struktural (VP1, VP2, VP3, VP4, VP6, VP7) dan lima viral
nonstruktural (NSP1, NSP2, NSP3, NSP4, NSP5) (Parashar, et al., 1998).
Perkembangan terakhir menyatakan terdapat enam viral protein nonstruktural,
dengan tambahannya berupa NSP6 (Ward, et al., 2008).
Protein-protein struktural merupakan penyusun ketiga lapisan kapsid.
Lapisan luar disusun oleh dua protein struktural, yaitu VP7 sebagai komponen
utamanya dan VP4 sebagai protein spike yang terdapat pada permukaan luar
kapsid (Kobayashi, et al., 2007). Lapisan tengah disusun oleh VP6. Kemudian
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
10
lapisan inti disusun oleh VP2. Di dalam lapisan inti terdapat VP1 dan VP3 serta
sebelas segmen RNA (Clemens, et al., 1999).
[Sumber: Parashar, et al., 1998]
Gambar 2.1 Penyandian gen dan struktur tiga dimensi dari partikel rotavirus
Rotavirus dapat diklasifikasikan berdasarkan perbedaan karakter antigenik
dan karakter genetik. Karakter antigenik didasarkan pada sifat antigenik yang
dimiliki rotavirus pada VP6, VP7, dan VP4, sedangkan karakter genetik
didasarkan pada gen penyandi VP7 dan VP4 (Kobayashi, et al., 2007).
1. Karakter antigenik
a. Protein VP6
Viral protein ini disandi dari segmen RNA keenam.
Berdasarkan perbedaan antigenik dari protein VP6, maka rotavirus
diklasifikasikan menjadi tujuh grup, yaitu rotavirus A, B, C, D, E, F,
dan G. Grup A-C merupakan grup yang ditemukan pada manusia dan
hewan, sedangkan grup D-G hanya ditemukan terdeteksi pada hewan.
Karena rotavirus A merupakan satu-satunya dalam grup ini yang
menjadi sumber utama dari etiologi penyakit diare pada anak, maka
dalam pembuatan anti-rotavirus vaksin tersebut difokuskan pada grup
ini (Kobayashi, et al., 2007).
b. Protein VP7 dan VP4
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
11
Klasifikasi rotavirus dari lapisan luar yang terdiri dari dua
protein struktural ini didasarkan pada kemampuannya yang dapat
menginduksi netralisasi virus (virus-neutralizing) serum antibodi dan
mampu menginduksi proteksi sistem imun untuk melawan rotavirus di
dalam hewan (Clemens, et al., 1999).
[Sumber: Angel, et al., 2007]
Gambar 2.2 Penggambaran skematis protein struktural dari rotavirus
Protein struktural pertama, VP7, merupakan viral protein yang
disandi oleh segmen RNA ke tujuh. Variasi antigenik dari protein ini
disebut tipe glikoprotein (tipe G), sesuai dengan susunan glikoprotein
dari antigen ini (Clemens, et al., 1999). Saat ini, rotavirus pada
manusia dapat memperlihatkan 12 tipe G yang berbeda, dimana lima
tipe, yaitu G1, G2, G3, G4, dan G9 merupakan rotavirus tipe G yang
paling sering muncul di dalam hasil isolasi dari kasus-kasus penyakit
diare (Dennehy, 2008).
Kemudian protein struktural kedua dari lapisan luar, VP4,
merupakan viral protein hasil penyandian dari segmen RNA ke empat.
Oleh karena itu, variasi dari VP4 disebut tipe P. Protein ini dapat diurai
oleh protease tripsin (Clemens, et al., 1999). Saat ini, terdapat 15 tipe
P yang teridentifikasi muncul dari hasil isolasi pada manusia dengan
P[4], P[6], dan P[8] yang paling sering muncul dalam menyebabkan
penyakit
(Dennehy,
2008;
Ward,
et
al.,
2008).
Meskipun
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
12
penggabungan dari 12 tipe G dengan 15 tipe P dapat menghasilkan 160
kombinasi P-G yang berbeda, namun hanya lima kombinasi yang
sering terisolasi dari kasus diare pada manusia, di antaranya P[8]G1,
P[4]G2, P[8]G3, P[8]G4, P[8]G9 (Dennehy, 2008).
2. Karakter genetik
Klasifikasi rotavirus menggunakan karakter genetik dilakukan
berdasarkan urutan nukleotida gen pengkode VP7 dan VP4. Hal tersebut
disebabkan gen pengkode VP7 dan VP4 mempunyai beberapa daerah
spesifik genotipe, yaitu daerah yang bervariasi antara satu genotipe dengan
genotipe lain, tetapi relatif sama pada satu genotipe yang sama (Gentsch,
et al., 1992). Dua galur (strain) memiliki genotipe yang sama bila
memiliki kesamaan urutan asam amino pada protein VP7 dan VP4 sebesar
89% atau lebih. Hal tersebut ditetapkan berdasarkan hasil analisis terhadap
galur dari serotipe yang sama (Kobayashi, et al., 2007).
Klasifikasi genotipe dan serotipe memiliki korelasi yang erat.
Galur dengan suatu genotipe tertentu akan menunjukkan reaksi yang
bersesuaian pada reaksi serologinya. Sebanyak 16 tipe gen penyandi VP7
(genotipe G) dan 28 tipe gen penyandi VP4 (genotipe P) rotavirus A telah
ditemukan menginfeksi manusia atau hewan (Kobayashi, et al., 2007).
2.2.2
Epidemiologi dan Imunitas
Setiap tahun, rotavirus menyebabkan kurang lebih 111 juta kasus
gastroenteritis dengan perawatan di rumah, 25 juta kasus pasien rawat jalan, 2 juta
kasus pasien rawat inap, dan sekitar 611.000 (antara 454.000 – 705.000) kasus
berakhir dengan kematian yang terjadi pada anak dengan usia lebih muda dari
lima tahun akibat rotavirus di seluruh dunia (Angel, et al., 2007). Dari hasil
penelitian ditemukan prevalensi terjadinya diare yang disebabkan oleh rotavirus
grup A dengan rentang mulai dari 38% hingga 69% pada bayi dan anak usia
dibawah umur lima tahun yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.
Ditambah lagi berdasarkan survei kesehatan dan demografi di Indonesia, diare
tetap memimpin permasalahan mortalitas bayi dan anak-anak. Hasil data
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
13
prevalensi rotavirus di Indonesia selama Januari hingga April 2007 mengalami
peningkatan dari hasil investigasi sebelumnya (Radji, et al., 2010).
Penyebaran dari penyakit ini tidak sama rata terdistribusi antara negara
maju dan negara berkembang. Hal ini mungkin disebabkan faktor sosioekonomi
dan epidemiologi. Negara-negara maju mempunyai angka kesakitan yang tinggi
namun angka kematiannya rendah, sedangkan kasus kematian mayoritas terjadi
pada negara berkembang. Sebagai contoh, di Amerika Serikat terdapat 3 juta
kasus per tahun dengan angka kematian kurang dari 100, diperkirakan bahwa
rotavirus dihubungkan dengan 4 – 5% dari seluruh pasien anak rawat inap, dan
diantara 1 dari 67 pasien anak dan 1 dari 85 pasien anak dengan usia lima tahun
menjalani rawat inap di rumah sakit dengan penanganan gastroenteritis yang
disebabkan rotavirus. Hasil rata-rata ini tidak dapat disangkal pada tahun 1993
hingga 2002. Dari konteks tersebut, bukan hal yang mengherankan bahwa
intervensi cost-effective dari vaksin rotavirus menjadi bahan pertimbangan di
Amerika Serikat (Angel, et al., 2007).
Epidemiologi rotavirus sangat kompleks karena fenoma ini terus berubah.
Adanya distribusi varietas galur rotavirus manusia yang berbeda berpengaruh
pada faktor geografis, misalnya virus P[8]G1 lebih sering dijumpai terdapat di
Amerika Utara, Eropa, dan Australia daripada di Amerika Selatan, Asia, dan
Afrika, dan merupakan daerah yang paling sering ditemuinya rotavirus selama 30
tahun terakhir. Di beberapa daerah di India, Brazil, dan Afrika, rotavirus P[6]G9,
P[6]G5, dan P[6]G8, berturut-turut lebih sering ditemukan daripada di tempat
manapun (Cortese, 2009). Satu kemungkinan penjelasan dari hal yang dijabarkan
ini adalah adanya reassortment (penyusunan kembali materi genetik) antara
rotavirus hewan dan manusia. Adanya peningkatan terkait fakta-fakta transmisi
zoonotik dari rotavirus hewan menjadi rotavirus manusia, menyebabkan rotavirus
hewan dapat menyebabkan infeksi langsung atau terjadinya penyusunan kembali
satu atau lebih segmen genom dari rotavirus hewan yang masuk ke dalam
sirkulasi rotavirus manusia (Angel, et al., 2007).
Infeksi rotavirus biasanya banyak terdapat selama musim gugur atau
musim dingin, meskipun di iklim tropis juga cenderung banyak terjadi.
Sehubungan dengan adanya variasi geografis, faktor variasi dalam penyebaran
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
14
rotavirus juga sangatlah penting. Dari hasil studi-studi epidemiologi diawal tahun
1990 menunjukkan dominasi dari rotavirus strain G1-G4, tetapi setelah itu strain
P[8]G9 atau P[6]G9 muncul di seluruh dunia dan rotavirus strain G9 terdeteksi
sebanyak 4,1% dari seluruh isolat dalam studi baru-baru ini. Seperti yang telah
dilaporkan oleh dunia, di Indonesia distribusi penyebaran genotip rotavirus tipe G
dan tipe P pun sama, yakni tipe G1, G2, G3, G4, G9 dan tipe P[4], P[6], P[8],
dengan rotavirus tipe G1 dan tipe P[8] adalah strain yang paling sering muncul
(Radji, et al., 2010). Strain baru G12, terdeteksi pula di India baru-baru ini dan
frekuensi kemunculannya meningkat, dimana hal ini merepresentasikan
kemungkinan kemunculan genotip rotavirus yang lain dan menjadi tantangan saat
ini dan masa depan, terkait vaksin rotavirus (Angel, et al., 2007).
Infeksi simtomatik merupakan infeksi yang paling sering terjadi pada
anak-anak antara umur 6 bulan sampai 2 tahun, dan penularan tampaknya terjadi
melalui jalur fekal-oral. Infeksi nosokomial juga sering terjadi. Menjelang umur 3
tahun, 90% anak-anak mempunyai antibodi serum terhadap satu tipe rotavirus
atau lebih. Manusia dan hewan dapat terinfeksi sekalipun memiliki antibodi.
Reinfeksi rotavirus umum terjadi, di mana bayi dapat mengalami reinfeksi sampai
5x sampai umur 2 tahun. Faktor-faktor imun lokal, misalnya IgA sekretorik atau
interferon, penting dalam perlindungan terhadap infeksi rotavirus. Selain itu
reinfeksi bila ada antibodi yang beredar dapat menggambarkan adanya serotipe
ganda virus. Infeksi asimtomatik sering terjadi pada bayi sebelum berumur 6
bulan, di saat antibodi protektif ibu didapat secara pasif oleh bayi yang baru lahir.
Infeksi neonatal semacam itu tidak mencegah reinfeksi. Antibodi rotavirus telah
dideteksi dalam susu ibu sampai 9 bulan setelah melahirkan. Imunitas yang
didapatkan sewaktu anak-anak ini menyebabkan infeksi rotavirus relatif jarang
terjadi pada orang dewasa (Brooks, 2007).
2.2.3
Respon Imun Tubuh
Efektor imunologi yang dapat mencegah penyakit yang disebabkan oleh
rotavirus sebagian telah dapat diidentifikasi, terutama melalui studi dengan
menggunakan model hewan. Meskipun demikian, respon imun pada manusia
masih kurang dapat dipahami (Ward, et al., 2008). Beberapa hasil studi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
15
mengemukakan bahwa infeksi akut rotavirus di dalam tubuh dapat menimbulkan
respon imun humoral yang terdiri dari antibodi imunoglobulin (Ig)M, IgG, dan
IgA, dan respon imun rotavirus-spesifik sel T sitotoksik pada lamina propria
jaringan usus (Desselberger, 2000). Mekanisme respon imun pada tubuh manusia
secara umum diasumsikan bahwa efektor imunologi tersebut aktif di mukosa usus.
Hal ini dikarenakan rotavirus bereplikasi di dalam enterosit usus, sehingga respon
imun paling nyata pada tubuh manusia terhadap rotavirus adalah sekresi IgA pada
usus. Pada tubuh manusia, titer IgA rotavirus serta IgG rotavirus dilaporkan
terdeteksi pada serum dan berkolerasi terhadap perlindungan rotavirus setelah
terjadi infeksi alami rotavirus (Ward, et al., 2008).
Protein rotavirus yang memiliki sifat imunogenik terbesar adalah VP6,
namun protein ini tidak menstimulasi netralisasi serum antibodi tubuh. Meskipun
telah dilaporkan demikian, antibodi IgA dengan protein VP6 secara langsung
dapat memberikan perlindungan dengan mekanisme yang belum dapat dipahami
secara jelas yang diduga melibatkan inhibisi replikasi intraseluler rotavirus dalam
enterosit yang terinfeksi selama antibodi berjalan menuju lumen usus. Sedangkan
antibodi yang ditujukan langsung pada protein VP4 atau VP7 dapat merangsang
netralisasi virus serum antibodi dan diyakini memberikan perlindungan dengan
mekanisme netralisasi klasik. Kedua protein tersebut juga dapat menginduksi
respon serotipe, baik serotipe spesifik maupun serotipe silang (Ward, et al., 2008).
Studi pada bayi dengan infeksi alami rotavirus sangat penting untuk
memahami kekebalan tubuh terhadap rotavirus. Tingkat serum spesifik IgA
rotavirus terdeteksi setelah infeksi alami pada anak-anak yang berkorelasi dengan
tingkat IgA usus, sehingga beberapa penelitian mengemukakan bahwa tingkat
serum IgA memberikan korelasi terhadap respon perlindungan. Setelah terjadi
respon antibodi IgA dalam tubuh, perkembangan sistem proteksi antibodi tubuh
terhadap rotavirus dilanjutkan dengan respon sel T terhadap rotavirus (Angel, et
al., 2007).
Studi respon sel T spesifik rotavirus pada manusia, menggunakan uji flowcytometry sitokin intraseluler dan ELISPOT, menunjukkan bahwa baik pada tubuh
yang sehat maupun tubuh yang terinfeksi rotavirus pada manusia dewasa,
memiliki sel T spesifik rotavirus CD4+ dan CD8+ dengan frekuensi relatif rendah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
16
yang mensekresikan interferon (IFN)- , bukan interleukin (IL)-13 atau IL-4.
Sedangkan pada anak-anak dengan gastroenteritis akibat rotavirus, jumlah sel-sel
tersebut sangat rendah atau tidak terdeteksi. Akibatnya, pola sitokin yang
disekresikan oleh CD4+ sel T spesifik rotavirus pada anak-anak tidak dapat jelas
digambarkan, bisa hanya berupa campuran T-helper1 (Th1) dan Th2 (Angel, et al.,
2007).
Studi terbaru yang membandingkan pola ekspresi gen dalam sel
mononuklear darah perifer pada anak dengan penyakit diare akibat infeksi
rotavirus dan anak yang sehat menunjukkan bahwa pada anak dengan infeksi
rotavirus mengalami peningkatan ekspresi gen yang terlibat dalam diferensiasi,
pematangan, aktivasi, dan ketahanan sel B, tetapi terjadi penurunan mRNA untuk
gen yang terlibat dalam berbagai tahap perkembangan sel T. Selain itu, studi ini
juga menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah limfosit total dan penurunan
proporsi jumlah sel T CD4+ dan CD8+ pada sel mononuklear darah perifer,
sehingga diketahui bahwa rotavirus dapat mengubah homeostasis sel T. Dengan
demikian dapat diketahui bahwa respon sel T terhadap rotavirus pada anak yang
terinfeksi rotavirus memiliki intensitas yang rendah, namun respon sel T terhadap
rotavirus lebih kuat pada orang dewasa yang sehat (Angel, et al., 2007).
2.3
Vaksin
2.3.1
Definisi Vaksin
Vaksin adalah bibit penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan
dengan prosedur
tertentu, digunakan untuk merangsang pembentukan zat
kekebalan tubuh, sehingga tubuh dapat menahan serangan penyakit yang
bersangkutan. Sebuah vaksin pada dasarnya terdiri atas organisme atau bagian
dari organisme (antigen) penyebab penyakit yang relevan dalam memproduksi
antibodi. Antigen tersebut dipresentasikan sedemikian rupa dalam bentuk yang
tidak berbahaya bagi manusia atau hewan, namun dapat merangsang respon
sistem imun untuk menghasilkan antibodi (Kayne dan Jepson, 2004).
Berdasarkan Farmakope Indonesia edisi IV, vaksin adalah sediaan yang
mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas
pada manusia. Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapatkan respon imun spesifik
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
17
yang akan dapat melindungi seseorang yang telah divaksinasi tersebut terhadap
penyakit ketika ia terkena agen infeksi di kemudian hari. Kemampuan vaksin
untuk merespon sistem imun tanpa memicu terjadinya penyakit sering kali
dikombinasikan dengan ajuvan, yakni zat yang dapat memancing atau menarik
sel-sel inflamasi tambahan ke tempat bekerjanya vaksin dan merangsang mereka
untuk melepaskan berbagai macam sitokin dalam jumlah yang lebih besar.
Selanjutnya sinyal-sinyal kimia tersebut akan merangsang dan mengaktifkan sel
makrofag dan limfosit untuk memperoleh tambahan fungsi perlindungan (NPI
Guide, 2002).
Karena sifat unik dari virus dan sel-sel patogen lainnya, vaksin idealnya
dapat membentuk antibodi yang kuat dan meningkatkan respon sel terhadap agen
asing penyebab infeksi tersebut di dalam tubuh ketika dipaparkan. Vaksin yang
efektif harus memiliki sifat imunogenisitas yang baik sehingga dapat menginduksi
respon imun dan merangsang produksi antibodi yang dapat menghancurkan agen
patogen sebelum masuk ke dalam sel dan dapat mendatangkan sel-sel T sitotoksik
yang dapat menghancurkan sel-sel yang patogen di dalam tubuh. Respon bersama
inilah yang akan melindungi tubuh seseorang dari serangan penyakit (NPI Guide,
2002).
Respon imun yang baik pada vaksin virus harus mencakup efek antibodi
pada permukaan epitel. Efek ini dapat diperoleh dari IgA lokal atau IgG dan IgM
ekstravaskular setempat. Antibodi pada permukaan epitel akan mampu
melindungi badan yang dapat mencegah virus masuk ke sirkulasi tubuh. Respon
antibodi terhadap virus dapat ditemukan in vitro dengan tiga mekanisme, yakni
menetralkan inefektivitas virus dan melindungi pejamu yang rentan, mengikat
komplemen, dan mencegah adherens dan aglutinasi eritrosit oleh beberapa jenis
virus (haemaglutination inhibition) (Baratawidjaja dan Rengganis, 2010).
sIgA diproduksi setempat di lamina propria di bawah membran mukosa
saluran napas dan cerna yang merupakan tempat kuman sering masuk ke dalam
tubuh. sIgA merupakan Ig utama dalam sekresi hidung, bronkus, intestinal,
saluran kemih, saliva, kolostrum, dan empedu. Pemberian vaksin polio oral
(Sabin) memacu produksi antipolio (sIgA) yang ditemukan di dalam sekresi nasal
dan duodenum, sedangkan pemberian vaksin mati parenteral (Salk) tidak. Hal ini
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
18
membuktikan bahwa sIga dapat mencegah virus masuk secara lokal di tempat.
Pada IgG dan IgM, keduanya dapat ditemukan pada sekresi setempat. IgG dan
IgM telah ditemukan pula dalam eksudat. Hal ini menandakan bahwa Ig dapat
bekerja secara eksta-vaskuler (Baratawidjaja dan Rengganis, 2010).
2.3.2
Jenis-jenis Vaksin
Tiap vaksin memiliki keunikan dalam hal komposisi dan formulasi.
Perbedaan ini mencerminkan bahwa tidak hanya agen infeksi dalam vaksin yang
berbeda, melainkan juga bagaimana vaksin tersebut digunakan dan melalui
mekanisme apa vaksin tersebut dapat bekerja menghasilkan suatu efek (NPI
Guide, 2002).
Berdasarkan Farmakope Indonesia edisi IV, jenis-jenis vaksin dibagi
menjadi 3 kategori, di antaranya:
1. Vaksin bakteri, yakni vaksin yang dibuat dari biakan galur bakteri yang sesuai
dalam media cair atau padat yang sesuai dan mengandung bakteri hidup atau
inaktif atau komponen imunogeniknya.
2. Vaksin toksoid bakteri, yakni vaksin yang diperoleh dari toksin yang telah
dikurangi atau dihilangkan sifat toksisitasnya hingga mencapai tingkat tidak
terdeteksi, tanpa mengurangi sifat imunogenisitasnya.
3. Vaksin virus dan riketsia, yakni vaksin yang berasal dari suspensi virus atau
riketsia yang ditumbuhkan dalam telur berembrio, dalam biakan sel atau
dalam jaringan yang sesuai, atau dapat berupa virus atau riketsia hidup atau
inaktif atau komponen imunogeniknya, di mana dalam vaksin virus hidup
umumnya dibuat dari virus galur khas yang virulensinya telah dilemahkan.
Jenis-jenis vaksin yang digunakan manusia saat ini juga dapat dibagi
menjadi tiga kelompok utama, yaitu:
1. Vaksin Live-Attenuated
Vaksin ini menggunakan strain agen infeksi yang dilemahkan dari
suatu penyakit. Strain yang dilemahkan ini mampu mereplikasi atau
bereproduksi dalam tubuh inangnya, sehingga dapat menjamin bahwa orang
yang divaksinasi akan terpapar agen infeksi tersebut dalam waktu yang cukup
lama untuk dapat mengembangkan respon imun spesifik, tetapi strain agen
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
19
infeksi tersebut telah kehilangan salah satu atau lebih sifat yang berkontribusi
terhadap
patogenisitasnya
yang menyebabkan mereka tidak
mampu
menimbulkan penyakit pada orang yang sehat. Proses pelemahan ini dapat
diperoleh dengan menumbuhkan suatu zat patogen di bawah kondisi tumbuh
yang abnormal. Mutan yang dihasilkan melalui proses ini kemudian diuji
kehilangan daya virulensinya namun harus tetap dapat mempertahankan sifat
imunogenisitasnya. Vaksin tuberkulosis (TBC), campak, gondok, rubella, dan
polio adalah beberapa contoh dari vaksin live-attenuated ini (McMullan,
2009).
2. Vaksin Inactivated
Vaksin inactivated memanfaatkan proses inaktivasi kimia zat patogen
dengan
menggunakan
formalin
atau
-propiolakton
atau
ekstraksi
menggunakan detergen nonionik seperti Triton X-100. Jenis vaksin ini relatif
tidak memerlukan proses pembuatan yang rumit dan biaya yang dikeluarkan
lebih murah. Vaksin dengan menggunakan pendekatan ini harus dapat
memastikan sifat imunogenik dari agen infeksi tersebut dapat dipertahankan.
Komponen agen infeksi dalam vaksin ini harus tidak dapat bereproduksi, tidak
dapat menimbulkan penyakit, dan biasanya diberikan dalam dosis ganda untuk
memperoleh kekebalan sistem imun. Vaksin ini perlu diperhatikan setelah
proses inaktivasi selesai, karena resiko terjadinya pembalikkan virulensi masih
memungkinkan terjadi meskipun kecil (McMullan, 2009). Contoh vaksin
inactivated di antaranya adalah vaksin influenza, rabies, hepatitis A dan B,
pertusis, serta tetanus (NPI Guide, 2002).
3. Vaksin Subunit
Vaksin subunit secara luas digunakan untuk memberi perlindungan
terhadap sejumlah penting zat patogen. Vaksin subunit dapat menggunakan
makromolekul antigenik yang diisolasi dari permukaan eksternal zat patogen
tersebut. Misalnya, pada vaksin Haemophilus influenzae tipe B (HIb),
Neisseria meningitidis, dan Streptococcus pneumonia di mana mengandung
polisakarida kapsuler yang berasal dari bakteri tersebut. Alternatif lain, vaksin
subunit dapat berupa protein rekombinan seperti hepatitis B surface antigen
(HBsAg) yang digunakan di dalam pembuatan vaksin hepatitis B. Vaksin ini
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
20
muncul karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi bahkan
mengharuskan digunakannya vaksin subunit dibandingkan dengan vaksin
organisme utuh, misalnya pada virus hepatitis B di mana sampai saat ini masih
merupakan kemustahilan dan ketidakmampuan untuk melemahkan virus
tersebut. Selain itu vaksin subunit juga dapat dibuat menggunakan racun yang
diinaktivasi, sebagai contoh yaitu tetanus toksin yang dihasilkan dari
Clostridium tetani, di mana eksotoksin bakteri inilah yang merupakan faktor
virulensi, bukan bakterinya (McMullan, 2009).
2.3.3
Komponen dan Bahan Eksipien Vaksin
Di dalam formulasi dan proses pembuatan vaksin, terdapat beberapa
komponen dan eksipien yang sering digunakan dan terkandung di dalam vaksin,
di antaranya yaitu (NCIRS, 2009):
1. Komponen aktif
Komponen aktif vaksin sering dikenal sebagai ‘antigen’ vaksin yang
dapat menginduksi terjadinya respon imun. Komponen ini merupakan bentuk
modifikasi atau bentuk sebagian dari virus, bakteri, atau toksin yang dapat
menyebabkan penyakit, sesuai dengan spesifikasi vaksin tersebut. Antigen
vaksin ini diubah dari bentuk aslinya sehingga tidak lagi dapat menyebabkan
penyakit namun harus tetap dapat menghasilkan respon imun yang sesuai. Ada
sejumlah cara untuk mendapatkan komponen aktif ini, yakni menggunakan
virus hidup yang dilemahkan (live-attenuated), virus inaktif (inactivated),
menggunakan suatu bagian dari virus atau bakteri (misalnya lapisan terluar
polisakarida dari suatu virus atau bakteri), atau dengan menggunakan toksin
yang dihasilkan oleh suatu bakteri.
2. Adjuvan
Adjuvan digunakan untuk meningkatkan respon imun terhadap vaksin.
Contoh adjuvan adalah berbagai macam garam aluminium seperti aluminium
hidroksida, aluminium fosfat, dan kalium aluminium fosfat (tawas). Salah satu
cara adjuvan dalam meningkatkan respon imun tubuh diperkirakan adalah
dengan menjaga agar antigen berada dekat dengan tempat injeksi sehingga
antigen dapat dengan mudah diakses oleh sel-sel sistem imun tubuh.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
21
Penggunaan aluminium adjuvan dalam vaksin umumnya berarti hanya sedikit
kandungan antigen per dosis vaksin, di mana dalam kasus tertentu, dosis
antigen lebih sedikit diperlukan. Keberadaan adjuvan dalam vaksin sering
dikaitkan dengan reaksi lokal yang terjadi di tempat injeksi setelah dilakukan
vaksinasi.
3. Pelarut (Diluent)
Pelarut merupakan cairan yang diberikan atau disiapkan secara
terpisah dan digunakan untuk melarutkan vaksin dengan konsentrasi yang
tepat sebelum pemberian. Pelarut yang biasanya digunakan adalah saline steril
atau air steril.
4. Stabilisator
Stabilisator merupakan komponen tambahan yang digunakan untuk
membantu menjaga efektivitas suatu vaksin dengan menjaga antigen dan
komponen vaksin lainnya tetap stabil selama proses pembuatan dan
penyimpanan. Stabilisator mampu mencegah komponen vaksin menempel
pada sisi vial vaksin. Contoh stabilisator adalah laktosa dan sukrosa, glisin dan
monosodium glutamat (keduanya merupakan asam amino atau garam-garam
dari asam amino), dan serum albumin manusia atau sapi. Gelatin, di mana
merupakan hasil hidrolisis sebagian dari kolagen, biasanya berasal dari sapi
atau babi, dapat ditambahkan ke dalam vaksin sebagai stabilisator.
5. Preservatif
Preservatif atau pengawet digunakan untuk mencegah terjadinya
kontaminasi jamur dan / atau bakteri dalam vaksin. Pengawet terdapat pada
beberapa vaksin, tapi tidak semua vaksin. Awalnya, pengawet digunakan
untuk mencegah kontaminasi bakteri dari kemasan dosis ganda, namun saat ini
kemasan dosis ganda sudah jarang bahkan tidak lagi digunakan. Pengawet
yang digunakan di antaranya tiomersal, fenoksietanol, dan fenol.
6. Komponen Jejak
Komponen jejak adalah sejumlah kecil sisa zat yang telah digunakan
pada tahap awal proses produksi vaksin. Keberadaan komponen ini
bergantung pada proses manufaktur yang digunakan, bisa berupa cairan kultur
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
22
sel, protein telur, ragi, antibiotik, atau agen penginaktif. Biasanya, hanya
sedikit sekali zat ini terdeteksi dalam produk akhir sediaan vaksin.
2.3.4
Proses Produksi Live-Virus Vaksin
Dalam memproduksi live-virus vaksin, terdapat beberapa unsur signifikan
yang harus dilakukan. Pada umumnya, proses manufaktur vaksin ini dibagi
menjadi dua proses utama yaitu proses produksi bulk vaksin dari pemanenan virus
tunggal (single virus harvest) dan proses produksi produk obat, dalam hal ini
adalah vaksin. Pemanenan virus tunggal dimaksudkan untuk memisahkan virus
yang akan digunakan dalam pembuatan vaksin dan virus strain lain yang mungkin
hidup bersama dalam suatu kultur induk. Setiap pemanenan virus tunggal, perlu
dilakukan uji untuk kontrol setiap batch sel virus yang dihasilkan. Masing-masing
virus tunggal diuji secara individu dan disimpan beku pada temperatur yang
rendah sampai terformulasi menjadi produk akhir. Stabilitas data dari bulk vaksin
biasanya memungkinkan dapat disimpan 18 hingga 36 bulan sehingga
memudahkan proses produksi menjadi produk akhir, uji klinis, dan distribusi
komersial (PATH, 2006).
Dalam proses kultur virus tunggal, setidaknya terdapat beberapa tahap
utama sebelum akhirnya diperoleh bulk vaksin, yaitu (PATH, 2006):
1. Resusitasi sel
Resusitasi sel adalah proses reaktifasi sel dari keadaan inaktif karena
pembekuan pada temperatur sangat rendah. Resusitasi bertujuan untuk
menjaga viabilitas sel. Sel yang digunakan dalam kultur sel dapat berupa sel
diploid dan sel kontinu. Sel diploid adalah sel yang dibuat dari embrio hewan,
tanaman, atau manusia yang telah diisolasi dan menyediakan lingkungan
pertumbuhan yang ideal. Sel kontinu bersifat lebih tahan lama karena
diturunkan dari sel tumor. Contoh dari jenis kultur sel ini adalah sel HeLa dan
sel vero. Sel ini telah kehilangan banyak sifat aslinya seperti tidak lagi bersifat
diploid
karena
telah
kehilangan
banyak
kromosom.
Sel
continous
menyediakan medium kultur jaringan manusia semistandar untuk studi terkait
metabolisme sel, penuaan, dan infeksi sel (Bauman, 2012).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
23
Dalam proses resusitasi biasanya dibutuhkan medium (contoh DMEM
atau Dulbecco's modified Eagle's medium), serum (contoh BCS atau Bovine
Calf Serum), NaHCO3, dan antibiotik. Semua bahan tersebut dicampurkan
dengan takaran tertentu dan didistribusikan ke dalam T-flasks. Kemudian sel
beku yang digunakan untuk kultur dicairkan, dan dimasukkan ke dalam Tflasks yang berisi medium. Kemudian dilakukan observasi sel dengan
menggunakan mikroskop untuk memastikan keadaan sel dan dilakukan
inkubasi pada temperatur 37oC (Freshney, 2005).
2. Pasase sel
Pasase adalah proses subkultur sel. Pasase dilakukan ketika sel sudah
mencapai kondisi konfluen (kondisi meratanya sel sebagai sel monolayer
sampai menutupi wadah kultur). Pada proses pasase, medium pertumbuhan
dikeluarkan dari T-flasks, kemudian sel dicuci dengan menggunakan PBS
(phosphate buffer saline) tanpa Ca2+ dan Mg2+. PBS akan menghilangkan
serum yang terkandung di dalam medium. Serum harus dihilangkan agar tidak
menganggu kerja tripsin. Setelah sel dicuci dengan PBS, ditambahkan tripsin
untuk melepas sel dari permukaan T-flasks. Tripsin memiliki aktivitas
proteolitik yang dapat menyebabkan kerusakan protein pada membran sel.
Inkubasi suspensi tripsinisasi dilakukan selama 5-8 menit. Waktu inkubasi
yang terlalu lama dapat menyebabkan kerusakan membran sel akibat
degradasi membran protein oleh tripsin (Hsiang et al, 2010).
Pada proses pasase, dilakukan transfer sel ke medium baru. Medium
yang digunakan menyediakan nutrisi esensial yang dibutuhkan untuk
pembelahan sel seperti asam amino, asam lemak, ion, vitamin, dan kofaktor.
Beberapa komponen seperti natrium bikarbonat digunakan sebagai sumber
karbonat dan berperan penting dalam menjaga pH dan osmolaritas sel
(Mather, 1998). Serum digunakan sebagai asupan asam amino, faktor
pertumbuhan, vitamin, protein, hormon, lipid, dan mineral. Fungsi utama dari
serum adalah menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas selular yang melibatkan
hormon dan faktor pertumbuhan, meningkatkan adhesi selular melalui protein
spesifik, dan menyediakan protein untuk transport hormon, mineral, dan lipid.
Antibiotik yang ditambahkan ke dalam medium kultur berperan untuk
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
24
mencegah pertumbuhan mikroba. Antibiotik yang diberikan ada dalam jumlah
sedikit karena bersifat sitotoksik. Setelah dilakukan penambahan medium
baru, sel tersebut diinkubasi kembali pada suhu 37oC (Freshney, 2005).
3. Inokulasi dan kultivasi virus
Kultivasi virus dilakukan setelah dilakukan pergantian medium
kultivasi. Sebelumnya sel dicuci kemudian virus dimasukkan ke dalam kultur
agar dapat menginfeksi sel. Infeksi sel ini akan mengakibatkan CPE
(cytopathic effect). CPE ditandai dengan adanya perubahan bentuk sel,
pelepasan sel dari subtrat, lisis, dan apoptosis. Khusus untuk sel vero yang
diinfeksi oleh virus, sel akan terlepas dari substrat (Freshney, 2005).
4. Pemanenan virus yang menginfeksi kultur sel
Setelah proses inokulasi dan penginfeksian virus pada sel kultur, dapat
dilakukan pemanenan virus dengan cara menghilangkan medium, mencuci sel
terinfeksi tersebut, kemudian dilakukan tripsinasi dengan tripsin atau EDTA.
Didiamkan beberapa saat untuk memberikan waktu kerja dari proses
tripsinasi. Terakhir dilakukan pengendapan dan pencucian sel dengan
resuspensi dan sentrifugasi (Freshney, 2005).
5. Proses downstream (purifikasi dan karakterisasi)
Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam mengembangan
strategi pengolahan hilir (downstream), dengan pemahaman bahwa setiap
langkah pengolahan yang termasuk di dalamnya mengakibatkan hilangnya
viabilitas virus. Tujuan pengolahan hilir di antaranya harus dapat
menghilangkan puing-puing sel pada proses pemanenan, mengurangi atau
menghilangkan impurities, menghasilkan konsentrat virus, menambahkan
virus stabilizer, mensterilkan virus, dan meningkatkan potensi agen adventif
(PATH, 2006).
Penghapusan puing sel dapat dicapai dengan klarifikasi filtrasi atau
low-speed sentrifugasi. Bila menggunakan sel vero, asam nukleat dapat
dikurangi ukurannya dengan benzonase kemudian dihilangkan melalui
ultrafiltrasi menggunakan 50.000 MW membran atau dengan menggunakan
kromatografi penukar ion. Hal ini tidak perlu dilakukan bila sel yang
digunakan adalah sel diploid. Menghasilkan konsentrat virus diperlukan bila
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
25
titer virus dalam pemanenan terlalu rendah untuk diformulasikan menjadi
produk akhir atau untuk menghilangkan air yang dapat mengurangi volume
penyimpanan. Konsentrat tersebut dapat diperoleh dengan ultrafiltrasi atau
ultrasentrifugasi. Larutan virus stabilizer yang biasanya mengandung sukrosa
ditambahkan untuk membantu mempertahankan kestabilan virus selama
proses penyimpanan -60oC sebagai konsentrat vaksin monovalen. Terakhir,
preparasi vaksin harus dilakukan sterilisasi menggunakan filtrasi (PATH,
2006).
Dalam hal karakterisasi, ada enam persyaratan utama yang perlu
dilakukan dan diperhatikan, yaitu demonstrasi dalam hal tidak adanya
kontaminasi silang, konfirmasi spesies atau strain, korelasi dengan jaringan
asal, penentuan apakah virus mengalami perubahan atau transformasi, indikasi
apakah virus rentan terhadap ketidakstabilan genetik dan variasi fenotipik,
terakhir adalah mengidentifikasi virus tertentu dalam kelompok yang sama
(strain yang bebeda) (Freshney, 2005).
Setelah serangkaian proses produksi virus tunggal tersebut selesai,
dilakukan proses pembekuan sehingga diperoleh bulk vaksin monovalen beku
yang stabil agar dapat disimpan sebelum diformulasikan menjadi produk akhir.
Proses manufaktur vaksin dilanjutkan dengan proses produksi produk akhir
dimulai dengan mencairkan sejumlah bulk vaksin beku. Kemudian dicampurkan
konsentrat vaksin tersebut ke dalam mixing vessel. Konsentrat vaksin kemudian
dilarutkan dengan pelarut yang sesuai dan ditambahkan dengan virus stabilizer
dan eksipien lain sesuai dengan kekuatan dan potensi yang diinginkan. Formula
vaksin tersebut kemudian diisi sesuai dengan dosis akhir kemasan. Dilakukan
lypophilize vial apabila proses ini dibutuhkan. Setelah itu sediaan vaksin diberi
label dan dievaluasi. Sediaan akhir vaksin disimpan pada temperatur yang sesuai
untuk menjaga viabilitas virus (PATH, 2006).
2.3.5
Vaksin Rotavirus
Kekebalan terhadap infeksi rotavirus pada bayi pertama kali ditunjukkan
oleh Bishop et al., yang mengamati bahwa bayi yang terinfeksi rotavirus
terlindung dari diare parah setelah adanya infeksi kedua kalinya. Pengembangan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
26
vaksin rotavirus ini difokuskan terutama pada pengiriman strain rotavirus hidup
yang dilemahkan melalui rute oral. Uji coba vaksin rotavirus pertama
menggunakan rotavirus strain sapi RIT4237 (P[1]G6), menghasilkan suatu
keberhasilan sebesar 55-62% terhadap diare rotavirus dan tingkat efikasi sebesar
80-88% terhadap penyakit diare yang lebih parah. Meskipun ini merupakan awal
yang menggembirakan, baik RIT4237 dan jenis vaksin sapi lain, WC3 (P[5]G6),
memiliki hasil yang tidak konsisten. Ketika diuji di negara berkembang, khasiat
yang rendah diamati dalam uji coba yang dilakukan di negara-negara berkembang
termasuk Gambia, Peru, Rwanda, dan Republik Afrika Tengah. Sebuah vaksin
rhesus strain (RRV), P[3]G3, diuji secara luas, termasuk di negara yang relatif
miskin, Venezuela, di mana didapatkan hasil bahwa vaksin ini memiliki tingkat
efikasi sebesar 85-90% terhadap penyakit diare yang paling parah (Kang, 2006).
Secara umum, jenis vaksin rotavirus dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu vaksin berbasis rotavirus hewan dan vaksin berbasis rotavirus manusia. Saat
ini, pada vaksin berbasis rotavirus hewan tidak hanya berbentuk vaksin
monovalen rotavirus hewan saja, tetapi juga sudah berkembang vaksin multivalen.
Vaksin ini berkembang setelah diketahuinya kemampuan rotavirus untuk reassort
selama infeksi campuran secara in vitro yang memungkinkan diproduksinya
vaksin reassortant yang diistilahkan sebagai pendekatan “Jennerian”. Virus
reassortant mengandung beberapa gen dari induk rotavirus hewan dan beberapa
gen dari induk rotavirus manusia. VP7 dianggap penting dalam memberikan
perlindungan, oleh karena itu reassortant rotavirus yang digunakan sebagai vaksin
menyisipkan gen VP7 manusia untuk memberikan respon imun protektif
(Dennehy, 2008).
Vaksin multivalen yang berlisensi sampai saat ini adalah vaksin
reassortant rotavirus manusia-sapi (RotaTeq) yang dikembangkan oleh Merck
Research Co. Vaksin ini tidak hanya menyisipkan gen VP7 manusia, tetapi juga
menyisipkan gen VP4 manusia yang juga telah dianggap penting untuk
merangsang respon imun protektif. RotaTeq berbentuk pentavalen, yakni
mengandung lima reassortant rotavirus hidup yang dilemahkan di antaranya
empat reassortant rotavirus yang mengekspresikan protein VP7 (G1, G2, G3, atau
G4) dari strain induk rotavirus manusia dan protein tambahan VP4 (P[5]) dari
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
27
strain induk rotavirus sapi WC3 (P[5]G6) dan satu reassortant rotavirus yang
mengekspresikan protein tambahan VP4 (P[8]) dari strain induk rotavirus manusia
dan kapsid terluar protein VP7 (G6) dari strain induk rotavirus sapi (Dennehy,
2008).
[Sumber: Dennehy, 2008]
Gambar 2.3 Vaksin reassortant rotavirus manusia-sapi (RotaTeq)
Kandidat
vaksin
reassortant
multivalen
manusia-sapi
lain
telah
dikembangkan oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID)
berupa vaksin tetravalen rotavirus sapi (BRV-TV) yang merupakan penggabungan
empat virus reassortant dengan sebuah gen tunggal protein VP7 dari serotipe
manusia G1, G2, G3, atau G4 dan gen dari strain rotavirus sapi Inggris (P[7]G6).
Dengan munculnya serotipe G9 dan G8 sebagai serotipe epidemiologis penting di
berbagai daerah, pengembang vaksin di NIAID berencana untuk menambah
reassortant manusia-sapi dengan spesifikasi G8 dan G9 pada vaksin tetravalen
tersebut, sehingga menghasilkan formula vaksin heksavalen (Dennehy, 2008).
Sedangkan pada vakin berbasis rotavirus manusia, saat ini terdapat vaksin
berlisensi yaitu Rotarix yang dikembangkan oleh GlaxoSmithKline Biological.
Vaksin ini mengandung rotavirus manusia strain P[8]G1 hidup yang telah
dilemahkan dan merepresentasikan protein gen VP7 dan VP4 rotavirus yang
paling umum dan sering menginfeksi manusia. Lalu, sebuah strain rotavirus
neonatal manusia P[6]G3, RV3, yang awalnya dikembangkan oleh Bishop dan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
28
rekannya di Australia, telah menjadi kandidat vaksin berbasis rotavirus manusia
sebagai vaksin oral pada bayi usia 3 bulan yang aman dan dapat ditoleransi
dengan baik. Saat ini, kandidat vaksin RV3 juga dikembangkan oleh Biofarma,
Indonesia (Dennehy, 2008). Kandidat vaksin berbasis rotavirus manusia lainnya
juga dikembangkan oleh Bharat Biotech dengan menggunakan dua strain Indian
neonatal di antaranya, 116E (P[11]G9) yang merupakan rotavirus reassortant
alami berupa strain manusia dengan gen tunggal VP4 (P[11]) sapi dan I321 yang
merupakan rotavirus strain reassortant manusia-sapi yang terdiri dari gen utama
yang berasal dari sapi dan hanya memiliki dua segmen gen saja yang berasal dari
manusia (Kang, 2006).
2.4
Freezing (Pembekuan)
Pembekuan adalah proses pemindahan panas dari bahan yang disertai
dengan perubahan fase dari cair ke padat (Tambunan, 1999). Syarief dan
Kumendong (1992) menyatakan bahwa pembekuan adalah kegiatan menurunkan
suhu bahan pangan atau produk di bawah suhu titik bekunya dan sejumlah air
berubah menjadi kristal es. Tahap pembekuan merupakan tahap penting dalam
proses lyopilisasi karena efek potensial yang dihasilkannya terhadap terjadinya
agregasi protein (Willemer, 1992; Searles, 2001).
Berdasarkan
pada
laju
pembekuan,
proses
pembekuan
dapat
dikelompokkan menjadi pembekuan lambat dan pembekuan cepat. Pada
pembekuan lambat, laju pergerakan permukaan beku sekitar 0,2 cm/jam, biasanya
dengan menggunakan still air freezer atau cold storage. Pada pembekuan cepat,
proses pembekuan terbagi lagi menjadi tiga, yakni quick freezing, rapid freezing,
dan ultra rapid freezing. Quick freezing memiliki laju pergerakan permukaan beku
sekitar 0,5-3 cm/jam (contoh alat yang digunakan adalah air blast freezer, plate
freezer). Rapid freezing memiliki laju pergerakan permukaan beku sekitar 5-10
cm/jam (contoh alat yang digunakan adalah fluidized bed freezing). Ultra rapid
freezing memiliki laju pergerakan permukaan beku sekitar 10-100 cm/jam, yang
umumnya terjadi pada pembeku kriogenik (cryogenic freezer), yakni pembeku
yang bekerja dengan menggunakan karbondioksida, nitrogen cair atau freon cair,
dan secara langsung kontak dengan bagian produk yang dibekukan. Laju
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
29
pembekuan merupakan salah satu faktor kritis yang menentukan mutu produk
beku yang dihasilkan (Foodreview Indonesia, 2007).
[Sumber: Foodreview Indonesia, 2007]
Gambar 2.4 Profil penurunan suhu pada pembekuan cepat dan pembekuan lambat
Prosedur pembekuan dipengaruhi oleh derajat undercooling, tetapi
pembentukan formasi dan pertumbuhan kristal terjadi secara spontan dan tidak
terkontrol. Ukuran kristal hanya ditentukan secara tidak langsung oleh gradien
suhu ketika proses undercooling, akibatnya kontrol laju pembekuan melalui
manipulasi tingkat pendinginan memiliki hasil yang tidak pasti (Kramer et al.,
2002). Proses pendinginan lebih lanjut menyebabkan cairan berubah menjadi es
dan semua cairan interstitial disekitarnya menjadi kristal atau cairan dengan
viskositas yang terlalu tinggi menyebabkan terjadinya transformasi menjadi
sebuah sistem solid amorf (Nail dan Gatlin, 1993). Protein dan eksipien lain tidak
mengkristal selama tahap pembekuan, tetapi dikonversi dari cairan sangat kental
menjadi amorf solid yang kaku (seperti kaca) yang berisi sekitar 10-30% air
(Pikal, 1990; Hatley et al., 1996).
Laju pembekuan merupakan faktor potensial yang berpengaruh pada
stabilitas penyimpanan formulasi protein (Hsu et al, 1995). Secara umum, laju
pembekuan cepat menyebabkan kristal es yang dihasilkan kecil (Willemer, 1992;
Wisniewski, 1998). Hal ini karena air mencapai kondisi sangat dingin dengan
cepat sehingga proses kristalisasi terjadi dengan sangat cepat pula (Pikal, 1990;
House dan Mariner, 1992). Sebaliknya, laju pembekuan yang lambat
menghasilkan kristal es besar (Willemer, 1992; Wisniewski, 1998). Dua
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
30
parameter yaitu laju pendinginan (berdampak pada ukuran kristal yang dihasilkan)
dan suhu akhir pembekuan berpengaruh dalam induksi denaturasi protein secara
kompleks (Franks, 1990; Wang, 2000). Dampak dari tingkat pendinginan pada
stabilitas
protein
bervariasi
secara
substansial.
Laju
pembekuan
juga
mempengaruhi stabilitas protein ditinjau dari mekanisme denaturasi protein
(Wang, 2000). Pembekuan lambat (misal diproduksi dengan shelf freezing)
mengarah kepada pertumbuhan kristal es dengan ukuran yang besar dan memiliki
kecenderungan terhadap zat terlarut yang terkonsentrasi secara maksimal. Dalam
keadaan ini, inkompatibilitas antara zat terlarut dapat menyebabkan pemisahan
fase (Heller, et al., 1999).
Pembekuan cepat dapat menyebabkan peningkatan agregat tidak larut dari
rGH (recombinant Growth Hormone) (Eckhardt et al., 1991) dan pembentukan
formasi berbagai macam agregat dari IgG sapi dan manusia (Sarciaux et al.,
1998). Pada teknologi pangan, proses pembekuan lambat yang menghasilkan
kristal es dengan ukuran besar, berpeluang untuk menusuk dan merusak sel
jaringan pangan, sehingga menyebabkan sel kehilangan air dan kehilangan
keteguhan tekstur (Foodreview Indonesia, 2007). Pada pembekuan cepat
menunjukkan terjadinya sedikit kehilangan aktivitas LDH (Lactat Dehydrogenase
Hormone) (Nema dan Avis, 1993) dan terjadi sedikit perubahan dalam struktur
sekunder hemoglobin dalam larutan dekstran/PEG (Heller et al, 1999). Alasannya
mungkin disebabkan karena pembekuan cepat mencegah pertumbuhan kristal
secara luas, sehingga dapat mengurangi konsentrasi larutan yang menginduksi
denaturasi protein (Wang, 2000).
2.5
Stabilitas Vaksin dalam Aspek Penyimpanan
Stabilitas merupakan suatu variabel penting yang harus diperhatikan dalam
suatu sediaan atau produk, dalam bentuk apapun (Codex, 1994). Studi stabilitas
pada produk biologi, termasuk vaksin, menimbulkan tantangan yang lebih besar
dibandingkan dengan studi pada molekul kecil farmasetika lainnya. Aspek kunci
dari produk biologi adalah sifat labilitasnya apabila dibandingkan dengan
kebanyakan molekul obat. Secara umum, dibutukan suhu yang rendah untuk
kondisi penyimpanannya, seperti pada kulkas (2° hingga 8°C), freezer (-10⁰
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
31
hingga - 20⁰C), atau bahkan pada suhu penyimpanan ultra rendah (-40⁰ hingga
-80⁰C). Hal ini menjadi ketentuan standar ruangan stabilitas suhu rendah. Aspek
lainnya yang perlu diperhatikan adalah produk biologi seperti vaksin umumnya
sangat mahal dan seringkali memakan waktu yang cukup banyak untuk diproduksi
dan beberapa hanya dapat diproduksi dalam batch dengan jumlah yang sedikit
bergantung pada sifat dasar dari teknologi yang digunakan (Huynh-Ba dan Zahn,
2009). Dalam proses produksi skala besar, bahan aktif vaksin yang diperoleh
setelah proses produksi bahan aktif (API atau Production of Active Ingredients)
biasanya disimpan sebelum diformulasikan menjadi vaksin (PATH, 2006).
Vaksin, seperti pula produk biologi lainnya, membutuhkan penanganan
ekstra ketika dikaitkan dengan stabilitas farmasetikanya. Aktivitas biologi dari
protein misalnya, yang mana merupakan penyusun utama dari vaksin, berasal
tidak hanya dari struktrur ikatan kovalen primernya tetapi juga dari konformasi
lipatan yang menghasilkan struktur sekunder dan tersier. Konformasi ini dapat
dengan mudah berubah tanpa harus memecah ikatan kovalennya, dan ketika hal
ini menyebabkan denaturasi maka seluruh atau sebagian aktivitas biologis yang
membuat protein atau vaksin memiliki aktivitas dapat hilang. Untuk itulah, perlu
ditangani dengan sangat hati-hati (Huynh-Ba dan Zahn, 2009).
Terkait dengan kerapuhan dari molekul, biaya, dan persyaratan suhu
rendah yang harus dipenuhi, maka ketika suatu material biologis diproduksi,
persoalan cold-chain (upaya menjaga stabilitas suhu dingin yang diperlukan
produk untuk tetap berada di range tertentu selama proses produksi hingga
distribusi) menjadi penting diperhatikan, khususnya ketika suatu vaksin atau
produk biologis lainnya dikirim secara internasional dimana waktu distibusi
menjadi hal yang riskan (Huynh-Ba dan Zahn, 2009). Jika cold-chain tidak dapat
dipertahankan, vaksin yang poten sekalipun tingkat efikasinya akan hilang
(Parthsarthy et al., 2001). Kebanyakan vaksin kehilangan potensinya akibat dari
panas dan sinar matahari, sehingga diperlukan perlindungan dari keduanya (Desai
et al., 1990). Untuk itu dalam proses perancangan vaksin, harus memperhatikan
metode yang digunakan dalam pengiriman dan perlu untuk mendesain studi
stabilitas yang akan mendukung penyimpangan yang mungkin dapat terjadi
(PATH, 2006).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
32
Metode freeze-thaw atau heat-stress biasanya diterapkan untuk membantu
memperkirakan proses penyimpanan dan mencegah terjadinya penyimpangan
pengiriman. Akan tetapi, meskipun sudah diterapkan, kualitas produk khususnya
waktu simpan produk tetap tidak dapat dipastikan begitu saja. Karena baik metode
freeze-thaw maupun heat-stress yang dilakukan terhadap produk pun dapat
mengakibatkan kemungkinan lainnya, seperti terjadinya degradasi dalam
formulasi zat biologis (Huynh-Ba dan Zahn, 2009).
2.6
Immunofluorescence
Imunofluoresensi
(Immunofluorescence
atau
IF)
adalah
teknik
laboratorium yang umum digunakan pada hampir seluruh aspek biologi. Teknik
ini telah banyak digunakan baik dalam penelitian dan diagnostik klinis, misalnya
evaluasi suspensi sel, kultur sel, jaringan, dan microarray untuk mendeteksi
protein tertentu (Coons, 1941; Coons dan Kaplan, 1950). Dalam teknik IF,
antibodi secara kimiawi terkonjugasi oleh pewarna fluorescent seperti fluorescein
isothiocyanate (FItC) atau tetramethyl rhodamine isothiocyanate (tRItC). Antibodi
yang terikat (baik secara langsung maupun tidak langsung) dengan antigen yang
sesuai dapat ditandai dengan pewarna fluorescent sehingga deteksi antigen dapat
dilakukan dan dapat diukur fluoresensi tersebut dengan menggunakan flow
cytometer, array scanner (automated imaging instrument), atau divisualisasikan
menggunakan mikroskop fluorescence (Robinson, et al., 2009).
[Sumber: LANA-1 Immunofluorescence Assay; Athmanathan, et al., 2002]
Gambar 2.5 Visualisasi mikroskop fluorescence
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
33
Dua metode utama pelabelan immunofluorescent adalah langsung (direct)
dan tidak langsung (indirect). Pada imunofluoresensi langsung, antibodi yang
terikat pada molekul yang cocok (antigen) secara kimiawi terkonjugasi dan
ditandai oleh pewarna fluorescent. Sedangkan pada imunofluoresensi tidak
langsung, bukan antibodi spesifik yang terikat pada antigen (antibodi primer) yang
ditandai pewarna fluorescent, melainkan antibodi anti-immunoglobulin (antibodi
sekunder) yang menempel pada antibodi primerlah yang ditandai dengan pewarna
fluorescent (Gambar 2.6) (Robinson, et al., 2009).
[Sumber: Robinson, et al., 2009]
Gambar 2.6 Skema imunofluoresensi langsung dan tidak langsung
Baik metode langsung maupun tidak langsung pada imunofluoresensi ini
masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan didalam penggunaannya.
Kelebihan imunofluoresensi langsung adalah prosedur dan proses penempelan
lebih pendek dan sederhana dua kali bahkan tiga kali lipat daripada metode tidak
langsung. Kekurangan metode ini adalah kekuatan sinyal fluorescent-nya yang
rendah, biayanya yang cenderung lebih tinggi, kurang fleksibel, dan sulit dalam
mencari antibodi yang spesifik dengan antigen dan dapat terkonjugasi dengan
pewarna fluorescent. Pada imunofluoresensi tidak langsung, kepekaan yang
dimiliki lebih besar karena terdapat amplifikasi sinyal yang disebabkan ada lebih
dari satu antibodi sekunder yang menempel pada satu antibodi primer. Antibodi
sekunder yang diproduksi secara komersial relatif murah, tersedia dengan kualitas
yang terkendali. Kelemahannya adalah terdapat potensi terjadinya reaktivitas
silang (cross-reactivity) dan kebutuhan dalam mencari antibodi primer yang cocok
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
34
baik dalam penempelan dengan antigen maupun dengan antibodi sekunder
(Robinson, et al., 2009).
Secara luas, metode fluoresensi tidak langsung lebih banyak digunakan
dibandingkan imunofluoresensi langsung. Aplikasi imunofluoresensi langsung
kebanyakan digunakan pada kasus-kasus tertentu, misalnya digunakan untuk
lokalisasi IgG dalam kompleks imun pada biopsi kulit bagian dermal-epidermal
junction dari pasien yang menderita lupus eritematosus sistemik (Jennet dan
Wick, 1988).
2.7
Protein Stabilizer
Osmolit memiliki kemampuan untuk melindungi komponen seluler
terhadap terjadinya denaturasi akibat pengaruh lingkungan. Kemampuan dari
suatu bahan osmolit tersebut untuk melindungi protein merupakan pengetahuan
yang berharga untuk mengatasi permasalahan stabilitas protein, yang salah
satunya berkaitan dengan bioteknologi dan biofarmasetika. Salah satu golongan
osmolit alami yang dapat berfungsi sebagai pelindung protein adalah golongan
gula atau poliol, seperti sukrosa, trehalosa, sorbitol, dll (Bolen, D.W, 2001).
Gula atau poliol banyak digunakan sebagai protein stabilizer di dalam
larutan atau selama proses freeze-thawing dan freeze-drying. Keduanya baik
digunakan sebagai cryoprotektan dan lyoprotektan. Tingkat dari stabilisasi yang
dimiliki oleh gula dan poliol secara umum bergantung pada konsentrasinya
(Street, 2006). Dari hasil penelitian Tanaka et al (1991), sakarida dapat
memproteksi protein dengan langsung berinteraksi dengan protein dan konsentrasi
dari sakarida yang cukup dapat membentuk lapisan monomolekular pada
permukaan protein untuk mencapai stabilitas dari protein. Namun, peningkatan
konsentrasi gula atau poliol sampai melewati batas atau limit stabilisasi akan
menyebabkan terjadinya destabilisasi protein selama freeze-drying.
Tingkat proteksi protein yang dimiliki oleh gula atau poliol yang berbeda
dapat mirip atau berbeda secara signifikan, tergantung dari komposisi formulasi,
konsentrasi, dan sifat fisik stabilizer, dan kompatibilitasnya dengan protein.
Dalam banyak kasus, disakarida merupakan stabilizer yang paling efektif dan
umum digunakan diantara gula dan poliol. Sedangkan diantara disakarida, sukrosa
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
35
dan trehalosa merupakan eksipien yang sering digunakan. (Ward et al., 1999;
Change et al., 1996).
Sukrosa ( -D-fructofuranosyl-α-D-glucopyranoside) berbentuk kristal
tidak berwarna, serbuk putih kristalin, tidak berbau, memiliki rasa yang manis,
dan biasa digunakan dalam membuat gula-gula (manisan); coating agent; bahan
granulasi; suspending agent; pemanis; pengikat pada tablet; pengisi pada tablet
dan kapsul; therapeutic agent; viscosity-increasing agent. Sukrosa larut dalam air,
sukar larut dalam ethanol, dan praktis tidak larut dalam kloroform. Sukrosa
memiliki kestabilan yang baik pada suhu ruang dan memiliki tingkat kelembaban
yang cukup. Sukrosa dapat mengalami karamelisasi bila mencapai titik didihnya,
yakni pada suhu diatas 160oC (Waide dan Waller, 1994).
[Sumber: Waide, A. dan Waller, P. J., 1994]
Gambar 2.7 Struktur kimia sukrosa
Sukrosa dapat menghambat degradasi kimia hasil selama penyimpanan
pada suhu 8, 30, dan 50oC (Change et al., 1996). Sukrosa merupakan stabilizer
yang baik bila dikaitkan dengan protein, mekanisme degradasi, dan penyimpanan
dibandingkan dengan trehalosa (Miller et al., 1997). Mekanisme sukrosa dalam
upaya protein stabilizer adalah dengan membentuk formasi kaca amorf
(amorphous glass) selama proses freezing. Amorphous glass merupakan bentuk
viskositas ekstrim dari keadaan seperti kaca yang dapat meningkatkan stabilitas
protein dengan cara memperlambat interkonversi dari konformasi substrat dan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
36
konformasi relaksasi dari protein (Hagen et al., 1995, 1996). Bahan amorf disini
secara struktural lebih mirip bentuk liquid dibandingkan dengan bentuk kristal.
Kaca dalam mekanisme ini dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu mudah pecah
(fragile) dan kuat (strong). Sukrosa memiliki bentuk kaca tipe mudah pecah,
dimana pada tipe ini, viskositas akan meningkat lebih mendalam dari pada kaca
tipe kuat bila diberikan temperatur dibawah temperatur transisi kaca. Dengan
alasan demikian, maka eksipien yang membentuk kaca tipe mudah pecah ini
memiliki kemampuan sebagai penstabil protein yang lebih baik (Angell, 1995).
[Sumber: Predoi, 2010]
Gambar 2.8 Scanning Electron Microscope film tipis lapisan monolayer sukrosa
Selain itu, mekanisme sukrosa lainnya dikenal dengan hipotesis
penggantian air, dimana mekanisme ini melibatkan formasi dari ikatan hidrogen
antara protein dengan sukrosa pada saat akhir proses pengeringan untuk
memenuhi ikatan hidrogen gugus polar pada permukaan protein sebagai pengganti
dari air yang hilang. Mekanisme ini terjadi pada sediaan solid (Crowe et al., 1993;
Allison et al., 1998). Untuk menjaga kestabilan protein dalam bentuk solid agar
dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama, sukrosa dapat menghambat
terjadinya agregasi secara signifikan dan menghambat terjadinya degradasi kimia
karena dapat mengurangi deamidasi yang terjadi (Tanaka et al., 1991).
Mekanisme baru terkait sukrosa lebih diperjelas oleh hasil penelitian yang
dilakukan oleh Street, T., et al (2006). Dalam kesetimbangan reaksi protein
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
37
folding, unfolded (U) ↔ native (N), osmolit yang memiliki sifat proteksi
(sukrosa) dapat menekan kesetimbangan kearah N. Mereka mengungkapkan
bahwa mekanisme osmolit dalam menginduksi stabilitas dari protein ada
kaitannya dengan transfer energi bebas protein backbone melalui air ke larutan
air/osmolit. Model prediksi ini juga menjelaskan bahwa perubahan energi bebas
dari folding/unfolding secara liniear bergantung pada konsentrasi osmolit. Hasil
kalkulasinya menggunakan model yang berkorelasi juga menunjukkan hasil yang
sangat baik dan menggambarkan relevansi antara air-osmolit-backbone dalam
model tersebut, sehingga pada akhirnya diprediksi bahwa osmolit dapat secara
khusus terakumulasi disekeliling protein.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
38
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2013 di Laboratorium Research
and Development PT Biofarma, Bandung, Indonesia. Penelitian ini dilakukan
kurang lebih selama 5 bulan terhitung dari bulan Januari 2013.
3.2
Alat Penelitian
Vial, Laminar Air Flow (LAF) cabinet, inkubator, inkubator CO2, kulkas,
freezer, ultra-low freezer, syringe filter (Filter Acrodisc), plate 96 well,
mikroskop, mikroskop inverted, mikroskop fluorescence, pipet mikro, pipet mikro
multi-channel, pipet tip, magnetic stirrer, tanki nitrogen cair, hemocytometer, Tflasks, ice bath, dan peralatan-peralatan gelas yang umum digunakan di
laboratorium.
3.3
Bahan Penelitian
Bulk vaksin rotavirus beku, sukrosa steril, nitrogen cair, FTM (Fluid
Thioglycolate Medium) steril dan SCDM (Soybean Casein Digest Medium) steril
yang diperoleh dari bagian media PT Biofarma, sel MA 104 (ginjal monyet),
media pertumbuhan sel (DMEM (Dulbecco’s Modified Eagle’s Medium), FBS
(Fetal Bovine Serum), antibiotik, dan NaHCO3), aseton 80%, alkohol 70%,
tripsin, trypan blue, antibodi poliklonal rabbit anti SA 11, antibodi IgG goat anti
rabbit, dan PBS (Phosphate Buffered Saline).
3.4
Prosedur Penelitian
3.4.1
Pembuatan Sediaan Kandidat Vaksin Rotavirus
Dilakukan proses sterilisasi pada alat gelas, vial, dan magnetic stirrer
dengan menggunakan autoklaf suhu 121oC selama 15 menit. Mencairkan bulk
vaksin beku hasil pemanenan menggunakan water bath, kemudian dimasukkan
kedalam gelas beker sebanyak 150 mL. Selanjutnya, virus stabilizer (sukrosa)
dengan konsentrasi X sebanyak 57,7 mL ditambahkan dan diaduk dengan bantuan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
39
magnetic stirrer dengan kecepatan yang konstan dan sesuai sambil dimonitor
prosesnya. Sediaan kandidat vaksin yang diperoleh kemudian disterilkan dengan
metode filtrasi menggunakan syringe filter ukuran 0,22 µm (PATH, 2006;
Sultana, 2007).
Sambil terus dilakukan homogenisasi, larutan sediaan kandidat vaksin
rotavirus yang sudah disterilkan kemudian dimasukkan ke dalam vial sebanyak 77
buah dengan kandungan vaksin tiap vial adalah 1 mL, dimana 75 vial nantinya
akan digunakan untuk pengujian tahap selanjutnya, 2 vial digunakan untuk
evaluasi sterilitas, dan 3 vial digunakan untuk evaluasi potensi (kandungan).
Seluruh pekerjaan tersebut dilakukan di dalam laminar air flow cabinet dengan
bantuan TSA (Tryptone Soy Agar) sebagai indikator sterilitas environment
(PATH, 2006).
3.4.2
Variasi Perlakuan Teknik Freezing dan Suhu Penyimpanan pada
Sediaan Kandidat Vaksin
Tabel 3.1 Desain perlakuan pada kandidat vaksin rotavirus
Perlakuan
No
Kode
Teknik Freezing
-70oC
LN
Suhu Penyimpanan
-152oC
2-8oC
-20oC
-70oC
1
F1
Immunofluorescence Assay (Uji Potensi)
2
F1T1
√
-
-
√
-
-
3
F1T2
√
-
-
-
√
-
4
F1T3
√
-
-
-
-
√
5
F2
6
F2T1
-
√
-
√
-
-
7
F2T2
-
√
-
-
√
-
8
F2T3
-
√
-
-
-
√
9
F3
10
F3T1
-
-
√
√
-
-
11
F3T2
-
-
√
-
√
-
12
F3T3
-
-
√
-
-
√
Immunofluorescence Assay (Uji Potensi)
Immunofluorescence Assay (Uji Potensi)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
40
Sebanyak 75 vial sediaan kandidat vaksin rotavirus yang berhasil dibuat
kemudian dibekukan dengan tiga teknik yang berbeda, yakni dibekukan hingga
suhu -70oC (rapid freezing) menggunakan freezer, suhu -152oC (slow freezing)
menggunakan ultra-low freezer, dan dengan nitrogen cair (very rapid freezing)
menggunakan tanki nitrogen cair, masing-masing 24 vial. Dari 24 vial pada tiap
teknik tersebut kemudian dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan perlakuan suhu
penyimpanan yang berbeda, yakni 8 vial disimpan pada kulkas bersuhu 2 – 8oC, 8
vial pada freezer suhu -20oC, dan 8 vial terakhir pada freezer suhu -70oC (HuynhBa dan Zahn, 2009; PT Biofarma).
3.4.3
Evaluasi Sediaan
1. Uji Fisik
Sediaan kandidat vaksin yang sudah dibekukan kemudian dicairkan
dengan water bath, lalu diuji secara visual meliputi pengamatan volume,
warna, kandungan partikel asing, dan homogenitasnya (BBPMSOH, 2005).
2. Uji Sterilitas
Sampel vaksin sebelum dilakukan freezing diinokulasikan ke dalam 2
tabung reaksi yang masing-masing tabung tersebut berisi media FTM (Fluid
Thioglycolate Medium) steril dan SCDM (Soybean Casein Digest Medium)
steril, kemudian diinkubasi pada suhu 37oC. Kedua tabung tersebut disimpan
selama 14 hari, kemudian diamati untuk melihat ada tidaknya pertumbuhan
mikroorganisme
(kekeruhan,
endapan,
atau
tanda-tanda
pertumbuhan
mikroorganisme) (BBPMSOH, 2005; McGuire dan Kupiec, 2007).
3. Uji Potensi (Kandungan)
Sampel vaksin yang sudah dibuat sebanyak 3 vial dilakukan uji
immunofluorescence assay untuk mencari konsentrasi rotavirus dalam vaksin
tersebut, sebagai data pembanding awal sebelum dilakukan freezing dan suhu
penyimpanan (triplo). Prosedur immunofluorescence assay dijelaskan pada
poin 3.4.4.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
41
3.4.4
Uji Stabilitas Potensi Kandidat Vaksin Rotavirus
Penyimpanan Menggunakan Immunofluorescence Assay
Selama
1. Penyiapan dan Pemeliharaan Subkultur Sel MA 104
Tahap awal pemeliharaan sel MA 104 dimulai dari proses resusitasi sel
dengan
penyiapan
dan pembuatan
media
pertumbuhan
sel
dengan
mencampurkan DMEM dengan FBS, NaHCO3, dan antibiotik kemudian
diaduk hingga homogen. Setelah media pertumbuhan selesai dibuat, media
tersebut kemudian didistribusikan ke dalam T-flasks. Sel MA 104 beku yang
akan digunakan lalu dicairkan dengan menggunakan ice bath dan setelah cair
dimasukkan ke dalam T-flasks yang berisi medium. Dilakukan observasi sel
menggunakan mikroskop untuk memastikan keadaan sel dan dilakukan
inkubasi dengan inkubator CO2 pada suhu 37oC sampai mengalami konfluen.
Seluruh pekerjaan dilakukan secara aseptis menggunakan LAF (Freshney,
2005).
Setelah sel sudah mengalami konfluen, dilakukan tahap subkultur sel
(pasase) dimana medium pertumbuhan sel dikeluarkan dari T-flasks kemudian
sel dicuci dengan menggunakan PBS. Setelah dicuci, kemudian dilakukan
penambahan tripsin dan diinkubasi selama 5-8 menit. Setelah selesai
diinkubasi, tarik kembali seluruh tripsin menggunakan pipet mikro sehingga
diperoleh suspensi sel dalam T-flasks tersebut (Freshney, 2005).
Dilakukan penghitungan sel dengan menggunakan hemocytometer.
Suspensi diaduk hingga terdispersi ke seluruh sel, dan diambil 0,2 mL sebagai
sampel ke dalam vial. Kemudian dilakukan preparasi slide dimulai dengan
membersihkan permukaan slide dan coverslip dengan alkohol 70% kemudian
coverslip dipasang pada slide. Sampel sel yang diperoleh sebelumnya diaduk,
kemudian diambil sebanyak 20 µL menggunakan mikro pipet steril dan
dimasukkan ke dalam tepi slide hemocytometer. Ditambahkan pula 60 µL
trypan blue sebagai pewarna sel ke dalam tepi tersebut. Setelah didiamkan
beberapa saat, slide tersebut kemudian diamati di bawah mikroskop
perbesaran lensa objektif 10x. Dari pengamatan mikroskop dapat terlihat 9
kotak berukuran 1 mm2 yang di dalamnya masih terdapat kotak dengan
berbagai ukuran yang berpengaruh pada rumus perhitungan sel nantinya. Jika
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
42
sel yang terlihat sedikit (<100/mm2), maka dilakukan penghitungan sel pada
satu atau lebih kotak berukuran 1 mm2 di sekeliling kotak tengah, tapi jika sel
yang terlihat terlalu banyak (>1000/mm2), maka dilakukan penghitungan sel
pada lima kotak kecil dengan arah diagonal dari kotak besar (1 mm2)
(Freshney, 2005).
Hasil subkultur yang baik dapat diketahui bila nilai persen
viabilitasnya tinggi (≥ 90%). Persen viabilitas dapat diperoleh menggunakan
rumus:
………(γ.1)
Perhitungan densitas sel dapat dilakukan dengan rumus:
……………………………………………………………...(γ.2)
Lambang c (sel/mL) adalah konsentrasi sel (densitas sel), n adalah nilai ratarata jumlah sel hidup yang dihitung dalam x kotak, dan v adalah volume yang
dihitung. Nilai v pada kotak besar (1 mm2) adalah 0,1 mm3 atau 1 x 10-4 mL,
pada kotak sedang (25 kotak pada tiap 1 kotak besar) adalah 1/5 dari total atau
1/5 x 10-4 mL, dan pada kotak kecil (16 kotak pada tiap 1 kotak sedang)
adalah 9 x 10-4 mL. Rumus tersebut ditambahkan dengan faktor pengenceran,
apabila ditambahkan pewarna (Freshney, 2005).
Cara pengambilan sel MA 104 untuk pengujian akan dijelaskan di
nomor berikutnya. Untuk proses pemeliharaan sel MA 104, dilakukan kembali
proses pasase. Namun sebelum masuk ke dalam proses tersebut, dilakukan
preparasi terlebih dahulu dengan menghitung jumlah suspensi dan media yang
akan dimasukkan ke dalam wadah kultur, dalam hal ini menggunakan T-flasks
ukuran luas 25 cm2, sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan. Spesifikasi
alat T-flasks ini dapat memuat medium kurang lebih 10 mL. Konsentrasi sel
dalam seeding yang diinginkan adalah 5 x 105 sel. Perhitungan jumlah
suspensi dilakukan dengan menggunakan rumus pengenceran:
……………….(γ.γ)
Jumlah media didapatkan dari 10 mL (media yang dapat ditampung Tflasks) dikurang jumlah suspensi yang digunakan. Setelah itu, dilakukan
inkubasi dengan inkubator CO2 pada suhu 37oC sampai mengalami konfluen,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
43
baru dilakukan proses pasase kembali. Hal ini dilakukan rutin selama
penelitian untuk memperoleh sel MA 104 sebagai bahan untuk prosedur
penelitian selanjutnya (Freshney, 2005).
2. Plating Sel MA 104 Menggunakan Plate 96 Well
Suspensi sel MA 104 dibuat untuk 96 well dengan konsentrasi 2,5 x
104 sel dalam media pertumbuhan sel sebanyak 100 µL tiap satu well. Well
tersebut kemudian diinkubasi pada suhu 37oC dalam inkubator CO2. Setelah
24 jam inkubasi, sel tersebut telah mengalami konfluen dan dilakukan tahap
berikutnya. Perhitungan jumlah mL sel dan media pertumbuhan sel diperoleh
dari rumus:
……………………………………………(γ.4)
Volume sel yang diperoleh dari hasil perhitungan kemudian diencerkan
dengan media sesuai dengan keinginan dan spesifikasi muatan plate
(Freshney, 2005; Patton, et al., 2000; dengan modifikasi).
3. Pengenceran Virus
Dengan menggunakan plate 96 well yang berbeda, media pertumbuhan
virus (media pertumbuhan sel tanpa FBS) yang sudah mengandung tripsin
ditambahkan ke dalam tiap well sebanyak 50 µL. Kemudian dilakukan
pengenceran dengan cara memasukkan sampel kandidat vaksin rotavirus
sebanyak 50 µL kedalam well nomor 1. Kemudian terus dilakukan
pengenceran dengan cara mengambil 50 µL dari well nomor 1 dan
dipindahkan ke well nomor 2, seterusnya sampai well nomor 11 menggunakan
pipet mikro multi-channel. Well nomor 12 dibiarkan kosong (hanya berisi
media pertumbuhan) sebagai kontrol negatif. Sebagai kontrol positif
digunakan biakan rotavirus.
4. Inokulasi Vaksin (Virus yang Terkandung) ke Sel Monolayer
Plate 96 well MA 104 dicuci dengan PBS kemudian ditambahkan
media pertumbuhan virus sebanyak 50 µL lalu diinkubasi selama 30 menit.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
44
Setelah selesai diinkubasi, dipindahkan sebanyak 50 µL dari plate well titrasi
(pengenceran) ke plate well sel MA 104 sesuai dengan nomor well-nya dan
ditambahkan 50 µL media pertumbuhan virus. Plate 96 well sel MA 104 ini
kemudian diinkubasi menggunakan inkubator CO2 selama 18 jam suhu 37oC
(Saif dan Ward, 2000; dengan modifikasi).
5. Pengamatan Mikroskop Fluorescent
Setelah plate 96 well sel MA 104 selesai diinkubasi, medium yang
terdapat pada tiap well dibuang menggunakan penyedot vakum, kemudian
dilakukan fiksasi dengan menggunakan aseton 80% sebanyak 150 µL selama
10 menit. Setelah plate difiksasi, aseton dibuang dan plate dikering-anginkan.
Plate well tersebut ditambahkan 50 µL antiserum poliklonal rabbit anti SA 11
dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37oC. Setelah itu, well 96 dicuci
dengan PBS lalu ditambahkan 50 µL antiserum IgG goat anti rabbit
kedalamnya dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37oC. Plate 96 well
kemudian dicuci kembali dengan PBS, lalu setiap well diamati dan dihitung
sel yang memancarkan fluoresence satu per satu dibawah mikroskop
fluorescent. Setelah dilakukan penghitungan sel, dapat dilakukan kalkulasi
konsentrasi dari suspensi virus awal tersebut dalam satuan FCFU/mL.
Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
⁄
…………(γ.5)
Pengujian stabilitas potensi ini dilakukan duplo pada kandidat vaksin rotavirus
setelah penyimpanan hari ke-42, 60, 90, dan 120 pada setiap perlakuan teknik
freezing (Freshney, 2005; Saif dan Ward, 2000; dengan modifikasi).
3.4.5
Metode Analisis Data
Pengujian stabilitas potensi dilakukan dengan dua kali pengulangan
(duplo) dan diolah secara statistika menggunakan metode rancangan acak lengkap
faktorial dan dianalisis melalui ANOVA. Pengolahan data yang diperoleh dari
hasil eksperimental murni ini dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip Quality by
Design, sehingga dapat diperoleh desain yang kuat dalam hal kombinasi teknik
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
45
freezing dan suhu penyimpanan yang tepat dari beberapa desain percobaan yang
dilakukan.
3.5
Alur Penelitian
Bulk vaksin rotavirus
Diformulasikan dengan vaksin
stabilizer dan difiltrasi
Kandidat vaksin rotavirus
Evaluasi sediaan
Freezing sediaan
Freezing -70oC
Freezing dengan
nitrogen cair
Freezing -152oC
Uji fisik
Analisis hasil
evaluasi
Uji sterilitas
Uji potensi
Penyimpanan
Suhu 2 – 8oC
Suhu -20oC
Suhu -70oC
Uji stabilitas potensi
Analisis hasil uji
stabilitas
Immunofluorescence
assay pada hari ke42, 60, 90, dan 120
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
46
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Formulasi dan Evaluasi Sediaan
Kandidat formulasi vaksin rotavirus ini dibuat dalam bentuk sediaan steril
cair berupa larutan, dengan formulasi berupa bulk vaksin rotavirus dan sukrosa
sebagai vaksin stabilizer. Sukrosa (golongan poliol atau gula atau osmolit) dipilih
sebagai vaksin stabilizer karena kemampuannya yang dapat melindungi
komponen seluler, terutama protein, terhadap terjadinya denaturasi akibat
pengaruh lingkungan, dalam hal ini pengaruh perubahan suhu yang ekstrim.
Dilakukan evaluasi umum kandidat formulasi vaksin mencakup uji fisik,
uji sterilitas, dan uji potensi. Uji fisik selain dilakukan untuk mengetahui
karakteristik fisik kandidat formulasi vaksin yang dibuat dan memastikan bahwa
kandidat formulasi vaksin tersebut homogen, tidak mengandung partikel asing,
serta tidak mengalami penyusutan volume dan perubahan warna, juga dilakukan
untuk melihat ada tidaknya perbedaan yang terjadi pada setiap teknik freezing dan
suhu penyimpanan. Uji sterilitas dilakukan untuk memastikan bahwa produk
kandidat formulasi vaksin dalam keadaan steril tanpa adanya kontaminasi dari
bakteri aerob, bakteri anaerob, maupun fungi. Uji potensi dilakukan untuk
mengetahui rentang kandungan atau konsentrasi rotavirus yang masih poten di
dalam sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus.
4.1.1
Uji Fisik
Hasil evaluasi secara fisik seperti tercantum pada tabel 4.1 menunjukkan
bahwa sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus memenuhi persyaratan sediaan
larutan. Penyusutan volume dan perubahan warna pada tiap teknik freezing tidak
terjadi selama proses penyimpanan dan pada proses pencairan kandidat formulasi
vaksin dari keadaan beku. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan teknik freezing
dan suhu penyimpanan pada sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus secara
visual tidak berpengaruh, sehingga ketiga teknik freezing dan ketiga suhu
penyimpanan dapat digunakan pada kandidat formulasi vaksin ini.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
47
Tabel 4.1 Hasil uji fisik
Kandidat Vaksin Rotavirus
Hasil evaluasi
- Warna : merah muda (baik sebelum
Sediaan kandidat formulasi vaksin
rotavirus
maupun setelah freezing)
- Tidak mengalami penyusutan
volume selama proses freezing
- Tidak mengandung partikel asing
- Sediaan homogen
- Tidak ada perbedaan fisik pada
Vaksin pada suhu penyimpanan 2 – 8 C,
-20oC, dan -70oC
o
semua vial vaksin (pada semua
teknik freezing maupun suhu
penyimpanan yang disimpan
selama 120 hari)
Vaksin pada suhu penyimpanan 2 – 8oC,
-20oC, dan -70oC dalam keadaan cair
4.1.2
Uji Sterilitas
Dalam evaluasi ini, digunakan medium FTM (Fluid Thioglycolate
Medium) dan SCDM (Soybean Casein Digest Medium). Pemilihan kedua media
ini berdasarkan karakteristik media tempat tumbuh kontaminan (mikroorganisme)
yang mungkin terdapat pada kandidat formulasi vaksin. FTM adalah media
tumbuh yang cocok untuk bakteri anaerob, sedangkan SCDM adalah media
tumbuh yang cocok untuk bakteri dan jamur.
Hasil uji sterilitas menunjukkan tidak terjadi perubahan warna (kekeruhan)
pada kedua medium selama 14 hari inkubasi, yang menunjukkan tidak terjadi
pertumbuhan mikroorganisme dalam medium tersebut. Dapat disimpulkan bahwa
sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus dalam keadaan steril. Evaluasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
48
sterilitas ini, selain digunakan untuk mengetahui kesterilan dari sediaan formulasi
vaksin, juga ditujukan untuk mengetahui apakah teknik pengerjaan yang
dilakukan dalam proses formulasi memenuhi kriteria steril. Hal ini dikarenakan
metode sterilisasi yang digunakan dalam proses pembuatan kandidat formulasi
vaksin tersebut adalah metode sterilisasi filtrasi yang bukan termasuk dalam
kategori sterilisasi akhir, artinya kemungkinan terjadinya rekontaminasi dalam
tahap sterilisasi ini masih cukup besar.
Tabel 4.2 Hasil uji sterilitas
Sebelum diinkubasi 14 hari
Kiri
Setelah diinkubasi 14 hari
: SCDM
Kiri
Kanan : FTM
4.1.3
: SCDM
Kanan : FTM
Uji Potensi
Hasil uji potensi yang dilakukan pada kandidat formulasi vaksin rotavirus
dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 Hasil uji potensi
Pengujian
Potensi (FCFU/mL)
Kontrol + (FCFU/mL)
I
3,99 x 105
6,51 x 106
II
5,32 x 105
2,8 x 107
III
1,198 x 106
2,8 x 107
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
49
4.2
Uji Stabilitas
Evaluasi stabilitas pada proses pengembangan vaksin sangat sulit, berbeda
dengan sediaan farmasi yang lain. Hal ini karena sediaan vaksin sangat sulit untuk
dikarakterisasi yang berakibat analisis terkait standar pembandingnya kurang
dapat terdefinisi dengan baik dan sulitnya pengawasan kualitas produk saat proses
produksi. Sediaan vaksin dibandingkan sediaan farmasi yang lain lebih kompleks
dan kurang dapat diprediksi, baik dalam hal proses maupun hasil produknya yang
berakibat terjadinya variabilitas pada produk akhir selama siklus produksi.
Pengembangan sediaan vaksin butuh model proses secara empiris untuk
menghubungkan parameter input dan kualitas output, sehingga nantinya diperoleh
ambang batas yang kuat dan jelas yang bermanfaat dalam hal pelaporan terkait
perubahan saat proses produksi. Oleh karena itulah penelitian dalam hal vaksin
dilakukan dengan menggunakan prinsip Quality by Design (QbD). Prinsip ini
merupakan suatu pendekatan sistematis dalam proses pengembangan suatu vaksin
yang dimulai dengan penetapan tujuan utama, kemudian menegaskan pemahaman
terhadap proses dan produk dan pemahaman terhadap pengendalian proses,
berdasarkan ilmu pengetahuan yang tepat dan kualitas manajemen resiko. QbD
mengidentifikasi
karakteristik
yang
kritis
pada
kualitas
produk,
menerjemahkannya menjadi atribut produk sediaan yang harus dimiliki, dan
menetapkan bagaimana parameter proses kritis tersebut dapat bervariasi secara
konsisten menghasilkan produk sediaan dengan karakteristik yang diinginkan.
Dalam penelitian ini diterapkan suatu desain parameter proses kritis untuk
mengetahui stabilitas potensi antigen rotavirus dalam sediaan vaksin dalam rangka
meningkatkan kualitas produk vaksin rotavirus, yakni kombinasi teknik freezing
dan suhu penyimpanan. Kriteria pengukuran dari uji stabilitas kombinasi tersebut
adalah potensi (viabilitas) rotavirus yang dinyatakan dengan konsentrasi (titer)
rotavirus (FCFU/mL) dalam vaksin pada tiap waktu pengukuran (hari) yang
berbeda, yaitu 42, 60, 90, dan 120 hari. Hal ini dilakukan agar interaksi antara
kedua variabel tersebut terhadap stabilitas sediaan kandidat vaksin rotavirus
selama waktu tertentu dapat dipahami dengan baik, karena variabel-variabel
tersebut mempengaruhi kualitas produk, sehingga nantinya dapat ditetapkan
kombinasi manakah yang paling tepat untuk menjaga potensi dan stabilitasnya.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
50
Untuk mengetahui pengaruh berbagai kombinasi teknik freezing dan suhu
penyimpanan vaksin terhadap stabilitas rotavirus dalam vaksin tersebut, dilakukan
pengamatan viabilitas rotavirus dalam vaksin tersebut menggunakan metode
immunofluorescence assay (IFA). Viabilitas dalam konteks ini adalah kemampuan
rotavirus tersebut untuk mempertahankan diri dan potensinya di dalam vaksin
tersebut. Prinsip dari IFA pada penelitian ini adalah memberikan pewarnaan
fluorescence kepada sel MA104 yang terinfeksi oleh rotavirus. Pewarnaan
tersebut disebabkan karena penggunaan antiserum poliklonal rabbit anti SA11
(antibodi primer) dan antiserum IgG goat anti rabbit (antibodi sekunder).
Antiserum IgG goat anti rabbit adalah antibodi yang secara kimiawi terkonjugasi
oleh pewarna fluorescent. Antiserum ini menempel pada antiserum poliklonal
rabbit anti SA11 yang menempel pada rotavirus yang menginfeksi sel MA104.
Mekanisme penempelan tersebut berdasarkan interaksi antigen-antibodi layaknya
mekanisme kunci dan gembok. Dengan menggunakan antibodi primer dan
antibodi sekunder pada penelitian ini menunjukkan bahwa metode IFA yang
digunakan adalah metode tidak langsung (indirect). Metode ini memiliki
kepekaan yang lebih besar dibandingkan metode langsung (direct) karena terdapat
amplifikasi sinyal yang disebabkan ada lebih dari satu antibodi sekunder yang
menempel pada satu antibodi primer, sehingga menghasilkan pewarnaan yang
terang dan jelas.
Untuk memastikan validitas dari metode IFA, digunakan kontrol positif
dan kontrol negatif. Kontrol positif yang digunakan adalah rotavirus murni
sedangkan kontrol negatifnya adalah media murni. Kontrol positif bertujuan untuk
memastikan bahwa sel monolayer MA104 dan media yang digunakan cocok dan
berfungsi dengan baik pada rotavirus. Artinya, bila jumlah sel MA104 yang berfluorescence pada kontrol positif sangat banyak, maka metode IFA yang
digunakan, sel MA104, dan media pada plate tersebut sudah sesuai dan data yang
diperoleh dapat digunakan. Sedangkan kontrol negatif bertujuan untuk
memastikan bahwa sel MA104 yang ber-fluorescence pada plate 96 well yang
digunakan adalah benar-benar sel MA104 yang terinfeksi rotavirus. Artinya, bila
pada plate kontrol negatif tidak terdapat sel MA104 yang ber-fluorescence, maka
sel MA104 yang ber-fluorescence adalah benar sel MA104 yang terinfeksi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
51
rotavirus (antibodi yang digunakan spesifik untuk rotavirus). Desain plate 96 well
dalam metode immunofluorescence assay pada penelitian ini digambarkan pada
tabel 4.4.
Dengan dilakukannya pengamatan viabilitas pada selang waktu yang
cukup lama dapat dipelajari berbagai hal di antaranya pengaruh freezing dalam hal
menjaga proses dormansi rotavirus dalam selang waktu tertentu serta dalam hal
pengaruh suhu penyimpanan terhadap viabilitas rotavirus tersebut. Uji stabilitas
vaksin dengan mengamati viabilitas virus dalam vaksin dalam rentang waktu
tertentu merupakan metode yang sangat efektif karena dapat mengatasi
keterbatasan sampel dan menghasilkan data stabilitas yang cukup tinggi. Proses
pengolahan data dilakukan secara statistika menggunakan ANOVA untuk
membantu menarik kesimpulan kombinasi manakah yang paling tepat.
Tabel 4.4 Desain plate 96 well pada immunofluorescence assay
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
A
B
C
D
E
F
G
H
Kontrol positif
Kontrol negatif
Sampel vaksin
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence dalam vaksin pada tiap waktu
pengamatan ditunjukkan pada lampiran 1. Nilai tersebut kemudian dikonversikan
ke dalam bentuk konsentrasi (titer) rotavirus dengan satuan FCFU/mL yang
kemudian diolah secara statistik menggunakan program SPSS 20.0. Seperti yang
telah diduga, konsentrasi rotavirus yang diperoleh memiliki variasi yang tidak
dapat diprediksi. Hasil perhitungan konversi jumlah sel MA104 yang berfluorescence menjadi konsentrasi rotavirus dalam vaksin ditunjukkan pada tabel
4.5 – 4.7.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
52
Tabel 4.5 Konsentrasi rotavirus dalam kandidat formulasi vaksin dengan teknik
freezing -70oC
Keterangan
Waktu (hari)
42
60
90
120
Suhu (ᵒC)
6
2-8
1,02 x 10
6
2,74 x 10
6
-20
1,39 x 10
6
2,17 x 10
6
-70
Kontrol (+) Rotavirus
1,93 x 10
6
1,47 x 10
1,18 x 108
6
1,41 x 10
6
1,13 x 10
6
1,35 x 10
6
1,82 x 10
5
9,63 x 10
6
2,27 x 10
1,24 x 108
5
9,83 x 10
6
1,47 x 10
6
1,39 x 10
6
1,68 x 10
6
2,21 x 10
6
2,13 x 10
8,87 x 107
5
6,96 x 10
6
1,29 x 10
6
1,52 x 10
6
4,10 x 10
6
1,31 x 10
6
2,50 x 10
1,44 x 108
Tabel 4.6 Konsentrasi rotavirus dalam kandidat formulasi vaksin dengan teknik
freezing -152oC
Keterangan
Waktu (hari)
42
60
90
120
Suhu (ᵒC)
5
2-8
5,53 x 10
5
6,86 x 10
5
-20
7,48 x 10
5
9,32 x 10
5
-70
Kontrol (+) Rotavirus
9,32 x 10
6
1,04 x 10
8
1,18 x 10
6
1,06 x 10
6
1,25 x 10
6
1,60 x 10
6
2,33 x 10
6
1,64 x 10
6
1,88 x 10
8
1,24 x 10
5
7,78 x 10
6
1,35 x 10
6
1,60 x 10
6
1,02 x 10
6
2,87 x 10
6
3,19 x 10
7
8,87 x 10
5
8,19 x 10
5
7,58 x 10
6
1,97 x 10
1,11 x 10
6
6
1,47 x 10
6
2,17 x 10
8
1,44 x 10
Tabel 4.7 Konsentrasi rotavirus dalam kandidat formulasi vaksin dengan teknik
freezing nitrogen cair
Keterangan
Waktu (hari)
42
60
90
120
Suhu (ᵒC)
6
2-8
1,58 x 10
6
1,66 x 10
6
-20
1,60 x 10
6
1,64 x 10
6
-70
Kontrol (+) Rotavirus
1,62 x 10
6
1,04 x 10
8
1,18 x 10
6
1,86 x 10
6
1,17 x 10
6
1,47 x 10
6
2,79 x 10
6
2,27 x 10
6
1,86 x 10
8
1,24 x 10
5
9,63 x 10
5
9,42 x 10
6
1,47 x 10
6
1,93 x 10
6
2,50 x 10
6
3,89 x 10
7
8,87 x 10
5
7,99 x 10
6
1,84 x 10
6
1,84 x 10
6
1,43 x 10
6
1,41 x 10
6
1,66 x 10
8
1,44 x 10
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
53
Berdasarkan data hasil konsentrasi rotavirus dalam vaksin (FCFU/mL)
dengan teknik freezing dan suhu penyimpanan yang berbeda terhadap waktu
penyimpanan (tabel 4.5 – 4.7), terdapat perbedaan kadar konsentrasi antigen
rotavirus yang bervariasi. Dari data tersebut, dapat diketahui sementara bahwa
terdapat kaitan perubahan nilai konsentrasi rotavirus terhadap perbedaan teknik
freezing dan suhu penyimpanan vaksin tersebut, dan bukan terhadap waktu
penyimpanan. Waktu penyimpanan diduga tidak memiliki kaitannya terhadap
penurunan konsentrasi dikarenakan nilai konsentrasi dari data tersebut tidak
secara konstan mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya waktu
penyimpanan.
Untuk mengetahui kombinasi teknik freezing dan suhu penyimpanan
vaksin yang paling baik selama waktu penyimpanan 120 hari dilakukan
pengolahan data statistik dengan menggunakan disain two-way anova (disain
faktorial) menggunakan analisis repeated measures, di mana pengolahan tersebut
memisahkan waktu penyimpanan bukan sebagai variabel. Sebelum data
konsentrasi diinput ke dalam program SPSS, terlebih dahulu nilai konsentrasi
tersebut
ditransformasikan
ke
dalam
bentuk
logaritmanya
agar
nilai
konsentrasinya bernilai kecil sehingga datanya mudah dibaca. Tabel sidik ragam
dari hasil pengolahan data konsentrasi rotavirus secara statistik menggunakan
analisis repeated measures pada program SPSS 20.0 dengan significance level 0.1
(rentang kepercayaan 90%) dapat terlihat pada tabel 4.8.
Tabel 4.8 Sidik ragam hasil pengolahan data analisis Repeated Measures
Tests of Between-Subjects Effects
Transformed Variable: Average
Source
Type III Sum of
Df
Mean Square
F
Sig.
Squares
Intercept
Partial Eta
Squared
2740.586
1
2740.586
100665.407
.000
1.000
.559
*
2
.280
10.274
.005
.695
Freezing
.169
*
2
.085
3.111
.094
.409
Storage * Freezing
.064
4
.016
.586
.681
.207
Error
.245
9
.027
Suhu penyimpanan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
54
Bila melihat hasil pengolahan data secara statistik pada tabel 4.8 tersebut,
dapat diketahui bahwa terdapat interaksi (perbedaan) yang sangat signifikan antar
tiap suhu penyimpanan (nilai signifikansi 0,005) dan terdapat interaksi
(perbedaan) yang cukup signifikan antar tiap teknik freezing (nilai signifikansi
0,094). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang ditimbulkan baik oleh
teknik freezing maupun suhu penyimpanan terhadap potensi rotavirus dalam
sediaan kandidat formulasi vaksin ini. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa
teknik freezing dan suhu penyimpanan tidak memiliki keterkaitan secara bersama
terhadap pengaruhnya dengan potensi rotavirus. Hal ini ditunjukkan dari nilai
signifikansi teknik freezing dan suhu penyimpanan terhadap potensi rotavirus
sebesar 0,681 (tidak signifikan).
Untuk mengetahui kestabilan sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus
terhadap stabilitas potensi, dilakukan pengamatan perubahan konsentrasi rotavirus
selama waktu penyimpanan. Hal ini dapat diketahui dengan mengolah data secara
statistika menggunakan analisis Repeated Measures, mengelompokkan data sesuai
dengan teknik freezing-nya masing-masing dan menjadikan konsentrasi (potensi)
rotavirus dalam waktu 42, 60, 90, dan 120 hari dipisahkan sebagai suatu faktor
yang dibandingkan dengan suhu penyimpanan. Hasil data tersebut terdapat pada
lampiran 2.
Dari hasil pengolahan data tersebut dapat diketahui bahwa pada sediaan
kandidat formulasi vaksin rotavirus yang di-freezing pada suhu -70oC, suhu
penyimpanan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap potensi rotavirus. Pada
teknik freezing ini juga diperoleh hasil bahwa waktu penyimpanan tidak
berpengaruh secara signifikan, artinya sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus
dengan teknik freezing suhu -70oC pada suhu penyimpanan manapun masih dapat
mempertahankan kestabilan potensinya.
Pada sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus dengan teknik freezing
-152oC, suhu penyimpanan pada suhu 2 – 8oC memiliki perbedaan yang signifikan
dengan suhu penyimpanan -20oC dan -70oC, dengan nilai potensi paling rendah.
Terdapat perbedaan yang signifikan pada waktu peyimpanan antara 42 hari
dengan 60 hari, namun antar-hari berikutnya tidak terdapat perbedaan yang
signifikan. Hal ini masih menunjukkan bahwa kandidat formulasi vaksin rotavirus
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
55
dengan teknik freezing -152oC pada suhu penyimpanan manapun masih dapat
mempertahankan stabilitasnya.
Sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus dengan teknik freezing
menggunakan nitrogen cair, suhu penyimpanan pada suhu 2 – 8oC memiliki
perbedaan yang signifikan dengan suhu penyimpanan -20oC dan -70oC, dengan
nilai potensi paling rendah. Waktu penyimpanan tidak berpengaruh secara
signifikan, artinya sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus dengan teknik
freezing menggunakan nitrogen cair pada suhu penyimpanan manapun dapat
mempertahankan kestabilannya.
Dari hasil uraian yang telah dipaparkan menunjukkan bahwa seluruh
sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus yang dibekukan pada semua teknik
freezing dapat mempertahankan stabilitas potensi rotavirus selama waktu
penyimpanan 120 hari baik pada suhu penyimpanan 2 – 8oC, -20oC, dan -70oC.
Namun dalam hal perbandingan tingkat potensi yang dimiliki masing-masing
suhu penyimpanan dan tingkat potensi yang dimiliki tiap teknik freezing masih
belum dapat disimpulkan dengan data tersebut, sehingga dilakukan kembali
pengolahan data secara statistik untuk mengetahui kombinasi teknik freezing dan
suhu penyimpanan yang memiliki potensi paling tinggi.
Dilakukan pengolahan seluruh data menggunakan analisis Repeated
Measures dan dijabarkan kembali perbandingan konsentrasi rotavirus antar tiap
teknik freezing dan antar tiap suhu penyimpanan untuk menentukan kombinasi
yang paling tepat. Data hasil statistik ini dapat dilihat pada lampiran 3.
Dari data statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan antara teknik freezing suhu -152oC dengan kedua teknik freezing
yang lain, di mana teknik freezing suhu -152oC memiliki nilai konsentrasi
rotavirus yang paling rendah. Sedangkan pada suhu penyimpanan, terdapat
perbedaan yang signifikan antara suhu penyimpanan 2 – 8oC dengan kedua suhu
penyimpanan yang lain, di mana suhu penyimpanan 2 – 8oC memiliki nilai
konsentrasi rotavirus paling rendah. Hasil yang telah diuraikan tersebut dipertegas
kembali dengan gambaran grafik hubungan antara teknik freezing, suhu
penyimpanan, dan waktu penyimpaan pada sediaan kandidat formulasi vaksin
rotavirus terhadap viabilitasnya yang dapat dilihat pada gambar 4.1 – 4.3. Ketiga
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
56
grafik tersebut dibuat dengan memplotkan nilai rata-rata konsentrasi rotavirus
untuk mempermudah melihat perbedaan antar tiap perlakuan. Grafik lain yang
menggambarkan konsentrasi rotavirus pada tiap waktu penyimpanan dapat dilihat
pada lampiran 4.
Gambar 4.1 Grafik hubungan teknik freezing dan suhu penyimpanan pada sediaan
kandidat formulasi vaksin rotavirus terhadap potensinya
Gambar 4.2 Grafik hubungan teknik freezing dan waktu penyimpanan pada
sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus terhadap potensinya
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
57
Gambar 4.3 Grafik hubungan suhu penyimpanan dan waktu penyimpanan pada
sediaan kandidat formulasi vaksin rotavirus terhadap potensinya
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, stabilitas yang harus dicapai oleh
kandidat formulasi vaksin rotavirus dalam penelitian ini dianalisis setidaknya
meliputi tiga hal, diantaranya stabilitas terhadap suhu yang sangat rendah, freezing
stress, dan thawing (pencairan) saat akan digunakan. Oleh karena itu, upaya
utama selain menentukan formulasi optimum dari sukrosa (dalam hal ini sebagai
cryoprotectant yang berperan membantu menjaga stabilitas vaksin terhadap ketiga
hal tersebut) adalah menentukan teknik freezing yang paling optimum yang
nantinya berpengaruh pula pada spesifikasi suhu penyimpanan bila dikaitkan
dengan pencairan yang merupakan proses yang harus terjadi nantinya. Teknik
freezing akan menentukan karakteristik dari kristal es yang dihasilkan.
Bila ditinjau dari segi teknik freezing, sediaan kandidat formulasi vaksin
rotavirus dengan teknik freezing menggunakan nitrogen cair dan teknik freezing
hingga suhu -70oC memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan
teknik freezing -152oC. Hal ini dapat dipahami dengan mengetahui karakteristik
dari kristal es yang dihasilkan dari tiap teknik freezing. Teknik freezing -152oC
merupakan teknik slow freezing yang menghasilkan karakteristik extracellular ice
(terbentuknya kristal di luar sel) dengan ukuran kristal es yang besar. Sedangkan
pada teknik freezing -70oC (rapid freezing) dan teknik freezing menggunakan
nitrogen cair (very/ultra rapid freezing), keduanya menghasilkan karakteristik
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
58
intracellular ice (terbentuknya kristal di dalam sel) dengan ukuran kristal es yang
besar pada teknik freezing -70oC dan ukuran kristal es yang sangat kecil pada
teknik freezing menggunakan nitrogen cair. Untuk membantu melihat perbedaan
karakteristik intracellular dan extracellular ice tersebut, karakteristik ini
diilustrasikan pada gambar 4.4.
[Sumber: Mazur, 1984]
Gambar 4.4 Karakteristik intracellular ice dan extracellular ice pada sel
Gambar 4.1 menunjukkan bahwa pada proses rapid freezing dan very
rapid freezing, teknik ini selain menghasilkan karakteristik intracellular ice juga
menghasilkan extracellular ice. Bila mengasumsikan rotavirus yang terkandung
dalam vaksin tersebut sebagai sel, karakteristik intracellular ice ditinjau dari
kemampuan bertahan hidup antigen sebenarnya tidak baik karena intracellular ice
dapat menimbulkan kerusakan pada bagian membran dan sitoplasma secara letal
dan selain itu kemampuan viabilitasnya dilaporkan dipengaruhi oleh laju
pencairan, di mana pada karakteristik intracellular ice, laju pencairan yang cepat
menghasilkan konsentrasi sel atau antigen yang jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan laju pencairan lambat, hal sebaliknya terjadi pada karakteristik
extracellular ice (Mazur, 2004). Karena proses pencairan yang dilakukan sebelum
pemberian vaksin nantinya adalah proses pencairan lambat maka dengan demikian
seharusnya slow freezing adalah teknik yang efektif dalam kasus ini.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
59
Namun hal tersebut tidak dapat diputuskan secara langsung, artinya perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut dalam menentukan teknik yang tepat, karena
kondisi pada setiap jenis antigen atau sel berbeda-beda terhadap karakteristik
intracellular dan extracellular ice, dan kedua karakteristik ini memang memiliki
keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Misalnya vaksin dengan teknik
freezing menggunakan nitrogen cair. Walaupun karakteristik es yang dihasilkan
adalah intracellular ice namun kristal extracellular ice yang dihasilkan sangat
kecil sehingga dalam proses freezing selama penyimpanannya, resiko terjadinya
kerusakan dan kematian rotavirus semakin kecil karena minimnya efek langsung
dari es yang dihasilkan dan antigen atau sel yang terkandung tidak mengalami
dehidrasi akibat peristiwa osmotik seperti pada proses slow freezing. Namun
secara termodinamika, karakteristik intracellular ice dengan ukuran yang sangat
kecil relatif tidak stabil dibandingkan dengan kristal es dengan ukuran yang besar,
sehingga konsekuensi yang muncul adalah terjadinya kecenderungan kristalkristal es kecil yang terbentuk tersebut mengalami agregasi membentuk kristal
besar selama proses pencairan (rekristalisasi).
Korelasi peristiwa rekristalisasi intracellular ice ini juga telah diamati
pada sel hidup lain, diantaranya ragi, sel tumbuhan tingkat tinggi, dan kultur sel
jaringan hamster dengan sama-sama menggunakan teknik freezing nitrogen cair
(-196oC) di bawah mikroskop dan kematian sel pun terjadi secara signifikan
(Mazur, 1984). Oleh karena itu, dalam kasus very rapid freezing, peristiwa
rekristalisasi
yang terjadi selama proses pencairan lah
yang menjadi
permasalahannya, apakah rotavirus di dalam vaksin tersebut akan dapat bertahan
hidup selama proses pencairan berlangsung dan hasil yang diperoleh akan lebih
baik dibandingkan dengan teknik freezing yang lain.
Begitu pula pada teknik freezing -70oC yang diduga sama-sama
menghasilkan karakteristik intracellular ice seperti pada freezing menggunakan
nitrogen cair. Pada teknik freezing ini, kristal es yang dihasilkan lebih stabil
(ukurannya yang besar) dibandingkan dengan teknik freezing menggunakan
nitrogen cair sehingga proses rekristalisasi minim terjadi, namun kerusakan pada
bagian membran dan sitoplasma secara letal sebagai konsekuensi dari
karakteristik intracellular ice masih dapat mungkin terjadi. Selain itu kristal es
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
60
dengan ukuran besar tersebut dapat melukai antigen atau sel hidup di dalamnya,
sehingga walaupun terdapat sukrosa sebagai cryoprotectant, kristal es tersebut
masih dapat melukai rotavirus yang terdapat di dalamnya terutama ketika proses
pencairan terjadi.
Berbeda yang terjadi pada teknik freezing -152oC, di mana diduga
menghasilkan karakteristik extracellular ice. Walaupun karakteristik ini dapat
meningkatkan viabilitas suatu antigen atau sel (menghindari terjadinya
intracellular ice) terutama saat proses pencairan vaksin, konsekuensinya adalah
terjadinya kerusakan sebagai akibat langsung dari es berukuran besar yang
dihasilkan di dalam vaksin tersebut dan terjadinya perubahan koefisien osmotik
yang disebabkan dari penurunan potensi kimia pada air dalam sel akibat
perubahan konsentrasi larutan eksternal hasil konversi dari air menjadi es,
sehingga sel tersebut mengalami dehidrasi (hal ini terjadi pada sel, di mana
terjadinya penyusutan sel secara osmotik sebagai respon perubahan konsentrasi).
Kemudian, terpaparnya sel atau antigen tersebut terhadap perubahan konsentrasi
zat terlarut yang terjadi di dalam dan luar sel atau antigen juga dapat
mengakibatkan kerusakan dan kematian sel atau antigen (sering disebut kerusakan
solution-effect) (Mazur, 2004).
Dari hasil penelitian ini, didapatkan hasil bahwa pada sediaan kandidat
formulasi
vaksin
rotavirus dengan teknik
freezing
yang menghasilkan
karakteristik intracellular ice (rapid freezing dan very rapid freezing) memiliki
potensi lebih tinggi dibandingkan teknik slow freezing yang tidak mengalami
karakteristik intracellular ice. Hal ini dikaitkan dengan sukrosa sebagai
cryoprotectant untuk melindungi antigen di dalam larutan yang akan dibekukan
pada suhu yang sangat rendah. Sukrosa dalam formulasi sediaan kandidat vaksin
ini mampu melindungi rotavirus dengan membentuk lapisan monolayer atau
mekanisme lainnya saat proses pembekuan, artinya sukrosa diduga dapat
melindungi rotavirus dari terjadinya karakteristik intracellular ice, sehingga es
yang terdapat di dalam rotavirus dapat minim terjadi. Berbeda yang terjadi pada
teknik slow freezing. Teknik ini memang tidak mengalami intracellular ice,
namun efek dehidrasi dan perubahan konsentrasi zat terlarut di dalam dan luar sel
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
61
masih dapat terjadi karena laju pembekuan yang lambat, sehingga mekanisme
kerusakan terkait hal tersebut kemungkinan cukup besar.
Sedangkan untuk pengaruh suhu penyimpanan pada sediaan kandidat
formulasi vaksin rotavirus ini diduga melibatkan proses stabilitas pada saat
pencairan dan sangat bergantung pada karakteristik sel atau antigen, dalam hal ini
adalah rotavirus. Alasan ini diperkuat dengan adanya data statistika yang
menunjukkan bahwa ada interaksi yang sangat signifikan antara suhu
penyimpanan dengan waktu penyimpanan. Hal ini dapat dilihat pula pada grafik
4.1 dan 4.3, bahwa suhu penyimpanan 2 – 8oC adalah suhu penyimpanan dengan
nilai konsentrasi rotavirus paling rendah dibandingkan dengan suhu penyimpanan
yang lain. Selain karena rotavirus yang terkandung di dalam vaksin tersebut sudah
mengalami kerusakan (baik kerusakan reversible ataupun irreversible/letal) akibat
hubungan antara freezing dan thawing (pencairan) yang dialami, suhu
penyimpanan ini juga menyebabkan rotavirus hidup tersebut tidak lagi dalam
keadaan dorman. Hal ini berbeda dengan suhu penyimpanan -20oC dan -70oC di
mana vaksin tersebut masih dalam keadaan beku, sehingga masih dapat
mempertahankan status dorman dari rotavirus yang terkandung di dalamnya. Hasil
statistika dan gambaran grafik tersebut juga menunjukkan bahwa terdapat batas
suhu penyimpanan di mana suhu tersebut tidak mengalami penurunan potensi
yang signifikan.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
62
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa:
1. Teknik freezing dan suhu penyimpanan berpengaruh terhadap potensi
rotavirus di dalam sediaan kandidat formulasi vaksin ini pada waktu
penyimpanan 42, 60, 90, dan 120 hari.
2. Semua desain kombinasi antara teknik freezing (freezing suhu -70oC, freezing
suhu -152oC, dan freezing menggunakan nitrogen cair) dengan suhu
penyimpanan (suhu 2 – 8oC, -20oC, dan -70oC) yang digunakan pada
penelitian ini mampu mempertahankan stabilitas potensi produk kandidat
vaksin rotavirus selama waktu penyimpanan 120 hari.
3. Kandidat vaksin rotavirus yang dibekukan menggunakan teknik freezing suhu
-70oC dan teknik freezing menggunakan nitrogen cair memiliki hasil potensi
yang baik ditinjau dari viabilitas rotavirus. Sedangkan teknik freezing suhu
-152oC merupakan teknik freezing yang menghasilkan nilai potensi rotavirus
paling rendah diantara kedua teknik freezing yang lain.
4. Dalam hal metode penyimpanan, perlakuan penyimpanan pada suhu -20oC
dan suhu -70oC adalah metode penyimpanan yang baik untuk menjaga
stabilitas kandidat vaksin rotavirus ini. Sedangkan suhu penyimpanan 2 – 8oC
merupakan metode penyimpanan yang menghasilkan nilai potensi rotavirus
paling rendah dibandingkan dengan metode penyimpanan pada suhu yang
lain.
5. Kombinasi terbaik dari teknik freezing dan suhu penyimpanan kandidat vaksin
rotavirus ini adalah teknik freezing menggunakan nitrogen cair atau teknik
freezing suhu -70oC dengan suhu penyimpanan vaksin tersebut pada -20oC
atau -70oC.
5.2
Saran
Secara manufaktural, proses produksi sediaan kandidat vaksin rotavirus
dengan teknik freezing menggunakan nitrogen cair skala besar dapat mungkin
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
63
dilaksanakan dengan baik, namun teknik ini tidak efektif dan efisien digunakan
karena pada teknik freezing ini penggunaannya berhubungan dengan nitrogen cair
yang cukup berbahaya dan perlu menggunakan alat pelindung diri. Kemudian,
bila melihat dari sisi distribusi dan penyimpanan vaksin di rumah sakit atau
lembaga kesehatan lainnya ketika kandidat formulasi vaksin rotavirus ini
diproduksi, suhu penyimpanan -70oC akan sangat merepotkan dan dapat memakan
biaya yang tidak sedikit dalam penyediaan freezer untuk penyimpanan. Atas dasar
itulah, disarankan kombinasi teknik freezing dan suhu penyimpanan dari sediaan
kandidat vaksin rotavirus ini adalah teknik freezing menggunakan freezer suhu
-70oC dengan suhu penyimpanan vaksin tersebut pada suhu 2 – 8oC, mengingat
teknik freezing -70oC dengan teknik freezing menggunakan nitrogen cair memiliki
perbedaan yang tidak signifikan dan suhu penyimpanan 2 – 8oC dengan suhu
penyimpanan -70oC walaupun memiliki perbedaan yang signifikan, namun suhu
penyimpanan 2 – 8oC masih dapat mempertahankan stabilitas rotavirus dalam
vaksin. Suhu 2 – 8oC merupakan suhu penyimpanan yang efektif dan efisien saat
proses distribusi karena hanya membutuhkan cool box dalam proses
penyimpanannya.
Perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait kombinasi teknik freezing dan
suhu penyimpanan tersebut dengan waktu penyimpanan yang lebih lama untuk
memperoleh hasil data stabilitas potensi yang lebih baik.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
64
DAFTAR PUSTAKA
Allison, S. D., et al. (1998). Effect of Drying Methods and Additives on Structure
and Function of Actin: Mechanism of Dehydration-Induced Damage and
Its Inhibiton. Biochemistry and Biophysics Vol. 358 (BB980832), pp. 171181.
Anonim. (1995). Farmakope Indonesia, Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Angel, J., Franco, M. A., Greenberg. H. B. (2007). Rotavirus Vaccines: Recent
Developments and Future Considerations. Nature Reviews Microbiology
1692. Vol. 5.
Athmanathan, S., et al. (2002). Comparison of an Immortalized Human Corneal
Epithelial Cell Line with Vero Cells in the Isolation of Herpes simplex
Virus-1 for the Laboratory Diagnosis of Herpes simplex keratitis. BMC
Opthalmology Vol. 2 Issue 1, 10.1186/1471-2415-2-3
Baratawidjaja, K. G. dan Rengganis, I. (2010). Imunologi Dasar Edisi IX Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit, FKUI.
Bauman, R. W. (2012). Microbiology With Diseases by Body System 3rd Edition.
San Fransisco: Perason Education, Inc., p. 382-401.
Bolen, D.W. (2001). Protein Stabilization by Naturally Occurring Osmolytes,
Protein Structure, Stability, and Folding Edited by Kenneth P. Murphy.
Humana Press Chapter 2 Vol 168.
Brooks, G. F., et al., (2007). Medical Microbiology, 24th Edition. Mc Graw Hill:
p. 501-6.
Chen, D., Kristensen, D. 2009. Opportunities and Challenges of Developing
Thermostable Vaccines. Expert Rev. Vaccines 8(5), 547-557.
Clemens, J., et al. (1999). Public Health Considerations for the Introduction of
New Rotavirus Vaccines for Infants: A Case Study of Tetravalent Rhesus
Rotavirus-based Reassortant Vaccine. Epidemiological Reviews Vol. 21
No.1 p. 24-42.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
65
Cortese, M. M. dan Parashar U. D. (2009). Prevention of Rotavirus
Gastroenteritis Among Infants and Children. Atlanta: Morbidity and
Mortality Weekly Report Vol. 58 No RR-2.
Dennehy, P. H. (2008). Rotavirus Vaccines: an Overview. Clinical Microbiology
Review, Jan. 2008, p. 198-208.
Desselberger, U. (2000). Pathogenesis and Animal Models In. Methods Molecular
Medicine, Rotaviruses Methods and Protocols edited by Gray, J. dan
Desselberger, U. NJ: Humana Press Vol. 34.
Dietz V, Galazka A, van Loon F, Cochi S. (1997). Factors Affecting the
Immunogenicity and Potency of Tetanus Toxoid: Implications for the
Elimination of Neonatal and Non-neonatal Tetanus as Public Health
Problems. Bull World Health Organ 1997; 75: 81-93 pmid: 9141753.
Food Review Indonesia. (2007). Teknologi Pembekuan Pangan. Food Review
Indonesia/Vol. II/No.7/Juli 2007.
Freshney R. I. (2005). Culture of Animal Cells, A Manual of Basic Technique. A
John Wiley & Sons, Inc., Publication.
Galazka, A., Milstien, J., Zaffran, M. (1998). Thermostability of Vaccines.
Geneva: WHO; WHO/GPV/98.07. p. 1-60.
Glass, et al. (2006). Rotavirus Vaccine: Current Prospect and Future Challenges.
Atlanta: Lancet 2006; Vol. 368, p. 323-332.
Hyser, J.M. dan Estes, M. K. (2008). Rotavirus Vaccines and Pathogenesis: 2008.
Houston: Curr Opin Gastroenterol. 2009 January ; 25(1): 36–43.
Hsiang, Ling Huang, et al. (2010). Trypsin-induced Proteome Alteration
During
Cell Subculture in Mammalian Cells. Journal of Biomedical
Science. http://www.jbiomedsci.com/content/17/1/36.
Huynh-Ba, Kim. (2009). Handbook of Stability Testing in Pharmaceutical
Development. Springer Science Business Media, LLC.
Jennette, J. C. dan Wick, M. R. (1988). Immunohischemical Techniques In.
Immunohistology in Diagnostic Pathology. CRC Press. Boca Raton, FL.
USA. p. 1-29.
Joint Committee on Vaccination and Immunisation (JCVI). (2008). Rotavirus
Vaccine.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
66
http://www.advisorybodies.doh.gov.uk/jcvi/Rotavirus_Subgroup_Minutes
_17_March 2008.pdf
Kang, G. (2006). Rotavirus Vaccines. Indian Journal of Medical Microbiology, 24
(4): 252-7.
Kayne, S. B. dan Jepson, M. H. (2004). Veterinary Pharmacy. London: The
Pharmaceutical Press.
Kobayashi, N., et al. (2007). Diversity of G-type and P-type of Human and Animal
Rotaviruses and It’s Genetic Background. A. Mendez-Vilas (Ed.):
Communicating Current Research and Educational Topics in Applied
Microbiology
Lund, Walter. (1994). The Pharmaceutical Codex 12th Edition. London: The
Pharmaceutical Press.
Mansoor O, Pillans PI. (1997). Vaccine Adverse Events Reported in New Zealand
1990-95. N Z Med J 1997; 110: 270-2 pmid: 9269289
Mather, Jennie P. (1998). Making Informed Choices: Medium, Serum, and Serumfree Medium. In: B. David, ed. Animal Cell Culture Methods. USA:
Academic Press, p. 20-21.
Mazur, Peter. (1984). Freezing of Living Cells: Mechanisms and Implications.
American Physiological Society (Cell Physiol.16), p. C125 – C142.
Mazur, Peter. (2004). Principles of Cryobiology, in: Life in The Frozen State,
Edited by Barry J. Fuller, et al. London: CRC Press.
McGuire, Jason dan Kupiec, T. C. (2007). Quality-control Analytical Methods:
The Quality of Sterility Testing. International Journal of Pharmaceutical
Compounding Vol. 11 No.1 January/February.
McMullan, Nial. (2009). Molecular Biology and Biotechnology Edited by John M.
Walker and Ralph Rapley, 5th Edition. Cambridge: The Royal Society of
Chemistry p. 338-340.
Milstien J, Kartoglu U, Zaffran M. (2006). Temperature Sensitivity of Vaccines.
Geneva: World Health Organization
Muldrew, K., et al. The Water to Ice Transition: Implications of Living Cells, in:
Life in The Frozen State, Edited by Barry J. Fuller, et al. London: CRC
Press.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
67
National Centre for Immunisation Research and Surveillance (NCIRS). (2009).
Vaccine Components. NCIRS Fact sheet: December 2009.
NPIGuide. (2002). Vaccines and How They Work. USA: NPI Reference Guide on
Vaccines and Vaccine Safety, p. 5-10.
Parashar U. D., et al. (1998). Rotavirus. Atlanta: Centers for Disease Control and
Prevention Vol. 4, No. 4.
PATH’s Rotavirus
Vaccine Program-An Accelerated Development
and
Introduction Plan (ADIP) supported by the GAVI Alliance. (2006). The
Development of Live, Attenuated Rotavirus Vaccines. Seattle: Program for
Appropriate Technology in Health.
Patton, J. T., et al. (2000). Virus Replication In. Methods Molecular Medicine,
Rotaviruses Methods and Protocols edited by Gray, J. dan Desselberger,
U. NJ: Humana Press Vol. 34.
Pikal, M. J. (1990). Freeze-drying of Proteins, Part II: Formulation Selection.
Biopharm, p. 26-30.
Procedings of the Sixth International Rotavirus Symposium. (2004). Rotavirus
and Rotavirus Vaccines. Mexico City.
Radji, M., et al. (2010). Molecular Characterization of Human Group A Rotavirus
from Stool Samples in Young Children with Diarrhea in Indonesia.
Southeast Asian J Trop Med Public Health, Vol. 41 No. 2 March 2010.
Robinson, J. P., Sturgis J., dan Kumar, G. L. (2009). Chapter 10:
Immunofluorescence, Immunohistochemical Staining Methods Fifth
Edition. California: Dako North America.
Saif, L. J. dan Ward, L. A. (2000). Pathogenesis and Animal Models In. Methods
Molecular Medicine, Rotaviruses Methods and Protocols edited by Gray,
J. dan Desselberger, U. NJ: Humana Press Vol. 34.
Soedijar, Ida L. dan Dharma, Dewa M. N. (2005). Instruksi Kerja Pengujian
Virologi, Review Rabies. Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat
Hewan (BBPMSOH).
Street, T.O., Bolen, D.W., Rose, G.D. (2006). A Molecular Mechanism for
Osmolyte-Induced Protein Stability. PNAS (13997-4002).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
68
Sultana, Yashmin. (2007). Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology,
Sterilization Methods and Principles. New Delhi-110062.
Waide, Ainley, and Waller, Paul J. (1994). Handbook of Pharmaseutical
Exipients (HOPE). 6th edition. Washington : American Pharmaseutical
Association.
Wang, Wei. (2000). Lyophilization and Development of Solid Protein
Pharmaceutical. International Journal of Pharmaceutical 203, p. 1-60.
Ward, Richard L., McNeal M. M., dan Steele A. D. (2008). Why does the World
Need Another Rotavirus Vaccine?. Therapeutics and Clinical Risk
Management 2008: 4(1) p. 49-63.
Willemer, H. (1992). Measurements of Temperature, Ice Evaporation Rates and
Residual Moisture Contents in Freeze-drying. Dev. Biol. Stand. 74. p.
123-34.
Wolff, Lena. (2009). Disertasi: Stabilisation and Characterisation of Protein and
Vaccine Formulation. Braunschweig, German: Universität CaroloWilhelmina.
World Health Organization (WHO). (1980). The Effects of Freezing on the
Appearance, Potency, and Toxicity of Adsorbed and Unadsorbed DTP
Vaccines. Wkly Epidemiol Rec 1980; 55: 385-92.
World Health Organization (WHO). (2006). Vaccines and Biologicals,
Temperature Sensitivity of Vaccines. Geneva, Switzerland.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
69
LAMPIRAN
Lampiran 1.
Data jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada tiap perlakuan
teknik freezing dan suhu penyimpanan selama 30, 60, 90, dan 120
hari
Hari ke-42 :
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing -70oC
Keterangan
Kontrol (+)
Rotavirus
2-8oC
-20oC
-70oC
A
B
C
D
E
F
G
H
1
>
>
>
>
>
>
>
>
2
>
>
>
>
>
>
>
>
3
>
>
>
>
>
>
>
>
4
>
>
>
>
>
>
>
>
5
>
>
>
>
>
>
>
>
6
>
>
>
>
>
>
>
>
7
>
>
>
>
>
>
>
>
8
>
>
>
>
>
>
>
>
9
>
>
>
>
>
>
>
>
10
>
>
25
67
34
53
47
36
11
1095
1650
12
-
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing -152oC
Keterangan
Kontrol (+)
Rotavirus
2-8oC
-20oC
-70oC
A
B
C
D
E
F
G
H
1
>
>
>
>
>
>
>
>
2
>
>
>
>
>
>
>
>
3
>
>
>
>
>
>
>
>
4
>
>
>
>
>
>
>
>
5
>
>
>
>
>
>
>
>
6
>
>
>
>
>
>
>
>
7
>
>
>
>
>
>
>
>
8
>
>
54
67
73
91
91
102
9
>
>
10
>
>
11
835
1895
12
-
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing menggunakan
nitrogen cair
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9 10
11
12
> 1925 Kontrol (+) A > > > > > > > > >
Rotavirus
B > > > > > > > > >
> 1665 C > > > > > > > > 77
2-8oC
D > > > > > > > > 81
E
>
>
>
>
>
>
>
>
>
39
-20oC
F
> > > > > > > > > 40
G > > > > > > > > 79
-70oC
H > > > > > > > > 51
-
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
70
Hari ke-60 :
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing -70oC
Keterangan
Kontrol (+)
Rotavirus
2-8oC
-20oC
-70oC
A
B
C
D
E
F
G
H
1
>
>
>
>
>
>
>
>
2
>
>
>
>
>
>
>
>
3
>
>
>
>
>
>
>
>
4
>
>
>
>
>
>
>
>
5
>
>
>
>
>
>
>
>
6
>
>
>
>
>
>
>
>
7
>
>
>
>
>
>
>
>
8
>
>
>
>
>
>
>
>
9
>
>
69
55
66
89
47
111
10
>
>
11
1270
1205
12
-
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing -152oC
Keterangan
Kontrol (+)
Rotavirus
2-8oC
-20oC
-70oC
A
B
C
D
E
F
G
H
1
>
>
>
>
>
>
>
>
2
>
>
>
>
>
>
>
>
3
>
>
>
>
>
>
>
>
4
>
>
>
>
>
>
>
>
5
>
>
>
>
>
>
>
>
6
>
>
>
>
>
>
>
>
7
>
>
>
>
>
>
>
>
8
>
>
>
>
>
>
>
>
9
>
>
52
61
>
>
>
>
10
>
>
39
57
40
46
11
1290
1740
12
-
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing menggunakan
nitrogen cair
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
>
> 1335 Kontrol (+) A > > > > > > > >
Rotavirus
B > > > > > > > >
>
> 2070 C > > > > > > > > 91
2-8oC
D > > > > > > > > 57
E > > > > > > > >
>
36
-20oC
F
> > > > > > > >
>
68
G
>
>
>
>
>
>
>
>
111
-70oC
H > > > > > > > > 91
-
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
71
Hari ke-90 :
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing -70oC
Keterangan
Kontrol (+)
Rotavirus
2-8oC
-20oC
-70oC
A
B
C
D
E
F
G
H
1
>
>
>
>
>
>
>
>
2
>
>
>
>
>
>
>
>
3
>
>
>
>
>
>
>
>
4
>
>
>
>
>
>
>
>
5
>
>
>
>
>
>
>
>
6
>
>
>
>
>
>
>
>
7
>
>
>
>
>
>
>
>
8
>
>
>
>
>
>
>
>
9
>
>
48
72
68
82
>
>
10
>
>
11
2190
1295
54
52
12
-
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing -152oC
Keterangan
Kontrol (+)
Rotavirus
2-8oC
-20oC
-70oC
A
B
C
D
E
F
G
H
1
>
>
>
>
>
>
>
>
2
>
>
>
>
>
>
>
>
3
>
>
>
>
>
>
>
>
4
>
>
>
>
>
>
>
>
5
>
>
>
>
>
>
>
>
6
>
>
>
>
>
>
>
>
7
>
>
>
>
>
>
>
>
8
>
>
>
>
>
>
>
>
9
>
>
>
>
>
>
>
>
10
>
>
19
33
39
25
>
>
11
980
1185
35
39
12
-
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing menggunakan
nitrogen cair
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9 10
11
12
> 2165 Kontrol (+) A > > > > > > > > >
Rotavirus
B > > > > > > > > >
> 2150 C > > > > > > > > 47
2-8oC
D > > > > > > > > 46
E
> > > > > > > > 72
-20oC
F
> > > > > > > > 94
G
>
>
>
>
>
>
>
>
61
-70oC
H > > > > > > > > 95
-
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
72
Hari ke-120 :
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing -70oC
Keterangan
Kontrol (+)
Rotavirus
2-8oC
-20oC
-70oC
A
B
C
D
E
F
G
H
1
>
>
>
>
>
>
>
>
2
>
>
>
>
>
>
>
>
3
>
>
>
>
>
>
>
>
4
>
>
>
>
>
>
>
>
5
>
>
>
>
>
>
>
>
6
>
>
>
>
>
>
>
>
7
>
>
>
>
>
>
>
>
8
>
>
>
>
>
>
>
>
9 10
11
>
> 2190
>
> 1190
34
63
> 37
> 100
> 32
> 61
12
-
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing -152oC
Keterangan
Kontrol (+)
Rotavirus
2-8oC
-20oC
-70oC
A
B
C
D
E
F
G
H
1
>
>
>
>
>
>
>
>
2
>
>
>
>
>
>
>
>
3
>
>
>
>
>
>
>
>
4
>
>
>
>
>
>
>
>
5
>
>
>
>
>
>
>
>
6
>
>
>
>
>
>
>
>
7
>
>
>
>
>
>
>
>
8
>
>
>
>
>
>
>
>
9
>
>
40
37
>
>
>
>
10
>
>
48
27
36
53
11
1765
1745
12
-
Jumlah sel MA104 yang ber-fluorescence pada teknik freezing menggunakan
nitrogen cair
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9 10
11
12
> 2190 Kontrol (+) A > > > > > > > > >
Rotavirus
B > > > > > > > > >
> 2045 C
>
>
>
>
>
>
>
>
39
2-8oC
D > > > > > > > > 90
E
> > > > > > > > 90
-20oC
F
> > > > > > > > 70
G > > > > > > > > 69
-70oC
H > > > > > > > > 81
-
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
73
Lampiran 2.
Contoh perhitungan yang digunakan pada penelitian
a. Persamaan (3.1)
Jumlah sel hidup : 80
Jumlah sel mati
:5
…………………(γ.1)
Nilai %V ≥ 90%, artinya hasil pasase tersebut baik.
b. Persamaan (3.2)
Diperoleh 10 mL suspensi sel.
Faktor pengenceran (satu per pengenceran) : 4x (20 µL sampel sel dalam 60 µL
pewarna trypan blue)
Penghitungan sel dilakukan pada kotak besar hemocytometer sebanyak 4 kotak
………………………………………………………………………...(γ.β)
80 x 104
8 x 105 sel/mL
Jumlah sel dalam 10 mL suspensi sel = 8 x 105 sel/mL x 10 mL = 8 x 106 sel
c. Persamaan (3.3)
Jumlah sel total pada 10 mL suspensi : 8 x 106 sel
Konsentrasi sel yang diinginkan
: 5 x 105 sel
Jumlah suspensi sel yang diperlukan untuk T-flasks ukuran luas 25 cm2 :
…………..……………….(γ.γ)
Media yang perlu ditambahkan = 10 mL – 0,625 mL = 9,375 mL
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
74
d. Persamaan (3.4)
Plate 96 well yang akan digunakan sebanyak 3 buah.
Jumlah sel total pada 10 mL suspensi : 8 x 106 sel
: 2,5 x 106 sel
Konsentrasi sel/plate
Akan dibuat volume sebanyak 10 mL/plate (100 µL x 100 well).
…(γ.4)
= 9,4 mL
Media yang perlu ditambahkan = 30 mL – 9,4 mL = 20,6 mL
e. Persamaan (3.5)
Pengenceran virus pada saat titrasi bertingkat :
Well pada nomor 1
: 1/4 (50 µL vaksin dalam 150 µL media)
Well pada nomor 2
:
M1 x V1 = M2 x V2
1/4 x 50 µL = M2 x 100
M2 = 1/8
Faktor pengenceran (satu per pengenceran) virus tiap well:
W1
W2
W3
W4
W5
W6
W7
W8
W9
W10 W11 W12
4
8
16
32
64
128
256
512
1024 2048 4096
-
Keterangan : W = nomor well
Pengenceran volume vaksin : 1/20 (50 µL dalam 1 mL vaksin)
Diperoleh jumlah sel yang ber-fluorescence sebanyak 90 pada well nomor 9.
⁄
……………………..…………(γ.5)
⁄
⁄
Konsentrasi atau titer rotavirus dalam well tersebut = 1,84 x 106 FCFU/mL.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
75
Lampiran 3.
Data perbandingan hasil pengolahan statistik repeated measures
yang dipisahkan sesuai dengan kelompok teknik freezing-nya pada
sediaan kandidat vaksin rotavirus.
a. Teknik Freezing -70oC
Tests of Between-Subjects Effects
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
Transformed Variable: Average
Source
Type III
df
Mean Square
F
Sig.
Sum of
Partial Eta
Squared
Squares
Intercept
922.324
1
922.324
14111.764
.000
1.000
Suhu Penyimpanan
.129
2
.064
.985
.469
.396
Error
.196
3
.065
Kesimpulan: Suhu penyimpanan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
potensi kandidat vaksin rotavirus dengan teknik freezing -70oC.
Pairwise Comparisons
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
(I) Storage
(J) Storage
Mean
Std. Error
Sig.
a
Difference (I-J)
90% Confidence Interval for
Difference
Lower Bound
2–8
-20
-70
a
Upper Bound
-20
-.159
.128
.303
-.459
.142
-70
-.152
.128
.320
-.453
.149
2–8
.159
.128
.303
-.142
.459
-70
.007
.128
.962
-.294
.307
2–8
.152
.128
.320
-.149
.453
-20
-.007
.128
.962
-.307
Based on estimated marginal means
a. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).
Kesimpulan: Suhu penyimpanan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
potensi rotavirus dengan teknik freezing -70oC. Vaksin dengan suhu penyimpanan
2 – 8oC memiliki potensi paling rendah dibandingkan suhu penyimpanan -20oC
dan -70oC.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
.294
76
Pairwise Comparisons
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
(I) Time
(J) Time
Mean
Std. Error
Sig.
a
90% Confidence Interval for
Difference (I-J)
Difference
Lower Bound
a
Upper Bound
42
60
.075
.120
.578
-.208
.358
42
90
.030
.049
.585
-.085
.145
42
120
.020
.082
.821
-.172
.212
60
90
-.045
.080
.613
-.233
.143
60
120
-.055
.081
.546
-.244
.135
90
120
-.010
.078
.909
-.193
.174
Based on estimated marginal means
a. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).
Kesimpulan: Waktu penyimpanan tidak berpengaruh secara signifikan, artinya
sediaan kandidat vaksin rotavirus dengan teknik freezing suhu -70oC pada suhu
penyimpanan manapun dapat mempertahankan kestabilan.
b. Teknik Freezing -152oC
Tests of Between-Subjects Effects
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
Transformed Variable: Average
Source
Type III Sum of
df
Mean Square
F
Sig.
Squares
Intercept
Partial Eta
Squared
893.388
1
893.388
77905.411
.000
1.000
Suhu Penyimpanan
.373
2
.186
16.251
.025
.915
Error
.034
3
.011
Kesimpulan: Suhu penyimpanan pada teknik freezing -152oC berpengaruh
terhadap potensi kandidat vaksin rotavirus.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
77
Pairwise Comparisons
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
(I) Storage
(J) Storage
Mean
Std. Error
Sig.
b
Difference (I-J)
90% Confidence Interval for
Difference
Lower Bound
2–8
-20
-70
b
Upper Bound
-.181
*
.054
.043
-.307
-.055
-.303
*
.054
.011
-.429
-.177
2–8
.181
*
.054
.043
.055
.307
-70
-.122
.054
.106
-.248
.004
*
.054
.011
.177
.429
-20
-70
2–8
.303
-20
.122
.054
.106
-.004
Based on estimated marginal means
*. The mean difference is significant at the .1 level.
b. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).
.248
Kesimpulan: Suhu penyimpanan pada suhu 2 – 8oC memiliki perbedaan yang
signifikan dengan suhu penyimpanan -20oC dan -70oC, dengan nilai potensi
paling rendah.
Pairwise Comparisons
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
(I) Waktu
(J) Waktu
Mean
Std. Error
Sig.
b
Difference (I-J)
90% Confidence Interval for
Difference
Lower Bound
42
42
60
90
b
Upper Bound
-.296
*
.012
.000
-.325
-.267
-.298
*
.054
.012
-.425
-.171
*
.064
.051
-.356
-.052
42
120
-.204
60
90
-.002
.066
.977
-.158
.153
60
120
.092
.073
.301
-.081
.264
90
120
.094
.051
.162
-.026
.213
Based on estimated marginal means
*. The mean difference is significant at the .1 level.
b. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).
Kesimpulan: Waktu penyimpanan antara 42 hari dengan 60 hari memiliki
perbedaan yang signifikan (juga terjadi antara 42 hari dengan 90 dan 120 hari),
namun antar hari berikutnya tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini
menunjukkan bahwa kandidat vaksin rotavirus dengan teknik freezing -152oC
pada suhu penyimpanan manapun masih dapat mempertahankan stabilitasnya.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
78
c. Teknik Freezing Nitrogen Cair
Tests of Between-Subjects Effects
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
Transformed Variable: Average
Source
Type III Sum of
df
Mean Square
F
Sig.
Partial Eta
Squares
Intercept
Squared
925.043
1
925.043
190810.673
.000
1.000
Suhu Penyimpanan
.122
2
.061
12.551
.035
.893
Error
.015
3
.005
Kesimpulan: Suhu penyimpanan berpengaruh signifikan terhadap potensi
kandidat vaksin rotavirus dengan teknik freezing menggunakan nitrogen cair.
Pairwise Comparisons
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
(I) Storage
(J) Storage
Mean
Std. Error
Sig.
b
Difference (I-J)
90% Confidence Interval for
Difference
Lower Bound
2–8
-20
-70
b
Upper Bound
-.128
*
.035
.035
-.210
-.046
-.167
*
.035
.017
-.248
-.085
2–8
.128
*
.035
.035
.046
.210
-70
-.038
.035
.352
-.120
.044
*
.035
.017
.085
.248
-20
-70
2–8
.167
-20
.038
.035
.352
-.044
Based on estimated marginal means
*. The mean difference is significant at the .1 level.
b. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).
Kesimpulan: Suhu penyimpanan pada suhu 2 – 8oC memiliki perbedaan yang
signifikan dengan suhu penyimpanan -20oC dan -70oC, dengan nilai potensi
paling rendah.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
.120
79
Pairwise Comparisons
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
(I) Waktu
(J) Waktu
Mean
Std. Error
Sig.
a
Difference (I-J)
90% Confidence Interval for
Difference
Lower Bound
a
Upper Bound
42
60
-.086
.061
.251
-.228
.057
42
90
-.056
.066
.461
-.212
.100
42
120
.017
.074
.831
-.157
.192
60
90
.030
.063
.665
-.117
.177
60
120
.103
.117
.444
-.173
.379
90
120
.073
.075
.404
-.104
.250
Based on estimated marginal means
a. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).
Kesimpulan: Waktu penyimpanan tidak berpengaruh secara signifikan, artinya
sediaan kandidat vaksin rotavirus dengan teknik freezing menggunakan nitrogen
cair pada suhu penyimpanan manapun dapat mempertahankan kestabilannya.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
80
Lampiran 4.
Data perbandingan hasil pengolahan seluruh data (tanpa pemisahan
kelompok) menggunakan analisis statistik repeated measures pada
sediaan kandidat vaksin rotavirus.
Pairwise Comparisons
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
(I) Storage
(J) Storage
Mean
Std. Error
Sig.
b
90% Confidence Interval for
Difference (I-J)
Difference
Lower Bound
2–8
-20
Upper Bound
-20
-.156
*
-70
-.207
*
.048
.002
-.295
-.120
2–8
.156
*
.048
.010
.069
.243
-70
-.051
.048
.309
-.139
.036
*
.048
.002
.120
.295
2–8
-70
b
.207
.048
.010
-.243
-.069
-20
.051
.048
.309
-.036
Based on estimated marginal means
*. The mean difference is significant at the .1 level.
b. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).
.139
Kesimpulan: Suhu penyimpanan pada suhu 2 – 8oC memiliki perbedaan yang
signifikan dengan suhu penyimpanan -20oC dan -70oC, dengan nilai potensi
paling rendah.
Pairwise Comparisons
Measure: Konsentrasi (FCFU/mL)
(I) Freezing
(J) Freezing
Mean
Std. Error
Sig.
a
Difference (I-J)
95% Confidence Interval for
Difference
Lower Bound
a
Upper Bound
-152
.098
.048
.070
.011
.185
LN
-.009
.048
.852
-.096
.078
-70
-.098
.048
.070
-.185
-.011
LN
-.107
.048
.051
-.194
-.020
-70
.009
.048
.852
-.078
.096
-70
-152
LN
-152
.107
.048
.051
.020
Based on estimated marginal means
*. The mean difference is significant at the .1 level.
b. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).
Kesimpulan: Teknik freezing suhu -152oC memiliki perbedaan yang signifikan
dengan teknik freezing -70oC dan nitrogen cair, dengan nilai potensi paling
rendah.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
.194
81
Lampiran 5.
Grafik konsentrasi rotavirus terhadap teknik freezing dan suhu
penyimpanan pada tiap waktu penyimpanan
Grafik konsentrasi rotavirus terhadap teknik freezing dan suhu penyimpanan pada
waktu pengamatan 42 hari
Grafik konsentrasi rotavirus terhadap teknik freezing dan suhu penyimpanan pada
waktu pengamatan 60 hari
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
82
Grafik konsentrasi rotavirus terhadap teknik freezing dan suhu penyimpanan pada
waktu pengamatan 90 hari
Grafik konsentrasi rotavirus terhadap teknik freezing dan suhu penyimpanan pada
waktu pengamatan 120 hari
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Download