654 SENASPRO 2016 | Seminar - Research Report

advertisement
MODEL JEJARING PENGUATAN MODAL SOSIAL
MASYARAKAT ETNIS TIONGHOA-JAWA
MELALUI KONSTRUKTIF- PRODUKTIF MENUJU INTEGRASI BANGSA
1)
Juli Astutik 2)Rinikso Kartono 3)Su’adah
Dosen Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang
E-mail : 1) [email protected] 2)[email protected] 3)[email protected]
Abstrak
Penelitian ini didasari oleh pemikiran bahwa masyarakat Indonesia dengan latar belakang suku,
agama dan ras yang berbeda tentunya memiliki karakteristik yang berbeda pula dalam bersikap
dan berperilaku, dimana perbedaan tersebut berpotensi untuk menimbulkan terjadinya konflik
secara baik secara manifes maupun laten. Dalam rangka mengantisipasi terjadinya konflik tersebut
dibutuhkan adanya penguatan modal sosial yang berbasis konstruktif – produktif.. Penguatan
modal sosial merupakan unsur terpenting dalam pembangunan nasional, khususnya yang
menyangkut permasalahan integrasi bangsa. Modal sosial dengan unsur-unsurnya yaitu
kepercayaan (trust), nilai (value) dan jaringan (networks), dan didalamnya yang menjadi
kolaborasi (koordinasi dan kooperasi) sosial dalam upaya mengantisipasi terjadinya konflik
melalui keikutsertaan secara bersama-sama dari berbagai elemen masyarakat tidak memandang
usia, jenis kelamin, suku, ras dan agama, yang merupakan fondasi dasar sebagai modal untuk
keberlangsungan hidup dan kehidupan masyarakat mencapai tujuan bersama. Penelitian ini
merupakan penelitian multi years (3 tahun). Tujuan penelitian tahun pertama ini adalah : (1)
mendiskripsikan faktor-faktor yang mendukung bauran Etnis Tionghoa-Jawa. (2) Bentuk
Modal Sosial bauran masyarakat etnis Tionghoa Jawa, dan 3) Model jejaring penguatan
modal sosial masyarakat etnis Tionghoa – melalui konstruktif- produktif menuju integrasi
bangsa. Penelitian tahun pertama ini dilakukan di Kota Malang, dengan pendekatan penelitian
kualitattif. Subyek penelitiannya ditetapkan secara purporsive. Metode pengumpulan data
dilakukan dengan observasi, interview dan Focus Group Discussion (FGD). Adapun tehnik
analisa data secara kualitatif dengan model interactive. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh
data bahwa : A). Faktor yang mendukung bauran etnis Tionghoa-Jawa adalah : 1) kebudayaan, 2)
struktural, 3) perkawinan, 4) identifikasi, 5) sikap, 6) perilaku dan 7) civic, sedangkan B). bentukbentuk modal sosial bauran etnis Tionghoa-Jawa adalah : 1). Kedekatan-Kepercayaan , 2)
Toleransi, 3). Kepedulian sosial, dan 4). Kebersamaan, melalui : bahasa, budaya, pendidikan dan
identitas. C). penguatan modal sosial bauran etnis Tionghoa-Jawa melalui konstruktiff-produktif
menuju integrasi bangsa dilakukan dengan : 1) Menumbuhkan dan meningkatkan Kepercayaan,
2) Penenaman Nilai/Norma bersama sebagai bagian dari warga masyarakat Kota Malang dan 3)
membentuk jejaring kerjasama antaraberbagai elemen masyarakat dalam satu forum bernama
Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB). yang dalam perkembangannya forum
tersebut menjadi model jejaring penguatan modal sosial masyarakat etnis Tionghoa-Jawa melalui
konstruktiff-produktif menuju integrasi bangsa. Forum ini bukan hanya sebagai media komunikasi
antar umat beragama, namun juga sebagai media komunikasi dan interaksi antar etnis dalam hal
ini etnisTionghoa (non muslim) dan Jawa (muslim) di Kota Malang.
Kata kunci : Model Jejaring, Penguatan Modal Sosial, Konstruktif - Produktif , Integrasi Bangsa
PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia terdiri dari beranekaragam suku bangsa dengan bermacammacam adat istiadat dan kebudayaan. Dengan adanya perbedaan ras inilah, maka dikenal adanya
654
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
golongan masyarakat pendatang ataupun keturunan asing (non- pribumi) dan masyarakat pribumi.
Keanekaragaman ini tidak hanya pada adat istiadat, kebiasaan dan kebudayaan saja
melainkan juga terdapat keanekaragaman ras/suku bangsa. Keanekaragaman tersebut diwarnai
dengan kuantitas masyarakat yang bersifat heterogen yang hidup tersebar di seluruh penjuru
tanah air. Kondisi ini secara positif sangatlah menguntungkan Bangsa Indonesia karena akan
menambah khasanah kekayaan bangsa terhadap corak dan variasi dari sudut pandang
antropologis, maupun sosiologis, namun disisi lain terdapat dampak negative yang tidak dapat
dihindari, yaitu munulnya rasipalisme (mengagungkan ras-nya) yang sering memicu terjadinya
konflik (Herlina Astari,2011:229).
Minnery (dalam Herlina Astari, 2011:231) mengemukakan bahwa konflik sebagai interaksi
antara 2 orang atau lebih
pihak yang satu sama lain saling bergantung, namun
terpisahkan oleh perbedaan tujuan dimana keduanya menyadari perbedaan tersebut, hal ini
berarti satu pihak bermaksud untuk mencelakakan atau berusaha menyingkirkan pihak lainnya,
Untuk itulah dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan serta keutuhan bangsa perlu
dilakukan “pembauran” disegala bidang kehidupan.
Berdasarkan hal tersebut diatas, terlihat adanya dua masalah pokok dalam hubungan antara
etnis Tionghoa dengan etnis lain. Pertama, meskipun etnis Tionghoa telah mendapatkan
pengakuan secara resmi dari Negara dan dilindungi hal-haknya dari diskriminasi, namun pada
tataran empirik, sentimen dan stereotip kepada etnik Tionghoa tidaklah hilang. Kondisi ini
dikhawatirkan menyimpan potensi konflik, yang ibarat gunung es setiap saat dapat meledak.
Kedua, kondisi saat ini juga memberikan peluang tentang penguatan modal sosial bagi
terbentuknya hubungan masyarakat yang harmonis dan terintegrasi. Beberapa komunitas
Tionghoa di Surabaya dan Malang menunjukkan bahwa konflik antar etnis Tionghoa dan etnis
Jawa tidak terjadi. Ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat tersebut memiliki modal sosial
yang cukup untuk membentuk sebuah masyarakat yang harmonis. Berdasarkan hal tersebut maka
penelitian ini sangat berguna untuk membangun kohesi sosial di Indonesia, khususnya etnis Jawa
dan Etnis Tionghoa. Untuk jangka panjang penelitian ini diharapkan dapat menyelesaikan
persoalan diharmoni sosial, seperti konflik baik manifest maupun laten, seperti yang terjadi di
Solo, kota yang pertama kali muncul peristiwa rasial anti Cina. Puncaknya pada Tragedi Mei
1998, dimana konflik antara etnis Jawa dan Tionghoa terus terjadi dan berulang yang disertai
dengan amukan masa dan tindakan anarkis seperti: pembakaran, penjarahan, kekerasan dan
pemerkosaaan terhadap perempuan Tionghoa, pengrusakan, pelemparan bom oleh masa yang
membabi buta menghancurkan Kota Solo. Berbagai bangunan yang dianggap “berbau Tionghoa”
dirusak, dibakar dan dijarah. Maka apabila persoalan pergesekan sosial ini dapat diatasi,
maka kerukunan dan harmoni sosial bangsa dapat terjaga.
Adapaun luaran yang ditargetkan dari penelitian ini adalah menghasilkan temuan
tentang : 1). Faktor yang mendukung bauran masyarakat etnis Tionghoa-Jawa, 2) bentuk-bentuk
modal sosial bauran etnis Tionghoa-Jawa dan 3). Model jejaring penguatan modal sosial bauran
etnis Tionghoa-Jawa melalui konstruktiff-produktif menuju integrasi bangsa
Penelitian ini merupakan tindaklanjut dari penelitian sebelumnya tentang penguatan modal
sosial masyarakat bauran etnis Tionghoa-Jawa berbasis partisipasi holistik dalam rangka
mengantisipasi terjadinya konflik di Kota Malang.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Modal sosial
Modal sosial atau social capital merupakan kemampuan masyarakat untuk bekerja
bersama, demi mencapai tujuan bersama dalam berbagai kelompok. Secara umum terdapat 3 (tiga)
unsur utama modal sosial yaitu : 1) kepercayaan (Trust), 2) Nilai (Value), dan 3) Jejaring
(Networking) yang dapat mendorong seseorang untuk bekerjasama dengan orang lain untuk
memunculkan aktivitas maupun tindakan bersama yang produktif.
Fukuyama (2002)
menyebutkan trust sebagai harapan terhadap keteraturan, kejujuran, perilaku kooperatif yang
muncul dari dalam komunitas yang berdasarkan pada nilain/norma yang dianut bersama anggota
55
komunitas tersebut.
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
655
Modal sosial (social capital) merupakan satu terminologi baru yang dikembangkan oleh
ahli-ahli sosial untuk memperkaya pemahaman kita tentang masyarakat dan komunitas. Modal
sosial menjadi khasanah perdebatan yang menarik bagi ahli-ahli sosial dan pembangunan
khususnya awal tahun 1990-an. Teori tentang modal sosial ini pada awalnya dikembangkan oleh
seorang sosiolog Perancis bernama Pierre Bourdieu, dan oleh seorang sosiolog Amerika Serikat
bernama James Coleman. Bourdieu menyatakan ada tiga macam modal, yaitu modal uang,
modal sosial, dan modal budaya, dan akan lebih efektif digunakan jika diantara ketiganya ada
interaksi sosial atau hubungan sosial. Modal sosial dapat digunakan untuk segala kepentingan,
namun tanpa ada sumber daya fisik dan pengetahuan budaya yang dimiliki, maka akan sulit bagi
individu-individu untuk membangun sebuah hubungan sosial. Hubungan sosial hanya akan
kuat jika ketiga unsur diatas eksis (Hasbullah, 2004:9).
Menurut Robert Lawang, modal sosial menunjuk pada semua kekuatan kekuatan sosial
komunitas yang dikontruksikan oleh individu atau kelompok dengan mengacu pada struktur sosial
yang menurut penilaian mereka dapat mencapai tujuan individual dan/atau kelompok secara
efisien dan efektif dengan modal-modal lainnya
(Lawang, 2004:24). Konsep modal sosial menawarkan betapa pentingnya suatu hubungan.
Dengan membagun suatu hubungan satu sama lain, dan memeliharanya agar terjalin terus, setiap
individu dapat bekerjasama untuk memperoleh hal-hal yang tercapai sebelumnya serta
meminimalisasikan kesulitan yang besar. Modal sosial menentukan bagaimana orang dapat
bekerja sama dengan mudah.
B. Unsur-Unsur Modal Sosial
Blakeley dan Suggate, dalam Suharto (2007) menyatakan bahwa unsur - unsur modal
sosial adalah: (1) Kepercayaan, tumbuhnya sikap saling percaya antar individu dan antar
institusi dalam masyarakat; (2) Kohesivitas, adanya hubungan yang erat dan padu dalam
membangun solidaritas masyarakat; (3) Altruisme, paham yang mendahulukan kepentingan
orang lain ; (4) Perasaan tidak egois dan tidak individualistik yang mengutamakan
kepentingan umum dan orang lain di atas kepentingan sendiri; (5) Gotong - royong, sikap
empati dan perilaku yang mau menolong orang lain dan bahu-membahu dalam melakukan
berbagai upaya untuk kepentingan bersama; dan (6) Jaringan, dan kolaborasi sosial,
membangun hubungan dan kerjasama antar individu dan antar institusi baik di dalam komunitas
sendiri/ kelompok maupun di luar komunitas/kelompok dalam berbagai kegiatan yang
memberikan manfaat bagi masyarakat.
Hasbullah (2006) mengetengahkan enam unsur pokok dalam modal sosial berdasarkan
berbagai pengertian modal sosial yang telah ada, yaitu:
(1). Participation in a network
Kemampuan sekelompok orang untuk melibatkan diri dalam suatu jaringan hubungan
sosial, melalui berbagai variasi hubungan yang saling berdampingan dan dilakukan atas dasar
prinsip kesukarelaaan (voluntary), kesamaan (equality), kebebasan (freedom), dan ke-adab-an
(civility). Kemampuan anggota kelompok atau anggota masyarakat untuk selalu menyatukan diri
dalam suatu pola hubungan yang sinergis akan sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kuat
tidaknya modal sosial suatu kelompok.
(2).Reciprocity
Kecenderungan saling tukar kebaikan antar individu dalam suatu kelompok atau antar
kelompok itu sendiri. Pola pertukaran terjadi dalam suatu kombinasi jangka panjang dan jangka
pendek dengan nuansa altruism tanpa mengharapkan imbalan. Pada masyarakat dan kelompokkelompok sosial yang terbentuk yang memiliki bobot resiprositas kuat akan melahirkan suatu
masyarakat yang memiliki tingkat modal sosial yang tinggi.
656
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
(3). Trust
Suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan-hubungan sosialnya yang
didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan
dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung. Paling tidak,
yang lain tidak akan bertindak merugikan diri dan kelompoknya (Putnam, 1993). Tindakan
kolektif yang didasari saling percaya akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
berbagai bentuk dan dimensi terutama dalam konteks kemajuan bersama. Hal ini memungkinkan
masyarakat untuk bersatu dan memberikan kontribusi peningkatan modal sosial.
(4). Social norms
Sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh masyarakat dalam suatu
entitas sosial tertentu. Aturan-aturan ini biasanya ter-institusionalisasi, tidak tertulis tapi dipahami
sebagai penentu pola tingkah laku yang baik dalam konteks hubungan sosial sehingga ada sangsi
sosial yang diberikan jika melanggar. Norma sosial akan menentukan kuatnya hubungan antar
individu karena merangsang kohesifitas sosial yang berdampak positif bagi perkembangan
masyarakat. Oleh karenanya norma social disebut sebagai salah satu modal sosial.
(5). Values
Sesuatu ide yang telah turun temurun dianggap benar dan penting oleh anggota kelompok
masyarakat. Nilai merupakan hal yang penting dalam kebudaya - an, biasanya ia tumbuh dan
berkembang dalam mendominasi kehidupan kelompok masyarakat tertentu serta mempengaruhi
aturan-aturan bertindak dan berperilaku masyarakat yang pada akhirnya membentuk pola cultural.
(6). Proactive action
Keinginan yang kuat dari anggota kelompok untuk tidak saja berpartisipasi tetapi senantiasa
mencari jalan bagi keterlibatan anggota kelompok dalam suatu kegiatan masyarakat. Anggota
kelompok melibatkan diri dan mencari kesempatan yang dapat memperkaya hubungan hubungan sosial dan menguntung - kan kelompok. Perilaku inisiatif dalam mencari informasi
berbagai pengalaman, memperkaya ide, pengetahuan, dan beragam bentuk inisiatif lainnya baik
oleh individu mapun kelompok, merupakan wujud modal sosial yang berguna dalam membangun
masyarakat.
C. Parameter dan Indikator Modal Sosial
Modal sosial menunjuk pada jaringan, norma dan kepercayaan yang berpotensi
pada produktivitas masyarakat, namun demikian modal sosial berbeda dengan modal
finansial. Hal ini dikarenakan modal sosial bersifat komulatif dan bertambah dengan sendirinya
(self reinforcing) (Putnam,1993).
Terdapat 3 parameter modal sosial, yaitu : Kepercayaan (trust) Nilai(Value) dan
jaringan (networks).
1. Kepercayaan
Kepercayaan merupakan harapan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat yang
ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur dan kerjasama berdasarkan nilai yang dianut
bersama (Fukuyama,1995). Kepercayaan sosial pada dasarnya merupakan produk dari modal
sosial yang baik, dimana adanya modal sosial yang baik ditandai dengan adanya lembaga
sosial yang kokoh, dan melahirkan kehidupan sosial yang harmonis (Putnam,1995).
57
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
657
2. Nilai Sosial
Norma terdiri dari pemahaman, nilai, harapan dan tujuan yang diyakini dan dijalankan
bersama oleh sekelompok orang. Norma dapat bersumber dari agama, panduan moral maupun
standar sekuler seperti halnya kode etik profesional. Norma tersebut menjadi standart yang
akan berperan untuk mengatur dan mengontrol perilaku masyarakat. Norma dapat merupakan
pra-kondisi maupun produk dari kepercayaan sosial.
Nilai merupakan suatu ide yang turun temurun dianggap benar dan penting oleh sekelompok
masyarakat. Nilai selalu berperan penting dalam kehidupan bermesyarakat, nilai akan
membedakan mana yang benar dan salah, apa yang baik dan buruk.
3. Jaringan
Masyarakat pada dasarnya bersifat dinamis selalu berhubungan dengan masyarakat lainnya
melalui interaksi dan berbagai macam hubungan, yang terjalin secara sukarela, saling
berdampingan, kesamaan, kebebasan serta keadaban. Jaringan biasanya terjalin dengan
diwarnai oleh satu tipologi dengan karakteristik kelompok. Kelompok biasanya terbentuk
secara tradisional atas dasar kesamaan garis keturunan, pengalaman serta kesamaan
kepercayaan.
Ide sentral dari modal sosial adalah bahwa jaringan-jaringan sosial merupakan suatu aset yang
bernilai (Field, 2005:16) jaringan- jaringan menyediakan suatu basis bagi kohesi sosial
karena menyanggupkan orang untuk bekerjasama satu sama lain dan bukan hanya dengan
orang yang mereka kenal secara langsung agar saling menguntungkan. Masyarakat yang sehat
cenderung memiliki jaringan sosial yang kokoh. Jaringan sosial yang erat akan memperkuat
perasaan kerjasama para anggotanya serta manfaat dari partisipasinya itu (Putnam, 1995).
D. Integrasi Sosial
Integrasi berasal dari bahasa inggris "integration" yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan.
Integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur- unsur yang saling
berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang
memilki keserasian fungsi. Ini menunjukkan bahwa integrasi adalah suatu keadaan dimana
kelompok- kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan
mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masingmasing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu : (1) Pengendalian terhadap konflik
dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu; (2) Membuat suatu
keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu. Integrasi terbagi dalam dua sisi, di sisi
makro adalah fungsional struktural dan teori konflik, sedangkan di sisi mikro adalah
teori interaksionisme simbolik, teori etnometodologi, teori pertukaran, dan teori rasional.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan mempergunakan pendekatan kualitatif, jenis deskriptif,
dengan lokasi Penelitian di Jawa Timur, Tahun pertama dilakukan di Kota Malang, dan tahun ke
2 akan dilakukan di Kota Sidoarjo dan Surabaya. Ditetapkannya lokasi penelitian di kota-kota
tersebut dengan pertimbangan bahwa : 1) jumlah penduduk
etnis Tionghoa relative tinggi
dibandingkan dengan kota lain di Jawa Timur, 2) Merupakan kota yang identik dengan kota
industri dan kota pariwisata, sehingga model penguatan modal sosial bagi masyarakat Jawa –
Tionghoa melalui konstruktive-produktive akan terjadi, dan 3) Tidak pernah terjadi konflik yang
menimbulkan pergolakan yang ekstrim berkaitan dengan interaksi dua etnis di kota-kota tersebut.
Adapun subyek dalam penelitian ini adalah tokoh masyarakat, pimpinan daerah, mahasiswa
dari Etnis Jawa-Tionghoa di Kota Malang. Adapun tehnik pengumpulan data dilakukan dengan
observasi, indepth interview dan Focus Group Discussion (FGD). Dalam penelitian kualitataif,
pengumpulan data tidak dipandu oleh teori, tetapi dipandu oleh fakta-fakta yang ditemukan pada
saat penelitian di lapangan (Sugiyono, 2011:3). Penelitian ini berusaha mengungkap makna
dibalik peristiwa/fenomena. Teknik analisa data dilakukan dengan model interactive, dengan
tahapannya: 1) Reduksi data, 2) Display data dan 3) Conclution drawing, (miles dan Huberman
658
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
dalam Sugiyono,2006:46). Karena model analisa datanya menggunakan model inteaksi, maka
tidak menutup kemungkinan peneliti akan melakukan pengulangan dalam penggalian data. Dalam
arti jika informasi/data yang didapatkan belum mencukupi, maka peneliti akan melakukan
pengumpulan data kembali untuk kemudian dianalisia sesuai dengan tahap analisa selanjutnya
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Masyarakat Kota Malang
Masyarakat Kota Malang cenderung akomodatif dan terbuka serta menghargai perbedaan.
Masyarakat Kota Malang lebih dikenal tidak suka basa basi, jika tidak senang mereka akan
mengungkapkannya. Masyarakat Malang termasuk dalam kategori masyarakat yang sportif,
berani karena benar, tegas, pantang menyerah, mudah memaafkan terhadap siapa saja yang telah
mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya.
Bahasa yang dipergunakan sehari-hari adalah bahasa Jawa (ngoko), namun lebih halus
dibandingkan dengan bahasa Jawa ngoko yang dipergunakan oleh masyarakat Surabaya. Dalam
pergaulan
dikenal adanya bahasa gaul anak Malang (AREMA), yaitu bahasa walik-an
Ngalam.
Sesuai dengan Visi, Misi Kota Malang dibawah komando Wali Kota Malang H.Anton
(Wali Kota terpilih dari Etnis Tionghoa yang diusung oleh Partai Kesatuan Bangsa (PKB), adalah
“Menjadikan Kota Malang sebagai Kota Bermartabat”. Istilah Martabat menunjuk pada harga diri
kemanusiaan, yang memiliki arti kemuliaan. Sehingga, dengan visi ‘Menjadikan Kota Malang
sebagai Kota BERMARTABAT’ diharapkan dapat terwujud suatu kondisi kemuliaan bagi Kota
Malang dan seluruh masyarakatnya. Hal ini adalah penerjemahan langsung dari konsep Islam
mengenai baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negeri yang makmur yang diridhoi oleh Allah
SWT). Selain itu, visi BERMARTABAT dapat menjadi akronim dari beberapa prioritas
pembangunan yang menunjuk pada kondisi-kondisi yang hendak diwujudkan sepanjang
periode 2013-2018, yakni: Bersih, Makmur, Adil, toleransi dalam beragama (Religious- tolerant),
Terkemuka, Aman, Berbudaya, Asri, dan Terdidik. Religious-tolerant, Terwujudnya masyarakat
yang religius dan toleran adalah kondisi yang harus terwujudkan sepanjang 2013-2018. Dalam
masyarakat yang religius dan toleran, semua warga masyarakat mengamalkan ajaran agama
masing-masing ke dalam bentuk cara berpikir, bersikap, dan berbuat. Apapun bentuk perbedaan di
kalangan masyarakat dihargai dan dijadikan sebagai faktor pendukung pembangunan daerah.
Sehingga, dengan pemahaman religius yang toleran, tidak akan ada konflik dan pertikaian antar
masyarakat yang berlandaskan perbedaan SARA di Kota Malang.
B. Faktor Pendukung Bauran Etnis Tinghoa – Jawa di Kota Malang.
Secara general faktor pendukung bauran etnis Jawa-Tionghoa dapat didiskripsi berdasarkan
kerangka 7 bentuk asimilasi yang dikemukakan oleh Milton Gorgon (dalam paulus
Haryono,2006:110), meliputi :
1. Kebudayaan
Kebudayaan memiliki arti penting bagi masyarakat atapun kelompok etnis, karena
kebudayaan mencirikan karakteristik secara specific atau merupakan jati diri masyarakat itu sendiri
atau dengan kata lain kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, sehingga dapat
dikatakn bahwa kebudayaan merupakan jiwa dari masyarakat.
Bauran kebudayaan termasuk di dalamnya aktivitas/kegiatan social antara etnis Jawa
Tionghoa dapat dilihat pada aktivitas pelestarian seni Jawa (Gamelan dan pementasan Wayang
kulit) di Klenteng Eng An Kiong. Bapak Rudi (sekretaris umum pengurus Klentang)
mengemukakan bahwa :
“Klenteng Eng An Kiong memiliki program kegiatan yang banyak, dimana dalam implementasinya 59
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
659
bukan hanya melibatkan etnis Tinghoa semata, namun juga melibatkan pemuda dan
masyarakat sekitar yang mau membantu, seperti kebudayaan “Barongasai” itu yang
memainkannya adalah pemuda-pemuda dari Jawa. Di bidang budaya pun kami memiliki
program pelestarian budaya, yakni setiap hari selasa selalu ada kursus Gamelan, dan hari
kamis tarian tradisional jawa yang gurunya adalah orang cina dan persertanya anak-anak
jawa”.
Klenteng Eng An Kiong juga memiliki tradisi rutin setiap tahun, seperti yang disampaikan
oleh Bunsu Anton Triyono (Humas Yayasan Klenteng Eng An Kiong), sebagai berikut :
“Setiap tahun di sini (Klenteng) diadakan kegiatan King Hoo Ping (sedekah bumi), dimana
kegiatan ini merupakan acara untuk mendoakan para sahabat serta mendoakan agar arwah yang
telah terputus keturunannya tetap menerima iman dan berkah. Menurutnya bentuk sedekah bumi
tahun ini diwujudkan dengan pembagian sembako sebanyak 11.500 paket dengan sasaran
saudara-saudara yang membutuhkan yang berada di sekitar Klenteng. Selanjutnya beliau
menjelaskan bahwa sedekah bumi ini merupakan ritual yang dilakukan secara turun temurun oleh
para leluhur kami , hingga sekarangpun itu tetap menjadi kewajiban kami sebagai umat Kong Hu
Chu, Tao dan Budha Mahayan, namun dalam perkembangannya sekarang ini batasan itu telah
dihapuskan dan sudah tidak terikat pada agama tertentu. Oleh karena itu kita sekarang
memberikan sembako kepada siapa saja yang memang membutuhkan tanpa memandang suku, ras,
agama dan golongan”.
Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa begitu antuasiaanya masyarakat Kota
Malang untuk mendapatkan sembako, bahkan sejak jam 06.00 warga masyarakat sudah banyak
berdatangan ke Klenteng tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari berbagai aktivitas
masyarakat kedua etnis sudah tidak ada lagi batas-batas dengan jelas, bahkan antar keduanya
menunjukkan keterkaitan, saling berhubungan satu sama lain. Selain peringatan sedekah bumi,
terdapat aktivitas Klenteng Eng An Kiong yang dilakukan secara rutin di bulan Puasa. seperti yang
disampaikan oleh Bpk Rudi, sebagai berikut :
“Setiap bulan Puasa tiba, mulai puasa hari pertama sampai dengan terakhir, kita juga ikut
berpartisipasi dengan memberikan makanan ta’jil gratis bagi pengendara yang melewati di depan
Klenteng tersebut selama sebulan penuh, kami senang melakukannya, kami melakukan semuanya
itu dengan hati yang tulus”.
Aktivitas tersebut sebenarnya bukan merupakan kewajiban utama, namun semua itu
dilakukan sebagai bentuk saling menghormati dan menghargai aktivitas keagamaan di luar agama
yang dianut oleh etnis Tionghoa. Ada niatan etika baik untuk membaurkan diri menjadi bagaian
dari mayoritas masyarakat yang ada.
2. Struktural
Struktur atau posisi seseorang sangat menentukan dalam keberlkangsungan proses interkasi
sosial. Paulus Hardjo (2006:124) mengemukakan bahwa salah satu indikasi telah berlangsungnya
proses asimilasi yang baik adalah ditemuinya orang-orang dari etnis minoritas berkarya dalam
bidang aktivitas yang didominasi oleh kelompok mayoritas begitu pula sebaliknya.
Pada etnis Tionghoa harga diri yang tinggi bertitik tolak dari ligkup keluarga sebagai jantung
kebudayaannya.
Bapak R.Candra mengemukakan bahwa : “Pada etnis Tionghoa lazimnya naka-anak mereka
itu melanjutkan mengurus perusahaan keluarga, seperti saya sekarang ini sudah tidak boleh anak
saya untuk mengurusi pabrik lagi, bapak R. Candra memiliki pabrik plastic terbesar di Jawa
Timur. Dan perusahaan ini sekarang dijalankan oleh anak saya. Sebenarya anak-anak lebih
mandiri dan dengan ilmunya bisa mempredeksi sekaligus memplening kemungkinan yang akan
dilakukan dalam menghadapi persaingan global.Dan ternyata betul, dia bisa melakukan
perubahan besar-besaran pada perusahaan dengan prinsip ekonomi dan penerapan tehnologi
modern. Ada teman saya yang perusahaannya di Indonesia, tetapi dia mengendalikannya cukup
dengan menekan tombol dengan posisi dia ada di luar negeri, itu kan sudah canggih betul. Dan
hasil keuntungannya jauh lebih besar , rasional dan sangat menguntungkan”
660
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
Diakui sepenuhnya bahwa hampir seluruh etnis Tionghoa di Indonesia yang bekerja di
luar perusahaan keluarga, mereka pada umumnya bekerja di sektor per-bankan atau perusahaan
swasta yang notabene hampir semua pekerja dari etnis yang sama (Tionghoa) dan lebih
menguntungkan secara ekonomis.
Keterlibatan etnis Tionghoa dalam politik bukan menjadi suatu yang aneh, mengingat tokoh
nasional dari etnis ini pada masa pemerintahan presiden Megawati Sukarni Putri sudah ada yaitu
Lie Kwian Gie. Begitu juga partisipasi politk etnis Tionghoa di Kota Malang telah berhasil
memposisikan etnis Tionghoa ini menjadi orang nomor 1 yaitu Bapak H. Moh Anton (etnis
Tionghoa) sebagai Walikota Malang terpilih perione 2014-2019.
Secara ideal asimilasi structural seharusnya tidak menjadi masalah. Namun realita
mengatakan lain, masalah yang muncul dalam bauran structural adalah masih banyaknya
masyarakat Jawa yang membutuhkan lapangan kerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), apalagi
masih banyak PNS saat ini yang masih berstatus honorer. Etnis Tionghoa yang masuk dalam dunis
kerja sebagai PNS
jelas
akan
menimbulkan
kecemburuan
sosial
(Paulus
Hardjo,2006:130). Etnis Tioghoa dianggap mampu bekerja di bidang swasta.
Berkaitan dengan bauran structural tersebut tidak menutup kemungkinan etnis Tionghoa
tersebut berpartisipasi sepenuhnya mengabdikan dirinya dalam struktur pemerintahan paling
bawah,seperti sebagai ketua RT. Seperti yang diamanahkan kepada Bapak Soni (etnis Tionghoa,
keturunan) yang mengabdikan dirinya menjadi ketua RT. Ini membuktikan bahwa keterlibatan
tnis Tionghoa dalam structural di tingkat RT tersebut menunjukkan bahwa bauran dalam
struktur sudah dilakukan dan terjadi . Keterlibatan etnis Tionghoa dalam kegiatan di tingkat RT
sudah mendapatkan pengakuan dan kepercayaandari warga setempat.
3. Perkawinan
Didik (dalam Paulus,2006:135) mengemukakan bahwa perkawinan adalah hal yang sakral
sehingga perkawinan antar etnis yang berbeda tidak merupakan masalah sepanjang didasari oleh
rasa cinta kasih yang tulus. Keluarga yang tumbuh dari hasil perkawinan tersebut diharapkan dapat
menghasilkan asimilasi positif antar etnis. Harus diakui bahwa asimilasi melalui perkawinan masih
banyak menghadapi kendala karena masih ada perbedaan tata nilai serta kecenderungan pandangan
apriori dari keluarga dan masyarakat dari kedua belah pihak. Etnis Tionghoa memandang bahwa
marganya tinggi, bila pihak laki-laki beretnis Cina tidak masalah, tetapi kalau pihak perempuannya
etnis Tionghoa maka keluarga besar pihak perempuan khawatir kalau anak perempuan itu akan
ditinggal menikah lagi dengan orang lain. Hal ini didasari oleh adanya anggapan dari etnis
Tionghoa bahwa masyarakat Jawa khususnya yang beragama Islam, umat laki-laki bias
menikah lebih dari satu kali, bahkan bisa sampai empat isteri. Secara cultural pihak laki-laki
beretnis Jawa sedangkan perempuannya beretnis Tionghoa ada mitos bahwa keluarga tersebut
“tidak bisa jalan”, sebab terdapat perbedaan pandangan peradaban. Dalam perkawianan,
perempuan Tionghoa seringkali merasa “lebih” dari suaminya, sehingga menimbulkan
hubungan yang tidak harmonis.
Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa bauran perkawinan antara etnis Jawa
(laki-laki dan etnis Tionghoa (perempuan) di Kota Malang telah terjadi dan keluarga ini telah
menikah selama 31 tahun. Perkawinan campuran (amalgamasi) antar kedua etnis Jawa dan
Tionghoa tersebut memang didasari oleh rasa cinta kasih yang tulus yang dalam dari keduanya,
seperti yang disampaikan oleh pasangan Ibu Syu Yen (Tionghoa) dan Bapak Kariaji (Jawa).
Wawancara dengan Ibu Syu Yen, sbb :
“Awal menikah saya tinggal bersama keluarga besar suami, mereka sangat well come,
sangat menghargai saya bahkan saya diperlakukan seperti anak sendiri, nah semua yang saya
alami saya sampaikan pada keluarga besar saya, lambat laun keluarga saya mulai terbuka, dan
dapat menerima suami saya apa adanya. Bahagia sekali rasanya saat itu saya bisa menyatukan
dua keluarga yang sangat berbeda latar belakang sosial budayanya. Di awal perkawinan saya
beradaptasi penuh dengan kebiasaan suami dan keluarganya seperti saat puasa, saya menyiapkan
hidangan untuk berbuka dan saur bersama, saya juga ikut, tapi saya tetap memeluk agama saya,
begitu juga saat Hari Raya Idul Fitri saya berbaur dalam keluarga besar suami ikut merayakan
bersama, menyiapkan segala keperluan untuk merayakan hari tersebut, yang biasanya diikuti 61
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
661
dengan acara halal bi halal yang dihadiri oleh hampir semua keluarga besar dari suami dan
keluarga besar saya yang beretnis Tionghoa juga ikut mengucapkan Selamat hari RayaIdul Fitri,
Nah pada saat perayaan Hari Raya Imlek, gantian suami dan keluarga besarnya mengucapkan
pada saya dan keluarga besar saya. Kami saling menghormati, saling menghargai. Begitu juga
saya tanamkan nilai-nilai kebersamaan tersebut terhadp dua anak-anak saya yang akan
melanjutkan nantinya”.
Fenomena bauran perkawinan hasil peneliti di Kota Malang ini tidak dapat dijadikan acuan
untuk mengeneralisasikan bahwa bauran perkawinan kedua etnis Jawa-Tionghoa akan terjadi
dengan baik-baik saja, tetapi paling tidak dapat menunjukkan data bahwa bauran perkawinan
dapat dilakukan dan terjadi sepanjang kedua insan tersebut benar-benar tulus, dan mau menerima
kekurangan dan kelebihan pasangannya.
4. Identifikasi
Secara nasional asimilasi identitas tersebut ditunjukkan oleh beberapa etnis Tionghoa yang
bekerja keras untuk kepentingan dan mengharumkan nama Bangsa dan Negara Indonesia sperti
yang populer adalah tokoh di bidang hukum, yaitu : Yap Thiam Hien, di bidng seni ada Teguh
karya, Teguh Srimulat dan Tan Tjeng Bok. Di bidang olah raga ada Susi Susanti, Rudy Hartono,
Liem Swi King, Alan Budi Kusuma, di bidang Ekonomi ada LiemSiong Lie, Ciputra, Sudono
Salim, dll, dimana asimilasi identitas etnis Tionnghoa tersebut ditunjukkan dengan berbagai
aktivitas yang termanifestasi dalam rasa kebangsaan.
Identitas berkaitan dengan cirri-ciri secara specific, baik fisik, kepribadian (yang
dilatarbelakangi oleh sosial budaya), kepercayaan, agama, nilai, norma diatara kedua etnis tersebut
(Jawa-Tionghoa). Dalam bauran memang tidak harus menghilangkan secara total kedua
kebudayaan masing-masing, namun dibutuhkan toleransi, perhatian dan kepercayaan dari masingmasing untuk dapat berinteraksi sosial diantar etnis tersebut dalam kehidupan sehari-hari tanpa ada
rasa sungkan, takut dan lain sebagainya.
Bapak Nicholas. R.Chandra, mengemukakan bahwa : Diakui sepenuhnya bahwa pada
Masyarakat etnis Jawa-Etnis Tionghoa, masing-masing memiliki budaya, identitas yang kuat yang
menjadi ciri khasnya. Tanpa menghilangkan identitas masing-masing, sebagai masyarakat Kota
Malang kita hidup dalam suasana kebersamaan yang itu semua mencirikan identitas Kota Malang
– Arema. Sehingga tidak ada lagi skat diantara kami saat bergaul dengan masyarakat Kota
Malang. Karena disaat kami etnis Tonghoa berinteraksi sesama etnis kita munculkan identitas
etnis kita, namun jika sudah dalam forum komunitas masyarakat, maka kita ya harusnya menjadi
bagian dari masyarakat Kota Malang yang berarti kita harus bisa menempatkan diri diman dan
dalam suasana seperi apa”, namun didasari sepenuhnya pada etnis Tionghoa yang sudah tua dan
mereka itu dilahirkan di negeri Cina tidak mudah untuk merubahnya. Pola pikir yang telah
terbentuk selama pemerintahan Orde Baru semakin memperkuat identitas etnis Tionghoa itu
sendiri”.
Kesadaran diri dan kerendahan hati serta keterbukaan untuk saling membutuhkan dan
dibutuhkan menjadi prioritas bauran identifikasi tersebut.Keterbukaan dari kedua etnis akan
mengesampingkan identitas masing-masing dalam berinteraksi sosial sehari-hari. Karena pada
dasarnya manusia itu saling membutuhkan dan dibutuhkan satu sama lainnya.
5. Sikap
Prasangka merupakan sikap kecurigaan terhadap etnis lain. Biasanya prasangka bersifat
negative, sebagai missal etnis Tionghoa dikatakan memiliki kehidupan ekonomi dengan
menghalalkan segala macam cara. Sebaliknya, etnis Tionghoa beranggapan orang Jawa enggan
bekerja keras tetapi menginginkan pendapatan yang besar. Prasangka ini terjadi karena terdapat
perbedaan pandangan dalam memahami suatu materi dan pekerjaan. Orang Tionghoa cenderung
berpola pikir fungsionalisme, sehingga berbagai macam cara ditempuh untuk mencapai tujuan.
Cara beribadat agama Konfusius pun oleh sebagaian orang dianggap
Wawancara dengan tokoh pendidikan etnis Tionghoa Nicholas Rudi Chandra,
662
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
mengemukakan bahwa :
“Sekarang ini sudah tidak usah lagi bicara bauran, karena pada dasarnya kami sudah berbaur
sejak dulu, dengan berbagai aktifitas yang kami lakukan selama ini, kami juga peduli untuk
berupaya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) generasi muda Kota Malang, seperti :
kami mendirikan Universitas “Ma Chung” yang berlokasi di Tidar, merupakan Perguruan
Tinggi yang didirikan oleh Yayasan Bina Harapan Sejahtera, dimana para pendirinya
semuanya dari ethis Tionghoa , namun civitas akademikanya bukan hanya dari etnis Tionghoa
saja, namun dari berbagai etnis dan dari penjuru nusantara. Lebih lanjut beliau
mengemukakan bahwa, hal ini menunjukkan bahwa Universitas Ma Chung memang bukan
diperuntukkan bagi etnis Tionghoa semata, namun Yayasan Bina Harapan Sejahteran
bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata dalam membangun Sumber Daya Manusia yang
berkualitas melalui penyediaan sara dan prasarana Pendidikan yang berkualitas dan
berstandar Internasional”.
Pernyataan Tokoh Pendidikan dari etnis Tionghoa tersebut diperkuat lagi dengan pendapat
mahasiswa Jennifer dalam Focus Group Discussion /FGD (Etnis Tionghoa) yang mengemukakan
bahwa :
“Universitas Ma Chung bukan diperuntukkan bagi mahasiswa etnis Tionghoa saja, namun
semua siapapun yang mau menempuh pendidikan disini tidak masalah, tentunya dengan
malalui persyaratan yang telah ditentukan, seperti pendaftaran, seleksi ujian masuk.
Bahkan jika calon mahasiswa tersebut nilai raportnya bagus dan hasil seleksi ujiannya
bagus, maka akan mendapatkan beasiswa, banyak teman-teman yang muslim dan juga
mendapatkan beasiswa”
Agus Salim (2006:73) mengemukakan bahwa dalam konsep pendidikan “global”
sebenarnya merujuk pada lingkungan sekolah secara total, termasuk sikap guru, kurikulum,
strategi pengajaran dan materi, termasuk siswa sebagai perserta didik, juga tidak dibatasi dari etnis
tertentu. Masalah asimilasi tidak sekedar menyangkut masalah status social ekonomi ataupun
tingkat pendidikan seseorang, namun yang lebih penting adalah masalah kesadaran akan kesamaan.
Namun demikian pendidikan sebagai proses pembentukan kesadaran perlu mendapatkan
perhatian secara cukup. Untuk menumbuhkan interaksi yang harmonis, prasangka dari kedua
belah pihak harus dihilangkan. Sebab prasangka tertentu berakibat seorang dari etnis lain dan
dipandang dengan cara-cara tertentu yang berbeda-beda sehingga terjadi hubungan yang tidak
sehat.
6. Perilaku
Prasangka dan diskriminasi merupakan dua kata yang berkaitan. Biasanya bila terdapat
prasangka (stereotype) dan kemudian terdapat suatu kepentingan kepentingan tertentu akan
berlanjut dengan sikap diskriminasi, Untuk bisa diterima dan memunculkan kepercayaan pada
etnis lain dibutuhkan sarana yaitu penguasaan bahasa, bahkan jika perlu penguasaan bahasa
gaul Kota Malang, seperti bahasa walik-an, sehingga kedengarannya akrab sekali.
Perilaku orang Tionghoa cenderung bersifat eksklusive, mereka mau bergaul hanya dengan
sesama etnisnya saja dan cenderung menempatkan posisi di atas dibanding dengan etnis Jawa .
Orang Cina yang kondisi ekonominya tidak tinggi biasa mengurus sendiri hal-hal yang bersifat
administrative. Dengan demikian perlu dibedakan orang ingin mengurus sendiri proses administrati
secara normal dan orang yang mengurus proses administrasi secara khusus, tanpa memandang etnis
seseorang. Tetapi dalam hal pengurusan administrasi yang memiliki ladang basah, seperti
pengurusan paspor, sekalipun keinginan untuk mengurus sendiri ada, prosesnya akan menjadi
lambat, bahkan terhenti. Hal ini menunjukkan kesan terdapat diskriminasi terhadap etnis Cina.
Petugas-petugas administrasi di ladang basah biasanya peka, apakah seseorang itu etnis CIna atau
bukan, bila ditengarai orang itu etnis Cina atau asing, akan muncul diskriminasi. Dalam era
reformasi seharusnya hal-hal semacam ini tidak perlu terjadi
63
7. Civic
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
663
Bauran civic antara etnis Jawa – etnis Tionghoa secara umum sampai saat ini masih
menghadapi benturan nilai yang itu semua berdampak pada motif perilaku. Etnis Cina dalam
berperilaku biasanya meimiliki motif ekonomi, sedangkan etnis Jawa dalam berperilaku
biasanya mempunyai motif sosial. Perbedaan ini karena mereka memiliki latar belakang yang
berbeda. Perbedaan tersebut sama-sama menekankan pada masalah otoritas, dimana pada
kebudayaan Tionghoa otoritas berbicara di sekitar keluarga dengan kendali pada orang tua,
sedangkan pada etnis Jawa otoritas berbicara dalam kehidupan kemasyarakatan dengan kendali
pada sentra-sentra kekuasaan dalam hirarki kemasyarakatan. Untuk mengurangi benturan nilai dan
sistem kekuasaan tersebut dapat dilakukandengan melalui peran serta etnis Tionghoa dalam
struktur kemasyarakatan, seprti keterlibatannya sebagai Ketua Rt, Ketua RW, aktif dalam egiatan
PKK atau Dasawisma.
Didik (dalam Paulus,2006:153) mengemukakan bahwa : “Kalau orang Jawa dan Tionghoa
bergaul secara individu tidak ada masalah, tetapi kalau sudah dalam kelompok dengan kelompok
akan muncul masalah. Karena menurutnya kalau orang bergaul secara mengelompok ada perasaan
superiotiras terhadap orang lain/etnis lain .
C. Bentuk-Bentuk Modal Sosial Bauran Etnis Tinghoa - Jawa
Modal sosial (social capital) merupakan unsur terpenting dalam pembangunan nasional
khususnya berkaitan dengan integrasi bangsa. Sutomo (2009:231) mengemukakan bahwa “dengan
adanya modal sosial dibalik berbagai perbedaan sejalan dengan semakin kompleksnya masyarakat
dalam kehidupan masyarakat masih mungkin dibangun dan dirasakan adanya sesuatu yang
dianggap sebagai kepentingan bersama. Hal ini akan mendorong tindakan bersama baik untuk
hal-hal yang berdampak langsung pada peningkatan taraf hidup maupun tindakan bersama untuk
membangun berbagai prasarana dan fasilitas umum”. Bentuk-bentuk modal sosial masyarakat
bauran etnis Tionghoa-Jawa dapat didiskripsikan sbb :
1. Kedekatan
Disadari sepenuhnya bahwa kedekatan yang terjadi antara dua orang akan menimbulkan rasa
saling memahami satu dengan yang lainnya. Pemahaman itu bukan hanya sekedar memahami
perbedaan secara fisik semata malainkan pemahaman secara keseluruhan tentang sifat dan
karakteristiknya, bahkan kepribadiannya sekaligus. Begitu juga dengan etnis yang ada dalam
amsyarakat, ke dua etnis atau lebih dalam masyarakat dekat, maka masing-masing etnis tersebut
akan dapat memahami karekteristik yang lainnya. Hasil FGD yang disampaikan Dr. Rinekso K,
mengemukakan bahwa :
“Kedekatan seseorang dengan orang lain merupakan kunci terjalinnya relasi yang harmois.
Konflik antar etnis (dalam hal ini etnis Tionghoa dan Jawa) akan dapat teratasi jika kedua
belah fihak sama-sama saling melakukan pendekatan. Artinya kedekatan keduanya akan
menimbulkan perasaan saling memahami kebiasaan,ciri khas, karakteristik satu dengan yang
lannya” (FGD, tanggal 27 Juli 2016).
Pernyataan tersebut diperkuat dengan pernyataan Bapak Agus Endra,SE,MM (Direktur Aster
sekaligus pengusha Muda Kota Malang), yang mengemukakan bahwa :
“ Secara simbolik di UMM ini sudah dekat dengan kami. Dengan dibangunnya masjid khas
Tiongkok hampir sama persis dengan masjid “Tjeng Hoo.Saya baru tau ada masjid dengan
bangunan gaya Tiongkok di UMM , saya seperti tidak percaya, karena dalam pandangan kami
jelas basic disini adalah muslim apalagi Muhammadiyah. Ternyata sebagian bangunan RS dan
kantinnya juga berarsitektur Tiongkok. Temen-temen harus tau dan diajak kesini, ini
menunjukkan bahwa kampus ini well come dengan siapapun dan kalangan manapun khususnya
kami. Kami merasa dekat. Nah kedekatan ini yang harus dipupuk untuk memnclkan rasa
percaya dari semua orang Malang. Kami merasa diapresiasi di sini”
664
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
Konsep modal
sosial menawarkan betapa pentingnya suatu hubungan. Dengan
membagun suatu hubungan satu sama lain, dan memeliharanya agar terjalin terus, setiap individu
dapat bekerjasama untuk memperoleh hal-hal yang tercapai sebelumnya serta meminimalisasikan
kesulitan yang besar. Modal sosial menentukan bagaimana orang dapat bekerja sama dengan
mudah.
2. Toleransi
Toleransi merupakan wujud penghormatan dari seseorang terhadap orang lain yang berbeda
dengan dirinya, baik perbedaan secara fisik, ideologi, suku, ras maupun agama. Toleransi
dilakukan dengan tujuan untuk menekan rasa egoisme masing-maing dan menghargai perbedaan
yang ada untuk mencapai keseimbangan (equilibrium) bersama secara kolektif. Toleransi juga
nampak pada aktivitas yang dilakukan di Klenteng Eng An Kiong pada moment tertentu seperti
peringatan Hari Jadi Kota Malang tanggal 1 April selalu diadakan pementasan wayang kulit
semalam suntuk yang melibatkan semua lapisan masyarakat dan terbuka untuk umum.
Toleransi antar etnis juga bisa dilihat dari lokasi bangunan tempat peribadatan umat Islam
masjid besar “Jamik” Kota Malang yang berdiri bersebelahan dengan Gereja yang lokasinya di
tengah kota tepatnya disebelah barat alun-alun Kota Malang. Sejak bangunan maasjid dan gereja
berdiri di tengah-tengah Kota Malang tersebut belum pernah terjadi keributan yang disebabkan
oleh perbedaan etis ke duanya. Masing-masing memang menjalankan kewajibannya sendiri. Saat
hari Jum’at dan peringatan hari besar Islam seperti sholat Idul Fitri, Idul Adha yang
pelaksanaannya juga sampai ke halaman gereja dilakukan dengan tertib dan aman, begitu juga
jika sedang diadakan kegiatan oleh gereja.
Toleransi juga dapat dilihat dengan adanya klenteng Eng An Kiong di Kota Malang,
dimana kegiatan yang dilakukan oleh klenteng bukan semata-mata sebagai tempat peribadatan
etnis Tionghoa, namun juga dipergunakan dengan berbagai aktivitas, seperti dalam upaya
peningkatan ekonomi masyarakat sekitar di basement klenteng sebelah utara dipergunakan untuk
area berdagang bagi masyarakat sekitar semacam kantin yang menyiapkan makanan berbagai
menu baik bagi para pwngunjung klenteng maupun masyaakat umum, juga sebagai tempat
pendidikan bahasa mandarin, dimana pesertanya dari berbagai kalangan masyarakat, banyak juga
yang muslim. Sebagai tempat pendidikan dan pelestarian musik tradisional gamelan
3. Peduli (Care)
Rasa peduli lazim ditunjukkan oleh seseorang terhadap orang lain dengan berbagai alasan
yang melatarbelakangi sikap kepeduliannya tersebut. Sikap peduli itu ditunjukkan dengan
melibatkan diri dalam berbagai aktivitas yang biasanya dilakukan orang lain tersebut. Rasa dan
sikap peduli sesama manusia ini lazimnya didasari oleh rasa kemanusiaan yang tinggi dari ajaran
agama yang mengedepankan untuk berbuat kebaikan terhadap sesama manusia di muka bumi ini,
yang dalam agama Islan disebut dengan Habblum Min Nannas (hubungan manusia dengan
sesama manusia).
Bentuk-bentuk modal sosial bauran etnis Tionghoa-Jawa dapat dilihat dari berbagai
aktivitas individu maupun kelembagaan yang secara rutin dari tahun ke tahun melakukan aktivitas
yang tidak seharusnya dilakukan, namun karena tuntutan dari ajaran agama dan rasa kepedulian
sosial maka aktivitas tersebut tetap dilakukan. Seperti : Upacara sedekah bumi dengan
memberikan sumbangan berupa sembako kepada masyarakat sekitar, pemberian takjil gratis saat
bulan puasa,
4. Kebersamaan (Togetherness)
Kebersamaan yang dimaksudkan disini adalah kebersamaan dari dua etnis yang berbeda
baik secara fisik, ideologi, ras dan agama, namun bersama-sama menjalankan aktivitas yang sama
sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagai bagian dari warga masyarakat Kota Malang.
Kebersamaan dapat terjalin tentunya sangat dipengaruhi oelh faktor kepercayaan.
Kebersamaan kedua etnis tersebut dapat didiskripsikan melalui aktivitas : perayaan ulang tahun
Kota Malang, Budaya Malangan yang memadukan kesenian Tionghoa dan Jawa, Pendidikan
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
65
665
Bahasa Mandarin di Klenteng yang pesertanya baik dari etnis Tionnghoa maupun Jawa,
Mendirikan Perguruan Tinggi Ma Chung sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab bersama
dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia.
D. Penguatan modal sosial bauran etnis Tionghoa-Jawa berbasis “Partisipasi holistik”
dalam mengantisipasi terjadinya konflik di Kota Malang?
Secara teori terdapat unsur-unsur dalam analisis tentang modal sosial, yaitu : 1)
Kepercayaan, 2) Nilai/Norma, dan 3) Jaringan. Data dan analisis yang berkaitan dengan
penguatan modal social akan difokuskan pada unsure tersebut .
1. Kepercayaan
Kepercayaan merupakan harapan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat yang
ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur dan kerjasama berdasarkan nilai yang dianut
bersama (Fukuyama,1995).
Kepercayaan sosial pada dasarnya merupakan produk dari modal sosial yang baik, dimana
adanya modal sosial yang baik ditandai dengan adanya lembaga sosial yang kokoh, dan
melahirkan kehidupan sosial yang harmonis (Putnam,1995).
Dalam kaitanya dengan bisnis keluarga nampaknya memang bersifat eksklusive mengingat
perusahaan/bisnis tersebut didirikan, dibangun oleh keluarga dan diperuntukkan bagi
kelangsungan hidup keluarga, sehingga tidak mungkin puncuk pimpian perusahaan tersebut jatuh
ke orang lain apalagi etnis Jawa.
Begitu juga berkaitan dengan kepercayaan dalam pengembangan usaha dimana telah terjadi
kolaborasi (mitra kerja) antara majikan (etnis Tionghoa) dengan Karyawan (etnis Jawa) atau
dalam sosiologi dikenal dengan “patron Client” . Hal ini berdasarkan wawancara dengan bapak
Rudi Chandra yang mengemuakakn bahwa :
“Dewasa ini telah terjadi perubahan yang bagus yang ditunjukkan oleh etnis Tionghoa
dalam memberikan kepercayaan terhadap usaha/bisnis yang dijalankan dengan salah satu
karyawannya di toko “Momon” yang terletak di Jl. Gatot Subroto Malang. Toko ini menjual
peralatan bangunan termasuk besi dengan berbagai type dan ukuran, Nah salah satu
karyawannya juga membuka usaha yang sama persis dengan lokasi di daerahnya, karyawan
tersebut mengambil barang semua dari majikannya tersebut tanpa modal. Namun diberi
kepercayaan untuk mengembangkan sendiri, begitu habis barang baru dibayar sesuai dengan
harga sewaktu ambil. Sampai sekarang tetap berjaan dan tidak ada masalah. Dengan prinsip
jalan terus walaupun untung sedikit.
2. Nilai/Norma
Nilai merupakan suatu ide yang turun temurun dianggap benar dan penting oleh
sekelompok masyarakat. Nilai selalu berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat, nilai akan
membedakan mana yang benar dan salah, apa yang baik danburuk.
Masing-masing etnis memiliki nilai (value) yang dijunjung tinggi dan ditaati dalam
kehidupan sehari-hari. Paulus Haryono (2006:225) mengemukakan bahwa nilai (value) dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu : 1) nilai budaya dan 2) nilai sosial.
Orang Tionghoa memiliki 3 kepercayaan yang menjadi tradisi nenek moyang, yaitu agama
Buddha, Taoisme dan Konfusianisme, Tingkat tertinggi yang dapat dicapai manusia adalah
kedudukan sebagai orang yang “arif bijaksana” yaitu sesuatu tingkat dimana diri pribadinya sudah
“sama” dengan alam semesta (identification of the individual with universe).
Nilai sosial yang melekat pada etnis Tionghoa didasari oleh ajaran kofusius yang
menanamkan : 1) nilai kerukunan, yang menolak kekerasan dan mendasarkan diri pada saling
percaya, menunjukkan nilai yang menjauhkan diri dari konflik, ditambah ajarannya tentang Jen
(kebaikan), Chun-tzu (suka melayani/menolong orang lain, berjiwa besar dan ajaran Taoisme yang
mengajak untuk memahami orang lain, 2) prinsip hormat, Li dalam konsep konfusius yang
666
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
memiliki arti kesopanan dan menghormati yang didasarkan atas usia dan hubungan kekeluargaan,
berdasarkan ajaran Pat Tikyang berisi 8 kewajiban insan manusia meliputi : Berbakti (Hao),
Rendah Hati (Tee), satya (Tiong), Susila (Lee), Menjunjung kebenaran, keadilan, kewajiban dan
kepantasan (Gie), Suci hati (Lian), Dapat dipercaya (Sien) dan tau malu/mengenal harga diri
(Thee). 3) etika kebijakan, mengajarkan bahwa orang arif bijaksana adalah orang yang dapat
menjalin hubungan di dalam masyarakat dari sudut moral, 4) Jalan tengah (Chung Yung) yang
maknanya tidak boleh berlebihan, 5) Perkawinan seumur hidup.
Dengan memahami nilai sosial masyarakat etnis Tionghoa sebenarnya sama dengan nilai
sosial pada masyarakat etnis Jawa. Nilai sosial yang berbeda adalah berkaitan dengan
penghormatan pada etnis Tionghoa nilai hormat didasarkan pada usia dan hubungan
kekeluargaan, sedangkan pada masyarakat Jawa nilai hormat didasarkan pada kedudukan dan
posisi seseorang dalam sususnan herarki masyarakatnya. Perbedaan nilai sosial terdapt pula pada
pemahaman tentang perkawinan. Pada etnis Tionghoa perkawinan dimaksudkan untuk
melanjutkan keluarga, clan dan adat istiadat keluarga, sehingga pemilihan calon pasangan banyak
mendapatkan pertimbangan dari pihak keluarga. Sedangkan pada masyarakat Jawa perkawinan
dimaksudkan untuk untuk membentuk rumah tangga dan mendapatkan status perkawinan dalam
kemasyarakatan, sehingga pemilihan calon pasangan lebih banyak didasarkan pada pertimbangan
individu.
Adapun hal yang membedakan antara nilai-nilai sosial budaya pada masyarakat Tionghoa
dan Jawa adalah tentang etos kerja, nilai hormat dan pemahaman tenang perkawinan. Etos kerja
pada etnis Tionghoa ditujukan pada keluarga, sedangkan pada etnis Jawa berorientasi pada upaya
untuk memperoleh posisi puncak dalam susunan herarki kemasyarakatan. Nilai hormat orang
Tionghoa didasarkan pada usia dan hubungan kekeluargaan, sedangkan pada masyarakat Jawa
didasarkan pada derajat kedudukan seseorang dalam susunan herarki kemasyarakatan, begitu juga
tentang nilai perkawinan.
Apapun perbedaan yang ada dalam nilai sosial budaya ke dua masyarakat tersebut satu hal
yang menjadikan keduanya bersatu adalah keterbukaan dan menjunjung tinggi nilai bersama
sebagai warga masyarakat Kota Malang, dengan identitas yang melekat merupakan karakteristik/
ciri yang dimiliki oleh setiap warga Kota Malang (Arema).
Bapak R.Chandra, mengemukakan bahwa : Diakui sepenuhnya bahwa pada Masyarakat
etnis Jawa-Etnis Tionghoa, masing-masing memiliki budaya, identitas yang kuat yang menjadi
ciri khasnya. Tanpa menghilangkan identitas masing-masing, sebagai masyarakat Kota Malang
kita hidup dalam suasana kebersamaan yang itu semua mencirikan identitas Kota Malang –
Arema. Sehingga tidak ada lagi skat diantara kami saat bergaul dengan masyarakat Kota
Malang. Karena disaat kami etnis Tonghoa berinteraksi sesama etnis kita munculkan identitas
etnis kita, namun jika sudah dalam forum komunitas masyarakat, maka kita ya harusnya menjadi
bagian dari masyarakat Kota Malang yang berarti kita harus bisa menempatkan diri dimana dan
dalam suasana seperi apa, nilai yang kita harus jalankan dan taati adalah nilai yang mengikat
kita sebagai penduduk/warga Kota Malang, sehingga aktivitas kita bukan lagi mencerminkan
kesukuan, namun sebagai bagian dari masyarakat Kota Malang baik dalam perilaku sehari-hari.
Saya pikir sama nilai yang dianut etnis Jawa dan Tionghoa, seperti menghormati orang yang
lebih tua (etika kesopanan dalam berperilaku, nilai kebersamaan dalam keluarga yang harus
menjunjung tinggi nama baik keluarga”.
3. Jaringan (Networks)
Masyarakat pada dasarnya bersifat dinamis selalu berhubungan dengan masyarakat
lainnya melalui interaksi dan berbagai macam hubungan, yang terjalin secara sukarela, saling
berdampingan, kesamaan, kebebasan serta keadaban. Jaringan biasanya terjalin dengan diwarnai
oleh satu tipologi dengan karakteristik kelompok. Kelompok biasanya terbentuk secara tradisional
atas dasar kesamaan garis keturunan, pengalaman serta kesamaan kepercayaan Penguatan modal
sosial merupakan unsur terpenting dalam pembangunan nasional, khususnya yang menyangkut
permasalahan integrasi bangsa. Modal sosial dengan unsur-unsurnya yaitu adanya jaringan
(networks), norma (norms), dan kepercayaan (trust) didalamnya yang menjadi kolaborasi
(koordinasi dan kooperasi) sosial dalam kebersamaan yang merupakan fondasi dasar sebagai
modal untuk keberlangsungan hidup masyarakat mencapai tujuan bersama. Kebersamaan dalam 67
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
667
multicultural adalah masyarakat yang menerima integrasi sebagai cara-cara yang umum untuk
menghadapi keberagaman budaya.
Fenomena tersebut merupakan upaya pemerintah daerah (Pemda) Kota Malang beserta
segenap jajarannya dalam menjalankan pemerintahannya sesuai dengan Visi Kota Malang
menjadikan Kota Malang “Bermartabat”, dimana salah satu poin terpentingnya adalah
Religius-toleran, yaitu semua warga masyarakat mengamalkan ajaran agama masing-masing ke
dalam bentuk cara berpikir, bersikap, dan berbuat. Apapun bentuk perbedaan di kalangan
masyarakat dihargai dan dijadikan sebagai faktor pendukung pembangunan daerah. Sehingga,
dengan pemahaman religius yang toleran, tidak akan ada konflik dan pertikaian antar masyarakat
yang berlandaskan perbedaan SARA di Kota Malang.
Temuan Model
Akhirnya berdasarkan keseluruhan tahap penelitian ini, dapat digambarkan model Penguatan
Modal Sosial Masyarakat Etnis Tionghoa-Jawa berbasis Partisipasi Holistik Dalam Mengantisipasi
terjadinya Konflik di Kota Malang sebagai berikut :
Gambar 1. Diagram alur proses dan Impak Bauran Jawa - Tionghoa
Salah satu fenomena perubahan pasca reformasi adalah hubugan antar etnik jawa dan
tionghoa yang semakin inklusif dan produktif. Ini tidak lepas dari perubahan tata nilai dan
kebijakan tentang hubungan anak bangsa yang semakin toleran, hubungan yang setara, saling
peduli dan mengedepankan kebangsaan. Nilai-nilai itu telah terinternalisasi dan kini tampak mulai
mendarah daging yang tampak rukun dan minimnya konflik kedua belah pihak di Indonesia.
Bahkan sebaliknya hubungan kedua etnik semakin mesra baik dalam kegiatan sosial maupun dalam
kegiatan ekonomi.
Internalisasi yang terjadi merupakan kelanjutan dari sosialisasi kembali (resosialisasi) di
mana keluarga, komunitas dan pemerintah berusaha mengganti nilai-nilai hubungan dan pandangan
antar etnik yang ekslusif, prejudice, etnosentrik, yang sering membahayakan keutuhan bangsa
indonesia yang majemuk. Keberhasilan resosialisasi itu ditandai dengan semakin membaurnya
hubungan kedua belah pihak. Hal ini karena keberhasilan resosialisasi telah melunturkan
etnosentisme, terbentuknya pemahaman baru hubungan etnik jawa-tionghoa yang yang saling
668
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
menerima, saling menghormati dan saling memberi manfaat, jarak sosial semain dekat dan
terjadinya jaringan kerja yang egaliter.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka
dalam bab ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Faktor yang mendukung bauran masyarakat etnis Tionghoa-Jawa di Kota Malang, meliputi : 1)
kebudayaan, 2) struktural, 3) perkawinan, 4) identifikasi, 5) sikap, 6) perilaku dan 7) Civic
2. Bentuk-bentuk modal sosial bauran etnis Tionghoa-Jawa di Kota Malang adalah : 1)
Kedekatan, 2) Toleransi, 3) Peduli, 4) Kepercayaan dan 5) kebersamaan
3. Penguatan modal sosial masyarakat etnis Tionghoa-Jawa melalui konstruktif – produktif
menuju integrasi bangsa dilakukan dengan : 1) Menumbuhkan dan meningkatkan
Kepercayaan, 2) Penenaman Nilai/Norma “bersama” sebagai bagian dari warga masyarakat
Kota Malang dan 3) membentuk jejaring kerjasama antaraberbagai elemen masyarakat dalam
satu forum bernama Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB). ). yang dalam
perkembangannya forum tersebut menjadi model jejaring penguatan modal sosial masyarakat
etnis Tionghoa-Jawa melalui konstruktiff-produktif menuju integrasi bangsa. Forum ini bukan
hanya sebagai media komunikasi antar umat beragama, namun juga sebagai media komunikasi
dan interaksi antar etnis dalam hal ini etnisTionghoa (non muslim) dan Jawa (muslim) di Kota
Malang,
B. Saran/Rekomendasi
Mengingat betapa pentingnya modal sosial dalam kaitannya dengan upaya menciptakan
integrasi bangsa, maka rekomendasi/saran yang diajukan adalah : 1) Menjalin kedekatan untuk
menumbuhkembangkan sekaligus meningkatkan “kepercayaan” dari semua lapisan masyarakat
kedua etnis dalam berbagai bidang dan kehidupan sehari-hari, (2) Meningkatkan nilai/norma
bersama antar kedua etnis, dengan mengutamakan “identitas bersama” sebagai bagian dari
masyarakat Kota Malang, (3) Menguatkan model jejaring dengan menjalin kerjasama yang lebih
luas lagi antara ke 2 etnis terutama dibidang ekonomi – produktif
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
[8]
Abdul Baqir Zein, 2000, Ethnis Cina dalam Potret Pembauran di Indonesia,
Prestasi Insan Indonesia, Jakarta
Achmad Habib, 2004, Konflik Antar Etnik di Pedesaan, Pasang Surut Hubungan Cina –
Jawa, LKIS, Yogyakarta
Adam,
Andi Nurlita, (2012) Membincang Kembali Masalah Etnisitas,
Nasionalitas, dan Internasi Nasional di Indonesia, ATIKAn, Volum 2 Nomor 2.
Agus Salim, 2006, Stratifikasi Etnik Kajian Mikro Sosiologi Interaksi Etnis JawaTionghoa, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Fukuyama, Francis, 1995, Trust : The Social Virtue and The Creation of Propeity. New
York : Free Press
Haryanto, Bagus, (2011Hasbullah, Jousairi, 2006. Sosial Capital
(Menuju
Keunggulan Budaya Manusia Indonesia).Jakarta: MR United Press.
Hendry Ar., Eka. (2013) Integrasi Sosial Dalam Masyarakat Multi Etnik, Jurnal
Walisosngo, Volume 21 Nomor 1, STAIN Pontianak
Herlina Astri, 2011, Penyelesaian Konflik Sosial Melalui Penguatan Kearifan Lokal,
ASPIRASI, Jurnal Masalah Sosial Vol.2, No,2, Desember 2011 ISSN 2086-6350
69
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
669
[9]
[10]
[11]
[12]
[13]
[14]
[15]
[16]
[17]
[18]
[19]
[20]
[21]
Iwan Santoso, 2012, Per) Estimasi Parameter Integrasi Soal Etnis Tionghoa-Jawa di
Yogyakarta dan Surakarta Pengembangan Model Hybrid, Jurnal Penelitian dan Evaluasi
Pendidikan
Jenifer Cushman dan Wang Gungwu, 1991, Perubahan Identitas Orang Cina di Asia
Tenggara, Grafiti, Jakarta.
Juli Astutik, 2000, Problematika Pembauran Golongan Ethnis Cina-Jawa Kajian
Literature dalamDimensi Sosial Budaya (Penelitian Kajian Literatur)
___________, 2015, Model Bauran Etnis Jawa-Tionghoa Berbasis Partisipasi Holistik
dalam Upaya Meminimalisir terjadinya Konflik di Kota Malang, Hasil Penelitian DPPMUMM
Lawang Robert M.Z. (2004). Kapital Sosial dalam Perspektif Sosiologik Suatu
Pengantar. FISIP UI Press Depok
Leo Suryadinata, 2002, Negara dan Atnis Tionghoa : Kasus Indonesia, Pustaka, LP3ES,
Jakarta
Munandar Sulaeman (2005). Resolusi Konflik Model Pemberdayaan Modal Sosial
SebagaiAlternatif Pencegahani Konflik Tawuran Antar Warga Desa (Kasus Pada
Masyarakat Desa Kabupaten Indramayu Jawa Barat). Dikti Penelitian Hibah Bersaing
P3M Jakarta
Paulus Haryono, 2006, Menggali Latar Belakang Stereotype dan persoalan Etnis Cina di
Jawa, Dari Jaman Kecemasan, Konflik Antar Etnis Hingga KIni, Mutiara Wacana,
Semarang.
Putnam, Robert.D, “The Prospectus Community : Social Capital ang Public Life, Dalam
The American Prospect, No. 3 th1993
Sugiyono, 2006, Memahami Penelitian Kualitatif, Alfabeta. Bandung.
Tobroni, 2012, Relasi Kemanusiaan dalam Keberagaman (Mengembangkan Etika Sosial
Melalui Pendidikan) Penerbit Karya Putra Dakwah, Bandung
Tony Dian Effendi, 2015, The Silk, Sutera, Kumpulan Pengalaman Mahasiswa Indonesia
dan Tiongkok, Litera Yogyakarta.
Vina Salviana, Nurudin, Deden faturrohman, 2003, Agama Tradisional, Potret Kearifan
Hidup Masyarakat Samin dan Tengger, LKIS, Yogyakarta.
670
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
Download