Antologi Vol 3 Nomor 2 Agustus 2015 PENERAPAN MODEL

advertisement
Antologi Vol 3 Nomor 2 Agustus 2015
PENERAPAN MODEL STRATA UNTUK MENINGKATKAN
KEMAMPUAN SISWA DALAM APRESIASI PUISI
(Penelitian Tindakan Kelas pada Pelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V SD Negeri
Cangkuang III Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung)
ARTIKEL
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
pada Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Oleh
PUPUNG PUSPITA DEWI
1101367
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
KAMPUS CIBIRU
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015
Antologi Vol 3 Nomor 2 Agustus 2015
PENERAPAN MODEL STRATA UNTUK MENINGKATKAN
KEMAMPUAN SISWA DALAM APRESIASI PUISI
Pupung Puspita Dewi 1, Ernalis 2, Titing Rohayati3
Program Studi PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru
[email protected]
Abstrak : Penelitian didasarkan pada suatu permasalahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia
yakni rendahnya kemampuan siswa dalam apresiasi puisi khususnya menelaah dan menulis puisi.
Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan penelitian dengan menerapkan model strata yang berupaya
meningkatkan kemampuan siswa dalam apresiasi puisi pada siswa kelas V Sekolah Dasar. Tujuan
diadakannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam apresiasi puisi
baik menelaah maupun menulis puisi secara komprehensif. Model strata yakni salah satu model
pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan apresiasi puisi yang memiliki tiga tahapan
pembelajaran. Tahapan tersebut adalah penjelajahan, interpretasi, dan re-kreasi. Metode penelitian
yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas model Elliot. Model ini memiliki tiga tahap yaitu
perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring atau refleksi. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga
siklus dan setiap siklus terdiri dari tiga tindakan. Untuk memperoleh data digunakan instrumen
penelitian yaitu lembar observasi, catatan lapangan, pedoman wawancara, lembar kerja siswa,
lembar evaluasi, dan dokumentasi foto. Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran dengan
menggunakan model strata dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam apresiasi puisi baik
dalam menelaah, maupun menulis puisi. Dalam penilaian proses aktivitas menelaah isi puisi, aspek
yang diamati adalah menandai kata sulit dan menuliskan isi cerita puisi, terlihat rata-rata yang
diperoleh pada Siklus I yakni 53, siklus II sebesar 64,5, dan siklus III sebesar 78,3. Kemudia 1n
dalam penilaian hasil kemampuan menulis puisi, aspek yang dinilai adalah relevansi isi, diksi, dan
makna kata. Diketahui bahwa rata-rata yang diperoleh pada siklus I sebesar 50,5, siklus II sebesar
61,5 dan Siklus III sebesar 77. Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran menggunakan mode
strata yang dikembangkan dengan metode dan media yang bervariasi dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. Hasil penelitian ini direkomendasikan bagi guru sekolah dasar di kelas tinggi yang
mengajar apresiasi puisi salah satunya agar menggunakan model strata dengan metode, media, dan
bahan ajar yang bervariasi untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran apresiasi
puisi meliputi menelaah dan menulis puisi.
Kata Kunci : model strata, apresiasi puisi, kemampuan apresiasi puisi
1
Mahasiswa UPI Kampus Cibiru
Penulis Penanggung Jawab
3
Penulis Penanggung Jawab
2
Antologi Vol 3 Nomor 2 Agustus 2015
Absract : The reseacrh motivated by problem in Indonesian language in the class. The problems is
students skill in appreciation of poetry was low especially analyze poetry and write poetry. For
superintend thats problem did the research use methods or model in learn, like strata models in
Indonesian language learn for increase skill in appreciation of poetry to grade five elementary
school. Purpose the research is for increase the student’s skill for appreciation of poetry, especially
analyze or write the poetry with comprohensive. The literature model is the learning model which
can use on the appreciation of poetry activity which have three learning stage. The stage is a
exploration, inter-pretation, and recreation. The research method which use is an action research
the Elliot model class. This model have three phase, that is planning, implementation, and
monitoring or reflection. This research did in three cycle and every cycle consist in three action.
For get data use the research instrument, that is the observation paper, notes, interview orientatiom,
student’s worksheet, evaluation paper, and the photo of documentation. Be based on research
result, learning with using the literature model, can increase skill of student on appreciation of
poetry on analyze, or write poetry. On the process of rating analyze contents of poetry’s activity,
the observe aspect is give sign on hard word and writing the contents of poetry, the level who can
get and seen on Cycle I, that’s 53, Cycle II, that’s 64,5, and Cycle III, that’s 78,3. Then, on the
writing poetry result skill’s rating, the rating aspect is the contents relevantion, diction, and the
word’s meaning. The cycle who can knowing on Cycle I, that’s 50,5, Cycle II, that’s 61,5, and
Cycle III, that’s 77. Be based on research result, the learning using literature strata model can
upgrade with methods and the variation media can increase the student’s study result. This research
result recommended for teachers of elementary school on high grade who teach the appreciation of
poetry, one is for using literature model with methods, media, and variation teach material for
increase the student’s skill on learning appreciation of poetry include analyze and write poetry.
keywords : Strata model, appreciation of poetry, appreciation of poetry’s skill.
Belajar merupakan kegiatan yang tidak akan
pernah habis dalam sejarah umat manusia.
Manusia merupakan makhluk yang dapat
dididik karena manusia merupakan
makhluk
Tuhan
yang
dikaruniai
kemampuan
untuk
berpikir
dan
berperasaan. Sedangkan manusia disebut
sebagai makhluk berpendidikan karena
manusia terus mengalami proses belajar
dari masa ke masa. Dikatakan belajar,
karena manusia mengalami perubahan
proses
berpikir
seiring
dengan
perkembangan fisik maupun psikisnya
Belajar dalam arti sempit adalah kegiatan yang
dilakukan guru dan murid dalam sebuah kelas
dengan mempelajari materi tertentu. Sedangkan
dalam arti luas, belajar merupakan kegiatan
menambah pengetahuan serta pengalaman yang
membuat siswa dapat mengembangkan
kemampuan berpikir dan bersikap ke arah yang
lebih baik.
Dalam
konteks
belajar,
bahasa
merupakan alat yang pokok agar siswa dapat
memahami sebuah kajian atau bidang ilmu
Bahasa Indonesia merupakan kajian ilmu yang
memiliki keunikan dan kekhasan didalamnya
karena tidak hanya menyajikan pokok
pembelajaran mengenai ilmu bahasa, namun
juga menyajikan karya sastra sebagai alat
belajar yang menarik untuk digali dan ditelaah.
Karya sastra sebagai bahan ajar
sebaiknya disesuaikan dengan siswa yang akan
mempelajarinya. Abidin (2012, hlm. 224)
mengemukakan bahwa “Kriteria bahasa
menyarankan agar karya sastra yang
diajarkan hendaknya sesuai dengan tahapan
kemampuan berbahasa anak. Dengan
demikian, karya sastra yang diajarkan akan
lebih mudah dipahami siswa di sekolah.
Karya sastra yang menggunakan bahasa
yang rumit jelas tidak dapat diajarkan di
sekolah dasar”.
Karya sastra merupakan karya
imajinatif yang bersifat menyenangkan dan
bermanfaat karena terselip nilai-nilai positif
didalamnya serta tidak sekedar hiburan
saja.
Antologi Vol 3 Nomor 2 Agustus 2015
Salah satu materi sastra yang
dianggap sulit oleh para siswa adalah puisi.
Dalam pembelajaran puisi, siswa merasa
kesulitan untuk mengartikan makna,
membacanya, maupun menciptakan sebuah
puisi hasil karya sendiri. Puisi merupakan
karya sastra yang mengandung imajinasi,
lapis makna, serta kata-kata beraturan yang
memiliki
kosakata
pilihan.
Dalam
membaca puisi, sebagian siswa masih
merasa kesulitan, karena faktor percaya diri
yang belum ditumbuhkembangkan atau
karena
siswa
tidak
biasa
untuk
menyampaikan pendapat maupun berbicara
di depan kelas. Selanjutnya mengenai
makna yang ada didalam puisi tidak
langsung dimengerti oleh siswa, ini
disebabkan perlu penafsiran-penafsiran
dalam mengartikannya. Untuk itulah siswa
merasa mengapresiasi puisi merupakan hal
yang kurang menarik dan kurang dipahami,
karena kata-kata dalam puisi bersifat
imajinatif yang harus diamati terlebih
dahulu setiap penggalan kata-katanya.
Dalam hal ini, biasanya guru tidak
menggali pengetahuan siswa untuk
mencoba memaknai arti dari sebuah puisi,
guru hanya menjelaskan mengenai unsurunsur dalam puisi seperti rima, bait, dan
baris, pengarang, dan lain sebagainya yang
ada dalam puisi.
Dalam praktiknya, tentu saja
pembelajaran karya sastra tidak selalu
berjalan
dengan
lancar.
Menurut
Rochmatin (2012) Problematika pengajaran
sastra di sekolah dikaitkan pada sebagian
besar guru bahasa dan sastra di sekolah
kurang menumbuhkembangkan minat dan
kemampuan siswa dalam hal sastra. Selain
itu, anggapan bahwa pembelajaran sastra
itu sulit timbul dalam diri siswa.
Rochmatin menyatakan bahwa penyajian
pengajaran sastra hanya sekedar memenuhi
tuntutan kurikulum, kering, kurang hidup,
dan cenderung kurang mendapat tempat di
hati siswa. Hal tersebutlah yang membuat
pembelajaran sastra kurang diminati siswa.
Sejalan
dengan
kegiatan
mengapresiasi sebuah puisi, menciptakan
kembali puisi dengan bahasa sendiri juga
kurang diminati siswa. Puisi yang ditulis
kembali cenderung sama dengan puisi yang
disajikan, hanya berbeda urutan maupun
peletakan kata-katanya. Menciptakan puisi
atau memodifikasi puisi yang telah
disajikan perlu dikembangkan sebagai
bentuk apresiasi terhadap karya sastra,
khususnya puisi. Kegiatan apresiasi puisi
tersebut dapat dilaksanakan dengan
menelaah, memahami, dan menghayati
sebuah puisi karya orang lain yang
disajikan yang kemudian diselami setiap
maknanya,
sehingga
siswa
dapat
menciptakan kembali puisi dengan bahasa
sendiri tanpa merubah makna yang
terkandung di dalamnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut,
diperlukan adanya model pembelajaran
yang menghidupkan rasa senang siswa
terhadap karya sastra.
Pembelajaran
apresiasi sastra harus dilaksanakan dengan
kegiatan siswa yang dilakukan secara
langsung, agar siswa terlibat dengan karya
sastra
yang
akan
diapresiasinya.
Kemampuan bersastra untuk sekolah dasar
bersifat apresiatif. Karena dengan sastra,
seseorang dapat menanamkan rasa peka
terhadap kehidupan, mengajarkan siswa
bagaimana menghargai orang lain,
mengerti hidup, dan belajar bagaimana
menghadapi berbagai persoalan. Selain
sebagai hiburan dan kesenangan juga siswa
dapat belajar mempertimbangkan makna
yang terkandung didalamnya (Zulela, 2012.
hlm.5).
Sastra melalui unsur imajinasinya
mampu membimbing anak didik pada
keluasan berpikir, bertindak dan berkarya.
Terkait dengan pembentukan karakter,
sastra dapat dijadikan media dalam
pembentukan watak dan moral peserta
didik.
Antologi Vol 3 Nomor 2 Agustus 2015
Dengan
sastra
guru
dapat
mempengaruhi peserta didik dengan pesanpesan moral yang terkandung dalam sastra
tersebut. meningkatkan hasil belajar siswa
dalam apresiasi puisi dengan model strata.
Model pembelajaran Strata yaitu
sebuah model pembelajaran sastra yang
mengembangkan tiga tahapan dalam proses
pembelajarannya
yakni
tahapan
penjelajahan, interpretasi, dan re-kreasi.
Model
strata
dikembangkan
oleh
Endraswara (dalam Abidin, 2012, hlm,
224). Tahap pertama yakni penjelajahan,
dalam tahap ini siswa melakukan
pengenalan terhadap cipta rasa puisi yang
akan
diapresiasi.
Pengenalan
yang
dilakukan dapat berupa mendeklamasikan
puisi, menonton tayangan orang yang
sedang membaca puisi atau membaca puisi
dalam
hati
secara
berulang-ulang.
Kemudian tahap yang kedua yaitu tahap
interpretasi yang merupakan tindak lanjut
dari kegiatan penjelajahan yang telah
dilaksanakan, dalam tahap ini siswa
melakukan penafsiran, seperti mencari
kata-kata sulit yang ada dalam puisi dan di
maknai secara bersama-sama melalui
bimbingan guru. Pada tahap interpretasi ini
juga, siswa dapat mengambil isi cerita puisi
secara keselurhan baik tersirat maupun
tersurat. Selanjutnya tahap ketiga yaitu rekreasi, dalam tahap ini siswa dapat
mengubah suatu karya sastra tersebut ke
bentuk karya lain, seperti halnya
memparafrasekan bentuk puisi yang telah
diamati dan ditafsirkan menjadi sebuah
karangan, maupun menciptakan kembali
puisi dengan bahasa sendiri tanpa merubah
makna yang disajikan oleh puisi
sebelumnya.
Pembelajaran apresiasi puisi dapat
dilakukan dengan mengacu pada penilaian
diksi, gaya bahasa, kata kongret, imaji, dan
rima dalam puisi (Ismawati, 2012, hlm.
58). Kegiatan mencipta puisi termasuk
dalam apresiasi puisi, karena dalam hal ini
siswa
belajar
untuk
memahami,
menghayati
berbagai
makna
dan
kandungan
puisi
sehingga
dapat
menciptakan suatu puisi sendiri. Untuk
dapat menciptakan sebuah puisi, sebaiknya
siswa disajikan berbagai puisi agar lebih
menambah pemahaman, kepekaan, maupun
kosakata dalam menciptakan puisi.
Endraswara
(2008,
hlm.
106)
mengemukakan bahwa bila kepekaan
tersebut telah terbina dan siswa terbiasa
menangkap inspirasi, imajinasi siswa juga
harus dilatih. Menangkap inspirasi dan
mengembangkan imajinasi inilah yang
merupakan bagian dari pencerdasan
lahiriah dan batiniah dalam berolah sastra.
Kegiatan mencipta puisi dapat
dilaksanakan dengan pemberian contoh
yang kemudian siswa dapat mengkreasikan
contoh puisi tersebut dengan mencipta
puisi hasil karya sendiri yang berbeda,
namun makna yang ada dalam puisi tetap
sama dengan apa yang di contohkan.
Tujuan pembelajaran sastra adalah
mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung
didalamnya (Rusyana, dalam Wibowo.
2013, hlm. 144). Dalam hal ini, guru sastra
berperan memberikan kesempatan bagi
anak
didik untuk mengembangkan
kemampuan
apresiasinya,
misalnya
menyediakan bahan bacaan sastra dan
mengembangkan kemampuan anak didik
untuk memahami unsur sastra yang
terkandung
didalamnya.
Berdasarkan
penapat tersebut, tujuan pembelajaran
apresiasi puisi di sekolah dasar ini adalah
sebagai wahana untuk menelaah suatu
kajian puisi yang imajinatif, multi tafsir
dan banyak makna agar siswa mengalami
pengalaman yang dapat dihubungkan
dalam keluasan berpikir sehingga dapat
menciptakan kembali sebuah puisi setelah
mengapresiasi.
METODE
Penelitian yang dilaksanakan adalah
peneitian tindakan kelas (PTK) dengan
menggunakan desain model John Elliot.
Penelitian Tindakan kelas Kelas menurut
Suyanto (dalam Muslich. 2009, hlm. 9)
yakni sebuah bentuk penelitian yang
bersifat reflektif dengan melakukan
Antologi Vol 3 Nomor 2 Agustus 2015
tindakan-tindakan tertentu agar dapat
memperbaiki dan meningkatkan praktik
pembelajaran di kelas secara profesional.
Penelitian ini dilaksanakan selama tiga
siklus dan masing-masing siklus terdiri dari
tiga tindakan. Penelitian ini dilaksanakan
selama tiga siklus dan masing-masing
siklus terdiri dari tiga tindakan. Penelitian
dilaksanakan di SD Negeri Cangkuang III
kecamatan Rancaekek kabupaten Bandung
dengan partisipan siswa kelas V yang
berjumlah 27 orang siswa. Instrumen
penelitian yang digunakan meliputi tes,
panduan observasi baik observasi guru
maupun observasi siswa, dan catatan
lapangan. Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini pun mencakup pengumpulan
data berupa tes, observasi, dan wawancara.
Selanjutnya, analisis data yang dilakukan
adalah menggunakan teknik kualitatif,
kuantitatif, dan teknik triangulasi. Teknik
kuantitatif digunakan utnuk mengukur data
berupa angka-angka, data kualitatif
digunakan untuk mengolah data yang
bersifat
kualitatif
deskripsif
yang
dihasilkan dar catatan lapangan, panduan
observasi, dan wawancara. Kemudian
teknik triangulasi merupakan pengolahan
data dengan menyesuaikan instrumen
penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah
dilaksanakan pada siswa kelas V Sekolah
Dasar Negeri Cangkuang III kecamatan
Rancaekek, kabupaten Bandung diperoleh hasil
penelitian yang meliputi temuan-temuan
penting mencakup model pembelajaran strata
yang diteliti dalam meningkatkan kemampuan
siswa dalam kegiatan apresiasi puisi.
Penelitian ini diaksanakan berdasarkan
langkah-langkah yang terdapat pada model
strata. Teks puisi yang disajikan disetiap
tindakan merupakan puisi yang berbedabeda sesuai tema atau topik tertentu. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui perkembangan
siswa dalam pembelajaran apresiasi puisi
mencakup kegiatan menelaah isi puisi
samapai
menulis
puisi,
sehingga
diharapkan
meningkat.
kemampuan
siswa
akan
Pada siklus I, proses atau aktivitas
pembelajaran apresiasi puisi menggunakan
model strata ini belum dapat meningkatkan
hasil belajar siswa. Hal ini disebebkan oleh
belum
dipahaminya
alur
pembelajaran
apresiaandai kata sulit meupun meunuliskan isi
cerita puisi. Dalam hal menelaah isi puisi yang
mencakup menandai kata sulit dan menuliskan
isi cerita puisi, siswa cenderung tidak
menunggu instruksi dari guru sehingga
langsung mengerjakannya. Aspek menuliskan
isi cerita puisi pun belum sepenuhnya siswa
kuasai, hal ini dapat terlihat dari cerita puisi
yang dituliskan oleh siswa adalah puisi yang
disajikan tanpa merubah sedikitpun penggalan
kata-katanya. Namun sebagian kecil siswa
sudah dapat menuliskan isi cerita puisi
walaupun belum sistematis dan belum dapat
mengaitkan antar bait dalam puisi yang
disajikan
Pada siklus II, pembelajaran apresiasi
puisi mulai ada peningkatan walaupun belum
terlalu signifikan. Pneningkatan yang terjadi
antara lain adanya peningkatan dalam
penggalian ide saat menulis puisi maupun cara
siswa menuliskan isi cerita puisi pada lembar
kerja siswa. Sebagai perbaikan untuk
dilaksanakan pada Siklus II, ada beberapa
cara yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam
mengapresiasi puisi. Cara untuk membuat
siswa agar dapat menelaah isi puisi, yang
pertama adalah untuk menandai kata sulit,
siswa perlu menyelami kata konotatif atau
kata kiasan. Esten (2007, hlm.37)
menyebutkan bahwa petunjuk untuk
memahami sebuah puisi adalah dengan
menyelami makna konotatif. Kata konotatif
yang dibentuk dalam sebuah puisi adalah
suatu imajinasi atau citraan pengarang yang
multitafsir sehingga perlu penggalian
makna. Maka dalam menandai kata sulit,
siswa perlu dibimbing untuk menyamakan
persepsi dengan cara berdiskusi.
Pada Siklus III, dalam penilaian proses
atau aktivitas, siswa mulai banyak peningkatan
yang terlihat. Hal ini diketahui dari proses
pembelajaran apresiasi dengan menggunakan
Antologi Vol 3 Nomor 2 Agustus 2015
model strata pada siklus III ini mulai dapat
dikuasai siswa. Kata-kata sulit yang ditandai
siswa dapat dipahami dengan baik, hal ini
terlihat dari respon aktif siswa saat kegiatan
menandai kata sulit. Selanjutnya dalam
menuliskan isi cerita puisi, kemampuan siswa
mulai meningkat. Kemampuan siswa dikatakan
meningkat, karena tulisan siswa mengenai isi
puisi yang diapresiasi mulai dapat menuliska
pertalian makna secara sistematis dan
mendalam sehingga menambah poin bagi
siswa.
Peningkatan dalam hal proses atau
aktivitas pembelajaran apresiasi puisi dari
siklus I sampai siklus III dapat dilihat dari
grafik berikut ini :
nilai aktivitas
80
60
40
20
0
nilai aktivitas
Dalam grafik peningkatan nilai
proses aktivitas pada siklus I sampai
dengan siklus III, dapat diketahui bahwa
perolehan rata-rata nilai aktivitas siswa
pada siklus I adalah 53. Rata-rata nilai
aktivitas pada siklus II adalah 64,5 dan
rata-rata nilai aktivitas pada siklus III
adalah 78,3.
Pembelajaran apresiasi puisi sebagai
bahan penelitian ini juga mengolah nilai siswa
dalam menulis puisi yang dilaksanakan sebagai
proses evaluasi siswa. Kegiatan yang dilakukan
adalah dengan penyajian sebuah puisi, lalau
menelaah isi puisi yang dijadikan sebagai
kegiatan penerjaan lembar kerja siswa,
kemudian menulis isi puisi sebagai nilai hasil.
Apek yang dijadikan penilaian dalam menulis
puisi ini melipti relevansi isi, diksi, dan makna
kata.
Pada Siklus I, puisi yang ditulis sebagian
besar siswa belum relevan dengan puisi yang
diapresiasi. Siswa hanya menuliskan puisi
secara pengetahuan mereka saja dilihat dari
judul puisi yang diapresiasi. Sebagai contoh,
puisi yang diapresiasi berjudul desaku yang
isinya mencakup keindahan desa dan cerita
pengarang ketika melewati sebuah jalan di
desanya. Siswa menuliskan puisi sebatas pada
pengetahuannya terhadap judul puisi yang
diapresiasi yakni tentang desa, tanpa
memperhatikan isi puisi yang ditelaah atau
diapresiasi meliputi makna dan unsur cerita
dari puisi tersebut. Kemudian, diksi yang
dipakai belum terlalu menjurus pada pilihan
kata yang menarik yang lazimnya ada dalam
sebuah puisi. Serta makna kata yang digunakan
kurang sesuai dengan puisi yang dituliskan.
Pada siklus II, penggalian ide dilakukan
siswa dengan bimbingan guru menggunakan
bantuan media gambar dan metode sugesti
imajinatif sehingga siswa lebih bisa menangkap
ide dari ceramah guru. Hal ini berdampak pada
puisi yang dihasilkan siswa mulai mengalami
peningkatan dilahat dari relevansi isi, diksi, dan
makna kata yang mulai meningkat. Diksi yang
digunakan siswa mulai kreatif seperti
menuliskan kata pesawat dengan sebutan
burung besi atau menyebutkan kata pahlawan
dengan pelita bangsa. Makna kata yang
dituliskan oleh siswa mulai sesuai, walaupun
sebagain kecil siswa belum dapat meuliskan
kata yang maknanya sesuai dengan puisi yang
ditulis dan diapresiasi. Perbaikan dalam
kegiatan mengkonsep puisi adalah dengan
penggalian ide dan penyusunan bahasa.
Menurut
Waluyo
(1995,
hlm.25)
menyebutkan
bahwa
perlu
adanya
penyusunan dalam membuat puisi. Katakata yang digunakan diatur sebaik-baiknya
dengan memperhatikan irama dan bunyi.
Maka sebagai bentuk perbaikan, siswa
dapat dibimbing untuk mengkonsep puisi
dengan memperhatikan rima dan kata-kata
yang dipilih sesuai dengan puisi yang
sedang ditulis.
Pada siklus III, pembelajaran apresiasi
puisi
dibantu
dengan
media
musik
instrumental. Berdasarkan hasil wawancara
dengan beberapa siswa, media musik
instrumental ini dapat membuat siswa lebih
Antologi Vol 3 Nomor 2 Agustus 2015
menggali ide karena siswa terbawa oleh alunan
musik instremental yang dilantunkan. Hal ini
menyebabkan puisi yang dihasilkan siswa
mengalami peningkatan dalam aspek diksi dan
makna kata.
Peningkatan dalam menulis puisi dari
Siklus I sampai dengan Siklus III dapat dilihat
dari grafik berikut ini :
nilai hasil
80
60
40
20
0
membacanya
maupun
dengan
menganalisis unsur-unsur pembentuk
puisi. Tahapan interpretasi dapat
dilakukan dengan cara menggali lebih
lanjut terhadap puisi yang diapresiasi.
Interpretasi yang dilakukan dapat berupa
menganalisis isi puisi dan menceritakan
isi puisi dengan menggunakan kata
sendiri. Tahapan yang ketiga yaitu
tahapan re-kreasi dapat dilaksanakan
dengan kegiatan mengubah kembali
puisi yang diapresiasi menggunakan
bahasa sendiri atau kegatan menciptakan
puisi (menulis puisi) yang tetap relevan
dengan puisi yang telah diapresiasi.
nilai hasil
Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa
nilai hasil kemampuan menulis puisi pada
Siklus I adalah 50,5. Pada Siklus II nilai
rata-rata yang diperoleh adalah 61,5.
Sedangkan pada Siklus III nilai rata-rata
yang diperoleh adalah 77.
KESIMPULAN
Berdasarkan
penelitian
mengenai
penerapan model strata utuk meningkatkan
kemampuan siswa dalam apresiasi puisi
yang dilaksanakan pada siswa kelas V
Sekolah Dasar Negeri Cangkuang III
kecamatan
Rancaekek,
kabupaten
Bandung. peneliti dapat menyimpulkan
beberapa hal yang berkaitan dengan hasil
penelitian. Adapun kesimpulannya adalah
sebagai berikut :
1. Pembelajaran apresiasi puisi seperti
menelaah isi puisi dan menulis puisi
dapat dilakukan dengan menggunakan
model strata. Model stara merupakan
model pembelajaran yang melibatkan
tiga tahapan pembelajaran. Tahapan
tersebut yakni penjelajahan, interpretasi,
dan re-kreasi. Penjelajahan dapat
dilakukan dengan cara pelacakan isi
puisi secara menyeluruh baik dengan
2. Aktivitas belajar siswa dalam apresiasi
puisi dengan menggunakan model strata
mengalami peningkatan. Hal ini dapat
dilihat dari perkembangan pemerolehan
nilai yang didapat peserta didik pada
setiap siklus. Pada penilaian aktivitas
Siklus I, hanya sebagian kecil siswa saja
yang mampu terlibat aktif dalam proses
pembelajaran, siswa hanya menyimak
peneliti dan cenderung pasif dalam
kegiatan apresiasi puisi. Pada Siklus II
siswa mulai berani mengajukan
pendapat dan mencoba membacakan
puisi di depan kelas. Pada Siklus III,
partisipasi
siswa
dalam
proses
pembelajaran semakin aktif ditandai
dengan kemampuan siswa dalam
merespon peneliti baik dalam menjawab
pertanyaan maupun dalam mengajukan
pendapat. Kemudian dalam aspek
menandai kata sulit maupun aspek
menuliskan isi cerita puisi kemampuan
siswa masih rendah, hal ini terlihat dari
nilai siswa pada siklus I yaitu 53.
Sedangkan pada Siklus II baik dalam
menandai kata sulit maupun menuliskan
isi cerita puisi, nilai siswa mulai
meningkat walaupun dalam menuliskan
isi cerita puisi, siswa belum mengaitkan
antar bait sehingga hanya menuliskan isi
cerita puisi dari bait pertama atau secara
umum dari judul saja. Nilai rata-rata
pada siklus II yakni 64,5. Pada siklus III
Antologi Vol 3 Nomor 2 Agustus 2015
nilai rata-78,3 dengan di sertai
partisipasi siswa semakin terlihat aktif
dan dinamis dalam proses pembelajaran.
3. Kemampuan menulis puisi sebagai
bentuk
apresiasi
mengalami
peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari
rata-rata menulis puisi yang meliputi
tiga aspek yaitu relevansi isi, diksi, dan
makna kata. Rata-rata nilai kemampuan
menuis puisi dengan menggunakan
model strata apada Siklus I sebesar 50,5.
Pada siklus II nilai rata-rata siswa
mengalami peningkatan, yakni sebesar
61,5. Kemudian pada Siklus III rata-rata
meningkat menjadi 77.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Y. (2012). Pembelajaran Bahasa
Berbasis
Pendidikan
Karakter.
Bandung: Refika Aditama
, H, J. (1995). Teori dan Apresiasi Puisi.
Jakarta : Erlangga
Wibowo, A. (2013). Pendidikan Karaker
Berbasis Sastra. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
Zulela, MS. (2012). Pembelajaran
Bahasa Indonesia Apresiasi Sastra
di Sekolah Dasar. Bandung :
Remaja Rosdakarya
Endraswara, S. (2008). Sanggar Sastra.
Yogyakarta : Ramadhan Press.
Esten,
M.
(2007).
Memahami
Puisi.
Bandung : Angkasa
Ismawati, E dan Faraz Umaya. (2012).
Belajar Bahasa di Kelas Awal.
Yogyakarta: Ombak
Muslich. (2012). Melaksanakan PTK itu
Mudah. Jakarta : Bumi Aksara
Rochmatin. (2012, 11 November).
Problematika Pengajaran Sastra di
Lembaga Pendidikan Formal.
Diakses dari:
http://jelajahduniabahasa.wordpress.c
om/
Waluyo
Download