BAB II KONSEP NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK A. Pengertian

advertisement
BAB II
KONSEP NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK
A. Pengertian Nilai
Nilai dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah sifat-sifat atau halhal yang penting, berguna bagi kemanusiaan dan tidak ada ukuran yang pasti
untuk menentukan.1 Jadi nilai tidak lain adalah suatu sikap yang menurut
sekelompok orang dianggap berharga.2 Menurut Abdul Mujid, nilai disebut
dengan value atau qi͂ mah. Nilai sangat erat pengertiannya dengan aktivitas
manusia yang komplek sehingga sulit ditentukan batasnya. Menurut Muhaimin,
bahwa nilai adalah suatu penepatan atau suatu kualitas objek yang menyangkut
suatu jenis apresiasi atau minat.3
Sedangkan Nurani Soyomukti mengatakan bahwa nilai merupakan
suatu yang keberadaannya nyata, tetapi ia bersembunyi dibalik kenyataan yang
tampak, tidak tergantung pada kenyataan-kenyataan lain dan tidak pernah
mengalami perubahan (meskipun pembawa nilai bisa berubah).4 Jahaya S.
Praja dalam bukunya “Aliran-Aliran Filsafat & Etika” mengatakan bahwa nilai
artinya harga. Sesuatu mempunyai nilai bagi seseorang karena ia berharga bagi
dirinya. Pada umumnya orang mengatakan bahwa nilai sesuatu melekat pada
1
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2002), hlm. 783.
2
Muhammad Zein, Pendidikan Islam Tinjauan Filosofis, (Yogyakarta: Tim Dosen
Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, 1987), hlm. 68.
3
Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosof dan Kerangka
Dasar Operasionalnya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 109.
4
Nurani Soyomukti, Pengantar Filsafat Umum dari Pendekatan Historis, Penataan
Cabang-Cabang Filsafat, Pertarungan Pemikiran, Memahami Filsafat Cinta, Hingga Panduan
Berfikir Kritis Filosofis (Yogjakarta: Ar-Ruz Media, 2011), hlm. 210.
15
16
benda dan bukan diluar benda tetapi ada juga yang berpendapat bahwa nilai itu
diluar benda.5
Nilai bersifat ideal, abstrak dan tidak dapat disentuh oleh pancaindra,
sedangkan yang dapat ditangkap hanya barang atau tingkah laku yang
mengandung nilai tersebut. Nilai juga bukan fakta yang berbentuk kenyataan
dan konkret. Oleh karena itu, masalah nilai bukan soal benar atau salah tetapi
soal dikehendaki atau tidak, disenangi atau tidak sehingga bersifat subyektif.
Nilai tidak mungkin diuji dan ukurannya terletak pada diri yang menilai.6
Dari beberapa pengertian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa
nilai adalah sesuatu yang tidak tampak atau tidak dapat dilihat dengan kasat
mata namun sesuatu tersebut tetap melekat pada suatu objek sehingga objek
tersebut mempunyai arti lebih.
B. Pengertian Pendidikan Akhlak
Pendidik berasal dari kata dasar “didik” mendapat awalan pe- dan
akhiran -an yang berarti proses perubahan sikap seseorang atau kelompok
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
latihan,
proses,
pembuatan
dan
cara
mendidik.7Menurut
W.J.S
Poerwadarminta, istilah pendidikan semula berasal dari bahasa Yunani yaitu
paedagogie yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini
kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan education yang
5
Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat & Etika (Bogor: Kencana, 2003), hlm. 59.
Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam: Landasan Teori dan Praktis, (Pekalongan:
STAIN Pekalongan Press, 2007), hlm.35-36.
7
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1998), hlm. 701.
6
17
berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering
diterjemahkan dengan tarbiyah yang berarti pendidikan.8
Menurut Sudirman, istilah pendidikan berarti bimbingan atau
pertolongan yang diberikan dengan segaja kepada anak didik oleh seorang
dewasa agar ia menjadi dewasa. Dalam perkembangan selanjutnya, berarti
usaha yang dijalankan oleh seorang atau kelompok orang untuk memengaruhi
seseorang atau kelompok agar menjadi dewasa agar mencapai tingkat hidup
dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.9Menurut undang-undang
No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan
adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata al-khulu͂q atau alkhulq, yang secara etimologis berarti (1) tabiat, budi pekerti, (2) kebiasaan atau
adat, (3) keperwiraan, kesatrian, (4) agama, dan (5) kemarahan (al-gadab).10
Secara terminologi budi pekerti merupakan perpaduan dari rasa yang
bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia.11 Etika menurut Ahmad
Amin, merupakan suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk,
menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, mengatakan tujuan
yang harus dicapai oleh manusia dalam perbuatan dan menunjukan jalan untuk
melakukan apa yang harus diperbuat.12
8
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
1996), hlm. 250.
9
Sudirman, Ilmu Pendidikan, (Bandung:CV. Remaja Rosdakarya, 1987), hlm.4.
10
Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), hlm. 102.
11
Rachmat Djantika, Sistem Etika Islam (Akhlak Mulia), Jakarta: Pustaka Panjimas,
1992), hlm.26.
12
Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), Jakarta: Bulan Bintang, 1993), hlm. 3.
18
Menurut Zainuddin yang menyimpulkan pendapat Al-Ghozali,
setidaknya akhlak itu harus mencakup dua syarat:
a. Perbuatan itu harus konstan, yaitu dilakukan berulangkali dalam bentuk
yang sama sehingga dapat menjadi kebiasaan (habit forming).
b. Perbuatan yang konstan itu harus dengan mudah sebagai wujud refleksi dari
jiwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan karena adanya
tekanan-tekanan, paksaan-paksaan dari orang lain, atau pengaruh-pengaruh
dan bujukan-bujukan yang indah.
Berkaitan dengan pendidikan akhlak dalam ruang lingkup pendidikan,
penulis mengambil kesimpulan bahwa pendidikan akhlak adalah pendidikan
tentang budi pekerti/tingkah laku dan bukan hanya teori tetapi bermula dari
hati kemudian menjadi suatu kebiasaan.
C. Dasar Pendidikan Akhlak
Menurut H. Hamzah Ya’kub, bahwa yang menjadi ukuran baik dan
buruknya perbuatan manusia didasarkan atas ajaran Tuhan. Segala perbuatan
yang diperintahkan Tuhan itulah yang baik dan segala perbuatan yang dilarang
Tuhan itu perbuatan buruk, yang sudah dijelaskan dalam Alquran.13Adapun
dasar pendidikan akhlak dalam Alquran:
             
            

13
H. Hamzah Ya’kub, Etika Islam, (Bandung: Diponerogo, 1985), hlm. 13.
19
Artinya: “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekalikali janganlah kamu mengatakan kepada kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan
yang mulia.” (Al-Israa’ : 23)
Dari ayat diatas terlihat bahwa Allah Swt. memerintahkan kepada kita
agar jangan sekali-kali menyembah Tuhan selain Allah Swt. dan kita
diwajibkan untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang tua. Hal ini
merupakan pendidikan akhlak yang terpuji dan hendaknya pendidikan akhlak
tersebut ditanamkan sejak dini kepada anak-anak agar mereka tidak menjadi
generasi yang tidak berakhlak atau amoral.
Dasar pendidikan nilai akhlak juga ditunjukan dalam As-sunnah
sebagaimana Rasulullah saw. dengan tegas menyebutkan misi utamanya dalam
berdakwah yang surat dalam sebuah sabda:
ُ ‫إِنَّ َما بُ ِع ْث‬
‫ق‬
ِ ‫ار َم االَ ْخ ََل‬
ِ ‫ت الُتَ ِّم َم َم َك‬
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia”.
Ayat dan hadits di atas, menjelaskan bahwa nilai-nilai luhur agama
yang sifatnya mutlak itu amat diperlukan dalam kehidupan dan berguna bagi
umat manusia dalam upaya memperoleh ridha Allah Swt. sebagai perwujudan
bahwa perintah dan larangan-Nya ditaati serta membentuk akhlakul karimah
pada diri seseorang.
20
D. Tujuan Pendidikan Akhlak
Pendidikan akhlak merupakan upaya manusia dalam mempertahankan
hidupnya. Akhlaklah yang membedakan manusia dengan binatang. Kemajuan
ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan akhlak tidak akan mampu
mempertahankan manusia dari kepunahan. Semakin tinggi pengetahuan,
semakin tinggi pula peralatan dan tenik membinasakan sesama manusia.
Tujuan pendidikan akhlak pada dasarnya sama dengan tujuan
pendidikan agama Islam yaitu berbudi luhur. Secara umum tujuan pendidikan
akhlak adalah agar tercipta kehidupan masyarakat yang tertib, damai, harmonis
tolong menolong, tentram dan bahagia.14 Menurut M. At-Thiyah Al-Abrasy,
tujuan pendidikan akhlak dalam Islam bukan sekedar memberikan ilmu
pengetahuan kepada murid tetapi bertujuan mendidik akhlak dengan
memperhatikan segi-segi kesehatan fisik dan mental, perasaan dan praktek
serta mempersiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat, sedangkan
tujuan pendidikan akhlak adalah membentuk orang-orang beramal baik, keras
kemauannya, sopan berbicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku dan
perangai, bijaksana, ikhlas, jujur dan suci.15
Menurut Abdul Kholid pendidikan akhlak bertujuan membentuk jiwa
anak didik menjadi bermoral, berjiwa bersih, kemauan keras, cita-cita besar,
tahu akan arti kewajiban dan pelaksanaannya dalam menghormati hak-hak
14
Abudin Nava, Materi Pokok Aqidah Akhlak, (Dirjen Binbaga dan UT, 1996), hlm. 193.
M. Athiyah Al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terj. Bustain Al-Ghani,
dkk., (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), Hlm. 104.
15
21
orang lain, dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk, menghindari
suatu perbuatan yang tercela dan selalu ingat kepada Allah.16
Menurut Zakiyah Daradjat, tujuan pendidikan akhlak adalah
penanaman akhlak atau sopan santun yang pokok dalam agama, antara lain
sopan satun kepada Allah dan Rasulnya, terhadap orang tua dan guru, terhadap
orang yang lebih tua, sesama kawan, penanaman rasa kaih sayang sesama
manusia dan terhadap binatang, sifat-sifat benar dan adil.17
Menurut M. Arifin, tujuan pendidikan akhlak berarti berbicara tentang
nilai-nilai ideal yang bercorak Islam. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan
pendidikan akhlak tidak lain adalah tujuan yang merealisasikan idealitas
Islam,sedangkan idealitas Islam itu sendiri pada hakikatnya adalah nilai
perilaku manusia yang didasari oleh iman dan taqwa kepada Allah sebagi
sumber kekuasaan yang harus ditaati.18
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan
pendidikan akhlak adalah membentuk budi pekerti luhur, berkepribadian Islam,
terpelihara hubungan yang baik antara manusia dengan Allah dan Rasulnya,
dengan sesama manusia dan dengan makhluk yang lain sehingga dapat tercapai
kebahagiaan di dunia dan akhirat .
E. Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak
Alquran dan hadits yang menjadi pedoman hidup umat Islam tersirat
banyak anjuran-anjuran kebaikan. Semua yang ada didalamnya terkandung
16
Abdul Kholid, dkk., Pemikiran Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1999),
hlm. 121.
17
Zakiyah Daradjat, Kurikulum Pendidikan Agama, (Depag RI, 1970), hlm.113.
M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Duma Aksara: 1996), hlm. 199.
18
22
nilai-nilai pendidikan yang harusnya menjadi pijakan bagi umat Islam,
termasuk nilai-nilai pendidikan akhlak.Bedasarkan literatur yang dikumpulkan,
nilai-nilai
pendidikan
akhlak
yang
terkadung
dalam
Alquran
akan
dispesifikasikan ke dalam beberapa permasalahan, yakni nilai-nilai pendidikan
akhlak terkait akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap sesama manusia dan
akhlak terhadap lingkungan.
1. Akhlak terhadap Allah Swt.
Akhlak terhadap Allah Swt. terdiri dari kewajiban seorang hamba
kepada tuhannya. Dalam hal ini, yang termasuk dalam sifat akhlak terhadap
Allah diantaranya takwa, cinta dan rida, ikhlas, tawakal, dan taubat.
a. Takwa
Menurut Yunahar Ilyas, bartakwa di dunia
ibarat berjalan di
tengah rimba dengan sangat berhati-hati. Dia awas terhadap lobang
supaya tidak terperosok ke dalamnya, awas terhadap duri supaya tidak
melukai kulitnya, dan awas terhadapbinatang buas supaya tidak
menerkamnya. Seorang yang bertaqwa akan hati-hati sekali menjaga
segala perintah Allah Swt. supaya dia tidak meninggalkannya, hingga dia
selamat hidup dunia akhirat.
b. Cinta dan Ridha
Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang
menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang dicintainya
dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang. Cinta dengan pengertian
di atas sudah merupakan fitrah setiap manusia. Islam tidak hanya
mengakui keberadaan cinta itu ada pada diri manusia, tetapi juga
23
mengaturnya sehingga terwujuadnya dengan mulia. Bagi seorang
mukmin, cinta yang pertama dan utama sekali diberikan kepada Allah
Swt. yang lebih dicintai dari pada segala-segalanya. Dalam hal ini Allah
Swt. berfirman:
            
              
     
Artinya: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang
menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya
sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orangorang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa
(pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan
bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”. (QS.
Al- Baqarah: 165)19
Dia mencintai Allah lebih dari apapun, tidak lain karena dia
menyadari bahwa
Allah-lah
yang menciptakan, mengelola dan
memelihara alam semesta dan seisinya. Dengan Rahmat-Nya, Allah
menyediakan semua fasilitas yang diperlukan oleh umat manusia, jauh
sebelum manusia itu sendiri diciptakan. Dia dengan Rahim-Nya
menyediakan segala kenikamatan bagi orang-orang yang beriman sampai
hari akhir nanti.
Sejalan dengan cinta, seorang muslim harus dapat bersikap rida
dengan segala aturan dan keputusan Allah Swt. Artinya dia harus dapat
19
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta: Lembaga Pengakajian dan Pengalaman
Islam (LPPI), 2004), hlm. 25.
24
menerima dengan sepenuh hati, tanpa penolakan sedikitpun segala
sesuatu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya baik berupa perintah,
larangan-larangan dan petunjuk-petunjuk lainnya. Dengan keyakinan
seperti itu dia juga akan rela menerima segala qadho dan qadar Allah
terhadap dirinya. Dia akan bersyukur saat segala kenikmatan dan akan
bersabar atas segala cobaan.20
c. Ikhlas
Secara terminologis yang dimaksud dengan ikhlas adalah beramal
semata-mata mengharap rida Allah Swt. Sayyid Sabiq mendefinisikan
ikhlas sebagi berikut: “Amal dan ijtihad mencari ridha Allah Swt tanpa
mempertimbangkan harta, pangkat, status, popularitas, kemajuan atau
kemunduran, supaya dia dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan amal
dan kerendahan akhlaknya serta dapat berhubungan langsung dengan
Allah Swt.”
Ikhlas dalam bahasa populernya lebih dikenal sebagai perbuatan
tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharap ridha Allah Swt. dan Allah
memerintahkan kepada manusia untuk beribadah kepada-Nya dengan
penuh keikhlasan dan beramal semata-mata mengharap ridha-Nya.
d. Tawakal
Kitab Dalil Al-Falihin karya Muhammad ibn Alan as-Shiddiwi,
menjelaskan bahwa definisi tawakal adalah membebaskan hati dari
segala ketergantungan kepada selain Allah Swt. dan menyerahkan
20
Ibid., hlm. 28.
25
keputusan segala sesuata kepada-Nya.21 Seorang muslim hanya boleh
bertawakal kepada Allah Swt. Sesuai dalam firman-Nya:
         
       
Artinya: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan
di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya
Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya dan sekali-kali
Tuhan tidak lalai dari apa yang yang kamu kerjakan.”(QS. Huud: 123)
Tawakal adalah buah keimanan, bahwa setiap orang yang beriman
semua urusan kehidupan ada ditangan Allah, mereka akan menyerahkan
segala sesuatunya kepada-Nya dan akan rida dengan segala kehendakNya. Dia tidak takut menghadapi masa depan, tidak kaget dengan segala
kejutan. Hatinya tenang dan tentram, karena yakin keadilan dan rahmat
Allah Swt. Oleh sebab itu, Islam menetapkan bahwa iman harus diikuti
oleh sikap tawakal.
e. Taubat
Taubat berakar dari kata taba yang berarti kembali. Orang yang
bertaubat kepada Allah Swt. adalah orang yang kembali dari sesuatu
menuju sesuatu, kembali dari sifat-sifat yang tercela menuju sifat-sifat
yang terpuji, kembali dari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali
dari kemaksiatan menuju taat, kembali kepada Allah Swt. setelah
meninggalkan-Nya dan kembali taat setelah menentang-Nya.22
21
Ibid., hlm. 44.
Ibid., 56.
22
26
2. Akhlak terhadap sesama manusia.
a. Pergaulan
Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pergaulan
sehari-hari dengan masyarakat terutama muda-mudi. Topik yang akan
dibahas dalam hal ini adalah persahabatan muda-mudi. Menjalin
persahabatan merupakan cabang dari akhlak, namun topik ini sering
membuat risau para orang tua, karena persahabatan dianggap bisa
menjerumuskan dan menghancurkan para pemuda, ataupun sebaliknya
dapat memberi pencerahan dan petunjuk kepada mereka.23
Banyak anak yang sebenarnya telah mendapatkan pendidikan baik
dari keluarga, namun kemudian justru melakukan tindakan yang tidak
diinginkan. Tak jarang para orang tua baru mengetahui kejahatan akhlak
anaknya ketika mereka ditangkap polisi tanpa memperhatikan siapa yang
menjadi sahabatnya. Mereka kurang peduli dengan masalah ini, padahal
yang paling menghancurkan seseorang adalah sahabatnya, begitupula
sebaliknya yang paling sering memberikan petunjuk kepada seseorang
juga sahabat.24
b. Nasihat
Rasulullah saw bersabda, “Agama adalah nasihat”. Maksudnya
adalah setiap muslim harus saling memberikan nasihat karena Allah Swt.
dan melihat hal yang perlu diperbaiki untuk kemudian kita ubah. Hal ini
sesuai dengan hukum: sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi
23
Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak, terj. Fauzi Faisal Bahreisy,buku asli Akhlak alMu’min, (Jakarta: Zaman, 2010), hlm. 233.
24
Ibid., 233.
27
suatu kaum sampai mereka mengubah kondisi diri mereka. Persoalan
apapun yang dihadapi, pastilah membutuhkan nasihat.25
3. Akhlak terhadap lingkungan
Akhlak terhadap lingkungan yaitu manusia tidak diperbolehkan
memanfaatkan sumber daya alam dengan jalan mengeksploitasi secara
besar-besaran sehingga timbul ketidakseimbangan alam dan kerusakan
bumi. Lingkungan harus diperlakukan dengan baik dengan cara selalu
menjaga,
merawat dan melestarikannya karena secara etika hal ini
merupakan hak dan kewajiban suatu masyarakat serta merupakan nilai yang
mutlak adanya. Dengan kata lain bahwa berakhlak yang baik terhadap
lingkungan merupakan salah satu manifestasi dari etika itu sendiri.
Pada dasarnya akhlak yang diajarkan Alquran terhadap lingkungan
bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut
adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap
alam
lingkungan.
Kekhalifahan
mengandung
arti
pengayoman,
pemeliharaan dan pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan
penciptanya.
Pandangan akhlak Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah
sebelum matang atau memetik bunga sebelum mekar. Karena hal ini berati
tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan
penciptaannya. Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati
proses-proses yang sedang berjalan dan terhadap semua proses yang sedang
terjadi sehingga ia tidak melakukan pengrusakan atau bahkan dengan kata
25
Ibid., 225.
28
lain, setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan
pada diri manusia sendiri.
Akhlak yang baik terhadap lingkungan adalah ditunjukkan kepada
penciptaan suasana yang baik serta pemeliharaan lingkungan agar tetap
membawa kesegaran, kenyamanan hidup, tanpa membuat kerusakan dan
polusi sehingga pada akhirnya akan berpengaruh terhadap manusia itu
sendiri yang menciptanya. Dari Syaddad bin Aus berkata, Ada dua hal yang
aku hapal dari Rasulullah saw. beliau berkata, “Sesungguhnya Allah
mewajibkan berlaku ihsan kepada segala sesuatu”.
Binatang, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya
diciptakan oleh Allah Swt.dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki
ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan setiap muslim
untuk menyadari bahwa semuanya adalah "umat" Tuhan yang harus
diperlakukan secara wajar dan baik.
Alquran menekankan agar umat Islam meneladani nabi Muhammad
saw. yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu). Untuk
menyebarkan rahmat itu, nabi Muhammad saw. bahkan memberi nama
semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak
bernyawa. "Nama" memberikan kesan adanya kepribadian, sedangkan kesan
itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat dengan pemilik nama.
Download