hakikat ilmu pengetahuan sosial makalah kelompok

advertisement
HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
MAKALAH KELOMPOK
Disusun sebagai syarat untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah "Konsep Dasar IPS "
( Dosen: Drs. Pamujo,MM,M.Pd )
Disusun oleh :
Kelas : 1F
Kelompok : 1
1.
2.
3.
4.
5.
Endah Ratnasari
Fifi Handiyani
Khotimah
Tri Andri P
Tulus Satriadi
1201100259
1201100291
1201100299
1201100292
1201100264
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNWERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2012/2013
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa, yang karena izin dan karunia – Nya kami
dapat menyelesaikan makalah HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN SOSIAL. Shalawat dan
salam semoga tercurah kepada Rasulullah Saw, beserta keluarga, para sahabat dan seluruh
umatya sampai akhir zaman.
Terwujudnya makalah ini tidak terlepas dari adanya bantuan dari berbagai pihak
seperti teman – teman, keluarga, pimpinan dan staf perpustakaan Universitas Muhammadiyah
Purwokerto. Kepada mereka kami ucapkan terimakasih, semoga mendapat balasan yang
berlipat ganda dari Allah Yang Maha Kuasa.
Sadar sedalam – dalamnya bahwa buku ini banyak kekurangannya, banyak
kelemahannya dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik, saran, dan masukan dari
berbagai pihak sangat kami butuhkan.
Akhirnya kami harapkan makalah HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
dapat bermanfaat bagi semua.
Purwokerto, 27 September 2012
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................
i
DAFTAR ISI............................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................
1
B. Tujuan.......................................................................................
1
C. Rumusan Masalah ....................................................................
1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial .......................................
2
B. Tujuan Pembelajaran IPS
C. Fungsi Pembelajaran IPS
D. Hubungan IPS dan IIS
E. Perspektif Global IPS
BAB III PENUTUP
A. Simpulan ..................................................................................
24
B. Saran .........................................................................................
25
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Selama ini proses pembelajaran IPS (social studies) di berbagai jenjang pendidikan
pada umumnya masih menggunakan strategi pembelajaran tradisional. Dalam
strategi pembelajaran seperti ini pendidik berkedudukan sebagai sumber ilmu, yang
cenderung bertindak otoriter dan mendominasi aktivitas kelas selama proses
pembelajaran berlangsung. Sementara itu peserta didik dituntut untuk mendengarkan,
mencatat penjelasan, dan meniru apa yang dilakukan guru. Dengan demikian strategi
pembelajaran tradisional membentuk peserta didik pasif karena kurang mendapat
kesempatan mengambil inisiatif. Berdasarkan kenyataan itu, maka pembelajaran IPS
di Indonesia belum mampu membekali ketrampilan sosial peserta didik yang dapat
dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, kita sebagai pendidik harus
menciptakan metode – metode pembelajaran yang menarik agar siswa tidak bosan.
A. Tujuan
1. Menjelaskan pandangan masyarakat tetang pentingnya pendidikan IPS
2. Menganalisis pelaksanaan pendidikan IPS di sekolah
3. Menjelaskan perlandasan politis pendidikan IPS
4.Menjelaskan keterkaitan landasan pendidikan PIPS,
B. Rumusan Masalah
1.Apa pengertian dari IPS ?
2.Apa tujuan dari pembelajaran IPS ?
3.Apa fungsi dari pembelajaran IPS ?
4.Bagaimana hubungan IPS dengan IIS ?
5.Bagaimana Perspektif Global IPS ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
Studi sosial lebih banyak menekankan pada studi tentang hubungan antara manusia
dengan masyarakat, di samping mengenai hubungan antara manusia dengan
lingkungan fisiknya. Jadi, studi sosial pada hakekatnya merupakan kajian mengenai
manusia dengan segala aspeknya dalam sistem hidup bermasyarakat. Kajian ini
dilakukan dalam bentuk pembelajaran di sekolah untuk mempersiapkan siswa
menjadi warga masyarakat yang baik, berdasarkan nilai kemasyarakatan yang hidup
dan berlaku (Barr, 1987: 1985).
Pada dasarnya, studi sosial merupakan mata
pelajaran yang bersumber dari ilmu-ilmu sosial, yang digunakan sebagai materi
pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Dengan kata lain, bahan pembelajaran
pendidikan IPS itu diambil dari materi ilmu sosial untuk kepentingan pendidikan
kewarganegaraan. Tentu saja bahan yang dipetik itu harus dipilih secara selektif,
sehingga relevan dan mampu membantu peserta didik dalam rangka memahami
banyak manusia dan berbagai hal yang berkaitan dengan interrelasinya, baik yang
terjadi pada masa lalu, masa kini, maupun masa datang. Hertzberg (1981: 1-2)
menyatakan, bahwa
“The social sciences thus simplified have always included
history, some from political science, and at various time geography, economics,
sociology, anthropology, and psychology. Dalam kenyataannya, perkembangan
pendidikan studi sosial atau ilmu pengetahuan sosial (IPS) di Indonesia, banyak
mengambil ide, pemikiran dan pendapat yang berkembang di Amerika Serikat,
terutama yang menyangkut tentang ide dasarnya. Akan tetapi, dalam hal yang
berkaitan dengan tujuan, materi dan pelaksanaannya dikembangkan sendiri sesuai
dengan tujuan pendidikan nasional dan aspirasi yang berkembang dalam masyarakat
Indonesia itu sendiri. Kemudian untuk realisasi pembelajaran pendidikan IPS di
sekolah bersandar pada konsep, bahwa IPS adalah suatu program pendidikan sebagai
suatu keseluruhan
yang memusatkan kajiannya tentang peran dan relasi manusia dengan lingkungan
alam
fisik
maupun
lingkungan
sosialnya.
Kemudian
mengenai
bahan
pembelajarannya diambil dari berbagai ilmu sosial dan ilmu kemanusiaan (Barr,
1987: 194-196).
B. Tujuan Pembelajaran IPS
Seperti diketahui, telah dikenal secara luas tiga tradisi dalam lapangan pembelajaran
studi sosial. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Barr (1987: 26-27), bahwa tiga
tradisi itu terdiri dari: Citizernships Transmission, Social Studies Taught as a Social
Science, dan Reflective Inquiry. Lebih jauh tiga tradisi tersebut dijelaskan sebagai
berikut:
1. Citizenships Transmission, merupakan tradisi pengajajaran studi sosial sebagai
transmisi kewarganegaraan. Dalam pelaksanaannya tradisi ini menggunakan
pendekatan indoktrinasi. nilai Anggapan dasarnya adalah, bahwa para pengajar
studi sosial mempunyai kewajiban untuk menanamkan nilai-nilai dasar atau
kemandirian (self-evident values). Tradisi ini sangat populer dan mendapat
dukungan yang sangat luas, baik dari kalangan ahli-ahli ilmu sosial maupun para
pengajar studi sosial. Esensi dari tradisi ini adalah penanaman tentang apa yang
dipertimbangkan sebagai pengetahuan yang paling diminati, nilai-nilai dan
kecakapan-kecakapan yang diasumsikan sangat penting untuk mempertahankan
kelangsungan hidup suatu kebudayaan (Barr, 1987: 26, Waney, 1989: 21).
2. Social studies taught as a Social Science, yang menempatkan pengajaran studi
sosial dalam kedudukannya sebagai ilmu sosial (social science). Berbeda dengan
tradisi
transmisi kewarganegaraan, dalam pelaksanaannya tradisi yang kedua ini
memusatkan perhatiannya kepada struktur, metodologi, dan substansi ilmu-ilmu
sosial. Para pendukungnya terbagi-bagi sesuai dengan disiplin ilmu sosial mana
yang paling banyak mendapat perhatian (Waney, 1989: 21).
3. Reflective Inquiry, yang menekankan pada pentingnya mempersiapkan peserta
didik sadar
akan
kewarganegaraannya.
Komponen
yang
paling
penting
dari
segi
kewarganegaraan adalah kemampuan siswa mengidentifikasikan masalah-masalah
dan isu-isu sosial dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan kebijakan dan
keyakinan (Barr, 1987: 26-27). Kewarganegaraan sebagai suatu proses
pengambilan keputusan sosio-politik didasarkan atas dua anggapan, yaitu:
a) kerangka sosio-politik demokrasi yang didasarkan atas keyakinan, bahwa
semua rakyat terpanggil untuk mematuhi ketentuan-ketentuan yang akan
mengatur mereka
b) menyangkut pengambilan keputusan yang unik, yang berlangsung pada
situasi tak menentu dan setiap pilihan yang tertentu bukan di antara baik dan
tidak baik, tetapi di antara apa yang dipandang baik dan apa yang dilakukan
untuk memperbaikinya (Waney, 1987: 21-22). Berpijak dari tradisi studi sosial
yang ke-3 maka dapat dinyatakan di sini, bahwa pendidikan kewarganegaraan
dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang mengarah kepada
peningkatan kemampuan peserta didik tentang bagaimana membuat keputusan
yang menyangkut masalah-masalah sosial yang utama yang tampak sedang
mempengaruhi kehidupan mereka.
C. Fungsi Pembelajaran IPS
Fungsi pembelajaran ilmu sosial adalah untuk mengembangkan kemampuan
peserta didik agar mampu mengidentifikasi masalah-masalah sosial dan mengevaluasi
data-data agar keputusannya itu sesuai dengan kepentingan mereka (Waney, 1987:
22). Oleh karena itu, sikap kritis peserta didik sebagai warga negara perlu
dikembangkan dalam pembelajaran IPS sesuai dengan tradisi Reflective Inquiry.
Lebih jauh dalam pelaksanaannya di lapangan, pendidikan ilmu-ilmu sosial adalah
untuk menanamkan kepada peserta didik suatu sikap agar mereka menjadi warga
negara yang baik. Dalam realisasinya, studi sosial mengajarkan kepada para siswa
tentang bagaimana berpikir seperti yang berlaku dalam studi sosial berdasarkan pada
warisan budaya. Konsepsi ini mengkondisikan generasi yang lebih tua untuk
memberikan pembelajaran kepada generasi muda dengan menekankan kepada
kemampuan pemberian jawaban kepada berbagai tipe masalah yang dihadapi (Fenton,
1967: 1-2). Dengan demikian, proses pendidikan yang perlu dilakukan adalah dengan
jalan memperkenalkan konsep, generalisasi, dan teori, yang mendasari cara berpikir,
dan cara bekerja berbagai disiplin ilmu sosial. Untuk mencapai tujuan ini, maka perlu
dilakukan
pemilihan secara teliti terhadap materi yang harus dipelajari. Pemilihan itu dilakukan
berdasarkan ruang lingkup materi dan kedudukan materi yang akan diajarkan dalam
suatu disiplin ilmu sosial. Di samping itu, juga perlu dipertimbangkan mengenai
bentuk pendidikan studi sosial yang dikehendaki dan pertimbangan pendidikan
mengenai perkembangan peserta didik, perkembangan teori belajar dan proses belajar,
arah kebijakan politik, kondisi sekolah, serta lingkungan sosial budaya yang
melingkupi suatu lembaga pendidikan. Sudah pasti, disiplin ilmu-ilmu sosial tetap
merupakan sumber utama materi kurikulum pendidikan studi sosial. Materi itu dapat
dikembangkan mulai dari aspek metodologi disiplin ilmu. Dapat juga pemilihan
materi tersebut diperoleh dari gabungan beberapa aspek. Mengenai cara pemilihan
materi dalam kurikulum sangat ditentukan oleh bentuk pendidikan studi sosial yang
digunakan. Dalam proses pembelajaran studi sosial, penanaman dan pemahaman nilai
sangat penting artinya bagi peserta didik agar mereka nantinya mampu hidup
bermasyarakat dan berbangsa secara ideal. Dalam kerangka itu, maka pendidikan ilmu
sosial harus pula dikomunikasikan kepada masyarakat melalui jalur formal maupun
media massa. Dengan cara ini diharapkan anggota masyarakat dapat meningkatkan
kualitas interaksi dan partisipasinya, baik dengan sesama anggota masyarakat maupun
dengan lembaga-lembaga sosial politik yang ada. Apabila hal itu berhasil
dilaksanakan, maka tidak disangsikan lagi ilmu-ilmu sosial dapat memiliki peran yang
sangat penting dalam upaya membangun masa depan yang diinginkan (Hasan, 1996:
5).
D. Hubungan IPS dengan IIS
IPS merupakan perpaduan dari ilmu-ilmu social atau IIS karena materinya mengambil
bahan-bahan dari IIS. Akan tetapi jumlah dan isi IIS yang diperlukan dalam
pembelajaran tentang pokok bahasan tertentu tidak sama. Hal ini terjadi karenaisi IIS
yang diambil harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan perkembangan
peserta didik. Dengan demikian tidak semua ilmu social diambil bagiannya untuk
dimasukan dalam setiap pokok bahasan IPS. Selain itu, pengambilan jumlah dan
bagian isi IIS yang akan diolah menjadi progam IPS juga ditentenkan oleh tingkat
pendidikannya. Lingkup dan kedlaman progam yang diajarkan pda sisiwa SD berbeda
dengan IPS yang diberikan dengan siswa SMP. Hal yang membuatnya sama adalah
bahwa IPS disusun dengan mengaitkan atau menggabungkan berbagai unsur ilmu –
ilmu social sehingga menjadi bahan yang mudah dicerna siswa yang secara umum
jalan pikirannya masih sederhana. Keterkaitan antara IPS dengan IIS akan lebih
mudah dipahami jika memperhatikan kembali batasan Edgar B. Weslei ( dalam diktat
dasar – dasar IPS oleh tim dosen UNY, UNJ, STKIP, Gorontalo) yang berpendapat
bahwa social studies (IPS) adalah ilmu – ilmu social yang yang disesuaikan dan
disederhanakan untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran. Berdasarkan
rumusan tersebut, implikasinya adalah :
 Persamaan antara IPS dengan IIS terletak pada sasaran yang
diselidiki, yaitu manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
Keduanya membahas permasalahan yang terjadi dalam hubungan
antar manusia ( masyarakat manusia ).
 perbedaannya terletak pada tujuan. IIS bertujuan memajukkan dan
mengembangkan ilmunya masing – masing dengan cara
menghimpun fakta, mengembangkan konsep dan generalisasi.
 Melalui penelitian ilmiah, para ahli melakukan pengujian hipotesis
untuk menghasilkan teori atau teknologi baru. Hal ini berbeda
dengan tujuan IPS yang lebih bersifat pendidikan, bukan untuk
menemukan teori IIS, melainkan ditunjukkan pada keberhasilan
dalam mendidik dan membelajarkan IPS untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang sudah ditetapkan.
Berdasarkan uraian tersebut, Nampak jelas bahwa IPS tidak sama
dengan IIS, tetapi menggunakan bagian – bagian IIS untuk
kepentingan pembelajaran. Oleh karena itu, berbagai konsep dan
generalisasi perlu disederhanakan sehingga lebih mudah dipahami
siswa yang pada umumnya belum matang untuk mempelajari ilmu
– ilmu tersebut. Sementara itu, IPS disusun dan di organisasi
dengan baik sesuai dengan kepentingan pendidikan dan
pembelajaran, sehingga tingkatnya lebih tinggi dari pengetahuan
ilmu pengetahuan social berada di tengah – tengah, antara
pengetahuan social dengan ilmu – ilmu social. Alasan inilah salah
satunya yang mendasari penggunaan istilah ilmu pengetahuan
social sebagai terjemahan dari social studies. Ilmu pengetahuan
social bukan ilmu, bukan pula pengetahuan.
E.Perspektif Global IPS
Penguasaan ilmu dan teknologi dalam era globalisasi sangat penting artinya sebagai
dengan IPS diwarnai oleh perlombaan antar bangsa untuk menggapai puncak ilmu
pengetahuan. Berkaitan dengan itu Hatten & Rosenthal (2001: 5) menyatakan, bahwa
penguasaan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan dalam kadar yang memadai dapat
melahirkan kemampuan kreativitas, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan
sebagai suatu tuntutan yang mutlak dalam era globalisasi.
Konteks baru bagi peningkatan daya saing antar bangsa dewasa ini adalah kebutuhan
untuk mengetahui segala perubahan. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu, berbagai bangsa dewasa ini tengah
berlomba dalam hal penguasaan ilmu npengetahuan termasuk menciptakan,
mengembangkan, dan menggunakannya dalam rangka mencapai kesuksesan
kompetitif.
Bangsa-bangsa Asia dewasa ini juga berusaha ikut ambil bagian dalam arena tersebut
dengan pembenahan-pembenahan dalam bidang pendidikan mereka. Dalam
kenyataannya untuk dapat eksis dalam era globalisasi, pendidikan merupakan unsur
penting yang harus mendapat prioritas perhatian utama. Melalui pembenahan
kurikulum, pendidikan akan dapat memberi sumbangan perkembangan seutuhnya
bagi setiap orang, baik jiwa, raga, intelegensi, kepekaan, estetika, tanggungjawab, dan
nilai-nilai spiritual. Sudah selayaknya setiap pemerintah yang bertanggung jawab
akan mempersiapkan diri agar rakyatnya dapat memasuki era global dengan kesiapan
yang mantap. Ohmae (1990: 195) menyarankan, bahwa cara yang mungkin dapat
ditempuh adalah menyelenggarakan pendidikan yang memungkinkan rakyat
memperoleh sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan yang diperlukan, penguasaan
informasi, dan penguasaan sebanyak mungkin pilihan untuk berkompetisi dalam era
global.
Kurikulum IPS juga diharapkan mampu memberdayakan siswa untuk dapat berpikir
mandiri dan kritis. Dalam dunia yang terus berubah, yang diwarnai oleh inovasi
sosial dan ekonomi tampak sebagai satu kekuatan pendorong untuk meningkatkan
kualitas imajinasi dan kreativitas sebagai ungkapan dari kebebasan manusia dan
standarisasi
tingkah laku perorangan. Sesuai dengan harapan UNESCO (1996: 94) keinginan
untuk
mengembangkan imajinasi dan kreativitas generasi muda harus disertai dengan
adanya penghargaan terhadap hasil karya mereka.
Mengingat perkembangan dunia ilmu pengetahuan yang terjadi, maka pendidikan IPS
atau studi
sosial
(social
studies) diupayakan selalu memperhatikan juga
perkembangan ilmu-ilmu alam (science) dan teknologi. Suatu kenyataan, pengaruh
pengembangan sain dan teknologi sangat kuat bagi kehidupan individu dan
masyarakat. Hal ini sangat berpengaruh pula terhadap proses pengambilan kebijakan
pemerintah. Oleh sebab itu, dalam proses pembelajaran IPS atau ilmu-ilmu sosial
perlu
pula
dikombinasikan
dengan
memperluas
penekanannya
pada
pengetahuan tentang lingkungan dan sumber daya yang dapat menunjang
pembaharuan dalam masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
IPS merupakan cabang ilmu sosial yang mempelajari kehidupan sosial dan interaksinya
terhadap kehidupan masyarakat. Pembelajaran IPS sangat penting diajarkan di sekolahan
karena dengan belajar IPS siswa dapat mempelajari kehidupan – kehidupan sosial yang
ada di masyarakat. Namun pembelajaran IPS itu terkesan membosankan karena guru
terkesan monoton dalam metode pembelajarannya sehingga siswa tidak tertarik terhadap
pembelajaran IPS.
B. Saran
Sebagai guru harus pintar melakukan inovasi – inovasi baru yang tentunya menarik agar
siswa tidak bosan dan senang terhadap pelajaran IPS karena manfaat pembelajaran IPS itu
penting sekali bagi kehidupan kemasyarakatan siswa.
Daftar Pustaka
Barr, R., at. al., 1987, Hakekat Dasar Studi Sosial (terjemahan), Bandung, Sinar
Baru.
Brooks & Brooks, 1999, In Search of Understanding; The Case for Constructivist Classroom,
Allexandra, ASCD USA.
Calhoum, D.W., 1991, Social Science in an Age of Change, New York, Harper &
Row.
Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, Depdiknas.
Dickinson, A.K., Lee, P.J., & Rogers, P.J., 1984, Learning History, London,
Heinemann Education Books.
Dimyati, M., 1989, Pengajaran Ilmu-Ilmu Sosial di Sekolah: Bagian Intergral Sistem
Ilmu Pengetahuan, Jakarta, Depdikbud.
Evans, R.W.& Saxe, D.W., 1996, (eds.), “Hanbook on Teaching Social Studies
Issues”, National Council for the Social Studies Bulletin 93, Washington D.C.,
NCSS USA.
Fenton, E., 1967, The New Social Studies, New York, Holt Rinehart & Winston Inc.
Gagne, R.M., at.al., 1988, Priciple of Instructional Design, Holt Rinehart and Winston Inc.
Giese, J.R, at. al., 1991, “The Sience-Technology-Society (STS) : Theme and
Social Studies Education”, dalam Shaver, J.P. (eds.), Handbook of
Research on Social
Studies Teaching and Learning, New York, Macmillan Publishing
Company.
Garraghan, G.J., 1957, A Guide to Historical Method, New York, Fordham University
Press.
Goods, T.L., & Brophy, J.E., 1987, Looking in Classroms, New York, Harper & Row
Hasan, S.H., 1996, Pendidikan Ilmu Sosial, Jakarta, Ditjen Dikti Depdikbud.
Hertzberg, H.W., 1981, Social Studies Reform 1880-1980, Boulder-Colorado, Social Science
Education Consortium, Inc.
Jarolimek, J., 1967, Social Studies in Elementary Education, Third Edition, New
York, The Mac Millan Coy, hal. 4
Joyce, B., & Well, M., 1980, Models of Teaching, New Jersey, Prentice-Hall Inc.
Kinsler, K. & Gamble, M., 2001, Reforming Schools, London-New York, Continum.
Saxe, D.W., 1993, “Historical Topiocs and Themes” dalam Evans, R.W., & Saxe,
D.W.(eds.), Hanbook on Teaching Social Issues, New York, National Council for the Social
Studies.
Scott, K.P., 1991, “Echivening Social Studies Affective Aims: Values Empathy
and Moral Development”, dalam Shavver J.P.(ed.), Handbook of Research on Social Studies
Tecning and Learning, New York, Macmillan Publishing Company.
Shemilt, D., 1984, “Beauty and the Philosopher: Empathy in History and Classtoom”,
dalam Dickinson, A.K., Lee, P.J., & Rogers, P.J., Learning History, London, Heinemann
Educational Books.
Sunaryo, 1989, Strategi Belajar Mengajar dalam Pengajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial, Jakarta, Ditjen Dikti Depdikbud.
Syamsuri, S.A., 1989, Pengantar Teori Ilmu Pengetahuan, Jakarta, Ditjen Dikti.
Waney, M.H, 1989, Wawasan Ilmu Pengetahuan Sosial, Jakarta, Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Depertemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
White, C. , 1997, “Indonesian Social Studies Educational: Critical Analysis”, The
Social Studies (March-April), Houston, Academic Research Library.
Wineburg, S., 1997, Historical Thinking and Other Unnatural Acts, Philadelphia,
Temple University Press.
Download