kepemilikan perusahaan - Universitas Mercu Buana

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Business Ethic
And Good
Governance
Shareholders :Ownership
Fakultas
Program Studi
FEB
Magister
Manajemen
Tatap Muka
12
Kode MK
Disusun Oleh
MK35040
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Abstract
Kompetensi
Kepemilikan saham perusahaan
ditentukan oleh mayoritas pemegang
saham
Mahasiswa diharapkan mampu
memahami pemilik perusahaan
didasarkan oleh kepemilikan saham
Pembahasan
BAB I
PENDAHULUAN
PENGERTIAN SHAREHOLDER
Secara umum berarti pemegang saham dalam sebuah perusahaan, entah yg minoritas /
mayoritas,
biasanya
berada
di luar
perusahaan.Pemegang
saham (bahasa
Inggris:
shareholder atau stockholder adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah memiliki
satu atau lebih saham pada perusahaan. Para pemegang saham adalah pemilik dari
perusahaan
tersebut.
Perusahaan
yang
terdaftar
dalam bursa
efek berusaha
untuk
meningkatkan harga sahamnya. Konsep pemegang saham adalah sebuah teori bahwa
perusahaan hanya memiliki tanggung jawab kepada para pemegang sahamnya dan
pemiliknya, dan seharusnya bekerja demi keuntungan mereka.
Pemegang saham diberikan hak khusus tergantung dari jenis saham, termasuk hak untuk
memberikan suara (biasanya satu suara per saham yang dimiliki) dalam hal seperti
pemilihan dewan direksi, hak untuk pembagian dari pendapatan perusahaan, hak untuk
membeli saham baru yang dikeluarkan oleh perusahaan, dan hak terhadap asetperusahaan
pada saat likuidasi perusahaan. Namun, hak pemegang saham terhadap aset perusahaan
berada di bawah hak kreditor perusahaan. Ini berarti bahwa pemegang saham biasanya tidak
menerima apa pun bila suatu perusahaan yang dilikuidasi setelah kebangkrutan (bila
perusahaan tersebut memiliki lebih untuk membayar kreditornya, maka perusahaan tersebut
tidak akan bangkrut), meskipun sebuah saham dapat memiliki harga setelah kebangkrutan
bila ada kemungkinan bahwa hutang perusahaan akan direstrukturisasi.
Shareholder adalah seseorang yang mempunyai saham finansial di suatu perusahaan. Ini
berarti shareholder adalah pemilik sebagian dari perusahaan. Mereka akan mendapat
keuntungan jika perusahaan bertumbuh, berkembang, dan mendapat nilai lebih dari produksi
perusahaan.
Shareholder adalah orang-orang pada umumnya yang memberikan uang mereka ke pada
perusahaannya untuk menjadi pemilik sebagian dari perusahaan. Shareholder bisa membeli
2015
2
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
saham melalui pasar saham. Perusahaan membutuhkan shareholder untuk meningkatkan
modal mereka.
Shareholder akan mendapatkan keuntungan tergantung dari produksi dan berapa keuntungan
yang dihasilkan oleh perusahaan. Selain itu, karena mereka mempunyai saham di perusahaan,
mereka juga adalah stakeholder terbesar dari perusahaan. Ini karena apapun yang terjadi
dengan perusahaan, shareholder akan terkena dampaknya secara langsung. Jika perusahaan
mendapat untung, shareholder juga mendapat utung dari dividen dan bonus. Jika perusahaan
mengalami kerugian shareholder juga akan merugi.
Pendekatan Shareholder
Pendekatan shareholder sebagai cara pandang trdisional menganggap perusahaan merupakan
instrumen legal bagi para pemilik modal untuk memaksimalkan kepentingan mereka, yakni
memperoleh pendapatan dari investasi yang mereka lakukan. Paling tidak ada dua mekanisme
yang dirancang untuk menjamin kepentingan mereka, yaitu :
1. Rapat umum pemegang saham sebagai forum tertinggi untuk menentukan hal-hal
strategis perusahaan.
2. Kehadiran dewan pengawas atau komisaris dalam perusahaan bertugas mengawasi
jalannya perusahaan agar selalu sesuai dengan kepentingan para pemilik modal.
Dalam pandangan klasik dan tradisional ini, satu-satunya berdirinya sebuah organisasi
perusahaan adalah “melayani” kepentingan pemilik modal (shareholder). Dalam hal ini,
kepentingan utama para pemilik modal adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya
melalui pembagian deviden.
Pendekatan shareholder mendapatkan legitimasi dari Teori Agensi (Jensen dan Meckling,
1976) yang berbicara tentang hubungan antara pemilik modal (principal) dan pengelola
perusahaan (agent) yang diwarnai dengan konflik kepentingan. Pemisahaan antara hak
pengelolaan perusahaan dan hak kepemilikan, sebagaimana dikonsepsikan oleh Berle dan
Means pada tahun 1932, adalah simbol dari sistem korporasi modern sebagai wahana
pengakuan akan hak kepemilikan (property right). Sistem ini tumbuh subur di Inggris dan
terutama di Amerika Serikat sehingga sistem shareholder ini sekaligus menandai apa yang
dinamakan sebagai model tata kelola korporasi Anglo-Saxon.
2015
3
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1. Pasar modal (capital market)
2. Pasar tenaga kerja, terutama level manajer (managerial labour market)
3. Pasar yang berfungsi sebagai pengontrol korporasi (market for corporate control)
Pasar modal berfungsi mengontrol perusahaan lewat mekanisme valuasi harga saham. Jika
perusahaan mengalami penurunan kinerja perusahaan, harga sagamnya di bursa akan melorot.
Maka dari itu, salah satu orientasi pengelola perusahaan adalah menjaga agar penilaian pasar
terhadap
saham-sahamnya
semakin membaik.
Dengan
demikian,
pasar
berfungsi
“mendisplinkan” para pengelola perusahaan.
Pasar tenaga kerja juga berfungsi sebagai alat control. Jika dinilai menunjukan kinerja jelek,
manajer dapat dengan mudah bisa diganti dengan manajer baru oleh para pemegang saham
lewat rapat umum pemegang saham atau dewan pengawas. Asumsinya, pergerakan tenaga
kerja level atas ini bebas sehingga bisa berpindah-pindah dengan mudah. Adanya agen
pencari pekerja tingkat tinggi (head hunter) membuktikan bahwa pasar tenaga kerja level
manajer sangat cair sehingga jika tidak berkinerja baik, manajer akan dengan mudah diganti.
Sementara itu, dalam sistem berbasis pendekatan pasar, terjadi pula mekanisme pencaplokan
perusahaan yang sedang mengalami masalah oleh perusahaan lain yang lebih sehat. Dalam
sistem Anglo-Saxon, hal semacam ini sangat dimungkinkan serta lazim terjadi. Banyak
perusahaan yang diambil alih oleh perusahaan lain karena berbagai kesulitan, umumnya
dalam hal keuangan. Praktik semacam ini sering disebut sebagai “pengambilalihan dalam
suasana keterpaksaan” (hostile takeover).
Dalam shareholder, mekanisme pasar diyakini akan memecahkan segala macam persoalan
internal perusahaan. Praktik-praktik semacam ini agak sulit ditemui dalam konteks sistem tata
kelola korporasi di Jepang atau Jerman. Di Jepang, pasar tenaga kerja terkenal sangat kaku,
bahkan bersifat seumur hidup sehingga sulit berharap ada control bagi manajer yang
berkinerja kurang baik lewat penggantian tenaga kerja. Demikian pula pengambilalihan
perusahaan lewat mekanisme pasar.
Pendekatan Stakeholder
Pendekatan stakeholder relative baru karena muncul pada akhir abad ke-20. Sementara itu,
posisi teoretisnya berlawanan dengan pendekatan tradisional yang telah menjadi aliran utama
2015
4
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
atau dominan dalam waktu cukup lama. Pada dasarnya, pandangan ini mendefinisikan
perusahaan sebagai tempat atau wilayah (tidak selalu dalam pengertian geografis) ajang
interaksi antar-berbagai pihak secara luas. Dalam hal ini, interaksi tidak sekedar melibatkan
pengelola perusahaan dan pemilik modal, tetapi juga pihak-pihak lain, seperti pekerja,
pemasok, konsumen, masyarakat local, pemerintah daerah, dsb.
Perhatian utama pendekatan ini adalah pola interaksi antar-berbagai pihak dalam cakupan
yang luas dari perusahaan serta dalam dimensi waktu yang panjang. Jika ditanya apa motivasi
utama sebuah organisasi perusahaan, jawabnya bukanlah mencari keuntungan, melainkan
hidup terus. Tujuan utama perusahaan pertama-tama adalah hidup terus dalam suatu
kesinambungan jangka panjang. Salah satu persyarat agar perusahaan bisa hidup terus adalah
memperoleh keuntungan. Namun, keuntungan bukanlah tujuan utama dan pertama. Cara
pikIr ini merupakan salah satu implikasi penting dari pendekatan stakeholder.
Pertanyaannya, bagaimana perusahaan bisa hidup terus? Jawabannya terletak pada
kemampuan perusahaan menyeimbangkan kepentingan antara-berbagai pihak yang
mempengaruhi perusahaan dalam cakupan luas dan dimensi panjang tadi. Tanpa
keseimbangan antar-berbagai pihak, perusahaan akan jatuh pada siklus hidup yang pendek
dan cepat mengalami krisis yang sulit diatasi sehingga cepat bangkrut serta mati.
Pandangan stakeholder membantu kita berpikir luas serta memiliki visi jangka panjang dalam
mengelola perusahaan.
2015
5
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
BAB II
KEPEMILIKAN PERUSAHAAN
1. JENIS-JENIS KEPEMILIKAN PERUSAHAAN
Bentuk usaha atau bentuk pemilikan perusahaan ada yang berbentuk badan hukum dan
tidak berbadan hukum. Yang dimaksud dengan berbadan hukum yaitu badan usaha
yang mempunyai kekayaan sendiri, terpisah dari harta kekayaan para pendirinya. Para
anggota tidak bertanggung jawab dengan harta kekayaannya diluar yang tersebut dalam
saham yang dimilikinya.
Perbedaan yang mendasar dari bentuk Usaha berbadan hukum dan tidak berbadan hukum
adalah
Usaha berbadan hukum adalah:

Dapat melakukan perbuatan hukum (rechtshandeling) dalam hubungan-hubungan
hukum (rechtsbetrekking)

Mempunyai harta kekayaan sendiri, dimana harta perusahaan dan harta pribadi
dipisahkan secara jelas.

Mempunyai hak dan kewajiban

Dapat digugat dan menggugat didepan pengadilan
Contoh :
Perseroan Terbatas (PT), Perusahaan Umum (Perum), Perusahaan Perseroan (Persero),
Perusahaan Daerah (Prusda), Koperasi, dan Yayasan.
Sedangkan usaha tidak berbadan hukum adalah:

Tidak dapat melakukan perbuatan hukum dalam hubungan hukum karena bukan
merupakan subjek hukum

Kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum diletakan pada mitra atau sekutu dari
bentuk usaha tersebut, dengan pembatasan pengaturan yang ditetapkan oleh undangundang

Harta kekayaan perusahaan dan pribadi tidak terpisah dengan jelas, atau pada
prinsipnya usaha ini tidak memiliki kekayaan sendiri.
2015
6
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Tidak mempunyai hak dan kewajiban

Tidak dapat digugat dan menggugat pada bentuk usaha ini tetapi dapat dilakukan pada
pemilik atau pengurusnya karena merekalah secara tidak langsung yang melakukan
hubungan hokum
Contoh:
Perusahaan Perseorangan, Persekutuan Perdata, Firma dan Persekutuan Komanditer (CV)
2.
Teori Kepemilikan Perusahaan
Struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan akan memiliki motivasi yang berbeda dalam
hal mengawasi atau memonitor perusahaan serta manajemen dan dewan direksinya. Struktur
kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi konflik antara manajemen dan
pemegang saham Faisal (2005) dalam Sabrina (2010). Struktur kepemilikan dipercaya
memiliki kemampuan untuk mempengaruhi jalannya perusahaan yang nantinya dapat
mempengaruhi kinerja suatu perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) dalam Sabrina (2010)
menyatakan bahwa kepemilikan perusahaan dan kepemilikan institusional adalah dua
mekanisme yang dapat mengendalikan masalah keagenan yang ada di suatu perusahaan.
A. Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial adalah kepemilikan saham oleh manajemen perusahaan yang diukur
dengan presentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen Sujono dan Soebiantoro
(2007) dalam Sabrina (2010). Struktur kepemilikan manajerial dapat dijelaskan melalui dua
sudut pandang, yaitu pendekatan keagenan dan pendekatan ketidakseimbangan. Pendekatan
keagenan menganggap struktur kepemilikan manajerial sebagai suatu instrument atau alat
yang digunakan untuk mengurangi konflik keagenan diantara beberapa klaim terhadap sebuat
perusahaan. Pendekatan ketidakseimbangan informasi memandang mekanisme struktur
kepemilikan manajerial sebagai suatu cara untuk mengurangi ketidakseimbangan informasi
antara insider dengan outsider melalui pengungkapan informasi didalam perusahaan.
Meningkatkan kepemilikan manajerial digunakan sebagai salah satu cara untuk mengatasi
masalah yang ada di perusahaan. Dengan meningkatnya kepemilikan manajerial maka
manajer akan termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya sehingga dalam hal ini akan
berdampak baik kepada perusahaan serta memenuhi keinginan dari para pemegang saham.
Semakin besar kepemilikan manajerial dalam perusahaan maka manajemen akan lebih giat
untuk meningkatkan kinerjanya karena manajemen mempunyai tanggung jawab untuk
2015
7
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
memenuhi keinginan dari pemegang saham yang tidak lain adalah dirinya sendiri.
Manajemen akan lebih berhati-hati dalam mengambil suatu keputusan, karena manajemen
akan ikut merasakan manfaat secara langsung dari keputusan yang diambil. Selain itu
manajemen juga ikut menanggung kerugian apabila keputusan yang diambil oleh mereka
salah.
B. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan Institusional adalah kepemilikan saham oleh pemerintah, institusi keuangan,
institusi berbadan hukum, institusi luar negeri, dana perwalian dan institusi lainnya pada akhir
tahun (Shien, et. al 2006) dalam Winanda (2009). Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
kinerja perusahaan adalah kepemilikan institusional. Adanya kepemilikan institusional di
suatu perusahaan akan mendorong peningkatan pengawasan agar lebih optimal terhadap
kinerja manajemen, karena kepemilikan saham mewakili suatu sumber kekuasaan yang dapat
digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap kinerja manajemen. Penmgawasan
yang dilakukan oleh investor institusional sangat bergantung pada besarnya investasi yang
dilakukan.
Semakin besar kepemilikan institusi keuangan maka akan semakin besar kekuatan suara dan
dorongan dari institusi keuangan tersebut untuk mengawasi manajemen dan akibatnya akan
memberikan dorongan yang lebih besar untuk mengoptimalkan nilai perusahaan sehingga
kinerja perusahaan akan meningkat. Pengaruh investor institusional terhadap manajemen
perusahaan dapat menjadi sangat penting serta dapat digunakan untuk menyelaraskan
kepentingan manajemen dengan pemegang saham Solomon (2004) dalam Sabrina (2010).
Hal ini disebabkan karena jika tingkat kepemilikan manajeral tinggi, dapat berdampak buruk
terhadap perusahaan karena menimbulkan masalah pertahanan, yang berarti jika kepemilikan
manajerial tinggi, para manajer memiliki memiliki posisi yang kuat untuk melakukan suatu
kontrol terhadap perusahaan dan pihak pemegang saham eksternal akan mengalami kesulitan
untuk mengendalikan tindakan para manajer tersebut.
3. INDIVIDU DAN HAK KORPORASI (Pemisahan Kepemilikan dan Kontrol)
Pada dasarnya konsep perusahaan (modern) mulai muncul pada saat perusahaan tersebut
dimiliki oleh banyak pihak, tidak lagi dimiliki oleh perorangan ataupun hanya dimiliki
beberapa pihak saja. Kebutuhan modal usaha dan pengembangan bisnis mungkin
2015
8
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
menjadi salah satu alasan mengapa kepemilikan perusahaan dibuka kepada banyak
pihak. Pada mulanya pada saat perusahaan masih belum berkembang (tertutup), pemilik
(owner) masih merangkap juga sebagai manajer perusahaan yang menjalankan usaha
sehari-hari. Namun seiring dengan berkembangnya kepemilikan pada banyak pihak
(diverse ownership), maka para pemilik perusahaan (shareholders) harus menyerahkan
pengendalian perusahaan (control) kepada pihak lain, dalam hal ini management yang
akan menjalankan kegiatan sehari-hari
TEORI PEMISAHAN KEPEMILIKAN DAN PENGENDALIAN ( KONTROL)
Makna Pertama
Inilah awal konsep “separation of ownership and control”- pemisahan antara
kepemilikan (ownership) dan pengendalian (control). Pemisahan ini kemudian dikenal
dengan teori “agency theory / agency relationship”, dimana terdapat pihak principal
(shareholders) yang mendelegasikan kewenangan mengelola perusahaan kepada agent
(manajemen) dan untuk bertindak mewakili kepentingan principal. Adanya pemisahan
antara kepemilikan dan pengendalian ini juga menimbulkan permasalahan yang dikenal
sebagai “agency problem”, yaitu adanya perbedaan kepentingan antara pemilik dan
manajemen. Pemilik mengharapkan perusahaannya bisa tumbuh dalam jangka panjang,
sedangkan manajemen dalam menjalankan tugasnya lebih berorientasi kepada jangka
pendek, sesuai dengan kontrak masa kerjanya, dan penyalahgunaan wewenang untuk
kepentingan pribadi yang dibebankan kepada perusahaan.
Secara teoritis, agency theory and agency problem merupakan cikal bakal tumbuhnya
ilmu corporate governance. Secara sederhana corporate governance bisa diartikan
bagaimana mekanisme perusahaan dikelola dan dijalankan serta mempelajari hubungan
antara berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan. Dari sinilah muncul berbagai
macam pengaturan terhadap perusahaan yang dikenal sebagai “good corporate
governance” untuk melindungi kepentingan shareholders dan stakeholders.
Makna kedua
Dalam konteks ini, konsep “separation of ownership and control” adalah terkait dengan
struktur/ kepemilikan perusahaan publik. Kalau dalam konsep pertama lebih bersifat
kepada asal mula teori pemisahan kepemilikan dan pengendalian dalam suatu
perusahaan, maka dalam makna kedua ini lebih terkait dengan struktur kepemilikan
perusahaan publik yang sudah modern dan bersifat komplek.
2015
9
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Dalam konsep ke-dua ini, terdapat dua pengertian fundamental terkait dengan
kepemilikan perusahaan, yaitu Ownership Right (OR) dan Control Right (CR).
Ownership Right (OR) mengacu kepada besarnya kepemilikan suatu pihak terhadap
perusahaan yang diukur dari jumlah uang/modal yang telah diinvestasikan dalam
perusahaan, yang sering kita lihat sebagai persentase kepemilikan. Atas dasar investasi
ini, maka pemodal berhak mendapatkan Cash Flow Right (CFR) dalam bentuk dividen
atas sahamnya. Dalam kerangka pengertian ini, maka Ownership Right (OR) juga sering
disebut sebagai Cash Flow Right (CFR).
Control Right (CR) mengacu kepada kekuatan mengontrol perusahaan yang tercermin
pada kekuatan suara dalam penentuan kebijakan strategis perusahaan dalam sebuat rapat
umum pemegang saham, sehinggga Control Right (CR) sering juga disebut sebagai
Voting Right (VR).
Secara teori, seharusnya cash flow right dan voting right adalah sama dikarenakan saham
menganut prinsip one-share-one-vote principle. Artinya persentase kepemilikan suatu
pihak yang tercermin dari jumlah nominal investasinya adalah sama dengan persentase
suara yang dimiliki pihak tersebut dalam rapat pengambilan keputusan. Ini adalah
konsep yang fair, dimana uang yang dikeluarkan untuk investasi dalam perusahaan
memberikan hak yang sebanding dalam mengontrol perusahaan melalui kekuatan suara
dalam rapat.
Namun demikian, terdapat kondisi atau penyimpangan dimana ownership right/cash
flow right adalah tidak sama dengan control right/voting right. Yang terjadi adalah
control/voting right melebihi dari ownership/cash flow right. Adanya voting right yang
lebih besar dari cash flow right mencerminkan ketidakadilan, dimana ada pemegang
saham yang memperoleh control (suara) lebih besar dibanding persentase kepemilikan
(investasi)-nya. Atau dengan kata lain, investasi sedikit pada perusahaan namun
mendapat hak voting yang lebih besar.
Penyimpangan inilah yang juga kemudian dikenal sebagai makna lain dari konsep
“separation of ownership and control”. Bahwa antara ownership (cash flow right) dan
control (voting right) terdapat penyimpangan atau perbedaan (deviation/separation).
Yang menggelitik adalah kenapa bisa terjadi penyimpangan ini. Terdapat dua sebab
utama.
Pertama, memang terdapat perbedaan kelas saham (misal adanya saham preferen yang
memang menyimpang dari prinsip one-share-one-vote). Biasanya ini terjadi pada
2015
10
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
perusahaan negara (BUMN), dimana diterbitkan saham preferen dalam bentuk gold
shares/kelas A yang dimiliki oleh pemerintah.
Kedua, penyimpangan dilakukan melalui pengaturan struktur kepemilikan terhadap
suatu perusahaan, yaitu melalui pyramidal structure, cross-holding dan konglomerasi.
Sebab
kedua
inilah
yang
memang
sengaja
diciptakan
oleh
para
pemilik/pengendali/family clan, terutama terhadap perusahaan publik melalui pengaturan
struktur kepemilikan, untuk memperoleh manfaat voting right yang lebih besar dari cash
flow right. Tentunya pihak pemegang saham yang dirugikan adalah pemegang saham
lainnya yang berkurang voting right-nya dibandingkan dengan control right-nya.
Pemegang saham lainnya disini bisa merupakan pemegang saham publik atau pemegang
saham minoritas lainnya.
Terkait dengan fenomena ini, khususnya yang melalui struktur kepemilikan, bagaimana
cara mendeteksi dan mengukurnya, misalnya untuk perusahaan terbuka/publik? Untuk
bisa menyimpulkan terjadinya penyimpangan, analisa struktur kepemilikan perusahaan
publik/terbuka harus dilakukan. Dengan tergambarnya struktur kepemilikan yang
komprehensif sampai dengan ultimate shareholder (pemegang saham paling atas,
biasanya perorangan atau keluarga), maka dapat diketahui bahwa ultimate shareholder
tersebut mendapatkan keuntungan berupa voting right yang lebih besar dari cash flow
right.
Memang jika hanya melihat satu atau dua derajat ke atas terhadap pemegang saham dari
suatu perusahaan publik, maka tidak terlihat adanya penyimpangan ini, dimana cash flow
right adalah sama dengan voting right. Penyimpangan ini akan terlihat jika kita
menyusuri rantai kepemilikan sampai dengan paling atas (ultimate shareholder).
Cara mengukur besarnya cash flow right adalah berdasarkan persentase kepemilikan jika
kepemilikan langsung dan berdasarkan perkalian persentase kepemilikan sepanjang jalur
rantai kepemilikan untuk kepemilikan tidak langsung. Sedangkan untuk mengukur
besarnya voting right kepenilikan langsung, maka atas suatu persentase kepemilikan
yang ada, harus diklarifikasi apakah terdapat penyimpangan dari one-share-one-vote
principle. Apabila tidak ada penyimpangan, maka persentase voting right sama besar
dengan persentase cash flow right. Jika terdapat penyimpangan, maka harus ditentukan
berdasarkan voting right yang riil yang dimiliki oleh pemegang saham tersebut.
Sedangkan untuk mengukur voting right dalam suatu jalur rantai kepemilikan (pemilikan
2015
11
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
tidak langsung), nilai voting right yang dipakai adalah nilai voting right yang paling
rendah dalam rangkaian rantai kepemilikan tersebut.
Dari hasil pembandingan pengukuran antara cash flow right dan voting right yang
dimiliki pemegang saham akhir terhadap suatu perusahaan publik yang dimiliki melalui
pengaturan struktur kepemilikan, biasanya akan diketemukan penyimpangan yang cukup
besar. Sebagai contoh konglomerasi di Korea, melalui pengaturan pyramidal structure
dan cross holding, ultimate shareholder dapat menguasai voting right sebesar 24%
terhadap sebuah perusahaan publik di Korea dengan hanya memiliki 6% cash flow right.
Sebuah penyimpangan yang cukup material dan merugikan pemegang saham lainnya
yang hak voting right-nya terkurangi secara signifikan.
4. ELEMEN PENTING DARI STRUKTUR PERUSAHAAN
Dalam teori akuntansi dan organisasi, pengendalian intern atau kontrol intern
didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan
sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu
tujuan atau objektif tertentu. Pengendalian intern merupakan suatu cara untuk
mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumberdaya suatu organisasi. Ia berperan
penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber
daya organisasi baik yang berwujud (seperti mesin dan lahan) maupun tidak (seperti
reputasi atau hak kekayaan intelektual seperti merek dagang). ELEMEN-ELEMEN
DALAM SEBUAH PERUSAHAAN. Committee of Sponsoring Organizations of the
Treatway Commission (COSO) memperkenalkan adanya lima komponen pengendalian
intern yang meliputi Lingkungan Pengendalian (Control Environment), Penilaian Resiko
(Risk
Assesment),
Prosedur
Pengendalian
(Control
Procedure),
Pemantauan
(Monitoring), serta Informasi dan Komunikasi (Information and Communication).
a. Lingkungan
Pengendalian
(Control
Environment)
Lingkungan
pengendalian
perusahaan mencakup sikap para manajemen dan karyawan terhadap pentingnya
pengendalian yang ada di organisasi tersebut. Salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap lingkungan pengendalian adalah filosofi manajemen (manajemen tunggal
dalam persekutuan atau manajemen bersama dalam perseroan) dan gaya operasi
2015
12
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
manajemen (manajemen yang progresif atau yang konservatif), struktur organisasi
(terpusat atau ter desentralisasi) serta praktik kepersonaliaan. Lingkungan
pengendalian ini amat penting karena menjadi dasar keefektifan unsur-unsur
pengendalian intern yang lain.
b. Penilaian Resiko (Risk Assesment) Semua organisasi memiliki risiko, dalam kondisi
apapun yang namanya risiko pasti ada dalam suatu aktivitas, baik aktivitas yang
berkaitan dengan bisnis (profit dan non profit) maupun non bisnis. Suatu risiko yang
telah di identifikasi dapat di analisis dan evaluasi sehingga dapat di perkirakan
intensitas dan tindakan yang dapat meminimalkannya.
c. Prosedur Pengendalian (Control Procedure) Prosedur pengendalian ditetapkan untuk
menstandarisasi proses kerja sehingga menjamin tercapainya tujuan perusahaan dan
mencegah atau mendeteksi terjadinya ketidakberesan dan kesalahan. Prosedur
pengendalian meliputi hal-hal sebagai berikut: • Personil yang kompeten, mutasi tugas
dan cuti wajib. • Pelimpahan tanggung jawab. • Pemisahan tanggung jawab untuk
kegiatan terkait. • Pemisahan fungsi akuntansi, penyimpanan aset dan operasional.
d. Pemantauan (Monitoring) Pemantauan terhadap sistem pengendalian intern akan
menemukan kekurangan serta meningkatkan efektivitas pengendalian. Pengendalian
intern dapat di monitor dengan baik dengan cara penilaian khusus atau sejalan dengan
usaha manajemen. Usaha pemantauan yang terakhir dapat dilakukan dengan cara
mengamati perilaku karyawan atau tanda-tanda peringatan yang diberikan oleh sistem
akuntansi. Penilaian secara khusus biasanya dilakukan secara berkala saat terjadi
perubahan pokok dalam strategi manajemen senior, struktur korporasi atau kegiatan
usaha. Pada perusahaan besar, auditor internal adalah pihak yang bertanggung jawab
atas pemantauan sistem pengendalian intern. Auditor independen juga sering
melakukan penilaian atas pengendalian intern sebagai bagian dari audit atas laporan
keuangan.
e. Informasi dan Komunikasi (Information and Communication) Informasi dan
komunikasi merupakan elemen-elemen yang penting dari pengendalian intern
perusahaan. Informasi tentang lingkungan pengendalian, penilaian risiko, prosedur
pengendalian dan monitoring diperlukan oleh manajemen Winnebago pedoman
operasional dan menjamin ketaatan dengan pelaporan hukum dan peraturan-peraturan
yang berlaku pada perusahaan. Informasi juga diperlukan dari pihak luar perusahaan.
Manajemen dapat menggunakan informasi jenis ini untuk menilai standar eksternal.
2015
13
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Hukum, peristiwa dan kondisi yang berpengaruh pada pengambilan keputusan dan
pelaporan eksternal.
5. MEKANISME HAK PEMEGANG SAHAM
Kecuali dibatasi atau ditetapkan dalam akte pendirian perseroan atau oleh ketentuan
perundang-undangan yang berlaku, setiap jenis saham memberikan hak-hak dasar kepada
para pemiliknya sebagai berikut:
a. Hak untuk ikut serta dalam pengelolaan perusahaan. Termasuk memilih anggota
direksi dengan hak suara yang proporsional dengan hak kepemilikan sahamnya di
dalam perusahaan, dan hak untuk memperoleh laporan keuangan perusahaan dan
menentukan kebijakan-kebijakan strategis perusahaan.
b. Hak untuk mendapatkan pembagian laba dalam bentuk dividen yang dibagikan oleh
perusahaan.
c. Hak untuk mendapatkan pembagian aktiva bersih perusahaan. Meliputi hak untuk
membagi dividen dan hak memperoleh pembayaran kembali atas penyertaan
modalnya apabila perusahaan harus dibubarkan atau dilikuidasi.
d. Hak untuk mengubah akte pendirian, anggaran dasar dan rumah tangga perusahaan.
Meliputi hak untuk memberikan persetujuan atas perubahan-perubahan akte
pendirian, anggaran dasar dan rumah tangga perusahaan, dan hak untuk
mempertahankan rasio kepemilikan sahamnya diperusahaan.
e. Hak untuk dapat mempertahankan jumlah relative saham yang dimiliki melalui
pembelian saham-saham baru yang diterbitkan oleh perusahaan yang disebut
preemptive right. Yang memungkinkan seorang pemegang saham untuk membeli
sejumlah saham tambahan dalam hal perusahaan melakukan emisi atau menerbitkan
saham baru. Sebagai akibatnya, rasio kepemilikan saham tidak bisa dikurangi sebagai
akibat dari penerbitan saham-saham baru yang dilakukan oleh perusahaan, kecuali
pemegang saham tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru
Tidak setiap pemegang saham memperoleh hak-hak dasar sebagaimana dikemukakan
diatas. Sebagai contoh, preemptive right seringkali sudah dieliminasi melalui perubahan
akta pendirian, anggaran dasar dan rumah tangga perusahaan. Disamping itu, memang
sengaja tidak setiap pemegang saham diberikan hak-hak yang sama. Banyak perusahaan
besar menerbitkan beberapa jenis sekuritas saham, dengan karakteristik dan hak-hak yang
2015
14
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
berbeda (hak suara dalam rapat umum pemegang saham, hak prioritas untuk memperolah
pembayaran dividen, hak atas jumlah minimum dividen).
6. KERANGKA KERJA UNTUK MONITORING DAN RESPON PEMEGANG
SAHAM
Masalah etika, pengambilan keputusan dan praktek dalam keseluruhan sebagai organisasi
harus dipupuk melalui praktek tata kelola perusahaan. Tata kelola perusahaan
didefinisikan sebagai perilaku etis oleh direksi atau orang lain dibebankan oleh
pemerintahan dalam penciptaan dan penyajian nilai bagi seluruh stakeholder.
•
Organization for Economic Coperation and Development (OECD) menyatakan :
"Corporate Governance melibatkan sebuah hubungan antara manajemen perusahaan ,
dewan direksi, para stakeholder dan pemangku kepentingan lainnya.
•
Perusahaan juga menyediakan struktur melalui, mana tujuan perusahaan yang
ditetapkan, dan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dan memantau kinerja
ditentukan.
•
Tata kelola perusahaan yang baik harus memberikan insentif yang tepat bagi dewan
dan manajemen untuk mengejar tujuan yang merupakan kepentingan perusahaan dan
pemegang saham dan harus memfasilitasi monitoring yang efektif.
•
Sehubungan dengan pemerintahan umum, negara-negara OECD: "Baik, pemerintahan
umum yang efektif membantu untuk memperkuat hak-hak demokrasi dan asasi
manusia, mempromosikan kemakmuran ekonomi dan kohesi sosial, mengurangi
kemiskinan, meningkatkan perlindungan lingkungan dan pemanfaatan berkelanjutan
sumber daya alam, dan memperdalam kepercayaan pemerintah dan publik
Adminitrasi. "
•
Sebagai bagian dari kerangka kerja ini, aturan harus dibentuk untuk mengelola dan
melaporkan risiko bisnis, mereka harus memerlukan organisasi untuk memiliki sistem
pengendalian internal untuk memonitor risiko ketika memanfaatkan cara-cara baru
dan inovatif untuk meningkatkan bisnis.
•
Bersamaan, kerangka kerja ini merupakan flatform untuk perlindungan stakeholder
karena mendefinisikan tanggung jawab dewan direksi.
•
Dengan cara itu, pemegang saham, investor dan pemangku kepentingan lainnya akan
telah menetapkan tugas dan struktur yang memadai untuk memutuskan tentang
investasi mereka, dalam kerangka tranparent. Dengan demikian, tata kelola
2015
15
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
perusahaan berusaha untuk menyerang keseimbangan antara tujuan yang saling
bertentangan dari exploting kesempatan yang tersedia untuk meningkatkan nilai
stakeholder di satu sisi, sambil menjaga operasi organisasi dalam batas-batas
persyaratan peraturan dan kewajiban sosial di sisi lain.
•
Mengingat pentingnya tanggung jawab sosial dalam tata kelola perusahaan,
Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) telah meluncurkan pengembangan
Standar Internasional (ISO 26000) memberikan pedoman sukarela untuk tanggung
jawab sosial (SR).
•
Kerangka kerja ini sedang semakin diamanatkan oleh badan pemerintah dari berbagai
negara dalam upaya untuk mengurangi frekuensi dan dampak dari laporan keuangan
tidak akurat, dan memberikan transparansi dan akuntabilitas.
•
Banyak dari peraturan pemerintah termasuk persyaratan bahwa manajemen senior
harus setuju pada pengendalian internal yang memadai dan mencakup penilaian
pengendalian internal organisasi dalam laporan keuangan organisasi.
7. KEPEMILIKAN DAN TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Tanggung jawab sosial perusahaan sangat erat kaitannya dengan pertanyaan-pertanyaan
berikut:
•
Apakah memang perusahaan punya tanggung jawab moral dan sosial ?
•
Kalau ada, manakah lingkup tanggung jawab itu ?
•
Apakah, terkait dengan tanggung jawab sosial perusahaan itu, perusahaan perlu
terlibat dalam kegiatan sosial yang berguna bagi masyarakat atau tidak ?
•
Bagaimana tanggung jawab sosial perusahaan itu dapat dioperasionalkan dalam suatu
perusahaan ?
Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (selanjutnya
dalam artikel akan disingkat CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya
(namun
bukan
hanya)
perusahaan
adalah
memiliki
suatu
tanggung
jawab
terhadapkonsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala
aspek
operasional
perusahaan.
CSR berhubungan erat dengan “pembangunan berkelanjutan”, di mana ada argumentasi
bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan
2015
16
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau
devidenmelainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat
ini maupun untuk jangka panjang.
Pengertian tanggung jawab social perusahaan atau CSR sangat beragam. Intinya, CSR
adalah operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan
perusahaan secara finansial, tetapi untuk pembangunan sosial-ekonomi kawasan secara
holistik, melembaga, dan berkelanjutan. Beberapa nama lain yang memiliki kemiripan
dan bahkan sering diidentikkan dengan CSR adalah corporate giving, corporate
philanthropy, corporate community relations, dan community development.
Tanggung Jawab Perusahaan Yang Baik
CSR yang baik (good CSR) memadukan empat prinsip good corporate governance, yakni
fairness, transparency, accountability, dan responsibility, secara harmonis. Ada perbedaan
mendasar di antara keempat prinsip tersebut (Supomo, 2004). Tiga prinsip pertama
cenderung bersifat shareholders-driven karena lebih memerhatikan kepentingan
pemegang
saham
perusahaan.
Sebagai contoh, fairness bisa berupa perlakuan yang adil terhadap pemegang saham
minoritas; transparency menunjuk pada penyajian laporan keuangan yang akurat dan tepat
waktu; sedangkan accountability diwujudkan dalam bentuk fungsi dan kewenangan
RUPS, komisaris, dan direksi yang harus dipertanggung jawabkan.
a. Syarat bagi Tanggung Jawab Moral

Tindakan itu dijalankan oleh pribadi yang rasional

Bebas dari tekanan, ancaman, paksaan atau apapun namanya

Orang yang melakukan tindakan tertentu memang mau melakukan tindakan itu
Dalam membahas prinsip-prinsip etika profesi dan prinsip-prinsip etika bisnis, kita
telah menyinggung tanggung jawab sebagai salah satu prinsip etika yang penting.
Persoalan yang pelik yang harus dijawab pada tempat pertama adalah manakah
kondisi bagi adanya tanggung jawab moral. Manakah kondisi yang relevan yang
memungkinkan kita menuntut agar seseorang bertanggung jawab atas tindakannya.
b. Status Perusahaan
Terdapat dua pandangan (Richard T. De George, Business Ethics, hlm.153), yaitu:
2015
17
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Legal-creator, perusahaan sepenuhnya ciptaan hukum, karena itu ada hanya
berdasarkan hokum

Legal-recognition, suatu usaha bebas dan produktif
Tanggung jawab sosial perusahaan hanya dinilai dan diukur berdasarkan sejauh mana
perusahaan itu berhasil mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya (Milton
Friedman,The Social Responsibilities of Business to Increase Its Profits, New York
Times Magazine,13-09-1970)
Perusahaan adalah sebuah badan hukum. Artinya perusahaan dibentuk berdasarkan
peraturan hukum tertentu dan disahkan dengan hukum atau legal tertentu. Karena itu,
keberadaannya dijamin dan sah menurut hukum tertentu. Itu berarti perusahaan adalah
bentukan manusia, yang eksistensinya diikat berdasarkan aturan hukum yang sah.
Sebagai badan hukum perusahaan mempunyai hak hak legal tertentu sebagaimana
yang dimiliki oleh manusia. Misalnya hak milik pribadi, hak paten, hak atas milik
tertentu, dan sebagainya. Sejalan itu, perusahaan juga mempunyai kewajiban legal
untuk menghormati hak legal perusahaan lain atau tidak boleh merampas hak
perusahaan lain.
Ini hanyalah bentuk tanggung jawab legal…

Anggapan bahwa perusahaan tidak punya tanggung jawab moral sama saja dengan
mengatakan bahwa kegiatan perusahaan bukanlah kegiatan yang dijalankan oleh
manusia

Tanggung jawab moral perusahaan dijalankan oleh staf manajemen

Tanggung jawab legal tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral.
Sesungguhnya, pada tingkat operasional bukan hanya staf manajemen yang memikul
tanggung jawab sosial dan moral perusahaan ini, melainkan seluruh karyawan….
c. Lingkup Tanggung jawab Sosial
Keterlibatan perusahaan dalam kegiatan sosial yang berguna bagi kepentingan
masyarakat luas
Keuntungan ekonomis
Tanggung jawab social menunjukkan tanggung jawab perusahaan terhadap
kepentingan pihak-pihak lain secara lebih luas daripada sekedar terhadap kepentingan
2015
18
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
perusahaan belaka. Dengan konsep tanggung jawab social perusahaan mau dikatakan
bahwa kendati secara moral adalah baik bahwa perusahaan mengejar keuntungan,
tidak dengan sendirinya perusahaan dibenarkan untuk mencapai keuntungan itu
dengan mengorbankan kepentingan pihak-pihak lain. Artinya keuntungan dalam
bisnis tidak mesti dicapai dengan mengorbankan kepentingan pihak lain, atau
kepentingan masyarakat luas.
Dengan demikian dengan konsep tanggung jawab social dan moral perusahaan mau
dikatakan bahwa suatu perusahaan harus bertanggung jawab atas tindakan dan
kegiatan bisnisnya yang mempunyai pengaruh atas orang-orang tertentu, masyarakat,
serta lingkungan dimana perusahaan itu beroperasi.
d. Argumen yang Menentang Perlunya Keterlibatan Sosial Perusahaan
Tujuan utama Bisnis adalah Mengejar Keuntungan Sebesar-besarnya
Argument keras yang menentang keterlibatan perusahaan dalam berbagai kegiatan
social sebagai wujud tanggung jawab social perusahaan adalah paham dasar bahwa
tujuan utama, bahkan satu satunya, dari kegiatan bisnis adalah mengejar keuntungan
sebesar besarnya. Selain itu, fungsi bisnis ini adalah fungsi ekonomis, buka fungsi
social. Artinya bisnis adalah kegiatan ekonomi bukan kegiatan social
Tujuan yang terbagi-bagi dan Harapan yang membingungkan
Yang mau dikatakan disini adalah bahwa keterlibatan social sebagai wujud tanggung
jawab social perusahaan akan menimbulkan minat dan perhatian yang bermacam
ragam, yang pada akhirnya akan mengalihkan, bahkan mengacaukan para perhatian
pimpinan perusahaan. Asumsinya keberhasilan perusahaan dalam bisnis modern penuh
persaingan yang ketat sangat ditentukan oleh konsentrasi seluruh perusahaan, yang
ditentukan oleh konsentrasi pimpinan perusahaan, pada core businessnya.
Biaya Keterlibatan Sosial
Keterlibatan social sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan malah dianggap
memberatkan masyarakat. Alasannya, biaya yang dgunakan untuk keterlibatan
perusahaan itu bukan biaya yang disediakan oleh perusahaan itu, melainkan biaya yang
telah diperhitungkan sebagai salah satu komponen dalam harga barang dan jasa yang
ditawarkan dalam pasar.
Kurangnya Tenaga Terampil di Bidang Kegiatan Sosial
Argument ini kembali menegaskan mitos bisnis amoral yang telah kita lihat. Dengan
argument ini mau dikatakan bahwa para pemimpin perusahaan tidak professional
2015
19
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dalam membuat pilihan dan keputusan moral. Mereka hanya professional dalam
bidang bisnis dan ekonomi. Karena itu, perusahaan tidak punya tenaga terampil yang
siap untuk melakukan kegiatan-kegiatan social tertentu.
e. Argumen yang Mendukung Perlunya Keterlibatan Sosial Perusahaan
Kebutuhan dan Harapan Masyarakat yang Semakin Berubah
Setiap kegiatan bisnis dimaksudkan untuk mendatangkan keuntungan. Ini tidak bisa
disangkal. Namun dalam masyarakat yang semakin berubah, kebutuhan dan harapan
masyarrakat terhadap bisnis pun ikut berubah. Karena itu, untuk dapat bertahan dan
berhasil dalam persaingan bisnis modern yang ketat sekarang ini, para pelaku bisnis
semakin menyadari bahwa mereka tidak bisa begitu saja hanya memusatkan perhatian
pada upaya mendatangkan keuntungan yang sebesar besarnya.
Terbatasnya Sumber Daya Alam
Argument ini didasarkan pada kenyataan bahwa bumi kita ini mempunyai sumber daya
alam yang terbatas. Bisnis justru berlangsung dalam kenyataan ini, dengan berupaya
memanfaatkan secara bertanggungjawab dan bijaksana sumber daya alam yang
terbatas itu demi memenuhi
Lingkungan Sosial yang Lebih Baik
Bisnis berlangsung dalam suatu lingkungan social yang mendukung kelangsungan dan
keberhasilan bisnis itu dimasa depan. Ini punya implikasi etis bahwa bisnis mempunyai
kewajiban dan tanggung jawab moral dan social untuk memperbaiki lingkungan
sosialnya kea rah yang lebih baik. Semakin baiknya lingkungan sosialnya dengan
sendirinya akan memperbaiki iklim bisnis yang ada.
Perimbangan Tanggung Jawab dan Kekuasaan
Keterlibatan social khususnya, maupun tanggung jawab social perusahaan secara
keseluruhan, juga dilihat sebagai suatu pengimbang bagi kekuasaan bisnis modern
yang semakin raksasa dewasa ini
Bisnis Mempunyai Sumber Daya yang Berguna
Keuntungan Jangka Panjang
f. Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Prinsip utama dalam suatu organisasi profesional, termasuk perusahaan, adalah bahwa
struktur mengikuti strategi
2015
20
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Artinya, struktur suatu organisasi didasarkan ditentukan oleh strategi dari organisasi
atau perusahaan itu
Strategi yang diwujudkan melalui struktur organisasi demi mencapai tujuan dan misi
perusahaan perlu dievaluasi secara periodik, salah satu bentuk evaluasi yang mencakup
nilai-nilai dan tanggung jawab sosial perusahaan adalah Audit Sosial
Saat ini sudah banyak perusahaan yang menerapkan program program tanggung jawab
sosial. Mulai dari perusahaan yang terpaksa menjalankan program tanggung jawab
sosial-nya karena peraturan yang ada, sampai perusahaan yang benar-benar serius
dalam menjalankan program tanggung jawab sosial dengan mendirikan yayasan
khusus untuk program program tanggung jawab sosial mereka. Berdasarkan konsep
Triple Bottom Line (John Elkington, 1997) atau tiga faktor utama operasi dalam
kaitannya dengan lingkungan dan manusia (People, Profit, and Planet), program
tanggung jawab sosial penting untuk diterapkan oleh perusahaan karena keuntungan
perusahaan tergantung pada masyarakat dan lingkungan.
2015
21
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
BAB III
KESIMPULAN
Dari Makalah diatas dapat penulis simpulkan sebagai berikut :
1.
shareholder atau stockholder adalah seseorang atau badan hukum yang secara
sah memiliki satu atau lebih saham pada perusahaan. Para pemegang saham adalah
pemilik dari perusahaan tersebut.
2.
Konsep pemegang saham adalah sebuah teori bahwa perusahaan hanya memiliki
tanggung jawab kepada para pemegang sahamnya dan pemiliknya, dan seharusnya
bekerja demi keuntungan mereka.
3.
Shareholder adalah seseorang yang mempunyai saham finansial di suatu perusahaan. Ini
berarti shareholder adalah pemilik sebagian dari perusahaan. Mereka akan mendapat
keuntungan jika perusahaan bertumbuh, berkembang, dan mendapat nilai lebih dari
produksi perusahaan.
4.
Pendekatan shareholder sebagai cara pandang trdisional menganggap perusahaan
merupakan instrumen legal bagi para pemilik modal untuk memaksimalkan kepentingan
mereka, yakni memperoleh pendapatan dari investasi yang mereka lakukan. Paling
tidak ada dua mekanisme yang dirancang untuk menjamin kepentingan mereka, yaitu :
a. Rapat umum pemegang saham sebagai forum tertinggi untuk menentukan hal-hal
strategis perusahaan.
b. Kehadiran dewan pengawas atau komisaris dalam perusahaan bertugas mengawasi
jalannya perusahaan agar selalu sesuai dengan kepentingan para pemilik modal.
5.
Bentuk usaha atau bentuk pemilikan perusahaan ada yang berbentuk badan hukum
dan tidak berbadan hukum. Yang dimaksud dengan berbadan hukum yaitu badan
usaha
yang mempunyai kekayaan sendiri, terpisah dari harta kekayaan para
pendirinya. Para anggota tidak bertanggung jawab dengan harta kekayaannya diluar
yang tersebut dalam saham yang dimilikinya.
6.
TEORI PEMISAHAN KEPEMILIKAN DAN PENGENDALIAN ( KONTROL)
a. Makna Pertama
2015
22
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Inilah awal konsep “separation of ownership and control”- pemisahan antara
kepemilikan (ownership) dan pengendalian (control). Pemisahan ini kemudian
dikenal dengan teori “agency theory / agency relationship”, dimana terdapat pihak
principal (shareholders) yang mendelegasikan kewenangan mengelola perusahaan
kepada agent (manajemen) dan untuk bertindak mewakili kepentingan principal.
Adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian ini juga menimbulkan
permasalahan yang dikenal sebagai “agency problem”, yaitu adanya perbedaan
kepentingan antara pemilik dan manajemen. Pemilik mengharapkan perusahaannya
bisa tumbuh dalam jangka panjang, sedangkan manajemen dalam menjalankan
tugasnya lebih berorientasi kepada jangka pendek, sesuai dengan kontrak masa
kerjanya, dan penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi yang
dibebankan kepada perusahaan.
Secara teoritis, agency theory and agency problem merupakan cikal bakal
tumbuhnya ilmu corporate governance. Secara sederhana corporate governance bisa
diartikan bagaimana mekanisme perusahaan dikelola dan dijalankan serta
mempelajari hubungan antara berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan. Dari
sinilah muncul berbagai macam pengaturan terhadap perusahaan yang dikenal
sebagai “good corporate governance” untuk melindungi kepentingan shareholders
dan stakeholders.
b. Makna kedua
Dalam konteks ini, konsep “separation of ownership and control” adalah terkait
dengan struktur/ kepemilikan perusahaan publik. Kalau dalam konsep pertama lebih
bersifat kepada asal mula teori pemisahan kepemilikan dan pengendalian dalam
suatu perusahaan, maka dalam makna kedua ini lebih terkait dengan struktur
kepemilikan perusahaan publik yang sudah modern dan bersifat komplek.
Dalam konsep ke-dua ini, terdapat dua pengertian fundamental terkait dengan
kepemilikan perusahaan, yaitu Ownership Right (OR) dan Control Right (CR).
Ownership Right (OR) mengacu kepada besarnya kepemilikan suatu pihak terhadap
perusahaan yang diukur dari jumlah uang/modal yang telah diinvestasikan dalam
perusahaan, yang sering kita lihat sebagai persentase kepemilikan. Atas dasar
investasi ini, maka pemodal berhak mendapatkan Cash Flow Right (CFR) dalam
bentuk dividen atas sahamnya. Dalam kerangka pengertian ini, maka Ownership
Right (OR) juga sering disebut sebagai Cash Flow Right (CFR).
2015
23
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Control Right (CR) mengacu kepada kekuatan mengontrol perusahaan yang
tercermin pada kekuatan suara dalam penentuan kebijakan strategis perusahaan
dalam sebuat rapat umum pemegang saham, sehinggga Control Right (CR) sering
juga disebut sebagai Voting Right (VR).
7.
ELEMEN-ELEMEN DALAM SEBUAH PERUSAHAAN.
Committee of Sponsoring Organizations of the Treatway Commission (COSO)
memperkenalkan adanya lima komponen pengendalian intern yang meliputi
Lingkungan Pengendalian (Control Environment), Penilaian Resiko (Risk Assesment),
Prosedur Pengendalian (Control Procedure), Pemantauan (Monitoring), serta Informasi
dan Komunikasi (Information and Communication).
a. Lingkungan Pengendalian (Control Environment) Lingkungan pengendalian
perusahaan mencakup sikap para manajemen dan karyawan terhadap pentingnya
pengendalian yang ada di organisasi tersebut. Salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap lingkungan pengendalian adalah filosofi manajemen (manajemen tunggal
dalam persekutuan atau manajemen bersama dalam perseroan) dan gaya operasi
manajemen (manajemen yang progresif atau yang konservatif), struktur organisasi
(terpusat atau ter desentralisasi) serta praktik kepersonaliaan. Lingkungan
pengendalian ini amat penting karena menjadi dasar keefektifan unsur-unsur
pengendalian intern yang lain.
b. Penilaian Resiko (Risk Assesment) Semua organisasi memiliki risiko, dalam
kondisi apapun yang namanya risiko pasti ada dalam suatu aktivitas, baik aktivitas
yang berkaitan dengan bisnis (profit dan non profit) maupun non bisnis. Suatu risiko
yang telah di identifikasi dapat di analisis dan evaluasi sehingga dapat di perkirakan
intensitas dan tindakan yang dapat meminimalkannya.
c. Prosedur Pengendalian (Control Procedure) Prosedur pengendalian ditetapkan untuk
menstandarisasi proses kerja sehingga menjamin tercapainya tujuan perusahaan dan
mencegah atau mendeteksi terjadinya ketidakberesan dan kesalahan. Prosedur
pengendalian meliputi hal-hal sebagai berikut: • Personil yang kompeten, mutasi
tugas dan cuti wajib. • Pelimpahan tanggung jawab. • Pemisahan tanggung jawab
untuk kegiatan terkait. • Pemisahan fungsi akuntansi, penyimpanan aset dan
operasional.
d. Pemantauan (Monitoring) Pemantauan terhadap sistem pengendalian intern akan
menemukan kekurangan serta meningkatkan efektivitas pengendalian. Pengendalian
intern dapat di monitor dengan baik dengan cara penilaian khusus atau sejalan
2015
24
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dengan usaha manajemen. Usaha pemantauan yang terakhir dapat dilakukan dengan
cara mengamati perilaku karyawan atau tanda-tanda peringatan yang diberikan oleh
sistem akuntansi. Penilaian secara khusus biasanya dilakukan secara berkala saat
terjadi perubahan pokok dalam strategi manajemen senior, struktur korporasi atau
kegiatan usaha. Pada perusahaan besar, auditor internal adalah pihak yang
bertanggung jawab atas pemantauan sistem pengendalian intern. Auditor
independen juga sering melakukan penilaian atas pengendalian intern sebagai
bagian dari audit atas laporan keuangan.
e. Informasi dan Komunikasi (Information and Communication) Informasi dan
komunikasi merupakan elemen-elemen yang penting dari pengendalian intern
perusahaan. Informasi tentang lingkungan pengendalian, penilaian risiko, prosedur
pengendalian dan monitoring diperlukan oleh manajemen Winnebago pedoman
operasional dan menjamin ketaatan dengan pelaporan hukum dan peraturanperaturan yang berlaku pada perusahaan. Informasi juga diperlukan dari pihak luar
perusahaan. Manajemen dapat menggunakan informasi jenis ini untuk menilai
standar eksternal. Hukum, peristiwa dan kondisi yang berpengaruh pada
pengambilan keputusan dan pelaporan eksternal.
2015
25
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
Jensen dan Meckling, 1976
(http://m.kompasiana.com/post/read/560809/2/corporate-governance-dua-maknakonsep-separation-of-ownership-and-control-.html)
(lawfile.blogspot.com/2011/07/perbedaan-bentuk-usaha-berbadan-hukum.html)
http://pustakabakul.blogspot.com/2013/06/teori-kepemilikan-perusahaan-dan.html
(http://indrathebandit.blogspot.com/2011/11/elemen-elemen-dalam-perusahaan.html)
(http://karangtangis.blogspot.com/2010/08/hak-hak-pemegang-saham.html)
(weblog.esaunggul.ac.id/wp.../IT-Governance-)
2015
26
Business Ethic and Good Governance
Prof Said Djamaluddin Ph.D
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download